1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic War/Game | War Is Just A Bloody Game

Discussion in 'Fiction' started by dantd95, Mar 13, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    [​IMG]
    JENG JENG JENG!!! (teriring terima kasihku pada bang Heilel_Realz012)

    Genre : Science-Fiction, Psychological, Romance, Action
    Yang jelas ceritanya mengandung beberapa ironi tentang perang dan luar angkasa, cocok dibaca buat fans Star Wars etc.

    Oh ya, yang baca sebaiknya komen ya, segala kritikan diterima kok.

    Prologue

    Game 1 : In A Distant Star...
    Part 1
    Part 2

    Game 2 : Welcome To The Game
    Part 1
     
    Last edited: Mar 18, 2011
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    Prologue : The Briefest History of Time

    Saat manusia mencapai titik jenuh dalam kemegahan kemajuan peradaban, saat itu pula manusia mulai kehilangan pegangan kebajikan. Saat itu pula tengkorak manusia membesar meskipun tidak berisi, hanya ada gelembung udara besar bernama kesombongan dan kemalasan yang menyeruak ke dalam. Saat itu pula manusia mengendalikan alam sesuka hati, seolah mereka telah berganti posisi dari tanah liat menjadi perajinnya.

    Mereka membuat berbagai macam benda yang mereka buat untuk menegaskan hegemoni mereka. Mereka menantang kesempurnaan alam, menghantam piramida keseimbangan alam dengan kerakusan dan keserakahan. Mereka pergi jauh dari rumah mereka, merasa tidak puas dengan apa yang sudah diberikan pada mereka. Mereka mendirikan rumah-rumah baru jauh dari rumah mereka. Mereka tidak puas dengan tanah yang ada, maka mereka membuat koloni di luar tanah mereka. Siklus yang sama kembali terulang, dengan skala yang lebih besar.

    Manusia terpecah belah, bersatu, kemudian terpecah belah kembali. Tidak ada persatuan yang abadi. Dahulu Bumi adalah pusat manusia, tempat semua orang berkata “rumah”. Sekarang Bumi sudah tidak ada, planet biru telah menjadi merah darah dan semua manusia tidak memiliki pusat. Dahulu Bumi adalah simbol pemersatu, namun kini menjadi simbol kehancuran. Sebuah peringatan bagi manusia. Semua dimulai dari satu langkah kecil.

    12 Juni 2015, hari yang menentukan segalanya saat Perang Dunia III pecah. Manusia terjatuh dari dinding kedamaian semu ke dalam kemelut. Semua orang bertempur dan langit menjadi gelap sekelam harapan mereka. Selama beberapa tahun tidak ada tanda-tanda perdamaian dan bumi rusak. Manusia mulai melihat ke luar sana, ke luar angkasa.

    9 Maret 2027, perdamaian tercapai. Bumi disatukan oleh sebuah Republik Federasi Bumi berdasarkan hasil Perjanjian Casablanca. Namun Bumi bukanlah Bumi yang dulu lagi. Planet yang mulai menua itu telah rusak. Eropa Utara ditinggalkan penduduknya karena kerusakan yang dibuat oleh senjata-senjata manusia. Manusia kembali melihat ke luar angkasa, tempat yang masih jauh lebih murni dibanding Bumi. Maka dimulailah perjalanan menuju luar angkasa.

    30 September 2033, Profesor Wu Li berhasil membuat langkah baru dalam penelitian kolonisasi luar angkasa dengan menemukan teorema Wu, yang memungkinkan terbentuknya sebuah “warp drive” atau semacam gelembung ruang angkasa yang memungkinkan benda untuk mencapai jarak tahunan cahaya dengan cepat dengan didasarkan pada penggerak Alcubierre.

    15 Oktober 2040, koloni Bulan yang pertama didirikan. Lima tahun kemudian koloni itu disapu meteor, menewaskan 15 orang. Namun manusia tidak menyerah dan terus berjuang untuk dapat hidup di luar angkasa.

    28 Januari 2051, koloni Bulan yang kedua dibuat, dengan sistem proteksi yang lebih menyeluruh. Koloni itu mengalami sukses besar dalam beberapa tahun. Manusia mulai berbondong-bondong datang ke Bulan. Masalah kependudukan muncul, imigrasi kemudian dibatasi namun imigran ilegal tetap ada.

    13 Maret 2059, proyek eksplorasi angkasa pertama dengan melibatkan astronot, proyek AHOSE (Autonomous Human Outer Space Exploration) diluncurkan dengan tujuan Alpha Centauri dan bintang-bintang lainnya di luar tata surya. Astronot yang terpilih adalah Dr. John Nelson, menaiki pesawat Voyager 3.

    13 Maret 2069, tepat sepuluh tahun setelah peluncurannya, pesawat Voyager 3 kembali mendarat di Bumi. Dr. John Nelson memberitakan adanya 10 planet yang bisa dihuni oleh manusia yang berjarak 5-10 tahun cahaya dan dapat ditempuh dengan warp drive selama 10-30 menit. Meskipun begitu, saat itu kolonisasi ke luar tata surya masih jauh dari kata mungkin karena teknologi warp drive saat ini belum mampu menampung pesawat bermassa amat berat.

    22 Juli 2082, Mikhail Trassov dan Muhammad Salam menggagas teorema Trassov-Salam yang memungkinkan warp drive untuk membawa pesawat yang bermassa amat berat, dengan kata lain memungkinkan pesawat ruang angkasa yang dapat membawa imigran menuju planet berjarak jauh untuk mendirikan sebuah koloni. Eksplorasi terus digalakkan pada tahun-tahun berikutnya.

    1 Mei 2084, koloni pertama di Mars diciptakan.

    31 Januari 2091, Damien Stark berhasil menciptakan sebuah gelombang yang memungkinkan komunikasi antar planet lebih cepat dibanding menggunakan sinyal radio. Sinyal itu dinamakannya sinyal centrogravitron, dengan memanfaatkan medan magnet yang sangat kecil antar planet. Dengan ini, waktu transmisi dalam planet yang berjarak hingga 20 tahun cahaya dari bumi menjadi hampir nol.

    20 Desember 2100, koloni pertama di luar Tata Surya, pada planet Thebes yang berjarak 6 tahun cahaya dari Bumi, diciptakan. Koloni-koloni lainnya segera menyusul di planet-planet lain yang berjarak hingga 60 tahun cahaya dari Bumi.

    Dengan semakin jauhnya jangkauan manusia, mereka mulai menyadari bahwa mereka hidup sendirian di galaksi Bima Sakti. Merekalah satu-satunya hegemoni di galaksi ini. Namun, manusia tidak terus bersatu. Tanpa adanya musuh, manusia cenderung berperang antar sesamanya.

    4 Februari 2110, koloni-koloni Bumi, Thelion dan Extravion, memberontak. Otoritas Federasi Bumi yang berkuasa tak pernah memikirkan kemungkinan pemberontakan, dan pemberontakan merembet. Setelah 15 tahun, koloni-koloni Bumi terpecah dan mendirikan otoritas mereka sendiri, melanjutkan kolonisasi.

    Keadaan Bumi sendiri semakin gawat. Dengan sebagian besar koloni mereka memerdekakan diri, Bumi kehilangan sumber daya alam yang amat dibutuhkan. Bumi pun jatuh ke dalam perang sipil, Perang Dunia IV yang menjadi Perang Dunia terakhir pada tanggal 18 Agustus 2134.

    Bumi yang sudah sekarat itu pun dihancurleburkan oleh Manusia.

    Pemerintahan mengungsi ke Bulan dan populasi Bumi hampir habis. Bumi berubah dari planet biru menjadi planet merah. Setelah delapan tahun, pemerintahan kembali ke Bumi, namun kekuasaannya hanya terbatas pada Tata Surya saja.

    Namun koloni-koloni yang sebenarnya bergantung pada Bumi untuk beberapa hal pun kesulitan untuk berkembang, terutama dalam teknologi. Maka Federasi Bumi dan koloni-koloni membuat Pakta Olympia : semua koloni dan Federasi Bumi akan bersatu membentuk Federasi Bima Sakti.

    Selama puluhan tahun koloni-koloni berkembang, membuat koloni baru dan inovasi baru. Federasi Bima Sakti meluas, dan Bumi perlahan tapi pasti kembali pulih dengan bantuan dari koloni. Akhirnya pada tanggal 10 April 2177, Johann Rutt berhasil menerapkan teknologi terraforming, yakni teknologi untuk membuat atau mengubah ekosistem planet secara menyeluruh. Bumi kembali pulih dan menghijau. Bukan hanya Bumi, namun kini manusia dapat membuat koloni di planet manapun, meskipun dengan harga yang amat mahal.

    Federasi terus berjalan selama ratusan tahun dan teknologi berkembang, meskipun mulai muncul ketidakpuasan yang tumbuh perlahan-lahan terhadap pemerintahan yang korup. Mulai tumbuh benih-benih pemberontakan terutama di perbatasan yang paling jauh dari Bumi. Tapi tidak ada yang memberontak, hingga hari itu datang.

    3 November 2304.

    Semua koloni tiba-tiba kehilangan kontak dengan Bumi dan koloni-koloni yang terletak pada radius 20 tahun cahaya dari Bumi. Semua pesawat Federasi yang kembali ke Bumi juga menghilang. Koloni-koloni langsung memerdekakan diri. Akan tetapi mereka terpecah dan saling berperang. Masa ini dikenal sebagai Perang Kolonial, selama 120 tahun perkembangan teknologi bergerak perlahan karena perang.

    Akhirnya kurang lebih pada tahun 2430, perdamaian tercapai dan koloni Bumi terbagi menjadi tujuh kekuatan yang bersaing untuk menjadi penguasa Bumi dan mengetahui kenapa tidak ada kontak dari Bumi. Maka ketujuh negara itu mengadakan Pakta Hecate, dengan tujuan meneliti penyebab hilangnya kontak dari Bumi.

    21 Februari 2431, ketujuh negara mengirim tujuh astronot dalam Misi Biru, untuk mengetahui keadaan Bumi secara menyeluruh. Hasilnya ditemukan bahwa telah terbentuk kabut radiasi pada jarak 15 tahun cahaya dari Bumi yang tidak bisa dilewati. Hasil ini mengundang misteri. Apa Bumi sudah hancur? Rumah yang dijanjikan, apakah sudah hilang tak berbekas?

    Tidak ada yang tahu.
     
  4. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    Game 1 : In A Distant Star... Part 1

    15 Maret 2440. Planet Meritemium, Tata Surya Locum III, Republik Baldica. Sebuah planet yang berukuran cukup kecil, dan terkenal sebagai pusat perdagangan. Manusia berdagang, memperjualbelikan apapun dari penganan kecil hingga binatang-binatang aneh dari sudut-sudut galaksi. Dalam planet itu terdapat kota-kota perdagangan dan desa-desa yang menjadi tempat tinggal penduduk.

    Salah satu dari desa tersebut adalah Entricia. Terletak jauh dari kota-kota perdagangan, dengan padang rumput yang terhampar luas dan rumah-rumah futuristik berjauhan satu sama lain. Semua terlihat tenang dan damai, tanpa ada sesuatu yang tidak biasa. Disitu hiduplah seorang pemuda. Seorang pemuda yang hidup sendiri. Dia berjalan menyusuri jalan di desa itu, sendirian. Memakai baju yang terlihat seperti seragam sekolah pada umumnya, dan menjinjing sebuah tas kecil.

    “Randy!!”

    Dia menoleh ke belakang. Di belakangnya seorang gadis mengejarnya, terengah-engah. Wajah gadis itu cantik jelita, dengan rambut pirang panjang, mata biru dan postur yang cukup kecil untuk gadis seusianya, yang membuatnya terlihat seperti anak kecil. Dia mengenakan seragam sekolah yang sama, baju warna putih dengan saku di bagian dada kiri dan rok pendek warna coklat.

    “Cecilia..”

    Sementara itu penampilan si pemuda tidak terlalu rapih. Rambutnya poni acak-acakan, meskipun wajahnya bisa dibilang tampan. Seragam sekolahnya pun tidak sebersih seragam yang dikenakan sang gadis. Terlihat beberapa bercak pada baju putihnya, dan celana coklatnya juga sedikit kotor. Caranya memakai dasi coklatnya juga tidak bisa dibilang tepat dan rapi.

    “Kenapa kamu pergi duluan? Bukankah kita selalu pulang bersama-sama?” nada suara Cecilia agak meninggi.
    “Memangnya ada alasan untuk menunggumu?” Randy menjawab dengan datar. Amat datar. Dengan ekspresi yang sama datarnya.
    “Apa maksudmu? Apa kau merasa rugi jika berjalan bersamaku?” Cecilia mulai geram dengan sikap apatis yang ditunjukkan Randy.
    “Karena aku tidak mendapat keuntungan apapun, itu jelas sebuah kerugian.” Jawab Randy dengan santai sambil berjalan menjauh. Cecilia mengejarnya.
    “Hanya karena ‘tidak ada keuntungan’ bukan berarti kamu rugi! Hentikan pemikiranmu yang sok bijak itu!!!” Cecilia setengah berteriak karena marah.
    “Huh, sudahlah. Ayo. Lagipula kalau kau terus berbicara seperti itu hanya akan mengganggu.”

    Randy kemudian berjalan, diikuti Cecilia. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Cecilia ingin memulai pembicaraan namun ia tahu Randy tak akan menjawabnya. Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka tiba di rumah Randy.

    “Sampai jumpa.” Kata Cecilia, namun Randy tak menjawabnya dan langsung masuk ke rumahnya. Cecilia hanya tersenyum kecil dan pergi, melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.

    Rumah Randy adalah rumah yang kecil. Desainnya terlihat futuristik dengan pintu yang membuka otomatis, interior rumah berwarna putih yang ergonomis, dan jendela-jendela berbentuk asimetris. Rumah itu sempit, namun bertingkat dua, terlihat tidak lazim karena tidak ada rumah lain yang menghimpitnya, bahkan tidak ada rumah yang berada di dekatnya. Lantai satu rumahnya berisi ruang makan dan ruang tengah, sedangkan lantai dua hanya terdiri dari kamar mandi dan kamar tidur.

    Randy melepas sepatu dan kaus kakinya, kemudian menaruhnya di rak sepatu. Ia melepas dasinya dan menaruhnya di atas rak sepatu itu, kemudian ia menaruh tasnya di sofa yang terletak dekat dengan rak tersebut. Dia mengambil remote control yang disimpan di atas sofa itu dan menyalakan hologram TV. Hologram itu terpancar dari langit-langit. Randy kemudian duduk di sofanya dan menekan tombol remote itu berulang-ulang, mencari channel yang bagus.

    Dengan cepat ia merasa bosan dan mematikan hologram TV tersebut. Ia bermaksud menaiki tangga spiral menuju lantai dua, sebelum dihampiri oleh robot kecil berwarna kuning, robot pelayannya. Robot itu memiliki dua tangan dan dua kaki layaknya manusia, namun berukuran lebih kecil.

    “Oh ya.. tolong bereskan tas dan dasiku, kemudian siapkan makanan.”

    Robot itu mengangguk, kemudian mengambil tas dan dasi Randy dan memindahkannya ke tempat lain. Randy menaiki tangga spiral menuju lantai dua. Ia berjalan menuju tempat tidur dan berbaring. Ia menatap langit-langit beton rumahnya dengan tatapan kosong. Ia tenggelam dalam lamunannya. Tentang ayahnya yang mati karena sebuah percobaan ruang angkasa yang gagal. Tentang ibunya yang menghilang. Tentang pamannya, satu-satunya familinya yang memberinya uang dan rumah untuk hidup tapi tidak pernah sekalipun memperhatikannya.

    Dia tidak pernah memiliki teman, kecuali Cecilia Ray, satu-satunya orang yang mau menemaninya. Dia tidak pernah memperhatikan orang lain. Dia tidak pernah peduli kepada orang lain, kecuali Cecilia, itu pun karena terpaksa. Dia tidak pernah memiliki cita-cita sejak orangtuanya pergi. Satu-satunya alasan baginya untuk terus hidup adalah karena pamannya memaksanya untuk tetap hidup, meskipun ia tidak suka.

    Ia langsung tertidur. Menuju sebuah mimpi yang sudah ia kenal dan ia alami ratusan kali. Ia tahu, ia sedang bermimpi. Ia berada di sebuah ruang kosong yang luas dan berwarna putih. Selain dirinya hanya ada satu orang lagi yang bersamanya. Orang itu adalah ayahnya, seorang pria gagah berkumis tipis yang mengenakan pakaian khas dokter dan kacamata.

    “Ayah.. kau tidak akan kembali besok?” Randy selalu menanyakan pertanyaan yang sama, berulang kali, setiap dirinya memimpikan hal ini. Dan jawaban dari ayahnya pun selalu sama, “Besok ayah tak bisa pulang.” Namun Randy terkejut saat ayahnya memberikan jawaban yang berbeda.

    “Ayah memang tak bisa pulang. Tapi kamulah yang akan datang pada ayah.” Sambil tersenyum, ia menghilang.

    Randy langsung terbangun dengan perasaan terkejut. Apa maksudnya itu? Apa ayahku masih hidup? Apakah dia akan kembali? Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di pikirannya. Namun ia tetap menyangkal segalanya. Itu hanya mimpi, pikirnya. Itu hanya mimpi. Ia bangun dari tempat tidurnya kemudian menyalakan komputer layar sentuh yang menempel pada dinding kamar tidurnya.

    Ia menyadari bahwa ada satu pesan video baru. Mungkin dari Cecilia, pikirnya, karena Cecilia memang sering mengiriminya pesan video seperti ini. Namun dia tetap penasaran dan membuka isinya. Isinya tidak pernah diperkirakan, bahkan dibayangkan olehnya. Wajah ayahnya muncul, tepat seperti yang ia lihat dalam mimpinya, dengan background sebuah laboratorium.

    “Randy Trey, datanglah padaku. Ada yang harus kubicarakan denganmu. Aku ada di ibukota, planet Rexus di tata surya Rabetia. Bawalah Cecilia bersamamu. Orangku akan menyambut kalian di pelabuhan.”

    Randy terdiam, tidak percaya apa yang sudah ia lihat. Ayahnya masih hidup, tidak menjelaskan semuanya lebih dulu, bahkan dengan santai menyuruhnya untuk datang ke ibukota. Dan bersama Cecilia? Ia tidak mengerti semua ini. Apa yang ingin ayahnya bicarakan? Kenapa tidak langsung saja melalui video call? Apa ada sesuatu yang ia rencanakan? Randy tidak ingin memikirkan itu semua. Hanya satu yang ada di pikirannya, bertemu dengan ayahnya.

    Randy langsung mengganti bajunya kemudian bergegas menuju rumah Cecilia. Ia bertemu dengan Cecilia di tengah jalan. Sepertinya ia pun dikirimi pesan oleh ayah Randy dan juga berniat menjemput dirinya.

    “Oh.. Randy? Ayahmu.. dia..” Cecilia tidak bisa menyembunyikan nada kekagetan dalam suaranya.
    “Aku tahu. Dia masih hidup. Dan dia lebih memilih memanggilku dan kamu ke ibukota daripada menjelaskan kenapa dia masih hidup dan pamanku membohongiku. Tapi sekarang sebaiknya jangan pikirkan itu. Bagaimana dengan orangtuamu?” pada suaranya terdapat nada kemarahan, namun ia berhasil menahannya.
    “Yah, mereka sangat mudah untuk dibujuk.”
    “Baguslah kalau begitu.. baiklah, kita pergi sekarang.”

    Mereka berjalan hingga tiba di terminal desa. Mereka berdua duduk, menunggu datangnya bus terapung yang akan membawa mereka ke kota. Setelah beberapa lama, bus itu datang. Mereka berdua masuk dan langsung duduk di bagian belakang. Bus itu hampir kosong dan selain mereka berdua hanya ada beberapa orang lagi. Sebuah robot pengemudi mengemudikan bus tersebut. Saat bus itu mulai bergerak, tiba-tiba Randy teringat akan sesuatu.

    “Cecilia.. aku lupa membawa kartu saldoku. Kamu punya-“ namun sebelum Randy menyelesaikan kalimatnya, Cecilia langsung memotongnya.
    “Aku tahu pasti kamu akan bertindak ceroboh seperti ini. Tenang saja, aku bawa kartuku. Aku masih punya cadangan yang banyak di akunku.”
    “Terima kasih.” Kata Randy, dengan nada datar.

    Kemudian mereka tidak berbicara lagi sepanjang perjalanan. Setelah sekitar satu jam, bus tiba di kota pelabuhan Caratina. Mereka turun dari bus terapung dan duduk sebentar di terminal, beristirahat. Namun tanpa mereka ketahui, seorang pria mengintai mereka. Pria itu berpakaian seperti orang biasa, namun mengenakan kacamata hitam dan sebuah earphone terpasang di telinga kanannya.

    “Target sudah ditemukan. Bersiap menuju tahap selanjutnya.” Katanya sembari menekan earphone tersebut. Kemudian ia pergi menuju keramaian.
     
  5. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    Game 1 : In A Distant Star... Part 2

    Randy dan Cecilia berjalan menyusuri kota itu. Terminal bus dekat dengan pelabuhan, maka mereka hanya perlu berjalan. Mereka berjalan tanpa berbicara sepatah kata pun, seperti biasa. Setelah agak lama, mereka akhirnya tiba di pelabuhan. Suasananya ramai, dan ada banyak sekali orang disana, menunggu pesawat, menunggu seseorang atau hanya sekedar berdagang memanfaatkan keramaian.

    Pelabuhan itu sendiri terlihat sangat besar, dan sebenarnya lebih mirip bandara abad ke-21 dibanding pelabuhan. Pesawat luar angkasa tinggal landas dan lepas landas melalui sebuah runway, dan istilah pelabuhan hanya dipakai karena pesawat-pesawat itu adalah pesawat luar angkasa. Meski begitu semuanya tetap terlihat futuristik.

    Randy dan Cecilia langsung menuju loket otomatis. Sebuah robot pelayan berada dalam loket tersebut, melayani pelanggan yang akan membeli tiket pesawat. Robot tersebut berbeda dengan robot yang dimiliki Randy. Tangannya lebih canggih meskipun ia tak memiliki kaki, dan warnanya biru.

    “Dua tiket, tujuan Rexus, Rabetia.” Kata Cecilia kepada robot itu.

    “Jam penerbangan yang tersisa adalah jam 2, jam 5, jam 7 malam, dan jam 11 malam.”

    “Jam dua. Satu jam dari sekarang.”

    “Baiklah. Kartu saldo anda?”

    Cecilia menggesekkan kartu saldonya pada lubang di sebelah kanan loket. Secara otomatis tiket keluar dari lubang satunya yang berada di sebelah kiri loket.

    “Terima kasih.”

    Randy dan Cecilia pergi meninggalkan loket dan duduk di kursi yang berada dekat loket tersebut, menunggu keberangkatan. Randy terus memikirkan ayahnya. Pertanyaan demi pertanyaan kembali berkecamuk di pikirannya. Cecilia pun tidak bisa dibilang lebih tenang. Dia merasa gundah dan risau, kebingungan akan kemunculan ayah Randy yang tiba-tiba. Kenapa aku harus menemaninya? Sebenarnya untuk apa? Apa maksud dari semua ini? Cecilia tidak bisa menyembunyikan kegalauannya.

    Tanpa mereka sadari, pria yang mengintai mereka sejak tadi kemudian menghampiri mereka berdua dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah pulpen. Randy dan Cecilia tidak memperhatikannya, dan menyangka bahwa orang itu hanya orang biasa yang sedang lewat.

    Tiba-tiba orang itu menekan pulpennya. Pulpen itu mengeluarkan sinar inframerah kecil yang membuat Randy dan Cecilia terhipnotis.

    “Sekarang ikuti aku dan bawa barang-barang kalian.” Kata orang itu. Randy dan Cecilia mengangguk dan mengikuti orang itu pergi.

    XXXXXXXXXXXXXXXXXX​

    Randy terbangun dan terkejut mendapati dirinya dan Cecilia berada di dalam sebuah kotak kaca. Kotak kaca itu sangat keras dan tidak dapat ditembus, hanya menyisakan satu lubang kecil untuk bernafas. Di depan Randy berdirilah orang yang menghipnotisnya. Orang itu menunjukkan senyuman yang penuh kelicikan.

    “Siapa kamu? Kenapa kamu menjebak kami disini?” nada suara Randy amat getir. Bibirnya bergetar.

    “Tidak perlu kau tahu siapa aku. Yang jelas.. eksistensi kalian berbahaya. Ambisi Robert Trey begitu besar dan membahayakan kami.” Sosok itu menjawab dengan dingin.

    “A.. ayahku? Tapi apa yang sedang direncanakan olehnya?”

    “Aku tidak akan memberitahumu. Yang jelas kalian berdua tidak boleh bertemu dengan Robert Trey.”

    “Tapi ini tidak masuk akal!!! Apa maksudmu dengan semua ini?” Randy berteriak, kemarahan dan kepanikan mulai membelit dirinya.

    Namun sosok itu tidak menjawab lagi dan pergi meninggalkan mereka. Randy ingin bertanya lagi namun sosok itu menghilang dari pandangannya. Saat itulah Cecilia terbangun. Ia sama terkejutnya dengan Randy, yang menjelaskan semuanya. Cecilia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Belum sempat ia berkata apa-apa, sosok itu kembali ke hadapan mereka.

    “Ka.. kamu?” Cecilia menatap orang itu dengan wajah terkejut. Akan tetapi ia tidak sempat melanjutkan kalimatnya. Orang itu segera menghipnotis dan menidurkan mereka berdua, yang terlelap tanpa menyadari apa-apa. Orang itu tersenyum licik dan membawa mereka berdua pergi. Dia tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengintainya.

    XXXXXXXXXXXXXXXXXX​

    Randy dan Cecilia terbangun bersamaan dan menyadari bahwa mereka ada di dalam kapsul yang terpisah, berhadap-hadapan satu sama lain. Kapsul itu ada di sebuah ruangan yang amat sempit dan berjendela besar. Dari jendela itu hanya kehampaan ruang angkasa yang terlihat bergerak. Keduanya menyadari mereka berada di sebuah pesawat luar angkasa. Mereka ingin berteriak minta tolong, namun kapsul itu kedap suara dan menghalangi suara mereka sehingga suara mereka tidak bisa terdengar ke luar.

    Waktu berlalu. Terus berlalu. Keduanya mulai panik, namun Randy heran karena pesawat sama sekali belum melakukan warp meskipun mereka sudah berada cukup lama di luar angkasa. Apa kita akan dibuang, pikirnya? Tapi untuk apa? Randy mulai resah. Amat resah. Resah dan takut menghadapi kematian.

    Namun tiba-tiba pesawat berhenti. Keduanya diam, dan mengira bahwa mereka akan dibuang sebentar lagi. Alih-alih dibuang, pintu kapsul malah dibuka dan di hadapan mereka muncul seorang wanita. Seorang wanita berambut oranye, bermata biru dan berpostur tinggi, yang mengenakan kacamata hitam dan baju one piece latex warna hitam. Randy dan Cecilia keluar dari kapsul tersebut.

    “Siapa kamu?” tanya Randy keheranan.

    “Ceritanya panjang. Yang jelas, aku teman kalian. Ayahmu mengirimku untuk menjemput kalian, namun ternyata seorang mata-mata mendahuluiku. Ayo, ikut aku.”

    Keduanya mengikuti wanita aneh itu, hingga mereka tiba di kokpit pesawat. Wanita itu langsung duduk di kursi pilot dan menjalankan pesawat itu, yang bergerak memutar dan melanjutkan menuju fase warp drive. Saat itulah wanita itu mulai membuka mulutnya dan berbicara.

    “Namaku Julia London. Aku-“ sebelum ia dapat berbicara lebih banyak, Randy memotong.

    “Tunggu. Nama keluargamu.. nama salah satu kota di Bumi.”

    “Bagus kalau kau tahu. Banyak orang jaman sekarang yang tidak mengerti sejarah, dan menerima namaku tanpa pertanyaan seolah-olah namaku ini lazim. Ceritanya lebih panjang lagi, tapi yang jelas nenek moyangku tinggal di sana. Kembali ke inti masalah, ayahmu mengirimku untuk menjemput kalian. Sayangnya, aku melihat kalian dihipnotis oleh seseorang. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti kalian, dan tibalah aku di sebuah gudang tempat kalian disekap. Tadinya aku ingin menyerang dia dari belakang, namun sepertinya dia menyadariku dan membawa kalian ke sebuah pesawat. Beruntung aku berhasil mengikutinya dan akhirnya dapat menyergapnya dari belakang sebelum menyelamatkan kalian.”

    Randy masih kebingungan dengan penjelasan Julia, “Tapi dimana dia sekarang? Bukankah semestinya dia masih ada di sini?”

    Julia menunjukkan sebuah kapsul kecil berwarna putih di tangannya. “Ini.”

    “Apa?” baik Randy maupun Cecilia tidak percaya apa yang mereka lihat. “Tapi itu hanya kapsul biasa!” kata Cecilia, keheranan.

    “Bukan, sebenarnya. Wajar bila orang awam tidak tahu. Ini adalah sebuah clone portrayal, dengan kata lain kapsul ini bisa berubah menjadi bentuk seseorang. Tapi tentu saja kapsul ini tidak bisa berubah dengan sendirinya. Kita harus memasukkan chip yang akan dihubungkan dengan chip yang sama yang ditempelkan di leher seseorang melalui transmitter. Transmitter itu sudah aku patahkan, sebenarnya ada sebuah antena yang amat kecil menempel pada kapsul ini. Satu-satunya cara untuk mengubah kembali ilusi klon tersebut menjadi kapsul adalah dengan memutuskan transmitternya.”

    “Jadi sebenarnya orang yang menculik dan menyekap kita itu bukan..” sebelum Cecilia menyelesaikan pertanyaannya, Julia langsung menjawab.

    “Ya, orang yang sebenarnya ada di suatu tempat entah di mana, yang jelas jaraknya paling jauh 50 tahun cahaya. Tapi sepertinya dia mata-mata luar negeri.” Jawab Julia, dengan nada datar dan tenang. Namun itu hanya membuat keduanya makin keheranan.

    “Mata-mata luar negeri? Kenapa mata-mata seperti itu ingin mengincar kita berdua?” tanya Randy.

    “Sayang sekali aku tak bisa menjawab mengenai itu. Ayahmu akan menjelaskannya saat kita tiba di ibukota.”

    Randy terang saja tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Julia, namun dia tahu dia tak bisa bertanya lebih jauh lagi. Dia hanya bisa menunggu hingga dia tiba dan bertemu dengan ayahnya. Saat itulah, dia akan menanyakan semua hal yang bisa ia tanyakan.

    Cecilia sama kebingungannya dengan Randy. Berbagai pertanyaan masih mengisi hatinya. Kenapa ayah Randy tahu dia tinggal disana, dan bahwa dia adalah teman Randy? Kenapa ayah Randy kemudian memanggilnya bersama Randy untuk pergi ke ibukota, bertemu dengannya? Dan kenapa mereka berdua diculik? Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk seiring dengan berakhirnya fase warp dan planet Rabetia mulai terlihat.

    -End of Game 1-
     
  6. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    Game 2 : Welcome To The Game Part 1

    Pesawat itu akhirnya memasuki atmosfer planet Rabetia, namun Randy tidak begitu memerhatikannya. Pikirannya sedang terombang-ambing di atas laut perasaannya yang campur aduk, antara kerinduan, kebahagiaan, kecemasan, kesedihan dan kemarahan. Hal itu membuatnya merasa benar-benar aneh, seolah hatinya sedang bergolak. Di satu sisi, ia memang bahagia karena ia dapat kembali bertemu ayahnya. Di sisi lain, ia merasa ingin memukul ayahnya karena ia meninggalkannya dan mengarang cerita bahwa dia sudah mati.
    Sayangnya, pikiran dan perasaannya tidak sedang diisi oleh dualisme sederhana seperti itu. Dia juga merasa cemas, karena penculikan yang dialaminya mau tidak mau membuatnya sedikit paranoid. Bahkan kesedihan pun menghinggapi hatinya yang lelah oleh kebohongan. Terdapat pula sesal, sesal terhadap dirinya sendiri karena tidak menyadari bahwa ayahnya masih hidup sejak dulu.

    Cecilia jauh lebih sederhana darinya. Meskipun ia merasa takut dan ragu, namun dia masih bisa tersenyum, hal yang benar-benar ia kuasai bahkan saat ia akan menangis. Tentu saja dia masih heran kenapa ayah Randy, Robert Trey, bisa mengetahui segalanya tentang hubungannya dengan Randy (sebagai teman tentunya, tidak lebih, walaupun hanya mereka berdua yang menganggapnya begitu). Dan juga kenapa dia harus menemani Randy sampai ke ibukota hanya untuk bertemu ayahnya.

    Dan akhirnya mereka tiba di Rabetia dengan rasa bimbang yang menjadi parasit di hati mereka.

    Pesawat itu memasuki atmosfer, kemudian menukik tajam hingga terlihatlah keadaan planet Rabetia yang terjaga dengan baik dan subur makmur, setidaknya bila dilihat dari atas. Pesawat itu berbelok, melingkari planet untuk memperlambat kecepatannya sebelum kembali turun ke bawah dan mendarat di sebuah pelabuhan. Pelabuhan itu terlihat seperti pelabuhan khusus, sepi dan dilindungi oleh semacam perisai yang tipis namun sangat kuat sekuat-kuatnya sebuah pagar. Perisai itu menutupi seluruh pelabuhan, hanya membuka saat pesawat itu mendekat, kemudian menutup kembali setelah pesawat itu masuk.

    Akhirnya pesawat mendarat dan mereka bertiga keluar. Julia maju terlebih dahulu, membimbing mereka keluar dari pelabuhan tersebut menuju sebuah bangunan. Sebuah bangunan besar berwarna putih bersih, yang bentuknya dari luar terlihat seperti sebuah tempat penelitian : besar, berbau aneh, dan super-bersih. Julia dengan tenang berjalan dengan gaya yang menunjukkan bahwa ia sudah menjalaninya ribuan kali.

    Randy dan Cecilia melihat ke sekeliling mereka. Sebelum mencapai bangunan tersebut, sebenarnya mereka harus melewati sebuah taman terlebih dahulu. Taman yang amat bagus, dengan tanaman yang tersusun atas gabungan tanaman dari planet-planet yang jauh dan tanaman yang pernah populer di Bumi, seperti bunga tulip dan bunga matahari. Mereka berdua ingin bertanya, tapi melihat Julia mempercepat langkahnya mereka sudah tahu bahwa dia tak akan menjawab dengan jawaban yang memuaskan.

    Kemudian mereka tiba di bangunan tersebut. Isi dari bangunan tersebut sama kakunya dengan luarnya : lorong-lorong dari besi, membentuk sebuah kompleks ruangan-ruangan yang efisien namun rumit. Julia kemudian menunjukkan peta bangunan itu pada mereka, yang terletak di depan pintu.
    “Yah, sebenarnya aku sendiri masih tidak begitu mengerti dan hanya bisa mengingat jalan menuju beberapa ruangan saja.” Aku Julia.

    “Sekarang akan ke mana kau bawa kita? Di mana ayahku?” suara Randy yang biasanya tenang dan malas mulai terdengar memaksa.

    “Tenang. Ikuti aku. Ayahmu pasti ada di ruangan kontrol. Saran dariku, jika ada ruangan yang harus kau ingat saat bekerja di sini, yang pertama dan pasti adalah ruangan kontrol.”

    Julia kembali berjalan, diikuti Randy dan Cecilia, menyusuri lorong-lorong yang dingin dan, meskipun luas, namun terasa sempit dan tidak mengenakkan bagi kedua remaja itu. Mereka berjalan, berjalan terus, berbelok dan lurus, melewati lorong-lorong yang seperti menekan mereka.

    Akhirnya mereka tiba di ruang kontrol, yang terdiri dari tiga bagian bertingkat. Bagian paling atas terdiri dari sebuah meja putih dengan bendera Republik Baldica sebagai latar belakangnya, tempat komandan menjalankan tugasnya dan memerintah anak buahnya. Bagian tengah terdiri dari beberapa komputer yang dilengkapi alat komunikasi tercanggih, dan memang berfungsi sebagai penghubung komunikasi ruangan kontrol dengan dunia luar. Bagian paling bawah merupakan pusat komando, tempat segala sesuatu yang bersifat operasional dijalankan. Di depannya terlihat sebuah layar hitam besar.

    Banyak orang berada di sini, bergerak dengan terburu-buru dan dengan sibuknya bertindak tergesa-gesa seolah-olah mereka tidak punya waktu lagi yang tersisa untuk menjalankan semuanya. Saat mereka bertiga memasuki ruangan tersebut, mereka dapat melihat Robert Trey, tak lain dan tak bukan, sedang berdiri di posisi paling atas, dengan kata lain sebagai seorang komandan. Meskipun begitu Randy dan Cecilia masih belum mengetahui peran apa yang dimainkan Robert di tempat itu, karena Julia bungkam. Mereka bertanya-tanya di dalam pikiran mereka, namun memilih diam karena takkan terjawab.

    Julia membuka suara lebih dulu. “Komandan. Mereka sudah tiba.”
    Mendengarnya, Robert langsung menghampiri mereka bertiga. Langkahnya tegap dan prima, dengan sebuah wibawa terpancar dari dirinya.

    Perawakannya tegap dan tinggi, terawat dengan baik. Jambang tipis tumbuh di wajahnya, selaras dengan rambut hitamnya. Dia mengenakan kacamata hitam yang terlihat agak nyentrik, dan sebuah jubah hitam, seolah-olah dia adalah pemimpin suatu sekte pemujaan.

    Saat langkah Robert berhenti, seketika itu pula Randy langsung bertanya padanya, dengan kemarahan yang menguasai dirinya.

    “Kemana saja, Yah? Masih sibuk berpura-pura mati?” suaranya yang lantang dan tangannya yang terkepal menandakan bahwa dia sedang menahan aura kemarahan yang besar. Jelas, semuanya terkejut oleh pertanyaannya.

    “Randy! Kamu..” Cecilia ingin memperingatkannya, namun Robert langsung memotongnya.

    “Anakku sudah tumbuh menjadi anak yang berani rupanya.. aku bangga padamu, setelah lama tidak bertemu.” Suaranya yang datar dan dingin tidak dihiraukan oleh Randy, yang masih diliputi kebencian.

    “Jawab pertanyaanku!!!” bentaknya, dengan mata yang membara seperti harimau buas menerkam mangsanya. Namun Robert hanya tersenyum kecil mendengarnya, dan tidak menjawab pertanyaannya.

    “Yang jelas, semestinya aku yang bertanya duluan, nak. Apa kalian tahu kenapa kalian dipanggil kesini?”

    “Aku tak ingin tahu. Sebelum kau jawab pertanyaanku aku tak mau tahu semua alasanmu!!!” Randy sudah akan meledak. Ia kehilangan kesabarannya. Cecilia memeganginya diliputi kecemasan mendalam. Reuni ayah dan anak ini memang tidak berjalan seperti yang seharusnya.

    “Walaupun alasannya adalah nyawa?” Hanya empat kata, dan tiba-tiba ekspresi Randy berubah. Tubuhnya melemah dan raut mukanya mulai bimbang.

    “Apa maksudmu dengan nyawa?” tanya Randy yang kebingungan. Robert hanya tersenyum picik kemudian berbalik dan berteriak,

    “Opsir Li, tunjukkan situasinya pada layar!!!” Layar itu menyala, dan terlihatlah sebuah pemandangan yang betul-betul mengenaskan. Rumahnya sendiri, planet Meritemium, terbakar hancur rata dengan tanah. Terlihat banyak tentara robot yang tak pernah terlihat sebelumnya, menyusuri jalanan ibukota mencari perlawanan. Jeritan dan tangisan penduduk terdengar sebelum layar itu mati, transmisi dirusak oleh tentara robot itu.

    Terang saja Randy dan Cecilia tidak percaya apa yang mereka lihat. Wajah mereka mendadak pucat, terutama wajah Cecilia, seolah mereka terkena petir di siang bolong. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik, dan suasana tetap gaduh hanya karena suara orang-orang yang berlalu lalang dengan sibuknya di bagian bawah. Akhirnya Cecilia berbicara duluan, dengan tergagap dan menahan sedih,

    “A-apa maksudnya itu…? Tadi semua m-masih baik baik s-saja..”

    Robert menjawab dengan tenang, malah tanpa emosi, “Sayangnya beberapa jam setelah kalian pergi, tidak. Sebuah serangan telah dilancarkan oleh musuh baru kita, Kekaisaran Suci Hecate.” Kemudian ia melanjutkan,

    “Kalian.. akan melawan mereka dengan imajinasi kalian.”

    “Apa?” baik Randy dan Cecilia terkejut. Tentu saja tidak akan ada orang waras yang tidak menganggap Robert gila, tapi itu sebelum dia kembali menjelaskan.

    “Begini. Kalian akan mengendalikan tentara kita melawan mereka. Tapi dengan imajinasi kalian, maksudnya adalah kalian akan mengendalikan tentara-tentara itu dengan otak kalian. Otak kalian akan dihubungkan dengan semacam pengendali untuk mengendalikan semua tentara robot tersebut. Dengan otak kalian. Tentara-tentara itu bebas untuk diperintah oleh otak kalian. Terdengar seperti permainan simulasi perang?”

    Pertanyaan itu tidak dijawab, namun Robert tidak peduli dan terus menjelaskan. “Nah, misi kalian adalah membawa tentara kita menuju kemenangan. Terdengar klise, tapi kemenangan adalah satu-satunya jawaban. Nah, sekarang, Julia bisa antarkan kalian ke ruangan pilot.”

    “Tunggu.” Randy bertanya, “Kenapa harus kami, anak-anak? Bukankah banyak orang dewasa yang bisa ditugaskan?”

    “Seperti yang kubilang, imajinasi. Kalian masih anak-anak dan imajinasi kalian luas, maka kalian bisa mendapatkan kontrol penuh atas tentara yang kalian akan kendalikan. Aku tahu, aku sudah mencobanya dan orang tua sepertiku bahkan tak bisa menggerakkan mereka selangkah. Yah, Julia, silakan antarkan mereka ke ruangan pilot.”

    “Baik, komandan.” Julia mengantar kedua anak itu keluar dari ruangan kontrol.
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.