1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Pengen ganti nama ID? Plat tambahan? Promo GK? Cek Promo Spesial Hari Kemerdekaan, Kuy~ Cek infonya di sini yaa!
  3. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  4. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
  5. Apa kamu cukup berani melawan Valak? Satukan kekuatan di The Werewolf Series #16: THE NUN. Open registration: 14 - 21 September 2018!
  6. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!

SongFic The Divine Suicide [Protest The Hero - Kezia (Album)]

Discussion in 'Fiction' started by MaxMarcel, May 28, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. MaxMarcel M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,838 / -0
    Fic ini semata-mata dibuat karena kekaguman TS pada album Kezia oleh band Protest The Hero. Isi fic ini berdasarkan kesan dari cerita yang saya tangkap pada album Kezia.
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. MaxMarcel M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,838 / -0
    I. The Priest

    Ini seharusnya tidak terjadi. Itulah yang terus terulang di kepalaku. Bagaimana semuanya menjadi salah seperti ini. Sejak kapan semuanya menjadi seperti ini. Kapan semua ini bermulai.

    Apakah sejak ratusan tahun tahun yang lalu? Ketika kami terpaksa melindungi iman kami, memotong para pendosa dan membiarkan darah mereka membanjiri jalan-jalan kota? Atau ketika kami membiarkan locust timah mengikat lidah mereka yang berdusta.

    Oh Tuhan, dimana kasih yang engkau ajarkan? Kenapa semuanya menjadi hancur seperti ini? Sejak kapan iman kami berubah untuk memperkuat sebuah kejahatan besar.

    Dengan takut aku memandang wanita itu. Begitu kotor, tapi begitu suci layaknya seekor domba.

    “Kezia, aku menyesal untuk mengatakan ini. Tapi kesalahan yang kaulakukan pada masyarakat dan Tuhan sangatlah besar. . . Ini semua adalah hukuman dari-Nya. Jalanilah dengan tabah.”

    Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Apa yang baru saja kukatakan? Aku tahu apa yang kukatakan sebenarnya salah. Tapi aku harus melakukannya.

    Seorang munafik. . . Ya aku tahu dengan sangat baik bahwa aku telah berubah menjadi salah satunya. Aku tahu bahwa sebenarnya aku jauh lebih bersalah dari wanita di hadapanku.

    Oh tolonglah, dimana diri-Mu sekarang? Aku memerlukanmu lebih dari kapanpun juga. Mereka menyebutku orang dengan jiwa Kristus. Aku membangun kuilku dengan Kristus sebagai pilar-pilarnya. Dan sekarang aku merasa kuilku jatuh ke dalam kegelapan dan hancur berkeping-keping. Bahkan setelah kuil itu hacur aku tetap memiliki kewajiban pada tugasku. Dua puluh tahun aku terus menyebarkan dosa ini. . . Sampai kapan aku harus memperkuat iman yang ternoda ini?


    ***​


    Ia hanyalah seorang wanita biasa. Seorang wanita yang menyerukan keadilan. Tapi kenapa nasib tragis yang menjemputnya. Di masyarakat korup dan kotor ini, seorang wanita yang suci akan berjalan ke lembah kematian tanpa seorangpun mendampinginya.

    Aku melihatnya terisak di sel tahanannya. Aku dapat merasakan kesedihan mendalam dari dirinya. Seperti Yesus yang berdoa do taman Getsemani. . . Apa yang baru saja kupikirkan!?

    Pikiran itu langsung menghantuiku. Menghidupkan lagi ketakutan terdalam dari jiwaku. Membuatku sadar sekali lagi. Di hadapanku adalah seorang terpidana mati yang sangat hidup dan nyata. Diriku? Aku seorang hidup yang penuh dengan kematian di balik cangkang kebohongan ini.

    Maafkan aku anakku, aku hanya bisa berharap untukmu. Karena sekarang aku hanya menemukan kekosongan dalam doaku. . . Ketika kesalahanmu tidak lagi absurd. Apa yang akan kau katakan, ketika aku menanyakan kata-kata terakhirmu, ketika kau menghembuskan napas terakhirmu?


    I'll burn all the lives of this angel illuminati
    When St. Michael sized means find an end to justify
    A belief to fortify this stained glass disgrace
    Too beautiful to change or perhaps too scared
    The truth behind our lives will be erased
    A crusader begging for a crusade in which to die
    Where lead locusts pierce the heart of men
    And tie the tongues of those who lie

    Cut the sinner, bleed redemption through the city streets
    That resonate in prayers of this never should be
    Someone plunged a dagger deep into God's chest and
    When he groaned it laid our entire civilization to rest
    When he pulled out the dagger and marveled at the pain he could create
    We stuck another in his back to seal creation's fate
    Now we turn from wealth in the height of all our poverty
    A call that renders me ageless
    Turning the pages of a belief that's greater than us all

    Amen to the fools and the cossacks and the pulpits
    Amen to the people who think there's still a way to help us

    They called me the man with the blood of Christ honesty
    But tonight I drink with heathens and the finest of our blasphemies

    In wine there's truth but in silence there's surrender
    A screaming for the silence in stunned suspicious terror
    I built a temple in my life and used God to seal the pillars
    After twenty years of fighting young heretics and killers
    I watch my temple fall to pieces at the first signs of oncoming weather
    Fell to my knees just like Jesus in the cave, knew I would die
    But my lips could only; I am not your son, so why have you forsaken me?
    There's a hole in my heart but it just makes me unholy
    Crucified that night and walked away with alter-egos
    Like the prison priest who preached his dead and buried gospel

    While my faith is in ruins my duty breathes strong
    I'm a parrot in a cage saying prayers to belong to a textbook
    Of my crying, lying, dying history; a time so full of life that I was anything but me

    This morning there are no rods or staffs to comfort you
    Dressed as a target as you amble in your chains
    Stumble through the corridors that lead to our makeshift valley of death
    The prison's backyard where you'll give us your final breath
    Last night I saw you dine with lovers and human tears
    But glanced at me in ways that brought to life my sleeping fears
    That today you'll bite my neck and peel away the aging skin
    Expose the lifeless body and the void divinity within

    So tell me when I've read you your rights
    When the guns are in their place
    When your crime no longer seems absurd

    What will you say Kezia when we ask what are your final words?
     
    • Thanks Thanks x 1
    Last edited: May 28, 2011
  4. MaxMarcel M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,838 / -0
    II. The Prison Guard/ The Gunmen

    Letakkanlah keadilan di cek gajiku dan aku akan mengubah keadilanmu menjadi timah panas. Seorang wanita akan dieksekusi karena sebuah kesalahan yang tidak jelas? Bukan urusanku, tanda tangani cek gajiku dan waktu yang kuhabiskan di sini telah dibenarkan.

    Aku sudah menghabiskan banyak waktu sebagai seorang penjaga penjara dan pengeksekusi mati. Tapi ceritakanlah padaku mengenai moralitas, keadilan, dan keteraturan. Karena aku sama sekali tidak mengerti hal-hal tersebut. Aku hanya mengerti bagaimana caranya untuk membuat rokokku terus terbakar.


    Beberapa orang berbisik mengenai seorang suci yang dipenjarakan atas kesalahan yang tidak dilakukannya. Persetan dengan itu, aku hanya mencium daging segar. Kau tahu, setiap tempat punya budayanya sendiri. Dan di sini kita punya budaya untuk menandai mayat.

    Dengan tiba-tiba aku memukulkan tongkat penjagaku pada teralis selnya. Sebuah pertanda bagi wanita itu dan sinyal bagi penjaga penjara yang lainnya.

    Wanita itu tampak tidak terkejut. Ia hanya memandangku dengan matanya yang sayu ketika aku membuka kunci pintu selnya.

    Dengan wajah bengis aku masuk ke dalam selnya bersama beberapa penjaga penjara lainnya. Ia kelihatan tidak panik, malah lebih ke arah pasran dan menyerahkan dirinya pada kami. Hal yang bagus, tidak setiap hari ada orang seperti wanita ini.


    Dan disanalah wanita itu, berdarah dan terkulai lemah di lantai yang dingin. Tidak ada perlawanan, tidak ada teriakan minta tolong, tidak ada tangisan. Hanya ada penyerahan.

    Menghajar seseorang dengan ‘keadilan’ hingga setiap tulang-tulangnya remuk sebelum sebuah timah panas mengambil jiwanya. Menandai orang-orang mati dengan mengukirkan simbol tersendiri di tubuhnya. Aku sudah melakukannya berulang dan berulang kali.

    Tapi tetap aku tidak pernah melihat yang seperti ini. Suatu hal yang membuatku bertanya. Apakah keberadaanku dibenarkan di sini? Selama ini aku terus melakukan tugasku, sepenuhnya sadar bahwa itu hanyalah permainan pemerintah yang korup. Sepenuhnya sadar bahwa pola pikir “bukan tanggung jawab siapapun” hanyalah sebuah kedok.

    Untuk pertama kalinya aku mengalami sebuah dilemma. Seakan aku mengerti apa itu moralitas dan kebenaran secara tiba-tiba. Aku tahu ini sebenarnya dosa, tapi ini adalah dosa yang harus kulakukan. Ini dosa yang membayar hutang-hutangku, dosa yang memberi makan anak-anakku, dosa yang membakar senyum dan rokokku.


    ***​


    Keagungan nasional memang penuh kejayaan. Penuh kebohongan. Penuh korupsi. Aku masih mengingat dengan baik bagaimana pemerintah menjatuhkan bom pada hal baik begitu melihat hal itu tidak sempurna.

    Dan selalu orang-orang sepertiku yang pada akhirnya menyapu sisa-sisa dari keputusan mereka. Kami selalu bangun sebagai manusia dan tidur sebagai pembunuh. Pagi ini hanyalah pagi lainnya. Sebuah doa dan peluru akan memecahkan pagi ini. Yang pasti doa bukanlah bagianku.

    Dengan jantung yang berdegup lebih keras dari kesunyian, aku menggiring wanita itu. . . Wanita yang mereka panggil “Kezia”. Entah karena apa tiba-tiba aku berpikir, bahwa wanita ini sebenarnya tidak pernah melakukan kesalahan. Dalam masyarakat ini dia harus berkorban.

    Suara langkah kakinya ketika melangkah menuju kematiannya seakan merusak topeng kebohongan yang selalu aku kenakan, sedikit demi sedikit. Aku bisa merasakan tanganku basah oleh keringat ketika aku melihat jam rantai. Waktu eksekusi.

    Diberatkan oleh rasa takut aku mengangkat senapanku. Dengan jelas aku melihat wajahnya yang tenang dari balik senapanku. Haruskah aku menarik pelatukku dan melihatnya berdarah hingga napas terakhirnya? Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa hidup lebih dari sekedar uang dan barang. Dan tidak pernah ada orang yang menyuruhku untuk menarik pelatuknya.

    Sekarang aku hanya berharap. . . Aku adalah sebuah rokok yang selalu terbakar. Membakar jiwa-jiwa yang mengecupnya. Pada detik ini aku meminta agar aku dibiarkan terbakar begitu saja dalam kesunyian.


    Place your justice in my palm and then I'll make fist
    And punch your grimaced face until every last knuckle breaks
    And bleeds in resistance to my sidewalk painting
    A mangled body twitching and regaining consciousness and closure
    Attempting composure before a bullet in the mouth answers the questions of exposure
    And God of Sunday School facades and paycheques to validate the time I served abroad
    It all means nothing if I forget why I'm here
    To serve and protect my fist over fist mind under matter career
    That's why a man sounds kind of funny when he falls to his knees
    With his hand on his throat while he begs you to please spare his life
    While I explain the hardest of bodies dulls the softest of knives
    Then I hold up his chin and carve X's in his eyes
    I swear I have compassion I've just been trained to disregard the prisoner's life
    Because I am the prison guard

    The day that civil glory dismembered my civility
    I could have parted ribs and flesh like a different kind of Red Sea
    Drowned the ancient east in western progress
    Custom and the least of all our pride and sentiments
    Which turned out to be the closest thing to a fashion trend
    That's ever been bulletproof
    Which turned out to be the closest thing to a fashion trend
    That's ever been put on trial
    The rest was cast off as denial of statehood and mastery;
    The ultimate form of treason is the treacherous use of reason
    Employed by the bastard sons of American fore-fathers who keep this fire burning
    With the flesh of their would-be American daughters, daughters, daughters, daughters!!

    What will happen to our children when the least of us pass on?
    Us who fought the monsters of our country's crowded closet
    Us who dropped the bombs on goodness when we saw it wasn't flawless
    Us whose youthful life was hostage to what harm did
    Us who fought the hardest to be swept under the carpet

    And I'm still a cigarette softly smoking on the edge of a metal ashtray
    I begged this place to let me burn, and it whispered, "burn away"

    We woke up as men but tonight we'll sleep as killers
    As we break the cryptic morning with a bullet and a prayer
    The steel never seemed more cold and agile than now
    And life never seems less vital and fragile

    With a heart that's beating louder than my own
    I watch a woman they call Kezia
    I watch a woman that I know
    I watch my hopes and my own future blindfolded
    To atone for a sin I didn't care for, but a sin that paid my debts
    A sin that fed my children and burned my smiles and cigarettes

    And no one ever said that hope would be so beautiful
    And no one ever said I'd have to pull the trigger on her

    I can't even still her trembling hands that were locked up by the dutiful and obligated;

    Five soldiers forever sedated with the,
    "No one's responsible" psychological drama of our social justice dribble
    Her tiny steps tell lies about the choice I have to make;
    Resurrect a static lifetime starve to death my own mistakes
    Pull the screaming trigger and watch your carcass bleed me dry
    Or drop the gun and try to shake away the blindfold from your eyes?

    Drop the gun Drop the gun
    Drop the gun Drop the gun

    A sin I didn't care for, but a sin that paid my debts
    A sin that fed my children and burned my smiles and cigarettes
     
    Last edited: May 28, 2011
  5. MaxMarcel M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,838 / -0
    III. The Story Teller/Epilogue

    Kezia. Seorang wanita yang terlahir dalam masyarakat yang tidak adil dan korup. Ia mencoba melawan doktrin pemerintah yang memanfaatkan agama sebagai alatnya. Ia mencoba membawa kebenaran dalam masyarakat ini.

    Ia menjadi sebuah penyakit bagi seekor hewan buas. Layaknya martir yang harus berkorban, ia menghabiskan malam terakhirnya sendirian tanpa ada seorang pun menguatkan hatinya. Tapi ia menjalani mil terakhirnya dengan tabah.

    Setelah sekian lama ia merasa mati dalam lingkungannya yang penuh kebohongan. Akhirnya ia merasakan kebangkitan. Ia merasa dihidupkan kembali ketika ia memperjuangkan kebenaran.

    Dibangkitkan untuk dibunuh. Itulah pengorbanan terakhirnya untuk kebenaran.

    Pengorbanannya akan menyentuh hati masyarakat. Pengorbanannya merupakan hal yang dibutuhkan untuk sebuah kelahiran kembali.

    Mereka dapat membunuh sebuah bunga. Tapi bibit moralnya akan terus hidup dan tumbuh hingga akhirnya seseorang menemukan. . . Menemukan taman moral di tengah masyarakat ternoda ini.


    Don't ever ask us to define our morals
    Sometimes when fundamentals meet teenage heartbreak
    Some of us are all of us; half-selves that love whole hopes
    And hara-kiri heartbreak

    There's almost nothing worse than never being real
    Strained voices crying wolf when nobody can hear
    If I had a gun I'd pump your ethics full of lead
    If I believed in meat I'd eat a plateful of our dead

    There's merit in construction when it's done with your own hands
    There's beauty in destruction, resurrection, another chance
    There's a you and I in union but just an I in our beliefs
    There's a crashing plane with a banner that reads everyone's naive

    The only proof that I have that we shot and killed this horse
    Is the sounds of whips on flesh and a bleeding heart remorse
    When I'm In this state of reflection and you hand me whips
    And two by fours I could never bring them down and beat the same horse as before

    I'd rather kill a stupid flower and spread its seeds
    Until a garden with our bullet-laden morals will be found
     
    Last edited: May 28, 2011
  6. MaxMarcel M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,838 / -0
    Writter’s last word:

    .
    .
    Cerita ini mungkin terasa absurd dan meninggallkan banyak pertanyaan. Banyak sekali unsur cerita dan konflik rumit yang terkandung dalam lagu Kezia ini. Dan jujur saja, saya sebagai penulis tidak mampu untuk menuangkan semua kerumitan itu pada tulisan ini. Saya hanya dapat menuangkan segelintir sudut pandang sang pendeta (dalam lagu No Stars Over Betlehem, Heretics & Killers, Divinity Within) dan sang penjaga penjara/the gunmen (dalam lagu Bury The Hatchet, Nautical, Blindfold Aside). Konflik dalam diri Kezia (yang tertuang dalam lagu She Who Mars The Skin of Gods, Turn The Soonest to The Sea, The Divine Suicide of K.) sangatlah rumit dan terlalu hebat untuk dapat saya tuangkan dalam tulisan ini.

    Sampai detik ini kesalahan yang dilakukan Kezia masih diperdebatkan diantara penggemar lagu karya Protest The Hero ini. Beberapa mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan perzinaan, beberapa mengatakan berhubungan dengan pembelaan hak wanita, protes terhadap sistem diktator, dan banyak teori lainnya. Dalam cerita ini saya meninggalkan hal itu tetap absurd dan sisanya pada imajinasi pembaca.

    Lirik-lirik karya Arif yang sangat kaya dengan gaya metafor dan arti tersembunyi membuat apa yang sebenarnya terjadi dalam kisah Kezia sulit untuk dipastikan. Banyak sekali bagian absurd yang ditinggalkan untuk diartikan sendiri oleh tiap pribadi. Saya membaca banyak teori dan kemungkinan-kemungkinan, fic ini merupakan hasil penerjemahan saya akan album Kezia.
     
    Last edited: May 28, 2011
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.