1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Story Of My Head

Discussion in 'Fiction' started by ihandee, May 22, 2014.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. ihandee Members

    Offline

    Joined:
    May 5, 2014
    Messages:
    1
    Trophy Points:
    2
    Ratings:
    +1 / -0
    a Story of My Head
    18.00 PM..
    Di pojokan kafe bilangan kemang jakarta selatan, tempat yang sama setiap harinya. Selalu ada 2 sosok manusia yang sedang beradu argumen dan selalu menjadi tontonan para pengunjung kafe lainnya. Setiap hari, jam yang sama 18.00 – 21.00, di meja yang sama Aku dan Maya selalu berdebat akan hal – hal yang berbeda.

    Entah sejak kapan aku mengenal Maya. Jika diingat – ingat tidak pernah ada kata perkenalan yang mengawali pertemanan kami. Akan kuceritakan sedikit tentang hari itu, aku adalah seorang penulis, setidaknya itulah yang sedang kukerjakan sekarang. Karyaku? Sampai saat ini belum ada buah hasil karyaku dipasaran. Hari itu, setelah mati – matian memikirkan apa yang harus kulakukan pada mesin tik yang ada didepanku. Aku memutuskan untuk meninggalkan kosanku yang sempit dan suram, jelas pasti karena itu ide – ide ku tidak dapat berkembang.

    Hari itu seperti biasa aku memesan kopi hitam di kafe yang terletak tidak jauh dari kosanku. Kupikir sambil memandangi jalan diluar jendela kafe dapat memberikanku ide – ide yang dapat menjadikanku seorang penulis. Sia – sia.. Sambil menghela nafas aku kembali memandang bangku kosong yang ada didepanku. Dan disanalah muncul Maya..

    Maya adalah seorang wanita karier yang sukses dibidangnya, setidaknya dari penampilannya itulah aku mengira – ngira. Masih kaget dengan kehadirannya yang tiba – tiba, dia langsung berbicara denganku seolah bertemu teman lama. Bagaimana kabarmu tanyanya, sambil memesan segelas teh kepada waitress yang seolah keheranan melihatku. Mungkin waitress itu heran karena penampilanku yang berbeda 180 derajat dengan Maya.

    Aku adalah penulis urakan, berparas sangar, dan pembenci teknologi. Teknologi tercanggih dikosanku adalah sebuah telepon rumah yang sudah berumur puluhan tahun dan karena aku tidak terbiasa dengan sosialisasi maka telepon itupun tidak pernah berbunyi. Kembali ke Maya.. Aku merasa seolah pernah melihatnya disuatu tempat dan dia terasa akrab. Melengkapi pertanyaan sebelumnya, ia menambahkan: “Gimana bukumu?”

    “Otak ku mampet” jawabanku sambil memikirkan siapa wanita ini dan kapan aku pernah bertemu dengannya. Itulah awal aku mulai mengenal Maya, sebenarnya aku tidak tau nama aslinya tapi aku selalu memanggilnya Maya dan dia tidak protes akan hal itu. Tebakanku jitu pikirku.. Sejak hari itu, setiap hari kami selalu bertemu dijam yang sama. Selalu ada dering dari telepon tua ku yang memastikan aku hadir di jam yang sama, tempat biasa.

    Sebagai wanita karier aku tau jadwal kerja Maya, nine to five. Dan itulah jadwal tidurku semenjak bertemu Maya. Mungkin agak membingungkan, akan kujelaskan sedikit tentang jadwal kami. Maya bekerja dari jam 9 pagi hingga 5 sore, dan kami bertemu pada jam 6 sore hingga jam 9 malam. Sedangkan aku bangun pada jam 5 sore, bertemu dengan Maya hingga jam 9 malam dan melakukan tugasku sebagai penulis hingga jam 9 pagi.

    Maya adalah penabur benih pada ladang ide ku, waktu 3 jam yang kami habiskan bersama menjadi 12 jam yang dapat kuhabiskan didepan mesin tik. Sudah 6 bulan lebih, setiap hari selalu ada hal yang kami perdebatkan.
    Terkadang aku heran dengan tabiat orang Jakarta. Orang – orang yang ada dikafe selalu melihat sinis padaku terkadang ada juga yang mencibir sambil tertawa kecil dengan teman – temannya. Seolah tidak percaya akan kenyataan manis yang bisa terjadi pada orang seperti diriku. Tapi Maya tidak pernah merasa malu duduk denganku, dia selalu berkata padaku “Lagi – lagi orang – orang sedang mengagumimu, wahai sang penulis.”

    Maya dan Aku sangatlah berbeda, dia adalah Teh sedangkan aku Kopi. Sebagai penikmat teh sejati dia tidak pernah terlihat gelisah, selalu tenang, dan mendengarkan ocehanku setiap hari dengan raut wajah yang sudah bisa membaca kemana arah pembicaraan ini. Dan tentunya dia sudah menyiapkan jawaban – jawaban sophisticated. Sedangkan aku adalah kopi, gelisah seperti anak kecil yang kehilangan arah. Karena hal itulah mengapa aku tidak tau apa – apa soal Maya, Maya tidak pernah menceritakan masalahnya bahkan aku sampai sekarang tidak tau dimana ia bekerja dan nomor teleponnya.

    Hampir 7 bulan ritual ku dengan Maya berlangsung. Buku yang awalnya hanya berisi kertas putih sekarang sudah hampir rampung. Semua ini berkat Maya, berkat ide – ide jenius yang disampaikan dengan bahasanya yang penuh perhitungan. Malam ini tidak ada lagi perdebatan, aku mengerti jalan pikirannya sekarang. Semua sudah kutuangkan dalam bukuku. Ia hanya berpesan “Jangan lupa sebut namaku dibukumu, awas kalau nggak!”. Aku hanya menjawab seraya tertawa “tenang, cetakan pertama dengan namamu dan tanda tanganku akan kupersiapkan untukmu.”

    Keesokan harinya editor ku datang untuk mengambil manuscript buku anyar yang 7 bulan ini kukerjakan. Editor ku adalah manusia oppotunis yang hanya akan muncul jika ada kabar menggembirakan dari sosok penulis yang selama ini tidak pernah menjadi idolanya ini. Kata pertama yang meluncur dari lidahnya “Akhirnya selesai juga....” Aku sudah terbiasa dengan gaya parlentenya seakan dia Tuhan bagiku. Persetan dengan itu setidaknya aku sudah tak punya hutang lagi sama Tuhan jadi – jadian itu.

    Beberapa kali dia membolak balik manuscript berharga itu, raut wajahnya mulai berubah. “Aku yakin bukumu akan laku!” iya berteriak sambil cepat – cepat keluar dari kamar kos ku. Aku tak menghiraukan perkataannya, buatku itu hanya ekspresi senang orang yang sudah lama menantikan penulis kampungan yang molor dari schedulenya. Dan aku kembali meringkuk dibalik selimut kemudian tertidur..

    Jam 5 sore tepat aku bangun, menyiapkan sarapan sembari menyiapkan copy-an karya ku yang sengaja aku persiapkan untuk Maya. Tertulis dengan jelas dihalaman pertama buku ku.
    Untuk Maya,
    Wanita yang selalu ada dalam pikiranku dan telah kutuangkan ide – ide jeniusmu yang abstrak kedalam sebuah bentuk nyata.
    Dari lubuk hati,
    J. S.

    Hari ini berbeda, tidak ada dering dari telepon tua ku yang biasanya selalu memastikan keberadaanku. Maya tidak meneleponku, mungkin dia sudah terlalu cape memastikan hal yang sudah pasti. Aku selalu hadir tepat waktu malah selalu hadir terlebih dahulu memastikan teh yang biasanya ia pesan sudah tersedia didepan matanya.

    Tanpa menunggu telepon darinya lebih lama aku segera mengambil copy – an manuscript yang sudah kusiapkan. Kububuhi tanda tangan diatas inisial namaku, dibungkus dengan kotak kayu berbentuk buku yang sudah lama aku persiapkan sebelumnya. Sesampainya dikafe tersebut kulihat meja biasa masih kosong, Maya belum tiba..

    Waitress yang berjalan kearahku langsung menyapa “Biasa yah, mas?” Sembari tersenyum semringah aku menjawab “iya, mbak?” Kebingungan melihat raut wajahku dia kembali ke dapur dan membawa dua cangkir minuman. Teh dan kopi... Sudah jam setengah 10, Maya tak kunjung datang. Waitress yang sepertinya sudah kenal ritualku menghampiri dan menanyakan “tumben mas ampe jam segini, biasanya jam 9 udah pulang. Apa mau nambah?” “Maaf mbak lagi nunggu temenku, yang biasa.” Jawabku.

    Raut muka heran nampak diwajah waitress tersebut. “Mas, biasanya kan kalau kesini sendirian.” Sekarang raut mukanya menulari aku “Loh mbak biasanya kan aku sama cewek yang selalu minum teh itu loh. Masa lupa?” Keheranan iya pun membalas “Gak kok mas, mas-nya selalu dateng sendirian. Selalu meja yang sama, selalu jem yang sama, selalu pesen teh sama kopi, ini tehnya kok gak diminum mas?”

    Semakin penasaran aku mulai bereaksi “mbak gak inget ma cewe yang selalu berantem sama aku kalau ngomong itu? Ini teh buat dia.” Semakin ngotot ia membalas “Masnya disini gak pernah ngomong ma cewe ah, biasanya ngomong sendiri gitu. Makanya pengunjung yang lain suka risih kalau ngeliatin mas-nya.”

    Aku kalah telak, aku berhenti bertanya dan mulai menggunakan sel – sel otak didalam kepalaku. Mungkinkah selama ini Maya yang ada dihadapanku adalah sosok yang selama ini ada dipikiranku saja? Selama ini ide – ide jenius darinya ternyata berasal dari sisi lain pikiranku? Tapi aku memang sama sekali tidak mengenal Maya, ia sosok akrab namun misterius buatku. Aku tidak mendapatkan info apapun tentang dia.

    Semenjak saat itu aku berhenti menanti Maya, meja yang sama pada jam yang sama sekarang selalu kosong. Tidak ada yang berani menempati meja itu, mungkin mereka mengira meja itu sudah dibooking orang gila sepertiku seumur hidup. Ketika ku membaca tulisan yang ada dibukuku “Wanita yang selama ini ada dipikiranku.” Aku sadar, Maya tak pernah nyata, dering telepon darinya tak pernah ada, tapi karena itu pula buku yang berjudul “Pikiran Fana” itu tercipta.

    Semenjak itu aku berhenti menjadi penulis, biarkanlah masterpiece ku terpajang ditoko – toko buku ternama tanpa jilid kedua.
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan

  3. merpati98 M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,486
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,524 / -1
    gaya bahasanya enak ini. ngalir. aku cuma kurang sreg sama kalimat pembuka di awal. kesannya kayak mau pake sudut pandang orang ketiga, padahal ternyata pertama. trus beberapa istilah bahasa Inggris juga kerasa agak... bukan ngeganggu sih. Cuma gak perlu. kesannya kayak pengarang mau pamer vocab. Buat beberapa sih ga masalah ya... mungkin emang susah nyari padanan kata di bahasa Indonesianya. Tapi kayak waitress doang... apa masalahnya disebut pelayan ._.a

    ceritanya lumayan. Mungkin saking ngalirnya ni tulisan, aku nyampe ga sempet mikirin plotnya mau kayak gimana. dan endingnya... wogh. ternyata. Padahal dari judulnya sebetulnya udah cukup jelas ya. Yah, well done soal ini. Selain itu, paling tanda baca(dkk) aja perlu dirapiin lagi.
     
    Last edited: May 23, 2014
  4. Ii_chan M V U

    Offline

    Minagiru ai

    Joined:
    Jun 27, 2013
    Messages:
    4,958
    Trophy Points:
    187
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +1,178 / -55
    hmm, sama dengan kk merp kyknya


    btw, kenapa si penulisnya nggak bisa ngebayangin si maya lagi? apa karena tugas maya buat nyemangatin penulisnya udh selesai? :bloon:
     
  5. Fairyfly MODERATOR

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,822
    Trophy Points:
    257
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,467 / -133
    entah kenapa pas baca sampe bagian ketemu maya, aku udah bisa nebak endingnya, dan ternyata tepat sasaran :iii:

    ceritanya mengalir dengan pace yang stabil, nice. yang kurang menurutku cuma pendalaman karakternya aja sih. konflik yang ada seharusnya bisa diperdalam lagi sehingga bisa menimbulkan kesan luar biasa kepada pembaca. klimaksnya juga bagiku kerasa agak hambar. entahlah, mungkin karena aku udah sering baca cerita model ginian :iii:

    okelah karena mbak mbem lagi sibuk, aku ambil alih tugasnya dulu buat sementara :lalala:

    pertama, judul. penulisan huruf paling awal itu kan seharusnya besar :swt: memang konteksnya huruf "a" disini sebagai penghubung, tapi kan itu awal kalimat (banget)

    baca kalimat pertama, dan ada 2 hal yang janggal.
    1. kalimat pertama itu gak bisa disebut sebagai sebuah kalimat efektif (ini namanya kalimat intransitif). kenapa? ga ada point (objek). ini merupakan kalimat majemuk yang berpola S(SPOK)-P(SPK). intinya, hanya subjek n predikat, tanpa objek. kalimatnya ga salah, cuma salah penempatan.
    2. penulisan. jakarta selatan harusnya kapital karena menandakan tempat.

    nah kalo yang ini kebalikan dari yang diatas. kalimat ini mengandung dua objek. hari itu dan seorang penulis.

    1. bagaimana kabarmu. well, kata tanya kok ga pake tanda tanya? terus itu kan quotation, jadi harus dikasi tanda petik.
    2. waitress, nah ini. istilah asing harusnya dicetak miring.

    okelah karena kebanyakan aku sebutin yang di awal aja yaa :lalala:
     
    Last edited: May 23, 2014
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.