1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic My Stories

Discussion in 'Fiction' started by paulinalee, Sep 29, 2014.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    Seluruh cerita yang ada di thread ini fiksi dan karena penulis sangat menyukai Korea Selatan, maka nama pemeran dan latar tempat sebagian besar merujuk ke sana ^^
    Enjoy!


    Any opinions is desperately waited for ^^
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan

  3. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    My Love is a Gangster

    Chapter - 1 -

    My PERFECT life is NOT PERFECT !


    Namaku Park Ga In. Saat ini usiaku 28 tahun dan aku mensyukuri semua hal yang ada dalam hidupku saat ini.
    Meskipun kedua orang tuaku hidup nun jauh di Pulau Je Ju, tapi setidaknya aku bisa menggunakannya sebagai alasan untuk kabur sejenak dari hiruk pikuk Seoul dan menikmati suasana pulau Je Ju yang luar biasa.
    Aku tinggal sendiri di Seoul tapi aku punya banyak teman yang tidak pernah mengijinkanku merasa kesepian sedetikpun.
    Selain itu, aku punya Hyun Bin. Siapa Hyun Bin? Dia adalah laki-laki yang paling kucintai, dia adalah segalanya bagiku. Se-ga-la-nya.
    Kami berkenalan di salah satu project kerjasama perusahaanku dan perusahaan tempat ia bekerja, dan kami sudah berpacaran selama 3 tahun sekarang.
    Ah.... I love my life!

    Hingga detik ini, hingga 29 November 2012 aku tidak pernah tahu bahwa hidupku yang terasa begitu sempurna ini akan segera berubah 180 derajat dan menjadikannya sebuah kehidupan yang tidak pernah kubayangkan akan kujalani sebelumnya.

    ******​

    “ Happy anniversary!” seru Hyun Bin yang tiba-tiba muncul di hadapan Ga In dengan sebuah gula kapas berukuran raksasa.
    “ Aaa.... Happy anniversary!!” pekik Ga In riang sambil mengambil gula kapas dan segera memakannya.
    “ Kau memang selalu seperti anak kecil, apakah kau lupa berapa umurmu sekarang?” sahut Hyun Bin sambil menepuk nepuk kepala kekasih yang sudah dipacarinya selama 1 tahun itu.
    “ Kalau aku tidak bersikap seperti anak kecil, maka aku akan terlihat seperti tante-tante saat berjalan di sampingmu!” gerutu Ga In, ia tidak akan pernah melupakan kenyataan bahwa usia kekasihnya masih 25 tahun, lebih muda dibandingkan dirinya.
    Hyun Bin tergelak.
    “ Memang kenapa? Toh memang aku lebih muda darimu, dan tidak ada yang salah dengan itu, berpacaran dengan wanita yang lebih tua sedang trend sekarang ini.”
    “ Tetap saja! Aku ingin menjadi pihak yang dimanja dan disayangi.”
    “ Memang kalau kau lebih tua lantas aku tidak akan memanjakanmu dan menyayangimu?” sahut Hyun Bin sambil merangkul gadis yang selalu terlihat begitu mencintainya itu.

    “ O ya, aku bisa meminjam kartu ID-mu kan?” tanya Hyun Bin sambil terus menggandeng tangan Ga In berjalan menyusuri trotoar Gangnam.
    Ga In langsung menganggukkan kepalanya.
    “ Kau benar-benar sudah yakin untuk mencoba bisnis ini? Bukannya aku meragukan keputusanmu, hanya saja modal yang diperlukan benar-benar tidak sedikit kan?”
    “ Dong Chul sudah menjamin bahwa kami akan bisa menghasilkan keuntungan di bulan ke-3, maka sebelum itu berarti kami sudah bisa melunasi pinjaman modal dan aku sudah bisa mulai menabung untuk masa depanmu. Kau tidak berniat untuk terus berpacaran denganku bukan?”
    “ Tentu saja aku ingin terus berpacaran denganmu! Pertanyaan macam apa itu??” seru Ga In tersinggung.
    “ Hahahaha... maksudku, kau tidak ingin selamanya hanya berpacaran denganku bukan? Aku sih ingin segera mengumpulkan uang dan menikah denganmu. Saat itu, aku tidak akan membiarkanmu bekerja begitu lelah seperti sekarang.”
    Park Ga In menatap wajah kekasihnya yang mendadak terlihat begitu bersinar itu.
    “ Hyun Bin!! Aku benar-benar mencintaimu!!” seru Ga In sambil mempererat pelukannya.
    “ Hahahaha, orang-orang sedang melihat ke arah kita sekarang, nona.”
    “ Aku tidak peduli!!”
    “ ..... bagaimanapun terimakasih sudah meminjamkan kartu ID-mu, seperti yang sudah kubilang sebelumnya, mereka menolak meminjamkan dana yang begitu besar pada seseorang yang bahkan tidak memiliki pekerjaan tetap seperti diriku.”
    “ Tenang saja! Keadaan akan membaik, setelah kau meminjam modal dan membuka bisnis, maka dalam waktu singkat kau akan segera berubah menjadi orang kaya!! Tenang saja, oke??”

    ******​

    Namaku Won Bin. Saat ini usiaku 30 tahun dan aku menjalani kehidupanku tanpa bisa banyak memilih.
    Aku tidak bilang bahwa aku tidak puas dengan kehidupan yang kujalani sekarang, toh aku menjalaninya dengan sepenuh hati.
    Papaku adalah seorang pengusaha, kami memang tidak terkenal di televisi dan nama kami pun jarang muncul di acara penggalangan dana dan acara sosial, tapi perusahaan kami cukup punya nama.
    Kami memiliki beberapa tempat strategis yang kami sewakan pada orang lain, dengan cara itulah kami bisa hidup. Tentu saja terkadang menagih sewa adalah perkara yang tidak mudah, kami harus mengandalkan lebih dari sekedar bujuk rayu dan kata-kata sopan.
    Dan itulah pekerjaanku, aku memastikan aliran dana masuk ke perusahaan keluargaku tidak bermasalah.
    Selain bisnis sewa menyewa, kami juga mencoba peruntungan dalam bisnis keuangan. Kami mencoba memutarkan uang kepada orang-orang yang membutuhkan dana cair dalam waktu singkat. Tentu saja sebagai gantinya kami harus membebankan bunga yang cukup tinggi untuk itu. Setidaknya dari sanalah kami bisa hidup.
    Dan kembali, akulah yang bertanggung jawab atas perputaran uang itu.
    Hari-hariku selalu diisi dengan teriakan, terkadang baku hantam, dan terkadang aku harus berurusan dengan polisi saat salah satu dari anak buahku tidak becus mengurus pekerjaannya. Well, that’s life.

    Aku tidak pernah berharap akan ada perubahan drastis dalam hidupku sekarang. Aku hanya menjalani hari demi hari, melakukan apa yang sudah menjadi tugasku.
    Lagipula waktu untuk merenungkan masa depan sudah lewat untukku sejak lama. Kepalaku hanya terisi dengan bagaimana untuk bisa memastikan perusahaan keluargaku bisa terus berjalan dan hidup.

    ******​

    Min Suk mendorong laki-laki setengah baya itu hingga membentur dinding. Ini memang pekerjaan yang sudah ia pilih, dan hari ini ia bertemu dengan orang yang mengacau lagi.
    “ Pak Tua, kau hanya perlu membayar 1 juta won untuk bisa berdagang di tempat strategis seperti ini, kenapa kau begitu menyulitkan kami??”
    “ T-t-tolong berikan aku waktu lagi, kemarin putriku baru saja masuk ke universitas dan uang itu terpakai untuk membayar pendaftaran masuknya....”
    Dong Gun mendesah pendek sambil mendekatkan wajahnya kepada bapak tua itu dan berbisik.
    “ Pak Tua, kau tahu siapa orang yang sedang duduk di belakang itu bukan? .... jika kau tidak ingin kita berdua terlibat masalah yang lebih runyam, lebih baik kau bayar itu sekarang...”
    Pak Tua melirik ke arah orang yang sedang dibicarakan itu.

    Tepat di dekat pintu masuk, seorang pemuda sedang duduk, sementara anak-anak buahnya sedang ‘bekerja’. Tentu saja ia tahu siapa orang itu. Meskipun pemuda itu masih terlihat muda dan tampan, semua orang di daerah ini sudah tahu bahwa laki-laki itu tidak punya hati dan berdarah dingin.
    Pak Tua berjalan terseok-seok menghampiri sang pemuda itu dengan penuh keraguan. Meskipun begitu ia tahu bahwa ia tidak bisa menunda pembayaran tanpa ijin dari orang itu.
    “ T-Tuan Muda.... m-maafkan aku.... a-a-anakku baru saja...----“
    “ Sudah 10 menit aku membuang waktuku di sini.” jawab Won Bin dengan dingin. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.
    “ Ku-kumohon berikan aku waktu untuk me-----“
    “ Kau butuh waktu? Tentu saja, aku bukanlah orang tanpa perasaan yang tidak bisa mengerti masalahmu.”
    “ T-terimakasih banyak!!”
    “ Aku akan memberikanmu waktu 2 minggu, dan atas kemurahan hatiku memberikanmu waktu, maka uang sewamu di sini menjadi 2 juta. Siapkan 2 minggu lagi.”
    “ T-tapi tuan muda!! D-dari mana aku bisa mengumpulkan uang sebanyak itu???” seru Pak Tua itu terkejut.
    Sementara anak-anak buah Won Bin di sana hanya bisa menghela napas dalam sunyi. Tentu saja, itulah bos yang mereka layani.
    “ Jika kau tidak siapkan uang itu, maka bayarlah dengan putrimu, bukankah kau bilang putrimu baru saja masuk kuliah bukan? Kurasa usianya pas untuk bekerja di club malam demi membayar hutang papanya.”
    Won Bin berdiri dan berjalan pergi meninggalkan sang pak tua yang masih berdiri dengan lutut yang lemas.
    Min Suk berjalan melewati pak tua itu dan menyempatkan diri untuk menepuk pundaknya.
    “ ..... sudah kubilang untuk berhati-hati agar tidak terlibat masalah yang lebih runyam lagi bukan? ..... bos mudaku ini jauh lebih mengerikan dibanding bos besar....” bisik Min Suk.

    “ Apakah jadwal hari ini sudah selesai?” sahut Won Bin dari dekat pintu keluar. Ia menjejakkan puntung rokok yang hampir habis dihisapnya ke tanah.
    “ Sudah, tuan muda. Tidak ada lagi tagihan yang jatuh tempo hari ini.”
    “ Kalau begitu aayo kita pergi sekarang.”
    “ Baik.”
    Mobil yang ditumpangi Won Bin berdiri di pinggir jalan. Won Bin mengambil kameranya dan turun dari mobil.
    Semua anak buahnya sudah mengetahui hobi unik tuan muda mereka. Fotografi. Siapa yang menyangka laki-laki tanpa hati itu ternyata mewarisi darah seni dari mendiang mamanya yang adalah seorang pelukis abstrak yang cukup terkenal.

    ******​

    Won Bin melemparkan pandangannya ke sekeliling dan tersenyum sambil menghirup udara musim semi yang baru saja dimulai.
    Ia paling menyukai musim semi, bunga-bunga bermekaran dan itu seakan memberikan warna alami untuk dunia yang sudah bobrok ini.
    Ia membidik beberapa pemandangan yang ia sukai dengan kameranya. Ia bisa melakukan hal itu selama berjam-jam lamanya.
    Won Bin terus membidik pemandangan sambil berjalan lambat-lambat ketika tiba-tiba kameranya menangkap gambar seorang wanita.
    Tidak ada yang spesial dari wanita itu, ia adalah seorang pejalan kaki dengan rambut panjang yang terurai.
    Namun yang membuat Won Bin menghentikan langkahnya adalah saat melihat wanita itu berhenti berjalan, membentangkan kedua tangannya dan menghirup napas dalam-dalam.
    Wanita itu pasti sangat menyukai musim semi, seperti dirinya.
    Won Bin kembali menatap wanita itu lewat teropong kameranya dan membidik wajah wanita itu close up.

    Ga In memang baru saja pulang dari kencannya dengan Hyun Bin. Laki-laki itu harus segera mengurusi soal pinjaman modalnya dan ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke rumah. Bunga-bunga yang bermekaran ini seakan terus melambaikan tangan padanya sejak tadi.
    Di kepalanya masih terngiang perkataan Hyun Bin tentang menabung dan segera menikahinya. Kalimat itu benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga hingga sekarang.
    Tentu saja, sebagian besar teman-teman seumurnya sudah menikah dan bahkan sudah banyak yang memiliki anak. Ga In juga merindukan gambaran keluarga sempurna seperti itu.
    Lamunan Ga In buyar ketika seseorang berdiri di belakangnya dan ia merasakan benda tajam menempel di pinggangnya.
    “ Jangan bergerak, jangan berteriak. Serahkan saja isi tasmu.” bisik laki-laki itu dengan suaranya yang berat.
    Perampokan. Saat matahari belum terbenam. Ga In langsung terdiam kaku.
    “ ...A-a-aku tidak membawa uang banyak.... t-t-tolong jangan sakiti aku....” bisiknya lirih.
    “ Berikan saja tasmu dan aku tidak akan menyakitimu. Cepat!!”

    Ga In sudah hendak mengulurkan tasnya dan memberikannya dengan sukarela untuk bisa memastikan nyawanya tidak melayang. Namun detik selanjutnya ia menyadari bahwa pisau tajam itu sudah tidak lagi menekan pinggangnya. Ia menoleh ke belakang dan terbelalak ketika seorang pria yang tidak ia kenal menarik mundur perampok itu dan bahkan pisau yang tadinya hendak menancap di tubuhnya sekarang sudah tertancam di paha sang perampok.
    Perampok itu berteriak kesakitan, Ga In masih berdiri seperti orang bodoh tidak kuat melihat apa yang sedang ia lihat sekarang.
    “ Kau boleh melapor ke polisi, ini hanyalah bentuk perlawanan kami terhadap orang yang ingin merampok.” sahut Won Bin pada perampok yang masih menjerit-jerit kesakitan itu.
    “ Se...sepertinya dia ....s-sangat kesakitan....” sahut Ga In terbata-bata.
    “ Pergilah, sebelum aku yang akan menyerahkanmu ke polisi.” sahut Won Bin dan mendorong perampok itu yang buru-buru berjalan dengan langkah terseok seok.
    Ga In masih tidak berkedip menyaksikan pemandangan tersadis yang pernah ia saksikan secara langsung itu.
    Won Bin mengambil kameranya dan melangkah pergi, bukan gayanya ikut campur dalam hal seperti ini, karena jelas dia bukanlah seorang pahlawan pembela kebenaran. Hanya saja ia tidak bisa pura-pura tidak melihat saat obyek fotonya nyaris menjadi obyek perampokan.

    ******​

    “ Tapi kau benar-benar tidak terluka kan??”
    “ Benar, kau tidak perlu kuatir, 1 goresan pun tidak ada kok. ... tapi kau benar-benar harus melihat bagaimana laki-laki itu melumpuhkan perampok itu!”
    “ Park Ga In, jantungku hampir copot mendengar kau nyaris dirampok oleh pria yang membawa senjata tajam, dan dari tadi kau malah sibuk membicarakan hal lain.”
    “ Hyun Bin, kau tidak perlu kuatir. Aku masih bisa meneleponmu sekarang, itu berarti aku baik-baik saja dan kau tidak perlu kuatir padaku. Sudah kubilang tidak ada 1 goresan pun yang mengenaiku.”
    “ Dunia benar-benar sudah gila, bahkan perampok pun bisa merampok di tempat ramai di siang bolong!”
    “ Kau benar.... hhmmff... di dunia yang seperti ini, aku rasa semua hal tidak mungkin menjadi mungkin. .... oya, bagaimana urusanmu siang tadi? Apakah mereka memberikanmu pinjaman itu?”
    “ O..oo... ya, mereka memberikannya, mereka bilang uangnya akan segera ditransfer ke rekeningku besok sore, .... semoga bisnis ini bisa berjalan dengan lancar.”
    “ Tentu saja, kau pasti bisa!”
    “ .... Ga In, terimakasih untuk kepercayaanmu.”
    “ Tentu saja, apalagi yang bisa kulakukan selain mempercayaimu? Hehehe... sudah malam, kau istirahatlah, mulai besok kau akan sangat sibuk bukan?”
    “ .... baiklah, kau juga jangan tidur terlalu malam ya... aku mencintaimu.”
    “ Aku mencintaimu, Hyun Bin!!” seru Ga In tanpa ragu.


    Ga In meletakkan handphone-nya di atas meja sambil menghela napas panjang. Hidupnya begitu penuh dengan harapan dan ia tidak sabar menunggu Hyun Bin segera sukses dan mereka bisa menikah.
    Ga In membiarkan pikirannya terbang ketika ia kembali teringat kejadian buruk yang nyaris menimpanya hari ini.
    “ ..... untung saja ada laki-laki itu, jika tidak entah bagaimana nasibku sekarang.... tapi bagaimanapun.... laki-laki itu tampak lebih menyeramkan dibanding penjahat itu.... bagaimana mungkin ia bisa menusukkan pisau ke paha perampok itu tanpa meringis sama sekali?” gumam Ga In sambil mengingat-ingat kejadian sore tadi dan ikut meringis.

    ******​

    Won Bin keluar dari kamarnya, masih mengenakan jubah tidurnya dan anak buahnya yang sudah berbaris di depan kamarnya segera membungkuk memberi hormat.
    “ Akan ke mana kita hari ini?” sahut Won Bin, masih dengan suara paraunya yang selalu terdengar setiap kali ia baru bangun tidur.
    “ Woo Sung Company, Tuan muda. Mereka meminjam 300 juta won untuk suntikan dana investasi tahun lalu, dan seharusnya tenggat pengembalian modal serta bunganya jatuh tempo bulan lalu. Tuan besar sudah memberikan perpanjangan waktu hingga bulan ini, namun belum ada inisiatif pembayaran.”
    “ Woo Sung Company? Bukankah itu perusahaan asing?”
    “ Kepemilikan perusahaan itu sudah bergeser ke tangan investor China dan Korea sejak tahun lalu, Tuan muda.”
    “ Kalau begitu ayo bersiap mengambil uang kita.”

    ******​

    Park Ga In tiba di kantornya, ia selalu senang bekerja di perusahaannya sekarang. Walaupun bukan perusahaan besar, tapi setidaknya ini adalah perusahaan yang berkembang. Setidaknya ia bisa merasakan bagaimana rasanya bekerja dengan orang-orang asing karena tidak jarang perusahannya bekerja sama dengan pihak luar.
    Namun suasana perusahaan hari ini terlihat tidak seperti biasanya. Manager yang biasanya tidak dapat tepat waktu, sekarang sudah berada di ruangannya dan sibuk mengutak ngatik komputernya.
    Supervisornya mondar mandir mengangkat telepon yang tampaknya berasal dari bos-bos di lantai atas.
    Ga In meletakkan tasnya di kursi kerjanya dan berbisik pada Sun Mi, rekan kerja yang duduk tepat di sampingnya.
    “ ..... apakah aku melewatkan berita yang seharusnya aku ketahui?”
    “ Direktur Choi... kabarnya dia membawa semua uang perusahaan dan menghilang sejak beberapa hari yang lalu.”

    Ga In terbelalak, mulutnya terbuka lebar karena terkejut. Direktur Choi adalah CEO yang sangat dihormati oleh semua karyawan, bahkan ia adalah termasuk dari salah satu karyawan yang mati-matian antri hanya untuk sekedar bersalaman dengan direkturnya itu.
    “ ..... kau tidak bercanda? Direktur Choi?? .... mengambil uang perusahaan....?? Kabur??”
    “ Ya.... dan semua orang sedang sibuk mencari keberadaannya dan keberadaan uang perusahaan itu.... kabarnya ada kreditur yang menagih hutang pada perusahaan kita dan tanpa uang itu kita tidak bisa membayar mereka.”
    “ K-K-Kreditur?? .... aku bahkan tidak tahu kalau perusahaan kita mempunyai hutang!” seru Ga In terkejut.
    Sun Mi menghela napas, rekan kerjanya yang satu itu memang hidup di dunia sempurnanya sendiri dan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.
    “ Makanya, sekali-kali kau harus memasang telingamu di kantor ini, dan bukan hanya datang tepat waktu, pulang tepat waktu, seharian hanya memikirkan kekasihmu saja!” gerutu Sun Mi.

    Baru saja Ga In hendak menanyakan pertanyaan selanjutnya pada Sun Mi ketika managernya keluar dari ruangannya dengan muka pucat dan berteriak pada staff-staffnya.
    “ M-mereka sudah datang!! Para penagih hutang itu sudah datang!!”
    Ga In tidak bisa berbuat hal lain selain duduk membeku di tempat duduknya dengan tatapan tertuju pada pintu lift yang mulai terbuka.
    Beberapa orang pria dengan jas rapi keluar dari dalam lift itu, melangkah dengan sangat percaya diri. Mereka sama sekali tidak seperti para preman penagih hutang yang ada di bayangan Ga In, tapi kenapa managernya harus begitu ketakutan seperti itu?

    Tatapan Ga In tertuju pada laki-laki terakhir yang keluar dari dalam lift. Wajah laki-laki itu jelas tidak asing baginya. Tidak butuh waktu lama bagi Ga In untuk menyadari bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang menyelamatkannya dari perampok kemarin sore.
    Tentu saja ini bukan waktu yang tepat baginya untuk menyapa dan berterimakasih pada laki-laki itu. Dan bahkan bayangan mengenai apa yang dilakukan laki-laki itu kemarin membuat Ga In mulai kuatir dengan kedatangan para pria itu.

    “ Di mana orang dengan jabatan tertinggi di perusahaan ini? Aku ingin bertemu dengannya sekarang.” sahut laki-laki itu membuka suara.
    Manager Ga In melangkah mendekati laki-laki muda itu dengan gerakan tubuh yang jelas memperlihatkan betapa ketakutannya dirinya.
    “ .... Direktur Choi sedang tidak ada....”
    “ Tidak ada?”
    “ .....i-itu.... b-beliau....”
    “ Apapun yang sedang dilakukan oleh Direktur Choi, aku ingin melihat wajahnya sekarang, di sini.”
    “ A-aku minta maaf.... k-kami pun sedang m-mencari D-Direktur Choi.... s-sekarang.” jawab manager Ga In dengan terbata-bata.

    Tiba-tiba salah seorang dari pria-pria itu mengangkat meja dan melemparkannya ke atas salah satu meja karyawan hingga kaca meja pecah berantakan.
    “ Apakah kau sedang berusaha menyembunyikan keparat itu?! Kalian harus mengembalikan uang yang kalian pinjam!!”
    Para karyawan wanita berteriak ketakutan dan segera menunduk di ujung ruangan. Para karyawan pria berusaha setegar mungkin menghadapi situasi yang mendadak mencekam ini.
    Ga In menundukkan kepalanya sambil sesekali mencuri pandang ke arah penyelamatnya itu. Seperti kemarin, laki-laki itu tidak memberikan ekspresi wajah berarti, datar, dingin.
    “ Kami sudah memberikan 300 juta won untuk perusahaan kalian dan perusahaan ini bisa bertahan selama 2 tahun tanpa mengumumkan pailit.... 400 juta, itulah jumlah yang harus kalian bayar sekarang. Kalau kau tidak bisa menunjukkan di mana Direkturmu berada, apakah kau bisa menunjukkan di mana uangku berada?”
    “ I-i-itu.... m-maaf, ka-kami hanya karyawan biasa....”

    Won Bin menghela napas, tentu saja ia tidak terkejut dengan jawaban yang ia terima. Hal seperti ini adalah resiko pekerjaan yang tidak bisa ia hindari.
    Ia melayangkan pandangannya ke penjuru ruangan dan tidak sengaja ia melihat obyek fotonya kemarin. Tentu saja ia tidak melupakan wajah gadis yang baru kemarin ia lihat dengan seksama dan close up itu.
    Dan entah kenapa, Won Bin yang tangannya sudah setengah terangkat untuk menarik kerah baju manager itu kembali menurunkan tangannya.
    Ia menatap Ga In di sudut ruangan dan memberi isyarat agar gadis itu mendekat padanya.
    Ga In merasa sekujur tubuhnya membeku saat laki-laki itu memintanya untuk mendekat dengan kedua jarinya.
    “ ......a-a-aku?” tanyanya dengan jantung yang nyaris copot.
    “ Aku tidak suka mengulang-ngulang perintahku.”
    “ T-tuan muda, d-d-dia hanya karyawan biasa... kumohon jangan sa----“
    Rengekan manager itu ditepis Won Bin dengan lirikan tajam yang membuat manager itu segera menutup mulutnya.

    Ga In mendekat dengan penuh keraguan.
    “ Sudah berapa lama kau bekerja di sini?” tanya Won Bin sambil menyalakan sebatang rokok.
    “ ..... 4 tahun....”
    “ Kalau begitu kau bisa membantuku kan? Masukkan semua data keuangan perusahaan kalian ke dalam USB ini, dan juga data detail asset perusahaan dan piutang yang kalian miliki... dan juga list data karyawan lengkap.”
    Ga In segera menyambar USB dari tangan laki-laki itu dan segera berlari ke dalam ruangan managernya dan menyalakan komputer.

    ******​

    “ Menurut perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh Direktur Choi, kami memiliki kewenangan penuh atas perusahaan ini jika perusahaan tidak dapat melunasi kewajiban pembayarannya tepat waktu. Maka kami akan mengambil apa yang seharusnya memang milik kami dengan cara kami sendiri.” sahut Won Bin panjang lebar. Ia merasa berkewajiban untuk menjelaskan hal tersebut pada para karyawan yang juga adalah korban penipuan sang CEO.
    “ L-lakukan saja apa yang menurutmu benar.... tapi kami sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini, kumohon ijinkan kami semua pulang.” sahut sang manager mulai kuatir dengan kondisi 30 orang karyawannya yang seakan menjadi tahanan kantor sekarang.
    “ Aku menyimpan data karyawan perusahaan ini, itu berarti kalian semua harus tetap masuk dan bekerja seperti biasa, tidak boleh kurang 1 orang pun. Dan sekarang kalian bekerja padaku. Mulai besok kita akan mulai menjual asset perusahaan satu demi satu dan menagih semua piutang, kalian yang harus mencarikan uang untuk membayar kembali uangku.”
    Tiba-tiba seorang karyawan laki-laki berdiri tegak dan berteriak.
    “ Aku baru saja bekerja selama 2 bulan! Aku tidak ada hubungannya dengan semua ini!!” serunya sambil berjalan menuju pintu keluar, namun tentu saja langkahnya segera dihadang oleh anak buah Won Bin dengan mudah.
    Mereka menjegal kaki karyawan pria itu hingga ia terjatuh tengkurap di lantai. Anak buah Won Bin yang lain menginjak kepalanya dan menekannya ke lantai.
    Ga In yang sedang sibuk mengurusi dokumen otomatis melihat hal itu dengan mata kepalanya sendiri dan tangannya bergetar hebat.
    “ Ini adalah contoh yang akan terjadi pada kalian jika ada 1 pun karyawan yang tidak bekerja lagi. Kalian harus bekerja hingga uangku kembali.” sahut Won Bin, dingin.

    ******​

    Ga In adalah orang terakhir yang keluar dari kantor. Ia cukup terkejut karena laki-laki itu membiarkan karyawan pulang saat jam kerja mereka berakhir. Setidaknya tidak ada tulang patah dan tidak ada korban jiwa hari ini di kantor.
    “ .....Se...semua data yang kau minta sudah kumasukkan ke dalam USB, dan ini adalah dokumen-dokumen akta tanah dan bangunan yang sudah kukumpulkan untukmu.” sahut Ga In sambil mengulurkan dokumen serta USB pada anak buah laki-laki itu yang berdiri di sampingnya.
    “ Direktur Choi, apakah dia benar-benar kabur membawa semua uang perusahaan?”
    Ga In menganggukkan kepalanya, ia berharap agar laki-laki mengerikan ini mencari CEO-nya dan tidak mengganggu karyawan karyawan tidak berdosa di kantor ini lagi.
    “ ******** itu benar-benar menyia-nyiakan kepercayaan. .... baiklah, sampai jumpa besok.”
    “ .....a-apakah aku... harus tetap bekerja besok? ......” tanya Ga In.
    “ Kenapa? ... Kau takut aku melukaimu? Kau takut aku membunuhmu, nona?” tanya Won Bin sambil menghisap rokoknya.
    “ ..... i-iya... aku takut....”
    “ Kalau itu yang kau takutkan, kau tidak perlu kuatir, aku tidak akan melukai orang yang tidak melukaiku, dan aku tidak akan membunuh seseorang di tempat yang ramai dengan banyak saksi di sana, aku akan memilih tempat gelap dan terpencil, jika aku harus membunuh seseorang.”
    Ga In bengong, itu adalah kalimat paling mengerikan yang ia dengar dengan telinganya sendiri selama ia hidup.
    Buru-buru ia mengambil tasnya dan berlari keluar kantor.
    Ini adalah mimpi buruk!
     
  4. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    My Love is a Gangster

    Chapter - 2 -

    What's Happen to My PERFECT Life ???


    Malam itu Ga In menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia sudah menelepon Hyun Bin dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya di kantor. Tentu saja kekasihnya itu sangat terkejut dan memastikan bahwa ia baik-baik saja, namun sepertinya ia sedang luar biasa sibuk dan tidak bisa menyempatkan diri untuk datang menemani Ga In malam itu.
    Terpaksa, Ga In menikmati makan malamnya sendiri.

    “ ..... bekerja di kantor dengan puluhan renternir.... itu sama saja menyerahkan nyawamu pada mereka.... kau bisa mati kapanpun.... Ga In.... ya Tuhan...” gumamnya mengasihani diri sendiri.
    Namun betapapun ia berpikir untuk melarikan diri dan tidak berangkat ke kantor, ia selalu kembali pada kenyataan yang sama. Ia tidak bisa kabur dengan data dirinya ada pada orang-orang jahat itu. Ia tidak ingin menjadi buronan para geng mafia menyeramkan itu.

    Maka, pagi itu Ga In kembali muncul di kantornya. Semua karyawan datang tepat waktu hari ini, tidak ada satupun wajah yang menghilang. Diam-diam Ga In bersyukur ia tidak jadi kabur dan tidak masuk kantor hari ini. Ia bisa menjadi satu-satunya buronan jika ia berani melakukan itu.
    Saat Ga In tiba di kantor, wajah-wajah bengis dan sadis kemarin belum ada, suasana kantor benar-benar seperti hari biasanya. Ga In mulai berpikir apakah kemarin ia bermimpi seharian?
    “ BAIKLAH! PERHATIAN SEMUANYA! ORANG-ORANG ITU AKAN DATANG SETIAP JAM 11 SIANG DAN JAM 5 SORE UNTUK MEMASTIKAN PEKERJAAN KITA SETIAP HARI. JADI JANGAN BUANG-BUANG WAKTU, DAN CEPAT BERIKAN YANG MEREKA MAU, JADI KITA BISA SEGERA PERGI DARI SINI!!” seru manager Ga In berteriak dengan putus asa.
    Semua karyawan menghela napas panjang dan mulai ‘bekerja’. Tentu saja tidak ada canda tawa yang kerap kali mewarnai kantor ini, tidak juga ada orang yang beristirahat dengan minum kopi di pojok ruangan. Semua orang bekerja dengan giat agar segera lepas dari nasib buruk ini.

    “ Aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku sedang berusaha untuk membuat perusahaan tempatku bekerja bangkrut dengan terang-terangan seperti ini.... dan setelah itu aku harus berjuang mencari pekerjaan lagi dari 0.” gerutu Sun Mi yang sedang berada di samping Ga In.
    “ ..... kau benar.... entah bagaimana nasib kita setelah meninggalkan perusahaan ini.... aku bahkan sudah tidak berharap mendapatkan gaji untuk bulan ini....” balas Ga In putus asa.
    “ Walaupun begitu, setidaknya di waktu-waktu terakhir ini kita bisa bekerja sambil melihat wajah yang enak dilihat.” sahut Sun Mi sambil tersenyum.
    “ Wajah yang enak dilihat? .... siapa? Semua orang menekuk wajahnya sekarang.” sahut Ga In sambil melemparkan pandangan ke sekeliling kantor kecilnya itu.
    “ Wajah yang enak dilihat itu akan datang sehari 2 kali, pada pukul 11 dan pada pukul 5 sore.”
    “ Jang Sun Mi! ..... k-kau... kau sedang membicarakan tentang renternir itu?!!”
    “ Ssst!!! Terlepas dari pekerjaannya yang menyeramkan, kau tidak bisa memungkiri bahwa pemimpin renternir itu sangat tampan bukan? Kurasa dia masih berusia awal 30an... ah.... wajahnya benar-benar membekas sekali di kepalaku sejak kemarin.”
    “ Kau benar-benar sudah gila, Jang Sun Mi.” gerutu Ga In sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

    ******​

    Won Bin kembali datang ke perusahaan yang berhutang 400 juta won padanya. Berbeda dengan saat pertama kali ia datang, kali ini ia datang dengan kemeja dan kaos santai, sama sekali tidak mirip seperti seorang kepala geng yang sedang datang menagih hutang.
    Ia sedang memperhatikan beberapa anak buahnya yang sedang sibuk, antara ikut membantu atau menyusahkan para pekerja yang ada di sini.

    “ Cepatlah! Apakah kau sudah lansia hingga berjalan begitu lambat?!!” seru salah seorang anak buahnya pada sang manajer.
    “ Nona, tenggorokanku sudah hampir kering ini, di mana kopiku?!!” seru salah seorang anak buahnya lagi.
    Tentu saja itu adalah tabiat natural mereka yang memilih profesi sebagai berandalan. Won Bin sudah terbiasa dan sudah lama ia tidak lagi terganggu dengan semua itu. Tentu saja, dulu saat ia masih sekolah, saat ia masih hidup dengan idealismenya, ia tidak pernah berpikir sedetikpun akan mewarisi pekerjaan ayahnya seperti sekarang. Namun setelah kakaknya meninggal, ia tidak punya pilihan lain, selain membuktikan diri sebagai mafia terbaik di negeri ini.

    Park Ga In sedang sibuk menelepon pengacara kantor mereka untuk mengurusi urusan lelang asset, saluran telepon sudah tersambung, namun belum diangkat, sepertinya kantor pengacara mereka memang sedang sibuk mengurusi semua penjualan harta benda milik klien mereka ini.
    Sambil menunggu telepon tersambung, beberapa kali ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencuri-curi pandang ke arah laki-laki yang hari ini tampak begitu berbeda dari biasanya.
    “..... melihatnya menggunakan kaos dan kemeja santai seperti ini.... kurasa aku bisa sedikit mengerti mengapa Sun Mi berkata ia tampan.... bagaimanapun laki-laki dengan tampang seperti ini seharusnya mencoba peruntungan di bidang entertainment, bukan sebagai seorang geng mafia seperti ini.”

    Tiba - tiba Ga In dikagetkan ketika seseorang menggebrak meja yang sedang digunakannya hingga ia terlonjak kaget.
    “ Nona, siapa dirimu sampai berani-berani menatap bos kami seperti itu?! Apakah pekerjaanmu sudah selesai?!!”
    Ga In menundukkan kepala sedalam mungkin dan segera menyibukkan diri dengan dokumen-dokumen di hadapannya. Bodoh. Orang bodoh. Itulah gambaran dirinya sekarang ini.
    Won Bin menoleh karena merasa disebut-sebut dan melihat gadis yang tempo hari pernah ia tolong. Tentu saja gadis itu akan merasa sangat bingung dan sangat cangung kembali bertemu dengannya di saat seperti ini.

    *****​

    Tidak terasa sudah 2 minggu Ga In dan karyawan lainnya datang bekerja dengan kondisi menyeramkan seperti ini. Para karyawan dapat sedikit bernapas saat para penagih hutang itu pergi dari kantor mereka, walaupun dengan jaminan bahwa mereka akan kembali lagi pukul 5 sore nanti.
    “ Aku benar-benar tidak sanggup bekerja di bawah tekanan seperti ini terus menerus... apakah mereka berpikir aku bisa konsentrasi dengan mereka yang selalu berteriak setiap 10 menit sekali?!!” seru beberapa orang karyawan mengeluh.
    “ Kau benar! Bukan saja begitu, beberapa orang dari mereka meletakkan pisau di atas mejaku begitu saja seolah itu adalah bolpoint! Menyeramkan!!”
    “ Sepertinya aku harus pergi ke psikiater setelah ini semua berakhir untuk memulihkan kestabilan mentalku!!”
    " Ah.... entah kenapa jam 5 begitu cepat sekali datang!" keluh Sun Mi sambil melirik ke arah jam dinding yang hampir menunjukkan pukul 5 sore.
    Ga In mendengarkan semua keluhan rekan sejawatnya sambil menghela napas panjang. Baru setengah hari dan semua sudah begitu tertekan, entah harus berapa lama mereka seperti ini terus.
    Ga In berjalan menghampiri managernya yang wajahnya benar-benar suram.

    “ Siang, Pak.... Pengacara Kim menolak untuk mengantarkan surat notaris itu kemari... mereka bilang...takut disekap oleh orang-orang itu.”
    Managernya menghela napas.
    “ Tentu saja, hanya kita orang yang cukup sial hingga harus terus bekerja di sini dengan orang-orang itu! .... kalau begitu, kau pergi ambil surat itu.”
    “ A-Aku?? Tapi sebentar lagi jam 5, bagaimana jika orang-orang itu marah karena aku tidak ada di kantor saat mereka datang??”
    “ Kau pergi keluar toh bukan untuk bermain tapi untuk urusan pekerjaan! .... aku yang akan bilang pada mereka, yang penting kau pergi dan kembali lagi secepatnya!”
    Ga In cemberut. Dalam hati ia sangat yakin bosnya yang sangat pengecut di hadapan para penagih hutang itu tidak akan berani membelanya saat ia terkena masalah nanti.

    Baru saja Ga In membuka pintu kantornya, di saat yang sama beberapa mobil parkir persis di depan kantornya dan para penagih hutang itu langsung turun dari mobil secara bergerombol dengan menakutkan.
    “ Nona, kau mau ke mana? Kau berani kabur di depan hidung kami?!!” seru salah seorang laki-laki itu.
    Ga In otomatis mundur beberapa langkah ke belakang dan berusaha meluruskan kesalahpahaman.
    “ A-a-aku tidak kabur!! A-aku harus mengambil dokumen dari kantor pengacara.... i-i-ini urusan pekerjaan!!”
    Orang-orang itu serentak melihat ke belakang, seakan meminta bos mereka untuk memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap wanita itu.
    Ga In merasa jantungnya berdetak tak terkendali saat ia mendapati laki-laki itu sedang berjalan ke arahnya. Tidak ada yang berbeda dengan ekspresi wajahnya, selalu dingin dan tidak ada ekspresi.
    “ Urusan pekerjaan?”
    Ga In mengangguk dengan wajah yang masih bengong seperti orang bodoh.
    “ ..... j-j-jika ti-tidak ada dokumen ini maka ada beberapa tanah yang tidak bisa di-dijual...”
    “ Benarkah? Baiklah kalau begitu, biar aku mengantarmu ke sana, bagaimanapun ini tentang uangku bukan?”
    “ M-m-mengantarku??”

    ******​

    Ga In merasa lututnya semakin lemas setiap detik ia berada di dalam mobil dengan laki-laki itu.
    Tidak ada yang salah dengan mobil itu, mobil mewah yang bagus dan bahkan Ga In cukup terkejut karena tidak ada bau rokok sama sekali di dalam mobil ini. Padahal mulut orang-orang tidak henti-hentinya menyemburkan asap rokok.

    “ Siapa namamu?” sahut laki-laki itu tiba-tiba bersuara dan membuyarkan semua pertahanan mental Ga In.
    “ .....A-aku??.... kau bertanya siapa namaku??” tanya Ga In kuatir, ia tidak ingin orang itu mengetahui namanya dan berniat mencelakakannya di kemudian hari.
    “ Apakah kau punyamasalah pendengaran? Apakah aku harus terus mengulangi kata-kataku?”
    “ ..... P-Park .... Ga In.... itu namaku.”
    “ Namaku Won Bin.”
    Ga In menoleh ke arah laki-laki itu dengan tatapan bingung, kenapa laki-laki itu tiba-tiba memperkenalkan diri padanya.
    “ Kenapa? Kau tidak tertarik mengetahui siapa nama penyelamatmu?” tanya Won Bin dengan tatapan lurus ke depan.
    Ga In menggigit bibir bawahnya, jadi laki-laki itu juga masih ingat siapa dirinya.
    “ ..... a-aku belum mengucapkan terimakasih untuk... bantuanmu tempo hari... terimakasih banyak.” sahut Ga In sambil terus meremas kedua tangannya.

    Laki-laki itu tidak mengatakan apapun sampai mereka tiba di kantor pengacara.
    “ Aku akan segera mengambil dokumen dan kembali kemari.” sahut Ga In sambil berlari keluar mobil, ia seperti membawa bom waktu di tangannya yang harus segera ia buang jauh-jauh sebelum meledak di tangannya.
    Won Bin menatap dari dalam mobil saat Ga In turun dari mobil dan nyaris terjatuh karena berlari dengan sepatu hak tingginya itu. Ia tersenyum sendiri sambil tanpa ia sadari terus memperhatikan gadis itu dengan seksama.
    Gadis itu memang tidak terlalu cantik, tidak juga mempunyai figur badan yang sempurna, namun yang jelas gadis itu menarik hingga Won Bin ingin sekali mengajaknya sebagai obyek foto selanjutnya. Padahal ia tidak pernah bertemu seseorang yang ia rasa cukup pantas untuk dijadikan obyek fotonya selama ini.

    ******​

    Ga In kembali ke mobil dengan nafas terengah-engah. Ia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal pada pengacara kantornya karena begitu terburu-buru untuk kembali ke mobil.
    Won Bin langsung memacu mobilnya sedetik setelah Ga In memasang seat belt.
    “ Dengan itu, butuh waktu berapa lama hingga tanah-tanah itu bisa terjual?” tanya Won Bin sambil menyalakan mobilnya.
    “ ....hhm.... kurasa paling cepat 1 bulan... itu yang dikatakan pengacara padaku.”
    “ 1 bulan? ... tentu saja, mencari uang memang bukan pekerjaan mudah bukan?” sahut Won Bin sinis.
    Ga In hanya bisa menahan napas dan berharap mood laki-laki itu tidak berubah buruk setelah mengetahui bahwa ia harus menunggu setidaknya 1 bulan sebelum asset-asset itu bisa berubah menjadi uang di kantongnya.

    Won Bin menekan rem saat mereka sampai di persimpangan jalan, ia menoleh pada gadis yang duduk di sampingnya dan mendapati gadis itu tengah tertidur.
    Ia kembali tersenyum, kukira gadis itu ketakutan setengah mati, ternyata ia malah tertidur seperti ini.
    Won Bin menekan tombol audio dan membiarkan Ga In tidur lebih nyenyak dengan iringan musik menenangkan yang ia nyalakan.

    Entah berapa lama Ga In tertidur, gadis itu memang mudah terlelap di manapun. Park Ga In terbangun karena udara panas yang ia rasakan dan saat ia menyadari bahwa ia baru saja tertidur di dalam mobil sang bos mafia, ia buru-buru menegakkan tubuhnya. Mobil itu sudah berhenti, terparkir dengan sangat rapi. Dan ia berada sendirian di mobil.
    Ga In melihat ke luar dan ia yakin ia tidak sedang berada di depan kantornya.
    Matahari sudah nyaris tenggelam seluruhnya dan hanya menyisakan semburat senja. Ga In turun dari mobil dan mulai cemas karena tidak melihat laki-laki itu di mana-mana.
    “ .... apakah dia marah karena aku tertidur lantas meninggalkanku di sini? .... tapi kenapa dia juga harus meninggalkan mobilnya? ..... atau dia hendak menculikku??? .... tapi kenapa ia meninggalkanku di sini?” tanyanya pada diri sendiri dan bingung.

    Tepat di saat itu seseorang datang menghampirinya, seseorang dengan pakaian seorang pelayan restaurant.
    “ Selamat sore nona, seseorang memintaku untuk menjemput nona dari sini.”
    “ .... seseorang? Siapa?? Laki-laki dengan kemeja berwarna biru muda?? Tampan??” tanya Ga In panik.
    “ Anda benar, aku diminta untuk menjemput anda saat anda sudah bangun untuk makan bersama di dalam restaurant kami. Ini sudah ketiga kalinya aku kemari, sebelumnya anda masih tertidur nyenyak di dalam.”
    Ga In melongo, ia benar-benar tidur untuk waktu yang sangat lama.

    Ga In menghampiri Won Bin yang sedang menikmati segelas espresso.
    “ Kau sudah bangun? Apakah tidur siang memang kebiasaan harianmu? Kau tidur sangat nyenyak.” komentar laki-laki itu sambil menyodorkan buku menu.
    “ ..... m-m-maafkan aku... se-semalam aku tidak bisa tidur... maafkan aku.”
    “ Pesanlah dulu makananmu.” sahut laki-laki itu dengan wajah datar seperti biasanya.
    Ga In memesan menu makanan yang sama persis dengan laki-laki itu dan berharap laki-laki itu segera membiarkannya pergi.
    “ Jadi, kau tidak bisa tidur semalam?” tanya Won Bin dan Ga In mengangguk.
    “ Kutebak. Kau tidak bisa tidur semalam karena kantormu mendadak diinvasi segerombolan geng mafia yang mungkin saja melukaimu setiap saat?”
    Mata Ga In membesar mendengar perkataan laki-laki itu. Bagaimana laki-laki itu bisa mengetahui isi pikirannya dengan sangat jelas seperti itu??
    Won Bin tersenyum, pertama kalinya ia tersenyum di depan Ga In dan itu cukup membuat gadis itu tertegun.
    “ Apa pekerjaanmu di kantor, nona Park?” tanya Won Bin, seakan belum puas untuk mengorek Ga In lebih dalam.
    “ ..... a-aku? A-aku hanya staff akuntansi biasa.... “
    “ Pekerjaanku adalah meminjamkan uang pada perusahaan yang membutuhkan dan menerima pembayaran pinjaman beserta bunganya. Kau lihat? Kita berdua hanyalah 2 orang dengan pekerjaan yang berbeda.”
    “ ..... t-tentu saja... sangat berbeda...”
    “ Meskipun anak buahku sering bertindak tidak sopan, tapi kau harus tau kalau kami tidak pernah bermaksud untuk membunuh satupun orang di kantormu, hhm... mungkin beberapa luka lebam tidak bisa terhindarkan, tapi kami berjanji tidak akan membunuh satupun orang di kantormu.”

    Ga In menatap laki-laki di hadapannya dengan miris. Bagaimana mungkin orang itu bisa mengucapkan kalimat yang begitu menakutkan dengan ekspresi datar seperti itu. Bahkan sambil meminum kopinya.
    “ Nona Park, bagaimanapun aku adalah orang yang sudah menyelamatkanmu bukan? Kalau begitu perlakukan aku sebagai penyelamatmu, bukan seseorang yang akan mencelakakanmu.”
    “ B-bagaimana aku bisa melakukan itu... jika setiap hari... kau dan... anak buahmu datang dengan... begitu menakutkannya....” sahut Ga In lirih.
    “ Benarkah? Kalau begitu aku akan meminta anak buahku untuk bersikap lebih santun. Sepanjang kalian semua bekerja dengan baik dan cepat. Tidak ada satupun di antara kita yang menginginkan hal ini terjadi terus menerus bukan?”
    Ga In menatap laki-laki itu sambil menebak-nebak. Kenapa laki-laki itu mengajaknya makan, bicara baik-baik dengannya, dan bahkan sangat kooperatif dengan pendapatnya.
    “ .... kenapa kau.... begitu.... baik padaku? M-maksudku, a-a-ku sangat berterimakasih kau tidak berbuat jahat padaku, t-tapi----“
    “ Karena aku tidak punya alasan untuk bermusuhan denganmu, bukankah begitu, nona Park?”

    *****​

    Ga In menghela napas saat ia sampai di rumahnya setelah perjalanan yang terasa begitu panjang dan melelahkan hari ini. Laki-laki itu mengantarnya ke kantor dan tidak berkata apa-apa saat Ga In berpamitan pulang.
    Ga In mengeluarkan handphone-nya dan berniat untuk menelepon Hyun Bin, namun ia mengurungkan niatnya.
    “ .... Hyun Bin pasti akan sangat kuatir jika mendengar ceritaku hari ini... lebih baik aku tidak menceritakannya sekarang.”
    Ga In hanya mengirim pesan pada Hyun Bin.
    “ Kau sedang apa? Apa masih sibuk di tokomu? Maafkan aku, aku belum sempat datang melihat tokomu, itu semua karena pekerjaan kantorku yang benar-benar menyita semua waktu dan energiku. Apa kau sudah makan?”
    Ga In menunggu dan menunggu, namun balasan dari Hyun Bin tidak kunjung sampai di ponselnya. Ga In menunggu hingga akhirnya ia tertidur sambil duduk di sofa hingga pagi menjelang.

    Keesokan harinya, Ga In terbangun dan hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek handphone-nya. Namun ia tetap tidak ada balasan dari kekasihnya itu. Ga In kembali mengurungkan niatnya untuk menelepon Hyun Bin. Laki-laki itu pasti masih tidur sekarang dan ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat laki-laki itu.
    “ .... meskipun ia sibuk, seharusnya ia menyempatkan diri untuk mengirim pesan padaku.... sudah seminggu belakangan ini ia tidak menghubungiku sama sekali.” sahut Ga In lesu sambil beranjak ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.

    ******​


    Ga In baru saja menyelesaikan penjualan asset tanah terakhir yang dimiliki perusahaan tempatnya bekerja, dan itu membuatnya bisa bernapas lega.
    Ia melirik ke arah Won Bin yang duduk dengan tampang dinginnya yang biasa dan dengan riang gembira melaporkan hasil pekerjaannya.
    “ Tanah di Daegu sudah berhasil terjual sesuai dengan harga yang kau inginkan, mereka bilang pembayaran akan langsung dilakukan paling lambat sore ini ke rekeningmu.”
    Won Bin menatap gadis yang sekarang sudah bisa bicara padanya dengan sangat leluasa dan bahkan melaporkan hasil pekerjaannya sambil tersenyum lebar itu.
    “ Jadi berapa total hutang yang berhasil dibayarkan kembali padaku?”
    “ Hhm... ditambah penjualan tanah kemarin totalnya menjadi 376juta won,.... tampaknya masih kurang... beberapa juta ya....” sahut Ga In dengan suara makin mengecil, ia tahu jelas bahwa sudah tidak ada asset yang bisa dijual lagi di perusahaannya.

    Won Bin menghela napas, ia berdiri dari tempat duduknya dan beberapa anak buahnya langsung bersiaga untuk mendengarkan perintah dari bos mereka.
    Sun Mi buru-buru menarik Ga In di saat sang bos mafia sedang tidak memperhatikan.
    “ Apa kau berencana untuk terus berada dekat-dekat dengannya?! Dia bisa mengamuk kapan saja, Ga In!!” bisik Sun Mi kuatir.
    Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sejak laki-laki itu mengajaknya makan bersama, hubungan antara mereka menjadi sedikit cair. Setidaknya Ga In percaya bahwa ia tidak akan dibunuh atau disayat-sayat selama ia bekerja dengan baik.
    “ Ooo.... terimakasih sudah mengingatkanku.” sahut Ga In sambil melangkah menjauh perlahan. Meskipun laki-laki itu memang tidak pernah bersikap macam-macam padanya, toh tidak ada salahnya terus waspada, mengingat laki-laki itu tetap adalah seorang bos mafia.

    Sore itu semua karyawan berdiri dengan sikap sempurna di hadapan kurang lebih 20 orang penagih hutang berbahaya yang sudah ‘menemani’ mereka bekerja selama 1 ½ bulan terakhir.
    Semua pekerjaan yang bisa dilakukan oleh karyawan sudah diselesaikan dan semua begitu kuatir mengingat masih ada sisa hutang yang belum bisa terbayarkan.
    Won Bin tampak berpikir untuk beberapa saat dan akhirnya membuka mulutnya.
    “ Terimakasih atas kerjasamanya yang baik selama 1 ½ bulan terakhir. Setidaknya kami tidak kehilangan uang yang sudah kami percayakan pada bos kalian. Tapi hutang tetaplah hutang, masih ada hutang yang tersisa sebanyak 24 juta won dan tentu saja bukanlah kebiasaan kami untuk mengampuni orang yang tidak membayar hutang pada kami. Tapi biarlah ini menjadi masalah kami dengan direktur Choi. Urusan dengan kalian sudah selesai dan kalian bisa pergi dan tidak kembali lagi ke tempat ini mulai besok.”
    Semua karyawan akhirnya bisa bernafas lega, bahkan ada beberapa yang tampak berusaha sangat keras agar tidak berteriak kegirangan.

    “ A-apa yang akan kau lakukan dengan Direktur Choi?” celetuk Ga In, sedetik kemudian ia menyesali pertanyaan bodohnya itu. Untuk apa dia mengurusi urusan yang sudah bukan menjadi urusannya lagi?
    Won Bin menoleh menatapnya dan entah apakah ini hanya perasaan Ga In semata, tapi ia merasa tatapan laki-laki itu selalu berubah menjadi lebih lembut setiap kali laki-laki itu menatapnya.
    “ Kami akan mencarinya sampai kami berhasil menemukannya, jika ia masih mempunyai uang, maka kami akan mengambil uangnya, jika ia sudah tidak mempunyai uang,.... mungkin kami akan menjual organ tubuhnya, setidaknya itu bisa terjual dengan harga 24 juta won.” jawab Won Bin sambil menyalakan 1 batang rokok dan menghisapnya.
    Beberapa anak buahnya terkekeh, tampak puas dengan rencana sang bos. Hanya Ga In dan semua karyawan yang menatap Won Bin dengan tatapan ngeri. Sekali lagi mereka harus merasakan bulu kuduk mereka berdiri saat laki-laki muda itu membuka mulutnya.

    ******​

    Ga In adalah orang terakhir yang keluar dari kantornya. Ia adalah orang yang sentimentil dan ia memutuskan untuk berjalan perlahan mengelilingi setiap pojok kantornya sebagai bentuk perpisahan darinya. Bagaimanapun kantor kecil ini yang menghidupinya selama 4 tahun terakhir.
    Dan besok ia harus mulai memikirkan tempat lain yang bisa menafkahinya.
    Ia sedang menuruni tangga dan terkejut mendapati Won Bin masih ada di kantornya. Tidak ada satupun anak buahnya yang ada bersamanya, hanya laki-laki itu seorang diri, menghisap rokoknya.
    “ ..... k-kau belum pulang?” tanya Ga In sesopan mungkin. Ia kembali teringat rencana laki-laki itu terhadap mantan bosnya dan bulu kuduknya kembali meremang.
    “ Ada hal pribadi yang ingin kubicarakan denganmu, nona Park.”
    “ ..... d-denganku? .... ku-kukira urusan di antara kita sudah selesai.... begitu katamu tadi....”

    Won Bin tersenyum geli melihat reaksi gadis itu. Hati gadis itu sudah percaya bahwa ia bukanlah laki-laki yang akan melukainya, namun tampak sangat jelas kalau otak gadis itu memerintahkan hatinya untuk hal sebaliknya.
    “ Aku ingin meminta bantuanmu, nona Park.”
    “ ..... bantuan? .... apa yang bisa kulakukan untukmu?”
    “ Menjadi obyek foto.”
    Ga In bengong, ia tidak berhasil mencerna kalimat terakhir dari laki-laki itu.
    “ ..... obyek.... obyek foto?”
    “ Aku senang mengisi waktu luangku untuk mengabadikan moment-moment dengan kameraku, dan aku ingin kau membantuku dengan menjadi modelku.”
    “ T-tapi aku tidak bisa berpose sebagai model! .... a-aku pasti akan mengecewakanmu dan aku tidak berani mengecewakanmu!” sahut Ga In terburu-buru.
    “ Apakah kau sedang menolak permintaan bantuanku, nona Park?”
    “ ..... m-mana... berani aku menolaknya....?” sahut Ga In, kalah. Sekali lagi, kalah.

    Ga In dan Won Bin keluar dari kantor bersama-sama dan Ga In cukup lega tidak melihat ada satupun anak buah laki-laki itu yang berjaga-jaga di depan kantornya.
    “ Kau mau ke mana? Biar kuantar sekalian.” sahut Won Bin sambil membuang sisa puntung rokoknya ke jalanan, berusaha agar tidak terlihat kikuk. Maklum, pengalamannya dengan wanita lebih sedikit dibanding pengalamannya memotong anggota tubuh orang.
    “ ..... aku? .... aku mau pergi melihat toko kekasihku... aku belum sempat melihat tokonya sama sekali sejak pertama dibuka.”
    Senyuman di wajah Won Bin perlahan memudar.
    “ .... kekasih? Aku tidak tahu.... ternyata kau sudah punya kekasih, nona Park.”
    Ga In tersenyum, dalam hati ia bersyukur ia sudah punya kekasih dan hal itu tampak mengganggu laki-laki sadis itu. Biarlah, asal dia tahu bahwa ia tidak bisa macam-macam padanya, akan ada kekasihnya yang datang menuntut balas jika laki-laki itu berani melukai Ga In!

    Ga In baru saja hendak berpamitan dan menolak ajakan Won Bin untuk diantar ketika rintik-rintik hujan tiba-tiba turun dan menjadi deras dalam waktu singkat.
    “ Well, kurasa kekasihmu tidak akan suka jika melihatmu diantar oleh laki-laki asing. Kalau begitu aku permisi dulu, aku akan menghubungimu saat aku butuh bantuanmu.” sahut Won Bin, kembali pada nadanya yang dingin seperti biasa.
    Tapi Ga In dengan spontan menarik lengan laki-laki itu dan buru-buru melepaskannya.
    “ ..... ke-kekasihku pasti lebih senang jika aku diantar oleh laki-laki asing... dibanding datang ke tempatnya dengan basah kuyub....”
    Won Bin menatap gadis itu beberapa saat dan akhirnya menekan remote mobilnya dan membiarkan gadis itu masuk ke dalam.

    Sepanjang perjalanan laki-laki itu tidak berkata apapun, Ga In mulai merasa tidak enak dan menebak-nebak apakah laki-laki itu sedang marah padanya karena berani-berani meminta untuk diantarkan.
    “ ..... Su-Sun Mi pasti akan kaget jika aku bercerita bahwa hari ini aku menumpang mobilmu.” celetuk Ga In memulai pembicaraan.
    " Sun Mi ?"
    " S-Sun Mi .....dia salah satu karyawan di kantor juga .... kau tidak pernah mendengar namanya?" tanya Ga In bingung.
    " Aku tidak punya waktu dan ketertarikan untuk menghafalkan seluruh nama karyawan di kantormu, nona Park."
    " Ah .... ya , benar juga."
    “ O ya, kenapa temanmu harus kaget?”
    “ H-Hah? ... hhm... k-karena....”
    “ Karena kau naik mobil seorang mafia?” tanya Won Bin sambil terus menatap ke depan. Bulu kuduk Ga In kembali meremang, laki-laki itu benar-benar menakutkan bahkan saat ia sedang tidak melakukan apapun.
    “ ..... t-tentu saja bukan karena itu... k-karena aku bisa diantarkan oleh seorang laki-laki tampan.. ha...hahaha...” sahut Ga In berusaha untuk mentertawakan jawabannya yang sama sekali tidak lucu.

    Won Bin menoleh ke arah Ga In dan tersenyum sendiri tanpa merespon apapun.
    Sesampainya di alamat toko Hyun Bin, Ga In langsung turun dari mobil dan mengucapkan rasa terimakasihnya pada sang bos mafia.
    “ Be-benar benar terimakasih banyak karena sudah mengantarkanku kemari.... Maaf sudah merepotkanmu.”
    “ Di mana toko kekasihmu itu? Aku tidak melihat ada toko di sekitar sini.” sahut Won Bin sambil menatap sekilas pada deretan ruko lama yang sebagian besar sudah tutup. Jelas ini adalah area bisnis yang kurang berkembang. Bahkan para pedagang emperan pun enggan untuk berdagang di sini.
    Ga In menoleh ke belakang dan mengerutkan alisnya. Laki-laki itu benar, daerah ini tidak tampak seperti daerah yang pas untuk membuka sebuah toko.
    “ Kau tidak perlu kuatir, pasti ada di sekitar sini, alamatnya sudah benar kok. Aku akan menelepon kekasihku jika aku tersesat nanti. Terimakasih banyak sekali lagi.”
    Won Bin hanya mengangguk dan segera membawa pergi mobilnya pergi.

    ******​

    Ga In berjalan menyusuri deretan toko itu sebelum menemukan alamat persis seperti yang diberikan Hyun Bin padanya. No 27. Papan toko itu sesuai dengan nama toko yang diberikan Hyun Bin padanya, namun toko itu tutup, tidak nampak ada tanda-tanda kehidupan apapun.
    Selain itu pada pintu toko terdapat banyak coretan makian.
    “PENIPU INI MENGAMBIL UANG KAMI!!”
    “EMAS PALSU!!! KEMBALIKAN UANG KAMI!!”
    “******** PENIPU INI HARUS MASUK PENJARA!!”


    Ga In berdiri seperti orang bodoh di depan toko. Dengan tangan yang bergetar ia mengambil handphone dari dalam tasnya dan berusaha menghubungi kekasihnya.
    Telepon pertama tidak diangkat, begitupun telepon kedua, ketiga, dan keempat.
    Ga In hanya bisa berdiri mematung sambil menangis.
    Ke mana Hyun Bin? Kenapa toko yang ia anggap sebagai tumpuan masa depannya bersama laki-laki itu berubah menjadi toko dengan penuh caci maki orang seperti ini??

    “ Nona? Nona siapa?” tanya beberapa orang pria setengah baya yang baru saja datang ke toko itu.
    “ ..... ke mana Hyun Bin? ..... ke mana pemilik toko ini??”
    “ Anda kenal pemilik toko ini?! Anda siapa? ******** itu sudah kabur membawa uang kami!!” seru salah seorang dari pria setengah baya itu.
    “ ..... t-tidak mungkin! Hyun Bin tidak mungkin melakukan hal seperti itu! ..... aku tahu benar siapa kekasihku!!” seru Ga In membela dengan membabi buta.
    “ Ooo, jadi kau kekasih ******** itu?!! Kalau begitu cepat kau gantikan uang yang sudah diambilnya dari kami!! Cepat!!”

    Won Bin baru saja menyetir sampai persimpangan dan intuisinya begitu kuat mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan toko kekasih gadis yang baru saja diturunkannya.
    Ia memutar kembali kendaraannya sambil memperhatikan keadaan di daerah sana. Begitu banyak preman dan juga pengemis yang berkeliaran di sana. Tentu saja, tempat kumuh seperti ini sama sekali tidak cocok menjadi sebuah toko.
    Baru saja ia tiba di tempat ia menurunkan Ga In, ia sudah melihat ada keributan tidak jauh dari sana. Tanpa pikir panjang Won Bin langsung turun dari mobilnya dan berlari menghampiri kerumunan itu dan ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat Ga In sudah bersimpuh di tanah dengan banyak orang yang berteriak bahkan tidak segan-segan menarik rambut gadis itu.
    “ CEPAT KEMBALIKAN UANG KAMI!! KEKASIHMU BAHKAN TIDAK MEMBERIKAN EMAS JAMINAN ITU PADA KAMI!!” seru salah seorang orang di dalam kerumunan itu sambil merenggut tas milik Ga In dan membukanya dengan seenaknya.

    Ga In menundukkan kepalanya dan terus menangis. Ia berharap Hyun Bin akan muncul dan meluruskan semua kesalahpahaman ini. Rasa sakit tidak ia rasakan sama sekali karena sakit di hatinya terlalu kuat.
    Namun ia terkejut ketika tiba-tiba kerumunan itu menjadi senyap dalam waktu seketika. Kerumunan itu bukan hanya senyap, tapi lebih tepatnya tidak bisa berkata apapun.
    Ga In sendiri terkejut saat ia melihat Won Bin, laki-laki yang ia pikir sudah pergi itu sedang berdiri tidak jauh darinya dengan sebilah pisau berada persis di leher salah seorang dari orang yang mengerumuninya tadi.
    “ Lepaskan gadis itu, jika tidak aku akan melepaskan kepala ini dari badannya.” sahut Won Bin dengan suara rendah dan dinginnya yang khas.
    Kontan semua orang berteriak sambil berlari ketakutan. Dalam waktu singkat hanya ada dirinya, Won Bin, dan seorang bapak setengah baya dengan leher yang nyaris putus di tangan Won Bin.
    “ .....k-kau tidak akan benar-benar membunuhnya bukan...??” tanya Ga In sambil terisak-isak.
    “ Kau tidak apa-apa?” tanya Won Bin tenang.
    “ ..... jangan bunuh dia... lepaskan dia....” sahut Ga In memohon, ia tidak ingin melihat hal mengerikan itu dengan mata kepalanya sendiri.
    Won Bin menurunkan pisaunya dan mendorong bapak tua itu yang langsung berlari terbirit-birit. Laki-laki itu menatap Ga In untuk beberapa saat dan membantu gadis itu berdiri.

    ******​
     
  5. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    My Love is a Gangster

    Chapter - 3 -

    The GOOD is Actually The BAD , . . . . VISA VERSA



    Won Bin berjalan mengikuti Ga In masuk ke rumahnya. Rasanya agak aneh baginya untuk menginjakkan kaki di rumah seorang wanita seperti ini.
    Ga In sendiri seakan lupa bahwa ia baru saja mempersilakan seorang geng mafia untuk masuk ke rumahnya. Pikirannya terlalu penuh dengan hal yang lain sekarang.
    “ ..... terimakasih sudah mengantarku pulang...”
    “ Kau terluka, obati dulu lukamu.” sahut Won Bin, berusaha untuk tidak terlihat begitu ikut campur pada masalah gadis itu.
    “ ..... iya... terimakasih sudah menolongku.... kau pulanglah, kau pasti banyak pekerjaan lain.”
    Won Bin mengangguk dan segera melangkah keluar, ia bisa mati karena tidak bisa bernafas dengan benar jika berada di sana lebih lama.

    Tapi baru saja Won Bin keluar dari dalam rumah Ga In, langkahnya kembali terhenti.
    “ .... sejak kapan kau begitu peduli dengan seorang wanita lemah seperti itu, Won Bin?” gerutunya pada diri sendiri. Namun ia teringat bahwa gadis itu berjalan sambil terseok-seok, sepertinya kakinya terkilir dan gadis seperti itu pasti tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.
    Won Bin masuk kembali ke dalam, berniat untuk membenarkan kaki gadis itu, dan langsung pulang. Langsung pulang.
    Ia menunggu cukup lama di ruang tamu namun gadis itu tidak jua keluar dari kamar mandi.
    Sudah hampir 30 menit gadis itu ada di kamar mandi dan sama sekali tidak terdengar suara shower, atau suara tangisan gadis itu, tidak ada suara apapun.
    Won Bin mengetuk pintu kamar mandi dan tidak ada respon apapun.
    “ Apakah gadis bodoh itu bunuh diri?” sahutnya panik dan buru-buru menendang pintu kamar mandi hingga terbuka.
    Gadis itu memang sudah tidak sadarkan diri di lantai, untungnya Won Bin tidak menemukan bercak darah sedikitpun ataupun benda tajam yang mungkin digunakan untuk melukai dirinya sendiri.

    Won Bin mengangkat gadis itu dan membaringkannya di atas tempat tidurnya.
    Selama beberapa menit ia berpikir tentang apa yang harus ia lakukan sekarang. Kemudian ia teringat bahwa semula ia hanya datang untuk membantu kaki gadis itu yang terkilir, lalu pulang.
    Maka ia memegang pergelangan kaki gadis itu dan merabanya untuk merasakan sendi yang terkilir. Dengan sekali hentakan keras ia menarik pergelangan kaki gadis itu. Pasti rasanya sakit, betapapun ia sering membuat kakinya terkilir, setiap kali pergelangannya ditarik seperti itu, Won Bin pun masih meringis kesakitan.
    Rasanya begitu sakit hingga gadis itu terbangun sambil berteriak kesakitan.
    “ Aaaa!!!”
    Won Bin buru-buru melepaskan tangannya dari kaki Ga In dan terkejut dengan teriakan kencang gadis itu.
    “ A-apa yang kau lakukan pada kakiku?!!” seru Ga In terkejut sekaligus panik laki-laki itu akan membunuhnya tanpa alasan sekarang.
    “ Ka-Kakimu terkilir dan aku berusaha untuk menyembuhkannya!”
    “ ...... b-begitukah? ..... tapi rasanya sakit sekali....” sahut Ga In sambil terus meringis.
    “ Ingat rasa sakit itu dan pastikan kakimu tidak terkilir lagi, jika kau pergi ke rumah sakit, mereka hanya akan memberimu gips dan membuatmu tidak bisa berjalan selama 2 minggu.”
    “ ..... bukankah tadi kau sudah pulang.... kenapa... kau ada di sini lagi?” tanya Ga In dan mulai menyadari bahwa seorang mafia sedang duduk di dalam kamar feminimnya sekarang.

    “ Kau selalu memintaku untuk pergi, tapi setiap aku pergi, kau selalu terlibat masalah dan membuatku harus kembali datang!” seru Won Bin kesal. Seharian ini sudah 2 kali ia pergi lalu kembali lagi demi gadis itu.
    “ ...... aku harus mencari kekasihku.... sepertinya ada kesalahpahaman padanya, tidak mungkin ia menipu begitu banyak orang seperti itu !!”
    Won Bin bersandar pada kursi yang sedang ia duduki dan tersenyum sinis.
    “ Orang sebanyak itu berkata hal yang sama tentang kekasihmu, kurasa lebih mudah mempercayai orang orang itu dibanding kekasihmu.”
    Ga In mendelik kesal, namun ia tidak berani untuk berargumentasi dengan orang menyeramkan itu. Dengan berat hati ia menelan perkataan Won Bin bulat-bulat.
    “ Bagaimanapun terimakasih sudah menolongku.... 2 kali. Aku pastikan hal ini tidak akan terjadi lagi.... jadi sekarang kau boleh pulang.”
    “ Aku memang tidak berniat berlama-lama membuang waktu di sini, nona Park.” sahut Won Bin sambil berdiri dan pergi tanpa mengatakan apapun pada Ga In.

    ******​

    2 bulan berlalu sejak terakhir Won Bin bertemu dengan Ga In. Setiap hari ia disibukkan dengan pencarian direktur Choi dan juga penagihan uang sewa serta hutang yang begitu mengantri mengisi harinya.
    Sesekali ia memang teringat akan satu-satunya gadis yang pernah ia biarkan naik ke dalam mobilnya dan bahkan diantarnya pulang, namun tidak lebih dari itu. Baginya gadis itu hanyalah menarik sebagai obyek fotonya.
    “ Tuan muda, ia meminta keringanan sisa bunga yang belum ia bayarkan.” sahut salah seorang anak buahnya sambil membawa serta seorang pengusaha minuman keras yang menyewa salah satu tempat milik keluarga Won Bin.
    “ T-tolong bantu aku, tuan muda. Bisnis sedang kurang baik sekarang, ak----“
    “ Mulut busukmu jelas mengeluarkan bau minuman keras yang kau jual. Bagaimana bisnismu mau berjalan dengan baik jika kau hanya mabuk-mabukan dan tidak merawat tempat ini dengan baik, Bos Lee?” tanya Won Bin sambil melihat kondisi pub milik client-nya ini.
    “ A-aku akan berusaha lebih baik! .... a-anda boleh datang dan minum sepuasnya di sini, dan aku akan menyuruh wanita-wanita cantik untuk menemani anda, oke??”
    Won Bin tersenyum, dengan santai ia menurunkan puntung rokok dan menempelkannya di punggung tangan clientnya itu.
    “ Aaa..!!! K-Kumohon ampuni aku, tuan muda!!”
    “ Tunggakan bungamu hari ini akan kau bayarkan paling lambat bulan depan, jika lebih dari itu, maka aku akan menutup bisnismu ini dan akan membuat wanita-wanita cantikmu itu berubah menjadi lusuh.” bisik Won Bin sambil beranjak pergi.

    Won Bin pulang ke rumah walaupun matahari belum terbenam. Tentu saja panggilan mendadak dari papanya tidak bisa diabaikan.
    Won Bin menunggu di dalam kamar papanya sampai papanya datang.
    “ Kita tinggal di bawah atap yang sama tapi sudah lama sekali sejak papa terakhir melihat mukamu.” sahut papanya sambil menuangkan segelas whisky dan menawarkannya untuk putra bungsunya.
    “ Aku tidak minum.” sahut Won Bin menolaknya.
    “ Kau benar, jika saja saat itu Kang Ha tidak mabuk, maka ia tidak akan memulai perkelahian tidak berarti dengan keparat keparat itu, dan ia tidak akan meninggal dengan sia-sia.”
    “ ..... kukira sudah lama papa berhenti mengingat tentang Kang Ha.”
    “ Sampai kapan kau akan bersikap begitu pada papamu sendiri?”
    “ ..... untuk apa memanggilku kemari? Aku menjalankan tugas dengan baik, aku memastikan semua uangmu kembali padamu dan bertambah dengan signifikan.” jawab Won Bin sambil terus memandang ke luar jendela.
    “ Tentu saja, aku selalu mendengar hal baik tentang kinerjamu, bahkan gerombolan distrik seberang tidak berani mengacau masuk ke dalam wilayah kita. Kau memang adalah penerusku yang sejati.”
    “ Kau memanggilku hanya untuk memujiku?”

    “ Sudah saatnya kau berhenti mengurusi pekerjaan-pekerjaan remeh dan biarkan anak-anak yang membereskannya, aku ingin kau menangani bisnis yang lebih besar dengan papa.”
    “ Aku tidak punya kemampuan untuk bermain dengan para menteri dan para direktur itu, Pa.”
    “ Karena itu kau harus mulai belajar, bagaimanapun suatu hari nanti kau yang akan memegang semua hal ini bukan?”
    “ ...... sejak kapan papa begitu ikhlas menyerahkan kerajaan bisnis papa pada anakmu?”
    “ Aku ingin kau cepat menikah dan memberikanku cucu. Aku sudah bosan dengan tingkahmu yang menyebalkan itu!”
    Won Bin menatap papanya dengan tajam.
    “ Saat itu Kang Ha mabuk-mabukan karena ia stress!! Kenapa ia stress? Karena papa memaksanya untuk bermain dengan elit-elit politik itu!! Dan papa memaksanya untuk menikah dengan salah satu anak menteri yang sama sekali tidak ia sukai!! .... aku tidak ingin berakhir seperti Kang Ha.”
    “ Aku tidak peduli jika sejarah akan berulang, tapi kau harus mulai belajar dengan papa dan pikirkan tentang pernikahanmu.” sahut papanya sambil berjalan keluar.

    ******​

    Park Ga In baru saja pulang dari tempat bekerjanya yang baru. Ia memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan sebagai seorang staf bank daerah. Bukan bank besar, tapi setidaknya letak kantornya tidak jauh dari rumahnya.
    Masih tidak ada kabar berita dari Hyun Bin, dan perlahan Ga In mulai putus asa untuk menelepon laki-laki itu setiap hari tanpa ada jawaban.

    Baru saja ia tiba di depan rumahnya ketika dia mendapati ada hal yang tidak biasa di sana. Segerombolan orang berpakaian serba hitam sedang mengerumuni pintu depan rumahnya.
    “ ..... apa yang kalian lakukan di depan rumahku?” sahut Ga In ketakutan.
    “ Kau nona Park Ga In?”
    “ ..... aku tidak punya urusan apapun dengan kalian!” seru Ga In sekali lagi.
    “ Kau meminjam uang pada kami dan kau belum melunasi hutangmu sejak bulan pertama, nona. Bagaimana mungkin kau bilang tidak punya urusan apapun dengan kami??” bentak salah satu pria kekar itu.
    “ Hu..hutang? ....a-aku tidak pernah berhutang pada kalian....”
    “ 100 juta, di mana uang itu? O ya.. dengan bunga keterlambatan berarti kau harus membayar 150 juta sekarang.”
    “ 150 ju...juta?!!” seru Ga In nyaris pingsan mendengarnya.

    ******​

    Won Bin sedang berada di atap rumahnya dan sedang menatap suasana kota dari atas.
    “ Tuan muda, kami sudah membawa orangnya kemari.” sahut Min Suk melaporkan.
    Won Bin menghela napas.
    “ Kenapa kau kembali membawa keparat itu datang ke rumahku? Apakah kau tidak bisa menyelesaikannya di tempatnya?”
    “ Rumah gadis itu ada di tempat yang ramai, kami tidak bisa leluasa di sana, lagipula dekat sana ada kantor polisi, tuan muda.”
    “ Gadis? Seorang gadis berhutang pada kita? Berapa hutangnya?”
    “ 150 juta, tuan muda.”
    Won Bin terdiam sejenak, sangat jarang seorang gadis berani untuk mengambil hutang pada organisasi seperti mereka dan lebih jarang lagi ada gadis yang berani untuk menunggak hutang pada organisasi seperti mereka.
    Pintu atap terbuka dan anak buahnya mendorong seorang gadis untuk terus berjalan menemui bos mereka.

    Baru saja gadis itu naik ke atas, Won Bin langsung mengenali siapa gadis itu.
    Ga In yang sepanjang perjalanan begitu ketakutan dan merasa nyawanya akan melayang hari itu juga pun tiba-tiba menjadi tenang saat melihat siapa orang yang ada di hadapannya sekarang.
    Ga In malah tidak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum melihat laki-laki yang tidak pernah ia temui lagi sejak 2 bulan yang lalu itu.
    Tentu saja, kenapa ia bisa lupa kalau laki-laki itu adalah bos mafia untuk urusan seperti ini bukan?

    “ Mana berkas peminjaman hutangnya, bawakan selengkapnya padaku sekarang.” sahut Won Bin pada anak buahnya. Dengan sedikit cangung ia berjalan menghampiri Ga In. Gadis itu selalu tampak menarik di matanya.
    “ Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di saat seperti ini, nona Park.” sapanya.
    “ Aku juga....” sahut Ga In sambil terus tersenyum. Dalam hati ia berusaha untuk menyadarkan dirinya, bagaimanapun laki-laki di hadapannya ini adalah orang yang bisa menjual organ seseorang, bagaimana boleh ia begitu lega melihat orang itu di sini??

    Tidak lama kemudian anak buah Won Bin datang membawakan berkas surat peminjaman dan di sana tertera dengan jelas bahwa pihak yang akan membayarkan hutang ini adalah Park Ga In, bahkan fotokopi ID pun sudah terlampir dengan rapi di sana.
    Won Bin melihat nama penerima uang dan menatap gadis itu dengan seksama.
    “ Siapa Hyun Bin?” tanyanya.
    “ ....H-Hyun Bin?.... darimana kau tahu nama itu?”
    “ Dari berkas peminjaman hutang, ia orang yang menerima 100 juta pinjaman dariku dan menunjukmu sebagai pihak yang akan melunasi hutangnya.”
    Won Bin membuka berkas itu lebar-lebar di depan mata Ga In.
    Anak-anak buahnya saling bertukar pandang di belakang, tidak biasanya bos mereka begitu sabar menghadapi klien dengan kesulitan pelunasan hutang.
    Ga In tertegun.
    Tentu saja ia ingat bahwa Hyun Bin pernah meminjam sejumlah dana untuk modal usahnya. Dan ia pun ingat saat Hyun Bin meminjam ID cardnya dengan alasan agar pihak pemberi dana bersedia memberikan pinjaman padanya.
    Ia tidak menyangka ia akan mendapati fotokopi ID card dan namanya pada pihak pelunas hutang.
    “ ..... i-ini.... tidak mungkin.... Hyun Bin tidak mungkin melakukan ini padaku.....” sahut Ga In terbata-bata.
    “ Apa Hyun Bin itu kekasihmu? Ia meminjam uang untuk membuka toko penipuan itu?”
    “ ..... ia tidak mungkin melakukan hal ini padaku,.....” sahut Ga In sekali lagi.

    “ Nona, sampai kapan kau akan bertele-tele?!!” seru salah seorang anak buah Won Bin yang sudah tidak sabar melihat Ga In yang hanya bengong seperti orang bodoh.
    “ Dia tamuku, biar aku yang mengurusnya.” sahut Won Bin sambil berdiri dan menarik tangan Ga In pergi dari sana.

    Ga In cukup ketakutan saat Won Bin menariknya pergi dan membawanya masuk ke sebuah ruangan, tanpa ada anak buahnya di sana.
    “ ....k-kau membawaku ke mana?” tanya Ga In.
    “ Ini kamarku, dan kau kuijinkan untuk menangis selama 10 menit, setelah itu dinginkan kepalamu dan mari kita bicarakan hutangmu.” sahut Won Bin sambil duduk di sofa kamarnya dan menyalakan TV.
    Ga In berdiri mematung seperti orang bodoh dan secara mengejutkan ia benar-benar menangis sekeras yang ia bisa.
    Won Bin yang tadinya akan bersikap tidak peduli pun tidak bisa berhenti memandangi tingkah gadis itu yang persis seperti seorang gadis SMA. Ia mengingat tanggal lahir yang ada ID card gadis ini dan jelas bahwa tahun ini usianya sudah 28 tahun. Sama sekali tidak cocok dengan tingkahnya sekarang.

    “ ..... sudah 10 menit.” sahut Ga In sambil masih sedikit terisak-isak.
    Won Bin menatap gadis itu dan tersenyum geli. Gadis ini memang luar biasa ajaib.
    “ Apakah kau butuh 10 menit tambahan, nona Park?”
    “ ..... tidak.... ayo kita bicarakan soal hutang itu....”
    Won Bin mempersilakan Ga In untuk duduk di seberangnya dan Ga In mempersiapkan hatinya sekuat mungkin.
    “ Seperti yang kau lihat, aku memperlakukanmu dengan tidak masuk akal sepanjang kau datang kemari. Mungkin anak buahku sekarang berpikir aku salah minum obat atau sedang kerasukan setan karena meladenimu begitu lama.”
    “ ..... t-terimakasih banyak....”
    “ Aku tidak tahu kalau seorang gadis bisa begitu sering berterimakasih pada seseorang sepertiku.” jawab Won Bin sambil tersenyum.
    “ ..... aku tidak pernah menggunakan sepeser pun uang yang kau pinjamkan pada Hyun Bin.... bahkan aku masih tidak tahu ke mana ia pergi.... ia tidak pernah mengangkat teleponku dan.... aku benar-benar tidak tahu ada di mana ia sekarang....”
    “ Aku tidak terkejut, kurasa kekasihmu memang ********, nona Park.” sahut Won Bin dengan tenang.
    “ ..... lalu... apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”
    “ Kami selalu menjalankan bisnis ini dengan cara yang sama. Di saat seperti ini kau punya 2 pilihan, nona Park. Pertama, membayar lunas semua hutang beserta bunga sebanyak 150 juta won, tentu saja jumlahnya akan bertambah jika kau terus mengulur waktu. Kedua, kau tidak perlu membayarnya jika kau berhasil menemukan kekasihmu dan menyerahkannya pada kami.”
    Ga In bengong.

    “ ..... b-bagaimana aku bisa melakukan kedua hal tersebut?? ..... a-aku.... aku tidak tahu di mana Hyun Bin berada.... kumohon, bantulah aku....”
    “ Kenapa kau berpikir bahwa aku akan bersedia menolongmu?” tanya Won Bin.
    “ .....k-karena.... hhm... bukankah kita berteman?” sahut Ga In sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
    Won Bin menatap gadis itu dan kemudian tersenyum sendiri.
    “ Teman? .... jadi kau merasa aku ini adalah temanmu? Penagih hutang ini adalah temanmu?”
    “ M-Meskipun pekerjaanmu mengerikan.... dan meskipun anak buahmu mengerikan,.... dan meskipun kau selalu membawa benda-benda mengerikan bersamamu, .... tapi kau selalu bersikap baik padaku.... bukankah begitu, Won Bin ssi?” sahut Ga In sambil perlahan menengadahkan kepalanya.
    Won Bin tertegun, entah kapan terakhir kali ada orang yang berani memanggil namanya seperti itu. Semua orang memanggilnya dengan sebutan bos, tuan muda, tuan besar, dan bahkan mungkin mereka sudah lupa siapa namanya.

    “ Ya,... kau benar, kita ini berteman. Aku tahu namamu, dan kau tahu namaku. Aku menyelamatkanmu beberapa kali, dan kurasa itu alasan yang cukup untuk mengatakan bahwa kita berteman.”
    Ga In tersenyum lega.
    “ Baiklah, aku mengerti kesulitanmu. Sebagai teman yang baik, aku akan memberikan pilihan ketiga untukmu. Kau bebas, kau tidak usah membayar hutang ini, kau juga tidak perlu membayar bunganya, terlebih lagi kau tidak perlu mencari keparat itu lagi.”
    “ ..... kau serius? .... kau...benar-benar membebaskanku begitu saja?.... begitu saja?” tanya Ga In tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
    “ Tentu saja aku serius. Biar kami yang mencari di mana keparat itu berada.”
    “ K-Kau akan mencari Hyun Bin?? .... a-apa yang akan kau lakukan padanya setelah kau menemukannya??”sahut Ga In sambil bergidik ngeri.
    “ Hal yang sama, jika ia memiliki uang, maka kami akan ambil uangnya. Jika ia tidak memiliki uang, maka kami akan menjual----“
    “ O-O...Organ tubuhnya....” sahut Ga In nyaris pingsan saat menyelesaikan kalimat ‘teman baru’nya itu.
    Won Bin mengangguk.

    “ K-Kau tidak boleh melukainya!!! ..... aku yakin ini hanya kesalahpahaman... tidak mungkin ia melakukan ini padaku!!”
    Won Bin mengerutkan alisnya dan mulai kesal karena gadis ini selalu saja membela laki-laki yang jelas-jelas sudah memperlakukannya dengan sangat menyebalkan.
    “ Kurasa hal ini sudah cukup untuk membuatmu membenci keparat itu, nona Park.”
    “ A-aku akan membayar hutang dan bunganya!! .... k-kau tidak perlu kuatir... aku akan membayarnya segera! Jadi... jangan lukai Hyun Bin!!”
    “ Benarkah? Bagaimana caramu melunasi semuanya? Kau punya tabungan sebanyak 100 juta won?”
    “ .....sebagai teman.... berikan aku waktu..... 1 bulan untuk menyelesaikan hutang ini... kau bisa memberikanku waktu 1 bulan bukan?”
    Won Bin menatap gadis itu dengan tidak percaya. Gadis itu benar-benar serius dengan perkataannya.
    “ Baiklah, 1 bulan untuk temanku.... tapi jika bulan depan kau tidak bisa melunasinya, maka aku akan bereskan dengan caraku sendiri.”

    ******​

    Ga In terduduk lemas di lantai kamar tidurnya. Air mata sudah membasahi matanya sejak tadi dan membuatnya bengkak seperti panda. Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya.
    Ia mengambil handphone-nya dan berusaha untuk kembali menelepon Hyun Bin, namun seperti biasa, laki-laki itu tidak mengangkat teleponnya.
    Dengan kalut Ga In meninggalkan pesan agar Hyun Bin menjelaskan padanya soal hutang 100 juta won ini.
    Dan di tengah kekalutannya, Ga In mengeluarkan buku tabungannya dari dalam laci meja.
    Ia hanya mempunyai tabungan sebanyak 900.000 won. Berarti ia harus mengumpulkan uang sebanyak 149.1 juta won lagi untuk dapat melunasi hutang-hutang kekasihnya itu.
    Ga In menutup matanya dengan frustrasi, bayangan orang-orang sadis itu menangkap dan membunuh Hyun Bin bahkan jauh lebih menakutkan lagi baginya sekarang.

    “ Tenang, Park Ga In.... cobalah berpikir dengan kepala dingin.... kau harus memohon agar laki-laki itu membiarkanmu membayar pokok hutangnya saja dan tidak membebankan bunganya.... setelah itu... kau harus menjual rumahmu ini.... meminjam uang pada papa dan mama.... meminjam uang pada bank.... “ sahutnya lirih. Dan akhirnya ia kembali terduduk lemas, bagaimana mungkin ia bisa memberitahu papa dan mamanya soal ini... dan bagaimana mungkin bank akan memberikan pinjaman padanya yang bahkan tidak punya rumah sebagai tempat tinggal?
    Ga In menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai menangis tersedu-sedu.

    ******​

    Hari demi hari berlalu, tidak terasa 3 minggu sudah berlalu. Won Bin tidak pernah berhenti memikirkan teman barunya itu. Minggu depan adalah tenggat waktu dan gadis itu harus datang sambil membawa uang pelunasan hutang padanya.
    “ Tuan muda, anda memanggil kami?”
    “ Coba kau cari orang bernama Hyun Bin yang meminjam 100 juta won itu pada kita.”
    “ Baiklah, apa yang harus kulakukan setelah menemukannya?”
    “ Jangan lakukan apapun, beritahu saja di mana dia berada sekarang,... secepatnya.”
    “ Baik, tuan muda.”
    “ Apa rencana kita malam ini?”
    “ Kita akan mengunjungi bos Lee untuk hutangnya bulan ini dan tunggakan hutangnya bulan lalu.”
    “ Baiklah, segera selesaikan ini.” sahut Won Bin sambil berdiri dan masuk ke dalam mobilnya.

    Ga In berdiri dengan tatapan muram di ujung tempat bekerjanya yang baru. Sudah 3 minggu ia bekerja malam hari, ia bahkan hanya sempat tidur selama 2 jam karena masih harus bekerja di bank.
    Ia bekerja di sebuah pub, ia menyadari bahwa penghasilan paling besar yang dapat ia terima adalah jika ia bekerja seperti ini. Uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
    Meskipun hingga saat ini ia baru berhasil mengumpulkan 4 juta won.
    “ Kim Hee Jin!! Tolong antarkan minuman ini ke meja nomor 40!!” seru bartender memanggil nama palsunya selama bekerja di sini.
    Ga In terburu-buru mengambil nampan minuman dan mengantarkannya ke meja 40. Ia berusaha untuk tersenyum dan berharap orang-orang itu akan memberinya tip dari sekedar mengantarkan minuman dan tersenyum pada mereka.
    “ Nona cantik, kau mau bergabung dan menemani kami minum di sini?”
    “ T-tidak, maaf aku harus mengantarkan minuman ke meja lainnya.” sahut Ga In sambil buru-buru beranjak pergi. Ia sudah 3 minggu berusaha untuk beradaptasi dengan pekerjaan barunya, namun ia tidak pernah mampu melakukannya.

    Won Bin dan beberapa anak buahnya masuk ke dalam bar. Tentu saja bos Lee langsung mengantarkan mereka ke meja terbaik yang ia miliki.
    “ Ini uangnya, aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari agar kau tidak perlu menunggu lagi.” sahutnya sambil tersenyum lebar.
    Anak buah Won Bin mengambil dan menghitung jumlah pembayaran dari bos Lee.
    “ Sudah semua, tuan muda.”
    “ Kuharap bisnismu selalu lancar, bos Lee. Setidaknya kau tidak perlu menunggak pembayaran jika bisnismu lancar bukan?” sahut Won Bin sambil tersenyum dan bersiap-siap untuk pergi meninggalkan bar.
    Namun bos Lee segera mencegahnya.
    “ Setidaknya kalian bisa minum dulu bukan? Tolong bawakan bir terbaik yang kita miliki kemari!!” seru bos Lee pada pegawainya.

    Won Bin mengalah. Walaupun ia tidak minum alkohol, tapi anak buahnya pasti sangat mendambakannya.
    “ Kita akan di sini selama 10 menit saja, jadi manfaatkan waktu dengan baik.” sahut Won Bin pada anak buahnya yang langsung berteriak kegirangan.
    Berandalan –berandalan itu memang sangat terikat dengan minuman keras dan semacamnya.
    “ Silakan dinikmati.” sahut sang pelayan yang datang mengantarkan beberapa botol bir ke meja mereka.
    Min Suk yang kebetulan duduk di kursi paling luar segera mengenali pelayan yang mengantarkan bir pada mereka itu.
    “ Tunggu! Bukankah kau nona Park??”
    Won Bin menoleh, ia menatap gadis dengan balutan baju super mini itu dan segera terbelalak mendapati bahwa benar gadis itu adalah teman barunya.

    Won Bin menarik Ga In keluar dari bar itu. Ia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya lagi sekarang.
    “ Apa yang sedang kau lakukan di tempat seperti ini?!! Gadis sepertimu seharusnya tidak berada di sini!!”
    “ ..... aku harus mencari uang sebanyak mungkin untuk membayar hutang padamu!! .... dan aku tidak bisa pergi keluar terlalu lama, bosku akan mencari.” sahut Ga In sambil melepaskan genggaman laki-laki itu dari pergelangan tangannya.
    Ia benar-benar malu bertemu dengan laki-laki itu di sini, tapi ia tidak punya pilihan lain selain menghadapinya.
    Won Bin kembali menahannya.
    “ Apa kau akan melakukan apapun untuk membayarkan hutang keparat itu?!! Bahkan jika harus menjual harga dirimu?!! .... atau bahkan menjual tubuhmu?!!!” seru Won Bin meledak.
    “ ...... aku percaya Hyun Bin punya alasan untuk melakukan ini... aku tahu ia bukan orang seperti ini!!”
    Ga In membalikkan badannya dan hendak berjalan kembali masuk ke dalam bar ketika Won Bin berkata.
    “ Pilihan ke-4! ..... aku memberikan pilihan keempat untukmu!!”

    Langkah Ga In terhenti, ia menoleh ke belakang dan matanya mulai berlinang air mata.
    “ ..... pilihan apa yang akan kau tawarkan untukku sekarang...?”
    “ Kau tidak perlu melunasi hutang dan bunganya... lupakan saja 150 juta itu. .... sebagai gantinya, kau harus melakukan apapun yang kuminta darimu.”
    “ ..... kau.... membiarkanku tidak membayar hutang itu?”
    “ ..... kau harus melakukan apapun yang kuminta darimu, itu gantinya.”
    “ Selama... kau tidak memintaku untuk menyakiti siapapun, maka aku akan melakukannya.... Apa yang kau inginkan dariku?”
    Won Bin terdiam, ia tidak siap dengan permintaannya sekarang.
    “ Aku akan memikirkannya dan menghubungimu lagi. Aku akan mengantarkanmu pulang sekarang.” sahut Won Bin sambil menarik Ga In masuk ke dalam mobilnya.
    “ Aku harus bilang dulu pada bosku jika akan berhenti bekerja!” protes Ga In.
    “ Kau tidak perlu meninggalkan impresi baik di tempat seperti ini, Park Ga In!!!” seru Won Bin kesal. Ia menyalakan mesin mobil dan segera melaju kencang meninggalkan bar terkutuk itu.

    Won Bin belum benar-benar menghentikan mobilnya tapi Ga In sudah membuka pintu mobil lebih dulu, sepertinya gadis itu sudah tidak sabar untuk segera turun dari mobilnya.
    Ga In turun dan langsung berjalan menuju rumahnya tanpa menoleh lagi ke belakang.
    “ Kenapa kau harus bersikap seperti ini terhadapku?!!” seru Won Bin dari belakang.
    Ga In menghentikan langkahnya, ia mengingatkan dirinya bahwa ia belum mempunyai hak untuk bersikap seenaknya pada laki-laki yang bisa saja bersikap sadis padanya itu.
    Ga In memutar kembali badannya dan dengan tatapan nanar ia berkata pada laki-laki itu.
    “ ..... rasanya memalukan.... bertemu denganmu.... malam ini.”

    Won Bin tertegun, untuk beberapa saat ia berusaha untuk mencerna perkataan gadis itu, dan beberapa saat selanjutnya ia berusaha untuk menyusun kalimat yang tepat untuk ia ucapkan.
    “ ..... aku tidak bermaksud untuk mempermalukanmu. .... aku hanya merasa tempat itu tidak... cocok untukmu.”
    “ ..... berikan ponselmu padaku.” sahut Ga In sambil mengulurkan tangannya.
    Won Bin mengulurkan ponselnya tanpa banyak bertanya. Ga In memasukkan nomor handphone-nya ke dalam ponsel milik laki-laki itu dan mengembalikannya.
    “ Beritahu aku setelah kau tahu apa permintaanmu padaku.... asalkan Hyun Bin tidak terluka, aku akan melakukan semuanya.”
    “ Semuanya? .... kau rela melakukan semuanya untuk laki-laki yang sudah kabur dan meninggalkan hutang pada seorang renternir sepertiku?”
    “ ..... aku akan membencinya, setelah aku bertemu dan memastikannya langsung padanya.”

    ******​

    Won Bin kembali ke rumahnya dan langsung merasakan ada yang aneh di rumahnya. Tidak ada anak buah yang biasanya memadati hampir setiap jengkal rumahnya. Rumahnya begitu sepi dan lenggang sehingga para pelayan dapat berjalan dengan sangat leluasa. Tidak ada asbak berisi puntung rokok yang ada di meja. Semua bersih dan rapi.
    “ Apakah ada tamu yang datang?” tanya Won Bin pada salah seorang pelayan yang lewat di depannya.
    “ Ada seseorang yang menunggu anda di kamar, tuan muda.”
    Won Bin mendesah kesal. Ia paling benci saat ada orang yang masuk ke kamarnya tanpa permisi dulu, apalagi tanpa sepengetahuannya seperti ini.
    Melihat rumahnya begitu ‘suci’ dan ‘bersih’, ia cukup yakin bahwa tamu yang sedang menunggunya sekarang adalah seorang wanita, dan pasti ada hubungannya dengan rencana pernikahan papanya.

    Won Bin membuka pintu kamarnya dan melihat Han Hyo Joo, putri tunggal pewaris Hana Group sedang ada di kamarnya, dan sekarang sedang asyik memainkan salah satu kamera kesayangannya.
    “ Aku pernah membuat seseorang patah tangan karena berani menyentuh kameraku.” sahut Won Bin sambil menutup pintu kamarnya.
    Hyo Joo terkejut dan buru-buru meletakkan kamera milik Won Bin ke atas meja.
    “ Maaf, aku hanya merasa bosan jadi aku melihat-lihat koleksi kameramu.”
    “ Jika kau merasa bosan, kau bisa berjalan-jalan di ruangan lain di rumah ini, atau kau bisa keluar dari rumah ini.” jawab Won Bin sambil duduk di sofa kebesarannya, menatap gadis di hadapannya dengan sangat tidak bersahabat.
    “ Papamu ingin aku datang menemuimu, bagaimana mungkin aku pulang tanpa bertemu denganmu?”
    “ Apakah papaku menawarkan pernikahan antara kau dan aku? Lupakan. Itu tidak akan pernah terjadi.”
    “ Papamu dan papaku sepakat untuk menjalani kerjasama bisnis baru, mereka ingin membangun casino terbesar di Korea.”
    “ Itu urusan papaku dan papamu, tidak ada hubungannya denganku.” sahut Woo Bin.
    “ Papaku tidak cukup mempercayai papamu, dan papamu tidak cukup mempercayai papaku, jalan keluar untuk masalah ini adalah dengan pernikahan kau dan aku. Bagaimana mungkin kau tidak melihat hubungan di antara kita??” seru Hyo Joo kesal.

    “ Jangan berteriak di depanku, aku tidak tahu kapan tanganku akan melayang untuk menampar pipimu. ..... kau berani datang kemari, seharusnya kau tahu benar siapa laki-laki yang ingin kau nikahi. Apakah kau benar-benar berpikir untuk menikahi laki-laki sepertiku? Gadis terhormat sepertimu?”
    “ T-tidak ada yang salah denganmu! Kau tampan, muda, dan berasal dari latar belakang keluarga yang ba----“
    “ Baik? Keluargaku adalah mafia. Pekerjaan kami adalah merusak hidup seseorang dengan bunga yang mencekik leher mereka, terkadang kami harus merampas pekerjaan mereka, merampas benda berharga mereka, atau terkadang kami harus merampas hidup mereka. Apakah itu adalah latar belakang yang baik?”
    Hyo Joo menatap Won Bin dengan kesal.
    “ Kau yang bilang pada papamu tentang ini ya! Aku sudah datang kemari dan ingin bicara baik-baik denganmu!!”
    “ Dengan senang hati. Maaf, aku tidak mengantarmu.” sahut Won Bin sambil menutup pintu kamarnya dengan keras.

    ******​

    Malam itu Won Bin sedang berbaring di tempat tidurnya ketika pintu kamarnya terbuka dan beberapa orang memaksanya untuk bangun dan turun dari tempat tidur.
    Won Bin tahu mereka pasti adalah anak buah papanya. Ia sudah hafal dengan bagaimana cara papanya menyelesaikan masalah.
    Tanpa buang waktu orang-orang itu mulai memukulinya, tentu saja mereka tidak berniat untuk membunuhnya, mereka hanya berniat untuk memberikan pelajaran pada anak tidak berbakti ini.

    Won Bin berusaha untuk tetap berdiri dengan mata sekujur tubuh yang sakit dan sepertinya tulang rusuknya retak.
    Seseorang menyalakan lampu kamarnya dan itu adalah papanya.
    Papanya masuk dan tersenyum sinis padanya.
    “ Apakah kau sudah sadar sekarang tentang kesalahanmu?”
    “ Aku tidak akan menikah dengan gadis itu, maupun gadis manapun yang papa inginkan.”
    “ ANAK SIALAN!!” seru papanya sambil menamparnya keras-keras hingga ia terjatuh ke bawah.
    Won Bin kembali berdiri dan menatap papanya dengan tajam.
    “ Kau ingin aku menikah? Baiklah, aku akan menikah... tapi aku akan menikah dengan wanita pilihanku sendiri.”
    “ Pilihanmu sendiri? Hah! Apakah orang sepertimu bisa membawa pulang seorang gadis untuk diperkenalkan padaku?!”
    “ ..... aku akan menikahi wanita pilihanku, bahkan ketika kau tidak menyetujuinya!”
    “ Baik, asalkan kau membawa wanita itu menemuiku, aku tidak akan melarangmu untuk menikah dengannya!”

    ******​

    Ga In keluar dari rumahnya untuk menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Ia harus berangkat ke kantor, walaupun rasanya sekujur tubuhnya sudah tidak berfungsi dengan baik dan ia benar-benar ingin tidur panjang hari ini.
    Ga In menyempatkan diri untuk membeli kopi di jalan yang ia lalui untuk ke kantor.
    Baru saja ia keluar dari kedai kopi dengan kopi panas di tangannya, langkahnya terhenti saat ia melihat Won Bin berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.
    Laki-laki itu berdiri menatapnya, seakan sudah lama ikut berjalan bersamanya.
    Ga In terdiam seperti patung melihat wajah tampan laki-laki sadis itu yang hari ini begitu penuh dengan lebam dan juga bekas sayatan luka. Orang-orang yang lewat di jalan pun tidak bisa berhenti menatap laki-laki yang seperti habis pulang berkelahi.
    Ga In perlahan melangkah mendekati Won Bin.

    “ ..... apa yang terjadi padamu?”
    “ Kau tidak perlu begitu terkejut jika lain kali kau melihatku seperti ini. Ini adalah bagian dari konsekuensi pekerjaanku, nona Park.”
    “ ..... kau.... berkelahi?” tanya Ga In sekali lagi.
    “ Aku dipukuli.”
    “ ..... a-ada orang yang berani memukulimu? ..... bukankah kau bos dengan banyak anak buah? .... bagaimana mungkin kau membiarkan dirimu dipukuli sampai seperti ini?”
    Won Bin tersenyum, sudut bibirnya terasa nyeri tapi ia tetap memutuskan untuk tersenyum mendengar perkataan gadis itu.
    “ Berbicara denganmu selalu membuatku ingin tersenyum, nona Park.”
    “ ..... kenapa kau datang mencariku? .... apakah... kau sudah tahu apa yang ingin kau minta dariku??”
    Jantung Ga In mulai berdetak dengan kencang, ia tidak menyangka laki-laki itu tidak membutuhkan waktu lama untuk memikirkan permintaan padanya.
    Ia takut laki-laki itu meminta sebagian ginjalnya untuk dijual, atau mungkin meminta kornea matanya untuk dijual.
    “ Aku memintamu untuk menikah denganku.” sahut Won Bin dengan nada suaranya yang rendah.

    Ga In duduk di samping Won Bin di dalam mobilnya. Mereka sepakat untuk membicarakan hal ini di dalam ruangan tertutup, dibanding di tengah jalan dengan semua mata memandang ke arah wajah Won Bin.
    “ ..... apa kau sedang bercanda denganku?” tanya Ga In sambil meremas kedua tangannya.
    “ Aku mengerti kenapa kau bertanya seperti itu. ..... aku hanya perlu membawakan sebuah pernikahan untuk papaku, ..... kau tidak perlu menikah selamanya denganku.”
    “ Apa maksudmu aku tidak perlu menikah selamanya denganmu?! Kau sedang membicarakan pernikahan!!”
    Won Bin tersenyum.
    “ Aku membelimu untuk menikah denganmu seharga 150 juta won, nona Park. Kau boleh bercerai dan meninggalkanku saat kekasihmu itu kembali padamu dan kau masih memutuskan untuk bersama dengannya, .... atau saat kau bisa membayar 150 juta won padaku.”
    “ ..... pernikahan...seharga 150 juta won.... jadi ini permintaanmu padaku....?”
    Won Bin mengangguk.

    ******​

    Malam itu Ga In tidak bisa tidur. Setiap ia memejamkan mata, bayangan dirinya naik altar bersama dengan bos mafia itu membuat matanya sontak kembali terbuka dengan lebar.
    “ .... apakah ini semua bukan mimpi? ..... kalau ini mimpi, kenapa aku tidak terbangun sampai sekarang....??”
    Ga In membalikan badannya ke kiri dan ke kanan dengan frustasi. Laki-laki itu memang tidak pernah berbuat jahat padanya, bahkan laki-laki itu menghindarkannya dari pekerjaan bar yang ia benci itu. Namun bagaimanapun pernikahan dengan seorang mafia bukanlah sesuatu yang bahkan pernah singgah ke mimpi Ga In.
    “ ..... hidupku seharusnya hidup yang sederhana... seharusnya sekarang aku sedang mempersiapkan pernikahanku dengan seseorang yang kucintai.... kenapa tiba-tiba hidupku berubah 180 derajat???”

    Tidak jauh berbeda dengan Ga In, Won Bin pun masih berbaring dengan kedua mata terbuka lebar.
    Waktu sudah menunjukkan pukul 2 subuh dan tidak ada tanda-tanda ia akan tertidur dalam waktu singkat.
    “ ..... kau benar-benar melamar seorang wanita yang baru kau kenal beberapa bulan yang lalu.... dan wanita itu berhutang padamu.” gumamnya berusaha untuk meluruskan permasalahan hidupnya sekarang.
    Ia tahu bahwa keputusan ini adalah keputusannya yang paling egois terhadap wanita yang tidak pernah ia ingin sakiti itu, hanya saja keputusan egois ini jauh lebih baik dibanding ia harus menikah dengan gadis pilihan papanya.
    Setidaknya ia tahu kalau gadis itu tidak mencintainya, setidaknya ia akan menikah dengan seorang gadis polos yang tidak akan membuang waktu untuk berpura-pura mencintainya .
    Setidaknya dari awal ia sudah tahu kalau gadis itu tidak akan selamanya terikat bersama pria seperti dirinya. Setidaknya ia tahu bahwa akan tiba waktunya di mana ia akan bisa melepaskan gadis itu dan memberikan kebebasannya kembali.

    ******​

    Ga In terbangun ketika handphone-nya berbunyi. Ia nyaris bersorak sorak ketika melihat nama penelepon di handphone-nya.
    “ Hyun Bin!!!!”
    “ G-Ga In!! Kau tidak apa-apa?? Apakah para penagih hutang itu datang mencarimu???”
    “ Kau ada di mana sekarang??? Kenapa tiba-tiba kau menghilang begitu saja tanpa memberitahuku???”
    “ ..... maafkan aku.... aku adalah laki-laki yang tidak pantas kau cintai.... bisnisku.... bisnisku hancur, Ga In.... harga pasaran emas tiba-tiba jatuh dan dengan modal pas-pasan itu aku tidak bisa.... ah.... maafkan aku...”
    “ ..... apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka kan?”
    “ Aku baik – baik saja... aku hanya ingin menghilang untuk beberapa saat dan mengumpulkan uang untuk membayar hutang-hutangku... aku malu menemuimu....”
    “ Sebenarnya kau ada di mana sekarang??”
    “ ..... aku tidak bisa memberitahu di mana aku sekarang... a-aku sering berpindah-pindah, Ga In....”
    “ Lalu kapan kau akan kembali? .... kau tidak berencana untuk menghilang selamanya bukan? Aku... aku benar-benar membutuhkanmu di sini sekarang...”
    “ Apakah renternir itu berbuat kasar padamu??”
    “ .... tidak.... mereka... mereka cukup berbaik hati padaku... kau tidak perlu kuatir tentang itu....”
    “ Berikan aku waktu sebentar lagi, Ga In... aku akan segera mengumpulkan uang dan kembali padamu.... “
    “ Apakah jika hutang itu sudah terbayar lunas... maka kau bisa segera pulang?”
    “ Tentu saja! Kau pikir aku betah berlama-lama tidak melihatmu... aku sangat merindukanmu, Ga In....”
    “ ..... senang rasanya mendengar itu lagi darimu.... baiklah, kau tidak perlu kuatir, aku akan membantumu sekuat tenaga agar kau bisa segera kembali.... aku mencintaimu, Hyun Bin...”


    Ga In menutup telepon dan menarik napas panjang. Ia sudah membulat tekad untuk segera menyelesaikan masalah pelik ini sehingga Hyun Bin dapat segera kembali padanya.
    “ Baiklah!! Mari kita menikah, Park Ga In!!!” serunya pada dirinya sendiri.

    *****​

    Ini pertama kalinya Ga In mendatangi rumah Won Bin tanpa orang-orang bertubuh kekar itu menyeret tubuhnya.
    Meskipun ia datang tanpa paksaan, berdiri di depan rumah itu tetap berkesan angker baginya. Ia tidak mengerti bagaimana sebuah rumah besar seperti ini bisa begitu menakutkan baginya.
    Ia tidak usah repot-repot menekan bel karena banyaknya penjaga yang berjaga di depan rumah.
    “ Ada perlu apa nona?” sahut salah seorang penjaga itu dengan nada tidak bersahabat.
    “ A-Aku ingin bertemu dengan... W-Won Bin.”
    “ .... kau ingin bertemu dengan tuan muda kami? Ada perlu apa? Kau tidak perlu bertemu dengannya jika ingin meminjam uang!”
    “ B-bukan! Aku tidak ingin meminjam uang... a-aku hanya.... harus bertemu dengannya... bisakah kau tanyakan apakah dia bisa menemuiku sekarang?”
    “ Kau pikir tuan muda kami itu siapa sehingga kau bisa dengan bebas menemuinya?!” bentak sang penjaga itu hingga Ga In terlonjak karena terkejut.

    Untung saja, sebelum Ga In putus asa dan memutuskan untuk pulang, beberapa orang anak buah yang biasanya mengikuti Won Bin tiba dengan sebuah van berwarna hitam. Sepertinya mereka baru pulang ‘ bekerja’.
    “ Nona Park? Apa yang anda lakukan di sini?” tanya salah seorang dari mereka yang masih mengingat Ga In.
    “ A-aku... aku ingin bertemu dengan bosmu... apakah itu sama sekali mustahil?”
    “ Untuk apa kau ingin bertemu dengannya?”
    “ ..... k-kemarin ia datang menemuiku dan pembicaraan kami belum selesai.... apakah aneh jika aku datang untuk menyelesaikan pembicaraan kami?” ujar Ga In perlahan mulai kesal. Ia seperti hendak bertemu dengan presiden negara saja. Sejak kapan protokol di kediaman seorang mafia bisa begitu ketat seperti ini??
    Padahal sebelumnya ia membayangkan mafia itu tinggal di gudang jelek dan penuh dengan mayat orang.
    “ Kemarin tuan muda kami datang menemuimu??” tanya salah seorang anak buah Won Bin lagi dengan terkejut. Ia memang sudah melihat beberapa kali saat bosnya itu meminta anak buahnya untuk tidak pergi mengikutinya, dan beberapa kali itu adalah selalu bertepatan dengan kehadiran nona ini.
    “ Baiklah, kami akan membawamu menemuinya, tapi jika ia tidak bersedia bicara denganmu, kau harus langsung pergi dari sini, oke?”
    Ga In mengangguk sedalam yang ia bisa.

    Ga In dibawa ke sebuah garasi besar dan ia tidak bisa berpikir jernih saat melihat ‘calon suami’nya sedang berolahraga di dalam sana.
    Laki-laki itu hanya melakukan skipping saja, namun badannya sudah begitu basah dengan keringat. Dan yang membuat mulut Ga In terkatup rapat adalah ia dapat melihat setiap bekas luka yang ada di bagian atas tubuh laki-laki itu yang tidak tertutup sehelai benang pun.
    Won Bin menoleh ketika mendengar ada bunyi langkah orang masuk.
    Betapa terkejutnya ia mendapati Park Ga In sudah berdiri tegak tidak jauh darinya.
    Buru-buru ia menghentikan lompatannya dan menyambar handuk di dekatnya. Ia mengalungkan kalung itu di lehernya dan berharap itu cukup untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang jelas tidak pernah dilihat oleh wanita manapun selain mamanya.

    “ A-apa yang kau lakukan di sini?!” serunya terkejut.
    “ Maaf, tuan muda. Apakah kami harus segera membawa keluar nona ini??” tanya anak buahnya dengan sigap.
    Buru-buru Won Bin menggeleng.
    “ Tinggalkan kami, dan pastikan tidak ada yang datang mencariku selama aku masih bicara dengan nona ini.”
    “ Baik, tuan muda.”
    Ga In meremeas kedua tangannya, sekarang ia hanya berdua saja dengan laki-laki ini, dan entah mengapa ia merasa kehadiran anak buahnya malah lebih aman dibanding mereka berdua saja seperti ini.
    “ Maaf... aku tidak memberitahumu dulu saat memutuskan untuk datang kemari.”
    “ Ini bukan tempat di mana kau bisa seenaknya keluar masuk. Aku tidak akan bertanggung jawab jika anak buahku memperlakukanmu dengan tidak sopan.”
    “ A-aku datang terkait pembicaraan terakhir kita.... aku sudah memikirkannya baik-baik... dan .... ayo kita segera menikah!”

    Won Bin tertegun. Ini pertama kalinya perkataan seorang wanita bisa membuatnya berdiri diam seperti orang bodoh.
    Ga In bingung menatap laki-laki yang tidak memberikan reaksi apapun setelah mendengar jawabannya itu.
    “ .... k-kau masih berpikir untuk menikahiku bukan?” tanya Ga In kuatir.
    “ Kenapa kau mau menikah denganku?” tanya Won Bin dengan wajah yang tetap datar dan tanpa ekspresi.
    “ ..... aku akan menikah denganmu.... mengumpulkan uang untuk membayar lunas hutang-hutang itu... dengan begitu, Hyun Bin bisa kembali lagi kemari tanpa kuatir.” jawab Ga In jujur.
    “ ..... jadi semua ini kau lakukan demi keparat itu?”
    “ Aku mencintai keparat itu.... jika aku harus melakukan ini untuk membuktikan cintaku, maka aku akan melakukannya.”
    Won Bin menatap Ga In dan kemudian tersenyum sinis.
    “ Baiklah, kalau kau sudah memutuskan begitu, mari kita diskusikan hal ini dengan lebih mendetail.”

    ******​

    Ga In kembali berada di dalam kamar tidur laki-laki berdarah dingin itu. Suasana kamar itu selalu begitu gelap dan misterius. Ditambah laki-laki itu duduk persis di samping jendela dan membuat wajahnya lebih terkesan misterius.
    “ Seperti yang kukatakan, setelah menikah denganku kau boleh bercerai dengan 2 persyaratan. Pertama, keparat itu kembali, atau kau bisa melunasi semua hutang-hutang keparat itu.”
    “ .... ya, aku mengerti....”
    “ Aku tidak berniat menakutimu, tapi menikah dengan seseorang sepertiku bukannya tanpa resiko, nona Park.” sahut Won Bin sambil menyalakan rokoknya.
    “ ..... asalkan kau tidak melukai Hyun Bin, aku akan menerima resiko itu.”
    “ Dan pembicaraan kita adalah rahasia antara kita berdua saja, tidak boleh ada yang mendengar tentang hal ini. .... aku tidak ingin kau mati terbunuh oleh ayahku jika ia mengetahui ini.”
    Ga In menelan ludahnya. Tentu saja, sebentar lagi ia akan mendapatkan seorang ayah mertua seorang bos besar mafia.
    “ ....a-aku mengerti...”

    “ Aku tidak mengerti tentang pernikahan dan tetek bengeknya, kau bisa mengurusi semua hal yang kau perlukan untuk pernikahan itu. Gunakan ini.” sahut Won Bin sambil mengulurkan sebuah kartu kredit platinum.
    “ ..... a-aku akan mempersiapkan semua hal yang kita butuhkan.... t-tapi... bisakah aku memintamu melakukan 1 hal?”
    “ Apa?”
    “ Aku tidak mungkin menikah tanpa memberitahu kedua orang tuaku... meskipun aku tidak akan menikah selamanya, tapi tetap saja... mereka berdua harus tahu... dengan begitu mereka tidak akan kuatir denganku.”
    “ Kau masih punya orang tua?? Kau tinggal sendiri selama ini bukan?”
    “ Orangtuaku ada di Busan... kau.. bersedia kan . . . . bertemu dengan mereka?”

    *****​


    Won Bin keluar dari mobilnya dan menyambut angin Busan yang bertiup cukup kencang hari ini.
    Ia tersenyum geli setiap kali berpikir bagaimana dirinya menyetir begitu jauh hanya untuk bertemu dengan calon mertuanya.
    Ga In sudah lebih dulu berangkat ke Busan untuk memberitahu kedua orang tuanya, dan mereka berjanji untuk bertemu di sini sebelum Won Bin datang ke rumah Ga In.
    Ga In turun dari halte bus tempat mereka berjanji untuk bertemu. Gadis itu memakai dress formal dan bahkan ia berdandan.

    “ Kau sudah lama sampai? Maafkan aku tadi aku sibuk membantu mama hingga lupa waktu.” sahut Ga In.
    “ Aku... aku tidak tahu harus berkata apa saat bertemu orang tuamu. Ini pertama kalinya aku datang ke rumah orang dengan baik-baik. Kau mengerti maksudku bukan?”
    Ga In meringis. Tentu saja hal ini adalah pengorbanan besar dari laki-laki ini.
    “ ..... kau hanya perlu tersenyum dan menjawab dengan sopan saja.... hhm... dan bajumu.... apakah kau tidak membawa baju yang lebih formal?.... bagaimanapun ini adalah pertemuan pertamamu...”
    “ Aku membawa beberapa baju kemari... coba kau lihat baju mana yang harus kukenakan.” sahut Won Bin sambil membuka pintu belakang mobilnya.
    Ga In memilah-milah rentetan baju yang dibawa laki-laki itu. Dalam hati, ia merasa sangat terharu karena laki-laki itu mau melakukan hal yang baginya pasti hal yang merepotkan.
    “ .... bagaimana jika mengenakan ini?” tanya Ga In sambil menunjuk sepasang kemeja dan jas formal.
    “ Baiklah.” sahut Won Bin tidak banyak tawar menawar dan langsung membuka kancing kemejanya.

    Ga In bengong, laki-laki itu benar-benar membuka kemejanya di pinggir jalan seperti itu dan dengan santainya mengganti pakaiannya.
    Ga In melirik ke kiri dan ke kanan dan tepat seperti dugaannya semua pasang mata sudah mengarah pada mereka.
    “ K-Kenapa kau mengganti bajumu di sini??” tanya Ga In terkejut.
    “ Memang kenapa? Apakah seorang laki-laki harus mencari kamar mandi hanya untuk mengganti kemejanya?” tanya Won Bin sinis.

    Tepat seperti dugaan Won Bin, rumah orang tua Ga In adalah sebuah rumah sederhana yang ditempati keluarga yang sederhana pula.
    Ia begitu kikuk saat kedua orang tua gadis itu mempersilakannya masuk dengan begitu ramah. Perlakuan yang sudah terlalu lama ia lupakan.
    “ Selamat datang, Menantu Won!!” seru mama Ga In sambil memeluk Won Bin dengan spontan. Sontak Won Bin diam kaku seperti batu. Ia ingat jelas pelukan terakhir yang ia terima dari mamanya adalah saat ia berusia 8 tahun, dan itu berarti 22 tahun yang lalu.
    “ M-Mama! .... J-jangan memeluk dia seperti itu, dia .... tidak leluasa.” sahut Ga In berusaha untuk menghindarkan mamanya dari masalah yang tidak-tidak.
    “ Iya, dia bahkan belum sempat mengucapkan apapun dan kau sudah memberondong dia seperti itu.” sahut papanya sambil menepuk-nepuk pundak Won Bin dengan hangat.

    Won Bin duduk dengan kaku di seberang kedua calon mertuanya. Ga In pun duduk di sampingnya, tidak kalah kaku dengannya.
    “ Kami benar-benar terkejut saat Ga In bilang bahwa ia ingin segera menikah.... terlebih lagi ia menyebutkan nama calon suami yang kami tidak pernah dengar sebelumnya.... ada apa dengan Hyun....?”
    Mamanya tidak menyelesaikan kalimat pertanyaannya dan menyadari bahwa pertanyaan itu mungkin tidak enak terdengar di telinga calon menantunya.
    “ M-mama tidak perlu membahas dia lagi.... k-kami sudah tidak berhubungan, Ma.” jawab Ga In sambil menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali ia harus berbohong.
    “ Jadi, sudah berapa lama kalian berpacaran?” tanya papa Ga In dengan tatapan lurus menatap Won Bin, jelas ia ingin agar calon menantunya itu mengeluarkan setidaknya 1 patah kata dari mulutnya.
    Won Bin berdeham dan kemudian menjawab.
    “ Kami... kami memang belum lama... berpacaran tetapi kami serius ingin segera menikah.”
    Papa, mama, dan Ga In menatap ke arahnya dengan bingung.
    “ K-kami... sudah berpacaran... 2 bulan, Pa!” sahut Ga In buru-buru menyelamatkan suasana kritis itu. Namun itu sia-sia, 2 bulan bukanlah waktu pacaran yang cukup bagi papanya untuk mengijinkannya menikah begitu saja.
    “ 2 bulan?! Kau sudah berpacaran 3 tahun dengan Hyun Bin dan bahkan kau belum mempertemukan kami dengannya, bagaimana bisa sekarang kau tiba-tiba mau menikah dengan seseorang yang baru 2 bulan kau pacari??”
    Won Bin melirik ke arah Ga In, ia baru menyadari bahwa ia akan menikah dengan seorang gadis biasa, dengan latar keluarga yang biasa, dan entah kenapa hal itu membuatnya tersenyum sendiri.

    “ T-Tentu saja karena... a-aku sangat mencintainya! Makanya aku ingin segera menikah dengannya!!” seru Ga In menjawab pertanyaan papanya.
    “ Kau ini! Jangan mengucapkan hal seperti itu dengan begitu mudah!” sergah mamanya sambil bergantian menatap Won Bin dan memaksakan sedikit senyuman ramah.
    “ ..... Berapa usiamu sekarang?” tanya mamanya.
    “ 30 tahun.”
    “ Hhm... ya, dari usia kalian memang sudah mencapai usia yang tepat untuk sebuah pernikahan. Tapi kami sebagai orang tua, pasti ingin yang terbaik untuk kalian berdua... menurut kami 2 bulan berpacaran, itu belum cukup un---“
    “ L-lalu papa dan mama ingin anakku lahir tanpa papa, begitu??”
    Kali ini papa, mama, dan Won Bin menatap ke arah Ga In tanpa berkedip.
    “ ..... kau hamil?!!!!” seru papanya murka.

    ******​

    Won Bin nyaris tidak mempercayai apa yang ia lihat sekarang. Papa Ga In masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian ia keluar membawa sebuah tongkat judo, asli. Mama Ga In berusaha untuk mencegah suaminya melukai anak dan calon menantunya sementara Ga In langsung tiarap sambil memeluk lututnya di lantai, bersiap menerima hukuman dari papanya.
    “ Gadis ini sudah cukup dewasa untuk tidak melakukan kesalahan bodoh seperti ini!!!” seru papanya sambil mengangkat tinggi-tinggi tongkat judonya ke atas.
    “ Papa!!! Kau bisa membunuhnya jika memukulnya dengan ini!!!” seru mamanya histeris.
    “ Sejak awal papa sudah mengingatkanmu untuk menjaga diri, apalagi kau tinggal jauh dari orang tua!! Kau selalu bilang tidak ada masalah, semua baik-baik saja!! Tapi apa-apaan ini?!!!” seru papanya masih kesal dan mengacungkan tongkat kembali ke atas.
    Melihat tongkat itu kemungkinan besar akan terayun mengenai Ga In, refleks Won Bin memeluk Ga In dan alhasil punggungnya menjadi mangsa tongkat judo calon mertuanya itu.

    Ga In menutup matanya rapat-rapat dan mempersiapkan diri untuk rasa sakit yang akan ia terima, namun ia tidak merasakan sakit apapun. Seseorang memeluknya. Apakah itu mamanya? Tapi pelukan mamanya tidak mungkin sanggup merengkuh seluruh tubuhnya.
    Ga In membuka matanya dan melihat Won Bin sedang memeluknya dengan sangat erat.
    “ Papa!! Kenapa kau memukul calon menantumu?!!!!” seru mamanya.
    Ga In buru-buru mencengkram kedua lengan Won Bin.
    “ K-kau tidak apa-apa???”
    Won Bin tersenyum geli.
    “ Tentu saja tidak, papamu tidak berniat membunuhmu, jadi ia tidak menggunakan tenaga terlalu banyak.” bisik Won Bin sambil segera kembali ke posisi duduknya semula dan membuka mulutnya.
    “ Aku mengerti apa yang menjadi kekuatiran kalian berdua. Sebagai seseorang yang sudah dewasa,... tidak semestinya kami melakukan kesalahan seperti ini, biarkan aku bertanggung jawab atas kesalahan ini dan aku berjanji tidak akan membuat Ga In terluka.”
    “ Bagaimana caranya kau tidak akan membuat anakku terluka?? Aku tahu jenis pria sepertimu, kau bertanggung jawab karena terpaksa, kau menikahi anakku dan kemudian kau akan dengan segera bosan padanya dan membuatnya menjalani sisa hidup sebagai istrimu dengan sangat menyedihkan!!” seru papanya kesal. Bagaimanapun Ga In adalah anak semata wayangnya dan membiarkannya menikah dengan seorang laki-laki yang begitu dingin dan kaku seperti ini bukanlah hal yang membahagiakan.

    Won Bin menatap kedua calon mertuanya itu beberapa saat dan kemudian memberikan pernyataan yang sangat mengejutkan.
    “ Hal itu mungkin terjadi jika Ga In menikah dengan laki-laki selain diriku, tapi selama ia menikah denganku, aku jamin ia tidak akan mengalami itu. .... aku tidak akan berpisah dengannya selama ia tidak melepaskanku, dan aku tidak akan mengijinkan Ga In mengalami kekurangan secara finansial,.... dan aku akan berusaha sekuat yang aku bisa untuk tidak mengijinkan Ga In mengalami kekurangan... kasih sayang.”
    Ga In tidak bisa bertahan lebih lama untuk tidak menoleh dan menatap wajah laki-laki yang baru saja mengucapkan kalimat yang paling enak didengar oleh telinganya sealama 28 tahun ia hidup di dunia itu.
    Secercah senyuman perlahan merekah di wajah Ga In yang sedari tadi pucat dan tegang.
    “ Jadi, .... kau juga sangat mencintai anakku, begitu maksudmu??” tanya papa Ga In sekali lagi.
    “ ..... aku mencintai putri anda... aku tidak bisa bilang aku sangat mencintainya, .... tapi aku berjanji bahwa rasa cintakku akan bertambah seiring berjalannya waktu.”

    ******​


    Ga In berhasil meminta ijin pada papa mamanya untuk membawa Won Bin berjalan-jalan ke sekeliling Busan sambil menunggu papa mamanya menyiapkan makan malam untuk mereka.
    Setidaknya memastikan Won Bin dan orang tuanya tidak berada di bawah atap yang sama sedikit membuat Ga In dapat bernapas.
    “ Panas sekali, aku akan membeli minuman dingin ke sana sebentar, kau tunggu di sini ya!” sahut Ga In sambil berlari menuju ke sebuah minimarket, meninggalkan Won Bin di taman tidak jauh dari rumahnya.
    Won Bin menatap punggung gadis itu hingga ia menghilang masuk ke dalam minimarket.
    “ .... mencintainya? .... Won Bin, sejak kapan pernikahan ini menjadi begitu penting untukmu hingga kau bisa bisanya mengucapkan kalimat seperti itu.” gumamnya pada diri sendiri.

    Ga In keluar sambil mengangkat tinggi-tinggi minuman dingin yang sudah ia beli.
    Ia berlari ke tempat Won Bin menunggunya. Laki-laki itu sedang duduk dan menatap Ga In tanpa berkedip. Ga In mengulurkan botol minuman sambil menatap laki-laki itu dengan bingung.
    “ .... kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Ga In.
    “ Kau tampak seperti seorang gadis manis dan penurut, tapi setelah terlibat banyak hal denganmu, aku menyadari kalau kau adalah seorang gadis nekat yang bertindak tanpa berpikir dulu.”
    “ A-aku? .... benarkah aku seperti itu? ....Aahh.. kalau itu soal pura-pura hamil tadi... i-itu... tidak ada cara lain! Jika aku tidak bilang seperti itu, kedua orang tuaku tidak akan pernah mengijinkan kita menikah!”
    “ Lalu, apa kau tidak berpikir orang yang hamil suatu saat harus melahirkan? Apa yang akan kau katakan pada kedua orang tuamu jika mereka melihat tidak ada perubahan pada perutmu nanti?”

    Ga In berpikir dengan keras dan kemudian menghela napas panjang.
    “ ..... tentu saja aku akan jujur.... bahwa aku berbohong tentang kehamilan itu... bahwa aku... hanya sangat ingin menikah denganmu.”
    Won Bin menatap gadis itu dengan tatapan tidak percaya dan kemudian tertawa.
    Ini pertama kalinya Ga In melihat laki-laki itu tertawa lepas seperti ini, ini bahkan pertama kalinya ia melihat lesung pipit yang ternyata begitu dalam terpatri di pipi laki-laki itu.
    “ Melihat kau tertawa seperti ini.... rasanya sulit mempercayai bahwa kau adalah seorang bos mafia.” gumam Ga In.
    “ Kau tahu siapa yang paling menakutkan di dunia ini?”
    “ ....hhm.... mafia?” jawab Ga In polos.
    “ Orang yang paling menakutkan di dunia ini bukanlah orang yang sudah terlihat jahat, tapi orang baik yang menyimpan rencana dan pikiran busuk rapat-rapat. Meskipun aku ini mafia, tapi setidaknya aku tidak pernah berpura-pura baik dan menjilat pada orang lain, aku juga tidak menginginkan orang lain salah paham terhadapku, sejak awal aku sudah membiarkan orang lain untuk mengetahui bahwa aku adalah mafia, jadi orang-orang dapat berhati-hati dan berpikir ratusan kali sebelum membuat kesepakatan denganku.”

    Ga In mengangguk.
    “ ..... yang kau katakan masuk akal juga.... orang orang yang berpura-pura baik jelas lebih menakutkan. .... tapi bagaimanapun mereka tidak akan memukul orang dan menusukkan pisau semudah yang...mafia lakukan bukan?”
    Won Bin tersenyum.
    “ Apakah itu menakutkan untukmu?”
    “ T-tentu saja!! Pertama kalinya aku melihat hal mengerikan seperti itu saat kau menyelamatkanku pertama kali.... sampai sekarang bulu kudukkku masih berdiri jika aku mengingat hal itu.”
    “ Dan meskipun begitu, kau masih tetap ingin menikah denganku? Kau tidak takut?”
    Ga In terdiam sejenak dan kemudian menggeleng.
    “ ..... kau tidak pernah melukaiku. Kau bahkan membantuku beberapa kali dari masalah besar.... dan aku yakin kau tidak akan melukaiku, makanya aku bersedia menikah denganmu.”
    “ Kau melupakan alasan utama kenapa kau bersedia menikah denganku. Karena kau ingin kekasihmu itu kembali dengan selamat ke pelukanmu.” sahut Won Bin sambil mendengus dengan sinis.

    *****​

    Won Bin dipaksa menginap malam itu di rumah kedua orang tua Ga In. Tentu saja sepanjang malam ia habis diinterogasi oleh calon mertuanya. Ga In berhasil membohongi kedua orang tuanya dan memperkenalkan Won Bin sebagai seorang manager bank.
    Namun hal yang tidak pernah disangka Ga In adalah ternyata laki-laki kaku itu bisa bersikap sangat sopan pada kedua orang tuanya. Sama sekali tidak terlihat bahwa ia adalah seorang bos mafia yang bisa menusuk dan memukul orang tanpa berkedip.

    “ Kami akan menelepon papa dan mama jika kami sudah menemukan tanggal yang tepat untuk pernikahan kami.” sahut Ga In sebelum berpamitan kembali ke Seoul.
    “ Jangan terlalu lelah, meskipun kau mempersiapkan semuanya sendiri, kau tetap harus ingat untuk beristirahat!”
    “ Iya, Ma.”
    “ Menantu Won, aku ingin mengambil foto denganmu sebelum kalian pulang, boleh? Setidaknya aku bisa memperlihatkan betapa tampannya calon menantuku pada tetangga-tetanggaku.”
    “ Kau ini selalu saja begitu.” gerutu papa Ga In, tapi tidak melarang istrinya untuk berdiri dekat dengan calon menantunya.
    Won Bin tersenyum, dalam waktu singkat ia merasa sudah dekat dengan kedua orang tua ini karena sikap mereka yang begitu hangat padanya.
    Ga In mengeluarkan handphonenya dan bersiap-siap mengambil foto mama serta Won Bin.

    “ Menantu Won, bisakah meletakkan tanganmu di lenganku? Bagaimanapun akan lebih baik jika kita terlihat dekat bukan?”
    Won Bin tersenyum kikuk sambil melingkarkan tangannya ke lengan calon mama mertuanya itu dan tersenyum menghadap ke kamera.
    “ 1...2...3!” sahut Ga In kemudian mengabadikan gambar itu.
    Ga In menatap foto hasil jepretannya dan tersenyum sendiri. Bahkan Hyun Bin belum pernah bertemu dengan kedua orang tuanya, namun mafia ini bahkan sudah berhasil merangkul mamanya dan berfoto bersama.
    “ Kirimkan fotonya pada mama ya.” sahut mamanya.
    “ Baiklah, aku akan segera mengirimnya.” sahut Ga In sambil mengutak atik handphone-nya untuk mengirimkan foto itu ke handphone mamanya.
    “ ....kirimkan kepadaku juga.” sahut Won Bin dengan lirih.
    “ Hhm? Kau bilang apa?”
    “ Ki-kirimkan foto itu juga padaku.”
    Ga In menatap Won Bin dengan geli dan kemudian mengangguk sambil mengirimkan foto itu kepada laki-laki itu.

    *****​

    Sesampainya mereka di Seoul, kini bergantian perut Ga In yang rasanya dipenuhi kupu-kupu. Ia akan segera bertemu dengan calon papa mertuanya dan ia seperti sedang berada di perjalanan menuju tiang gantungan.
    Tentu saja ia menyadari bahwa papa mertuanya adalah seorang bos besar mafia, dan entah kenapa fakta itu membuatnya kesulitan bernapas sekarang.

    “ Kau tidak perlu berkata apapun, pertemuan ini singkat dan biarkan aku yang mengurus semuanya, oke?” sahut Won Bin berusaha memberikan ketenangan pada Ga In.
    Mereka tiba di rumah mewah Won Bin. Berbeda dengan saat terakhir Ga In kemari, kali ini tidak ada yang menghalangi langkah mereka sama sekali. Pintu gerbang sudah terbuka beberapa meter dari langkah mereka dan semua penjaga menyeramkan itu membungkuk memberi hormat.
    Dan itu hanya membuat perut Ga In bertambah sakit saja rasanya.
    Calon papa mertua Ga In sudah menunggu kedatangan mereka di ruang keluarga rumah mewah itu.
    Ga In tidak terkejut saat melihat wajah papa mertuanya itu tampak sedingin putranya.

    “ Pa, aku datang ingin memperkenalkan calon istriku.” sahut Won Bin sambil tetap berdiri di depan Ga In dan membiarkan gadis itu bersembunyi di balik punggungnya.
    “ Aku tidak menyangka kau benar-benar akan memperkenalkan seorang wanita padaku. ..... Nona, kau tidak akan memperkenalkan dirimu?”
    Ga In menggeser tempat berdirinya dan berbicara dengan kepala tertunduk menghadap lantai.
    “ S-Se...selamat sore, na...namaku Park Ga In.”
    “ Jadi kau akan menikah dengan putraku?” sahut calon mertua Ga In, tatapannya sedingin es.
    Ga In mengangguk cepat-cepat.
    “ Apa kau tahu siapa pria yang akan kau nikahi?”
    “ Pa!” sergah Won Bin.
    “ .....a-aku tahu.... dan aku tidak keberatan dengan itu.” jawab Ga In sambil tetap tidak berani mengangkat wajahnya dan menatap bos mafia itu.
    “ Aku memang tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan anak bodoh ini mencari pendamping hidupnya sendiri, meskipun aku tidak yakin bahwa wanita sepertimu adalah wanita yang cocok untuk anakku.”
    “ Aku yang akan mengurus hidupku sendiri, papa tidak perlu kuatir.”

    “ Baiklah, kita lihat seberapa lama kebahagiaan pernikahan pilihanmu berlangsung. Kapan kalian akan menikah?”
    Ga In melirik ke arah Won Bin, ia benar-benar ingin menyembunyikan tubuhnya di belakang laki-laki itu.
    “ Kami tidak akan mengadakan pesta mewah.... kami juga tidak keberatan jika papa tidak perlu hadir karena kami hanya akan menikah di gereja saja.” jawab Won Bin.
    “ Apakah masuk akal jika anak Won Jung Ha tidak mengadakan resepsi pernikahan?!!!” bentak papanya meledak.
    “ Pa!! Keluarga Ga In adalah keluarga sederhana yang pasti akan pingsan jika melihat cara papa mengadakan pernikahan untuk kami!!” bentak Won Bin tidak kalah kencang.
    Papanya menatap Won Bin dengan sinis.
    “ Jadi, kau benar-benar memilih seorang wanita biasa dari kalangan biasa? Ckckckck, aku tidak peduli dengan mertuamu, terserah jika kau ingin mengadakan pernikahan di gereja, tapi setelah itu kau harus ikut aturan pernikahanku!”

    *****​

    Ga In duduk di sofa panjang kamar Won Bin. Ia tidak berani bersuara melihat laki-laki itu masih sangat marah.
    “ Brengsek!” gerutu Won Bin sambil menyalakan rokok.
    Ga In diam saja sambil mengepalkan tangannya dengan canggung. Namun asap rokok yang mulai memenuhi ruangan itu membuatnya tidak punya pilihan lain selain terbatuk-batuk seperti orang bodoh.
    Won Bin menoleh ke arah Ga In dan mematikan rokok di tangannya sambil menghela napas.
    “ .... Maaf, kau pasti terkejut sekali ya.”
    “ ..... a-aku tidak terlalu terkejut jika seorang bos mafia bersikap seperti papamu.... hanya saja aku tidak pernah bertemu langsung dengan seorang bos mafia.... jadi tetap saja... aku... agak shock.”

    Won Bin tersenyum geli, gadis itu benar-benar sangat polos, seperti domba yang mendadak harus hidup di tengah-tengah kandang serigala.
    “ Papa mamamu tidak akan bertemu dengan papaku, kau tidak perlu kuatir. .... kita akan mengadakan pernikahan sederhana tanpa ada hal-hal yang bisa membuat keluargamu kuatir. ..... setelah itu kurasa kita tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan papa.”
    “ Sebenarnya.... seperti apa pernikahan yang papamu inginkan?” tanya Ga In penasaran sekaligus takut tidak kuat mendengar jawaban Won Bin.
    “ Sebuah pernikahan besar .... yang dihadiri oleh semua kolega dan rekan bisnis papa. .... dan itu berarti semua mafia Korea pasti akan hadir, dan beberapa mafia dari Hongkong, China, dan Amerika pun mungkin akan datang.”
    Ga In tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak terbuka lebar.
    “ Kau tidak perlu kuatir, mereka tidak akan peduli dengan kita, mereka hanya peduli untuk saling bertemu, menyombongkan kemajuan bisnis dan group mereka, dan setelah itu mabuk-mabukan.”
    “ ....t-tapi tetap saja....” sahut Ga In lirih dengan nada suara bergetar ketakutan.

    ******​

    Ga In membuka matanya sebelum alarm-nya berbunyi. Hidupnya benar-benar tidak tenang setelah rencana pernikahannya dengan Won Bin disepakati untuk dilangsungkan minggu depan. Itu berarti 5 hari lagi waktu yang ia miliki untuk menyiapkan segalanya. SEGALANYA!
    Ga In baru sebentar bekerja di perusahaan barunya dan ia belum memiliki hak cuti kerja. Itu membuat ia harus bangun lebih pagi untuk pergi ke toko pernak-pernik pernikahan sebelum ke kantor dan pulang larut malam karena harus berkeliling kota mengurusi semua persiapan pernikahannya sendiri.
    Tentu saja ia tidak berani menelepon calon suaminya dan memintanya untuk membantu persiapannya. Malah ia merasa lebih tenang menyiapkan segala sesuatunya seorang diri saja.

    Ga In berusaha untuk fokus dengan pekerjaannya di kantor tapi sebagai seorang wanita, kepalanya sudah terlalu penuh dengan to do list yang tidak selesai-selesai harus ia persiapkan.
    Waktu berjalan lambat hingga akhirnya ia boleh pulang kantor. Ga In buru-buru mencegat taksi dan meminta untuk diantarkan ke sebuah butik bridal yang cukup terkenal. Ia tidak mengerti kenapa ia begitu ingin mempersiapkan pernikahannya dengan begitu baik, padahal jelas ia akan menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai dan pernikahannya pun tidak akan berlangsung selamanya. Ga In hanya merasa tidak enak karena Won Bin sudah memberikan kartu kredit untuknya mempersiapkan keperluannya. Dan rasanya kurang pantas jika ia tidak mempersiapkan apapun untuk pernikahannya bukan?
    Ga In baru turun dari taksi ketika handphone-nya berbunyi. Ia sempat terkejut melihat Won Bin meneleponnya. Ia berdeham beberapa kali sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.
    “ Ha- Halo?”
    “ Kau ada di mana sekarang? Aku ada di depan rumahmu.”
    “ R-rumahku?? Apa yang kau lakukan di sana?”
    “ Tentu saja ingin bertemu denganmu, di mana kau sekarang?”
    “ Aku? ....a-aku aku sedang ada di butik bridal.... aku harus melakukan fitting untuk gaun pengantinku...”
    “ ..... gaun pengantin? ..... kirimkan alamat butik itu, aku akan menyusul ke sana.”
    “ K-kau akan kemari??”
    “ Cepat kirimkan ya.”


    Won Bin memang sengaja tidak menghubungi Ga In untuk beberapa hari terakhir ini. Ia pikir gadis itu butuh waktu tenang untuk mempersiapkan hati dan mentalnya. Siapa yang mengira kalau gadis itu malah sibuk sendiri untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Tanpa mengajaknya dan tanpa memberitahunya.
    Ini pertama kalinya Won Bin masuk ke sebuah tempat seperti butik bridal ini.
    “ Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?” sapa sang penjaga butik dengan sopan.
    “ Park Ga In.... c-calon istriku ada di sini.” jawab Won Bin canggung.
    “ Nona Park? Ya, nona Park sedang mencoba gaunnya, silakan ikut saya. Anda bisa menunggu di sini.”
    Won Bin duduk di sebuah sofa panjang dan menunggu dengan canggung. Sesekali ia melihat ke sekeliling butik, ada beberapa pasangan yang juga sedang sibuk mencoba gaun pengantin dan juga jas pengantin bersama.
    “ ..... Park Ga In, apakah kau tidak tertekan datang ke tempat ini seorang diri? .... orang lain datang dengan pasangannya.”

    Lamunan Won Bin buyar ketika layar di hadapannya bergeser dan ia melihat Park Ga In berdiri dengan sebuah gaun putih panjang.
    Ga In sendiri terkejut mendapati Won Bin tengah duduk di hadapannya dan pandangan mereka bertemu dengan canggung.
    “ ....k-kau sudah tiba?” sapa Ga In.
    “ Kau cantik sekali dengan gaun itu.” jawab Won Bin sambil tersenyum lembut.
    “ .... benarkah? .... sepertinya badanku terlihat lebih besar dengan model gaun seperti ini. Tidak begitu?”
    “ Kekasihmu pasti akan sangat menyesal karena tidak bisa melihatmu mengenakan ini sekarang.”
    Beberapa penjaga butik bingung mendengar kalimat tanggapan absurd dari sang calon mempelai pria.
    “ ..... kau ingin sekalian mencoba jas pengantin?”
    Ga In sudah selesai mengganti gaunnya dan sekarang giliran dirinya yang menunggu Won Bin selesai mengganti jasnya.
    Saat tirai terbuka, Ga In terdiam. Laki-laki itu tampak sangat tampan dengan setelan jas klasik yang ia pilih. Sama sekali tidak terlihat bahwa ia adalah seorang anak tunggal seorang bos mafia.

    “ Bagaimana?” tanya Won Bin.
    “ ..... kau tampan sekali.” jawab Ga In jujur.
    “ Apa?” sahut Won Bin bingung dengan kalimat yang baru saja ia dengar dari calon istrinya itu.
    “ H-hah? ... m-maksudku jas itu tampak bagus sekali padamu.” sahut Ga In sambil buru buru meralat kalimatnya.
    Won Bin tersenyum geli, entah sejak kapan hatinya bisa begitu senang hanya dengan melihat wajah gadis itu.
    “ ..... tentu saja aku harus tampan, aku akan menikahi seorang wanita cantik, jika aku tidak tampan maka aku tidak sopan padamu.” sahut Won Bin, membuat pipi Ga In bersemu merah.
     
  6. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    My Love is a Gangster

    Chapter - 4 -

    Is It a Right Decision . . . . of Getting Married ?



    Hari pernikahan itu akhirnya tiba juga. Ga In sedang duduk menunggu di ruangan bersama dengan papa mamanya. Seperti yang sudah dijanjikan oleh Won Bin. Pernikahan mereka akan dilangsungkan secara sederhana di sebuah gereja.
    “ ..... apa papa dan mama merasa sedih karena pernikahanku berlangsung secara sederhana seperti ini?”
    “ Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Sederhana adalah salah satu bentuk keindahan juga. .... bagi kami yang penting adalah kau bisa memiliki pernikahan yang bahagia untuk seterusnya.”
    “ Semua berlangsung dengan sangat cepat.... apa kau yakin dengan pilihanmu?” tanya papanya sekali lagi.
    Ga In menelan ludah dan mengangguk.
    “ Pa.... Won Bin memang bukan calon menantu sempurna... tapi ia selalu bersikap baik padaku, dan ia selalu melindungiku.”
    “ Apa kau mencintainya? .... kau selalu memujinya tapi tidak pernah sekalipun kau bilang bahwa kau mencintainya.”
    “ Tentu saja aku mencintainya. ..... bagaimana mungkin aku tidak mencintai laki laki tampan seperti itu?? Hehehe.”

    Pintu ruangan dibuka dan Won Bin berdiri dengan tegak dan menyapa papa mama Ga In.
    “ Selamat siang, Om, Tante.”
    “ Kau harus membiasakan diri untuk memanggil kami papa mama mulai sekarang.” sahut mama Ga In sambil menepuk punggung Won Bin dengan hangat.
    “ ..... iya, Pa... Ma.”
    “ Aku menyerahkan putriku satu satunya padamu.... perlakukan dia dengan baik dan selalu cintai dia seumur hidupmu.... mengerti??”
    “ ..... ya, Pa. .... aku akan memperlakukannya dengan baik, dan.... aku akan selalu mencintai Ga In.”
    Ga In menoleh menatap Won Bin dan meringis, bagaimanapun ia merasa tidak enak melihat laki-laki itu terpaksa berbohong demi ketenangan kedua orang tuanya.

    Pintu ruangan kembali terbuka, kali ini Sun Mi yang masuk. Ia adalah satu-satunya rekan kantor Ga In yang lama yang ia undang ke pernikahannya. Dan butuh waktu yang cukup lama bagi gadis itu untuk mempercayai bahwa Park Ga In yang selalu sibuk membicarakan kekasihnya tiba-tiba akan menikah dengan laki-laki yang tidak lain tidak bukan adalah laki-laki yang menagih hutang ke kantor mereka dan membuat kantor mereka gulung tikar dalam waktu singkat.
    “ S-sudah waktunya kalian keluar. Pemberkatan akan segera dilaksanakan.” sahut Sun Mi, ia masih belum bisa menghilangkan kegentarannya setiap kali harus berbicara di hadapan laki-laki tampan yang berbahaya itu.
    Park Ga In merangkul lengan papanya. Ia melihat wajah papanya dan kekuatiran nampak jelas di wajah tua papanya itu. Tentu saja, bagaimanapun Ga In adalah anak perempuan satu-satunya dan ia akan menikah dengan laki-laki yang baru saja dikenalnya karena sudah hamil sebelum menikah. Itu bukan hal yang baik untuk memulai suatu hubungan yang seharusnya berlangsung seumur hidup bukan?

    Won Bin berdiri dengan tegak di depan altar, tidak banyak undangan yang ia minta hadir di gereja yang kudus itu. Hanya beberapa anak buah kepercayaannya yang hadir mengenakan pakaian biasa dan berusaha untuk tidak tampak menakutkan.
    Tatapan Won Bin tertuju lurus-lurus pada Ga In yang sedang berjalan perlahan dari ujung pintu gereja. Banyak perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya. Entah bagaimana menamakan perasaan itu, ia hanya merasa dadanya begitu hangat setiap kali ia melihat gadis itu melangkah selangkah lebih dekat lagi, lebih dekat lagi, lebih dekat lagi padanya.
    “ Won Bin ..... sejak awal kau mempunyai pikiran untuk meminta gadis ini menikah denganmu, maka sejak saat itu kau mengakui bahwa kau mempunyai perasaan terhadapnya.... apapun nama perasaan itu, entah itu kasihan, entah itu prihatin, .... entah itu cinta.... tapi kau memiliki perasaan itu.... tapi kau tidak boleh melupakan satu-satunya kebenaran dalam pernikahanmu, gadis itu tidak mencintaimu, jadi jangan sampai kau mengijinkan dirimu terluka karena khayalan dan harapanmu sendiri.”

    Rasanya singkat sekali waktu yang Won Bin dan Ga In perlukan untuk mengucapkan janji setia di hadapan Tuhan. Tanpa mereka sadari mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan hukum.
    Ga In masih memandangi sertifikat pernikahan yang baru saja ia tanda tangani dan ia menghela napas panjang. Entah apa pendapat Hyun Bin jika ia mengetahui bahwa kekasihnya baru saja menikah dengan pria lain. Tapi ia tahu dengan jelas bahwa ia tidak punya pilihan lain selain melakukan ini untuk pria yang ia cintai.
    Sesekali ia memandang tangannya yang sepenuhnya berada dalam genggaman suaminya sekarang. Tangan laki-laki itu begitu besar dan hangat, sama sekali tidak seperti tangan yang sudah terbiasa memegang pisau dan melukai orang. Tangan yang menggenggamnya sekarang malah membuatnya sedikit tenang dalam menjalani kehidupan barunya sekarang.

    ******​

    Park Ga In menyeret koper berisi pakaian miliknya ke dalam kamar barunya yang tidak lain adalah kamar tidur Won Bin. Sepanjang perjalanan yang ia lalui dari gerbang hingga sampai di kamar barunya, entah sudah berapa puluh atau ratus penjaga yang membungkuk dengan hormat padanya. Rasanya ia baru selesai menonton film horor saat ia tiba di kamar.
    Won Bin menghilang entah ke mana, mungkin ada hal yang harus ia lakukan. Tapi itu malah baik, Ga In lebih senang menghabiskan waktu sendiri dibanding harus terus menerus bersiaga dan waspada.
    Ga In memandang ke sekeliling kamar pengantin barunya itu. Kamar itu sangat maskulin dalam setiap aspek yang ada di dalamnya. Ruang kamar itu didominasi oleh warna hitam dan putih, jelas bukanlah warna kesukaannya. Selain itu kamar itu sangat.... sepi.
    Ga In meletakkan kopernya di depan kamar mandi dan memandang satu-satunya tempat tidur yang ada di kamar itu. Ia menelan ludah dan menghela napas.
    “ ...... laki-laki itu... tidak akan melakukan hal buruk padaku bukan?” gumamnya pada diri sendiri, berusaha menenangkan dirinya.
    Ga In duduk di sudut tempat tidur dan berusaha untuk menjernihkan pikirannya. Hal yang harus ia pikirkan sekarang adalah bagaimana untuk bisa mengumpulkan uang dan segera melunasi hutang 150 juta itu. Setelah itu Hyun Bin baru bisa kembali dengan tenang dan ia bisa segera mengakhiri pernikahan palsunya ini.
    Hanya itu yang harus ada di kepalanya sekarang siang dan malam. Ia tidak boleh memikirkan hal selain itu.

    Won Bin sengaja memberikan waktu sendiri untuk Ga In sementara ia memberikan peringatan khusus pada para anak buahnya untuk menjaga jarak kosong di sekitar kamar tidurnya dan tidak berbuat yang tidak-tidak atau menunjukkan tindakan menakutkan di hadapan Ga In.
    Ia baru saja kembali ke kamarnya saat ia melihat gadis itu sedang termenung dengan tatapan kosong di tepi tempat tidurnya.
    “ Kau sudah membawa barang-barangmu?” sahut Won Bin membuyarkan lamunan Ga In.
    “ O-Ooo.. s-sudah.” jawab Ga In terbata-bata.
    Won Bin masih berdiri di pintu kamarnya dan menatap Ga In dengan tatapan yang sulit untuk dimengerti.
    “ K-Kenapa kau tidak masuk?” tanya Ga In dengan hati-hati.
    Won Bin tersenyum sedikit dan melangkah masuk sambil mengunci pintu kamarnya.
    “ Maafkan kita tidak bisa tidur di kamar yang berbeda. Aku tidak tahu berapa mata-mata papa di rumah ini. Dan rasanya bukanlah hal baik jika ia tahu bahwa kita tidur di kamar berbeda di malam pernikahan kita.”
    “ Oo...t-tentu saja, bagaimanapun kita tidak boleh membiarkan ada yang curiga pada kita....”
    “ Kau juga tidak perlu curiga padaku. Aku tidak punya keinginan untuk melakukan hal buruk padamu. Kau bisa tidur di sana, aku akan tidur di sini.” sahut Won Bin sambil duduk di sofa panjang yang terletak persis di depan tempat tidurnya.
    “ Jangan! Kau tidur di sini aja, biar aku yang tidur di sofa. Bagaimanapun ini kamar milikmu, bagaimana aku bisa begitu tidak sopan dan -----“
    “ Tidurlah, aku lelah sekali hari ini.” potong Won Bin sambil membuka jasnya seraya berbaring begitu saja di sofa sambil memejamkan matanya.

    Dan dengan itu, berlalulah malam pengantin pertama Ga In dan Won Bin dengan aman dan tenang.

    ******​

    Dan seperti itulah malam-malam yang mereka lalui. Tanpa terasa sudah seminggu Won Bin dan Ga In menikah. Ga In bisa sedikit bernafas lega karena selain status ID-nya yang berubah menjadi MENIKAH, tidak ada hal lain yang berubah dalam hidupnya.
    Setiap pagi ia masih berangkat ke kantor dengan naik bus dan setiap sore ia masih pulang dari kantor dengan membawa pekerjaan yang harus ia selesaikan.
    Won Bin memang tidak ingin ada yang berubah dalam hidupnya, ia melarang satupun anak buahnya untuk mengantar Ga In seperti layaknya seorang nyonya keluarga mafia pada umumnya. Selain itu mereka hanya bertemu sesaat sebelum mereka memejamkan mata di malam hari. Won Bin tidak pernah pulang ke rumah di bawah jam 10 malam. Ga In cukup mengagumi kinerja suaminya itu sebagai seorang mafia yang bekerja lebih rajin dari dirinya.
    Mungkin karena itulah dalam waktu singkat Ga In sudah terbiasa dengan kehidupan barunya.

    Malam itu ia pulang dari kantor lebih malam dari biasanya karena ada meeting dadakan. Ia baru tiba di rumah pukul 11 malam dan rasanya tubuhnya remuk.
    Ia membuka pintu kamar dengan mata setengah terpejam karena terlalu lelah. Ia melemparkan tas kerjanya ke sudut ruangan dan langsung melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
    “ Aahhhh.... kenapa badanku seperti nenek-nenek berusia 80 tahun?? Benar-benar menyebalkan.... kenapa mereka selalu memperlakukan karyawan baru seperti mahasiswa ospek sepanjang hari? Semoga mereka cepat-cepat merekrut karyawan baru lagi sehingga mereka berhenti menindasku seperti ini! ..... setiap kali mereka memintaku untuk bolak balik menambahkan gula pada kopi mereka, rasanya ingin membawa beberapa anak buah menyeramkan itu ke kantor untuk menakuti mereka!” gerutu Ga In dalam gelap. Ia memang belum menyalakan lampu kamar karena terlalu lelah dan ingin cepat-cepat membaringkan diri.

    Tentu saja Ga In tidak sadar bahwa sekarang sudah cukup larut dan berarti Won Bin sudah pulang ke rumah. Dan itu berarti laki-laki itu ada di salah satu sudur kamar tidur ini.
    Won Bin duduk di kursi balkon kamarnya dan memperhatikan Ga In sejak awal gadis itu masuk ke dalam kamar.
    Won Bin sedang merokok, sejak Ga In menjadi penghuni tetap kamar tidurnya, Won Bin tidak pernah merokok lagi di dalam kamar, ia merokok di balkon kamarnya.
    Ia tersenyum mendengar semua gerutu Ga In dan kembali teringat berapa banyak senyuman seperti ini yang ia alami saat melihat tingkah laku gadis itu.
    Won Bin mematikan rokoknya dan berjalan masuk ke kamar. Ia berdiri di dekat tempat tidur dan mendapati Ga In sudah tertidur dengan pulas.
    “ Apa kau tidak akan mandi dulu?” tanya Won Bin. Namun ia tidak tahu sejak kapan suaranya yang serak dan kasar itu sudah tidak lagi membuat Ga In terperanjat, gadis itu tetap tertidur dengan sangat pulas.
    “ Park Ga In, kalau kau ingin langsung tidur, tidurlah yang benar.” sahut Won Bin sekali lagi. Namun tetap saja Ga In tidak bergeming.
    Won Bin menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya meletakkan kedua tangannya masing-masing di tengkuk dan lutut Ga In sambil mengangkat tubuh gadis itu.

    Ga In merasa tubuhnya melayang ke udara dan ia segera membuka matanya karena terkejut. Tentu saja ia semakin terkejut saat mendapati Won Bin tengah menggendongnya. Ia terlalu terkejut dan hanya bisa melotot sambil memandangai wajah laki-laki itu dalam gelap.
    Won Bin mengangkat tubuhnya dan memindahkannya hingga berbaring dengan posisi yang nyaman.
    “ K-Kau tidak perlu melakukan ini....” ujar Ga In dalam gelap.
    “ K-kau bangun??” tanya Won Bin yang ikut terkejut dibuatnya.
    Ga In menyalakan lampu tidurnya dan sekarang ia bisa melihat wajah suaminya dengan jelas. Entah kapan terakhir kali ia melihat wajah itu sejelas dan sedekat sekarang.
    “ M-maaf... hari ini aku pulang terlalu malam.”
    “ Beritahu aku kapanpun kau butuh beberapa orang untuk menakuti senior seniormu di kantor ya.” sahut Won Bin sambil menahan senyuman gelinya.
    “ K-Kau m-mendengar itu juga?!? ....I-itu hanya... a-aku hanya bercanda....”
    “ Apa mereka membulimu di kantor?” tanya Won Bin dengan lembut. Ia tidak pernah berbicara selembut ini selain pada gadis di hadapannya sekarang.
    “ T-tidak seperti itu... m-mereka... mereka hanya sedikit menyebalkan pada karyawan baru, memang seperti itu tradisinya....”
    “ Tawaranku masih berlaku, aku tidak keberatan meminjamkan beberapa anak buahku untuk mengantarmu bekerja.” ulang Won Bin sengaja bercanda dan puas melihat wajah Ga In yang terkejut dengan tawarannya.
    “ Kau ingin orang-orang di kantorku terkena epilepsi karena terlalu terkejut??”
    Won Bin tertawa.
    “ Epilepsi? Hahahaha... memang ada orang yang kejang-kejang karena didatangi mafia?”
    Ga In terdiam sejenak dan kemudian ikut tertawa.

    ******​

    “ Jadi pernah ada orang yang berhutang padamu dan menyerahkan anaknya untuk membayar hutang???” seru Ga In terkejut setelah mendengarkan cerita Won Bin.
    Mereka berdua duduk di balkon sambil minum wine dan berbincang bincang satu sama lain untuk pertama kalinya setelah mereka menikah.
    “ Itu adalah hal rumit pertama yang kualami setelah terjun dalam pekerjaan gelap ini. Anaknya perempuan, mungkin masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu rasanya darah di tubuhku mendidih dan aku ingin sekali memukul laki-laki tua itu dengan apapun yang ada di sekelilingku.”
    “ Tentu saja! Bagaimanapun menjual anak sendiri adalah hal paling bejat yang bisa dilakukan seorang ayah!! .... lalu bagaimana? Apa yang kau lakukan pada orang itu??” tanya Ga In penasaran.
    “ Sekarang orang itu bekerja sebagai tukang kebun di rumah kami, dan aku membantu biaya sekolah anak perempuannya sampai detik ini.” jawab Won Bin sambil meneguk wine.

    Ga In terdiam sejenak, tentu saja ia teringat ada seorang tukang kebun paruh baya yang selalu rajin berkeliaran di taman raksasa rumah Won Bin itu setiap pagi.
    “ ..... kau melakukan itu karena kasihan padanya?”
    “ Tidak. Aku sama sekali tidak pernah mengasihani orang yang berhutang padaku. Aku hanya ingin membuktikan bahwa masih ada cara lain untuk bisa melunasi hutang padaku tanpa perlu membuat orang lain terluka karena keputusan yang sudah dia ambil.”
    “ Dengan kata lain, kau hanya akan berurusan dengan orang yang berhutang padamu, tapi tidak dengan orang-orang di sekitarnya. Begitu?”
    Won Bin tersenyum.
    “ Rasanya senang ada orang yang akhirnya mengerti prinsip bisnisku. Aku dan papaku sempat ribut besar karena prinsipku ini. Cara kami menyelesaikan masalah jauh berbeda.”

    Ga In menatap laki-laki di hadapannya itu.
    “ Kau memang bukan orang jahat,.... sejak awal kau tidak pernah berbuat jahat padaku.... kau memang menakutkan tapi .... kau tidak jahat. Dan aku sangat menghargai prinsip bisnismu itu.”
    “ Oya... Kau tidak lupa kalau besok kita harus menghadiri pesta pernikahan versi papa bukan?”
    “ Ya... tentu saja aku tidak lupa. Karena itu aku memaksakan diri untuk menyelesaikan semua pekerjaanku dulu di kantor sebelum pulang. .... tapi aku benar-benar kuatir tidak bisa .... melakukan hal yang benar besok.”
    “ Kau hanya perlu diam di sampingku dan biarkan aku yang menjawab semua pertanyaan. Kau hanya perlu menyerahkan semuanya padaku.”
    Ga In mengangguk. Tentu saja ia tidak memiliki keraguan sama sekali pada suaminya itu.
    “ Sudah malam, lebih baik kau tidur sekarang. Jika kau tidur dengan kondisi tubuh terlalu lelah, kau sering mengigau saat tidur.”
    “ M-mengigau?? Aku?? T-tidak mungkin!” bantah Ga In dengan wajah memerah.
    “ Apa perlu aku merekamnya agar kau percaya? Kau selalu mengigau dan menyebutkan semua makanan yang ingin kau makan, atau semua tempat yang ingin kau kunjungi.”
    Wajah Ga In bersemu merah, entah karena wine yang baru ia minum atau karena rasa malu yang dirasakannya sekarang.

    Won Bin tersenyum geli. Ia masuk ke dalam kamar mandi, sengaja memberikan waktu untuk Ga In bersiap-siap untuk tidur.
    Saat ia keluar dari kamar mandi, Ga In sudah ada di balik selimut namun masih duduk dengan tegak.
    “ Kenapa kau belum tidur?”
    “ Aku harus mengatakan sesuatu padamu.... aku takut jika aku tidak mengatakannya sekarang, aku tidak akan mengatakannya lagi padamu.”
    “ Apa yang ingin kau katakan padaku?”
    “ ..... aku lega karena di saat terburuk di sepanjang kehidupanku.... aku harus melaluinya bersama denganmu.... aku lega karena itu kau.”
    “ Kau tidak membenciku? Bagaimanapun juga aku yang membuatmu tidak punya pilihan selain menikah denganku.” jawab Won Bin, ia terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut gadis itu.
    “ Hyun Bin memang melakukan kesalahan terhadapmu... sudah sepantasnya kau mengejar orang yang berhutang padamu.... aku tidak pernah menyalahkanmu soal itu.... dan kau sudah membiarkanku lolos beberapa kali dari kewajiban membayar.... aku tidak tahu kenapa kau harus memilih pernikahan sebagai syarat denganku, tapi aku tahu kau melakukan ini agar aku tidak perlu bekerja di bar atau melakukan hal gila lainnya untuk membayar hutang...”

    Won Bin berbaring di sofa dan berbicara dalam gelap.
    “ Papaku memaksa untuk menjodohkanku dengan gadis yang ia inginkan. ..... dan aku tidak ingin menikah dengan gadis pilihan papaku.... dan satu-satunya cara untuk membuat papaku berhenti adalah dengan menikah dengan gadis pilihanku sendiri. ..... apakah kau masih berterimakasih padaku setelah tahu betapa egoisnya alasanku memaksamu menikahiku?”
    “ ...... Won Bin....”
    “ Hhm?”
    “ ...... setelah semua ini berlalu.... apakah kau masih mau menjadi temanku?”
    Won Bin tertegun. Ini pertama kalinya gadis itu memanggil namanya dan kalimat yang ia ucapkan pun tidak kalah mengejutkannya dari kalimat sebelumnya.
    “ Kau harus berhati-hati dengan keinginanmu, nona. ..... apa kau lupa aku ini seorang anak bos mafia? Apakah kau ingin anak bos mafia jadi temanmu?”
    “ Tentu saja! .... kau tampan, aku bisa menyombongkan diri pada orang-orang di sekitarku jika aku bisa memiliki teman setampan dirimu, selain itu... kau juga kuat dan pintar berkelahi, tidak ada yang lebih menenangkan selain memiliki teman yang bisa menolongmu kapanpun! Tidak ada yang salah denganmu.”
    Won Bin tersenyum geli.
    “ ..... baiklah, mari kita tetap berteman setelah semua ini berlalu, .... Park Ga In.”

    ******​

    Keesokan harinya adalah hari perayaan besar bagi seisi rumah Won Bin. Malam ini mereka akan menjadi tuan rumah dari sebuah perayaan pernikahan putra satu-satunya bos mafia besar di Korea.
    Sebuah hotel bintang 5 sudah di-book-ing untuk acara malam ini dan seluruh anak buah sudah berada di hotel itu sejak pagi.
    Won Bin dan Ga In sampai di hotel pukul 3 dan Ga In langsung disibukkan dengan make up sementara Won Bin menghilang entah ke mana, mengurus semua keamanan yang harus dilakukan oleh anak buahnya.
    Ga In sedang membubuhkan bedak di wajahnya ketika make up artist yang membantunya berdandan mengajukan pertanyaan.

    “ Nona, apakah benar ini adalah acara pernikahan sebuah keluarga mafia? Gangster??”
    “ ..... ah.. itu... ya begitulah...” jawab Ga In tidak enak.
    “ Oo... p-pantas saja begitu banyak polisi yang berjaga-jaga di luar sana.”
    “ Polisi?? Polisi ada di luar sana? Untuk apa??”
    “ Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas beberapa mobil polisi sibuk berpatroli di luar hotel. ..... tapi apakah nona juga berasal dari keluarga.... mafia? M-maksudku, nona tampak... begitu biasa dan sederhana... untuk menikah dengan keluarga seperti ini.”
    “ S-suamiku bukan mafia jahat kok... dia mafia baik.” sahut Ga In tidak sadar membela Won Bin dari stigma negatif yang ada di kepala make up artist-nya itu.

    “ Tuan muda, polisi itu ingin bicara pada anda segera.”
    Won Bin menghela napas. Polisi polisi itu seperti kebakaran jenggot saat mengetahui bahwa akan ada pernikahan mafia yang digelar di hotel ini.
    “ Aku akan keluar sebentar lagi. ..... kau pastikan tamu-tamu undangan itu tidak membawa senjata masuk ke dalam ballroom.”
    “ Baik, tuan muda.”

    Won Bin berjalan keluar dan menemui perwira polisi yang sudah tidak asing lagi.
    “ Aku tidak punya banyak waktu untuk menerima ucapan selamat dari anda.” sahut Won Bin sinis.
    “ Apa kau sudah gila? Kau mengundang 5 anggota mafia besar tanpa memberitahuku dulu?!!”
    “ Kami mengundang 5 anggota mafia besar untuk merayakan pernikahanku, bukan untuk saling membunuh di sini, apa kau tidak terlalu berlebihan, Pak Polisi?”
    “ Aku peringatkan padamu, kepolisian Hongkong dan China sudah menghubungi kita terkait hal ini dan aku tidak ingin terjadi hal yang tidak-tidak malam ini.”
    “ Kudengar anda sudah menyiapkan banyak pasukan polisi di luar hotel. Dengan polisi sebanyak itu mana berani kami ********-******** kecil ini berulah, Pak?” sahut Won Bin dengan nada semakin sinis.
    “ Sebenarnya dengan wanita mana kau akan menikah? Wanita mana yang begitu tidak waras hingga berani menikah denganmu??”
    Won Bin tersenyum sinis bercampur geli.
    “ Melihatmu begitu penasaran, aku jadi menyesal tidak memberikan undangan padamu. Apa kau ingin aku menyiapkan meja untukmu malam ini?”
    “ Tidak perlu repot-repot. Aku sudah sangat senang jika kau bisa membuat kota Seoul aman malam ini dan membuat kehidupan pernikahanmu bahagia selamanya.”

    ******​

    Acara akan segera dimulai, para tamu undangan sudah memenuhi ballroom raksasa hotel itu.
    Won Bin menjemput Ga In ke dalam ruangan ganti dan ia berusaha untuk tidak tampak begitu terkesima melihat gadis itu.
    “ Apa.... dandananku pas?” tanya Ga In dengan nervous.
    “ ******** ******** itu pasti sangat iri padaku sekarang.” jawab Won Bin.
    Ga In tersenyum, siapa sangka bahwa kalimat kasar seperti itu bisa terdengar persis seperti pujian di telinganya.
    “ Kudengar banyak polisi yang datang... apa tidak akan ada masalah?”
    “ Mereka hanya melakukan pencegahan, kalau-kalau acara bahagia hari ini berubah jadi ajang saling bunuh di antara anggota mafia.”
    Ga In bengong. Ia benar-benar belum bisa membiasakan diri pada semua hal yang terjadi di dunia yang benar-benar berbeda dengan dunia yang ia jalani itu.

    Seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya, Won Bin dan Ga In harus naik ke panggung dan memberi hormat pada seluruh tamu undangan. Setelah itu Won Bin yang akan mengambil alih.
    Won Bin mengambil microphone yang sudah disediakan dan mulai membuka mulut untuk pidatonya sebagai tuan rumah.
    “ First, I want to thank you all of you for join me in this happiness. Zhong Lao Ban, Wei Lao Ban, Bos Han dan juga Bos Kim, I’ve just let my daddy down for marrying someone so ordinary, like my wife. But this is the marriage I’ve chosen and I’ll have no regret with that. As usual, we were born not to regret anything, right?”
    Ga In masih berusaha mencerna arti dari perkataan Won Bin ketika semua orang di ruangan tiba-tiba mengangkat gelas champagne mereka tinggi-tinggi dan berteriak-teriak seperti orang gila yang sedang menonton pertandingan bola di stadion.
    Bos-bos besar yang duduk di 1 meja yang sama dengan papa mertua Ga In memberi selamat pada papa mertuanya. Setidaknya Ga In tidak melihat kemarahan di wajah papa mertuanya. Meskipun sikapnya sangat tidak bersahabat, tapi Ga In cukup yakin kalau papa mertuanya itu sangat peduli pada anak laki-lakinya.

    Di sela-sela acara makan malam, Ga In harus berkeliling menyapa para tamu undangan. Ia menggandeng tangan Won Bin erat-erat untuk memastikan ia tidak akan terpisah dari laki-laki itu dan tenggelam di tengah-tengah lautan mafia itu.
    “ Won Bin! Wah, aku tidak menyangka keparat sepertimu bisa menikah lebih dulu dariku!” sapa salah seorang tamu undangan dengan kalimat yang... sangat bersahabat.
    “ Apa kabar, Si Won? Aku juga tidak menyangka kau masih belum menikah sampai sekarang. Mengingat begitu seringnya kau berganti-ganti model dan selebritis itu.”
    Ga In memandang laki-laki bernama Si Won itu. Sepertinya laki-laki itu adalah anak dari salah satu bos mafia yang duduk bersama papa mertuanya.
    “ Hai, aku ... hhm... terkadang aku adalah sekutu dan terkadang aku adalah musuh suamimu. Tapi untuk sekarang aku adalah sekutunya. Han Si Won.” sahut laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya pada Ga In.
    Ga In menyalami laki-laki itu sambil berusaha tersenyum dengan sopan.
    “ Jadi apa benar kau membunuh anak buah Zhong Lao Ban? Bagaimana caranya kau lolos darinya?”
    “ Entahlah, papaku datang menemui Zhong Lao Ban dan menawarkan beberapa peti kokain, lagipula anak buah nya memang mencari gara-gara lebih dulu denganku!”
    “ Bagaimanapun selamat karena sudah melewati hal itu.”
    Ga In mendengarkan dari pinggir dengan bulu tengkuk merinding. Bagaimana mungkin orang-orang itu membicarakan tentang pembunuhan seolah olah mereka sedang berbicara tentang pertandingan sepak bola??

    *****​

    Pesta itu akhirnya berakhir juga dan Ga In harus menggotong Won Bin yang mabuk berat kembali ke kamarnya. Tentu saja anak buah Won Bin sudah membantu menggotong bos mereka sampai di depan pintu kamar.
    “ Ah, kau berat sekali!!” seru Ga In sambil setengah melemparkan badan Won Bin ke atas tempat tidur. Entah berapa botol wine dan whisky yang dihabiskan laki-laki itu di sepanjang pesta.
    Tentu saja ia juga meminum bagian Ga In, makanya Ga In masih bisa berdiri dengan tegak sekarang. Meskipun Ga In memang tidak bisa menolak beberapa gelas wine dan itu cukup membuat kepalanya sedikit pusing sekarang.
    Ga In duduk di samping Won Bin dan memandangi wajah laki-laki yang sudah tertidur pulas itu. Ia tidak akan menyangkal bahwa laki-laki itu sangat tampan. Sepertinya jika laki-laki itu ingin menjadi seorang selebritis pun ia pasti akan berhasil dengan modal wajah seperti itu.

    Ga In nyaris tidak menyadari saat mulutnya bergumam.
    “ .... orang setampan dirimu.... orang sebaik dirimu... kenapa kau harus menjadi seorang mafia? .... bukan mafia biasa, melainkan bos mafia.... kenapa kau harus memasang tampang menyeramkan setiap kali..... dan kenapa kau harus tidur dengan wajah yang begitu.... kesepian seperti ini?”
    Ga In mengulurkan tangannya dan menelurusi garis wajah Won Bin. Ga In terkejut ketika tiba-tiba tangan Won Bin terangkat dan dengan refleks menangkap tangannya. Laki-laki itu tidak membuka matanya namun tubuhnya masih begitu waspada.
    Ga In lebih terkejut lagi ketika Won Bin menariknya hingga berbaring di sampingnya. Ga In ingin segera berdiri namun laki-laki itu tiba-tiba bergumam.
    “ ..... Ma.... hari ini aku ingin tidur bersamamu.”
    Ga In terdiam, siapa yang menyangka bahwa pria seperti ini ternyata masih bisa merindukan mamanya. Pantas saja wajahnya begitu kesepian.

    ******​

    Won Bin membuka matanya karena sinar matahari yang begitu menusuk pandangannya. Ia nyaris terperanjat ketika mendapati Ga In tengah berbaring di sampingnya, dalam rengkuhannya.
    Ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam namun ingatannya berhenti setelah ia mabuk dan sedang diangkut dalam kondisi tidak sadarkan diri dari hotel.
    Ga In masih mengenakan gaunnya kemarin, dan dengan belahan gaun yang begitu rendah, itu cukup membuat Won Bin panik dan buru-buru berdiri dari tempat tidurnya.
    Won Bin duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya yang masih terasa berputar pada bantal sofanya. Matanya tidak pernah pergi dari sosok Ga In yang masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
    “ Won Bin... berhenti bersikap seperti orang bodoh.... kau hanya berbaring berdampingan dengannya, kenapa harus begitu panik untuk hal seperti itu?!”

    Mata Ga In terbuka perlahan-lahan dan hal yang pertama ia lihat adalah suaminya sendiri. Tidak biasanya Won Bin masih ada di kamar saat ia terbangun pagi hari. Biasanya laki-laki itu sudah menghilang dengan dalih ada pekerjaan yang harus diselesaikan pagi-pagi.
    Namun pagi ini, laki-laki itu duduk di sofa dan pandangan mereka bahkan saling bertemu.
    “ ..... p-pagi...” sapa Ga In dengan suara serak.
    “ ...... apa tidurmu pulas?”
    Ga In mengangguk sambil membenarkan rambutnya yang pasti sudah mencuat ke segala arah itu.
    “ Kau masih cuti bekerja hari ini?” tanya Won Bin lagi.
    “ Hhm... hari ini hari terakhir aku cuti sebelum besok aku kembali bekerja seperti biasa.”
    “ Kalau begitu apakah kau mau pergi denganku hari ini? ..... kencan persahabatan barangkali?” tanya Won Bin ragu-ragu.
    “ K-kencan persahabatan?”
    “ Hhm.... 2 orang teman yang menghabiskan waktu bersama, kurasa itu tidak terlalu aneh bukan?” tanya Won Bin dengan nada ragu. Sejujurnya ia sendiri meragukan ajakan yang ia berikan barusan apakah ajakan yang bijaksana atau tidak.

    Namun di luar dugaan Ga In malah tersenyum lebar dan mengangguk. Ia benar-benar tidak ingin rasa tegang dan canggung yang selalu ia rasakan bersama dengan laki-laki ini terus berkepanjangan. Dan rasanya sebuah kencan persahabatan adalah solusi yang paling pas untuknya sekarang.
    “ Aku akan bersiap-siap sebentar!” seru Ga In bersemangat sambil berlari ke kamar mandi.
    Won Bin tersenyum geli. Tidak pernah ada orang yang begitu bersemangat pergi dengannya.
    Ga In selesai berdandan dan saat keluar, Won Bin sudah tidak berada di kamar.
    “ .... apakah aku menghabiskan waktu di kamar mandi terlalu lama? .... hhm... dia tidak meninggalkanku dan membatalkan ajakannya secara sepihak bukan?” gumamnya sambil buru-buru keluar dari kamar dan bertanya pada anak buah pertama yang ditemuinya.
    “ Apa kau melihat Won Bin?”
    “ Selamat pagi, nyonya. Tuan muda sedang berada di taman menunggu anda.”
    “ Taman? .... oke kalau begitu. Terimakasih banyak ya.” sahut Ga In, masih membiasakan diri menerima perlakuan begitu sopan dari seorang mafia.

    Won Bin menoleh setelah mendengar derap langkah ringan Ga In berjalan ke arahnya.
    Ia tersenyum lebar dan sangat tersanjung melihat Ga In yang muncul dengan pakaian yang sangat manis.
    “ Apa yang ingin kau lakukan hari ini?” tanya Won Bin.
    “ Hhm.... sudah lama sekali aku tidak menonton film di bioskop, .... sudah lama juga aku tidak makan sushi.... dan sudah lama sekali aku tidak berjalan-jalan ke tepi sungai Han.”
    “ Kau benar-benar seperti burung dalam sangkar emas ya selama ini? Banyak sekali hal sudah lama tidak kau lakukan.”
    “ Hari ini aku sengaja mengajakmu melakukan hal-hal yang kusuka, nanti lain kali aku yang akan melakukan hal-hal yang kau suka, oke??”
    “ Baiklah, kita lihat apakah kau belum menyesal setuju untuk berjalan-jalan denganku hari ini.” sahut Won Bin sambil menenteng tas kameranya.
    “ Ooo.. kau membawa kameramu?” tanya Ga In penasaran, ia benar-benar penasaran dengan hasil foto Won Bin.
    “ Tentu saja, hari ini aku pergi bersama modelku, sayang sekali jika aku meninggalkan kameraku bukan?”

    ******​

    Won Bin benar-benar tidak melewatkan kesempatan yang jarang didapatkannya itu. Ia menjepretkan kameranya hampir di sela-sela seluruh kegiatan yang mereka lakukan.
    “ .... orang-orang melihat kita dari tadi... apakah kau bisa menurunkan kameramu?” bisik Ga In benar-benar merasa malu.
    “ Memang kenapa kalau orang-orang melihat kita? Toh kita tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum.”
    “ ..... kau terus menerus mengambil fotoku, mereka pasti berpikir aku adalah selebritis yang sedang diikuti oleh kru TV, padahal wajah dan tubuhku jelas bukanlah wajah dan tubuh seorang selebritis.” gerutu Ga In.
    “ Memang kenapa? Aku malah merasa wanita dengan wajah terlalu sempurna dan tubuh kurus kerempeng itu sama sekali tidak indah dan menarik untuk difoto. Wanita dengan wajah agak antik sepertimu dan tubuh yang agak .... berisi sepertimu, justru yang real di kamera.”
    Ga In memandang Won Bin dengan sinis dan berkata.
    “ Kau benar-benar bisa memuji sekaligus menjatuhkan orang dalam waktu yang bersamaan ya.”

    Ga In dan Won Bin tiba di bioskop dan Ga In menatap beberapa judul film yang ditayangkan siang itu. Ia memutar otaknya untuk menimbang-nimbang film apa yang akan ia tonton 2 jam ke depan.
    “ Hhm... bagaimana kalau kita nonton itu saja?” tanyanya sambil menunjuk ke sebuah film action.
    “ Kau yakin ingin menonton film seperti itu? Kurasa akan banyak adegan kekerasan di film itu.”
    “ .... apakah aku ini sedang menonton bioskop bersama seorang mafia? Mafia mana yang ragu untuk menonton film action??”
    Won Bin tertawa keras mendengar jawaban dari Ga In.
    “ Hahahaha.... aku memikirkan dirimu, nona Park. Kau selalu menutup matamu setiap kali ada hal yang berbau-bau kekerasan, apakah kau tidak akan pingsan jika menonton film seperti ini?”
    “ Setidaknya ini film, jadi sesadis apapun, aku bisa tenang karena tahu bahwa tidak ada orang yang terluka.” jawab Ga In sambil melangkah maju mengantri membeli tiket.

    Ga In membeli tiket di kursi penonton favoritnya, namun saat ia berbalik ia tidak menemukan Won Bin dalam pandangannya.
    “ ..... apakah ia benar-benar tidak suka aku memilih film ini?” gumam Ga In mulai kuatir. Akhir-akhir ini ia sering lupa bahwa suaminya itu adalah orang yang berbahaya, dan sering memperlakukannya sesuka hatinya.
    Namun ia bisa bernafas lega ketika Won Bin berlari-lari kecil ke arahnya sambil membawa 2 bungkus popcorn ukuran jumbo.
    “ Aku membeli popcorn asin dan manis, aku tidak tahu kau suka yang mana.” sahutnya sambil tidak lupa membubuhkan sedikit senyuman manis di wajahnya.

    Seperti yang sudah diprediksikan sebelumnya, film pilihan Ga In begitu penuh dengan kekerasan dan darah di mana-mana. Tidak jarang gadis itu menutup sebelah matanya atau melihat ke arah lain untuk beberapa saat sambil menunggu adegan sadis itu berakhir.
    “ Orang gila!! .... kau tidak pernah menyiksa orang seperti itu bukan??” bisik Ga In dengan pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya.
    Won Bin menyeringai.
    “ .... hhm.... adegan itu mustahil untuk dilakukan sebenarnya, kau tidak lupa kalau ini hanya film belaka bukan? Tidak mungkin darah akan mengalir seperti itu, dan tidak mungkin orang itu masih hidup jika lehernya sudah disayat seperti itu, dia akan ma----“
    “ Cukup. .... mendengar penjelasanmu aku jadi semakin mual.”
    Won Bin tersenyum geli dalam gelap.

    Setelah selesai menonton, mereka lanjut ke acara berikutnya yaitu makan di cafe Prancis. Ini pertama kalinya Won Bin makan di restaurant yang tenang dan dipenuhi oleh pasangan yang sedang berkencan.
    Ga In memesankan makanan di counter unik yang tidak terletak di dalam ruangan, melainkan di bawah pohon rindang. Benar-benar ciri khas cafe Prancis, romantis.
    Won Bin memandang lewat kaca di dalam ruangan sambil sesekali membidikkan kameranya pada Ga In yang sekarang sudah berpose tanpa malu-malu lagi setiap kali ia melihat kamera mengarah padanya.
    Ga In menaikkan kedua tangannya dan membentuk hati raksasa di udara, sepertinya ia lupa bahwa ada orang-orang di sekelilingnya yang sedang memperhatikannya.
    Won Bin tersenyum lebar melihatnya. Gadis sepolos itu, ia tidak mengerti bagaimana gadis sepolos itu bisa menikah dengannya. Dan terlebih lagi ia tidak mengerti dengan kehangatan yang ia rasakan setiap kali ia menghabiskan waktu bersama dengan gadis itu.
    Ga In meletakkan semua pesanannya.

    “ Cafe ini benar-benar romantis bukan??”
    “ Ya, seperti itulah. Aku tidak pernah ke tempat semacam ini jika bukan karenamu.”
    “ Hehehehe, kau harus sering sering pergi ke tempat seperti ini, jadi hatimu semakin lembut dan lembut.”
    “ Apakah kau merasa aku ini orang yang kasar?”
    “ Hhm.... tidak juga.... setidaknya kau selalu lembut padaku. Hehehe... aku sudah memutuskan satu hal tentangmu.”
    Won Bin mengerutkan alisnya, penasaran.
    “ Apa yang sudah kau putuskan mengenai diriku, nona Park?”
    “ Setelah semua ini berakhir, kau akan kuanggap seperti kakakku sendiri.” sahut Ga In dengan mantap.
    Won Bin tertegun sejenak. Ia menatap gadis di hadapannya itu dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
    “ ..... kau ingin mempunyai kakak sepertiku?”
    “ Tentu saja! Kau adalah orang yang paling cocok menjadi kakakku..... dan ditambah lagi aku sudah merasa sangat nyaman berada di sampingmu.”
    “ Kau masih berpikir untuk melunasi hutang kekasihmu itu dan menyelesaikan urusan di antara kita?”
    “ ...... bagaimanapun Hyun Bin berhutang padamu, dan aku akan membayarnya, .... meskipun aku tidak tahu butuh waktu berapa lama untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.”
    Wajah Won Bin mengeras. Ia menyeruput kopi di hadapannya dan menyandarkan punggungnya ke bangku.

    “ ...... laki-laki itu belum menghubungimu lagi? ..... bagaimanapun juga ia yang berhutang padaku, ia yang harusnya berusaha untuk membayar hutangnya padaku.”
    “ Hyun Bin juga pasti sedang berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan uang itu.... hanya saja aku tidak ingin meneleponnya dan memberitahunya tentang.... pernikahan kita.”
    “ Kenapa? Kau takut pernikahan kita akan melukai perasaan ******** itu?”
    “ ...... jangan mengatainya seperti itu.... ia hanya melakukan kesalahan, dan ia sudah menyadari kesalahannya.”
    “ Ia yang menaruhmu dalam posisi terjepit seperti sekarang hingga kau tidak punya pilihan lain selain menikah dengan pria sepertiku. Dan ia sama sekali tidak peduli dengan itu!”
    “ M-Memang apa salahnya menikah dengan pria sepertimu? Sampai detik ini aku tidak menyesali keputusanku untuk menikah denganmu!” bantah Ga In.
    “ Seorang wanita akan merasa paling bahagia jika ia menikah dengan seseorang yang ia cintai. Apakah kau mencintaiku, Park Ga In?” tanya Won Bin dengan tajam. Ia benar-benar tidak tahan mendengar gadis itu terus membela kekasih bajingannya itu.
    Ga In tertegun mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir Won Bin itu. Sejenak dadanya berdetak dengan kencang, namun mulutnya seakan beku, tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.

    ******​

    Kencan Ga In dan Won Bin hari ini tidak berakhir dengan baik. Ga In pulang sendiri sementara Won Bin entah pergi ke mana, dan belum kembali sampai larut malam.
    Ga In duduk di atas tempat tidurnya dan mencoba untuk menghubungi Hyun Bin, bagaimanapun sudah 2 bulan sejak terakhir ia berbicara dengan kekasihnya itu. Namun telepon laki-laki itu kembali tidak aktif. Ia menghela napas panjang, entah apa yang sedang dilakukan Hyun Bin sekarang. Apakah ia tahu pengorbanan apa yang sudah dilakukan olehnya untuk laki-laki itu?

    Pintu kamar diketuk dengan keras dari luar dan Ga In terlonjak kaget. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar dan terkejut saat anak buah Won Bin mengantarkan Won Bin yang sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri.
    “ A-apa yang terjadi padanya??” seru Ga In panik.
    Anak buah Won Bin menggotong bos mereka masuk dan membaringkannya di atas tempat tidur.
    “ Suasana hati tuan muda sedang tidak baik hari ini. Ia banyak minum dan terlibat perkelahian di bar, mohon bantuanmu untuk menjaganya.”
    Anak – anak buah Won Bin segera keluar, tahu bahwa mereka dilarang berlama-lama di dalam sana.

    Ga In menatap Won Bin dengan kuatir. Entah apa yang membuat moodnya begitu buruk hari ini.
    “ ..... pasti karena pembicaraan di cafe tadi siang....” gumam Ga In merasa ini adalah tanggung jawabnya.
    Ia membuka kancing kemeja Won Bin dan melonggarkan ikat pinggangnya. Ia membawa handuk basah dari kamar mandi dan mulai menyeka Won Bin, berharap itu bisa mengurangi bau alkohol di badan laki-laki itu dan bisa membuat laki-laki itu tidur dengan lebih nyaman.

    Ga In melihat beberapa luka lebam dan ujung bibir Won Bin yang robek karena berkelahi. Darah segar masih tersisa di ujung pelipisnya. Dengan terburu-buru ia mengambil kotak P3K dan berusaha mencari alkohol untuk membersihkan luka-luka di wajah suaminya itu.
    “ .... apa kau pikir kau ini Bruce Lee yang tidak akan pernah terluka saat berkelahi? .... untuk apa kau mencari masalah seperti ini sih??” gumam Ga In kuatir. Rasanya ingin menangis melihat seseorang terluka seperti ini.
    Selagi membubuhkan obat pada luka-luka di wajah Won Bin, Ga In melihat bekas-bekas luka yang bertebaran di dada bidang laki-laki ini. Ia membuka kancing kemeja Won Bin hingga bawah dan ia bisa melihat dengan jelase bekas-bekas pertempuran yang ada di tubuh laki-laki itu.
    “ ...... hidup seperti apa yang kau jalani selama ini, Won Bin? ..... Bagaimana aku tidak kuatir dan menyalahkan diriku sendiri jika melihatmu seperti ini?”

    Ga In terkejut saat tangan Won Bin tiba-tiba terangkat dan menggenggam tangannya yang baru saja akan menempelkan plester luka di pelipis laki-laki itu.
    “ Luka seperti ini akan lebih cepat sembuh dalam keadaan kering, tidak perlu menempelkan plester.” sahut laki-laki itu dengan suaranya yang parau.
    Ga In menatap Won Bin dengan tatapan kesal bercampur sedih. Air mata sudah menggenangi pelupuk matanya.
    Won Bin terkejut melihat Ga In hampir menangis seperti itu.
    “ A-ada apa denganmu??”
    “ Kenapa kau tidak bisa memperlakukan dirimu dengan lebih baik?!! ..... bagaimana mungkin kau seenaknya merusak wajah tampanmu dengan berkelahi dengan orang-orang??”
    Won Bin menatap gadis yang baru saja terang-terangan memarahinya dengan berlinang air mata itu.
    “ ...... apa kau kuatir padaku?”
    “ Omong kosong!! Tentu saja aku kuatir padamu!! Sekarang sudah jam 2 subuh dan kau baru datang tanpa sadarkan diri seperti ini!!!” seru Ga In meledak.
    “ ..... jangan bersikap terlalu baik padaku, jika kau tidak ingin aku salah paham.” jawab Won Bin sambil menegakkan tubuhnya, berniat untuk turun dari tempat tidur.
    “ Apa maksudmu? Apa kau berharap aku bersikap jahat padamu?!”

    Won Bin turun dari tempat tidur dan berdiri dengan masih sempoyongan.
    Namun tatapannya begitu tajam terarah pada Ga In.
    “ ...... jangan bersikap terlalu baik padaku, kau tidak ingin tiba-tiba aku jatuh cinta padamu bukan? ..... karena aku akan berubah menjadi laki-laki yang egois saat aku mencintai sesuatu.... dan aku tidak akan pernah melepaskanmu jika aku jatuh cinta padamu.... sementara suatu hari nanti kau akan pergi meninggalkanku bukan? Jadi lebih baik berhenti membuatku jatuh cinta padamu.”
    “ ..... apa maksud kata-katamu.... itu?” tanya Ga In terkejut sekaligus bingung.
    “ Kau ingin menjadi adikku setelah semua ini berakhir? ..... maaf, aku tidak pernah punya pikiran ingin menjadi kakakmu.... setelah semua ini berakhir, kita berdua hanya bisa menjadi 2 orang asing.” sahut Won Bin sambil melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Ga In yang merasa sebuah batu besar sedang menimpa kepalanya.

    ******​

    Sejak malam itu, Won Bin tidak pernah tidur di kamarnya lagi. Bahkan Ga In jarang sekali bisa melihat wajahnya di rumah. Entah sepagi apa ia pergi dari rumah hingga tidak pernah ada di meja saat sarapan, dan entah selarut apa ia pulang ke rumah hingga tidak pernah ada di meja saat makan malam.
    Ga In menghabiskan sebagian besar waktunya seorang diri di rumah besar itu. Dan perasaannya benar-benar kacau balau karenanya.
    Beberapa kali ia sempat melihat Won Bin mabuk berat dan dibawa masuk oleh anak-anak buahnya, selebihnya laki-laki itu bagai hidup di dunia yang lain, tidak pernah muncul di hadapan Ga In.
    Berkali-kali Ga In menguatkan dirinya sendiri, ini yang terbaik untuknya dan untuk Won Bin. Bagaimanapun semua ini cepat atau lambat akan berakhir dan ia ingin semua berakhir sesuai dengan rencana.

    Hari ini Ga In baru menyelesaikan pekerjaannya pukul 8 malam. Ia memang selalu pulang lebih malam di akhir bulan karena laporan keuangan yang harus ia selesaikan hari itu juga.
    Ga In sengaja tidak naik taksi melainkan memutuskan untuk berjalan kaki agak jauh sampai ke pemberhentian bus selanjutnya sambil menghirup udara segar. Hyun Bin masih tidak bisa dihubungi, Won Bin tidak ingin dihubungi. Hidupnya akhir-akhir ini agak menyebalkan.
    Ia menatap lurus ke depan dan ia melihat raut wajah yang sudah tidak asing lagi di matanya.
    Perlahan langkahnya semakin lambat hingga akhirnya berhenti. Matanya terus menatap lurus dan melihat raut wajah yang sangat ingin ditemuinya beberapa bulan terakhir itu.
    Wajah itu semakin mendekat dan mendekat.
    Hyun Bin sedang berjalan-jalan di area Myeong Dong dan ia tidak berjalan sendiri. Ia merangkul seorang gadis muda berpakaian elegan dan mereka berjalan ke arah Ga In.

    Ga In menatap Hyun Bin tanpa berkedip dan setelah jarak di antara mereka cukup dekat, laki-laki itu pun menatapnya dengan terkejut.
    Ga In terlalu terkejut dengan apa yang ia lihat hingga ia tidak bisa melakukan apapun saat Hyun Bin berjalan pergi begitu saja tanpa menyapa dan bahkan tanpa menghentikan langkahnya.
    Laki-laki itu benar-benar berlalu begitu saja, meskipun jelas-jelas ia sudah melihat Ga In.

    ******​

    “ Aaa!!! T-Tolong berikan aku waktu lagi, tuan muda!!” seru pemilik bar yang lagi-lagi tidak membayar biaya sewa mereka tepat waktu.
    Won Bin benar-benar tidak sedang dalam mood-nya yang baik dan hal seperti ini hanya membuatnya bersikap jauh lebih sadis dari biasanya.
    Beberapa anak buahnya mulai kuatir pada pemilik bar yang sepertinya sebentar lagi akan mengalami patah tulang serius jika Won Bin tidak menyingkirkan kakinya dari bahu orang itu.
    Tiba-tiba telepon Won Bin berbunyi, Won Bin melihat siapa orang yang meneleponnya dan sempat tidak ingin mengangkatnya. Namun telepon itu terus berdering seakan memintanya untuk segera mengangkatnya.
    “ Ada apa? Aku sedang sibuk.”
    “ Maaf, tuan muda. Kami sedang berada di Myeong Dong untuk menagih hutang pada pemilik galeri lukisan itu dan kami.... melihat nyonya.”
    “ .... nyonya? .... Park Ga In? .... apa yang dilakukannya di Myeong Dong malam-malam begini?”
    “ .... nyonya.... nyonya sedang menangis di.... tengah trotoar,... tuan muda. Apa yang harus kami lakukan sekarang?”
    “ Bicara yang jelas! Apa maksudmu ia sedang menangis di tengah trotoar?!”
    “ ..... nyonya sedang.... menangis dengan sangat keras... di tengah trotoar... dan orang-orang mulai mengerumuninya sekarang.”
    “ Singkirkan orang-orang itu.”
    Won Bin melepaskan sang pemilik bar dan langsung pergi bahkan tanpa meninggalkan peringatan terakhir pada sang pemilik bar.

    Won Bin masuk ke mobil dan bahkan mengendarai mobil itu sendiri menuju ke area Myeong Dong. Entah berapa lampu merah yang ia langgar karena ia ingin segera tiba di Myeong Dong.
    Won Bin turun dan meninggalkan mobilnya di pinggir begitu saja, kumpulan anak buahnya langsung membuatnya tahu harus berjalan ke mana. Anak-anak buahnya sudah menghalau orang-orang yang ingin melihat apa yang terjadi. Anak-anak buahnya benar-benar membentuk barisan mengelilingi Ga In.
    Saat Won Bin datang barisan lingkaran itu mengendur dan terbuka. Won Bin terkejut mendapati Ga In masih menangis seperti orang bodoh saat itu.

    Ga In menangis sambil memeluk lututnya. Ia terlalu tenggelam dalam kesedihannya sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ia sedang menangis di tengah jalan dan ia bahkan tidak tahu kapan anak-anak buah Won Bin mengelilinginya dan menghalangi orang-orang yang ingin melihatnya.
    “ Siapa yang membuatmu menangis seperti ini?” sahut Won Bin sambil meletakkan tangannya di kepala Ga In yang seperti anjing kehujanan itu.
    Ga In mendongakkan kepalanya saat mendengar suara yang sudah lama tidak ia dengar itu. Matanya sembab dan pipinya basah oleh air matanya sendiri, namun ada perasaan hangat dan lega di dadanya melihat Won Bin di hadapannya.
    Ga In tidak menjawab pertanyaan Won Bin dan malah merangkul laki-laki itu erat-erat sambil menangis lebih keras lagi.
    “ ..... baiklah, kau boleh menangis sekencang yang kau inginkan, tapi aku tidak mengijinkanmu menangis di tengah jalan seperti ini.... kita pulang sekarang, oke?”
    Ga In mengangguk dan tetap memeluk Won Bin seperti anak perempuan yang memeluk papanya.
    Won Bin mengangkat Ga In dengan mudah dan membawanya masuk ke dalam mobil. Orang-orang di sekitar sana sibuk mengeluarkan handphone mereka dan mengabadikan pemandangan jarang itu.

    Won Bin menyetir dalam diam, ia ingin memberikan waktu bagi Ga In untuk menyelesaikan kesedihannya dulu.
    “ .... bagaimana kau tahu aku ada di sana?” tanya Ga In di sela-sela isak tangisnya.
    “ Anak buahku kebetulan berada di sana dan mereka melihatmu kemudian melaporkannya padaku.”
    “ ..... aku tampak lucu ya....”
    “ Kau tampak menyedihkan lebih tepatnya.”
    “ ..... kau benar.... aku tampak menyedihkan.”
    “ Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan apa yang terjadi, tapi aku pasti akan mencari tahu sendiri apa yang membuatmu menangis seperti itu, bahkan jika kau tidak memberitahuku.”
    Ga In menatap Won Bin. Laki-laki itu selalu menampilkan sosok yang keras, namun tidak ada orang yang lebih peduli padanya selain laki-laki itu sekarang ini.

    “ ..... aku melihat Hyun Bin di Myeong Dong.... “
    Won Bin menekan rem mobilnya karena terlalu terkejut mendengar nama ******** itu disebut.
    “ ..... kau bilang apa barusan?”
    “ ...... aku melihat Hyun Bin sedang berjalan di jalan yang sama dengaku di Myeong Dong... kami berpapasan, aku melihat matanya dan ia melihat mataku.... namun ia terus berjalan pergi.... tidak sedetikpun langkahnya terhenti untukku.... dan ia tidak berjalan sendiri... ia berjalan bersama seorang gadis....”
    “ Cukup. Aku sudah tahu apa yang kau alami barusan. ..... kau ingin mendengar penjelasan langsung dari keparat itu bukan? Aku akan menemukannya besok dan membawanya padamu!”
    “ A-apa yang akan kau lakukan padanya?!”
    “ Tenang saja, .... aku tidak akan membunuhnya, aku hanya akan membawanya padamu untuk menjelaskan semua hal yang sudah ia lakukan padamu! ..... kau layak mendapatkan penjelasan itu, Ga In...”

    ******​

    Ga In benar-benar sudah tidak bertenaga saat ia sampai di kamarnya. Ia bahkan tidak punya kekuatan untuk protes ketika Won Bin mengangkatnya ke tempat tidur dan menyelilmutinya. Ia hanya ingin segera memejamkan matanya dan berharap kejadian hari ini adalah mimpi belaka.
    Ga In sudah memejamkan matanya yang terasa berat, namun ia belum tertidur. Ia masih bisa mendengar dengan jelas saat Won Bin menelepon seseorang dan menginstruksikan untuk mengerahkan semua orang yang mereka punya untuk mencari Hyun Bin.
    Ga In juga masih sadar saat Won Bin duduk di sampingnya untuk beberapa saat dan tiba-tiba mengecup keningnya dengan lembut sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Ga In seorang diri di kamar itu.
    Sesaat setelah ia mendengar pintu kamar ditutup, Ga In membuka matanya. Kecupan Won Bin barusan masih terasa di keningnya hingga sekarang. Dan itu adalah ciuman pertama dari laki-laki itu untuknya dan jelas-jelas dadanya berdetak dengan kencang sekarang. Entah apa artinya.

    ******​

    Hal pertama yang Ga In lihat setelah ia membuka matanya adalah Won Bin.
    “ .... kau merasa lebih baik?” tanya laki-laki itu dengan lembut.
    Ga In mengangguk. Meskipun untuk alasan menyedihkan seperti ini, setidaknya Ga In bersyukur karena Won Bin kembali normal dan bersikap baik padanya.
    “ Ayo kita sarapan, setelah itu kau bisa menemui laki-laki itu.”
    Ga In terbelalak.
    “ Kau sudah menemukan Hyun Bin???”
    “ ..... anak buahku menemukannya di salah satu club kemarin malam... ia sudah menunggumu, dan kau bisa segera bertemu dengannya setelah mengisi perutmu.”
    “ Aku akan la---“
    “ Setelah kau mengisi perutmu. Titik.”
    Ga In menutup mulutnya, ia tahu sia-sia saja membantah perkataan laki-laki di hadapannya itu.

    Ga In menyelesaikan sarapannya dengan terburu-buru dan Won Bin segera mengantarkannya ke basement tempat ia biasanya berolahraga.
    Ga In terkejut melihat Hyun Bin terikat di salah satu bangku di basement gelap itu. Entah dengan cara apa Won Bin dan anak buahnya membawa Hyun Bin kemari.
    “ Maaf, semalam ia tidak bersedia untuk datang baik-baik jadi kami terpaksa membawanya seperti ini. ... buka ikatannya.” sahut Won Bin. Ia menyeret kursi agak jauh dari Ga In dan memperhatikan wajah keparat itu dengan seksama.
    Hyun Bin terlalu terkejut saat melihat Ga In datang dan duduk di hadapannya.
    “ ..... kau tidak apa-apa?” tanya Ga In.
    “ ...... apa yang kau lakukan di sini?? Kau tidak tahu mereka adalah mafia berbahaya??”
    “ ...... kau melihatku semalam di Myeong Dong bukan?”

    Hyun Bin menghela napas dan menganggukkan kepalanya.
    “ Kenapa kau berjalan begitu saja? .... dan siapa gadis yang berjalan bersamamu?”
    “ Ga In, aku akan menyelesaikan semua hutang yang kumiliki, dan aku akan menepati janjiku padamu.”
    “ ..... aku tidak mengerti apa hubungannya gadis itu dengan janjimu itu.”
    “ ..... gadis itu berjanji untuk membantuku melunasi semua hutang yang kumiliki.”
    Ga In tertegun.
    “ ...... kenapa gadis itu bersedia melunasi semua hutang-hutangmu? Siapa gadis itu sebenarnya?!!”
    “ Ia adalah anak orang kaya... dan ia tergila-gila padaku.”
    “ Jadi.... kau menjalin hubungan dengan gadis itu karena ia akan melunasi semua hutang-hutangmu?? .... lalu bagaimana dengan aku?!!!” teriak Ga In histeris.
    “ Tenang dulu, Ga In!! .... aku hanya ingin hutang-hutangku segera lunas!! .... percayalah padaku, aku tidak akan meninggalkanmu, gadis yang benar-benar kucintai adalah kau!” seru Hyun Bin.
    “ Bagaimana mungkin kau meninggalkan gadis itu begitu saja setelah ia membayar semua hutang-hutangmu.... apakah kau pikir itu masuk akal??”
    Hyun Bin menghela napas dan terdiam sejenak.
    “ ..... kau benar.... aku harus menikah dengan gadis itu .... tapi kau tenang saja, aku tidak akan menikah selamanya! Aku akan segera menceraikannya dan aku akan kembali padamu!”

    “ Cukup. Aku sudah muak mendengar semua celotehanmu. Kau bilang gadis itu bersedia melunasi semua hutang-hutangmu asal kau mau menikah dengannya? Baiklah, jadi kapan kau akan melunasi semua hutangmu padaku?” sahut Won Bin dengan nada suaranya yang berat.
    “ A-aku akan segera melunasinya!! .... tapi jangan lukai Ga In!”
    Won Bin tersenyum sinis dan tiba-tiba merangkulkan lengannya di pundak Ga In.
    “ Menurutmu apakah aku akan melukai istriku sendiri?”
    Hyun Bin tercengang. Ia menatap Won Bin dan Ga In bergantian seakan meminta penjelasan.
    “ ..... kekasihmu ini menikah denganku agar aku tidak mengejarmu dan membunuhmu karena kabur dari kewajibanmu membayar hutang padaku.” sahut Won Bin menjelaskan.
    “ Park Ga In....” sahut Hyun Bin terbata-bata.

    Ga In tetap menatap Hyun Bin dengan penuh kesedihan dan bertanya dengan lirih.
    “ Tidak bisakah kau tidak menikah dengan gadis itu? .... aku akan membantumu membayar semua hutang-hutangmu sampai kapanpun... asal kau jangan menikah dengannya....”
    “ Apakah benar kau menikah dengan mafia ini??”
    “ Pernikahan ini hanya pernikahan sementara!!!!” seru Ga In kesal.
    Hyun Bin terdiam, ia tampak berpikir keras memutar otaknya.
    “ ..... Ga In.... maafkan aku karena sudah membuatmu harus mengambil jalan seperti ini... aku tahu kau melakukan semua ini demi diriku.... aku juga tidak menyangka aku bisa menjadi laki-laki tidak berguna seperti ini.... Ae Jeong bukan hanya menjanjikan untuk membayar lunas semua hutang-hutangku.... ia juga berjanji untuk membiarkanku mengelola beberapa bisnis keluarganya.... ini adalah hal yang sudah kuimpikan sejak lama...”
    “ ..... itu berarti kau tidak akan pernah meninggalkan gadis itu untuk kembali padaku,.... bodoh.....” sahut Ga In dengan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
    “ Tapi aku mencintaimu!! Kita bisa meneruskan hubungan kita tanpa diketahui oleh Ae Jeong!” sahut Hyun Bin sambil berusaha untuk memeluk Ga In, namun Won Bin melayangkan bogem mentah ke wajahnya hingga ia terjengkang ke belakang.
    “ Kau sudah membuat gadis yang kau cintai ini menikah dengan seorang mafia, berbohong pada orang tuanya, berbohong pada teman-temannya, hidup di sekeliling orang-orang berbahaya ini.... dan kau ingin agar dia melanjutkan hidupnya sebagai kekasih simpananmu, terus berbohong pada orang tuanya, dan hidup dalam bayang-bayang selama-lamanya?!!”
    Ga In menarik tangan Won Bin dan menggelengkan kepalanya.
    “ ..... setidaknya hari ini semua pertanyaanku sudah terjawab ..... kau tidak pernah mencintaiku, Hyun Bin... kau hanya mencintai dirimu sendiri. Jangan pernah mencariku lagi, kita jalani saja hidup kita masing-masing.” sahut Ga In sambil berjalan pergi sambil menarik tangan Won Bin.

    ******​

    “ Kenapa kau mengajakku pergi? Kau tidak ingin aku memberi pelajaran dulu pada ******** itu?” tanya Won Bin dengan lembut.
    Ga In menggelengkan kepalanya.
    “ .... lepaskan dia... dia bilang akan segera melunasi hutangnya padamu bukan?”
    “ Apa kau tidak ingin memberinya pelajaran sedikitpun?? Kau masih tidak sadar apa yang sudah ia lakukan terhadapmu?”
    Ga In menoleh dan menatap Won Bin dengan tatapan sayu.
    “ ...... ia mungkin berbuat jahat padaku.... tapi setidaknya tidak ada hal buruk yang terjadi padaku sampai hari ini.... bahkan Tuhan memberitahu padaku siapa sebenarnya laki-laki itu lewat semua kejadian ini.”
    “ Kau tidak menyesal karena laki-laki itu kau terpaksa menikah denganku?” celetuk Won Bin.
    Ga In menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

    Won Bin berdiri tegak dengan tatapan yang tidak kalah sayu dari Ga In.
    Ga In menatap suaminya itu dengan lembut dan menggelengkan kepalanya.
    “ ...... aku tidak pernah menyesal pernah mengambil keputusan untuk menikahimu.... sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan untuk menikah dengan orang lain selain dirimu sekarang.”
    Won Bin menatap gadis di hadapannya dengan penuh tanda tanya, entah apa maksud kalimat Ga In barusan.
    “ ..... Won Bin....”
    “ Hhm?”
    “ ...... kita pergi berlibur, bagaimana? .... bagaimanapun kita belum pernah berbulan madu.”
    Won Bin bengong mendengar ajakan Ga In.
    “ 4 hari... 3 hari saja sudah cukup... tidak perlu pergi ke tempat yang jauh... hanya pergi sejenak dari Seoul... bagaimana?”
    “ Aku tidak akan melarangmu jika kau ingin pergi refreshing.” jawab Won Bin.
    “ Aku ingin pergi denganmu... kau mau menemaniku bukan?”
     
  7. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    My Love is a Gangster

    Chapter - 5 -

    My Love is a Gangster



    Beberapa hari berlalu sejak Hyun Bin dipertemukan secara paksa dengan Ga In. Dan hari ini Won Bin akan bertemu dengan laki-laki yang sangat tidak disukainya itu.
    Hyun Bin datang dengan beberapa pengawal yang juga datang bersamaan dengannya. Mungkin itu membuatnya merasa lebih aman dibanding datang sendiri menghadapi Won Bin dengan begitu banyak anak buah.
    Won Bin merokok dan menatap kedatangan Hyun Bin dengan wajah yang masam.
    “ Aku datang untuk melunasi semua hutang-hutangku!!” seru Hyun Bin sambil meletakkan beberapa koper penuh berisi uang.
    Won Bin memerintahkan anak buahnya untuk menghitung isi koper itu.
    “ Semua sudah benar, tuan muda.” lapor anak buahnya.
    “ A-aku sudah melunasi semua hutang-hutangku.... kapan kau akan melepaskan Ga In?”
    Won Bin menatap Hyun Bin dengan tajam.
    “ Aku tidak pernah menculik atau menyekap Ga In, kenapa aku harus melepaskannya?”
    “ Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan hutang piutang ini!! .... kau tidak perlu terus menyiksanya!”
    “ Kau yang sudah menyiksanya, keparat!!!” seru Won Bin sambil mencengkram kerah Hyun Bin.
    Anak buah Hyun Bin mendekat dan demikian pula anak buah Won Bin. Keduanya siap berbaku hantam jika diperlukan.

    “ J-Jadi, kalian akan terus menikah, begitu maksudmu??” tanya Hyun Bin.
    “ Kau tidak perlu mengirimkan undangan pernikahanmu pada kami, kami tidak akan datang. .... atau aku akan meminta beberapa anak buahku untuk datang mewakili dan mengacaukan pesta pernikahan kalian.”
    “ K-Kau tampak begitu peduli pada Ga In! .... kenapa? Bukankah kau memaksanya menikah denganmu karena aku tidak membayar hutang padamu??”
    “ Kau salah. Aku tidak memaksanya menikah denganku karena kau tidak membayar hutang padaku, bagiku orang sepertimu adalah sampah dan aku tidak mungkin memperlakukan hal yang begitu penting seperti pernikahan hanya untuk sampah sepertimu.”
    “ .... lalu kenapa kau memaksanya menikah denganmu??”
    “ Karena aku tertarik pada nona Park. Sejak pertama kali bertemu dengannya, ia selalu tampak menarik di mataku, dan lama-lama aku jatuh cinta padanya.”
    Hyun Bin menatap Won Bin dengan ngeri.
    “ .... kau m-mencintai Ga In?? .... Ga In tidak pantas menikah dengan mafia sepertimu!!”
    “ Lantas apakah dia pantas menikah dengan laki-laki ******** sepertimu?”
    “ Ga In tidak akan pernah mencintaimu, karena ia hanya mencintaiku!”
    “ Aku tidak peduli meskipun ia tidak akan pernah mencintaiku seumur hidup, aku sudah merasa sangat bersyukur karena ia bersedia menjadi istriku. .... hhm... mungkin aku harus berterimakasih juga pada ******** sepertimu, yang membuat Ga In bersedia menikah denganku.”

    “ Antar Tuan Hyun keluar. Aku harus menjemput istriku jika tidak ingin terlambat untuk bulan madu kami.” sahut Won Bin dengan kedua mata tertuju pada Hyun Bin.
    Hyun Bin hanya bisa terbelalak seperti orang bodoh mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut ketua mafia itu.

    ******​

    Won Bin sampai di depan rumahnya dan Ga In sudah menunggu dengan senyuman lebar di wajahnya.
    “ Kau yakin tetap akan berangkat walaupun atasanmu tidak memberikanmu cuti? Kau akan dipecat jika tidak masuk kerja tanpa keterangan, nona Park.” sahut Won Bin sambil berjalan menghampiri Ga In.
    “ Aku sudah memutuskan untuk melakukan hal yang menyenangkan mulai hari ini. Dan jika bekerja di tempat itu tidak menyenangkan, maka aku akan berhenti kapanpun.”
    “ Sepertinya kebebasanmu dari kewajiban membayar hutang benar-benar membuatmu senang ya?” tanya Won Bin dengan geli.
    Ga In mengangguk.
    “ Rasanya seperti kayu besar yang diangkat dari pundakku. Lagipula aku kan punya seorang suami yang kaya raya, tidak bekerjapun aku masih bisa makan dan hidup enak bukan?” tanya Ga In sambil mengedipkan sebelah matanya.
    Won Bin terdiam sebentar, gadis itu jelas senang bermain api akhir-akhir ini.
    “ Jadi aku sudah memutuskan untuk menjadi nyonya bos mafia, begitu nona Park?”
    “ Hhm.... aku memutuskan untuk menjadi nyonya bos bahagia lebih tepatnya. Hahahaha.”
    “ Baiklah nyonya bos bahagia, ayo kita berangkat sekarang.”
    Ga In mengangguk dengan bersemangat. Mereka akan berangkat ke pulau Guam dan ia benar-benar sudah tidak sabar.

    Won Bin membantu untuk memasukkan tas bawaan Ga In ke atas bagasi yang berada persis di atas tempat duduk mereka di pesawat.
    Ga In menarik dan menghembuskan napasnya panjang-panjang.
    “ .... ini bukan pertama kalinya kau naik pesawat bukan?” tanya Won Bin setelah memperhatikan tingkah Ga In.
    “ .... terlihat jelas ya?” tanya Ga In sambil meringis.
    Won Bin hanya tersenyum geli, makin hari gadis ini semakin manis saja di hadapannya.
    Ga In berusaha untuk menikmati semua fasilitas yang disediakan di pesawat, ia bahkan memakai slippers yang disediakan untuk para penumpang.
    “ Apa kau harus mencoba semua barang-barang itu?” bisik Won Bin.
    “ Kenapa? Apa kau malu denganku?” tanya Ga In sambil mengedipkan ngedipkan kedua mata bulatnya itu. Won Bin tersenyum geli dan mengangguk.
    “ Aku malu, tapi kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan karena aku akan memejamkan mata dan tidak melihat kelakuanmu.” sahut Won Bin sambil menyandarkan kepalanya di kursi pesawat empuk itu dan memejamkan matanya.
    Ga In tersenyum lebar, ia akan hidup dengan bahagia dan tidak menyesali apapun yang sudah terjadi di hidupnya. Setidaknya itulah hal yang ia putuskan setelah beberapa malam ia mengurung diri di kamar.

    ******​

    Pengumuman bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat sudah diumumkan oleh pilot. Won Bin membuka matanya dan juga jendela pesawat untuk melihat keindahan pulau Guam dari dekat. Ia melirik ke samping dan entah sejak kapan Ga In sudah tertidur dengan mulut setengah terbuka, bersandar di pundaknya. Won Bin menghela napas dan berkata dalam hatinya.
    “ ...... apakah kau berpikir dengan kau bertingkah seperti ini, maka aku akan percaya bahwa kau sudah selesai dengan semua kesedihanmu? ..... dan apakah kau pikir jika kau tidur dengan posisi seperti ini, maka aku tidak akan semakin tertarik padamu? ..... apakah serigala memang harus mencintai seekor domba?”
    Pesawat sudah benar-benar mendarat dan orang-orang mulai turun dari pesawat. Saat itu barulah Ga In terbangun karena barisan orang yang melewati dirinya. Ia mengerjap ngerjapkan matanya dan baru menyadari bahwa ia tertidur selama sisa perjalanan di udara itu.
    “ Kenapa kau tidak membangunkan aku??”
    “ Aku baru saja akan membangunkanmu.”
    Ga In melihat bekas tetesan air liurnya di pundak Won Bin dan ia menatap Won Bin dengan wajah merah padam.
    “ ..... m-maaf... aku akan mencuci bajumu segera setelah kita sampai di hotel!”
    “ Tidak masalah, kurasa meludahiku adalah salah satu hak dari istri Won Bin bukan?” sahut Won Bin sambil terkekeh. Ia bangkit berdiri dan menurunkan koper koper yang diletakkan di kabin atas.
    Mereka berjalan turun dan hal pertama yang menarik perhatian mereka segera setelah mereka melewati petugas imigrasi adalah para petugas bandara yang segera mengalungkan kalung bunga layaknya yang mereka sering lihat di pulau hawai.
    “ Romantis sekali ya suasana di sini. Tidak heran banyak orang yang berbulan madu kemari.” komentar Ga In.
    “ Entahlah apakah aku harus memberimu selamat atau ikut berdukacita denganmu karena harus datang ke tempat romantis seperti ini bersamaku.”
    “ Memangnya kenapa? Tidak ada yang salah dengan itu! Aku pergi kemari dengan suamiku sendiri, jika tidak denganmu, maka dengan siapa lagi aku harus datang kemari?”
    Won Bin menatap gadis di sampingnya itu dengan sungguh-sungguh dan bertanya.
    “ Apakah kau benar sudah tidak apa-apa? .... kau tidak perlu berpura-pura di hadapanku, apakah benar waktu seminggu cukup bagimu untuk melupakan semua kesedihanmu itu?”

    Ga In menghentikan langkahnya dan balas menatap Won Bin dengan tatapan yang dalam lalu berkata.
    “ ..... terimakasih sudah mengkhawatirkanku.... jika aku terus memikirkannya, pasti aku akan sedih dan rasanya ingin menghilang dari bumi ini.... tapi kemudian kau mengingatkanku, aku sudah membohongi papa mamaku, aku sudah membohongi seisi dunia,.... dan aku sudah memilih untuk hidup bersamamu, itulah kenyataan yang aku jalani sekarang.... dan aku ingin papa mamaku bahagia, dan aku juga ingin hidup bahagia mulai sekarang.”
    “ ..... apa kau merasa bisa hidup berbahagia denganku? .... ******** itu sudah melunasi seluruh hutang-hutangnya padaku, ..... kau tahu apa artinya itu.... kau bebas untuk pergi kapanpun kau mau.” sahut Won Bin dengan gusar.
    “ ...... aku tidak akan melepaskanmu jika kau tidak melepaskankku.” jawab Ga In sambil berjalan dan menghirup udara pulau Guam sepuas puasnya.
    Won Bin menatap Ga In dari belakang dan jantungnya mulai berdetak dengan kencang. Perkataan terakhir gadis itu membuat wajahnya memerah dan itu tidak pernah terjadi padanya seumur hidup.

    ******​

    Won Bin dan Ga In mengunjungi hotel mereka dan tidak bisa meminta lebih setelah melihat ruangan hotel mereka yang benar-benar sangat bagus dan ditata dengan begitu romantis.
    “ Happy honeymoon, Mr and Mrs Won. We have prepared your honeymoon schedule and our tour guide will inform you ahead about that. Please relax and enjoy Guam.” sahut sang petugas hotel menyapa dengan sangat ramah.
    “ Thanks.” sahut Won Bin sambil duduk di ujung tempat tidur dan tersenyum puas.
    “ Mereka sudah menyiapkan acara ... bulan madu untuk kita mulai malam ini, sekarang kau boleh beristirahat dulu.”
    “ Istirahat? Aku tidak ingin membuang waktu di tengah-tengah pulau yang indah ini. Aku ingin segera jalan-jalan di pantai!!” seru Ga In sambil membuka kopernya dan mengaduk-aduk isi kopernya hingga menemukan sebuah topi lebar yang segera ia pakai.
    Won Bin asyik memperhatikan dari samping sambil tersenyum penuh arti.
    “ Aku akan menunggumu di luar ya.”
    Saat Ga In keluar dari bungalow tempatnya menginap, ia melihat Won Bin tengah asyik membidik moment dengan kameranya. Laki-laki itu tersenyum begitu lebar sambil berulang kali menjepretkan kameranya ke seluruh pemandangan di sekitarnya.
    Langkah Ga In terhenti, entah apa yang membuat hal sederhana seperti itu membuatnya seakan terhanyut perlahan.
    “ ...... kau mempunyai seorang suami yang jelas sangat... enak dilihat, Park Ga In .... dan sepertinya ia hanya tersenyum seperti itu padamu saja....” gumam Ga In.
    Won Bin melihat lewat lensa kameranya dan kameranya berhenti tertuju pada Ga In yang sedang berdiri di tangga bungalow.
    Tanpa ragu Won Bin mengabadikan beberapa gambar Ga In.
    “ Apa yang kau tunggu?” seru Won Bin dari kejauhan.
    “ Aku menunggumu mengambil gambarku!!” seru Ga In sambil berlari ke arahnya.

    “ Kurasa kau bisa beralih profesi menjadi fotografer profesional kapanpun kau mau.” celoteh Ga In sambil melihat hasil-hasil foto Won Bin.
    “ Mempunyai seorang suami dengan profesi seorang fotografer memang lebih baik dibanding menjadi seorang mafia.” sahut Won Bin sambil merenggangkan kedua tangannya ke atas.
    “ B-bukan itu maksudku. Aku tidak mengkritik pilihan profesimu sekarang, tapi menurutku hasil fotomu ini---“
    “ Aku tidak tersinggung sama sekali dengan perkataanmu, nona Park. Kau tidak perlu tegang begitu bicara padaku. Hehehehe.... sejujurnya hal itu juga sempat beberapa kali mampir di otakku.”
    “ Benarkah? ..... lalu kenapa kau tidak mengambil keputusan itu?” tanya Ga In tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
    “ ...... Meskipun hubunganku dengan papa kurang begitu baik.... aku tidak bisa meninggalkan papaku sendirian di bisnis berbahayanya ini. Kau sudah lihat kelompok mafia yang lain, rata rata mereka mempunyai beberapa orang anak yang akan meneruskan bisnis mereka, yang membuat kelompok mereka kuat. Tapi papaku hanya memiliki aku seorang. .... setelah kakakku meninggal beberapa tahun yang lalu.”
    “ Kau punya kakak?”
    “ ..... kakakku meninggal setelah terlibat perkelahian besar – besaran antar mafia di Korea. ..... entahlah, mungkin nasibnya memang buruk, atau memang dia yang memilih jalan kematian itu.”
    “ ..... Bagaimanapun.... profesimu sekarang ini memang berbahaya... apakah kematian kakakmu tidak membuatmu takut? .... aku tidak ingin kau berakhir seperti kakakmu...” gumam Ga In lirih.

    Won Bin duduk di sebuah bangku panjang yang ada tidak jauh dari sana.
    “ .... hhm... ini pertama kalinya aku memberitahukan soal rencana ini pada orang lain.... papaku belum mempercayaiku untuk menjadi penerusnya yang sah. Tapi saat papa mempercayakanku untuk mengelola semua perusahaannya, aku sudah bertekad untuk bermain bisnis legal. Di saat itu aku akan mengubah bisnis keluargaku menjadi bisnis yang legal dan taat hukum, tidak peduli selama apapun waktu yang kuperlukan untuk itu.”
    “ Apa papa tidak akan menentangnya? .... sepertinya papa sangat teguh berkecimpung di duniamu sekarang.”
    “ Entahlah... mungkin dia akan memberiku pelajaran beberapa kali, tapi aku ingin membuktikan pada papaku bahwa bisnis legal pun akan bisa membuatnya kaya raya. .... hanya saja aku tidak bisa melakukan hal itu jika papa belum mempercayakan bisnisnya padaku. Seperti yang kau tahu sampai detik ini aku hanya bertugas mengurusi para penyewa properti kami, bisa dibilang aku ini gangster kecil-kecilan dibanding bisnis keluarga kami yang besar.”
    “ ..... tentu saja papamu tidak mempercayaimu.... siapapun bisa melihat kalau hatimu baik. Sama sekali tidak cocok menjadi bos mafia besar seperti orang-orang di undangan pernikahan kita itu.”

    Won Bin tertawa keras mendengar pendapat Ga In.
    “ Kau orang pertama yang bilang kalau aku ini orang baik, nona Park.”
    “ Apa kau pikir aku sedang bercanda sekarang? Bagiku kau adalah orang yang baik dan selamanya akan selalu seperti itu!”
    “ Hahaha... maaf, meskipun kau sudah menghujaniku dengan pujian itu, aku tetap tidak bisa memujimu sebagai seorang wanita cantik.” sahut sambil bangkit berdiri dan berlari lari kecil.
    “ Won Bin!!! Aku sudah berdandan mati matian hari ini!!!” seru Ga In sambil mengejar Won Bin yang tidak akan pernah bisa ia kejar itu.

    ******​

    Agenda pertama di acara bulan madu mereka sore itu adalah mereka akan memasak menu makan malam mereka sendiri. 2 orang chef sudah ada untuk membantu mereka memasak.
    Ga In menatap pisau di tangannya serta daging sapi yang harus ia potong-potong menjadi beberapa bagian itu.
    Ia harus mengakui kalau ia adalah koki yang buruk. Jarang sekali ia memasak bahkan untuk dirinya sendiri.
    Won Bin menatapnya dari pinggir dengan ngeri melihat bagaimana tangan Ga In memegang pisau.
    “ Sebentar! .... kau akan terluka jika memegang pisau seperti itu!” seru Won Bin sedetik sebelum Ga In merelakan telunjuknya tersayat pisau.
    “ A-aku bisa kok! .... lagipula koki koki itu akan menertawaiku jika seorang wanita tidak bisa memasakkan makanan untuk suaminya!” bantah Ga In tidak mengijinkan Won Bin mengambil pisau dari tangannya.
    Won Bin menghela napas.
    “ Ternyata ini yang dinamakan wanita berkepala batu.” gerutunya sambil berdiri di belakang Ga In dan memegang tangan Ga In yang sedang memegang pisau.
    “ Rasakan bagaimana seharusnya tanganmu bergerak memotongnya, oke?”

    Ga In sedikit terkejut merasakan laki-laki jangkung itu berdiri persis di belakangnya. Ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas laki-laki yang sedang sibuk mengomelinya sekarang.
    Tanpa ia sadari, Ga In tersenyum. Ia melihat bagaimana tangan Won Bin yang kokoh itu membantunya mengendalikan pisau dengan sangat sempurna, sementara hembusan nafas laki-laki itu terus terasa di ujung telinganya.
    Won Bin masih sibuk memberikan pengarahan pada Ga In bagaimana cara memegang pisau yang baik ketika tiba-tiba Ga In menyandarkan kepalanya tepat ke dadanya. Won Bin otomatis menghentikan semua perkataannya dan untuk beberapa saat mereka terdiam seperti itu. Bahkan koki yang ada di sana pun tidak berniat mengganggu moment kebersamaan mereka dan memilih untuk membiarkan pasangan pengantin baru itu menikmati moment sederhana itu.

    “ ...... a-apa yang kau lakukan?” tanya Won Bin terbata-bata.
    “ Rasanya aman sekali.... mengetahui kau ada di belakangku dan aku bisa bersandar padamu.” gumam Ga In sambil tersenyum dan memejamkan matanya.
    “ P-Park Ga In.... aku sudah bilang padamu kan... aku tidak pernah tertarik menjadi kakakmu, jadi jangan berpikir ke sana lagi.”
    “ ...... Won Bin....”
    “ Hhm?”
    “ ...... semakin hari.... rasanya semakin mudah untuk merasa nyaman bersamamu.... dan semakin hari rasanya semakin mudah untuk belajar mencintaimu....”
    Won Bin kembali tertegun, ia tidak pernah menyangka sekalipun ia akan mendengar kalimat seperti itu dari wanita di dekapannya sekarang.
    “ .... please leave us for a moment.” sahut Won Bin meminta agar kedua koki yang ada di sana untuk keluar dan membiarkan mereka sendiri.

    Won Bin meletakkan pisau dari tangan Ga In dan memutar pundak gadis itu hingga keduanya saling berhadapan dan saling bertatapan sekarang.
    “ ...... aku tidak akan berpura-pura tidak mendengar jelas apa perkataanmu barusan.... aku hanya akan bertanya apakah kau serius dengan perkataanmu tadi?”
    Ga In terdiam beberapa saat dan kemudian mengangguk.
    “ ...... aku tidak akan melepaskanmu jika kau tidak melepaskanku....”
    “ Kau .... kau akan belajar untuk mencintaiku?” tanya Won Bin sekali lagi.
    “ ..... kurasa aku tidak bisa menghindar dari hal itu.... sepertinya tanpa kuperintahkan, hati dan pikiranku sedang belajar untuk mencintaimu.... “
    “ Saat kau belajar untuk mencintaiku, mungkin aku akan jatuh cinta lebih dulu padamu.... dan aku adalah laki-laki egois yang tidak akan pernah melepaskan gadis yang kucintai.... dan kau akan selamanya berada dalam bahaya jika kau bersama denganku.... kau tidak masalah dengan itu?”
    “ Hidupku sudah lama dalam bahaya, jika kau tidak ada di sana untuk menolongku.... bagiku kau adalah malaikat penolong.”
    Won Bin menatap Ga In untuk beberapa saat lamanya sebelum kemudian perlahan mendekatkan wajahnya dan menyapukan bibirnya dengan lembut pada bibir wanita itu. Bibir Ga In begitu lembut dan terasa manis bagi Won Bin, rasanya ia ingin memiliki gadis itu seutuhnya dan tidak pernah melepaskannya lagi.
    Ga In berdiri dengan kaku, matanya terbuka lebar karena terlalu terkejut dengan hal yang baru saja terjadi.
    Ini memang bukan ciuman pertama baginya, namun entah kenapa ciuman ini terasa seperti ciuman yang pertama, lengkap dengan seluruh debaran jantungnya yang tidak karuan.

    ******​

    Ga In keluar dari kamar mandi setelah selesai menggosok gigi dan mengganti bajunya dengan piyama kesukaannya. Wajahnya masih otomatis berubah seperti udang rebus setiap kali ia bertemu mata dengan Won Bin. Laki-laki itu sedang duduk di sofa dengan sebelah tangan bersandar pada bantal yang entah sejak kapan sudah ia pindahkan dari tempat tidur ke sofa tempatnya tidur malam hari.
    “ Aku sudah selesai menggunakan kamar mandi.” sahut Ga In sambil berpura-pura sibuk mengecek handphone-nya.
    Won Bin melirik ke arahnya seraya bangkit dari sofa.
    “ OK.” jawab Won Bin sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan santai. Laki-laki itu bersikap seolah-olah tidak ada hal khusus yang terjadi di antara mereka hari ini.
    Ga In bertanya-tanya apakah laki-laki itu sudah biasa mencium wanita hingga ia tidak merasa ada hal yang khusus terjadi hari ini.

    Won Bin keluar dari kamar mandi dan mendapati Ga In sedang berbaring di sofa sambil memindahkan channel TV di hadapannya.
    “ Kau tidak berencana untuk tidur di sofa bukan?” tanya Won Bin sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk dan menggantungkannya di sandaran kursi rias.
    “ ..... sudah berapa kali kau .... mencium seseorang?” tanya Ga In tidak sanggup lagi menyimpan rasa penasarannya. Laki-laki itu bersikap terlalu biasa dan itu sangat menganggunya.
    Won Bin terdiam sejenak, tentu saja ia bingung karena gadis itu tiba-tiba mengajukan pertanyaan seperti itu padanya.
    “ ..... kau yakin ingin mendengar jawaban dariku?” sahut Won Bin sambil tersenyum geli.
    “ ..... apakah kau sudah tidak bisa mengingatnya lagi karena terlalu sering mencium seseorang???” seru Ga In dengan kedua mata membesar.
    “ Seharusnya aku yang mengajukan pertanyaan itu padamu, bukankah kau sudah cukup lama berpacaran dengan ******** itu? ..... hhm.... berapa kali kalian berciuman selama kalian berpacaran?”
    “ I-itu... t-tentu saja k-karena kami berpacaran... k-kami p-pernah melakukan itu..... l-lalu apakah kau tidak pernah berpacaran sebelum menikah denganku?!”
    Won Bin melangkah dan duduk di samping Ga In seraya mengangkat dan meletakkan kedua kaki Ga In di atas pangkuannya. Ga In tetap dalam posisi berbaring dan rasanya keintiman ini masih cukup membuat bulu kuduk Ga In merinding.

    “ Aku terlalu sibuk mengumpulkan uang, terlalu sibuk berkelahi dan mengancam orang, sehingga aku tidak punya waktu untuk berpacaran, nona Park.” sahut Won Bin sambil menatap Ga In dengan lembut.
    Ga In terdiam sejenak, rasanya ia bersyukur untuk pertama kalinya karena Won Bin adalah seorang mafia yang terlalu sibuk untuk berpacaran.
    “ ..... jadi.... kau tidak pernah mencium seseorang..... sebelum diriku?”
    “ Hhm... meskipun aku tidak pernah berpacaran, aku pernah mencium seseorang, aku pernah mencium cinta pertamaku saat aku masih duduk di bangku 3 SMP, aku ingat saat itu dia memukulku dengan keras menggunakan penggaris papan tulis kelas.”
    Ga In tertawa geli mendengar jawaban Won Bin.
    “ Jadi, kenapa seorang Park Ga In tiba-tiba menanyakan pertanyaan sensitif seperti ini di malam hari?” tanya Won Bin sambil melirik nakal.
    “ H-hah? .... A-aku? ... a-aku hanya penasaran saja.”
    Won Bin tiba-tiba berdiri dan mengangkat Ga In dengan begitu mudahnya seolah-olah ia sedang mengangkat sebuah guling dan memindahkan Ga In ke tempat tidur.
    “ Karena aku sudah menjawab pertanyaanmu, sekarang waktunya kau tidur. Besok kita akan melakukan aktifitas outdoor seharian dan kau butuh banyak cadangan energi.”
    “ ..... kau akan tidur di sofa? Aku tidak keberatan sekali kali bertukar tempat tidur denganmu. Aku juga bisa tidur di sofa.”
    “ Selamat malam, Ga In.” jawab Won Bin sambil menarik selimut dan menyelimuti Ga In sesakan-akan gadis itu adalah anak kecil yang tidak bisa menyelimuti dirinya sendiri.

    Ga In berbaring menghadap ke arah sofa dan menghabiskan waktu sebelum ia tertidur dengan menatap Won Bin yang sedang berbaring di sofa. Entah sejak kapan, bahkan bayangan laki-laki itu sedang berbaring saja sanggup membuat Ga In tersenyum sendiri dalam gelap.
    “ Park Ga In... kau sudah 28 tahun dan kurasa tingkah seperti anak SMA yang sedang kasmaran ini sama sekali tidak cocok denganmu. .... apa kau ingin laki-laki itu kembali mentertawai tingkahmu??”
    Malam itu Ga In tidur dengan nyenyak dan bahkan ia sempat bermimpi indah. Sudah lama ia tidak merasakan malam senikmat itu.

    ******​

    Keesokan harinya Ga In terbangun karena sinar matahari yang menusuk matanya. Bungalow tempatnya menginap memang dikelilingi oleh kaca yang membuatnya bisa langsung menatap lautan di hadapannya dan sekaligus mengijinkan sinar matahari masuk tanpa permisi lebih dulu.
    Ga In bangun dengan rambut berantakan dan tidak menemukan Won Bin di sofanya, laki-laki itu pun tidak ada di kamar mandi.
    “ ..... ke mana dia? Sama sekali tidak memberitahuku sebelumnya.” gerutu Ga In sambil turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke pintu bungalow dan membukanya. Suara deburan ombak dan angin pantai segera menyambutnya. Hanya orang gila yang tidak otomatis tersenyum disambut oleh kedua hal indah tersebut.

    Ga In menebar pandangannya ke pantai indah di hadapan matanya ketika ia menemukan Won Bin sedang berolahraga di sana. Laki-laki itu sudah mengenakan celana dan sepatu olahraga dan sekarang sedang lari pagi di sepanjang pantai ..... dengan bertelanjang dada.
    Ga In memperhatikan dari jauh dengan tatapan tidak percaya. Laki-laki itu bertingkah seakan-akan ia tidak menyadari bahwa ia adalah makhluk yang menarik. Tidak aneh jika beberapa orang turis bule wanita menghampirinya dan mengajaknya ngobrol. Siapa yang tidak ingin berbicara dengan laki-laki six pack yang berkeringat di pagi hari?

    “ Hai, where are you from?” sapa salah seorang turis yang juga sedang lari pagi.
    “ Hai, I’m from Korean.” jawab Won Bin dengan singkat. Nafasnya terengah engah setelah berlari cukup jauh hari ini.
    “ You have a nice body.” sahut turis tersebut tampaknya tidak berniat segera mengakhiri pembicaraan di antara mereka.
    “ .... thanks.” jawab Won Bin semakin singkat.
    “ You came here alone?” tanya turis itu, jelas sedang berusaha untuk menggodanya.
    Baru saja Won Bin hendak menyelesaikan pembicaraan di antara mereka, seseorang berteriak memanggil namanya.
    “ WON BIN!!!”
    Won Bin menoleh dan melihat Ga In dengan rambut berantakan khas dirinya saat bangun tidur sedang berlari dengan nafas terengah-engah menuju ke arahnya lengkap dengan piyama tidurnya.
    Gadis itu seperti baru saja dikejar anjing gila hingga membuat Won Bin bingung.
    “ Ada apa?? Terjadi sesuatu di kamar?” tanya Won Bin bingung melihat Ga In terburu-buru berlari bahkan tanpa melihat bagaimana penampilannya sekarang.
    “ ..... Ho...Ho-Honey! Where did you go?? .... I’m looking for you!!” seru Ga In menggunakan kemampuan bahasa Inggrisnya yang pas-pasan itu.
    Won Bin berdiri menatap Ga In dan mengerti apa yang terjadi pada gadis itu. Sontak ia tertawa dengan kencang dibuatnya.

    Ga In melirik Won Bin dengan sinis. Beraninya laki-laki itu mentertawainya di depan turis wanita itu. Namun Won Bin tidak berhenti sampai mentertawainya saja, ia merangkul Ga In dan berkata pada turis wanita itu dengan menahan tawa di wajahnya.
    “ Let me introduce my easy jealous wife.” sahutnya pada turis wanita yang langsung tersenyum kecut dan melanjutkan olahraga lari paginya.
    Won Bin melirik Ga In yang masih memasang tampang masam.
    “ Kalau aku tahu kau senang lari pagi, maka aku akan mengajakmu ikut lari pagi denganku tadi.” sahutnya berbasa basi.
    “ Apakah kau harus lari pagi dengan .... dengan begitu menarik seperti ini?! .... aku sama sekali tidak menyalahkan turis wanita itu jika ia tiba-tiba mengajakmu bicara! Semua mata wanita di sepanjang pantai Guam ini melihatmu tanpa berkedip!!” seru Ga In kesal.
    “ Nona Park,.... kau... kau benar-benar sedang cemburu padaku?” tanya Won Bin sambil tersenyum tidak percaya.
    “ Po-Pokoknya pakai jaket trainingmu saat ingin lari pagi!!” seru Ga In sambil membalikkan badan dan berjalan kembali menuju bungalow.

    Won Bin mengikuti Ga In beberapa langkah di belakangnya dan berseru.
    “ Aku juga tidak senang melihatmu keluar kamar dengan tampang baru bangunmu itu, lengkap dengan piyama favoritmu dan membiarkan orang-orang melihatmu!!” seru Won Bin dari belakang.
    Ga In menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang sambil mengerutkan alisnya.
    “ .... apakah kau sedang ..... malu karena tampangku sekarang...???”
    “ Memang hanya kau yang boleh bersikap posesif padaku? Aku juga tidak senang jika orang lain melihat wajah cantikmu di pagi hari dan hanya aku yang boleh melihatmu mengenakan piyama itu!”
    Ga In bengong dan wajahnya benar-benar lucu saat itu hingga Won Bin tidak bisa berpura-pura marah lebih lama lagi.
    “ Kau selalu cantik setiap kali kau baru bangun tidur. Apakah aku tidak pernah mengatakan ini padamu sebelumnya?”
    Ga In menggelengkan kepalanya, tetap dengan wajah bengong seperti orang bodoh. Won Bin tersenyum dan merangkul Ga In hingga mereka berjalan beriringan.
    “ Kau benar-benar sudah tertangkap, Park Ga In. Mulai sekarang aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu lagi. Kau akan terpenjara hidup bersamaku.” sahut Won Bin dengan lembut, membuat senyuman mengembang di wajah Ga In.
    “ Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menikmati masa-masa tahananku, Tuan muda.” jawab Ga In sambil tersenyum lebar.

    ******​

    Hubungan antara Ga In dan Won Bin berubah drastis semenjak mereka kembali dari liburan singkat mereka ke Pulau Guam. Bahkan anak buah Won Bin pun saling bertanya-tanya satu sama lain kenapa sikap keduanya menjadi begitu berbeda sekarang. Tidak jarang mereka bahkan mendengar suara tawa keras dari kamar Won Bin di malam hari. Dan jelas mood tuan muda mereka sangat-sangat baik akhir-akhir ini.
    Dan akhir-akhir ini mereka sering mendapat penugasan yang tidak wajar. Misalnya saja hari ini, beberapa orang anak buah Won Bin ditugaskan untuk muncul di acara kantor Ga In dan membantu Ga In menurunkan box-box makanan dari dalam truk pengantar makanan.

    Hari ini adalah hari libur dan kantor Ga In memanfaatkannya untuk acara kebersamaan karyawan. Ga In memang tidak jadi dipecat meskipun ia memaksa untuk menggunakan jatah cutinya tanpa seijin atasannya, itu karena pihak kantornya sulit menemukan pengganti Ga In dalam waktu singkat, sedangkan pekerjaan di kantor tidak dapat ditangguhkan begitu saja.
    Meskipun begitu Ga In tidak otomatis menjadi karyawan yang di’inginkan’ di sana. Tetap saja ia harus menjadi karyawan junior yang statusnya seringkali dimanfaatkan oleh para seniornya di kantor. Termasuk hari ini.
    Ga In bertugas mengurusi konsumsi seluruh karyawan yang ikut dalam acara kebersamaan hari ini.
    Setelah menceritakan hal itu pada Won Bin, laki-laki itu memberikan ide brilliant pada Ga In.
    Saat waktu makan siang, beberapa anak buah Won Bin, lengkap dengan pakaian serba hitam dan wajah sangar mereka tiba-tiba datang ke kantor sambil mengantarkan box-box makanan dan bahkan membagikannya satu per satu kepada karyawan yang ada di sana, membuat semua karyawan menatap Ga In dengan tatapan yang berbeda di akhir acara kebersamaan hari itu.

    Won Bin tergelak saat mendengar cerita lengkap dari Ga In mengenai apa yang terjadi di kantornya hari itu.
    “ Lalu saat mereka bertanya padamu, apa jawabanmu pada mereka?” tanyanya dengan mata berair.
    “ Aku bilang saja dengan wajah sedatar mungkin, OOO, KALIAN TIDAK PERLU TAKUT, MEREKA HANYA ANAK BUAH SUAMIKU YANG BIASA MEMBANTU SUAMIKU BEKERJA.”
    Won Bin kembali tertawa dengan geli, membayangkan bagaimana saat Ga In mengatakan kalimat itu pada rekan-rekan kantornya dengan penuh kepuasan.
    “ Kau lihat, bahkan anak buahmu itu mengerikan saat mengantarkan box makanan!” sahut Ga In sambil tertawa geli.
    “ Kuharap orang-orang di kantormu berhenti mengganggu dan menyuruh-nyuruhmu lagi mulai sekarang. .... hhm, jika mereka tidak berhenti, kurasa aku akan sering mengirimkan anak buahku untuk membantumu, tidak masalah.”
    “ Hahaha... aku tidak ingin senior-senior itu mendapat serangan jantung karena terlalu sering didatangi anak buahmu di kantor, jadi tidak, terimakasih.”
    Suasana hangat di kamar Won Bin terputus saat pintu kamar diketuk dari luar.
    Won Bin membuka pintu dan anak buahnya menyampaikan bahwa papanya sedang ada di rumah dan memanggilnya untuk segera menemuinya sekarang.

    Won Bin menutup pintu dan tatapannya berubah menjadi serius.
    “ Ada apa?” tanya Ga In.
    “ ..... papa ada di rumah, ia ingin bertemu denganku.”
    “ Ooo... temui papamu, sudah lama ia tidak bertemu denganmu, pasti ia rindu padamu.” sahut Ga In sambil tersenyum.
    “ Papaku hanya memanggilku saat ada hal yang penting... untuknya. Dan biasanya hal yang penting untuknya adalah hal yang kurang mengenakan bagiku.”
    “ Jangan berpikir negatif dulu, siapa tahu papamu hanya kangen ingin melihat anak semata wayangnya.” sahut Ga In sambil tersenyum dengan lebar, membuat won Bin tidak punya pilihan lain selain ikut tersenyum juga.

    *****​


    Won Bin menatap papanya dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
    “ ..... papa ingin melakukan apa?”
    “ Mereka yang lebih dulu mencari gara-gara dengan kita. Mafia Hongkong itu melanggar batas kesepakatan pembagian daerah dan ingin menguasai Je Ju!!”
    “ Pa! Mereka adalah mafia internasional dan kita tidak bisa saja mendatangi mereka di Hongkong dan membunuh mereka satu per satu!!” seru Won Bin kesal.
    “ Jika kita tidak melakukan itu, mereka yang akan datang ke Korea dan membunuh kita lebih dulu! Apa kau ingin itu terjadi?!! Papa sudah bertemu dengan Bos Han dan juga Bos Kim, mereka bersedia untuk bergabung dengan kita. Kekuatan kita akan cukup untuk memberi pelajaran pada mafia Hongkong itu!”
    “ Kita bisa berjaga-jaga di Jeju, jika kita menempatkan banyak anak buah di sana maka mereka juga tidak akan berani macam-macam dengan kita! Tapi jika kita datang ke sana dan membantai orang-orang mereka, maka mereka punya alasan untuk mencari gara-gara pada klan kita!!”
    “ Mereka memandang sebelah mata pada kita karena kita tampak seperti macan yang tidak punya taring! Mafia Korea terlalu taat hukum dan bahkan berkatmu aku sudah lama tidak bermain dalam bisnis narkotik! Mereka jelas menganggap kita ini hanya butiran debu yang tidak berarti!!” sergah papanya dengan nada semakin tinggi.
    “ Terserah jika papa dan Bos Han juga Bos Kim ingin melakukan hal gila itu, tapi aku tidak akan ikut campur! Sudah kubilang bukan? Aku tidak ingin selamanya keluarga kit bermain dalam bisnis kotor ini! Aku akan membuktikan pada papa bahwa kita masih bisa kaya raya tanpa melakukan bisnis kotor seperti ini, Pa!”
    “ Kau pikir kau bisa mundur dari semua ini? Kau pikir mereka bisa mengerti jika kau bilang bahwa kau tidak ikut campur terhadap hal ini? Kau adalah putra dan penerusku satu-satunya! Meskipun kau tidak menginginkannya, kau sudah terlibat dalam hal ini!”

    *****​

    Malam itu Ga In tidak dapat memejamkan matanya karena Won Bin belum juga kembali ke kamarnya. Sudah 3 jam lebih ia berbicara dengan papanya, entah apa yang mereka bicarakan hingga membutuhkan waktu selama ini untuk mengobrol.
    Ga In menatap sofa yang biasa menjadi tempat laki-laki itu berbaring. Rasanya aneh tidak melihatnya di sana saat ia hendak memejamkan mata. Ga In menatap langit-langit kamar dalam gelap dan entah kapan ia akhirnya tertidur.

    Ga In tidak terbangun saat pintu kamarnya terbuka dan Won Bin masuk ke dalam dengan langkahnya yang berat. Ia tidak menyalakan lampu dan hanya duduk di sofa sambil memandangi sosok Ga In yang sudah terlelap.
    “ ..... apa yang harus kulakukan untuk memastikan tidak akan terjadi apapun terhadapmu?” gumamnya dalam gelap.
    Won Bin menghela napas panjang. Ia sadar bahwa situasi sekarang adalah situasi yang sangat gawat dan berbahaya bagi siapapun yang ada di rumah ini dan siapapun yang memiliki hubungan dengannya.
    Ia pernah melihat bagaimana saat kakaknya terlibat perkelahian antara kelompok mafia dan itu adalah hal paling mengerikan yang pernah ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Mereka sudah tidak menganggap satu sama lain sebagai manusia dan benar-benar bersikap selayaknya binatang. Saling membunuh dan saling melenyapkan.
    Dan dalam waktu dekat hal itu akan terjadi lagi di hidupnya

    ******​


    Ga In terbangun karena ia merasakan ada sesuatu yang lembut yang tengah membelai wajahnya. Ia membuka matanya perlahan dan menatap Won Bin yang tengah duduk di sampingnya.
    Ia selalu merasa damai tiap kali memandang laki-laki itu.
    “ .... selamat pagi.” sapanya dengan suara yang masih serak.
    “ ..... selamat pagi. ..... maaf, aku membangunkanmu.”
    “ Kau dan papamu mengobrol sangat lama semalam. Tidak ada masalah bukan?”
    “ Apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu....”
    “ ..... apakah ada hal yang harus kuketahui? ..... kau tidak akan menyembunyikan sesuatu dariku bukan?”
    “ Aku ingin meminta maaf padamu, Ga In.”
    “ ..... kenapa tiba-tiba kau mengucapkan kata-kata itu....?”
    “ ..... aku merasa terlalu egois dengan perasaanku terhadapmu ..... saat kau memutuskan untuk tidak pergi meninggalkanku, aku langsung berpikir untuk memilikimu seutuhnya.... saat kau memutuskan untuk belajar mencintaiku, aku langsung berpikir untuk memenjarakanmu di sisiku selamanya....”
    “ Jangan berkata seolah-olah aku menjalani itu dengan menyedihkan.... kau tahu bagaimana perasaanku bukan? Aku selalu merasa bersyukur atas apa yang terjadi pada kita berdua....”
    “ Aku bukan laki-laki yang pantas kau cintai.... dan kau tidak perlu menderita dengan hidup bersamaku, Ga In.”

    Ga In mengerutkan alisnya dan menegakkan badannya. Ia tidak pernah mendengar Won Bin berbicara senegatif itu sebelumnya dan itu membuatnya kuatir.
    “ Apa yang papamu bicarakan semalam? ..... ceritakan padaku sekarang.”
    “ Bangun dan bersiap-siaplah, .... aku akan menceritakannya padamu setelah kau bersiap-siap.”

    Ga In bersiap-siap secepat yang ia bisa. Ia benar-benar gusar dan perasaannya tidak tenang setiap kali ia melirik Won Bin yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan.
    Setelah beres mandi dan mengganti baju, Ga In duduk berhadapan dengan Won Bin dan menatap laki-laki itu dengan serius.
    “ Ceritakan padaku semuanya.”
    Won Bin mengulurkan sebuah map pada Ga In. Ga In menerima map itu dan membuka isinya. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang ia lihat di dalam map tersebut. Dokumen Perceraian.
    “ .... apa-apaan ini?”
    “ Itu adalah dokumen yang sudah kusiapkan bahkan sebelum kita berdua menikah.... dokumen itu sengaja kusiapkan agar aku tidak terlalu tenggelam dengan pernikahan ini.... aku tidak ingin lupa bahwa sejak awal seharusnya kita berdua tidak menikah.”
    “ Won Bin!! Aku benar-benar akan marah padamu jika kau terus bersikap seperti ini!!”
    “ .... aku sudah menandatangani dokumen itu... kau hanya perlu menandatanganinya dan aku akan menyerahkannya ke kantor pencatatan sipil.... dan kita berdua akan resmi bercerai.”
    Ga In melemparkan dokumen itu ke lantai dengan kesal.
    “ Aku tidak akan pernah mau bercerai denganmu!!! Titik!!!” serunya meledak ledak.

    “ ..... jika kau tidak bercerai dariku maka nyawamu akan dalam bahaya!!! .... dan aku tidak akan pernah mengijinkanmu dalam bahaya karena diriku.... itu tidak akan pernah terjadi!”
    “ ..... apa maksudmu? .... ceritakan semuanya padaku.... aku berhak mengetahuinya!!”
    “ ...... sebentar lagi akan ada pertarungan besar antara mafia Korea dengan mafia Hongkong.... perebutan wilayah Je Ju menjadi alasannya, namun pertarungan ini tidak akan selesai dengan mudah.... kami akan bertarung hingga tetes darah penghabisan....”
    Ga In tertegun mendengar cerita yang meluncur keluar dari mulut Won Bin. Tangannya bergetar dan bulu kuduknya meremang saat membayangkan apa yang akan terjadi pada laki-laki itu selanjutnya.
    “ K-Kau tidak perlu terlibat dalam hal mengerikan ini!! .... bukankah kau tidak ingin menjadi mafia? ... bukankah kau ingin berbisnis secara legal?? .... k-kau tidak perlu membahayakan dirimu dalam hal ini!!”
    Won Bin memegang kedua pundak Ga In dan berusaha menenangkan gadis yang mulai histeris itu.
    “ ...... Aku yakin bisa melindungi diriku sendiri dan tetap hidup.... kau tidak perlu kuatir, aku akan tetap hidup. .... tapi aku tidak bisa menaruhmu dalam bahaya karena statusmu sebagai istriku.... aku akan membunuh diriku sendiri jika sesuatu terjadi padamu.... kumohon, lakukan perceraian ini untukku, oke?”
    Ga In menatap Won Bin dengan matanya yang sudah penuh dengan air mata.
    “ ..... aku tidak ingin kehilanganmu ..... aku tidak bisa kehilangan dirimu....” sahutnya sambil terisak.
    Won Bin menarik Ga In ke dalam pelukannya dan memeluk gadis itu dengan erat.
    “ ..... aku juga tidak ingin kehilanganmu.... setelah semua ini berakhir, aku akan kembali padamu.... tunggu aku sebentar, oke? ..... sebentar saja.....”
    “ ...... jaga dirimu.... jika sesuatu terjadi padamu... siapa yang akan melindungiku lagi, bodoh?” tanya Ga In dengan lirih.
    “ Aku tidak akan mati... aku akan menghabiskan hidupku untuk melindungimu.... “
    Won Bin mencium kening Ga In lama sekali sebelum akhirnya anak buahnya terpaksa memotong kebersamaan menyakitkan itu.

    “ Tuan muda, mobil untuk mengantar nyonya sudah siap.”
    Won Bin mengangguk dan menatap Ga In dengan mata yang juga berkaca-kaca.
    “ ..... anak buahku akan membawamu ke tempat persembunyian... kau akan tinggal di sana sampai semua ini selesai... kau harus berjanji untuk menjaga dirimu sendiri sebaik-baiknya... mengerti?”
    Ga In mengangguk dan kemudian kembali memeluk laki-laki di hadapannya itu sambil menumpahkan tangisannya ke pundak laki-laki itu.
    “ ..... kau harus kembali mencariku.... oke?”
    “ Aku berjanji akan mencarimu kembali. .... sebelum pergi tanda tanganilah dokumen perceraian itu.... kita berdua harus benar-benar bercerai agar mereka tidak mengganggumu lagi... selama kau masih memiliki hubungan denganku, maka mereka akan berusaha untuk melukaimu.”
    Ga In menatap dokumen perceraian itu dan hatinya bagaikan dihujam pisau berkali-kali.
     
  8. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    My Love is a Gangster

    Chapter - 6 -

    Will It Have a Happy Ending ?




    1 hari berlalu, seminggu berlalu, hingga akhirnya sebulan berlalu sejak hari terakhir Ga In melihat wajah Won Bin.
    Ia tinggal di sebuah villa di Daegu, jauh dari Seoul. Villa itu dipenuhi oleh anak buah Won Bin yang berjaga-jaga siang dan malam. Namun tidak ada satupun dari mereka yang bisa memberitahu Ga In apa yang sedang terjadi pada Won Bin sekarang.
    Laki-laki itu bagaikan lenyap tertelan bumi dan Ga In menjalani detik demi detik kehidupannya di sana dengan berat hati. Ia takut tiba-tiba ia mendapatkan berita bahwa ada hal buruk yang menimpa Won Bin.

    “ Nyonya, anda harus mengisi perut anda.... kami akan dimarahi jika tuan muda tahu kalau anda makan sedikit setiap hari.” sahut salah seorang anak buah Won Bin yang kuatir melihat kondisi istri tuan mudanya itu.
    “ ..... Ia menugaskan semua anak buah kepercayaannya untuk berjaga-jaga di sini.... apakah hanya anak buah barunya yang ikut dengannya sekarang? ..... bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?”
    Anak buah Won Bin hanya bisa menghela napas. Won Bin memang meminta semua anak buah kepercayaannya untuk menjaga Ga In seakan tidak peduli nasibnya sendiri.
    “ Selama aku bekerja untuk tuan muda, aku tidak pernah melihat ia dikalahkan oleh siapapun, nyonya. Kemampuan bela diri tuan muda sangat luar biasa ..... nyonya tidak perlu kuatir padanya, bahkan tanpa kami pun ia akan dapat mengatasi semuanya seorang diri.”
    “ Aku tidak berharap ia bisa mengatasi semuanya.... aku hanya berharap ia bisa menjaga dirinya dengan baik dan segera kembali mencariku....”

    *******​


    Won Bin baru saja kembali dari Hongkong setelah pertarungan berdarah yang harus ia lakukan dengan mafia-mafia Hongkong itu. Ia hanya mengincar bos mafia Hongkong itu dan tidak berniat untuk menghabisi nyawanya. Ia hanya ingin memberinya pelajaran dan memaksanya menandatangani kesepakatan pembagian wilayah yang akan mencegah hal seperti ini terjadi lagi nanti.
    Namun ia terpaksa kembali ke Korea setelah ia mendengar kabar kalau papanya berhasil menangkap putri sang bos mafia dan sedang menyekapnya sekarang.

    Won Bin membuka pintu ruang kerja papanya dan melihat sang putri bos mafia Hongkong yang sedang duduk dengan posisi terikat di sana.
    “ Lepaskan dia, Pa!” seru Won Bin sambil berjalan menghampiri gadis itu dan ingin segera melepaskan ikatannya, namun anak buah papanya mencegah dan menahan tubuhnya.
    “ Apa kau sudah gila?! Kenapa kita harus melepaskan tangkapan bagus ini?!!” seru papanya kesal.
    “ Papa sudah gila!! Sudah kubilang biar aku yang mengurus semua ini!! .... aku akan membuat Zhao Lao Ban menandatangani perjanjian kesepakatan pembagian wilayah itu!! .... aku sudah membunuh banyak anak buahnya di sana dan ia tidak akan menganggap perkataanku omong kosong belaka!”
    “ Kalau kau ingin memberantas rumput liar, maka kau harus memberantas sampai ke akarnya... itu adalah aturan sederhana dalam dunia kita, apakah kau masih tidak mengerti juga??”
    “ Zhao Lao Ban tidak akan tinggal diam... dan akhirnya pertarungan ini bukan mengenai pulau Je Ju lagi!!” seru Won Bin berteriak frustasi,
    “ Aku ingin mereka semua paham bahwa mafia Korea masih punya taring, dan mereka tidak bisa macam-macam dengan kita.” sahut papanya sambil mengeluarkan pistol dari sakunya dan menembak mati gadis yang sesungguhnya tidak memiliki kaitan apapun dengan masalah mafia ini.

    Won Bin terjatuh ke lantai dan memandangi gadis di hadapannya yang langsung terkulai tidak sadarkan diri sementara papanya dan seluruh anak buahnya pergi dari ruangan itu tanpa menoleh sedikitpun.
    Won Bin menatap gadis di hadapannya itu dan setelah beberapa menit tidak bergerak, tiba-tiba gadis itu merintih. Buru-buru Won Bin menghampirinya dan melihat peluru itu jelas bersarang di dada kirinya. Jika gadis ini tidak langsung meninggal, maka peluru itu tidak mengenai jantungnya, atau hanya nyaris mengenai jantungnya.
    “ You can hold it? .... I will save you... I will bring you out of here... but you have to hold it!” sahut Won Bin berbicara sejelas mungkin pada gadis yang baru berusia 20 tahunan itu.
    Gadis itu memejamkan matanya dan mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan sakit luar biasa yang tengah ia rasakan sekarang.

    Won Bin mengintip keluar ruangan, rumahnya masih dipenuhi oleh anak buah papanya yang jelas tidak akan meninggalkan rumah itu sebelum pertarungan ini selesai. Won Bin memutar otaknya bagaimana caranya untuk mengeluarkan gadis itu dari ruangan itu sebelum ia mati karena kehabisan darah di sana.
    Ia membuka pintu dan meminta beberapa anak buah untuk mendekatinya.
    “ Ada apa, tuan muda?”
    “ Ruangan papaku sudah penuh dengan darah dan sebentar lagi ruangan itu akan dipenuhi oleh bau bangkai. Apakah kalian hanya akan berdiri seperti orang bodoh di sini? Cepat bawa kantong plastik dan buang mayat itu ke sungai!!!”
    “ B-Baik, tuan muda!!”

    *******​

    Ga In sedang duduk di teras villa sambil memandangi salju yang mulai turun. Ia tidak pernah mengira bahwa ia akan begitu merindukan wajah laki-laki yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
    “ .... Park Ga In.... jangan-jangan masa belajarmu untuk mencintainya sudah selesai dan kau sudah benar-benar jatuh cinta padanya.... kalau tidak, mengapa hatimu begitu sakit karena tidak bisa melihatnya...?” gumamnya pada diri sendiri.
    Lamunan Ga In buyar ketika ia mendengar suara tembakan beberapa kali berdentum di dalam villa. Ia langsung menunduk dan memegang kursi dengan jarinya yang bergetar hebat. Ia ketakutan menghadapi hal seperti ini untuk pertama kalinya.
    Tidak butuh waktu lama sebelum perkelahian antar anak buah yang menjaga Ga In dan beberapa orang tidak dikenal yang memaksa waktu itu berlangsung di hampir seluruh penjuru rumah.
    Ga In hanya bisa menjerit setiap kali ia melihat ada orang yang terjatuh dan langsung meninggal di hadapannya. Darah mengalir di mana-mana dan jelas ini jauh lebih mengerikan dari film manapun yang pernah ia tonton.

    “ Nyonya! Kita harus pergi segera dari tempat ini!” seru salah seorang anak buah Won Bin yang menghampirinya dan berniat membawa Ga In masuk ke dalam mobil. Ga In mengangguk dan mengikuti langkah anak buah Won Bin yang berjalan sampai menembakkan beberapa tembakan pada orang-orang yang berusaha menghalangi langkahnya.
    Mereka baru sampai di anak tangga terakhir sebelum mereka bisa berlari ke arah mobil yang diparkir di depan villa ketika beberapa tembakan dilepaskan dan mengenai anak buah kepercayaan Won Bin itu.
    Ga In berteriak saat melihat kurang lebih 3 peluru mengenai dada laki-laki yang sedang berusaha menyelamatkannya itu.
    “ Yong Chan!! Kau tidak apa-apa??” seru Ga In sambil berusaha tidak terganggu dengan darah yang mengalir deras dari setiap luka di tubuh laki-laki itu.
    “ N-Nyonya.... m-maafkan aku tidak ... bisa melindungimu...” sahutnya berkata dengan terbata-bata dan tidak lama kemudian langsung menghembuskan napas terakhirnya.
    “ Yong Chan!!!!” seru Ga In histeris. Ia berusaha membangunkan kembali laki-laki itu namun ia tidak punya banyak waktu untuk itu karena kedua tangannya ditarik oleh pria-pria tidak dikenal itu dan ia merasa tengkuknya dipukul dengan benda keras dari belakang hingga ia tidak sadarkan diri.

    ******​

    Won Bin berhasil mengeluarkan anak perempuan mafia Hongkong itu dengan berpura-pura akan membuang mayat itu dengan tangannya sendiri. Ia mengajak beberapa anak buahnya dan membawa gadis yang sudah dimasukkan ke dalam kantung plastik hitam itu pergi dari rumahnya.
    Won Bin tidak dapat membawa gadis itu ke rumah sakit dan membuat ia dikenakan pertanyaan atas luka tembak yang dialami gadis itu. Won Bin tidak punya pilihan lain selain membawanya ke salah satu tempat sewa yang sedang kosong.
    Ia memerintahkan anak buahnya untuk membeli beberapa botol alkohol dan semua peralatan yang ia butuhkan untuk berusaha menyelamatkan gadis itu. Ia tidak pernah pergi ke rumah sakit setiap kali terluka dan ia berharap pengalamannya itu dapat ia terapkan untuk menyelamatkan gadis malang itu.

    “ Are you okay? Hold on for a moment... it will be alright soon.” bisik Won Bin di telinga gadis itu. Gadis itu membuka matanya dan mengangguk. Ia tidak punya pilihan lain selain mempercayai musuh papanya itu.
    Won Bin mencuci tangannya dengan 1 botol alkohol dan meminta anak buahnya untuk merebus semua pisau dan gunting yang sudah ia bawa dari rumah sebelumnya.
    “ I don’t have any anesthetic so you have to hold on by yourself.... It will hurt, but if I don’t pull out the bullet out of your body, you’ll die.” sahut Won Bin sambil memakai pisau untuk membuat lubang yang lebih besar di sekitar tempat peluru bersarang dan ia mencabut keluar peluru itu diiringi dengan jeritan histeris gadis itu yang segera pingsan tidak sadarkan diri.
    “ .... setidaknya peluru itu tidak mengenai jantungnya....” gumam Won Bin sambil menghela napas panjang. Ia menjahit bekas luka dan berharap pendarahan gadis itu akan segera berhenti sebentar lagi.
    “ Beli tabung infus atau apapun itu yang bisa membuatnya segar.... dia tidak boleh mati di tangan keluarga kita.”
    “ Baik, tuan muda!”

    Handphone Won Bin berbunyi. Ia sudah berniat tidak akan mengangkat apabila itu adalah telepon dari papanya, namun ia terkejut melihat nomor telepon anak buahnya yang ia tugaskan untuk berjaga di villa.
    “ Halo?? Kenapa kau meneleponku?!”
    “ Tuan Muda, baru saja nyonya diculik oleh anak buah Zhao Lao Ban! Mereka membawa puluhan dan terjadi perkelahian di sini... banyak orang kita yang meninggal, termasuk Yong Chan yang hendak membawa nyonya kabur....”
    “ ..... mereka tidak membunuh Ga In bukan?”
    “ Mereka membawa nyonya hidup-hidup.”
    Won Bin menutup teleponnya dan segera melihat putri Zhao Lao Ban yang masih terbaring tidak sadarkan diri itu.
    Ia mengguncang-guncangkan badan gadis itu dan berteriak-teriak seperti orang gila.
    “ BANGUN!!! KAU HARUS BANGUN DAN BILANG PADA PAPAMU BAHWA KAU MASIH HIDUP!!! ..... jika tidak mereka akan membunuh Ga In-ku.....” serunya sambil menangis. Ini pertama kalinya ia begitu takut seseorang terluka karena dirinya. Dan ia tidak bisa membayangkan hal itu terjadi pada satu satunya wanita yang ia cintai.

    ******​

    Won Bin tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia meninggalkan putri mafia Hongkong yang masih belum sadarkan diri itu dan terbang ke Hongkong seorang diri. Seluruh anak buahnya sudah mencegahnya dan beberapa dari mereka segera memberitahu papa Won Bin, namun Won Bin tidak peduli lagi. Ia tidak akan membuang waktu di Korea sementara hidup Ga In terancam setiap menitnya di tangan para mafia sadis itu.

    Won Bin sampai ke markas besar mafia Hongkong itu dan beberapa anak buah mereka tampaknya tidak terlalu terkejut dengan kehadirannya.
    “ Zhao Lao Ban is waiting for you.”
    Mereka menarik Won Bin dan mendorongnya dengan kasar untuk terus melangkah masuk ke dalam gedung tua yang sudah lama menjadi tempat persembunyian mafia Hongkong itu dari kepungan polisi, khususnya saat sedang terjadi perkelahian antara anggota geng seperti sekarang.

    Won Bin akhirnya bertemu dengan Zhao Lao Ban. Jelas pria paruh baya itu menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.
    “ HOW DARE YOU KILL MY GUYS AND MY GIRL!!!!” serunya sambil melemparkan sebuah pemukul baseball hingga persis mengenai dahi Won Bin. Won Bin tetap berdiri dengan tegak sementara darah segara mulai mengalir di wajahnya.
    “ ..... Where is my wife? .... Let her go... She has nothing to do with this...”
    “ My girl also has nothing to do with this but you kill her!!!!”
    “ She didn’t die!! I save her!!!”
    “ Bullshit! Your father shot her and she died! And now you think I will release your wife just because you spread another bullshit like that?!!”
    Zhao Lao Ban memberikan perintah pada anak buahnya untuk memukuli Won Bin dan Won Bin tidak berusaha untuk melawan sama sekali. Ia akan melakukan apapun yang diperlukan agar bos mafia itu melepaskan Ga In. Apapun itu, termasuk nyawanya sendiri apabila itu perlu.

    Ga In terbangun dengan kepala yang masih terasa pusing karena pukulan yang ia terima. Ia sempat sadar saat ia naik pesawat bersama dengan beberapa laki-laki yang jelas sedang berusaha untuk menculiknya itu. Kepalanya kembali dipukul hingga ia tidak sadarkan diri sesaat setelah ia mendarat di bandara.
    Dan sekarang Ga In terbangun dan tidak tahu di mana ia berada.
    Salah seorang pria bertubuh tegap memberikan segelas air padanya.
    “ Drink it, you have a lot to do today.”
    “ ..... why are you doing this to me...? why...?” tanya Ga In.
    “ You are Won Bin’s wife, right? Today both of you will die in our hands.”
    “ ..... Won...Won Bin? .... dia ada di sini? Di mana dia?! Jangan lukai dia!!” seru Ga In panik mendengar nama Won Bin disebut.
    Namun laki-laki itu malah menamparnya keras keras dengan telapak tangannya yang besar itu.
    “ Stop blabbering!!” serunya pada Ga In.

    “ He’s coming.” sahut salah seorang pria yang masuk ke dalam ruangan tempat Ga In disekap.
    Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia kembali dipaksa untuk berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu.
    Ga In berjalan menyusuri lorong-lorong sebuah gedung tua, bulu kuduknya merinding membayangkan apa saja yang dapat terjadi di tempat terasing tanpa kehidupan seperti ini.
    Ia terus berjalan dengan langkah lunglai mengikuti beberapa orang penjaga yang berjalan di depannya dan juga mengikutinya dari belakang.
    Langkahnya membawanya sampai ke sebuah aula dengan atap yang sudah bocor. Aula itu remang-remang karena hanya dibantu oleh beberapa lampu gantung di sana.
    Namun ia tidak perlu begitu banyak sinar untuk mengenai sosok laki-laki yang sedang dipukuli di hadapannya.
    “ .... W-Won Bin...? Won Bin!!!” serunya histeris melihat hampir 10 orang laki-laki bertubuh tinggi besar sedang memukul dan membanting Won Bin ke lantai. Beberapa orang dari mereka menggunakan pemukul dari kayu untuk memukuli tubuh suaminya itu dan beberapa yang lain menginjak dan menahan agar ia tetap terkapar di lantai.

    Won Bin membuka matanya saat mendengar suara yang sudah sangat ia rindukan memanggil namanya.
    Zhao Lao Ban memerintahkan anak buahnya untuk berhenti menghajarnya, memberikan kesempatan untuk Won Bin berdiri dan menatap Ga In dengan seksama. Ia baru bisa bernafas lega melihat gadis itu masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.
    “ ...... kau tidak apa-apa? Apa mereka melukaimu?” tanya Won Bin.
    Ga In hanya menggelengkan kepala dan tidak sanggup mengatakan apapun karena tubuhnya bergetar menahan air mata di pelupuk matanya.
    Ini adalah ketakutan terbesarnya, melihat Won Bin tidak berdaya dan sosok pria itu sekarang benar-benar tidak berdaya. Wajah dan tubuhnya penuh dengan darah serta luka lebam.
    “ ..... sebentar lagi kita akan kembali ke Korea.... sebentar lagi...” sahut Won Bin.

    Zhao Lao Ban mendengus sinis.
    “ Do you think I will let your wife live? ... after you kill the most important person in my life??!!!” serunya sambil memberikan tanda pada anak buahnya yang langsung menjambak rambut Ga In kuat-kuat dan mengeluarkan pisau serta meletakkannya persis di leher Ga In.
    “ ZHAO LAO BAN!!!! YOUR DAUGHTER IS ALIVE!! HOW MANY TIMES DO I HAVE TO TELL YOU?!!!” seru Won Bin histeris bercampur panik membayangkan pisau tajam itu memutus urat leher Ga In.
    “ ..... you already threw my daughter’s body in the Han River.... do you think I don’t know about that? .... I will let you know my suffering, how it feels to loose someone you care the most! And let your father know, don’t mess with me anymore.”
    Zhao Lao Ban memberikan tanda dengan tangannya lagi pada anak buahnya. Tanda yang berarti perintah untuk menghabisi nyawa Ga In secepatnya.
    Dengan cepat Won Bin memelintir lengan salah satu anak buah Zhao Lao Ban yang ada di sisinya dan mengambil pistol dari sakunya.
    Ia mengarahkan pistol itu persis pada Zhao Lao Ban.
    “ ..... don’t test me.... I will kill you if you kill her.” sahut Won Bin dengan suaranya yang rendah dan berbahaya.
    “ Do you think I care about my life after I loose my daughter? .... and do you think you can run alive if you kill me?” tanya Zhao Lao Ban sambil menyeringai seperti harimau yang terluka.
    “ ..... do you think I still care about my life if I loose my wife? ..... just kill her, and I will kill you, .... and your gang will help you to kill me....”

    Ga In hampir melupakan pisau di pangkal lehernya karena terlalu ngeri melihat apa yang sedang dilakukan Won Bin saat ini.
    “ .... Won Bin! .... jangan cari gara-gara lagi dengannya.... dia adalah orang berbahaya yang tidak akan segan-segan membunuhmu!!!” seru Ga In histeris.
    “ ..... maafkan aku ..... kau harus membayar harga yang begitu mahal untuk menjadi wanita yang kucintai.... aku akan membayar semua hutang-hutangku padamu, baik di kehidupan ini maupun di kehidupan yang berikutnya ....”
    “ Jangan katakan hal bodoh seperti itu!!! ..... apapun yang terjadi padaku kau harus meneruskan hidupmu!! Itulah cara terbaik untuk membayar hutangmu padaku!! .... atau aku akan membencimu selamanya....”
    Won Bin menghapus air mata yang mengalir turun di pipinya, ia tetap mengarahkan pistol di tangannya pada jantung Zhao Lao Ban sambil menggigit bibir, berusaha agar tidak menangis lebih mengenaskan lagi di hadapan Ga In.
    “ ..... aku tidak bisa hidup jika kau tidak hidup .... aku sudah bilang padamu bukan.... jika sesuatu terjadi padamu karena aku... maka aku akan ikut pergi bersamamu.” jawab Won Bin dengan tegas.

    Won Bin menatap Ga In serta pisau yang perlahan mulai meninggalkan segaris luka di tepi lehernya, diikuti oleh darah yang mengalir dari garis luka itu.
    Tiba-tiba sebuah tembakan pistol dilepaskan. Itu bukan pistol di tangan Won Bin, tapi dari seseorang yang baru saja masuk ke dalam gudang.
    Zhao Lao Ban langsung memberi isyarat untuk berhenti pada anak buahnya dan terpaku pada seseorang yang baru saja berjalan masuk ke dalam gudang.
    Ia melihat anak gadisnya datang bersama dengan anak buah Won Bin yang membantunya untuk berjalan. Anak gadisnya benar-benar masih hidup. Walaupun wajahnya tampak pucat dan lemah, tapi anak perempuan satu-satunya masih hidup dan sekarang berdiri di hadapannya.
    “ .... Pa, stop it .... He’s my saviour... if he wasn’t help me, I’ll be dead now...” sahut anak gadis Zhao Lao Ban itu dengan derai air mata di wajahnya.
    Zhao Lao Ban berlari ke arah anak perempuannya dan memeluknya dengan erat, ia mendapatkan hidupnya kembali setelah mendapati anak perempuannya masih hidup.

    Won Bin segera menjatuhkan pistolnya ke tanah dan berlari menghampiri Ga In, meskipun Zhao Lao Ban sudah memberi isyarat pada anak buahnya untuk berhenti, ternyata pisau itu sudah cukup dalam melukai pangkal leher Ga In.
    Darah tidak henti-hentinya mengalir keluar dari sana.
    “ Aku akan segera membawamu ke rumah sakit. Mereka akan menyelamatkanmu.” sahut Won Bin sambil menekan luka di leher Ga In dengan kedua jarinya, berharap itu cukup untuk menghentikan pendarahan di leher Ga In.
    Ga In perlahan mulai kehilangan kesadarannya, namun ia bisa bernapas lega karena sekarang ia berada di dalam pelukan orang yang sangat ia cintai.
    “ ...... Jika .... jika aku tidak sempat untuk bangun kembali dan mengatakan ini padamu... aku ingin kau mendengarnya sekarang...” sahutnya dengan nada lirih.
    “ Kau tidak akan apa-apa... kau akan bangun dan menganggap semua ini sebagai mimpi burukmu...” sahut Won Bin sambil memeluk Ga In sambil menggigit bibir bawahnya.
    “ ..... aku mencintaimu, ..... aku mencintaimu hingga maut memisahkan, ..... jika sesuatu terjadi padaku, ingatlah bahwa aku hanya mencintaimu hingga maut memisahkan kita, kau harus tetap melanjutkan hidupmu dan mencari cinta yang baru dan mencintainya hingga maut memisahkan.”
    “ ...... aku tidak akan pernah mencintai orang lain selain dirimu .... sampai maut memisahkan.”

    ******​

    Berkat bantuan dan koneksi yang dimiliki oleh Zhao Lao Ban, Ga In bisa segera dirawat di rumah sakit tanpa melibatkan kecurigaan pihak kepolisian.
    Zhao Lao Ban meminta maaf sekaligus berterimakasih pada Won Bin atas apa yang sudah ia lakukan pada putrinya. Ia berjanji untuk tidak pernah mengganggu hal yang berhubungan dengan Won Bin serta keluarganya lagi dan selamanya akan menjadi pihak sekutunya.
    Namun bagi Won Bin hal itu sama sekali tidak penting. Ia tidak peduli lagi dengan apapun selama Ga In belum sadarkan diri.
    Sudah 3 hari Ga In tidak sadarkan diri. Dokter mengatakan bahwa selain luka parah di pembuluh darah sekitar lehernya, Ga In pun mengalami gegar otak ringan akibat benda tumpul. Dan tidak ada yang bisa menjelaskan mengapa gadis itu masih belum sadarkan diri hingga sekarang.
    Won Bin tidak pernah beranjak dari sisi Ga In. Ia menghabiskan siang dan malam di ruangan rumah sakit. Ia tidak bergeming saat papanya datang dan berusaha untuk mengajaknya bicara. Ia tidak peduli lagi pada bisnis keluarganya, ia tidak peduli lagi pada harapan papanya. Ia hanya ingin Ga In membuka matanya, agar ia bisa membayar semua hutangnya pada gadis malang itu.

    Malam itu Won Bin masih belum beranjak dari tempat duduk samping Ga In.
    Ia menggenggam tangan gadis itu dan meremasnya dengan lembut.
    “ ..... apa kau akan terus menghukumku seperti ini? .... apa kau sama sekali tidak akan memberikan kesempatan padaku untuk menjadi suami yang sesungguhnya untukmu? .... kau baru mengatakan kau mencintaiku 1 kali dan kau tidak ingin mengatakannya lagi padaku? ..... kau bilang aku ini sadis? Kau yang lebih sadis, nona Park....”
    Won Bin meletakkan lengan Ga In di pipinya dan air mata tidak dapat ia tahan lagi.
    Won Bin menangis sekeras yang ia bisa, ia tidak peduli jika ada orang di luar ruangan yang mendengarnya. Ia tidak peduli jika ada orang yang menganggapnya gila, karena memang ia nyaris gila sekarang.
    Namun di sela-sela tangisannya, ia mendengar suara Ga In.
    “ ..... kau ini berisik sekali....”
    Won Bin segera menghapus air mata yang menghalangi penglihatannya dan menatap Ga In baik-baik.
    Ga In masih memejamkan matanya, namun bibirnya tersenyum dengan lemah.
    “ .... Ga In... kau sudah sadar??”
    Ga In berusaha untuk membuka matanya yang terasa sangat berat itu. Ia butuh tenaga luar biasa untuk dapat membuka matanya dan memandang laki-laki di hadapannya itu.
    “ ..... aku bisa bermimpi buruk jika kau terus menerus menangisiku seperti itu....”
    Won Bin memeluk Ga In sekuat yang ia bisa namun Ga In tiba-tiba terbatuk-batuk.
    “ Ah, maaf! Aku lupa lukamu...”
    Ga In menatap Won Bin dan kembali tersenyum.
    “ ..... aku ingin cepat pulih dan kembali ke Korea .... aku ingin bertemu dengan papa dan mamaku... dan aku harus mengurus hal yang penting di Korea.”
    “ Hal penting? .... apa yang harus kau urus di Korea?”
    “ Pernikahan kita.... kau sudah mendaftarkan dokumen perceraian itu... dan aku ingin kita segera menikah lagi sesaat setelah kita tiba di Korea.”
    Won Bin mengangguk dan mengecup kening Ga In selama yang ia bisa.

    ******​

    3 Months Later


    Won Bin sudah berada di dapur rumahnya selama kurang lebih 7 jam. Setelah gagal 4 kali, akhirnya ia dapat membuat kue yang kini sedang sibuk ia hias.
    Banyak hal yang terjadi setelah peristiwa menakutkan di Hongkong.
    Sesaat setelah mereka kembali ke Korea, Won Bin menyatakan untuk mundur dari perusahaan papanya dan ingin membuka usaha pemotretan sendiri. Selain itu ia pun membeli sebuah apartemen yang akan ia tempati bersama Ga In setelah mereka berdua menikah kembali.
    Ia dan Ga In pun kembali ke Busan untuk menemui kedua orang tua Ga In, berterus terang mengenai semua hal yang sudah terjadi, hal yang sebenarnya. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkan maaf dari kedua mertuanya itu, dan butuh waktu yang lebih lama lagi untuk membuat mereka kembali merestui rencana Won Bin dan Ga In untuk menikah.
    Ga In dan Won Bin memang sudah setuju untuk menikah segera setelah luka Ga In pulih seutuhnya. Ga In memulihkan diri di rumah orang tuanya dan baru seminggu terakhir ini ia kembali ke Seoul.

    Hari ini Won Bin sudah merencanakan sebagai hari bersejarah untuk mereka berdua. Ia akan melamar Ga In, sesuatu yang tidak sempat ia lakukan saat mereka menikah pertama kali, dan sangat ia sesali sekarang.
    Ia membuat kue pertama kalinya dan meskipun hasilnya tidak sempurna, tapi ia cukup puas dengan kue ke lima nya.
    Ia mengoleskan krim pada permukaan kue dengan sangat berhati-hati.
    “ Ckckck... ternyata selain untuk membunuh orang, pisau juga dapat digunakan untuk hal penting seperti ini.” gumamnya bicara pada diri sendiri.

    ******​

    Park Ga In menunggu di taman sesuai dengan arahan yang diberikan Won Bin untuk menunggunya di sana. Karena pemulihan lukanya butuh waktu yang tidak sebentar, Ga In belum sempat melihat gallery sekaligus lokasi usaha fotografi Won Bin yang baru. Dan hari ini ia sudah berjanji untuk melihatnya.
    Ia sudah menelepon Won Bin untuk memberitahu dirinya sudah sampai di taman, namun laki-laki itu belum muncul juga sampai sekarang. Salju mulai turun perlahan menghiasi langit musim dingin yang sebentar lagi akan berakhir.
    “ Apakah nona sedang menunggu seseorang?” sahut sebuah suara di belakangnya.
    Ga In menoleh dan tersenyum lebar melihat wajah yang hampir 1 bulan terakhir tidak dilihatnya itu.
    Ia nyaris kehilangan kata-katanya karena Won Bin muncul sambil menyodorkan kue.
    “ .... kue apa ini?”
    “ Kue buatanku sendiri. Hahahaha... aku tidak tahu bagaimana rasanya, tapi setidaknya penampilannya tidak terlalu buruk bukan?”
    Ga In menatap Won Bin dengan tatapan anak SMA yang tergila-gila pada cinta pertamanya.

    Won Bin membuka pintu kantornya yang baru saja buka pekan lalu. Ia tidak bisa mendapatkan banyak uang sebanyak yang ia dapatkan selama ia bekerja di bawah papanya, tapi setidaknya ia bekerja sesuai dengan passion dan ia bisa hidup dalam damai mulai sekarang.
    Ia tidak bisa terus hidup dan melihat Ga In masuk dalam situasi berbahaya seperti kejadian terakhir lagi. Tidak akan pernah.
    Ga In melangkahkan kaki masuk ke dalam sebuah kantor minimalis yang didominasi warna putih. Ia melangkah sambil menatap dinding kantor yang dihiasi wajahnya. Benar-benar wajahnya dari ujung ke ujung.

    “ Bagaimana kau bisa berharap ada orang yang menginginkan jasa fotomu jika kau hanya memajang wajahku saja di dinding?” sahut Ga In masih terkagum-kagum.
    “ Selama aku berkeliling dan mengabadikan moment, kau memang adalah obyek foto yang paling menarik.”
    “ Ckckck... siapa yang mengira kalau orang melankolis romantis sepertimu ini adalah seorang ma---“
    “ Mantan mafia. Aku sudah berhenti dari pekerjaan itu oke?” sahut Won Bin sambil meletakkan kue buatannya di atas meja dan memberikan pisau pada Ga In.
    “ Kau tidak ingin mencicipi kue buatanku?”
    “ Aku berjanji bahwa apapun rasanya, aku akan menghabiskan kuemu ini.” sahut Ga In sambil tersenyum lebar.
    Ga In memotong kue itu dan membaginya menjadi 2 persis di tengah-tengah. Dan ia sempat tertegun sejenak kecil pisau di tangannya menyentuh sebuah benda logam keras.
    “ ..... kau .... kau melakukan ini?” tanya Ga In terbata-bata. Pandangannya bergantian pada Won Bin dan pada cincin logam di hadapannya.
    Won Bin mengambil cincin dari tengah-tengah kue itu, mengambil tissue dan membersihkannya kemudian menarik tangan kanan Ga In.
    “ Aku belum pernah melamarmu sebagai seorang laki-laki, dan kau tidak tahu betapa menyesalnya aku karena itu.”
    “ ..... k-kau tidak perlu melakukan ini... “ sahut Ga In sambil menahan butir-butir air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
    “ Kau pantas mengalami semua hal indah seperti wanita pada umumnya, apalagi kau menerima cinta yang luar biasa dari seseorang yang tidak pada umumnya.”
    Won Bin memakaikan cincin itu di jari manis Ga In dan mencium air mata di pipi gadis itu sebelum akhirnya mencium bibir wanita yang paling ia cintai itu dengan lembut.
    “ Menikahlah sekali lagi denganmu.... aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi untuk alasan apapun sekarang.”
    “ Kau yakin tidak akan menemukan wanita yang lebih baik dariku? Kau yakin tidak akan jatuh cinta pada gadis selain diriku sampai nanti?” sahut Ga In menanyakan pertanyaan basa basi.
    “ Aku pasti akan menemukan wanita yang lebih cantik darimu,... hhm aku juga pasti akan menemukan wanita yang lebih baik darimu, selain itu aku pasti akan menemukan wanita yang jauh lebih feminim darimu, tapi sepertinya mustahil jika aku mencintai orang lain selain dirimu.”
    Ga In tersenyum malu-malu menanggapi perkataan gombal pertama yang keluar dari bibir mantan mafia itu.

    ******​

    10 Years Later

    Ga In duduk sambil menutupi matanya dengan kedua tangannya, melindunginya dari sengatan matahari. Sudah lama ia tidak keluar rumah di siang hari seperti ini. Biasanya ia menghabiskan waktunya di studio, menerima orang-orang yang ingin Won Bin menangani moment-moment penting dalam hidup mereka dan mengabadikannya menjadi sebuah foto.
    Namun hari ini berbeda, hari ini adalah pertama kalinya putrinya akan mempersembahkan sebuah pertunjukkan dalam salah satu sessi pagelaran seni sekolahnya.
    Ga In menoleh ke kiri dan ke kanan, para tamu undangan yang mayoritas adalah orang tua murid sudah memenuhi tempat duduk yang disediakan, namun Won Bin belum muncul hingga sekarang padahal acara akan dimulai sebentar lagi.
    Lagu pembuka acara sudah berkumandang, Ga In memakai kacamata hitamnya agar tetap bisa menonton acara dengan nyaman meskipun di bawah sengatan cahaya matahari. Acara dimulai dengan persembahan tari-tarian dari beberapa murid dan juga pembacaan puisi. Won Bin belum juga terlihat. Ga In mulai gelisah menelepon dan mengirim pesan pada suaminya itu. Tidak biasanya ia terlambat pada acara penting seperti ini.
    Perhatian Ga In pada ponselnya terganggu saat orang-orang di sekitarnya mulai berkasak kusuk.
    “ Siapa pria tampan itu?”
    “ Sepertinya ia salah satu orang tua murid di sini.”
    “ Jangan bercanda! Aku lebih percaya jika pria seperti itu belum menikah dan masih melajang!”
    Ga In menoleh ke panggung, ke arah sosok yang membuat orang-orang itu sibuk membicarakannya.
    Ia menatap suaminya yang sekarang sedang berdiri di atas panggung, berdiri menghadap sebuah microphone lebih tepatnya.
    Di samping Won Bin berdiri dengan manis putri semata wayang mereka yang sedang melambaikan tangannya pada Ga In.
    “ Hhm... maaf aku dan putriku menginterupsi jalannya acara pagelaran seni pada hari ini. Hanya saja acara ini bertepatan dengan tanggal peringatan pernikahanku dan istriku di tahun yang ke-10 dan hari ini terlalu spesial untuk kulewatkan begitu saja.”
    Ga In mengangkat kedua alisnya sambil menunggu apa yang akan dilakukan Won Bin dan putri mereka di atas panggung itu selanjutnya.
    Won Bin menggendong putri semata wayangnya ke pangkuannya dengan mudah dan sebuah musik mulai mengalun dengan lembut. Ga In hanya bisa tersenyum dengan mata berkaca-kaca ketika 2 orang paling penting di hidupnya mulai bernyanyi. Suara putrinya benar-benar terdengar seperti suara malaikat, sementara suara Won Bin yang parau benar-benar terdengar dipaksakan. Walaupun begitu Ga In tetap tidak bisa menahan air matanya.
    10 tahun yang ia lalui memang bukan 10 tahun yang sempurna tanpa air mata, namun setiap hari terasa begitu indah dan nyata karena ia menghabiskannya dengan laki-laki yang begitu mencintainya dan putri yang begitu ia cintai.

    “ Itu suamimu? Dia benar-benar ayah dari anakmu?” bisik salah seorang orang tua murid yang duduk di samping Ga In tidak bisa membendung rasa penasarannya.
    Ga In mengangguk dan menjawab dengan lugas.
    “Hhm... suamiku terlalu mencintaiku, dan rasanya ia akan terus seperti itu hingga ia benar-benar tua nanti.... oya, ia sudah berumur 42 tahun sekarang, ia tidak semuda yang kau kira, walaupun wajahnya memang terlihat seperti laki-laki berusia 32 tahun... laki-laki yang kukenal 10 tahun yang lalu.”

    “ AKU MENCINTAIMU, PARK GA IN!” seru Won Bin lantang dari microphone.
    “ AKU MENCINTAIMU, MAMA!” seru putrinya selanjutnya.
    Ga In berdiri dan menghapus air mata di pipinya sambil berteriak sekeras yang ia bisa.
    “ AKU MENCINTAI KALIAN BERDUA!!”

    ****** THE END *****
     
  9. polaybear Members

    Offline

    Joined:
    Oct 16, 2009
    Messages:
    3
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +0 / -0
    Cerita bagus banget...
     
  10. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    Always You

    Chapter - 1 -


    Aku tidak pernah percaya pada sesuatu yang dinamakan cinta pertama. Bagiku itu adalah faktor hormon dan mimpi di siang bolong yang dicampur menjadi satu.
    Cinta? Bagiku cinta adalah hal yang logis. Sama seperti matematika, cinta juga selalu memiliki dasar dan alasan yang masuk akal.
    Cinta? Cinta itu pilihan, yang berarti seseorang bisa memilih untuk mencintai atau tidak mencintai pasangannya.
    Dan bagiku, hingga detik ini cinta masih bukan merupakan pilihan hidupku.
    Oya, namaku Kim Soo Hyun. Hingga saat ini aku menjalani kehidupan yang tenang dan sempurna sebagai seorang lulusan terbaik Universitas Seoul.

    Kim Soo Hyun keluar dari rumahnya dan tidak lupa memasukkan koran ke dalam tasnya dan mengunci rumahnya sebelum berangkat ke kantor barunya.
    Hari ini adalah hari pertamanya bekerja dan ia tidak akan membiarkan apapun merusak kesakralan hari ini.
    Baru saja ia akan masuk ke dalam mobilnya, sebuah teriakan dari arah belakang terdengar ditujukan untuknya.
    “ KIM SOO HYUN!! Tunggu aku!!!”
    Soo Hyun menghela napas. Hanya ada 1 orang yang bisa berteriak seperti itu di pagi hari yang damai seperti ini, JEON JI HYUN.
    “ Kau telat bangun lagi?” sahut Soo Hyun sambil melirik sinis pada wanita yang sudah ia lihat sejak hari pertama ia bisa melihat dunia ini.
    Jeon Ji Hyun menganggukkan kepalanya, tampangnya sama berantakan dengan hari-harinya selama ini. Gadis itu tengah menggigit sepotong roti dengan kedua tangan yang sibuk membawa maket dan melihat penampilannya, Soo Hyun tidak yakin gadis itu sempat untuk mandi.
    “ Kau tunggu apa lagi?? Cepat buka pintunya!!” seru Ji Hyun tidak sabar.
    Dengan berat hati, Soo Hyun membukakan pintu mobilnya dan tanpa permisi gadis itu langsung menyerbu masuk.
    .... 2 jam kuhabiskan untuk membersihkan mobil ini kemarin dan gadis ini tiba-tiba masuk dan membuatnya kotor dalam waktu 2 menit saja!” gerutu Soo Hyun dalam hati.

    Soo Hyun menutup pintu mobilnya dan memanaskan mesin.
    “ Apa yang harus kau lakukan sepagi ini? Kukira hanya karyawan baru yang diharuskan datang sepagi ini ke kantor.”
    “ O ya, hari ini adalah hari pertamamu bekerja ya? Aku akan berbaik hati mengantarkanmu ke HRD nanti.” sahut Ji Hyun sambil tersenyum lebar.
    Senyuman itu seakan kembali mengingatkan bahwa Soo Hyun akan bekerja di tempat yang sama dengan tetangganya itu. Dan sejauh ini, itu bukanlah kenyataan yang baik.
    “ Kau ada presentasi hari ini?” sahut Soo Hyun sambil melirik dengan penasaran pada maket yang berada di pangkuan Ji Hyun.
    “ Yup. Team Leader di department kami memang tergila-gila dengan target dan pencapaian. Ia tidak bisa membiarkanku bernapas setiap harinya!! Sialan!” gerutu Ji Hyun.

    *******​

    Jeon Ji Hyun. Gadis itu adalah tetangga yang sudah dikenalnya sejak hari pertama ia dilahirkan. Kedua orang tua mereka bersahabat baik dan sepakat untuk membeli tempat tinggal berdekatan. Meskipun gadis itu 3 tahun lebih tua daripada dirinya, tapi Kim Soo Hyun tidak pernah bisa memanggil gadis itu dengan sebutan yang sopan, mungkin karena ia sudah terlalu terbiasa dengan gadis itu. Atau mungkin karena tingkah gadis itu yang sama sekali tidak bisa membuatnya memandang dengan tatapan segan dan hormat.

    Cinta? Tentu saja seorang gadis harus jatuh cinta pada seorang pria yang tepat. Bisa dibilang kehidupan seorang gadis baru bisa dibilang sempurna jika ia bisa bertemu dengan seseorang yang tepat.
    Seperti apa seseorang yang tepat itu? Seseorang yang mapan, mapan, dan mapan. Hhm... mungkin akan lebih baik jika orang mapan itu mempunyai tampang yang enak dilihat dan bisa dibanggakan pada semua orang.
    Terlepas dari mimpinya yang sempurna, iaharus menjalani kehidupan yang pahit dan keras di sebuah perusahaan kontraktor yang tidak mengijinkannya bernapas dengan lega bahkan di akhir pekan! Entah kapan diabisa bertemu orang yang tepat itu!

    *****​

    Kim Soo Hyun duduk berhadapan dengan Yoo Ji Sub, General Manager di tempatnya bekerja. Pria itu pasti masih di pertengahan usia 30 tahun sekarang. Tidak ada kerutan berarti di wajahnya, dan untuk seseorang yang masih muda seperti itu, bisa duduk di kursi dengan jabatan General Manager adalah hal yang patut dibanggakan.

    “ Kudengar banyak sekali perusahaan yang menawarkan pekerjaan padamu, aku senang sekali kau memutuskan untuk bergabung dengan kami. Aku akan memastikan kau tidak akan menyesalinya.”
    “ Aku juga yakin akan bisa mendapatkan pengalaman bekerja yang maksimal dan berharga di sini, Pak.” sahut Soo Hyun dengan nada se-profesional mungkin.
    “ Kau akan ditempatkan di department kebanggaan kami. Planning & Desain Department. Seperti yang kau tahu, perusahaan kita sedang berusaha untuk menyediakan jasa dari hulu ke hilir. Mulai dari perencanaan dan desain hingga pada proses pembangunan dan perwujudan dari desain tersebut. Kami sangat membutuhkan ide-ide segar dari anak muda sepertimu. Sesuai dengan moto perusahaan kita, FRESH & ELEGANT.”
    “ Aku mengerti, Pak. Aku akan berusaha semaksimal mungkin.”

    Dalam waktu singkat Soo Hyun sudah diantar ke departement tempatnya bekerja.
    Kim Soo Hyun duduk di bangku dan meja yang khusus disiapkan untuknya. Setelah menebarkan pandangan ke seluruh ruangan, ia baru sadar bahwa sekarang ia ada di tengah-tengah peperangan.
    Planning & Desain Department adalah medan perang dengan semua orang yang sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak menyadari kehadiran orang baru seperti dirinya.
    Ia menyalakan komputer di hadapannya sambil menunggu manager departmentnya meletakkan telepon. Ia harus melapor pada sang manager di ruangannya, tapi yang bersangkutan terlihat sangat sibuk menelepon sekarang.

    “ Selamat pagi, kau orang baru ya?” sapa sebuah suara yang hangat dari samping Soo Hyun.
    Soo Hyun menoleh dan tersenyum sopan. Ia lega karena ada orang yang menyadari kehadirannya juga di tengah-tengah suasana kerja yang begitu sibuk itu.
    “ Salam kenal, namaku Kim Soo Hyun, ini hari pertamaku bekerja.”
    Gadis itu mengulurkan tangannya dan menyalami Soo Hyun dengan ramah.
    “ Hai, namaku Yoo Sun Mi, aku juga baru sebulan bekerja di sini. Tidak perlu pedulikan orang-orang ini, mereka baru berubah menjadi manusia biasa di jam makan siang nanti.”
    “ Ah, ya... aku mengerti. Kurasa orang-orang sangat rajin bekerja ya di sini.”
    “ Hahahaha... ini semua karena finalisasi seleksi project tahunan yang akan diadakan minggu depan, makana mereka semua bekerja mati-matian seperti sekarang. Top management di perusahaan ini sangat tergila-gila dengan inovasi, kau harus tahu itu.”
    “ Ooo.. kau juga pasti sangat sibuk ya sekarang.”
    “ Aku? Tentu saja tidak, inovasi diwajibkan untuk karyawan yang sudah bekerja di atas 1 tahun. Untuk kita para karyawan baru, saat-saat seperti ini adalah saat di mana kita harus menebalkan telinga dan hati, terutama saat orang-orang mulai sensitif dan berteriak-teriak pada kita.”
    “ Bagaimanapun senang berkenalan denganmu. Kukira aku adalah satu-satunya orang baru di sini.” sahut Soo Hyun lega.

    *****​

    Hari ini Soo Hyun pulang tepat waktu. Belum ada banyak yang perlu ia kerjakan di kantor. Atasannya masih sibuk dengan project inovasi mereka masing-masing dan tidak ada waktu untuk memberinya pekerjaan. Ia akan menganggap ini sebagai fur time yang diberinya untuknya.
    Ia keluar dari mobilnya dan ia melihat ke arah rumah yang bersebelahan dengan rumahnya. Rumah itu masih gelap gulita, sang empunya rumah pasti belum kembali dari kantor.
    Sesuai dengan pengamatannya selama ini, Jeon Ji Hyun memang jarang pulang cepat, setiap hari gadis itu pasti baru sampai di rumah di atas jam 8. Dan setiap hari itu pun ia terpaksa harus masuk ke rumah orang dan menyalakan lampu depan rumahnya.

    Ia dan Ji Hyun memang saling memegang kunci rumah masing-masing. Sebagai tetangga yang sudah lama saling mengenal, tidak ada hal yang tidak bisa mereka lakukan.
    Apalagi setelah kedua orang tua mereka sudah tidak ada, otomatis keduanya hanya bisa saling menggantungkan diri satu sama lain.
    Kedua orang tua Soo Hyun berada di Amerika sekarang, menikmati masa pensiun bersama dengan kakak tertuanya yang mendapatkan pekerjaan di sana. Sementara kedua orang tua Ji Hyun meninggal pada kecelakaan mobil beberapa tahun silam.

    Soo Hyun menyalakan lampu teras rumah Ji Hyun dan juga lampu di ruang tengah serta ruang makan. Gadis itu sangat membenci gelap.
    Ia menyempatkan diri untuk melihat kondisi rumah yang lebih mirip kandang kuda dibanding rumah tempat tinggal manusia, gadis itu memang benar-benar tidak seperti wanita yang seharusnya!
    “ Apa sih susahnya mencuci semua piring bekas ia makan??” gerutu Soo Hyun sambil mengenakan sarung tangan dan mencuci tumpukan piring kotor di dapur.
    Setelah selesai mencuci semua piring, ia memaksakan diri untuk menyalakan vaccum cleaner dan membersihkan lantai yang entah kapan terakhir kali disapu dan di-pel itu.
    “ Jeon Ji Hyun, kau harus memberikanku hadiah ulang tahun yang mahal tahun ini! Entah apa hutangku padamu hingga aku harus melakukan hal seperti ini di rumahmu!” gerutu Soo Hyun.

    ******​

    Ji Hyun turun dari taksi dengan langkah yang terhuyung-huyung. Nasibnya yang ditempatkan di Marketing Department mengharuskannya untuk banyak berhubungan dengan calon client atau pihak yang akan memberikan pekerjaan dan keuntungan pada perusahaannya.
    Selain melakukan presentasi pada sejumlah client, terkadang ia pun tidak bisa terhindar dari kewajibannya yang lain seperti menemani client makan seperti hari ini. Dan tentu saja menemani client makan tidak akan menghindarkannya dari alkohol.
    Dan dengan kemampuan minumnya yang 0 besar, 2 gelas alkohol sudah nyaris membuatnya tidak sadarkan diri sekarang.

    Dan entah apakah itu adalah kebetulan atau kebiasaan, tapi setiap kali ia mabuk, maka Ji Hyun selalu mengetuk pintu rumah tetangganya.
    Setelah menekan bel beberapa kali, Soo Hyun sudah berdiri di depan pintu sambil memandang gadis di hadapannya itu dengan sinis.
    “ Kau mabuk lagi? Kenapa kau selalu minum di saat kau tidak bisa minum??” seru Soo Hyun mulai mengomel.
    “ Ahhh.... kau pikir aku minum dengan sukarela?! Jika bukan karena Pak Park yang memaksaku .... ah, minggir, aku haus sekali.” sahut Ji Hyun sambil berusaha untuk mendorong Soo Hyun dan masuk ke dalam rumahnya.
    Soo Hyun menghalanginya dan mencubit pipi gadis itu keras-keras.
    “ Aaah!!!” seru Ji Hyun kesakitan.
    “ Kau sudah sadar sekarang? Kalau kau haus kenapa kau malah masuk ke rumahku? Masuk ke rumahmu dan minum sebanyak yang kau mau!”
    “ Tentu saja di saat seperti ini aku harus minum air madu.... aku tidak punya air madu di rumahku....” sahut Ji Hyun sambil memasang tampang memelas.

    Kim Soo Hyun tidak tahu apalagi yang harus ia gerutukan. Ia hanya mengaduk air madu di hadapannya sambil tidak berhenti menatap sinis pada gadis yang tengah duduk dengan santai di sofa miliknya dengan kedua kaki yang terangkat.
    Saat sekolah dulu, setiap kali Ji Hyun mendapat nilai ulangan jelek, pasti ia datang ke rumahnya untuk menghindari amukan mamanya. Saat kuliah dulu, setiap kali Ji Hyun patah hati, pasti ia datang ke rumahnya untuk menangis dan membasahi seluruh permukaan bantalnya.
    Dan setelah ia bekerja, setiap kali Ji Hyun mabuk, pasti ia datang ke rumahnya dengan berbagai macam alasan.

    “ Ini, cepat minum dan pulanglah. Sudah malam begini, seorang gadis malah bersantai-santai di rumah seorang laki-laki!”
    “ Kau ini cerewet sekali sih, benar-benar persis seperti mamaku. Apa salah kalau aku datang mengunjungi tetanggaku?” sahut Ji Hyun sambil menyeruput air madu di hadapannya.
    “ Kau itu bukan mengunjungi tetangga, kau itu merepotkan tetanggamu.”
    Ji Hyun mencibir. Kemudian gadis itu melirik ke arah Soo Hyun dan menggeser tempat duduknya mendekat.
    “ Soo Hyun.”
    “ Kenapa memanggilku seperti itu? Perasaanku langsung tidak enak tiap kali kau memanggilku begitu.”
    “ Bagaimana jika kita panggil orang untuk melubangi tembok itu? Bukankah akan sangat menyenangkan jika kita tidak perlu lewat pintu depan jika ingin datang berkunjung? Dulu orang tua kita ingin melakukan itu pada rumah kita bukan?”
    “ Kau selalu mengucapkan ide gila yang sama setiap kali kau mabuk. Bukankah sudah kubilang berkali-kali aku tidak mau? Melihat betapa berantakannya rumahmu hanya membuat bulu kudukku berdiri.”
    “ Kau datang ke rumahku hari ini?”
    “ Kau pikir siapa yang menyalakan semua lampu rumahmu itu jika bukan aku? Lebih baik kau beli lampu yang otomatis menyala jika hari sudah gelap.”
    Ji Hyun menghela napas, ia memejamkan matanya sambil berkata dengan lirih.
    “ Entah apa yang harus kulakukan jika kau tidak ada...”

    *****​

    Kim Soo Hyun menoleh perlahan ke arah gadis yang sudah sepenuhnya tidak sadarkan diri sekarang.
    Gadis itu memang pasti tertidur setelah minum air madu dan meracau seperti itu. Entah kenapa Soo Hyun masih memberikan air madu itu padanya.
    Cukup lama Soo Hyun memandangi gadis yang tengah berbaring di sofanya itu. Gadis itu memang bukan gadis biasa baginya, mungkin karena ia sudah mengenal gadis itu sepanjang hidupnya, entah sejak kapan ia tidak bisa berhenti untuk peduli dan mengurusi tetangganya itu.
    “ Kim Soo Hyun, kau sudah bukan lagi anak SD sekarang. Kau adalah pria dan Ji Hyun adalah wanita dewasa. Kau harus mulai memperlakukannya sebagai seorang wanita dewasa dan tidak terlibat terlalu jauh untuk seorang wanita yang tidak kau inginkan untuk terus berada di hidupmu.”
     
  11. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    Always You

    Chapter - 2 -

    Annoying Neighbor


    Ji Hyun terbangun dan mendapati dirinya masih berada di rumah Soo Hyun dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
    Laki-laki menyebalkan itu tidak membangunkannya dan pergi ke kantor begitu saja!
    “Aku benar-benar akan membunuhnya saat bertemu denganna nanti!!” seru Ji Hyun kesal.
    Hari ini Ji Hyun harus pergi ke kantor client tepat pukul 10 dan ia nyaris gila berlari-lari di sepanjang jalan menuju kantornya.
    Ia sudah berjanji untuk langsung bertemu managernya di tempat parkir mobil dan langsung berangkat ke kantor clientnya.
    Ji Hyun jelas melihat sebuah mobil berwarna hitam yang selalu digunakan oleh managernya setiap hari.
    Dengan terburu-buru ia berlari menuju ke mobil itu dan masuk ke dalam mobil.
    “ Nyaris saja aku terlambat!!” sahutnya lega.
    Ji Hyun menaruh semua barang-barang yang akan digunakannya untuk presentasi sebelum akhirnya menoleh dan menyadari bahwa orang yang duduk di dalam mobil itu bukanlah managernya.
    “ Aah!!” pekiknya spontan. Salah masuk ke dalam mobil orang sudah merupakan hal yang memalukan, tapi salah masuk ke dalam mobil General Managermu adalah hal memalukan yang tidak termaafkan.

    “ Kurasa kau memang sudah terlambat 1 jam dari waktu masuk kantor, nona.” sahut sang General Manager dengan sinis.
    “ A-a-aku... m-maaf, Pak... A-aku akan berangkat ke t-tempat client...” sahut Ji Hyun terbata-bata. Ia belum pulih dari mabuknya semalam dan sekarang itu bercampur dengan rasa terkejut yang luar biasa.
    “ Kau dari Department Marketing?”
    Ji Hyun menganggukan kepalanya tanpa berani mengangkat wajahnya.
    “ Client mana yang akan kau kunjngi?”
    “ G-General B-B-Building, Pak.”
    “ Apa yang akan kau presentasikan?”
    “ I-ini tentang desain pembangunan... rumah sakit Pak... kita sudah memenangkan tender tahap pertama.”
    “ Kurasa Manager Park sedang menunggumu disana.” sahut sang General Manager sambil menunjuk ke arah luar mobil, tempat managernya sedang berdiri dengan gelisah.
    “ Ah, ya.. maafkan aku, Pak.” sahut Ji Hyun sambil buru-buru membereskan barangnya dan membuka pintu mobil.
    “ Tunggu.”
    “ .... ya, Pak?”
    “ Siapa namamu?”
    “ A-aku?.... Namaku Jeon Ji Hyun,Pak.”
    Ji Sub hanya mengangguk dan memberikan isyarat agar Ji Hyun cepat keluar dan tidak mengganggunya lagi.

    *****​

    Soo Hyun mendapat pekerjaan pertamanya untuk membuat desain renovasi perpustakaan nasional. Ini adalah project pemerintah sehingga ia harus membuat desain yang ramah lingkungan dan berbudget rasional.
    “ Kudengar kau sudah mendapat project pertamamu ya?”
    Soo Hyun menoleh dan mengangguk pada Sun Mi.
    “ Aku iri sekali padamu, aku sudah bekerja 1 bulan tapi hal yang mereka tugaskan padaku hanyalah membuat blue print dari desain yang sudah ada. Ternyata rumor tentangmu itu memang benar.”
    “ Rumor tentangku? .... memang ada rumor apa tentangku?” sahut Soo Hyun bingung.
    “ Mereka bilang kalau kau adalah tangkapan besar tahun ini. Hahahaha... kudengar kau membuang 5 perusahaan untuk bergabung dengan perusahaan ini bukan? Tentu saja kau punya kemampuan yang luar biasa.”
    “ Ah, mereka terlalu berlebihan tentang itu.” sahut Soo Hyun sambil kembali membenamkan dirinya pada layar komputer di depannya.
    Sun Mi tersenyum lebar. Baginya seorang laki-laki dengan kemampuan menakjubkan di sampingnya ini sangat menarik sekali.
    “ Bagaimana kalau kita makan malam bersama malam ini?” sahutnya.
    Soo Hyun kembali menoleh dan tampak cukup terkejut karena mendapat undangan makan malam dari seorang gadis yang baru saja dikenalnya kemarin.
    “ Anggap saja ini untuk merayakan pekerjaan baru kita. Lagipula kita kan berada di angkatan yang sama di perusahaan ini.”
    Soo Hyun memaksakan sebuah senyuman dan akhirnya mengangguk.

    Soo Hyun memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran Jepang yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
    “ Kau tidak keberatan makan di sini bukan? Ini tempat favoritku.” sahut Sun Mi sambil tersenyum lebar.
    “ Tentu saja.” sahut Soo Hyun sambil melangkah masuk. Ia tidak menyangka bahwa seorang karyawan baru seperti Sun Mi ternyata memiliki tempat mewah seperti ini sebagai tempat favorit. Ia menghitung-hitung dan jika ia makan di sana malam itu, maka budget bersenang-senangnya minggu ini sepertinya sudah habis.
    Setelah memesan makanan masing-masing, Sun Mi membuka pembicaraan.
    “ Jadi kau memang lulusan terbaik dari Universitas Seoul ya? Wahhh, luar biasa.”
    Soo Hyun meringis, entah dari mana gadis di hadapannya ini mendapatkan begitu banyak informasi mengenai dirinya.
    “ Kau sendiri pasti punya kemampuan yang luar biasa. Aku dengar bahwa jarang sekali seorang karyawan yang baru masuk langsung ditempatkan di department kita.” sahut Soo Hyun berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
    “ Oo... hhm... aku akan memberitahumu sebuah rahasia, tapi kau harus tetap merahasiakannya dari siapapun juga, oke?”
    “ .... kurasa kalau itu memang rahasia, tidak apa-apa jika kau tidak memberitahu----“
    “ Aku adalah anak pemilik perusahaan tempat kita bekerja.” sahut Sun Mi tidak mengijinkan Soo Hyun melanjutkan kalimatnya.
    “ ... ooo... begitu.” jawab Soo Hyun sedikit tercengang.
    “ Bagaimanapun aku tidak punya pilihan lain selain mewarisi perusahaan keluargaku, jadi aku memohon pada kakakku untuk menempatkanku di department terbaik di perusahaan.”
    “ Kakak?”
    “ Ah, aku belum bilang padamu ya? Kakakku adalah General Manager di perusahaan kita.”
    Soo Hyun menganggukkan kepalanya, sekarang semua tampak masuk akal baginya.

    *****​

    “ General Building menyetujui proposal kita!!!” seru sang manager setelah menutup telepon dari client yang sudah mereka buru sejak 5 bulan yang lalu itu.
    Semua orang di department marketing bersorak gembira mendengar berita itu. Itu berarti hari-hari penderitaan mereka merevisi proposal sudah berakhir dan mereka bisa tidur tenang setidaknya untuk malam itu.
    Ji Hyun berteriak paling keras di ruangan itu, ia merasa dirinyalah yang paling menderita selama proses negosisasi dengan client mereka yang satu itu.
    “ Dan tebak 1 lagi berita baik untuk kita! Pak GM sangat menghargai keberhasilan ini dan akan mentraktir kita makan malam ini!!!” seru sang manager menambahkan bumbu kebahagiaan mereka malam itu.
    Ji Hyun hanya ikut bertepuk tangan sambil agak ngeri membayangkan wajah sinis yang menatapnya pagi tadi akan mentraktirnya makan malam itu.

    Tim marketing turun ke basement tempat mobil managernya di parkir. Mereka berencana untuk berangkat bersama ke restaurant tempat GM akan mentraktir mereka malam itu.
    Ada 7 orang yang akan berangkat dari department marketing dan semua berdiri di depan mobil managernya yang hanya muat 6
    “ Pak, apakah anda tega tidak mengangkutku? Apakah aku harus naik taksi sendirian??” seru Ji Hyun yang turun terakhir karena banyak bawaan yang harus ia bereskan.
    “ Maaf, Ji Hyun, tapi kau mengerti kan? Mobilku tidak bisa menampung lebih banyak orang lagi.”
    Ji Hyun menatap sinis pada teman-teman 1 timnya, tidak ada yang mau turun dan menemaninya naik taksi. Dasar orang-orang pelit ongkos!
    “ Ada apa ini?” sahut suara dari belakang dan saat Ji Hyun menoleh, GM yang ia temui tadi pagi sedang berjalan ke arahnya.
    “ Selamat malam, Pak!” seru semua orang di mobil manager Ji Hyun.
    “ Mobilku tidak muat untuk Ji Hyun, jadi---“
    “ Kau bisa naik mobilku. Kita menuju tempat yang sama bukan?” sahut sang GM menyelesaikan masalah itu dengan sangat mudah.
    Ji Hyun menatap rekan-rekannya dengan tatapan memohon bantuan. Tapi semua orang malah menganggap itu adalah ide cemerlang.
    “ Tentu saja akan sangat baik jika Bapak mau memberikan tumpangan. Ji Hyun, baik-baik di sana ya. Sampai jumpa di restaurant!” seru manager yang tidak punya hati itu meninggalkan Ji Hyun berdua dengan pria yang membuatnya mati kutu pagi tadi.

    Ji Hyun membalikkan badannya dan memaksakan diri untuk tersenyum pada sang GM.
    “ Maaf merepotkan anda, Pak.”
    “ Tidak, silakan naik. Aku ingin mendengar cerita presentasi akhirmu pada General Building hari ini.” sahut Yoo Ji Sub sambil membukakan pintu mobilnya.

    *****​

    “ Senang sekali bisa berbincang banyak denganmu malam ini, Soo Hyun.” sahut Sun Mi sambil tersenyum lebar.
    “ Ya, sama-sama.” jawab Soo Hyun sambil tersenyum. Agak sulit untuk memperlakukan anak pemilik perusahaan dan adik GM di hadapannya ini dengan normal.
    “ Kuharap kau tidak memperlakukanku berbeda setelah .... rahasia yang kuberitahukan padamu itu. Maksudku, kuharap kita bisa berteman seperti biasa.”
    Kim Soo Hyun tersenyum dan mengangguk, tentu saja ia sudah bertekad untuk tidak menciptakan musuh di tempat kerjanya.

    Pandangan Soo Hyun teralihkan saat ada tamu restaurant yang baru saja tiba. Jeon Ji Hyun adalah salah satu dari tamu itu dan ia terlihat berjalan dengan sang GM.
    “ Ooo, itu kakakku!” sahut Sun Mi yang juga menyadari kehadiran kakaknya.
    Soo Hyun menatap Sun Mi sambil meringis, gadis itu baru saja bilang bahwa fakta dirinya adalah adik dari sang GM adalah rahasia, tapi dengan terbuka ia memanggil sang kakak di tempat umum itu.
    “ Kak!!” seru Sun Mi.
    Rombongan itu menatap ke arah Soo Hyun dan Sun Mi. Ji Hyun menatap Soo Hyun dan memasang tampang kesal mengingat pagi tadi Soo Hyun tidak membangunkan dirinya.
    “ Oo, kau ada di sini juga Sun Mi?” sapa Ji Sub sambil berjalan menghampiri meja Soo Hyun.
    “ Aku sedang merayakan pekerjaan pertama dengan karyawan baru juga di departmentku, kau pasti tahu Kim Soo Hyun bukan?”
    Ji Sub menatap Soo Hyun dan tersenyum dengan ramah.
    “ Tentu saja aku tahu karyawan potensial sepertinya, kau harus banyak-banyak belajar dari dia, Sun Mi.”
    “Aku berencana untuk berteman dulu dengan dia sebelum aku menghisap habis ilmunya, Kak.” canda Sun Mi disusul tawa Ji Sub yang renyah.
    “ Bagaimana kalau kita makan bersama saja. Mereka juga dari perusahaan. Hari ini aku mentraktir tim marketing atas keberhasilan mereka memenangkan tender besar.”

    Ji Hyun buru-buru menarik kursi di samping Soo Hyun dan berharap sang GM duduk jauh-jauh darinya.
    “ Kenapa kau duduk di sini? Seharusnya kau duduk di sana bersama dengan tim-mu.” bisik Soo Hyun.
    Ji Hyun menghela napas. Bocah itu benar, tidak mungkin ia duduk di sana seperti orang bodoh sementara rekan-rekannya duduk mengelilingi sang GM seperti gula mengelilingi semut.
    “ Keberhasilan kita kali ini tidak bisa dilepaskan dari kerja keras nona Jeon. Hari ini presentasinya sangat berapi-api dan General Building dibuatnya tak berkutik!!” seru sang manager hiperbola, seperti biasa.
    “ Benarkah? Kuharap aku bisa mendengar keberhasilan-keberhasilan selanjutnya darimu nona Jeon.” sahut Ji Sub sambil mengambilkan sesendok sayur dan menaruhnya begitu saja di piring Ji Hyun.
    “ T-terimakasih, Pak.”
    “ Aku biasa memperlakukan semua orang yang berjasa pada perusahaan dengan sangat baik.” sahut Ji Sub sambil tersenyum penuh arti.

    Ji Hyun menatap sayur di piringnya. Ada beberapa udang di sana dan ia hanya bisa menelan ludah. Ia alergi pada udang dan sang GM malah mengambilkannya udang. Sempurna.
    “ Kenapa kau tidak makan? Kau ingin aku memesankan sayur lain?” sahut Ji Sub setelah menyadari bahwa Ji Hyun tidak menyentuh sayur di piringnya itu.
    “ H-hah? Tidak... a-aku hanya punya kebiasaan untuk mengambil foto untuk makananku dulu sebelumnya. Anda tidak keberatan bukan?” sahut Ji Hyun sambil menyebutkan kebohongan yang paling menjijikan selama ia hidup.
    Seisi meja tertawa mendengar penjelasan Ji Hyun. Hanya Soo Hyun yang menatap gadis itu dengan sinis sambil berkata dalam hati.
    “ Aku tidak mengerti dengan isi kepalanya, apa susahnya bilang bahwa ia memiliki alergi udang?”
    Ji Hyun mengambil foto piringnya dan menusukkan salah satu udang itu dan memasukkannya ke mulut.
    Ia sempat melirik ke arah Soo Hyun dan laki-laki itu menatapnya dengan mulut setengah terbuka karena terlalu terkejut.

    *****​

    Semua berdiri di luar restaurant dan berpamitan satu sama lain.
    “ Kau ikut pulang kakak saja dan jangan merepotkan Soo Hyun lagi.” sahut Ji Sub pada adiknya.
    “ Baiklah, sampai jumpa besok, Soo Hyun!”
    “ Iya, sampai jumpa besok.” sahut Soo Hyun. Sejak tadi ia sudah tidak tenang, beberapa kali ia melirik ke arah Ji Hyun untuk memastikan gadis itu masih hidup.
    “ Nona Jeon, anda ingin kuantar pulang?” sahut Ji Sub kembali mengajak Ji Hyun bicara padahal bernapas pun sudah cukup sulit untuk Ji Hyun sekarang.
    “ T-tidak perlu, Pak. Aku bisa pulang sendiri, lagipula rumahku dekat dari sini.”
    “ Baiklah, kalau begitu sampai jumpa besok semuanya.”

    Segera setelah semua orang pergi dengan mobilnya, Soo Hyun buru-buru merangkul Ji Hyun dengan panik.
    “ Kau tidak apa-apa?? Kenapa kau harus menghabiskan semua udang itu sih!? Apa kau lupa kau punya alergi?!”
    “ C-cepat bawa aku ke rumah sakit.... badanku gatal-gatal dan aku sulit bernapas sekarang...”

    Ji Hyun segera dibawa ke IGD dan ditangani oleh dokter dan perawat yang ada di sana.
    Soo Hyun berdiri di sampingnya dengan kedua tangan terlipat. Wajahnya tidak bersahabat.
    “ Aku ini pasien, kenapa kau menatapku seolah-olah aku ini adalah tahanan yang kabur dari penjara?” sahut Ji Hyun dengan suara parau.
    “ Coba katakan alasan kau memakan udang-udang itu.”
    “ Kau masih akan terus menghantuiku dengan pertanyaan itu?!”
    “ Karena bagiku aneh sekali seorang wanita berusia 29 tahun masih tidak bisa memperlakukan dirinya sendiri dengan rasional!” sembur Soo Hyun kesal.
    “ Aku tidak mungkin menolak sayur yang sudah diambilkan oleh GM! Kau tidak tahu tatakrama?”
    “ Kurasa semua orang akan maklum jika kau mengatakan alasanmu! Kau selalu tidak enak pada orang, kau selalu ingin membahagiakan semua orang dan akhirnya kau sendiri yang pusing.”
    “ Sudah, jangan mengomel saja, lebih baik kau pulang dan bawakan aku baju ganti. Sepertinya mereka tidak akan membiarkanku pulang malam ini. Besok mungkin aku harus segera ke kantor dari sini.”
    Soo Hyun memukul kening Ji Hyun dengan kesal sambil mengambil jaketnya dari sandaran kursi.
    “ Oya, jangan lupa bawakan bra dan celana dalamku ya. Aku sudah tidak mandi 2 hari berkat seseorang yang tidak membangunkanku pagi ini.”
    “ Jorok sekali!!” seru Soo Hyun sambil berjalan pergi dengan langkahnya yang lebar-lebar.

    *****​

    Ji Hyun membuka matanya, nafasnya sudah normal dan kulitnya tidak lagi terasa seperti sedang terbakar. Sepertinya alerginya sudah sembuh. Ia melirik ke pinggir dan ia melihat Soo Hyun masih tertidur di sofa rumah sakit. Ia tidak tahu jam berapa laki-laki itu kembali semalam. Di meja sudah ada sebuah kantong yang pasti berisi pakaian ganti miliknya.

    Ji Hyun menatap Soo Hyun dari kejauhan. Entah sudah berapa kali laki-laki itu mendapatkan masalah karena dirinya. Sejak dulu ia memang tidak bisa menganggap Soo Hyun sebagai adiknya karena selalu dirinya yang membutuhkan pertolongan laki-laki dan bukan sebaliknya.
    Saat kedua orang tuanya meninggal secara tiba-tiba, Ji Hyun tidak akan lupa betapa Soo Hyun menemaninya setiap hari dan membawakannya tissue untuk menghapus air mata serta ingus dari hidungnya. Laki-laki itu bahkan belajar membuat bubur untuk membuatnya mengisi perut.
    Meskipun laki-laki itu selalu bawel dan tidak pernah memperlakukannya dengan lembut, tapi Ji Hyun tidak tahu akan seperti apa hidupnya jika Soo Hyun bukanlah tetangganya.

    Ji Hyun mengguncangkan tubuh Soo Hyun untuk membangunkannya.
    Soo Hyun terbangun dan mendapati Ji Hyun sudah mengganti pakaiannya.
    “ Kau sudah tidak apa-apa? Kau yakin sudah diperbolehkan pulang?”
    “ Tentu saja, kau pikir aku akan mudah dikalahkan oleh udang itu?”
    Soo Hyun menghela napas panjang sambil mendelik sinis pada ji Hyun.
    “ Mulai sekarang coba berkelakuan sesuai dengan umurmu, oke?”
    “ Apa kau ingin menegaskan bahwa aku ini sudah tua??”
    “ Kau memang sudah tua! Wanita seusiamu seharusnya sudah bisa mengurus diri dengan baik dan bahkan sudah bisa mengurus suami mereka!”
    Ji Hyun mendelik tajam pada Soo Hyun dan laki-laki itu menghela napas panjang.
    “ Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku hanya kesal setiap kali kau bersikap tidak dewasa seperti ini.”
    “ .... antarkan saja aku ke kantor.”
    “ Kau yakin bisa langsung bekerja hari ini?”
    “ Aku baru saja memenangkan client besar kemarin, banyak hal yang harus kulakukan hari ini dan aku tidak bisa membiarkan orang-orang itu merebut begitu saja keberhasilanku.”
    Soo Hyun tahu bahwa sisa-sia saja jika ia berusaha mencegah keinginan gadis itu untuk berangkat ke kantor. Selain sifat keras kepalanya, tidak ada sifat lain yang menempel begitu mutlak pada karakter gadis itu.

    *****​

    Soo Hyun membawakan barang-barang milik Ji Hyun dan berjalan bersama menuju ke lift kantor.
    “ Kau pulang jam berapa hari ini?” tanya Soo Hyun tanpa menoleh pada tetangganya itu.
    “ Entahlah, jika aku beruntung, maka aku bisa kembali pukul 8 malam.”
    “ Apakah kau harus selalu lembur setiap hari? Kau tidak terlihat hidup dengan gaji yang berlimpah meskipun kau selalu lembur.”
    “ Kau ingin bertengkar lagi ya? Kau pikir hidup itu selalu berjalan dengan adil? Kau itu masih karyawan baru, sema masih terlihat begitu ideal bagimu. Kau pikir asal kita datang tepat waktu dan mengerjakan pekerjaan dengan baik maka dalam waktu singkat kita akan bisa menjadi direktur begitu?”
    “ Bagaimanapun bekerja lembur setiap hari bukanlah pekerjaan yang normal. Aku akan berpikir berulang kali jika aku harus mengorbankan waktuku yang berharga untuk bekerja lebih daripada jam kerja.”
    Ji Hyun mencibir.
    “ Dasar naif.” gerutunya.
    Pintu lift terbuka dan Ji Hyun langsung menyapa rekan kerjanya yang kebetulan ada di dalam lift.

    “ Hai! Kau sudah tiba?”
    “ Seharusnya aku yang bertanya padamu, tumben sekali kau tidak terlambat sampai di kantor.” sahut rekan kerja Ji Hyun sambil tertawa.
    Ji Hyun hanya menanggapinya dengan senyuman sinis dan memberi isyarat pada Soo Hyun untuk memberikan barang-barangnya yang dibawakan oleh laki-laki itu.
    “ Aku akan turun di lantai 5.” sahut Ji Hyun santai.
    Soo Hyun menyerahkan barang-barang Ji Hyun dan berusaha untuk tidak memasang tampang ingin memakan gadis itu hidup-hidup.
    Pintu lift terbuka dan sesaat sebelum berjalan keluar, Ji Hyun menyempatkan diri untuk berkata pada Soo Hyun.
    “ Thanks tumpangannya. Hubungi aku saat kau hendak pulang nanti ya, siapa tahu aku bisa ikut pulang.”
    Ji Hyun tidak menunggu Soo Hyun menjawab dan langsung berjalan pergi.

    “ Kau kenal laki-laki di dalam lift itu?” sahut rekan kerja Ji Hyun yang bernama Yoo Ra itu dengan penasaran.
    “ Maksudmu Soo Hyun? Iya, aku kenal dia, kenapa? Kau juga kenal dia? Si kurang ajar itu tidak menyapamu sama sekali ya di lift barusan?”
    “ Tidak, dia tidak mengenalku, tapi aku mengenalnya.”
    “ Apa maksudmu? Bagaimana bisa ?”
    “ Kebetulan sepupuku bekerja di P&D Department dan staff di sana sangat sering membicarakan kenalanmu itu.”
    “ Kenapa mereka membicarakan dia? Apakah dia sudah menjadi public enemy?? Padahal dia baru saja mulai bekerja minggu lalu...” sahut Ji Hyun mulai kuatir. Ia mungkin jarang berkomunikasi dengan wajar dengan Soo Hyun, tapi tetap saja laki-laki itu adalah orang terdekat dengannya.
    “ Pembicaraan mereka memang tidak bisa dibilang positif, tapi kurasa orang-orang di departmentnya iri padanya. Tentu saja bukan salah kenalanmu jika dia adalah lulusan terbaik Universitas Seoul yang menjadikannya sangat dicari oleh perusahaan-perusahaan besar. Dan tentusaja bukan salah kenalanmu itu jika management mempercayakan project penting padahal dia baru saja bekerja di sini.”

    Kerutan di kening Ji Hyun perlahan memudar setelah mendengar cerita rekan kerjanya itu.
    “ Ooo... itu sudah bukan hal baru di telingaku. Dia memang memiliki otak yang jenius tapi kemampuan bersosialisasi yang rendah. Dia tidak akan menyadari orang-orang di sekitarnya iri padanya, dia hanya akan bekerja dan semakin membuat orang-orang di sekitarnya itu.... bertambah iri.” sahut Ji Hyun sambil mengedipkan sebelah matanya. Terselip perasaan bangga di hatinya.

    *****​

    Sun Mi tidak bisa melepaskan tatapannya pada layar komputer Soo Hyun. Hal tersebut sudah sampai pada tahap ‘mengganggu’ sehingga Soo Hyun mengangkat jari-jarinya dari keyboard dan menyandarkan tubuhnya menjauh.
    “ .... ada yang bisa kubantu?” sahutnya bingung dengan rekan kerjanya itu.
    “ Kau membuat itu dalam waktu 1 hari? .... maksudku draft rancangan ini...”
    “ Ya. .... memang kenapa?”
    “ Bagaimana .... kau bisa...terpikir untuk membuatnya seperti ini??” sahut Sun Mi dengan nada yang keras sehingga orang-orang yang kebetulan duduk di sekitar mereka langsung menoleh ke arah tempat duduk Soo Hyun.
    Soo Hyun buru-buru menutup layar kerja d komputernya.
    “ Kurasa kau terlalu berlebihan.”

    Sun Mi tersenyum miris dan kembali ke tempat duduknya sambil menghela napas.
    “ Maaf, aku berlebihan ya? Hehehe....”
    “ Sedikit.” sahut Soo Hyun sambil memaksakan seulas senyuman di wajahnya.
    “ Aku akan belajar semaksimal mungkin padamu. Kau harus mengajarkan semua ilmu yang kau bisa padaku ya... aku benar-benar ingin sepertimu.”
    “ Kau baru melihat 1 desain-ku, nona. Tidakkah kau merasa sedikit berlebihan?”
    Sun Mi melipat kedua tangannya dan memincingkan matanya.
    “ Aku jadi penasaran ingin menanyakan ini padamu.”
    “ Apa?”
    “ Kenapa kau memilih untuk bekerja di perusahaan ini? Kudengar ada perusahaan lain yang bahkan bersedia menggajimu jauh lebih tinggi daripada perusahaan ini. .... aku mengorek informasi tentangmu dari kakakku, kuharap kau tidak keberatan dengan itu.” sahut Sun Mi sambil tersenyum lebar.

    Soo Hyun terdiam sejenak, ia memilih-milih jawaban paling diplomatis yang bisa membuat gadis itu puas dan berhenti mengganggunya pada saat jam kerja seperti ini.
    “ ..... karena kurasa perusahaan ini memiliki banyak hal menantang.”
    “ Hal menantang? Kau tahu dari mana kalau perusahaan ini sangat menantang? Kau kan baru saja lulus kuliah.”
    “ Seseorang yang kukenal bekerja juga di sini dan sepertinya ia bekerja sangat keras setiap hari. Seakan-akan 24 jam miliknya tidaklah cukup untuk perusahaan ini. Mungkin itulah yang membuatku penasaran dengan perusahaan ini.”
    “ Kau mengenal seseorang di perusahaan ini? Siapa? Dari department mana? Mendengar ceritamu tentangnya dia pasti seorang karyawan teladan.”
    “ Kau bertemu dengannya kemarin. Ia yang memenangkan tender dengan client ternama, Jeon Ji Hyun.”
    Sun Mi mengerutkan alisnya. Ia berusaha mengingat-ingat orang yang bertemu dengannya kemarin dan ia teringat seorang gadis yang banyak mendapat pujian dari kakaknya.”
    “ Ooo... gadis yang dipuji oleh kakakku itu?”
    Soo Hyun mengangguk.
    “ Dia temanmu?” sahut Sun Mi penasaran.
    “ Dia tetanggaku sejak kecil... hhm... ya kau bisa menyebutnya temanku.” sahut Soo Hyun sambil kembali menatap layar komputernya. Berharap itu cukup membuat Sun Mi mengerti bahwa ia harus kembali bekerja.

    *****​

    Jeon Ji Hyun meregangkan otot – otot bahunya yang terasa pegal. Seharian ini ia mengetik semua kontrak kerjasama yang juga termasuk 10 kali revisi hingga akhirnya kontrak itu benar-benar rampung dikerjakan.
    Ponselnya kembali berbunyi dan nama KIM SOO HYUN muncul di layar.
    “ Oo, ada apa?”
    “ Kau belum akan pulang?”
    “ Kau akan pulang sekarang?”
    “ Kau tidak akan menjawab pertanyaanku?”
    “ Aku harus menyerahkan kontrak ini pada managerku dulu, kau mau menungguku sebentaaaaar saja?”
    “ Definisikan sebentaaaaar saja itu dalam ukuran menit.”
    “ Dasar laki-laki kaku! ..... 30 menit.”
    “ Cepat telepon aku setelah semua urusanmu selesai, 30 menit ya!”
    “ Iya! Cerewet sekali.”
    Ji Hyun meletakkan ponselnya di atas meja dan mengambil print out kontrak final yang baru saja ia cetak.

    Ia mengetuk pintu ruangan managernya dengan lunglai. Ia benar-benar lelah sekali hari ini.
    “ Pak, ini kontrak final-nya. Kuletakkan saja di sini?” sahut Ji Hyun sambil meletakkan lembaran kontrak itu di atas meja.
    “ Jangan. Pak GM harus segera menandatangani kontrak ini karena besok beliau akan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Beliau sudah menunggumu di ruangannya. Cepatlah ke sana dan mintakan tanda tangannya.”
    “ Aku?? Aaahhhh... kenapa harus aku? Bapak saja yang menemui Pak GM!”
    “ Jeon Ji Hyun! Memang menurutmu aku tidak ingin bertemu dengan Pak GM? Bagaimana lagi, beliau ingin orang yang memenangkan tender itu yang datang menemuinya dengan kontrak!” sambar sang manager dengan harga diri yang sedikit terluka.

    Saat ditemui di ruangannya, meja kerja Ji Sub sudah rapi seakan menandakan bahwa satu-satunya alasan ia masih berada di kantor karena ia sedang menunggu kontrak dari Ji Hyun.
    “ Maaf aku baru datang sekarang, Pak.” sahut Ji Hyun masih canggung setiap kali harus berhadapan dengan atasannya itu.
    “ Kau sudah yakin tidak ada kesalahan?” sahut Ji Sub sambil membalik halaman demi halaman isi kontrak dengan wajah serius.
    “ Aku sudah 10 kali merevisinya... seharusnya sudah tidak ada kesalahan, Pak.”
    Dari tampangnya yang serius tiba-tiba sang GM tertawa geli.
    “ Hahaha, kau menghitung jumlah revisi yang kau kerjakan? Kau pasti sangat tidak rela melakukan revisi itu.”
    “ Hhm, itu.... bukan begitu maksudku, Pak.” sahut Ji Hyun speechless.
    Ji Sub mengambil pena kebesarannya, pena yang hanya digunakan untuk menandatangani kontrak kerjasama penting dengan client yang juga penting.
    Ia membubuhkan tanda tangannya di atas materai yang sudah dipasangkan dengan rapi di sana dan kembali menyerahkan kontrak itu pada Ji Hyun.
    “ Well done, Miss Jeon.”
    “ T- Terimakasih, Pak.”
    Ji Sub bangkit berdiri dari singgasananya dan mengambil jas dari sandaran kursinya.
    Ji Hyun mundur beberapa langkah mempersilakan sang GM untuk keluar terlebih dahulu. Jika ia tahu bahwa sang GM menunggu kontrak itu, maka ia tidak akan berleha-leha sore tadi dan menyempatkan diri untuk memotong kuku kakinya saat istirahat siang.

    Ji Sub berjalan sampai ke pintu dan menoleh ke belakang, mendapati Ji Hyun masih berdiri di tempatnya tadi.
    “ Apa yang kau lakukan? Kau tidak akan pulang?”
    “ Hhm?” sahut Ji Hyun bingung.
    “ Kau sudah membawa semua barang bawaanmu, kurasa kau akan langsung pulang sekarang bukan?”
    Ji Hyun mengangguk, tetap bingung dengan semua pertanyaan dari sang GM.
    “ Aku akan mengantarmu pulang. Bagaimanapun juga ini salah satu penghargaan yang bisa kuberikan pada karyawan yang sudah bekerja keras untuk perusahaan.”
    Ji Hyun melongo, ia nyaris tidak dapat mengeluarkan kalimat dari mulutnya.
    “ T-tidak perlu, Pak. A-aku bisa pulang sendiri.”
    “ Kau membawa mobil? Kukira kau tidak membawa mobil ke kantor.”
    “ Ooo... aku memang tidak membawa mobil ke kantor, tapi aku akan ikut pulang dengan Soo... dengan tetanggaku yang juga bekerja di perusahaan ini, Pak.”
    “ Ooo... begitukah? Baiklah kalau begitu, aku menantikan kabar baik lainnya darimu, nona Jeon.”
    sahut Ji Sub sambil tersenyum penuh arti dan melangkah pergi.

    *****​

    Soo Hyun berdiri sambil bersandar di pintu mobilnya. Berulang kali ia melihat jam tangannya dan ia sudah menunggu di sana nyaris 1 jam. Tentu saja bukan Jeon Ji Hyun jika tidak membuat kadar emosinya naik hingga ubun-ubun.
    Beberapa saat kemudian, akhirnya gadis yang ia tunggu-tunggu terlihat berlari-lari menuju ke arahnya.
    Soo Hyun sudah mengharapkan rentetan permintaan maaf keluar dari mulut gadis itu tapi yang ada gadis itu malah berteriak-teriak.
    “ Cepat bukakan pintunya, tanganku sudah hampir potong dengan semua barang ini!!” serunya mengeluh.
    Soo Hyun buru-buru membukakan pintu belakang mobilnya dan melihat bagaimana gadis itu melemparkan semua barangnya begitu saja ke kursi belakang mobilnya yang baru saja ia bersihkan pagi tadi.
    “ Kau ini selalu saja begini!” gerutu Soo Hyun kesal.

    Dari kejauhan, Ji Sub duduk di dalam mobil Mercedes Benz nya dan menatap dari belakang kursi kemudi.
    Tidak sengaja ia melihat Jeon Ji Hyun juga di tempat parkir dan ternyata gadis itu masuk ke mobil salah satu karyawan barunya yang cemerlang.
    Ia hanya berhenti untuk melihat dari kejauhan dan tak lama kemudian ia menekan pedal gas dan meluncur pergi.
     
  12. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    Always You

    Chapter 3

    - Guarantee not Being Single Forever -


    Malam itu Ji Hyun masih berjibaku dengan pekerjaan kantor yang terpaksa ia bawa pulang ke rumah.
    Kontrak kerjasama dengan General Building memang sudah rampung dikerjakan dan sudah final ditandatangani oleh GM-nya hari ini, tapi tentu saja pekerjaannya tidak melulu mengenai General Building, ia harus berpikir client mana lagi yang bisa ia tarik untuk bekerjasama. Dengan cara itu ia baru bisa segera mendapatkan promosi dan berhenti bekerja seperti kuli bangunan dengan upah sedikit.
    Ia sedang sibuk menatap layar laptopnya ketika ia mendengar suara gaduh dari arah dapurnya.
    Ji Hyun menghentikan pekerjaannya dan berusaha untuk memastikan bahwa suara gaduh itu tidak berasal dari orang asing yang memasuki rumahnya.
    Dalam hati ia berdoa semoga itu kucing atau mungkin ia tidak keberatan jika seekor anjing masuk ke rumahnya, sepanjang itu bukan pencuri.
    Suara hening lama terdengar sebelum ia kembali mendengar suara kantong plastik beradu dari dapurnya. Tidak mungkin kucing atau anjing bisa membuat suara gaduh seperti itu.
    Dengan berjingkat-jingkat, Ji Hyun berusaha untuk mengambil laptopnya dan berjalan menuju pintu keluar. Ia berdoa dalam hati agar Tuhan melindunginya sampai tiba di rumah Soo Hyun.

    Setelah membuka pintu rumahnya, Ji Hyun langsung berlari keluar dengan laptopnya tanpa menutup kembali pintunya. Ia tidak peduli bahwa sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam, yang jelas sekarang ia tengah berada di depan rumah Soo Hyun dan sedang memukul-mukul pintu rumah tetangganya itu dengan putus asa.
    Tidak membutuhkan waktu lama sebelum pintu rumah Soo Hyun terbuka dan dengan mata yang setengah tertutup, Soo Hyun membiarkan Ji Hyun masuk ke rumahnya.
    “ Ada apa denganmu? Kau tidak sedang menguji kesabaranku bukan? Sekarang sudah jam 1 malam!” seru Soo Hyun kesal.
    “ A-ada orang di rumahku!!” seru Ji Hyun panik.
    “ Tentu saja, kau itu orang dan seharusnya kau ada di rumahmu dan bukan meracau di rumahku!”
    “ Ada orang asing di rumahku!! Apakah kau belum paham kondisinya?!! Ada pencuri di dalam rumahku!!”
    Soo Hyun terbelalak. Lingkungan rumah mereka terkenal sebagai lingkungan yang aman karena tidak pernah ada kasus kejahatan sejak 10 tahun terakhir.
    “ Apa kau tidak sedang bermimpi? Kau yakin ada seseorang di rumahmu?”
    “ Aku sedang bekerja dengan laptopku saat aku mendengar suara berisik di dapur! Suara berisik itu terus menerus berbunyi hingga aku memutuskan untuk kabur kemari!”

    Kim Soo Hyun mengambil pemukul baseball yang selama ini menjadi pajangan barang antik di dinding rumahnya dan berjalan ke luar rumah dengan sedikit enggan. Otaknya mungkin pintar tapi tubuhnya tidak seatletis itu dan tidak terlalu terlatih untuk kondisi menantang bahaya seperti ini.
    Ji Hyun mencengkram erat pundaknya dan mengikutinya berjalan dari belakang.
    “ Apakah kau ingin mencekik mati diriku??” bisik Soo Hyun sambil memukul tangan Ji Hyun yang mencengkram pundaknya begitu erat.
    “ Kau harus melindungi aku jika orang itu ingin membunuhku, mengerti?!”
    “ Kau terlalu banyak menonton film!” gerutu Soo Hyun sambil berjalan menuju ke rumah Ji Hyun di sebelah rumahnya.
    Belum sampai langkahnya ke dalam rumah Ji Hyun, tiba-tiba seseorang berlari keluar dari dalam rumah Ji Hyun dengan kecepatan tinggi dan menabrak Soo Hyun hingga terjatuh.
    “ HEI!! BERHENTI KAU!!” seru Soo Hyun berteriak sekeras yang ia bisa, namun penerobos rumah itu kadung berlari dan seseorang menjemputnya naik motor di perempatan jalan dan dalam waktu singkat keduanya sudah tidak terlihat lagi di pandangan Soo Hyun.

    Soo Hyun bangkit berdiri dan menoleh pada Ji Hyun yang juga terjatuh dan tampak begitu ketakutan.
    Ia menarik Ji Hyun berdiri dan secara refleks merangkul gadis penakut itu.
    “ Orang itu sudah pergi, sudah tidak ada orang yang akan mencelakaimu, tenanglah.”
    Soo Hyun melangkah masuk ke dalam rumah Ji Hyun dan gadis itu menahannya.
    “ Apakah kita harus masuk ke dalam? ..... aku takut.”
    “ Kau sudah lihat kalau orangnya sudah pergi bukan? Lagipula kita harus memastikan tidak ada barang yang hilang dan harus melapor ke polisi. Kau tidak ingin orang itu datang kemari lagi bukan?”
    Ji Hyun menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah Soo Hyun ke dalam rumahnya.
    Sekilas tidak terlihat bahwa ada orang asing yang baru saja masuk ke dalam rumahnya. Semua barang masih terletak di tempat yang sama.
    Soo Hyun menelepon polisi dan polisi berjanji untuk segera datang ke sana.
    “ Coba kau lihat apakah ada barang berharga yang hilang.”
    Ji Hyun membuka lemari meja riasnya dan memastikan bahwa uang simpanan serta sedikit perhiasan yang ia miliki masih berada di tempatnya.
    “ .... kurasa ia tidak sempat masuk kemari, barang-barang berhargaku masih tersimpan di tempat semula.”
    “ Kau bilang tadi suara berisik itu berasal dari dapur? Apakah kau menyimpan barang berharga di sana?”
    Ji Hyun menggelengkan kepalanya.

    ******​

    “ Jadi tidak ada barang yang hilang? Anda yakin tidak ingin mencari sekali lagi? Kulihat pencuri itu mengobrak-abrik rumah anda seperti ini. ” sahut polisi yang datang kembali meyakinkan Ji Hyun.
    “ Rumah ini memang selalu berantakan seperti ini, Pak. Bukan karena pencurinya tapi karena pemilik rumahnya.” sahut Soo Hyun sambil melirik sinis ke arah Ji Hyun.
    “ Pencuri itu tidak sempat mengambil apapun dari sini. Untung hari ini aku pulang ke rumah lebih awal dari hari biasanya, jadi ia tidak sempat beraksi.”
    “ Jika begitu, berarti pencuri itu sudah lama mengintai rumah ini. Ia tahu betul bahwa pemilik rumah ini pulang selalu larut malam.” sahut sang polisi menyimpulkan dengan sangat pintar.
    “ Bagaimanapun tolong tangkap pencuri itu, Pak. Aku tinggal sendiri di sini, bagaimana jika pencuri itu kembali lagi kemari??”
    “ Kami akan berusaha sebaik mungkin, jika ada hal yang bisa anda laporkan lagi pada kami, silakan untuk segera menelepon kami.”
    Ji Hyun mengangguk dengan lemas. Entah apakah para polisi itu berhasil menangkap pencuri sialan itu atau tidak.

    Ji Hyun mengunci rumahnya setelah tidak lupa tetap membiarkan seluruh lampu di rumahnya menyala. Setelah itu ia menarik Soo Hyun kembali ke rumahnya.
    “ Kenapa kau harus tidur di rumahku??” sahut Soo Hyun kesal.
    “ Lantas kau ingin aku tidur di sana dan menunggu pencuri-pencuri itu kembali?”
    “ Mereka tidak akan kembali malam ini, kau pikir mereka itu pencuri tanpa otak?”
    “ Ah, aku tidak peduli, yang jelas sekarang aku akan tidur di rumahmu, dengan atau tanpa persetujuanmu.”

    Soo Hyun tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah Ji Hyun kembali ke rumahnya.
    Dengan luwes Ji Hyun masuk ke kamarnya dan mengambil satu bantal dari tempat tidur dan selimut cadangan miliknya dari dalam lemari pakaiannya. Gadis itu benar-benar tahu dengan jelas semua barang di kamarnya.
    Ji Hyun meletakkan bantal itu di atas sofa dan berbaring di sana.
    “ Jangan tinggalkan aku besok ya!” sahutnya sesaat sebelum ia menutup matanya.
    Soo Hyun menghela napas, ia mematikan lampu dan masuk ke dalam kamarnya.
    Memang benar, ini bukan kali pertama Ji Hyun menghabiskan malam di rumahnya. Mungkin sudah tidak terhitung berapa kali gadis itu tidur di rumahnya. Hanya saja setiap kali gadis itu melakukannya dengan begitu mudah membuat Soo Hyun tidak habis pikir. Apakah gadis itu lupa pada kenyataan bahwa dirinya adalah seorang pria biasa? Bagaimana mungkin seorang gadis tidur tanpa pertahanan apapun berdua saja dengan seorang pria?

    *****​

    Ji Hyun terbangun setelah seseorang menarik dan menegakkan badannya begitu saja di sofa empuk yang ditidurinya.
    “ Jangan ganggu aku....” sahutnya meracau, matanya menolak untuk membuka.
    “ Aku tidak akan bertanggung jawab jika kau terlambat kerja hari ini. Aku akan berangkat 10 menit lagi.”
    Serta merta Ji Hyun membuka matanya lebar-lebar dan Kim Soo Hyun sudah siap dengan pakaian kerjanya yang rapi.
    “ Kenapa kau baru membangunkanku sekarang???”
    “ Aku sudah membangunkanmu untuk ke-5 kalinya sekarang. Kau tidur seperti orang mati dan seakan tidak ingin bangun lagi!” gerutu Soo Hyun sambil memakai sepatunya.
    Ji Hyun bangkit berdiri dari sofanya dan berlari ke arah lemari sambil menyambar kunci mobil Soo Hyun.
    “ Apa yang kau lakukan?!” semprot Soo Hyun sambil melotot.
    “ Aku hanya butuh 15 menit untuk bersiap-siap, tunggu aku ya!” serunya sambil berlari keluar ke rumahnya.

    Kim Soo Hyun menunggu di samping mobilnya dengan kedua tangan terlipat. Pose itu adalah pose yang selalu tidak sadar ditunjukkannya saat ia sedang kesal. Dan sekarang ia sedang kesal.
    Gadis itu benar-benar celaka jika tidak keluar tepat 15 menit!
    Tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan rumah Ji Hyun.
    Soo Hyun memperhatikan mobil hitam yang tidak terasa asing di matanya itu. Ia benar, mobil itu pernah sering datang berkunjung ke sana, mobil milik mantan kekasih Ji Hyun.
    Lee Woo Bin, laki-laki itu sudah berhasil mengganggu hidup Ji Hyun saat Ji Hyun masih kuliah. Saat itu entah berapa kali Ji Hyun menangis seperti orang gila karena laki-laki itu.

    “ Apa yang kau lakukan di sini?” sahut Soo Hyun, ia sendiri kaget karena tidak bisa menahan diri untuk tidak ‘menyapa’ laki-laki itu.
    Lee Woo Bin menoleh dan tersenyum lebar pada Soo Hyun. Tentu saja ia mengenal Soo Hyun, bocah tengik yang selalu dibawa-bawa Ji Hyun dalam banyak pembicaraan mereka dulu.
    “ Kau masih terus menempel pada Ji Hyun?” sapa Woo Bin.
    “ Dan setahuku kau sudah tidak seharusnya muncul lagi di depan rumah Ji Hyun.”
    “ Aku datang untuk menyerahkan undangan ini, bagaimanapun Ji Hyun yang berjasa memperkenalkanku pada Soo Jin, aku tidak mungkin tidak mengundangnya bukan?”
    Soo Hyun mencerna perkataan laki-laki itu dan mengerti. Tentu saja, laki-laki selingkuh dengan sahabat Ji Hyun saat itu yang bernama Soo Jin, dan sekarang mereka akan menikah.

    “ .... Lee Woo Bin?” cetus sebuah suara dari samping.
    Ji Hyun berdiri di depan rumahnya dengan rambut yang masih acak-acakan dan sepatu yang belum sempat ia pakai.
    “ Selamat pagi, Ji Hyun. Hahaha, kau masih sama seperti dulu.” sapa Woo Bin dengan hangat seakan mereka tidak pernah terlibat pada masa lalu yang menyedihkan.
    “ Apa yang kau lakukan di sini?”
    “ Aku datang untuk mengantarkan ini padamu, Soo Jin tidak merasa perlu untuk mengundangmu, tapi bagiku kau adalah orang yang spesial. Maka kau harus datang ya.” sahut Woo Bin sambil mengulurkan undangan pernikahannya pada Ji Hyun.
    “ Kurasa kau tidak perlu membuang waktu mengantarkan undangan ini.” sela Soo Hyun kesal. Ia tidak senang dengan keadaan Ji Hyun saat patah hati dulu. Begitu menyedihkan.
    “ Sampai kapan kau akan membiarkan laki-laki ini menempel terus padamu, Ji Hyun? Apakah kau tidak sadar hal ini yang membuat tidak ada laki-laki yang tahan berada di dekatmu.”
    “ Kau bilang apa barusan??” sahut Soo Hyun dengan emosi yang meledak-ledak.
    Ji Hyun menarik Soo Hyun dan berkata dengan nada dingin pada Woo Bin.
    “ Kau tidak perlu mengurus hidupku, tentu saja aku akan datang ke pernikahanmu, aku ingin melihat bisa sebahagia apa kalian berdua.”

    *****​


    Lee Woo Bin sudah pergi sejak tadi, namun Soo Hyun dan Ji Hyun masih berdiri seperti orang bodoh di depan mobil.
    Soo Hyun menghela napas sambil melihat gadis di sampingnya yang seakan kembali terseret ke masa lalu.
    “ Kenapa kau masih membuang waktu untuk menangisi laki-laki brengsek itu sih?”
    “ .... akhirnya mereka berdua benar-benar menikah.... aku rasa sebuah pengkhianatan tidak akan berakhir dengan indah... tapi ternyata mereka benar-benar berhasil berbahagia di atas penderitaanku.”
    “ Sudah kubilang berapa kali kalau tidak seharusnya kau merasa menderita berkepanjangan karena orang-orang itu! Mereka bahkan tidak memikirkan perasaanmu sama sekali!”
    “ ..... di saat aku sedang dalam perjalanan menjadi seorang perawan tua.... kedua orang itu akan menikah....” gumam Ji Hyun sambil menatap Soo Hyun dengan mata yang berkaca-kaca.

    Soo Hyun menghela napas, ia benar-benar ingin mengguncang-guncangkan kepala gadis itu supaya sadar.
    “ Apakah isi kepala wanita hanyalah bagaimana caranya agar bisa cepat menikah dan tidak dicap perawan tua?”
    Ji Hyun terdiam sejenak dan menganggukkan kepalanya.
    “ Kau memang sudah gila, Jeon Ji Hyun. Ayo cepat masuk! Aku tidak mau lebih terlambat lagi karena kegilaanmu.” sahut Soo Hyun sambil setengah mendorong Ji Hyun masuk ke dalam mobil.

    Soo Hyun memarkirkan mobilnya dengan mulus di basement parkir. Ji Hyun masih terlihat seperti orang yang baru selesai berperang. Matanya sembab dan rambutnya acak-acakan.
    Soo Hyun mengeluarkan tissue dari laci mobilnya dan mengelap sisa-sisa air mata di pipi gadis itu dan merapikan rambut gadis itu sebisanya.
    “ Apa yang harus kulakukan agar kau merasa lebih baik?”
    “ Kau hanya bertanya seperti itu saat aku benar-benar terlihat kasihan... apakah sekarang aku separah itu?” sahut Ji Hyun memelas.
    “ Aku bertanya seperti itu setiap kali aku tidak tahan lagi dengan sikapmu. Cepat pikirkan bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu lebih baik?”
    “ ..... temani aku berlibur. Rasanya sudah lama aku tidak berlibur...”
    “ Aku belum bisa mengajukan cuti, nona Jeon. Apa kau lupa aku baru masuk bekerja minggu lalu?”
    “ Kalau begitu kita berangkat akhir pekan saja... yang jelas aku harus pergi refreshing!”
    “ Terserahmu saja kalau begitu. Ayo cepat turun. Aku sudah terlambat dan terimakasih atas jasamu!” gerutu Soo Hyun sambil melihat jam tangannya dengan cemas.

    *****​

    Soo Hyun baru saja keluar dari ruangan managernya untuk memohon maaf atas keterlambatannya ketika Sun Mi langsung menghambur ke meja kerjanya.
    “ Apakah Pak Kim memarahimu?”
    “ Dia hanya mengingatkan bahwa aku ini masih karyawan baru, standar.” sahut Soo Hyun sambil meringis.
    “ Kenapa kau terlambat begitu lama hari ini? Kukira bahkan kau tidak masuk karena sesuatu terjadi padamu.”
    “ Ini semua karena .... tidak apa-apa, aku memang terlambat bangun tadi pagi.” sahut Soo Hyun memutuskan untuk tidak mengingat-ingat lagi kejadian menjengkelkan tadi pagi.

    Setelah makan siang, Soo Hyun memberanikan diri untuk memperlihatkan desain yang telah rampung ia kerjakan pada team leader project. Ia berharap dapat mendapatkan masukan untuk desainnya.
    Team leadernya masih cukup muda, mungkin di awal 30 tahunan, ia dikenal karena sifatnya yang perfeksionist dan dingin.
    Go Soo Bin sang team leader menatap Soo Hyun dengan tatapan yang kurang bersahabat dari ujung rambut hingga ujung kaki sebelum akhirnya membuka mulutnya.
    “ Apa yang bisa kubantu?”
    “ Aku ingin memperlihatkan desain untuk project kemarin. Pak Kim memintaku untuk membuat draft desainnya.”
    “ Ah ya, kau adalah anak emas yang tiba-tiba diberikan kepercayaan untuk membuat desainmu sendiri. Apakah kau yakin bahwa kau memerlukan bantuanku?”
    “ .... tentu saja aku membutuhkan pandangan orang yang lebih berpengalaman dariku, masih banyak yang harus kupelajari dari anda, Pak.” sahut Soo Hyun berusaha agar tidak terpengaruh dengan sikap team leadernya yang kurang bersahabat itu.
    “ Aku sibuk hari ini, letakkan saja hasil desainmu di sana, aku akan memeriksanya saat pekerjaanku sudah selesai.” jawab sang team leader sambil memalingkan wajahnya.
    “ .... baiklah kalau begitu.” sahut Soo Hyun sambil kembali ke tempat duduknya dan menghela napas panjang.
    Saat kuliah dulu, orang tidak henti-hentinya memuji bagaimana cemerlangnya hasil desain dan pemikiran dirinya, tapi di dunia yang sebenarnya orang-orang hanya akan berusaha untuk membuktikan bahwa ia dan hasil pemikirannya tidak secemerlang itu. Soo Hyun tahu benar kenyataan itu.

    Sun Mi yang dari tadi memperhatikan kejadian itu dibuat kesal melihatnya.
    “ Pak Goo jelas-jelas seharian hanya mengerjakan finalisasi desain yang sudah hampir selesai itu, kenapa ia bersikap jual mahal seperti itu sih?”
    “ Ssst... kau tidak ingin membuat masalah di awal karirmu kan?” sahut Soo Hyun sambil berharap tidak ada orang yang mendengar gerutuan Sun Mi.
    “ Kau tenang saja, karena desainmu memang sangat luar biasa, orang-orang seperti itu tidak akan bisa menahan bakatmu lama-lama. Cepat atau lambat mereka akan mengakui bahwa kau memang orang bertalenta.”
    Soo Hyun tersenyum geli, ia melirik melihat pekerjaan Sun Mi yang tampak tidak ada kemajuan sejak kemarin.
    “ Blueprintmu ada masalah? Sepertinya dari kemarin kau masih berkutat di sana.”
    “ Ya, kau benar.... mereka bilang aku harus menambahkan lebih banyak wilayah hijau di desain ini... tapi aku tidak tahu di mana lagi aku harus meletakkan pepohonan, luas areanya saja hanya sebesar ini.”
    Soo Hyun melihat komputer Sun Mi untuk beberapa saat. Sun Mi sendiri membiarkan hal itu dengan sukarela, ia bahkan sibuk menatap ekspresi Soo Hyun yang sedang sibuk berpikir sekarang itu.
    “ .... hhm... bagaimana jika kau ganti area rooftop di atas menjadi lahan hijau? Mereka masih bisa menjemur pakaian meskipun ada rumput di sana bukan? Mereka bahkan bisa menjadikan atap rumah mereka sebagai halaman atas.”
    “ Halaman atas? ..... kau benar! Kim Soo Hyun! Kau benar-benar penyelamatku!!” seru Sun Mi yang diikuti semua pandangan orang-orang di sana.
    “ .... kau mulai lagi deh.” sahut Soo Hyun sambil menundukkan kepalanya dan berpura-pura tidak terjadi apapun.


    *******​

    Akhir pekan akhirnya datang juga. Soo Hyun sempat berharap Ji Hyun melupakan semua rencananya untuk berlibur, tapi gadis itu sangat mengingatnya. Pagi-pagi benar gadis yang biasanya selalu sulit untuk bangun pagi itu sudah membangunkannya.
    “ Ayo bangun, pemalas!! Kita harus belanja untuk keperluan liburan kita!!” seru Ji Hyun sambil mengguncang-guncangkan badan Soo Hyun di tempat tidurnya.
    Soo Hyun nyaris terjatuh dari tempat tidurnya karena gadis itu mendorong badannya dengan kakinya yang panjang itu.
    “ JEON JI HYUN!!” umpat Soo Hyun kesal, tapi tentu saja ia tidak punya pilihan lain selain bangun dari tidurnya dan bersiap-siap untuk acara liburan mereka.
    Ini memang bukan untuk pertama kalinya mereka berlibur bersama. Dari dulu keluarga mereka sering berlibur bersama-sama, dan sekarang bahkan tanpa orang tua pun mereka masih sering pergi berlibur bersama. Tentu saja jika hal itu terjadi pasti Ji Hyun-lah yang merengek dan meminta Soo Hyun untuk pergi menemaninya.

    Mereka menyempatkan diri untuk pergi ke supermarket dekat rumah mereka sebelum berangkat.
    “ Beli ituuuu, aku tidak bisa liburan tanpa sosis!!!” rengek Ji Hyun.
    “ Kau benar-benar akan pulang sebagai babi jika kau terus menerus makan makanan tidak berserat seperti itu!”
    “ Kau sudah membeli semua serat-serat yang dibutuhkan! Aku ini bukan kambing yang harus terus makan rumput!!” seru Ji Hyun sambil melirik ke arah troli belanjaan yang penuh berisi buah dan sayur pilihan Soo Hyun.
    “ Lebih baik aku memaksamu untuk memakan rerumputan itu dibanding aku terpaksa harus menemanimu berolahraga seperti orang gila saat kau tiba-tiba ingin menurunkan berat badanmu seperti tahun lalu!”

    Ji Hyun menghela napas, tahun lalu ia memang sempat terobsesi untuk membuat bentuk badannya ideal dan tentu saja Soo Hyun menjadi obyek penderita yang akhirnya harus menemaninya jogging setiap hari sebelum ia berangkat ke kantor.
    “ Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau tidak ada.” cetus Ji Hyun sambil mengalungkan lengannya pada lengan Soo Hyun.
    Soo Hyun menarik lepas tangannya.
    “ Sudah kubilang jangan bertingkah seperti ini di tempat umum, kau tidak tahu kapan kau akan bertemu orang yang kau kenal.”
    Ji Hyun memincingkan matanya dan kembali mengalungkan tangannya.
    “ Memang kenapa kalau aku bertemu orang yang kukenal? Aku akan bilang bahwa aku sedang berjalan jalan dengan Kim Soo Hyun, dia adalah orang terdekatku dan tidak ada yang bisa kugandeng lagi selain kau!”
    “ Sepertinya perkataan mantan pacarmu itu ada benarnya juga. Kau akan sulit mempunyai pacar jika kau terus bertingkah seperti ini terhadapku, tidak akan ada laki-laki yang senang melihat pacarnya berdekatan dengan laki-laki lain.” gerutu Soo Hyun sambil memasrahkan lengannya.

    Ji Hyun mendengus kesal.
    “ Jangan bahas itu lagi oke?? Aku sudah berpikir tentang itu dan aku sudah memutuskan!”
    “ Hal bodoh apa lagi yang sudah kau putuskan?” sahut Soo Hyun geli, gadis di sampingnya itu tidak akan menjadi seorang gadis dewasa selamanya.
    “ Jika sampai tahun depan aku tidak bertemu dengan pangeran hatiku, maka aku akan membawamu ke kantor catatan sipil dan menikahimu di sana!”
    Kim Soo Hyun menghentikan langkahnya, matanya terbelalak.
    “ Kau benar-benar sedang tidak sadar ya?! Bagaimana mungkin kau seenaknya mengatakan kalimat tidak masuk akal seperti itu?!” sembur Soo Hyun.
    “ Memang kenapa dengan itu? ..... kurasa tidak ada laki-laki lain yang bisa kuijinkan menjadi suamiku selain kau ini.” sahut Ji Hyun lirih, nyaris bicara pada dirinya sendiri.
    Soo Hyun menatapnya dengan bingung, entah apakah gadis ini sedang terpukul atas berita pernikahan mantan kekasihnya, atau gadis itu sudah gila, atau memang gadis itu bersungguh-sungguh dengan pemikiran abnormalnya itu.
    Yang jelas ada perasaan aneh di hatinya sekarang setelah ia mendengarkan ide itu dari mulut gadis yang sudah ia kenal sejak ia dilahirkan.

    ******​


    Soo Hyun sibuk menyiapkan makan malam sementara Ji Hyun sibuk mengecek foto-foto yang ia ambil sepanjang hari itu.
    Mereka selalu menghabiskan makna liburan mereka di villa keluarga Soo Hyun di pinggir kota. Selain karena suasananya yang sepi dan tenang, villa keluarga Soo Hyun memang sangat nyaman sebagai tempat untuk beristirahat.
    “ Hahahaha! Wajahmu di foto ini benar-benar epic! Aku akan mencuci foto yang ini dan menggantungnya di kamarmu.” seru Ji Hyun bersemangat.
    Soo Hyun buru-buru menghampirinya dan melihat foto gagal apa yang baru saja ditertawakan gadis itu.
    Foto dirinya sedang memasak. Tentu saja tidak mungkin ada seorang laki-laki yang memasak dengan wajah yang enak dilihat bukan?
    “ Berhenti melakukan hal yang tidak-tidak. Kau ingin mencuci foto itu dan menggantungnya di kamarku?!”
    “ Memang apa yang salah dengan itu? Aku bukannya menggantung fotoku kan?”
    “ Sudah terlalu banyak wajahmu di rumahku.” gerutu Soo Hyun.

    “ Makanlah.” sahut Soo Hyun sambil menghidangkan masakannya di atas meja.
    “ Hhm... aku tidak tahu kalau sayuran bisa sewangi ini.”
    Ji Hyun duduk di seberang Soo Hyun dan tersenyum lebar melihat semua hidangan sehat di hadapannya.
    “ Sebenarnya apa sih yang tidak bisa kau lakukan? Nilai pelajaranmu selalu terbaik, pintar masak, rajin, pintar mengurus rumah, ckckck... kau memang sudah siap untuk menikah, Soo Hyun!”
    “ Aku tidak punya waktu untuk menikah jika setiap hari aku disibukkan dengan mengurusmu.”
    “ Aku tidak separah itu ya!”
    “ .... kau tidak akan datang ke pesta pernikahan mantan kekasihmu itu bukan?”
    “ Entahlah.... jika aku tidak datang bukankah aku akan tampak seperti orang yang kalah?”
    “ Kau akan tampak seperti orang yang punya hal penting lain untuk diurusi selain masa lalumu!”
    “ Ah sudahlah! Aku tidak ingin membahas hal mengerikan itu di saat liburan kita yang berharga!” sahut Ji Hyun sambil menyuapkan sesendok besar nasi beserta sayuran.

    Mereka menghabiskan makan malam dan menghabiskan sisa hari dengan menonton acara komedi favorit mereka.
    “ Hahahaha!! Kau lihat itu?! Dia benar-benar mendorong jatuh temannya!” pekik Ji Hyun sambil tertawa terbahak-bahak mentertawakan kelucuan acara yang ia sedang tonton.
    “ Hahahaha!” timpal Soo Hyun tidak bisa berkomentar selain ikut tertawa lepas.
    “ Oya, bagaimana pekerjaanmu di kantor? Orang-orang di departmentmu tidak mengganggumu kan? Kudengar kau ini sekarang public enemy di departmentmu sendiri.”
    “ Kau dengar dari mana?” sahut Soo Hyun terkejut karena Ji Hyun bisa mengetahui hal seperti itu.
    “ Tidak ada dinding di kantor kita, semua orang sangat senang bergosip. .... tapi kau harus bilang padaku jika ada yang mengganggumu ya, meskipun baru 3 tahun bekerja, tapi kurasa aku punya kemampuan untuk memarahi orang-orang yang mengganggumu.”
    Soo Hyun tersenyum.
    “ Saat seperti ini kau tiba-tiba berubah jadi seorang kakak yang baik. Kau tidak perlu kuatir. Aku ini sudah dewasa dan bisa mengatasi hal-hal remeh seperti ini.”
    “ Ckckck... gayamu benar-benar sudah seperti bapak bapak berumur 50 tahun!”
    “ Dan bapak-bapak berumur 50 tahun itu akan tidur sekarang. Aku lelah sekali meladenimu seharian ini.”

    Soo Hyun meregangkan badannya dan masuk ke dalam kamarnya sambil menguap.
    Ji Hyun mematikan semua perangkat elektronik sebelum masuk ke dalam kamarnya. Ia selalu tidur di kamar utama di villa itu. Meskipun itu tidak terdengar terlalu sopan, tapi Soo Hyun selalu menyuruhnya untuk tidur di kamar terbesar di villanya setiap kali mereka bermain ke sana.
    Ji Hyun merebahkan badannya di atas tempat tidur empuk itu dan pikirannya sibuk sendiri.
    “ Jeon Ji Hyun, ..... kau harus jujur pada dirimu sendiri, kau sedih bukan karena keparat itu menikah bukan? Kau sedih karena .... kau masih tampak seperti wanita yang menyedihkan sampai sekarang.... Entah apa yang salah denganmu sampai kau belum menikah padahal usiamu sudah 29 tahun... apakah aku menikah saja dengan bocah itu? Ah... kau benar benar pintar berandai-andai.”
    Lamunannya buyar seketika itu juga ketika lampu kamarnya padam. Sepertinya pemadaman listrik ini memang terjadi di daerah itu karena keadaan di luar villa pun gelap gulita.

    Dengan suara bergetar Ji Hyun mengetuk pintu kamar Soo Hyun dan memanggil namanya.
    “ Soo Hyun!! Kau belum tidur kan??”
    Ji Hyun tidak menunggu jawaban Soo Hyun dan langsung menerobos masuk ke dalam kamarnya.
    Ia mengguncangkan bahu Soo Hyun dengan gugup.
    “ Ada apa lagi?” sahut Soo Hyun sambil tetap menutup matanya.
    “ Mati lampu... aku tidak mau tidur di sana sendirian dalam keadaan gelap gulita seperti ini...”
    Soo Hyun menghela napas.
    “ Kau memang benar-benar tidak seperti seorang gadis berusia 29 tahun. Tidurlah.” sahutnya singkat sambil menarik Ji Hyun hingga gadis itu berbaring di sampingnya dan merangkul pundak gadis itu hingga mendekat padanya. Ia tahu benar bahwa Ji Hyun harus memegang seseorang jika ia tidak bisa melihat apapun seperti sekarang.
    Ji Hyun tertegun sejenak. Ia bahkan tidak berani bernapas untuk beberapa detik lamanya.
    Jantungnya mendadak berdebar dengan kencang.
    “ Ada apa denganmu, Ji Hyun?? Bukankah memang ini yang selalu dilakukan bocah ini setiap kali lampu di rumahmu padam? .... tapi ada apa denganmu kali ini?”
    Ji Hyun perlahan melemaskan sandarannya dan bersandar penuh di dada Soo Hyun yang ternyata terasa lebih bidang dari yang ia bayangkan sebelumnya.
    Dalam gelap Soo Hyun membuka matanya, ia menjaga agar nafasnya tetap stabil dan diam-diam berharap agar Ji Hyun tidak sampai mendengar debaran jantungnya.

    “ Kau sudah tidur?” sahut Soo Hyun.
    “ .... hhm? .... belum. Ada apa?”
    “ .... perkataan tidak masuk akal yang kau katakan sebelumnya tentang kita... apakah kau serius dengan itu?”
    “ .... perkataan tidak masuk akal yang mana yang kau maksud?”
    “ Tentang kau ingin menikah... denganku jika kau tidak mendapatkan kekasih...”
    “ Ooo.... hhm.... memang kenapa jika aku serius dengan itu?”
    “ ..... jika kau belum mendapatkan seseorang yang bersedia menikah denganmu sampai tahun depan,.... ayo kita menikah, Jeon Ji Hyun.” sahut Soo Hyun dengan lirih.
     
  13. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    Always You

    Chapter - 4 -

    Is The Cinderella Story Exist in My Story ?


    Soo Hyun terbangun pagi itu dan mendapati Ji Hyun sudah tidak ada di dalam kamar.
    Ia teringat perbincangan paling absurd yang pernah ia lakukan dengan gadis itu sepanjang hidupnya semalam.
    Dengan sedikit kikuk ia keluar dari kamar dan mendapati Ji Hyun sedang duduk di sofa dengan keadaan TV menyala, tapi terlihat jelas gadis itu tidak sedang menonton TV.

    “ Tumben kau bangun begitu pagi.” cetus Soo Hyun membuyarkan lamunan Ji Hyun saat itu.
    “ Oo.. kau sudah bangun? T-tadi aku sakit perut jadi terbangun.”
    “ Kau pikir aku dapat dengan mudah kau bohongi? Kau pasti tidak bisa tidur setelah perbincangan kita semalam.”
    Ji Hyun menatap laki-laki yang memang tidak pernah bisa ia bohongi itu sambil menghela napas.
    “ .... Soo Hyun , kau tahu aku kan? .... aku ini selalu.... bicara apapun yang kurasakan dan baru memikirkannya baik-baik... aku ini memang gadis tidak jelas seperti itu...”
    Soo Hyun memandang ke arah gadis di sampingnya dan tersenyum seadanya.
    “ Aku hanya bercanda semalam.... siapa sangka ternyata kau bisa termakan kebohongan yang kau mulai sendiri.”
    “ Kau bercanda?? ... Ha... hahahaha! Tentu saja aku tahu kau bercanda semalam! Memang mungkin kau serius akan menikah denganku tahun depan?! Hahahaha!”
    “ Lebih baik kau berhati-hati sebelum mengucapkan sesuatu mulai sekarang, .... tidak semua orang sepertiku, yang bisa menangkap maksud perkataanmu dengan jelas dan tanpa kesalahpahaman.” sahut Soo Hyun sambil menatap layar TV.
    “ Aku mengerti! Aku bisa berkata seperti itu karena itu kau! Hahahaha.... ah, apa yang bisa kulakukan jika kau tidak ada dalam hidupku.” sahut Ji Hyun sambil menghirup napas dalam-dalam dan tersenyum lega. Semalaman ia tidak dapat tidur karena perkataan singkat Soo Hyun yang seakan memutar balik kehidupannya dalam waktu sekejap itu.

    Soo Hyun tersenyum miris. Ia menatap TV padahal otaknya sibuk berbicara pada dirinya sendiri.
    “ .... apa yang kau pikirkan semalam...? Apa karena hatimu berdebar lantas kau berpikir bahwa menikah dengannya adalah keputusan yang terbaik? ..... kalian berdua sudah terlalu lama saling mengenal, .... gadis itu hanya menganggapmu sebagai sahabat dan adiknya, seharusnya kau juga hanya menganggapnya sebagai sahabat dan kakakmu .... kenapa sejak dulu kau hanya bisa melihatnya sebagai seorang wanita?”


    *****​

    Mereka kembali ke rumah sore hari itu dan sepanjang perjalanan pulang adalah waktu yang cukup menyiksa baik untuk Soo Hyun maupun Ji Hyun. Mereka berdua seakan sepakat untuk mengunci mulutnya dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

    Soo Hyun memarkirkan mobilnya di depan rumah. Ji Hyun turun dari mobil dan menatap Soo Hyun sejenak kemudian tersenyum.
    “ Kurasa hari ini aku sudah berani tidur di rumahku deh.”
    “ .... benarkah? Baguslah kalau begitu, kurasa pencuri itu tidak akan kembali lagi.”
    “ .... terimakasih sudah menemaniku berlibur. Aku lelah sekali, aku pulang dulu ya.”
    Soo Hyun mengangguk dan melihat gadis itu berjalan ke rumahnya tanpa menoleh lagi ke belakang.

    Ji Hyun duduk di tepi tempat tidurnya sambil termenung.
    “ Jeon Ji Hyun, bocah itu hanya bercanda padamu. Tapi kenapa kau masih tidak bisa berhenti soal hal absurd itu? ..... apa kau benar-benar membayangkan untuk menikah dengan bocah itu? .... meskipun bocah itu memang bukan laki-laki yang buruk, tapi .... apakah kau benar-benar .... menyukainya seperti itu?”
    Jeon Ji Hyun melemparkan pandangannya ke sekeliling kamar tidurnya. Ia tersenyum miris melihat begitu banyaknya hal yang berhubungan dengan tetangganya di kamarnya itu. Mulai dari foto-foto sampai barang-barang yang entah diambilnya dari rumah Soo Hyun atau barang-barang yang memang diberikan laki-laki itu untuknya.
    Tiba-tiba Ji Hyun teringat saat ia masih berumur 9 tahun, ia tidak bisa melupakan hal itu karena hal itu terlalu lucu untuk dilupakan. Saat itu Soo Hyun masih berusia 6 tahun, ia bahkan belum masuk sekolah dasar, tapi saat itu bocah itu sudah mengatakan bahwa ia akan melindungi Ji Hyun dari teman-teman laki-laki yang mengganggunya di sekolah.
    Mulai saat itu, Soo Hyun memang selalu melindunginya dengan berbagai cara .... hingga sekarang.

    *****​

    Hari itu Ji Hyun buru-buru keluar dari rumahnya setelah memastikan Soo Hyun belum keluar. Ia harus menetralkan suasana di antara mereka dengan tidak bertemu beberapa saat. Biasanya jika mereka bertengkar, mereka hanya perlu untuk tidak bertemu beberapa hari lantas semuanya akan kembali normal seperti biasa.
    Ia naik bus ke kantor dan terpaksa harus berjalan dari halte terdekat ke kantor.
    “ Lihat sisi positifnya, sudah lama kau tidak sempat untuk berolahraga bukan? Ckckck... untuk wanita seusiamu berolahraga itu sangat penting!” serunya pada diri sendiri sambil mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya dan melakukan senam ringan seiring langkah yang membawanya ke kantor.

    Ji Sub sedang mengendarai mobilnya menuju kantor ketika tidak sengaja matanya tertarik pada sesosok wanita yang melakukan gerakan-gerakan tidak wajar di pinggir jalan.
    Tawanya pecah ketika menyadari bahwa ia mengenal wanita itu dan memang sejak awal ia mengenal wanita itu, wanita itu tidak pernah menjadi wanita ‘normal’.
    Tanpa sadar tiba-tiba tangannya menekan klakson mobilnya dan wanita itu terlonjak kaget sambil menoleh ke arah mobilnya.
    Wanita itu memincingkan matanya untuk melihat siapa orang yang membunyikan klakson mobilnya padanya. Ji Sub menurunkan kaca jendela mobilnya dan wanita itu bengong.

    “ ....S-selamat pagi, Pak!” sahut Ji Hyun nyaris tersedak.
    “ Mau ke kantor?”
    “ I-iya, Pak.”
    “ Naiklah, aku juga mau ke kantor.”
    “ T-tidak perlu, Pak. Toh sebentar lagi sudah sampai.” sahut Ji Hyun merasa tidak enak jika sekali lagi ia harus naik ke mobil yang penuh aura kikuk itu.
    “ Sebentar lagi sampai jika kau naik mobil, jika kau berjalan kaki sambil senam pagi seperti itu kau baru akan sampai 30 menit lagi.” sahut Ji Sub berusaha tidak tertawa mengingat gerakan-gerakan senam yang dilakukan Ji Hyun barusan.
    Wajah Ji Hyun berubah semerah udang rebus.
    “ .... b-baiklah kalau begitu, terimakasih dan maaf merepotkanmu, Pak.”

    Ji Hyun menutup pintu mobil dan menutup jendela mobil rapat-rapat. Ia berharap tidak ada orang yang melihatnya berada di dalam mobil itu sampai ia berhasil turun dengan selamat dari mobil itu.
    “ Aku tidak sengaja melihatmu pulang bersama Kim Soo Hyun tempo hari, apakah dia adalah tetangga yang kau maksud?”
    “ Oo.. iya, Pak. Kami bertetangga sejak dulu.”
    “ Ooo... kebetulan yang sangat menarik ya.”
    “ Tidak bisa dibilang kebetulan juga sih, aku yang memasukkan CV nya ke bagian recruitment perusahaan ini. Aku juga yang promosi bagaimana luar biasanya perusahaan ini padanya.”
    “ Benarkah? Kenapa kau sangat ingin ia bekerja di sini?”
    “ Hhm... kurasa akan sangat efisien jika aku bisa menumpangnya ke kantor setiap hari...” sahut Ji Hyun pelan, ia menyadari motivasinya yang sangat tidak terpuji itu dan tiba-tiba ia merasa berhutang sesuatu pada bocah itu.

    Ji Sub tertawa lepas untuk pertama kalinya di depan Ji Hyun. Gadis itu sampai dibuat kaget karenanya.
    “ Benarkah? Kalau begitu seharusnya aku berterimakasih padamu. Karena andilmulah perusahaan ini bisa membuat lulusan terbaik Universitas Seoul bekerja di sini.”
    “ Ha haha... iya, dia memang anak yang pintar sejak dulu. Sampai-sampai ia sering membuang piala di rumahnya karena tidak ada tempat untuk menaruhnya lagi.”
    “ Benarkah? Berbincang denganmu ternyata bisa semenyenangkan ini, nona Jeon. Kita harus sering-sering melakukannya.” sahut Ji Sub sambil mematikan mesin mobilnya. Mereka sudah sampai di kantor.

    Ji Hyun turun dari mobil dan membungkukkan badannya untuk berterimakasih sekaligus untuk menyampaikan hormatnya.
    “ Terimakasih atas tumpangannya, Pak.”
    “ Tidak perlu berterimakasih untuk hal sepele seperti ini. Lagipula aku menikmati 5 menit terakhir perjalananku menuju ke kantor berkat dirimu.” sahut Ji Sub sambil tersenyum lebar.
    “ Ternyata bapak sangat ramah dan sering tersenyum, padahal rumor... ah tidak.” sahut Ji Hyun sambil sibuk memarahi dirinya yang selalu berbicara tanpa dipikir dulu itu.
    “ Memang ada rumor apa tentang diriku?”
    “ T-tidak ada, Pak.”
    “ Nona Jeon. Kau tidak perlu sungkan pada seseorang yang dengan senang hati menawarkan tumpangan padamu ke kantor. Kau tidak tahu aturan tidak tertulis itu?”
    “ ..... r-rumornya anda.... sangat dingin dan.... tidak terlalu senang berbincang dengan bawahan anda.”
    “ Benarkah? Rumor tidak berdasar seperti itu tentu harus segera kuhapuskan. Aku harus minta bantuanmu untuk itu kurasa.” sahut Ji Sub sambil menepuk pundak Ji Hyun sambil berjalan pergi.

    Ji Hyun memastikan sang GM sudah naik lift terlebih dulu baru ia bisa bernapas lega.
    “ Jeon Ji Hyun!!” seru seseorang memanggilnya dan Ji Hyun menoleh ke belakang.
    “ Yoo Ra ? Hai.” sapanya pada rekan kerjanya itu.
    “ Ada yang harus kau katakan padaku kan?” sahut Yoo Ra sambil mengalungkan lengannya pada Ji Hyun.
    “ Apa yang harus kukatakan padamu?” sahut Ji Hyun bingung.
    “ Aku ini melihat semuanya! Kau turun dari mobil yang sama dengan Seo Ji Sub, GM tercinta perusahaan ini!”
    “ Sst!!!” seru Ji Hyun nyaris membungkam mulut besar rekan kerjanya itu dengan tangannya.
    “ Jadi, sejak kapan ini dimulai? Wah... kau benar-benar luar biasa. Bagaimana kau bisa mendapatkan ikan besar seperti itu??”
    “ Jangan ngawur! Semua yang kau pikirkan itu tidak terjadi! Lagipula apa kau pikir seorang GM seperti itu akan tertarik pada karyawan biasa sepertiku ini??”
    “ Memang secara logika itu tidak masuk akal, tapi seperti itu yang terjadi. Ayo cepat ceritakan bagaimana kau melakukannya??”
    “ Semua hanya kebetulan. Titik!”
    Ji Hyun buru-buru masuk ke dalam lift dan berharap pembicaraan mereka akan selesai sampai di sana.

    *****​

    Hari-hari berlalu tanpa disadari dan hari ini adalah hari pernikahan Lee Woo Bin. Ji Hyun sudah memutuskan jauh-jauh hari bahwa ia akan datang dengan dagu terangkat ke pesta pernikahan itu.
    Baru saja ia keluar dari rumahnya, Soo Hyun keluar dari rumahnya sambil memandangnya dengan dingin.
    “ .... ada apa dengan pandanganmu itu?” sahut Ji Hyun sambil menutupi gaun pestanya dengan mantel panjang yang dikenakannya.
    “ Kau benar-benar sudah gila rupanya. Kau akan pergi ke pesta pernikahan laki-laki itu?”
    “ Ya! Aku sudah gila. Tapi aku tidak mungkin membiarkan mereka mentertawaiku lebih lagi!”
    “ Bagiku kau sedang berusaha melawan angin. Kau tidak akan menang. Kau hanya akan membuat dirimu tampak menyedihkan di pesta nanti. Seisi dunia sudah tahu kalau Lee Woo Bin selingkuh dengan sahabatmu!”
    “ Kau tidak perlu mengingatkanku lagi soal itu oke?! Lagipula aku toh tidak memintamu untuk menemaniku ke sana! Aku sudah tahu kau pasti bersikap menyebalkan seperti ini! Sudahlah, aku malas bertengkar denganmu!” seru Ji Hyun sambil masuk ke dalam taksi yang sudah lama ia pesan.
    Soo Hyun melihat gadis itu pergi sambil menghela napas.
    “ Dia pasti akan kembali dengan mata bengkak nanti malam...”

    Ji Hyun tiba di tempat pesta pernikahan dilangsungkan. Ada wajah-wajah yang ia kenal, sebagian besar memang teman kuliahnya dulu. Ia berusaha untuk menyapa mereka seramah mungkin sambil diam-diam berharap kalau orang-orang itu lupa bahwa dulu ia adalah mantan kekasih sang mempelai pria hari ini.
    Tapi tentu saja orang-orang tidak akan lupa drama putus dirinya dengan Woo Bin beberapa tahun lalu yang begitu menggeparkan seisi kampus.
    “ Ji Hyun, kau benar-benar datang? Wah... kau memiliki hati yang sangat besar!” celetuk salah seorang teman kuliahnya.
    “ Aah... biasa saja. Lagipula sekarang kita sudah dewasa dan harus menghadapi semua hal dengan dewasa kan?” sahut Ji Hyun berusaha menjawab dengan diplomatis.
    “ Ya, kau pasti sudah sangat dewasa jika bisa memaafkan laki-laki yang berselingkuh dengan sahabatmu.”
    “ Atau memaafkan sahabatmu yang berselingkuh dengan kekasihmu.” timpal temannya yang lain.
    Ji Hyun tersenyum, berdoa agar kekesalannya tidak tampak jelas di wajahnya. Sesekali ia menoleh ke arah pelaminan tempat di mana 2 orang yang sangat ia benci sedang menebar senyuman dan melambai-lambaikan tangannya pada semua tamu yang datang.

    “ Jeon Ji Hyun?”
    Ji Hyun menoleh dengan enggan, entah siapa lagi orang yang ingin mengejek kehadirannya malam ini.
    Tapi ia langsung tertegun seperti orang bodoh ketika ia melihat Seo Ji Sub berdiri di hadapannya. Laki-laki itu tampak gagah dan tampan seperti biasa.
    “ .....A-apa yang anda lakukan di sini?” sahut Ji Hyun terlalu shock bahkan sampai lupa menyapa laki-laki itu dengan sopan.
    “ Kebetulan mempelai pria di sini adalah adik kelasku, kami sempat belajar bersama di German.”
    Ah, tentu saja. Lee Woo Bin mengambil pendidikan pasca sarjananya di German.
    “ Ooo... begitu... “
    “ Kau sendiri? Kau kenal mempelai pria atau mempelai wanita?”
    Ji Hyun sedang menimbang-nimbang jawaban terbaik yang akan ia katakan ketika teman-teman di sampingnya membantunya menjawab dengan sangat kejam.
    “ Ji Hyun mengenal keduanya. Mempelai pria adalah mantan kekasihnya dan mempelai wanita adalah mantan sahabatnya.”
    Ji Hyun tersenyum miris. Bagus. Sekarang harga dirinya benar-benar hancur.

    *****​

    Ji Hyun tidak mengerti kenapa bosnya itu masih mengikutinya sampai sekarang.
    Ji Sub bahkan mengambilkan segelas minuman untuknya.
    “ Minumlah, kau adalah orang yang paling harus tampil luar biasa di sini malam ini.”
    “ .... terimakasih untuk pengertianmu, Pak. Jika anda ingin pergi lebih dulu silakan saja ya.”
    “ Kau sedang mengusirku?” sahut Ji Sub sambil tersenyum.
    “ B-bukan itu maksudku....”
    “ Aku tidak kenal siapapun di pesta ini, untung saja aku bertemu denganmu di sini.”
    “ Ooo... “ sahut Ji Hyun sambil tersenyum miris.

    “ Jadi, apa motivasimu datang kemari?”
    “ ....m-motivasi? .... a-aku hanya ingin membuktikan pada mereka.... kalau aku baik-baik saja.”
    Ji Sub tersenyum.
    “ Aku senang dengan motivasi itu. Meskipun Woo Bin adalah adik kelasku tapi kurasa perbuatannya sangatlah menyebalkan terhadapmu. Kau mau membalasnya sedikit?”
    “ M-membalasnya? .... a-apa maksud anda?”
    Ji Sub meletakkan gelas dari tangan Ji Hyun dan tiba-tiba merangkul Ji Hyun dengan santai.
    “ Jika motivasimu memang seperti itu, maka sebaiknya kita menyapa kedua mempelai dan meninggalkan mereka, tidak ada gunanya berlama-lama di sini.”

    Kim Soo Hyun melangkah masuk ke dalam ruangan resepsi dan matanya sibuk mencari keberadaan Ji Hyun.
    Ia tidak tahu apa yang membawanya kemari tapi ia tidak ingin membayangkan gadis itu berada sendirian di sana.
    Setelah beberapa lama mencari akhirnya ia menemukan Ji Hyun, tapi langkahnya terhenti setelah melihat dengan siapa Ji Hyun sekarang.
    Ia nyaris tidak percaya dengan matanya ketika melihat Ji Hyun benar-benar datang ke acara ini dengan Seo Ji Sub. Laki-laki itu bahkan sedang merangkul gadis itu dengan sangat akrab sekarang.

    Bukan hanya Soo Hyun yang terkejut dengan apa yang ia lihat. Lee Woo Bin dan Soo Jin sama-sama tercengang melihat Ji Hyun datang bersama dengan undangan mereka yang sangat mereka hormati.
    “ Kak Ji Sub? .... kau datang bersama ... Ji Hyun?”
    “ Ooo... aku tidak tahu kalau kau mengundangnya juga. Untung saja kau mengundangnya, Ji Hyun sering tidak mau menemaniku ke undangan orang yang tidak ia kenal.” sahut Ji Sub berbohong dengan sangat lancarnya.
    Bibir Ji Hyun terkatup rapat seperti baru saja dilem. Ia tidak mau mengucapkan apapun dan mengacaukan semuanya. Ia seperti sedang berada di ujung jurang sekarang.
    “ Apakah kalian... berhubungan sekarang?” sahut Woo Bin kembali memastikan rasa penasarannya.
    “ Hhm... kurasa sebentar lagi kami akan masuk ke tahap yang lebih serius, kau doakan saja ya.” jawab Ji Sub kembali dengan begitu lancar.

    *****​

    Ji Hyun turun dari mobil setelah Ji Sub membukakan pintu mobil itu layaknya seorang gentleman.
    “ Anda tidak perlu mengantarkan pulang seperti ini.... aku jadi merasa sangat tidak enak pada anda...”
    “ Jeon Ji Hyun, berhenti mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu oke? Bagiku semua yang terjadi malam ini sangat menarik dan aku melakukannya tanpa keterpaksaan sama sekali.”
    “ .... bagaimanapun juga... aku membuat anda mengucapkan kebohongan seperti itu...” sahut Ji Hyun semakin menundukkan kepalanya. Ia benar-benar menyesali keputusannya pergi ke pesta pernikahan itu.
    Ji Sub tersenyum memandangi gadis yang entah sejak kapan terlihat begitu menarik baginya.
    “ Kau tidak akan pernah tahu masa depan, nona Jeon. Siapa tahu itu tidak akan sepenuhnya menjadi sebuah kebohongan.”
    “ .... hhm?” sahut Ji Hyun bingung.
    “ Masuklah, sudah malam. Sampai jumpa di kantor hari Senin depan.”
    “ ....I-iya... sekali lagi terimakasih banyak untuk malam ini, Pak.”

    Ji Hyun membuka pintu rumahnya dengan lunglai. Entah apa yang baru saja terjadi padanya hari itu. Semua terasa seperti mimpi.
    Jantungnya nyaris berhenti berdetak ketika ia melihat seseorang tengah duduk di sofa rumahnya.
    “ K-Kim Soo Hyun! Kau mengagetkanku!! Apa yang kau lakukan di sini??”
    “ Kau tidak pernah permisi setiap kali kau masuk ke rumahku, kenapa aku tidak boleh melakukan hal yang sama?” jawab Soo Hyun dingin.
    Ji Hyun duduk di sampingnya dan melepaskan sepatu hak nya yang nyaris membuat kakinya mati rasa itu.
    “ Kau tidak perlu kuatir, setidaknya aku sampai di rumah dengan selamat.”
    “ .... jadi, bagaimana pestanya? Menyenangkan?”
    “ Apakah kau ingin membuatku meledak? Bagaimana mungkin aku bersenang-senang di pesta menyebalkan itu?!!” umpat Ji Hyun kesal.
    “ Aku kira kau akan pulang dengan mata panda dan bengkak, tapi ternyata kau pulang dengan kondisi yang jauh lebih baik, .... tidak salah jika aku asumsikan pesta tadi berjalan dengan menyenangkan bukan?”
    “ ...... memang ada hal tak terduga yang terjadi di pesta tadi... sampai sekarang aku masih tidak percaya bahwa hal itu benar-benar terjadi.”
    “ ...... selesaikan ceritamu.”
    “ Aku bertemu dengan Pak GM di sana... ternyata dia adalah kakak kelas Woo Bin saat mereka sama-sama berkuliah di German. .... aku sudah kehilangan muka dan harga diriku di hadapannya sepanjang malam ini. Tapi bagaimanapun ia membantuku tidak kehilangan muka di hadapan Woo Bin dan Soo Jin.”
    “ .... jadi, kau tidak sengaja bertemu dengan Pak GM? .... kau tidak berjanji untuk bertemu dengannya di sana?”
    Ji Hyun mendelik dengan kesal. Bocah itu memang paling pintar membuatnya kesal dalam tempo sesingkat-singkatnya.

    “ Soo Hyun, aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu hari ini, oke?”
    Ketegangan di wajah Soo Hyun perlahan memudar.
    “ ..... kau sudah makan di pesta tadi?”
    Ji Hyun menggelengkan kepalanya.
    “ ..... aku hanya sempat minum beberapa gelas dan sekarang maagku mulai tidak enak.” sahut Ji Hyun sambil memandang Soo Hyun sambil memelas.
    “ ..... tunggu sebentar, aku akan membuatkan bubur untukmu.”

    *****​

    Sambil makan, Ji Hyun menceritakan semua hal yang terjadi di pesta dengan sangat mendetail.
    Soo Hyun nyaris tidak merasakan rasa makanan yang ia makan karena terlalu berkonsentrasi mendengarkan cerita Ji Hyun.
    “ Bagaimana menurutmu? Seo Ji Sub sangat keren bukan? Bisa-bisanya ia mengucapkan semua kebohongan itu dengan sangat meyakinkan hingga wajah Woo Bin dan Soo Bin berubah menjadi hijau tadi!”
    “ Kau harus berhati-hati dengan laki-laki yang bisa mengucapkan kebohongan dengan sangat lancar seperti itu. Biasanya mereka bukan laki-laki baik.” sahut Soo Hyun sinis.
    “ Ah, aku tidak peduli. Yang jelas laki-laki tidak baik itu sudah membantuku tadi. .... hanya saja aku sudah kehilangan muka di hadapannya, entah bagaimana aku harus menghadapinya jika bertemu lagi di kantor nanti.”
    “ Kau hanya perlu menghadapinya seperti biasanya. .... tidak ada hal penting yang terjadi malam ini di antara kalian. Tidak perlu membesar-besarkannya.”
    “ Benarkah? Aku bahkan sedang berpikir laki-laki itu mungkin jatuh cinta padaku.” celetuk Ji Hyun sambil menyuapkan sesendok penuh bubur ke mulutnya.
    “ Jangan bermimpi di siang bolong, oke?!”
    “ Aku mengerti! Sialan.” umpat Ji Hyun sambil mendelik kesal pada Soo Hyun.

    Soo Hyun menyempatkan diri untuk mencuci semua perangkat makan bekas yang mereka gunakan.
    Ia paling tidak tahan melihat ada tumpukkan piring kotor dan setiap kali ia berkunjung ke rumah Ji Hyun, gadis itu pasti menumpuk sejumlah besar piring dan gelas kotor sebelum ia mencucinya sekaligus di akhir minggu. Jorok sekali.
    “ Kau tidak mungkin benar-benar berniat menikah dengan gadis jorok seperti ini bukan?” gumamnya pada diri sendiri sambil mencuci piring demi piring di bak cuci.
    Ia kembali ke ruangan depan dan mendapati Ji Hyun tengah berbaring tidak sadarkan diri di sofa.
    Gadis itu memang bisa dengan mudah tertidur di mana saja.
    Soo Hyun melihat kaki Ji Hyun dengan bekas luka lecet di sekeliling kakinya. Gadis itu pasti memakai sepatu barunya untuk pergi ke pesta hari ini. Dan sepatu baru memang tidak pernah bersahabat dengan kaki sang pemilik bukan?
    Soo Hyun mengambil kotak P3K dan membubuhkan obat di sekeliling kaki Ji Hyun yang terluka itu sebelum akhirnya membopong gadis itu ke kamarnya.

    “ Astaga kau berat sekali...” gumam Soo Hyun sambil membopong Ji Hyun ke kamarnya. Ini bukan kali pertama ia membopong gadis itu. Namun ada perasaan yang berbeda saat ia membopong Ji Hyun saat itu. Entah sejak kapan gadis itu berubah menjadi begitu cantik saat memejamkan matanya seperti itu.
    Soo Hyun merebahkan Ji Hyun perlahan ke atas tempat tidurnya dan memandangi wajah gadis itu dengan seksama.
    Sudah ada kerutan halus di sekeliling matanya. Gadis itu pasti akan sangat kuatir dan gempar jika ia mengatakan itu padanya. Jeon Ji Hyun takut bertambah tua, itu kenyataannya.
    Soo Hyun mendekatkan wajahnya pada Ji Hyun dan nyaris setengah sadar ia menyapukan bibirnya pada bibir gadis itu.
    Bibir gadis itu lebih lembut dari yang selalu ia bayangkan selama ini.

    Soo Hyun tertegun, ia tidak menyangka dirinya bisa melakukan hal tidak terpuji seperti itu pada seorang gadis yang tengah tidak sadarkan diri.
    Buru-buru ia menegakkan kembali tubuhnya dan Ji Hyun masih berada dalam tidurnya yang lelap.

    Soo Hyun menghela napas panjang. Ia masih duduk di samping Ji Hyun dan benar-benar frustrasi dengan perasaannya sendiri.
    “ ..... Kim Soo Hyun, berhenti berbohong dan akui saja.... kau mencintai gadis berantakan di hadapanmu ini.... kau tidak perlu berpikir sejak kapan kau mencintai gadis ini tapi yang jelas sekarang kau mencintainya.... apa yang akan kau lakukan dengan perasaanmu ini, bodoh??”

    ******​

    Ji Sub membuka buku favoritnya di pangkuannya namun pikirannya sibuk melanglang buana ke tempat lain.
    Sesekali ia akan tersenyum teringat hal gila yang ia lakukan di pesta pernikahan adik kelasnya itu.
    “ Kenapa kau harus melakukan sampai seperti itu, Ji Sub?” gumamnya bertanya pada diri sendiri.
    Ia kembali tersenyum. Ia tidak menyangka akhirnya setelah sekian lama ia kembali merasakan perasaan tidak menentu seperti ini karena seorang wanita.
    Ia rasa ia tidak akan dengan mudahnya jatuh cinta lagi setelah kegagalan pernikahan pertamanya.
    “ Apa kau mau terlibat dengan percintaan lagi, Ji Sub? Kau yakin?”

    Namun semakin ia berpikir ia semakin teringat pada Jeon Ji Hyun dan senyumnya otomatis tersungging di wajahnya.
    “ Kak? Kenapa kau tersenyum sendiri seperti itu?” sahut Sun Mi yang sedang keluar untuk mengambil air.
    “ Kau belum tidur?”
    “ Belum, aku haus sekali jadi keluar mengambil minum.”
    “ Ooo... aku hanya baru teringat peristiwa lucu saja.”
    “ Tidak biasanya kau punya selera humor yang begitu baik. Pasti ini berkaitan dengan seorang wanita ya?”
    “ Hahaha... aku memang tidak bisa menutupi sesuatu darimu ya.”
    “ Jadi benar? Kau sudah punya pacar lagi?! Wah, papa dan mama pasti akan sangat senang mendengarnya!”
    “ Belum sejauh itu,... tapi aku bertemu dengan seorang wanita yang menarik perhatianku.”
    “ Benarkah? Siapa? Apakah aku mengenalnya? Kau harus mengajaknya makan bersama denganku, aku akan membantumu untuk memberikan penilaian!”
    Ji Sub menepuk-nepuk kepala adik semata wayangnya itu sambil tersenyum.

    “ Sebelum aku mengajaknya makan bersama denganmu, aku harus membuatnya tertarik padaku dulu, nona.”
    “ Kau belum berhasil membuatnya tertarik padamu? Ckckck.. tidak biasanya kau begitu lambat!”
    “ Apa kau bilang? Hahahaha... kau sendiri bagaimana? Setiap hari yang keluar dari mulutmu hanya Kim Soo Hyun dan Kim Soo Hyun. Kurasa kau benar-benar jatuh cinta pada laki-laki itu ya?”
    “ Sepertinya kisah cintaku juga harus berjalan lambat, Kak... laki-laki itu benar-benar hanya tertarik dengan pekerjaannya sepanjang hari. Kurasa ia bahkan tidak menyadari bahwa aku ini seorang wanita.” sahut Sun Mi sambil mencibir.
    “ Itulah konsekuensi menyukai laki-laki dengan kemampuan di atas rata-rata. Aku sudah pernah memperingatkanmu bukan?”
    “ Tapi itu yang membuatku tidak bisa berhenti menyukainya! Dia benar-benar luar biasa! Dia bahkan menyelesaikan persoalan desainku dalam waktu .... sedetik!”
    “ Benarkah? Kurasa aku harus memberikan perhatian ekstra padanya, atasanmu sepertinya tidak ingin terlalu mengekspos kepintarannya padaku.”
    Sun Mi mengangguk.
    “ Team leader dan manager di kantor selalu bersikap menyebalkan pada Soo Hyun. Jika ia mengundurkan diri dari perusahaan, maka aku akan menuntut balas pada kedua orang itu!”
    “ Hahahaha... kau tenang saja, aku akan mencoba untuk membantu orang yang kau sukai itu.”

    *****​

    Kim Soo Hyun terkejut ketika managernya tiba-tiba memintanya mempersiapkan presentasi desainnya di hadapan direksi siang nanti.
    “ T-tapi desain ini belum mendapat approval dari team leader dan juga bapak...” sahut Soo Hyun bingung.
    “ Kau pikir aku mengerti kenapa tiba-tiba Pak Ji Sub meminta untuk melihat hasil kerjamu?? Beliau bahkan menegur karena aku begitu lama melakukan evaluasi kerja padamu! Sudah cepat siapkan saja presentasi untuk siang ini. Jangan lupa email-kan dulu padaku.” gerutu sang manager dengan kesal.
    Kim Soo Hyun menoleh ke arah Sun Mi dan gadis itu tersenyum penuh arti.
    “ .... kau yang melakukan ini ya? .... apa yang kau katakan pada kakakmu?” sahut Soo Hyun serius.
    “ Aku tidak mengatakan apapun selain kebenaran. Sudah, nikmati saja hal yang seharusnya kau dapatkan.” sahut Sun Mi sambil menepuk pundak Soo Hyun.

    Presentasi siang itu benar-benar dihadiri oleh GM dan jajaran direksi. Managernya pun belum pernah mempresentasikan hasil kerjanya di hadapan orang-orang penting ini sekaligus.
    Soo Hyun berusaha agar tidak terlihat begitu gugup dan memulai presentasi desainnya dari slide yang pertama. Sesekali ia memastikan bahwa air muka orang-orang di sana tidak berubah menjadi gelap.
    1 jam berlalu dan presentasi desainnya bisa dikatakan berjalan dengan cukup lancar, meskipun ada interupsi beberapa kali yang menanyakan gambar desainnya yang terlihat tidak cukup sederhana untuk para direksi di sana.
    “ Desain rumah sakitmu ini sangat menarik dan juga terlihat sangat kompleks. Apakah kau yakin budget yang disediakan cukup untuk membuatnya?”
    “ Meskipun dari segi desain cukup terlihat kompleks, tapi dari segi bahan dan cara pembuatan tidak sekompleks itu, Pak. Bahkan dengan desain ini tidak akan ada bahan yang dibuang percuma, semua akan digunakan dengan maksimal dan dengan desain yang sedikit kompleks, maka rumah sakit tersebut tidak akan terlihat dibangun dengan budget minimalis.”

    Ji Sub melihat pada para direksi yang menganggukan kepala mereka, pertanda mereka setuju dengan desain di hadapan mereka. Ji Sub tersenyum pada Soo Hyun.
    “ Aku sangat puas dengan hasil desainmu, Soo Hyun. Aku tidak menyangka kau bisa mengejutkanku bahkan sejak desain pertama. Well done. Sekarang kau bisa membawa desain ini ke bagian marketing dan bekerjasama dengan mereka. Mereka yang akan membawa desain ini pada pihak rumah sakit dan mendiskusikan kelanjutan project ini bersama mereka.”
    “ Terimakasih, Pak. .... aku akan segera mendiskusikan ini dengan pihak marketing.”
    “ Kau baru sebulan lebih bekerja di sini bukan? Jika seperti ini terus maka tak lama lagi aku harus mempertimbangkan promosimu.” kelakar Ji Sub disusul tawa seisi ruang rapat itu.

    ******​

    Ji Hyun menyeret Soo Hyun hingga mereka berdua berdiri di depan department marketing dengan semua mata memandang ke arah mereka.
    Soo Hyun menghela napas panjang, ia paling benci cara yang digunakan Ji Hyun sekarang tapi ia tidak bisa berkutik.
    “ Perhatian semuanya!!! Sambutlah, blue chip designer perusahaan kita! Dalam waktu 1 bulan saja ia sudah menyelesaikan desain rumah sakit yang bisa segera kita pasarkan! Bahkan pesaing kita yang lain belum menyelesaikan hasil desain mereka! Kita selangkah lebih maju karena pria luar biasa ini!” seru Ji Hyun sambil menepuk pundak Soo Hyun.

    Orang-orang di tim marketing seketika itu juga berdiri dan bertepuk tangan untuk Soo Hyun. Tentu saja bagi mereka keberadaan laki-laki itu membuat mereka memiliki competitive advantage dibandingkan pesaing mereka, dan itu adalah hal yang luar biasa.
    “ Hentikan, oke?” bisik Soo Hyun di telinga Ji Hyun.
    “ Memang kenapa? Aku ingin seisi dunia betapa pintarnya otakmu.” balas Ji Hyun sambil menarik Soo Hyun masuk ke dalam.

    Soo Hyun mengeluarkan print out desainnya dan mengijinkan orang-orang marketing mencernanya lebih dulu.
    “ Jika ada yang kurang mengerti, maka bisa ditanyakan langsung padaku.”
    Ji Hyun memandangi hasil desain di hadapannya dengan serius. Ini bukan kali pertamanya ia melihat hasil karya Soo Hyun dan setiap kali ia melihatnya ia pasti dibuat terkesima.
    “ Konsep apa yang kau gunakan untuk desain ini?”
    “ .... Green ,Futuristic, Minimalis... kurasa gabungan ketiganya.”
    “ Ooo... maka dari itu kau memberikan pojok-pojok hijau dan juga desain yang agak unik pada desain luar rumah sakit ya?”
    “ Desain luar memang agak unik, itu untuk menambah nilai dan agar desain terlihat mahal, namun untuk area dalam semua bersifat minimalis, setidaknya untuk rutinitas rumah sakit yang padat, desain seperti ini tidak akan menyulitkan mobilitas orang orang di sana.”
    “ Ah, melihat rumah sakit ini aku benar-benar ingin pergi menginap beberapa hari di sana.” cetus Ji Hyun, disusul dengan tawa seisi ruangan.

    *****​

    “ Cheerss!!!!” seru Ji Hyun sambil membenturkan cangkir kopinya pada cangkir kopi milik Soo Hyun.
    “ Di mana ada orang yang minum kopi dan melakukan cheers sepertimu ini.”
    “ Aku tidak bisa minum bir malam ini, besok pagi aku harus mempromosikan hasil kerjamu pada client.” sahut Ji Hyun sambil merangkul Soo Hyun dengan hangat.
    “ Kau benar-benar sangat bahagia ya?”
    “ Tentu saja! Aku sudah bertekad untuk berbangga hati terhadap semua hal yang kau kerjakan! Aku akan membuat semua orang di kantor tahu bahwa Kim Soo Hyun, tetangga sebelah rumahku adalah seorang yang jenius yang akan membawa perusahaan ini ke dalam kesuksesan!!”
    “ Jangan melakukan hal yang akan membuat hidupku susah oke?”
    “ Kau benar... aku yakin atasanmu sekarang pasti sedang mengutukimu sepanjang hari.” sahut Ji Hyun sambil meringis.

    Soo Hyun melepaskan diri dari rangkulan Ji Hyun dan duduk di bangku teras balkonnya sambil menghela napas.
    “ Untuk beberapa alasan, kurasa aku tidak cocok bekerja dalam kelompok.... sepertinya aku diciptakan sebagai seseorang yang individualistis.”
    “ Pasti sulit ya bekerja dengan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan yang setara denganmu?”
    “ Bukan itu masalahnya .... terkadang aku terganggu karena semua orang sepertinya merasa aku akan mendepak mereka dan menggilas mereka hingga rata dengan tanah.”
    Ji Hyun menatap Soo Hyun, kemudian gadis itu tersenyum, senyuman yang membuat jantung Soo Hyun mulai berdebar dengan tidak normal.
    “ Anggap saja ini sebagai pengalaman. Aku rasa kau tidak perlu bekerja seumur hidupmu di perusahaan ini jika memang kau tidak nyaman. Kau hanya perlu mencari pengalaman kemudian pergi untuk masa depanmu yang lebih baik.”
    “ Apa kau sedang menyarankanku untuk berpindah ke perusahaan lain?”
    Ji Hyun menggelengkan kepalanya.
    “ Sejak dulu aku selalu merasa kau tidak cocok bekerja pada orang, karena orang itu pasti lebih bodoh darimu. .... aku selalu membayangkan kalau kau lebih cocok untuk membangun perusahaanmu sendiri, kau adalah jenis orang yang lebih cocok bekerja untuk dirimu sendiri.”

    Soo Hyun tersenyum.
    “ Jika aku bisa melakukan itu, kurasa aku benar-benar akan mendapatkan predikat sebagai pria yang sukses bukan?”
    Ji Hyun mengangguk.
    “ Tenang, masa itu tidak akan lama lagi pasti akan datang.”
    “ Jika masa itu sudah datang .... jika aku sudah menjadi seorang laki-laki yang sukses dan mapan... apakah kau bisa melakukan sesuatu untukku?”
    “ Apa? .... kau ingin aku melakukan apa?” sahut Ji Hyun sambil tersenyum lebar.
    “ Kau mau menikah denganku?”
    Senyuman di wajah Ji Hyun mendadak beku. Ia menatap wajah Soo Hyun yang tidak memperlihatkan raut wajah seseorang yang sedang bercanda.
    “ .... S-Soo Hyun...” sahutnya terbata-bata.
    “ Aku tahu diriku yang sekarang masih terlalu muda untuk mengatakan ini padamu.... aku juga tahu kau ingin seorang laki-laki yang sukses dan mapan untuk mendampingi sisa hidupmu... aku yang sekarang memang belum bisa menjadi orang yang kau inginkan, tapi saat aku berubah menjadi orang seperti itu... apakah kau bersedia menikah denganku?”

    “ ..... k-kau serius dengan perkataanmu? ..... untuk menikah dengan seseorang... kau harus mencintai orang itu, Soo Hyun...”
    “ ..... aku mencintaimu, Jeon Ji Hyun.”
    Ji Hyun tertegun, dadanya berdegub begitu kencang hingga ia nyaris pingsan dibuatnya.
    “ .... S-S-Soo Hyun... aku...”
    “ Kau tidak perlu menjawab pertanyaanku sekarang, aku tahu ini semua terlalu mengejutkan untukmu. .... 1 bulan. Aku memberikan waktu 1 bulan untuk memikirkan jawabannya. 1 bulan dari sekarang, aku akan menunggu jawabanmu di sini.”
     
  14. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    Always You

    Chapter - 5 -

    Do I Love You ?


    Ji Hyun tidak pernah merasa hidupnya begitu rumit hingga laki-laki yang sudah ia kenal selama 26 tahun menyatakan cinta padanya.
    Hatinya begitu kacau. Ada sebagian dari dirinya yang begitu lantang menjawab bahwa menikah dengan seseorang yang sudah mengenalnya begitu lama bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan, apalagi orang itu adalah Kim Soo Hyun, namun sebagian dari dirinya juga menjawab dengan lantang bahwa apakah benar jika ia menikahi laki-laki yang seharusnya menjadi adik dan sahabatnya itu?

    Sejak hari itu, hari-hari berjalan sangat lambat untuknya. Tiba-tiba Soo Hyun sangat sulit untuk ditemui, seakan laki-laki itu ingin memberikan waktu sepenuhnya untuk dirinya berpikir. Pekerjaan di kantor pun seakan tidak bosan-bosan menyiksanya sepanjang hari.
    Hari itu setelah ia mampir ke management rumah sakit untuk mendiskusikan kelanjutan desain milik Soo Hyun, akhirnya Ji Hyun bisa pulang.
    Di tengah perjalanannya menuju ke halte bus, tiba-tiba klakson mobil mengejutkannya.
    Ia menoleh dan tentu saja, siapa lagi yang akan menekan klakson begitu kencang padanya selain sang GM. Lama-lama ia cukup terbiasa dengan hal itu.

    “ Selamat sore, Pak.”
    “ Kau akan pulang?”
    “ Iya, Pak.”
    “ Masuklah, aku akan mengantarmu pulang.”
    “ I-iya Pak? T-tidak perlu merepotkan anda, Pak!”
    Tapi sia-sialah penolakan Ji Hyun, Ji Sub turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Ji Hyun, bahkan di saat ada beberapa pegawai kantor yang melihat hal itu.

    Ji Hyun buru-buru masuk ke dalam mobil sebelum lebih banyak lagi orang yang melihat hal itu.
    Kenapa GM nya itu harus melakukan hal itu tepat di waktu bubaran kantor?
    “ Kau keberatan jika aku memintamu menemaniku makan sebentar? Aku akan langsung mengantarmu pulang setelah itu.”
    “ M-makan? .... t-tentu saja, Pak.”
    Ji Sub mengajak Ji Hyun ke sebuah restaurant Perancis yang sangat mahal. Ji Hyun sudah salah tingkah saat tidak mengerti semua isi daftar menu di hadapannya.
    “ Kau sudah siap dengan pesananmu?” sahut Ji Sub.
    “ ..... aku memesan yang sama saja denganmu, Pak .... aku kurang mengerti isi menunya.”
    Ji Sub menahan tawanya dan berbisik.
    “ Kau kurang mengerti karena yang kau baca adalah sisi bahasa Prancisnya, jika kau balik buku menu itu, maka akan tersedia menu dengan pilihan bahasa yang pasti kau mengerti.”
    Ji Hyun membalikkan buku menu itu dan rasanya ingin membenamkan wajahnya ke bawah meja.
    “ Ah... maaf.... aku spaghetti carbonara dan orange juice saja, terimakasih.” sahutnya buru-buru memesan menu yang pertama tertangkap matanya.

    “ Jadi, bagaimana proses negosisasi tentang desain rumah sakit Soo Hyun? Semua berjalan lancar?”
    “ Pihak rumah sakit terlihat sangat tertarik dengan desain itu, Pak. Mereka sedang mempertimbangkan apakah desain itu sesuai dengan anggaran waktu yang mereka miliki.”
    “ Yakinkan mereka bahwa masalah waktu akan bisa pihak kita bantu sesuai dengan keinginan mereka.”
    “ Tentu Pak, kami akan berusaha untuk meyakinkan mereka.”
    “ Oya, .... kurasa aku ingin meminta 1 hal lagi darimu, nona Jeon.”
    “ Apa yang bisa kulakukan, Pak?”
    “ Berhenti memanggilku, Pak.”
    Ji Hyun memincingkan matanya bingung.
    “ Bagaimana maksud anda, .... Pak?”
    “ Kurasa usiaku belum setua itu hingga kau harus memanggilku bapak setiap kali kau bertemu denganku. Lagipula aku tidak akan membiarkan orang yang dekat denganku memanggilku dengan sebutan formal seperti itu.”
    “ ..... jadi anda ingin aku memanggil anda apa?”
    “ Kurasa kau sudah tahu kalau namaku Seo Ji Sub bukan? Kau bisa memanggilku dengan namaku.”
    “ T-tapi b-bagaimana mungkin aku memanggil nama anda begitu saja, ...P....?”

    Ji Sub tersenyum. Ia menghentikan pembicaraannya dan membiarkan makanan pesanan mereka dihidangkan terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perkataannya.
    “ Aku ingin menjadi orang yang dekat denganmu, bukan sekedar atasanmu di kantor saja, nona Jeon. ... ah, sebenarnya aku sangat ingin memanggilmu Ji Hyun, jika kau mengijinkan.”
    “ .... i-itu.... aku mengerti kalau aku sudah beberapa kali merepotkan anda, Pak... tapi....”
    “ Aku benar-benar marah jika kau memanggilku Bapak sekali lagi ya.”
    Ji Hyun tersenyum miris. Entah apakah ini adalah berkat atau kutuk.

    *****​

    Ji Hyun turun dari mobil Ji Sub setelah laki-laki itu turun dan membukakan pintu untuknya.
    “ Terimakasih untuk makan malamnya, Pa.... Ji Sub.” sahut Ji Hyun dengan terbata-bata.
    Ji Sub tersenyum lebar mendengar Ji Hyun menyebut namanya.
    “ Selamat beristirahat, Ji Hyun. Sampai jumpa besok.”

    Dengan semua hal aneh yang mendadak menimpanya, Ji Hyun tidak bisa menghabiskan malamnya untuk beristirahat dengan maksimal. Seringkali ia hanya akan termenung seperti orang bodoh.
    2 minggu sudah berlalu begitu saja dan dalam waktu 2 minggu, ia harus memberikan jawaban terbesar dalam hidupnya pada orang paling penting untuknya.
    “ Bagaimana bocah itu bisa begitu tega menyiksaku seperti ini?” gerutunya mengutuki Soo Hyun.
    Ji Hyun nyaris terlonjak terkejut karena bel rumahnya tiba-tiba berbunyi. Ia cukup yakin bahwa orang yang datang ke rumahnya pasti bukan Soo Hyun karena laki-laki itu tidak pernah menekan bel setiap kali datang ke rumahnya.

    Ji Hyun membukakan pintu dan bingung sendiri melihat seorang gadis muda berdiri di depan rumahnya dengan senyuman di wajahnya yang terkesan kikuk.
    “ Maaf mengganggumu malam-malam. Kau belum tidur kan?”
    “ .... kau nona yang pernah makan bersama Soo Hyun bukan? Rasanya wajahmu tidak asing bagiku.”
    “ Ah, kau masih mengingatku rupanya. Aku sempat kuatir kau sudah lupa sama sekali padaku. Bolehkah aku masuk sebentar?”
    “ Ooo... ya, tentu saja.”

    *****​

    Butuh waktu cukup lama untuk Ji Hyun pulih dari keterkejutannya sesaat setelah ia mendengarkan cerita dari nona yang berkunjung ke rumahnya itu.
    “ .... jadi... kau adalah rekan kerja Soo Hyun di kantor.... dan karena besok adalah hari ulang tahunnya, jadi kau datang kemari malam-malam untuk bertanya padaku hadiah apa yang akan disukai oleh Soo Hyun? .... dan kau melakukan itu karena ... kau jatuh cinta pada pandangan pertama pada... Kim Soo Hyun?”
    Sun Mi mengangguk dengan penuh semangat.
    “ Kudengar kau adalah sudah sangat lama bertetangga dengan Soo Hyun, kakakku juga sempat bercerita bahwa berkat kaulah makanya Soo Hyun bisa bekerja di perusahaan, aku merasa sepertinya Tuhan mengirimkan Soo Hyun ke dalam hidupku lewat kau.”
    “ .... tunggu sebentar. Kakakmu bercerita bahwa... Soo Hyun bisa bekerja di perusahaan karena aku? Siapa kakakmu? Kurasa yang tahu tentang itu hanya....”

    “ Ah, apakah Soo Hyun belum menceritakannya padamu... mungkin saja karena aku memang minta ia merahasiakan hal ini. Aku adik Seo Ji Sub, GM kita tercinta di kantor.”
    Untuk beberapa saat Ji Hyun hanya bisa bolak balik memandangi lantai dan wajah gadis di hadapannya itu.
    “ .... apakah Soo Hyun tahu kau... sedemikian menyukainya?” ujarnya berhati-hati.
    Sun Mi menggeleng.
    “ Aku berencana untuk mengutarakan perasaanku sekalian mengucapkan selamat ulang tahun... apakah kau bisa menolongku dengan itu?”
    “ ..... a-aku??”
    “ Menurutmu hadiah seperti apa yang disukai Soo Hyun? .... atau event seperti apa yang ia sukai? Apakah ia suka kejutan??”
    “ .... hhm .... entahlah... setiap kali ia berulang tahun, kami berdua hanya melewatkannya dengan ... makan sup rumput laut dan memesan ayam goreng... aku rasa dia tidak terlalu menganggap penting hari kelahirannya itu.” sahut Ji Hyun sambil berpikir rutinitas apa yang selalu mereka lakukan di hari ulang tahun mereka.

    “ Apakah Soo Hyun tidak pernah membicarakan tentang aku padamu?”
    Ji Hyun menggelengkan kepalanya.
    “ Ah.... benarkah? .... apakah aku tidak cukup spesial untuknya ya?” sahut Sun Mi dengan kepala tertunduk dan wajah yang lesu.
    “ .... m-mungkin saja karena akhir-akhir ini aku begitu sibuk dan jarang berbincang dengannya... “
    “ Ooo.... aku benar-benar berharap besok dapat menjadi hari yang menyenangkan untuk kami berdua.”
    “ Apa yang akan kau lakukan besok? ... kau akan memberinya hadiah?”
    “ Tadinya begitu, tapi setelah mendengar ceritamu, kurasa aku akan datang pagi-pagi ke rumahnya dan membuatkan sup rumput laut... pasti dia akan terharu sekali bukan?”
    “ ... ooo... ya begitulah...” sahut Ji Hyun enggan menanggapi. Bayangan bahwa akan ada wanita lain yang akan makan sup rumput laut bersama Soo Hyun besok dan itu bukan dirinya, itu membuat perutnya mulas.

    *****​

    Ji Hyun bangun pagi sekali hari itu berkat alarm yang sudah ia setel untuk berbunyi setiap tanggal 16 Februari.
    Namun pagi itu ia hanya menghela napas panjang.
    “ Tidak ada gunanya kau bangun sepagi ini.... sudah ada orang lain yang membuatkan sup rumput laut untuk bocah itu.” gumamnya bicara pada dirinya sendiri.
    Ia membuka jendela yang mengarah ke arah rumah Soo Hyun dan di depan rumahnya sudah terparkir sebuah mobil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Itu pasti mobil gadis itu.

    Soo Hyun duduk di meja makannya dengan semangkuk sup rumput laut terhidang di hadapannya.
    “ Apa yang kau lakukan di rumahku sepagi ini?” sahutnya sambil menatap Sun Mi dengan bingung.
    “ Happy birthday! Kau harus makan sup rumput laut di pagi hari ulang tahunmu bukan?”
    “ .... kau bertanya pada Ji Hyun tentang ini?”
    “ Ups... aku langsung tertangkap basah begini... aku memang mendatangi tetanggamu itu semalam untuk mencari tahu tentang hal ini. Aku benar-benar berusaha untuk hari ini, Kim Soo Hyun! Kau harus menghargainya ya.”

    Soo Hyun tersenyum pahit.
    “ Aku sangat tersanjung kau melakukan hal-hal seperti ini... tapi... maaf, kurasa aku tidak bisa menerima sup rumput lautmu.”
    Sun Mi tercengang.
    “ .... kau... baru saja menolak sup rumput lautku? ... aku jamin rasanya enak kok...”
    “ Aku yakin rasanya pasti sangat enak... hanya saja aku selalu melakukan hal yang sama selama 8 tahun terakhir ulang tahunku dan aku ingin tetap melakukan itu tahun ini.”
    “ .... hal yang sama? .... apa yang selalu kau lakukan selama 8 tahun terakhir itu?”
    “ Aku selalu makan sup rumput laut di pagi hari ulang tahunku bersama Jeon Ji Hyun.”
    Sun Mi terdiam. Ia tidak ingin mengerti arti kalimat Soo Hyun, namun kalimat itu terlalu mudah untuk dimengerti.

    “ Kau.... harus makan sup rumput lautmu bersama dengan Jeon Ji Hyun? .... kenapa?”
    “ ..... karena aku tidak ingin ia makan sup rumput laut di hari ulang tahunnya bersama laki-laki lain... kuharap kau mengerti.”
    “ .... apa itu artinya... kau... terhadapnya....”
    “ Aku mencintai tetanggaku yang satu itu,.... ini jelas bukanlah cinta pertama dan maaf tapi aku juga tidak dapat memberitahu diriku sendiri sejak kapan aku mulai menyukai gadis itu.”
    Sun Mi terduduk dengan lemas. Ia tidak pernah menyangka bahwa laki-laki yang terasa begitu dingin pada hal lain selain pekerjaannya itu ternyata sedang mencintai seseorang.

    *****​

    Ji Hyun baru saja keluar dari kamar mandi. Ia sudah bertekad untuk menjalani hari ini seperti hari-hari biasanya.
    Langkahnya terhenti ketika ia melihat Kim Soo Hyun sedang duduk di sofa ruang tengahnya.
    Ji Hyun memaksakan sedikit senyum di wajahnya dan berkata dengan kikuk.
    “ .... h-happy birthday...”
    “ Apa kau melupakan sesuatu hari ini selain mengucapkan kalimat tidak tulus itu?”
    “ ... bukankah sudah ada orang lain yang membuatkan sup rumput laut untukmu?” sahut Ji Hyun sambil mengeringkan rambut dengan handuknya.
    “ Kau akan membuatku memasak sup rumput laut untuk ulang tahunku sendiri?” sahut Soo Hyun seakan tidak mendengar perkataan Ji Hyun sama sekali.
    “ ..... Nona itu tidak datang ke rumahmu?”
    “ Jeon Ji Hyun. Kita harus berangkat ke kantor, kau tidak ingin terlambat hari ini bukan?”
    “ ... baiklah... tunggu sebentar, aku akan membuatkannya untukmu.” sahut Ji Hyun menyerah.
    Ia melemparkan handuknya ke kursi terdekat dan segera mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkasnya.

    “ Enak?” sahut Ji Hyun sambil memandang raut wajah Soo Hyun dengan kuatir.
    “ Kau benar-benar dilarang memasak jenis sup apapun kecuali sup rumput laut saat aku berulang tahun. Aku tidak ingin kau ditangkap polisi dengan tuduhan meracuni orang lain.”
    Ji Hyun mencibir.
    “ Bagaimana lagi, aku memang tidak bisa memasak.” sahut Ji Hyun membela diri. Dalam hati ia meringis karena sup rumput laut untuk ulang tahunnya selalu terasa sangat enak.
    “ ... kudengar Sun Mi datang mencarimu semalam.”
    “ Ooo... gadis itu datang kemari... dia sangat tergila-gila padamu ya.”
    “ Ini bukan kali yang pertama bukan? Dulu sering ada gadis yang menitipkan surat cintanya untukku padamu.”
    “ Apa kau sedang menyombongkan diri?”
    Memang benar, sejak dulu ada saja gadis yang tergila-gila pada laki-laki itu.

    “ Maksudku kau tidak perlu memperdulikan semua hal itu.”
    “ ..... kau menolak gadis bernama Sun Mi itu? ... sepertinya gadis itu lumayan baik... dan dia adik dari ---“
    “ Aku tidak peduli siapa kakaknya dan siapa keluarganya, yang jelas aku tidak bisa menerima perasaannya padaku. Dan kau tahu dengan jelas kenapa.”
    Ji Hyun menelan sup rumput lautnya dengan susah payah. Jantungnya mendadak berdebar dengan kencang saat Soo Hyun mengingatkannya tentang hal itu.
    “ .... aku tahu aku tahu...” gumamnya lirih.

    *****​

    Setelah hari ulang tahun Soo Hyun, laki-laki itu kembali tertelan bumi. Ji Hyun jarang sekali bisa melihat bayangannya.
    Setiap kali ia terpikir hal itu, maka otomatis ia terpikir tentang tenggat waktunya yang sudah memasuki hitungan hari, dan semakin ia terpikir tentang hal itu, maka semakin besar usahanya untuk tidak memikirkannya.

    Tentu saja Kim Soo Hyun tidak benar-benar tertelan bumi. Ia hanya sengaja berangkat lebih siang dari biasanya untuk memberikan kesempatan bagi Ji Hyun untuk pergi lebih dulu ke kantor. Ia juga pulang kantor tepat waktu setiap hari agar tidak perlu bertemu dengan gadis itu sepulang kerja.
    Sore itu ia sudah sampai di rumah bahkan sebelum hari gelap.
    Ia tidak ingin membohongi dirinya, ia cukup yakin bahwa gadis yang ia cintai tidak memiliki perasaan yang sama atau bahkan nyaris menyamai perasaan yang ada di hatinya.
    Ia melirik pada map yang ia letakkan di kursi samping mobilnya.
    Map itu adalah print out email yang baru saja ia terima siang itu. Email itu menyatakan bahwa perusahaan arsitektur terkemuka di Amerika baru saja menerima proposal desain kota satelit yang direncanakan akan dibangun di sana. Dan mereka sangat mengharapkan dirinya selaku orang yang membuat desain tersebut dapat terlibat secara aktif dalam perealisasian desain tersebut.
    Pada awalnya ia hanya iseng-iseng mengirimkan proposal desain itu, ia pikir hadiah uang yang dijanjikan sangatlah besar dan tidak ada ruginya jika ia mencoba.
    Siapa yang menyangka bahwa ramalan Ji Hyun tentang dirinya berhenti bekerja pada orang dan menjadi bos untuk dirinya sendiri akan terwujud begitu cepat?

    “ .... Jeon Ji Hyun... apa yang harus kulakukan terhadapmu...” gumamnya lirih.

    *****​

    Hari itu Ji Hyun terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Hal ajaib itu bisa terjadi karena memang ia nyaris tidak tertidur dengan lelap semalaman. Ia bingung bagaimana ia harus menghadapi hari itu.
    Hari itu genap sebulan waktu yang diberikan padanya untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan dari Soo Hyun. Dan nanti malam ia harus datang ke rumah laki-laki itu dan memberikan jawaban.

    Dengan susah payah ia berhasil memasukkan sedikit roti ke dalam perutnya sebelum berangkat ke kantor. Saat ia berangkat, mobil Soo Hyun masih ada di depan rumahnya. Buru-buru Ji Hyun berlari dan berdoa agar tidak perlu berpapasan dengan laki-laki yang hampir selalu ia lihat setiap hari itu.
    Soo Hyun berdiri di balik tirai putih jendela rumahnya.
    Ia sudah terlalu lama mengenal Ji Hyun, bahkan mungkin ia lebih mengenal gadis itu dibanding dirinya sendiri.
    Ia mengerti bahwa hal tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan malam ini.

    “ Kau sudah tahu ini mungkin saja terjadi,.... sekarang hadapi ini seperti laki-laki dan jalani kembali hidupmu.” sahutnya memantapkan keputusan hatinya.

    *****​

    Ji Hyun sengaja tidak makan siang hari ini demi menyelesaikan pekerjaan kantornya tepat waktu.
    “ Tumben kau tidak lembur hari ini. Kau sudah menyelesaikan semua pekerjaanmu?” tanya Yoo Ra penasaran pada rekan kerjanya yang nyaris tidak pernah membereskan mejanya sebelum matahari terbenam.
    “ Ada hal penting yang harus kulakukan hari ini, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku dan jika manager bertanya, bilang saja maag akutku kambuh dan aku harus ke rumah sakit. Bye!” sahut Ji Hyun sambil buru-buru berlari keluar dari ruangan kantornya, meninggalkan Yoo Ra yang bengong melihat tingkahnya yang tidak wajar itu.

    Baru saja ia sampai ke lobby kantornya, seseorang memanggil namanya.
    “ Ji Hyun!”
    Tadinya Ji Hyun ingin berpura pura tidak mendengarnya dan terus berlari, tapi ia tahu jelas bahwa suara yang memanggilnya itu adalah sang GM, kakinya otomatis berhenti melangkah.
    “ ...s-selamat sore,...” sahutnya berhenti di sana, ia tidak diperbolehkan memanggil “Pak” lagi pada laki-laki itu dan sekarang ia masih belum tahu kata ganti apa yang pantas ia gunakan.
    “ Kau akan pulang sekarang?”
    “ Ooo... hari ini aku tidak lembur.”
    “ Tentu saja, sekali-kali kau harus bersantai sedikit. Aku tidak ingin kau jatuh sakit karena terlalu sering lembur.”

    Ji Hyun tersenyum cangung, GM-nya itu tidak terlihat seperti akan mengakhiri pembicaraan di antara mereka.
    “ Aku baru saja akan mencarimu di ruanganmu. Kupikir seharusnya aku mencatat nomor teleponmu.”
    “ Anda mencari saya? .... ada apa?”
    “ Hhm... aku ingin meminta bantuanmu malam ini. Papaku mengundang beberapa pemegang saham untuk makan malam dan semua membawa pasangan masing-masing. Aku tidak punya pasangan, jadi aku berpikir untuk meminta bantuanmu malam ini.”
    “ .... k-kau ingin aku jadi... pasanganmu...?” sahut Ji Hyun dengan mulut ternganga.
    “ Kurasa kita melakukannya cukup baik di pesta pernikahan Woo Bin, kau mau membantuku kali ini bukan? Aku berjanji akan mengantarmu pulang sebelum larut.”
    Ji Hyun menatap laki-laki yang tidak pernah ia sangka akan meminta bantuan sejenis itu padanya.
    “ .... baiklah... anda sudah menolong saya tempo hari... saya akan menolong anda kali ini, walaupun aku tidak tahu apakah bantuanku ini berarti atau tidak.”

    *****​

    Soo Hyun sedang membereskan barang-barangnya dan berniat pulang dari kantor agak cepat hari ini.
    “ Kau akan pulang sekarang?” sahut Sun Mi. Gadis itu sudah tidak menyapanya sejak hari ulang tahun Soo Hyun beberapa hari yang lalu.
    “ Hhm... kau akan lembur hari ini?”
    “ ..... aku sudah banyak berpikir tentang ini.... kurasa aku tahu bahwa kau menyukai wanita yang bertetangga denganmu itu, benar?”
    “ Aku tidak nyaman membicarakan masalah pribadiku di kantor... kita bicarakan di lain kesempatan ya.” sahut Soo Hyun diplomatis.
    “ Gadis bernama Jeon Ji Hyun itu, .... kurasa dia juga tidak akan bisa membalas perasaanmu terhadapnya.”

    Soo Hyun terdiam. Ia kembali menatap Sun Mi, tatapannya mengeras.
    “ ..... mungkin aku jauh lebih tahu tentang hal itu dibanding kau.”
    “ Kakakku.... kudengar dia mengajak wanita itu sebagai pendampingnya di acara formal malam ini.... kakakku akan bertemu dengan para pemegang saham dan ia mengajak wanita itu. Apakah kau masih belum mengerti??”
    “ Aku tahu! .... aku tahu kakakmu menyukai Ji Hyun!” sahut Soo Hyun dengan nada suara yang meninggi.
    Sun Mi menghela napas.
    “ ..... dan wanita itu bersedia menemani kakakku.... wanita itu mungkin tertarik pada kakakku dan sama sekali tidak menaruh perasaan apa-apa terhadapmu. Ia sudah tinggal sedemikian lama di samping rumahmu tapi kalian sama sekali tidak pernah bisa berhubungan lebih serius dari sekedar tetangga bukan?”
    “ Kau ingin membawa pembicaraan ini ke arah mana? .... meskipun wanita itu tidak menyukaiku sama sekali, bagiku dia tetap wanita yang kusukai.... aku tidak pernah mengucapkan pengakuan seperti ini begitu lantang di depan orang, tapi kurasa aku tidak akan berpikir terlalu jauh lagi. Aku akan menghadapi perasaanku sendiri padanya.”
    “ Kau hanya akan menghadapi patah hati!”
    “ ..... aku juga akan menghadapi itu jika memang diperlukan.” sahut Soo Hyun sambil tersenyum getir.

    *****​

    Ji Hyun turun dari mobil Ji Sub dengan perasaan yang tidak menentu. Sebagai seorang wanita dewasa, ia tentu mengerti bahwa semua hal aneh yang dilakukan GM nya akhir-akhir ini pasti tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Ini adalah murni ketertarikan antara seorang laki-laki pada seorang wanita. Seharusnya ia bisa menikmati moment-moment di mana seorang pria mapan berusaha untuk menunjukkan ketertarikan padanya, tapi semua itu tidak bisa ia rasakan karena dirinya terlalu sibuk memikirkan laki-laki bernama Kim Soo Hyun.

    “ Terimakasih sudah membantuku hari ini, setidaknya aku tidak tampak seperti seorang bujangan tua di pertemuan tadi.” sahut Ji Sub sambil tersenyum lebar.
    “ ..... Aku malah kuatir image-mu jadi buruk karena memperkenalkan gadis biasa sepertiku ini pada pertemuan penting seperti itu.”
    “ Kau tidak boleh menganggap rendah dirimu sendiri, Ji Hyun.”
    Entah sudah berapa kali laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan yang begitu akrab seperti itu.
    Ji Hyun hanya tersenyum berusaha menutupi beban berat yang ada di hatinya sekarang.
    “ Kalau begitu aku masuk dulu, terimakasih sudah mengantarkanku pulang.”
    “ .... aku ingin bertanya sesuatu dulu padamu sebelum pulang... kau tidak keberatan bukan?”
    “ .... tentu saja, silakan bertanya apapun yang ingin anda ketahui.” sahut Ji Hyun sambil sesekali melirik ke arah rumah Soo Hyun. Lampu rumah itu masih menyala dengan terang. Tentu saja, laki-laki itu mungkin sedang menunggunya di dalam sekarang.
    “ Kau tahu kalau aku pernah menikah dan kemudian bercerai?”

    Ji Hyun bengong untuk beberapa saat. Tentu saja ia tidak tahu tentang kehidupan pribadi bos-nya sejauh itu. Ia menggelengkan kepalanya.
    “ Aku pernah menikah selama 3 tahun dan kemudian bercerai... setelah itu sampai saat ini aku tidak pernah menjalin hubungan serius dengan wanita manapun. Aku rasa sebuah hubungan bukanlah hal yang bisa kulakukan sebaik aku mengurus pekerjaan di kantor.”
    “ ..... ya, aku bisa mengerti...”
    “ Lalu aku bertemu denganmu, .... aku tidak tahu hal apa yang membuatmu tampak begitu berbeda dari wanita lain yang aku kenal. Kau.... sangat menarik untukku.”
    Ji Hyun menatap sang GM sambil menelan ludah. Ini saat yang tidak bisa ia hindari lagi.
    “ .... aku akan sangat senang jika kau bisa memikirkan mengenai ini baik-baik. Aku ingin mencoba menjalin hubungan serius dengan wanita lagi.” sahut Ji Sub dengan tatapan serius, membuat jantung Ji Hyun mulai berpacu.

    “ .....a-apakah anda sedang bercanda? .... m-mengenai ketertarikan, aku bisa mengerti... tapi untuk menjalin hubungan yang serius... apakah anda tidak bercanda? Aku hanyalah seorang staff biasa di perusahaan tempat anda memimpin... dan juga... aku ini sudah hampir kepala 3.”
    “ Aku juga sudah kepala 3, lalu kenapa? Bagiku umur seorang wanita tidak ada hubungannya dengan chemistry antara kau dan aku. Kau tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun bukan?”
    “ ..... aku memang tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun.... hanya saja ada hal yang masih harus aku luruskan... aku tidak bisa menjanjikan apapun pada anda.... tentang hubungan itu, Pak.”
    “ Kenapa kau kembali memanggilku bapak?”
    Ji Hyun menundukkan kepalanya dalam-dalam.
    “ Aku tidak memintamu untuk segera menjawabnya, ambil waktumu baik-baik dan kita akan jalani ini perlahan, oke?”

    *****​

    Kim Soo Hyun membukakan pintu rumahnya dan Jeon Ji Hyun berdiri di sana. Mungkin ini pertama kalinya wanita itu menekan bel rumahnya setelah selama ini ia pasti langsung masuk begitu saja menggunakan kunci yang memang dipegangnya.
    “ ..... aku kira kau tidak akan datang malam ini.” sahut Soo Hyun sambil tersenyum pahit.
    “ ..... mana mungkin aku mengingkari janji? .... kau punya teh panas? Udara di luar dingin sekali... aku ingin minum teh.”
    “ ..... apakah Seo Ji Sub mengantarmu pulang barusan?”
    “ ..... ya... dia mengantarkanku pulang.” jawab Ji Hyun sambil melangkah masuk dan duduk dengan punggung tegak membentuk sudut 90 derajat di meja makan.

    Soo Hyun meletakkan segelas teh panas dan duduk di samping gadis itu. Lama mereka tidak saling bicara satu sama lain.
    “ ..... rasanya aneh sekali.” sahut Ji Hyun dengan suara yang lirih.
    “ Apanya yang aneh?”
    “ ..... kita. 1 bulan terakhir ini.... rasanya kita seperti orang yang sedang bertengkar... dan rasanya tidak enak sekali bagiku.”
    “ Aku hanya ingin memberikanmu waktu untuk berpikir dengan tenang.”
    “ ..... aku tahu.... kau sudah mengenalku selama 26 tahun .... kau sudah melihat semua hal yang ada dalam diriku, dan aku yakin sebagian besar itu adalah hal yang tidak enak dilihat. Tapi.... kenapa kau ....”
    “ Kenapa aku bisa jatuh cinta padamu?” sahut Soo Hyun melengkapi kalimat Ji Hyun.
    Ji Hyun mengangguk sambil menoleh. Soo Hyun berada persis di sampingnya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat wajah laki-laki itu sedekat ini dan ada perasaan hangat di hatinya sekarang.
    “ ..... tentu saja ini bukan cinta pada pandangan pertama .... aku juga tidak tahu sejak kapan aku memiliki perasaan seperti ini terhadapmu... yang aku tahu hanyalah.... kau sudah menjadi orang yang penting dalam hidupku.”

    Ji Hyun menatap Soo Hyun sejenak dan kemudian berkata.
    “ ..... jika aku mengatakan ya. .... apa rencanamu selanjutnya? Kau akan berpacaran seperti laki-laki seusiamu? Kau akan mengantarku ke kantor dan menjemputku saat aku lembur? ..... kau akan mengajakku berkencan di akhir minggu dan sesekali membelikanku sebuket bunga?”
    Soo Hyun terdiam, entah kenapa kalimat demi kalimat yang meluncur keluar dari bibir Ji Hyun barusan terasa seperti sebilah pisau untuknya.
    “ ..... apakah di matamu aku seperti seorang bocah laki-laki? .... aku memang belum pernah berpacaran sebelumnya, dan kau kuatir tentang itu?”
    “ ..... tentu saja aku kuatir... usiaku sudah tidak muda lagi... aku ingin ketika aku menjalin sebuah hubungan maka itu adalah hubungan yang serius dan aku tidak membuang waktuku untuk pria yang salah ....”
    “ ..... pria seperti apa yang kau harapkan, Jeon Ji Hyun?”
    “ Aku ingin seorang pria yang mapan... yang membuatku tidak perlu mencemaskan hari esok dan dapat kubanggakan pada semua orang... “ jawab Ji Hyun dengan lancar. Itu adalah semua harapannya mengenai sosok pria yang akan mendampinginya.

    Soo Hyun mendekatkan wajahnya pada Ji Hyun dan berkata dengan nada lirih.
    “ Cinta. Bagaimana dengan hal yang satu itu? Apa kau tidak peduli apakah kau mencintai pria itu atau tidak? Atau pria itu mencintaimu atau tidak?”
    “ ..... masa-masa itu sudah lewat bagiku... aku tidak percaya cinta sehidup semati... bagiku itu hanyalah hormon yang akan hilang seiring berjalannya waktu. Dan aku tidak ingin menggantungkan masa depanku pada hal yang bersifat sementara seperti itu.”
    Soo Hyun menatap Ji Hyun dengan sorot mata nyaris tidak percaya.
    “ Aku tidak tahu kalau hatimu ternyata sudah berubah seperti batu.... apa yang kau alami selama ini hingga kau berubah seperti ini?”
    “ Ini yang dinamakan kedewasaan, Soo Hyun. .... kau menginginkan jawabanku? .... aku akan memberikannya padamu... apakah kau merasa dirimu cukup mapan untuk menjadi pendamping hidupku? Apakah kau merasa aku bisa membanggakanmu pada semua orang?”
    Soo Hyun terdiam.

    Ji Hyun menghabiskan teh panas di gelasnya dan meletakkannya kembali di atas meja.
    “ ..... apakah kita akan terus seperti ini sepanjang malam?” sahutnya sambil menoleh menatap laki-laki yang tampaknya masih shock dengan percakapan mereka sebelumnya.
    “ ..... maafkan aku.... aku tidak tahu kalau aku sudah begitu lancang menanyakan pertanyaan seperti ini padamu... aku tidak tahu kalau aku sudah begitu kelewatan hingga memintamu untuk memikirkan hal ini selama 1 bulan.”
    “ Apa maksudmu?” sahut Ji Hyun bingung, ia menatap laki-laki di hadapannya dengan serius.
    “ Kurasa aku belum menjadi seorang pria yang mapan untuk bisa memberikanmu jaminan hidup selamanya... aku juga bukan laki-laki semenarik itu hingga bisa kau banggakan pada semua orang... melihat diriku yang seperti ini, kurasa aku tidak boleh begitu kurang ajar ingin mendampingimu.... kurasa kita berdua tidak akan berhasil, Ji Hyun...”
    “ ..... begitukah?” sahut Ji Hyun berusaha untuk tampak baik-baik saja walaupun dadanya mulai terasa sesak.
    “ Kalau kau mencari pria seperti itu, kurasa kau sudah menemukannya... Pak Seo adalah laki-laki yang sesuai dengan keinginanmu.”
    “ Aku tidak ingin membahas hal lain di sini denganmu.”
    “ ..... aku membatalkan semua perkataan dan pertanyaanku padamu, Ji Hyun.. bukan hanya karena aku yang tidak memenuhi standardmu.... tapi aku juga tidak bisa bersama wanita yang tidak mencintaiku....”

    Ji Hyun menatap Soo Hyun beberapa saat lamanya sebelum akhirnya ia memeluk laki-laki itu dengan erat.
    “ ..... kau adalah orang yang sangat penting untukku, Soo Hyun....”
    “ Aku tahu.... tapi kau tidak bisa terus menerus menggantungkan hidupmu pada seseorang yang tidak kau cintai.... itu terlalu tidak adil untuk orang itu...”
    “ ..... maafkan aku....” bisik Ji Hyun lirih.
    Soo Hyun hanya menepuk kepalanya dan mereka kembali tenggelam dalam sunyi.

    *****​

    Soo Hyun mengantarkan Ji Hyun pulang sampai ke depan rumahnya.
    “ ..... kau sudah berjanji kalau tidak ada hal yang akan berubah di antara kita ya!” sahut Ji Hyun untuk kesekian kalinya.
    “ Aku sudah bilang iya ratusan kali sejak tadi. Apa aku begitu tidak bisa kau percayai?” sahut Soo Hyun sambil tersenyum.
    “ ..... bisakah aku memelukmu sekali lagi?” sahut Ji Hyun dan langsung mendekap laki-laki di hadapannya itu tanpa menunggu jawaban.
    Soo Hyun meletakkan kedua tangannnya di punggung Ji Hyun, ia tidak tahu kekuatan apa yang masih memampukannya untuk bersikap baik-baik saja seperti ini.

    Ji Hyun melambaikan tangan sambil menutup pintu rumahnya. Soo Hyun kembali ke rumahnya dan sesaat setelah ia menutup pintu rumahnya, ia duduk dengan lemas di lantai.
    Matanya mulai berair dan ia sendiri terkejut dibuatnya.
    “ .... bahkan kau bisa meneteskan air mata untuk gadis itu sekarang.” gumamnya getir.
     
  15. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    Always You

    Chapter - 6 -

    The One That Got Away


    Meskipun Soo Hyun sudah berjanji padanya bahwa tidak akan ada hal yang berubah, tetap saja Ji Hyun merasa perlu untuk memberikan waktu pemulihan bagi laki-laki itu... dan juga dirinya.
    Ia tetap berangkat kerja sendiri dan tidak terlalu berharap laki-laki itu akan menelepon untuk mengajaknya pulang bersama.
    Selain itu, ia masih dipusingkan dengan pernyataan cinta sang General Manager. Dan laki-laki itu benar-benar berusaha untuk terus bertemu dengannya, baik lewat meeting dadakan dengan departmentnya, atau lewat ajakan makan siang dan makan malam yang rutin diarahkan padanya.

    Hari ini ia memutuskan untuk menolak ajakan makan siang Seo Ji Sub dengan alasan harus segera menemui client sesudah makan siang. Ia menghabiskan waktu istirahat siangnya dengan menatap layar komputer di hadapannya dan semangkuk mie instant di hadapannya. Hanya dirinya yang ada di sana karena semua orang keluar kantor untuk makan siang.
    “ Jeon Ji Hyun!” sahut sebuah suara memanggil namanya.
    Ji Hyun menoleh dan terkejut melihat gadis yang pernah mengunjungi rumahnya tengah malam itu sekarang tiba-tiba muncul lagi. Kali ini gadis itu terlihat sangat marah.
    “ ..... ooo... kau mencariku?”
    “ Sebenarnya apa yang terjadi antara dirimu dan Soo Hyun?!” serunya kesal.
    “ ..... apa maksudmu? .... apa yang kau tahu tentang aku dan Soo Hyun?” tanya Ji Hyun dengan sedikit tersinggung. Gadis itu jelas lebih muda darinya tapi sejak awal mereka bertemu ia sama sekali tidak pernah memperlakukan dirinya dengan sopan.
    “ Ini pasti karena dirimu! Jika tidak apakah mungkin dia tiba-tiba mengajukan surat pengunduran diri dan bilang akan pergi ke Amerika minggu depan?!”

    Ji Hyun tertegun. Ini adalah hal yang baru ia dengar sekarang.
    “ ..... kau ini sedang bicara omong kosong apa sih? Aku bahkan belum mendengar itu! Soo Hyun pasti memberitahuku.... harusnya ia memberitahuku...”
    “ Hari ini ia baru saja menemui kakakku untuk memberikan surat pengunduran diri dan betapapun kakakmu memintanya untuk tinggal, ia tidak mau tinggal! Sebenarnya apa yang kau lakukan terhadapnya sampai-sampai ia memutuskan untuk pergi?!”
    Ji Hyun segera berdiri dari tempat duduknya.
    “ Aku harus pergi.” gumamnya singkat pada Sun Mi dan segera berlari.

    Ji Hyun berlari ke tempat Soo Hyun bekerja dan laki-laki tampak sedang merapikan barang-barang di mejanya. Tanpa peduli tatapan orang-orang di sekelilingnya, Ji Hyun langsung berjalan menghampiri Soo Hyun.
    “ ..... kenapa kau melakukan ini?” sahutnya dengan nada lirih.
    Soo Hyun menoleh dan tampak terkejut dengan kehadiran Ji Hyun di tempatnya bekerja.
    “ ..... kenapa kau datang kemari?”
    “ Gadis itu bilang kau mau keluar dari sini dan pergi ke Amerika? ... omong kosong macam apa itu?”
    “ Maafkan aku tidak sempat memberitahumu.” jawab Soo Hyun sambil menyungginkan seulas senyuman pada Ji Hyun.
    “ KAU BUKANNYA TIDAK SEMPAT MEMBERITAHUKU! KAU TIDAK INGIN MEMBERITAHUKU!” bentak Ji Hyun kesal bukan main, apalagi setelah melihat laki-laki itu masih sempat-sempatnya tersenyum padanya.
    “ Ssst! .... di sini masih tempat kerja dan orang-orang melihat kita sekarang... kita bicarakan di rumah oke?” sahut Soo Hyun sambil buru-buru mengambil tasnya dan mendorong Ji Hyun keluar dari ruangannya.

    *****​

    Soo Hyun meletakkan kunci mobilnya di atas lemari diikuti Ji Hyun yang ikut melangkah masuk ke dalam rumahnya.
    “ Cepat ! Jelaskan padaku apa arti semua ini!”
    “ Aku pernah mengirimkan desainku ke salah satu perusahaan arsitektur di Amerika.... mereka menjanjikan hadiah uang yang lumayan.... aku tidak menyangka ternyata desainku terpakai, dan selain hadiah uang, mereka juga memberikan kesempatan padaku untuk ikut berbagian pada project mereka.... ini adalah kesempatan yang sudah kutunggu sejak dulu....”
    “ Kapan kau mendapat kabar tentang hal ini?”
    “ ..... 2 minggu yang lalu...”
    “ Lalu? Kenapa kau tidak memberitahu aku sama sekali tentang ini?! Kenapa?!”
    “ .....a-aku masih berpikir apakah aku akan pergi atau tidak... aku baru memutuskan tentang hal ini.”
    “ ..... apa ini semua karena aku? .... kau ingin menghukumku dan pergi meninggalkan aku begitu saja?” sahut Ji Hyun panik, tidak ia sadari matanya sudah berkaca-kaca.
    Soo Hyun terdiam dan menghela napas.
    “ .... kau pernah bilang kalau aku tidak cocok bekerja pada orang bukan? .... ini adalah kesempatanku untuk berhenti bekerja pada orang dan mulai bekerja pada diriku sendiri... tidak bisakah kau ikut bahagia denganku?”
    “ ..... berapa lama kau akan pergi ke sana? .... kau akan kembali bukan?”

    Soo Hyun menggelengkan kepalanya.
    “ ..... aku belum tahu.... aku tidak tahu kesempatan macam apa yang bisa kudapatkan di sana...”
    Tiba-tiba Ji Hyun memukul pundaknya dengan kencang.
    “ Kau tahu kalau aku paling benci ditinggalkan seperti ini bukan?! .... papa dan mama tiba-tiba meninggalkan aku begitu saja... dan sekarang kau... kalian semua pergi tanpa memikirkan perasaanku!”
    “ .... Ji Hyun... ak---“
    “ Sudahlah! Kalau kau mau pergi ya pergi saja! Aku tidak peduli meskipun kau tidak kembali lagi!!” seru Ji Hyun sambil memutar badannya dan berjalan pergi. Hatinya tidak pernah terasa sehancur ini sejak kabar kecelakaan kedua orang tuanya dulu.

    *****​

    Setelah hari itu Ji Hyun benar-benar menghindari Soo Hyun. Untuk pertama kalinya gadis itu tidak mengangkat telepon dari Soo Hyun sepanjang hari dan tidak menatap laki-laki itu saat mereka berpapasan.
    Tentu saja Soo Hyun mengerti, gadis itu paling benci perpisahan, apalagi perpisahan yang tiba-tiba. Itu seperti mimpi buruk untuknya. Hanya saja ia juga sangat mengerti perangai gadis itu.
    Setiap malam Ji Hyun akan pulang larut malam dalam keadaan mabuk berat. Entah apa yang harus membuatnya bekerja sambil minum seperti itu.
    Soo Hyun tidak bisa tidur sebelum memastikan gadis itu sudah sampai ke rumah setiap hari.
    Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam dan rumah Ji Hyun masih gelap gulita.
    Soo Hyun berusaha untuk menelepon gadis itu tapi tetap saja teleponnya tidak digubris.
    Ia keluar dari rumah dan menunggu dengan tidak sabar di halaman rumahnya. Tidak ada satupun mobil yang lewat ke sana. Soo Hyun bahkan sudah pada tahap tidak masalah jika yang mengantarkan Ji Hyun pulang adalah Seo Ji Sub, yang penting gadis itu pulang.

    Ia terus menunggu hingga waktu tepat menunjukkan pukul 2 subuh. Saat itulah ia melihat Ji Hyun pulang dengan berjalan kaki. Ia tidak memakai sepatu dan berjalan dengan limbung dan tertatih-tatih. Sesekali gadis itu akan berteriak diselingi dengan menangis seperti orang gila.
    Soo Hyun tidak bisa bersabar lagi dan berlari menghampiri gadis itu.
    “ Wanita seperti apa yang mabuk setiap hari seperti kau ini?!” bentaknya kesal.
    “ .... Kim Soo Hyun? Kau belum pergi ke Amerika??” sahut Ji Hyun sambil terus melangkah tidak memperdulikan laki-laki yang sangat kuatir padanya itu.
    Soo Hyun melihat kaki gadis itu, beberapa luka sudah tampak jelas di sana, entah apa yang terjadi pada kedua sepatunya karena ia tidak melihat gadis itu mengenakan sepatunya.
    Ia tidak menunggu lebih lama lagi dan langsung mengangkat tubuh gadis itu ke rengkuhannya dan berjalan menuju rumahnya.

    “ Turunkan aku!! Apa yang kau lakukan?! Aku bisa berjalan sendiri!!” seru Ji Hyun dengan mulut yang bau alkohol.
    “ Kau berjalan sendiri hingga melukai kakimu hingga seperti ini! Diamlah dan biarkan aku membawamu pulang!” seru Soo Hyun sambil terus melangkah menuju ke rumahnya.
    “ .... kenapa kau membawaku ke rumahku? Turunkan aku, aku ingin pulang ke rumahku!!”
    “ Kau tidak punya kotak P3K di rumahmu! Dan kita harus mengobati luka-luka di kakimu ini!!” bentak Soo Hyun hingga akhirnya Ji Hyun terdiam dan membiarkan laki-laki itu membopongnya masuk ke dalam rumahnya.

    Soo Hyun menurunkan Ji Hyun di atas tempat tidurnya. Tidak biasanya ia sendiri yang membawa gadis itu ke dalam kamarnya, tapi kali ini berbeda.
    “ Jangan buat aku harus mengangkatmu lagi kemari, aku bahkan bisa menyeretmu lagi kemari jika kau macam-macam.” sahutnya dingin sambil berjalan keluar dan mengambil kotak P3K.
    Tanpa suara Soo Hyun membersihkan luka-luka di kaki gadis yang dicintainya itu sambil sesekali menghela napas melihat begitu banyaknya luka di kaki gadis itu seakan gadis itu menginjak semua benda tajam di jalanan.
    “ ..... kau tidak bertanya kenapa aku bisa seperti ini?” sahut Ji Hyun lirih.
    “ Aku tidak tertarik dengan ceritamu. Sekarang berbaringlah, aku akan membuatkan air madu untukmu.”
    “ ..... aku ingin pulang ke rumahku saja.”
    “ Kakimu belum boleh dipakai berjalan! .... biarkan lukanya mengering!” seru Soo Hyun sambil memaksa Ji Hyun untuk berbaring di tempat tidurnya.

    Ia kembali dengan segelas air madu di tangannya, namun ia mendapati Ji Hyun sudah tertidur dengan lelap. Gadis itu benar-benar mudah sekali tertidur seperti bayi.
    Soo Hyun menarik selimut dan menyelimuti gadis itu dengan perlahan agar tidak menyakiti kedua kakinya.
    Ia meredupkan lampu kamarnya dan kemudian duduk di samping Ji Hyun.

    *****​

    Keesokan harinya Ji Hyun terbangun dan mendapati Soo Hyun masih duduk dengan kedua tangan tertumpu di atas tempat tidur.
    Dengan menahan sakit ia berhasil turun dari tempat tidur tanpa membangunkan Soo Hyun.
    Ia berjalan keluar kamar dan melihat beberapa tumpukan koper ada di dekat pintu keluar. Ia teringat, hari ini adalah hari keberangkatan Soo Hyun ke Amerika, itulah mengapa ia minum begitu banyak semalam bahkan sampai tidak sadarkan diri mengenai apa yang terjadi semalam. Ia tidak tahu kenapa kakinya bisa terluka seperti itu dan tidak kenapa ia bisa ada di rumah Soo Hyun.
    Tidak ada yang berbeda dari rumah Soo Hyun, hanya saja laki-laki itu sudah menutupi furniturenya dengan kain putih, pertanda rumah ini akan ditinggalkan untuk waktu yang cukup lama.

    “ Kau mau makan apa?” sahut Soo Hyun memecah keheningan.
    Ji Hyun membalikkan badannya dan melihat laki-laki itu sudah terbangun.
    “ ..... kau berangkat jam berapa hari ini?”
    “ Penerbanganku jam 1 siang.”
    “ ..... Aku benci padamu.” sahut Ji Hyun sambil terisak.
    “ Jangan membuatku tidak enak seperti ini... aku yakin kau akan baik-baik saja meskipun aku tidak ada di sini....”
    “ Aku benci padamu...”
    “ ..... aku pasti akan kembali padamu.” sahut Soo Hyun sambil tiba-tiba mendekatkan dirinya dan merengkuh pinggang Ji Hyun.
    Ia tidak tahu darimana datangnya keberanian itu, tapi yang jelas ia menyapukan bibirnya pada bibir Ji Hyun. Ji Hyun terkejut tapi tidak punya pilihan lain selain memejamkan matanya.
    Detik demi detik berlalu dengan begitu tenang.
    “ ..... Aku pasti akan kembali.... karena aku sangat mencintaimu.... kuharap saat aku kembali nanti kau sudah bisa belajar untuk mencintaiku...” sahut Soo Hyun lirih, seakan kalimat itu memang hanya ia tujukan untuk Ji Hyun saja.
    “ ..... a-aku sudah bilang a-aku tidak ....p-percaya cinta...” sahut Ji Hyun terbata-bata, bibirnya terasa kelu.
    “ Kau bilang cinta adalah hormon semata? .... aku akan buktikan padamu kalau aku bisa terus mencintaimu meskipun kau tidak terlihat di pandanganku.... dan aku hanya berharap kau bisa merasakan perasaan yang sama.”
    “ .... kau tidak menyerah terhadapku? Itukah maksudmu?”
    Soo Hyun tersenyum penuh arti dan mengangguk.
    “ Aku tidak bisa menyerah terhadapmu... itu lebih tepatnya...”

    *****​

    Jeon Ji Hyun menatap 2 buah kunci rumah Soo Hyun yang ada di tangannya.
    Laki-laki itu benar-benar pergi, ia menitipkan kedua kunci rumah padanya sebagai jaminan bahwa saat ia kembali ia pasti akan datang mencarinya.
    Kedua mata Ji Hyun sembab, ia tidak mengantarkan laki-laki itu sampai ke bandara dan ia benar-benar menyesal sekarang.
    Ia menyentuh bibirnya dan ciuman itu masih terasa dengan jelas di bibirnya.
    “ ..... laki-laki brengsek itu berani-berani menciumku dan meninggakanku begitu jauh seperti ini...” sahutnya sambil mengusap air matanya.
    “ .... cinta? .... apakah ia benar-benar akan kembali dan masih mencintaiku? .... saat itu entah aku ini sudah berusia berapa.... laki-laki menyebalkan itu benar-benar sukses merusak hidupku!”

    ******​
     
  16. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    Always You

    Chapter - 7 -

    Will It Continue ?


    3 TAHUN KEMUDIAN


    Soo Hyun melihat gambar dirinya di salah satu cover majalah arsitektur.
    “ Bagaimana? Kau suka? Gambar ini bagus sekali, menampilkan sisi maskulinmu, sisi mudamu, dan tentu saja sisi suksesmu!”
    “ Ya, bagiku semua foto-foto itu sama saja.” sahut Soo Hyun tidak terlalu peduli dengan foto mana yang ditampilkan di majalah itu.
    Ia masih harus menyelesaikan desain taman bermain terbesar yang menjadi project-nya sekarang.
    “ Jadi, kau tidak akan berubah pikiran dan tetap kembali ke Korea setelah project ini selesai?” sahut Jong Suk, sahabat sekaligus rekannya di Amerika. Jong Suk adalah satu-satunya orang Korea yang bekerja di firma arsitektur terbesar di Amerika dan mereka langsung akrab sesaat setelah Soo Hyun bergabung di sana.

    Tentu saja Soo Hyun tidak bergabung sebagai seorang karyawan atau staff desain lagi, setelah beberapa project yang ia lakukan di sana, akhirnya perusahaan arsitektur ternama itu menjadikannya business consultant atau partner desainer, sebuah posisi di mana ia hanya perlu bekerja pada dirinya sendiri.
    “ Tentu saja, 3 tahun sudah cukup lama.”
    “ Kau pikir aku tidak tahu kalau kau kembali ke Korea demi wanita itu? Ckckck... kau bahkan tidak tahu apakah ia sekarang sudah menikah atau belum. Kau bilang ia lebih tua darimu kan? Wantia Korea masih sangat peduli dengan hal-hal seperti itu, aku jamin ia pasti sudah menikah sekarang.”
    “ Mengenai hal itu kau tidak perlu kuatir. Gadis itu tidak mungkin menikah tanpa memberitahuku, aku yakin sekali ia belum menikah di sana... meskipun aku tidak tahu apakah ia melakukan itu karena ia menungguku.”
    “ Lalu kenapa kau tidak pernah menghubunginya sama sekali? Seharusnya kau memberikan rasa tenang pada wanita itu sehingga ia rela menunggumu. Kau bahkan tidak memberitahunya tentang kepulanganmu ini.”
    “ ..... Gadis itu perlu waktu untuk bisa menyadari perasaannya... ia harus mengerti bagaimana perasaannya yang sesungguhnya terhadapku.”

    ******​

    Ji Hyun duduk di sebuah restaurant Italia mahal dan orang yang ditunggunya masih belum muncul.
    Ia sudah memesan wine kesukaannya dan meminumnya sambil menunggu.
    “ Ji Hyun! Maaf, kau pasti sudah menunggu lama ya?”
    Ji Hyun tersenyum dan menggeleng.
    “ Aku juga baru sampai di sini kok. Bagaimana meetingnya? Para pemegang saham itu pasti sibuk melayangkan senjatanya padamu ya?”
    Seo Ji Sub tersenyum sumringah.
    “ Kali ini memang dibutuhkan waktu yang cukup lama, tapi aku berhasil meyakinkan mereka. Kurasa akuisisi perusahaan tetap bisa dijalankan sesuai dengan target awal.”
    “ Benarkah? Wah, kau memang luar biasa!”
    Ji Hyun yang sekarang memang dapat menyapa atasannya itu dengan santai. Ia bahkan sudah terbiasa dengan omongan-omongan miring tentang hubungannya dengan atasannya itu. Dan ia tidak perduli.

    “ Cheers!!”
    “ Cheers!!”
    “ Kudengar kemarin kau bertengkar lagi dengan rekan kerjamu ya?” sahut Ji Sub sambil meringis.
    “ Bukan hal penting. Gadis itu benar-benar mencari gara-gara denganku. Dia bilang promosiku kali ini bukan karena keberhasilan pekerjaanku tapi semata-mata karena aku adalah karyawan favoritmu.”
    “ Hhm... kurasa dia memang benar mengenai karyawan favorit.”
    Ji Hyun memincingkan matanya.
    “ Kau ingin cari gara-gara juga denganku ya?”
    “ Hahahaha... maafkan aku. Tapi bagaimana lagi, kurasa semua orang di kantor sudah tahu kalau aku tergila-gila padamu, Jeon Ji Hyun.”
    “ Aku paling tidak ingin membicarakan hal ini saat makan, oke?”
    “ Apa kau masih belum bisa menjawab perasaanku?” sahut Ji Sub seakan tidak peduli bantahan Ji Hyun.
    “ Bukankah aku sudah menjawabnya? Aku bahkan menjawabnya berkali kali.”
    “ Kau hanya memintaku untuk menunggu 5 tahun. Apakah kau tidak keterlaluan padaku? Apakah aku harus menunggumu 2 tahun lagi sampai aku bisa menikahimu?”
    “ Aku baru akan menikah saat usiaku 34 tahun.” sahut Ji Hyun sambil mengedipkan sebelah matanya dan memotong steak di hadapannya.
    “ Kenapa kau baru mau menikah saat berusia 34 tahun? Bagi seorang wanita, usia itu sudah terlambat untuk sebuah pernikahan!” sahut Ji Sub dengan nada suara yang meninggi.
    “ Alasannya? ..... aku hanya memberikan waktu pada diriku sendiri untuk memilih laki-laki terbaik.” jawab Ji Hyun sambil tersenyum penuh arti.
    Dulu alasan itu adalah hal yang bisa menenangkannya. Ia menggunakan alasan itu untuk memberinya rasa aman terus melajang dan menunggu tanpa kepastian. Namun seiring waktu berlalu, sekarang ia tidak yakin lagi apa hal yang ia tunggu.

    ******​

    Ji Hyun tiba di tempat duduknya dengan nafas memburu. Ia berlari 8 lantai ke atas karena lift yang rusak dan ia sudah tidak punya jatah terlambat lagi bulan ini.
    “ Ckckck... apa kau harus berlari-lari seperti orang gila begini? Aku berani jamin GM kita tercinta tidak akan memecatmu meskipun kau terlambat setiap hari ke kantor.” cetus Yoo Ra sinis.
    “ Tentu saja aku tahu itu, tapi aku adalah wanita dengan etos kerja yang tinggi.” balas Ji Hyun asal, ia sudah bosan meladeni semua kalimat-kalimat negative terkait hubungannya dengan GM perusahaan mereka yang memang tidak bisa dibilang biasa saja.

    Ji Hyun mengambil majalah dari atas mejanya dan berniat untuk menaruhnya di samping meja. Ia punya banyak pekerjaan yang harus ia lakukan hari ini selain membaca majalah.
    Namun cover majalah itu menghentikan lengannya untuk meminggirkan majalah desain langganan kantornya itu.
    Pada cover majalah itu tercetak judul tebal :
    INTERIOR DESIGN PRODIGY, SOO HYUN KIM
    Ia terpaku memandangi wajah pada cover majalah yang sudah sangat familiar di matanya.
    Matanya tidak mungkin salah. Ia tidak mungkin salah mengenali wajah ini. Ini adalah kabar pertama mengenai laki-laki itu yang ia terima. Dan ia tidak menyangka bahwa kabar itu akan ia terima dari sebuah majalah desain langganan yang bahkan tidak pernah ia baca selama hampir 7 tahun bekerja di sana.

    Ji Hyun membaca baris demi baris kalimat hasil interview pada majalah itu. Dan ia menutup majalah itu dengan senyuman penuh arti.
    “ ..... bocah sialan ini benar-benar berubah menjadi pria sukses sekarang.”
    “ Kau bicara apa?” sahut Yoo Ra yang sudah memperhatikan tingkah aneh rekan kerjanya itu sejak tadi.
    “ Bukan apa-apa .... aku hanya bicara pada diriku sendiri.”

    *****​

    Sepanjang hari itu, Ji Hyun tidak ada bedanya dengan mayat hidup. Badannya jelas ada di kantor tapi pikirannya sudah melayang pergi sejak ia membaca majalah itu. Kenyataan bahwa Kim Soo Hyun tidak pernah menghubunginya selama ia berada di Amerika setelah sebelumnya menciumnya sudah cukup membuatnya kehilangan akal sehat. Dan setelah mendapati bahwa laki-laki itu sudah menjadi pria sukses di sana, tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu membuat hatinya ciut.
    “ ..... bocah itu pasti menganggapku sebagai masa lalunya yang tidak penting....” gumamnya kembali bicara pada dirinya sendiri.

    Ji Hyun sedang berjalan bersama tim marketing untuk makan siang. Ia tidak bisa menghindar dari acara makan siang bulanan yang wajib dihadiri semua anggota departmentnya dalam rangka kebersamaan. Dengan langkah gontai ia mengikuti rombongan dari belakang ketika rekan-rekan kerjanya tiba-tiba berhenti dan sibuk berbisik satu sama lain.
    “ Benarkan dia? Aku tidak salah kan?”
    “ Ya... aku memang tidak sering bertemu dengannya tapi aku tidak lupa wajahnya... ia itu memang dia!”
    Yoo Ra menyikutnya dengan cukup keras dan mengembalikan pikiran Ji Hyun ke tempatnya.
    “ Aduh! Apa kau ingin mematahkan rusukku??” umpat Ji Hyun kesal.
    “ Laki-laki itu kenalanmu dulu kan?! Orang jenius yang pernah bekerja di sini??” sahut Yoo Ra tidak memperdulikan umpatan Ji Hyun.
    “ Kau ini sedang bicara apa sih?” sahut Ji Hyun sambil mengalihkan pandangan ke arah semua mata rekan kerjanya memandang dan ia mendapati laki-laki yang paling ingin ia lihat saat itu berdiri di sana.

    Kim Soo Hyun baru saja tiba di lobby perusahaan yang dulu pernah mempekerjakannya itu. Ia memang sudah tidak sabar untuk berkunjung ke sana dan ia sendiri nyaris tidak percaya kalau ia akan bertemu dengan Jeon Ji Hyun tepat di pintu masuk perusahaan.
    Ia mengeraskan wajahnya, ia tidak boleh kehilangan akal sehatnya sekarang. Ia datang ke sana untuk sebuah proposal kerjasama, ia harus ingat itu baik-baik.
    Ia berdiri dan memperhatikan wanita yang dulu selalu ada dalam kehidupannya tanpa absen itu baik-baik. Tidak banyak yang berubah pada diri wanita itu kecuali potongan rambut dan lingkaran mata yang lebih hitam dari yang ia ingat dulu.
    Soo Hyun berusaha keras untuk tidak memperlihatkan perubahan apapun pada wajah maupun gaya tubuhnya ketika Ji Hyun tiba-tiba melangkah perlahan menghampirinya. Dalam hati ia tersenyum, wanita itu pasti akan bersifat tidak normal seperti biasanya.

    Ji Hyun melangkah hingga berdiri tepat di hadapan Kim Soo Hyun dan dengan tampangnya yang terlihat bodoh ia mengajukan pertanyaan.
    “ ..... kau... Kim Soo Hyun ?”
    “ Apa kau lupa sarapan lagi pagi ini? Atau kau sekarang minum bir di pagi hari?” jawab Soo Hyun dengan wajahnya yang dingin.
    Ji Hyun mengulurkan tangannya dan memegang tangan laki-laki itu yang terasa begitu nyata.
    “ ..... kau..... kau datang mencariku?” tanya Ji Hyun, masih percaya bahwa ia mungkin sedang bermimpi.
    Soo Hyun menggelengkan kepalanya.
    “ Aku tidak sedang mencarimu, aku datang untuk bertemu Pak Seo. Permisi, aku datang tanpa janji dan aku harus buru-buru untuk menemuinya sebelum ia pergi atau kedatangan tamu lagi.” sahut Soo Hyun sambil sedikit membungkukkan badannya dan berjalan pergi.
    Ji Hyun masih berdiri seperti orang bodoh, memperhatikan Soo Hyun yang perlahan berjalan menjauh.

    Yoo Ra menepuk pundaknya.
    “ Ckckck, apakah kau harus bersikap begitu menyedihkan di hadapan laki-laki itu?”
    “ ..... dia benar Kim Soo Hyun bukan?”
    “ Iya, matamu tidak mungkin salah mengenalinya. .... tapi kenapa dia bersikap begitu dingin terhadapmu? Kupikir kalian berteman baik.”
    “ ..... bocah itu benar-benar sudah berubah menjadi pria sekarang ....” gumam Ji Hyun. Ada perasaan kesal melihat tingkah laki-laki itu terhadapnya, namun melihat laki-laki itu lagi di depan matanya menyisakan perasaan lega yang tidak bisa ia gambarkan.

    *****​

    Ji Hyun benar-benar tidak bisa berkonsentrasi untuk bekerja di sisa hari kerjanya itu. Ia benar-benar tidak produktif hari itu. Berulang kali ia menelepon sekretaris GM hanya untuk bertanya apakah sang GM masih berada di ruangan bersama dengan tamu ‘spesial’nya hari ini.
    Dan setelah ia menelepon untuk ke 8 kalinya, sekretaris GM itu hanya menjawab singkat :
    “ Ya, beliau masih menerima tamu dari Amerika.” dan lantas menutup telepon begitu saja.

    “ Kau tidak akan pulang?” sahut Yoo Ra sambil menepuk pundak rekan kerjanya yang seperti kerasukan roh halus hari itu.
    “ Ya, .... aku akan pulang sebentar lagi... lagipula tidak ada pekerjaan yang kukerjakan sama sekali hari ini...”
    “ Sebenarnya ada apa denganmu hari ini? Kau benar-benar tidak seperti biasanya.... kau persis sama seperti 3 tahun yang lalu, saat karyawan jenius itu berhenti bekerja.”
    Ji Hyun menghela napas. Yoo Ra benar, saat Soo Hyun pergi 3 tahun yang lalu, ia juga sempat mengalami hari-hari tidak produktif seperti ini, dan sekarang ia kembali seperti ini saat laki-laki itu kembali. Sebenarnya ada apa dengannya?

    Ji Hyun sengaja memilih berjalan kaki dari halte bus ke rumahnya. Ia ingin menikmati udara malam dan menyegarkan kembali pikirannya. Ia tidak bisa terus menjadi orang bodoh dan membiarkan bocah --- laki-laki itu mengganggu pikirannya terus bukan?
    Namun baru saja ia sampai di depan rumahnya, matanya sudah penuh dengan sosok Kim Soo Hyun yang duduk di teras rumahnya. Entah sejak kapan laki-laki itu tampak begitu kontras dengan pemandangan rumahnya yang sederhana itu.
    Laki-laki itu memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa ia mengerti. Ada perasaan hangat dalam sorot matanya, tapi ada juga sorot mata misterius yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
    Ji Hyun melangkah sampai berdiri persis di depan Kim Soo Hyun.
    “ Apa kau masih bekerja hingga larut setiap hari?” sahut Soo Hyun membuka mulutnya.
    “ ..... hari ini aku nyaris tidak bisa menyentuh pekerjaanku sama sekali.”
    “ Aku cukup terkejut tidak melihat ada kerutan berarti di sekitar matamu, padahal kukira hal itu akan terjadi pada wanita yang selalu pulang larut sepertimu ini.” sahut Soo Hyun sambil tersenyum.
    “ ..... berhenti tersenyum padaku. Tadi di kantor kau memperlakukanku dengan sangat buruk.” sahut Ji Hyun meluapkan kekesalannya.
    “ Aku masih harus mengatur beberapa hal, dan sebelum semua selesai aku rasa hubungan kita sebaiknya tidak menjadi konsumsi publik.”
    “ Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. .... apa yang kau lakukan di sini?” sahut Ji Hyun sambil membuang muka.
    “ Aku datang untuk mengambil kunci rumahku. Kau tidak melupakan fakta bahwa aku masih tinggal di sebelah rumahmu bukan?”

    Ji Hyun menatap Soo Hyun beberapa saat sebelum memberanikan diri untuk bertanya.
    “ ..... kau akan kembali tinggal di sebelah rumahku? ..... kau sudah menjadi orang sukses sekarang, kukira sebuah apartment di Gangnam bukanlah hal yang sulit untukmu.”
    “ I want to go home, so I came here.”
    Untuk sekejap Ji Hyun merasakan ada kelegaan di dadanya. Setidaknya bocah --- laki-laki ini masih menganggap rumah lapuk itu sebagai rumahnya.

    ******​

    “ Aku yakin kau pasti tidak pernah membereskan rumahku selama 3 tahun ini.” celetuk Soo Hyun sambil menggenggam kunci rumahnya.
    “ Aku membereskan rumahmu selama 1 tahun kau pergi... tapi setelah itu aku tidak melakukannya lagi... kau tidak pernah bilang kau akan pulang kapan, dan rasanya aku seperti menangkap angin setiap kali aku datang ke rumahmu itu!”
    “ Jadi kau merindukanku?” sahut Soo Hyun sambil tersenyum.
    “ .... t-tutup mulutmu. .... kau sudah makan?”
    “ Aku tidak bisa tinggal di tempat berdebu, apalagi tidur di tengah-tengah debu. Jadi sebelum aku selesai membereskan rumahku, aku akan bermalam di sini.” jawab Soo Hyun, diikuti dengan Ji Hyun yang hanya bisa menatap laki-laki itu seperti orang bodoh.

    Ji Hyun memang tidak melarang Soo Hyun dan tidak berkomentar apa-apa saat laki-laki itu keluar masuk dari kamarnya sambil mengangkut bantal dan selimut serta meletakannya di sofa.
    Ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa saat laki-laki berbaring dengan begitu leluasa di sofa rumahnya.
    “ ..... kau akan tinggal di Korea setelah ini? .... atau kau akan pergi lagi ke Amerika hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan?” sahut Ji Hyun sambil menyibukkan pandangannya pada apel yang sedang ia kupas. Ia tidak ingin tertangkap basah sedang menanyakan pertanyaan yang paling ingin ia ketahui saat itu.
    “ Aku mungkin harus pergi ke Amerika jika memang diharuskan, tapi itu hanya sebuah perjalanan bisnis biasa kurasa.”
    “ ..... jadi kau akan tinggal di sini?”
    “ Pak Seo tidak bisa berhenti membahas tentangmu saat aku bertemu dengannya tadi. Apa kau punya hubungan spesial dengan laki-laki itu?”
    Sekali lagi Soo Hyun mengalihkan topik pembicaraan dengan begitu cepat dan sekali lagi Ji Hyun dibuat termangu seperti orang bodoh.

    “ A-aku memang punya hubungan yang cukup dekat dengan Seo Ji Sub.... tapi dia tetap adalah atasanku di kantor.”
    “ Aku tidak mengerti dengan jawabanmu. ..... apakah dia adalah kekasihmu sekarang?” sahut Soo Hyun sambil memincingkan matanya.
    “ H-hah?? .... b-bukan! .... jika kau tidak kembali kemari, hal itu mungkin saja terjadi, tapi sekarang dia bukanlah kekasihku.” jawab Ji Hyun dengan terburu-buru.
    “ Kau memang wanita dengan perasaan yang tidak pernah bisa kutebak, Jeon Ji Hyun. Aku lelah, aku tidur sekarang ya. Selamat malam.” sahut Soo Hyun sambil menarik selimut dan berbalik membelakangi Ji Hyun.

    *****​

    Ji Hyun tidak pernah sarapan pagi di rumah sejak lama, tepatnya sejak tetangganya pergi menghilang. Dan setelah sekian lama akhirnya ia kembali berdiri di dapur rumahnya sambil memandangi sup yang sedang ia panaskan.
    “ ..... Jeon Ji Hyun, apa kau sedang membuatkan sarapan untuk bocah itu?” gumamnya sambil menghela napas.
    Ia memutuskan untuk mengganti pakaiannya dulu dan berharap bahwa kegiatan membuat sarapannya itu tidak membuatnya telat ke kantor hari ini.

    Ji Hyun mengulaskan lipstik di bibirnya sambil terburu-buru keluar dari kamar menuju dapur.
    Langkahnya terhenti saat melihat Kim Soo Hyun tengah berada di dapurnya dan sedang mencoba sup buatannya yang ia sendiri tidak yakin akan rasanya.
    “ ..... k-kau sudah bangun?”
    Soo Hyun memandang Ji Hyun untuk beberapa saat dan tiba-tiba ia menarik kedua pipi Soo Hyun.
    “ Apa kau lupa kalau sup seperti ini akan meluap jika kau membiarkannya tanpa penjagaan selama beberapa menit? Kau ingin menghancurkan dapurmu lagi??”
    Ji Hyun tertegun, hal sederhana itu mengingatkannya pada kesehariannya dulu. Laki-laki itu tidak pernah absen menarik pipinya setiap kali ia melakukan kesalahan.

    Ia mundur beberapa langkah ke belakang dan berdeham.
    “ A-aku tahu! Makanya aku terburu-buru kembali kemari. Kalau kau sudah bangun, m-makanlah sarapanmu!”
    “ Jika perundinganku berhasil, mungkin aku akan menjadi partner perusahaanmu. Dan jika itu terjadi, mungkin kita akan sering bertemu lagi di kantor.”
    “ ..... itu alasanmu datang ke kantor kemarin? .... kau menemui Ji Sub untuk merundingkan hal itu?”
    “ Aku tidak senang mendengar kau menyebut nama laki-laki itu dengan begitu akrab.” sahut Soo Hyun sambil mencibir.
    “ ...... aku sudah terlambat, aku berangkat sekarang ya.” sahut Ji Hyun sambil menyambar tasnya dengan terburu-buru dan pergi.
    Ia tidak pernah merasakan jantungnya berdedup begitu kencang hanya karena ia berdiri berhadapan dengan bocah yang sudah ia kenal seumur hidupnya itu.
    Ia seperti berhadapan dengan perasaan asing yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

    ******​

    Seo Ji Sub tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya pada Soo Hyun yang kembali bertamu ke kantornya.
    “ Para direksi sangat senang dengan tawaran kerjasama yang kau berikan secara mendadak kemarin. Secara pribadi, aku juga sangat tidak menyangka kau akan memberikan tawaran yang sangat langka seperti itu pada perusahaan kami.”
    “ Bagaimanapun aku punya ikatan dengan perusahaan ini, walaupun tidak lama.” jawab Soo Hyun sambil tersenyum sopan.
    “ Project pembuatan resort di pulau Je Ju ini mungkin adalah project terbesar yang pernah ditangani oleh perusahaan kami. Bantuanmu sangat kami perlukan untuk memastikan semuanya berhasil.”
    “ Dengan senang hati, aku punya keyakinan pada perusahaan ini, makanya tanpa ragu aku memberikan tawaran kerjasama ini pada anda.”
    “ Baiklah, untuk merayakan kesepakatan kerjasama ini, bagaimana dengan sebuah makan malam spesial malam ini? Ada seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu.”
    Belum sempat Soo Hyun menanyakan siapa orang yang sangat ingin bertemu dengannya, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan seorang gadis menghambur masuk.

    “ KIM SOO HYUN!!” pekik gadis itu sambil tiba-tiba berlari dan memeluk Soo Hyun.
    “ S-sun Mi!.... apa kabar?” sahut Soo Hyun sambil berjuang agar tidak tercekik karena kuatnya pelukan yang diberikan gadis itu di lehernya.
    “ Sun Mi, kau tidak boleh bersikap seperti itu pada tamu perusahaan kita. Sekarang dia sudah bukan lagi karyawan di sini, dia adalah partner kerjasama.” timpal Ji Sub sambil tergelak.
    “ Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau akan kembali ke Korea? Aku selalu bertanya padamu dalam emailku tentang itu bukan?”
    “ Aku lupa mengabarimu, maaf ya.” sahut Soo Hyun sambil tersenyum. Sun Mi selalu ramah dan riang, gadis yang menyenangkan.

    *****​

    Soo Hyun duduk di sebuah meja yang sudah direservasi terlebih dulu oleh Ji Sub. Restaurant Italia itu memang adalah restaurant kelas atas dan ia cukup tersanjung untuk diajak makan di tempat itu.
    “ Kau benar-benar berubah sesuai dengan bayanganku. Kau menjadi pria sukses dalam usia muda!” sahut Sun Mi terus menghamburkan pujian di telinga Soo Hyun.
    “ Kau juga, kudengar sekarang kau sudah menjadi team leader di planning department, itu adalah langkah yang besar.”
    “ Kalau kau membandingkan karirku dengan karirmu, itu namanya kau sedang menghinaku.”
    Soo Hyun tersenyum geli.

    “ ..... kakakku terlambat karena ia harus menjemput gadis itu dulu. .... sebenarnya aku malas sekali makan bersama gadis itu.” celetuk Sun Mi sambil meneguk minumannya.
    “ ..... kakakmu menjemput .... Ji Hyun?”
    “ Siapa lagi? Kakakku benar-benar tergila-gila pada gadis itu. Entah apa yang ia lihat dari gadis itu.... ups, maaf... seharusnya aku tidak bicara seperti itu di depanmu ya.” sahut Sun Mi dengan tampang masam.
    “ .... sudah sejauh apa hubungannya dengan kakakmu?”
    “ Kau benar-benar tidak pernah berhubungan lagi dengan wanita itu?”
    Soo Hyun menggelengkan kepalanya. Dan Sun Mi otomatis tersenyum lebar.
    “ Kakakku bilang ia sedang berusaha agar Jeon Ji Hyun menerima ajakannya untuk menikah. Setelah wanita itu mengatakan ‘ya’, maka ia akan segera melangsungkan pernikahan. Itu yang selalu ia bilang padaku dan pada papa mama.”
    Soo Hyun tidak sempat untuk bertanya lebih lanjut karena yang bersangkutan sudah tiba di restaurant.

    Ji Hyun duduk persis di seberangnya dan gadis itu tampak tidak nyaman berada di sana.
    “ Kalian pasti sudah lama tidak bertemu. Ji Hyun, kau benar-benar sudah berjasa besar dengan memperkenalkan Soo Hyun pada perusahaan kita.” sahut Ji Sub sambil tersenyum lebar.
    “ Hubungan kalian pasti sangatlah baik sampai kau mengajak Ji Hyun sebagai partnermu malam ini.”
    Ji Hyun menatap Soo Hyun yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak enak dilihat.
    “ Ah, benar. Kau ini sahabatnya bukan? Bisakah kau membantuku membujuk Ji Hyun untuk segera menyudahi masa lajangnya dan menikah saja denganku? Aku akan berjanji untuk mengabulkan semua permintaannya.”
    “ Kak, apakah kau tidak bisa lebih menyedihkan lagi?” timpal Sun Mi sinis.
    “ Lantas kau ingin kakak laki-lakimu ini terus hidup sendiri sampai tua??” kelakar Ji Sub sambil tertawa.
    “ Setahuku Ji Hyun sangat ingin menikah dengan pria yang sukses dan mapan. Dan jika itu adalah kriterianya, aku tidak melihat alasan ia menolak untuk menikah dengan anda.” jawab Soo Hyun sambil menatap Ji Hyun dengan dingin.

    ******​

    Ji Hyun baru saja diantar pulang ke rumahnya. Soo Hyun sama sekali tidak menawarkan tumpangan untuknya dan malah berkata akan mengantarkan Sun Mi pulang.
    “ Terimakasih tumpangannya.” sahut Ji Hyun sambil melambai pada Ji Sub yang mengantarnya pulang.
    “ Jeon Ji Hyun!”
    “ Hhm? Kau memanggilku?”
    “ ..... kau tidak tampak senang malam ini. Apa ada hal yang mengganggumu?”
    “ Aku sedang tidak enak badan, kuharap mood ku tidak merusak acara makan malammu tadi.” sahut Ji Hyun sambil meringis.
    “ Tentu saja tidak. Jika kau sedang tidak enak badan seharusnya kau bilang padaku, aku tidak akan memaksamu untuk menemaniku.”
    “ Aku tidak apa-apa.... aku hanya perlu tidur panjang yang berkualitas.” sahut Ji Hyun, tidak lupa untuk menambahkan senyuman di akhir kalimatnya.
    “ Ya sudah, selamat beristirahat ya. Aku akan meneleponmu lagi besok.”
    Ji Hyun mengangguk dan kembali melambaikan tangannya.

    Ji Hyun masuk ke dalam rumahnya dan mendapati Soo Hyun sedang bersandar di jendela dan menatapnya dengan dingin.
    Laki-laki itu pasti melihat saat Ji Sub mengantarnya pulang barusan.
    “ ..... apa lagi yang ingin kau katakan padaku?” sahut Ji Hyun sambil menghempaskan badannya ke atas sofa.
    “ Kau sangat menyedihkan, Jeon Ji Hyun.”
    “ ..... apa hakmu mengataiku seperti itu?”
    “ Kau mencintai laki-laki itu?”
    “ ..... itu urusanku, aku tidak merasa aku perlu membagi soal perasaanku padamu!”
    “ Aku sempat berharap 3 tahun adalah waktu yang cukup untukmu mengatur kembali soal perasaanmu.... tapi ternyata aku salah, mungkin 30 tahun pun tidak cukup untukmu berpikir!”
    “ Lalu apa yang harus aku lakukan?!! Kau ingin aku menolak laki-laki itu mentah-mentah ?! Laki-laki sangat baik terhadapku dan aku tidak memiliki alasan untuk menolaknya!!!”
    “ Pertanyaannya hanya ada 1. Apakah kau mencintai laki-laki itu atau tidak.”
    Soo Hyun mengambil mantelnya dan berjalan keluar dari rumah Ji Hyun. Ia benar-benar kesal dengan gadis yang sangat ia cintai itu.

    *****

    Seiring dengan kontrak kerjasama antara perusahaan Ji Hyun dan Soo Hyun, maka laki-laki itu diberikan ruangan khusus di kantor selama project kerjasama berlansung.
    Dalam waktu singkat, Kim Soo Hyun menjadi idola baru di kantor mereka. Semua gadis, terutama yang masih berstatus lajang sibuk untuk menarik perhatian laki-laki muda dan sukses itu.
    Dan selama 1 bulan laki-laki itu berada di kantor, selama itu pulalah perang dingin di antara Kim Soo Hyun dan Jeon Ji Hyun berlangsung.
    Soo Hyun tidak pernah datang lagi ke rumah Ji Hyun dan bahkan mereka nyaris tidak pernah bertegur sapa saat bertemu di kantor.
    Ji Hyun tidak mempertanyakan alasan hal itu terjadi, namun hari-harinya terasa begitu menyesakkan karenanya.

    “ Jeon Ji Hyun!! Apakah kau akan terus tidak memperdulikan panggilanku?!!” bentak managernya membuyarkan lamunan Ji Hyun siang itu.
    “ M-maaf, Pak! Ada yang harus saya kerjakan, Pak?”
    “ Akhir-akhir ini kerjamu jadi sangat lambat. Meskipun kau punya hubungan khusus dengan Pak Seo, tidak seharusnya kau bekerja seperti ini. Kau tetap perlu rekomendasiku untuk kenaikan golonganmu!”
    Ji Hyun menundukkan kepalanya dalam-dalam.
    “ .... maaf, Pak.”
    “ Sekarang bersiaplah dan bawa dokumen draft kontrak itu, kita akan ke BM Corporation sekarang. Kita harus mendapatkan kontrak kerjasama itu tidak peduli apa yang harus kita lakukan!”
    “ Baik, Pak!”

    Ji Hyun berangkat bersama dengan sang Manager ke calon client mereka.
    Ji Hyun berusaha untuk berhenti sejenak memikirkan bocah keparat itu dan berkonsentrasi untuk hidupnya sendiri. Ia harus berhenti memberikan ruang orang-orang menilainya negative. Ia tidak bisa terus menerus menyelamatkan diri di balik hubungan dekatnya dengan Seo Ji Sub.

    ******​

    “ Cheers!!!”
    Ji Hyun mengangkat tinggi-tinggi gelasnya. Kenapa semua clientnya selalu menyarankan untuk pergi ke bar dan menghabiskan waktu dengan alkhohol jika mereka ingin membahas pekerjaan. Padahal Ji Hyun mengerti benar bahwa tidak ada hal yang bisa dibahas dengan benar dalam keadaan mabuk.
    “ Aku akan menandatangani kontrak itu! Kalian jangan membicarakan lagi masalah pekerjaan di sini. Cheers!!” seru sang GM client yang bersangkutan, memaksa Ji Hyun untuk mengangkat kembali gelasnya tinggi-tinggi.
    Managernya memang punya alergi pada alkohol dan itu menjadikannya tumbal untuk mewakilinya minum dengan client.

    Setelah 3 jam membuang waktu untuk merayu sang client, akhirnya Ji Hyun bisa bernapas lega.
    “ Hati-hati di jalan!” sahutnya pada client yang baru saja naik ke mobilnya dan pulang.
    “ Ah, orang itu benar-benar sulit diyakinkan!” gerutu sang manager.
    “ Setidaknya masalah ini sudah selesai, Pak. Aku sudah boleh pulang sekarang, Pak?”
    “ Kau sudah mabuk, biar aku mengantarmu pulang.”
    “ Tidak perlu, Pak. Aku bisa naik taksi sendiri kok.”
    “ Sudah, naik saja. Sudah begitu malam. Bahaya jika seorang wanita pulang naik taksi sendiri, apalagi dalam keadaan mabuk!”

    *****​

    Kim Soo Hyun mengetuk-ngetukkan jarinya di atas sofa sambil sesekali mengintip dari jendela dan mendapati lampu rumah tetangganya belum juga menyala.
    “ Apa dia sudah gila? Sekarang sudah jam 2 subuh dan ia belum juga kembali?!” gerutunya kesal.
    Ia sudah berpikir untuk menelepon Seo Ji Sub dan memastikan apakah Ji Hyun sedang berada bersamanya atau tidak, tapi hal itu membutuhkan pengorbanan harga diri yang sangat besar.
    Ia sudah puluhan kali menelepon ponsel gadis itu namun tidak diangkat juga sampai sekarang.

    Ia kembali bangkit berdiri dan berjalan ke arah jendelanya. Ia membuka ujung jendela dan melihat ada sebuah mobil persis di depan rumah Ji Hyun.
    Lampu mobil itu menyala, berarti ada orang di dalam mobil itu.
    Soo Hyun keluar dari rumahnya dan heran karena tidak ada yang turun dari mobil itu.
    Ia mendekati mobil itu perlahan dan terkejut dengan apa yang sedang terjadi di dalam mobil itu.

    “ Ji Hyun, kita sudah sampai.” sahut sang manager dengan nada suara yang begitu lembut, nyaris tidak berniat untuk membangunkan Ji Hyun sama sekali dengan suara seperti itu.
    Perlahan ia mengulurkan tangannya dan membelai rambut anak buahnya itu dengan lembut.
    Tentu saja, baginya Ji Hyun selalu merupakan wanita yang menarik, apalagi setelah sang GM tertarik padanya, wanita itu seakan memancarkan daya tarik yang lebih lagi.
    “ Ji Hyun, kau berkeringat seperti ini. Apa kau kepanasan?” sahut sang manager lirih sambil membuka kancing kemeja Ji Hyun yang paling atas dan tidak berniat berhenti di sana.

    Soo Hyun berdiri dengan tangan terkepal. Tangannya bergetar hebat menahan kemarahan dari dalam hatinya. Ia melihat semua hal busuk yang dilakukan sang manager dan rasanya ia benar-benar akan meledak.
    Ia memukul kaca mobil dengan tangannya hingga sang manager terlonjak kaget.
    “ BUKA PINTUNYA!” seru Soo Hyun kesal.
    Sang manager buru-buru membuka pintu mobil dan Soo Hyun tidak menunggu lebih lama lagi untuk membuka pintu dan segera menggendong Ji Hyun yang sudah tidak sadarkan diri itu ke pangkuannya.
    “ TINDAKAN ANDA BARUSAN SANGAT MENJIJIKAN, PAK!”
    “ A-apa maksudmu?? A-aku tidak melakukan apapun pada nona Jeon! A-aku hanya sedang membangunkannya!!”
    “ Sebelum aku memukul anda, lebih baik anda pergi dari sini!!!”
     
  17. paulinalee Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 16, 2013
    Messages:
    38
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2 / -0
    Always You

    Chapter - 8 -

    Me & You


    Soo Hyun membaringkan Ji Hyun di atas tempat tidurnya. Gadis itu benar-benar mabuk hingga tidak sadarkan diri. Soo Hyun buru-buru mengancingkan kembali kancing yang sempat dibuka oleh manager keparat itu dan bersumpah akan membuat manager itu menyesali perbuatannya.
    Pikiran jahatnya buyar sejenak saat Ji Hyun menendang selimut yang baru saja dipakaikan di atas tubuhnya.
    Soo Hyun mengambil selimut itu dari lantai dan berteriak kesal.
    “ Jeon Ji Hyun! Apa kau akan terus memelihara kelakuan seperti ini?!!” serunya pada wanita yang sedikitpun tidak bergeming.
    Ia menghela napas, ia sadar tidak ada gunanya betapa keraspun ia berteriak pada wanita mabuk ini.

    Soo Hyun keluar dan mengambil kompresan dan air dingin. Sambil menggerutu ia melepaskan sepatu Ji Hyun dan berusaha mengurangi bau alkohol di badan wanita itu dengan menyeka tangan dan kaki serta wajah wanita yang sudah 29 tahun dikenalnya itu.
    Ia sudah menyiapkan sebuah baskom kosong untuk berjaga-jaga jika wanita itu tiba tiba terbangun dan memuntahkan seluruh isi perutnya.

    Jeon Ji Hyun membuka matanya dan langsung mengenali di mana ia berada. Melihat langit-langit kamar Soo Hyun sudah bukan merupakan hal yang mengejutkan untuknya. Dengan kepala yang masih terasa berputar, Ji Hyun memaksakan kedua matanya untuk terbuka.
    Ia melihat ke sekeliling ruangan dan laki-laki itu tidak ada di sana. Tentu saja, dengan semua kemarahan dan kebencian laki-laki itu terhadapnya, ia jamin Kim Soo Hyun tidak akan tahan berlama-lama melihat wajahnya.

    Ji Hyun turun dari tempat tidurnya dan sambil mengumpat dalam hati ia berjingkat-jingkat berjalan keluar dari kamar. Ia berharap Soo Hyun sedang berada dalam kamar mandi dan memberikan waktu untuknya berlari dan menghilang dari sana.
    Namun sayangnya Soo Hyun tidak sedang berada di kamar mandi. Laki-laki itu sedang menikmati mie instant sebagai sarapan paginya dan dengan terang-terangan melihat Ji Hyun keluar dari kamar dengan berjingkat-jingkat.
    “ Apa kau pikir kau bisa keluar dari sini tanpa berpapasan denganku?” celetuknya mengejutkan Ji Hyun yang langsung terjatuh ke lantai karena lututnya mendadak lemas.
    “ K-Kau ada di sini rupanya!!” sahut Ji Hyun sambil buru-buru berdiri dan merapikan rambutnya yang masih berantakan.

    “ Apakah setelah 3 tahun berlalu, pekerjaanmu masih menuntutmu untuk bermabuk-mabukan sepanjang malam?!” semprot Soo Hyun tidak bisa menahan kekesalannya lebih lama lagi.
    “ ..... apakah di matamu pekerjaanku hanya mengenai bermabuk-mabukkan sepanjang malam? “
    “ Sayangnya seperti itulah yang kulihat semalam! Kau pulang dengan laki-laki kurang ajar dan kau sama sekali tidak sadar bahaya apa yang akan menimpamu jika aku tidak melihatnya!!”
    Ji Hyun menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca dan ia menatap Soo Hyun dengan tajam.
    “ Aku tahu kalau 3 tahun tidak bisa mengubah hidupku terlalu drastis seperti apa yang kau lakukan terhadap hidupmu! Kau sekarang sudah bisa berdiri di atas kakimu sendiri dan semua orang memerlukanmu!”
    “ Apa point pembicaraan ini?! Kau sudah tidak sanggup lagi minum terlalu banyak sekarang! Apa kau sudah lupa sekarang kau sudah bukan wanita berkepala 2 lagi!”
    “ STOP!!! ..... aku tidak ingin mendengar perkataanmu lagi. ..... terimakasih sudah mengingatkan betapa menyedihkannya diriku.... terimakasih atas pertolonganmu semalam, apapun itu.” sahut Ji Hyun sambil melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.

    ******​

    Ji Hyun berdiri menatap cermin di kamarnya dan tangisannya tumpah tak terbendung lagi.
    “ ..... keparat ..... meskipun sekarang ia sudah jadi pria sukses, mana boleh ia mengatakan kalimat seperti itu padaku.... bagaimanapun juga aku adalah orang yang paling lama ia kenal selain keluarganya.... apakah ia tidak keterlaluan dengan semua perkataannya terhadapku? ..... dia pasti sudah benar-benar tidak memiliki perasaan terhadapku.....”
    Ia menelungkupkan tangannya di meja dan meneruskan tangisannya dengan lebih keras.

    Rasa nyeri di perutnya membuat Ji Hyun menghentikan tangisannya sejenak dan meremas perutnya. Perutnya memang sudah terasa tidak enak sejak kemarin, namun ia pikir itu hanya maag yang biasanya ia alami dan tidak terlalu ambil pusing. Mungkin karena semalam ia minum cukup banyak, rasa nyeri di perutnya kembali kambuh.
    “ Ah.... kenapa harus sekarang kau ini berulah...” sahutnya sambil meremas perutnya.

    Kim Soo Hyun berdiri di depan rumahnya dan sudah siap untuk berangkat ke kantor. Ia melihat ke samping rumahnya dan tidak ada tanda-tanda Ji Hyun akan keluar dari dalam rumah.
    Ia menghela napas.
    “ ..... apakah tadi aku terlalu keras padanya? ..... tidak biasanya ia begitu mudah tersinggung.....” gumamnya pada diri sendiri.
    Ia membuka pintu mobil dan menyimpan tasnya ke dalam, namun langkahnya terhenti.
    Ia tidak bisa bekerja dengan suasana hati tidak karuan seperti ini, ia harus membereskan masalahnya dengan Ji Hyun baru ia bisa pergi bekerja.

    “ Jeon Ji Hyun!” seru Soo Hyun di depan pintu rumah Ji Hyun. Tidak ada jawaban dari dalam sehingga Soo Hyun memutuskan untuk masuk setelah tidak mendapatkan jawaban.
    Tidak ada tanda-tanda keberadaan Ji Hyun di sana sehingga Soo Hyun berinisiatif untuk membuka kamar Ji Hyun dan ia terkejut melihat wanita itu terbaring di lantai sambil meringis kesakitan.
    “ Ji Hyun!! Apa yang terjadi?! Kenapa??”
    “ .... perutku sakit sekali....” sahut Ji Hyun berusaha untuk tetap bersuara.
    Soo Hyun tidak membuang waktu lagi dan langsung membopong Ji Hyun keluar dari kamarnya.
    “ .... apa yang kau lakukan??”
    “ Apa lagi? Aku akan membawamu ke rumah sakit!”

    ******​

    Soo Hyun menunggu di dalam ruangan rawat inap Ji Hyun.
    Ia tak bergeming tidak peduli sudah berapa kali Ji Hyun memintanya untuk pergi.
    “ Apa kau akan terus diam di sini dan tidak pergi bekerja??” seru Ji Hyun tidak sabar.
    “ Aku akan pergi setelah dokter memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada perutmu itu.”
    “ Ini karena aku minum terlalu banyak oke?? Apakah itu belum jelas juga untukmu??”
    “ Aku akan mencari tahu kapan dokter akan datang kemari.” sahut Soo Hyun tetap menolak untuk pergi meninggalkan wanita yang ia tahu tidak pernah menyukai suasana rumah sakit, apalagi ditinggal sendirian di rumah sakit.

    Tidak lama kemudian Soo Hyun kembali dengan dokter yang berjalan mengikutinya dari belakang.
    “ Aku tidak apa-apa kan dok? Ini hanya karena aku minum terlalu banyak kemarin, ya kan?” sahut Ji Hyun memberondong dokter yang baru masuk itu dengan pertanyaan.
    “ Sebenarnya ini tidak ada kaitannya dengan alkohol, nona. Kami mendapati ada kista yang cukup besar di rahimmu sekarang, itu yang menyebabkan rasa sakit di perutmu.”
    Ji Hyun memandangi sang dokter untuk beberapa saat lamanya tanpa bisa berkata apapun.
    Soo Hyun yang lebih dulu mendinginkan kepalanya dan membuka mulut.
    “ Kista? Bukankah itu harus dioperasi?”
    “ Kista yang ada di perut nona Jeon cukup besar, kami harus mengeluarkannya dengan cara operasi, namun ada resiko yang harus diketahui bahwa untuk operasi seperti ini, tidak menutup kemungkinan kami harus mengangkat rahim jika memang kistanya sudah menyebar cukup banyak.”
    “ .... jika tidak dioperasi, apa resikonya?”
    “ Selain rasa sakit yang akan terus menerus muncul, maka kista seperti ini bisa berubah menjadi tumor atau kanker rahim, jika itu terjadi maka sekedar operasi mungkin belum cukup untuk menyembuhkannya.”

    Ji Hyun meremas ujung selimutnya dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Ia baru saja mendengar ketakutan terbesar semua wanita di muka bumi ini.
    “ Operasi saja. Tidak ada pilihan yang lebih baik lagi. Operasi dan buang kista itu sebelum berubah jadi bahaya.” sahut Soo Hyun dengan lantang.

    “ ..... Soo Hyun.”
    Soo Hyun menoleh dan menatap Ji Hyun.
    “ Kenapa?”
    “ .... aku ingin sendiri, kau pergilah....”
    “ Ji Hyun, kau tidak mendengar dokter barusan berkata apa? Kau harus segera dioperasi!”
    “ KELUAR!! INI TUBUHKU! DAN AKU YANG HARUS BERPIKIR DAN MEMUTUSKAN!!!” jerit Ji Hyun histeris.
    “ Lebih baik ijinkan pasien beristirahat sambil memikirkan hal ini baik-baik.” sahut sang dokter sambil mempersilakan Soo Hyun untuk keluar dari ruangan.

    ******​

    Soo Hyun buru-buru kembali ke rumah sakit setelah urusan di kantor selesai.
    Ia baru saja masuk ke dalam ruangan rawat inap Ji Hyun dan ia melihat wanita itu sudah menukar pakaian rumah sakitnya dan berdiri di samping tempat tidurnya.
    “ Apa yang kau lakukan?” sahut Soo Hyun bingung.
    “ ..... aku mau pulang, tidak ada gunanya berlama-lama di rumah sakit, membuang duit saja.” sahut Ji Hyun sambil berjalan sambil tetap memegangi perutnya yang masih terasa tidak karuan.
    Sebelum Ji Hyun melewatinya, Soo Hyun menahan lengan wanita itu dan menghela napas.
    “ Kau harus melakukan operasi itu segera.... sakit perut yang kau rasakan sekarang berbahaya!”
    “ ..... aku sudah berpikir tentang itu... aku tidak ingin mereka melakukan operasi itu.... kau sudah dengar kan, mereka mungkin akan mengangkat seluruh rahimku!!”
    “ Apakah itu lebih penting dibanding nyawamu sendiri?! ..... apakah kau takut Seo Ji Sub tidak lagi menyukaimu jika kau adalah wanita yang tidak memiliki rahim??”

    “ AKU TAKUT TIDAK AKAN ADA LAKI-LAKI YANG MENYUKAIKU KARENA AKU TIDAK BISA MEMBERIKAN KETURUNAN TANPA RAHIM ITU!!! KAU BENAR-BENAR BERHARAP AKU AKAN AKAN BERAKHIR SEBAGAI PERAWAN TUA??” seru Ji Hyun dengan air mata yang berlomba jatuh di pipinya.
    “ ...... Jeon Ji Hyun.....”
    “ ...... dan apakah kau tahu apa yang paling kusesali hari ini? ..... aku menyesal karena kau mendengar semua perkataan dokter tadi pagi.... kau adalah orang yang kuharap tidak pernah mengetahui hal seperti ini tentang diriku..... “ sahut Ji Hyun lirih, ia baru saja hendak melangkahkan kakinya pergi namun Soo Hyun kembali menahannya.
    Kali ini Soo Hyun menariknya hingga ia tidak punya pilihan lain selain jatuh ke dalam pelukan laki-laki yang sudah ia rindukan selama 3 tahun itu.

    “ Dasar wanita bodoh... jika itu yang kau kuatirkan, maka kau benar-benar bodoh dan membuang waktumu.... kenapa kau harus takut akan berakhir sebagai perawan tua? Aku akan menikahimu tidak peduli kau ini wanita dengan rahim atau tanpa rahim....”
    “ ...... kau sedang berbasa basi kan? Kau bilang seperti ini agar aku menurutimu dan pergi melakukan operasi itu.... aku tidak akan termakan bujukan kosongmu....”
    “ Dasar bodoh.... kau pikir untuk apa aku buru-buru kembali kemari di saat semuanya sedang berjalan dengan sangat baik di Amerika? Itu karena aku tidak ingin meninggalkanmu terlalu lama.... apakah kau sudah lupa semua kata-kataku dulu? ..... aku mencintaimu, dan cintaku tidak terbatas pada kenyataan kau wanita sempurna atau tidak, bagiku bersamamulah yang paling penting.... dan bagiku kehilanganmu jauh lebih menakutkan dibanding kehilangan rahimmu.”

    Ji Hyun menangis seperti anak kecil di pundak Soo Hyun sepuasnya.
    “ ..... kau tidak pernah mengatakan apapun lagi tentang hal itu setelah kau kembali.... aku kira kau sudah berhenti mencintaiku.....”
    “ ...... kau pikir kenapa aku tidak mengatakan lagi tentang hal itu? ..... aku mendapati kau mempunyai hubungan yang sangat spesial dengan Pak Seo.... dari dulu kau memang selalu membuatku bingung.”
    “ ...... Aku tidak pernah mencintai Seo Ji Sub ...... dia memang bersikap baik padaku, tapi aku---“
    “ Ssst.... aku sudah tidak perlu mendengar apapun lagi darimu. Sekarang cepat ganti pakaianmu dan berbaringlah. Kau harus banyak beristirahat.”

    ******​

    Ji Hyun kembali berbaring di ranjang rumah sakit, lengkap dengan pakaian rumah sakit.
    Soo Hyun berbaring di sampingnya, keduanya tidak tampak terganggu dengan sempitnya tempat tidur rumah sakit itu.
    Ji Hyun hanya menempatkan kepalanya di dada Soo Hyun dan berulang kali menghela napas.
    “ ..... bagaimanapun aku berpikir tentang ini.... ini tidak adil untukmu..... kau adalah pria di usia muda yang sudah menapaki jalur sukses di hidupmu.... bagaimana boleh kau berakhir dengan menikahi wanita tua sepertiku....dengan kemungkinan tidak bisa menjalankan kewajibanku sebagai seorang wanita?”
    “ Aku paling malas bicara denganmu saat kau sedang tertekan, bicaramu jadi melantur dan berlebihan. Aku tidak pernah merasa rugi dan seharusnya kau pun tidak berpikir seperti itu. Lagipula belum tentu dokter akan melakukan hal yang kau takutkan itu,.... tapi kau sudah yakin kalau mereka akan melakukan itu.”
    “ ...... Kau benar-benar berpikir untuk menikahiku? ..... kau harus melihat wajahku sepanjang hari dan harus melihat semua hal buruk dariku yang kau benci itu sepanjang hari....”
    “ Selain itu aku juga bisa melihat wajah wanita yang kucintai sepanjang hari.... kurasa tidak buruk bukan?”

    Pintu ruangan terbuka dan Ji Hyun serta Soo Hyun dikejutkan dengan hadirnya Ji Sub di dalam ruangan.
    Tentu saja yang paling terkejut di antara mereka adalah Ji Sub. Ia berdiri mematung seperti orang bodoh melihat Soo Hyun tengah berbaring di atas tempat tidur Ji Hyun, lengkap dengan Ji Hyun yang memeluk laki-laki itu dengan erat.
    Ji Hyun langsung menegakkan badannya.
    “ K-Kau datang??”
    Soo Hyun turun dari tempat tidur dan menarik badan Ji Hyun hingga kembali berbaring.
    “ Biar aku yang bicara dengannya. Bagaimanapun ini sudah saatnya kami berdua bicara.”
    Soo Hyun berjalan menghampiri Ji Sub dan menatap laki-laki yang menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat itu dengan tenang.
    “ Ayo kita bicarakan ini di luar.”

    *****​

    “ Apa hal pertama yang ingin kau ketahui? Kondisi Ji Hyun atau kenapa kau harus melihat pemandangan seperti itu di kamar Ji Hyun?” sahut Soo Hyun setelah menutup rapat pintu kamar Ji Hyun.

    “ Aku penasaran apakah aku harus memakimu lebih dulu atau memukulmu lebih dulu.” jawab Ji Sub serius.
    “ ..... Ada kista di perut Ji Hyun dan dokter menyarankan operasi. Meskipun begitu operasi itu menyisakan kemungkinan bahwa dokter harus mengangkat rahim Ji Hyun,.... tapi kau tenang saja aku sudah meyakinkannya untuk melakukan operasi itu.”
    “ Lalu..... siapa kau hingga berhak mengatakan semua hal ini padaku?”
    “ Aku adalah laki-laki yang jatuh cinta pada Jeon Ji Hyun sejak lama..... dan kami akan menikah setelah operasi Ji Hyun selesai dilaksanakan.”
    Ji Sub memukul wajah Soo Hyun dengan keras. Ia tidak bisa menahan emosinya lagi setelah mendengar kalimat terakhir yang meluncur keluar dari mulut laki-laki muda itu.

    “ Jika kau bicara mengenai mencintai Ji Hyun, maka kau juga sedang berhadapan dengan laki-laki yang mencintai Ji Hyun sejak lama! ..... jika kau bicara mengenai pernikahan, maka kau juga sedang berhadapan dengan laki-laki yang bersedia menikahi Ji Hyun kapanpun, bahkan sekarang!”
    “ ..... Aku tahu kau mencintai Ji Hyun, tapi Ji Hyun tidak pernah mencintaimu, itulah yang membedakan kita berdua. ..... walaupun butuh waktu lama untuknya menyadari, tapi ia hanya mencintaiku sejak lama... bahkan sebelum ia menyadari perasaan itu.”
    “ Kau masih tidak menutup mulutmu?!!” seru Ji Sub sambil menarik kerah baju Soo Hyun.
    “ Cukup!!” seru Ji Hyun yang tidak tahan menguping dari dalam kamarnya dan memutuskan untuk keluar.

    “ Masuklah, dokter bilang kau harus banyak istirahat!” sahut Soo Hyun kesal karena Ji Hyun tetap keluar padahal ia sudah melarangnya.
    “ Kau memintaku untuk membuka lembaran yang baru bukan? ..... biarkan aku menyelesaikan dulu lembaran lamaku.... oke?” sahut Ji Hyun sambil menatap Ji Sub dengan tatapan penuh penyesalan.

    *****​

    “ Maafkan Soo Hyun,.... meskipun ini terdengar seperti pembelaan, tapi dia masih muda dan belum bisa menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin.” sahut Ji Hyun.
    Ia dan Ji Sub duduk berdampingan di taman rumah sakit. Soo Hyun berdiri tidak jauh dari sana, seakan tidak rela membiarkan Ji Hyun berduaan saja dengan Ji Sub.
    “ ...... apa ia benar tentang operasi itu? ..... bagaimanapun kau harus melakukan operasi itu.”
    “ ....... sebelumnya aku sempat ragu.... operasi itu tampak menakutkan bagiku.... tapi kurasa aku akan melakukan operasi itu...”
    “ Aku benar-benar kecewa kau tidak mengabariku tentang kau masuk rumah sakit.”
    “ ..... Ji Sub.... apa yang kau dengar dari Soo Hyun mengenai perasaanku .... itu juga benar.” sahut Ji Hyun sambil menundukkan kepalanya.
    “ Bukankah ia hanyalah tetanggamu? .... kau menganggapnya sebagai adikmu, kenapa tiba-tiba sekarang kau berubah jadi seorang wanita yang mencintai adiknya sendiri??”
    “ ..... ya, seharusnya aku menganggapnya sebagai adikku.... dia lebih muda dariku beberapa tahun, tapi anehnya.... aku tidak pernah sekalipun menganggapnya sebagai adikku.... mungkin dari caranya memperlakukanku, ia selalu berhasil tampil sebagai seorang pria bagiku....”
    “ Apakah ia alasanmu tidak pernah bisa menerimaku selama ini? ..... kenapa kau tidak langsung saja bilang padaku tentang itu?”

    “ ...... awalnya aku tidak ingin menerima perasaanku sendiri, rasanya ada yang salah jika aku mencintai laki-laki yang sudah kukenal sejak ia masih bayi.... rasanya jauh lebih tepat jika aku jatuh cinta pada seorang laki-laki dewasa sepertimu.... maafkan keegoisanku....Kau berhak membenciku selamanya....” sahut Ji Hyun lemas. Ia tidak pernah merasa sejahat ini sebagai seorang wanita.
    Ji Sub tidak berkata apapun untuk beberapa saat, ia seakan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
    “ ..... Ji Sub.... katakanlah sesuatu, marahi aku, setidaknya itu lebih membuat perasaanku lega....”
    “ Apakah.... kau yakin kalau kau akan merasa lebih bahagia bersama dengan laki-laki muda itu? .... aku pernah menikah sebelumnya dan pernikahan adalah dunia yang benar-benar berbeda dengan yang kau bayangkan sebelum kau menjalani pernikahan itu sendiri.”
    “ ...... mungkin akan ada waktu di mana aku menyesali pernikahan itu.... mungkin akan ada waktu aku membenci Soo Hyun dan tidak ingin melihat wajahnya.... tapi walaupun begitu.... aku ingin menjalani kehidupan yang seperti itu.... aku pernah merasakan bagaimana rasanya hari-hari tanpa dirinya dan itu benar-benar tidak ingin kujalani lagi....”
    Ji Sub tersenyum getir, ia bangkit berdiri dan menepuk kepala Ji Hyun dengan lembut.
    “ .... aku tidak bisa berkata apapun lagi jika memang itu keputusanmu.... mungkin kau akan sulit mencariku untuk beberapa saat, tapi aku berjanji itu tidak akan berlangsung lama.... semoga operasimu berjalan dengan lancar.... aku benar-benar mengharapkan kau kembali sehat.”

    Soo Hyun berdiri tidak jauh dari sana dan kesal karena sama sekali tidak bisa mendengar pembicaraan Ji Hyun dan Ji Sub. Ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya saat ia melihat Ji Sub menepuk-nepuk kepala Ji Hyun dan sekarang laki-laki itu bahkan memeluk Ji Hyun dengan erat.
    Baru saja ia akan melangkah dan mengakhiri pelukan itu ketika Ji Hyun menatap ke arahnya dan melemparkan tatapan penuh larangan. Ia hanya bisa menghela napas dan menahan dirinya sekuat tenaga.

    ******​

    Ji Hyun menutup pintu kamarnya. Soo Hyun mendelik kesal.
    “ Apakah perlu waktu selama itu untuk mengakhiri hubunganmu dengan pria itu??”
    “ Sst!! Sudah malam dan ini rumah sakit! Apakah kau akan terus memarahiku sepanjang malam??” seru Ji Hyun sambil menatap Soo Hyun dengan geli.
    “ Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa menurutmu ini semua lucu??”
    “ Iya, lucu sekali. Ini pertama kalinya aku melihat betapa cemburunya kau. Aku tidak menyangka kau bisa bertingkah seperti ini juga.” sahut Ji Hyun sambil kembali berbaring di tempat tidurnya.
    “ Karena kebodohanmu, kau sama sekali tidak menyadarinya selama ini. Kau pikir aku hanya seperti ini kali ini saja?” umpat Soo Hyun dengan wajah cemberut. Meskipun begitu ia tetap membantu menyelimuti Ji Hyun hingga nyaris menutupi leher gadis itu.

    “ Aku tidak ingin kau berpikir negatif tentang Ji Sub.... dia adalah pria yang baik.”
    “ Kenapa? Apa sekarang kau berharap kami berdua bersahabat baik?” sahut Soo Hyun sinis.
    “ Setidaknya kau harus sedikit berterimakasih padanya. Ia yang menemaniku setiap hari valentine selama kau tidak ada di sini. Bayangkan betapa kesepiannya aku jika ia tidak ada.” sahut Ji Hyun terus menggoda laki-laki yang mendadak tampak begitu menggemaskan baginya.
    “ JEON JI HYUN!!” seru Soo Hyun kesal.
    “ Hahahahaha! Aku mengerti, maafkan aku. ..... aku ingin beristirahat.... jika besok dokter benar-benar melakukan operasi, aku ingin masuk ke ruangan operasi dengan kondisi prima.”
    “ ..... baiklah, aku akan mematikan lampunya.”
    “ Kau tidak akan pulang? .... kau bisa kembali lagi besok kemari.”
    “ Aku tidak akan memberikan kesempatan untuk pria itu datang lagi malam-malam kemari dan menemanimu sepanjang malam!” seru Soo Hyun sambil mencibir.
    Ji Hyun kembali tertawa keras mendengar jawaban Soo Hyun.
    “ Aku tidak tahu kalau kau bisa sangat menggemaskan seperti ini!”

    Soo Hyun membaca koran selama beberapa saat dan Ji Hyun sudah tertidur. Seharian ini ia banyak menangis, mungkin ia lelah dan tidur adalah hal yang benar-benar ia butuhkan.
    Soo Hyun meletakkan koran ke atas meja dan berjalan ke sisi tempat tidur Ji Hyun. Wanita itu tertidur dengan mulut setengah terbuka dan air liur yang sudah siap menetes keluar dari mulutnya.
    Soo Hyun tersenyum sendiri. Itu adalah pemandangan yang selalu ia lihat setiap kali ia melihat Ji Hyun tertidur, dan entah sejak kapan pemandangan itu tidak lagi tampak menjijikan baginya, sebaliknya pemandangan itu tampak begitu menyenangkan baginya.

    ******​

    Sebulan berlalu sejak operasi Ji Hyun dilakukan. Tidak ada hal buruk yang terjadi selama operasi itu dan dokter menyatakan bahwa rahimnya tidak perlu diangkat.
    Dan hari ini adalah hari yang penting bagi Ji Hyun karena akhirnya selama 32 tahun masa penantiannya akhirnya ia bisa melepaskan masa lajangnya.
    Soo Hyun membuka pintu dan mendapati Ji Hyun sedang berdiri dengan gaun pengantin yang sudah lengkap ia kenakan dari ujung rambut hingga ujung kaki.

    Wanita itu sedang menutup matanya dan melipat kedua tangannya.
    “ Apa yang sedang kau lakukan?” sahut Soo Hyun bingung melihat tingkah Ji Hyun.
    “ Aku sedang memastikan bahwa aku tidak akan menyesali hari ini.” jawab Ji Hyun tetap menutup matanya.
    “ Jeon Ji Hyun! Kau pikir kau masih bisa berubah pikiran sekarang?!” umpat Soo Hyun.
    Ji Hyun tertawa, ia selalu berhasil menggoda Soo Hyun dengan topik seperti itu.
    “ Tentu saja aku harus berpikir dengan serius mengenai hal ini. Pernikahan itu seperti one way ticket , aku tidak bisa menikah dengan begitu mudahnya bukan?”
    “ Ckckckck.... Apa kau masih belum sadar juga? Sebentar lagi kau akan menikah dengan seorang pria muda yang sukses. Kau tidak perlu bersusah-susah bekerja lagi dan kau bisa hidup dengan enak. Apalagi yang bisa membuatmu menyesal?”
    Ji Hyun mendelik kesal ke arah calon suaminya itu.
    “ Ckckckck, sombong sekali! Aku sudah mendepak seorang pria tampan dan tidak kalah mapan untuk menikah denganmu, jangan lupa itu ya!”
    “ Jeon Ji Hyun!!!” sembur Soo Hyun.

    Untungnya saat itu pintu terbuka dan seorang staff wedding organizer mencegah terjadi peperangan di detik-detik terakhir proses persiapan pernikahan mereka itu.
    “ Maaf, mempelai pria silakan ikut saya, sebentar lagi kebaktian peneguhan pernikahan akan dilaksanakan.”
    “ A-ah... iya, baiklah.” sahut Soo Hyun sambil mengikuti staff wedding organizer itu setelah sebelumnya melotot ke arah Ji Hyun yang menatapnya dengan geli.

    *****​

    Proses pemberkatan pernikahan berjalan dengan lancar. Mereka hanya mengundang keluarga dan kerabat terdekat. Ji Hyun sangat ingin mengundang Ji Sub, namun tampaknya laki-laki itu masih sulit untuk dihubungi. Meskipun begitu kehadiran Sun Mi sudah cukup membuatnya lega.
    Sun Mi memang datang ke acara pemberkatan pernikahan Soo Hyun dan Ji Hyun dengan tampang seperti orang yang baru ditinggal mati anggota keluarganya.
    Soo Hyun harus menghabiskan waktu nyaris setengah jam untuk menghibur mantan rekan kantornya itu.
    Walaupun begitu Ji Hyun lega semua proses penting ini sudah berjalan dengan sukses.
    Sekarang ia duduk di dalam mobil pengantin dengan laki-laki yang paling ia cintai duduk di sampingnya.

    “ Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Soo Hyun setelah memperhatikan Ji Hyun yang tampak sibuk dengan lamunannya.
    “ Aku hanya ingin memastikan ini semua bukan mimpi.... rasanya aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan menikah tahun ini.... apalagi menikahimu.”
    “ Aku tegaskan sekali lagi ya, kau sudah tidak bisa menyesali hal ini sekarang.”
    Ji Hyun tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Soo Hyun.
    “ Wanita cenderung lebih cepat terlihat tua dibanding laki-laki.... tidak lama lagi kau akan melihatku seperti seorang tante-tante. Saat itu datang, pastikan kau tidak pernah menyesali hari ini ya.”
    “ Kau tidak perlu kuatir. Sekarang pun aku sudah meyakinkan diriku bahwa aku baru saja menikahi seorang tante-tante. Jadi aku tidak akan terkejut lagi nanti.”
    Ji Hyun memukul pundak Soo Hyun.
    “ Berhenti menyebutku tante.”
    “ Hahaha, kau yang memulainya, tante.”
    “ Diam.”
    “ Baiklah. Hahahahaha....”

    Mereka memilih villa Soo Hyun sebagai tempat bulan madu mereka. Soo Hyun sempat terkejut saat Ji Hyun ingin berbulan madu di tempat itu. Ia sudah mengira wanita itu menginginkan bulan madu mereka sebagai waktu untuk berkeliling dunia dan memenuhi paspornya dengan cap imigrasi semua negara.

    ******​

    Malam itu mereka berbaring di atas tempat tidur dan Ji Hyun tidak ingin berpisah sejengkal pun dari Soo Hyun.
    “ Apa kau tidak merasa kepanasan?”
    “ Berhenti protes, ini adalah malam pertama kita!!”
    Soo Hyun menghela napas. Seharusnya ia sudah bisa menduga hal seperti ini akan terjadi.
    Ji Hyun memeluk Soo Hyun dan menghirup aroma tubuh laki-laki itu dalam-dalam. Ia benar-benar menyukai aroma laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.

    “ Kau ingin tahu apa targetku dalam waktu dekat ini?” celetuk Ji Hyun.
    “ Hhm? Apalagi yang kau ingin lakukan?”
    “ Aku ingin segera mempunyai anak.... kau tahu kista di perutku mungkin saja muncul lagi kapanpun dan aku tidak ingin membuang kesempatan berharga untuk segera memiliki anak.”
    “ Jangan berkata yang tidak-tidak, dokter bilang asal kau menjaga pola hidupmu, itu tidak akan terjadi lagi.”
    “ Ah, aku tidak peduli kata dokter, yang jelas tahun ini aku harus segera mempunyai anak!”
    Soo Hyun tersenyum.
    “ Memang kau ingin punya anak berapa?”
    “ Hhm.... tadinya aku rasa 3 orang anak sudah cukup, tapi melihat suamiku mempunyai karir dan penghasilan yang cukup, kurasa 7 orang anak bukanlah hal yang sulit untuk kita. Kita bisa membesarkan mereka dengan baik.”
    “ 7 Anak?!! Ckckck... apa kau sedang mengigau sekarang??”
    “ Memang apa yang salah? Kau hanya perlu bekerja dengan lebih giat. Hhm.... lupakan rencana kerjasamamu dengan Ji Sub, ia tidak akan mau melihat wajahmu lagi. Kurasa akan lebih baik jika kau membuka perusahaanmu sendiri.”
    “ Kau ingin mendepakku dari kantor dan membebaskanmu bertemu dengan Seo Ji Sub setiap hari ya?” sahut Soo Hyun sambil memincingkan matanya.

    Ji Hyun tertawa.
    “ Kau pikir aku ini kurang kerjaan? Jika kau membuka perusahaanmu sendiri, tentu saja aku akan bekerja padamu. Aku harus memastikan tidak ada wanita centil yang mencoba menarik perhatianmu!”
    “ Entah kenapa idemu itu agak menakutkan di bayanganku.”
    “ Sudahlah, daripada membahas hal itu, bagaimana jika kita mulai sekarang proyek jangka pendekku?”
    “ Hahahahahaha! Aku mencintaimu, Ji Hyun!” seru Soo Hyun sambil menarik selimut dan mencium istrinya itu di bawah selimut dengan penuh cinta.

    - THE END -
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.