1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Cerpen Kompilasi Cerpen dantd95

Discussion in 'Fiction' started by dantd95, Mar 13, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    [coolness]:elegan: :elegan: :elegan: :elegan:[/coolness]

    allright then, talk less cool more
    ini adalah kompilasi cerpen2 saya yang sempat di-publish di kaskus sana.. hope you enjoy, folks!

    Ilusi/Fakta
    Part 1
    Part 2
    Part 3

    Cinderella Di Atas Tumpukan Sampah
    Part 1
    Part 2

    Common Sense
    Part 1
    Part 2
     
    Last edited: Mar 13, 2011
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    Ilusi/Fakta Part 1

    Apakah aku termasuk seorang pemimpi? Apakah aku termasuk dalam kumpulan orang-orang yang terganggu jiwanya, karena aku memimpikan seseorang yang takkan kembali? Tapi kalau aku tidak waras, mereka di atas sana juga tidak waras karena memimpikan masa kejayaan yang takkan pernah kembali pula.

    Apakah aku termasuk seorang pemalas? Karena aku semestinya melakukan tugasku, tapi malah menganggur, patah semangat? Tapi kalau begitu, mereka di atas sana juga termasuk golongan pemalas karena bukannya melaksanakan hal-hal yang semestinya menjadi tugas mereka, tapi malah menganggur.

    Jadi siapa aku sebenarnya?

    Seorang pemimpi? Seorang pemalas? Seorang yang hina kah? Seorang yang bertindak selayaknya kewajaran saja? Seorang yang biasa-biasa saja? Sungguh, di saat-saat seperti ini, krisis identitas yang merupakan sesuatu yang lumrah bagi remaja sepertiku bisa terasa amat menyakitkan. Apakah aku gila? Buta karena cinta? Sakit karena rindu? Rindu yang takkan pernah bisa kuhilangkan.

    Cinta itu sesuatu yang klise, mudah ditebak. Tapi anehnya kita selalu merasakan sebuah kejutan bersamanya, meskipun kita sudah bisa menebaknya. Dan karenanya pula cinta selalu berbanding terbalik dengan logika. Itulah, perasaan itulah, yang tidak bisa kulepaskan dari hati. Layaknya parasit yang menggerogoti hatiku sedikit demi sedikit dengan perasaan rindu, menusuk dengan tusukan yang indah namun sangat menyakitkan, menempel tanpa bisa lepas.

    Orang-orang selalu bilang padaku, “Cari saja perempuan lain” atau “Dunia ini tidak selebar daun kelor” atau, lebih klise lagi, “Jodoh pasti takkan kemana” tapi hatiku bukan hati yang bodoh. Tidak akan semudah itu menyerah pada kata-kata cetek seperti itu. Orang bilang aku gila, mengejar seseorang yang tidak mungkin kudapat. Tahu apa mereka? Aku hidup dalam status quo yang kubuat sendiri sebagai sebuah kerangkeng pikiranku, dan aku merasa nyaman hidup begini.

    Aku takkan menyerah, apapun yang terjadi. Atau awalnya, begitulah tekadku. Sungguh tekad yang murahan, yang bisa kau temukan dengan mudah di sinetron-sinetron yang kau tonton setiap hari itu. Meskipun, sekarang semuanya hanya tameng belaka. Aku berusaha menutupi kenyataan. Aku sungguh naif. Seorang yang naif, yang naive, mungkin seperti itulah aku. Tidak, tidak, bukan begitu, aku tidak serendah itu. Setidaknya menurut diriku sendiri. Terserahlah kata orang lain.

    Ya, itulah aku. Aku yang tidak suka menuruti perkataan orang lain. Bahkan kalau mereka berkata benar. Meskipun secercah titik di hatiku selalu berkata aku salah, tapi aku tidak menghiraukannya. Takkan kubiarkan secercah titik itu menjadi nila yang merusak susu sebelanga. Aku ingin aku yang sekarang tetap menjadi aku di masa depan. Mempertahankan status quo yang nyaman ini, meskipun itu salah.

    Aku adalah seorang pemikir. Bukanlah hal yang lazim bagi remaja sepertiku, seusiaku untuk banyak berpikir. Maka, seperti banyak pemikir lainnya, aku hanya menyembunyikannya saja, memasang muka dua sebagai orang yang banyak bicara dan suka bercanda, sementara sebenarnya aku adalah orang yang serius, banyak berpikir. Aku ini seorang pembohong. Ya, pembohong, meskipun aku sendiri tidak beranggapan begitu.

    Hanya satu hal yang bisa menembus segala benteng pikiranku, muka duaku, sifat palsuku. Cinta itu, yang dia berikan dengan murni dan jernih, yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Tentu saja semua orang yang pernah merasakan cinta pasti berkata begitu. Meskipun, itu semua hanya ilusi. Tapi mereka, dan aku, menganggap itu fakta. Walaupun pikiranku tahu, tahu benar, bahwa cinta hanya ilusi belaka, namun perasaan itu telah menempel di hatiku bagai benalu.

    Usaha satu tahun bisa hilang dalam satu menit saja, begitu kata seorang bijak. Dan mungkin, peribahasa itu paling tepat menggambarkan keadaanku saat ini. Hubungan yang telah kugarap, kujahit selama berbulan-bulan hilang seketika. Lenyap, musnah, hanya dalam satu menit, tidak, hanya dalam beberapa detik saja. Karena itu, aku masih mengurung diriku di kandang kecil yang bernama ilusi. Dalam status quo itu, yang dengan senang hati menjebakku sendiri.

    <><><><><><><><><><><>​

    Aku tak pernah, sekalipun tak pernah, membayangkan semuanya akan terjadi. Lagipula siapa yang mau? Tapi entah apa yang kuperbuat sehingga aku sekarang harus menanggung beban ini. Saat bel tanda pulang sekolah berbunyi, teman-temanku, dengan tanda kutip tentu saja, pulang duluan dengan cepat seolah dikejar sesuatu yang menakutkan. Aku seperti biasanya diam, masih duduk mematung sendirian menunggu semuanya pulang.

    Tidak ada yang memperhatikanku, seperti biasanya. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Saat seperti ini mereka bertindak individualistis, sementara saat ulangan mendadak aku seakan-akan harta karun bagi mereka. Aku sudah terbiasa, sungguh, terbiasa, meskipun aku tetap heran kenapa manusia bisa begitu tidak konsisten, plin-plan. Tiba-tiba, sebuah suara menyapaku, membuyarkan lamunanku.

    “Hai.”
    “Oh.. kamu.. aku tidak ingat..”
    “Haha, masa’ kamu gak ingat aku? Ini aku!”
    “Oh, Jessica! Ada apa? Setahuku.. tidak ada ulangan atau tugas yang mendesak dalam waktu dekat.”
    “Ah, jangan sinis gitu dong. Aku gak kayak yang lainnya, aku disini cuma.. buat… eng.. sesuatu aja.. nomor HP kamu?”

    Wajahnya jelas-jelas memerah saat mengatakan hal itu. Aku yakin, haqqul yakin bahwa dia punya perasaan yang berbeda padaku. Sama sekali berbeda. Anehnya, aku mendadak lupa perasaan apa itu, yang mengganjal dan bersarang di hati. Aku pun, merasakan perasaan yang sama terhadapnya dan sebenarnya ingin melompat-lompat riang saat dia mengucapkan kalimat itu.
    “Hei!!!!”
    “Ah, iya. Maaf, tadi aku melamun. Ini nomor HP-ku…”

    <><><><><><><><><><><>​

    Tanpa terasa, enam bulan telah berlalu. Jessica, teman sekelasku itu, sekarang sudah menjalin hubungan denganku. Cinta, begitulah nama perasaan aneh itu. Butuh waktu satu bulan untuk menyadarinya. Aku sendiri keheranan, aku yang seorang pemikir butuh waktu lama untuk menemukan perasaan itu. Mungkin karena aku bukan orang yang senang bergaul, tapi mungkin juga karena aku baru pertama kali merasakannya.

    Kuakui, aku termasuk orang yang sulit, sangat sulit jatuh cinta. Tapi, orang sepertiku yang sulit jatuh cinta ini kalau sudah berhasil jatuh cinta pada seseorang dia akan mencurahkan segala rasa kasih sayangnya dan akan sangat, sangat cinta terhadap orang yang dicintainya. Begitulah aku. Awalnya memang perasaan mengganjal itu hanya sedikit saja, tidak kuhiraukan. Tapi semakin dekat dengannya, rasa itu semakin mencekikku bagai ular anakonda bila didekati.

    Karena itu, sekarang aku sudah benar-benar cinta padanya. Lebih dari apapun. Aku tahu aku terdengar begitu klise, tapi cinta memang sebuah hal yang pada keseluruhannya klise.

    “Hei, San, kamu belum pulang juga? Ayo.”
    “Ah, Jess, sayangku, aku tadi hanya.. melamun. Kalau begitu, ayo kita pulang.”

    Kami berdua pulang bersama, berpegangan tangan. Jujur, aku akui sebenarnya dia merupakan seorang perempuan yang cantik, amat cantik. Kulitnya putih mulus, dengan potongan badan tinggi semampai, rambut hitam panjang dan hidung mancung. Bukan hanya itu, sifatnya pun tidak seperti perempuan kota kebanyakan, yang sering menghambur-hamburkan uang di malam hari dan menjual diri.

    Dia seorang perempuan yang baik, amat baik. Sifatnya yang ramah dan hangat membuat semua orang tertarik padanya, dan tentu saja melemparkan pandangan iri padaku setiap aku berjalan bersamanya. Dia jarang memakai make-up, hanya sedikit saja sebagai sentuhan akhir, sekadar finishing touch untuk penampilannya yang sudah cantik itu. Dan itu membuatku makin cinta saja padanya.

    “Jess, bisa kita duduk di sana sebentar?” tanyaku sambil menunjuk kearah sebuah pohon rindang.
    “Tentu saja. Aku juga sebenarnya pengen kok.”

    Maka, kami berdua duduk di bawah naungan pohon mahoni itu. Sebenarnya, aku mengajaknya karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. Hal yang sangat penting. Sudah lama, aku ingin mengatakannya.

    “Jess..”
    “Apa?”
    “Maukah kau menikah denganku?”

    <><><><><><><><><><><>​
     
  4. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    Ilusi/Fakta Part 2

    Setelah lulus SMA, akhirnya aku diterima di sebuah universitas ternama di kota ku. Begitu pula dengan Jessica, ia diterima di universitas yang sama meskipun fakultasnya berbeda. Dia mengambil jurusan Sastra Inggris, sementara aku mengambil jurusan Hubungan Internasional. Jurusan pilihan orang tuaku, meskipun sebenarnya aku tidak ingin mengambil jurusan tersebut tapi mereka membujukku, dan aku terpaksa mempertahankan muka duaku.

    Tapi, aku tidak marah pada mereka. Setidak-tidaknya, mereka merestui pernikahanku dengan Jessica, yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Baik aku maupun dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan kami. Aku masih ingat, sangat ingat, saat-saat ketika dia pertama kali menyatakan cintanya padaku.

    “Ikhsan, sebenarnya aku memanggilmu kesini.. untuk menyatakan sesuatu yang penting padamu.”
    “Apa itu?”

    Waktu itu, aku masih tidak tahu apa yang akan dia katakan, meskipun aku merasakan perasaan yang sama dengannya dan aku tahu itu. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menebaknya, meskipun hal itu adalah hal yang klise, hal yang sering sekali aku dengar dan idamkan.

    “Aku cinta kamu, San. Kamu mau kan jadi pacarku?”

    Tiba-tiba, jantungku berdegup kencang, sangat kencang. Aku tidak pernah menduga ia akan sefrontal ini. Sejak aku lahir, baru pertama kali ada yang bilang begini padaku. Dan tentu saja, aku melakukan sesuatu yang memang seharusnya dilakukan laki-laki normal di saat seperti itu.

    <><><><><><><><><><><>​

    Ah, sungguh banyak kenangan yang aku alami bersamanya. Baik pahit maupun manis, dia selalu ada mendampingiku, ada di saat aku membutuhkannya. Aku tersadar dari lamunanku dan keluar dari tempat tidur yang selalu jadi tempat berimajinasiku itu. Aku pergi ke dapur dan kemudian menyeduh kopi sebagai teman menjalani pagi hari.

    Bayangan dirinya kembali menjajah pikiranku, dan aku membiarkannya. Itu hal yang wajar, bahkan bagi seorang pemikir sepertiku. Sementara wajahnya terus terbayang, aku mengambil koran pagi yang tergeletak di halaman, baru saja diantarkan loper sepertinya, dan mulai membacanya. Meskipun, sebenarnya aku tidak benar-benar membacanya. Bayangan wajahnya terus mengalihkan perhatianku, dan aku hanya membaca berita yang sama berulang-ulang tanpa bahkan memerhatikan isinya.

    Kebetulan, ayah dan ibuku sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang ada perjalanan dinas, atau begitulah kata mereka. Aku tidak peduli alasan apapun yang mereka katakan, aku tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. Tapi aku membiarkan mereka, sedikit banyak karena aku terlalu banyak memikirkan dia, sebagian juga karena aku mungkin ingin membalas kebaikan mereka yang sudah merestui pernikahanku dengannya.

    Yang penting, aku ada disini dan seminggu lagi aku akan menikah dengannya. Hanya itu. Kopi kuhabiskan dan aku kembali masuk ke dalam rumah, menyalakan komputerku dan mengakses internet untuk melihat e-mail yang masuk. Bahkan sebelum pernikahan dilaksanakan, beberapa ‘teman’ ku sudah memberi ucapan selamat. Beberapa dari mereka sampai menghias e-mail mereka itu, seolah-olah e-mail itu semacam kartu ucapan selamat yang sering aku dapatkan saat lebaran atau tahun baru. Aku tak pernah, sekalipun tak pernah, bisa mengerti apa maksud mereka bersusah-susah membuatnya begitu, kalau nantinya akan kuhapus juga?

    Seselesainya mengecek e-mail, aku kembali mematikan komputerku dan mengambil hp-ku, dan kemudian pergi ke halaman rumah. Entah mengapa. Mungkin aku hanya ingin sekedar cari angin saja? Ini masih pagi, dan udara di dalam rumah juga sejuk, jadi tidak, bukan untuk itu. Apa karena aku kesepian, di rumah sendirian? Tidak, semestinya aku pergi keluar kalau begitu, atau menghubungi dia. Jadi kenapa?

    Insting kah?

    Dorongan kah?

    Firasat kah?

    Mungkin firasat. Mungkin, tapi aku tak bisa memastikan. Firasat bukanlah sesuatu yang bisa ditebak, meskipun sering terjadi. Bukan juga sesuatu yang bisa dirasakan dengan mudah, meskipun merupakan hal yang wajar bila merasakannya. Hanya saja, firasat yang kurasakan terasa aneh. Mungkin ini firasat buruk, tapi tidak pernah seberat dan sekelam ini. Tiba-tiba saja suasana hatiku berganti menjadi kelabu.

    Aku semakin merasa aneh. Hatiku mulai terasa seperti tersayat tanpa ada apa-apa. Apa terjadi sesuatu? Tidak, aku tidak boleh memikirkan hal seperti itu. Tidak boleh, tidak boleh sekalipun. Tapi apa, kalau begitu? Apa? Ah, sudahi saja lamunan tak penting seperti ini. Aku kembali masuk ke dalam rumah, tapi perasaanku malah bertambah gelisah. Tanpa sadar aku mondar-mandir kesana kemari, seperti orang yang kurang kerjaan.

    Mungkin aku harus menghubunginya sekarang, sekedar bercakap-cakap, mengobrol untuk mengenyahkan firasat tidak enak ini dari pikiranku. Aku segera merogoh HP dari saku celanaku, tapi belum juga disentuh, HP itu sudah berbunyi.

    Ada telepon?

    “Halo, San?”
    “Ini siapa?”
    “I-ini.. ini aku, Cecil, a-adik Jessica!”
    “Ada apa? Apa ada sesuatu?”

    Nada suara Cecil di telepon jelas-jelas terdengar panik. Mendadak, firasat itu makin mencengkram dadaku dan jantungku berdegup kencang. Sangat kencang.

    “I-ini.. ini gawat, San!! Je-jes-jessica..”
    “Ada apa dengan Jess? Kenapa suaramu terdengar panik begitu??”
    “Di-dia…”

    Semua yang ada di sekelilingku terasa hilang, terserap dalam kegelapan. HP-ku jatuh dengan begitu saja saat aku termenung, tidak percaya apa yang terjadi. Perlahan-lahan, air mata menetes dari mataku sebelum akhirnya mengalir deras. Aku terduduk lemas, dan meratap. Ratapan yang makin merobek-robek hatiku, menjadi kepingan-kepingan yang berserakan dan takkan pernah bisa kuambil dan kususun kembali.

    “Jess.. Jessica…”

    <><><><><><><><><><><>​

    Sudah tiga hari. Tiga hari, ya, tiga hari sejak kematiannya karena kecelakaan mobil yang naas itu. Dan dalam tiga hari itu pula, aku hanya meringkuk di kamarku saja, tanpa melakukan apa-apa lagi. Potret dirinya masih tergenggam di tanganku, selama tiga hari pula. Dan aku tidak makan ataupun minum, tidak mandi dan tidak melakukan apapun, selama tiga hari pula.

    Orang bilang aku gila. Orang lain bilang aku hanya merasakan shock, dan mereka juga bilang bahwa beberapa hari lagi aku akan pulih, dengan kesoktahuan mereka. Ada juga yang bilang aku butuh hiburan, bahwa aku terlalu bergantung padanya. Tahu apa mereka? Semuanya salah, salah, salah besar. Beberapa ‘teman’ ku mulai menjauh. Ada juga yang kasihan, merasa iba padaku, seolah-olah aku ini seorang tunawisma yang sudah beberapa hari tidak makan.

    Mereka semua salah. Salah besar. Aku benar-benar sadar, aku tidak shock, aku tidak butuh hiburan. Aku hanya terobsesi. Terobsesi padanya. Sungguh aneh, seorang pemikir yang rasional sepertiku bisa dengan mudah terpuruk pada keadaan seperti ini. Tapi kalau kau merasakan hal yang sama sepertiku, kau takkan lagi menganggapnya aneh.

    Aku masih meringkuk. Fotonya, potret dirinya yang kusimpan sudah kusut karena terus kupegang dengan tangan yang dipenuhi keringat. Keringat dingin. Senyumannya, wajahnya, gerak-gerik dan tingkah lakunya masih terbayang dengan jelas, sangat jelas bagiku. Aku jadi berpikir, apa yang akan dia katakan melihatku seperti ini? Mungkin seperti “Wajahmu berantakan banget” atau “Aduh, kenapa kamu gitu sih” atau semacam itulah. Sebuah senyuman kecil hinggap di bibirku, namun itu semua bak cahaya lilin yang meredup.

    Air mata kembali keluar dari mataku. Aku tak bisa lagi menahan penderitaan ini. Hatiku serasa hilang, menghilang, hancur berkeping-keping tanpa sisa. Tapi, saat aku menghapus air mataku, mendadak ia sudah muncul kembali. Muncul, muncul di sana, di depanku dengan sebuah senyuman tulus yang hanya miliknya seorang.

    “Jessica? Jess? Itu.. kamu? Tidak mungkin..”

    Dia hanya membalas dengan mengangguk seyakin-yakinnya.

    <><><><><><><><><><><>​
     
  5. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    Ilusi/Fakta Part 3

    Dalam beberapa hari yang berlalu sesudahnya, hidupku kembali berjalan seperti biasa bersamanya. Kami berencana untuk menikah, tapi hanya setelah aku menyelesaikan kuliahku. Dia bilang aku terlalu terburu-buru, dan aku menuruti saja apa perkataannya. Kulalui hari-hari dengan penuh semangat, seakan untuk membayar hari-hari kelamku saat kuanggap dia meninggal. Dia memang masih hidup, masih hidup, dan sekarang tinggal bersamaku.

    Namun, kurasakan perubahan pada orang-orang di sekelilingku. Banyak dari mereka yang menjauhiku, ada yang menganggap aku lebih gila dari sebelumnya, dan bahkan orang tuaku pun hanya geleng-geleng kepala seolah tidak mengerti apa yang kupikirkan. Ada apa ini? Bukankah dia memang masih hidup? Mungkin mereka hanya tidak percaya saja. Kusimpan itu baik-baik dalam hati.

    Seperti biasanya, mereka hanya berkata hal-hal yang aneh dan omong kosong, nonsense bagiku. Mereka bilang aku harus pergi ke psikiater? Tidak bisa! Aku ini normal! Tapi dia tetap sabar, untungnya. Sabar dan tetap percaya padaku, meskipun begitu ia tetap membujukku untuk pergi ke psikiater karena katanya, “Kamu harus buktikan sendiri pada mereka”, dan tentu saja aku menurutinya.

    Tapi, psikiater yang katanya terkenal itu pun tak percaya padaku. Aneh sekali. Mungkin dia hanya terkenal namanya saja, aku tidak tahu. Yang jelas, dia tidak percaya padaku, dan bahkan menyarankan agar aku mencari perempuan lain. Apa? Apa dia sudah gila? Aku tidak ingin melakukan poligami! Dan dia pun tidak akan senang kalau aku melakukannya.

    Sudahlah, mendengarkan orang-orang bodoh ini berbicara dengan omong kosong mereka tidak ada gunanya. Aku langsung bergegas menuju rumahnya sepulangnya dari psikiater. Dia bilang tadi dia menungguku di rumahnya. Maka, kulakukan apa yang semua orang normal lakukan. Sesampainya di rumahnya, kupencet bel. Cecil rupanya yang membuka pintu untukku. Aku langsung menyampaikan maksudku dengan jelas.

    “Cil, ada Jessica?”
    “Apa maksudmu?”
    “Jess. Jessica. Dia ada di sini kan?”
    “Di sini? Kamu sudah gila?”
    “Tidak. Aku waras, sangat waras, sewaras-warasnya orang.”
    “Jangan bodoh! Dia kan sudah-“
    “Sudah apa? Dia masih hidup kan? Masih sehat?”
    “Dia.. dia sudah mati!!! Kau dengar itu? Mati! Jangan membohongi dirimu sendiri, San, dia sudah tiada! Jangan berkhayal seakan-akan dia ada! Apa kamu gila?”

    Dunia yang aku tahu kembali menghilang, tertelan dalam kegelapan. Aku masih berusaha membantah, aku tahu aku benar.

    “Mustahil.. dia masih hidup kan? Dia masih hidup kan? Itu fakta.. dia masih hidup. Dia masih hidup. DIA MASIH HIDUP!!”
    “Jangan bercanda!! Dia sudah lama tiada! Jangan mengharapkan orang yang sudah tidak mungkin kau dapatkan! Jangan lari dari kenyataan, San! Itu hanya ilusi, ilusi belaka, bukan fakta!”
    “Ta-tapi… di-di-dia masih bicara denganku tadi.. dia masih ada di sampingku tadi pagi.. dia.. dia..”
    “Jangan bodoh! Itu cuma khayalanmu saja! Itu cuma ilusimu!”
    “Tapi. Cecil.. dia.. Jess. Jessica..”
    “San, sadar! Dia sudah mati! DIA SUDAH MATI!”
    “Di.. dia.. AAAAAAAAAH!! AAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!! AAAAAAAH!!!”

    Dunia di sekelilingku hancur. Aku sudah kehilangan segala rasa rasionalitas, pikiran dan perasaanku. Hatiku yang sempat muncul kembali termakan oleh kesedihan mendalam dan rasa galau yang menusuk tubuhku layaknya seribu anak panah yang ditembakkan bersama-sama. Semua hilang. Kekacauan mulai menguasai pikiranku dan mengendalikannya. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan sekarang. Aku langsung berlari, meninggalkan Cecil disana sendiri.

    Berlari. Berlari dan berlari, mencoba lari dari kenyataan. Kenyataan yang sudah jahat padaku, merebut sesuatu dariku tanpa minta persetujuan terlebih dahulu. Aku terus berlari, berlari dan berlari, seolah berkejaran dengan kenyataan pahit itu. Sampai akhirnya aku tiba di sebuah jembatan dan berhenti, sesudah yakin kenyataan itu takkan bisa mengejarku lagi.

    Aku mencoba beristirahat karena kelelahan sesudah berlari, dan berdiri di pinggir jembatan, dengan kedua tangan menggenggam pembatas jembatan. Akhirnya aku berhasil lari dari kenyataan. Tapi aku tahu, aku tak bisa lari selamanya. Aku berpikir, memikirkan caranya untuk bisa lari dari kenyataan terkutuk ini.

    Tiba-tiba, aku melihat sebuah sosok perempuan di bawah jembatan.

    Sosok yang kukenal, amat kukenal.

    Jessica.

    Menyadarinya, aku berusaha meraihnya. Tangannya terangkat ke atas, dan aku tahu apa yang harus kulakukan.

    Melompat.

    -END-​
     
  6. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    Cinderella di Atas Tumpukan Sampah Part 1

    Siapakah aku? Aku hanyalah seorang yang naif. Ditanya kembali, apakah tujuan hidupku? Tidak ada, jawabku. Dan apa yang menjadi cita-citamu? Belum kutentukan, kataku. Maka untuk apa kamu ada? Mengapa kamu dapat menujukkan eksistensimu di dunia bulat ini, sementara banyak orang lain yang bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk dapat melihat sinar harapan?

    Tanyakan itu pada zat yang membuat dunia berputar, kataku. Yang membuat dunia ini menjadi ada, dengan segala kefanaannya dan segala realita berwarna hitam kelam dengan bercak-bercak putih bernama mimpi. Dia tidak puas. Bukankah semua ini akan kembali pada yang hakiki? Kutanyai dia dengan buas.

    Dia tidak menjawab lagi. Rasakan. Pikiranku itu terus menanyaiku akan apa yang aku perbuat dan tidak perbuat. Mengapa? Dia hanya sebongkah fragmen kecil dariku. Dia tidak berhak mengaturku dengan ide-idenya. Aku punya ideologiku sendiri, dan sebagai bagian dari tubuhku dia wajib patuh padaku. Tidak bisa tidak.

    Namun, kupikirkan lagi segalanya. Aku, anak orang berpunya yang tidak memanfaatkan kesempatan hidup dan keberuntungan. Aku punya kesempatan, tapi yang kuambil hanyalah kesenangan fana. Bukankah kesenangan fana itu hanya sesaat saja? Aku tahu itu, tapi aku menyerah kepada kesenangan yang memabukkan itu.

    Rasakan! Hei pikiranku, janganlah engkau menyeruak tanpa mengetuk pintu hatiku terlebih dahulu. Dia tidak menurutiku. Biarlah, alam bawah sadar memang paling sulit untuk dikekang. Tidak usah kudengarkan perkataannya itu. Tapi, sebenarnya memang aku harus merasakan getah pahit dari pohon keburukan ini yang mengikatku di bawah akarnya hingga tak bisa lepas.

    Aku harus memperbaiki diriku sendiri. Berubah. Berhenti menjadi ulat yang menggigiti daun bernama orang tua dan masuk ke dalam kepompong pencarian hidup, kepompong pengembaraan hingga menjadi kupu-kupu : manusia sejati yang bisa berdiri untuk dirinya sendiri.

    Maka aku lari dari segala kekangan kemewahan yang menyesakkan di rumahku, dan aku mulai mengembara menjadi orang bebas. Bebas untuk mencari madu kehidupan, mencari makna yang tersimpan dalam kata-kata yang diucapkan setiap insan, menemukan belahan hati yang tersimpan dalam kotak emosi terdalam seorang wanita yang terpilih.

    ******************************​

    Dua bulan, sudah berlalu dengan perjalanan menapaki kepingan makna kehidupan dengan beragam tanjakan dan tikungan. Aku belum menemukan apapun yang aku cari. Dan alam bawah sadar terkutuk itu telah berkali-kali berkoar padaku. Cepatlah, temukan! Aku tahu, tapi segala sesuatu yang berjalan butuh proses untuk mencapai tujuan.

    Aku berjalan dan berjalan, terlunta. Menghabiskan malam tanpa istirahat di emperan atau tidur di masjid adalah rutinitas bagiku. Makan? Sebagaimana adanya. Aku tidak peduli, sebelum aku menemukan tujuan itu aku harus terus seperti ini, merasakan bagaimana lepas dari kemewahan itu rasanya. Ternyata tidak terlalu buruk.

    Ya, dengan begini aku bisa melihat bagaimana pion-pion takdir ini berinteraksi dengan sesamanya. Emosi, sebuah permata yang takkan bisa kubeli, bisa kudapatkan dengan mudah disini. Kenangan, nostalgia, déjà vu. Sungguh menyenangkan hati. Aku terus mencari dan mencari, hingga tibalah. Saat itu, aku menemukan hidup yang telah lama menguap sebelum akhirnya mengembun kembali.

    ******************************​

    Tak tahu aku, waktu saat ini. Aku tidak mengenal waktu saat berada di tengah jalan seperti ini. Matahari menyembunyikan dirinya diselubungi oleh awan kelabu. Sepertinya akan hujan. Aku harus mencari tempat untuk berlindung. Ironis bahwa manusia terlihat seolah-olah takut terhadap air.

    Kutemukan sebuah gubuk yang terlihat seperti ditinggalkan pemiliknya. Aku melakukan satu-satunya hal logis yang dapat kulakukan dan pergi untuk meneduhkan diriku kesana. Dan menyambut kedatangan diriku adalah butir-butir air turun satu persatu dari awan yang menangis. Rupanya hujan turun, tepat saat aku tiba. Sudahlah, akan kutunggu hingga reda.

    Kulihat gubuk itu sekarang, di belakangku. Seperti kebanyakan rumah instan yang dibuat karena himpitan kertas-kertas tak bernilai, gubuk ini sangat sederhana dan kecil. Hanya terbuat dari triplek disambung dengan entah apa. Kusentuh dengan tidak hati-hati dan tumpukan ini bisa jatuh dengan mudah.

    Sekarang aku ingin tahu siapa yang membuat ini dan tinggal disini. Sejenak rasa iba tanpa tertahan menyeruak dari dasar pikiran dan naik hingga terapung di danau perasaanku. Mungkin saja dia adalah orang yang tersesat dalam labirin hidup hingga tidak bisa keluar dari lubang kesengsaraan. Mungkin juga dia seorang yang tidak beruntung sejak melihat cahaya dunia untuk pertama kalinya.

    Tidak, berpikir seperti itu adalah tidak benar. Namun aku ingin tahu siapa yang tinggal di tempat seperti ini. Rasa ingin tahu sekarang membuat danau perasaanku terkontaminasi, dari warna biru menjadi warna merah. Merah darah, karena rasa ingin tahu bisa mematikan.

    Akhirnya, muncullah sesosok manusia dari jauh, dibawah naungan hujan, perlahan berjalan mendekat. Apakah dia pemilik gubuk ini? Aku tidak tahu, namun yang jelas waktu terus berlalu begitupun dengan langkah lembutnya seirama dengan turunnya titik-titik air menuju tubuhnya. Semakin dekat sosoknya semakin jelas, dan akhirnya terlihatlah dia.

    Seorang gadis kecil dan kumal. Tubuhnya dapat mengatakan bahwa dia tidak mandi selama berbulan-bulan. Rambutnya keriting dan acak-acakan. Bajunya kemeja orang dewasa, yang jelas-jelas kebesaran. Celananya pendek dan compang camping di ujungnya. Satu lagi yang menarik perhatianku adalah dia memakai sepatu wanita dewasa berwarna hitam yang sudah amat lusuh.

    Entah mengapa dia menarik perhatianku. Dia masih terus berjalan, mendekatiku langkah demi langkah sebelum akhirnya mengeluarkan suara dari mulutnya :

    “Siapa kamu?”
    “Aku ini orang yang sedang mencari tujuan hidup.” Jawabku. Mungkin dia tidak akan mengerti, tapi kucoba untuk jujur.
    “Apa yang kamu cari takkan ada disini.” Diluar dugaan, dia berbicara layaknya orang dewasa. Apa perjuangan hidup membuatnya jadi dewasa sebelum waktunya?
    “Kamu takkan tahu, apakah yang aku cari ada disini atau tidak.”
    “Apa kamu punya hak untuk bicara seperti itu?” jawabannya menusuk, seperti alam bawah sadarku.
    “Kamu pun tidak punya hak untuk bicara seperti itu. Kita semua ini hanya pion.”

    Dia terdiam, sepertinya dia tidak mengerti. Anak-anak tetaplah anak-anak. Dia tidak menjawab lagi dan langsung memasuki gubuk itu. Sepertinya memang itulah istananya, rumahnya. Aku ikuti dia kedalam dan dia tidak memberikan suatu larangan apapun. Kuanggap sebagai izin, dan masuklah aku.

    Seperti dugaan, gubuk itu kecil tanpa perabot apapun. Hanya kasur dibawah yang sudah amat lapuk dan lusuh, serta sebuah tikar. Tanpa selimut, tanpa apapun lagi. Aku takjub dia bisa bertahan sendirian di tengah badai salju kesengsaraan yang sangat dingin menusuk tanpa bantuan siapapun. Kutanyai dia, terdorong rasa ingin tahu :

    “Dari mana kau dapatkan itu?”

    Dia tidak menjawab, namun dia langsung membawaku keluar. Rupanya awan berhenti menangis dan kembali menunjukkan senyum bercahayanya. Dia mulai berjalan keluar, dan aku hanya mengikutinya. Tak lama, dia berhenti dan menunjuk dengan jari telunjuknya… ke arah sebuah gunungan sampah. Ternyata dia seorang pemulung. Namun sebelum aku bisa berpikir lebih jauh, dia menoleh padaku dan berkata,

    “Apa kau yakin kau akan dapatkan apa yang kau cari disini?”
    Tidak ada salahnya mengenal kehidupannya lebih jauh. Maka, “Ya. Tentu saja aku yakin.”
    Dia menghela nafas panjang sebelum kembali berkata, “Baiklah. Temani aku, dari pagi hingga sore hari. Tak perlu ikut tidur di rumahku.”

    Ternyata dia memang amat dewasa. Bijak seperti alam bawah sadarku, yang anehnya terus tertidur sejak dia datang. Baguslah, takkan ada yang menggangguku dalam menemukan tujuanku. Selangkah lebih maju untuk menjadi manusia sejati.

    Kemana dia? Aku tidak tahu dan tidak akan mengurusinya lagi sekarang. Hanya membuang waktuku saja memikirkannya. Aku harus berjalan terus, maka aku memilih untuk tidur di masjid saja nanti malam sebelum esok paginya kembali menemuinya.
     
  7. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    Cinderella di Atas Tumpukan Sampah Part 2

    Jiwaku telah kembali ke ragaku pagi ini. Rupanya aku belum ditakdirkan untuk mati. Yang di atas sana telah berbaik hati padaku dengan mengizinkanku melanjutkan perjalanan hidup. Aku tidak akan pergi dengan tenang sebelum dapat mencapai tujuan itu, yang kucari hanya untuk mendapat sebuah kepastian.

    Setelah salat Subuh aku langsung berangkat ke gubuk itu. Dia sudah menunggu disana, tanpa kata langsung berjalan. Tanpa kata, dengan hanya satu tusukan matanya menyuruhku untuk mengikutinya. Tanpa kata, hanya didorong oleh sebuah rasa ingin tahu yang membungkus tubuhku aku mengikutinya. Tanpa kata, di perjalanan tiada sepatah kata terucap.

    Dia terus berjalan, tanpa lelah. Sudahlah jauh perjalanan yang dilalui, namun dia tidak merasa lelah terutama untuk ukuran gadis seusianya dan terus berjalan. Aku terus mengikuti dengan sabar, terdorong oleh bara api keingintahuan yang menyala-nyala dalam hati menunggu dipadamkan oleh air pengetahuan.

    Semakin jauh perjalanan, semakin tercium bau menyengat, bau busuk. Sepertinya perjalanan sudah mendekati akhir, tujuan. Sepertinya tempat pembuangan sampah adalah tempat yang ia tuju. Namun apa yang akan kutemukan disana? Pertanyaan-pertanyaan berubah menjadi bahan bakar yang membuat api keingintahuanku meletup-letup.

    Dia memperlambat langkahnya. Tanpa sadar tanah yang terpijak menjadi lebih lembut dan tidak beraturan. Kulihat ke bawah, rupanya sampah yang menumpuk. Perjalanan semakin dekat. Aku sudah berada di tempat pembuangan. Dan bau sampah menyeruak. Namun semua rasa telah hilang tertutupi oleh api keingintahuan yang membara menghanguskan semua indera.

    Akhirnya dia berhenti. Di atas setumpuk sampah, menggunung sebagai sebuah singgasana bagi Cinderella yang akan menunjukkan jalan bagi hidupku itu. Dia duduk di atas tumpukan itu tanpa sedikit pun rasa jijik. Meskipun bau sampah makin menyeruak, menyelubungi udara, namun aku tidak merasakannya. Semakin bernafsu seseorang, semakin buta inderanya.

    Dia merenung sesaat, berdiri kembali, dan mulai mengais-ais sampah. Aku mematung kaku di depannya. Apa aku kesini hanya untuk menontonnya memulung? Tidak, lebih baik aku lihat apa yang akan ia lakukan lebih jauh. Kesabaran itu emas.

    Mengais, terus mengais. Tapi dia tidak mengumpulkan apapun meskipun kulihat ada beberapa barang yang bisa dijual. Lalu untuk apa? Monster keingintahuan kembali menawan pikiranku dan mengendalikan gerakanku sehingga aku hanya diam, memperhatikan. Sementara dia tanpa lelah, tiada perhatian pada dunia nyata dan tenggelam dalam keasyikan.

    Setelah agak lama, dia berhenti. Aku sudah berharap apa yang akan ditunjukkannya. Namun panas terik tingkah lakunya membuat ketertarikanku menguap. Dia kembali berjalan, berpindah ke tempat lain. Apa sesuatu yang dia cari tak ada disini? Aku kembali mengikuti langkah-langkahnya.

    Dia kembali berhenti di setumpukan sampah. Kembali mengais-ais, kembali bersikap seolah dia tidak menemukan suatu apapun disana, kembali berpindah ke tempat lainnya, kembali melakukan hal yang sama, kembali dan kembali lagi dan lagi seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang hingga kusut.

    Dan aku tetap diam, duduk manis menanti dengan kesabaran yang sudah mulai mencair di tengah terik panas tindakannya. Dia memang masih anak-anak, tapi kenapa aku harus terus menemaninya seperti ini? Aku mulai kehilangan rasa ingin tahuku yang tergantikan oleh kegusaran. Meskipun begitu aku tetap menemaninya.

    Karena janji adalah ikatan yang tidak boleh terlepas. Simpul tali yang menentukan hidup dan mati saat memanjat tebing perjuangan hidup. Benang yang jika terputus dapat menghancurkan rajutan kebaikan yang dibuat sejak lama. Maka aku tetap bertahan, menunggunya. Menunggu hingga matahari pun mengantuk dan wajahnya berubah merah. Hingga dia sadar bahwa hari sudah berganti jilid.

    Dia langsung pulang, dan aku mengikutinya. Tanpa mengatakan apa-apa sepanjang perjalanan yang panjang. Dan aku pun diam tanpa mengatakan apa-apa padanya. Hanya suara kebisingan kota yang terdengar, diterangi sinar bulan yang meredup terkalahkan oleh lampu-lampu berkilauan, cahaya buatan manusia.

    Di bawah cahaya ini, aku berjalan mengikutinya, terus dan terus tanpa lelah kembali menuju rumahnya. Panjangnya perjalanan akhirnya selesai saat rumahnya terlihat. Rasa lelah dan berat mulai merasuk ke dalam tulang, dan hari sudah sangat gelap hingga lampu buatan manusia pun tidak terlihat seterang tadi. Tanpa suara dia masuk, menandakan bahwa hari ini sudah selesai. Aku kembali pulang ke masjid dan tidur disana, ditemani oleh selimut kebimbangan dan pertanyaan.

    ******************************

    Keesokan harinya, tanpa membuang-buang waktu aku langsung bergegas. Sebenarnya, rasa keingintahuanku sudah mulai hilang namun janji tetaplah janji, dan janji adalah hutang yang harus kubayar. Memang menyakitkan, namun ini semua harus dilakukan.

    Dia sudah menunggu di depan rumahnya. Berdiri mematung, dengan pandangan kosong namun tajam, menghujam ulu hati tanpa kenal ampun. Aku sudah bersiap untuk mengikutinya, namun dia tidak berjalan. Dia hanya mematung, melihat padaku yang berdiri di depannya. Beberapa detik selanjutnya terasa seperti tahun-tahun panjang. Hingga akhirnya ia membuka mulutnya,

    “Aku tidak tahu apa tujuan hidupmu. Tapi aku tahu mengapa kau tidak menemukannya.”
    Apa maksudnya? Aku tidak menjawab karena dia kembali berkata,
    “Kamu kehilangan satu hal yang penting.” Dengan nada datar, ia berkata dan ia langsung melanjutkan, “Kamu bisa mengikutiku, kamu bisa menemaniku namun kamu tidak bisa sepenuhnya menyerahkan dirimu padaku.”
    Rasa heran menguasai mulutku saat aku bertanya padanya, “Apa maksudmu?”
    “Pikirkan baik-baik.” jawabnya dengan nada yang datar namun tajam, dan dia kembali masuk ke rumahnya.

    Hanya ada satu hal logis yang bisa kulakukan : mengikutinya masuk. Namun saat aku masuk apa yang kulihat tidak dapat kupercaya. Dia telah menghilang, tidak ditemukan dimanapun. Apa dia kabur? Namun hanya ada satu pintu, dan aku berdiri di pintu itu. Kucari dia di sudut gubuk kecil itu, meskipun aku tahu itu mustahil namun aku terus mencoba. Dan dia tetap tidak ada. Yang ada hanya sepatunya, sepatu Cinderella yang tergeletak di dekat kasur.

    Kemanakah dia? Apakah lonceng telah berbunyi 12 kali dan ia harus pergi? Apakah sang pangeran telah mengambilnya pergi? Ataukah.. dia tidak ada, yang ada hanyalah ilusi? Tapi tidak mungkin aku berjalan mengikutinya dan dapat kembali lagi. Kucoba menanyai alam bawah sadarku, namun tak ada jawaban.

    ******************************
    “Jadi bagaimana akhir ceritanya, Yah? Terus apa tujuan hidupnya?”

    Ya, sekarang disinilah aku 10 tahun kemudian. Sekarang aku sudah mapan sebagai seorang penulis, menikah dengan gadis yang kucintai, dan mempunyai dua orang anak. Keduanya laki-laki. Yang paling besar berusia 5 tahun dan sedang duduk di pangkuanku, yang satunya lagi berusia 3 tahun.

    “Ayah juga tidak tahu kemana dia pergi. Ayah juga tidak menemukan tujuan hidup Ayah darinya. Tapi, ada tiga hal yang dia berikan dari perkataannya itu.”
    “Apa itu, Yah?” dengan tidak sabar anakku yang lucu itu mengguncang-guncangkan pangkuanku.
    “Yang pertama adalah kesungguhan. Ayah tetap mengikuti dia dan bersungguh-sungguh menepati janji. Yang kedua adalah kesabaran. Ayah terus menunggunya di sana, di atas tumpukan sampah walaupun di atas terik matahari dan bau sampah yang menyengat.”
    “Lalu yang ketiga apa, Yah?” mata ingin tahunya yang bulat itu berbalik padaku.

    “Hahaha, kamu selalu saja ingin tahu. Yang ketiga itu waktu itu tidak Ayah miliki. Kepercayaan. Percayalah pada orang lain dan diri sendiri, barulah Ayah bisa menemukan apa yang ingin Ayah cari. Maka, jadilah seorang anak yang bersungguh-sungguh, sabar, dan percaya pada diri sendiri dan orang lain. Jika tidak, kau tak bisa mendapat apa yang kau inginkan.”

    -END-
     
  8. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    Common Sense Part 1

    C

    Begitu aku sadar, dia telah terbaring berlumuran darah. Tak bernyawa. Dan aku memegang pisau yang menjadi penyebab kematiannya. Aku menusuknya.

    “Tidak mungkin..”

    S

    Bel sekolah kembali berbunyi, menandakan satu lagi penderitaan yang menyeret tubuhku. Tidak ada yang lebih baik dari ini. Dan memang tidak ada. Satu lagi hari di pabrik yang membentukmu menjadi sapi-sapi perah para konglomerat. Satu hari lagi pelajaran-pelajaran tak berisi, satu hari lagi menemui teman-teman seperjuangan, satu penderitaan. Oh, dunia modern yang memuakkan.

    Kecuali satu. Dia, yang kutahu hanya satu-satunya oasis dalam gurun pasir ini. Tapi gadis itu tidak bisa kuraih. Tidak akan bisa. Hanya impian, titik. Aneh, bahwa dengan kemungkinan yang sangat kecil akan lebih realistis untuk membayangkannya saja daripada berusaha. Jelas melawan logika, tapi tidak ada cinta yang tidak melawan logika. Lagipula, faktanya aku tidak akan pernah mendapatkan dia.

    Aku ini pengecut.

    Guru masuk, pelajaran dimulai. Begitu biasa. Seperti biasa, hanya biasa saja lengkap dengan gumaman, obrolan dan rasa kantuk para murid. Termasuk diriku. Dan semua hanya terhenti dengan kemarahan si guru yang sia-sia saja. Suasana tegang, tapi hanya sesaat dan kembali menguap menjadi rasa malas saat si guru kembali menerangkan. Terus, terus begitu. Lingkaran yang tidak terpatahkan. Kemudian guru itu pergi, dan muncul guru lain. Kembali, kembali begitu, kembali lagi. Semuanya sama, sama tidak kompeten, sama ********. Meskipun sebenarnya dengan kejadian yang berulang-ulang sistem yang harus disebut ********, bukan para guru.

    Lalu diselang oleh istirahat. Para murid kebanyakan pergi ke kantin atau bermain. Aku hanya diam saja, mengumpulkan ruang pribadiku. Aku tidak suka berada di tengah-tengah kerumunan, aku tidak suka jika banyak orang bersamaku. Beberapa dari mereka memang peduli, namun sebatas kepedulian yang tidak bermakna, hanya bertanya tanpa bertindak dan tanpa mengerti. Mereka tidak mengerti diriku, maka aku tidak melihat ada kebutuhan untuk mengerti mereka.

    Kembali bel berbunyi, kemudian guru datang kembali, dan proses yang sama terjadi kembali. Terkadang ada guru yang cukup bagus dan membuat murid tertarik, tapi hanya terkadang. Hanya cahaya lilin kecil ditengah kegelapan. Tidak berarti apa-apa, tidak cukup. Dan manusia lebih sering mengingat penderitaan daripada kebahagiaan. Maka, mereka terlupakan dan tidak akan berarti apa-apa.

    Dan saat pulang, para murid, termasuk diriku, pulang dengan wajah lemas dan lunglai. Beberapa tidak menyegerakan pulang dan tinggal beberapa lama untuk urusan yang aku sendiri tidak ingin mengetahui. Beberapa yang lain berkumpul bersama dan bermain entah kemana. Aku termasuk yang pulang tanpa melakukan apapun, hanya pulang ke rumah. Selalu begitu, lagipula apa yang harus kulakukan?

    Tapi, satu suara dari belakang memanggil dan memecah lingkaran tersebut.

    “Aris!”
    Tidak mungkin. Suara itu.. tidak mungkin. TIDAK MUNGKIN!!!
    “Di.. Diana?”
    Tidak, tidak mungkin. Aku pasti bermimpi, aku pasti bermimpi, aku pasti bermimpi, aku pasti bermimpi..
    “Wajahmu seperti habis tersambar petir saja. Ayo, ada yang harus kutanyakan padamu.”

    Kalau kau berani bangunkan aku, kubunuh kau.

    *************​

    “Ris, kamu bisa bantu aku belajar?”
    “Hah?”
    “Bukan sawah! Belajar. Matematika. Katanya kamu pintar kan, jadi bantu aku.”

    Aku tahu persis itu memang bukan sawah, dan itu tidak lucu. Tapi cinta sudah bersarang menjadi parasit pikiran dan aku tidak akan bisa berpikir jernih lagi. Yah, memang aku dianggap pintar oleh kebanyakan orang, dan banyak orang yang memintaku melakukan hal seperti ini. Tentu saja semuanya kutolak. Tapi, kali ini adalah pengecualian. Tidak ada orang yang akan menolak jika melihat kesempatan emas, kecuali orang bodoh sebodoh-bodohnya orang itu.

    Jadi?

    I

    “Diana, kamu mau pergi denganku?”
    “Kemana?”
    “Yah, jalan-jalan aja. Lagian bosan belajar terus seperti ini.”
    “Hmm.. boleh juga. Tapi kemana?”

    Senyuman yang sangat jelas terkembang di wajahku menandai bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupku aku ingin berada dekat orang lain. Aku telah takluk, tapi sekarang akulah yang harus menaklukkan. Aneh, aku tak tahu hanya dalam beberapa bulan saja aku dapat berubah dari kukang yang diam menjadi singa ganas. Cinta, parasit pikiran itu yang tidak dapat kulepaskan.

    “Yah, mungkin..”

    *************​

    Singkatnya, kami berdua pergi ke tempat yang dia inginkan. Sebuah mall. Lagipula aku tak bisa memilih tempat yang benar-benar bagus. Bahkan aku baru pertama kali ke tempat seperti ini, dan jika bukan karena dia aku telah menjatuhkan harga diriku dengan pergi ke tempat yang penuh orang-orang. Jika aku tidak melihat wajahnya setiap beberapa detik, pasti nafasku sesak karena banyaknya orang yang ada di tempat mengerikan ini.

    Tapi melihatnya bahagia sudah cukup. Lebih dari cukup. Dan aku tidak perlu mempedulikan orang lain jika dia bahagia denganku. Hari berganti senja dan kami pulang dengan angkot. Yah, memang bukan cara pulang yang berkesan. Tapi setidaknya tadi cukup menyenangkan. Memang hal yang menyenangkan pasti terasa cepat, menembus waktu. Dan bersamanya.. satu kali sudah cukup seratus tahun waktuku.

    Dia akhirnya turun di depan rumahnya. Aku melihatnya masuk ke rumahnya, sebelum angkot yang kunaiki bergegas menjauh. Dan aku tidak bisa menahan senyumku, sekali lagi.

    Aku cinta padanya.

    I

    Semua persiapan telah selesai. Sekarang, dia akan tidur di sini, bersamaku. Selamanya. Selamanya. Aku tak akan melepaskannya. Aku tak akan bisa melepaskannya lagi. Dia harus tetap bersamaku. Aku tak akan lagi hidup tanpanya. Tidak, dia belum mati. Dia belum mati. Dia belum mati. Dia masih hidup, dia masih hidup. Dia masih hidup.

    Aku akan bersamanya selamanya.

    Aku akan bersamanya selamanya.

    Aku akan bersamanya selamanya.

    Bahkan takdir pun takkan bisa melawanku, tak akan bisa. Aku mengalahkan takdir, mengalahkan segalanya, bahkan mengalahkan Tuhan. Aku mengalahkan semuanya, demi dia. AKU mengalahkan semua, bahkan diriku sendiri dan berhasil kembali bersamanya. Samudra darah pun takkan mampu menenggelamkan cintaku padanya, atau begitulah kata Gorky.

    Takkan ada yang bisa.

    U

    Diana ternyata amat cantik, lebih cantik dilihat dari dekat dibanding saat aku melihatnya dari kejauhan. Wajahnya bening, rambutnya panjang dan matanya coklat bening berkilat. Setiap pandangannya padaku membakar mukaku. Setiap perkataannya padaku melelehkan telingaku. Setiap tingkah lakunya memacu jantungku. Setiap langkahnya mengirim getaran listrik pada otakku. Segalanya yang ada pada dirinya adalah segalanya yang ada pada diriku.

    “Aris?”

    Oh, suara itu.

    “Aris? Kamu gak apa-apa?”
    “E-enggak, aku baik-baik aja kok.” Dia khawatir padaku. Dia khawatir padaku. Satu lagi bagian tubuhku serasa lepas dibuatnya. Aku harus mengambil kesempatan, tapi apa yang dapat kukatakan? Ah, itu dia.

    “Eh, Diana.. kenapa kamu ingin dibimbing olehku? Aku tahu ini bukan pertanyaan yang bagus, tapi, yah, aku bukan satu-satunya orang pintar di sekolah, dan aku.. terkenal sebagai orang yang, yah, kau tahu lah. Aku bukan siapa-siapa bagi kebanyakan orang. Aku mungkin hanya seperti robot yang ahli dalam hal-hal seperti ini.”

    “Aris.. kenapa kamu harus berpikir seperti itu? Mau bagaimanapun juga, aku menganggapmu temanku. Terima kasih untuk bimbinganmu, Ris, kamu sebenarnya tidak seperti yang orang lain katakan. Yah, aku mengerti kalau orang-orang lain tak bisa dekat denganmu.” Dia tersenyum mengakhiri kalimatnya. Tubuhku melayang.

    “Ah..” aku tak bisa berkata-kata lagi. Dia memang.. memang.. ditakdirkan untuk menjadi milikku.
     
  9. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    Common Sense Part 2

    D

    Hari-hari terus kulewati bersama Diana. Susah ataupun senang. Orangtuaku? Mereka tidak mengetahuinya, atau tepatnya tidak dapat mengetahuinya. Keduanya sedang dinas di luar negeri untuk waktu yang sangat lama, tepat sebelum Diana tinggal bersamaku. Berarti takdir sudah mengatur agar aku dapat bersamanya.

    Diana tidak lagi bersekolah. Dia bilang, dia ingin menjadi penulis. Aku tidak melarangnya. Aku tahu, dia butuh kebebasan. Aku tahu apa yang terbaik baginya. Meskipun semua orang menanyakannya di sekolah, tapi aku bungkam. Lagipula tidak ada yang mengira dia akan bersamaku. Orangtuanya? Mereka juga sedang di luar negeri. Bagaimana takdir mengatur semuanya.. sudah berada di luar pikiranku. Kita memang ditakdirkan untuk bersama, Diana.

    Meskipun begitu, semuanya berjalan seperti biasa. Seperti biasa, amat biasa. Bahkan walaupun gosip yang beredar tentang hilangnya Diana merebak, tidak ada yang mencurigaiku. Tidak ada yang tahu. Lagipula, meskipun aku menjadi tersangka utama tetap saja aku hanyalah seonggok barang yang bisa menghasilkan jawaban soal bagi mereka.

    Jadi, apa yang perlu dipikirkan?

    Sebenarnya aku ingin berkata begitu, tapi tidak bisa. Seorang gadis menghentikanku di pintu gerbang sekolah. Rambutnya pendek, tapi kecantikannya tetap terpancar dari wajahnya. Hidungnya mancung, bibirnya tipis dan sorot matanya kuat, berapi-api. Aku mencoba berjalan melewatinya namun dia tetap menghalangiku.

    “Mau apa kamu?”
    “Ikut aku.” Dia langsung pergi dan aku mengikutinya, termakan rasa keingintahuan.
    “Sebenarnya mau apa kamu?”
    “Ris.. bisa ga kamu..”

    *************​

    Dia menjadi murid keduaku. Namanya Diva. Entah apa lagi yang membuatnya ingin menjadi muridku. Yah, sepertinya reputasiku membaik karena Diana. Atau tidak. Aku tidak perlu memusingkannya, yang jelas adalah aku harus berkonsentrasi untuk mengajarinya.

    Aneh.

    Sepertinya dulu aku tidak ingin melakukan hal-hal seperti ini. Sepertinya dulu aku tidak bisa berbicara dengan orang lain. Sepertinya dulu aku bukan siapa-siapa dan dibenci semua orang. Sepertinya aku dulu tidak seperti ini. Tidak seperti ini. Apa ini juga karena Diana? Cinta, melawan logika dan tetap tak bisa kumengerti. Apa lagi-lagi takdir bermain dalam jalanku?

    Apa aku.. sudah berubah?

    Tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang harus mengetahuinya. Aku adalah aku. Tidak ada yang bisa mengubahnya.

    “Aris?”
    “Ya? Ada lagi yang sulit?”
    “Bukan, itu.. apa bisa kalau besok kita belajar di rumahmu? Aku.. aku.. aku cuma agak risih disini, lagian di rumahmu mungkin lebih tenang.”
    “Ya, tentu.”

    Aku harap Diana tidak cemburu kalau aku memperkenalkan dirinya. Lagipula, semestinya dia bangga karena aku bisa berbuat baik pada orang lain karena dirinya. Bangga.. tidak pernah sekalipun aku merasa ingin dibanggakan oleh orang lain. Tidak pernah ingin dicemburui. Tidak pernah ingin berbuat baik pada orang lain.

    Perubahan.

    *************​

    “Jadi ini rumahmu.. besar juga.”
    “Gak terlalu kok. Ayo masuk.”

    Aku membuka kunci rumahku dan masuk ke dalam. Dia mengikutiku masuk, matanya masih menyapu seisi rumahku, melihat-lihat. Aku berjalan ke ruang tengah dan dia mengikuti. Namun, langkah-langkah terakhirnya seperti.. tiba-tiba menjadi berat. Aku tidak tahu kenapa, dan aku juga tidak ingin tahu kenapa.

    “Rasanya baunya seperti..”
    “Apa?”
    “Eng, tidak, gak apa-apa.”

    Aneh, sepertinya Diva merasa tidak tenang. Tapi aku tidak menghiraukannya. Kita mulai belajar dengan tenang. Meskipun Diva masih terlihat tidak tenang, dia belajar seperti biasa, sesekali bertanya dan mencatat. Dia murid yang baik dan rajin, malah melebihi Diana dalam beberapa hal. Aku sendiri kagum dengan perkembangannya.

    “Ris..”
    “Apa? Ada yang sulit?”
    “Bukan, aku cuma ingin ke kamar kecil.”
    “Oh, belok kiri kemudian lurus terus. Ada di ujung.”

    Aku melihatnya pergi meninggalkanku menuju kamar kecil perlahan-lahan. Sepertinya Diana masih berada di kamarnya, tidak keluar. Tidak apa-apa. Aku takut dia menjadi cemburu melihat ada orang lain disini.

    “AAAAAAAAAAAAAA!!!!”

    Teriakan? Diva! Ada apa dengannya?

    “Ada apa?”
    “Itu.. itu.. apa itu?”

    Apa maksudnya dengan ‘itu’? Aku langsung bergegas ke sana untuk melihatnya.

    “Aris.. itu.. sejak kapan kau..”

    Kulihat pintu kamar di sebelah kamar kecil terbuka. Rupanya Diva masuk ke dalam kamar itu.. kamar Diana. Dia melihat Diana. Lalu kenapa dia begitu.. terkejut?

    “Aris, kenapa.. a-ada.. mayat.. di.. sini?” suara Diva terpatah-patah dan mulutnya bergetar. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Kenapa? Tidak ada yang aneh, tidak ada. Mayat? Jangan menipuku, aku bukan orang yang bisa diajak bercanda.

    “Mayat? Apa maksudmu dengan mayat? Tidak ada mayat! Itu hanya Diana.”
    “Di-di-diana..?” wajah Diva yang sudah pucat menjadi makin pucat. Pupilnya mengecil karena ketakutan, ekspresinya sangat.. tidak bisa digambarkan. Ketakutan sudah menguasainya.

    “Ya, Diana. Kenapa kamu takut? Ada yang salah? Atau.. aku belum memperkenalkannya padamu?”
    “Ja.. ja.. jangan bercanda!! Itu.. itu jelas-jelas mayat! Kamu tidak bisa melihat? Kamu gila?? Itu.. itu..”
    “Apa maksudmu?” Diana memang masih di situ. Tapi, dia hanya duduk diam tak bergerak.

    “Diana?”

    Dia tetap diam.

    “Diana? Diana?”

    Tidak ada jawaban.

    “Diana?”

    “Jangan gila!! Kamu menganggapnya masih hidup? Dia hanya mayat! Dia sudah mati! Dan kenapa.. kenapa mayatnya ada di sini? Apa kamu..”
    Bukan. Dia masih hidup. Dia masih hidup. Dia masih hidup. Dia masih..
    “Kamu.. kamu membunuhnya?”

    Dia masih hidup. Dia masih hidup. Dia masih hidup. Dia masih hidup. Dia..

    “Pembunuh! Kamu membunuhnya? Jangan membohongiku!! Kenapa kamu tidak menjawab? Pembunuh! Pembunuh!”

    Tidak. Tidak. Tidak. Dia.. dia.. dia..
    “Pembunuh!”

    Maaf, Ris, tapi aku menolak. Aku menyukai orang lain..

    Tidak. Tidak. Tidak, aku bukan pembunuh. Aku bukan pembunuh. Aku..

    Jangan, Ris! Tidak!! AAAAAAAAAAH!!!

    “Itu bohong kan, Ris? Katakan padaku, itu bohong semata, kan?”

    Anak durhaka! Kenapa kau tidak.. Uh!!
    Nak! Apa yang akan kau..


    “Aku.. aku..”
    “Katakan itu bohong, Ris. Itu bohong, kan? Bohong, kan?”
    Aku bukan pembunuh. Aku.. aku tidak membunuh mereka semua. Aku tidak.. tidak.. tidak..

    ********, apa yang telah kau lakukan pada anak kami? Jawab!
    Pak, sudah!
    Anak sundal!! Apa yang kau- AAAAGH!!
    Tidak! Jangan! AAAAGH!!!


    Bukan.. bukan.. mereka.. mereka semua tidak..
    “Aku.. aku.. aku tidak.. tidak..”
    “Katakan itu bohong, Ris. Itu bohong, kan?”

    Aris! Jangan!! Jangan!!! Jangan!!!! Jangan kau tusukkan pisau itu!

    Tidak, tidak, tidak.. aku hanya.. hanya..

    Pembunuh!

    Bukan, bukan, aku bukan… bukan..
    “Ris? Apa yang mau kau-“
    Pikiranku kosong. Semuanya meledak. Meledak.
    “Jangan! Ris!! Aris!! Jangan!!!”
    Mati. Semuanya mati.

    E

    Darah tersimbah. Di depanku, Diva. Tak bernyawa. Aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi. Di sampingku, mayat Diana yang tinggal tulang-belulang. Dia sudah mati. Mati. Mati. Di bawah tempat tidur, mayat kedua orangtuaku dan kedua orangtua Diana. Mati. Semuanya mati. Mereka pun mati.

    Diana tidak pernah mencintaiku seperti aku mencintainya. Tidak ada yang pernah mencintaiku. Tidak orangtuaku. Tidak Diana. Tidak orangtuanya. Tidak Diva. Bahkan aku pun tidak mencintai diriku sendiri.

    Aku ini pengecut.

    Maka, izinkan aku menjadi pengecut untuk yang terakhir kalinya. Menebus kesalahanku dengan diriku sendiri sebagai bayarannya.

    -FIN-
     
  10. pippo09 Veteran

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 1, 2010
    Messages:
    1,237
    Trophy Points:
    266
    Ratings:
    +9,747 / -0
    :terharu: ceritanya bagus banget kk....
    pesan yang saya dapat dari cerita ini. "Jangan mencintai/membenci orang berlebihan." :top:

    Menurut saya semuanya udah rapih. :top:
    baik dari segi cerita maupun penulisannya. :top:

    Salam menulis :onfire:

    komen buat cerpen lain nyusul. banyak soalnya.. :ngacir:
     
  11. murasaki M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    May 17, 2009
    Messages:
    2,138
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +12,632 / -0
    :top:
    bagus banget crita ny
    saya baca ny sampe ikut terhanyut

    cara penulisan nya jg uda rapi

    :peace::lalala:
     
  12. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    makasih makasih :lalala:
     
  13. setanbedul Veteran

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Dec 9, 2008
    Messages:
    4,679
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +11,624 / -0
    terlalu klise.. tetapi ini sebenarnya akan cocok bila awalan di atasnya juga tepat..

    sebenarnya dari awal kau menggambarkan karakter utama yg bisa dibilang penuh kata.. tetapi entah kenapa menjelang menuju tengah.. seolah2 kata2 yg bagus itu jatuh.. dalam permainan kata2.. seharusnya jatuhnya kata2 itu kamu naikkan lagi.. sehingga pembaca bukan hanya merasakan kejatuhan.. tetapi ada juga kenaikan..

    dalam hal ini gw berharap pada point pembaca diombang-ambing bak tsunami .. ehem.. inilah analisaku
    disini sudah bagus.. ada penurunan dalam flow

    disini kita dinaikkan

    disini turun

    tp kenapa???
    lho kok turun.. harusnya dibuat ombang-ambing.. tetapi kita ikuti aja.. berikutnya

    makin turun.. tp wait..

    auch.. kok makin turun? kalau bisa dinaikkan lagi pas paragraf dibawahnya.. tetapi kamu sudah tutup?!

    menjelang disini.. kuanggap sudah berbeda posisi..

    perbincangan disini akan lebih bagus kl ada pendukungnya.. misal
    akan bagus bila di antara paragraf ini diletakkan suatu paragraf yg indah? maksudnya bagaimana cinta itu.. bagaimana pandangan cinta dari diriku..
    sebenarnya kalau kamu putar2 disini.. itu juga bagus kok.. misal kamu ngomong sesuatu yg puitis sebelum akhirnya...
    sebenarnya dalam setting waktu yg sesungguhnya.. lebih baik memanjangkannya jadi 3 minggu ato 3 bulan
    biasa org berkata kita gila bila sudah 3 minggu - lebih..

    :ngacir:
     
  14. dantd95 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 13, 2011
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    makasih kritikannya :lalala:
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.