1. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. IDWS Radio is Back! Mau ngobrol seru bareng penyiar (announcer) atau mau ikutan jadi penyiar di IDWS Radio? Mau promoin lagu indie kamu? Bisaa!.Klik info lengkapnya di sini, kuy~.
  5. Terima kasih untuk kebersamaan komunitas selama hampir 12 tahun ini. Apa pengalaman menarikmu selama di IDWS? Apa saran, kritik, dan masukan kamu untuk IDWS? Tolong sampaikan di sini yaa~ Terima kasih.
  6. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  7. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

News Kisah Anak Penjual Telur Dengan Upah Rp 500 per Butir, Pecah Harus Mengganti Rp 3.500 per Butir

Discussion in 'Tengah Komunitas' started by IDWS.News, Oct 21, 2019.

  1. IDWS.News adalah Partner/ Kontributor TerverifikasiIDWS.News Gatotkaca

    Offline

    ▁ ▂ ▄ ρεηүεвαя ιηғσ ▄ ▂ ▁

    Joined:
    Feb 18, 2010
    Messages:
    716
    Trophy Points:
    41
    Ratings:
    +28 / -0
    Sebuah kisah memilukan datang dari media sosial. Pengguna Facebook dengan akun Indika Mumtaza Rahman membagikan cerita seorang anak kecil yang berjualan telur di kawasan Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banteng pada Rabu (16/10). Kisah anak penjual telur itu pun jadi viral di internet.

    Dalam postingannya tersebut, Indika menuturkan kesulitan yang dihadapi si anak dalam mengais rezeki.

    "Kalau lihat ini si adek tolong dibeli jualan telor ayam kampungnya, sebiji 4000 di upahin 500/butir, udah gak sekolah putus di kelas 3 SD, gak ada biaya. Jauh-jauh dari Solear Tigaraksa ke kawasan ICE BSD bawa sepeda buat jualan.

    Kalau ada yang pecah si adek suruh ganti 3500/butir sama tetangganya yang punya peternakan. Sehari paling abis sekantong kresek (plastik). Duh Gusti beruntungnya saya bisa makan tidur enak di sini," begitulah kira-kira cerita Indika.


    [​IMG]

    Selain meminta agar warganet meringankan beban anak tersebut, Indika juga memperlihatkan foto si anak penjual telur, yang mengenakan kaus hitam dan celana pendek. Kakinya hanya beralaskan sandal jepit, rambutnya cepak dipadu dengan kulitnya yang berwarna sawo matang.

    Indika juga menjelaskan bahwa telah banyak orang yang berniat menjadi donatur dan membantu anak penjual telor tersebut.

    "Banyak sudah yang japri saya, Insya Alloh jikalau ada umur ada jodoh kalau ketemu lagi sama adeknya mau saya tanyakan alamatnya sambil divideokan. Biar yang mau bershodaqoh bisa langsung ke adeknya," ungkap Indika Mumtaza Rahman.



    Sumber: Portal IDWS
     
  2. mandrakes M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Aug 24, 2009
    Messages:
    793
    Trophy Points:
    117
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1,605 / -3
    biasa aja, setiap orang punya permasalahannya sendiri2 terkadang kita merasa bahwa hidup itu tidak adil kadang lupa bersyukur kepada tuhan terhadap segala nikmat dan karunia yang telah diberikan, saya pikir justru dengan membeli telur ayamnya 4500 per butir pun hanya akan menspoilednya saja sehingga ia enggan bersekolah dan cenderung memilih hidup dengan mengharap belas kasihan orang hal ini tentunya sangat tidak mendidik sama sekali. baiknya kalau lihat antar pulang kasih tau dia akan pentingnya pendidikan / jadikan anak asuh. saya juga ga habis pikir apa motifnya ia memviralkan video ini
     

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.