1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Cerpen Hidup Kembali

Discussion in 'Fiction' started by blue_boice, Dec 9, 2014.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. blue_boice M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Mar 18, 2011
    Messages:
    2,314
    Trophy Points:
    227
    Ratings:
    +79,349 / -0
    HIDUP KEMBALI

    Mataku masih terpaku pada jendela kaca besar yang berembun. Secangkir kopi disampingku juga sudah mulai menyusut isinya. Aku mengetukkan jemari seakan mengharapkan suatu kabar. Hujan sudah mulai berhenti, namun rasa gelisahku tak kunjung sirna. Sejenak kemudian pandanganku kembali ke layar telepon genggam yang tiba-tiba menyala. Sebuah pesan singkat muncul. Maaf, tiba-tiba ada rapat penting, begitulah isi pesan singkat yang telah kutunggu selama empat puluh lima menit yang lalu. Aku hanya dapat menghela napas panjang sembari meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu diatas meja makan yang telah diatur untuk ulang tahun pernikahanku selama satu dasawarsa.

    Mobilku berjalan menelusuri taman kota. Beberapa remaja sedang menikmati senda gurau mereka. Segerombolan anak kecil berlarian mengejar gelembung yang terbang diatas kepala mereka, dan sekelompok musisi jalanan menghabiskan waktu bernyanyi mengisi pergantian senja menjadi malam. Aku memandangi mereka satu per satu. Tiba-tiba ada rasa rindu di dalam diriku hingga tanpa terasa air mata ini mengalir. Aku mulai mempercepat mobil ketika lampu lalu lintas berubah hijau sambil menggenggam erat sebotol pil berwarna perak.

    ***​

    “Kau baru pulang, sayang?” suara dari dapur mengejutkanku yang akan naik ke lantai atas.

    Aku membalasnya dengan senyuman simpul. Laki-laki itu memeluk sambil mengecup pipi kiriku. “Selamat ulang tahun pernikahan,” bisiknya lembut. Aku mencium pipinya dan mengucapkan terima kasih.

    Laki-laki itu mengantarku ke meja makan setelah aku selesai berganti pakaian. Sekarang kami duduk saling berhadapan, sebuah kue keju bertuliskan happy anniversary berada di tengah-tengah meja. Aku tidak mengerti mengapa laki-laki itu selalu memberiku kue keju, padahal aku bukanlah penyuka keju. Aku membencinya, mencium baunya saja sudah membuatku mual. Hanya saja mulutku tetap terkatup membisu sewaktu dia memotong secara diagonal lalu memberiku sepotong kue diatas piringku. Lagi-lagi hal yang mampu kuucapkan hanyalah terima kasih. Kami berdua makan dan diiringi beberapa basa-basi yang mungkin telah aku dengarkan selama ratusan kali. Aku sangat tidak menyukai suasana ini. Membosankan, pikirku. Namun aku tetap tidak dapat mengutarakan apa yang aku rasakan. Bukan karena aku takut merusak suasananya, lebih karena pikiran tadi telah lenyap seketika.

    “Bagaimana pekerjaanmu di lab? Apakah akan ada proyek besar?” tanya laki-laki itu sambil menyandarkan kepala di bahuku.

    Aku menggelengkan kepala, dia membalasnya dengan tersenyum sambil melingkarkan tangan di pinggangku. Sesungguhnya aku benci membahas pekerjaan ketika kami berdua sedang bersantai. Akan tetapi laki-laki itu tidak pernah bisa membaca gelagatku. Aku hanya menatapnya hening. Tidak berapa lama sebuah layar ponsel tampak menyala yang menandakan sebuah pesan masuk. Laki-laki itu turun dari sofa, sebentar dia melihat, namun aku sudah mengerti apa maksudnya. Dia mencium keningku dan kemudian pergi keluar. Aku masih diam dan termenung memandangnya pergi.

    Langkah kakiku bergerak pergi ke dapur, mengambil segelas air dan meneguknya bersama sebuah pil berwarna perak. Kuputuskan untuk kembali ke kamar atas dengan televisi yang masih memutar film favorit kami.

    Sinar matahari mulai menembus tirai kamar, membuatku mulai sedikit terbangun. Aku juga menyadari laki-laki itu belum kembali pulang. Jam telah menunjukkan pukul delapan pagi. Aku menarik dan mengikat ke belakang rambut hitam sebahu menjadi ekor kuda lalu turun ke bawah.

    Sebuket bunga tulip putih dan sebuah sarapan tersedia diatas meja makan. Kuambil sebuah potongan surat di bawah piring keramik putih yang bertuliskan kata maaf. Sarapan itu membuat rasa laparku seketika menghilang. Laki-laki itu tetap tidak pernah menyadarinya, batinku. Telur mata sapi, sekepal nasi dan jus jeruk, kombinasi semua makanan yang aku benci. Dia tidak pernah tahu bahwa aku selalu memakan dan memuntahkannya setiap pagi. Aku tidak suka sikapnya yang selalu merasa serba tahu seperti ini.

    Aku memilih beranjak menuju lemari pendingin dan mengambil beberapa potong sayuran segar, membuatnya menjadi salad untuk sarapan. Aku bahkan tidak pernah memaksanya memakan apa yang dia benci seperti ini, pikirku. Kemudian kuteguk sebuah pil perak yang sama. Suasana rumah tampak sepi, tetapi kedua bola mataku menatap tajam ke arah foto pernikahan kami. Aku dan laki-laki itu terlihat sangat bahagia.

    Tanpa disadari, sudah sembilan jam aku menghabiskan waktu bersama novel terbaru Dan Brown. Hal ini membuatku tidak menyadari lelaki itu telah datang dan bahkan duduk di sampingku sambil menatap diriku lekat-lekat. Konsentrasiku mencegahnya masuk ke dalam pikiranku.

    Laki-laki itu menarik ke bawah novel yang sedang kubaca dan saat itulah aku baru tersadar dia telah ada di dekatku. “Jangan terburu-buru menyelesaikannya. Aku masih dapat separuh isinya,” ucapnya. Aku meletakkan pembatas buku tepat di sepuluh halaman terakhir. Kembali kulempar pandangan pada laki-laki tersebut, mencoba menjawab respon tanya dari mimik mukanya bahwa aku merasa diperhatikan. Lagi dan lagi perasaan dalam diriku berkata sebaliknya, aku membenci sikapnya ini.

    Laki-laki itu menggenggam tanganku erat-erat ketika aku membalasnya dengan bentuk senyuman yang selalu kuberikan padanya. Kami berpindah tempat dari teras belakang rumah menuju ruang tengah.

    “Inferno, neraka berlapis seperti yang diungkap Dante, apa itu tampak mengerikan?” pertanyaannya mencoba memecah keheningan diantara kami berdua.
    Aku hanya diam sambil mengetik sesuatu pada laptop. Tanganku sibuk menekan-nekan keyboard untuk menyelesaikannya.

    Laki-laki itu membelai rambut hitamku yang terurai dari belakang tanpa kusadari. “Kau mendengarkanku, bukan?” Setelah itu dia membisikkan sesuatu sesaat diriku telah menyelesaikan tiga kalimat laporan perusahaan.

    “Inferno adalah neraka bertingkat, entah dimana manusia akan diletakkan sesuai dosa dan jelas akan sangat mengerikan,” jawabku. Dia menganggukkan kepala tanda setuju. Lalu kemudian berpindah mengambil segelas air. Aku menutup laptopku.

    “Aku bahkan tidak dapat berpikir di tingkat mana aku akan diletakkan ketika ada dua kesalahan besar yang aku lakukan,” ungkapku. Matanya menatapku dengan tatapan berbeda ketika kalimat itu kuucapkan. Kami kembali terdiam.

    Ini sudah mulai bekerja. Aku sudah mulai merasa sedikit ringan. Semua perasaan yang telah menghantui telah lenyap. Ini terasa seperti telah bersih kembali. Dia memberiku hidup baru, pikirku.

    Sebuah lipatan kertas kuletakkan diatas tumpukan bingkai foto yang telah rusak. Sebuah botol berisi satu pil berwarna perak juga aku letakkan disampingnya. Aku mulai sedikit bingung hingga kusadari tanganku menggenggam erat tiket pergi ke Belanda. Sebuah koper tergeletak di sudut ruangan. Aku mulai mengambilnya. Tanganku juga sekaligus menggapai jaket kulit berwarna biru tua. Aku sudah melupakan semuanya, tentang dosa, laki-laki itu dan semua masa laluku. Karena pil itu telah bekerja menghapus semuanya, menghapus segala hal dalam diriku. Sebuah taksi membawaku pergi jauh dari sebuah tempat tinggal yang disebut rumah keluarga.

    Mungkin laki-laki itu sedih ketika membaca isi suratku atau justru dia senang karena tidak perlu pura-pura menjadi baik selama empat tahun terakhir. Dia tidak perlu lagi bersikap manis terhadapku hanya untuk menghapus rasa bersalahku atas kematian anak kami berdua. Dia tidak perlu membuatku merasa nyaman dalam pernikahan kami, sebuah pernikahan cacat ketika ketidakjujuranku yang bertujuan menjaga perasaannya. Dia yang selalu lebih mencintai pekerjaannya saat aku sangat membutuhkannya. Dia yang selalu datang terlambat dalam semua janji yang telah dibuat. Dia yang melanggar sumpah bersama, mengatakan semuanya berjalan baik-baik saja dan dirinya selalu merasa bahagia, tetapi bukan bersamaku melainkan dengan yang lain. Aku melihatnya pergi bersama seorang perempuan lain, memberikan senyuman yang sama seperti yang diberikannya padaku, cara dia menyiapkan kejutan untuk sang perempuan dalam satu restoran yang sama dimana aku seperti seorang penguntit untuk mereka. Aku juga melihatnya berjalan, tertawa dan memberikan pelukan perpisahan saat dari kejauhan aku melihatnya bagaikan makhluk yang tersisih. Dia yang selalu datang ke rumah saat siang hari sambil tersenyum dan merayuku dengan senyuman palsu, kata-kata yang menurutku seperti kumpulan bunga layu yang telah kubuang di belakang halaman rumah dan juga sikap manisnya yang menurutku layaknya penjilat yang berusaha menarik madu dari mangsanya.

    Setidaknya keputusan untuk melupakannya adalah hal yang tepat. Saat proyek besar lab mencari relawan uji coba pil tersebut, aku memutuskan untuk melakukannya. Meskipun aku belum mengetahui dampak yang terjadi, tidak pernah sekalipun penyesalan terhadap keputusan tersebut.

    Sekarang aku akan menempuh hidup baru, walaupun tidak sepenuhnya baru. Aku akan melupakan semua tentang kenangan kami. Menyusun rencana hidup kembali, melupakan untuk selamanya apa yang aku lihat, ingat maupun rasakan. Suatu hari nanti mungkin bukan aku saja yang akan merasakannya. Akan ada ratusan bahkan jutaan orang yang akan mengharapkan hal yang sama sepertiku. Pil perak itu akan berkembang, untuk melupakan dan hidup kembali.
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan

  3. Fairyfly MODERATOR

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,797
    Trophy Points:
    257
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,466 / -133
    erm, gimana yah?

    saya bisa bilang kalo premise dan konflik yang diusung di cerpen ini bagus, banget. tapi eksekusinya, yah, meski gak bisa dibilang jelek, tapi juga gak bisa dibilang bagus sih.

    pertama, penulisannya terkesan terlalu bertele-tele n penuh narasi. buatku sih, gara2 cerpen ini terlalu banyak narasinya, jadinya suasana kelam yang dibangun jadi gak maksimal. coba tambahin dialog yang seengaknya bisa bikin suasana jadi lebih gelap.

    kedua, ada plothole soal pekerjaan si cewek dan cowok. aku ngerti si cowoknya terlalu sibuk, tapi gak jelas juga apa yang dia kerjain. kalo misalkan dia seorang dokter ato tentara, kayaknya wajar aja deh ditinggal keseringan kayak gitu, dan mungkin efek psikologisnya buat si cewek gakan terlalu dalem. masalahnya, ini gak ada penjelasan sama sekali. ceweknya juga, pekerjaan apa dia di lab? peneliti kah?

    ketiga, seenggaknya kalo mau bikin scene dimana si ceweknya menderita susah nomong apa yang ada di dalam pikiran (lupa istilah medisnya), kasi penjelas yang banyak. kalo di cerpen ini, rasa2nya aku jadi eneg juga sama si cewek yang cuma diem n ujung2nya kabur. kalo ini cewek normal, kenapa gak bangun suasana kalo itu cewek ujung2nya meledak n ngomong terus terang sama si cowok? well, entah mungkin karena ada pengaruh dari pembangunan suasana yang kurang dark, jadinya yah, aku rasa mungkin ceweknya cuma super plin plan n pendiem aja. lain cerita kalo emang digambarin dari awal kalo si cewek itu menderita penyakit ga bisa ngomong itu.

    oh well itu aja sih, sisanya yah, interesting :hmm:
     
  4. merpati98 M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,487
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,524 / -1
    ...what's the point of this story, anyway?

    atasku bilang premis dan konfliknya bagus. Aku bilang... emang premis dan konfliknya apa. Setengah kek mau gambarin masalah rumah tangga seseorang, setengah pengen ngeliatin depresinya seorang istri akan suaminya, dan setengah lagi kek mau ngomong soal drugs, setengah lagi ngomongin adultery, setengah lagi...

    oh... kek gitu bukan setengah ya namanya. Ya sudahlah. Anggap saja dari tadi aku ngetik sebagian.:ngacir:

    Sayang, padahal penulisannya lumayan bagus. Dan aku sendiri nggak begitu masalah sama cerita yg banyak narasi. Tapi kalau poinnya ga jelas ya... :v
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.