1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Yuk cek keseruan dan bantu vote chain terbaik EPYC Season 17! Klik info lengkapnya di sini, kuy~.
    Dismiss Notice
  3. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  4. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  5. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic Dajjal

Discussion in 'Fiction' started by noprirf, Mar 25, 2020.

  1. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,308
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    [​IMG]

    DAJJAL

    Genre: Fantasy
     
    Last edited: Mar 31, 2020
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,308
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    Daftar Isi

    Chapter 1 | Pertemuan
    Chapter 2 | Teman Baru
     
    Last edited: Mar 31, 2020
  4. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,308
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    Chapter 1 | Pertemuan

    Hari ini begitu sunyi. Rasa dingin menyelimutiku membuat diriku merasa sedikit menggigil. Saat ini aku sedang berjualan sepatu di tempat bosku. Aku pun mulai mencoba mencari pelanggan dengan melihat di sekelilingku. Tak ada satu pun yang lewat. Hanya angin yang datang untuk memecahkan kesunyian.

    Aku yang sedang menunggu pelanggan pun mulai merasa bosan. Segera aku mulai membuka smartphone dan mulai masuk ke dalam situs forum ternama. Seketika aku melihat notifikasi pesan yang tercantum di sana.

    Maaf untuk kali ini penawaranmu untuk membuat buletin tak bisa kami dalami lebih lanjut. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

    Aku sering bermain antar forum dan khusus kali ini moderator yang kuhubungi memang kaku, ia bahkan menolak ajakanku bahkan hanya untuk membuat buletin yang dirilis tiap minggu dalam sub forum. Tentunya dengan buletin ini akan memberi warna baru dalam forum dan bisa menarik perhatian anggota yang tergolong baru. Aku tak begitu mengerti apa yang ada dipikirannya yang membuatku hanya bernafas panjang.

    "Berbuat baik pun ternyata susah juga, ya." ucapku dalam batin.

    "Aray! Jangan main HP, fokus bekerja!" Ucap bosku dengan nada yang tinggi.

    "I-iya pak" seketika saja aku memasukkan HP kembali ke dalam kantongku

    Memang sulit diterima keputusan moderator kali ini. Bukan kali saja aku membuat buletin. Di forum yang lain pun pernah melakukan tugas itu. Pribadi sendiri enggak marah sih, hanya saja tujuan diriku hanya ingin berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dalam kehidupan dunia ini. Jadi, aku merasa hal ini hanya mengganggu langkahku saja.

    "Keinginanmu bisa terwujud?"

    "Siapa itu!" ucapku agak kaget

    Aku tak tahu dari mana asal suara itu datang. Hari sudah malam dan mungkin itu suara hantu, jin, atau sesuatu yang baru. Sungguh aku tak tahu segala yang gaib sebab itu di luar kapasitasku. Mungkin bila hantu ada maka diriku benar-benar merasa takut.

    Seketika tampak dua orang laki-laki dan perempuan yang sepertinya ingin berbelanja. Laki-laki itu tampak tinggi dan rambutnya ikal. Wajahnya putih bersih dan usianya pun tampak masih muda. Lalu perempuan yang di dekatnya pun tak kalah sempurna. Dia cantik dan berambut panjang. Ia tampak mengenakan pakaian berwarna biru yang membuat perempuan itu tampak begitu anggun.

    "Kami mau lihat sepatu yang bagus buat olahraga." Ucap lelaki itu.

    "Boleh silahkan"

    "Kalau ini berapa ya?" Tanya lelaki itu sambil menunjuk salah satu sepatu yang ada di pajangan.

    Seketika saja aku kaget melihat wajahnya. Ini sungguh diluar logika. Ada sebuah mata di dahinya. Siapa dirinya? Apakah dia adalah setan atau sebangsanya?

    "Kalau engkau mau harganya satu juta." ucapku yang agak takut padanya.

    Aku menawarkan sepatu itu dengan harga tinggi agar dia pergi, namun aku sudah terlanjur ketakutan. Segera saja aku pun berjalan cepat pergi meninggalkannya tanpa peduli dengan toko yang sedang kujaga.

    Aku pun sengaja pergi ke masjid berharap dia tak menyusulku. Aku mulai mempercepat langkahku berharap ada masjid yang masih buka agar aku sholat di sana. Rasa takutku belum hilang. Segera mungkin aku mengambil wudhu kemudian sholat.

    Setelah sholat fikiranku mulai tenang. Aku pun mulai mengingat kembali momen aneh yang baru saja aku alami.

    "Apa aku salah lihat?" ucapku dalam batin.

    Setelah itu aku pun kembali ketempat diriku bekerja. Aku yakin bosku akan marah karena meninggalkan tempat bekerja begitu saja. Benar firasat ku, bosku marah. Tampak raut wajah tak puas terukir di wajahnya.

    "Aray, kemana kamu tadi?"

    "Sholat bos."

    "Bilang kalau mau sholat. Untung gak ada yang belanja, pas kamu pergi tadi."

    "Gak ada," ucapku heran. "Tapi bukankah tadi ada dua orang yang ingin belanja."

    "Gak ada yang masuk, kamu ngawur aja.Ya sudah kita tutup aja dulu."

    Aku pun semakin heran dengan kejadian yang aku alami. Aku baru saja bertemu sosok bermata tiga kemudian tak ada satu pun selain aku yang menyadarinya. Mungkinkah aku bertemu dengan hantu. Sudahlah yang penting aku bantu tutup dulu lalu pulang kemudian aku tidur.

    Tiga puluh menit berlalu. Usai sudah aku membereskan tempat kerjaku. Aku pun menerima gajiku dan kemudian aku mulai berangkat pulang.

    Karena rumahku dekat dengan tempat kerja, maka aku pun memilih berjalan kaki saja. Pikiranku terbang melayang sepanjang aku berjalan. Semakin ku pikirkan kepalaku semakin sakit. aku tak mengerti apa yang baru saja aku alami. Seketika aku melihat anak yang hendak menyebrang jalan. Pas saat itulah mobil bergerak dan hendak menabraknya.

    "Awas!!"

    Seketika aku mendorong tubuh anak itu agar dia terhindar dari kecelakaan. Namun sial, aku tak bisa menghindari kecelakaan. Tubuhku ditabrak mobil dengan begitu kuat. Tubuhku pun terdorong hingga beberapa meter.

    Aku mulai merasakan tubuhku yang terasa sakit. Dalam batin aku berfikir kalau aku bakal mati. Aku pun mulai membuka mataku. Aku melihat ke arah semua orang. Sebuah keajaiban, aku masih hidup.

    Semua mata tertuju padaku. Mungkin dalam benak mereka bertanya bagaimana mungkin aku masih bisa bergerak setelah kecelakaan yang aku alami. Aku sendiri tak tahu mengapa. Aku hanya mengalami luka kecil saja dan aku masih bergerak. Seketika saja aku berdiri. Aku baik-baik saja.

    "Mas baik-baik saja?" Tanya salah seorang dari mereka.

    "Aku baik-baik saja kok."

    "Alhamdulillah, padahal mobil itu melaju kencang. Untung saja mas baik-baik saja."

    "Ya, aku baik-baik saja."

    Tampak dari raut wajah mereka tak percaya. Aku sendiri tak percaya dengan apa yang aku alami. Setelah ditabrak mobil yang kecepatannya begitu tinggi, aku masih hidup dan berdiri. Aneh, namun itulah yang terjadi.

    "Maaf, tadi saya yang menabrak abang. Ini uang untuk berobat." Ucap seorang pria sambil memberi uang dua ratus ribu kepadaku. Ia tampak memakai dasi dan jas yang mungkin bekerja di perkantoran.

    "Ia, enggak masalah. Aku baik-baik saja kok" balasku sambil menerima uang darinya.

    "Mas mau diantar, enggak?"

    "Enggak perlu, aku bisa berjalan sendiri."

    Ada sedikit rasa sakit di tubuhku namun aku masih bisa berjalan. Selama berjalan aku terus memikirkan hal aneh yang aku alami. Bertemu dengan makhluk bermata tiga serta selamat dari kecelakaan.

    Aku pun melihat diriku dan hanya sedikit luka yang ku alami. Aku bersyukur bisa menolong seseorang hari ini. Lukaku tak banyak dan hanya pakaianku saja yang sepertinya terkoyak.

    "Aray, kau baik-baik saja,"

    Suara yang tak asing terasa seperti memanggilku. Aku melihat ke depan dan tampak sosok yang sama saat aku ada di pasar. Ia adalah sosok dengan mata tambahan di dahinya. Aku benar-benar melihat mata ketiganya. Aku tak keliru. Dia benar-benar nyata.

    "Siapa kamu!"

    "Namaku adalah Armilus. Jangan khawatir aku bukan musuhmu. Lagipula aku sama denganmu."

    "Aku tak mengerti maksudmu?"

    "Kelak, nanti kamu akan mengerti."

    Aku benar-benar tak mengerti apa maksud pembicaraannya dengan mengatakan aku sama dengannya. Tapi, rasanya aku pernah sedikit tahu dengan nama itu, hanya saja aku tak ingat. Aku kini hanya memikirkan kejadian yang menimpaku sehingga aku tak mampu memikirkan yang lain.

    "Apa yang engkau inginkan dariku?"

    "Tidak ada, aku hanya ingin kita bekerjasama. Bagaimana, menarik bukan?!"

    "Bagaimana seandainya jika aku menolak." jawabku seketika.

    "Aku adalah orang yang jauh lebih baik dari orang yang pernah menolak bantuan darimu. Lagipula bukankah impianmu adalah berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya di dunia ini. Kalau kau ikut denganku kamu takkan rugi."

    Aku pun terdiam mendengarnya. penawarannya begitu menarik perhatianku. Tapi, bagaimana ia bisa tahu tentang diriku? Itu adalah cita-cita sejak di masa kecilku. Rasanya ia sudah lama mengenal diriku.

    "Kerjasama apa yang engkau maksud." tanyaku padanya.

    "Aku ingin kamu bergabung dengan kelompokku yang bernama 'Pasukan Langit'. Di sana kita akan bergerak mengabulkan setiap permintaan yang ada di seluruh dunia dan menjadi penguasa di bumi ini."

    "Baiklah, tapi dengan satu syarat. Bila ada sesuatu yang buruk terjadi, aku boleh keluar dari kelompokmu kapan pun aku mau," jawabku padanya.

    "Baiklah, selama engkau tak mengkhianatiku. Jika kamu berbalik menjadi musuhku, maka neraka yang akan menunggumu."

    "Baiklah, kerjasama diterima. Terima kasih karena telah mengundangku bekerjasama denganmu." ucapku sambil menahan tawa. Aneh juga dia mengancamku dengan neraka. Memangnya neraka itu punya nenek moyangnya apa.

    Mungkin ajakannya menarik perhatianku tapi aku tak tahu takdir apa yang menunggu. Mungkin ada sebuah hal yang besar yang akan datang padaku. Lalu, pasti tak lama lagi aku akan mengetahui semua itu.
     
    Last edited: Apr 5, 2020 at 5:37 PM
  5. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,308
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    Chapter 2 | Teman Baru

    Aku tak tahu apakah keputusan yang kubuat pada hari ini sudah tepat. Aku pun meninggalkannya. Tapi tetap saja, hari ini adalah hari teraneh dalam hidupku. Apakah dia setan, hantu, atau bahkan dia adalah dajjal. Sudahlah aku tak perlu berpikir yang berlebihan. Hari begitu gelap dan malam begitu dingin. Mungkin akan lebih baik jika aku pulang saja.

    "Cepatlah pulang! Ada yang menungu di rumahmu." ucap lelaki itu.

    "Siapa?"

    "Seseorang nanti yang akan membantumu."

    Begitu mendengarnya, aku pun segera bergegas untuk pulang. Aku pun mempercepat langkahku ke rumah khawatir kalau dia sudah menunggu terlalu lama.

    Begitu sampai tak ada yang menunggu di depan rumahku. Tidak ada siapa-siapa. Aku pun mulai membuka pintu. Aku tahu tak ada orang di dalamnya karena sudah lama aku hidup sendiri. Ayahku meninggal saat saat aku berusia lima tahun dan ibuku meninggal karena kecelakaan setahun yang lalu. Sejak saat itulah aku terbiasa hidup sendiri.

    Tak ada yang menunggu di rumahku. Laki-laki itu pasti sedang bergurau saja. Aku pun mulai menuju ke kamar agar aku segera beristirahat. Aku sudah begitu lelah. Kubaringkan saja tubuhku ke kasur untuk menghilangkan penat. Meskipun begitu, aku senang sudah berbuat kebaikan hari ini dan kurasa apa yang kulakukan hari ini sudah cukup bagus.

    Meskipun banyak kebaikan yang aku lakukan, dalam hidupku aku selalu sendiri. Bahkan untuk seorang teman pun aku tak punya. Aku memang punya teman sekelas. Hanya saja mereka menganggapku seperti orang aneh. Mereka bilang aku sering berbicara dan tertawa sendiri padahal aku tak pernah seperti itu. Terkadang mereka berkata di dekatku ada sesosok yang menyeramkan sehingga mereka menjauh diriku. Ada beberapa orang yang dekat padaku. Aku selalu mengikuti apa yang mereka katakan. Hanya saja aku sering mendengar dari orang-orang kalau mereka hanya ingin memanfaatkanku. Tapi aku tak peduli hal itu, yang penting aku punya teman dan membantu banyak orang. Walaupun pada akhirnya semua yang dekat denganku pergi begitu saja.

    Aku pun mulai mengambil layar dan mulai membuka aplikasi sosial media. Ternyata hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke dua puluh. Aku pun mulai melihat setiap pesan yang kuterima satu persatu. Meskipun beberapa dari mereka tidak aku kenal, tapi aku senang membaca pesan dari mereka.

    "Hei kamu kenapa tersenyum begitu. Boleh aku tahu?"

    Seketika aku menoleh ke asal suara. Tak kusangka ada seorang perempuan di kamar dan ia tersenyum padaku. Ia cantik sekali. Rambutnya panjang dan berwarna putih dipadu dengan kulitnya yang bersih. Begitu indah dan mempesona. Ia mempunyai telinga seperti sosok elf yang ada di negeri dongeng.

    [​IMG]

    "Hah, siapa kamu!" Ucapku yang kaget karena kehadirannya.

    "Apakah sudah diberitahukan kalau aku akan menjadi sosok yang akan membantumu?"

    "Lupakan itu! Bagaimana kamu bisa masuk. Rumahku kan terkunci sejak tadi." ucapku dengan menaikkan suaraku lebih tinggi.

    "Tentu saja, aku bisa masuk ke rumahmu." Ucap perempuan itu dengan agak menahan tawa. "Lihat aku ya" ucapnya yang sambil memperagakan dirinya menembus dinding rumah dengan begitu mudahnya.

    "Apakah kamu hantu?"

    "Tentu saja bukan. Aku adalah jin yang nanti akan membantu beberapa tugasmu."

    "Apakah laki-laki itu menyuruhmu untuk menunggu di rumahku."

    "Maksudmu tuan Armilus," ucapnya dengan jeda tak begitu lama. "Dia memang memerintahku untuk membantumu."

    Jawaban tak terduga terucap darinya. Aku mulai sedikit mengerti. Sepertinya laki-laki yang baru saja aku temui bukanlah orang biasa. Bahkan, aku sudah berbicara langsung dengan pemimpin mereka. Lalu, ucapannya untuk menguasai dunia sepertinya bukanlah gurauan belaka.

    Aku pun mulai melihat ke arah gadis itu. Sebagai sosok yang bertugas untuk menjadi asistenku, dia terlalu cantik. Sungguh aku tak pernah melihat paras seorang jin sebelumnya. Banyak yang bilang bila rupa mereka begitu menakutkan. Namun, setelah melihat dirinya, pikiranku pun berubah seketika.

    "Perkenalkan namaku Aray Abdullah. Boleh aku tahu siapa namamu."

    "Namaku Sheila, salam kenal ya."

    "Lalu, hal apa saja yang nanti engkau bantu."

    "Nanti kalau ada tugas aku akan beritahu apa saja yang akan kubantu. Namun aku tidak sendiri. Nanti ada beberapa orang yang akan bertugas membantu tuan Aray."

    "Ada baiknya kamu tak perlu memanggilku tuan. Panggil saja Aray. Hubungan antara tuan dan asisten terlalu tinggi, anggap saja kita seperti teman."

    "Seperti seorang teman? Apakah boleh seperti itu."

    "Tentu saja tak apa-apa," ucapku meyakinkan.

    Aku pun mulai kembali melihat layar di HP ku dan kembali membaca beberapa pesan ulang tahun yang aku terima. Aku tahu dia dari golongan jin. Namun berada dekat dengan seorang perempuan membuat jantungku berdebar-debar.

    "Apa yang tuan, maksudku apa yang Aray lihat?" Tanya gadis itu.

    "Aku hanya melihat pesan yang aku terima di hari ulang tahunku. Meskipun beberapa dari mereka tidak aku kenal, tapi aku senang menerima pesan dari mereka."

    "Oh, hari ini hari ulang tahunmu ya. Selamat ulang tahun, ya!"

    "Terima kasih. Kamu adalah orang yang pertama yang mengucapkan ulang tahun dalam hidupku. Aku senang sekali."

    "Apakah tak pernah ada seorang saja yang mengucapkan hal itu padamu sebelumnya."

    "Tidak ada, sebab aku selalu sendirian."

    "Apakah Aray tak mencari teman sebelumnya?"

    "Ada, tapi hubungan pertemananku dengan mereka begitu jauh. Aku sudah berusaha agar aku mempunyai banyak teman. Namun pada akhirnya aku gagal. Awalnya aku terbiasa dengan kesendirian ini. Namun terkadang kesendirian ini cukup menyiksa."

    "Baiklah mulai hari ini aku akan selalu berada di dekatmu dan membantumu,"

    Aku tersenyum begitu mendengarnya. Ternyata dia adalah perempuan yang ramah. Aku sangat menyukai sikapnya. Meskipun kami ada dua makhluk yang berbeda, namun aku begitu bersyukur bisa bertemu dengannya.

    Aku pun mulai berfikir, pastinya sulit bagiku untuk melakukan segalanya dengan sempurna. Tapi semoga dengan bergabung dengan mereka maka akan semakin banyak yang dapat aku lakukan. Lalu, aku berharap semakin bisa berbuat kebaikan kepada semua orang .

    “Saat aku bertemu dengan tuanmu Armilus, dia berkata mengabulkan keinginan. Memangnya itu yang akan kita lakukan.”

    “Kamu tak tahu ya kemampuan tuan Armilus.”

    “Memang apa kemampuannya?” Tanyaku.

    “Apapun yang dia katakan mampu menjadi kenyataan.”

    “Memangnya ada kemampuan seperti itu.”

    “Memang begitulah dia. Karena itulah semua orang selalu mengikuti dirinya.”

    Aku pun terdiam. Lalu aku teringat dengan sosok si lidah pahit yang dikenal dengan nama Serunting Sakti yang mampu mengutuk dengan kata-kata saja. Aku pun merasa kemampuannya kurang lebih sama dengan dengannya.

    Aku pun mulai mengetikkan nama Armilus pada mesin pencari. Aku begitu terkejut sebab nama itu menunjuk pada dajjal yang merupakan anti-kristus untuk kaum Yahudi. Aku semakin yakin kalau dia bukanlah orang biasa. Lalu, dari kemampuannya kurasa ia mampu melakukan apapun yang dia inginkan. Pasti ada baiknya jika aku pun mengawasi dirinya juga.

    “Baiklah hari sudah malam apakah kamu akan menginap di sini?”

    “Tentu saja aku akan mengawasimu seperti yang ditugaskan tuan Armilus padaku.”

    “Lalu apakah kamu tidak tidur?” Tanyaku padanya.

    “Tentu saja aku tidak tidur dan menunggumu hingga terbangun.”

    “Sudahlah lebih baik aku bawa kasur ke sini dari kamar sebelah.”

    Aku pun kemudian keluar dari kamarku dan mencari kamar tidur yang ada di dekatku. Setelah itu aku pun mengangkatnya dan membawanya ke kamarku. Agak berat, tapi itu lebih baik. Aku tak tega membuat dia terus menjagaku tanpa ada sesuatu yang aku persiapkan untuknya. Aku tahu kami akan berada di satu kamar yang sama dan tahu juga aku laki-laki dan dia perempuan. Tapi kurasa tak masalah sebab dia dari golongan jin.

    “Baiklah ini kasur jika kamu mau tidur karena lelah mengawasiku.” ucapku sambil meletakkan kasur ke lantai.

    “Terima kasih ya, Aray.”

    Aku pun mulai berbaring di kamar untuk tidur. Aku cukup lelah hari ini, tapi entah mengapa menutup mata begitu sulit. Dia masih mengawasiku. Cukup berat rasanya tidur dengan diawasi oleh seorang perempuan saat ini. Apalagi dia terlihat begitu cantik. Parasnya yang begitu mempesona membuatku sulit untukku tidur hari ini.

    “Sial, aku jadi sulit tidur begini,” gerutuku dalam batin.

    Mungkin berpura-pura menganggap dirinya tidak ada akan membuatku bisa tidur hari ini. Sudahlah, hari sudah malam. Lebih baik aku tidur agar bisa melanjukan pekerjaanku di esok hari.
     
    Last edited: Mar 31, 2020
  6. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,308
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    Chapter 3 | Rekan Kerja

    Suara alarm berbunyi memecahkan sunyi. Aku sudah mengatur agar hp ku berbunyi agar aku bisa bangun pagi sekali. Diriku agak mengantuk. Terus saja kucoba usir rasa itu dengan mengusap kedua mataku. Aku bersyukur bisa tertidur lelap padahal malam tadi aku benar-benar sulit untuk tertidur.

    Aku pun bangun dan berdiri dari tempat tidur. Seketika saja aku pun terkejut dengan kehadiran tiga sosok yang ada di dekat Sheila. Rupa mereka seperti manusia, hanya saja ada beberapa perbedaan. Ada diantara mereka mempunyai bulu yang lebat dan ada yang memiliki telinga yang panjang seperti sosok elf. Ada juga satu diantara mereka mereka mempunyai tanduk. Kurasa mereka adalah rekan yang dimaksudkan Sheila kemarin malam.

    "Aray sudah bangun, ya."

    "Iya, seperti yang engkau lihat."

    "Baiklah Aray, mereka adalah beberapa kaum jin untuk membantumu dalam menjalankan tugas yang ada. Semuanya adalah ahli dalam pertarungan dan mungkin sangat berguna untuk menghadapi musuh yang kuat." ucap Sheila menjelaskan.

    "Apakah kita akan menghadapi lawan yang mungkin membahayakan kita."

    "Itu benar. Karena diantara kita nanti akan berebut wilayah kekuasaan sehingga terkadang pertempuran takkan bisa terhindarkan."

    "Oh begitu, ya," ucapku dengan agak bergumam. "Baiklah namaku Aray. Boleh aku tahu siapa nama kalian."

    "Namaku Bima. Aku petarung jarak dekat dan ahli dalam menggunakan pedang." ucap sosok yang Kulitnya paling putih diantara mereka. Dia tak terlalu tinggi dan tak terlalu pendek. Dia memiliki telinga seperti sosok elf.

    "Baiklah, namaku Delta. Keahlianku adalah petarung jarak jauh dan mahir menggunakan panah." ucap sosok yang berbulu lebat yang mirip seperti seekor kera.

    "Namaku Ifrit. Aku adalah petarung jarak dekat dan ahli dalam bertahan. Benda yang sering kubawa dalam pertarungan adalah perisai" ucap sosok yang mempunyai wujud seperti manusia yang mempunyai tanduk yang melengkung. Tubuhnya besar dan paling tinggi di antara mereka.

    Kini aku mempunyai rekan yang baru. Aku tahu mereka akan membantuku untuk ke depannya. Hanya saja diriku tak menyangka semua rekanku sangat mahir dalam pertarungan. Agak aneh memang. Karena dari yang aku tahu kelompok ini ada berusaha untuk mengabulkan keinginan banyak orang.

    "Senang berkenalan dengan kalian. Anggap saja aku adalah teman kalian. Tak perlu dipanggil tuan."

    "Baiklah, bila itu yang anda minta." jawab ifrit.

    Pergantian tugas pun dilakukan. Sheila beristirahat dan mereka bertiga yang kini mengikuti diriku. Aku pun mulai mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Setelah semuanya siap, kami pun berangkat bersama-sama. Aku sengaja bangun pagi-pagi berusaha agar datang ke tempat kerjaku sepagi mungkin.

    Sungguh baru kali ini aku mengalami kejadian seperti ini. Aku benar-benar diikuti oleh kaum jin. Aku pun melihat orang-orang di sekitarku dan mereka tak menyadari kehadiran mereka. Mereka bertiga benar-benar tak bisa dilihat. Sebisa mungkin aku harus tenang dan tak boleh bersikap yang mencurigakan karena menyadari keberadaan mereka.

    Tak beberapa lama, kami pun sampai di tempat kerja. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum toko benar-benar buka. Jalan masih begitu sepi dan belum ada yang lewat.

    Tiba-tiba saja sebuah bayangan datang kepadaku. Terbayang dalam pikiranku kejadian pencurian yang dilakukan oleh pengendara motor. Aku tak mengerti dengan apa yang terjadi. Namun anehnya bayangan itu begitu nyata. Aku pun langsung ke tengah jalan dan memperhatikan segala yang ada di sekitarku.

    "Tolong! Tasku dicuri." Teriak seseorang dari jauh.

    Ternyata benar terjadi pencurian. Karena aku tahu kejadian ini sudah terbayang di depan mata, aku pun langsung menghadang motor itu. Dengan sigap aku pun sedikit berpindah dan mengambil tas yang dicuri. Aku pun mencoba menendang motor itu agar terjatuh, namun tak mengenai mereka. Seketika itu juga para pencuri mempercepat laju kendaraannya kemudian pergi. Aku memang gagal menjatuhkan mereka, tapi tas yang mereka curi berhasil ku ambil dari mereka.

    "Terima kasih sudah membantuku," ucap perempuan tua itu dari kejauhan. Dia pun mendekatiku. Tampak dari raut wajannya senang dengan apa yang baru aku lakukan. Seketika saja dia membuka tasnya dan menyodorkan uang kepadaku.

    "Tak perlu bu, aku ikhlas membantu."

    "Sudah jangan malu. Ibu sangat berterima kasih karena sudah dibantu. Tak tahu gimana nantinya jika tas ini hilang beserta isinya. Padahal banyak dokumen penting di dalamnya."

    "Sungguh tak perlu, bu. Saya benar-benar ikhlas membantu. Jadi ibu tak perlu repot-repot membalasnya."

    "Baiklah kalau begitu. Terima kasih ya." ucap perempuan tua itu yang kemudian dia pun pergi.

    Aku pun langsung kembali ke tokoku. Aku bersyukur telah menolong seseorang saat ini. Tapi, apa yang baru saja terjadi aneh sekali. Seketika saja aku mulai duduk memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tak mungkin bayangan itu bisa menjadi kenyataan.

    "Hei apa kalian tahu tadi terbayang dalam pikiranku terjadi pencurian. Lalu hal itu menjadi kenyataan. Menurut kalian apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku pada mereka

    "Sepertinya kekuatan mata anda sudah terlihat," jawab Bima padaku.

    "Kemampuan mata?! Apa maksudnya."

    "Itu adalah pengaruh 'ain atau mata yang dikatakan mampu mendahului takdir. Kekuatan yang dimiliki oleh salah satu dari mata yang anda punya."

    Sungguh aku sedikit tak percaya dengan apa yang dia katakan. Aku memang tahu kalau Rasulku pernah mengatakan bahwa pengaruh 'ain itu benar-benar ada. Tapi aku tak menyangka aku mempunyai kekuatan itu. Aku seperti sosok yang beruntung diantara kebanyakan orang. Sungguh kemampuan yang langka dan luar biasa.

    "Jadi, apakah karena kemampuan ini makanya Armilus yang merupakan tuan kalian mengajakku untuk bergabung?"

    "Ada kemungkinan itu benar," jawab Delta.

    Seketika saja Delta mendekatiku dan menatapku dengan jarak begitu dekat. Aku tak mengerti apa yang sedang ia lakukan. Ia pun berada tetap pada jarak itu dalam waktu yang agak lama. Setelah itu dia pun kembali ke tempatnya.

    "Sepertinya itu kekuatan dari mata kanan anda. Bahkan aku bisa merasakan sisa kekuatan yang datang darinya."

    "Kekuatan dari mata sebelah kananku?!"

    "Iya, itu benar. Sebenarnya setiap orang ada kemungkinan memilikinya entah dia orang baik ataupun buruk. Tapi setahuku seseorang yang mempunyai kemampuan mata yang benar-benar kuat dan mempunyai karakteristik tertentu hanya dimiliki oleh dajjal." ucap Delta menjelaskannya.

    Setelah mendengarnya aku pun terkejut. Tak mungkin menjadi dajjal adalah takdirku. Apalagi setelah semua kebaikan yang kulakukan dalam hidupku.

    "Apakah benar begitu?" tanyaku lagi.

    "Tapi begitulah yang kami tahu." ucap Delta membenarkan.

    Seketika saja aku menundukkan pandanganku. Diriku pun terdiam membisu. Tak mungkin diriku ini merupakan dajjal yang sama dengan Armilus. Jika benar aku adalah dajjal, maka pastinya aku adalah orang yang ditakdirkan menjadi penghuni neraka. Tidak mungkin aku tak masuk surga setelah semua kebaikan yang telah aku lakukan. Sungguh aku selalu berbuat kebaikan karena diriku begitu takut dengan neraka dan berharap dimasukkan ke surga. Tapi, harus kusadari dari awal aku tak tahu takdir di akhir hidupku kelak.

    "Aray, anda kenapa?" Tanya Delta seketika.

    "Ia, apakah yang sedang anda fikirkan?" Tambah Ifrit.

    Seketika saja diriku pun mulai menarik nafas begitu dalam dan mengeluarkannya. Aku pun mulai memandang mereka. Tampak mereka khawatir dengan keadaanku sekarang.

    "Mungkinkah seseorang akan masuk neraka setelah semua kebaikan yang telah dia lakukan?"

    "Anda jangan berfikir begitu. Kami pun sama dengan anda yang juga tak tahu apakah kami bakal masuk surga ataupun tidak. Apa yang kami lakukan hanyalah berusaha. Tuhan pasti tahu siapa yang pantas menjadi penghuni surga dan siapa yang tidak. Siapa pun yang berbuat kebaikan pasti dibalas dengan surga dan siapa yang berbuat dosa pasti dibalas dengan neraka." ucap Ifrit menasehatiku.

    "Ifrit, terima kasih ya."

    "Sama-sama,"

    Mungkin aku tak perlu memikirkan hal itu. Meskipun aku mempunyai kekuatan itu, hal itu tak bisa menjadi bukti bahwa aku adalah dajjal. Lagipula memikirkan takdir adalah sesuatu yang luar kapasitasku. Mungkin memang benar apa yang Ifrit katakan jika Tuhan pasti tahu siapa yang pantas dimasukkan ke surga dan siapa yang juga pantas di neraka. Hal yang dapat kita lakukan hanyalah berusaha. Lalu sisanya biarlah Tuhan yang menjawabnya.
     
    Last edited: Apr 7, 2020 at 12:12 PM

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.