1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic Coklat Valentinku

Discussion in 'Fiction' started by nanamiang, Mar 11, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. nanamiang Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Sep 8, 2010
    Messages:
    234
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +21 / -0
    Cerita ini kubuat waktu masih kuliah dulu, sudah sedikit kuedit sedikit sih ceritanya.
    Waktu itu masih suasana valentine, makanya ceritanya juga ada nuansa valentine-nya...

    Melihat di IDWS ada ajang kirim-kirim cerita fiksi, kuberanikan diri memasukan ceritaku ini.
    Karena ini adalah karya pertamaku, mohon pendapat kalian semua... :hmm:
    Semoga kalian terhibur dengan karyaku ini.

    Coklat Valentinku​


    Genre : Cinta remaja
    Lokasi : Di sekolahan

    Hari ini tanggal 13 Februari. Esok adalah hari Valentine. Murid-murid di SMU K sudah pada ribut membicarakannya. Ada yang sudah mempersiapkan kado untuk pacarnya, ada yang membeli coklat untuk orang yang disukainya, ada juga yang sekedar membeli coklat untuk diberikan kepada teman-temannya. Lalu ada juga yang cuek saja dengan hari yang katanya istimewa itu.
    Evy adalah salah satu murid yang sudah mempersiapkan coklat . Ia berencana memberikan coklat itu kepada seseorang yang selama ini dia sukai, Nick. Nick adalah kakak kelas Evy. Evy masih duduk di kelas I SMU, sedangkan Nick sudah kelas III. Evy menyukai Nick sejak dari pertama kali masuk SMU, ketika masa orientasi. Evy masih ingat saat itu, ketika semua murid diharuskan mencari tanda tangan beberapa kakak kelas. Nick adalah salah satu kakak kelas yang memberi plonco. Waktu itu Evy terjatuh, Nick mendekatinya dan menanyakan apakah Evy baik-baik saja. Sejak saat itulah Evy jatuh cinta pada Nick.
    Viny mengamati kado yang dipegang Evy dengan penasaran.
    “Buat siapa tu? Masa buat Kak Nick?”, tanya Viny.
    Evy tersenyum. “Iya.... Ini buat Kak Nick. Kak Nick, kakak kelas kita yang paling baik...”, sahut Evy dengan wajah penuh pujaan.
    “Cieeeh.... Bagaimana kamu tahu kalau Kak Nick itu baik?”, Selvie tiba-tiba muncul.
    “Pokoknya dia itu baik... Keren... Apalagi dia ketua klub basket sekolah kita”.
    “Tapi kan tahun ini ketua klub basket kita diganti dengan Kak Ben”, kata Viny.
    “Biarin! Menurutku yang paling keren Cuma Kak Nick”, sahut Evy tak mau kalah.
    “Kamu kayaknya lebih cocok dengan Kak Ben deh, Ev”, sindir Selvie.
    “Apa??? Kak Ben? Waduh, jangan salah paham ya kalian. Walau aku sering ngobrol dengan Kak Ben, cintaku hanya untuk Kak Nick.
    “Huuu....”, cibir Viny.
    “Lalu apa kamu gak takut ditolak Kak Nick? Kak Nick kan populer di sekolah kita. Bisa aja dia sudah punya pacar”.
    “Tidak mungkin! Aku gak pernah lihat Kak Nick jalan ama cewek. Jadi dia pasti belum punya pacar. Aku yakin pasti diterima. Pokoknya besok akan kuberikan coklat ini kepada Kak Nick”, kata Evy dengan penuh harap.
    Viny dan Selvie saling berpandangan. Mereka Cuma mengangkat bahu. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus mereka katakan pada teman mereka itu.

    Keesokan harinya, hari Valentine yang ditunggu2 telah tiba. Evy dengan bangganya memamerkan coklat yang sudah dibungkusnya dengan rapi pada Viny dan Selvie.
    “Bagaimana? Bagus kan?”, pamer Evy.
    Kertas kado yang dipakai Evy bergambar kado dengan tulisan “Happy Birthday”. Viny langsung berkomentar, “Kok tulisannya “Happy Birthday”? Gak salah tu, Ev? Kan ini valentine, seharusnya kan gambarnya hati dengan tulisan “I Love You” atau Happy Valentine Day.” Selvie cekikikan mendengar komentar Viny.
    “Ini gara-gara kehabisan kertas kado seperti itu, jadi terpaksa deh beli kertas kado ini. Yang penting kan maksudku memberi ini kepada Kak Nick”, Evy membela diri.
    “Iya deh, terserah kamu.” Viny menyerah.
    “Kalau sudah senang begitu, kamu juga harus siap ditolak”, goda Selvie.
    “Huh! Kalian ini, bukannya mendoakan supaya aku diterima, eh malah mendoakan aku ditolak”, omel Evy.

    Istirahat pertama, Evy cepat2 menuju kelas Nick. Dia menunggu Nick keluar dari kelas. Ketika melihat Nick berjalan menuju pintu, Evy cepat-cepat mendekatinya.
    “Evy? Ada apa?”, tanya Nick.
    “Kak Nick, ini buat kakak”, kata Evy sambil memberikan kado pada Nick.
    Nick terdiam. “Maaf, Vi. Aku tidak bisa menerimanya”, tolak Nick kemudian.
    “Eh”, kata-kata Nick itu cukup membuat Evy terpukul.
    “Aku sudah punya pacar, jadi tidak pantas kan aku menerima coklat dari cewek lain”, jelas Nick.
    Evy terdiam. Dipandanginya kado itu dengan sedih.
    “Sekali lagi, maaf”, sesal Nick. Ia cepat-cepat pergi meninggalkan Evy yang cukup terpukul itu. Setelah agak lama, Evy pun berjalan menuju kelasnya dengan langkah gontai. Viny dan Selvie yang menunggu kabar dari Evy langsung menoleh ketika Evy memasuki kelas.
    “Pasti ditolak tuh...”, bisik Viny pada Selvie. Selvie mengangguk.
    Evy duduk di bangkunya. Matanya menerawang. Viny dan Selvie cepat-cepat mendekatinya.
    “Kak Nick sudah punya pacar”, kata Evy dengan sedih.
    Viny dan Selvie pun langsung menghiburnya sampai tak terasa bel tanda istirahat telah selesai berbunyi.Bel tanda istirahat ke-2 berbunyi.

    Evy masih memandangi bungkusan kado yang kecil itu.
    “Terpaksa kumakan sendiri saja coklat ini”, batinnya.
    Ketika akan membuka bungkusan kado itu, Viny mendekatinya.
    “Asyik! Ayo, kita makan sama-sama coklatnya”, sorak Viny.
    Evy cepat-cepat menyimpan kado itu.
    “Gak jadi ah... Biar kubawa pulang aja, kumakan di rumah aja.”
    “Aah! Evy peliiiit!!!!”, teriak Viny.
    “Biarin!”, Evy cepat-cepat keluar dari kelas, menghindari Viny dan Selvie yang mulai mengubernya untuk berbagi coklat.
    Evy bersembunyi di UKS sekolah. Biar aku disini saja sampai istirahat habis, pikir Evy. Evy memandangi kado coklat itu dengan sedih. “Mungkin memang seharusnya kukasih Kak Ben aja ya”, batin Evy.
    “Kamu sakit apa?”, tanya Maria, murid yang sedang bertugas menjaga UKS.
    “Aku Cuma mau istirahat disini... menenangkan pikiran dulu”, sahut Evy seraya menyelonjorkan tubuhnya di atas sofa. “Kalau saja bangku kelas kita seempuk ini... aku bakal betah duduk di kelas”, gumam Evy.
    Maria tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba dari balik tirai terdengar suara, “Yang jelas, pasti kamu bakal ketiduran terus di kelas”.
    “Huuhhh... Siapa sih itu?”, gerutu Evy.
    Tirai itu terbuka. Seorang murid laki-laki tersenyum padanya, ia sedang berbaring di kasur UKS itu.
    “Aku tahu itu kamu, Vi. Suaramu benar-benar khas”, katanya pada Evy.
    “Kak Ben? Kakak sedang sakit?.”
    “Yah, Cuma sedikit pusing”
    “Pusing kenapa kak? Ahh... pasti kakak pusing karena menerima banyak coklat.”
    Ben tersenyum. “Yah, susah juga jadi cowok populer.”
    Evy mendekati Ben. “Kebetulan kakak ada di sini. Karena kakak sudah banyak menerima coklat, pasti gak ada bedanya kalau dapat tambahan dari saya”. Evy memberikan coklat yang awalnya akan diberikan pada Nick. Ben tertegun.
    “Bagaimana kau tahu hari ini ulang tahunku?”, tanya Ben.
    “EH???? Hari ini ulang tahun kak Ben? Aku gak tau.... ini coklat valentine, karena gak nemu kertas kado yang sesuai tema, jadi kubeli aja yang ada Happy Birthday-nya. Padahal aku mau kasih coklat ini sebagai tanda persahabatan buat kakak. Jadi ulang tahun kakak tepat hari valentine. Selamat ya, kak”, Evy mengulurkan tangannya.
    Ben tersenyum dan menyambut tangan Evy. “Trims ya, Vi.”
    “Kamu pasti habis ditolak, makanya kamu kasih coklat ini ke aku”, tebak Ben.
    “Hahahaha... Kak Ben tahu aja.”
    “Aku tahu aja bagaimana pelitnya kamu. Kamu nggak mungkin membagi-bagikan coklat...”
    “Apa aku ini terkenal pelit?”
    “Hampir semua temanmu bilang kamu itu pelit. Bagaimana aku tidak tahu.”
    “Pelit itu pangkal kaya, kak”
    “Hahaha.... Benar-benar otak pelit lu!”.
    Evy tertawa, dalam hati ia bersyukur karena bertemu dengan Ben. Ia merasa tenang kalau bertemu dengan Ben. Mungkin karena Ben selama ini selalu bisa membuat hatinya senang.

    Evy memasuki kelas dengan santai. Viny dan Selvie langsung menyerbunya.
    “Mana coklatnya? Sudah kamu habiskan ya?”, omel Viny.
    “Begitulah”, kata Evy, senyumnya pun mengembang.
    “Evy memang pelit-lit-lit!!!”, teriak Viny.
    “Biarin, wek!”, Evy menjulurkan lidahnya. Ia tersenyum puas karena berhasil mengelabui kedua sahabatnya itu. Ia sesekali tersenyum mengingat kata-kata Ben tadi.

    Keesokan harinya, Selvie mendekati Evy yang baru saja masuk ke dalam kelas. Dia tersenyum nakal pada Evy.
    “Ehem ehem...”
    Evy terheran-heran dengan Selvie.
    “Ada apa, Sel?”, tanyanya.
    “Aku tahu...”
    “Tahu apa?”
    “Kemarin itu... coklatnya gak kamu makan sendiri kan?”
    “Kumakan kok... sampai habis”, elak Evy.
    “Ah, jangan bohong... Aku tahu dari Maria... Kamu ngasihkan coklat itu ke Kak Ben kan? Ayo, ngaku....”
    “Enggak kok...”, Evy berusaha menghindari dari pertanyaan Selvie.
    “Kata Maria, kalian janjian di UKS kemaren, lalu kamu kasihkan coklat itu ke Kak Ben”
    Dalam hati, Evy mengumpat, “Maria penyebar gosip.”
    “Aku Cuma kebetulan ketemu Kak Ben di UKS kok... Coklat itu kukasih juga untuk tanda persahabatan aja”.
    “Cieeeehhh.... Akhirnya jadi juga ni Evy sama Kak Ben.”
    “Enggaaaaaaaaaaak!!!!! Kami gak jadian kok.”
    “Tapi berita itu sudah menyebar lho, Vi... Hot news hari ini, Kak Nick pacaran dengan Kak Lanny, terus Kak Ben pacaran denganmu.
    “Haaa??? Sejak kapan.... Kacau dah. Kenapa jadi begini?”, Evy menjadi panik.
    “Dari aku pertama kali masuk kelas ini.... Teman-teman pada bicarakan kamu, lho”
    Viny yang baru datang tampak terheran-heran melihat Evy yang kebingungan.
    “Ada apa, Vi?”, tanya Viny.
    “Tanyakan saja pada Selvie”, sahut Evy kesal.
    Selvie pun menceritakan tentang gosip itu, Viny tampak senang dan mulai menggoda Evy. Evy dibuatnya bertambah kesal.

    Sepulang sekolah, Evy didekati Linda dan Yenny.
    “Ada apa, Lin, Yen?”, tanya Evy heran, karena tidak biasanya mereka mendekatinya.
    Linda tampak ragu-ragu, tapi Yenny sepertinya mendesak Linda untuk bicara.
    Linda pun mulai bicara, “A-apa benar kamu sudah jadian dengan Kak Ben?” Evy mendengus ketika mendengarnya.
    “Gosip begitu kok didengar... Dengar ya, Lin... Kak Ben itu memang kukasih kado ulang tahun, tapi bukan berarti kami pacaran. Tahu tanggal ulang tahun Kak Ben aja baru kemaren”, jelas Evy.
    Linda tampak ragu-ragu, ia pun cepat-cepat menarik Yenny untuk menjauh. Evy hanya terheran-heran melihatnya. Sambil memonyongkan bibirnya, dibereskannya buku-bukunya. Ketika Evy menuju ke pintu gerbang sekolah, seseorang memanggilnya. Evy pun menoleh, ternyata itu adalah Kak Ben. Ia berlari-lari mendekati Evy.
    “Kak Ben... Ngapain dekat-dekat aku...”, omel Evy.
    “Eit! Galak bener ni cewek.”
    “Aku malas melihat kakak...”
    “Hmm... Pasti karena gosip itu kan?”
    “Udah tau aja tuh... Ini gara-gara Maria juga... cerita yang gak bener”
    “Daripada mikirin itu, kamu mau kuantar pulang?”, ajak Ben. Evy terdiam, lalu ia melotot.
    “Gak usah.... Rumahku dekat, gak perlu diantar...”, Evy cepat-cepat berlari meninggalkan Ben yang menghela nafasnya.

    Evy mengerjakan PR-nya sambil terus menggerutu. Kakak Evy, Fenny tersenyum melihatnya.
    “Ngerjain PR atau ngomel sih?”, tegur Fenny.
    “Aku Cuma lagi kesal dengan teman-teman di sekolah... “, gerutu Evy.
    “Nah, lho... Ada apa lagi?”
    “Teman-teman gosipin aku dengan Kak Ben... Padahal tidak ada apa-apa di antara kami.”
    “Ben? Oh... Ben yang katamu kapten basket cowok yang baru?”
    Evy mengangguk. “Hmm... Kalau gosip itu tersebar.... Berarti Ben itu mungkin naksir kamu.”
    “Hah? Ahaha.... Mana mungkin... “
    “Kakak yakin itu. Kalau cowok suka kamu, pasti keliatan banget kok.”
    “Oya? Bagaimana caranya, kak?”
    “Dari cara memandangmu, lalu perhatiannya ke kamu juga beda dengan perhatiannya ke teman cewek yang lain.”
    “Oya?”, Evy berusaha mengingat-ngingat. “Tapi kok rasanya kalau dia memandangku, biasa aja kok... Lalu dia selalu perhatian kok ke semua orang.”
    “Huuhh....”, Fenny mencubit pipi Evy dengan gemasnya. “Kamu itu terlalu polos... Makanya, dirasakan donk.”
    “Kak Fen... Sakiittt”, gerutu Evy sambil mengelus-ngelus pipinya yang kemerahan dicubit Fenny tadi.

    Evy masih terus memikirkan kata-kata kakaknya, sampai Ben mendekatinya saja dia tidak sadar. Suasana sekolah masih sepi. Entah kenapa Evy datang ke sekolah lebih pagi hari itu.
    “Oi!!!”, bentak Ben. Evy langsung meloncat karena kaget.
    “Kak Ben... Bikin kaget aja.”
    “Kamu kupanggil-panggil dari tadi gak nyahut, jadi kukagetin saja. Tumben kamu datang lebih pagi.”
    “Emangnya kenapa? Lagian kenapa kakak tahu kalau aku gak pernah datang pagi?”
    Ben tampak tersipu-sipu, “Emm... Yah, tahu aja.”
    Evy menatap Ben dengan penuh selidik. “Kakak memata-matai aku ya?”
    “Eh... Tidak...”
    “Sudah... Kakak jangan dekat-dekat aku lagi... Nanti dilihat teman-teman, dijadikan gosip lagi”, omel Evy. Ia langsung meninggalkan Ben yang masih terbengong-bengong.
    Masa sih Kak Ben suka sama aku? Batin Evy tak percaya.

    “Ev... Bentar lagi kita ada lomba basket tingkat propinsi lho”, kata Viny.
    “Tahu... Palingan bukan aku yang jadi pemain inti”, komentar Evy.
    “Pemain inti banyaknya kelas 2 sih.”
    “Eh, Vi.... Besok kan ada pertandingan antar kelas di lapangan basket... Kak Ben bakal main lho... Kita datang pagi-pagi untuk nonton yuk.”
    “Huh, malas... Aku jadi males melihat Kak Ben.”
    “Ayolah, vi... Aku mau nonton. Nonton pertandingan kakak-kakak kelas kita kan seru. Mana cakep-cakep dan keren-keren lagi.”
    Evy mendengus. “Kamu pasti alasannya begitu... Iya deh, besok kita datang pagi-pagi.”

    Keesokan paginya, Evy datang pagi-pagi sesuai janjinya pada Viny. Ben dari jauh tampak berlari-lari mendekati Evy. Evy cepat-cepat berlari menghindari Ben.
    “Viii! Jangan lari donk!”, panggil Ben.
    “Aku gak mau dekat-dekat Kak Ben...”, teriak Evy sambil berlari.
    “Evy... Apa kamu sedemikian membenciku sampai-sampai tidak mau dekat-dekat aku. Apa salahku?”, tanya Ben sambil terus berlari mengejar Evy yang berlari semakin kencang. Evy berhenti. Ben pun ikut berhenti. Evy berbalik perlahan-lahan.
    “Maaf, kak... Aku tidak membenci kakak... Aku Cuma malu kalau kakak dekat-dekat aku...”, kata Evy sambil menundukan kepalanya.
    “Kenapa musti malu?”
    “Kakak masa nggak sadar sih? Semua teman pada ngomongin aku dengan kak Ben”, sahut Evy kesal.
    “Kurasa itu tidak harus dipikirkan. Biarkan saja semua orang bilang begitu... Kita kan Cuma berteman”.
    Evy mengangkat kepalanya dan memandang Ben. Ben tersenyum. Evy membalasnya.
    “Benar juga... Kita kan Cuma teman”, Evy mendekati Ben. Ben menangkap tangan Evy dan meletakan sesuatu di telapak tangan Evy.
    “Eh? Apa ini, kak?”, tanya Evy. Ben memberikan bungkusan kecil yang dibungkus dengan kertas kado bergambar kado.
    “Selamat Ulang Tahun, Evy”, ucap Ben.
    “Eh?”, Evy menutup mulutnya dengan tangannya. “Ah iya... Hari ini kan hari ulang tahunku... aku kok lupa?!”
    “Haha... Sifat pelupamu itu sudah kayak nenek-nenek”, ejek Ben.
    Evy menggembungkan pipinya. “Huh... Tapi, terima kasih, kak... Kakak yang pertama mengucapkannya hari ini”.
    “Oya? Aku merasa sangat tersanjung”.

    Selvi mendekati Evy. “Ehem ehem... Tadi ngapain dengan Kak Ben?”
    Evy memperlihatkan kado yang diberikan Ben.
    “Wah... Keduluan aku deh...”, Selvie memberikan sebuah kado yang lebih besar dari kado dari Ben. “Selamat Ulang tahun ya, Ev”, ucap Selvie.
    “Makasih, Sel”.
    “Kado ini dari aku dan Viny...”, Viny tiba-tiba datang dan mengulurkan tangannya.
    “Happy Birthday, Evy”, ucap Viny.
    “Trims, Vin”.
    Viny tersenyum nakal sambil melirik kado dari Ben.
    “Coba buka donk, kami mau tahu apa yang diberikan Kak Ben kepadamu”.
    “Ah, jangan... Biar kubuka punya kalian aja, punya Kak Ben kubuka di rumah aja”.
    “Yah...”, ujar Selvie dan Viny kecewa.
    Evy membuka kertas kado permberian Selvie dan Viny dengan perlahan-lahan. Isinya adalah sebuah dompet.
    “Wow... Bagus sekali...”, kata Evy.
    “Tentu donk, pilihanku...”, kata Selvie bangga.
    “Ayo, sekarang buka kado dari Kak Ben”, paksa Viny.
    “Enggak mau”,Evy cepat-cepat memasukan kado Ben ke kantong bajunya.

    Pertandingan antar kelas dimulai. Hari ini pertandingan kelas 1 melawan kelas 2. Evy, Selvie dan Viny sudah duduk di pinggir lapangan basket untuk menonton pertandingan ini. Ketika Ben memasuki lapangan, ia sempat tersenyum pada Evy. Viny langsung menyikutnya.
    “Asyik nih ye...”, goda Selvie.
    “Apaan sih kalian ini”, wajah Evy memerah digoda seperti itu.
    “Malu-malu kucing nih”, goda Viny.

    Evy sebenarnya penasaran dengan isi kado pemberian Ben itu. Sepanjang pelajaran, ia melihat jam tangannya terus menerus. Rasanya waktu berlalu dengan sangat pelan. Sampai akhirnya, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Evy buru-buru keluar dari kelas dan berlari-lari meninggalkan Selvie dan Viny yang rupanya masih ingin mendesak Evy membuka kado Ben.
    Sesampai di rumah, Evy langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Dipandangnya kado itu sambil tersenyum. Dibukanya kado itu perlahan-lahan. Ternyata isi kado itu adalah sebuah gelang dan sepucuk surat. Evy membuka surat itu dan mulai membacanya.

    Buat Evy.

    Sebenarnya sudah dari dulu saya ingin mengatakan ini padamu, tapi saya tidak berani. Sejak pertama kali kamu masuk dalam tim basket wanita, saya sudah mulai memperhatikanmu. Melihat senyummu dan tingkahmu yang begitu ceria membuatku bahagia. Pada hati valentine itu, sebenarnya saya sudah cukup kecewa karena ternyata kamu tidak tahu tanggal ulang tahunku, bahkan coklat valentine pun tidak ada satupun darimu. Lalu ketika kau memberikan coklat itu, saya sebenarnya agak sedikit kecewa karena coklat itu kau berikan karena kau ditolak. Aku tahu kamu suka dengan cowok lain, tapi tak apa. Oleh sebab itu, saya memberanikan diri untuk mengatakan ini padamu walau melalui surat. Evy, aku suka kamu.

    Salam sayang,


    Ben

    Evy membaca surat itu berkali-kali. Ia pun tersenyum. Benar juga kata kak Fenny, batin Evy. Lalu ia segera menyimpan surat itu dalam laci dan cepat-cepat keluar dari kamarnya karena ibunya sudah berteriak memanggil Evy untuk makan siang.

    Keesokan harinya, seperti biasanya, Evy berangkat sekolah. Kali ini dia tampak ragu-ragu ketika mulai melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah. Selvie mengejutkannya.
    “Kenapa kamu? Kok kayaknya tidak bersemangat”.
    “Ah, masa sih?”
    “Eh... apa kado dari Kak Ben kemarin?”, tanya Selvie.
    Evy menunjukan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.
    “Ooou... Jadi kamu menerima cintanya?”
    “Eh?”
    “Kalau kamu memakai pemberiannya, berarti kamu juga suka sama dia...”
    “Sembarangan kamu... aku pake ini karena aku suka modelnya saja”.
    “Oya?”, selidik Selvie.
    “Kamu jangan menggodaku terus”, kata Evy kesal dan ia berjalan dengan cepat meninggalkan Selvie yang tersenyum nakal.
    Sepulang sekolah, Evy tidak langsung pulang. Ia menunggu seluruh temannya keluar dari kelas baru ia mulai melangkah keluar kelas. Evy langsung terhenti ketika ternyata Ben ada di luar kelasnya, sedang duduk.
    “Kak Ben, sedang menunggu apa?”
    Ben menoleh dan tersenyum ketika melihat Evy.
    “Aku menunggumu... Kamu lama sekali keluar dari kelas”, jawab Ben.
    “Eh... Aku...”
    Ben melirik ke pergelangan tangan Evy.
    “Aku senang, ternyata cocok untukmu...”
    “Iya. Terima kasih, kak”.
    Mereka terdiam. Evy jadi salah tingkah, Ben sendiri tampak bingung untuk memulai pembicaraan selanjutnya.
    “Kamu sudah membaca surat dariku?”, tanya Ben.
    “Hmm...”, Evy menganggukan kepalanya.
    “Baguslah”, kata Ben.
    Mereka terdiam lagi. Evy mulai merasa kesal.
    “Kak Ben!”, bentak Evy. Ben tampak sedikit terkejut, Evy sudah ada di dekatnya sambil mengacakan pinggangnya.
    “Aku mau mendengar apa yang kakak tulis di surat itu dari mulut kakak sendiri”, tantang Evy.
    Ben terperanjat, ia menjadi gugup.
    “Masa kakak Cuma berani lewat tulisan?”, omel Evy.
    Ben terdiam, ia pun tersenyum.
    “Baiklah kalau begitu...”, Ben mundur satu langkah.
    “Evy...”
    “Ya?”
    Ben mulai gugup lagi dan ia hanya membuka mulutnya saja. Evy menggembungkan pipinya. Melihat itu, Ben menahan tawanya.
    “Kak Ben jelek!”, bentak Evy, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Ben. Ben cepat-cepat mengejarnya dan menangkap tangan Evy.
    “Evy... dengarkan aku... Aku suka kamu”, akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Ben. “Aku suka kamu bukan Cuma sebagai teman”.
    Evy menoleh dan tersenyum. “Aku juga suka kakak...”
    “Tapi... Bukannya kamu suka Kak Nick?”
    Evy menggembungkan pipinya dan memukul bahu Ben.
    “Kak Ben bego! Kalau aku sudah bilang suka, jangan ungkit-ungkit soal orang lain donk!”
    Ben tertegun, ia sepertinya mencoba mencerna kata-kata Evy. Tak lama, ia mendekati Evy dan memeluk Evy. Evy menjadi salah tingkah, karena ada beberapa temannya yang masih belum pulang dan melihat adegan itu.
    “Kakak ini bagaimana sih? Dilihat orang tuh”, bentak Evy.
    “Biar saja”, Ben merangkul bahu Evy. “Biar semua orang tahu kalau kita saling suka”.
    Wajah Evy memerah. Beberapa orang yang melewati mereka tampak tersenyum. Evy mendorong Ben sambil marah-marah dan meninggalkan Ben. Ben cepat-cepat mengejarnya dan merangkulnya.
    “Kuantar pulang ya”, kata Ben.
    Evy tersenyum dan mengangguk.

    Tamat

    :makasih-g:
     
    • Thanks Thanks x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. MaxMarcel M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,843 / -0
    Di enter mas. Kalo ga muat bagi jadi 2 post.
     
  4. nanamiang Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Sep 8, 2010
    Messages:
    234
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +21 / -0
    Maksudnya enter apa ya?

    Maaf kalau saya banyak salah. Soalnya baru kali ini saya buat thread...
    Oya, kenapa saya dibilang mas? Saya ini cewek lho
     
  5. setanbedul Veteran

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Dec 9, 2008
    Messages:
    4,679
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +11,624 / -0
    maaf kita ngak tahu
    untuk bab baru mending nulis di post baru aja :top:

    komen gw..
    perbanyak baca manga romantisme :ngacir:
     
  6. nanamiang Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Sep 8, 2010
    Messages:
    234
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +21 / -0
    O, gitu ya...

    Iya, saya memang masih harus banyak belajar nih...
     
  7. setanbedul Veteran

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Dec 9, 2008
    Messages:
    4,679
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +11,624 / -0
    banyakin narasi.. khan ini pandangan dari org pertama..
    saat ditolak.. jelaskan bagaimana sakitnya ditolak.. dan juga kebencian pada Ben yang pelan2 jadi Cinta :top:
     
  8. nanamiang Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Sep 8, 2010
    Messages:
    234
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +21 / -0
    Hmm, iya juga ya...
    Kayaknya ini dia kelemahanku, tidak bisa mengembangkan cerita...
    :malu:
     
  9. pippo09 Veteran

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 1, 2010
    Messages:
    1,237
    Trophy Points:
    266
    Ratings:
    +9,747 / -0
    kaget tiba2 si evy bisa suka sama Ben. :keringat:

    bagus :top:

    cuman kurang nendang aja penggambaran perasaan Evy *IMO :peace:

    udah rapih tapi enter plis :tolong:

    Salam nulis. :onfire:
     
  10. murasaki M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    May 17, 2009
    Messages:
    2,138
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +12,632 / -0
    - terlalu banyak character baru, tapi kurang penjelasan tentang character tersebut
    kesan nya jadi ky orang numpang lewat doank
    mending kasi sedikit keterangan, misal ny Linda itu siapa ny tokoh utama

    - alur perasaan dari tokoh utama nya kurang jelas
    tau2 bisa suka sama ben, padahal baru seharusnya dia masih patah hati gara2 di tolak

    - jarak tulisan ny d enter
    ngga biasa baca novel dari komputer, saya suka pusing klo liad tulisan yang nyambung terus

    -maap klo komentar ny dirasa terlalu keras-
    baru pertama x kasi komentar :peace:
     
  11. nanamiang Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Sep 8, 2010
    Messages:
    234
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +21 / -0
    Hmmm... makasih ya buat kritiknya... kalo misalnya ceritanya ini ku edit, gimana gantinya ya??
     
  12. LostOfHeroes Members

    Offline

    Joined:
    Nov 4, 2010
    Messages:
    3
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +0 / -0
    Tapi ceritanya udah bagus kok...
    Wlaupun agak susah bacanya karena jarak tulisannya gak di enter....
     
  13. Jars27 M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Oct 16, 2010
    Messages:
    437
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +21 / -0
    Nice Story :top:

    kalau bisa bikin cerita lain.....

    saya ngasih usul nih, gimana kalo lokasinya bukan di sekolah...

    tapi diperumahan....
    dan salah satu karakternya adalah hantu :unyil: (kebanyakan baca manga sih)
    tapi kayaknya jadi sad ending deh :tampan:
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  14. nanamiang Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Sep 8, 2010
    Messages:
    234
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +21 / -0
    Hahaha.... cerita hantu... gak ada ide ke situ.
    Sebenarnya lagi ada ide mau bikin cerita baru, cuma lagi tahap penulisan.
    Karena kerjaan saya bukan penulis, jadinya gak bisa full menulis saja... Jadinya menulis satu cerita saja lama sekali...
    Mungkin boleh juga kubuat cerita yang berakhir sedih
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.