1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Cerpen Cita-cita ku

Discussion in 'Fiction' started by Tamabersama, Jul 9, 2014.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Tamabersama M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Nov 27, 2012
    Messages:
    222
    Trophy Points:
    152
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +5,132 / -0
    Cita Cita-Ku

    Cita-Cita ku adalah seorang dokter. Tidak, dokter bukan cita cita ku, melainkan cita-cita ibuku yang diturunkan kepadaku.Akantetapi, dibenak hatiku yang lain, aku kepingin menjadi seorang Dokter, dan dibenak hatiku yang lain juga, aku tidak mau jadi seorang dokter. Aku seorang anak kelas 3 SMA, biasanya "My classmate" memanggilku Rendi. Jam tangan ku menunjukan pukul 16.00, teman teman ku sudah menunggu di depan rumah untuk pergi ke sebuah kampus dimana aku akan mengikuti sebuah olimpiade komputer. Mungkin aku pikir, tidak ada salahnya pergi tanpa pamit terlebih dahulu karena melihat ibuku sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya. Usai 3 jam kemudian, ternyata aku cuma mendapatkan sebuah sertifikate yang berisikan nama saya dan ucapan "Terima Kasih atas Partisipasinya sebagai peserta" Didalam lubuk hatiku diluar, betapa sedihnya meratapi kekalahan yang telah diperjuangkan selama 3 tahun ini, didalam lubuk hatiku yang paling dalam aku berkata "Ah, bodoh amat, ini tidak sepenting apa yang aku harapkan, tidak apalah aku kalah ditahun terakhirku ini" Pikiran itu terus menghantuiku sepanjang hari sampai dirumah. Ketika dirumah, aku disambut dengan muka ibuku yang guram melihat wajahku, sambil aku menyembunyikan sertifikat di belakang pundakku.

    "(melihat jam tangan) Lihat jam berapa ini ? waktu magrib sudah tiba, tapi kamu masih saja kelayapan"
    "Itu tadi.......pergi ke kampus depan sekolah, olimpiade"
    "Olimpiade ? sudah ibu bilang sertifikat tidak akan membatumu untuk masuk kedokteran, yang lebih penting itu adalah nilai rapot mu, bawa sini kertas yang kamu sembunyikan, biar ibu yang simpan"

    Senang sedih kini bercampur jadi satu membuat rasanya menjadi asam. Cita cita ku bukanlah seorang dokter, melainkan seorang programer. Cita cita itu bakal bisa sukses bila didukung 100% oleh kedua orang tua. Oleh sebab itu, kini aku menghapus semua cita cita ku yang berkaitkan dengan komputer dari hidup ku, dan kini muncul cita citaku yang lain yaitu seorang guru matematika. Pagi siang malam tiada hari tanpa Matematika. Aku mengikuti bimbel Matematika disekolah sampai jam 4 sore, dan disanalah muncul rasa "Cinta Lokasiku untuk pertama kali" dan untuk pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta kepada seorang wanita yang duduk di paling belakang pojok. Secara tidak sengaja dia juga bertatap tatapan dengan malunya ke wajah ku bagai putri malu yang disentuh begitupula dengan sebaliknya dengan diriku. Aku belum berani mengatakan cinta pertamaku, karena aku masih memikirkan orang tua dan masadepan ku.

    3 bulan kemudian, aku ketahuan oleh ibuku, kalau aku mendapatkan diri ke jalur SNMPTN di jurusan Matematika disalah satu universitas dipulau seberang. Begitu malunya diriku dimarah didepan orang banyak oleh ibuku sendiri di depan sekolah terutama didepan seorang wanita yang aku cintai. Air mata yang tidak bisa kutahan akhirnya menetes juga. Akhirnya ibuku mencabut jurusan apa yang aku pilih dan mendaftarkan aku lewat jalur mandiri di jurusan kedokteran. Aku sudah memberitahu ibuku, kalau jurusan yang sudah dicabut tidak bisa didaftarkan lagi, tapi ibuku tetap memberiku "Kacang mahal".

    Setelah usai Ujian Nasional, beberapa minggu kemudian, aku mengikuti tes jalur mandiri dengan harapan lulus. Akan tetapi tuhan berkata lain, aku dinyatakan tidak lulus, aku pun kecewa begitu pula dengan kecewanya yang dialami ibu ku. Air mataku akhirnya keluar lagi. Entah apa yang aku pikirkan aku menyesal atau sedih. Putus asa, itulah yang aku rasakan saat kini. Jurusan pertama dicabut dan yang kedua kini gagal, aku kebingungan mencari pertolongan dimana lagi untuk mendapatkan kuliah. Akhirnya aku merantau ke pulau seberang untuk pergi kerumah pamanku. Pamanku adalah seorang manager di sebuah perusahan besar dan seorang penulis buku. Akhirnya aku di masukan ke jurusan Hukum. Ada rasa senang, ada rasa pahitnya juga menerima jurusan itu. Didalam pikiran ku, aku berpikir percuma belajar matematika dan komputer kalau ujung ujungnya masuk hukum. Tapi itu tidak membikin aku "Depresi" dengan semuanya itu. Setelah hampir lulus, pamanku melihat IP ku meningkat terus. Ajaib bin ajaib aku di tawarkan menjadi wakil ketua di perusahaan besar milik pamanku.

    Dan kini rasa senang tercampur dengan bahagia. Akhirnya kini aku bekerja sebagai bawahan pamanku dan ketika aku sedang memimpin rapat menggantikan posisi pamanku yang tidak ada, Aku dipertemukan kembali dengan cinta pertamaku di depan ruanganku. Akhirnya Aku dan dia Happy Ending. Dan kini aku menikahi dengan seorang wanita yang aku cintai yang aku telah aku tinggali selama 3 tahun. Aku tidak menyesalkan apa yang telah berlalu, tapi aku yakin cita cita yang aku punya itu dapat diwariskan oleh keturunanku kelak, Nanti...

    Jika suka, minta ijonya dong :peace:
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.