1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic Chaos of Reality

Discussion in 'Fiction' started by litinium, Mar 9, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. litinium M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Dec 2, 2008
    Messages:
    495
    Trophy Points:
    156
    Ratings:
    +1,156 / -0
    Chaos of Reality


    Genre: Fantasi

    Namaku Jack. Aku adalah seorang pembantu di sebuah rumah besar yang di sebut mansion. Kata pembantu di sini bukan berarti pembantu rumah tangga, karena aku dipekerjakan oleh seorang security bernama Frans yang bekerja di rumah itu. Jadi aku ini adalah pembantunya pembantu.

    Mansion dikelilingi oleh taman yang juga dikelilingi oleh pagar untuk membatasi antara daerah rumah dengan hutan yang berada di luar pagar. Jadi mansion dikelilingi oleh hutan yang sebenarnya juga merupakan tanah milik pemilik mansion. Jangan tanya kenapa mansion didirikan di tengah hutan, karena aku sendiri juga tidak tahu mengapa pemiliknya membuatnya di tengah hutan. Sepertinya pemilik mansion tidak ingin kehidupannya diganggu oleh dunia luar dan aku belum pernah bertemu dengannya. Rumah ini memang terlalu besar. Bahkan kau bisa tersesat bila tidak tahu denah rumah ini (aku sendiri ragu kalau ada yang bisa menghapal denah rumah ini).

    Orang yang tinggal di rumah ini 'setahuku' berjumlah 7 orang terdiri dari pekerja 4 orang, lalu seorang pemilik rumah, sedangkan dua orang lagi sepertinya saudara dari pemilik rumah. Walaupun begitu, sangat jarang para penghuni rumah bertemu secara kebetulan karena rumahnya yang terlalu besar. Dari 7 orang itu 5 orang aku kenal dan tahu namanya, 1 orang hanya tahu namanya saja, dan 1 orang yang ku tidak tahu sama sekali.

    Segala sesuatu yang berhubungan dengan mansion selalu aneh. Misalnya pemilik dari mansion. Menurut Frans, pemilik dari mansion adalah seorang anak perempuan bernama Vi yang selain dari namanya tidak pernah diketahui info lain lagi tentang dia. Menurut tukang kebun mansion, tidak ada yang pernah bertemu langsung dengan Vi kecuali Frans. Sepertinya Frans adalah orang pertama yang dipekerjakan di rumah ini.

    Selain pemilik mansion, penghuni mansion juga misterius. Misalnya Sena yang sepertinya saudara dari pemilik mansion. Dia adalah seorang siswi Sekolah Menengah Atas yang setiap pagi berangkat ke sekolah --dengan seragam sweater kuning di atas kemeja putih, pita merah, dan rok mini merah hitam bermotif kotak-kotak-- dan bertemu denganku yang sedang membantu tukang kebun mansion di taman. Aku selalu menyapanya setiap bertemu. Setiap berangkat dia selalu membawa bungkusan hitam panjang yang kupikir adalah sebuah pedang bambu untuk berlatih kendo (olahraga beladiri Jepang yang menggunakan pedang bambu sebagai senjata), sebelum akhirnya aku melihat dia membukanya ketika aku sedang membantu Frans memasang CCTV di taman. Aku tidak sengaja melihatnya ketika itu. Dia sedang berdiri di sebuah kamar di lantai 3 yang mungkin adalah kamarnya. Sebuah katana (pedang yang sering digunakan para samurai) terlihat dari bungkusnya. Lalu dia terlihat meletakkannya di depannya, mungkin ada meja di depannya. Aku, yang ketika itu masih kaget dengan apa yang kulihat, terus memperhatikan gerakannya. Setelah beberapa saat, dia terlihat puas, kemudian dia mengangkat katananya sedangkan tangan yang satunya memegang kain yang penuh dengan noda berwarna merah yang tidak salah lagi adalah darah. Pada saat itu dia sepertinya menyadari kalau ada orang yang melihatnya, karena tiba-tiba di menengok ke arahku. Kami saling bertatapan entah berapa lama. Tatapannya seakan melarangku untuk mengalihkan pandangan, seakan pandangannya memperingatiku kalau aku bergerak dia akan membunuhku, tapi akhirnya dia tersenyum ke arahku dengan senyum yang aku tidak tahu apa maksudnya. Untung saja ketika itu Frans memanggilku sehingga aku seakan kembali ke dunia nyata. Sejak saat itu setiap pagi aku selalu menyelesaikan tugasku di taman dengan cepat agar tidak bertemu dengannya.

    Saudara dari pemilik mansion yang satu lagi juga aneh. Karena tidak ada satupun yang pernah bertemu dengannya.

    Para pekerja di sini pun memiliki misteri masing-masing. Misalnya Frans yang mau bekerja di sini menjadi sekuriti, padahal menurut Sena (sebelum aku melihat dia dengan pedangnya) sebelum dia bekerja di sini dia adalah seorang mantan tentara yang memiliki banyak bintang tanda jasa yang bekerja menjadi guru beladiri di militer dan merupakan anggota Badan Intelijen Negara. Lalu ada juga tukang kebun mansion, Lin, yang memiliki peliharaan yang tidak wajar. Kemudian pembantu rumah tangga merangkap koki, Ren, yang jarang berbicara, dan selalu bisa menjaga kebersihan rumah ini walaupun dia hanya bekerja sendiri. Terakhir adalah aku sendiri. Walaupun dari tadi aku memperkenalkan bahwa orang-orang di rumah ini aneh, sebenarnya aku sendiri juga aneh, karena sejak pindah ke rumah ini entah mengapa ketika tidur mimpiku menjadi sangat panjang...

    Chapter 1 - Ruang Setelah Kegelapan
    Chapter 2 - Gin dan Mary
    Chapter 3 - Falling Stars

    Kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan semata!
     
    • Like Like x 3
    • Thanks Thanks x 2
    Last edited: Jul 24, 2011
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. bima1001 M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Mar 16, 2010
    Messages:
    496
    Trophy Points:
    91
    Ratings:
    +662 / -0
    Nice Story :top:
     
  4. flacier Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Nov 2, 2009
    Messages:
    183
    Trophy Points:
    26
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +68 / -0
    Wah ceritanya bagus kk :top:

    Kalo boleh nanya n ngasih sedikit kritik juga saran, ad bbrapa hal yg bkin bingung saya.
    1.Rumah yang besar sampai membuat orang nyasar klo g punya denah itu cuma punya 4 orang pekerja
    Apa nggak terlalu sedikit ya? Meskipun di akhir salah satu karakternya Ren bisa menjaga kebersihan rumah dengan baik.
    Tapi malah jadi cuma 1 orang yg merawat (dalam karena luar ad tukang kebun), berarti dia superhuman...

    2.Tema masa depannya kalau dilihat dari setting kk menceritakannya terasa kurang.
    Yang ada dalam imajinasi saya adalah jaman sekarang atau 1800an dlu, dmn banyak rumah besar dan berada di tengah hutan.

    Udah itu aja saran dan kritik dari saya.
    Mohon maaf kalo ternyata saya sok tahu asumsiin cerita kk aja, tapi cuma mau ngasih opini saya terhadap cerita kk :maaf:
    Trakhir, nggak ada yang tau apa yang ada di dalam kepala seorang penulis kecuali penulis itu sendiri :peace:
    Btw, ceritanya bersambung g nh? Seru soalnya berbau misteri begini :top:
     
  5. spinx04 Veteran

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Nov 22, 2009
    Messages:
    1,674
    Trophy Points:
    217
    Ratings:
    +2,537 / -0
    huoohh...baru baca awal2 udah bikin penasaran nih..:kaget:
    n belum apa2 udah tegang..:keringat:..(seram juga ngebayangin dipandangin sama cewek pegang katana berlumur darah..:keringat:)

    btw saran2 kk flacier IMO masuk akal juga kk, soalnya kan ga mungkin ngundang pekerja2 tidak tetap dari luar (soalnya di tengah hutan gitu n sepertinya privasi tinggi)

    tapi aq masih sulit membayangkan dunia masa depan dengan banyak pepohonan, terlebih hutan..:???: atau mungkin ada suatu tragedi sebelum mencapai kondisi ini :blink:

    n satu lagi...advance technology..pliss show us :sembah:
     
  6. deJeer Administrator
    Head Admin

    Offline

    Watching You

    Joined:
    Sep 7, 2009
    Messages:
    16,621
    Trophy Points:
    292
    Ratings:
    +31,569 / -3
    @flacier&spinx04 : FYI
    yang namanya cerita dengan genre fantasy itu entah masuk akal atau tidak, sah" aja...
    fantasy emang lebih mengarah ke khayalan tanpa batas....dan biasanya diisi dengan segala macam ketidakmasukakalan seperti hal" yg berbau magic atau mistis
    setting pun juga terserah...

    di bawah genre ini ada yg namanya surrealism
    yg di mana setting tempat dan waktu bukanlah hal yang penting lagi,
    so...bisa bayangin aja tentang genre fantasy...

    :siul:
     
  7. spinx04 Veteran

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Nov 22, 2009
    Messages:
    1,674
    Trophy Points:
    217
    Ratings:
    +2,537 / -0
    ^deJeer
    :kaget: ehh...gitu ya?
    tapi setelah dipikir pikir lagi benar juga ya? :keringat:
    kenapa harus pening2 sama urusan logis di dunia fantasi...:hehe:

    "unlimited world of fantasy"....:matabelo:
    yak, kk litinium, obati rasa penasaran kami :minta:
    (saran aq abaikan aja :haha:)
     
  8. litinium M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Dec 2, 2008
    Messages:
    495
    Trophy Points:
    156
    Ratings:
    +1,156 / -0
    wah dibilang bagus :kaget:

    saya mw terbang dulu :angel:

    1. nanti juga tahu kenapa pembantunya sedikit :hihi:
    2. ini juga nanti diceritain kok kenapa walau di masa depan tapi settingnya kaya di masa lalu :hehe:
    pembantu yang di pekerjakan di rumah itu ya jadinya tinggal di rumah itu kakak :haha: model asrama gitu deh :hihi:

    tentang knp masa depannya ga modern nanti dijelasin kok :hihi:

    advance technology, kayanya susah :panda: imajinasi saya ga sehebat itu :madesu:
    hail fantasy :sembah:
    udah ada si ampe chapter 2 :haha: cuma lupa gw tarok mana ketikan gw :swt: maklum ni cerita ud lama bgt gw bikinnya :keringat:

    ===============

    btw thanks atas pujian, kritik dan sarannya :xiexie:

    masih lanjut kok :top:
     
  9. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    ehmm wa dah baca pembukaannya...

    sudut pandang seorang pembantu...
    dari awal yang wa baca, wa ngerasain dibawa kesuatu suasana misteri mengenai mansion dan pemilik rumahnya. ini cerita dengan genre misteri horor?
    penggambaran suasana dah bagus, plot nya ok, (cuma masih tanda tanya ? ini ada adegan gore nya gak :nikmat:)

    nunggu chapter 1 nya.. pengen liat cerita selanjutnya gimana.
     
  10. litinium M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Dec 2, 2008
    Messages:
    495
    Trophy Points:
    156
    Ratings:
    +1,156 / -0
    kayanya ga ada misteri horrornya :maaf:

    sejauh yang saya ketik si ga ada gorenya :lol: tapi ga tau deh kalo nanti perkembangan ceritanya beralih ke arah gore :hehe:
     
  11. Lyco Veteran

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Nov 3, 2008
    Messages:
    8,650
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +9,738 / -0
    wah pernama baca dah ketawa, lucu juga bagian ini

    :lol:
    kyknya jabatannya begitu rendah sampai yang punya jabatan curhat

    kyknya menarik, misterinya banyak dari awal chapter
    :hehe:
     
  12. Senruika Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Jun 27, 2010
    Messages:
    26
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +34 / -0
    yang punya rumah cewek, dan nge hire pekerja cowok semua itu gak takut apa @_@
     
  13. litinium M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Dec 2, 2008
    Messages:
    495
    Trophy Points:
    156
    Ratings:
    +1,156 / -0
    "Huahmm...~" Sambil meregangkan badanku yang terasa pegal, aku menguap.

    Aku merasa sangat mengantuk sekali...

    Ku menengok ke sebelah kiriku. Jarum jam di dinding sudah menunjuk ke arah angka 11. Padahal shiftku masih kurang 1 jam lagi, tapi aku sudah sangat mengantuk.

    Satu-satunya pintu masuk keruangan ini kemudian terbuka. Seorang laki-laki tua yang semua rambutnya sudah beruban masuk ke dalam ruangan. Laki-laki tersebut adalah Frans, orang yang merekrutku untuk bekerja di Mansion. Dia berumur 55 tahun. Walaupun sudah tua dia justru terlihat lebih sehat dari anak muda, atau lebih tepatnya lebih sehat daripada orang biasa, dan aku tidak melebih-lebihkannya karena dia adalah sekuriti Mansion yang mampu bertahan untuk duduk di ruang jaga ini untuk mengamati monitor-monitor pengawas selama lebih dari 3/4 hari, sudah begitu dia tetap terlihat segar ketika aku menggantikan shiftnya, entah bagaimana caranya dia memiliki stamina yang sangat luar biasa itu.

    "Jack, kau tidur saja duluan" Ujar Frans yang sedang merapihkan satu-satunya meja di ruangan ini. Meja tersebut penuh dengan berbagai macam barang, terutama makanan.

    "Iya aku akan tidur... tapi giliranku berjaga kan sampai jam 12 malam.." Jawabku dengan malas.

    "Sudah kau tidur saja. Kalau orang mengantuk sepertimu disuruh berjaga, maling masuk tidak akan ketahuan."

    "Ya sudah kalau begitu aku tidur dulu. Terima kasih ya Frans."

    "Hmm" Jawab Frans.

    Aku kemudian keluar dari ruang jaga menuju koridor sepi yang hanya disinari oleh sinar bulan. Kamarku berada di dekat pintu utama. Pintu utama berada di tengah pada bagian depan atau barat Mansion. Sedangkan ruang jaga ini berada di pojok depan bagian kanan atau utara Mansion. Untuk sekedar informasi, Mansion lebih luas dari lapangan bola, dan mungkin juga lebih luas dari stadion? Entahlah aku belum pernah mengukurnya, dan aku tidak memiliki waktu luang untuk mengukurnya. Mansion di malam hari sangatlah sepi, sangat sepi sehingga setiap melangkah, suara langkah kakiku terdengar jelas walaupun aku berusaha melangkah dengan tenang. Belum lagi aura dari bangunan tua ini yang membuat suasana menjadi semakin membuatku merinding. Pokoknya intinya aku hanya ingin mengatakan kalau setiap malam aku harus berjalan jauh di suasana yang mengerikan ini hanya untuk tidur dengan nyaman di kamarku. Rasanya ingin lari saja, tapi nanti dikira maling...

    Sesampainya di kamar aku langsung berbaring di tempat tidur tanpa melepas kacamata. Tapi seperti biasa, entah kenapa, walaupun aku mengantuk, ketika sudah berbaring di tempat tidur mataku tidak bisa langsung tertutup, untuk mengatasinya aku kemudian mengambil sebuah novel dari meja di samping tempat tidurku dan mulai membacanya agar mataku lelah.

    Novel yang kubaca menceritakan tentang seorang ksatria yang berkelana untuk mencari darah naga, yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit, untuk temannya yang sedang sakit keras. Cerita yang cukup sederhana tapi menarik untuk dibaca.

    Aku terus membaca berusaha melelahkan mataku.

    Satu menit kemudian aku masih membaca.

    Sepuluh menit kemudian aku masih membaca.

    Aku terus membaca ditemani suara detik dari jam dinding.

    tik... tik... tik...

    Aku sudah tidak tahu lagi berapa lama aku membaca.

    tik... tik... tik...

    ...

    ...

    ...

    Mendadak malam tersebut terasa sangat sunyi...

    ...

    ...

    Eh? Kenapa tidak ada suara detik dari jam dinding?

    Aku kemudian meletakkan novelku, duduk di pinggir tempat tidur, lalu melihat ke arah jam dinding. Tapi jam dinding tersebut terlihat buram.

    Aku melepas kacamataku dan membersihkan lensanya dengan bajuku. Lalu aku mengenakannya lagi dan melihat kembali ke arah jam dinding. Sekarang malah jam dinding tersebut tidak terlihat. Jangan-jangan aku sudah mengantuk sekali hingga penglihatanku tidak fokus.

    Tanpa pikir panjang aku kembali merebahkan tubuhku di tempat tidur.

    Tapi ketika tubuhku menyentuh tempat tidur, yang kurasakan bukanlah empuknya tempat tidurku, aku justru merasa seakan tidur di atas es. Aku kemudian duduk kembali di pinggir tempat tidur. Tetapi ketika aku akan duduk di pinggir tempat tidur aku baru menyadari kalau aku tidak di atas tempat tidurku, atau mungkin lebih tepatnya aku tidak bisa menemukan tempat tidurku. Aku kemudian berdiri dan melihat ke tempat ku berbaring barusan. Di tempat yang seharusnya merupakan tempat tidurku, kini tidak ada apapun di situ.

    Aku melihat ke kiri-kanan mencari tempat tidurku. Tapi tidak ada apapun di sekitarku. Bahkan kamarku pun tidak ada.

    Ini benar-benar mimpi buruk. Kemana hilangnya kamarku.

    Di sekitarku hanya ada kegelapan yang hampa, dingin, mencekam, dan tanpa ujung.

    Aku yang panik mulai melihat kemana-mana mencari pintu keluar dari kegelapan yang mengelilingiku.

    Usahaku sia-sia karena tidak ada pintu keluar. Tapi aku melihat sebuah titik cahaya di depanku dan titik tersebut tampak sangat jauh sekali.

    "Tidak masalah. Yang penting aku harus berusaha keluar dari tempat ini." Aku mengatakannya berusaha meyakinkan diriku sendiri.

    Aku kemudian mengangkat kakiku, berjalan untuk mengakhiri mimpi buruk ini, menuju setitik cahaya yang berada di depanku.

    Tap...

    Di kegelapan ini terdengar jelas suara langkahku menapak dan tiba-tiba aku sudah keluar dari ruang gelap tersebut.

    "Eh?!"

    Kaget dengan perubahan suasana yang tiba-tiba, aku melihat ke sekelilingku. Aku sudah tidak di dalam kegelapan lagi. Aku berada di sebuah ruangan gelap, berbeda dengan kegelapan yang sebelumnya, karena walaupun gelap di ruangan ini tidak terasa hampa. Kulihat disekelilingku terdapat beberapa perabotan rumah tangga yang terlihat sudah kusam, ada perabotan dapur, meja makan, perapian, dan sebuah tempat tidur yang di atasnya ada seorang laki-laki berambut panjang sedang tidur. Sepertinya ruangan ini adalah satu-satunya ruangan dari sebuah rumah orang miskin, dan sepertinya laki-laki yang sedang tidur ini adalah pemilik rumah ini, penampilannya cocok dengan kusamnya perabotan di sini. Sekarang masalahnya adalah dimana ini? dan kemana perginya kegelapan yang barusan, dan juga kamarku?

    Krieeet...

    Tiba-tiba terdengar bunyi dari pintu satu-satunya yang berada di ruangan ini. Seorang wanita berambut merah masuk melalui pintu tersebut. Dia melihatku tanpa ekspresi. Sejenak aku dan wanita itu terdiam di tempat kami berdiri masing-masing yang jaraknya kurang dari 5 meter, tanpa berkata apapun, hanya saling menatap. Apa yang harus kulakukan sekarang?

    Di lain pihak wanita tersebut sepertinya juga sedang memutar otak berpikir apa yang harus dia lakukan.

    Entah mengapa tiba-tiba wajah wanita tersebut memerah, terlihat malu, aku tidak tahu karena apa, lalu dengan paniknya dia berkata.

    "Ah! Anu... Maaf! Maaf kalau aku mengganggu!"

    Setelah mengucapkan kata-kata yang tidak kumengerti maksudnya, dia berlari masuk, aku baru sadar kalau dia membawa sayuran dan bahan masakan, dan meletakkan bahan masakan tersebut di atas meja, lalu dia berlari lagi keluar tanpa melihat ke arahku.

    Hah?

    "Hei! Tunggu!" aku berteriak dengan refleks dan berusaha menahannya, tetapi tanganku tidak sampai dan wanita tersebut berlari keluar sambil menutup pintu dengan cepat sehingga terdengar suara pintu reyot ditutup yang sangat keras.

    "Huaahmmm... Ada apa sih berisik-berisik?"

    Laki-laki yang tidur, di tempat tidur yang berada di pojok ruangan, di belakangku, terbangun dan melihat ke arahku.

    "..."

    "...Hai?"

    Setelah beberapa saat, yang sepertinya dia baru sadar kalau aku adalah orang asing yang masuk ke dalam rumahnya tanpa izin dan berdiri dengan pose seperti sedang berusaha kabur, mendadak ekspresi ngantuknya berubah menjadi kaget dan dia berteriak.

    "MALIIIIIIIIIING!!!"

    Sial. Aku harus cepat keluar dari rumah ini sebelum dipukuli massa.

    Aku kemudian buru-buru berlari ke arah pintu untuk kabur.

    Tapi tiba-tiba...

    Bruakkk!

    Pintu keluar yang ada di depan mataku tiba-tiba terbuka dan menghantam wajahku dengan keras, sangat keras dan menyakitkan, hingga dunia di sekitarku dipenuhi dengan bintang.
     
  14. litinium M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Dec 2, 2008
    Messages:
    495
    Trophy Points:
    156
    Ratings:
    +1,156 / -0
    Tercium aroma masakan yang sangat lezat.

    Benar-benar wangi.

    Kemudian aku membuka mataku.

    "Hey Mary! Lihat! Sepertinya pasanganku sudah terbangun! WAHAHA!"

    Aku berbaring di kasur yang berada di pojok ruangan, dan di depanku, laki-laki berambut panjang yang tadi tidur di kasur ini, sedang duduk di meja makan dan melihat ke arahku sambil tertawa terbahak-bahak.

    Sedangkan wanita berambut merah yang tadi membawa bahan makanan sedang memasak di perapian sehingga mukanya yang merah bertambah merah.

    "Hey kawan! Mau apa kau masuk ke rumahku!" Tanya laki-laki bertampang kusam dengan lantang. Walaupun nadanya terdengar kasar, dia terus tersenyum dengan lebar. Benar-benar orang yang aneh.

    "Ngh... Maaf, ini dimana?" Aku berbalik bertanya kepadanya sambil memegang wajahku yang masih sakit karena terbentur pintu.

    "Hah? Hey Mary! Kau membuat orang amnesia!"

    "Eh?!" Wanita berambut merah yang dipanggil Mary oleh laki-laki tersebut sontak kaget dan berlari ke arahku dengan wajah panik dan khawatir. "Apa yang harus kulakukan?!"

    "Mungkin kau harus menghantam wajahnya lagi dengan pintu. Atau mungkin dia akan lebih kaget dengan dugaanmu yang mengira dia sedang berbuat ***** denganku barusan. WAHAHAHA!"

    "Hei! Aku serius Gin."

    "Hei kawan! Apa benar kau tidak tahu dimana ini! Coba kau lihat ke luar lewat jendela. Barangkali kau ingat sesuatu."

    Jendela? Kupikir tidak ada jendela di ruangan ini. Aku kemudian melihat ke sekeliling ruangan dan ternyata di sebelah pintu yang menghantam wajahku ada sebuah jendela. Sepertinya tadi jendelanya tertutup oleh pakaian yang sedang digantung... atau mungkin itu maksudnya gorden?

    Aku kemudian berjalan ke jendela dan melihat keluar. Terlihat di luar matahari bersinar dengan teriknya. Sepertinya aku pingsan cukup lama. Kemudian kusipitkan mataku agar bisa melihat ke luar dengan lebih jelas.

    Di luar banyak sekali orang yang sedang berjalan. Dari pemandangan yang ada dihadapanku aku sudah tahu pasti kalau ini bukannlah tempat yang kukenal.

    Di depan rumah ini terlihat rumah lain yang gaya bangunannya kuno, dan sepertinya model rumah ini juga sama karena rumah-rumah lain yang ada di lingkungan sekitar memiliki gaya bangunan yang sama. Aku hanya bisa menghela napas mengetahui kalau aku berada di tempat yang aku tidak ketahui lokasinya. Mungkinkah ini mimpi? atau aku terlempar ke masa lalu? Hahaha, tidak mungkin...

    "Bagaimana kawan! Kau sudah ingat dimana rumahmu? wahaha"

    "aku tidak tahu. sebenarnya sekarang ini tahun berapa? dan tadi aku tertidur berapa lama?"

    "hmm! kau masih tidak tahu juga. dan sekarang kau bertanya tahun berapa? sekarang tahun 38 McGregor Sorwenia! Dan kau sudah pingsan selama bertahun-tahun!"

    "Bertahun-tahun!? aku tidur selama itu? lalu apa maksudnya dengan tahun 38 McGregor Orwenia..."

    "Sorwenia kawan!Sorwenia! Bukan Orwenia!"

    "Ah iya itu maksudku. Sepertinya aku jadi orang asing di sini, benar-benar asing, jadi aku tidak tahu apapun tentang daerah ini"

    "Orang asing malang sekali nasibmu, sepertinya perubahan di tempat ini selama bertahun-tahun telah membuatmu tidak mengenali daerah ini lagi."

    "Eh?! Apa maksudmu? Jadi maksudmu Mansion, eh, rumah besar, yang dikelilingi hutan sudah tidak ada?"

    "Betul kawan! Rumah tersebut sudah dihancurkan! Dan semua penghuninya di siksa di depan umum tanpa pakaian! Mereka semua deperko..."

    Brakkk!

    Mary meletakkan panci di meja makan dengan keras.

    "Hei Hei! Jangan keras-keras meletakkannya! Bisa-bisa meja ini ambruk lagi Mary!"

    "Makanan sudah siap, dan kuharap kau, Gin, menghentikan bualanmu kepada orang asing ini dan minta maaf."

    "Ah... Kau memotong bualanku ketika sedang klimaksnya. Lagipula kenapa aku yang harus minta maaf! Kan dia yang masuk rumahku tanpa izin!"

    Mary membuka tutup panci yang dia letakkan di meja makan. Lalu dia melirik ke arah laki-laki yang dipanggil, Gin, dan melihatnya dengan licik sambil berkata,

    "Jadi Gin... Kau sepertinya tidak mau masakanku."

    Kata-kata Mary benar-benar ampuh, karena mendadak Gin langsung meminta maaf kepadaku atas kebohongannya tentang aku yang pingsan selama bertahun-tahun dan mansion yang di hancurkan. Lagipula kalu dipikir-pikir bualan Gin itu jelas-jelas tidak benar. Sepertinya otakku jadi agak kacau akibat perubahan lingkungan yang mendadak ini. Entah apa yang harus kulakukan setelah ini, apa aku bisa kembali ke Mansion? Tapi dimana Mansion sekarang?

    "Hei. Perkenalkan namaku Mary, dan laki-laki ini Gin" Suara Mary menginterupsi pikiranku yang sedang kacau. Sambil menyiapkan makanan di meja makan.

    "Hai!" saut Gin.

    "Namaku Jack... eh... Maaf tapi aku kan sudah masuk ke rumah kalian tanpa izin, apa tidak sebaiknya kalian menangkapku daripada berkenalan seperti ini?"

    Seketika setelah aku mengucapkan kalimat tersebut wajah Mary kembali memerah sedangkan Gin terlihat kaget.

    "'rumah kalian'? WAHAHAHA!!! Jadi kau mengira aku suaminya?"

    Wajah Mary semakin memerah dan dia hanya menunduk diam.

    "Aku bukan suaminya. Dia adalah temanku yang membantuku di rumah, dan ini adalah rumahku. Dan untuk pertanyaan mu. Aku tidak akan menangkapmu karena aku tahu tidak mungkin ada maling yang mau masuk ke rumah ini. Karena tidak ada barang yang cukup berharga untuk dicuri."

    Betul juga sih. Kalau dilihat-lihat tidak ada yang berharga di rumah ini. Pemiliknya saja kusam begini.

    "Sudah nanti saja ngobrolnya. Makanannya sudah siap. Sekarang lebih baik kita makan dulu. Kau juga Jack, mari kita makan bersama."

    "Boleh?"

    "Tentu saja."

    "Tapi kalian kan belum tahu mengapa aku masuk ke rumah ini?"

    "Iya betul! Kenapa kau baik padanya Mary. Dia kan sudah masuk tanpa izin."

    "Sudahlah pokoknya kita makan saja dulu" kata Mary sambil tersenyum. Entah kenapa bagiku senyum tersebut terlihat sendu.

    Dengan perkataan Mary dimulailah makan siang.

    "Selamat makan!" dengan cepatnya Gin menyikat makanan yang ada dihadapannya.

    "Tapi.. aku.."

    "Kalau kau tidak mau aku akan menghabiskan bagianmu!"

    "Kau tidak perlu sungkan."

    Walaupun Mary berkata seperti itu tetap saja aku merasa tidak enak.

    Kruuk..

    Apa boleh buat. Lagipula mereka juga tidak peduli.

    ***

    "ah~ enaknya~"

    Setelah makan Gin duduk di tempat tidurnya sambil bersender pada tembok, sedangkan Mary langsung membawa peralatan makan dan masak sambil berkata pada kami.

    "Aku akan mencuci ini dulu"

    Setelah Mary keluar, Gin, yang duduk di tempat tidurnya, mulai bertanya padaku tentang mengapa aku masuk tanpa izin ke dalam rumah ini.

    "Jadi anak muda... Kenapa kau masuk tanpa izin ke dalam rumahku." kalimat tersebut tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan, seakan-akan dia sedang bergumam dengan dirinya sendiri.

    "Ah... itu... karena terjadi sesuatu hal aku jadi masuk ke dalam rumah ini, tapi itu hanya kebetulan semata dan tidak ada maksud tertentu"

    Aku menambahkannya dengan cepat sebelum Gin sempat bertanya tentang "sesuatu" yang menjadi penyebab aku masuk ke dalam rumah ini. Paling tidak itulah yang terbaik yang dapat kukatakan daripada berbohong ataupun berkata jujur. Karena sebisa mungkin aku tidak ingin berbohong kepada orang yang telah berbaik hati tidak menangkapku dan memberikan makan di rumahnya walaupun aku sudah masuk tanpa izin dan aku juga tidak mau berkata jujur mengenai apa yang telah terjadi padaku, karena kejadian yang terjadi padaku bukanlah kejadian yang bisa dijelaskan dengan akal sehat, jadi aku tidak mau mengatakannya. Daripada dibilang tidak waras.

    "Oh jadi kau masuk ke rumahku hanya kebetulan saja. Tapi pasti ada alasannya mengapa kau memilih rumahku daripada rumah orang lain kan."

    Aku sudah memikirkan alasannya, jadi aku langsung menjawabnya.

    "Itu karena aku merasa ada yang berbeda dari rumah ini daripada rumah-rumah yang lain."

    "Jadi kau masuk ke dalam rumah ini hanya untuk menghina rumahku!"

    Mendadak Gin yang mendengar jawabanku menjadi marah.

    "Ah! Tidak! Maksudku bukan begitu. Yang kumaksud adalah rumah ini memiliki aura yang bagus."

    Sial! Padahal aku sudah berusaha untuk tidak berbohong

    Aku melihat ke arah Gin, berharap dia tidak marah, tapi wajah Gin sekarang justru terlihat kaget.

    "Hah? Aura rumah ini terlihat bagus? Aneh... Baru pertama kali ini ada orang yang bilang kalau aura dari rumah ini bagus."

    Eh? Apa aku membuat pernyataan yang salah?

    Mungkin apa yang ada dipikiranku tergambar dengan jelas di wajahku karena Gin yang daritadi memperhatikanku sekarang tersenyum lebar.

    "Kemari kau anak muda!"

    Gin berdiri dari tempat tidurnya, langsung merangkul leherku dengan kuat dan menyeretku ke arah pintu.

    Dia membuka pintunya dan mendorongku keluar dan saat itu aku berpikir kalau aku telah diusir olehnya. Tapi...

    "Coba kau lihat baik-baik anak muda!"

    Aku yang sudah berdiri di jalan, mendengar kata-katanya, melihat ke arah rumahnya dan aku menyesal telah mengatakan kalau aura dari rumah ini terlihat bagus, seharusnya aku sudah menduganya dari penampilan si Gin yang kusam, karena yang ada di hadapanku sekarang adalah sebuah rumah kuno yang bahkan terlihat lebih kuno dan tua dibandingkan rumah-rumah kuno yang ada di sekitarnya, dan rumah ini memiliki aura yang seakan menjerit "JANGAN DEKATI AKU!".

    "Ha... haha.."

    Aku hanya bisa tertawa. Gin tersenyum lebar seakan dia habis menang undian dan mempersilahkan aku masuk lagi ke 'gubuk'nya.

    "Bagaimana anak muda?" Gin bertanya dengan senyum yang sangat lebar di wajahnya.

    "E... Itu..." Aku menjawab terbata-bata, berusaha mencari cara agar kebohonganku tidak ketahuan.

    "Sudahlah. Aku tahu kalau kau bohong padaku. Aku tidak tahu apa alasanmu masuk ke rumah ini tapi kalau kau tidak mau mengatakannya juga tidak apa-apa." Dia mengatakannya sambil tersenyum ramah, tetapi nadanya terdengar sombong dan menyebalkan.

    "Maaf kalau aku sudah berbohong. Tapi aku benar-benar tidak bisa menceritakan mengenai kenapa aku masuk ke rumah ini dan aku jujur mengenai masuk tanpa tujuan tertentu." Aku berkata pada Gin sambil menundukkan kepalaku, merasa bersalah karena sudah berbohong kepadanya.

    "Sudah tidak usah dipikirkan. Aku percaya kok, karena kau tidak terlihat cukup pintar untuk berbohong. Hahaha"

    "Haha..." apa maksudmu dengan tidak terlihat cukup pintar.

    "Jadi orang asing..." Dari 'kawan', lalu 'anak muda', sekarang aku dipanggil 'orang asing'? "...sekarang apa yang akan kau lakukan?"

    "hmm... Kalau boleh sih... Aku ingin melihat-lihat daerah sini"

    "Tentu saja boleh. Tapi aku tidak bisa mengantarmu. karena..." belum sempat Gin menyelesaikan kata-katanya, pintu masuk terbuka.

    "Aku kembali." Mary masuk ke dalam rumah, wajahnya terlihat ceria.

    Karena pembicaraan kami yang terpotong olehnya, kami melihat ke arahnya secara spontan.

    "Eh? Ma... Maaf kalau aku mengganggu pembicaraan kalian" Dia meminta maaf mungkin karena tertekan dengan pandangan kami?

    "Kebetulan sekali Mary. Si orang asing ini ingin berkeliling. Apa kau mau mengantarnya?" Gin bertanya pada Mary yang terlihat masih merasa bersalah.

    Tapi mendengar ucapan Gin, dia kembali terlihat ceria.

    "Bisa. Karena hari ini sedang libur jadi banyak yang datang untuk bekerja sambilan di tokoku. Jadi aku bebas sampai sore nanti." jawab Mary dengan ceria.

    "Baiklah. Kalau begitu kalian berdua pergilah bersenang-senang!" Gin mengatakannya sambil mendorongku dan Mary keluar dari rumahnya, dan menutup pintunya.

    Aku dan Mary sekarang berdiri, berdua, terdiam di pinggir jalan yang banyak dilewati oleh orang-orang yang terlihat sibuk. Kulihat Mary disampingku wajahnya memerah, mungkin malu mendengar kata-kata Gin? Dia sepertinya mudah malu tapi juga ceria. Dan entah mengapa melihat moodnya yang cepat berubah rasanya menyenangkan.
     
  15. litinium M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Dec 2, 2008
    Messages:
    495
    Trophy Points:
    156
    Ratings:
    +1,156 / -0
    Aku dan Mary berjalan menyusuri jalanan yang lebarnya kira-kira cukup untuk satu mobil. Jalanan ini cukup ramai dengan orang-orang yang berlalu-lalang. Di sebelah kiri dan kanan jalan terlihat rumah-rumah dengan gaya bangunan eropa jaman pertengahan berjejer. Tempat ini benar-benar bagaikan sebuah setting di eropa jaman pertengahan.

    "Jack, kau berasal dari mana?" tanya Mary yang berjalan di depanku.

    "mmm... dari... Jakarta" aku menjawabnya dengan ragu-ragu.

    "eh? dimana itu?"

    "sebuah kota jauh di tenggara"

    "hmm, pantas aku tidak pernah melihat pakaian seperti yang kau kenakan" ujar Mary.

    "..." aku baru sadar kalau pakaianku mencolok daripada yang lain. Kemeja putih dan celana levi's hitam.

    "seakan-akan kau datang dari dunia lain saja haha..."

    "!" langkahku terhenti mendengar perkataan Mary.

    "Saat aku masih kecil terkadang aku berharap bisa bertemu dengan orang asing yang datang dari suatu tempat yang belum kita ketahui. orang asing yang berkelana ke berbagai tempat untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. membebaskan orang-orang dari kutukan, menyelamatkan tuan putri yang disandera oleh naga, melawan penyihir-penyihir jahat, layaknya seorang pengelana misterius. pasti menyenangkan bisa berkenalan dengan orang seperti itu."

    Sayangnya orang asing yang berada di belakangmu ini hanyalah orang biasa yang bahkan tidak tahu sekarang dia berada dimana.

    Mary kemudian berbalik menghadapku dan dengan senyum di wajahnya dia menggenggam tanganku dan menarikku berlari menyusuri jalan hingga kami sampai di ujung jalan ini.

    Begitu berhenti dia berbalik menghadapku dan menarik napasnya,

    "Tara! Ini adalah jalan utama dari kota ini."

    Sebuah jalan yang sangat lebar. Mungkin kalau Mary tidak bilang ini adalah jalan aku akan mengiranya lapangan.

    Terlihat di sana-sini kereta kuda berlalu-lalang.

    Di pinggir jalan terdapat berbagai macam toko, dan bangunan-bangunan yang tampak seperti gudang-gudang penyimpanan. Di ujung jalan sebelah kanan terlihat pintu-pintu gerbang kayu raksasa, batas keluar masuk kota, yang dijaga oleh penjaga-penjaga berpakaian prajurit kerajaan. Mereka menghentikan setiap kereta yang lewat dan memeriksanya sebelum diperbolehkan masuk. Sedangkan di sebelah kiri, aku tidak melihat ujungnya. tapi satu yang kuperhatikan. sebuah istana terlihat di kejauhan. istana berwarna putih, seakan memantulkan cahaya matahari. Berdiri di balik awan bagaikan sebuah gunung yang menjulang tinggi. pemandangan tersebut bagaikan lukisan yang indah.

    Mary terlihat sangat puas melihat ekspresiku yang takjub dengan pemandangan ini. Raut wajahnya seakan mengatakan "baguskan!".

    Kemudian Mary kembali mengajakku berjalan.

    Sekarang kami berjalan ke kiri, ke arah istana putih tersebut berdiri.

    Sambil berjalan Mary menceritakan banyak tentang jalan ini. Sebuah jalan yang terletak di selatan kota ini. Jalan yang terbesar di kota ini. Selalu dipenuhi dengan kereta kuda yang membawa berbagai macam kebutuhan penduduk kota ini dari kota pelabuhan yang berada di selatan kota ini. Jalan ini terhubung dengan taman kota di pusat kota dan gerbang kota di selatan. Di sebelah timur dan barat jalan adalah perumahan penduduk.

    Mary terus bercerita, dan dengan setiap perkataannya yang menjelaskan tentang kota ini semakin banyak pertanyaan yang muncul di dalam pikiranku tentang dunia ini, tentang kedatanganku ke dunia ini, tentang bagaimana aku bisa kembali ke dunia asalku, tentang apakah aku akan menjadi orang hilang di dunia asalku, dan berbagai kemungkinan-kemungkinan lainnya yang terus bermunculan.

    Walau begitu, kalau dipikir-pikir... sebenarnya bila aku hilang dari dunia asalku tidak akan ada orang yang akan mencariku kecuali orang-orang di mansion yang baru beberapa bulan ini aku kenal. aku tidak memiliki saudara maupun kenalan yang cukup dekat.

    "...Jack?"

    "hmm?"

    "Kau sedang memikirkan apa?"

    "m.. tidak, bukan apa-apa."

    "hmm... hei, bagaimana kalau kau menceritakanku tentang kota tempat asalmu?" tanyanya dengan ceria.

    "tempat asalku... kota tempat asalku bukanlah tempat yang bisa dibanggakan seperti kota ini. Tempatnya penuh dengan reruntuhan dan sampah. walaupun banyak orang berdatangan datang ke kota asalku, namun kebanyakan dari mereka hanya menjadi gelandangan di pinggir jalan. tempat yang keras untuk bertahan hidup."

    Mendengar ceritaku Mary jadi terdiam. Sepertinya dia mengharapkan aku untuk membanggakan tentang kota asalku dan akibat kata-kataku sepertinya aku telah merusak suasana cerianya dengan berkata jujur. Aku kemudian dengan cepat menambahkan untuk mencerahkan suasana,

    "tapi aku menemukan suatu tempat yang lebih baik dari tempat asalku. Tempatku bekerja, Mansion, memiliki aura yang berbeda dari tempat-tempat lainnya."

    Mary kemudian kembali bertanya padaku,

    "seperti apa tempatmu bekerja?"

    "Sebuah bangunan tua 4 lantai dan sangat luas. Aku bekerja sebagai pembantu dari para pembantu di bangunan tersebut"

    Kemudian seperti kebanyakan orang, dia menanyakan tentang maksud dari 'pembantu dari para pembantu' dan aku menjelaskannya dengan sabar.

    "hmm... kau sudah lama bekerja di situ?"

    "tidak, aku masih baru beberapa bulan saja bekerja di situ."

    "hmm"

    "..."

    "tidak ada yang lain?"

    "'tidak ada yang lain?' apanya?"

    "tentu saja tentang tempat kerjamu. Kau bilang tempat kerjamu memiliki aura yang berbeda dari tempat lainnya kan?"

    Tidak banyak bangunan besar seperti Mansion yang tersisa setelah Bencana Besar ke-3 jadi itu mungkin penyebabnya Mansion memiliki aura yang berbeda. Selain itu juga penghuninya yang unik membuat Mansion semakin berbeda.

    Mary yang berjalan di sampingku terlihat mendengarkan ceritaku dengan seksama. Aku kemudian menceritakan tentang para penghuni Mansion dan agak melebih-lebihkannya agar dia terpukau, dan benar saja, Mary terlihat benar-benar terpukau dengan ceritaku, bagaikan seorang anak kecil yang sedang mendengarkan dongeng. Kemudian Mary bertanya,

    "jadi apa kau masih bekerja di tempat itu? Apa kau datang ke kota ini atas perintah bosmu?"

    "eh.... tidak... itu..."

    "kau sudah berhenti?"

    "ah... kalau sudah begini... mungkin..." kalau aku tidak bisa kembali berarti aku sudah berhenti kan?

    "kau kabur?"

    "aku... mungkin tidak bisa kembali lagi ke sana.."

    "..." Mary terdiam dan menunduk. Mungkin dia mengira aku sudah melakukan sesuatu yang tidak dapat dimaafkan di tempat kerjaku dan turut bersedih karena aku telah dipecat?

    "aku tidak bisa kembali kesana bukan karena aku melakukan kesalahan di sana"

    "..." meski sudah kuperjelas dia tetap terdiam.

    apa aku salah ngomong? apa aku membuat dia teringat sesuatu yang buruk?

    aku tidak tahu harus mengatakan apa sehingga kami berdua hanya terdiam.

    Kami terus berjalan selama entah berapa lama, hingga Mary kemudian berkata,

    "jack..."

    "hmm?"

    "apa kau mempunyai orang-orang yang kau pikir penting dalam hidupmu?" Mary bertanya dengan wajah yang terlihat dipenuhi dengan pikiran.

    'Orang-orang yang penting dalam hidupku'. kata-kata yang sudah lama tidak terlintas dalam benakku. Sebelum aku tinggal di Mansion aku hanyalah seorang pria tanpa pekerjaan tetap yang tinggal sendirian. Setiap hari datang ke bar-bar untuk melihat-lihat berbagai macam lowongan pekerjaan yang biasanya di tempelkan di papan buletin di bar, dan mengambil pekerjaan yang tidak membutuhkan kemampuan khusus, seperti mencari sesuatu, membantu mengantar barang, dan hal-hal ringan lainnya. Dengan pola kehidupan seperti itu aku tidak pernah berhubungan sosial secara penuh dengan orang-orang tertentu. Namun, jauh sebelum masa itu tiba, ada orang yang kuanggap penting dalam hidupku. Seorang wanita yang menerimaku tanpa menghiraukan kenyataan bahwa aku adalah orang asing baginya. Sama seperti Gin dan Mary yang dengan baiknya menerimaku, hanya saja dia tipe orang yang pendiam. dia jarang berbicara namun sering tersenyum.

    "Aku pernah punya" jawabku.

    "'pernah'?"

    "dia sudah meninggal"

    "..."

    ..ah... lagi-lagi aku membuat suasana menjadi suram.

    Kali ini aku tidak berusaha mencerahkan suasana. Aku tidak begitu senang mengingat tentang masa lalu, jadi kami terus berjalan dengan suasana seperti ini hingga tiba di pusat kota.

    Pusat kota ini berbentuk sebuah taman yang di tengahnya berdiri sebuah paviliun. Sebuah patung naga berdiri di tengah paviliun tersebut dan dikelilingi oleh tempat duduk sederhana dari kayu. Di sekitar paviliun ditumbuhi macam-macam tanaman hias. Orang-orang berbagai usia terlihat sedang bersantai di taman.

    Pusat kota ini adalah tempat bertemunya empat jalan utama kota ini. Ke utara adalah jalan utara yang berujung ke istana kerajaan, ke selatan adalah jalan selatan yang aku dan Mary tempuh barusan, ke timur adalah jalan timur yang berujung ke hutan, sedangkan ke barat adalah jalan barat yang berujung ke gerbang utama kota ini.

    Kami kemudian beristirahat sejenak.

    Awan di langit bergerak menutupi matahari. Udara menjadi lebih sejuk.

    Mary yang duduk di sebelahku terlihat terdiam melihat lurus ke arah kastil yang terlihat seakan berdiri di atas awan.

    Rintik hujan perlahan-lahan turun. Bau khas dari tanah yang basah tercium. Kami duduk terdiam sambil mendengarkan suara rintik hujan. Suasana di sini benar-benar membuat hati tenang. Segala macam pikiran yang daritadi memenuhi kepalaku perlahan menghilang, seakan dibersihkan oleh hujan ini dan tanpa kusadari waktu telah berlalu dan hujan sudah mulai reda.

    "Jack"

    "?" aku melihat ke arah Mary, dia menunjuk ke arah kastil putih.

    Kastil tersebut terlihat bersinar dan dari arah kastil putih tersebut perlahan-lahan terlihat sinar-sinar kecil berjatuhan. Sinar-sinar tersebut semakin lama semakin banyak dan semakin dekat. Mereka terlihat seperti hujan salju yang bersinar.

    Semua orang terlihat terpukau. Mereka yang berada di dalam bangunan keluar dengan terburu-buru. Semua orang terlihat menghentikan aktifitasnya dan memandang ke langit. pada saat itu waktu seakan berhenti.

    "fenomena ini cukup jarang terjadi." kata Mary.

    Aku melihat ke arahnya. Wajahnya terlihat cerah kembali.

    "Cahaya ini jangan-jangan..."

    "White Castle adalah nama dari kastil tersebut. Kastil tersebut dibangun untuk menyinari kota ini. Menggunakan batu khusus yang bisa memantulkan cahaya dan dibangun dengan tingginya agar sinarnya dapat menyinari seluruh kota."

    "jadi sinar ini..."

    "Tetesan air hujan yang memantulkan sinar dari kastil tersebut. Orang-orang di sini menyebut fenomena ini Falling Stars."

    Benar-benar pemandangan yang menakjubkan. Seakan-akan kami sedang melihat ribuan bintang jatuh.
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.