1. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Ungkapin kenangan film Asia paling berkesan buatmu. Berhadiah GK, Pulsa, dan Line Gift Sticker loh! .Klik info lengkapnya di sini, kuy~.
  5. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  6. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Anak Bunga

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by Nawainruk, Jun 12, 2009.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Nawainruk M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 3, 2007
    Messages:
    1,042
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +98,363 / -0
    Umumnya orang menjepit bunga diantara halaman buku untuk menjadikannya sebuah benda kenangan. Tetapi Ibu saya tidak percaya dengan cara membuat kenangan seperti itu.

    Semboyannya adalah, "Jangan menjepit bunga di halaman buku! Kapan kalian akan menikmati keindahaannya saat sudah tersembunyi di rak buku? Biarkan bunga itu tumbuh! Nikmati keindahannya sebagai sebuah bunga yang hidup, bukan bunga kering yang tersembunyi di antara halaman buku."

    Itulah ibu saya. Memang ibu mempunyai tangan dingin yang membuat tumbuh apa saja yang ditanam.

    Barusan, ibu menerima sebuah buklet bunga yang indah dari saudaranya di hari ulang tahunnya. Ibu adalah seorang pecinta bunga dan sangat senang karena menemukan dua bunga mawar dengan corak yang khusus. "Lihat bunga mawar cantik ini. Ibu tidak pernah melihat mawar dengan corak seindah ini. Ibu harus menyimpannya sebagai kenang-kenangan."

    Saya sudah sering melihat proses ini, tetapi tetap saja saya kagum jika melihatnya. Ibu mengambil sebuah mawar dan memotong tangkainya membentuk sudut dengan gunting, membungkus ujungnya dengan handuk kertas yang basah dan meletakkan bunga itu di dalam kantung plastik untuk menjaga kelembabannya.

    Berikutnya adalah giliran saya. Saya akan membuat sebuah keajaiban. Saya berlari ke dapur untuk mengambil sebuah guci kaca yang biasa digunakan untuk melindungi bunga.

    "Ini guci kaca yang cantik," kata saya saat kembali sambil membawanya dengan hati-hati.

    Kami keluar menuju ke semak bungur di samping rumah. Saya membawa guci kaca dan plastik berisi bunga mawar. Ibu membawa air hangat di sebuah termos kopi, dan dengan hati-hati menyirami semak bungur di depan kami. Ibu telah memotong semak bungur itu menjadi tebal dan padat. Setelah disiram, tanah di bawahnya menjadi lembab dan hangat, sehingga ibu bisa menggalinya dengan mudah menggunakan tangan dan memasukkan batang mawar yang sudah dipotong ke dalamnya. Saya membantu ibu membersihkan tanah di sekitar batang mawar. Selanjutnya ibu menutupkan guci kaca de bunga mawar, menekan dan memutar ke tanah, sehingga guci itu memiliki dudukan yang kokoh.

    Akhirnya ibu memberi minum mawar itu dengan menyiramkan kembali air hangat dari termos kopi ke dasar guci kaca. Ibu berbisik, "Oh bunga kecil, biarkan ibu menghangatkan kakimu. Ini akan membuat kamu aman terhadap tiupan angin dingin. Sampai jumpa lagi di musim semi, bunga kecil."

    "Bunga kecil ini sudah siap untuk memulai tidur panjang selama musim dingin," ibu menjelaskan saat kami kembali masuk ke dalam rumah.

    Ibu termasuk orang yang enggan saat harus minta bunga kepada seeorang di halaman rumah mereka. Tetapi setahu saya tidak ada yang pernah menolak permintaan ibu tersebut. Bahkan sebaliknya mereka akan senang hati memberikannya, karena mereka tahu ibu adalah seorang pecinta bunga dan ahli dalam merawatnya.

    Hari itu adalah musim panas yang indah. Saya dan ibu berjalan melewati tetangga kami Dorothy yang sedang berkebun. Ibu berhenti untuk mengagumi bunga yang tumbuh di sana.

    "Saya tidak pernah melihat bunga Lavender seindah itu. Ujung daun bunganya bercampur warna perak. Apakah saya boleh minta satu?" ibu bertanya pada Dorothy. Dengan bangga Dorothy memotong sepucuk bunga yang paling indah dan memberikannya pada ibu. Tetapi sesampai di rumah, bunga Lavender cantik itu tidak diletakkan ibu di vas bunga seperti yang mungkin dibayangkan oleh Dorothy. Bungga Lavender cantik itu bergabung dengan bunga-bunga cantik yang lain, terlindung di dalam guci kaca di bawah semak bungur di samping rumah.

    Saat Natal tiba, Dorothy berkata bahwa tanaman bunga Lavendernya terserang penyakit dan tidak bisa diselamatkan. "Itu bunga kesukaan saya," katanya dengan sedih, "dan saya tidak akan bisa menemukan penggantinya."

    Tahun ini musim semi agak terlambat datang, tetapi akhirnya ketakutan akan salju yang membekukan berakhir juga. Ibu sudah tidak sabar untuk membuka penutup bunga-bunga, yang masing-masing terlindung di dalam sebuah miniatur rumah kaca.

    "Berapa banyak dari bayi bunga yang akan siap memulai hidup baru mereka ya?" ibu merenung.

    Seperti biasanya, saya melihat dengan kagum saat ibu membuka penutup dari bunga-bunga itu. Pelan-pelan ibu mencabut guci gelas dari tanah yang hangat: yang berisi bunga Lavender dibungkus plastik. Apakah bunga itu akan hidup kembali? Terlihat di tangkai bunga itu ada sebuah tonjolan, sebuah daun yang mungil tersembul keluar di bawah tangkai bunga. Ya, bunga Lavender itu sudah hidup dan tumbuh kembali !

    Ibu berbisik padaku, "Tunggu sampai musim panas, dan ibu akan memberi kejutan pada Dorothy. Ibu akan merawat bayi Lavender ini sampai tumbuh menjadi tanaman subur yang cantik. Dorothy akan punya tanaman Lavendernya lagi. Kamu harus merahasiakan hal ini dulu."

    Dan benar, saat musim panas, Dorothy berteriak kegirangan saat menerima kejutan ini - sebuah tanaman bunga Lavender yang subur dan cantik.

    Ada kartu kartu yang tergantung di tangkai tanaman bunga itu, dengan tulisan :

    "Ini adalah sebuah pemberian kecil dari halaman rumah untukmu.
    Dimulai pada suatu hari saat seseorang memberikan sebuah bunga yang cantik untukku."

    "Aku menanam bunga itu di tanah yang subur dan hangat.
    Merawatnya - dan melihatnya tumbuh dengan gembira"

    "Saat kamu mananamnya kembali dan tumbuh dengan indah,
    untuk mengembalikan siklus hidupnya,
    apakah aku boleh mengaguminya lagi?"

    "Jika aku memberanikan diri, apakah kamu bisa menduganya,
    saat aku minta bunganya yang mekar pertama kali?"
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. dixy Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 23, 2009
    Messages:
    168
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +28 / -0
    cerita yang bagus..
    gw terharu
     
  4. princess M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Apr 30, 2008
    Messages:
    437
    Trophy Points:
    66
    Ratings:
    +160 / -0
    ada caranya gak ya????
     
  5. Nawainruk M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 3, 2007
    Messages:
    1,042
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +98,363 / -0
    kumpulan cerita part 1 dalam format word07

    Hidden Content Hide Thanks:
    **Hidden Content: You must click 'Like' before you can see the hidden data contained here.**
     
    • Like Like x 2
    • Thanks Thanks x 2
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.