1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

OriFic The World Killer at The Rift of Time

Discussion in 'Fiction' started by kyotou_yasuri, May 30, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    kyotou_yasuri Silent Reader Members

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Permisi everyone... Mau posting cerita nih, cerita yang sudah direncanakan dari jaman baheula (setengah tahun tepatnya) tapi sekarang lagi sedikit 'stuck'.

    Jadi mohon banget kritik dan sarannya yah, untuk menentukan hidup dan mati cerita ini.
    :maaf:

    The World Killer at The Rift of Time

    Genre: Fantasy, Mystery (?)

    Index

    -Prologue
    Prologue
    -Melrose Chapter I : Once Again, In Morning Glory
    Part I
    Part II
    -Yasuhiko Chapter I : Two-headed Woman
    Part I
    Part II
    -Jules Chapter I : Bittersweet Symphony
    Part I
    Part II
    -Melrose Chapter II : Lord Don't Slow Me Down
    Part I
    Part II
    -Yasuhiko Chapter II : Under The Cover of Darkness
    Part I
    Part II
    -Jules Chapter II : Dream a Little Dream of Me

    Prologue


    Bel berbunyi di lingkungan kampus, tanda pelajaran siang ini selesai. Para mahasiswa mulai berhamburan keluar. Beberapa berniat pulang ke rumah atau pergi bersama teman-temannya, dan ada juga yang menetap di kampus untuk belajar atau diskusi dengan dosen.

    Namun Melrose Stein bukan bagian dari keduannya. Mel hanya duduk di bangku halaman kampus, memandangi orang-orang yang lewat.

    Bukan apa-apa, Mel hanya senang melakukan ini. Dengan matanya yang tajam Ia memperhatikan wajah tiap orang yang lewat dan mencoba mengetahui ekspresi macam apa yang dibuat oleh orang itu, kemudian Mel mencoba menerka apa yang dipikirkan orang itu.

    Kali ini Mel berhasil menangkap 123 ekspresi dari 150 orang yang lewat disitu.

    Tetapi beberapa detik kemudian Mel menyadari sesuatu yang aneh.

    Ada satu gadis yang hanya berdiri saja. Wajahnya tanpa ekspresi, matanya sedingin es. Ia menatap Melrose, seakan ingin mengatakan sesuatu.

    Mulut gadis itu mulai bergerak. Dengan kemampuan Mel membaca bibir, Ia bisa mengerti apa yang gadis itu katakan.

    “Pembunuh… Dunia…?”

    Sesaat kemudian gadis itu sudah menghilang sosoknya, seakan tertiup angin, meninggalkan Mel yang kembali menatap rombongan orang-orang yang lalu lalang di halaman kampus.

    ***

    Suasana kantor polisi Pulau Aeneas siang itu cukup sibuk, setidaknya bagi Yasuhiko Westwood. Banyak berkas yang belum Ia tangani, sebagian besar berhubungan dengan kasus pembunuhan yang tidak terselesaikan.

    Karena kesal, Yasuhiko beranjak dari tempat duduknya dan berniat untuk merokok sebentar di luar. Ia tidak menghiraukan panggilan rekan-rekannya yang kaget melihat ulah Yasuhiko. Memang, Yasuhiko terkenal sering bertingkah sesukanya sendiri, entah itu di kantor maupun di lapangan.

    “Aku cuma mau merokok sebentar, tidak usah khawatir.” Kata Yasuhiko sambil tersenyum dengan rokok di mulutnya. Sesaat kemudian, Yasuhiko sudah memasuki lift.

    Di dalamnya, hanya ada seorang gadis. Yasuhiko menggumam apa yang dilakukan seorang gadis di kantor polisi, namun Ia menghapus kemungkinan-kemungkinan buruk dan menekan tombol lantai dasar di lift.

    Lift mulai turun, namun setelah beberapa saat Yasuhiko merasa aneh. Indikator lantai tidak menyala, sehingga lift tidak jelas berada di lantai berapa. Awalnya Yasuhiko berpikir lampunya rusak, namun lama kelamaan pintu lift tidak kunjung terbuka. Seakan-akan mereka terus turun menuju ke bawah tanah.

    “Huh, kenapa ini? Liftnya rusak?” Kata Yasuhiko sambil terus menekan tombol lantai dasar, kemudian mulai menekan tombol lainnya.

    “Hei…”

    Suara gadis disebelah Yasuhiko mengalihkan perhatiannya. Suara itu terdengar datar dan tanpa hawa kehidupan. Seakan orang mati yang bicara.

    “’Dia’ akan datang kemari.”

    “Dia?”

    “Ya, ‘Dia’…”

    “Hah?” Yasu mulai menyangka gadis ini pecandu atau semacamnya, “Kau tidak enak badan?”

    “Sang Pembunuh Dunia...”

    “Ap—Hah?”

    Yasuhiko kemudian menyadari Ia bicara sendirian. Di lift itu, hanya ada dia seorang.

    Pintu lift terbuka di lantai dasar. Yasuhiko segera keluar dari lift itu dan berjalan menuju halaman kantor.

    Yasuhiko berpikir dirinya mabuk karena melihat hal aneh, tapi apa benar itu tidak nyata?

    ***


    “Terima kasih atas tumpangannya, Detektif.” Seorang gadis berambut panjang turun dari mobil, kemudian Ia beralih ke bagasi untuk mengambil kopernya.

    “Aah,” Seseorang keluar dari pintu supir, kelihatan panik, “Nona Hildegrad, biar saya bantu.”

    “Detektif, sudah kubilang biar aku saja.” Balas gadis itu sambil membawa koper coklatnya yang kecil dan kelihatan ringan, “Kau mengantarku kemari sampai bandara saja sudah sangat membantu. Aku tidak akan merepotkanmu lebih jauh daripada ini. Oh, ya. Sudah kubilang kan, jangan panggil aku seperti itu. Panggil saja Molly.”

    “Oke, Nona Molly—”

    “Jules! Molly saja!”

    “Oh… Oke…”

    Molly menatap tajam, dan dalam hatinya Ia jengkel karena ‘pendekatannya’ pada Detektif Jules Eisenhower tidak berhasil. Tetap saja Jules hanya memandang Molly sebagai klien, tidak kurang dan tidak lebih.

    Suara pengumuman pesawat akan berangkat mulai terdengar dari dalam bandara. Molly mulai berjalan mudur menjauhi Jules, “Kerjamu bagus, Detektif. Aku akan melaporkan ini pada Bibi. Kurasa Ia akan sangat bahagia mendapatkan pedang ini kembali.”

    “Kalau begitu, aku turut bersyukur.” Balas Jules dengan senyum di bibirnya, senyum yang manis, membuat Molly tersipu malu.

    “…Okelah, kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih ya, Jules. Salam untuk Vincent.” Molly berbalik dan melambaikan tangan.

    Jules hanya tersenyum melihatnya, “Ya, salam juga untuk Bibimu. Sampai jumpa.”

    Setelah Molly menghilang di balik pintu masuk bandara, Jules kembali memasuki mobil kecilnya, dan siapa sangka seseorang sudah menunggunya di dalam.

    “Eh? B-bagaimana kau bisa masuk—”

    “…Dunia…”

    “Eh?”

    “Sang Pembunuh Dunia…” Gadis aneh bermata abu-abu itu mulai mengoceh aneh.

    “E-eh? Pembunuh… Dunia…?”

    “Dia akan datang kemari.”

    “Emm… Apa maksudmu bicara demikian—ah?” Belum sempat Jules mengakhiri pertanyaannya, bangku tempat gadis bermata pucat itu sudah kosong.

    “…Apa-apaan tadi itu…?”

    Kemudian sambil menggelengkan kepalanya Jules mencoba menghapus bayangan gadis itu dan mulai menjalankan mobilnya untuk pulang.

    ***

    Sekalian langsung Chapter 1:

    Once Again, In Morning Glory



    “Mel? Sedang apa kau?”

    Seseorang mendekati Melrose yang terduduk di pinggiran. Ia adalah Frank, teman Melrose yang sekelas dengannya.

    “Ah… Aku hanya duduk-duduk, kok.”

    Frank mengela nafas, “Haah, kau itu orangnya memang aneh.” Katanya sambil duduk di samping Mel, “Kenapa kau menghabiskan masa mudamu dengan melamun begitu? Sebentar lagi kita bahkan tidak bisa disebut muda lagi. Sebentar lagi kita harus bekerja, berkeluarga, dan lain-lain. Hal yang menjengkelkan.”

    “Begitu?” Mel membalas tanpa menengok, “Apa itu gambaran masa depan untukmu, Frank?”

    “Kurasa itu bayangan masa depan setiap orang, atau setidaknya orang normal.”

    “Ooh…”

    “Apa kau ingin bilang kalau kau tidak memikirkan masa depan yang seperti itu?” Frank tersenyum aneh.

    “Bisa dibilang aku tidak punya bayangan sama sekali tentang masa depan.”

    “Hah?”

    Frank tidak bisa berkata-kata. Ia terkejut mendengar pernyataan temannya itu.

    “Kenapa kita tidak berasumsi kalau dunia akan hancur dalam beberapa hari lagi?”

    “Mel… Kau ini…” Kali ini, Frank menggelengkan kepalanya, ”hari ini tingkat keanehanmu meningkat hingga 30 %.”

    “Disitu kau rupanya, Stein.”

    Seorang gadis menghampiri Melrose dan Frank. Wajahnya kelihatan serius.

    “Ada apa?”

    “Aku belum berterima kasih tentang proposal yang kau rapikan kemarin. Mewakili seluruh dewan mahasiswa, aku berterima kasih.” Kata gadis itu sambil menatap Mel dengan tajam. Mel tidak merasakan rasa benci dari tatapan itu, Ia tahu gadis di depannya ini selalu terlihat seperti itu.

    “Sama-sama, Fitzgerald.”

    “Hmm, kalian berdua baru mau pulang?”

    Frank tiba-tiba menyerobot pembicaraan, “Hey Rachel, kau mau pulang bersama kami?”

    Tiba-tiba, wajah gadis itu memerah, “Eh? B-bersama kalian? Sebenarnya sih aku mau saja, tapi aku masih ada rapat dewan… Maaf ya.” Ujarnya pelan. Meski Ia bicara pada Frank, matanya terus menatap ke arah Mel, membuat Mel kebingungan.

    “Kalau begitu, aku permisi dulu.” Tanpa basa-basi lagi, gadis itu beranjak pergi. Ketika gadis itu sudah hilang dari pandangan, Frank menepuk punggung teman disebelahnya.

    “Haha! Sayang sekali ya?”

    “Apa maksudmu?”

    “Kau nggak tahu? Sudah jelas kalau Rachel itu tertarik padamu. Lihat bagaimana dia memandangmu tadi?”

    “Dengan tatapan membunuh?”

    “Bukan… Tatapan yang penuh gairah itu!” Frank mulai melantur dengan gayanya yang berlebihan, mengayunkan tangan kesana kemari seperti seorang orator.

    “…Masa’ sih, Fitzgerald itu…”

    “Jadi, kau nggak tertarik padanya? Kau tahu kan kalau dia itu salah satu artis di kampus ini? Dia pernah dua kali ‘ditembak’ oleh kakak kelas dan beberapa junior mengirim surat untuknya. Bukankah itu hebat?”

    Mel tidak bergeming, “Biasa saja.”

    “…Huh. Kadang kau sama sekali tidak menyenangkan, Mel. Seleramu memang yang lebih tua ya.”

    Mel tidak menjawab, mungkin karena yang dikatakan Frank memang benar.

    “…Sudah sore, ayo kita pulang.” Mel memecah keheningan.

    “Ayolah.”

    Dengan langkah santai, mereka keluar dari lingkungan kampus dan menuju ke halte bus. Karena jam pulang mahasiswa sudah cukup lama berlalu, halte cukup sepi. Mel dan Frank duduk di tengah bangku halte.

    Setelah duduk selama lima menit, bus langganan mereka pun datang. Karena arah rumah yang sama, Mel dan Frank menaiki bus yang sama pula. Namun entah kenapa Mel tidak bereaksi ketika Ia melihat bus itu.

    Frank berdiri, “Kau nggak pulang?”

    “Aku ada urusan. Kau duluan saja.”

    “Kenapa tidak bilang dari tadi… Untung saja Rachel tidak ikut.” Frank berbalik dan berjalan menuju bus tanpa menengok lagi, meninggalkan Mel sendirian.

    Sepuluh menit kemudian datang bus lain, dengan jurusan ke distrik di tengah kota. Mel menaiki bus itu. Sejak pagi, Ia memang sudah merencanakan untuk mampir.



    * * *


    Ketika Mel menginjakkan kaki di depan gerbang, yang terdengar di telinganya adalah teriakan anak-anak, memanggil namanya.

    “Kak Meeel!!”

    “Kakak!!”

    “Tenanglah, tenanglah. Aku dengar kok suara kalian. Tidak perlu memanggil berkali-kali.” Mel menunjukkan bungkusan di tangan kanannya, “Kalian pasti suka ini.”

    Tiba-tiba wajah anak-anak itu berubah ketika melihat isi dari bungkusan yang dibawa Mel. Isinya adalah sesuatu yang tidak mereka sangka akan menjadi mimpi buruk untuk mereka.

    “Eeh…. ”

    “Kak Mel, ini kan…?”

    “Kalian suka ini, kan?” Ujar Mel tanpa rasa bersalah.

    Beberapa anak mulai menjauhi Mel, dan beberapa masih bertahan di depan Mel. Kevin, usia 10 tahun-salah satu yang tertua, maju untuk menghadapi Mel.

    “Aku akan bicara jujur, ya kak.”

    “Oke.”

    “Kami memang suka roti pisang coklat. Tapi…”

    Mel mengernyitkan dahi, “Tapi?”

    “Tapi kalau kakak membawanya terus-terusan selama seminggu berturut-turut tentu saja kami bosan.”

    “…Bosan? Apa maksudmu? Kalian suka ini kan?”

    Alia, yang selalu bersembunyi di belakang Kevin, ikut bicara, “Kami suka… Tapi kami tidak bisa makan itu terus-terusan, Kak….”

    Beberapa anak dibelakang Kevin juga mengiyakan kata-kata Alia. Mel yang masih juga tidak mengerti keadaan, tidak bergeming. Hingga kemudian muncul seseorang yang menyuruh anak-anak masuk. Wanita itu menghampiri Mel, mengambil bungkusan di tangan Mel dan memukul dahi Mel pelan.

    “Riveri… Kenapa?”

    “Beberapa persen kebodohanmu memang tidak akan sembuh. Kau tahu kan kalau anak-anak sudah muak dengan pisang coklat!”

    “Tapi mereka bilang mereka suka ini.”

    “Ya, aku tahu itu. Tapi manusia memiliki perasaan yang bernama bosan. Jika mereka sudah bosan sesuatu yang mereka sukai bisa berubah menjadi sesuatu yang dibenci.”

    Mel tanpa lelah terus menyanggah, “Aku tidak pernah bosan makan sandwich setiap pagi sejak 2 tahun lalu.”

    “Jangan samakan orang lain denganmu.” Wanita itu berbalik dan berjalan menuju ke dalam bangunan, “Ayo masuk.”

    Masih dengan sedikit kebingungan tersisa di otaknya, Mel ikut masuk ke dalam bangunan yang sudah sangat familiar ini—panti asuhan Emmeth.

    Bagi Mel, keluarga Emmeth adalah penyelamat hidupnya. Lima tahun yang lalu ketika Mel kehilangan ‘semuanya’, Sam Emmeth adalah orang yang menariknya dari lubang keputusasaan. Mel pun menjadi pekerja di rumah Emmeth. Meski namanya pekerja, sebenarnya lebih mirip anak angkat. Tidak hanya diberi makan dan tempat untuk tidur, Mel juga disekolahkan. Tiga tahun kemudian, Ia dan Riveri Emmeth, putri tertua keluarga Emmeth, diutus untuk mengurus panti asuhan Emmeth di Pulau Aeneas.

    “Bagaimana apartemenmu? Nyaman tidak?” Tanya Riveri.

    “Biasa saja. Kasurnya tidak senyaman disini.”

    “Bagaimana lagi, sejak Gino bersaudara datang kemari di tempat ini sudah tidak ada ruang untukmu. Untuk sementara kau harus tinggal disana dulu. Aku akan meminta ayah untuk mencari pengasuh-”

    “Agh,” Mel memotong pembicaraan, “Jangan salah sangka, aku tidak ingin merepotkan kalian terus menerus. Mulai bulan depan aku akan cari pekerjaan sampingan dan uang apartemen akan kubayar sendiri.”

    “Mel, kau tidak perlu melakukan itu.”

    “Sudahlah. Tidak apa-apa. Daripada itu, Riveri…”

    “Hm?” Ketika nada bicara Mel merendah, perhatian Riveri seakan tertarik seluruhnya, “Ada apa?”

    “…..”

    Tatapan dari mata kecoklatan Riveri membuat Mel terdiam. Rambut merah yang panjang, tergerai, mengayun-ayunkan perhatian Mel. Kata-kata yang sudah Ia susun untuk mengajak kencan Riveri hilang. Padahal Ia sudah berlatih sejak kemarin malam, bahkan Ia mengulang-ulangnya di bus.

    “…A… Tidak, tidak ada apa-apa.” Ujar Mel dengan menggelengkan kepala, “Aku akan menyapu halaman belakang.”

    Dengan langkah terburu-buru, Mel pergi ke arah pintu belakang panti. Riveri hanya bisa memiringkan kepalanya melihat Mel yang canggung.

    Sementara itu, Mel mengambil sapu lusuh di teras belakang dan mulai menyapu halaman yang dipenuhi daun dari pohon Oak besar yang berada di sana. Sendirian, pikiran Mel mulai mengembara. Angin sepoi-sepoi membuatnya teringat kepada gadis yang muncul tadi pagi. Gadis bermata hampa yang bicara tentang Pembunuh Dunia.

    “Pembunuh Dunia…? Apa-apaan itu…?” Gumam Mel berjalan menuju ke sebelah tempat sampah untuk mengambil pengki. Namun kemudian Ia menyadari kalau pengki yang biasanya di sana tidak ada. Mel pun mengingat kemarin Ia menyapu halaman depan dan ada kemungkinan Mel lupa membawanya kembali. Lewat halaman samping Mel berjalan ke teras depan.

    Siapa sangka Mel menemukan kejutan. Bukan fakta bahwa pengki ada di sana, namun karena ada tubuh seseorang yang tergeletak di samping gerbang. Dengan perlahan Mel mendekati orang itu, dan Ia mendengar erangan lirih.

    “..Ma… kanan….”

    “Makan? Kau minta makan?”

    “I… ya…”

    “Sayang, kami tidak punya cukup banyak untuk dibagi. Pergi, pengemis.”

    “Mel!” Sebuah pukulan yang sedikit lebih keras dari yang tadi menghantam Mel, kali ini di belakang kepalanya.

    “Kasar sekali kau pada pengemis malang ini.” Seru Riveri.

    “Maafkan orang ini, pak. Dia orang desa.” Riveri membantu orang itu berdiri.

    Orang itu memang berpenampilan lusuh, tapi perawakannya bukanlah perawakan seoang pengemis. Meski terlihat lemas, tubuhnya kekar. Nyaris tidak ada rambut di kepalanya namun jenggotnya hitam tebal. Wajahnya memiliki bekas luka. Matanya setajam cakar elang. Daripada pengemis, Ia lebih mirip seorang marinir yang dibebas tugaskan.

    Atas perintah Riveri, Mel menuntun lelaki berjenggot itu menuju ke teras. Riveri pun mengambil segelas air dan sebungkus roti pisang coklat untuk lelaki itu. Lelaki berjenggot itu pun makan dengan lahap.

    “Ah, terima kasih nona… Erm…”

    “Riveri Emmeth. Lelaki kampungan di sana Melrose Stein.”

    “Aku Jorge Padreira.”

    “Kau orang Meksiko?” Tanya Mel.

    “Puerto Riko.” Jawab Jorge dengan senyum di bibirnya yang sedikit tertutup jenggot tebal.

    “Kau tidak kelihatan seperti pengemis.”

    “Mel! Itu tidak sopan!” Riveri kali ini benar-benar kelihatan marah.

    “Tak apa,” Jorge masih tersenyum, “Memang kelihatan seperti itu, kan?”

    Riveri mengambil gelas Jorge, “Biar kuisi lagi airnya. Mel, jangan bicara aneh-aneh!” Ancam Riveri. Mel hanya mengangguk, tanpa rasa ketertarikan sama sekali.

    Kemudian, lelaki itu mengambil sesuatu dari kantongnya. Rupanya sebuah kotak cerutu. Jorge mengambil satu batang dari dua yang tersisa, dan kemudian menyalakannya. Bau cerutu itu cukup menyengat untuk Mel yang penciumannya tajam. Sebaliknya, Jorge kelihatan sangat menikmati momen ini.

    “Kau sepertinya suka sekali dengan cerutu itu.”

    “Yah, aku memesannya langsung dari Nikaragua. Hartaku hanya tinggal ini… Aku takkan menyia-nyiakannya.” Kata Jorge sambil menghembuskan asap ke udara.

    “Biar kutebak, kau mantan tentara?”

    “Bingo.” Kata Jorge sambil menjentikkan jari, “…Sebenarnya, itu tidak 100 % benar.”

    “Apa maksudmu?”

    “Aku bukan bagian dari tentara, tapi sebuah pasukan rahasia.”

    “..Rahasia?”

    “Ya... Satuan yang amat sangat rahasia.”

    Mendengar itu ekspresi Mel berubah menjadi tidak tertarik. Ia bepikir lelaki ini mungkin sudah gila karena tidak makan berhari-hari.

    “Wajahmu berkata kau tidak percaya, kan? Aku tahu tidak semua orang bisa percaya, namun itu kenyataannya. Pemimpin pasukanku dipecat beberapa minggu lalu karena korupsi. Kami, para anggota yang terbuang, kesulitan untuk mendapatkan perkerjaan dan pada akhirnya menjadi putus asa. Kemudian ketua sementara kami berhasil mendapatkan sebuah job, yaitu di Aeneas ini. Kupikir kerjaan itu bagus, namun rupanya kami hanya dijadikan kelinci percobaan…”

    “Kelinci percobaan?”

    “Ya. Aneh, bukan? Sebulan yang lalu aku berada di hutan Afrika, berperang melawan bandit setempat dan sekarang aku menjadi kelinci percobaan yang terbuang. Percayalah nak, aku pernah berjalan melewati tumpukan mayat, seperti Rambo.”

    “….Begitu?” Mel tersenyum kecut.

    “Kenapa?”

    “Tidak, tidak apa. Bisa ceritakan lebih lanjut tentang-”

    “Oh, kalian sudah akrab rupanya. Baguslah.”

    Tiba-tiba Riveri muncul dari belakang, membawakan air dan roti yang kedua. Namun melihatnya Jorge buru-buru berdiri.

    “Ah, Nona Riveri tidak perlu repot-repot. Aku sudah mau pamit.”

    “Begitu?” Riveri mendesah, “Kalau begitu setidaknya bawalah satu roti ini.”

    Jorge menerima roti itu, lagi-lagi dengan mulut penuh senyum, “Terima kasih.”

    Kemudian masih sambil mengigit cerutu yang masih panjang itu Jorge mulai berjalan keluar. Mel ingin menghentikannya untuk bertanya mengenai percobaan itu, namun tidak jadi. Mel berpikir itu tadi mungkin hanya omong kosong orang putus asa.

    Setelah Jorge menghilang dari pandangan, Riveri berniat untuk kembali masuk, namun Mel menghentikannya. Dalam waktu sepersekian detik itu Mel berhasil mengingat kata-kata yang dihapalkannya semalam.

    “Kenapa, Mel?”

    “Riveri… Apa akhir minggu ini Oleana datang?”

    “Iya. Kenapa?”

    “Kau mau pergi jalan-jalan denganku? Kau tahu, nonton film dan semacamnya…”

    Mendadak mata Riveri berbinar, “Film! Kau yang traktir?”

    “Tentu.”

    “Filmnya John Travolta yang baru!”

    “Oke, oke. Terserah kau.” Mel tidak mengerti siapa yang dibicarakan Riveri. Ia hanya mengiyakan saja.

    “Jadi… Ini kencan, Mel?”

    “…Kurasa ya.”

    “Hmmm…” Riveri tersenyum, “Aku terkejut kau melihatku sebagai seorang wanita. Mel sudah dewasa ya~”

    “Kita hanya berjarak 2 tahun kan.”

    “Hehe, oke. Kita pergi besok sabtu. Siapkan dompetmu karena aku tidak kenal belas kasihan!”

    Mel mengangguk perlahan.

    “Oke.”

    Didalam suara yang halus itu tersimpan antusiasme yang tinggi. Mel berpikir akhir minggu ini akan jadi akhir minggu yang penuh kenangan.


    * * *

    Dering telepon yang nyaring membangunkan Mel. Jam menunjukkan pukul dua pagi. Mel menggumam, siapa yang menelepon pada waktu seperti ini?

    “Halo, Mel?”

    “Ini… Oleana?”

    “Mel… Mel! Kau sudah dengar?!”

    “Ada apa?”

    “Riveri… Riveri… Dia….!!!”

    Suara di telepon itu dipenuhi rasa takut. Tentu saja itu membuat perasaan Mel memburuk.

    “Apa yang terjadi?”

    “Cepat, datanglah ke panti!”

    Dengan segera, Mel menutup telepon dan mengenakan kemeja yang tergantung di pintunya. Mel berlari dengan kecepatan penuh menuju ke panti asuhan Emmeth yang jaraknya kira-kira 3 kilo dari apartemen. Meski bertubuh kurus, Mel sangat terlatih. Berlari sejauh 3 kilo bukan apa-apa baginya.

    Yang menanti Mel di panti adalah suara sirene polisi. Suara yang nyaring dan serasa merobek gendang telinga. Di sekeliling halaman terpasang garis kuning. Jalanan depaan panti ramai dipenuhi para tetangga. Mel sama sekali tidak mengerti apapun, hingga seseorang perempuan berambut panjang menghampirinya.

    “Mel!”

    “Ah, Oleana, ada ap-” Sebelum Mel menyelesaikan perkataannya, Oleana, adik Riveri, memeluk Mel. Matanya memerah, sepertinya Ia menangis sejak tadi.

    “Riveri… dan semua anak-anak di panti…!!”

    “Oleana, apa yang terjadi?”

    “Mereka dibunuh…!”

    “…Hah?” Mel tidak mempercayai apa yang Ia dengar.

    “Mereka dirampok, kemudian dibunuh dengan kejam….! Aku.. aku tidak tahu… apa yang sebenarnya terjadi…. Uuuh!!!” Oleana menggigit bibirnya dengan keras.

    Sementara, Mel belum bisa memutuskan apa yang harus Ia lakukan di saat seperti ini. Kata-kata apa yang harusnya keluar? Ekspresi apa yang seharusnya muncul?

    Beberapa menit kemudian Mel dan Oleana dipanggil oleh pihak polisi untuk ditanyai beberapa hal. Mel sebagai orang yang melihat Riveri untuk terakhir kali tidak bisa bicara banyak. Ketika Ia pergi Riveri masih sempat mengantarkannya keluar dan mengucapkan sampai jumpa. Setelah selesai ditanyai, Mel mendatangi mobil ambulan yang mengangkat kantong-kantong mayat. Sebagian besar kantong mayat itu hanya setinggi perut Mel. Hanya satu kantong yang berbeda sendiri.

    Mel menatap kantong itu tanpa perasaan. Ia tidak tahu apa yang harus Ia katakan. Kemudian Mel menengok ke arah panti asuhan. Bangunan kecil itu terlihat lebih kumuh daripada biasanya.

    “….Sebenarnya apa yang terjadi…?” Mel menggumam.

    Perhatiannya teralih ketika sosok yang familiar muncul. Sosok yang ditemui Mel tadi pagi, gadis bermata pucat. Ia hanya berdiri diam menatap Mel. Rambutnya tidak terlihat karena Ia menutupi kepalanya dengan tudung jaket panjang yang dikenakannya.

    “…Apa ini yang kau maksud dengan Pembunuh Dunia?”

    Gadis itu tidak menjawab.

    “Semua orang yang kukenal akan mati?”

    Gadis itu masih tidak menjawab.

    “Jawablah.”

    “…Mungkin saja.”

    Ketika bibir tipis gadis itu terbuka, yang keluar hanya kata-kata samar.

    Hati Mel dipenuhi perasaan yang aneh. Perasaan yang tiba-tiba muncul dan bagaikan duri, menusuk-nusuk hati. Mel tidak peduli dengan kehancuran dunia. Yang tidak bisa Ia terima adalah kenyataan bahwa Riveri sudah tiada, itu saja. Itu saja yang ingin Mel pikirkan.

    Setelah membulatkan tekad, Mel menerobos masuk ke TKP. Di dalam, Ia mencoba mencari sesuatu yang bisa membawanya ke sang pelaku.

    “Hei! Apa yang kau lakukan di TKP! Cepat keluar!” Seorang polisi kulit hitam menghampiri Mel. Namun Mel tidak bergeming dari tempatnya.

    “Ada apa, Ken?”

    “Tidak, ini ada anak muda yang masuk…”

    “Kenapa, nak? Ada yang kau cari?”

    Datang satu lagi polisi yang mengenakan kemeja, hanya pakaiannya tidak serapi pakaian polisi yang sebelumnya.

    “…Apa kau mencari bukti atau semacamnya? Kau bisa lihat di meja sebelah sana. Tapi jangan diambil yah.” Polisi yang berkemeja berantakan itu tersenyum ramah.

    “Kenapa kau malah..!”

    “Sudahlah, Ken. Biar saja.” Polisi itu berbalik dan berjalan menuju ke ruang tengah, diikuti oleh polisi satunya dan menginggalkan Mel di pintu depan.

    Tanpa basa-basi lagi Mel menuju ke meja bukti. Ada beberapa barang di sana seperti pecahan kaca yang berdarah, jam tangan, dan beberapa benda lainnya. Namun ada satu benda yang menarik perhatian Mel.

    Sebuah cerutu.

    Cerutu yang baunya menyengat, yang Mel cium siang itu.

    Detik itu, perasaan aneh yang tadinya becokol di hati menguasai seluruh tubuh Mel. Bibirnya membentuk senyum tipis.

    “… Jadi, kau orangnya…”

    Tanpa basa-basi lagi, Mel berjalan keluar dari panti.

    ***

    Jorge Padreira berjalan bungkuk melewati terowongan bawah jembatan. Wajahnya dipenuhi ekspresi kebahagiaan. Dia baru saja merampok sebuah panti asuhan. Meski tidak banyak harta berharga di sana, namun Ia mendapatkan banyak makanan-sebagian besar roti pisang coklat-dan beberapa botol air mineral. Selain itu, Ia berhasil memuaskan ‘nafsu’nya untuk mengiris-iris tubuh manusia. Bagi Jorge, untuk sementara ini cukup.

    Namun, ketika mendekati pintu keluar, seseorang berdiri menghadangnya. Jorge tidak bisa melihat dengan jelas karena lampu terowongan yang redup. Sosok gelap itu berjalan mendekati Jorge. Secara reflek, Jorge mengeluarkan pisau tentara yang Ia simpan di kantong depan celananya.

    “Ho! Kalau aku jadi kau aku tidak akan mendekat. Tubuhmu akan tercincang kalau kau masuk ke jangkauanku.” Ancam Jorge. Namun sosok di depannya bungkam. Ia terus berjalan mendekat.

    “Kalau itu maumu…”

    Jorge memasang kuda-kuda. Sedangkan sosok gelap itu akhirnya mencapai daerah yang penerangannya cukup, membuat Jorge bisa melihat dengan jelas sosok itu.

    Sepertinya seorang pemuda, bertubuh kurus dan tingginya sedang. Bukan terlihat seperti ancaman untuk Jorge yang sangat terlatih dalam bertarung. Hal yang sedikit mengganggu Jorge adalah wajah pemuda itu dibalut perban hingga tidak bisa dikenali sama sekali.

    “Sepertinya kau tidak bangga dengan wajahmu ya… He he he…” Jorge tersenyum picik.

    Dengan langkah panjang Jorge menerjang ke arah pemuda itu dan mencoba untuk menusuk perutnya. Namun pemuda itu menghindar ke samping dengan mudah. Ketika Jorge menyadarinya, pemuda itu sudah menodongkan pisau ke tenggorokannya.

    “Wow… Kau lumayan juga…” Puji Jorge. Tapi Ia tidak mau kalah. Kebanggaannya sebagai prajurit pasukan khusus menyelimutinya.

    Bagaikan karet, tangan Jorge menjadi lembek. Tangannya berubah warna, dari kecoklatan menjadi hitam pekat. Perhatian pemuda itupun teralihkan. Pastinya Jorge tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Jorge langsung melompat kebelakang dan mengayunkan pisau di tangannya ke arah perut sang pemuda. Untungnya pemuda itu terselamatkan karena refleknya yang bagus. Ia berhasil menepis pisau Jorge dengan pisaunya.

    “Hahaha! Bagus sekali, bocah! Kau membuat malam ini menjadi salah satu malam terbaik dalam hidupku!” Jorge tertawa-tawa, “Sejak kemarin, keinginanku untuk mengiris tubuh manusia melebihi biasanya! Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya!”

    “Aku datang bukan untuk bersenang-senang. Aku kemari untuk balas dendam.”

    “Balas dendam?”

    Perlahan pemuda itu membuka perban di wajahnya. Yang muncul adalah wajah seseorang yang baru saja dikenal Jorge siang tadi.

    “Oooh… Oooh! Rupanya kau! Kau yang dari panti asuhan itu!” Perasaan Jorge bertambah bahagia, “Rupanya! Rupanya kau ini bukan orang biasa ya?”

    “Yah, begitulah.”

    “Bagus… Bagus! Kau benar-benar melengkapi malamku!”

    Dalam sekejap, tubuh Jorge bergerak lagi. Dalam waktu sedetik Jorge melompat ke udara, dan mencoba membacok kepala pemuda itu.

    Trang! suara senjata tajam yang bertabrakan terdengar nyaring. Pisau Jorge dan sang pemuda bergesekan dengan keras, keduanya tidak mau kalah. Seketika, Jorge bersalto kebelakang, hingga kira-kira Ia berjarah 20 meter dari sang pemuda.

    “Aku tidak suka dijadikan percobaan… Namun aku sangat menyukai kekuatan ini!! Dahulu aku seorang prajurit, kemudian menjadi kelinci percobaan… Sekarang aku manusia super!!” Jorge berteriak-teriak membanggakan diri. Pemuda itu diam, hanya terus memandang Jorge.

    “Ijinkan aku untuk mengucapkan terima kasih… DAN SELAMAT TINGGAL!!”

    Seusai kalimatnya Jorge berlari ke arah sang pemuda. Kemudian Ia merapat ke dinding terowongan dan terus menaikinya hingga Ia berada di atas terowongan. Ketika jaraknya hanya tinggal sekitar satu meter Jorge menjatuhkan diri dan mengayunkan pisaunya dengan cepat ke arah pemuda itu. Semua itu dilakukannya hanya dalam beberapa *******

    “Agh…?!”

    Jorge berhasil mendarat dengan baik, namun entah kenapa Ia tidak bisa merasakan pisau yang seharusnya berada di tangannya. Hingga Ia melihat darah mengalir di lantai.

    Jari-jari Jorge-sudah tidak berada di tempatnya.

    “H-H-Hiiiii!!!”

    “Mencari ini, tuan?”

    Klang, suara pisau terjatuh terdengar bergema di terowongan itu. Pisau Jorge berada di depannya, bersama kesepuluh jari tangannya yang menghitam.

    “Hiiii!! Ka-kau ini..?!”

    “Maaf kalau mengecewakanmu, aku cuma seorang pembunuh.” Pemuda itu berjalan mendekati Jorge yang ketakutan, “Sedangkan kau… Kau dulu seorang prajurit, lalu menjadi kelinci percobaan… Sekarang, kau akan mati seperti seekor anjing.” Katanya sambil menghunus pisaunya tepat ke wajah Jorge.

    “He he…”

    “Hah?”

    “He hehehehe… HAHAHAHAHAHA!!” Jorge tertawa seperti orang gila.

    “Kenapa kau tertawa?”

    “Hahaha… Bocah… Kau pikir aku akan menyesali perbuatanku?”

    “…Apa?”

    “Kau pikir aku akan menyesal karena aku sudah membunuh wanita itu dan seisi panti asuhan jika kau mengancamku?”

    Wajah pemuda itu berubah. Tadinya Ia tenang, namun sekarang kelihatan tegang . Alisnya berkerut, “Tentu saja.”

    “Idiot! Aku takkan menyesalinya! 15 orang yang mati ditanganku tadi akan jadi oleh-olehku ke neraka! Aku akan menyimpannya baik-baik!”

    Ocehan Jorge semakin menjadi, “Sejak aku menjadi eksperimen, nafsu membunuhku meningkat beberapa kali lipat! Dan aku tidak mempermasalahkannya, aku mencoba beradaptasi dengannya! Aku tidak menyesal! AKU BAHAGIA!!!”

    “Diam kau.”

    Dengan satu gerakan menyilang, Pemuda itu memotong nadi di leher Jorge, mengakhiri hidupnya bersama seluruh kebahagiaannya.


    * * *


    Di bawah kaki Mel sekarang tergeletak sebuah mayat. Makhluk hidup yang telah turun derajat menjadi benda mati. Mel, sebagai seorang pembunuh berpengalaman, tidak mendapatkan masalah yang cukup besar ketika membunuh lelaki ini. Ia sedikit penasaran tentang kekuatan aneh lelaki ini tapi keingintahuan itu tertutupi oleh perasaan puas.

    Perasaan puas telah kembali ke sisi gelap-

    “Ahahahahaha!”

    Tiba-tiba terdengar tawa dari ujung terowongan. Tawa seorang perempuan. Secara reflek Mel menengok ke arahnya.

    Di ujung terowongan yang berlawanan arah dengannya berdiri seorang wanita. Ia tertawa sambil memegangi dahinya. Rambut hitamnya yang seleher berkibar mengikuti gerakan kepalannya. Beberapa saat kemudian Ia berhenti tertawa, dan bertepuk tangan.

    “Pertunjukkan yang indah, indah sekali. Aku beruntung bisa menyaksikannya.”

    Dengan satu tatapan dari mata wanita itu, Mel tahu Ia bukan orang biasa. Dari matannya terpancar keabnormalan, sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang. Di bawah mata kanannya, terdapat tato berwarna ungu yang berbentuk garis memanjang hingga ke dagunya.

    “Apa kau akan melaporkanku ke polisi?”

    “Tidak… Tentu saja tidak. Tenanglah.” Wanita itu berjalan mendekat, “Sejujurnya, aku kemari juga karena lelaki itu. Tapi siapa sangka aku menemukan hal yang berkali lipat lebih bagus.”

    “….Aku tidak mengerti kenapa kau menganggap ini bagus, indah. Ini sama sekali tidak indah.”

    “Apa maksudmu?”

    “Kau melihat kemarahan dan pembalasan dendam. Apa itu menarik bagimu?” Tanya Mel dengan suara penuh hawa ancaman. Anehnya, wanita bertato ungu itu tidak bergeming mendengarnya. Sesaat kemudian Ia malah tersenyum, dan mulai tertawa lagi.

    “Buhahahahaha!”

    “Apanya yang lucu?”

    “Kau.”

    “Aku?”

    “Ya…” Dengan langkah bak model, wanita itu berjalan memutari Mel yang kebingungan.

    “Kebohonganmu sangat lucu.”

    “Kebohongan…?”

    “Kau sendiri tidak menyadarinya? Bagaimana bisa? Jika kau bilang kau ingin balas dendam, itu berarti tindakanmu kontradiksi dengan perkataanmu.”

    “Apa yang kau bicarakan?”

    “Kau jelas-jelas tidak membunuh untuk balas dendam. Kau membunuh karena kau ingin—tidak, lebih tepatnya, itu seharusnya sudah menjadi rutinitas. Untukmu, membunuh sama seperti makan dan minum, bahkan bernafas.”

    “Jangan bercanda…” Mel mulai naik darah, “Apa maksudmu dengan ‘keinginan’? Aku bukan membunuh untuk hal bodoh seperti itu!”

    “Lalu kenapa kau tersenyum ketika menggorok leher orang itu?”

    “….Eh?”

    Seketika pikiran Mel membeku. Ia tidak tahu akan hal itu. Ia tidak tahu ekspresi macam apa yang Ia pasang ketika Ia mencabut nyawa Jorge Padreira.

    Marah? Atau… bahagia?

    “Kau sudah ketagihan oleh perasaan menghapus eksistensi seseorang. Kau sudah begitu ketagihan hingga kau tidak menyadarinya. Aku hanya menerka, tapi kurasa selama beberapa tahun ini kau mencoba menahan keinginan itu. Kau berhasil menguburnya dalam kesadaranmu. Tapi, ketika ada kesempatan sedikit saja untuk muncul, ‘hasrat’ itu mencuat keluar dan memenuhi pikiranmu. Aku benar, kan?”

    Mel tidak menjawab. Kata-kata wanita itu tidak masuk akal, namun entah kenapa tidak ada yang lolos dari pendengaran Mel. Pikirannya dipenuhi pertanyaan. Pertanyaan yang jawabannya samar.

    Untuk apa dirinya membunuh…?

    Selama 4 tahun bersama keluarga Emmeth, Mel mencoba untuk menjadi ‘manusia’. Bertingkah seperti manusia, berkata seperti manusia. Ia tidak pernah mempelajarinya di kampung halamannya. Yang Ia pelajari hanyalah membunuh.

    Mel mengira Ia bisa lari dari ‘hasrat’ itu sejak insiden 5 tahun lalu, namun asumsi itu salah.

    ‘Hasrat’ itu akan mengejarnya hingga akhir hayatnya.

    “Kalau kau ingin sesuatu yang lebih menarik, datanglah kesini.” Kata wanita itu sambil melemparkan sebuah kunci ke arah Mel.

    “Kunci apa ini?”

    “Kunci untuk gudang nomor 33 di pelabuhan. Kalau kau penasaran dengan apa yang kami lakukan kepada lelaki di sana itu, datanglah.”

    Wanita itu berbalik dan mulai berjalan menjauh.

    “Tunggu!” Seruan Mel menghentikan wanita itu, “Kenapa kau memberiku ini? Kenapa aku?”

    Wanita bertato itu tersenyum picik, “Karena kau menarik. Aku hanya ingin kau bisa menerima dirimu yang sebenarnya. Ketika kau melakukan itu, kau akan jadi berlian yang sangat berharga.”

    Sesaat kemudian wujud wanita itu sudah menghilang ditelan bumi.

    Mel menatap kunci berkarat ditangannya. Mel penasaran, kotak pandora macam apa yang bisa dibuka kunci itu?


    * * *


    Melrose Stein.

    Meski memiliki darah Jerman, separuh dirinya adalah orang Iran. Ia dilahirkan di Iran dan besar pula di sana. Di Iran jugalah Ia pertama kali mengetahui tentang ‘membunuh’, sejak kelompok pembunuh ‘Zabaniya’ mengadopsi Mel setelah orang tuannya meninggal karena wabah malaria.

    Sejak saat itu, Mel yang dipanggil dengan nama ‘Hamza’ menjadi salah satu pembunuh andalan Zabaniya. Ia membunuh banyak orang, dari seorang tentara biasa hingga politikus. Begitu banyak korbannya hingga Mel tidak bisa menghitung jumlahnya.

    Hingga suatu ketika, Mel merasa misi yang diberikan untuknya kurang. Ia pun menciptakan ‘misi’ sendiri. Ia mulai membunuh tanpa pandang bulu. Ketua Zabaniya waktu itu memutuskan untuk membunuh Mel, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Mel yang memang dikenal memiliki bakat melebihi siapapun di kelompok, malah membunuh seluruh anggota.

    Dengan kondisi tubuh babak belur, Mel menyadari tangannya belumur darah para sahabatnya. Kemudian Ia melihat di sekelilingnya, tubuh orang-orang yang dikenalnya bertebaran.

    Saat itu, Mel merasa dirinya sudah gila.

    Memutuskan untuk tidak menyerah pada kegilaan, Mel membuang hasrat membunuhnya dan pergi dari kampung halamannya, hingga kemudian Ia bertemu dengan Sam Emmeth. Bersamanya, Mel merasa Ia memiliki kehidupan baru. Mel merasa Ia bisa mengulangi hidupnya dari nol lagi. Karena itulah, Ia mencoba mempelajari emosi manusia biasa. Tersenyum, tertawa, sedih, marah. Dari kedua putri Sam, Mel mempelajari semua itu. Buku yang berisi halaman kosong yang berjudul ‘Melrose Stein’ mulai terisi, perlahan tapi pasti.

    Lambat laun, Mel mulai tertarik pada putri tertua Sam, Riveri Emmeth. Memang, awalnya Mel kesulitan untuk menunjukkan ketertarikan itu, namun Ia berusaha. Hingga suatu hari Ia berhasil menyampaikan keinginannya untuk pergi berjalan-jalan dengannya.

    Ironis, di hari itu pula Riveri kehilangan nyawa, dan Mel menyadari kenyataan bahwa Ia tidak pernah tertarik pada Riveri.

    Bukan hanya itu. Semua emosinya selama ini-senang, sedih, marah, penyesalan, semua… Hanya ilusi. Semua itu hanya rekaan dari separuh hati Mel yang ingin menjadi ‘manusia’. Separuh hatinya yang satu lagi hanya berisi kegelapan, hati yang memiliki identitas sebagai ‘pembunuh’.

    Malam itu, meski hanya beberapa saat, hati ‘pembunuh’ itu menguasai diri Mel.

    Mel tidak bisa lari dari ‘hati’ itu… Karena bagaimanapun juga hati itu adalah dirinya.

    “Alasan membunuh…?”

    Dalam perjalanan pulang, kata-kata wanita bertato ungu itu terus membayangi pikiran Mel.

    “Apa yang sudah kulakukan…” Gumam Mel sambil membuka kunci apartemennya.

    Ketika Ia masuk, Mel melihat lampu ruang tengah menyala. Ada dua kemungkinan: Mel lupa mematikan lampu, atau seseorang masuk.

    Mel berjalan perlahan, tanpa suara menuju ruang tengah. ‘Tamu’ itu pasti sudah tahu ada orang masuk, namun Mel setidaknya tidak ingin ‘tamu’ itu tahu kapan Ia mendekat. Dengan cekatan, Mel menerjang masuk ke ruang tengah sambil mengacungkan pisaunya. Namun yang Ia lihat bukan ancaman sama sekali, hanya seorang gadis yang duduk dimeja makan dengan wajah tanpa ekspresi, seakan menanti seseorang.

    Lebih spesifik lagi, gadis ini adalah yang dilihat Mel tadi-atau lebih tepatnya kemarin pagi.

    “Sudah pulang?”

    “Kenapa kau di sini…?”

    “Kuharap kau punya makanan. Aku lapar.” Gadis bermata pucat itu mengoyang-goyangkan kakinya seperti seorang bayi yang minta makanan. Tidak seperti kemarin pagi dimana Ia mengenakan jaket panjang yang mirip jas hujan, sekarang Ia hanya mengenakan kamisol hitam dan celana pendek.

    Mel terlalu lelah untuk mempedulikan gadis itu. Ia melewati meja makan tempat gadis itu duduk dan masuk ke kamarnya, kemudian merubuhkan diri di tempat tidur.

    “Aku capek sekali….” Kata Mel lirih.

    “Mau kupijat?”

    Wajah gadis itu tiba-tiba muncul di depan pintu kamar Mel, lagi-lagi tanpa ekspresi. Mel hanya bisa melihatnya dengan wajah kebingungan.

    “Tidak… tidak usah…” Mel berguling ke samping, menjauhkan pandangannya dari gadis itu. Namun gadis itu terus mengikuti gerak-gerik Mel. Ia bahkan naik ke tempat tidur Mel.

    “Aku lapar.”

    “Kalau begitu beli makanan.”

    “Aku tidak punya uang.”

    Mel menyerah kepada keras kepalanya gadis itu. Ia berdiri dari tempat tidurnya dan menuju ke ruang makan. Ketika Mel membuka lemari, yang tersisa hanya beberapa bungkus mi instan.

    “Kau mau mi instan?”

    “Apa saja boleh kok.”

    Mel mengehela nafas panjang sambil menyalakan kompor.

    “Kau tidak ingin tahu tentang ‘Pembunuh Dunia’ yang kubicarakan?”

    Tiba-tiba kata-kata gadis bermata pucat itu memecah keheningan dan menarik perhatian Mel. Tetapi beberapa saat kemudian Mel sudah mengacuhkannya.

    “Kau benar tidak peduli?”

    “Ya.”

    “Benar-benar?”

    “Ya.”

    “Benar-benar benar?”

    “Ya, ya. Aku tidak peduli dengan semua itu.”

    Beberapa menit kemudian, Mel selesai memasak mi instan. Ia membawakannya ke meja makan tempat gadis itu menunggu.

    "Terima kasih, Mel."

    Mel duduk di seberang gadis itu, "Aku belum tahu namamu."

    "Panggil saja aku Engel, "Kata gadis bermata pucat itu tanpa menengok ke arah Mel dan mengeluarkan seluruh perhatiannya ke sepiring mi instan di meja, "Selamat makan."

    ***

    Kam xia everyone... :xiexie:
     
    Last edited: Jun 30, 2011
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    Giande Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 20, 2009
    Messages:
    978
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +1,225 / -0
    uoooo prolog e

    bagus nih cara penyampaian ceritanya... :sembah:
    3 karakter... hmm laki - laki smua sedikit kecewa :haha: coba yang terakhir cewek bernama molly :hehe:


    main2 juga di lounge ngobrol2 sesama penghuni fiction :peace:
     
  4. Offline

    XtracK Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 22, 2011
    Messages:
    266
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +256 / -0
    yup, setuju ma kk Giande :peace:
    prolognya dah keren, kk Kyotou. tapi, pas bagian melrosenya, ak jadi agak pening karna ceritanya panjang banget, dan dalam satu spoiler.. :pusing:
    menurut ak, ceritanya dipisah di bagian yang menegangkan, lalu disambung dengan Melrose Ch.II
    so, yang bacanya juga nyantai.. :unyil:
    but, ini pendapat ak aja, sih.. :iii:
    karna ak juga masi nubie, lo kta2 ak sok tau gtu, :maaf: ya..

    yup, and ketemu ma kk2 yang suka debat, suka makan kuaci sambil :ngupil:, suka keseriusan, suka maen2, and suka muncul, lalu menghilang bak hantu.. :haha:
    yang pasti, ini lonje gokil banget !!!! :top:


    menurutk.. :peace:
     
    Last edited: Jun 11, 2011
  5. Offline

    red_rackham Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 12, 2009
    Messages:
    757
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +355 / -0
    Nice story....

    Ceritanya agak2 gelap en gw suka yg gelap2 :haha:

    Kalau genre-nya agak nyerempet ke Suspense, mending 'kegilaan' atau sifat psikopat mel diungkap setelah 1-2 chapter / part. Jadi pembaca merasa lebih penasaran dan ada twist yang kuat ^___^

    Anyway....good job. Keep on writing!
     
    • Like Like x 1
  6. Offline

    kyotou_yasuri Silent Reader Members

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Wuah trims sudah baca kk Giande. Syukur kl kk suka gaya penyampaian ceritanya...

    Tentang tokoh utama... belum bisa banyak komentar saya. :peace:

    Trims komennya bro XtracK :xiexie:

    Hmm masalah chapternya emang ini agak kepanjangan. Kubenerin deh untuk kedepannya. :peace:

    Wahh sesama nubi tidak perlu malu2... :hihi:

    Wah dari cerita akang2 sekalian kelihatannya lonji itu benar2 gokil :glek:

    Trims berat untuk komennya kk Red... :xiexie:

    Hehehe ane juga suka yang gelap2... asal jangan terlalu gelap deh :peace:

    Heemm.. Iya juga yah kayaknya pengungkapan identitas Mel agak kecepatan nih.



    Anyway guys thanks for the comments :maaf:

    Chapter berikut sekalian saja:

    Two-Headed Woman



    Yasuhiko memulai hari dengan sarapan di kafe favoritnya, Birdcage. Seperti biasa, Ia memesan cappuccino dan sandwich tuna. Pagi itu sangat cerah, membuat Yasuhiko sedikit lebih bersemangat.

    “Yasuhiko, di pipimu…”

    “Hm? Oh…”

    “Sini, biar kubersihkan.”

    Gadis cantik yang duduk didepan Yasuhiko mengambil tisu di depannya dan mulai membersihkan pipi kiri Yasuhiko yang berlumur saus. Setelah bersih, gadis itu tersenyum.

    “Bersih!”

    “Trims, Annie.” Ujar Yasuhiko sambil balas tersenyum.

    Gadis yang duduk bersamanya ini adalah Anastasia Von Pluet, kekasih Yasuhiko. Mereka sudah berkencan selama setengah tahun, dan kebetulan sekali apartemen mereka berdekatan, sehingga mereka sering sarapan bersama.

    Bagi Yasuhiko yang cukup ‘berpengalaman’ masalah wanita, Anastasia—yang dipanggilnya Annie—adalah salah satu pacar tercantiknya. Pertama-tama Ia berasal dari Rusia. Itu sudah nilai plus tersendiri karena Yasuhiko jarang sekali mengencani orang yang berbeda kebangsaan. Kedua, Annie sangat, sangat cantik, hingga terkadang Yasuhiko berpikir, apa benar dia mengencani seorang pustakawati biasa, bukannya model? Kombinasi kulit yang putih mengkilap, mata kehijauan yang bagai batu zamrud, dan rambut pirang yang mulus, sangat mematikan bagi Yasuhiko.

    Yasuhiko menatap wajah Annie dengan ekspresi curiga. Lama-kelamaan, Annie merasa terganggu karena Ia sedang sarapan.

    “Um… Apa ada sesuatu di wajahku?”

    “Tidak, tidak ada apa-apa,” jawab Yasuhiko kalem, “Aku hanya berpikir, kenapa kau bisa begitu manis, sih?”

    Blush, wajah Annie spontan memerah mendengar Yasuhiko.

    “A-a-aah, Yasuhiko ini…”

    “Tidak, aku serius.”

    “Yasuhiko! Ini kan masih pagi! Kenapa bicaramu sudah begitu?!” seru Annie sambil mengayunkan kedua tangannya yang masih membawa garpu dan sendok kesana-kemari.

    “Hahaha! Maaf, maaf.”

    Tiba-tiba, penyeranta Yasuhiko berbunyi. Rupanya ada kasus, dan Yasuhiko harus segera berangkat.

    “Aah, kau sudah mau pergi?”

    “Ya,” Kata Yasuhiko sambil berdiri dan mengambil jasnya yang tergantung di belakang kursi, “Maaf Annie, pagi ini aku tidak bisa mengantarmu.”

    Annie menggeleng, “Tidak apa, aku tidak masalah kok.”

    Yasuhiko mengangkat jempolnya ketika mendengar jawaban Annie. Annie pun ikut mengangkat jempolnya dengan senyum lebar dibibirnya. Kemudian sebelum pergi, Yasuhiko mengelus kepala Annie dengan perlahan.

    “Aku berangkat dulu.”

    “Hati-hati, yah.”

    Tanpa buang waktu Yasuhiko keluar dari kafe menuju mobilnya yang terparkir di luar. Sebelum Yasuhiko menyalakan mesin Ia teringat tentang kasus yang akan Ia kerjakan pagi ini.

    Kemarin, di sebuah gang kumuh ditemukan mayat seorang lelaki yang juga anggota geng di kota. Ia ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan, dengan tubuh yang tercabik-cabik. Untunglah seseorang yang sepertinya teman satu geng korban yang ditemukan beberapa meter dari mayat itu hanya terluka sedikit di punggungnya. Hari ini sang saksi sudah sadar dan akan ditanyai.

    “Westwood, kau terlambat 5 menit.”

    Ketika tiba di kantornya, Yasuhiko disambut oleh rekan wanitanya Nera Grunwald. Nera, yang terkenal dengan sebutan ‘si rambut merah dari divisi pembunuhan’ orangnya sangat serius, bahkan bisa dibilang cukup kaku.

    “Iya, iya, maaf,” Ucap Yasuhiko dengan ekspresi setengah hati, “Kau tahu, aku kan sedang sarapan dengan PACARku—”

    “Kau mengejekku?! Kau mengejekku karena aku tidak punya pacar?!”

    Nera memotong dengan ekspresi penuh kemarahan. Memang untuk masalah kehidupan pribadi, Nera agak canggung. Ia masih melajang di usia 28 tahun.

    “Ha? Tidak ada yang berniat begitu kok…” Yasuhiko menggaruk kepalanya dengan senyum yang terlihat licik, membuat amarah Nera semakin membara.

    “Kalian… Jangan bentrok pagi-pagi begini…” Seorang pria berkulit hitam dengan rambut afro keluar dari ruang interogasi, “Ayo cepat mulai.”

    “Hmph!” Nera mengalihkan wajahnya dari Yasuhiko. Yasuhiko hanya tertawa-tawa kecil, Ia menikmati kegiatan ini.

    Di dalam ruang interogasi, pria berkulit hitam tadi yang juga rekan Yasuhiko yang bernama Kenneth Slattery, menghampiri Yasuhiko, “Hei, kau sudah tahu kan kalau dia itu sensitif… Jangan menggodanya terus. Dia paling sensitif jika mendengar kata ‘pacar’…”

    “Lalu kenapa kau masih diam saja?”

    “Apa maksudmu?”

    “Ken, semua orang tahu tentang perhatianmu padanya. Kau tidak perlu sembunyi-sembunyi.”

    “Urgh…” Ken mengernyitkan dahi, “Apa sejelas itu ya? Aah, sudahlah. Ayo mulai interogasinya!”

    “Oke, oke.”

    Di kursi interogasi sudah duduk seorang pemuda yang kelihatan pucat. Ekspresi wajahnya kelihatan bercampur antara kelelahan dan ketakutan. Di depan pemuda itu sudah duduk kapten dari divisi pembunuhan, Enrico Zayas.

    “Jadi, tuan Chapman,” Enrico mulai berbicara, “Kita mulai saja, ya. Aku langsung pada intinya. Apa yang kau lihat malam itu, sebelum John Spurlock dibunuh?”

    Tiba-tiba, tubuh Chapman mulai gemetar. Ia tidak menjawab.

    “Pelan-pelan saja, tidak perlu buru-buru.”

    Perlahan, mulut Chapman terbuka, “…Monster..”

    “Hah?”

    “Monster… yang bertubuh hitam…”

    Ekspresi Enrico tetap fokus, “Bisa kau ceritakan lebih jauh tentang ‘monster’ ini?”

    “Tubuhnya hitam dan tinggi… Dia sangat kuat, tidak kenal lelah… Dan kekuatannya, Ia, menerjang ke arah John…. Kemudian tiba-tiba tubuhnya tercerai-berai…!! Ugh….” Chapman yang memaksakan diri untuk bicara, kelihatan menahan mual.

    Mendengar kata ‘monster’, alis Yasuhiko berkedut. Ia punya beberapa kenangan buruk bersama kata itu.

    “Baiklah, terima kasih atas informasinya, Tuan Chapman. Kenneth, antarkan tuan Chapman kebawah.” Kata Enrico sambil berdiri dari kursinya.

    “Oke, boss.” Tanpa aba-aba lagi, Kenneth membantu Chapman berdiri, kemudian membawanya keluar dari ruangan. Yang tersisa di dalam hanya Enrico, Nera, dan Yasuhiko.

    “Monster… Apa maksudnya?” Tanya Nera sambil merapikan meja interogasi.

    “Entahlah… Orang bertubuh hitam, yang benar-benar berwarna hitam… Apa ini semacam sekte atau aliran agama baru?”

    “Mengecat seluruh tubuh… Ya, aku pernah dengar ada aliran yang seperti itu, tapi tidak berwarna hitam. Westwood, apa pendapatmu?”

    “Eh? Aku?” Yasuhiko kaget ketika namanya dipanggil. Ia selama ini melamun.

    “Kenapa? Kau memikirkan sesuatu?”

    “Tidak.. aku hanya teringat hal yang tidak penting.”

    “Begitu?”

    Setelah itu, pikiran Yasuhiko masih dibayangi oleh kata ‘monster’, ditambah pula dengan ‘sekte’ dan ‘aliran’. Semua kata-kata itu seakan membuatnya kembali ke masa lalunya yang gelap.


    ***

    Malam itu, sebelum kembali ke apartemennya Yasuhiko mampir ke gang tempat John Spurlock dibunuh. Pukul 11 malam, jalan disekitarnya sudah sangat sepi. Yasuhiko melewati garis polisi yang terpasang. Ia menyusuri gang ke daerah remang-remang.

    Hingga kemudian terdengar langkah kaki di belakangnya. Spontan, Yasuhiko berhenti. Langkah kaki itu menjadi semakin cepat, lama kelamaan menjadi suara berlari. Dengan satu tarikan nafas, Yasuhiko menarik pistol yang menggantung dipingganggnya dan membalikkan badan, seketika membidik sosok lelaki dibelakangnya. Peluru telak mengenai pinggang lelaki misterius itu dan membuatnya terduduk di tengah gang.
    Yasuhiko mengira lelaki itu sudah tewas, sebelum lelaki itu kembali berdiri dan menerjangnya.

    Untungnya, Yasuhiko masih sigap. Dengan satu sapuan kaki yang tepat mengenai wajah, Yasuhiko berhasil menjatuhkan lelaki yang mengincarnya itu ke tanah. Kali ini, Yasuhiko tidak memberi ampun. Ia menembak kedua tangan dan kaki lelaki itu.

    Aneh, lelaki yang tubuhnya nyaris sama persis dengan deskripsi Chapman itu tidak menjerit atau meraung kesakitan sedikitpun. Ia hanya tergeletak di tanah tanpa bergerak sama sekali. Hingga kemudian Ia bangkit sekali lagi. Namun, Ia tidak bisa bergerak, hanya terduduk di tanah seperti seorang bayi.

    “Tidak sakit bukan berarti luka itu tidak ada artinya… Kalau syarafmu putus tetap saja kau takkan bisa bergerak.”

    Dor, Yasuhiko menembak tepat di antara kedua mata lelaki itu. Lelaki itupun terjatuh dan kali ini, Ia tidak bergeming sama sekali.

    Yasuhiko mendekat ke sebelah lelaki misterius itu. Setelah Ia mengamati dengan seksama, rupanya wajah lelaki itu hanya sebagian yang berwarna hitam. Yasuhiko mencoba mengamati wajah itu dengan lebih seksama, dan Ia terkejut bukan main.

    Ia—mengenali wajah itu.

    “Benjamin..! Kau, kenapa…?!”

    Rupanya lelaki itu adalah salah satu rekan lama Yasuhiko di kesatuan tempatnya bertugas dulu di Afrika, Benjamin Roberts.

    Seketika Yasuhiko merasakan firasat buruk. Firasat yang sangat buruk, membuat perutnya mual bukan main. Ingatan-ingatan buruk mencuat dari pikiran yang terdalam, membayangi Yasuhiko.

    “Kenapa Ia ada di sini… Apa maksudnya semua ini?! ... Ah?”

    Perlahan, tubuh Benjamin berubah menjadi debu. Tertiup angin dan menghilang sedikit demi sedikit.

    Yasuhiko semakin kebingungan, kenapa rekan lamanya berada di sini? Apa yang sedang Ia hadapi? Apa maksudnya semua kejadian aneh ini?

    Kemudian, Yasuhiko teringat dengan pengalamannya beberapa hari yang lalu.

    Seorang gadis di lift… Yang bicara tentang Pembunuh Dunia.

    Apakah ini pertanda awalnya?

    Melihat tubuh Benjamin yang terus terurai, amarah Yasuhiko memuncak. Ia mulai menendangi tubuh Benjamin, agar serpihan tubuhnya menghilang lebih cepat.

    “Sialan!”

    “Kenapa kau melakukan itu?”

    “Hah?”

    “Kenapa kau menendangi tubuhnya?”

    Gadis bermata pucat dan berambut abu-abu yang dilihat Yasuhiko kemarin itu tiba-tiba muncul di belakangnya. Namun, Yasuhiko berpikir bukan saatnya Ia mengurusi gadis itu. Yasuhiko terus menendangi tubuh Benjamin, hingga nyaris tidak tersisa apapun juga.

    “Kenapa kau lakukan itu?”

    “Memang aku harus melakukan apa lagi?”

    “Mungkin kau…” Gadis itu kata-katanya terhenti sejenak, “…Bisa menolongnya.”

    “Menolong? Bagaimana caranya?”

    Gadis itu terdiam. Yasuhiko kemudian mulai bicara lagi.

    “Orang-orang ini… Aku takkan menolong mereka! Aku sudah melepaskan semua masa lalu itu, aku memulai semuanya kembali. Aku tidak akan membiarkan orang-orang ini mengacaukan kehidupanku lagi!”

    Yasuhiko pun beranjak pergi, meninggalkan gadis pucat itu sendirian. Pilihannya sudah pasti. Ia tidak akan mau kembali ke masa lalunya yang suram.


    ***

    Beberapa hari setelah itu, kasus-kasus aneh terus terjadi. Pembunuhan di gang-gang kecil jumlahnya terus bertambah. Tentu saja pihak polisi kerepotan mengurusi hal ini. Mereka pun mengumumkan kepada masyarakat agar tidak pergi ke daerah kumuh pada larut malam.

    Sepulang dari kantor, Yasuhiko sangat kelelahan karena Ia mengurusi 3 kasus sekaligus. Ditambah lagi, kasusnya tidak ada yang menemui titik terang. Yasuhiko terjatuh di kursi malasnya dan mencoba memejamkan mata. Sampai kemudian suara bel berbunyi.

    “Siapa, malam-malam begini…?” Dengan enggan Yasuhiko berjalan ke pintu dan melihat tamunya dari lubang intip.

    Yang Ia lihat, adalah mimpi buruknya.

    Seseorang yang tidak Ia sangka akan bertemu lagi.

    Seseorang yang sudah ‘mati’ di pikiran Yasuhiko.

    Yasuhiko akhirnya membukakan pintu. Di baliknya, berdiri seorang wanita berambut pirang cepak seleher. Wajahnya bahagia, seakan sedang berjumpa seorang yang lama tidak bersua.

    “Halo, Yasuhiko.”

    “Bless… Kau… Kenapa disini?”

    “Aku boleh masuk, kan?”

    “Ya…”

    Di tengah kebingungannya, Yasuhiko mempersilahkan wanita itu masuk. Wanita itu melepas mantel hitam panjangnya, dan menggantungnya di gantungan di samping pintu. Kemudian tanpa dipersilahkan, Ia duduk di sofa depan televisi Yasuhiko.

    Wanita itu adalah Bless Crezenzo, mantan kekasih Yasuhiko ketika Ia masih di Afrika.

    “Ruangan yang bagus. Sangat rapih.”

    “Bless, basa-basi,” Tanya Yasuhiko dengan ekspresi serius, “Kenapa kau disini? Apa yang terjadi dengan Satuan Vanator?”

    Bless tersenyum mendengar pertanyaan Yasuhiko,”Entahlah, menurutmu apa?”

    “…Aku tidak mau dengar.”

    “Yasuhiko… Kau merindukanku, bukan? Semuanya… Teman-teman kita semua berada di kota ini sekarang. Kita bisa bereuni.”

    “Reuni? Yang benar saja!” Amarah Yasuhiko memuncak, “Aku meninggalkan kalian bukan untuk didatangi lagi! Aku sudah pergi secara resmi, aku bukan teman kalian!”

    Bless yang sepertinya mengerti kondisi Yasuhiko, berdiri dan mengambil mantelnya kembali, “…Sepertinya keberadaanku tidak diinginkan di sini. Yah, kalau itu yang ada dipikiranmu, tidak masalah. Namun kalau-kalau kau berubah pikiran, aku akan mendatangimu dua hari lagi. Sampai jumpa.” Bless keluar dari apartemen Yasuhiko, dan menutup pintunya.

    Di dalam, Yasuhiko semakin tertekan. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi di kota ini.

    “Sialan…” Umpat Yasuhiko sambil berjalan menuju ke kamarnya. Ia berharap dengan tidur pulas hingga pagi, semua pikiran buruk ini bisa menghilang.

    Sejak Bless muncul, terjadi dua pembunuhan karyawan di dua pabrik obat yang berbeda di pulau Aeneas. Polisi memutuskan kasus itu hanyalah sebuah perampokan karena barang-barang korban diambil, dan kelihatannya tidak berhubungan dengan pembunuhan yang terjadi di gang-gang kumuh kota. Namun Yasuhiko bisa merasakan bahwa Bless berada di TKP ketika insiden terjadi. Barang-barang berharga yang diambil hanyalah kedok. Bekas luka yang ditinggalkan mayat jelas disebabkan oleh tebasan pisau kukri, senjata yang dipakai Bless. Selain itu, Yasuhiko bisa merasakan keberadaan Bless di setiap tempat yang mereka datangi. Udara terasa pekat, dipenuhi oleh nafsu membunuh yang tertinggal. Bagaimanapun juga Ia dan Bless pernah berpartner selama empat tahun, tentulah mereka mengenal ciri masing-masing
    .
    Sampai sejauh ini Yasuhiko masih tidak tahu kenapa Bless dan Skuad Vanator—pasukan tempat Yasuhiko bertugas ketika masih di Afrika—bisa berada di kota ini, dan terlibat dengan hal aneh yang membuat mereka menjadi kehilangan ‘kemanusiaannya’. Iapun memulai penyelidikan sendiri terhadap pabrik obat yang karyawannya terbunuh, menggunakan infroman yang Ia paling percaya.

    Malam itu, Yasuhiko baru saja keluar dari gedung TKP kasus kedua karena menanti hujan reda. Mendadak telepon genggamnya berbunyi. Rupanya dari informan Yasuhiko, Frankie.

    “Ada perkembangan?”

    “Tentu saja, kau kira siapa aku?” Balas informan Yasuhiko.

    Selain nama Frankie, Yasuhiko tidak tahu siapa sebenarnya informannya ini. Suaranya diubah agar tidak bisa dikenali, tidak ada pula yang pernah melihat wajahnya. Namun, informan ini adalah yang terbaik di kota. Tidak hanya polisi, orang-orang dari ‘dunia belakang’ pun menggunakan jasa Frankie. Karena itu Yasuhiko sangat mempercayai Frankie.

    “Dua perusahaan obat yang kau sebutkan kemarin itu, ada karyawannya yang melakukan hubungan bisnis gelap dengan Rumah Sakit Darko Medical. Aku tidak tahu detilnya, namun sepertinya berhubungan dengan sebuah eksperimen berbahaya.”

    “Begitu? Bagiku, yang penting aku tahu namanya… Darko Medical. Oke Frankie, trims atas jasamu, seperti biasa uangnya sudah kukirim.”

    “Oke, detektif.” Frankie terdengar sedikit bahagia, “Terima kasih sudah menggunakan jasa informasi Frankie.”

    Setelah itu, telepon ditutup.

    Suatu saat, Yasuhiko ingin bertatap mata dengan Frankie. Ia ingin tahu seperti apa orang yang menguasai informasi di seluruh penjuru pualu Aeneas ini. Namun, sekarang bukan saatnya.

    “Pukul 9 malam, sebentar lagi seharusnya Bless datang,” gumam Yasuhiko sambil melihat jam tangannya. Lalu Ia mulai berjalan ke kantor polisi.

    Yasuhiko terpaksa berjalan karena hari ini, terjadi kecelakaan besar di jalan utama, menyebabkan macet total nyaris di setiap jalanan di Aeneas. Mobil bergerak setiap lima menit sekali. Diperkirakan macet akan berakhir pada pukul 12 tengah malam. Untungnya jarak kantor polisi dekat dari tempat Yasuhiko sekarang ini.

    “Yasuhiko, kenapa kau sangat membenci masa lalumu?”

    Tanpa Yasuhiko sadari gadis berambut keabu-abuan yang kemarin muncul itu sudah berjalan bersamanya.

    Yasuhiko menggaruk kepalanya dengan wajah agak jengkel, “Aku tidak bisa merasakan kehadiranmu sama sekali… kenapa kau tidak bilang-bilang kalau muncul sih? Hmm… Siapa namamu?”

    “Engel.”

    “Nama yang aneh…. Aku membenci masa laluku karena aku tidak suka. Itu saja.”

    “Memang kenapa kok kau tidak menyukainya?”

    “Aku… berbuat sesuatu. Suatu kesalahan yang tidak akan bisa kuperbaiki.” Jawab Yasuhiko tanpa menengok.

    “Tidak bisa diperbaiki… Benarkah demikian?”

    “Aah, kau bawel sekali sih—eh?”

    Ketika Yasuhiko menengok ke sampingnya, sudah tidak ada siapapun. Engel menghilang seakan Ia tidak pernah berada di sana. Yasuhiko pun memutuskan untuk meneruskan perjalanannya.

    Ketika sampai di kantor, yang menyambutnya adalah Nera.

    “Seseorang menunggu di mejamu. Wanita, cukup cantik, walau selera berpakaiannya aneh… Huh, kau kan sudah punya Anastasia yang cantik itu kan? Dasar serakah!”

    “Siapa bilang dia punya hubungan denganku?” Jawab Yasuhiko dingin sambil melewati Nera.

    “Westwood, ada kasus di depan kantor detektif—aah, dengarkan aku dong!”

    Di dalam ruangan yang pengap itu, di meja ujung yang dekat dengan jendela, berdiri sesosok wanita yang mengenakan mantel hitam panjang yang mencolok. Karena tatapan matanya yang menggoda beberapa opsir lelaki mencoba mencuri pandang, namun tiada satupun yang Ia tanggapi. Namun ketika Yasuhiko memasuki ruangan, wanita itu tersenyum.

    “Akhirnya kau datang.”

    Yasuhiko tidak membalas. Ia tidak menghiraukan Bless. Setelah memastikan orang-orang yang duduk di sekitarnya tidak ada, Ia duduk di kursi di belakang mejanya, tidak berbicara sama sekali.

    “Jadi, kau sudah menentukan keputusanmu bukan?”

    “Daripada itu,” Yasuhiko mengalihkan topik pembicaraan, “aku ingin bicara padamu mengenai ‘Darko Medical’…”

    “Eh?” Mendengar Darko Medical disebut, alis Bless naik, “Bagaimana kau tahu…?”

    “Aku tahu semuanya, Bless. Yah, mungkin tidak semua, namun sebagian besar. Aku tahu kau bekerja untuk mereka. Aku tahu seluruh mantan anggota skuad Vanator bekerja dengan mereka. Kalian sedang merencanakan sesuatu yang buruk, berhubungan dengan sebuah eksperimen. Tolong koreksi aku jika salah.”

    Bless termenung. Daripada marah, Ia terlihat kecewa.

    “Bagaimana kau tahu semua itu?”

    “Yah, anggap saja jaringan informasiku melebihi dugaanmu.” Kata Yasuhiko sambi berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu, “Sekarang, pertanyaan yang terpenting.”

    Yasuhiko menatap Bless dengan sorot mata penuh kebencian.

    “Bless, kenapa kau lakukan semua ini?”

    Mendengar pertanyaan Yasuhiko, Bless tertawa.

    “Hehehehe… Pertanyaanmu salah, Yasuhiko.”

    “…Apa maksudmu?”

    “Pertanyaannya bukanlah kenapa… Tapi kapan.”

    “Kapan?”

    “Ya… Bagiku—bagi kami orang-orang terbuang, hanya masalah kapan sajalah yang membatasi kami dari membunuh. Tidak semua orang bisa sepertimu, Yasuhiko. Kau bisa mengulangi hidupmu dari awal. Kau bisa bebas dari ‘beban’ yang ditangguhkan padamu… Kau bisa belajar menjadi manusia biasa! Kami yang sudah mengabdi penuh pada skuad Vanator tidak bisa melepas semuanya begitu saja!”

    Seiring dengan kata-kata Bless, aura di ruangan itu makin terasa memuakkan, setidaknya bagi Yasuhiko.

    “Kau ingat kan, Yasuhiko. Bagaimana kita semua dilatih untuk menjadikan misi sebagai perintah absolut yang tidak bisa ditentang sama sekali? Perintah itu bagaikan kitab suci bagi kami, kami tidak bisa hidup tanpanya. Tanpa segala perintah itu, kami hanyalah boneka yang tidak punya jiwa… Kosong.”

    “Bless…” Yasuhiko memotong, “Apa yang sebenarnya terjadi pada Vanator?”

    “Kau masih ingat komandan kita, Andes Roche? Ia berniat membantu pemberontakan di Mesir.”

    “Apa..?” Yasuhiko terbelalak. Yasuhiko tahu mantan komandannya itu bukan orang yang logis, namun tidak disangka kalau Ia tidak waras.

    “Karena itulah pihak atas memutuskan untuk membubarkan Vanator. Bagaimanapun juga, kami cuma korban. Roche sekarang sudah membusuk di penjara Joliet. Namun, kami kehilangan misi—kami kehilangan arah. Hingga kami bertemu dengan wanita itu, Nibelheim Iceland… Ia memberikan kami tujuan hidup! Kami bangkit dari kubur!”

    “Apanya yang bangkit dari kubur kalau pada akhirnya kalian akan mati seperti tikus?! Aku tahu apa yang mereka lakukan, Bless. Aku membunuh Ben kemarin! Tubuhnya berubah menjadi… aku tidak tahu apa! Kenapa kalian mau dijadikan tikus laboratorium seperti itu?!” Seru Yasuhiko dengan penuh amarah, namun Bless hanya menanggapinya dengan senyum.

    “Aku kan sudah bilang, asal ada misi… Kami hidup. Jika tidak ada misi… Kami mati. Tidak ada hubungannya dengan misi apakah itu, apa yang terjadi pada kami jika misi itu selesai, semua itu tidak ada hubungannya!”

    “Kau gila, kalian semua gila! Apa kalian tidak sayang nyawa?!”

    “Kau tidak pernah benar-benar mengerti kami, Yasuhiko! Kau tidak tahu seperti apa menjadi prajurit dan punya kehormatan!”

    Perdebatan yang panas itu terhenti. Kepala Yasuhiko sudah mendidih, Ia tidak akan membiarkan semua kegilaan ini berlanjut.

    “Aku tidak akan membiarkan orang sepertimu keluar dari sini.”

    “…Begitukah, Yasuhiko?” Bless tampak tenang, “Mmm.. Siapa namanya itu… Hmm, oh iya, Anastasia!”

    Deg, Jantung Yasuhiko serasa copot ketika nama yang sangat akrab baginya itu disebut.

    “…Jangan bawa-bawa Annie dalam masalah ini.”

    “Aku tidak punya pilihan. Sejak awal pihak atas sudah menginginkannya.”

    “Apa..? Apa maksudmu?”

    “Kau tidak tahu kalau dia punya hubungan dengan bangsawan Von Pluet? Mereka berniat memanfaatkan ‘darahnya’, entah dengan tujuan apa. Sebenarnya, aku membantumu. Aku memberitahumu kalau wanita tercintamu sekarang sedang diincar,” Bless mengedipkan mata kirinya, sambil berjalan mundur ke jendela yang terbuka lebar, “Dan yang mengincarnya adalah.. Aku.”

    “Oh, sial!”

    “Sampai jumpa, Yasuhiko.”

    Bless pun menjatuhkan diri dari lantai tiga. Ia mendarat di atas Bus yang kebetulan berhenti karena macet di depan kantor polisi. Ketika Yasuhiko sampai di jendela, Bless melambaikan tangan. Namun, Yasuhiko tidak akan membiarkan ini berakhir begitu saja.

    Yasuhiko mengambil rokok dari kantongnya dan menyalakannya. Setelah menghisapnya sekali, Iapun ikut melompat turun ke atap bus.

    “Hup! Huah, tinggi juga ya.”

    “Hoho, tidak kusangka, kau masih punya nyali juga untuk mengejarku. Kukira tinggal di kota yang damai ini membuatmu membusuk,” ejek Bless. Tapi Yasuhiko tidak peduli.

    “Bicaralah sesukamu, Bless,” Kata Yasuhiko, “Aku tidak bisa membiarkan psikopat sepertimu lolos. Aku akan gunakan segala cara untuk menghentikanmu.”

    Bless tersenyum lebar mendengarnya, “Itu berarti kau menghalangi misi, jadi harus dibunuh.” Seiring dengan itu, Bless mengambil dua bilah pisau besar yang tersembunyi di balik mantelnya—sepasang pisau kukri. Kemudian, melompat dari bus ke satu mobil ke mobil lainnya, Ia melarikan diri. Tentu saja, Yasuhiko mengejarnya.

    Ketika menyadari Yasuhiko berada di belakangnya, Bless berbalik. Ia menyerang Yasuhiko menggunakan kedua pisaunya.

    “Huah!” Dengan sigap, Yasuhiko menghindar ke belakang. Nyaris saja Ia terjatuh dari mobil van tempatnya berdiri. Yasuhiko pun melompat ke sedan yang berada di samping van itu, kemudian mencabut senjatanya dan mulai menembak Bless. Sayangnya Bless bisa menepis peluru-peluru itu dengan mudah menggunakan pisaunya.

    “Kau lupa, Yasuhiko? Pistol tidak akan mempan padaku.”

    “Cih!”

    Menepis peluru bukan hal besar untuk Bless, karena Ia memang memiliki reflek yang jauh diatas manusia rata-rata.

    Bless kembali mencoba melarikan diri. Tanpa kenal lelah, Yasuhiko mengejarnya dan mencoba menembaki Bless dari belakang. Namun percuma saja, Bless bisa menghindari semua peluru Yasuhiko.

    Suara klakson mewarnai kejar-kejaran itu. Para pengendara kebingungan dengan apa yang Bless dan Yasuhiko lakukan di atas atap mobil mereka. Namun, Bless dan Yasuhiko terlalu sibuk untuk mempedulikan keluhan mereka.

    Ketika mereka mencapai sebuah jalan melingkar, Yasuhiko mencoba mengambil jalan pintas dengan menaiki mobil-mobil yang bersilangan dengan jalur Bless. Setelah mencapai jarak sekitar tiga mobil, Yasuhiko mulai menembak lagi. Masih tidak kena, tapi berhasil mengalihkan perhatian Bless.

    “Grrrghh… Yasuhiko…!”

    Bless yang marah, mengalihkan perhatian sepenuhnya ke Yasuhiko. Ia melompati beberapa mobil sekaligus sambil mengayunkan pisau kembarnya ke arah kepala Yasuhiko. Untung Yasuhiko masih sempat mengelak dengan menunduk. Namun Bless sudah memperhitungkan hal itu. Ketika Ia mendarat, Bless memutar tubuhnya dan menedang perut Yasuhiko dengan kaki kirinya. Yasuhiko terpental hingga ke mobil sebelah.

    “Geh…!” Perut Yasuhiko sedikit terasa sakit, tapi kelihatannya tidak luka parah. Saat Ia mencoba bangkit, Bless sudah berada di depannya, bersiap untuk memenggal kepala Yasuhiko.

    “Uwo!” Sedetik sebelum pisau kukri yang tajam mencapai lehernya, Yasuhiko sempat berjongkok dan menahan pisau Bless dengan laras pistolnya. Ia sebenarnya tidak tega Auto Ordnance 1911-nya yang berharga tergores-gores, namun mau bagaimana lagi.

    Untuk ukuran seorang wanita, Bless memang sangat kuat. Ditambah dengan posisinya yang lebih tinggi, Ia mendominasi Yasuhiko.

    “Lebih baik kau menyerah.”

    “Yang benar saja!” seru Yasuhiko sambil berguling kebelakang. Untung-untungan, Yasuhiko kemudian melompat ke belakang. Ia mendarat dengan keras di permukaan yang sepertinya terbuat dari besi. Setelah melihat ke sekelilingnya, rupanya Yasuhiko berada di belakang truk trailer.

    “Percuma, Yasuhiko. Selama aku bisa melihat dengan jelas laras senjatamu, aku tahu kemana kau membidik.” Kata Bless, “sekarang, akan kuakhiri semuanya.”

    Bless melompat kedepan dengan tenaga penuh. Incarannya hanya satu: kepala lelaki bernama Yasuhiko Westwood.

    Di lain pihak, Yasuhiko sudah kehabisan pilihan untuk menjatuhkan Bless. Pilihannya tinggal menyerahkan semuanya pada nasib.

    “Tolong aku, Dewi Fortuna!”

    Yasuhiko mengayunkan pistolnya secara diagonal, dan menembakkannya tanpa membidik sama sekali. Beruntung, pelurunya menyerempet paha Bless. Keseimbangannya pun terganggu, Ia mendarat tanpa bisa langsung menebas kepala Yasuhiko. Barulah sesaat kemudian Ia berhasil mengacungkan pisaunya ke depan. Namun terlambat, pistol Yasuhiko sudah berada tepat di depan wajahnya.

    “Skak mat, Bless.” Ujar Yasuhiko dengan senyum tipis. Ia memang berhasil menahan Bless, namun pisau mantan pacarnya itu hanya berjarak beberapa mili saja dari nadi leher Yasuhiko.

    “Kau tidak setumpul yang kuduga… Setelah menghabiskan waktu di kota yang damai ini. Sepertinya aku harus menggunakan cara terakhir.”

    “Apa?”

    “GOLIATH!”

    Tiba-tiba, Bless berteriak lantang ke udara, membuat Yasuhiko kaget. Beberapa saat kemudian, terdengar suara yang sangat keras, seperti sebuah benda besar yang jatuh. Suara berdentum itu terdengar semakin keras tiap detiknya, seakan asal suara itu mendekati Yasuhiko.

    “Wuah!”

    Yasuhiko kemudian menyadari kalau pijakannya sudah tidak datar lagi. Seluruh truk itu miring 45 derajat. Sekilas, Ia melihat sosok abu-abu yang besar di depan truk.

    Bless tidak menyianyiakan kesempatan ini. Ia melompat melewati Yasuhiko dan menaiki permukaan yang sekarang sudah menjadi ‘dinding’. Yasuhiko sudah membidik Bless, namun karena posisi truk yang semakin miring, bidikannya meleset jauh dan Ia terjatuh ke aspal.

    “Urgh, Bless!”

    Yasuhiko langsung berdiri dan mencoba mencari Bless. Di sekelilingnya hanya ada mobil-mobil yang terbalik dan asap yang tebal. Dibaliknya, sesosok raksasa dengan tubuh abu-abu dan kira-kira setinggi tiga meter, muncul. Bless duduk di bahu raksasa itu.

    “Aku pergi dulu ya, Yasuhiko. Akan kusampaikan salammu pada Anastasia.”

    “Bless! Tunggu!”

    Tanpa menghiraukan teriakan Yasuhiko, raksasa itu melompat ke atap gedung terdekat, menghilang dari pandangan.

    Yang Yasuhiko ketahui hanyalah tujuan mereka—Perpustakaan umum kota, dan Yasuhiko harus menghentikan mereka, apapun yang terjadi.

    ***

    Dibagi 2 biar gak boring.... :peace:
     
  7. Offline

    kyotou_yasuri Silent Reader Members

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Eladalah akhirnya bisa online lagi. :belajar:

    Bittersweet Symphony


    Siang itu, kantor detektif Eisenhower sepi. Penyebab utamanya kurang lebih adalah mereka sedang tidak memiliki kasus. Sang detektif, Jules Eisenhower, sekarang sedang menghabiskan waktu senggangnya dengan membaca buku. Hingga, suara seseorang menaiki tangga terdengar.

    “Jules, ada klien!”

    Seorang lelaki bertubuh tinggi memasuki ruangan Jules sambil berteriak. Lelaki itu adalah Vincent Moon, asisten Jules. Ia kelihatan sangat senang.

    “Vincent, sudah kubilang jangan terlalu kasar dengan pintu itu. Kan baru diperbaiki kemarin.”

    “Gaah, kau ini! Daripada sibuk membicarakan hal yang tidak penting, ayolah kita kebawah! Klien sudah menunggu!” kata Vincent sambil menarik tangan Jules yang masih memgang buku.

    “A-argh! Vincent!”

    Vincent menarik Jules menuruni tangga menuju kantor.

    “Maaf menunggu lama!”

    Di dalam kantor, sudah duduk seorang wanita yang berpakaian rapi. Sepertinya, dia klien yang dimaksudkan Vincent. Jules melepas genggaman Vincent dengan kasar, kemudian Ia duduk di belakang mejanya.

    “Selamat siang, nona. Ada yang bisa saya bantu?”

    “Ah… Memang benar kata gosip ya…”

    “Gosip?”

    “Ya… Jules Eisenhower si detektif tampan..” Kata wanita itu sambil menatap wajah Jules dengan aneh.

    “Ummm, aku bukan—”

    “Yah, memang itulah daya tarik Jules. Kurasa karena itu juga Ia semakin populer akhir-akhir ini.”

    “Vincent!”

    Vincent tertawa mengejek.

    Memang, Jules Eisenhower terkenal sebagai detektif tampan dari Aeneas. Sebenarnya daripada tampan, lebih tepat kalau dikatakan wajah Jules itu manis. Pakaiannya yang tebal juga selalu kelihatan rapi. Rambutnya kelihatan feminin, namun itu juga yang menjadi daya tariknya.

    Tidak hanya itu, Jules juga dikenal atas kemampuannya. 80 persen dari kasus yang ditanganinya terpecahkan. Ia juga punya koneksi yang luas. Bahkan beberapa hari lalu Ia mendapat tugas dari sebuah keluarga bangsawan.

    “Jadi, um, nona…?”

    “Oh. Iya, aku nyaris lupa!” Wajah wanita itu kembali normal, “Anu, namaku Daphne Scott, dan aku ingin menyewamu untuk sebuah kasus.”

    “Baiklah, Nona Scott. Kasus apa?”

    “…Seminggu ini, rekan kerjaku tidak pernah berangkat kerja,” Seiring dengan mulainya penjelasan, wajah Scott menjadi suram, “Namanya Martha Stuart. Ia duduk di sebelahku ketika bekerja. Ia tidak bisa dihubungi, dan dia juga tidak ada di apartemennya.”

    “Hm… Apa ada hal lain yang kau ketahui sebelum Nona Stuart menghilang?”

    “Aku ingat sesuatu… Setahuku, sehari sebelum Ia menghilang, Martha kelihatan aneh. Ia terlihat gelisah…. Katanya, Ia akan menemui seseorang.”

    “Itu saja?”

    “Iya… Ngomong-ngomong, aku belum memberitahu polisi karena aku tidak yakin apa Ia benar-benar hilang, tapi aku tetap saja penasaran. Ini alamat apartemen dan fotonya.” Scott menyodorkan sebuah lipatan kertas kecil. Ketika Jules membukanya, tertulis alamat dan nomor telepon, beserta selembar foto seorang wanita yang sepertinya tidak lebih tua dari 30 tahun.

    “Baiklah, jika ada informasi kau akan kami hubungi.” Kata Jules sambil melipat kertas itu kembali.

    “Terima kasih, detektif. Aku pamit dulu.”

    “Ya. Vincent, antar Nona Scott keluar.”

    “Oke.”

    Vincent pun membukakan pintu, kemudian mengantarkan Scott keluar. Sementara Jules membuka lipatan kertas itu kembali. Ia membacanya dengan seksama, hingga Ia mengetahui dimana letak apartemen itu. Kemudian Ia menatap foto Martha Stuart, dan entah kenapa Jules merasakan feeling déjà vu. Ia seperti pernah melihat wajah Stuart sebelumnya.

    “Jadi,” Vincent kembali memasuki ruangan, “Kapan kita berangkat?”

    “Setelah ini. Ayo nyalakan mobil.”

    “Oke, boss.”

    Dengan langkah bersemangat, Vincent mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja Jules. Setelah memanaskan mobil, Vincent mengeluarkan mobil dari garasi. Jules sudah menunggu di luar.

    “Kau semangat sekali.”

    “Tentu saja, ini kasus! Aku rugi kalau tidak bersemangat!” Jawab Vincent dengan mata yang menyala-nyala.

    Jules tersenyum mendengarnya, “Syukurlah kalau kau bersemangat. Aku paling suka kau yang bersemangat.”

    “Ergh…”

    Senyum manis Jules membuat Vincent sedikit salah tingkah. Ia menggaruk-garuk pipinya yang memerah.

    “Kenapa, Vince?”

    “T-tidak, tak apa! Ayo masuk!”

    Dengan kasar, Vincent memasuki mobil. Jules tidak mengerti kenapa Vincent bertingkah demikian. Apa kata-katanya ada yang salah?

    Duo itupun kemudian berangkat menuju ke apartemen Martha yang kira-kira berjarak setengah jam dari kantor detektif Eisenhower. Gedungnya cukup mewah, dan sepertinya harga sewanya mahal. Jules dan Vincent langsung menuju ke ruang pengurus untuk bertanya masalah Martha Stuart. Yang mereka dapatkan hanyalah informasi tentang tidak pulangnya Martha Stuart sejak seminggu lalu.

    Kemudian Jules melanjutkan ke kamar Stuart. Dengan kunci pemberian pengurus apartemen, Ia masuk ke dalam. Bagi orang lain, tentu kamar itu kelihatan normal. Tapi Jules merasakan firasat yang aneh, sesuatu yang tidak biasa.

    “Tidak ada keanehan, semuanya rapi.” Kata Vincent yang baru saja mengelilingi kamar.

    Jules meraba-raba dagunya, “Hmm… Lebih baik kita menunggu hingga malam.”

    “Hah? Di sini?”

    “Ya. Aku mencium sesuatu yang tidak biasa di sini. Malam hari akan lebih mudah untuk menyelidiki tempat ini—setidaknya hingga setelah matahari terbenam. Ini sudah pukul 5, sebentar lagi.”

    “Haah, okelah.” Jawab Vincent.

    Jules pun mulai berjalan mengelilingi apartemen yang cukup besar itu. Perabotnya sederhana, tidak ada yang mencolok. Hanya ada radio kecil di ruangan itu, tidak ada TV. Meski ada dapur, tapi kelihatannya jarang dipakai. Kulkasnya berisi bir kalengan. Kasurnya kecil dan meja riasnya, lagi-lagi, dipenuhi kaleng bir. Jules berpikir, sepertinya orang yang hilang ini sedikit punya masalah dalam hidupnya.

    Waktu berjalan tanpa terasa. Matahari terbenam dan kota perlahan-lahan diselimuti kegelapan.

    Vincent menyadari ruangan itu semakin gelap. Ia berniat menyalakan lampu kalau saja Jules tidak menghadangnya.

    “Kenapa?”

    “Lihat itu, sesuatu di lantai,” Jules menunjuk ke lantai. Vincent tidak melihat apapun, hingga beberapa saat kemudian noda samar muncul.

    “Lho? Bagaimana bisa?”

    “Sihir.”

    “Sihir, maksudmu seperti guna-guna…?”

    “Ya, ini adalah sihir hipnotis tingkat rendah, untuk memberikan sugesti ‘tidak ada apa-apa di lantai’ langsung ke otak. Dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai media hipnotisnya—”

    “Tunggu, tunggu!” Vincent memotong, “kalau kau mulai bicara tentang sihir, aku sama sekali tidak mengerti. Kalau memang ini sihir, bagaimana kita bisa melihatnya?”

    “Sugesti bisa dilawan dengan sugesti lain. Sugesti yang dikirim oleh sihir ini membuat kita tidak menyadari kalau di lantai ada sesuatu. Kalau seseorang yang kebal terhadap hipnotis bisa memberikan sugesti berlawanan pada orang lain, maka sugesti itu bisa hilang. Bagaimanapun juga ini cuma sihir tingkat rendah.”

    “Aku tidak begitu mengerti… Jadi, kau kebal terhadap hipnotis?”

    “Yah, begtulah.” Kata Jules sambil berjongkok di dekat noda itu dan mengambil senter kecil dari jaketnya, “sepertinya noda darah, dan mungkin sudah sejak seminggu lalu… Nodanya memanjang hingga ke pintu keluar. Ayo kita ikuti.”

    Jules mulai berjalan dengan langkah bersemangat, mengikuti jejak darah yang samar itu. Vincent mengikuti di belakangnya. Jejak itu terus memanjang hingga atap. Namun di sana mereka tidak melihat apa-apa selain beberapa kardus barang yang diabaikan.

    “Kosong… Gimana, Jules?”

    Jules mengambil sebuah kertas, lagi-lagi dari kantong jaketnya yang sepertinya serbaguna. Kertas itu mirip dengan kertas yang biasa terpasang di dahi vampir dalam film mandarin, lengkap dengan huruf-huruf misterius asal negeri timur. Jules memasangnya di tengah atap. Kemudian, udara di atap perlahan berubah menjadi mencekam.

    “Hei Jules, apa yang terjadi—aah!”

    Mulut Vincent menganga. Jules juga tidak percaya dengan penglihatannya.

    Di udara, terdapat sebuah retakan. Berwarna hitam pekat dan memanjang dari bawah ke atas.

    “Retakan udara… Apa-apaan… Eh?”

    Seakan belum puas mengejutkan Jules dan Vincent, dari depan retakan itu muncul seorang wanita. Meski berdiri tegak dengan kedua kakinya, matanya menunjukkan seakan Ia tidak bernyawa.

    “Martha Stuart!”

    “Eh? Orang itu?!”

    “Ya! Nona Stuart, apa yang terjadi?”

    Martha Stuart tidak membalas. Matanya hanya memandang kosong ke arah Jules. Setelah Jules memandangi wajah Martha Stuart selama beberapa saat, Ia menyadari sesuatu.

    “Hei, apa dia benar-benar sadar?”

    “Vincent,” Jules menyiapkan revolver di tangan kanannya, “sekarang aku ingat, dimana aku pernah melihat Martha Stuart. Daftar penyihir yang dicari… Para kriminal.”

    “Apa…?” Vincent tercengang.

    Setelah memastikan revolver Smith & Wesson 686 2,5 inchi-nya terisi, Jules melangkah kedepan, kearah Martha Stuart.

    “Ini jenis sihir yang berkelanjutan, jenis sihir yang akan mati jika suplai mana-nya dihentikan. Meski aku belum mengerti untuk apa mereka melakukan ini, sepertinya seseorang menghipnotis Martha Stuart menjadi host untuk mempertahankan dan melebarkan retakan ini,” Jules mengacungkan revolvernya ke kepala Martha Stuart, “untuk menghentikan ini, tidak ada pilihan lain selain membunuh sang host. Kita beruntung Ia tidak ‘diprogram’ untuk membela diri.”

    “Jules! Kau mau membunuh Nona Stuart?!”

    “Ya. Kita tidak punya pilihan lain.”

    “Kau yakin?”

    “Ya… Aku tidak bisa membiarkan hal ini begitu saja.”

    Vincent yang memang tidak pernah bisa mengalahkan keras kepala bosnya, akhirnya terdiam.

    Tanpa ragu-ragu, Jules menarik pelatuk, menghancurkan kepala Martha Stuart hingga berkeping-keping. Kemudian, sisa dari tubuh Martha Stuart menghitam dan menjadi serpihan-serpihan kecil, menghilang tertiup angin.


    ***

    Esoknya, pikiran Jules masih dipenuhi dengan ‘retakan’ yang Ia lihat kemarin. Ia tidak pernah melihat ataupun mendengar sihir semacam itu. Apa akibat dari sihir itu? Siapa yang melakukannya? Untuk tujuan apa?

    Jules memutuskan untuk berbohong pada Daphne Scott, dengan mengatakan bahwa ada kemungkinan Martha Stuart pergi ke luar negeri sehingga tidak bisa dilacak. Pulangnya Jules dan Vincent berjalan melewati distrik belanja yang ramai.

    “Huh… Menyebalkan sekali. Semoga untuk kasus berikutnya lebih baik. Ya kan, Jules?”

    Vincent tidak mendengar jawaban. Rupanya Jules masih terlarut dalam pikirannya. Dahinya berkerut dan alisnya melengkung seperti orang tua.

    “Jules, oi!”

    “Oh? Ada apa?”

    “Ahh… Kau ini…”

    Jules memiringkan kepalanya sambil tersenyum kebingungan. Ia tidak mendengarkan kata-kata Vincent sama sekali.

    “Kau masih memikirkan tentang retakan aneh itu?”

    “Tentu saja! Bagaimana mungkin aku melupakannya?”

    “Kau ini… tadi waktu kita mengatakan hasil penyelidikan ke Nona Scott, kau juga kelihatan seperti ini, seperti orang tidak berperasaan. Waktu Ia menangis juga! Seakan pikiranmu dan tubuhmu berada di tempat yang berbeda! Padahal kau biasanya tidak begini…”

    Jules termenung mendengar Vincent. Kepalanya menunduk, Ia tidak berani menatap Vincent.

    “Maaf, tapi aku…”

    Vincent menghela nafas, kemudian Ia mengusap kepala Jules, “Sudah, sudah. Aku minta maaf karena mengungkit hal itu lagi. Aku tahu kalau kau kadang terlalu fokus, tapi setidaknya kau bisa sedikit lebih peduli terhadap perasaan orang lain, bukan?”

    Jules mengangguk. Vincent pun tertawa kecil, “Haha! Anak baik.”

    “Vince, aku lebih tua darimu. Jangan perlakukan aku seperti ini,” kata Jules sambil menyingkirkan tangan Vincent dari kepalanya. Vincent masih juga tertawa melihat polah Jules yang malah seperti anak kecil. Kemudian, mereka meneruskan perjalanan pulang.

    Sesampainya di kantor, terdapat surat yang diselipkan di kotak pos di belakang pintu. Ketika Jules melihat nama pengirimnya, Ia kelihatan bahagia.

    “Collette.”

    “Heh? Siapa itu?”

    “Ini temanku yang pernah kuceritakan, penyhir yang tinggal di Inggris. Collette Volure. Ada perlu apa dia…?”

    Jules pergi ke ruang kantor dan membuka surat itu. Isinya selembar kertas dan foto seorang lelaki.

    “Jadi,” Vincent memasuki ruangan, “apa isi surat itu?”

    “Sepertinya kasus.”

    “Eh? Kau bercanda?”

    “Apa aku kelihatan seperti sedang bercanda?”

    “…Tidak, sih. Apa kasusnya?”

    “Mengejar penyihir buron… Varnov von Pluet, Ice Sentinel, beberapa minggu yang lalu diduga pergi ke pulau Aeneas. Hmm… Aneh. penyihir buron? Kemarin baru saja kita bertemu satu…”

    Jules mengusap-usap dagunya.

    “Kurasa tidak berlebihan kalau aku bilang ini ada hubungannya dengan retakan itu…”

    “Tunggu, maksudmu ini berhubungan dengan kejadian di apartemen itu?”

    “…Mungkin saja,” Jawab Jules sambil menelan ludah. Kemudian Ia memasukkan surat itu kembali ke amplop dan menaruhnya diatas, “Vince, sesuai keinginanmu sepertinya kita mendapat kasus yang cukup besar.”

    Mendengar itu, Vincent tersenyum lebar. Bola mata yang tadinya redup, sekarang mulai menyala lagi.

    “Oooh! Aku tidak begitu mengerti permasalahannya, tapi sepertinya menegangkan!” Seru Vincent berapi-api.

    Setelah beristirahat selama dua jam, mereka berangkat mengendarai mobil. Namun di tengah jalan, Vincent kaget karena tujuannya tidak seperti yang Ia duga.

    “Heh? Kenapa kita pergi ke perpustakaan?”

    “Varnov punya adik yang bekerja di sana. Kita akan coba cari informasi darinya, tentang di mana Ia berada. Sekarang ini, kita tidak punya petunjuk sama sekali.” Jelas Jules. Vincent menghela nafas panjang, sinar matanya kembali meredup.

    “Kukira kita akan segera beraksi…”

    Dengan langkah panjang, Vincent akhirnya mengikuti Jules masuk ke perpustakaan kota. Di dalam cukup sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk di kursi membaca. Beberapa kelihatan mencari buku di rak-rak yang berderet dari pintu masuk hingga ke ujuung ruangan. Jules tidak mempedulikan hal itu dan langsung menuju ke meja resepsionis.

    “Permisi, apa kami bisa bertemu dengan nona Anastasia von Pluet?”

    Wanita gemuk yang duduk di belakang meja awalnya tidak peduli. Ia terlalu konsentrasi pada buku tebal yang dibacanya. Setelah Jules mengulangi pertanyaan dua kali, barulah Ia dengar.

    “Oh, maaf, maaf. Kau mau bertemu dengan Anastasia? Di lantai dua, pergilah ke daerah paling pojok barat. Dia berjaga di sana.”

    “Baik, terima kasih.”

    Tanpa basa-basi, Jules dan Vincent langsung menuju lantai dua dan mencari Anastasia dengan bertanya kesana-kemari. Hingga mereka ditunjukkan ke arah seorang wanita berambut pirang yang sedang menata tumpukan buku.

    “Jules, tunggu dulu!” Vincent menarik lengan baju Jules, “Kau mau curi kesempatan?!”

    “Hah? Apa maksudmu?”

    “Kau ini… lihat wanita itu! Pirang, tubuh ideal, matanya yang lebar dan kulit yang kelihatan putih sempurna… Dia itu model..? Pokoknya! Aku duluan yang kesana! Aku takkan membiarkanmu mencuri kesempatan, apalagi kau lebih ganteng!”

    “Eh? Sudah kubilang, Vincent—”

    Jules belum menyelesaikan kalimatnya ketika Vincent sudah berada di depan Anastasia.

    “Emmm… Nona Anastasia von Pluet?”

    “Ya? Ada yang bisa kubantu?” Anastasia spontan tersenyum ketika mendengar seseorang bicara padanya. Hati Vincent lagsung berdetak tidak karuan ketika melihat senyum yang manis itu.

    “Ah, aku ingin tanya, bagaimana kalau kapan-kapan kita makan siang bersama?”

    “Eh?”

    “Ugh!”

    Tiba-tiba lutut Vincent terasa sakit. Rupanya Jules menendangnya dari belakang. Ketika Vincent melihat wajah bosnya, yang ada hanyalah ekspresi jengkel.

    “Kenapa malah menanyakan hal seperti itu? Biar aku saja yang bicara.”

    “O-ooh… Oke, bos…”

    “Ah… Maaf, anu…” kata Anastasia memotong pembicaraan, “maaf, aku tidak bisa menerima ajakanmu… Aku punya pacar…”

    “Uah… Sayang sekali ya,” Vincent menundukkan kepala.

    “Vincent! Nona, tidak usah perhatikan pertanyaan orang ini. Kami datang kepadamu untuk urusan lain. Aku detektif Jules Eisenhower, dan ini asistenku Vincent Moon.”

    “Ada apa?”

    “Mengenai kakak anda, Varnov von Pluet…”

    Ekspresi Anastasia berubah ketika nama kakaknya disebut. Ia langsung mencengkram bahu Jules dengan keras.

    “Kakak?! Kau tahu di mana dia?!”

    “Ah…. Em, kami ingin bertanya padamu tentang keberadaanya…”

    Air muka Anastasia berubah lagi, kali ini menjadi kecewa. Perlahan, Ia melepaskan genggamannya dari bahu Jules.

    “Maaf… Aku tidak bisa membantu kalian. Sejak setahun yang lalu, aku tidak pernah mendapat kabar sama sekali…”

    “Oh… begitu? Maaf kalau membuatmu teringat sesuatu yang tidak mengenakkan.”

    “Tidak, tidak apa,” Anastasia melambaikan kedua tangannya, “Aku sendiri juga terus menunggu kabar, tapi tidak kunjung datang. Dari kabar yang kudengar dia bekerja dengan Nibelheim Iceland…”

    Wajah Jules berubah tegang ketika mendengar nama itu disebut, “Nibelheim Iceland?”

    “Itu cuma gosip, sih.”

    “Goddess of Death, Nibelheim Iceland…”

    “Kenapa?”

    “Erm, tidak…” Jules menggaruk kepalanya, “Terima kasih atas informasinya. Kami permisi dulu.”

    “Detektif, kalau ada kabar, bisakah kau menghubungiku? Aku tidak tahu siapa yang menyewa kalian untuk menemukan kakakku, tapi aku mohon.”

    “Tidak masalah. Kami akan menghubungimu.”

    Anastasia tersenyum mendengarnya, “Terima kasih.”

    Jules agak kecewa karena Ia tidak mendapatkan petunjuk apapun, tapi Ia tetap bertekad untuk menemukan Varnov, terutama karena adanya kemungkinan Nibelheim Iceland terlibat dalam semua ini. Dia adalah salah satu penyihir buron paling berbahaya di dunia, karena tindakannya yang tidak bisa di duga dan Ia akan melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya. Sejak pertama kali mengetahui tentang Nibelheim, Jules berjanji untuk menangkapnya suatu saat nanti, dan akhirnya kesempatan itupun datang.

    Jules dan Vincent langsung kembali ke kantor. Semalaman, Jules menghabiskan waktunya dengan mencari lokasi Varnov. Ia menyebarkan fotonya ke para informan di seluruh penjuru Aeneas. Jules mendapatkan beberapa hasil, dan esok harinya Ia dan Vincent memulai pencarian.

    ***
     
  8. Offline

    XtracK Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 22, 2011
    Messages:
    266
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +256 / -0
    kk kyotou, updatenya :top:
    but, menurutku,, ada yang masih tinggal. yaitu, rasa penasaran Vincent sewaktu tau bosnya ternyata mengenal sihir, dan sempat berhubungan dengan sihir.
    seharusnya, ditambahkan satu paragraf/kalimat yang menuliskan ttg perasaan heran Vince, karna menurutku, si Vince cuma tau si Jules sang detektif.
    but, kembali lagi kepengarangnya, sih...

    ak nunggu update selanjutnya.. :lalala:
     
  9. Offline

    kyotou_yasuri Silent Reader Members

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Trims akang XtracK... :xiexie:
    Hehe... Sebenernya aku pengennya memberi tanda kalau Vincent sebenarnya sudah tahu (meski dikit) tentang Jules yang terlibat tentang dunia sihir-sihiran... Kayaknya penulisan kalimatnya gagal total :keringat: salah penulisnya ini...

    Meski matahari belum terbenam, stasiun Calloway yang terletak di kota bawah kelihatan gelap. Sejak ditutup, pemerintah setempat selalu menunda penghancuran tempat ini karena berbagai alasan. Sekarang stasiun yang dulu diharapkan bisa menjadi sarana transportasi di kepulauan Elysium ini hanya jadi tempat preman berkumpul.

    “Hei, Jules… Matahari sudah mau tenggelam, bukankah lebih baik kalau kita lanjutkan besok saja?” kata Vincent.

    Jules menggeleng, “ini tempat terakhir, kemungkinan besar Ia ada di sini. Kita tidak bisa membuang waktu lebih banyak,” jawabnya sambil keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam stasiun. Dengan sedikit terpaksa, Vincent mengambil bat baseball logam di kursi belakang mobilnya, kemudian menyusul Jules.

    Di dalam, hampir seperti dugaan. Hanya ada reruntuhan dan tembok yang penuh corat-coret. Namun ada satu hal yang sedikit mengejutkan, yaitu tidak adanya preman-preman yang biasanya berada di sana.

    “Lebih sepi dari dugaanku…” gumam Vincent sambil menyusuri jalan yang penuh reruntuhan, “Dan entah kenapa terasa sangat dingin…”

    “Kau benar,” Jules menyadari nafasnya mulai berasap, “Kenapa disini dingin sekali? Ini bulan Juli.”

    Mendadak, Vincent menarik Jules kebelakangnya.

    “Eh? Kenapa?”

    “Ada seseorang yang mengawasi.”

    Vincent memeriksa sekeliling. Atap bangunan itu berlubang-lubang, dan tidak ada lampu. Penerangan yang digunakannya hanyalah dari alam. Karena matahari sudah hampir tenggelam seluruhnya, jarak pandang Vincent sangat terbatas. Tapi jelas Ia bisa merasakan seseorang—atau sesuatu—yang sedang mengintainya.

    “Hah!”

    Dari sudut kiri, sesosok hitam merayap mendekat. Vincent memiringkan tubuhnya dan mengayunkan batnya untuk menghalau sosok itu.

    “Ugh!”

    Sebuah tangan menghentikan jalannya bat Vincent. Ketika Vincent mencoba untuk mendorong tangan itu, Ia kesulitan. Meski tangan itu kelihatan kurus, Vincent tidak bisa mendesaknya. Malah Ia yang tedesak. Vincent mengambil inisiatif dengan melangkah maju kemudian menendang dagu musuhnya. Sosok itupun terlempar kebelakang. Sesaat kemudian, Ia sudah menghilang kembali ke kegelapan, mencoba mencari kesempatan.

    “A-apa itu tadi…?”

    “Entahlah. Dari tubuhnya, sepertinya Ia manusia, mungkin laki-laki… Tapi gerakannya seperti hewan… Jules, jangan menjauh dari punggungku.”

    “Oke.”

    Vincent kembali memantau sekitarnya. Sesekali, terdengar suara bergesekan yang datang dari berbagai arah. Tetapi Vincent tidak gentar. Matanya mulai bisa menyesuaikan diri dengan situasi sekitar.

    “Aaaarrggghh!!”

    Lelaki itu muncul lagi, kali ini dari sebelah kiri. Namun Vincent sudah mengayunkan bat-nya sekuat tenaga ke arah tangan kanan sosok itu.

    Krak, bunyi tulang yang remuk terdengar menggema. Pukulan horizontal Vincent telak mengenai siku lelaki itu, membuatnya tertekuk ke arah berlawanan. Ketika Vincent menyangka semuanya sudah berakhir, lelaki itu mencakar perutnya.

    “Uah!”

    “Vince!?”

    Secara reflek, Jules mengeluarkan revolvernya dari kantong jaket, kemudian menembaki lelaki itu. Dari tiga peluru yang Ia tembakkan, sepertinya satu berhasil mengenai bahu lelaki itu. Ia terpental kebelakang dan terjatuh dengan keras di lantai. Jules langsung menghampiri Vincent yang di perutnya mulai mengucur darah.

    “Cuma tergores, kok. Tenang saja.” Kata Vincent sambil memegangi perutnya. Meski berkata demikian, tetap saja Jules bisa membaca ekspresi kesakitan di wajah Vincent. Sepertinya lukanya cukup dalam

    “Setidaknya pendarahannya harus dihentikan—ah?”

    Belum sempat menggunakan mantelnya untuk menutupi luka Vincent, perhatian Jules teralih ke sosok lelaki yang kembali berdiri itu. Meski tangan kanannya terlihat menggantung dan bahunya berlubang, Ia tidak terlihat kesakitan.

    “Apa-apaan orang ini…?”

    “Jules, menunduk!”

    Menyadari lelaki itu mencoba menerjang Jules, Vincent dengan sigap mencengkram kepala Jules dan mendorongnya ke tanah, membuat Jules terjatuh. Mereka berdua terhindar dari terkaman lelaki liar itu. Kemudian, ketika lelaki itu masih membelakanginya, Vincent bangkit dan mengayunkan bat-nya sekuat tenaga. Kali ini tidak tanggung-tanggung, Vincent mengincar kepala lelaki itu.

    “FULL SWING!”

    Pukulan telak mengenai kepala lelaki hitam itu. Ia terlempar ke tumpukan rongsokan di sebelah gedung utama stasiun. Vincent bersiap untuk kemungkinan terburuk. Meski perutnya terasa bagaikan ditancapi paku, Ia tetap siaga. Namun, setelah berlalu semenit, lelaki itu tidak kunjung bergerak.

    “Sepertinya pukulan langsung ke kepala mempan… Aduh!”

    “Vincent, pakai ini.”

    Jules menggunakan mantel tebalnya untuk menutupi luka Vincent. Kemudian Ia mengambil telepon genggam di kantong celananya dan menekan 911. Tetapi Vincent menghentikannya.

    “Kau cari Varnov. Biar aku saja yang telepon ambulan.”

    “Eh…?”

    “Cepatlah! Bisa saja dia kabur!”

    “O-oke,” Jules menyerahkan telepon genggamnya ke Vincent, kemudian sambil membawa revolvernya di tangan kanan, Ia mulai berlari menuju tangga.

    Di atas, Jules mulai merasakannya, perasaan yang sama ketika berada di apartemen milik Martha Stuart. Hawa yang mencekam dan gelap. Meski langkah kakinya terasa berat, Jules terus menelusuri lantai dua hingga Ia menemukan lubang besar di pojok ruangan. Jules memasukinya dan sampai di atap.

    Firasat buruk Jules terbukti. Di ujung atap, terdapat retakan hitam yang hampir mirip dengan yang ada di apartemen Martha Stuart. Bedanya, retakan kali ini lebih besar. Jules berpikir, mungkin karena tempatnya terpencil, mereka tidak repot-repot menyembunyikannya.

    “Aku berharap dia yang datang… Tapi sekarang ini, siapapun boleh.”

    Jules langsung mengacungkan revolvernya, “Jangan bergerak!”

    “Aku tidak tahu siapa kau…. tapi aku berterima kasih…. kau mau datang kemari,” lelaki itu berbalik, “…Tolong aku.”

    “Eh…?”

    Jules terkejut ketika melihat tubuh lelaki itu. Sebelah kiri tubuhnya berwarna hitam. Tubuhnya gemetar, kepalanya selalu dalam posisi miring. Dari wajah dan rambut pirangnya, Jules menyimpulkan orang di depannya ini adalah Varnov von Pluet, dan dia dijadikan host dari retakan itu.

    Sementara Jules kebingungan dengan wujud Varnov, kakak Anastasia itu mengayunkan tangan kanannya kedepan, memunculkan duri-duri yang terbuat dari es yang merambat dari depan Varnov menuju ke Jules.

    “Dia diprogram untuk pertahanan…?!”

    Dengan lompatan kecil kesamping, Jules berhasil mengelak. Belum sempat Ia membidik Varnov lagi, duri-duri lain menghampirinya. Jules akhirnya harus memutari atap untuk menghindari serangan bertubi-tubi dari Varnov, hingga Ia terdesak di sudut. Mengangkat tangan kanannya ke udara, Varnov berniat untuk menghabisi Jules.

    “Urgh…”

    “…Tolong… Aku…!!”

    “Ah?!”

    Tiba-tiba, tubuh Varnov berhenti bergerak. Gemetarnya semakin hebat hingga Ia kelihatan seperti menari. Dari mulutnya keluar suara yang tidak jelas. Tanpa berniat menyia-nyiakan kesempatan ini, Jules berlari secepat mungkin ke arah Varnov. Kemudian Ia menjegal kaki Varnov hingga Ia jatuh terpelanting. Jules langsung melompat ke atas tubuh Varnov dan menodongkan senjatanya.

    “Cukup, tuan von Pluet.”

    Dua peluru ditembakkan oleh Jules, mengenai perut dan tangan kiri Varnov. Berbeda dengan lelaki yang tadi, Varnov bisa merasakan sakit. Ia meraung-raung bagaikan singa yang terluka.

    “…Ghaaaaa… Tolong aku…!”

    Jules tidak bereaksi terhadap panggilan itu. Ia malah menembak bahu kanan Varnov.

    “Diam. Daripada bicara tidak penting, lebih baik kau katakan apa rencana Nibelheim Iceland, dan apa retakan hitam itu!!”

    “Tolong…. Sakit.. sekali… Urgggh…”

    “BICARA!”

    “Jules… Apa yang kau lakukan..?!”

    Di belakang lubang besar, Vincent berdiri sambil menahan darahnya yang terus mengalir. Wajahnya terlihat marah, namun Ia sepertinya kesusahan berdiri, sampai-sampai harus berpegangan di tembok.

    “Vincent?! Kenapa kau—”

    “Kau bodoh ya…?! Lelaki di depanmu itu minta tolong… Ia bukan penjahat, Ia korban!”

    “Apa maksudmu…? Dia bekerja sama dengan Nibelheim Iceland! Dia pasti berniat buruk!”

    “Lihat wajahnya! Apa itu wajah seseorang yang berniat jahat?!”

    Jules menatap wajah Varnov yang separuh menghitam. Di mata kanannya yang masih utuh, mengalir air mata.

    “…Anas…tasia…”

    Jules termenung. Tangan kanannya yang menggengam revolver gemetar.

    “Apa kau… tidak pernah berpikir kalau dia dimanfaatkan?! Apa kau tidak berpikir… Kalau Nona Anastasia ingin bertemu dengannya lagi?!”

    “…Aku… Entahlah…”

    Setelah mengumpulkan sisa-sia tenaga, Varnov merangkak, mejauh dari Jules. Melihat itu, Jules hanya terdiam. Ia ingin menembak Varnov, tapi tidak bisa. Tangannya tidak bisa bergerak. Akhirnya Varnov berhasil mencapai retakan hitam itu.

    “Varnov!”

    “Ia… memanggilku… Saatnya pergi.”

    “Apa…?”

    “Hah…. Katakan… pada Anastasia…” kata Varnov pelan dengan senyum yang kelihatan dipaksakan, ” aku…. minta maaf.”

    Jules mencoba mendekati Varnov, tapi sudah terlambat. Varnov memasuki retakan itu dan terhisap oleh kegelapan.

    Dalam beberapa detik itu, Jules hanya bisa melihat dengan mulut menganga.

    “Apa… Yang terjadi…?!”

    Blugh, tiba-tiba terdengar suara tubuh yang terjatuh. Rupanya Vincent yang tidak bisa menahan rasa sakitnya, roboh. Jules langsung berlari dan mencoba membangunkan Vincent, tapi sepertinya percuma.

    “Vincent!”

    Jules menggerak-gerakkan tubuh Vincent, tapi tidak ada reaksi. Darahnya terus mengalir, membasahi atap.

    Ditengah kebingungannya, seseorang berjalan melewati Jules, menuju ke retakan hitam itu. Jules mengenali sosok itu.

    Gadis bermata pucat yang bicara tentang kehancuran dunia.

    “Hei! Menjauh dari sana! Berbahaya!”

    Perlahan, bibir gadis itu terbuka, “Mimpi buruk…”

    “Eh?”

    “Mimpi buruk… akan datang melewati retakan itu,” kata gadis itu.

    Jules yang tidak bisa apa-apa, hanya menatap retakan itu dengan sorot mata penuh ketakutan. Mimpi buruk macam apa yang menantinya di balik kegelapan yang tak berujung itu?

    ***
     
  10. Offline

    kyotou_yasuri Silent Reader Members

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Online... online... :peace:

    Lord Don’t Slow Me Down



    Pelabuhan utama pulau Aeneas yang masih bisa dibilang baru, kondisinya agak menghawatirkan. Dalam waktu 2 tahun saja pelabuhan itu sudah menjadi tempat nogkrong preman. Di pelabuhan itu terdapat 40 gudang, dan kesemuannya bisa disewa. Sebagian besar gudang itu digunakan untuk menyimpan suplai dagangan para pengusaha di Aeneas.

    Tetapi Mel curiga gudang nomor 33 digunakan untuk hal yang berbeda.

    Mel yang siang itu membolos dari kuliahnya, mendatangi gudang nomor 33. Dari tampilan luarnya, gudang itu sama persis dengan yang lain. Meski sedikit kesulitan membuka gembok yang berkarat, Mel akhirnya berhasil membuka pintu besi menuju ke dalam gudang.

    Yang pertama kali Mel cium di dalam gudang itu adalah bau busuk. Lebih tepatnya, bau busuk mayat. Mel pun menyalakan lampu gudang, dan Ia melihat pemandangan yang tidak pernah Ia sangka akan Ia lihat di sebuah gudang pelabuhan.

    Terdapat tubuh-tubuh manusia bergeletakan. Beberapa diantaranya diborgol di dinding, dan beberapa berada di dalam kandang kecil. Tempat itu tidak jauh beda dengan laboratorium seorang profesor gila dalam cerita Science-fiction.

    “Apa yang sebenarnya terjadi di sini…?” Kata Mel sambil berkeliling. Pemandangan itu mungkin memang bisa membuat seseorang bermimpi buruk namun bagi Mel yang sudah melihat pemandangan yang mirip, pemandangan seperti ini tidak masalah.

    Mel menyadari beberapa borgol tergantung begitu saja. Beberapa kandang juga kosong. Dugaan Mel, orang-orang itu bertahan hidup dari eksperimen dan meloloskan diri, sama seperti Jorge Padreira.

    Ketika itu juga, di pikiran Mel terlintas sesuatu.

    Dari perkataannya ketika konfrontasi dengan Mel, Jorge Padreira tidak memiliki nafsu membunuh yang besar sebelum Ia menjadi bahan eksperimen. Kemungkinan orang-orang yang lolos juga sama. Itu menjelaskan pembunuhan-pembunuhan aneh yang terjadi akhir-akhir ini.

    “Selamat datang.”

    Terdengar suara yang cukup akrab di telinga Mel. Rupanya sang wanita bertato datang.

    “Bagaimana pendapatmu?”

    “Pendapat tentang apa? Tempat busuk ini?” Balas Mel.

    “Oh, sinisnya, “ Wanita itu berjalan mendekati Mel, “Tempat ini adalah ‘permulaan’ menuju hal yang lebih besar. Menuju ke keseimbangan semesta. Kau terlalu naif kalau berpikir tempat ini hanyalah sebuah kandang ternak.”

    “Aku memang berpikir demikian.”

    “Jadi, kau mau bergabung bersama kami?”

    “…Kau gila?”

    “Ahaha, aku serius. Kalau kau pintar, kau akan mengerti bahwa aku—kami melakukan hal yang benar. Kami mencoba mengembalikan keseimbangan yang dulunya eksis.”

    “Keseimbangan?”

    “Ya… Seseorang merusak keseimbangan alam semesta ini, dan kami mencoba mengembalikannya. Dari situ saja kau bisa mengerti mana pihak yang benar, kan?”

    “…Entahlah. Aku tidak yakin pihak yang benar akan mengurung orang-orang dan menurunkan derajat mereka menjadi setara tikus.”

    “Itu tidak bisa dihindari. Keseimbangan butuh korban. Mereka berperan sebagai material penyusun pintu menuju keteraturan, aku rasa mereka akan bangga.”

    Mel tercengang mendengar kalimat terakhir wanita itu, “Kau melepaskan sekumpulan orang gila ke kota untuk hal sebodoh itu…?”

    “Kenapa memangnya? Kami membiarkan mereka, untuk mengetes seberapa jauh hasil eksperimen kami.”

    “Kau… Kalian gila. Aku tidak akan mau bekerja sama dengan kalian.”

    “Hoo…” Wanita itu kehilangan senyum yang selama ini Ia pasang, “Jadi itu keputusanmu… Baiklah, itu kebebasan. Setelah ini, kuharap kau pergi dari gudang ini secepatnya. Aku punya prinsip untuk tidak menyerang di kandang sendiri.”

    Bisa dibilang, Mel tertolong. Menantang orang yang memiliki aura seperti wanita ini di daerah kekuasaan mereka sangat berbahaya. Tanpa menengok lagi, Mel berjalan menuju ke pintu keluar.

    “Kuingatkan saja, kau bebas untuk melapor ke polisi, namun percuma saja karena aku akan menghapus keberadaan tempat ini.”

    “Siapa bilang aku akan melapor?” Mel berhenti berjalan, “Aku akan hancurkan kalian dengan tanganku sendiri.”

    “Haha, menarik sekali. Akan kutunggu.” Balas wanita itu dengan suara penuh semangat.
    Mel pun meninggalkan gudang itu, dan memutuskan Ia takkan pernah kembali.

    ***

    Ketika Mel memasuki kelas, kuliah sudah usai. Namun untunglah orang yang dicarinya masih duduk di dalam.

    “Frank, bisa bicara?”

    “Oh, Mel! Darimana saja kau? Kau bolos ya? Habis kencan?”

    “Basa-basinya nanti saja. Ada yang ingin kubicarakan, dan ini berhubungan dengan hal ‘itu’.”

    Tanpa kata-kata, Frank keluar dari kelas, diikuti Mel. Mereka pergi ke atap gedung kampus yang siang itu sepi karena jam kuliah sudah berlalu cukup lama.

    Frank berhenti di pojok atap. Ia berbalik dan mengepalkan tangannya di depan mulutnya.

    “Selamat datang di jasa informasi Frankie. Ada yang bisa kubantu?” Kata Frank dengan nada tinggi seperti seorang resepsionis. Dahi Mel mengerut mendengarnya.

    “Tolong bicara biasa saja.”

    “Oke, aku minta maaf. Cuma, aku tidak menyangka Mel akan membeli informasi dariku…”

    “Aku tidak pernah bilang bahwa aku tidak akan membelinya. Aku cuma bilang aku tidak tertarik waktu itu.”

    “Hmm… Oke, aku percaya,” Frank menyeringai licik.

    Sekonyong-konyong, ingatan Mel kembali ke saat Ia pertama kali bertemu Frank. Konon, Mel tidak punya teman di kelas karena Ia sangat pendiam. Kemudian suatu hari seseorang duduk di bangku samping Mel dan memperkenalkan dirinya sebagai Francis Vineyard. Ia melanjutkan bahwa Ia ingin berteman dengan Mel. Memang, Mel bukan orang yang aktif namun bukannya Ia anti-sosial. Tetap saja Mel ingin tahu kenapa Frank ingin berteman dengannya.

    Mendengar itu, Frank tersenyum dan berkata, “Kau memiliki aura yang sama denganku, dan aku suka orang-orang seperti itu.”

    Identitas sebenarnya dari Frank adalah pedagang informasi yang tersohor di penjuru pulau Aeneas. Pelanggannya bermacam-macam, dari seorang anak kecil yang mencari anjingnya yang hilang hingga polisi yang kebingungan dengan kasus yang tidak terpecahkan. Frank bercerita bahwa Ia menyukai menyelidiki ‘kegelapan’ diri orang lain. ‘Kegelapan’ itulah yang Ia miliki. Meski Ia tidak tahu seperti apa bentuknya, Frank tahu dalam hati Mel juga terdapat ‘kegelapan’.

    Mulai hari itu, Mel dan Frank menjadi teman baik. Berkali-kali Frank memancing Mel untuk membeli informasi darinya, namun Mel selalu menghindar. Kali ini, situasinya terbalik.

    “Jadi, informasi apa yang kau cari?”

    Pertanyaan Frank mengembalikan pikiran Mel ke masa sekarang.

    “Tentang pergerakan aneh di kota.”

    “….Pergerakan?”

    “Kau tahu, tentang pembunuhan yang akhir-akhir ini marak.”

    Frank menjentikkan jari, “Kalau itu, baru saja ada informasi yang datang,” katanya sambil merogoh kantong depan celana jeans-nya untuk mengambil selembar amplop. Kemudian Ia menyerahkannya pada Mel.

    “Itu hasil pengawasanku di daerah dekat jalan Barias kemarin malam.”

    Mel kaget mendengar jalan Barias disebut, “Bukankah tadi pagi ditemukan mayat di sana?”

    “Ya. Kondisinya cukup parah… Pelaku merusak seluruh tulang korban. Pemandangan yang mengerikan.” Wajah Frank sedikit mengerut ketika berbicara, sepertinya Ia mengingat pengalaman yang tidak menyenangkan.

    “…Berapa harganya?” Tanya Mel sambil mengangkat amplop tipis itu.

    Frank menggeleng, “Tidak perlu, anggap saja itu promosi.”

    “Kau serius?”

    “Ya. Aku kan orangnya murah hati.”

    Mel membuka amplop itu dengan perlahan tanpa merobeknya. Di dalamnya ada secarik kertas yang bertuliskan tentang sering berkeliarannya seorang lelaki kekar berambut pirang di sekitar jalan Barias mulai sekitar pukul 11 malam pada tempo hari ini.

    “…Trims, Frank.”

    Setelah membacanya, Mel memasukkan kertas itu kembali ke amplop dan mulai berjalan ke pintu atap, hingga kemudian Frank memanggilnya.

    “Mel, apa yang akan kau lakukan dengan informasi itu?”

    “Apa aku harus menjawabnya?”

    “Tidak…” Frank tertawa kecil, “Aku sangat menjaga privasi pelanggan. Sebagai penjual informasi aku tidak akan terlibat dengan apapun yang pelangganku akan lakukan dengan informasi pemberianku. Namun sebagai teman, aku hanya sekedar penasaran.”

    Mel tidak bereaksi mendengar perkataan Frank.

    Kemudian, Mel pergi dari atap, meninggalkan Frank yang masih tersenyum seperti anak kecil.

    ***


    “Hah… Hah…!”

    Di gang gelap yang terletak di sudut barat kota, seorang lelaki berlari seperti kesetanan. Kaki sebelah kirinya tertancap pisau. Darahnya terus mengalir, menetes di sepanjang jejaknya.

    Namun, hal itu bukanlah hal yang membuatnya ketakutan. Lelaki itu seharusnya tidak ketakutan terhadap hal kecil semacam itu karena Ia adalah seorang mantan prajurit. Ia pernah mengalami hal yang lebih parah, seperti tertembak di perut atau patah tulang rusuk. Bahkan, sejak beberapa minggu yang lalu, sejak Ia terlibat dengan sebuah eksperimen aneh, tubuhnya bertambah kebal terhadap rasa sakit. Luka akan tetap ada namun rasa sakit nyaris terhapus seluruhnya.

    Lalu kenapa lelaki itu sangat ketakutan?

    “Hah…! Hah…! Hah…!” Lelaki itu terus berlari, memaksakan paru-parunya yang terasa perih. Ia mengerahkan seluruh tenaganya dengan asumsi ketika Ia mencapai jalanan kota Ia akan selamat. Tapi apakah benar?

    Mata lelaki itu berbinar ketika Ia mulai bisa mendengar suara mobil yang berlalu lalang. Bahkan Ia mulai bisa melihat terangnya gedung-gedung di jalanan. Namun harapan itu terhapus sedetik kemudian.

    Sosok berbaju hitam tiba-tiba menghalangi jalan lelaki itu.

    “S-stop! Jangan bunuh aku!” Lelaki itu merengek seperti anak kecil. Namun sosok berbaju hitam tidak menjawab. Ia berjalan mendekati lelaki itu.

    “Kenapa!? Kenapa kau ingin membunuhku? Aku tidak melakukan apapun!”

    “Kau tidak bisa menipuku.” Akhirnya, sosok itu membuka mulutnya. Yang terdengar adalah suara lelaki, jika digabungkan dengan tinggi badannya, mungkin usianya sekitar 17-20 tahun.

    “Kau berpotensi menjadi pembunuh gila. Hal itu sudah cukup sebagai alasanku untuk membunuhmu.”

    Sosok itu semakin mendekat. Di bawah siraman lampu redup yang menempel di sebuah gedung. Lelaki itu mulai bisa melihat dengan jelas sosok sang pemuda. Wajahnya diperban—hingga sama sekali tidak bisa dikenali.

    “Tapi, aku belum membunuh siapapun! Aku mencoba untuk menahan diri!” Rengekan lelaki itu semakin keras, tapi hal itu tidak mempengaruhi pemuda berperban. Ia terus mendekati lelaki itu.

    Karena rasa takut yang memuncak, lelaki itu memutar balik. Tetapi sudah terlambat.

    “Gohok!”

    Pisau tertancap di leher lelaki itu, menembus tenggorokan dan kerongkongannya. Darah mengucur deras. Beberapa detik kemudian, Ia sudah kehilangan nyawanya.

    Pemuda itu terdiam melihat tubuh lelaki yang sudah kaku itu. Iapun mencabut pisau di leher orang itu, menjatuhkannya ke tanah. Kemudian, perlahan tubuh lelaki itu menghitam, dari tangan merambat terus ke tubuh hingga ke kepalanya. Sampai seluruh tubuhnya menghitam dan tidak bisa dikenali lagi. Ketika angin bertiup, tubuh lelaki itu mulai terurai ke udara, mengikuti arah angin.

    Pemuda itu tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Ia tidak tahu kenapa tubuh lelaki itu menghitam, kemudian menjadi debu. Pemuda itu tidak tahu, karena Ia tidak peduli.

    Ia tidak peduli—yang terpenting baginya adalah Ia bisa mencabut nyawa orang itu.

    Kemudian, pemuda berbalut perban itu berjalan meninggalkan lokasi, hingga kemudian Ia menghilang seakan ditelan oleh gelapnya malam.

    ***

    Kuliah siang itu sudah berakhir ketika Mel memutuskan untuk ‘berbisnis’ lagi dengan Frank. Sudah sekitar seminggu sejak jual beli pertama mereka, dan sejak itu interaksi bisnis antara mereka terus berjalan. Tentu saja Frank sangat senang mendengar Mel, karena itu berarti informasi pemberiannya sangat berguna. Sepanjang perjalanan menuju atap, Frank tertawa-tawa kecil.

    “Jadi, seperti biasanya?” Tanya Frank, masih dengan senyum di wajahnya.

    “Ya.” Mel menjawab singkat.

    Anehnya, Frank tidak bergerak. Biasanya begitu mendengar ‘ya’ dari Mel, Frank selalu merogoh kantongnya untuk mengambil sebuah amplop. Namun, kali ini dia hanya diam saja.

    “Ada apa?”

    “Ini masalahnya, Mel…” Kata Frank sambil menggaruk kepalanya, “Semalam, tidak ada pergerakan aneh apapun di kota.”

    “Ha?”

    “Yah, terkecuali si lelaki berperban yang memang setiap malam berkeliaran, tidak ada aktivitas lain yang mencurigakan, setidaknya yang berhubungan dengan yang kau cari.”


    Mel termenung. Ia berpikir, apa akhirnya usahanya membuat suatu hasil? Apa ini berarti tindakannya membunuhi satu persatu kelinci percobaan itu berhasil mengurangi jumlah mereka?

    Tidak, pikir Mel menyangkal. Seingatnya, di gudang pelabuhan nomor 33 terdapat banyak sekali borgol besi dan kandang, mungkin jumlahnya sekitar 50. Mel baru membunuh 6 orang. Jumlah itu masih terlalu sedikit untuk mempengaruhi aktivitas mereka. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?

    “Aku pernah bilang, “ Frank menyeletuk, memecah lamunan Mel, “Kalau aku tidak akan terlibat dalam masalah pelangganku. Tapi sekali lagi aku mengatakan ini sebagai seorang teman. Mel, hal kau selidiki ini cukup berbahaya. Bisa dibilang masalah ini sangat tidak biasa.”

    “…Trims atas kekhawatiranmu, Frank. Tapi aku harus melakukan ini.”

    Frank mengangkat bahunya, “Aku tidak bilang aku melarangmu, kok. Aku hanya ingin kau hati-hati.”

    “…Okelah.”

    “Kalau begitu, aku duluan.” Kata Frank pamit, meninggalkan Mel sendirian di atap.
     
  11. Offline

    kyotou_yasuri Silent Reader Members

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Tidak adanya tujuan pasti untuk Mel malam itu membuatnya berkeliaran di kota. Di jalanan, gedung-gedung tinggi, kompleks perumahan, bahkan Ia mendekat ke pelabuhan. Namun tanda-tanda keberadaan ‘orang-orang itu’ tidak terlihat.

    Mel pun akhirnya pergi ke taman, dan memutuskan untuk mengakhiri pencarian jika Ia masih juga belum menemukan apa-apa.

    Taman kota, pukul 12 malam. Tidak aneh jika semua bangku tidak ada yang menduduki, dan di rerumputan tidak ada anak-anak yang berlarian. Yang ada hanya lampu-lampu taman dan air mancur yang masih menyala—dan seorang pria.
    Mel merasakan firasat buruk ketika melihat pria itu. Insting pembunuh Mel merasakan eksistensi yang aneh, eksistensi yang tidak berasal dari dunia ini, dari dalam tubuh pria itu.

    “Jadi kau, yang selama ini membantai para kelinci percobaan di sekeliling kota?”

    Pria itu berbalik dan menghadap Mel.

    “Tidak mungkin… kau…”

    Seketika melihat wajah pria itu, tubuh Mel gemetar. Bukan karena wajahnya penuh luka, namun karena Mel mengenali wajah itu.

    “Fulad-Zereh….!”

    “Kau mengenalku? Tidak kusangka, meski tidak aktif selama 500 tahun lebih sepertinya aku masih cukup dikenal,” Ucap Lelaki itu dengan senyum di wajahnya, “Benar, aku iblis Fulad-Zereh, namun aku juga punya nama. Don Dixon, kau bisa panggil aku Don.”

    “Kenapa kau masih hidup….?”

    “Hei, kau tidak mendengarkanku ya—tunggu, kau, jangan-jangan dari Zabaniya?”

    “….”

    Wajah Mel mengkerut. Namun wajah lelaki bernama Don itu semakin cerah.

    “Aku pergi untuk menyapa kalian, tapi markas kalian sudah terbakar habis. Apa yang terjadi?”

    “Seharusnya Hassan sudah membunuhmu!”

    Don menghela nafas, “Huh, kau tidak memperhatikanku sama sekali, bocah. Biasanya aku akan marah tapi hari ini mood-ku sedang enak jadi kumaafkan kau. Dengar, Hassan hanya seorang pengecut. Dalam pertarungannya denganku, kau tahukan wajahnya hancur dan tulang-tulangnya remuk? Kondisi yang sama juga kurang lebih terjadi padaku. Kami berdua sekarat. Namun, daripada meneruskan pertarungan dan mengorbankan dirinya, Ia lebih memilih untuk membuat persetujuan denganku. Ia tidak akan membunuhku asal aku tidak muncul selama beberapa waktu. Aku setuju. Sepertinya dia membual tentang Ia sudah membunuhku ya? Dengan menunjukkan tanganku yang Ia potong…. Padahal satu tangan tidak berarti untukku.”

    Mel terdiam. Kisah yang baru diceritakan Don—meski sedikit berbeda—adalah dongeng yang selalu diceritakan tetua Zabaniya, tentang Hassan Sabah sang pemberani yang membunuh musuh besar Zabaniya, iblis Fulad-Zereh. Karena kisah itu Hassan dikenal sebagai pahlawan. Namun, keberadaan iblis Fulad-Zereh di depan Mel sekarang ini membuatnya ragu tentang status Hassan; apakah Ia pahlawan atau pembual?

    “Yah… aku tidak peduli dengan klanmu. Yang kupedulikan hanya diriku sendiri. Ngomong-ngomong, kenapa kau membunuhi tikus-tikus eksperimen itu? Mereka berharga.”

    “Kau bercanda. Mereka monster, dan harus dibunuh. Aku hanya menegakkan keadilan.”

    “Ha…? Menegakkan keadilan? Kau?” Untuk sedetik, Don mencoba menahan tawanya, namun Ia tidak sanggup, “…hahhahahahaHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!”

    “Apanya yang lucu, iblis?!”

    “Keadilan? Kau? Kau… Kau tahu apa tentang keadilan?? Kau pembunuh! Kau cuma tahu cara membunuh!”

    Mel tercengang mendengar Don. Tubuhnya gemetar. Ia mengepalkan tangannya dengan keras, dan keringat dingin mengucur. Kemarahan menguasai dirinya.

    “Bagaimana dengan kau!?” Mel mencoba melawan, “Apa saja yang sudah kau lakukan pada orang-orang itu? Kau itu wujud kejahatan!”

    Tawa Don berhenti, Ia menatap Mel dengan sinis, “Kejahatan…? Apa yang kau harapkan dariku? Aku ini seorang iblis… Aku memang jahat!”

    “….Hegh.” Keringat terus mengucur dari dahi Mel. Situasi yang memanas membuat Mel memikirkan skenario terburuk, yaitu bertarung dengan Fulad-Zereh. Mel tahu Ia tidak akan menang melawannya.

    “Kurasa memang hal ini tidak bisa selesai hanya dengan kata-kata ya…” Don memutar-mutar lengan kanannya.

    Nyali Mel sedikit ciut melihat gerak-gerik Don, namun Ia menggigit bibirnya. Jika Mel lengah, nyawanya akan melayang. Ia tahu itu. Ia menghunus pisau dan pedang pendeknya yang Ia letakkan di pinggang, dan memasang kuda-kuda.

    “…Entah kenapa sosokmu mengingatkanku pada Hassan. Tapi asal kau tahu saja, itu tidak berpengaruh padaku.” Ujar Don berbasa-basi, “Kalau begitu, biar aku yang maju duluan.”

    Don melesat ke arah Mel dengan kecepatan yang mengerikan sambil mengayunkan tangannya secara horizontal. Merasa tidak ada kemungkinan untuk menahan serangan itu, Mel menghindar kebelakang. Namun kekuatan Don sangat mengerikan. Ia langsung bisa melancarkan tinju berturut-turut ke arah Mel tanpa jeda sama sekali. Mel pun direpotkan oleh serangan bertubi-tubi dari Don.

    Tetapi bukannya Mel tidak bisa melawan. Ia mulai berkonsentrasi untuk mengalirkan energi magis pada seluruh tubuhnya. Kemampuan ini adalah salah satu spesialisasi Zabaniya, dimana mereka mengalirkan energi magis ke penjuru tubuh untuk menambah kemampuan fisik mereka.

    Sekali lagi Don mengayunkan tangannya secara horizontal ke arah Mel, yang dihindari Mel dengan meluncur di bawahnya. Lalu dengan cepat Mel menebas dada Don sekuat tenaga.

    Dada Don pun berbekas luka, namun tidak terllihat jejak darah sama sekali. Mel yang tercengang, hanya terdiam dengan mulut menganga.

    “…Hmmm? Apa yang baru saja kau lakukan?” Ejek Don dengan seringai yang mengerikan. Kemudian Ia mengepalkan tangan kirinya dan memukul Mel sekuat tenaga, membuatnya terlempar ke belakang.

    Untungnya Mel sempat bertahan dengan tangannya, tapi tetap saja keduanya terluka.

    Mel sebenarnya sudah tahu bahwa bangsa iblis tidak bisa dilukai dengan senjata biasa. Hassan berhasil melukainya karena pedang khusus yang Ia miliki. Tentu saja tanpa pedang itu, apapun yang dilakukan Mel percuma. Ia takkan bisa melukai Don.

    “Jangan memasang wajah putus asa secepat itu, tidak seru.” Kata Don, “Setidaknya beberapa saat lagi.”

    “Ggggh…” Mel hanya bisa marah kepada kelemahannya. Ia tidak bisa menggores Don sedikitpun, dan itu membuatnya sangat kesal.

    Perlahan-lahan, logika terkikis dari pikiran Mel. Ia menerjang kearah Don dengan secepat mungkin. Mel berniat untuk memenggal kepala Don.

    “Naif!”

    Don mengayunkan tangannya yang mengepal kesamping, tepat mengenai pipi kiri Mel, membuatnya terpental. Kemudian, dalam sekejap, Don sudah berpindah tempat ke belakang Mel. Iapun menangkap Mel dan mencekiknya.

    “Aku bisa mengerti kenapa Zabaniya bisa punah… Kalau orang-orangnya setolol kau!” Seru Don dengan suara nyaring.

    Don kemudian melempar Mel ke pinggiran. Mel yang sudah tidak berdaya, pasrah.

    “Hentikan!”

    Terdengar suara nyaring dari belakang. Rupanya Engel. Mel dengan segenap tenaganya berniat untuk menyuruh Engel menjauhi Don, tapi suaranya tidak bisa keluar.

    “Oho, ini bukan waktu yang tepat untuk seorang gadis berjalan-jalan, Nona.”

    “Jauhi Mel!”

    “Eh…?”

    “Jangan… Jangan sentuh dia!”

    Dahi Don berkerut, kemudian Ia tertawa, “Apa? Kau melindungi bocah ini? Kau melindungi pembunuh ini?”

    “…Mel tidak seperti itu… Dia orang baik! Ia tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini! Dia bukan orang amoral sepertimu!”

    Engel terlihat agak khawatir setelah melancarkan kata-kata yang mungkin menyulut kemarahan Don. Namun, yang sebaliknya malah terjadi. Don kelihatan bosan.

    “Haah… Apa-apaan ini, opera sabun? Aku benci yang seperti ini, cuma bisa mematikan kenikmatan membunuh. Bocah, kau kuampuni sekarang. Membunuh orang terakhir Zabaniya haruslah menjadi momen yang mengasyikkan, bukan membosankan seperti ini.”

    Mengejutkan Mel, Don berbalik dan kemudian berjalan menjauh. Nyawa Mel terselamatkan. Namun, kesadaran Mel semakin kabur. Sebelum pingsan, hal terakhir yang Ia lihat adalah mata abu-abu pucat Engel.

    ***

    Ketika Mel membuka matanya, Ia melihat langit-langit yang familiar. Rupanya, Ia sudah berada di kamarnya. Ia masih mengenakan pakaian yang Ia kenakan waktu berada di taman, namun anehnya semua lukanya sudah sembuh. Mel yang kebingungan melihat sekeliling. Ia menyadari kalau Engel sedang tertidur di sampingnya. Saat itu juga, Engel terbangun.

    “…Ah, maaf kalau aku membangunkanmu.”

    “Tidak apa kok.” Engel mengusap-usap matanya, Ia masih kelihatan mengantuk.

    Mel melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 4 pagi. Sudah 4 jam sejak insiden di taman. Ia bertanya-tanya, apa yang terjadi sejak dirinya pingsan?

    “Kalau masalah lukamu, sudah tidak apa-apa. Aku sudah mengembalikan kondisi tubuhmu seperti semula.”

    “Mengembalikan…? Apa kau ini penyihir?”

    “Mungkin bisa dibilang begitu,” Engel berdiri dari tempat tidur, “Masalah itu tidak penting, yang penting sekarang kau sudah tidak apa-apa.”

    “Kenapa?”

    “Eh?”

    “Kenapa kau menolongku?”

    Engel terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan Mel.

    “Aku sudah siap mati tadi. Aku menyadarinya… Aku menyadarinya sejak awal bahwa aku membunuh para kelinci percobaan itu karena aku ingin, bukan karena keadilan atau semacamnya. Aku hanya ingin suatu alasan, agar aku bisa membunuh, itu saja… Aku orang yang menyedihkan.” Kata Mel dengan penuh rasa sesal.

    “Mel, jangan bilang begitu.”

    “Lalu apa yang harus kukatakan? Aku adalah seseorang yang membunuh seluruh anggota ‘keluargaku’, karena dorongan nafsu. Sejak itu, aku mencoba merubah diri, namun tidak bisa. Bagaimanapun juga, aku akan membunuh dan terus membunuh. Itu siklus yang tidak bisa kupatahkan.”

    Engel kemudian berjalan mendekat dan kembali duduk di kasur. Dengan lembut, Ia memegang tangan Mel.

    “Kau memaksakan dirimu.” Ucap Engel dengan perlahan, nyaris seperti berbisik, “‘Merasakan’… itu bukanlah sesuatu yang kau lakukan, itu sesuatu yang muncul begitu saja dari hatimu. Aku tahu, kau merasakan semua perasaan itu. Sang Pembunuh Dunia sebentar lagi datang, dan aku hanya ingin membantu orang yang kutemui, sebisa mungkin. Aku ingin Mel bisa bahagia, setidaknya selama beberapa saat ini saja. Aku tidak ingin Mel mati begitu saja tanpa kebahagiaan sama sekali. Karena itu aku menolong Mel.”

    Mendengar kata-kata Engel, hati Mel tergerak. Emosi dalam dirinya mulai merambat naik. Rasa perih ketika melihat mayat Riveri… Rasa itu bukan rekaan. Mel merasakannya. Air matanya mengalir seiring dengan perih yang makin terasa.

    “Ugh…. Aku… Selama ini, apa yang kupikirkan…” Kata Mel sambil mengepalkan tangannya, “Sejak dahulu aku selalu membunuh untuk diriku sendiri. Aku selalu seperti itu!”

    “Mel, jangan menangis.”

    “Tidak… aku lega. Aku menyadari semuanya. Aku… tidak akan menyangkal apapun lagi.” Ucap Mel sambil menghapus air matanya.

    Kemudian, Mel meraba tangan Engel. Tangan yang kurus dan pucat, dibalut kain jaket yang kedodoran. Ketika memegangnya, terasa dingin. Membuat Mel berpikir, apa saja yang sudah digenggam tangan ini, dan apa saja yang sudah dilepaskannya? Namun, Mel memegangnya erat.

    “Terima kasih, kau membuatku menyadari semuanya.”

    Wajah Engel sedikit merona mendengar Mel, “A-ah, tidak apa… Itu, memang tugasku. Sudah kubilang, aku akan membuat Mel bahagia.”

    “Kalau begitu,” Mel memotong pembicaraan, “Kali ini, aku akan membuatmu bahagia.”

    “Apa maksudmu?”

    “Aku akan menghentikan kehancuran dunia.”

    Ucapan Mel itu membuat Engel terbelalak.

    Mel serius.

    Kali ini, gilirannya membahagiakan Engel, bagaimanapun caranya.

    ***
     
  12. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    wogh:matabelo:darknya...

    misterinya, deskripsinya situasinya.. keren banget:matabelo:

    masih ada beberapa misstypo, tapi wajar..:hehe:ya, komentar saya sih...

    alur ceritanya ngalir.. biarpun pake sudut pandang beberapa tokoh, tapi buat saya sih nggak ngebingungin.

    cuma kadang-kadang ada bagian yang... agak kurang deskripsinya. terutama kayaknya sih kalau soal deskripsiin perasaan si tokoh, ex: terkejut atau sejenisnya.
    bagian yang paling susah sih ya:keringat:soalnya saya sendiri nggak bisa...:ngacir:

    ngomong2, baca ni cerita kenapa bikin saya inget sama LN Kara no Kyoukai ya:hehe:sama-sama ada tokoh psikopat yang suka ngebunuh:hihi:

    lanjutkan:top:
     
  13. Offline

    kyotou_yasuri Silent Reader Members

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Woah makasih banget komennya bang merpati :xiexie:

    Hehehe sama-sama deh emang bagian itu saya masih perlu banyak belajar... Kadang agak kesulitan nyusun kalimat untuk mengungkapkan perasaan tokoh... :swt:

    Hee... :top: kebetulan saya suka banget (movie nya , LN nya sih lumayan) sama Kara no Kyoukai dan beberapa draft yang saya buat sebelum ini hampir 70 % terinspirasi dari KnK. Ketika saya bikin ini saya pikir udah lepas dari feel-nya KnK tapi taunya tetep kerasa juga ya :swt: gak bisakah aku melarikan diri darinya....

    btw sekali lagi thank you very much atas komennya :maaf:

    lanjut :peace:

    Under The Cover of Darkness



    Waktu hampir menunjukkan tengah malam, sementara Anastasia masih terjebak di halte bus dengan banyak orang karena lumpuhnya lalu lintas di Aeneas. Beberapa hari ini, karena sibuk Yasuhiko jarang menjemputnya. Hari ini Anastasia lembur, namun Ia tahu bahwa Yasuhiko sedang ada masalah. Melihat kondisi jalanan yang kacau balau, Anastasia hanya bisa berharap kekasihnya baik-baik saja.

    Kemudian, di halte yang bagaikan sekaleng sarden itu, seseorang menggenggam tangan Anastasia dan menarik dirinya keluar. Genggamannya sangat kuat, Anastasia tidak bisa melawan. Ia semakin terkejut ketika Ia melihat yang menariknya adalah seorang wanita.

    “Kau pasti Anastasia Von Pluet?”

    “I-iya… Anda…?”

    “Saya rekan Varnov, kakak anda.”

    Alis Anastasia naik ketika kakaknya disebut.

    “Benarkah? Apa kakakku baik-baik saja?!”

    “Kurang lebih. Sekarang ini, dia masih menjalankan tugas yang kami berikan,” kata wanita bermantel gelap itu.

    Anastasia ingin bertanya lebih banyak lagi, namun Ia teringat dengan rumor bahwa kakaknya bekerja dengan Nibelheim Iceland. Anastasia mundur selangkah. Wanita itu seakan membaca pikiran Anastasia, dan langsung memasang senyum lebar.

    “Apa kau diperintah oleh Nibelheim Iceland…?” tanya Anastasia dengan suara bergetar.

    “Benar. Tapi tenang saja, nonaku tidak akan merencanakan hal buruk. Malah, Ia memberikan pekerjaan yang sangat bagus kepada Varnov. Kami bisa menjamin bahwa Ia masih hidup.”

    Meski sudah mendengar hal-hal yang menyenangkan, hati Anastasia masih ragu. Senyum wanita di depannya ini meyakinkan, tapi tidak cukup meyakinkan untuknya.

    “Tujuan saya kemari untuk menjemput anda. Kakak anda ingin bertemu.”

    “Eh…?”

    Saat itu juga, perasaan Anastasia melunak. Ia memang sangat merindukan kakaknya. Anastasia akan melakukan apapun untuk bisa bertemu kakaknya lagi. Tanpa banyak berpikir, Anastasia mengangguk.

    “B-bawa aku menemuinya!”

    Wanita bermantel itu tersenyum, namun senyumnya kelihatan berbeda dari senyum ramah tadi, “baiklah kalau begitu. Mohon ikuti saya. Tempatnya tidak jauh kok.” Wanita itu mulai berjalan, namun Anastasia tidak langsung mengikutinya. Ia berpikir, apa Ia harus menghubungi Yasuhiko?

    “Apa kau ingin menghubungi seseorang?”

    Anastasia menggeleng. Mungkin Yasuhiko sedang sibuk sekarang, pikir Anastasia. Akhrinya Ia pun mengikuti wanita itu.

    Di persimpangan Anastasia bertanya,”Maaf, kemana tujuan kita?”

    Wanita itu menengok ke arah Anastasia dan tersenyum, “Rumah Sakit Darko Medical.”

    ***
    Yasu menyusuri trotoar Aeneas yang penuh sesak. Kemacetan yang sudah berlalu sejak sore tadi membuat jalanan tetap penuh meski hari sudah hampir berganti. Di ramalkan kemacetan akan berakhir pukul setengah dua pagi. Namun Yasu tidak peduli akan hal itu. Sekarang ini yang ada di kepalanya hanya keinginan untuk menemui Anastasia. Tapi ke mana harus Ia pergi?

    Setelah beberapa menit berjalan tanpa arah, akhirnya Yasu berhenti. Awalnya Ia berniat pergi ke perpustakaan kota, tempat Anastasia bekerja. Yasu berubah pikiran karena Ia berpikir tidak mungkin kalau Anastasia masih berada di sana. Bless pasti membawanya ke suatu tempat, tapi di mana?

    “Sebaiknya kau lepaskan saja.”

    Seorang gadis tiba-tiba muncul di samping Yasu. Jaket kedodoran yang sangat mencolok itu, langsung dikenali olehnya.

    “Apa maksudmu melepaskan?”

    “Anastasia.”

    “Apa…?”

    “Dia tidak akan kembali padamu.”

    “Apa katamu…?”

    Kata-kata Engel bagaikan minyak yang tertuang ke dalam kepala Yasu yang terbakar. Ia langsung menghampiri Engel dan mencengkram bahunya dengan keras. Engel kelihatan kesakitan, namun Ia menahannya.

    “Anastasia akan terbawa ke ‘sana’… Sama seperti yang lain.”

    “Dengar, bocah. Aku tidak punya waktu untuk teka-teki bodohmu. Kalau ada sesuatu yang ingin kau katakan, lebih baik katakan segera!” seru Yasuhiko, membuatnya menjadi perhatian di trotoar yang ramai.

    Engel tidak bereaksi terhadap bentakan Yasu. Ia hanya menatap Yasuhiko dengan sorot mata yang seakan berkata, “aku tidak akan menarik kata-kataku.”

    “Cih!” Yasuhiko melepaskan genggamannya. Terpikir di benaknya bahwa tidak ada gunanya melayani gadis ini. Ia harus menemukan Anastasia secepat mungkin. Yasuhiko pun memutar otak. Percakapannya dengan Bless Ia reka ulang di kepalanya. Hingga akhirnya, Ia mengingat sesuatu.

    Darko Medical, tempat ‘bekerja’ Bless.

    “Kau sebaiknya tidak terlalu sering mencampuri urusan orang lain, bocah!”

    Yasu langsung berbalik ke arah berlawanan dan berjalan secepat mungkin melewati kerumunan.

    “Aku sudah memperingatkanmu.”

    Kata-kata itu membuat Yasu berhenti sejenak dan menengok ke belakang. Namun, sudah tidak ada siapapun di sana. Yasuhiko kembali berjalan. Ia yakin, kali ini Ia tidak akan salah.


    ***


    “Salam kenal, Anastasia Von Pluet. Aku Alissia—maksudku, Nibelheim Iceland.”

    “Ah…”

    Ketika mengetahui bahwa yang duduk di depannya adalah salah satu kriminal terbesar di dunia sihir, Anastasia gemetar. Ia masih belum bisa mempercayai kalau kakaknya bekerja untuk wanita ini.

    “Oh, tidak perlu khawatir,” Nibelheim berdiri, dan berjalan mengelilingi ruangan. Ia mengenakan jas putih panjang, membuatnya nampak seperti dokter. Nibelheim berhenti di depan pintu keluar.

    “Bukankah kau ingin menemui kakakmu?”

    “Kau… kau apakan kakak?!”

    “Huuh… Bless, kau sudah bilang padanya bukan? Anastasia, kakakmu baik-baik saja. Bahkan, sudah ada kemajuan dalam penelitiannya. Sekarang Ia bisa menemuimu.”

    Wanita bermantel yang berdiri di pojok ruangan mengangguk.

    Meski Anastasia mencoba untuk bertahan, kata-kata Nibelheim yang berhiaskan gula-gula tetap saja berhasil memasuki celah-celah hatinya. Anastasia tentulah sangat ingin menemui kakaknya.

    “Aku janji aku akan membawamu kepada Varnov.”

    Dalam hati Anastasia, berkecamuk konflik. Ia masih belum bisa mempercayai Nibelheim, namun Ia juga merasa Varnov dan dirinya hanya dipisahkan oleh selembar kertas. Mengepalkan tangannya yang berkeringat, akhirnya jawaban Anastasia muncul.

    “Aku… Aku ingin menemui kakak!” kata Anastasia tegas.

    Nibelheim kelihatan senang mendengarnya, “Keputusan yang tepat. Bless, tolong ya.”

    Wanita dengan tato di bawah matanya itu meninggalkan ruangan. Ketika Anastasia akan menoleh ke arah wanita bermantel, sesuatu menusuk lehernya.

    Jarum suntik.

    Dengan seringai yang mengerikan, wanita bermantel itu menyutikkan sesuatu ke pembuluh darah Anastasia. Dalam beberapa detik, tubuhnya langsung kaku. Anastasia ingin berteriak, tapi sebuah batu besar seakan memasuki tenggorokannya, menghalangi pita suaranya.

    “Asal kau tahu saja, Nibelheim tidak pernah menjamin keselamatanmu.”

    “Aaaa….!!”

    Sesaat kemudian, Anastasia sudah tidak berdaya. Cairan hitam yang disuntikkan wanita bermantel itu sangat efektif. Dengan kasar, wanita itu menggendong Anastasia keluar, mengikuti Nibelheim.

    “Tapi tenang, Ia tidak berbohong. Kau akan menemui kakakmu sebentar lagi.”

    Rencana mereka berada di tahap akhir dan sekarang, hanya waktu yang jadi penghalang mereka.

    Setelah berjalan selama 15 menit, Yasuhiko akhirnya sampai di Rumah Sakit Darko Medical. Mungkin karena kemacetan yang perlahan mulai reda, halaman parkir sudah sepi. Ataukah ada penyebab lain?

    Ketika Yasuhiko mencapai pintu masuk, seorang wanita menghalanginya, seakan Ia menanti kedatangan Yasuhiko. Dilihat dari jas putih panjangnya, sepertinya Ia dokter.

    “Tuan Yasuhiko Westwood? Aku sudah menanti kedatanganmu.”

    “Siapa kau?”

    “Panggil aku Dr. Alissia Cooper… Setidaknya itu nama yang kugunakan di sini.”

    “Di mana Anastasia? Di mana Bless?”

    “Oho, pelan-pelan. Bukankah kau tertarik untuk berkeliling rumah sakit dahulu? Aku yakin kau akan tertarik dengan interiornya—”

    “Aku tidak punya waktu untuk omong kosong!!” seru Yasuhiko sambil menghentakkan kakiknya. Alissia sama sekali tidak bergeming. Malah, Ia tersenyum.

    “Kuminta dengan sangat untuk menjaga ketenangan, tuan Westwood. Bagaimanapun juga, tempat ini adalah rumah sakit. Jam segini, para pasien sedang beristirahat. Kalau kau ingin segera menemui Anastasia, mohon ikuti aku.”

    Dengan sedikit enggan, akhirnya Yasu mengikuti Alissia memasuki rumah sakit. Bau yang khas mulai tercium, bau yang sudah lama tidak Yasu cium. Tembok putih sepanjang lorong yang sepi. Ruang tunggu hanya berisi petugas jaga dan seorang tua dengan pakaian kumuh. Suasana sangat tenang.

    Di benak Yasu, Ia ingin segera menembak kepala wanita di depannya, menjemput Anastasia, kemudian membakar habis tempat ini. Namun melihat sekeliling, tentu saja Ia tidak bisa melakukan hal itu. Ia hanya bisa sabar dan menanti kesempatan.

    Alissia melewati lift dan menuju ke tangga. Yasuhiko tahu Alissia hanya mencoba untuk mengulur waktu.

    “Sebenarnya apa tujuan kalian?”

    “Ha?”

    “Apa yang kalian incar? Dengan mempermainkan Bless dan anggota Vanator lainnya…”

    Alissia berbicara tanpa berhenti menaiki tangga, “Mempermainkan? Lucu sekali, tuan. Bless dan yang lainnya adalah orang-orang yang berjasa. Mereka yang membantu memperbaiki dunia yang mulai rusak ini.”

    “Dunia, mulai rusak..?’

    “Ya… Bayangkan dunia ini adalah sebuah papan puzzle yang sangat besar. Namun puzzle itu kehilangan satu bagian. Apakah puzzle itu bisa dianggap lengkap, meski nyaris jadi dan hanya kehilangan satu bagian? Tentu saja tidak. Kondisi semesta sekarang ini kurang lebih demikian. Tanpa satu bagian itu, semesta ini takkan bisa sempurna.”

    “Apa maksud perkataanmu…?”

    “Mungkin kau belum mengerti, tuan Westwood. Tapi nantinya kau akan berterima kasih atas semua yang telah aku lakukan.”

    “Yang benar saja, kau menculik Annie, dan memanfaatkan teman-teman lamaku. Mana mungkin aku akan berterima kasih padamu, hah?!”

    “Sudah kubilang, tuan Westwood,” Alissia berhenti, “mereka adalah bagian dari pondasi dunia ini. Mereka menjadi pahlawan! Seharusnya, kau bangga terhadap kenyataan itu.”

    “Bangga katamu…!!” amarah Yasu meluap. Namun seakan tidak peduli, Alissia mulai menaiki tangga lagi.

    Dua lantai kemudian, mereka akhirnya sampai di atap. Yasuhiko langsung menghampiri sosok pirang yang berdiri di tengah.

    “Annie!”

    Tidak ada jawaban.

    Yasuhiko terkejut ketika melihat wajah pucat Anastasia. Tatapan matanya kosong. Yasuhiko mencoba mengerakkan tubuh Anastasia sambil memanggilnya terus menerus.

    “Annie! Annie! Ini aku, Yasuhiko! Jawablah!”

    Suara lembut yang ditunggu Yasuhiko tidak kunjung terdengar.

    “Oi! Kau apakan Annie!?”

    “Kami hanya membantunya untuk menemui kakaknya,” jawab Alissia.

    “Kakaknya…?”

    “Ya. Dia bekerja untuk kami.”

    “Apa…?”

    Yasu kebingungan. Ia pernah mendengar tentang kakak Anastasia yang menghilang, namun Anastasia selalu mencoba menghindari pembicaraan itu tanpa sebab yang jelas.

    “Argh… Aku tidak peduli! Annie! Bangunlah!”

    “Percuma saja, Yasuhiko.”

    Suara yang familiar di telinga Yasu tiba-tiba terdengar. Bless muncul dari pojok atap, dengan seringai di bibirnya.

    “…Bless!!”

    “Gadismu itu, dia sedang dalam perjalanan menuju ke kakaknya… Kau tidak bisa menghentikan itu.”

    Yasuhiko kemudian menyadari leher Anastasia mulai menghitam. Hitam yang sama dengan yang Ia lihat di tubuh teman-temannya. Iapun mulai panik. Semakin keras Ia mengguncangkan tubuh Anastasia, tapi percuma saja, tidak ada yang berubah. Bagaikan air yang meresap ke dalam spons, warna hitam itu menyebar dengan sangat cepat.

    “Annie! Sadarlah!”

    Ketika separuh tubuhnya telah berwarna hitam, Anastasia bergerak. Namun anehnya, Ia berjalan meninggalkan Yasuhiko, seakan tidak menyadari keberadaannya sama sekali. Yasuhiko hanya bisa terdiam kebingungan.

    “Persiapannya selesai,” Alissia mendekati Anastasia, kemudian berkata, “panggil kakakmu, Anastasia.”

    Saat itu juga, langit bergemuruh. Perlahan tubuh Anastasia dikelilingi cahaya. Bibirnya yang sejak tadi tertutup, perlahan-lahan mulai terbuka.

    “Ka…kak…”

    Yasuhiko tidak mempercayai kedua matanya ketika di udara muncul sebuah retakan. Memanjang dari atas ke bawah, berwarna hitam pekat. Kemudian perlahan, retakan itu melebar, menjadi lubang, yang kira-kira diameternya tidak kurang dari satu meter. Tanpa menunjukkan perubahan ekspresi, Anastasia berjalan menuju retakan itu.

    “Ahahahahaha! Siapa sangka, kekuatan yang tersimpan di dalamnya begitu besar!” Alissia mulai mengoceh hal yang tidak dimengerti Yasuhiko.

    “Annie!! Stop!”

    Yasuhiko berlari ke arah Anastasia, namun sekelebat bayangan menghentikan langkahnya.

    “Maaf, tapi kau tidak bisa lewat, Yasuhiko.”

    “Minggir, Bless!”

    Pada saat bersamaan, Yasuhiko dan Bless mencabut senjata mereka masing-masing. Dengan keras, pistol Yasu dan pisau Bless bertabrakan.

    Yasuhiko mencoba melewati Bless, namun percuma. Bless mengayunkan pisau kembarnya terus menerus, tidak memberi Yasuhiko kesempatan sama sekali. Malah lama-kelamaan Yasuhiko terpojok. Sementara Anastasia semakin mendekati retakan itu. Yasuhiko mulai berpikir untuk menggunakan segala cara untuk bisa melewati Bless.

    “Apa kau tidak mengerti, kalau bosmu menggunakanmu untuk menghancurkan dunia?!”

    “Hah?”

    “Kau membantu penghancuran dunia, Bless! Apa bagimu hal itu membanggakan?”

    “Hm… Kau tahu apa pendapatku tentang itu?”

    Yasuhiko mengernyitkan dahi.

    “AKU TIDAK PEDULI!”

    “Hah…?”

    “Aku akan selalu patuh pada siapapun yang memberiku misi. Aku tidak peduli apa misi itu. Membunuh anak-anak, menghancurkan dunia, bahkan membunuh diriku sendiri. Aku tidak peduli! Aku hidup untuk tugas, untuk membunuh! Itu saja!”

    “Kau… kau gila, Bless!!”

    “Kau mengenalku selama bertahun-tahun dan kau baru menyadari itu?!”

    Pertikaian Yasuhiko dan Bless makin sengit ketika Anastasia terus mendekati retakan hitam itu. Memutuskan untuk tidak mempedulikan keselamatannya, Yasuhiko menerjang Bless.

    “Uoooohhhh!!!”

    “Argh..!”

    Dalam waktu sesaat itu, Bless lengah. Tebasan pisaunya hanya berhasil menggores perut sebelah kiri Yasuhiko. Akhirnya Yasuhiko berhasil melewati Bless. Tetapi beberapa langkah sebelum Ia mencapai tempat Anastasia, sesuatu menghalangi jalannya. Semacam tembok yang tak terlihat.

    “Annie!”

    Sama seperti tadi, tidak ada reaksi. Anastasia terus berjalan menuju kegelapan.

    “Annie!! Ini aku, Yasuhiko! Dengarlah!”

    “Yasu…Hiko?”

    Mengejutkan semua orang di atap, Anastasia berbalik dan menghadap Yasuhiko.

    “Syukurlah, akhirnya kau dengar! Annie, cepat pergi dari sana! Berbahaya!!”

    Kali ini tidak ada reaksi, namun Anastasia masih menatap Yasuhiko.

    “Annie, menjauh dari lubang itu! Cepatlah!!”

    “….Apa yang kau bicarakan, Yasuhiko…?”

    “Eh…?”

    Anastasia menggeleng perlahan, “Maaf, ya. Aku… Ingin bertemu kakak.”

    “A…pa…?”

    Anastasia kembali meneruskan perjalanannya menuju kegelapan. Yasuhiko yang shock tidak punya tenaga untuk berdiri. Ia berlutut di lantai.

    “Apa… Apa yang kau lakukan, Annie!!”

    “Itu berarti dia meninggalkanmu.”

    Bless berjalan ke sebelah Yasuhiko.

    “Itu rasanya! Itu rasanya! Itu rasanya ditinggalkan seseorang! Kau merasakannya, bukan?! Kau merasakannya, aku tahu kau merasakannya! Camkan baik-baik, ini hal yang sama dengan yang kurasakan waktu kau meninggalkanku! Sekarang kau tahu rasanya… Kau tahu rasanya!! Huahahhahahaha!!”

    Yasuhiko hanya terdiam mendengar Bless. Di depannya, perlahan-lahan, wanita yang Ia cintai meninggalkannya menuju ke sebuah lubang hitam yang entah apa isinya, dan dia tidak bisa melakukan apapun.

    …Yasuhiko tidak berdaya.

    Sementara itu, Anastasia dan lubang itu hanya dipisahkan beberapa meter. Anastasia mulai memanggil nama kakaknya, hingga kegelapan di dalam retakan itu memanjang. Perlahan-lahan, kegelapan itu mendekati Anastasia.

    “Oh, kakak… Lama sekali, ya… Kakak.”

    Kemudian tanpa diduga, kegelapan itu melahap tubuh Anastasia seluruhnya, tiada meninggalkan apapun. Seakan Anastasia von Pluet tidak pernah eksis.

    “A-ahh…..”

    Kegelapan itu kembali merasuk ke dalam retakan, dan retakan itu perlahan menghilang, menyatu dengan langit malam. Atap rumah sakit itu kembali tenang, seakan tak pernah terjadi apapun di sana.

    Yasuhiko melihat sekitar, yang ada hanya tinggal Bless yang perlahan berjalan menjauh kemudian mengambil sesuatu di sudut. Alissia sudah pergi.

    “Maaf ya, Yasu… Bossku banyak urusan, sehingga tidak bisa menemanimu terus. Aku sebenarnya juga begitu.”

    Setelah Yasuhiko melihat dengan seksama, sepertinya Bless menuangkan sesuatu ke lantai.

    “Tapi tenang saja. Aku murah hati. Aku setidaknya akan menemanimu sebentar lagi, oke? Jangan ngambek…”

    Bau bensin memasuki hidung Yasu.

    “Setidaknya, aku akan memberimu satu pertunjukan terakhir….”

    Bless melempar sebatang korek api yang menyala ke genangan bensin, memulai sebuah kebakaran hebat. Malam yang gelap itu, tiba-tiba menjadi terang benderang.

    “Hahahaha… HAHAHAHAHAHAHAHA!! Menyenangkan! Menyenangkan! Malam ini adalah malam terindah sepanjang hidupku! Selamat tinggal, Yasuhiko!!”

    Wanita bermantel hitam itu pun menghilang di balik pintu atap.

    Yasuhiko, sekarang terduduk di tengah kobaran api, sendirian.

    Yang ini agak panjang, masih kurang satu part lagi :keringat:
     
    Last edited: Jun 30, 2011
  14. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    udah diupdate:blink:

    kok di bab ini deskripsinya jadi kurang ya...:keringat:

    terkesan buru-buru gitu..

    tetep bagus tapi kok:top:

    KnK itu racun:swt:saya habis baca LN ma nonton movienya juga sempet mendadak pengen bikin cerita gore dan dark gitu jadinya...

    tapi SoL lebih cocok dengan saya:lalala:

    :maaf:

    Index-nya mana ngomong2, kk:???:

    udah 2 page ini:lalala:
     
    Last edited: Jun 30, 2011
  15. Offline

    kyotou_yasuri Silent Reader Members

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Thenks berat atas komennya lagi :xiexie:

    Hmm mungkin terkesan gitu karena di chapter ini saya agak lebih konsen ke action daripada penjelasan. Tapi memang kerasa agak kurang, mungkin harus ditambah :keringat:

    Indexnya udah tu... hehehe :peace:

    Lanjutan...

    Sekitar pukul empat pagi, kebakaran di Rumah Sakit Darko Medical akhirnya berhasil dipadamkan. Engel terkesan melihat usaha para pemadam kebakaran—yang datang terlambat karena kemacetan—dalam melawan kobaran api yang menyala-nyala. Mereka pantang menyerah meski kadang apa yang mereka lakukan kelihatan percuma.

    Selain para pemadam kebakaran, ada satu orang lagi yang mengesankan Engel. Seorang pria yang usianya mungkin tidak lebih dari 30 tahun, menerobos api untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang terjebak di lantai dua.

    Laki-laki itu sedang duduk di pelataran rumah sakit, menghisap rokok favoritnya. Seorang bapak tua dengan rambut beruban datang menghampiri pria itu.

    “A-anu…”

    “Ya?”

    “Terima kasih sudah menyelamatkan Jacob… Saya, saya sangat berterima kasih….” Air mata bapak tua itu mulai menetes, “Saya benar-benar lupa kalau dia sedang tidur di ruangan saya. Saya kakek yang bodoh…”

    “Jangan berpikiran seperti itu, tuan.”

    “Eh….”

    “Tidak perlu menyesalinya, yang penting dia selamat.”

    “Kau benar…. Eh? Luka di perutmu itu?”

    Lelaki itu melihat perut sebelah kirinya. Darah yang tadinya sudah berhenti karena diperban, mulai merembes lagi.

    “Oh, ini sih tidak masalah. Cuma tergores, kok. Sudah, kau tengok cucumu saja.”

    “Sekali lagi, saya benar-benar mengucapkan terima kasih…!”

    Orang tua itu menyalami sang lelaki, kemudian dengan sedikit pincang Ia berjalan ke kerumunan orang di tengah lapangan parkir. Engel hanya bisa melihat pemandangan itu dengan miris.

    Tidak ada korban jiwa di kebakaran itu, karena meski cukup besar, api merambat cukup pelan. Yang kondisinya parah hanya lantai dua dan tiga, sedangkan lantai satu kondisinya cukup baik. Semua penghuni rumah sakit berhasil keluar, termasuk sang pemilik yang sekarang sedang menangis histeris di tengah lapangan. Penyebab kebakaran belum diketahui, dan diduga berasal dari atap.

    “Lukamu sakit, Yasuhiko?”

    “Hah? Ah, tidak, tenang saja… Aduduh.”

    “Wajahmu tidak berkata demikian. Kemarilah.”

    Engel mendekatkan kedua tangannya ke perut Yasuhiko yang teriris. Muncul cahaya yang redup dari telapak tangannya. Cahaya itu perlahan menutup luka Yasuhiko.

    “Kau… Bagaimana bisa…?”

    “Aku hanya mengembalikan kondisi tubuhmu seperti beberapa jam lalu.”

    “….Kau bisa memundurkan waktu?”

    “Kurang lebih. Sebenarnya tenagaku tidak banyak, tapi kurasa kau membutuhkannya. Aku… tidak ingin melihat seseorang mati di hadapanku lagi.”

    Yasuhiko terdiam.

    “Aku minta maaf, tentang Anastasia…”

    “Sudahlah, kau yang benar. Kau tidak perlu minta maaf.”

    “Aku hanya tidak ingin orang lain menderita. Setidaknya sebelum dunia ini hancur, aku ingin membahagiakan orang lain sebisa mungkin. Hanya itu yang bisa kulakukan….. Lagi-lagi aku gagal. Aku benar-benar minta maaf.”

    “Dari perkataanmu, aku menyimpulkan kau tidak bisa memutar balikkan waktu untuk memperbaiki kesalahan?”

    “...Tentu saja. Tidak mungkin sebuah tubuh fisik mengarungi waktu dan merubah sejarah. Yang bisa dilakukan hanya pergi ke masa lalu atau masa depan di dunia paralel. Singkatnya, kita bisa melakukan perjalanan waktu, namun bukan di dunia kita, sehingga apapun yang terjadi di dunia itu tidak akan berpengaruh di dunia ini.”

    “Wah, aku tidak begitu mengerti,” Yasuhiko menggaruk kepalanya mendengar jawaban Engel, “Tapi kurasa kau ingin bilang bahwa itu tidak mungkin, kan?”

    “Ya.”

    Yasuhiko menghela nafas, kelihatan kecewa. Engel ingin mengatakan sesuatu untuk menghiburnya, namun tidak ada kata-kata yang terbayang.

    “Kalau aku bisa mengulangnya, semua kejadian bertahun-tahun yang lalu itu… Di mana aku memasuki Vanator, bertemu Bless, dan pergi ke Afrika…”

    “Apa yang sebenarnya terjadi di sana?”

    Wajah Yasuhiko memucat, “…Kau ingin dengar?”

    “Ah, kalau kau tidak ingin cerita, tak apa—”

    Tanpa menunggu Engel berhenti bicara, Yasuhiko mulai bercerita, “Dua tahun lalu, skuad Vanator diberi misi untuk menghabisi semacam kelompok occult. Persembunyiannya tersebar di seluruh benua sehingga menghabiskan berbulan-bulan untuk mencari jejak mereka. Suatu hari, di sebuah desa kecil…”

    Yasuhiko berhenti untuk menghisap rokok.

    “…Kami diberi misi untuk membantai penduduknya.”

    “Eh…?”

    “Desa itu dicurigai sebagai tempat tinggal salah satu pemimpin kelompok itu. Yah, memang dugaan itu terbukti benar, tapi darah orang-orang tak bersalah di tanganku tetap saja tidak bisa terhapus.”

    “Yasuhiko…”

    “Setelah misi itu usai, aku berpikir, apa saja yang kulakukan di sana? Kuputuskan untuk keluar dari Vanator. Berkat koneksi yang kumiliki, aku bisa kembali ke kepolisian, meski akhirnya ‘terbuang’ ke Aeneas ini… Kupikir di sini aku bisa mendapatkan kehidupan baru dan membuang masa lalu. Kupikir… aku bisa melakukannya. Kupikir aku sudah membuang semua itu.”

    Yasuhiko kembali berhenti untuk menghisap rokoknya yang hanya tinggal sepanjang jari kelingking.

    “Namun begitu sedikit saja masa lalu itu kembali, aku terhantui olehnya. Aku tidak bisa melepaskannya. Bless tidak bisa meninggalkan masa lalunya… Begitu juga aku.”

    “Kalau begitu, mulai lagi dari awal.”

    “…Ha?”

    “Yasuhiko, mulai lagilah dari awal. Aku yakin kau bisa melewati masa lalumu. Kau kuat. Ini, kupinjamkan,” Engel merogoh kantong jaketnya dan mengambil sebutir kelereng, “ini pengingat untukmu bahwa kau hidup di masa sekarang, bukan masa lalu.”

    Yasuhiko menerima kelereng itu, kemudian mengamatinya sejenak. Di kelereng itu terdapat gambar robot yang sepertinya berasal dari sebuah film superhero.

    “Apa hubungannya kelereng ini dengan masa sekarang?”

    “…Di masa lalu belum ada robot itu kan?”

    Yasuhiko terkejut mendengar Engel, sampai-sampai rokok di mulutnya terjatuh. Kemudian, Ia tertawa terbahak-bahak.

    “Ahahahaha! Begitu?” Yasuhiko meraih kepala Engel dan mengelusnya perlahan, “kata-kata yang bagus. Trims, malaikat kecil.”

    “Yasuhiko, aku serius.”

    “…Ya. Aku tahu.”

    Yasuhiko pamit dan berjalan ke luar rumah sakit. Engel menatap punggung Yasuhiko.

    Punggung lebar yang kelihatan sedih. Tubuh lesu yang kelelahan.

    Masa lalu merantai tubuhnya bagaikan rantai anjing, menghalanginya melangkah kedepan. Ia hanya bisa terus melangkah, namun Ia tidak maju sama sekali.

    Kemanakah tujuannya?

    Di mana tujuannya?

    Apakah Ia bisa sampai tujuan?

    Apakah—Ia punya tujuan?

    Engel menatap punggung Yasuhiko yang semakin menjauh, seraya berharap semua akan baik-baik saja.

    ***
     
  16. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    :blink:

    keren:top:saya suka bagian pas Engel ngomong tentang waktu:haha:

    --

    menurut saya aja sih buat yg part sebelumnya... deskripsi actionnya udah pas, tapi gimana perasaan Yasuhiko yang kehilangan Annie itu kurang dijelasin :p

    trus kayaknya hubungan Annie sama kakaknya deket banget ya:???:bagian ini mau diceritain juga nggak:???:

    :maaf:
     
  17. Offline

    kyotou_yasuri Silent Reader Members

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Wehehe trims atas komennya lagi kk :xiexie:

    Hmm pengennya sih untuk bagian perasaan Yasuhiko setelah ditinggal pacarnya saya serahkan pada imajinasi pembaca :haha: <=== Ngeles

    Yasuhiko sendiri sebenernya nggak sekehilangan itu soalnya mereka juga baru pacaran selama setengah tahun. Dia lebih frustasi masalah Bless yang tiba2 nongol dan bikin onar.

    Mengenai hubungan Anastasia dengan kakaknya... Pokoknya deket deh! :haha: Sebaiknya saya tidak terlalu jauh membahas tentang itu :peace:

    Lanjuut :peace:

    Dream A Little Dream of Me



    “Adududuh…”

    “Oh?”

    Ketika Vincent membuka matanya, yang pertama Ia lihat adalah langit-langit berwarna putih. Setelah analisa selama beberapa detik dan melihat sekeliling, Vincent menyimpulkan Ia berada di kamar sebuah rumah sakit. Sebuah ruangan single yang dilengkapi televisi besar, kursi panjang dan kamar mandi. Di sebelah kasurnya, duduk Jules yang sedang membalik-balik halaman koran. Seketika, Vincent langsung melihat jam dinding, yang rupanya menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit.

    “Kenapa?”

    “Berapa lama aku tertidur?”

    “Tepatnya 14 jam lebih 20 menit.”

    “Wuah… Lama juga ya…”

    Jules melipat korannya, kemudian berdiri, “yang penting kau tidak apa-apa,” katanya sambil tersenyum lebar. Vincent sepertinya tidak kuat menghadapi pesona senyuman Jules. Ia pun mengalihkan pandangan.

    “Emmm…” Jules menggumam.

    “Kenapa, Jules?”

    “…Tidak, tidak jadi.”

    Jules ingin mengatakan sesuatu, tapi Ia menahan diri.

    “Ngomong-ngomong,” Vincent melihat sekeliling, “kamar ini boleh juga. Rumah sakit apa ini?”

    “Darko Medical. Aku sendiri juga terkejut. Fasilitas mereka sangat lengkap. Oh, ya. Aku harus mengurus beberapa data registrasi yang belum selesai. Vince, tolong ambilkan dompetku,” kata Jules seraya menunjuk sebuah dompet coklat tua di meja sebelah kasur Vincent.

    “Yes, sir…”

    Ketika Vincent mengambil dompet itu, sebuah kartu terjatuh. Rupanya kartu penduduk Jules. Vincent mengambil kartu itu.

    “Oh, lihat. Kartu tanda pendudukmu….. eh….?” Mata Vincent tiba-tiba melotot, seakan bola matanya akan keluar.

    “Kenapa, Vince?”

    “Kau…. Perempuan?”

    “Iya. Kenapa?”

    “… Kau tidak pernah bilang.”

    “Memangnya penting?”

    Vincent tiba-tiba seakan kehilangan kemampuan bicara. Kejadian ini diluar prediksinya.

    “A-a-aku kira, kau… dengan pakaian tebal itu, kau… em, maksudku, gosip detektif tampan… dan, ah, aku….”

    “Vincent?”

    Mendadak Vincent mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Wajahnya dipenuhi cahaya kemenangan. Sesaat, air mata seperti mengalir dari matanya.

    “…Aargh! Terima kasih, Tuhan! Aku normal!!”

    “Eh?’

    Sejak hari pertamanya bekerja di kantor detektif Eisenhower, Vincent Moon memang tidak pernah memastikan jenis kelamin bosnya. Dari gaya berpakaian, tata ruang, selera musik—yang kebanyakan lagu jazz atau pop tahun 60an—ditambah dengan sopan santunnya yang seperti gentleman sejati di depan wanita, seseorang bisa menyimpulkan bahwa Jules Eisenhower adalah lelaki. Namun bagi Vincent, wajah Jules terlalu cantik, dan tidak mungkin ada lelaki yang punya wajah secantik itu. Belum lagi gaya rambutnya yang feminin.

    Namun Vincent berpikir, banyak juga ‘cowok cantik’ akhir-akhir ini. Ia tentu saja merasa tidak enak jika harus bertanya langsung pada bosnya, “Apa jenis kelaminmu?”, ditambah pula dengan fakta bahwa menurut penglihatan sejauh ini, tubuh bosnya tidak memiliki bagian tubuh ‘menonjol’ yang dimiliki wanita pada umumnya. Hidup dalam penyangkalan selama setahun, Vincent mengalami penyiksaan mental dan batin. Tetapi hari ini, semua bebannya yang bagai borgol besi, terangkat.

    “Jules, kau ini menyia-nyiakan potensimu, dengan gaya pakaian seperti itu…”

    “Apa maksudmu?”

    “Kau tahu… ehm,” Vincent batuk mengada-ada, “Kau itu… cukup cantik.”

    “Hm? Cantik? Aku? Jangan bercanda…” Jules menanggapi komentar susah payah Vincent dengan tawa kecil, “Aku dibesarkan di tempat teman Ayahku, dan aku selalu bermain dengan anak-anak di sana. Tiga orang, semuanya laki-laki. Aku tidak pernah bermain boneka atau yang seperti itu, selalu sepak bola atau basket. Aku juga tidak mengerti tentang berdandan atau semacamnya.”

    “Tidak berdandan, ya…”

    Vincent memandang wajah Jules yang bersih mulus. Tidak seputih Anastasia, namun cukup putih untuk membuat runner-up kontes kecantikan di SMA-nya dulu cemburu. Vincent berpikir, di dunia ini memang ada yang namanya kecantikan natural.

    “Yah, saranku, berdandanlah sedikit, atau setidaknya berpakaianlah seperti seorang perempuan! Gunakan pakaian yang pantas, dan terkadang kenakanlah rok. Jangan gunakan sepatu kulit itu terus-menerus!”

    “Hehe, kau terdengar seperti bibiku, Vince.”

    “A-ah… Haha…”

    Senyum tulus Jules kali ini mengetuk hati Vincent yang terdalam. Entah kenapa, sejak terungkap jenis kelamin Jules, bosnya itu kelihatan sepuluh kali lipat lebih menawan dari pada biasanya. Rambut coklat yang tebal dan mata hijau bulat, juga terlihat sepuluh kali lebih berkilau.

    Vincent mencoba menghapus pikiran-pikiran yang mulai pergi jauh, “E-erm, Jules, mengenai Varnov… Dia benar-benar…”

    “Ah,” seketika, senyum di bibir Jules menghilang, “…Entahlah, tidak bisa kupastikan.”

    “Sebenarnya apa retakan itu? Dan kenapa Varnov memasukinya? Apa yang terjadi padanya?”

    “Aku tidak tahu…”

    Jules menepuk lutut Vincent.

    “Aku akan menyelesaikan urusan pembayarannya, lalu aku akan pergi ke perpustakaan untuk melaporkan kondisi Varnov pada Nona Anastasia.”

    “Eh? Aku juga ingin ikut!”

    “Sudahlah, kau istirahat di sini saja. Sore nanti aku akan kembali.”

    Setelah mengambil dompetnya dari tangan Vincent, Jules berjalan menuju pintu keluar. Saat itu, Vincent merasakan gejolak dalam hatinya. Sesuatu yang sangat buruk. Vincent teringat pada kata-kata Anastasia, dan akhirnya Ia menghentikan Jules.

    “Jules!”

    “Ya?”

    “Emm… Aku…”

    “Ada apa?”

    “Ergh…”

    “…Aku… Emh, maksudku, mantelmu…”

    “Oh, ya. Karena kotor, aku menaruhnya di laundry. Tenang saja, noda darah itu bisa hilang kok.”

    “Ohh…”

    “Hm? Ada lagi yang ingin kau bicarakan?”

    “…Tidak. Hati-hati dijalan.”

    Jules kelihatan bingung “…Ok.”

    Kemudian Jules keluar dari ruangan, meninggalkan Vincent yang menyesali perkataannya, sendirian.


    ***

    Ketika Jules keluar dari kamar Vincent, terdengar keramaian dari ruang tengah. rupanya para dokter sedang mengerubungi seorang lelaki pendek yang berjenggot. Jasnya kelihatan rapi dan mewah. Mungkin Ia eksekutif dari rumah sakit ini.

    Sampai mata Jules menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya.

    Seorang wanita yang berjalan di belakang lelaki itu. Jules tidak akan salah mengenali wanita bermata ungu itu. Ketika rombongan bubar, wanita itu terus mengikuti si lelaki berjenggot. Perlahan, Jules mengikuti mereka. Di persimpangan tangga, wanita itu berhenti kemudian Ia sepertinya bicara pada si lelaki berjenggot, memintanya berjalan duluan. Kemudian wanita itu berbalik ke arah Jules, seakan Ia sudah tahu sejak awal Jules berada di sana.

    “Selamat siang, detektif Eisenhower.”

    “Nibelheim Iceland…”

    Wanita di depan Jules ini adalah sang Goddess of Death, salah satu buronan terbesar di dunia penyihir. Namanya sudah dikenal di seluruh penjuru dunia karena kekacauan yang disebabkan olehnya. Kenyataan bahwa Ia sulit ditangkap, tidak lain karena keahliannya yang nyaris menyamai tetua-tetua tertinggi dewan magus. Kriminal kelas tinggi.

    “Kudengar kau sudah melihat ‘peliharaanku’… Kurasa mereka merepotkanmu sedikit, ya?”

    “Peliharaan? Maksudmu Varnov?”

    “Ah, iya, iya… Aku sedikit marah karena Varnov tewas. Dia adalah kelinci percobaan yang berharga, lebih berharga daripada cecunguk lain—”

    “Kau… Berani-beraninya memperlakukan manusia seperti itu!”

    Jules berteriak di tengah rumah sakit, membuatnya menjadi pemandangan. Nibelheim menghela nafas.

    “Seharusnya aku yang marah-marah, detektif…”

    “Apa tujuanmu melakukan semua ini? Apa-apaan dengan semua retakan di penjuru kota itu?”

    “Aku tidak bisa memberitahumu. Kalau begitu takkan menarik,” kata Nibelheim sambil memutar-mutar rambutnya dengan jari telunjuk, “Dibilang begitupun, Aku melakukan ini bukan karena aku ingin, tapi karena ini tugasku..”

    “…Tugas?”

    “Ya… Kau dari keluarga Eisenhower, kau harusnya paham, bukan? Aku melakukan ini bukan demi kepentingan pribadi, namun kepentingan bersama.”

    “Apa maksudmu dengan itu…?”

    “Bila disingkat, bilang saja ‘seseorang’ sekarang sedang memutus siklus yang sudah terjadi di alam semesta ini selama beribu-ribu tahun. Dengan tidak berjalannya siklus itu, tentu saja berujung pada adanya kekacauan. Aku hanya mencoba untuk mengembalikan semuanya seperti semula,” Nibelheim berhenti sejenak, menarik nafas, “Singkatnya, yang kulakukan ini demi kelangsungan hidup umat manusia.”

    “Kau mengada-ada!”

    “Aku tidak berbohong, karena aku tidak suka melakukannya. Namun, aku juga tidak mengharapkan kau untuk percaya. Aku cuma menjelaskan, dan aku tahu di satu sudut hatimu, sebagai seorang Eisenhower, mengerti.”

    Jules terdiam. Ia tahu kata-kata Nibelheim menyenggol hatinya.

    “Aku tidak akan mengincarmu, atau semacamnya. Tenang saja. Ehm… Tapi kurasa aku akan menyiapkan sedikt pertunjukkan untukmu. Sampai jumpa, detektif.”

    Nibelheim berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Jules. Di sisi lain, Jules sekarang sangat ingin mencabut revolver di pinggangnya dan menangkap Nibelheim. Tangannya yang berkeringat, perlahan mendekati gagang S&W 686-nya. Tetapi seseorang menggenggam tangan Jules.

    “Jangan.”

    “Ah, kau…”

    Rupanya si gadis bermata pucat.

    “Kau tahu apa yang akan terjadi kalau kau menembakkannya di tempat ini?”

    Jules tidak menjawab. Ia tahu jelas apa akibat kalau Ia gegabah. Nibelheim bisa-bisa melibatkan orang-orang di sekitarnya.

    Namun, kemarahan terus saja mengendalikan otaknya, mencoba menghapus logikanya. Kata-kata Nibelheim membuatnya kebingungan. Kalau ini berhubungan dengan keseimbangan semesta, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Nibelheim memang terkenal sebagai biang onar di berbagai negara, namun Ia juga dikenal sebagai salah satu penyihir yang menjaga keutuhan alam semesta. Bahkan, Ia menjadi buronan karena Ia menentang keputusan dewan tertinggi yang menurutnya ‘merusak keseimbangan alam’. Dia bagaikan seorang aktivis alam yang rela merantai tangannya ke salah satu pohon di hutan demi menghentikan penebangan.

    Dipenuhi dengan keraguan, Jules merasakan seseorang memegang pundaknya.

    “Aku lapar,” kata gadis itu dengan mata memelas.


    ***

    Dengan kecewa, Jules keluar dari gedung perpustakaan. Hari itu Anastasia tidak ada di tempat karena harus mengambil beberapa buku baru. Jules hampir saja meminta alamat tempat tinggal Anastasia, namun Ia mengurungkan niatnya. Entah kenapa, suara hatinya berkata demikian.

    Di jalanan luar perpustakaan, Jules beristirahat di sebuah bangku. Kemudian gadis bermata pucat itu duduk di sampingnya.

    “Aku lapar.”

    “Iya… Aku tahu,” Dari kantong plastik di tangan kanannya, Jules mengambil sebuah hot dog yang dibelinya di mini market tadi sebelum Ia pergi ke perpustakaan. Gadis itu langsung mengambil hot dog di tangan Jules dan memakannya.

    “Enak!”

    “Sudah habis? Kau rakus sekali… Ngomong-ngomong, siapa namamu? Aku Jules Eisenhower.”

    “Engel.”

    “Nama belakangmu?”

    “Tidak punya.”

    “Hm… Ada juga yang seperti itu ya?” Jules mengambil coklat batangan di plastik dan memakannya.

    “Jules, kenapa kau selalu mengedepankan kepentingan orang lain?”

    Jules mengernyitkan dahi, “Pertanyaanmu benar-benar to the point ya…”

    “Aku tahu tadi kau tidak menembak karena kau khawatir dengan kondisi sekitarmu, bukan karena kau khawatir pada dirimu sendiri.”

    “Yah… Karena begitulah caraku dibesarkan. Aku selalu diberitahu untuk mengedepankan kepentingan umum. Dengan mematuhi hukum dan memilih pilihan yang paling logis, itulah cara untuk menjaga perdamaian.”

    “…Apa kau bisa begitu terus?”

    “Eh?”

    “Apa kau bisa terus-menerus mengesampingkan kebutuhanmu, demi kebutuhan orang lain?”

    Pertanyaan Engel membuat pikiran Jules terbang ke masa lalu, saat Ia masih seorang gadis kecil.

    Keluarga Eisenhower memiliki tradisi untuk membesarkan anak mereka di luar kampung halaman, meninggalkannya bersama keluarga lain agar bisa menuntut ilmu dan memiliki pengalaman untuk hidup mandiri. Jules—yang dititpkan di sebuah keluarga pustakawan di Newcastle, Inggris—sejak kecil mendapatkan pelajaran untuk selalu mengedepankan kebutuhan umum dibandingkan kebutuhan dirinya. Hal itu adalah esensi dari setiap pelajaran yang Ia terima.

    Awalnya, Jules yang cuma seorang bocah tidak mengerti apa arti perkataan itu. Namun, seiring tumbuh dewasa dan mengalami berbagai peristiwa, sekarang Ia memegang teguh paham itu. Untuk sekarang dan seterusnya.

    “Kurasa aku harus bisa melakukan itu,” jawab Jules mantap.

    “…Kalau begitu, selamat berjuang.” Gadis itu berdiri dari tempat duduknya, “Aku pamit dulu, terima kasih atas makanannya.”

    “Ah?! Tunggu—”

    Bagai ditiup angin, sosok Engel menghilang dari mata Jules. Di pikirannya, Jules bertanya-tanya bagaimana Engel melakukannya, dan mulai curiga bahwa Engel juga seorang penyihir.

    Jules melirik ke arah gedung perpustakaan. Sekarang ini, bisa saja Ia kembali memasukinya dan menanyakan alamat atau nomor telepon Anastasia von Pluet. Tapi keraguan mengikat kakinya, membuatnya tidak bisa bergerak. Beban bersalah dan tanggung jawab seakan menjadi berwujud dan tergantung bahunya. Ia tidak bisa bilang kepada Anastasia kalau dia tidak berhasil menolong Varnov, ditambah dengan kenyataan bahwa dia sempat berniat membunuh Varnov.

    Pada akhirnya, Jules dikalahkan oleh keraguan itu. Ia bangkit dari bangku dan berjalan kembali ke arah rumah sakit.


    ***
     
  18. Offline

    Marus Beginner Members

    Joined:
    Jun 22, 2010
    Messages:
    205
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +11 / -0
    jago nih ts nya
    rapi..
    jadi enak dibaca
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.