1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Halo IDWS Mania, forum Indowebster kedatangan Community Administrator yang baru, info lebih lanjut bisa di lihat di sini
  3. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  4. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  5. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice
  6. Ingin menjadi bagian dari Zona Music IDWS, Mari bergabung menjadi Moderator Zona Music (Indonesia, Asia, & West) Open Recruitment Moderator : Zona Music (Indonesia & West)
    Dismiss Notice

OriFic Spirit Conductor

Discussion in 'Fiction' started by NodiX, Nov 11, 2016.

  1. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0
    SPIRIT CONDUCTOR
    Author: NodiX
    Genre: Fantasy, Action, Drama
    Jadwal Update: Setiap hari senin dan kamis jam 7-9 malam (rencananya)
    SINOPSIS
    Setelah mengalami kekalahan dan keluarganya ditindas, Shira Yashura yang awalnya acuh tak acuh mulai terobsesi dengan dendam. Dengan bantuan enam arwah pahlawan masa lalu dia mencari kekuatan dan akan menemukan takdir besar yang menantinya di ujung jalan.​
    INDEX
    CATATAN:
    Silahkan cek blog saya GileGati untuk informasi, update lebih lengkap, revisi, dll.
     
    Last edited: Dec 5, 2016
    • Thanks Thanks x 1
    • Setuju Setuju x 1
  2. Ghattotkacha Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.




    Promotional Content

  3. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0

    CHAPTER 1 – SEORANG PEMUDA DARI DESA BADRIL

    Benua Tiramikal membentang luas berjuta-juta kilometer, namun diisi dengan kondisi tanah yang kering. Rumput dan dedaunan pohon di sekitar pemukiman sudah kuning entah sejak berapa ratus tahun yang lalu. Desa-desa yang dijadikan pemukiman penduduk biasa, karena menjadi pilar untuk menyokong bahan pangan nasional, biasanya dibedakan menjadi beberapa tingkat tergantung kualitas hijau tanahnya. Ini berbeda dengan desa petarung, yang biasanya diisi oleh para pendekar, petualang, dan tentara bayaran. Khusus di benua Tiramikal, tingkat desa petarung dibedakan dari seberapa kering tanahnya. Karena kondisi lingkungan Tiramikal yang kering memicu perkembangan monster yang menjadi sumber daya para petarung.

    Desa petarung tingkat ketiga, tingkat terendah, biasanya terletak tak jauh dari tempat tandus namun tak jauh pula dari sumber air. Beberapa monster tingkat rendah hidup di sekitar pemukiman namun biasanya tak berbahaya untuk penduduk kecuali monster khusus seperti Singa Raja Gunung, Beruang Bulu Besi dan monster rank tiga lainnya yang jarang ditemui. Dari desa-desa ini kemudian akan mengirim putra-putri mereka dengan talenta bertarung terbaik untuk dikirim ke desa tingkat selanjutnya. Di sana, mereka akan memasuki sekolah-sekolah bela diri, unit militer, dan instansi lainnya yang akan membantu perkembangan dan status sosial mereka.

    Bisa dikatakan, ketika para pemuda melangkahkan kaki mereka ke dalam gerbang desa petarung tingkat kedua ini, maka jati diri mereka akan terbentuk. Jika memasuki sekolah ternama, maka status mereka akan naik. Jika mendapatkan posisi di serikat dengan kekuatan yang kuat, maka orang lain akan berpikir dua kali sebelum mengganggu mereka. Masa ini adalah pijakan pertama mereka yang akan menjadi fondasi untuk menentukan nasib mereka untuk melangkah ke desa petarung selanjutnya. Banyak para pemuda bermimpi untuk menjadi sepuh di sekolah tingkat atas, atau menjadi jendral yang memimpin ratusan ribu prajurit, dan bahkan menjadi petualang yang akan menaklukkan tujuh benua. Benih-benih hasrat ini akan di tanam di tanah desa tingkat kedua, entah nanti akan tumbuh dan berbuah, tergantung dari tekad dan keberuntungan masing-masing.

    Dan lima belas tahun yang lalu, di desa tingkat ketiga yang dijuluki Desa Badril, lahir seorang anak laki-laki.

    Tak ada yang tahu ketika ia meneriakkan tangisan pertama, guntur dan halilintar berwarna merah pekat menyambut di awan gelap malam itu. Ia adalah anak satu-satunya seorang sepuh di sekolah Hatim Malakas, sebuah sekolah petarung kualitas menengah. Bertahun-tahun berlalu dan ia tumbuh menjadi pemuda yang tampan dengan perawakan standar pemuda desa. Lahir sebagai anak sepuh dari sekolah petarung secara otomatis menaikkan derajatnya di mata masyarakat desa itu. Namun, sayangnya, orang-orang hanya melihatnya sebagai sampah yang tak memiliki talenta sama sekali.

    “Bocah benalu! Bapaknya sudah capek-capek kesana kemari tukar ramuan tingkat tinggi jatah bulanannya dari sekolah Malakas, cuma untuk ramuan tingkat rendah untuk dia. Tapi masih aja nyangkut di level 3, bah!”

    “Bapaknya dulu pas masih muda juara kebanggaan desa, tapi anaknya bawa sial! Kalau ramuan bulanannya gak dikasih ke anaknya, mungkin sepuh sudah naik ke desa tingkat pertama sejak dulu!”

    “Hehe, tenang kawan-kawan. Semua orang kan punya talenta masing-masing. Itu takdir. Manusia mana kuasa? Jangan salahin Tuan Muda Yashura yang punya talenta buat jadi petani. Hehe.”

    Komplain dan ejekan dilontarkan keras dan jelas untuk di dengar keluarga Yashura, terutama kepada tuan muda yang talenta petarungnya ‘nyangkut’ di level 3 pada usia ke lima belas. Kalau saja si sepuh ada di situ dan mendengar anaknya direndahkan, maka ratusan orang akan kehilangan semua gigi mereka dihajar olehnya. Bahkan mungkin ada yang mati dihajar habis-habisan olehnya. Tapi sayang ia sedang dalam misi penting untuk sekolahnya, dan tak bisa kembali ke desa untuk pertemuan penting yang menyangkut nasib anaknya. Ini membuat orang-orang yang iri menjadi liar tak terkendali melampiaskan kekesalan mereka.

    Itu adalah pertemuan pertunangan yang sudah ditetapkan lima belas tahun yang lalu oleh kepala keluarga masing-masing. Keluarga Yashura akan menerima rombongan keluarga Malikh dari sisi si gadis. Banyak orang yang datang untuk melihat gadis yang katanya merupakan gadis tercantik di Desa Badril, dan kejeniusannya menyamai talenta dari keturunan ningrat desa-desa tingkat kedua... seorang gadis yang sudah menapaki level 8 di usia lima belas, dan sudah bersiap untuk mengambil tes untuk kelas Archer!

    “Cowoknya sekelas ampas kelapa, tapi ceweknya sudah jadi mutiara! Ck, ck ck... kok bisa itu loh.”

    “Kepala keluarga Malikh sudah tua, matanya jadi picek gak bisa ngebedain yang berlian sama batu kerikil! Kalau begini enak di keluarga Yashura!”

    “Ssshhh! Orangnya tau situ ngomong begitu bisa dipenggal ntar!”

    “Cewek itu umur lima belas sudah masuk level 8. Padahal lahir dari desa pinggiran seperti ini, tanpa bantuan ramuan khusus seperti anak-anak dari keluarga kaya. Lebih lagi, katanya dia sudah berani ambil tes buat jadi Archer? Padahal yang level 10 saja masih kesusahan!”

    “Jangan salah! Ane dengar keluarga Malikh dapat harta karun bulan lalu! Pil buat tambah exp, scroll agility sama dexterity! Jelaslah, kalau yang punya AGI sama DEX tinggi, ambil tes Archer di level 8 bukan masalah!”

    “Cih, masih aja dibodohin gitu? Mana ada orang-orang dari keluarga Malikh yang kuat nembus dungeon untuk cari harta karun? Nih, aku kasih tau ya, dua tahun lalu si cewek dari keluarga Malikh pergi ke seminar yang di adain sekolah Tiramikal Center khusus buat anak-anak jenius...”

    “Tiramikal Center? Sekolah tingkat atas yang ada di sepuluh besar sekolah terbaik itu? Ck, ck, gak nyangka ada anak dari Desa Badril yang bisa ke sana.”

    “Denger dulu, bukan cuma itu aja, katanya cewek Malikh ini cakepnya bukan main! Banyak tuan muda dari keluarga-keluarga ningrat di seminar itu yang naksir cuma sekali lirik. Terus, kabarnya, tuan muda keluarga Blackwood berhasil deketin cewek itu, tapi gak bisa maju gara-gara si cewek ternyata sudah dijodohin sejak lahir! Konon kabarnya keluarga Blackwood terus-terusan kirim ‘hadiah’ buat goyahin kepala keluarga Malikh tapi gak berhasil. Scroll agility sama scroll dexterity sudah jelas hadiah dari Blackwood untuk menangin si cewek.”

    “Halah! Situ hati-hati kalau ngegosip, Sepuh Yashura, si bapak yang anaknya ditunangin ini, tempramennya sensitif bukan main! Kabarnya bulan lalu beliau sudah naik level jadi level 46, biar pun situ kesenggol ntar bisa dirawat inap tiga bulan situ!”

    “Gak percaya? Lihat nanti kalau rombongan Malikh datang, pasti ada orang Blackwood di situ. Kalau gak ada, nih, potong telingaku!”

    Orang-orang yang datang sibuk sendiri menyebar rumor atau mencemooh pertunangan ini. Walau pun tak ada dari mereka yang di izinkan masuk dan hanya berkumpul di sekitar gerbang seperti orang-orang yang berunjuk rasa, tak ada dari mereka yang mau bersikap sopan. Generasi muda dari keluarga Yashura saat ini sama sekali tak membuahkan bibit jenius. Bahkan, pewaris utama Yashura, dengan perkembangan level yang sangat lamban membuat orang-orang melihat mereka dengan sebelah mata.

    Ini sama sekali berbeda ketika mereka menyikapi generasi Yashura sebelumnya.

    Tak ada yang berani berkata macam-macam jika Sepuh Jhuro Yashura ada di situ.

    Jhuro Yashura, diumur enam belas tahun, lulus tes menjadi Blackfang Swordsman. Harus diketahui kelas Blackfang Swordsman adalah sebuah kelas unik, yang hanya bisa didapatkan oleh satu orang saja. Setiap kelas unik memberikan skill set berbeda daripada kelas biasa. Hal ini tentu berlaku pada Jhuro Yashura. Jhuro memperlihatkan keganasan skill set Blackfang Swordsman di Turnamen Emas Tiramikal di usia delapan belas tahun, dan menggaet posisi juara tiga tahun itu.

    Saat itu benua Tiramikal langsung mengenal nama Pendekar Pedang Hitam yang lahir dari rakyat jelata: Jhuro Yashura.

    Kemudian, di usia dua puluh tahun, ia memutuskan untuk menjadi pengajar di sekolah Hatim Malakas. Ia diterima, dan menjadi pengajar termuda di sejarah beribu-ribu tahun sekolah tersebut. Pada usia dua puluh tujuh tahun ia naik dan mendapatkan gelar Sepuh Jhuro Yashura, dan menikah dengan salah satu muridnya satu tahun kemudian. Di usia ketiga puluh tahun, ia dikaruniai seorang putra, yang diberi nama Shira Yashura. Keluarga Yashura saat itu sangat berharap melihat lahirnya pendekar hebat untuk kedua kalinya...

    Namun yang mereka dapatkan dari harapan itu hanyalah rasa masam.

    Tuan Muda Shira ternyata tak diberkahi oleh surga seperti ayahnya. Tumbuh dengan atribut biasa, tak termotivasi untuk mengembangi dirinya, selalu menghibur diri membaca sejarah para pahlawan di masa lalu.

    Di setiap waktu ia nampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Jika disuruh latihan berpedang, ia selalu mengeluh pedang latihan yang digunakannya terlalu berat untuk diayunkan. Mayoritas sepuh di keluarga Yashura menyalahkan kekurangan motivasinya ketika melihat ia tak berkembang sama sekali. Hampir semua dari mereka ingin mengganti posisi Shira sebagai pewaris utama keluarga yang akan menggantikan Kepala Keluarga Yashura di masa mendatang. Mereka juga menyarankan untuk membatalkan pernikahan Shira dengan gadis jenius dari keluarga Malikh untuk menghindari gosip yang tidak jelas di masa mendatang. Tapi Kepala Keluarga Yashura adalah kakak dari Jhuro Yashura, kepala mereka sama-sama diisi penuh dengan batu.

    “Kalian semua ngaku sepuh tapi gak ngotak! Gak punya mata! Shira jelas-jelas kiriman dari surga untuk keluarga Yashura tapi kalian menyikapi mutiara seperti upil hidung, bah!” begitu omelan Kepala Keluarga Yashura setiap kali para sepuh mengeluarkan pendapat mereka di perkumpulan keluarga. “Tau apa kalian tentang potensi Shira, hah?! Sekarang mungkin dia masih level 3, tapi lihat ntar kalau dia sudah dewasa. Semua makhluk hidup di bawah langit bakal berlutut di hadapannya! Hahaha!”

    ***

    “Tuan Muda Shira? Tadi saya lihat dia sedang membaca buku di perpustakaan,” kata seorang pelayan ketika ditanyai oleh ajudan keluarga, Yulong.

    “Duh, tadi aku sudah cari bolak-balik di perpustakaan, tapi gak ada sama sekali! Rombongan keluarga Malikh hampir tiba, tapi orang yang harusnya nyambut tamu malah keluyuran entah kemana. Duh! Duh!”

    Yulong melangkahkan kaki tergesa-gesa sambil menoleh kesana-kemari, mengintip ke setiap ruangan mencari Shira. Kepala Keluarga Yashura sudah memberikan perintah kepadanya untuk mempersiapkan Shira menyambut tamu satu jam yang lalu. Tapi ia tak menemukan pemuda itu sejak tadi. Tentu saja raut wajah panik terpampang jelas di wajahnya.

    “Tuan Muda pasti menyadari kalau dia harus yang paling pertama menyambut tamu. Ah, kalau dilihat dari kepribadiannya yang penyendiri, sudah pasti dia bakal merasa tersiksa! Mudahan aja dia gak kabur...”

    Di bukit tak jauh dari kediaman keluarga Yashura, seorang pemuda berbaring santai di bawah naungan pohon rindang. Ia menyelipkan kedua tangannya di belakang kepala sebagai bantal, wajahnya di tutupi buku biografi tentang pahlawan “Pendekar Pedang Bermata Satu”. Di saat ia santai menikmati angin sepoi di bukit itu, kediaman Yashura ricuh mencari keberadaannya.

    Tapi ia tidak peduli sama sekali. Ia tahu tentang pernikahannya yang ditetapkan dengan gadis jenius Malikh sejak dulu namun tak pernah memikirkannya, sampai-sampai ia tidak tahu tentang rombongan keluarga Malikh yang akan datang bertamu hari ini. Padahal kabar tentang rombongan itu semua orang di desa Badril sudah tahu. Semua orang kecuali orang yang akan ditamui.

    “Woi, bocah! Kamu masih santai di sini?” Suara macho membangunkan Shira dari setengah tidur.

    “Huh?”

    “Tunanganmu datang bertamu, apa gak ada yang kasih tau?”

    Shira hanya menggeleng pelan sambil mengusap-usap matanya.

    “Cepat cuci muka dan ganti baju yang bagus! Aku sudah melihat si cewek tunanganmu barusan. Hehe, bocah, bisa dibilang kamu orang yang paling beruntung di desa ini. Belum pernah ketemu kan sebelumnya?”

    Pria yang berbicara dengan Shira tak lain adalah arwah yang menempel padanya semenjak satu tahun yang lalu. Seorang pria paruh baya yang tubuhnya sudah menjadi transparan, mengenakan baju kulit petualang yang kualitasnya tak pernah Shira lihat sebelumnya. Roh itu dulunya semasa hidup adalah seorang petualang level tinggi yang pernah menghantam benua Tiramikal dengan kejayaan. Bisa dibilang ia adalah salah satu pahlawan yang namanya tak akan terhapus sejarah. Tapi ketika ia memperkenalkan diri untuk pertama kalinya kepada Shira, ia menyebut dirinya dengan julukan “Arwah Baik Hati”.

    Satu tahun belakangan ini, ia dengan senang hati mengajarkan teknik-teknik dan skill pasif miliknya kepada Shira. Bisa dibilang dia adalah guru Shira. Walau mereka berdua tak mengakuinya sama sekali. Biar pun skill-skill yang diajarkan adalah teknik tingkat rendah dan tak berharga baginya, untuk petarung di desa tingkat ketiga, ajaran arwah itu adalah harta karun.

    Ia mengajarkan Shira tentang footwork dan gaya bertarung acak yang mengandalkan intuisi, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan gaya bertarung keluarga Yashura. Namun Shira tak pernah menyangkal ajaran arwah ini. Ia memang masih petarung level 3 tapi kecakapan dan ketajaman pikirannya jauh melebihi remaja rata-rata. Ia tahu gaya bertarung ini sangat mengalir dan selalu bisa mengubah jalannya pertarungan jarak dekat.

    Shira menganalisa, jika ia menggunakan footwork dan style acak seperti ini, akan banyak kesempatan untuknya menghindari serangan musuh dan melakukan counter-attack akan menjadi lebih mudah. Di pertarungan jarak dekat, dengan tingkat dodge dan counter-attack yang tinggi, menggunakan senjata yang lebih pendek dari musuh tak akan menjadi masalah. Simpelnya bisa dibilang menggunakan kekuatan musuh untuk membuka celah menyerang. Ini adalah gaya bertarung yang cocok untuknya karena ia terlalu malas mengayunkan style pedang berat yang sudah menjadi tradisi keluarganya.

    “Bocah ini, gerakan kakinya semakin lama semakin simpel, tapi jelas terasa berbahaya! Pemahamannya terlalu tajam sampai-sampai terlihat natural. Apa dia mempelajari konsep ‘Water Flowing Style’ sambil tidur barusan?” ujar Arwah Baik Hati kepada dirinya sendiri ketika melihat punggung Shira yang berjalan kembali menuruni bukit. “Walaupun saat ini skill pasif tingkat rendah untuknya, tetap saja ‘Water Flowing Style’ itu skill pasif unik yang memiliki tingkat kesulitan tinggi untuk dipelajari. Tapi dia sudah mencapai level 2 untuk skill itu bulan lalu, barangkali tahun depan bakal naik ke level 3. Ck, ck, anak ini adalah yang mereka sebut jenius di antara jenius. Lebih lagi aura tingkat tinggi yang keluar dari tubuhnya, hmm, Orang-orang sampah di desa ini mana bisa mengenali aura mengerikan itu kecuali secara ajaib level mereka melompat naik ke level 70. Barangkali... tingkat perkembangannya yang lambat itu kompensasi untuk talentanya yang seperti monster.”

    “Ah. Kalau saja perkembangan bocah ini seperti rata-rata anak biasa, dia bakal membuat semua orang di generasinya menunduk! Heh! Aku ingin melihat apa dia bisa menembus skill ‘Water Flowing Style’ ke level 5.

    “Kalau dia bisa melewatinya, bakal ada kesempatannya untuk melewatiku ke level 10 terus sampai titik evolusi ke ‘Liquid Dragon Flowing Style’ yang legendaris itu. Hmmm.”

    Arwah itu mengelus-elus dagunya dengan senyuman lebar terpampang jelas di wajahnya seperti orang bodoh. Matanya berbinar-binar. Pandangannya masih tak lepas dari arah Shira yang berjalan menjauh.

    “Terus pas perkembanganmu sudah matang, hehehe, bocah... akan kuambil alih badanmu. Hehehe. Dengan talenta jenius dan aura misterius seperti itu prestasiku bakal lebih hebat ketimbang aku masih hidup dulu. Hehehe... hehehe...”

    ***
     
    Last edited: Nov 13, 2016
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  4. Offline

    noprirf Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,250
    Trophy Points:
    87
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +416 / -0
    e, ada bahsan tentang agility ama dexterity, :matabelo:, rasanya awal cerita kerasa unik juga. Jadi ppenasaran juga ama skillnya

    Aku suka ceritannya karena aku juga penggila cerita fantasi juga. Btw, rasanya kurang narasi tentang desa di awal cerita. Tapi rasa tak terlalu megganggu karena di tengah cerita juga dijelaskan, dan juga suka ama certanya
    [/spoler]
     
    Last edited: Nov 11, 2016
    • Thanks Thanks x 1
  5. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0
    hehe makasi udah mampir om:xiexie:

    pertama kali nulis yang ada unsur rpgnya mudahan bisa memuaskan ntar :xiexie:
     
  6. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,973
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,945 / -1
    pas dibaca chap pertama ini premis nya menarik jg. gw terutama suka juga penjelasan lore nya yg detil jadinya kurang lebih tau apa yg kejadian di dunia ini. Cerita masih belum masuk plot utama, kalo diliat dari sinopsis. Okelah ditunggu perkembangan selanjutnya :beer:
     
    • Thanks Thanks x 1
  7. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0
    hoho oke makasi om silahkan ditunggu :xiexie:
     
  8. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0

    CHAPTER 2 – KELAS TERUNIK GENERASI INI (BAGIAN 1)

    “Mengapa kau tak merasakannya? Aku masih menunggu...”

    Suara serak seorang tua misterius terkadang terngiang di kepalanya ketika ia memejamkan mata. Shira selalu memperhatikan kata-kata orang tua yang berlalu di kepalanya walau pun yang ia dengar tak masuk akal sama sekali.

    “Aku masih menunggu... sungai dan gunung masih menunggu... langit dan surga masih menunggu...”

    “Lautan diam menunggu... awan pun diam menunggu...”

    Semenjak kecil, Shira tahu bahwa dirinya berbeda dengan orang lain. Awalnya suara itu membuatnya takut dan menghantui mimpinya.

    Lambat laun ia mengerti ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin berkomunikasi dengannya. Walau suara itu terdengar putus asa mengeluh tanpa henti, terkadang orang tua itu berbicara tentang suatu petunjuk tentang Shira. Bertahun-tahun menyimak suara tersebut membuatnya mengerti satu atau dua hal tentang keganjilan yang menemaninya. Tapi hari ini ia tak mendapatkan apa yang ingin ia dengar. Ia hanya mendesah dalam hati, lalu membuka pelan matanya.

    “Dek Shira, sudah selesai melamunnya?”

    Sebuah suara lembut menyapanya saat ia terbangun ke dunia nyata. Shira melihat tubuhnya yang kurus dan wajahnya yang tampan seperti anak kecil terpantul di cermin di hadapannya. Ia sedang duduk di sebuah kursi kayu dengan ornamen singa lambang keluarga Yashura, dan seorang wanita muda tiga tahun lebih tua darinya sedang menyisir rambutnya yang sudah diberi minyak.

    “Hihi, Dek Shira sudah gede. Sebentar lagi mau nikah beneran. Jadi deg-degan. Hihihi.”

    Shira diam mendengar godaan itu, mimik mukanya bahkan tak berubah. Ia memang biasa terlihat dingin tapi hubungannya dengan Mila Yashura, kakak sepupunya cukup dekat semenjak mereka kecil.

    Sekarang remaja ini hampir menjadi dewasa. Hari ini ia akan bertemu dengan calon istrinya untuk pertama kali. Semua orang di Desa Badril tahu gadis yang dijanjikan kepada Shira adalah mutiara terbaik di desa ini. Dan tanggal pernikahan sudah lama ditetapkan yaitu saat pemuda itu, secara tradisi, resmi menjadi pria dewasa saat berumur enam belas tahun. Mila tak henti-hentinya senyam-senyum sendiri semenjak kemarin karena saking bahagianya.

    Jadi sebentar lagi aku akan menikah? Shira mendesah dalam hati ketika mendapati waktu cepat berlalu semenjak ia tahu bahwa suatu hari ia akan dinikahkan dengan seorang gadis dari keluarga Malikh. Ia mendengar banyak hal bagus tentang gadis itu. Dan ia mendengar pula banyak pemuda yang iri bukan main kepadanya. Semua orang mengatakan Shira adalah orang yang beruntung. Padahal dalam hatinya, dicarikan jodoh saja sudah untung baginya. Ia adalah tipe orang yang terlalu malas dan terlalu malu untuk mencari jodoh sendiri. Jika ia lahir di keluarga biasa dan status biasa di desa itu, kemungkinan besar ia akan hidup seorang diri sampai tua nanti.

    Tetapi kemudian kegugupan lugu yang membuatnya tak nyaman sejak tadi kini berubah menjadi perasaan tak enak yang membuat merinding ketika mendengar suara Arwah Baik Hati memperingatinya tentang suatu hal.

    “Aku mendengar satu dua hal gosip tentang cewekmu barusan. Bocah, hati-hati. Barangkali ntar ada orang yang cari masalah.”

    Sekilas Shira memandangi arwah yang mengambang itu sebelum ia pergi menembus dinding. Dahi pemuda itu mengerut. Ada sesuatu yang salah? Awalnya ia tidak begitu peduli dengan sedikit masalah tentang hal-hal sepele seperti ini. Jika memang benar ada orang yang mencari masalah dengannya, maka ia dengan mudah menghiraukannya. Satu dua jam kemudian ia sudah lupa kalau ada orang yang mengganggunya.

    Tapi kini, ia melihat wajah sepupunya yang berseri-seri. Perasaannya semakin menjadi tak nyaman.

    Ada yang salah? Siapa yang berani buat masalah di saat-saat seperti ini?

    “Dek Shira? Ada apa?”

    Mila menyadari mimik wajah Shira yang berubah. Keraguan tergambar di matanya. Jarang-jarang ada suatu hal yang bisa mengubah ekspresi dingin di wajah anak itu.

    “Gak ada.” Ia menjawab singkat sambil menggeleng-geleng.

    Mila saling menekan kedua bibirnya mendengar jawaban Shira. Ia sudah lama mengenal adik sepupunya itu. Tidak sulit untuk menebak jika ada sesuatu yang membebani pikirinya dengan sekali pandang di wajahnya. Tapi Mila tak memaksanya untuk berbicara kali ini. Ia kembali memasang wajah berseri sambil membantu Shira mengenakan baju hitam tradisional keluarga Yashura yang sering digunakan untuk hari besar atau pesta lainnya.

    “Hmm. Gak kerasa kamu sudah tinggi sekarang. Aku gak nyangka Dek Shira bakal jadi seganteng ini. Hihi.”

    Tak lama kemudian, mereka mendengar suara pintu diketuk. Yulong berdiri di ambang pintu sambil memegang sebuah kotak dengan kedua tangannya.

    “Permisi Tuan Muda Shira, Nyonya Muda Mila. Kiriman ramuan dari Tuan Jhuro untuk minggu ini sudah datang.”

    “Oh, ramuan buat Dek Shira? Wah, banyak bener!”

    “Total lima belas botol ‘Lesser Elixir of Experience’ yang ditukar oleh Tuan Jhuro dari tiga botol ramuan tingkat atas. Sangat efektif untuk tenaga dalam yang masih dalam perkembangan seperti Tuan Muda Shira.”

    Mila menerima kotak itu dengan senyum ceria.

    “Apa rombongan keluarga Malikh sudah tiba?”

    “Iya. Sekarang mereka sedang ada di pintu gerbang. Tapi akan ada jeda sekitar sepuluh menit sebelum mereka masuk sesuai dengan tradisi.”

    Benar saja. Shira dan Mila sudah merasakan suara keramaian dan musik dari arah gerbang kediaman keluarga Yashura. Mila langsung bergegas membuka kotak ramuan di tangannya dan mengeluarkan botol ‘Lesser Elixir of Experience’ yang berisi cairan kental berwarna hijau.

    “Cepat! Segera minum semuanya. Kamu harus terlihat sebaik mungkin!”

    Shira tak menolak. Ia segera menegak botol demi botol.

    Mila baru tiga bulan lulus tes pengambilan kelas. Ia adalah seorang Specialist. Kelas support yang khusus mengelola informasi dan masalah trivial dalam pertarungan. Dan pada umumnya, Specialist adalah kelas khusus yang bisa melihat status dan atribut orang lain.

    Dan alis Mila mengerut melihat proses level Shira yang tak ada kemajuan walau sudah meminum sepuluh botol ramuan lebih.

    ‘Apa dia benar-benar cacat?’ Sebuah keraguan yang mengerikan terlintas di benaknya, cukup mengerikan sampai ia menjadi panik dalam hati. Mila sudah sering mendengar rumor tentang adik sepupunya yang cacat dan tak bisa naik level lagi. Jantungnya berdebar-debar.

    “Dek Shira, aku punya beberapa scroll strength yang tak dipakai. Mau baca?” tanya Mila segera setelah Shira menegak semua botol ramuannya. Dia mengeluarkan dua gulungan ‘Scroll of Strength’ dari mystic bagnya. Mystic bag yang ia gunakan adalah kualitas rendah, tapi cukup mahal untuk ukuran keluarga kecil seperti keluarga Yashura. Di dalamnya terdapat ruangan buatan sebesar tiga kali tiga meter, sudah bisa dibilang besar untuk keperluan sehari-hari tapi tak mencukupi untuk keperluan berpetualang.

    “Nng,” Shira menggeleng mendengar tawaran itu. Ia tahu seberapa mahal harga ‘Scroll of Strength’, yang bisa menambah atribut strength hanya dalam hitungan menit setelah membacanya. “Lebih baik buku biografi tentang Saint Doctor, atau dongeng tentang harta karun Blondie. Apa Mbak Mila punya? Aku lagi butuh.”

    Senyum segar Mila berubah menjadi masam mendengar itu. Awalnya, Mila memiliki dua mystic bag. Tapi satu sudah ia jual karena tabungannya tak cukup untuk membeli ‘Scroll of Strength’. Dan Shira langsung menolaknya. Sebenarnya ia tak terlalu ambil hati jika adiknya itu menolak. Ia tahu Shira adalah pribadi yang dingin dan keras kepala.

    Tapi ketika mendengar permintaan tentang buku biografi dan buku dongeng, hatinya mengeras. Ia sudah lama menentang Shira membaca buku-buku seperti itu. Jika membaca sekilas untuk menghilangkan bosan tak apa-apa. Tapi jika menjadi rutinitas, efeknya sama seperti membaca ‘Scroll of Wisdom’.

    “Sudah kubilang berhenti membaca buku-buku seperti itu!” Suara Mila tegas tak lagi terdengar manis. Raut wajahnya terlihat kesal. “Jika kamu menambah atribut wisdom dengan membaca buku, maka tak ada ruang untuk membaca scroll atribut yang lain! Kamu gak ingin berakhir menjadi Specialist sepertiku, kan? Sini, biar kuperiksa statusmu.”

    Mila sudah menjadi Specialist level 11 di usia tujuh belas. Perkembangan seperti itu sudah bisa dibilang jenius. Biasanya orang-orang bisa lulus tes pengambilan kelas pada umur dua puluh tahun dan ketika memiliki level 10. Tapi Specialist adalah kelas support. Kemunculan jenius dalam kelas ini tak seheboh jenius untuk kelas petarung.

    “Status Window!”

    Cincin di jemarinya menyala ketika Mila melambaikan tangannya ke arah Shira dan menggunakan skill ‘Status Window’, skill umum Specialist untuk membaca status dan atribut orang lain. Biasanya, jika Specialist menggunakan skill ini untuk seseorang dengan level yang jauh berada di atasnya, maka akan banyak informasi yang tertutup. Tapi jika ia menggunakan untuk seseorang untuk level di bawahnya, maka skill ini akan menjadi lebih efektif.

    Mila memicingkan matanya ketika cahaya kuning perlahan-lahan membentuk huruf di hadapannya.

    Shira Yashura
    NOVICE [ORDINARY CLASS LVL 3: 48% EXP]​
    STRENGTH: 4AGILITY: 16DEXTERITY: 8
    INTELLIGENCE: 10WISDOM: 22ENDURANCE: 5
    HIT POINT: 102
    DAMAGE: 12-17
    DEFENSE: 5
    ATTACK SPEED RATING: 25
    CRITICAL ATTACK RATING: 15% chance / 150% damage
    DODGE CHANCE: 15%-60%
    MAGIC RESISTANCE: 0%
    POISON RESISTANCE: 0%
    ELEMENTAL RESISTANCE: 35% / 0% / 0% / 0%
    ELEMENTAL AFFINITY: WATER
     
    Last edited: Nov 22, 2016
    • For The Win For The Win x 1
  9. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0

    CHAPTER 2 – KELAS TERUNIK GENERASI INI (BAGIAN 2)

    Mila tercengang. Matanya melebar dan mulutnya terbuka untuk beberapa saat, kemudian matanya menjadi tajam lagi.

    “Hah! Lihat! Wisdomnya lima kali lipat dari pada strength. Nanti harus bilang apa aku kepada Paman Jhuro?” omel gadis itu sambil menginjak-injak pelan lantai.

    Shira hanya mengangkat bahunya.

    “Haha, kalian nempel sekali seperti biasanya,” suara tawa berat terdengar dan seorang pria berbadan besar serta berwajah kasar datang dengan senyum di wajahnya. “Kalau orang luar lihat nanti bisa nyangka kalian yang bakal menikah. Hahaha.”

    Pria berwajah kasar itu tentu saja adalah ayah Mila, Kepala Keluarga Yashura saat ini. Walau pun rupanya seperti bandit tapi ia adalah orang yang sangat ramah dan lembut kepada orang-orang yang di dekatnya.

    “Ayah, lihat keponakanmu ini! Dia baca buku gak jelas mulu, kalau begini terus dia bakal jadi kelas support sepertiku!”

    “Oh, yang bener?” Ayah Mila tak pernah lagi mengecek status Shira semenjak dua tahun yang lalu. Mungkin ia terlalu teledor kepada calon pewaris kepala keluarga ini, karena ia terlalu percaya pada ramuan yang dikirim oleh Jhuro setiap minggu.

    “Wisdomnya 22 tapi strengthnya cuma 4! Bagaimana jadinya nanti kalau dia ambil tes Swordsman?!”

    Senyum di wajahnya menghilang saat wajah Ayah Mila berubah menjadi serius. Ia tentu saja mendengar kabar kalau Shira sering menghabiskan waktu di perpustakaan tapi ia tak tahu bahwa akan muncul masalah seserius ini.

    Tapi wajah seriusnya hanya bertahan sebentar saja. Ia kembali tertawa terbahak-bahak.

    “Hahaha, Mila, ngomong apa kamu! Shira masih level 3, nanti juga strengthnya lompat kalau deket-deket level 10. Santai, santai!” Pria paruh baya itu kemudian menepuk-nepuk pundak Shira. “Shira, cepet pergi ke halaman buat sambut tunanganmu. Hehe, kamu belum pernah ketemu, kan?”

    “Mn.” Shira lalu berjalan keluar ruangan itu meninggalkan Mila dan ayahnya.

    “Haahhhh,” Ayah Mila melepaskan napas panjang sambil menggeleng-geleng. “Mila, kamu baru cek statusnya, kan? Coba ayah lihat.”

    Mila masih menyimpan data status Shira di cincin miliknya. Di saat cincin itu menyala, muncul cahaya yang membentuk layar dan tulisan. Ia kemudian mendorong layar itu seperti ia mendorong angin, dan cahaya layar tersebut bergerak ke arah Ayah Mila.

    “Ini...” sebuah ekspresi kecewa dan takjub bercampur di wajah kasar pria itu. Ia tak tahu harus berkata apa.

    “Betul, kan? Wisdomnya ketinggian?”

    Ayah Mila melihat ke arah anak gadisnya, kemudian terpaku kembali ke layar status dengan senyum aneh di wajahnya. “Memang betul wisdomnya lebih tinggi dari pada yang lain. Tapi ini, dodgenya malah jadi variasi, dia juga sudah dapet elemental affinity di level 3.”

    “Memangnya kenapa kalau status dodgenya aneh? Memang kenapa kalau dia sudah punya elemental affinity? Kalau ujung-ujungnya dia dapat kelas support, orang-orang malah semakin menjadi-jadi bully dia! Sejak dulu aku selalu berbicara untuknya melawan orang-orang sialan itu, tapi kenapa sampai sekarang dia gak pernah punya pendirian? Jadi kesal benar aku dibuatnya, hmph!”

    Ayahnya hanya menggeleng-geleng mendengar komplain gadis dengan wajah cemberut.

    “Tapi bagus kan, dia sudah dapet water elemental,” kata pria itu sambil tersenyum. Ada cahaya harapan terlintas di wajahnya yang terlihat kecewa itu.

    “Memang aneh sekali dia sudah punya elemental affinity sebelum ambil kelas. Baru pertama kali juga aku tahu yang seperti itu.”

    “Hehe, wajar lah kamu gak tau yang seperti itu. Ayahnya Shira pas muda juga kasusnya sama. Dia dapet poison affinity pas level 8 dulu.”

    “Eh?”

    “Kata orang biasanya, petarung yang dapet elemental affinity sebelum ambil kelas itu ciri-ciri dari mereka yang bakal dapet kelas unik. Si Jhuro juga sama, dia dapet kelas unik Swordsman yang ahli racik ramuan racun ke pedangnya. Ini jarang kejadiannya, jadi wajar kamu gak tau.”

    “Itu berarti...”

    Ayahnya mengangguk. “Kemungkinan Shira buat dapet kelas unik nanti sudah sangat besar. Biar kelas support sekali pun, orang-orang gak bakal berani bully seenaknya. Selama Jhuro dapet back-ingan dari sekolah Hatim Malakas, dan ngeliat kalau bakalan ada dua kelas unik di keluarga kita, barangkali status kita bakalan sederajat dengan keluarga dari desa tingkat kedua nantinya. Ayah yakin Shira bakalan bisa mimpin keluarga kita di masa depan.”

    Jantung Mila berdebar-debar mendengar ucapan ayahnya dengan penuh harapan dan antisipasi.

    “Memang sayang kalau dia cuma dapet kelas support. Ayah juga gak tau dia bakal dapet kelas unik seperti apa. Specialist? Summoner? Alchemist? Kalau dilihat dari water affinitynya barang kali dia dapet Healer,” Ayah Mila mendesah napas panjang lagi. “Tapi apa boleh buat. Perkembangan untuk kelas unik itu sensitif sekali. Lebih baik kita gak ikut campur terlalu banyak. Biar dia yang pilih jalannya sendiri. Kalau nggak gitu bisa gagal dia dapet kelas unik.”

    “Iya, Mila juga kebawa emosi tadi. Mila selalu sedih ngelihat orang lain ngebully dia karena kelihatan lemah semenjak kecil.”

    Wajah Mila merunduk ke bawah, khawatir dan lega bercampur membuat sinar di matanya terlihat aneh. Ia kemudian melihat ke arah gerbang keluarga besar Yashura. Menikah dengan gadis jenius dan akan menjadi kelas unik nantinya...

    Gadis itu kemudian tersenyum membayangkan bagaimana jadinya masa depan Shira.

    “Huh?”

    Mila dan ayahnya terkejut ketika layar ‘Status Window’ tiba-tiba bergerak dengan cepat dan melayang di udara. Secara logika, layar itu tidak akan bisa bertahan jika tidak ada energi yang menopangnya. Tapi layar ‘Status Window’ itu melayang di udara. Beberapa saat kemudian, ia menghilang.

    “Apaan barusan?” Wajah Mila dipenuhi ekspresi bingung.

    “Gak tau juga,” jawab ayahnya. “Mending kita juga buruan nyambut tamu. Sebentar lagi musiknya selesai.”

    Ayah dan anak itu kemudian berjalan ke luar ruangan.

    Mereka tak tahu, di ruangan itu sebenarnya orang lain yang berdiri, namun kakinya mengambang tak menyentuh lantai. Ia adalah orang yang mengambil layar ‘Status Window’ dari tangan Ayah Mila. Tubuhnya transparan dan manusia biasa tak bisa melihat dan menyadari kehadirannya.

    “Heeehhh, ternyata dodgenya sudah naik drastis. Sepertinya dia bisa menguasai ‘Water Flowing Style’ lebih efektif daripada yang kukira. Terus water elemental affinity... kelas unik? Omong kosong macem apa itu? Entah kenapa standar orang-orang di jaman ini semua sudah turun drastis. Sekarang mereka yang dapet kelas unik ditakutin seperti dewa perang. Padahal dulu pas aku masih hidup orang yang ngandelin kelas unik doang cuma bisa hidup sebatas satpam.”

    “Water affinity ini, pertanda... Kalau dipikir-pikir lagi, semua orang yang berhasil naikin ‘Water Flowing Style’ ke level di atas 5 semuanya punya water elemental affinity. Kalau memang begitu, aku sekarang yakin dia bisa nembus level itu. Tapi karena dia sudah pelajari skill ini sejak awal, elemental affinitynya langsung berubah jadi water. Beda sama orang-orang seperti aku... ini pertanda... pertanda...”

    Mata Arwah Baik Hati langsung bersinar penuh harapan dan semangat setiap kali ia memikirkan ini.

    “Hehe... ‘Liquid Dragon Flowing Style’... I am coming!!!”

    ***
     
    • Like Like x 1
  10. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0

    CHAPTER 2 – KELAS TERUNIK GENERASI INI (BAGIAN 3)

    Keluarga Yashura terdiri dari lebih dari ratusan rumah, dengan anggota kira-kira seribu rakyat biasa dan sekitar seratus petarung. Para petarung biasanya memiliki status tinggi di keluarga. Posisi teratas adalah para Dewan Keluarga dan Kepala keluarga yang mengatur dan memiliki wewenang tertinggi dalam pengambilan keputusan dan penyaluran sumber daya di keluarga. Kepala Keluarga tentu saja Ayah Mila, Shuro Yashura, yang merupakan level 38 Swordsman. Kemudian untuk Dewan Keluarga terdiri dari kakek dan nenek dari dua generasi yang lalu, rata-rata lebih dari enam puluh tahunan dan semuanya memiliki level di atas tiga puluhan.

    Beberapa dari mereka bahkan sudah melampaui level 40 dan mendapatkan promosi kelas ke tier-2. Mereka adalah Dewan Besar yang terdiri dari tiga orang.

    Gharu Yashura, level 41 tier-2 Swordsman.

    Tilang Yashura, level 43 tier-2 Alchemist.

    Dan terakhir adalah Dewan Besar termuda dan terkuat di keluarga; Jhuro Yashura, level 46 Blackfang Swordsman.

    Jhuro Yashura, meski pun memiliki jabatan tinggi di keluarga, namun bisa dibilang itu hanyalah gelar belaka. Ia jarang ikut campur dengan urusan keluarga. Tapi, dalam perkembangan keluarga beberapa tahun ini setelah mengalami kemunduran semenjak tiga puluh tahun yang lalu, Jhuro Yashura memiliki peran besar. Ia membuka koneksi luar untuk keluarga dengan mengandalkan posisinya sebagai sepuh di sekolah Hatim Malakas. Keberadaannya yang cukup ditakuti dan diakui di benua Tiramikal pula yang membuat bisnis keluarga yang di beberapa sektor pasar jarang diganggu oleh orang luar.

    Dan Jhuro Yashura pula alasan terbesar mengapa ada ratusan rombongan di depan gerbang keluarga Yashura datang hari ini. Ia dan ayah si gadis Malikh adalah saudara seperjuangan semenjak mereka muda dan pergi ke dunia luar untuk mencari pengalaman. Kemudian anak mereka lahir di saat yang hampir bersamaan. Seorang anak laki-laki dan perempuan. Dua saudara seperjuangan itu kemudian bertekad untuk menyatukan dua keluarga melalui pernikahan anak mereka. Dan saudara seperjuangan Jhuro itu adalah Kepala Keluarga Malikh yang menjabat saat ini. Bisa dibilang hubungan mereka sangat erat sampai-sampai banyak orang yang mengeluh tak puas.

    Tapi sekarang ini Jhuro sedang keluar untuk misi sekolahnya. Ia tak bisa hadir menyambut tamu dari Keluarga Malikh.

    Karena itu hanya dua dari tiga Dewan Besar yang hadir untuk menunggu rombongan yang berhenti di depan gerbang. Mereka adalah Gharu dan Tilang Yashura, kakek dan nenek yang sudah mencapai usia delapan puluh tahun mendampingi Shira di samping mereka. Di belakang mereka bertiga, ratusan anggota keluarga datang pula untuk menyambut tamu.

    Shuro Yashura, sang kepala keluarga, datang beberapa saat kemudian dan mengambil posisi di antara Gharu dan Shira. Wajah kasarnya terhiasi senyum tak alami yang terlihat seperti seorang penjahat melihat mangsanya. Itu adalah raut muka khas yang selalu ia berikan kepada orang lain di luar keluarganya. Ia tak bisa memperbaikinya.

    Mila menyelip di antara anggota keluarga yang lain, kemudian muncul tepat di belakang Shira.

    “Shira, jangan gugup. Usahakan jaga kegantenganmu semaksimal mungkin di depan cewekmu.”

    Wajah Shira tetap datar melihat ke depan. Tak terpengaruh ucapan Mila dari belakang.

    Semua keluarga Yashura yang hadir berdiri diam di halaman keluarga melihat keluar, di mana rombongan berada. Bagian terdepan rombongan itu adalah orang-orang yang berpakaian penuh warna dan sedang memainkan pertunjukan musik. Kemudian di belakang mereka ada kereta kuda yang dijaga oleh enam pengawal. Di belakang mereka lagi, ada ratusan tamu entah dari keluarga Malikh atau kenalan kedua keluarga.

    “Lihat kereta kuda itu. Mewahnya bukan main! Heh, aku gak tau Malikh bisa beli kereta kuda seperti itu, cuma buat acara seperti ini.”

    “Sepertinya Kepala Keluarga Malikh memang niat tetepin pertunangan ini. Ngotot benar dia, katanya hampir semua Dewan Keluarga Malikh gak puas sama keputusannya.”

    “Iya, iya. Aku juga denger banyak anggota keluarga Malikh yang gak puas harta karun mereka dicemplungin ke jamban bareng bocah cacat itu. Ah, mending nikah sama aku aja ceweknya!”

    “Loh, bukannya itu kereta kuda dari desa tingkat dua? Hmm... kelihatan mirip seperti kereta kudanya keluarga Blackwood...”

    “Heehhh... pantesan mewah. Minjem toh. Haha, kirain...”

    “Yang bener? Jadi kabar Blackwood mau nikung pertunangan itu...”

    “Hush! Sudah jangan kebanyakan gosip!”

    Tak lama kemudian, musik mereda dan para pemusik membungkuk ke arah keluarga Yashura dan orang-orang yang menonton di luar. Suara tepuk tangan meriah dan siulan menyambut, lalu para pemusik itu berjalan ke arah belakang rombongan.

    Kemudian, di saat para pemusik mundur, enam pengawal dan kereta kuda kemudian maju ke arah gerbang untuk memimpin rombongan.

    Riuh pikuk berhenti. Semua orang kemudian diam menunggu tuan putri Malikh yang konon dikagumi ribuan pemuda desa itu untuk memberkahi mereka dengan kecantikannya.

    Kereta kuda itu lalu berhenti tepat di depan gerbang. Dan seorang pengawal membuka pintu kereta...

    Kaki seseorang keluar dari kereta. Ia tak terburu-buru. Di saat itu, raut muka semua orang berubah. Orang-orang yang menonton melihat dengan wajah ingin tahu. Dan wajah keluarga Yashura hampir semua mengerutkan dahi.

    Karena yang keluar dari kereta itu bukanlah si gadis Malikh. Melainkan seorang pemuda berwajah arogan dan berbaju mewah. Semua orang yang melihat walau sekilas tahu pemuda itu datang dari keluarga ningrat.

    Setelah turun, ia menawarkan tangannya ke arah kereta. Kemudian tangan seorang wanita muda yang lembut terlihat memegang tangan pemuda itu membantunya turun.

    Dan mereka semua kemudian melihat gadis keluar dari kereta itu. Bibirnya tipis dan proporsi wajahnya yang putih membuatnya terlihat elegan seperti mutiara kelas atas. Pinggangnya yang langsing dan pinggulnya yang elok membuat gadis cantik lain di sekitarnya terlihat seperti gadis desa. Lalu dadanya yang terisi penuh membuat pandangan pria tak bisa terlepas dari situ. Usianya masih lima belas tahun tapi ia memancarkan aura seorang dewasa karena wajahnya yang dingin tanpa ekspresi. Ia mengenakan gaun merah dengan hiasan bermacam-macam warna, tetapi nampak tak serasi dengan air mukanya.

    Wajah gadis itu lebih dingin dari pada raut muka yang biasanya ada di wajah Shira. Jika Shira dingin karena di matanya terlihat malas berinteraksi dengan orang lain, maka gadis ini memiliki aura dingin yang berbeda. Saat ia melihat pemuda itu, ia tak melihat manusia. Saat ia melihat orang-orang yang menonton, ia tak melihat kumpulan manusia. Saat ia melihat ke arah keluarga Yashura, ke arah Shira... ia seperti melihat ke arah udara.

    Gadis itu memancarkan aura seorang ratu yang melihat ke arah rakyat jelata.

    Orang lain tak cukup penting untuk mendapatkan perhatiannya.

    “Ck, mentang lebih cakep dikit dari pada aku, sombongnya bukan main,” gerutu Mila melihat gadis itu. Ia sudah mendengar kabar gadis tercantik di desa ini dan sempat melihatnya dari kejauhan. Tapi ia tak menyangka tatapan dingin seperti itu muncul dan membuatnya kesal bukan main. “Lagian, cowok itu siapanya? Jangan bilang dia berani bawa pacar ke sini, hmph! Cari mati!”

    Shira mendengar omelan kakak sepupunya. Ia melihat ke arah tunangannya, ada reaksi sekilas di matanya melihat gadis itu, kemudian matanya kembali seperti semua. Mata yang melihat malas seperti ikan mati. Lalu ia menoleh ke arah pemuda yang menolong tunangannya turun dari kereta kuda. Kedua alisnya naik sedikit.

    Jadi orang ini yang akan membuat masalah?

    Ia melihat pemuda itu bersikap gentleman kepada tunangannya. Tapi ia tak merasa cemburu karena baru pertama kali ia bertemu tunangannya. Dengan gerakan kepala yang lembut, ia menoleh melihat sekitarnya. Dewan Besar di sebelahnya mengerutkan alis. Senyum Shuro Yashura sudah menghilang dan wajahnya kembali menjadi kasar seperti bandit.

    Semua keluarga Yashura terdiam melihat pemuda dan gadis turun dari kereta yang sama. Mereka tahu pemuda ini bukanlah anggota keluarga Malikh.

    Dada mereka sesak, mencoba untuk menahan rasa malu. Mereka tak bisa seenaknya mengucapkan sumpah serapah yang menyangkut di tenggorokan mereka karena mereka tahu pemuda itu adalah seorang ningrat yang tak bisa dibuat marah dengan mudah.

    Mereka terdiam melihat ke arah kepala keluarga mereka dari belakang. Tangan mengepal keras pria paruh baya itu bergetar karena ia menahan diri dari hasratnya menghajar seorang pemuda kurang ajar yang menyentuh kulit tunangan keponakannya di depan ratusan orang yang menonton.

    Jika pemuda itu tak ingin mencari masalah, lalu apa tujuannya datang kemari?

    Dan lalu, dengan senyum enteng di wajahnya, pemuda itu menawarkan lengannya untuk digandeng. Gadis Malikh itu tak menolak.

    “Bhela, apa maksudnya ini?!” raungan Shuro meledak melihat dua muda-mudi itu terlihat bersikap intim di hadapannya. “Siapa anak itu? Jangan kurang ajar kamu! Tunanganmu itu Shira, apa maksudnya kamu gandeng tangan orang lain?”

    Air muka Shuro sudah terbakar habis-habisan. Di depan adegan tunangan keponakannya menggandeng tangan pemuda lain, di depan ratusan penduduk desa yang menonton, ia sama sekali tak memiliki wajah lagi untuk menjadi kepala keluarga yang disegani di Desa Badril.

    “Salam kepada Kepala Keluarga Yashura!” Pemuda di samping Bhela Malikh yang menjawab dengan senyum meledek dan nada sarkastik yang disengaja. “Akhirnya Tuan Muda Blackwood ini bisa melihat kehebatan Yashura dari dekat. Adik Bhela sudah sering kali menceritakan banyak hal tentang keluarga Yashura kepada Tuan Muda ini.”

    “Jadi kamu dari Blackwood? Ada urusan apa kamu datang kemari?”

    Shuro Yashura tak ingin berbasa-basi. Raut wajahnya menghitam dan matanya menatap murka, ia sama sekali tak menyembunyikan hasrat membunuhnya. Hampir semua orang gemetar melihat ekspresi wajahnya, terutama anggota keluarga Yashura. Para pengawal kereta mulai bersiap dengan pedang yang menggantung di pinggang mereka. Mereka tahu Jhuro Yashura terkenal dengan tempramennya yang buruk, dan kelihatannya si kakak juga tak kalah buruknya.

    “Kepala Keluarga Yashura, mengapa harus dibawa emosi? Kami datang dengan maksud baik.”

    Melihat Shuro hampir tak bisa menahan tatapan arogan dan senyum meledek pemuda Blackwood ini, Tilang Yashura maju dua langkah. Nenek yang merupakan salah satu anggota Dewan Besar ini, tahu jika semakin lama Shuro menghadapi provokasi Blackwood, maka situasi sudah tak akan bisa terkendali lagi.

    “Tuan Muda Blackwood, kami dari keluarga Yashura sangat merasa terhormat bila Anda sempat menghabiskan waktu untuk mengunjungi keluarga kami yang sederhana ini,” ucapan nenek itu pelan dan merendah. “Jika di lain kesempatan Anda datang untuk berkunjung, tentu kami akan lebih bisa menjamu Anda dengan lebih baik. Tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat. Dan juga, maaf saja, kami merasa sekarang Anda datang dengan cara yang tidak tepat pula. Kami dari keluarga Yashura bertanya-tanya tentang maksud baik yang Anda katakan barusan?”

    Tuan Muda Blackwood tak langsung menjawab. Ia tertawa sesaat. Tak ada yang mengerti mengapa ia tertawa. Wajah anggota keluarga Yashura semakin menjadi-jadi. Sekarang mereka bahkan mulai membenci keluarga Malikh karena telah membawa anak ningrat kurang ajar ini ke pintu gerbang mereka.

    Melihat pemuda di sampingnya menertawai keluarga Yashura, Bhela Malikh tak berkata apa-apa. Ekspresinya tetap dingin. Ia tak membuka mulut untuk menjelaskan situasi atau pun ia ikut meledek Yashura.

    Jika dilihat baik-baik, gadis itu tak benar-benar menggandeng tangan pemuda kaya di sebelahnya. Bisa dibilang itu hanyalah sentuhan kulit semata. Di matanya yang dingin, bisa terlihat kalau dia juga mulai terlihat kesal. Bukan karena masalah Yashura atau sikap Tuan Muda Blackwood, tetapi karena ia merasa datang ke sini adalah hal yang sia-sia. Ia kesal karena dipaksa datang dan membuang-buang waktunya.

    Bahkan ia beberapa hari yang lalu ia juga disuruh untuk ‘akrab’ dengan Tuan Muda Blackwood oleh beberapa Dewan Keluarga Malikh. Sikapnya waktu itu kurang lebih sama seperti Shira, sikap tak acuh membuatnya menerima perintah itu begitu saja.

    Padahal, jika ia enggan, ia bisa melapor kepada ayahnya. Jika ayahnya, Kepala Keluarga Malikh, tahu maksud sebenarnya untuk kunjungan rombongan ini ke keluarga Yashura, barangkali ia sudah mengamuk dan menghajar para Dewan Keluarga itu. Beberapa tahun belakangan ini ia mulai merasa malu jika bertemu dengan Jhuro sahabatnya. Ia tak tahan bila ada anggota keluarganya yang berniat tak baik terhadap keluarga Yashura.

    Tawa Tuan Muda Blackwood masih di situ. Barangkali ia merasa terhibur melihat rakyat jelata di depannya akan segera ia sentil dan robohkan. Sejak awal ia sudah melihat kunjungan ini sebagai guyonan. Bahkan pertunangan ini adalah guyon terbesar yang membuat perut dan pipinya sakit karena ia tertawa terbahak-bahak sampai guling-guling di lantai.

    Gadis jenius dinikahkan dengan sampah dari keluarga rendahan?

    Sampai-sampai nenek moyang Blackwood pun ikut tertawa melihat Tuhan membuat panggung guyon seperti ini.
     
    Last edited: Nov 26, 2016
    • Like Like x 1
  11. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0

    CHAPTER 2 – KELAS TERUNIK GENERASI INI (BAGIAN 4)

    “Oh, Sepuh dari keluarga Yashura, maafkan Tuan Muda yang tak sopan ini,” katanya pelan, membungkuk, namun tak mengambil usaha untuk melenyapkan senyum menjengkelkan di wajahnya. “Tuan Muda datang kemari setelah mendengar kabar Tuan Muda Yashura yang tak bisa naik ke level 4 belakangan ini. Jangan khawatir, Tuan Muda ini punya solusi untuk itu. Bagaimana jika Tuan Muda Yashura bertamu ke keluarga Blackwood dan bertemu dengan Alchemist kami? Barangkali beliau bisa menyembuhkan cacat yang diderita Tuan Muda Yashura.”

    Mendengar itu alis Mila mengerut dan matanya semakin tajam. Pemuda ningrat ini ternyata hanyalah salah satu dari bully yang terus menerus datang untuk merendahkan adik sepupunya semata hanya untuk membuktikan superioritas mereka. Amarah yang ditahan di dadanya mulai merangkak naik ke tenggorokan, dan ia mengeluarkan raungan yang meledak jelas untuk didengar ratusan orang di situ.

    “Adikku cacat? Kalau kamu sebut adikku cacat, terus harus aku sebut apa kamu? Benalu sepertimu cuma bisa nyusu dan ngandelin keluargamu aja! Hah! Gak malu? Kalau dibandingkan kamu dan adikku Shira, hah—masih untung kamu kalau punya kualifikasi buat dibandingkan sama adikku, sampah!”

    Mila sudah lama dikenal sebagai gadis yang cantik namun berlidah pedas. Pengalamannya membela Shira saat dibully semenjak kecil membuatnya mengembangkan kemampuan sumpah serapahnya. Setiap kali ada yang mengejek adik sepupunya, maka ia akan lepas kendali. Tapi tak ada yang menyangka bila dia berani melakukannya di depan Tuan Muda dari desa tingkat dua.

    Jika di hari biasa, orang-orang tua keluarga Yashura akan mencoba menghentikan mulut gadis itu. Karena orang yang disumpahi datang dari keluarga ningrat di desa tingkat kedua. Tapi hari ini mereka semua diam. Tak sedikit yang mengangguk-angguk mendengar sumpah serapah gadis itu. Terutama Shuro Yashura. Ada senyum puas di wajahnya. Untuk pertama kalinya ia bangga melihat anak gadisnya berani mencari masalah. Ia pun meyakinkan dirinya, apa pun konsekuensi nantinya karena telah menyumpahi Tuan Muda arogan ini, ia akan melindungi Mila. Baginya, gadis itu sudah melakukan hal yang benar!

    Tuan Muda Blackwood hanya tertawa kecil mendengar itu.

    “Heh, apa iya? Tuan Muda ini tidak tahu kalau Tuan Muda Yashura sehebat itu. Kalau begitu, biarkan Tuan Muda ini melihat seberapa hebat Tuan Muda Yashura dalam duel satu lawan satu. Hehe, bagaimana? Biarkan orang lain membandingkan kami berdua? Tuan Muda ini kira dia punya kualifikasi untuk dibandingkan dengan kehebatan Tuan Muda Yashura.”

    “Bah! Beraninya duel sama yang lebih muda. Itu bukan duel namanya, tapi bully! Orang-orang sepertimu itu yang mereka sebut sampah! Beraninya bully yang lemah, tapi ngejilat di depan yang kuat!”

    Napas Mila Yashura sudah menjadi berat karena melepas amarah yang ditahan sejak tadi. Kemudian ia memicingkan mata sambil melototi Bhela Malikh yang menggandeng tangan Tuan Muda Blackwood.

    “Kalian semua, ingat baik-baik nama Shira Yashura,” teriaknya untuk di dengar semua orang. “Hari ini mungkin kalian melihat dia sebagai cacat yang masih di level 3! Tapi lihat lima tahun kemudian, gak ada satu pun dari kalian yang layak disandingkan dengannya!

    “Aku tahu tujuan Tuan Muda Sampah ini datang kemari. Dia mau nyuri tunangan adikku tepat di depan hidung kami pakai logika kalau adikku gak pantas untuk cewek jenius seperti dia. Kalau begitu maumu, ambil! Gak perlu basa-basi buat bantu adikku pakai Alchemist segala. Ambil lacur itu! Ambil! Shira gak butuh!”

    Semua orang terkejut mendengar sumpah serapah gadis yang nampak lugu seperti Mila semakin menjadi-jadi. Terutama Bhela, yang disebut lacur olehnya.

    Tatapan mata Bhela berubah setelah itu. Namun tidak menjadi benci. Ekspresinya masih dingin tapi ia hanya bisa mendesah dalam hati. Sejak awal ia tahu rencana Blackwood untuk menekan ayahnya agar membatalkan pertunangan dengan seorang pemuda Yashura yang sejak awal tak pernah ia temui. Dan ketika Dewan Keluarga meyakinkannya untuk datang kemari, ia pun tahu masalah akan datang kemudian.

    Di dalam hatinya, ia hanya berharap masalah tak akan berkembang terlalu besar. Karena ia tak bisa melakukan sesuatu tentang itu.

    “Nyonya Muda, apakah Anda tidak berlebihan mengotori nama Dik Bhela?” senyum menjengkelkan Tuan Muda Blackwood itu sudah hilang, wajahnya kini serius. “Boleh saja jika Anda merasa kalau Tuan Muda Yashura lebih baik daripada yang lain. Tapi sampai merendahkan orang lain sampai sebegitunya, apa begini cara keluarga Yashura memperlakukan tamunya?”

    “Hmph! Manusia arogan sepertimu pura-pura jadi domba padahal serigala gak tau malu! Merendahkan orang lain sampai sebegitunya kamu bilang? Bah! Bukannya itu tujuanmu datang kemari? Di sini gak ada orang tolol yang bakalan telen rencana busukmu! Kalau kamu mau ambil lacur itu, silahkan! Tapi gak perlu jadi udang yang sembunyi di balik batu.”

    “Tapi kuberitahu satu hal. Bukan Shira yang gak pantes untuk cewek itu, tapi cewek itu yang gak pantes buat Shira. Kalian semua yang bully Shira dari ujung sana sampai ujung situ, tunggu baik-baik. Lima tahun ke depan, kalau Shira gak bisa dapet kelas unik, aku bakal potong telingaku! Tapi kalau dia betulan jadi kelas unik, gak ada satu pun dari kalian yang pantes ngejilat kakinya! Bahkan buat lacur itu, gak pantes jadi istrinya!”

    Suasana hening di setiap kali Mila mengambil jeda untuk menarik napas di sela-sela teriakannya. Tak ada yang membalas kata-kata kasar Mila. Bahkan Shira, orang yang disebut-sebut, hanya bisa terdiam di situ dengan ekspresi hampa di wajahnya.

    “Kepala Keluarga, tak apa-apa membiarkan anak Anda berbicara seperti itu?” bisik Gharu Yashura yang berdiri di sebelah Shuro.

    “Gak apa-apa, biarin dia lepas uneg-unegnya,” kata Shuro Yashura pelan. “Kalau keluarga kita gak melawan setelah diperlakukan seperti ini, apa kita bakalan punya muka di desa setelah hari ini? Lagian, gak ada dari kita yang punya jabatan di keluarga yang bisa seenaknya melepas amarah seperti itu. Yang hanya kita bisa lakukan cuma minjem suara Mila buat melawan bocah Blackwood sialan itu.”

    “Tapi anak Anda seperti sudah kelewatan menyinggung Malikh dan Blackwood sekaligus!”

    Gharu menekan suaranya agar tak didengar orang lain. Shuro terdiam sesaat.

    “Kalau ada masalah yang datang besok-besok, biar aku yang nanggung kesalahan anakku. Tapi ingat, seberapa kali pun kita menyinggung Malikh dan Blackwood hari ini, itu tidak seberapa dengan perlakuan mereka pada kita. Keluarga Yashura hampir kehilangan muka pas dua bocah itu saling gandengan tangan di depan gerbang kita!”

    Ketika mendengar Kepala Keluarganya, kakek itu hanya mendesah sambil menggeleng-geleng kepalanya.

    Dan lalu, tak lama kemudian, setelah memberikan kesempatan untuk penonton menelan teriakan Mila, bisik-bisik menyatu menjadi bising.

    “Shira yang masih level 3 itu bakalan dapet kelas unik, bah! Aku aja yang lebih bertalenta cuma dapet kelas biasa.”

    “Itu si Mila sebenernya cewek cakep, banyak cowok yang naksir. Tapi kalau sudah ngebacot pedesnya bukan main! Duh!”

    “Bukan cuma pedes bacotannya, ngayal lagi!”

    “Tapi apa sedikit masuk akal? Itu Shira bapaknya dapet kelas unik, terkenal juga. Siapa tau anaknya juga bisa dapet kelas unik.”

    “Iya, bener, bener. Gak mustahil juga.”

    Tuan Muda Blackwood hanya menyeringai dalam hati mendengar obrolan itu.

    “Kepala Keluarga Yashura, Tuan Muda ini tak mengapa jika dia diteriaki dengan kata-kata kasar. Tetapi jika Adik Bhela yang tak bersalah juga ikut dikatai dengan kata yang tak pantas, saya tanya sekali lagi; apakah begini Keluarga Yashura memperlakukan tamunya?”

    “Memang benar kalau anakku keterlaluan mengatai Bhela barusan,” kata Shuro pelan. “Karena tujuan keluarga Malikh awalnya datang kemari untuk bertamu, maka kami dari keluarga Yashura memohon maaf. Tapi permintaan maaf kami hanya tulus untuk mereka yang berniat baik bertamu datang kemari. Untuk yang mempunyai kepentingan lain, kami mohon untuk meninggalkan tempat ini. Kunjungan ini seharusnya untuk mempererat tali silaturahmi kedua keluarga, bukan merusaknya karena kehadiran pihak ketiga.”

    Tuan Muda Blackwood mendapat sindiran Shuro. Tapi ia hanya tersenyum.

    “Tidak apa-apa. Bila pihak Yashura sudah meminta maaf, Tuan Muda yakin Adik Bhela tidak akan mengambil hati akan kejadian barusan. Tetapi bagaimana dengan Tuan Muda ini? Nyonya Muda tadi mengatakan kalau Tuan Muda ini tidak pantas untuk dibandingkan dengan Tuan Muda Yashura. Apa benar begitu? Tuan Muda ini yakin banyak dari hadirin yang bertanya-tanya demikian. Mengingat begitu banyak rumor dan berita tentang Tuan Muda Yashura.”

    Tuan Muda Blackwood berhenti sejenak. Banyak dari penonton yang mengangguk-angguk mendengar ucapannya.

    Kemudian pandangannya mengunci ke arah Shira Yashura.

    “Tuan Muda Yashura, bagaimana pendapat Anda? Bisakah Tuan Muda ini disandingkan dengan Anda?”

    Shira terlihat tak niat menjawab. Ekspresinya tetap datar dan dingin.

    “Ayolah, banyak hadirin yang bertanya-tanya sebagaimana istimewanya Tuan Muda Yashura yang bakal mendapat kelas unik di masa mendatang. Tuan Muda, bagaimana kalau kita duel, hmm?”

    “Masih ngotot juga kamu—“

    Shuro menggerakkan tangannya ke arah Mila, memberikan sinyal untuk tak ikut campur lebih.

    “Kami keluarga Yashura minta maaf kepada Tuan Muda Blackwood,” kata pria paruh baya itu serius. “Saat ini Shira Yashura masih belum siap berpartisipasi dalam duel, terlebih dengan seseorang yang mempunyai level jauh lebih tinggi darinya.”

    Shuro Yashura mengerti tujuan Blackwood datang kemari. Tuan Muda mereka akan mengajak duel Shira, dan kemudian mengalahkannya dan mengklaim dia lebih baik daripada Shira. Itu akan memberikan tekanan kepada Kepala Keluarga Malikh yang masih niat mempertahankan pertunangan kedua keluarga ini.

    Orang bodoh pun tahu mengalahkan seseorang dengan level kecil dalam duel tidak berarti apa-apa. Tapi posisi Blackwood untuk merebut Bhela dari keluarga Yashura tinggal selangkah lagi sampai-sampai mereka hanya membutuhkan alasan sepele untuk menggerakkan hati keluarga Malikh.

    Saat ini hampir semua Dewan Keluarga Malikh sangat berterima kasih atas ‘bantuan’ yang diberikan Blackwood. Dan bila sampai semua Dewan Keluarga memiliki opini yang sama, bahkan mereka bisa menggulingkan Kepala Keluarga menjadi anggota keluarga biasa.

    Itulah yang dipikirkan Shuro. Ia yakin adiknya bakal marah besar bercampur haru jika melihat posisi temannya sebagai kepala keluarga hampir digulingkan hanya karena menjaga janji mereka beberapa tahun yang lalu.

    Tapi keluarga besar dari desa tingkat dua seperti Blackwood tak peduli akan hal seperti itu. Mereka sudah yakin bahwa gadis desa Badril bernama Bhela Malikh adalah sebuah mutiara berharga dan siap bermain kotor untuk mengklaimnya.

    “Oh, apa Anda mengatakan kalau keluarga Yashura tidak berani menerima duel ini?” tanya Tuan Muda Blackwood dengan seringai yang menjengkelkan di wajahnya.

    “Kami gak menjamu tamu sambil melakukan duel. Itu barbar namanya.”

    “Kalau begitu bagaimana kalau duelnya dilakukan dalam waktu satu tahun. Tuan Muda ini yakin Tuan Muda Yashura sudah ‘berkembang’ saat itu.”

    “Kami mohon untuk tidak membahas masalah ini lagi. Jika gak ada keperluan lain pihak Blackwood bisa meninggalkan tempat ini.”

    Sepertinya Shuro sudah kehabisan kesabarannya. Keriput di dahinya sudah terlihat jelas dari biasanya.

    “Haha, keluarga dari desa tingkat tiga berani mengusir keluarga ningrat dari desa tingkat dua. Tuan Muda bertanya-tanya bagaimana reputasi Tuan Jhuro Yashuro ke depannya setelah ini.”

    “Jika keluarga Malikh masih berniat untuk bertamu, kami mempersiapkan penjamuan dan akan menjadwalkan pesta nanti malam. Silahkan masuk kalau begitu.”

    Shuro sudah tak ingin menghiraukan Blackwood lagi.

    Bagian ke 5 ada di page selanjutnya...
     
    Last edited: Nov 29, 2016
    • Like Like x 1
  12. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0

    CHAPTER 2 – KELAS TERUNIK GENERASI INI (BAGIAN 5)

    “Shuro! Aku mohon tunggu sebentar!”

    Sebuah suara tua terdengar kemudian. Seorang kakek tua berjubah biru dan memegang tongkat jalan muncul dari rombongan Malikh.

    Ia adalah Tarin Malikh, salah satu Dewan Besar Keluarga Malikh.

    “Kek Tarin, mau tunggu apa lagi? Kami sudah mempersiapkan makanan di dalam. Mengapa rombongan gak segera disuruh masuk semua? Aku yakin mereka semua sedang lapar sekarang.”

    “Shuro, aku tahu janji ayah Bhela dan adikmu beberapa tahun yang lalu. Dan kami semua anggota keluarga Malikh pun sebenarnya ingin menghargai perjanjian tersebut. Tapi ya Shuro, melihat kondisi Shira belakangan ini membuat kami khawatir tentang masa depan Bhela. Takutnya Shira gak bakal bisa mengikuti perkembangan Bhela, dan kalau dia tertinggal jauh, apa gak bakal reputasi Yashura kena batunya juga nanti? Kami hanya ingin melihat perkembangan Shira. Kenapa harus menolak duel Tuan Muda Blackwood?”

    “Hehe, Kek Tarin, gak perlu khawatir. Bukannya anakku bilang Shira bakal dapet kelas unik nanti? Itu gak bohong loh. Sembilan puluh sembilan persen aku jamin! Jadi gak perlu basa-basi lagi, ayo kita makan-makan dulu. Keburu dingin nanti!”

    Tak ada keluarga Malikh yang bergerak mendengar ajakan Shuro Yashura. Tuan Muda Blackwood bahkan tak menyembunyikan dengusan meledeknya. Tarin Malikh hanya tersenyum masam di dekatnya.

    “Shuro, aku tahu kamu yakin sekali sama Shira. Tapi aku khawatir kalau punya kelas unik saja gak bakal cukup...”

    Shuro mengerutkan alisnya mendengar itu. Dua Dewan Besar Yashura juga melakukan hal yang sama di wajah mereka.

    “Kalau memang begitu kejadiannya, bukankah Tuan Muda Blackwood juga gak pantas sama Bhela?”

    “Setidaknya mereka mau membayar mahal biaya perkembangan Bhela.”

    Tarin Malikh tak menyembunyikan kalau mereka sudah disogok oleh Blackwood!

    “Kakek bangke! Kalau situ datang kemari untuk menjilat Tuan Muda sampah itu, mending enyah dari sini!”

    Suara teriakan Mila masih tak terbendung lagi. Shuro hanya tersenyum aneh mendengar itu, ia tak membentak anaknya karena tak sopan kepada orang yang lebih tua. Karena di dalam hatinya ia juga ingin berteriak demikian. Tapi karena ia adalah muka dari keluarga Yashura, lidahnya harus hati-hati berkata.

    “Hah! Aku gak tau kenapa Yashura masih sombong mempertahankan anak sampah seperti itu,” Dewan Besar Malikh itu sudah tak bisa menahan amarahnya lagi. “Mau dua atau sepuluh kelas unik di keluargamu pun gak bakal bisa sederajat dengan keluarga Malikh sekarang!”

    Tarin kemudian menyuruh seseorang untuk membawa panah untuk diberikan kepada Bhela.

    “Sini, biar kuperlihatkan kepada kalian, tentang bagaimana perbedaan antara tanah dan langit! Bhela, lakukan skill yang baru kamu pelajari waktu itu. Biar bangsat-bangsat ini mengerti kalau mereka sudah tak pantas lagi menyederajatkan diri dengan kita!”

    Bhela hanya mengangguk sambil menarik empat anak panah sekaligus dari quiver yang dipegangi oleh orang suruhan Tarin.

    Gerakan tangan putih yang lembut itu masih sedikit kikuk menaruh empat anak panah dan menariknya sambil mengarahkan ke arah langit. Orang-orang hanya diam dengan memperhatikan gerakan gadis itu dengan teliti.

    Ia tak langsung melepaskan jemarinya dari tali panah. Ia menarik napasnya dalam-dalam, dan aliran mana-nya bergerak dan menciptakan cahaya berbeda di empat kepala anak panah itu.

    Merah api. Biru air. Kuning listrik. Dan putih angin.

    Para petarung dengan pengalaman terkejut melihat itu. Sedang orang-orang biasa hanya memicingkan mata serius karena tak begitu mengerti tentang empat warna itu.

    “Apa itu bakalan seperti yang ane kira?”

    “Heh, jangan bercanda. Gak mungkin lah...”

    Banyak dari mereka yang mulai berbisik-bisik melihat cahaya itu. Mereka punya spekulasi masing-masing, dan saling membantah spekulasi satu sama lain.

    Sedang para penonton saling tak percaya tentang skill yang akan dikeluarkan Bhela, gadis itu terus menyalurkan mana-nya ke anak panahnya. Cahaya semakin terang, dan sepertinya masih ada banyak ruang untuk mengeluarkan kekuatan skill yang sesungguhnya.

    Beberapa detik kemudian, wajah Bhela terlihat pucat. Keringat bercucuran di keningnya bercampur dengan bedak di wajahnya. Semua orang bisa melihat energi mana gadis itu hampir diserap kering oleh skill anak panah dengan empat warna itu.

    “Blooming... Four Color... Flower Shot!” bisik Bhela pada dirinya untuk merapal nama skill itu.

    Kemudian ia melepaskan jemarinya dari panah. Semua orang bisa merasakan riak energi mana yang ikut terlepas bersamaan dengan skill itu. Seorang petarung yang cukup jeli bisa tahu bahwa riakan mana seperti itu terjadi karena mana yang bocor tak semua di serap oleh Bhela. Itu bisa menjelaskan kalau pengguna belum bisa menguasai skillnya, atau skill itu sendiri terlalu kuat untuk dikendalikan seorang pemanah dengan kekuatan di sekitar level 10.

    Anak panah yang di lepaskan Bhela melesat ke arah langit. Kecepatannya jauh lebih pelan daripada anak panah yang dilepaskan dengan cara biasa. Tentu itu karena keempat anak panah itu membawa energi mana dan mendapatkan tekanan. Dan selang satu-dua detik, empat anak panah itu tertelan oleh cahaya yang dibuat oleh mana Bhela.

    Itu membuat panah itu berubah wujud seperti siluman:

    Warna merah berubah menjadi semburan api.

    Warna biru berubah menjadi tekanan air.

    Warna kuning berubah menjadi aliran listrik.

    Dan warna putih berubah menjadi tiupan angin.

    Pemandangan empat warna itu membuat orang-orang terkejut lagi. Banyak para petarung yang memiliki spekulasi liar sebelumnya hampir melompat mendapati spekulasi mereka benar-benar terjadi.

    “Empat... empat element!”

    “Cewek itu bisa mengeluarkan empat element! Bukan sulap bukan sihir! Tapi empat element betulan!”

    “Dual elemental aja bisa bikin terkenal! Tiga element katanya cuma punya para pahlawan-pahlawan yang mendunia! Tapi kalau empat element...”

    “Cepet! Cepet! Siapa yang kelasnya Specialist di sini? Coba lihat statusnya!”

    Mereka yang memiliki kelas Specialist kemudian dikerumuni orang gerombolan orang-orang yang penasaran. Jangankan untuk mengeluarkan skill ‘Status Window’, bahkan bernapas pun mereka kesusahan.

    “Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, jangan buat kekacauan. Baris yang manis. Aku Baront Staterwind datang jauh-jauh dari sekolah Blue Diamond juga penasaran tentang status gadis desa ini. Mengapa kita tidak melihatnya bersama-sama?”

    Mendengar nama Baront Staterwind dan sekolah Blue Diamond, seseorang dari kerumunan yang kacau itu berteriak:

    “Baront Staterwind! Aku tahu nama Staterwind! Instruktur dari sekolah Blue Diamond, Specialist Tier-2, kata orang dia sudah level 42!”

    “Hah, yang bener?!”

    “Oh Tuan Staterwind, apa benar Anda sudah menjadi Specialist Tier-2? Apa Anda bisa membuat banyak ‘Status Window’ agar kami semua bisa melihat status Bhela Malikh ini?”

    “Tentu, tentu! Tapi jangan rusuh, balik ke tempat semula. Aku bakal membuat satu ‘Status Window’ untuk setiap orang yang ada di sini.”

    Kemudian cincin yang ada di tangan pria bernama Baront Staterwind itu menyala. Ia tak merapal nama skillnya, menjelaskan ia sudah fasih dan sangat berpengalaman sehingga skill itu sudah menjadi bagian dari instingnya.

    Seseorang yang tak perlu merapal nama skill saat mengeluarkannya bisa dibilang adalah seorang ahli!

    Tak lama kemudian, cahaya yang membentuk layar muncul di hadapan semua orang. Huruf-hurufnya terbentuk lebih lama daripada ‘Status Window’ biasa, tapi melihat seberapa banyak layar status yang dibuat, orang-orang tak berhenti menjadi takjub melihat kemampuan Staterwind ini.

    Hampir tiga puluh detik kemudian, layar-layar itu menjadi komplit dan informasinya pun terlihat jelas:

    Bhela Malikh
    ARCHER OF FOUR COLOR EVERLASTING RAINBOW [ARCHER UNIQUE CLASS LVL 9: 78% EXP]
    STRENGTH: 24AGILITY: 52DEXTERITY: 71
    INTELLIGENCE: 18WISDOM: 13ENDURANCE: 31
    HIT POINT: 426
    DAMAGE: 87-102
    DEFENSE: 12
    ATTACK SPEED RATING: 32
    CRITICAL ATTACK RATING: 17% chance / 185% damage
    DODGE CHANCE: 10%
    MAGIC RESISTANCE: -15%
    POISON RESISTANCE: -15%
    ELEMENTAL RESISTANCE: 20% / 20% / 20% / 20%
    ELEMENTAL AFFINITY: FIRE + WATER + LIGHTNING + WIND

    MANA POOL: 125
    MANA REGENATION: LOW RATE
    MANA TYPE: LIGHT
    “Empat elemental affinity! Pantes aja!”

    “Ampun! Punya dua elemental affinity aja bakalan terkenal. Tiga elemental affinity dijamin jadi pahlawan level tinggi! Tapi kalau empat elemental affinity...”

    “Bahkan di benua Soritudh gak ada yang punya empat elemental affinity! Cewek ini cuma satu-satunya! Paling langka!”

    Semua orang terkejut dan takjub melihat status Bhela. Termasuk orang-orang dari keluarga Yashura. Bisa terlihat ekspresi aneh di wajah Mila yang mengata-ngatai Bhela tadi. Dewan Besar dan Kepala Keluarga Yashura hanya bisa menyembunyikan wajah mereka sambil tersenyum masam.

    Sedangkan Shira masih tetap tenang melihat layar status di hadapannya. Ia bisa merasakan Arwah Baik Hati yang mengintip dari belakangnya.

    “Heeehhh, empat element ya... ini baru kedua kalinya aku tahu dengar. Yang pertama sudah lama sekali, itu pun aku baca dan sudah jadi sejarah. Maaf ya bocah, tapi melihat situasinya, kamu gak bakal bisa sederajat sama cewek ini. Sayang sekali, hiisshh! Padahal cakepnya bukan main!”

    Shira tak menghiraukan suara Arwah Baik Hati. Ia hanya melihat ke arah layar status itu, kemudian menoleh ke arah Bhela Malikh. Dan ia mendapati gadis itu sedang menatap ke arahnya.

    Mereka berdua saling menatap mata masing-masing untuk beberapa saat.

    “Jangan mengejarku,” begitulah pesan yang Shira dapat ketika melihat pancaran di mata Bhela.

    Lalu suara arogan Tarin Malikh terdengar dan membangunkan mereka.

    “Lihat kan? Hmm? Sekarang mau bilang apa? Kok pada diem? Hmmm? Gak pada bacot lagi?”

    “Kek Tarin, tidakkah ini cukup? Sepertinya Anda terlalu berlebihan memamerkan kekuatan Adik Bhela,” kata Tuan Muda Blackwood dengan wajah tertekuk.

    “Saya minta maaf, Tuan Muda. Tapi kalau gak begini, Yashura sialan itu gak bakal berhenti berkoar dan merendahkan status keluarga Malikh dan juga Tuan Muda!”

    Tuan Muda Blackwood pun geram ketika dikatai Mila tadi. Jika Tarin bersikap arogan memamerkan Bhela di depan ratusan penonton, maka biasanya Tuan Muda Blackwood lebih arogan lagi. Ia adalah tipe yang menghambur-hamburkan uang hanya untuk membuat orang lain tahu bahwa dompetnya masih lebih tebal lagi. Tapi khusus hari ini, ia jelas terlihat tak puas melihat sikap semberono Dewan Besar Keluarga Malikh ini.

    “Haha, empat elemental affinity, bagus... bagus...” Baront Staterwind berkata pada dirinya sendiri sambil mengelus-elus dagunya dan melihat ke arah Bhela Malikh. “Pantesan Kepala Sekolah menyuruhku datang kemari untuk melihat-lihat. Ternyata dapet koin emas di pinggir jalan. Jadi tentang pertunangan ini, sepertinya Blackwood sudah gak sabaran buat nikung cewek yang namanya Bhela ini.”

    Kemudian ia melihat ke arah Shira yang harusnya menjadi tunangan gadis yang menggairahkan suasana ini. Ia terkejut dalam hati melihat pemuda itu masih tenang tak terpengaruh oleh suasana. Lalu ia memperhatikan Shira beberapa saat, dan ia pun tersenyum puas.

    “Sebenarnya anak yang namanya Shira ini gak buruk juga,” katanya dalam hati sambil melihat status Shira. “Masih level 3 tapi dapet elemental affinity. Yap, dia bakalan dapet kelas unik nantinya. Terus ngeliat dodgenya, aku yakin dia punya skill pasif yang ngebuat status dodgenya jadi aneh. Tapi aku gak pernah liat skill pasif dari water elemental affinity yang bisa mempengaruhi atribut dodge.”

    Ia melihat ke arah Shira lagi dengan lebih teliti.

    “Sepertinya, di belakang anak ini ada seorang guru yang berpengalaman. Yang jelas bukan dari Yashura, aku tau Yashura gak bakal bisa dapet skill pasif aneh seperti ini. Barangkali si guru itu tertarik gara-gara ngeliat potensi anak ini? Aku sudah bertahun-tahun menjadi instruktur jadi aku tau ngeliat dari tempramen dan atribut anak ini, bisa dibilang dia jenius yang sebenarnya. Peforma di lapangannya bakal meroket tapi sayang dia gak diberkahi dan levelnya masih macet di level 3. Hmmm, tapi bagaimana pun juga kalau dibandingkan dengan cewek Malikh ini...”

    Ia terdiam beberapa saat.

    “Kalau si Shira gak pantes sama yang namanya Bhela ini, maka gak ada yang lebih pantes lagi. Blackwood, oh, Blackwood. Hanya karena kalian yang pertama kali mencium wangi bunga, bukan berarti kalian yang punya kebun ini. Aku ingin melihat bagaimana kalian merebut cewek ini. Tunggu sampai Jhuro datang ke kebun kalian, hehe. Atau bahkan keluarga lain yang dengar kabar ini. Mencuri cewek dengan kelas terunik generasi ini gak segampang itu, loh.”

    ***
     
    Last edited: Nov 30, 2016
    • Like Like x 1
  13. Offline

    noprirf Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,250
    Trophy Points:
    87
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +416 / -0
    Wogh gak nyangka ama jalan ceritannya. Dari perjodohan shira ama tunangannya berasa mereka jauh banget. Menarik aja bacanya. [/spoler]
     
    • Like Like x 1
  14. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0
    wogh makasi udah komen om :xiexie:

    ditunggu kelanjutannya om, update senin sama kamis malem, saya usahain biar ceritanya gak hambar nih :ngacir:
     
  15. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0

    CHAPTER 3 – GUNUNG, LAUT, DAN LANGIT MENUNGGU

    Siang itu sangat cerah di kediaman Blackwood. Gerbang besar setinggi sepuluh meter yang biasanya tertutup rapat khusus hari ini lebar terbuka menyambut para tamu yang datang.

    Mereka adalah tamu dari keluarga bangsawan yang memiliki derajat yang sama dengan keluarga Blackwood. Ada pula keluarga yang memiliki darah keturunan kerajaan datang dengan kereta besar yang ditarik dengan empat kuda. Dua belas Knight berbaju zirah perak mendampingi kereta itu yang memiliki level rata-rata di atas 35. Untuk memiliki dua belas pengawal dengan level setinggi itu, menjelaskan kekuatan mereka tak bisa dipandang sebelah mata.

    Hari ini adalah ulang tahun ke empat belas Lyla Blackwood. Gadis cantik yang mencuri hati banyak pemuda keluarga bangsawan lain. Laki-laki berusia tujuh belas sampai dua puluhan bergantian menaruh kado ulang tahun untuk gadis pujaan mereka itu, mencoba untuk memamerkan seberapa berharga dan sulit dicarinya kado yang mereka berikan.

    Mereka selalu mencoba memulai percakapan dengan senyum besar di wajah mereka. Tapi gadis itu selalu menghindari kontak mata. Entah bertemu dengan pemuda yang tak segan menyembunyikan sorotan mata penuh nafsu atau pun dengan yang bersikap baik dan sopan, Lyla selalu mencari cara untuk menghindari mereka. Berhadapan dengan para pemuda kaya yang ingin mendekatinya seperti ini, yang ia harapkan hanyalah bersembunyi dalam kamar seorang diri.

    Berbeda dengan kepribadian kakak laki-laki dan dua kakak perempuannya, Lyla adalah pribadi yang pemalu dan introvert.

    “Bibi Jiji, dimana Kak Bhela? Dia sudah janji menemaniku hari ini. Tapi aku gak melihat wajahnya,” tanya Lyla kepada seorang pelayan tua.

    “Nyonya Muda, tamu dari keluarga Malikh sudah datang, tapi Tuan Besar tak mengizinkan mereka berbaur dengan tamu. Mohon Nyonya Muda bisa bersabar.”

    Lyla terlihat sangat kecewa sekali. Di dalam hatinya, ia hanya memiliki satu orang saja yang ia anggap sebagai teman dekat. Ia adalah seorang gadis yang muncul dari desa tingkat ketiga beberapa tahun yang lalu, Bhela Malikh.

    Gadis desa itu terlihat dingin dan arogan. Tapi hanya orang-orang terdekatnya saja yang akan menemukan sisi kehangatannya.

    Sejak awal Lyla sebagai pribadi yang polos dan murni bertemu dengan Bhela, ia merasa sangat nyaman. Begitu juga dengan Bhela. Sekarang ia sudah menganggap Lyla sebagai adik kandungnya sendiri. Setiap kali Dewan Keluarga Malikh membawanya ke kediaman Blackwood untuk berkunjung, ia selalu menghabiskan waktu bersama dengan Lyla. Orang lain di keluarga Blackwood hanyalah orang asing baginya. Bahkan pemuda yang menggandeng tangannya satu setengah bulan yang lalu di depan kediaman keluarga Yashura, ia hanya tahu bahwa pemuda itu adalah anak ketiga dari keluarga utama Blacwood dan kakak dari Lyla. Seorang pemuda arogan, manja, selalu mengandalkan kekuatan keluarganya untuk mendapatkan yang ia inginkan, seorang pemuda bernama Frane Blackwood.

    Dan sekarang Bhela, yang awalnya berniat untuk berada di samping Lyla selama acara ulang tahunnya, malah dikurung di sebuah ruangan bersama dengan dua kakek Dewan Keluarga Malikh yang mendampinginya.

    Hal itu membuat Lyla kesal sekali. Setelah acara ulang tahunnya ini, ia bertekad untuk protes kepada ayahnya lalu tak akan berbicara dengannya lagi selama satu bulan.

    “Apa gara-gara kejadian pas di keluarga Yashura waktu itu?” Lyla mengerutkan senyum masamnya sambil mengingat satu setengah bulan yang lalu. Satu-satunya kakak laki-lakinya, Frane Blackwood, pulang dengan wajah kesal. Malam itu Frane menceritakan kepada ayahnya kalau seorang Dewan Besar Keluarga Malikh menyuruh Bhela untuk memamerkan kelas uniknya di depan umum, dan itu memicu amarah ayahnya.

    Frane awalnya mengira Dewan Besar itu sudah mendapat ijin dari ayahnya, dan pada saat itu ia tak melakukan apa-apa. Awalnya ia hanya ingin memprovokasi Shira untuk berduel dan mengalahkannya, menyatakan di depan umum bahwa ia ‘lebih’ pantas bersanding dengan Bhela Malikh.

    Bahkan itu adalah sandiwara, Frane tak berani terlalu banyak membuat kegaduhan. Yang Blackwood butuhkan hanyalah memberikan alasan untuk para Dewan Keluarga Malikh yang masih netral untuk menekan kepala keluarga mereka dan membubarkan pertunangan. Tapi tak ia sangka di depan keluarga ningrat yang memiliki hubungan dengan bangsawan kerajaan para rakyat jelata seperti Yashura itu berani arogan mencaci makinya.

    Kemudian ia pun kehabisan akal untuk memancing orang-orang bermulut binatang itu. Sebelum ia pergi ke sana, ayahnya sudah berpesan untuk tidak sama sekali memancing perhatian yang berlebihan, terutama tentang Bhela.

    Tetapi seorang kakek tolol maju dan membeberkan semuanya seperti ember bocor. Sekarang hampir semua orang tahu bahwa ada seorang gadis muncul dengan kelas unik dengan empat elemental affinity.

    Hampir separuh fraksi yang memegang kekuasaan di benua Tiramikal mencari tahu tentang gadis bernama Bhela Malikh ini. Tuan Besar Blackwood dibuat pusing karenanya. Kalau saja bukan karena ia sudah menanam pengaruhnya di antara Dewan Keluarga Malikh beberapa tahun belakangan ini, sudah pasti Bhela diserobot oleh keluarga yang lebih kuat dari Blackwood.

    Itulah mengapa Bhela disembunyikan oleh Tuan Besar Blackwood sekarang.

    Dan akhirnya, Frane sendiri yang kena batunya. Sampai sekarang ia dikurung di dalam rumah untuk melakukan latihan serius yang didampingi instruktur yang didatangkan langsung dari kamp militer yang khusus menangani bibit Knight berbakat.

    Ayahnya bilang ia harus prima untuk tampil di duel melawan Shira setengah bulan yang akan datang. Karena ia merasa situasi ini tak sesederhana seperti sebelumnya.

    Benar saja, saat Bhela selesai memamerkan skill set kelas uniknya waktu itu, Shira berbicara keras untuk pertama kalinya di depan umum. Ia menerima duel Blackwood, tetapi berhubung karena dia masih level 3, ia meminta waktu dua bulan untuk bersiap-siap. Waktu itu banyak penonton dan penduduk Desa Badril yang berpendapat Shira terpaksa menerima duel itu agar keluarganya tidak menanggung malu berlebihan. Juga dengan sia-sia ingin membuktikan dirinya layak untuk gadis dengan kelas terunik generasi ini. Bahkan dengan persiapan waktu dua atau dua puluh tahun pun, sampah seperti Shira ini tak akan bisa mendapatkan kualifikasi untuk menjadi tunangan Bhela lagi.

    Tapi mereka tak tahu, dalam waktu satu setengah bulan ini, hampir tak ada yang melihat sosok Shira di kediaman Yashura.

    ***

    Sejak subuh sekali pemuda berusia lima belas tahun itu keluar saat udara benar-benar lembap dan dingin sekali. Di belakangnya, ada arwah yang mengambang mengikuti.

    Waktu seperti itu sangat efektif untuk melatih fisik dan membentuk bulatan mana petarung dengan water elemental affinity. Bersama dengan Arwah Baik Hati, Shira pergi ke sungai untuk melatih gerakan kakinya di aliran air sungai yang dangkal dengan pijakan berbatu kerikil.

    Yang hanya ia lakukan hanyalah melatih kuda-kuda saja sambil latihan pernapasan sambil berdiri di atas air mengalir. Sebuah latihan untuk orang awam, begitulah kelihatannya jika yang melihat tak tahu dengan nama skill pasif ‘Water Flowing Style’.

    Hampir semua orang tak tahu, pemanasan untuk melatih ‘Water Flowing Style’ adalah untuk memadatkan bulatan mana di dalam tubuhnya dengan energi yang disebut Yin dalam filosofi Taoisme. Untuk menyerap energi Yin cukup hanya dengan melakukan latihan pernapasan, namun besar-kecilnya energi yang diserap tergantung dari gerakan untuk mencerna energi tersebut di dalam tubuh. Ada beberapa gerakan khusus yang sangat efektif untuk mencerna energi Yin ini, dan latihan ‘Water Flowing Style’ adalah salah satunya yang tak banyak diketahui orang.

    Di wilayah Desa Badril ini, energi Yin terpadat muncul di daerah sungai yang hampir kering dan hanya pada saat matahari belum terbit saja.

    Arwah Baik Hati menjelaskan energi Yin ini dengan “energi kung fu” dan sangat cocok untuk melatih skill-skill “silat” miliknya, termasuk ‘Water Flowing Style’. Energi Yin, jika dileburkan menjadi energi murni untuk membentuk energi mana, maka akan menciptakan energi berafinitas air. Jika ada petarung yang menyerap energi Yin ini namun memiliki elemental affinity dalam bentuk fire, lightning, atau pun wind, maka energi murni tersebut kehilangan separuh dari kekuatan aslinya karena si petarung tak bisa menyerap energi air tersebut. Hanya petarung dengan water elemental affinity yang diuntungkan oleh energi Yin seperti ini.

    Dan oleh karena itu, menurut hukum alam yang berlaku, jika seorang tanpa elemental affinity menyerap energi Yin yang cukup banyak, maka secara tidak langsung orang itu akan membentuk water elemental affinity dalam tubuhnya.

    Ini adalah kejadian yang sangat langka. Karena tak banyak yang mampu menyerap dan mencerna energi Yin seperti yang dilakukan Shira.

    Hal ini membuat salah paham orang yang melihat statusnya. Mengira elemental affinity yang muncul sebagai pertanda untuk terbukanya akses ke kelas unik.

    Arwah Baik Hati tahu tentang hal ini, walau tak mengerti secara teknis tentang energi Yin dan hukum alam lainnya. Dari pengalamannya, ia tahu ‘Water Flowing Style’ sangat berhubungan dengan water elemental affinity. Dan dari pemahamannya tersebut jika seseorang melakukan latihan ‘Water Flowing Style’ sebelum ia membentuk elemental affinity, seperti Shira, maka ada kesempatan untuk melatih skill ini ke tingkat tinggi sampai menjadi bentuk skill yang sesungguhnya. Tentu saja bentuk skill asli ini adalah ‘Liquid Dragon Flowing Style’, salah satu skill legendaris yang hanya ia dengar dalam dongeng dan buku cerita saja.

    Kuda-kuda yang Shira latih berbeda dengan kuda-kuda khas Yashura yang stabil, padat, dan kuat. Gerakannya terlihat malas dan pijakan kakinya terlihat tak bisa mencengkeram tanah, setiap saat bisa saja terpeleset dan jatuh begitu saja. Tapi ia masih berdiri dengan kuda-kudanya yang canggung sambil melakukan latihan pernapasan.

    Jika diperhatikan baik-baik, setiap gerakan yang terlihat sembrono dan malas ini sebenarnya sangat licin sekali. Setiap ayunan dan entakkan mengeluarkan hawa yang lemah sampai-sampai tak dihiraukan oleh angin. Lama kelamaan, gerakan tersebut membaur dengan alam. Hampir tak membuat riak sama sekali di air sungai dan hampir tak menggesek udara dingin subuh itu. Shira yang sedang melatih skill pasif ‘Water Flowing Style’-nya perlahan-lahan bergerak seperti hantu.

    Setiap kali ia melakukan gerakan kuda-kuda ini, sedikit sekali energi Yin yang bocor setelah dicerna.

    Arwah Baik Hati sangat terkejut ketika melihat hal ini, karena ketika ia melatih skill ini dulu saat ia hidup gerakannya tak seefektif gerakan Shira. Hal itu membuatnya iri, sekaligus gembira. Karena sejak awal ia sudah berencana untuk mengambil alih tubuh Shira setelah ia berkembang nanti.

    “Mana sphere dalam tubuhnya sudah padat betul dilapisi oleh energi kung fu. Mungkin dalam sepuluh hari ‘Water Flowing Style’-nya bakal naik ke level 3,” saat Arwah Baik Hati berpikir demikian, ia hanya tersenyum aneh. “Jadi kemarin-kemarin pas dia level up skillnya dalam waktu satu tahun... dia masih belum serius.”

    Perasaan Arwah Baik Hati tentang Shira mendapatkan ‘Liquid Dragon Flowing Style’ semakin lama semakin menguat. Sampai-sampai sekarang ia yakin kalau anak muda lima belas tahun ini adalah reinkarnasi dari seorang petarung ahli yang telah menguasai skill legendaris itu di kehidupan sebelumnya.

    “Anak ini semakin lama semakin menggila! Beruntung levelnya nyangkut. Kalau levelnya juga ikut ngebut berkembang bisa-bisa nanti aku yang kesusahan merasukinya...”

    ***

    Setelah matahari terbit dan energi Yin mulai berkurang, Shira pindah ke arah bukit tempat biasanya ia menyendiri. Ia memilih pohon yang rindang dengan tanah yang kering, duduk bersila di sana, dan mulai menutup mata untuk bermeditasi. Ia selalu melakukan hal ini setiap hari sampai matahari terbenam. Mencoba mencari petunjuk untuk memahami lebih lanjut ‘Water Flowing Style’-nya dalam kondisi meditasi.

    Saat ia menutup matanya, perlahan-lahan ia mendengar lagi suara orang tua misterius yang ada di kepalanya.

    Kali ini orang tua itu hanya tertawa terbahak-bahak. Seperti tak memiliki beban duniawi, orang tua itu melepas tawa bahagia selama dua jam penuh. Kemudian ia terdiam, mulai berbicara hal tak masuk akal dan tak bermakna seperti merapal mantra tapi Shira tahu itu bukanlah mantra betulan.

    “Saat kabut ungu turun untuk membawa karma, dia akan diberi pilihan. Hidup dalam dunia buatannya, atau mengubah nasib dunia ini dengan tangannya... BUNUH! BUNUH! BUNUH! Hanya dengan membunuh dan menguatkan hati guna menerima fakta bahwa ia akan mewarisi hukum karma dunia ia akan tumbuh! Hanya itu caranya ia bisa melewati ujiannya! BUNUH! BUNUH! BUNUH! Hahahahaha! Dunia ini tak membutuhkan seorang kaisar pengecut yang tak berani membunuh! BUNUH MEREKA YANG MEMBUATMU MARAH! LEPASKAN AMARAHMU! LUAPKAN MURKAMU! BUNUH! BUNUH! BUNUH! HAHAHAHA!!!”

    Perasaan tak nyaman membuat bulu kuduknya merinding ketika mendengar suara itu. Shira tetap berusaha menjaga kondisi meditasinya. Ia membiarkan jiwanya tetap tenang dan membuang pikiran yang mengganggu. Lalu pelan-pelan ia mencerna ucapan orang tua itu lagi.

    Dari luar terlihat Shira mengerutkan wajah, keringat bercucuran di keningnya. Ia bermeditasi dan menyelam dalam alam bawah sadarnya terlalu dalam, sehingga emosinya mulai terpengaruh oleh ucapan orang tua itu.

    Jiwanya mulai goyah serta tak mampu lagi menjaga pikiran jernihnya selama meditasi tersebut.

    Ia mulai mengingat mereka yang membuatnya marah. Orang-orang yang mengejeknya, walau selalu mengganggunya namun tak ada dari mereka yang sampai membuatnya murka. Kemudian dalam pikirannya ia melihat wajah arogan pemuda dari Blackwood. Dan ia melihat wajah malu pamannya dan amarah kakak sepupunya. Kejadian waktu itu satu-satunya yang membuatnya marah bukan main. Perlahan-lahan, saat orang tua itu menggemakan kata “bunuh”, ia merasakan hawa membunuh muncul merasuki dadanya dan terasa menyesakkan. Tak lama kemudian, nafsunya untuk membantai dan menghapus keberadaan Blackwood dari tanah bumi ini semakin menguat... dan ketika hawa membunuh itu mencapai puncaknya, di dalam alam bawah sadarnya tiba-tiba ia berdiri di depan gerbang dan kabut tipis berwarna ungu melapisi gerbang tersebut.

    Entah mengapa, ia merasa di balik gerbang tersebut bersembunyi kekuatan besar yang menunggu hanya untuk diperoleh oleh dirinya seorang.

    Kekuatan untuk membantai semua anggota keluarga Blackwood!

    Ia berjalan mendekati gerbang tersebut, nafsunya untuk menjadi kuat memberinya alasan untuk membuka gerbang tersebut. Walau pun ia tahu jika ia membuka gerbang tersebut maka jalan hidupnya akan menjadi jalan berdarah yang akan menjadikan musuhnya sebagai pengorbanan untuk kekuatan itu, ia tak ragu untuk melangkah.

    Tapi kemudian ia mengingat senyum di wajah kakak sepupunya. Kemudian ia mengingat juga ayahnya yang melihat ke arahnya dengan mata penuh harap. Ia mengingat pamannya yang tertawa puas ketika mendapati ia akan menjadi kelas unik beberapa waktu lalu. Ia mengingat wajah orang-orang di keluarga Yashura yang bersikap baik kepadanya.

    Dan saat itulah ia mulai menghentikan langkahnya. Ada keraguan mengganjal di hatinya, dan hawa membunuh perlahan-lahan memudar dari dadanya.

    “Ini salah. Mereka memang ingin melihatku menjadi kuat tapi mereka tak ingin melihatku menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang tak menghargai nyawa manusia! Jika itu terjadi, Kak Mila bakal memarahiku habis-habisan. Dan yang lainnya bakal menjauh karena takut. Aku tak membutuhkan hidup seperti itu.”

    Di saat ia menolak hawa membunuh itu, kesadarannya tertarik keluar dari alam bawah sadar. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk meneguhkan hati untuk tak berbalik dan melihat gerbang berkabut ungu itu lagi.

    “Kenapa?! Kenapa?! KENAPA?!” orang tua itu berteriak di dalam kepalanya selagi ia tertarik keluar alam bawah sadarnya. “Tidakkah ia sadar kalau aku sudah lama menunggu? Tanah dan gunung sudah lama mengering karena menunggu! Danau dan laut menguap karena terlalu lelah menunggu! Juga awan dan langit... mengapa ia terlalu pengecut untuk meraih karmanya sendiri? Tidakkah ia tahu bahwa dunia ini menunggu kebangkitannya? Tidakkah ia tahu bahkan ruang dan waktu sendiri tak berani membelenggu takdir dari seorang yang terpilih? Itu kekuatan dahsyatnya bukan main! Aku menunggu selama puluhan ribu tahun, hanya untuk melihat kalau yang terpilih adalah seorang pengecut! BAH!!!”

    Shira hanya bisa tersenyum pahit. Ia tahu seseorang yang dimaksud oleh orang tua itu adalah dirinya.

    Tapi yang hanya ia inginkan adalah hidup tenang bersama keluarganya. Ia tak ingin menjadi seorang yang terpilih dan memiliki kekuatan yang ditunggu-tunggu oleh langit dan kawan-kawannya. Kekuatan seperti itu adalah tanggung jawab yang terlalu besar baginya.

    Jika ia menerima kekuatan seperti itu, ia tahu hidupnya akan penuh dengan masalah.

    Kemudian, saat ia hampir keluar dari alam bawah sadarnya, muncul sebuah mata raksasa yang melihat ke arahnya dari gerbang tadi. Jantung Shira berhenti berdetak sesaat. Mata raksasa itu sudah berwarna merah darah dan memberikan rasa teror kepada Shira karena menatapnya dalam-dalam. Dari tatapan mata tersebut, ia merasakan ada kekuatan yang melihat ke dalam jiwanya. Sebuah kekuatan yang tak bisa diukur lagi dengan standar kekuatan di dunia jaman sekarang ini.

    Mata itu seolah-olah ingin berbicara kepadanya. Lalu terdengar suara pelan dan penuh keyakinan, serta wibawa yang tak bisa diukur kedalamannya. Pemilik suara itu adalah orang tua yang selalu mengoceh di kepala Shira. Dengan tenang dan tanpa kegilaan seperti sebelumnya ia berkata:

    “Kamu... akan kembali untuk mengambil karmamu! Kamu akan kembali untuk membuka gerbang itu dan mengklaim takdirmu...”

    “Kamu... akan kembali dan bangkit menjadi Spirit Conductor!”

    ***
     
    Last edited: Dec 5, 2016
    • Like Like x 1
  16. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,973
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,945 / -1
    pas baca kelanjutan'e jadi mayan seru juga. kerasa campuran antara novel silat ma ln jepun yg fantasy.

    pace nya cukup oke dan to the point, semangat ya buat chap selanjutnya.
     
    • Like Like x 1
  17. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0
    hehe iya ni lgi ambil inspirasi dari novel silat dan ln

    makasi semangatnya dan karena udah mampir lagi om :xiexie:

    btw update selanjutnya kamis malem, moga-moga mood nulis turun dari langit biar bisa double release :yahoo:
     
    • Like Like x 1
  18. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0

    CHAPTER 4 – CALON MURID KETIGA

    Terlepas dari tatapan menakutkan orang tua itu, Shira membuka matanya dan kembali ke dunia nyata.

    “Woi, woi, ada apa bocah? Kamu keringetan sekali. Habis mimpi ketemu setan atau kenapa?”

    Arwah Baik Hati turun dari udara tepat ke hadapan Shira. Ia merasa aneh melihat wajah Shira setengah pucat dan bajunya sudah basah karena keringat.

    “Gak kenapa-napa. Hari ini kayaknya aku gak dapet pencerahan.”

    “Hmm? Pencerahan yang kamu bilang waktu itu?” Arwah Baik Hati mengingat Shira pernah mengatakan kalau ada suara aneh yang muncul di kepalanya. Dia mengatakan, suara tersebut kadang tak masuk akal, kadang berbicara aneh kepadanya, tapi kadang juga memberikan pencerahan kepada Shira tentang berbagai hal.

    Yang paling penting dari pencerahan itu adalah cara untuk menaikkan level Shira. Tak ada yang tahu kecuali dia, kalau untuk menaikkan levelnya ramuan dan latihan melawan monster atau hewan buas tak berpengaruh sama sekali untuknya. Tapi karena entah mengapa Shira terus menerus merasa membutuhkan ramuan experience. Semakin banyak ia meminumnya, semakin ia merasa haus. Hal itu membuatnya merasa bersalah kepada ayahnya yang selalu mengirimkan ramuan, karena sampai sekarang levelnya tak mengalami kemajuan.

    “Hei, apa perutmu terasa sakit?” tanya Arwah Baik Hati melihat Shira mengelus-elus perut bagian atasnya, di dekat lambung dan di bawah dada.

    Shira mengangguk.

    “Itu berarti mana sphere-mu terlalu cepat berkembang. Dia terkejut makanya sakit. Setiap kali kamu kumpulin energi kung fu, mana sphere-mu bakal jadi padat dilapisi energi air. Harusnya ada jeda setiap kamu latihan biar gak kerasa sakitnya, tapi mengingat kamu harus duel dua minggu lagi... apa boleh buat.”

    “Aku tahu rasa sakitnya kalau mana sphere-ku terkejut oleh latihan skill yang Mas Arwah Baik Hati ajarkan. Tapi kali ini rasanya seperti tertusuk. Barusan juga aku menyelam saat meditasi dan melihat gerbang dengan kabut ungu. Sepertinya itu alam bawah sadar, kayaknya?”

    “Hmph! Bocah, kamu terlalu banyak ngayal. Di alam bawah sadar, mana ada yang namanya gerbang berkabut ungu! Itu pasti kamu mimpi. Kalau perutmu rasanya tertusuk, itu kemungkin tiga hal. Pertama, kamu sedang sakit maag. Kedua, jiwamu terlalu lemah untuk ngedapetin pencerahan yang kamu bilang. Aku tahu dikit tentang pencerahan macem itu, jadi kusarankan kamu hati-hati buat ngedapetinnya. Terutama pas masa-masa kamu sedang remaja ini, jiwa yang belum dewasa terlalu rentan sama tekanan. Tekanan macam apa itu aku gak tau tapi begitu memang yang dibilang sama orang-orang. Yang ketiga... sepertinya kamu gak bakat sama ‘Water Flowing Style’. Kayaknya kamu itu ditendang sama skillnya, hahaha. Harus dicoba lagi itu,” walau arwah itu sedang bercanda, di dalam hatinya ia tak berani melihat kemungkinan ketiga.

    “Sepertinya aku butuh istirahat dua hari,” kata Shira dengan suara lemah. “Kurasa proses ‘Water Flowing Style’-ku sudah sekitar 85%-90% untuk naik ke level 3.”

    “Hehe, silahkan istirahat. Tiga atau empat hari pun masih sempet buat naikinnya sebelum duel nanti.”

    Saat itu juga, sebuah cahaya biru membentuk mata muncul di dekat mereka. Cahaya itu selalu muncul setiap hari semenjak satu setengah bulan yang lalu. Gunanya, memonitor Shira dan melihat-lihat keadaan di sekelilingnya. Sebenarnya Shira tak masalah dengan cahaya itu. Tapi Arwah Baik Hati selalu geram setiap kali melihat cahaya biru tersebut.

    “Kambing! Sudah kubilang jangan melakukan itu lagi! Apa kamu sudah tuli, heh?!” seru Arwah Baik Hati ke arah cahaya biru berbentuk mata itu. “Kuhitung sampai tiga. Kalau kamu gak tutup mata itu sampai hitungan ketiga, aku bakal ngebut dateng ke sana buat potong lehermu!”

    “Satu!”

    Mendengar Arwah Baik Hati mengucap kata “satu”, cahaya itu gemetar. Tak sempat arwah itu mengucap hitungan kedua mata itu sudah tercerai-berai cahayanya dan menghilang tertelan udara.

    “Hmph! Dasar kambing! Niat bener curi Shira dari bawah hidungku!”

    Mendengar omelan Arwah Baik Hati, Shira hanya bisa mendesah dan menggeleng-geleng kepalanya. Semenjak orang yang memanggil cahaya biru itu muncul satu setengah bulan yang lalu, emosi arwah tersebut selalu labil setiap saat.

    Shira merasa hari-harinya terasa berbeda semenjak kunjungan Malikh waktu itu.

    ***

    Baront Staterwind adalah seorang instruktur dari sekolah ternama di desa tingkat kedua. Sekolah itu bernama Blue Diamond. Walau Blue Diamond bukanlah sekolah ternama dan terkuat di benua Tiramikal, tak ada yang berani macam-macam dengan mereka. Sebenarnya tak ada yang takut kepada para ahli dan petarung dari Blue Diamond. Yang mereka takutkan adalah kekuatan yang melindungi sekolah itu dari belakang.

    Blue Robe Acolyte Society sudah berdiri selama lima ribu tahun, namun sejarahnya sudah ada semenjak puluhan ribu tahun yang lalu. Fraksi ini adalah salah satu fraksi kuno yang memegang kekuatan di salah satu desa tingkat satu, sudah lama menjadi salah satu fraksi terkuat yang bisa disandingkan dengan kekuatan Eastern Tiramikal Kingdom.

    Sekitar lima ratus tahun yang lalu, salah satu sepuh di Blue Robe Acolyte Society jatuh sakit dan kehilangan posisinya dalam fraksi tersebut. Namun bukan berarti ia kehilangan koneksi. Walau sudah tak lagi mampu menjadi anggota Blue Robe Acolyte Society, ia masih berteman baik dengan para sepuh yang lain dan kepala fraksi.

    Tiga tahun setelah ia sembuh, ia memutuskan untuk membangun sebuah sekolah di salah satu desa tingkat kedua dan keputusannya pun didukung oleh teman-temannya di Blue Robe Acolyte Society.

    Ia memberi nama sekolahnya Blue Shining Diamond, lalu mengubahnya menjadi Blue Diamond School, dan akhirnya menjadi Blue Diamond saja.

    Hubungan Blue Diamond dengan Blue Robe Acolyte Society masih erat sampai sekarang. Itulah mengapa Blue Diamond, sebagai sekolah yang baru berdiri selama lima ratus tahun, sudah disegani di Eastern Tiramikal Kingdom. Bahkan di seantero Benua Tiramikal. Bukan hanya karena pertemanan antara pendiri sekolah dan petinggi fraksi itu, tetapi karena sekarang Blue Diamond dijadikan tempat untuk merekrut anggota untuk Blue Robe Acolyte Society.

    Selama dua ratus tahun ini, banyak sekali murid dari kelas petarung dan para ahli yang bertalenta, tapi tak semua dari mereka memiliki kualifikasi utama untuk mendaftar di Blue Robe Acolyte Society.

    Itu karena syarat pertama Blue Robe Acolyte Society, adalah si pendaftar harus bisa melihat dan berkomunikasi dengan arwah.

    Lalu, tolak ukur untuk menunjukkan seseorang sebagai jenius di Blue Robe Acolyte Society bukanlah memiliki talenta level tinggi dan kelas unik, melainkan dapat berkomunikasi baik dan mampu menjalin hubungan erat dengan arwah.

    Baront Staterwind adalah salah satu lulusan Blue Diamond dan semenjak ia keluar sekolah untuk mencari pengalaman, ia sudah menarik perhatian para sepuh di Blue Robe Acolyte Society. Itu karena ia berteman dengan seorang arwah pendekar pedang yang mati tiga ratus tahun yang lalu. Setelah ia masuk Blue Robe Acolyte Society, ia menjalin kontrak dengan arwah itu dan menjadi pelayan si arwah. Dengan demikian, ia dan arwah itu pun sudah menjadi bagian Blue Robe Acolyte Society dan dalam beberapa tahun namanya sudah menjadi tersebar luas di kerajaan ini.

    Tetapi sayang setelah lima belas tahun berjaya, arwahnya mengalami kecelakaan ketika menjelajah reruntuhan dan melemah.

    Akhirnya Baront Staterwind pun memiliki nasib seperti pendiri Blue Diamond, ia tak mampu lagi bertahan di Blue Robe Acolyte Society dan memilih keluar untuk menjadi instruktur di sekolah lamanya.

    Karena reputasi lamanya dan selama sepuluh tahun ini selalu menghasilkan murid terbaik, Baront Staterwind selalu dihormati oleh orang-orang. Bahkan keluarga bangsawan yang memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan seperti Blackwood pun masih merunduk hormat kepadanya. Tak ada yang berani macam-macam dengan tokoh seperti ini kecuali mereka benar-benar sudah kehilangan akal oleh nafsu mereka atau otak mereka sudah dikutuk menjadi bodoh.

    ***

    Baront Staterwind awalnya hanya tertarik melihat temperamen Shira yang tenang dan statusnya yang aneh. Jadi setelah kunjungan Malikh waktu itu, ia mencari alasan untuk menginap selama tiga hari di kediaman Yashura. Rencana Staterwind waktu itu hanya untuk memperhatikan Shira dari dekat karena ia penasaran semata.

    Tetapi sesuai berjalannya waktu, ia menyadari dua hal yang membuatnya takut dan tak berani sembrono selama tinggal di sini. Dan dua hal itu membuat rasa penasarannya tambah kuat dan sampai sekarang ia tak pernah menganjakkan kaki dari kediaman Yashura.

    Salah satu dari dua hal itu, ia menyadari ada arwah super kuat yang mengikuti Shira setiap saat. Bahkan arwah pendekar pedang yang menjalin kontrak dengannya selalu gemetaran ketika dipelototi oleh arwah tersebut. Arwah itu selalu santai dan hampir setiap saat bercanda ketika berada di dekat Shira.

    Lalu setelah Baront Staterwind mendapati guru misterius yang mengajarkan skill pasif dari water elemental affinity yang menambah dodge Shira adalah arwah itu. Rasa hormat dan takutnya kepada Keluarga Yashura semakin menjadi-jadi.

    Baront Staterwind yang selalu merasa santai dan dihormati oleh keluarga-keluarga bangsawan ini merasa lebih kecil daripada debu di depan orang-orang Yashura. Terutama Shira.

    Kali ini, wajah Baront Staterwind memucat. Ia sudah janji kepada kedua muridnya yang baru datang hari ini untuk mempertemukan mereka dengan calon adik seperguruan mereka. Tapi yang ia lakukan hanyalah menarik skill komunikasi jarak jauhnya, bola mata bercahaya biru, sebelum ia sempat meminta Shira untuk bertemu dengan kedua muridnya.

    Semenjak bulan lalu Baront Staterwind sudah bertekad untuk menjadikan Shira Yashura sebagai murid kehormatannya. Ia harus mendapatkan pemuda itu bagaimana pun caranya. Seseorang yang mampu menarik perhatian arwah kuat adalah aset berharga bagi Blue Robe Acolyte Society. Dan ia berniat melatihnya secara pribadi untuk mengirim Shira ke fraksi tersebut. Tapi Arwah Baik Hati yang selalu di dekat Shira selalu membuat Staterwind ketakutan. Jadi ia hanya memberitahukan niatnya kepada dua orang murid pribadinya.

    “Jerrin, Merly, sepertinya Adik Shira sedang tak bisa diganggu sekarang. Mungkin dia akan kembali sore nanti. Jadi apa boleh buat, kita harus menunggu sampai dia kembali.”

    Jerrin Yurin, seorang laki-laki di usia hampir tiga puluhan, hanya mengangguk. Ia adalah murid pribadi Baront Staterwind dan lulusan terbaik tiga tahun yang lalu. Ia sudah dipastikan akan masuk Blue Robe Acolyte Society namun belum menemukan arwah yang cocok untuknya. Memiliki pengalaman tiga tahun di luar sekolah membuatnya lebih dewasa dari sebelumnya. Jadi ia tak mempertanyakan ucapan gurunya sama sekali.

    Tapi berbeda dengan gadis tujuh belasan di sebelahnya.

    “Guru, mengapa harus kita yang menunggunya? Kalau dia niat menjadi murid guru, seharusnya dia lebih tahu posisinya. Tapi dia berani membuat guru menunggu. Hmph, kukira sudah datang ke keluarga kecil seperti ini sudah sial bagiku. Lebih-lebih harus bertemu dengan murid sialan lagi, hari ini aku sial betul!”

    “Merly!” Bentak Staterwind. “Kamu boleh komplain sesukamu di depan guru, tapi ingat, di depan Keluarga Yashura kamu gak boleh gak sopan! Sekali saja mereka mendengar lidahmu itu berkata kasar, gurumu ini secara pribadi bakal menghukummu!”

    Merly Yurin hanya mendengus tak puas. Ia adalah anak bungsu dari salah satu keluarga kecil di Keluarga Yurin. Sepupu dari Jerrin. Tubuhnya kecil untuk gadis usia tujuh belas tahun tapi kulit dan wajahnya putih cantik seperti boneka. Selain memiliki kecantikan yang tak kalah bila dibandingkan dengan Bhela Malikh, ia juga memiliki bakat di usianya yang muda yang membuat Staterwind tertarik untuk menjadikannya murid kedua. Ia adalah kebanggaan Keluarga Yurin.

    Keluarga Yurin adalah salah satu keluarga ternama di salah satu desa tingkat kedua. Walau mereka tak memiliki hubungan erat dengan keluarga kerajaan seperti Keluarga Blackwood, tetapi keluarga mereka masih disegani di sini. Banyak Alchemist, Wizard, dan para ahli lainnya yang mengukir nama mereka menjadi ahli di Eastern Tiramikal Kingdom dan sudah lama terkenal di Benua Tiramikal yang berasal dari Keluarga Yurin. Dan juga, akar dari keluarga ini sudah menyebar selama ribuan tahun.

    Sebagai keluarga yang memiliki sejarah panjang, banyak dari anggotanya yang menjadi sepuh di sekolah-sekolah desa tingkat kedua, dan bahkan ada yang memiliki jabatan tinggi di fraksi besar di desa tingkat satu.

    Keluarga Yurin memang belum bisa disebut sebagai powerhouse di kerajaan ini tapi meremehkannya adalah kesalahan yang fatal.

    Staterwind sadar hal itu. Itulah alasan mengapa Merly Yurin sangat kesal harus datang ke desa tingkat ketiga dan harus menginap di keluarga kecil seperti Keluarga Yashura. Ia merasa seperti tuan putri yang harus pindah tinggal ke hutan.

    Tapi Baront Staterwind sudah membulatkan tekadnya untuk menjalin hubungan baik dengan Keluarga Yashura. Ia harus membawa dua murid pribadinya untuk ikut berkunjung jika ingin memberikan kesan tulus ketika merekrut Shira nantinya.

    Keluarga Yashura pun sangat senang menerima tamu seorang ahli sepertinya. Melihat pria itu tertarik dan selalu mengamati Shira membuat anggota keluarga Yashura gembira dan penuh harap bukan main. Terutama Mila dan ayahnya. Dua orang ini adalah yang paling besar menaruh harapan pada Shira, dan dalam hati mereka tahu, alasan Baront Staterwind menginap selama satu bulan lebih ini adalah untuk menjadikan Shira murid.

    Oleh karena itu Shuro Yashura dan kedua Dewan Besar Yashura selalu menyempatkan diri untuk menemani tamunya itu untuk mengobrol serta menjamu mereka dengan makanan dan cemilan mahal.

    Mendapati seorang ahli ternama sangat terbuka dan nampak menghormati mereka, wajah ketiga petinggi Keluarga Yashura itu selalu berseri-seri setiap hari. Mereka sudah lupa tindakan Blackwood dan Keluarga Malikh satu setengah bulan yang lalu yang membuat mereka kehilangan wajah mereka di Desa Badril. Mereka sudah tak peduli lagi tentang itu. Yang ada dalam pikiran mereka adalah bagaimana menjalin hubungan erat dengan Baront Staterwind dan menghindari kesalahan sekecil mungkin yang bisa mengubah pikiran instruktur terkenal dari sekolah Blue Diamond ini.

    Hari ini Keluarga Yashura kedatangan tamu lagi. Dua murid Staterwind, mereka adalah generasi pemuda dari keluarga desa tingkat kedua. Jadi Keluarga Yashura tak berani tak sopan di depan mereka. Jadi Shuro Yashura menyuruh Yulong untuk menyediakan sayuran segar dan daging-daging terbaik, serta koki handal untuk membuat jamuan terbaik siang ini.

    Setelah waktu makan siang tiba, Shuro menyuruh Mila memimpin dua pelayan lain untuk mengantarkan makanan ke ruangan Staterwind.

    “Dengar baik-baik, Mila. Ayah tau kepribadianmu yang asal ceplas-ceplos itu. Tapi khusus hari ini, kamu harus sesopan mungkin di depan tamu kita. Ingat itu baik-baik!”

    Di sebuah ruangan di dekat kebun Yashura, di tempat Staterwind mengobrol dengan dua muridnya, ia juga memperingati muridnya dengan hal yang sama:

    “Dengar baik-baik, Merly. Guru tau kepribadianmu yang selalu manja itu. Tapi khusus hari ini, kamu harus sesopan mungkin di depan Yashura. Ingat itu baik-baik!”

    Dan setelah itu, tiga gadis berbaju merah datang membawa makanan. Paras mereka bukan main. Terutama gadis yang memimpin di depan sambil mengetuk pintu sebelum meminta izin untuk masuk ruangan. Pancaran mata yang selalu arogan dan bibirnya yang pedas sekarang berganti menjadi lembut dan penuh senyum. Bahkan Jerrin yang sudah menemukan pasangannya, masih terdiam takjub melihat paras Mila Yashura. Ia merasa gadis yang paling ia idamkan dalam mimpinya datang tepat di hadapannya.

    “Tuan Staterwind, Tuan Muda dan Nyonya Muda Yurin, jadwal makan siang sudah tiba. Semoga makanan ini sesuai lidah Anda. Silahkan dinikmati.”

    Jerrin yang biasanya sopan dan selalu mengucapkan terima kasih ini tak bisa menggerakkan lidahnya. Matanya tak bisa lepas dari wajah Mila. Gadis itu hanya bisa tersenyum menyadari maksud dari tatapan pria itu.

    “Maaf, Mbak,” Merly yang juga biasanya selalu manja, arogan di depan keluarga kecil ini sedang memasang wajah lembut dan penuh senyum. “Aku selalu mendengar pemuda yang bernama Shira Yashura dari guruku. Apa mbak tau dia sedang apa sekarang?”

    “Oh, Shira? Biasanya jam segini dia sedang main sendiri di bukit, Nyonya Muda.”

    “Jadi begitu ya?” Merly tak bisa menyembunyikan senyumannya yang terpaksa sekarang. Ia sudah kesal betul dalam hati. “Apa bisa Mbak meminta Tuan Muda Shira untuk kembali? Aku ingin sekali bertemu dengannya.”

    Mendengar itu Mila berkedip beberapa kali. Bagaimana mungkin ia tak menyadari gadis ini menyimpan dengki kepada adik sepupunya. Ia pun jika ingin menyembunyikan perasaan tak suka, selalu memasang senyum terpaksa seperti itu.

    “Tentu saja boleh. Aku akan memintanya pulang secara pribadi. Mohon dinikmati makan siangnya sambil menunggu Shira untuk kembali.”

    Merly hanya tersenyum. Jadi gurunya yang mengucapkan terima kasih kepada Mila dan dua pelayan itu. Kemudian ia melototi murid keduanya, tanpa berkata apa-apa. Merly hanya mendengus ambek dan memalingkan wajahnya ke luar ruangan.

    “Aku penasaran dengan yang namanya Shira ini,” kata Merly tak acuh, tak peduli gurunya sedang marah kepadanya. “Apa hebatnya anak dari desa kecil seperti ini? Hmph! Kalau memang dia punya bakat dan bisa membuat kontrak dengan arwah yang lebih kuat dari arwahku, aku bersumpah akan menjadi simpanannya!”

    Setelah berkata demikian gadis itu mengangkatkan kaki keluar ruangan.

    ***
     
    • Like Like x 1
  19. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0

    CHAPTER 5 – MAMA ROSS

    Satu tahun yang lalu, Merly Yurin hanyalah gadis biasa. Di usia ke enam belas ia berhasil menembus level 10 dan lolos tes menjadi kelas Mage. Talenta seperti itu di mata keluarga desa tingkat ketiga adalah kiriman dari surga, tetapi di mata keluarga-keluarga besar di desa tingkat dua, Merly Yurin tak lebih dari salah satu gadis yang berbakat.

    Umumnya, keluarga-keluarga besar memiliki banyak sumber daya untuk merawat generasi muda mereka. Terutama keluarga bangsawan dan keluarga yang memegang banyak kontrak bisnis. Tetapi finansial keluarga Yurin tak begitu melimpah tapi juga tak begitu buruk. Jadi untuk memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki secara efisien, setiap tahun Keluarga Yurin selalu mengadakan turnamen yang bebas diikuti oleh anggota keluarga di bawah dua puluh tahun.

    Biasanya, turnamen itu dibagi menjadi tiga regu sesuai umur. Regu pertama diikuti oleh anggota berusia enam belas tahun ke bawah. Regu kedua untuk yang berumur tujuh belas dan delapan belas. Dan regu terakhir untuk sembilan belas dan dua puluh tahun.

    Dan mereka yang menempati posisi sepuluh besar dari setiap regu di antara ratusan pemuda dan pemudi, berhak mendapatkan akses melimpah untuk sumber daya Keluarga Yurin selama satu tahun. Namun di tahun berikutnya, mereka harus mengikuti turnamen lagi dan mempertahankan posisi mereka jika tak mau kehilangan perlakuan khusus tersebut.

    Merly Yurin sudah tiga kali ikut turnamen semenjak berusia empat belas tahun. Dan hasil yang ia dapatkan selalu tak memuaskan. Terakhir, saat ia berusia enam belas tahun, ia hanya menempatkan posisi ke dua belas. Sedikit lagi untuk mencapai tujuannya.

    Tapi semua berubah ketika ia mendapati dirinya bisa melihat makhluk halus. Kemampuan ini baru muncul setelah ia mendekati hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas.

    Kelihatannya, beberapa anggota berbakat di masa lalu memiliki kemampuan ini dan beberapa dari mereka sudah menjadi anggota sebuah fraksi unggulan di desa tingkat satu, Blue Robe Acolyte Society.

    Mendengar kabar seorang gadis diberkahi kemampuan yang langka, Kepala Keluarga Yurin gembira bukan main. Ia memberikan Merly banyak item magic dan beberapa artifact level menengah untuk melindungi dirinya nanti. Kemudian, secara pribadi, ia mengajak gadis itu untuk memberikan penghormatan dan sesaji kepada arwah yang sudah lebih dari sepuluh ribu tahun mendiami tempat keramat di dekat kediaman Yurin.

    Setelah itu kejadian yang sangat mengejutkan terjadi. Arwah mereka temui, ketika melihat paras mungil dan cantik Merly, tertarik dengan tubuhnya. Arwah itu adalah seorang wanita bergaun putih yang tengah berada di puncak kecantikannya.

    Setelah ia mati, arwahnya berhasil selamat dan lebih dari sepuluh ribu tahun ia menunggu tubuh yang sempurna untuk ia rasuki. Dan ia menemukan Merly Yurin, merasa kecantikan gadis itu tak kalah darinya sewaktu muda dulu, ia pun membulatkan tekadnya.

    Kemudian ia mengatakan kepada Keluarga Yurin, jika keluarga itu bisa menyediakan ramuan yang bisa menghentikan penuaan, maka ia akan bersedia membuat kontrak dengan Merly Yurin. Ia akan menjadikan Merly sebagai pelayannya yang menghubungkannya dengan dunia luar dan meminjamkannya kekuatan selama enam puluh tahun. Setelah enam puluh tahun berlalu, maka tubuh Merly akan menjadi miliknya.

    Keluarga Yurin sudah lama tahu arwah itu dulunya adalah seorang yang sangat kuat. Terutama melihat dari usianya yang lebih dari sepuluh ribu tahun, tawaran kontrak itu sangat menggiurkan. Hal itu membuat para petinggi di Keluarga Yurin terkejut dan gembira bukan kepalang. Mereka langsung mengerahkan hampir semua harta mereka dan menggunakan semua koneksi yang mereka punya untuk memburu ramuan yang arwah itu minta.

    Dan di sisi lain, Merly tak keberatan jika tubuhnya akan dirasuki nantinya. Dibandingkan kekuatan yang akan dipinjamkan oleh arwah itu, enam puluh tahun bukanlah kesepakatan yang buruk. Ia juga tahu para ahli di Blue Robe Acolyte Society yang telah mengukir namanya sebagai ahli selalu membuat kontrak seperti ini dengan arwah yang mereka layani.

    Karena semakin kuat dan semakin lama arwah hidup, semakin mereka merendahkan makhluk hidup. Untuk mendapatkan kontrak dengan arwah kuat yang sudah hidup lebih dari lima ribu tahun konon katanya sangat mustahil, kecuali arwah itu tertarik untuk merasuki tubuh pelayannya dan kembali hidup menjadi manusia biasa.

    Merly adalah salah satunya yang merasa beruntung mendapatkan kesempatan ini. Lalu kemudian Keluarga Yurin mendapati setelah Merly membuat kontrak, sejarah arwah itu tidaklah sederhana. Ia adalah salah satu figur yang menopang kekuatan di benua ini setelah baru berganti nama menjadi Tiramikal tiga belas ribu tahun yang lalu.

    Tak sabar untuk melihat kekuatan aslinya, Keluarga Yurin melakukan latihan bertarung dengan arwah itu.

    Petarung dengan level 20 bukanlah lawannya. Dengan satu kali ayunan sihir dua atau tiga petarung dengan level itu langsung terpental dan tak sadarkan diri. Setelah melawan petarung dengan level 38, arwah itu bisa menang walau harus melewati pertarungan sengit.

    Hal ini membuat Keluarga Yurin terkejut. Bahkan salah satu mantan ahli dari Blue Robe Acolyte Society yang hadir untuk melihat-lihat, juga terkejut.

    Aman untuk diasumsikan, rata-rata kekuatan arwah akan berkurang tiga perempatnya setelah kehilangan tubuh lamanya. Jadi, jika arwah itu memiliki kekuatan setara level 10 ketika baru membuat kontrak, maka kemampuan aslinya sebelum ia mati adalah sekitar di level 40. Jika setara level 20, maka kekuatan aslinya adalah level 80.

    Tapi jika arwah itu bisa menang dari level 38, bisa dibilang kekuatan aslinya kira-kira di level 150an!

    Petarung dan ahli dengan level 100 sudah bisa dibilang puncak dari kekuatan di benua ini. Di benua lain, level 120 sudah sangat diagung-agungkan namanya.

    Jika muncul petarung dengan kekuatan di level 150, maka ia sudah berada di puncak kekuatan dunia!

    Oleh karena itu, keberadaan Merly Yurin dan arwahnya adalah berita yang sangat mengejutkan. Dalam sejarah berdirinya Blue Robe Acolyte Society ke belakang, hanya beberapa ahli yang beruntung membuat kontrak dengan arwah sekuat itu.

    Salah satunya adalah pendiri Blue Robe Acolyte Society dulu. Ia adalah orang yang selamat dari sebuah kult yang dihancurkan oleh gabungan kekuatan fraksi lain. Setelah berhasil membuat kontrak dengan arwahnya, ia berhasil membalas dendam dan membangun kembali puing-puing kult-nya dan kemudian berakhir menjadi perkumpulan yang ia bangun.

    Bisa dibilang sekarang, Merly Yurin memiliki potensi untuk menyamai pendiri Blue Robe Acolyte Society. Kali ini Keluarga Yurin sangat beruntung mendapatkan harta karun di depan beranda rumah mereka. Tak ingin kehilangan kesempatan, mantan ahli dari Blue Robe Acolyte Society tersebut langsung menjadikan Merly sebagai murid pribadinya yang kedua.

    Mantan ahli itu adalah Instruktur Baront Staterwind. Dengan pengalamannya, ia berharap bisa mengajarkan dan membuat Merly memulihkan separuh dari kekuatan arwahnya sebelum ia melepaskan gadis itu ke Blue Robe Acolyte Society.

    Dan mimpinya adalah melihat Merly memulihkan 70%-80% kekuatan arwah itu sebelum ia meninggal. Memiliki murid dengan kekuatan mendewa seperti itu akan membuat hidupnya menjadi sempurna.

    Semenjak itu, Merly Yurin selalu diperlakukan sangat baik oleh keluarganya dan juga gurunya.

    Perubahan takdir untuk seorang gadis biasa menjadi tuan putri ini, membuatnya menjadi semakin dan semakin manja.

    ***

    “Hmph! Kenapa juga aku harus sopan kepada keluarga kecil seperti ini?” Gerutu Merly sembari berjalan seorang diri di koridor berlantai kayu di kediaman Yashura. “Kalau saja guru gak memaksaku datang kemari, aku gak mungkin ada di keluarga kecil sekarang!”

    “Merlyku sayang, jangan mengeluh dulu. Keluarga ini gak seperti kelihatannya. Kalau kamu sedang bosan, kenapa gak kita sedikit berpetualang dan mencari pengalaman saja?” Sebuah suara lembut seorang wanita terdengar di sebelah telinga Merly.

    Gadis itu berkedip-kedip mendengar suara wanita itu. Kemudian ia membalas suara itu hanya dengan mengucapkan kata dalam hatinya.

    “Mama Ross, apa tempat ini ada rahasianya?”

    “Kurang lebih begitu. Mama yakin arwah gurumu juga menyadari rahasia itu.”

    Suara itu terdengar dari udara kosong. Tak ada orang lain di sekitar Merly saat itu. Tapi ketika ia mendengar suara misterius itu, matanya langsung bersinar.

    “Rahasia apa yang Mama maksud?”

    “Coba kembali lewati kebun tadi. Mama merasakan objek yang menampung kekuatan spiritual yang sangat besar.”

    Merly tidak bertanya lagi. Dengan kakinya yang kecil ia berlari-lari menelusuri koridor itu. Tak ada yang menghalanginya. Bangunan tempatnya tinggal di Keluarga Yashura itu adalah bangunan terpencil yang khusus dibangun untuk menerima tamu. Letaknya di pojok selatan tenggara kediaman Yashura. Jadi selain ada keperluan dan ingin bersilaturahmi, jarang sekali tamu akan bertemu dengan anggota Keluarga Yashura.

    “Stop, stop! Lihat ke arah kananmu.”

    Merly berhenti berlari dan melihat ke arah kebun. Ada pohon-pohon yang menghasilkan buah dan bunga serta tanaman herbal untuk bahan-bahan yang dibutuhkan Alchemist tingkat menengah ke bawah.

    Dan di tengah-tengah kebun itu, berdiri sebuah patung singa yang sudah berlumut. Patung itu memiliki taring dan mata yang tajam, memberikan ekspresi buas dan bangga.

    Sekilas, patung tersebut mirip dengan singa di lambang Keluarga Yashura.

    “Patung singa itu... apa ada yang aneh?” Tanya Merly dengan suara berbisik. Entah mengapa berada di dekat patung ini, ia merasa takut dan ingin bersembunyi seperti menghadapi ayahnya yang sedang marah padanya.

    “Mn. Patung ini didiami oleh arwah yang sangat kuat. Tapi Mama merasakan arwah itu bukanlah berasal dari seorang manusia!”

    “Mama, maksudnya?”

    Wanita yang bernama Mama Ross itu tak langsung menjawab. Dari dalam kalung yang terselip di baju Merly, sebuah asap tembus pandang muncul dan membentuk sosok wanita cantik dan lekukan tubuh yang indah.

    Mama Ross adalah arwah yang membuat kontrak dengan Merly beberapa waktu yang lalu.

    “Ada legenda kuno yang mengatakan, seorang pahlawan legendaris bersama tujuh jenderalnya memimpin ratusan juta arwah hewan buas untuk memerangi alam baka melawan para dewa. Mama rasa arwah yang tidur di patung ini adalah salah satunya!”

    “...”

    “Untuk hewan buas bisa menyelamatkan arwahnya sendiri adalah hal yang mustahil. Dan jika memang seseorang ingin menyelamatkan arwah dari seekor hewan buas maka akan membutuhkan kekuatan yang sangat besar untuk melakukannya. Terlebih lagi untuk bisa merawatnya sampai memiliki kepintaran dan menunggu dalam patung seperti ini. Bahkan jika ada yang bisa melakukannya Mama yakin dia gak akan bisa memerintah arwah hewan buas itu untuk duduk diam menunggu sampai berlumut begini, kecuali orang itu pahlawan legendaris yang Mama bilang tadi!

    “Entah keluarga ini punya hubungan dengan pahlawan itu, atau leluhur mereka gak sengaja menemukan patung ini... seharusnya Keluarga Yashura dapat perlindungan dari arwah ini. Itu anehnya. Ada patung dari arwah hewan buas yang tidur di sini, tapi kekuatan keluarga ini hanya sedang-sedang saja. Dilihat dari aura arwahnya, bahkan sewaktu hidup pun Mama gak yakin bisa menang melawan singa ini.”

    Merly tak bisa berkata apa-apa. Ucapan Mama Ross sudah membuat bulu kuduknya merinding.

    “Benar kata gurumu. Sebaiknya selama kamu tinggal di sini, bersikaplah sopan kepada Keluarga Yashura. Jangan cari masalah. Entah ini kediaman keluarga kelas bawah atau sejenisnya, menyinggung keluarga yang menempati tempat peristirahatan arwah seperti ini sama saja mencari jalan menuju tebing berjurang.”

    “Mm.” Merly Yurin mengangguk. Jika gurunya yang menyuruh gadis itu untuk bersikap demikian, ia masih bisa bersikap manja dan bertingkah semaunya. Tapi jika sudah Mama Ross yang berkata, maka ia tak memiliki pilihan lain selain menjadi anak manis di depan Keluarga Yashura.

    Kemudian gadis itu berjalan kembali ke ruangan gurunya. Arwah wanita yang menemaninya tak kembali ke kalung Merly dan mengikuti gadis itu di sampingnya. Hal itu membuat Merly harus mengucapkan kata dengan bibirnya untuk berbicara dengan Mama Ross.

    “Mama Ross, maafkan sikap Merly tadi. Lain kali Merly akan bersikap lebih hati-hati lagi, terutama di depan Shira Yashura.”

    “Hihi, Mama tau kamu cemburu jika gurumu memperlakukan murid yang lain sebaik itu, sampai-sampai memanggil kamu dan kakakmu datang kemari. Arwah yang menemani gurumu juga bilang ke Mamamu ini kalau harus berhati-hati dengan arwah yang tertarik dengan anak yang namanya Shira ini.”

    “Apa itu berarti... arwah itu lebih kuat daripada Mama?”

    Merly merasa takut ketika mengingat sumpahnya untuk menjadi simpanan Shira tadi.

    “Hihi, jangan bercanda lah. Sekuat apa pun arwah itu, mana mungkin bisa menandingi Mama Ross yang sudah hidup lebih dari tiga belas ribu tahun ini?” Wanita itu tersenyum manis kepada Merly, mengerti apa yang membuat gadis ini khawatir. “Tapi Merly sayang, lain kali jangan sekali-sekali bersumpah menjadi simpanan orang lain. Mama ingin kamu mewarisi skill yang bisa memperpanjang umur dan menjaga kecantikan, serta memperkuat roh dan jasmanimu. Skill ini juga sangat dibantu oleh ramuan yang kamu minum waktu itu. Tapi syarat untuk bisa mencapai level tertinggi skill ini adalah kamu tetap menjadi gadis yang masih belum disentuh pria.”

    Mama Ross mengucapkan hal itu dengan nada lembut dan penuh dengan kasih sayang. Semenjak ia bersama dengan gadis ini, ia sudah memperlakukan Merly sebagai anaknya sendiri.

    Jarang sekali ada arwah yang menaruh perasaan pada pelayannya seperti itu. Bahkan, sempat dalam beberapa bulan ini Mama Ross akan membatalkan kontrak tepat sebelum masa enam puluh tahun habis. Dengan demikian membebaskan Merly dan ia tak perlu merasuki tubuhnya.

    Merly pun merasakan kehangatan seorang ibu selama Mama Ross tinggal di tubuhnya. Sekarang ini ia menganggap Mama Ross sebagai ibu angkatnya sendiri.

    Hampir mirip situasinya seperti Shira dan Arwah Baik Hati, Merly pun mempelajari banyak skill khusus dan tuntunan dari Mama Ross. Walau pun pada awalnya arwah wanita itu niatnya untuk mengembangkan tubuh yang ia rasuki seperti niat si Arwah Baik Hati, lambat laun rasa keibuan wanita itu muncul dan hatinya melunak. Hal itu membuat Mama Ross tak tega untuk melakukan hal keji seperti merasuki dan mengambil alih tubuhnya.

    Tapi biarlah itu menjadi perkara untuk nanti. Yang arwah itu inginkan sekarang hanyalah melihat Merly tumbuh menjadi wanita yang bisa membuatnya bangga. Hatinya sudah bergerak dan ia tak memiliki niat egois lagi yang semenjak pertama kali ia melihat Merly. Sekarang ia merasakan, tanpa kontrak pun, ia akan melindungi Merly apa pun risikonya.

    “Mama Ross terlihat masih cantik dan masih muda, tapi mempunyai wibawa seperti sudah hidup ratusan tahun,” Merly dengan tulus memujinya. “Apa Mama Ross sudah menguasai skill itu?”

    Mendengar pertanyaan Merly, ekspresi wajah Mama Ross berubah. Sebenarnya ia enggan menjawab, tapi berhubung hal ini mungkin bisa memberikan peringatan kepada Merly tentang kerasnya dunia, maka dengan berat hati Mama Ross berkata:

    “Merly, kamu sekarang belum dewasa betul tapi Mama ingin kamu mendengar ini. Mama sama sekali gak bisa mencapai level tertinggi dari skill itu. Bahkan, sewaktu Mama seusiamu mama sudah tak mempunyai kesempatan lagi untuk menguasainya.”

    Arwah itu berhenti sesaat, melihat-lihat ke dalam mata Merly apakah gadis itu siap mendengar pengalaman semasa hidupnya.

    “Coba duduk dulu di sini sebentar,” kata Mama Ross sembari mengajak Merly untuk berhenti dan duduk di sebuah tempat mirip beranda. “Dulu, waktu Mama muda, Mama adalah kandidat untuk menjadi murid terbaik di sebuah sekte ternama. Suatu hari, Mama, dua teman sebaya Mama, dan sekitar sembilan kakak angkatan di sekte pergi keluar untuk mencari pengalaman. Kami mengunjungi beberapa kota-kota untuk menemukan tempat yang cocok untuk berpetualang.

    “Di satu kota terpencil, ada seorang pemuda yang usianya lebih tiga tahun lebih tua dari Mama tahu tentang reruntuhan kuburan lama dan bersedia menuntun regu kami menelusuri reruntuhan itu. Mama ingat rupanya seperti petualang biasa dan kami semua mengira dia hanya tahu tentang reruntuhan itu tapi gak berani menjelajahnya. Awalnya, kami membuat kesepakatan dengan pemuda ini untuk membagi hasil jarahan dari reruntuhan itu. Tapi pas ada harta karun betulan yang muncul, kakak angkatan Mama gak bisa menahan kerakusannya dan mencoba membunuh penuntun itu untuk memperbesar bagian mereka.

    “Tapi siapa sangka kalau pemuda itu ternyata sangat kuat! Gerakan pemuda itu sangat aneh dan lincah sekali sampai-sampai senjata gak bisa menyentuhnya sama sekali! Di sisi lain, dia dengan mudah merengut nyawa regu kami satu per satu, sampai saat hanya Mama yang tersisa, dia membiarkan Mama hidup... tapi dengan satu bayaran...”

    Merly terkesiap dan tak bisa menahan jantungnya yang berdebar-debar. Ia masih muda tapi ia bukanlah gadis yang sangat naif, ia mengerti bayaran yang Mama Ross berikan untuk bisa mempertahankan nyawanya waktu itu. Dalam hati ia merasa sedih mendengar Mama Ross memiliki pengalaman yang mengerikan seperti itu.

    “Merlyku sayang, Mama tau kamu gak nyaman mendengar ini. Tapi waktu itu umur Mama juga tujuh belas tahun seperti kamu. Hanya karena kesalahan kakak angkatan, Mama harus kehilangan kesucian Mama yang Mama jaga baik-baik hanya dalam waktu semalam. Oleh karena itu, Mama ingin kamu harus berhati-hati. Walau pun dalam perlindungan Mama, dunia luar itu sangat kejam, apa pun bisa terjadi. Terutama jika kamu pergi keluar untuk mencari pengalaman. Mama hanya minta kamu berhati-hati mencari rekan dan tempat untuk berpetualang. Mama gak ingin kejadian yang Mama rasakan juga menimpamu...”

    “Mm.” Suara Merly lemah. Tangan kecilnya merangkul tubuh arwah itu dan menimbun wajahnya dalam dekapan Mama Ross. Pelan-pelan ia mulai terisak tangis karena merasa sedih mempelajari masa lalu arwah wanita itu.

    “Tapi jangan khawatir. Selama Mamamu ini berada di sampingmu, dia akan berusaha mati-matian untuk menjaga gadisnya yang manis ini. Kalau kamu bisa menguasai skill yang Mama berikan ini, Mama janji akan mencarikanmu suami yang tampan dan sempurna untukmu!”

    Merly mengangguk dalam dekapan Mama Ross. Arwah itu menggunakan kekuatan spiritualnya untuk memadatkan rohnya agar bisa memeluk Merly. Dan ditemani oleh suara air kolam siang itu, ia membelai lembut rambut hitam panjang Merly dengan kasih sayang.

    “Nyonya Muda...”

    Sebuah suara membangunkan mereka dari dunia kecil mereka sendiri. Mama Ross menoleh dan melihat gadis cantik bercelemek yang melihat aneh ke arah Merly. Saat Merly merasakan tatapan aneh Mila Yashura, dengan cepat ia mengusap air mata di pipinya yang mungil.

    “Oh, Mbak yang tadi. Apa aku sudah bisa bertemu dengan Tuan Muda Shira sekarang?”

    Mila yang menyadari mata Merly yang basah dan hanya bisa mengangguk.

    “Kalau begitu tolong antarkan aku,” kata Merly Pelan.

    “Tolong lewat sini.”

    Mila menuntun gadis keluarga kaya itu menelusuri koridor, menjauhi ruangan gurunya tadi. Dengan pelan dan sambil mengambang Mama Ross mengikuti dari belakang.

    ***

    Ketika dipanggil oleh Mila, Shira tak langsung turun dari bukit. Tapi ia meminta waktu dengan membuat alasan untuk bermalas-malasan. Karena itu, Mila yang tengah menuntun Merly sempat mencarinya di perpustakaan tempat ia biasa membaca. Namun tak mendapati batang hidungnya.

    Saat itu Mila tahu kalau Shira masih belum pulang. Anak itu membiarkan gadis bernama Merly ini menunggu di gerbang, membuat Mila malu bukan main.

    “Oh, apa itu yang bernama Shira Yashura?”

    Merly melihat sosok pemuda lima belas tahun yang berjalan dari kejauhan. Ia juga melihat di belakangnya ada sosok transparan yang mengambang mengikuti dari belakang.

    “Apa itu arwahnya?” Merly berbisik dalam hati. “Arwah itu kelihatan biasa saja. Tampangnya pun gak menyeramkan dan dia mengenakan leather armor yang kelihatan biasa sekali. Aku gak mengerti kenapa guru terlihat ketakutan kepadanya.”

    Merly tenggelam dalam pikirannya sambil memandangi Shira yang berjalan perlahan-lahan mendekat. Saat ia sudah di depan Merly dan Mila, ia berhenti. Ia melihat ke arah Merly, kemudian Mama Ross di belakangnya, kemudian menatap Merly lagi tanpa berkata apa-apa.

    “Hmph! Sudah kubilang untuk pulang dari tadi tapi kamu baru muncul sekarang. Awas! Lihat aja nanti!” Gerutu Mila sambil melangkahkan kaki meninggalkan Merly dan Shira berdua saja.

    Merly tak langsung menyapa Shira. Pemuda itu pun tetap diam seperti batu di depannya dengan wajah datar dan ekspresi malas. Ia memperhatikan anak yang lebih muda dua tahun darinya ini, dan Shira terlihat biasa saja...

    “Kamu yang namanya Shira?”

    Shira mengangguk.

    “Apa kamu sudah membuat kontrak dengan arwah ini?” Tanyanya kepada Shira yang terlihat kebingungan.

    “Kontrak?”

    “Sepertinya kamu belum tau apa-apa.”

    Dalam hatinya, Merly merasa pemuda di depannya ini sama sekali tak berbakat walau sudah membuat satu arwah tertarik padanya. Mungkin untuk pelayan arwah biasa dia di atas rata-rata tapi dibandingkan dengannya yang sudah mendapatkan kontrak dan hubungan erat dengan Mama Ross, Shira tak lebih sebagai pemain figuran.

    Ia menoleh lagi ke arah arwah yang mendampingi Shira untuk memeriksanya. Namun pada saat itu juga, perasaan jijik sekaligus murka membara dan meluap-luap di dalam tubuhnya.

    Arwah sialan ini berani menatap Mama Ross dengan mata dan senyuman penuh nafsu! Matanya memeriksa setiap lekukan Mama Ross dengan mata seperti serigala yang siap menerkam, dari bawah ke atas, dan kembali lagi ke bawah, tak menyembunyikan niatnya untuk menerawang apa yang ada di balik gaun yang dikenakan Mama Ross.

    “Kurang ajar!!!” Pikir Merly sambil mengepalkan tangan mungilnya. Bahkan manusia yang masih hidup dan memiliki status tinggi tak berani menaruh mata kepada Mama Ross seperti itu. Tapi arwah mesum ini tak menyembunyikan nafsunya, apa mentang-mentang karena dia sudah mati urat malu dan takutnya sudah tak ada lagi?

    Mama Ross akan memberikannya pelajaran, baru tahu rasa dia!

    Lalu Merly menoleh ke belakang melihat apa yang akan dilakukan Mama Ross untuk menghukum dan mengajarkan tempatnya untuk buaya ini. Tetapi ketika ia melihat ekspresi Mama Ross, gadis itu terkejut.

    Mama Ross, arwah yang semasa hidupnya adalah seorang ahli yang sempat menjadi salah satu pilar kekuatan seantero benua, terlihat syok dan pupil matanya mengecil melihat arwah pria mesum di depannya. Merly bahkan mendapati tubuh arwah wanita ini gemetaran.

    “Wah, wah...” Arwah Baik Hati tak melepaskan tatapan mesumnya dari Mama Ross. “Aku merasakan arwah baru yang datang ke sini dan bertanya-tanya... melihat aura dari Mbak yang manis ini, sepertinya kita hidup di jaman yang sama. Hehe, pantesan rasanya kok gak asing, gitu... Mbak manis, apa kita pernah ketemu sebelumnya?”

    ***
    :yahoo: sanggup juga akhirnya double release :yahoo:

    walaupun belum sempet ngedit total, tapi silahkan dinikmati ajalah dulu :ngacir:
     
    • Setuju Setuju x 1
  20. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0

    CHAPTER 6 – PANGGIL ABANG ARWAH BAIK HATI

    “Mbak manis... apa kita pernah ketemu sebelumnya?”

    Mendengar pertanyaan itu, terasa bulu kuduk Mama Ross merinding walau pun ia sudah mati menjadi arwah. Ia diam tak bisa langsung menjawab. Menghadapi tatapan nafsu itu, ia sama sekali tak berkutik. Jangankan memberi arwah mesum ini pelajaran, wanita yang biasanya elegan, angkuh, dan bermartabat ini bahkan tak berani menatap ke arah mata mesum itu. Dengan wajah lesu dan pasrah ia hanya bisa menatap ke bawah layaknya seorang gadis pelayan rumah tangga yang ingin dibawa ke kamar oleh majikannya.

    Mata Merly berkedip beberapa kali tak percaya melihat sikap Mama Ross yang berubah jinak seperti ini. Awalnya ia yakin sebagai arwah yang sudah hidup lebih dari tiga belas ribu tahun, Mama Ross sudah menjadi eksistensi tak tertandingi di antara makhluk halus di benua ini. Mama Ross tak akan perlu takut pada arwah lain. Tapi melihat perkembangan ini, ia masih tak percaya keadaan dan mengatakan dalam hatinya kalau ini pasti sedang bercanda.

    “Tuan Arwah pasti sudah salah orang. Aku ini gak pernah sama sekali bertemu dengan Anda.”

    Akhirnya Mama Ross

    “Oh, tapi kenapa kok rasanya, hiss... kayak sudah kenal, gitu?”

    “Paras aku ini sudah biasa dulu. Jadi mungkin gak heran kalau Tuan Arwah jadi salah orang.”

    “Jangan panggil Tuan Arwah, ah! Pakai Abang Arwah aja!” Arwah Baik Hati menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mbak manis... wanita seindah Mbak gak mungkin Abang Arwah ini salah orang. Abang orangnya bakal menaruh keindahan yang abang lihat dalam hati. Dan keindahan Mbak seperti kembang abadi yang gak bakal layu. Malah, melihat keindahan ini sekali lagi membuat hati abang berdegup kencang.”

    Kata Arwah Baik Hati dengan nada lembut dan sambil memegang dada kirinya yang berdegup kencang. Arwah sama sekali tidak memiliki degup jantung lagi tapi hal ini tak berlaku untuk Arwah Baik Hati saat ia bertemu wanita yang membuatnya bersemangat. Shira hanya mendesah dalam hati melihat ini.

    “Tapi sayangnya hanya karena keindahan Mbak tergambar terus di hati ini bukan berarti memori abang mau berkompromi, haahh,” kata Arwah Baik Hati menggeleng-geleng seperti tak bisa berbuat apa-apa. “Walau pun di hati abang keindahan dan paras Mbak gak lekang oleh waktu... tapi nama Mbak... ah! Abang tau kalau abang gak berhak untuk diingat oleh Mbak semanis ini. Tapi kalau sampai abang yang gak mengingat... maafkan abangmu yang membuatmu kecewa! Tiga belas ribu tahun, abang gak bisa berbuat apa-apa.”

    “A... bang Arwah, aku benar-benar gak pernah bertemu dengan abang. Walau pun abang merasa mengingat seorang wanita aku yakin dia adalah orang lain.”

    Mendengar Mama Ross tetap bersikeras tak mengenalnya, namun Arwah Baik Hati tak terlihat kecewa. Malah matanya bersinar-sinar saat ia mengingat sesuatu.

    “Oh! Abang tau kenapa Mbak bersikap seperti ini! Sudah Abang jelaskan bukan, abang sama sekali gak ada hubungan dengan mbak Archer dari guild itu! Mbak Jeanna, apa lagi yang abang harus lakukan untuk melenyapkan keraguan di hati Mbak selama tiga ribu tahun ini?”

    “Namaku bukan Jeanna...”

    Mendengar itu wajah Arwah Baik Hati langsung terkejut.

    “Haha... tentu saja bukan Jeanna. Mbak Ettha, abangmu ini cuma bercanda!”

    “Namaku juga bukan Ettha...”

    Senyum di wajah Arwah Baik Hati terlihat menjadi canggung. “Mbak... Dorothy?”

    Mama Ross menggeleng. Masih menatap ke bawah erat-erat berusaha menyembunyikan wajahnya. Tapi hal itu sia-sia. Semakin arwah wanita itu menyembunyikan wajahnya, semakin Arwah Baik Hati penasaran dan mendekat ingin memeriksa wajahnya.

    “Mbak Relya!!!”

    Mama Ross menggeleng lagi.

    “Mbak Kelly? Mbak Shely? Mbak Erwita? Mbak Lerina? Mbak Tarry...”

    Mama Ross menggeleng, menggeleng, menggeleng, menggeleng dan menggeleng lagi.

    Kemudian keadaan menjadi hening.

    Saat ini, Merly melihat situasi ini, ia mulai mengerti. Ia mengingat cerita masa lalu Mama Ross, tentang seorang pemuda yang membantai regunya dan membiarkan Mama Ross hidup. Ia tak tahu pasti tapi entah mengapa saat ia melihat sikap penjahat kelamin tak tahu diri ini amarah yang meluap di dada Merly sama persis dengan amarah yang ia rasakan ketika mendengar cerita Mama Ross.

    Tapi yang benar-benar ia tak mengerti adalah, kejadian itu terjadi saat Mama Ross masih muda dulu. Saat Mama Ross tumbuh dewasa, ia menjadi wanita yang sangat kuat sampai-sampai menjadi salah satu petarung terkuat di benua ini.

    Merly tak mengerti mengapa Mama Ross yang memiliki kekuatan tirani seperti ini masih merasa takut pada seorang penjahat yang merebut kehormatannya saat ia masih muda dan lemah.

    Kekuatan Mama Ross bukanlah hal yang dibesar-besarkan semata. Merly sudah membuat kontrak dengannya. Dengan membuat kontrak maka ia sempat melihat sedikit kenangan Mama Ross semasa ia hidup, dan menyaksikan pula kekuatan sihirnya yang mengangkat gunung dan membelah lautan. Bahkan sebuah sekte yang sangat besar dan kuat pun ia lenyapkan dengan tiga kali merapalkan sihir.

    Bisa dibilang, semasa jayanya Mama Ross adalah seorang yang kekuatannya sangat ditakuti oleh para petarung dan ahli benua ini waktu itu. Bersama beberapa pilar lainnya ia membangun kembali benua yang tengah dilanda kekacauan, dan mengisi kekosongan kekuasaan saat sebuah dinasti kuno yang menjadi penguasa benua hancur waktu itu.

    Tapi untuk seorang figur raksasa seperti itu, ia gemetaran oleh orang yang harusnya paling ia benci dan sedang bernafsu oleh tubuhnya saat ini.

    Siapa sebenarnya arwah mesum ini?

    “Mbak... abang yakin pernah mengenal Mbak entah di mana. Tapi melihat Mbak yang ketakutan seperti ini... hahhhh...”

    Arwah Baik Hati melepaskan napas panjang.

    “Kita bertemu, saat Kaisar Ying ke empat puluh dua sudah mati, bukan?”

    “Apa yang abang maksud? Saat aku menjadi pelayan kerajaan, Kaisar Ying masih sehat di usianya yang ke tiga ratus tahun. Ia selalu meminum ramuan dari Grandmaster Alchemist Tong Hua dan masih gak mengecewakan istri dan sepuluh selirnya. Aku bahkan berteman dekat dengan salah satu selirnya, dia selalu bercerita tentang betapa sehat dan bersemangatnya kaisar. Kami datang dari desa yang sama. Tapi saat ayahku meninggal aku kembali ke desa untuk mewarisi kebun dan menikah dengan seorang pendekar silat dari Clan Jingjing. Sampai aku meninggal karena melahirkan, Kaisar Ying masih sehat sama sekali.”

    Melihat Mama Ross sampai berbohong seperti itu, Merly yang sempat berpikir sesuatu sudah tak bisa berbuat apa-apa. Bukannya Mama Ross adalah seorang jenius waktu masih muda dulu? Dan tumbuh menjadi petarung hebat? Eksistensi yang hampir menyamai seorang kaisar? Di depan penjahat mesum ini, ia rela berbohong menjadi rakyat jelata...

    “Waa, ternyata Mbak dari ras Ying. Tapi kok kulitnya gak kuning tapi putih bersih seperti salju. Hehe, jarang-jarang ada wanita dari ras Ying yang secakep Mbak.”

    Arwah Baik Hati tertawa kecil kemudian lanjut berkata: “Tapi gak apa-apa lah. Kalau memang kita belum bertemu sebelumnya, eehhmm... abang pengen lebih mengenal Mbaknya.”

    Ia melangkah mendekati Mama Ross. Setiap langkah maju yang ia ambil, pelan-pelan Mama Ross mengambil langkah mundur juga.

    “Mbak manis, apa abang boleh tau... namanya Mbak?”

    “Wang Luzhi...”

    “Hehe, nama wanita dari ras Ying selalu indah dan elegan, gak mengecewakan sama sekali.”

    Saat ini Arwah Baik Hati sudah tahu kalau arwah wanita itu tak ingin berada di dekatnya dan jika ada kesempatan ingin kabur dan tak akan kembali lagi di hadapannya. Tapi sebagai seorang pria sejati, dia tak akan kecil hati hanya karena masalah sepele seperti itu. Jika seorang seperti dia menginginkan seekor ikan, walau licin seperti apa pun, ia akan tetap mengejar ikan sampai dapat. Ia hidup dengan filosofi seperti itu dulu dan kematian tak mengubah sikapnya sama sekali.

    “Mbak Luzhi, andai Mbak tau seberapa banyak kisah petualangan yang abang pengen ceritakan ke Mbak. Hehe. Mbak mungkin gak sempet tau ini tapi setelah matinya si Kaisar Yin itu, nama abang sampai mendunia ke mana-mana. Coba Mbak tanya ke rumput yang bergoyang, pasti mereka gak bakal tau ada orang yang lebih hebat daripada abang. Bahkan sampai generasi ini mereka semua masih menyebut nama abang walau mereka gak tau legenda di baliknya. Hehehe. Tapi kalau abang harus sebut nama abang di sini... ah! Abang jadi malu!”

    Shira hanya menggeleng-geleng mendengar ucapan Arwah Baik Hati mengklaim sebagai orang hebat tanpa rasa ragu sama sekali, walau sebenarnya ia memiliki tebakan sendiri dalam hatinya. Merly juga memiliki reaksi, namun berbeda dengan Shira. Entah mengapa, dari ekspresi yang memberitahukan kalau Mama Ross mengenal orang ini lebih dari sekedar penjahat kelamin... klaim itu terasa tak seperti bualan sama sekali.

    “Suatu saat nanti, saat Mbak dan abang sudah saling ‘kenal’ nanti, abang pasti akan memberitahu nama abang. Hehehe. Tapi untuk sekarang, Mbak boleh panggil abang Arwah Baik Hati.”

    Mama Ross mengangguk. Dalam hatinya ia lega arwah bejat ini sudah tak bisa mengenalnya lagi setelah tiga belas ribu tahun. Tapi untuk wanita itu, wajah dan nama pria di hadapannya ini adalah nama yang tak bisa ia hapus dari ingatannya.

    “Kalau begitu, abang Arwah Baik Hati, Wang Luzhi mohon permisi sebentar. Merly sayang, kita masih ada urusan, sebaiknya gak mengganggu abang Arwah Baik Hati dan Tuan Muda Shira.”

    Dengan begitu Mama Ross mengajak Merly untuk kembali karena gadis itu sudah mendapatkan tujuannya untuk melihat seperti apa pemuda yang bernama Shira ini dan juga arwah yang menemaninya.

    Tapi tepat setelah Mama Ross berbalik, Arwah Baik Hati melihat sesuatu yang membuat matanya berkilat-kilat dan tersadar akan sesuatu.

    Sosoknya kemudian melebur bersama udara dan langsung bergerak seperti angin untuk menyerang Mama Ross dari belakang.

    Sontak ketika Mama Ross mendapatkan serangan itu, ia terkesiap bukan main.

    Refleks ia langsung berbalik dan mengeluarkan sihir bola api yang langsung menghantam tanah dan membuat kobaran api yang cukup besar. Tetapi sosok Arwah Baik Hati sudah tak ada di situ. Ia sekejap sudah berdiri beberapa meter di arah yang berlawanan dari tempatnya datang tadi.

    “AAAAKKHHH!!!” Melihat serangan yang hanya berlangsung sekilas itu, Merly terkejut bukan main dan warna merah muncul di wajah mungilnya yang memanas. Shira tak bisa berbuat apa-apa jadi ia hanya bisa menepuk jidat.

    Mama Ross, sang korban, ekspresinya membeku dan hanya bisa menatap udara kosong. Ia tak menyangka, di detik-detik ia membalikkan tubuhnya untuk menanjakkan kaki, Arwah Baik Hati masih sempat mengambil kesempatan untuk meremas bokongnya.

    “Perasaan ini,” Arwah Baik Hati menatap lekat telapak tangan yang ia gunakan untuk menyerang Mama Ross tadi. Tampang mesum dan penuh nafsu sudah tak ada lagi di wajahnya. Ekspresinya datar dan nampak serius memikirkan sesuatu.

    “Ross...”

    Suara Arwah Baik Hati pelan terbawa angin. Ia mengingat sedikit wajah cantik dan elegan wanita ini dan ia sama sekali tak mengingat namanya, tapi ada satu hal yang membuatnya tak akan lupa bahkan sampai arwahnya lenyap nanti.

    Saat Arwah Baik Hati menyebut namanya, Mama Ross hanya bisa meneteskan air mata...

    Ada emosi rumit yang tersirat di tatapan mata Arwah Baik Hati. Hal itu bukanlah sesuatu emosi yang berkembang dari nafsunya, tetapi sesuatu yang menceritakan tentang konflik dan suatu penyesalan.

    Untuk pertama kalinya Shira melihat ketenangan di wajah arwah itu.

    “Ross,” panggil Arwah Baik Hati dengan nada mengambang.

    Tapi mendengar namanya dipanggil, membuat arwah wanita itu semakin enggan tetap berada berdiri di sana.

    Karena sebagai wanita, hatinya tak kuat lagi berhadapan dengan pria ini. Jadi ia mengusap air matanya dan memegang erat tangan Merly, kemudian berbalik dan pergi tak kembali lagi.

    Arwah Baik Hati menatap bokongnya lekat-lekat.

    “Ah, Ross! Sayang sekali. Ck, ck ck! Andai saja kejadian waktu itu bisa terulang lagi... ah!”

    “Kenapa? Mas Arwah kenal arwah wanita itu?”

    “Mn. Aku gak sengaja bunuh beberapa kakak angkatannya dari Glowing Sun Sect. Terus aku sempat saling ‘kenal’ sama dia. Tapi setelah itu para sepuh dari sekte sialan itu selalu menggangguku jadi aku lenyapkan seluruh isi sektenya kecuali dia seorang. Ah, aku pengen bawa dia pulang dan ‘kenalan’ lagi tapi sayang seperti kata orang, burung merpati kalau dideketin paksa pasti langsung terbang menjauh.”

    “Jadi, intinya, dia itu musuh Mas Arwah Baik Hati?”

    “Bah! Ngomong apa kamu bocah! Ross itu berjiwa emas. Lembut dan mulia hatinya! Dia itu wanita tercantik dan tersuci yang pernah kutemui. Bahkan melukai hewan pun dia gak tega. Apalagi memusuhi pria tampan sepertiku?”

    Shira hanya melepaskan napas panjang melihat arwah yang satu ini. Kemudian ia berharap tak terjadi masalah apa-apa antara mereka berdua selagi berada di sini. Ia berjalan ke arah perpustakaan dan berniat untuk melupakan masalah ini.

    Di koridor kediaman Yashura, Merly berjalan dengan arwah wanita yang mengambang di sampingnya.

    “Merly sayang, sebisa mungkin kamu menjauh dari anak yang namanya Shira itu.”

    Merly mengangguk mendengar ucapan itu. Ia tak perlu bertanya apa-apa lagi. Alasannya sudah jelas, arwah yang mengikutinya terlalu berbahaya.

    “Jangan khawatir. Dia gak akan menjadi murid gurumu. Arwah itu gak bakal mengizinkan orang lain ikut campur dalam hidupnya, apalagi menyuruhnya membuat kontrak. Bisa dibilang gak ada satu pun orang yang bisa membuatnya masuk ke dalam fraksi apa pun.”

    Merly mengangguk lagi. Jadi Mama Ross memang mengenal arwah mesum itu sampai segitunya...

    “Jika ada yang mencari Mama, bilang Mama sedang tidur sampai dua bulan ke depan,” arwah wanita itu masuk ke dalam tubuh Merly lalu menghembuskan napas panjang.

    “Dia mengenaliku... semoga arwah hewan buas di patung singa itu masih bisa terbangun. Orang itu, selalu membuat bencana kemana pun ia pergi.”

    Kemudian hari yang menjemukan itu berlalu dengan tenang.

    ***

    Keesokan harinya, di tempat yang sangat jauh dari Desa Badril, membentang luas padang pasir yang berwarna emas pucat tersinari cahaya bulan.

    Ini adalah salah satu tempat yang dianggap berbahaya di benua Tiramikal. Terletak di perbatasan East Tiramikal Kingdom dan daerah kekuasaan Desert Mercenaries Alliance.

    Hanya desa tingkat satu dengan kekuatan di atas rata-rata saja yang bisa bertahan di sini. Terutama desa yang menampung petarung-petarung buas dan perkumpulan mercenary kelas atas. Dengan lingkungan yang keras dan juga sebagai habitat munculnya monster-monster serta hewan buas berlevel tinggi, padang pasir ini adalah tempat yang sering digunakan fraksi-fraksi kuat yang mengadakan misi untuk berburu monster atau hewan buas tertentu.

    Tenda-tenda itu berdiri lesu di dekat sumber air oasis yang sangat jarang ditemui di tempat kering seperti ini. Para petarung yang berkemah di sini memiliki ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang antusias, ada yang bersenang-senang sendiri, ada yang malas, ada yang rindu rumah...

    Namun ada satu orang yang memiliki ekspresi berbeda di wajahnya.

    Matanya tajam seperti pisau dan membara-bara ingin melihat darah tumpah malam ini.

    Ia sedang melumuri pedangnya dengan racun yang baru ia racik.

    Pria ini bernama Jhuro Yashura.

    “Kamu sudah tau mereka akan mencoba membunuhmu sebentar lagi, jadi kamu sudah gak sabaran pengen sapa mereka lebih dulu. Klasik sekali, haha!”

    Ujar sebuah sosok yang berjalan ke arahnya sambil tertawa terbahak-bahak.

    Cahaya rembulan yang jatuh ke wajah Jhuro yang tersenyum kepada sosok yang tertawa itu, adalah restu yang langit berikan untuk membawa bersamanya para musuh jatuh ke dalam jurang neraka yang tak bisa ia hindari malam ini.

    ***
     
    • Setuju Setuju x 1
  21. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    594
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0

    CHAPTER 7 – TEMBOK ITU BERNAMA JHURO YASHURA

    “Borrus, kalau situ sampai kalah tiga kali, adik perempuanmu akan jadi milikku semalam!”

    “Memang kamu berani?”

    “Hahaha! Kalau cuma kamu yang ngalang kenapa nggak?”

    Suara riang para petarung dengan wajah setengah mabuk mengisi tenda itu. Tempat itu di buat untuk dijadikan markas besar regu yang melakukan misi kali ini.

    “Ah, andai aku saja aku yang menikah dengan Bhela, aku rela seratus tahun di dekam di sini!”

    Seru tiba-tiba seorang pemuda yang dikelilingi oleh pria mabuk yang lebih tua darinya. Di tenda itu, ada sekitar sembilan orang Blackwood yang tengah mengisi waktu luang di malam hari yang sudah menjadi aktivitas setelah berburu kalajengking raksasa di siang harinya.

    ***

    Beberapa bulan yang lalu Tiramikal Merchant Guild cabang East Tiramikal Kingdom, mendapatkan pesanan dari sebuah fraksi besar di kerajaan lain. Rumor mengatakan, fraksi tersebut hanyalah wakil, pemesan sebenarnya datang dari luar Benua Tiramikal.

    Kali ini Tiramikal Merchant Guild menerima pesanan yang di luar kemampuan mereka. Ribuan kelenjar racun monster dan kelenjar buas dalam gudang mereka tak cukup untuk memenuhi pesanan. Belum lagi beberapa macam bijih-bijih logam yang digunakan untuk membuat senjata berkualitas tinggi, serta inti-inti monster untuk bahan ramuan, artifact weapon, serta campuran bom, sangat sulit untuk didapatkan dalam jumlah yang banyak.

    Ini adalah kesempatan bisnis yang langka bagi Tiramikal Merchant Guild. Dengan pesanan yang melimpah, mereka mendapatkan keuntungan yang lebih baik ketimbang tiga bulan melakukan bisnis biasa mereka.

    Oleh karena itu, mereka tak ragu-ragu untuk membentuk beberapa regu yang terdiri dari beberapa petarung dan ahli dari fraksi-fraksi yang cukup memumpuni untuk membantu mengumpulkan bahan yang mereka perlukan.

    Salah satu regu dikirim untuk menyelesaikan misi mengumpulkan inti monster kalajengking raksasa dan kelenjar racun ular padang pasir berbisa. Jenis-jenis monster tersebut adalah hewan buas yang memiliki level cukup tinggi, yang terlemah bahkan berada di lvl 32.

    Regu tersebut terdiri dari beberapa petarung unggulan beberapa desa tingkat dua dan juga beberapa ahli bayaran dari desa tingkat satu. Dari Desa Hamphor sekolah Hatim Malakas dan sekolah Samolhy Estangerd mengirim hampir selusin sepuh kepercayaan mereka untuk berpartisipasi. Kemudian ada empat prajurit elit dari clan terkuat di Desa Devinyolk, Clan Fireaxe Giant. Clan ini mengirim petarung mereka lebih sedikit daripada yang lain namun karena keberingasan dan aura mereka yang nampak kuat serta wajah mereka yang kasar dan sangar, membuat mereka sangat disegani dan langsung memegang salah satu posisi penting dalam regu misi ini.

    Memiliki posisi penting dalam regu kali ini akan memastikan upah yang lebih daripada anggota regu yang lain. Karena mereka bisa mengontrol anggota regu yang lain dengan kekuatan mereka, tak sulit untuk memanfaatkan hal ini untuk keuntungan pribadi.

    Berikutnya ada Desa New Evershine Candy yang saat ini sedang dikuasai dan dimanajemen oleh Keluarga Blackwood yang memiliki hubungan dengan beberapa kerabat dan keluarga kerajaan. Di bandingkan dengan orang-orang brutal dan hanya mengacu pada hukum hutan seperti empat orang dari Fireaxe Giant, Blackwood lebih bermartabat dan karena status serta koneksi yang ada di belakang tak sulit untuk mengamankan posisi pula.

    Untuk desa tingkat kedua terakhir yang mengirimkan petarung mereka adalah Desa Hongzhi. Desa yang diisi mayoritas keturunan ras Ying ini cukup banyak mengirimkan petarung mereka dan hampir mengisi separuh personil regu tersebut. Ada tiga kekuatan seimbang yang di luar kelihatannya membentuk aliansi namun di dalamnya saling bersaing ketat di Desa Hongzhi. Mereka adalah Clan Wang, Clan Meng, dan Clan Chu yang fokus mengembangkan bibit khusus dengan kelas Martial Artist, Swordsman, Archer, dan Alchemist.

    Kekuatan rata-rata ketiga clan ini sangat standar, namun karena jumlah dan beberapa tokoh yang hadir memiliki kekuatan yang tak kalah jika harus dibandingkan dengan Clan Fireaxe Giant, mereka juga mendapatkan posisi penting di regu tersebut.

    Tapi kini tenda markas besar tengah diisi oleh orang-orang Blackwood. Dalam beberapa hari belakangan ini pengaruh petarung Clan Fireaxe Giant memudar serta seorang Martial Artist berlevel 48 yang merupakan tokoh terkuat dari Clan Meng di tempat itu mengundurkan diri dari jabatan memegang kendali jalannya misi tersebut dengan alasan ingin fokus berlatih dalam lingkungan ekstrem ini.

    Alasan sebenarnya, karena Blackwood diam-diam ingin mengincar nyawa seseorang dalam regu tersebut. Target mereka adalah seorang petarung dengan kelas unik yang cukup kuat dan disegani.

    Dengan mengambil otoritas tertinggi di regu tersebut tak hanya menjamin kesuksesan mereka, Blackwood juga bisa mengontrol situasi sekehendak mereka guna meminimkan fraksi lain ikut campur dalam rencana mereka. Dengan begini, mereka bisa mencegah menyinggung fraksi lain jika ingin membunuh target mereka.

    Normalnya orang itu tak akan mudah disentuh jika faksi yang ada di belakang orang ini ikut campur dalam rencana Blackwood, maka faksi lain yang dibeli oleh Blackwood akan ikut campur dan situasi menjadi rumit.

    Awalnya, yang hanya ia inginkan hanyalah menyelesaikan misi ini serta membawa pulang beberapa inti monster yang ia dapatkan selama di padang pasir ini. Jika ia mendapatkan hasil memuaskan, ia akan menukar inti-inti monster tersebut dengan jasa seorang Alchemist senior di sekolahnya untuk memeriksa dan meracik ramuan khusus kepada anaknya.

    Teman-temannya memanggil pria ini Jhuju. Tapi nama aslinya Jhuro Yashura.

    Ia adalah seorang petarung yang menggunakan pedang yang selalu dilapisi racun. Entah racun hasil ekstrak dari energi mana-nya atau entah racun mematikan yang ia racik sendiri dari beberapa tanaman yang ia kumpulkan sebelumnya. Berbeda dari ahli pedang lain yang mengenakan armor ringan atau pun berat ketika dalam situasi berpetualang atau menjalankan misi, pria ini hanya mengenakan kain dua lapis berwarna biru lesu di luar dan warna putih kusam di dalam. Wajahnya beringas dan berewok seperti bandit tapi matanya memancarkan ketenangan dan kewibawaan.

    Mirip dengan tampangnya yang demikian, ia adalah seorang yang mudah terpancing emosi. Tempramen buruknya membuatnya mendapatkan banyak musuh. Namun sampai sekarang tak ada yang berani melakukan siasat besar-besaran padanya. Entah karena reputasinya sebagai mantan juara ketiga di Turnamen Emas Tiramikal atau yang sering disebut dengan Tiramikal Golden Tournament, atau karena ia memegang posisi yang cukup tinggi di sekolah Hatim Malakas, tetapi yang paling mengerikan adalah racunnya yang bisa membunuh petarung dengan level yang lebih tinggi darinya jika ia melakukan persiapan yang matang sebelumnya.

    Tapi sekarang pergerakan Blackwood bisa dibilang mencurigakan. Sudah menjadi rahasia umum di regu itu, regu yang terdiri dari kumpulan beberapa fraksi yang saling tak percaya satu sama lain, bahwa Blackwood ‘membeli’ beberapa tokoh yang berpengaruh di situ.

    Mereka hampir tak pernah konflik dengan Jhuro Yashuro tetapi mereka tetap akan membunuhnya sebelum misi selesai dan semuanya kembali ke desa masing-masing.

    Target mereka sudah jelas. Kabar Blackwood ingin mencuri tunangan seorang pemuda Yashura yang ternyata adalah seorang gadis dengan kelas yang sangat unik sudah didengar oleh para petarung dan ahli yang bergelut di padang pasir ini semenjak satu bulan yang lalu. Karena kesalahan seorang Dewan Keluarga Malikh waktu itu berita ini bocor dan Keluarga Blackwood makin mendesak untuk mendapatkan Bhela Malikh. Mereka semakin agresif mendesak Kepala Keluarga Malikh. Tetapi mereka mendapati sedang tengah mendobrak pintu besi. Karena mereka tak bisa berbuat apa-apa pada pintu besi itu dan predator lain mengincar harta karun mereka saat ini, mereka tak memiliki pilihan lain untuk langsung menghancurkan temboknya dan memaksa masuk.

    Tembok itu bernama Jhuro Yashura.

    Tanpa kehadirannya akan lebih mudah untuk mengambil Bhela tanpa harus menghancurkan reputasi gadis itu di masa mendatang.

    Jika Blackwood mengambil paksa gadis itu dari pertunangannya tanpa memutuskan terlebih dahulu hubungan tersebut secara resmi, tentu saja skandal akan muncul. Blackwood bukan orang-orang naif, walau status mereka tinggi karena mengandalkan koneksi tetapi mereka punya pengalaman dan pandangan yang baik. Jika Bhela Malikh bisa diasuh dengan baik, maka besar kemungkinannya ia akan menjadi figur yang menyokong kerajaan East Tiramikal Kingdom nantinya. Bahkan seluruh Benua Tiramikal akan melihatnya sebagai sosok yang disegani.

    Untuk saat ini, hal yang paling tak menguntungkan adalah skandal. Nama Bhela Malikh harus dibersihkan dari kotoran-kotoran yang melekat di pojok-pojok yang sulit dijangkau. Blackwood sekarang tengah berusaha menghilangkan kotoran tersebut.

    ***

    “Jhuju, jijik sekali lihat senyum kamu malam ini! Lagi sebentar kamu bakal mati, cobalah lebih serius sedikit menunggu malaikat maut!”

    “Ozhi, kamu gak tega melihatku susah begini, makanya datang berkunjung malam-malam begini?”

    “Bah! Macam apa pula kamu gede rasa begini!”

    Pria yang bernama Ozhi itu melempar botol minuman kepada Jhuro. Ia langsung meminumnya.

    “Aahhh! Ini minuman terbaik sudah!” seru Jhuro sambil mengusap air di sudut bibirnya.

    “Hahaha! Ini minuman terakhirmu. Silahkan nikmati sampai lemes!”

    “Hehe, Ozhi Tua Bangka, siapa yang beri tau kamu kalau aku bakal mengamuk malam ini?”

    “Siapa yang kamu bilang tua bangka? Siapa yang kamu bilang mengamuk? Kamu? Haha! Mengamuk apaan, yang ada kamu ngambek gara-gara sudah gak ada lagi yang mau menolongmu sekarang!”

    Ozhi benar. Tak ada lagi yang bisa menolong Jhuro sekarang. Kekuatan yang lain di regu ini sudah dibeli oleh Blackwood, mereka tak akan ikut campur serusuh apa pun kejadiannya ketika mereka mengambil nyawa Jhuro Yashura. Bahkan orang-orang dari Hatim Malakas tak bisa berbuat apa-apa. Jika mereka bergerak, sudah pasti petarung dari fraksi lain yang Blackwood suap akan mencegah mereka. Kalau mereka bertarung dengan para petarung itu, bukankah hal itu sama saja artinya dengan melawan fraksi yang ada di belakang mereka?

    Jhuro tahu ketidakmampuan kawan-kawannya. Ia sendirian sekarang. Blackwood sudah mengeluarkan banyak uang untuk meyakinkan rencana mereka berjalan dengan lancar.

    “Hmm, pasti si Tharu yang ngomong, iya kan?”

    “Hahaha! Jhuju, andai saja kamu lihat Tharu bersujud-sujud di depan tendaku, Keluarga Yashura pasti bakalan malu habis-habisan melihat salah satu talenta dari keluarga mereka mengemis di kakiku. Hahahaha!”

    Ozhi melepas sepatu dan mengangkat kakinya. Jempol keluar dari kaos kakinya yang bolong, ia hanya tertawa terbahak-bahak.

    “Hmph! Tharu, bocah sialan itu. Masih saja dia sempat membuatku kehabisan muka. Apa dia gak tau kalau sebagian besar sepuh Hatim Malakas sudah ngantongin uangnya Blackwood? Apalagi tua bangka yang namanya Ozhi! Dia pasti menggunakan kesempatan ini untuk memeras Blackwood, hmph!”

    “Blackwood lagi merasa kaya, cuma orang bodoh yang gak mau pungut uang yang mereka buang-buang!”

    Jhuro Yashura hanya bisa tersenyum pahit dan menggeleng-geleng melihat temannya tertawa seperti orang gila ini. Malam ini ia akan mati, dan temannya hanya tertawa bahagia di atas penderitaannya.

    “Jhuju, jangan khawatir. Aku bakal bawa pulang Tharu dengan selamat! Dia sudah hampir tiga puluh tahun tapi belum menikah. Ck, ck ck. Kasian aku lihat kalau dia ikut kamu mati kali ini.”

    “Oke, kamu janji bawa pulang Tharu ke Yashura. Blackwood cuma pengen nyingkirin aku, mereka gak bakal kejer Tharu kalau kamu mau usaha dikit. Tapi jangan bilang kamu pengen dibayar lagi, kantung emasmu sudah berat gitu bikin iri aja!”

    “Hahahaha...”

    Mereka kemudian berbincang tentang hal lain malam itu sambil minum-minum di bawah sinar bulan kebiruan.

    “Hehe, coba dari awal kalian lepas aja si Bhela itu. Yang namanya cewek dari dulu kalau cakep pasti selalu bawa bencana.”

    “Anakku di masa depan akan membumbung tinggi seperti naga di langit! Gak ada alasan untuk membatalkannya. Tapi kalau si Ghaga niat memutuskannya, apa boleh buat.”

    “Hehe, aku dengar Ghaga masih ngotot sampai sekarang. Gak lama lagi Kepala Keluarga Malikh bakal ganti nama. Hehe.”

    Ghaga adalah julukan ayah Bhela dari teman-teman dekatnya.

    “Tentu, lah. Kalau dia nyerah cuma gara-gara kepiting yang nyelip seperti Blackwood, berarti dia ngaku kalau dirinya itu banci!”

    “Heh? Kayaknya ada udang di balik batu. Nyatuin Keluarga Malikh sama Yashura bukan alasan utamanya kamu nikahin anakmu itu, hmm?”

    “Hehehe, kalau itu rahasia dari waktu kami muda dulu.”

    “Apa gara-gara ramalan bola kristal dari makam penyihir Zurhatul waktu itu?”

    “Ozhi Tua Bangka! Urus urusanmu sendiri!”

    “Haha! Aku tau sekarang, sudah bertahun-tahun kalian tutup mulut tentang ramalan yang kalian lihat dari bola kristal itu! Apa ramalan itu tentang si Bhela? Hmm? Pasti gara-gara Bhela anaknya Ghaga. Sekarang semuanya pada ribut pas tau ada yang dapet kelas unik dengan empat elemental affinity muncul di East Tiramikal Kingdom. Bahkan clan dan sekte lain di Benua Tiramikal katanya juga pengen incer cewek itu. Tolol betul Ghaga kalau nikahin anaknya ke keluarga kumuh seperti Yashura, hahaha!”

    “Hmph! Ozhi bangke, kamu gak tau apa-apa. Ramalan itu bukan tentang Bhela, tapi anakku, Shira!”

    Pendekar pedang beracun itu mendengus kesal seperti anak kecil. Ozhi menjadi tambah puas mengejeknya.

    “Bukannya anakmu cacat? Umur lima belas tahun tapi masih nyangkut di level 3? Itu bola kristal pasti konslet kalau kasih liat ramalan tentang anakmu!”

    “Bilang aja kalau kamu iri tua bangka. Hehe, anakku itu istimewa bahkan sampai keluar di ramalan bola kristal. Kalau gak begitu, mana mungkin aku sampai menjilat sepuh-sepuh yang sudah bau tanah itu buat dapetin ramuan untuk anakku!”

    “Iya pasti beneran konslet. Jangan bilang kamu percaya ramalan bola kristal konslet? Si Shira istimewa? Aku sudah lihat rupanya mirip sekali yang kayak ikan mati. Dibuli orang aja dia gak mempan rasanya kayak ngejek-ngejek tembok. Ramalan itu jauh sekali sama faktanya.”

    “Bangke! Kalau niatmu cuma cari masalah enyah sana!”

    Jhuro melempar botol minuman yang dibawa Ozhi tadi balik kepadanya.

    “Gitu aja marah. Hehe.”

    “Kalau kamu balik lagi malam ini, pas mati orang yang pertama kuhantui itu kamu tua bangka! Siap-siap!”

    “Hehe.”

    Ozhi melangkahkan kaki dengan cengengesan besar di wajahnya.

    “Oh, ya,” Ozhi sempat berbalik sebelum ia benar-benar pergi. “Aku lupa, tujuanku datang ke sini tadi, ah!”

    “Ada apa lagi?”

    “Kamu tau berapa yang koin emas yang Blackwood bagi-bagi? Kamu tau berapa yang aku dapat?”

    “Masa bodo!”

    “Hehe, uang yang aku terima kebanyakan. Kalau aku nikmatin sendiri nanti akunya yang gak enak.”

    Ozhi melemparkan gulungan kain putih kepada Jhuro. Pria nomor satu Yashura itu dengan mudah menggunakan tangan kanan untuk menangkapnya.

    Wajah kedua pria itu menjadi serius.

    “Anggap itu barang yang dibeli pakai uangnya Blackwood.”

    Kemudian Ozhi pergi dan tak menoleh ke belakang lagi.

    Ketika Jhuro membuka gulungan kain itu, ia melihat sebuah kalung perunggu dengan permata berwarna hijau pudar. Sekejap ia mengenal kalung ini, matanya langsung bersinar-sinar dan tak sadar ia mulutnya sudah menganga lebar.

    “Kalung ini...”

    Jhuro Yashura melihat ke arah Ozhi temannya pergi. Beberapa saat kemudian, ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendesah napas panjang.

    Saat ia mengenakan kalung tersebut, permata hijau yang pudar langsung bercahaya dan kalung perunggu tersebut berubah menjadi emas mengkilap. Permatanya pun langsung terlihat elegan memantulkan cahaya bulan.

    Jika orang biasa melihat kalung permata ini berubah, mereka akan takjub tak bisa berkata apa-apa. Mereka sama sekali tak mengenal kalau ada kalung yang bisa berubah seperti itu. Tetapi Jhuro sudah mengenal benda ini semenjak ia muda. Kalung ini hanya ada satu di dunia ini, sebuah artifact yang tak akan bisa dibuat ulang atau pun diimitasi. Siapa pun yang mengenakan kalung ini, ia bisa menghindari kematian satu kali. Bahkan jika jantungnya robek, selama kekuatan dalam permata ini masih ada, ia akan memperbaiki jantung itu seperti sediakala.

    Artifact seperti ini bisa dibilang sangat berharga bahkan untuk sebuah fraksi kuat di kerajaan ini. Ozhi mendapatkannya saat ia bersama Jhuro dan kawan-kawan lamanya secara diam-diam menjelajah makam seorang penyihir terkuat di benua ini dulu, penyihir Zurhatul yang konon dikabarkan menjadi tiran di benua ini selama tiga ratus tahun jauh sebelum benua ini berubah nama menjadi Benua Tiramikal.

    Jika artifact ini adalah peninggalan Zurhatul, maka berapa pun uang yang diterima Ozhi dari Blackwood tak akan mampu untuk membelinya. Bahkan jika Blackwood menjual semua harta mereka.

    “Ozhi tua bangka, aku sudah pasti mati sekarang. Buat apa nyawa tambahan dari kalung ini? Kalau kamu bilang Blackwood buang-buang uang, kamu malah buang-buang harta karun! Goblog!”

    Tetapi Jhuro tersenyum tipis di wajahnya. Ozhi tak mungkin ikut dalam kericuhan ini nantinya, ia masih memiliki keluarga yang harus ia lindungi. Ia tak bisa membantu Jhuro ikut masuk ke dalam perangkap yang disiapkan Blackwood.

    Jika ia ikut terlibat dan membantu Jhuro, petarung yang sudah disogok yang tadinya netral dan tak akan mengganggu rencana Blackwood juga akan ikut campur untuk menghalanginya. Jika ia tetap memaksa, maka akan pasti terjadi perselisihan dengan para petarung tersebut.

    Bila itu terjadi, maka ia akan membuat musuh dengan fraksi di belakang mereka. Jika kau berbicara tentang Ozhi sewaktu muda ia akan menerobos dan membantai semua orang yang mengancam jiwa sahabatnya. Tapi sekarang berbeda, ia memiliki istri dan dua orang anak perempuan yang harus ia lindungi. Hatinya terasa robek setiap kali ia melihat senyum di wajah Jhuro Yashura malam ini.

    Namun setidaknya, ia masih bisa memberikan artifact berharga untuk temannya Jhuro.

    Apa ia takut Jhuro akan benar-benar akan membencinya melihat ketidakmampuannya dan malah memberikan benda yang paling berharga yang ia miliki?

    Jhuro hanya bisa tertawa masam. Ia dan Ozhi sudah melewati banyak bahaya hidup dan mati dan sudah tak asing lagi saling mengandalkan satu sama lain untuk bertahan hidup. Ia tak mungkin membenci tua bangka itu walau pun mereka berada di dua kerajaan bermusuhan dan harus saling bunuh.

    ***
     
    Last edited: Dec 17, 2016
    • Like Like x 1

Share This Page

About Forum IDWS.ID

Indowebster, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.