1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

OriFic Monster War

Discussion in 'Fiction' started by sandicoded, Feb 24, 2016.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    sandicoded Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2016
    Messages:
    11
    Trophy Points:
    2
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6 / -0
    [​IMG]

    Genre: Adventure, Fantasy, Psychological, Seinen, Slice Of Life


    Sinopsis

    Di masa depan, sebuah game VRMMO keluaran terbaru bernama Monster War menjadi game yang sangat populer karena menggabungkan 3 genre game: RPG, Monster Trainer, dan CCG.

    Cerita mengikuti seorang pemuda bernama Arya, mahasiswa tahun kedua, yang merupakan seorang anak kaya raya yang telah mendapatkan segalanya. Namun, setelah mendapatkan semua yang diinginkannya, ia mulai mempertanyakan apa sebenarnya arti kehidupan ini? Menurutnya kehidupan ini terlalu hampa untuk dijalani.

    Di tengah perenungannya itu, ia memilih menghabiskan waktunya di dalam dunia virtual reality. Setidaknya bermain game membantunya berhenti sejenak dari memikirkan berbagai hal yang membuat kepalanya sakit. Lalu pada suatu hari, tiba tiba dunia nyata tertukar dengan dunia game. Para player terpaksa harus saling membunuh jika ingin bertahan hidup - termasuk Arya dan teman temannya.

    Ini adalah cerita tentang pemuda tanpa tujuan yang mencoba bertahan hidup di tengah keadaan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.​

    Let The Blood Shed

    Let The Sorrow Came

    Let The War…

    Begin

    Perkenalan Penulis

    Terinspirasi dari beberapa cerita seperti Tate no Yuusha no Nariagari, Konjiki no Wordmaster, dan berbagai cerita lainnya, saya mencoba membuat cerita VRMMO karangan saya sendiri. Cerita lumayan low paced, bahkan inti cerita baru dibahas di chapter 4. Saya gak ngerti gimana caranya agar cerita ini bisa lebih fast paced, hahaha.

    Maaf kalo gaya penulisan newbie masih jelek karena saya masih pemula dalam dunia tulis menulis.
    Tolong berikan komentarnya... Komentar positif/negatif gak masalah. Karena saya hanya ingin menjadi lebih baik lagi daripada yang sekarang.

    Selamat membaca


    INDEX

    Chapter 1: The Last Duel
    Chapter 2: Those Peaceful Days
    Chapter 3: New Games New Adventure
    Chapter 4: Those Calm Yet Empty Days
     
    Last edited: Feb 24, 2016
    • Semangat! Semangat! x 2
    • Udah Pernah Lihat Udah Pernah Lihat x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    sandicoded Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2016
    Messages:
    11
    Trophy Points:
    2
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6 / -0
    Arya - Arias
    Mata: hitam kelam
    Rambut: hitam lurus pendek
    Tinggi: 170 cm
    Berat: 58 kg
    [​IMG]

    Monster
    Name: Nix
    Type: White Wolf
    [​IMG]

    Reza - Reza.Rozan
    Mata: coklat tajam
    Rambut: hitam gondrong
    Tinggi: 175 cm
    Berat: 67 kg
    [​IMG]

    Monster
    Name: Phoenix
    Type: Phoenix
    [​IMG]


    Annisa - Nisascarlet
    Mata: merah cerah
    Rambut: merah cerah panjang
    Tinggi: 167 cm
    Berat: 55 kg
    [​IMG]

    Monster
    Name: Liyon
    Type:Burning Lion
    [​IMG]


    Sylvia - Sylvia1618
    Mata: hijau
    Rambut: hijau pendek sebahu
    Tinggi: 166 cm
    Berat: 60 kg
    [​IMG]
    Monster
    Mandrake
    Type: Underground Plants
    None, monsternya gak keliatan​

    Semua gambar bersumber dari google
     
    • Like Like x 1
  4. Offline

    sandicoded Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2016
    Messages:
    11
    Trophy Points:
    2
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6 / -0
    "Summon White Wolf, Nix!"

    Lingkaran cahaya putih dengan diameter sekitar 4 meter muncul di rerumputan. Lingkaran itu bersinar terang keatas seakan membentuk barier yang mengelilingi lingkaran tadi, membentuk tabung raksasa. Barier itu perlahan turun dan menghilang bersamaan dengan munculnya seekor serigala putih raksasa di tengah lingkaran cahaya putih itu. Tinggi serigala itu sekitar 2m dengan panjang dari kepala hingga ekornya sekitar 4m. Ukuran yang sangat tidak normal untuk seekor serigala.

    [​IMG]



    "Summon Tyrannosaurus, Tyrano!"

    Sebuah tabung cahaya hijau raksasa terlihat terbentuk di depan serigala putih tadi. Warna cahaya hijau itu serupa dengan warna padang rumput yang menjadi medan pertempuran mereka. Selaras dengan turun dan menghilangnya barier hijau di sekeliling tabung itu, seekor tyranosaurus dengan tinggi sekitar 3m muncul di tengah-tengahnya. Hewan buas dari zaman pra sejarah itu menatap serigala putih di depannya dengan tatapan haus darah. Sedangkan serigala putih itu menatap dengan tatapan dingin kearah sang raja pra sejarah itu, layaknya tatapan seorang pembunuh professional.

    [​IMG]

    Di belakang kedua monster itu masing-masing berdiri seorang laki-laki. Di belakang serigala putih, berdiri seorang pemuda dengan jubah biru gelap - mendekati hitam, kontras dengan warna serigala putih itu. Pemuda itu memegang tongkat yang juga berwarna biru gelap di tangan kanannya.

    Sedangkan dibelakang tyranosaurus itu berdiri seorang pemuda dengan armor berwarna silver kehijauan yang mengkilap. Armor itu melindungi badannya serta sebagian lengan dan kakinya. Wajahnya tertutup pelindung kepala layaknya gladiator yang juga berwarna silver kehijauan. Tangan kanan pemuda itu menggenggam sebilah pedang dan ditangan kirinya sebuah perisai menempel rekat di lengannya.

    Sebuah tulisan besar berwarna silver muncul di tengah medan pertempuran itu. Tulisan itu diikuti dengan suara wanita khas robot.

    Pemuda dengan perisai ditangannya langsung berteriak sambil berlari dengan cepat ke arah serigala putih, "Burning Power, activate!"

    Dinosaurus ganas miliknya itu dikelilingi aura berwarna kemerahan seperti terbakar oleh api yang sangat panas. Dinosaurus itu meraung. Mengintimidasi siapapun yang mendengarnya. "GRAAAAAAAAAAWWRRRRR!!!"

    Pemuda berjubah itu menyeringai melihat tindakan lawannya lalu berbicara seperti berbisik dengan dirinya sendiri, "Speed Booster, activate." Tiba-tiba serigala putih miliknya terlihat seperti tertiup oleh badai angin yang sangat kuat. Bulu-bulunya ke belakang. Namun ia tidak bergeming sedikitpun. Matanya menatap dingin ke arah dinosaurus yang berlari ke arahnya.

    Tyranosaurus itu membuka mulutnya lebar-lebar. Sebuah bola api terbentuk diantara rahangnya lalu terlontar ke arah sang serigala putih. Namun gerakan serigala putih itu terlalu cepat, serigala putih itu menghindar ke kiri dengan mudah. Bola api tadi melaju lurus lalu akhirnya menabrak sebatang pohon dan membakarnya hingga hangus.

    Pemuda dengan pedang ditangannya itu sekarang berada tepat 5 meter di depan sang serigala, namun meskipun jaraknya cukup jauh ia mengarahkan pedangnya ke arah serigala putih. Namun sebelum ia bisa mengatakan ataupun melakukan apa-apa, pemuda berjubah biru gelap itu berbisik lagi kepada dirinya sendiri sambil memejamkan kedua matanya. Mulutnya membentuk senyuman licik.

    "Monster Skill, Flash."
    "Wha?!?"

    Tiba-tiba tubuh serigala putih itu bersinar dengan sangat sangat terang. Sinarnya membutakan siapapun yang melihatnya. Sang raja pra sejarah terdiam tidak bergerak menatap sinar itu. Pemuda berperisai itu mencoba menutupi matanya dengan perisai di tangan kirinya. Namun sudah terlambat. Matanya tidak bisa melihat apa-apa lagi kecuali warna putih.

    Pemuda berjubah itu membuka matanya lalu berteriak kepada monster miliknya, "Nix, rencana B!"

    Serigala putih itu langsung berlari ke arah pemuda perisai setelah mendengar perintah dari masternya. Serigala raksasa itu menggigit tubuh pemuda perisai, gigi-gigi besarnya menembus armor yang dikenakan pemuda itu. Seakan akan armornya yang dikenakan pemuda itu hanyalah tahu lembek yang dapat dihancurkan hanya dengan sedikit tekanan tak bertenaga.

    "AARRRGGHHH!!! KA... KAU CURANG!! ********!! AARRRGGHHH!"

    Pemuda perisai itu berteriak-teriak, mencoba meronta dalam gigitan sang serigala. Sementara dinosaurus miliknya masih menatap kosong ke arah tempat serigala putih tadi berada. Darah mengucur deras dari tubuh pemuda perisai itu. Menodai armornya yang berwarna silver kehijauan menjadi berwarna merah darah.

    Pemuda berjubah biru gelap itu hanya menatapnya sambil menunjukkan ekspresi bosan, berbanding terbalik dengan beberapa saat yang lalu. Lalu pemuda itu berbisik lagi kepada dirinya, “Monster Skill, Crushing Bite.”

    Gigitan serigala putih itu semakin kencang. Menghancurkan tulang dan organ-organ dalam pemuda perisai itu bersamaan dengan teriakan dan rontaan tanpa henti yang dilakukannya.

    Lalu 2 detik kemudian... Tubuh pemuda perisai itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan serpihan pixel. Disusul dengan hancurnya tubuh dinosaurus miliknya – yang juga menjadi serpihan pixel. Lalu muncul tulisan berwarna emas di udara yang dibarengi dengan suara wanita khas robot sama seperti sebelumnya.

     
    • Like Like x 1
  5. Offline

    sandicoded Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2016
    Messages:
    11
    Trophy Points:
    2
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6 / -0
    7 hari sebelumnya – Jum’at, 18 Desember 2218


    Seorang pemuda terlihat sedang berkutat di depan laptopnya. Pemuda itu adalah seorang mahasiswa tahun kedua. Pemuda itu memiliki kulit coklat terang dan rambut hitam pendek. Wajahnya biasa saja, tidak tampan, dan tidak jelek juga. Namun aura kepercayaan diri terpancar jelas diwajahnya.

    Ia mengutak-atik laptopnya dengan ekspresi serius namun tanpa tujuan yang jelas. Seakan akan sedang mencari sesuatu yang sangat sulit di cari bahkan dengan bantuan google sekalipun. Jam di laptopnya menunjukkan pukul 13:33.

    Lalu tiba-tiba suara bel rumahnya berbunyi. Ia disadarkan dari lamunannya di depan layar laptop lalu bangkit berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan keluar dari kamarnya kemudian menuruni tangga rumahnya – kamarnya ada di lantai 2.

    ‘Mungkin itu game yang aku pesan beberapa bulan yang lalu… Kalau tidak salah game itu di rilis hari ini,’ pikirnya sambil berjalan menuruni tangga.

    Ia berjalan ke depan pintu rumahnya lalu membukanya dengan cepat. Sebuah taman yang sangat luas terhampar di depannya. Di depan pagar rumahnya terlihat seorang pak tua dan seorang pria di luar pagar sedang berinteraksi. Pria itu kelihatannya adalah seorang petugas pos, sedangkan pak tua itu adalah tukang kebun yang bekerja di rumah ini. Pak tua itu terlihat menandatangi secarik kertas.

    Pemuda itu berjalan menghampiri mereka berdua melewati jalanan aspal yang sengaja dibuat dengan ukuran dua kali lebar mobil. Di kanan kirinya, berbagai tanaman hijau terhampar luas memberikan kesan asri di kediaman rumah pemuda itu.

    Lalu tiba-tiba pak tua itu melihat ke belakang, menatap ke arah sang pemuda. Lalu tersenyum kepadanya sambil menyodorkan paket yang diterimanya dari petugas pos tadi. Pemuda itu membalas senyuman pak tua itu lalu menyobek sampul coklat yang membungkus paketnya secepat kilat. Sementara petugas pos tadi menyalakan motornya dan pergi meninggalkan pria tua dan pemuda itu.

    Tiga detik kemudian sampul yang membungkus paket itu telah terlepas sepenuhnya. Di dalamnya ia mendapati sebuah kotak yang bertuliskan ‘Monster War’. Kotak tersebut berwarna dominan silver dengan hiasan lingkaran seperti yin dan yang dibagian depannya. Lingkaran itu tidak berwarna hitam putih tetapi memiliki delapan warna, yaitu merah, biru, silver, coklat, putih, hijau, kuning, dan hitam.

    Pemuda itu tidak berbicara apa-apa ketika menerima kotak tersebut, tapi wajahnya menunjukkan sedikit ekspresi kegembiraan. Pemuda itu langsung berbalik dan berjalan kembali ke dalam rumahnya yang berwarna putih. Rumahnya bisa dibilang cukup megah, memiliki 3 tingkat dan lebar rumahnya seperti lebar tiga rumah dijadikan satu. Di kanan-kiri rumahnya terdapat sedikit ruang yang di atasnya terhampar kolam ikan besar dan taman yang menghiasi. Di sebelah rumahnya – kanan dan kirinya – dua rumah megah lainnya berdiri berdampingan. Dibatasi dengan pagar abu-abu yang tingginya hanya 3 meter. Tidak sebanding dengan tinggi rumah itu yang memiliki 3 tingkat.

    Begitu sampai di kamarnya, pemuda itu langsung membuka kotak silver yang baru dibelinya. Di dalamnya terlihat sebuah benda seperti memori card yang biasa digunakan dalam kamera. Ukuran memori card itu tidak sebanding dengan ukuran kotak silvernya yang cukup besar. Benda bentuk memori card tersebut bertuliskan ‘MONSTER WAR’ yang terukir indah dengan warna silver.

    *zzzzz zzzzzz zzzzzz zzzzzz*

    Pemuda itu mengambil handphonenya yang bergetar di meja laptopnya. Ia melihat layar handphonenya bertuliskan ‘Reza’. Ia menggeser layar handphonenya kemudian mendekatkannya ke telinga.

    “Halo.”

    “Arya! Apa kau sudah membeli game monster war?? Game itu sedang hype sekali sekarang! Genre baru! Tidak seperti game VRMMO sebelum-sebelumnya!”

    “Baru saja petugas pos mengantarnya ke rumahku. Hahaha. Apa kau juga membelinya?”

    “Tepat sekali! Petugas pos juga baru saja mengantarkannya ke rumahku. Aku langsung mencobanya tadi, tapi gamenya masih belum bisa dimainkan. Servernya baru dibuka setengah jam lagi.”

    “Mh hm… Sebentar lagi ya. Aku baru saja membuka kotaknya barusan.”

    “Hahaha. Ngomong-ngomong monster apa yang akan kau pilih nanti?”

    “Aku sudah melakukan sedikit riset di internet, kau tidak bisa memilih monster yang kau inginkan. Tapi kau bisa memilih elemen monster yang suka.”

    “Oo. Kalau begitu elemen apa yang akan kau pilih??”

    “Monster dalam game ini akan paling efektif jika sesuai dengan karakter pribadi kita di dunia nyata..”

    “Huh.. Maksudnya? Bisa kau jelaskan lebih mudah untukku?”

    “Monster milikku akan paling baik jika memiliki elemen air, sedangkan monster milikmu, mungkin elemen angin atau api.”

    “Oh begitu! Aku baru tau! Hmm. Kalau begitu mungkin aku akan memilih elemen angin. Sepertinya monster yang memiliki elemen angin akan menjadi monster yang keren. Hahahaha!”

    “Hahaha.. Oh iya, ada satu hal lagi yang tidak boleh kau lupakan. Kau hanya bisa membuat satu akun dalam game ini. Ketika kau login, maka data yang mirip dengan data DNAmu akan direkam dan disimpan dalam server, sehingga kau tidak bisa membuat ulang karakter maupun monstermu. Sekalipun kau membeli mesin VR tube yang baru.”

    “Hmm.. Peraturan yang agak aneh. Kenapa mereka memberlakukan peraturan seperti itu?”

    “Aku tidak tau..”

    “Tapi… Hey, bukankah itu seru! Peraturan ini membuat player harus berpikir dan mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum melakukan sesuatu. Sama seperti dunia nyata, kau tidak bisa merestart hidupmu jika kau melakukan kesalahan kan?”

    “Hahaha. Sepertinya itu salah satu cara unik untuk memandang sistem game yang aneh ini. Tapi justru karena game ini menyerupai dunia nyata maka sebaiknya kau mencari info tentang game ini di internet sebanyak-banyaknya. Namun jangan mudah percaya terhadap rumor. Berusahalah untuk mendapatkan data yang valid.”

    “Hahaha. Oke! Aku akan membuka internet dengan segera! Bye!”

    “Oke, bye.”

    Pemuda yang bernama lengkap Arya Hendrawan itu mematikan panggilan. Lalu menaruh tangannya di wajahnya –facepalm.
    ‘Dasar… Jika tidak kuberitahu maka sudah pasti dia memulai start yang sangat kacau di game ini,’ pikirnya

    Arya mengambil benda berbentuk memori card dari dalam kotak game berwarna silver miliknya. Lalu mencolokkannya ke dalam slot yang ada di samping VR tube –Virtual Reality tube – miliknya, yang terletak di sebelah tempat tidurnya.

    VR tube – seperti namanya – berbentuk seperti tabung dengan ukuran lebar 1m dan panjang 2m. Ukuran yang pas jika dipakai berbaring dengan postur orang indonesia. Tabung itu seluruhnya berbahan kaca bening yang cukup tebal dan tidak mudah pecah. VR tube tidak sepenuhnya berbentuk tabung, tetapi di bagian alasnya berbentuk datar sehingga nyaman dipakai untuk berbaring dalam waktu lama. Di dalamnya juga terdapat bantal serta sebuah device berbentuk seperti helm berwarna putih, namun device itu tidak memiliki kaca penutup seperti helm pada umumnya.

    ~~~~~~

    Setengah jam kemudian

    Pemuda bernama Arya tadi kini terlihat berbaring di dalam VR tube di samping tempat tidurnya. Ia mengenakan sebuah device berbentuk helm dengan sebuah bantal putih empuk menyangga kepalanya. Matanya terpejam dengan rapat. Ia menekan sebuah tombol merah yang terletak di dekat tangan kanannya.

    Yang dilihat oleh Arya sedari tadi hanyalah gelap, dengan tulisan berwarna putih dalam pandangannya.

    Tulisan dan waktu countdown server tersebut menghilang seketika dan berubah menjadi tulisan berwarna silver dibarengi dengan suara wanita khas robot.
    ‘Ya,’ Arya tidak berbicara, tetapi menjawab dalam pikirannya.

    ‘Ya.’

    ‘Arias.’

    ‘Ya.’

    ‘Tidak.’

    Lalu muncul tampilan dirinya sendiri di dalam pandangannya. Arya sedikit memanjangkan rambutnya yang berwarna hitam, mengikuti gaya tokoh anime jepang yang biasa ditontonnya. Selain memanjangkan rambutnya ia tidak melakukan perubahan lainnya. Ia memakai kaos biru dan juga celana jeans biru yang memang sedang dipakainya di dunia nyata saat ini.

    ‘Ya’

    Tulisan besar berwarna silver muncul dihadapannya bersamaan dengan suara wanita khas robot yang banyak bertanya kepadanya sejak tadi.

    Tiba-tiba kegelapan dalam pandangan Arya berubah perlahan lahan menjadi putih terang. Arya serasa melaju di tengah lorong waktu yang berwarna campuran putih, biru, dan ungu. Setelah melaju di lorong waktu itu beberapa saat, ia berhenti dan pandanganya kini sepenuhnya berwarna putih. Lalu perlahan lahan pemandangan di sekitarnya itu berubah menjadi pemandangan baru. Arya berada di tengah padang rumput yang sangat luas.

    Arya melihat sekelilingnya, ia menyimpulkan bahwa dirinya berada di luar kota. Sebuah dinding setinggi 10 meter terlihat di kejauhan. Dinding itu sepertinya adalah pembatas sekaligus pelindung kota, dan kini ia berada di luar kota itu.

    Ia menengok ke sebelah kanannya, sebuah bangunan besar seperti kandang kuda dengan ukuran abnormal terlihat sedang dipadati orang-orang. Namun kandang itu tidak berisikan kuda-kuda. Kandang itu berisikan berbagai jenis hewan aneh dengan ukuran raksasa yang abnormal. Mulai dari singa raksasa, anjing raksasa, ulat raksasa, dan masih banyak monster aneh lainnya.

    Arya berjalan mendekati kerumunan orang-orang yang kelihatannya sedang berebut sesuatu. Mereka terlihat berjubel membentuk lautan manusia yang mengantri di depan kandang. Di depan kandang terdapat 4 stand yang kelihatannya membagikan telur telur monster. Beberapa orang terlihat berjalan keluar dari kerumunan tersebut dengan membawa telur yang berukuran dua kali kepala orang dewasa. Mereka mengangkat telur itu di atas kepala mereka. Karena kemungkinan telur itu akan rusak jika mereka keluar dari lautan manusia tersebut tanpa mengangkat telur tersebut di atas kepala mereka. Wajah mereka menunjukkan ekspresi bahagia bercampur penasaran. Walaupun sedikit ekspresi kesal juga terlihat karena harus berdesak-desakan mengantri demi mendapatkan telur tersebut.

    Arya ikut mengantri juga. Berdesak-desakkan di tengah kerumunan layaknya orang yang sedang mengantri sembako. Setelah 30 menit lebih berdesak-desakkan, ia sampai di antrian terdepan. Puluhan telur berjejer rapi di depannya dengan warna dominan silver dan satu warna lainnya – yang bergantung pada elemen monsternya.

    “Silahkan pilih satu telur monster yang anda suka. Ada 8 jenis elemen monster: fire, water, wind, earth, nature, holy, lightning, dan darkness. Silah–” Seorang wanita cantik berambut hitam panjang mengulang-ulang perkataan itu kepada orang-orang yang mengantri di depannya. Wanita itu memasang senyum manis diwajahnya. Arya tidak berpikir sama sekali lalu mengambil sebuah telur dengan corak warna biru di sekitar cangkangnya dengan sigap, karena ia sudah memilih bahwa ia akan mengambil monster air.

    Seorang wanita berambut hijau panjang, salah satu rekan wanita berambut hitam tadi, berkata dengan ramah sambil tersenyum pada Arya, “Jangan sampai lupa memberi makan monster anda atau mereka akan mati. Kami sudah merekam username anda. Anda hanya diperkenankan mengambil satu telur gratis disini. Jika anda menginginkan telur monster lainnya anda bisa mendapatkannya dengan harga 500 Silver. Terimakasih, silahkan datang lagi.”

    Arya membawa telur miliknya di atas kepala – sama seperti orang-orang lainnya – tanpa menanggapi ucapan wanita berambut hijau tadi. Ia berusaha keluar dari kerumunan orang yang menghalangi jalan keluarnya.

    “Hah…Hah..” Arya terengah-engah begitu berhasil keluar dari lautan manusia itu.
    ‘****, kenapa sistem game ini sangat tidak praktis sekali!’ gerutunya dalam hati. Lalu ia mendekap telur besar itu di depan dadanya kemudian ia berjalan menuju ke pintu gerbang kota.

    Beberapa saat kemudian Arya sampai di gerbang, para penjaga memberinya jalan. Sebuah kota khas abad pertengahan terhampar luas di hadapannya. Tapi Arya tidak sedikitpun peduli apalagi terkagum akan pemandangan di depannya – ia langsung berjalan lurus ke tengah kota.

    Setelah 15 menit berjalan, ia berhenti di depan sebuah kolam hias berbentuk lingkaran yang berada di tengah kota. Entah kenapa ia menuju kesini. Tapi ia mempercayai instingnya. Lalu ia memasukkan telurnya ke dalam kolam yang airnya berwarna biru jernih – sama seperti corak telurnya. Kolam itu tidak dalam, namun cukup dalam untuk merendam telur itu sepenuhnya. Arya jongkok menatap telurnya, menunggunya menetas. Di sekelilingnya orang orang berlalu lalang dengan bebas, beberapa dari mereka memandang Arya dengan pandangan menyindir bercampur heran.

    Setelah menunggu beberapa menit, tiba-tiba sebuah pop up window dibarengi dengan suara *tring* muncul di hadapan Arya, hanya ia seorang yg bisa melihatnya.

     
    • Like Like x 1
  6. Offline

    sandicoded Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2016
    Messages:
    11
    Trophy Points:
    2
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6 / -0
    ‘Jumlah poin yg aneh’, pikir Arias. Tapi ia sudah membaca tentang hal ini sebelumnya. Bahwa distribusi poin yg kita berikan akan berdampak pada monster seperti apa yang akan menetas. Ia sudah memikirkan berbagai kombinasi dengan asumsi bahwa ia mendapat 20 poin, tp sepertinya informasi yang ia dapat tidak benar.
    Note: Penulis akan menyebut Arya dengan ‘Arias’ selama ia berada di dalam dunia VR.

    Setelah menghabiskan waktu cukup lama berfikir sambil menatap pop up window itu, Arias menekan tanda plus yang terdapat disebelah kanan stat INT sebanyak 22 kali, lalu tanda plus di sebelah STR 2 kali dan AGI 9 kali.

    Arias menekan tombol yes. Lalu pop up window itu menghilang. Telur miliknya retak, perlahan lahan retakan itu mulai membesar lalu telur itu pecah seluruhnya. Cangkang telur yang telah pecah itu mengambang di atas air kolam.

    Di tengah pecahan telur itu terlihat seekor serigala putih yang melihat kearah Arias sambil menjulurkan lidahnya. Serigala kecil itu kelihatan bersusah payah berenang di kolam yang sebenarnya tidak seberapa dalam itu. Arias meraih serigala itu dengan kedua tangannya lalu mengangkatnya keatas, keluar dari kolam.

    ‘White wolf? Kukira aku akan mendapatkan monster sejenis ikan karena aku memilih elemen air. Tapi.. Kurasa itu bukan masalah besar,’ pikirnya

    *tring* Tiba-tiba sebuah pop up window muncul lagi dalam pandangannya.

    Beri nama monstermu!
    _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

    Arias mencoba memikirkan nama yang pas untuk serigala itu. Setelah berpikir beberapa saat, ia mengucapkan sebuah nama dengan yakin, “Nix.”

    “Arff,” serigala itu kegirangan mendengar nama barunya. Dia melompat lalu menjilati wajah Arias.

    “Hahahaha,” Arias tertawa sambil sedikit mengelak ketika dijilati oleh Nix.
    ‘Sebenarnya, ini sedikit menjijikkan’, pikirnya.

    Di tengah jilatan monster barunya itu sebuah pop up window muncul lagi dalam pandangannya dibarengi oleh suara *tring* yang biasanya.

    ~~~~~~



    Arias terlihat berjalan di tengah kota bersama dengan serigalanya, Nix. Sebagai seekor monster yang baru lahir, ukuran Nix mendekati ukuran anjing dewasa di dunia nyata. Arias berhenti di sebuah bangunan tingkat tiga yang bertuliskan ‘Mage Guild’. Arias masuk ke dalamnya tanpa keraguan sedikitpun.

    Setelah beberapa menit menghilang dari jalanan kota, Arias terlihat keluar dari bangunan tempatnya masuk tadi. Ia kini mengenakan kalung rantai dengan koin berwarna biru gelap sebagai gantungannya. Koin itu adalah emblem yang menandakan bahwa ia sudah bergabung dengan guild penyihir. Ia juga memegang sebuah tongkat berwarna coklat di tangan kanannya. Kini ia terlihat seperti penyihir era modern, dengan kaos biru dan celana jeans yang dikenakannya.

    “Menu,” Arias berkata hampir tanpa volume, hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar perkataannya itu. Ia mengutak-atik layar di depannya, lalu memunculkan status dirinya.
    ‘Sial! Kukira stat sampahku ini akan naik setelah mendapatkan job. Meskipun aku bisa mendistribusikan poinnya sesuai keinginanku, tetap saja total stat poin dasar 11 itu… sampah.’

    ‘Tongkat ini juga hampir tidak berguna. Ini hanya meningkatkan INT ku sebesar 1 poin. Yah.. Kukira tidak banyak yang bisa kuharapkan dari barang gratisan.’

    Arias berjalan bersama Nix sambil menggerutu sendiri di dalam kepalanya.

    ‘Hmm.. Tapi mungkin ini yang membuat game ini berbeda dibanding VRMMO lainnya. Di game ini player diharuskan untuk bergantung kepada monsternya. Seperti kata si bodoh itu, game ini mirip dengan dunia nyata.’

    Setelah berjalan beberapa saat, ia tiba di sebuah bangunan yang bertuliskan ‘Card Shop’. Arias berjalan masuk ke dalamnya. Terlihat seorang pria berumur 40an di belakang sebuah meja kayu panjang. Di belakang pria itu ratusan box kartu berwarna warni berjejer dengan rapi. Arias menghampiri pria itu dan berbicara padanya.

    “Aku ingin membeli kartu untuk monsterku ini.”

    “Oh ya. Silahkan kau pilih mana kartu yang kau mau! Satu box berisi 5 kartu yang akan meningkatkan kemampuan monstermu. Harga satu boxnya hanya 10 silver saja.”

    Arias mengecek uang yang didapatnya sebagai pemain pemula, jumlahnya tepat 10 silver.

    ‘Sial.’ “Aku tidak punya uang yang cukup, aku akan kembali lain kali.”

    “O… Oh.. Baiklah,” Pria setengah baya itu membalas perkataan Arias dengan canggung.

    ‘Di game ini, terdapat tiga kombinasi game: RPG – Monster Trainer – dan CCG. Bahkan jika seseorang hanya memiliki kekurangan pada salah satu faktor, maka kemampuan bertarungnya akan merosot drastis… Yah.. Walaupun itu hanyalah sekedar pendapat pribadiku.’

    Dengan pertimbangan itulah jika Arias memutuskan untuk menunda membeli kartu. Karena ia belum mengetahui bagaimana cara Nix dan dirinya bertarung. Jika ia memutuskan untuk membeli kartu tanpa menyesuaikan dengan cara bertarung mereka, maka 10 silver akan terbuang percuma.

    Di game ini, mata uangnya menggunakan koin, 100 copper setara dengan 1 silver, 100 silver setara dengan 1 gold. Mata uang yang sederhana. Kadang ia berpikir kenapa dunia nyata tidak menggunakan mata uang seperti ini. Karena menurutnya dengan mata uang seperti ini maka tidak akan ada lagi fluktuasi uang yang bisa menyebabkan krisis. Tapi itu hanyalah pemikiran liarnya yang tidak terlalu didalami olehnya.

    Arias memutuskan untuk pergi ke luar kota. Sebelum pergi keluar, ia sudah menerima permintaan quest dari Mage Guild tempatnya mendapat tongkat coklat tadi. Ia menerima quest untuk membunuh 10 slimes dan 10 goblin, hadiah dari quest itu adalah 1 silver, dengan bonus exp +50.

    Setelah 10 menit berjalan melewati padang rumput, Arias dan Nix menemui kawanan slime. Para slime itu memiliki warna yang beragam. Slime adalah makhluk yang jinak, mereka tidak akan menyerang jika tidak diserang terlebih dulu.

    ‘Oke, ini adalah mangsa yang tepat,’ pikirnya.
    “Nix, serang!”

    Nix berlari kearah slime biru karena terletak paling dekat dari dirinya, Nix menggigit makhluk berbentuk jelly itu lalu membantingnya ke kanan dan ke kiri dengan rahangnya. Dari tubuh slime itu menetes cairan berwarna biru – selaras dengan warnanya – lalu beberapa saat kemudian tubuh slime itu mencair sepenuhnya.

    *bling* muncul tulisan kecil berwarna silver sedikit di atas pandangan Arias. Ia mesti melirikkan matanya sedikit keatas untuk bisa membaca tulisan itu.
    Kerumunan slime yang lain menatap ke arah Nix dengan amarah – meskipun mereka tidak mempunyai mata. Sepertinya mereka tidak terima teman mereka dibunuh. Lima ekor slime berwarna warni melompat ke arah Nix secara bersamaan.

    “Water ball!”

    Arias mengarahkan tongkatnya ke arah salah satu slime yang mencoba menyerang Nix. Lalu dari ujung tongkat itu muncul air entah darimana yang berputar dengan cepat membentuk bola air lalu melesat menuju slime berwarna merah. Slime berwarna merah itu terpental dan mencair setelah terkena serangan Arias. Arias melirikkan matanya ke atas sesaat,
    Lalu ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah Nix. Keempat slime lainnya berhasil menyerang Nix secara bersamaan karena Nix tidak berusaha untuk menghindar sedikitpun. Ke empat slime itu menabrakkan badan mereka ke tubuh Nix. Nix berteriak kesakitan layaknya seekor anak anjing.

    “Nix, mundur!!”

    Nix berbalik dan berlari mundur, meninggalkan slime yang tidak mampu mengimbangi kecepatannya. Nix berlindung di belakang Arias.
    Arias melirik ke kiri atas pandangannya, yang menunjukkan HP-MP dirinya dan Nix.

    ‘Shit! HP Nix tinggal 2! Kalau seperti ini aku tidak akan bisa bertahan…’
    “Water Ball!”

    Sebuah bola air melesat ke arah slime berwarna kuning. Slime itu terpental dan langsung mencair begitu terkena serangan dari Arias. Namun 3 slime yang lain melompat ke arahnya. Arias tidak bisa menggunakan skillnya terus menerus karena memiliki cooldown 3 detik. Water ball juga memiliki konsumsi mana yang cukup tinggi, 20 MP setiap pemakaian. Untuk sekarang Arias hanya bisa menggunakan water ball sebanyak 9 kali. Kemampuan regenerasi MP nya saat ini hanya 1 MP per 3 detik.

    Arias dan Nix bertarung hingga titik darah penghabisan.

    Meskipun pada akhirnya mereka berdua terbunuh oleh Slime… Ya. Oleh Slime…

    Namun Arias berhasil naik 2 level, Nix berhasil naik 1 level. Tapi sebagai penalty ketika mati, level player maupun monster mendapat penurunan 1 level. Sehingga sekarang Arias level 2, sedangkan Nix tetap level 1.

    Meskipun ada pengecualian bagi player atau monster level 1 yang mati, yaitu expnya akan kembali ke 0 dan tidak bisa memainkan game ini selama 24 jam. Oleh karena itu Arias bertarung mati-matian tadi agar tidak mati pada level 1. Selain itu, penalty tidak bisa bermain selama 24 jam juga akan berlaku jika player atau monster mati dua kali berturut-turut dalam hari yang sama – dihitung 24 jam sejak waktu kematian pertama.

    Beberapa menit kemudian, Arias terlihat keluar dari sebuah gereja megah berwarna putih bercampur keemasan. Arias menggerak-gerakkan kepalanya seperti orang yang mengalami pegal leher. Nix tidak terlihat di sekitarnya. Hanya ada orang-orang lain yang sepertinya adalah player yang baru dihidupkan kembali juga.

    “Summon White Wolf, Nix,” Arias mengatakan dengan suara yang tidak terlalu keras.

    Lalu muncul sebuah lingkaran putih berdiameter sekitar 1 meter di jalanan kota di depan Arias. Sinar putih itu lalu mengeluarkan cahaya ke atas yang membentuk barier di sekeliling lingkaran itu. Lalu perlahan-lahan barier itu turun dan menghilang. Di tengah lingkaran putih tadi muncul Nix yang langsung menggonggong ke arah Arias.

    “Kita harus berlatih dulu sebelum pergi ke battlefield lagi!” Arias membungkuk sambil mengatakan kalimat tersebut dengan tegas kepada Nix.

    “…arf.” Nix sepertinya mengerti bahwa dia sedang dimarahi, dia menundukkan kepalanya dan mengeluarkan suara raungan pelan pertanda menyesal.

    Sepanjang hari itu Arias mengajari banyak hal kepada Nix. Mulai dari cara menghindar sederhana hingga strategi pertarungan yang cukup kompleks. Dengan INT yang sangat tinggi – bahkan lebih tinggi daripada masternya sendiri – Nix mempelajari segala yang diajarkan Arias dengan cepat. Ia mengajari Nix sepanjang malam hingga matahari pagi kembali menjelang.

    Teknologi VR yang paling mutakhir saat ini mampu membuat pikiran memasuki gelombang otak yang sama dengan keadaan ketika manusia tidur. Sehingga kini orang-orang bisa mengganti tidur malamnya dengan bermain game. Oleh karena itu teknologi VR keluaran terbaru ini benar-benar booming dan 80% keluarga di kota-kota besar pasti memilikinya – minimal 1.

    Setelah berlatih sepanjang malam dan siang tanpa kenal waktu, tiba-tiba sebuah tulisan besar berwarna merah muncul dalam pandangan Arias. Bersamaan dengan suara wanita khas robot yang membacakannya dengan nada panik.

     
    • Like Like x 1
  7. Offline

    sandicoded Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2016
    Messages:
    11
    Trophy Points:
    2
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6 / -0
    Aku melihat 3 baris tulisan besar berwarna merah dalam pandanganku. Sepertinya aku telah berada terlalu lama disini. Jam server menunjukkan pukul 10:01:22. Sudah sangat siang rupanya.
    Aku belum sarapan… Aku juga tidak makan kemarin malam… Sepertinya aku harus logout secepatnya lalu segera makan.

    “Menu.”

    Sebuah pop up window muncul dalam pandanganku. Aku langsung menekan tombol bertuliskan ‘Logout’. Lalu sebuah tulisan muncul pada layar yang ada di hadapanku.
    Aku menekan tombol yes. Perlahan-lahan pemandangan kota di sekitarku berubah seluruhnya menjadi putih. Lalu aku terbawa seakan akan melewati sebuah lorong waktu tak berujung. Lorong waktu itu terdiri atas tiga warna yaitu putih, biru, dan ungu, yang masing masing terdiri atas kotak kotak pixel yang melapisi dinding lorong itu. Setelah beberapa saat melaju dalam lorong tak berujung itu, aku terhenti. Pemandangan disekitarku berwarna menjadi putih terang, tanpa warna biru dan ungu seperti di lorong tadi. Lalu perlahan-lahan warna putih itu meredup. Menyisakan kegelapan dalam pandanganku.

    Aku membuka mataku. VR tube ku sudah terbuka di bagian atasnya, layaknya sebuah pintu kaca yang biasa kulihat di mall, memudahkan diriku untuk keluar.

    Ugh.. Badanku lemas sekali. Bahkan untuk berdiri saja sulit… Tapi jika aku tidak berdiri sekarang maka aku bisa mati kelaparan…

    Untung ada fitur peringatan ini. Jika tidak, bisa bisa aku keterusan bermain game dan mati konyol. Bukan masalah ‘mati konyol’nya sebenarnya. Aku tidak peduli sekalipun seluruh manusia di dunia ini menertawakan kematianku. Tapi… aku hanya tidak ingin mati sekarang.

    Dengan terhuyung-huyung aku berjalan menuruni tangga – kamarku berada di lantai dua. Aku harus sampai di ruang makan secepatnya atau aku akan pingsan.

    .. Mungkin tidak akan sampai pingsan. Tapi itu menjadi ketakutan tersendiri untukku.

    Sesampainya di ruang makan, terlihat sebuah meja besar yang dikelilingi oleh 6 buah kursi. Di atas meja besar itu terlihat sesuatu yang sangat aku butuhkan sekarang… Sepiring besar nasi goreng dengan dua telur mata sapi di atasnya.

    Tanpa banyak bicara aku langsung duduk di kursi itu. Melahap makan malam dan juga sarapan pagiku. Ketika aku sedang asik melahap makananku, pembantuku datang dari arah dapur sambil tersenyum.

    “Oh, kau sudah bangun rupanya. Silahkan dinikmati nasi goreng buatan bibi.”

    Bibi!? Apa kau merasa dirimu masih cukup muda untuk dipanggil bibi? Berapa kalipun dia menyebut dirinya ‘Bibi’ aku selalu kesal mendengarnya. Namun aku tetap tersenyum ke arah pembantuku itu. Yah, meski bagaimanapun juga wanita tua ini adalah orang membuatkan makanan setiap harinya – siang dan malam – untukku. Aku harus menjaga hubungan baik dengannya. Lagipula makanan buatannya sangat enak.

    Hm.. Aku tidak melihat pak tua itu di sekitar sini. Padahal dia biasanya membantu si nenek ini bersih-bersih setiap harinya. Wajar saja menurutku jika pak tua itu untuk meringankan tugas wanita tua ini, karena dia adalah suaminya. Mungkin itu wujud kasih sayangnya pada istrinya ini. Mungkin. Aku tidak tau.

    Mereka pasangan yang sangat serasi menurutku. Tukang kebun dengan pembantu. Bukankah itu sangat serasi? Setidaknya dari sudut pandang pekerjaan mereka sangat serasi – menurutku. Kurasa mereka sedang menikmati fase akhir hidupnya dengan bahagia dalam naungan keluargaku. Mereka sudah bekerja disini selama 10 tahun terakhir. Dan kami saling menghargai dan membutuhkan satu sama lain. Simbiosis mutualisme. Kurasa.

    Kudengar anak anak mereka kini sudah memiliki keluarganya masing-masing. Jadi mereka tidak perlu memikirkan untuk mencari nafkah dengan bekerja keras untuk anak anaknya. Mereka hanya perlu bekerja untuk menghidupi diri mereka sendiri. Wanita tua dan pak tua itu tinggal di satu ruangan yang diberikan khusus untuk mereka berdua.

    Di rumah yang sangat luas ini kami tinggal berempat. Aku, ayahku, wanita tua, dan pak tua. Namun sepanjang hari biasanya hanya ada tiga orang di rumah ini. Aku, wanita tua, dan pak tua.

    Ayahku biasanya hanya pulang diatas jam 9 malam lalu pergi lagi sebelum jam 6 pagi. Malah seringkali dia tidak pulang kerumah. Aku tidak tahu dimana dia menginap jika tidak pulang ke rumah. Mungkin di hotel, entah sendiri atau bersama wanita lain. Mungkin juga ia tidur di kantor, karena ada urusan pekerjaan. Mungkin di tempat lainnya yang tidak kupikirkan… Yang jelas, itu bukan urusanku.

    Ibuku? Dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu.

    Selama tidak ada orang lain disini selain aku, pembantu dan tukang kebunku itu kuizinkan bebas melakukan apapun yang mereka suka disini tanpa mempedulikan status sosial mereka. Asalkan hal yang mereka lakukan tidak merusak properti rumah. Lagipula aku menghabiskan sebagian besar waktuku di kamar – dan di kampus – sehingga aku hampir tidak akan melihat tingkah laku sembrono mereka di rumahku ini.

    Tanpa kusadari nasi goreng dengan porsi besar yang ada di hadapanku kini sudah abis.

    Kembali ke kamar?

    … Kurasa aku akan ke kamar kecil dulu. Perutku sakit.

    Setengah jam kemudian aku keluar dari kamar kecil. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di dalam rumahku. Rumah yang kini terasa sangat luas… dan sangat hampa. Rumah yang sangat megah… tapi terasa sangat menyedihkan.

    Aku pergi ke taman di halaman belakang rumahku. Kolam renang yang sangat luas terlihat dalam pandanganku. Namun aku tidak ingin berenang sekarang. Lagipula saat ini matahari bersinar dengan sangat terik. Aku tidak tahan dengan panas matahari.

    Aku berbaring di kursi santai di pinggiran kolam renangku itu. Berbaring di bawah payung yang melindungi siapa saja yang berada di bawahnya. Aku memandang ke atas, mencoba melihat langit, namun yang kulihat hanya bawahan payung berwarna biru… Bukan masalah.

    Aku memutuskan memejamkan mataku – dibanding harus memandang warna biru sebuah payung. Kegelapan menyelimuti pandanganku. Di tengah kegelapan ini aku membiarkan pikiranku berkeliaran dengan bebas. Memikirkan tentang apa saja yang ingin dia pikirkan—Ya. Aku menganggap bahwa pikiranku bukanlah sesuatu yang mampu aku kendalikan.

    Setelah beberapa saat mengosongkan pikiranku, membiarkannya bebas. Lagi lagi hal yang sama terbersit dalam kepalaku. Apa itu arti kehidupan? Apa sebenarnya kebahagiaan sejati yang selama ini dicari orang-orang? Aku tidak tau. Itulah jawaban yang ku tau. Tak peduli seberapa keras aku memikirkannya.

    Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku hanya… Tidak bisa berhenti. Dan aku tidak tau kenapa.

    Sudah 1 setengah tahun terakhir ini aku merenungkannya, namun tidak juga aku menemukan jawaban yang aku cari. Kurasa aku semakin mendekati kesimpulan bahwa kehidupan ini memang tidak memiliki makna. Kehidupan ini memang tidak ada artinya.

    ….. Tapi aku tidak ingin terburu-buru menarik kesimpulan. Lagipula aku baru mencarinya selama satu setengah tahun. Kurasa manusia membutuhkan waktu yang lama untuk menjawab pertanyaan seberat ini, kan? Pertanyaan berat yang tidak bisa aku temukan jawabannya di internet sekeras apa pun aku mencobanya. Pertanyaan yang tidak bisa kutemukan jawabannya dari orang lain. Pertanyaan yang harus aku renungkan sendiri. Pertanyaan yang harus kutemukan sendiri jawabannya.

    … Sejak kapan aku mulai menjadi seperti ini? Memikirkan hal hal yang tidak bisa kumengerti seperti ini? Kadang aku takut sendiri melihat perubahan yang terjadi dalam diriku. Aku tidak sadar. Seiring berjalannya waktu, diriku berubah menjadi sesosok makhluk yang tidak ku kenal sama sekali sebelumnya…

    Aku tidak tau bagaimana semua ini terjadi. Aku berubah dari sesosok anak sma yang menikmati kehidupan dengan bahagia menjadi seseorang yang memikirkan tentang betapa hampanya kehidupan ini. Seandainya aku tidak berpikir sama sekali. Apakah aku akan kembali bahagia seperti dulu? … Kurasa tidak. Lagipula bagaimana mungkin aku berhenti berpikir?

    Kehidupanku selama ini… Bisa dibilang mungkin adalah kehidupan yang selama ini didambakan semua orang. Ayahku memiliki harta berlimpah. Semenjak ibuku meninggal, tidak ada lagi yang melarangku melakukan ini itu, ayahku memberi kebebasan sepenuhnya padaku. Dengan kebebasan penuh dan harta yang tak ada habisnya, aku menjalani kehidupan SMA ku sesuai dengan apa yang kuinginkan – semuanya berjalan sempurna. Aku mengisi kehidupanku dengan hal-hal seperti hidup mewah, wanita, cinta, seks, sahabat, nongkrong, wisata, dugem, alkohol, dan juga sedikit narkoba.

    Mungkin hal-hal yang kulakukan saat itu adalah hal yang diinginkan oleh semua orang jauh di dalam lubuk hati mereka. Kebebasan penuh. Kemerdekaan ekonomi. Berada di puncak piramida sosial. Bergelimang harta-tahta-wanita. Itu adalah kehidupan yang dikejar dan didambakan oleh semua orang di dunia ini.

    … Tapi mereka hanya mendambakannya karena belum pernah merasakannya – sama seperti diriku yang dulu. Manusia mendambakan sesuatu karena belum pernah mendapatkannya. Ketika mereka mendapatkannya, mereka baru mengerti bahwa bukan hal itu yang sebenarnya mereka cari.

    Aku juga adalah murid yang pintar, sehingga meskipun gaya hidupku adalah hidup ‘bebas tanpa aturan’ seperti itu namun nilai raport ku tetap bagus – meskipun bukan yang terbaik di kelas. Karena aku selalu belajar sehari sebelum ujian. Walaupun aku jarang masuk kelas, aku bisa belajar sendiri. Aku tidak tau apakah tuhan sengaja memberikan kecerdasan ini sebagai berkah atau kutukan bagiku. Kecerdasan ini menyempurnakan hidupku yang bisa dibilang sudah sempurna.… Atau mungkin malah kecerdasan ini lah yang menghancurkan kebahagiaanku?

    … Aku tidak tau.

    Ketika aku menikmati gaya hidup seperti itu, tentu saja aku merasa sangat bahagia. Semua yang kuinginkan bisa kudapatkan. Apapun itu. Mobil mewah, motor racing, gadget keluaran terbaru… Segalanya sudah kudapatkan.

    Wanita? Cinta? Aku menjalin hubungan asmara dengan salah satu teman satu sekolahku sejak kelas 2 SMA , Lidia namanya. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Atau mungkin tepatnya tidak mungkin ada wanita yang dengan bodohnya menolakku. Kehidupanku asmaraku adalah kehidupan asmara yang didambakan semua orang. Aku tidak pernah selingkuh – setidaknya Lidia tidak pernah tau. Dan dia juga tidak pernah selingkuh – setidaknya aku tidak tahu. Selain itu aku juga bisa menyelesaikan segala drama tidak penting yang dibuat buat olehnya, sehingga hubungan kami sebagian besar dilalui dengan harmonis dan penuh cinta.
    Namun aku memutuskan hubungan kami setahun yang lalu. Karena aku merasa hubungan itu bukan lah sesuatu yang aku cari. Dia juga tidak bisa membantuku – sama sekali – untuk mencari makna tentang kehidupan ini. Sehingga menambah alasanku untuk memutuskan hubungan dengannya.

    Sebelum berpacaran dengannya aku juga pernah berpacaran dengan wanita lain ketika aku kelas 1 SMA, namun hubunganku dengannya hanya berjalan sebentar sehingga tidak meninggalkan kesan yang berarti untukku.

    Seks? Salah satu hal yang dibilang sebagai surga dunia oleh orang-orang. Aku sudah sering melakukannya dengan pacarku dulu, dengan pengaman dan tanpa pengaman – aku sudah merasakan keduanya. Aku juga melakukannya dengan beberapa wanita lain dan juga para PSK – karena diajak sahabatku – mulai dari yang biasa-biasa saja hingga yang paling cantik dan seksi.

    Sahabat? Aku berada dalam lingkaran sahabat 4 serangkai. Aku bersama 3 temanku yang lainnya. Kami berempat menjalani kehidupan bersama sebagai sahabat sehidup semati – setidaknya itu yang kami katakan ketika SMA dulu. Kehidupanku bersama mereka benar-benar seru. Tidak ada satu hari pun yang membosankan jika ada mereka – setidaknya itulah yang kupikirkan dulu. Namun seiring berjalannya waktu, hari-hari bersama mereka juga terasa monoton. Tetapi tentu saja aku tidak mengatakan hal itu pada mereka. Aku menikmati hari hari bersama mereka dengan penuh canda dan tawa – meskipun terkadang aku merasa bosan.

    Apalagi pada akhirnya kami mulai mengambil jalan hidup kami masing-masing. Salah satu sahabatku disuruh meneruskan perusahaan ayahnya. Dua yang lainnya berkuliah di luar negeri. Hanya aku yang berkuliah di Indonesia. Karena aku tidak ingin berkuliah di luar negeri. Itu merepotkan.

    Lagipula aku sudah mendapatkan segalanya disini. Mengapa pula aku harus ke luar negeri? Pamer? Aku sudah melakukan hal itu sepanjang kehidupan SMA ku. Mengejar sukses? Aku bahkan tidak mengerti apa itu sukses yang aku cari. Mencari pengalaman baru? Kurasa sebaru apapun pengalaman pasti akan ada saatnya aku akan merasa bosan dengan hal itu. Mungkin aku hanya akan merasa bersemangat selama enam bulan pertama jika berkuliah di luar negeri. Lalu tiga setengah tahun setelahnya aku akan merasa bosan. Seperti sekarang.

    Tapi kepergian sahabat sahabatku itu bukanlah masalah. Aku menemukan sahabat lain di tempat kuliahku di daerah depok. Tapi justru ketika aku memiliki sahabat baru ini lah aku mulai mempertanyakan tentang hal apa yang sebenarnya aku cari. Ini karena lingkaran sahabat baruku ini… sangat mirip dengan lingkaran sahabat lamaku. Keseruan mereka. Canda dan tawa mereka. Semangat mereka untuk selalu mencari sesuatu yang baru. Ketidaktahuan mereka akan apa yang sebenarnya mereka inginkan. Semua itu sangat mirip dengan lingkaran persahabatan lamaku – setidaknya dalam hal hal yang bersifat mendasar.

    Aku menyadari bahwa semua orang di dunia ini mencoba mencari hal yang sama dan melakukan sesuatu yang tidak jauh berbeda. Setiap orang mencoba untuk mencari ‘that something’. Sesuatu yang kita cari bahkan tanpa tahu apa sebenarnya yang sedang kita cari itu. Kita berlayar di samudra kehidupan tanpa tau arah. Membiarkan ombak membawa kita kemanapun dia mau. Membiarkan angin memutuskan kemana kita akan pergi. Karena sekalipun kita memiliki kompas, kita tidak tau apa yang menunggu kita disana – di arah yang kita tuju.

    Namun ketika aku membiarkan ombak dan angin itu membawaku selama 4 tahun terakhir – sejak kelas 1 SMA – aku mengerti bahwa tidak ada pulau indah yang selama ini kucari. Pelayaran yang aku lakukan selama ini hanyalah omong kosong. Di samudra luas ini tidak ada satu pulau indah pun tempat kita berlabuh. Semuanya hanyalah pulau pulau kosong tak berarti. Aku sudah mendapatkan segalanya di dunia ini. Aku sudah mencoba segalanya. Tapi yang kurasakan sekarang hanyalah.. Hampa.

    Yah.. Barangkali aku memang merasa bahagia di awalnya. Aku merasa bahagia ketika pertama kali diberikan kebebasan. Aku merasa bahagia ketika pertama kali merasakan cinta. Aku merasa bahagia ketika pertama kali mendapatkan semua yang kuinginkan.… Namun beberapa tahun kemudian, yang aku rasakan hanyalah… Kosong. Hampa. Bosan. Hanya itu.

    Kini aku sudah mendapatkan segalanya. Tidak ada lagi hal yang aku inginkan. Sekalipun jika aku menemukan sesuatu yang baru, maka aku hanya akan bosan terhadapnya setelah beberapa waktu. Lalu… untuk apa lagi aku hidup? Pertanyaan itu sesekali terlintas di pikiranku. Tapi tentu saja aku tidak punya niat sedikitpun untuk bunuh diri. Aku tidak tau kenapa.. Mungkin aku hanya… takut.

    Aku memutuskan untuk memikirkan makna kehidupan ini sesekali. Namun, tidak peduli berapa kalipun aku merenungkannya, berapa kalipun aku memikirkannya, aku tidak bisa menemukan apa yang sebenarnya kucari. Mungkin hal yang kucari itu memang tidak ada… Atau mungkin aku hanya perlu mencarinya lebih keras lagi.

    … Aku tidak tau.

    Bisakah aku menemukannya?

    … Aku tidak tau.

    ….. Kepalaku mulai panas. Kurasa aku akan kembali ke kamar.

    Aku membuka mataku. Warna biru payung yang melindungi dari terik matahari menutupi pandanganku yang mengarah ke langit. Aku bangkit dari kursi santaiku lalu berjalan ke kamar. Kurasa aku akan main game untuk mengalihkan pikiranku. Setidaknya ketika bermain game, aku merasa tidak terlalu..

    Hampa.

    Karena hanya itulah yang kurasakan saat ini.

    ~~~~~~

    *zzzzzz zzzzz zzzzzz zzzzzzz*

    Handphoneku bergetar di atas tempat tidur. Sepertinya aku lupa membawanya ke bawah tadi. Aku melihat layar handphoneku… Reza. Lagi lagi.

    Aku menggeser layar handphoneku, mendekatkannya ke telinga. Yah, bagaimanapun juga aku harus mengangkatnya. Atau aku akan kehilangan semua temanku jika aku bersikap dingin pada semua orang.

    “Yo.”

    “Arya! Aku sudah menelponmu 10 kali lebih, kenapa baru kau angkat!”

    Wow, pekerja keras sekali si bodoh ini. Aku tidak mungkin menelpon seseorang hingga 10 kali jika orang itu tidak menjawab. Kurasa aku harus bergurau sambil meminta maaf untuk menebus kerja kerasnya.

    “Hahaha. Maaf maaf… Aku baru saja sarapan tadi setelah semalaman bermain monster war.”

    “Hm.. Begitu rupanya. Sudah level berapa kau sekarang?”

    “Level? Aku masih level 2, monsterku level 1.”

    “Hahahaha! Kali ini aku berhasil mengalahkanmu. Aku sudah level 10, monsterku level 12!”

    “Hmm? Hahaha. Baguslah kalau begitu,” aku tidak peduli sekalipun dia meningkatkannya ke level 100. Aku hanya.. Tidak peduli.



    Kenapa dia diam? Apa responku terlalu dingin barusan…?
    Aku harus melanjutkan obrolan.

    “Ngomong-ngomong monster apa yang kau dapat?”

    “…Kita mengobrol di dalam game saja agar lebih asik. Usernameku Reza.Rozan, kau?”

    “Arias.”

    “Oke, dimana enaknya kita bertemu?”

    Tempat… Mungkin di kolam tengah kota? Lagipula itu tempat yang diketahui semua orang.

    “Di kolam di tengah kota saja.”

    “Jakarta kan?”

    “Ya,” si bodoh ini.. Memang kau pikir mau dimana lagi..?

    “Meskipun luas kota Jakarta di game ini jauh lebih kecil jika dibandingkan Jakarta asli ya. Hahaha.”

    “Ya.. Begitulah. Hahaha.”

    Percakapan sehari-hari ini begitu membosankan.
    Meskipun itu tidak berarti aku membenci si bodoh ini.
    Aku hanya… Bosan.

    “Hahaha. Oke, kalau begitu aku akan segera login! Bye!”

    “Bye,” si bodoh itu tampaknya bersemangat sekali. Mungkin kapan-kapan aku harus menanyakan hal yang membuatnya bisa bersemangat menjalani kehidupan seperti itu.

    “Oh iya–”

    Huh? Dia sepertinya ingin melanjutkan mengatakan sesuatu. Tapi aku terlanjur menekan tombol hang up… Sudahlah. Nanti juga dia bisa memberi tahuku di dalam game.

    Aku meletakkan handphoneku di atas tempat tidur. Lalu masuk ke dalam VR tube yang bagian atasnya terbuka lebar layaknya pintu kaca namun bentuknya melengkung – karena tabung. Aku mengenakan device berbentuk helm – aku tidak tahu namanya – lalu menekan tombol merah di dekat tangan kananku. Pintu VR tube tertutup perlahan. Lalu aku memejamkan mataku. Sebuah tulisan silver muncul di tengah kegelapan pandanganku.

    Ya.

    Tulisan besar berwarna silver muncul dihadapanku bersamaan dengan suara wanita khas robot yang membacakannya.

     
    • Like Like x 1
  8. Offline

    sherlock1524 Senpai Moderator

    Joined:
    Jan 26, 2012
    Messages:
    6,864
    Trophy Points:
    242
    Ratings:
    +21,907 / -146
    hmmm, mmorpg kah (lagi)? :bingung:

    singkat aja keknya:
    pro:
    1. dialog dan paragrafnya udah lumayan.
    2. ya gemnya keknya masih rada jelasan dikit lah. mgkin ngambl referensi dari gem online real.

    con:
    1. klasik.
    2. masih permulaan mgkin, ngikutnnya kek step tutorial gem.
    3. mcnya interaksinya lemah. milih monster air kenapa ngga dijelasin karena ya suka2 aja milih, manggil hewannya nix juga ndak dijelasin kenapa.

    mgkin FairyflyFairyfly mw nambahin :hmm: atau ryrienryrien yg pro maen gem ginian.
     
  9. Offline

    noprirf Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,260
    Trophy Points:
    87
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +417 / -0
    Ceritanya cukup nyaman dibaca :smile4:
    Mungkin maksud penceritaan dimulai dari tengah terus langsung menceritakan bagian awal :bingung:

    MC nya berasa banget ingin lari dari kenyataan gitu. :iii:, belum jelas cerita mau dibawa kemana. tetep menulis ya :)
     
    • Like Like x 1
  10. Offline

    ryrien The Dark Lady Moderator

    Joined:
    Oct 4, 2011
    Messages:
    6,366
    Trophy Points:
    212
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +3,060 / -55
    Baru sadar dimention...

    Selesai baca, skimming chapter 4 aja karena terlalu... boring..

    Mulai dari mana dulu ya..
    Karena ini settingnya fantasy.. pengen ngomentarin world-buildingnya dulu deh...

    2218 tapi masih serasa 2016... Laptop? Hp? Pos? Jaman kapan itu? Pantas aja itu mc bosan pengen lari dari reality.. tahun 2218 tapi rumahnya masih 2016 dan dia adalah orang kaya? :puff: Dah bunuh diri aja mc.. nda jelas ini dunianya.. :facepalm: Aduh bikin ngakak aja :lol:

    Gamenya sendiri, ini 2218 tp kok nggak enak bgt buat user.. ngantri buat dapetin telur dsb... padahal pas buat karakter kan ada panduan.. knp nggak pas itu aja... trus klo level 1 mati nda boleh main selama 24 jam dst, rule macam apa itu.. klo aku sih langsung udh delete akun.. nda tertarik bgt sama ni game.. padahal hype (lol)...

    Penulisannya.. banyak pengulangan kata typo dsb.. lagi males nunjukin cari sendiri aja ya.. mau bahas ceritanya aja..

    Bener kata sherlock, Nix sama tipe air.. kenapa harus itu.. nda dijelasin.. welll i don't really care anyway.. Trus pas temannya nelpon pertama kali kn kyk temannya yg lebih tau itu gamenya terbukti udh lvl 10 dsb tp malah mc yg ceramah dsb... percakapannya sendiri dengan teman terlalu robotik.. kaku aja... Banyak nggak deskripsi nggak penting juga kyk deskripsi portal gitu ya nda usah lah.. nda penting... Apalagi ya.. ah itu juga nda penting nampilin exp + pas battle... Trus pas chapter 4 tiba2 ganti PoV.. dan dimulai lah chapter yg boring.. tiba2 refleksi diri dsb... penuh ceramah nda penting.. trus emang nda enak bgt penulisannya.. Kyk talkshow gitu.. :swt:

    Ya gitu aja deh ya, kapan2 balik lagi.. :lalala:
     
    • Like Like x 1
  11. Offline

    RyuDan2255 Silent Reader Members

    Joined:
    Sep 6, 2011
    Messages:
    63
    Trophy Points:
    7
    Ratings:
    +4 / -0
    Thanks gan pujian dan kritiknya..
    Kenapa dia milih monster air? Ya suka suka player sebenernya sih.. :ogcute:
    Tp dia menganggap karakternya itu paling sesuai sama air dibanding 7 elemen lainnya.. wind, fire, earth, nature, lightning, darkness, holy

    Thanks gan..
    Iya, soalnya saya mau ngebentuk sistem gamenya dulu makanya cerita dari awal hehe
    Makanya jadi slow paced ceritanya :iii:

    Well, gk terlalu merhatiin masalah teknologinya sih..
    Tp thanks banget ini saran yang sangat berguna menurut saya
    Tp ada sedikit teknologi yang udah maju kok di chapter 7, ada mobil terbang wkwkwk :oghoho:

    Sistem game yang gk user friendly... Itu emang sengaja dibuat sama game delevopernya begitu.. Dengan alasan tersendiri
    Justru chapter 4 itu inti ceritanya.. Jangan malah gk dibaca :ogmatabelo:
     
    Last edited: Feb 28, 2016
    • Like Like x 1
  12. Offline

    RyuDan2255 Silent Reader Members

    Joined:
    Sep 6, 2011
    Messages:
    63
    Trophy Points:
    7
    Ratings:
    +4 / -0
    Setelah melewati lorong waktu yang biasanya, Arias tiba di sebuah padang rumput luas di luar tembok kota - tempatnya terakhir logout kemarin. Nix terlihat sedang tertidur di sampingnya.

    “Nix. Bangun.” Arias menggoyang-goyangkan tubuh serigala putih itu.

    “…rauu?” Nix membuka matanya yang kelihatan masih mengantuk.

    “Cepat, kita pergi ke tengah kota.”

    Kemudian Arias berjalan menuju ke tengah kota. Nix berjalan di belakangnya dengan lemas.

    Beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat perjanjian dengan Reza di telepon. Arias berdiri di pinggir kolam, menengok ke kanan-kirinya, tapi sepertinya Reza belum datang. Ia memutuskan untuk bermain lempar tangkap dengan Nix. Ia menggunakan tongkatnya yang panjangnya sekitar satu setengah meter untuk bermain bersama serigala kesayangannya itu. Orang-orang di sekitarnya menatap Arias dengan pandangan sedikit kesal, namun ia tidak mempedulikannya. Menurutnya, ini hanyalah game, jadi ia tidak perlu memperhatikan etika disini.

    Setelah beberapa kali bermain lempar tangkap dengan Nix, dan beberapa kali mengenai orang lain dengan lemparan tongkatnya, seorang pemuda datang bersama dengan dua wanita yang juga kelihatannya adalah sesama player.

    “Arya!” Pemuda itu melambaikan tangan sambil berjalan menghampiri Arias.

    “… Reza?”

    “Tepat sekali!”

    Pemuda yang bernama Reza itu mengenakan armor silver di dadanya, lengan, dan kakinya. Di pinggang kirinya terdapat sebilah pedang panjang khas jepang - katana. Wajahnya tampan dan dipenuhi rasa percaya diri. Wajahnya lumayan mirip dengan wajahnya di dunia nyata, walaupun kulitnya dibuat lebih putih dari aslinya. Di atas rambut gondrongnya yang berwarna hitam, seekor burung berwarna merah membara melayang-layang mengikuti gerakan pemiliknya, ukurannya sedikit lebih besar daripada Nix.

    Salah satu wanita disampingnya mengenakan armor serba merah. Rambutnya yang panjang juga berwarna merah membara selaras dengan armornya. Sepertinya wanita itu terobsesi dengan warna merah. Wajahnya cantik, namun tidak ada ketegasan terpancar dari wajahnya – tidak sesuai dengan warna merah membara yang menjadi obsesinya itu – wajahnya menunjukkan wajah seseorang yang ceria dan banyak omong. Ukuran dadanya, normal, tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Di pinggang kirinya terdapat sebilah pedang jenis longsword, warna sarung pedangnya juga merah. Lalu di tangan kirinya menempel sebuah tameng yang tidak berwarna merah – satu-satunya benda tidak berwarna merah yang dikenakannya – warna tamengnya silver. Di belakang wanita itu, seekor singa berambut merah menunjukkan tatapan haus darah. Orang orang sekitar kelihatannya menjauh dari hewan buas itu, tentu saja.

    Wanita yang satu lagi mengenakan jubah berwarna dominan gelap dengan hiasan garis hijau terang yang membentuk pola pola abstrak. Ia memakai topi kerucut khas penyihir – yang juga berwarna dominan gelap dengan garis hijau terang melingkari topinya. Wanita itu memiliki rambut model bob yang berwarna hijau terang, agak kontras dengan jubahnya yang berwarna dominan gelap. Wajahnya manis, dan ia kelihatan ramah. Ukuran dadanya sedikit lebih besar daripada wanita berambut merah, namun tidak terlalu besar juga. Ia memegang tongkat coklat yang persis seperti milik Arias di tangan kanannya. Namun tongkat milik Arias jauh lebih jelek karena sering digunakan untuk bermain lempar tangkap bersama Nix. Di sekitar wanita berjubah itu tidak terlihat seekor monster pun yang menemaninya.

    Arias? Ia masih mengenakan kaos biru dan celana jeans biru dengan rambut hitam sedikit gondrong layaknya tokoh anime. Ia terlihat seperti penyihir era modern jika memegang tongkat berwarna coklat itu di tangan kanannya. Menurut Arias, equipment seperti armor atau jubah bukanlah hal yang penting di awal permainan, sehingga ia tidak akan sudi membelinya. Kecuali jika ia mendapatkannya secara gratis dari drop monster atau hadiah penyelesaian quest.

    “Perkenalkan, dua wanita ini adalah temanku! Yang berambut merah adalah teman kuliahku Annisa, sedangkan yang memakai jubah itu adalah teman yang ku kenal dari game ini kemarin, Sylvia,” Reza memperkenalkan dua wanita itu dengan antusias.

    Arias mengulurkan tangannya kearah wanita berambut merah sambil tersenyum, “Arias. Salam kenal.”

    Wanita berambut merah itu menjabat tangan Arias sambil tersenyum lalu berkata, “Panggil saja aku Nisa. Itu usernameku disini. Salam kenal juga.”

    Lalu Arias juga mengulurkan tangannya kearah wanita berjubah hijau, “Arias. Salam kenal.”

    Wanita berjubah hijau itu menjabat tangan Arias lalu berkata, “Sylvia!” Ia mengucapkan kalimat itu sambil memiringkan kepalanya dan tersenyum manis. Namun Arias tidak mempedulikannya.

    “Apa yang kau ingin bicarakan tadi di telephone?” Arias bertanya kepada Reza dengan sedikit rasa penasaran.

    “Oh itu.. Aku hanya ingin bilang bahwa aku mengajak orang lain bersamaku.”

    “Oh...”

    “… Kalau begitu.. Ayo kita duel!” Tiba-tiba Reza berteriak dengan penuh semangat.

    “Ha? T-Tunggu. Aku masih level 2! Bagaimana mungkin aku berduel dengan player level 10?!”

    “Hahaha! Justru karena kau masih level 2 makanya aku menantangmu untuk duel!” Reza tertawa lepas mendengar jawaban Arias. Namun dua wanita lainnya kelihatan kebingungan mendengar percakapan mereka.

    “Aku akan berduel denganmu lain kali,” Arias menanggapi tawa sahabatnya itu dengan dingin.

    “Hahaha. Seperti biasanya kau selalu rasional dan berkepala dingin, jika tidak bisa disebut pengecut,” Reza tersenyum licik, mencoba memprovokasi Arias.

    “... Terserah kau saja.” Arias membalas perkataan Reza dengan tanpa terlalu peduli.

    “Hahahaha!” Reza menepuk pundak Arias sambil tertawa yang kelihatannya agak dipaksakan.

    “…”

    “… Baiklah. Sekarang apa yang akan kita lakukan?” Reza bertanya sambil memandang kedua wanita yang daritadi diam saja mendengar percakapan Arias dan Reza.

    “Bagaimana jika kita berburu goblin?” Wanita berambut merah menanggapi pertanyaan Reza.

    “Goblin? Aku sudah level 10! Aku tidak akan mendapat banyak exp dengan berburu goblin!”

    “Oi. Aku masih level 2!” Balas Arias tidak setuju dengan pendapat Reza.

    “Aku level 4. Mandrake ku level 5. Kurasa berburu goblin adalah hal yang tepat untukku,” Sylvia ikut mengutarakan pendapatnya.

    “Bagaimana dengan kau, Nisa? Kau level berapa?” Arias bertanya. Mencari pendukung agar mereka pergi berburu goblin.

    “Aku level 1! Liyon kesayangku juga!”

    ‘Liyon? Serius dia menamai singanya dengan nama itu?? Apakah dia seorang idiot atau apa??’ pikir Arias.

    “Hmm. Jika kalian memutuskan untuk pergi berburu goblin, aku akan ikut dengan kalian. Tidak mungkin aku bisa meninggalkan para gadis cantik ini bersama orang sepertimu kan?” Reza berkata dengan nada mengejek sambil melirik kearah Arias.

    “… Terserah kau saja.” Arias tidak mempedulikan perkataan Reza.

    Beberapa saat kemudian sebuah pop up window muncul dalam pandangannya.

    Arias menggerakkan mulutnya tanpa suara, "Ya," lalu sebuah layar yang menunjukkan list anggota party tersebut muncul dalam pandangannya. Anggotanya sudah pasti adalah Reza, Nisa, Sylvia, dan dirinya. Setelah itu mereka pun berjalan ke luar kota, menuju ke hutan tempat goblin berada.


    ~~~~~~


    Setelah berjalan cukup lama. Mereka sampai di hutan tempat goblin berada. Mereka berempat membentuk sebuah formasi dasar. Reza dan Nisa bersama monsternya berada di garis depan. Arias, Nix, dan Sylvia berada di belakang. Sebuah party yang seimbang, dua attacker dan dua supporter. Goblin dalam game ini berwarna hijau gelap sehingga sulit dilihat dalam hutan yang gelap ini. Biasanya goblin menyerang dengan serangan kejutan dan juga berkelompok. Sehingga mereka berempat tidak punya pilihan selain terus maju sambil menunggu goblin yang menyerang mereka.

    Namun ada satu hal ganjil yang mengganjal di pikiran Arias. Dia menoleh kearah Sylvia lalu bertanya, “Dimana monstermu?”

    “Hm?” Sylvia kelihatan kebingungan mendengar pertanyaan Arias.

    “Apa kau tidak memiliki monster yang bertarung bersamamu?”

    “… Disana,” Sylvia tersenyum sambil menunjuk ke arah tanah di depannya. “Mandrake ku ada di bawah tanah. Dia akan bertindak saat dibutuhkan kok.”

    “Oh. Baguslah kalau--”

    Semak-semak di belakang-kanan Arias bergerak-gerak. Lalu tiba-tiba seekor goblin melompat dari semak-semak itu. Goblin itu menusukkan pedang pendeknya ke pinggang kanan Arias.

    “Gah!”
    ‘Ini sangat sakit!’

    Arias baru menyadari bahwa game ini tidak menghilangkan rasa sakit seperti game game VRMMO lainnya. Ketika melawan slime dia hanya merasa didorong dorong oleh sebuah jelly sehingga tidak benar benar terasa sakit meskipun HPnya berkurang. Tapi ini berbeda dengan goblin yang membawa pedang pendek seperti pisau dapur berukuran besar.

    Arias menatap goblin yang menusuk pinggangnya dengan tatapan penuh amarah bercampur rasa takut. Dengan tongkatnya, ia memukul kepala goblin itu hingga makhluk hijau itu jatuh tersungkur ke tanah. Arias mundur dengan cepat ke arah Reza lalu mengarahkan tongkatnya ke arah goblin dan berteriak.

    “Nix, mundur! Water ball! Agh..” sesaat setelah bola air itu melesat, Arias jatuh berlutut di tanah. Memegangi luka di pinggangnya akibat tertusuk pedang pendek goblin tadi. Darah segar mengucur dari pinggangnya.

    Bola air yang ditembakkan Arias tadi melesat mengenai goblin yang terbaring di tanah itu dengan telak. Namun kelihatannya goblin itu masih hidup. Perbedaan level antara goblin dan dirinya memang tidak bisa dianggap remeh. Dua ekor goblin lainnya melompat dari semak-semak, mencoba menusuk Nix yang berusaha lari.

    Lalu tiba tiba dari tanah dibawahnya dua buah batang pohon menghantam kedua goblin yang mencoba menyerang Nix.

    BUKK!!

    Kedua goblin itu terpental ke atas. Melayang di udara.

    “Mandrake!” Sylvia berteriak dengan gembira lalu mengarahkan tongkatnya ke depan dan berteriak “Binding Roots!” puluhan akar pohon kecil melesat mengikat kedua goblin itu di udara, membuat keduanya tidak bergerak.

    ‘Ini kesempatan bagus untuk mendapat exp lebih,’ pikir Arias. “Gh.. Nix, serang kedua goblin itu! Water ball!” sambil berlutut menahan rasa sakitnya, Arias mengarahkan tongkat di tangan kanannya ke depan untuk menembakkan sihirnya.

    Nix melompat kearah salah satu goblin yang melayang di udara. Goblin itu digigit oleh Nix hingga gigi serigala putih itu menancap begitu dalam. Goblin itu meronta ronta berusaha melepaskan diri. Namun serigala putih itu bertekad untuk tidak melepaskan gigitannya. Darah mulai mengucur deras dari sekujur tubuh goblin malang itu. Namun sang goblin belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerahkan nyawanya dengan segera. Sementara goblin yang satunya lagi terkena serangan bola air dari Arias, namun masih kelihatan baik baik saja.

    ‘Shit! Levelku dan Nix terlalu rendah untuk membunuh goblin itu!’ pikir Arias.

    Lalu dari semak-semak terlihat 3 ekor goblin lain melompat ke arah Nix.

    “Wind Slash!”
    Reza mengayunkan katananya ke arah 3 goblin yang baru muncul itu. 3 goblin itu terpental terkena tebasan pedang jarak jauhnya itu. Badan ketiga goblin itu bercucuran darah tertebas oleh pedang angin yang tak terlihat, namun luka yang diterima para goblin itu seakan seperti luka akibat tebasan pedang asli.

    “Arias! Kau tidak apa-apa!?”

    “.. HP ku tinggal setengah, tapi tidak ada efek bleeding yang parah. Lanjutkan pertarungan.”

    Arias menjawab dengan dingin. Pikirannya masih tajam seperti biasa walaupun sekarang ia sedang menahan sakit yang sangat itu. Reza lalu menjawab dengan singkat, dia tau bahwa Arias tidak akan berbohong padanya soal hal seperti ini.

    “Oke. Phoenix!!”

    Mendengar teriakan dari Reza, burung berapi itu melesat ke arah ketiga goblin tadi, mengepakkan sayapnya hingga menghembuskan angin yang terbakar api ke arah goblin goblin itu. Para monster hijau itu berteriak kesakitan dalam panasnya api yang membakar tubuh mereka perlahan lahan. Beberapa saat kemudian goblin goblin itu jatuh tersungkur ke tanah tak bergerak.

    “DEYAH!” Nisa menebaskan pedangnya ke arah goblin lainnya yang sedang bersembunyi di semak-semak. Sepertinya itu adalah goblin penakut yang tidak berani ikut dengan teman temannya menyerang para player. Namun damage yang ditimbulkannya terlalu kecil sehingga goblin itu tanpa merasa kesakitan langsung melakukan serangan balik dengan pedang pendeknya. Nisa menangkis serangan goblin itu dengan perisainya.

    Dari belakang, Liyon melompat, menerjang goblin itu. Liyon menggigit kepala sang makhluk hijau dengan gigitan yang sangat kuat. Jika ini dunia nyata, maka kepala goblin itu pasti sudah remuk, tapi karena Liyon masih level 1, goblin itu tidak langsung mati, meskipun darah mengucur deras dari kepalanya. Mencoba melawan, goblin itu menusukkan pedang pendeknya ke perut Liyon.

    “GRAAAH!” Liyon mengerang kesakitan, gigitannya terlepas dari kepala goblin itu.

    “Liyon!” Nisa datang membantu. Dia menusukkan pedang miliknya ke punggung sang goblin yang masih berfokus melawan makhluk buas di depannya. Pedang itu menembus punggung makhluk hijau itu. Namun goblin itu belum menunjukkan tanda tanda akan mati. Goblin itu menoleh kebelakang tanpa membalikkan tubuhnya, menatap Nisa dengan mata merahnya.

    “AAAAHHH!!” melihat tatapan menyeramkan goblin itu dengan histeris Nisa mencabut pedangnya. Lalu menusukkannya lagi. Mencabut pedangnya. Menusukkannya lagi. Hal itu dilakukannya berulang-ulang hingga goblin itu terjatuh ke tanah dengan sendirinya dan tak bergerak sama sekali.

    “Hah… Hah…” Nisa terengah-engah setelah berhasil mengalahkan goblin itu. Darah menodai wajahnya yang putih bersih menjadi berwarna merah. Seluruh tubuhnya kini benar-benar dipenuhi oleh darah merah. Meskipun warna darah itu tidak terlalu jauh berbeda jika dibandingkan dengan warna asli armornya.

    “Water Ball!” Serangan dari Arias menghabisi goblin yang masih terikat oleh skill binding roots Sylvia. Goblin yang terkena serangan dari Arias itu berhenti meronta ronta. Lalu akar yang mengikatnya sedari tadi menghilang bersamaan dengan kematian makhluk hijau itu.

    Bersamaan dengan itu, goblin yang ada dalam gigitan Nix terlihat berhenti bergerak, Nix pun melepaskan gigitannya dan membiarkan goblin itu jatuh tergeletak di atas tanah. Serigala putih itu tidak lagi sepenuhnya berwarna putih, tapi kini bercampur merah, khususnya dibagian mulutnya. Darah menetes dari bulu bulu putih Nix, memberikan kesan seekor hewan buas yang baru saja menghabisi mangsanya.

    Bersamaan dengan matinya dua goblin terakhir itu. Muncul sebuah tulisan berwarna silver terang di dalam pandangan Arias. Suara *triing* terdengar berkali kali bersamaan dengan munculnya tulisan itu.

    Melihat skill baru yang di dapat olehnya, Arias langsung mencobanya untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Dia mengarahkan ujung tongkatnya ke dadanya lalu berkata, “Heal.”

    Tubuhnya dilingkupi sinar biru air. Luka di pinggangnya menutup dengan cepat. HP bar nya kembali penuh. ‘Ini yang aku suka dari Mage tipe air’, Arias tersenyum kecil sambil memikirkan skill baru yang dia dapatkan.

    “Oi Arya, kau mempunyai skill heal?? Bukankah kau seorang mage?” Reza berjalan menghampiri Arias. Armor silvernya yang kini berwarna merah darah.

    “Aku baru mendapatkannya. Ini adalah salah satu spesialisasi Water Mage,”

    “Kalau begitu heal aku juga!” Reza berkata sambil menunjuk dadanya sendiri dengan jempolnya.

    “… Skill heal ku masih Lvl 1. Sebaiknya kau menggunakan health potion saja,” setelah berkata seperti itu Arias berjalan ke arah Liyon yang terluka. Setelah menunggu cooldown dari skillnya, ia mengarahkan tongkatnya ke arah Liyon lalu berkata “Heal.”

    Tubuh Liyon dilingkupi sinar berwarna biru. Luka dibagian perutnya menutup dengan cepat.
    “A-Ah! Makasih! … Arias!” Nisa menengok ke arah Arias sambil tersenyum.

    Arias membalas senyuman Nisa tanpa berkata apa apa, lalu mengalihkan pandangannya ke arah tubuh tubuh goblin yang berserakan di hutan itu. Ia mulai memeriksa tubuh ketujuh goblin yang berhasil mereka kalahkan itu satu persatu. Dia mengambil 7 taring goblin itu, 3 taring goblin yang ia ambil diberikan kepada Nisa. Karena Nisa juga memiliki quest yang sama seperti Arias – membunuh 10 goblin. Seekor goblin hanya memiliki 1 gigi taring. Taring itu berguna sebagai bukti bahwa player telah mengalahkan goblin seperti permintaan dalam quest nya.

    Sylvia juga mengambil koin silver yang dikalungkan pada tiap leher goblin itu. Sementara Arias dan Reza memotong-motong beberapa bagian tubuh monster hijau itu, memilah-milah bagian yang bisa dijual nantinya, seperti cakar dan gigi goblin. Nisa berdiri memperhatikan tindakan mereka bertiga dengan ekspresi ketakutan. Memutilasi seseorang meskipun itu seekor monster bukanlah hal yang manusiawi untuk dilakukan. Karena bagi Nisa ini adalah pertama kalinya ia melakukan pertarungan dengan monster dalam game ini. Sedangkan Arias.. dia sudah membaca tentang hal ini di internet jadi dia sudah tau.

    Game ini tidak menggunakan sistem monster drop. Sehingga player bisa mendapatkan uang tambahan dengan menjual bagian-bagian tubuh monster yang mereka kalahkan. Bisa dibilang sistem dalam game ini mengharuskan para playernya berbuat layaknya pembunuh berdarah dingin karena harus memotong bagian-bagian tubuh setiap monster yang mereka kalahkan jika ingin mendapatkan uang yang cukup.

    Game ini juga menyediakan fitur kantong celana tak terlihat - di bagian paha kanan dan kiri tiap player - yang berfungsi seperti kantong ajaib doraemon. Sehingga player tidak perlu repot repot membawa tas besar untuk menyimpan bagian-bagian tubuh monster yang mereka ingin jual nantinya.

    Tapi player yang tidak berani melakukannya – seperti Nisa – juga tetap bisa mendapatkan uang. Monster diatas level 5 seperti goblin ini selalu membawa sebuah kalung di lehernya. Mereka mengalungi sejumlah koin yang jumlahnya berbeda-beda tergantung level monsternya. Untuk para goblin yang berada pada level 8 ini, tiap ekor mengalungi 10 koin copper.

    Setelah selesai memotong bagian-bagian tubuh para goblin dengan pisau dapur yang ia bawa, Arias mengecek statusnya.

    Dia melihat bahwa Job nya berubah dari Mage Apprentice menjadi Water Mage Apprentice. Berbagai statusnya juga meningkat secara random. Kecuali INT nya yang meningkat sebesar satu poin setiap kenaikan level. Setelah memperhatikan statusnya cukup lama, dia lalu membuka status monsternya.


    Arias hanya sempat melihat sekilas. Karena tiba-tiba 5 ekor goblin muncul, menyerang mereka dari arah Sylvia. Mereka berempat menghabisi goblin-goblin itu seperti sebelumnya. Lalu melanjutkan berkeliling mengitari hutan, menghabisi setiap goblin yang mereka temui. Hutan ini adalah hutan khusus goblin yang diperuntukkan bagi pemain pemula. Selama petualangan mereka berburu goblin, Arias tidak lagi hanya bertugas melakukan penyerangan, tapi kini dia berperan sebagai healer di timnya setelah mendapatkan skill Heal.

    Setelah 4 jam menaklukkan goblin dan beberapa monster lainnya, mereka kembali ke kota tempat awal mereka bertemu. Matahari kini tak lagi bersinar terik. Arias melihat ke arah jam digital di pojok kanan bawah pandangannya, jam server menunjukkan pukul 14:54:21.


    ~~~~~~


    Kini mereka berempat terlihat sedang berjalan menyusuri jalanan kota, dengan Reza berada pada posisi paling depan. Para penduduk kota yang berjalan lalu-lalang selalu menyempatkan diri untuk menoleh ke arah mereka berempat. Tentu saja karena darah yang ada di sekujur tubuh mereka bukanlah hal yang biasa. Reza dan Nisa hanya membasuh darah yang ada di wajahnya, namun tidak menghilangkan darah di armor mereka. Armor mereka masih berwarna merah darah. Begitu juga dengan Nix dan Liyon.

    Reza tiba-tiba berhenti di sebuah bangunan yang mengeluarkan aroma sedap dari dalamnya. Bangunan itu sepertinya adalah sebuah restoran.

    “Ayo kita makan dulu!” Reza berkata dengan senyum lebarnya.

    “Apa kita membutuhkan makanan di dalam game ini?” Arias menanggapinya dengan dingin.

    “Eeh? Tapi makan bisa meningkatkan stats kita lho,” Sylvia membalas perkataan Arias dengan wajah polosnya.

    Arias melirik Sylvia dengan pandangan penuh keraguan, seakan mengatakan ‘aku tidak percaya’

    “Ayo cepat kita makaaan!” Nisa berjalan masuk dengan semangat sambil menarik tangan Reza. Arias dan Sylvia terpaksa mengikuti.

    Mereka berempat duduk mengelilingi sebuah meja kotak. Monster-monster mereka dilarang memasuki restoran sehingga mereka harus menunggu di luar. Meskipun para monster itu juga dipesankan makanan. Setelah memesan hidangan masing masing kepada pelayan, Arias membuka pembicaraan.

    “Za, monster milikmu itu… apakah itu Phoenix?”

    “Tepat sekali! Lagipula bukankah dari warnanya saja kau sudah bisa menebak?”

    “Bukankah kau bilang padaku kau memilih elemen angin?”

    “Ya, aku memang memilih elemen angin.”

    “Lalu kenapa bisa muncul Phoenix?? Bukankah itu elemen api??” Arias bertanya dengan penuh keheranan. Tidak biasanya ia seperti itu.

    “Hmm. Aku tidak tau. Mungkin karena aku memasukkan semua stat awal yang kudapat ke STR?” Reza menjawab namun terlihat tidak peduli akan hal itu.

    Pelayan datang membawakan makanan untuk mereka berempat. Reza memesan steak. Nisa memesan spagetti khas italia. Sylvia memesan sepiring nasi beserta ayam bakar. Arias memesan nasi goreng seafood berisi udang dan cumi cumi. Lalu Sylvia tiba tiba membuka mulutnya, melanjutkan pembicaraan tadi.

    “… Kelihatannya game ini bekerja dengan sistem yang cukup unik.”

    “Bisa dibilang sistem game ini sangat aneh,” Nisa menambahkan dengan sedikit ekspresi kesal di wajahnya.

    “Bagaimana mungkin elemen angin berubah menjadi elemen api hanya karena semua poinnya dimasukkan ke dalam STR?” Sylvia bertanya sambil melihat ke arah Reza.

    “Aku tidak tau. Jangan tanya aku. Tanya developernya saja sana. Hahaha!” Reza menjawab dengan santai sambil tertawa.

    “… Dan juga… Bukankah game ini terlalu berlebihan? Lihat saja bagaimana Arias terluka tadi. Dan juga armor Reza dan armorku yang masih bersimbah darah ini. Serigala putih itu dan Liyonku juga mengalami hal yang sama,” Nisa menambahkan.

    ‘Huh? Kukira dia seorang idiot. Tapi sepertinya dia tidak sebodoh yang kupikirkan… Meskipun game ini dikategorikan 18+ tapi tetap saja gore dalam game ini sudah sangat berlebihan. Dan juga.. Tusukan pedang goblin tadi itu sangat sakit.. Seharusnya sudah cukup banyak orang yang protes akan hal hal ini,’ pikir Arias.

    Namun Reza hanya terdiam mendengar perkataan Nisa.

    “… Ada banyak hal yang aneh dalam game ini,” Nisa melanjutkan dengan ekspresi ketakutan yang terlihat jelas di wajahnya.

    “Sudahlah... Ini kan hanya game. Jangan terlalu dipikirkan dan nikmati saja gamenya,” Reza mengatakan hal itu sambil tersenyum. Mereka semua terdiam mendengar perkataan Reza.

    Lalu setelah keheningan beberapa saat, Sylvia tiba-tiba berbicara, “Umm.. Aku harus log out. Aku ada janji dengan temanku sore ini.”

    “O-Oh. Oke, hati-hati dijalan yaa!” Reza membalas sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.

    Sylvia kelihatan menggerak-gerakkan tangannya, mengotak-atik layar di hadapannya yang tidak terlihat oleh orang lain.
    “Bye! Sampai ketemu lagi!” Sylvia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Lalu tubuhnya menghilang dalam sekejap seperti ninja.

    Arias melihat ke arah Sylvia yang menghilang lalu melanjutkan menyantap makanannya yang belum habis. Tiba-tiba sebuah pop up window muncul di hadapannya.

    Arias melirik ke arah Reza dengan tatapan datar, lalu berkata “Ya,” tanpa suara.

    Reza berhasil ditambahkan ke dalam daftar teman.

    “Aku harus logout,” Reza berkata sambil melihat ke arah Arias, lalu pandangannya bergeser ke arah Nisa, “Sebaiknya kau berhati-hati jika ingin berpetualang bersama dengannya. Hahaha.”

    Reza tertawa lalu menekan sebuah tombol tidak terlihat di depannya. Dia juga menghilang seketika seperti Sylvia. Keheningan melanda mereka berdua seketika setelah Reza meninggalkan mereka.

    ‘Ini situasi yang sangat canggung… Sialan si bodoh itu’ Arias berfikir keras untuk mencairkan suasana. Namun otaknya tidak bisa memikirkan topik pembicaraan yang menarik. Setelah beberapa saat berpikir, Arias memutuskan untuk menyerah dan melanjutkan menyantap makanannya tanpa berkata apa apa. Lalu tiba tiba Nisa membuka pembicaraan.

    “Hey hey Arias. Sudah berapa lama kau berteman dengan Reza?” Nisa berusaha mencairkan keheningan yang melanda mereka. Setidaknya Nisa lebih ahli dalam hal ini dibanding Arias.

    “Hm? Kami tetangga sejak kecil.. Sampai sekarang. Rumahnya tepat di sebelah rumahku.”

    “Ooh?! Kalau begitu bolehkah aku kapan-kapan main ke rumahmu?”

    “…” Arias menatap Nisa dengan sedikit kaget sebelum menjawab, “.. Terserah kau saja,” Arias tau bahwa itu hanyalah basa basi.

    “Yay!” Nisa berteriak dengan gembira seperti anak kecil. Namun wajahnya dan tubuhnya bukanlah lagi seperti anak kecil. Wajahnya cantik, lebih cantik dibanding perempuan kebanyakan. Rambut merahnya menambah kecantikan wajahnya itu. Tubuhnya juga bisa dibilang lumayan seksi, meskipun dadanya tidak terlalu besar.

    Setelah terdiam beberapa saat, Arias melanjutkan percakapan mereka.

    “Sejak kapan kau berteman dengan si bodoh itu?”

    “Ah, aku kenal dia sejak kelas 3 SMA. Sekarang kami satu fakultas jadi aku sering bermain dengannya.”

    “Hmm.”

    “Menurutmu Reza itu orangnya bagaimana?”

    “… Aku tidak mau bergosip tentangnya.”

    Arias tidak terlalu suka basa basi seperti ini. Kadang ia berpikir kenapa di dunia ini harus ada basa-basi, ngobrol kesana-kemari tanpa arah yang pasti - seperti sekarang. Hal ini sangat menyusahkan menurutnya. Sehingga ia memutuskan untuk menghabiskan makanannya dengan cepat tanpa melanjutkan pembicaraan. Ia tidak peduli lagi dengan keheningan yang melanda mereka berdua.

    Beberapa saat kemudian sebuah tulisan silver muncul di hadapannya

    ‘Wow! Ternyata Sylvia benar! Sepertinya aku harus sering-sering makan di game ini. Apalagi harga makanannya tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan peningkatan statusnya. Harga makanan ini hanya 25 copper.’

    Setelah selesai makan Arias langsung berdiri dari kursinya, “Aku akan melanjutkan hunting goblin.”

    “Ah? Kalau begitu bolehkah aku ikut denganmu?”

    Arias terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “.. Bukankah tadi kau ketakutan akan game ini?”

    “... Setelah kupikir pikir ini tetap saja hanya dunia game. Jadi.. kurasa tidak perlu kuatir,” Nisa berkata sambil tersenyum yang kelihatan sedikit dipaksakan.

    “… Terserah. Tapi cepat habiskan makananmu.”

    Nisa mengangguk lalu melahap makanannya dengan cepat.

    Setelah makanannya habis, Nisa langsung berdiri dari tempat duduknya dan berkata sambil tersenyum, “Ayo berangkat.”

    “Ayo pergi ke guild masing-masing dulu untuk mengambil hadiah quest goblin kita.”

    ‘Meskipun hadiahnya hanyalah satu koin silver. Tapi 50 exp bukanlah hal yang percuma.’

    ~~~~~~


    Mereka melanjutkan berburu monster hingga langit mulai gelap. Jam server menunjukkan pukul 18:32:20. Nisa terlihat bersimbah darah di sekujur tubuhnya. Sama seperti serigala putih dan singa berambut merah yang berada di sampingnya. Sementara Arias.. jeans birunya hanya kotor sedikit.

    Setelah Arias mengumpulkan bagian bagian tubuh goblin yang baru saja mereka bunuh, Nisa berkata pada Arias, “Ini sudah mulai gelap, haruskah kita kembali ke kota?”

    “... Sepertinya.”

    Setelah berkata seperti itu, tiba-tiba sebuah tulisan merah besar muncul dalam pandangan Arias.

    ‘Ini lagi... Padahal aku sudah makan nasi goreng porsi besar tadi pagi.’
    “Nis, sepertinya aku harus logout. Peringatan muncul di layar monitorku.”

    “Ah. Kalau begitu aku juga akan logout.”

    Arias menekan tombol di layar monitornya yang bertuliskan ‘Logout’. Lalu muncul sebuah tulisan silver di dalam pandangannya.

    ‘Eh!?’ Tidak bisa logout?! Apa-apaan! Ini bukan SAO kan!?’

    “.. Apakah kau bisa logout?” Arias bertanya sambil melihat ke arah Nisa.

    “Tidak bisa..” Nisa menggelengkan kepalanya.

    “… Mungkin kita tidak bisa logout di hutan. Ayo kita kembali ke kota.”

    Begitu sampai di kota mereka pun berhasil log out…
    “Ah, aku bisa logout! Sampai ketemu lagi Arias!” Nisa tersenyum sebelum menghilang seperti ninja.
    ‘Hanya bisa logout di kota? Kenapa info sepenting ini tidak diberitahu dalam manual ataupun help!?’ Arias menggerutu sambil menekan tombol logout di layar di hadapannya.

    Ia menekan tombol yes.

    Beberapa saat kemudian ia tiba di kamarnya. Ia langsung turun ke bawah, menuju ruang makan.

    Setelah makan malam dan berpikir beberapa saat, Arias mengerti bahwa game ini tidak mengizinkan playernya logout selain di daerah tanpa monster. Ia berhipotesis mungkin ini karena ketika player logout, monster mereka tidak akan ikut menghilang. Arias melihat sendiri hal ini tadi siang. Phoenix milik Reza masih ada di dekat Nix dan Liyon setelah Reza logout. Seusai makan, Arias langsung kembali login ke dalam Monster War. Lagipula tidak ada yang ingin ia lakukan di dunia nyata.


    ~~~~~


    “Monster Skill, Blood Drain.”
    Nix menggigit seekor serigala merah di tengah hutan yang gelap. HP Nix terisi penuh kembali berbarengan dengan terkurasnya HP serigala merah itu. Ketika serigala itu sudah tidak bergerak, Nix melepaskan gigitannya, membiarkan sang anjing hutan itu jatuh ke tanah. Tulisan silver terang muncul dalam pandangan Arias bersamaan dengan bunyi *triing* dua kali.

    Setelah melihat detail skill barunya, Arias memutuskan untuk mematikan notifikasi bunyi yang ada di dalam game ini. Karena menurutnya bunyi ‘triing’ itu sangat menggangu.
     
    Last edited: Feb 28, 2016
  13. Offline

    RyuDan2255 Silent Reader Members

    Joined:
    Sep 6, 2011
    Messages:
    63
    Trophy Points:
    7
    Ratings:
    +4 / -0
    Setelah berburu monster semalaman penuh, matahari terbit di ufuk timur. Sinarnya menyilaukan mata Arias yang sedang berjalan di tengah padang rumput. Arias menolehkan kepalanya membelakangi arah sinar matahari, lalu berjalan ke arah sebuah pohon besar yang rindang. Seekor serigala putih terlihat mengikuti dibelakangnya. Ukurannya sekarang tidak lagi sebesar anjing normal, tapi tingginya sudah mencapai dada orang dewasa dan panjang tubuhnya dari kepala hingga ekor sekitar 2.5 meter. Arias lalu duduk dibawah pohon rindang itu.

    Menikmati sejuknya udara pagi, Arias memutuskan untuk berbaring di bawah pohon tersebut beberapa saat. Memejamkan matanya dan menikmati suasana yang ada di sekitarnya.

    ‘Suasana ini sangat sejuk.. tenang.. damai.. dan juga..... Hampa.’

    ‘Kehampaan.. itu adalah kata lain dari “Kedamaian.”’

    ‘Keadaan tanpa penderitaan.. Tanpa konflik..’

    ‘… Bukankah ini sangat membosankan? Aku tidak mengerti kenapa orang orang menginginkannya.’

    Arias membuka matanya. Ia memutuskan untuk mengecek statusnya sebelum melanjutkan bermain.

    “Menu,” sebuah layar muncul di hadapannya. Ia menekan tombol yang bertuliskan ‘Status’. Kemudian sebuah layar berisikan status dirinya muncul dalam pandangannya.

    Arias memperhatikan statusnya satu persatu. Statusnya tidak terlalu bagus. Masih sama seperti sebelumnya.. status sampah. Dan sepertinya statusnya tidak meningkat secara eksponential, tetapi meningkat secara linear. Dia memperhatikan bahwa status INTnya meningkat satu poin setiap peningkatan satu level. Namun status selain INT meningkat satu poin setiap kenaikan dua level. Sebuah pola yang sangat sederhana menurutnya.

    Tapi ini juga berarti bahwa meningkatkan status dengan cara menaikkan level tidaklah efektif. Karena ketika semakin tinggi level maka semakin sulit pula untuk menaikkan level, tapi status yang di dapat malah bersifat konstan - satu poin setiap dua level dan satu poin setiap satu level. Arias menyimpulkan bahwa kunci dari game Monster War ini bukanlah menaikkan level setinggi-tingginya. Malah menaikkan level bisa dibilang hanya omong kosong karena level tidak menggambarkan status player. Player level 100 sekalipun akan kalah dengan player level 50 jika status si player level 100 hanyalah status sampah.

    Satu-satunya hal yang bagus dari peningkatan level adalah mendapat skill baru. Arias mendapatkan skill ‘Heal’ ketika level 5, dan skill ‘MP Regenation Rate Up’ pada level 15. Arias menyimpulkan bahwa ia akan mendapatkan skill baru setiap peningkatan 10 level semenjak level 5 – itu berarti level 25, 35, 45, dst.

    Menurut Arias, jika peningkatan level tidak meningkatkan status secara signifikan, maka ada beberapa cara lain yang mesti dicoba... Mengonsumsi makanan, membeli peralatan, atau berlatih. Ia juga belum membeli kartu yang merupakan salah satu elemen penting dalam game ini. Karena menurut iklannya, game ini adalah game yang menggabungkan tiga genre: RPG, Monster Trainer, dan CCG.

    Arias menggeser layarnya ke kanan – seperti melakukan swipe pada layar touchscreen. Layar di depannya kini menunjukkan status monster miliknya.

    ‘Kenapa status Nix meningkat sangat pesat dibanding statusku? Shit. Apakah peran player benar benar hanya sebagai trainer di game ini??’

    Arias menggerutu sambil terus mengecek status Nix satu persatu. Di baris paling bawah, ia melihat skill monster miliknya itu berjumlah jauh lebih banyak dibanding skill miliknya sendiri. Setelah berpikir beberapa saat ia menyimpulkan bahwa ada sedikit perbedaan skill antara monster dan player. Monster mendapatkan skill setiap level 5, 15, 25, 35, dst - sama seperti player.

    Namun monster juga mendapatkan skill ketika mereka melakukan teknik-teknik tertentu. Seperti skill Blood Drain yang di dapat ketika Nix menggigit targetnya dengan kuat untuk waktu yang lama, skill Fast Claw yang di dapat ketika Nix menerkam monster yang tidak menyadari keberadaannya, dan juga skill Night Eye yang di dapat ketika Nix bertempur semalaman bersama Arias. Setelah memperhatikan status Nix beberapa saat, Arias menutup pop up window tersebut.

    Ia memutuskan untuk mencoba ‘metode peningkatan status’ paling sederhana yang bisa dicobanya sekarang – berlatih. Ia berbaring terkurap. Lalu mulai menaik turunkan badannya – ia melakukan push up. Ia melakukan push dengan cepat tanpa meneteskan keringat sedikitpun. Setelah melakukan push up lima puluh kali tanpa kelelahan - tentu saja karena ini dunia game - sebuah tulisan silver muncul dalam pandangannya.

    Ternyata berlatih dapat meningkatkan status - seperti yang ia kira.

    ‘Aku sekarang mengerti kenapa status INT dan AGI milik Nix sangat tinggi sekali.’

    Itu karena sepanjang hari pertama peluncuran game, Arias melatih Nix berbagai hal. Lempar tangkap, menghindari serangan, serta – dan terutama – mengajarkan berbagai taktik pertarungan kepada monster kesayangannya itu.

    Namun Arias juga menyadari bahwa notifikasi peningkatan status monster tidak diterima oleh dirinya. Inilah sebabnya Arias baru menyadari sekarang bahwa berlatih dapat meningkatkan status.

    ‘Padahal peningkatan exp dan penambahan skill baru ada notifikasinya, tapi kenapa peningkatan status tidak?’ Sekali lagi dia berpikir bahwa sistem game ini benar benar aneh.

    ‘Mungkinkah developernya lupa? Tapi melupakan sesuatu seperti ini adalah hal yang sangat fatal.’

    ‘…Entah mengapa aku punya firasat bahwa dia sengaja.’

    Ia memutuskan bahwa tidak ada gunanya mempertanyakan sistem game yang tidak bisa dirubah. Selama itu tidak membuat game ini menjadi tidak menarik, ia rasa itu bukanlah masalah besar.

    Arias memutuskan untuk berlatih lempar tangkap dengan serigala kesayangannya sambil ikut berlari larian menjauh dari Nix. Arias melakukan itu karena mengetahui bahwa berlari dapat meningkatkan status VITnya. Apalagi dalam game ini tidak ada batasan stamina, sehingga ia bisa berlari sepanjang hari tanpa kelelahan.

    Namun setelah 15 menit berlatih, ia merasa bahwa meningkatkan VIT bukanlah tujuan utamanya. Yang harus ia tingkatkan adalah INT.

    ‘Mungkin membaca bisa meningkatkan INT? Aku harus pergi ke perpustakaan.’

    Tapi sebelum pergi ke perpustakaan, Arias memutuskan untuk menaikkan levelnya hingga level 25. Untuk mendapatkan skill baru, tentunya. Mereka pun pergi ke hutan terdekat untuk berburu monster.

    Setelah satu jam berburu monster, Arias kembali ke kota. Ia sekarang sudah level 25 dan mendapatkan skill baru ‘Rain’. Arias membuka detail skill barunya karena belum sempat melihatnya selama pertempuran di hutan tadi.

    ‘Skill menurunkan hujan? Skill sampah macam apa ini…’ Arias menggerutu sambil berjalan di tengah kota bersama serigala putihnya.

    ‘Sepertinya game ini memang membuat player tidak bisa bergantung pada dirinya sendiri. Sekeras apapun dia berusaha. Memaksa player untuk bergantung pada monsternya.’

    ‘Semakin lama ini semakin mirip dengan dunia nyata...’

    ‘Di dunia nyata kita harus mengandalkan orang lain.. Bergantung pada orang lain.. Memanfaatkan orang lain.. Entah itu pasangan kita, orang tua kita, atau teman kita. Tapi itu semua karena terpaksa.. Karena kita tidak bisa hidup sendiri. Manusia hanyalah makhluk yang lemah. Kita tidak bisa melakukan apapun tanpa seseorang tempat kita bergantung padanya.’

    ‘Tapi… bukankah orang orang bermain game karena ingin lari dari dunia nyata..? Lalu kenapa membuat game yang mirip dengan dunia itu? Aku tidak mengerti tujuan dari pembuat game ini.’

    ‘Game ini sangat aneh..’

    ‘… Meskipun tidak bisa kupungkiri bahwa aku akan tetap memainkannya. Penggabungan tiga genre ini merupakan sesuatu yang sangat menarik dan tidak bisa kutinggalkan begitu saja.’

    Tanpa sadar kini Arias sudah sampai di tempat yang ia tuju. Di depan Arias adalah sebuah bangunan megah bertuliskan ‘Library’. Bangunan itu sangat luas dan terdiri atas empat lantai. Pintunya masih tertutup, jam server menunjukkan pukul 07:13:22.

    “Permisii.” Arias mengetok-ngetok pintu besar bangunan itu.
    “Permisiiiiii!!” Karena tidak ada yang menjawab Arias berteriak dan mengetok pintunya lebih keras.
    “Apakah tidak ada orang disini…?” Arias memelankan suaranya tapi tangannya bergerak semakin keras mengetok-ngetok pintu bangunan itu. Seakan akan ingin menghancurkannya dengan paksa.

    “Y-Ya! Sebentar!” Suara wanita terdengar dari balik pintu. Arias menghentikan ketokannya yang sangat berisik itu setelah mendengar suara itu.

    Lalu beberapa saat kemudian seorang wanita membuka pintu tersebut. Wanita itu berambut hitam panjang acak-acakan dan mengenakan kacamata. Wanita itu masih mengenakan baju tidur berwarna merah muda. Dari perawakannya, wanita itu kelihatan seperti wanita umur 25an. Dengan dada yang besar.

    Mata Arias terkunci ke belahan dada putih yang terlihat karena piyama wanita itu tidak terkancing sepenuhnya. Lalu suara wanita itu menyadarkan Arias.

    “Ada apa ya..?” Wanita itu bertanya kepada Arias dengan wajah yang masih sedikit mengantuk.

    “... Aku ingin membaca disini.”

    “O-Oh…” Wanita itu terdiam sesaat. Ekspresinya kelihatan sedikit kesal namun ia berusaha menahannya, “Apakah kau sudah mendaftar sebagai anggota di perpustakaan ini?”

    “Belum. Apakah aku harus mendaftar jika ingin membaca disini?”

    “Tentu saja. Kalau begitu kau bisa kembali lagi jam 8 karena perpustakaan ini baru buka pada jam itu.” Wanita itu tersenyum manis sambil memberitahu Arias.

    “… Bukankah itu tinggal 45 menit lagi?”

    “… Ya. Tapi jadwal kerjaku dimulai pada jam itu,” wajah wanita itu kini mulai menunjukkan ekspresi kesal yang terlihat jelas.

    “Kalau begitu aku hanya perlu membuat kartu anggota nanti jam 8. Kau bisa meneruskan tidurmu sambil aku membaca disini.”

    “H-Hah?!”

    “… Bukankah itu win-win solution? Lagipula aku tidak akan mencuri buku disini. Aku tidak punya alasan untuk melakukannya. Atau kau lebih suka anjing besarku ini yang membuka paksa pintunya untukku?” Arias berkata sambil menoleh ke arah Nix yang ada di belakangnya.

    Wanita itu terdiam beberapa saat ketika melihat serigala putih besar yang panjang tubuhnya kini mencapai 2.5 meter itu. “Hah…. Aku mengerti. Tapi anjingmu itu tidak boleh masuk.”

    Kedua daun pintu megah tersebut dibuka, di dalamnya terlihat puluhan rak-rak buku berjejer dengan rapi. Di sebelah kiri dekat pintu ada sebuah meja resepsionis yang sepertinya berguna untuk pendaftaran anggota serta peminjaman-pengembalian buku. Di dekat rak-rak buku tadi, terdapat puluhan meja dan kursi tempat membaca. Tepat 5 meter di depan pintu masuk terdapat plang besar bertuliskan judul ‘10 Commandments of Library’.

    “Silahkan membaca buku apa saja yang kau suka. Jangan lupa untuk membaca peraturan yang ditempel di tengah ruangan itu,” ujar wanita berdada besar itu sambil menunjuk ke arah plang besar yang berada 5 meter di depan pintu.

    “Baik,” Arias menanggapi perkataan wanita itu dengan singkat tanpa benar-benar melakukan apa yang diperintahkan.

    Arias langsung menuju ke rak-rak buku di perpustakaan itu. Buku-buku yang ada disini memiliki judul-judul yang tidak biasa. Kebanyakan buku disini berisi cerita-cerita dongeng dan buku science tentang dunia game Monster War ini. Tapi selain itu ada juga sedikit buku yang berguna seperti ensiklopedi monster, ensiklopedi makanan - yang memberi tahu apa status yang di dapat ketika mengonsumsi makanan tertentu - dan beberapa buku berguna lainnya juga. Sayangnya informasi-informasi penting dari ensiklopedi itu tidak bisa di copy paste. Sehingga Arias tidak punya pilihan selain membuat catatan manual atau meminjam bukunya jika ingin mendapatkan informasi penting itu.

    Arias memutuskan untuk mengambil beberapa buku sebagai percobaan. Sebelum pergi membaca ia berjalan keluar gedung lalu memberikan dua buah buku kepada Nix, meskipun serigala putihnya itu tidak bisa membaca. Lalu ia kembali ke dalam gedung dan menaruh buku yang dibawanya di atas meja kayu dekat rak buku. Ia duduk di kursi lalu mulai membaca.

    Setelah membaca tiga buku berisi cerita sampah yang dibuat asal asalan oleh sang developer game, tiba tiba sebuah gambar telephone besar berwarna hijau muncul dalam pandangan Arias. Dibarengi tulisan keterangan yang juga berwarna hijau di bawahnya.

    Arya menekan tombol Accept. Lalu suara seorang laki laki terdengar di dalam kepalanya.

    “Oi Arya!”

    “Yo. Kenapa?”

    “Kau sekarang ada dimana??” Reza bertanya dengan suara penuh semangat.

    “Ada apa memangnya?”

    “Ayo kita bentuk bertualang seperti kemarin. Aku sekarang sedang bersama Nisa.”

    “.. Aku sedang ada quest penting sekarang.”

    “Hmm.. Kalau begitu ayo kita selesaikan questmu dulu, lalu kita berpetualang ke tempat yang seru!”

    “… Quest ku adalah membaca 20 buku di perpustakaan.”

    “…… Quest macam apa itu. Tidak bisakah kau menyelesaikannya dengan cepat?” nada suara Reza menurun mendengar perkataan Arias.

    “Aku telah membaca tiga buku dan sudah tiga jam berlalu. Itu artinya kecepatan membacaku adalah satu buku per jam,” Ini adalah kecepatan membacanya untuk buku buku yang berisi cerita sampah.

    “… Kau perlu waktu 17 belas jam lagi?”

    “Begitulah.”

    “… Kalau begitu mungkin kita berpetualang lain kali saja.”

    “Okee.”

    “Bye! Kalau begitu besok kita berpetualang bersama!” Reza mengatakan kalimat terakhirnya itu dengan semangat yang bercampur sedikit paksaan.

    “Oke. Bye.”
    Arias menekan gambar telpon kecil berwarna merah yang ada dalam pandangannya – itu adalah tombol hang up.

    Panggilan Reza kini terputus. Arias membuka buku lain yang ada di meja di depannya. Setelah bosan membaca cerita cerita sampah tadi, kini ia membaca sebuah buku science dunia game Monster War. Lalu melanjutkan membaca sebuah buku ensiklopedi monster.

    Tingkat kesulitan buku dan juga ketebalan buku mempengaruhi INT yang di dapat ketika berhasil menyelesaikan sebuah buku hingga tuntas. Buku ensiklopedi monster yang dibacanya meningkatkan status INT Arias hingga +5 dan buku science meningkatkan INT +4. Meskipun membaca kedua buku itu membutuhkan waktu masing masing dua jam. Sedangkan salah satu buku cerita dongeng sampah yang dibacanya malah ada yang hanya memberikan INT +1.

    Setelah membaca buku ensiklopedi monster itu, sekitar pukul 2 siang ia memutuskan untuk keluar dari perpustakaan. Ia meminjam 4 buku untuk dibawa pulang, judul bukunya adalah “World of Bastard”, “Monster Tales”, “HP & MP Synchronized”, dan “Monster Encyclopedia: II”. Lalu ia memutuskan untuk logout.

    Arias makan siang, ke kamar kecil, lalu segera kembali ke dalam dunia game.

    Setelah keluar dari perpustakaan itu, ia melihat serigala putih peliharaannya sedang tertidur di dekat pintu perpustakaan. Arias membangunkannya. Lalu mereka segera berjalan di tengah jalanan kota yang kini terlihat cukup sepi. Mungkin akibat teriknya sinar matahari.

    Arias pergi menuju ke sebuah toko yang bisnisnya adalah menjual dan membeli bagian bagian tubuh monster. Ia menjual puluhan bagian tubuh monster yang berhasil ia kumpulkan. Bagian tubuh seperti cakar, kulit, bola mata, dll, dijual dengan harga yang bervariasi tergantung kegunaan dan juga kelangkaan barang tersebut.

    Setelah sedikit tawar menawar dengan penjualnya, Arias mendapatkan uang 49 silver dari hasil penjualannya. Sekarang total uang yang dimilikinya sekitar 80 silver. Selain dari penjualan bagian tubuh monster, ia juga mendapatkan uang cukup banyak dari kalung kalung monster.

    Ia memutuskan untuk membeli beberapa equipment baru, mengingat kini ia masih memakai kaos biru polos dan celana jeans. Arias pergi ke daerah perbelanjaan yang berisikan berbagai toko armor, senjata, makanan, dll, yang berjejer sepanjang jalan.

    Pertama, ia memutuskan untuk membeli armor dan senjata. Ia sampai di toko khusus yang menjual berbagai peralatan penyihir. Ia memilih sebuah jubah biru gelap khas penyihir. Jubah itu memiliki penutup yang bisa digunakan untuk menutupi kepala – seperti jaket hoodie, tapi Arias lebih suka membiarkan rambutnya terbuka. Ia juga membeli celana pendek, untuk memudahkannya bergerak lebih leluasa dibanding celana jeans. Jubah biru gelap miliknya itu menutupi tubuhnya dari leher hingga di atas mata kaki, sehingga ia tidak perlu kuatir meskipun memakai celana pendek.

    Setelah membeli armor, ia juga membeli tongkat baru. Ia memilih sebuah tongkat berwarna biru gelap - selaras dengan warna jubahnya. Setelah tawar menawar dengan penjaga toko itu – seorang wanita berumur 35an yang berambut coklat pendek sebahu – ia membayar 25 silver untuk jubah dan tongkat yang ia beli. Celana pendek yang dibelinya dianggap bonus.

    Arias memutuskan untuk membeli equipment juga untuk monsternya. Ia pergi ke toko yang menyediakan perlengkapan monster. Toko itu berisikan berbagai peralatan seperti cakar besi, paruh besi, armor, dll - namun kebanyakan berbahan besi. Peralatan yang dijual sangat beragam karena peralatan yang dipakai bergantung pada monsternya. Toko ini juga menyediakan fasilitas ‘pesanan’ – custom made – sehingga ukuran, bentuk, dan kriteria bisa disesuaikan dengan keinginan pembeli.

    Setelah melihat lihat cukup lama, Arias tidak menemukan sama sekali peralatan yang bisa meningkatkan kemampuan magic. Kebanyakan peralatan yang ia temui hanya bisa meningkatkan serangan atau pertahanan. Mungkin ini karena tidak banyak monster yang memiliki INT sebagai status utamanya.

    Arias memutuskan hanya membeli light armor untuk Nix. Armor itu melindungi bagian perut dan juga bagian punggung Nix. Bahan armor itu sangat ringan sehingga tidak mengurangi kecepatan gerak Nix sama sekali.

    Tidak lupa ia juga memesan peralatan yang bisa meningkatkan kemampuan magic monster kepada sang penjaga toko – lelaki muda umur 20an. Setelah mengobrol cukup lama soal item yang bisa meningkatkan magic. Ia pun membayar armor yang dibelinya tadi seharga 15 silver. Ia juga memberikan 10 silver sebagai ‘DP’ untuk peralatan yang dipesannya.

    Terakhir, Arias memutuskan untuk pergi ke toko kartu yang pernah didatanginya pada hari pertama. Setelah berbincang beberapa menit dengan sang penjaga toko – pria berumur 40an – ia memutuskan untuk membeli satu kotak kartu elemen air dan satu kotak kartu elemen angin. Ia mengeluarkan uang 20 silver sebagai pembayaran untuk pembeliannya.

    Sebagai bonus ketika pertama kali membeli kartu, Arias mendapatkan sebuah device berwarna silver berbentuk kotak balok berukuran 8x12 cm dengan tebal sekitar 2 cm. Device itu memiliki sebuah lubang persegi panjang yang kelihatannya adalah slot untuk mengaktifkan kartu. Device silver tersebut bisa menempel dibagian tubuh manapun. Sehingga Arias memutuskan untuk menempelkan device silver tersebut di bawah lengan kanannya, dekat dengan telapak tangan.

    Selain device silver tersebut, ia juga mendapat bonus tas kulit kecil yang juga bisa ditempel dimana saja. Ia menempelkan tas kulit coklat itu di paha kirinya. Tas itu berguna untuk menaruh kartu-kartu yang ingin digunakan dalam pertarungan. Tas itu memiliki penutup dengan magnet kecil ditengahnya sehingga tidak mudah terbuka terkena angin namun mudah dibuka ketika menggunakan tangan.

    Salah satu keunikan fitur game ini adalah player bisa mengambil kartu atau barang yang mereka inginkan dari tas kulit ataupun dari kantong tak terlihat hanya dengan ‘memikirkan barang yang ingin mereka ambil’. Sehingga mereka tidak akan salah mengambil kartu atau barang yang tidak mereka inginkan. Kemampuan yang cukup praktis seperti fitur kantong doraemon.

    Seusai berbelanja seharian, Arias memutuskan untuk pergi ke sebuah penginapan dan membaca buku disana karena hari kini mulai gelap. Jam menunjukkan pukul 17:58:03. Penginapan itu menyediakan beberapa kamar khusus yang memiliki tempat tidur untuk monster di sebelah tempat tidur biasa. Arias memilih kamar khusus itu agar Nix bisa tidur di tempat yang layak - setidaknya untuk satu malam.

    Sesampainya di kamar, hal yang pertama dilakukannya adalah melihat kotak kartu yang dibelinya barusan. Ia membaca petunjuk di belakang sebelum membuka kotak tersebut. Hanya ada dua kalimat petunjuk disana.
    ‘Kartu akan menghilang setelah digunakan 3 kali. Gunakan dengan penuh pertimbangan.’

    ‘Pantas saja Reza dan yang lainnya tidak menggunakan kartu sama sekali selama bertarung kemarin... Tapi jika kartu ini akan hilang setelah 3 kali digunakan berarti kartu ini memiliki pengaruh yang hebat kan??’ dengan pemikiran seperti itu dikepalanya, Arias membuka box kartu berwarna biru dengan terburu-buru. Ia melihat kartu yang ada di dalam box tersebut satu-persatu. Setiap ia melihat ke suatu kartu, sebuah pop up window muncul, menunjukkan detail kartu tersebut.

    ‘Wash?? Kartu sampah macam apa itu! Dan aku mendapatkan dua kartu sampah tidak berguna ini…’ Kurasa LUK juga merupakan status yang harus ditingkatkan…’

    ‘Yah.. Setidaknya aku mendapatkan dua kartu bagus. Water Protection dan Ice Barrier.’

    Arias melanjutkan membuka box kartu yang berwarna silver. Lalu melihat kartu yang ada di dalamnya satu persatu. Pop up window muncul bergantian seraya ia melihat kartu yang didapatnya itu satu persatu.

    ‘Fly? Kemampuan yang kelihatannya menarik. Dan… Speed Booster! Kartu yang efeknya luar biasa hebat! Tapi dengan durasi yang hanya 30 detik aku harus mempertimbangkan matang-matang sebelum menggunakannya.’

    Tiba-tiba sebuah pop up window muncul di hadapan Arias.

    “Ya”

    Lalu sebuah kartu bertuliskan ‘Dark Aura’ tiba-tiba muncul di tangan Arias entah darimana. Arias melihat kartu tersebut lalu detail kartu itu muncul dalam pop up window di depannya.

    ‘Kartu yang luar biasa! Effect nya sehebat kartu speed booster yang ku dapat barusan.’

    “Itu hanyalah kartu pinjaman. Masukkan kartu itu ke dalam slot kartu yang tersedia,” suara wanita khas robot terdengar memberi instruksi. Tanpa banyak bertanya Arias mengikuti perkataan wanita robot itu. Arias memasukkan kartu Dark Aura itu kedalam slot device silver yang ada dibawah lengan kanannya. Kartu itu melekat dengan kuat di device tersebut meskipun Arias menggoyang-goyangkan tangannya – mencoba membuat kartu tersebut jatuh.

    “Katakan, ‘Dark Aura, activate’”.

    “Dark Aura, activate,” tiba-tiba Nix diliputi aura kegelapan di sekujur tubuhnya.

    “Sekarang silahkan gunakan skill milik Nix.”

    ‘Skill apa yang harus kupakai?' seraya ia berpikir, angka 00:00:29 berwarna merah terlihat di sebelah kanan atas pandangan Arias. Angka itu terus menurun detik demi detik sejalan dengan waktu yang dihabiskan oleh Arias untuk berpikir.

    “Monster Skill, Shadow Clone.”

    Tiba-tiba Nix terbagi menjadi 5 entitas serigala putih yang sama persis, seperti sedang menggunakan jurus bayangan yang biasa dilakukan oleh ninja. Kelima serigala putih itu dikelilingi aura hitam di sekujur tubuhnya. Memberikan kesan penuh kekuatan sekaligus menyeramkan.

    Lalu beberapa detik kemudian aura kegelapan di sekitar Nix menghilang dan jumlah bayangan Nix kini tinggal 1 bayangan. Total kini ada dua serigala putih yang sama persis di hadapan Arias.
    ‘Ini artinya kartu Dark Aura memberikan tambahan kekuatan sebanyak tiga bayangan.’

    “Cooldown untuk penggunaan kartu adalah 5 menit dihitung sejak pengaktivan kartu.”

    Arias melirik ke arah kanan atas pandangannya, angka 00:04:27 berwarna putih menurun detik demi detik.

    “Tutorial selesai. Kartu yang didapatkan masih bisa digunakan 2 kali lagi. Terimakasih sudah berpartisipasi.”
    “?!”

    Ekspresi wajah Arias terlihat sangat terkejut mendengar suara wanita robot itu. Tapi suara wanita itu sudah menghilang dan Arias tahu bahwa mustahil untuk berbicara dengannya lagi.

    “Sial. Aku tertipu oleh wanita robot itu. Jika tahu begini aku tidak akan menggunakan kartu sebagus ini hanya untuk tutorial.”
    ‘Seharusnya aku menggunakan kartu Wash atau kartu sampah yang lain.’
    “Hah… Sudahlah.”

    Arias menunduk. Tidak biasanya ia mengeluh apalagi sampai berbicara sendiri seperti ini. Tapi ini memang kesalahan yang biasa terjadi dalam dunia game. Tutorial kadang menggunakan gem atau barang berharga lainnya, yang seharusnya bisa disimpan untuk hal yang lebih penting dibanding sekedar untuk tutorial. Arias merasa sangat bodoh karena melakukan kesalahan tipikal newbie seperti ini.

    “Sudahlah master.. Jangan bersedih lagi...”

    Arias terkejut mendengar suara dari depannya. Suara tersebut mirip seperti suara gadis remaja. Suara itu tidak dikenalnya namun terasa familiar di telinganya.

    Arias menegakkan kepalanya kembali, lalu bertanya kepada serigala peliharaannya yang kini sedang menatap ke arahnya, “…Kau bisa berbicara?”

    “Hm? Apa maksud master? Tentu saja aku bisa berbicara…”

    “Maksudku.. Kau bisa berbicara bahasa manusia?”

    “Ah! Benar juga!”

    “… Sejak kapan?”

    “Hmm. Sepertinya aku mulai mengerti percakapan orang-orang saat master berada di perpustakaan siang tadi.”

    “….. Kau seorang perempuan?”

    “Tentu saja!” serigala putih itu menyalak menjawab pertanyaan masternya.

    “…… Menu,” lalu Arias langsung membuka status Nix.

    Arias menekan tulisan ‘Human Translator Lvl 1’ di layarnya lalu muncul detail tentang skill itu. Karena itu adalah satu satunya hal aneh semenjak terakhir ia mengecek status Nix.

    ‘Aku tidak mengerti bagaimana dia mendapatkannya dan mengapa aku tidak mendapat notifikasi tentang hal ini… Tapi sepertinya aku harus berhenti mempertanyakan sistem aneh game ini. Aku tidak akan menemukan jawabannya. Dan tidak ada gunanya.’

    Setelah membaca sekilas, Arias menutup pop up window itu.

    “Sepertinya kau memang monster yang terlalu pintar.” Arias tersenyum ke arah serigala peliharaannya itu.

    “Hahaha. Terimakasih masteer~” Nix melompat ke arah Arias lalu menjilati pipi masternya itu.

    ‘Meskipun kini dia bisa berbicara… Sepertinya dia masih tetap anjing peliharaanku. Serigala peliharaanku tepatnya.’

    Malam itu Arias melanjutkan aktivitasnya dengan membaca buku yang dipinjamnya sambil berbaring di tempat tidur - tentu saja ia logout sekali untuk makan malam dan ke kamar kecil. Nix juga ikut membaca salah satu buku yang tidak sedang dibaca Arias. Meskipun awalnya Nix tidak bisa membacanya, tapi setelah berusaha keras membaca selama 2 jam, Skill Human Translator nya naik ke Lvl 2 dan dia menjadi bisa membaca buku-buku itu.
     
  14. Offline

    sandicoded Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2016
    Messages:
    11
    Trophy Points:
    2
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6 / -0
    Salah akun tadi.... Baru nyadar pas udah tiga kali ngepost :oggaring:
     
  15. Offline

    sandicoded Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2016
    Messages:
    11
    Trophy Points:
    2
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6 / -0
    Arias membuka matanya. Ia masih berada di dalam penginapan tempatnya menginap semalam. Di dalam pandangannya muncul sebuah tulisan berwarna silver.

    Arias baru tau bahwa tidur meningkatkan status VIT. Karena sebelumnya Arias belum pernah tidur di dalam game ini, biasanya dia berlatih atau berburu monster semalaman.

    Dia bangun dari tempat tidurnya. Serigala putihnya terlihat masih tertidur lelap di kasur khusus monster yang ukurannya sangat tidak normal. Lalu beberapa saat kemudian muncul tulisan besar berwarna biru di dalam pandangan Arias.

    “Menu,” ia menekan tombol logout.

    Arias menekan tombol yes tanpa ragu.

    Setelah melewati lorong waktu seperti biasanya, Arya membuka matanya. Ia kini berada di kamarnya. Pintu kaca VR tube miliknya terbuka. Ia langsung bangkit dari tabung kaca itu lalu mandi. Setelah mandi ia pergi ke ruang makan. Di meja makan terlihat dua roti panggang yang masing masing berisikan selapis keju dan madu. Pembantunya menyiapkan roti karena tau hari ini Arya pergi kuliah. Pembantunya itu memang sangat pengertian.

    Ia mengambil dua roti panggang tersebut. Arya memakan satu roti panggang keju madu itu sambil memegang satu roti lainnya di tangan kirinya dan berjalan menuju ke depan rumahnya. Ia membuka pintu rumahnya yang berukuran besar dan megah. Terlihat sebuah Lamborghini hitam tanpa roda terparkir sekitar 3 meter di depannya. Mobil itu melayang - tidak menyentuh tanah. Mobil itu melayang karena bantuan device anti gravitasi yang telah ditemukan dan digunakan masyarakat luas sekitar satu abad yang lalu.

    Seorang pria kekar yang memakai jas hitam, kemeja putih, dan dasi hitam, terlihat di samping Lamborghini hitam itu. Perawakannya seperti pria berumur 30an dengan kulit sawo matang dan rambut cepak. Pria kekar itu membungkuk ke arah Arya – memberi hormat padanya.

    “Cepat kita berangkat,” dengan satu kalimat itu, si pria kekar segera bergerak membukakan pintu belakang untuk tuannya. Kemudian membuka pintu depan dan masuk ke dalam mobil. Arya masuk melalui pintu belakang yang sudah dibukakan oleh supir sekaligus bodyguardnya itu. Kemudian ia memasang headset di kedua telingannya dan menyalakan musik dari handphonenya. Arya mendengarkan musik klasik melalui headsetnya itu sambil memejamkan mata. Pikirannya kosong. Yang ada di kepalanya hanya dentingan piano klasik mengalun lembut melalui indra pendengarnya.



    “Kita sudah sampai tuan,” pria berbadan kekar itu berkata dengan suara tegas namun terdengar sopan. Arya membuka matanya, melepas headsetnya, kemudian keluar dari mobil Lamborghini hitamnya itu dengan malas tanpa menjawab perkataan supirnya. Arya mengenakan kaos hitam dengan celana jeans biru – gaya casual khas mahasiswa.

    Sekarang Arya sedang dalam masa ujian akhir semester di fakultasnya - fakultas ekonomi universitas indonesia. Ia sudah belajar seminggu sebelumnya, sehingga ia merasa tidak perlu belajar lagi untuk tiga hari terakhir ujiannya ini – hari senin ini hingga hari rabu.

    Sebenarnya masa ujian akhir semester di kampus Arya sudah dimulai sejak minggu kemarin. Ujian dimulai sejak hari rabu minggu lalu dan berakhir rabu minggu ini. Pada hari jum’at - saat launching pertama game Monster War - ia juga ada ujian paginya. Namun saat siang hari ia sudah berada di rumah. Sehingga ia bisa memainkan Monster War tepat ketika servernya baru dibuka.

    Arya bukanlah tipe orang yang hanya bermain game sepanjang hari tanpa mempedulikan pendidikannya. Ia menganggap bahwa mungkin saja pendidikan bisa membawanya menuju pencerahan. Ia juga mengganggap bahwa mungkin saja dengan pelajaran yang dia dapatkan di kampusnya ini, dia bisa memahami kehidupan lebih baik lagi. Walaupun itu semua hanyalah kemungkinan… Ia juga tidak menampik bahwa sebagian besar yang dipelajarinya disini hanyalah sampah. Sampah yang tidak akan terpakai nantinya. Meskipun begitu ia masih peduli terhadap pendidikannya karena kemungkinan kemungkinan tadi.

    Ia berjalan dari mobil mewahnya itu ke dalam gedung fakultasnya, menuju ke ruang ujiannya. Orang-orang di sekitar melihat ke arahnya dengan tatapan kagum, namun beberapa orang lainnya menatap dengan sinis dan penuh kebencian. Tapi Arya sudah terbiasa dengan tatapan tatapan itu, sehingga dia tidak mempedulikannya dan terus berjalan seperti orang biasa.

    “Arya!” seorang pemuda berkaos merah melambaikan tangannya menyapa Arya. Dia adalah Faris, salah satu sahabat Arya sejak tahun pertama.

    “Yo.” Arya mengangkat tangannya dan menyapa balik pemuda itu.

    “Bagaimana persiapan ujianmu?”

    “Yah.. Semoga saja aku bisa lulus mata kuliah yang diujikan nanti. Hahaha. Bagaimana denganmu?” tentu saja itu hanyalah basa-basi penuh kebohongan.

    “Halah.. Biasanya kan kau selalu dapat nilai bagus. Kalau aku sih paling hanya dapat nilai pas-pasan nanti. Hahaha,” Faris menjawab sambil tertawa.

    “Hahaha. Tapi kau sudah belajar kan?” Arya tertawa palsu lalu bertanya dengan nada simpatik, mencoba menghiburnya.

    “… Aku hanya belajar sedikit tadi malam. Biasa lah.. Kau tau kan aku memang selalu seperti ini setiap ujian. Hahaha,” pemuda berkaos merah itu menjawab dengan santai.

    “Hahaha. Kalau kau sudah belajar berarti ada kemungkinan kau bisa. Kudoakan ujianmu lancar.”

    “Amiin. Kau juga. Hahaha.”

    “Kalau begitu aku duluan ya. Tinggal 10 menit lagi ujiannya mulai.”

    “Ah iya. Goodluck bro,” Faris melambaikan tangannya sambil tersenyum tulus.

    “Haha. Goodluck juga bro,” Arya juga melambaikan tangannya lalu melanjutkan perjalanannya menuju ruangan ujiannya.

    ‘Kehidupan sehari-hari itu begitu membosankan…. dan melelahkan.’

    Ia pun memasuki ruangan ujian. Para peserta mengambil sendiri kertas ujian masing-masing di meja pengawas – termasuk Arya. Lalu Arya duduk di sebuah kursi khas kuliahan dan mulai mengerjakan ujiannya. Suasana kelas itu sangat sunyi dan senyap tanpa suara sedikitpun.

    Selama ujian berlangsung, tidak ada satu pun mahasiswa yang bertanya ataupun sekedar menengok kepada temannya. Ini karena aturan di fakultas Arya terkenal kejam. Mahasiswa yang ketahuan menyontek akan mendapatkan nilai E untuk seluruh mata kuliah yang dia ambil semester itu. Terkadang menyontek berarti drop out dari fakultas ini - setidaknya itu lah yang tertulis dalam aturan. Sehingga hampir tidak ada mahasiswa yang berani menyontek kecuali orang orang khusus yang punya nyali besar saja.

    Arya menjawab soal-soal yang ada tanpa kesulitan. Lalu keluar kedua dari kelas sekitar 30 menit sebelum ujian berakhir. Mahasiswa yang keluar pertama adalah teman sekelas yang lain, dia keluar 30 menit setelah ujian dimulai. Sepertinya temannya itu tidak mengerti materi yang diujikan sehingga dia memilih untuk menyerah saja. Pilihan yang rasional. Lebih baik keluar daripada menghabiskan 3 jam waktumu mengerjakan soal yang tak kau mengerti.

    Mungkin orang orang menganggap bahwa dengan semakin lama duduk menatap soal yang ada maka jawaban akan muncul entah darimana di dalam kepala mereka. Tidak. Dunia tidak berjalan seperti itu. Jika kau tidak bisa maka tidak ada pilihan yang lebih baik selain menyerah dan mencoba pada semester berikutnya. Itu adalah apa yang dilakukan orang yang rasional.

    Setelah dua setengah jam yang melelahkan itu, Arya memutuskan untuk berjalan jalan di sekitar kampus sebentar sebelum kembali ke rumahnya. Suasana kampusnya terasa begitu sepi. Tentu karena mahasiswa mahasiswa masih berada di dalam kelas mengerjakan ujian mereka. Ketika sedang berjalan jalan tanpa arah yang jelas tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

    “Hey,” suara wanita yang familiar terdengar di telinganya.

    Arias menoleh ke belakang lalu membuka mulutnya, “Hai Nab.”

    “Hai juga. Hehe,” wanita itu tertawa kecil sebelum melanjutkan, “Seperti biasa ya. Kau selalu keluar dari ruang ujian lebih cepat dari seharusnya,” wanita itu berkata sambil tersenyum manis.

    “..… Bukankah kau juga sama?”

    “Hahaha. Itu karena ingin bertemu denganmu,” wanita itu mengalihkan pandangannya dari tatapan Arya. Namun mulutnya masih menunjukkan senyuman.

    Wanita yang sedang berbicara dengan Arya ini bernama Nabila. Dia adalah wanita yang sedang dekat dengannya selama tiga bulan terakhir ini. Nabila adalah salah satu wanita tercantik di kampus. Wajah cantiknya mampu membuat semua pria yang melihatnya terpesona dalam hitungan detik - tak terkecuali Arya.

    Nabila memiliki kulit yang putih dan mulus seperti salju. Saat ini dia memakai blouse putih yang senada dengan warna kulitnya, dengan celana jeans putih ketat yang menonjolkan lekuk kakinya. Ukuran dadanya lumayan besar. Namun tidak terlalu terlihat karena blouse agak longgar yang sedang dipakainya. Wanita itu mengenakan tas selempang hitam elegan di pinggangnya.

    “… Ada apa memangnya?” Arya bertanya dengan dingin, setengah tidak peduli.

    “Mmm.. Bisakah kau mengajarkanku pelajaran X yang akan diujikan besok? Ada beberapa hal yang tidak kumengerti,” Nabila mengucapkan kata-kata itu sambil memasang wajah memelasnya yang paling memikat.

    Arya terdiam sesaat sebelum menjawab, “… Satu jam.”

    “Mm?”

    “Aku memberikanmu waktu satu jam dari sekarang. Ada hal lain yang mesti aku kerjakan,” tentu saja ia berbohong. Tidak ada hal lain yang mesti dikerjakannya kecuali bermain game. Tapi dia secara otomatis selalu bersikap sok sibuk ketika berbicara dengan teman-teman kampusnya.

    “E-eh?? Kalau begitu ayo kita cepat pergi ke apartemenku,” Nabila menarik tangan Arya kemudian berjalan dengan cepat menuju parkiran mobil.

    “.. Kenapa ke apartemenmu?” Arya meragukan keputusannya namun ia tak menolak berjalan cepat mengikuti tarikan tangan wanita cantik itu.

    “Lebih nyaman belajar disana,” jawab Nabila sambil menoleh ke arah Arya dan tersenyum manis.

    “…”

    Setelah beberapa saat berjalan terburu-buru mereka sampai di parkiran mobil. Si supir kekar terlihat sedang berdiri tegap di pinggir dekat tembok - menunggu kedatangan tuannya. Ketika melihat Arya dia langsung membungkuk ke arah tuannya itu. Tapi Arya memberi isyarat agar sang supir tidak mengganggu dirinya. Arya dan Nabila kini berada di depan sebuah mobil biru muda tanpa roda. Mobil ini adalah mobil milik Nabila.

    “Kau tahu letak apartemenku kan?” tanya Nabila sambil memberikan kunci mobilnya kepada Arya. Bahkan di masa depan ‘pria lah yang harus menyetir’ masih menjadi budaya yang dianut sebagian besar orang.

    “… Aku lupa. Lagipula aku hanya pernah kesana sekali bersama dengan yang lain.”

    “Tidak apa apa. Aku akan memandumu,” wanita cantik itu berkata sambil tersenyum ke arahnya.

    “… Baiklah,” tanpa banyak bicara Arya membuka pintu mobil itu dari sebelah kanan, masuk ke tempat menyetir. Nabila masuk melalui pintu kiri. Mereka duduk bersebelahan di dalam mobil itu.

    Arya menyalakan mesin mobil itu. Suara nyala mesinnya nyaris tidak terdengar, namun lampu di dashboard mobilnya menunjukkan mobil itu telah menyala. Kemudian Arya mendorong persneling di sebelah kirinya ke depan dengan menggunakan tangan kirinya. Persneling itu bukan berfungsi untuk mengganti gigi – karena mobil di masa ini semua bersifat automatic – persneling itu berfungsi untuk mengatur ketinggian. Mobil biru itu pun perlahan lahan naik ke angkasa. Kini ketinggiannya sekitar 10m dari tanah. Arya menginjak pedal gas. Seketika dua buah sayap muncul keluar dari samping kanan kiri mobil. Dan sebuah benda mirip ekor pesawat juga muncul keluar dari bagian belakang mobil. Kemudian mobil itu melaju dengan cepat ke depan namun berhenti tiba tiba bersamaan dengan injakan pedal rem yang Arya lakukan.

    “… Kita pergi ke arah mana?” tanya Arya sambil menoleh ke arah Nabila.
    “Ke arah 30 derajat,” Nabila berkata singkat namun tetap memasang senyum di wajahnya.

    Arya melihat ke radar navigasi yang terpasang di dashboard sebelah kiri setir sambil mengubah arah mobilnya sesuai arahan Nabila – arah 30 derajat. Radar itu berfungsi seperti kompas namun jauh lebih detail. Radar itu juga berfungsi untuk mendeteksi mobil atau bangunan yang berada di dekat mereka dalam radius 200m. Tanpa radar itu jumlah kecelakaan mobil mungkin sudah sangat tinggi.

    “Aku nyalakan musik ya..” Nabila berkata lalu menyalakan musik tanpa menunggu jawaban dari Arya. Alunan musik beat pop terdengar di telinga mereka berdua seraya mobil biru itu melaju menuju tujuannya.


    ~~~~~

    ~15 menit kemudian

    Mereka kini telah berada di kamar Nabila. Kamar minimalis elegan khas apartemen mewah dengan satu kasur besar, komputer 24 inch, kulkas, dan beberapa perabotan lainnya.

    Mereka berdua duduk berdekatan di sebuah meja belajar kecil yang seharusnya hanya dipakai oleh satu orang.

    “Bisa kau jelaskan padaku yang ini?” tanya Nabila sambil menunjuk pada satu bagian tertentu di secarik kertas yang kelihatannya adalah latihan soal soal.

    Arya membaca soal tersebut sebelum menjawab pertanyaan Nabila, “.. Apa kau ada kertas kosong? Akan lebih mudah menjelaskannya jika kutulis.”

    Nabila mengambil kertas kosong di samping meja belajarnya lalu memberikannya kepada Arya sambil tersenyum. Arya menulis di kertas itu sambil menjelaskannya kepada Nabila.

    Nabila bertanya soal demi soal. Namun sepertinya wanita itu tidak terlalu memperhatikan penjelasan Arya. Ekspresi wajahnya menunjukkan kebingungan ketika Arya melihat ke arahnya, namun berubah menjadi sedikit bahagia ketika tidak sedang dilihat olehnya.

    Soal demi soal mereka bahas. Hingga jam dinding menunjukkan pukul 12 lewat 35, hanya tinggal 5 menit lagi dari batas waktu yang diberikan Arya.

    “Aku ke kamar kecil sebentar ya..” Nabila tersenyum ke arah Arya sebelum berjalan masuk ke dalam toilet.

    Arya menaruh pensil dan kertas yang dipegangnya lalu melihat lihat sekeliling ruangan. Sebuah kasur besar dengan sprei merah muda dan berbagai boneka lucu diatasnya terlihat di tengah ruangan. Dinding ruangan kamar Nabila berwarna putih tanpa hiasan sedikitpun, kelihatannya Nabila tidak memiliki foto yang ingin dia pajang.

    Arya lalu iseng membuka laci meja belajar Nabila. Ada sebuah figura di sana – dengan fotonya tentu saja. Namun foto di figura sudah tersobek setengahnya. Arya mengambil figura itu untuk melihatnya lebih dekat. Itu adalah foto Nabila yang sedang dirangkul oleh seseorang. Namun foto seseorang itu telah disobek sehingga hanya Nabila seorang yang terlihat di foto itu. Nabila terlihat tersenyum bahagia di foto itu. Wajah wanita cantik itu juga terlihat tidak jauh berbeda dibanding sekarang, artinya foto itu belum lama diambil. Setelah memperhatikan foto itu beberapa saat Arya menaruhnya kembali di laci lalu menutupnya. Ia kembali melihat lihat sekeliling ruangan tanpa tujuan yang pasti.

    Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka perlahan, Arya menengok ke arah pintu itu. Nabila terlihat keluar perlahan dari pintu kamar mandi hanya dengan memakai lingerie berwarna biru muda transparan. Menunjukkan kulit mulus serta tubuh seksinya yang membuat semua laki laki menelan ludah begitu melihatnya. Arya tidak terkejut sama sekali melihat kejadian itu, justru dia sudah mengetahui ini akan terjadi. Namun tetap saja otaknya kini berhenti berpikir, diambil alih oleh nafsu binatang yang selama ini tertidur di dalam dirinya.

    “Umm.. Bagaimana menurutmu?” Nabila bertanya dengan malu malu kepada Arya.

    Arya tidak menjawab pertanyaan wanita di hadapannya itu namun ia bangkit berdiri dari kursinya. Ia berjalan perlahan ke arah Nabila. Lalu berhenti tepat di depan wanita cantik itu dan melihat ke arah bibir merah mudanya yang dibalut lipstrik natural dengan pandangan penuh nafsu.

    Ia tau apa yang harus dilakukannya saat ini, “Kau terlihat sangat cantik. Dan juga... seksi,” setelah berkata seperti itu ia langsung mencumbu bibir merah muda menggoda itu. Kini bibir mereka berdua melekat erat tak terpisahkan satu milimeter pun. Lidah mereka berdua beradu dalam gejolak nafsu yang tak tertahankan.

    Arya mendekap tubuh mulus Nabila dengan kedua tangannya. Sementara wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher Arya, seakan menginginkan cumbuan mereka terus terjadi sampai kapanpun. Suara gumaman dan juga desahan kecil terdengar seraya bibir mereka berdua beradu untuk waktu yang cukup lama.

    Arya melepaskan bibirnya lalu menatap bola mata indah wanita cantik itu. Ia menarik kedua lengan Nabila layaknya pasangan yang ingin berdansa. Lalu mengarahkan wanita cantik itu membelakangi tempat tidur. Ia mencumbu bibir Nabila sekali lagi seraya mendorong tubuh mereka berdua menghempas jatuh di atas kasur merah muda yang empuk itu.

    Tangan Arya kini sibuk menggerayangi kedua gunung kembar Nabila dari luar lingerie birunya sementara lidah mereka tak henti hentinya bergolak dalam hasrat yang tak terbendung.

    Arya melepas cumbuannya. Ia menegakkan tubuhnya yang kini berada di atas tubuh wanita cantik itu. Lalu ia menanggalkan kaosnya dan melepaskan celana jeansnya, bersamaan dengan Nabila yang membuka lingerie biru transparannya dengan cepat. Kini tubuh mulusnya terbaring di atas kasur tanpa sehelai benangpun.


    ->SKIP


    Beberapa jam telah berlalu semenjak pertempuran hebat mereka berdua di atas tempat tidur. Arya membuka matanya lalu melirik ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul lima. Ia ingin bangkit, tapi sebuah tangan menahannya. Ia menggeser tangan halus itu lalu bangkit dari tempat tidurnya. Arya lalu menoleh ke sebelahnya kanannya. Tubuh seksi Nabila terlihat sedang menghadap ke arahnya. Telanjang. Tanpa pakaian sehelaipun.

    Namun kini tidak ada reaksi apapun dari Arya. Meskipun dua gundukan besar wanita cantik itu terlihat dengan jelas olehnya. Pandangan matanya kini terlihat kosong.

    Ia berdiri, mencari pakaiannya, lalu memakainya tanpa berkata sepatah kata pun. Ia mengambil tas selempang birunya kemudian berjalan keluar. Suara seorang wanita menghentikannya tepat sebelum ia membuka pintu.

    “Hey…” mendengar seseorang memanggilnya, Arya menoleh ke belakang, ke arah suara itu.
    “Umm..” Nabila mencoba mengatakan sesuatu namun kata kata tidak bisa keluar dari mulutnya, “Ah, tidak. Bukan apa apa,” lalu wanita itu tersenyum manis sambil melambaikan tangannya, “Sampai ketemu lagi di kampus~”

    Arya tersenyum palsu mendengar ucapan Nabila sebelum berjalan keluar dari kamar wanita itu tanpa sepatah kata pun. Ia berjalan di sepanjang lorong apartemen lalu berhenti di depan sebuah lift.


    ~~~~~~


    Beberapa saat kemudian, Arya terlihat keluar dari lift bersama beberapa orang lainnya. Sang supir kekar sudah menunggu di dekat pintu apartemen. Dia membungkuk ketika melihat Arya.

    “Ambil mobilnya,” mendengar perkataan singkat Arya, pria kekar itu langsung berlari keluar pintu apartemen – menuju parkiran mobil. Arya kemudian keluar dari pintu apartemen lalu terdiam menatap langit. Ia melihat mobil mobil yang beterbangan melewati gedung gedung tinggi di angkasa. Beberapa hal terbersit di dalam pikirannya.

    ‘Tidak peduli seberapa pun nikmat yang aku rasakan, pada akhirnya semua sama... Hampa’

    ‘Aku tidak mengerti kenapa aku tetap melakukan tindakan tak berguna ini meskipun aku tau bahwa semua ini tak ada artinya.’

    ‘Aku merasa bahwa aku tidak bisa mengendalikan apa yang kulakukan maupun apa yang kuinginkan.’

    ‘Seperti sebuah robot yang telah diprogram sebelumnya oleh seseorang....’

    ‘Meskipun begitu, sebagai robot, aku dan manusia lainnya diberikan satu hal yang sama… Kebebasan.’

    ‘Sebagai robot, kita dibebaskan untuk berkeliaran di muka bumi ini. Namun pada saat yang sama kita juga diprogram untuk mengejar kenikmatan dunia yang pada akhirnya tak ada artinya.’

    ‘Kita juga diprogram untuk mencari makna kehidupan, yang mungkin saja tidak akan pernah kita temukan hingga akhir usia kita.’

    ‘Aku tidak mengerti.’

    ‘Kenapa Kau menciptakan dunia seperti ini?’

    ‘Why God? Why?’
     
  16. Offline

    sandicoded Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2016
    Messages:
    11
    Trophy Points:
    2
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6 / -0
    ~4 hari kemudian, Jum’at 25 Desember 2218


    "AARRRGGHHH!!! KA... KAU CURANG!! BAJ*NGAN!! AARRRGGHHH!"

    Seorang pemuda berperisai terlihat tengah meronta ronta dalam gigitan seekor serigala raksasa yang berwarna putih seperti salju. Darah segar mengucur deras dari tubuh pemuda berperisai itu. Menodai armornya menjadi merah pekat.

    Arias yang memakai jubah biru gelap terlihat hanya menatapnya sambil menunjukkan ekspresi bosan, lalu dia berkata hampir tanpa suara, “Monster Skill, Crushing Bite.”

    “AAAAAARRGGHH!!”

    Gigitan serigala putih itu semakin kencang. Menghancurkan sendi sendi dan organ organ dalam pemuda berperisai itu bersamaan dengan teriakan dan rontaan tanpa henti yang dilakukannya.

    Beberapa saat kemudian tubuh pemuda berperisai itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan serpihan pixel. Disusul dengan hancurnya tubuh monster dinosaurus miliknya yang juga menjadi serpihan pixel.

    Tulisan berwarna emas muncul di udara yang berbarengan dengan suara wanita khas robot.

    “Kita menang masteeer~” Serigala putih raksasa itu berteriak kegirangan begitu melihat tulisan emas itu di angkasa. Dia mengibas ngibaskan ekornya seperti seekor anjing yang sedang kesenangan.

    Arias menghampirinya lalu menepuk hidung serigala raksasa itu, memberi pujian padanya. Nix yang kegirangan menjilati wajah Arias berkali kali.

    “Hahahaha!” ‘Ugh… Berapa kalipun aku merasakannya ini tetap terasa menjijikkan.’

    Kemudian tulisan berwarna silver muncul dalam pandangan Arias.

    Sebuah pop up window berisikan list kartu dengan berbagai keterangannya muncul di hadapan Arias. Di atas layar itu ada sebuah tulisan silver yang menjelaskan apa yang sedang dilihatnya.

    Dia men swipe layar di hadapannya itu keatas - yang mengakibatkan layar bergeser ke bawah. Dia mengecek satu per satu koleksi kartu yang sepertinya adalah milik pemuda berperisai tadi. Dia melanjutkan men swipe layar di depannya itu kebawah, keatas, kemudian kebawah lagi, hal itu dilakukannya berulang ulang.

    Lalu setelah melihat seluruh kartu yang ada, Arya terdiam beberapa saat. Kemudian mulutnya terbuka, “Aku pilih ini,” sambil menekan kartu yang dia maksud dalam layar.

    Arias menekan tombol Yes. Lalu pop up window di depannya menghilang bersamaan dengan munculnya kartu ‘Rock Stance’ di tangan kirinya entah darimana. Dia langsung memasukkannya kartu yang baru didapatnya itu ke dalam tas kulit kecil di paha kirinya.

    Kemudian sebuah pop up window yang lainnya muncul dalam penglihatannya.

    ‘Aku tidak membutuhkan equipmentnya...’
    ‘Tapi mungkin akan lumayan jika dijual.’

    Karena itu dia memilih benda yang terlihat paling mahal – benda dengan desain yang indah dan juga memiliki peningkatan status yang bagus tentunya. Setelah men swipe layar di depannya keatas kebawah, dia menekan gambar pedang milik pemuda berperisai tadi.

    Arias menekan tombol Yes. Lalu seketika pedang itu muncul di tangan kirinya. Pedang itu berwarna silver dengan kilau kehijauan yang menyelimutinya. Gagangnya berwarna coklat seperti pedang pada umumnya. Di tengah pedang itu ada sebuah bola berwarna hijau terang sebesar kelereng yang tertanam dengan kuat.

    Pertarungan antar player yang dilakukan Arias tadi disebut dengan ‘War’. War dapat dilakukan secara berkelompok maupun individu. Tapi kedua pihak harus memiliki jumlah yang sama, misal 2 vs 2, 5 vs 5, dst. Tapi pertarungan 1 vs 1 merupakan pertarungan yang paling sering dilakukan. Mungkin karena pertarungan 1 lawan 1 sangat fleksibel, bisa dilakukan kapan saja ketika bertemu lawan yang sesuai. Sedangkan pertarungan antar kelompok biasanya memerlukan perjanjian beberapa jam sebelumnya. Meskipun begitu, semakin banyak anggota kelompok yang bertarung semakin banyak pula hadiah yang didapat tiap individu nantinya - dengan kerugian yang lebih besar juga jika kalah tentunya.

    War merupakan pertarungan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Sesaat sebelum bertarung, setiap player yang terlibat harus menekan tombol konfirmasi agar War dapat dimulai. Jika satu player saja tidak setuju, maka War tidak akan bisa terlaksana.

    Sebenarnya player bisa memilih membunuh player lainnya tanpa melakukan War. Tapi cara seperti itu akan meningkatkan poin Guilt yang berefek pada perununan exp dan status yang di dapat ketika mengalahkan monster ataupun ketika berlatih.

    Tapi meskipun begitu, masih banyak player yang melakukan serangan tanpa mengirimkan tantangan War. Karena dengan begitu, player bisa melakukan serangan mendadak. Player bisa membunuh target mereka jauh lebih cepat dan juga lebih mudah dengan menggunakan serangan mendadak seperti itu. Apalagi jika player pembunuh bertindak secara berkelompok. Target akan sangat kesulitan melawan beberapa orang sekaligus.

    Arias memasukkan pedang yang baru di dapatnya tadi ke kantong celana tak terlihatnya. Dia sekarang sedang berada di tengah padang rumput luas di luar tembok pelindung kota. Dia lalu berjalan menuju kota di tengah panas teriknya matahari. Seekor serigala putih raksasa setinggi 2 meter dengan panjang 4 meter terlihat mengikutinya dari belakang. Selama perjalanan dia membuka status dirinya dan status monsternya.


    ~~~~~


    Dia kini berada di depan sebuah bangunan megah bertuliskan ‘Library’. Dia menghampiri dua buah daun pintu besar yang tertutup. Lalu menarik salah satu daun pintu megah itu dan masuk ke dalam. Seorang wanita berkacamata dengan dada besar di meja resepsionis melihat sekilas ke arah Arias lalu kembali membaca buku yang ada di hadapannya.

    Arias berjalan ke dalam, menuju tempat dimana rak-rak buku berada. Kemudian dia melihat lihat buku buku yang ada di rak dan mengumpulkan sekitar 15 buku. Dia pergi keluar lalu menaruh tumpukan buku itu di depan monsternya.

    “Kau baca ini seperti biasa.”
    “Baik master~” Nix berkata layaknya seorang anak perempuan yang penurut.

    Arias kembali ke dalam lalu memilih beberapa buku lainnya untuk dibaca olehnya sendiri. Dia duduk di sebuah kursi kayu sederhana dan mulai membuka buku yang dipegangnya.

    Kebanyakan buku yang dia baca adalah buku yang berisi cerita cerita sampah. Meskipun cerita dongeng yang dia baca seringkali tidak menarik, tidak masuk akal, serta sulit dicerna dengan logika, dia tetap membaca cerita cerita sampah tersebut. Itu karena cerita dongeng sampah itu dapat dibaca dengan cepat. Jadi meskipun kelihatannya hanya memberi tambahan INT sedikit. Jika dihitung berdasarkan efektifitas waktu membaca, maka membaca cerita sampah itu memberi tambahan INT yang lebih banyak dibanding membaca buku lainnya.

    Ini karena jika Arias menghabiskan 6 jam membaca buku yang sulit dan tebal maka dia akan bisa membaca sekitar 3 buku, artinya dia rata rata akan mendapat 15 INT (rata rata +5 per buku). Namun jika dia menghabiskan 6 jam membaca buku cerita sampah maka dia akan bisa membaca sekitar 6 buku, artinya dia rata rata akan mendapat sekitar 18 INT (rata rata +3 per buku). Itulah sebabnya dia memilih membaca cerita cerita sampah.


    ~~~~~


    Setelah membaca sejak siang di perpustakaan itu, Arias melihat jam server yang ada di sudut kanan bawah pandangannya. Jam server menunjukkan pukul 23:59:53.

    Hari ini adalah tanggal 25 Desember, orang orang sedang merayakan malam Natal tentunya. Minimal jalan jalan dengan teman temannya. Tapi Arias menghabiskan hari natal ini sepenuhnya dalam dunia game.

    Sebenarnya teman teman kampusnya sedang mengadakan pesta hari ini. Tentu saja mereka mengundang Arias, tapi Arias bilang bahwa dia sudah ada janji dengan orang lain. Walaupun tentu saja itu bohong. Buktinya sekarang dia berada di perpustakaan ini.

    Arias mengalihkan pandangannya dari jam server lalu melanjutkan membaca buku.

    Beberapa saat kemudian tiba-tiba pandangan Arias bergoyang-goyang. Jam server terhenti di pukul 00:00:00 namun tulisan yang biasanya berwarna putih itu kini berwarna merah.

    Dia tidak bisa membaca bukunya sama sekali karena tulisannya menjadi blur akibat goncangan hebat itu. Arias menegakkan kepalanya dan melihat ruangan di sekelilingnya. Seluruh ruangan dilanda goncangan seperti terkena gempa 9 skala richter.

    Namun meskipun dengan goncangan yang terjadi, buku buku yang tersusun rapi di rak tidak berjatuhan sama sekali. Beberapa orang yang sedang membaca buku perpustakaan - seperti Arias – berlarian keluar dengan panik. Mereka berteriak penuh ketakutan sambil berlari sekuat tenaga.

    Meskipun begitu Arias hanya terdiam, mencoba memahami situasi di sekelilingnya.

    ‘Bagaimana mungkin ada gempa dalam dunia game?’

    Lalu ketika dia sedang berpikir hal yang tidak terduga terjadi. Pemandangan di sekelilingnya – yang tadinya adalah perpustakaan – tiba tiba berubah menjadi pemandangan interior khas perkantoran modern. Televisi, lampu neon, AC, meja dan sofa modern, semua benda itu kini berada di sekelilingnya. Itu jelas adalah barang barang yang bukan berasal dari dunia game khas abad pertengahan ini. Arias hanya terdiam melihat apa yang terjadi saat itu.

    Perubahan itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Sangat sangat singkat, sampai sampai Arias tidak tau bagaimana proses perubahan itu terjadi. Jam server terlihat mulai berdetik lagi menunjukkan puku 00:00:02 dan tak lagi berwarna merah.

    Arias berjalan menuju pintu kaca yang kelihatannya adalah pintu masuk sekaligus keluar dari bangunan itu. Dia mencoba membuka pintu itu, dia menarik dan mendorongnya sekuat tenaga. Namun pintu itu tak bergerak. Sepertinya pintu itu terkunci.

    Dia menyiapkan kuda kuda, lalu menendang pintu kaca itu dengan sekuat tenaga.

    KRAASSHH

    Tendangannya begitu kuat hingga pintu kaca itu hancur menjadi kepingan kepingan kecil. Kekuatannya di dunia game memang melebihi kekuatan manusia biasa.

    Orang orang di depan pintu kaca itu melihat ke arah Arias dengan penuh ketakutan. Mereka sepertinya adalah orang orang yang berlarian keluar dari perpustakaan tadi.

    Tanpa memperdulikan tatapan orang orang itu dia keluar dari bangunan itu melalui lubang besar hasil tendangannya di pintu kaca tadi. Setelah sampai di luar, dia melihat ke sekeliling. Ratusan orang yang memadati jalanan terlihat sedang kebingungan memandangi keadaan di sekitar mereka.

    Kini seluruh kota telah berubah menjadi kota metropolitan. Gedung gedung tinggi, gemerlap lampu neon, dan bangunan bangunan khas metropolitan lainnya terlihat menghiasi seluruh kota. Keadaan ini persis seperti keadaan kota tempatnya tinggal.

    ‘Tidak salah lagi. Ini adalah Jakarta.’

    Ketika sedang mencoba memahami situasi. Tiba tiba suara benturan besi berbarengan dengan suara ledakan terdengar di berbagai tempat.

    BRAAAKK.. BUUUUUM
    BRAAKK.. BUUUUM
    BRAAAAKKK.. BUUUUUUM

    Selain suara benturan dan ledakan itu, suara orang orang yang berteriak histeris penuh kepanikan juga terdengar di telinganya.

    “““AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”””

    Arias mengecek asal suara yang terdekat darinya, dia berlari secepat yang dia bisa. Nix mengikutinya di belakang.

    Sambil berlari serigala putih itu berteriak pada Arias. “A-Apa yang terjadi masteer?”
    “… Ini bukan waktunya untuk mengobrol.”

    Arias mengacuhkan pertanyaan monster kesayangannya itu. Mereka melewati kerumunan orang orang yang juga tidak tau apa yang terjadi di sekitar mereka.

    Semakin dekat dengan sumber suara ledakan, orang orang terlihat berlarian menjauh dari sebuah api besar yang menyala nyala. Arya menghampiri api itu, yang dia lihat adalah sebuah rongsokan besi yang berkobar dilahap api. Dari bentuknya, kelihatannya itu adalah rangka mobil. Arias sedikit mengerti apa yang telah terjadi sekarang.

    “Menu,” Dia membuka menu lalu mengecek daftar temannya, namun tidak ada temannya yang sedang online. Sepertinya mereka semua sedang merayakan malam natal. Tanpa banyak berpikir lagi dia langsung menekan tombol bertuliskan ‘Logout’.

    Arias menekan tombol yes.

    Pemandangan di sekitarnya perlahan berubah menjadi putih. Dia melaju di tengah lorong waktu kemudian pemandangan di sekitarnya berubah menjadi pemandangan kota abad pertengahan yang dihiasi dengan nyala redup lentera di berbagai sudut kota.

    Arya melihat ke sekelilingnya, orang orang di sekitarnya terlihat sedang kebingungan sambil memegangi handphone masing masing di telinga mereka dengan ekspresi penuh ketakutan dan kegelisahan. Mereka sepertinya mencoba menelpon teman ataupun keluarganya, tapi panggilan mereka sepertinya tidak diangkat.

    Pakaian trendy yang mereka kenakan juga menguatkan bukti bahwa orang orang itu adalah orang dari abad 23, bukan dari abad pertengahan. Mereka kini sedang gelisah karena lingkungan modernnya tiba tiba berubah menjadi lingkungan zaman pertengahan.

    Nix juga tidak terlihat di sekitarnya.

    ‘... Mungkinkah dunia nyata dan dunia monster war tertukar? Apakah ini akan seperti sinetron putri yang ditukar? ...... Kurasa tidak.’

    Mengetahui bahwa mengamati orang orang itu tidak akan menghasilkan apa apa, Arya memutuskan untuk pergi ke tempat yang cukup sepi. Dia ingin membuktikan hipotesisnya bahwa dunia nyata dan dunia game sepenuhnya tertukar, bukan hanya sekedar lingkungannya yang tertukar.

    Dia pergi ke sebuah gang kecil kemudian mengecek apakah ada orang lain di gang itu. Setelah memastikan tidak ada orang, dia membuka mulutnya hampir tanpa suara, “Summon White Wolf, Nix.”

    Bersamaan dengan ucapannya, sebuah lingkaran biru terang muncul dibawah kakinya. Lalu sebuah barier biru mengelilinginya, membuat dirinya kini seperti terkurung dalam sebuah tabung. Pandangannya tertutup oleh barier itu. Yang bisa dia lihat kini hanyalah warna biru. Tak peduli ke arah manapun dia melihat.

    Lalu tubuhnya dikelilingi sinar biru lain yang tipis.

    Tiba tiba sebuah jubah biru gelap membalut tubuhnya entah darimana. Tongkat sihirnya juga seketika muncul di tangan kanannya, bersamaan dengan munculnya tas kulit coklat di paha kirinya dan device silver di lengan kanannya. Rambutnya juga memanjang.

    Kini penampilannya persis seperti dirinya saat didalam dunia game. Lalu perlahan lahan barier biru yang mengelilingi dirinya itu turun dan menghilang.

    Seekor serigala putih raksasa terlihat di hadapannya. Sebagian bangunan di sekitar serigala raksasa itu hancur karena memang gang itu sangat kecil jika dibandingkan dengan ukuran tubuh serigala besar itu. Serigala itu melihat ke arah belakang Arya. Sekumpulan orang orang menatap Arya dan Nix dengan pandangan penuh ketakutan. Kelihatannya mereka berdua terlalu menarik perhatian meskipun Arya telah memilih gang sempit itu sebagai tempat bersembunyinya.

    “Ada apa dengan orang orang ini… master?” serigala putih itu bertanya sambil menunduk, berbisik pada tuannya.

    Arya tidak menghiraukan pertanyaan Nix dan berkata tanpa suara, “Monster skill, Flash.”


    ~~~~~~


    Arya kini berada di atas atap bangunan yang cukup tinggi di kota. Setidaknya mereka tidak mendapat tatapan tidak mengenakkan itu di atas sini.

    “Apa yang sedang terjadi masteer?” Nix bertanya lagi pada Arya.

    “Dunia nyata dengan dunia game tertukar,” Itu hanyalah hipotesisnya semata, tapi dia membuktikannya barusan dengan memanggil Nix ke dunia ini.

    “Lalu kenap--” Arya memotong sebelum serigala putih itu menyelesaikan kalimatnya, “Berpikirlah menggunakan otakmu sendiri.”

    Nix pun terdiam mendengar perintah tuannya. Dan kini dia kelihatan sibuk berpikir tentang apa yang sedang terjadi.

    Dan ini juga hanyalah hipotesis Arya semata, ‘Jika ini adalah dunia game, maka sistemnya juga pasti mengikuti sistem game.’ Tapi dia ingin mencoba hipotesisnya itu karena menurutnya itu bukanlah hal yang tidak mungkin.

    Dia sedikit ragu sebelum bersuara, “Menu,” sebuah pop up window yang biasa dia lihat di dunia game muncul di hadapannya.

    ‘Sepertinya ini benar benar dunia game.’

    Dia langsung menekan tombol yang bertuliskan ‘Friends List’. Lalu layar yang menunjukkan semua teman Arya di game monster war muncul dalam pandangannya.

    Dia menekan nama ‘Reza.Rozan’ di layar itu. Dia mencoba menghubungi Reza dengan fitur yang in game call, karena sepertinya handphone tidak dapat bekerja di kota abad pertengahan ini. Namun setelah menunggu beberapa menit, masih juga tidak ada jawaban dari Reza. Dia pun mematikan panggilan itu.

    Kini dia mencoba menghubungi Sylvia. Dia menekan nama ‘Sylvia1618’ di layar di hadapannya. Namun setelah beberapa menit menunggu, sama seperti Reza… tidak ada jawaban.

    ‘Akan kucoba hubungi si bodoh berambut merah itu,’ Dia menekan nama ‘Nisascarlet’ dalam list pertemanannya. Setelah menunggu beberapa saat, suara seorang wanita terdengar di dalam kepalanya.

    “A-Arias?? Ada apa ini!? Apa yang terjadi!?” Nisa bertanya dengan panik, setengah berteriak.

    “… Aku yang ingin bertanya padamu. Aku baru saja kembali dari dunia game,” ucapnya dingin.

    “A-Ah, maaf…. Kalau begitu kita ketemuan saja? Aku akan ke rumah Reza sekarang,” Nisa berkata dengan tergesa gesa.

    “… Sekarang kita berada di kota abad pertengahan. Bagaimana caranya kau mengetahui yang mana rumahnya?”

    “…… Hahaha,” Nisa mentertawakan kebodohannya sendiri sebelum melanjutkan, “Kau benar. Maaf maaf… Kalau begitu dimana enaknya kita bertemu?”

    “Kolam tengah kota.”

    “Oke. Kebetulan aku sedang berada di dekat sini. Dan ju--”

    “Oke,” Arya mematikan panggilannya sebelum wanita itu mulai berbicara omong kosong yang tidak penting.

    “Nix, kita ke kolam tengah kota,” Arya melompat ke atas punggung serigala putihnya yang kini bisa ditunggangi itu.

    “Baik master~”
     
    Last edited: Mar 3, 2016
  17. Offline

    noprirf Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,260
    Trophy Points:
    87
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +417 / -0
    Ada bagian yang benar-benar seinen yang mulai di ceritakan. :keringat:

    Adegan gore yang membuat virtual reality semakin nyata. Masih bisa memotong dan mencincang monsternya yang dikalahkan. Darah monsternya saja bahkan masih tertinggal di pemainnya. Konsep yang menurutku unik dan mungkin jarang yang menggunakan penceritaan seperti ini :)

    Bagi seorang novel nyawa cerita terletak pada 5 bab pertama. Dan konflik tentang dunia nyata dan maya yang mulai bersatu baru dijelaskan pada bab ke 8. Lama juga hadirnya konflik ceritanya :ogkaget:
    tapi menurutku tak masalah bila itu nyaman untukmu :siul:


    Terus, mungkin ane mau kasih nasihat dan mungkin kamu akan setuju. Akan lebih baik kalau fan service diceritakan setelah MC mendapatkan konflik cerita. Bila genre cerita adventure, maka beri setelah mereka mendapat kesulitan saat dalam perjalanan.


    Ah, baiklah lanjut gan :onfire:
     
    Last edited: Mar 1, 2016
  18. Offline

    Fairyfly Senpai Veteran

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    7,020
    Trophy Points:
    257
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,447 / -120
    saya dipanggil si iican ya :keringat:

    mak, baca paragraf pertamanya :swt:

    banyaknya kata lingkaran disini jujur bikin saya eneg. well, sebenernya saya udah eneg pas liat kalimat kedua, sih. imo, kata yang sudah disebut di awal kalimat usahakan jangan digunakan di awal kalimat berikutnya.

    ceritanya sendiri...tipikal. penggambarannya aja sih yang bikin boring imo. emosinya kurang kerasa (banget)
    still, if you happy with what you do, then continue. so good luck :hmm:
     
    • Like Like x 1
  19. Offline

    sandicoded Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2016
    Messages:
    11
    Trophy Points:
    2
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6 / -0
    Well, konflik cerita sebenarnya di chapter 4..
    Itu yang mau saya perdalam di sepanjang alur cerita..
    Tp saya juga sebenernya pengen bikin ceritanya lebih fast paced, biar pembaca gk bosen jg..
    Tp saya gk ngerti gimana caranya, apa harus time skip lompat2, tp nanti ceritanya jd gak nyambung.. atau gimana caranya...
    Untuk saran yang terakhir saya akan pertimbangin bener2.. Gak bisa seenaknya ya ngasih fan service.. Baru tau
    :keringat:

    Well, saya masih butuh banyak belajar terkait teknik penulisan.
    Saya usahain untuk gak ngulang kata kata yang sama di chapter2 selanjutnya
    Sarannya sangat berguna, arigatou gozaimasu
    :hmm:
     
  20. Offline

    sandicoded Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2016
    Messages:
    11
    Trophy Points:
    2
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6 / -0
    Baru tau di idws ada sistem penyensoran otomatis :ogcuriga:
    coba test: bangsat, ********, keparat, setan, goblok, tolol, dungu, idiot, ****, shit, hell, bastard

    cuma baj*ngan doang deh yg kesensor otomatis.. sama f*ck
     
    • Like Like x 1
  21. Offline

    gravh10z Senpai Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 28, 2009
    Messages:
    5,868
    Trophy Points:
    232
    Ratings:
    +5,250 / -514
    kudu pake sop disini ya FairyflyFairyfly
    yah lumayan lah ceritanya
    meskipun rada aneh soalnya bahasa indo :lol:
    keseringan nongkrong di RR si :lalala:
     
    • For The Win For The Win x 1
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.