1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

OriFic Lingkaran Abstraksi [END]

Discussion in 'Fiction' started by merpati98, Jun 29, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    Yeah…

    Akhirnya saya berhasil juga selesain ngetik ni novel paling random yang pernah saya bikin. Bahkan judulnya sendiri aja sebenernya maksa. Tapi yah... nggak penting.

    --

    Judul : Lingkaran Abstraksi

    Genre : Slice of Life, Drama, Romance

    --

    Terinspirasi salah satunya dari manga Bakuman. Buat yang baca ni manga, pasti tahu bagian mana yang saya tiru dengan seenaknya:hehe:


    --

    Index​



    00 - Prolog

    01 - "Aku tahu rahasiamu."

    02 - "Seni yang sesungguhnya."

    03 - "Namaku Mila. Salam kenal."

    04 - "Kak?"

    05 - "Kita putus."

    06 - "Dia tuh orangnya cuek banget!"

    07 - "Suatu saat nanti..."

    08 - "Masa depanku... begini?"

    09 - "Aku rasa kamu cocok jadi..."

    10 - "Janji."

    11 - Epilog

    ** - Kesimpulan

    ++ - Afterword


    --

    Enjoy:siul:

    Kritik dan saran sangat diharapkan:maaf:

    “Plot developmentnya mana?! Character developmentnya manaa?!!”

    ugh...:dead:
     
    Last edited: Oct 30, 2011
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    00 – Prolog

    Di salah satu ruang kelas,

    dengan meja-meja yang tertata rapi pada posisinya dan bangku-bangku kosong yang baru saja ditinggalkan oleh pemiliknya, terlihat seorang anak laki-laki sedang duduk sendirian di atas salah satu meja, menghadap ke arah papan tulis.
    Pandangannya kosong.

    Kondisi ini terus berlanjut sampai satu jam kemudian, ketika pintu kelas dibuka dengan suara keras dan seorang anak perempuan masuk dengan terburu-buru.

    “Aldi!”

    Anak laki-laki itu menoleh. Mengarahkan pandangannya pada gadis kecil berambut hitam sebahu yang—saat ini—sedang berusaha mengatur nafasnya setelah berlari-lari tadi.

    “Mila. Ngapain di sini?” tanya anak laki-laki tadi dengan nada seolah-olah itu adalah pertanyaan yang wajar untuk ditanyakannya olehnya.

    “Harusnya aku yang bilang begitu. Kamu ngapain di sini? Sendirian?” tanya gadis kecil tadi setelah berhasil mengatur nafasnya. Pandangannya tajam, mengarah kepada anak laki-laki itu yang masih tetap tidak bergerak dari tempatnya duduk.

    “Aku cuma lagi… bernostalgia sebentar,” jawab anak laki-laki itu tanpa memandang balik gadis yang saat ini sedang menatapnya. “Sebelum pergi.”

    Menghela napas panjang, gadis itu lalu berjalan perlahan menghampiri tempat anak laki-laki itu duduk. Di atas meja, di sebelahnya, gadis itu ikut duduk di sampingnya. Matanya melirik sebentar anak laki-laki itu sebelum ikut memandangi papan tulis yang ada di hadapan mereka.

    “Baru juga acara kelulusan… kalau kamu mau bernostalgia, lakukan nanti kalau kamu sudah berada di lingkungan yang berbeda,” gadis itu menggumam pelan. Pelan sekali sampai anak laki-laki yang duduk di sebelahnya pun belum tentu bisa mendengar suaranya tadi.

    Tapi dia mendengarnya, tanpa merasa perlu untuk membalasnya.

    Keduanya lalu duduk terdiam sambil menikmati keheningan yang tercipta di antara mereka.



    “Mila?”

    Gadis itu menoleh. Melihat anak laki-laki yang duduk di sebelahnya sedang menatapnya dengan pandangan yang tak bisa ia mengerti, “Aldi?”

    Anak laki-laki itu terus menatapnya tajam. Matanya yang dari tadi terlihat kosong, sekarang tampak memancarkan berbagai emosi dalam satu waktu. Entah itu kesedihan, kemarahan, kebahagiaan, dan keyakinan semuanya bercampur aduk tidak karuan menjadi satu.

    “Kita… aku… apa kamu mau menikah denganku?”

    “Eh?”

    Gadis itu menatap anak laki-laki di sebelahnya dengan muka terkejut. Wajahnya memerah, dan dia lalu mengalihkan pandangannya dari anak laki-laki itu.

    “A-aku… apa maksudmu, Aldi!”

    “Aku… suka kamu. Suka sekali! Dan waktu aku dengar kalau setelah kelulusan nanti kamu akan pindah, aku…”

    Menggigit bibirnya, dia tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan. Tapi dia juga tahu kalau dia harus mengatakan sesuatu untuk membuat gadis di sebelahnya mengerti.

    “Aku… tidak pernah suka dengan orang lain. Aku juga tidak pernah membenci mereka. Bisa dibilang… perasaanku pada orang lain hampir tidak ada. Karena itu aku tidak menganggap berbicara atau bersosialisasi dengan orang lain adalah hal yang penting. Menurutku, asalkan aku tidak mengganggu mereka, dan mereka juga tidak menggangguku itu sudah cukup.”

    Berhenti sebentar untuk mengambil nafas, anak laki-laki itu kembali melanjutkan.

    “Aku tahu aku tidak bisa hidup sendirian di dunia ini. Aku tahu itu lebih daripada yang orang lain bayangkan aku tahu. Tapi aku tidak bisa tidak berpikir seperti itu. Karena itulah kadang-kadang aku berpikir kalau aku ini mungkin sebenarnya seorang alien yang dikirimkan ke bumi untuk mencoba bersosialisasi di antara mereka, manusia. Lalu ketika hasil yang keluar bagus, para alien itu akan perlahan-lahan pindah ke bumi ini dan membuat kehidupan baru mereka di sini—“

    “Kamu masih tetap jago membuat cerita aneh, Aldi.”

    Gadis itu memotong.

    “A-aku tidak bohong!”

    “Bukan… maksudku soal alien dan sejenisnya. Kamu tidak perlu menjelaskan sedetil itu padaku. Aku sudah tahu kira-kira bagaimana ceritanya akan berlanjut.”

    Anak laki-laki itu menggaruk kepalanya sedikit. Dia baru menyadari kalau penjelasannya sudah mulai beralih ke cerita fiksi dan meninggalkan inti yang sesungguhnya ingin disampaikan.

    “Maaf. Maksudku… yah, kamu pasti mengerti kan. Pikiran anak kecil dulu.”

    “Sekarang pun kita masih anak kecil, Aldi,” gumam gadis itu pelan. “Kita baru 12 tahun.”

    Menoleh ke arah gadis di sebelahnya, anak laki-laki itu tampaknya mengerti apa yang ingin dikatakan oleh gadis itu. Tapi dia sendiri belum selesai menjelaskan masalahnya pada gadis itu dan sekarang dia tidak tahu harus bagaimana melanjutkan lagi penjelasannya.

    “Aku tahu.”

    Karena itu, dia hanya bisa terdiam setelah mengatakan kedua kata tersebut.

    “Apa yang mau kamu katakan tadi, Aldi?”

    “Eh?”

    Gadis itu menatap anak laki-laki yang terdiam di sebelahnya. Dia tahu karena telah berteman dengannya selama tiga tahun lebih kalau anak laki-laki itu masih ingin menyampaikan sesuatu padanya.

    Dan walaupun dia tidak begitu ingin mendengarnya, dia harus mendengarkannya.
    Sebagai teman terbaiknya.

    “Yaa.. karena itu… waktu kamu pindah ke sini kelas 4 dulu dan duduk di sebelahku, aku berniat untuk tidak memedulikanmu sama sekali. Tapi ternyata kamu terus menerus bicara padaku, mengajakku bermain bersama yang lain dan kalaupun aku menolaknya, kamu akan menemaniku hingga aku merasa bersalah karena telah membuatmu tidak bisa bermain dengan mereka.”

    Gadis itu tidak tahu hal ini.

    Dia tidak tahu kalau anak laki-laki yang sedang berbicara dengannya sekarang ini pernah berpikir begitu dulu. Waktu mereka masih hanya berstatus sebagai teman sebangku.

    “Maaf.”

    “Tidak perlu.”

    Keduanya terdiam lagi.

    Tapi kali ini, anak laki-laki itu telah siap untuk memecah keheningan di antara mereka. Dengan penjelasan yang sedari tadi ingin segera disampaikannya.

    “Mila..”

    Gadis itu menoleh. Mendengar namanya dipanggil tampaknya membuat refleks tersendiri pada lehernya untuk segera menoleh pada sumber suara.

    “Selama ini aku belum pernah melihat ada orang lain yang sekeras kepala kamu untuk mengajakku main. Kebanyakan malah takut padaku dan membiarkan aku duduk sendirian di ujung kelas melakukan apapun yang aku suka. Aku tidak menyalahkan mereka. Karena mungkin tanpa aku sadari, aku sendiri telah membuat benteng di sekitarku agar tidak ada orang yang bisa mendekatiku.”

    Menelan ludah, anak itu melanjutkan lagi.

    “Aku… ingin berterima kasih padamu. Enam tahun bersekolah di sini, aku kira aku sama sekali tidak akan pernah menikmatinya. Tapi semenjak kedatanganmu semuanya jadi berbeda. Biarpun kamu selalu menggangguku dengan kacadelan yang kamu sengaja, kamu benar-benar orang yang sangat baik.”

    Mendengar itu, gadis tersebut langsung menunduk dalam-dalam, wajahnya yang memerah seperti buah stroberi yang sudah matang terlihat sangat manis. Manis sekali. Meskipun kebanyakan buah stroberi berasa asam.

    “Aku suka denganmu. Suka sekali. Kalau kamu bilang kita ini masih kecil, suatu saat nanti pun kita akan menjadi besar. Aku tidak mau mengajakmu pacaran. Aku hanya ingin membuat janji denganmu, itupun kalau kamu mau melakukannya.”

    Anak laki-laki itu lalu tersenyum. Pada gadis yang ada di sebelahnya, pada ruangan yang sekarang sedang mendengarkan seluruh percakapannya, dan pada dunia yang telah mau memberikannya tempat tinggal sampai ia bertemu gadis itu.

    Dia merasa beruntung sekarang. Sangat.

    “Aldi… aku,”

    Sebelum gadis itu bisa berbicara lebih jauh, anak laki-laki itu memotong ucapannya dengan beberapa kata yang telah menghiasi kehidupan mereka selama tiga tahun ini bersama-sama.

    “Namaku Ardi, bukan Aldi.”

    :maaf:
     
  4. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    01 - "Aku tahu rahasiamu."

    “Aku tahu rahasiamu.”

    Seumur hidup,

    baru kali ini aku benar-benar berharap tidak pernah bertemu dengan seseorang.


    ***


    “Aku tahu rahasiamu.”



    Memandang orang yang ada di hadapanku saat ini dengan pandangan aneh. Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi pernyataannya.

    Lagipula, seberapa sering sih kamu bertemu dengan orang asing yang tiba-tiba berkata padamu dengan ekspresi muka serius dan nada yakin kalau dia mengetahui rahasiamu?

    Kalau aku tidak pernah bertemu dengan orang yang ada di hadapanku saat ini, aku pasti akan menjawabnya dengan mengatakan kalau itu tidak mungkin terjadi. Sayangnya karena aku sudah bertemu dengan orang ini, aku hanya bisa mengatakan bahwa.. mungkin saja itu terjadi.

    “Rahasia… apa?”

    Tidak tahu apa yang harus aku katakan, aku akhirnya memilih untuk bertanya saja apa yang dia maksudkan dengan rahasiaku. Sekalian juga untuk mengambil waktu meneliti ciri-ciri fisiknya yang walaupun tampak mencolok dengan rambut cokelat alami dan kulit berwarna putih pucat, aku yakin sepenuhnya kalau aku tidak pernah merasa melihatnya di lingkungan sekolah ini.

    Ah, bahkan di dunia ini pun aku tidak merasa pernah melihatnya.

    Lalu kenapa sekarang aku harus melihatnya dalam kondisi tidak wajar begini?

    “Aku mengetahui rahasiamu.”

    Dia mengulang lagi pernyataannya. Membuatku ingin berteriak tepat di depan kupingnya kalau aku bisa mendengar kata-katanya tadi dengan sangat baik.

    Tapi sebelum aku bisa melakukannya(dan aku memang tidak akan melakukannya), ekspresi serius yang sedari tadi ada di wajahnya menghilang. Karena dia lalu tersenyum lebar dengan maksud seolah-olah sedang mengejekku.

    Sayang aku tidak sempat merasa kesal, karena begitu lengkungan itu muncul di wajahnya, seketika itu juga aku merasa bulu kudukku berdiri dan sebuah firasat buruk datang menghampiriku.

    “Aku tahu kalau kamu…”

    Memberi jeda pada kata-kata, aku tidak tahu apa dia berniat untuk memberikan efek dramatis atau hanya ingin meniru pembawa-pembawa acara pada saat mengumumkan nama pemenang lomba?

    Apakah mungkin setelah ini dia akan berkata, “Setelah iklan yang berikut ini.”?

    “…bisa meniru suara orang lain.

    Bisa membuat suaramu menjadi berbeda sama sekali dengan suara aslimu,

    dan bahkan bisa membuatnya terdengar seperti suara perempuan.”

    …apa?

    Apa tadi aku tidak salah dengar?

    Atau mungkin saat ini aku sedang bermimpi?

    Membuat berbagai pertanyaan untuk menyangkal kejadian saat ini, aku harap semua jawabannya juga sesuai dengan yang aku inginkan.

    Karena…

    MANA MUNGKIN ORANG ASING SEPERTI DIA INI BISA BENAR-BENAR TAHU RAHASIAKU…

    Kan?

    Kenapa mendadak aku jadi tidak yakin?

    “Lalu aku juga tahu…”

    Uh…

    Apa dia masih mau lanjut? Memangnya apa lagi yang dia tahu? Dan melihat senyum creepy seperti itu terus tidak baik untuk kesehatan, tahu.

    Jadi bisakah ada yang menghentikan dia tersenyum seperti itu sekarang ini?

    “Kalau kamu adalah pelaku yang menyebabkan insiden waktu itu.”



    Insinden… waktu itu ya?

    Payah… padahal aku tidak ingin mengingatnya lagi. Kenapa juga orang asing ini harus mengingatkanku pada memori tidak menyenangkan yang terjadi karena kebodohanku waktu
    itu?

    Dia bahkan tidak tahu alasanku sama sekali.

    “Trus?”

    Aku tidak lagi berminat mendengarkan apa kata-katanya. Pikiranku kembali pada waktu itu, saat aku menekan satu-satu nomor telepon teman-teman sekelasku, teman-teman satu sekolahku, dan juga guru hanya dalam satu malam.

    Penyebab insiden itu memang aku.

    “Kamu mau menyebarkannya informasi itu pada orang lain? Kamu mau mengadukanku pada guru? Atau kamu mau memerasku sekarang ini?”

    Bertanya lagi, aku tahu aku sebenarnya tidak peduli dengan jawaban yang akan dia katakan nanti. Karena sebelum dia sempat menjawabnya, aku harus bertanya dulu mengenai itu.

    “Walaupun tentu saja… untuk melakukan itu kamu harus menunjukkan dulu suatu bukti yang mengatakan kalau aku…

    benar-benar pelaku yang menyebabkan insiden waktu itu.”

    Menatap matanya yang berwarna cokelat cerah dengan tajam, aku tidak akan menarik kembali kata-kataku. Aku tidak mau harus dipermainkan oleh orang asing bermuka datar dengan begitu mudahnya, apalagi kalau dia mau mengangkat kembali insiden waktu itu.

    “Aku mengerti. Jadi kamu mau bukti… kalau kamu adalah pelaku insiden itu?”

    Aku mengangguk pasti.

    “Walaupun kamu menyadari kalau memang kamulah pelakunya?”

    Dia bertanya lagi dengan penekanan pada beberapa kata. Senyum creepy yang menghiasi wajahnya menghilang sejak ia menyebutkan insiden itu, berganti dengan ekspresi serius seperti yang ditunjukkanya pertama kali.

    Aku mengangguk lagi.

    Ya, aku tahu kalau akulah pelakunya. Tapi kamu tetap tidak akan bisa menuduh seseorang tanpa bukti walaupun itu benar adanya.

    Dia mendesah.
    “Aku tahu kalau kamu adalah orang yang pintar saat pertama kali aku menyelidikimu, jadi aku tidak heran kalau kamu menanyakan hal itu.

    …hanya saja, aku tetap berharap kalau kamu tidak menanyakannya.”

    Tidak menanyakannya?

    Memangnya dia tidak punya bukti yang mengatakan kalau aku pelakunya? Tapi kalau begitu, darimana dia bisa mendapat ide kalau aku adalah pelakunya?

    Melihat keheranan yang aku tunjukkan, dia lalu melanjutkan kata-katanya.

    “Ya, aku memang tidak punya bukti.”


    Aku mengerutkan kening.

    Mencoba berpikir mengenai apa yang ia rencanakan sejak tadi. Aku tahu pembicaraan ini
    tidak akan selesai begitu saja hanya dengan kata-kata, ‘aku memang tidak mempunyai bukti.’

    “Melihat dari ekspresimu… kamu pasti berpikir kalau aku sedang merencanakan sesuatu ya?”

    Aku mengangguk. Ya, tentu saja. Mana ada orang yang mau repot-repot memanggil orang yang dituduhnya tanpa suatu bukti ataupun rencana…

    Lagipula,

    Kamu sendiri yang bilang kalau aku itu adalah orang yang pintar, makanya aku akan memenuhi ekspetasimu dan menjadi lebih cerdas daripada yang bisa kamu bayangkan.

    “Begitu. Aku memang punya rencana. Tapi ini terlalu merepotkan, makanya aku berharap kamu tidak menanyakan hal itu tadi.”

    Dia… sepertinya bukan tipe orang yang mau repot-repot ya?

    “Jadi apa? Semakin cepat selesai, semakin cepat juga hal yang merepotkan itu berakhir kan.”

    Dia mengangguk, menyetujui. Membuka mulutnya untuk mulai bicara, aku sudah siap mendengarkan apa maunya kali ini.

    “Aku adalah stalkermu.”

    Hah?

    Hah?

    Hah?

    Apa dia baru kerasukan hantu sekolah?

    Atau mungkin aku yang kerasukan?

    Hah?

    “Ya, aku tahu kata-kataku tadi sulit untuk dipercaya. Tapi begitulah kenyataannya.”

    Jangan berkata seolah-olah itu adalah masalah orang lain. Apa maksudmu memang berkata begitu?! Sepintar apapun orang, mereka tidak akan mengerti makna dari kata-katamu tadi. Aku bahkan sama sekali tidak bisa menyambungkannya dengan apa yang kita bicarakan barusan!

    “Ah, ya. Sebelum kamu salah paham. Aku sama sekali tidak berniat untuk menunjukkan bukti apapun kalau kamu adalah pelaku insiden waktu itu.”

    …jadi apa tujuanmu?

    “Kamu sebelumnya bertanya apa aku mau menyebarkan informasi itu? Mengadukannya pada guru? Atau memerasmu kan?”

    “Ya, aku memang bertanya begitu.”

    Aku tidak tahu kemana arah pembicaan ini. Yang aku tahu dia saat ini sedang melakukan
    rencananya tanpa aku ketahui bagaimana rencana itu.

    Uhh… aku jadi ingin tahu siapa pemuda berambut cokelat dan bermata tajam ini sebenarnya?

    Apa mungkin sebenarnya pekerjaan dia adalah seorang mata-mata internasional yang saat ini sedang menyelidiki orang-orang mencurigakan yang ada di bumi ini? Lalu ternyata tanpa sadar, dia malah menyelidikiku yang hanya seorang pelajar SMA biasa karena suatu kesalahan pada pemogramannya?

    Ngg… kenapa tiba-tiba ceritanya dia jadi seperti robot yang dibuat untuk menjadi mata-mata dan saat ini sedang memasuki masa error?

    Haah, aku tahu memunculkan cerita tidak jelas saat sedang berpikir sudah menjadi kebiasaanku. Tapi sepertinya aku harus mulai berhenti melakukannya kalau tentang orang lain.

    “Jawaban pertanyaan itu… kurasa yang paling mendekati adalah aku mau memerasmu.”

    Blackmail, ya?

    …aku memang tidak tahu apa tujuannya. Tapi mendengar dia menjawab sendiri kalau dia mau memerasku sama sekali tidak terdengar menyenangkan.

    Tapi dia bilang mendekati… jadi mungkin saja maksudnya tidak seburuk itu.

    “Apa tujuanmu bilang begitu?”

    Hal ini pasti sudah termasuk dalam rencananya. Aku tidak boleh lengah dengan apapun yang dia katakan.

    “Memperjelas. Karena kurasa kamu ingin tahu tujuanku bersusah payah memanggilmu kan?”

    Umm… ya?

    Aku sepertinya terlalu memandang rendah orang ini. Karena ternyata dia jauh lebih membingungkan daripada yang kubayangkan.

    Sial… orang aneh memang tidak pernah cocok denganku.

    “Oke, lalu apa maksudmu bilang kalau kamu adalah stalkerku?”

    Stalker…

    Kenapa juga dia harus menggunakan kata-kata aneh dan membingungkan begitu sih? Apa
    mungkin ini bagian dari rencananya atau dia hanya suka membuat orang bingung?

    “Nama kamu adalah Ardi, kelas XI IPA 5.”

    Err… aku tahu itu. Dan aku juga tahu kamu tahu itu karena kamu datang ke kelasku tadi
    kan?

    “Kamu adalah peraih ranking tiga di kelas.”

    Ngg… ya. Aku tidak tahu kamu tahu sejauh itu soal aku.

    “Kamu selalu belajar dari jam delapan sampai sepuluh malam.”

    Apa saat ini kamu sedang berusaha membuktikan kalau kamu adalah stalkerku?

    Rasanya menjijikkan tahu.

    “Kamu punya satu adik perempuan yang masih sekolah di SD kelas 4.”

    Sekarang… apa hubungannya adikku dengan ini? Jangan coba-coba menstalkernya juga kau. Walaupun aku bukan kakak yang baik, tapi setidaknya aku juga tidak mau dia susah gara-gara tingkahmu.

    “Kamu mengetahui hampir semua murid di SMA ini tanpa pengecualian apakah dia adalah adik kelas ataupun kakak kelas.”

    Hahaha… apa kamu mau bilang kalau aku juga berbakat jadi stalker?

    “Kamu suka kucing dan aku juga pernah mendengar kamu menirukan suara kucing dengan
    sempurna.”



    Bukan kucing yang lagi kawin kan?

    Lagipula, aku tidak benar-benar suka.

    “Satu lagi, kamu tidak suka manarik perhatian dan lebih memilih untuk duduk sendirian sambil membaca buku dibanding harus beramai-ramai ngobrol dengan yang lain.”



    Semua orang yang tahu aku pasti juga akan tahu hal itu. Kurasa kamu belum bisa jadi stalker yang baik. Sayang ya.

    “Apa kamu tahu?”

    Haah… apa yang aku tahu dan apa yang kamu tahu itu adalah hal yang sama sekali berbeda.

    Jadi mana aku tahu apa yang kamu sedang tanyakan kalau aku tahu… sial, kenapa juga jadi rumit begini omonganku.

    “Aku bisa saja menyebarkan gosip tentang kamu bisa meniru suara orang lain atau tentang kamu adalah pelaku insiden waktu itu tanpa bukti sekalipun.”

    “Memang benar… tapi mana mungkin orang-orang akan percaya begitu saja jika tidak ada bukti yang menguatkan kan?”

    Melihat dia mulai tersenyum creepy lagi, aku yakin dia sudah menyiapkan penjelasan untuk pertanyaanku.

    “Aku tidak perlu membuat mereka percaya. Dan inti dari gosip memang bukan bukti. Tapi kamu pasti tahu bagaimana jadinya kalau kamu dikira sebagai pelaku insiden waktu itu kan?”

    Aku… bagaimana jadinya…

    “Kamu akan menarik perhatian orang-orang.”

    Glek,

    Ini adalah jawaban yang sama sekali tidak akan pernah aku harapkan.

    “Lalu, apa kamu tahu kalimat ini?”

    Apa lagi yang dia mau?

    Apa rencananya masih berlanjut? Atau dia mau terus memojokkanku sampai aku tidak punya ruang lagi untuk memikirkan celah dan kesempatan untuk menghindar serta melarikan diri?

    “Kebohongan yang dipercaya oleh hampir semua orang akan menjadi kebenaran. Yah, itu tidak terlalu cocok sih dengan kondisi saat ini, karena yang kukatakan adalah benar.”

    Orang ini… sial.

    Seumur hidup,

    Baru kali ini aku benar-benar berharap tidak pernah bertemu dengan seseorang.



    ..

    .

    “Apa maumu?”

    Aku menyerah.

    Aku tahu, aku tidak akan tahan menjadi pusat perhatian orang-orang walau hanya satu hari saja. Apalagi dengan mengetahui kalau mereka sedang berbisik-bisik di belakangku sambil membuat asumsi-asumsi aneh yang bisa bikin gosip bertambah parah.

    Uhhh… membayangkannya saja membuat perutku mual.

    “Aku mau kamu membantuku.”

    Membantu? Membantu apa? dan kenapa harus aku?

    Kita bahkan tidak saling kenal satu sama lain dan ini adalah pertemuan kita yang pertama. Memangnya apa yang bisa aku bantu sampai kamu repot-repot menjadi stalkerku?

    “Mendubbing suara.”

    Hah??

    Dubbing…?

    “Dubbing apa?”

    Mendengar pertanyaanku, dia tersenyum lebar. Bukan creepy seperti seperti biasanya, melainkan senyuman manis layaknya anak kecil yang baru diberi permen.

    “Seni yang sesungguhnya.”

    Huh?

    Aku tahu dia suka menggunakan kata-kata yang membingungkan. Tapi apa maksudnya ini aku benar-benar sama sekali tidak tahu.

    “Oh, ya, Ardi. Sebagai informasi buatmu. Namaku Rendi. Salam kenal.”

    Setelah itu, dia lalu pergi begitu saja meninggalkanku duduk sendirian di ruang perpustakaan yang sedari tadi menjadi tempat kami bicara.


    ***

    Jam delapan malam,

    Saatnya memulai rutinitas belajarku seperti biasa.

    Tapi sebelumnya, lebih baik kalau aku berdoa dulu supaya ‘dia’ tidak datang lagi malam ini.


    ***

    Sayangnya doaku tidak dikabulkan.

    Karena tepat ketika jarum jam bergerak ke angka sembilan, saat itulah tiba-tiba terdengar suara—

    “Ardi!”

    Uhh… tidak lagi.

    Mengalihkan pandanganku dari buku yang sedang aku baca, aku bisa melihat ‘dia’ dengan rambut hitam sebahunya dan mata bulat besar menatapku sambil tersenyum lebar.
    Ugh, aku bahkan bisa melihat kuping kucing dan ekornya dengan sangat baik.

    “Nekomimi, boleh aku tanya sesuatu?”


    ***

    Satu hal yang mungkin tidak akan pernah diketahui oleh Rendi, selama apapun dia menjadi stalkerku adalah…

    Di kamarku, setiap jam sembilan malam mulai tahun lalu, selalu dikunjungi oleh seorang gadis kecil berambut hitam sebahu dan mata bulat besar yang sangat manis. Apa kamu pikir aku beruntung? Kurasa kamu tidak akan bilang begitu kalau jadi aku.

    Karena pertama, dia selalu muncul di kamarku entah darimana dan tanpa sepengetahuanku. Kedua, dia mempunyai ekor di belakang tubuhnya dan sepasang telinga kucing di kepalanya! Sebagai tambahan, dia tidak bisa dilihat, disentuh, dan didengar oleh orang lain selain aku! oh... dia juga tidak bisa disentuh olehku. Walaupun dia bisa menyentuhku. Not fair, eh...

    Apa kamu bisa bilang lagi kalau aku ini beruntung?!

    Kalau yang muncul adalah gadis manis yang sopan serta bisa disuruh-suruh baru lah boleh bilang aku beruntung. Sementara dia… kerjanya selalu mengajakku main ataupun bicara tidak jelas selagi aku belajar!

    Menyebalkan! Bagaimana aku bisa berkonsentrasi kalau begini?!


    ***

    “Namaku Mimi, bukan Nekomimi. Trus ya, kamu mau nanya apa, Ardi?”

    Hahh… siapa yang peduli nama kamu Mimi atau apa. Toh kenyataannya kamu memang punya telinga kucing. Jadi nggak ada salahnya kan kalau aku tambahin neko?

    Yah, bukan itu yang mau aku tanyakan.

    “Sampai kapan kamu mau muncul tiba-tiba begitu? Belum bosan juga eh, hantu?”

    Dia tampak tersinggung. Tapi saat ini aku memang sedang dalam mood yang kurang bagus, jadi wajar saja kalau kata-kataku terdengar lebih kejam daripada biasanya. Tapi yah, dia juga sudah setahun lebih menghantuiku jadi seharusnya sudah terbiasa dengan itu.

    “Uh! Bukan mauku juga muncul di tempatmu terus! Kalau aku bisa, aku lebih pengen muncul di kamarnya artis ganteng!”

    …mesum.

    Ternyata gadis kecil yang kelihatannya manis dan polos itu juga bisa mesum.

    Menyeramkan, dunia ini memang sudah akan berakhir.

    “J-jangan berpikir yang aneh-aneh! Maksudku bukan begitu!”

    Oh, dia tampaknya tahu apa yang ada dalam kepalaku. Hebat juga bisa menebaknya.

    Hmm...

    “Oh, ya. Umurmu berapa tahun, Nekomimi? 4, 5?”

    Dia merengut lagi.

    Hmm… apa ada yang salah dengan aku menanyakan umurnya? Aku tahu perempuan memang tidak suka ditanyain soal umur. Tapi itu biasanya berlaku hanya untuk wanita-wanita yang sudah tua dan tidak pede lagi dengan umurnya kan?

    “Aku ini 12 tahun! Bukan empat atau lima!”

    …oh?

    Dia marah gara-gara itu?

    Aku tidak menyangka. Tapi memang sulit menebak umurnya dengan badan dia yang kecil begitu. Walaupun kata-kataku tadi soal dia umur 4 tahun juga cuma bercanda.

    “Wow? Jadi kamu lebih tua dibandingkan Andin? Ini baru benar-benar mengejutkan.”

    “Uuh! Jangan bandingin aku dengan adikmu! Aku ini lebih senior dibandingkan dia!”

    Yah memang kalau umurmu 12 tahun kamu jelas lebih tua daripada dia. Tapi apa hubungannya hal itu dengan senior?

    Senior dalam hidup ini? Kenapa kesannya menggelikan begitu.

    “Senior dalam hal apa? menjadi hantu? Tenang saja, saat adikku meninggal nanti dia pasti tidak akan memilih jalan yang salah dengan menjadi hantu.”

    “Bukan itu! Uh! Ngomong dengan Ardi memang tidak akan pernah beres! Aku pergi!”

    Selamat jalan… tidak perlu sampai jumpa lagi kan?



    Melihat dia pergi atau lebih tepat kusebut menghilang, aku lalu melirik jam yang tertempel di dinding kamarku telah menunjukkan pukul setengah sepuluh.

    Ya ampun…

    Setengah jam seperti biasanya, huh. Padahal aku bermaksud membuatnya pergi dalam waktu sepuluh menit saja.

    :swt:capek euy...
     
    Last edited: Jun 29, 2011
  5. Offline

    XtracK Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 22, 2011
    Messages:
    266
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +256 / -0
    kk, bagian ini bagusnya dipisah jadi 2 spoiler. jadi, yang baca jadi penasaran gitu, lho... :unyil:
    komennya segini dulu, kk. Nanti dilanjutin. :maaf:
    ak masih harus cabut. :bye:

    gile.. ceritanya asli bikin aku bingung. :pusing:
    insiden, itu, emang insiden apaan, sih kk? :???:
    ekspresi tokohnya masih datar, menurut ak.. [​IMG] terus, cew di prolog dikemanain, ya...??
    oke, deh..
    ak nantikan sambungan selanjutnya.. :top:
     
    Last edited: Jun 29, 2011
    • Thanks Thanks x 1
  6. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    fixed:ngacir:

    insiden ga jelas yang dia buat:bloon:

    cewek di prolog disembunyiin dulu kk:lalala:

    datar ya...:keringat:nggak heran sih..:ngacir:

    makasih komentarnya..:maaf:
     
    Last edited: Jun 29, 2011
  7. Offline

    kyotou_yasuri Silent Reader Members

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Hmm mulai dari mana yak.

    Prolognya bagus... memberikan kesan yang agak samar. Feelingnya pas banget buat awalan cerita, apik lah pokoknya! :top:

    Lah masuk chapter satu ini.... agak... :keringat:

    Ngomong2 saya gak baca Bakuman tapi pernah nonton animenya 1 episode, dan tau kok persamaannya apa :peace:

    1-A masih cukup rapi... tapi awalan 1-B kayaknya agak terlalu berbelit, kurang to the point. Trus di 1-C.. wedew bingung saya tiba-tiba muncul seorang hantu. Bukannya lebih cocok kalau 1-C dijadikan chapter baru saja karena setting dan inti chapter sudah berubah? Cuma pendapat lho... :peace:

    Oiya bahasa campurannya kok rasanya agak gimana gitu ya... :keringat: 'menstalkernya'? nggak lebih baik diganti jadi 'penguntit' saja? jadinya 'menguntitnya'

    Sori kalo ada bahasa yang gak enak :maaf:
     
    • Thanks Thanks x 1
  8. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    @kyotou_yasuri

    makasih komentarnya kk..

    kalau diubah babnya kayaknya sih susah kk:keringat:soalnya nanti bab 2 juga udah beda lagi settingnya...

    dan bahasa campuran:maaf:udah kebiasaan suka ada campuran bahasa inggris--kadang jepang(kalau lagi kambuh weaboonya:ngacir:)..
     
  9. Offline

    Gorgomm Beginner Members

    Joined:
    Aug 20, 2010
    Messages:
    373
    Trophy Points:
    51
    Ratings:
    +778 / -0
    belum bisa berkomentar banyak , hampir sama seperti komen diatas...kecuali
    “Aku adalah stalkermu.”

    Hah?

    Hah?

    Hah?
    gimana kalo dengan ekspresi yang berbeda - beda ...maaf lho kalo salah komen :malu:
     
    • Thanks Thanks x 1
  10. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    ekspresi yang berbeda..:???:

    contohnya:???:

    ngerti sih, tapi saya bingung:ngacir:

    makasih komennya kk:malu:
     
  11. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    02 - "Seni yang sesungguhnya."

    Namanya Rendi.

    Anak kelas XI IPS 1. Terkenal di kelasnya sebagai tukang bolos dan cabut nomor satu yang sangat legendaris. Haah… gelar macam apa itu, dan mengetahui kalau dia merasa baik-baik saja dengan gelar seperti ini, aku tidak akan menarik lagi kata-kataku yang mengatakan dia sudah gila.

    Ng? tapi apa aku sudah pernah mengatakannya?

    Yah, nggak penting.

    Hanya saja aku sekarang tidak terlalu heran mengenai suatu hal. Apa itu? Seperti yang kubilang pada pertemuan pertama kami dulu, aku tidak pernah merasa melihat dan bertemu dengannya. Padahal… biarpun aku tidak senang berbicara dengan orang lain, aku mengetahui hampir seluruh murid SMA ini tanpa pengecualian apakah dia adik kelas atau kakak kelas.

    Tapi, tentu saja, kalau orangnya sendiri jarang masuk… bagaimana aku bisa tahu?


    ***


    Seminggu sejak kejadian waktu itu,

    Aku belum bertemu lagi dengan Rendi dan aku rasa aku juga tidak melihat dia dimanapun, di sekolah ini. Pertamanya aku heran, bagaimana caranya dia bisa bersembunyi begitu tanpa aku sadari? Tapi setelah aku sibuk mencari-cari informasi mengenai dia dan menemukan fakta menarik yang mengatakan,

    “Rendi itu tukang bolos. Dia emang jarang masuk dan kalau nggak salah dia masuk cuma kalau ada ulangan aja.”

    Aku tahu saat ini dia juga pasti sedang bolos untuk alasan yang tidak aku tahu, dan memang aku tidak perlu aku tahu.

    Urusan dia ya urusan dia. Urusanku ya urusanku. Aku tidak perlu tahu urusan dia, karena dia juga tidak perlu tahu urusanku.

    Tapi memang tidak semuanya bisa berjalan begitu saja sesuai keinginanku. Karena tepat seminggu setelah pertemuan pertama kami, dia muncul secara tiba-tiba entah darimana dan mengatakan hal yang sama sekali tidak masuk akal.

    “Ikut aku.”

    Oke, mungkin ini masih masuk akal. Tapi kurasa sampai matahari terbit di sebelah baratpun kata-kata dia selanjutnya tidak akan pernah bisa disebut normal untukku.

    “Kita bolos hari ini.”

    Kita?

    Apa maksudnya dengan kita? Kalau kamu mau bolos kenapa harus ngajak-ngajak orang lain? Kenapa nggak sendiri aja sana?

    Berbeda denganmu yang bahkan sudah mendapat gelar aneh itu, aku ini cuma murid biasa yang baik dan taat pada peraturan(walaupun senang menyendiri dan sering dibilang aneh juga). Karena itu kamu nggak bisa tiba-tiba mengajakku bolos tanpa urusan yang jelas dan benar!

    “Aku nggak mau.”

    Dia memandangku datar. Membuka mulutnya, dia lalu berkata,

    “Suratmu sudah aku kasih.”

    Ha?

    Apa maksudnya? Surat? Surat apaan?

    Selagi aku berpikir begitu, entah bagaimana dan seperti apa, Rendi tiba-tiba sudah menarikku untuk naik ke atas boncengan motornya yang sedari tadi menghalangi jalanku ke sekolah.

    “Oi! Jangan tarik!”

    …dan kami kemudian melaju membelah jalan raya tanpa peduli dengan teriakan protesku yang meminta kembali.


    ***


    Memandang salah satu rumah bertingkat berwarna kuning cerah di hadapanku, aku tidak tahu kenapa aku merasa heran saat menyadari kalau ternyata rumahnya dia terlihat biasa saja seperti juga rumah-rumah lain yang berjejer di sampingnya.

    “Masuk.”

    Haaah, kelihatannya aku nggak punya pilihan lain. Kalaupun mau balik ke sekolah jam segini juga aku pasti akan terlambat, dan kenyataan kalau aku tidak tahu daerah ini mengurungkan niatku untuk kabur sama sekali.

    Aku rasa dia juga tahu itu.

    Karena berbeda dengan saat dia menculikku(ya, memaksa orang untuk ikut dengannya bisa disamakan dengan tindakan menculik) tadi pagi, sekarang dia sama sekali tidak merasa perlu menyeret-nyeretku untuk ikut dengannya.

    Tapi ada satu hal yang menggangguku sejak tadi.

    “Maksudmu apa soal surat tadi?”

    Dia menoleh. Memamerkan senyum ala macannya sebelum menjawab pertanyaanku.

    “Surat izinmu.”

    Aku memandangnya setengah tidak percaya.

    Dia tidak mungkin bilang kalau…

    “Kalau kamu mau sering bolos, setidaknya kamu harus tahu teknik untuk memalsukan surat, Ardi.”

    Kamu pikir aku siapa?

    Aku tidak memerlukan teknik seperti itu. Emm… mungkin. Oh ya… kalau begitu nanti absenku akan jadi apa? Sakit? Izin?

    “Kamu tulis apa di surat izinku?”

    Uhh.. kenapa aku jadi merasa menyesal menanyakan ini. Apalagi saat melihat senyum mencurigakannya yang semakin lebar, entah kenapa aku punya perasaan kalau aku tidak akan menyukai jawaban dia nanti.

    “Aku tulis kamu tidak bisa masuk karena terkena penyakit diare.”



    Diare?! Dari sekian banyak penyakit umum lainnya yang bisa kamu tuliskan kenapa kamu harus menulis diare?!

    “Contohnya?”

    “Flu, pilek, demam, dan sejenisnya!”

    Mendengar jawabanku, dia malah terlihat seperti mau tertawa. Aku tidak tahu apa yang lucu. Tapi mendengar kata-kata dia selanjutnya, aku tidak heran kalau dia tertawa.
    Bukan, bukan karena itu lucu. Tapi karena…

    “Hmph, masalahnya orang bodoh tidak akan terkena flu kan?”

    …dia itu orang menyebalkan yang sangat pintar mencari cara untuk mengejek orang.

    Hei, apa kamu mau mengkontradiksikan kata-katamu sendiri? Seminggu yang lalu kamu bilang aku pintar kan?

    “Kamu itu yang—“

    “—Yaah... berhenti dulu bercandanya. Aku mengajakmu ke sini bukan untuk itu.”

    Mengalihkan pembicaraan, aku hanya bisa ikut saja kemana dia mau. Karena satu, aku sudah terlalu capek untuk memprotesnya. Dua, dalam keadaan emosi begini otakku sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama dengan baik untuk memikirkan cara memprotesnya secara benar.

    Jadi ya… apa aku punya pilihan lain?

    “Memangnya apa maumu? Memaksaku ke sini?”

    Mengoreksi kata ‘mengajak’ yang digunakan Rendi, aku lebih memilih untuk menggunakan kata ‘memaksa’ karena memang begitulah sebenarnya yang terjadi.

    “Aku sudah bilang kan seminggu yang lalu.”

    Dia tersenyum lebar ke arahku, dengan senyum seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan yang diinginkannya. Dia lalu berkata,

    “Kita akan mendubbing suara!”

    Mendengar nada bicaranya yang terdengar ceria membuatku kehilangan semangat untuk memprotesnya.

    Walaupun kata ‘kita’ tidak terdengar pas untukku, tapi kurasa aku juga tidak mau merusak momen bahagianya saat ini. Hmm… biarpun aku tidak tahu kenapa dia sepertinya sedang bahagia sekali.

    “Dubbing apa?”

    “Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku akan tunjukkan padamu seni yang sesungguhnya.”

    Seni…yang sesungguhnya?

    Apa kamu tahu kalau kamu sedang mengatakan kata-kata yang tidak jelas maksud dan maknanya?


    ***


    “Gambar yang bergerak adalah seni yang sesungguhnya~!”

    Aku terdiam.

    Mataku terus tertancap pada layar komputer yang ada di hadapanku tanpa bisa mengalihkannya sedetikpun.

    Aku terus menatapnya. Menatapnya, menatapnya, menatapnya dan menatapnya terus seolah-olah tidak mengenal kata bosan. Karena itulah aku terus menatapnya, menatapnya, dan menatapnya terus.

    Mungkin ‘terpesona’ adalah satu kata yang paling tepat untuk mendekripsikan keadaanku saat ini.


    ***


    Memasuki kamarnya yang penuh dengan poster-poster yang tertempel hampir di semua dindingnya(bahkan langit-langitnya juga), aku hanya bisa berdecak kagum melihat betapa rapinya kamar ini ternyata. Tidak seperti kamar anak laki-laki pada umumnya, dan tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya.

    Memandang ke sekeliling kamar. Aku mendapati tiga rak kayu berisi berbagai macam keping CD serta buku-buku tebal di dalamnya. Selain itu di kamar ini, juga ada satu lemari kecil, meja belajar yang di atasnya terdapat satu unit komputer canggih dengan dua monitor layar lebar, serta sofa dan kursi.

    ..tunggu. Kenapa rasanya ada yang janggal di kamar ini?

    “Hei, Rendi. Ini kamarmu kan?”

    Aku bertanya dengan nada bingung.

    “Ya. Kenapa?”

    Sibuk dengan kabel-kabel di sekitar komputernya, Rendi sama sekali tidak memperhatikan aku yang sedang keheranan.

    “Mana tempat tidurmu?”

    “Hah? Oh… itu. Kayaknya udah kubuang setahun yang lalu saat aku masuk SMA.”

    Di…buang?

    Aku menatapnya—yang sedang asyik mengatur kabel-kabel—dengan pandangan tidak percaya.

    Apa kamu benar-benar tidak waras?

    “Dibuang kenapa?”

    Aku bertanya lagi. Entah kenapa merasa penasaran dengan nasib tempat tidur Rendi itu.
    Atau mungkin aku penasaran dengan cara otak Rendi bekerja? Walaupun, aku tidak yakin jawaban dia akan menjelaskan semuanya. Karena seperti yang pernah kubilang, dia itu punya hobi bicara dengan kata-kata yang tidak jelas, yang membuat orang lain kebingungan.

    “Bikin sempit. Aku nggak bisa masukin semua rak-rak itu kalau masih ada tempat tidur tadi.”

    Memandang tiga rak besar yang berjejer di hadapanku, aku membenarkan sedikit kata-katanya. Memang… kalau ada tempat tidur kurasa dia hanya akan bisa memasukkan satu rak saja. Tapi… orang seperti apa yang tidak punya tempat tidur di kamarnya padahal dia mampu buat membelinya?

    Lagian dia tidur dimana…?

    Tenggelam dalam pikiranku sendiri, tampaknya Rendi akhirnya menyadari kebingunganku dan menjawab salah satu pertanyaan yang ada dalam otakku dengan nada tidak peduli.

    “Tidur di sofa juga cukup nyaman.”

    Ah.. jadi itu fungsi sofa di kamar ini.

    Aku tahu seharusnya aku tidak perlu repot-repot memikirkannya. Dia toh memang sudah aneh dari sananya. Jadi kalau hanya tidak ada tempat tidur di kamarnya kurasa itu masih termasuk dalam hal yang wajar. Untuknya.

    Memandang Rendi yang sekarang sedang sibuk dengan komputernya. Aku jadi ingin tahu ada berapa banyak orang aneh seperti dia di dunia ini…

    “Hei, ngapain bengong di situ! Duduk!”

    Ya.. ya…

    Mematuhi saja apa yang dikatakannya. Aku duduk di salah satu kursi yang ada di kamar ini. Di sebelah Rendi yang tampaknya mulai lagi mencuekkin aku.



    Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana sampai Rendi bersuara kembali.

    “Kamu tadi tanya kita akan mendubbing apa kan?”

    Aku mengangguk malas, “Ya. Kenapa?”

    “Jawabannya adalah, kita akan mendubbing… ini.”

    Dia menekan tombol Enter, dan saat itu juga perhatianku langsung tersedot sepenuhnya pada apa yang ditampilkan di layar komputer itu. Seperti baru terkena sihir, aku bahkan tidak merasa mataku berkedip sedikitpun. Terus terfokus pada layar komputer. Menatap apa yang sedang ditampilkan di dalamnya dengan seksama.



    Hebat… aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikan ini. Tapi ya…

    “Gambar yang bergerak adalah seni yang sesungguhnya~!”

    Ah,

    …saat itu, aku baru tahu kalau aku telah berkenalan dengan salah satu orang jenius yang mempunyai keinginan besar. Berbeda denganku yang berangkat ke sekolahpun sebenarnya hanya karena perintah dan keinginan dari orang tua. Belajar pun cuma supaya mereka tidak marah karena melihat nilaiku jelek. Dan mendapat nilai bagus di sekolah itu sebenarnya… untuk apa? dan siapa?

    Aku tidak pernah mempunyai keinginan dari pertama… kecuali hal itu.

    “Hem… sebetulnya aku agak kurang puas dengan animasi di sini. Kelihatannya agak kurang halus gerakannya..”

    Mendengarkan dia berbicara dengan penuh antusiame, aku kembali tenggelam dalam pikiranku.

    “Aku pengen nanti punya studio pembuat animasi sendiri…”

    Dia masih terus berbicara. Aku sendiri hanya bisa menangkap sebagian kata-katanya.

    “…tapi kalau misalnya…”

    Aku semakin sulit menangkap kata-katanya. Tapi dia masih terus bicara, dan aku masih terus terdiam dalam lamunanku.

    Oh ya…

    Pagi itu, aku mendapat satu informasi penting mengenai Rendi.

    Dia akan—sangat—banyak bicara kalau membahas mengenai sesuatu yang sangat disukainya. Atau dia merasa penting untuk membicarakannya.


    ***


    “Bagaimana?”

    Terkesiap. Aku akhirnya bisa juga bangun dari keadaan setengah sadarku.

    “Huh? Oh… lumayan. Buatanmu?”

    Dia tersenyum, mengangguk. Terlihat tulus. Berbeda dengan yang biasanya aku lihat yang hampir selalu terasa dingin dan membuat bulu kuduk merinding. Saat ini dia tersenyum dengan hangat padaku. Membuatku merasa tidak enak kalau tidak membalasnya.

    Jadi,

    Aku membalas senyumnya, sedikit. Tipis. Atau begitulah yang terjadi sebelum kami berdua tertawa meledak sambil mengejek satu sama lain.

    “Kayak gini kamu bilang animasi!? Terlalu kaku!”

    “Apaan! Suaramu sendiri sebenarnya cuma bisa gitu-gitu aja!”

    “Siapa yang Cuma bisa gitu-gitu aja, hah?”

    “Ya, ya… persis penjahat emang!”

    “Penjahat nggak mungkin suaranya begini…”

    Mendengarku menirukan suara perempuan, Rendi tampaknya tidak bisa lagi menahan tawanya untuk membalas perkataanku tadi. Walaupun begitu, dia masih berusaha berbicara di sela-sela tawanya.

    “Ahaha… persis… haha!”

    “Persis apa?”

    “Suara adik kamu! Ahaha…”

    “Menghina! Aku niruin suara tante aku!”

    “Kayak anak kecil!”

    “Enak aja!”


    ***


    Mengingat kembali waktu itu, aku jadi heran sendiri dengan apa yang terjadi.

    Bagaimana caranya kami bisa tiba-tiba jadi tertawa-tawa nggak jelas begitu? seperti orang gila saja. Kalau Rendi sih memang gila. Tapi aku? Tidak mungkin. Aku hanya pelajar biasa tanpa suatu hal yang spesial. Oke, mungkin bisa mengubah suaraku tanpa memakai alat apapun itu cukup spesial, dan mengetahui nomor HP, alamat, e-mail hampir semua anak satu sekolah cukup bisa dibilang spesial. Tapi cuma itu.

    Selainnya, aku benar-benar pelajar SMA biasa(yang suka menyendiri) dengan nilai-nilai yang cukup memuaskan.

    Hmm..

    “Ardi~”

    “Hwaa!”

    Aku melompat kaget. Menatap wajah anak perempuan yang tiba-tiba muncul di depanku dengan tatapan garang, aku lalu kembali duduk di kursiku.

    “Jangan suka mengejutkan orang, Neko.”

    Dia mengembungkan pipinya. Tampak kesal dengan panggilan yang aku buat, tapi karena aku juga sedang kesal. Kurasa kami seimbang saat ini.

    “Namaku Mimi! Bukan Neko!”

    Ya, ya… kamu Neko dan Mimi.

    Digabung jadi…

    “Nekomimi kalau begitu.”

    Dia merengut mendengar balasanku. Kuping kucingnya terlihat meruncing sementara matanya yang bulat hitam membesar. Tampaknya ia sedang berusaha supaya terlihat seram agar aku takut, dan kemudian meminta maaf padanya.

    Tapi… daripada menyeramkan, dia malah terlihat lucu. Seperti anak kucing.

    “Bener-bener Nekomimi! Ahahah.”

    Aku tertawa. Dia tampak kesal.

    “Ardi jahat!

    Kalau memang lagi seneng bagi-bagi dong sama Mimi!”

    Hah?

    Aku mengerutkan kening. Mencoba mencerna kata-kata Nekomimi tadi. Rasanya ada yang aneh… Oh!

    “Aku? Seneng?”

    Mengangguk pasti, ekspresinya berubah kembali jadi seperti biasanya. Ceria.

    “Iya! Soalnya Ardi biasanya nggak senyum sama sekali! Tapi hari ini Ardi senyum! Jadi Mimi kira, Ardi pasti lagi seneng!”

    Haah? Yang bener aja. Kenapa juga hari ini aku… senyum?

    Meraba wajahku sendiri, aku sadar kalau ucapan Nekomimi benar adanya. Dari tadi… aku memang sibuk senyum-senyum sendiri.

    Ughh… kenapa juga aku mendadak jadi kayak orang gila begini?!

    “Pasti Ardi seneng banget hari ini! Mimi yakin!”

    Jangan seenaknya mengatakan yakin. Ini perasaanku, bukan perasaanmu. Karena itu aku lebih tahu apa yang terjadi dengan perasaanku.

    Lalu…

    Kira-kira apa yang membuatku senyam-senyum sendiri seperti ini tadi? Rasanya hari ini sama saja dengan hari-hari yang lainnya. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang spesial. Yah, kecuali bolos sekolah untuk pertama kalinya bisa dimasukkan dalam kategori istimewa.


    ***


    “Apa kamu pikir kamu bisa memerankan tiga tokoh sekaligus?”

    Setelah sesi ketawa-tawa seperti orang gila itu tadi, kami kembali pada tujuan semula. Mendubbing suara.

    “Mungkin.”

    Aku menjawab setengah ragu. Secara suara sih sebenarnya aku yakin bisa membuatnya terdengar berbeda-beda. Tapi masalahnya adalah penghayatan tokohnya nanti. Kalau aku cuma ngomong tanpa adanya… uhh… penjiwaan, tokoh yang aku perankan juga tidak akan terasa hidup kan?

    Dan itu sama dengan kegagalan untukku. Sebagai dubber. Kenapa juga aku harus peduli, ngomong-ngomong…

    “Hmm… aku tahu maksudmu. Tapi aku sendiri paling hanya bisa memerankan satu tokoh saja.”

    Aku memang tidak mengharapkanmu.

    Meliriknya, aku bisa melihat Rendi sedang mengerutkan keningnya. Tampak sibuk berpikir sambil memutar-mutar kertas naskah yang ada di tangannya.

    “Kurasa kita memang tidak bisa mulai mendubbing hari ini.

    Bagaimana kalau kamu baca dulu saja naskahnya di rumah. Lalu nanti bilang padaku mana aja tokoh yang paling gampang untuk kamu perankan.”

    Dengan kata lain…

    Mempelajari dulu bagaimana karakter mereka. Mungkin itu memang ide yang paling bagus untuk saat ini. Karena dipaksa bagaimana pun, Rendi juga tidak mungkin bisa mengubah suaranya sehalus yang bisa aku lakukan.

    Tapi kenapa tidak coba cari orang lain aja untuk membantu ini?

    “Orang lain?”

    Aku mengangguk.

    Rendi menghela napas. Pandangannya kembali menerawang.

    “Aku tidak yakin. Sebelum bicara denganmu, aku juga sudah mencari orang lain untuk kumintai tolong. Tapi rata-rata semuanya…”

    “Apa?”

    “Tidak ada yang bisa membuat intonasi yang pas. Pasti ada yang agak sedikit… kurang.”

    Hmm, itu memang benar…

    Tapi kata siapa aku tidak begitu? Kamu kan tidak tahu aku…

    “Aku stalkermu, ingat?”

    “Yah, benar.”

    Menyenderkan punggung ke sandaran kursi. Aku mulai membaca naskah skenario yang diberikan Rendi sambil menghitung-hitung waktu yang kira-kira aku butuhkan untuk mempelajari karakter tokoh-tokoh ini.

    Uhh… ini sama sekali bukan pekerjaan yang mudah…

    kayaknya baginya salah:swt::sedih1:
     
    Last edited: Jun 30, 2011
  12. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    03 - "Namaku Mila. Salam kenal."

    Murid pindahan waktu aku kelas 4 SD.

    Sampai sekarang kejadian itu masih terekam jelas dalam memori otakku seolah-olah hal itu baru terjadi kemarin. Aku bahkan masih ingat mimik muka anak baru itu saat memperkenalkan diri, caranya berjalan menuju bangku yang ada di sebelahku, dan…

    “Namaku Mila. Salam kenal.”

    Kata-kata yang pertama kali diucapkannya padaku. Sebagai teman sebangku.


    ***


    “Namaku Mila. Salam kenal.”

    Memandang gadis yang duduk di sebelahku dengan pandangan tidak peduli. Aku sama sekali tidak membalas salam perkenalannya, dan hanya meliriknya sekilas sebelum kembali fokus ke depan.

    Gadis berambut hitam sebahu itu tampak kebingungan dengan tingkahku. Aku sendiri tidak berminat untuk menjelaskan. Jadi kubiarkan saja ia dengan kebingungannya, sementara aku memerhatikan pelajaran di depan.


    ***


    Ketika istirahat kurasa anak-anak yang lain sudah memberitahu murid baru itu tentang sifatku.

    Ya, tentang sifatku yang tidak suka bicara dengan orang lain,

    tentang sifatku yang suka menyendiri,

    dan tentang sifatku yang tidak peduli pada orang lain.

    Aku memang cukup aneh untuk seorang anak laki-laki berusia delapan tahun sampai aku sendiri kadang berpikir, apakah mungkin aku ini sebenarnya adalah alien yang diutus ke bumi dan kemudian diadopsi oleh orang tuaku sekarang?

    Tapi karena ini adalah misi rahasia, mereka tidak memberitahukan aku soal ini, dan hanya memperhatikan dari jauh untuk melihat hasilnya. Kalau bagus, mereka nanti akan datang ke sini, ke bumi ini, untuk membuat kehidupan baru mereka berdampingan dengan manusia.
    Namun kalau ternyata hasilnya buruk, mereka mungkin akan menjemputku dengan pesawat seperti piring terbang itu atau meninggalkanku sendirian di bumi ini sebagai objek penelitian yang gagal.

    Oke, aku sudah mulai lagi bikin cerita yang tidak jelas. Tapi intinya yah… aku memang aneh, dan aku sendiri tahu itu lebih baik daripada orang lain mengetahui.

    Makanya, kalau ada orang yang coba-coba mendekatiku, aku sama sekali tidak punya niatan untuk beramah tamah dengan mereka. Menurutku, asalkan aku tidak mengganggu mereka dan mereka juga tidak menggangguku, semuanya akan baik-baik saja.

    Biarpun aku tidak bisa bersosialisasi sebaik manusia pada umumnya… siapa yang peduli?

    “Aldi! Nama kamu Aldi kan?”

    Tersentak dari lamunanku.

    Aku menoleh ke arah sumber suara yang baru saja membuatku terkejut dan mendapati seraut wajah manis gadis pindahan tadi.

    Hei… apa mereka benar-benar memberitahu dia dengan baik? Kenapa juga dia masih mendekatiku sih?

    Menyebalkan.

    Memilih untuk tetap tidak memedulikannya, aku mengembalikan pandanganku ke arah depan.

    Huh,

    Kalau dia memang tidak bisa diberitahu kalau aku tidak senang didekati, dan lebih memilih untuk mengikuti rasa penasarannya itu, aku akan lihat seberapa lama dia bisa bertahan.
    Sampai saat ini rekor terlama dipegang oleh anak yang duduk di depanku waktu kelas 2 dulu dengan waktu hampir sebulan.

    Jadi, selamat mencoba, Mila. Oh, ya…

    Namaku Ardi, bukan Aldi.


    ***


    “Aldi! Apa kamu mau ikut main dengan kami?”

    Haahh… anak perempuan ini jauh lebih keras kepala daripada yang kubayangkan. Walaupun belum memecahkan rekor, tapi dia benar-benar hampir membuatku putus asa dengan kekeras kepalaannya.

    Karena berbeda dengan pemecah rekor sebelumnya yang hanya bicara padaku satu kali dalam sehari…

    Dia mengajakku bicara, main, atau apapun paling sedikit tiga kali dalam sehari. Padahal aku hampir tidak pernah membalasnya, tapi dia tetap melakukannya!

    Dan kalau aku menolak ajakan dia main bersama teman-temannya…

    “Maaf, aku nggak jadi ikut main ya.”

    Gadis kecil itu lalu akan menolak ajakan main mereka dan duduk di sebelahku dengan tenang.

    Dia menolak… karena dia mau menemaniku?

    Jangan bikin aku tertawa! Memangnya aku ini siapa sampai dia memperhatikan aku terus menerus!?

    Argh!

    Berhentilah memasang muka polos seperti anak kecil itu!


    ***


    “Aldi!”

    Oke, ini sudah yang keberapa kalinya untuk hari ini?

    Dia sudah memecahkan rekor dan dia sudah cukup membuatku capek. Apa dia tidak tahu kapan harus berhenti atau rasa penasarannya memang sangat besar sampai-sampai dia tetap terus mengajakku bicara walaupun tahu aku tidak akan membalasnya?

    …atau ada kemungkinan lain kalau dia berpikir aku mungkin suatu nanti akan membalasnya kalau dia terus mengajakku bicara seperti ini?

    Ck,

    Benar-benar anak perempuan yang keras kepala…


    ***


    “Aldi!”

    Dua bulan lebih… dan dia belum bosan juga.

    Aku memang sudah menyerah untuk tidak mempedulikan dia, dan terkadang memberi respon-respon kecil seperti anggukan atau gelengan kepala. Tapi hanya itu… dan dia bisa langsung meningkatkan frekuensi bicaranya padaku dua kali lipat lebih banyak daripada sebelumnya..

    Sekarang aku bahkan bisa melihat contoh orang aneh yang lain selain aku. Walaupun dalam kategori yang berbeda.


    ***


    “Al—“

    “Hei,”

    Aku menyerah.

    Aku akan bicara padanya. Aku akan memberi pengertian padanya. Aku akan mengatakan apapun yang dia mau, asalkan aku bisa terbebas dari dia.

    Huh, memang orang aneh itu tidak pernah cocok denganku.

    “Apa kamu sengaja?”

    Dia mengangkat alis sedikit, tampak tidak mengerti dengan apa yang aku tanyakan. Itu wajar. Tapi dari ekspresi wajahnya sekarang, aku tahu dia senang aku mulai mau bicara padanya.

    Tapi itu nggak akan bertahan lama…

    “Namaku Ardi, bukan Aldi. Dan kamu terus memanggilku dengan nama itu sejak pertama kali kamu memanggil namaku! Aku tanya apa kamu sengaja melakukannya?!”

    Aku mendesis.

    Memberi penekanan pada beberapa kata tanpa membiarkan kontrol volume suaraku lepas hingga bisa didengar oleh semua anak yang ada di kelas, aku berharap dia mengerti maksudku tanpa aku mengatakannya lagi.

    Ya, namaku Ardi, bukan Aldi. Tapi dia terus memanggilku dengan nama itu dari awal sejak dia pertama kali memanggil namaku.

    Aku punya pikiran kalau dia melakukan itu secara sengaja agar aku menjawab panggilannya dengan mengatakan kalau namaku bukan Aldi, melainkan Ardi.

    “A-aku…”

    “Aku tanya apa kamu sengaja?! Apa kamu mau meledekku selama satu semester ini! Atau kamu pikir itu adalah hal yang lucu? Memanggil orang lain dengan nama yang sama sekali berbeda dengan nama aslinya?”

    Memotong omongannya, aku memberikan pertanyaan beruntun yang aku yakin tidak akan bisa dijawabnya karena…

    Dia mungkin belum tentu mendengar keseluruhan pertanyaan yang kuberikan tadi.

    “Apa kamu mengerti kalau itu membuatku kesal?”

    …menelan ludah,

    Aku baru menyadari kalau aku mungkin bertindak terlalu jauh. Aku mungkin memang anak aneh, tapi dia cuma seorang gadis normal yang sedikit keras kepala. Kenapa juga aku jadi melampiaskan semuanya ke dia?

    Terperangah dengan kata-kataku sendiri, aku tidak menyadari kalau Mila sudah tidak berada di sampingku lagi.

    Eh?

    Kemana dia?

    Menatap tempat dia berdiri tadi yang sekarang kosong, aku sadar aku seharusnya bisa lebih mengontrol emosiku.

    Tapi, apa yang bisa kamu harapkan dari seorang anak kecil antisosial sepertiku?


    ***


    Kucing…?

    Aku tidak tahu kalau dia adalah pecinta kucing.

    Tapi yah… mana mungkin juga aku bisa mengetahui hal itu kalau yang kulakukan selama ini adalah mendiamkannya terus menerus dan sekali aku bicara…

    Aku melakukan itu.

    Kalau begini aku sendiri sudah melanggar prinsip ‘asalkan aku tidak mengganggu mereka, dan mereka juga tidak mengangguku, semuanya akan baik-baik saja’. Karena jelas-jelas aku telah membuat dia tersinggung. Dan itu berarti aku menganggu orang lain.

    Walaupun aku juga merasa dia mengganggu, tapi dia sama sekali tidak bermaksud buruk. Dan dia juga cukup pengertian untuk tidak terus-terusan mengajakku bicara, seperti saat dia menemaniku waktu aku menolak ajakannya bermain bersama yang lain pun dia jarang sekali bicara.

    Uhh…mungkin sebenarnya memang aku yang melebih-lebihkan sesuatu.

    Aku tahu aku harus minta maaf. Tapi bagaimana caranya?

    Apalagi dia sekarang malah sedang main dengan kucing berbulu hitam putih yang ada di pangkuannya. Ngg… tunggu.

    Aku memperhatikan sekali lagi pemandangan yang ada di depanku, dan menyadari satu hal yang tadi tidak kusadari.

    Mila… dia sama sekali tidak kelihatan sedih atau tersinggung.

    Biarpun setelah aku berkata begitu dia langsung pergi dan menghilang entah kemana, sampai aku harus repot mencarinya selama hampir satu jam. Dia sama sekali tidak terlihat sedih.

    Atau mungkin dia sudah melupakannya? Karena jeda waktu antara saat kejadian itu dan sekarang sudah hampir satu jam kan?

    Jadi mungkin saja…

    Tapi tetap saja aku harus minta maaf padanya, kan?

    Kenapa juga aku jadi cari-cari alasan begini?

    Haaah… bicara dengan orang lain memang sama sekali tidak akan pernah jadi keahlianku. Oke, saatnya berpikir dan gunakan otakku yang selalu berhasil mencapai ranking satu setiap tahunnya.


    ***


    Gadis kecil dengan rambut hitam sebahu itu tersenyum sedikit saat melihat kucing yang sering ditemuinya di sekolah itu datang menghampirinya. Mengulurkan tangannya ke arah kucing tersebut sebagai isyarat untuk kucing itu agar mendekat, gadis itu tersenyum semakin lebar saat kucing itu benar-benar mendekatinya.

    “Anak manis…”

    Gadis kecil itu menggumam, sambil tangannya mengelus-elus kucing tersebut, pandangannya kembali menerawang jauh ke angkasa. Mengingat kejadian tadi yang menyebabkan dia duduk bersembunyi di sini, gadis kecil itu tidak tahu kenapa dia masih bisa merasa setenang ini.

    “Sudah kukira Aldi tidak akan suka..”

    Mendengar gadis tersebut berbicara, kucing yang ada di pangkuannya lalu mengeong seolah-olah ingin membesarkan hati gadis tersebut.

    “Meow..”

    Tersenyum, dia tahu tidak ada gunanya menceritakan hal ini pada seekor kucing. Tapi dia tidak tahu lagi harus menceritakannya pada siapa selain dengan kucing yang ada di pangkuannya saat ini.

    Jadi walaupun tahu itu tidak ada gunanya, gadis kecil itu lalu bercerita panjang lebar pada kucing itu yang ditingkahi suara ngeong yang menggemaskan.

    “Hmm… karena kamu udah mau dengerin cerita aku dari tadi. Aku bakalan kasih kamu nama sebagai gantinya… kira-kira bagusnya apa, ya?”

    Gadis itu mengerutkan keningnya, sibuk berpikir mengenai nama yang pas untuk kucing itu.

    “Aku tahu!”

    Menggendong kucing itu ke atas, gadis kecil itu lalu melanjutkan,

    “Nama kamu adalah Mimi!”

    “Meow!”

    Kucing itu mengeong. Seolah-olah mengerti apa yang dikatakan gadis kecil yang sedang menggendongnya sekarang ini.

    Dia mengeong dengan wajah bahagia, seperti juga gadis itu.



    “Meow!”

    “Eh?”

    Sebuah suara kucing yang entah darimana asalnya tiba-tiba terdengar dari kejauhan, membuat gadis kecil itu heran.

    “Aku nggak pernah lihat ada kucing lain di sekolah ini selain kamu. Apa kamu punya teman baru, Mimi?”

    Tentu saja,

    Tidak ada jawaban apapun kecuali suara kucing yang mengeong-ngeong lagi dari kejauhan. Mimi yang sedang dalam gendongan gadis itu pun juga tidak bersuara lagi.

    “Uh! Aku akan mencari kucing itu. Kalau suaranya masih bisa terdengar dari sini berarti dia nggak jauh kan? Ya kan, Mimi?”

    Beranjak dari tempatnya berdiri, gadis itu lalu berjalan menuju arah yang diyakininya sebagai asal suara kucing tersebut. Dengan menggendong Mimi di pelukannya.


    ***


    Aku tidak percaya aku benar-benar melakukan ini.

    Menelan ludah berkali-kali, aku tahu aku hanya bisa terus melakukannya. Apalagi karena sekarang sudah tidak ada lagi jalan mundur untukku.


    ***


    Gadis kecil itu terperanjat. Langkahnya terhenti sementara matanya masih terfokus pada anak laki-laki yang sedang berdiri beberapa meter di hadapannya.

    “Kenapa?”

    Anak laki-laki itu menunduk. Tidak berani menatap gadis kecil itu, dia lalu membuka mulutnya. Terbata.

    “A-aku minta maaf!”

    Gadis itu tidak membalas kata-kata anak laki-laki tadi. Tapi matanya masih terus menatap anak laki-laki itu seolah-olah ada sesuatu pada anak laki-laki itu yang membuatnya sangat tertarik untuk memandangnya.

    “A-aku…”

    Gadis itu tahu kalau anak laki-laki yang ada di hadapannya ini sedang berusaha keras. Dia tahu karena dia telah memperhatikannya selama satu semester lebih sejak kepindahannya ke sekolah ini. Walaupun begitu, saat ini gadis tersebut sedang merasakan perasaan lain yang membuatnya tidak ingin mengatakan apapun,

    dan membiarkan anak laki-laki itu menyelesaikan tugasnya.



    “Aku minta maaf karena telah berlaku tidak baik padamu! Aku minta maaf karena telah mendiamkanmu selama 6 bulan lebih! Aku minta maaf atas semua kelakuanku! Aku minta maaf karena telah menganggapmu sebagai pengganggu! Aku…”

    “Tapi memang itu yang sebenarnya kan…?”


    ***

    Memang itu yang sebenarnya?

    Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Kenapa dia berkata seperti itu? Dan kenapa dia menangis setelahnya? Padahal dari tadi wajahnya tampak sangat ceria seperti biasanya. Kenapa sekarang harus menangis?

    Apa aku salah?

    Apa aku melakukan suatu hal yang salah?

    Menatap gadis kecil di depanku yang sedang menangis dengan muka memerah, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan kecuali memandangnya saja. Karena aku takut.. kalau aku berkata lebih lanjut lagi, bukan respon positif yang akan aku dapat melainkan air mata yang sekarang ini bercucuran dari kedua bola matanya yang bulat besar.



    “Maaf, Aldi. Maaf kalau telah menganggumu.”

    Eh?

    “Aku memanggilmu Aldi itu karena kamu mempunyai kemiripan dengan sepupuku yang bernama Aldi. Dia sudah meninggal. Dan tiap kali aku melihat kamu, aku selalu ingat dia dan akhirnya terus menerus memanggilmu Aldi tanpa pernah menyebut nama Ardi satu kali pun.”

    Jadi begitu?

    Tapi aku tetap tidak mengerti apa maksudnya. Kenapa dia tiba-tiba mengatakan maaf setelah menangis? Kenapa dia harus tersenyum setelah itu?

    Menghapus sisa-sisa air matanya dengan satu tangan, dia lalu tersenyum semakin lebar padaku. Pipinya yang memerah dan matanya yang sedikit basah membuatnya terlihat sangat aneh. Tapi aku bersumpah, di dunia ini tidak akan ada yang pernah mengatakan dia jelek walaupun dalam keadaan seaneh itu.

    “Aku… benar-benar sangat ingin berteman denganmu, Al—Ardi.”

    …aku tidak tahu apakah aku sudah pernah bilang begini. Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, kurasa aku memang tidak pernah cocok dengan orang aneh.


    ***


    “Kak Ardi?”

    Mengintip dari balik pintu kamarku, aku bisa melihat adikku sedang menatapku dengan takut-takut.

    Haah, apa aku benar-benar kakak yang buruk untuknya sampai untuk memanggilku saja dia harus ketakutan begitu?

    Tapi kurasa memang aku sama sekali tidak bisa mengubah hal yang sudah berlalu. Karena kenyataannya dulu aku memang sama sekali tidak pernah mempedulikan dia, dan aku tidak bisa protes kalau sekarang dia—adikku sendiri—merasa asing denganku.

    “Apa?”

    Berusaha terdengar selembut mungkin, kelihatannya usahaku sia-sia saja karena cara dia menjawab membuatku terdengar seperti orang berdarah dingin yang sangat menyeramkan.

    “M-makan malamnya sudah siap!”

    …dan lalu dia menutup pintu dengan cepat tapi—hebatnya—tanpa menimbulkan suara yang keras seperti biasanya kalau orang membanting pintu.

    Ya ampun, kapan adikku sendiri bisa terbiasa denganku?

    Aku tahu tahun-tahun ke belakang sebelum aku bertemu dengan Mila, aku benar-benar memperlakukannya secara tidak baik. Padahal dia masih kecil waktu itu dan butuh bantuanku, tapi aku malah dengan sadisnya berpikir kalau dia menggangguku dan kemudian aku menjauh darinya.

    Hmmm… mungkin sebetulnya aku harus meminta maaf pada semua orang yang mengenalku waktu itu dan bukan hanya pada Mila saja.

    Karena kalau dia… seharusnya aku beri ucapan spesial terima kasih kan?

    :dead:
     
  13. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    04 - "Kak?"

    “Kak Ardi?”

    Mengintip dengan takut-takut, aku bisa melihat adikku berdiri di depan pintu kamarku yang terbuka sedikit. Wajahnya tampak ragu, dan jelas sekali kelihatan kalau dia tidak mau melakukan ini..

    Haah… aku tahu aku memang bukan kakak yang baik. Tapi melihat dia ketakutan begitu membuatku berpikir, apa aku ini benar-benar kakak yang buruk?

    “Apa?”

    Berusaha membuat suaraku terdengar sehalus dan selembut mungkin agar tidak menakutinya, sepertinya usahaku sia-sia karena setelah itu dia menjawab dengan cara yang membuatku terlihat seperti pembunuh berdarah dingin yang kejam. Ini hanya perumpamaan.

    “Makan malam sudah siap!”

    Dia berkata begitu dengan kecepatan kurang dari satu detik, dan langsung menutup pintu kamarku dengan kecepatan kilat tanpa menimbulkan suara yang tidak perlu.

    Hebat… padahal kalau dilihat dari gayanya, dia tadi seperti sedang membanting pintu. Tapi tanpa menimbulkan suara? Jarang-jarang ada yang bisa seperti ini kan.

    Yah, tidak penting. Yang penting…

    Melihat adikku, Andin, pergi dengan terburu-buru begitu membuatku jadi teringat kembali masa laluku. Dimana aku sebagai seorang kakak yang seharusnya melindungi serta mengasihi adiknya malah berlaku tidak peduli. Kalau aku tidak salah, dulu aku malah menganggapnya sebagai seorang penganggu.

    Padahal mau apapun yang dia lakukan waktu itu, dia cuma seorang anak kecil yang tidak bersalah kan? Sekarang pun juga masih begitu.

    Dia tetap adik kecilku…

    …yang manis.

    Ngomong-ngomong, rasanya kejadian ini sudah pernah terjadi…


    ***


    “Oh, ya, Ardi. Aku mau tanya sesuatu padamu.”

    Tanya apa?

    Kalau merepotkan aku tidak mau menjawabnya.

    Menghabiskan istirahat pertamaku di perpustakaan memang bukan hal yang buruk. Tapi kenapa orang yang menemaniku harus dia? Si rambut cokelat dengan mata tajam ini, tumben dia nggak bolos lagi.

    “Kenapa kamu melakukan itu?”

    “Itu apa?”

    Aku bertanya tanpa minat. Mataku sibuk menelusuri tulisan yang ada di buku yang sedang aku baca, tanpa ada niatan untuk mengalihkannya walaupun hanya satu detik saja.

    “Insiden waktu itu. Kenapa kamu melakukannya?”



    Heh, lagi-lagi. Apa kamu tahu kalau buatku itu juga sebuah luka yang tidak ingin aku ingat lagi?

    Berhentilah menanyakan aku soal insiden waktu itu. Karena aku tidak mau mengingatnya, tidak mau membicarakannya, dan tidak mau mengungkit-ngungkit lagi tentangnya.

    “Bukan urusanmu.”

    Mendengar jawaban dinginku, aku tidak tahu ekspresi seperti apa yang ada pada wajah Rendi saat ini. Karena mataku masih tetap tidak mau beralih dari buku yang sedang kupegang sekarang, walaupun aku sudah berhenti membacanya dari beberapa detik yang lalu setelah dia mengatakan insiden waktu itu.

    “Urusanku. Karena aku mau berterima kasih padamu soal kakakku.”

    Ha?

    Terima kasih? Kakak?

    Memangnya dia punya kakak di sekolah ini? Aku tidak pernah merasa pernah melihat orang yang wajahnya mirip dengan dia dimana pun. Tentu saja beda urusannya kalau ternyata kakaknya tidak mirip dengan dia.

    “Terima kasih? Kamu sedang menyindirku?”

    Dia menggaruk-garuk rambutnya sedikit. Saat itulah cerita tentang dia dan kakaknya dimulai. Tapi bukan hanya itu, karena mendengar ceritanya membuatku berpikir lagi mengenai…

    Hubunganku dengan adikku sekarang ini.


    ***


    Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara.

    Kakakku adalah anak laki-laki yang berumur satu tahun lebih tua dibandingkan aku. Namun berbeda denganku, dia mempunyai fisik seperti layaknya orang Indonesia asli. Ya, rambut hitam dan kulit sawo matang.

    Dia tampan.

    Aku rasa tidak ada yang bisa menolak itu.

    Namun aku jauh lebih menarik perhatian orang tuaku. Dengan keturunan dari kakekku yang orang blasteran, aku jadi mempunyai rambut cokelat alami dan kulit berwarna putih pucat layaknya orang bule.

    Kamu bisa menyebutku tampan, ganteng, atau semacamnya. Tapi kenyataan kalau aku mempunyai fisik yang berbeda dengan kedua orang tuaku membuatku tidak senang.

    Ya, tidak senang.

    Karena itu aku merasa iri pada kakakku. Yang mempunyai wajah mirip dengan ibu dan beberapa mirip dengan ayah. Sementara aku… kenapa juga harus mirip dengan kakek?
    Tapi tanpa aku ketahui waktu itu. Kakakku sendiri juga merasa iri padaku.

    Bukan karena aku mirip kakek, bukan karena aku berkulit putih dan berambut cokelat seperti ini. Tapi karena…

    Aku jauh lebih menarik perhatian kedua orang tuaku.



    Aku sendiri tidak begitu mengerti kenapa bisa begini. Tapi sejak aku mulai bisa mengingat dengan baik, hubungan kami hampir selalu terasa kaku dan tidak menyenangkan.

    Aku tidak bisa menganggapnya sebagai kakak, dan dia sendiri tidak pernah terlihat menganggapku sebagai adik. Biarpun kami hidup dan tinggal di rumah yang sama, hubungan antara aku dan kakak hampir sama saja seperti orang asing.

    Tidak ada yang mau menyapa.

    Tidak ada yang mau memulai pembicaraan.

    Tapi yang paling penting, tidak ada yang berniat untuk mengubahnya.

    Sampai suatu saat, orang tua kami harus pergi kerja ke luar negeri. Aku dan kakakku tidak diajak karena kami harus menemani nenek yang bersikeras tetap di Indonesia. Saat itulah aku menyadari akan suatu hal…

    Hubunganku dan kakak tidak bisa begini terus.

    Aku sudah tahu dia iri padaku karena aku jauh lebih menarik perhatian orang tua kami dibandingkan dia. Dimulai dari otak dan penampilan.

    Aku sendiri sudah melupakan rasa iriku padanya karena yah… aku sudah jauh lebih dewasa untuk bersikap iri pada hal yang sangat kekanak-kanakan seperti itu.
    Sayangnya kakak tidak bisa melupakan begitu saja…

    Yang memang wajar, mengingat kalau aku jadi dia pun aku pasti akan merasa iri dan tidak senang dengan ketidak adilan orang tua kami.


    ***


    “Rendi… mana kakakmu?”

    Ditanya begitu oleh nenek, aku tidak tahu harus menjawab bagaimana. Karena dia tentu saja tidak perlu laporan padaku mengenai aktivitasnya setiap hari kan?
    Tapi karena sebelum pulang aku melihatnya masih latihan basket bersama teman-teman satu eskulnya, sekarang pun aku rasa dia pasti masih latihan juga.

    “Latihan basket, nek.”

    Mungkin aku sok tahu. Tapi biarpun tidak sepenuhnya, aku yakin, diantara keluargaku, akulah yang paling mengerti kakak.

    “Suruh dia segera makan malam saat pulang nanti. Nenek mau tidur.”

    Mengangguk,

    Aku tidak bisa mengatakan kalau aku tidak mau melakukannya pada nenekku kan?
    Melihat nenekku yang beranjak bangun dari bangkunya, menuju kamar. Aku kembali tenggelam dalam pikiranku.

    Proyekku, orang tuaku, kakak, dan semuanya… ah, ya. Sama orang itu juga.

    Menyelesaikan makan malamku. Aku pun bergegas kembali ke kamar dan mulai melaksanakan kegiatan yang sudah menjadi rutinitasku.


    ***


    “Hei, kak. Disuruh nenek makan malam.”

    Aku berkata pelan.

    Menatapnya yang baru saja lewat di depanku tanpa mengatakan apapun, aku hanya bisa menghela napas panjang. Mengetahui bahwa mungkin hubungan aku dan kakak memang tidak akan pernah bisa berubah lagi.

    Dia menutup pintu kamarnya pelan. Bahkan sekalipun saja, dia sama sekali tidak melihatku.
    Aku tidak tahu ini salah siapa… orang tuaku? Atau aku yang terlalu cuek waktu dulu?

    Ah, ya…

    Apa yang dilakukan kakak sampai jam satu begini baru pulang?


    ***


    “Rendi… mana kakakmu?”

    Aku diam.

    Berbeda dengan kemarin kemarin, hari ini aku sama sekali tidak melihat keberadaannya dimanapun. Bukan karena dia bersembunyi atau apa. Melainkan karena hari ini aku tidak masuk ke sekolah dan malah pergi jalan-jalan ke taman buat cari inspirasi mengenai proyekku ini.

    Tapi aku tidak mungkin mengatakan tidak tahu pada nenek kan?

    Biarpun hubungan kami tidak akur, aku tidak pernah mau membuat nenek menyadari hal itu. Sementara orang tuaku dulu sama sekali tidak peduli…

    Memutar otak, aku akhirnya memilih untuk jujur saja.

    “Nggak tahu, nek. Kakak mungkin lagi sibuk akhir-akhir ini.”

    “Suruh dia segera makan saat pulang nanti. Nenek mau tidur dulu.”

    “Ya.”

    Menatap kepergian nenekku, aku tahu percakapan ini sudah teramat sangat sering diulang dalam keseharian kami.

    Tapi perubahannya pun hampir tidak ada.


    ***


    “Kak, disuruh makan sama nenek.”

    Berkata pelan,

    Aku hanya bisa memandanginya berjalan melewatiku tanpa mengatakan apapun. Sudah sejak setahun yang lalu rutinitas ini berlangsung, dan sama sekali tidak ada perubahan pada orang-orang yang melakukannya.

    Aku jadi merasa seperti sedang melakukan sandiwara gagal yang harus terus menerus diulang agar menjadi bagus.

    Ah ya…

    Baru ingat, mungkin memang tidak ada perubahan pada kelakuan dan hubungan kami antar satu sama lain. Tapi akhir-akhir ini…

    Kakak hampir selalu pulang tengah malam.

    Aku ingin tahu apa yang dilakukannya… Walaupun tidak mungkin menanyakannya seberapapun besar rasa penasaranku.


    ***


    “Rendi… kakakmu mana?”

    Memandang piringku yang sudah kosong, aku kira tadi aku bisa langsung kabur tanpa mendengar pertanyaan ini. Tapi kurasa, takdirku berkata lain.

    “Mungkin lagi ada urusan di sekolah, nek.”

    Mungkin… semuanya hanya mungkin. Karena aku sama sekali tidak tahu jadwal dan kegiatan yang dilakukan kakakku. Terutama belakangan ini, sejak dia menginjak tahun terakhirnya di SMA.

    “Suruh dia segera makan saat pulang nanti.”

    Mengangguk, aku segera pamit dari hadapan nenekku.


    ***


    “Kak—“

    “Disuruh nenek makan malam! Aku tahu itu! Jangan bicara padaku terus menerus tiap hari, brengsek!”

    Aku terdiam.

    Menelan ludahku sendiri saat kakak mengataiku untuk pertama kalinya. Selama ini kami selalu mengadakan perang dingin tanpa agresi. Karena itu…

    Aku marah.

    Aku kesal.

    Aku benci.

    Kenapa juga aku harus peduli denganmu?

    Yang berlaku tidak adil itu orang tua kita, bukan aku. Lalu kenapa harus aku yang kena getahnya?

    Menggeram sedikit, aku berbalik ke kamarku tanpa mengatakan apapun padanya.


    ***


    Lebam… aku melihatnya di tubuh kakakku paling tidak satu kali dalam seminggu.

    Entah apa yang dilakukannya, aku hanya tahu kalau penyebabnya pasti bukan karena latihan basket yang selalu dijalaninya sejak SMP dulu.

    Tunggu.

    Selalu?

    Aku tidak yakin dengan kata ini sekarang. Karena sejak suka bolos di SMA, aku juga jadi semakin jarang melihat dia. Yang otomatis menyebabkan aku semakin tidak mengetahui apa saja aktivitasnya selama berada di luar rumah.


    ***


    “Disuruh nenek makan malam.”

    Aku berkata dingin.

    Untuk kemudian segera berbalik ke dalam kamarku, tanpa membiarkan dia berkata ‘brengsek’ padaku lagi.

    Tapi dari sudut mataku, aku bisa melihat suatu benda yang membuatku sedikit bergidik waktu melihatnya.

    Gir…?


    ***


    Baru kali ini aku mau melakukan hal yang merepotkan diriku sendiri selain untuk proyekku.
    Berdiri di depan ruang XI IPA 3, aku tidak yakin mau mendengar ini.

    “Kak Reno? Kayaknya udah sejak dia kelas XI dulu dia keluar dari eskul basket.”

    Menatap pemuda bertubuh tinggi dan berambut cepak yang ada di hadapanku, aku tahu kapten basket ini tidak berbohong saat mengatakannya. Dan untuk apa juga dia bohong?

    Sementara dia tidak mempunyai hubungan denganku dan kakakku sama sekali kecuali sebagai orang yang sama-sama bersekolah di SMA ini.


    ***


    Sudah sejak dua tahun yang lalu, orang tua kami pergi ke luar negeri untuk bekerja. Mereka hampir tidak pernah mengirimkan kabar kepada kami di sini. Yah… kecuali transferan uang ke rekening bisa disebut sebagai kabar.

    Aku tahu kedua orang tuaku itu mempunyai kegilaan tersendiri pada pekerjaannya, tapi sampai mengorbankan keluarganya? Aku tidak punya kata lain untuk mendekripsikan mereka selain gila.

    Gila kerja. Gila kehormatan. Gila kekayaan. Gila… dan gila semuanya.

    Aku jadi heran, kenapa kami bisa lahir dulu… mungkin waktu itu mereka sedang waras?

    Yah… bukan berarti aku peduli juga. Karena yang penting aku sekarang hidup dan ada di sini bersama dengan jutaan manusia lainnya.

    Mungkin sebenarnya aku harus berterima kasih pada mereka.

    Karena jika aku tidak lahir, aku tidak akan pernah merasakan kegembiraan ini.

    Seni yang sesungguhnya. Memikirkannya saja selalu membuatku merasa bisa melupakan apapun.


    ***


    “Rendi… mana kakakmu?”

    “Nggak tahu.”

    Entah kesambet apa, aku menjawab pertanyaan nenekku tanpa berpikir sama sekali. Aku bahkan tidak membuat alasan apa-apa seperti yang biasa aku lakukan.

    Uh… mungkin ini akibat dari kejadian tadi malam.

    Kurasa kekesalanku masih belum sepenuhnya hilang, terutama tiap mendengar nama kakak disebut-sebut.

    “Jangan lupa suruh dia makan saat pulang nanti, ya.”

    Nenek tersenyum kecil, menatapku. Penuh harap.

    Aku mengangguk.

    Atau lebih tepat kalau disebut aku hanya bisa mengangguk.


    ***


    Tawuran.

    Rokok.

    Minum.

    Kebut-kebutan.

    Aku hanya bisa menelan ludah saat mengetahui informasi mengenai kakak yang sebenarnya selama 2 tahun ini.

    Begitu,

    jadi itu kenapa dia sering pulang dalam keadaan babak belur?

    Jadi itu kenapa dia waktu itu pernah membawa-bawa gir saat pulang?

    Jadi itu kenapa dia hampir selalu pulang lewat tengah malam?

    Jadi itu…

    Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.



    Dalam bayanganku sosok kakak memang tidak terlalu menyenangkan. Tapi aku ingat, aku sangat mengaguminya saat dia sedang bermain basket.

    Tidak tahu kenapa… tapi dia selalu terlihat sangat keren pada saat itu.

    Badannya yang tinggi, jauh lebih tinggi daripada aku, bergerak gesit menghindari pemain lawan untuk kemudian melompat tinggi menuju ring.

    Lalu skor akan bertambah dan permainan akan menjadi semakin memanas. Aku hanya pernah sekali melihat dia bermain di pertandingan, itu pun bukan aku niatkan untuk menontonnya melainkan karena aku sedang mencari referensi bagaimana gerakan-gerakan pemain saat sedang melakukan pertandingan.

    Tapi niat itu berganti,

    Aku tidak bisa melepaskan pandangan kagumku pada kakak yang sedang berusaha keras memenangkan pertandingan itu. Kurasa saat itu lah aku menyadari…

    Bahwa hubunganku dengan kakak tidak bisa begini terus.



    Menghela napas. Aku kembali bertanya-tanya…

    Kemana sebetulnya kakakku yang dulu sangat menyukai basket itu pergi?


    ***


    “Lalu apa hubungannya dengan kamu mau berterima kasih dan insiden waktu itu?”

    Aku bertanya penasaran.

    Rendi tersenyum sedikit, mendengar pertanyaanku.

    “Yaah… kalau kamu nggak melakukan itu. Mungkin kakakku sekarang tidak akan ada di rumah sakit.”

    DEG!

    Aku menggigit bibir. Mengingat sedikit luka lama yang telah aku sebabkan dulu hanya atas dasar penasaran. Kurasa memang, yang namanya manusia bukanlah objek penelitian yang bisa diperlakukan seenaknya saja. Karena mereka punya nyawa, hati, akal, dan hubungan dengan orang lain yang tidak bisa dimasuki dengan seenaknya oleh orang luar.

    “Aku tidak menyalahkanmu.”

    Dia berkata lagi.

    Masih dengan senyum di wajahnya.

    Heh, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud dengan ‘tidak menyalahkanku’ karena kata-katamu tadi kenyataannya lebih terdengar sebagai kata-kata orang yang mau balas dendam dibanding berterima kasih.

    “Karena itu memang yang terbaik untuknya.”

    Ha?


    ***


    Malam itu, aku dan kakak bertengkar secara terang-terangan untuk pertama kalinya. Nenek yang sudah tidur mungkin saja bisa mendengar semua perkataan kami, tapi saat itu tidak ada satupun dari kami yang peduli akan hal itu.

    “Kakak itu pengecut!”

    “Jangan sembarang ngomong, sialan!”

    “Aku bisa ngomong apapun yang aku mau, pengecut!”

    Ya… kakakku benar-benar pengecut.

    Aku tahu dari dulu kalau dia iri padaku karena orang tua kami jauh lebih perhatian padaku dibandingkan pada kakak. Aku tahu itu.

    Tapi apa itu bisa menjadi alasan dia menghancurkan komputerku?!

    “Heh! daripada kamu manusia mesin yang tidak bisa apa-apa tanpa komputer!”

    “Pengecut! Aku tidak heran kakak bisa dipermainkan olehnya!”

    Berteriak sekeras yang aku bisa. Aku tahu mengenai alasan kakak berubah selama ini. Ya, alasan yang mengubah kakak menjadi sosok pengecut brengsek yang aku sendiri tidak akan mau berhubungan dengannya. Alasan itu adalah…

    Kakak jatuh cinta.

    Pada seseorang, yang tidak seharusnya.


    ***


    Perempuan itu adalah pecandu sekaligus pengedar obat-obatan. Entah bagaimana jadinya, kakakku jatuh cinta pada perempuan tersebut. Tentu saja awalnya kakakku tidak mengetahui apapun mengenai latar belakang perempuan itu.

    Karena itu kakak menurut saja saat perempuan tersebut memberikan syarat kalau kakak mau jadian dengannya, kakak harus masuk ke dalam kelompoknya dulu. Setelah itu, pergaulan kakak semakin tidak terkontrol. Kakak keluar dari eskul basket, kakak masuk kelompok perempuan itu.

    Dalam kelompok tersebut, kakak mulai mencoba-coba hal-hal ‘baru’ yang seharusnya tidak ia lakukan.

    Pertamanya kakak hanya mencoba rokok. Kemudian dia berlanjut ke minum. Sedangkan untuk mencari tantangan lain kakak ikut bergabung dalam tawuran-tawuran antar sekolah serta balap motor jalanan tiap malamnya.

    Tapi semuanya tidak berhenti sampai di situ. Perempuan tersebut akhirnya membuka identitasnya dan menawarkan barang ‘baru’ untuk kakakku coba sebagai bukti loyalitas dan kesetiaannya.

    Aku lalu tidak tahu bagaimana detilnya, tapi pastinya saat kakak mau mencobanya bersama dengan yang lain. Ada suatu kericuhan terjadi.

    Seseorang dari mereka, yang mendadak datang ke sana, mengamuk.

    Mengatakan, “Pengkhianat!” berulang kali dan meninju orang-orang yang ada di sekitarnya.

    Tentu saja hal ini menimbulkan berbagai reaksi dari teman-temannya. Ada yang berusaha menghentikannya, tapi lebih banyak lagi yang langsung meninjunya.
    Saat itu kakakku menerima telepon.


    ***


    “Dariku?”

    “Ya. Aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan mengenai hubungan mereka. Tapi kamu meniru suara perempuan itu, dan membuat kakakku marah. Kurasa mungkin saat itu perempuan tersebut juga tengah menghilang entah kemana yang membuat kamu sebagai penelpon tidak dicurigai.”

    Mungkin juga…

    Aku baru ingat kalau saat melakukan itu aku sama sekali tidak memikirkan kemungkinan kalau orang yang aku tiru suaranya mungkin saja sedang bersama dengan orang yang kutelpon.

    Tapi mungkin inilah sebabnya, kejadian tersebut ketahuan sebagai kesalah pahaman besar-besaran yang terjadi karena satu telepon di malam sebelumnya.

    “Haha… aku benar-benar berterima kasih atas teleponmu yang sedikitnya menyadarkan kakakku akan sesuatu. Ngomong-ngomong memangnya apa yang kamu katakan pada kakakku dengan menirukan suara perempuan itu?”

    Menyadarkan…?

    Aku tidak tahu kalau percobaanku bisa membuat hasil yang positif.

    “Lupa.”

    Jawaban pendekku, melanjutkan kembali cerita yang tadi belum diselesaikannya.

    Oh ya… mengenai orang yang mengamuk mendadak dalam cerita tadi, kurasa itu gara-gara aku juga.

    Mungkin.


    ***


    Kakak yang marah lalu menaiki sepeda motornya dan melaju kencang ke jalan raya.

    Kamu sudah tahu kan kira-kira apa yang akan terjadi setelahnya?

    Ya, kecelakaan. Dia kemudian dibawa ke rumah sakit dengan luka-luka parah di seluruh tubuhnya.


    ***


    “Aku masih tidak mengerti kenapa kamu bilang terima kasih padaku.”

    Jujur saja, aku jadi ingin tahu… sebenarnya aku yang bodoh atau memang ceritamu yang tidak bisa dimengerti?

    “Setelah dia masuk rumah sakit, kakakku akhirnya bisa berpikir secara benar lagi. Lalu, walaupun masih kaku, kami sudah mulai bisa ngobrol satu sama lain tanpa perlu menggunakan kata-kata makian.”

    Hmm… happy end, huh?

    Aku tidak heran. Tapi rasanya masih ada yang aneh pada ceritanya, seperti ada sesuatu yang belum atau memang tidak bisa dia jelaskan, misalnya saja…

    Kenapa kakaknya suka dengan perempuan macam begitu?

    Kenapa perempuan tersebut bisa jadi seperti itu?

    Kenapa, dan kenapa, yang sebetulnya masih banyak lagi berdempetan dalam kepalaku…

    Tapi tidak semua pertanyaan di dunia ini harus ada jawabannya. Jadi aku pun hanya diam saja menelan rasa penasaranku.


    ***


    “Kak Ardi?”

    Menatap pintu yang terbuka sedikit, aku bisa melihat adikku, Andin, mengintip dari celah itu ke dalam kamarku. Wajahnya tampak agak ketakutan, dan dari nada suaranya tadi. Aku bisa memastikan kalau dia merasa ragu saat ini.

    Memikirkan balasan yang tepat untuk diberikan, aku sibuk memutar otakku dari 90 derajat menjadi 180 derajat untuk kemudian diubah kembali ke 360 derajat.

    “Andin.”

    Dia tampak terkejut mendengarku memanggil namanya. Dan untuk pertama kalinya, dia lalu berkata padaku mengenai makan malam yang sudah siap dengan nada normal, lalu menutup pintu dengan kecepatan biasa.

    Kesamaan kejadian tadi dengan biasanya cuma satu: tetap tidak menimbulkan suara yang tidak perlu.

    Melihat pintu kamarku yang baru saja ditutup, aku mendadak merasa sedikit kesepian.

    Kita akan berubah, Andin… tidak, aku akan berubah. Menjadi kakak yang lebih baik untukmu.

    Lihat saja…

    Aku janji padamu, Andin.

    ..sepertinya saya kebanyakan nonton sinetron:sepi:
     
  14. Offline

    kyotou_yasuri Silent Reader Members

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Wueh updatenya banyak sekali... :kaget:

    Rendi itu orangnya nyentrik juga... Dia bikin animasi bergaya Jepang atau Amrik?

    Trus chapter2 berikutnya sebenernya kisahnya bagus (terutama chapter tiga, lucu ngeliat tingkah anak SD) tapi apa gak kerasa aneh kalau dua chapter berturut-turut isinya flashback? Kok kayaknya ga ada perkembangan plot?

    Oiya kok sering banget jeda sih? setiap beberapa baris... Yah emang gaya nulis masing2, tapi rasanya agak aneh bacanya. Trus juga kadang saya pusing perpindahan POV-nya :pusing: terutama chapter 4.

    Pokoknya lanjutin deh, kembangkan terus! :top:
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  15. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    @kyotou_yasuri

    er... animasi apa ya...:ngacir:

    perkembangan plot ya.. saya juga bingung di situ soalnya:dead:ntar liat dulu deh bisa diubah atau nggak urutannya:sepi:

    hheu..:hehe:perpindahan POV kan emang dibuat supaya bikin bingung:ngacir:

    makasih komennya kk:malu:
     
  16. Offline

    kyotou_yasuri Silent Reader Members

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Lah? Lha yang di chapter 2 itu waktu si Rendi nunjukkin 'gambar bergerak' itu bukan animasi toh?:kaget:

    Kalo menurutku mending diselip-selipin aja kisah masa lalunya, jangan dibuat berurutan.

    Otre sama-sama kk. :top:
     
  17. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    animasi... :p jepang atau amrik ga tau ya...:ngacir:

    makasih sarannya kk
     
  18. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    05 - "Kita putus."

    Cinta pada pandangan pertama adalah omong kosong.


    ***


    Aku sadar, aku gila.

    Aku tahu kalau ini adalah judul buku.



    Atau kamu nggak tahu?

    Yah, tidak masalah. Karena bukan itu yang mau aku bilang. Aku cuma mau bilang kalau orang yang sedang jatuh cinta harus mengakui kalau mereka itu sedang, gila.

    Jadi? Ya, aku sadar, aku gila.

    Melihat beberapa contoh yang ada di sekitarku mengenai bentuk cinta dan sejenisnya seringkali membuatku harus memutar kepala beserta otak di dalamnya sampai 180 derajat, yang sayangnya tidak pernah bisa kulakukan.

    Tapi pastinya… saat itu akan selalu timbul satu pertanyaan saja yang jawabannya tidak akan bisa ditemukan dengan memakai rumus aljabar atau trigonometri, tidak mungkin juga memakai prinsip daya dan energi, ataupun juga memakai stoikiometri yang diajarkan di depan kelas sampai saat ini.

    Cinta itu sebenarnya apa?

    Apakah hanya sekedar saat kamu merasakan deg-deg-an nggak karuan tiap kali melihat si dia, otak nggak konsen karena terus-terusan mikirin orang itu, trus mendadak suka senyam-senyum sendiri gara-gara lagi bayangin sang pujaan hati berada di sisinya.

    Begitu?

    Kalau ada yang menjawab ya, akan kutimpuk orang itu pake sendal.

    Berpikir tentang cinta, mengingatkanku kembali pada kejadian 4 tahun lalu saat acara kelulusan SD-ku telah selesai. Di satu ruangan yang disinari cahaya matahari sore yang kemerahan, aku mengatakannya. Pada gadis kecil berambut hitam sebahu yang sangat…

    Manis,

    Cantik,

    Pintar,

    Tapi yang paling penting adalah: keras kepala.

    Aku menyukainya tapi aku tidak akan pernah bilang aku mencintainya sebelum aku mengenal dia secara seutuhnya.

    Oh, ya. Sebelumnya aku akan menyatakan satu pendapatku mengenai cinta.

    “Cinta pada pandangan pertama adalah omong kosong.”

    Karena bagaimana mungkin kita bisa mencintai seseorang tanpa mengetahui sifatnya, karakteristiknya, kelebihannya, dan pastinya kekurangannya?

    Menurutku cinta adalah saling menerima.

    Dan tidak tahu berarti tidak bisa menerima.

    Tidak bisa menerima berarti tidak cinta.

    Rasa tertarik bukan cinta, tapi bisa menjadi cinta.


    ***


    “Namaku Ardi, bukan Aldi.”

    Mendengar kata-kata anak laki-laki tersebut, si gadis kecil yang duduk di sebelahnya tertawa pelan. Dia tidak bermaksud menyinggung anak laki-laki itu, hanya saja dia juga tidak tahan untuk tidak tertawa.

    Walaupun tidak ada yang lucu dari kata-kata anak laki-laki itu.

    “Kenapa ketawa?”

    Terdengar sedikit tersinggung, anak laki-laki itu bertanya. Alisnya berkerut, sementara matanya menatap tajam gadis di sebelahnya yang masih tertawa pelan.

    “Aldi.”

    Gadis kecil itu berkata pada anak laki-laki itu dengan nada serius.

    “Aku mau menikah denganmu, suatu saat nanti.”

    Wajah anak laki-laki itu memerah, dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah papan tulis sambil telinganya masih sibuk mendengarkan apa yang mau dikatakan gadis kecil itu padanya.

    “Karena kamu orang baik, dan paling pintar yang pernah aku temui.”

    Gadis itu lalu ikut memandang papan tulis, sambil tersenyum.

    “Suatu saat nanti, saat kita berdua sudah menjadi orang, ayo bertemu lagi. Di sini.”

    “Ya.”


    ***


    Aku membolak-balik naskah yang diberikan Rendi untukku, berusaha mengerti bagaimana sikap serta perilaku tokoh-tokoh yang ada, aku malah jadi dibuat pusing dengan kekompleks-an karakter mereka.

    Sial… kenapa juga harus ada yang punya kepribadian ganda segala?
    Dasar Rendi kurang kerjaan. Apa tokoh ini segitu pentingnya untuk dikasih sifat lain sampai jadi punya tiga kepribadian gitu?!

    Haaah…

    Menghela napas panjang, aku melihat anak-anak di sekelilingku sedang pada sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang bergerombol di sudut membentuk acara arisan baru, ada yang sibuk mengerubungi komputer kelas seperti layaknya gula dan semut, ada yang nyanyi-nyanyi di sudut lain dengan suara pas-pas-an…

    …dan ternyata ada dua sejoli menjalin cinta di kelas ini.

    Ya ampun… beginilah akibatnya kalau ada guru yang tidak masuk. Kasih tugaspun paling dikerjakannya nanti atau malah nggak dikerjakan sama sekali. Trus kalau nanti ditanya sama gurunya bakal bilang kalau mereka nggak tahu ada tugas dari itu guru. Bener-bener rencana kompak satu kelas yang licik…

    Aku tidak heran di Indonesia banyak koruptornya kalau begini. Dari kecil aja udah pada pandai bikin alasan serta membangun kolusi. Bagaimana nanti besarnya?


    ***


    “Hah? Kenapa aku bikin dia punya kepribadian ganda?”

    Aku mengangguk. Kalau dia begini, dia jadi susah buat dipahami karakternya, tahu. Apa kamu tidak bisa bikin cerita yang jauh lebih sederhana. Seperti misalnya sekelompok mutan menyerang manusia di muka bumi ini untuk mengambil alih kekuasaan?

    Tapi nanti diketahui kalau ternyata mutan itu adalah hasil buatan dari suatu Lab rahasia yang dibawahi langsung oleh pemerintah. Lalu…



    Oh, kebiasaan.

    “Soalnya begitulah ceritanya.”

    Dia menjawab dengan nada menyebalkan, seolah-olah ini sama sekali bukan urusannya. Tapi memang sih… mana mungkin juga diubah setelah dia menyelesaikan semuanya itu.

    Mengeluh sedikit,

    Aku tahu aku tidak punya pilihan lain.

    “Hei, Ardi. Kamu tidak perlu terburu-buru, kita masih punya banyak waktu dan aku sendiri juga masih mau menyelesaikan beberapa kesalahan yang masih ada di animasi itu.”

    Yah,

    Kamu benar soal itu.

    Memandang ke arah lain, aku berusaha mencari-cari objek yang lebih menarik untuk dilihat di kantin ini daripada pemuda berambut cokelat dan bermata tajam yang ada di hadapanku.

    Saat itulah aku menyadari…

    Beberapa anak perempuan yang sedang sibuk mencuri-curi pandang ke arah kami… atau dia?

    Melihat kembali Rendi yang sedang sibuk melakukan sesuatu dengan handphone-nya sambil satu tangannya lagi mengaduk-ngaduk jus mangga yang ia pesan tadi, aku tahu kalau dia sendiri tidak menyadari tatapan para gadis yang diberikan padanya.

    Sial, memang orang ini terlalu mencolok. Kalau begini kan aku bisa kena imbasnya.

    Berpikir begitu, aku langsung menghabiskan minuman yang kupesan dalam sekali teguk dan berniat untuk segera beranjak dan menjauh dari Rendi secepat yang aku bisa lakukan.

    “Aku balik ke kelas dulu.”

    Berkata begitu, aku lalu pergi membiarkan dia ditatap sepuas-puasnya oleh para hyena betina itu.

    Menyeramkan.


    ***


    Kembali ke kelas,

    Aku tidak menyangka masih akan menemukan dua sejoli tadi di sini. Padahal kukira mereka akan langsung pindah begitu bel berbunyi ke tempat yang jauh lebih ‘aman’ dan ‘nyaman’.

    Hahaha.

    Aku tertawa sinis dalam hati.

    Tapi baru kemudian, telingaku yang tajam dan mempunyai kemampuan khusus untuk mendengarkan omongan orang lain tanpa ketahuan mendengar sesuatu yang menarik,

    “Kita putus.”

    …dalam bisikan kesal penuh amarah.

    Sepertinya aku salah paham dari tadi. Mereka bukan sedang jadi dua sejoli yang menjalin cinta, melainkan sibuk mempertahankan gengsi masing-masing untuk membuktikan siapa yang salah dan benar.

    Sementara pihak perempuannya bersikeras mengatakan kalau laki-lakinya lah yang salah karena tidak pernah jujur pada dia atau dll, dll tidak jelas begitu. Yang menyimpulkan bahwa gadis itu tidak bisa percaya lagi pada sang pemuda mau bagaimana pun juga.

    Ehm, mendramatisir sekali.

    Lalu sekarang pihak laki-laki berusaha mengajukan banding dengan mengatakan kalau perempuannya lah yang salah karena terlalu curigaan. Apa aja dicurigain, ini dicurigain, itu dicurigain, dia (katanya) merasa kalau perempuan itu terlalu cemburuan dan suka seenaknya sendiri nyampurin urusan dia.

    Kemudian perdebatan berlanjut menjadi semakin panas dengan pihak perempuan dan pihak laki-laki tidak ada yang mau mengalah dan akhirnya berujung pada,

    “Kita putus.”

    Mungkin kalau ini pertengkaran antar suami-istri ujungnya bukan begitu, melainkan sang istri bilang, “Pulangkan sajaa… aku pada ibuku, atau ayahku.”

    Haha…

    Menguping bisikan-bisikan mereka yang akhirnya selesai. Si laki-laki lalu berjalan keluar dengan muka kesal sementara si perempuan langsung kembali ke kelompoknya untuk curhat dadakan.


    ***


    Besoknya,

    Aku hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat baik laki-laki dan perempuannya, dua-duanya sudah menemukan kecengan masing-masing hanya dalam waktu kurang dari 24 jam.

    Begini ini…

    Dulu ngakunya suka, dulu ngakunya cinta.

    Sekarang udah putus ngaku lagi cinta, tapi beda orang, beda alasan, dan pastinya beda pendekatan.

    Melihat fenomena yang sudah seringkali berulang dan berputar terus seperti ini, aku cuma bisa geleng-geleng kepala sambil berharap suatu saat nanti adikku, Andin, tidak ikut terjebak dalam lingkaran setan bodoh ini.


    ***


    “Ardi~!”

    Apa?

    Tidak lihat aku sedang belajar?

    Kalau kamu mau berisik atau mengajakku main, lakukan saja di luar. Aku tidak punya urusan dengan hantu aneh macam kamu itu.

    “Kita putus!”

    Ha?

    Aku menoleh. Memandang Nekomimi yang sedang menatapku dengan kedua bola matanya yang bulat dan besar… mengingatkanku pada sesuatu.. atau seseorang.

    “Apa maksudmu?”

    “Kita putus! Kita putus!”

    “Apanya yang kita putus!?”

    Bertanya setengah tidak sabar, aku memijat-mijat pelipisku untuk menenangkan diri.

    “Tali yang aku ikat di tanganmu dan tanganku putus. Jadi kita putus kan?”

    Aku tahu seharusnya aku tidak perlu memedulikan dia, tidak peduli apa yang dia katakan.
    Merutuki kebodohanku, aku kembali memfokuskan diriku pada buku yang terbuka di hadapanku.

    Lagipula… sejak kapan juga kita nyambung…?

    ...bab nggak penting:sepi:
     
    Last edited: Jul 6, 2011
  19. Offline

    Gorgomm Beginner Members

    Joined:
    Aug 20, 2010
    Messages:
    373
    Trophy Points:
    51
    Ratings:
    +778 / -0
    Apa karena ini cerita dikisaran waktu anak - anak jadi ada beberapa kata yang perlu dikoreksi EYDnya,
    saya setuju dengan quote di muka ....masing2 dari kita saling berhubungan , suka atau tidak suka, langsung ataupun tertunda menghubungkan tiap titik dan koordinat ibarat sebuah perputaran atau lingkaran itu sendiri :cerutu:
    ... :maaf: just komen ini mah
     
  20. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    err.. yg bagian mana ya:???:EYD:???:

    bab keberapa kk:???:

    makasih komennya:maaf:
     
  21. Offline

    Gorgomm Beginner Members

    Joined:
    Aug 20, 2010
    Messages:
    373
    Trophy Points:
    51
    Ratings:
    +778 / -0
    mungkin yang ini, terkecuali memang gayanya mengharuskan atau sengaja dibuat seperti itu
     
    • Like Like x 1
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.