1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

OriFic Fantasy's Tale: Legit Journey

Discussion in 'Fiction' started by DeadlyEnd, Jul 28, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    DeadlyEnd Silent Reader Members

    Joined:
    Dec 5, 2008
    Messages:
    143
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +22 / -0
    Ceritanya (Alasan saya nulis cerita iniloh bukan bagian dari cerita) suatu hari saya buka The Other Wiki...
    Lalu buka berbagai macam tropes...

    Dan jadilah cerita ini... :hahai:

    Cerita yang saya tulis karena sedang mendesain ulang cerita saya yang sebelumnya...

    Selamat menikmati...
    Sinopsis dulu:

    Legit Journey mengisahkan tentang petualangan di dunia fantasy + steam punk. "Legit Journey: Gravia" mengisahkan tentang Alan Thige Tuckers (Baca: Alan Thaig Takers) dan teman-temannya menjelajahi dunia Gravia dan meninggalkan jejak mereka dalam sejarah dunia ini.

    EDIT:
    Genre: Fantasy, Steampunk (<=Genre bukan ya?)
     
    Last edited: Jul 28, 2011
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    DeadlyEnd Silent Reader Members

    Joined:
    Dec 5, 2008
    Messages:
    143
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +22 / -0
    Fantasy's Tale: Legit Journey: Gravia

    Chapter 1
    Welcome to the World Hero!


    Sebuah kereta api uap berwarna hitam melesat cepat melewati jalurnya.

    Hari itu cerah, langit biru terlihat jelas, begitu juga dengan matahari dan awan-awan yang menggantung di langit.

    Kereta itu menuju kerajaan “Agaza”, kerajaan terbesar di dunia itu, “Gravia”.

    Kastil super besar berwarna biru dengan benda mirip gelang mengitari ketujuh menaranya.

    Dari dalam kereta itu, seseorang mengeluarkan kepalanya, berusaha mendapatkan pemandangan kastil yang jelas.

    Rambutnya pendek coklat belah kiri, matanya juga coklat sewarna dengan rambutnya.

    Dia tidak terlihat terlalu tua, dia memang masih berada di pertengahan 20 tahunnya.

    Begitu puncak menara kasti terlihat, dia tersenyum. Namun dengan cepat mukanya berubah penasaran saat melihat ke bawah, melihat lautan yang dilewati rel kereta api itu.

    Tidak terlihat apa-apa di sana, namun dia segera kembali tersenyum dan memasukkan lagi kepalanya ke dalam.

    Lalu…

    BLAAAAAAARRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Tampak sesuatu menyerupai tongkat berwarna coklat tua menembus bagian belakang gerbong tempat laki-laki itu berada dan kereta itu berhenti di tempat.

    Lalu muncul lebih banyak lagi benda seperti itu di luar gerbong dan bergerak mengikat gerbong itu.

    Sring…

    Terdengar tebasan yang melepas sambungan gerbong dan sisa kereta di depannya yang melaju cepat meninggalkan lokasi itu.

    JELEGARRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!!!!!!

    Terdengar bunyi gelegar diikuti dengan wujud monster besar terbang di langit dan gerbong yang terbelah dua.

    Monster itu berwarna hijau muda di bawah dan hijau tua di atas dengan bentuk seperti lobster namun memiliki banyak tentakel di sekitarnya.

    Monster itu tidak benar-benar terbang, diantara monster itu dan gerbong yang terbelah dua di tengah, tampak bayangan seseorang.

    Laki-laki berambut coklat itu menendang monster itu dengan keras, membuatnya melayang dan mematahkan gerbong seperti ranting pohon.

    Dia mengenakan zirah berwarna hitam dan perak dengan jubah biru tua.

    Sebilah pedang besar, sebuah broadsword, berada di punggungnya.

    Dia tiba-tiba muncul di atas monster itu dan menendang monster itu kembali ke laut.

    Air laut meluap, membentuk gelombang yang lalu mendorong setengah gerbong maju.

    Laki-laki itu mendarat di gerbong yang tersapu gelombang itu.

    Dia menatap gerbong tidak puas, dia menaruh tumit kanannya ke ujung sisi gerbong dan dengan kuat menarik sisi gerbong, membuat bagian gerbong dengan jendela di atas.

    Sambil terus didorong gelombang, laki-laki berjalan menuju ujung gerbong.

    Dia meloncat lalu dengan keras menendang gerbong itu.

    Gerbong itu lalu berputar seperti botol dan bergerak cepat melintasi rel, sementara laki-laki itu meloncat kembali ke atas gerbong.

    “HA HA HA HA HA HA HA HA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

    Dia tertawa sambil gerbong itu berputar dan melaju cepat bahkan melebihi gelombang yang sebelumnya mendorong gerbong.

    Lalu muncul banyak monster-monster hijau berukuran manusia.

    Mereka memiliki capit seperti kepiting, mata bulat merah, dan antena.

    Monster-monster itu melompat menerjang laki-laki itu.

    Dia mengenggam pedangnya dan dengan cepat menebas ke depan, lima monster yang berada di kanan hingga kirinya terbelah dua.

    Lalu dengan cepat, dia menusuk ke belakang.

    Dia lalu menarik pedang itu, berbalik, dan menebas monster itu vertikal.

    Dia berputar ke kanan dan menebas monster-monster yang berada di jalur pedangnya.

    Dia memukul monster di kiri dan menusuk monster itu jatuh.

    Dengan menggunakan pedang itu dia menendang ke atas monster di belakangnya hingga dia sendiri terangkat.

    Dia mencabut pedangnya dan menebas monster yang dia tendang.

    Dia lalu meluncur ke depan menggunakan monster yang dia belah dua sebagai pijakan.

    Tiga monster menerjang laki-laki itu.

    Dia lalu menebas ketiganya dengan sekali tebasan sambil melewati ketiga monster itu.

    Dia mendarat di atas gerbong dan tiba-tiba monster besar yang dia tendang tadi muncul menghadang jalur yang dia lewati.

    Laki-laki agak terkejut saat melihat monster itu, namun dia segera tersenyum.

    Dia menghentakkan kakinya dan gerbong itu terangkat di hadapannya, tetap berputar.

    Dia lalu berputar dan menendang gerbong itu, menabrak perut monster itu.

    Monster itu terdorong saat gerbong itu menghantam perutnya.

    Monster itu berhasil berhenti, dia lalu mencapit gerbong yang agak tertanam dalam perutnya dan menariknya keluar.

    Laki-laki itu tiba-tiba sudah berada di atas gerbong.

    Dia lalu meloncat menuju kepala monster itu, menggenggamnya, dan menarik lalu mendorongnya ke bawah.

    Laki-laki itu lalu menendang bagian punggung monster yang lalu pecah.

    Monster itu terdorong jauh sementara laki-laki itu menusuk pedangnya ke gerbong kereta yang melayang lalu melontarkannya menuju monster itu.

    Gerbong itu segera menabrak monster itu dan mendorongnya lebih jauh.

    Monster itu berusaha menahan dengan mencapit tanah dengan capit kanan, namun laki-laki itu segera menebas putus capit itu.

    Monster itu lalu menggunakan capit kiri, namun kembali ditebas putus oleh laki-laki itu.

    Laki-laki itu segera berlari mengejar monster yang terus terdorong dan meraung.

    Monster itu keluar jalur dan melambat.

    Namun laki-laki itu segera muncul di hadapan monster itu dan menghentakkan tanah, membuat efek kejut yang membuat monster itu terpental.

    Laki-laki itu lalu meloncat dan menendang gerbong yang ikut terpental ke udara.

    Gerbong itu hancur berkeping-keping, laki-laki itu menghantam monster itu, membuat monster itu berputar dan kepalanya terangkat.

    Laki-laki itu segera mengenggeam antena monster yang menjulur ke belakang dan membantingnya ke depan hingga terlempar jauh.

    Laki-laki itu, seraya monster itu berputar-putar di udara, berlari agar dia tetap berada di bagian atas dan tidak terjatuh.

    Monster itu lalu kehilangan ketinggian dan segera jatuh, masih berputar dan bergerak maju.

    BLAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Monster itu menghantam sebuah gerbang besar, berhenti.

    Sementara laki-laki itu berhasil mendarat dengan mulus di seberang gerbang.

    Dia lalu mengibaskan rambutnya seraya berdiri dan tersenyum.

    “Berhenti!!!”

    “Berhenti!!!”

    Terdengar teriakan keras dari beberapa orang yang segera mengitari laki-laki itu.

    “Hei, kalau kalian ingin berteriak aku harap satu suara. Berbicara beberapa kali dengan nada sumbang itu sangat tidak enak didengar.”

    Laki-laki itu menggali telinga kanannya dan mengeluarkan muka sebal.

    “Apa yang kau inginkan hah!!? Merusak gerbang istana dan membuat keributan seperti ini!!!”

    Seseorang dari orang yang mengitari laki-laki itu segera membentak keras.

    Mereka mengenakan zirah lengkap berwarna hijau, sangat tidak serasi dengan kastil biru yang ada di sekitarnya.

    Mereka adalah penjaga kastil itu.

    Laki-laki itu sudah berada di dalam kastil, gerbang yang dia tabrak – atau monster tabrak lebih tepatnya – adalah gerbang depan kastil.

    Saat debu-debu yang terangat akhirnya turun, terlihat menara-menara megah milik kastil itu.

    “Aku? Aku hanya ingin bertemu dengan raja kalian. Aku diundang ‘kan?”

    Laki-laki itu berbicara santai.

    “Jangan bercanda!!? Tidak ada seorangpun yang mengundang orang tidak bertanggung jawab seperti kau!!!”

    “Diam kalian semua dan turunkan senjata kalian!!”

    Tiba-tiba terdengar seseorang berbicara keras.

    Orang itu berjalan maju dengan baju biru panjang dan jubah putih dengan corak hitam terbuat dari kulit beruang.

    Janggut dan kumisnya putih lebat, matanya biru jernih, sementara rambutnya yang putih ditata agar bagian bawahnya menggulung ke dalam secara rapi.

    Sebuah mahkota berwarna emas dengan batu-batu berwarna biru, dengan sebuah batu merah di bagian depan.

    Dia adalah Raja Neo Natus, Raja kerajaan Agaza.

    “Dia adalah pahlawan besar Gravia, Alan Thige Tucers (Baca: Alan Thaig Takers), dari negara Latef!”

    Raja Neo berkata tenang namun tegas sambil membuka tangannya, menyambut Alan.

    Semua orang termasuk Alan berlutut di hadapan sang raja.

    “Kehebatanmu sudah terdengar jauh sampai sini, terutama aksi hebatmu menghentikan kehancuran dunia ini.”

    Raja Neo melanjutkan pujiannya.

    “Ah, biasa saja.”

    “Tidak, pencapaianmu itu memang patut dibanggakan.”

    “GRAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

    Tiba-tiba monster yang berada di belakang Alan mengaum keras.

    “DIAM!!!”

    Alan menebas monster itu vertikal dan membuat monster itu terbagi menjadi dua, meskipun hanya membuat tubuh monster itu bergeser sedikit alih-alih membuat monster itu jatuh ke kiri dan kanan.

    “Maafkan saya Raja, tapi saya rasa seharusnya lautan akan lebih aman tanpa monster ini.”

    Alan menyarungkan lagi pedangnya di punggung sambil berbicara pada Raja dengan nada sopan.

    “Tentu saja. Anda memang hebat, rakyat kami memang sedang kesulitan berlayar karena kehadiran monster ini.”

    “Terima kasih Raja. Namun anda mengundang saya karena sebuah alasan ‘kan Raja?”

    “Itu benar. Mari, ikuti saya ke ruangan tahta.”

    Raja Neo berbalik dan berjalan menuju tahta.

    Di belakangnya Alan tersenyum konyol sambil berjalan mengikuti sang Raja.

    Raja Neo memasuki ruang tahta.

    Dibelakang beliau Alan berjalan sambil melirik kiri dan kanan.

    Sepanjang perjalanan, Alan melihat berbagai perabotan yang menghiasi ruangan istana, juga berbagai lukisan dan perkakas aneh.

    Ruangan tahta sangat luas, tentu saja karena ini ruang tahta.

    Karpet merah panjang dengan garis emas di pinggirnya membentang panjang dari pintu besar ke singgasana kerajaan.

    Para penjaga berada hampir di seluruh sisi ruangan, menatap Alan waspada.

    Alan hanya menatap para penjaga itu sekilas dengan bosan.

    Dia menatap ke seluruh penjuru ruangan, berusaha meneliti semua detail aneh.

    Salah satunya semacam patung kepala manusia, namun dengan telinga kucing – atau mungkin anjing – dengan kalung tulang di lehernya.

    Dia mendengus bosan dan menggeleng-geleng kepala, namun tatapannya segera terpaku pada lima orang yang berjejer di dekat singgasana, tidak berada di lantai yang sama karena singgasana berada di lantai yang lebih tinggi.

    Dari sebelah kiri adalah seorang laki-laki berbadan besar yang mengenakan zirah yang sama-sama besar.

    Mukanya agak kotak, dengan lekukan di rahang dan dagu yang tajam.

    Rambutnya coklat tua berdiri seperti kumpulan jarum.

    Alan ingin melucu namun tatapan orang itu, seperti kebanyakan dari lima orang yang berjejer disana, sangat tajam dan terlihat seram.

    Disampingnya adalah seorang perempuan yang tingginya tidak sampai sedada laki-laki di sebelahnya, meskipun Alan saja mungkin hanya sepundak laki-laki itu.

    Rambut perempuan itu pirang dan memiliki mata biru langit.

    Mukanya lonjong dan sangat cantik.

    Telinganya lancip, kemungkinan besar ras Elf – yang bisa menjelaskan kecantikannya – dan dadanya besar.

    Tidak seperti orang-orang di sekitarnya, dia tidak mengenaka zirah, dia hanya mengenakan gaun putih polos

    Disebelahnya seorang laki-laki dengan tatapan tajam dan bisa dibilang terlihat congkak, atau sekedar sedang tidak dalam mood yang bagus.

    Rambutnya merah seleher bergelombang.

    Tatapannya yang tajam semakin diperkuat dengan matanya yang merah menyala, bukan karena iritasi ringan.

    Zirahnya tampak lebih ringan jika dibandingkan zirah laki-laki pertama.

    Dia lebih pendek dari Alan, bahkan kedua perempuan di sampingnya, meskipun tingginya sendiri normal untuk ukuran manusia.

    Di sebelahnya lagi adalah seorang perempuan dengan rambut merah panjang dan tato naga merah dari dahi, melewati mata kirinya, hingga pipi kiri.

    Matanya juga merah menyala, meskipun tatapannya yang tajam juga menunjukkan tatapan nakal, atau setidaknya itu yang Alan rasakan.

    Zirahnya hitam, atau mungkin itu sekedar pakaian biasa karena sangat minim.

    Pusarnya terlihat, dadanya yang besar menonjol dengan jelas, begitu juga dengan pahanya yang putih mulus.

    Berbeda dengan orang disekitarnya yang berekspresi serius, perempuan ini tersenyum pada Alan.

    Terakhir adalah…

    Seorang anak kecil berambut pirang dengan zirah yang tampaknya merupakan bentuk mini dari zirah normal.

    Mungkin mereka anggota sirkus pikir Alan.

    Raja Neo duduk di singgasananya.

    “Alan Thige Tucers.” Raja Neo berbicara lantang, “Aku mengundangmu kesini karena terjadi musibah besar yang menimpa kerajaan ini.”

    Alan melipat tangannya sambil mendengarkan Raja Neo dengan serius.

    Apa musibah besar yang mungkin menimpa?

    Kelaparan?

    Penyakit?

    Tapi karena dia seorang ksatria – setidaknya nama resmi pekerjaan Alan itu – kemungkinan besar musibah itu adalah monster besar menyerang kerajaan itu.

    “Beberapa hari yang lalu, putriku diculik.”

    Ok, klise sekali pikir Alan.

    “Seorang penyihir kegelapan menyuliknya tanpa peringatan. Segala usaha yang telah kami lakukan untuk menyelamatkan dia telah gagal.”

    Baiklah, meskipun keinginannya egois, namun setidaknya aku dibayar pikir Alan.

    “Sebenarnya alasan aku memanggil pahlawan sepertimu karena putriku itu… ‘Spesial’…”

    Hm? Aku tidak senang mendengar ini pikir Alan.

    “Putriku memiliki ‘potensi’… Dia terlahir memiliki kemampuan untuk menghancurkan dunia…”

    Kenapa kau bisa punya putri yang berbahaya seperti itu? Alan ingin mengkritik tapi dia masih menahan diri.

    “Maka dari itu aku membutuhkan bantuanmu mengingat betapa pentingnya penyelamatan ini dan betapa berbahayanya usaha ini.

    Juga itu yang menjadi alasanku mengundang lima pejuang terbaik yang kami miliki.”

    Alan melihat ke lima orang yang berdiri berjajar.

    Orang-orang yang dia kira adalah bagian dari sirkus ternyata adalah pejuang terbaik negara Azgara.

    “Em…” Alan menggumam, “Hai…” Sapa Alan.

    Beberapa dari mereka mengangkat tangan mereka, membalas sapaan Alan.

    Hanya saja laki-laki berambut merah memalingkan mukanya, tidak membalas sapaan Alan, sementara perempuan elf di sebelahnya menundukkan kepalanya sedikit untuk membalas sapaan Alan.

    “Perjalanan kalian akan sangat panjang. Aku harap kalian bisa kembali dengan selamat dan berhasil menyelamatkan sang putri.” Raja Neo menyampaikan kalimat-kalimat perpisahannya pada pejuang yang dia tugaskan.

    Keenam orang itu memberi hormat lalu pergi meninggalkan ruang tahta.

    Alan dan lima orang itu berjalan menyusuri lorong.

    Setelah mereka cukup jauh dari ruang tahta, Alan memulai percakapan.

    “Perkenalkan, aku Alan Thige Tucers. Kalian siapa saja?” Alan berbalik dan berjalan mundur.

    “Biar aku perkenalkan.” Laki-laki berbadan hitam besar segera menjawab dan mereka semua berhenti berjalan, “Namaku Absolom Maximilian, dari negara ‘Chaz’.”

    “Aku memanggilmu apa? Max?” Tanya Alan cepat.

    “Kau bisa memanggilku Abe (Baca: Eb) atau Absolom” Jawab Absolom.

    “Absolom kalau begitu.”

    “Perempuan ini, Fay Galiena, istriku.” Absolom memegang pundak perempuan Elf di sampingnya.

    “He… Bukan ‘Fay Maximilian’ ya?” Kembali Alan bertanya cepat.

    Absolom tersenyum, “Tidak ada istilah ‘nama keluarga’ di tempat kami berasal. Ah, kau bisa memanggilnya Fay.”

    Alan mengangguk paham.

    Fay menundukkan sedikit kepalanya.

    “Tiga orang di sebelah istriku berasal dari negara ini, Agaza.” Absolom melanjutkan perkenalan.

    “Laki-laki berambut merah ini adalah Rudianos Pyralis.”

    Rudianos itu mengalihkan pandangan saat Alan menatapnya dan mengangkat tangan kanannya.

    “He… Jadi aku bisa memangilmu apa?” Respon Alan melihat sifat Rudianos.

    “Terserah kau saja.” Jawab Rudianos malas.

    “Baiklah aku akan memanggilmu Rud kalau kalau begitu. Tidak ada permainan kata yang disengaja.” Jawab Alan sambil tersenyum sementara Rud hanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala tidak sabar.

    “Perempuan di sebelahnya adalah Chaterine Fidella.” Lanjut Absolom setelah percakapan Alan dan Rud selesai.

    “Hai! Kau bisa memanggilku Chat (Baca: Ket)!” Perempuan itu tersenyum hingga giginya terlihat dan mengangkat tangan kanannya sementara tangan kiri ditaruh di pinggangnya.

    Mata kirinya ditutup dan Alan merasa gerakan naik turun tubuhnya disengaja agar dadanya terlihat bergoyang.

    “Hai! Panggil aku Alan.” Alan menjawab dengan semangat tinggi.

    “Dan terakhir adalah…” Abosolom berusaha memperkenalkan orang terakhir, si anak.

    Namun si anak segera berbicara cepat, “Baphomet Palmer. Kau bisa memanggilku Bapho, pak.”

    Alan tidak bisa merespon dengan cepat.

    Seorang anak kecil dengan muka polos, meskipun tatapannya memang tegas, mempunyai nama Baphomet? Orang tua zaman sekarang… Tidak punya sensing yang bagus dalam memberi nama.

    Pikir Alan.

    Terdengar helaan.

    Helaan itu dari Rud, “Ayo, waktu kita tidak banyak.” Dia segera berjalan melewati Alan.

    “Ya, tentu saja. Maaf membuang waktu kita.” Jawab Alan, lalu mereka semua berjalan.

    “Tidak juga, kita memang butuh mengenal satu sama lain.” Absolom berbicara dengan nada meyakinkan.

    Alan hanya tersenyum mendengarnya.

    Mereka terus berjalan.

    “Jadi, kalian punya petunjuk mengenai penculik sang putri? Kalau tidak, sepertinya Raja benar-benar ingin kita menebang pohon dengan tulang teri.” Tanya Alan.

    “Kalau maksudmu beliau ingin kita melakukan misi yang tidak mungkin dilaksanakan, tenang saja. Kami punya petunjuk-petunjuk awal.” Jawab Absolom.

    “Bagus kalau begitu.” Alan tersenyum lebar.

    “Woah!!!” Tiba-tiba Rud berteriak sambil berjalan melewati pintu keluar.

    “Kenapa? Silau?” Tanya Alan sekenanya.

    “Hei, apa yang terjadi disini!?” Rud berbalik, mukanya tampak keheranan bercampur ketakutan dan kemarahan.

    “Wah, ini kerusakan yang parah!!!” Absolom tiba-tiba menggunakan ekspresi dan nada yang sama.

    “Monster-monster keparat! Mereka sudah keterlaluan sekarang!!!” Bapho juga berkomentar, dia memukulkan kedua tangannya.

    Alan segera sadar, maksud mereka adalah gerbang besar yang ditabrak monster yang dia tendang tadi.

    Monster lobster itu sendiri sudah tidak ada di gerbang itu.

    “Er… Ya! Monster-monster keparat…” Alan berusaha terlihat geram.

    Yah, yang menabrak gerbang itu memang monster lobster, aku hanya menendangnya… Aku tidak sengaja…

    Pikir Alan.

    “Hei, kau tidak tahu apa-apa tentang monster yang menghancurkan gerbang ini!? Kau ‘kan datang terlambat!!!” Rud segera berbicara keras pada Alan.

    “Hei! Kenapa aku mesti tahu!!? Aku tidak terlambat karena menendang monster yang menghancurkan gerbang ini atau semacamnya kau tahu!!?” Alan berpikir dia terlambat karena kereta api yang bergerak lambat.

    “Sudah-sudah.” Absolom melerai kedua orang yang saling melotot itu, “Tidak ada gunanya menyalahkan orang. Siapa tahu dia sudah berada di lorong ketika monster itu menghancurkan gerbang. Lebih baik kita cepat mengambil senjata kita.”

    “Tapi ngomong-ngomong, kenapa gerbang ini begitu penting? Toh pilar-pilarnya masih berdiri.” Tanya Alan setelah Absolom selesai berbicara.

    “Bahkan di negeriku Chaz, gerbang ini sangat terkenal.” Absolom melipat tangannya, “Dulu ada dua negara di tempat ini. Pertarungan demi pertarungan terjadi demi memperebutkan daerah ini, masalah perbatasan kau tahu.

    Lalu tembok pembatas ini dibangun oleh sebuah negara netral yang punya hubungan baik dengan kedua negara dan punya andil besar demi kemakmuran kedua negara. Ngomong-ngomong awalnya panjang gerbang ini hingga dua pegunungan berseberangan disana dan sana…” Absolom menunjuk ke sebelah kanan jauh lalu menunjuk ke kiri, “…Jadi kau tahu gerbang ini dulunya sangat panjang.

    Awalnya masih ada banyak pertarungan demi memperebutkan tembok, utamanya gerbang ini, tipikal dua negara serakah. Namun beberapa orang lalu tinggal di sekitar gerbang, mereka menjalin kehidupan yang harmonis. Setelah itu mereka menyebarkan pesan damai ke kedua negara.

    Kedua negara itu lalu menjadi satu dan menjadi Agaza. Istana ini lalu dibangun di pusat wilayah kedua negara yang kebetulan berada di depan gerbang ini, sehingga gerbang ini dijadikan pintu masuk istana yang resmi.

    Kira-kira begitu sejarah singkatnya.” Absolom mengakhiri ceritanya.

    Ada versi yang lebih panjang dari cerita membosankan ini? Pikir Alan bosan.

    “Sebaiknya kita segera berjalan.” Ujar Absolom dan mereka segera berjalan menuju gerbang.

    Lalu ada dua orang anak yang bermain-main di sekitar gerbang, tepatnya di bagian istana.

    Beberapa penjaga berlari ke arah mereka, berusaha mengusir karena tidak sopan dan daerah itu masih berbahaya.

    Melihat penjaga yang berlari ke arah mereka, kedua anak itu lalu berlari menuju gerbang, berusaha lari keluar.

    Namun salah satu dari mereka, yang laki-laki, terjatuh dan menangis.

    Yang perempuan berusaha membantu namun dia ketakutan untuk mendekat karena penjaga berlari menuju mereka.

    “Hup.” Tiba-tiba Alan sudah berada di depan anak laki-laki yang menangis dan mengangkatnya, “Hati-hati ya lain kali.” Ujar Alan sambil tersenyum.

    Anak laki-laki itu mengangguk sambil masih menangis, ingus keluar dari hidungnya menemani air matanya yang sempat keluar dengan deras.

    “Jadi laki-laki yang lebih kuat dan lebih cekatan ya.” Alan membisikkan ke telinga kanan anak itu, dia lalu mengangguk.

    “Dan jangan menyusahkan teman-teman dan orang tuamu ya.” Alan lalu membisikkan ke telinga kiri anak itu, kembali dia mengangguk.

    “Bagus.” Alan tersenyum lebar dan berdiri.

    Saat Alan menggeser posisinya, anak perempuan tadi terlihat.

    Dia lalu menggenggam tangan temannya lalu mereka berdua kembali berlari.

    “Anak kecil kuat ya.” Komentar Alan.

    “Seharusnya kau membawanya dulu ke dokter atau semacamnya. Dasar kasar.” Komentar Rud yang melintas di samping Alan.

    “Kalau kau punya cara lebih baik, segera lakukan. Jangan cuma komentar.” Respon Alan.

    Absolom, Fay, Chat, dan Bapho mengikuti mereka dari belakang.

    “Oh ya, ngomong-ngomong nama gerbang ini apa?” Tanya Alan pada Absolom.

    “Gerbang Sika Orifice (Baca: Sika Orifais).” Jawab Absolom.

    Alan mengangguk lalu melihat gerbang itu lagi, sambil tetap berjalan, lalu berbalik dan berjalan maju.

    Sekian dulu...
    Mohon kritik dan sarannya...
     
  4. Offline

    Nebunedzar Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 7, 2009
    Messages:
    944
    Trophy Points:
    212
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6,272 / -0
    Salam kenal, DeadlyEnd. Ini saya mau memberikan komentar. :hmm:

    Itu paragrafnya sepertinya masih bisa digabung menjadi satu kalau yang ingin disampaikan masih hal yang sama; narasinya di awal cerita sebagai contoh, di dalamnya itu sudah bagus--isinya runtun tapi sebaiknya dipadatkan. Ah ya, ini ada koreksi kata;kasti. Dan paragraf yang enak itu tidak repetitif--memang, susah juga untuk membuat kalimat yang kreatif. Hanya saja, pembaca lebih tertarik membaca karena tidak melihat kata-kata yang itu-itu saja. Mengenai kecepatan cerita, saya suka-suka saja dengan yang terasa cepat. YMMV ya kan? (Hehe.) Lalu ada yang janggal dengan setting. Awalnya itu memang steampunk, tapi memang dibaur dengan fantasy ya? Masalahnya, terlihat seperti berdiri sendiri-sendiri. Namun ini ceritanya unik sekali, belum ada yang pernah buat yang seperti ini soalnya. ^^;
     
  5. Offline

    DeadlyEnd Silent Reader Members

    Joined:
    Dec 5, 2008
    Messages:
    143
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +22 / -0
    Salam kenal juga kakak... :peace:

    Saya memang masih berusaha mencari gaya penulisan jadi maaf kalau kurang berkenan... :keringat:


    Terima kasih kak sudah membaca dan atas kritik serta sarannya...
    Mohon baca lanjutan cerita ini dan cerita saya yang lain kak... :peace:

    Steampunk dalam cerita ini agak kayak Warcraft, ada tapi cukup subtle atau jarang. Meskipun begitu, saya masukkan karena perannya makin penting.

    Ngomong-ngomong, koreksi kata kasti itu buat di sebelah mana ya kak? :bloon:
    Saya kok enggak ngeh ini ya? :???:
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.