1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Belajar Mendengarkan

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by Nawainruk, Jun 5, 2010.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    Nawainruk Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 3, 2007
    Messages:
    1,042
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +98,135 / -0
    Anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima telepon di tengah malam. Tapi, malam itu semuanya terasa berbeda. Aku terlonjak dari tidurku ketika telepon di samping tempat tidur berdering-dering. Aku berusaha
    melihat jam beker dalam gelap. Cahaya illuminasi dari jam itu menunjukkan tepat tengah malam. Dengan panik aku segera mengangkat gagang telepon. "Hallo?" dadaku berdegub-degub kencang. Aku memegang gagang telepon itu erat-erat. Kini suamiku terbangun dan menatap wajahku lekat-lekat. "Mama?" terdengar suara di seberang sana.

    Aku masih bisa mendengar bisikannya di tengah-tengah dengung telepon. Pikiranku langsung tertuju pada anak gadisku. Ketika suara itu semakin jelas, aku meraih dan menarik-narik pergelangan tangan suamiku. "Mama, aku tahu ini sudah larut malam. Tapi jangan... jangan berkata apa-apa dahulu sampai aku selesai bicara. Dan, sebelum mama menanyai aku macam-macam, ya aku mengaku ma. Malam ini aku mabuk. Beberapa hari ini
    aku lari dari rumah, dan..."

    Aku tercekat. Nafasku tersenggal-senggal. Aku lepaskan cengkeraman pada suamiku dan menekan kepalaku keras-keras. Kantuk masih mengaburkan pikiranku. Dan, aku berusaha agar tidak panik. Ada sesuatu yang tidak beres.

    "...Dan aku takut sekali. Yang ada dalam pikiranku bagaimana aku telah melukai hati mama. Aku tak mau mati di sini. Aku ingin pulang. Aku tahu tindakanku lari dari rumah adalah salah. Aku tahu mama benar-benar cemas dan sedih. Sebenarnya aku bermaksud menelepon mama beberapa hari yang lalu, tapi aku takut... takut..."
    Ia menangis tersedan-sedan. Sengguknya benar-benar membuat hatiku iba. Terbayang aku akan wajah anak gadisku. Pikiranku mulai jernih, "Begini..."

    "Jangan ma, jangan bicara apa-apa. Biarkan aku selesai bicara." ia meminta. Ia tampak putus asa. Aku menahan diri dan berpikir apa yang harus aku katakan. Sebelum aku menemukan kata-kata yang tepat, ia melanjutkan, "Aku hamil ma. Aku tahu tak semestinya aku mabuk sekarang, tapi aku takut. Aku sungguh-sungguh takut!"

    Tangis itu memecah lagi. Aku menggigit bibirku dan merasakan pelupuk mataku mulai basah. Aku melihat pada suamiku yang bertanya perlahan, "Siapa itu?" Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dan ketika aku tidak menjawab pertanyaannya, ia meloncat meninggalkan kamar dan segera kembali sambil membawa telepon portable. Ia mengangkat telepon portable yang tersambung pararel dengan teleponku. Terdengar bunyi klik. Lalu suara tangis suara di seberang sana terhenti dan bertanya, "Mama, apakah mama masih ada disana? Jangan tutup teleponnya ma. Aku benar-benar membutuhkan mama sekarang. Aku merasa kesepian."

    Aku menggenggam erat gagang telepon dan menatap suamiku, meminta pertimbangannya. "Mama masih ada di sini. Mama tidak akan menutup telepon," kataku.

    "Semestinya aku sudah bilang pada mama. Tapi bila kita bicara, mama hanya menyuruhku mendengarkan nasehat mama. Selama ini mamalah yang selalu berbicara. Sebenarnya aku ingin bicara pada mama, tetapi mama tak mau mendengarkan. Mama tak pernah mau mendengarkan perasaanku. Mungkin mama anggap perasaanku tidaklah penting. Atau mungkin mama pikir mama punya semua jawaban atas persoalanku. Tapi
    terkadang aku tak membutuhkan nasehat mama. Aku hanya ingin mama mau mendengarkan aku."

    Aku menelan ludahku yang tercekat di kerongkongan. Pandanganku tertuju pada pamflet "Bagaimana Berbicara Pada Anak Anda" yang tergeletak di sisi tempat tidurku. "Mama mendengarkanmu," aku berbisik.

    "Tahukah mama, sekarang aku mulai cemas memikirkan bayi yang ada di perutku dan bagaimana aku bisa merawatnya. Aku ingin pulang. Aku sudah panggil taxi. Aku mau pulang sekarang."

    "Itu baik sayang," kataku sambil menghembuskan nafas yang meringankan dadaku. Suamiku duduk mendekat padaku. Ia meremas jemariku dengan jemarinya.

    "Tapi ma, sebenarnya aku bermaksud pulang dengan menyetir sendiri mobil sendiri."

    "Jangan," cegahku. Ototku mengencang dan aku mengeratkan genggaman tangan suamiku. "Jangan. Tunggu sampai taxinya datang. Jangan tutup telepon ini sampai taxi itu datang."

    "Aku hanya ingin pulang ke rumah, mama."

    "Mama tahu. Tapi, tunggulah sampai taxi datang. Lakukan itu untuk mamamu."

    Lalu aku mendengar senyap di sana. Ketika aku tak mendengar suaranya, aku gigit bibir dan memejamkan mata. Bagaimana pun aku harus mencegahnya mengemudikan mobil itu sendiri. "Nah, itu taxinya datang." Lalu aku dengar suara taxi berderum di sana. Hatiku terasa lega. "Aku pulang ma," katanya untuk terakhir kali. Lalu ia tutup telepon itu. Airmata meleleh dari mataku. Aku berjalan keluar menuju kamar anak gadisku yang berusia 16 tahun. Suamiku menyusul dan memelukku dari belakang. Dagunya ditaruh di atas kepalaku.

    Aku menghapus airmata dari pipiku. "Kita harus belajar mendengarkan," kataku pada suamiku. Ia terdiam sejenak, dan bertanya, "Kau pikir, apakah gadis itu sadar kalau ia telah menelepon nomor yang salah?"

    Aku melihat gadisku sedang tertidur nyenyak. Aku berkata pada suamiku, "Mungkin itu tadi bukan nomor yang salah."

    "Ma? Pa? Apa yang terjadi?," terdengar gadisku menggeliat dari balik selimutnya. Aku mendekati gadisku yang kini terduduk dalam gelap, "Kami baru saja belajar," jawabku.

    "Belajar apa?" tanyanya. Lalu ia kembali berbaring dan matanya terpejam lagi. "Mendengarkan," bisikku sambil mengusap pipinya.

    *********************************

    Jangan berdiam di masa lalu. Jangan bermimpi mengenai masa depan. Pusatkan pikiran anda pada saat sekarang.

    Apa jadinya kita hari ini berasal dari pikiran-pikiran kita di hari kemarin, dan pikiran-pikiran hari ini membangun hidup kita esok hari. Hidup kita adalah ciptaan dari pikiran kita.

    Bila kita kehilangan waktu sekarang, kita kehilangan seluruh waktu. (W. Gurney Benham)

    Ketidakhadiran mempertajam cinta, kehadiran memperkuatnya. (Thomas Fuller)

    Dalam aritmetika cinta, satu tambah satu sama dengan segalanya, sedangkan dua dikurangi satu sama dengan hampa. (Mignon McLaughlin)

    Cinta adalah pemercantik yang agung. (Louisa May Alcott)

    ---
     
    • Like Like x 3
    • Thanks Thanks x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    Ruzh Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 24, 2010
    Messages:
    1,002
    Trophy Points:
    211
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +5,566 / -0
    wah2 bener2 cerita yang membangun.

    cocok untuk segala umur nih [​IMG]
     
  4. Offline

    Kerrigan Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 12, 2008
    Messages:
    1,276
    Trophy Points:
    146
    Ratings:
    +938 / -0
    benar-benar mengharukan sekali ceritanya :terharu:

    memang selama ini banyak sekali ortu yang "mengatur" bukan "mengontrol", sehingga anaknya bukannya jadi terarah malah jadi kehilangan arah

    saya boleh izin copas ya
     
    • Like Like x 1
  5. Offline

    wsteve Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Dec 28, 2009
    Messages:
    299
    Trophy Points:
    56
    Ratings:
    +1 / -0
    nice share gana,.., keep- postning
     
  6. Offline

    joefrizz Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    May 15, 2009
    Messages:
    4,483
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +79,326 / -1
    panjang bener ..udah ky cerpen bacanya :belajar:


    pesan moralnya bagus, cocok bwt inspirasi :top:
     
  7. Offline

    myth73 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 13, 2009
    Messages:
    2,784
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +8,371 / -0
    Kalo dilihat2 sih emang bener, kebanyakan ortu sekarang main perintah, main bentak, apa2 gak boleh, gak pernah menerangkan secara detail maksud dari larangannya.
    Kurangnya ortu sekarang adalah merek gak bisa berkomunikasi dengan standar bahasa anak2. Padahal kan ngaruh banget ke psikologis anaknya.
     
  8. Offline

    h3boo Silent Reader Members

    Joined:
    Jan 25, 2010
    Messages:
    42
    Trophy Points:
    7
    Ratings:
    +24 / -0
    terharu.... bagus critanya...
    emg dalam segala jenis hubungan kita harus mendegarkan satu dengan yg lain.. tidak luput juga saling mengingatkan....
     
  9. Offline

    Ghost13 Silent Reader Members

    Joined:
    Mar 5, 2010
    Messages:
    10
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +0 / -0
    ortu sekarang kebanyakan memerintah walaupun itu demi kebaikan anak nya.. tapi itulah letak kesalahan orang tua ...
     
  10. Offline

    hidayato Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 7, 2009
    Messages:
    2,046
    Trophy Points:
    226
    Ratings:
    +14,641 / -0
    cerita ini bener2 cocok untuk pendidikan moral :niceinfo:
     
  11. Offline

    Domovoi Beginner Members

    Joined:
    May 3, 2009
    Messages:
    261
    Trophy Points:
    41
    Ratings:
    +187 / -0
    seringkali orang tua memaksakan apa yang mereka anggap baik pada ank, padahal belum tentu apa yang mereka anggap baik adalah yang terbaik untuk anak
     
  12. Offline

    benih Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Nov 11, 2009
    Messages:
    484
    Trophy Points:
    141
    Ratings:
    +2,282 / -0
    cerita yang ramah dan tanpa batasan umur

    makasih TS udah share
     
  13. Offline

    simomone Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 27, 2009
    Messages:
    3,591
    Trophy Points:
    226
    Ratings:
    +37,184 / -0
    bagus mengharukan sekali ceritanya,
    bener-bener menginspirasi :top:
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.