1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Halo IDWS Mania, forum Indowebster ada Super Moderator baru lho di lihat di sini
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Bahaya penyalahgunaan antibiotik

Discussion in 'Pengetahuan Penting Penunjang Kesehatan' started by agung242, Aug 17, 2009.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    agung242 Silent Reader Members

    Joined:
    May 29, 2009
    Messages:
    92
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +6 / -0
    Salah Penggunaan, Fatal
    Tidak semua orang tahu bahwa antibiotik tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Tak semua orang tahu bahwa bila hal itu dilakukan, akibatnya justru fatal, apalagi hanya untuk penyakit-penyakit ringan. Ibaratnya, ingin membunuh satu orang mestinya cukup dengan pistol, tapi digunakan bom yang bisa menghancurkan penduduk satu kota. Selain tidak tepat penggunaan, dampak yang lebih jauh adalah bakteri dalam tubuh justru menjadi kebal.

    Pengamalan Veronika mungkin bisa jadi pelajaran. Perempuan 30 tahun itu suatu ketika menderita penyakit infeksi saluran pencernaan. Oleh dokter, dia diberi antibiotik. Dua minggu kemudian, kondisi Veronika berangsur membaik.

    Satu bulan kemudian, penyakitnya kambuh. Namun, dia enggan periksa ke dokter. Dia pun memutuskan membeli antibiotik yang sama dengan resep yang diberikan dokter sebulan sebelumnya. "Penyakitnya sama. Jadi, saya pikir obatnya juga sama," ujarnya.

    Bukan sembuh, perut Veronika justru semakin sakit dan mual. Setelah dua hari tidak kunjung membaik, akhirnya dia memutuskan pergi ke dokter. Benar saja, antibiotik yang diminumnya tidak sesuai untuk pengobatan penyakitnya yang sekarang. "Kata dokter, bila penyakit saya sembuh dan kambuh lagi, bukan berarti obatnya harus sama," ujar wanita yang bekerja di sebuah perusahaan asuransi itu.

    Mungkin saja, pengalaman Veronika pernah terjadi pada yang lain. Sebab, masyarakat kerap tidak menyadari bahwa antibiotik tidak boleh digunakan secara sembarangan. Sedikit kena penyakit flu, minum antibiotik. Kena demam dihantam dengan antibiotik. Gatal-gatal diberi antibiotik. Sakit kepala juga ditangkal dengan antibiotik.

    "Padahal, tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik. Antibiotik hanya digunakan untuk infeksi," ujar Prof Dr Kuntaman SpMK, ahli mikrobiologi RSU dr Soetomo. Misalnya, infeksi saluran kemih, sinusitis berat, atau radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus (salah satu jenis bakteri).

    Kuntaman menjelaskan, bahan antibiotik pertama ditemukan Alexander Fleming pada 1928. Kemudian, pada 1940-an antibiotik mulai digunakan secara luas. Waktu itu, ahli scientist dunia memprediksi, dengan ditemukannya antibiotik, pada 1960-an dunia diprediksi bersih dari penyakit infeksi.

    Namun, bukannya penyakit infeksi teratasi, justru jenis bakteri baru muncul akibat resistensi terhadap penggunaan antibiotik. Bahkan, pada 1990, kata Kuntaman, di beberapa belahan dunia pernah terjadi post antibiotika era. Suatu keadaan yang antibiotik tidak berfungsi lagi. "Waktu itu, di antara 20 jenis antibiotik yang ada, hanya satu yang bisa mengobati penyakit infeksi,"jelasnya.

    Pada 2001, World Health Organization (WHO) menyampaikan keprihatinan yang tinggi terhadap perkembangan bakteri resisten. WHO pun menyatakan global alert atau perang melawan bakteri resisten.

    Kuntaman juga mengungkapkan, penelitian di dua rumah sakit besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada 2001 menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik secara tidak bijak mencapai 80 persen. Kasus di RSU dr Soetomo, lanjut Kuntaman, angka resisten terhadap antibiotik lini pertama (penyakit infeksi ringan) bisa mencapai 90 persen dan lini kedua (infeksi sedang) mendekati 50 persen. Dalam disertasinya yang dirilis beberapa waktu lalu, Kuntaman juga menyebutkan, angka bakteri penghasil extended spectrum beta lactamase (ESBL, jenis bakteri yang sulit diobati) mencapai 29 hingga 36 persen. "Bandingkan dengan Belanda yang angkanya kurang dari satu persen," sebut pria yang bekerja di laboratorium mikrobiologi RSU dr Soetomo itu.

    Karena itu, bila antibiotik tidak digunakan secara tepat, post antibiotika era diprediksi bisa terjadi pada masa depan. "Bayangkan saja, bila tidak ada satu pun obat yang mampu mengatasi penyakit infeksi," ujarnya.

    Menurut Kuntaman, tingginya penggunaan antibiotik di rumah sakit akan meningkatkan angka resistensi bakteri di tempat itu. "Yang pada akhirnya menyulitkan terapi," tegasnya. Bahkan, bakteri lebih mudah mutasi, yang berarti lebih cepat resisten terhadap berbagai antibiotik.

    Prof dr R Bambang Wirjatmadi MS MCN PhD SpGK, pengajar gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, menjelaskan, antibiotik adalah obat yang dapat digunakan untuk membunuh kuman, virus, cacing, protozoa, dan jamur. "Biasanya, jika mengalami sakit dan disebabkan beberapa hal tersebut, obatnya antibiotik," ujar Bambang.

    Tidak hanya itu. Antibiotik dibutuhkan saat seseorang sakit disertai demam. Jika sakitnya tidak disertai demam, belum tentu mereka membutuhkan antibiotik.

    Agar tidak sembarangan dalam penggunaannya, sebaiknya masyarakat mengetahui jenis antibiotik. Di antaranya, tetracyclin yang digunakan untuk infeksi, sakit gigi, dan luka. Jenis chloramphenicol digunakan untuk penyakit tifus. Jenis griseofulfin digunakan untuk membunuh jamur serta combantrin untuk membunuh cacing.

    Ada juga narrow spectrum,yang berguna untuk membunuh jenis bakteri secara spesifik. Antibiotik yang tergolong narrow spectrum adalah ampicillin dan amoxycilin. Jenis kedua ialah broad spectrum untuk membunuh semua jenis bakteri di dalam tubuh. "Dianjurkan untuk menghindari mengonsumsi antibiotik jenis ini," jelasnya.

    Sebab, jenis antibiotik itu juga membunuh bakteri lainnya yang sangat berguna untuk tubuh. Antibiotik yang termasuk kategori itu adalah cephalosporin. Penyakit yang disebabkan virus tidak dapat diberikan antibiotik. Misalnya, sakit flu atau pilek. Sebab, antibiotik tidak dapat membunuh virus karena virus dapat mati sendiri, asal daya tahan tubuh penderita meningkat atau membaik. Meski begitu, dalam perkembangannya, saat ini ada antibiotik yang dikembangkan untuk membunuh virus.

    Menurut Bambang, penggunaan antibiotik tidak pada tempatnya dan berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Misalnya, mengakibatkan gangguan saluran pencernaan (diare, mual, muntah). "Efek samping ini sering terjadi," ujar alumnus FK Unair itu.

    Selain itu, penderita bisa mengalami reaksi alergi. Mulai yang ringan seperti ruam dan gatal hingga berat seperti pembengkakan bibir, kelopak mata, sampai gangguan napas. "Karena itu, apabila memiliki alergi, sebaiknya hati-hati dalam penggunaan penycillin. Sebab, bisa jadi dia juga alergi dengan antibiotik tersebut," ujar pria asal Wonogiri, Jawa Tengah, itu.

    Efek yang terjadi bisa ringan hingga berat. Pasien bisa mengalami anaphylatic shock atau shock karena penggunaan antibiotik tersebut. Lebih berbahaya lagi, obat itu juga bisa mengakibatkan kelainan hati. Seperti diketahui, antibiotik memiliki bahan dasar kimia. Selain berfungsi membunuh kuman, bahan kimia tersebut harus dinetralkan tubuh supaya aman. Caranya adalah dengan memecah bahan kimia itu.

    Nah, hati atau lever bertugas memecah bahan kimia tersebut. Namun, bila diforsir terus-menerus, hati bisa rusak.

    Pemakaian antibiotik yang berlebihan (irrational) juga dapat menimbulkan efek negatif yang lebih luas (long term). Irrational use, lanjut Bambang, dapat membunuh kuman yang sebenarnya baik dan berguna di dalam tubuh. Akibatnya, tempat yang semula ditempati bakteri baik akan diisi bakteri jahat.

    Kemudian, pemberian antibiotik yang berlebihan akan mengakibatkan bakteri-bakteri yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resisten terhadap antibiotik. Kejadian itu biasa disebut superbugs. "Jenis bakteri yang awalnya dapat diobati dengan mudah oleh antibiotik ringan, apabila antibiotiknya digunakan secara irrational, jadi memerlukan antibiotik yang lebih kuat," jelasnya.

    Karena itu, saran Bambang, masyarakat harus paham soal antibiotik. Selain itu, sebelum mengonsumsi, harus tahu aturannya. Baik waktu pemakaian maupun dosis. Dengan demikian, pemakaian bisa dilakukan secara tepat dan rasional.

    Menurut dia, hal itu harus mendapat perhatian dari kalangan medis. "Termasuk, upaya pemerintah dalam melakukan pengawasan di lapangan supaya antibiotik tidak beredar secara bebas," ujarnya.

    Pemakaian antibiotik yang tidak benar kerap dipicu dengan dijualnya obat tersebut secara bebas di pasar. "Inilah yang mesti dikendalikan pemerintah," tegasnya (JAWA POS 14 Feb 2007)

    dapet dari forum tetangga..
    source: http://els.fk.umy.ac.id/mod/forum/discuss.php?d=1648
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.




    Promotional Content
  3. Offline

    Hell_Raiser Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,021
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +13,883 / -0
    saya biasanya dikasih amoxycilin kalo lagi sakit demam, ato iritasi tenggorokan disuruh habiskan selama 3 hari (jadi dikasih 10 kapsul) tapi dah sembuh dalam 1 hari, sisanya gak aku minum biar sembuh sendiri :haha:
     
  4. Offline

    soulhunter Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 13, 2009
    Messages:
    1,895
    Trophy Points:
    162
    Ratings:
    +3,940 / -0
    ^
    ^

    bro, katanya siy amoxicylin(antibiotik lain juga) tu harus diabisin semuanya, walau kita dah sembuh tapi harus diabisin . . .
    klo resep dari dokter biasnya antibiotik itu harus diabisin . .
     
  5. Offline

    mawtaw Silent Reader Members

    Joined:
    Jun 20, 2009
    Messages:
    114
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +10 / -0
    kesimpulan, jgn sembarangan minum obat..
     
  6. Offline

    yayan2000 Silent Reader Members

    Joined:
    Aug 17, 2009
    Messages:
    31
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +2 / -0
    iya nanti kalo keterusan akibatanya kematian yaaaaaaaaaa
     
  7. Offline

    kzha Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 10, 2009
    Messages:
    1,865
    Trophy Points:
    227
    Ratings:
    +7,159 / -0
    lah,. mo gimana lagi.. bisa beli di apotik tanpa harus ada resep dokter.,

    kalo antibiotik lama udah ga mempan akibat resistensi kuman., terpaksa pake antibiotik keluaran terbaru,. lah namanya barang baru ya pasti mahal dong :haha:
     
  8. Offline

    agung242 Silent Reader Members

    Joined:
    May 29, 2009
    Messages:
    92
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +6 / -0
    kalo gw mah jarang sakit

    :haha: :haha:
     
  9. Offline

    Kite Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Aug 7, 2009
    Messages:
    589
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +516 / -0
    begini.....
    kalau anti biotik tidak dihabiskan sesuai dengan dosisnya
    ditakutkan tubuh (lebih tepat dikatakan penyakinya) akan menjadi kebal,
    nah kalau sudah kebal lama kelamaan dosis yang digunakan akan bertambah, nah kalau lebih parah lagi obat itu ngga bisa digunakan lagi.

    jadi, walaupun badan sudah enakan (misalnya setelah minum 2-3 obat) antibiotik harus tetap dikonsumsi sampai habis (menurut anjuran dokter). jangan sembarangan berhenti nanti akibatnya jadi fatal

    dan terlambat.........
     
  10. Offline

    esmond1989 Beginner Members

    Joined:
    Nov 30, 2008
    Messages:
    357
    Trophy Points:
    26
    Ratings:
    +179 / -0
    wah...... opininya prof kuntaman ada di sini to !!!
    wah... jadi takut salah berpendapat nih (ilmuq khan sebagian dari prof ini)

    mmmm... memang benar sih antibiotik itu tidak boleh diminum sembarangan.
    hal yang paling ditakutkan itu sebenarnya resistensi dari bakteri sih.

    maksudnya resistensi itu seperti ini :
    Bakteri yang seharusnya mati karena antibiotik A menjadi tidak mati karena bakteri ini tidak sensitif lagi terhadap antibiotik A

    mungkin ada sebagian yang bertanya ttg mekanisme resistensi dan seperti apa bahayanya :
    sebenarnya dengan adanya pemberian antibiotik, kita akan mengusik bakteri bakteri yang ada di tubuh. bakteri2 ini biasanya akan mengadakan adaptasi agar mereka dapat bertahan hidup. kalau kita sering memakai antibiotik yang sama, maka adaptasi terhadap antibiotik tersebut akan semakin sering dan akirnya beberapa bakteri dapat menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut. sayangnya gen kebal ini terdapat pada plasmid dari bakteri. Gen2 yang terletak di Plasmid ini sangatlah mudah ditransfer dari satu bakteri ke bakteri lain. Jika Gen kebal ada di plasmid , maka dapat kita duga jika gen2 ini akan menyebar ke bakteri2 lain yang berada di sekitar bakteri yang kebal. (kita bayangkan proses menyebar ini sangat cepat) hampir dapat dipastikan jika seluruh bakteri akan kebal terhadap antibiotik a , jika ditemukan beberapa bakteri yang kebal terhadap antibiotik a pada tubuh pasien. jika resistensi antibiotik a terjadi, itu bearti pasien tersebut tidak dapat diobati lagi dengan antibiotik a.
    ada beberapa kasus, hanya ada satu jenis antibiotik yang dapat menyembuhkan suatu penyakit. bila pasien ini ternyata resisten terhadap antibiotik tersebut, maka dapat dipastikan pasien tersebut tidak dapat sembuh sampai ditemukan antibiotik baru yang dapat membunuh bakteri tersebut. (tidak jarang jika antibiotik baru adalah antibiotik yang sangat mahal).

    itulah sebenarnya hal2 yang ditakutkan

    oh iya !! saya juga ada saran untuk indowebsterer semua :
    - ingat2lah selalu nama antibiotik yang anda makan
    - jangan minum antibiotik terlalu banyak dan jangan sering (kalau tidak perlu jangan makan)
    - kalau sakit kali ini minum antibiotik A, sakit berikutnya usahakan minumk antibiotik B , sakit berikutnya lagi antibiotik c dan berikutnya (kalau bisa usahakan jenisnya laen, jangan hanya namanya yang lain)
    (JANGAN LUPA KONSULTASIKAN ANtibiotiK2 yang pernah anda minum ke dokter sehingga dokter tahu antibiotik apa saja yang pernah anda minum ---- dengan demikian, dokter dapat mengusahakan yang terbaik untuk anda )


    itu saja pendapat saya
    terima kasih
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.