1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic Unbound

Discussion in 'Fiction' started by YKC, Jul 8, 2015.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. YKC Members

    Offline

    Joined:
    Jun 12, 2012
    Messages:
    5
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +1 / -0
    Misi agan" sekalian...
    Saya mau berbagi cerita fiksi saya nih... tolong minta pendapat dari agan" sekalian ya.. maklum masih newbie
    Unbound

    Introduction Chapter

    Mereka yang Ada di Sekitar Kita

    Aku menyusuri lagi jalan berdebu ini. Seingatku sudah tiga hari aku berjalan dari tempat tidurku yang seadanya, menyusuri jalan berdebu yang juga berlubang ini. Aku rasa jika lebih lama lagi aku melewati jalan ini, sandalku akan lenyap dilahap ganasnya jalan ini. Untungnya masih ada pepohonan rindang yang menghalangi tusukan-tusukan sinar matahari yang bisa membuatku tambah menderita. Yah.. apa boleh buat, semua ini aku yang memutuskan. Aku harus mencarinya sendiri. Aku harus melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku harus pastikan dia adalah orang yang sesuai dengan rencanaku. Kuharap informanku memberikan informasi yang tepat. Yang jelas, kalau sampai aku tidak bisa bertemu dengannya, maka orang pertama yang akan kuhapus dari daftar pegawaiku adalah dia.

    Sehabis aku berjuang memeras keringat melewati jalanan ekstrim tadi, akhirnya sampailah aku di tempat tujuanku. Pasar. Ya, pasar. Memang agak aneh bagi seorang yang memiliki informan pribadi untuk bersusah-susah berjalan ke pasar. Tapi kudengar dia akan menampakkan diri di sini. Aku berjalan melewati kios-kios kayu, melewati kerumunan orang yang sebenarnya terlalu ramah untukku. Alasannya sederhana, mereka masih mau menyapaku, orang asing yang sudah dua hari terakhir mondar-mandir di lingkungan mereka, bahkan beberapa menawariku minum dan makanan ringan. Aku tidak tahu apa motif mereka. Jelas mereka bukan orang jahat yang mau meracuniku dan menjual bagian-bagian tubuhku. Lagipula inilah yang sering orang-orang di tempat asalku bilang mengenai daerah Agraria. Orang-orang di daerah Agraria sangat akur dengan alam. Mereka bahkan menolak pemasangan beberapa teknologi mutakhir macam jaringan komputer demi mempertahankan kebersamaannya dengan alam. Mungkin… keharmonisan inilah yang membantu mempererat hubungan antar manusia di sini. Mereka benar-benar seperti malaikat tanpa sayap yang membantu tanpa pamrih, hidup rukun, merawat alam dan berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Bahkan kudengar pemilihan pemimpin dilakukan dengan cara musyawarah mufakat. Suatu hal yang aneh karena semua tempat, bahkan dalam organisasi paling sederhana pun sistem voting lazim digunakan.

    Aku berjalan dengan tempo yang lebih cepat. Aku tidak mau bertemu terlalu banyak orang dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk menemukan dia. Kususuri jalan setapak di sebelah kios buah sekitar 10 m dari pintu masuk. Di ujung jalan setapak itu, aku akan tiba di bagian mainan dan pakaian anak-anak. Kemungkinan besar dia akan muncul di sana. Sebenarnya hanya ada satu kios yang ada di sektor ini. Tapi memang kios ini sangat besar, seperti gabungan 20 kios kecil di dekat pintu masuk. Aku pun duduk bersila di halaman depan kios ini, tentunya aku tahu diri, tidak duduk tepat di depan tempat masuk kios, tapi di pinggir kios yang ditutupi oleh pohon ninastes. Ninastes adalah jenis tanaman yang bisa tumbuh di situasi apapun, walau iklim tropis akan memaksimakan pertumbuhannya. Daunnya besar-besar sehingga sangat pas untuk berteduh. Tingginya bisa mencapai 7-8 meter dan buahnya berwarna biru keputihan seperti anggur biru yang tertutupi oleh kapas.

    “Nak, kau datang lagi hari ini?” sebuah suara datang dari pintu masuk kios. Dia Ny. Hillary, pemilik kios tersebut. “Iya Bu, saya belum menemukannya..”,

    “Oh, orang yang bisa menginspirasimu itu?”

    “iya dan aku punya firasat dia akan datang hari ini…”

    “Lebih baik kau minum dulu..” katanya sambil menyodorkan sebotol air mineral. “Hmm.. hari ini saya sudah membawa perbekalan bu!” kataku sambil mengeluarkan termos dari tas selendangku yang kusam. “Ooo baguslah, Nak! Ibu pikir kamu mencari inspirasi terus sampai lupa akan kesehatanmu! Oh,ya bagaimana kalau kali lain kau sempatkan diri untuk mengganti sandalmu yang sudah hampir hancur itu…. Dan coba untuk mandi lebih sering, kau kotor sekali…

    “Tentu Bu, saya akan memikirkannya”

    “Baguslah!” Ny. Hillary pun berlalu. Sebenarnya aku senang diperlakukan dengan baik seperti ini. Walaupun, aku melakukan ini secara terpaksa. Memakai baju dan celana pendek yang lusuh dan robek-robek, tas selendang yang sepertinya bisa hancur jika tertusuk oleh jarum pentul dan sandal dengan bahan terburuk yang sewaktu-waktu dapat hancur jika tertusuk bebatuan tajam, tujuannya untuk memudahkan mencari dia, seorang unbound yang kuyakin tidak ada seorangpun yang menyadarinya. Lagipula,aku mau menunggunya sambil menikmati kopi hangat yang bisa kubuat memakai termosku ini. Walau tampak luarnya mirip dengan termos biasa, namun termos yang satu ini sangat canggih. Aku hanya perlu memasukkan bubuk kopi instan dan air. Kemudian dengan perintah suara, termos ini akan memanaskan juga memurnikan air dan mencampurkannya dengan bubuk kopi, dan akhirnya kopi panas yang nikmat akan tersaji di dalam. Luar biasa… teknologi memang keren. Aku merasa kasihan dengan para penduduk Agraria, mereka seperti alergi dengan segala hal yang berteknologi tinggi dan lebih memilih cara konvensional. Mereka mungkin tidak tahu ada barang sepraktis ini yang bisa dibeli dengan mudah. Akibat penolakan mereka akan teknologi, Capitol pun menganaktirikan daerah ini. Pembangunan sangat minim, bahkan hampir tidak ada. Transfer teknologi nyaris nol, kecuali teknologi yang berhubungan dengan keamanan Capitol. Aku tersenyum sendiri jika membandingkan Agraria dengan tempat tinggalku di Capitol. Terdapat perbedaan budaya yang begitu besar dan mencolok…

    “ Paman, paman datang dari mana?” Aku terbangun dari lamunanku, di depanku berdiri seoran g anak kecil berambut emas bermata biru safir. Kulitnya putih dan tampak sangat terawat, bajunya juga terbuat dari bahan yang cukup mahal… dia sepertinya anak orang terpandang di Agraria, jika kuperhatikan, mungkin anak ini baru berumur 6 atau 7 tahun.

    “Eh… hei nak, paman penduduk daerah sini kok.”, Anak itu menatapku curiga, ia meletakkan tangan kanannya di dagunya , “ Setelah kuamati, ternyata paman pembohong juga… kukira hanya orang gila.” “Apa maksudmu nak?” tanyaku dengan senyum yang dibuat-buat “Paman jelas bukan orang sini. Agraria tidak memiliki rumah sakit jiwa karena satu hal. Tidak ada orang yang mengalami gangguan jiwa..” “Hei… hei tadi itu aku sedang melamun…” “Yah sudah kuduga, tapi itu menguatkan dugaanku…Paman bukan orang sini, penduduk Agraria tidak mungkin melamun di bawah pohon… mereka lebih memilih menanam pohon di tanah gersang, atau… membantu mereka yang kekurangan.”

    Siapa anak ini? Berbeda dengan sifat yang ditunjukkan penduduk sekitar, dia memiliki kemampuan deduksi yang baik dan tingkat kenaifan yang rendah, berbeda dengan mindset orang tentang penduduk Agraria. Tambah lagi dia menghampiriku sendiri… Insting alami seorang manusia tentu menjauhi orang yang mereka pikir jahat. Orang jahat biasanya dikaitkan dengan tubuh kotor,bau juga baju dan celana sobek . Walaupun penduduk Agraria naif sekali, tapi anak kecil yang belum mengerti nilai-nilai dan norma kebiasaan lingkungannya tentu masih dikendalikan oleh rasa takutnya. Apakah dia… orang yang kucari selama ini?

    “Hei nak, siapa namamu?”

    “Dokoroko…. Gomez” Jawabnya tegas

    “Apa kamu bercanda?” Tanyaku tidak percaya. Nama belakang Gomez, masih bisa kupercaya, tapi… Dokoroko? Orang tua nyentrik macam apa yang mau menamakan anaknya Dokoroko? Mereka pikir anak mereka apa? Semacam maskot desa? Baik, akan kupastikan apa dia berbohong atau tidak…

    “Nak, siapa namamu? Tolong katakan sambil menatap mataku!” Strategi klasik mendeteksi kebohongan. Mereka bilang orang berbohong tidak dapat menatap lawan bicaranya dengan tegas atau malah melakukan kontak mata berlebih… akan kupastikan bahwa nama Dokoroko itu sebuah kebohongan…

    “Dokoroko Gomez” Kata anak itu sambil menatap mataku. Seketika aku terkejut. Tatapan matanya begitu yakin, tidak ada ketakutan sama sekali. Tatapannya juga begitu serius, tidak terdeteksi sebagai suatu candaan. Sepertinya aku harus percaya…

    “Baiklah, Dokoroko Gomez…” “Hahahaha” Anak itu menertawaiku. “Dokoroko? Orang dewasa mana yang menamai anaknya seperti itu? Paman memang butuh perawatan secepatnya…” “Tunggu dulu, kenapa kau bisa yakin begitu menjawabku? Dan kenapa kau berbohong tentang namamu?”

    “He? Yang aku baca di majalah jika ada oang asing yang bertingkah aneh, dia kemungkinan besar orang gila atau penculik. Untuk apa aku memberitahu namaku? Sementara soal keyakinanku saat menjawabmu…. Kurasa karena kau memintanya, kan?”

    “Kau anak kecil yang sangat unik” Mungkinkah dia orang yang kucari? Tidak terikat akan rasa takut, salah satu ciri utama yang membedakan unbound dengan orang biasa, anak ini telah menunjukkannya, selain itu kelakuannya juga tidak terpengaruh dengan masyarakat sekitar… Ya kemungkinan besar dia orang yang kucari. “ Hei nak, mau dengar cerita? Sebagai balasannya tolong beritahu namamu setelah cerita ini berakhir..”

    “Baiklah paman. Aku kasihan padamu yang sepertinya tidak memiliki teman. Lagipula tidak ada yang cukup seru di sini. Aku hanya bosan kalau tiap hari main di lapangan” Kemudian ia mengambil sesuatu dari kantongnya, permen apel yang dilumuri coklat. Seketika air liurku mengalir. “Paman tidak mau ini kan? Sepertinya paman mulai menjiwai penampilan paman” Dasar anak kurang ajar, gumamku.

    “Baiklah, lebih baik kumulai ceritanya. Apa kau tahu bagaimana negara kita, Veresade memperluas daerahnya?”

    “Perang. Kata ayahku seusai perang besar antar umat manusia, banyak pulau-pulau dan daerah yang tidak lagi memiliki otoritas, jadi daerah itu bebas untuk diperebutkan.”

    “Ya kau benar, itulah alasan kenapa negara kita dapat memperluas dirinya, kenapa banyak sekali penduduk yang diproyeksikan menjadi tentara dan kenapa negara kita tetap sejahtera dan kondusif. Ehm… kau mengerti kosakataku kan?

    “Aku mengerti… aku sering membaca kamus jika aku sedang benar-benar bosan, bisa paman lanjutkan saja ceritanya?”

    “Oke… oke dan kau tahu kalau negara kita sekarang salah satu yang terkuat dalam bidang militer, tapi apakah kau tahu kenapa kita bisa sekuat ini? Bukan karena kuantitas pasukan, strategi perang atau teknologi mutakhir. Tapi…”

    “Karena keberuntungan berada di pihak kita?” Tanyanya dengan nada penasaran

    “Bukan juga… Sebenarnya Veresade tidak pernah berniat memperluas daerahnya. Dulu Veresade hanya mencakup Capitol, Agraria dan Acutrad. Pada saat itu Townsfree sudah bersama Veresade, namun hanya sebatas aliansi di bidang ekonomi dan keamanan. Namun semua berubah ketika Townsfree mulai diinvasi dan direbut. Dalam perang itu Veresade kalah telak, kalah dalam kuantitas dan kecanggihan senjata. Para tentara banyak yang memilih mundur daripada bunuh diri di medan tempur. Setelah Townsfree, para penjajah ingin menguasai Veresade. Ini tentu tidak boleh terjadi.. karena itu raja memilkirkan cara paling ampuh. Ia menanyai jenderalnya…. Dalam suatu percakapan, para jenderal bermimpi kalau mereka bisa mendapat suatu pasukan yang tidak kenal takut, kemampuan berpikir superior dan fisik di atas rata-rata manusia, mungkin invasi bisa diredakan.”

    “Hmm… jelas itu tidak mungkin kan? Itu seperti membuat ras manusia super” Katanya sambil menjilati permennya. “Tentu itu mustahil. Tapi sang raja selalu mengingat hal ini. Dia pun memerintahkan ilmuwan di seluruh negeri untuk meningkatkan kemampuan para prajurit. Para ilmuwan mencoba segala cara: pembuatan serum peningkat kekuatan, hipnoterapi untuk memperbaiki mental prajurit dan yang terakhir adalah rekayasa genetik prajurit. Pada awalnya semua usaha sia-sia. Namun, suatu hari metode rekayasa genetik berhasil, walaupun bukan kepada prajurit. Ilmuwan Capitol sukses mengubah karakteristik manusia dari klan Ellsient, klan tua yang bahkan lebih kuno dibanding Agraria. Mereka percaya akan kekuatan alam yang tak terhingga dan masih hidup seperti suku pedalaman. Dari keberhasilan itu, dibuatlah sekelompok pasukan tentara super…. Mereka dinamakan Unbound, artinya tidak terikat, tidak terbatas. Mereka tidak terikat oleh rasa takut, malu, bahkan cinta. Mereka bisa berpikir jauh lebih kompleks dan objektif dibanding manusia biasa. Fisik mereka mungkin sama seperti kita, tapi ketahanan dan koordinasi tubuh mereka lebih superior dibanding orang biasa…”

    “Lalu… mereka menghabisi para penjajah?” “Ya…. Satu orang Unbound bisa menghabisi 20 orang pasukan musuh, jika dicover pasukan pelindung, 1 orang unbound bisa mengalahkan 50 musuh”

    “Tentunya para penjajah kaget. Walau jumlah unbound sedikit, kerusakan yang ditimbulkan sangat besar. Mental musuh seketika jatuh, dan para penjajah mengurungkan niatnya untuk merebut Veresade. Seiring perjalanan waktu, Veresade dapat merebut kembali Townsfree, yang berujung terhadap bergabungnya Townsfree dalam kekuasaan Veresade. Kemudian, giliran kita yang menjadi pemangsa.Hasilnya, didapat daerah yang sekarang bernama Rosetta dan Chernos. Namun seperti dua sisi koin, keberadaan unbound menimbulkan efek negatif. Kecemburuan status antar tentara makin memanas. Para prajurit biasa menganggap dirinya tidak lebih jadi tameng hidup bagi unbound. Para penduduk Veresade hanya memuja Unbound dan tidak lagi menghargai tentara biasa. Puncaknya adalah ketika raja mewacanakan pembentukan pasukan yang seutuhnya terdiri dari Unbound. Wacana ini menimbulkan kegelisahan, karena para tentara hanya memiliki dua pilihan: mundur dari kemiliteran, atau merelakan dirinya untuk menjadi ras yang mereka benci. Banyak yang menolak untuk diubah dan berakhir menjadi pengangguran, tapi masih ada juga yang menyerah dan diubah menjadi unbound. Sayangnya, ada satu kesalahan besar yang dibuat raja dalam rencana agungnya itu. Tidak semua orang bisa beradaptasi dan menjadi Unbound, kebanyakan justru mati sia-sia di tengah proses tersebut. Banyak yang menentang pasukan Unbound, unjuk rasa di mana-mana, kekacauan terjadi, rakyat menuntut militer untuk kembali diisi oleh manusia biasa, unbound boleh dipertahankan tapi mereka ditempatkan terpisah dari tentara biasa.”

    “Raja yang kepalang termakan oleh ambisinya, menolak usulan itu. Akibatnya muncul kelompok anti pemerintah yang bertujuan menggulingkan pemerintahan. Raja marah besar dan memerintahkan unbound menghabisi kelompok tersebut. Unbound tentunya dengan mudah menghabisi mereka. Namum kebencian terhadap pemeritahan makin kentara, kelompok anti pemerintah justru tumbuh dimana-mana. Parahnya lagi, mereka mengasosiasikan Unbound sebagai simbol kekuasaan pemerintah. Jika unbound dimusnahkan, pemerintah akan tamat, itu pikir mereka.”

    “Paman, permen apelku sudah habis nih, ibuku juga pasti akan khawatir padaku, bisa dipercepat ke endingnya?” tanya anak itu sambil menjilati tusuk permennya. “Ya, ya akan kupersingkat” kataku agak kesal.“Singkatnya kelompok anti pemerintah bisa memusnahkan unbound berkat bantuan senjata para penjajah.” “Ending macam apa itu? Padahal aku berharap ada perang seru yang paman bisa ceritakan” katanya dengan mimik wajah tak bersalah. “Itu yang kau mau kan? Kenapa protes lagi?” Aku kesal, kenapa harus menceritakan legenda terlarang ini padanya.

    “Jadi semua unbound sudah musnah? Satu pun tidak tersisa?” tanyanya. Anak ini teliti juga, gumamku. “Menurut klaim kelompok anti-pemerintah pesawat yang membawa Unbound hancur berkeping-keping, kau pikir ada yang selamat?” “Tidak ada.”jawabnya singkat. “Ya sudah, kau juga tahu jawabannya. Lagipula memang pesawat pengangkut ditemukan telah hancur berkeping-keping.”

    “Aku belum selesai paman, maksudku tidak ada yang selamat dalam pesawat, tapi bagaimana jika ada yang terjun dengan parasut, atau tidak ikut dalam pesawat tersebut? Tidakkah kerajaan melakukan cek ulang?” Aku tersenyum mendengarnya, “ Yah… jikapun ada, kau pikir mereka masih ada di masa ini? Percobaan unbound telah dihentikan setelah tragedi itu. Nah sekarang sebutkan namamu!” Kuakhiri cerita dengan yakin, kutunjuk dia sambil menunggu jawabannya. “Apa paman tahu kelangsungan hidup para Unbound? Jika ya, aku mungkin akan memberitahu namaku.” “Kenapa kau tidak yakin? Sudah kubilang kan, tidak mungkin ada yang masih hidup sampai sekarang.” “Aku rasa ada sedikit keganjilan dalam cerita paman. Walau Unbound musnah, aneh rasanya jika raja langsung sadar dan berhenti bereksperimen. Jika alasannya karena kudeta, itu mustahil. Raja sangat terobsesi dengan penaklukan dan perluasan daerah, jadi kemungkinan besar pemotongan kuota pasukan adalah untuk meningkatkan kualitas tentara yaitu unbound dan tentunya kekuatan persenjataan. Kurasa jika ada kudeta, pasukan kerajaan bisa mengulur waktu sampai terbentuk pasukan unbound baru.” Aku tersenyum puas, dia mulai menunjukkan sifatnya sebagai seorang ras yang superior, “Kau pintar, tidak mudah tertipu. Ya benar, ada yang lolos dari tragedi itu, namun mereka jugalah penyebab penghentian proyek unbound. Perang saudara agung, yang memakan korban lebih dari 200 ribu jiwa, adalah penyebabnya. Perang besar antara unbound melawan manusia biasa hampir 500 tahun lalu. Kau puas sekarang?” Kumasukkan termos ke tas selendangku. Aku sangat gembira bisa menemukannya. “Sekarang sebutkan namamu!”

    “Oke… namaku Marcell… Marcell Miller” Aku tersenyum puas. Sudah kuduga masih ada yang tersisa. Sebentar lagi akan kutunjukkan sekuat apa unbound. Akan kuakhiri kerakusan dan kecemburuan para manusia rendahan itu. Dua klan unbound yang dihancurkan sebagai pelampiasan amarah kalian akan balik memusnahkan kalian. Saatnya kami menjadi pemangsa utama dan berperan sebagai penentu nasib kalian. “Hei nak, ehm… Marcell, paman punya satu rahasia lagi lho… tentang nasib para unbound…”

    “Oh, ya? Apa itu paman?” tanyanya penasaran “Unbound adalah sebuah kutukan dan juga berkat. Mutasi genetik yang dibuat bersifat permanen dan juga bisa diwariskan kepada keturunannya. Jadi.. mungkin saja mereka ada di sekitar kita. Bisa paman, bisa juga kamu, tidak ada yang tahu. “Wow… jadi aku bisa jadi manusia super paman? Keren!!!” Marcell berteriak antusias. “Dah paman… ceritanya seru loh! Tapi jangan datang lagi ya! Aku kasihan dengan paman, seperti gelandangan begitu. Lebih baik paman kembali ke tempat paman berasal!” Marcell pun berlalu, menyusuri jalan setapak dan sepertinya akan meninggalkan pasar. Aku pun berdiri, membersihkan celanaku dari debu. Kuangkat kepalaku dan kutatap langit. Matahari mulai terbenam. Benar-benar hari yang tak akan kulupakan. Anggaplah terbenamnya matahari bagai berakhirnya era manusia biasa dan esok hari adalah awal kejayaan dari penguasa baru umat manusia: para UNBOUND.
     
    • Like Like x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan

  3. Fairyfly MODERATOR

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,822
    Trophy Points:
    257
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,467 / -133
    hai :hi: boleh komentar :bloon:

    paduan kalimat yang agan buat udah cukup bagus. imo, yang bikin saya rada eneg bacanya adalah banyaknya kata "aku" yang bikin fic ini kerasa monoton...secara pemilihan kata. sedikit tips, cobalah campur antara kalimat pasif sama kalimat aktif. awalnya susah sih, tapi kalo udah kebiasa malah enak loh baca hasilnya.

    buat penggambaran suasananya sendiri udah cukup bagus. jalinan antar cerita tersusun runtut dan rapi. aku gak bisa nilai plot cerita karena baru pembuka...mungkin? terlihat kek pembuka tapi bukan juga :bloon:

    selamat datang di Fiction :lalala:

    kelon siapa ini, ngaku :piso:
     
  4. merpati98 M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,486
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,524 / -1
    ...ntah kenapa aku punya feeling kalau aku ga bakalan bisa nganggep tokoh utama cerita ini sebagai protagonis. Kayak Light Yagami, I don't have any sympathy for him.

    Secara penulisan... di bagian awal, kesannya kayak kamu nulis kalimatnya dengan berpegang teguh pada pola dasar SPOK. Subjek harus di awal, predikat setelahnya dan baru keterangan-keterangan lainnya. Dan ini yang aku kira bikin lalat-san bilang... rada monoton. Yang aku cukup setuju, terutama di bagian kalimat yang sebetulnya nggak perlu pake subjek... contohnya pas ada "kuharap blablabla..." ini sebenarnya bisa aja jadi... "Semoga saja blablabla..." jadi nggak usah selalu pake pola kalimat dasar yang lengkap.

    Trus... kalau bisa pergantian dialog itu dipisah paragrafnya. Biar nggak keliatan wall of text dan biar jelas juga siapa yang lagi ngomong. Kalau didempetin begitu kadang pembaca bisa nggak nyadar ada tanda kutip, selain ritmenya juga jadi nggak enak.

    Secara plot... aku rada nggak paham sama bagian... unbound itu asalnya dari klan tertua (I forgot the name) yang diubah sama ilmuwan kan? Tapi kok di bagian selanjutnya ada.. mereka (tentara) ada tidak mau diubah menjadi unbound? Kesannya semua tentara, semua orang bisa aja diubah jadi unbound. Tapi kalau gitu kenapa di awal dibilang ilmuwan baru berhasil ketika mereka mengubah dari klan itu? Dan nggak mungkin kan tentara satu negara semuanya dari satu klan itu doang? Padahal ada suku lain di sana.
     
  5. gwenliethe Members

    Offline

    Joined:
    Jul 2, 2015
    Messages:
    9
    Trophy Points:
    26
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +10 / -0
    Numpang komen ya ^^

    Ceritanya lumayan bagus sih, sudah cukup runtut kalau menurutku, cuma aku nggak nemu perannya si karakter utama (mungkin bukan tempatnya saya komen begini, tapi beneran ini yang saya pikirkan). Awalnya aku pikir tokoh utamanya tuh si raja dan 'aku' ini cuma pencerita, tapi di kalimat terakhir dia menunjukkan ambisi. Apa karena ceritanya baru kebuka dikit banget, juga nggak tahu.

    Ide awalnya sih oke untuk membuat ras Unbound ini, tapi sekilas dengan pernyataan 'Tidak semua orang bisa beradaptasi dan menjadi Unbound, kebanyakan justru mati sia-sia di tengah proses tersebut.' malah mengingatkan saya pada ceritanya Hakuouki - Demon of Fleeting Blossom - tentang Fury Corps. Manusia yang diubah melalui sebuah proses menjadi monster, mendapatkan kekuatan lebih dan luka-luka yang dimiliki dapat sembuh dengan cepat.

    Cerita ini bener-bener bergantung berikutnya mau bagaimana. Kalau berikutnya bagus maka cerita ini bisa jadi epic banget.
     
  6. YKC Members

    Offline

    Joined:
    Jun 12, 2012
    Messages:
    5
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +1 / -0
    Terima kasih untuk opininy hehe :D
    Iya gan, emang dalam cerita ini, si "aku" memang bukan protagonis, dan cerita yang sekarang memang bukan chapter 1 dari cerita besarnya sih... lebih mirip side story.. makanya sudut pandang aku bukan main char protagonist di sini.
    Soal plot... mungkin saya agak kecepetan nulis yang disana... jadi tujuan utama raja pertama" itu ngebuat unbound buat menangin perang, unbound yang dibutuhkan secukupnya aja,dan yang pertama kali berhasil diubah dari klan Ellsient.Trus dari situ dilakuin lagi percobaan sampai terbentuk sepasukan unbound. Tapi semua unbound itu sama" berasal dari rekayasa genetik, jadi selain klan Ellsient, klan" lain juga ada yang berhasil diubah jadi unbound. Waktu Veresade mau ngejajah, tentunya butuh lebih banyak unbound lagi.. makanya dilakukan percobaan lagi, bisa ga ngubah semua tentara jadi Unbound,sialny baru ketauan kalau ternyata lebih banyak gagal dibanding berhasil...
     
  7. YKC Members

    Offline

    Joined:
    Jun 12, 2012
    Messages:
    5
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +1 / -0
    Makasih opininya :D mau nanya nih, eneg sama kata "aku" itu pas di monolognya atau dialog ya? Trus minta saran dong "aku" diganti sama kata apa...
     
  8. YKC Members

    Offline

    Joined:
    Jun 12, 2012
    Messages:
    5
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +1 / -0
    Btw ini ada lanjutan cerita yang di atas hehe
    Singkat sih, tapi di sini dikasih tau kalo cerita sebenernya emang belom bener" dimulai...
    Bonus

    Who I Am

    “Minggir- minggir, kami datang mencari seseorang, jika kalian menghalangi, kontak fisik tidak dapat terhindarkan!” Terdengar suara keras dari ujung jalan setapak itu, berlanjut dengan teriakan minta tolong dari para pedagang di dalam pasar. Apa yang mereka lakukan, mengganggu pedagang yang mau pulang saja, pikirku. Kulihat Nyonya Hillary bergegas keluar, panik dan tampak sangat tidak nyaman. “Nak, apa kau baik-baik saja? Kalau kau takut, silakan sembunyi dalam kiosku!”

    “Tidak, aku tidak takut. Ibu mau menenangkan mereka? Apa yang mau anda lakukan?”

    “Aku tidak tahu Nak, aku sendiri takut, kuharap tidak ada pertumpahan darah di sini. Akan kucari kemauan mereka, jika itu uang, atau hasil ladang, akan kuberikan. Yang jelas tidak boleh lagi ada ketakutan di Agraria.”

    Mereka panik, ya tentu saja. Agraria sudah menjadi budak Capitol dalam jangka waktu yang mungkin hanya Sang Pencipta yang tahu. Yang jelas tidak ada satu pun penduduk di sini yang mau mengingat hasil ketidakpatuhan mereka pada Capitol. Pembantaian, pembakaran aset dan segala macam penyiksaan terburuk yang tidak seorangpun berani membayangkannya. Aku muak dengan perlakuan para penguasa Capitol. Mereka bilang mereka memerintah berdasarkan sistem monarki? Omong kosong! Capitol hanyalah tiran yang mampu mengontrol daerahnya karena kekuatan militer mereka. Karena itu, tidaklah salah jika aku menginginkan sebuah revolusi. Sudah saatnya Veresade diperintah oleh ras yang lebih waras dan juga superior dibanding mereka. “Nyonya Hillary, kenapa anda tidak kembali ke kios anda? Kurasa mereka mencariku…”

    “Apa? Nak… kau harus hati-hati. Dan berjanjilah untuk kembali dengan selamat. Ibu akan mentraktirmu pai Ninastes” Aku tertawa. Penduduk Agraria benar-benar berbudi baik. Nyonya Hillary bahkan tidak curiga sedikitpun padaku. Maksudku, bisa saja aku ini seorang buronan kelas kakap yang sedang bersembunyi. “Kurasa aku akan kembali, tapi tidak dalam jangka waktu singkat”aku berlari kencang, menyusuri jalan setapak. Kulihat keadaan dalam pasar, sudah kacau. Barang-barang berserakan, dan beberapa kios rusak.

    Kulihat seorang pria berjas hitam menarik kerah seorang kakek tua, “Di mana dia? Apa kau tidak mengenalnya? Sudah sekitar tiga hari dia menghilang!” tanyanya kesal. Kulihat kakek itu menangis, meminta pengampunan. Dia adalah orang yang tidak bersalah, tidak berhak mendapat perlakuan seperti itu. Manusia biasa, apakah karena fisikmu lebih kekar dan usiamu masih muda, bisa mengancam orang tua seperti itu? “Aku… aku tidak tahu….. kurasa semua orang yang datang ke sini adalah orang baik..” jawab sang kakek pasrah. “Sayang sekali, itu bukan jawaban yang kuminta!” si pria berjas siap untuk mendaratkan kepalannya pada sang kakek….

    “Tunggu! Lepaskan dia!” teriakku keras. Seketika suasana pasar hening. Semua orang mengarahkan matanya padaku.Mereka pastinya heran melihat gelandangan heroik sepertiku. Si pria berjas memperhatikanku dengan seksama. Dia mendatangiku, dan memberi hormat padaku, “ Ah… maaf tuan, saya disuruh Tuan Stan untuk membawa anda kembali.”

    “Hanya membawa saja kan? Tidak perlu ada kekerasan dan penghancuran.”

    “Maaf Tuan, saya diberi deadline sampai hari ini, jika tidak saya bisa dipecat” Alasan klasik itu lagi.Deadline? Lebih tepatnya ketakutan. Manusia akan menghalalkan segala cara ketika mereka terjepit. Mengapa? Karena mereka takut masalah itu mengancam kelangsungan hidup mereka.

    “Besok… kuperintahkan kalian untuk kembali ke sini, akan kuganti semua kerugian dan kalian akan membantu membuat lagi kios baru untuk mereka!” Aku berjalan dengan jengkel, menuju helikopter hitam yang menunggu di luar pasar. Si pria berjas masuk ke ruang kemudi, sementara penjaga lain masuk ke mobil mereka masing-masing. Aku bersiap pulang ke Capitol. “Hmm… maaf Tuan Samuel.. bagaimana rencana anda?” “Untungnya dia sudah kutemukan, kalau tidak akan kupecat kau, pengkhianat!”

    “Maaf tuan, jika tidak dituruti, bisa-bisa saya dipecat sebelum tuan menjadi kepala keluarga.” “Ya… ya, kau juga harus merahasiakan ini. Rencana ini hanya kita yang tahu. Kau bisa mendapat jabatan lebih tinggi setelah aku ditunjuk ayah mertua menjadi penerus keluarga….”

    Helikopter perlahan mengudara, kembali menuju Capitol. Kuharap tidak lama lagi bisa kuubah keadaan mengerikan ini dan membiarkan Veresade dipimpin oleh para unbound. “Jadi… tuan, sekarang fase ketiga rencanamu sudah dijalankan, saya penasaran akan fase keempat dan fase final rencana anda.” “Biar kuberitahu, fase keempat sangatah sederhana. menunggu.”

    “Menunggu… berapa lama?” “Kuharap umurmu cukup panjang karena kau harus menunggu mungkin… 15 tahun lagi, saat di mana semuanya sudah matang.” Yah, lima belas tahun ke depan, kita akan bertemu lagi Marcell Miller. Kau akan menjadi rival utama dari orang pilihanku. Apakah kau akan menjadi kawan atau lawan, biar nasib yang menentukan. Yang pasti, Unbound akan tetap menguasai Veresade dan berhasil membalaskan dendamnya.
     
  9. Fairyfly MODERATOR

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,822
    Trophy Points:
    257
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,467 / -133
    ah ternyata emang masih pembuka ya :nikmat:

    sudah ada panduan yang lumayan klop antar kalimat, tapi yang paling saya seneng disini adalah permainan kamu olah deskripsi hingga kerasa hidup baanget. well, not to say there is some infodump as well, tapi emang penggambaran suasana dalam karya ini berasa hidup.

    sisanya masih berupa EYD yang perlu lebih diperhatikan, dan pemenggalan kalimat antar paragrafnya kayaknya bisa dibikin lebih variatif. well, I'm not the one to say as I always write in LN style, tapi yaa, emang bisa dibikin lebih hidup keknya :hmm:

    okelah itu aaja, kalo ada lanjutannya lagi aku pengen baca :lalala:
     
  10. YKC Members

    Offline

    Joined:
    Jun 12, 2012
    Messages:
    5
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +1 / -0
    Oke ini ceritanya, mungkin alurnya lambat banget, ceritany MC nya udah 22 tahun... chapter lain sedang on progress
    Chapter 1

    Dunia(medan perang)

    Jam malam. Waktu yang ditentukan secara sepihak oleh penguasa, saat seseorang harus menghentikan segala aktivitas sosialnya dan mulai beristirahat. Sesungguhnya aku tidaj menyukai konsep ini. Setiap orang diciptakan berbeda, tentu dengan waktu produktif berbeda juga.Menerapkan jam malam sama saja dengan merenggut kebebasan berkreasi manusia. Aku mendongakkan kepala melihat langit langit kamar, lalu menoleh ke dinding sebelah kiri. Jam digital menunjukkan pukul 11.50, berarti sudah hampir 2 jam kucoba tidur dan gagal. Tanggal berapa sekarang? 20 Agustus. Tahun? Ah,X865. Sangat sulit rasanya untuk sekedar mengingat tanggal dan tahun, karena sejujurnya hal itu tidak penting dalam duniaku. Waktu dapat melambat dan berlalu dalam sekejap. Semua detail kecil ini tidak berguna dalam medan perang, ya medan perang sesungguhnya yang telah kuhadapi selama... ah 3 tahun terakhir ini.

    Untuk apakah perang? Bukannya lebih baik damai? Perang hanya merugikan kedua belah pihak?Perang sebenarnya mirip dengan judi. Dalam judi,setiap orang mempertaruhkan apa yang mereka punya, demi mendapat lebih. Mengapa mereka mau berjudi? Bukankah mereka bisa kehilangan hidupnya? Keserakahan dan keberanian membuat manusia mampu mengabaikan resiko yang sebenarnya begitu besar. Karena itulah manusia berani berjudi, dalam skala kecil memakai uang sebagai taruhan, atau dalam skala besar yang mempertaruhkan otoritas dan kekayaan alam yang mereka miliki. Kebodohan manusia inilah yang membuat peradaban manusia yang telah mencapai perdamaian, mundur lagi ke zaman gelap, saat yang kuat berani menginvasi yang lemah dan merebut seluruh kepunyaan mereka. Masalah kemudian terjadi karena banyak fraksi kuat yang begitu serakah, menginginkan seluruh dunia dalam genggaman mereka. Akibatnya adalah peristiwa yang menjadi topik paling panas dalam buku sejarah tiap sekolah, yaitu perang besar terakhir (last great war). Kerusakan yang terjadi begitu fatal sampai membuat bumi masuk dalam fasa tidak layak huni. Semua negara, badan internasional, aliansi lenyap tak bersisa. Populasi manusia yang selamat dari perang dahsyat itu hanya 3% dari populasi manusia sebelum perang terjadi. Semua peradaban disetel ulang ke titik awal. Bahkan waktu pun ikut dimulai dari titik nol(X000). Efek utama perang adalah hilangnya kepercayaan antar manusia. Semua orang memulai kembali kehidupan secara individualis, hanya membentuk kelompok dengan keluarga. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka lakukan sendiri. Sayangnya, upaya ini tidak berjalan mulus. Hampir tidak ada tanaman dan hewan yang tersisa. Krisis pangan akut mengemuka. Hanya sebagian kecil populasi yang memiliki akses ke bank benih dapat bertahan hidup. Sisanya? Banyak yang menemui ajal atau menjadi budak bagi orang yang memiliki makanan. Dunia telah terbagi menjadi fraksi-fraksi kecil yang saling tidak memedulikan satu sama lain. Sayangnya, dalam fraksi-fraksi kecil inipun, keserakahan masih merasuki manusia. Perang tetap berlangsung. Tiap fraksi, yang mendeklarasikan diri mereka sebagai sebuah negara, kerajaan, aliansi atau apa pun itu, harus siap berperang unyuk mempertahankan apa yang mereka miliki. Dunia adalah medan perang. Perdamaian adalah ilusi semata

    Tak terasa khayalan tingkat tinggi ini sudah memakan waktu... 10 menit? Heh? Yang benar saja! Aku harus mencari cara untuk tidur. Hmm.. sekarang sudah tengah malam, apa sebaiknya aku mendinginkan kepala dengan berjalan- jalan sebentar? Baiklah, lagipula tidak mungkin ada tentara yang masih berkeliaran di luar.Setiap tentara dibentuk untuk menaati aturan. Peraturan telah terpatri dalam hati para prajurit. Ya, ya omong kosong yang sering kudengar saat pelatihan dulu. Sayang sekali tentara yang satu ini bukanlah tipe taat aturan. Aku bangkit dari tempat tidur. Memindai sidik jari di pintu kamar dan dengan segera pintu terbuka. Aku keluar dari ruangan 2X2 meter itu dan berjalan menyusuri lorong.. Tidak ada satu pun pintu kamar yang terbuka. Suasananya sangat sepi. Di ujung lorong ada jendela besar. Sayangnya, hanya warna biru gelap yang terlihat. Maklumlah, ketinggian yang dicapai pesawat ini membuat satu satunya pemandangan yang bisa dilihat hanyalah awan. Tidak ada yang lain,bahkan pesawat lain sekalipun, setelah Capitol mengeluarkan dekrit pelarangan penggunaan transportasi udara selain untuk kepentingan Capitol. Lamunanku buyar ketika suara langkah kaki terdengar. Dua orang.. ya ini suara langkah kaki dua orang dan berasal dari ujung lorong. Apa mereka penjaga? Celaka! Bisa- bisa aku tertangkap basah dan mendapat sanksi! Tolong jangan sampai ada pemotongan bayaran! Tunggu dulu Marcell Miller, kau adalah salah satu tentara elit di divisi tiga, gunakanlah karismamu dan alasan- alasan masuk akal untuk mengelabui para penjaga, misalnya.. bilang saja kau sedang dalam misi rahasia... ya alasan jenius.

    Suara langkah kaki mereka makin keras. Lamunan tadi membuatku tidak sempat bersembunyi. Sial, kenapa otak ini selalu mengacau di saat genting. Bayangan kedua orang tersebut mulai nampak. Dan akhirnya mereka berbelok dan bertatap muka denganku. Terkejut, hanya sapaan konyol yang keluar dari mulutku

    “Yo! Kalian masih bangun? Cuacanya cerah ya? Hahaha!” bodoh sekali. Aku malah menarik perhatian mereka. Namun kedua orang itu hanya berjalan lurus mengabaikanku. Salah satu dari mereka berbalik dan merespon

    “ Oi tentara amatir! Jangan berkeliaran saat jam malam! Kau mau dilaporkan ya?” Dia menatap dengan tatapan tajam. Badannya kekar dan besar, kulitnya sawo matang. Dia sangat tinggi, mungkin tingginya hampir 2 meter. Tangannya meremas pundakku. Rambut hitam keritingnya membuat soosoknya makin menakutkan. Dia jelas sedang mengintimidasiku. Tentara biasa mungkin akan lari ketakutan, tapi aku sama sekali tidak takut.

    “Hei hei jangan begitu pada junior! Ini mungkin perang pertamanya hahaha ya cuaca yang bagus, benar kan?” kata yang seorang lagi. Orang ini bagai kebalikan si tentara besar tadi. Kulitnya putih, rambutnya merah terang dan disisir rapi ke pinggir. Matanya besar berwarna coklat dan senyumnya begitu ramah. Perawakanya hampir sama denganku.

    “ Cih! Kau ini lembek sekali dengan junior!” dia melepaskan tangannya dan mulai berjalan lagi

    “ Yah.. mau bagaimana lagi? Lagipula ada hal yang lebih penting kan?” kata si ramah

    “ Hei.. hal penting apa ya?” bagus sekali otak, kau mengacau lagi. “Bukan urusanmu amatir!” si kekar menatapku dengan kesal. “Ya ya junior! Ini bukan urusanmu! Serahkan hal ini pada kami ya, senior yang lebih berpengalaman!” si ramah ikut menimpali, sambil melambaikan tangannya.

    “ Ho.. begitukah? Kalau begitu bisakah saya, junior anda melaporkan kalian karena melanggar jam malam? Mungkin ada promosi yang bisa saya dapat” hasutan ini membuat raut wajah si rambut merah berubah. “jangan macam-macam ya! Sudah kami bilang ini bukan urusanmu! Kami sedang menjalani misi rahasia!” lucu sekali. Mereka memakai alasan tak logis yang coba kupakai tadi? “Ehm, apakah kalian tidak bisa tidur juga dan mulai berkeliaran?” tanyaku agak ragu.

    “Hahaha ya ya kami memang tidak bisa tidur. Kami sedang menuju kamar kami, jadi selamat malam ya, junior!” si ramah menarik lengan rekannya dan mempercepat jalan mereka. Ah rupanya ada juga orang- orang di divisi 1 yang berani melanggar aturan sepertiku. Ini berbeda dengan cerita orang orang yang mengatakan kalau divisi 1 itu isinya hanya orang-orang bengis yang haus darah.

    Teet...Teet...Teet ada suara aneh datang dari kedua orang tadi. Mereka berhenti,memalingkan wajah dan sadar kalau aku mendengarnya. Suaranya makin keras. Si ramah membisikkan sesuatu kepada rekannya. Si pria besar berbalik dan tiba tiba berlari ke arahku! Dia mencoba menangkapku tapi kuhindari dengan mudah. Dia coba memukul, tapi semua gerakannya terlalu mudah untuk ditebak. Anehnya suara tadi sudah tidak terdengar.

    “Zoff... Zoff... kenapa kau lama sekali?” suara siapa itu? Bukankah tidak ada orang lain selain kami bertiga? Mendengar omongan tadi, si kekar makin agresif menyerangku. Sayang, gerakannya malah makin mudah ditebak. Jab kiri, low kick, ya ampun dia payah sekali dalam bertarung. Aku menghindari semua serangannya dan siap menyerang balik...

    “Hei berhenti! Kita sudah ketahuan! Teriak si ramah. Ia kemudian memencet emblem yang berada di bajunya. Emblem itu langsung memproyeksikan wajah seorang pria muda berambut hitam, yang tidak asing bagiku. Rupanya mereka memang sedang menjalani sebuah misi rahasia. “Zoff, Klaus! Kalian ini gila ya sampai menyerang tamu kita!” si kekar kebingungan sementara si ramah tertunduk malu.

    “Maaf tuan, apa maksud anda?” tanya si pria besar. “Sudahlah, bawa dia juga ke tempatku!” si rambut merah dan si kekar segera menganggukkan kepala. “Ikuti kami jun... ehm maksudku Marcell” Ah akhirnya dia mengenaliku!

    CHAPTER 2

    Negosiasi

    Aku berjalan mengikuti mereka hingga mencapai sebuah pintu kamar. Pintu ini berbeda dengan pintu kamar biasa yang berwarna perak. Pintu ini berwarna coklat tua dihiasi dengan berbagai ukiran. Ada gambar matahari, singa... seperti yang kuperkirakan. Ruangan orang penting pastilah berbeda dari kamar tentara biasa. Si rambut merah mengetuk pintu. “Masuklah...” sahut seseorang dari dalam kamar. Si besar membukakan pintu dan membiarkanku masuk lebih dulu. Kamar ini memang berbeda mungkin luasnya tiga kali ukuran kamar tentara biasa. Lampu ruangannya adalah lampu kristal besar yang tergantung kokoh di tengah langit-langit ruangan. Ranjangnya besar dan terlihat mewah karena ditopang oleh rangka kayu yang dibentuk sangat indah, dicat cokelat mengkilap dan diberi ukiran-ukiran sampai menyerupai tempat tidur raja yang biasa berada di buku dongeng. Belum lagi di kiri ranjang itu ada meja bundar yang dicat perak dan di atasnya terdapat satu set peralatan minum teh gaya bangsawan. Orang itu duduk di pinggir tempat tidurnya sambil membaca sebuah buku yang disampul hitam. Sementara aku tercengang melihat kamar ini, sang pemilik kamar hanya tersenyum sendiri, “ Hei, berapa lama lagi aku harus menunggumu mengamati kamarku? Cepat ke sini!” Katanya sambil menunjuk kursi yang berada di dekat meja bundar. Kemudian dia menutup buku dan memasukkannya ke laci meja lampu tidur yang ada tepat di samping kanan ranjangnya.

    “Anu, apa yang sedang kaubaca?” Tanyaku mencoba memecah suasana. Apa dia akan memberikan sanksi? Apa aku akan dikeluarkan? Bagai mengetahui isi hatiku, ia bangun dan berjalan menghampiriku, “Ah, hanya sebuah cerita tragis” Katanya sambil mengedipkan mata kanannya. Sekarang wajahnya makin jelas. Di depanku berdiri seorang pria yang usianya… mungkin hampir 30 tahun-an, tingginya mungkin hanya sedikit di atasku, yah… katakanlah 183 cm? Kulitnya agak sedikit kecoklatan, rambutnya hitam dan dipotong undercut. Ia memakai blazer hitam khas milik divisi 1. Matanya yang berwarna coklat menatapku. “Haha, tolong maafkan kekhilafan dua anak buahku ini” katanya sambil duduk di ujung kiri bawah ranjangnya. Kedua tentara tadi masih berdiri di dekat pintu, menundukkan kepalanya. Mereka terlihat pasrah dan seperti siap untuk dieksekusi. “Baiklah….” Kata si pemilik kamar, “ Katakan padaku kenapa kalian bisa terlibat pertarungan dengan salah satu prajurit terbaik di negara kita!”

    “Maaf tuan! Kami kira dia amatiran yang sedang berkeliaran di waktu malam! Sungguh kami tidak tahu!” Kata si tentara besar. “Betul, tuan! Lagipula dia… maksudku Marcell, keluar pada jam malam, dan tidak memakai blazer divisinya, mana bisa kami tahu? Tolong ampuni kami!” si rambut merah menimpali. “Maaf, ya aku memang tidak punya blazer!” kedua orang itu tercengang mendengar perkataanku. Blazer yang dimaksud bukanlah blazer murahan yang bisa didapat di toko atau department store super lengkap sekalipun. Blazer ini merupakan blazer yang menandakan, jika pemakainya merupakan anggota skuad penting dalam divisinya, yah bisa dibilang kelompok pasukan elit tiap divisi. Mereka lebih kuat sepuluh tingkat di atas tentara biasa dan hanya sedikit di bawah para kapten divisi. “Begini, ya walaupun aku tidak punya blazer, posisiku ini adalah yang keempat di divisi tiga, camkan itu, Ke-Em-Pat!” mendengar ini si kekar langsung bersujud memohon ampun sementara si rambut merah menggigil ketakutan. “Maafkan kami, kami sudah lancang! Padahal anda sudah sudi untuk pulang menumpang kapal divisi satu, bahkan tidur di kamar tentara biasa! Tolong beri kami pengampunan” ujar si ramah memohon.

    “ Yah… kalian akan tetap mendapat hukuman, kalian telah mempermalukan divisi satu!” kata si pemilik kamar. Mendengar putusannya kedua tentara tadi terduduk lemas dan menyandarkan badan mereka di pintu. Memang putusan pria berambut hitam di depanku ini adalah absolut, tidak bisa diganggu gugat. Dialah Pavel McCormack, salah satu anggota pasukan elit di divisi satu yang menamai diri mereka Shadow Conqueror. Parahnya lagi, dialah pemimpin pasukan elit ini dan merupakan tangan kanan sang pemimpin divisi satu, Thomas Ostnwaltd. Selain itu, Pavel merupakan anak dari salah satu keluarga bangsawan di Capitol, yang bertanggungjawab akan kemajuan teknologi di Capitol. “Jadi… sudah beres?” Tiba tiba wajahnya sudah berada tepat di depanku. Aku terkejut dan hampir terjatuh. Untunglah keseimbangan tubuh yang sempurna hasil pelatihan berat ala militer menyelamatkanku.

    “Baik! Untuk menyingkat waktu akan segera kukatakan penawaranku!” Pavel menepuk tangannya dan seketika wajahnya berubah serius. “Kau tahu, negara kita sudah melewati krisis dari negara yang bisa dengan mudah dijajah, menjadi penginvasi paling ganas dalam abad ini! Jadi bisa dibilang negeri kita sudah mencapai perdamaian dan kemakmuran lokal”

    Omong kosong! Perdamaian? Kemakmuran? Untuk Capitol, mungkin betul. Tapi, bagaimana dengan tempat lain? Kampung halamanku, Agraria masih diisi banyak orang berpenghasilan rendah, yang masih hidup di bawah bayang-bayang kekejaman Capitol. “Jadi apa tawaranmu, langsung saja ke intinya!”

    “Status damai ini tentunya harus dijaga, kan? Akan sangat menakutkan jika tiba-tiba ada serangan dari dalam, yah singkatnya kita basmi tikus-tikus itu sebelum menjadi ancaman” Pavel sedikit menundukan kepalanya, sambil tersenyum dingin.

    “Jadi ada pemberontak? Dari militerkah?” Pavel menjentikkan jarinya dan mengangkat ibu jarinya tepat di depan mataku. “Ya, dan ternyata dia merupakan orang penting. Dia sudah membantu banyak orang menggelapkan barang. Jadi, aku dan kapten berencana untuk mengadili dan memberinya hukuman seberat-beratnya. Jadi, bisakah aku meminta kesediaanmu untuk bersaksi? Ini sangat penting untuk keamanan Capitol”

    “Maaf tidak bisa” Mendengar ini Pavel terhenyak. “Kenapa menolak? Padahal identitasnya saja kau tidak tahu”

    “Ada yang salah dengan ucapanmu. Kau mengaitkan kedamaian yang tercapai karena kita menang perang, tapi kau takut kedamaian akan berakhir karena ada barang ilegal? Apa itu senjata? Walaupun itu senjata, bukankah kalian pasukan elit punya kekuatan super yang bisa menghancurkan para pemberontak dengan mudah? Dan lagi, kalaupun ada petinggi yang mencoba berkhianat, aku tidak bisa bersaksi! Tiga tahun penuh aku ada di medan perang! “ Pavel tersenyum sinis dan membalas argumenku, “ Tentu saja bisa…. Karena dia kaptenmu! Ya, kapten Finn Bradley!” Perkataan itu bagai panah yang menusuk jantungku. Kapten Finn Bradley adalah kapten divisi tiga, orang yang memimpin dan mengajariku di medan perang. Dia adalah orang hebat yang begitu kukagumi, karena pembawaannya yang rendah hati, dan sifatnya yang selalu mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri.

    “Kau gila, ya? Menangkap orang yang ada di kapal ini? Apa kau mau menjadi samsak kapten Finn?” Pavel menutup matanya dan tersenyum, “Well karena itu jadilah saksi kami, dengan begitu kami bisa menangkapnya, walaupun dia kabur dari sini…. Lagipula pemecatan kapten Finn pasti akan terjadi, masalah ini sudah meresahkan para bangsawan. Divisi tiga akan dibubarkan, bayangkan bagaimana kehidupanmu kalau kau dikeluarkan juga. Pasti menyakitkan kan? Kapten yang salah, anak buah yang menanggung beban, jangan khawatir, divisi satu akan menyambutmu. Asal mau bersaksi” Aku terdiam. Orang ini begitu lihai, pertama-tama ia menghasutku dengan permainan kata-kata, kemudian menaikkan levelnya dengan ancaman, lalu mencoba menghilangkan rasa simpatiku dengan kapten, dan terakhir memberikan penawaran besar, asal aku mau berkhianat. “Sayang sekali, jawabanku tetap tidak!” kata-kata itu keluar dengan tegas dari mulutku. Mendengarnya, Pavel beranjak dari tempat tidurnya

    “Well… mungkin aku salah menawarimu, tapi tidak apa, berarti masih ada orang bodoh yang tinggal di divisi tiga” katanya mengejekku. “Tapi…. Tidak semua orang punya pendirian sepertimu… pasti ada tikus-tikus yang mau mendengar perintahku” Pavel memegang dagunya dan menatapku, “Sekarang, apa yang akan kulakukan denganmu? Membunuhmu? Ah pasti akan ketahuan, pamor divisi satu bisa turun drastis. Menyekapmu sampai kehabisan cairan? Terlalu lama! Aha! Bagaimana kalau kupindahkan kau ke Chernos? Di penjara bersama kriminal yang mempermalukan negeri ini? Ya, ya ide bagus!”

    Aku harus lari, tapi bagaimana? Dua orang tentara di dekat pintu jelas bukan masalah. Tapi orang di depanku? Masalah besar! Hanya orang bodoh yang mau bertarung tanpa mengetahui kekuatan lawannya, tambah lagi Pavel memiliki kekuatan super yang mungkin… bisa menghabisiku dalam sekejap. Aku sebenarnya tidak takut mati. Tapi, mati sia-sia tanpa bisa menyelamatkan kapten… tentu tidak ada gunanya. Pavel menatapku dengan lebih intens, aura membunuhnya begitu terasa sampai menembus kulit. Sial, tidak ada harapan menang bertarung melawannya. Aku berdiri dan menatapnya. “Mau bertarung? “ tanyanya singkat. “Tidak, kirimkan saja aku ke Chernos” lebih baik menyerah sekarang dibanding memancing nafsu membunuhnya. “Pilihan bijak! Zoff, Klaus! Bawa dia ke kapal pengangkut, kirim dia ke Chernos!” Si rambut merah dan pria besar segera menghampiriku, membawaku, keluar menuju hanggar.
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.