1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekarang kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Tips untuk Fotografer Pemula

Discussion in 'Tengah Komunitas' started by Inesu, Feb 11, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Inesu Veteran

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Feb 6, 2010
    Messages:
    4,845
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +61,377 / -0
    [​IMG]

    Bagi para newbie dalam dunia fotografi, pertanyaan yang paling mendasar adalah tipe kamera apa yang akan dibeli (bila belum menjatuhkan pilihan pada kamera tertentu). Ada beberapa tips yang perlu diperhatikan dalam memilih kamera:

    1. Tipe Pada dasarnya dikenal 3 (tiga) jenis kamera digital : pocket, prosumer, dan digital SLR (Single Reflex Lens). Pembagian ini disesuaikan dengan kebutuhan dan peruntukan pemakai. Bila kita bermaksud membawa serta kamera digital kemanapun pergi, pilihan tepat adalah tipe pocket camera . Bila membutuhkan kamera digital dengan kemampuan zoom di atas rata – rata dan memiliki kemampuan setting semi manual atau bahkan full manual, pilihan yang tepat adalah kamera digital prosumer. Bila ingin serius mendalami fotografi digital, maka digital SLR (DSLR) merupakan pilihan yang tepat, karena kamera ini memiliki semua fitur yang dibutuhkan di dalam sebuah pemotretan. bahkan lensa DSLR bisa diganti-ganti sesuai dengan kebutuhan.

    2. Resolusi Resolusi adalah merupakan jumlah piksel yang membentuk suatu foto, yang ditunjukkan dengan horizontal x vertikal. Semakin besar resolusi suatu kamera, maka hasil foto yang diproduksi akan lebih baik. Jadi pemilihan kamera perlu disesuaikan dengan dengan pilihan kita. Biasanya suatu kamera tertentu memiliki pilihan resolusi yang berbeda. Jika hanya untuk kebutuhan mengirim foto melalui e-mail, maka resolusi 640 x 480 sudah mencukupi. Tapi bila ingin mencetak foto, sebaiknya pilih resolusi yang lebih besar, agar gambar tidak buram/pecah.

    3. Fasilitas Zoom Pada kamera digital dikenal dua tipe zooming, yakni optical zoom dan digital zoom. Optical zoom sangat berguna buat kepentingan kita mengabil gambar untuk jarak yang agak jauh dari tempat kita. Jangan terpaku dan terkecoh oleh digital zoom, rata-rata kamera digital semuanya mempunyai fasilitas digital zoom. Namun bila melakukan pembesaran gambar dengan fasilitas digital zoom, maka foto yang dihasilkan akan jadi blur dan tidak jelas.

    4. Baterai Hal yang juga penting diperhatikan adalah baterai. Perlu diperhitungkan berapa lama sumber daya ini bisa bertahan. Ada 2 (dua) jenis baterai yang biasanya digunakan kamera digital: lithium dan baterai AA. Meskipun harganya lebih mahal, namun dalam pemakaiannya baterai isi ulang lithium akan jauh lebih hemat dan mudah bila dibandingkan dengan baterai AA. Bila menggunakan baterai AA, sangat disarankan memilih yang bisa diisi ulang (rechargeable) karena akan lebih menghemat biaya.

    5. Penyimpanan Memory Kamera digital biasanya sudah memiliki memory internal namun kapasitasnya tidak terlalu besar. Untuk itu harus dipastikan bahwa kamera digital kita telah dilengkapi dengan fasilitas penghubung (port) untuk external memory, sehingga kita dapat memberikan tambahan memory sesuai dengan kebutuhan.

    6. Cobalah Sebelum Membeli Kamera digital biasanya dilengkapi dengan menu dan tombol-tombol pengatur yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Beberapa kamera lebih “mudah” digunakan karena tombol pengatur serta perintahnya lebih mudah dimengerti dibandingkan kamera jenis lainnya. Hal tersebut dapat disimpulkan bila kita sudah mencobanya secara langsung. Yang perlu juga diperhatikan saat mencoba sebelum membeli adalah time delay dari mulai kita tekan tombol shoot sampai gambar selesai diambil (shutter lag), Ada kamera tertentu yang delaynya sangat lama (meskipun juga dipengaruhi oleh kondisi ruang dan cahaya tempat kita mencoba kamera tersebut). Hal lain yang perlu diperhatikan adalah lamanya waktu tunggu mulai dari menghidupkan kamera sampai siap digunakan.

    7. Cari Informasi Sebanyak Mungkin Sebelum membeli, ada baiknya kita telah memiliki informasi dasar mengenai kemampuan, spesifikasi, dan kekurangan dari kamera yang ditaksir. Karena itu perlu bertanya sebanyak-banyaknya kepada orang yang lebih mengerti atau orang yang sudah pernah menggunakan jenis yang sama. Informasi lainnya bisa kita peroleh dari internet, biasanya produsen sudah memberikan penjelasan mengenai produk mereka baik secara global maupun secara detil.

    8. Dana dan Garansi Bila sudah mempertimbangkan beberapa hal mendasar di atas, hal yang tak kalah pentingnya adalah berapa besar budget yang kita miliki. Sesuaikan kamera yang akan dibeli dengan kapasitas dana kita. Dan jangan lupa perhatikan garansi yang ditawarkan. Apakah garansi resmi atau hanya garansi toko.

    sumber

    Jepret, Jepret, dan Jepret

    Pertanyaannya adalah ketika Anda mendapatkan kamera digital pertama dan menyukainya. Apa yang perlu dilakukan untuk mengasah kemampuan fotografi? Bart Pagoda di Flickr Blog mengatakan, bagi mereka yang baru saja memiliki kamera, ambil foto SEBANYAK-BANYAKNYA. Tak peduli apa saja yang ada di depan Anda, potretlah. Set kamera di mode auto, dan mulailah keluyuran ke sana ke mari. Kita ada di era digital. Storage bukanlah masalah, demikian pula biaya untuk cuci dan cetak film.

    Apa tujuannya? Pertama adalah untuk mengenal karakter kamera Anda. Setiap kamera memiliki karakter yang berbeda bahkan untuk jenis yang sama.

    Kedua adalah untuk melatih teknik komposisi. Apa itu komposisi? Begini, pada dasarnya memotret tidak ada bedanya dengan melukis. Bedanya, memotret adalah melukis dengan cahaya. Merekam apa yang ada di hadapan kita untuk disimpan dalam frame kamera. Komposisi adalah bagaimana kita meletakkan setiap objek-objek yang ada di depan kita dalam kotak frame foto. Dimana letak orang sebaiknya? Dimana letak bunga? Seperti itulah…

    Komposisi tentu saja terserah Anda. Fotografi adalah seni, bukan matematika. Memang ada sih teknik komposisi klasik yang selalu diajarkan kelas-kelas fotografi. Teknik klasik itu bernama the rule of the third. Prinsipnya adalah membagi area foto menjadi tiga bagian. Foreground adalah daerah bagian depan, Point of Interest (POI) adalah objek yang menjadi titik cerita, dan Background adalah daerah yang ada di bagian belakang POI. The rule of the third juga membagi kotak frame menjadi tiga bagian. Kiri, tengah, dan kanan. Atas, tengah, dan kanan. Nah, kunci sakti dari teori ini adalah: tempatkanlah POI pada garis perpotongan tiga bagian itu. Kapan-kapan saya akan menjelaskan lebih detail teknik komposisi ini. Tapi pada dasarnya, komposisi adalah bebas sesuka hati fotografer.

    sumber

    Buat para pemula dan pencinta fotografi, sering dibingungkan dengan banyaknya istilah dalam fotografi, baik dari sisi kamera, teknik, peralatan dan sebagainya. Berikut terminologi atau istilah-istilah fotografi yang ada, yang diolah dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

    A : Singkatan dari auto, yaitu sebuah sandi untuk pilihan fasilitas otomatis. Artinya, bila selector diputar ke posisi ini, bukaan diafragma akan bekerja secara otomatis setelah pemotret memilih suatu kecepatan (shutter speed) atau sebaliknya.

    AF : singkatan dari auto focus, yaitu cara kerja kamera tanpa mengharuskan pemotret memutar-mutar sendiri penemu fokus(jarak). Sistem ini bekerja setelah pemotret menekan tombol “on” pada perintah fokus.

    AL servo AF : saran pilihan autofocus yang digunakan untuk memotret objek2 bergerak. Pilihan yang efektif untuk pemotretan olahraga.

    Angle of view : Sudut pandang atau sudut pemotretan. Cara melihat dan mengambil objek yang akan difoto

    Aperture diafragma : yaitu lubang tempat cahaya masuk kedalam kamera dari lensa keatas film.

    Aperture priority auto exposure (A) : pencahayaan otomatis prioritas bukaan diafragma. Jika bukan diafragma disetel terlebih dahulu, kecepatan rana akan bekerja otomatis.

    Artificial light : cahaya buatan manusia yang digunakan untuk memotret misalnya lampu kilat, api, dll.

    Asa : singkatan dari american standar assosiation. Yaitu standar kepekaan film. Pengertiannya sama dengan ISO, hanya saja nama ASA dahulu umumnya dipakai diwilayah amerika. Kecepatannya diukur secara aritmatis.

    Auto Program (P) : fasilitas otomatis untuk memilih pencahayaan terprogram secara normal dan high speed (kecepatan tinggi), tergantung pada pemakaian panjang-pendek fokus lensa.

    Auto winder : motor yang berguna untuk memajukan film secara otomatis dan cepat tanpa harus dikokang atawa diengkol terlebih dahulu. Sering digunakan oleh pemotret olahraga atawa yang mengutamakan objek-objek bergerak cepat.

    Back light : Cahaya dari belakang, yaitu cahaya yang berasal dari belakang objek. Arah cahaya ini berlawanan dengan posisi kamera. Secara umum efek yang dihasilkan dapat menciptakan siluet; objek foto dikelilingi “rim light” atau cahya yang ada disekitar objek. Efek cahaya ini bisa merugikan pemotret sebab bila mengenai lensa akan menimbulkan flare.

    Bayonet : Sistem dudukan lensa yang hanya memerlukan putaran kurang dari 90 derajat untuk melakukan penggantian lensa.

    Birds eye view : Sudut pandang dalam pemotretan yang mirip dengan apa yang diliat seekor burung yang sedang terbang.

    Blitz: Lampu kilat atau flashgun. Alat ini merupakan cahaya buatan yang berfungsi menggantikan peran cahya matahari dalam pemotretan. Untuk menangkap kilatannya diperlukan suatu kecepatan tertentu yang telah disesuaikan (disinkronkan) dengan kamera. Cahaya blitz umumnya bisa ditangkap dengan kecepatan kamera 1/60 detik

    Blitzlichtpulver : Cikal bakal lampu kilat. Terbuat dari beberapa campuran bubuk diantaranya magnesium dan potassium chlorade yang dapat memancarkan cahaya bila disulut.

    Blur : Kekaburan seluruh atau sebagian gambar karena gerakan yang disengaja atau tidak sengaja pada saat pemotretan dan efek besar kecilnya diafragma. Hal ini terjadi misalnya saat melakukan teknik panning atau zooming yang menggunakan kecepatan rendah.

    Bottom light : Cahaya dari bawah objek, biasa juga disebut ‘base light’. Biasa digunakan sebagai cahaya pengisi dari arah depan. Fungsinya mengurangi kontras cahaya utama.

    Bounce Flash : Sinar pantul. Pancaran cahaya tidak langsung yang berasal dari sumber cahaya (lampu kilat). Cara paling efektif yang dapat dicoba adalah memantulkan pancaran sinarnya kesudut lain sebelum cahaya itu mengenai objek pemotretan. Teknik pencahayan ini cocok untuk menghasilkan penyinaran lunak.

    Bracketing : Suatu teknik pengambilan gambar yang sama dengan memberikan kombinasi pencahayaan yang berbeda-beda pada suatu objek (di samping pengukuran pencahayan normal).

    Built-in diopter : Pengatur dioptri (lensa plus atau minus)yang sudah terpasang pada pembidik kamera. Berguna bagi pemotret berkacamata.

    Bulb, B(ulb) bolam : Sarana kecepatan rana yang sangat lambat dikamera yang digunakan untuk memotret objek. Lama membuka rana ditentukan oleh pemotret, yaitu dengan menekan lalu melepas tekanan pada tombol shutter.

    C : Singkatan dari continuous,yaitu sandi yang terdapat pada kamera. Fungsinya menyatakan penggunaan bidikan gambar secara beruntun dengan kecepatan tertentu (umumnya 3 bingkai per detik).

    Candid camera : foto atau potret yang dibuat dengan cara sembunyi2 sehingga objek foto tidak menyadarinya. Cara ini biasanya menghasilkan foto yang terkesan wajar atau alami. Umumnya tidak ada komunikasi antrara pemotret dan objek foto.keberhasilan foto sangat ditentukan oleh kemahiran pemotret mengungkapkan pesannya.oleh Karena itu pemotret harus ekstra tekun, jeli,teliti dan sabar.

    CCD : singkatan dari charge couple device,yaitu chip pengganti filmyang digunakan pada kamera digital untuk merekam gambar (citra).

    Center of focus : pusat perhatian. Sering juga disebut center of interest atau focus of interest. Pusat perhatian membuat pesan dan teknis yang ingin disampaikan pemotret tergambar secara fisik pada foto.

    Center weight : pengukuran pencahayaan yang tertuju hanya pada 60 persen daerah tengah gambar (bidang) foto.

    Coating : pemberian suatu lapisan tipis pada permukaan lensa. Fungsinya menahan pantulan cahaya dan melindungi lensa dari berbagai bahaya, mjsalnya jamur.

    Cold tone : warna yang bernada dingin; berwarna biru kelabu dengan nada warna ringan.

    Color balance : keseimbangan warna.

    Composition : komposisi, yaitu penempatan atau penyusunan bagian2 sebuah gambar untuk membentuk kesatuan dalam sebuah bidang tertentu sehingga enak dipandang.

    Continuous light : lampu kilat yang digunakan untuk memotret; cahayanya dapat menyala terus menerus (berulang-ulang).

    Contrast : kontras. Secara umum kontras diartikan sebagai perbedaan gradasi,kecerahan, atau nada (warna) antara bidang gelap (shadow) dengan bidang terang, atau warna putih yang mencolok sekali pada objek.

    Cropping : pemadatan/pemotongan gambar dalam foto atau sesuatu yang tercetak dengan membuang bagian2 tertentu yang kurang dikehendaki.

    Density : densitas atau kepekatan dalam fotografi.istilah ini menyatakn tebal-tipis lapisan perak yang melekat pada film. Semakin pekat suatu warna, semakin gelap dan berat warnanya.

    Depth : kedalaman, yaitu efek dimensional yang timbul karena ada perbedaan ketajaman.

    Depth of field : bagian yang tampak tajam (tidak buram) dan jelas,yang berada dalam jangkauan tertentu. Biasanya juga disebut sebagai ruang tajam.

    Diaphragm : diafragma,yaitu lubang pada lensa kamera tempat cahaya masuk saat melakukan pemotretan. Lubang lensa ini dibentuk dari kepingan2 logam tipis yang berada didalam atau dibelakang lensa. Bisa diciutkan atau dilebarkan.

    Distortion : distorsi,yaitu penyimpangan bentuk. Pada fotografi biasa terjadi pada pemotretan dengan lensa sudut lebar.

    Fill in Flash : Lampu kilat pengisi. Dalam kondisi pemotretan yang tidak memerlukan lampu kilat, lampu ini tetap dinyalakan untuk menerangi bagian-bagian gelap dari objek, misalnya bayangan pada pemotretan diluar ruangan.

    Film : Media untuk merekam gambar. Gambar dibuat diatas dasar yang fleksibel dan transparan. Film terdiri dari lapisan tipis yang mengandung emulsi peka cahaya, diatas dasar yang fleksibel dan transparan. Emulsi sendiri terdiri dari perak halida, yaitu senyawa yang peka cahaya.

    Film Frame Counter : Penghitung jumlah bingkai film. Pendeteksi berangka yang menunjukkan jumlah film yang sudah terpakai.

    Film transparency : Slide warna atau color reversal film, yaitu film positif yang biasa digunakan untuk keperluan iklan, pers, dll. Tujuannya adalah mendapatkan ketajaman dan warna gambar yang baik.

    Filter : Penyaring dalam bentuk kaca (atau bahan lain yang tembus cahaya) yang mempunyai ketebalan rata; dipasang pada ujung tabung lensa.

    Fix Lens : Lensa fix, yaitu lensa yang memiliki panjang fokus (titik api) tunggal, sudut pandangnya tetap.

    Flash : Lampu kilat, yaitu jenis lampu buatan yang mampu menyediakan cahaya yang bisa dikendalikan.

    Flash exposure compensation : Kompensasi pencahayaan lampu kilat, yaitu cara membuat alternatif pencahayaan lebih atau kurang dengan menggunakan lampu kilat.

    Focus ring : Titik api atau pertemuan berkas sinar/cahaya melalui lensa setelah berbias atau dipantulkan.

    FPS : singkatan dari frame persecond, yaitu satuan pengambilan gambar dalam gambar per detik

    GN : Singkatan dari guide number, yaitu kekuatan daya pancar cahaya lampu kilat yang merupakan perkalian antara jarak (dalam meter atau feet) dan diafragma.

    High angle : pandangan tinggi. artinya, pemotret berada pada posisi yang lebih tinggi dari objek foto.

    High-Key photo : sebutan untuk suatu foto yang didominasi nuansa putih.

    High light : bagian-bagian yang terang pada sebuah foto karena pantulan sinar.

    Honeycomb : Perangkat atau alat tambahan berbentuk seperti sarang tawon.

    Hot shoe : sepatu panas. terdapat pada bagian atas kamera, berfungsi untuk memasang lampu kilat elektronik.

    Image : gambar yang terbentuk pada film atau pada tirai pengamat.

    Incident light metering : Pengukuran cahaya jatuh, yaitu mengukur kuat cahaya yang menerangi objek.

    Infinity : jarak tak terhingga dengan tanda pada skala jarak.

    Infrared : inframerah, yaitu sinar merah diluar spektrum.

    ISO : singkatan dari international standart organization, yaitu badan yang berwenang memberikan standar untuk kategori film yang digunakan didunia fotografi.

    JIS : singkatan dari japan industrial standart, yaitu ukuran kepekaan film, seperti asa digunakan di Jepang.

    Lens : Lensa, yaitu alat yang terdiri dari beberapa cermin yang mengubah benda menjadi bayangan yang bersifat terbalik, diperkecil, dan nyata.

    Lens Hood : Tudung lensa yang digunakan untuk menutupi elemen lensa terdepan dari cahaya yang masuk secara frontal. Cahaya seperti ini akan menimbulkan efek flare (bintik cahaya putih) pada foto.

    Light contrast : Kontras cahaya, yaitu tingkat kepekaan cahaya yang dihasilkan oleh suatu sumber cahaya. Hal yang paling mempengaruhi kontras cahaya adalah besar kecilnya sumber cahya.

    Light meter : Pengukur kekuatan sinar. Biasa dipakai dalam pemotretan untuk menentukan besar diafragma atau kecepatan pada suatu kondisi pencahayaan.

    Long Shot : Sudut pandang yang lebar yang memberi perhatian lebih pada objek pemotretan dengan cara memisahkannya dari latar belakang yang mungkin mengganggu.

    Low angle : Pandangan rendah, yaitu sudut pandang dalam pemotretan dengan kedudukan pemotret lebih rendah dari objek pemotretan. Menghasilkan gambar seolah-olah objek lebih tinggi dari aslinya.

    LT : Long time Exposure, sama dengan pencahayaan panjang misalnya 2 detik atau lebih.

    Macro : Makro. Pengertian makro dalam fotografi adalah sarana untuk pemotretan jarak dekat. Fotografi makro akan menghasilkan rekaman objek (pada film) yang sama besar dengan objek aslinya (1:1), atau paling tidak setengah besar objek aslinya (1:2). Namun, lensa zoom yang mempunyai fasilitas menghasilkan rekaman objek seperempat besar benda aslinya (1:4) juga sudah bisa dikatakan makro.

    Macro Lens : Lensa makro, yaitu lensa yang digunakan untuk memotret objek berukuran kecil atau pemotretan jarak dekat (mendekatkan objek). Umumnya dipakai untuk keperluan reproduksi karena dapat memberikan kualitas prima dan minim distorsi.

    Magnification : Pembesaran. Diukur dari gambar film dengan perbandingan ukuran asli objek.

    Main light : Sinar utama dalam pemotretan yang biasanya berasal dari depan objek. Biasanya digunakan untuk memunculkan bentuk atau wajah objek.

    Medium format camera : Kamera format medium, yaitu jenis kamera SLR yang menggunakan jenis film 120 mm. Dibandingkan dengan kamera format kecil, kamera ini mempunyai keunggulan dalam pembesaran cetakan.

    Medium shoot : Pandangan yang lebih mengarah kepada suatu tema pokok dengan latar belakang yang agak dihindari. Bisa digunakan untuk pemotretan berobjek orang, kira2 sebatas pinggul keatas.

    Metering : Pola pengukuran cahaya yang biasanya terbagi dalam 3 kategori : center weight, evaluative/matrix dan spot

    Metering center weight : Pola pengukuran cahaya menggunakan 60 persen daerah tengah gambar

    Metering matrix : Pola pengukuran cahaya berdasarkan segmen-segmen dan persentase tertentu

    Metering spot : Pola pengukuran cahaya yang menggunakan satu titik tertentu yang terpusat.

    MF : singkatan dari manual focus, yaitu cara penajaman atau pemfokusan yang dilakukan secara manual.

    Microphotography : Fotografi yang menggunakan film berukuran kecil, dengan bantuan mikroskop.

    Monopod : sandaran atau penyangga kamera berkaki satu. Berfungsi membantu menahan kegoyangan. Sering pula disebut “unipod”

    ND Filter : Filter ND, yaitu filter yang berfungsi menurunkan kekuatan sinar sebanyak 2 sampai 8 kali.

    Nebula Filter : Filter yang menghasilkan gambar dengan efek pancaran sinar radial yang berpelangi.

    Non-reflex camera : kamera non refleks yang tidak menggunakan cermin putar. Contohnya adalah kamera kompak atau kamera langsung jadi (Polaroid)

    Normal lens : Lensa berukuran normal berfokus panjang, 50 mm atau 55 mm, untuk film berukuran 35 mm. Sudut pandangnya sama dengan sudut pandang mata manusia.

    Obscura : Cikal bakal kamera zaman sekarang. Prinsipnya dalam sebuah kamar gelap yang tertutup lubang (pin hole). Jika kamera obscura dihadapkan ke benda yang diterangi cahaya, sebuah gambar proyeksi terbalik dari benda tersebut akan tampak pada dinding yang berhadapan dengan lubang.

    Optical Sharpness : ketajaman optis, yaitu suatu ketajaman yang dapat dicapai karena lensa berkualitas baik.

    Optik : berkenaan dengan penglihatan (cahaya, lensa, dsb)

    Overexposure : kelebihan pencahayaan. Bagian shadow tampak pekat (tanpa detail) sehingga negative tampak hitam total. Bila kepekatan bagian ini melampaui batas, hasil cetak foto akan menjadi abu2; bagian high akan menjadi putih.

    Overhead lighting : sinar dari atas. Lampu atau penyinaran yang dibuat untuk menyinari objek dari atas.

    Override : Penyimpangan dari pengaturan otomatis. Tujuannya agar pemotret dapat mengatur kamera secara manual.

    Polarizing color filter : Filter yang terdiri dari selembar polarisator kelabu dan polarisator warna, terdapat berbagai kombinasi warna sehingga dapat digunakan untuk efek-efek tertentu.

    Polarizing conversion filter : Filter terdiri dari selembar polarisator dengan filter konversi warna (85B). Biasanya juga digunakan untuk jenis kamera kine, sehingga memungkinkan film tungsten digunakan untuk cerah hari dan mempunyai efek seperti filter polarisasi.

    Polarizing fider filter : Filter yang terdiri dari dua filter PL linier yang digabung menjadi satu. Jumlah filter yang masuk dapat diatur dengan memutar gelang filter.

    Polarizing circular filter : Filter yang dibuat dari lembaran polarisator linier dan keeping quarter wave retardation, dilapi di antara dua gelang filter. Efeknya sama dengan filter polarisasi, biasanya digunakan untuk kamera kine.

    Polarizing filter : Filter polarisasi, dipakai untuk menghilangkan refleksi dari segala permukaan yang mengkilap. Filter ini terdiri dari dua bagian, bagian yang satu dengan lain dapat diputar-putar untukmendapatkan sudut paling ideal menghilangkan refleksi, menambah saturasi warna dan menembus kabut atmosfer. Juga berguna untuk membirukan langit.

    Pop up flash : Lampu kilat kecil terbuat atau menyatu dengan kamera.

    Rainbow fantasi filter : Filter dengan inti bulatan normal dan sisanya berisi prisma. Tiap-tiap berkas sinar akan bertepi pelangi.

    Rana: Adalah tirai yang menggantikan fungsi penutup manual di bagian depan lensa, besar kecilnya dapat diatur sesuai kebutuhan.

    Rana celah : Rana celah vertical dan horizontal dan terletak pada kamera. Yang vertial menutup secara vertikal dan yang horizontal menutup secara horizontal.

    RANA PUSAT : Rana yang terletak pada lensa, berdampingan dengan diafragma. Menutupnya dengan cara memusat.

    RELEASE CABLE : Kabel penghubung dengan shutter sehingga memungkin pemotret menekan shutter dari jarak beberapa meter dari kamera.

    RELOADABLE TO LAST FRAMER : Fasilitas untuk mengembalikan film yang telah digulung di tengah posisi terakhir yang terpakai.

    REMBRANDT LIGHTING : Cahaya yang berasal dari jendela atau sering juga disebut window lighting. Cahaya yang datang dari sudut 45 derajat. Pencahayaan tersebut berasal dari nama pelukis Belanda Rembrandt.

    REMOTE : Alat yang memungkinkan fotografer melakukan penekanan shutter dari jarak jauh dengan penghubung arus tanpa kabel.

    RESOLUTION : Daya pisah. Suatu sifat lensa yang berdaya urai dengan kemampuan menyajikan detail kehalusan gambar sesudah film dikembangkan (diproses).

    RETINA : Selaput peka sinar dari mata atau salah satu merek kamera keluaran kamera.

    RETOUCH : Mengubah, sifatnya memperbaiki atau menambah warna dengan menggunakan tangan atau kuas, atau juga pada masa ini dengan komputer seperti melukis sehingga menghasilkan gambar yang baik dan tanpa cacat seperti sebelumnya.

    REVERSE ADAPTER : Suatu alat penyambung yang digunakan untuk memotret saat menggunakan lensa kamera yang dibalik sehingga elemen belakang lensa menghadap ke objek. Dengan alat ini menjadikan kita dapat menggunakan lensa biasa untuk membuat pemotretan makro dengan hasil yang cukup baik.

    SECOND CURTAIN SYNC : Fasilitas untuk menyalakan lampu-kilat sesaat sebelum rana menutup.

    SELF ADJUSTING : Penyesuaian (diri).

    SELF TIMER : Penangguh waktu. Sebuah tuas yang digunakan untuk keperluan memperlambat membukanya rana kamera sekalipun tombol pelepas kamera telah ditekan. Biasanya digunakan untuk memotret diri sendiri. Penangguhan waktunya umumnya berkisar 10 detik

    SENSE OF DESIGN : Perasaan atas komposisi. Estetika dalam nirmana datar warna.

    SEPIA TONER : Pewarna coklat/sawo.

    SEQUENCE : Sekuen. Satu seri dari beberapa jepretan (shot) yang meliputi suatu kejadian yang sama. Setiap jepretan hanya berbeda dalam hitungan detik

    SHADE : Teduh, bayangan yang tak berbentuk.

    SHADOW : Bidang gelap/hitam atau bayangan pada sebuah foto yang berbentuk objek yang membayang.

    SHAPE : Bidang, suatu bentuk dalam aspek dua dimensi yang terjadi tidak hanya oleh karena adanya kesan garis, baik berupa segi tiga, lingkaran, elips, dll. Namun selain itu bisa juga dibentuk oleh suatu bidang warna karena adanya suatu kesan bentuk tiga dimensi yang mempunyai volume.

    SHARPNESS : Ketajaman film, yaitu suatu kemampuan film untuk merekam setiap garis dari pandangan yang dipotret dengan ketajaman yang baik. Ketajaman ini ditentukan dengan jumlah garis per milimeter.

    SIDE LIGHT : Cahaya dari samping, yaitu cahaya yang berasal dari arah samping objek, baik kiri atau kanan dan dapat ditempatkan pada sudut 45 atau 90 derajat. Pencahayaan seperti ini menghasilkan foto dengan efek yang menonjol permukaan atau objek fotonya serta terciptanya kesan tiga dimensional. Umumnya digunakan untuk menampilkan foto-foto yang berkarakter, misalnya foto potret (portrait).

    SIDE LIGHTING : Sinar dalam pemotretan yang datangnya dari arah samping kanan atau kiri – 90 derajat dihitung dari sudut pandang kamera. Arah datangnya sinar seperti ini akan menghasilkan foto dengan detail dan tekstur dari benda dengan baik. Bayangan yang dihasilkan akan menampakkan bentuk benda dengan lebih menarik dengan separo dari muka terang dan separo lagi gelap.

    SINGLE LENS REFLECT : Refleks lensa tunggal (RLT), adalah kamera yang memiliki satu lensa untuk membidik yang menggunakan cermin dan prisma. Lensanya berfungsi untuk meneruskan bayangan objek ke pembidik dan meneruskannya ke film. Apa yang terlihat pada jendela pengamat sama seperti apa yang terjadi pada film atau fotonya.

    SINGLE POINT READING : Suatu pembacaan pengukuran dalam pencahayaan yang dilakukan hanya pada satu titik atau bagian tertentu yang terpenting dari sebuah objek foto.

    SINGLE SERVO AUTOFOCUS (S) : Sandi saat Anda membidikkan suatu objek dan tombol rana telah tertekan separo, maka jarak antara kamera dengan objek terkunci hingga tombol dilanjutkan ditekan hingga terekam satu bidikan.

    SKALA : Perbandingan objek utama dengan objek-objek lain dalam gambar.

    SLAVE UNIT : Mata listrik yang menyalakan lampu-kilat karena pulsa yang dihasilkan oleh menyalanya lampu-kilat lain.

    SMALL FORMAT CAMERA : Kamera format kecil yaitu kamera jenis SLR (Single Lens Reflect) yang menggunakan film berukuran 35 mm namun fleksibel dan enak dipegang serta ringan. Karena itu kamera seperti ini yang paling banyak digunakan oleh para fotografer. Jenis maupun ukuran filmnya sangat mudah didapat juga proses filmnya terutama bagi yang menggunakan film jenis negatif. Namun kekurangannya, untuk hasil pencetakan besar, maksimal hanya seukuran majalah.

    SNAPSHOT : Bidikan spontan, tanpa modelnya diatur terlebih dahulu. Cara ini umumnya digunakan untuk membuat foto human interest, sehingga menghasilkan foto yang apa adanya dan tampak alami tak terkesan dibuat-buat.

    SNOOT : Suatu alat berbentuk kerucut yang berlubang pada ujungnya dan digunakan untuk memperkecil penyebaran cahaya dari lampu kilat studio. Umumnya menghasilkan cahaya yang tampak membulat bila diproyeksikan pada bidang datar.

    SNOW CROSS, STAR SIX FILTER : Sebuah kaca bening dengan goresan-goresan yang saling bersilangan yang membentuk bintang-bintang berekor enam dari tiap-tiap titik sinar.

    SOCKET : Lubang tempat memasukkan kabel sinkron yang menghubungkan lampu kilat dengan penutup.

    SOFT SCREEN (LENS) : Lensa yang berguna untuk menghindari kontras sehingga hasil gambar terkesan seolah-olah agak kabur dengan sisi-sisi yang tak tampak ketegasan batasnya.

    SOFT FOCUS LENS : Lensa yang berdaya lukis lembut.

    SOFT SPOT FILTER : Filter berciri seperti soft screen namun menghasilkan gambar yang berbeda.

    SOFT TONE FILTER : Filter yang bertujuan untuk membuat gambar pemandangan lunak tanpa menurunkan ketajaman dan mengubah warna, juga tidak mengubah bentuk. Kontras pun menjadi lembut tanpa mengaburkan pandangan.

    SOLARISASI : Proses pembuatan foto dengan cara memberi penyinaran dua kali pada kertas foto atau film dan memasukkannya ke dalam larutan pengembang. Di tengah-tengah gambar terbentuk dilakukan penyinaran dengan cahaya putih sekali lagi dan meneruskan pengembangannya.

    SONAR AUTOFOCUS : Sistem otofokus yang bekerja berdasarkan perjalanan bolak-balik suara sonar – dari kamera ke objek kembali ke kamera.

    SPECIAL EFFECT : Efek khusus dengan menggunakan teknik tertentu.

    SPECIAL EFFECT FILTER : Filter (penyaring) spesial efek yang pada dasarnya bukan filter karena fungsinya tidak menyaring sesuatu melainkan mengubah pandangan guna mencapai hasil yang menyimpang dari pemotretan biasa.

    SPECIAL LENS : Lensa spesial yang digunakan secara khusus untuk keperluan khusus. Misalnya fish eye lens (lensa mata ikan – 180 derajat). yang pada dasarnya bukan filter karena fungsinya tidak menyaring sesuatu melainkan mengubah pandangan guna mencapai hasil yang menyimpang dari pemotretan biasa.

    SPECIAL PURPOSE LENS : Lensa tujuan khusus yang didesain dan diciptakan untuk tujuan penghasilan gambar khusus yang biasanya susah dilakukan dengan lensa biasa.

    SPECIAL FILTER : Sekeping plastik terang berisi ribuan prisma lembut yang mengubah tiap-tiap titik sinar menjadi bintang pelangi dan berkas sinar bertepi pelangi. Sinar yang kuat membentuk bintang dengan berkas-berkas pelangi tebal.

    SPECTRUM : Berkas sinar yang terlihat oelh mata, terpecahkan oleh pembiasan prisma dalam warna-warni.

    SPEEDLIGHT : Lampu-kilat yang mempunyai kecepatan menyala tinggi atau cepat.

    SPEEDO SOLARISASI : Suatu teknik kamar gelap versi lain dari tehnik solarisasi (efek sabattier) pada film ortholith yang akan memberikan suatu efek gerakan yang cepat (speedo).

    STEREO CAMERA : Kamera berlensa dua yang menghasilkan dua foto sekaligus. Dua foto itu harus diamati dengan ********** atau stereo-viewer untuk mendapatkan efek kedalaman seperti saat difoto.

    STILL LIFE : Berarti lukisan atau pemotretan benda mati. Fotografi yang khusus menempatkan benda-benda kecil buatan manusia sebagai objeknya.

    STOP : Satuan yang menunjukkan pergeseran nilai bukaan diafragma atau kecepatan rana dari suatu nilai ke nilai yang lain, naik atau turun. Misalnya dari diafragma f:16 ke f:22 atau dari kecepatan 1/125 detik ke 1/250 detik

    STOP BATH : Cairan penyetop. Larutan penyetop untuk menghentikan atau menahan seketika pengembang (developer) pada film atau kertas foto. Selain berguna untuk menghentikan proses yang terjadi, stop bath juga berfungsi sebagai larutan fixer yang membuat film dan cetakan foto lebih tahan lama.

    STRIPPING FILM : Film yang dapat dipisahkan dari dasar seluloidnya.

    STROBO : Lampu dengan kemampuan menyorot bertubi-tubi dengan selang waktu singkat.

    SUBTRACTIVE : Sistem penyusunan balans warna dengan mengurangi unsure warna, suatu kebalikan dari additive atau menambahkan.

    SUPER WIDE LENS : Lensa bersudut super lebar yang biasa digunakan untuk pemotretan arsitektur, interior, eksterior, pemandangan, dll. Misalnya lensa 15 mm, 17 mm.

    SYNC CORD TERMINAL : Terminal sinkronisasi lampu-kilat; soket untuk memasang kabel tambahan yang dihubungkan dengan lampu-kilat.

    SYNC SHUTTER SPEED : Kecepatan rana yang sinkron dengan lampu kilat.

    SYNCRO : Saklar otomatis. Dengan menggunakan saklar ini pada lampu kilat maka bila ada kilatan cahaya lampu kilat lain akan mengakibatkan menyalanya lampu kilat yang terpasang syncro.

    TABLE-STAND : Kaki tiga (tripod) kecil. Sandaran kamera yang membantu menahan goyang yang dipakai di atas meja.

    TEXTURE : Tekstur, sifat permukaan atau sifat bahan., merupakan elemen seni visual yang sangat penting karena mampu memberi kesan “rasa” seperti halus, kasar, mengkilat, dll.

    TELE CONVERTER : Lensa tambahan yang dipasang di antara lensa asli dan tubuh kamera, yang dapat mengubah lensa normal menjadi tele dan lensa tele menjadi tele panjang. Umumnya kelipatannya dua atau tiga kali jarak fokus lensa asal.

    TELE LENS : Lensa tele yang digunakan untuk memperbesar objek yang akan difoto. Lensa ini dapat digunakan untuk memperoleh ruang tajam yang pendek. Khusus untuk pemotretan potret (portrait) penggunaan lensa seperti ini akan menghasilkan perspektif wajah yang mendekati aslinya. Misalnya: lensa 85 mm, lensa 135 mm, lensa 200 mm, dll.

    TELEPHOTO LENS : Lensa telefoto, lensa yang mempunyai fokus panjang. Pembuatan bayangan (image) pada lensa telefoto lebih pendek bila dibandingkan dengan lensa lain.

    TELEPHOTO MEDIUM : Telefoto menengah, jenis lensa telefoto yang mempunyai panjang antara 75 – 135 mm.

    TEST STRIP : Suatu cara untuk mendapatkan hasil cetakan yang baik (normal) yang dilakukan dengan cara membuat pencahayaan bertingkat pada saat mencetak sebelum mencetak sesungguhnya.

    TILT HEAD : Kemampuan kepala lampu-kilat untuk dapat diputar. Fungsinya untuk mendapatkan efek pencahayaan yang lembut dengan cara memantulkan terlebih dahulu cahaya yang keluar dari lampu-kilat. Kuatnya cahaya yang jatuh ke objek sangat bergantung pada permukaan pemantul, warna dan jaraknya.

    TIMER SWITCH : Pengukur waktu yang akan memutuskan aliran listrik pada akhir hitungan yang telah ditentukan.

    Top Light : Cahaya (dari) atas. Cahaya yang berasal dari atas objek. Biasanya digunakan untuk menerangi bagian atas kepala model yang akan difoto. Arah cahaya juga dapat menampilkan detail benda.

    Transparan : Tembus pandang ialah permukaan suatu benda yang tidak menghambat pandangan untuk melihat benda di belakangnya. Kaca dan plastik misalnya bersifat tembus pandang.

    Translusen : Tembus sinar. Namun kita tidak biasa melihat benda yang berada di belakang benda yang translusen tersebut. Misalnya kaca es, kaca buram, kaca susu, plastik suram, dsb.

    Transparancy : Transparan, gambar tembus, slide atau film positif.

    Tripod : Kaki-tiga. Suatu alat yang digunakan untuk menyangga kamera yang berbentuk kaki-tiga, yang dapat dipanjangkan dan dipendekkan sesuai keinginan (terbatas). Biasa digunakan untuk membantu mengatasi goyang saat melakukan pemotretan yang menggunakan lensa telefoto, atau yang menggunakan kecepatan rendah sehingga kedudukan kameranya tetap stabil dan pemotretan terhindar dari goyang.

    Tripod Socket : Tempat (ulir) untuk tripod. Suatu bagian di kamera, biasanya berlubang dengan ulir di dalamnya, yang berguna untuk tempat memasang tripod atau kaki-tiga kamera.

    TTL : Singkatan dari Through the Lens Metering. Sistem pengukuran cahaya melalui lensa. Biasa juga disebut OTF (Off the Film Metering). Kamera harus terisi film untuk mendapatkan pengukuran yang akurat. Atau dengan cara lain yaitu menggantikannya dengan kertas buram yang diletakkan pada jendela lintas film yang harus menutupi seluruh jendela tersebut. Jika tidak maka akan mendapatkan kalkulasi pengukuran yang salah karena sensor di dalam kamera akan membaca pelat hitam penekan film.

    Tungsten Film : Film yang khusus diperuntukkan bagi pemotretan yang dilakukan dengan cahaya buatan dengan lampu biasa atau photo-flood, namun juga tetap dapat dipakai untuk pemotretan di bawah cahaya alami.

    Twin Lens Reflex : Refleks Lensa Kembar. Kamera yang mempunyai dua lensa. Satu lensa berfungsi untuk menangkap objek yang dipantulkan oleh cermin melalui jendela pembidik, satu lensa berfungsi untuk menangkap objek untuk diteruskan ke film. Menggunakan jenis kamera seperti ini harus ekstra hati-hati karena sering terjadi kesalahan yang disebut paralaks pada pemotretan jarak dekat.

    VARIO FOCAL LENS:Lensa zoom. Lensa yang mempunyai panjang focus yang dapat diubah-ubah atau dapat bergeser. Misalnya: lensa 20-35 mm, lensa 35-70 mm, lensa 80-200 mm, dsb.

    VARIO LENS:Lensa vario atau sering disebut sebagai lensa zoom. Yaitu sebuah lensa yang memiliki jangkauan panjang focus yang bervariasi atau dapat diubah-ubah. Dengan demikian memudahkan pemotret memilih berbagai ruang pandang hanya dengan menarik-ulur lensa atau memutarnya.

    VERTICAL GRIP : Alat pelepas rana untuk pengambilan gambar secara vertikal tanpa harus memutar tangan.

    VIEW CAMERA : Kamera yang menggunakan film format besar dan digunakan untuk keperluan pemotretan yang memerlukan detail tajam pada pencetakan hasil foto yang besar-besar umumnya digunakan di dalam studio untuk pemotretan still life karena dapat menyempurnakan perspektif serta menambah ruang tajam. Detail gambar dapat ditampilkan secara sempurna.

    VIEW FINDER : Jendela bidik. Bagian dari kamera yang berfungsi sebagai tempat mata melihat bayangan benda yang akan diabadikan.

    WAIST LEVEL FINDER: Pembidik sebatas pinggang.

    WARM TONE : Bernada warna hangat. Suatu warna yang terasakan tidak terlampau menyilaukan mata, atau berwarna ke arah cokelat gelap ke arah hitam pekat.

    WATT/SECOND (W/S) : Satuan daya pada lampu kilat studio yang dibedakan dengan lampu kilat portable yang menggunakan GN. Tidak ada rumusan relevansi antara W/S dan GN, tapi 100 W/S hampir sebanding dengan GN = 30.

    WIDE ANGLE LENS : Lensa sudut lebar, misalnya lensa 20 mm atau 24 mm. Jenis lensa dengan tubuh pendek yang biasa digunakan untuk memotret sebuah panorama luas atau untuk pemotretan sejumlah besar orang. Lensa ini menampakkan gambar yang lebih kecil.

    WIDE SHOT : Pemotretan dengan sudut pandang lebar. Biasanya merupakan satu jepretan panjang diawal suatu sekuen. Tujuannya untuk mengarahkan penonton pada adegan berikutnya pada gambar hidup (movie).

    WIRELESS TTL : Sistem pengukuran lewat lensa tanpa melalui kabel.

    WORM EYE: Pandangan cacing. Berarti memotret dari sudut pandang permukaan tanah. Hasilnya adalah rekaman foto dengan kesan tinggi yang ekstrim, hasil gambarnya pun unik karena sudut pandang seperti itu.

    ZONE SYSTEM : Suatu cara untuk menghasilkan foto dengan tingkat kontras yang dimulai dari nada hitam pekat hingga nada warna putih sekali.

    ZOOM LENS : Lensa zoom. Jenis lensa yang memiliki elemen yang mampu bergerak hingga membuat panjang fokal bervariasi. Panjang focus dapat diganti-ganti dengan memendekkan atau mengulur tabung lensa.

    ZOOM-BLUR : Kekaburan gambar yang disebabkan oleh gerakan zoom pada waktu melepas rana kamera.

    ZOOMING RING : Gelang batas rentang vario pada lensa zoom.

    sumber
    Semoga berguna bagi tmn2 :peace:

    Tambahan dari member lain :hmm:

    Silahkan lihat thread yang lain juga:
     
    • Thanks Thanks x 10
    • Like Like x 3
    Last edited: Feb 19, 2011
  2. Ramasinta Tukang Iklan

  3. iphand Members

    Offline

    Joined:
    Dec 8, 2009
    Messages:
    9
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +13 / -0
    Info Inspiratif

    Thanks banyak Bos, informasinya sangat komprehensif memberikan inspirasi saya dalam memilih jenis kamera yang akan dibeli (ada rencana membeli kamera digital).

    Regards.
    :idws:
     
    • Thanks Thanks x 1
  4. xsaitoux Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Feb 5, 2011
    Messages:
    26
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +56 / -0
    mantab2 musti di coba ini mah , tehngs inponya yah
     
  5. pepenc Members

    Offline

    Joined:
    Aug 20, 2009
    Messages:
    6
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +15 / -0
    sedikit tambahan,

    Hal yang sering tidak di lakukan oleh pemula.

    1. jika mau nyopot memory, matikan dulu kameranya, begitu juga kalau mau melepas lensa.

    2. jangan tempatkan kamera di tempat yang lembab, karena lensanya nanti berjamur, (lensa berjamur = buang)

    3. jangan tempatkan kamera DSLR di tempat yang terlalu panas atau suhu terlalu tinggi contoh atas kompor(joke) dalam mobil yang sedang di parkir di terik matahari, karena nanti akan merusah karet2 yang ada di bagian lensa.

    sementara itu dlu, nanti saya tambahin.
     
  6. omi M V U

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Dec 20, 2010
    Messages:
    5,986
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +6,317 / -1
    terus dulu saya pernah dengar istilah ASA 100 dsb itu apa ya
    apa masih berlaku utk camdig sekarang ini ?
     
  7. deevilboy Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Jan 25, 2010
    Messages:
    222
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +187 / -0
    kalau ini sie lebih ke TIPS Membeli Kamera untuk pemula.. :)
     
  8. utuhkulalil Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Jun 17, 2009
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +0 / -0
    manteb, makasih infonya... langsung praktek ngumpulin duitnya... hehehe
     
  9. omi M V U

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Dec 20, 2010
    Messages:
    5,986
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +6,317 / -1
    iya negh
    saya kira tips2 / dasar2 memotret dengan benar
    misalnya pemilihan lensa, jarak, pencahayaan dsb
     
  10. pepenc Members

    Offline

    Joined:
    Aug 20, 2009
    Messages:
    6
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +15 / -0
    ASA = ISO kalau di camera Digital, Iso adalah Sensifitas cahaya, jadi semakin tinggi ISO semakin Terang dan Ber-Noise / Bintik cahaya.



    Faktor yang mempengaruhi Pencahayaan / Exposure dalam fotografi ada 3
    yaitu :
    -Apperture / Bukaan / Diagfragma : Semakin besar angka semakin terang.
    -Shutter Speed : semakin lama semakin terang
    -ISO / ASA : Semakin tinggi angka Semakin terang
    anda harus mem-balance kan ketiga faktor tersebut.

    kategori Exsposure ada 3:
    - Over : kebanyakan cahaya
    - Normal : cahaya pas
    - Under : cahaya kurang

    Exposure bagaikan kita sedang dalam kamar,
    Apperture adalah Jendela
    Shutter Speed adalah Lama bukaan jendela
    dan ISO adalah kacamata hitam yang anda pakai

    jadi semakin lebar anda membuka lebar jendela dan lama serta tidak memakai kacamata akan terasa terang, begitu juga sebaliknya.


    kalau ada pertanyaan tentang fotografi silahkan bertanya di sini, saya bersedia menjawab.
     
    • Like Like x 2
    • Thanks Thanks x 2
    Last edited: Feb 14, 2011
  11. Inesu Veteran

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Feb 6, 2010
    Messages:
    4,845
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +61,377 / -0
    Maaf kk smua.... :maaf:
    Klo mw ganti judul thread blg ke momod yah?
     
  12. pepenc Members

    Offline

    Joined:
    Aug 20, 2009
    Messages:
    6
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +15 / -0
    kayaknya bukan judulnya yang di ganti kk,
    tapi isinya post pertama, soalnya kan itu yang pertama di liat sama orang
     
  13. omi M V U

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Dec 20, 2010
    Messages:
    5,986
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +6,317 / -1
    @ pepenc : thx untuk penjelasannya boss

    saya kan baru cuma punya pocket kamera, sementara saya senang memfoto / mengambil gambar figure yg ukurannya kecil2
    kadang foto yg saya ambil terlalu exposure, kalau pake flash
    jadi terpaksa musti outdoor atau matiin flash jika di dalam ruangan.
    Ada rekomendasi lampu atau cara mengatur cahaya agar hasil foto-nya nanti ga terlalu exposure hasilnya? :peace:

    ada rekomendasi

    @ Inesu : diganti aja isi 1st post-nya
     
  14. fajarkurtz M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jul 25, 2009
    Messages:
    2,163
    Trophy Points:
    177
    Ratings:
    +3,473 / -1
    pengen nyoba tapi belum punya kamera'
    gan klo kmera 'prosumer' tu yang kek gimana sih? :bingung:
    thanks infonya'
     
  15. dejivrur M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jan 31, 2009
    Messages:
    3,877
    Trophy Points:
    131
    Ratings:
    +1,105 / -2
    gw punya kamera pocket nikon coolpix dgn auto focus
    dan memang benar kata TS, digital zoom memang membuat gambar jadi agak sedikit blur dan hasilnya agak pecah
    pada akhirnya agak susah dalam proses edit nya, karena waktu di utak atik pixel warnanya malah jadi hancur

    buat kamera digital kalau ngambil gambar kurang sesuai buat objek objek yang berjarak > 5 meter
    SLR atau DSLR jauh lebih baik buat perburuan jarak jauh (baca : ngambil gambar yang jarak nya jauh dari fotografer)

    tapi sejauh ini gw udah cukup puas dengan hasil jepretan gw
    contohnya bisa di liat di dejivrur.deviantart.com
     
  16. oixzonk M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jun 25, 2009
    Messages:
    4,040
    Trophy Points:
    161
    Ratings:
    +2,119 / -0
    numpang nanya..saya punya kamera pocket Sony Cybershot W350..sejauh ini saya lumayan puas dgn kinerjanya,,cz cmn diperuntukkan sbg alat dokumentasi kegiatan..
    cuman ada 1 hal yg mmbuat saya kecewa..klo mo ambil gambar benda yg bergerak (ex: mobil/motor yg lagi jln djlan raya. atw bisa jg org yg lagi lari) hasilnya slalu ngeblur atw hilang sama skali.
    ada yg bisa kasih solusi gmn caranya spy benda yg bergerak td bisa nampak jelas saat difoto :???:

    nb:
    saya sempat uji cb menggunakan putaran kipas angin..klo difoto pke flash,baling2nya nampak jelas..klo difoto ga pake flash,baling2nya ga jelas :dead:
    berdasarkan percobaan tsb..saya turun ke jalan lagi :haha:..cb praktek langsung dijalan utk ngambil gambar mobil/motor yg lagi jalan (menggunakan flash),tp ternyata hasilnya ttp ga jelas :swt:
     
    • Like Like x 1
  17. pepenc Members

    Offline

    Joined:
    Aug 20, 2009
    Messages:
    6
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +15 / -0
    Maksud Omi Over exposure kan, memang semua kamera ada kelebihan dan kekurangan, kamera pocket kekurangannya pada settingannya, karena kamera pocket semua setting apperture, ISO, dan shutter itu semua auto, jadi saran saya kalau memoto gambar figure di dalam ruangan

    1. pakai lampu belajar : jadi jarak lampu ke objek bisa anda atur dan coba2, sehingga mendapatkan gambar yang bagus.
    2. jika pakai flash usahakan ada jarak antara kamera dengan objek, agar detil objek tidak hilang, tapi juga usahakan jangan over, kalau under kan isa di edit di photoshop dan noisenya juga bisa di hilangkan.



    Kamera Prosumer itu adalah kamera Semi-DSLR, jadi kamera tersebut bisa di setting manual Apperture, ISO dan Shutter, tapi tidak bisa di gonta - ganti lensa dan tidak memakai mirror pada viewfindernya,
    kamera prosumer antara lain : Canon PowerShot S90, PowerShot G11, Panasonic Lumix DMC-LX3 dan Nikon Coolpix 8700.



    Coba anda pakai teknik PANNING, jadi waktu anda memfoto objek bergerak anda mengikuti objek tersebut.
    misal : anda mau memfoto mobil yang bergerak, pertama anda harus menekan setengah shutter anda untuk memfokuskan, kemudian anda tekan shutter sambil mengikuti arah mobil tersebut, jadi jika mobil bergerak ke kanan tangan anda mengikuti ke kanan juga.
    anda harus sering mencoba Trial & error.
    tapi kalau anda memfoto orang, anda mau tidak mau harus menggunakan flash, karena flash menunjang kecepatan shutter.


    jujur saya tidak begitu paham dengan kamera pocket, karena saya langsung memegang DSLR. jadi maaf kalau penjelasan saya ada yang tidak pas dengan kamera pocket anda.
     
    • Like Like x 3
    • Thanks Thanks x 1
    Last edited: Feb 17, 2011
  18. fajarkurtz M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jul 25, 2009
    Messages:
    2,163
    Trophy Points:
    177
    Ratings:
    +3,473 / -1
    terima kasih penjelasanya, jadi tambah tau sekarang..
    :elegan:
     
  19. oixzonk M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jun 25, 2009
    Messages:
    4,040
    Trophy Points:
    161
    Ratings:
    +2,119 / -0
    oke bro,,thanks berat atas jawabannya..saya akan cb make tehnik yg bro blg..mg2 aja berhasil :doa:
    GRP sent :top:
     
  20. ichadflofull Members

    Offline

    Joined:
    Feb 18, 2011
    Messages:
    1
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +0 / -0
    ada tutorial yg lebih simple dan pake contoh nggak??maklum newbie..hehee..tx
     
  21. omi M V U

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Dec 20, 2010
    Messages:
    5,986
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +6,317 / -1
    @ oixzonk : kalau mo tetap bagus hasil-nya, saya sarankan pake kamera yg support cybershoot boss, biasanya siy kamera Sony Ericson
    setahu saya kamera2 yg mendukung cybershoot, bisa menangkap objek yg bergerak cepat dengan jelas
    CMIIW

    @ pepenc : oiya, di body kamera digital kan suka ada tulisan 6,1mm dsb.. itu max jarak fokus kamera atau apa ya?
    saya perna baca cuma lupa, aturan2nya
    thx
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.