1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic The Promise

Discussion in 'Fiction' started by Irenefaye, Mar 5, 2016.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Irenefaye M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Nov 15, 2010
    Messages:
    278
    Trophy Points:
    77
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +443 / -0
    [​IMG]
    LOVE is not an Emotion, it is a PROMISE-The 12th Doctor

    Ares tahu dia naksir dengan Chelsy, dan dia tahu bahwa apa yang dialaminya jelas klise, dia yang kata semua orang adalah cowok yang memiliki semuanya, jatuh cinta dengan Chelsy yang disebut sekolah mereka sebagai cewek paling suram satu sekolah, hanya karena cewek itu senyum ke dia. Emangnya Ares peduli? Ia jatuh cinta dan ini cerita tentang gimana dia berusaha ngebuat si cewek suram naksir sama dia.

    “Who’s she?”

    “Nobody important.”

    “Nobody important?Blimey, that’s amazing. You know in nine hundred years of time and space and I’ve never met anybody who wasn’t important before.”—conversation between the 11th Doctor and Karzan Sardick regarding Abigail Pettigrew.

    “Aaaress!” seruan manja dari Shira mau tak mau membuat Ares mengangkat kepalanya. Gadis bertubuh mungil itu tampak berlari ke arahnya dan tanpa sungkan menggelayut manja di lehernya. Jujur ia tak menyukainya. Shira sendiri tahu ia tak menyukainya. Tapi mereka sudah kenal terlalu lama untuk tahu bahwa gadis itu hanya sedang mengganggunya.

    “Pagi-pagi lu udah ngambil pacar orang aja Res, gua gak nyangka lu ternyata tega sama temen!” celetukan Bima yang menyusul di belakang Shira langsung membuat Ares melayangkan tinju candanya ke pemuda itu. Bima hanya menerimanya dengan tawa.

    “Jangan ngomong asal, gua gak suka pacar lu, tapi gua pantang mukul cewe, jadi tiap kali nih cewe lu nempel ke gua, lu gua hajar gimana?” ujar pemuda itu dingin yang langsung membuat Shira tertawa dan melepaskan pelukannya dari Ares dan berganti bergelayut manja di lengan Bima yang ikut tertawa bersamanya. Ares hanya membuang muka.

    “Klo gak sama Shira, sama gua aja mau gak Res?” pertanyaan yang dilanjutkan dengan gelayutan manja Danu yang entah sejak kapan berada di belakangnya, membuat Ares yang pada dasarnya memang tidak menyukai kontak fisik langsung melepas paksa pelukan Danu dan memuntir tangan sahabatnya itu ke belakang punggungnya. Sontak saja pemuda itu menjerit minta ampun.

    “Sadis lu Res, hari pertama sekolah udah mo ngebunuh orang aja ...” gerutu Danu kesal. Ares memutar bola matanya dengan sebal.

    “Lu yang gila! Pagi-pagi udah nyari masalah aja!” runtuk pemuda itu yang langsung disambut tawa dari teman-temannya.

    “Lagian lu yang aneh sih Res, setua ini masih gak suka dipegang cewe. Klo gak karena lu juga gak mau dipegang sama cowo, semua orang pasti ngira lu maho!” ujar Bima disela tawanya.

    “Gua gak maho! Gua punya pacar!” gerutu Ares sebal.

    “Mantan, Res! Mantan!” koreksi Shira sadis, “Yang lu punya itu mantan! Dan semuanya pada lari dari lu sambil nangis-nangis karena terlalu sering lu dinginin” vonis gadis itu dingin. Ares kembali membuang muka.

    “Udah kelas tiga ini, gua gak butuh pacarlah sekarang!” ujarnya datar sambil membolak balik halaman bukunya. Shira, Bima dan Danu langsung terdiam.

    “Res, lu tuh kalo gak punya pacar gak akan punya waktu untuk belajar” ujar Bima prihatin.

    “Lu gak inget terakhir kali lu jomblo, cewe-cewe di sekolah ini pada beringas saling ngebully tiap lu ada ketemu mata ato sekedar ngobrol ama salah satu dari mereka?” tanya Shira horor, “Gua aja masih inget banget ... klo bukan gara-gara si Bima, gua pasti udah jadi tempe gara-gara gua deket ama lu!” ujar gadis itu ketakutan. Bima yang berdiri di sampingnya langsung mengusap kepala gadis itu sambil tersenyum.

    “Antares Cahya Huberto, lu itu pangeran di sekolah ini! Cakep, pinter, jago olahraga, kaya ... pewaris perusahaan gede lagi, klo gua bukan cowo, gua pasti juga ngejer-ngejer lu!” cetus Danu berapi-api, “Lu itu laki-laki ilegal! Gak harusnya ada di dunia ini, tapi malah ada aja!” sambung pemuda itu lagi dengan nada yang langsung berubah menjadi gerutuan. Ares kembali memutar bola matanya.

    “Lu gak salah sih Res, Cuma karena lu terkenal dingin, sekedar ketemu mata ato ngobrol singkat aja udah bisa bikin cewe-cewe di sekolah ini ngerasa punya hubungan spesial sama lu. Hal yang jadi masalah waktu mereka dengan terang-terangan nge-self declared dirinya sebagai pacar lu. Klo lu gak punya pacar resmi yang secara terang-terangan lu tegasin ke cewe-cewe itu, pacar-pacar self-declared lu itu pasti langsung saling serang dan gak jarang ngebawa-bawa lu juga ke peperangan mereka, yang ujungnya bikin lu berakhir di ruang BK ato yang terakhir paling parah bikin lu nyampe masuk ruang kepala sekolah,” jelas Bima setengah tertawa. Shira dan Danu ikut tertawa bersamanya. Ares hanya mendengus sebal.

    Ia sama sekali tak bisa menyangkal perkataan teman-temannya. Entah apa yang menghasut kebanyakan siswi di sekolahnya, setiap dia tanpa sengaja bertemu pandang dengan salah satu dari mereka, atau mungkin sekedar menanyakan hal sepele pada mereka, yang memang juga merupakan hal yang jarang ia lakukan, siswi-siswi di sekolahnya itu langsung menggila dan menyatakan diri mereka sebagai orang yang dekat dengannya, sesuatu yang membuat Ares semakin menghindari para kaum hawa di sekolahnya itu.

    Tak semua gadis di sekolah Ares bertingkah seperti itu sebenarnya, tapi beberapa yang agresif diantaranya sering sekali mencari masalah dengan para gadis yang sebenarnya biasa saja berada disekitarnya, dan satu hal berkait ke lain hal, permasalahan terus saja muncul dan tak jarang juga menyeret dirinya. Mengganggu proses belajar dan kehidupan pribadinya.

    Disaat-saat seperti ini Ares biasanya menjadikan pacarnya sebagai solusi. Bagaimanapun dia juga adalah pemuda normal yang jelas bisa tertarik pada gadis-gadis disekitarnya. Jika ia menyukai salah satu dari gadis yang menyukainya, ia tak pernah benar-benar sungkan menjadikan gadis itu sebagai pacarnya, dan karena perlakuan Ares terhadap pacarnya memberi suatu kontras yang sangat jelas terhadap gadis-gadis lain yang mengejar dirinya. Mereka pelan-pelan akhirnya mundur dan memberikan Ares sedikit ketenangan yang memang dibutuhkannya.

    Tapi ia sedang tidak ingin berpacaran. Ia sedang bosan menanggapi rengekan dan tuntutan yang selalu dilontarkan oleh gadis-gadis yang pernah menjadi pacarnya. Ia ingin menjalani tahun terakhir di sekolahnya ini dengan tenang tanpa gangguan dari gadis-gadis yang mengejarnya, tanpa juga perlu mengorbankan dirinya untuk meladeni keinginan-keinginan gadis yang menjadi pacarnya.

    “Ah! Chelsy!” seruan takjub Danu sejenak menarik perhatian Ares.

    Seorang gadis berkacamata dengan atribut serba hitam tampak memasuki ruangan kelas dan seketika menghentikan seluruh pembicaraan yang terjadi di dalamnya.

    Chelsy memang terkenal suram. Bukan hanya karena semua atribut yang digunakannya—selain dari seragam—yang berwarna hitam, tapi juga kepribadian dan tingkah lakunya yang dapat dikatakan pendiam dan cukup mengintimidasi.

    Tak ada yang benar-benar mengerti mengapa, dan tak benar-benar diketahui siapa yang sebenarnya memulai perlakuan kompak untuk mendiami Chelsy saat gadis itu memasuki kelas. Bagi kebanyakan siswa dan siswi di sekolah ini, tatapan Chelsy selalu terkesan menghakimi, dan karena itu tak ada yang mau pembicaraannya terdengar oleh gadis itu. Chelsy juga selalu melakukan kegiatannya sendiri, tanpa pernah sekalipun meminta pertolongan teman sekelas atau guru yang membuat orang-orang merasa gadis itu sombong dan sering memandang rendah orang-orang disekitarnya. Jelas gadis itu tak punya teman.

    Perlahan namun pasti gadis itu melangkah menuju bangku di depan bangku Ares, yang memang menjadi satu-satunya bangku yang belum di-claim oleh siswa-siswi di kelas barunya. Sekilas Ares dapat melihat Danu dengan iseng menjulurkan kakinya dan untuk menjegal langkah gadis itu. Ares berusaha menghentikannya tapi tetap saja gadis itu akhirnya tersandung dan sempat hampir terjatuh karena kaki temannya itu. Ares langsung melontarkan tatapan tajam kearah Danu yang hanya cengar-cengir sementara Chelsy, yang sekalipun jelas terlihat kesal, hanya menegakkan dirinya dengan cepat dan langsung duduk ke bangku sisa tadi. Sama sekali tidak memperdulikan wajah cengengesan Danu yang ingin sekali dihajar oleh Ares.

    “Nyantai Res, si Chelsy mah gak akan marah. Dia itu kan kayak robot, gak akan dipeduliinnyalah ...” cerocos Danu yang langsung mendapat jitakan dari Shira, yang juga tak menyukai tingkah lakunya. Bima yang berdiri di sampingnya ikut menatap tajam pemuda itu sampai akhirnya Danu memutuskan untuk meminta maaf, tapi sayangnya bel tanda homeroom segera memotong keinginannya. Wali kelas mereka langsung memasuki kelas dan memulai orientasi hari pertama mereka.

    Ares sebenarnya ingin memaksa Danu untuk meminta maaf secepat mungkin, namun Chelsy justru langsung menghilang begitu bel jam istirahat berbunyi dan kembali tepat pada bel tanda istirahat berakhir. Ares mencoba mencegah gadis itu saat bel jam istirahat kedua berbunyi namun lagi-lagi gadis itu menghilang dan hanya kembali tepat saat bel istirahat berakhir. Gadis itu sama sekali tidak memperdulikan siapapun dikelasnya saat pelajaran berlangsung dan saat bel jam pelajaran berakhir berbunyi, gadis itu langsung membereskan barang-barangnya dengan cepat dan langsung menghilang sebelum Ares atau teman-temannya berhasil mencegatnya untuk minta maaf.

    Frustasi, Ares langsung melampiaskan kekesalannya dengan menendang tulang kering Danu. Pemuda itu hanya bisa mengerang kesakitan dan menatap sahabatnya dengan tatapan bersalah.

    “Lu gila sih Nu, kalap apa sih lu seenaknya nyegal kaki orang yang gak punya salah sama lu? Bosen idup?” gerutu Shira gemas sambil mencubiti kedua pipi Danu. Bima yang berdiri disampingnya tak mengatakan apa-apa, tapi dari tatapannya saja Danu dapat melihat kalau pemuda itu sama sekali tidak mendukung kelakuannya.

    “Iseng aja sih Ra, kan lucu gitu liatnya, dua tahun lebih tuh orang ada disekolah kita, tapi gak pernah punya reaksi apa-apa ama sekitarnya gitu. Klo si Ares kita ini kan paling nggak masih ada reaksi gimana gitu ama orang-orang disekitarnya, lha dia ... udah jelek, suram, gak punya temen lagi! Penasaran aja gua klo gua jegal kakinya kira-kira dia bakal marah ato nggak, tapi toh gak ada reaksinya juga!” ujar Danu sebal.

    “Lu mau jadi musuhnya gitu?” tanya Bima sinis.

    “Yah, nggak juga, tapi paling nggak gua penasaran dengan apa yang bikin dia breaksi gimana gitu!” jelas Danu yang langsung membuat teman-temannya menghela nafas panjang. Mereka benar-benar tak habis pikir dengan apa yang ada di otak sahabat mereka itu.

    “Chelsy memang suram, tapi dia itu gak jelek lho! Dan gua rasa dia anak yang baik kok!” seru Shira akhirnya.

    “Ya, Shira sudah dari tadi pagi bilang kalau dia mau kenalan sama Chelsy dan nyoba jadi temennya. Kayanya hal itu lebih waras deh dari tingkahnya si Danu!” setuju Bima sambil mengalungkan salah satu lengannya ke leher Shira.

    “Lu mo temenan ama Chelsy?” tanya Danu tak percaya yang langsung mengundang jitakan dari Ares.

    “Lu ini benar-benar menjijikan ...” ujarnya dingin sambil melangkah pergi. Ia mual berada terlalu lama disamping orang seperti Danu. Penasaran juga ia, kenapa ia bisa jadi teman pemuda itu sejak tahun pertamanya di SMA. Ah, benar, karena Danu adalah satu dari sedikit orang yang mau menjadi temannya tanpa memandang latar belakang keluarganya yang tajir. Mengingat hal itu ia tahu kalau ia pasti akan memaafkan Danu besok.

    Getaran smartphone dari sakunya membuat Ares menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Ia tahu kalau ia pasti akan memaafkan Danu besok, tapi ia juga mengambil keputusan kalau ia akan tetap marah dengan pemuda itu hari ini, jadi setelah memandang sekilas nama yang terpampang di smartphone-nya, Ares langsung menggerakkan jarinya untuk menolak panggilan dari Danu dan men-mute semua komunikasi dari pemuda itu untuk hari ini.

    Ares memutuskan untuk fokus belajar di tahun terakhir masa SMA-nya ini. Ia memutuskan untuk belajar semaksimal mungkin untuk mencapai universitas impiannya dan karena itu ketika ia mendapatkan tawaran untuk mengikuti bimbingan belajar, ia langsung menerima tawaran itu, tapi hal yang mengejutkannya adalah ketika akhirnya ia tiba di gedung bimbelnya, ia menemukan sosok Chelsy yang tampak tenggelam dalam buku bacaannya di ruang tunggu gedung itu.

    Selama beberapa saat Ares tertegun di tempatnya, yang sebenarnya akan membuatnya terlihat bodoh, karena ia berhenti tepat di pintu masuk, tapi tetap saja ia tak dapat bergerak dari tempatnya. Sudah hampir seharian ini, setiap ia memiliki waktu luang ia berusaha menemui gadis itu untuk meminta maaf, namun kini saat ia menemukannya ia justru tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Terutama karena Danu yang menjadi alasannya untuk menemui gadis itu tidak ada di tempat ini, dan Ares sudah memutuskan untuk tidak menghubungi Danu hari ini. Entah kenapa hal ini justru membuatnya semakin marah dengan Danu. Ares tahu bahwa selain memaafkan pemuda itu, ia juga akan memukul kepala pemuda itu sekali lagi besok.

    “American Gods, Neil Gaiman, Indonesia atau Ingris?” Ares yang menyadari buku bacaan Chelsy akhirnya memutuskan untuk menjadi orang pertama yang memulai pembicaraannya.

    “Inggris, aku ketemu harta karun ini di perpus!”

    Jujur, Ares sama sekali tidak menyangka ia akan mendapat jawaban, jadi saat Chelsy mengangkat kepala dari buku yang dibacanya dan menjawab pertanyaannya, Ares mau tak mau kembali mematung. Ia mematung tentu saja bukan hanya karena Chelsy menjawab pertanyaannya tapi karena gadis itu menjawab pertanyaannya sambil tersenyum, dan terkutuklah Cupid yang mungkin sedang iseng saat itu, karena panahnya jelas berhasil menembus jantungnya. Yeah, right, klise total, tapi memangnya Ares peduli? Persetan dengan resolusinya yang tidak ingin berpacaran selama tahun ini. Ia tahu, dia naksir Chelsy hanya karena cewek yang terkenal suram itu senyum ke dia. Ares benci puberitas.

    “Kamu udah baca?” pertanyaan yang akhirnya terlontar dari mulut Chelsy akhirnya menyentakkan Ares dari lamunannya, dan seolah tidak ingin ketahuan kalau dia sedang melamun, Ares langsung mengacak-acak otaknya untuk mencari pendapat dirinya terhadap buku bacaan Chelsy barusan.

    “Gaiman bikin aku ngerasa mabuk, bukunya bikin perasaan aku campur aduk tapi emosi yang keluar hanya datar ... rasanya kayak abis minum-minum!” jawab Ares cepat, dan setelah mencerna sendiri kata-katanya, Ia langsung menyadari kesalahan dalam kata-katanya barusan.

    “B, bukan berarti aku pernah minum-minum! Aku hanya ngerasa abis baca bukunya, dia itu, kayak ngasi perasaan, ah kalau mabuk mungkin gini kali ya rasanya!” koreksinya cepat.

    “Aku kira hanya aku yang punya pikiran kayak gitu! Kayak pas ngabisin chapter 1, rasanya pala jadi muter dan rasanya kata-kata jadi lancar keluar dari mulut dan ... yah kayak yang kamu bilang, jadi mabuk—Ah!” seolah tersadar dengan apa yang baru saja dilakukannya, Chelsy langsung melemparkan pandangannya kembali ke buku bacaannya dan mundur beberapa langkah dari Ares.

    “Kamu ... les disini juga?” hilang sudah Chelsy yang penuh semangat dan ceria. Halo lagi ke Chelsy si cewek suram. Perubahan yang menampar Ares kembali ke dunia nyata. Dunia di mana Ares dan Chelsy sebenarnya bukan teman, dan pembicaraan tentang buku Neil Gaiman tidak akan cukup untuk meruntuhkan tembok yang selama ini menyembunyikan wajah asli Chelsy yang tak pernah dilihat baik dirinya ataupun teman-temannya yang lain.

    Ares ingin kembali melihat senyum Chelsy yang tadi. Ingin kembali mendengar suara ceria yang terlontar dari bibir gadis itu, tapi ia tidak tahu caranya. Danu. Besok dia tidak hanya akan menjatuhkan satu pukulan ke kepala pemuda itu, tapi dua. Gara-gara pemuda itu dia tidak dapat memulai pembicaraan normal dengan gadis ini tanpa teringat bahwa dia adalah teman dari pemuda yang tadi pagi menjegalnya.

    “Ah, iya, aku juga les disini ... namaku—“

    “Ares! Aku tahu namamu kok!” kata-kata Chelsy yang memotong kalimat perkenalannya langsung memberikan perasaan campur aduk di kepala Ares. Disatu sisi rasanya ia senang karena gadis itu mengetahui namanya, disisi lain, jika gadis itu tahu namanya, maka gadis itu biasanya juga tahu reputasi dan latar belakangnya di sekolah. Entah dia harus senang atau sedih mengetahui hal itu. Terlepas dari semua itu, Ares tahu jika ia ingin mendekati gadis itu, maka ada satu hal yang harus dilakukannya.

    “Soal tadi pagi, temanku, Danu yang ngejegal kakimu ... aku minta maaf!” ujarnya cepat, sebelum ia benar-benar melupakan hal yang membuat dirinya ingin menyapa Chelsy seharian penuh ini. Sesuatu yang akhirnya disesalinya karena Chelsy kemudian menutup bukunya dan tatapan gugup yang tadi tampak terlihat diwajah gadis itu seketika berubah menjadi tatapan dingin yang langsung menusuk ulu hatinya.

    “You do your own time in prison. You don’t do anyone else’s time for them” kutipan Neil Gaiman yang terlontar tajam dari mulut gadis itu seolah menyayat dadanya. ‘Kau menjalani hukumanmu sendiri di penjara. Kau tidak menjalani hukuman orang lain untuk mereka’ adalah kutipan Neil Gaiman yang berasal langsung dari buku American Gods, buku yang sedang dibaca oleh Chelsy. Dia yang pertama memulai pembicaraan mereka dengan membahas buku Neil Gaiman dan dia sendiri yang tidak mengambil pembelajaran dari buku itu.

    Ares hanya bisa berdiri terdiam saat Chelsy akhirnya berjalan pergi dari hadapannya. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini dan apa yang harus dilakukannya, tapi dua hal yang pasti adalah bahwa ia menyukai senyum gadis suram bernama Chelsy, dan pandangan pertama gadis itu terhadap dirinya adalah, bahwa dia adalah seorang idiot. Neil Gaiman brengsek.



    Setelah hampir 2 tahun saya hiatus nulis akhirnya saya putuskan untuk nulis lagi, walopun gak yang muluk-muluk. Saya mulai latihan nulis dengan nulis teenlit ahahaha *entah siapa yang niat baca teenlit disini*
    Anyway, klo ada kritik ato saran jangan ragu-ragu, bantai aja!
    salam
    IreneFaye
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
    Last edited: Mar 19, 2016
  2. Ramasinta Tukang Iklan

  3. Irenefaye M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Nov 15, 2010
    Messages:
    278
    Trophy Points:
    77
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +443 / -0
    Cerita ini sebenernya aku update tiap jumat di wattpad n Gramedia Writing Project so yeah put it here too
    There are fixed points throughout time where things must stay exactly the way they are. This is not one of them. This is an opportunity! Whatever happens here will create its own timeline, its own reality, a temporal tipping point. The future revolves around you, here, now, so do good!—The 11th Doctor.

    “Ares marah banget ya?” tanya Danu pelan setelah Ares menghilang di ujung lorong. Saat istirahat memang pemuda itu mengatakan bahwa dia tidak bisa pulang bersama mereka karena ia harus mengikuti kursus di dekat rumahnya. Danu hanya bisa menatap kepergian temannya sambil mengelus-ngelus puncak kepala yang tadi dijitak oleh Ares.

    “Buruan minta maaf gih! Jangankan Ares, gua aja malu punya temen kaya lu!” ujar Bima dingin yang langsung membuat Danu menundukkan kepalanya dengan muram.

    “Ra, emang si Chelsy penting bagent ya, sampe gua tiba-tiba dimusuhin dua temen gua kayak gitu?” gerutu Danu mencari pembelaan. Shira yang ditanya langsung menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

    “Gua tetep mau jadi temennya Chely, dan karena itu lu harus perbaiki dulu tuh otak lu, klo nggak, gua juga gak bakal mau jadi temen lu lagi!” tandas Shira final yang akhirnya membuat Danu menggangguk kalah. Bagaimanapun juga Shira juga tahun kalau Danu sebenarnya bukan orang jahat, tapi tetap saja kalau candaan pemuda itu sudah mencapai tingkat keterlaluan, mau tak mau mereka sbagai teman-temannya harus tegas memberi pelajaran yang dapat meluruskannya. Tapi Chelsy sendiri juga menarik.

    Tidak satupun dari dia atau teman-temannya pernah ditempatkan di kelas yang sama dengan gadis itu di kelas sepuluh atau sebelas, dan kebanyakan orang-orang yang pernah sekelas dengannya selalu memiliki pandangan yang sama tentang gadis itu. Gadis itu suram dan tidak pernah punya teman.

    Hal inilah yang membuat Shira cukup penasaran dengan Chelsy. Dia ingin mencoba menjalin pertemanan dengannya. Manusia itu mahluk sosial. Mereka membutuhkan manusia lain untuk bertahan hidup, dan Shira yakin Chelsy tidak dapat dikecualikan dalam kasus ini.

    Di satu sisi, Shira ingin berteman dengan gadis itu karena Shira sendiri tidak pernah punya teman dekat wanita—dikarenakan kedekatannya dengan Ares yang merupakan sahabatnya dari kecil. Chelsy pun dikabarkan tidak pernah memiliki teman. Kalau gadis itu tidak mempermasalahkan persahabatannya dengan Ares, gadis itu jelas bisa menjadi salah satu kandidat terbaik untuk menjadi sahabatnya. Shira sudah jengah memiliki teman-teman yang hanya berjenis kelamin laki-laki. Terutama teman laki-laki macam Danu dengan sikap menyebalkannya tadi pagi. Di sisi lain, saat melihat Chelsy masuk ke kelas mereka tadi pagi, mau tak mau sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya, dan ia yakin jika ia berhasil berteman dengan Chelsy, ide itu tidak sulit untuk direalisasikan.

    “Kau terlihat bahagia ...” bisikan Bima langsung menyentakkan Shira dari fantasinya. Mereka sudah berpacaran selama hampir delapan bulan, dan selama delapan bulan itu, Bima selalu berhasil mengembalikannya dengan cepat ke dunia nyata. Siapa pula yang mau berlama-lama di dunia fantasi jika di dunia nyata pacar seperti Bima selalu setia menunggu.

    “Bima, kamu tau gak cara terbaik untuk ngedeketin Chelsy gimana?” tanyanya spontan, yang langsung dihadiahi Bima dengan usapan lembut di kepalanya. Salah satu kebiasan Bima yang paling Shira sukai.

    “Kau dapat ide untuk proyek gelapmu ya? Kau tahu kalau idemu ini tidak berjalan dengan baik, Chelsy bukannya menjadi temanmu tapi bakal jadi musuhmu, kan?” tanya Bima yang langsung membuat Shira tersenyum.

    “Kalaupun Chelsy nantinya jadi musuhku, kau tetap akan menolongku dengan ide gila ini kan?” tanyanya sambil menatap kedua mata Bima lekat-lekat yang langsung membuat Bima tertawa.

    “Kau putusin pun aku pasti bakal menolongmu!” ujar pemuda itu disela tawanya. Shira dapat merasakan usapan lembut di puncak kepalanya menjadi sedikit kasar. Senyum di wajahnya langsung menghilang.

    “Rambutku berantakan!” gerutunya sebal. Bima hanya tertawa sebelum kemudian berhenti mengacak rambutnya dan kini mencubit kedua pipinya.

    “Kau putusin pun aku bakal tetep ngacak rambutmu!” ujar Bima sebelum menjulurkan lidah dan kemudian menjatuhkan sebuah kecupan singkat di pipi Shira sebelum kemudian berlari kecil mengejar Danu. Shira dapat merasakan kedua pipinya memerah.

    “Heh! Siapa yang bakal putus denganmu, hah?” serunya lantang yang hanya disambut oleh gelak tawa Bima yang sudah berhasil menyusul Danu dan kini berjalan pergi sambil merangkul pemuda itu. Shira mau tak mau ikut berlari kecil menyusul keduanya.

    “Kalian berdua menyebalkan!” tandas Danu sebal yang kini berdiri di antara Shira dan Bima. Shira hanya bisa tertawa mendengarnya. Besok dia pasti akan berhasil menjadikan Chelsy sebagai temannya. Ia yakin dengan hal itu.

    ***

    “Gua harus ngejitak pala lu tiga kali, dan abis itu lu harus minta maaf ama Chelsy!” perkataan Ares yang dilontarkannya pada Danu langsung menyambut Shira begitu ia memasuki kelas. Wajah Ares yang tampak datar memberi tahu Shira bahwa permintaan Ares barusan adalah sesuatu yang sudah dipikirkannya semalaman dan sudah menjadi keputusan finalnya. Shira tahu bahwa Ares pasti sudah memaafkan Danu pagi ini, tapi dia juga sudah memutuskan memukul kepala Danu tiga kali dan memaksa pemuda itu minta maaf pada Chelsy. Entah apa yang terjadi setelah pulang sekolah kemarin tapi hal itu jelas sudah membuat sahabat kecilnya itu jadi orang yang cukup menyebalkan pagi ini.

    “Huah, mood-mu jelek banget!” serunya pada Ares seraya berjalan ke tempat duduk. Bima yang sudah duduk di bangku sebelah langsung tersenyum dan mengacak rambutnya begitu ia duduk. Menyebalkan, tapi Shira tetap menyayangi pemuda menyebalkan itu.

    “Ra, tolongin gua dong, masa si Ares mo mukul kepala gua?” rengek Danu tepat ketika pukulan pertama Ares jatuh ke puncak kepalanya. Tidak keras memang, dan Shira yakin pukulan Ares sama sekali tidak sakit, tapi tetap saja tindakan itu menyebalkan. Ares bahkan benar-benar memukul kepala Danu tiga kali. Shira jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat kecilnya itu kemarin.

    “Sudah puas?” tanya gadis itu akhirnya ketika Ares mengambil tempat duduknya yang juga berada di samping bangku Shira. Terang-terangan tidak menghiraukan gerutuan protes Danu yang mencak-mencak terhadap perlakuan Ares tadi.

    “Belum” jawab Ares singkat yang rasanya ingin membuat Shira tertawa.

    “Lu mau cerita?” tanya gadis itu lagi yang kali ini hanya dijawab dengan gelengan kepala dari pemuda itu. Shira hanya tersenyum melihat gelagat sahabatnya itu. Jika dia belum yakin sebelumnya, sekarang dia sudah benar-benar yakin kalau masalah Ares pasti ada hubungannya dengan cewek. Ares hanya tidak mau menceritakan permasalahannya dengan Shira jika permasalahan itu ada sangkut pautnya dengan gadis yang menarik perhatiannya.

    Shira tahu bahwa cepat atau lambat dia pasti akan berhasil mendapatkan detil cerita hal yang menjadi permasalahan Ares, tapi Shira tidak mau menggalinya sekarang. Sekarang Shira ingin menjalankan misi untuk mendapatkan teman wanita pertamanya dan Chelsy baru saja memasuki kelas mereka.

    “Hai, nama gua Shira, lu Chelsy, kan?” tepat seperti janjinya, begitu Chelsy duduk dibangkunya, Shira langsung mendatangi bangku gadis itu dan memperkenalkan dirinya. Bima tampak berdiri di sampingnya dan Danu--dengan membuang muka--tampak berdiri di belakang Bima. Shira dapat menangkap tatapan aneh Ares, yang memang duduk di belakang Chelsy, tapi memutuskan untuk menghiraukan pemuda itu untuk saat ini. Shira sadar betul bahwa formasi mereka jelas lebih terlihat seperti penindas ketimbang gadis yang ingin mengajak Chelsy untuk berkenalan, tapi Shira sama sekali tidak ambil pusing dengan hal itu.

    Selama beberapa saat Chelsy tampak tak memberikan reaksi terhadap keagresifan Shira, namun saat Shira mengulurkan tangannya ke arah gadis itu, Chelsy akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Shira denegan ekspresi bingung. Sesuatu yang sebenarnya merupakan penampakan yang hampir tak pernah terlihat, atau bahkan tak pernah terlihat, di sekolah mereka. Chelsy terkenal tidak mempunyai ekspresi, karena itu perubahan ekspresi datar menjadi bingung di wajahnya jelas langsung menarik perhatian tiga orang di depannya.

    “Err, nama gua Shira dan gua pengen temenan sama lu, makanya gua ngenalin diri!” tembak Shira cepat seolah ingin memancing ekspresi lain dari wajah gadis itu, namun Chelsy bergeming. Ekspresinya seolah terhenti pada ekspresi bingung—yang sebenarnya membuatnya tampak bodoh dan lucu. Shira yang mendapat reaksi seperti itu hanya mampu berdiri tanpa mengatakan apa-apa lagi. Tangannya tetap terulur ke arah Chelsy, tapi dia ragu kalau gadis itu akan menyambutnya.

    Setelah beberapa saat berselang, yang terasa seperti berjam-jam bagi Shira. Chelsy akhirnya menggerakkan jari ke arah telinganya dan saat itulah Shira menyadari ear piece yang tertanam dalam telinga gadis itu. Earphone wireless. Gadis itu bukannya tidak memberikan reaksi. Gadis itu hanya tidak mendengarnya.

    Benar saja setelah gadis itu melepaskan salah satu ear piece dari telinganya. Gadis itu kembali menatap Shira dan melakukan sesuatu yang sangat benar-benar tak pernah diduga oleh Shira ataupun teman-temannya. Gadis itu berbicara. Sesuatu yang menurut pengetahuan Shira, amat sangat jarang dilakukan oleh Chelsy.

    “Maaf, kalau boleh diulang, tadi kamu bilang apa ya?”

    Shira menatap gadis di depannya dengan tatapan kosong selama beberapa saat sebelum kemudian menarik kedua ujung bibirnya dan melemparkan senyuman termanis yang mungkin dapat ditunjukkan oleh gadis yang sebenarnya sangat cantik itu. Bima yang menyadari hal itu tampak mundur beberapa langkah diikuti oleh Danu yang juga tampaknya menyadari gelagat aneh dari Shira.

    “Chelsy, kan? Kenalin gua Shira!” ujar Shira cepat dengan senyum yang masih terkembang di wajahnya. Chelsy menatap wajah Shira selama beberapa saat sebelum kemudian menatap tangan Shira yang terulur ke arahnya. Tanpa pikir panjang gadis itu menyambut uluran tangan Shira.

    “Ya, aku tahu, kok. Kemarin kan kita satu-satu udah ngenalin diri. Errr, kalau boleh perlu tahu, kamu ada perlu apa sama aku?” tanya Chelsy polos, yang langsung membuat Bima menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat dan Danu berbalik seolah ingin mengambil ancang-ancang untuk lari. Ares yang duduk di belakang Chelsy tampak menghela napas panjang.

    “Gua punya permintaan buat lu, Chels!” ujar Shira cepat.

    “Ya?” Chelsy yang seolah tak menyadari reaksi dari Bima dan Danu hanya menatap Shira dengan tatapan bingung.

    “Gua mo nyubit dua-dua pipi lu, boleh?” tanya Shira dengan senyum yang tetap mengembang di wajahnya.

    “Hah?” kali ini ekspresi Chelsy tak lagi kebingungan. Gadis itu tiba-tiba menyadari keberadaan dua orang pemuda yang berdiri tidak terlalu jauh di belakang Shira, dan tiba-tiba saja ia dapat merasakan bulu-bulu kuduk di tengkuknya berdiri.

    “Gua mo nyubit dua-dua pipi lu, abis itu kita temenan!” ujar Shira kali ini dengan senyuman yang tidak lagi manis, tapi lebih menyerupai seringai para pembunuh di film horor. Chelsy mendorong mundur tubuhnya ke samping hanya untuk menyadari kalau dia duduk di samping tembok, dan itu artinya Shira menutupi satu-satunya jalan keluar dirinya dari bangku itu. Kepalanya langsung berputar untuk mencari cara melarikan diri, tapi saat kepalanya mencerna kembali kata-kata Shira, mau tak mau ia kembali menatap gadis itu dengan tatapan bingung.

    “Eh?” hanya itulah yang akhirnya keluar dari bibirnya. Dia benar-benar tidak dapat membaca suasana apa yang sebenarnya sedang ia hadapi sekarang.

    “Gua ganti kata-kata gua, gua gak jadi minta. Gua mo nyubit dua-dua pipi lu, abis itu kita temenan, dan lu gak boleh nolak!”

    “Eeeh?”

    ***

    Diusianya yang akan menginjak tujuh belas tahun, Ares merasa kalau persahabatannya dengan Shira dapat dikatakan luar biasa. Shira tiga bulan lebih tua dari dirinya, dan orang tua gadis itu adalah sahabat dekat keluarganya, ditambah dengan rumah mereka yang berdekatan, Ares selalu merasa kalau hubungannya dengan Shira jauh mendekati saudara ketimbang sahabat. Bagi Shira, Ares adalah adik laki-laki kembarnya yang hanya berbeda orang tua, dan bagi Ares, Shira adalah kakak perempuan yang menyebalkan.

    Mengingat hal itu, tingkah laku Shira yang tak terduga seperti saat ini bukanlah hal dadakan pertama yang pernah disaksikannya. Saat Shira duduk di bangku taman kanak-kanak, gadis itu pernah memutuskan untuk menciptakan kue coklat dari tanah liat dan memaksa Ares untuk memakannya. Ares tentu saja menolak, tapi Shira bersikeras menyatakan bahwa kue buatannya adalah kue coklat terenak di dunia dan untuk membuktikannya gadis itu dengan nekat memakan sendiri kue tanah liat yang dibuatnya, sesuatu yang membuat Ares akhirnya ikut memakan kue tanah liat itu karena penasaran. Jelas hal ini berujung pada kehebohan luar biasa di kelasnya, tapi hal itu jelas tidak mengubah kepribadian Shira.

    Saat gadis itu masuk ke sekolah dasar, gadis itu bertekat untuk bertukar seragam dengan Ares, sesuatu yang begitu idenya dilontarkan oleh Shira, langsung ditolak mentah-mentah oleh Ares. Shira tetap menjalankan misinya, tentu saja. Entah bagaimana caranya, hari itu Shira muncul di sekolah dengan menggunakan seragam Ares. Ares pun ikut diseret ke ruang kepala sekolah karena sekalipun tidak menggunakan rok, di seragam atasan Ares tampak tertulis nama jelas Shira tanda bahwa ia terlibat dalam pertukaran seragam itu.

    Tidak cukup sampai disitu, Ares dan Shira bahkan pernah berpacaran di masa SMP hanya karena Shira ingin tahu rasanya berpacaran. Hasilnya, baru satu minggu mereka berpacaran, Ares akhirnya mengayunkan bendera putih, tanda menyerah dalam menanggapai seluruh keinginan gadis itu. Sesuatu yang mungkin menjadi salah satu alasan kenapa Ares sedikit was-was dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

    Tapi dari semua kegilaan Shira, melihat Chelsy, dengan kedua pipinya yang tampak merona merah, duduk di hadapannya, adalah salah satu yang mungkin dapat melonjak ke peringkat pertama dalam daftar tindakan-tindakan aneh yang pernah dilakukan Shira. Gadis mana yang dengan entengnya mencubiti kedua pipi orang yang baru dikenalnya dan kemudian menantang—bukan meminta—orang itu untuk menjadi temannya? Terutama jika orang yang ditantang untuk menjadi temannya itu adalah seorang gadis seperti Chelsy yang keberadaannya di sekolah ini sendiri dianggap sebagai sebuah keanehan. Ares sama sekali tidak keberatan dengan perkembangan ini tentu saja, tapi tetap saja ia tidak benar-benar ingin membuat Chelsy harus terlibat dengan Shira.

    “Jadi, ayo kita ulang dari awal, nama gua Shira dan gua mau lu jadi temen gua!” ujar Shira lantang dengan penuh semangat. Mereka kini berada di kantin, karena setelah aksi Shira yang mencubiti kedua pipi Chelsy terpotong oleh masuknya guru untuk memulai pelajaran, begitu jam istirahat pertama berbunyi Shira langsung menyeret Chelsy ke kantin dan mendudukkan gadis itu di hadapan mereka.Hanya dengan melihat wajahnya saja Ares tahu kalau gadis berpenampilan suram itu merasa sangat tidak nyaman di tempat duduknya.

    “Errr, namaku Chelsy, tapi kalau boleh tau, kenapa tiba-tiba ... kau mau jadi temanku?” tanya gadis itu akhirnya yang cukup membuat Ares takjub. Ia sempat mengira kalau gadis itu akan tetap duduk di depannya tanpa mengatakan apa-apa. Sesuatu yang dilakukan gadis itu selama jam kursus kemarin kepadanya.

    “Nggak tiba-tiba kok! Dari kemaren juga gua pengen temenan ama lu! Gua denger lu gak punya temen, gua juga gak punya temen jadi kita bisa temenan dong!” cerocos Shira cepat. Ingin sekali rasanya Ares menjitak kepala Shira saat itu juga. Danu dan Bima juga duduk di meja yang sama dengan mereka jadi tentu saja kata-kata Shira barusan sama sekali tidak berbasis.

    Chelsy pun tampaknya memiliki pendapat yang sama dengan Ares karena kali ini gadis itu kembali memasang ekspresi datar yang mungkin dapat menjadi tanda kalau gadis itu tidak mempercayai satu pun perkataan Shira. Dari sikap itu juga Ares dapat menerka kalau, seperti yang ditakutkan Ares, gadis itu merasa Shira akan menindasnya sehingga gadis itu kini memasang sikap defensif.

    Ares mau tak mau menghela nafas panjang sembari memberi tendangan kecil ke kaki Danu yang juga duduk di depannya. Pemuda itu tampak tersentak sejenak dan melontarkan tatapan heran ke arah Ares yang memang sedang memandangnya, seketika itu juga pemuda itu menyadari apa yang diinginkan Ares darinya.

    “Errr, anu Chelsy, soal kelakuan gua kemarin, yang udah ngejegal kaki lu, gua minta maaf ...” ujar pemuda itu akhirnya yang langsung membuat Ares dan kedua temannya yang lain tersenyum lega sementara Chelsy yang mendengarnya kembali memasang ekspresi bingung. Chelsy sempat melontarkan pandangannya ke arah Ares tentu saja, tapi tidak sampai satu kedipan, gadis itu kembali memfokuskan tatapannya pada Shira.

    “Intinya gini Chels, pacarku ini, Shira, sebenarnya sudah dari kemarin ingin berkenalan dan jadi temanmu. Yang dimaksud Shira dengan ‘tidak punya teman’ adalah, Shira tidak pernah punya teman berjenis kelamin wanita sebelumnya, dan karena dia sering mendengar kalau kau tidak punya teman, jadi dia ingin menjadi temanmu,” Bagaikan malaikat, Bima yang sedari tadi hanya memilih diam akhirnya membuka mulutnya, “Danu disini, karena kemarin dengan sengaja menjegal kakimu, merasa menyesal, dan sebenarnya sudah dari kemarin ingin meminta maaf padamu, tapi karena kau sepertinya sibuk kemarin, jadi kami memutuskan untuk mencegatmu hari ini ahahaha ...” tandas Bima yang diakhirinya dengan tawa. Begitulah Bima, pemuda berpembawaan tenang yang baru dikenal Ares di tahun keduanya di SMA itu selalu dapat menjadi penengah dan pembimbing di saat-saat yang tepat. Dari dalam hati Ares melayangkan ucapan terima kasih pada pemuda yang kurang lebih berhasil menaklukkan Shira itu.

    “T, tapi kenapa aku? Aku memang tidak punya teman tapi ...” kata-kata menggantung yang terlontar dari mulut Chelsy mau tak mau membuat Ares menarik nafas dalam-dalam. Mungkin memang sudah saatnya ia yang berbicara, lagipula diantara rombongannya memang hanya dia yang belum bersuara dari tadi. Dia mungkin bisa dikatakan gagal kemarin, tapi itu sama sekali bukan berarti kalau dia tidak boleh kembali mencoba, dan kali ini, dengan keberadaan teman-temannya dia dapat mengumpulkan kepercayaan diri yang tidak dapat dikumpulkannya kemarin.

    “Kenapa tidak? Apa kau merasa kami tidak pantas untuk menjadi temanmu?” tanya Ares datar. Chelsy tampak tersentak mendengarnya.

    “Bu, bukan begitu ... hanya saja--”

    “Kau merasa kau yang tidak pantas berteman dengan kami?” tanyanya lagi tanpa memberi Chelsy kesempatan untuk membela diri. Ares tentu saja bisa salah menilai orang, tapi dimatanya, Chelsy tampak seperti seseorang yang sudah terlalu lama menjadi objek hinaan orang-orang disekitarnya hingga gadis itu sendiri kehilangan kepercayaan diri untuk mengangkat kepalanya. Jika tebakan Ares benar, maka gadis itu butuh dorongan orang-orang yang tepat untuk mengembalikan kembali rasa percaya dirinya itu. Dia mungkin terlihat seperti orang bodoh kemarin, tapi kali ini dia harus membuktikan bahwa dirinya kemarin dan dirinya hari ini adalah orang yang berbeda.

    “Chelsy, kita mungkin belum saling mengenal, tapi kau mau mencoba untuk berteman dengan kami kan?” tanya Shira akhirnya seraya melontarkan senyuman hangat yang juga membuat Ares ikut tersenyum. Tak ada ‘lu-gua,’ mungkin itu adalah langkah awal yang harus mereka ambil untuk berkomunikasi dengan Chelsy, dan Ares menyetujuinya. Danu mungkin masih tak menyukai ide mereka saat ini, tapi dengan Bima yang juga ada dipihak Shira, pemuda itu tak punya pilihan lain selain ikut menyetujui gagasan Shira.

    Chelsy menatap mereka berempat selama beberapa saat. Mulutnya sempat terbuka seolah untuk menyampaikan sesuatu, tapi akhirnya gadis itu menutup mulutnya dan mengangguk. Sesuatu yang membuat Ares tersenyum puas. Pemuda itu jelas mengingat senyuman Chelsy kemarin, dan tahu bahwa tindakan yang dilakukannya kemarin adalah tindakan yang bodoh, tapi untuk tindakannya hari ini, dia yakin dia sudah mengambil tindakan yang tepat.

    Getaran dari saku celananya membuyarkan Ares dari rasa puas yang sempat dirasakannya. Pemuda itu dengan cepat mengecek smartphone-nya dan menemukan sms dari Shira terpampang di layarnya. Pandangannya seketika terlontar ke arah Shira yang kini sedang dengan gencar menanyai berbagai hal pada Chelsy sebelum kembali menatap layar smartphone-nya dan membaca pesan dari Shira.

    Lu ama Chelsy. Gw gk tau ada apa sama kalian kemren tapi lu harus cerita ama gua!

    Ares menghela napas panjang dan kembali melontarkan tatapannya pada Shira. Gadis yang sudah hampir seumur hidupnya menjadi sahabat terdekat Ares. Salah satu alasan kenapa gadis itu menjadi salah satu orang yang paling mengenalnya adalah, karena, sekalipun Ares masih belum bisa menemukan cara gadis itu bekerja, tapi Shira selalu berhasil membaca pikirannya.

    “Jadi, Chelsy, setelah kita cukup mengenal satu sama lain, kamu mau gak jadi pacar boongannya Ares?” dan saat Shira melontarkan pertanyaan inilah, Ares tahu bahwa sekali lagi, entah untuk keberapa kalinya dalam hidupnya, Shira jelas akan berhasil mempermainkannya lagi.

    “So much mental traffic in the universe. Solitude is the only peace”—The 12th Doctor

    Chelsy berusaha mencerna sebagian besar kejadian yang terjadi padanya hari ini. Seperti biasa dia berangkat ke sekolah diiringi makian dan amukan dari ibunya. Bersyukur karena kakaknya menghadiahinya dengan earphone wireless di ulang tahunnya yang ke-16, tahun lalu, dan meredam semua caci-maki dan kata-kata menyakitkan itu dengan lagu-lagu Imagine Dragons dan American Authors yang memenuhi playlist-nya. Dia tiba di sekolah sekitar lima menit sebelum jam masuk, dan mengambil tempat di tempat duduknya. Dia ingat bahwa dia baru akan mengeluarkan buku American’s God pinjamannya, saat Shira tiba-tiba mengulurkan tangan padanya dan mengajaknya berteman. Kalau saja Shira tak mencubit kedua pipinya saat itu, Chelsy pasti mengira dirinya saat ini sedang bermimpi.

    Chelsy bukanlah seseorang yang bisa menjadi teman orang lain. Dia tahu cara bersosialisasi, jika terpaksa, tentu saja, tapi gadis itu sama sekali tidak bisa menjadi seorang teman. Usahanya yang terakhir adalah di tahun terakhir masa SMP-nya dan hal itu hanya membuat hatinya hancur. Hanya dengan memikirkan hubungan pertemanan saja ia sudah dapat membayangkan berbagai ekspresi kekecewaan yang akan ditunjukkan oleh calon teman-temannya.

    Dia tak pernah bisa memenuhi janji pertemuan dengan teman-temannya, tak pernah bisa diajak jalan di akhir pekan, tak pernah mengambil inisiatif untuk menghubungi temannya terlebih dahulu, tak pernah ingat tanggal ulang tahun teman-temannya, tak pernah memberikan hadiah yang tepat untuk temannya, dan lebih dari semua itu, dalam berberapa kasus ia menemukan bahwa ia bahkan tidak dapat menulis nama lengkap teman-temannya dengan benar. Chelsy bukannya tak ingin berteman, tapi orang-orang yang berusaha menjadi temannya selalu dibuat kecewa olehnya. Itu jugalah alasan mengapa, walaupun dia memiliki beberapa teman yang dapat dikatakan dekat dengannya di masa SMP, tak satupun dari mereka ada yang masih berhubungan dengannya. Dia tak berani lagi mencoba untuk berteman Dia tak ingin menambah panjang daftar orang-orang yang kecewa dengannya.

    Tapi kini Shira mengajaknya berteman. Lebih tepatnya Shira memaksanya untuk berteman. Chelsy tentu saja tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini. Dia bukannya tidak tahu kalau setelah ia mengecewakan beberapa siswi yang berusaha menjadi temannya di kelas sepuluh dulu, hampir seluruh isi sekolahnya menganggapnya orang aneh dan menjauhinya. Dia sadar benar kalau dia terkucilkan, dan tak ada orang yang mau berteman dengannya, tapi dia juga tahu kalau Shira adalah orang yang berbeda dari siswi-siswi lain di sekolahnya. Shira adalah gadis dengan rasa percaya diri yang tinggi. Walaupun gadis itu berteman dengan Ares yang dapat disebut sebagai pangeran SMA-nya, tak ada yang berani macam-macam dengannya karena Shira memiliki aura yang menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang bisa dianggap enteng.

    Shira juga terkenal sebagai siswi yang sangat ramah dan ceria. Jika Chelsy selalu tampil suram—yang sebenarnya sama sekali bukanlah kesan yang dibangun secara sengaja olehnya, Shira selalu tampil berbinar. Hampir seluruh siswa dan guru di sekolah ini menyukainya, dan sebagian kecil yang mungkin tak menyukainya selalu menjaga jarak karena segan dengannya. Apapun itu tak ada satupun orang di sekolah ini yang berani terang-terangan menjauhi gadis itu. Berteman dengan tiga orang pria sekalipun sama sekali tak membuatnya dicap jelek oleh siswi-siswi di sekolahnya, karena pembawaan gadis itu yang acuh tak acuh tapi selalu terlihat segar. Alih-alih dijauhi, gadis itu justru menjadi inspirasi siswi-siswi lain di sekolahnya. Chelsy mengetahui hal ini, karena terlepas dari kenyataan bahwa orang-orang mengucilkannya, hal itu jelas tidak menghentikan mereka untuk bergosip di sekitarnya. Chelsy yang walaupun bukan seseorang yang bisa berteman dengan orang lain, sebenarnya adalah seorang pendengar yang baik. Sesuatu yang mulai dipertanyakannya saat Shira tiba-tiba mengalihkan seluruh pembicaraannya ke satu topik, dan topik itu adalah memintanya untuk berpura-pura menjadi pacar Ares.

    “Kau bilang apa?” tanyanya akhirnya setelah mengulang kata-kata Shira di kepalanya sebanyak lebih dari sepuluh kali. Tak satupun kata-kata gadis itu terdengar nyata di kepalanya. Dia kini mulai mempertanyakan rasa sakit dari cubitan Shira yang membuat kedua pipinya berdenyut. Mungkin seorang yang sedang bermimpi memang bisa merasakan rasa sakit. Dia sendiri pada dasarnya adalah orang aneh, jadi siapa yang dapat membuktikan padanya bahwa dia tak bisa dibangunkan dengan stimulus rasa sakit.

    “Shira ... Lu sarap ya?” kata-kata Ares yang dalam langsung menarik perhatiannya. Dia juga ingin menanyakan hal yang sama pada Shira, tapi dia merasa dia belum cukup dekat dengan gadis itu untuk mengatakan bahwa gadis itu sudah gila, secara langsung pada Shira.

    “Dengerin dulu, Chels, Res! Ini ide yang sangat bagus! Kalian berdua harus dengerin rencana ini, soalnya ini adalah ide brilian! Bima aja setuju ama ide gua!” seru Shira cepat yang sama sekali tak terdengar seperti sesuatu yang masuk akal di telinga Chelsy. Kalau saja Ares tak tampak pucat di tempat duduknya saat ini, Chelsy jelas sudah mengaggap bahwa Shira dan teman-temannya pasti sedang mengerjainya.

    Dia adalah siswi yang terkucilkan, dan Shira dan teman-temannya adalah kelompok yang dapat dikatakan menguasai sekolah mereka. Kalau kelompok itu menindasnya saat ini, tak akan ada orang yang akan menyelamatkannya. Plot klasik sinetron tontonan ibunya.

    Ingin sekali saat itu juga Chelsy melarikan diri dari bangkunya, tapi Danu—pemuda dengan tubuh paling besar dan paling berotot diantara ketiga pemuda yang duduk di meja mereka—tampak tak berhenti memandanginya sekarang, dan Chelsy bukanlah seorang petarung. Dia jelas akan kalah telak kalau Danu tiba-tiba berdiri dan menghadangnya. Chelsy hanyalah seorang pengecut. Dia bahkan tidak tahu bagaimana dia bisa berani bertingkah sok-sokan terhadap Ares kemarin, mungkin karena buku Neil Gaiman berhasil melumpuhkan saraf malunya, tapi yang pasti gadis yang kemarin berbicara secara terang-terangan dengan Ares itu bukan Chelsy. Chelsy hanyalah seorang gadis kutu buku pengecut yang hanya berani berbicara dengan penjaga perpustakaan dan pembicaraan itu sendiri biasanya hanya terjadi saat gadis itu meminjam atau mengembalikan buku.

    “Shira, lu gak bisa tiba-tiba nyuruh orang jadi temen lu, dan lu jelas gak bisa secara tiba-tiba nyuruh orang yang sama jadi pacar gua! Lu beneran gila ya?” omel Ares sangar yang membuat Chelsy memutuskan untuk tetap duduk di bangkunya. Chelsy sering mendengar gosip bahwa Ares adalah seorang karateka sabuk hitam. Chelsy mungkin tak terlalu sering mendengar gosip tentang Bima, tapi setelah dipikir-pikir, melarikan diri dari tiga orang pemuda sepertinya bukanlah ide yang bagus. Lagipula Shira masih berbicara dengan nada bersahabat dengannya. Mungkin jika dia bersedia mendengarkan gadis itu sedikit lebih lama, gadis itu akan melepaskannya secara baik-baik.

    “Dengerin gua dulu Res, gini loh, gua kan mo temenan sama Chelsy, nah gua gak bisa ngelakuin itu tanpa Chelsy selalu ada disekitaran kita, dan lu tau sendiri kan gimana reaksi anak-anak cewek di sekolah kita kalo ada cewe baru di sekitaran kita?” pertanyaan Shira membuat Ares terdiam. Chelsy pun ikut memikirkan pertanyaan gadis itu.

    Ah, kasus yang membawa Ares ke ruang kepala sekolah tahun lalu. Chelsy tak tahu detilnya, tapi dari pembicaraan siswi-siswi di kelasnya saat itu, mantan pacar Ares katanya menampar pacar Ares yang baru karena katanya cewek itu ngeduain Ares dengan cowok lain. Yang membuat heboh tentu saja adalah kenyataan bahwa cewek yang dituduh ngeduain Ares itu sebenarnya sama sekali bukan pacar Ares dan ternyata hanya cewek yang sedang dekat dengannya karena mereka berada di kelompok belajar yang sama. That’s extreme. Chelsy tak ingin terlibat dengan hal seperti itu.

    “Kalo lu dan Chelsy bilang secara terang-terangan ke orang yang nanyain kenapa Chelsy dekat dengan kita, kalo lu dan Chelsy pacaran, mereka gak akan heboh. Seperti kemarin-kemarin mereka bakal damai sendiri! Lu bisa belajar tanpa harus mikirin pacar seperti kemauan lu, dan gua dan Chelsy bisa temenan!” jelas Shira penuh semangat. Gadis itu jelas merasa bahwa idenya adalah ide yang sangat berlian. Chelsy hanya merasa mual.

    “Tadinya Shira mau ngebikin Danu jadi pacar pura-puranya si Chelsy, tapi ngeliat tingkah Danu kemarin, kayanya lebih masuk akal klo lu, Res, yang jadi pacar Chelsy, lagian lu kan emang harus nyari pacar baru biar lu bisa belajar!” perkataan Bima ini jelas bertujuan untuk memperhalus masalah, tapi hal itu jelas hanya membuat Chelsy merasa dipermainkan. Dia benar-benar ingin melarikan diri dari tempat itu sekarang.

    “Ra, lu sadar gak lagi ngepermainin perasaan orang sekarang? Lu ama Chelsy aja belum tentu beneran temenan, dan sekarang lu nyuruh dia jadi pacar boongannya gua? Lu sadar gak satupun dari kata-kata lu ngeperhatiin perasaan Chelsy? Lu udah nanya ama dia kalo dia mau lu gituin gak? Lu ada nanya masukan dia dalam rencana lu ini? Lu sadar lu lagi nge-bully anak orang gak?” risau Ares yang membuat Chelsy tertegun. Dia sama sekali tak menyangka kalau pemuda itu menyadari ketidak nyamanannya.

    “Ini kan gua lagi nanyain ke dia ...” gerutu Shira pelan yang entah mengapa justru membuat Chelsy yang merasa bersalah. Gadis itu jelas memiliki bakat untuk membuat orang-orang disekitarnya merasa tidak nyaman saat dia tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Penasaran juga Chelsy apa ada orang yang bisa menolak permintaan Shira. Mungkin Ares dan Bima. Mungkin Danu juga bisa menolak permintaan gadis berwajah sendu itu. Mungkin persahabatan mereka berempat didasarkan pada kemampuan mereka untuk menjaga Shira dari usahanya untuk menguasai dunia.

    “Chelsy, lu denger gak omongan Ares tadi?” pertanyaan yang secara tiba-tiba terlontar dari Danu langsung menyentakkan Chelsy dari lamunannya. Yup, inilah salah satu alasan kenapa Chelsy tidak memiliki teman. Chelsy jarang sekali dapat fokus dalam diskusi yang tengah terjadi diantara teman-temannya.

    “Si Ares tadi nanya, gimana pendapat lu tentang omongan gilanya si Shira tadi? Gua tadi bilang ide Shira gila, terus gua akhirnya sadar lu kayanya gak denger omongan kita!” jelas Danu, yang membuat Chelsy kembali sadar bahwa pemuda itu dari tadi terus-menerus memperhatikannya. Danu, seseorang yang mungkin tidak seperti penampilan luarnya.

    “Chelsy, jadi menurut kamu gimana? Kamu mau gak ngikutin ide aku?” tanya Shira akhirnya dengan lembut. Chelsy jelas masih tidak tahu bagaimana cara menanggapi pertanyaan itu.

    “Gua rasa dia lagi Shock! Lu pernah mikir gak Shir klo lu itu orang yang agak nyeremin! Gua yakin si Chelsy saat ini lagi ketakutan setengah mampus ama lu!” vonis Danu yang langsung memancing tatapan sinis dari Shira. Danu tidak salah, tentu saja, tapi Chelsy juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya sekarang.

    “ Beri dia waktu, kurasa semua ini agak terlalu berat untuk dicerna” perkataan Bima yang lembut seolah menjadi angin segar pertama Chelsy hari ini. Kepalanya terasa penuh, dan dia yakin dia tak bisa mengambil keputusan saat ini. Waktu jelas adalah sesuatu yang sangat dibutuhkannya sekarang.

    “Ambil sebanyak mungkin waktu yang kau butuhkan, Chels. Aku yakin kita pasti bisa jadi teman!”

    Shira meraih kedua tangan Chelsy dan menggenggamnya dengan erat. Seulas senyum terlukis di wajahnya dan tatapan mata gadis itu terlihat sangat tulus. Chelsy tidak tahu keputusan apa yang harus diambilnya untuk tawaran Shira mengenai Ares, tapi untuk menjadi teman Shira. Chelsy tahu dia menyukai ide itu.

    Chelsy tidak mampu berkata-kata saat ini, jadi dia hanya menarik napas panjang. Membalas senyuman Shira dengan senyuman yang menurutnya adalah senyum terbaiknya dan menganggukkan kepalanya, dan karena bel tanda istirahat pertama berakhir ikut berbunyi saat itu, Chelsy pun berdiri dari tempatnya dan berjalan pergi sebelum salah satu dari calon teman-teman barunya mengambil inisiatif untuk memaksanya berjalan bersama mereka ke kelas.
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  4. sherlock1524 MODERATOR

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Jan 26, 2012
    Messages:
    7,158
    Trophy Points:
    242
    Ratings:
    +22,460 / -150
    woh, napa ada spoiler AG ini :swt: saya lagi baca ini :swt:

    hmm, perasaan mabuk tpi datar kah? :bingung: keknya ndak terlalu aneh absurd amat dh ceritanya. :iii: #napasykomencritalaen. :swt:

    ntar komen lgkp abis slsai baca ch. 3nya dlu th :swt:
     
    • Like Like x 1
  5. Irenefaye M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Nov 15, 2010
    Messages:
    278
    Trophy Points:
    77
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +443 / -0
    Prasaan saya gak sop iler deh ahahaha hanya ada quotes dan pendapat pribadi gimana rasanya ngebaca tulisan Gaiman
    Saya pribadi baca AG rasanya agak kleyeng gimana gitu ahahaha--baca yang versi inggris juga kah? Gak absurd ceritanya, tapi rasanya saya lebih berharap cerita itu absurd ketimbang mau ngomong absurd tapi brasa gak keluar dari lidah ahahaha.
     
  6. Irenefaye M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Nov 15, 2010
    Messages:
    278
    Trophy Points:
    77
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +443 / -0
    Apdet ah ...
    “Sometimes the only choices you have are bad ones, but you still have to choose.”—The 12th Doctor.

    “Aku tahu kau akan ada di sini ...”

    Ares tersenyum puas saat menemukan Chelsy di perpustakaan. Untung saja dia tidak melupakan percakapannya dengan Chelsy kemarin, kalau tidak dia pasti akan kesulitan untuk mencari gadis itu hari ini. Tidak banyak murid yang mau datang ke perpustakaan. Terutama karena koleksi perpustakaan sekolah mereka tidak terlalu lengkap, dan siapa pula yang mau repot-repot pergi ke perpustakaan kalau mereka bisa menemukan informasi yang mereka inginkan melalui smart phone mereka.

    Chelsy yang tampaknya baru mengembalikan buku pinjamannya sama sekali tak menggubris keberadaan Ares dan kini berjalan ke rak buku fiksi terdekat untuk mencari buku baru yang akan dipinjamkannya. Ares jadi penasaran kenapa gadis itu mau repot-repot ke perpustakaan. Ares tahu Chelsy juga memiliki smart phone, Ares sudah melihat gadget yang berwarna hitam itu beberapa kali, jadi Ares juga tahu bahwa jika Chelsy ingin membaca buku, gadis itu bisa mendapatkan buku apapun yang diinginkannya hanya dengan mencarinya di situs pencari, dan membaca melalui handphone-nya.

    Pemuda itu mengikuti Chelsy ke rak buku yang sedang ditelusurinya dan memeriksa satu per satu judul yang terpampang di punggung buku-buku di depannya. Dia hanya pernah memasuki perpustakaan ini sebanyak dua kali sebelumnya. Pada tahun pertama dan tahun kedua dalam pelajaran bahasa Indonesia. Dalam kedua kunjungannya pun Ares selalu memiliki pandangan yang sama, koleksi buku-buku di perpustakaan ini tak ada yang menarik. Buku-buku berbahasa Inggrisnya, hampir semua sudah Ares miliki dan baca, dan buku-buku Indonesianya, yang jelas sekali merupakan sumbangan para alumni, karena sebagian besarnya adalah fiksi remaja, bukanlah buku-buku yang menjadi santapan sehari-hari Ares. Tepatnya Ares tidak menyukai buku-buku itu. Karena itulah Ares cukup terkejut saat Chelsy mengeluarkan sebuah buku yang ditulis oleh penulis Indonesia, tapi bukan berasal dari kelompok fiksi remaja. Buku itu juga bukanlah novel klasik dengan cerita penuh inspirasi seperti karya Andrea Hirata, tapi sebuah novel fiksi fantasi yang ditulis oleh penulis yang tak pernah didengarnya.

    “Kau suka cerita fantasi?” tanya Ares akhirnya, penuh rasa ingin tahu. Chelsy hanya menoleh ke arahnya dan kemudian mengangguk. Gadis itu tampaknya masih ingin mencari buku lain yang ingin dipinjamnya, dan Ares menemukan dirinya berhadapan dengan masalah baru. Ia ingin mengenal lebih jauh tentang gadis itu.

    “Kau punya rekomendasi buku untukku?” tanyanya penasaran. Kali ini ia berhasil menarik perhatian gadis itu karena Chelsy kini menatapnya dengan tatapan bingung.

    “Aku penasaran kenapa kau pergi ke perpustakaan untuk mencari buku. Buku Neil Gaiman yang kau baca kemarin sebenarnya bisa kau baca melalui hapemu, jika kau tak tahu situs untuk mencari bukunya, aku bahkan bisa menunjukkannya padamu, tapi kau tetap pergi ke perpustakaan yang koleksi buku-buku fiksinya saja tidak lengkap. Lalu kau memilih buku itu, jadi aku rasa, kau pasti menyukai koleksi buku fantasi perpustakaan ini, dan jika itu benar, dan kau sudah melakukan hal ini dari kelas sepuluh kemarin, maka kau pasti punya satu atau dua buku yang bisa kau rekomendasikan, kan?” jelas Ares yang langsung membuat Chelsy berbalik dengan cepat dan kembali menekuni rak buku di sampingnya. Ares baru akan menegurnya lagi, takut bahwa penjelasannya tadi membuat Chelsy tidak nyaman, tapi gadis itu tiba-tiba berbalik kembali ke arahnya dan kini dengan dua buah buku lain di tangannya.

    “Fantasy Fiesta tahun 2010, dan 2011, kumpulan karya-karya fantasi penulis Indonesia! Aku tidak tahu kenapa kedua buku ini disumbangkan ke perpustakaan, tapi yang aku tahu buku-buku ini jelas memiliki cerita-cerita yang akan mengubah sudut pandangmu terhadap karya penulis fantasi Indonesia!” seru Chelsy penuh semangat. Ares menatap kedua buku di depannya itu dengan tatapan takjub, dan sebelum ia melakukan kesalahan, pemuda itu langsung membawa kedua buku tadi ke konter pengurus perpustakaan.

    “Aku pinjam dua buku ini!” serunya dengan lantang yang langsung membuat pengurus perpustakaan itu menatapnya dengan tatapan sinis sementara Chelsy tertawa melihat tingkah lakunya. Mau tak mau Ares dapat merasakan wajahnya memerah.

    ***

    “Tapi buku berat untuk dibawa-bawa!” kontra Ares sambil melambaikan kedua buku di tangannya ke depan Chelsy. Belum apa-apa saja dia dapat merasakan tekanan beban pada pergelangan tangannya.

    “Ares, kau tak mengerti! Kau bisa menyentuh dan mencium aroma buku betulan. Kau juga dapat menikmati keindahan buku-buku itu saat dijajarkan dengan rapi di lemari buku, dan beberapa kover buku-buku ini bahkan memiliki cetakan judul yang memberikan sensasi berbeda saat membacanya, dan jika kau membaca buku betulan di depan umum, kesan orang terhadap dirimu meningkat drastis, dan juga dapat membantu orang untuk mengetahui buku apa yang sedang kau baca tanpa harus menanyakannya padamu, karena judulnya tercetak jelas di buku yang sedang kau baca!” protes Chelsy gemas, sambil memamerkan buku yang sedang dipegangnya.

    Mereka masih di perpustakaan saat ini, karena setelah bel tanda istirahat berakhir, dalam perjalanan kembali menuju kelas mereka, speaker sekolah mereka berbunyi dan memberikan informasi bahwa guru-guru akan mengikuti rapat sekolah mendadak, dan untuk satu jam pelajaran, setiap murid di sekolah ini diharapkan untuk belajar mandiri. Hal ini tentu saja diartikan murid-murid sebagai perpanjangan masa istirahat dan mengembalikan Chelsy yang diikuti Ares ke perpustakaan. Entah bagaimana pembicaraan mereka sekarang justru menjerumus kearah perdebatan antara keuntungan dan kekurangan membaca buku betulan ketimbang membaca ebook melalui aplikasi.

    “Chelsy, kau punya lebih dari 300 buku di dalam hapemu! Berhentilah bertingkah kalau kau lebih menyukai buku betulan ketimbang ebook!” geram Ares yang langsung membuat Chelsy memutar bola matanya.

    “Aku tak sekaya itu untuk membeli semua buku yang kuinginkan Ares, tentu saja jika aku dapat mendapatkannya secara gratis aku akan men-download dan menyimpannya dalam hapeku! Tapi bukan berarti aku tidak menginginkan buku betulannya! Sayangnya karena aku sampai hari ini belum memiliki penghasilan sendiri, buku fisik yang dapat kumiliki adalah buku yang kudapat dari pemberian orang, atau buku yang kubeli dengan menghemat uang jajanku! Karena itulah untuk memenuhi keinginanku dalam merasakan buku-buku lainnya secara keseluruhan, aku pergi ke perpustakaan dan meminjam buku-buku yang ingin kubaca. Lagipula buku-buku berbahasa Indonesia masih sulit ditemukan dalam bentuk ebook,” gerutu Chelsy sebal yang mau tak mau membuat Ares berusaha menahan tawa. Baru dua hari dia mencoba mengenal gadis itu, tapi setiap kali dihadapkan dengan ekspresi-ekspresi baru yang tak pernah dilihatnya sebelumnya, Ares selalu ambruk terpukau dengan keunikan ekspresi wajah gadis itu. Seperti saat ini misalnya, gadis itu menggembungkan kedua pipinya sambil membuang muka. Andai saja dia Shira, Ares pasti akan langsung mencubiti kedua pipi itu. Tapi dia bukan Shira, dan dia tidak mau menjadi Shira. Otaknya benar-benar tak dapat diandalkan.

    Mengingat Shira membuatnya teringat akan ide gila sahabat kecilnya itu. Entah apa yang sebenarnya sedang dipikirkan gadis itu. Ares bukannya tidak senang menjadikan Chelsy pacar pura-puranya, tapi permasalahannya adalah pada titik pura-pura. Ares amat membenci kepalsuan, dan sekalipun hal itu dilakukan untuk kenyamanan Chelsy, tapi Ares tak ingin melakukannya jika hal itu hanya untuk mempermudah pertemanan Chelsy dengan Shira.

    “Ares, apa aku boleh menanyakan sesuatu?” tanya Chelsy yang akhirnya menyadarkan Ares dari lamunannya sejenak. Lamunan yang sama sekali tak dapat dipercayainya. Apa coba maksud pikirannya tadi? Apa dia secemburu itu dengan Shira?

    “Selama kau tak menanyakan siapa yang kubunuh di tahun terakhirku SMP, kau boleh menanyakan apa saja!” jawab Ares asal yang langsung membuat Chelsy cemberut. Tentu saja Ares hanya bercanda, dia hanya membutuhkan sebuah distraksi untuk mengalihkan pikirannya dari hal yang tidak-tidak.

    “Jika kau sudah selesai cengengesan, aku mau bertanya tentang pendapatmu mengenai ide Shira?” ujar Chelsy yang langsung membuat Ares sepenuhnya fokus terhadap kata-kata gadis itu.

    “Bagian kau menjadi pacar pura-puraku?” tanya Ares berusaha memastikan. Chelsy langsung mengangguk dan langsung membuat pemuda itu menarik napas panjang.

    “Jujur aku tidak tahu,” mulainya pelan. “Aku menyukai ide Shira untuk mendapatkan teman baru, dan aku senang Shira memilihmu sebagai temannya—karena dari pembicaraan kita selama beberapa saat ini, kurasa kau bisa menangani Shira dengan baik—tapi Shira juga benar soal jika kau menjadi temannya, dan dekat dengannya, maka ada kemungkinan kau akan diserang dengan ... aku tak percaya aku akan mengatakan ini, tapi memang sebagian besar orang yang menyerang teman-teman berjenis kelamin wanita di sekitarku adalah penggemarku ...” Ares harus berhenti. Dia tidak percaya dia baru saja mengakui bahwa dirinya memiliki penggemar. Yang benar saja, memangnya dia ini anggota boy band? Memikirkannya saja sudah membuat wajahnya memerah.

    “Kurasa kau tak perlu menyangkal hal itu. Aku memang tidak punya teman, tapi dari apa yang kudengar, sebagian besar siswi di sekolah ini memang menganggapmu menarik. Apa kau tidak ingat kalau kau pernah dinobatkan sebagai siswa yang paling diincar sebagai pacar? Aku sempat mengira kalau kau atau temanmu menyuap komite mading sekolah untuk menulis artikel itu!” ujar Chelsy yang langsung membuat Ares ingin mengubur dirinya di liang terdekat.

    Ares tentu saja tahu artikel apa yang disebut Chelsy. Itu adalah hasil keisengan Shira yang saat itu merupakan salah satu anggota pengurus mading. Gadis itu dengan sembarangan menantang seluruh siswi di sekolah untuk men-voting, siapa siswa favorit yang ingin mereka pacari di sekolah, dan memasukkan nama siswa idaman mereka dalam sejenis kotak suara yang diletakkannya di depan ruang mading. Ares awalnya menganggap hal itu sebagai suatu kekonyolan, sampai saat Shira membuka sendiri kotak suara itu di depannya dan membacakan nama-nama siswa yang tertulis di dalamnya. Hasil voting menyatakan dirinya unggul dua belas suara dari Bima, yang berarti dia berhasil mendominasi sepertiga suara yang terkumpul, lawan-lawannya bahkan tak ada yang berhasil menedekati kedudukan namanya, termasuk Bima yang hanya cengengesan karena ia berhasil menduduki peringkat kedua—yang menurut Shira disebabkan oleh kenyataan bahwa Bima sudah memiliki pacar dan Ares saat itu menjomblo. Hal itu juga yang sepertinya menjadi alasan kenapa Danu semakin sering menggodanya.

    “Terlepas dari hal itu. Aku tidak menyukai ide Shira yang seolah-olah ingin memperalatmu untuk kepentinganku. Aku harus mengakui kalau aku memiliki pacar, kuharap kehidupan tahun terakhirku di SMA ini akan lebih tenang, tapi aku juga tidak mau menghabiskan tahun terakhirku ini untuk memenuhi keinginan-keinginan pacarku. Aku terakhir kali putus dengan pacarku karena mantanku itu terus-terusan memintaku menghubunginya hampir setiap saat dan memaksaku untuk berkencan dengannya minimal satu kali setiap minggunya. Itu gila! Aku harus menghadapi ujian nasional! Aku tidak bisa memenuhi keinginan-keinginan gila pacarku!” seru Ares geram. Ia masih ingat alasan absurd mantannya yang meminta putus dengannya karena menganggapnya tidak peka dan kurang perhatian. Setelah ia menghabiskan sebagian besar waktu, tenaga, dan uang untuk menyenangkan gadis itu, gadis itu malah menganggapnya tidak perhatian? Gadis itu jelas gila dan Ares mungkin memang lebih baik tidak lagi berhubungan dengannya.

    “Intinya, memiliki pacar bohongan mungkin akan sangat membantuku. Pacar hanya akan menjadi status belaka, tanpa ada ikatan khusus di belakangnya, tapi aku juga merasa Shira sama sekali tidak memikirkan dirimu saat ia mengatakan hal itu, dan kurasa idenya kali ini benar-benar gila!” tandas Ares akhirnya. Pemuda itu mengalihkan pandangannya dari Chelsy. Ia tidak berani menatap mata gadis itu. Takut untuk menemukan ekspresi yang mungkin tak ingin dilihatnya muncul di wajah gadis itu.

    “Apa ada yang pernah mengatakan padamu bahwa kau adalah seorang yang egosentris?” pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari mulut Chelsy itu langsung membuat Ares kembali menoleh kearah gadis itu. Ekspresi Chelsy kini tampak takjub dan penuh rasa ingin tahu.

    “Maksudmu?” tanyanya dengan penuh hati-hati.

    “Yah, kau merasa kalau Shira melakukan ini untukmu. Aku tidak menyangkal kalau dia mungkin merupakan sahabat baikmu, tapi kurasa dia mencetuskan ide ini sepenuhnya untuk kepentingannya pribadi. Dia ingin seorang teman, dan ingin memancingku untuk menjadi temannya. Bagaimana caranya? Menjadikanmu sebagai umpan,” jelas Chelsy yang langsung membuat Ares mengerutkan dahinya. “Bagaimanapun kau adalah pemuda nomor satu yang dinyatakan sebagai siswa yang paling diincar untuk dijadikan pacar di sekolah ini, jadi kenapa tidak menggunakan dirimu sebagai iming-iming untuk menarik perhatianku agar mau menjadi temannya. Dari apa yang kudengar dari Shira tadi, kurasa Shira ingin mengatakan padaku bahwa jika aku menjadi temannya, aku bisa jadi lebih dekat denganmu. Shira sedang menyuapku untuk menjadi temannya!” tandas Chelsy yang mau tak mau membuat Ares ternganga.

    “Ba, bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?!” tanyanya tak percaya. Chelsy langsung tertawa.

    “Kemampuan Shira untuk mencari teman baru kurasa sama buruknya dengan diriku. Kami teman yang payah, dan jika kami ingin mencari teman, kurasa cara terbaik untuk melakukannya adalah menyuap calon teman kami dengan sesuatu yang mungkin menarik perhatiannya. Waktu aku kecil, hal ini kulakukan dengan membawa hape model terbaru ke sekolah, dengan harapan teman-temanku akan tertarik dengan gadget kecil itu, ingin meminjamnya, dan kemudian di saat yang bersamaan menjadi lebih dekat denganku. Shira mengambil langkah yang lebih ekstrim, dia tahu bahwa banyak anak perempuan yang ingin berdekatan denganmu, tapi disaat bersamaan mereka juga merasa terintimidasi dengan kepribadian Shira, jadi dia mencari orang sepertiku yang sepertinya tidak terlalu terpengaruh dengan aura mengintimidasinya, dan membuat seolah-olah jika aku mau berteman dengannya, Ares boleh menjadi mainanku!” jelas Chelsy yang akhirnya membuat Ares kehabisan kata-kata.

    Seberapa kuat pun ia ingin menentang kata-kata Chelsy barusan. Entah mengapa, sebagai seseorang yang telah mengenal Shira selama hampir seumur hidupnya, penjelasan yang ditawarkan Chelsy lebih masuk akal ketimbang pemikirannya yang menganggap Shira melibatkan dirinya untuk membantunya. Walaupun Ares tahu bahwa Shira menyayanginya sebagai sahabat, Ares tak dapat memungkiri bahwa Shira juga amat sering mempermainkannya. Shira memiliki dunianya sendiri, dan dalam dunianya Ares termasuk sebagai seorang sahabat yang setara dengan mainan. Ares sudah mengetahui hal ini seumur hidupnya, tapi tetap saja mendengarkan hal itu dijelaskan secara lantang oleh orang lain membuat jantungnya terasa ditusuk secara langsung dengan pedang. Mengingat hal itu membuatnya tak ingin menyangkal kata-kata Chelsy.

    “Ada satu hal lain yang ingin kutanyakan padamu Ares, menurutmu pacaran itu apa?” tanya Chelsy yang berhasil membuat Ares menutup mulutnya yang sempat ternganga. Setiap kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu mau tak mau membuatnya tertegun. Ares berusaha mencerna setiap kata dari pertanyaan itu dan mencari jawaban pertanyaan itu dalam benaknya, tapi ia tak mendapatkan apa-apa.

    “Aku tidak tahu,” jawab pemuda itu akhirnya. “Tadinya aku ingin menjabarkan pacaran sebagai suatu hubungan berkomitemen untuk memperdalam hubungan antara dua orang yang saling menyukai, tapi setelah aku memikirkannya lebih dalam lagi, kata pacar tidak memiliki arti sekuat itu. Kurasa kata pacar hanyalah sebuah label yang bersifat semu tanpa dasar yang kokoh untuk menguatkannya ...”

    Ares menatap dalam-dalam mata Chelsy yang juga balik menatapnya. Seulas senyuman terukir di wajah gadis itu. Senyuman kecil namun penuh makna yang membuat Ares bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan gadis itu.

    “Kurasa aku akan menyetujui ide Shira!” ujar gadis itu yang langsung membuat Ares tersentak. “Tapi aku tidak ingin ada kepura-puraan. Jika aku harus dikenal sebagai pacarmu, aku lebih mau menjalaninya secara serius ketimbang dipenuhi kepalsuan yang jelas akan berakhir buruk untuk kita berdua, bagaimana menurutmu?”
     
    Last edited: Mar 20, 2016
  7. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,310
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +422 / -0
    rasa baca ceritanya menarik banget :ogblink: keseluruhan suka sih ceritanya, ya mungkin yang bikin beda/unik nih cerita si tokoh ares yang tiba2 hilang niatnya serius belajar di sma karena liat senyumnya celsy. mungkin, alangkah baiknya dikembangin tokoh dia

    hanya saran biasa tapi aslinya bagus semua kok :ogcihui:
     
    • Like Like x 1
  8. merpati98 M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,487
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,524 / -1
    *bertengger bentar*

    err... kesan pertama sepertinya cuma satu: dari ingatanku yang sudah mulai samar-samar, rasanya tulisan mbak Irene dulu jauh lebih bagus. Bukan masalah plot atau temanya sih, tapi gaya bahasanya. Di sini kayak... banyak yang bisa diedit biar lebih baik. Aku berapa kali liat tanda koma yang sebetulnya bisa diganti titik. Repetisi kata yang nggak enak. Dan di beberapa tempat, kalimatnya rasanya nggak semengalir dulu.

    Sementara ceritanya sendiri. Well. Cliche. Dan kalau aku boleh nggak tahu diri ngekategoriin, aku bakalan masukin ini ke kategori teenlit kelas tiga (seenggaknya nyampe chapter 4 ini). Masalah pertama jelas di tema yang emang kayaknya nggak diniatin buat spektakuler banget, which is fine actually. Pangeran sekolah naksir sama itik buruk rupa (yg sesuai prinsip manga shoujo: tidak mungkin ada tokoh utama yang benar-benar terlihat jelek, adanya cuma dikatain jelek) itu oke-oke aja kalau eksekusinya gak ngkutin klise juga. Yang sampai chapter 4 sayangnya masih terlihat begitu.

    Masalah kedua, tokoh. Yang lagi-lagi klise. Pangeran sekolah okay. Gadis suram penyendiri juga okay. Tapi tolonglah... lepas sedikit dari pola klise ini. Yang menurutku bisa dilakuin kalau ceritanya dikasih sedikit unsur realita dan bukan sinetronita. I mean... liat karakter Chelsy itu kayak bener-bener langsung berasa jiplak dari karakter orang pendiam pada umumnya di cerita2. Yang bikin cerita ini nggak bisa naik peringkat dari kelas tiga. Karena cuma kelas tiga yang terus-terusan ngedaur ulang hal yang sama tanpa pembaharuan. Dan yg lainnya juga sama. Shira tipikal cewek populer, yang kuat, terbiasa dapet apa yg dia inginkan, dan biasanya ada di cerita2 macem begini untuk jadi teman si cewek pendiam. Udah tema klise, dengan penggunaan tokoh2 yang seragam dengan yg lain. Berasa liat kloningan cerita mana jadinya. Yang sayangnya nggak bagus juga itu yg dikloning.

    Masalah ketiga, kutipan2. Ini subjektif. Tapi entah karena aku nggak merhatiin banget pas baca, jadi aku nggak pernah bener2 inget, tapi aku nggak liat ada kaitannya antara kutipan di awal bab sama isi chapter. Dan kalaupun ada, I'm sorry, entah kenapa cuma bikin tulisannya jadi kayak pretentious (I'm not sure whether I use the correct term or not).

    Masalah terakhir, plot. Kayak yg dari tadi kubilang: klise. Dan sampai chapter 4 berjalan belum ada tanda2 bakalan ada sesuatu yg lain dari yg lain muncul di cerita ini. Oh yeah, Ares likes Chelsy, oh yeah, Shira wanted to be her friend, oh yeah, they should go out, oh yeah, she agreed. Well.. sebetulnya ada satu-dua jalur yang bisa bikin cerita ini jadi berkurang klisenya, kalau dari yg kupikir. Tapi aku nggak yakin bakalan ke sana. Dan belum tentu bagus jg kalau ke sana *heh*.

    Overall... ohkay teenlit. Tapi teenlit pun ada yang bagus kukira. Seenggaknya ada yang nggak cuma ngikutin aturan main teenlit.
    Btw, I ship AreShira dan DanuChelsy ya. \o/ #malahbikincrackpairing

    last, I'm sorry for abusing the word cliche:maaf:

    woi woi... jangan mempromosikan bajak-membajak, Ares-san:lol: situ kaya juga.
     
    • Like Like x 1
    Last edited: Mar 27, 2016
  9. Irenefaye M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Nov 15, 2010
    Messages:
    278
    Trophy Points:
    77
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +443 / -0
    Yes I lost my sense of writing!!! Hueeee *nangis mewek ala sinetron emak-emak* :ogaaaa:
    Sadarnya waktu saya nyoba nulis fantasi sih, terus ngeliat ini kenapa tulisan saya jadi kayak gini :gadisfacepalm:
    Anyway long story short, saya putusin untuk ngelatih lagi tangan saya nulis ahaha, gak ada angin gak ada ujan, ambil template aja, nulis cerita teenlit (out of the comfort zone of fantasy--I went to slice of life teenlit hehehe). Mudah-mudahan jadi ampe tamat :gadisgenit:
    So Yes, it is cliche, I'm not gonna deny it.
    Tapi akhirnya saya dapat kripik, kripik yang dah ditunggu-tunggu makasih mbak merp.

    But no... it's doctor who quotes! Its just there coz it helps me writes *eleee*
    Tepatnya gini mbak merp, saya nulis satu chapter ini, klo mo nulis, nyari dulu quotes2 doctor who di wikiquotes (berhubung saya whovians yang kurang kasih sayang ahahaha), trus pas jatuh ke satu quotes saya dapet ilham buat oh iya bikin aja kayak gini :P
    I'm sorry it's pretentious, and I'm sorry it's cliche :maaf:
    The Promise ini adalah writing exercise saya (makanya ada dedline seminggu sekalinya--biar saya gak ongkang-ongkang kaki tanpa nulis apa-apa) jadi silahkan dibantai dan dimaki sesadis mungkin.

    btw, sekali liat juga sadar ini proyek nulis yuri gagal saya wkwkwkwk
    mbak merp mendukung AreShira dan DanuChelsy saya mah dukungnya AreBima dan ShiraChelsy :P

    bajak terus Ares wkwkwkwk, ini indowebster tempatnya bebas membajak #eh? *kabur*


    LE APDET

    “You asked me if you were a good man. And the answer is, I don't know. But I think you try to be. And I think that's probably the point.”—Clara to the 12th Doctor.

    “Dan sekarang kalian jadian?” tanya Danu skeptis sambil menatap berbagai makanan yang ada di hadapannya. Shira tampak mematung di tempat, dan Bima hanya menatap Ares dan Chelsy yang duduk di hadapan mereka dengan takjub.

    “Singkatnya begitu. Ini Pajak jadian buat kalian!” ujar Ares sambil memasukkan dompetnya ke saku. Chelsy yang melihat hal itu hanya mendengus sebal.

    “Itu bukan pajak jadian, itu hanya traktiran Ares! Ares tidak mau membiarkanku membayar setengah dari makanan ini!” gerutunya sebal.

    “Chelsy, seperti yang aku bilang tadi, mereka ini teman-temanku! Yang berhak neraktir mereka itu aku!” balas Ares cepat. Chelsy langsung menatapnya dengan tajam.

    “Apa maksudmu mereka temanmu? Kan tadi pagi Shira sudah bilang kalau dia mau jadi temanku! Shira temanku! Aku boleh nraktir Shira!” seru gadis berkacamata itu sengit. Ares memutar bola matanya dan kemudian mengeluarkan beberapa bon yang tadi dimasukkannya ke dalam saku.

    Fine! Setengah-setengah!” gerutunya sambil meletakkan beberapa lembar bon itu ke depan mata Chelsy. Dengan cepat gadis itu mengambil lembaran-lembaran kertas di depannya dan mulai menghitung berapa jumlah yang harus dibayarkannya. Ares sama sekali tak dapat mempercayai sikap keras kepala gadis itu.

    “Oke, kalian bertengkar seperti orang pacaran, tapi kalian beneran pacaran?” tanya Danu lagi yang tampaknya masih sulit mencerna berita yang disampaikan Ares beberapa saat yang lalu.

    Benar. Ares mengambil keputusan untuk menerima tawaran Chelsy. Ares tidak menyatakan perasaannya yang sesungguhnya pada gadis itu tentu saja, tapi baginya tawaran untuk menjalani hubungan berkomitmen dengan gadis itu merupakan satu langkah lebih maju untuk mengenal gadis itu lebih dalam.

    Dia tahu bahwa dia sedang menjilat ludahnya sendiri saat ini. Dia mengatakan bahwa dia tidak ingin berpacaran, tapi begitu ada gadis yang menarik perhatiannya, dengan cepat ia mengambil kesempatan itu. Semua hanya karena Chelsy berbeda, dan dia tidak ingin menyesal membiarkan kesempatan untuk mengenal gadis itu lebih jauh, hanya karena ia meragukan keputusannya. Keputusan ini mungkin akan menjadi sesuatu yang akan disesalinya di masa depan, tapi siapa peduli. Masalah itu adalah masalah untuk Ares di masa depan, kalaupun hal itu menjadi masalah. Untuk diri Ares di masa kini, dia akan berusaha menikmatinya semaksimal mungkin.

    “Kami hanya mengambil keputusan bahwa kami tidak menyukai kepura-puraan, jadi kalau kami emang mau diberi label sebagai pasangan, kenapa gak sekalian aja dijalanin? Toh gak akan ada salahnya. Chelsy jomblo, gua jomblo, Shira nyuruh kami pura-pura pacaran. Ya udah pacaran aja sekalian!” tandas Ares menjawab pertanyaan yang telah berulang kali ditanyakan Danu.

    “Ares! Lu gak kenal Chelsy! Paling banter kalian baru kenal dua hari! Masa langsung jadian?” seru Danu tak percaya. Pemuda itu bahkan langsung beralih pada Chelsy, “Lu juga gak serius kan? Lu suka muka si Ares ini ama tau kalo dia tajir kan makanya lu mau pacaran ama dia?” tuduhnya tanpa pikir panjang, yang rasanya ingin membuat Ares langsung ingin menghadiahinya dengan bogem mentah. Dia tentu saja akan langsung melakukan hal itu jika saja Chelsy tidak langsung mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke mata Danu.

    “Yap! Aku pacaran sama dia gara-gara itu semua. Masalah?” ujarnya dingin yang langsung membuat Ares terhenyak dan Danu kehilangan kata-katanya.

    Oh, tentu saja Ares tahu bahwa sebagian besar gadis yang berpacaran dengannya selama ini memang ingin menjadi pacarnya karena kedua hal yang disebut Danu tadi, tapi tidak satu pun dari mereka yang pernah menyatakannya secara terang-terangan, dan jelas tidak satupun dari mereka, pernah mengakui hal itu di depan dirinya secara langsung. Beberapa bagian dari hati Ares rasanya ingin berteriak menolak kenyataan itu, tapi di sisi lain dia harus mengingatkan dirinya. Chelsy berbeda. Itu alasan mengapa ia ingin berpacaran dengan gadis itu. Dia berpacaran dengannya karena Chelsy berbeda, atau paling tidak itulah yang diharapkan hati kecilnya.

    “Tiga pertanyaan!” seru Shira tiba-tiba yang langsung membuat Ares menoleh kearah gadis itu. Penasaran kapan gadis itu sadar dari keterkejutannya.

    “Satu! Kau tau kau mungkin bakal diserang fans Ares kan? Apa kau siap ngadepin mereka?” tanya Shira yang membuat Ares kembali tertegun. Dia benar-benar lupa masalah yang selalu dialami pacar-pacarnya dulu. Beberapa dari mereka yang tidak kuat iman bahkan langsung memutuskan hubungan dengannya setelah hari ke tiga mereka berpacaran. Ares tidak pernah tahu bagaimana gadis-gadis itu diserang, tapi mau tak mau kali ini dia jadi benar-benar menghawatirkan hal itu. Dia tidak ingin Chelsy memutuskan hubungan dengannya hanya karena serangan-serangan tidak penting. Dia harus mencari tahu lebih dalam tentang serangan ini.

    “Aku rasa, aku bisa menghadapi mereka. Orang tidak mengucilkanku hanya karena aku pendiam. Mereka menyebutku gadis suram, dan kurasa itu membuat beberapa dari mereka menakutiku!” jawab Chelsy sambil tersenyum, yang langsung membuat separuh rasa khawatir Ares berkurang. Bagaimana orang bisa mengucilkan gadis yang memiliki senyuman seperti Chelsy, Ares mungkin tidak akan pernah tahu, tapi sesuatu dalam dirinya tak ingin membiarkan orang lain melihat senyuman Chelsy secara cuma-cuma. Tidak juga untuk Shira.

    “Aku mulai meragukan predikatmu sebagai gadis suram dengan senyuman seperti itu!” komentar Bima setengah tertawa yang langsung membuat Ares sadar bahwa tidak hanya Shira, dia juga tidak ingin Bima dan Danu melihat senyuman Chelsy. Senyuman gadis itu harusnya hanya miliknya.

    “Oke, kau percaya diri, tapi apa kau siap jadi pacar Ares? Maksudku, cowo satu ini bukan jomblo karena keinginannya, lho! Dia itu jomblo karena banyak yang nembak dia, tapi gak ada satupun yang tahan pacaran sama dia! Dia diputusin terus sama pacarnya! Kau tau kan pertemanan kita bergantung ama hubungan kalian berdua, kalau ntar kalian putus kita gimana?” tanya Shira yang mau tak mau membuat Ares akhirnya menyadari bahwa teori Chelsy tentang Shira yang memanfaatkannya untuk memancing Chelsy menjadi temannya, mungkin benar. Ares mungkin memang hanya umpan. Kenyataan yang sedikit menyakitkan, tapi mengingat segala hal gila yang pernah dilakukan Shira terhadap dirinya, hal ini rasanya bukan yang paling gila.

    “Aku tidak tahu apa ada yang namanya siap untuk menjadi pacar Ares, atau tidak di dunia ini. Tapi salah satu alasan kenapa aku mau menjadi pacar Ares adalah karena aku mau berteman denganmu, dan rasanya jika aku dan Ares pada akhirnya putus pun aku tetap ingin berteman denganmu! Jadi aku rasa kau tidak perlu takut tentang hal itu, Ra! Jika hal itu terjadi aku pasti akan mencoba untuk mencari cara lain untuk menjadi temanmu—walau mungkin justru kau yang saat itu tidak ingin menjadi temanku,” jawab Chelsy yang entah bagaimana membuat mata baik Shira maupun Chelsy berkaca-kaca. Bagaimana mereka berdua dapat memiliki ikatan aneh hanya dalam waktu sesingkat itu, akan menjadi misteri bagi Ares mungkin untuk seumur hidupnya.

    “Kalau kau sampai putus dengan Ares aku akan tetap jadi temenmu kok, Chels!” seru Shira yang langsung membuat Ares mempertanyakan bagaimana hal ini dapat terjadi.

    Shira dan Chelsy baru berbicara dengan satu sama lain tadi pagi, dan Shira mencetuskan ide gilanya pada jam istirahat pertama. Di jam istirahat ke dua ia dan Chelsy berbicara cukup panjang dan mengambil kesimpulan untuk berpacaran, dan pada jam istirahat ke tiga ini dia menyampaikan keputusan pembicaraannya dengan Chelsy pada teman-temannya. Shira dan Chelsy jelas tidak memiliki hubungan yang lebih dalam daripada hubungannya dengan Chelsy. Mereka baru saling mengenal satu sama lain kurang dari dua belas jam, sementara Ares—jika menghitung pembicaraannya dengan gadis itu di tempat les kemarin—telah mengenal Chelsy lebih lama. Chelsy dan Ares seharusnya memiliki hubungan yang lebih dalam. Dia benar-benar tidak dapat mempercayai bahwa dia sedang mencemburui Shira saat ini.

    “Pertanyaan ketiga lu apa Shir?” tanya Danu geram yang seolah memecahkan gelembung tak kasat mata yang mengisolasi Chelsy dan Shira dari dunia luar. Sesuatu yang merupakan tindakan pertama Danu yang disyukuri oleh Ares.

    “Ah! Aku tidak menyangkal kebenaran dari jawaban Chelsy tadi—soal pertanyaan Danu, tapi aku penasaran apa yang Chelsy suka dari lu, Res, ampe-ampe dia nembak lu!” ujar Shira yang langsung membuat Ares erteguns ejenak memproses kata-kata sahabat kecilnya itu.

    “Tau darimana kalo Chelsy yang nembak gua?” tanya Ares cepat yang langsung membuat Shira tertawa.

    “Lu gak pernah nembak cewek, Res, cewek pasti nembak lu duluan, dan sesuatu dari tingkah lu ngebuat gua yakin kalo Chelsy pasti yang duluan nembak!” jawab Shira disela tawanya. Ares mengerutkan dahinya dengan heran.

    “Dia menarik! Sekilas dia terlihat seperti pemuda yang tampak dingin dan acuh tak acuh, tapi jelas sekali itu hanya imej yang dibangunnya! Dia punya sisi kekanak-kanakan!” cetus Chelsy menjawab rasa penasaran Shira. Gadis itu langsung dengan cepat mengangguk dan menunjuk gadis itu dengan penuh percaya diri.

    “Teman!” serunya lantang, yang langsung memancing perhatian beberapa siswa-siswi lain di sekitar meja mereka. Danu dan Bima yang duduk di kedua sisi gadis itu langsung mengangguk mantap.

    “Dia emang salah satu dari kita!” ujar Danu akhirnya langsung membuat Ares menatap ketiga temannya itu dengan tak percaya.

    “Maksud kalian apa?” tanyanya bingung. Bima langsung tertawa.

    “Chelsy menemukan alasan yang sama dengan kami, alasan yang ngembuat kami jadi temanmu, Res! Kami setuju dia jadi pacarmu!” jawab pemuda itu disela tawanya yang membuat Ares semakin mempertanyakan, apa yang sebenarnya sedang terjadi?

    ***

    “Filem favorit?” tanya Danu.

    Tv Series ato Movie?” Chelsy balik bertanya.

    “Yang mana ajalah, yang lu suka yang pastinya!” jawab pemuda itu sebelum kembali menyendokkan sebuah bakso ke dalam mulutnya.

    “Kalau tv series sih sukanya Doctor Who, tapi kalau movie susah, banyak banget!” jawab Chelsy yang kini tampak berpikir keras.

    “Aku gak pernah nonton Doctor Who, emang bagus banget?” tanya Shira ikut nimbrung. Gadis itu sudah menghabiskan semangkuk bakso dan setengah piring siomai yang dibaginya dengan Bima, tapi tangannya kini beralih pada seporsi kelepon yang terletak tak jauh dari depan Chelsy, dan gadis itu dengan cepat bergerak mendekatkan piring kelepon itu ke depan Shira.

    “Bagus banget!” jawab Chelsy penuh semangat. Ares sama sekali tidak berbohong jika dia mengatakan bahwa mata gadis itu tampak berbinar saat menceritakan seri televisi kesukaannya.

    “Selamat datang di bangku pacar, Res!” ujar Bima singkat sambil menyodorkan piring gado-gado ke depannya. Ares menerima piring itu sambil memasang senyum lemah. Siapa yang dapat menyangka teman-temannya justru menerima Chelsy dengan cepat dan sama sekali tidak menghiraukan keberadaannya saat ini.

    Ia kini benar-benar memahami rasanya menjadi Bima di kelompok mereka. Pantas saja pemuda itu lebih banyak berdiam diri ketimbang berbaur dengan pembicaraan mereka sebelum ini. Inilah bangku pacar, bangku dimana saat sang pacar sibuk berbaur dengan teman-temannya, para pacar hanya bisa pasrah menemani tanpa banyak berkata-kata karena mereka tidak ingin menghancurkan momen kebersamaan pacar mereka dengan teman-temannya, dan karena menatap energi yang terlihat saat sang pacar sedang bersemangat dalam menceritakan sesuatu, seperti yang dilakukan Chelsy saat ini, sudah cukup untuk membuatnya senang.

    “Aku dan Bima bakal nonton, sore ini, kau dan Ares mo ikut?” tanya Shira yang langsung membuat Danu cemberut.

    “Hei, kalian mo double date gitu? Gua gak diajak?” tanyanya ketus yang langsung membuat Shira tertawa, namun Chelsy justru menundukkan kepalanya dengan sedih.

    “Aku gak bisa,”jawabnya gusar yang langsung membuat Ares menyadari gelagat aneh dari gadis itu. Ajakan Shira jelas mengganggu Chelsy. Ares tidak mengetahui penyebabnya, tapi Chelsy jelas tidak nyaman dengan ajakan itu.

    “Aku harus pulang cepat ke rumah sore ini, jadi gak bisa jalan-jalan, mungkin lain kali?” tanya Chelsy cepat dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Ares langsung menyadari bahwa gadis itu menyembunyikan sesuatu. Dia mungkin bisa menanyakannya pada Chelsy nanti, tapi dia tidak begitu yakin kalau dia cukup dekat dengan gadis itu untuk menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi. Mereka memang pacaran, tapi tetap saja mereka baru mengenal satu sama lain kurang dari dua hari.

    “Lain kali!” Shira menyetujui dengan mantap.

    Bel tanda istirahat berakhir berbunyi dan mereka berlima pun berjalan dengan cepat menuju kelas mereka. Dua jam mata pelajaran terakhir hari ini diisi dengan pelajaran bahasa Inggris dimana guru mereka memberikan kuis dadakan untuk melihat seberapa jauh pemahaman mereka terhadap bahasa Inggris sampai saat ini, yang kemudian dilanjutkan dengan pembahasan soal kuis tersebut.

    Ares sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Chelsy selama pelajaran berlangsung, dan saat ia melihat bahwa seperti kemarin, begitu jam pelajaran berakhir, Chelsy langsung membereskan barang-barangnya dengan cepat dan mengucapkan selamat tinggal pada mereka, Ares merasa ia harus melakukan sesuatu.

    “Kau tidak ingin aku mengantarmu pulang?” tanyanya cepat setelah dia berhasil mengejar gadis itu ke dekat pintu keluar dan menjajari langkahnya, yang walaupun pendek, tapi cepat.

    “Kau tak perlu mengantarku pulang, Ares, Ibuku selalu menjemputku setiap sore, dan karena itu aku harus bergegas karena ibuku masih memiliki pekerjaan lain setelah menjemputku!” ujar Chelsy cepat sambil menuruni tangga menuju pelataran. Benar saja sebuah mobil kapsul berwarna hitam telah menungggu di luar gerbang. Ares tahu itu adalah mobil Chelsy karena mobil itu juga yang menjemput gadis itu kemarin dari tempat kursus.

    “Tapi aku bahkan belum punya nomormu, Chels!” seru Ares cepat. Chelsy hanya tertawa.

    “Shira memberitahuku nomor hapemu tadi siang, jadi nanti sampai rumah aku bakal chat, oke?” seru gadis itu sebelum berlari kencang menuju gerbang dan memasuki mobil kapsul yang menunggunya. Dalam sekejap mata saja mobil itu langsung bergerak dan membawa sosok Chelsy pergi dari hadapan Ares. Hari pertama mereka berpacaran. Untuk pertama kalinya Ares tidak mengantar pulang pacarnya.

    “Pacar baru lu, Res?” pertanyaan seorang gadis yang entah sejak kapan berdiri di samping Ares langsung membuat Ares menoleh kearah gadis itu. Ares mengenalnya tentu saja. Dia dan gadis itu sempat berpacaran selama tiga bulan sebelum gadis itu memutuskan hubungan mereka beberapa hari sebelum liburan akhir semester dimulai. Ares tidak dapat melupakan saat itu karena gadis itu mengakhiri hubungan mereka beberapa saat sebelum ujian fisikanya dimulai, dan membuat pemuda itu tidak dapat berkonsentrasi dengan ujian akhirnya. Ares harus mengikuti ujian perbaikan setelah itu dan harus cukup puas dengan nilai rata-rata yang didapatkannya setelah itu. Garis besarnya, Ares membenci gadis itu sekarang.

    “Lu pacaran ama Chelsy ato lu pura-pura ama dia? Soalnya rasanya Chelsy, terlalu suram gak sih buat jadi tameng pengganti gua?” perkataan blak-blakan yang terlontar begitu saja dari mulut gadis itu rasanya ingin membuat Ares menghantamkan kepala gadis itu ke tembok. Setan apa yang membuatnya setuju berpacaran dengan gadis itu dulu. Oh benar, dia pernah menyukai aura acuh tak acuh dan blak-blakan gadis itu. Gadis itu memang menyebalkan tapi dia jujur.

    “Lu mau apa, Ken?” tanya Ares datar. Gadis itu mengangkat salah satu alisnya sebelum mengangkat bahu dengan sikap acuh tak acuh.

    “Hanya khawatir mungkin. Hari kedua smester dan setahu gua lu belum punya pacar, jadi tadinya gua mo liat kabar lu gimana hari ini. Oh, dan beberapa temen gua nanya kira-kira gua bisa ngejodohin salah satu dari mereka ke lu nggak, jadi pas gua liat lu disini tanpa disertai temen-temen lu, gua samperin dah, trus gua liat lu ama si Chelsy dadah-dadahan ... terakhir gua tau sih, lu cuma kaya gitu ke pacar lu!” jawab gadis itu kurang lebih sama datarnya dengan Ares. Shira menyebut hubungan mereka terlalu datar. Mungkin Shira benar. Hubungan mereka tidak benar-benar memiliki arti.

    Gadis itu tampak mengetik sesuatu di smartphone-nya sebelum kemudian menghela nafas panjang dan menepuk punggung Ares singkat. Ares tidak menyukainya. Tidak pernah menyukainya.

    Sebuah motor tampak memasuki pelataran sekolah mereka dan berhenti di depan mereka. Pengemudi motor menyerahkan helm pada gadis itu yang langsung menerima dan mengenakannya.

    “Lu tau gak Res, gua sama Chelsy satu SMP? Gua baru ngirim sms ke Danu, soalnya lu gak bakal mau ngomong panjang sama gua, dan gua yakin Danu salah paham soal Chelsy. Gua balik dulu!” ujar gadis itu sebelum membonceng motor yang ada di depan mereka dan berlalu dari hadapan Ares yang menatapnya dengan kebingungan.

    “Res, si Niken ngirim sms ke gua!” seruan Danu yang datang dari belakang tubuhnya langsung membuat Ares berbalik dan menghadapi salah satu sahabatnya. Shira dan Bima tampak tak jauh berjalan di belakang pemuda itu.

    “Gua juga tadi ketemu dia, mang dia ngomong apa?” tanya Ares cepat. Danu tidak menjawab, pemuda itu hanya menunjukkan layar smartphone-nya pada Ares. Hanya ada dua baris kata yang tertulis di layar itu.

    Chelsy pernah punya pacar.

    Pacarnya bunuh diri pas kelas 3.
     
  10. merpati98 M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,487
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,524 / -1
    me back just for saying...

    ShiraChelsy sih ada momennya. AresBima nggak ada oi :o
    kidding.

    Cuma rada heran sama reaksi Shira. Dia nanya apa Chelsy kuat ngelawan fangirl2nya Ares, padahal sebelumnya dia yg bilang kalau Chelsy sebaiknya pacaran sama Ares biar dia aman dari fangirl2nya. Karena cewek yg deket2 sama mereka (aka Shira, yg otomatis Ares, Bima, dan Danu) bisa diserang jika tidak ada kejelasan hubungan. Tapi di sini mendadak ganti aliran dan... cewek yg jadi pacar Ares pun tetep bakal diserang, yg kalau dipikir sih emang wajar, tapi bikin serba salah. Jadi maunya itu apa toh, mbak Irene? Dan tambah koplaknya mengingat yg ngomong begitu adalah tokoh yg sama. Shira, jadi sebelumnya kamu sengaja ngebual apa sekarang logikanya baru balik entah dari mana?

    Selain itu, aku sepertinya melihat character development yang sedang panjang tebing /:matabelo\ ...trus jatoh lagi.:ngacir:
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.