1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic The Chronicle of Shapeshifter : Hiren Si Licik

Discussion in 'Fiction' started by galenixs, May 21, 2015.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. galenixs Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Oct 31, 2011
    Messages:
    30
    Trophy Points:
    21
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +18 / -1
    Ini merupakan thread karya saya yang kedua di forum idws :D sebelumnya saya pernah posting karya saya yang berupa fanfiction di thread berikut ini :

    http://forum.idws.id/threads/naruto-oneshoot-see.550172/

    Kalau kalian berkenan, kalian juga bisa membaca karya saya yang lain di website pribadi saya di :
    http://www.krisyan.com

    Untuk kali ini, ane mau share orific ane yang bertema fantasy, cekidot

    p { margin-bottom: 0.25cm; direction: ltr; line-height: 120%; text-align: left; widows: 2; orphans: 2; }p.western { font-family: "Calibri",serif; }p.cjk { font-family: "Calibri"; }p.ctl { font-family: "Times New Roman"; }

    Orang berlalu lalang, bersenda gurau dengan sahabat atau kekasihnya. Hiasan bunga berwarna-warni menambah aura keceriaan hari ini. Tetapi tidak dengan suasana hatiku, mungkin bila diproyeksikan sebagai aura, milikku berwarna kelabu di antara lautan warna-warni aura kebahagiaan sekitar.

    Duduk sendiri, hanya berteman kopi di kedai makan. Duduk termenung memikirkan rangkaian kata yang kuharap tepat untuk memutuskan jalinan ikatan kami selama ini.

    Kuambil rokok yang barusan kubeli. Kutatap hampa rokok yang sekarang menari lesu di antara jemari. Aku tak pernah mengisap sebatang rokok pun selama ini. Dan aku tak tahu apa manfaatnya jika aku memulainya sekarang. Tetapi orang-orang terdekatku akan mengetahui suasana hatiku jika kumulai kebiasaan ini. Dia akan mengetahuainya, dan lubuk hatiku yang terdalam berharap akan ada kepedulian darinya. Ya, mungkin itulah manfaat merokok bagiku, agar mendapat perhatian.

    Sambil mendengus getir kuletakkan rokok itu kembali. Bodoh, apa bedanya aku dengan bayi yang menangis untuk mendapat perhatian jika melakukannya?

    Lagi pula ini terasa aneh. Seperti ada yang salah. Bukankah aku menunggu dirinya untuk memutuskan ikatan status kami? Lalu mengapa aku malah berharap mendapat perhatian dan simpati darinya. Dia, yang kebahagiaannya adalah hal utama bagiku, yang akan selalu kuperjuangkan tanpa mengenal letih. Dia yang pada akhirnya harus kulepas demi sebuah prinsip.

    Oh Tuhan, mengapa semua harus serumit ini? Jika dia bukan jodohku, mengapa harus dengan jalan ini kau memisahkan kami? Mengapa kau tumbuhkan rasa ini? Betapa aku berharap dia tidak usah datang.

    Harap hanyalah tinggal harap. Menguap seiring sosoknya yang mendekat. Cantik dan menggemaskan seperti biasa. Hanya binar matanya yang meredup. Dia pasti telah memahami arti pertemuan kami hari ini. Dan mengetahui akan hal itu membuatku ingin lari sekarang juga.

    Dengan seuntai senyum manis, ia duduk di depanku. Dan kedua matanya langsung menatap mataku.

    Ada kecanggungan di antara kami. Tak ada yang berani memulai pembicaraan. Perasaan tak nyaman menyelimuti kami berdua. Hanya tatapan mata tak terputus yang menjadi media jalinan komunikasi antara kami. Tetapi hal ini tidak cukup untuk mejelaskan semuanya. Menerangkan semua alasan yang harus dia ketahui.

    Kukumpulkan keberanian. Ayolah, aku lelaki. Aku harus memulainya, atau mungkin mengakhirinya.

    “Ini tentang dia, bukan?” ujarnya meruntuhkan segala niat yang coba kukumpulkan. “Ini tentang moral dan prinsipmu, kan? Soal pemikiran-pemikiranmu? Mengenai rasa iba dan sikap kesatria konyol yang kau pegang, bukan?”

    Aku hanya bisa termenung. Jika aku bukanlah aku, aku tak akan mengerti apa yang barusan dia katakan. Tetapi karena aku adalah aku, maka dengan mudah perkataannya itu jadi punya arti mendalam. Oh Tuhan, ini menjelaskan betapa dia memahamiku lebih dari siapa pun. Dan ini membuatku semakin sakit untuk melepasnya.

    “Kau tak bisa membiarkan seorang ******** menjadi orang yang bertanggung jawab akan masa depannya. Kau merasa tugasmulah untuk memikul tanggung jawab itu. Untuk memastikan kebahagiaan orang yang benar-benar mencintaimu. Bahkan jika itu artinya mengorbankan kebahagiaanmu,” lanjutnya dengan nada datar.

    Aku ingin membantah, atau mungkin mengiakan atau apa pun. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya, tapi ada yang salah dengan kerongkonganku.

    “Aku ingin bertanya ‘Mengapa?’ tapi aku sendiri sudah tahu alasannya. Aku ingin memohon tapi kurasa hal itu tidak benar. Semuanya terasa salah jika aku mencoba menentang kehendakmu kali ini. Kurasa keputusanmu adalah hal terbaik untuk sekarang. Mungkin ini memang takdir kita, yang kita tempuh bukanlah jalan yang membahagiakan tapi kurasa itulah yang benar. Betapa aku berharap jalan kita tidak harus begini,” dan dia beranjak pergi, meninggalkan air mata dan aku yang membisu.

    Bahkan, di saat terakhir hubungan kami tidak sedikit pun dia mengungkit kelemahanku. Kepengecutanku yang membuat semua ini terjadi. Entah terlalu sakit untuknya jika harus mengulang semua kejadian itu ke dalam ucapan, atau entah dia tidak ingin menyakitiku dengan mengungkit kisah tersebut dalam pembicaran singkat kami. Apa pun alasannya, hal itu justru menusuk perasaanku lebih dalam lagi. Kutundukan kepala dan menangis dalam diam, tak peduli apakah ada yang menyadari keadaanku atau tidak.

    Saat kutengadahkan kepala, matahari telah bergerak ke arah barat menunjukan lamanya waktu yang kuhabiskan untuk menyesali keadaan. Kuhapus air mata dan mulai berjalan tegap meski hati masih tetap terasa rapuh. Bagaimana pun aku harus segera memenuhi janji lain yang telah kuikrarkan. Janji yang memisahkan jalanku dengan dirinya.



    Jalan pertokoan yang ramai mulai tergantikan oleh rumah-rumah penduduk biasa. Bukan biasa dalam artian sederhana layaknya rumah rakyat jelata, tapi justru sebaliknya, yang kulewati adalah rumah indah para saudagar dan bangsawan kecil yang tidak difungsikan sebagai toko.

    Jalanan yang kulewati mulai menanjak dan perumahan para saudagar yang berjajar rapi berhenti di dekat tembok menyerupai benteng kecil indah dan kokoh yang membentuk sebuah lingkaran besar. Di tengah lingkaran itu berdiri sebuah rumah yang mirip sebuah kastel kecil. Rumah itulah yang kutuju.

    Malas bertemu dengan penjaga gerbang, aku bertransformasi menjadi ras manusia bersayap tanpa mempedulikan baju yang terkoyak karena tumbuhnya sayap di punggung dan melesat melewati pagar. Tentu saja jika orang lain yang melakukannya, para penjaga akan segera melesatkan panah untuk menjatuhkannya. Ah, tapi mungkin aku juga akan diperlakukan seperti itu beberapa hari lalu. Atau lebih tepatnya sebelum kejadian itu.

    Sebuah jendela di sayap kiri rumah terbuka dan seorang gadis muncul sembari melambaikan tangannya. Rambut merah menyalanya berkibar menutupi sebagian wajahnya yang putih terawat. Aku segera mengubah arah haluanku ke arahnya.

    “Bagaimana?” tanyanya cemas sembari mundur ketika aku hinggap di ambang jendela.

    “Sudah berakhir,” jawabku singkat dan aku pun meloncat masuk kamarnya.

    “Dia menerima keputusanmu begitu saja?” dengan nada cemas yang sama.

    “Ya, bisa dibilang begitu,” jawabku letih sembari bertansformasi kembali ke wujud manusia.

    “Bagaimana..?”

    “Bagaimana apa lagi? Aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya, atau lebih tepatnya dia yang mengakhiri. Aku terlalu pengecut bahkan untuk bicara satu kata pun,” aku memotong pertanyaannya yang seakan tanpa henti dengan nada kesal.

    “Maksudku bagaimana perasaanmu?” dia mengulangi pertanyaan dengan nada yang diusahakan lebih lembut.

    Aku hanya terdiam. Kualihkan pandangan ke luar tanpa berniat melihat atau menjawab gadis berambut merah itu.

    “Ren?”panggilnya setelah beberapa saat dalam keheningan.

    “Tolong panggilkan pelayan untuk membawakan baju ganti. Aku ingin bertemu dengannya,” jawabku mengalihkan pembicaraan.

    “Baiklah kalau kau memang tak ingin membicarakannya denganku,” dengusnya sambil berjalan menuju pintu.

    “Maaf,” ujarku pelan saat ia membuka pintu dan melangkah keluar.

    “Tidak usah, mungkin aku memang belum bisa memahami dirimu sepenuhnya,” ujarnya pelan sambil menutup pintu kamar kembali.

    Bodoh, untuk entah yang ke berapa kalinya aku memaki diriku. Seharusnya aku bisa mengatur perasaan hingga emosiku tidak tumpah pada siapa pun yang mencoba untuk peduli. Mungkin benar, Reza, nama gadis berambut merah tadi, tanpa memperhatikan keadaan terus mengajukan pertanyaan sensitif, tapi itu karena ia masih sangat muda dan sudah menjadi sifatnya untuk mencari tahu pokok permasalahan. Aku yang seharusnya bersikap dewasa dan memberinya pengertian.

    Ah sudahlah, sekarang bukan waktunya memikirkan perasaan sepele seperti itu, ujarku sembari beranjak menuju pintu saat ada yang mengetuknya.

    “Tuan, ini pakaian ganti yang Anda minta,” ujar seorang pelayan memberikan pakaian padaku.

    “Ya, terima kasih. Kalian boleh pergi,” ujarku sesaat setelah mengambil baju tersebut.

    Meski mereka memanggilku “Tuan”, kulihat tak ada rasa hormat dari sikapnya. Aku hanya tersenyum ketika mengetahuinya dan kembali masuk ke kamar.

    Aku segera berganti pakaian dan sedikit memperpantas diri sebelum kembali melangkah keluar kamar. Saat itu kulihat Reza telah menantiku di depan pintu.

    “Mau kutemani sampai ke depan kamarnya?” ia bertanya sambil tersenyum.

    “Boleh, aku tidak tahan harus berjalan sendiri lalu berpapasan dengan semua orang yang memandangku dengan jijik,” ujarku.

    “Aku tidak tahu harus berkomentar apa soal itu,” timpalnya.

    ”Tidak perlu berkomentar kalau begitu,” jawabku santai.

    Kami pun berjalan beriringan menyusuri koridor yang mengarahkan kami ke bagian sayap kanan rumah, di mana kamarnya berada. Dan benar dugaanku, beberapa orang yang berpapasan dengan kami memandang jijik padaku. Reza menatap heran karena aku hanya tersenyum kecil tiap kali itu terjadi.

    “Oke, sepertinya cukup sampai di sini saja, Rez,” ujarku saat kami sampai di depan kamarnya.

    “Baiklah, sampai nanti kalau begitu, Ren.”

    “Terima kasih.”

    “Tak usah dipikirkan,” ujarnya sembari membalikkan badan dan berjalan kembali ke koridor yang barusan kami lewati.

    Kutarik napas dalam dan kuketuk pintu kamarnya.

    “Siapa?” suara gadis bertanya lirih dari dalam kamar.

    “Aku Vir, Hiren. Boleh aku masuk?”

    “Oh, Kakak, boleh. Aku memang dari tadi menunggu kakak,” ujarnya dengan lebih bersemangat meski masih terdengar lemah.

    Kubuka pintu perlahan sambil menguatkan tekad. Ini pertama kalinya aku bertemu sejak kejadian itu. Kejadian yang menjadi aib terbesar dalam hidupku. Dan kenangannya menerjangku saat kumenatap kedua matanya.



    Sebelumnya aku hanya pemuda biasa dari sebuah kota di perbatasan kerajaan. Tidak ada yang istimewa, baik latar belakang maupun pekerjaanku. Yang sedikit lain mungkin karena aku menjalin hubungan dengan gadis dari ras manusia astral (ras manusia yang dapat memproyeksikan keberadaan dan kesadarannya diluar tubuh asli). Dan yang membuatnya semakin unik, aku sama sekali belum pernah bertemu langsung dengan tubuh aslinya. Aku hanya berkomunikasi melalui proyeksi keberadaanya. Tetapi hal tersebut masih dapat diterima karena keadaan seperti ini sering terjadi akibat beragamnya ras di kerajaan kami.

    Yang tidak dapat diterima, atau paling tidak oleh sistem peraturan yang ada, adalah fakta bahwa dia gadis bangsawan. Tidak main-main, dia merupakan gadis dari seorang Landlord wilayahku. Tentunya aku pemuda biasa ini kecil harapannya dapat bersatu dengannya meski kami saling mencintai.

    Tetapi, meski kecil bukan berarti tidak ada cara bagi pemuda dari keluarga rakyat jelata bisa menikahi gadis bangsawan. Cara pertama, menjadi pahlawan perang yang diakui oleh Raja. Tetapi kerajaan kami sedang dalam keadaan makmur, hingga tidak mungkin bagiku menjadi pahlawan perang. Maka kuambil cara kedua, yaitu menjadi pemenang Mighty Knight Champion.

    Mighty Knight Champion adalah kejuaraan yang diadakan tiap beberapa tahun sekali dalam rangka mencari petarung terbaik bagi kerajaan. Hadiah dari kejuaraan ini tidak main-main. Pemenang dari setiap blok berhak mendapatkan pendidikan dari para filsuf layaknya bangsawan. Juga berhak untuk menikahi putri bangsawan. Dua modal utama bagi rakyat biasa untuk mempunyai kedudukan di kerajaan.

    Jalan yang kutempuh ini memang tidak mudah. Tergiur oleh hadiah luar biasa tersebut, banyak pemuda dari seantero kerajaan yang berpartisipasi. Kebanyakan memang tidak terlatih baik dan banyak yang terlahir bukan sebagai ras petarung. Tetapi beberapa yang lain sangat ahli dan berasal dari ras unggul dalam pertarungan. Pertemuan antar peserta yang ahli bertarung inilah yang menjadikan persaingan menjadi sengit.

    Tetapi meski harus berjuang mati-matian dan beberapa kali hampir kehilangan nyawa, akhirnya aku bisa terus melaju hingga babak final.

    Kupikir semua akan berlangsung lancar karena tinggal satu pertandingan lagi, dan mengukur kekuatan orang yang akan menjadi lawanku di final, aku yakin bisa jadi juara blok. Lagi pula menurutku, orang yang akan menjadi lawanku bisa melaju ke final karena keberuntungan.

    Dan itulah kenaifanku,karena ternyata bukan hanya aku yang berpikir begitu.

    Di malam sebelum pertandingan final, beberapa orang menghadangku di tengah perjalanan dari rumah makan. Mereka hendak membunuhku dan membuat skenario seakan aku lari dari pertarungan, yang otomatis membuat lawanku memenangkan pertandingan.

    Saat itulah aku sadar bahwa aku telah diracuni sejak di rumah makan. Meski racun itu tidak cukup untuk membunuhku berkat kemampuan ras manusia bersayap, tapi telah cukup membuatku kehilangan konsentrasi dalam pertarungan. Aku pun menjadi panik dan berusaha melarikan diri.

    Dan saat itulah kesialan menimpaku.

    Seorang gadis berlari ke arah kerumunan kami yang sedang bertarung. Entah karena berani atau bodoh, dia hendak menolongku yang sedang dikeroyok.

    Dan tentu saja dengan mudah gadis itu dapat mereka lumpuhkan, tapi itu memberiku jeda untuk melepaskan diri dari pengeroyokan.

    Didorong rasa panik dan kalut, aku segera terbang meninggalkan mereka. Aku sama sekali lupa akan nasib gadis itu. Yang saat itu memenuhi pikiranku adalah menyelamatkan diri.

    Baru ketika sampai di tempat yang aman dan efek racun menghilang, pikiranku jernih kembali, dan aku mulai mencemaskan keselamatan gadis itu. Meski sempat terjadi pertentangan batin, tapi akhirnya aku memutuskan bertindak nekat untuk menyelamatkan gadis itu walau mungkin telah terlambat.

    Aku melesat kembali ke arah gerombolan bandit itu, dan betapa kagetnya aku melihat mereka semua telah tewas di tangan beberapa prajurit. Di antara prajurit itu kulihat gadis tadi telah aman, meski sedang menangis tersedu.

    Merasa lega aku pun mendarat dan hendak menghampiri mereka ketika sebuah pukulan keras menghantam kepala dan membuatku tersungkur. Sebelum dapat bereaksi, beberapa tangan kuat telah menahan tangan serta sayapku dari belakang.

    “Ada apa ini? Lepaskan! Kenapa kalian menahanku?” teriakku sambil meronta.

    Sebuah kaki kekar menendang pipiku keras, membuat pandangan buram dan darah segar keluar dari bibir.

    “Diam kau! Dasar ********!” teriak suara penendang itu tidak kalah keras dariku. “Kau sadar apa yang telah kau lakukan pada anakku?”

    “Apa maksudnya ini?” aku balas berteriak. “Ini salah paham, aku bukan bagian dari mereka. Justru aku korbannya!” teriakku lagi saat menyadari kesalahpahaman apa yang telah terjadi.

    “Korban? Jangan bercanda kau! Anakku di sini yang menjadi korban nafsu bejat kalian! Dan kau bilang kau korbannya? Logika macam apa yang kau punya?” ujarnya sembari menjabak rambutku. Dia melepas jambakannya dan menarik pedang dari sarungnya kemudian mengacungkannya, siap menghunjam kepalaku. “Aku sebenarnya ingin menyiksamu karena perbuatan bejatmu, tapi melihatmu saja sudah membuatku muak. Terima saja kematianmu, yang bahkan terlalu baik untukmu.”

    “Ayah, tunggu! Dia bukan bagian dari mereka!” saat itulah gadis tadi menyadari apa yang akan terjadi dan segera menghentikan yang akan diperbuat ayahnya.

    “Apa maksudmu, nak?” tanya ayahnya keheranan.

    “Dia bukan bagian dari mereka..” dan gadis itu pun menceritakan semua kejadian tadi pada ayahnya, dan memberitahu siapa aku sebenarnya, entah dari mana dia bisa mengetahuinya. “Tolong, Yah, jangan bunuh dia. Ini semua kesalahpahaman.”

    “Aku mengerti, Nak, tapi tetap saja dia pantas mati karena kepengecutannya,” emosi sang ayah masih belum reda meski telah mendengar penuturan anaknya, pedangnya masih teracung siap menikamku kapan saja.

    Aku yang dari tadi hanya mendengarkan cerita gadis itu merasa setuju dengan sang Ayah. Setelah mengetahui apa konsekuensi dari kepengecutanku tadi, dan melihat bagaimana gadis itu berusaha melindungiku bahkan setelah apa yang menimpa dirinya, membuatku merasa sangat menyesal dan siap mati untuk menanggung semua kesalahanku.

    “Tuan, saya menyadari kesalahan merasa pantas mati untuk menanggungnya. Jika Tuan ingin membunuh, saya rela,” ujarku pasrah. Kututup mata dan siap menunggu ajal menjemput.

    “Kamu dengar, Nak? Dia rela dan memang pantas mati. Tidak usah merasa kasihan dengannya,” teriak sang Ayah. Ada nada kegilaan dari suaranya.

    “Tuan, tunggu!” ujar suara lain. Kubuka mata dan melihat prajurit yang tampaknya memiliki kedudukan menahan tangan tuannya yang hendak menikamku. “Hamba mengerti kegusaran Tuan, tapi membunuhnya tidak akan menyelesaikan apa pun.”

    “Jadi kau menyuruhku membiarkan pengecut ini selamat atas pengorbanan putriku? Kau tahu apa hukumannya bagi putri bangsawan yang.. yang..,” sang Ayah tidak sanggup melanjutkan perkataannya dan menangis.

    Tanpa perlu dilanjutkan, semua yang hadir telah mengetahuinya. Aku tertunduk lemas dan semakin menyesal. Hukuman bagi putri bangsawan yang kehilangan kesuciannya sebelum menikah adalah mati. Sungguh hukuman yang tidak sepantasnya menimpa gadis sebaik dia.

    Sebenarnya, sebelum kejadian ini, telah tersiar kabar di antara penonton bahwa alasanku mengikuti kejuaraan adalah untuk menikahi kekasihku, seorang putri bangsawan. Aku tidak menyangka kabar yang disebarkan media guna memberi bumbu cerita di kejuaraan ini mengakibatkan gerombolan penjahat tadi berasumsi bahwa gadis ini, yang rela bertaruh nyawa guna menyelamatkanku, adalah kekasihku. Hal ini membuat mereka mengubah rencana setelah aku berhasil kabur dengan menodai gadis itu dan berharap dapat menurunkan mental serta membuyarkan konsentrasiku saat pertandingan nanti.

    “Tuan, hukuman itu bisa dihindari asalkan tuan putri telah menikah sebelum tes kesucian dilaksanakan oleh kuil tiap tahunnya,” ujar pengawal itu.

    “Lalu siapa yang ingin menikahi putriku? Yang rela menerima keadaannya sekarang tanpa membocorkannya?” ujar sang Ayah di sela isak tangisnya.

    “Pemuda ini, Tuan,” jawab sang prajurit tadi.

    “Dia rakyat jelata, mana mungkin bisa menikahi putriku. Itu melanggar aturan dan merupakan aib yang dapat merusak keluargaku,” lanjut sang Ayah.

    “Tidak, Tuan. Apa Tuan lupa bahwa dia adalah finalis yang akan bertanding besok? Kita hanya perlu mengatur rencana untuk memastikan kemenangannya besok, kemudian meminta pemuda ini menunjuk Tuan Putri sebagai putri bangsawan yang akan dinikahinya,” terang prajurit itu.

    “Benar juga,” sang Ayah kembali menegakkan badannya. Ia pun memandangku dengan tajam. “Untuk membalas budi putriku, anak muda, kau harus mengikuti rencana penasihatku barusan! Mengerti?”



    Begitulah semua kejadian ini menuntunku mengambil jalan ini.

    Skenario yang direncanakan lawanku justru berbalik menimpanya. Dan karena hal tersebut, beberapa orang curiga aku telah melakukan kecurangan, yang memang terpaksa kulakukan. Sedikit orang yang mengetahui asalan sebenarnya tetap menganggapku rendah karena kepengecutanku. Hal ini membuat orang-orang memandangku jijik. Cap licik atau pengecut akan selalu menempel padaku seumur hidup. Dan aku tidak bisa menampik keduanya.

    Tetapi aku tak peduli, karena dengannya aku dapat membayar sedikit hutangku padanya. Pada gadis yang memiliki kebaikan, kelembutan, dan keberanian. Gadis yang bisa saja menjadi rebutan bangsawan terbaik negeri ini, dan bukan berakhir denganku. Gadis yang kini dengan kedua matanya tengah memandangku dan seakan berucap: Maaf!

    Terimakasi telah bersedia membaca karya saya yang acak-acak an ini :sembah::sembah:
    Mohon komentar dan masukannya :peace::peace:
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan

  3. galenixs Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Oct 31, 2011
    Messages:
    30
    Trophy Points:
    21
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +18 / -1
    up up up
    komentar nya donk gan hhe..
     
  4. kyuuqueenara Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    May 22, 2015
    Messages:
    17
    Trophy Points:
    12
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +7 / -0
    Aku masih belum ngeh di bagin mana hiren ini dikatakan licik. :peace:
     
  5. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,310
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +422 / -0
    hmm, komentar dulu ya [​IMG]
    harus diakui, bahasanya bagus bener dah . Rasanya agan ini udah sering nulis dah [​IMG] tiap katanya rasanya enak banget untuk dibaca. memang kerasa pro banget ini mah [​IMG]

    well, memang cerita yang bagus, dan mungkin terletak bagaimana cara menyampaikan cerita. penjelasannya untuk garis sederhana sih bisa dikatakan terlalu cepat tapi bila menikmati cerita, semua tersampaikan. mungkin kurangnya pada sebuah sisi yang membingungkan. kenapa tiba2 begini, ataupun tiba2 begitu ditambah nama tokoh utama yang minim. tapi masih sebuah cerita yang bagus dan dibungkus dengan begitu rapi. kesan cerita masih dapat terasa lho.

    kalau kataku sih dikatakan "licik" memang tidak sih (walau ada dalam bagian endingnya). kurasa itu datang dari ucapan semua orang. lantaran konflik, mau tak mau ia harus menerimanya.

    akhir kata met datang ya [​IMG]
     
  6. galenixs Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Oct 31, 2011
    Messages:
    30
    Trophy Points:
    21
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +18 / -1
    Hiren dapet julukan licik karena orang-orang menuduh dia berlaku curang untuk memenangkan kejuaraan (yang sebenernya dilakukan oleh anak buah si bangsawan, mereka membunuh lawan tanding Hiren buat mastiin kemenangan Hiren) hhe..

    ohya kyuu maaf belum sempet baca n ngasih komentar di cerita bikinan u, hhe.. ini juga baru sempet online di idws lagi hhe.. gomen:oggomen:

    wah si agan muji nya terlalu berlebihan nih hha.. alur nya kecepetan ya hhe.. ane nulis cerpen ini buat dimasukan ke buku kumpulan cerpen (projectnya anak2 serapium) dan terhalang soal keterbatasan halaman jadi ya begini lah, alur nya terlalu dimampatkan.. hhe.. tapi cerita ini ane rencanain bakal terus berlanjut dg mengisahkan tokoh-tokoh yg berbeda tapi saling berkaitan, dan diusahakan bakal menambal pertanyaan "kenapa" di prolog cerita The Chronicles of Shapeshifter ini.. ditunggu ya gan hhe..


    Nb. Kalau berkenan ane udah post cerita baru ane di IDWS, silahkan dilbaca dan diberi masukan jika berkenan hhe :

    Cinta Seumur Kura-Kura
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.