1. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Ungkapin kenangan film Asia paling berkesan buatmu. Berhadiah GK, Pulsa, dan Line Gift Sticker loh! .Klik info lengkapnya di sini, kuy~.
  5. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  6. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Cerpen Sinar Mentari Putih Diatas Gunungan Sampah

Discussion in 'Fiction' started by adzindanireza, Jul 25, 2017.

  1. adzindanireza Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Oct 17, 2013
    Messages:
    13
    Trophy Points:
    2
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +2 / -0
    Sinar Mentari Putih Diatas Gunungan Sampah

    “Ketahuilah janji manis kalian lebih busuk daripada tumpukan sampah, tunggu aku disana wahai para penguasa licik…”​


    Ketika anak - anak lain sibuk duduk menyendiri disudut kamar memainkan kotak bersuara yang mengeluarkan gambar, aku berada ditempat dimana semua harapan dibuang, tempat pembuangan sampah. Disini tidak ada istilah ‘mengambil’, yang ada hanya kata ‘mengais’ dan ‘memungut’.

    Aku adalah anak satu satunya --itupun tidak diharapkan-- dikeluargaku. Sampah adalah barang yang sangat berarti dalam kehidupan keluargaku. Ayahku adalah sopir truk sampah, sedangkan ibuku pengumpul sampah plastik, Aku ? Aku membantu ibuku setelah pulang sekolah. Jangan menghina, walaupun aku anak seorang pemungut sampah tetapi jadwal masa depanku sudah tersusun rapi dalam catatan masa depanku.

    Aku bersekolah di SD Krajan 01 yang berada di samping TPA sampah ini. Disekolah itu aku diajarkan cara menghitung, membaca, menulis, walau aku tidak punya buku, aku pernah dikirim ke Jakarta untuk mengikuti lomba membaca berita dan aku berdiri di podium tertinggi dalam perlombaan itu, padahal aku melatih cara membacaku hanya dengan cara membaca berita berita yang ada di koran bekas bungkus gorengan yang ada di tempat sampah, dan itulah satu satunya bekalku sewaktu aku mengikuti lomba.

    Semuanya berawal pada suatu pagi ketika aku baru saja sampai di depan kelas. Terdengar suara Ibu guru memanggilku,

    “Omar, apakah minggu ini kamu sibuk membantu Ibumu? Ibu ada tugas menarik untukmu.”. Aku pikir aku akan mendapat hukuman, ternyata aku mendapat sebuah tugas.

    “Tugas apa Bu?”, tanyaku.

    “Tugasmu adalah mewakili sekolah dalam perlombaan membaca berita di Solo”

    Aku terdiam, bukan karena bingung tapi lebih karena membayangkan diriku yang sedang membacakan berita di salah satu stasiun televisi. Tetapi lamunanku terpecah ketika Ibu guru menepuk pundakku dan berkata “Nama baik sekolah kita dan Kabupaten Semarang ada di tanganmu nak”. Kata itu telah menggugahku untuk bersemangat belajar pagi itu. Saat pelajaran telah usai, tanpa menunggu lama akupun langsung bergegas pulang bagai orang yang tak tahan buang air besar. Aku ingin segera memberi tahu Bapak dan Ibuku tentang kabar membanggakan ini.

    Sesampainya dirumah aku langsung berteriak,

    ”Bu, aku dipilih”

    “Dipilih jadi apa nak? Jadi presiden?” Ibuku menjawab dengan santai.

    “Ibu jangan bercanda , aku serius. Aku dipilih menjadi perwakilan sekolah untuk menjadi peserta lomba membaca berita” .

    Dan kulihat ibuku tersenyum bangga mendengar berita ini.

    Dimulai dari hari itu sampai seminggu kemudian aku selalu membantu ibuku memungut sampah plastilk sambil mencari koran koran bekas disana. Mulai dari berita olahraga, selebriti, pemerintahan, hingga berita mutilasipun aku baca.

    Tibalah hari perlombaan. Aku bangun pukul 3 pagi karena aku takut bangun kesiangan. Aku diantar Bu Guru ke tempat lomba menaiki kereta ekonomi. Disana, peserta lain memakai jas dan celana bahan layaknya pembawa acara berita yg ada di televisi --sampai saat ini aku belum pernah melihat acara televisi. Tetapi aku hanya memakai setelan putih hitam milik bapakku yang dulu digunakan untuk melamar kerja sebagai sopir truk sampah, itupun terlalu lusuh. Aku terlihat seperti tikus kecil di dalam kaus kaki panjang, lebih tepatnya kaus kaki using berwarna hitam putih.

    Pada saat itu aku membacakan berita tentang carut marutnya politik indonesia, dan jujur saja aku tidak tahu apa - apa tentang politik di Indonesia. Yang aku tahu hanya 2 hal , yaitu Presiden Indonesia adalah SBY dan Indonesia adalah negara yang miskin rasa malu yang dibuktikan dengan diutak atiknya keuangan negara oleh tangan tangan orang yang dianggap tikusnya negara kita. Tetapi gara gara kasus mereka, kemudian mereka masuk koran, aku membacakan berita mereka, dan akhirnya aku memenangkan perlombaan ini.

    Selama perjalanan pulang aku memeluk erat pialaku. Aku tidak terlalu memperdulikan hadiah uang itu. Aku lebih bangga dengan pialaku ini. Karena di piala itu tertulis ‘JUARA I Lomba Membaca Berita Tingkat Provinsi Jawa Tengah’. Hanya satu yang aku pikirkan ‘betapa bangganya aku membawa piala ini kehadapan Bapak Ibuku dan aku telah mengharumkan nama Kabupaten Semarang di tingkat Jawa Tengah’.

    Sesampainya di depan rumah, Bapak dan Ibu sudah berdiri dan tersenyum lebar di depan pintu rumah. Aku sayub - sayub mendengar sebuah kalimat.

    “Bapak bangga padamu nak.” Ucap bapakku.

    Siapa yang tidak akan menangis pada saat suasana seperti ini. Dan suasana keluargaku seketika menjadi hangat dan nyaman sekali walaupun kita tinggal di samping tempat pembuangan sampah.

    Sejak hari itu aku menambah satu mimpi yang ada di `daftar mimpi masa depanku`, yaitu menjadi seseorang yg berguna bagi bangsa dan negara. Aku ingin agar negara kita tidak digerogoti terus oleh orang yang mengakui diriya seagai wakil rakyat. Setidaknya di Kabupaten Semarang-ku yang tercinta ini. Karena aku pernah membaca di selembar bungkus kacang rebus, disitu tertulis “Kalau bukan aku, siapa lagi? Tidak perlu menunggu mereka memulai kebaikan. Kalau kita bisa memulainya, kenapa ditunda ?”. Kata kata itu terpatri dalam pikiranku hingga sekarang.

    Sekarang aku melanjutkan rutinitas lamaku, memungut hal - hal yang tersisihkan , tetapi bukan buangan.

    Oleh : Adz
     
    • Like Like x 1

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.