1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic Servus dei Gabriel

Discussion in 'Fiction' started by Heilel_Realz012, Mar 8, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    Genre : Supernatural / Drama / Angelology / Demonology

    Ini merupakan salah satu karya orifict wa yg juga dipost di forum sebelah..
    TS mohon ijin ikut mewarnai sub forum FS IDWS yg selama ini wa tunggu muncul :smartass:
    selamat membaca..

    Prakata :
    Storyline akan bercerita mengenai konflik yg terjadi di antara Setan dan Malaikat. Cerita ini merupakan Prekuel dari Orifict wa yg lain yaitu Diablo Falling (sementara belum dipostkan dulu disini) dimana cerita menjelaskan mengenai peristiwa yg jauh terjadi dimasa lalu sebelum dimulainya Event Diablo Falling the First Book - Beginning.

    storyline akan menceritakan lebih jauh mengenai awal mula perseteruan antara “Pelayan” dan “Pemberontak” yang akan memicu rentetan peristiwa yg berakhir nanti pada 3 Saga Diablo Falling.

    PS : Keep Reading with knowing this Story is Fiction and please No Flaming or SARA

    Mohon pembaca tidak melakukan Insult Religion or Flaming, karena cerita ini merupakan fiksi yg terinspirasi dari berbagai cerita literratur yg menjelaskan mengenai Setan dan malaikat.

    Btw, Mohon tidak menjadi Silent Reader. Jadilah pembaca aktif untuk memberi masukan bagi karya saya





    [​IMG]

    "My Name is Gabriel The Servant Of God.."


    Another Title Name : The Zero Book - Lacrima di Angelo

    By Heilel_Realz012

    Prequel from The Trilogy Saga Diablo Falling

    Status : Ongoing


    [​IMG]

    [​IMG]


    Prologue




    Aku mengingat mengenai waktu itu..

    Waktu dimana “Keluarga” Kami yg hidup dengan damai memuji dan meng-Kuduskan Tuhan Sang pencipta Langit dan Bumi, menjadi terusik dan terpecah menjadi dua kelompok dengan keyakinan berbeda akibat dari penciptaan Makhluk paling Mulia yg diciptakan dan disaksikan oleh kami semua para Mal'akhim.

    Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan Manusia dari tanah yg kelak akan menjadi pemimpin dan pemelihara Assiah (Bumi). Dan Semua penduduk Yetzirah (Surgawi) geger dengan Rencana penciptaan itu. Aku adalah salah satu dari ribuan Mal'akh yg ragu dengan rencana itu yg akan Tuhan lakukan itu. Ketika Tuhan melihat keraguan dari dalam diriku, ia menanyakan apa sebenarnya yg membuat diriku ragu.

    Aku yg merupakan salah satu Seraphim yg memimpin Sefirah Yesod dan pemimpin kelas Cherubim, menanyakan perihal rencana Tuhan untuk menciptakan manusia yg kelak ia hanya akan menghancurkan Bumi dan mendatangkan pertumpahan darah. Tuhan yg sebenarnya mengetahui semua pertanyaan yg tersimpan dalam diriku menjawab pertanyaanku dengan kata – kata yg terdengar menentramkan hatiku. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian sebenarnya tidak mengetahuinya.

    Aku sadar, aku hanyalah salah satu ciptaan yang diberikan pengetahuan terbatas oleh Tuhan yang tidak mengetahui segalanya, Karena Tuhan adalah pemilik dari Segala pengetahuan dan tidak sepantasnya aku ragu dengan apa yg hendak Tuhan lakukan.

    Akhirnya, tibalah waktu yg dinantikan.. waktu dimana penciptaan manusia dilaksanakan disuatu tempat tepat dihadapan kami para Malachim yg melihat dengan jelas bagaimana Tuham menciptakan Adam dari tanah.

    Bersujudlah kalian semua pada Adam manusia yg kelak akan menjadi pemimpin Di Assiah. Tuhan memerintahkan kami semua makhluknya yg berada ditempat itu untuk bersujud pada Ciptaannya yg baru saja diciptakan di depan kami semua. Ribuan Mal'akh yg hadir dalam proses Penciptaan Adam, kemudian bersujud menuruti perintah Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun, ada satu barisan Ma’lakh yg masih tetap berdiri dan tidak mau tunduk bersujud pada Adam.

    Salah satu Pemimpin Cherubim yaitu HELEL tetap berdiri diantara para Mal'akh yg bersujud kepada Adam beserta dengan bawahannya yg terlihat bingung dengan apa yg pemimpinnya lakukan. Tuhan yg melihat ciptaannya itu tidak mau bersujud, akhirnya menegurnya. Dan terjadilah perdebatan antara HELEL dan Tuhan. HELEL menyangsikan penciptaan Adam dan menganggap makhluk mulia dihadapannya ini tidaklah lebih mulia daripada dirinya. Ia merasakan bahwa Tuhan telah salah menciptakan manusia yg kelak hanya akan melakukan kerusakan di Assiah.

    Tuhan murka mendengar semua kata – kata yg dilontarkan oleh HELEL. Keadaan tempat itu kemudian menjadi sangat ricuh dan ramai. Michael yg merupakan salah satu Seraphim kemudian menegur HELEL hingga akhirnya terjadilah perseteruan di Yetzirah yg memicu perang Besar di antara para Mal'akhim dan di kenal dengan The First War of Heaven.


    ******​
     
    • Like Like x 1
    Last edited: Mar 8, 2011
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
  4. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    ACT 1 - Gabriel The High Cherubim​




    Act - 1.1 Past Memory about The First War of Heaven


    Telah lama waktu berlalu sejak kejadian itu... namun Ingatan itu masih nampak jelas terjadi di mataku. Ya, kejadian yg tidak akan dapat kulupakan dimana Pedang api yg menyala – nyala yg diberkati Atas Nama Tuhan, Aku gunakan untuk melawan keluargaku sendiri. Keheningan dan kedamaian yg sebelumnya ada berubah menjadi Kericuhan yg disaksikan langsung dengan kebingungan oleh Adam yg melihat para makhluk yg sebelumnya bersujud pada dirinya kemudian saling mengangkat senjata dan berperang.

    Aku, Michael, bersama dengan Israfel mengangkat Pedang Tuhan yang Kudus dan bersama dengan ribuan Ma’lakh yg berpihak pada Tuhan, bergerak menahan serangan para Mal'akhim yg membelot yg berusaha untuk mengambil Tanta Surgawi.

    Aku mengingatnya dengan jelas, perasaan itu ketika aku menebaskan pedang Tuhan pada sanak keluargaku sendiri.. Aku menebaskan pedang api dan melukai banyak sekali sosok – sosok yg dahulu bersamaku bersujud memuji dan mengkuduskan Tuhan. Aku tidak mengerti kenapa semuanya berubah menjadi rumit. Tuhan yg melihat semua kericuhan itu dari Tahtanya di Atziluth, hanya diam dan melihat apa yg sedang terjadi di Yetzirah.

    Michael yg merupakan Penghulu Ma’lachim yg merupakan Seraphim tinggi yg sangat taat kepada Tuhan, bertempur menggunakan pedang Api dan juga perisai Kudus melawan HELEL pemimpin Cherubim bawahanku yg membelot pada perintah Tuhan.

    Mereka berdua berperang dengan di ikuti para Mal'akhim yg lain,dan terlihat bulu – bulu sayap yg mereka miliki lepas bertebaran dilangit – langit. Dia Michael perlambangan Api dan juga Helel perlambangan Cahaya bertempur dengan sangat sengit dan terlihat mereka berdua memiliki kekuatan yang seimbang sampai pertempuran itu berlangsung dengan cukup lama namun mereka tidak bisa benar – benar melukai satu sama lain dengan luka yg cukup parah.

    Aku menyesali dengan apa yg telah terjadi pada keluarga kami. Kenapa semuanya menjadi seperti ini. walaupun aku sangat tidak sanggup untuk melukai mereka para Keluargaku sendiri namun demi nama Tuhan yang kudus, Aku angkat pedang api ditanganku ini dan bertikai dengan para pemberontak. Pada akhirnya, perang yang berkecamuk tanpa akhir di Yetzirah itu dihentikan oleh Tuhan sendiri dimana akhirnya Helel bersama dengan sepertiga malaikat yang berpihak pada dirinya dijatuhkan ke Assiah dan dilaknat oleh Tuhan sebagai musuh (syaitan) sebenarnya manusia.

    Aku mengela nafas dalam – dalam. Terasa oleh tubuhku yg berada dalam wujud manusia yang terbalut oleh pakaian Robe putih panjang yang terlilit oleh kain hitam mengikat spiral dari pinggang hingga tubuh bagian dada bersama dengan tudung putih yang menutupi mukaku yg hanya memperlihatkan hidung dan mulut saja, dapat kurasakan Angin dingin menerpa melewati diriku dan sedikit menentramkan hatiku yg telah ribuan tahun sedih memikirkan kejadian itu.

    Aku melihat Assiah dari sebuah bukit yang tinggi berbatu dan memandang jauh pada Horizon luas yg diciptakan untuk umat manusia oleh Tuhan. Begitu indahnya Sefirah Malkuth ini, yang merupakan Kunci perjalanan awal bagi manusia yang Tuhan ciptakan sebagai tempat dimana manusia akan menempuh perjalanan panjang untuk menuju dirinya.

    Aku merasakan kehadiran sesuatu yg muncul dibelakangku. Ia mendekatiku dari belakang, dan ketika aku membalikan badan aku melihatnya. Sebuah cahaya yg bersinar cukup terang ada dibelakangku dan sedang memandang diriku.

    “Apa yang kau inginkan..?” Aku bertanya langsung kepada sosok cahaya yg berada jelas didepanku.

    Tiba – tiba saja cahaya terang itu kemudian berubah dan membentuk sebuah sosok yg masih bersinar dengan terang. Aku melihatnya dengan mataku, cahaya itu berubah menyerupai sosok wanita dengan pakaian robe putih panjang dan tudung yg menutup mukanya serta di tangan kanannya ia memegang sehelai bulu angsa putih dan ditangan kirinya ia memgang kertas yg terbuat dari kulit binatang.

    “Maaf mengganggumu Master Gabriel. Aku adalah Mal'akh yg ditugaskan oleh Tuhan untuk menemanimu mengawasi manusia di Assiah.” Sosok wanita itu berucap pada diriku ketika semua cahaya terang dari tubuhnya telah hilang dan menyisakan sosok manusia.

    “Untuk menemaniku..”

    “Ya Master.. sebelumnya perkenalkan namaku…”

    “Tidak perlu kau katakan.. Aku tahu dengan jelas siapa namamu..”

    Terlihat di mataku sosok wanita berjubah putih didepanku kaget setelah mendengar ucapanku yg mengetahui namanya meskipun ia belum sepatah kata pun sempat menyebutkan siapa dirinya. Hal Ini bukanlah sesuatu yang mengangumkan, sebab seorang Ma’lakh dengan pangkat Seraphim memilki kemampuan untuk mengetahui nama para Mal'akh yg ada. Sebab Kami adalah para malaikat tinggi yg diberikan kuasa lebih oleh Tuhan dan mendapatkan jabatan lebih tinggi dari Ma’lakh yg lain.

    Aku kemudian tersenyum kearah wanita dihadapanku dan kembali berbalik melihat keadaan Assiah yg berada jauh dipandanganku. Aku mendengar suara langkah kaki berjalan pelan dari arah belakang dan aku tahu, Pelayan yg diperintahkan Tuhan untuk menemaniku sedang berjalan kearahku. Wanita itu melangkah dan kemudian berhenti disamping kiriku. Ia kemudian melontarkan pertanyaan padaku yang sejak tadi terus melihat memandang lurus ke Assiah.

    “Master Gabriel ada yg ingin kutanyakan, kenapa engkau selalu diam sendirian mengerjakan semua perintah yg Tuhan berikan padamu? Kau adalah Ma’lakh tinggi kelas Seraphim dan semestinya kau membawa para pasukanmu itu ikut bersamamu kemanapun kau pergi..”

    Aku sedikit tertawa kecil mendengar pelayan itu melontarkan pertanyaan seperti itu padaku. “Aku lebih suka sendirian.. bukan karena aku ingin menghindar dari para Ma’lakh yg lain. Tapi ketika sendirian, aku dapat merasakan lebih tenang untuk melihat dan mengamati Prilaku umat manusia dibawah sana.”

    “Kalau begitu keberadaanku disini mengganggumu Master?”

    “Tuhan telah memberikan perintah padamu untuk menemani dan melayaniku. Tentu akau tidak memiliki Kuasa untuk menolak keinginan-Nya itu.”

    wanita itu terdiam tidak bicara setelah mendengar jawaban dariku. Aku kembali menatap lurus memandang ke ujung cakrawala yg dapat kulihat oleh kedua mataku dan menyadari ada suatu hal yang menarik perhatianku. Aku kemudian melirik pada pelayan yg berada disampingku dan kemudian berkata dengan pelan.

    “Tunggulah disini.. Aku akan pergi sebentar menuju Assiah. Ada sesuatu yang ingin kulihat..”

    “Tapi Master… aku diperintahkan untuk mengi..”

    Belum selesai pelayan itu berbicara, Aku dengan cepat kemudian melompat dari tebing batu tempat dimana aku berdiri dan kemudian jatuh menuju Alam Sefirah Malkuth yaitu Assiah yg merupakan tempat dimana Manusia hidup. Sayup - sayup, aku mendengar suara pelayan itu memanggil untuk menyita perhatianku. Namun, aku tidak menggubrisnya, aku tetap pergi meninggalkan dirinya yang ada di tempat dimana perbatasan Antara Assiah dan Yetzirah. Aku tahu, aku salah telah meninggalkan pelayan yg diperintahkan Tuhan untuk menemaniku. Namun ada yg harus aku lakukan sendirian.


    Ada hal yang harus aku lakukan di Assiah.. Ada yg harus aku lakukan untuk mengungkap semua tanda Tanya yang masih tersimpan di benakku ketika Perang Besar di Langit itu terjadi dahulu.

    ******​
     
    Last edited: Mar 8, 2011
  5. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update :peace:

    Act – 1.2 They Are The Sinner


    Sebuah cahaya terang benderang terlihat jatuh dari langit yg biru tepat di daerah padang tandus dengan banyak bebatuan tinggi dan juga pasir yg menutupi permukaannya. Cahaya itu jatuh tepat pada pasir dan menimbulkan angin yg menghempaskan pasir – pasir dibawahnya berterbangan ke segela arah.

    Cahaya itu kemudian meredup dan berubah menjadi sosok manusia.. ya, cahaya itu adalah Aku.. Gabriel. Salah satu Mal'akh Seraphim dan juga pemimpin tertinggi choir dari kelas Cherubim yg memiliki tugas untuk mengawasi manusia di Assiah.

    Aku yg tadi baru saja jatuh dari langit dan berlutut ketika mencapai permukaan Assiah, perlahan berdiri dengan tegak dan memandang ke sekeliling daerah tempat aku berada. Sepanjang mataku memandang, yang kulihat hanyalah tiang – tiang bebatuan yg tinggi dan juga butiran pasir yg tertiup angin dingin berpindah tempat dari tempat satu ketempat yang lain. Tidak sedikitpun kulihat kehidupan makhluk hidup di tempat ini. aku perlahan membungkukan tubuhku dan mengambil pasir yang aku pijak dengan tanganku. Ketika aku berdiri dan menggenggamnya dengan erat lalu kemudian membuka telapak tanganku, aku merasakannya tanah ini telah kehilangan ke kudusannya.

    ‘Tanah indah yg dahulu memiliki kekudusan yg sama seperti tanah yg berada di Yetzirah, sekarang berubah menjadi kotor…’ Dalam hati aku berkata sembari kemudian meniupkan pasir – pasir di telapak tanganku pergi lenyap terbawa angin.

    Aku kemudian memikirkan apa yg tadi aku lihat di perbatasan antara Yetzirah dan Assiah. Aku memandang jauh ke sebuah bukit bebatuan yg terlihat begitu kecil dari tempatku memandang. Ketika aku fokuskan kedua mataku memandang ketempat itu untuk melihat dengan lebih jelas, Aku serta merta telah tiba disana, tiba di Bukit bebatuan yg cukup terjal yg tadi kupandang dari jauh.

    Aku melangkah dengan pelan dijalan setapak yg cukup terjal itu dan akhirnya berhenti pada sebuah celah bebatuan yg memperlihatkan kondisi permukaan dibawah tempat aku berpijak sekarang. Aku melihatnya dengan mataku, sekumpulan manusia sedang menyeret tubuh seorang wanita yang di ikat dengan tali tambang berwarna coklat tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Sekumpulan manusia yg berjumlah sekitar 4 orang itu yg semuanya bergender Pria, menyeret tubuh wanita yg sedang menangis itu ditanah dan akhirnya berhenti tepat disebuah patung batu besar yang ukirannya mengukir sebuah bentuk makhluk raksasa bersayap lebar dengan tanduk melengkung besar dikedua kepalanya.

    Aku melihatnya dengan mataku dari atas tebing bebatuan, orang – orang tersebut berlutut meminta sesuatu pada patung batu besar dihadapannya dan kemudian mereka semua melepaskan pakaian yg terbuat dari bekas kulit binatang itu satu persatu dan melemparkannya ke tanah. Aku tercengang melihat apa yg keempat pria itu lakukan. Mereka kemudian menggauli wanita yg sedang menangis terikat itu secara bersamaan. Terdengar olehku lengkingan dan jeritan – jeritan pilu wanita itu yang diperkosa dengan beramai – ramai di alam terbuka.

    Aku mengepalkan telapak tangan kananku. Dan tiba – tiba muncul perasaan yg amat marah dari dalam diriku karena melihat apa yg manusia – manusia itu perbuat dihadapanku. Aku ingin menghukum mereka semua yg telah memilih bidah dengan menyembajh sesuatu yang lain selain Tuhan dan juga mereka telah melakukan salah satu Dosa besar yaitu berzinah.

    Perlahan – lahan aku meregangkan kepalan telapak tangan kananku dan kembali mengendalikan perasaan yang berkecamuk di dalam diriku.
    Aku sadar, aku tidak memiliki kuasa apapun untuk melakukan sesuatu kecuali menuruti apa perintah yang Tuhan berikan. Mereka semua manusia memiliki takdir yg tertulis yg terukir tepat ketika mereka lahir. Dan aku yang hanya Seorang pelayan Tuhan tidak memiliki wewenang mengubah takdir yg sudah digariskan itu oleh kedua tanganku ini.

    Aku terus memandang manusia – manusia keji itu dengan kedua mataku dengan pandangan tajam tanpa bisa berbuat apa – apa. Sekitar dua jam aku memandang mereka hingga apa yg mereka perbuat selesai. Gadis itu menangis karena kesakitan. Ia merasakan perih ditubuhnya dan juga di hatinya.

    Salah satu pria yg memiliki tubuh paling besar kemudian menyeret tubuh wanita yg telah lemas lunglai itu tepat kehadapan patung batu besar bersaya dan kemudian menelentangkannya. Ia berdoa dengan sangat keras kepada patung itu dan kemudian mengambil tongkat kayu yg sebelumnya mereka gunakan untuk mengangkat tubuh gadis itu. Pria besar itu berteriak denga kencang sembari mengacung – acungkan tongkat yg diujung pangkalnya itu sangat runcing keatas langit.

    Aku melihatnya jelas oleh mataku apa yg pria besar itu lakukan. Ia menusukan tongkat kayu itu tepat kedada sang wanita yg masih terikat oleh tambang, dan terlihat darah wanita itu bercipratan keluar dari lukanya.

    ‘Manusia sangat kejam.. mereka tidak memiliki hati bahkan kepada saudara – saudara satu ras sendiri mereka sangat bringas dan brutal’ aku menggerutu dengan menatap dengan tajam pada kejadian yg terjadi dibawahku.

    Ingin sekali aku menghukum mereka para pendosa yg telah jauh dari Tuhan. Ingin sekali aku rubuhkan semua bebatuan tinggi disekeliling mereka untuk menimpa mereka hingga tewas. Tapi semua tidak bisa. Aku terkekang oleh aturan Langit dan juga kehendak ku dibatasi sebagaimana seorang pelayan setia hanya taat pada perintah yg diberikan oleh tuannya.

    “Kamu marah Gabriel…”

    Terdengar suara pelan dari arah belakang diriku. Aku yg cukup kaget, merasakan kehadiran sesuatu. Ketika dengan perlahan aku membalikan badan, aku melihat sosok manusia dengan coat hitam panjang dan juga rantai yang melilit tubuhnya dengan hoody yg tidak ia kenakan dapat terpampang jelas raut mukanya yg rupawan dengan rambut merah menyala membara sedang menatapku tersenyum dengan bengis.

    “Ini telah lama sekali Gabriel.. kita tidak bertemu bertatap muka setelah kejadian itu..”

    Aku hanya terdiam memandang Sosok hitam dihadapanku yg berbicara sembari berjalan mendekati diriku dan akhirnya berhenti melangkah disamping kiriku dan melihat kearah manusia – manusia yg sedang menari – nari dan berdoa setelah membunuh gadis yg sebelumnya mereka gauli.

    “Kau ingin menghukum mereka dengan tanganmu bukan? Lakukanlah..Hukumlah mereka Gabriel.. kau yg seorang Seraphim yg memiliki kuasa yg cukup tinggi dapat meminta bala tentara Surgawi milikmu untuk memusnahkan mereka para manusia pendosa dengan mudah.. Hehh.. hehh..”

    Aku yg tengah berdiri membelakangi dirinya hanya terdiam mendengar sosok hitam itu yg sedang menyindirku. Ya aku mengenal siapa sosok hitam ini. dia adalah salah satu dari Keluargaku dan merupakan golongan kami di masa lalu. Ia adalah salah satu Mal'akh yg juga sangat ku kenal. ya, seorang Ma'lakh yg sangat mengagumi HELEL.

    Aku menghela nafas dan kemudian membalikan badanku memandang kearah yg sama yg sedang sosok berjubah hitam itu lihat.

    “Aku tidak akan terlena dengan bujukanmu sesatmu itu Belial.. Aku hanya akan bergerak ketika Perintah telah diberikan..”

    Aku menjawab perkataan sosok disebelahku dengan tegas dan terlihat ia tertawa terbahak – bahak mendengar jawaban yang keluar dari mulutku. Aku tidak dapat berbuat apa - apa dan hanya terdiam memandang dirinya yg sedang menertawaiku dengan begitu puas.

    “Hhaahhaaha Kau tidak pernah berubah sejak Masa itu… Kau tetaplah seorang Ma'lakh yg setia Hai pemilik nama Kekuatan Allah


    *******​
     
    Last edited: Mar 8, 2011
  6. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update lagi :terharu:

    Act – 1.3 Meeting with Belial the Fallen


    Aku melihatnya, Belial yg sedang tertawa terbahak – bahak disamping diriku kemudian berubah menjadi kepulan asap hitam yg meluap – luap dan menghilang lenyap tidak berbekas.

    Aku kemudian mengalihkan perhatianku kembali pada moment yang terjadi dibawah sana. Secara jelas, aku mendengar suara yg berat yg keluar dari Arah patung batu bertanduk dan bersayap berbicara kepada manusia – manusai pendosa yg sedang berdoa memohon sesuatu.

    Aku mendengarnya, patung batu itu berbicara dengan suara yg lantang dan menakutkan dan bersedia memberikan apa yang mereka inginkan karena telah mendapatkan persembahan. Ia berjanji akan memberikan hujan dan menghentikan kekeringan agar mereka semua dapat mendapatkan hasil panen yang melimpah. Ke empat pemuda yg mendengar suara itu kemudian menari – nari bersorak – sorai lalu kemudian berlutut agak lama dan kemudian mereka semua akhirnya pergi dari tempat itu meninggalkan tubuh wanita yg terdiam sekarat berlumuran jalan di tanah.


    Mereka telah jauh dari Tuhan…​


    Aku yg melihat semuanya kemudian bergerak melompat dari atas bebatuan besar yang membentengi tempat itu dan kemudian dengan perlahan jatuh tepat di dekat tubuh gadis itu. Aku memandangnya, wajah gadis itu yang sayu dan sedang menahan rasa sakit menatap kearah diriku. Aku kemudian berjalan perlahan dan kemudian berlutut dengan satu kaki lalu melihat dengan iba keadaan wanita dihadapanku ini.

    “Aku tidak ma..u ma..ti.. Aku tidak ma..u..”

    Aku terdiam mendengar kata – kata pilu wanita ini yg sedang dalam keadaan sekarat. ia yg tidak berdosa harus menjadi tumbal dari sekelompok orang, hanya demi sesembahan batu yang tidak layak untuk mereka sembah. Aku kemudian menggerakan tangan kiriku untuk memegang kepala wanita yang berambut panjang itu dan kemudian berkata dengan pelan.

    “Ikhlas lah dengan takdir mu…”

    Wanita itu kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Aku melihat didepan mataku bagaimana manusia meninggal dan roh nya keluar dari jasad. Aku iba dengan keadaan yang terjadi sekarang di Assiah. Kejahatan dan pembunuhan telah terjadi dimana – mana. Tanah suci penuh kedamaian yang dahulu diciptakan, sekarang berubah menjadi tanah kotor dimana banyak sekali terjadi pertumpahan darah. Ada perasaa sedih bercampur sesal didalam diriku. Kenapa manusia yang dimuliakan malah bersifat seperti ini? AKu masih belum mengerti dimana letak kemuliaan yang Tuhan katakan..

    “Kenapa Gabriel.. Kau iba dengan manusia itu?”

    Suara patung batu bertanduk dan bersayap yg ada dihadapanku berbicara dan aku tahu dengan jelas siapa itu. Ya, itu adalah Belial.. aku menyadarinya, tempat ini adalah Altar pemujaan yang dibuat untuk memuja dirinya. Aku kemudian menutupkan kedua mata wanita itu dan kemudian berdiri dengan tegap memandang kearah patung batu besar didepanku.

    “Apa yang membuatmu merasa setara dengan Tuhan dan ingin pula untuk disembah? Jawab aku Hai Kau Belial cahaya Redup yg telah jatuh!!”

    Aku melihatnya, tepat didepan patung batu itu, aku melihat kepulan asap hitam muncul perlahan dan akhirnya membentuk sosok manusia yg mengenakan robe hitam panjang dengan rambut api menyala terang.

    “Aku tidak meminta untuk disembah Hai Servus Dei… mereka sendiri yg datang padaku memohon sesuatu.”

    Aku melihatnya, bola mata biru mengkilau seperti bola mata yg aku miliki memandang tajam padaku bersama dengan senyum sinisnya pula yg terlihat dari raut wajah manusianya.

    “Kau sadar apa yang kau lakukan? Semuanya itu Keji di mata Tuhan.. kau telah memberikan jalan bi’dah pada manusia dan membuat mereka semua berpaling dari Tuhan..”

    “Kau menyalahkan ku dengan semua kesalahan dan dosa manusia yg mereka lakukan sendiri? Hai Para Cahaya Pelayan Tuhan, lihatlah dengan jelas para manusia yang sempurna dan mulia itu tidaklah lebih sampah dari kami yang telah terkena kemurkaan laknat Tuhan. Kami hanya memberikan apa yang mereka inginkan jika mereka mau tunduk pada kami Para Ciptaan yang memang lebih tinggi derajatnya dari mereka.”

    Aku terdiam memandang Belial yang sekarang melipatkan kedua tangannya di dada dan menatapku dengan tajam.

    “Mereka datang pada kami karena mereka tidak merasakan kasih dari Tuhan.. seharusnya kau bertanya pada Tuhan mengapa ia membiarkan mereka manusia yg mulia itu menderita dan tidak sedikitpun ia peduli dan malah membiarkan mereka semua berada dalam ketidak percayaan!!!”

    “Jiwa kalian telah rusak… Jiwa kalian telah dipenuhi oleh sikap pemberontak dan memungkiri alasan sebenarnya bagi kalian untuk hidup. Hai kalian Cahaya Redup!!! Memohon ampunlah pada Tuhan yang Maha Kuasa yg telah menciptakan kalian!!!”

    “Tuhan? Ia telah membuang kami.. sekarang hanya satu sosok yg dapat menjadi panutan kami semua yg telah dalam pembuangan.. Ya, Dia.. Aku hanya akan tunduk pada Lord HELEL !!!”

    “Kalian telah jauh melampaui batas…. “

    Aku mengerutkan kedua alisku dan memandang dengan tajam wajah pemberontak dihadapanku. Tanpa dapat aku sadari, Aku memunculkan pedang itu.. Ya, pedang dengan nyala api yang membara yg telah diberkati atas nama-Nya dan tergemgam dengan erat di telapak tangan kananku. Belial terkejut dengan apa yang kulakukan. Ia lalu kemudian menatapku dengan kembali sini dan terlihat senyumnya yang menyeringai.

    “Aku tahu, Kau ingin sekali bertikai denganku Hai pemilik nama Kekuatan Allah. Tapi.. apa kau telah mendapat perintah dari-Nya dan diberikan izinnya untuk melakukan itu? Hahhahaahaaahah!!! Kalian semua hanyalah pelayan yang tidak memiliki ruang gerak bagi diri kalian sendiri. Pelayan yang hanya patuh dan tidak bisa sedikitpun menyela atau mempertanyakan segala perintah-Nya.”

    Aku hanya bisa menggeram.. tak ada yang bisa aku lakukan. Ya, aku tidak boleh melakukan hal yang sama seperti dahulu ketika bertemu dengan Sammael. Aku menyadarinya, aku adalah salah satu dari Mal'akhim yang jelas – jelas mengetahui hukum dan aturan apa yang diberikan pada kami. Aku mencoba menenangkan semua gejolak yg ada didalam diriku dan kemudian menghilangkan kembali pedang api membara yang kudus yang sedang ku genggam ditanganku.

    Belial yang melihat apa yang tengah kulakukan kemudian tertawa kecil dan tiba – tiba Hembusan angin dingin yg cukup keras muncul menerpa tubuhku dan juga tubuh Belial dimana akhirnya pakaian robe yang kami kenakan bergerak berkibar tertiup mengikuti hembusan arah angin.

    “Mari kita hancurkan hukum-Nya Gabriel…”

    “Aku tidak ingin bertikai denganmu.”

    “Kau mungkin tidak.. TAPI AKU YANG MENGINGINKANNYA!!!”

    Pijaran api berwarna merah menyala muncul disekitar tubuh manusia Belial. Api yang awalnya hanya mengitari tubuh Belial, kemudian dengan cepat berkobar menjadi besar dibelakang punggung sosok jubah hitam itu dan membentuk secara perlahan menjadi sosok raksasa api Besar Bertanduk yang memiliki sayap api yang menjulang tinggi kelangit. Perlahan – lahan tubuh sosok berjubah hitam itu berubah menjadi kepulan asap hitam dan kemudian menghilang tanpa bekas hanya menyisakan makhluk api besar bersayap yang menyala berkobar - kobar. Aku mengetahuinya, Belial sedang menggunakan Animus Image tepat didepan mataku sekarang. Image yang seharusnya tidak boleh digunakan tanpa izin dan juga kehendak Tuhan.

    “Kebencian itu!!! Kebencian ketika Perang Besar itu masih membekas dalam diri kami semua Gabriel!!! Kenapa Tuhan Yang Maha Mengetahui menghukum Dia? Mal'akh yang paling setia dan selalu berdoa memuji – muji-Nya di setiap alunan langkah nya dimanapun ia berada. Kau lihat buktinya sekarang!! Bagaimana sebegitu berdosa dan rendahnya manusia!!! Helel yang telah mengatakan kebenaran itu didepan Tuhan dan juga para Mal'akhim, kau tahu apa yang terjadi? IA DILAKNAT DENGAN KEMURKAAN TUHAN!!!”

    “Kau terlalu mengagumi Helel hingga memujanya... Kau seharusnya sadar Hai Ciptaan Yang Membangkang!!! Tidak ada satupun yang layak dipuja dan disembah kecuali Tuhan-mu !!!”

    Keadaan tempat yang menjadi Altar pemujaan itu sekarang menjadi riuh dan ricuh dengan suara dan juga bentuk Kobaran Api Belial yang besar hingga melewati barisan tebing bebatuan yang mengelilingi tempat ini.

    Apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku bertikai melawan mereka yang Tercemar ini tanpa perintah ataupun izin dari Tuhan?


    *********​
     
    • Like Like x 1
  7. setanbedul Veteran

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Dec 9, 2008
    Messages:
    4,679
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +11,624 / -0
    sinopsis itu tampak seperti review deh... coba ganti tulisannya jadi review..
    buat sinopsis tampaknya kamu harus bikin lagi deh..

    btw sinopsisnya bs ambil dari tulisan di prolog deh.. :million4:
     
  8. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    wogh.. thx koreksinya mod..
    wa ganti jadi prakata aja deh... :elegan:
    (daripada nulis ulang sedikit kata di prologue buat sinopsis)
     
  9. setanbedul Veteran

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Dec 9, 2008
    Messages:
    4,679
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +11,624 / -0
    kalau baca dari tips kk.. kk menyarankan agar menulis bab saja tanpa judul.. jadi cuma nulis
    bab 1
    bab 2 dst

    kadang untuk pemula memberi nama pada bab itu sulit krn gk langsung dia harus bisa menyesuaikan pada judul
    en buat pembaca juga kadang tidak begitu mempedulikan adanya judul/tidak pada nama bab
     
  10. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    maksud yang di bold gimana ya mod? bisa jelasin lagi? gak mudeng saya :matabelo
    klo maksudnya ACT ditulis judul / tiap ACt 1.1/1.2/dst dikasih judul, itu memang dah terkonsep seperti itu.

    jadi setiap added chapter baru dah ada judul yang mewakili isi cerita. (ini menanggulangi kelupaan pembaca ketika dah baca jauh tapi lupa baca part berapa terakhir)
     
  11. setanbedul Veteran

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Dec 9, 2008
    Messages:
    4,679
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +11,624 / -0
    maksud kk kebalikannya... kamu menulis
    Act - 1.1 Past Memory about The First War of Heaven
    sebenarnya kk menyarankan agar membiarkan tulisannya cukup
    Act - 1.1

    krn kamu sudah memiliki konsep seperti itu.. kk jg gk menyalahkan.. tetapi problemnya seperti yg kk tulis di bagian saran (topik berbeda).. dimana gara2 ada tulisan judul.. (bukan judul utama).. penulis secara ngak sadar membuat kisah yang harus ada kisah ini..
    *biasa terjadi pada pemula

    tetapi melihat bagian atas.. kk tidak perlu khawatir karena kamu bukanlah penulis pemula.. btw.. mungkin kamu sangat bersemangat.. jadi melupakan rule standar dalam pembicaraan yaitu >>
    tulisan saat pembicaraan yg kk anggap ngak umum.. kebetulan dapet yg ini
    normalnya dalam novel ini disambung jadi satu.. bukan terpisah dalam 1 paragraf berbeda

    tp kk rasa mungkin km sangat bersemangat.. dan itu bagus.. artinya kamu lagi masa2 panasnya.. dan manfaatkan panas tsb buat melanjutkan ke cerita berikutnya.. tetapi jgn kamu ketik buru2.. berikan waktu dalam menulis post yg baru.. dalam hal ini.. kalau kamu udah yakin/pengen banget buat nulis.. tunda dahulu.. lanjutkan tulsian kamu besok aja
    why?? agar flow tulisan kamu di topik ini tidak buru2.. tetapi akan lebih baik flownya rata.. jangan sampai kayak grafik naik turun...
    selain itu ini masalah disiplin aja kok.. sapa tau saat nulis ke sini kamu dapat ide ato tambahan tulisan yg menarik?!?
     
  12. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    thx koreksinya mod :beer:
    yuup klo soal Eyd yang baik, saya rasa juga masih banyak kekurangan disana sini.. (dan typo yg bertebaran dimana - mana) :jah:

    yuup post cerita lanjutannya berkala aja deh.. sekalian nunggu ada yg review ceritanya (i hope) :angel:
     
  13. setanbedul Veteran

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Dec 9, 2008
    Messages:
    4,679
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +11,624 / -0
    harusnya kamu menulis agar ada yg review cerita kamu.. tetapi kk blum bisa review kalau kamu belum update sampai bab ke 3..
    kurasa kk coba review.. anggap sebagai ganti cendol
     
  14. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    ini update nya.. :tkp3:

    Act - 1.4 Servant Who Don’t Have The Own Will


    Aku memandangnya, sosok besar berkobar – kobar yang menyala dengan terang. Sosok Animus Belial mengangkat kedua tangannya yang besar kelangit dan sayapnya dikepakan hingga melepaskan kilatan percikan api menyala – nyala yang lepas dari kobaran api yang menyelimuti wujudnya yang Besar.

    Percikan jilatan api berwarna biru muncul di telapak tangan kanan Sosok Besar itu. Warna api yang berbeda dengan warna kobaran api yg menyelimuti seluruh tubuhnya yang merah menyala, memberikan kesan kontras dengan kedua Api biru yang telah bertransformasi menjadi bentuk Fire Ball di kedua tangan Belial yang sekarang telah menurunkan kedua tangannya dari langit.

    “Angkat pedang Kudusmu Gabriel!!! Lawan Aku!!!”

    Suara Belial mengelegar. Aku masih memandangnya dengan tajam tanpa sedikitpun bergeming dari tempat dimana aku berdiri sejak tadi. Aku tidak mengeluarkan pedang api yang diberkati Atas nama Tuhan. Aku tahu, aku tidak boleh dengan sembarangan menggunakannya tanpa sebelumnya mendapatkan izin dari Ia Sang maha Pencipta.

    Belial yang melihat gerak – gerik ku yang hanya diam berdiri tanpa melakukan apapun, dengan cepat bergerak melemparkan Fire ball biru dari tangan kanannya tepat kearah diriku.

    “DUARRRRRRRRR!!!!”

    Suara ledakan pada tanah berpasir terdengar keras disertai tersapunya debu – debu kotor itu keudara disertai jilatan – jilatan api yg terhempas dari tempat ledakan. Aku berhasil menghindarinya, tepat sebelum cahaya biru itu mengenaiku, aku telah melompat ke udara.

    “PERLIHATKAN IMEJ-MU GABRIEL!!!”

    Belial Berteriak sangat keras, lalu melemparkan bola api ditangan kirinya kerah tubuhku yang masih melayang cukup tinggi di langit. Bola api panas berwarna itu bergerak cepat kearah ku. Aku ingin menggunakan pedang itu untuk menepisnya tapi tidak, aku tidak bisa melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Aku kemudian meluruskan kedua tanganku kearah kiri dan kanan, dan kemudian menarik dengan cepat kedepan hingga kedua tanganku membentuk huruf X.

    Terlihat, Tebing Bebatuan yang berada di kanan dan kiri ku yg mengitari tempat ini bergetar hebat dan kemudian bergerak, retak dan terpecah melesat cepat kearah depan diriku dan membentuk sebongkah tembok batu besar tebal sebagai pertahanan dari serangan Fire Ball yang sedang menuju kearahku.

    “BLAAAARRRRRRRR!!!!!”

    Fire ball itu menabrak Tameng Batu tebal yang telah kubuat, namun tameng itu tidaklah cukup kuat untuk menahan kekuatan Bara Api Membara yang dibuat Belial. Kumpulan bebatuan itu akhirnya terpecah menjadi serpihan – serpihan kecil yang memencar ke segala arah dan membiarkan kilatan pijar api biru itu melesat melewati nya dan sekarang tepat berada dihadapanku.

    “VLOOORRRRRRR!!!!”

    Tubuhku terbakar oleh panasnya kekuatan api Belial. Api itu menyelimuti tubuhku hingga aku merasakan sakit yang teramat sangat sampai teriakan kencang tanpa sadar ku keluarkan secara reflex. Tubuhku yang sedang dilanda rasa sakit yang teramat sangat itu kemudian jatuh dengan kobaran api yang masih menyelimuti tubuhku ke tanah berpasir yg ada dibawah.

    “Bruughhhh” Aku terjatuh terbaring telungkup. Dengan tenaga yang ada didalam diriku aku mencoba menghilangkan Kobaran api menyala yg masih saja menyelimuti tubuhku, sembari dengan perlahan mencoba menggerakan lengan kananku untuk menahan pijakan agar aku dapat mengangkat tubuhku yang terasa berat.

    Aku mencoba untuk bangun dengan posisi berlutut dengan satu kaki. Dikala sulitnya diriku bangun, aku mendengarnya suara Belial menggelegar tertawa terbahak – bahak kegirangan dengan apa yang baru saja ia lakukan padaku. Aku dengan susah payah telah berhasil bangun berlutut dan menghilangkan kobaran nyala api dari seluruh tubuhku dengan kekuatanku.

    Aku terengah – engah dan terlihat dengan jelas kepulan asap – asap dari robe putih panjang yang kukenakan memanjang terbang kelangit sebagai akibat dari kobaran api membara yang membakarku tadi. Rasa perih dan sakit yang tidak pernah kami para Mal'akhim miliki, sekarang dapat aku rasakan dengan jelas. Ini kah rasa sakit yang manusia rasakan dari penderitaan kehidupan yg merupakan sebuah ujian?

    Aku memegang lengan kiriku oleh telapak tangan kananku. Aku merasakannya rasa dingin dan juga basah ditelapak tanganku yang terlihat bergetar. Aku menyadarinya, lengan kiriku berdarah setelah aku melirik kearah lengan kiri dimana terlihat rembesan darah menembus lengan pakaian robe yg aku kenakan.

    Aku memandang kearah Belial dengan tajam dan juga menggeram. Aku ingin melawannya, aku ingin membela diriku atas apa yang tadi ia lakukan. Tapi tidak, aku tidak bisa melakukan apa – apa. Aku diciptakan di Dunia ini bukan untuk bertikai, tapi untuk berdoa memuji nama-Nya yang Kudus dan Suci.

    “Hai pemimpin berlaksa – laksa tentara Surga kelas Cherubim yang dimuliakan. Kenapa kau diam saja membiarkan dirimu terbakar dari Bara Apiku yang seharusnya dengan mudah kau hilangkan dengan kekuatanmu? Kau sangatlah Bodoh dengan tetap berpijak pada Perintah-Nya tanpa sekalipun berpikir menggunakan pikiranmu untuk melakukan sesuatu.”

    Aku diam hanya mendengar semua ocehan dari Sosok Setan Api berkobar Belial dihadapanku. Pelan – pelan dengan menahan semua rasa sakit di tubuhku aku berdiri dengan terhuyung – huyung.

    “Aku bukanlah golongan Engkau Hai para Cahaya redup yang jatuh ke Jurang Dunia, yang lebih memikirkan pemikiran kalian sendiri yang terbatas dan melawan Perintah Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku adalah Ma’lakh yang mengerti arti untuk apa sebenarnya aku diciptakan!!!”

    Aku menjawab perkataan Belial sebelumnya, dan terlihat Ia salah satu yang telah Tercemar hanya tertawa cekikikan dengan apa yang baru saja ia dengar.

    “Hai Kalian Jiwa suci yang terkekang oleh Rules bagaikan sebuah Boneka hidup tanpa memiliki keinginan, Kalian tidaklah lebih mulia dari kami Golongan yang sadar mengenai hak yg semestinya kami dapatkan. Kalian tidak pernah menyangsikan sedikitpun kata – kata-Nya dan hanya menelan bulat – bulat perintah itu. Para pelayan yang menyedihkan Haahahahaha… hidup Kalian itu bagaikan mati!!!”

    Kata – kata hasutan itu menusuk tepat kedalam diriku. Aku marah, aku benar – benar merasakan amarah yang sangat besar ketika Belial mengatakan ia menyangsikan perkataan Kudus Tuhan seolah Tuhan itu tidak Maha benar dan Tidak maha mengetahui. Aku tidak bisa membendungnya lagi, Aku menatap dengan tajam kearah Belial dan ia memandangku dengan cukup terkejut karena bola mata biru mengkilau yang aku miliki bersinar dengan terang.

    Aku melepaskan pegangan tangan kananku pada lengan kiriku yang terluka dan kemudian dengan cepat menggarakannya kedepan pada posisi memegang senjata dan akhirnya munculah pedang itu, pedang Api Kudus menyala yang telah diberkati oleh Tuhan.

    Belial tersenyum kecil dengan apa yang kulakukan. Apalagi ketika ia melihat, kedua sayap putih indah muncul dari kedua punggungku yang terlilit regang oleh kain putih suci panjang yang mengelilingi Sayap itu hingga mencapai ujung pangkalnya.

    “Kau yang telah Menyangsikan perkataan Tuhan, Memohon ampunlah pada-Nya atau aku akan menghukummu atas Nama-Nya yang Kudus!!!”

    Aku melihatnya, Belial meregangkan kedua tangannya dan menciptakan kembali Bola Api biru yang berputar berkobar dengan sangat terang di kedua telapak tangannya. Kedua sayap api besar yg membara yang terpasang dipunggungnya ia kepak – kepakan cukup kencang hingga menimbulkan tiupan angin yang cukup keras ditempat itu, dan tidak luput pula sayap besar itu melepaskan jilatan api keberbagai arah dan membakar sebagian tanah berpasir yg berada dibawahnya.

    “Kamu memilih untuk mengabaikan Rules itu Gabriel? Hahahahaha!!! Bagus majulah hadapi aku Hai Engkau salah satu Seraphim tinggi Gabriel!!!”

    Aku tidak bergeming mendengar perkataan Belial itu. Tubuhku tetap terdiam berdiri memandang dengan penuh amarah, walaupun angin besar itu meniup robe putih panjang yang kukenakan hingga berkibar kearah belakang bersama dengan kain putih yang melilit kedua sayapku.


    ******​
     
    Last edited: Mar 8, 2011
  15. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update :yahoo:

    Act - 1.5 The Mal’akh Al Mawt Azrael


    Apakah aku harus melakukan kesalahan kembali? Aku tahu apa yang akan kulakukan adalah salah. Tidak.. bagaimanapun juga aku akan melindungi nama-Nya dari mereka para Penghujat, sekalipun itu akan membuatku bersalah dan terkena hukuman dari-Nya.

    Aku Gabriel dengan segenap ketetapan hatiku, memilih untuk bertikai dengan Dia salah satu yang dijatuhkan demi membela Nama Tuhan. Aku kemudian mengeluarkan Energi yang ada di dalam tubuhku sehingga terlihat cahaya biru bersinar terang di sekeliling diriku bersamaan dengan mengkilaunya bola mata biru milikku yang membuat Belial tertegun diam sejenak memandangku.

    Pasir – pasir kotor yang berada di tanah yang sedang kupijak, berputar mengelilingiku karena terkena tekanan udara yang berubah. Tanah ini, tanah tempat dimana terdapat Altar pemujaan bid’ah berada, bergetar cukup kencang hingga beberapa bebatuan di tebing yang mengelilingi kami berdua retak dan akhirnya berjatuhan ketanah.

    Tiba – tiba saja tanah yang sedang bergetar yg berada tepat disekelilingku, retak dan akhirnya memunculkan muncratan Air yang keluar dari dalam tanah dan terlempar kelangit. Aliran air yang terdorong tinggi kelangit hingga membentuk seperti pilar bening kemudian bergerak mengelilingi diriku hingga membentuk sebuah kubah pertahanan. Aku, Gabriel yg merupakan salah satu dari tujuh penghulu Seraphim yg ada, adalah Mal’akh yang diberi kuasa oleh Tuhan untuk mengatasi Air. Ya.. ini adalah Elemental yang aku kuasai. Air perlambangan kehidupan dan juga penyucian.

    “Hwahahahahahah!!! Ya, ini yang kuinginkan Gabriel!!! Lupakan segala kekangan yang ada dan lawanlah aku!!! Kita selesaikan semuanya apa yang Mal’akhim mulai dahulu kala di Yetzirah!!!”

    Aku melihatnya, Belial mengepakan kedua sayapnya yg besar dan terbang kelangit. Kobaran api yang menyelimuti tubuhnya bersinar sangat terang hingga menggantikan cahaya terang dari matahari yang menyinari tempat itu. Ia sang pengendali Api Belial dalam Animus Image, memusatkan energinya pada kedua tangannya dan akhirnya merubah kedua bola api biru mengkilau yg ia pegang itu menjadi dua buah kampak besar bermata satu yang terbuat dari Api.

    Aku memandangnya sangat tajam dan merasakannya ia akan segera melakukan serangan. Aku tanpa ragu lagi memegang pedang api kudus yang menyala – nyala dengan kedua telapak tanganku, bersamaan dengan ledakan sinar biru yang memancar keberbagai arah melewati kubah pelindung yang terbuat dari air yang mengitari tubuhku.

    “Kau masih saja sombong Gabriel!!! Kau ingin melawanku dengan wujud manusiamu seperti itu??!!! Ingatlah!!! Itu adalah kesalahanmu sendiri jika kau mati dengan tanpa menggunakan Animus image!!!”

    Belial bergerak dengan sangat cepat kearah diriku yang masih berpijak ditanah dan memegang pedang Suci. Aku melihatnya raut muka bengisnya dan juga kemarahan dan kebencian yang jelas – jelas terpancar dari dalam dirinya.

    Aku Gabriel, tanpa berpikir panjang lagi meletakan pedang suci itu pada posisi siap untuk melakukan tebasan samping kanan. Aku mengumpulkan seluruh tenagaku dan kemudian melebarkan kedua sayap putih Kudus milikku yg terlilit kain seraya dengan segera menghempaskannya melepaskan angin hingga akhirnya Aku melayang tinggi terbang kearah Belial yang bergerak bersiap untuk menyerangku.

    “DALAM NAMA TUHAN YANG ESA!!! Tunduklah dan memohon ampunlah pada-Nya Hai kalian yang Tercemar!!!!”

    Aku Gabriel melayang semakin dekat dengan tubuh besar Belial... dan dalam beberapa meter lagi pertikaian yang telah lama berakhir itu akan kembali Aku mulai.

    “PRAAAANKKKKKKKKKK!!!!!!!!”

    Tubuhku terkena hantaman yang cukup keras. Dan rasa sakit itu benar – benar terasa menusuk hingga akhirnya aku merasakan tidak dapat menahannya dan terdorong jatuh dengan sangat cepat secepat kecepatan peluru ke tanah berpasir.

    Sakit.. ya rasa nya benar – benar – benar sakit. Tubuhku bergetar dan terasa sulit untuk digerakan. Aku yang sedang sangat kesakitan, mencoba membuka kedua mataku yang tadi terpejam dan melihat kelangit. Terkejutlah aku, tepat di langit Aku melihat Sosok animus Image belial menghilang, dan yang ada hanyalah sosok Belial dalam wujud manusia yang mengenakan coat hitam dengan rambut menyala sedang tertusuk oleh tombak hitam yang terbuat dari asap.

    Aku mendengarnya, erangan lengkikan suara sakit Belial yang terdengar menggelegar. Darahnya keluar mengalir dari luka tusukan itu yang tepat menusuk paru – paru sebelah kirinya. AKu yang juga merasakan hantaman yang cukup keras tadi, mencoba untuk berdiri dengan bertumpu pada pedang suci yang masih kupegang dengan tangan kananku.

    Aku yang sedang berupaya berdiri bersusah payah, tetap memandang kearah Belial dilangit yang sedang tertusuk tombak hitam. Akhirnya sesuatu muncul, Aku melihat sebuah asap hitam kecil didepan belial semakin lama kepulannya semakin membesar.

    Aku Gabriel sangat kaget dengan apa yang aku lihat dengan kedua mataku. Kepulan asap hitam itu kemudian memunculkan dua sayap hitam besar yang panjangnya terlihat dari ufuk barat dan ufuk timur tempat dimana aku berada. Sayap ini benar – benar sangat megah. Ya aku tahu, itu bukanlah Animus image. Itu adalah sayap biasa seperti apa yang aku miliki sekarang di punggungku. Tubuhku bergetar cukup hebat. Perasaan ini, perasaan sangat takut muncul dalam diriku melihat sosok yang ada dihadapanku sekarang.

    Kedua sayap megah dan besar itu kemudian bergerak sedikit dan memunculkan ribuan mata yang terbuka disetiap helai bulu sayapnya. Bola – bola mata yg muncul itu ada yang memandang Belial yang kesakitan dan ada pula yang memandang diriku yang sekarang telah berdiri cukup tegap.

    Azrael…​

    Aku melihatnya, kepulan asap hitam menggulung itu akhirnya membentuk sebuah sosok manusia dengan pakaian cloak hitam panjang compang camping dengan wajah sosok itu yang tertutup hoody dan juga mengenakan topeng putih datar tanpa mata dan hidung dan hanya terlihat bentuk mulut yang muram.

    Sosok itu berdiri melayang dilangit dengan sayap hitam besar megah menghadap kearah diriku. Ya.. aku tahu, dia adalah Mal’akh Al Mawt Azrael. Dan aku menyadarinya, ialah yang telah menghantamku dengan sangat keras sebelum aku sempat menebaskan Pedang Api Suci ke tubuh Belial.

    Apa yang membuatmu merasa boleh untuk melanggar Rules yang telah dibuat Gabriel…?

    Suara Azrael terdengar ditelingaku dan juga dari dalam diriku. Aku tahu dan mengerti maksud dari pertanyaannya itu. Aku menyadari aku telah salah dan dengan rasa keraguan serta penyesalan aku menundukan kepala dan menjawab pertanyaan Azrael.

    “Aku ingin melindungi nama-Nya dari para penghujat itu…”

    Itu bukanlah menjadi alasan bagimu untuk menghancurkan semua ketetapan yang telah dibuat hai Engkau Pemilik Nama Kekuatan Allah

    Aku tidak dapat menyanggah perkataan Azrael. aku sadar aku memang salah. Aku kemudian menghilangkan pedang kudus yang sejak tadi aku pegang dan berusaha berdiri dengan tegap sembari tetap menunduk dan tidak lupa juga menghilangkan kedua sayap kudusku. Sekarang yang tersisa hanyalah sosok manusiaku yang mengenakan robe putih kotor berdebu dan juga kotor karena rembesan darah.

    Angin dingin ditempat itu bertiup mengenai tubuhku hingga akhirnya hoody yg sejak tadi kukenakan menutupi kepalaku tersibak dan memperlihatkan rupaku.
    Wujud manusiaku sekarang telah terlihat dengan jelas oleh Azrael yaitu seorang lelaki dengan wajah tampan rupawan juga Feminis wanita yang sangat cantik dengan rambut hitam pekat pendek agak ikal dan juga bola mata biru seindah sapphire sedang tertunduk muram merasakan penyesalan yang sangat mendalam.

    “Terkutuk kau Azrael… kenapa kau menghentikan Kami.. Huh..”

    Aku mendengar suara Belial yang sedang menahan rasa sakit tombak yang menusuk menembus tubuhnya, menggerutu dengan apa yang telah dilakukan oleh Azrael.

    Azrael kemudian kembali menjadi asap dan akhirnya asap hitam itu telah membentuk kembali sosoknya yang mengenakan topeng putih tepat sekarang menghadap Belial yang kesakitan.

    Aku telah bersalah menusukmu Hai engkau Pelayan yang Tercemar Belial… Aku tahu Akan mendapatkan hukuman dari Tuhan. Tapi itu lebih baik daripada ada satu diantara kalian harus mati dan Rules itu dikotori. Anggaplah rasa sakit ini adalah rasa sakit mu yang tertunda ketika dahulu kala di masa Perang Besar itu, sebab ketika itu Aku tidak berperang menghentikan kalian dan hanya terdiam melihat.

    Aku melihatnya, Belial menggeram dan kemudian Azrael menggunakan tangan kanannya yg berbentuk sangat mengerikan berwarna hitam legam memegang tombak hitam berasap itu dan kemudian mencabutnya dan membuat Belial berteriak melengking sangat keras dan jatuh bersimbah darah ketanah berpasir yg berada dibawah.

    Azrael yang masih melayang diudara kemudian kembali mejadi kepulan asap dan sekarang menghadap kearahku. Ia lalu menggerakan lengan kiri robe hitam yg ia kenakan dan kemudian lengan itu bertransformasi menjadi sebuah lengan hitam sangat mengerikan tanpa bentuk yang terikat dengan rantai – rantai api yg menyala – nyala. Aku tahu, lengan Azrael itu telah berubah menjadi sangat mengerikan setelah ia mendapatkan makhluk Al Mawt dari Tuhan dimana ia diberikan kuasa oleh-Nya untuk dapat memegang makhluk itu dengan telapak tangan kirinya.

    Al Mawt.. makhluk yang telah membuat kami Mal’akhim pingsan selama 1000 tahun hanya karena melihat sosoknya secara langsung. Makhluk yg sengaja diciptakan Tuhan dan diberi kuasa oleh-Nya untuk mencabut nyawa seluruh makhluk hidup yang Ia ciptakan kini berada dan bersemayam di tangan kiri Azrael.


    ********​
     
  16. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update ahh :terharu:

    Act – 1.6 The Seraphim Who Realize His Mistake


    Aku melihatnya, dari telapak tangan kiri Azrael yg mengerikan itu sekarang muncul sebuah buku yang sangat besar berwarna hitam dengan lembaran kertas berwarna putih. Buku itu kemudian terbuka dengan pelan dan terlihatlah satu wujud roh berwarna putih muncul dari tanah bersama dengan dua Mal’akh yang menggunakan robe hitam dan bersayap hitam mendampinginya. Roh dan kemudian bergerak melayang masuk kedalam buku dan akhirnya buku besar itu tertutup. Kedua Mal’akh yg muncul mendampingi roh kemudian mengembangkan sayapnya dn kemudian menghilang menjadi asap.

    Aku tahu, roh tadi yang melayang – layang adalah roh gadis yang sebelumnya tewas secara mengenaskan karena menjadi persembahan untuk Belial. Ya aku sadar sekarang, kedatangan Azrael kemari adalah untuk mengambil jiwa manusia yang telah habis waktunya di Assiah sebab ia adalah Mal’akh yg ditugaskan tuhan untuk Mencabut nyawa. Aku tidak pernah membayangkannya ketika nanti waktu itu tiba. Bagaimana rasa sakitnya kondisi itu ketika Ia Mal’akh Al Mawt ini akan mencabut nyawaku.

    Buku Hitam besar yg berada ditelapak tangan kiri Azrael kemudian menjadi kobaran api berwarna hitam menyala dan menghilang lenyap tanpa bekas. Azrael yg sejak tadi melayang dengan kedua sayap hitam besar yang terbentang dari ufuk barat hingga ufuk timur, bergerak turun menuju dataran berpasir dengan sayap besar yang ia gerakan keatas dan menimbulkan banyak sekali kepulan asap – asap hitam berbentuk kepala tengkorak yang mengerang kesakitan terbang kelangit. Ketika Azrael menginjakan kakinya pada tanah berpasir sayap besar dengan puluhan juta mata disetiap helai bulu sayapnya yg berada dipunggungnya, kemudian menghilang menjadi pecahan bulu sayap berwarna hitam melayang – layang dilangit dan lenyap menjadi asap hitam.
    Dia Azrael, Mal’akh Al Mawt sekarang tengah berdiri dihadapanku dan memandangku yg tengah tertunduk menyesal dengan apa yg sebelumnya berniat kulakukan.

    “Kau harus membayar ini semua Azrael!!!!”

    Aku mendengarnya dari arah belakang Mal’akh pencabut nyawa itu, Belial telah berdiri dan dikedua tangannya ia memegang kampak Api berwarna biru menyala dengan terlihat pula tatapan kebenciannya kearah sosok Azrael. Azrael melirik kearah belakang dimana suara keras tadi muncul. Tanpa pikir panjang, Ia yang Terjatuh berlari walaupun terluka dengan sangat kencang hingga pasir – pasir yg ia lewati terbang berhamburan melayang – layang kelangit.


    “TEEEEEENNKKKKKKKKKK!!!!!!!!!”


    “Cukup apa yang sudah kau perbuat Belial..”

    Belial terkena hantaman yg cukup keras dan akhirnya jatuh tersungkur berguling – guling kebelakang. Aku melihatnya, muncul dengan tiba – tiba sesosok manusia dengan cloak hitam dan rambutnya berwarna putih memegang dua pedang ditangannya dan menghentikan tindakan yg akan dilakukan Belial kepada Azrael.

    “Brengsek!! kenapa kau menggangguku Beelzebub!!!”

    Ia sosok manusia dengan rambut berwarna putih mengkilau dengan bola mata berwarna biru mengalihkan pandangannya pada diriku dan juga Azrael. Ketika aku memandangnya lebih teliti, aku mengenalinya. Ternyata dia sosok yg berada didepanku adalah Beelzebub yang dahulu merupakan Mal’akh chorus bawahan Helel. Dia Beelzebub yg sedang memandang kami berdua Mal’akhim Pelayan Tuhan kemudian mengucapkan sesuatu.

    “Kamu tidak akan bisa mengalahkannya Hai Belial The Fallen.. Sekalipun tuan kita Lord Helel berada disini dan harus bertempur dengan mereka para Cahaya terang, ia akan lebih memilih bertikai dengan Michael yang membawa berlaksa – laksa tentara Suragawi dibandingkan harus bertempur dengan Azrael.”

    Belial menggeram tidak mengeluarkan kata – kata lagi setelah mendengar kata – kata Beelzebub.

    “Hai kalian para Cahaya Terang Mal’akhim, ingatlah kalian dengan janji Tuhan pada Helel untuk membiarkan kami yang Terjatuh menghasut manusia hingga hari penghakiman itu tiba. Ingatlah ketetapan yang telah dibuat itu. Jika kalian berniat melanggarnya kami para Fallen tidak segan – segan untuk memulai kembali peperangan yang dahulu pernah terjadi.”

    Aku diam dan hanya memandang Beelzebub yg kini menatap tajam pada kami berdua. Tertiuplah angin ditempat itu dan membuat moment yang ada menjadi sangat tegang dengan keberadaan Cahaya Terang dan juga Cahaya Redup yg saling berbeda sisi.

    Kami Mal’akhim mengetahui ketentuan apa yang harus kami jalani dan patuhi.. dan kalian para Mal’akh yg tercemar tidak harus mengingatkan Kami tentang kepatuhan dan pelayanan. Ingatlah, kalian lah para Fallen yang memulai menghancurkan Rules yang ada itu ribuan tahun yang lalu.

    Azrael menjawab perkataan Beelzebub dan membuat suasana di tempat ini menjadi hening sejenak tanpa ada satu sosok pun yang berbicara.

    “Kita pergi dari tempat ini Belial…”

    “Apa!!! Aku tidak ingin menjadi seorang pengecut yang pergi begitu saja!!!”

    “Jika kau ingin melanggar peraturan yang Lord Helel buat lakukanlah. Jikalau pun engkau masih hidup setelah pertikaian, ia Lord Helel sendiri yang akan membunuhmu dengan tangannya.”

    Belial menggeram penuh kemarahan dan kemudian ia berubah menjadi kepulan asap hitam dan lenyap tak berbekas. Beelzebub masih berdiri tegap dengan kedua pedang ditangannya menghadap kearah kami.

    “Aku Beelzebub mohon diri kepada kalian Mal’akh Seraphim dan Mal’akh Al Mawt. Kuharap aku tidak akan bertemu kalian lagi dalam pertikaian..”

    Beelzebub kemudian berubah menjadi asap hitam dan menghilang juga. Altar pemujaan bid’ah yg ditujukan untuk Belial ini yg sedang kami pijak, sekarang telah rusak dan hancur dan hanya menyisakan Aku dan juga Azrael. Azrael yg sejak tadi melirik Beelzebub kemudian mengalihkan pandangannya kembali kearahku dan melangkah dengan pelan menuju ketempatku berdiri. Aku yang mengetahui kesalahanku hanya tertunduk diam tanpa mengeluarkan sedikitpun ucapan dari mulutku. Azrael yang sedang berjalan ternyata melangkah melewati diriku dan kemudian berhenti.

    Kau Mal’akh yang bertugas untuk mengamati manusia Gabriel. Aku merasakannya, Kau semakin lama semakin simpati dengan keadaan Mereka. Kau memiliki perasaan kemanusiaan dalam dirimu yang seharusnya tidak kau miliki sebagai seorang Mal’akh Pelayan Tuhan.

    Aku hanya menghela nafas tidak menjawab. Sebab apa yang dikatakan Azrael memang benar. Aku merasakan perasan Simpati dan juga rasa kemanusiaan dan itu lah salah satu penyebab mengapa aku marah ketika melihat seorang gadis tidak bersalah dibunuh hanya sebagi kurban persembahan. Aku bukanlah manusia, aku tidak seharusnya melewati batas seiapa sebenarnya diriku walaupun dalam diriku muncul perasaan – perasaan kemanusiaan itu,

    Ingatlah siapa dirimu dan jati dirimu wahai penghulu Gabriel. Kau bukanlah salah satu dari mereka yang lebih memilih bergerak mengenai apa yang mereka yakini. Kau adalah Mal’akh Seraphim yang menjadi panutan dari Mal’akhim di Yetzirah.

    Kata – kata Azrael menyadarkan diriku mengenai siapa aku sebenarnya. Ya benar, aku bukanlah makhluk yangdapat menentang segala perintah-Nya.

    “Aku mengerti Azrael… Aku tahu Ia yang dimuliakan melihat dengan jelas apa yang tengah terjadi disini sebelumnya. Aku akan kembali ke Yetzirah sekarang dan menerima apapun konsekuensi yg harus aku terima nanti.”

    Aku akan kembali ke Yetzirah ketika satu lagi tugasku mencabut nyawa selesai aku laksanakan di Assiah..

    Aku meliriknya kearah belakang dan telihat disana Azrael berubah menjadi kepulan asap hitam dan kemudian menghilang lenyap tanpa menyisakan sesuatu apapun di tempat tadi sebelumnya ia berdiri. Ia Mal’akh yang diberi tugas terberat mencabut nyawa makhluk hidup yang telah habis waktunya, bersedia menghentikanku tadi dengan kemungkinan akan mendapatkan hukuman dari Tuhan. Aku berterimakasih padamu Azrael.. karena adanya dirimu, aku tidak menumpahkan darah dan menghancurkan Rules menggunakan pedang kudus yang diberkati oleh Tuhan.


    Aku sangat menghormatimu Mal’akh Al Maut Azrael..


    ********​
     
    Last edited: Mar 11, 2011
  17. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update :nikmat:

    Act – 1.7 The Heaven Yetzirah The Place of Mal’akhim


    Aku Gabriel setelah melewati kejadian tadi di Assiah terdiam sesaat memikirkan apa yang sebelumnya telah terjadi. Bagaimana sebenarnya kondisi Assiah yang terlihat melalui kacamata ku dimana kekacauan dan pembunuhan dimana – mana. Tanah yang seharusnya digarap dengan baik oleh mereka para manusia ini kenapa sekarang berubah menjadi seperti ini. Apakah Tuhan memiliki rencana dibalik semua kekacauan ini? kenapa Tuhan lantas membiarkan mereka juga para Fallen berkeliaran dan melahirkan Dosa dimana – mana?

    Aku Mal’akh yang sedang dalam keraguan sangat simpati dengan keadaan DUnia yang Tuhan minta agar aku mengamatinya. Aku sangat simpati dengan mereka makhluk mulia yg diciptakan dimana kami Mal’akhim bersujud seraya memuji Tuhan atas penciptaan manusia. Tapi di depan mataku sekarang, apa yang terjadi jauh dari anganku mengenai kedamaian dan juga keindahan yang seharusnya didapatkan daratan Assiah

    Aku Gabriel, mengeluarkan kembali sayap putih kudusku yg dibalut dengan kain putih melilit regang, lalu dengan segera terbang melayang tinggi mengepakan sayap untuk kembali ketempat dimana para Mal’akhim berada. Aku Gabriel terbang melayang tinggi melewati perbatasan antara Yetzirah dan Assiah dan menuju ketempat para Mal’akhim tinggi berada yaitu di alam ketiga Briah.

    [​IMG]


    The Borderline Third Realm Briah

    Aku Gabriel melebarkan sayapku dan kemudian meluncur turun tepat di perbatasan alam Yetzirah dan Briah. Aku menapakan kakiku pada daratan rerumputan hijau dimana disekitarnya tumbuh bunga mawar, lily, dll yg tersebar dengan sangat indah dan begitu tertata rapih. Aku berjalan dengan pelan sembari menghilangkan kembali sayap Kudus yang berada dipunggungku.
    Ketika aku melangkah dalam perjalanan menuju gerbang perbatasan kedua dunia, Aku melihat pelayan yang ditugaskan Tuhan untuk menemaniku baru saja Keluar dari Gerbang Briah dengan dikawal oleh dua Mal’akh yang di kedua tangannya memegang tombak putih bening berkilau bagaikan Kristal.

    Sosok mereka bertiga berjalan kearahku dimana aku tengah diam berhenti memandang kearah sosok wanita yg dibalut robe putih panjang yg wajahnya ditutupi hoody berjalan dengan menunduk. Pelayan itu kaget ketika langkahnya terhenti sebab ia melihat diriku telah ada dihadapannya menghalangi jalannya.

    “Master Gabriel?!”

    “Apa yang terjadi? Kenapa kau kembali dari perbatasan alam Briah?”

    Aku bertanya pada pelayanku dan terlihat dari raut wajahnya ia begitu murung dan kembali menundukan kepala. Dengan pelan ia yang masih dikawal oleh dua sosok Mal’akh disamping kiri kanannya berbicara dan menjelaskan padaku bahwa ia mendapatkan teguran dari Tuhan karena ia lalai menjalankan tugasnya untuk menemaniku dan membantuku mengamati manusia.

    Dia pelayanku yg telah selesai menjelaskan semuanya dengan jelas padaku kemudian menundukan kepala mohon diri, dan bersama dengan dua Mal’akh yg mendampinginya ia kemudian pergi kembali menuju Yetzirah.

    Aku penghulu Mal’akh Gabriel menyesalkan apa yang terjadi pada pelayan itu. Sebab semuanya adalah kesalahanku sehingga ia mendapat teguran dari Tuhan. Dia tidaklah lalai dalam pekerjaan yg diberikan padanya, tapi akulah yg memintanya untuk diam tidak mengikutiku ke Assiah.


    Ya itu adalah kesalahanku… ​


    Aku yg telah menyadari kesalahan yang kuperbuat, akhirnya melanjutkan langkahku menuju gerbang untuk pergi ke alam Briah dan mendapatkan konsekuensi dari apa yang sebelumnya telah aku perbuat.


    The Third Realm Briah, Sefirah Chokmah

    Aku terbang mengepakan kedua sayapku menuju Alam ketiga Briah walaupun tekanan yang begitu besar menghalangiku untuk sampai menuju ketempat tujuanku. Aku yang merasakan kelelahan, berusaha untuk tetap menetapkan diriku agar sampai pada tujuan yang kucari.

    Aku akhirnya sampai pada salah satu Sefirah di alam briah yaitu Chokmah dan dengan seraya mengembangkan sayapku meluncur turun dan berpijak pada dataran tanah berwarna abu – abu dengan angin dingin yang bertiup disekelilingku dan mengibarkan robe putih yang aku kenakan.
    Tempat ini.. dataran dengan pasir abu – abu yg membentang luas adalah Sefirah Chokmah yang merupakan satu dari dua Sefirah di alam Briah tempat dimana Mal’akh yg di Agung kan berada.

    Aku berjalan ditanah berpasir abu – abu dengan angin dingin yang bertiup cukup kencang dengan melihat kesekeliling yg tidak ada apa – apa. Aku berjalan dengan pelan tertuju pada sebuah bangunan terbuka yang terbuat dari marmer putih bercahaya tanpa atap dan yg terlihat hanyalah tiang – tiang menjulang tinggi bersama dengan tembok – tembok pembatas yg sangat mencolok diantara bentangan daratan luas berpasir abu – abu.

    Aku Gabriel terus melangkah berjalan menuju bangunan itu dan akhirnya aku melihat sesosok tubuh yang mengenakan pakaian robe putih panjang dengan wajah yang ditutupi tudung dengan tinggi badan yang melebihi diriku sedang diam di gerbang luar bangunan itu. Aku mengenal sosok yg sedang berdiri itu, dia yang sedang berada dihadapanku adalah Mal’akh Agung Ratziel.

    “Ada apa wahai gerangan engkau salah satu Mal’akh Seraphim Gabriel datang ke Sefirah chokmah ini?”

    “Wahai engkau Mal’akh Misteri Ratziel. Aku Gabriel salah satu dari tujuh Seraphim ingin bertemu dengan Tuhan di Atziluth.”

    “Apa yang kau inginkan Gabriel? Baru saja satu Mal’akh tiba disini dari Atziluth dan mendapat teguran dari Tuhan dengan dikawal oleh dua Mal’akh penjaga.”

    “Aku telah melakukan kesalahan.. Aku ingin menhadap pada-Nya dan memohon ampun.”

    “Hmm baiklah aku mengerti.. Aku bersedia mengantarkanmu ke Atziluth”

    Aku yang mendengar perkataan Ratziel kemudian berlutut dengan satu kaki seraya menunduk lalu terdengarlah langkah kaki dirinya yang mendekatiku di gerbang bangunan yg terbuat dari marmer itu lalu dengan kedua tangannya ia memegang pundak kiri dan kananku.

    Dia Mal’akh Misteri Ratziel adalah salah satu dari dua Mal’akh yang diberikan kuasa untuk dapat pergi terbang melewati ribuan tahun cahaya untuk dapat sampai ketempat-Nya di alam ke empat Atziluth. Aku Gabriel pemimpin cherubim dan juga salah satu seraphim, tidak akan dapat sampai bahkan tubuhku akan hancur bila memaksa untuk terbang melewati ribuan tahun cahaya sendirian untuk mencapai Tempat-Nya.

    Ratziel kemudian memunculkan sayap dari punggungnya yang bercahaya dengan kilatan pelangi yang memancar terang dan dengan satu kepakan sayapnya itu Aku bersama dengan Ratziel terbang dengan cepat pergi meninggalkan Sefirah chokmah melewati lorong alam dengan kecepatan ribuan tahun cahaya.

    Ketika kami berdua terbang melayang, rasa sesak tekanan itu menusuk diriku lebih terasa berat dan kencang dibandingkan ketika menuju ke alam Briah. Tubuhku yg seharusnya telah hancur, masih dapat bertahan tidak hancur karena dia Ratziel melindungiku dengan dua sayapnya yg besar menutupi tubuhku dan dua sayap yang lain ia kepakan melayang tinggi kelangit.

    Aku bertanya dalam diriku, apa yang mungkin akan terjadi nanti.. Aku Gabriel akan menemuinya Ia sang Maha Pencipta. Aku tak kuasa merasakan perasaan sedih dan juga menyesal sangat dalam atas apa yang telah kuperbuat sebelumnya di Assiah. Aku tahu, aku akan mendapatkan hukuman dan sangat berharap tidak terkena murka ataupun laknat-Nya.


    ********​
     
  18. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update :gotdrink:

    Act – 1.8 The Fourth Realm Atziluth, The Throne of God

    Ratziel dan Aku yg sedang terbang dengan sangat cepat, akhirnya tiba di alam keempat yaitu Atziluth dimana gerbang masuknya dijaga oleh satu Mal’akh yang sangat besar dengan sayap kemegahan besar yang melebar membentang dari perbatasan Alam Atziluth hingga Alam Briah. Mal’akh yang berada dalam wujud aslinya nya yg kudus ini bernama Mal’akh Israfel.

    Ia Israfel adalah Mal’akh yang ditugaskan oleh Tuhan sebagai pemegang sangsakala yang akan ditiup dan digunakan nanti ketika hari akhir tiba. Aku dan Ratziel yang sedang melayang dihadapannya melihat wujudnya dengan sangat jelas. Dia Israfel seluruh tubuhnya tertutup oleh bulu sayap putih dengan bejuta – juta mata yang muncul disetip helainya dan juga berjuta – juta mulut yang memuji dan mengkuduskan Ia sang Pencipta. ia adalah Mal’akh yang tertunduk di gerbang Atziluth dengan tertutup 7 lapisan dinding, dimana apabila firman Tuhan keluar maka 7 dinding itu akan terbuka dan Israfel akan melihatnya dan mendengarnya. Israfel Mal’akh yang begitu megah pembawa sangsakala ini, memiliki empat sayap yang panjang dan lebarnya meraih tiang – tiang Surga. dimana Ia meletakan sangsakala besar itu dimulutnya dan terlihat sangsakala itu bercabang empat. Yaitu menghadap Timur, Barat, Langit, dan juga Bumi.

    Ia malaikat yang megah Israfel memandangku dan dengan suaranya yang keluar dari ribuan bahasa dari mulutnya yang banyak menanyakan keperluanku datang ke Atziluth. Ratziel yang membawaku terbang melayang, kemudian menjawab pertanyaan Israfel dan memberitahukan alasan perihal kedatanganku untuk menemui Tuhan. Israfel yang telah mendengar semuanya, kemudian mengerti lalu dengan dua sayapnya yg besar yang meraih langit, ia kemudian membuka 7 lapis gerbang yang menguncinya dan membiarkan kami bedua melanjutkan perjalanan untuk masuk menuju Atziluth.


    ****


    Kami berdua Gabriel dan juga Ratziel sekarang melayang di langit berwarna hitam dengan bintang – bintang yang bersinar dengan terang yang memuji dan menKuduskan nama-Nya. Ketika aku melihat kebawah, yg kulihat dengan mataku adalah dataran putih bersih yg luas dengan keadaan disekelilingnya terdapat bunga, rerumputan, bahkan pohon yang berdaun berwarna putih.

    Aku bersama dengan Ratziel yg telah tiba ditempat tujuan, kemudian dengan pelan turun dan berpijak di daerah dataran Kudus. Angin lembut tidak panas ataupun dingin menerpa tubuhku serta menyejukan hatiku. Beberapa meter di depanku aku melihatnya, aliran sungai kecil dengan air yng sangat bening dengan cahaya kemuliaan yang beruap – uap menandakan bahwa tempat ini adalah tempat yang sangat suci. Diatasnya aku melihat jembatan terbuat dari marmer putih dengan dihiasi dengan beberapa relief yang terbuat dari batu zamrud dan juga sapphire menjadi jalan yang menghubungkan tempat dimana aku berada dengan bangunan besar berwarna putih mengkilau di depanku. Bangunan yang sangat besar dengan tiang – tiang besarmenjulang tinggi kelangit dan menopang salah satu bagian lantai dari bangunan itu. Aku tahu, Ia Sang Maha Pencipta berada di puncak Tahtanya.

    Dia Mal’akh Ratziel kemudian mempersilahkanku untuk menuju kearah bangunan itu sendirian. ia mengatakannya ia tidak memiliki kuasa untuk bergerak lebih dari ini dan sekarang hanya aku saja yang berhak menemui-Nya di Tahtanya yang Kudus. Aku Gabriel yang mengerti mengenai pelayanan dan tugas seorang Mal’akh, kemudian berjalan sendirian melewati jembatan yang indah menuju ke bangunan putih yang sangat besar yang memperlihatkan kemegahannya, sembari mempersiapkan diri untuk menerima semua konsekuensi buruk yang akan terjadi.


    Realm Atziluth, Sefirah Keter

    Aku Gabriel yang telah melangkah jauh memasuki bangunan putih besar, sekarang sedang tertunduk berlutut dengan pasrah. Tepat di lantai atas didalam bangunan putih yang megah itu aku berlutut dengan sangat sedih, dimana 99 tangga putih bercahaya berada didepanku yang menuju tepat keatas dimana Tahta Tuhan yang Kudus berada.

    Aku tertunduk menyesal melihat lantai bening bagaikan Kristal yang sekarang sedang aku pijak. Lantai indah dibawahku ini bagaikan cermin yg memantulkan rupa ku yang berada dalam sosok manusia dan membuatku sadar dan juga sedih dengan kesalahan – kesalahan yang sedang menghantuiku.
    Aku merasa tidak kuasa dan sangat malu dengan semua tindakan bodoh yang aku lakukan.

    Ditengah ketermenunganku munculah cahaya yg cukup menyilaukan dari arah samping kananku. Cahaya itu bersinar cukup terang dan kemudian terlihatlah dua sayap yang indah muncul bersamaan dengan berubahnya sosok cahaya itu menjadi sosok berjubah putih dengan tudung putih pula berdiri tepat memandangku yang sedang tertunduk dan belutut.

    Dia sosok yang ada dihadapanku ini adalah Mal’akh Agung Metatron yang merupakan Mal’akh yg paling dekat dengan Tuhan dan bertugas sebagai perantara Suara Tuhan untuk menyampaikan perintah-Nya untuk didengar oleh semua makhluk. Ia menjadi perantara suara tuhan sebab tidak ada satupun makhluk di Dunia ini yang dapat mendengar suara Tuhan langsung. Sebab jika ia mendengarnya, tubuhnya akan hancur berkeping – keeping tanpa sisa karena Kebesaran-Nya.

    Kedua Sayap indah Metatron kemudian dilebarkan ke atas dan akhirnya menghilang dan menyisakan sosok berjubah putih panjang dengan tudung dengan raut wajah yang tidak dapat kulihat karena begitu terang wajahnya.
    Ia Metatron kemudian mempersilahkanku untuk memandang Ia yang Kudus yang sedang berada di Tahta diatas diriku. Aku Gabriel kemudian mengangkat wajahku yang tertunduk lalu kemudian memandang kearah puncak 99 tangga bercahaya dihadapanku.

    Aku melihatnya, cahaya yang begitu terang menyilaukan itu begitu indah begitu menentramkan dan juga begitu Kudus. Perasaanku begitu tenang, begitu damai ketika melihat cahaya bersinar terang menyilaukan yang menyembunyikan sosok diri-Nya itu dengan kedua mataku.

    Cahaya Tuhan begitu menyilaukan mataku hingga aku menyipitkan kedua mataku. Terlihat secara samar – samar di sekeliling cahaya itu, Puluhan ribu Mal’akhim yang bercahaya terang benderang terbang berputar mengitari Ia yang Kudus dengan pola arah yang tidak berubah yaitu bergerak memutar ke kanan. Terdengar pula ditelingaku dengan jelas, dari mulut para Mal’akhim itu mereka memuji-Nya dan mengkuduskan ia sang Maha Pencipta tanpa kenal lelah maupun berhenti sejenak.

    Aku Gabriel Mal’akh tinggi Seraphim tidak dapat melihat langsung Wujudnya Tuhan Sang Maha Pencipta. Namun walau begitu, aku merasakan keberadaannya begitu dekat.. ya sangat dekat hingga aku merasa ditelanjangi dan tidak berarti.

    Dia Metatron mewakili suara Tuhan bertanya padaku dengan apa tujuanku datang kemari. Aku Gabriel yang menyadari semua kesalahanku dan tahu bahwa Tuhan melihat apa yang sebelumnya terjadi di Assiah, dengan gugup dan terbata – bata aku menjelaskan semuanya. Menjelasakan mengenai kesalahanku dan juga penyesalanku kaena mencoba menghancurkan Rules yang ada.

    Tuhan yang mengetahui semua detailnya dengan jelas kemudian menegurku dengan keras. Ia menyesalkan kenapa Aku sebagai seorang Seraphim tinggi melakukan tindakan tanpa batas. Tubuhku menjadi begitu bergetar ketika aku terkena Murkanya yang Kudus. Rasa sedih dan juga penyesalan mendalam bercampur dan membuat tubuhku menjadi lemas dan hampir saja rubuh bila saja aku tidak berusaha menahan beban tubuhku itu.

    Aku yang tahu bahwa aku telah menyeret Mereka pada kesalahanku, akhirnya menjelaskan mengenai Perihal Kelalaian pelayan yang dikirimkan untuk menjadi pembantuku mengamati manusia juga perihal Azrael yang menusuk Belial karena berniat untuk menghentikanku. Aku yang menyadari itu semua akibat dari kesalahanku kemudian memohon ampunan Tuhan agar memaafkan mereka dan Aku memohon dengan sungguh – sungguh agar tidak terkena murkanya ataupun laknat nya. Aku yang merasakan perasaan sangat bersalah, berkata dengan sepenuh hati sembari bersujud. Engkau yang Maha Mengetahui dengan jelas semua perihal di Dunia ini, Jikapun Aku yang merupakan penyebab engkau menegur kedua Mal’akh itu (Pelayan, dan Azrael) Aku Gabriel Mal’akh Seraphim bersedia menanggung segala Murkamu kepada mereka.

    Selesai mengatakan itu aku tertunduk dan bersujud. Dalam pergolakan perasaan dalam diriku itu Aku melihat dalam posisi sujudku dan merasakannya bahwa cahaya Tuhan yang berada di Tahtanya berubah dan menjadi bersinar menjadi sangat terang. Aku yang sekarang sedang bersujud memohon ampun, merasakan cahaya itu mengenaiku dan memberikan rasa hangat yang dapat aku rasakan menusuk hingga kedalam diriku yang terdalam.


    *******​
     
    Last edited: Mar 13, 2011
  19. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update :nikmat:

    Act – 1.9 Gabriel The Mal’akh Who Have Forgiveness


    Aku menapakan kakiku setelah terbang melayang cukup jauh sebelumnya dan sekarang ini sedang berpijak pada rerumputan indah luas itu di alam perbatasan antara Yetzirah dan juga Briah.

    Aku telah mengatakan semuanya.. Semua kesalahan yang terjadi dan bersujud memohon ampun pada Tuhan atas semua yang telah kulakukan. Aku merasakan ketakutan dan juga kesedihan yang mendalam dikala aku menunduk menyadari semua kesalahku sendiri. Tuhan yang melihat dengan jelas semuanya apa yang terjadi di Assiah, tindakan yang dilakukan Azrael, dan juga kelalaian pelayanku, akhirnya dengan kata – katanya yang penuh kasih ia menegurku lalu kemudian memaafkanku karena aku telah mau untuk mengakui semua kesalahan yg ada.

    Tuhan mengatakan semuanya, dan memberikan ketentraman dihatiku mengenai segala keraguan yang ada bahkan mengenai manusia. Tuhan menyadari segala keraguanku di masa lalu ketika masa Penciptaan Adam, sehingga Ia kemudian memintaku untuk mengamati manusia agar aku mengerti sendiri apa manusia itu dan kenapa mereka lebih mulia dari pada golongan kami Mal’akhim.

    Ia ingin agar kami Mal’akhim menyadari bahwa mereka manusia benar – benar diciptakan paling sempurna dan juga paling mulia dan tidak ada sedikitpun kesalahan seperti apa yang Helel lontarkan ketika di masa lalu saat dimana perang Besar itu terjadi.

    Aku Gabriel yang telah mendapatkan pengampunan Tuhan masih belum bisa mengerti arti dari kemuliaan manusia. Namun dengan tugas yg telah diberikan Tuhan padaku sebagai pengamat memberikan keyakinan besar bahwa suatu saat nanti aku akan dapat mengerti arti dari kemuliaan yang dahulu sempat memecah belah Keluarga Kami.

    Aku menghela nafas dan kemudian berjalan melangkah pergi dari gerbang perbatasan Yetzirah dan Briah. Aku sedikit kaget dan kemudian terdiam sejenak saat aku memandang sosok Azrael yang telah tiba didepan diriku.

    Kau telah menemui Dia yang Dikuduskan Gabriel?

    “Ya, aku telah menjelaskan semuanya dan memohon ampun dari segala murka nya padaku yang bersalah ini Azrael…”

    Baiklah.. sekarang adalah giliran ku untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi..

    “Tuhan telah memaafkanmu juga Azrael.. ia memaafkanmu atas tindakanmu diluar perintah demi menjaga Rules dan menghentikan diriku. Aku telah mengakuinya dan menanggung semua kesalahan yang disebabkan atas diriku. Baik tindakanmu dan juga tindakan pelayanku, aku menanggung beban kalian semua dan menanggung murka-Nya yang Kudus”

    Azrael terdiam mendengar semua perkataan diriku. Dan aku tetap memandangnya dengan sedikit senyuman walaupun aku harus kehilangan Kuasa itu.. Ya, Kuasa untuk menggunakan Animus image.

    Hai pemilik nama Kekuatan Allah.. Engkau seharusnya tidak menanggung beban kesalahan orang lain dalam pundakmu sendiri. Bagaimanapun juga kau tidaklah semestinya menanggung murka itu sendirian.

    “Hai Mal’akh A Mawt Azrael.. Aku adalah Gabriel Mal’akh Seraphim yg telah melakukan kesalahan besar sebanyak dua kali. kesalahan pertama adalah pertikaian langsung dengan Sammael mengenai perihal Hawa dan sekarang adalah pertikaian demi menjaga Nama-nya yg Kudus dari hujatan Belial. Bagiku hukuman ini telah sepantasnya Tuhan berikan padaku yang telah bersalah. Aku tidak mempersalahkan semua ini sebab yang terpenting adalah Dia Tuhan Yang Maha Kuasa telah memaafkanku atas segala kelalaianku.”

    Angin lembut tiba – tiba bertiup diantara kami berdua diselingi dengan terbangnya rerumputan dan juga beberapa kelopak bunga yang tertanam disekeliling kami. Dia Azrael yang mengenakan pakian robe hitam panjang dengan tudung yg menutup wajahnya yg mengenakan topeng putih, kemudian menundukan kepala padaku seraya menghormatiku dengan seluruh perkataan yang tadi aku ucapkan dan juga pembelaanku atas tindakan dirinya.

    “Semua masalah telah selesai Azrael.. dan Rules itu telah kau jaga dengan baik. Ohh ya.. sebelum aku datang kembali kemari, Tuhan memintaku agar memanggilmu untuk datang menemui nya di Atziluth..”

    Begitu.. Aku mengerti. Aku akan pergi ke Atziluth.

    Azrael kemudian melangkah berjalan menuju diriku yang tengah terdiam lalu ketika ia telah melewati diriku aku mengucapkan sesuatu padanya.

    “Terimakasih karena Engkau telah menghalangiku menghancurkan Rules itu..”

    Dia Malakh Al Mawt Azrael berhenti terdiam sejenak dan kemudian menjawab kata – kataku.

    Aku hanya mencari jalan terbaik untuk menjaga Rules yg ada, sekalipun jiwaku harus kukorbankan untuk melakukannya.

    Aku tersenyum dan kemudian melangkah pergi dari tempat itu sembari menutup kedua mataku. Dalam setiap langkahku aku merasakannya, angin lembut sepoi – sepoi menerpa tubuhku yang telah kehilangan beban. Ya semua beban itu hilang bersamaan dengan perasaan mengenai keberadaan Azrael yang pergi menghilang memasuki gerbang Briah menuju singgasana Tuhan di Atziluth.

    Akhirnya, Aku mengerti kenapa Ia Azrael dapat berhasil mendapatkan tanah sebagai bahan untuk menciptakan tubuh Adam dari Bumi Malkuth dahulu kala. Sebab dia Azrael adalah Mal’akh yang paling setia menjalankan dan menjaga Rules yang telah Tuhan Buat dengan segenap jiwanya.


    ****

    The Second Realm Yetzirah, Sefirah Yesod

    Aku melayang di langit dengan mengepakan kedua sayap dipunggungku dan kaget dengan apa yang aku lihat tepat di bawah. Aku melihatnya, para Mal’akh cherubim bawahanku yang berjumlah berpuluh – puluh ribu sedang berdiri tepat disekitar bangunan yg terbuat dari Kristal bening dengan banyak pilar – pilar yang menjulang tinggi yg merupakan tempat aku diam dan bekerja sebagai pemimpin dari cherubim choir di Sefirah Yesod.

    Mereka semua para Mal’akh memandang kearah diriku. Aku bingung apa yang sebenarnya mereka sedang lakukan. Aku kemudian dengan perlahan mengepakan sayap untuk turun dan akhirnya aku menginjakan kakiku pada dataran dibawah. Mereka Mal’akhim bawahanku kemudian berlutut ketika aku telah sampai dan berdiri di antara mereka.

    “Master Gabriel, kami terlah mendengar semua beritanya. Kami semua para cherubim meminta maaf karena telah membiarkanmu terluka akibat pertikaian dengan Belial. Maafkan kami, seharusnya kami para Cherub selalu ada mendampingimu dan melindungimu wahai Malaikat tinggi yang Kudus.”

    Aku terdiam sejenak akibat mendengar salah satu dari ribuan Mal’khim Cherubim yang berbicara dan sisanya masih tertunduk berlutut padaku.

    “Ini bukan kesalahan kalian hai para Pelayan Tuhan. Semua pertikaian dan juga teguran Tuhan yang akhirnya aku terima itu adalah murni karena kesalahanku.”

    “Kami tidak bisa menerimanya. karena Belial engkau harus terkena murka dari Tuhan. Dan karena Belial jugalah engkau salah satu dari 7 Seraphim terluka. Kami para Cherubim telah menyiapkan semuanya dan tinggal menunggu perintahmu untuk melakukan penyerangan.”

    Aku kaget mendengar salah satu bawahnku mengeluarkan kata – kata untuk melakukan pembalasan kepada Belial.

    “Hentikan apa yang kalian pikirkan dan memohon ampunlah pada Tuhan!!! Ingatlah siapa kalian dan apa jati diri kalian!!! Aku adalah pemimpin kalian para Cherub, tapi diatas ku ada yang Maha tinggi, Ia Tuhan yang Maha Esa!! Ingatlah hanya kepada Dia-lah kalian seharusnya benar – benar mengabdi, dan hanya kepada Dia-lah kalian seharusnya benar – benar menjalankan Perintah!!!

    Semua Mal’akhim yang sedang berlutut di tempat ini kemudian terdiam ketakutan. Mal’akh bawahanku yang sebelumnya berbicara pun sekarang menunduk terdiam membisu. Aku Gabriel kembali menenangkan diri dan kemudian melihat kearah sekeliling dimana para Mal’akh bawahan ku masih berlutut terdiam.

    Ketika aku memandang ke satu arah, aku melihat dia pelayanku yang dikirim oleh Tuhan untuk mengamati manusia bersamaku sedang berlutut juga. Aku berjalan dengan pelan mendekatinya. Dia, pelayanku yang merasakan bahwa aku telah berada tepat didepannya kemudian menegadahkan kepalanya dan memandang wajahku. Aku tersenyum padanya dan kemudian berlutut sembari memegang kedua pundaknya dengan tanganku.

    “Master Gabriel…”

    “Maafkan Aku… Karena kesalahanku Engkau harus terkena teguran dari Tuhan.”

    Pelayanku dengan wujud wanita yang mengenakan robe putih panjang dengan tudung yang menutupi wajahnya tersenyum setelah mendengar kata – kata maaf yang keluar dari mulutku. Aku merasakan lega, karena telah meminta maaf atas kesalahan yang telah aku perbuat.

    Setelah kejadian yang menimpaku ini dan juga teguran keras yang aku dapatkan, akhirnya aku menyadari banyak hal. menyadari siapa diriku, apa tujuan diriku diciptakan, juga tindakanku yang tidak boleh sembarangan. Aku Gabriel adalah Mal’akh pelayan Tuhan yang diciptakan untuk memuji dan juga Meng Kuduskan-Nya. Aku adalah ciptaan yang menjadi Pelayan Tuhan yang harus mengesampingkan keinginan dan hanya mengikuti apapun Perintah-Nya yang Kudus.


    *********​
     
    Last edited: Mar 13, 2011
  20. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    weew idws kepenuhan... dopost ni .....
     
    Last edited: Mar 13, 2011
  21. setanbedul Veteran

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Dec 9, 2008
    Messages:
    4,679
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +11,624 / -0
    di novel2 besar.. biasa menulis begini
    dimana setelah kata2 selalu di akhiri dgn penegasan apa yang terjadi.. btw.. ada typo tuh.. ato kk anggap kurang cocok
    en coba manfaatkan Nya.. jadi bentuknya
    dan bisa di kurangi (yg dicoret) dan ganti

    kurasa tanpa sengaja kamu menulis pandangan dari orang ke tiga.. secara ngak sengaja tentunya..
    coba begini
    agak panjang tetapi kurasa kamu dapet intinya
    kamu harus bayangkan dirimu adalah si karakter utama.. bila kamu hendak menjelaskan .. gunakan mata tokoh utama.. bila ini menyangkut orang lain tentu tepat.. tetapi ini menyangkut aku, si tokoh utama
     
    Last edited: Mar 13, 2011
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.