1. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Ungkapin kenangan film Asia paling berkesan buatmu. Berhadiah GK, Pulsa, dan Line Gift Sticker loh! .Klik info lengkapnya di sini, kuy~.
  5. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  6. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Satu-Satunya Orang Yang Mengabadikan Foto Proklamasi Kemerdekaan RI

Discussion in 'History and Culture' started by TheLegenD, Sep 1, 2009.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. TheLegenD Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 1, 2009
    Messages:
    49
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +31 / -0
    Pejuang Bersenjatakan Kamera

    [​IMG]

    Fotografi memang bukan hanya menjadi saksi sejarah, tapi juga menjadi bukti sejarah hidup manusia dan peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Dengan keberadaan foto, banyak orang bisa diingatkan dan disadarkan tentang suatu hal. Frans Soemarto Mendoer sangat memahami hal tersebut. Karena itulah, setelah mendapat kabar dari seorang sumber di harian Jepang Asia Raya bahwa akan ada kejadian penting di rumah kediaman Soekarno, Frans langsung bergerak menuju rumah bernomor 56 di Jalan Pegangsaan Timur itu sambil membawa kamera Leica-nya. Dan benar, pagi itu, Jumat, 17 Agustus 1945, sebuah peristiwa penting berlangsung di sana: pembacaan teks proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia oleh Soekarno.

    [​IMG]
    Inilah foto legendaris, saat bapak proklamasi Indonesia, Soekarno, membacakan teks proklamasi.​

    Saat itu Frans hanya memiliki sisa tiga lembar plat film. Jadi dari peristiwa bersejarah itu, ia hanya bisa mengabadikan tiga adegan. Yang pertama, adegan Soekarno membacakan teks proklamasi. Yang kedua, adegan pengibaran bendera Merah Putih yang dilakukan oleh Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA. Dan yang ketiga, suasana ramainya para pemuda yang turut menyaksikan pengibaran bendera. Setelah menyelesaikan tugas jurnalisnya itu, Frans langsung bergegas meninggalkan rumah kediaman Soekarno karena menyadari bahwa tentara Jepang tengah memburunya.

    Frans menjadi satu-satunya orang yang mengabadikan momen sakral itu karena Alex Alexius Impurung Mendoer, kakak kandungnya yang juga sempat memotret prosesi bersejarah tersebut, harus merelakan kameranya dirampas oleh tentara Jepang.

    Dan sewaktu tentara Jepang menemui Frans untuk meminta negatif foto Soekarno yang sedang membacakan teks proklamasi, Frans mengaku film negatif itu sudah diambil oleh Barisan Pelopor. Padahal negatif foto peristiwa yang sangat penting itu ia sembunyikan dengan cara menguburnya di tanah, dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya. Kalau saja saat itu negatif film tersebut dirampas tentara Jepang, maka mungkin generasi sekarang dan generasi yang akan datang tidak akan tahu seperti apa peristiwa sakral tersebut.

    Bahkan, mengenai kehadiran Frans di rumah Soekarno pada waktu itu, wartawan senior Alwi Shahab menulis “Andaikata tidak ada Frans Mendoer, maka kita tidak akan punya satu foto dokumentasi pun dari peristiwa proklamasi kemerdekaan…” Tulisan itu dimuat di harian Republika edisi Minggu, 14 Agustus 2005, tiga hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-60.

    Pencucian tiga buah foto bersejarah itu juga tidaklah mudah karena dihalang-halangi pihak Jepang. Frans bersama Alex terpaksa secara diam-diam harus mengendap, memanjat pohon pada malam hari, dan melompati pagar di samping kantor Domei (sekarang kantor berita ANTARA) untuk bisa sampai ke sebuah lab foto guna mencetak foto-foto tersebut. Padahal, bila dua bersaudara itu tertangkap oleh tentara Jepang, mereka akan dipenjara, bahkan dihukum mati.

    [​IMG]

    Foto pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu pertama kali dimuat di harian Merdeka pada tanggal 20 Februari 1946, lebih dari setengah tahun setelah pembuatannya. Film negatif catatan visual itu sekarang sudah tak dapat ditemukan lagi. Ada dugaan bahwa negatif film itu ikut hancur bersama semua dokumentasi milik kantor berita Antara yang dibakar pada peristiwa di tahun 1965. Waktu itu, sepasukan tentara mengambil seluruh koleksi negatif film dan hasil cetak foto yang dimiliki Antara lalu membakarnya.

    Mendirikan IPPHOS


    Frans Soemarto Mendoer lahir pada tahun 1913. Keluarga Mendoer merupakan putra daerah Kawangkoan, Manado, Sulawesi Selatan. Frans belajar cara memotret kepada kakak kandungnya sendiri, Alex, yang kala itu menjadi wartawan foto Java Bode, koran berbahasa Belanda yang berkedudukan di Jakarta. Lambat laun, karena menyukai dunia fotografi, Frans menjadi wartawan foto pada tahun 1935.

    Frans duduk di kiri depanFrans dan Alex adalah dua fotografer bersaudara yang menggagas pembentukan Indonesia Press Photo Service, atau yang kemudian disingkat IPPHOS. Dengan mengajak beberapa kawan, di antaranya kakak-beradik Justus dan Frank Umbas, Alex Mamusung, dan Oscar Ganda, mereka secara resmi mendirikan kantor berita IPPHOS pada 2 Oktober 1946. Dengan adanya kantor berita itu, minat Frans terhadap dunia fotografi semakin tersalurkan. Dari kepiawaiannya memainkan kamera, terabadikanlah foto-foto para tokoh penting bangsa ini, seperti Soekarno, M. Hatta, Amir Sjarifuddin, Sutan Sjahrir, Sayuti Melik, dan lain-lain.

    [​IMG]

    Salah satu foto kehidupan Soekarno sehari-hari yang sempat didokumentasikan oleh Frans yakni foto saat Presiden pertama Indonesia itu tengah menyaksikan para sopir kepresidenan mereparasi mobil. Ada juga foto momen-momen penting saat Soekarno mengumumkan kabinet pertamanya di bulan September 1945. Frans juga sempat memotret mimik muka mantan Perdana Menteri Amir Syarifuddin yang tengah larut dalam perasaan emosional saat membaca buku tragedi Romeo and Juliet karya Shakespeare di atas gerbong yang membawanya ke hadapan regu tembak.

    Bahkan, pada masa-masa revolusi fisik dulu, Frans juga banyak mengabadikan suasana Kota Jakarta, misalnya foto tulisan “Merdeka atau Mati”atau “Freedom or Death” yang banyak terdapat di tembok-tembok bangunan kala itu.

    Dari sisi fotografi, apa yang dilakukan Frans Mendoer dan rekan-rekannya di IPPHOS bukan saja menjauhkan suasana kaku dan berjarak yang sangat terasa pada fotografi zaman Hindia-Belanda, tapi juga menghilangkan segala bentuk diskriminasi sosial. Pada hasil-hasil bidikan kamera mereka, manusia Indonesia sengaja ditonjolkan tampak hidup, tersenyum, bahkan berdiri tegap berdampingan dengan manusia-manusia dari belahan bumi lainnya. Frans dan rekan-rekannya di IPPHOS sengaja menampilkan foto manusia-manusia Indonesia yang tidak lagi hanya menjadi “piguran”, tapi menjadi sosok utama yang menjadi pusat perhatian. Bidikan kamera-kamera mereka telah mampu menyajikan wajah bangsa Indonesia pada kurun 1945-1949 dalam nuansa yang lain, yakni nuansa pergerakan.

    Tetap Idealis


    Orang-orang IPPHOS, terutama Frans Mendoer dan Alex Mendoer, sudah berperan sentral sebelum lembaga itu resmi berdiri. Rasa kebangsaan mereka pun telah teruji. Ketika rakyat Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan bebas menentukan masa depannya, para fotografer IPPHOS tetap idealis, sebuah pilihan yang sangat sulit dijalani. Sebab, jika mau, kehidupan Frans Mendoer sebenarnya bisa lebih terjamin dengan bekerja di media luar negeri. Hal itu sebenarnya sangat gampang dilakukan oleh Frans, mengingat nama Mendoer sebagai fotografer andal sudah terkena ke mana-mana.

    [​IMG]

    Jenderal Besar Sudirman disambut di Yogyakarta Selain itu, Frans dan Alex Mendoer juga sering meliput kondisi pergerakan kebangsaan di tiap negara Asia yang disorot publik dunia. Hal itu membuat keberadaan mereka sangat diperhitungkan oleh media-media asing. Apalagi, keluarga Mendoer berasal dari etnis Minahasa yang dianggap dekat dengan bangsa Belanda. Namun, atas nama bangsa, Frans tetap setia dalam pangkuan ibu pertiwi Republik Indonesia. Ia tetap mengabdikan dirinya bagi Republik Indonesia. Hebatnya lagi, IPPHOS juga tetap media independen.

    Pada 1946, situasi dan keamanan Jakarta semakin gawat. Hal itu memaksa Soekarno-Hatta memindahkan pusat pemerintahan ke Yogyakarta. IPPHOS pun bersedia membuka kantor cabang di ibu kota RI kedua itu dan Frans Mendoer menjadi penanggungjawabnya.

    Di Yogyakarta, semua hasil jepretan Frans saat meliput suasana perang dan kehidupan rakyat di tengah tekanan Belanda, menjadi kartu sakti perjuangan Republik Indonesia di forum internasional. Salah satu karya monumental Frans adalah foto penyambutan Panglima Besar Jenderal Soedirman oleh Letnan Kolonel Soeharto dan Rosihan Anwar di Stasiun Tugu atas perintah Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

    Frans meninggal dunia pada 24 April 1971 di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta. Dalam berita yang dimuat harian Pedoman tertulis bahwa tidak banyak wartawan yang mengantar jenazah Frans Soemarto Mendoer ke makamnya. Bahkan, meskipun jasanya bagi bangsa ini sangat besar, Frans dianggap tidak memenuhi syarat untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sungguh sangat ironis.

     
    • Like Like x 5
    • Thanks Thanks x 2
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. eflaze M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 25, 2009
    Messages:
    1,333
    Trophy Points:
    177
    Ratings:
    +1,728 / -0
    salut buat bung Frans...
    ini termasuk tindakan "pahlawan"
    benar2 berjasa besar...
    kagum..kagum

    tapi ironis dgn cerita diakhirnya
    sesulit itu kah untuk menghargai jasa seseorang...
     
  4. kazzel M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 6, 2009
    Messages:
    700
    Trophy Points:
    92
    Ratings:
    +251 / -0
    Bangsa yg besar adalah bangsa yg menghormati jasa para pahlawannya
    Ckckck sudahkah Indonesia mjd bangsa yg besar
     
  5. TheLegenD Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 1, 2009
    Messages:
    49
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +31 / -0
    Secara kualitas emang Indonesia besar bro secara jumlah, tapi apakah secara kualitas Indonesia mampu dianggap sebagai bangsa yang besar dengan menhargai para pahlawan yang tak terlacak oleh sejarah?
     
  6. achdy M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Apr 28, 2009
    Messages:
    297
    Trophy Points:
    122
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +967 / -0
    dokumentasi sejarah sangat penting artinya
    terutama fotografi yg jadi barang langka di indonesia
     
  7. Lyco Veteran

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Nov 3, 2008
    Messages:
    8,650
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +9,717 / -0
    bener2 :th_093:
    klo nggak ada foto2 punya dia, di buku sejarah juga nggak bakal ada foto proklamasi

    tragis berjuang buat negara tp nggak dihargai...
     
  8. fadillah46 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Aug 11, 2009
    Messages:
    42
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +2 / -0
    benar benar pahlawan yang sebenarnya nie orang... :top:
     
  9. Yoga M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Nov 14, 2008
    Messages:
    1,047
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +343,553 / -1
    Saya jadi haru ngebacanya :onion-52:. Sungguh besar jasa sifhotografer frans. :top: Tpi ironis benar bangsa ini, kebnyakn wrganya dk pernah tau dan peduli bagaimna caranya bertrima kasih untuk jasa2 para pejuang dan orng bejasa lainnya terhadap bangsa ini. :em4600::onion-32:
     
  10. ireh M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jun 22, 2009
    Messages:
    2,121
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +6,311 / -0
    masa sih cuman ada 1 saja yang mengabadikan masa bersejarah itu:???:
    reporter lainnya pada kemana:???:
    atau memang karena diadakan secara diam2 dan mendadak jd ga banyak orang yg tau:???:
     
  11. valr1st M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    May 30, 2009
    Messages:
    770
    Trophy Points:
    67
    Ratings:
    +191 / -0
    dibiang disitu saudaranya aja disita kameranya kemungkinan seh banyak yg mengabadikan cuma semua disita nah cuma dia ini neh bisa selametin tuh dokumentasi....
     
  12. TheLegenD Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 1, 2009
    Messages:
    49
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +31 / -0
    berarti dia sungguh berjasa, disaat temen2nya disita kameranya, dia masih bisa ngelindungin kameranya demi bangsa INDONESIA..

    Makin cinta tanah air nih :smiley_beer:
     
  13. Ebink M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Jun 3, 2009
    Messages:
    482
    Trophy Points:
    66
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +191 / -0
    Kalau di Manado Frans Mendoer merupakan salah satu tokoh yang dihormati....
    Sekarang yang masih keluarganya gak pakai Mendoer lagi tapi Mendur...
     
  14. front Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 1, 2009
    Messages:
    16
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +0 / -0
    gimana sih!, orang udah susah2 berjuang untuk negara g dihargai, jadi sedih...
    karena g dihargai, banyak orang jadi males memperjuangin RI,
    benar-benar pahlawan saudara kita ini...

    kami sangat berterima kasih walaupun hanya di teks forum...untuk Frans Soemarto Mendoer, HORMAT GERAK!
     
  15. 85e M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    May 18, 2009
    Messages:
    305
    Trophy Points:
    56
    Ratings:
    +68 / -0
    Damn... Kok tidak dihargai gitu sih... Kita2 sangat gampang melupakan jasa orang lain yang berjasa lebih besar daripada kita
     
  16. crazy M V U

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Jul 28, 2009
    Messages:
    190
    Trophy Points:
    56
    Ratings:
    +3 / -0
    Yang terkahir kok gitu,sunguh sangat tragis:em4600:....apa pahlawan hanya untuk mereka yang berperang saja....:onion-69::onion-69:
     
  17. Not M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Aug 30, 2009
    Messages:
    818
    Trophy Points:
    112
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +180 / -2
    hooo....disita

    :???:
     
  18. Garfield_86 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 26, 2009
    Messages:
    1,492
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +47,062 / -1
    Emang patriotisme masyarakat zaman kemerdekaan sangat dahsyat.
    AS aja mpe kedér.
    Trus,bagaimana penerus bangsa meyikapi hal ini?
     
  19. mataraman1 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 8, 2009
    Messages:
    189
    Trophy Points:
    0
    Ratings:
    +5 / -0
    Nice Info :)
    Baru tahu nih
    Makasih
     
  20. drake7 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 25, 2008
    Messages:
    1,041
    Trophy Points:
    146
    Ratings:
    +1,968 / -0
    Gile bener2 mantap beliau satu ini.
    Kalo ga ada dia, kita bisa ga punya bukti foto ttg proklamasi.
     
  21. icchan317 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jul 17, 2009
    Messages:
    922
    Trophy Points:
    91
    Ratings:
    +650 / -0
    ya begitulah mod, "pahlawan" dikita identik dengan mereka yang berjuang dengan berperang saja. sementara tipe yang seperti bang frans kurang dihargai, padahal tanpanya tidak bakal ada foto2 perjuangan indonesia :no:.
    anyway pic avatar touhounya dapat dimana? kok ada efek 3d gitu, minta dong :em4700::em4700:
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.