1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic Satu Malam di Sanctuary

Discussion in 'Fiction' started by HYNSWRTH, Feb 14, 2015.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. HYNSWRTH Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Jun 7, 2013
    Messages:
    102
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +21 / -0
    Malam ini, masih satu jam lagi sebelum kalender mengganti tanggalnya namun kesibukan penduduk kota ini seolah tidak pernah mengenal waktu. Mobil dan motor membentuk sebuah parade tiada akhir, terkadang mereka tersendat di lampu merah meskipun tak selama ketika jam-jam sibuk di siang hari. Lampu dari gedung-gedung setinggi puluhan hingga ratusan meter menemani para pengendara di bawahnya terlepas dari apakah ruang tersebut berisi ratusan orang ataupun hanya kesunyian semata. Parkiran di tempat-tempat hiburan malam terlihat padat, namun tak sepadat apa yang ada di dalam tempat utamanya; pria-wanita, muda-paruh baya, semuanya berkumpul bergembira di lantai dansa, di sudut kursi mezzanine, lounge, maupun di depan bar. Antrian kamar mandi terasa bagai parade kendaraan di jalan dengan berbagai pasangan masuk dan keluar tanpa ada seorangpun yang peduli.

    Seorang pria muda berperawakan tinggi-gagah memasuki tempat ini. Entah bagaimana caranya ia bisa melewati antrian panjang di depan. Seketika semua orang melihat dirinya bagai pesakitan menuju tiang gantungan. Musik yang berdentum pun ikut terhenti. Para peminum menahan dahaganya dan turut memberi tatapan dingin kepada orang baru ini. Segala keriaan berubah seratus delapanpuluh derajat menjadi suasana genting a la adegan pengelana memasuki saloon berisi para bandit di film-film koboi.

    Yang belum diketahui (atau diacuhkan) orang ini bahwa kelab ini hanya menerima tamu undangan atau orang yang telah dikenal baik oleh para VIP itu. Kebanyakan dari mereka adalah selebritis, pejabat negara, pejabat perusahaan swasta, dan figur-figur publik lainnya, dan pria ini tidak termasuk kategori mereka. Lalu apa yang membuatnya bisa masuk ke kelab ini?

    Peduli setan. Ia tujukan langkahnya ke bar lalu mengambil kursi yang baru saja ditinggal berdiri penduduk sebelumnya, seorang pria paruh baya buncit dengan kemeja merah mencolok dan tatapan sinis layaknya pengunjung lain menatap pria asing ini; tanpa basa-basi menduduki kursinya. Tidak ada ucapan maupun indikasi pria asing ini akan berterima kasih padanya, jadi apa pedulinya?

    “Pesan JD satu botol, pakai es.” Kata pria itu kepada sang bartender sensual berwajah oriental. Ia tidak peduli hingga akhirnya pria itu mengeluarkan beberapa lembar seratus ribu rupiah dari saku jaketnya. Bartender itu langsung menarik uangnya dan berbalik mengambil sebotol Jack Daniel’s baru dan gelas pendek dengan es batu bulat. Ia sajikan tanpa wajah ramah yang ditampilkannya beberapa saat sebelum pemesan ini datang.

    Pria itu langsung memenuhi gelasnya hingga hampir tumpah namun belum ada tanda ia akan menenggak minuman itu. Sejenak ia diam menatap minumannya sebelum balik menatap seisi kelab yang bisu, menunggu pria asing menenggak pesanannya.

    “Ada apa dengan kalian? Kenapa stop musiknya? Apa yang salah dengan memesan sebotol minuman?” sahut pria di ujung ruangan yang sepertinya terpaksa menghentikan dansanya karena sang DJ, tebak saja, menghentikan musiknya.

    “Masalahnya bukan minumannya, masalahnya yang minum di sini.” Bartender itu menjawab dengan nada yang menandakan ia ogah-ogahan menjawabnya.

    Diteguklah minuman di gelasnya hingga bersih lalu ada momen hening sebelum pria di samping orang asing itu membalas, “Jadi, memesan JD sebotol tanpa reservasi itu salah?”

    Bartender itu menjawab dengan ketus pertanyaan pria itu. “Yang salah adalah kami tidak mengenal dia. Bagaimana bisa ada orang asing masuk kemari tanpa seorangpun yang kenal siapa dirimu? Apa sih kerjaan bouncer di depan hingga ada orang asing masuk dan seenaknya duduk di depan bar, dan terjadi percakapan ini?” Bartender itu menjawab dengan ketus pertanyaan pria itu.

    Sementara pria itu sendiri tetap diam menghabiskan isi gelasnya yang ketiga.

    “Kuharap kau tidak pass out di meja ini, atau di sudut ruangan ini. Cepat habiskan minumanmu sebelum hal buruk terjadi, lalu pergi.” balas bartender itu.

    Beberapa saat sebelum menikmati gelas ke-empatnya, suasana jadi ramai karena bisikan dari para pengunjung. Dapat dipastikan bisikan-bisikan mereka adalah mengenai pria aneh dengan sebotol penuh whiskey yang tinggal menghitung waktu akan tumbang lalu ditelanjangi dan ditinggal di depan pintu masuk.

    Kerumunan di lantai dansa dengan segera membelah layaknya Laut Merah dibelah Nabi Musa. Adalah dua petugas keamanan yang begitu besar dan terkesan intimidatif, mengapit pria necis dengan jas yang harganya pasti di sekitar puluhan juta rupiah dan kalung berlian di lehernya. Pria itu berteriak dengan keras agar memberi jalan untuk lewat dan berteriak lebih keras lagi kepada DJ, “kenapa berhenti?! Memangnya aku membayarmu untuk bengong tanpa melakukan apa-apa?!” lalu duduk di samping pria asing tersebut setelah menyingkirkan pria bule dari kursinya.

    “Maaf atas perlakuan dingin orang-orang ini, mereka tidak terbiasa dengan orang baru.” Ia menawarkan cerutu kepada pria asing itu, yang ditolaknya. Lantas ia menghisapnya sendiri, menghembuskan asapnya ke muka bartender yang masih menatap pria asing itu sebelum akhirnya berteriak lagi kepada seisi kelab.

    “Ada apa dengan kalian?! Berhenti menatapnya seolah dia pesakitan dan bertingkah normal! Putar musiknya, DJ goblok!” Lalu sikapnya spontan berubah menjadi ramah saat menghadapi pria asing itu, “Maaf atas ketidaknyamananmu, nak. Mereka hanya suka mencurigai orang-orang baru, sepertimu.” Ia menghisap cerutunya hingga terhisap cukup banyak untuk membuatnya terbatuk lalu memesan kepada bartender yang sekarang canggung, “Jack D, on the rock!”

    Pria asing itu tetap membisu.

    “Jadi, jagoan, siapa namamu yang bisa-bisanya masuk ke ‘tempat suci’ kami?” Tanya pria necis itu setelah menenggak minuman pesanannya.
    Pria asing itu masih tetap membisu.

    “Bukan tipe bersosial ya? Baiklah, bartender, traktir anak ini minuman apa saja! Bahkan jika itu membuatku menggelandang!” pesannya dengan volume yang tidak perlu sekeras memanggil orang dari atas Monas.

    Pria asing itu masih tetap membisu. Kali ini dia menenggang Jack Daniel’s langsung dari botolnya hingga hanya menyisakan kehampaan di dalamnya.

    “Ayolah, nak. Aku hanya berusaha ramah denganmu. Apa kamu menguji kesabaranku? Jika ya, sebaiknya jangan. Temperamenku buruk sekali.” Kalimat terakhirnya dia ucapkan seolah berbisik.

    “Baiklah,” pria necis itu menodongkan revolver ke kening pria asing itu, membuat seisi kelab panik dan berdiri semua. “Nyalimu besar juga untuk menantang temperamenku. Jadi kutantang kau untuk bermain roulette dengan...” ia menahan kalimat terakhirnya agar lebih dramatis sembari berpikir dan melihat-lihat seisi kelab, “Bartender. Dia jalang yang menghinamu tadi, bukan? Jadi mengapa kau tak bermain dengannya untuk membuktikan apakah kau memang bernyali, atau cuma banci Taman Lawang berlagak sok bernyali?”
    Bisa ditebak, reaksi sang bartender seperti apa. Beberapa gelas dan botol minuman pecah karena reaksinya.

    “DOR!”

    Tidak ada yang terbunuh saat itu kecuali nyali beberapa pengunjung yang terlalu lemah untuk siaran langsung permainan hidup atau mati, namun dari enam chamber sekarang hanya menyisakan empat chamber kosong. Hal ini membuat seisi kelab kembali sehening ketika pria asing ini datang, hingga permainan DJ pun kacau. Teriakan pria necis itu ampuh untuk mengusir setan.

    “DOR!”

    Kali ini tembakan diarahkan ke DJ. Namun kali ini selonsong tidak ikut berputar, masih menyisakan peluang 20 persen bagi bartender atau pria asing itu untuk memuncratkan otak mereka. Suasana jauh lebih genting dari sebelumnya.

    Pria necis itu kembali menghisap cerutunya, lalu mematikannya ketika panjangnya tinggal setengah. Senyum licik terpancar dari wajahnya.

    Tidak ada suara dari dalam kelab. Sama sekali. Bahkan DJ pun terlanjur pingsan karena “tembakan” si pria necis itu satu menit yang lalu.

    “Masih tidak bergeming, ya? Baiklah, jagoan, kamu boleh memilih siapa yang jalan duluan. Kamu, atau si cantik ini. Atau siapapun jika kamu memang ingin menidurinya. What do you say?”

    Entah karena memang pria asing itu tuli maupun memang bernyali besar, dia tetap terdiam tanpa melakukan apa-apa. Bahkan tidak bergerak dari kursinya.

    “DOR!!”

    Seisi ruangan kembali panik. “Tembakan” untuk pria asing itu tidak membuatnya bergerak. Hanya gertakan pria necis itu jauh lebih meyakinkan untuk meyakinkan kita bahwa revolver itu benar-benar memuncratkan otak. Tinggal tiga chamber kosong.

    Suasana semakin mencekam. Tempat ini menjadi begitu mati, seperti sebuah pemakaman yang menghisap jiwa siapapun yang berani melintas di depannya tanpa peduli apakah itu manusia atau bukan, menyisakan kesedihan bagi siapapun yang mengunjunginya. Tanpa ada harapan untuk kembali seperti sedia kala.

    Dengan kata lain, tempat ini hanya menyisakan keputusasaan.

    Semakin sedikit chamber, semakin licik senyuman pria necis itu.

    “Giliran bartender itu, ya? Sayang sekali kamu tidak akan pernah menikmati tubuhnya. Padahal servisnya luar biasa. Istriku tidak ada apa-apanya dibanding dia. Bagaimana, mau ganti lawan main, atau kau memang ingin wanita lain?” Senyumnya semakin mirip setan seiring dengan semakin mencekamnya suasana.

    “DOR!”

    “Wah, masih belum selesai, ya? Bagaimana kalau kamu berbicara, satu kata saja dan kuizinkan kamu bercinta dengannya, atau siapapun di sini, termasuk aku. So?”

    Pria itu sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya, hanya jari tangannya mengetuk-ngetuk konter bar.

    “Baiklah, kuhitung ya, 3...2...1...”

    “Bartender,” akhirnya pria itu mengeluarkan suara dari mulutnya, “minta JD lagi. Satu botol.”

    “Berikan.” Pria necis itu seolah menegaskan untuk mengambilkan sebotol lagi Jack Daniel’s. “Akhirnya kamu bicara juga, ya? Jadi, siapa yang akan kamu ajak tidur?”

    Suasana kelab akhirnya perlahan mencair dengan pria itu berbicara. Ketika sebotol Jack Daniel’s tiba di hadapannya bersama gelas dan es batu bulat lain, dengan mengabaikan gelas dan es, ia menenggak langsung whiskey itu dari botolnya dan hanya setengah menit kemudian, kembali menyisakan kehampaan di balik botolnya.

    “Berikan pistolnya.” Pinta pria itu.

    Seraya kaget dan terbahak, pria necis itu menyerahkan revolver perak miliknya. Sepertinya suasana akan kembali memanas ketika pria asing itu memutuskan untuk melanjutkan permainan.

    “Sayang, aku tidak bisa meniduri selingkuhanmu.” Jawab pria asing itu, kali ini pria asing dengan revolver perak di tangannya. Ia memasukkan laras revolver itu ke dalam mulutnya, menarik hammer-nya, dan jarinya telah bersiap menarik pelatuk.

    Di luar dugaan, keadaan kembali mencekam. Kali ini seolah kematian sedang menonton permainan ini di bangku sebelah. Suara detak jantung seisi pengunjung kelab seolah berpadu menghasilkan suara yang begitu mengerikan untuk ukuran kelab malam. Ia menarik nafas panjang dan memejamkan mata untuk waktu yang cukup lama.

    Lalu ia membuka matanya, seolah mengisyaratkan hitungan mundur. Kemudian membuka matanya.

    Seluruh mata tertuju pada pria itu, yang menghabiskan dua botol Jack Daniel’s dalam waktu kurang dari satu jam dan masih bernafas, setidaknya hingga beberapa detik (atau menit) ke depan. Mungkin saja ia masih hidup setelah memenangkan permainan, namun jika itu berarti ia tidak dibunuh oleh “rencana” lain dari pria necis itu, atau pengunjung lain.

    Dan ternyata pertunjukan ini adalah pertunjukan terakhir dalam hidup mereka, para pengunjung kelab.
     
    Last edited: Feb 14, 2015
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.