1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Discussion [OPINI] "KUTUKAN" Ujian Nasional

Discussion in 'School and Campus Zone' started by laluabdrahman, Apr 21, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. laluabdrahman M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 1, 2010
    Messages:
    1,499
    Trophy Points:
    227
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +27,923 / -1
    Ujian Nasional (UN) sudah berakhir. Perhelatan akbar dunia pendidikan yang setiap tahun dilaksanakan ini menghabiskan dana sektar Rp. 587 Milyar (tahun 2011). Dana tersebut dihabiskan untuk pembuatan soal, penggandaan, distribusi, pengawasan, dan pemeriksaan. Saya tidak akan membahas soal dana ini lebih dalam lagi sebab ini sangat "debateable". Maksud saya, dana sebesar itu wajar menurut pemerintah (Menteri Pendidikan) sedangkan bagi masyarakat dana tersebut terlalu banyak. Bagaimana menurut Anda?

    Apa yang saya maksudkan dengan kutukan UN? Banyak cerita dan berita seputar UN ini. Saya ingat semasa saya mengikuti UN tingkat SD yang ketika itu namnya EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) ada guru yang sengaja memberikan jawaban kepada saya dan teman-teman lainnya. Misalnya dengan menuliskannya di kertas, atau bahkan di papan tulis. Memang jawaban yang diberikan tidak semuanya dari nomer satu sampai nomer terakhir. Begitupun ketika saya SMP dan tetap begitu sampai saya SMA. Dan sampai hari inipun tradisi ini masih berlangsung. Ini sudah menjadi rahasia umum. Bahkan hari ini lebih hebat lagi, UN belum berlangsung tetapi kunci jawaban sudah malang melintang di HP yang dipegang siswa.

    Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita sehingga tradisi ini tidak bisa dihilangkan? Seolah-olah seperti kutukan yang harus diterima dari generasi ke generasi, sejak SD, SMP, SMA, dan bahkan sampai jadi gurupun.

    Menurut saya, ini semua salahnya petinggi-petinggi yang terkait langsung dengan dunia pendidikan kita. Misalnya Menteri Pendidikan menetapkan target nilai yang harus dicapai, kemudian itu diinstruksikan kepada gubernur di seluruh tanah air, selanjutnya gubernur-gubernur itu menginstruksikan lagi kepada bawahannya, begitu seterusnya sampai akhirnya kepala sekolah pun menginstruksikan guru-gurunya untuk meluluskan siswanya. Guru-guru mengikut kepala sekolahnya, kepala sekolah mengikut kepala dinas, begitu seterusnya ke atas. Kalau banyak siswa tidak lulus akan membuat malu kepala sekolah, kalau banyak sekolah yang banyak siswanya tidak lulus ini akan membuat malu kepala dinas, begitu seterusnya ke atas.

    Solusinya adalah menghilangkan tradisi memeras bawahan untuk kepentingan atasan. Ini hanyalah opini saya. Tiada maksud mencederai siapapun. Melainkan berbagi informasi untuk mencari sebuah solusi.Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda punya solusi lebih cerdas demi kemajuan pendidikan bangsa kita? Saya tunggu komentar-komentar Anda!!
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. kenjiz M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Oct 7, 2010
    Messages:
    1,513
    Trophy Points:
    162
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1,090 / -0
    bener si bro kalo banyak siswa tidak lulus akan membuat malu kepala sekolah, kalau banyak sekolah yang banyak siswanya tidak lulus ini akan membuat malu kepala dinas
    jadi wajar kalo guru" membantu siswa siswi-nya
    dan kaya-nya ha ini sudah menjadi tradisi di Indonsia deh,mungkin peningkatan target nilai UN membuat kekhawatiran tersendiri buat guru" maupun murid-nya
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  4. laluabdrahman M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 1, 2010
    Messages:
    1,499
    Trophy Points:
    227
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +27,923 / -1
    betul bro, target yang dinaikkan hampir setiap tahun membuat siswa gemetar ketakutan menghadapi UN reportnya lagi guru-guru malah ikut-ikutan kalang kabut :hahai:
    kedengaran lucu memang tapi itulah faktanya..
    apa tidak ada mahasiswa S1, S2, atau S3 yang kepikiran meneliti fenomena ini ya? apa dan bagaimana bisa begitu, sehingga bisa dicari jalan keluarnya..
     
  5. tamaguci M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 11, 2010
    Messages:
    688
    Trophy Points:
    66
    Ratings:
    +80 / -0
    BTW dana UN ma dana pemilu itu lebih besar mana to??

    sekarang kan penilaiaan kelulusan itu udah sangat berbeda dengan yang dulu.

    sekarang itu pake nilai rapor sem 1-5 ditambah nilai uan ditambah nilai uas(pokoknya report banget ngitungnya

    akibat dari pengunaan nilai rapor terjadi pengelapan nilai rapor di sekolah2 tertentu

    cckkckck bagaimana bisa maju dunia pendidikan milik kita ini?
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  6. laluabdrahman M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 1, 2010
    Messages:
    1,499
    Trophy Points:
    227
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +27,923 / -1
    tau aja si abang ni ada penggelapan nilai lapor hehe
    itu pasti "terpaksa" dilakukan untuk menyesuaikan dengan peraturan baru penetapan nilai akhir UN.
     
  7. AngelOfAvalon Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Aug 29, 2010
    Messages:
    350
    Trophy Points:
    26
    Ratings:
    +67 / -0
    hmmm......sebenernya, UAN sekarang udah lebih membantu dibanding tahun-tahun lalu. karena kelulusan dihitung dari 60% nilai UN dan 40% nilai sekolah.

    kalo untuk tradisi bocoran, gw ngeliatnya sebagai "ketidaksiapan" pada peserta UAN. yah, semacam shock lah, jadi menghalalkan segala cara untuk lulus. kalo masalah siapa yang salah, gw no comment deh. gak usah cari siapa yang salah. Pemerintah sedang mencari sistem terbaik untuk memajukan bangsa ini. keliatannya, mau tidak mau, kita sendirilah yang harus jadi kelinci percobaannya. karena, kalo bukan kita, siapa lagi? memang, setiap perubahan (apalagi yang cepat) bisa menimbulkan konflik. sama kaya UAN. ada temen gw pernah bilang, "perubahan itu memakan korban". korbannya adalah orang-orang yang tidak siap dalam menerima perubahan itu. Tapi memang harus diperhatikan juga siswa nya. gak semua sekolah standarnya sama. tapi gw liat pemerintah udah membuat soal UAN yang berbeda untuk setiap daerah. nah, sekarang juga malah ada kebijakan 60-40. gw rasa sih, makin kesini makin baik. tinggal gimana kita menjalaninya. (gw sih orangnya positive thinking aja)

    Banyak yang bilang, UAN harus ditiadakan (gw juga sependapat dulu). tapi gw rasa, pendidikan kita juga harus pnya standar nasional. mestinya juga kualitas belajar dibenerin. misalnya kurikulum yang baik. selain itu, cara mengatasinya ya.....mau gak mau pemerataan pembangunan di Indonesia. dan mungkin, satu lagi...penambahan motivasi belajar kita. banyak dari kita (termasuk gw kayaknya, haha) yang belajar sekedar mencari ilmu, atau sekedar dapet ijazah, atau sekedar buat dapet uang jajan. mestinya harus ada target yang lebih besar untuk belajr. kalo gak salah, orang jepang abis kena bom hiroshima nagasaki itu kan hancur lebur. tapi pemerintahnya mendidik masyarakat jepang untuk bisa bangkit dan menyaingi Amerika (yah, ini cara balas dendam paling baek menurut gw, haha). akhirnya, liat Jepang sekarang. mungkin kita harus sama-sama cari, apa sih yang bisa memotivasi kita semua untuk belajar (jangan tergantung ke pemerintah mulu). kalo pemerintah masih belom bisa memberikan yang terbaik, dan kita terus tergantung kepada pemerintah, malah gak selesai2.

    walaupun memang, pemerintah juga harus bisa menyediakan kebutuhan pendidikan masyarakatnya. terutama yang di desa-desa. sekali lagi, peningkatan kualitas belajar, pemerataan pembangunan (termasuk pendidikan) dan motivasi belajar (dari diri kita)....

    untuk budaya-budaya seperti bocoran, nyontek, "apa kata atasan" dan lain sebagainya, itu susah juga diilangin. hmm.....PR kita bersama
     
  8. pandakadabra M V U

    Offline

    The Mechanix

    Joined:
    Jul 31, 2009
    Messages:
    1,654
    Trophy Points:
    227
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +10,069 / -1
    Memberikan 40% kepada mafia itu sendiri :iii:

    Gw rasa banyak juga guru² yg penilaiannya subyektif terhadap murid. Si murid punya masalah sama si guru, si guru jadi masa bodo/nyuekin si murid, akibatnya si murid mengalami kesulitan & tekanan dalam belajar, padahal dia pintar, dia hanya butuh bimbingan.
    Dia menolak menerima maaf, walau menerima maaf tetap aja dia cuek Karena gengsi, si guru mengabaikan perintah kepala sekolah utuk "membantu" UN siswa (silahkan mau dipuji ato engga...:bolakbalik:). Tapi spesial hanya untuk yg dia benci :haha:
    Gw rasa sudah saatnya guru² semacam ini sadar apakah mereka patut disebut pengajar yg ideal. Yg semacam seperti racun dalam pendidikan.

    Kalo diliat liat yaa banyak juga yg harus dibenahi, buku aja masih ganti² tiap taun :haha:
     
    • Like Like x 2
    • Thanks Thanks x 2
  9. zz11 Veteran

    Offline

    Rockstar

    Joined:
    Mar 11, 2009
    Messages:
    40,093
    Trophy Points:
    252
    Ratings:
    +33,290 / -0
    ahaha, gak asing, gw dulu ngalamin juga jadi murid yg dimusuhin guru :haha:
    abis gw kan susah diatur :haha: idealis lagi :haha:

    Ingat guru bukan sekedar pengajar.
    Mereka pendidik. Mengajar itu mudah, Mendidik itu sulit.
    Dengan menunjukkan mental seperti itu, mereka sudah gagal mendidik.
    Pantaskah mental seperti ini dibudidayakan di pendidikan kita? :yareyare:
     
    • Thanks Thanks x 1
  10. laluabdrahman M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 1, 2010
    Messages:
    1,499
    Trophy Points:
    227
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +27,923 / -1
    hehe dan selalu tidak ada untungnya jadi kelinci percobaan..


    -yang 40% emang cenderung disalahgunakan, tapi masih lebih baik daripada 0%. Karena guru pasti tahu mana muridnya yg mampu dan kurang mampu.
    -guru juga manusia, subjektifitas sulit dihilangkan, tapi paling tidak diminimalisir.. Guru yg objektif lebih banyak dari yg subjektif..

    -nah lo ngaku juga kan kenapa guru musuhin lo hehe
    -masalah mental guru adalah masalah complicated, oleh karena itu pemrintah harus lebih intens mengupgrade guru-gurunya agar kualitasnya meningkat seiring zaman.
     
  11. devry Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Dec 9, 2010
    Messages:
    10
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +1 / -0
    ane punya temen di suatu negara di barat sana.
    katanya gak ada yg namanya ujian nasional, yg ada tuh kyak project2 atau tugas ilmiah gtu.
    dan kelulusan gak didasarkan pada 1 project, tp dari banyak project.
     
  12. dyelewer M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Aug 20, 2010
    Messages:
    4,134
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,062 / -0
    ah .. mumpung ada guru gw pengen ngomongin hal yang bukan rahasia, tapi ga diberantas..

    dulu waktu gw ujian sma,, banyak banget temen temen gw yang pada beli jawaban ujian..
    dan satu yg jadi joki jual jawaban dgn harga 5 juta..

    padahal gw dapet info dari temen gw yang jadi joki..
    jawaban ujian sama agennya cuman dijual 15 ribu..

    ya.. cuma 15 ribu yang menentukan 3 tahun sekolah..
    dan akhirnya,, semua siswa lulus ..

    nasib pendidikan di indonesia :yareyare:
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  13. zz11 Veteran

    Offline

    Rockstar

    Joined:
    Mar 11, 2009
    Messages:
    40,093
    Trophy Points:
    252
    Ratings:
    +33,290 / -0
    Yang jelas kalo mau dibilang objektif, penilaian hrus dilakukan sepanjang masa studi gak cuma dari ujian akhir aja.
    Kalo di ujian akhir aja, sepertinya faktor keberuntungan sangat berperan.
    Tapi kalo di sepanjang masa studi, faktor keberuntungan lebih sedikit, banyakan faktor usaha dan prestasi dari si murid ybs.
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  14. laluabdrahman M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 1, 2010
    Messages:
    1,499
    Trophy Points:
    227
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +27,923 / -1
    kalau Jakarta dan kota besar lainnya mungkin bisa dibuat begitu, karena sarana dan prasarana mendukung untuk itu, tapi kalau daerah-daerah apa lagi yang terpencil tentu sulit dilakukan. ditambah lagi jumlah guru masih sangat sedikit dibanding jumlah siswanya.
     
  15. laluabdrahman M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 1, 2010
    Messages:
    1,499
    Trophy Points:
    227
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +27,923 / -1
    wah gila sampe 5 juta? bisa kaya gw :lol:
    di tempat saya istilah joki juga ada tapi ga sampai di bayar 5 jutaan. dan sy belum pernah jadi joki, makanya speda motor aj kreditan..hadeuuuuuuuuuh :dead:


    ini seperti kuliahan yg menggunakan SKS (sistem kredit semester), model ini pernah diperbincangkan tapi implementasinya masih sulit,, jadi yaa ujian akhir dg standar nasional masih tetap dipertahankan.. semoga saja petinggi2 itu punya pemikiran2 brilian dan revolusioner untuk kemajuan pendidikan Indonesia.
     
  16. blackwhite M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 14, 2010
    Messages:
    505
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +1,346 / -0
    Ya.
    Dan jujur saja sekolah-sekolah yang kamu katakan menulis jawaban di papan itu sekolah-sekolah yang terkenal menghasilkan penggangguran.
    Sekolah-sekolah yang bagus tidak melakukan hal demikian.

    Saya merasa tersinggung melihat semua temanku belajar keras menghadapi UN dan disini kita disebut sebagai para penyontek
    Apa artinya anda men'post thread demikian yang menurunkan moral bangsa kita?
    Dan lagi, di post anda mengatakan dulu anda juga disuguhkan jawaban dan anda menerimanya. Dan sekarang setelah tidak butuh UN, anda baru mengatakan pendidikan Indonesia jelek, ngasih2 jawaban. Dari pandangan saya anda sungguh munafik
     
  17. pandakadabra M V U

    Offline

    The Mechanix

    Joined:
    Jul 31, 2009
    Messages:
    1,654
    Trophy Points:
    227
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +10,069 / -1
    Pernah juga dapet cerita dari temen, waktu sekolah dia mengenyam pendidikan di SMK TI. Kata dia, pendidikan di negara kita ini banyak mengalami redundansi, pelajaran dia di SMK ga jauh beda dengan D3. Pelajaran² kaya algoritma, programming, database dll udah sering dia pelajarin dari waktu dia SMK, jadi ya selama 3 tahun belajar itu² aja. Sistem yg diterapkan sekarang membuat daya saing kita diluar menjadi rendah walaupun kita lulus dengan predikat yg baik.

    Yg namanya pemeritah itu ga mau tau guru itu kompeten ato engga, dia bisanya cuma ngerubah sistem, entah sistemnya berjalan atau engga. Milih menteri aja ga becus :sigh:
     
    Last edited: Apr 22, 2011
  18. laluabdrahman M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 1, 2010
    Messages:
    1,499
    Trophy Points:
    227
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +27,923 / -1
    haha...
    saya tidak mengatakan semua sekolah di seluruh negeri seperti itu.. salah satunya pasti sekolah Anda bukan? syukurlah Anda bersekolah di tempat yg baik dan terpuji, dan selayaknya negara harus memberlakukan semua anak negeri seperti Anda.
    Coba pikirkan! Kalau guru saya memberikan sy jawaban ketika sy membutuhkan dan sy sambut dengan caci maki, kemudian saya mengatakan saya ga butuh jawaban guru goblok seperti Anda. Apa yg terjadi? Saya pikir itu tak akan terjadi karena sy tidak berani menolaknya. Lagipula apa alasan saya menolaknya?
    Saya juga tidak menyebutkan siswa2 yg ikut ujian itu tukang contek. Tunjukkan kalimat sy yg mana menyiratkan hal itu?
    Trit sy menurunkan moral bangsa? Mana logikanya?
    Saya munafik? Mungkin Anda benar tapi Anda bisa saj salah.
    Anda baca baik2lh kalimat per kalimat tulisan saya itu agar Anda tidak salah menduga.
    Saya beritahu Anda! Sy buat trit ini justru untuk mencari solusi, bukan cari sensasi. Apa sensasinya trit ini? Tidak ada! Karena "semua" orang mengetahuinya.
    Mengapa dulu sy tidak buat thread begini? Jika ini Anda tanyakan tentu ini pertanyaan lucu teramat lucu. Dulu sy tidak buat thread tapi sy ceritakan ke teman2 sy, sy obrolkan dg kawan2 sy. Apa bedanya???


    betul, ganti menteri ganti sistem :)
     
    Last edited: Apr 22, 2011
  19. dyelewer M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Aug 20, 2010
    Messages:
    4,134
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,062 / -0
    tapi situ juga ga bisa menutup mata dong.. kalo emang banyak 'para pencontek'
    walaupun sebagian besar ngga..

    suatu opini apapun w/ the h3ll ga akan menurunkan moral bangsa bang...
    threat ini membicarakan kenyataan,, walaupun sensitif sih buat orang orang kaya situ yang emang bener2 belajar dakam ujian..
    tapi this is the trusth..

    munafik ngga nya ga ngaruh,,
    seseorang kan bisa saja berubah.. apa kalo seseorang yang dulu pernah mencuri.. wajib mencuri,,
    dan kalo ga nyuri itu namanya munafik..
    :peace:


     
    Last edited: Apr 22, 2011
  20. laluabdrahman M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 1, 2010
    Messages:
    1,499
    Trophy Points:
    227
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +27,923 / -1
    betul..

    Anda betul lagi:)

    logika bagus:)

    itulah bro, ini tantangan orang2 yg bersentuhan langsung dg dunia pendidikan Indonesia. bagaimana membuat sistem yg baik untuk semua tanpa kecuali.
     
  21. AngelOfAvalon Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Aug 29, 2010
    Messages:
    350
    Trophy Points:
    26
    Ratings:
    +67 / -0
    emang sih, keliatannya masih belom dapet sistem yang baik. tapi kalau misalnya kita belom dapet sistem pendidikan yang bagus, tentu kan harus mencari sistem baru dan mempraktekannya. nah, mungkin ada cara lain?
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.