1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Naqoyqatsi (Life as War)

Discussion in 'Fiction' started by liopolt09, Mar 1, 2015.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Genre: Shounen, Drama, Physcological, Fantasy, War, Romance, Harem.

    [​IMG]

    Sinopsis :
    Lushan merupakan seorang pembrontak yang menjunjung tinggi kebebasan atas masyarakatnya yang tertindas dibawah kekuasaan dinasti Tang. Dia kehilangan banyak hal, istri, sahabat, dan semua hal yang disayanginya untuk meraih impian tersebut. Ketika tinggal satu langkah lagi bagi Lushan untuk mendapatkan impiannya, dia terbunuh oleh anaknya sendiri yang menganggap ayahnya sudah dibutakan oleh ambisi. Ketika itu, dia diberi kesempatan oleh kekuatan misterius untuk memperbaiki kesalahannya dimasa lalu.

    List Chapter :
     
    Last edited: Sep 7, 2015
  2. Ramasinta Tukang Iklan

  3. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Prouloge : There is no such liberty with blood below your feet

    Darah menetes di atas kepalaku. Orang-orang tersebut tergantung di langit-langit dengan mata yang terbuka menatapku yang berjalan di bawah mereka.

    ‘Mereka’ adalah orang-orang yang mati karena harapan yang kutebar. Aku tidak berbicara tentang harapan palsu, dan aku tahu apa yang kulakukan.

    Untuk tidak terjadi pertumpahan darah merupakan hal yang naif, dan harapan itu hanya bisa terwujud dengan mereka yang tunduk pada intruksiku untuk membalikan nasib mereka, yaitu mati dalam keadaan berdiri di medan perang yang ‘katanya’ dihormati oleh tuhan daripada mati dalam keadaan berlutut karena kelaparan dan penindasan dari orang-orang yang bersantai-santai melahap rezeki mereka.

    “Suamiku..”

    “Lushan!!”

    Sahabatku dan Istriku ada di antara mereka, meneriakiku dengan suara mereka yang merintih. Aku tidak mampu menatap mereka, dan kucoba untuk menahan tangisku. Mereka juga merupakan orang-orang yang kukasihi yang mati demi impian yang akhirnya merengut nyawa mereka.

    “Yang mulia An Lushan”

    Ketika itu tiba-tiba muncul seseorang dengan baju zirahnya menghadap padaku. Dia tidak tergantung maupun berlumuran darah, dan aku sepertinya tahu siapa dia.

    “Siapa engkau wahai pemuda?”

    “Hamba adalah prajuritmu yang mulia. Baru saja kau kirim hamba kemedan perang, dan tiba-tiba saja hamba berada disini. Dimana kita yang mulia? Kenapa banyak sekali orang-orang yang tergantung di atas kita? Siapa mereka?”

    “Musuh..dan tempat ini adalah neraka”

    Mukanya ceria. Betapa senangnya dia bahwa musuh yang selama ini ia selalu kutuk tersiksa di neraka. Aku takut jika saja kukatakan bahwa mereka adalah prajuritku dan orang-orang yang kukasihi akan membuat harapannya hancur.

    “Yang mulia, tuhan benar-benar berpihak pada kita”

    “Ya prajuritku”

    Aku tahu benar bahwa tuhan tidak pernah ada di tanah ini karena tuhan adalah produk dari harapan. Tapi, dengan sedikit kebohongan, tuhan muncul di antara mereka yang tertipu. Suatu saat nanti mereka akan bahagia dengan harapan-harapan itu, segala berkah dari tuhan yang sesungguhnya merupakan hasil dari kematian jutaan orang yang rela bertumpahan darahnya demi kesenangan generasi selanjutnya.

    Maka dari itu aku tahu bahwa diriku tak boleh gagal..

    Hanya satu momen terakhir ini pada akhirnya dinasti Tang akan hancur, dan aku akan menjadi raja..

    Bukan..

    Masyarakatlah yang akan menang.

    Ketika itu aku berjalan dengan tegar, dimana begitu banyak darah bergenangan di bawah kakiku. Langkahku tidak akan melambat karenanya walau ternoda oleh darah, biar rintihan tangis mereka menteror hidupku, biar aku menanggung segala beban ini demi terus menggapai impian-impian tersebut.

    ***

    “Ayahanda, bolehkah hamba masuk?”

    Seseorang membangunkanku dari mimpi. Suara itu adalah An Qingxu, satu-satunya anakku yang katanya akan mengujungiku setelah pengembaraannya dalam mencari ilmu.

    “Masuklah nak”

    “Baik ayah, maaf menganggu tidurmu..”

    Ketika An Qingxu masuk kedalam kemah, aku tidak merasakan adanya penjaga di depan. Mungkin mereka sedang istirahat? Bisa-bisanya disaat perang seperti ini. Tapi sudahlah, anakku kini bersamaku, dan aku percaya bahwa dia bisa melindungi ayahnya yang tua dan rentan ini.

    “Sini nak, sudah lama tidak bertemu kau sudah terlihat dewasa"

    Kemudian aku memeluk anakku, satu-satunya orang yang kini sangat berharga bagiku karena dialah satu-satunya peninggalan istriku Roxana.

    Entah mengapa aku bisa mencium baunya dari An Qingxu, membuatku terkenang akan kenangan-kenangan bersama istriku. Melepaskan An Qingxu dalam pengembaraan merupakan hal yang sangat susah, namun aku yang memegang teguh kebebasan membiarkan anakku untuk belajar tentang kebenaran dunia ini. Setidaknya mungkin dia berubah pikiran tentang ikut bersamaku.

    “Boleh aku masuk?”

    “Li Zhu’er? Masuk, masuk.. Kalian benar-benar gagah sekarang!”

    Anak sahabatku, Li Zhu’er, yang kusuruh untuk menemani anakku untuk mengembara. Dia sudah bersumpah untuk menjaga anakku, dan aku begitu percaya pada anak ini. Li Zhu’er kini juga sudah menjadi seseorang yang gagah. Ingin sekali aku mendengar kedua kisah anak ini, apa yang sudah mereka lalui hingga mereka memiliki aura yang sungguh berbeda dari sebelum mereka mengembara.

    “Ayo kita ngobrol dulu, mau minum teh? Tunggu...”

    Tiba-tiba ketika diriku membalikkan badan, aku merasakan sesuatu menghunusku dari belakang.

    “Aghh..”

    “Maafkan diriku ayahanda”

    An Qingxu.. bisa-bisanya dia menusukku. Apa-apaan ini!

    Aku terjatuh kelantai dan darah keluar dengan deras dari belakang punggungku. An Qingxu saat itu mengarahkan pedangnya padaku.

    “Beritahu kami dimana kau letakan fragment sihir itu”

    Ketika An Qingxu mengintrogasiku yang tergeletak dilantai, Li Zhu’er memberantakkan kamarku, mencari fragment sihir yang An Qingxu maksud.

    Ahh..Pasti anak sialan itu yang mendoktrin anakku hingga dia melakukan hal ini. Aku tahu dia sering berkumpul dengan beberapa kelompok politik di Dinasti Tang, tapi tak kupikir dia akan menghkianati diriku seperti ini dan melanggar sumpahnya.

    “LiZhu’er, aku sungguh menghormati ayahmu! Kini lihat dirimu?! Sudah kau khianati diriku, dan bagaimana pula kau pengaruhi anakku hingga dia tega menusuk darah dagingnya sendiri?!!”

    LiZhu’er tidak memedulikan teriakanku dan terus mencari-cari fragmen sihir tersebut.

    “Kau salah ayah, ini merupakan keputusanku sendiri. Perperangan sudah membuatmu gila, paranoid! Kau bunuh jendral-jendralmu, selirmu, dan bahkan istri-istrimu setelah ibu meninggal. Mungkin kau juga yang membunuh ibuku. Apakah kau tidak sadar berapa banyak orang yang sudah mati demi menggapai impianmu? Jutaan!”

    “Kau tidak tahu nak, hanya satu langkah lagi hingga aku bisa menguasai dinasti tang.. Jutaan nyawa yang mati karena impianku, dan nyawa orang-orang yang kusayangi tidak akan sia-sia! Jika kau lepaskan diriku hari ini, aku berjanji nak..”

    “Tidak ayah!!”

    An Qingxu kini tetap mengarahkan pedangnya padaku. Aku bisa melihat kebencian di mukanya sekaligus kesedihan. Matanya mengalirkan air mata, dan tangannya bergetar. Aku melihat keraguan dimatanya, dan semakin kuyakin bahwa tindakannya ini bukanlah muncul dari diri dia sendiri.

    “An Qingxu, inikah fragmen sihir tersebut?”

    Li Zhu’er memperlihatkan fragmen artefak bangsa elf, dan An Qingxu menganggukinya.

    “Ayah, aku juga merupakan penggemar impianmu, ideologimu, idealitasmu.. Tapi dengan kau seenaknya menginjakan kakimu di atas darah masyarakat, dan kekejianmu terhadap orang-orang yang kau lawan.. Aku tidak bisa melihat ‘kebebasan’ yang kau maksud. Tidak pernah ada kata-kata suci itu pernah terwujud dengan caramu yang busuk ini”

    “Naif!!”

    Emosiku memuncak ketika dia berkata bahwa apa yang kulakukan adalah hal yang ‘busuk’. Anak dengan kenaifan sepertinya lah yang membuatku kehilangan banyak hal, termasuk orang-orang yang kusayangi. Kini sekali lagi kenaifan ini akan merengut sesuatu dariku, dan lucunya dia memakai wujud anakku kali ini.

    “Mati kalian semua!!”

    Aku memakai seluruh sisa energi hidupku untuk membentuk pedang dan membantuku untuk memberdirikan tubuhku. Anakku tidak akan menyangka bahwa aku bisa memakai sihir, dan aku langsung segera menyerangnya namun anakku segera menangkisnya.

    “Kaulah yang membunuh ibumu wahai kau yang begitu naif untuk berkata bahwa perperangan ini merupakan hal yang sia-sia. Jika saja sikap itu tidak pernah ada.. dalam diriku!!”

    “Ayah!!”

    Anakku dengan seluruh kekuatannya berhasil mendorongku kebelakang, dan Li Zhu’er segera mengunci tanganku. Saat itu karena sisa energiku semuanya sudah terpakai, aku tak bisa lagi melawan kunciannya.

    “Hah, An Lushan bisa menggunakan sihir? Hei Qingxu kenapa kita tidak membongkar rahasianya dalam menggunakan sihir? Kupikir laki-laki tidak akan bisa menggunakan sihir.. Ini pasti rahasia dari clan Ashide”

    Sekarang dia mencoba mengambil keuntungan dari kemampuan sihirku dan hal itu membuatku semakin yakin bahwa anak inilah biang keladinya.

    “Dia takkan mengucapkannya Li zhu’er.. Lagipula waktu kita tidak banyak”

    An Qingxu membuang pedangnya, dan dia ambil pisau yang dia simpan dalam kain. Pisau itu adalah milik salah satu jendral tangan kananku Yang Guzhong, dan seseorang tentara menyeret mayatnya memasuki kemahku. Mereka berdua sedang membangun sebuah panggung konspirasi untuk mengkambing hitamkan dirinya.

    “Satu langkah lagi anakku..!!”

    “Tidak ayah”

    “Agghhh!!!”

    Dia menusukku, lagi, dan lagi. Kemudian Li Zhu’er melepaskan kunciannya, membuatku terjatuh terluntai kelantai yang terasa begitu dingin. Ketika itu pandanganku begitu buyar, dan tak ada energi lagi untuk menggerakan mulutku. Saat itu aku bisa mendengar sedikit pembicaraan mereka.

    “Apa? Shi Shiming kabur?!”

    Sepertinya salah satu sahabatku mengetahui adanya pembrontakan dari dalam, semoga dia bisa membalaskan dendamku..

    Saat itu kusadari dari gemuruh kaki tentara yang berlarian keluar, anakku masih berada di hadapanku berpikir tentang apa yang mau dikatakannya pada seseorangyang sudah sekarat ini.

    “Ayah, aku akan mewujudkan mimpimu. Aku berjanji akan hal itu, tapi bukan dengan caramu”

    Kemudian semuanya mulai buyar.

    ...

    Setidaknya mereka tidak mengambil fragmen yang sesungguhnya karena fragmen itu selalu ada bersamaku dalam bentuk kalung yang An Qingxu pikir pasti merupakan kenangan ibunya padaku.

    Saat itu kalung tersebut begitu hangat di dadaku, dan entah mengapa aku merasakan kehangatan di dadaku seakan diriku bertemu dengan Roxana kembali.

    ***

    “Lushan bangun!”

    “Agghh!!”

    “Lushan? Kau mimpi buruk?”

    Tiba-tiba aku berada di kasur dengan keringat yang keluar begitu deras dari kepalaku. Aku segera menengok kearah suara yang memanggilku dan di sebelahku terdapat Roxana..

    Entah mengapa air mataku keluar, dan rasa nostalgia begitu menghantuiku. Aku langsung memeluknya, dan kurasakan kehangatan yang selama ini hilang dalam hidupku.

    “Kamu kenapa Lushan?”

    “Aku bermimpi panjang, dan aku kehilangan banyak hal termasuk dirimu. Di mimpi itu juga, aku gagal mengejar impianku, dan anak kita lah yang membuatku gagal dalam impianku. Dia menusukku dari belakang.. hingga kini rasa perih tersebut membuatku begitu sedih”

    “Itu hanya mimpi Lushan”

    Roxana mengelus kepalaku dan rasa nyaman ini sudah lama tidak pernah kurasakan. Kemudian tiba-tiba rasa hangat itu menghilang..

    ...

    “Roxana?”

    Tiba-tiba aku berada di ruang eksekusi. Disana aku melihat diriku yang lain berada di antara barisan tentara yang melihat Roxana berada di tempat pemancungan.

    Disini aku merasakan sakit yang begitu ngilu di dadaku.

    Aku begitu ingat momen ini, dimana aku dalam invasi merebut kota Luoyang, aku berhadapan dengan seorang jendral bernama Feng Changqing di daerah bernama Fanyang yang merupakan jalur untuk menguasai Luoyang.

    Ketika itu kami hampir berhasil menaklukan Fanyang dan melakukan negosiasi dengan pasukan Feng untuk menyerah agar tidak ada lagi pertumpahan darah yang tidak berarti dari konklusi yang sudah jelas ini. Dalam keadaan itu untuk membuatnya percaya, aku memberikan pasukannya persediaan makanan dan minuman kami karena mereka yag sudah begitu lama terkurung dalam benteng dengan persediaan yang terbatas.
    Namun air susu dibalas dengan air tuba, dia menangkap istriku dengan bantuan sihir di saat negosiasi, dan membawanya ketempat pemancungan. Kini dia memintaku untuk memberikan fragmen sihir yang diberikan istriku padaku.

    “Lushan!! Kalung yang kau pakai tersebut merupakan fragmen artifak dari dinasti tang. Jika kau berikan itu padaku, nyawa istrimu akan selamat”

    “Lushan! Jangan kau berikan fragmen tersebut!!”

    Ketika itu aku berada dalam tiga pilihan, menyelamatkan istriku dengan memberikannya artifak, menyuruh pasukan pemanah elite untuk membunuhnya, atau mencoba bernegosiasi dengannya.

    Saat itu aku sama sekali tidak mengerti fungsi dari fragmen tersebut dan kupikir hanyalah simbolik keluarga kerajaan, namun melihat Roxana yang dengan jelas melarangnya serta Jendral dari dinasti tang sangat menginginkannya, aku tahu bahwa fragmen ini begitu berbahaya jika kuserahkan padanya.

    Ketika itu pilihan pertama kutolak, dan karena aku masih berpikir untuk menolak adanya pertumpahan darah lagi yang kutakutkan akan menurunkan moral pasukan dinasti tang yang beralih menjadi pasukanku, aku mencoba memakai pilihan ketiga.

    “Feng ayolah, aku bahkan sudah berjanji padamu untuk mengembalikan gelarmu dan menjadikanmu jendralku. Kau punya kemampuan dan aku tahu itu! Bahkan mereka dinasti tang tak tahu kemampuanmu sesungguhnya”

    “Kaukira aku akan percaya padamu Lushan? Persetan dengan janjimu! Aku serius Lushan, jika saja aku tahu bahwa kau memang tidak akan memberikan fragmen tersebut dan aku memang akan mati pada momen ini, aku takkan ragu lagi untukm emenggal kepala istrimu”

    Feng semakin memantapkan pedangnya pada tali yang membatasi antara silet pemenggal dengan leher istriku. Keringatku bercucuran, dan kenaifanku membuatku berjudi pada momen itu.

    “Lihat pasukanmu ini Feng, aku bahkan memberi mereka minum dan makan yang begitu krusial pada perperangan yang begitu menghabiskan persediaan kami. Itu tanda bahwa kami percaya pada kalian”

    “Jendral hentikan tindakanmu! Kita tahu bahwa dinasti tang kini sudah begitu hancur dari dalam.. Dan Lushan merupakan orang yang bisa dipercaya!”

    Feng begitu kaget ketika tentaranya sendiri menyuruhnya untuk berhenti melakukan tindakan bodoh ini. Tapi tiba-tiba matanya kembali tajam, dan pedangnya mengarah pada salah satu pasukan pemanah yang baru saja datang.

    “Heh! Kau kira bisa menipu diriku Lushan!! Kau mau bunuh diriku dengan pasukan pemanah itu? Sepertinya.. aku memang tidak akan hidup bukan?!”

    “Bodoh!! Hei kalian pasukan pemanah mundur!!”

    Pasukan pemanah saat itu begitu bingung dengan intruksiku karena saat itu mereka bukan dalam komandoku namun salah satu jendralku Bian yang mengkontrol mereka. Bian tidak terlihat dimana-mana, dan kemarahanku memuncak pada kecerobohannya.

    “Lushan..aku begitu mencintaimu.. namun aku takut bahwa aku takkan bisa melihat kau menggapai impianmu.. mimpi kita berdua”

    Roxana berucap seakan tidak ada harapan bagi kepalanya untuk tetap bersatu dengan badannya. Dia sudah tidak terlihat ketakutan, matanya mantap untuk menerima takdirnya.

    “Roxana!!”

    “Sepertinya kau juga tidak memiliki harapan untuk selamat juga? Heh, tak kusangka akan mati bersama istrimu Lushan”

    Roxana ketika itu tersenyum padaku. Feng sudah kehabisan harapannya. Aku langsung secara cepat mengaba-ngabakan pada pemanah elit yang sebenarnya sudah membidik lama Feng untuk segera melepaskan panahnya.

    Kejadian begitu cepat, namun dalam pandanganku segalanya berjalan begitu lambat. Ketika panah itu mengenai feng, tangannya yang tetap bergerak memutuskan beberapa simpul tali yang secara perlahan terputus karena beban yang diberikan silet pemenggal tersebut. Tangis dari roxana yang menetes, dan mulutnya yang bergerak mengucapkan sesuatu.

    “Roxana...”

    Darah keluar dari leher roxana dengan deras, dan kepalanya yang jatuh dari panggung pemenggalan, Feng terjatuh oleh panah yang langsung menembus jantungnya, dan aku hanya bisa berdiri kaku menatap momen ini bersama tentaraku.

    “Tidak...Oh tidak Roxana.. Oh tuhan tidak, jangan kau ambil dia tuhan..!!”

    Aku langsung berlari menuju kepala roxana dan memeluknya. Berteriak dan menangis, aku baru saja kehilangan salah satu harapan hidupku, kehangatan yang tak pernah lagi kuraih dalam kehidupanku yang begitu gelap kini.

    “Ada apa ini? Hei Lushan.. Oh..”

    Saat itu jendral Bian datang di antara tentara pemanahnya. Aku menatapnya dengan tatapan murka, dan melihat diriku memeluk kepala istriku yang sudah tak berbadan, dia tahu bahwa dia telah melakukan kesalahan yang tidak dapat kumaafkan.

    Hari itu, dua orang mati dalam panggung pemenggalan di tanah Fanyang.

    ...

    Kembali melihat momen itu, aku hanya bisa meringis sedih memanggil nama Roxana dan terduduk lemas. Aku berusaha untuk tegar atas peristiwa tersebut, namun melihatnya langsung kini membuatku jatuh kedalam jurang depresi.

    Kenaifanku untuk bisa menyelamatkan keduanya membuatku berjudi dan kehilangan sesuatu hal yang sangat berharga, yang bahkan melebihi nyawaku sendiri dan negara ini.

    ***

    “Hei Lushan, sudah cukup mimpinya!”

    Tanpa sadar aku sudah berada didunia yang kosong dan putih.

    Di hadapanku terdapat mahluk dengan pakaian yang aneh berada di hadapanku, dengan muka yang tidak bisa kujelaskan. Begitu aneh jika kukatakan manusia, begitu aneh untuk dikatakan hewan. Melihat tampangya, aku takkan menyebut dia sebagai orang, namun lebih sebagai mahluk karena ke-abstrakannya.

    Aku segera membersihkan tangisku dan berdiri menghadapinya.

    “Siapa kau? Dimana ini?”

    “Untuk siapa, aku bukan sesuatu yang kau akan kenali. Untuk dimana, ini bukanlah tempat yang akan kau jelajahi untuk kedua kalinya. Kedua pertanyaan itu tidak ada gunanya Lushan”

    Suaranya begitu aneh, seperti rangkaian suara yang begitu kacau mencoba untuk menirukan suara manusia. Penjelasannya seakan dia tidak ingin sama sekali berbasa-basi untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

    “Oke Lushan, apakah kau pikir segala hal yang telah kau lakukan, dan bagaimana orang-orang yang kau sayangi mati tersebut merupakan hal yang benar-benar berguna untuk dunia ini?”

    Tahu bahwa dia takkan berbasa-basi untuk mendengar pertanyaanku tentang pemelurusan logika yang kini terus berjalan diotakku, aku mencoba untuk menjawabnya dengan pernyataan yang jelas.

    “Tentu. Aku tidak tahu apakah anakku akan gagal dalam memimpin pembrontakanku. Tapi aku yakin bahwa setidaknya aku telah menanamkan benih yang akan menjelaskan bagaimana sistem monarki dinasti merupakan sistem yang rusak. Bagaimana kasta-kasta yang terbentuk di dalamnya juga merupakan suatu budaya yang begitu konyol dan telah hidup ribuan tahun mencoba membentuk logika yg membutakan masyarakat.”

    Tiba-tiba aku merasa luapan harapan dalam hatiku. Ya, aku yakin bahwa diriku sudah menanam benih tersebut.

    “Suatu saat nanti akan muncul negara yang berdiri atas nama rakyat, dan negara tersebut akan mengayomi masyarakatnya, bukan masyarakat yang mengayomi raja dan keluarganya. Ketika itu kebebasan yang sesungguhnya dalam segala hal akan membuat dunia ini lebih indah, kehidupan yang kuimpikan.. dimana kebebasan dalam beropini, dalam mendapatkan kebahagiaan, dan hidup.. Kita bukan lagi sapi ataupun hewan ternak lainnya yang hidup dalam kurungan untuk diperah, disiksa, dan mati atas kemauan mereka, tapi hidup dengan sepenuh hati kita..”

    “Cukup Lushan”

    Mahluk tersebut memotong pembicaraanku. Aku tahu bahwa omonganku takkan selesai dalam waktu dekat dan hanya akan membuang waktunya.

    “Apakah kau mau tahu cerita sesungguhnya dari usahamu? Agak sedikit membosankan dan sedikit ironis. Kisah yang tidak begitu menarik untuk diceritakan..”

    Seakan dia tahu mengenai masa depan. Tapi melihat dunia ini dan dirinya sendiri, aku tahu bahwa segala hal magis ini merupakan realita yang harus kuterima.

    “Ceritakan”

    “Baiklah.. Anakmu akan memimpin kerajaanmu, namun karena kenaifannya dia terbunuh oleh salah satu sahabatmu Shi Shiming yang dikiranya bisa diajak bernegosiasi. Lalu Shi Shiming melanjutkan gelarnya yang direbutnya dari anakmu, namun dengan tujuan yang sungguh berbeda denganmu, dia tergila-gila dengan kekuasaannya dan kemampuan fragmen sihir itu sehingga dia menguasai Luo Yang dalam waktu semalam, membuat Kaisar dinasti tang melarikan diri ke gunung Qin. Lucunya dia terbunuh oleh anaknya yang juga menginginkan kekuatan dari fragmen sihir tersebut, dan disini dimulailah kerajaanmu berakhir Lushan. Shi Chayoi tidak tahu bagaimana cara menggunakan fragmen sihir tersebut dan malah menghancurkan fragmen tersebut. Dia kehilangan kekuatan politik dan kepercayaan jendral-jendralnya, dan dinasti tang yang mendapati kaisar baru yang begitu cakap dalam mendapatkan kejayaannya kembali.”

    Dia menjelaskan dengan begitu cepat, dan dengan suara yang kuyakini sangat membosankan baginya. Beberapa hal yang dia ceritakan membuatku sedih akan nasib kerajaanku, dan bagaimana mereka menggunakan fragmen sihir secara semena-mena yang bahkan diriku sendiri tidak pernah gunakan.

    Tapi apa mereka benar-benar menggunakan fragmen sihirku?

    “Jadi mereka mengetahui letak fragmen sihir tersebut?”

    Mahluk tersebut diam tidak melanjutkan omongannya maupun menjawab pertanyaanku. Dia seakan menungguku untuk menjawab pertanyaanku sendiri.

    “Heh, sudah jelas.. Qingxu pasti menyadarinya ketika fragmen yang dipegangnya tidak bekerja”

    Berhenti mendengarkan omonganku, dia kembali melanjutkan omongannya.

    “Lushan, kau tidak dipandang sebagai penyelamat. Pikiran-pikiranmu dan ideologi-ideologimu terbakar habis bersama kerajaan yang kau buat. Dinasti Tang membantai seluruh masyarakat yang mendukungmu, membakar buku-buku serta ajaranmu, dan kemudian memberikanmu image buruk pada seluruh masyarakat hingga kedunia. Di masa depan sejarah pembrontakanmu akan tertulis, tapi tujuanmu tidak, dan kau adalah antagonist dari sejarah yang kau buat ini.”

    Jadi aku benar-benar gagal..

    “Ceritamu yang kini kau buat begitu membosankan, dan sudah banyak yang pakai. Aku benci melihat antagonist yang memerankan protagonist dan sebaliknya. Walau aku bukan tuhan, tapi aku diberikan kuasa untuk memberikan dunia ini cerita dengan versi yang lebih baik”

    Kini dia mengucapkan hal yang aneh. Mengoceh tidak jelas seperti mengkritik sebuah kisah nyata bagai kisah fiksi.

    “Aku akan memberikanmu satu kesempatan Lushan! Berikan aku kisah yang lebih baik dari ini!!”

    “Hei, jangan bercanda!”

    Aku memegang badannya, dan tiba-tiba tanganku menghilang seperti terhisap di dalamnya. Aku mundur mengetahui tanganku menghilang, dan kini tanganku seperti bongkahan batu, tidak ada daging maupun darah di dalamnya.

    “Lushan, aku bukanlah dzat yang sama dengan kalian. Lebih baik kau segera terbangun dari mimpi ini, dan.. selamat bersenang-senang”

    Tiba-tiba muncul cahaya dari badannya yang begitu silau hingga aku secara spontan menutup mataku. Ruangan ini bergemuruh, dan tiba-tiba saja lantai di bawahku runtuh.

    Aku terjatuh dalam ruangan kosong tanpa ujung, dan cahaya di atasku menerangi jalanku di antara kekosongan ini. Aku merasakan aneh pada badanku, dan aku bisa melihat bahwa tanganku mengecil dan cahaya di atasku redup kemudian mati.

    Prologue end.
     
    • Like Like x 1
  4. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Chapter 1 : A Land Without God

    [​IMG]

    Ketika kubuka kelopak mataku, tanpa sadar diriku sudah berada didepan kaca besar yang memperlihatkan refleksi diriku yang terlihat begitu tua.

    Kulihat sekitarku, dan aku berada di ruangan yang tidak kukenali. Anehnya lagi, latar refleksi yang timbul dari kaca didepanku sama sekali berbeda dengan ruangan ini, yaitu sebuah medan pertempuran dengan tumpukan mayat-mayat. Penampakan tumpukan mayat tersebut seperti mayat-mayat yang kami kumpulkan untuk membakar mayat musuh yang ditakuti akan menyebarkan penyakit.

    Saat itu segera kugerakan tanganku untuk melihat apakah refleksi ini benar-benar diriku, tapi refleksiku tidak mau mengikuti gerakanku, melainkan bergerak dengan kemauannya dan menatap medan pertempuran dibelakangnya yang dipenuhi oleh senjata yang tertancap ditanah dengan genangan darah diantaranya.

    "Hei diriku.."

    "Eh?"

    "Ya, kamu!"

    Dia kini menatapku dan menunjukan jarinya padaku. Suaranya begitu serak dan matanya begitu merah seperti baru saja menangis.

    "Begitu banyak rakyat di negeri ini yang terbunuh demi cita-cita kita wahai Lushan, dan itu demi tujuan apa? Kebebasan mereka? Kesejahteraan mereka?"

    Dia kini bertanya sambil menatap tumpukan mayat disebelahnya.

    "Tentu saja, pengorbanan dibutuhkan demi terwujudnya impian tersebut,"

    "Ya! Tentu saja, Hingga kini tidak ada sesuatu hal yang berdiri tanpa adanya pengorbanan!"

    Dia kemudian berjalan menuju tumpukan mayat tersebut, dan mendudukinya.

    Aneh, tanpa sadar aku melihat tumpukan mayat tersebut menyerupai singsana kerajaan yang begitu besar, dimana kemegahan muncul diantara mayat-mayat yang kini tengah membusuk didiami belatung dan lalat.

    "Kau pasti sadar bahwa apa yang kududuki ini merupakan singsana kerajaaan. Tapi apa kau juga sadar bahwa selama ini kau juga mendudukinya?"

    "Maksudmu?"

    "Ya, singsana itu kita dapati dan duduki dari jutaan manusia yang telah mati, mengorbankan dirinya demi kita dan percaya bahwa kita bisa mengubah nasib mereka, nasib negara mereka!"

    Jadi dia memetaforakan singsana kerajaan dengan tumpukan mayat tersebut?

    "Tentu saja.."

    "Tentu saja? Heh, kau belum tua benar seperti diriku wahai Lushan, sehingga matamu tidak bisa membedakan singsana megah dengan tumpukan mayat busuk ini. Matamu belum membusuk benar sehingga apa yang kau lihat didepanmu, hasil dari usahamu, berubah menjadi potongan-potongan tubuh manusia yang tengah digerogoti lalat dan belatung."

    Tiba-tiba aku melihat badannya yang dikelilingi lalat, dan keluar belatung dari kulitnya yang sudah terlihat tua dan keriput.

    "Ketika kau sudah dalam keadaan seperti ini.. Ketika harapan-harapan itu sudah terengut dari matamu, kau akan berpikir.. Apakah tuhan benar-benar ada di dunia tanpa harapan ini? Apakah dunia ini tak lebih indah dari neraka?"

    "Neraka.. Apa yang sebenarnya ingin kau ingin sampaikan wahai diriku yang berada dikaca?"

    Dia berdiri dan mengeluarkan pedangnya, lalu menghantamkannya kekaca yg menghadapku hingga terdapat retak diantaranya. Wajahnya kini memperlihatkan kemarahannya kepadaku yang tidak sadar akan apa yang dimaksudnya.

    "Aku adalah kau Lushan, ingat itu! Kau akan diberi kesempatan untuk mengulangi kesalahan yang sama, dan aku bisa menjanjikan itu!"

    Ketika itu aku sadar akan maksud dari dirinya, dimana diriku yang berada pada kaca tersebut merupakan refleksi kegagalanku walau telah meraih kesempatan kedua dan berhasil menghindari kematian yang disebabkan anakku sendiri.

    "Aku takkan gagal. Jika kau berbicara apakah aku bisa menggapai semua itu tanpa pertumpahan darah, kita sendiri tahu bahwa hal itu terlalu naif. Tapi berbicara tentang harapan, aku berjanji bahwa mata ini takkan pernah menjadi sepertimu!"

    "Hahaha, apapun yang kau katakan wahai kau diriku yang lain, aku sudah pesimis untuk mempercayai itu semua. Roh ini sudah tua dan lemah.. Ketika anaknya tidak dapat menghunuskan pedangnya ke punggung ayahnya ini, dia tetap runtuh karenanya.."

    Dia tertawa, kemudian menggorok lehernya dengan pedangnya. Ketika itu darah keluar dari lehernya, mengalir diantara tanah yang kemudian keluar dari kaca yang kupandang.

    Ketika itu aku tidak bisa bergerak untuk menghindari noda darah yang kini tengah mengalir di kakiku, dan kemudian aku terkagetkan ketika melihat refleksi dari darah tersebut, dimana aku terlihat muda..


    ***

    "Ehh.."

    Buku-buku berjatuhan dari pangkuanku karena terguncangnya kereta kuda yang bergerak begitu cepat ditanah yang belum rampung dibuat jalan.

    “...”

    Aku termenung oleh maksud dari mimpi yang baru saja kualami, dan ketika itu ibu dan kakak yang berada didepanku sepertinya terganggu dengan jatuhnya bukuku.

    "Hei cepat ambil bukumu, Lushan si kutu buku"

    Kakak mengejekku dengan senyumannya yang sinis. Mungkin dia bosan dengan perjalanan yang lama menuju tempat pernikahan Ibu sehingga dia mencoba membuat kemeriahan, dengan cara mengejekku.

    Ketika itu segera kuambil bukuku yang kebanyakan berisikan karya sastra dan filosofi perang yang kini sangat kugemari. Seketika kubuka beberapa halaman, entah mengapa diriku seperti merasa sudah membaca semuanya..

    "Lihat dirimu Lushan.. Pria dengan buku-bukunya. Klan Ashide yang tanpa kekuatan sihir karena dirinya adalah pria seharusnya menggerakan pedangnya, bukan dengan membaca buku yang usang seperti itu!"

    Sekali lagi kakak mencoba membuatku kesal, kini dia mengkritikku yang tidak pernah tertarik berlatih pedang, dan bahkan membahas isu sensitif tentang tidak bisanya pria dari klan ashide dalam menggunakan sihir, padahal sudah jelas bahwa dilarang untuk membahas hal tersebut

    "Buku ini adalah ilmu kakak, dan pengetahuan yang kudapatkan dari buku ini akan lebih tajam dari pedang, dan bahkan lebih menghancurkan dari sihirmu."

    "Heh, argumentasi kosong,"

    "Balthiq, adikmu benar.. Hanya dengan membaca buku, bangsa bar-bar seperti kita bisa diakui dan memasuki pemerintahan. Pria yang hanya mengayunkan pedangnya tanpa menggunakan otaknya hanya menjadi seorang tentara dengan pangkat biasa yang mati konyol dimedan perperangan. Kita klan Ashide tidak perlu pria bodoh seperti itu."

    Sebenarnya aku tidak sependapat dengan ibu, dia melihat ilmu yang kudapat hanya sebagai alat meraih pangkat. Tapi yah setidaknya dia mendukungku..

    "Lushan.. kau menangis?"

    "Eh?"

    Tiba-tiba air mata mengalir dari mataku, dan tiba-tiba muncul perasaan aneh dari dadaku. Aku merasa seperti sudah begitu lama tidak berbicara seperti ini dengan keluargaku.

    "Aku.. sepertinya kelilipan kak"

    "Heh, ternyata hatimu sensitif juga Lushan. Ayolah.. kakak cuman bosan karena gak ada bahan pembicaraan.."

    "Cara meminta maafmu buruk sekali!"

    Ketika itu segera kuusap air mataku. Entah mengapa saat itu perasaanku terasa seperti terombang-ambing setelah melihat mimpi tersebut.

    "Omong-omong.. Lushan, ibu ingin berbicara padamu.."

    Tiba-tiba ibu dengan muka khawatirnya memecahkan suasana yang tercipta dari kakak dan diriku. Wajahnya terlihat begitu serius sehingga make-up yang ia gunakan untuk pernikahan kini tidak bisa menutupi kerutan diwajahnya.

    "Ini soal tadi malam, aku ingin menjelaskan padamu tentang marga yang kita perdebatkan tadi malam.."

    "Aku akan pakai marga An ibu."

    "Eh!!"

    Ibu dan kakak memajang wajah kaget, dan yah.. tentu saja mereka kaget dengan perubahan hati yang begitu cepat ini.

    "Emm.. ketika kupikir-pikir.. mungkin memakai marga An akan memudahkan diriku dalam banyak hal. Lagipula ini salah satu tujuan ibu menikahinya bukan?"

    Ibu tersenyum dan mengelus kepalaku. Tidak pernah sekalipun aku melihat wajah ibu yang terlihat sangat senang seperti ini, dia lebih cenderung berwajah serius, sedih, dan menyeramkan. Ketika ibu sudah begitu depresi, dia akan menghirup pipa opium yang sudah tersedia didalam bajunya, dan hanya disaat itu terlihat ketenangan dalam wajahnya.

    "Ibu begitu senang kau mengerti Lushan.. Tapi perubahan suasana hati seperti bukan kamu saja.."

    Ketika itu aku juga merasa aneh dengan perubahan hati ini, seakan tidak ada lagi rasa marah dalam hatiku mengenai ibu yang menikahi laki-laki lain setelah meninggalnya ayah setahun yang lalu. Aku seakan sudah benar-benar mengerti perasaan ibu, padahal ketika kita berdebat tadi malam, kubantah semua alasannya dan hal itu sempat membuat kita tidak berbicara sepanjang perjalanan dikereta kuda ini.

    "Heh entah mengapa kakak merasa kau juga begitu berbeda Lushan.. hei, kau mimisan.."

    Tanpa sadar darah mengalir dari hidungku, dan kepalaku terasa begitu pusing.

    “Musuh! Segera ke formasi pertahanan!”

    Tiba-tiba dari luar terdengar suara teriakan panik dari para ksatria yang menjaga kereta kuda kita, dan gerakan kereta kuda menjadi cepat. Ketika itu darah dari mimisanku berceceran kemana-mana, dan ibu segera menjauhiku karena takut gaun pernikahannya ternodai darahku.

    "Hei Balthiq! Cepat kau tutupi mimisan adikmu itu!!"

    "Tunggu!! Kita.."

    Kepalaku begitu pusing seperti isi kepala ini ingin meledak. Kupegangi kepala ini yang rasanya begitu berat, dan kakak terlihat begitu panik melihat perilaku diriku dan segera menggunakan sapu tangannya untuk menahan darah dari hidungku.

    "Kakak kau dalam bahaya!"

    "Lushan kau kenapa sih!!"

    Ketika itu tiba-tiba aku merasa panik, seperti merasakan terror dalam ingatanku. Aku seperti.. melihat panah menembus kepala kakakku.

    Saat itu suara trompet terdengar dari mana-mana, dan aku mengetahui bahwa hal tersebut merupakan aba-aba untuk menyerang. Lalu seseorang penjaga mengetuk jendela kereta kuda kita, dan ibu segera membukanya.

    "Maaf nona Ashide, sebaiknya kalian.. Aghh!!"

    Tiba-tiba panah menembus kepala penjaga yang berbicara pada ibu, dan darah mengenai muka dan gaun dari ibu. Ketika itu mata dari penjaga tersebut terpental masuk kedalam kereta kuda. Seketika aku merasakan dejavu, dimana aku malah melihat kepala kakak yang berada diluar jendela tersebut.

    "Gaunku!!"

    "Kyaa!! Ibu!!"

    Kakak terlihat ketakutan dengan terbunuhnya seseorang didepannya dan juga mata penjaga yang kini berada didekatnya, namun ibu malah panik akan gaunnya yang terkotori darah.

    "Kalian semua! berpegangan pada sesuatu!!"

    Tiba-tiba aku berteriak demikian, dan memegang pegangan yang berada dekat ditempat dudukku seperti tahu bahwa akan terjadi sesuatu. Di jendela, banyak sekali bandit-bandit menggunakan kudanya menyerang penjaga, dan saat itu tiba-tiba kereta kuda berguncang seperti menginjak sesuatu.

    "Ibu kenapa kereta kudanya?"

    "Kesini nak! Oh dewa pelindung, berilah kami perlindunganmu, kami yang.."

    Ketika itu Balthiq segera ketempat ibu yang sedang membacakan mantranya, namun tiba-tiba disaat dirinya berjalan, terdengar suara ledakan yang begitu dahsyat dan karena sihir ibu yang mengelilingi kereta kuda ini membuat kita terlindungi dari dahsyatnya mesiu yang meledak melainkan terpental menuju keatas, dan saat itu Balthiq yang tengah berjalan kini terlihat melayang dan berputar sampai pada akhirnya kereta kuda terjatuh lagi ketanah, dan semuanya gelap seketika.

    ...

    Tidak ada suara dari ibu maupun kakak. Kereta kuda ambruk karena terbentur tanah dan kita terjebak didalamnya. Ibu dan kakak sepertinya tidak sadarkan diri, dan diluar sepertinya masih terdengar suara pertarungan.

    Saat itu rasa sakit dan pening dikepalaku menghilang, dan darah berhenti mengalir dari hidungku.

    Aku ingat semuanya.. apa yang akan terjadi setelah ini, semua terlihat jelas seperti aku sudah mengalaminya..

    Bukan, aku memang sudah mengalaminya. Ah, apa benar diriku kembali kemasa lalu? Ini kesempatan kedua yang mahluk tersebut maksudkan?

    Tapi tidak salah lagi..

    Tak lama setelah ini kakak akan menemui ajalnya.

    ***

    Aku begitu ingat momen-momen diriku dikereta kuda ini yang jelas sangat berbeda dengan apa yang tengah terjadi barusan. Aku dan ibuku saat itu melanjutkan pertikaian panas diantara kita tadi malam tentang marga yang kupakai dimana aku bersikeras memakai marga Kang milik ayahku dulu, dan ibu memaksaku untuk memakai marga An dari ayah baruku. Hal ini menjadikan alasan mengapa dia menyiapkan pipa opiumnya, perdebatannya dengan anaknya pasti sangat membuatnya depresi.

    "Ingat Lushan, dengan memakai marga mereka secara otomatis kau akan dianggap sebagai bangsawan! Aku menikahinya demi kesempatan ini, apalagi mengingat dia tidak memiliki anak laki-laki.. Masa depanmu dikeluarga ini begitu cerah Lushan!"

    "Peduli demi diriku? Lalu bagaimana dengan ayah? Bagaimana aku bisa menghormati almarhum ayah yang telah merawatku ketika kau pergi bertahun-tahun demi pekerjaanmu? Lihat istrinya kini, setahun ditinggal mati, lalu dia menikah lagi dengan seorang lelaki yang ditengahi alasan murahan seperti itu!"

    "Jaga omonganmu anak durhaka!"

    Ibu menamparku dengan begitu keras dengan mata yang dipenuhi air mata, karena itu juga make-upnya yang sudah berjam-jam dia persiapkan kini luntur membuat mukanya begitu mengerikan.

    Mengenai alasan kemarahanku, ibu karena sumpahnya sebagai klan Ashide diharuskan mengabdi pada kaisar Dinasti Tang semeninggal ibunya yang dulu juga mengurus perserikatan penyihir. Ketika itu dia meninggalkan keluarganya, dan tak pernah sekalipun pulang, bahkan beberapa tahun kemudian berhenti mengirim surat.

    Perginya ibuku membuat aku dan kakak begitu bergantung pada Ayahku, Kang Ushan, yang merupakan rakyat biasa yang mengajari dan merawat kami hingga dewasa, dan bahkan kematiannya berkaitan dengan betapa susah payahnya dia dalam merawat kami. Saat itu ibuku akhirnya pulang ketika ajal sudah begitu dekat menghampirinya.

    Ibu yang menjenguk saat itu dibentak oleh ayah walau dia sudah begitu lemah. Ibu terlihat begitu sedih ketika ayah tidak menerimanya masuk kedalam kamarnya lagi, dan saat ayah meninggal, kami begitu enggan untuk tinggal bersama ibu yang cuti dari tugasnya. Namun setelah setahun bersamanya, kami akhirnya mencoba mengerti dan bahkan kakak sudah mulai menyukainya karena ibu begitu rajin mengajarkan sihir kepadanya.

    Tentunya ketika mendengar dia ingin menikah lagi, semua itu menghancurkan segala hal yang ia ingin bangun kepada anak-anaknya.

    "Aku begitu mencintai ayahmu.. tapi kini semuanya sudah sangat berbeda, dunia bukan lagi soal impian-impian muda tersebut. Kau akan mengetahuinya Lushan, bahwa harapan muda seperti cinta, dan semacamnya akan sirna didepan matamu.."

    Ketika itu aku tidak menghiraukan pembicaraannya, dan fokus membaca bukuku. Dia menatapku sedih, dan segera ia keluarkan pipa opiumnya walau dia tahu menghirup opium merupakan hal terlarang sebelum upacara pernikahan.

    ...

    Setelah perdebatan itu, suasana di kereta kuda ini menjadi bagitu sunyi. Aku hanyut dalam bukuku, dan ibu hanya terdiam sambil menghirup opiumnya. Kakak saat itu terlihat bosan, dan segera ia buka jendela kereta kuda dan menatap keluar, ketika itu ia berpikir tentang apa yang mau ia omongkan dari suasana tanah Tujue yang kini sedang kita lewati.

    "Ibu, bukankah lucu ketika kita memakai kereta kuda yang begitu mewah dengan penjagaan ksatria-kstaria yang memiliki kuda-kuda yang gagah, namun orang-orang ditanah ini begitu miskin dan kumuh.. Seperti permata diantara kotoran-kotoran."

    Saat itu perkataan kakak memang ironis, tapi saat itu memang wajar jika hal ini terjadi. Kesenjangan antara si miskin dan si kaya begitu terlihat, terutama masyarakat dengan para bangsawan. Mereka masyarakat selalu tidak diuntungkan, apalagi ditempat ini dengan pajak yang tinggi, dan tanah yag tandus di Tujue ini membuat kesejahteraan mereka ambruk. Sudah ditelanjangi alam, mereka ditusuk oleh pemerintahan yang busuk.

    Kemudian kereta kuda memasuki pemukiman, dan kuda akhirnya melambat. Ketika itu banyak anak-anak yang mengejar kereta kuda sambil meminta-minta, yang tentunya diusir oleh penjaga kami.

    Orang-orang sekitar melihat kami dengan sinis, mereka pasti muak dengan perilaku bangsawan yang mendapatkan kemewahan diatas susah payahnya mereka dalam mencari makan. Mereka merasa telah dirampok oleh pemerintahan, namun dengan kata yang lebih lembut dari itu, yaitu 'pajak' yang kini mencekik mereka perlahan untuk mati kelelahan ataupun mati kelaparan.

    Tak sengaja kereta kami melindas mayat seseorang dijalan, dan tak ada satupun orang yang menganggapinya serius seakan hal tersebut merupakan hal yang biasa.

    "Disini bahkan lebih buruk dari tempat tinggal kita dulu Lushan.. Mayat yang bergelatakan karena gejala kelaparan, dan orang-orang yang tinggal disini seperti sudah terbiasa dengan bau busuk, sehingga mereka tidak sama sekali menguburkannya.."

    "Tidak Balthiq, itu adalah kepercayaan disini. Mereka menganggap bahwa dengan membiarkan mayat bergelatakan akan mendapatkan simpati tuhan yang mungkin melewati tanah ini."

    Ibu akhirnya membalas omongan kakak. Dia masih berbicara lancar walaupun kini tengah dipengaruhi opium.

    "Tapi mencari perhatian tuhan.. bukankah itu begitu ironis ibu? Seakan tanah ini tidak memiliki perhatian tuhan.."

    "Itu cara mereka untuk hidup, dan tanpa harapan akan adanya tuhan, mereka akan mati menggorok leher mereka sendiri. Mereka kini terjebak ditanah gersang ini, dicekik oleh pajak, dan banyak dari mereka yang mati karena penyakit dan rasa lapar. Disini.. bahkan matipun lebih baik dari hidup.. Tak ada cara lain selain menelan bulat-bulat omongan pemuka agama yang menjual harapan tersebut."

    Ketika itu muncul kegelisahan dimuka ibu. Tanah Tujue ini adalah tanah milik keluarga An yang akan dinikahi ibu, dan ibu pasti risau dengan kemiskinan serta ancaman dari tanah Tujue ini. Walau demikian, sebenarnya keluarga An sendiri tidak memiliki pilihan ketika kaisar secara asal menaruh keluarga bangsawan ditanah-tanahnya yang baru ia jajah, dan keluarga An tidak bisa menolak karena mereka tetap merasakan kemewahan ditanah manapun yang mereka tempati.

    "Ibu apa kau pikir.. bahwa tidak ada tuhan ditanah ini?"

    "Kakak! Tuhan itu maha melihat sesuatu, dia pasti memiliki alasan tersendiri mengapa tanah ini mendapati nasib demikian"

    Aku saat itu merupakan orang yang begitu mempercayai tuhan. Ayah sendiri yang sering mengajariku ajaran kebaikan, dan tuhanlah yang menciptakan ajaran-ajaran kebaikan tersebut. Ketika terdapat keraguan akan tuhan dari seseorang, entah mengapa kita yang begitu percaya akan keberadaan tuhan akan segera mencoba menjaga kepercayaan tersebut.

    "Mungkin lebih baik kita berpikir demikian Balthiq. Disini.. ugh.. moral sudah begitu jatuh, pembunuhan, perampokan, dan bahkan pemerkosaan. Walau mereka masih terkekang oleh agama, sudah separah itulah tanah ini.."

    Omongan ibu mulai terlihat tidak jelas, dia seakan mendukung argumentasiku, tapi kemudian berbicara tentang moral yang cenderung mendukung pemikiran kakakku. Saat itu efek opium sepertinya sudah mulai mempengaruhi cara berpikir maupun bicaranya.

    ...

    Akhirnya kereta keluar dari pemukiman, dan kakak sudah sepertinya sudah tidak mendapatkan bahan omongannya setelah keluar dari pemukiman tersebut. Kita kembali terjebak dalam suasana bisu yang aneh.

    "Sepi sekali.. padahal sebentar lagi diriku akan jarang bertemu kalian lagi.."

    Kakak saat itu berusaha menjaga hubungan baik antar keluarga ini karena dia akan segera memasuki akademi sihir di ibukota Luoyang. Ibu sempat menjelaskan bahwa akademi sihir merupakan tempat yang memiliki aturan yang ketat dan kakak akan susah bertemu diriku maupun ibu karena peraturan yang tidak membolehkan mereka yang belajar untuk pulang kecuali jika kakak sudah menaiki tingkatan yang baru. Itupun menurut ibu perlu bertahun-tahun untuk satu tingkatannya.

    Kakak merenung sedih, dia kini mendekatiku dan memebisikkanku sesuatu.

    "Ini semua salahmu Lushan! Kau pikir bangsawan sinting mana yang mau menikahi bangsa bar-bar seperti kita. Kita mendapatkan gelar dan marga bangsawan seperti ini merupakan anugrah.. Dibandingkan hidup bersama ayah.. aku tak mau lagi hidup seperti itu.."

    Walau demikian dia memiliki kebiasan buruk dalam memakai kata-kata tanpa memikirkannya terlebih dahulu suasana maupun situasi, dan seringkali aku bertengkar karenanya.

    "Aku akan memukulmu walau kau perempuan dan kakakku sendiri.."

    "Ugh.. baik aku diam! Dasar adik keras kepala!!"

    Kakak memang terlihat menyebalkan, tapi diantara marahku terkadang muncul sebuah senyuman.

    Sudah 17 umurnya, kecantikannya sudah mulai muncul dengan mata birunya yang menawan, dan umur yang cukup untuk menikahi seseorang. Sayangnya dia masih memiliki perilaku kekakanak-kanakan..

    Walau begitu dialah yang menjaga ayah dikala sakit, dan menemani juga menghidupi diriku yang saat itu terlalu lemah untuk pekerjaan laki-laki dilingkunganku yang kebanyakan merupakan pekerjaan kuli. Diantara sifat kekanak-kanakannya, aku bisa melihat rasa optimis hidup, semangat, dan kasih sayang terhadapku maupun pada ibuku yang dulu meninggalkannya bertahun-tahun.

    Tapi tetap, semua kebaikan dari kakakku tertutupi oleh sifat buruknya ini.

    "Eh bukankah kereta kuda ini berjalan begitu cepat?"

    Ketika itu kakak mulai memegang pegangan didekat kursinya. Terdengar suara panik diluar..

    Ya, tepat seperti tadi, pemandangan kepala yang tertembus panah, suara trompet dari atas bukit, kereta yang terpental, dan pertarungan diluar dengan kereta kuda yang kini menimpa kami, kemudian membuat kami terjebak didalamnya, semuanya sama dengan apa yang terjadi barusan..

    ...

    Tepat ketika suara sudah mulai sunyi dan tidak terdengar suara langkah maupun orang-orang yang berbicara, tiba-tiba ada yang memegang pundakku yang sedang ketakutan akan nasib yg akan menimpa kami jika saja para ksatria kalah melawan serangan tiba-tiba tadi.

    "Lushan, kau tidak apa-apa?"

    Kakak saat itu sudah sadarkan diri, dan segera ia ambil korek dari gaun ibu yang kini masih tidak sadarkan diri untuk menyinari diantara kegelapan ini.

    "Kakak.."

    "Kau terluka lushan!"

    Kakak panik dan segera memotong gaunnya, dan mengikatnya dikepalaku. Darah masih mengalir dari kepalaku, dan kakak sepertinya semakin khawatir dengan keadaanku saat itu.

    "Apa mereka sudah selesai bertarung? kenapa tidak ada suara dari mereka? Ah.. yang penting kita keluar dari sini dulu Lushan!"

    Kakak segera memusatkan sihir ditangannya dan membuat lubang untuk jalan keluar. Segera cahaya keluar, dan terdapat beberapa kaki didepan kita. Kakak langsung merangkak keluar termakan harapan bahwa kaki itu milik para penjaga, namun tiba-tiba sebuah tangan menariknya.

    "Lushan!!"

    "Kakak!"

    "Hei masih ada seseorang didalam!"

    Ketika itu sebuah tangan yang panjang memasuki lubang tersebut, dan memegang kakiku kemudian menyeretku keluar.

    "Jangan sampai kau apa-apakan adikku dasar kalian ********!"

    "Hei-hei, galak juga gadis yang baru mekar ini!"

    Ketika itu begitu banyak bandit yang mengepung kereta kuda, dan terdapat anak muda diantara mereka yang mungkin masih berumur berkisar 8 sampai 13 tahun. Kini sebagian dari mereka sedang menyeret mayat-mayat penjaga, dan juga berusaha membongkar lubang yang kami buat.

    "Kau pegangi anak itu! Sekarang Suo Yan sini, kau belum pernah merasakan tubuh wanita bukan?"

    Anak kecil tersebut keluar dari keremunan anak-anak muda lainnya, mungkin dia yang paling muda diantara mereka. Mukanya begitu polos, dan rasanya tidak mungkin anak kecil seperti ini menjadi pelaku kejahatan.

    "Kau mau apakan kakakku bandit brengsek!"

    "Hei, hei.. Kita disuruh untuk menghancurkan kereta kuda yang akan lewat kejalan ini, dan mengetahui kalian selamat dari ranjau tersebut tidak boleh menjadi kesempatan yang sia-sia, apalagi isinya hanyalah bocah dan gadis cantik ini.."

    Dia mulai meraba kakakku, dan saat itu muka kakak memerah.

    "Jika kau teruskan, aku berjanji nyawamu akan melayang.."

    "Heh, maksudmu seperti ini?"

    Dia kini memasukan tangannya ke gaun kakakku, dan kini kakakku benar-benar marah.

    "Oh..dewa.."

    "Eh?!"

    Kakak membisikan mantra, dan tiba-tiba suara petir bergerumuh diatasnya. Laki-laki tersebut yang mengetahui indentitas asli kakakku yang merupakan seorang penyihir, dia segera menjauhi kakakku dan mengambil pedangnya yang tertancap disalah satu badan penjaga.

    "Pemanah cepat serang wanita tersebut selagi dia belum selesai mengucapkan mantranya!"

    "Kakak!!"

    Ketika panah menyerang kakak, sebuah petir menyambar panah tersebut hingga hilang menjadi abu. Ketika itu kakak memakai mantra yang membuat dewa petir menjaganya, dan membuatnya dalam kendali kakak.

    "Dewa.. mereka yang telah mengotoriku dan mengancam nyawa saudaraku!! Berilah hukuman pada mereka semua!!"

    Ketika kakak menunjukan tangannya, seketika petir menyambar semua orang yang mengelilingi kakak. Bau daging terbakar seketika memenuhi udara, dan kakak kemudian terjatuh seperti kehilangan semua energinya.

    "Kakak.. kau tidak apa?"

    Aku segera mendekatinya, dan kakak berusaha memberdirikan kakinya yang sudah begitu lemas.

    "Aku tidak apa Lushan.. kau disana saja.. dan Hei kau bocah..!"

    "Eh! Ampun.."

    Tiba-tiba mataku tertuju pada bocah yang kakak tunjuk. Diantara mayat teman-temannya dia terduduk lemas dengan air seni yang membasahi celananya. Matanya dipenuhi oleh air mata ketakutan.

    "Cepat pergi dari sini, dan jangan berani lagi kau melakukan hal tidak terpuji seperti ini! atau aku.. akan membunuhmu seperti teman-temanmu ini.."

    "Hii!!"

    Dia kemudian berlari menjauhi mayat-mayat temannya. Ketika itu kakak tersenyum melihat anak tersebut, seakan rasa ampunnya memperlihatkan secercah harapan bahwa anak tersebut tidak jatuh kedalam jurang yang sama.

    "Lushan cepat kau ambil kembang api di mayat para penjaga, dan tembakan keudara, tentara keluarga An akan segera kesini melihat kembang api tersebut.."

    Kakak melemparkan korek ibu kepadaku dan kemudian terduduk lemas sambil menghela nafas. Saat itu aku melihat mata kakak yang seakan berubah 180 derajat. Dia terlihat begitu dewasa dengan tatapan dinginnya melihat begitu banyak nyawa yang ia ambil.

    "Kakak, bagaimana rasanya membunuh seseorang ?"

    Aku bertanya sambil mengecek mayat penjaga yang tertumpuk. Ketika itu kakak seperti begitu lama berpikir untuk menjawab pertanyaanku tersebut.

    "Aku tidak merasakan apa-apa Lushan.. Kita semua pasti mati, cepat atau lambat. Mengingat kematian adalah proses yang pasti akan berlangsung.. ditambah lagi demi hidupku, hidupmu, dan juga hidup ibu. Ketika berpikir demikian, aku tidak ragu untuk membunuh mereka."

    Ketika itu kakak mengucapkan pembenarannya dengan nada yang dipenuhi dengan keraguan, dan aku bisa melihat air mata mengalir dari matanya.

    "Lalu kenapa kau menangis kakak?"

    "Eh?"

    Kakak segera mengelap tangisnya, namun tiba-tiba sesuatu menembus dadanya.

    "Lushan.."

    Seketika mulutnya terucapkan namaku sambil darah mengalir dari bibirnya, beberapa anak panah menusuk lagi badannya dengan cepat, diakhiri dengan menembusnya panah menuju kepalanya. Seketika kakak terjatuh ketanah, dan aku sama sekali tidak sadar apa yang terjadi saat itu, seakan apa yang baru saja kulihat adalah khayalanku.. Tapi yang berada dihadapanku saat itu benar-benar kakak, dan panah sudah menembus badannya.

    "Kakak..oh tidak.."

    Aku segera menuju kakak yang kini tergeletak ditanah. 3 panah menembus badannya, dan 1 panah menembus matanya. Ketika itu aku begitu ketakutan melihat jasad kakak, namun aku masih bisa merasakan hangatnya tubuh kakak sehingga seketika aku memeluk mayatnya.

    "Rasakan pembalasan kami penyihir sialan!"

    Aku menatap marah pada suara tersebut, yaitu anak kecil yang kakak lepaskan tadi. Kini dia membawa teman-temannya yang seumurannya dengan busur ditangan mereka.

    "Kenapa kau melakukan ini! Kakak.. dia sudah membiarkanmu hidup bukan?"

    "Karena kebodohan kakakmu lah yang membawakan kematian pada dirinya. Dia begitu meremehkan umurku sehingga dia tidak sadar bahwa aku bisa merebut nyawanya!"

    "Bodoh!! Dia membiarkanmu.. karena kau.."

    Marah dan sedih bercampur dibatinku. Ketika kakak dengan sifat belas kasihnya membebaskan seorang anak kecil yang ia kira sebagai korban dari kehancuran moral ditempat ini, kematiannya malah timbul dari seseorang yang ia beri belas kasih.

    "Balthiq!!"

    Ketika itu ibu berteriak dari kejauhan, dia sudah sadarkan diri dan sepertinya dia mendengar teriakanku sehingga menyadari apa yang terjadi pada kakak.

    "Oh Balthiq.. Tuhan.. kini kau ambil lagi sesuatu dariku..*hiks* Siapa yang membunuh anakku!!"

    Anak-anak tersebut terkagetkan dengan suara ibuku yang begitu keras seperti suara halilintar yang mampu mentulikan telinga jika saja mereka berada didekatnya.

    Ibu begitu marah hingga terlihat aura pembunuh disekitarnya, dan keluar api dari tangannya tanpa sekalipun mantra keluar dari mulutnya.

    "Panah penyihir tersebut!!"

    "Jadi kalian!!"

    "Hii!!..."

    Ketika itu mayat-mayat terbangun dan memegangi anak-anak tersebut hingga mereka tidak bisa bergerak.
    Kemudian ibu tiba-tiba berada didepan mereka, dan kemudian ibu memandangiku dengan tatapan yang begitu menyeramkan.

    "Lushan.. siapa yang kakakmu lepaskan dari kematian?"

    Aku menunjuk kepada anak kecil tersebut, dia berada ditengah-tengah komplotan anak-anak tersebut. Ketika itu ibu segera menaikan tangannya, dan anak-anak disekitar bocah yang kutunjuk tersebut semuanya mengeluarkan darah dari segala lubang ditubuhnya, kemudian mati dengan tubuh mereka yang menciut seperti tidak berisikan apapun didalamnya.

    "Hii!! kau monster!!"

    "Aku memberikan kematian yang cepat bagi mereka, tapi tidak dengan kau.."

    Ibu membuat tangannya yang diselimuti api menjadi seperti sebuah pedang. Kemudian dia memenggal kedua tangan anak tersebut dengan begitu cepat, dan ketika itu luka dari anak tersebut segera tertutupi oleh api dari pedang tersebut

    "Argghh!!! Ampun.."

    Anak tersebut terlihat begitu kesakitan, dan air mata mengalir begitu deras dari kedua matanya. Kini dia terduduk lemas, dan terlihat begitu shock melihat kedua tangannya sudah menghilang.

    "Aku minta maaf telah.. *hiks* membunuh *hiks* anakmu.. aku.."

    "Ya, tentu ini bukan salahmu. Ini salah tuhan, salah tanah terkutuk ini, salah pemerintahan yang sudah begitu busuk.. Tentu ini bukan salahmu nak.."

    Ibu segera menghilangkan sihirnya, dan ketika itu anak tersebut terlihat lega dengan sedikit senyum harapan keluar dari wajahnya.

    "Kau.. *hiks* akan melepaskanku? Aghh!!!"

    Segera tangan ibu menembus kedua matanya, dan anak tersebut berteriak begitu panjang. Aku menutup mataku karena tidak tega melihat penyiksaan ini, dan tidak percaya dengan apa yang ibu lakukan didepan mataku sendiri.

    "Dengan keadaanmu kini, hidup akan lebih menyakitkan daripada kematian. Kau tidak akan melihat keindahan bumi ini, dan hanya suara yang menggerogoti hatimu yang tersisa. Makanan adalah hasil suapan rasa kasihan, dan kau menjadi manusia tidak berguna. Kematian akan menjadi hal yang sangat memilukan bagimu ketika tidak ada lagi tangan yang menyuapimu ditanah yang miskin ini"

    "Tidak!! oh..tidak.."

    "Bahkan seseorang masih bisa mengalirkan air mata walau sudah direbut kedua matanya.."

    Ketika itu Ibu meninggalkan anak tersebut, dan mendekati kakak. Dia memeluk kakak tanpa peduli bahwa panah telah menghancurkan mukanya. Aku begitu ingat bahwa kakaklah yang pertama kali memaafkan apa yang telah dilakukan ibu, dan dia juga yang begitu dekat dengan ibu sehingga ibu rela meninggalkan pekerjaannya demi mengajari kakak ilmu sihir.

    "Suamiku.. kini anakku.. Jika benar ini adalah cara tuhan untuk menghukumku, maka akan kuhancurkan apa yang telah tuhan bangun didunia ini!"

    "Ibu.. apa kau sungguh-sungguh?"

    Ibu kemudian tersenyum padaku, dan ikut memelukku. Saat itu tentara keluarga An mulai berdatangan, namun ibu tetap memeluk diriku dan jasad kakakku yang kini sudah mulai mengundang perhatian lalat. Dia tidak ingin sekalipun melepaskan kedua anaknya ini.

    "Tidak lushan, ini bukan salah tuhan.. Ini karena realita bahwa harapan tidak pernah ada.. tidak pernah ada tuhan ditanah ini, didunia ini. Ini semua salahku semata, yang tidak bisa melindungi kalian dan menyerahkan semuanya pada harapan yang merupakan omong kosong.. Aku berjanji bahwa hal ini takkan terjadi lagi.."

    ...

    Ketika itu, momen ini menjadi momen perubahan terbesar dalam hidup kami. Aku menjadi semakin terobsesi oleh impianku, dan ibu.. dia berubah menjadi penyihir paling diagungkan dalam dinasti tang dengan sihir kekuasaan absolut yang mampu menciptakan masyarakat yang tidak mungkin melakukan tindak kejahatan, dan saat itu.. aku terpaksa membunuhnya..


    ***

    Kembali teringat semua momen-momen tersebut, dan kini suasana kembali sunyi, aku tidak bisa membiarkan kejadian yang sama terulang lagi.. tapi apa yang terjadi jika kuubah sejarah ini? Apakah aku akan mendapati kedudukan yang sama? Atau malah menghancurkan semua itu..

    "Lushan kau tidak apa-apa?"

    Dejavu kembali menghantuiku, kakak kini menepuk pundakku dan menyalakan api dari korek yang ia ambil dari gaun ibu yang kini tidak sadarkan diri. Semuanya persis seperti apa yang terjadi dulu.

    "Hei kepalamu.. Agh!"

    Aku segera memukul perut kakak dan membuatnya pingsan.. dan ah.. apa yang kulakukan..

    Saat itu secara refleks aku mencoba menyelamatkan kakak, tapi juga dengan mengacaukan sejarah, rasa paranoia kembali menghantuiku. Pencapaian yang kumiliki bukan sulit untuk meraihnya, dan momen ini merupakan momen yang begitu krusial dalam hidupku..
    “Mengapa aku mengacau? Bukankah jika tidak kujalani semuanya dengan cara yang sama akan membuat pencapaianku menjadi sia-sia? Apa kubunuh saja kakakku sekarang untuk menghindari resiko tersebut? Selagi ibu belum terbangun..”

    “Tunggu, apa yang terjadi pula jika kakak hidup kini? Pertama ibu takkan menjadi seorang yang gila akan ambisinya untuk menciptakan sihir ‘itu’, tapi.. Aku juga takkan memiliki sihirnya jika demikian, dan hal tersebut akan benar-benar menghambatku dalam mencapai apa yang telah kuraih.. atau mungkin..”

    Di kegelapan ini aku berbicara sendiri tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika aku mengacau. Namun..kupikir tidak ada gunanya berpikir terlalu panjang, karena bandit diluar pasti akan segera mengetahui bahwa ada seseorang yang masih hidup di kereta kuda ini.

    Aku segera menendang kayu rapuh didepanku dan keluar dengan perlahan. Berbeda dengan sihir yang digunakan kakakku dulu, kini apa yang kulakukan tidak mengundang perhatian mereka yang sedang sibuk menumpuk mayat.

    Ketika berjalan perlahan untuk mencari peluang mengitari kereta kuda yang ambruk ini, tiba-tiba secara tidak sengaja aku menginjak ranting dan dedaunan kering dibawah kakiku.

    "Hei apa kau mendengar suara?"

    Ketika salah satu dari mereka sepertinya tersadar, aku segera mengambil pedang dari mayat penjaga yang masih bergeletakan disebelahku dan menusuk mereka dari belakang.

    "Hei musuh!!"

    Aku melepaskan mayat didepanku, dan segera membunuh seseorang yang akan segera membunyikan terompet.

    "Heh bocah!"

    Tiba-tiba terdapat serangan dari samping, dan hal tersebut membuatku tidak sempat memberhentikan orang yang memegang trompet yang akhirnya membuat orang-orang yang sedang menumpuk mayat berkumpul mengelilingiku, dan para pemanah dipepohonan dan bukit kini mengarah padaku.

    "Hei tunggu.. Aku sendirian dan kalian begitu banyak. Kenapa kalian tidak menghadapiku satu-satu?"

    Ketika itu sebenarnya aku sedikit percaya diri dengan kemampuan pedangku yang sudah terasah dari ratusan perang yang pernah kulalui dikehidupanku sebelumnya, namun dengan tubuh yang tidak terlatih ini, aku tidak percaya bahwa aku bisa mengalahkan mereka semua.

    "Baiklah bocah.. dari yang muda dulu bukan..?"

    Ketika itu lima bocah seumuranku mulai mengelilingiku, dan bandit tersebut agaknya tidak setuju dengan konsep satu-satu, tapi tentunya ini memudahkan diriku dibandingkan semua bandit berbadan besar mengeroyokiku dengan pedang mereka.

    "Hyaa!! aghh.."

    Satu dari mereka menyerangku, namun begitu lambat, pedangku sudah sampai duluan ke leher anak tersebut.

    "Shi lao!! Brengsek!!"

    Matinya anak yang bernama Shi Lao ini membuat suasana semakin panas, dan kini mereka berempat bermaksud untuk segera mengakhiri pertarungan ini dengan bersama-sama menyerangku.

    "Mati kau sialan!! Ekgh!"

    Segera aku menghindar membuat mereka malah menebas teman mereka sendiri, membuat kini hanya tersisa dua orang.

    "Oh.. apa yang sudah kulakukan.."

    "Bodoh, kita masih bertarung!"

    Sudah tidak tertarik dengan pertarungan ini, aku segera menusuk salah satu dari mereka yang masih terlihat shock akan kecerobohan yang baru saja ia lakukan, dan kemudian melemparkan pedangku ke anak yang merasa panik dengan betapa cepatnya teman-temannya berguguran. Kemudian aku mengambil pedang yang tertancap dibadannya.

    "Hahaha, menarik!"

    Ketika itu seseorang paling besar diantara bandit menepuk tangannya. Aku ingat benar siapa pria ini, seorang yang memegang kendali penyerangan kereta kuda, dan dulu yang memancing kemarahan kakak.

    "Hebat benar kau bocah, membunuh anak-anak muda bodoh seumuranmu dengan begitu cepat.. Kini sebagai hadiah, kau akan menghadapiku Sao Lung! Orang terkuat di tanah Tujue ini.."

    Dia memasuki tempat pertarungan, dan dengan pedangnya yang besar, ia langsung menebaskan pedangnya padaku. Mengetahui tidak mungkin aku bisa menahannya, aku segera meloncat menghindari serangannya tersebut.

    "Kau ketakutan pada kekuatan pedangku bukan? Sebuah kehormatan bagimu untuk bisa mati dengan kekuatan seperti ini!"

    "Heh.. dan suatu penghinaan bagimu yang akan terbunuh oleh bocah yang hanya menggunakan pedang mainan dibandingkan dengan pedangmu"

    "Kurang ajar!!"

    Dengan memancing kemarahannya, dia segera mengeluarkan segala kemampuannya, dan ketika itu gerakannya mulai terbaca. Dia terlihat tidak memiliki ilmu pedang, dan semuanya murni dari pengalamannya bertarung dimedan pertempuran yang memeperlihatkan jenis pertarungan yang simple namun efektif untuk membunuh lawan. Ketika dia menyerang, pedangnya yang besar akan tertancap ditanah dan butuh kekuatan yang besar untuk mengeluarkannya. Ketika kudekati, dia sudah tau cara menutupi celah ini dengan pedang panjang ia keluarkan dari punggungnya dengan tangan kiri yang dia ayunkan menyamping secara cepat, yang ketika ku menjauh, dia sudah menyarungkan kembali pedangnya dan secara cepat dia keluarkan pedangnya dari tanah.

    "Kau takkan bisa menyerangku bocah!!"

    Mencoba memahami trik tersebut, aku mengambil salah satu pedang yang tergeletak ditanah dari anak-anak muda yang kubunuh tersebut. Tidak kuat, tapi cukup untuk menahan salah satu serangan raksasa tersebut.

    "Aku tidak bodoh untuk bisa kalah dengan trik bodohmu itu"

    Kembali ia terpancing, dan semakin kekuatannya bertambah dalam mengayunkan pedang yang kini menghancurkan tanah yang percikan tanahnya membuat pipiku terluka. Ketika pedang tersebut kembali tertancap, dia kemudian kembali menarik pedang panjangnya untuk menjaga jarak, tapi sekaranglah kesempatan untuk menyerang!

    "Ehh!!"

    Serangan yang memakai tangan kirinya saja merupakan serangan yang ringan, dan dengan diriku yang sudah terbiasa dengan kecepatan dan jarak serangan pedang panjangnya membuatku mampu menahan dan menyeret pedangku mendekati badannya. Kemudian kunaiki pedang besar tersebut yang masih belum bisa dilepaskan karena serangannya yang tersulut emosi dan membuat pedangnya tertancap terlalu kuat dibandingkan tebasan biasanya.

    "Brengsek!! Kau tidak boleh meremehkan kekuatanku!!"

    Dia segera melepaskan pedang ditangan kirinya, dan dengan tangan kanannya sendiri akhirnya mampu melepaskan pedang tersebut. Aku yang berada diatasnya terpental, tapi dengan pasti pedangku mengarah tepat ke lehernya.

    "Aghh..."

    "Ketua!!!"

    Darah keluar dengan begitu indah dari leher raksasa tersebut. Seketika itu, orang-orang terlihat takjub sekaligus marah dengan hal ini. Aku begitu yakin kini pemanah sudah siap untuk melepaskan panahnya.

    "Pemanah!! Serang bocah tersebut!!"

    Aku berencana untuk segera berlindung ditubuh raksasa tersebut, tapi kakiku.. rasa sakit benar-benar membuat kakiku tidak bisa digerakan, sepertinya aku mendarat ketanah dengan letak kaki yang salah..

    Ah.. sudah diberi kesempatan kedua, kini aku mengacau..

    Aku hanya bisa menutup mataku, tapi tak satupun panah mengenai badanku..

    "Dia bisa menggunakan sihir!"

    Ketika itu panah-panah tertahan dilangit-langit. Aku begitu terkagetkan oleh fakta bahwa sihir masih berlaku dibadanku walau disaat ini.. aku belum memakan daging ibuku..

    "Matilah kalian semua! Sampah yang hanya bisa menyusahkan mereka yang lemah demi sebuah harta, makanan, dan kesenangan yang semu!"

    Segera kuarahkan panah-panah tersebut kembali ke orang yang melepaskannya, lalu dengan segera kupakai sihir terlarang pada orang-orang yang tersisa didepanku dengan membuat darah mereka keluar dari tubuh mereka seperti apa yang dilakukan ibuku dulu.

    "Ahh..Ahh!! Oh tuhan vaskala lindungilah hambamu ini.. *hiks*"

    Ketika itu rasa nostalgia menghantui dadaku, suara bocah itu.. ah..

    "Kau.."

    "Ampun.. Aku..*hiks* dipaksa oleh mereka.."

    Bocah tersebut yang dulu membunuh kakakku. Kembali keberuntungan membuatnya tersisa hidup diantara mayat-mayat temannya yang terbunuh oleh sihir.

    "Siapa namamu bocah?"

    "Suo Yan.."

    "Vaskala adalah tuhanmu disini?"

    Dia menganggukinya. Walau berbuat kemungkaran, ternyata mereka masih memiliki agama. Apakah mereka hanya ingat tuhan mereka didalam keadaan putus asa seperti ini?

    "Coba kau jelaskan tentang tuhanmu itu.. Aku berjanji akan melepaskanmu dari sini jika kau memuaskanku."

    "Ehh.. Vaskala.. *hiks* Dia tuhan kebaikan yang berbelas kasih pada kita.. maha mengampuni orang yang bertaubat, dan memberikan mereka kesempatan untuk *hiks* untuk hidup dijalan yang benar"

    "Heh.. Jika Vaskala benar-benar ada dan aku memberikanmu kesempatan.. Apakah kau akan berlari menuju temanmu, dan menyuruh mereka memanahku dari belakang?"

    "Maksudmu..?"

    Aku berkata demikian mengingat kejadian kakakku. Melihat kedua kalinya anak ini selamat, mungkin tuhan memang memberkahi anak ini, dan memberikannya kesempatan untuk hidup dijalan pertaubatan. Sayangnya, pada momen ini sepertinya tuhan terpaksa memberikan nasib anak ini padaku, dan aku.. tidak begitu setuju dengan pendapat tuhan mengenai diberkahinya anak ini.

    "Begitu baik tuhanmu Suo Yan, tapi begitu busuk umatnya. Ditanah seperti ini, moral dan agama tidak akan berjalan dengan semestinya, esensi ketuhanan terkotori karenanya. Tapi aku ini percaya dengan tuhan, dan aku juga percaya tuhan pasti memaafkanmu."

    "Jadi kau akan melepaskanku?"

    Aku tersenyum melihat bocah tersebut.

    "Ya"

    Segera kutebaskan pedangku kelehernya. Aku memberikannya kematian yang cepat karena tidak sekalipun ada dendam dihatiku padanya, dan karenanya aku memberikan kematian yang lebih baik dari hidup.

    "Semoga..ah, tuhan Vaskala memberikanmu jalan menuju surga.. Suo Yan"

    Ketika itu aku berdoa, atas korban busuknya dunia ini yang sengaja tuhan biarkan. Tuhan bekerja secara misterius, dan bukan hak kita untuk mempertanyakannya. Jika kubiarkan dia lepas, dia akan berbuat dosa lagi, dan kuanggap apa yang kulakukan tadi merupakan perbuatan terpuji walau tentu itu hanya pembenaranku atas dosa yang telah kulakukan.

    “...”

    Melihat bocah yang mati ini kembali membuatku merenungkan pemikiranku. Sudah lama kusadari bahwa mereka sebenarnya bukan benar-benar pendosa jika saja konsep ajaran tuhan benar-benar kita telaah.

    Seorang bayi yang baru dilahirkan merupakan semurni-murninya gelas kosong, dia baru terkotori sesuai air yang tersedia untuk mengisinya. Bandit-bandit maupun anak-anak tersebut merupakan korban dunia yang membusuk ini, dan ketika itu kita boleh saja menyalahkan tuhan.. Walau tentu aku menolak untuk menyalahkan tuhan, dan aku yang mengetahui itu sudah lama mengabaikan adanya tuhan yang memegang kendali atas takdir dunia ini.

    "Walau tuhan benar-benar ada, tuhan telah mati didalam diriku"

    Kembali aku mengingat mimpiku, ketika dia mengatakan matanya yang telah membusuk dan tuhan telah mati ketika harapan-harapannya yang sudah menghilang. Saat ini aku mulai mengerti pandangannya, dan karenanya aku akan terus menanggung beban ini sendirian tanpa menyalahkan siapapun lagi..

    ...

    "Lushan.."

    Tiba-tiba kakak berada diluar seakan sudah melihat segala hal yang sudah kulakukan.

    "Kau.. memakai pedang dan kau bisa menggunakan sihir?"

    Ketika itu terror kembali menghantui pikiranku. Aku ingat betul bahwa rahasia menggunakan sihir ini tidak boleh sampai bocor, dan aku tidak bisa mentolerir siapapun itu.

    "Kau membunuh orang.. dan bahkan kau membunuh anak kecil tidak bersalah seperti itu"

    Ah, aku sudah hidup selama 60 tahun. Ya, tidak akan meninggalkan apa-apa jika kubunuh kakakku sekarang.. Ingatan indah bersamanya hanya fragmen kecil dalam hidupku, dan dengan membunuhnya membuat masa depanku aman.. Sepertinya aku tidak bisa menang dengan sifat paranoid ini..

    Maafkan aku kakak.. aku tak bisa mengorbankan impianku demi hidupnya dirimu..

    "Lushan!! Apa-apaan dengan pandangan membunuhmu itu!!"

    Ketika itu ibu berteriak, dia berdiri dengan mukanya yang marah melihatku yang bahkan belum melakukan apa-apa.

    "Siapa kau! Kenapa kau rasuki anakku!!"

    "Ibu aku anakmu.."

    "Lushan tidak mempunyai pandangan membunuh seperti itu.. Lushan tidak membunuh orang dengan keji seperti ini!! Dia anakku yang baik hati dan lembut, kembalikan dia dasar kau iblis!"

    Ketika itu aku kebingungan dengan perkembangan peristiwa yang terjadi. Pasukan prajurit An kembali datang dengan terlambat persis seperti kejadian lalu, dan.. uh.. Kepalaku begitu pusing.

    "Lushan.. kau mimisan.."

    Ketika itu darah kembali mengalir dari hidungku, dan kesadaranku memudar..

    Mungkin tubuh kecil ini memang tidak bisa menggunakan sihir tingkat tinggi seperti tadi, dan seketika seluruh energiku hilang.

    Kakak hidup, sejarah terkacaukan, mereka tahu sihirku..

    Tapi entah mengapa perasaan senang muncul diantara ketakutan diriku. Kini aku tak bisa menerka nasib apa yang akan terjadi setelah ini..

    *To be continued*
     
    Last edited: Sep 7, 2015
  5. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Chapter 2 : Roxanne (part 1)

    [​IMG]

    Di kegelapan ini, pikiranku melayang di antara ruangan yang hampa.

    Aku masih tidak sadarkan diri, dan sekarang kesadaran lainku terus berpikir akan pesimisme dan sifat paranoidku atas masa depan. Kini aku mengkacaukan salah satu proses penting dalam hidupku yang nantinya pasti akan berdampak pada masa kejayaanku. Aku begitu takut akan perbuatanku, tapi entah mengapa hati ini malah tidak sesuai dengan pikiran paranoidku, dia begitu senang seakan diriku telah melakukan hal yang benar ataupun kesempatan kedua ini memiliki harapan yang besar hingga aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

    Apakah aku senang ketika kakakku selamat? Aku kembali mengingat masa lalu dimana aku dihantui oleh kenangan kakak, dan juga dihantui oleh terror, dimana kematian kakak berulang kali terjadi di dalam mimpiku. Ketika itu, perasaan sedih dan terror nyatanya mulai menghilang seiring waktu dan bahkan sirna ketika banyak kematian yang kemudian melewati masa hidupku.

    Lalu apa yang membuatku benar-benar senang atas kesempatan kedua ini?

    Ah, tentu saja! Dia yang merupakan satu-satunya harapanku kini, kenapa aku bisa seketika melupakannya? Apa karena ingatanku masih kabur akan masa depan?

    Roxanna masih hidup pada masa kini.

    Senyumnya, rasa hangatnya, suaranya, dan tatapannya yang begitu memukau, aku bisa merasakannya kembali.

    Begitu juga sedih dan putus asa yang mungkin membuatku lupa padanya karena 'dia' yang menusukku dari belakang, anakku sendiri yang merupakan pengganti harapan ibunya. Tapi kini bahkan anakku sendiri belum lahir, dan Roxanna masih hidup dan muda.

    Ya, cukup dengan ini aku bisa merasakan optimisme yang kembali membakar semangatku, kini impianku akan benar-benar terwujud dan aku tidak sabar untuk keluar dari kegelapan ini..

    ...

    Namun sebelumnya, aku kembali mencoba mengingat pertemuanku dengan Roxanna, lumayan lama dari tahun ini dimana aku kembali sampai aku bisa bertemu dengannya. Saat itu pertemuan kita mungkin merupakan hal yang paling tragis dalam hidup Roxanna, dan diriku yang dalam puncak kenaifanku, yaitu di hari-hari sebelum diriku membrontak.

    ***

    Jauh setelah hari dimana kakak meninggal, aku menjalani sebuah perjalanan hidup yang keras dalam mengejar impianku hingga sampai pada pertama kalinya seorang ras bar-bar bisa menjadi seorang tangan kanan Kaisar. Ketika itu diriku begitu muda untuk seseorang yang telah mendapatkan gelar jendral perperangan yang rata-rata dimiliki oleh orang yang sudah ditempa ratusan perang dalam hidupnya.

    Nyatanya memang benar kata ibu, bahwa ilmu pengetahuan sungguh berperan penting dalam berbagai hal yang bahkan mampu menandingi pengalaman seseorang yang telah mengalami ratusan perang, dan Kaisar mengakui kemampuanku dan bahkan impianku. Dia lalu memberikanku gelar juga pangkat sebagai tangan kanannya, dimana aku memiliki kuasa untuk menggerakan kerajaan dari balik layar.

    Namun beberapa lama kemudian, aku menyadari bahwa terdapat tembok besar yang menghalangiku, yaitu kelompok-kelompok politik seperti para mentri dan penasihat yang mampu memboneka-kan Kaisar. Bahkan segala hal yang kulakukan pada akhirnya akan sia-sia dengan keberadaan mereka.

    Mereka bagai parasit, ataupun tikus, tidak peduli tentang kejayaan kerajaan maupun masyarakat, dan hanya memikirkan diri mereka sendiri dalam jabatan, kekayaan, wanita, dan sebagainya. Asalkan masyarakat tidak melawan, itu sudah cukup bagi mereka untuk berfoya-foya! Hal-hal keputusan kaisar maupun diriku yang membuat kesenangan mereka berkurang akan dilawan dengan pendapat-pendapat yang irasional, dan pembenaran-pembenaran atas pendapat mereka tersebut. Hal-hal tersebut benar-benar membuat mereka lebih rendah dari binatang sekalipun.

    Kemudian aku mulai berpikir, dan pikiran ini mulai menghantuiku. Apakah dengan sistem negara yang sudah begitu korup ini masih terdapat solusi didalamnya? Kaisar sepertinya sudah memulai rencananya, tapi apa yang tak bisa tercium oleh mereka para mentri dan penasihat yang licik tersebut?

    Apa aku berkhianat saja? Melakukan pembrontakan dan membangun kerajaan ini dari awal? Aku memiliki pengaruh yang besar dan bisa membangun pasukan yang mampu melawan kerajaan dinasti tang ini.

    Saat itu kuurungkan niatku. Kaisar begitu baik padaku, dan aku tak ingin menghancurkan hatinya. Kenaifanku kembali mengkontrolku untuk terus berharap pada kerajaan ini, hingga akhirnya para mentri tersebut memperlihatkan taringnya.

    ...

    "Wahai Kaisar yang agung, hamba merasa bahwa keputusan paduka untuk meresmikan hubungan kaisar lewat pernikahan dengan keluarga dari suku bar-bar akan menurunkan derajat dengan mengkotori kemurnian darah kita sebagai keturunan para Mahadewa. Kita masih mensetujui tentang engkau yang menjadikan suku bar-bar sebagai tangan kanan karena pontensialnya, namun sebagai keluarga? Wahai kaisar pikirkan kembali"

    Salah satu penasihat mengkritik keputusan kaisar dengan duduk memohon sambil menundukan wajahnya.

    Ketika itu diriku duduk di sebelah kaisar, dan aku bisa melihat raut wajah Kaisar yang memerah marah. Aku segera mencoba mewakilkan kemarahan tersebut karena Kaisar yang tak kunjung berkata apa-apa.

    "Begitu tidak sopan engkau wahai penasihat Yan Fei, bagaimana mungkin kau berani mengkritik keputusan kaisar akan keluarganya yang sebenarnya ia lebih mengerti tentang urusan ini daripada kau sendiri!"

    "Ayah.."

    Tiba-tiba dalam keadaan yang memanas ini, anak dari kaisar berkata dengan muka memelas sambil menarik-narik jubah ayahnya.

    "Aku juga tidak setuju dengan keputusan ayah menikahi bangsa bar-bar itu walau kau sudah berhubungan dengannya sejak lama"

    "Diam kau anak bodoh"

    "Agh! Ayah.."

    Kaisar menampar satu-satunya anak dari dirinya, Jou Lun, yang selalu duduk di sampingnya untuk belajar mencontoh ayahnya dalam membuat keputusan.

    "Pertama maafkan tentang sifat lantang anakku, dia terlalu kumanjakan sehingga berani berbicara melawan kehendakku,"

    Dalam keadaan itu, aku melihat salah satu mentri, Sou Lun yang merupakan paman dari Kaisar tersenyum sinis melihat ditamparnya Jou Lun. Dia seperti melihat kesempatan pada momen ini, dan aku dapat menciumnya dengan jelas.

    "Yan Fei saudaraku, sesungguhnya aku melakukan ini untuk menyatukan bangsa bar-bar yang berpotensi mampu untuk menyerang kita menjadi satu kekuatan dengan kita. Ingatlah bahwa kemenangan sejati tidak dimenangkan dengan perang, namun dengan tindakan yang bijaksana dan damai seperti pernikahan ini. Lalu mengenai darah, sesungguhnya aku lebih tau tentang apa yang kulakukan persis seperti apa yang dikatakan An Lushan, dan sekali lagi kau ataupun kalian sampai menyinggung permasalahan ini, akan kuanggap sebagai bentuk pengkhianatan, walau itu merupakan saudaraku sendiri!"

    "Baik paduka, maafkan hambamu ini"

    Yan Fei segera menundukan kepalanya, namun ia tidak duduk kembali pada tempatnya melainkan pergi menuju keluar pintu. Ketika itu juga, Sou Han dan kelompok politiknya turut hormat dan keluar dari pintu kerajaan.

    Saat itu, mereka menunjukan kepasrahan mereka pada keputusan Kaisar, namun tidak menghormati keputusan tersebut. Sayangnya, kaisar seperti sudah terbiasa dengan etika buruk ini, dan membiarkan hal itu terjadi begitu saja.

    "Kaisar, mohon maaf untuk mengajak paduka berbicara dalam situasi yang tidak menyenangkan ini, namun hamba.."

    "Aku tahu, kau juga menciumnya bukan? Mereka merencanakan sesuatu."

    Ketika itu Kaisar memberikan kipasnya padaku, menandakan bahwa dia memberiku kuasa penuh atas pasukan elitenya.

    "Sepertinya kita sudah terlambat beberapa langkah dari mereka.. Aku hanya bisa berharap padamu Lushan."

    "Baik paduka."

    Ketika itu aku segera merasakan firasat buruk mendengar ucapan kaisar akan tertinggalnya kita dalam beberapa langkah seakan sebuah konspirasi besar sedang berjalan untuk menjatuhkan kita berdua. Tatapan kaisar begitu serius, dan aku tahu bahwa dia sudah menduga sesuatu, dan kini aku harus segera menghentikan pergerakan politik agresif ini, dan kalau bisa, membuat mereka yang berkomplot membrontak Kaisar untuk dihukum mati, dan membuat kerajaan ini bersih dari tikus-tikus licik tersebut.

    ***

    Dengan kekuasaan yang diberikan Kaisar, aku segera menyuruh seluruh pengintai untuk memata-matai kelompok politik dari Sou Lun.

    Saat itu aku sendirilah yang akan berbicara dengan Sou Lun secara langsung karena Sou Lun sebagai keluarga kaisar memiliki penjagaan yang sama elitnya dengan kaisar, membuat pertahanan dirinya tidak dapat ditembus kecuali aku bertemu dengannya langsung secara resmi di dalam kediamannya di komplek kerajaan.

    ...

    "Selamat datang An Lushan, bagaimana rasanya menjadi seorang yang menggerakan kerajaan ini dari belakang layar? Sudah berapa banyak nyawa yang kau hilangkan demi kenyamanan dalam tidur Kaisar yang resah akan nyawanya?"

    Sou Lun berkata demikian sambil tersenyum, seakan cara bicaranya yang begitu tajam menyindir merupakan lawakan yang biasa dia lakukan.

    "Perkataan yang sungguh tajam Sou Lun, aku tak menyangka kau bisa melawak dengan sindiran seperti itu"

    "Hei hei, kita sudah sering bicara bukan? Minum dulu tehmu"

    Sou Lun menyiramkan teh ke gelas di depanku. Ketika itu aku tentu mengira ada sesuatu di teh tersebut, namun tidak meminumnya juga merupakan hal yang melawan etika, hal ini membuatku terdiam didepan teh mencari alasan untuk tidak meminumnya.

    "Tidak ada racun di teh tersebut.. Aku tahu kau mengira sesuatu padaku sampai mau mengunjungiku malam ini. Begini saja, aku akan menceritakanmu sebagian dari rencana yang sebenarnya memang sedang terjadi."

    "Heh, jadi kau ingin mengajakku dalam konspirasimu?"

    "Benar sekali Lushan, aku tahu kau lebih baik dari ini."

    Ketika itu aku segera menengguk teh seakan aku tertarik dengan tawarannya.

    "Sudah percaya padaku? Baiklah, tentu kau tahu bahwa kami ingin menjatuhkan Kaisar dari kursi kekuasaannya. Kami tahu bahwa pernikahannya dengan suku bar-bar merupakan pergerakan politiknya untuk mendapat keturunan penyihir, dan bahkan dia sudah memilikinya. Kaisar berencana untuk memandulkan fungsi kementrian dengan menciptakan kekuatan absolutnya."

    "Roxanna, dan Sen bukan? Bukankah mereka masih kanak-kanak? Kupikir Sen sang adik masih berumur 13 tahun,"

    "Ya, sang kakak tidak memiliki jiwa yang kuat untuk memakai sihir sehingga dia tidak diperbolehkan memasuki akademi sihir, tetapi adiknya lah yang menjadi sumber bahaya wahai Lushan. Info kami mengatakan bahwa terdapat sihir yang begitu kuat yang hanya bisa muncul dari keturunan Kaisar yang memiliki darah dewa dengan campuran darah bar-bar yang mampu menggunakan sihir ini. Kekuatan absolut yang membuat langit mampu mengintai dan mengkontrol masyarakatnya, dan tentunya kami para mentri."

    "Mengerikan.."

    Saat itu aku begitu kaget dengan info ini, namun entah mengapa semuanya mulai masuk akal. Kaisar tidak pernah berbicara apapun soal rencananya, namun sebagai tangan kanannya aku mengetahui bahwa dia begitu tertarik pada penelitian akademi sihir, yaitu 3 sihir terlarang yang tidak bisa digunakan penyihir biasa, dan tak kusangka mereka telah menemukan salah satu kriteria untuk menggunakan sihir ini.

    Mungkin Kaisar telah putus asa tentang masa depan dinasti tang ini, namun tentu aku tidak setuju dengan Kaisar yang menggunakan kekuatan absolutnya, karena kekuasaan tersebut rentan sekali korup. Sihir yang Sou Lun katakan jika disalah gunakan bisa menciptakan dunia yang mengerikan, dunia dimana hak-hak asasi manusia tidak lagi berlaku, dan segalanya dipegang oleh pemerintahan, ataupun seorang kaisar sendirian.

    "Mengetahui ini, kau akan ikut dengan kami bukan?"

    "Tidak, aku akan berbicara dengan Kaisar perihal ini.. Dia pasti akan mendengarkanku!"

    "Sungguh naif.. Sepertinya memang sudah sifatmu Lushan. Baiklah jika demikian, kami tidak akan memaksamu. Tapi kupikir semuanya sudah terlambat wahai Lushan. Bagaimana jika kau minum teh bersama kami, dan menunggu kabar beberapa jam lagi di tempat ini."

    Sou Lun terseyum kemudian meminum tehnya. Ketika itu aku menyadari bahwa rencananya sudah dimulai malam ini, dan kita begitu telat untuk menyadarinya.

    "Apa yang kau rencanakan Sou Lun.."

    Tiba-tiba salah satu pendampingku yang merupakan penyihir mendapati telepati, dan membisikannya padaku.

    "Paduka, terdapat telepati yang mendapatkan info bahwa mereka merencanakan penyerangan di tempat keluarga kaisar yang baru, dan bahkan malam ini rencana tersebut akan segera dieksekusi. Kami menunggu intruksimu"

    "Jadi sudah ketahuan? Apa kau bisa menghentikannya Lushan?"

    "Kenapa menyerang keluarga kerajaan? Bukankah segala tuduhan akan mengarah padamu juga kelompok politikmu?"

    Sou Lun hanya tersenyum dan kembali menyeduh tehnya.

    Mengetahui bahwa diriku tidak akan mendapatkan jawaban, segera aku berlari keluar menuju kudaku dan menyuruh pendampingku untuk mengintruksi pasukan elit untuk melakukan tindakan penyelamatan.

    Ketika itu aku menyadari bahwa terdapat kabut yang membuyarkan apa yang kini tengah terjadi, dan bahkan diriku sendiri tidak menyadarinya, Kaisar yang berencana untuk menggunakan kekuatan sihir sebagai mesin penggerak kekuasaan, dan para mentri yang melakukan konspirasi perebutan kekuasaan yang masih misterius hingga kini.

    ***

    Keluarga Kaisar yang baru diletakkan jauh dari komplek kerajaan karena mereka yang bukan berdarah resmi kekaisaran. Walau demikian kita hanya butuh beberapa menit untuk sampai pada lokasi tersebut, dan perbedaan menit tersebut begitu besar akibatnya, dimana pembantaian telah terjadi ketika kita memasuki kediaman keluarga kaisar, dan saat itu pasukan pembunuh bayaran sedang mencari sesuatu di tempat ini.

    "Bunuh mereka, namun sisakan satu. Kita harus tahu sebenarnya apa yang mereka cari, lalu siapa yang menyuruh mereka"

    Ketika itu mereka yang mengetahui keberadaan kita segera melarikan diri, namun penyihir dari pasukan elit sudah menyegel tempat ini. Lalu dengan mudahnya kita membunuh mereka seakan mereka bukanlah pasukan pembunuh elit, dan kini membuatku berpikir bagaimana caranya mereka bisa menembus penjagaan ketat di kediaman ini yang sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan tempat tinggal kaisar?

    "Kaisar, kita telah mendapatkan satu saksi. Saya sudah menyegel nya agar tidak menggigit lidahnya sendiri"

    "Buka topengnya!"

    "Jendral Lushan!!"

    Saat dibuka topeng pembunuh tersebut, baru kusadari bahwa aku menyadari siapa mereka semua.

    "Kau, aku mengenalmu.."

    "Dulu hamba adalah bawahanmu di militer jendral.. Ketika perang usai tidak ada lagi uang yang mengalir pada kami, lalu sebagian dari kami bekerja sebagai warga biasa, namun kami tahu bahwa tanpa menebas pedang kita tidak akan pernah puas.. Ketika itu mereka menawari kami pekerjaan ini.."

    "Siapa mereka wahai prajuritku"

    Ketika dia ingin menjawab, tiba-tiba darah keluar dari mulutnya, seakan mencoba menutupi rahasia yang tengah ia bocorkan.

    "Paduka, sepertinya dia sudah terikat kontrak sihir.. dan sepertinya juga ketika ia tertangkap, kontrak akan segera memutuskan jiwanya"

    "Tunggu.. wahai prajuritku, akan kuberikan engkau kematian yang terhormat, namun beritahu apa yang sebenarnya tengah engkau cari?"

    "Fragmen.. agh!"

    Belum sempat berkata apa yang dimaksudnya tiba-tiba darah keluar lagi lebih banyak dari mulutnya, dan jelas bahwa kematian kini sudah menghampirinya dari tatapannya yang kini kosong.

    Kini akhirnya kita kembali dalam kegelapan, dimana aku hanya mengetahui bahwa mereka ingin menjebakku dalam masalah pembantaian. Aku bisa mengelak dan kaisar pasti percaya padaku, serta kesaksian prajuritku, tetapi pastinya terdapat beberapa langkah lagi yang sudah direncanakan jauh oleh Suo Lun.

    "Paduka, kami menemukan keluarga kaisar yang masih hidup!"

    "Syukurlah!"

    Harapan kembali muncul ketika itu, dengan adanya keluarga kaisar yang masih hidup, setidaknya hal ini merupakan hal yang tidak mereka duga dimana terdapat kesalahan dalam rencana mereka, dan juga kedatangan kita menjadi tidak sia-sia dengan ini.

    ...

    "Jangan bunuh adikku kumohon!"

    "Tuan putri.. kami bermaksud menolong anda"

    Ketika itu teriakan seorang wanita terdengar dari kejauhan, dan kami segera berlari menuju lokasi. Didalam lokasi tersebut terdapat wanita yang ditutupi matanya dengan kain bersembunyi dibawah alas kayu yang sempit sambil menutupi kedua telinga adiknya yang sepertinya sedang tertidur.

    Di antara tempat persembunyian tersebut terdapat banyak mayat yang sepertinya merupakan pelayan maupun keluarga dari kedua gadis ini. Ketika itu kami sadar bahwa kedua gadis ini adalah Roxanna dan Sen adiknya, dua orang paling krusial dari peristiwa ini.
    "Paduka, sepertinya sang adik tertidur karena pengaruh sihir.."

    "Roxanna dan adiknya Sen? Mereka anak kaisar yang pasti dicari oleh mereka. Syukur adiknya dalam keadaan tertidur, tapi pasti sang kakak sedang shock mendengar kematian orang-orang yang berada diluar persembunyian ini, lebih baik.."

    Tiba-tiba Roxanna melepaskan adiknya, dan kini memohon padaku.

    " Dia.. dia tidak bisa menggunakan sihir! Ya, dia tidak memiliki darah dari ibu..kau.. *hiks* membunuh kami karena kami bangsa bar-bar yang bisa menggunakan sihr bukan?"

    Dia menangis sambil memohon, menarik jubah diantara bajuku. Sampai saat ini dia masih mengira bahwa kami adalah kelompok yang membantai keluarganya. Rasa shock akan peristiwa ini pasti telah menggelapkan telinga maupun matanya, dan tak ada cara lain selain memaksanya tak sadarkan diri.

    "Penyihir buat dia tidur, kita tak punya waktu."

    Mendengar itu Roxanna seketika panik, dan kembali memeluk adiknya. Penyihir sudah siap membacakan mantranya, dan Roxanna menatapku, seakan dia bisa melihat dari balik kain yang berada di matanya.

    "Tidak! Aku tahu bahwa kami akan mati di tangan kalian, tapi demi alasan apa hingga kami merelakan nyawa kami begitu saja? Karena kami keluarga raja yang berasal dari darah bar-bar?! Apakah karena alasan konyol tersebut kalian membunuh kami?"

    Tentu, hal ini pasti meresahkannya. Keluarganya, maupun dirinya pasti tidak tahu apa yang menimpa mereka kini. Entah mengapa begitu menyedihkan ketika melihat seseorang terbunuh dalam suatu panggung politik, dimana mereka terjebak dalam kisah yang mereka sendiri tidak tahu alasan mereka dimatikan. Untuk perkembangan kisah seperti apa? Apa keuntungan dari kematian mereka dalam kisah ini? Bahkan aku sendiri masih tidak bisa menerka tentang kisah apa yang terjadi di panggung konspirasi ini.

    "Aku akan menjelaskannya padamu Roxanna, tapi kau terlalu buta untuk melihat kenyataan, dan telingamu sudah ditutupi oleh terror sehingga tidak bisa mendengar apa yang kukatakan. Penyihir cepat selesaikan mantranya, kita tak bisa lama disini."

    Tiba-tiba roxanna membuka matanya yang ditutupi dengan kain. Matanya merah dan terlihat begitu aneh namun memukau. Aku bisa melihat jelas pantulanku di matanya seakan aku tepat berada di hadapannya.

    "Begitu banyak darah yang bertumpahan di matamu Lushan, dan hal itu takkan selesai sampai disini.."

    "Bagaimana kau tahu namaku?"

    "Paduka!"

    Kini dia mendekatiku, dan memegang wajahku. Seketika tubuhku membeku, di antara tangannya yang begitu hangat, dan bau harum yang keluar dari tubuhnya.

    "Mengapa kau begitu sedih? Apakah dunia ini begitu menyedihkan? Ya, aku juga melihatnya seperti dirimu, aku juga mendengar teriakan itu.. Mereka yang mati tanpa tahu tujuan mereka di dunia ini, teriakan yang penuh dengan keputusasaan dan gadis itu juga mati didepan matamu, siapa dia wahai Lushan? Kakakmu? Mengapa dia menangis ketika kau bertanya padanya? Apa dia menyadari tentang apa yang telah ia perbuat? Merengut mimpi-mimpi yang belum terwujud tersebut?"

    Dia berbicara seakan mengetahui apapun yang telah terjadi padaku, berbicara tentang sumber dari keputus-asaanku, dan hatiku memilu. Tiba-tiba air mataku keluar dari mataku dengan anehnya, dan dia ikut sedih menatap mataku.

    "Cukup Roxanna"

    "Ugh!"

    Aku segera memukul perutnya dan membuatnya pingsan. Dia pasti telah menggunakan sihir untuk melihat masa laluku, dan apa yang terjadi ketika dia terus melihat mataku?

    "Paduka.. apa kau baik-baik saja?"

    "Penyihir apa dia menggunakan sihir padaku?"

    Aku bertanya sambil mengelap air mata yang mengalir dari mataku.

    "Tidak wahai paduka..! Maaf paduka, ada pesan dari kerajaan,"

    Tiba-tiba muncul pesan dari Shi Shiming sahabatku yang kini berada di tempat kaisar untuk berjaga-jaga.

    "Ada pesan dari Shi Shiming yang berkata bahwa Kaisar memohon pada paduka untuk menjaga kedua anak gadisnya, dan Kaisar sudah mempersiapkan langkah untuk melawan halauan politik ini, juga untuk membersihkan nama baik paduka."

    Ketika itu memang cuman ini langkah terbaik. Kedua gadis ini yang terjebak dalam pertikaian politik harus dapat diamankan sampai mereka bisa digunakan. Saat itu aku sama sekali tidak mengerti apa yang akan dilakukan kaisar, dan untuk dapat menggunakan Sen sebagai kekuatan politik potensialnya membutuhkan waktu bertahun-tahun, dan kami tidak bisa bersembunyi selama itu.

    Namun saat itu, kenaifanku mencoba untuk mempercayai segalanya pada kaisar, dan memutuskan untuk bersembunyi di tanah Sulun, lokasi terpencil dekat dengan tanah Tujue.

    ***

    Sudah 3 bulan kami berdiam di dalam persembunyian ini. Tanah tujue kini begitu sepi setelah pembrontakan masyarakat terhadap keluarga An, dan Sulun terkena dampaknya di antara anjloknya ekonomi di tanah ini.

    Roxanna tidak pernah sekalipun berbicara padaku setelah kita ketempat ini dan Sen masih tidak sadarkan diri dan terus tertidur pasca kejadian karena sihir yang kuat telah mendiaminya. Untuk melepaskannya kita harus mendapatkan akses menuju akademi sihir dan meminta ketua penyihir untuk melepaskan mantra pengunci yang membuat anak ini tertidur.

    Kini kita hanya bisa terdiam menunggu kabar dari kerajaan, sedangkan satu-satunya hal yang datang ketempat ini hanyalah makanan dan minuman yang bahkan beberapa bulan kemudian tidak lagi datang dan membuat kami harus membuat makanan kita sendiri.

    Ketika itu aku sedang berada di ladang, dan tiba-tiba Roxana keluar dengan matanya yang sayu. Dia menatapku dengan tatapannya yang begitu aneh, dan tiba-tiba air matanya keluar.

    "Lushan.. Ayah meninggal.."

    "Kau berkata apa? Maksudmu kaisar.. tidak mungkin, belum ada kabar yang sampai kesini!"

    "Aku baru saja berbicara padanya sebelum ia pergi menuju alam lain.."

    Tentu saja ucapannya tidak bisa dipercaya, dan aku hanya bisa menganggapnya gila. 3 Bulan ini dia sama sekali hanya terdiam diruangan kosong dan tak ingin berbicara sama sekali denganku. Rambutnya berantakan dan kusam, dan tubuhnya begitu kurus karena hanya sedikit makanan yang ia makan.

    "Dia berbicara bahwa kerajaan akan hancur, dan tidak ada yang bisa menyelamatkannya.. Dia menyuruhmu untuk menyelamatkan dirimu sendiri Lushan.."

    "Cukup! Kau sudah gila Roxanna!"

    Aku membuang cangkulku, dan segera duduk sambil memegang kepalaku. Menunggu adalah hal yang memuakkan, dan ditambah lagi dengan merawat orang gila.

    Tapi.. bagaimana bila benar kaisar mati? Bagaimana dengan nasib kerajaan ini? Nasib rakyat, maupun nasib diriku sendiri? Mereka pasti sangat menginginkan kepala ini, dan beberapa hari lagi mereka akan menemukan tempat ini, yang wajarnya berada di dekat tanah Tujue tempat keluarga An dulu tinggal.

    "Apakah kau akan menyerah Lushan? Meninggalkan kami dalam keterpurukan ini?"

    "Eh.."

    Kini dia duduk di sebelahku, tidak peduli bahwa ladang ini akan mengotori gaunnya yang terlihat begitu cantik walau tidak pernah sekalipun ia cuci. Anehnya, aku masih merasakan wangi yang kurasakan di kerajaan saat itu ketika dia begitu dekat denganku.

    "Bagaimana rasanya membunuh Lushan?"

    "Kenapa tiba-tiba kita membahas soal ini.."

    "Aku tidak pernah berbicara padamu karena termenung dalam kesedihan setelah kejadian waktu itu, dan aku seperti melihat permukaan air dari betapa dalamnya dirimu. Bukankah lebih baik kita saling mengobrol satu sama lain?"

    Dia menatapku, seakan mencoba berakraban denganku walau masih terdengar isak tangis di antara omongannya. Di antara perasaan putus-asa ini, rasanya memang momen ini tidak tepat untuk berbicara soal ini. Tapi tidak berbicara pada siapapun pasti telah membuatku stress dan tidak bisa berpikir secara jernih, dan pertanyaan secara jelas mempertanyakan filosofi ataupun prespektifku soal kekejian dunia ini.

    "Manusia, cepat atau lambat pasti akan mati, dan mengingat hal tersebut, aku akan menganggap bahwa membunuh hanyalah mempercepat proses mereka ke tahap akhir tersebut."

    Aku mengulang perkataan kakak padaku disaat dulu, dan sesungguhnya ucapan tersebut sebenarnya terdengar sangat bijak dan masuk akal.

    "Aku tidak setuju dengan pendapatmu,"

    Roxanna kini menatapku, dan dia seperti kembali membaca pikiranku.

    "Kau sedih Lushan, setiap kematian yang kau ciptakan, kau selalu bertanya demi apa kematian yang kau ciptakan itu akan berdampak.."

    Ucapannya kembali seperti menerawang perasaanku, tapi pada akhirnya aku tidak peduli lagi dengan kelebihan gadis ini.

    "Ya, mungkin itu.. Aku selalu bermimpi bahwa mereka menarik badanku di tanah yang dipenuhi dengan darah, bertanya untuk apa mereka mati? Setiap kali aku membunuh seseorang, maka tanggung jawabku untuk membuat hidupku sendiri lebih berarti akan lebih berat.."

    "Benar, tapi bagaimana dengan mereka yang berada di kerajaan tersebut? Kematian yang mereka ciptakan hanya bagai semut yang terinjak.. Mereka bahkan tidak bermimpi buruk seperti dirimu Lushan, yaitu kematian yang mereka ciptakan bukanlah tanggung jawab besar seperti apa yang engkau pikirkan. Kematian kadang untuk kesenangan mereka, seperti hobby dalam berperang yang setiap kali kau pimpin ketika menjadi jendral, menebas suku bar-bar yang tak mau tunduk bagai permainan memburu babi bagi mereka.. Membiarkan masyarakat sengsara dan mati kelaparan asal mereka masih bisa memakan makanan-makanan mewah yang sebenarnya dihasilkan dari masyarakat yang kelaparan tersebut. Membunuh para pembrontak yang ingin memprotes mereka yang semena-mena memimpin negara ini, membungkam mulut mereka sebelum api kemarahan tersebut meluas.. bukankah ini tidak adil bagi mereka yang mati dengan sia-sia demi memenuhi hastrat orang yang menganggap diri mereka setengah dewa?"

    "Dunia ini begitu kejam Roxanna, bahkan mimpi tak bisa bernafas di dunia ini.."

    Aku tahu hal tersebut, dan tentunya aku muak. Aku juga dulu hidup seperti masyarakat, dan sadar benar bahwa hidup merekalah yang membuat kerajaan mampu untuk hidup. Kini sistem monarki, strata, dan semacamnya hanyalah sistem sampah yang diciptakan orang-orang yang ingin membuat diri mereka merasa spesial dari orang lain sehingga mereka bisa hidup santai dalam kesenangan mereka sendiri. Persetan dengan keturunan dewa, mereka hanya orang biasa yang akan mati jika seluruh kemewahan tersebut direbut dari mereka. Bahkan dewa sendiri akan mengutuk keturunannya jika melihat perilaku mereka yang seperti babi, gemuk di antara lumpur yang memakan apa saja tanpa diarahkan etika dan adab.

    "Aku bisa melihat api di matamu lushan, kemarahan, impian, harapan, dan kemampuan untuk mewujudkan hal tersebut.."

    "Hei, bukankah kau terlalu dekat?"

    Kini dia mendekat mendekatkan dahinya padaku sehingga dahi kami saling bersentuhan. Mata merahnya begitu berkilau menatap mataku, dan aku terpukau karenanya. Baru kusadari bahwa gadis ini begitu cantik, dan kini aku seperti bisa melihat sesuatu di dalam dirinya. Api yang bersinar begitu terang dari matanya.

    "Mengapa hati ini begitu hangat.."

    "Kau merasakan hal itu juga bukan? Aku tahu bahwa dunia ini sudah mengakar busuk, tapi aku tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkan mimpi tersebut. Kau berbeda Lushan, kau bisa meraihnya.. karenanya ayah memilihmu, dan aku.."

    "Cukup Roxanna.. Mereka menyebutku naif. Kenaifan ini telah membunuh banyak sahabatku, dan kini kaisar sendiri.."

    Roxanna memelukku, dan tiba-tiba air mata keluar lagi dari diriku, dari gadis ini pertama kalinya aku mengeluarkan air mata, dan kedua kalinya peristiwa ini terjadi lagi, seakan hatiku yang sudah membesi ini luluh begitu saja mendengar ucapannya yang menusuk hatikku.

    "Aku memilihmu Lushan.. maafkan aku yang terlarut dalam kesedihan yang tak berdasar, sedangkan didepanku sendiri terdapat seseorang yang melihat kematian lebih banyak dari itu.. Kenaifan itu bukan tanpa arti, itu tanda bahwa engkau tidak jatuh didalam lingkaran setan yang mereka ciptakan.. lalu kematian itu takkan pernah sia-sia, jika kau akan menjadi harapan bagi mereka.."

    "Ya, aku tahu apa yang kini harus kulakukan Roxanna. Mereka harus merasakan bahwa kekuatan sesungguhnya timbul dari masyarakat, dan kebencian dari masyarakat akan menghancurkan diktator seperti mereka. Harapan bukan pada diriku Roxanna, tapi ada pada masyarakat.."

    Tiba-tiba perasaan membara muncul dari batinku. Aku tidak lagi ragu tentang apa yang kini terjadi, karena aku tersadar pada kekuatan yang mampu meruntuhkan kerajaan ini. Kekuatan sejati yang hanya dimiliki rakyat di negeri ini yang kini hidup melarat bagai sapi perah yang mati lemas karena kemarukan mereka.

    "Aku akan membuat ancaman terbesar pada kerajaan ini, dan membentuk suatu utopia didunia ini. Roxanna.. apakah kau akan menemaniku menuju impianku ini?"

    "Impian kita Lushan.. dan ya, aku bersedia menemanimu."


    ***

    Akhirnya berita keluar bahwa Kaisar dibunuh dan digantikan oleh anaknya. Kemudian dari balik layar, anak kaisar dikontrol oleh perdana mentri Sou Lun untuk membuat kebijakan yang membuat negara ini lebih melarat lagi, dan hanya mensejahterakan orang-orang elite di kerajaan. Terdengar kabar bahwa anak kaisar sendiri yang membunuh kaisar akibat sifat kekanak-kanakan dan dendam karena sang ayah yang begitu kasar padanya, dan hal tersebut semakin diperparah oleh hasutan pamannya yang kemudian membantunya dalam menutupi aib tersebut.

    Saat mendengar hal tersebut, aku segera keluar dari persembunyian tersebut, dan mengumpulkan kekuatan secara diam-diam. Semakin lama kekuatan tersebut semakin membesar, dan mereka mulai mengirimkan pembunuh bayaran terbaik mereka untuk membunuhku dan menculik Sen. Namun hal itu tidak menghentikanku, pembrontakan mulai terjadi di daerah-daerah kecil, hingga akhirnya aku disebut sebagai pahlawan, namun propaganda dari kerajaan membuatku sebagai pembrontak keji di daerah-daerah besar.

    Sampai pada akhirnya, aku mendapatkan sahabat-sahabat dikerajaan yang mulai melarikan diri, dan bersatu denganku beserta pasukan elite yang mereka bawa, membuat pasukanku mampu menandingi pasukan milik kerajaan, dan penyihir bukan lagi halangan.

    ...

    "Lushan, mereka telah menunggumu."

    "Baiklah."

    Ketika itu, aku berdiri diatas balkon markas dengan banyaknya tentara pembrontak di bawahku. Di sebelahku terdapat Roxanna yang telah resmi menjadi istriku, dan Shi Shiming sahabatku yang kini membantuku dalam berbagai perperangan yang sulit. Dibawahku adalah tentara yang dulunya memegang cangkul, hanya untuk direbut hasilnya oleh pihak yang berkuasa, yang kini bisa hidup dengan aman di bawah kekuasaanku.

    "Wahai kalian kawanku.."

    Masyarakat di bawah mulai saling berbisik karena pemimpin mereka yang menyebut pasukannya sebagai kawan, seakan sang raja sejajar kedudukannya dengan mereka. Ketika dulu, menatap mata raja saja tidak boleh menandakan kedudukan sang raja begitu tinggi.

    "Ya, aku dan kalian sejajar. Negara ini adalah negara untuk masyarakatnya, dan aku dengan kedudukan ini hanyalah pelayan bagi masyarakat. Negara yang akan kita bangun bukan lagi negara yang akan tunduk antar sesama manusianya! Hal itu begitu konyol, dan pasti membuat kita berpikir, bagaimana kita membiarkan hal seperti ini terjadi?"

    Kini mereka seperti terbakar semangatnya dengan sadarnya mereka akan kesemena-menaan kerajaan terhadap mereka, dan kini mereka telah sampai pada kesadaran yang membuat mereka percaya bahwa mereka berada di jalan yang tepat.

    "Jangan takut kawanku, tuhan nyatanya telah memberikan rasa kasih sayangnya untuk membuka mata kita atas hal ini, tapi dia takkan memberikan kekuatannya karena kitalah kekuatan tersebut.. Ya, masyarakatlah kekuatan tersebut! Dengan kekuatan ini, kita akan hancurkan tembok tersebut kawanku, tembok besi yang menutupi indahnya langit ini.. Kita akan hancurkan tembok tersebut, dan kita akan merdeka dengan seutuh-utuhnya!"

    "Ya, Merdeka!!"

    Mereka bersorak dengan kata merdeka. Kemenangan yang telah kita raih, kekuatan yang kita telah kumpulkan, dan kini optimisme mereka atas kekuatan yang sesungguhnya mereka tak pernah sadari, yaitu kekuatan yang mereka punya ketika mereka bersatu.

    "Lushan, lihatlah benih yang telah kau tanam."

    Roxanna rambutnya terurai di antara angin yang kini menerpanya. Dia begitu cantik kini, dengan anak yang kini ia gendong dengan rasa kasih sayangnya. Aku segera menciumnya, dan kembali melihat pasukanku yang sudah bersiap untuk menghancurkan kota Luoyang tempat kaisar berada.

    ***

    To be continued into part 2
     
    Last edited: Mar 1, 2015
  6. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Chapter 3 : Roxanne Part 2

    "Roxanna.."

    Terbangun dari mimpiku, aku segera mengucapkan namanya. Mimpi tersebut menyadarkanku bahwa Roxanna masih hidup di masa ini.

    Optimismeku muncul, dan hatiku dipenuhi oleh harapan. Bukankah seharusnya aku senang akan kenyataan ini? Bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan semuanya seperti Roxanna, kakak, ibu. Lalu untuk apa aku bersedih, depresi, dan bahkan meluapkan nafsu membunuhku kepada kakak ketika rasa paranoid hampir menelanku hidup-hidup karena rasa takut akan berubahnya nasib. Kebiasan pesimis dan paranoid yang telah kupupuk dulu hampir saja menghancurkan potensiku pada masa ini.

    Dengan pengalamanku kini, ilmu-ilmu yang kudapatkan, bahkan akan semakin mudah untuk mendapatkan apa yang kuraih dulu, dan tentu saja, menyelamatkan semua yang tidak mampu kuselamatkan. Kini lihat, kakakku masih hidup, dan nasib ibu mungkin tidak akan seburuk di masa lalu, dan gilanya lagi, aku memiliki kemampuan sihir yang harus kulalui lewat peruntungan selama hidupku dulu. Jika demikian, apa buruknya kembali ke masa lalu di reruntuhan masaku yang penuh dengan perjudian antara kalah dan tidak, pada masa ini aku tidak perlu lagi berjudi bukan? Hanya perlu cari tahu jalan yang sudah kuketahui dulu.

    ...

    Melihat kekiri dan kekanan, kini diriku terbaring dalam kasur dengan bebauan rempah-rempah yang dibakar untuk pengobatan, jelas bahwa kini aku berada dalam ruangan tabib dikediaman An Yanyan.

    Ketika menengok, baru tersadar bahwa Balthiq berada disebelahku tertidur. Selagi itu, selain leherku, badanku tidak bisa digerakan sama sekali, mungkin karena dengan cerobohnya diriku menggunakan sihir dengan badan yang lemah ini. Pengetahuanku dulu, sihir menggunakan roh atau jiwa yang memberikan energi untuk menggerakan raga, dan bumi mengembalikan kekuatan tersebut. Akibatnya ketika menggunakan sihir dengan jiwa yang tidak dilatih nyatanya memang akan memakan jiwa pemakainya.

    Tentu saja permasalahannya utamanya kini bukan itu, tapi bagaimana seorang pria mampu menggunakan sihir.

    "Lushan?".

    Balthiq membuka matanya, dan dia sadar bahwa diriku telah terbangun. Kini dia memandangiku dengan mata serius namun seperti orang yang lelah. Terasa aneh ketika rambut keritingnya yang telah ditata rapih oleh ibu kini kembali berantakan.

    Melihat kakak yang berperilaku aneh, aku mencoba merespon kata-katanya, yang penuh dengan rasa bingung, khawatir, dan tidak percaya. Apa yang dia tidak percaya pikirku?

    "Kakak.."

    Kita saling memandang diam. Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan pada Balthiq, dan tentu saja hal yang harus kupikirkan adalah bagaimana cara menjelaskan pembantaian yang adiknya lakukan didepan matanya sendiri, adiknya yang yang baru saja berumur 14 tahun tanpa pengalaman bertarung sama sekali, dan keajaiban yang kulakukan dengan menggunakan sihir, tentunya akan sangat gila bahwa kejadian aneh tersebut terjadi dalam satu momen yag sama.

    Aku ingat ketika ibu menteriaki diriku iblis, satu-satunya penjelasan logis disini adalah diriku yang terasuki iblis. Pertanyaan sesungguhnya adalah bagaimana Balthiq mengawali obrolan ini.

    "Kau Lushan bukan?".

    Lucu, aku tersenyum sambil tertawa kecil mendengar pertanyaannya, tentu saja ia akan menanyakan hal tersebut.

    Yang lucunya adalah bagaimana jika aku bukan Lushan? Aku akan menjawab 'tidak' begitu? Lagipula mana ada pencuri yang berkata dirinya pencuri, sebagaimana iblis yang sukses merasuki manusia, dia tidak akan mengaku dirinya iblis.

    "Tentu saja kakak..aku Lushan.

    "..."

    "Ah, tentu kakak tidak percaya? Aku harus berkata apa untuk kakak percaya bahwa adikmu ini adalah Lushan?"

    "Kau tak perlu berucap, dan aku tahu, kau bukan Lushan yang aku tahu. Matamu itu.. seperti.."

    Kakak tidak melanjutkan omongannya. Dia menatap kebawah, bahwa dia meragukan apa yang ingin ia katakan.

    “Seperti?”

    “Orang mati..”

    Kakak menjawabnya dengan jawaban yang akhirnya ia rasakan paling cocok mengenai apa yang ia pikirkan. Dia menatapku dengan mantap, mencoba meyakinkanku bahwa walau dia ragu sebelumnya, kini dia berkata sungguh-sungguh dan mencoba menerka reaksiku dari omongannya tersebut.

    Ketika ia berkata soal mata, aku kembali mengingat Roxanna, dulu ia pernah berucap bahwa mata adalah refleksi jiwa yang menunjukan perjalanan hidup seseorang. Mataku kini mungkin sangat mengerikan baginya, dan mata seperti apa yang dimiliki Lushan muda? Mata yang penuh harapan? Mata yang penuh dengan kepolosan?

    "Ibu.. dia melakukan ritual dan berkata bahwa kau tidak kerasukan apapun. Tapi.. matamu kini, bukan mata adikku, dan aku takkan percaya bahwa kau mampu membunuh orang dengan.."

    "Dengan apa? Aku melindungi kalian bukan?"

    Tiba-tiba ucapan tersebut keluar. Mengetahui bahwa hal rasional mengenai diriku yang kerasukan otomatis ditolak, kurasa aku harus menerima bahwa semua itu adalah hal yang kulakukan, dan adalah hal yang memang cukup rasional untuk dilakukan.

    "Lushan..kau berumur 14 tahun.."

    "Tunggu, para bandit disana kau pikir berumur berapa? Bahkan ada yang berumur 8 tahun dan mungkin dibawah umur tersebut, dan kau tidak akan percaya berapa pria yang sudah ia penggal.."

    "Jangan memotong jika kakakmu sedang bicara! Begini, kau tidak pernah sekalipun berlatih pedang dan bertarung, dan aku baru saja melihatmu bertarung dengan pria besar, mengalahkannya bagai pendekar di dongeng-dongeng.. Lalu parahnya lagi.. kau baru saja menggunakan sihir Lushan, siapa yang bisa percaya setelah melihat hal tersebut?"

    Aku terdiam ketika kakak bertanya dengan tatapannya yang serius, seakan tidak berkedip menganalisa mataku hingga bulu kudukku berdiri. Sadar akan hal itu, aku tidak mampu membalas tatapan matanya hingga ku sampingkan tatapanku. Tidak mungkin bisa kujelaskan tentang masa depan, kembali ke masa lalu, itu gila.

    "Lushan, kau baru saja membunuh orang.. banyak sekali hingga aku pikir tidak mungkin seorang yang baru saja melakukannya tidak kehilangan akal sehatnya.. Tidakkah kau merasa berdosa?"

    Suara kakak mulai bergetar sambil mengucapkan hal tersebut, dan kini aku merasa konyol. Dosa? Dosa apa? Betapa munafiknya dia berkata demikian?

    Mukaku memerah, dan jika ku metaforakan, panas hingga isi otakku menguap. Emosi yang memuncak-muncak ini membuatku ingin berteriak sekencang mungkin ketelinganya langsung hingga ia sadar apa yang baru saja ia ucapkan.

    "Hei!! Jangan bercanda!!"

    Kakak menutup mulutnya kaget dan tangisnya yang tidak tertahankan keluar. Aku ingat bahwa kakak adalah tipe orang yang akan segera menangis ketika seorang membentaknya.

    Saat itu diriku berteriak sungguh kencang dan dengan nada yang cukup berat hingga dia pasti tidak sadar bahwa aku yang baru saja berteriak padanya. Segera kupaparkan ucapan yang bahkan tidak kupikirkan terlebih dahulu, ucapan penuh emosi, dan amarah atas pemikiran munafik dan naif yang baru saja kudengar.

    “Dosa apa Balthiq, Dosa apa yang telah kuperbuat setelah aku menyelamatkan kalian semua?! Apa kau pikir mereka akan melepaskan kita begitu saja jika aku berbicara dengannya, dan apa kau pikir mereka akan membunuh kita begitu saja tanpa menyiksa kalian terlebih dahulu, kesempatan untuk menyicipi kedua wanita bangsawan yang tak pernah mereka bisa lakukan di kehidupan rendah mereka? Kau tahu apa maksudku bukan?”

    "Tidak, lebih parahnya lagi.. sebelum mereka melakukan itu, kau dan ibu akan diperkosa terlebih dahulu dan memaksaku yang tidak berdaya untuk menontonnya hingga mereka puas. Ah, bahkan kau tidak mungkin tahu akan kebiasaan mereka dalam meminum darah kita untuk tidak gila atas perbuatan mereka.. bangsa bar-bar seperti mereka.."

    "Lushan!!"

    Tiba-tiba ibu masuk membanting pintu yang pasti menyadari teriakanku, dan kini pasti sama terkagetnya oleh Balthiq yang kini menangis menjauhi diriku dengan rasa takut di matanya, seakan dia baru saja menatap seorang iblis, pembunuh keji yang mengancam dirinya. Ibu yang melihat dan mendengar hal tersebut segera menjauhi Balthiq dariku, lalu menatapku tidak percaya.

    “Ibu, Lushan baru saja mengucapkan hal mengerikan padaku..”

    “Masih tidak percaya apa yang kuucapkan barusan? Apa harus kutampar dulu hingga bisa kau pakai otak yang ada dikepalamu itu!”

    “Lushan, kini kau sudah keterlaluan! Balthiq cepat kau pergi dari sini, dan rias dirimu. Aku akan berbicara dengan adikmu dulu.”

    Balthiq segera dibawa pergi oleh pelayan yang menemani ibu sambil menangis. Ketika itu ibu menatapku marah, dan duduk sambil menghela nafas. Dia pasti juga bingung ingin berkata apa pada anaknya yang satu ini.

    Jangan salahkan jika aku mengatakan ini, prespektif yang konyol tentang bagaimana membunuh seperti perbuatan yang begitu tercela, melawan batas norma, dan adiknya yang polos tidak mungkin akan melakukan kegiatan tercela seperti ini walau orang-orang didekatnya dan dirinya sendiri didalam kondisi berbahaya. Diriku seakan ingin berteriak betapa bodoh dirinya.. Tidak tau kondisi atau entahlah, tak bisakah ia sedikit menggeser logikanya bahwa adiknya melakukan hal tersebut untuk menyelamatkan kakak dan ibunya? Tak bisakah ia mentolerir hal tersebut?!

    Lalu, Balthiq, kau seharusnya mati saat itu..

    “...”

    Kini ibu duduk dihadapanku, dan berdiam seperti apa yang Balthiq lakukan.

    “Apa yang salah denganmu Lushan? Kau buat ibumu ini pusing..”

    Ibu berdiri dari kursi dan mengambil beberapa ramuan di meja dekat kasurku.

    "Apa kau bangga dengan apa yang telah kau lakukan? Menyelamatkan diriku dan adikmu?"

    Ibu mengajakku berbicara sambil meracik ramuan didepannya.

    "Entah.. Tapi balthiq.. maksudku kakak, aku sangat kesal ketika ia begitu munafik berkata bahwa apa yang kulakukan salah. Kau pasti tahu bahwa ada yang namnya konsekuensi, dan inilah yang terjadi di dunia ini, dan pada momen itu juga, bunuh atau dibunuh. Dalam kondisi itu siapa yang bisa disalahkan?"

    “Konsenkuensi? Apa kau belajar kata-kata dewasa tersebut dari bukumu?”

    Ibu memegang kepalanya, memeriksa apakah dia yang sinting atau anaknya? Ah, dia pasti mengerti benar apa yang kukatakan, lagipula penyihir ini sudah bertanggung jawab atas kematian jutaan manusia, dan karenanya aku berani berbicara seperti ini.

    "Aku mengerti apa yang kau katakan Lushan.. Tapi aku juga mengerti apa yang kakakmu rasakan. Aku.. aku tidak akan berkomentar tentang apa yang terjadi padamu, hingga diriku meneriakimu iblis, aku takkan berkomentar lebih dari itu. Aku baru saja merawat kalian pasca kematian suamiku, dan mungkin aku belum mengenalmu Lushan.. Tapi sihir yang kau lakukan.."

    Keresahan ibu pasti terletak pada sihir yang kugunakan. Sihir yang mengerikan hingga matahari terlihat gelap, darah mereka terhisap keluar dari tubuh, kemudian membusuk gelap seperti terkena wabah penyakit. Aku tidak pernah memperlajari sihir tersebut, dan hanya menirukan apa yang ibu lakukan dengan spontan.

    "Apa yang telah terjadi padamu lushan? Apakah dosa yang telah kau lakukan sehingga kau mendapati sihir tersebut?"

    "Apa maksudmu ibu? Aku.."

    "Kenapa kau bisa bertanggung jawab atas matinya jutaan manusia?"

    Ibu menatapku dengan tatapan depresinya, dia kemudian meminum araknya yang ia sembunyikan di balik bajunya seakan luka lamanya terbuka lagi. Aku tahu saat itu, sihir yang kulakukan hanya bisa dilakukan oleh manusia yang bertanggung jawab atas kematian jutaan orang, termasuk aku dan ibuku.

    ***

    Sebelumnya setelah pembicaraan di kamar, ibu memberikanku ramuan yang mampu membuatku kembali berjalan, setidaknya untuk ikut menemaninya dalam upacara pernikahan ini.

    An Yanyan menunggu di depan pintu tempatku beristirahat dan hanya menatapku saat itu, tidak ada senyum di matanya walau aku baru saja menyelamatkan calon istrinya. Sudah lama aku mengetahui bahwa kami hanyalah obyek dalam perpolitikannya di kerajaan, kekuatan yang belum terjamah walau mampu mengotori darah kebangsawanannya, dia ingin dipercayai tanah yang lebih besar dari ini. Kusimpulkan saat itu bahwa peristiwa penyerangan ini mungkin direncanakan olehnya untuk menunjukan kekuatan ibu sebagai seorang penyihir, dan bocah kecil ini baru saja menggagalkan rencananya, menjadikannya rumor belaka yang tidak begitu berharga baginya dan semua itu mampu kusimpulkan hanya dari raut mukanya.

    Tapi entah mengapa, aku yang dulu selalu mengutuk dirinya kini malah mewajari sifat licik tersebut, dan mewajarinya karena dirinya sebagai bangsawan dalam kondisi kritis indentitas di tanah yang sama kritisnya pula, bahkan semuanya pun tahu bahwa semua peristiwa ini adalah tindakan konyolnya.

    Lagipula, di masa depan dia akan mati, dan aku ragu akan An Yanyan sebagai pria yang layak untuk kuselamatkan pada masa ini.

    ...

    "Puji tuhan, dewa-dewa, atas pengantin yang naik dalam pelaminan. Semoga diberi umur panjang, semoga diberi keberkahan.."

    Doa diberikan oleh pendeta sembari mengetukkan dupa. Orang-orang melihat kedua pengantin tersebut dari kejauhan, ibu, dan An yanyan, sedangkan anak-anaknya duduk di sebelah mereka, di kiri untuk kami dari sisi sang ibu, dan kanan dari sisi An Yanyan. Saat itu kakak masih tidak mau melihatku, matanya dan kepalanya seakan berlainan arah dengan diriku, dan aku tahu bahwa perkataanku pasti sudah melukai hatinya.

    Kini kita duduk di tempat seremonial, panggung pernikahan yang merupakan gedung tersendiri di tempat kediaman An Yanyan. Tempat ini megah, segala budaya bersatu dari timur tengah, barat, dan semacamnya. Tanah Tujue ini memang merupakan pusat perdagangan dengan pelabuhan besar di sisi selatan walau gersang di dalamnya. Walau demikian posisi strategis ini hanya menguntungkan kaum modal, ningrat, dan tidak ada untungnya bagi kaum plotelar, para pekerja buruh ataupun petani yang hidup di tanah gersang ini, mereka para ningrat tersebut tidak membagikan kekayaan mereka, sehingga hidup miskin merupakan nasib yang tidak terelakkan bagi mereka. Wajar saja suatu saat nanti pembrontakan akan terjadi, siapa saja akan gila jika kelaparan sambil meratapi orang-orang diatasnya makan dari hasil kerja mereka dan masyarakat akan menang walau akan ditekan kembali oleh pemerintahan.

    Saat itu anak An Yanyan, kalau tidak salah An Qiao dan An Xian, wanita kembar asal mantan istrinya yang meninggal menatap kita dengan tatapan yang penuh dengan rasa ingin tahu. An Qiao, kalau tidak salah, mengikat rambutnya seperti bola di antara keduanya sedangkan kakaknya An Xian bertampilan dewasa dengan rambut yang di jepit oleh tusuk naga khas keluarga bangsawan. Walau demikian muka mereka terlihat sama, begitu pula baju mereka sehingga satu-satunya pembeda di antara mereka adalah rambut tersebut. Walau begitu, aku tidak pernah ingat ataupun sempat bersosialisasi dengan mereka tempo dulu karena pernikahan yang dibatalkan, dan aku yang segera pergi menuju akademi diikuti polemik pembrontakan masyarakat yang membantai keluarga An Yanyan. Kupikir mereka juga terbunuh, dan melihat mereka kini hidup dan baik-baik saja membuat perasaanku aneh.

    "Lushan.."

    Tiba-tiba saja kakak sudah mulai bicara padaku, saat itu juga tetapi doa sudah selesai dan upacara pernikahan selesai. Ibu sudah resmi menikah dengan An Yanyan, dan An Yanyan memberi ucapan sambutan. Ketika Kakak menatapku dengan penuh arti seperti ingin mengeluarkan segala gundah hatinya, An Yanyan menyebutku dalam ucapan sambutannya.

    "Aku sungguh berterima kasih atas An Lushan, dia sesungguhnya pahlawan pada hari ini, tepatnya ketika para bandit menyerang calon istriku, dan putrinya. Dengan berani, demi keluarganya, dia menyelamatkan mereka dari tangan kotor bandit, sendirian."

    Semua mulai berbisik, mungkin tidak percaya, tapi berita ini seharusnya sudah menyebar di antara mereka sebelum An Yanyan mengumumkannya, mengingat telinga-telinga jahil mereka yang senang mendengar apapun berita yang mampu merendahkan saingan mereka. Mereka tentu saja berpikir bagaimana seorang anak kecil sepertiku melawan bandit-bandit yang berbadan besar, garang, berpengalaman dalam membunuh. Badanku sangat kecil, seperti umur 11-12 walau sesungguhnya sudah berumur 14 tahun, waktu yang cukup untuk di jadikan buruh kerja. Mengangkat benda-benda saja tidak mampu, pedang juga terlihat cukup berat baginya, apalagi menahan terjangan pedang dari orang-orang yang menyerangnya.

    Perhatian mereka tentu saja pada ibuku, seorang ketua penyihir dari liga penyihir kerajaan. Cerita horror mengenai dirinya sudah tersebar, dan tersohor sekali. Bagaimana ibu membantai ribuan musuh seperti menyebarkan hama penyakit, menyebabkan tubuh mereka hitam membusuk dan menyebar oleh tikus-tikus, dan bagaimana ibu bisa meledakkan satu istana jika saja sang tuan rumah masih saja keras kepala untuk menyerah. Dua kemungkinan adalah anak sang penyihir ini sakti, atau dia yang memegang kendali, namun rendah hati memberikan segala kehormatan kepada anaknya.

    "Kaisar telah tiba!!"

    Tiba-tiba dalam kata-kata penyambutan tersebut, pintu dibuka disambar oleh pasukan-pasukan elit berzirah emas saling memegang tombak berbaris di antara pintu membuka jalan seorang Kaisar dengan jubah panjang, dan jenggot panjangnya itu. Semuanya menunduk, An Yanyan yang masih di atas memberi penyambutan juga, dan aku pun demikian. Sang kaisar masuk dengan seorang memegang jubahnya, berjalan dengan penuh tata etika raja, kalian takkan melihat siapapun berjalan seperti ini di kehidupan sehari-hari, dan saat aku telah menjadi raja tak pernah kuikuti tata etika itu, terlalu aneh untukku. Tapi melihat tampang kaisar, hasil dari pemuliaan marga, memang menunjukan perbedaan berbeda dengan tampang-tampang seperti kami, dia cocok dengan cara berjalan itu karena dia merasa atu semua merasa bahwa dia lebih mulia dibandingkan kita. Karena itu pula, tak ada satupun yang berani-beraninya bertatapan langsung dengan beliau, itu lah etika yang sudah di tetapkan tanpa tertulis dan kita semua secara insting akan segera menunduk di hadapannya atau bahkan bersujud bagai bertemu tuhan.

    "An Yanyan, bangunlah saudaraku."

    An Yanyan bangun, tetap ia tidak menatap matanya. Sang kaisar memegang pundaknya menyuruhnya berdiri tegap, memalukan bagi bangsawan untuk berdiri bungkuk seperti orang tua, walau hal itu merupakan bentuk tunduk terhadap sang kaisar.

    "Aku bangga padamu An Yanyan, tidak pernah berubah, berani dan riskan seperti Ayahmu. Dulu ia mengambil tanah ini, tanah yang sedikit untung baginya, namun krusial untuk kerajaan. Sekarang anaknya, menikahi seorang keturunan bar-bar, demi suatu yang sungguh suci melawan kebiasaan kuno yang terbentuk."

    Kata-katanya seperti sindaran tajam untuk An Yanyan, sehingga An Yanyan berkeringat takut mengejek kebangsawaan kaisar, namun aku tahu bahwa kaisar benar-benar memujinya karena dirinya sendiri diam-diam memiliki kekasih gelap bersama banyak suku bar-bar. Mungkin demi tujuan sihir, politik, dan sebagainya, tapi segala tetek bengek budaya yang membatasi kotornya darah bagi mereka kupikir terdapat sedikit bentuk cinta didalamnya. Sedangkan kaisar memuji, ataupun tidak, para pengunjung dari kalangan bangsawan, pedagang, karabat dekat yang menunduk tentunya tidak tahan untuk saling membisik, bergosip, berkata hal-hal yang menjatuhkan sehingga telinga kaisar sendiri pasti mulai mendengar desis-desis keramaian. Melihat ini, sang kaisar menatapku sebagai pengalih topic.

    "Kudengar anakmu menjadi pahlawan hari ini. An Lushan? Bisakah kau bangun, aku ingin melihat seorang yang mampu membunuh puluhan bandit sendirian."

    Aku berdiri, dan kutatap Kaisar. Ah, tidak sopan, kebiasaanku dulu sebagai tangan kanan kaisar bahkan menjadi raja sendiri membuat spontanitas ini muncul, An Yanyan sendiri melototiku sambil basah dengan keringatnya sendiri atas perilakuku. Segera kutundukan mukaku, namun kaisar memegang daguku, membuatku terpaksa menatapnya.

    "Badanmu kecil, tapi matamu tidak. Mata tangguh yang jarang kulihat, mata seorang petarung pintar.. mata seorang yang mampu membunuh. Pertama kali kupikir ibumu yang melakukannya, tapi mataku tak pernah salah menilai, kau lah yang memang membunuh puluhan bandit. An Yanyan!"

    "Kaisar.."

    An Yanyan kaget mendengar namanya di panggil dengan nada yang tinggi. Sedangkan saat itu, desis keramaian makin parah sehingga pasukan terpaksa menghentakan kakinya sehingga kondisi kembali tenang.

    "Anakmu ini, aku ingin dirinya masuk dalam akademi khususku. Sesungguhnya baru pertama kali kulihat mata setangguh ini dalam umur-umurnya. Aku tidak bisa membiarkan sebuah permata tidak terpoles dengan baik."

    An Yanyan tersenyum, seperti sebuah letupan hati meledak-ledak. Sepertinya diriku sedikit meninggikan namanya di mata Kaisar. Saat itu kaisar tersenyum padaku, dan memegang kepalaku seakan hal itu merupakan kehormatan tertinggi bagiku. Sedangkan saat itu, tatapan ibu maupun kakak terlihat aneh, sedih, seakan pengakuan itu tak berhak bagiku yang bukanlah keluarga mereka, menurut mereka mungkin.

    "Baiklah, maafkan aku yang menyela kata-kata penyambutanmu. Maafkan juga karena aku tidak bisa berlama-lama. Semoga keluarga ini dipenuhi keberkahan berlimpah."

    Kaisar segera pergi meninggalkan tempat pernikahan, dan tentara mundur dari tempat ini diikuti oleh tentara jirah emasnya mengikuti.

    Sampailah saat itu masuk ke bagian para bangsawan atau karabat dekat An Yanyan saling memberikan hadiah sebagai penghormatan ataupun pamer kekayaan mereka. Ada yang memberikan ratusan kuda, uang, pedang, dan cindramata lainnya yang terlihat sangat mahal diikuti dengan doa mereka untuk kejayaan pada keluarga An.

    Sampai akhirnya karabat dekat ibu, yang kebanyakan adalah orang-orang suku dan penyihir yang sudah diakui oleh kerajaan keberadaan mereka dan hingga akhirnya liga penyihir mengisi ruangan tengah, salah satu dari mereka yang berbaju hitam saling memberikan hadiah dengan sihir-sihir mereka, berkah, dan sebagainya. Sesungguhnya budaya bar-bar ini tidak di senangi kaum bangsawan, tapi mata An Yanyan sungguh berbinar-binar melihat ini semua.

    "Roh cinta, keberkahan, dan hidup berkahilah mereka, jauhilah mereka dari bencaa yang melanda, lindungilah mereka seperti sebuah angin yang menyertai kami dimanapun kami berada"

    Salah satu dari mereka sambil mengucapkan hal itu mengeluarkan burung-burung bersinar dari tangan mereka. Burung tersebut terbang indah ke atas bertaburkan cahaya, pasir bersinar yang turun bagai debu, lalu menghilang mengenai kedua pasangan pengantin. Indahnya ketika burung tersebut meledak di atas seperti kembang api, dan gemerlap cahaya mengelilingi An Yanyan dan ibu.

    Banyak penyihir yang melakukan atraksinya, entah apakah memang benar sihir tersebut ataupun roh-roh alam akan melindunginya, akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini benar-benar menarik untuk di saksikan dan para pengunjungpun terlihat terkagum-kagum oleh berbagai paduan cahaya yang kelaur dari sihir tersebut.

    Tiba saat itu, penyihir dengan pakaian gelap, sungguh esentrik dibandingkan penyihir lainnya. Air muka ibu seketika berubah, seperti tidak senang dengan kemunculan wujud ini. Aku mengenalnya, dia saudara ibu, Nisha, yang merupakan salah satu calon terkuat penyihir dan kini merupakan ketua dari akademi sihir. Dulu aku pernah melawannya sekali, sihirnya mampu membuat matahari menghilang, menjadi gelap purnama yang membutakan. Pasukan-pasukan ilusi bermunculan membuat pasukan pembrontakan yang kupimpin kehilangan kendali atas diri mereka sendiri hingga akhirnya pasukan elite harus bersusah payah membunuhnya secara langsung.

    Saat itu Nisha beridiri sendiri, dijauhi penyihir lainnya. Dia membuka tangannya, dan seketika lampu-lampu yang menerangi padam dengan sendirinya. Ketika itu hanya tubuhnya yang bersinar dengan roh api disebelahnya, lalu dia membukakan tangannya dan membacakan mantra.

    "Roh kegelapan, roh cahaya, dan roh kesucian. Dalam kegelapan, sembunyikan mereka, sepasang kekasih dan anak-anak mereka dalam bahaya yang menerkam mereka, kacaukan si penerkam dalam kekacauan pandangan hingga ia menerkam dirinya sendiri dalam kekelaman. Dalam cahaya, butakan mereka para penerkam, tunjukilah mereka, keluarga ini kedalam cahayamu menuju tempat yang aman. Dan dalam kesucian, jauhilah mereka dari najis kotor yang bisa menodai mereka kapan saja, dalam hidup, dan mati."

    Munculah sebuah kupu-kupu hitam dalam tangannya, pergi menghampiri kedua kekasih dan kita anak-anaknya dan berhinggap di pundak kami.

    Kupu-kupu yang berada di pundakku lalu terbakar, dan aku bisa melihat reaksi Nisha yang meniupkan sihir ini pada kami terlihat kaget karenanya. Namun perhatian orang-orang yang tidak tahu menahu soal ini hanya memandang datar apa yang terjadi. Ketika itu juga kupu-kupu tersebut menghilang bagai serpihan pasir, dan sungguh berbeda denganku yang jatuh terbakar menjadi asap. Seketika semua lampu kembali menyala dengan ajaibnya. Semua bertepuk tangan seakan hal ini adalah penutupan dari segala pertunjukan sihir, namun para penyihir menatapku aneh, mereka membuka matanya lebar-lebar seakan dia tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya lalu ibu menatapku dengan wajah khawatirnya seakan akan ada nasib buruk yang akan menimpaku.

    ***

    "Anakmu bisa menggunakan sihir bukan?"

    "Apa kau gila?"

    Selesai upacara, ibu menarikku ke belakang mengetahui rahasia anaknya sudah diketahui teman-teman penyihirnya, namun kekhawatirannya lebih ke arah Nisha yang kini menarik lenganku dengan paksa.

    "Semua orang harus tau ini! Mungkin, mungkin ini akan menjadi kesempatan untuk menumbuhkan bibit unggul! Biarkan aku menelitinya, dan kau akan melihat kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya!"

    "Nisha, kecilkan suaramu! Aku takkan membiarkan anakku menjadi objek politik ataupun bahan penelitianmu!"

    Saat itu aku tahu ketakutan ibu, dan hal ini yang paling kukhawatirkan mengenai sihirku, alasan mengapa aku begitu merahasiakan kemampuan sihirku karena seorang pria yang mampu melakukan sihir merupakan tanda bahwa kemampuan ini dapat diturunkan pada keturunannya, setidaknya itu kepercayaan di kerajaan ini.

    Bisa kubayangkan jika dia memang melakukan penelitian terhadapku, betapa mengerikannya? Lalu para mata-mata pasti akan mencium hal ini, dan tentunya akan terbongkar pula hingga terdapat dua pilihan didalamnya, yaitu pilihan pertama untuk merebutku dan memaksaku sebagai penerus mereka sehingga mereka mampu memiliki keturunan lelaki yang unggul. Keturunan lelaki yang mampu menggunakan sihir akan melejitkan kebangsawanan mereka hingga posisi kekaisaran mungkin akan terancam meningingat kerajaan ini sangat memuja pemuliaan keturunan atas kepercayaan bahwa kehebatan seseorang mampu diturunkan, seperti lagenda bahwa kaisar merupakan keturunan dewa, dan kini sihir merupakan kemampuan paling menajubkan yang mampu disaksikan dan akan meluruhlantahkan rumor kaisar sebagai keturunan dewa. Pilihan kedua tentu saja, menyingkirkanku, terutama dari keluarga kekaisaran yang takut atas perebutan kekuatan ini.

    “Lushan kau pergi dari sini. Aku akan mengurusi tantemu ini sebelum ocehannya terdengar ke telinga-telinga yang tidak diinginkan”

    “...”

    Aku segera pergi berlari dari cengkraman wanita tersebut. Ibu kemudian meneruskan pembicaraannya, dan sihir menutup suara mereka seperti ruangan kedap suara. Saat berlari, kusadari bahwa terdapat An Yanyan menguping dengan diam-diam, dan aku tahu bahwa terdapat peristiwa yang tidak ku inginkan akan segera terjadi.

    Tapi kupikir juga sedikit kemungkinan dia berhasil melakukan apa-apa, toh dia nanti akan mati juga.

    Saat itu aku tahu bahwa diriku masih memegang kendali tentang apa yang akan terjadi, sehingga ku acuhkan An Yanyan yang diam menatapku lewat berlari.

    ***

    Aku berlari hingga sampai pada tempat yang sepi. Tidak terlalu banyak orang hingga bisikan busuk mereka bisa masuk ke dalam telingaku, dan kutemui kursi untuk duduk menghela nafas.

    Duduk, kutatapi mereka yang menatapku aneh. Sudah lama aku tidak merasakan ini. Dulu para pembrontak yang kupimpin akan menghabiskan diri dalam perperangan, diskusi strategi, dan berperang lagi. Melakukan pesta seperti sebuah kemunafikan atas kemiskinan yang melanda negeri ini, apalagi kita yang kini memegang kendali atas nasib mereka, bukankah seharusnya kita malu melakukan ini? Kaya, bersenang-senang, pesta-pora sedangkan di luar sana masih terdapat manusia yang mati kelaparan? Jika saja pemimpin mampu tidur tenang walau mengetahui hal tersebut, bisa kubilang bahwa mereka sudah kehilangan akal, dan kerajaan sudah dipenuhi oleh orang-orang yang tidak waras.

    “Bukankah kau orang yang berada di atas panggung tadi? itu kah kau Lushan?”

    “Tuan putri! Dia berbahaya..”

    Suara gadis yang familiar. Seorang penjaga wanita dengan pakaian pelayan mencoba menjauhinya dariku.

    “Eh..”

    Tiba-tiba aku merasa aneh. Gadis seumuranku dengan mata tertutup, dan gaun yang ia gunakan bukanlah gaun biasa, tapi gaun sutra berukir emas yang hanya dipakai oleh bangsawan tingkat tinggi. Lalu paras, rambut, suara.. Aku tidak akan percaya dengan apa yang kulihat. Ah, bisa saja kukaitkan dengan kedatangan kaisar, tapi sungguh janggal. Biar kuingat-ingat, pertama kali aku bertemu dengannya, umurku mungkin sudah menginjak 30 lebih, dan dia masih begitu muda saat itu. Kini yang kulihat adalah seorang gadis muda seumuran denganku, dan tidak mungkin.. tidak mungkin! Ya, aku berbicara tentang Roxanna!

    “Aku sungguh terkagum mendengar seorang seumuranku mampu melakukan hal terse..”

    “Siapa engkau wahai tuan putri?”

    Aku segera memotong omongannya, dan segera menanyakan namanya untuk mengecek keraguanku. Saat itu keringatku menetes deras, dan penjaganya pasti merasakan keanehan dalam diriku.

    “Namaku Rox..”

    “Tuan putri! Maaf tuan Lushan, namanya adalah Xin Juan, dan..”

    “Roxanna?”

    “!!”

    Saat itu penjaga kaget mendengar jawabanku, Roxanna adalah nama bangsa bar-bar yang takkan terdengar di penjuru kerajaan dan hal itu sudah cukup menklarifikasi apa yang ada di hadapanku. Tapi di antara penjaga yang makin merasa curiga dan waspada, Roxanna malah mendekatiku, dan hatiku seakan ingin meledak dengan rasa tangis haru. Tak kusangka kita akan bertemu secepat ini.

    Dia kini berhadapan denganku, dan tangannya memegang pipiku. Tangannya yang begitu lembut, hangat, ya hangat ini adalah hangat Roxanna yang kuketahui dan terampas oleh takdir yang memisahkan diriku dengannya, dan kini dia kembali dalam hadapanku.

    “Kenapa kau terdengar begitu sedih oh Lushan.. Apa kita pernah bertemu? Apa kita pernah berpisah? Mengapa aku merasakan kesepian dalam dirimu.. Bisakah kau maafkan aku jika aku pernah meninggalkanmu, mungkin dahulu kala? Karena aku tak bisa mengingatmu..”

    Tentu saja Roxanna, kita bahkan tidak bertemu pada masa ini. Tapi.. ah, aku mengingat ketika kakak merasuki sukmaku lewat matanya, Roxanna, kau sungguh istimewa bukan, cuman kau yang tahu apa telah kulalui, dan hanya kau yang tahu sesungguhnya bahwa diriku bukanlah iblis, bukanlah seorang pembunuh keji seperti apa yang mereka liat.

    Tapi sudah 20 tahun berlalu pasca kematiannya, sudah banyak kejadian yang melanda diriku. Apa yang akan dilihatnya dalam mataku? Mengerikan, aku tidak bisa membayangkan. Sebuah panorama mayat yang berjatuhan yang membakar dan membekas dalam pikiranku, dan aku takut tentang apa yang terjadi jika saja Roxanna melihat ini semua.

    Aku bukan lagi api suci yang kau lihat dulu, aku hanyalah api redup yang telah membunuh banyak manusia.

    “Maaf tuan putri, aku.. harus pergi..”

    “Tunggu tuan Lushan, aku memiliki kemampuan untuk tahu siapa engkau. Aku.. tidak ingin melupakan seorang teman yang masih mengingatku, dan kau terdengar begitu sedih..”
    Roxanna membuka kain pada matanya dan mencoba menatapku.

    Aku ingin berlari, ketakutan, paranoid kembali meneror pikiranku. Tapi entah mengapa kaki ini begitu kaku untuk bergerak, dan aku hanya bisa memalingkan wajahku dari matanya.

    “Tuan putri.. kekuatan tersebut..”

    Sang penjaga mencoba menarik Roxanna, tapi Roxanna tetap mendekatiku dan memegang wajahku yang mencoba berpaling padanya.

    “Tidak apa.. Lushan tatap mataku..”

    Ketika itu akhirnya kurelakan untuk dia membaca apa yang ada dalam mataku, mata yang Balthiq sebut sebagai mata seorang yang telah mati. Apa yang akan dilihatnya kupikir? Apa dia akan ingat tentang rasa cintaku padanya, masa-masa indah itu? Apa dia akan melihat api yang pernah ia lihat dulu dalam benakku? Apa kau akan ingat apa saja yang telah terjadi? Aku berharap itu semua yang akan ia lihat dalam diriku.

    Tapi Roxanna saat itu terdiam kaku menatap mataku, hanya kulihat ekspresi kengerian dalam matanya, dan dalam refleksinya, aku melihat tumpukan mayat dan diriku di dalamnya, duduk di singsana penuh mayat, tempat mimpiku dulu. Saat itu ekspresi Roxanna berubah menjadi penuh horror dan dia memegang lehernya dengan penuh histeris.

    “Kyaaa!!!”

    Ketika sadar Roxanna dan aku sudah terpisah dan dipegangi oleh para penjaga yang sepertinya merupakan prajurit terlatih milik kaisar dalam penyamaran dan kini Roxanna menatapku ngeri dan berteriak begitu kencang sehingga para pengunjung mulai mencari tahu apa yang telah terjadi.

    “Roxanna, kumohon tatap mataku lagi.. Yang kau lihat bukanlah diriku yang sesungguhnya!”

    “Kepalaku..Kepalaku!! hah..Ahhh!!!

    Dengan tatapan histerisnya dia tetap memegang lehernya, dan berteriak semakin kencang. Penjaganya berusaha menenangkannya, sedangkan aku semakin panik sehingga kini aku melangkah mundur. Segala optimismeku hancur berantakan, dan perasaanku kini seperti meluncur kedalam jurang, hatiku begitu sakit hingga begitu susah untuk diriku menatap keadaan Roxanna yang kini begitu menyedihkan.

    “Roxa..”

    “Iblis.. Kau Iblis!!”

    ***
    *end Roxanna part 2
     
  7. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Naqoyqatsi chapter 4

    Apa kau melihatnya tadi? Hei aku berbicara denganmu Lushan. Apa yang kau coba abaikan? Semua tindakan itu, segala tetek bengek perang yang kau lakukan demi mewujudkan impian kalian berdua, tidak, bahkan kau tidak sungguh-sungguh mengimpikannya.

    Kau hanya melakukan ini demi dirinya bukan?

    Manusia, diperdaya oleh ilusi, dan ah, kalian sebut apa aku sungguh lupa, yang otomatis menggerakan tubuh kalian, keputusan dan kehendak yang membuat kalian mengubah laju dengan sungguh drastis, mengubah jaman, mengubah nasib banyak orang, demi ego kalian itu, demi kesenangan yang kasat mata itu?
    Ahh, aku ingat, cinta, kalimat penuh kemuliaan yang sesungguhnya adalah kebutaan manusia yang sesungguhnya.

    Budak cinta, aku lebih suka menyebutnya seperti itu. Kebutaan, dan ketidak pedulian atas nama ego, tuhan, kekasih, dan anak-anakmu. Kubilang sekali lagi, kalian adalah budak dari cinta sehingga kalian benar-benar terkekang olehnya.

    Jika kusebut saja apa yang paling membahagiakan dari dunia ini, maka akan kusebut sebagai kebebasan sejati, kalian, manusia, adalah mahluk yang terkekang dari jasad hingga ruh oleh ilusi-ilusi tersebut. Nafsu, ambisi, cinta, kalian mahluk berakal bahkan tidak benar-benar waras karena tiga hal tersebut.

    Tapi selamat Lushan, kau sudah terbebas dari itu semua. Kamu sudah menjadi manusia yang bebas dengan sesungguhnya, kini takdir ada di tanganmu. Ayo lushan, ubah dunia ini, kini waktu telah bergerak untukmu.

    ***

    Tanpa sadar aku sudah berlari jauh dari kegilaan di aula tadi. Tanganku bergetar, dan suara bergema di dalam otakku. Tanganku bergetar, dan air mataku keluar tanpa bisa aku menahannya.

    “Haha.. Iblis..”

    Iblis, sudah sejak kapan mereka menyebutku seperti itu? Karakter mulia ataupun busuk adalah dua sudut pandang prespektif yang berbeda antara dimana diri kita berdiri. Tapi, satu hal yang kuketahui, jika saja muncul kedua prespektif tersebut maka tidak ada yang benar-benar salah, maka aku benar-benar seorang iblis, dan mata Roxanna dengan sangat jujur melihat hal tersebut.

    Kini aku tak bisa menolak, mengabaikan, atau berpura-pura tidak peduli. Ya, aku telah membunuh banyak orang demi ambisi semata, kegilaan dan kebutaan yang timbul atas cinta, lebih tepatnya sakit hati, dan dendam atas kegilaan dunia ini. Kebutaan itu mengakibatkan aku telah kehilangan kemanusiaanku, kegilaan menelanku dan aku akan mengulanginya kembali, lagi, dan lagi.

    “Roxanna..”

    Kini hati hancur lebur, dia yang berkata bahwa akan menungguku, dan menerimaku kapan saja nyatanya orang yang mengutukku begitu mendalam atas perilaku yang telah kuperbuat. Bisa saja aku berpikir, Roxanna belum melihat sisiku yang sesungguhnya, api yang berkobar yang sering disebutnya dulu. Tapi aku tahu siapa Roxanna, matanya adalah kejujuran yang pernah kusaksikan dalam hidupku, dan dia tidak melihat cinta maupun ambisi dalam diriku.

    Dia hanya melihat kegilaan yang timbul dari peristiwa-peristiwa tragis dan kematian jutaan orang ang timbul dari ambisi satu pria ini saja.

    Maka aku adalah iblis, yang tak sadar tentang apa yang diperbuatnya, menganggap dirinya mulia namun lebih rendah dari binatang sekalipun, menganggap dirinya pantas namun sesungguhnya tidak.

    Aku merasa begitu kosong, rapuh, dan bisa hancur kapan saja. Aku kembali bertanya, untuk apa aku disini? Apa aku memang peduli pada masyarakat? Apa memang aku peduli pada Roxanna, ibu, kakak, dan segala bentuk ketidakadilan dalam dunia ini. Apa aku memang benar-benar peduli atas kegilaan yang timbul dari manusia-manusia yang buta tersebut? Jika aku memang peduli, kenapa aku melakukan tindakan yang mencerminkan kegilaan itu sendiri?

    ...

    “Lushan!”

    Tiba-tiba seseorang berteriak dari kejauhan menyadarkanku dari renungan yang membuatku bertanya-tanya atas idealitasku. Aku baru tersadar bahwa kini aku berada di taman belakang kediaman keluarga An yang begitu sepi dan gelap, jauh dari kerumunan pesta pernikahan. Saat itu, salah satu penjaga Roxanna memanggilku dari kejauhan, dan aku bisa melihat sesuatu yang berbahaya dari matanya.

    “Siapa kau Lushan? Bagaimana kau bisa tahu identitas tuan putri, dan bagaimana kau membuat tuan putri histeris seperti tadi!”

    “Tunggu siapa namamu sebelumnya?”

    “Xin Juan.”

    “Aku mengenalmu, sepertinya.. Bagaimana mungkin kau memakaikan namamu pada tuan putrimu sendiri.”
    “Diam dan jawab pertanyaanku Lushan!”

    “...”

    Aku hanya terdiam, dan wanita tersebut mengeluarkan pedang dari sarungnya.

    “Kau ingin membunuhku? Kau tidak sadar di kediaman apa ini?”

    “Kaisar mempercayaiku, dan kau bukan apa-apa selain seorang yang baru saja mendapat gelar bangsawan. Kerajaan tidak akan menganggapnya serius.”

    “Jadi aku harus mati? Kau tidak ingin tahu dulu siapa diriku dan bagaimana aku terlibat dengan tuan putri? Bukankah barusan kau bertanya?”

    “Aku berpikir untuk menyulik, menyiksamu, dan mengeluarkan kata-kata dari mulutmu. Tapi aku tidak pernah sekalipun melihat tuan putri sehisteris itu, kau benar-benar ancaman bagi tuan putri, atau mungkin... kerajaan ini. Iblis dia menyebutmu, aku tidak pernah mendengar tuan putri menyebut sebutan yang lebih buruk dari itu, dan instingku mengatakan bahwa aku harus membunuhmu Lushan.”

    “...”

    Dia memasang ancang-ancang, pedangnya sungguh mantap dipegangnya oleh kedua tangan tersebut. Xin Juan kalau tidak salah, merupakan wanita petarung yang menurut kebanyakan memiliki hormon lelaki.
    Badannya besar, dan zirah serta pedangnya merupakan perlengkapan yang dipakai oleh laki-laki yang sudah melatih badannya. Dari ancang-ancangnya, aku bisa membayangkan tubuhku bisa terbelah dua oleh satu tebasannya.

    “Apa kau akan membunuh seseorang yang tidak memakai pedang? Bukankah itu menyalahi sumpahmu sebagai ksatria?”

    “Aku bukanlah ksatria, dan tak ada sumpah untuk tidak membunuh seorang yang tidak berdaya, ataupun tidak bersenjata. Sumpahku adalah memusnahkan segala ancaman bagi tuan putri.. Hei!!”

    Ketika bertanya, aku segera mengambil kayu di bawah kakiku dan berlari memutar.

    Tapi untuk apa? Mengapa darah dan gejolak dalam tubuhku begitu merasakan sensasi menyegarkan dalam hal ini. Apa aku benar-benar merasakan kenikmatan dalam keadaan membunuh atau dibunuh?

    “Kau ingin bertarung dengan kayu hah!”

    Dia menebaskan pedangnya, dan aku segera melompat menjauh.

    “Ahh..”

    Tanpa sadar kepalaku sudah berdarah, dan dia sudah memasang ancang-ancang seperti pedang tersebut tidak memiliki beban yang berarti baginya. Dalam hal ini, Xun Juan tidak sama dengan Bandit yang dulu menyerangku, serangan yang lambat dan penuh dengan peluang, Xun Juan memiliki kecepatan dan kekuatan yang mengerikan. Parahnya lagi, aku hanya memiliki kayu di tanganku.

    “Beberapa inci lagi, otakmu mungkin sudah berceceran tadi.”

    “...”

    Ketika itu aku merasa bahwa jarak dari tebasannya lebih dari perkiraanku. Sekali melihatnya aku sudah tahu bahwa jarakku sudah cukup aman, tapi instingku mengatakan untuk meloncat menjauh, dan benar, hampir saja aku kehilangan kepalaku.

    “Jarak tebasan yang melebihi jarak yang sesungguhnya.. Kau menebas pedang dan kemudian memegang pedang pada sisi ujung sehingga mendapatkan jarak yang lebih luas bukan? Genggaman yang sungguh kuat untuk seorang wanita!”

    “Kau memang bukan anak biasa Lushan..”

    Dalam kecepatan, teknik dan kekuatan yang sempurna seperti ini, bagaimana aku bisa mengalahkannya. Lalu sekali lagi, bagaimana aku bisa mengalahkannya dengan kayu maupun badan yang lemah ini?

    Ketika itu kepalaku berdengung, aku kembali mendengar suara samar-samar dalam kepalaku.

    “Tunjukan bahwa dirimu pantas...”

    Suara tersebut sirna kembali, dan tiba-tiba dalam momen tersebut Xun Juan berlari dengan cepat sambil menebaskan pedangnya. Aku segera melompat dan berguling menjauhinya. Ketika itu aku tahu bahwa setiap serangannya, aku seperti melempar koin antara tebasan itu mengenaiku atau tidak, kesempatannya adalah lima puluh banding lima puluh, dan mungkin di serangan terakhir ini aku akan mati.

    Kecuali dengan sihirku, yang dimana aku akan mati jika menggunakannya kini.

    “Maafkan aku Lushan, serangan yang selanjutnya pasti akan mengenaimu. Aku jarang bertarung melawan bocah sepertimu.”

    Bocah.. Apa maksudnya serangan yang lolos tadi karena dia tidak terbiasa menyerang bocah sepertiku? Ketika itu aku menyadari bahwa dia belum menggunakan serangannya dengan serius, dia berpikir dengan serangannya yang biasa mampu membunuhku seketika, yang sesungguhnya memang mampu membunuhku seketika. Lebihnya lagi, mungkin ini bisa menjadi kesempatanku untuk menyerangnya.

    Pertama dia akan menebas dengan membabi buta seperti itu, tidak begitu cermat sehingga aku bisa masuk dengan kuda-kuda rendah, tapi satu kesalahan dan aku akan mati. Lalu jika saja aku memang berhasil masuk dalam jarak serangan, aku mungkin akan menyalurkan sedikit sihir pada batang kayu ini untuk menusuknya, tapi apakah hal tersebut mampu menembus baju zirahnya? Ada beberapa celah, namun satu kesalahan maka fatal bagiku, dia akan menaikan pertahanannya yang membuatku tidak memiliki kesempatan menang lagi.

    “Lushan!!”

    Disaat Xun Juan sedang mengambil ancang-ancang, dan aku berpikir keras untuk mengalahkannya, Balthiq meneriakiku dari kejauhan.

    Ah, Xun Juan menengok, kesempatan!

    Aku berlari mendekatinya, sedikit memakai tenaga dalamku di kaki sehingga melompat mendekatinya dan menusukan batang kayu yang sudah kuberi sihir tepat pada celah zirahnya.

    “Ughh...”

    “Ahh!!”

    Saat itu juga tangan kirinya dengan cepat memegang tanganku, lalu dia melepas pedangnya dan mengangkat sambil mencekikku. Aku tidak bisa melawan, dan beberapa detik lagi tangannya akan meremukkan leherku. Saat itu aku melihat Balthiq membacakan mantra.

    “Dewa petir, hancurkan musuhku!!”

    Seketika petir menyambar Xun Juan dan anehnya tidak ikut menyambarku. Gosong, bau asap mengelilinginya, namun matanya masih berkobar kebencian. Dia berdiri dimana aku masih terkapar lemas di tanah mencoba mengambil nafas.

    “Ahh...”

    Balthiq ketakutan melihat wanita besar itu melangkah padanya, lalu ketika aku sudah mampu berdiri, aku melihatnya. Wanita tersebut menggunakan sihirnya, dan membuat Balthiq terpental jauh.

    “Balthiq..”

    Aku tahu sihir tersebut, sihir yang cukup untuk meremukan tulang dan membuat seorang yang terkena mati seketika akibat dahsyatnya benturan.

    “Lushan, kau selanjutnya. Sudah cukup dengan permainan pedang bodoh tadi, aku sudah muak dengan semua itu!”

    “Ughh..”

    Dia melukiskan simbol pada jarinya, dan aku terjebak dalam sebuah air yang mengelilingiku.

    “Aku mematikan kakakmu seketika, itu lebih baik baginya yang mencoba menyelamatkan saudaranya. Tapi kau, aku ingin kau mati perlahan-lahan. Aku ingin melihat ekpresi bocah yang berani-beraninya menusukku dengan sebatang kayu!”

    Saat itu aku sudah patah arang. Balthiq pada akhirnya bernasib sama, aku hanya menundanya sebentar. Roxanna, dia kini membenciku dan menghancurkan hatiku, kini aku tidak mungkin menyalamatkannya. Ibu, dia akan jatuh pada kegilaannya lagi, bayang-bayang masa depan yang sungguh mengerikan tanpa seorangpun yang mampu menghentikannya. Di momen-momen terakhir aku kehilangan idealitas hidupku, mengetahui bahwa aku hilang dalam kegilaan hidup ini, sungguh menyedihkan. Pada akhirnya aku kehilangan semuanya, ah, kini aku berpikir, untuk apa aku kembali lagi?

    ***

    “Naqoyqatsi, aku ingin menyebutmu demikian Lushan.”

    “Eh?”

    Tiba-tiba aku berada di ruangan putih, ruangan penuh misteri yang membawaku pergi ke masa lalu. Kini di depanku terdapat pria penuh dengan kobaran api di badannya.

    “Apa yang kau maksud, dimana ini? Apa aku sudah mati?”

    “Naqoyqatsi, istilah dari bahasa suku yang jauh dari negeri ini. Hidup sebagai perang, aku melihat dirimu seperti itu Lushan. Lalu disini adalah ketiadaan, tanah yang diluar dari lingkup ilahiah, kau tidak dipengaruhi oleh hukum tuhan disini. Lalu pertanyaan terakhir, ya dan tidak, kau ada di ambang tersebut sehingga kau bisa berada disini.”

    Pria tersebut duduk dalam kursi, dan menyuruhku untuk duduk di belakang kursi yang tanpa sadar sudah berada disana.

    “Aku pikir ini kedua kalinya kau berada disini.”

    “Ya, belum lama ini, aku tidak begitu ingat dengan pasti, aku bertemu mahluk misterius yang sama seperti dirimu, dia membuatku kembali ke masa depan.”

    “Mungkin saja, tapi aku tidak tahu terdapat sosok seperti demikian, sungguh menarik.”

    Dia kemudian mempersilahkan diriku meminum minuman yang tiba-tiba sudah ada di depanku. Sebuah cangkir yang unik, bentuknya begitu elegan, dan aku tidak tahu ada bentuk cangkir seperti ini. Rasa dari minuman itu pahit, manis, dan unik, aku tidak pernah merasakan minuman ini sebelumnya.

    “Pasti kau kebingungan dengan minuman tersebut, tentu saja, itu bukan minuman yang populer pada jamanmu. Mereka menyebutnya kopi, kau bisa mendapatkannya di tanah timur, kupikir jalur perdagangan dengan bangsa timur sudah terjalin pada zamanmu, kau bisa menukarkan sutra untuk ribuan bijih kopi yang bisa dijadikan minuman nikmat ini.”

    “Zaman? Maksudmu, kau bukan dari zaman ini?”

    “Ya dan tidak , aku adalah mahluk yang lebih tinggi dari kalian. Bagi kami, masa hanyalah seperti lingkaran, masa depan dan masa lalu tidak ada artinya bagi kami. Kini wujudku adalah penjelmaan untuk segala indramu mampu menangkap gagasan tentang siapa diriku. Apa kau masih ingin tahu mengenai dunia ini? Aku bisa berbincang lama denganmu, setidaknya waktu berhenti disini.”

    “Tunggu... ya, aku sedang berada pada masalah genting. Aku hampir mati, dan mengapa aku bisa berada disini?”

    “Rasa ingin tahumu kuat bukan? Kau berada disini karena aku merasa kau sudah cukup melewati penilaianku. Pertama kau melewati batas waktu, kau adalah anomali dan kau menjadi sosok yang terlepas dari satu hukum tuhan, waktu. Lalu kedua, kau telah bertanggung jawab atas kematian jutaan manusia, hal itu sudah membuka segala jenis potensi dalam dirimu, kau sudah menjadi suatu eksistensi spesial dalam alam semesta ini. Terakhir adalah ilusi, kau baru saja melepaskan diri dari salah satu ilusi terkuat dalam dunia ini, dan dengan hal itu kau menjadi manusia penuh potensial, berbeda dari segala pria dengan bakat seperti dirimu.”

    Sosok ini membicarakan hal-hal yang absurd. Apa maksud dari eksistensi, waktu, anomali, ilusi, dia berkata apa sesungguhnya?

    “Lalu apa yang kau inginkan dari segala hal itu?”

    “Aku menawarimu kekuatan Lushan, dan kekuatan ini bukan kekuatan yang bisa kuberikan pada siapa-siapa. Kekuatan yang mampu mengubah sejarah, seseorang menyebutnya harapan, seseorang menyebutnya kehancuran. Aku menyebutnya kekuatan absolut.”

    Aku menyadari bahwa mahluk di hadapanku adalah ruh dewa. Setiap penyihir yang mengendalikan elemen untuk mencapai tingkatan selanjutnya berucap langsung dengan dewa itu sendiri dalam meditasi yang lama, dan menurut mereka, seperti menyatu dengan tuhan. Kupikir diriku sungguh spesial atas peristiwa yang terjadi untuk mampu berada disini.

    “Kau ruh api bukan? Apa kau menawariku kekuatan api? Kudengar para penyihir mampu berkomunikasi dengan ruh seperti dirimu.”

    “Bukan. Kau bisa menyebut diriku ruh, tapi aku adalah bagian dari tuhan itu sendiri. Setiap ruh adalah bagian tuhan, dan kau juga adalah bagian dari tuhan. Api adalah gagasan yang kuciptakan agar indramu mampu menangkap sedikit dari substansi yang kuciptakan, tapi aku bukanlah wujud tersebut kawan. Mungkin aku agak sedikit kebingungan untuk menjelaskan siapa diriku, apakah kau ingin melihat apa yang kulakukan di masa depan? Peranku begitu besar di masa depan nanti.”

    Dia mengajakku masuk dalam pintu yang tiba-tiba terbuka dalam kekosongan tempat ini. Tak ada pilihan, aku mengikutinya dan aku berada dalam suatu lingkup ruangan penuh dengan gambar yang bergerak dengan cepat.

    “Aku menciptakan ruangan ini untuk kau mampu menangkap rentang waktu, dan disinilah kekuatan diriku berada.”

    Dia menunjuk pada suatu gambar dimana terdapat burung besi besar melepaskan sesuatu, seperti bijih-bijih besi yang mendarat pada suatu gedung-gedung yang tidak pernah kulihat sebelumnya dalam duniaku. Ketika itu tiba-tiba semua menjadi putih, dan sebuah asap besar menembus awan dan api yang luar biasa dahsyat di antaranya. Beberapa menit kemudian semuanya menghilang, dan tidak tersisa apapun di daratan.

    “Masa depan adalah dunia dimana mereka dengan mudah memanfaatkan kekuatan ruh materi, dan mereka tidak lagi berkomunikasi dengan ruh materi untuk memanfaatkan mereka. Mereka mampu memanfaatkan listrik untuk membuat sinar, memanfaatkan api untuk memasak ataupun membunuh, memanfaatkan air, dan sebagainya. Dunia masa depan sungguh efisien, penuh dengan pemikiran cemerlang, dan ideologi menarik. Tapi sudah merupakan sifat manusia, ilusi yang kumaksud itu untuk saling menghancurkan, dan hal tersebut tidak pernah sirna dari zaman ke zaman, dari filsuf zaman kegelapan hingga zaman pencerahan. Pada akhirnya sampailah mereka pada ruh materiku, sungguh mengerikan, untuk memberikan mereka suatu kedudukan penguasa, kehancuran dimana-mana demi sebuah ego suatu bangsa yang merasa diri mereka bebas, mereka tidak pernah bebas sesungguhnya.”

    Lalu setelah omongan yang memusingkan tersebut, dia memperlihatkan gambar penuh kehancuran di muka bumi. Awan yang penuh dengan petir, tanah gersang tanpa mahluk hidup sekalipun, masyarakat yang berada di bawah tanah dengan prajurit-prajurit yang menodongkan senjata yang tidak kukenali untuk bekerja, dan manusia-manusia yang hidup bahagia di atas semua itu.

    Saat itu aku bisa melihat di antara manusia itu terpasang suatu alat, ketika mereka mengacau, dimana pada gambar tersebut sang pria sepertinya sedang menulis sesuatu di kediamannya dengan sembunyi-sembunyi, beberapa besi berbentuk manusia bergerak menangkapnya, dan beberapa saat kemudian menembaknya hingga mati.

    Mata mereka seperti orang mati, dan juga para petingginya yang hidup dalam kelimpahan, mereka semua layaknya orang mati yang berjalan.

    Saat itu aku mengingat sihir yang ibu lakukan, sihir mengerikan yang mampu mengawasi segala gerakan, omongan, dan semacamnya yang akan memberikan hukuman berat bagi yang mencurigakan bagi sihir tersebut. Tanpaku, dunia yang diciptakan ibu pasti kurang lebih sama dengan apa yang terjadi di gambaran masa depan ini, mengerikan.

    “Tidak berbeda bukan dengan duniamu Lushan? Inilah yang terjadi di masa depan, sungguh mengerikan. Lucunya, mereka yang mampu mengubah dunia ini adalah orang-orang sepertimu Lushan, namun mereka semua terkekang oleh ilusi dunia.”

    “Merasa bahwa apa yang mereka lakukan demi kebaikan sesama manusia, kemunafikan yang sesungguhnya.”

    “Kau pasti shock mendengar ucapan seburuk iblis, mungkin Balthiq melihat potensimu dan dia melihat manusia-manusia munafik tersebut.”

    “Bukankah kau mahluk spesial yang mampu melihat waktu seakan dia tidak pernah ada. Kau tahu nasibku setelah ini bukan? Mengapa kau memberikan kekuatan ini pada manusia?”

    Layar-layar tersebut seketika mati ketika aku bertanya demikian. Kini tinggal aku dengan kobaran api didepanku yang memiliki mata di antara kobaran tersebut. Dia memegang pundakku, dan kurasakan kehangatan dari kobaran api tersebut.

    “Karena eksistensimu, masa depan menjadi buyar Lushan. Kau dan tanah ini, tanah yang bahkan jauh juga tidak tersentuh dari peradaban yang juga sama berkembangnya dengan kalian. Setelah kau yang kini telah menggagalkan ilusi, aku pikir kau akan menciptakan sejarah yang menarik, mengubah dunia, dan aku sangat berharap padamu Lushan, sehingga aku bertaruh padamu.”

    Sekali lagi mahluk ini mengucapkan kata ilusi, seakan aku benar-benar lepas dari sesuatu, dan dia tidak menjelaskan hal tersebut seakan aku benar-benar mengerti apa yang dikatakannya.

    “Dari tadi kau mengucapkan ilusi, ilusi apa yang kau maksud?”

    “Ah, kukira kau sudah paham betul mengingat dadamu pasti sangat berat ketika melepas candu tersebut.”

    “Maksudmu?”

    “Cinta Lushan, semua itu sirna ketika kekasihmu mengatakan hal mengerikan itu padamu.”

    Cinta? Ada apa dengan cinta? Ya, memang sakit mendengar apa yang di ucapkan Roxanna padaku, tapi untuk berhenti mencintainya, omong kosong jika hanya karena alasan konyol itu aku berhenti mencintainya.

    “Kau salah, aku masih mencintainya. Walau dia tidak mencintaiku kini, aku akan terus menjaganya dan itu adalah sebagian sumpahku.”

    Mahluk tersebut semakin erat memegang pundakku.

    “Tidak Lushan, kau tidak jujur dengan dirimu sendiri. Ada sosok selain dirimu, dan dia yang memutuskan apakah kau mencintainya atau tidak. Aku tahu benar tentang apa yang dipikirkannya, dan kekecewaan tersebut sudah menghapus segala kabut dalam benaknya.”

    Sekali lagi dia berkata hal absurd yang tidak kumengerti. Apa maksud sosok lain? Mengapa mahluk ini berkata seakan aku mengerti apa yang ia katakan.

    “Hal absurd lagi yang kau katakan?”

    “Tentu saja, kau harus melihatnya.”

    Dia menutup mataku, dan seketika aku merasakan sensasi dalam tubuhku.

    Lalu aku merasa jatuh, seperti jatuh dari atas jurang.

    ***

    Dimana ini?

    Ah, aku berada di dunia nyata, entah mengapa rasanya lama sekali aku berada disana hingga taman ini terasa berbeda.

    Tunggu, taman ini memang rasanya berbeda. Tanahnya lebih rata, atau sesuatu menghacurkan dekorasi taman ini.

    “Lushan sadarlah!!”

    Aku baru sadar terdapat ibu dan adiknya, mereka menggunakan sihir untuk menahan sesuatu, dan air muka mereka menunjukan bahwa mereka sangat kewalahan dengan kekuatan yang mereka tahan. Tapi, mengapa mereka berhadapan denganku, apa mereka menahanku?

    “Lepaskan atau aku akan membunuhmu Ibu!! Tahukah bahwa kau telah membunuh jutaan manusia, dan kau telah menciptakan neraka di muka bumi ini. Aku telah membunuhmu dulu, dan kini aku akan membunuhmu lagi!!”

    “Kau bicara apa Lushan!?”

    Suaraku? Bagaimana mungkin?

    Saat kucoba menggerakan tubuhku, aku seperti seorang yang lumpuh total, namun tubuhku bergerak dengan sendirinya. Kepalaku bergerak dengan begitu cepat seperti mengamuk, dan kulihat bahwa badanku di kelilingi kobaran api dan kulitku terbakar karenanya.
    Saat itu aku melihat Roxanna yang memegang penjaganya sambil menangis. Bagaimana dia ada disini?

    “Roxanna.., Kau telah mengkhianatiku!! Kau tahu apa yang kulakukan demi dirimu dan anakmu!! Kau yang berucap bahwa terdapat api dalam diriku, kau yang berkata mencintaiku dan akan menungguku sampai kapanpun, dan kau yang membuat hatiku terbakar untuk meruntuhkan kerajaan yang telah kujaga dengan separuh jiwaku. Kini apa yang kau katakan padaku atas segala dedikasiku untuk mencapai mimpi berdua? Iblis! Hinaan paling mengerikan dari orang yang paling kuharapkan, kau menghancurkan harapanku!!”

    Roxanna saat itu mengelap air matanya. Dia memantapkan wajahnya dan mendekatiku walau ibu memerintahkannya untuk mundur sambil mengucapkan bahwa aku kerasukan sesuatu dan tidaklah waras.

    “Lushan, aku telah menyatu dengan ingatan Roxanna di masamu. Aku.. tidak tahu apa yang kukatakan atas segala kengerian yang kau lewati setelah kematianku, dan kau melakukan apa yang kau percayai demi mencapai kedamaian negara ini, yaitu impian kita berdua..”

    Saat itu aku menangis terharu mendengar Roxanna mengingat seutuhnya Roxanna dari masanya, dan dia juga mengerti kengerian yang kulewati setelahnya. Tapi badanku saat itu membrontak sungguh dahsyat hingga adik ibu terpental jauh karenanya.

    “Kau tidak mengerti! Bagaimana kau sebut aku iblis walau kau tahu apa yang kulewati!!”

    Air mata Roxanna saat itu mengalir dan dia menutup matanya dengan kedua tangannya.
    “Tidak Lushan, aku mengerti benar apa yang kau rasakan, dan aku sadar.. bahwa aku berbuat kesalahan..”

    Kesalahan? Kesalahan apa Roxanna? Apa yang kau maksud?

    “Kesalahanku adalah untuk tidak membunuh diriku dan adikku saat itu, ketika kau membawaku dengan San ke persembunyian keluargamu. Ya Lushan, kesalahanku adalah membuatmu jatuh cinta padaku, kesalahanku adalah membuatmu percaya bahwa kau adalah satu-satunya harapan untuk menyelamatkan kerajaan ini! Kau nyatanya adalah mahluk paling mengerikan Lushan, dan mengetahui itu aku tidak yakin bahwa aku benar-benar mencintaimu dalam ingatan tersebut.”

    Apa?

    “Aku tidak mencintaimu Lushan.”

    Hentikan.

    “Aku tidak pernah mencintaimu, maupun iblis yang kulahirkan dari rahimku!”

    Hentikan!!

    ***

    “Lushan?”

    Ketika itu aku sudah berada dalam ruangan gelap bersama roh api tersebut.
    “Apa yang barusan terjadi?”

    “Ketika kau berada disini, salah satu elemen dari ruh mu, yaitu alam kesadaran tertarik keluar menuju dunia ini. Ketika itu sesuatu yang disebut sebagai Alter Ego, salah satu elemen ruh bawah sadar mengambil alih tubuhmu. Istilah asing tersebut diambil dari masa depan sesungguhnya.”

    “Lalu apakah api tersebut adalah kekuatanmu?”

    “Tentu, aku harus berimprovisasi Lushan atau kau akan mati di kubangan air tersebut.”

    “Bagaimana ibu, bahkan Roxanna bisa sampai disana?”

    “Ibumu dan seluruh penyihir di kediaman An merasakan kekuatan Balthiq dan segera menghampirimu Lushan. Ketika itu Roxanna juga merasakan bahaya menghampiri penjaganya ketika kau mengamuk dan menghancurkan sihirnya lalu seketika membunuhnya. Ketika ibumu juga adiknya menahan kekuatanmu, Roxanna muncul saat itu juga dan tepat pada momen tersebut aku segera mengirimu kebadanmu sendiri.”

    “Apa yang terjadi selanjutnya? Waktu seperti lingkaran bagimu bukan”

    “Hmm.. Kau mengamuk, ibumu tidak kuat menahanmu dan terpental, lalu kau membunuhnya. Kemudian kau akan ke arah adik ibumu, lalu membunuhnya. Kemudian setelah kau membiarkan Roxanna menyaksikan itu semua, kau akan menghancurkan seluruh kediaman keluarga An hingga Roxanna memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri.”

    Tragis. Apakah sesuatu yang disebut Alter Ego ini benar-benar sesuatu yang jujur muncul dari hatiku? Apa aku akan menghancurkan segalanya karena kesedihan mendalam dari hatiku? Bukankah hal tersebut adalah hal paling konyol yang pernah kupikirkan untuk membunuh ratusan manusia demi melampiaskan kesedihanku semata. Apakah aku sebenci itu dengan segala manusia di tempat pesta tersebut?

    “Entah mengapa aku begitu sedih saat kau mengirimku di badan tersebut, tapi aku merasa hampa disini.”

    “Elemen ruh mu, alam sadar mempunyai nama lain Lushan, mereka manusia di masa depan menyebutnya sebagai akal. Kau adalah jiwa paling logis dan waras, dan karenanya aku bisa memanggilmu kesini. Dalam hal itu setelah mengetahui masa depan, apa yang akan kau lakukan wahai Lushan?”

    Aku saat itu sadar bahwa aku setidaknya harus menghentikan diriku di dunia nyata. Aku juga tidak akan membiarkan Roxanna mati, walau apapun yang ia ucapkan tadi, dan bagaimana mahluk ini meyakinkanku bahwa tidak ada lagi cinta dalam diriku, setidaknya Roxanna sudah menjadi bagian dari ingatan indahku, dan aku tidak ingin ia berakhir seperti demikian. Disini pikiranku begitu bersih dan jauh dari bayang-bayang. Aku seperti ingin merelakan segalanya, mengakui kesalahanku, dan mengiklashkan segalanya, termasuk juga Roxanna.

    “Aku lupa, aku tak pernah mendengar namamu?”

    “Aku tidak mempunyai nama sesungguhnya. Mereka memberikan nama yang aneh bagiku di masa depan tapi nama tersebut mereka berikan atas partikel yang mereka bayangkan. Aku lebih memilih untuk kau untuk bebas memberiku nama sebutan.”

    “Ruh, aku akan menyebutmu sebagai Ruh saja. Lalu Ruh, aku ingin kau hilangkan kekuatan sihirmu dan kembalikan diriku dalam badanku.”

    “Baiklah, tapi apakah ini demi menyelamatkan Roxanna?”

    Dengan nada berprangsangka, aku mengingat bahwa Ruh baru saja berucap bahwa dia bertaruh ataupun berimprovisasi, dia takkan sungkan untuk melakukan tindakan jika saja aku mengacaukan potensiku. Mengetahui hal tersebut, ruh adalah hal yang sangat mengerikan jika saja dia kembali melakukan improvisasi-improvisasi selanjutnya dengan seenak hatinya.

    “Sebelum menjawabnya, aku ingin berkata bahwa aku tidak ingin kau lagi-lagi berimprovisasi. Jika kau sudah bertaruh maka kau tidak boleh lagi melakukan manipulasimu, dan itu adalah aturan jika kau ingin bekerjasama denganku.”

    “Baiklah, jadi apa jawabanmu?”

    “Ya, aku ingin menyelamatkannya.”

    “Baiklah.”

    Saat itu Api Ruh sirna dan aku dikelilingi oleh kegelapan.

    “Tutup matamu Lushan, sesungguhnya kau sedang memejamkan mata.”

    ***

    “Lushan?”

    “Balthiq? Kau masih hidup?”

    Saat itu aku terbaring dan berada dalam pangkuan kakak, dan menyadari bahwa kini aku mengalami luka bakar yang serius.

    Tiba-tiba aku merasakan rasa pilu didalam hatiku, rasa sedih yang sangat menandakan bahwa aku kembali merasakan perasaan nyata dalam hatiku setelah menjelajahi dunia ruh. Aku merasa sangat sedih mengetahui harapan yang hancur seketika ketika optimismeku muncul, dan kini aku benar-benar kehilangan arah.

    “Roxanna.”

    Saat itu muncul sosok Roxanna. Matanya masih memerah, dan dia memasang muka sedih. Dia menatapku sungguh dalam, dan aku tahu bahwa dia memakai kemampuannya lagi untuk mengetahui apa yang terjadi padaku.

    “Aku.. Maafkan aku Roxanna. Ya, aku telah menjadi iblis, dan anakmu tidak ada bedanya denganku, kita.. begitu naif.. Tapi..”

    “Mengapa.. setelah apa yang kuucapkan kau masih menginginkanku hidup Lushan?.”

    Roxanna setelah itu langsung menangis dengan keras dan aku tidak mengerti alasannya menangis, tentang apakah dia menyesal atas ucapannya, atau belas kasihan dari seorang iblis hina terhadapnya, dan aku mengerti bahwa Roxanna telah membaca pikiranku, dia tahu tentang apa yang kuucapkan dan aku tidak lagi melanjutkan omonganku.

    Saat itu kakak seperti kebingungan tentang apa yang terjadi, dan aku bisa melihat bahwa ibu sedang menjelaskan pada para penyihir tentang apa yang terjadi dan adiknya yang terkapar di tanah tidak sadarkan diri.

    Saat itu aku baru ingat bahwa Penjaga Roxanna saat itu terbaring dengan luka parah.

    “Roxanna maafkan aku atas penjagamu tersebut, aku tahu kau akan membenciku selamanya karena itu. “

    “...”

    Roxanna hanya menangis dan tidak menjawabku. Saat itu aku baru merasakan rasa sakit yang sangat parah dari seluruh tubuhku, tapi rasa pilu dan sedih seakan membuatku lupa akan rasa sakit ini.

    “Balthiq, aku sangat kesakitan saat ini, bisakah kau tidurkan aku?”

    “Baik Lushan.. Tapi kau janji akan menceritakan segalanya tentang apa yang terjadi.”

    “Baiklah..”

    Balthiq membacakan mantranya, dan saat itu akhirnya aku jatuh dalam rasa kantuk yang luar biasa. Saat itu seketika sebelum menutup mataku, aku melihat Roxanna menatapku, dan aku mungkin masih sedikit berharap, mungkin.

    ***

    Chapter 4 end.
     
    Last edited: Sep 7, 2015
  8. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Naqoyqatsi chapter 5

    Kenyataannya aku telah membunuh banyak orang, dari tanganku langsung, keputusanku, ataupun tindakanku yang sesungguhnya tak ada hubungannya sama sekali dengan itu. Menjadi pusat dari sesuatu yang dinamis, terutama sebagai pemimpin yang menciptakan perperangan, bahkan setiap hembusan nafas yang kukeluarkan terdapat nyawa yang hilang karenanya.

    “Untuk itu aku tercipta, karena semua kegilaan, ambisi, visi, dan segala kebanggaan yang tercipta. Berapa kalipun kau mengelak dan menyesalinya, dalam hati kau bangga akan hal tersebut bukan?”

    Tak bisa mengelak, ya, aku bangga. Mereka sebut diriku sebagai jendral agung dari surga, naga dari timur, dan sebutan lainnya. Memimpin perperangan, membakar moral pasukan, menembus pertahanan seorang jendral tangguh yang dulu mereka sebut sebagai jendral agung, menangkal segala jenis taktik yang dikeluarkan strategis handal yang dulunya mereka sebut sebagai naga dari barat dan sebagainya, aku merasa tidak terkalahkan.

    “Kau lupa menyebutkan sebutan populer lainnya, Sang Iblis. Apa kau lupa kebengisan yang telah kau perbuat? Ingat tiang-tiang yang berjejer dengan kepala diantaranya?”

    Iblis. Aku tak bangga dengan sebutan itu, dan tindakan saat itu, aku bahkan tidak sadar dengan apa yang kulakukan.

    “Tidak sadar? Kau sadar seratus persen saat itu!”

    Tahu bahwa aku tidak bisa dikalahkan, mengetahui bahkan penyihir-penyihir ******** tersebut telah kutaklukan dan bahkan sudah tak ada jendral-jendral lagi dihadapanku, dan cahaya kuberikan pada mereka, bagaimana mungkin mereka masih mengikuti kaisar bodoh tersebut dengan segala jenis politik busuk didalamnya? Bagaimana mungkin orang-orang di bawah kekuasaanku masih mencoba membrontak? Kepala tersebut adalah amarahku atas kebodohan mereka, dan menunjukan bahwa aku adalah raja mereka, dan hidup mereka ada di tangan..

    “Tanganmu? Yang benar saja, apa kau pikir dirimu tuhan?”

    Kekuasaan ditanganku saat itu, dan jutaan manusia berharap padaku untuk menggerakan mereka, kearah harapan ataupun kematian mereka sendiri. Saat itu aku sendirian, Roxanna meninggalkanku dan tak ada yang menopang beban ini selain diriku sendiri. Saat itu aku menjelma menjadi manusia setengah dewa, tuhan yang masih terikat oleh kematian. Ya, untuk mampu menopang beban itu aku harus menjelma menjadi dewa, siapa lagi yang mampu menjaga kewarasannya selain dewa itu sendiri. Kau tahu apa yang tuhan lakukan? Memegang takdir kita dan bahkan segala konflik merupakan hal yang ia sendiri ciptakan dan biarkan. Kebengisan yang terjadi, segala ketidakadilan, era kekacauan yang kini tercipta dengan perperangan tiada henti dan dia membiarkannya? Orang tidak bersalah dipancung, orang miskin mati kelaparan, orang-orang korup dengan perut gendutnya dan wanita-wanita pelacurnya, dia biarkan bahagia dengan angan-angan neraka yang tidak mampu kita buktikan selagi kita hidup. Apa kau pikir tuhan waras?

    “Tidak, kau pun tidak.”

    Apakah kau pikir aku pantas disalahkan? Semua tindakan yang kulakukan? Bukankah itu demi visi ataupun tujuan yang baik? Kalian bahkan tidak pernah menyalahkan tuhan?!

    “Tentu saja kau salah, kau nyata, dan bagaimana mungkin kita salahkan pada imajinasi fiksional yang memiliki banyak versi yang baru bisa buktikan setelah mati?”

    Tapi, bukankah seharusnya kita percaya?

    “...”

    Ya ,bukan?
    Hei bicara padaku!
    Jangan tinggalkan aku sendirian, kumohon.
    Aku bisa gila!!
    Hei..
     
  9. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Naqoyqatsi Chapter 6 : In Balthiq Eyes (Part 1)

    Brutal, mengerikan. Aku menatap mayat-mayat yang berada didepanku, di antaranya gosong oleh petir yang turun dari langit, berteriak sebelum akhirnya nyawa tersebut keluar dari tenggorokannya. Mata mereka yang sudah mati terpaku menatapku penuh ngeri, walau mata tersebut hitam lebam penuh dengan asap.

    Aku membunuhnya, aku membunuh mereka semua.

    Lushan bertanya padaku, bagaimana rasanya membunuh?

    Aku tidak tahu, aku menjawabnya bedasarkan logikaku, bahwa semua orang akan mati dan aku hanya mempercepatnya proses tersebut.

    Tapi air mataku mengalir, aku tak bisa membendungnya. Aku sama mengerikannya dengan mereka, yang dulu aku takuti. Aku, apa yang sudah kulakukan?

    Sampai akhirnya Lushan berteriak padaku, sesuatu menusuk badanku, lalu pandanganku menghilang. Sekian detik kemudian, aku tersadar diikuti dengan rasa yang teramat sakit. Arwahku tertarik paksa oleh sesuatu, lepas dari lekatnya daging ditubuhku yang terasa sungguh sakit hingga akhirnya aku bertemu dengan suatu cahaya yang sangat besar dan bersatu dengannya.

    Aku mati, dan aku merasa bersatu dengan sesuatu yang sungguh besar.

    Saat itu aku tahu bahwa hidup hanyalah melepas sesuatu yang kecil, begitu kecil, dan mendapatkan sesuatu yang maha besar. Aku tidak merasa sedih, dan merasa konyol. Bagaimana mungkin aku takut, bersedih pada sesuatu yang sangat kecil bahkan tidak nyata pada kekekalan yang besar, sesuatu yang sungguh besar?

    ***

    “...”

    Mimpi itu lagi..

    Mimpi dimana bukan Lushan yang menyelamatkanku, dan aku menghabisi mereka yang mengancam kami dengan sihir yang ibu ajarkan.

    Mimpi tersebut terasa sungguh nyata, seperti hal itu lah yang sesungguhnya terjadi, dan aku mati, proses yang mengerikan namun hasil yang sungguh aneh, tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Kedamaian yang sungguh kurindukan, namun jika kupikir-pikir lagi, aku merasa semakin sadar bahwa aku bukanlah diriku sendiri saat itu. Menyatu seperti lepas dari makna individu, di dalam mimpi itu aku bukan diriku lagi, bahkan bukan siapa-siapa. Tapi mengapa aku tidak merasakan rasa ngeri didalamnya?

    “Balthiq, kau sudah bangun?”

    Ibu sudah menggunakan baju perginya, dia harus segera pergi ke tempat pertemuan membahas permasalahan Lushan.

    “Ibu bagaimana keadaan Lushan?”

    Saat itu raut muka ibu berubah, mukanya dipenuhi oleh kekhawatiran.

    “Luka bakarnya semakin parah, ibu harus membuatnya tidur panjang sehingga ia tidak merasakan sakitnya luka disekujur tubuhnya. Jika dia tidak cepat dibawa ke Shizang ibu takut infeksi lukanya akan semakin parah..”

    “Lalu kenapa kita tidak segara membawanya kesana?”

    Ibu segera duduk dan mengeluarkan pipa opiumnya.

    “Lushan, dia dituduh membunuh salah satu pengawal elite kerajaan, dan banyak masalah lainnya. Bagaimana jika kau ikut Balthiq? Ibu akan menunggumu, cepat kau mandi dan ganti baju”

    “Baik bu..”

    Aku tahu bahwa permasalahan yang dibawa Lushan sungguh besar, dan terdapat misteri dibalik kekuatan Lushan. Tidak, bahkan aku tidak merasa orang yang kutatap saat itu adalah Lushan, dia seakan bertranformasi menjadi sesuatu yang lain ketika peristiwa penyerangan itu terjadi.

    Entah mengapa hari-hari semakin aneh, mimpi tersebut dan Lushan. Apa yang sebenarnya terjadi?

    ***

    Telah sampai aku dan ibuku di tempat pertemuan. Terdapat An Yanyan, Penasihat keluarga An, adik ibu, seorang kakek tua bangsawan yang kupikir merupakan salah satu penasihat kaisar, beberapa bangsawan yang tidak terlalu terlihat istimewa, lalu seorang gadis yang matanya ditutupi oleh kain yang kupikir sebelumnya berseteru dengan Lushan, dan Prajurit yang kukira adalah salah satu petinggi kerajaan.

    “Hukuman bagi yang membunuh prajurit milik Kaisar adalah hukuman mati, kalian sesungguhnya tau tentang hukum ini bukan? An Yanyan kenapa kau membela anak ini? Pertama, Kaisar tidak akan menurunkan derajat namamu karena bukan anak tirimu yang menyerang pertama kali, tentunya asal anak ini kau hukum mati. Kedua, dia baru saja menjadi anak tirimu, tidak mungkin sudah muncul rasa kasih sayangmu. Ayolah An Yanyan, kita harus berdamai dengan kaisar.”

    Penasihat keluarga An mengucapkan hal tersebut sebelum ibu duduk. Raut muka ibu terlihat kesal, tapi An Yanyan langsung menyambar ucapan penasihat tersebut.

    “Shu Zhong, kau tidak tahu anak ini, dia istimewa. Bahkan anakku sendiri akan kuberikan pada Kaisar, tapi tidak dengan anak ini. Dia satu-satunya harapan keluarga An!”

    “Lalu apa yang istimewa dari anak ini wahai An Yanyan?!”

    Penasihat yang dikirim Kaisar untuk menyelesaikan masalah ini berbicara lantang pada An Yanyan. Kupikir dia yang memberikan isyarat perdamaian dengan menghukum mati Lushan.

    “Dia bisa melakukan..”

    “An Yanyan!!”

    Ibu berteriak, dan semua yang berada di pertemuan ini kaget dengan teriaka ibu.

    Saat itu An Yanyan ingin memberi tahu bahwa Lushan mampu menggunakan sihir, tapi bagaimana mungkin An Yanyan tahu? Kupikir cuman adik ibu, aku, dan ibu saja yang tahu.

    “Mengapa istriku? Mereka semua pantas tahu bukan?”

    “Kau mau membahayakan anakku?”

    “An Yanyan tolong ceritakan, atas nama kaisar apapun informasi yang membuatku mengerti alasan untuk tidak memenggal anak tirimu.”

    An Yanyan tersenyum menatap Ibu, dan Ibu hanya memalingkan mukanya. Adik ibu menutupi muka dengan tangannya memperlihatkan kebodohan yang An Yanyan lakukan. Saat itu aku sadar hanya satu orang yang tidak bereaksi, namun gemetar memenuhi badannya.

    “Lushan..”

    Roxanna kalau tidak salah. Gadis misterius yang dijaga oleh pasukan elite yang mampu menggunakan sihir. Apa hubungannya dengan Lushan? Bagaimana dia bisa mengenal Lushan yang dulunya hanyalah masyarakat kalangan bawah?

    “Roxanna, kau tidak perlu bicara. Aku tahu kau shock akan semua ini bukan?”

    Penasihat Kaisar berpikir Roxanna dalam keadaan shock, namun aku tahu dari suaranya tidak ada rasa ragu didalamnya, walau badan tersebut bergetar penuh dengan rasa takut.

    “Dia berbahaya, sangat berbahaya..”

    An Yanyan tidak melanjutkan omongannya, semua terpusat pada Roxanna.

    “Berbahaya seperti apa? Kami tidak mengetahui apa yang terjadi, tolong Roxanna jelaskan apa maksudmu.”

    Kupikir ibu maupun adik ibu yang melihat kekuatan Lushan menutup mulutnya rapat-rapat. Satu-satunya saksi yang tersisa adalah aku dan Roxanna, beruntungnya ibu tidak mengatakan apa-apa perihal diriku. Hal ini membuat Roxanna satu-satunya saksi mata disini.

    “Dia akan menghancurkan semuanya, semuanya!! Dia bisa saja menghancurkan tempat ini, dia begitu benci pada kalian.. Kalian yang penuh dengan kemunafikan, rasa dengki, dan.. dia sungguh buta dengan kebencian hingga dia menjadi gila dan membantai kalian semua!!”

    Roxanna berteriak, mereka semua merasa apa yang dikatakan Roxanna adalah hasil dari trauma dari seorang yang baru melihat pembunuhan, terutama orang yang berada paling dekat dengannya.

    “Roxanna cukup, penjaga tolong bawa dia..”

    Penasihat Kaisar menyuruh beberapa pasukannya untuk membawa Roxanna. Saat menuju pintu keluar, Roxanna masih berbicara kepada dirinya sendiri.

    “Tidak, tidak.. Ini salahku, ini salahku..”

    Roxanna keluar dan hening memenuhi ruang pertemuan ini.

    “Baik, kita lanjutkan kembali.. dan yang ingin kukatakan adalah Lushan mampu..”

    An Yanyan kembali mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan.

    “Menggunakan sihir.”

    Ibu menundukan mukanya, namun perasaan tidak percaya memenuhi ruang pertemuan ini.

    “Apa kau gila!”

    “Lalu apa kau bisa jelaskan bagaimana penjaga gadis tersebut memiliki luka bakar parah? Kau pikir anak tiriku Lushan memiliki obor ditangannya yang kemudian ikut membakar dirinya?”

    Penasihat kaisar berdiri dan begitu juga beberapa bangsawan lainnya. Mereka tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh An Yanyan. Mereka menengok pada adik ibu yang merupakan ketua akademi sihir, namun dia menunjukan muka yang mengkonfirmasi apa yang diucapakan oleh An Yanyan.

    “Tidak mungkin.. Apa karena Klan Ashide?”

    “Tidak, ini pertama kalinya di dalam Klan Ashide laki-laki memiliki kekuatan sihir.”

    Adik ibu berbicara menolak bahwa keadaan ini diakibatkan darah yang mengalir pada keluarga kita.

    “An Yanyan.. Aku akan berbicara pada Kaisar. Selain itu, bisakah kalian rahasiakan perihal ini untuk tidak terjadi kehebohan? Dan..”

    Penasihat Kaisar melihat pada bangsawan yang heboh oleh kenyataan ini.

    “Prajurit tolong bawa mereka, rahasia ini tidak boleh bocor..”

    “Hei!!”

    Mereka membrontak ketika para prajurit mengekang lengan mereka untuk dibawa keluar. Mereka meneriakan bahwa derajat mereka lebih tinggi dari keluarga An dan mereka memiliki koneksi yang kuat dengan kerajaan, tapi penasihat kaisar tidak peduli dengan ucapan dan sumpah serapah mereka.

    “Untuk proposalmu klan Ashide, membawa Lushan menuju akademi sihir untuk melakukan pengobatan dan penelitian kuizinkan. Tapi apapun keputusan Kaisar setelahnya kalian harus menurutinya, walau mungkin An Lushan akan tetap dihukum mati, penolakan perintah Kaisar adalah pembrontakan dan tak ada kata ampun untuk hal tersebut.”

    “Baik..”

    Saat itu penasihat kaisar keluar dari ruangan, dan An Yanyan tersenyum puas dengan hasil yang ia dapatkan, apapun yang ia rencanakan pasti sudah berhasil. Saat itu ibu keluar dengan cepat dan aku mengikutnya.

    “Ibu kau mau kemana?”

    “Roxanna, siapapun dirinya, dia tahu apa yang terjadi pada Lushan..”

    ***

    Ibu langsung tahu dimana lokasi Roxanna. Dia duduk di bebatuan, lokasi tempat Lushan dan penjaganya bertarung. Seperti orang tidak waras, ia mengulang kata-kata yang ia ucapkan ketika keluar dari ruang pertemuan.

    “Ini salahku..Ini salahku.. Oh Lushan, aku yang membuatnya..”

    “Membuatnya apa? Apa yang kau lakukan pada anakku?”

    Roxanna menatap ibu, dia menangis dan pengikat matanya terlihat basah oleh air mata yang keluar.

    “Aku yang menyulutkan api padanya yang kupikir bisa kukendalikan, tapi api tersebut menyebar begitu luas dan membakar semuanya termasuk kau dan aku..”

    “Apa yang kau maksud?”

    “Kau seharusnya mati Balthiq.. Dia sering bercerita tentangmu, mimpi buruknya dimana panah tersebut menembus badanmu dan matamu. Bagaimana rasanya membunuh Balthiq?

    “Apa yang kau maksud..? Bagaimana bisa..”

    “Apa yang kumaksud? Aku tahu kau bisa merasakannya, dan kau juga mertuaku, kau tahu bahwa Lushan telah memakanmu bukan?”

    Bagaimana dia bisa tahu perihal mimpiku? Lalu Lushan memakan ibu? Apa yang ia maksud? Aku merasa kaget bahwa wanita ini tahu tentang mimpiku, tapi berbeda dengan ibu. Matanya penuh dengan amarah, ia gertakan giginya dan tangannya segera menyambar penutup mata Balthiq.

    “Kau.. Mata tersebut..”

    Penutup mata tersebut menyembunyikan pupil mata yang begitu merah bagai darah. Cantik, dan mengerikan. Raut muka ibu yang terlihat marah tiba-tiba mencair menjadi raut muka kasihan.

    “Ibu, ada apa dengan mata tersebut?”

    “Kau bilang bahwa aku adalah mertuamu bukan? Apa kau melihat masa depan? Tidak mungkin..”

    Saat itu Roxanna terlihat begitu takut menatap mata ibu.

    “Apa yang Lushan lakukan lebih mengerikan dari apa yang kau pandang dariku?”

    Roxanna terdiam menutup matanya, namun mulutnya bergerak mencoba menjawab pertanyaan ibu.

    “Sangat, sangat mengerikan. Apa yang kau lakukan, apa yang kau pikir begitu mengerikan hanya sekecil titik bagi apa yang telah Lushan lakukan.”

    “Anakku telah menjelma menjadi iblis seperti ibunya? Ah tidak, lebih hebat lagi bukan? Hahaha.. Begitu bangganya ibumu ini Lushan..”

    Ibu tertawa, tapi raut mukanya menangis dan air mata menggenangi matanya.

    “Ibu.. Apa yang sedang terjadi? Ibu?”

    “Balthiq kita pergi dari sini. Kupikir dia sudah melewati batas kewarasan dan jatuh kejurang kegilaan.”

    “Maksud ibu?”

    “Matanya istimewa Balthiq, dia bisa melihat apapun yang ada dalam pikiranmu, apapun yang pernah kau lakukan, bahkan melihat ruhmu. Dia telah menatap hal mengerikan dari diri Lushan, dan satu-satunya hal untuk pergi dari penderitaan, suasana yang sangat mengerikan, dan rasa putus asa adalah menjadi gila. Wanita di depanmu sudah tidak waras.”

    “Maksudmu Lushan..”

    “Apapun itu, dia sudah melakukan hal yang mengerikan, dan aku ingin memastikanya.”

    Ibu berjalan menjauhi Roxanna dan aku mengikutinya, selagi itu Roxanna kembali mengucapkan kata-kata penyesalannya kembali.

    “Memastikannya dengan apa?”

    “Ini terdengar gila Balthiq, akupun ragu dengan apa yang kupikirkan sekarang. Kita harus bertanya pada Lushan langsung, dan aku ragu dia akan menceritakannya.”

    Ibu berbicara tapi tidak menjawab, aku semakin heran dan khawatir tentang apa yang ingin ibu lakukan, karena yang kulihat kini adalah ketakutan pada mata ibu.

    “Ibu.. Apa yang ingin kau lakukan?”

    “Persis seperti apa yang gadis itu lakukan, ibu.. bukan, kita akan masuk kedalam pikiran Lushan.”
     
  10. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Naqoyqatsi Chapter 7 : In Balthiq Eyes (Part 2)

    “Apa kau gila?”

    Adik ibu berteriak didepan ibu, dia bahkan belum mendengar alasan ibu ingin melakukan ritual tersebut.

    “Aku waras Nisha, aku ingin tahu tentang apa yang terjadi pada anakku!”
    “Dalam keadaan seperti ini?”

    Di hadapanku terdapat Lushan dengan perban di seluruh tubuhnya. Bau gosong dan busuk begitu menyegat di hidungku hingga aku berpikir apakah Lushan baik-baik saja? Di antara perban yang mengelilinginya, aku bisa melihat sedikit celah dimana terdapat daging yang tidak tertutupi kulit. Mengerikan. Ketika dia duduk di pangkuanku, dia masih berupa sosok yang dapat kukenali, namun tiba-tiba aku bisa melihat kulitnya meleleh di antara api yang menghilang ketika kubacakan mantra tidur untuknya yang mulai kesakitan, dan aku berteriak sekencang mungkin untuk meminta pertolongan.

    Kini aku mulai berpikir kembali melihat sosok adikku yang sekarat, prioritasku adalah menolong Lushan. Persetan dengan misteri dibalik kekuatan misterius dan kejadian-kejadian aneh yang terus bermunculan ketika kita berada disini.

    “Ibu aku ingin Lushan segera diobati, aku tak bisa melihatnya seperti ini..”

    “Jangan kau juga Balthiq. Kau tidak mengerti, adikmu ini sudah melakukan..”

    “Ibu sendiri yang bilang hal tersebut tidak mungkin bukan? Bagaimana adik kecilku bisa melakukan hal keji seperti apa yang dia ucapkan? Apa dia bisa melihat masa depan? Aku tak pernah mendengar sihir seperti itu!”

    Adik ibu memegang pundak Ibu, dia menggelengkan kepalanya namun ibu tetap bersikeras.

    “Kalian tidak mengerti, sekarang momen yang tepat. Lihat dewa yang mengunjungi badannya tadi? Dia sudah melakukan kontrak dengan dewa dan ketika dia pulih, kita tidak akan bisa masuk kedalam pikirannya.. Percayalah, aku juga tak ingin terjadi apa-apa pada anakku, dan kita akan segera pergi ke Shizang setelahnya.”

    Tatapan ibu membuatku percaya bahwa dia bersungguh-sungguh ingin menyelamatkan Lushan, tapi tatapan adik ibu berkata lain.

    “Aku tahu, tapi.. Yang kukhawatirkan adalah apakah tidak terjadi apa-apa pada pikiran Lushan setelah kau memasukinya? Kita semua tahu hal itu akan mengacaukan memorinya.”

    “Tidak Nisha, aku sudah beberapa kali masuk kedalam pikiran seseorang dalam tahap introgasi dan tak pernah sekalipun merusak otak yang kumasuki.”

    Merusak otak? Apa maksud ibu sihir ini sangat berbahaya?

    “Lalu kenapa kau ajak Balthiq?!”

    “Karena dia terlibat dalam hal ini, dan dia harus tahu apa yang terjadi..”

    Tunggu, jadi semua masalah ini berasal dariku?

    “Ibu, aku tak mau mengacau.. aku takut..”

    “Tidak Balthiq, selama kau berada di sampingku, tidak akan terjadi apa-apa pada Lushan. Ini juga jadi pengalaman menarik untukmu bukan?”

    Ibu tersenyum walau sebelumnya dia sungguh terlihat panik dan khawatir. Aku mengingat hal ini ketika ibu pertama kali mengajarkanku sihir, dia memiliki senyum yang sama dengan yang kini ia lakukan, walau aku bisa bilang bahwa yang ia lakukan adalah senyum yang paling tidak kusukai pada dirinya. Dia tersenyum seakan terdapat penyesalan terdalam pada dirinya.

    “Baiklah jika itu maumu. Aku sesungguhnya sangat menolak ini, Lushan adalah obyek paling menarik yang pernah diterima akademi sihir, dan kau bisa saja mengacaukannya.”

    “Nisha, aku tak mau anakku menjadi objek penelitianmu..”

    “Aku tak mau kau membunuh anakmu sendiri!”

    “...”

    Aku hanya terdiam dari perseteruan kakak beradik ini. Aku menjadi ingat bahwa dulu aku selalu berdebat, mengejek, bercanda, dan bermain dengan Lushan sebelum meninggalnya ayah dan ibu ingin membawa kami. Lushan yang polos yang selalu mempercayai ayah akan perdamaian yang ayah impikan, walau aku selalu mengejeknya munafik. Lushan yang tidak pernah kupikirkan akan melukai lalat sedikitpun. Lushan yang lemah dan hanya membaca buku di rumah selagi aku kerja menggantikan ayah selagi ayah sakit dan ibu yang tak kunjung datang.

    Air mataku mengalir, sesungguhnya aku benar-benar tidak peduli akan hal ini. Apakah yang kulakukan ini demi kebaikan Lushan atau hanya untuk diriku maupun ibu saja?

    ***

    Adik ibu menggambarkan diagram dan mantra. Dia memohon pada dewa yang memberi ingatan untuk memberikan kekuatannya untuk masuk ke dalam batin Lushan dan aku juga ibu berdiri mengelilingi Lushan di tengah-tengah diagram tersebut. Ibu berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja selama aku memegang tangan ibu membuatku benar-benar memegangnya erat-erat, bahkan kuikatkan tali rambutku pada tanganku untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu.

    “...”

    Tiba-tiba seluruh ruangan menjadi gelap, dan kosong. Aku ketakutan, dan anehnya lagi aku tak merasakan tangan ibu memegang tanganku.

    Bukan.

    Aku tidak merasakan badanku sendiri, aku tidak merasakan apa-apa.

    “Balthiq?”

    “Eh?”

    Tiba-tiba ibu sudah berada di sebelahku lagi, dia melihatku seakan berkata bahwa dia masih berada di sampingnya.

    Saat itu kita seakan melayang di antara pasukan-pasukan di bawah. Aku tidak ingat Lushan pernah berada disini? Ini perang bukan?

    “Lihatlah.. Kita ada di pikiran Lushan.”

    “Eh? Lushan? Itu Lushan?”

    “Ya, dia bukan Lushan adik kecilmu. Apa yang kupikirkan ternyata benar.. Lushan, sebenarnya apa yang terjadi padamu..”

    Seorang yang ibu sebut Lushan berada di antara kerumunan prajurit dengan kuda yang gagah, baju zirah yang hanya dimiliki jendral-jendral perkasa, dengan pedan besar di punggungnya. Satu-satunya yang membuatku tahu bahwa dia Lushan adalah matanya, tapi bukan mata Lushan yang sering kutemui, melainkan mata Lushan yang baru saja membunuh para bandit tersebut.

    “Ibu, jadi Lushan dirasuki oleh sosok ini?”

    “Bukan Balthiq..”

    Orang yang ibu sebut Lushan berteriak dan disambut oleh jutaan manusia dibelakangnya. Semangat mereka terbakar membara walau bisa terlihat di depan mereka adalah pasukan yang memenuhi garis horizon. Begitu banyak hingga aku tak tahu bahwa penduduk China memang sebanyak ini.

    “Lushan!! Lushan!!Lushan yang agung!! Tidak Terkalahkan!!”

    Mereka memanggilnya Lushan. Apakah nama Lushan adalah nama yang pasaran?

    “Ibu mereka memanggilnya Lushan..”

    “Tentu saja Balthiq, dia Lushan adikmu..”

    “Tapi dia tua? Apa kita.. sedang melihat masa depan? Bukankah seharusnya kita berada di ingatan Lushan?”

    “Kau masih belum sadar juga Balthiq? Dia bukan lagi Lushan adik kecilmu, bahkan kini umurnya sudah melebihimu mungkin. Dia.. berasal dari masa depan.”

    Masa depan? Aku tidak pernah ingat bahwa terdapat dewa waktu atau semacamnya yang memiliki kekuatan membalikan waktu. Jika memang ada, maka dunia akan kacau balau bukan? Apa yang ibu katakan benar-benar tidak masuk akal.

    “Maksud ibu? Tunggu, tidak mungkin bukan?”

    “Ibu juga tidak percaya.. Tapi hanya ini satu-satunya penjelasan tentang keanehan yang terjadi pada adikmu.”

    Lushan bergerak memimpin pasukannya. Dilihat dari atas, terdapat pasukan yang memberikan asap kabut, dan dalam kabut tersebut terlihat perubahan formasi yang berubah begitu rapih. Mereka seperti menyusun suatu labirin selagi pasukan musuh menyerang dengan pasukan kuda mereka.

    Aku dan ibu hanya terdiam menonton selagi pasukan musuh memasuki asap, dan terjadi perperangan yang tidak bisa kita lihat. Ibu menggunakan sihirnya untuk mempercepat waktu dengan bergesernya matahari di langit, lalu tiba akhirnya angin membuat asap tersebut hilang.

    “Ibu lihatlah.. Pasukan musuh tersebut sudah gugur, dan hanya tersisa Lushan dan pria besar..”

    “Tidak mungkin.. Dia salah satu dari 6 jendral dari surga, Shin Zhaun yang disebut tidak terkalahkan. Dia pasukan yang dianugrahi dewa perang, dan dia tidak terlihat tua sama sekali..”

    Lushan dengan kudanya seperti berbicara dengan jendral tersebut. Dia terlihat tersenyum puas melihat Shin Zhaun yang terlihat murka dengan darah dan luka disekujur tubuhnya.

    “Barang antik, walau umurmu tidak bertambah, kau tetap barang antik kakek tua.”

    “Pertama kalinya aku dipermalukan seperti ini. Kau dengan taktik licikmu, dan kau sebut dirimu sebagai ksatria tidak terkalahkan? Seorang jendral yang mengakui dirinya terkuat tidak menggunakan taktik licik seperti itu.. Dia segera menyerbu melewati dinding tubuh manusia dengan tombak-tombaknya.”

    “Kau dengan pikiranmu yang kuno. Lucu, bagaimana mungkin kau bisa selamat selama ini dengan taktik konyolmu tersebut. Ah, tentu saja. Dinasti Tang tidak pernah menemui musuh yang setara selama ini, hanya bandit dan pasukan dari utara yang kini kalian batasi tembok karena ketakutan kalian.”

    “Kau sebut diriku bodoh? Kenapa kita tidak bertarung saja wahai Lushan agung. Aku tahu hanya kematian yang menungguku disini..”

    Lushan memegang pedangnya besarnya, dia tersenyum atas tantangan tersebut.

    “Silahkan. Kita buktikan apakah yang berada di hadapanku adalah barang antik atau bukan.”

    Semua pasukan yang tersisa dan bertarung tiba-tiba menghentikan perkelahian mereka dan mengelilingi pertarungan yang sedang terjadi di hadapan mereka.

    “Ibu kenapa mereka tidak melanjutkan perperangan mereka?”

    “Disini momen perperangan sesungguhnya. Perang sesungguhnya adalah momen bagi para pemimpin perang, bukan prajurit dibelakangnya. Siapapun yang jatuh dari para pemimpin ini menentukan siapa yang kalah atau tidak, dan tentunya jika mereka terus bertarung, mereka akan kehilangan momen paling berarti, pertarungan antar jenderal sebagai pembuktian siapa yang paling tangguh di medan perang."

    Ibu seperti berkata bahwa perang tidak pernah menjadi momen dari jutaan prajurit yang bertarung, mati, ataupun berusaha untuk bertahan hidup melainkan momen-momen jendral, satu manusia yang memimpin mereka dalam kemenangan atau kematian. Seberapa bertanggung jawabnya mereka atas jutaan kehidupan di belakang mereka, ataupun harapan yang dibebankan pada punggung mereka?

    Shin Zhuan saat itu segera menyerang Lushan secara langsung dan walau Lushan menangkis Glaive Shin Zhuan, Kudanya terdorong begitu kuat seperti ditabrak oleh sesuatu yang berat.

    “Serangan yang bagus untuk barang antik.”

    Lushan terus mencoba memancing Shin Zhuan yang semakin terlihat merah mukanya.

    “Kali ini kau akan benar-benar mati Lushan.”

    Shin Zhuan kembali menyerang dengan sekuat tenaga dan Lushan menahannya, dan kini benar-benar kuda tersebut terpental jatuh. Tapi seketika itu juga Lushan menghilang, dan secara cepat sudah berada di atas tanah, berdiri dengan pedang ditangannya.

    “Siala..”

    Selagi Shin Zhuan ingin membalikan kudanya kehadapan Lushan, Kuda Shin Zhuan terbelah dan dia terjatuh di tanah. Shin Zhuan segera berdiri kembali memasang kuda-kudanya.

    “Sepertinya kuda kita sama-sama jatuh. Kita harus bertarung di tanah, dan aku pikir senjatamu tidak begitu kuat disini..”

    “Tak ada bedanya, aku akan tetap membelahmu menjadi dua di kudaku ataupun di tanah ini..”

    “Coba saja..”

    Lushan kini yang menyerang Shin Zhuan, dia menebas senjata Shin Zhuan dan Shin Zhuan terlihat kaget dengan apa yang dia hadapi.

    “Kau.. Bagaimana mungkin..”

    “Ya, aku akui kau yang paling kuat di antara barang antik.”

    Aku tidak mengerti, tapi Shin Zhuan mengeluarkan darah dari mulutnya, dan semuanya bersorak atas Lushan.

    “Lushan.. Sepertinya kita berada pada waktu yang salah.”

    “Mengapa ibu?”

    “Dia menggunakan sihir. Pria itu.. Lushan sudah memegang jantungnya selagi pedang tersebut beradu dengan senjata Shin Zhuan. Sihir biasa bisa kubilang, kupikir Lushan belum mengerti benar bagaimana cara menggunakan sihir dan hanya memakai instingnya saja.”

    “Tapi tangan Lushan masih berada di pedang tersebut?”

    “Yang kau lihat hanyalah wadah. Tubuh kita ini wadah, tapi tidak dengan ruh kita. Bayangkan jika ruh tersebut bisa lepas dari wadah dan seketika menjadi fisik. Kau tidak akan mengerti untuk sekarang Balthiq, tapi itu yang dilakukan Lushan kini. Kita sepertinya harus ke masa sebelum ini..”

    “...”

    Ibu membaca mantra sambil menggerakan jarinya. Dunia tiba-tiba kembali diterkam oleh kegelapan, akan tetapi sesuatu yang kupijak tiba-tiba bergetar dan terdapat suara yang begitu keras dipikiranku.

    “Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan disini?”

    “Oh tidak.. Balthiq, pegang tangan ibu kuat-kuat”

    “Ada apa ibu?”

    Ibu terlihat khawatir, dia cepat-cepat membacakan mantra dan terdapat sinar yang muncul dari tubuhku.

    “Suara tersebut adalah suara dewa yang memegang kontrak dengan Lushan. Dia bukan dewa biasa untuk masih bisa berikatan dengan Lushan dalam kondisinya yang seperti ini. Dia akan mengguncang psikis kita untuk berpisah dari psikis Lushan, tapi hal ini akan sangat...”

    Tiba-tiba gempa menghentakan tanah, dan aku seperti terbang terpental. Begitu kuat gaya yang ingin memisahkan aku dari tangan ibu, dan tiba-tiba saja tali yang kuikatkan pada tangan ibu dan tanganku putus oleh gaya tersebut dan pada akhirnya aku terhisap dalam kegelapan.

    “...”

    Tiba-tiba aku mendengar suara Lushan.
    Dia berkata bahwa dia ketakutan.
    Dia berkata seperti itu seakan dia ditinggalkan oleh sesuatu.
    Aku ingin menemaninya tapi aku tidak bisa merasakan badanku.
    “Lushan?”

    ***
     
  11. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Naqoyqatsi Chapter 8 : Eating

    Balthiq?

    Ini dimana?

    Ikatan antara diriku dan balthiq terlepas. Satu-satunya cara yang kutahu untuk lepas dari dunia ini adalah ikatan antara aku dan Balthiq. Sebelumnya kubacakan mantra pelacak, tapi hal tersebut tidak pernah kulakukan sebelumnya.

    “Ibu..”

    Lushan? Apa yang kau lakukan?

    Guncangan psikis tersebut nyatanya tidak memisahkan, namun malah menggabungkan psikis Lushan dengan psikisku. Dia kini berada di hadapanku dengan penuh darah di mukanya.

    Sebenarnya apa yang terjadi?

    Ketika aku melihat sekelilingku, aku melihat banyak penyihir yang mati. Aku melihat banyak pasukan yang bersimbah darah disekililingku. Apa yang sebenernya terjadi.

    “Maafkan aku..”

    Aku tergeletak di tanah. Aku mulai merasakan rasa sakit, rasa sakit yang Lushan pikir aku rasakan saat itu.

    Tidak.. Sakit.. Sakit sekali..

    “Enak.."

    Lushan apa yang kau lakukan, kakiku..

    “Enak ibu, seperti apa yang kau katakan.. maafkan aku..”

    Tanganku? Rasanya sakit sekali, tapi aku tidak merasakan tanganku? Tidak.. Dimana tanganku?

    “hahaha...”

    Tiba-tiba aku merasakan rasa sedih yang sangat sesak. Balthiq? Aku melihat bayangan Balthiq yang mati dengan sangat mengerikan. Aku memakai sihir yang seharusnya tidak kulakukan. Lushan.. Aku suruh dia memakanku.

    Tidak..

    Hentikan Lushan.

    Hentikan..
     
  12. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Naqoyqatsi Chapter 9 : In Balthiq Eyes (part 3)

    [​IMG]

    Kegelapan membuatku tidak mampu mengetahui tempat apa ini, namun jelas bahwa suara Lushan yang menangis mengarahkanku padanya. Setiap langkahku tidak terhalang oleh sesuatu seakan aku berjalan dalam ruang yang benar- benar kosong. Aku berpikir jika ini merupakan bagian dari memori Lushan, maka saat itu dia berada dimana? Suaranya sangat persis dengan suara Lushan sekarang, tapi mengapa dia bisa sendirian di tempat seperti ini?

    “Lushan?”

    “Jangan tinggalkan aku.. Tolong..”

    Dia bergumam sendiri tanpa menjawab pertanyaanku. Aku mendekatinya dan menyentuhnya. Dia sepertinya merasa kaget dengan sentuhanku.

    “Siapa kau? Kenapa kau bisa berada disini?”

    “Aku Balthiq, kakakmu!”

    Aku membacakan mantra dan api keluar dari jariku, cukup untuk memperlihatkan wajahku dan wajah Lushan. Di hadapanku terdapat Lushan dengan muka ketakutan, dan matanya yang penuh dengan kegilaan. Ya, kegilaan, aku bisa merasakannya bahwa Lushan di hadapanku bukanlah Lushan yang waras. Saat dia bertanya kenapa aku bisa ada disini, aku kebingungan untuk berbicara. Apakah aku akan menjawabnya? Bukankah ini akan mengacaukan memori Lushan? Tapi jika dipikir-pikir berbicara dengannya saja disini sudah mengacaukan hal ini sejak awal.

    “Aku masuk ke memorimu Lushan, bersama ibu.. Kau pasti tidak mempercayainya, tapi jawab pertanyaanku, kenapa kau bisa berada disini?”

    “Aku.. aku.. aku tidak tahu kakak.. Saat itu aku berbicara denganmu di kereta kuda menuju kediaman keluarga An, dan tiba-tiba aku berada disini..”

    Mendengarnya, aku merasakan bahwa Lushan yang berbicara denganku persis dengan nada bicaranya sebelum dia berubah menjadi Lushan yang sekarang. Keringatku keluar, aku merasakan sesuatu yang janggal dari memori ini.

    “Maksudmu?”

    “Aku tidak tahu! Tiba-tiba aku disini, seseorang berbicara bahwa dia akan mengambil alih diriku, dan..dan.. aku sendirian disini begitu lama..”

    Tunggu, apakah aku benar-benar berbicara dengan Lushan? Jika saja benar bahwa dia adalah Lushan, maka dia adalah kesadaran adikku sebelum berubah menjadi Lushan berdarah dingin yang mengambil alih tubuhnya. Tentu saja ini adalah teoriku, belum tentu benar, tapi ini benar-benar gila. Maksudku dia akan selamanya berada disini, di kegelapan ini sendirian, dan hal ini benar-benar mengerikan! Aku tidak bisa membiarkan Lushan sendirian disini.

    “Lushan siapa yang berbicara denganmu?”

    “Diriku sendiri, aku melihat diriku sendiri.”

    Tiba-tiba api di tanganku mati. Aku mencoba membacakan mantra, namun entah bagaimana sihirku tidak mampu bekerja.

    “Kakak tolong nyalakan lagi, aku ketakutan...”

    “Tidak bisa.. Oh Lushan..”

    Aku memeluknya dan menangis. Aku merasakan bahwa Lushan benar-benar merasakan depresi yang berat berada disini, keheningan luar biasa dan tak ada satupun cahaya yang masuk. Kekosongan ini bahkan bisa membuatku gila jika saja suara Lushan menghilang, dan ya, Lushan tidak berbicara sama sekali saat itu.

    “Lushan?”

    Dia hanya diam dan menggegamku kuat. Aku ketakutan tentang apa yang terjadi disini. Cengkramannya begitu kuat sehingga aku merasa kesakitan.

    “Lushan! Aku kesakitan.. Berbicaralah, apa yang terjadi padamu.”

    “Kau tahu apa yang terjadi saat aku bertemu pria yang mirip sekali denganku? Dia bercerita hal yang gila, tentang apa yang kulakukan di masa depan. Aku merasa.. sungguh tidak percaya.”

    Jadi kesadaran Lushan dari masa depan menceritakan dirinya?

    “Dia memperlihatkanku kematianmu, kematian istrinya, bagaimana dia membunuh ibuku, bagaimana dia dibunuh oleh anaknya, apa yang telah dia lakukan..yang telah dia lakukan..”

    “Lushan, itu bukan dirimu..”

    “Aku melihatnya, itu diriku kakak.. dan kini aku terkurung disini, dan aku mencari alasan mengapa aku berada di kegelapan ini. Akhirnya aku sadar kakak, akulah yang akan melakukan itu di masa depan. Aku ingat, aku tidak ingin melakukan hal tersebut di masa depan, ini adalah ganjaran dari apa yang telah kuperbuat”

    Tidak masuk akal, apa maksud Lushan. Maksudnya dia berada disini sebagai ganjaran bahwa dia akan melakukan hal yang bahkan belum ia lakukan sama sekali?

    “Tapi kakak, kau akan menemaniku disini bukan?”

    Lushan kembali mengenggamku kuat, dan aku merasakan ketakutan. Suara Lushan semakin mengerikan di telingaku.

    “Lushan, aku berjanji akan mengeluarkanmu dari sini, tapi..”

    “Tapi? Tidak, dia juga berbicara seperti itu padaku, dan lihatlah! Dia meninggalkanku kakak, dan..dan.. oh tidak”

    Saat itu tiba-tiba dalam sekejap ruangan ini dipenuhi oleh cahaya. Sekejap aku terasa buta oleh cahaya yang begitu silau hingga akhirnya aku sadar bahwa Lushan sudah melepasku dan kini dia berdiri di depan kaca. Aku sadar bahwa ruangan ini dilapisi oleh dinding kaca yang mengelilingi kami, namun hanya terlihat refleksi Lushan saat itu.

    “Lushan?”

    Lushan terlihat aneh, dia tersenyum melihat dirinya, dan matanya dipenuhi oleh kegilaan. Bahkan aku merasa ngeri dengan Lushan dihadapanku ini.

    “Lihat, kau ketakutan bukan? Kau tahu apa yang kusadari? Aku seharusnya mati kakak.. “

    "Lushan cukup!”

    Aku mendekatinya, namun dia memberikan tanda berhenti pada tangannya, dia tidak ingin aku mendekatinya.

    “Jika dia tidak datang, kejadian ini akan terulang lagi kakak.. Aku sadar, dan aku tidak ingin mengulanginya..”

    Aku menyadari tangan Lushan berdarah, dan terdapat kaca di tangannya. Sejak kapan dia melakukannya? Tapi aku sadar langkah selanjutnya yang akan ia lakukan, aku harus segera menghentikannya.

    “Tidak Lushan! Kau sadar bukan tentang apa saja yang kau akan lakukan? Jika kau sadar, maka kau tidak akan melakukannya. Sesederhana itu saja Lushan, apakah kau mengerti apa yang kukatakan?”

    “Tidak kakak.. aku pikir.. aku tidak sadar..”

    Dia menggorok lehernya sendiri dan darah tumpah dari lehernya. Suaranya keluar seperti hewan ternak yang kepalanya dipenggal dalam rumah jagal. Aku hanya terdiam, dan kakiku begitu lemas terjatuh. Aku berteriak tidak percaya saat itu, pemandangan ini begitu mengerikan sehingga reaksiku saat itu hanya berteriak memanggil nama Lushan, namun sadar bahwa teriakanku percuma, dan aku segera mendekati Lushan di hadapanku.

    “Lushan! Oh Lushan..”

    “...”

    Dia hanya menatapku, air matanya mengalir dan aku melihat dia tersenyum walau jelas air mata tersebut memperlihatkan kesedihan di matanya, seakan dia berkata bahwa akhirnya dia melakukan tindakan yang benar.

    “Lushan, ada apa dengan senyummu Lushan? Kau pikir apa yang kau lakukan ini benar? Apakah kau bodoh.. bukan aku sudah berkata kepadamu bahwa kau belum melakukannya.. Ada apa denganmu Lushan..”

    Dia menutup matanya, tapi senyum tersebut tidak lepas dari mulutnya. Aku hanya menangis menyadari bahwa Lushan tidak bereaksi lagi dengan ucapanku.

    “...Balthiq..”

    “!?”

    Aku mendengar suara Lushan, tapi suara tersebut berbeda dengan suara Lushan dihadapanku yang jelas sudah tidak lagi bersuara.

    “Cepat..”

    Suara tersebut begitu kecil, aku tidak bisa mendengar dengan jelas, tapi saat itu aku menyadari bahwa ruangan sekitarku di penuhi darah. Darah yang muncul dari refleksi Lushan keluar dari kaca, dan kemudian perlahan memenuhi ruangan ini.

    “Oh tidak..”

    Darah tersebut begitu cepat hingga akhirnya mengenai kakiku. Lushan tergenang oleh darah tersebut, dan aku berusaha untuk menjauhinya, namun aku sadar bahwa darah dari leher lushan mengalir begitu deras. Aku berusaha menutup lukanya, tapi darah tersebut tidak bisa kuhentikan.

    “Ada apa ini? Mengapa darah ini tidak mau berhenti..”

    “...Kaca..”

    Suara tersebut berusaha memberitahu sesuatu, namun ketika darah mencapai betisku, suara tersebut semakin tidak terdengar. Aku mencoba mendekatkan telingaku pada kaca, dan tidak terdengar apa-apa selain bisikan yang tidak jelas.

    “..Pe..c..ah”

    “Aku tidak bisa mendengarmu! Apa itu dirimu Lushan!”

    Entah mengapa aku percaya bahwa itu Lushan, tapi kesadaran Lushan dari masa depan. Apa yang ia katakan padaku sesungguhnya?

    Apa dia ingin menyelamatkanku? Tunggu, apa dia ingin membunuhku? Aku mengingat pandangannya yang begitu mengerikan padaku..

    Darah sudah mencapai dadaku, dan aku mengucapkan segala mantra yang kutahu, dan ha l itu merupakan tindakan yang percuma, seakan doaku terhalang oleh sesuatu.

    “Oh tidak..”

    Darah sudah mencapai leherku, dan akhirnya aku tenggelam di antara darah. Bajuku ebegitu berat, hingga akhirnya kulepaskan kain-kain tersebut untuk membuatku bisa keatas permukaan, tapi kusadari bahwa atap dari ruangan ini begitu dekat hingga aku tahu bahwa takdir yang menungguku disini adalah tenggelam.

    Aku menahan nafas, dan tenggelam di antara darah yang entah mengapa terlihat bening, bukan darah yang kental yang kuketahui. Aku melihat di kaca tersebut yang kini terlihat tembus pandang, terdapat seorang yang mengetuk kaca. Aku menyadari bahwa kaca tersebut merupakan kaca dua sisi, dan aku berusaha memukul kaca tersebut yang kusadari percuma dengan tenagaku.

    “...”

    Nafasku perlahan habis, aku kehilangan semangatku untuk keluar dan tanganku tidak lagi kuat memukul kaca tersebut. Ketika mataku mulai tertutup, orang dibalik kaca tersebut mendorong tubuhnya, kaca tersebutpun mulai retak dan akhirnya kaca tersebut pecah lalu aku terbawa oleh kaca tersebut keluar dari ruangan tersebut.

    Aku segera mengambil nafas dan terbatuk-batuk mengeluarkan cairan yang masuk. Bajuku kini begitu tipis, dan warna merah memenuhi bajuku. Saat itu di hadapanku adalah Lushan yang lain, dia terlihat bernafas lega melihatku.

    “Kau siapa?”

    Aku segera bertanya padanya, dan dia terdiam sebentar sebelum akhirnya menajwab.

    “Lushan, adikmu.”

    “Lalu siapa yang ada di ruangan gelap tersebut!”

    “Dia.. Bukan Lushan yang sesungguhnya..”

    “Tidak, jelas-jelas dia adalah adikku yang sesungguhnya! Bukan Lushan yang.. membunuh seseorang dengan tangan dinginnya.”

    Entah mengapa kemarahan yang sungguh luar biasa memenuhi batinku, seakan orang di depanku ini baru saja membunuh adikku, dan lucunya dia sendiri merupakan adikku.

    “Tapi dia akan melakukannya, dia akan menjadi diriku. Karena itu kita tidak berbeda, dan setelah dia mati disini, maka eksistensi dirinya sudah sirna dari dunia ini..”

    Eksistensi? Kata-kata tersebut sungguh mengerikan, seakan Lushan benar-benar lenyap dari dunia ini.

    “Ekspresi wajahmu berkata bahwa kau tidak percaya ini. Baiklah, kau seharusnya mati Batlhiq, aku datang dan menyelamatkanmu. Lihat apa yang berubah saat itu? Ya, perubahan yang berarti! Maka apa yang seharusnya terjadi tidak akan terjadi, dan eksistensi Lushan lenyap saat itu juga oleh eksistensiku, Lushan yang datang dari masa depan ini.. Apa kau tidak mengerti juga?”

    Dia mengucapkan itu dengan ringannya, dan mengucapkannya seakan hal itu tidak sulit untuk dimengerti oleh akal sehat. Apa dia gila?

    “Dia yang berada disana adalah Lushan yang masih berumur 13 tahun, tidak pernah membunuh sama sekali. Ya, kau melakukan perubahan, bahkan kau memberti tahunya apa yang telah engkau lakukan. Apa itu tidak cukup? Dia pasti tidak akan mengulanginya bukan?”

    “Aku sepenuhnya memahami rasa simpatimu, tapi manusia seharusnya hanya memiliki satu kesadaran Balthiq. Ketika aku kembali, otomatis ingatanku menyatu dengan Lushan di masa kini, dan ingatanku lebih dominan dari apa yang Lushan pada masa ini punya. Aku menaruh Lushan dalam ruangan tersebut dan tidak mengeleminasinya, tapi membuatnya memutuskan apakah dia menyerahkan eksistensinya demi diriku atau bertemu masa depan suram yang akan dia lakukan. Hal ini sudah diputuskan di alam bawah sadar ketika pertama kali aku mengambil alih tubuhnya.”

    “Dia menyerahkan badannya untukmu? Lalu kau biarkan dia dalam kegelapan seperti tadi?”

    Lushan hanya tersenyum penuh dengan perasaan ironis.

    “Itulah yang terjadi Balthiq ketika dia menyerahkan alam sadar dirinya padaku, tapi pada kenyataannya dia menyerah ketika kau datang. Sekarang sepenuhnya hanya akulah yang berada disini. Eksistensinya lenyap dan hanya aku yang berada disini, berbicara padamu”

    Aku tidak terima dengan penjelasannya. Seakan perasaanku menolak menyatakan orang yang ada di hadapanku adalah Lushan, dan dia baru saja membunuh Lushan sesungguhnya, walau segala yang ia jelaskan mengarahkanku menyetujui bahwa tidak ada perbedaan di antara Lushan kini dan masa depan, semua jenis kesadaran tersebut tetaplah dirinya.

    “Apa kau sudah puas dengan pertanyaanmu? Kelihatannya tidak. Sekarang saatnya aku bertanya, bagaimana kau bisa berada disini?”

    Lushan seakan tidak ingin menghabiskan waktunya untuk berdebat sesuatu yang tidak ada habisnya. Aku memutuskan untuk memendam amarah ini, dan fokus pada Ibu yang berpisah padaku. Tanda yang ia berikan di tanganku bersinar padam, dan aku semakin khawatir tentang keadaan ibu.

    “Setelah kejadian dimana kau membunuh penjaga gadis yang bernama..”

    “Roxanna..”

    Raut muka Lushan seketika berubah ketika aku mengucapkan Roxanna. Kalau tidak salah, Roxanna berkata bahwa ibu adalah mertuanya, berarti apakah dia istri Lushan di masa depan?

    “Ibu bertanya padanya dan memutuskan untuk masuk dalam pikiranmu untuk mengungkap bagaimana kau bisa menggunakan sihirmu Lushan. Akhirnya kami tahu bahwa kau berasal dari masa depan, dan semakin dalam kami mencari, dewa yang membentuk kontrak denganmu ternyata masih mengawasi dan membuat pikiran ibu dan diriku terpisah..”

    “Dewa.. oh..”

    Lushan seakan mengakui keberadaan dewa tersebut menandakan Lushan benar-benar melakukan kontrak dengannya.

    “Ibu memberi tanda ini padaku, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan ini.”

    “Pelacak. Ibu memberikanmu pelacak Balthiq, dan sepertinya aku bisa membantumu mencarinya.. tapi..”

    Lushan seakan bermasalah dengan membantuku mencari ibu.

    “Tapi apa?”

    “Kau harus melewati memoriku.. Kau tahu apa yang kupikirkan? Kau tidak akan melihatku dengan cara yang sama lagi Balthiq.”

    “Maksudmu seperti istrimu di masa depan itu?”

    “Ya, kau akan memandangku sebagai monster. ”

    Ucapan Lushan seperti megeneralisir diriku dengan rox.. siapa namanya? Begitu asing hingga aku tidak bisa mengingatnya. Sejujurnya aku benci disamakan dengan wanita gila tersebut.

    “Aku akan menilainya dengan mata kepalaku sendiri Lushan. Aku hanya ingin bertemu dengan ibu dan keluar dari sini.”

    “Nada bicaramu seakan tidak ingin tahu tentang apa saja yang telah kulakukan ?”

    “Aku.. ingin tahu tentang bagaimana aku mati.. Aku selalu bermimpi buruk tentang itu, dan tentu saja ingin tahu apa yang terjadi padamu. Tapi sekarang aku sudah kehilangan rasa ingin tahu karena kematian Lushan yang sesungguhnya..”

    “Jadi kau masih merasa bahwa dia Lushan yang sesungguhnya dan aku hanyalah kebohongan belaka? Baiklah, berikan tanganmu Balthiq.”

    Lushan memegang tanganku, dan mengeluarkan sihirnya tanpa menggunakan mantra, sesuatu yang mustahil untuk penyihir biasa.

    “Ah, dari segala memoriku, kenapa harus disana?”

    “Dimana?”

    “Akademi sihir,aku pikir ibu bisa gila bila dia berada disana..”

    Lushan menggigit bibirnya, mukanya menunjukan bahwa dia benar-benar tidak ingin berada disana.

    “Apa yang terjadi disana? Sesuatu yang kau perbuat juga?”

    “Tentu saja. Kau akan tahu ketika kita berada disana. Aku tidak keberatan untuk menjelaskannya padamu.”

    Saat itu Lushan memegang tanganku, dan seluruh ruangan berubah menjadi gelap menandakan kita masuk ke dalam bagian memori Lushan yang lain.

    ***

    Seketika aku berada di lokasi suram yang kupercaya merupakan halaman depan dari akademi sihir. Halaman ini begitu luas dengan tiang-tiang tinggi di hadapanku, sampai akhirnya aku sadar terdapat bau busuk dan darah yang menetes dari atas.

    “Hii..”

    Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat, seorang wanita yang tertancap oleh tiang yang masuk dari dubur hingga mulutnya. Mereka terlihat sungguh tersiksa, dan pemandangan ini menciptakan atsmosfir yang sungguh horror. Parahnya lagi, mungkin terdapat ratusan lebih tiang yang sama di seluruh halaman depan ini.

    “Kita melakukan ini untuk menekan pembrontakan di provinsi Shizang. Cerita akan menyebar dan membuat mereka takut untuk melakukan tindakan bodoh.”

    “Maksudmu semua ini..”

    “Atas perintahku, cara yang benar-benar efektif. Aku mengikuti cara orang-orang utara yang melakukan invasi, dan mereka kerap kali melakukan ini, hanya saja aku agak sedikit melakukan secara berlebihan..”

    Aku tidak percaya dengan ucapan Lushan. Dia berbicara di depanku sehingga aku tidak bisa melihat ekspresi mukanya, tapi nadanya seakan hal yang ia lakukan adalah tindakan yang begitu ringan untuk di ucapkan.

    “Ini bukan tindakan yang bisa dilakukan manusia, ini sungguh..”

    “Ya, aku tahu. Karena itu mereka menyebutku Iblis..”

    Ketika kuperhatkan, seluruh mayat ini adalah wanita.

    “Kenapa kau melakukan ini? Apa yang sesungguhnya terjadi?”

    “Aku melakukan pemberontakan besar terhadap dinasti Tang, dan tentu saja Liga penyihir yang sudah berikatan kontrak dengan keluarga kekaisaran mendukung Kaisar. Intinya aku berhasil menginvasi akademi sihir sebagai pusat liga penyihir lewat proses yang sungguh sulit, dan masyarakat menuntut tawanan penyihir untuk dieksekusi atas ketakutan mereka pada etnik penyihir. Aku membutuhkan support dari masyarakat, dan akhirnya aku melakukan ini. Bahkan terdapat propaganda untuk membersihkan habis keluarga bar-bar, dan masyarakat sendiri yang melakukan pekerjaan kotor.”

    “Demi masyarakat? Maksudmu semua ini adalah permintaan masyarakat.”

    “Ya.. Tapi mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka hanya takut, dan aku mewujudkan keinginan mereka sebagai pelayan masyarakat, visiku saat itu.”

    Pelayan masyarakat, ucapan Ayah yang selalu ia katakan pada Lushan tentang bagaimana pemimpin seharusnya tercipta. Kegilaan yang kulihat dan kukatakan tidak mungkin manusia lakukan nyatanya muncul dari masyarakat sendiri. Muncul perasaan aneh dari batinku, seakan ingin merasionalitaskan apa yang telah Lushan lakukan sebagai seseorang yang bekerja mewujudkan keinginan masyarakatnya.

    “Apa kau menyesalinya?”

    Lushan terdiam, dia tidak menjawab pertanyaanku dan melanjutkan perjalanannya.

    Saat itu kita berada di kastil tempat akademi sihir. Kastil ini sungguh luar biasa untuk dikatakan sebagai tempat untuk melakukan pembelajaran. Segalanya dihiasi oleh emas, dan penuh dengan ukiran kuno pada temboknya. Kastil ini dikatakan telah berdiri sebelum kekaisaran muncul, dan tidak ada dokumen atau apapun yang menjelaskan bagaimana kastil ini berdiri, kecuali tempat ini adalah tempat munculnya sihir dan merupakan tempat suci bagi para suku bar-bar.

    Lushan saat itu tidak masuk melalui pintu depan, namun pintu kecil yang mengarah ke bawah tanah. Lembab, dan bau. Aku menutup hidungku, dan sadar bahwa tempat ini lama kelamaan menjadi gelap. Lushan menyalakan api dari tangannya dan menyinari obor yang tertempel di tembok. Saat itu tanganku mulai bercahaya, dan saat itu aku melihat pemandangan yang mengerikan.

    “Lushan! Apa itu?”

    “Manusia..”

    Tanda di tanganku memperlihatkan seorang dengan mata terbuka menatapku. Dia terlihat begitu mengerikan, dengan sekujur tubuhnya yang merah dengan daging dan otot. Mereka tidak memiliki kulit di sekujur tubuh mereka.

    “Apa yang telah kau lakukan Lushan!”

    “Aku tidak melakukan ini, tapi aku mengizinkannya. Mereka yang dikuliti tidak akan bisa berbohong Balthiq. Orang tersebut masih hidup, namun beberapa jam kemudian dia akan mati karena infeksi. Dalam prosesnya seharusnya pengulitan dihentikan ketika mereka sudah mulai berbicara, tetapi kupikir para algojo tersebut akhirnya menjadi seorang sadis, dan tidak menghentikan proses pengulitan dan membiarkan mereka hidup untuk beberapa jam.”

    Air mataku mengalir ketika melihat mereka bernafas perlahan, meminta kematian untuk segera merengut nyawa mereka agar rasa sakit tersebut cepat menghilang.

    “Mereka hanya proyeksi ingatanku Balthiq.”

    “Kenapa kau membiarkan hal ini terjadi Lushan.. Ini begitu mengerikan..”

    “Ini perang Balthiq, hal seperti ini juga terjadi oleh pihak musuh.”

    Aku tidak percaya dengan apa yang diucapkan Lushan. Dia kembali mencoba merasionalitaskan perbuatannya.

    “Aku tahu kau hanya mewajari segala jenis terror dan kekacauan seakan hal tersebut wajar terjadi. Sesungguhnya orang-orang besar yang memiliki kendali bisa mengubah ini semua jika mereka mau, tapi.. tapi kalian semua.. ketika kekuatan ada di tangan kalian, ketika itu juga kemanusiaan hilang dari diri kalian.”

    “Mungkin..Aku tidak akan memungkirinya.”

    Lushan tidak berusaha memberikan argumentasinya dan terus melangkah melewati ruangan berikutnya. Kali ini pemandangan yang aneh, lapangan yang berada di dalam kastil, sangat luas dan penuh dengan orang-orang yang digantung. Setelah pemandangan di luar, sekarang ini. Apa yang membuat mereka berbeda pikiriku, tapi timbulnya pertanyaan ini bukan dari perasaan kaget setelah melihat pemandangan diluar dan aku hanya di penuhi oleh rasa amarah. Aku hanya merasa dunia di masa depan hanya penuh dengan kekacauan moral, dan segala pemandangan ini merupakan generalisir dari segala kekacauan ini.

    “Aku percaya kau belum tahu ini mendengar ucapanmu yang menolak segala apa yang kuperbuat Balthiq.”

    “Apa? Kegilaan yang kau biarkan?”

    “Tidak, bahkan aku sesungguhnya menghentikan budaya gila ini.”

    Aku tidak mengerti apa yang Lushan berusaha ucapkan.

    “Apa yang ibu suruh kau lakukan untuk mendapatkan sihirmu? Membalikan kartu? Apa kau pikir sihir begitu mudah didapatkan dengan cara demikian? Aku pikir juga ibu takkan tega menceritakannya padamu, sehingga dia terus menunda dirimu masuk dalam akademi sihir.”

    “Lushan apa maksudmu?”

    Lushan terdiam sambil memegangi kayu tempat eksekusi pegantungan dengan mayat yang masih tergantung di alat tersebut.

    “Berapa kartu yang telah kau balik?”

    Aku merasakan firasat buruk tentang ini.

    “Aku tidak menghitungnya..”

    “Aku melihatmu melakukannya setiap pagi, siang, dan malam. Setiap kartu yang kau balik, kau telah menentukan siapa yang akan digantung disini. Apa kau tidak sadar ketika aku melakukan sihir yang persis ibu lakukan, ibu bertanya tentang berapa orang yang telah kubunuh?”

    Aku mulai sadar tentang apa yang Lushan katakan, tapi aku berusaha mengelaknya.

    “Tidak mungkin..”

    “Kau bahkan tidak sadar telah melakukannya. Kau telah membunuh ribuan manusia Balthiq..”

    ***

    Aku ingat saat ibu kembali setelah ayah meninggal, dan mengetahui bahwa ibu merupakan ketua dari Liga penyihir kerajaan yang sangat disegani masyarakat. Aku ingin menjadi dirinya, keluar dari kenyataan bahwa aku merupakan setengah darah dari keturunan suku bar-bar yang jatuh menjadi masyarakat kalangan bawah. Ketika aku memintanya mengajariku, raut muka ibu berubah, dia seakan berbicara padaku bahwa yang ia lakukan adalah perbuatan buruk.

    “Kau tahu apa yang penyihir lakukan? “

    “Ibu mampu mengalahkan musuh kerajaan seketika bukan?”

    Ibu saat itu memandangiku serius, seakan ucapanku sama sekali tidak memiliki maksud mendalam.

    “Aku membunuh Balthiq, tidak lebih dari itu. Apa yang kau ucapkan seperti mengalahkan musuh, membawa kemenangan adalah kabut yang memisahkanku dengan definisi buruk tersebut, tapi pada kenyataannya hal tersebut tidaklah berbeda.”

    “Tapi kau melakukannya demi melindungi kita bukan? Dari invasi bangsa Tatar dari utara, invasi orang barat, dan dari invasi dari laut.”

    Ibu saat itu tersenyum, seakan dia mulai mewajari keinginanku.

    “Ya, aku berusaha melindungi kalian. Aku harus meninggalkan ayahmu juga demi melindungi orang-orang yang kucintai dari ancaman. Itu alasanku Balthiq, dan apa kau memiliki orang yang ingin kau lindungi?”

    “Lushan?”

    Aku terlalu polos saat itu, dan hanya berpikir untuk melindungi adikku yang tidak berdaya. Tapi pernyataan itu sudah cukup bagi ibu, dan dia memberikanku kartu.

    “Ambil kedua kartu ini, dan pilih salah satu kemudian berikan padaku. Lakukan ini terus, dan berikan padaku kartu yang kau pilih.”

    Aku berpikir bahwa hal tersebut sungguh mudah untuk kekuatan yang luar biasa. Tapi raut muka ibu berubah menjadi sedih.

    “Kenapa kau sedih ibu?”

    “Karena kau akan memiliki tanggung jawab yang besar Balthiq. Ketika kau membalikan kartu itu, kau telah memegang tanggung jawab masyarakat banyak di punggungmu.”

    Aku tidak mengerti ucapan ibu, dan hanya berpikir bahwa ketika diriku memiliki kekuatan maka aku memiliki tanggung jawab yang besar, tidak lebih dari itu. Saat ibu memberikan kartu tersebut ketanganku, jariku terselip dan kartu tersebut berjatuhan di tanah. Aku tertawa konyol sambil mengambil kartu yang berjatuhan di tanah tersebut, dan ketika itu aku menatap ibu.

    “Ibu?”

    Yang kulihat dari muka ibu adalah pandangan horror terhadap diriku, dan kini aku tahu bahwa aku telah melakukan tindakan yang sangat mengerikan,.

    ***

    “Tidak mungkin..”

    “Yang terjadi-terjadilah Balthiq. Ruangan selanjutnya merupakan tempat ibu.”

    Aku berjalan, tapi akhirnya tidak mampu menahan tangisku. Setelah aku mengutuk perbuatan Lushan kini aku bertanya pada diri sendiri, apakah diriku tidak lebih baik dari Lushan? Aku melakukan hal tersebut secara tidak sadar, dan aku bisa merasionalitaskan apa yang telah kulakukan dengan hal tersebut, memaksa alam bawah sadarku menerima kenyataan ini seakan diriku tidak bertanggung jawab. Aku berusaha meyakinkannya dalam hatiku, akan tetapi dari sisi lain tetap merasa ada yang salah. Aku terus berpikir saat itu.

    “Aku sesungguhnya benci tempat ini.”

    Aku melihat lorong, penuh dengan tentara yang berhenti langkahnya menuju pintu di ujung lorong ini.

    “Peristiwa ini terjadi sebelum aku membantai seluruh penyihir di tempat ini. Setelah kau mati, Ibu menjadi posesif dengan kekuatan yang mampu mengontrol manusia, dan hal ini membentuk pemerintahan tirani yang dipimpin oleh anak kaisar yang dikontrol oleh pamannya. Ibu berhasil menculik saudara Roxanna, Sen, dan menciptakan sihir barrier yang dinamakannya langit besi yang mengontrol manusia melakukan sesuatu yang sudah di tetapkan oleh kerajaan. Otak mereka akan terasa meledak ketika mereka menolak, dan pasukanku otomatis lumpuh ketika memasuki barrier tersebut.”

    Sen? Saudara Roxanna? Langit besi? Lushan menjelaskan sesuatu seakan aku mengerti situasi saat itu, dan penjelasannya terdengar absurd ditelingaku. Inti dari penjelasannya adalah, ibu melakukan sihir yang sungguh buruk dari pandangan Lushan.

    “Uniknya aku tidak terpengaruh, mungkin ibu sengaja membuatnya demikian. Aku segera diam-diam merencenakan untuk membunuh ibu..”

    “Membunuh ibumu sendiri?”

    “Karena dia sudah berlebihan Balthiq, seseorang harus menghentikannya.”

    Lushan kembali melanjutkan perjalanannya dan membuka pintu.

    “Oh tuhan..”

    Aku melihat ibu, penuh dengan darah di lantai, lalu terdapat Lushan yang berdiri didekat ibu. Apa yang dia lakukan? Saat itu aku tersadar bahwa lenganku bercahaya terang.

    “Aku berhasil mengalahkan ibu, akan tetapi pasukan sudah mengepungku. Kematian menungguku, dan ibu menyuruhku..”

    Lushan menghentikan bicaranya, dan ketika kuperhatikan baik-baik, aku bisa melihat Lushan memakan ibu. Ya, dia memakannya seperti binatang buas, mencabik-cabiknya dan ibu berteriak kesakitan saat itu.

    “Lushan.. tidak mungkin..”

    “Aku memakannya Balthiq, bahkan aku tidak sadar apa yang kulakukan.”

    Aku memegangi baju lushan dan mendorongya. Amarahku memuncak tidak terima dengan apa yang Lushan lakukan.

    “Kali ini aku tidak bisa mentolerir perbuatanmu Lushan!”

    “Lihatlah matamu Balthiq, lihatlah. Kau tidak berbeda dengan Roxanna, kemarahan tersebut seakan kau bisa kapan saja membunuhku.”

    Aku tersadar bahwa amarah sudah menguasaiku, dan tanpa sadar aku kini berusaha mencekik Lushan. Saat itu juga aku sadar bahwa Lushan selama ini memalingkan wajahnya dariku, dan yang kulihat adalah muka Lushan yang penuh dengan rasa penyesalan. Dia seakan menerima apapun yang kulakukan padanya, mencekiknya maupun memukulnya.

    Saat itu aku semakin sadar bahwa sinar di tanganku begitu menyilaukan, dan muncul suara dari tanganku.

    “Lushan... hentikan..”

    “Ibu?”

    Aku melepas leher Lushan, dan melihat Ibu. Dari kejauhan, tangan ibu yang terkoyak lepas memperlihatkan corak yang bersinar. Aku segera berlari panik mendekati ibu.

    “Ibu!!”

    Aku berlari menuju kearahnya sampai akhirnya sadar terdapat barrier yang menghalangiku.

    “Balthiq.. itu hanya ingatanku..”

    “Tidak Lushan! Dia..Dia Ibu!! Aku tidak tahu bagaimana, ibu menyatu dengan pikiranmu.”

    Ketika itu aku sadar raut muka Lushan berubah drastis ketika aku mengucapkan hal tersebut. Matanya melotot, giginya bergetak hingga keluar darah dari mulutnya, dan ketika itu juga dia berlari ke arah ibu.

    “Tidak, tidak, tidak, tidak!!!”

    Dia mendobrak barrier tersebut, dan terpental. Raut muka Lushan penuh dengan ketakutan, dan baru pertama kali aku melihat raut muka seperti itu.

    “Aku, aku tidak ingin hal ini terjadi lagi.. Aku tidak ingin ibu merasakan rasa sakit ini lagi, aku mengingat ekspresi itu, mengerikan, sungguh mengerikan. Tidak, tidak, tidak, oh tuhan..”

    Kembali dia berlari dan terpental. Aku semakin sadar bahwa badan Lushan terlihat retak setiap kali dia berusaha mendobrak barrier tersebut.

    “Aku telah melakukan hal yang mengerikan, sangat mengerikan, semuanya atas keputusanku. Sesungguhnya aku tidak sadar sampai akhirnya mayat-mayat tersebut sudah tertusuk dalam tiang-tiang, ketika manusia tersebut sudah terkuliti, ketika jutaan manusia telah mati, dan ibu..”

    Dia kemudian mendobraknya lagi, namun tidak sekalipun barrier tersebut bergeming kecuali badan Lushan yang semakin hancur.

    “Lushan hentikan!”

    “Kau tahu, aku tertawa dan berkata bahwa apa yang kurasakan kepada ibu.”

    Lushan terpental lagi, dan kini tangannya kirinya hancur.

    “Aku melakukannya demi wanita tersebut, Roxanna.. dan dia mati. Aku terus melakukannya, dan terus begitu saja karena aku yakin bahwa apa yang kulakukan tidak sia-sia, demi masyarakat yang telah mengorbankan nyawanya, demi nyawa Roxanna.. Lalu akhirnya apa ketika aku kembali dengan penuh harap kepadanya? Dia membuangku begitu saja.. Aku bahkan gagal membawa mimpiku..Apa yang telah kulakukan?”

    Kini tangan kanannya.

    “Lushan cukup..”

    “Aku mati oleh anakku sendiri”

    Kini sebagian rusuk kirinya.

    “Cukup..”

    Aku memeluknya, aku tidak tahan melihatnya.

    “Jangan hentikan aku Balthiq.. Sampai aku hancur berkeping-keping..”

    “Tidak.. aku sadar Lushan, bahkan aku tidak lebih buruk dari kau.”

    Aku memeluk Lushan erat hingga akhirnya dia menyerah untuk menghancurkan dirinya menjadi serpihan kecil.

    “Kau yang telah melakukan tindakan demi mimpimu, hal-hal mengerikan tersebut, kau yang sadar dan menyesalinya dan bahkan dihantui oleh rasa penyesalan. Kau berusaha untuk mewujudkan mimpi Roxanna, membawa beban tanggung jawab masyarakat di pundakmu sendirian, dan karena itu kau melakukan hal mengerikan ini. Aku.. mempelajari sihir demi melindungi orang-orang yang kusayangi, dan lebih buruknya bahkan aku tidak tahu terdapat ribuan orang yang mati karenanya dan tidur dengan perasaan tenang. Aku.. yang tidak pernah menyesali dan hanya bisa mengutuk kekacauan ini, benar-benar munafik.. Aku tidak lebih baik dari dirimu..”

    “...”

    Lushan hanya terdiam, dia mendengarkanku bicara dalam tangisnya.

    “ Penyesalan tersebut yang berasal dari masa depan, dan kau yang kembali ke masa lalu. Apapun yang terjadi, hal itu belum terjadi. Bagaimana kesadaran Lushan di masa ini mengorbankan dirinya demi perubahan di masa depan.. aku tidak akan membiarkanmu hancur Lushan.. Aku.. akan mendukungmu, ibu juga pasti akan berkata demikian.. Maka *hiks* kau tidak sendirian lagi Lushan..”

    Aku memeluk Lushan dan menangis. Entah mengapa aku merasakan perasaan Lushan yang sendiri dengan tanggung jawab yang sangat besar pada dirinya. Tragedi, ironi, ketakutan, dan segala bentuk negatif yang di pendam sendiri, dan aku tidak bisa melihat cara lain selain kegilaan untuk bisa melewati jurang depresi tersebut. Aku tidak berhak menilai Lushan yang kini berusaha mengubah semuanya, dan bahkan seharusnya aku berusaha mendukungnya.

    “Balthiq..”

    Saat itu tiba-tiba terdapat sinar yang memenuhi diriku, dan aku sadar bahwa Anima ku kembali. Saat itu juga terdapat ide dan entah bagaimana aku mengerti mantra yang tiba-tiba muncul dalam benakku.

    “Lushan, aku merasakan kekuatanku kembali, dan sepertinya aku mengerti bagaiman acara mengeluarkan ibu.. Kau.. tidak perlu khawatir.”

    Aku membacakan mantraku, dan seakan fisik kesadaranku berubah menjadi ruh. Aku melangkah melewati barrier, dan berhasil melewatinya.

    “Bal.. Kakak!!”

    Lushan memanggilku, dia memanggilku dengan sebutan kakak, bukan lagi Balthiq.

    “Terima kasih..”

    Dia tersenyum kearahku seakan dirinya mendapatkan harapan baru. Akhirnya dalam pandanganku, aku memaafkan perbuatannya. Seburuk-buruknya manusia pantas mendapatkan kesempatan kedua, dan kenyataan bahwa diriku tidak lebih buruk darinya, dan masyarakat yang mampu mendorong pemimpinnya melakukan hal keji, tak ada yang bisa disalahkan selain dunia ini sendiri, dunia yang penuh dengan kekacauan, dan moralitas yang penuh dengan ambiguitas.

    “Ibu!”

    Aku segera menarik kepalanya, dan ibu keluar dari jasad tersebut. Dia memandangiku tidak percaya, aku melihat terror dalam matanya.

    “Kakak? Balthiq? Kau bisa mendengarku?”

    Suara adik ibu terdengar dari langit, Ibu tidak bisa menjawabnya dan bibirnya bergetar seakan dirinya benar-benar shock dengan apa yang terjadi. Aku sangat khawatir dengan keadaan ibu, dan memutuskan untuk menyudahi ini semua.

    “Ibu..Bibi, bagaimana cara keluar dari sini!”

    “Apa yang terjadi disana?”

    “Aku akan menceritakannya setelah keluar, ibu dalam keadaan gawat.”

    Saat itu adik ibu menyuruhku mengikuti mantranya. Kemudian semuanya perlahan menjadi gelap, dan ibu saat itu mendekatkan mulutnya ke telingaku.

    “Balthiq..”

    “Ibu?! Apa kau baik-baik saja?”

    “Lushan..Lushan..”

    Suara ibu benar-benar dipenuhi oleh ketakutan.

    “Aku harus membunuh Lushan..”

    Ibu mengucapkan hal tersebut dengan mata penuh ketakutan, mulutnya bergetar, dan aku tidak percaya dengan apa yang ibu ucapkan. Apakah ini reaksi wajar dari ibu karena dia masuk kedalam bagian paling mengerikan dalam memori Lushan, kematiannya sendiri dengan cara yang mengerikan. Apakah ceritaku mampu mengubah pandangan ibu?

    “Ibu dengarkan, aku..”

    Sebelum aku selesai mengucapkan ucapanku, akhirnya dunia menjadi benar-benar gelap, namun aneh, gelap ini terasa begitu lama, aku merasa belum benar-benar keluar dari pikiran Lushan.

    ***

    Gelap, dan aku mulai ketakutan. Aku tidak lagi merasakan tangan ibu, dan begitu sunyi. Apa aku kembali keruangan tersebut? Tidak mungkin..

    Tenang Balthiq, sebentar lagi kau akan kembali..

    “Kau Balthiq bukan?”

    Eh?

    Tiba-tiba saja aku berada di ruangan putih. Kali ini di hadapanku bukan Lushan, dan tidak ada ibu disebelahku.

    “Tenang saja, kau akan kembali setelah ini. Aku hanya ingin kau mengantarkan pesan ini kepada Lushan.”

    Sosok di depanku, aku merasakan keanehan saat melihatnya. Aku tidak bisa mendefinisikan, mukanya seperti mosaik yang tidak tersusun secara rapih, dan warna baru yang tidak bisa kunalarkan. Apakah sosok ini dewa yang menjalankan kontrak dengan Lushan?

    “Siapa kau?”

    “Aku tidak penting Balthiq.. aku bukan sesuatu yang kau akan kenali. Untuk dimana, ini bukanlah tempat yang akan kau jelajahi untuk kedua kalinya. Hei, aku sudah mengatakan ini 2 kali! Pertama kepada adikmu, dan kau!”

    Dia berkata dengan nada yang absurd.

    “Ah, pesanku kepada Lushan.. Kenapa kau memotongku berbicara! Kau bisa cepat kembali dan bertemu ibumu yang sepertinya kehilangan kewarasannya setelah aku selesai bicara. Aku hanya ingin kau menyampaikan ini pada Lushan..”

    Saat itu tiba-tiba firasatku mengatakan bahwa apa yang dia ucapkan adalah berita buruk.

    “Dia tidak sendirian Balthiq, dia bukan satu-satunya anomali di dunia ini. Aku penuh dengan gairah melihat perkembangan cerita ini.”

    “Maksudmu apa? Apakah kau dewa?”

    Ruangan tiba-tiba gelap secara perlahan, tapi aku masih banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan pada sosok misterius ini. Dia pasti yang menyebabkan segala keanehan ini!

    “Hei, apakah kau yang membawa Lushan kembali ke masa ini.”

    Dia tidak menjawab dan melangkah menjauh mendekati kegelapan.

    “Hei!!”

    Akhirnya seluruh ruangan menjadi gelap, dan aku kembali ke dunia nyata.

    ***In The Eyes of Balthiq end***
     
    Last edited: Sep 7, 2015
  13. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Naqoyqatsi Chapter 10 : The Crows

    [​IMG]

    Ayahku adalah orang yang baik, aku percaya itu. Aku ingat tatapannya yang sambil tersenyum kepadaku setelah memotong kayu bakar dihutan, memanggilku dengan cerianya.

    “Xiao Lin sayang..”

    Tatapan itu adalah tatapan kasih sayang, dan aku mengerti benar bahwa tatapan tersebut tidak akan memilih jalur yang melenceng selain menikmati hidup bersama keluarganya. Dia telah meninggalkan perang yang ia bangga-banggakan setelah aku lahir. Di meja makan dia selalu bersyukur akan kondisinya walau hidup dalam kesederhanaan bersama anak gadisnya yang manis serta istrinya yang cantik dan baik hati.

    Ayah dituduh sebagai pemberontak bersama dengan saudara-saudaranya. Aku tidak tahu dari mana dasarnya, tentara Lushan yang agung tanpa alasan yang jelas memasuki desa dan memberikan pengumuman untuk menyerahkan seluruh keluarga dengan keturunan suku bar-bar, dan aku berusaha berkata bahwa ayahku mengidolakan Lushan. Aku ingat bahwa ayah selalu berkata :

    “Lushan yang agung adalah pembebas masyarakat, dengan kekuasaan di tangan rakyat, kesetaraan yang dijunjung tinggi, dan tidak ada ketakutan atas penguasa yang lazim!”

    Dia berkata demikian sambil menaikan dagunya dan tangannya yang ia genggam dan dijunjung kelangit dengan rasa bangga atas calon raja yang tak pernah kalah dalam perangnya dan teguh atas pendiriannya.

    Tapi mereka tidak percaya, dan kini rumah kami digedornya dengan kuat. Dalam ketakutan ibu memelukku. Ayah tak kunjung pulang, mungkin sudah seminggu dia pergi. Satu-satunya kata yang ia ucap sambil mengelus kepalaku adalah, “Jaga ibumu baik-baik”. Aku telah berjanji pada ayah bahwa aku akan melindungi ibu.

    ***

    “Jika tidak dibuka juga akan kami dobrak!!”

    Ibu berjongkok dibawah meja dengan taplak yang menutupi kami, dia menutupi telingaku erat-erat. Ketika kutengok, mukanya begitu ketakutan dan air keringat keluar begitu deras. Aku tahu dia menahan tangisnya. Saat itu nenek juga bersama kami sambil membaca doa. Ibu sudah memaksanya berhenti karena kita sedang bersembunyi, namun dia berkata jika saja dia berhenti berdoa, sakit jantungnya bisa kumat.

    “1...2..3!!”

    Suara begitu keras terdengar, ditemani oleh suara gemuruh kaki. Mungkin ada dua atau tiga orang saat itu. Mereka menendang kursi, mengobrak-abrik ruang tamu, sampai akhirnya suara langkah itu terdiam di depan meja kami. Sepertinya suara nenek terdengar saat itu.

    “Keluar atau akan ada yang terluka..”

    Ibu menghela nafasnya. Dia keluar dari taplak, namun menyuruh kami dengan aba-aba tangannya bahwa dia yang akan keluar sendiri. Aku mengintip sambil mencoba mendengar pembicaraan mereka. Aku harap dia tidak melukai ibu.

    “Dimana Xiao Lun.”

    “Kumohon, suamiku adalah pengikut setia Lushan yang agung. Dia pernah ikut dalam perang bunga teratai selama 50 hari penuh bersamanya. Dia memujanya sampai hari ini, bagaimana mungkin dia melakukan pemberontakan? Orang disebelahmu adalah sahabatnya di dalam perperangan, kau bisa bertanya padanya.”

    Disana terdapat tentara dengan logo teratai simbol tentara Lushan, dan sahabat ayah. Ibu memohon minta tolong pada sahabat ayah, namun dia menggelengkan kepalanya.

    “Maafkan aku Sie, titah raja baru adalah membersihkan ras bar-bar. Suamimu memiliki setengah darah dari ras bar-bar.”

    “Kumohon..”

    “DIAM!!”

    Tentara tersebut menampar ibu sambil meneriakinya. Amarahku memuncak, tapi saat aku ingin keluar nenek memegangku sambil menunjukan jarinya didepan mulutnya, menyuruhku jangan berisik.

    “Jika kau menyembunyikan suamimu, rumahmu akan kami bakar!”

    “Lushan yang agung! Pemimpin yang akan membebaskan rakyatnya dari rasa takut dari raja yang zalim! Menjunjung kesetaraan! Kekuasaan di atas tangan rakyat!”

    Ibu yang terjatuh setelah ditampar oleh tentara tersebut menggenggam tangannya dan menaikan tangannya ke langit. Dia mengucapkan pujaan rakyat terhadap Lushan yang agung seakan pemimpin pahlawan tersebut tidak mungkin akan melakukan tindakan keji seperti ini.

    “Diam!!”

    “HYAA!!”

    Aku segera menabraknya, memanjat kakinya, dan menginggit tangannya. Tentara tersebut berteriak, dan dilemparkannya aku jauh-jauh hingga diriku terlempar.

    “Anak sialan!”

    Dia mendekatiku dan menendang perutku. Sangat sakit rasanya hingga perutku mual. Tendangan kedua mengarah pada kepalaku dan membuat kepalaku pusing, dan saat itu aku mulai memuntahkan isi perutku karena rasa sakit yang luar biasa pada perutku dari tendangan sebelumnya. Di antara muntahku terdapat darah, dan saat itu aku mulai ketakutan. Sampai tendangan ketiga, ibu memegang kakinya, meminta ampun, walau sekali lagi tendangan tersebut mengenai mukaku.

    “Tolong jangan lukai anakku.. Dia anak laki-lakiku, jika kau bunuh dia, siapa yang akan menafkahi keluarga kami?”

    Aku sebenarnya adalah seorang gadis, tapi ibu berusaha untuk menyamarkan bahwa diriku laki-laki. Ibu baru saja memotong rambutku pendek, dan memakaikan pakaian laki-laki padaku.

    Laki-laki tersebut menatapku, karena ruangan gelap, dia memegang daguku dan diperhatikannya baik-baik. Mukaku sudah babak belur saat itu, darah menyamarkan mukaku dari muntah yang menodai mukaku saat berguling ditendangnya.

    “Suaranya seperti anak gadis. Hei, apa dia punya anak gadis?”

    “Tidak..”

    Sahabat ayahku berbicara sambil memalingkan wajahnya. Aku tahu dia berbohong, tapi tentara tersebut seperti percaya dengan ucapannya.

    “Kutanya sekali lagi apakah suamimu ada disini?”

    Ibu memeluk melindungiku, dia belum siap untuk menjawab dan lelaki tersebut sudah menyiapkan kakinya. Nenek tiba-tiba keluar, dan berteriak dengan ekspresi mengerikannya.

    “Tidak ada, dia tidak ada disini! Mana mungkin juga dia bersembunyi disini membahayakan istri dan anaknya, apa kau tidak memakai otakmu!? Lalu bagaimana mungkin kau bisa menampar wanita dan menendang anak kecil seperti ini? Apa kau tak punya anak, istri? Apa kau tidak percaya dengan karma dari dewa?!”

    Tentara tersebut terdiam. Dia mulai merasa kagok, dan menyuruh sahabat ayahku beserta tentara lainnya keluar.

    “Jika aku mengetahui bahwa kalian menyembunyikannya, kami takkan segan-segan mengeksekusi kalian sebagai pembantu dalam pemberontakan.”

    “Silahkan! Karena kami tidak akan melakukannya, kami bukan pemberontak!”

    Nenek berteriak sambil mengusir tentara tersebut.

    Saat itu nenek segera panik mencari obatnya setelah melihatku, sedangkan ibu hanya menatapku diam. Dia menangis, tapi tatapanya penuh dengan amarah.

    “Ibu? Ahh!”

    Ibu menamparku, aku seketika kebingungan karena kupikir diriku telah melakukan hal yang benar.

    “Dasar pemberontak, seperti ayahmu!”

    “Ayah bukan pemberontak, dan ayah menyuruhku menjagamu!”

    Aku kaget dengan ucapan ibu dan membalas teriakannya. Dia malah menamparku lagi, lagi, dan lagi. Dia menamparku sambil berteriak pemberontak padaku. Aku menangis tidak percaya, dan nenek hanya terdiam. Saat itu aku merasa terkhianati oleh ibuku sendiri.

    ***

    “Maafkan aku Sie, tapi suamimu..”

    “Oh tidak..oh dewa..”

    Sudah tiga jam berlalu, ibu berbicara dengan sahabat ayah. Aku diam-diam menyelinap dari nenek yang tidur bersamaku, dia tidur setelah lelah dengan rasa marah dan takutnya. Saat itu aku mendengar samar-samar bahwa ayah tertangkap di dekat sungai, didalam gubuk bekas bersama saudara-saudaranya. Aku berdoa untuk Shizu’er temanku yang juga keturunan murni suku bar-bar untuk tidak bersama mereka.

    “Aku berjanji pada suamimu untuk tidak membocorkan perihal anak gadismu. Dia berkata bahwa nasibnya tidak boleh berakhir sama dengannya.”

    “Terima kasih.. Tapi, apa..”

    “Tidak Sie, dia tangguh, tapi kali ini dewa keberuntungan tidak bersama dirinya. Tidak ada yang bisa melawan takdir dewa.”

    Aku menangis sambil mendengar pembicaraan mereka. Ayah sangat tangguh, dia bercerita tentang mengalahkan beruang sendirian dengan kapaknya. Menebas kepala jendral jahat, dan mendapat pujian dari Lushan yang agung atas ketangguhannya. Sang raja tidak terkalahkan itu sendiri mengakuinya, bagaimana mungkin dia bisa kalah oleh tentara-tentara biasa?

    Aku ingin percaya hal tersebut, tapi kumohon ayah cepatlah pulang..

    Saat itu sahabat ayah pamit, dan ibu tertidur di ruang tamu. Aku mendekatinya. Dia terlihat begitu lelah, dan air matanya seperti sudah terkuras habis. Aku tidur bersandar pada ibu yang tidak terganggu tidurnya.

    Saat itu aku berdoa agar ayah kembali.

    ***

    “Eghh.. ahh..”

    Aku terbangun oleh suara rintihan diiringi suara mengetuk pintu. Ritme ketukan tersebut begitu lama, terdengar begitu lemas.

    “Ibu..”

    Aku menggoyang tubuh ibu, dan ibu yang sadarkan diri segera bertanya padaku apa yang terjadi. Aku berkata bahwa terdapat suara didepan, suara rintih dan ketukan, namun kini ketukan tersebut sudah menghilang. Mata ibu melotot, dia segera berdiri membuatku kaget dan membuka pintu.

    “Suamiku!”

    “Ayah!”

    Aku begitu senang bahwa doaku dikabulkan oleh dewa, namun keadaan tidak membuatku senyumku keluar saat itu. Ayah tak sadarkan diri. Tubuhnya yang kekar dan gagah, kini terlihat begitu lemah. Tanpa baju yang ia kenakan, badannya dipenuhi dengan luka sabetan pedang, dengan daging yang terlihat juga tulang, aku seperti melihat binatang ternak yang dipotong dirumah jagal. Luka ayah begitu mengerikan hingga merinding diriku dibuatnya.

    “Oh tuhan..”

    Ketika ibu memasukan ayah dan menaruh dipangkuannya, mulut ayah terbuka dan terlihat lidahnya terpotong, dan alasan itulah mengapa ayah hanya bisa merintih didepan pintu. Aku takut saat itu, dia telah merintih lama sambil mengetuk pelan lalu putus asa dan akhirnya tak sadarkan diri.

    Ibu berteriak padaku untuk membangunkan nenek. Aku segera berlari membangunkannya dengan muka penuh harap bahwa nenek bisa menyembuhkan ayah. Aku tahu bahwa obatnya penuh dengan keajaiban. Tapi muka nenek saat itu terlihat kecewa mendengar bahwa ayah kembali. Dia berjalan begitu lambat hingga aku mendorongnya.

    “Tidak, dia akan disini.. aku yang akan merawatnya”

    Ketika itu tiba-tiba terdengar ibu yang sedang berbicara. Aku langsung merasa panik mengira ibu berbicara dengan tentara. Perasaan lega menyertaiku ketika mengetahui bahwa dia adalah sahabat ayah.

    “Dia terluka parah Sie, biar kami yang merawatnya. Disini keadaannya hanya memburuk.”

    Dibelakang sahabat ayah terdapat warga desa lainnya. Mereka terlihat khawatir dengan keadaan ayah, salah satunya terlihat menangis dan menjauhi rumah kami.

    “ Tidak. Jika memang akan mati, maka dia mati disini.”

    Tiba-tiba nenek menepuk pundak ibu.

    “Sie.. kau tahu bahwa aku tidak memiliki obat untuk mengobati luka ini. Biarkan mereka yang mengobatinya.”

    “Tapi ibu..”

    “Dengarkan ibumu Sie, percayalah pada kami.”

    Ibu akhirnya merelakan ayah. Saat itu ibu menangis menutup matanya. Nenek menganggukan kepalanya pada sahabat ayah, saat itu aku tahu terdapat sesuatu yang salah. Aku segera berlari melewati pintu belakang mengikuti ayah. Aku ingin tahu dimana mereka akan merawat ayah.

    “Xiao?”

    Nenek menyadari bahwa aku hilang dan berteriak. Saat itu aku sudah keluar, dan mengikuti jejak ayah, darah yang tercecer dari lukanya. Aku tidak memakai sendal, dan beberapa batu melukai kakiku, namun hal itu tidak membuat lariku berhenti. Aku benar-benar ingin tahu apa yang terjadi pada ayah.

    “...”

    Aku bersembunyi di antara semak-semak. Mereka masih menggopong ayah, namun mereka malah menjauhi desa. Perasaanku mulai tidak enak.

    “...”

    Lama sekali kita berjalan sampai ke hutan bambu. Aku sering bermain disini dan tidak sekalipun pernah melihat rumah di dalamnya. Apa mereka berbohong pada ibu? Aku harus segera memberi tahu ibu, tapi jika aku kembali kerumah sekarang maka aku akan kehilangan jejak ayah. Aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejaknya kembali, dimana diriku tertinggal oleh rombongan tersebut ketika berpikir untuk kembali atau tidak.

    “Arghhh, hah..hah.. aw..aw! Hei, ayolah aku telah membantu keluargamu..

    “Terima kasih..”

    “AHHH!!””

    Aku mendengar suara dari kejauhan, setelah memohon lalu berteriak, suara memohon itu seketika hening dan terdengar suara benturan. Aku perlahan berjalan mencoba tidak mengeluarkan suara dari semak-semak, walau aku sadar bahwa perutku masih sakit, dan kakiku berdarah oleh luka, aku berusaha sebaik mungkin menahannya.

    “Sialan, aku tidak sadar bahwa dia menyembunyikan pisau kecil dimulutnya. Lu’er mati olehnya.. Sahabat bodohmu ini.. biarkan aku yang menggoroknya.”

    “Dia mantan prajurit tangguh, bahkan di medan perang mereka menyebutnya Xiao Lun si Singa dari selatan. Aku perang bersamanya dan dia sungguh baik. Kupikir yang dia lakukan hanyalah pertahanan diri dari instingnya sebagai prajurit. Kita harusnya bersyukur dia tidak menyiapkan kapak besarnya. Bolehkah kita memberikan kematian terhormat padanya?”

    Mereka berbicara tentang ayah! Aku segera memunculkan kepalaku perlahan. Terdapat banyak orang yang ditelanjangkan dengan tali yang mengikat tangan dan kaki mereka, membuat mereka bertekuk lutut. Mata dan mulut mereka ditutupi. Salah satu dari mereka membrontak, mata dan tutup mulutnya terbuka karena tidak diikat kuat dan hanyalah kain tipis yang dirobek dari baju mereka sendiri. Dia berteriak ketakutan saat itu.

    “Oh tuhan, oh tuhan!!”

    “DIAM!”

    Seorang dari mereka, berbadan besar dengan goloknya yang juga besar mendekati orang tersebut. Aku ingat badan, muka, dan cara berjalannya yang lucu. Dia adalah pekerja di rumah jagal, terkenal karena mampu memotong daging babi beserta tulang-tulangnya dengan sekali tebas. Saat itu dia dengan tinggi menjulangkan goloknya, dan ketika itu secara refleks aku menutup mataku. Suara memohon tersebut menghilang, dan setelahnya aku mendengar suara menyeret dan suara dentuman keras seperti orang terjatuh.

    “Ughh!!”

    “Sial! Kalian cepat pegang kakinya!!”

    Ayah sadarkan diri. Orang-orang menahan kakinya, sedangkan sahabat ayah memegang lehernya. Di tangan sahabat ayah terdapat pisau. Ketika pisau tersebut ingin menggorok leher ayah, tangan ayah yang begitu besar dan kuat meremas tangan tersebut, namun licin keringat membuat genggamannya merosot.

    “Ssstt, kita akan bertemu lagi Lun.. Tapi kau pergi duluan.. Jangan dendam, kau tahu bagaimana kondisiku sekarang bukan?”

    “Hii!”

    Pisau tersebut perlahan menghunus leher ayah. Aku berteriak kecil melihat betapa mengerikannya ketika pisau tersebut mulai bergerak dan darah keluar dari leher ayah. Tubuh ayah berguncang dahsyat hingga akhirnya lemas dengan tangan yang masih bergemetar. Seketika orang-orang yang menunggu giliran eksekusi menjadi kacau, mereka panik sambil mengguling-gulingkan badan mereka, namun ikatan mereka tidak turut terlepas.

    “Suara itu!”

    Aku segera sadar bahwa mereka mendengar teriakanku. Sambil menutup mulutku yang rasanya ingin menangis berteriak keras, aku berlari dengan kencangnya. Kakiku sakit, mereka memasuki semak-semak dan menyadari darah yang keluar dari kakiku. Lari mereka begitu kencang sebagai orang dewasa yang telah berpengalaman melewati semak-semak ini, dan aku mulai melepas tanganku dan fokus berlari. Saat aku melihat kebelakangku, diriku mulai menghela nafas ketika melihat mereka menghilang, namun tiba-tiba sesuatu yang keras menghantam kepalaku, dan segalanya gelap.

    ***

    “Aku berjanji pada ayahnya bahwa dia tidak akan bernasib sama dengan ayahnya!! Ayahnya juga hanya setengah keturunan, peluangnya begitu sedikit untuk memiliki keturunan penyihir!”

    “Jika mereka tahu, desa kita akan dibakar. Kau tahu sendiri bagaimana desa sebelah dibakar habis tanpa menyisakan nyawa.”

    Aku baru sadarkan diri, rasanya pandanganku berkunang-kunang dan aku tertidur menatap langit diantara bambu-bambu. Gelap, bulan purnama tertutupi oleh awan-awan yang gelap. Satu-satunya penerangan adalah obor yang dibawa warga desa. Disekitarku terdapat kepala desa dan sahabat ayahku, mereka membicarakan diriku.

    “Kau sudah bangun sayang?”

    Dia menatapku, tapi aku tak berani menatapnya. Pria ini baru saja membunuh ayahku dengan kejinya. Saat berpaling, aku tersadar bahwa mereka masih melakukan eksekusi.

    “Kyaaa!!”

    Aku histeris. Ketika menengok, aku menyaksikan hal yang sangat mengerikan dimana di antara seorang wanita yang berusaha kabur, golok salah satu algojo mengenai dadanya. Darah deras keluar dan dada yang terpotong tersebut memperlihatkan bentuk beruas-ruas seperti sarang lebah dengan susu asi yang keluar bersamanya.

    Tanpa sadar aku mengompol. Sahabat ayahku merasa kasihan sambil menutup hidungnya. Padahal saat itu tempat ini memang sudah pesing, bau kencing dan amis darah.

    “Begini saja.”

    Salah satu dari mereka yang masih muda membangunkanku. Aku ingat dirinya, masih muda, belajar pada ayahku bagaimana menggunakan pedang dengan imbalan membantu ayah bertani dan memotong kayu. Dia tersenyum padaku.

    “Yang penting tidak senasib ayahnya bukan? Oh, kau masih kenal aku kan Xiao-chan?”

    Dia tersenyum padaku, memberikanku harapan. Aku tidak mau tahu lagi, aku ingin segera kabur dari sini. Aku mulai melupakan rasa amarahku, dan rasa takut membuat pikiranku mati.

    “Maaf..aku hanya ingin..”

    “Ya, aku akan menolongmu!”

    Dia menendangku pelan.

    “Apa yang kau lakukan?!”

    “Setidaknya kita tidak menggorok leher seperti ayahnya bukan?”

    Kakiku terikat sehingga diriku tidak memiliki keseimbangan untuk menahannya, dan perlahannya aku terjatuh, diriku melihat jurang yang begitu gelap. Tiba-tiba saja bulan keluar dari awan-awan sekilas, dan aku melihat mayat-mayat yang bertumpukan dengan tutup mata yang terbuka, memperlihatkan mata mereka yang melotot ngeri.

    ***

    Badanku mati rasa. Gelap sekali disini. Aku mendengar banyak tubuh yang terjatuh, aku yakin saat ini diriku masih hidup. Tapi sampai kapan?

    Bulan purnama kembali terlihat, dan aku melihat obor-obor tersebut menjauh. Aku menyadari bahwa sekitarku mulai terlihat.

    “Shizu’er..”

    Aku melihat Shizu’er disebelahku. Matanya masih tertutup saat itu Badannya tertusuk oleh bambu, dan sebelumnya dia telah disembelih seperti orang lainnya.

    “Huaa...”

    Aku menangis. Rasa ngeri muncul ketika diriku melihat ke kiri dan ke kanan, entah bagaimana kebanyakan dari mereka terbuka tutup matanya, dan mereka menghadapku, menatapku seakan cemburu padaku.

    “Kepalaku dimana?”

    “Hii..”

    Aku mendengar suara rintihan dan suara orang yang bertanya-tanya. Rasa merindingku muncul dan aku seketika berhenti menangis.

    “Xiao? Aku, aku tidak bisa bergerak..ahh..AHHH!!”

    “..!!”

    Aku terlompat kaget dan takut. Suara tersebut adalah suara Shizu’er, dia merintih kesakitan dan aku segera menutup telingaku ketika sadar tubuhku mulai bisa bergerak.

    “Ahh..sakit..”

    Aku sadar tangan kananku begitu sakit ketika aku mencoba menutup telingaku dengan tangan kananku.

    “Ahh...Ahhh...AHHH!!”

    Aku sadar jari-jariku patah, bengkok ke kanan dan ke kiri. Kesadaran ini diikuti oleh rasa sakit yang luar biasa. Kusadari juga patah di siku tangan kananku, tulang menembus di antara daging. Darah keluar dengan segar ketika kucoba gerakkan.

    “Ha..ha.. Ibu...”

    “Kwak..kwakk..”

    Ketika menangis dan meringis kesakitan, aku menyadari terdapat suara gagak dari kejauhan. Apa mereka memakan mayat? Entah mengapa suara tersebut membuatku mendekatinya, terseok-seok, menyeret badanku diantara mayat.mayat sambil memegang tangannku yang lemas terluntai.

    “Hei..”

    “Eh, Ada orang disana?!”

    Aku berteriak, suara gagak tersebut tiba-tiba memanggilku.

    “Ssst...beberapa diantara mereka masih berada disini..”

    Akhinya awan benar-benar hilang dari langit, purnama benar-benar menyinari tempat ini . Aku melihat gagak yang sangat besar berdiri di atas mayat-mayat sambil menatapku.

    “...”

    “...tolong..”

    Aku menangis. Aku hanya ingin pergi dari sini. Tapi gagak tersebut malah melihat langit, dan terdiam. Sampai akhirnya dia menatapku kembali.

    “..Hanya kau yang bisa menolong dirimu sendiri.., aku bisa membantumu..”

    Gagak tersebut tidak menggerakan paruhnya. Suara tersebut seperti keluar secara misterius. Aku sudah mulai tidak percaya dengan apa yang kudengar, mungkin aku berilusi atau ini hanya mimpi, tapi dia ingin membantuku.

    “..Ya, bantu aku.”

    “..Apa kau ingin kekuatan?”

    Tiba-tiba mata gagak tersebut memerah, dia mematuk-matukan paruhnya di antara mayat. Dia melihat tubuh wanita, dan dikoyak-koyaknya tubuh tersesbut.

    “..Ah..Kau ingin hidup? Makan daging ini..”

    Dia mendekatiku, paruhnya dihadapkan pada mukaku. Aku tidak berpikir lagi, aku hanya mengikutinya dan memakannya. Aneh, rasanya begitu lezat.

    “..Ikuti aku..”

    Dia berjalan sambil meloncat-loncat. Aku mengikutinya menyeret badanku. Aku mulai lupa dengan rasa sakitku, dan sensasi daging tersebut seperti menguasai tubuhku. Aku lupa dunia. Lalu tanpa sadar aku mencoba mencari tubuh wanita, sekalinya kutemukan, tubuh tersebut tertimpa tumpukan orang-orang, dan tanganku tidak bisa digunakan untuk menggapai wanita tersebut.

    “..Bisa kau beri lagi?”

    “..Kau bisa gila..”

    Aku menuruti ucapannya. Sadar bahwa yang akan kumakan adalah bangkai seseorang, tapi aku tidak bisa berpikir normal lagi.

    Aku mengikutinya, ketika tertinggal dia kembali menungguku sampai mampu mengerjarnya, lalu dia berjalan lagi. Sampai akhirnya aku melihat sarang burung. Banyak barang bercahaya, namun berbeda dengan lainnya, di dalamnya terdapat batu dengan bahasa bangsa china kuno yang bercahaya terang. Lalu gagak itu berbicara padaku.

    “..Siapa yang bersalah?..”

    “..Warga desa, nenek, sahabat ayah, anak muda tersebut, dan..Lushan.. Ya, Lushan.. Pendusta, lazim, kejam, aku benci, benci, benci,benci...”

    Otakku dipenuhi oleh kata benci yang berulang kali keluar dari mulutku.

    “..Baiklah..”

    Tiba-tiba batu tersebut bercahaya. Aku merasa tubuhku ringan seketika cahaya itu menyertaiku. Rasa benci meluap dalam hatiku, dan hanya kata Lushan, Lushan, dan Lushan saja yang ada dipikiranku saat ini.
     
    Last edited: Sep 7, 2015
  14. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Naqoyqatsi Chapter 11 : The Year of the Beast

    Anakku sering bertanya padaku tentang tuhan, siapakah tuhan, bagaimana wujudnya? Apakah seperti patung-patung di kuil yang mengajarkan kedamaian? Terakhir kali dia bertanya demikian sambil menunjukan padaku ajaran agama orang asing, bahwa kita semua memiliki takdir yang tertulis dimana terdapat angan-angan tuhan dengan tujuan yang misterius, yang bahkan satu kerikil yang jatuh ke tanah pun memiliki tujuannya tersendiri

    “Lalu ayahanda.. aku semakin merasakan kegaduhan dalam hatiku.” Ucapnya lirih.

    “Pernyataan dirinya mengenai sifat tuhan menjadi penuh dengan kontradiksi, sifat yang berlawanan sama sekali! Bagaimana mungkin dia ada, dengan rasa kasih sayangnya dan takdir-takdir yang ia tuliskan, lalu perang dan pembantaian itu terus terjadi dan ia biarkan begitu saja? Bukankah rasa kasih sayangnya menyertai semuanya? Lalu jayanya orang-orang jahat selama ribuan tahun, dan banyak kematian yang menyertainya.. Apakah kematian tersebut juga adalah angan-angannya, seakan ada tujuan mulia dibaliknya? Maka tuhan.. maka.. “

    Dia berhenti bicara, tatapannya penuh keraguan untuk mengatakannya atau tidak.

    “Oh Ayahanda, hatiku begitu dipenuhi dengan kegaduhan, apakah kepercayaanku padanya akan dipertanyakan?” Dia tidak jadi mengucapkan prasangkanya, dan bertanya padaku perihal tuhan seakan aku mengenalnya.

    “Dipertanyakan? Ayolah nak, aku belum mati! Bagaimana bisa aku menjawabnya? Lagipula kau pelajari semua itu dari mana?” Ucapku.

    “Para pedagang dari timur ayahanda, yang menggunakan sorban dari jalur sutra.”

    “Begini saja, dengan fakta yang demikian, maka cari agama yang sesuai dengan pandanganmu. Di belahan dunia lain, terdapat tuhan-tuhan yang memuja perperangan, di lain dunia lagi terdapat tuhan-tuhan kedamaian. Setiap ajaran berbeda, kebenaran itu relatif tergantung pada nilai budaya wilayah yang dipegang.”

    “Maksud ayahanda?” Anakku berbicara dengan penuh tanya, masih belum sadar bahwa ayahnya bukanlah seorang pemikir agama seperti dirinya.

    “Banyak tuhan anakku sayang, bisa saja yang kau puja salah. Bisa saja tuhan yang sesungguhnya adalah mahluk maha keji, bisa saja sebaliknya, toh tuhan selalu di gambarkan dengan sifat ‘kemahaan’. Kalau aku boleh bicara tentang siapa yang benar, coba kau pelajari tuhan suku bar-bar, kupikir mereka memiliki banyak tuhan dengan tugasnya masing-masing. Dewa air, petir, api, dan sebagainya. Jika demikian, bukankah dewa tersebut yang paling cocok, setidaknya mereka setidaknya menghidupi kita bukan?”

    Ketika aku mengucapkan ini, aku mulai berpikiran bagaimana orang-orang memikirkan betapa udiknya orang yang menyembah matahari. Jika dibandingkan tuhan mereka, setidaknya matahari sudah terbukti menghidupi kita. Tanpanya kita sudah mati membeku, dan tanpanya takkan ada satupun tumbuhan yang tumbuh.

    “Lalu bukan pertanyaan lagi ketika mereka menggunakan kekuatan mereka, itu hasil interaksi mereka dengan tuhan, kupikir mereka benar-benar nyata.”

    Di akhir aku mulai menutupi mukaku, sadar betapa ironisnya ucapanku. Suku bar-bar sudah kubantai habis, setidaknya mereka yang memiliki sihir. Bagaimana anakku bisa mempelajari tuhan mereka pikirku.

    “Tapi ayah, aku tidak setuju bahwa mereka adalah tuhan yang sesungguhnya. Ini bukan perihal logisnya mereka menghidupi kita, tapi secara esensi penciptaan, mereka..”

    Anakku menjelaskan padaku tentang konsep ketuhanan yang ia percaya. Aku tidak bisa mengingatnya Aku hanya kesal karena akhir pekanku setelah perperangan yang tak kunjung usai malah digunakan untuk berdiskusi soal sesuatu yang kuanggap percuma bersama anakku, topik yang kurang kupahami, dan topik yang sangat kuhindari karena banyak konflik yang timbul darinya. Di masa depan kupikir topik mengenai tuhan ini takkan pernah selesai, agama akan terus ada walau manusia sudah lebih berakal dari sekarang.

    Toh tuhan adalah produk harapan, dari dunia tanpa harapan.

    ***

    Bagaimana aku bisa bermimpi tentang anakku, dan bahkan saat kita membicarakan tuhan? Entahlah, tapi kini diriku sudah merasa berada pada ujung hidupku, sakratul maut tepatnya. Mulutku keluar busa, terlihat dari cermin yang berada di depanku. Terdengar rengekan dari mulutku yang tak sengaja kukeluarkan. Pandanganku berguncang, dan yang aku tahu setelah itu adalah ternyata tubuhku ikut berguncang bersamanya.

    Aku jadi ingat bahwa orang yang ingin mati akan mengingat masa lalunya, bahkan seluruh hidupnya ia ingat dalam sepersekian detik, maka ingatan tadi benar-benar terasa acak, bukan ingatan yang sama sekali penting menurutku. Tapi jika dipikir-pikir lagi, aku tahu beberapa orang yang mati suri, mereka berimajinasi soal neraka, kawah hitam, dan sebagainya yang persis dengan versi agama mereka, seakan pernyataan tersebut mendukung kepercayaan mereka. Mungkin mimpi tentang masa lalu itu mencoba memberitahuku bahwa dia sedang mengotak-ngatik versi mana yang cocok untuk diriku, dan dia tidak menemukannya sehingga dibawanya diriku dalam ingatan tersebut.

    Omong-omong saat ini aku bisa melihat banyak orang yang panik, membersihkan busa yang bergelinang di mulutku, memotong sesuatu, menusuk sesuatu.

    Lalu aku pingsan saat itu

    ***

    Aku terbangun lagi, dan kali ini penglihatanku buram. Terdapat dua orang di depanku. Aku sedikit mendengar ucapan mereka bahwa mereka mengirim kelompok penyihir kerajaan untuk memantau perkembanganku. Salah satunya mendekatiku, dan dia berbisik padaku.

    “Hai Lushan.”

    Suaranya asing, gadis, mungkin masih muda. Terdapat suara canda dalam tawanya.

    Aku pingsan lagi.

    ***

    Kali ini terdapat ibu, dia memegang pisau di tangannya, dan aku tahu bahwa dia berkehendak untuk menusukannya padaku. Dalam hati aku bertanya mengapa dia ingin melakukan hal tersebut, dosa apa yang telah kuperbuat?

    Tidak ada siapa-siapa saat itu, dan ibu menangis hingga air matanya mengenai mukaku. Dijuntainya pisau tersebut jauh di atas langit-langit, dan tiba-tiba sesuatu menghentikannya. Balthiq berlari dan menahan tangan ibu.

    Dia membentak ibu, dan aku tidak bisa mendengarnya secara jelas. Ibu menangis sejadi-jadinya saat itu sembari melepas pisaunya.

    “...!”

    Dia kemudian sadar bahwa mataku terbuka sedikit menatapnya. Dia terlihat kaget, tatapnya melotot, pupilnya membesar, ekspresinya berubah seperti seseorang yang menatap sesuatu yang mengerikan. Lalu dia segera pergi dari sana memegang mulutnya, menjauhi diriku, dan memuntahkan isi perutnya. Balthiq saat itu segera mendekati ibu, memengangi punggungnya, mencoba menenangkannya.

    Saat itu air mataku keluar walau kini aku benar-benar lumpuh. Rasa pilu muncul di dadaku, dan aku mulai mengingat sesuatu yang samar. Aku seperti melihat Ibu dan Balthiq dalam ingatanku, sesuatu yang sepertinya tidak pernah kulakukan. Balthiq yang berjalan di antara mayat-mayat yang tertusuk oleh kayu, Ibu yang meronta-ronta kesakitan, dan ketika Balthiq memelukku oleh alasan yang misterius. Aku tak bisa mengingat lebih dari itu selain perasaan yang terus terjebak dalam dada ini, sedih dan putus asa.

    Dan aku pingsan lagi.

    ***

    “...”

    Kali ini aku tidak lagi bangun di ruang perawatan tersebut, namun berada di ruangan serba putih dengan dewa materi di hadapanku. Dia seharusnya tahu bahwa dia tidak bisa semena-mena membawaku ke dunia ini, atau.. jangan-jangan kini diriku sudah mati?

    “Oke, ada beberapa hal yang harus kau ketahui. Aku akan memulainya dari yang pendek dulu.”

    Dewa Materi memperlihatkan mukanya dengan lekukan-lekukan api merah dan biru. Lekukan tersebut memperlihatkanku ekspresi yang tidak nyaman pada mukanya. Ketika mulutnya mulai bergerak, aku segera memotong ucapannya.

    “Tunggu,” Ucapku sambil memberikan tanda berhenti dengan tanganku. Mulut dewa tersebut langsung menutup kembali.

    “Sebelum itu aku ingin memastikan sesuatu.”

    “Baiklah.”

    Ucapannya memperlihatkan nada tidak nyaman, dia pasti sangat tersinggung. Sebagai dewa, manusia yang menghentikan ucapannya pasti sangatlah menganggu harga diri mereka, seperti layaknya penasihan menahan ucapan kaisar, bisa-bisa mereka digantung. Satu-satunya hal mengapa aku sengaja berani kurang ajar karena kupikir sang dewa sendiri harus mengakui dirinya sendiri melanggar apa yang kita setujui, untuk tidak semena-mena melakukan sesuatu tanpa izinku, sama kurang ajarnya. Lagipula, pertanyaanku hanyalah pertanyaan simpel yang bisa ia jawab satu kalimat saja.

    “Apa diriku telah mati?”

    Tak ada penjelasan lain, ingatan masa lalu, kejang-kejang yang kuterima, dan kondisi yang terlihat tidak membaik setelah itu.. Aku hanya memikirkan sakratul maut saat ini.

    “Tentu tidak! Aku takkan bicara padamu sekarang jika kau akan mati setelahnya! Kejang-kejang tidak berarti apa-apa, walau aku tahu, beberapa dari manusia mungkin menganggapnya komplikasi penyakit akut.”

    Aku bernapas lega, dia dewa, setidaknya dia tahu apa yang benar-benar terjadi padaku.

    “Pertama, seseorang menembus alam bawah sadarmu.”

    “Alam bawah sadar?”

    Menembus alam bawah sadar? Aku mulai ingat, praktik penyihir dalam mendapatkan informasi penting dengan menembus pikiran, memasuki memori untuk menemukan rahasia penting. Sepertinya pagar sihir yang melindungi isi kepalaku di masa depan tidak terbawa ke masa ini. Kupikir satu-satunya pelaku yang mampu dan ingin melihat isi otakku hanyalah ibu semata, hal ini menjelaskan bagaimana perilakunya, dan pandangannya padaku.

    “Hal ini menjelaskan bagaimana ibu melihatku tadi..”

    “Bukan hanya dia, kakakmu juga. Kupikir dia bahkan berinteraksi dengan kesadaranmu karena kesalahan yang kulakukan ketika ingin mengguncang mereka keluar. Apakah kau seperti memiliki ingatan samar-samar mengenai interaksimu?”

    Balthiq? Bahkan ibu melakukan hal riskan dengan mengajak Balthiq. Dia pasti benar-benar merasa risih dengan perubahan drastis pada anaknya, dan tentu misteri bagaimana diriku bisa menggunakan sihir seperti tadi bukanlah hal sepele. Ketika tau diriku tidak kerasukan sesuatu seperti roh penyihir yang penasaran, atau dewa yang nyasar, tidak ada cara lain selain memasuki pikiranku dan mengungkapkannya. Mengajak Balthiq sendiri sangat misteri bagiku, seperti bagaimana ibu sering merahasiakan banyak hal padanya.

    “Ya, aku merasakan pilu ketika melihat ibu. Aku seperti memiliki ingatan samar-samar mengenai apa yang mereka lakukan di dalam pikiranku, apakah aku sepelupa ini?”

    Dewa menggelengkan kepalanya padaku.

    “Seperti mimpi, aktivitas alam bawah sadar tidak seharusnya direkam dalam otak. Dia hanya tersimpan di bagian temporal, dan hilang begitu tidak lama setelah terbangun. Interaksi antara kesadaranmu menciptakan pengalaman seperti mimpi, dan mungkin telah terjadi suatu hal buruk yang menciptakan perasaan pilu tersebut.”

    Aku tertawa, tertawa atas betapa ironisnya hal ini. Masuk ke dalam memoriku sesungguhnya adalah kesalahan terbesar mereka. Sudah sangat jelas bahwa hal buruk tersebut memang akan terjadi. Dewa melihatku bingung saat itu, dia terdiam menungguku tertawa. Mengetahui dia menunggu, aku segera menjelaskan alasanku tertawa yang sebenarnya merupakan ekspresi ironiku, mencoba melanjutkan penjelasannya pada permasalahan berikutnya.

    “Tidak ada hal baik dalam memoriku. Dia pasti sudah melihat yang terburuk dari segala memoriku tentang diri mereka sendiri.”

    Aku membayangkan Balthiq maupun Ibu melihat takdir mereka sesungguhnya di otakku, pasti meninggalkan rasa trauma besar pada diri mereka. Aku tak sabar melihat bagaimana reaksi mereka setelah aku terbangun. Kekacauan yang telah kulakukan seperti bencana demi bencana, reaksi beruntun yang tak bisa dihentikan, dan karenanya lama-lama aku rela menerima apa yang tak bisa kukendalikan. Kini aku hanya bisa berpikir untuk menjelaskan alasan dari segala kejadian tersebut, mengapa semua hal mengerikan itu dapat terjadi, hingga ibu tidak mencoba mengarahkan pisaunya ke hadapanku lagi.

    “Lalu apa masalah utamanya?”

    Ekspresinya kembali terlihat tidak nyaman, bahkan ia menggeser kakinya seperti orang yang grogi.

    Ya, aku baru tahu bahwa dewa pun bisa grogi.

    “Ini perihal dunia para dewa. Lebih baik kita kesana sekarang juga.”

    “Dunia para dewa? Maksudmu masalah ini..”

    “Ya, masalah para dewa, dan kau terlibat didalamnya. Kupikir mereka punya pikiran mengenai kontrak kita, sekaligus perihal peristiwa anomali sepertimu.”

    Berbeda dengan masalah manusia yang tak kunjung usai, dunia para dewa adalah dunia yang tak mampu disentuh manusia biasa kecuali para penyihir. Aku sesungguhnya benci mengenai ini, dewa adalah sosok dimensi yang berbeda dengan manusia, mereka lebih tinggi dari kita, mereka pencipta kita. Jika saja ada masalah, apakah sosok manusia yang bagai semut bagi mereka bisa mengubah sesuatu yang berarti?

    ***

    Dewa menutup kedua mataku, dan membukanya kembali. Seketika aku sudah berada di tempat lain. Seperti di ruang sidang dengan aku dan dewa sebagai terdakwanya. Terdapat banyak kursi penonton mengelilingi kami, besar sekali dengan sosok gelap diantaranya, dimana kursi tersebut berada pada lantai yang bertingkat menjulang kelangit, banyak sekali. Lantainya dipenuhi oleh permadani arab yang begitu indah, dan juga dipenuhi oleh bebauan-bebauan manis parfum mawar. Disini kupikir dewa memiliki selera juga, tak jauh berbeda dengan manusia.

    “Selamat datang di tempat para dewa. Sosok di kursi-kursi tersebut, semuanya adalah dewa, kebanyakan mengatur elemen alam, namun terdapat elemen yang lebih dari kompleks dari itu semua.”

    Kompleks? Aku berusaha memahami ini semua, mengambil pelajaran baru bahwa dewa merupakan elemen-elemen alam, atau bahasa lain yang kupikirkan adalah sifat-sifat yang mengatur alam. Dewa-dewa dari suku bar-bar menyatakan bahwa terdapat mungkin seratus, atau dua ratus lebih sosok dewa. Mereka menyembah angin, air, matahari, segala hal yang mereka pikir menghidupi ataupun membuat takut mereka. Kini di hadapanku, apapun yang mereka sembah duduk bersama, dan kupikir dengan ribuan kursi di depanku akan membuat mereka kecapaian menyembah mereka semua.

    “Masih ada waktu, adakah yang ingin kau tanyakan Lushan? Aku bisa melihat bahwa kau sepertinya tertarik dengan dunia baru ini.”

    “Ah, ya. Anakku sering bertanya padaku mengenai dewa-dewa, tanpa sadar aku jadi berusaha memahami kalian. Aku lupa, mereka menyebutmu dewa materi bukan?”

    “Ya, dewa materi. Pernah kujelaskan padamu bukan? Bahwa kekuatanku dipakai di masa depan untuk daya hancur yang kuat, namun hal tersebut tidak lain hanya beberapa manipulasi dari hukum yang menyertaiku. Aku adalah susunan paling dasar dari segala elemen kebanyakan yang ada disini, dasar yang sesungguhnya sama. Aku tidak bisa menjelaskan padamu dengan pengetahuan di masamu, tapi hal ini mampu menjelaskan beberapa pemikiran filosofis yang salah.”

    Aku mulai berpikir tentang buku-buku yang kubaca, kebanyakan mengenai pengobatan. Mereka mengatakan bahwa elemen penyusun harus diseimbangkan agar mencapai kesehatan yang sempurna, elemen tersebut adalah api, air, tanah, dan udara, mungkin ini yang dimaksud dewa materi.

    “Seperti manusia memiliki susunan api, air, tanah, dan udara?”

    “Ya, manusia tidak disusun oleh elemen tersebut, dan dalam tingkatan dasar sendiri mereka adalah sama. Akulah penyusunnya, namun ditengarai susunan yang berbeda, hukum yang berbeda.”

    Dalam artian dia adalah dewa yang menciptakan segala elemen tersebut sehingga mereka ada karena dirinya sebagai penyusun? Bukankah hal tersebut menciptakan kondisi dewa menciptakan dewa lainnya? Apakah banyaknya dewa disini adalah sosok yang saling tercipta atas banyaknya kondisi, dan tunggu, bukankah berarti dewa-dewa ini seperti diciptakan?

    “...”

    Ah, kupikir tak ada habisnya memikirkan ini semua. Intinya adalah, dewa materi sebagai penyusun, merupakan satuan terkecil yang menyusun segala kondisi tersebut. Atas pemikiran simpel ini, aku berusaha mensimpulkan ucapannya.

    “Maksudmu secara artian, kau diatas mereka semua?”

    “Aku sesungguhnya tidak bisa menciptakan kondisi sekompleks mereka, namun aku bisa membatalkan eksistensi mereka jika kumau, karena ada zatku di antara mereka. Hal ini yang menjadi problema, aku seharusnya tidak bermain di tingkatan mereka..”

    Ketika itu dia mendekatkan mulutnya ke telingaku, rasanya sedikit panas karena dia memiliki rupa api.

    “Nanti kita bicara lagi Lushan, sepertinya mereka semua sudah hadir. Kuperingati satu hal padamu, kumohon jangan berbicara. Kumaklumi kau menghentikan ucapanku, tapi dewa-dewa di depanmu, kebanyakan dari mereka sangat polos dan tempramental, terutama mengenai kedudukan dewa dan manusia.”

    Setelah mengingatkan hal tersebut padaku, dewa materi mengetukan kakinya, bunyinya bergema memenuhi ruangan ini, sepertinya tanda bahwa diskusi antara mereka akan dimulai. Aku tidak bisa melihat wujud mereka dengan jelas, ruangan ini menyoroti sinar pada kami namun tidak pada mereka.

    “Selamat datang semuanya! Sepertinya kita masih kekurangan satu lagi..”

    “Tidak usah berlama-lama dewa materi. Kita langsung ke topik saja.”

    Suara yang membalas dewa materi begitu berat dan bergema diseluruh ruangan. Aku langsung merasakan merinding di bulu kudukku, mereka seperti berbicara dalam frekuensi yang benar-benar berbeda dengan manusia.

    “Maaf, bisakah kalian menyebut diri kalian masing-masing? Kalian terlihat gelap disana!”

    Dewa materi berbicara dengan nada canda. Sikapnya membuat tempat ini ramai sekali, sampai-sampai aku menutup telingaku. Dari segala ketidakbijaksanaan dewa materi, kupikir dia tahu benar siapa saja dewa-dewa yang berbicara padanya dan melakukan ini agar diriku bisa mengenal siapa masing-masing dari mereka yang berbicara. Sesuatu yang cukup membantu, jika aku cukup peduli soal banyaknya dewa-dewa disini.

    “Aku tidak ingin bercanda dewa materi, tapi baiklah, sepertinya aku mengerti maksudmu, diriku dewa petir.”

    Dari suaranya dia terdengar sangat serius, tapi mengalah untuk mengikuti permainan dewa materi.

    “Seperti yang kau ketahui sendiri, sosokmu adalah dasar dari segala dasar eksistensi dunia ini. Hampir dari segala elemen dunia berasal darimu, kau adalah penyusun dasar kami semua! Berurusan dengan manusia masih kami maklumi, tapi mengikat kontrak dengan manusia? Bukankah kau sadar bahwa dengan hal tersebut kau bisa memberi kuasa penuh pada manusia untuk menggunakan kekuatanmu. Dia bahkan bisa melenyapkan dunia begitu saja!” Dewa petir mencoba menjelaskan argumennya, dan terdengar begitu absurd di telingaku.

    Melenyapkan dunia? Maksudnya kekuatan yang kumiliki benar-benar di luar kodrat manusia? Tiba-tiba aku menjadi sedikit setuju dengan ucapan dewa yang satu ini, manusia tak pantas memiliki kekuatan ini, ini sama saja dengan kekuatan absolut, sangat rentan korup bahkan walau diriku sendiri yang memegangnya.

    “Apa kau pikir aku memilihnya secara asal? Dewa penyakit, kau pernah meminjaminya kekuatanmu bukan? Aku melihatnya, sangat dahsyat kekuatan yang kau berikan padanya.”

    “Ya, ketika dia diserang oleh sekumpulan bandit lemah.”

    Suara wanita terdengar dari kegelapan, berbeda dengan suara sebelumnya, suaranya begitu lembut. Aku ingat telah menggunakan kekuatan yang tanpa sadar keluar oleh ingatan tentang apa yang ibu lakukan kepada para bandit tersebut, sihir yang sangat mengerikan.

    “Dia lebih berarti dari berapa manusia?”

    Dewa materi sepertinya ingin mengutarakan berapa manusia yang telah kubunuh, betapa istimewanya eksistensiku.

    “Puluhan juta manusia, kekuatan yang cukup untuk memakai penyakit yang hampir melenyapkan setengah populasi manusia tersebut.”

    Aku dipenuhi dengan kekagetan akan fakta kekuatan yang kugunakan. Lalu puluhan juta manusia? Aku tak benar-benar sadar bahwa sebanyak itu tanggung jawab jiwa yang kutanggung selama ini, setidaknya aku sedikit lega, pada masa ini puluhan juta jiwa tersebut masih hidup. Entah bagaimana konsepan mengenai hal ini, ketika diriku kembali ke masa lalu dan nyatanya kini aku masih menanggung jiwa mereka.

    “Bahkan tanpa kontrak, dia sudah bisa menguasai hampir segala potensi dari semua kekuatan kalian disini. Eksistensinya sungguh istimewa, dan aku kaget, tidak di antara kalian yang mengunjunginya?”

    “Anomali. Masa depan yang tidak bisa dilihat dan lepas dari rentang hukum ruang dan waktu, melenceng dari garis takdir yang telah tercipta. Terlalu riskan!”

    Tiba-tiba terdapat suara yang berteriak dari kejauhan. Dia tidak menyebutkan namanya, tapi sepertinya sebutan antar nama dewa tidak penting lagi ketika hampir mayoritas tidak menyetujui hal ini.

    “Maka itu saudara-saudara. Masa kita hanya di masa kini, hanya penyihir media kita untuk berkomunikasi langsung dengan dunia ini, setelah itu manusia dengan mudahnya memanipulasi alam. Lalu kalian harus ketahui bahwa dampak yang kita lakukan lewat penyihir nyatanya tidak mengubah apapun, hanya rutinitas manusia yang bahkan kita lepas tangan saja akan tetap terjadi! Karenanya..”

    “Aku setuju dengan dewa materi..”

    Tiba-tiba suara yang lebih hebat lagi keluar dari langit-langit. Sosok tersebut menyerupai gagak yang sangat besar, mendarat di hadapan kita, bukan di antara mereka yang berada di kursi. Matanya merah bersinar di antara kegelapan, gerakannya yang mendekati kita meninggalkan jalur pada cahaya seperti kunang-kunang yang bergerak. Seketika cahaya menyorotnya, dia terlihat membawa sosok manusia di belakangnya seperti dewa materi yang membawaku.

    “Selamat datang Dewa kebinatangan, kupikir aku telah menyediakan tempat duduk untukmu. Maafkan diriku yang meninggalkan rapat tanpamu, mereka sudah tidak sabar..”

    “Tidak perlu. Aku juga membawa kabar penting, sama pentingnya dengan perihal dirimu. Aku bertemu dengan anomali lain.”

    Semuanya ramai oleh ucapannya, akupun kaget. Bagaimana bisa? Jadi bukan hanya diriku yang kembali ke masa lalu, kekonyolan macam apa ini?

    “Aku merasakan goncangan waktu, apa kalian tidak merasakannya? Padahal kita terlepas dari dimensi waktu, tapi sesuatu telah berubah tanpa kita sadari. Dunia baru, bukan, tepatnya kenyataan baru telah tercipta.”

    Dewa kebinatangan berbicara, tidak menjelaskan siapa anomali tersebut. Namun jelas, dia berusaha menjelaskan sesuatu tentang peristiwa yang menyebabkan anomali tersebut, kejanggalan yang bahkan dewa materi tidak mengetahuinya ketika pertama kali bertemu denganku. Lalu tentang dunia baru ataupun kenyataan adalah topik yang berada di luar nalarku, seperti ucapan goncangan waktunya yang terdengar asing.

    “Maksudmu apa dewa kebinatangan?! Bukankah yang demikian tidak mungkin terjadi!”

    Lagi-lagi suara yang tidak menyebutkan dirinya muncul, memotong penjelasan dewa kebinatangan.

    “Diam!”

    Suaranya menggelegar menggetarkan lantai seperti terdapat gempa kecil yang baru saja terjadi. Telingaku bisa saja pecah saat itu, namun dewa materi memegangi telingaku. Tangannya berubah menjadi sesuatu yang sejuk, walau sosoknya masih serupa api di mataku.

    “Em, Lushan. Aku berkata bahwa hampir semua elemen adalah zatku bukan? Dewa kebinatangan adalah sifat yang keluar dari batas elemenku, dia adalah perkembangan dari elemen pertangahan[Est5] , elemen akhir. Jika saja aku kuat sebagai pondasi, maka dia yang paling berpengaruh sebagai bangunannya, atau mungkin dekorasinya, sesuatu yang lebih tampak dibandingkan pondasi itu sendiri. Hal ini menjelaskan kekuatannya yang memenuhi ruangan ini.”

    Dia tidak berbicara padaku langsung, namun dalam pikiranku. Dia membuka komunikasi telepati padaku, suatu yang kuketahui tidak semua penyihir mampu melakukannya, menandakan elemennya juga berurusan dengan hal tersebut.

    Ketika itu dewa kebinatangan masih mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya ia ingin ucapkan.

    “Aku awalnya tidak memahami ini, sampai akhirnya aku mendapati sumber kekuatan tersebut, suatu fragmen yang mampu memberikan kekuatan besar pada manusia, dia juga memiliki tulisan mantra yang mampu membawa jiwa pergi menuju dunia lain ketika sosok di dekatnya sudah mendekati ajal. Aku tidak bisa menyentuhnya, bahkan terlalu silau untuk kulihat, membuatku harus menjelma menjadi sosok hewan karenanya. Lalu aku bertemu dengan manusia ini..”

    Wanita tersebut keluar dari belakang tubuh yang menyerupai gagak tersebut. Wajahnya menunjukan ia masih remaja, rambutnya pendek bergelombang, dan matanya biru bersinar dengan tatapan yang begitu tajam. Terdapat simbol mutiara hitam di lehernya, namun tertutupi oleh gaun formal yang ia kenakan.

    “Dia adalah muridku, dan bukan hanya sekedar kontrak, aku mengajarinya apapun yang telah kuketahui. Aku bertemu dengannya oleh jalinan takdir yang unik, dan kugunakan dirinya dengan menempelkan ingatanku. Ketika dia mengulang waktu, diriku di waktu yang berbeda menyadari apa yang telah kupelajari di masa depan, dan selebihnya memoriku yang menyatu dengan gadis ini yang membuatku memahami ingatan visual gadis ini.”

    Dewa kebinatangan menahan ucapannya, seakan mengambil nafas untuk mengucapkan kalimat terakhirnya yang merupakan pamungkas dari segala penjelasannya.

    “Terdapat dalang dari semua sosok anomali yang muncul. Sosok misterius, asing, dan tak pernah kusaksikan dengan kekuatan yang luar biasa.”

    Dalang? Aku teringat sosok yang tak mampu kudeskripsikan, muka mosaik, baju yang aneh, berbicara bagai pelawak menceritakan sejarah yang kusut kepadaku.

    “Jika dia memiliki kekuatan seperti itu, bukankah dia seperti kita? Sosok dewa?”

    “Aku akan mengirim memori gadis ini pada kalian semua, bersiap lah.”

    Suatu cahaya pelangi berbentuk lingkaran muncul di kepala dewa kebinatangan. Cahaya tersebut seperti meledak, terang sekali seperti melihat kembang api, bedanya jarak kembang api dengan mataku begitu dekat hingga membutakanku untuk beberapa menit. Di kegelapan tersebut ruangan begitu ramai, beberapa di antaranya meronta.

    “Aku tak sanggup, keluarkan memori ini!!”

    “Siapa dia, kenapa rasanya sakit sekali ketika memandang wajahnya?”

    Kebanyakan dari mereka meminta memori tersebut di keluarkan, dan di antaranya kebingungan mencerna apa yang mereka pikirkan. Lama-lama keramaian berubah ketopik lain, aku kini melihat para dewa menatapku dimana cahaya mata mereka keluar walau kegelapan menyertai mereka.

    “Pertama kali aku melihat memori ini, diriku merasa tersiksa oleh ingatan misterius anak didikmu wahai dewa kebinatangan. Tapi aku menyadari sesuatu yang menarik, sangat menarik. Jadi ini yang sesungguhnya terjadi, bukankah kondisi ini sangat menguntungkanmu wahai dewa kebinatangan.”

    Apa yang ia maksud? Lalu ada apa dengan tatapan mengerikan ini? Dewa materi memegang pundakku, aku merasakan rasa aneh dengan perilakunya. Gadis itu tersenyum, senyumnya aneh, aku merasa ngeri oleh senyum tersebut.

    “Ya, aku mengetahui bahwa terdapat tiga anomali yang terjadi. Pertama adalah anak yang berkontrak denganmu wahai dewa materi, lalu terdapat anomali kedua, dan anomali ketiga yang terjadi secara serentak. Kondisi ini menciptakan percabangan peristiwa, suatu peristiwa yang sangat menarik. Dalam percabangan terakhir, anak ini memegang anomali keempat, kendali penuh atas yang nyata.”

    Aku tak mengerti maksudnya, namun dia sedang membicarakan adanya sosok sepertiku setelah kematianku, dan sosok gadis di depanku adalah eksistensi yang istimewa.

    “Lalu demi mencegah adanya anomali lebih lanjut, aku menghancurkan segala fragmen yang ada. Karenanya kini aku yang memegang kendali, kalian mengerti soal ini bukan?”

    Dewa materi menjawab, suaranya terdengar tidak nyaman saat ingin menjawabnya.

    “Kau yang menguasai permainan dewa kebinatangan.”

    Apa maksudnya? Mengapa gadis tersebut tertawa melihatku? Ya, dia selama ini tertawa di belakang tubuh gagak tersebut.

    “Berarti aku cukup membunuh gadis di sebelahmu bukan?”

    Dewa materi terdengar serius, jarinya menunjuk pada gadis tersebut. Sang dewa kebinatangan menutupi badan gadis tersebut dengan sayapnya.

    “Ya, tapi aku menawarkan sesuatu yang lebih menarik lagi padamu, sesuatu yang terucap dari muridku yang satu ini ketika pikiran kami bersatu. Tahun kebinatangan, bagaimana kedengarannya? Aku akan mempercepatnya sekarang.”

    Tiba-tiba tangan dewa materi bergetar, meremas pundakku keras. Isi ruangan begitu ramai menyoraki secara positif, seakan permainan ataupun festival akan segera dimulai. Disini mungkin hanya aku saja yang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

    “Lushan.. kau pasti kebingungan. Aku akan menjelaskan padamu di ruang lain secara privasi selagi mereka bersorak gembira atas bencana yang akan terjadi.”

    Bencana?

    Dewa materi menutup mataku dengan kedua tangannya, dan kita berpindah ke tempat lain.

    ***

    “Ini buruk, buruk sekali.” Ucapnya panik.

    Ruangan yang kita duduki sekarang berbeda, warnanya merah, merah darah. Di sekeliling kami terdapat banyak gambar bergerak, batu yang jatuh dari langit, menara setinggi langit yang runtuh, air yang menghancurkan gedung dan menenggelamkan seluruh daratan, ledakan besar dari gunung yang menembus langit dimana awannya menutupi bumi, dan sebagainya. Dia berjalan memutar memegangi kepalanya seperti orang kebingungan dan panik. Ketika itu dia menyuruhku mengamati gambar-gambar tersebut.

    “Mengerikan bukan?” Dia bertanya, nadanya sangat serius, tidak ada suara canda dari mulutnya.

    “Ya, sangat mengerikan..”

    Aku takut untuk memulai pertanyaan padanya karena tidak benar-benar memahami situasi ini, tapi setelah kutelan ludahku, aku memutuskan untuk bertanya.

    “Lalu?”

    Dia tidak percaya menatapku. Api di kepalanya menyembul memenuhi atap, ia panik.

    “Apa yang kau lihat, semua ini, adalah hasil dari tahun kebinatangan!”

    Aku mengamati tidak percaya, yang kulihat adalah bencana besar yang menghancurkan peradaban manusia, berkali-kali dan hanya menyisakan sedikit manusia karenanya. Bencana di gambar-gambar bergerak tersebut juga tidak melihatkan bencana lokal, melainkan seisi bumi yang terkena dampaknya.

    “Dan kau akan segera menanggungnya Lushan.”

    “Apa? Bagaimana bisa?”

    Dia menunjuk kepalanya, dia berbicara soal memori tersebut.

    “Hal yang akan terjadi nanti, semuanya adalah hasil perbuatanmu!”

    Dia mendekatiku, marah. Aku melangkah mundur, ruangan ini menjadi terasa panas, dan merahnya semakin pekat.

    Lalu aku teringat tawa gadis tersebut, tawanya yang membuat bulu kudukku berdiri, dan tatapannya yang mengerikan terhadapku. Mereka semua melihat memorinya, dan kini secara serentak setuju dengan tahun kebinatangan ini.

    “Tunggu, ini semua ada kaitannya dengan memori gadis tersebut bukan? Bukankah ini idenya?”

    “Tidak ada asap tanpa adanya api Lushan, gadis tersebut adalah produk dari kebencian yang kau lakukan.”

    “Tunggu!”

    Aku berteriak. Aku ingin berpikir sebelum diguncangi rasa bersalah, aku ingin mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Produk kebencian? Aku mengingat bagaimana ibu histeris ketakutan melihatku, aku mengingat perbuatanku di masa lalu, dan semuanya masuk akal. Gadis tersebut, dia anomali bukan? Berarti dia adalah korban dari tragedi yang kubuat, atau setidaknya atas namaku. Lalu syarat untuk kembali ke masa lalu adalah orang yang mendekati ajalnya, dan sekali lagi, mungkin semua itu juga adalah dampak dari perbuatanku.

    Konklusi muncul di pikiranku, detailnya tidak penting, tapi dia datang untuk melakukan sesuatu padaku, sebagai karmaku.

    Kini jutaan, tidak, bahkan miliaran manusia di seluruh bumi yang akan mati, semata-mata karena karma yang mengikutiku walau aku telah mengulang waktu. Kini aku bertanya kembali, untuk apa? Untuk apa aku kembali ke masa lalu jika saja hanya memperburuk keadaan!

    “...”

    Kini aku terdiam oleh keputusasaan dan waktu terus berjalan. Mungkin sebentar lagi sorak mereka selesai, dan aku hanya berpasrah diri bercampur dengan rasa bersalah, tidak akan mengubah fakta bahwa tahun kebinatangan ini akan tetap terjadi. Aku harus tenang untuk memahami atau setidaknya berpikir jernih untuk melihat harapan dari kondisi ini.

    “Aku mengerti dewa, dan aku akan bertanggung jawab karenanya. Kini bisa kau jelaskan apa yang dimaksud dengan tahun kebinatangan?”

    Dewa materi seperti menghembuskan nafasnya, lalu menariknya kuat-kuat. Dia seperti ingin menjelaskan sesuatu yang panjang dan berat untuk dikatakan.

    “Tahun kebinatangan adalah tahun-tahun dimana dewa merasuki mahluk bumi, berkompetisi, saling bunuh membunuh untuk mengetahui siapa yang paling berpengaruh di dunia ini.”

    Dewa-dewa saling berkompetisi?

    “Maaf, kompetisi atas dasar apa?”

    “Pengaruh Lushan, rasa pengaruh itu relatif pikir dewa kebinatangan sebagai penggagas konsep ini. Dia berkata, sebagai dewa yang mengatur survivalbilitas, seleksi alam, evolusi, perang, dan sifat kebinatangan lainnya bahwa yang terkuat yang paling berpengaruh. Manusia ataupun binatang pada era purba akan mereka rasuki, dan pada masa ini, mereka memakai sistem kontrak dimana mereka hanya mewakilkan calon penyihir mereka, siapapun yang menang maka hastrat terdalamnya akan dikabulkan atas restu semua dewa.”

    “Dan hastrat mereka menimbulkan kehancuran?”

    “Kupikir ini ada kaitannya dengan tahun kegelapan bangsa manusia, sekaligus dampak psikologis dari ajang bantai membantai. Mereka yang mewakili tuhan tidak memiliki akal yang cukup sehat, sehingga hastrat yang tersisa hanyalah kehancuran semata.”

    Aku mulai menangkap konsep tahun kebinatangan, riskan, sangat riskan, namun ada satu hal yang tidak masuk akal. Satu hal yang seorang manusia sepertiku tidak mengerti tentang apa yang mereka lakukan.

    “Jadi kau bilang dewa-dewa ingin saling menunjukan pengaruhnya atas dunia ini? Mengapa mereka melakukan itu? Aku tidak habis pikir tentang hal ini..”

    Apinya padam seketika pertanyaan tersebut kukeluarkan, api biru tersebut menjadi merah padam, aku bisa melihat kesedihan dari dewa materi.

    “Untuk kebosanan Lushan, untuk kesenangan semata.”

    “Kebosanan? Kesenangan semata!?”

    Seketika emosi menggebu-gebu di dadaku. Darah melonjak ke kepalaku. Hidungku kempas-kempis, dan nafasku menjadi tidak teratur. Kebosanan? Alasan macam apa itu? Apakah dunia ini seperti taman bemain bagi mereka?

    “Aku tak pernah ikut sesungguhnya, kau pasti sudah tahu karena apa. Mereka yang ikut akan tertular oleh hastrat dari dewa kebinatangan. Dari Satu juta tahun sekali hingga 500 tahun sekali, semakin cepat hal ini diselenggarakan karena setiap perubahan yang mereka lakukan menjadi candu tersendiri. Aku tentu saja yang hanya melihat tidak menyukai hal ini..”

    Konyol..

    Konyol sekali!

    Kini aku mulai teringat ucapan anakku, mengapa mereka tidak mungkin menjadi tuhan, pernyataannya adalah jika saja memang mereka ada, maka mereka bukanlah tuhan. Sifat-sifat alam? Persetan. Aku mulai mengingat pernyataan anakku mengapa mereka tidak mungkin menjadi tuhan, mengapa kepercayaan ini menjadi terlihat ‘udik’ sekali kedengarannya bagi para filsuf dan pemuka agama. Aku hanya butuh beberapa pernyataan dari mereka untuk melengkapi pemikiranku saat ini.

    “Ah, sepertinya mereka sudah selesai. Lushan kita harus kembali.”

    Ketika itu aku memberinya tanda pada tanganku, jari telunjuk, bahwa satu hal lagi yang ingin kubicarakan padanya namun sebelumnya aku perlu menenangkan diriku. Saat itu gigiku masih bergertak keras, sudah lama aku tidak semarah ini, rasanya aku ingin berteriak keras-keras hingga kepalaku meledak. Tapi aku ingat, yang harus kulakukan adalah bernafas kencang-kencang dan menghembusnya, aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri.

    “Apa yang kau ingin bicarakan Lushan?”

    Aku mulai bisa menggerakan mulutku, badanku mulai rileks. Kutatap mata dewa materi dalam-dalam, kupikir aku tahu apa yang akan kulakukan.

    “Apakah semua dewa sepertimu? Pemikiran yang mendalam dan kritis?”

    “Setelah tahun kebinatangan, kupikir tidak. Kebanyakan dari mereka menjadi polos dan dipenuhi hastrat duniawi.”

    Saat itu aku tahu bahwa hanya ini satu-satunya peluang yang kumiliki, setidaknya untuk mengurangi resiko yang tercipta

    “Aku ingin bicara dewa materi, aku ingin berbicara dengan mereka semua.”

    Lalu aku menjelaskan pada dewa materi soal pemikiran anakku, mencoba memvalidasi, sekaligus mengkoreksi dengan kenyataan yang ada di dunia ini. Ketika itu dewa materi mengangguk, berkata bahwa semua tersebut bisa jadi benar, dan keadaan ini mungkin saja bisa berubah. Namun dia menggelengkan kepalanya ketika itu, ia menaikan satu telunjuknya.

    “Tapi kau berjanji satu hal padaku.”

    Dia menatapku serius, seakan satu hal ini akan menjadi bencana besar untukku.

    “Untuk menjelaskan dua point tersebut, dua point tersebut saja, tidak lebih.”

    ***

    Kami kembali, ruangan sudah terlihat sepi. Mereka juga sepertinya sudah selesai membicarakan sesuatu ketika kami tidak ada.

    “Dewa materi kau harus ikut. Kita sepakat bahwa kau boleh memakai segala elemen yang berkaitan denganmu, seperti diriku, api, aku merestui kau menggunakan kekuatanku seperti restuku padamu yang memakai elemenku untuk menggambarkan dirimu pada anak tersebut. Tentunya dengan aturan bahwa kau hanya boleh menggunakan hukum dasar dari segala rupa yang kau ambil. Ajarkan baik-baik pada anomali tersebut, kupikir jika dia bisa memanfaatkannya maka dia tidak akan kalah dari perwakilan dewa lainnya.”

    Dewa api berbicara, dia seakan memberi kabar gembira pada dewa materi yang tidak pernah ikut dalam tahun kebinatangan ini, namun dewa materi tidak terlihat semangat. Aku menatapnya, dan dia mengangguk.

    “Mohon maaf semuanya.”

    Cahaya menyorotiku, membuatku menjadi puncak perhatian mereka.

    “Anak ini ingin berbicara pada kalian semua.”

    “Apa-apaan ini! Apa kau tahu apa yang akan kami perbuat padanya! Aku bersumpah, satu kata saja keluar dari mulut manusia tersebut maka..” Suaranya seperti halilintar, keras, penuh kemarahan. Tanpa mengenalkan dirinya, aku tahu bahwa dia dewa petir.

    “Maka kau akan hilang dewa petir, termasuk dunia ini. Ini sumpahku pada kalian, jika saja kalian membunuh anak ini sebelum dia menyelesaikan ucapannya.”

    “Cih!”

    Dewa materi berucap serius, dan kini Dewa petir kehabisan kata-kata. Ruangan dipenuhi dengan bisikan, bertanya-tanya apa yang manusia ini katakan pada diri mereka semua.

    Aku menelan ludahku, melonggarkan kerahku yang penuh dengan keringat grogi yang bercampur rasa amarah. Kesempatan ini harus kugunakan sebaik-baiknya, setidaknya mampu sedikit menggerakan hati mereka.

    “Mohon maaf atas perlakuan hamba yang tidak sopan pada kalian yang maha atas elemen yang kalian wakili.” Aku berusaha mengolah kata-kataku, tapi tidak bisa, kepalaku terlalu penuh dengan ledakan-ledakan amarah. Aku tidak tahu kapan ledakan ini akan keluar dari mulutku.

    Mereka semua terdiam menatapku. Jika saja ada anakku sekarang, dia tidak takkan percaya apa yang akan ayahnya ucapkan pada dewa-dewa ini. Kupikir dia akan sedikit bangga mungkin, karena kini diriku akan menggunakan pemikirannya.

    “Kalian semua, kupikir bukanlah tuhan. Bahkan mungkin, kalian ada di bawah tingkatan manusia.”

    “Cukup, aku lenyapkan dia dari muka bumi ini!”

    Ya, aku dan mulutku. Aku lupa ketika berbicara, terdapat pembukaan, baru isi, dan penutup. Aku langsung ke konklusi, mereka pasti akan marah. Tapi tunggu sebentar, kujelaskan sekalipun hasilnya akan sama saja bukan? Disini aku mulai bermain dengan pikiranku, dengan ini diriku menjadi lebih rileks untuk merangkai pikiranku lagi.

    “Tidak aku yang akan menlenyapkannya, ku lepas kepalanya, kubiarkan dia hidup ketika mengetahui kepala kecilnya itu kulepaskan secara perlahan.” Belum selesai kumerangkai kata-kataku, dewa lain berucap, kali ini tempramentalnya lebih tinggi.

    Dewa materi menunjukan jarinya. Dia menyuruh mereka duduk di kursi mereka, dan mereka diam seribu bahasa ketika itu, lalu aku melanjutkan ucapanku,

    “Pertama, aku baru mengetahui mengenai tahun kebinatangan. Kompetisi demi kebosanan kudengar. Apakah tuhan akan melakukan hal konyol seperti ini, demi kesenangan semata, adakah yang ingin merasionalitaskan apa yang kalian lakukan?”

    “Aku akan bicara, biarkan aku turun dari kursiku dewa materi.”

    “Baiklah..”

    Dewa tersebut meloncat dari kursinya, dan ketika dia menjejakan kakinya ketanah, seketika segalanya berguncang. Dewa materi membisiku, dia adalah dewa bumi, kadang manusia bumi menyebutnya gaia, namun aku tidak peduli sama sekali mengenai namanya.

    “Kau pikir apa yang kami lakukan konyol? Hastrat, kau pasti ingin mempertanyakan ini. Apa kau pikir manusia tidak konyol? Aku menyaksikan banyak perang, seperti dirimu yang kulihat dari memori gadis tadi, demi visi naifmu itu. Lalu aku pernah menyaksikan perang konyol lainnya, troya, kau tahu perang tersebut? Jutaan mati demi apa? Demi cemburunya sang raja! Lalu mau perang apalagi? Perang di masa depan, karena delusi sang pemimpin yang memusnahkan satu etnik diikuti oleh pengikutnya yang bodoh yang tertular delusi? Dan tidak banyak di antara mereka yang melakukannya hanya demi kejayaan, antara lain, kesenangan semata! Lalu apa salahnya, kami para dewa yang di atas dari diri kalian semua melakukan hal ini?”

    “Ya, tentu saja. Aku bahkan merasa bodoh karenanya, merasa bodoh oleh siapapun yang melakukan hal tersebut.”

    Dia tersenyum puas telah memberikan jawaban yang kusetujui, tapi dia sadar, aku telah membodohinya.

    “Kau, tunggu.. Apa maksudmu bodoh?”

    “Karena hastrat yang kau ucapkan adalah kebodohan manusia. Kau sudah bicara soal hastrat, terlalu duniawi. Untuk apa dewa memikirkan yang duniawi seperti itu? Hal duniawi sendiri bagi manusia adalah sifat yang rendah sekali, jika golongan manusia dikategorikan, yang memprioritaskan sifat ini berada dalam derajat yang sangat rendah, karena sifat duniawi keluar dari konteks akal. Maka tak salah bukan jika aku bisa mengatakan bahwa dewa memiliki posisi yang rendah dibandingkan manusia?”

    “Oke, aku akan..”

    “Tidak, cukup. Point kedua, konsep penciptaan, apakah yang kalian pikirkan soal ini?”

    Dewa bumi ingin bicara, namun tiba-tiba muncul dewa lain. Angin berhembus kencang, rasanya diriku ingin melayang, tapi dewa materi dengan kekuatannya menahanku. Dia muncul dalam sosok naga.

    “Kami adalah yang menciptakanmu, segala dari kami yang menyusun bumi, alam semesta, hukum-hukumnya.”

    “Lalu, mengapa dari diri kalian takut pada dewa materi? Tunggu dulu, apa kalian benar-benar mengerti tentang konsep ini?”

    Saat itu diriku merasakan aura panas dari mereka semua, rasanya seperti mereka mengutukku, ingin melemparkanku ke matahari. Bagaimana mungkin manusia konyol berbicara soal ini pada diri mereka. Aku sesungguhnya setuju jika saja ada pemikiran seperti tadi, karena aku bukanlah petapa dan sebagainya, tidak cocok sama sekali berbicara ini. Semua konsep yang kuucapkan tak lebih dari celotehan anakku, dan logikaku sebagai orang yang berakal. Tentu saja mereka bicara bahwa tuhan adalah di luar akal, sosok misterius yang tak tersentuh. Tapi aku tidak berbicara tuhan yang itu, aku berbicara tentang mereka semua.

    “Bahwa dia yang mencipta tidak pernah tercipta, ayolah. Aku bahkan bertanya pada dewa materi, kalian semua memiliki awal pada ingatan kalian, awal kalian, ledakan maha dasyat yang menciptakan elemen kalian.

    Satu ruangan berisik, disini aku bisa melihat bahwa mereka semua setuju akan hal ini, ingatan yang sama dari diri mereka semua. Sekali lagi, aku tidak mengerti tentang apa yang kuucapkan, ledakan besar, dan apapun itu kecuali semua itu memang benar merupakan pernyataan dari dewa materi.

    “Ayo berpikir lagi, apa kalian yakin kalian tidak diciptakan. Begini, simpelnya, dewa materi bahkan hampir menyusun kalian semua, dan dia tidak begitu yakin bahwa dia benar-benar pencipta.”

    Beruntung, dewa materi tidak tersinggung akan hal ini. Namun aku yakin, mereka semua kini berusaha menepis ide-ide yang kukeluarkan. Aku berani melakukan ini karena sekali lagi, hastrat, jiwa dan kesadaran mereka terlalu duniawi, manusiawi, polos. Ada sesuatu yang mereka tidak ketahui, mereka diciptakan oleh elemen sebelum mereka, mereka memiliki dasar, dan masing-masing dari mereka memiliki tujuan. Aku melihat kelemahan dari konsep ketuhanan dari diri mereka, yaitu konsep kemahaan itu sendiri.

    “Maaf, kalian tidak maha sesuatu, jauh dari semua itu, bahkan jika dipikir-pikir lagi, ayolah, kalian tidak tahu akan dalang dibalik semua anomali ini, kalian tidak tahu bahwa kalian telah dipermainkan! Kalian tidak sempurna, akuilah.”

    “Hahaha!!”

    Dari kejauhan ada yang tertawa.

    “Tapi kalian, manusia beserta mahluknya akan mati ketika kita melakukan sesuatu.”

    Aku berusaha melawan kesalku, tingkah laku mereka bahkan tidak memperlihatkan kebijaksanaan sama sekali. Mengerikan, sungguh mengerikan.

    “Bukan itu yang kumaksud. Kalian ada, karena suatu hal. Tolong pikirkan ucapanku tersebut. Takdir, barusan kau mengucapkannya dewa kebinatangan, takdir yang unik kalau tidak salah, aku mendengarnya, dan aku tahu yang kau maksud bukan kiasan semata. Aku tahu kenapa kalian tidak pernah lebih mengacau hingga menghancurkan alam semesta. Hal ini karena kalian mampu merasakan takdir kalian, dan kini karena sifat hastrat manusiawi yang tercampur aduk oleh diri kalian, kalian mulai bingung, seperti kami manusia. Kalian tanpa sadar merasa diri kalian diciptakan untuk mengkontrol kami, bukan untuk menjalankan tugas kalian yang sesungguhnya.”

    “Omong kosong. Kau tahu apa yang kau ucapkan? Seakan kami melayani manusia, omong kosong!”

    “Seperti seorang raja yang ingin menyenangi rakyatnya, dia tidak pernah lebih rendah dari rakyatnya. Tapi ketika dia semena-mena? Kupikir, tuhan bukan mahluk seperti itu. Bukan seperti kalian ini. Maka..”

    Aku menghela nafas, kududukan kakiku memohon.

    “Bijaksanalah. Lepaskan sifat duniawi kalian.. Maka hambamu ini akan berhenti bicara, tidak mempertanyakan eksistensi kalian lagi, tidak meragukan kedewaan kalian lagi.”

    Salah satu dari para dewa berdiri, dewa yang menurut dewa materi sebagai sosok individu polos, banyak sekali yang berdiri saat itu.

    “Bocah ini masuk akal juga. Jika kita menyebut diri kita dewa, mengapa kita bertingkah laku seperti mereka?”

    Tiba-tiba satu suara keluar, keramaian muncul. Ketika itu tiba-tiba terdapat cahaya-cahaya muncul dari kursi-kursi.

    “Bodoh, kau diperdaya oleh ucapan bocah?”

    “Tidak, kita tidak sadar karena kita selalu dalam kondisi pengamat, mengambil kesimpulan seenaknya, tidak pernah diamati!”

    Kondisi mulai ribut, aku bisa melihat percikan-percikan, seakan mereka ingin berperang. Saat itu dewa materi menghentakan kakinya, mengguncang seluruh kursi mereka, membuat mereka duduk kembali.

    “Dewa bumi, angin, dan..”

    Dewa materi terhenti ucapannya. Dia tidak mengucapkan dewa kebinatangan.

    “Bisakah kalian kembali ke kursi kalian?”

    “Baiklah.”

    Ketika itu dia menepuk pundakku, tidak ada yang bisa kulakukan lebih dari ini karena aku berjanji padanya hanya dua point yang kukeluarkan, bahkan mungkin diriku telah melebihi kesepakatan yang kita sepakati barusan. Aku berpikir ancaman dewa materi bisa saja terwujud saat itu, ketika orasiku selesai, maka beberapa dewa akan mengutukku karena merasa tersinggung. Dua point ucapnya, karena dua point tersebut tidak cukup valid untuk menghukum manusia, setidaknya dalam budaya para dewa. Saat itu aku mulai belajar lagi bahwa terdapat budaya dalam komunitas para dewa.

    “Jadi, untuk yang tidak menyutujui turnamen ini, tolong tinggalkan tempat ini. Aku tak ingin melihat perdebatan yang akan menganggu dunia.”

    Banyak sinar muncul dari kursi, mereka melejit keluar ke langit. Hanya tersisa puluhan, dari yang tidak terhitung. Hal ini sesuai diskusi singkatku dengan dewa materi, bahwa mengurangi jumlah mereka berarti mengurangi restu mereka, dampak dari turnamen ini tidak akan sebesar dengan tahun kebinatangan pada umumnya, namun korban jiwa yang timbulpun bisa saja lebih parah dari apa yang selama ini telah kulakukan. Aku berjudi, dewa materipun berjudi, bahwa dengan ucapanku bisa menciptakan suasana ini, mengingat kepolosan para dewa dari dampak turnamen ini sebelumnya.

    Tiba-tiba segala kursi mendekat, tempat ini menjadi sempit.

    “Maafkan aku, Lushan, tapi turnamen tahun kebinatangan akan tetap terjadi.”

    Dewa materi berbisik padaku lewat telepati.

    “Tidak, ini lebih baik. Aku juga bisa bicara pemikiranku tentang mereka, dan aku harus memahami bahwa amarahku tidak cukup kuat untuk memberikan solusi. Aku harus memahami bahwa semua ini sudah terjadi, dan aku juga harus menerima dan memahami kalian, sehingga solusi ini tercipta.”

    Dewa materi tersenyum menatapku.

    “Karena itulah aku memilihmu Lushan, segala kejadian yang menimpamu melepaskanmu dari ikatan tak terlihat, amarah, cinta, dan rasa naif. Kau sudah belajar dari itu semua.”

    Aku sedikit berterima kasih pada anakku, aku tidak benar-benar percaya bahwa pemikirannya yang kuanggap konyol bisa kuucapkan disini, memenangi argumen yang tidak pernah dilakukan manusia sebelumnya, berargumen dengan dewa. Mungkin saat dia menusukku dan mengacau, aku tidak benar-benar benci padanya, karena rasanya dia tidak benar-benar bersalah. Segala kenaifan tersebut rasanya termaafkan karena pemikirannya kini mungkin telah menyelamatkan setengah manusia di bumi ini.

    “Baiklah.., tahun kebinatangan akan dimulai dalam waktu dekat, ditandai oleh munculnya wujud naga di seluruh dunia. Kalian semua silahkan memilih wakil yang akan kalian persembahkan dalam rentang waktu tersebut.”

    Dewa kebinatangan berbicara, memutuskan turnamen ini, dan dewa-dewa lainnya mengangguk. Saat itu aku baru menyadari bahwa gadis yang berada di dekat dewa kebinatangan kini menatapku. Dia marah, murka tepatnya.

    “Lushan..”

    “...”

    Aku hanya diam, dosa apa yang telah kuperbuat padanya adalah misteri. Mungkin aku akan bertanya pada dewa materi mengenai ingatannya, tapi aku tahu, segala yang telah kulakukan bisa saja menjadikan sosok ini ada. Aku telah berdosa, dan dia adalah karmaku.

    “Lushan yang agung.. Pemimpin yang akan membebaskan rakyatnya dari rasa takut dari raja yang zalim.. Menjunjung kesetaraan.. Kekuasaan di atas tangan rakyat..”

    Dia menyanyikan nyanyian kemenangan rakyat atas diriku dengan nada datar dan ekspresinya yang mengerikan. Tangannya setengah ia junjung.

    “Lushan.. Pemimpin Zalim, pendusta, pembunuh.. Pembantai.. Penghancur..diktaktor.. Iblis..”

    Dia menjunjung tangannya lagi, kini lebih tinggi seakan ucapan itu yang lebih tepat.

    “Maafkan aku. Siapapun namamu, aku akan menebus ini semua..”

    “Tidak, kau tidak mengerti.”

    Dia tersenyum. Perubahan ekspresinya tidak terlihat normal.

    “Kau tidak mengerti apapun Lushan, hadiahku padamu belum selesai.”

    Aku bisa melihat dalam senyum yang ia keluarkan, dan terdapat kegilaan di dalamnya.

    ***
     
  15. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Naqoyqatsi Chapter 12 : The Little Girl

    Pada hari itu keringatku keluar deras, lenganku sakit, rambutku kumal, dan badanku kotor. Mereka tidak peduli bahwa diriku hanyalah seorang gadis kecil karena terdapat darah bar-bar mengalir dalam nadiku, karena warna kulitku tidak kuning seperti mereka, karena warna mataku berbeda dengan mereka. Saat itu jari telunjuk mengarah ke kepalaku, mendorong kepalaku begitu keras, membuatku jatuh, dan hinaan keluar dari mulut pria tersebut. Hinaan demi hinaan atas kesalahan yang kuperbuat, dan aku tidak tahu lagi, karena mereka hanya mencari kesalahanku, kesalahan yang mungkin tidak pernah kulakukan.

    “Roti ini terlalu lama, aku bisa merasakan gosong!”

    Roti yang kutunggu di depan tungku panas untuk memastikan bahwa aku tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lama memanggangnya, sangat panas hinga terasa kulitku menghitam, keringatku habis, dan membuat rambutku lebih kering dari anak-perempuan seumuranku. Lalu roti yang susah-susah kubuat tersebut mereka buang, menyuruhku membuat adonan lagi, kali ini tiga kali lipatnya dari jumlah sesungguhnya.

    “Nasi ini, sudah kubilang airnya harus cukup!”

    Aku pula yang membuat bekal makan siang untuk mereka semua, dan kini mereka melepehnya. Kadang mereka bilang airnya kurang, kadang mereka bilang airnya berlebihan sehingga nasinya terlalu lunak. Setelah itu kadang salah satu dari mereka tetap melanjutkan makan, namun kadang tidak, bahkan karenanya kini darah mengalir dari kepalaku. Seseorang melemparkan piringnya, dan aku tidak cukup cekatan untuk menghindari lemparan tersebut.

    Aku pulang dengan sedikit uang, memegang dahiku dengan sebuah kain yang menutupi darah yang tak kunjung berhenti.

    Anehnya aku tersenyum saat sudah berada di depan pintu.

    “Kakak!”

    Lushan berlari dengan senyumnya. Dia akan menceritakanku buku yang baru ia baca, buku milik ayah. Aku selalu mengejeknya untuk bertingkah seperti laki-laki, belajar bermain pedang, gulat atau sebagainya. Tapi sesungguhnya aku hanya menggodanya dalam canda, ekspresi sebalnya adalah satu-satunya yang membuat tawaku pecah, dan pada akhirnya aku akan mendengarkan apa yang baru saja ia pelajari.

    Ketika itu Ayah berbaring, demamnya tak kunjung usai, namun dia juga tersenyum menatapku, cara ucapnya untuk berterima kasih. Demam misterius ayah membuatnya lumpuh, bahkan untuk menggerakan mulut secara leluasa pun tidak mampu, karenanya dia sering mengekspresikan segala sesuatu dengan gerak matanya, melalui kedipan, atau tatapan panjangnya. Aku dan Lushan mampu melihat ekspresi marah, semangat dan sedih ayah, karenanya dia selalu menyebut mata sebagai jendela jiwa.

    Penyakit semakin membuatnya lemah, harapannya semakin pupus ketika bibir tersebut tidak bisa berucap lebih dari satu kalimat, terbata-bata, kadang satu kalimat pun tak sampai. Tapi walau dalam keadaannya itu, mata lembutnya masih menyertai dirinya. Rasa kehangatan di rumah ini adalah satu-satunya yang dapat kusyukuri, dan aku ingin selalu menjaganya walau betapa beratnya rintangan yang kini kuhadapi.

    Aku mulai mengingatnya lagi, saat penyakit baru menyerangnya, aku bisa melihat kepanikan di matanya, sesuatu yang tak pernah kulihat dari diri ayah. Aku mulai menggantikan pekerjaannya sebagai pembuat roti, yang dimana ia selalu ajarkan padaku. Ketika kondisinya semakin parah, dia berbicara padaku empat mata, memberikanku berbagai petuah untuk selalu bersyukur, menyuruhku untuk selalu bertahan dalam kondisi seputus-asa apapun.
    “Jagalah Lushan adikmu , sampai dia cukup kuat untuk membantumu, menjagamu.” Ucapnya di akhir.

    Esoknya, seluruh tubuhnya kaku, dan dia tak mampu lagi berucap lebih banyak. Aku bekerja, dan Lushan kusuruh untuk menyuapinya makan, membersihkan badannya, dan membacakannya buku.

    “Ba..l..thiq..”

    Tatapannya berubah ketika melihat dahiku yang masih kutekan dengan kain. Walau darah kini sudah mulai berhenti mengalir, namun noda merah darah masih membekas dalam kain tersebut. Dia seakan ingin marah, namun mulutnya tak mampu berucap banyak, hanya matanya yang memperlihatkan hal tersebut. Lalu dalam keadaan tidak bisa melakukan apa-apa atas anak gadisnya yang mereka lakukan semena-mena, dia menangis.

    “Tidak apa-apa ayah, aku hanya terjatuh..”

    Aku memeluknya, mencoba menenangkannya. Saat itu badannya melekat keringat, Lushan pasti lupa untuk memandikan ayah karena terlalu asik membaca. Aku akan memarahinya nanti, tapi aku harus membuat makan dulu.

    Tapi saat itu juga suara pintu berbunyi, ketukan yang jarang kita terima setelah ayah terkena penyakit ini.

    Lushan membuka pintu tersebut, dan terlihat wajah asing yang tak pernah kulihat. Seorang wanita dengan gaun sutra dengan motif naga di sekujur gaunnya, tanda bahwa dirinya merupakan seorang penyihir kerajaan. Dia menangis melihat keadaan kita sambil menutup mulutnya.

    Mulut ayah bergerak saat itu secara perlahan, suaranya serak, dan terlihat bahwa dia banyak mengeluarkan tenaga untuk mengucapkan sesuatu pada orang asing tersebut. Tatapannya sayup, berkaca-kaca, penuh dengan kerinduan.

    “Akhirnya.. kau.. pulang.. juga, Ashide.”

    ***


    “...”

    Aku terbangun, dan air mata mengalir dari pipiku.

    Setiap hari aku selalu mencoba mengingat momen-momen bersama ayah, bahkan sampai terbawa mimpi. Walau sudah 3 tahun menjelang kematiannya, aku masih mengingat mukanya, ekspresinya, matanya, dan baunya ketika aku merasakan peluk hangatnya, seakan aku masih menemuinya setiap hari. Kini adalah tanggal yang sama setelah kematiannya, dan tahun lalu diriku, ibu, dan Lushan akan berkunjung ke makamnya pada tanggal ini.

    Tapi kini kita berada jauh sekali, kita berada di Akademi sihir, tanah Shizang yang berada di ujung utara daratan china, jauh sekali dari tanah kelahiranku yang berada di ujung selatan. Semoga doaku di tempat ini tersampaikan ke ayah.

    “Aku bermimpi tentang Ayah, Lushan.”

    Lushan masih tak sadarkan diri, namun kini keadaannya telah baikan. Dia sudah bernafas layaknya orang normal, mendengkur seperti dirinya yang dulu. Luka bakarnya sudah hampir sembuh, banyak luka jahitan di badannya, aku melihatnya seperti tambalan karena warna-warna yang berbeda dari kulit Lushan yang asli. Bibi menyebutnya sebagai cangkok kulit karena luka pada kulit Lushan yang mulai membusuk.

    “Aku ingat ketika kau masih kutu buku, berlari tersenyum ingin menceritakanku tentang apa yang kau pelajari, matematika, filosofi, dan buku-buku ayah yang isinya berat, bahkan aku sendiri tidak mengerti apa yang kau ucapkan..”

    Aku kini terus berada di samping Lushan. Walau ibu kini sudah tidak ada disini, entah mengapa berada disamping Lushan membuatku merasa nyaman. Ucapan ayah selalu berputar di kepalaku, mengingatkanku terus dan terus untuk menjaga adikku.

    Kini dalam renungku, aku mencoba mengingat ibu kembali, ketika dia pulang dan mencoba merawat ayah di hari-hari akhirnya. Saat itu Ibu selalu ingin mencoba membawa ayah ke tabib kerajaan, dan Ayah akan menolaknya, berkata bahwa dirinya sudah terlalu lemah, bahkan sudah merasakan ajalnya. Dia meninggal dengan senyum tenangnya saat ibu berjanji akan merawat kita berdua.

    Aku berusaha beradaptasi dengan bagaimana Ibu merawat kita dengan aturan-aturannya, rasa kasih sayangnya yang berbeda dengan ayah, dan kebiasaan-kebiasaan ibu yang terlihat baru di kehidupan kami, namun tidak dengan Lushan. Dia marah bahwa orang asing ini menggantikan ayah, dan mengaku-ngaku bahwa dirinya merupakan ibu dari kami berdua, menolak bahwa kita adalah hasil kandung penuh kasih sayangnya selama 9 bulan, bahwa kita keluar dari rahimnya, bahwa terdapat darahnya yang mengalir dalam diri kita, bahwa matanya yang hijau terang menyerupai ibu, bahwa warna kulitnya yang coklat langsat merupakan warna kulit yang ibu turunkan. Lushan terpaku atas fakta bahwa sang ibu meninggalkan dirinya ketika masih sangat kecil, dan bahwa ayah yang merawatnya lah yang hingga kini merupakan satu-satunya orang tua yang ia miliki.

    “Lushan, kau tahu? Ibu selalu menyayangimu. Dia selalu menginginkan maafmu, untuk mengakui dirinya sebagai ibumu, yang melahirkanmu, yang pernah menyusuimu.”

    Ibu selalu mencoba menjelaskan perihal ini, bahwa terdapat peraturan ketat di lembaga penyihir kekaisaran yang memaksanya harus pergi meninggalkan kita, dan Lushan akan menutup telinganya. Ibu akan mencoba menjelaskan bahwa dia selalu memikirkan anak-anaknya, sampai-sampai tangisnya keluar berkata bahwa pada akhirnya dia mampu menjadi orang penting, ketua kementrian penyihir di kekaisaran, dengan berbagai pengorbanan yang ia lakukan demi bisa bertemu dengan kita, dan Lushan akan menutup telinganya. Ibu bahkan berkata bahwa ia telah melakukan perjanjian dengan kaisar, bahwa setelah perperangan selesai maka ibu akan melepas jabatannya, dan fokus memberi kasih sayangnya yang seharusnya ia lakukan semenjak kita kecil, dan Lushan akan tetap menutup telinganya, menutup matanya, dan pergi kekamar, menguncinya.

    Ibu akan menangis saat itu, dia selalu ingin mendapatkan permintaan maaf dari Lushan, pengakuan bahwa dia adalah ibunya, dan Lushan bisa menerima kasih sayangnya yang merupakan naluri seorang ibu, yang telah ia tahan bertahun-tahun demi sebuah pengabdian.

    Lalu semua ini terjadi, segala kejanggalan dalam hidup kita. Lushan berubah secara drastis, menjadi seorang yang tak pernah kita bayangkan.

    “Aku tahu bahwa ibu tak pernah sekalipun sengaja untuk menyakitimu, tidak pernah, walau kau berubah menjadi sosok Lushan yang berbeda, kau tetaplah anaknya..”

    Ibu pasca kejadian itu selalu tanpa sadar mengucapkan: “Aku akan membunuhnya.. ya, aku akan membunuhnya..”, ketika dirinya duduk termenung di sebelah Lushan dalam tatapan kosongnya. Suatu saat ketika diriku tertidur, ibu akan berjalan dalam mimpinya membawa sebilah pisau, berjalan sempoyongan menuju ruangan Lushan. Aku menyadarinya, mengikuti ibu dan mengetahui bahwa dia sudah berada di atas tubuh Lushan, hendak menghunuskan pisau tersebut ke badan Lushan. Ketika diriku berhasil menahan tangan ibu, aku dapat melihat dirinya yang penuh dengan rasa bersalah, dirinya yang tidak tahu menahu tentang apa yang dia lakukan.

    “Balthiq, apa yang telah kulakukan.. Mengapa aku membawa pisau ini! Oh Lushan.. bagaimana keadaannya?! Oh tuhan apa yang telah kulakukan..”

    Lalu aku menceritakan padanya bahwa Lushan baik-baik saja, dan dia akan menghantamkan kepalanya ke tembok, menangis dan berteriak. Rasa ironi menusuk hatiku dan juga hati ibu, ketika dirinya berusaha mendapatkan pengakuan Lushan, berusaha memberi kasih sayangnya, berusaha menjadi ibu yang baik, dan kenyataannya adalah kini ia tidak dapat lagi menatap mata Lushan, dan bahkan tanpa sadar berusaha untuk menyakitinya. Akhirnya sesuai saran Bibi Nisha mengenai ini, Ibu kembali ke kerajaan untuk menjalankan tugasnya walau dalam keadaan mental yang tidak stabil, setidaknya ini adalah hal yang terbaik bagi dirinya.

    “Ibu berusaha untuk selalu berada di sampingmu walau dalam keadaan trauma, walau tanpa sadar ia ingin menyakitimu. Dia selalu mengkhawatirkanmu Lushan, dia... Lushan?”

    Tiba-tiba sesuatu mengenggam tanganku. Lushan, dia terbangun, dan menatapku. Mulutnya bergerak sedikit, dan dia berusaha mengucapkan sesuatu.

    “Bal..thiq..”

    Lushan telah sadar! Dia akhirnya sadar, syukurlah tuhan.. Aku segera berteriak, meminta tolong pada tabib-tabib kerajaan, dan tabib kerajaan segera berlari menuju ruangan bibi, memberitahukan kabar gembira ini.

    ***

    “Keadaannya sudah membaik, kupikir beberapa hari lagi dia sudah bisa berkomunikasi.”

    Salah satu tabib berkata padaku. Saat itu bibi segera datang dan melihat keadaan Lushan. Dia bernafas lega, karena Lushan sudah tiga bulan tidak sadarkan diri, dan hanya mengendalkan cairan infus dari kelapa untuk menjaga dirinya dari kekurangan cairan. Pipinya kini begitu kurus, cekung tulang pipi Lushan terlihat, tangannya seperti kulit yang melekat pada tulang. Dia tidak mampu menggerakan tangannya secara keseluruhan, seperti lupa katanya kepadaku. Suaranya terbata-bata, serak seakan telah lama air tidak melewati tenggorokannya. Saat itu matanya melongok ke kiri dan ke kanan, seakan dia sedang mencari sesuatu.

    “Ibu.. ibu dimana?”

    Aku kaget saat pertanyaan awal Lushan adalah mengenai ibu.

    “Ibu.. ah.. Dia kembali ke kerajaan karena urusan penting. Dia berjanji akan kembali ketika urusannya sudah selesai Lushan.”

    Lushan terlihat sedih mendengar ucapanku mengenai ibu, dan saat itu membuatku berpikir, apakah dia benar-benar Lushan yang kutemui dulu? Matanya kini terlihat lembut, tidak lagi mata mengerikan dan kosong seperti terakhir kali aku menatapnya. Intonasi yang ia keluarkan tidak lagi keras dan kasar. Tentunya aku tahu bahwa keadaannya belum membaik, tapi entah mengapa seperti terdapat perubahan drastis pada dirinya. Apakah ia ingat ketika diriku masuk dalam kesadarannya, ucapan-ucapanku padanya? Kata ibu tidak mungkin, tapi aku berharap dia mengingatnya.

    “Maaf Lushan, tapi kau harus istrahat kembali.”

    “Tidak bibi..tidak..ah..”

    Bibi tiba-tiba menyuntikan sesuatu pada Lushan, dan aku dapat melihat bahwa Lushan ingin mengucapkan sesuatu yang penting, namun efek bius tersebut terlalu cepat hingga Lushan kehilangan kesadarannya. Aku langsung bertanya pada bibi mengapa ia melakukannya, dan bibi berkata bahwa Lushan sudah pada tahap terakhir dalam kesembuhannya, dan menarikku keluar saat itu. Para tabib mengelilingi Lushan, dan aku semakin gencar menanyakan apa yang akan mereka lakukan.

    “Bibi, Lushan sudah mau sembuh bukan? Mengapa mereka menyiapkan pisau itu lagi!”

    “Tidak apa-apa Balthiq, mereka hanya melakukan pemeriksaan. Sekarang kau ikut bibi, aku ingin berbicara denganmu.

    ***

    “Belajar disini? Bibi, umurku masih 16 tahun..”

    Bibi tiba-tiba mengajukan penawaran padaku tentang menjadi penyihir. Dulu aku menginginkannya bisa menjadi sosok ibu yang kukagumi, tapi kini setelah mengetahui fakta yang ada, diriku semakin ragu.

    “Mungkin terlalu cepat, tapi kupikir dirimu sudah siap. Aku melihatmu membantuku, dan kakak sungguh sudah melatihmu dengan baik. Bahkan kau sudah berada di kelas yang cukup tinggi Balthiq.”

    Keringatku keluar, mungkin aku harus jujur padanya, bahwa aku belum siap akan semua ini.

    “Bibi.. aku tahu mengenai kartu tersebut, bagaimana aku mendapatkan kekuatan ini.”

    “Lalu?”

    Bibi tersenyum menatapku, dan aku tak pernah terbiasa dengan senyum dan tatapannya. Dia seakan sudah menembus batinku, mengetahui seluk-beluk keraguanku.

    “Bibi, aku tahu bahwa kartu tersebut..kartu tersebut..”

    Aku ragu mengucapkannya, entah mengapa susah sekali menerima kenyataan, bahwa aku telah mengambil banyak nyawa seseorang setiap kartu tersebut kubalik, lebih-lebih bahwa aku sama sekali tidak tahu perihal ini sebelum Lushan membeberkan semuanya.

    “Balthiq dengarkan aku.”

    Bibi memegang pundakku, dia menatapku dalam-dalam.

    “Ibumu telah berkata bahwa tidak ada jalan kembali bukan?”

    Aku mengingat itu. Ketika mataku berbinar-binar mengatakan aku ingin menjadi sosok istimewa seperti ibu, agar bisa melindungi Lushan dan omong kosong lainnya, berkali-kali hingga ibu memberikan pernyataan yang kusetujui, bahwa aku tidak akan berbalik bagaimanapun keadaannya.

    “Kau harus sadar Batlhiq, sudah berapa nyawa yang kau ambil. Nyawa tersebut telah kau telah ambil dari seseorang, yang berarti, kau telah mencuri banyak kehidupan seseorang, mencuri harapan seseorang, mencuri cita-cita seseorang, dan mencuri masa depan seseorang juga. Berapa kartu yang telah kau balikkan, sudah berapa lama kau membalikan kartu-kartu tersebut?”

    Cengkraman bibi semakin kuat, tatapannya tajam menatapku, dan suaranya semakin mengerikan. Bibirku penuh keraguan mengucapkannya, air mata tanpa sadar bergelinang dari mataku, dan juga aku menyadari bahwa gemetar telah menguasai kakiku.

    “Aku lupa bibi.. Tapi.. sudah banyak kartu yang kubalikkan..”

    “Ya, ingat baik-baik kenyataan tersebut Balthiq.

    Bibi tersenyum, dia tidak lagi mencengkram pundakku seakan membiarkanku bernafas sejenak.

    “Jadi kau setuju denganku?”

    Dia tahu bahwa aku tidak akan berkata tidak padanya. Bibi tersenyum oleh situasi ini. Senyum bibi memang mengerikan, tapi kali ini dia benar-benar memojokkanku, membuatnya senyumnya lebih mengerikan lagi.

    ***


    Saat itu juga bibi menyuruhku ke asrama para penyihir, dia sudah menyuruh pelayan menggantikan bajuku seperti para penyihir disini, pakaian tradisional dengan lambang naga, sebuah kain tebal terikat erat pada perutku untuk menjaga pakaian ini tidak terlepas, saking eratnya membuatku sesak.

    Pelayan yang berada di hadapanku hanyalah gadis kecil, matanya sipit datar, kulitnya putih pucat, dan dia menggunakan tudung yang menutupi rambutnya. Dia kemudian merapihkan baju di lemari ruang tamu, mengikat dan menaruhnya di pundak. Karena kasihan, aku menawarkan bantuan untuk membawa bawaanku yang berisi buku-buku Lushan, dan dia berterima kasih karenanya. Saat itu aku sedikit menyesal, karena buku ini ternyata berat sekali. Seharusnya aku meminta membawa baju saja, tapi kini rasanya sudah tidak enak untuk berkata demikian.

    Kita berjalan beberapa langkah melewati ruangan besar yang aneh, dimana sebuah gerbang besar tidak bertembok berada di tengah-tengah ruangan tersebut. Di antara gerbang tersebut digarisi tinta putih yang menandakan batas pendatang dengan murid yang belajar di akademi ini. Terdapat tulisan bangsa kuno yang besar di gerbang tersebut, terpampang pada papan yang besar tergantung di atas gerbang.

    Pelayan melewati gerbang tersebut, dan aku usil melewati tinta putih. Kita kemudian berbelok melewati tangga berputar, membawa kita ke lantai dua yang dipenuhi oleh lorong dengan lantai berkayu, dinding merah dengan ukiran burung Zhu Que, singa bersayap Pi Yao, dan Nian, yang mungkin untuk mengusir roh jahat dari asrama ini, aku pernah mendengarnya dalam salah satu kisah Lushan.

    Banyak pintu pada lorong ini ditandai dengan tulisan satu, dua, tiga, dan seterusnya. Pelayan tersebut membuka pintu dengan tulisan tiga, dan ketika masuk, aku menyadari bahwa asrama merupakan tempat dimana bantal padat dengan kasur tipis dan selimut di lantai yang merupakan khas dari suku bar-bar, tanpa batasan tembok, tanda bahwa kita para pelajar akan tidur bersama dalam satu ruangan ini.

    Ketika itu jujur saja perasaan senang menyertaiku, terutama betapa senangnya bahwa aku akan bertemu teman-teman baru sesama ras. Apakah nanti disini, sebelum tidur kami akan saling bertukar cerita? Saling merapihkan rambut sebelum berangkat? Aku tidak bisa membayangkannya, karena satu-satunya temanku dulu hanyalah Lushan. Orang tua selalu menyuruh anak mereka untuk menjauhi kami, suku bar-bar, yang katanya mampu mengundang setan-setan yang akan menculik mereka.

    Dalam renungku tiba-tiba pelayan menepuk pundakku, menyadarkanku.

    “Nona, kasur anda di sebelah sana.”

    Pelayan tersebut menunjuk di ujung ruangan.

    “Sebaiknya nona segera pergi ke kelas.”

    Aku berjalan mengikuti pelayan tersebut setelah menaruh bawaanku di atas kasurku.

    “...”

    Aku berjalan mengikutinya melewati lorong baru yang kini penuh dengan tiang berukirkan naga. Lantai-lantainya merupakan kayu panjang yang tersusun rapih dan mengkilap. Jendela-jendela memperlihatkan hutan yang mengelilingi akademi ini, dan kadang aku bisa melihat beberapa kancil yang berjalan disana. Lorong ini dipenuhi oleh pintu-pintu geser dengan ruas-ruas kertas yang menutupinya, dan kadang aku bisa mendengar suara alat musik, suara orang yang menjelaskan tentang sopan santun, dan mereka yang keluar berpakaian dan berjalan anggun bagai putri istana.

    “Maaf apakah disini tidak hanya belajar sihir?”

    “Disini juga diajarkan berperilaku karena mereka yang lulus akan ditempatkan di kerajaan, sikap tidak santun tidak diperkenankan.”

    Lalu kita keluar, dan sampai pada taman tengah akademi yang lebih mirip deskripsi ibu mengenai pekarangan istana kaisar. Disini semua jalan telah disusun oleh keramik giok secara rapih, namun hanya sampai pada taman-taman yang ditumbuhi pohon, bunga, juga kolam yang besar sekali. Kita melewati kolam tersebut, di atas jembatan merah yang berisikan lampion-lampion yang saling terhubung lewat paviliun megah. Kolam ini dipenuhi dengan burung berkaki panjang, dan berwana merah muda. Bunga-bunga yang memenuhi tempat ini sungguh beragam dan berwarna-warni, aku tidak hafal nama-nama bunga, namun cantik sekali, terutama yang bernama mawar, nama yang disebutkan pelayan ketika dia sadar bahwa aku terus menatap bunga tersebut, dia menambahakan bahwa bunga tersebut memiliki duri yang tajam sehingga lebih baik aku menjauhinya. Kami kemudian melewati rimbunan bambu disana, dan cahaya yang melewati dedaunannya membuat taman ini menjadi hijau. Saat itu tanpa sadar kami telah berada di depan bangunan yang lain, istana kedua, lebih besar dari bangunan sebelumnya.

    Ketika masuk, tempat ini dipenuhi oleh lorong raksasa dengan pintu-pintu raksasa. Berbeda dengan bangunan yang sebelumnya, sepenuhnya ruangan ini menggunakan batu-batu marmer sebagai temboknya dengan ukiran-ukiran wujud dewa. Lantainya menggunakan kaca dengan air yang mengalir dibawahnya, jernih sekali hingga diriku dapat melihat ikan yang berenang di antaranya.

    “Seperti berbeda dunia.”

    Tanpa sadar aku mengucapkannya. Tempat ini berbeda sekali dengan budaya tiongkok seperti bangunan sebelumnya. Ukiran-ukiran dewanya pun bukan gambaran dewa yang sering digambarkan, mereka adalah sosok-sosok aneh, api, petir, naga, gagak, dan sebagainya.

    “Bangunan ini berbeda nona, bangunan ini aslinya merupakan istana yang ditinggalkan, dan tidak mengalami kerusakan apapun. Dipercaya milik bangsa kuno yang dahulu tinggal di China. Sedangkan bangunan yang sebelumnya dibangun pada masa kekuasaan Wu Zhang yang pertama kali berdedikasi membentuk akademi sihir. Bangunan ini memiliki sumber pengetahuan sihir yang besar sehingga Wu Zhang memutuskan untuk memberikan semua hak ke liga penyihir.”

    Aku mengangguk mendengarkan penjelasan sang pelayan. Sepertinya dia ingin menjelaskan lebih lanjut, akan tetapi dia langsung menutup mulutnya, berkata maaf bahwa dia seakan mengguruiku, dan aku malah sesungguhnya berterima kasih bahwa dia menjelaskan ini padaku.
    Pelayan kemudian membawaku ke salah satu ruangan, melewati pintu raksasa tersebut kedalam suatu kelas dengan panggung besar dimana terdapat seseorang wanita tua sedang menejelaskan sesuatu, dan banyak meja-meja panjang dimana orang-orang duduk mendengarkan, menulis sesuatu di lembaran yang mereka pegang.

    “Maaf nona, sampai disini saya bisa mengantarkan anda.”

    “Terima kasih.”

    Aku menggenggam tangannya, menggoyangkanya. Kupikir ini cara sopan untuk berterima kasih, namun sang pelayan langsung menarik tangannya. Dia meminta maaf telah menyentuh tanganku, sesuatu yang tidak kupahami, membuatku bertanya apakah diriku telah berbuat tidak sopan? Namun kenapa dia yang minta maaf? Ketika diriku ingin menanyakan namanya, ia segera pergi dengan cepatnya.

    Saat itu aku bingung apa yang harus kulakukan, dan orang tua di depan yang kupikir merupakan seorang guru segera melambaikan tangannya padaku.

    “Oh, anak baru kah? Silahkan kedepan bersama saya.”

    Aku segera mengangguk, berjalan cepat dan semuanya mentertawakan cara berjalanku. Aku bisa mendengar salah satu dari mereka berkata bahwa aku terlihat kampungan karena rambutku yang kumal, kering, keriting, kulitku yang gosong, atau diriku yang lebih muda dari mereka, namun nampak terlalu tua karena kulitku yang terlihat tidak mulus. Seketika hal tersebut membuat mukaku memerah malu. Ibu selalu menyuruhku merawat badan dan wajahku, dia tahu bahwa karena pekerjaanku dahulu yang membuat penampilan fisikku menjadi seperti ini, namun tak kudengar sarannya dan kini aku benar-benar menyesal.

    “Siapa namamu?”
    Dia bertanya padaku. Wanita tua ini memakai lensa tebal sehingga matanya terlihat lebih besar. Rambutnya telah putih, dan ia ikat sedemikian rupa. Tatapan dan ucapannya yang lembut, membuat perasaanku sedikit tenang.

    “Kang.. “

    Aku teringat nama Ayah, tapi baru ingat bahwa kini diriku telah berganti nama.

    “Maksudku An Balthiq.”

    Guru tersebut terlihat kaget, dan menepuk pundakku tidak percaya.

    “Balthiq? Ah, Klan Ashide. Tak kusangka terdapat klan Ashide belajar di kelasku. Sungguh suatu kebanggaan tersendiri. Namaku Lu Xian, ingat baik-baik yah.”

    Semuanya ramai ketika guru bernama Lu Xian tersebut mengatakan tentang Klan Ashide, aku langsung melihat tatapan yang berbeda dari mereka, membuat bulu kudukku berdiri tanpa sadar.

    “Sungguh? Klan Ashide? Gadis kampungan tersebut?”

    “Bukankah dia terlalu muda?”

    “Cih, klan Ashide? Dia pasti akan diistimewakan”

    Aku sedikit menangkap apa yang mereka katakan, ucapan mereka yang diucapkan dengan nada yang jengkel. Dalam hati aku bertanya ada apa dengan Klan Ashide? Lalu aku mengingat bahwa bibi merupakan ketua dari akademi ini dan ibu juga merupakan ketua dari kementrian sihir di kekasiaran, membuat diriku terkesan istimewa karena merupakan Klan yang sama dengan mereka. Dadaku sesak karena sedikit harapanku yang telah hancur. Aku menyangka bahwa dengan berkumpul bersama sesama suku bar-bar akan membuat diriku nyaman, namun kini diriku menyadari bahwa disini aku akan tetap mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.

    “Silahkan duduk nona Balthiq, kupikir di ujung sana masih banyak tempat kosong”

    Aku menunduk berjalan menuju meja kosong yang ditunjuk oleh guru,, gadis-gadis yang sebelumnya duduk dekat dengan meja tersebut tiba-tiba menjauhiku. Dadaku semakin sesak, namun aku berusaha berucap berkali-kali dalam hati bahwa aku sudah terbiasa dengan hal ini, perasaan ketika orang-orang menghindari diriku karena status sebagai suku bar-bar, dan aku juga akan terbiasa karena kini mereka menjauhiku karena statusku sebagai klan Ashide, bahkan jika saja mereka memperlakukanku kasar, semuanya sama saja.

    Namun tak kusangka, ketika semua menjauh, seseorang tiba-tiba duduk di sebelahku.

    “Balthiq?”

    Gadis dengan rambut pendek bergelombang, matanya biru bersinar, dan tanda permata hitam yang tertutupi oleh gaun penyihirnya. Umurnya mungkin seumuranku, dia terlihat sangat muda. Dia tersenyum padaku, menyediakan tangannya untuk berjabat tangan denganku.

    “Kenalkan, Namaku Xiao Lin. Selamat datang di akademi sihir Balthiq.”

    “ya..”

    Aku bingung harus mengucapkan apa, sudah lama aku tidak bertatap mata dan berbicara langsung dengan seorang gadis seumuranku. Aku menundukan mukaku, namun tahu bahwa hal tersebut tidak sopan. Saat aku menatap matanya, aku kaget karena dia telah menatapku lama, dan aku tahu bahwa kini pipiku telah memerah malu.

    “Semoga kita bisa berteman baik.” Ucapnya lembut.

    Tanpa sadar aku tersenyum, harapan mengisi kalbuku saat itu menyadari tidak semua orang sama, masih ada orang baik yang tidak memandang status. Aku menggenggam tangannya, menjabatnya. Berucap dengan penuh semangat, dengan senyum lebar yang tak bisa kutahan-tahan lagi, seperti gadis kecil yang baru pertama kali bertemu teman sepermainannya, tidak, nyatanya dia memang adalah teman gadis pertamaku.

    “Ya semoga kita bisa menjadi teman baik, Xiao Lin!”

    *Little Girl END
     
  16. Fairyfly MODERATOR

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,797
    Trophy Points:
    257
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,466 / -133
    buset panjang :keringat:

    yak, sebenernya genre perang2an dan politik ditambah sihir dan fantasy bukan tipikal bacaanku sih, jadi keknya aku gak bisa komen soal isi cerita :iii:

    soal penulisannya sendiri bagus. aku bisa baca sampe tengah2 setelah ceritanya jadi terlalu rumit buatku (buatku lo ya) n aku mutusin buat lanjut bacanya ntar kalo otakku udah bisa ngeproses sisanya :keringat:

    well, keep writing aja sih. mungkin aku gak bisa komen banyak soal cerita, tapi ntar pasti ada yang suka ama ceritaa model begini. barangkali kapan2 aye kudu belajar juga nulis tema2 peran n politik gini :hmm:
     
  17. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Ane juga masih newbie, masih belajar nulis tema kayak gini hehe. Politiknya belum complicated sih, cuman di prolog doang kayaknya, pertangahan udah imajinasi bebas melayang hehe (Fantasy murni, lepas realitas). Terima kasih komennya loh :D
     
  18. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Naqoyqatsi Chapter 13 : Dog eat Dog

    Kepalaku pening, dan aku bisa merasakan bahwa semua yang di hadapanku seperti berputar. Nafasku sesak, suara nyaring keluar dari setiap nafas yang kutarik dan kukeluarkan. Aku tidak bisa merasakan tangan maupun jemariku dan kakiku sudah terlalu lemas untuk berdiri untuk melanjutkan pelarianku. Kini diriku hanya bisa terduduk kaku dengan kepala tertunduk lemas, bersembunyi dengan darah yang tiada henti keluar dari perutku.

    Ah, bukan bersembunyi sebenarnya, karena darahku yang menetes membentuk jejak untuk ‘dia’ mengetahui tempatku berada.

    “Kau tahu, rasa sakit sesungguhnya sangatlah baik untukmu, bukti bahwa tubuhmu berteriak untuk tetap hidup, memaksamu takut, berlari, berlari dariku. Oh Balthiq, mengapa aku begitu menikmati ini?”

    Dia terus meneriakan hal tersebut, menggodaku untuk segera keluar, dan orang-orang menyoraki dengan penuh kegembiraan.

    Kini kita terpisahkan oleh kabut yang kuciptakan, tapi tidak benar-benar menutupi lantai yang meninggalkan bercak darah. Walau demikian, entah mengapa ia berjalan begitu santai, seperti menikmati setiap detik pelarianku, tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan pertarungan ini.

    “...”

    Kabut sudah mulai menipis, dan orang-orang menunjuki tempat persembunyianku. Mereka tertawa, seperti melihat tikus yang tersudut, menunggu kucing memangsanya.

    Aku bertanya dalam hati, apa salahku pada mereka? Apa alasan mereka memojokkanku seperti ini? Mengapa aku bisa terjebak dalam situasi ini?

    Disini aku mulai ingat dengan cerita Lushan, bahwa manusia seperti anjing buas kelaparan yang terlilit tali di lehernya. Aku bisa mengingat nasib seseorang yang sama denganku, dan tawa mereka tak jauh berbeda, mereka menikmati setiap pembunuhan ini.

    Maka aku menutup mataku, karena diriku merasa bahwa tubuh ini tidak lagi berteriak untuk hidup. Aku lupa akan rasa takut, seperti hanyut dalam kekosongan. Lalu aku teringat kembali tentang mimpiku dulu, seperti tetes air yang jatuh pada lautan samudra. Aku menghilang, kehilangan setitik kecil diriku, dan mendapatkan sesuatu yang luar biasa besarnya. Aku merasa tenang di dalamnya.

    Lalu tiba-tiba sesuatu seperti menyauti namaku, menggoyangkan badanku.

    ***

    “Balthiq, bangun!”

    Mataku terbuka, dan ternyata air liurku kini mengalir dari mulutku yang membahasi gulungan kertas, membuat tinta catatanku luntur. Guo Rong saat itu yang menggoyangkan badanku, dan membisikiku untuk bangun.

    Aku segera menghadap kedepan, menegakkan badanku dan menyadari bahwa saat itu sang guru ternyata sedang berhenti menjelaskan, menatap marah kepadaku, namun tidak mengucapkan apa-apa.

    “Dia pikir, karena dia seorang Ashide, maka dia bisa seenaknya disini?”

    Semuanya berbisik dengan nada yang ditinggi-tinggikan, dan sang guru tidak berusaha menghentikan mereka. Dia seakan setuju dengan ucapan tersebut dengan sedikit anggukan kepalanya. Aku segera berdiri saat itu, menunduk minta maaf, dan sang guru kembali menjelaskan pelajarannya tentang sejarah tempat ini.

    “Aku pikir karena ini tidak ada kaitannya dengan sihir, kau tidak bisa tidur seenaknya Balthiq.”

    Guo Rong berbicara demikian, dan aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Dia yang membuatku terbangun hingga larut untuk mendengarkan ceritanya! Dia sendiri sekarang tidak mendengarkan, gadis yang lebih tua dua tahun dariku ini malah menggambar rusa-rusa dan bunga pada kertasnya.

    “Rong-chan.. aku tertidur karena semalaman mendengar ceritamu.”

    Guo Rong tersenyum, dia menepuk pundakku.

    “Jika demikian, maka setiap kali kau tertidur di kelas adalah tugasku untuk membangunkanmu.”

    Tentu aku ingin marah karena ketidakpeduliannya, tapi aku hanya tersenyum memaafkannya. Aku sesungguhnya menyukai sikap Guo Rong, dan dia salah satu orang yang paling dekat dengan diriku sekarang.

    Guo Rong adalah teman keduaku disini. Aku mengenalnya karena di asrama dia tidur di sebelahku, dan setelah berapa lama kita menjadi teman dekat. Wajahnya sedikit gemuk, dan dia setengah bar-bar karena kulitnya yang cerah, dan matanya yang sipit. Rambut kita sama, dikuncir dua dengan ujung membundar persis seperti tradisi keluarganya, dan dia sendiri yang memaksa untuk merias rambutku yang tadinya tidak beraturan. Dia terlihat seperti anak yang masa bodoh sama sekali perihal pengucilan yang dilakukan hampir anak-anak disini kepadaku, dan ketika aku menanyakan hal ini, dia berkata bahwa dirinya tidak peduli sama sekali dengan pandang orang lain.

    Semua berkata bahwa Guo Rong terjebak dalam dunianya sendiri, dunia yang cerah gempita dengan rusa-rusa yang berloncatan di taman bunga, dan walau kupikir hal tersebut tidaklah baik, hal itulah yang membuatku mampu berteman dengan dirinya.

    “Kau harus paham ini Guo Rong.”

    Tiba-tiba terdapat suara di sebelah Guo Rong, suara nyaring itu tidak lain adalah Li Ling. Sebelum diriku, dia adalah teman baik Guo Rong. Rambutnya terurai panjang, dan dia tidak ingin mengikatnya. Jika Guo Rong sipit, maka mata Li Ling sangatlah lebar. Kulitnya sawo matang seperti diriku, dan matanya hitam, tanda bahwa dia adalah keturunan suku bar-bar murni.

    “Balthiq memintamu untuk tidak menganggunya di malam hari.”

    Li Ling mengucapkannya sambil tersenyum, namun dia masih menulis, mendengarkan apa yang sang guru katakan, seperti fokusnya bisa dipecah menjadi dua dengan mudahnya.

    “Benarkah Balthiq?”

    Raut muka Guo Rong berubah, dia menatapku dalam-dalam, dan aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca. Walau kubilang Guo Rong tidak peduli akan pendapat orang lain, kupikir semua itu karena dia benar-benar tidak menyadarinya, bukan sama sekali mencueki persoalan yang sedang terjadi. Terutama kali ini, dia terlihat khawatir bahwa dirinya telah mengangguku.

    “Tentu saja tidak Rong-chan, aku senang mendengar ceritamu.”

    Tapi raut Guo Rong tidak berubah, dia seperti melihat gerakan mataku, atau mungkin tatapanku yang tidak benar-benar lurus kepadanya. Dia tahu bahwa aku telah berbohong padanya.

    “Mungkin tidak terlalu larut juga, mungkin..”

    “Hei!!”

    Saat aku mencoba menjelaskan, tiba-tiba terdapat suara teriakan di depan, teriakan sang guru yang tidak bisa menahan lagi amarahnya.

    “Nona Balthiq! Jika anda benar-benar tidak tertarik, anda boleh keluar dari ruangan ini.”

    Aku kembali berdiri kemudian memohon maaf. Sang guru menggelengkan kepalanya dengan tangan yang berada di pinggangnya. Katanya, jika saja diriku bukan seorang Ashide, maka dia akan memaksaku keluar dari tempat ini.

    “Psst, Rong-chan, aku akan berbicara padamu setelah pelajaran ini, saat istirahat nanti.”

    Guo Rong menganggukan kepalanya sambil menyeka air matanya, dan aku sekali lagi berusaha memahami apa yang guru itu ucapkan, namun entah mengapa pikiranku melayang entah kemana lagi. Rasanya diriku baru saja merasakan mimpi yang mengerikan, dan anehnya lagi, perasaan nostalgia. Ketika itu kutampar pipiku, mencoba memperhatikan, dan ternyata diriku seperti terombang-ambing dalam penjelasan yang entah arahnya kemana.

    ***

    Keluar dari kelas, aku masih meraba-raba apa saja yang sang guru ucapkan. Dia seakan membaca gulungan kertas yang sangat panjang mengenai cerita dari dinasti awal, hingga sampai pada dinasti Tang. Aku bahkan tidak bisa mencatatnya, dan perhatianku kini tertuju pada Li Ling yang kini sendirian menjauhi kerumunan, dan membawa tiga gulung kertas hasil catatannya tadi.

    Guo Rong tiba-tiba menarikku menuju Li Ling, menepuk pundaknya keras, membuat kertas yang Li Ling pegang berjatuhan, dan tali yang mengikat gulungan tersebut terbuka.

    “Eh..”

    Guo Rong polos melihat kertas-kertas yang berjatuhan tersebut, dan aku bisa melihat muka Li Ling yang memerah marah.

    “Guo Rong!!”

    Guo Rong yang saat itu mengetahui kemarahan Li Ling segera berlari menjauhi amarah Li Ling, sampai akhirnya Li Ling mengejarnya, dan menjitaki kepalanya. Selagi mereka kejar-kejaran, aku mengambil kertas-kertasnya, menggulungnya, dan mengikatnya kembali. Li Ling saat itu segera berterima kasih, tapi wajahnya berpaling padaku, seperti yang biasa ia lakukan.

    Li Ling adalah seorang yang pendiam. Jika aku dijauhi, maka Li Linglah yang menjauhi orang-orang. Dia tidak tertarik pada basa-basi dan omongan yang dia anggap rendahan. Dia menganggap intrik-intrik yang diciptakan para siswa disini juga sama murahannya. Tapi jika saja terdapat suatu pernyataan yang ia anggap bermakna, filosofis, ataupun bersifat ilmiah maka matanya akan bersinar-sinar untuk menjawab ataupun berargumen dengan lawan bicaranya.

    “Li Ling, bolehkah aku bertanya perihal sejarah padamu? Aku benar-benar tidak paham.”

    “Apa yang kau tidak paham?”

    Tidak berbeda jika saja aku bertanya tentang sihir, atau kini sejarah. Dia segera mendekatkan jaraknya padaku, dan meninggalkan jauh-jauh sikap tidak acuhnya. Aku sering bertanya padanya banyak hal, dan perlahan sikap dingin Li Ling padaku semakin mencair. Sama dengan Guo Rong, dia tidak peduli dengan apa yang mereka katakan tentangku, dan tanpa sadar aku sudah merasa bahwa dia adalah teman baikku, teman ketigaku disini.

    “Aku sepertinya ketiduran tentang sejarah akademi sihir ini.”

    “Kau tidur pada masa Dinasti Qin Balthiq, tanda bahwa kau benar-benar tidak menyimak.”

    “Benarkah? Tapi aku tidak tertarik pada sejarah Dinasti selain akademi ini.”

    Li Ling tersenyum, tapi ia tutupi dengan tangannya. Aku baru kali ini melihatnya seperti ini.

    “Langsung ke bagian terbaik yah?”

    Li Ling saat itu menyuruh kita pergi ke taman untuk menjauhi kerumunan yang menurutnya tidak nyaman. Aku membantunya membawa satu gulung kertas, dan memaksa Guo Rong membawa satunya lagi. Selagi berjalan, Li Ling menjelaskan padaku dengan nada yang riang.

    “Istana depan dibangun pada Dinasti Tang sekarang ini, pada masa kekaisaran sebelumnya. Tapi sesungguhnya sebagian akademi ini sudah ada dari dulu, bahkan sebelum dinasti Xia, dan itu sudah lama sekali. Mereka bilang tempat ini adalah tempat para dewa, tapi kini kita menyebutnya bangsa kuno yang aslinya menduduki daratan china ini.”

    Kini kita menyebrangi jembatan merah yang berada di tengah danau, dan duduk di antara pavilun. Guo Rong asik melihati ikan, dan Li Ling kembali menjelaskan.

    “Istana di depan adalah istana baru yang diciptakan pada masa kekuasaan ratu Wu Zetian sebagai penghubung antara istana ini yang tersenyembunyi di dalam hutan. Dia kemudian membuat tempat yang rencana awalnya ingin dijadikan tempat kekaisaran china, menjadi tempat akademi untuk pembelajaran sihir, karena banyaknya dokumen, dan ukiran-ukiran dewa yang berkaitan keras dengan bangsa bar-bar, dan potensi akan kemajuan sihir yang pada zaman sebelum Wu Zetian yang masih sangat misterius. Hal ini lah yang menciptakan masa keemasan kerajaan dinasti Tang, kontrol fungsional terhadap kekuatan sihir.”

    Li Ling asyik menceritakannya, seakan nafasnya begitu panjang untuk menjelaskan segalanya sekaligus.

    “Tapi, bukankah taman ini terlalu indah untuk sebuah akademi?”

    Aku usil bertanya karena dibalik badan Li Ling, Guo Rong sedang mengaduk-ngaduk tangannya di antara ikan, memberi mereka rempah-rempah roti, dan aku ingat bahwa Guo Rong selalu menceritakan betapa indahnya taman ini. Aku tahu bahwa Li Ling bisa saja membuatku merasa bodoh seakan tidak mendengarkannya, dan menjelaskan kembali tentang rencana awal tempat ini ingin dijadikan istana kaisar. Tapi matanya bersinar, seakan mengucapkan bahwa pertanyaanku adalah pertanyaan bagus.

    “Wu Zetian sangat mencintai kita bangsa bar-bar, apalagi para penyihir yang seluruhnya merupakan seorang wanita. Kita menjadi simbolis kekuatan wanita yang selama ini tunduk dalam kekuasaan lelaki. Wu Zetian pada zamannya selalu berkunjung kesini, dan dia membuat istana depan menjadi istana keduanya, dan membuat peraturan bahwa tidak boleh ada satupun lelaki yang boleh memasuki area istana ini, kembali karena alasan simbolis tadi. Maka, jika kau lihat taman ini, maka kau baru saja melihat taman terindah di seluruh daratan China. Wu Zetian membangunnya selama masa hidupnya ketika mendengar bahwa dahulu terdapat taman gantung dari daratan jauh disana yang sangat indah.”

    Setelah mendengar ini membuatku mengingat Lushan, apakah tidak berbahaya jika dia berada disini? Lalu kupikir, pada zaman ini peraturan itu tidak lagi berlaku secara ketat, melainkan karena alasan simbolis semata.

    “Aku tidak bisa menjelaskan apapun mengenai istana belakang, karena semuanya terkesan misterius. Dijauhi oleh binatang, dan lebih dari tuju ribu tahun lamanya istana ini sudah berdiri, makanya kau tidak bisa melihat ornamen-ornamen seperti yang biasanya kau lihat di istana depan ataupun di taman ini.”

    Dia mendekatiku, seakan apa yang akan diucapkannya semakin menarik, dan jujur aku juga sama tertariknya. Saat itu Guo Rong sepertinya sudah terlihat bosan, dia kini berjalan menjauhi kolam dan duduk di antara kami.

    “Kau pasti bertanya dengan teknologi apa mereka membangun ini, padahal banyak bukti bahwa manusia baru masih menggunakan batu dan bahkan belum bisa menulis pada zaman itu? Maka satu jawaban yang terbukti lewat ukiran gambar di istana ini, terdapat sosok serupa manusia yang kita anggap sebagai mahluk setengah dewa. Mereka kekal, dan memimpin manusia yang lebih mirip dengan kera menjadi berakal dan mampu membentuk peradaban. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa hanya kita satu-satunya mahluk yang memiliki akal, yang membedakan kita dengan hewan.”

    “Kalian begitu seru membicarakan sejarah, tapi apa sejarah semenarik itu?”

    Tiba-tiba Guo Rong mengucapkan hal tersebut dalam jeda penjelasan Li Ling. Tentunya Li Ling terlihat kesal, apalagi mengingat Guo Rong tidak mendengarkan sama sekali penjelasan Li Ling sebelumnya. Tapi Li Ling bukan tipe orang yang akan menjitaki perilaku Guo Rong, selain menanggapinya serius.

    “Dengan sejarah kau mampu mengetahui asal-usul bangsamu, konflik-konflik, pencapaian-pencapaian yang bisa kita contoh, dan kesalahan-kesalahan yang mampu kita hindari. Jika kita tidak mempelajari sejarah, kita seperti terombang-ambing tidak jelas di peta waktu, krisis indentitas, dan kehilangan jejak para tetua kita.”

    “Kupikir kau terlalu serius Li Ling. Kau harusnya lebih serius menatap bunga-bunga, burung-burung yang bertanggap di antara ranting, ikan-ikan yang berenang, dan bermain dengan kucing. Kau tahu apa yang ibuku katakan pada orang-orang sepertimu? Rambutmu akan rontok sebelum waktunya!”

    Kali ini Li Ling akhirnya mengepalkan tangannya, kali ini godaannya lebih keras untuk menjitak Guo Rong, terlebih karena dia mengkomentari rambutnya yang kutahu Li Ling sangat sensitif mengenai hal tersebut.

    “Hanya orang rendah yang tidak menghargai sejarah!”

    Guo Rong kaget ketika ucapan itu keluar, mukanya sama merahnya dengan Li Ling. Kupikir mereka akan mulai bertengkar, dan aku tahu bahwa diriku terjebak ditengah-tengah situasi ini, dan juga tanggung jawabku untuk melerai mereka berdua.

    “Rong-chan, Li Ling.. kupikir..”

    “Aku juga punya pemikiran tentang sejarah! Aku ingin kalian mendengar pendapatku soal sejarah yang kalian sukai ini.”

    Guo Rong tiba-tiba menyelaku, dan aku hanya diam. Li Ling pun terlihat tertarik apa yang Guo Rong ucapkan, Guo Rong jarang sekali mengeluarkan isi pemikirannya, dan Li Ling terlihat menyiapkan argumennya yang dia pikir akan membuat Li Ling menangis menyesal merendahkan sejarah yang ia benar-benar pelajari sampai 3 gulung kertas tebalnya.

    “Aku selalu berpikir bagaimana jika kita melupakan segalanya tentang sejarah?”

    Li Ling tersenyum, dan aku tahu dia telah mendapatkan jawaban untuk pertanyaan itu. Tapi Guo Rong belum selesai, dia berbicara dengan mata yang serius, mata yang jarang kulihat dari Guo Rong sendiri.

    “Kita lupakan darimana kita berasal, siapa yang dulu menjajah dan yang dijajah, tragedi-tragedi yang diciptakan nenek buyut kita, dan banyak hal lainnya lagi. Seperti ini, mereka ingin memaksa sejarah itu masuk ke kepala kita, sejarah yang mereka tulis sendiri. Memaksa kita percaya bahwa tanah ini milik kita dan mengusir ras lain dengan paksa, membenci ras ini dan ras itu karena dulu mereka seperti ini dan itu. Satu hal yang harusnya mereka ingat adalah, saat mereka lahir dulu mereka tidak memiliki sejarah, dan bahkan tidak membenci apapun!”

    Aku dan Li Ling sama kagetnya, kini kami sadar bahwa pendapat Guo Rong sudah masuk persoalan yang personal, dan aku tahu bahwa Guo Rong sudah pernah menceritakan ini pada Li Ling, cerita malamnya mengenai perang sengit sukunya dengan suku lain yang mengambil nyawa ayahnya. Dia hidup dalam kondisi penuh kebencian, kebencian yang sesungguhnya dimulai dari nenek buyut mereka. Ketika itu kedua pihak akan selalu menyalahkan, mengutuk, menggeneralisasi kegiatan buruk seseorang ke keseluruhan sukunya.

    Kita akhirnya diam seribu kata, sebelum tiba-tiba terdapat seseorang yang memegang pundakku.

    “Tidak bisa begitu Rong-chan.”

    Suara itu bukan berasal dari Li Ling, tapi suara lembut, dingin, dan begitu familiar. Xiao Lin berada di belakangku, dan tidak ada satupun dari kita yang menyadari kedatangannya. Aku langsung menatapnya, dan dia tidak tersenyum saat itu, tapi terlihat jijik melihat Guo Rong.

    “Tapi bukankah tidak adil bahwa kita harus menanggung beban nenek buyut kita? Dosa mereka? Kebencian-kebencian mereka? Perang-perang mereka? Jika saja sejarah tidak diajar..”

    “Maka aku yakin ucapan teman kita Li Ling benar, bahwa kau adalah manusia rendahan Rong-chan.”

    Nada Xiao Lin sangat dingin, bahkan Li Ling yang biasanya akan menyauti kini hanya bisa diam. Guo Rong pun terlihat tidak mampu menatap langsung Xiao Lin.

    “Jika saja kau bicara bahwa dosa-dosa leluhur tersebut sudah lalu, maka kau harus tau bahwa dosa adalah abadi, dan walau sudah berapa lamanya waktu telah berlalu, keadilan harus ditegakkan. Dengan sikapmu seperti ini, para leluhur akan memaki dan mengutuk seluruh hidupmu di sebrang dunia sana. Kupikir kau harus digempleng dengan buku sejarah, memahami kebencian leluhurmu, dan kematian-kematian yang timbul karenanya. Jika kau pikir dengan cara pikirmu seseorang yang kau sayangi bisa selamat karenanya, maka kupikir, kau baru saja meludahi kematian mereka.”

    “Xiao Lin.. sudah..”

    Aku menarik lengan Xiao Lin, memohon kepadanya untuk berhenti. Guo Rong terlihat shock, wajahnya murung pucat. Ucapan Xiao Lin kupikir terdapat kebenaran di dalamnya, namun kata-kata yang ia gunakan seperti tamparan keras terhadap Guo Rong, terutama ucapannya mengenai meludahi, seperti Guo Rong meludahi kematian ayahnya, ayahnya yang ia cintai.

    Saat itu bukan aku yang segera menenangkan Guo Rong, namun Li Ling yang sebelumnya terlihat sebal, kini merasa kasihan dengan Guo Rong mengelus pundaknya. Dia menatap Xiao Lin kesal, walau tadinya Li Ling juga sepertinya kepikiran untuk membuat Guo Rong menangis dengan ucapannya, tapi cara Xiao Lin kupikir terlalu menusuk atau mungkin terlalu serius.

    “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat Balthiq, kupikir ini akan jadi nasihat terakhirku padamu.”

    Ekspresi Xiao Lin sudah melihatkan senyumnya kembali, dan dia seperti tidak terlihat menyesal dengan apa yang ia ucapkan pada Guo Rong. Ketika itu kupikir rasanya tidak sopan terhadap Li Ling karena dia tengah menjelaskan sesuatu padaku, terutama rasanya sayang karena aku sedang berusaha mendekatinya, sedangkan rasanya tidak enak juga kepada Xiao Lin yang selama ini mengajariku banyak hal mengenai kehidupan di akademi sebelum aku bertemu dengan Guo Rong.

    Aku menatap pada Li Ling, dan dia sepertinya mengerti kondisiku.

    “Pergilah Balthiq, aku bisa melanjutkan penjelasanku di asrama.”

    Lalu Xiao Lin menarik lenganku, masuk jauh ke dalam taman yang entah mengapa tidak seperti biasanya, tempat yang tidak tersentuh ini menjadi begitu ramai dan penuh dengan sorak gembira.

    “Kau harus melihatnya, dunia anjing memakan anjing.”

    ***

    “Disini, kita bukan ras bar-bar, harus lebih spesifik lagi, misalkan ras, seperti kau Ashide, dan aku Gorthuk.”

    Xiao Lin langsung menjelaskan padaku, dia menunjuk pada keramaian yang menghalangi pertunjukan yang tengah terjadi. Suara benturan, ledakan, dan entah apa yang terjadi di balik kerumunan yang kini tengah menonton, apakah terdapat suatu perayaan? Tapi mana mungkin ada perayaan di tempat seperti ini? Aku akhirnya memutuskan untuk fokus mendengar penjelasan Xiao Lin, dia kini tengah menunjuk seseorang.

    “Tapi kita harus lebih spesifik lagi, disini kita adalah fraksi politik, yang memakai kalung giok hijau itu, dia milik anak ke lima belas Wu Zetian yang merupakan calon pengganti terkuat kaisar, dan yang memakai tusuk rambut naga tersebut, dia milik Jendral Surga Hoi Fu yang pengaruhnya sangat besar di militer dan politik kerajaan.”

    “Kau mau memberitahuku bahwa kalian mewakili kekuatan politik kerajaan?”

    “Ya, dan bukan aku saja, tapi kau juga. Disini kita bukan lagi manusia, melainkan kekuatan, senjata bagi fraksi-fraksi tersebut. Aku tahu kau belum menyadarinya, dan dilihat dari posisi ibumu dan bibimu, tanpa sadar kau sudah mewakili kekuatan kaisar.”

    Bukan lagi manusia? Senjata? Ketika itu entah mengapa hatiku rasanya pilu mendengar hal ini, dan ingin menolak apa yang diucapkan Xiao Lin. Namun aku benar-benar tidak paham situasi di akademi ini, dan isu-isu apa yang tengah terjadi sehingga hanya bisa mengangguki ucapan Xiao Lin.

    Lalu sampailah kita menerobos dan melihat apa yang mereka kerumuni.

    “...!”

    Aku segera menutup mulutku melihat darah yang berceceran dimana-mana. Aku sering mendengar bahwa banyak terjadi pertengkaran yang menyebabkan kematian disini, namun tidak pernah melihatnya langsung, dan tak tahu bahwa ternyata kejadian ini lebih mengerikan dari apa yang kubayangkan.

    “Tolong..”

    Seorang wanita tertusuk oleh bebatuan yang muncul dari tanah, menusuk perutnya, dan membuat isi perutnya keluar berceceran. Lawannya dikeremuni oleh temannya, terluka parah dengan darah yang tiada henti keluar dari lehernya, tapi dia tertawa melihat nasib lawannya. Kerumunan ini juga tidak jauh berbeda, mereka tertawa membicarakan betapa konyolnya sang lawan, membicarakannya seakan ini adalah pertandingan olahraga tanpa sama sekali merasa resah dengan apa yang terjadi.

    Saat itu seseorang datang, menggunakan sihir penyembuh pada pemenang yang akhirnya menghentikan aliran darahnya. Namun tak satupun mendekati sang lawan yang kalah, walau aku melihat dari kejauhan terdapat beberapa orang yang menangisi nasibnya.

    “Kenapa tidak ada yang menolongnya, oh tuhan, dia masih hidup Xiao Lin!”

    “Tidak Balthiq, lihatlah.”

    Tiba-tiba muncul banyak burung rajawali besar yang muncul menembus awan di langit mengelilingi gadis tersebut yang makin berteriak panik. Aku menutup telingaku, memalingkan wajahku. Lalu aku melihat mereka semua, tertawa melihatku, seakan sikapku adalah sikap yang lucu.

    “...!”

    Tiba-tiba Xiao Lin memegang wajahku, memaksaku melihat gadis tersebut yang kini tengah tercabik-cabik.

    “Kau lihat Balthiq? kau baru saja melihat seleksi alam dan siklus kehidupan. Tapi lebih-lebih dari itu, terdapat kompetisi di dalamnya.”

    “Xiao Lin.. aku tidak paham..”

    Xiao Lin membisikku, suaranya tiba-tiba terdengar mengerikan di telingaku.

    “Kompetisi adalah sifat alam, sehingga akademi mengijinkan hal ini terjadi. Hanya saja kini konteksnya adalah perebutan kekuatan yang terjadi di balik panggung kerajaan, atau mungkin hanya pertengkaran kecil karena berbeda pendapat, tapi tetap semua itu adalah kompetisi juga. Karena itu, aku akan mengatakan ini padamu Balthiq, disini adalah dunia anjing memakan anjing, kita dan termasuk kamu disini adalah seorang kanibal, dan kau harus mengingat ini baik-baik di otakmu.”

    Xiao Lin kemudian memegang pundakku, tersenyum menatapku. Aku tidak yakin bahwa aku bisa menatap Xiao Lin dengan tatapan yang sama lagi, aku seperti baru saja melihat sisi gelap dari Xiao Lin yang bisa mewajari hal ini.

    “Kau akan terbiasa Balthiq.”

    “Tidak, aku tidak akan terbiasa Xiao Lin..”

    Aku berusaha menjelaskan pada Xiao Lin, aku tidak bisa lagi diam dan mengangguki segala ucapan Xiao Lin. Jika saja demikian, maka rasanya aku seperti tidak jujur pada diri sendiri, membuat dadaku sesak karenanya.

    “Aku tidak ingin seperti mereka Xiao Lin, ini tidak sesuai dengan moralitas yang selama ini kuketahui. Aku bukan binatang ataupun senjata. Aku manusia, dan aku merasa.. merasa bahwa jika apa yang telah kau lakukan adalah mewajari hal mengerikan ini!”

    “Balthiq dengarkan aku.”

    Xiao Lin menatapku serius, meremas pundakku dengan erat.

    “Disini tidak ada moralitas Balthiq, hanya moril. Kau harus tahu bahwa kau berada dalam dunia yang berbeda, dunia yang berbeda sama sekali, dan tak akan lama lagi, kau akan terseret di dalamnya.”

    ***

    “Jadi apa yang ia katakan padamu?”

    “Dia menunjukan dan menjelaskan padaku tentang pertarungan di akademi, dan.. aku sedikit kaget melihatnya..”

    Guo Rong bertanya padaku setelah dia berkata mukaku sama pucatnya dengan dirinya. Kini kita sedang berjalan menuju ke tempat Lushan terlebih dahulu sebelum menuju asrama dan seperti biasa, Guo Rong akan turut menemaniku. Di tengah perjalanan tadi Li Ling izin untuk menaruh gulungan kertas ke kamarnya, dia ingin melanjutkan kembali penjelasannya mengenai sejarah yang sempat terputus tadi.

    “Aku juga pernah melihatnya sekali bersama Li Ling, dan oh tuhan, aku tidak bisa tidur tiga hari lamanya.”

    “Mungkin aku juga tidak bisa tidur karena ini Rong-chan..”

    Mendengar ucapan Guo Rong, membuatku berpikir kembali juga mengenai tidur. Mengingat gadis tersebut yang meminta tolong, tercabik-cabik oleh burung-burung tersebut dalam keadaan hidup, aku tidak yakin mimpiku akan tenang karenanya. Aku juga turut merasa berdosa, karena hanya bisa menutup mata dan kupingku tanpa ada usaha untuk menolongnya.

    Guo Rong saat itu menepuk pundakku, berkata semuanya akan baik-baik saja. Saat itu matanya ke kiri dan ke kanan, tanda dia ingin mengganti topik.

    “Kau tahu, karena itu aku ingin fokus dalam pengobatan, tidak tertarik soal sihir yang menghancurkan, dan sebagainya.”

    Aku tersenyum melihat Guo Rong, seperti dirinya aku juga semakin ragu untuk menggunakan kekuatan ini untuk tindakan mengambil nyawa, walau banyak korban yang dari kekuatan yang kini kumiliki, bisakah diriku membalasnya dengan menyelamatkan nyawa orang?

    Ketika kita berjalan, dan sudah dekat dengan tempat Lushan, aku melihat sosok pelayan yang dulu mengantarku. Kini dia tengah dikerumuni oleh penyihir-penyihir tingkat atas, salah satunya aku mengenalnya, Man Yi, yang katanya merupakan keturunan Wu Zetian. Satu hal yang kuketahui mengenai dirinya adalah untuk segera menjauh untuk tidak terkena masalah. Tetapi..

    “Balthiq!!”

    Dia mengenalku. Tentunya seperti yang lain, dia mengenalku karena klan Ashide yang melekat pada diriku. Dia seringkali memanggilku, mengejekku di depan teman-temannya, tetapi tidak pernah lebih dari itu.

    “Aku ingin memperlihatkan sesuatu yang menarik padamu!”

    “Maafkan kami kakanda, kami ada urusan penting di keruang pengobatan..”

    “Hmm..”

    Man Yi terdiam seperti memikirkan sesuatu. Saat itu diriku dan Guo Rong menekuk muka sambil menelan ludah kami, menunggu perijinan untuk dibiarkan pergi keruang pengobatan.

    “Baiklah, kuharap kau kesini lagi setelah urusanmu selesai.”

    Ketika itu aku melirik pada pelayan yang kini terlihat gemetar di kakinya, menekuk mukanya juga yang tersembunyi dalam tudung tersebut. Aku turut kasihan padanya, tapi aku dan Guo Rong tahu bahwa kami tidak bisa melakukan apa-apa. Jika saja kami sedikit menyinggung urusan mereka, bisa-bisa saja kami terseret dalam pertarungan, dan aku tidak ingin bernasib sama dengan sosok di taman berikut.

    “Balthiq..”

    Ketika sudah di ruangan tabib, Guo Rong berhenti. Dia menatap dari kejauhan pelayan tersebut.

    “Aku disini saja, lagipula di dalam aku tidak boleh melihat adikmu bukan?”

    Aku khawatir pada Guo Rong, dia menatap pelayan itu dengan tatapan khawatir, dan ketakutanku adalah Guo Rong akan bertindak macam-macam untuk menolong pelayan tersebut, walau tentu aku tahu bahwa Guo Rong bukan tipe seperti itu.

    “Rong-chan.. kau tidak berpikir macam-macam untuk menolong pelayan tersebut bukan?”

    Guo Rong tidak berkata apa-apa ,dia hanya menggelengkan kepalanya padaku dan tersenyum. Aku kemudian menghela nafasku, dan berjalan menuju ruangan Lushan.

    ***

    “Lushan?”

    Kasur Lushan kosong saat itu, sudah dibereskan dengan selimut yang terlipat rapih. Aku tidak melihat satupun tabib kerajaan, dan segera saat itu diriku melihat ke segela ruangan untuk sadar bahwa Lushan benar-benar telah menghilang.

    “Lushan!”

    “Maaf nona, anda tidak seharusnya berteriak disini.”

    Saat diriku berteriak, akhirnya muncul salah satu tabib yang berada di luar ruangan. Dia menggunakan gaun hitam, dan simbol naga yang menandakan dia merupakan tabib akademi.

    “Maaf, adik saya sebelumnya dirawat disini oleh pihak kerajaan.”

    Aku mengantarkan tabib tersebut ke arah kamar Lushan, tapi tabib tersebut menggelengkan kepalanya.

    “Saya pikir tidak ada yang dirawat selama ini atas nama pihak kerajaan.”

    Tabib itu terlihat kebingungan, dan tentu aku tahu terdapat hal yang aneh disini karena hampir setiap hari diriku menemani Lushan, muka tabib ini pun terlihat familiar. Saat itu segera diriku memfokuskan kekuatan sihir pada mataku, dan melihat terdapat bekas sihir pada kepala sang tabib, tanda bahwa ingatannya telah dihapus mengenai Lushan.

    “Oh tidak..”

    Sesuatu terjadi pada Lushan, dan mereka tidak mengatakan apa-apa padaku! Saat itu perhatianku pada Bibi, semenjak terakhir kali Lushan sadarkan diri aku tidak pernah sedikitpun melihat sosoknya lagi.

    Saat itu diriku segera keluar dari ruangan pengobatan dan berpikir untuk segera menuju ruangan bibi. Ketika keluar aku menyadari bahwa Guo Rong sudah tidak ada disini menungguku, apa dia sudah pergi ke asrama?

    “Minggir sialan!”

    Dari kejauhan terdapat suara teriakan, dan aku menyadari bahwa suara tersebut adalah suara Man Yi. Saat perhatianku menuju ke arahnya, mataku tidak percaya, keringatku keluar deras, dan seketika aku berlari ke arah kerumunan tersebut. Aku merasa bahwa Guo Rong berada dalam kerumunan tersebut!

    Aku segera mencoba memakai sihir untuk melihat dari kejauhan. Aku melihat bahwa Guo Rong kini memegang leher seorang pelayan yang lehernya kini terbuka dan mengeluarkan darah, dia merapatkan jari-jarinya menutupi leher pelayan tersebut, namun darah tetap keluar dari celah-celah jarinya. Punggung Guo Rong saat itu penuh dengan darah, Man Yi mengeluarkan sihirnya, mematerialisasi cambuk yang kini membuat punggung Guo Rong tercabik-cabik. Tapi Guo Rong tak kunjung meninggalkan pelayan tersebut, dia tetap membacakan mantranya yang terputus-putus ketika cambukan kembali mencabik daging di punggungnya.

    “Tidak, tidak, tidak...”

    Aku terus berkomat-kamit, berlari secepat mungkin menuju kearah mereka, merobek bawahan gaunku agar bisa berlari secepat mungkin menuju Guo Rong.

    “Dia lelaki! Pelayan ini adalah laki-laki, kau lihat!”

    Man Yi menunjukan pada Guo Rong ke arah kemaluan pelayan yang kini telah terbuka pakaiannya, dan mereka semua melihat bahwa pelayan ini telah melalu proses kastrasi yang membuat pertumbuhannya tidak seperti seorang pria tulen. Man Yi berkata bahwa tempat ini tidak diperbolehkan terdapat lelaki di dalamnya, tapi Guo Rong hanya terdiam, fokus membacakan mantra penyembuhan.

    Man Yi saat itu terlihat kesal, dan dia mematerialisasikan pedang di tangannya, dan siap menusukannya di punggung Guo Rong.

    “Rong-chan!!”

    Aku berteriak, tapi Guo Rong saat itu tidak mempedulikan apapun selain pelayan yang ada dihadapanya. Ketika pedang Man Yi bergerak, waktu seakan melambat, jarakku masih jauh dengan Guo Rong dan aku tidak tahu mantra apa yang bisa kubacakan untuk mencegah hal ini.

    “Cukup sudah!”

    “Tidak!!”

    Tanpa sadar aku mendorong tanganku, dan saat itu juga angin berkumpul di di telapak tanganku, dan melesat cepat ke arah Man Yi yang langsung terpental jauh. Segalanya penuh dengan spontanitas, dan tanpa ucapan mantra sedikitpun. Aku segera menuju Guo Rong yang kini mukanya benar-benar pucat membiru, darah mengalir dari punggungnya, dan dia hampir mengeluarkan banyak animanya untuk menutup luka, dan mengembalikan darah yang keluar dari tubuh pelayan tersebut.

    “Oh Rong-Chan..”

    Saat itu Guo Rong melepaskan tangannya, dan terlihat bahwa luka pada leher pelayan ini sudah tertutup.

    “Maafkan aku Balthiq, aku telah melanggar janjiku.. dan kini kau..”

    Guo Rong saat itu menatapku, dan air mata keluar dari matanya.

    “Tidak Rong-chan..tidak, kau telah melakukan hal yang benar..”

    Saat itu aku menengok ke arah Man Yi yang kini tengah dikerumuni kawan-kawannya yang mencoba memperbaiki tangannya yang patah. Dia tersenyum menatapku sambil menjilati darah yang keluar dari mulutnya.

    “Oh Balthiq, kau akan menyesali ini.”

    Guo Rong memegang gaunku erat, tangannya bergemetar saat itu, dan aku bisa melihat rasa khawatir di matanya. Matanya hampir menutup saat itu, dan dia sudah hampir kehilangan kesadarannya.

    “Rong-chan.. Aku berjanji bahwa aku pasti akan kembali, besok aku akan mendegar cerita-ceritamu lagi sampe larut, lalu.. aku berjanji akan menceritakan tentang diriku juga. Jadi...”

    “Tidak Balthiq.. oh tuhan.. kau seperti ayahku dulu..”

    Guo Rong mendekapku, menangis, memohon padaku untuk tidak meninggalkan dirinya seperti ayahnya dulu. Air mataku juga turut mengalir, aku tahu bahwa kini diriku sesungguhnya tidak bisa berjanji apa-apa padanya. Aku merasa bahwa kini diriku telah terseret dalam nasib yang sama dengan gadis di taman tersebut.

    “Rong-chan..”

    Saat itu aku sadar bahwa Guo Rong sudah kehilangan kesadarannya.

    Aku segera membaringkan badannya di lantai, dan kini melihat bahwa Man Yi sudah berdiri dengan tangannya yang terlihat sudah baikan. Di tangannya kini terdapat dua pisau, dan kini dia melangkah mendekatiku.

    Saat itu entah bagaimana kita kini telah dikelilingi kerumunan orang yang menyoraki, dan jumlah mereka semakin banyak. Guo Rong masih tergeletak dan tak ada satupun yang menyentuhnya. Aku berharap Li Ling segera kesini, tapi dia bukan tipe orang yang tertarik pada pertarungan, dan aku hanya bisa berharap dia menyadarinya hal ini saat kita tak kunjung kembali ke asrama.

    “Aku takkan terburu-buru, oh Balthiqku sayang..”

    Man Yi terlihat berucap dengan nada canda, dan ia mengeluarkan senyumnya yang terlihat begitu janggal di mataku, dan matanya.. aku tahu dia sangat menikmati hal ini.

    Pada akhirnya ucapan Xiao Lin benar, tidak akan lama sampai aku terseret dalam keadaan ini, dan terdapat perasaan aneh dalam batinku..

    Aku merasa sudah kalah sebelum pertarungan ini dimulai.
     
  19. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Naqoyqatsi Chapter 14 : Little Monster
    [​IMG]
    Terdapat saat dimana kepalaku sangat pening hingga rasanya waktu terasa berhenti. Saat itu rasanya pemandangan disekitarku yang terasa tidak relevan menjadi lebih jelas, sangat jelas. Bau darah yang keluar dari hidungku, lantai yang penuh keringat menjadikan langkahku licin, keringat yang berterbangan membentuk butiran-butiran air, semua orang yang bersorakan, Guo Rong yang kini telah aman berada di samping Li Ling, senyum Man Yi yang menyeramkan dengan tahi lalat kecil di dagunya yang tak pernah kuperhatikan selama ini, dan sedikit darah yang keluar dari kepalan tangan birunya yang kini mengarah ke wajahku.

    Dia bahkan tidak mengeluarkan sihirnya, dan apalagi yang lebih hina dari ini?

    Sihirku, petir, api, dan sebagainya yang sirna begitu saja di hadapannya sebagai tanda kepemulaanku.

    Lalu dia yang menolak memakai sihirnya yang berarti menolak membunuhku lebih cepat, dan bertubi-tubi memberikan pukulannya ke seluruh badanku hingga membuat tangannya biru, dan dengan kepalannya yang sudah terasa mati rasa, badanku juga, begitu pula dengan harapanku.

    “Kau melihat kemana Balthiq!”

    Waktu mulai berjalan lagi, dan persis pada saat itu kepalannya mengenai pipiku, begitu keras hingga rasanya tulang pipiku remuk. Kini aku yakin bahwa mukaku tidak lagi berbentuk. Hidungku yang ia pukul berkali-kali hingga bengkok, kelopak mataku yang membengkak hingga susah sekali untuk melihat, dan gigiku yang rontok berkali-kali dipukulnya.

    Diriku setelahnya terpental ke arah penonton yang segera menangkapku, dan melemparku ke arah Man Yi untuk mendapatkan sekali lagi kepalan tangannya yang mengenai dadaku, hingga rasanya tulang rusukku berbunyi.

    “Kau kini sangat ingin membunuhku bukan?”

    Pertanyaan yang sama ia ucapkan sekali lagi, dan dia selalu marah melihat mataku, seakan seluruh pertanyaannya sudah kujawab : bahwa aku benar-benar berbeda dengannya.

    “..hah..hah..”

    Nafasku sesak, sesak sekali, rasanya udara hanya sampai pada tenggorakanku hingga aku harus menghela nafas dari mulutku.

    “Aku akan membuatmu mengerti Balthiq..”

    Lalu pukulannya melayang lagi ke perutku, hingga membuatku bertekuk lutut. Isi perutku, entah apa lagi yang berada di dalamnya, sekali lagi kukeluarkan.

    “Aku akan mengubah matamu yang hina itu, kemunafikan busukmu itu.”

    Lalu dia menendangku, membuatku terseret jauh di antara lantai yang licin.

    Aku yang kini terlentang mencoba membalikan badanku, mencoba berdiri, namun darah memenuhi hidungku hingga aku terpaksa menekuk mukaku ke lantai, dan darah mengalir denga deras. Beberapa saat aku bisa melihat diriku di antara genangan darah tersebut, sosok asing, buruk rupa, aku bahkan tidak mengenalnya lagi.

    “Balthiq..”

    Suara familiar tersebut, Li Ling. Aku ternyata terseret ke arahnya yang kini tengah mendekap Guo Rong, mencoba mengobati punggungnya. Ketika diriku mencoba melihat ke arahnya, dia langsung memalingkan wajahnya. Dia menjauhiku bahkan hingga melepaskan Guo Rong.

    “Li Ling..”

    Ketika itu dia menutup mulutnya, dan seakan aku bisa merasakannya, bahwa dia tidak tahan melihatku, apa aku seburuk rupa itu? Apa dia takut bahwa aku akan menyeretnya dalam keadaan menyedihkan ini? Rasa pedih muncul dalam hatiku yang seketika membuat sensasi mengejutkan muncul. Mati rasa itu telah hilang, kepalaku terasa lebih jelas, dan Man Yi yang kini berjalan perlahan ke arahku membuat air mataku keluar.

    Hatiku meledak, aku takut, oh tuhan, aku takut! Li Ling... Li Ling!!

    Tanpa sadar rasa takutku muncul, sesuatu yang rasanya hilang selama ini. Tanganku segera mencoba menyeret tubuhku mendekati Li Ling dan mencoba menggapainya. Aku tidak tahu lagi, aku merasa tidak bisa lagi menerima pukulannya.

    Ya, Aku butuh bantuan, aku butuh bantuanmu Li Ling..

    “Li Ling tolong..”

    Li Ling menggelengkan kepalanya, dan kini ia menatapku, dan aku bisa melihat matanya yang merah, dan air matanya yang mengalir deras.

    “Maafkan aku Balthiq.. maafkan aku..”

    “Li Ling!! HUAAA!!”

    Man Yi menarik rambutku, menyeretku ke tengah-tengah. Kini senyumnya muncul melihatku, dia tertawa terbahak-bahak hingga menekuk mukanya ke atas sambil menutupnya dengan tangannya yang telah berlumuran darah. Dia melihatku lagi, dan aku bisa melihat terdapat air matanya yang keluar.

    “Ada apa? Kau kecewa bahwa sahabat barumu tidak ada niatan sama sekali untuk menolongmu? Dan kini kau sudah waras kembali.”

    Jantungku berdetak kencang, dia melepaskan jambakannya, dan aku berusaha menyeret tubuhku kebelakang menjauhinya.

    “Kau harus lihat matamu itu Balthiq, oh tuhan, akhirnya aku bisa membuatmu hidup. Tapi bukan ini yang kuharapkan, dan oh Balthiqku sayang..”

    Dia mematerialisasi tombak pada tangannya, memutar-mutarkannya, dan kini mengarahkannya padaku.

    “Aku sungguh kecewa denganmu Balthiq..”

    “Ahh...ahh..”

    Lalu bilah tajam tombak itu memasuki perutku, secara perlahan, dan darah keluar secara deras.

    Aku memegang tombak tersebut, mencoba menariknya keluar, dan Man Yi akan lebih keras lagi menusuknya.

    “Bisa kau rasakan itu Balthiq? Beberapa menit lagi, dunia akan terasa berputar ketika darah mulai turun dari kepalamu, kau akan bernafas lebih kencang dari biasanya, lalu perlahan, kau akan kehilangan badanmu secara perlahan-lahan, tanganmu, kakimu. Kau akan terbawa dalam masa lalumu, lalu..”

    Tanpa sadar bibir Man Yi bergerak begitu lama, dan sekali lagi waktu berjalan lambat. Suaranya perlahan menghilang dari mulutnya, dan pandanganku buyar tenggelam dalam imajinasiku.

    “...”

    Seketika aku mengingat ibu, ayah, Lushan, Guo Rong, Li Ling..

    Lalu aku mengingat betapa putus asanya diriku kini.

    Lalu aku merasa panah pernah menembus kepalaku, dan aku tahu, bahwa aku hidup lebih lama daripada waktu yang seharusnya.

    Saat itu benakku berteriak, Ada apa? Perasaan apa ini?

    Ya, seharusnya aku telah mati. Aku benar-benar mengingatnya, bagaimana rasanya ketika panah itu menusuk kepala lewat mataku, dan seketika aku terombang-ambing dalam lautan luas, lalu tenggelam menyatu, damai, tenang, kehilangan segalanya.

    Tapi...

    Aku tidak merasa menjadi diriku. Aku bukan lagi Balthiq saat itu, dan aku takut, benar-benar takut.

    Lalu aku sadar kembali, melihat bibir Man Yi bergerak secara perlahan.

    “Guo Rong temanmu itu, aku berjanji bahwa selanjutnya dia akan mengalami hal yang sama denganmu, aku akan mengubahnya, kemunafikan dan kenaifannya. Kau dengar itu Balthiq!?”

    Tiba-tiba kepalaku panas, dan diikuti gemertak gigiku yang tersisa. Seketika matanya melihat ke Guo Rong, ku pegang erat tombaknya yang terbuat dari besi kokoh, dan tanpa sadar aku mengucapkannya.

    “Jalang!”

    “Hah?”

    “Aku akan membunuhmu!”

    Lalu Man Yi terpental ketika sihir petirku mengalir lewat tombaknya ketika ia lengah.

    Aku segera mengeluarkan sihir keduaku, kabut tebal, membuatku terpisah dari Man Yi. Aku sama sekali tidak sadar bahwa aku masih punya kekuatan untuk melakukan ini.

    “Ahh...Ahh!!!”

    Aku mencabut tombak tersebut dari perutku yang kusadari, Man Yi tidak tepat menusukannya pada bagian vital tubuhku, membuatku masih bisa berjalan walau darah mengalir deras setelah tombak tersebut kulepaskan. Aku berjalan memegangi perutku, berharap dengan demikian darah tersebut bisa kutahan, walau rasanya sangat perih, perih sekali.

    “BALTHIQ!!!”

    Suara marah Man Yi keluar, dia berteriak sangat kencang hingga bulu kudukku berdiri.

    “Kau.. Hahaha.. Ya, mata itu, akhirnya kau sadar bukan?”

    Aku berjalan terseret-seret dan menyadari darah telah mengalir deras dari perutku. Saat itu perihal mudah untuk Man Yi berlari mengejarku, dan dia tidak melakukannya.

    “Kau akhirnya..”

    Akhirnya? Tanpa sadar aku menengok ke arah suara tersebut.

    “Kau telah menjadi kita!”

    Seketika teriakan Man Yi tersebut, panah melewati kepalaku, dan meleset. Dia bisa mendengar suara langkahku dan menebak keberadaanku. Aku terlalu takut pada fakta bahwa panah tersebut hampir mengenai kepalaku, dan gagal paham tentang apa yang dibicarakan Man Yi.

    “Dan kau tahu betapa mudahnya aku membunuhmu? Oh Balthiq, harusnya panah itu secara tepat mengenai kepalamu.”

    Dia sengaja untuk tidak mengenainya? Aku segera bergerak menjauh, dan kembali panah-panah melewatiku. Tipis, melewati helai rambutku, diantara kakiku, dia benar-benar membuatnya tidak mengenaiku, menunjukan bahwa nyawaku benar-benar di tangannya.

    Apa alasannya? Aku bisa mati kapan saja saat ini. Mengapa dia tidak ingin membunuhku segera? Tapi aku tak punya waktu untuk memikirkannya, dan tetap berjalan menjauhinya, entah apa yang kini kuusahakan.

    “...”

    Pandanganku rasanya mulai berputar, sesekali aku muntah, dan berjalan lagi sempoyongan, jatuh, dan berdiri lagi.

    Kini diriku berada diantara teriakan Man Yi yang berjalan mengikuti jejak darahku, dan teriakan orang-orang yang merasa kecewa karena tidak bisa menyaksikan ini. Kebisingan ini benar-benar membuatku lelah hingga membuatku menutup telinga sambil berjalan.

    Lalu rasanya kakiku mulai mati rasa hingga aku jatuh kelantai, dan kini mencoba menyeret badanku di antara pilar-pilar besar. Terduduk, dan masih mencoba menutup luka dengan tanganku walau kurasa memang percuma, semua gerakan dan usaha untuk melarikan diri membuat lukaku semakin deras. Mantra penyembuhpun tidak sama sekali membantu karena usaha terakhirku tadi benar-benar menghabiskan seluruh kekuatan ruhku.

    “Kau tahu, rasa sakit sesungguhnya sangatlah baik untukmu, bukti bahwa tubuhmu berteriak untuk tetap hidup, memaksamu takut, berlari, berlari dariku. Oh Balthiq, mengapa aku begitu menikmati ini?”

    Ucapan itu.. apa aku pernah mendengarnya?

    Kalau tidak salah mimpi itu.., lalu Guo Rong saat itu membangunkanku. Apa aku selamat pada saat itu? Mimpiku harusnya berakhir saat ini juga.

    Seseorang melihatku, berteriak sambil menunjuk tempat keberadaanku. Tanpa darah, nyatanya seluruh tempat ini akan memberitahu Man Yi dimana aku berada.

    “Ahh, Balthiq.. disitu kau rupanya..”

    Dia menemukanku. Lalu tepat pada saat itu rasanya kelopak mataku tidak bisa membuka lagi, walau aku benar-benar beusaha.

    Lalu seseorang menggoyangkan badanku.

    Semoga semua ini hanya mimpi, Guo Rong berada di sampingku, dan aku sedang berada di kelas tertidur.

    ***

    “Bangun Balthiq..”

    Ketika mataku terbuka, bukanlah pemandangan kelas yang kudapatkan dengan guru yang memegangi pinggangnya dengan muka kesal, melainkan tempat yang gelap, basah dengan genangan air, lembab, dan suatu sosok punggung terang yang berada di hadapanku, dengan sayapnya yang besar, dan ekornya yang panjang. Suara yang membangunkan itu jika kudeskripsikan adalah suara yang berat, dan bukanlah suara seorang manusia. Ucapannya tersebut diikuti suara nafas yang berhembus kencang.

    Apakah aku telah mati?

    “Ini bukan neraka, dan kau belum mati.”

    Sosok punggung tersebut membalikan badannya. Sosok pria telanjang tanpa paras wajah, rata seperti dinding yang kosong. Kini dia mendekatiku, dan langkahnya besar di antara genangan air membuat gelombang besar setiap kali ia seret kaki tersebut di antaranya.

    “Kau pasti berpikir, siapa sosok yang berhadapan denganmu kini?”

    “Monster..”

    Tanpa sadar mulutku terbuka, aku bahkan tidak benar-benar memikirkannya.

    “Kau mengucapkannya tanpa sadar bukan?”

    Aku menganggukan kepalaku lalu menunduk ketakutan. Ketika itu juga aku sadar bahwa seluruh badanku kini hitam, benar-benar hitam hingga aku tidak benar-benar yakin dengan apa yang kulihat, apa hitam memang seperti ini?. Namun hal yang kini kusadari, aku tidak terluka saat ini.

    Dan saat itu, sosok tersebut berbicara lagi padaku.

    “Kau latah karena sensor represi kesadaranmu kini begitu lemah, mungkin karena apa yang wanita itu lakukan padamu.”

    Sensor? Represi?

    “Tapi tentu itu sama artinya dengan apa yang benar-benar kau pikirkan saat melihatku, dan ya, monster, kau benar Balthiq.”

    Dia mengibaskan sayapnya, dan rasanya angin yang luar biasa mencoba menghempasku, namun sesuatu di kakiku menahan badanku untuk terhempas dari tempat ini.

    “Naga merah yang agung, monster agung dari kreativitas manusia. Aku benar-benar menyukainya hingga memakai sosok ini untuk menemuimu, monster kecilku.”

    Monster kecilku? Apa yang dia maksud? Mengapa cara bicaranya aneh sekali?

    “Kau dewa bukan? ”

    Sekali lagi ucapan itu keluar tanpa kusadari. Aku benar-benar tidak memikirkannya, apa ini ucapan ini benar-benar dariku? Tapi tentu aku akan berpikir seperti demikian, dari cara bicara yang ekstrinstik, dunia buatan dan pengetahuan seperti berada dalam masa yang berbeda karena mereka yang tidak terkekang pada batasan waktu, jelas adalah ciri-ciri dewa yang akademi sering bicarakan.

    “Ya, dan sepertinya tidak. Aku bertemu dengan adikmu yang dengan beraninya menyebut kita sebagai sekedar elemen yang bisa berbicara.”

    “Lushan?”

    Dia mengenal Lushan? Urusan apa Lushan berbicara dengan para dewa. Semakin lama aku merasa absurd, dan lupa dengan masalahku sebelumnya, bahwa aku sedang sekarat sekarang.

    “Aku dewa yang menjaga daya tarik antar materi, menjaga keseimbangan ruang waktu. Lebih mudahnya, aku yang membuat batu jatuh ke tanah, dan manusia di masa depan menyebutku gravitasi.”

    “Kau yang membuat orang terjatuh.”

    “Ya, tapi lebihnya lagi, aku yang membuat air pasang, membuat bumi mengitari matahari, dan menjaga seluruh alam semesta berputar.”

    “Tapi matahari yang mengitari bumi.”

    Semua ucapan yang spontan kukeluarkan tanpa terpikirkan sama sekali, dan tahu apa aku dengan apa yang dewa ini ucapkan? Aku bahkan tidak tertarik sama sekali.

    “Geosentris! Kebenaran memang selalu berubah seiring berjalannya sejarah bukan?”

    Aku benar-benar harus mengakhiri perbincangan ini. Saat kita berbicara, apa yang tengah Man Yi lakukan? Jika dewa mengajakku kesini, maka satu-satunya tujuan itu adalah dia ingin membantuku. Tapi pertanyaan baru muncul, mengapa? Mengapa pada momen ini dia mengajakku kesini? Mengapa dia ingin membantuku? Apakah karena aku seorang Ashide? Apa ini ada urusannya dengan Lushan?

    “Apa kau sadar bahwa kau baru saja mengucapkannya?”

    “Apa?”

    “Pikiranmu.”

    Dan aku sadar bahwa mulutku benar-benar terbuka lebar, dengan lidah yang bergerak setiap kali pikiranku keluar, bahkan saat ini juga.

    “Jika kau dewa tolonglah aku!”

    Aku benar-benar tidak bisa menahannya, segalanya keluar dari mulutku.

    “Aku ingin membunuhnya, membunuh wanita jalang tersebut!”

    Ucapan itu, apa ini benar-benar apa yang kupikirkan, kata-kata kasar itu? Tidak, pasti ada suatu kehendak yang mengambilnya!

    “Aku ingin benar-benar menghancurkan wajahnya, merontokan giginya, menunjukan wajahnya ke genangan darahnya sendiri. Aku ingin melakukan apa yang ia lakukan padaku.. tidak, lebih buruk!”

    Hentikan..

    “Aku ingin membunuhnya pelan-pelan hingga ia tahu bahwa arwahnya telah sampai pada tenggorokannya.”

    Hentikan.. hentikan..

    “Lalu kugorok kepalanya! Kugantungkan kepalanya agar semua melihat bahwa mereka tidak akan bermain-main denganku! Bahwa aku, Ashide, berada di atas mereka, puncak rantai yang mereka bicarakan itu. Oh dewa tolonglah aku!”

    “Ah.. aku ingin, ingin sekali membunuh orang-orang yang menyoraki, binatang-binatang itu.”

    “Lalu.. Li Ling..”

    Hentikan semua ini!!

    “Ya, aku akan menolongmu mewujudkan itu semua. Kontrak kita telah dibuat sekarang.”

    Tidak, aku tidak mengucapkannya, aku.. aku tidak ingin membunuh Li Ling.

    Dewa ini pasti telah bermain dengan pikiranku!

    “Tidak Balthiq, itu semua apa yang benar-benar kau inginkan. Id mu, benar-benar dari lubuk hatimu.”

    Tidak, tidak mungkin..

    “Tapi aku ingin kau memahami apa yang benar-benar kau katakan.”

    Dewa tersebut menyentuhkan jarinya ke kepalaku, dan membuatku jatuh ke dalam genangan air. Tiba-tiba rasanya aku tenggelam di antaranya, dalam sekali, dan gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa.


    ***

    “Sebagai pengawal kisah, aku akan berkata bahwa kalian memiliki sifat naluriah, ego, dan moral. Rantai moral mengekang dua hal tersebut. Kedipkan matamu Balthiq.”

    Aku mengedipkan mataku, dan tiba-tiba diriku telah berada di tempat lain. Sebuah ruangan, dengan lantai yang merupakan papan kayu, kasur, dan pintu geser dengan celah-celah yang ditutupi kertas. Sosok bayangan muncul dibalik pintu tersebut, sosok kecil dan besar, dan kini memasuki ruangan ini.

    “Anak sialan, berapa kali kuucapkan untuk tidak bermain diluar!”

    Seoorang pria memarahi anak gadisnya. Aku bisa melihat bekas tamparan pada pipi gadis tersebut.

    “Kenapa? Kenapa saat anak-anak lainnya boleh keluar aku tidak boleh?!”

    Gadis ini memakai baju anggota kekaisaran, aku tahu itu dari motif gaun sutra itu yang sering ibu kenakan. Rambutnya terikat, dan tahi lalat di dagunya, aku seperti mengenalnya.. Man Yi?

    “Kenapa? Bukankah aku sudah mengucapkan berkali-kali padamu? Karena kau adalah seorang suku bar-bar!”

    Ayahnya berbadan besar, kekar. Dia seorang china karena matanya yang sipit. Suaranya berat dan keras sekali sampai membuat bulu kudukku berdiri. Telapak tangannya sangat besar, dan aku tak bisa menyangka bagaimana dia menampar gadis sekecil ini?

    “Lalu ada apa dengan itu?”

    “Keras kepala!”

    Dia menampar anaknya begitu keras, menghempasnya hingga kepalanya terbentur meja. Aku segera berlari menuju anak tersebut mencoba memegangnya, namun sosokku menembus badannya, dan kini aku menyadari bahwa diriku tidak benar-benar berada disini.

    “...”

    Anak tersebut menatap ayahnya. Hidungya mengalir darah, dan juga kepalanya yang terbentur sisi tajam meja tersebut.

    Tatapannya marah, dan sang ayah seperti terhina oleh tatapan tersebut.

    “Kau.. kau.. kurang ajar..”

    Dia mendekati anaknya, dan anak tersebut mencoba menjauhi ayahnya namun ketika dia merangkak, sang ayah menarik rambutnya.

    “Ahhh!!”

    “Aku akan mengajarimu anak sialan!”

    Tanpa sadar diriku bergerak, marah, mencoba memegang pundak pria tersebut dan tahu bahwa semua ini hanya sia-sia saja. Apakah aku hanya bisa melihat? Rasanya ini benar-benar salah. Aku akhirnya hanya bisa menutup mulutku, mencoba menahan tangisku mendengar teriakan sang anak yang kesakitan. Saat itu dia menarik dan menyeretnya begitu keras. Beberapa rambutnya lepas bersama kulit yang berada di kepalanya.

    “Ayah! Ayah!! Maafkan aku.. tolong..”

    Aku mengikuti mereka keluar dari ruangan, dan menyadari bahwa tempat ini memang adalah komplek kerajaan. Di kejauhan aku bisa melihat seorang wanita yang menangisi anak tersebut, dan terlihat bahwa dia adalah ibunya, seorang suku bar-bar. Matanya ketakutan, kakinya penuh gemetar dan terlihat tidak bisa melakukan apa-apa walau anak gadis kecil yang tengah diseret ini adalah anaknya sendiri. Mungkin dia takut dengan suaminya, tapi adakah alasan seorang ibu untuk tidak melindungi anaknya? Apa ia pikir anak ini pantas mendapati hal ini.

    Aku marah, rasanya ingin berteriak tapi tidak memiliki mulut, mereka semua tidak bisa mendengarkanku.Saat itu sang ayah menyeretnya hingga menuju ke arah gubuk yang gelap tanpa jendela, dan panas sekali karena matahari tepat mengenai gubuk tersebut.

    “Ayah aku takut... Ayah!”

    “Ini tempat untukmu sementara ini, bersama dengan kotoran dan kencingmu. Aku tidak akan memberimu makan dan minum di tengah terik panas ini! dan oh, jika saja ada pelayan atau ibumu yang berani melakukan itu, aku akan memberikan mereka yang terburuk. HEI KALIAN SEMUA DENGAR ITU!”

    Anak gadis ini memegangi kaki ayahnya meminta ampun, dan sang ayah menendanginya, membuatnya semakin masuk ke dalam kegelapan ini. Ketika itu sang ayah menutup pintunya, dan celah-celah cahaya semakin lama menutup.

    “...”

    Gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa.

    “...!”

    Tiba-tiba terdapat suatu sorot cahaya mengarah pada anak gadis ini yang kini terlihat duduk menekuk lututnya, tentu ini perbuatan dewa.

    Dia menangis dengan lamanya, menggedor pintu gubuk, mencakarkan kukunya sambil berteriak meminta tolong, dan akhirnya berhenti setelah beberapa jam kelelahan.

    “...bunuh..”

    Dia mulai bergumam sesuatu, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena dia berbicara sambil berbisik. Aku mendekatkan telingaku, dan tiba-tiba dia menaikan wajahnya ke arahku, membuatku benar-benar kaget hingga terjatuh.

    “Aku akan membunuhnya!”

    Matanya melotot, dan aku bisa melihat sesuatu muncul dari dahinya.

    Tanduk.

    Kecil, tapi jelas bahwa itu tanduk yang muncul pada dahinya.

    “Aku akan membunuhnya, bunuh, bunuh..”

    Matanya yang melotot membutku ngeri sendiri, dengan rambutnya yang berantakan, darah yang mulai mengering dari dahinya, dia terus bergumam hal yang sama terus menerus, dan tidak terasa tanduk itu semakin jelas terlihat dari dahinya membentuk ujung yang tajam.

    “Kita kebagian selanjutnya, kedipkan matamu Balthiq.”

    Dan aku mengedipkan mataku.

    ***

    Dalam kedipan dunia sudah berubah lagi, kini aku duduk di meja makan bersama keluarga tadi. Ruangan ini redup, dengan pencahayaan seadanya dan atmosfir yang terasa aneh sekali. Si gadis kecil kini duduk di ujung, sang ayah yang tersenyum sambil menggulung-gulungkan jenggot panjangnya dengan jemarinya, sang ibu yang matanya sembab melihat anaknya dengan wajah khawatir, dan lelaki gendut tua yang terlihat tersenyum genit duduk di ujung lainnya. Si gadis menunduk dengan keringatnya yang keluar deras, dan aku tahu bahwa dia merasa canggung.

    “Jaga sikapmu, jangan menunduk seperti itu!”

    “Ayah..”

    Dia menegakan mukanya, dan aku bisa melihat bahwa gadis ini tidak menyukai pria yang berada di hadapannya.

    “Aku tidak ingin..”

    Sang ayah berdiri mendobrak mejanya, dan pria tua gendut itu ikut terbangun dari kursinya.

    “Tidak apa, aku tahu apa yang dia ragukan. Tapi aku berjanji, dia akan terbiasa.”

    “Ya, semoga saja seperti itu, anak tidak tahu diuntung.”

    Aku bingung sama sekali, sebenarnya apa yang terjadi disini? Saat itu gadis tersebut menangis, dan sang ayah sepertinya sangat berusaha untuk menahan amarahnya. Pria gendut itu mendekati sang ayah, berbicara dengan jelas hingga terdengar olehku yang jauh dari mereka.

    “Aku tidak ingin kau merusaknya, kau dengar itu.”

    “Baik..”

    Sang ayah yang kekar itu menunduk ketakutan pada pria tua gendut tersebut, dan lalu pria tersebut mengampiri gadis kecil tersebut yang sekali lagi menekuk mukanya ke lantai. Dia mengambil dagunya, membuat gadis tersebut menatap matanya langsung.

    “Tersenyumlah Man Yi, karena saat kita tinggal bersama, aku tidak ingin istriku bersedih seperti ini.. aku akan.. memaksamu tersenyum, kau mengerti?”

    Man Yi? Benarkah dia Man Yi?! Lalu istri, apakah tidak sinting seorang ayah menikahkan gadis kecil seperti ini pada pria tua yang rasanya sudah hidup setengah abad ini? Tapi selama pikiran ini berlangsung, aku juga mulai berpikir apa yang dewa inginkan dengan melihatkanku masa lalu Man Yi.

    Tanpa sadar, aku melihat tanduk di dahi Man Yi terlihat lagi, kini lebih panjang dari sebelumnya, dan bahkan terus memanjang. Ketika pria tersebut meninggalkan Man Yi, aku bisa mendengarnya, suara hati Man Yi yang mengutuk lelaki tersebut, ayahnya, ibunya.

    “Sialan, sialan, sialan, sialan..”

    Terus dan terus hingga kedua orang tua meninggalkan tempat makan tersebut, Man Yi terus terduduk menekuk mukanya dengan tatapan mengerikannya ke arah lantai yang kosong.

    “...!”

    Lalu saat aku mengedip, tiba-tiba aku sudah berada di tempat lain lagi, kamar, dengan Man Yi yang menggunakan gaun putih pernikahan, dan pria gendut tersebut yang kini bertelanjang dada mendekap Man Yi.

    Tatapan Man Yi kosong ketika pria tersebut membuka gaunnya, meraba tubuhnya yang masih kecil, mencoba meremas dadanya erat yang sesungguhnya belum ranum, menciumi lehernya, dan.. aku tidak mau tahu lagi apa yang terjadi setelah ini. Aku langsung menutup mataku, tidak tahan melihat pemandangan menjijikan ini, dan dari celah jariku aku bisa melihat tanduk hitam kusam yang sangat besar keluar dari dahi Man Yi.

    “Ah..ahh.. agh!”

    Tiba-tiba pria itu terlihat terkejut dalam desahannya, dan setelah itu dia tidak lagi mendesah.

    “Aghhh!! AGHHH!!!”

    Dia berteriak, dan segera saat aku membuka mataku, terdapat puluhan pedang menancap pada punggungnya.

    Mata Man Yi terbuka lebar, melototi pria tersebut yang berteriak panik sampai satu tangan Man Yi menutup mulutnya, dan satu tangannya yang lain mengenggam sebuah pisau dan segera menancapkannya ke bagian samping kepala.

    Pria tersebut diam, matanya bergerak tidak teratur, darah keluar dari hidungnya, mulutnya terbuka lebar mencoba menghela nafas dan ketika Man Yi melepas pisau tersebut, sang pria seketika jatuh menimpa Man Yi.

    “Tidak..tidak..”

    Tatapan Man Yi kembali normal, dan dia terlihat benar-benar ketakutan.

    “Kyaaaa!!”

    Lalu dia berteriak kencang-kencang, dan akhirnya para penjaga masuk melihat tuannya yang kini berlumuran darah. Saat itu pedang-pedang tersebut menghilang, begitu pula pisau di tangan Man Yi. Mereka para penjaga kebingungan, dan akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan Man Yi yang kini berlumuran darah dan kesusahan untuk berjalan setelah keperawanannya diambil oleh pria tua tersebut. Kebingungan, akhirnya mereka segera menyimpulkan bahwa terdapat pembunuh bayaran ahli yang menyelinap masuk, terutama karena pria tua tersebut terlibat dalam intrik politik kerajaan.

    “...”

    Mata Man Yi masih terlihat shock, dan badannya penuh dengan gemetar. Saat itu tanpa sadar tanduk dari kepala Man Yi sudah menghilang entah kemana.

    Kemudian aku mulai berpikir tentang tanduk tersebut, apakah sebenarnya kulihat? Apakah ini ada hubungannya dengan itu semua?

    Lalu ketika orang tua Man Yi datang, sang ibu langsung memeluk sang anak yang ketakutan, meminta maaf karena menikahkan paksa dirinya. Tapi tidak dengan sang ayah yang terlihat ketakutan melihat wajah Man Yi. Dia menunjuk pada anaknya, dan berteriak.

    “Kau! Pasti kau bukan! Anak terkutuk!”

    Lalu dibalik pelukan ibunya, Man Yi menatap ayahnya, dan seketika aku maupun sang ayah merasakan gemetar pada bulu kuduk kami.

    Man Yi tersenyum saat itu.


    ***


    Sang dewa membawaku ke banyak peristiwa yang dialami Man Yi, bagaimana dia membunuh ayahnya yang hampir melukainya kembali, bahkan ibunya, bagaimana dia lolos dari itu semua dengan kepintarannya melewati pengadilan, bagaimana dia masuk dalam akademi sihir dan melakukan duel pertamanya, lalu banyak lagi pertarungan, pembunuhan yang membuatnya menjadi petarung tingkat tinggi di akademi. Man Yi benar-benar berubah menjadi sosok yang mengerikan, berdarah dingin, bahkan aku tidak bisa melihat lagi ketakutan saat dia melakukan pembunuhan keduanya.

    Lalu pada kedipan terakhir, aku kembali dalam dunia sang dewa yang gelap, dan dia sudah menungguku di kursi.

    “Apa kau masih ingin membunuhnya?”

    “Tidak..”

    Tiba-tiba saja tidak lagi terlintas lagi pikiranku untuk melakukan hal keji pada Man Yi. Aku kini paham bahwa sosoknya kini dibentuk oleh tragedi demi tragedi, lahir pada lingkungan yang memiliki hastrat untuk menyiksa dan membunuhnya. Man Yi lolos dengan penuh perjuangan, yang membuat mentalnya terluka, dan menjadikannya sosok seperti sekarang.

    “Kini kau tahu kenapa dia ingin membunuh pria di tempat itu?”

    “Dia membenci pria karena apa yang mereka lakukan padanya..”

    “Ya, ada dua cara untuk menghadapi keresahan oleh rasa trauma masa lalu, menerimanya, atau menghancurkannya. Dia mengambil langkah destruktif dalam hal itu, dan kau tahu bahwa lelaki tidak diperbolehkan berada di akademi? Dia menggunakan itu untuk pembenaran tentang apa yang dilakukannya, bahwa itu tidak berlawanan dengan moralitas yang ada di akademi kini kau diami.”

    “...”

    “Monster didalam dirinya tumbuh dan terus tumbuh besar dalam alam bawah sadarnya, dan ketika dia telah sampai batas kewarasannya, sosok tersebut mengambil alih tubuhnya, dan menjadi kesadaran dominan dalam gadis tersebut.”

    Saat ini aku tetap tidak ingin membenarkan hal ini. Kebenciannya terhadap lelaki , pembenaran, dan sebagainya kupikir jelas adalah hal yang salah. Tapi tetap, perasaan ini berbeda dengan keadaan ketika pertama kali aku bertemu dengannya, aku tidak lagi bisa membencinya.

    “Aku sedikit melihat memorimu, dan apa kau menyadari sesuatu ketika dia menyeretmu masuk ke dalam kelompoknya, ketika kau merasa diusili? Lalu juga ketika dia mengajakmu sekali lagi ketika mereka ingin mengeksekusi pria tersebut?”

    Aku menggelengkan kepalaku, saat itu kupikir tidak ada maksud khusus tentang apa yang dilakukan Man Yi kepadaku.

    “Dia melihat sesuatu darimu Balthiq, refleksi sosok dirinya. Dia ingin menjadikanmu kawan, membentukmu menjadi dirinya, dan dia sangat kecewa ketika kau menyerangnya, tanda bahwa kau menolak.”

    “Refleksi?”

    “Bahkan dalam pertarungan itu dia masih berusaha untuk membentukmu, dan dia berhasil Balthiqku sayang, lalu karenanya kini aku memanggilmu.”

    Rasa merinding muncul dari bulu kudukku ketika dewa tersebut menyebut ‘Balthiqku sayang’. Nadanya berubah menjadi terdengar menggodaku dan dia mendekatiku.

    “Aku ingin menyadarkanmu bahwa Man Yi telah merusak ikatan moral yang mendekap naluriahmu, dan kini aku memperlihatkanmu bentuk baru, empati, kekuatan yang lebih kuat dari ikatan moral yang muncul dari perasaan. Ironi adalah karena empati muncul dari perasaan setara, wujud monster yang sama, bahwa kau merasakan hal yang sama persis dengan dirinya. Kau tidak benar-benar sadar karena semua itu tersembunyi dalam alam bawah sadarmu.”

    “Aku tidak mengerti maksudmu.”

    “Monster juga telah tumbuh besar dalam alam bawah sadarmu Balthiq, dan monster tersebut sangat cantik dan agung.”

    Tiba-tiba sang dewa menggerakan tangannya, dan muncul kotak-kotak bersinar yang memperlihatkan peristiwa-peristiwa yang dialami Man Yi, lalu dia menggerakan tangannya lagi dan wajah Man Yi berubah menjadi diriku.

    “Apa maksudmu..”

    Lalu dia menggerakan tangannya lagi, dan lingkungan Man Yi berubah menjadi lingkungan yang persis dengan lingkunganku. Aku melihat diriku bekerja di tempat roti dan mereka melempar piring hingga kepalaku hingga berdarah. Saat anak-anak melemparkan batu padaku yang baru pulang. Ketika rambutku ditarik dan dipukuli habis-habisan oleh Man Yi. Lalu.. satu kotak terasa asing bagikum dan aku tidak tahu apa yang kulihat.

    “Kau ingat represi yang kuucapkan, ketika kau benar-benar menekan ingatanmu dalam-dalam ke alam bawah sadar.”

    Mereka para pekerja di tempat roti itu menyeretku, membuka bajuku, lalu..

    “Tidak! Kejadian ini tidak pernah terjadi padaku!! TIDAK, TIDAK, TIDAK!!”

    “Kau menyangkalnya Balthiq, dan kini kau terus berusaha mensugesti dirimu sendiri dengan teriakan itu, histeria.”

    Tanpa sadar tanduk muncul dari kepalaku, dan aku mencoba menahannya keluar, tapi tanduk tersebut tidak berhenti tumbuh. Saat itu suara dari kotak itu keluar, suara desahan, dan suara itu muncul dari mana-mana, atas, bawah, bahkan di kepalaku sendiri, bahkan dimulutku sendiri!

    Aku segera menutup mataku, menutup kupingku, tapi seakan terdapat mulut dalam telapak tanganku. Suara itu keluar dari mana-mana.

    “Karena itu Balthiq, aku akan memutuskan rantai yang mengekangmu.”

    Tiba-tiba aku merasakan tangan dewa yang memegang pundakku, dan aku segera mencoba melepaskannya kemudian berlari.

    “Oh Balthiq, seperti bagaimana kau ingin berteriak sekencang mungkin tapi tuhan tidak memberimu mulut, bagaimana kau bisa lari dari duniaku?”

    Tiba-tiba kakiku terlekat di bawah genangan air, dan membawaku berhadapan dengan dewa tersebut yang terlihat sangat mengerikan. Sayapnya terbuka lebar, api keluar dari kepalanya, dan setiap hembusan nafasnya mengeluarkan asap. Ketika itu dibaliknya terdapat satu kotak yang memperlihatkanku satu lagi kejadian yang tidak kuingat, saat aku membunuh banyak orang dan sebuah panah tertancap di mataku.

    Aku jelas-jelas mati di kotak tersebut.

    “Tahan nafasmu Balthiq.”

    Dia memegang kepalaku, dan menceburkannya ke genangan air. Saat itu noda hitam keluar dari wajahku seperti tinta yang masuk ke dalam air. Lalu dewa menarik kepalaku keluar.

    “Kau telah terlahir kembali.”

    Lalu sebuah kaca besar muncul dihadapanku, noda di wajahku menghilang, memperlihatkan wajahku dari kegelapan yang mengelilingi tubuhku. Saat itu aku bisa melihat bahwa terdapat panah menancap pada mataku, dan tanduk hitam pekat panjang yang sudah berhenti tumbuh. Wajahku terlihat jelas dari noda hitam yang mengelilingi badanku, dan dari punggungku keluar sepasang sayap, sayap yang besar berwarna hitam pekat.

    "..."

    Tanpa sadar aku tersenyum, senyum yang mirip sekali dikeluarkan oleh Man Yi ketika menatap ayahnya.

    “Oh, monster kecilku.”

    PDF Version : https://drive.google.com/file/d/0B57BXZgBlWaMc2RJZDBqY0duZEk/view
     
  20. liopolt09 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 5, 2010
    Messages:
    32
    Trophy Points:
    7
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Naqoyqatsi Chapter 15: Elegia
    [​IMG]


    Elegia

    Kaca itu muncul di hadapanku. Kusam, dengan retakan pada sisi kiri dan kanannya. Ketika itu senyumku muncul dari sisi kiri, melebar sampai pinggir pipiku. Matanya juga, berkedip seperti bermain dan menggodaku dengan alisnya yang menukik ke atas. Tapi itu bukanlah aku, tetapi sesuatu yang merasukiku, menyelinap di antara kulitku, menyerupaiku. Aku bisa melihat sosok jahat dari ekspresi yang dia keluarkan, dan kini dia mengambil alih tubuhku.

    “Hahaha, apa yang kau pikirkan? Aku bukan dirimu?!”

    Dia tertawa hingga menekuk badannya dan memegang perutnya. Apa yang lucu dari semua ini?

    “Aku adalah kamu Balthiq, kita adalah dua sisi dari koin yang sama!”

    Dia bisa mendengar pikiranku!

    “Ya, karena ini kepala kita.”

    Tidak, siapa kau?

    “Bukankah dewa sudah menjelaskannya? Aku selalu berada disisimu seperti bayangan. Kau selalu menahanku, menolak keberadaanku. Nafsumu, kebencianmu, kesombonganmu. Tetapi mengelak bukan berarti semua itu tidak ada, kenyataannya adalah hal itu muncul dalam batinmu dan kau menyimpannya di dalam lubuk hatimu.”

    Kau tidak nyata, kembalikan tubuhku..

    “Tidak Balthiq, aku nyata, lebih nyata darimu. Aku yang kau selalu timbun, bertubi-tubi hingga menggunung. Kau hanya tidak sadar, segala pilihanmu ketika kau berlari, menyerang, berteriak, semuanya adalah aku Balthiq, kalbumu. Tapi kau menyangkalnya, menganggapku tidak ada.”

    Aku takut. Ketika itu rasanya pandanganku buyar. Mata kananku mulai mengedip di kaca tersebut, dan itu bukan kendaliku.

    “Bukankah kita sudah bertemu kematian, kehilangan kesadaran, dan lenyap di antara besarnya samudra?”

    Tetap aku takut..

    “Kau bisa melihatku, menonton di tempatku selama ini. Lihatlah Balthiq, lihatlah dirimu yang sesungguhnya. Telanjang, tanpa rantai, etika, moral, dan apapun yang mereka berikan padamu. Lihatlah dan dengan bangga menyebut dirimu sebagai ‘aku’ yang sesungguhnya, tanpa presepsi seseorang yang mengekang tubuhmu lagi.”

    Hah..

    Hahaha..

    Jadi ini rasanya memiliki kendali atas tubuh? Nikmat, nikmat sekali!

    Oh diriku, kau sungguh menyia-nyiakan tubuh ini bukan? Liat tubuh ini! Oh tuhan, tertutupi oleh rambut kumalmu, kulitmu, wajahmu yang seperti diasapi tiap hari, dan ditambah kini dengan hidung bengkokmu, tulang pipi yang remuk dan bibir yang sobek, kau seperti mosaik, dan aku tidak yakin terdapat sihir yang dapat menyembuhkannya.

    Aku buruk rupa, terima kasih diriku yang lain.

    Sekarang aku harus kembali ke dunia nyata, menyelesaikan urusan yang telah kita perbuat, sekaligus berterima kasih pada Man Yi, memberikan hadiah yang kita sebut sebagai ‘Empati’.

    ***

    "Ah Balthiq, disitu kau rupanya!”

    Wajahnya tampak ceria ketika akhirnya menemukanku di antara kabut yang tebal, dan saat itu juga dia mengeluarkan pisaunya. Ah, dia ingin kematianku berada di tangannya bukan, pada detik-detik terakhir nafas berada di tenggorokanku? Tidak, aku sadar selama ini, senyumnya mengartikan sesuatu yang lebih dari itu.

    Selagi itu, tubuhku kini mati rasa. Tentu saja aku mengetahuinya dari pikiranku selama ini, tapi baru aku tahu bahwa rasanya begitu mengerikan ketika tidak ada darah yang mengalir dikulitmu, hingga kulitmu membiru, dan aku tahu, beberapa menit lagi kulit ini akan menghitam.

    “Oh Balthiqku sayang..”

    Man Yi kini duduk menatap wajahku yang juga menatapnya miring, aku sama sekali tidak bisa menegakan kepalaku. Ketika itu pisaunya bermain di antara dagu hingga leherku, dan ketika pisaunya menusuk di bagian luar kulitku, tidak ada darah yang mengalir.

    “Lihatlah, ini tanda ketika ruhmu sudah hampir lepas dari dagingmu.”

    “A..k..u..”

    Bibirku susah untuk digerakan, dan aku ingin mengatakan padanya bahwa diriku tahu bagaimana rasanya mati. Ketika ruh lepas dari daging seperti tubuhmu dirobek menjadi dua dengan tangan kosong. Sakit, sangat sakit, hingga tidak sakit sama sekali.

    Saat itu jari Man Yi menempel pada bibirku, menurunkan pisaunya.

    “Jangan berbicara Balthiq, kau menghabiskan energimu. Nikmati semua ini, kau akan mengenangnya. Nafasmu, sensasi ketika ruh masih menempel pada badanmu, kerapuhan ini.”

    Ah, aku sungguh menikmatinya Man Yi, sungguh-sungguh menikmatinya.

    “Kau setuju soal ini? Aku bisa melihatnya di matamu, kau sudah benar-benar mengingatnya!”

    Dia kembali mendekatkan pisaunya ke leherku.

    “Aku akan menyelesaikannya, oh Balthiqku sayang.”

    Tapi tidak, terima kasih.

    Aku lalu membayangkannya, ketika sebagian ilmu dewa menyatu dalam pikiranku ketika kontrak dibuat. Daya tarik antar benda, tidak, lebih kecil, berat, bukan, massa, ya dewa menyebutnya itu. Massa bumi, matahari, lalu..lalu..

    Intinya, kau jatuh Man Yi, tertarik oleh massa bumi, kau jatuh sekarang juga!!

    “Ah!”

    Man Yi tiba-tiba terjatuh, dan kini wajahnya tercecer oleh darah yang menyentuh pipinya. Berkali-kali dia mengangkat badannya, dan dia tertarik lagi ke bumi, seakan dia melekat dengannya.

    “T..unggu..”

    Kekuatan ruhku sudah penuh terisi oleh dewa yang merestuiku. Aku mengucapkan mantra penyembuhan, menutup lukaku, mengembalikan sirkulasinya, membuat sesuatu dalam tubuhku kembali mengisi darah yang habis keluar. Perlahan rasa sakit muncul, sensasi yang sungguh menyenangkan, lalu kulitku kembali mengeluarkan warnanya. Beberapa lama kemudian aku mulai merasakannya, jariku yang mulai bergerak, nafas yang terisi penuh pada paru-paruku, otakku yang merasakan sensasi lega seketika darah mulai mengalirinya. Pikiranku benar-benar pulih, suara sorak ramai dan pandanganku menjadi sangat jelas.

    Bukankah ini sangat curang, sembuh total setelah babak belur?

    “Kau..”

    Man Yi sekuat mungkin menengok kepadaku, lucunya, mulutnya dipenuhi oleh darahku, dia pasti terjatuh dengan mulut terbuka.

    “Apa kau tidak sadar, kau terlihat lucu sekali Man Yi.”

    Aku tertawa, dan Man Yi terlihat kesal.

    “Apa kau benar-benar Balthiq?”

    “Tentu saja, Man Yi, kau sudah sadar selama ini bukan?”

    Saat itu aku melepaskan sihirku, dan dia langsung meloncat menjauhiku, dan membuat busur di tangannya.

    “Kau bertemu dengan dewa.”

    “Karena kau.”

    “Hah, kekuatan yang muncul mendekati kematian, klise sekali. Berarti kau harus berterima kasih padaku, dan kuharap kau tidak lagi memberikan pertarungan yang membosankan Balthiq.”

    Man Yi tersenyum sambil mengeluarkan panahnya, dan menembaknya dari kejauhan, melewati persis pipiku hingga berdarah dibuatnya.

    “Aku yakin kau belum paham benar kekuatanmu.”

    Cepat, sangat cepat, aku tidak bisa membayangkan kekuatanku terhadap panah tersebut. Kekuatanku juga tidak bisa menggapainya dari kejauhan, aku segera tahu kelemahan kekuatan ini, atau mungkin aku belum benar-benar paham mengenainya.

    “Kali ini aku tidak akan meleset Balthiq!”

    Ketika busur kedua ditarik, aku segera melihat panah dibelakangku. Mengamatinya, dan aku segera sadar bahwa dia terjatuh di lorong yang panjang ini. Apa yang membuat tarikan busur yang memberi dorongan pada panah menghilang? Angin? Atau juga.. ah!

    Aku segera melompat, dan panah tersebut benar-benar melewati celah antara badan dan lenganku. Saat itu aku melihatnya, lintasan pada panah tersebut, lurus, melengkung, jatuh. Ya, jatuh ke tanah, dan aku paham bahwa lintasan panah tersebut berada pada kuasa kekuatanku!

    Kali ini Man Yi tidak berbasa-basi dan lansung menarik busurnya sekali lagi. Kali ini aku takkan menghindar dan mengandalkan keberuntunganku lagi. Aku membayangkan lintasan itu, dan aku memberi besaran sedikit lebih besar pada kuasaku, membuat perhitungan Man Yi meleset.

    Panah tersebut lalu terlontar, dan terjatuh tepat di depan kakiku.

    “Kau sudah memahaminya hah?”

    Lalu dia melontarkannya lagi, tiga panah kali ini dalam satu busurnya dan dia lontarkan ke atas.

    Tapi tidak jauh berbeda, dengan memahami bahwa terdapat gaya yang menariknya kebawah, maka cukup dengan menambahkan salah satu elemennya, dia akan meleset, dan sekali lagi ketiganya menancap di depan kakiku.

    “Tidak berguna.. tapi jelas kau tidak bisa menyentuhku dari kejauhan.”

    Dia mengamatiku, dan aku mengamatinya. Dia akan mengeluarkan trik baru, dan aku harus dengan cepat memahaminya sebelum kematian menghampiriku. Ketika itu Man Yi memecah busurnya, namun tidak mengubahnya menjadi apapun. Dia tersenyum saat itu.

    “Kau berubah Balthiq, nadamu, gerakan tubuhmu. Kau tersenyum menikmati panah-panah tersebut melewatimu, kau.. sangat berbeda, tapi sungguh familiar..”

    Aku ingin menjawabnya, tapi pose tubuh dan gerakan tangannya menandakan dia sedang mengeluarkan sihirnya. Dimana, bawah, kiri, kanan, atau.. Atas!

    Aku segera melompat kekiriku, dan sadar bahwa terdapat lantai yang berubah menjadi bilah pisau, hampir tepat mengenai pipiku ketika meloncat. Aku melihat dari kejauhan, atap runtuh menjadi bilah-bilah pisau yang jatuh menghancurkan lantai. Dia mengubah seluruh tempat ini menjadi senjata!

    “Lihat, kau tersenyum lagi.”

    Ya, aku tersenyum. Sangat menyenangkan, ini sangat menyenangkan!

    “Dan aku merasa lega melihatmu seperti ini, aneh sekali.”

    “Karena kau melihat sosokmu dalam diriku, itu sudah jelas bukan?”

    “Begitukah?”

    Sekali lagi dia membuat atap-atap berjatuhan, dan aku sadar bahwa seluruh lantai disekitarku berubah menajadi bilah pisau. Orang-orang yang mengitari juga berlari menjauh ketika menyadari bahwa lama kelamaan lantai diubah oleh sihir Man Yi. Dia serius kali ini, menganggapku sebagai ancaman besar.

    Ketika segala jenis senjata, pisau, tombak, dan sebagainya berjatuhan dari atas, aku segera meloncat, dan menghilangkan gaya yang mengekangku. Jauh, hingga melewati para penonton, luar dari jangkauan lantai-lantai tersebut, tapi ketika senjata tersebut berjatuhan mengejarku, senjata tersebut juga mengenai penonton dibawahku. Aku cukup cepat saat itu hingga menyentuh lantai kembali.

    “Ahh.. ayolah Balthiq, aku membunuh penonton jadinya.”

    Sorak ramai meriah menjadi kengerian. Tubuh mereka terkoyak-koyak, beberapa hidup dan aku melihat beberapa di antara mereka yang selamat berusaha menarik pedang-pedang dari perut seseorang yang malah membunuhnya, dan lucunya lagi, beberapa berusaha menyembuhkan temannya yang bahkan sudah tidak bernyawa.

    “Ah..haha..hahaha..”

    Kenapa kalian terlihat sedih? Oh tuhan, bukankah ini ironis sekali! Aku tak bisa menahan tawaku, dan mereka semua menatapku, benci, pasti menyalahkanku. Bayangkan jika aku yang terkoyak-koyak tadi, tangan dan kakiku terpisah dari badanku, kepalaku sobek hingga kalian bisa menendang-nendangnya seperti bola sepak, pasti kalian sedang tertawa terbahak-bahak, seperti apa yang kulakukan sekarang!

    “Kau melihat ini lucu Balthiq?”

    Ketika itu Man Yi berjalan mendekatiku, membuat senjata-senjata tersebut menghilang menjadi debu dan membuat penonton membentuk jalan sambil menyeret tubuh teman mereka.

    “Apa ini terlihat lucu olehmu Man Yi?”

    “Tentu saja, apa menurutmu ini tidak lucu?”

    Aku masih tertawa kecil, menghapus air mata di kelopak mataku.

    “Kau monster..”

    “Tidak Man Yi, bukan aku, tapi kita, kita adalah monster di tempat ini.”

    Man Yi kembali membuat seluruh atap menjadi senjata, dan aku mulai berpikir sampai mana aku bisa memanipulasi kekuatan ini? Bukankah kekuatan ini maha luar biasa dahysat seperti apa yang dewa sebut? Bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari ini, bahkan waktu? Bagaimana jika seperti ini, bumi kuanulir dari massa pertama, lalu yang relevan hanyalah senjata yang menjatuhiku?

    Ketika benda tersebut jatuh dengan kecepatan tinggi akibat dorongan di belakangnya, entah kekuatan apa yang Man Yi berikan, aku segera membayangkan kekuatan tersebut. Cukup menyerap ruhku, tidak sesederhana yang kukira tapi bekerja. Senjata tersebut yang memiliki massa yang sama tiba-tiba saling menabrakan dirinya sendiri, seperti magnet, dan hancur berkeping-keping seketika kulepas kekuatanku.

    “Bagaimana bisa..”

    “Kekuatan yang mengerikan bukan?”

    Mengerikan, tapi terbatas. Jika dia mengeluarkan kekuatan tersebut dua kali lagi, maka kekuatanku akan terkuras. Aku tidak bisa main-main lagi, aku harus segera menghentikan pertarungan ini secepatnya.

    Saat itu aku segera melompat, membuat tubuhku melayang mendekati Man Yi. Seketika dia membuat sekeliling lantainya menjadi bilah pisau dan mematerialisasikan tombak di tangannya, aku segera membuat Man Yi melekat ke lantai, dan jatuh tepat di atas tubuhnya, menungganginya.

    “Kau!!”

    Dia sekali lagi ingin mengeluarkan kekuatannya, dan dia tidak menatap mataku saat itu.

    “Kenapa kau tidak menatap mataku, atau..”

    Kau butuh melihat lokasi untuk menggunakan sihirmu?

    Aku segera membayangkan, apa yang berada di mata kita sesungguhnya? Air? Atau semacam itu? Bagaimana jika aku mengubah berat didalamnya, membuatnya lebih berat 1x, 2x, atau 20x?

    “AGHHH!!!!”

    Mata Man Yi memerah, dan merah tersebut mulai memenuhi putih matanya, dan kemudian DUAR! Meledak! Aku tidak mampu membayangkan betapa kagetnya diriku saat itu, dan kemudian betapa kencangnya aku tertawa. Oh seperti itukah jika aku bermain kekuatanku pada mata seseorang?!

    “Mati kau, mati!!”

    Man Yi berusaha mengangkat tangannya, menggapaiku sebelum tangannya melekat ke lantai kembali. Kali ini dia menggaruk-garukan kukunya ke lantai, dia pasti sangat kesakitan sekarang, sekaligus kehilangan pandangannya menjadi hitam ataupun merah pasti membuat Man Yi kehilangan kewarasannya.

    “Tenang Man Yi, pus..pus.. Begini, aku hilangkan rasa sakitmu, tapi kita akan mengobrol seperti orang waras oke.”

    Aku segera menggunakan sihirku, menutup lukanya, tapi tidak memulihkan pandangannya. Nafasnya mulai teratur kembali, dan air matanya mengalir. Ternyata tanpa mata kita masih bisa mengeluarkan air mata.

    “Kenapa kau ingin membunuhku Man Yi?”

    “Jelas bukan?!”

    “Tidak, tenangkan dirimu Man Yi, dan pikirkan baik-baik. Kenapa kau begitu bahagia ketika diriku mendekati kematian, kenapa kau terasa begitu lega ketika nyawaku sudah sampai pada tenggorokan seperti apa yang kau bilang tadi. Kenapa kau begitu menikmatinya, kenapa hatimu berasa begitu baikan melihatku seperti itu.”

    “Hahaha! Kau sudah gila! Aku hanya ingin membunuhmu, itu saja!”

    Tidak Man Yi, kau lebih dari itu, kau lebih dari pembunuh berdarah dingin.

    “Kau melakukan itu atas nama empati. Kau berempati padaku, sampai-sampai ingin membunuhku. Aku tahu, kau tidak tertarik pada Guo Rong, tapi aku? Jelas, kau sangat menikmatinya.”

    “Aku sudah melakukan ini berkali-kali Balthiq..”

    “Melakukan ini berkali-kali pada sosok sepertiku, bukan?”

    Man Yi tiba-tiba tertawa, selagi air matanya keluar secara deras dari matanya.

    “Empati kau bilang? Ya, bisa jadi. Aku benci dunia ini, benci sekali. Aku bertanya padamu Balthiq, apa kau pernah merasa diberi pilihan? Tidak Balthiq, tidak sama sekali, kita hidup sesuai dengan peran kita, budak, majikan, dan sebagainya. Aku hidup sebagai gadis, boneka, budak, dan kini senjata, apapun status yang melekat padaku. Aku benci, benci, benci, hingga..”

    Man Yi berhenti sebentar, menelan ludahnya sebelum melanjutkan kembali.

    “Hingga kematian.., kematian adalah pengampunan.”

    “Kau ingin memberi pengampunan padaku.”

    “Kau mirip denganku. Ketika mereka sadar bahwa aku membunuh segalanya dengan sihirku, aku dibawa kesini. Gadis yang dipinggirkan sebagai pembunuh, tidak tahu diuntung sebagai bangsawan, dan pelacur.. Kau juga sama saja, matamu juga, dan aku tahu, nasibmu akan lebih buruk.”

    “Dan kau mengubahku, mengubahku menjadi dirimu.”

    “Tapi kau berbeda Balthiq, kau mahluk yang lebih mengerikan dari diriku. Apa yang terjadi padamu Balthiq, apa yang terjadi padamu?”

    Aku tertawa, tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Man Yi.

    Apa? Apa yang terjadi padaku? Oh, banyak sekali hingga diriku yang lain menyangkal keberadaan diriku. Baru dilihat secuil apa yang kurasakan, dia sudah teriak-teriak sendiri.

    “Ya, aku berempati padamu Balthiq, aku sungguh-sungguh mengasihanimu. Kau bahkan sudah gila karenanya!”

    Tiba-tiba tanah bergetar, dan semua orang berteriak tentang atap. Aku segera melihat keatas dan melihat Man Yi mengubah seluruh atap menjadi pedang, berkumpul membentuk kerucut mengarah pada kita. Apa dia ingin membunuh dirinya sendiri bersamaku? Kekuatan sebesar ini pula bisa menghabiskan seluruh ruhnya.

    Tiba-tiba tangan Man Yi mengcengkram lenganku, keras sekali, dia membuat tangannya menjadi besi.

    “Kita mati bersama Balthiq! Pengampunanku, dan pengampunanmu. Kita akan lepas dari dunia baik ini!”

    Aku menatap ke atas, dan mengetahui alasan bahwa benda-benda itu mengarah pada kita. Aku sadar bahwa Man Yi tidak mengetahui lokasi dimana dia mematerialisasi senjatanya, tapi dia cukup tahu bahwa ada atap di atasnya, dan atas adalah lokasi yang abstrak, sehingga dia memutuskan untuk mengubah segalanya menjadi senjata. Lalu lokasi senjata itu melesat? Dia cukup tahu dimana lokasinya sendiri, dan jika aku melarikan diri, itu sama saja bunuh diri, sehingga dia membuatku terjebak bersamanya.

    “Hahaha.. kau benar-benar mengasihaniku bukan Man Yi!”

    Tapi tidak, aku cinta dunia yang kau sebut baik ini.

    Aku segera berpikir, tidak berguna jika kubuat ratusan senjata itu saling melekatkan dirinya sendiri, aku tak punya kekuatan sebesar itu.

    Tapi.. tapi bagaimana jika kekuatanku tidak ada di antara mereka. Kemana mereka jatuh? Kemana? Ah, mereka tidak jatuh bukan?

    Aku segera memfokuskan kekuatanku pada pemikiran tersebut, seketika senjata tersebut ingin jatuh dan melesat pada kita, kubuat senjata tersebut menjadi kehilangan arahnya. Seketika mereka melayang, juga air mata Man Yi menjadi titik-titik bola yang melayang di udara.

    Tapi kekuatanku habis saat itu juga, dan ratusan senjata itu jatuh seketika membuat guncangan besar di lantai, dan kerusakan yang luar biasa besar.

    “Jadi itu kekuatan penumpasmu Man Yi? Mengerikan..”

    “Kau.. menghentikannya..?”

    Saat itu aku tahu Man Yi kehilangan ruhnya, dan perlahan tubuhnya akan berubah menjadi debu.

    “Kau tidak boleh mati Man Yi.”

    Aku segera memberikan Animaku ke dalam tubuh Man Yi, membuatnya kembali menjadi utuh, tapi tidak cukup kuat untuk kembali berdiri walau kekuatanku telah kulepas darinya. Saat itu aku juga sadar bahwa lengannya menghitam, setelah membuat besi melapisi tangannya, dia secara tidak langsung mematikan bagian tubuhnya menjadi besi, dan bagian tersebut secara cepat membusuk.

    “Aku tidak bisa merasakan tanganku.. Bunuh aku Balthiq..”

    “Mereka akan memotongnya, dan kau akan hidup.”

    “BUNUH AKU BALTHIQ!!”

    Man Yi berteriak, dan tangis masih mengalir dari matanya. Aku bisa melihat di lantai, di sekitar kepalanya bahwa banyak air mata yang bergelinang.

    “Apa yang bisa kulakukan dengan tubuh ini? Aku buta, buntung! Bunuh aku, kumohon.. bunuh aku..”

    “Kau tidak sadar Man Yi, ini hadiahku padamu, rasa terima kasihku padamu. Empatiku adalah tidak bersimpati denganmu.”

    “Apa maksudmu Balthiq..”

    “Aku benci ketika seseorang mengasihaniku, aku benci tatapan itu, tatapan ayah dan ibuku, tatapan adikku, tatapanmu.. Jika kau bilang hidup ini baik, ya, hidup di dunia ini adalah neraka yang sesungguhnya. Di dunia setelah kematian sana tidak ada neraka Man Yi, aku sudah merasakannya, ketenangan dan kesunyian yang abadi, kehilangan dirimu sendiri di antara lautan kesadaran lainnya, dan aku benci itu. Hidup di neraka ini lebih menarik dari itu.”

    Man Yi terdiam, dia pasti sudah lelah atau kehabisan kata-kata.

    “Karena itu, aku tidak sedikitpun mengasihanimu, aku hanya akan benar-benar membencimu. Hidupmu selama ini seperti apa? Boneka pelampias seksual para bangsawan itu? Lalu menjadi senjata manusia? Bagaimana dengan menjadi parasit? Hidup buta dan buntung, seumur hidup dikasihani, diberi makan, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Oh tuhan, mati lebih baik dari itu.”

    “Oh Balthiq..oh..”

    “Itu empatiku Man Yi, aku membalas maksud baikmu.”

    Ya, rasakan itu Man Yi, rasakan menjadi manusia paling menyedihkan, sangat menyedihkan.. Ah, parasit, aku benar-benar suka kata tersebut.

    “BALTHIQ!!”

    Guo Rong..

    Aku menengok kebelakang, terdapat Guo Rong yang berjalan terseok-seok didampingi Li Ling.

    “Kau.. Kau bukan Balthiq!”

    “Aku Balthiq Guo Rong, Aku Balthiq dari kalbu terdalamnya.”

    Ya, kau tidak bisa menyangkalnya. Kau bahkan belum mengenalku lama.

    “Tidak, matamu.. matamu seperti orang mati..”

    “Hah?”

    Mataku seperti orang mati? Lalu bagaimana dengan mata diriku yang lainnya? Hidup?

    “Kembalikan Balthiqku! Kembalikan Balthiqku yang lembut. Dia tidak akan melakukan hal keji seperti dirimu!”

    “Oh Guo Rong, kau..kau..”

    ‘Kembali, kembali, kembali kau sialan!’

    Aku belum selesai, bisakah kau diam sebentar!

    Hei, ah.. Sedikit teriakan dan kau bisa sekuat ini. Baiklah, apa yang kau lakukan Balthiq? Apa yang akan kau lakukan dengan kondisi yang kubuat ini? Kau tetap akan membuatnya hidup bukan? Aku tahu kau akan melakukannya, dan itu yang seharusnya kita lakukan bukan?

    'Aku akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan.'

    ***

    Aku kembali, dan melihat seluruh tempat ini hancur berantakan. Sekitarku tertimpa oleh senjata-senjata yang tadi melayang dan jatuh tak tentu arah. Suara saat ini hanya dipenuhi teriakan rasa sakit, dan tangis, tidak ada sorak gembira yang sebelumnya kurasakan. Guo Rong saat itu merasa lega melihatku, dia seperti bisa membedakan siapa aku yang sesungguhnya.

    “Kau kembali Balthiq..”

    “Ya..”

    Aku kembali menatap Man Yi yang tergeletak tidak berdaya. Dia masih menangis memohon.

    “Bunuh Aku Balthiq.. bunuh aku..”

    Aku mendekatinya, dan menatapnya. Dia yang kini tidak berdaya, dengan air matanya yang kini berubah menjadi darah, sesuatu dalam matanya pasti kembali terluka dan bercampur dengan air matanya.

    “Pengampunan..”

    Dia menginginkannya.

    Aku mengambil pisau diantara puing-puing.

    “Balthiq, hentikan..”

    “Tidak Rong-chan.. aku tidak akan mengikuti ‘dia’, aku..”

    Aku menyangkalmu, diriku yang lain. Aku bukan kau, dan aku adalah aku..

    “Aku akan memberimu pengampunan.”

    Aku segera membangunkan Man Yi, menerkam pisau tersebut kelehernya. Saat pisau tersebut menembus di sisi luar Man Yi, dia tersenyum, dan mengeluarkan kata-kata terakhirnya.

    “Terima kasih Balthiq.. terima kasih..”

    Darah yang secara deras keluar membasahi wajah dan tanganku yang memegangi kepalanya hingga nafasnya habis. Dia menutup matanya, tersenyum, dan aku.. aku merasa aneh. Melihat darah di tanganku, merah gelap, menghitam, hatiku merasa kosong, lalu perasaan janggal ini tiba-tiba menyebar ke seluruh tubuhku.

    Aku tidak merasakan lega dalam hatiku, ada sesuatu yang salah.

    ‘Sudah kubilang bukan?’

    Diam!

    Aku kembali menatap Guo Rong yang menutup mulutnya dengan tangannya, dia kemudian berteriak melihatku yang masih berlumuran dengan darah Man Yi.

    “Ya, ini yang harus kulakukan.”

    Ini yang harus kulakukan..

    ***Chapter Elegia : End***

    PDF Version :

    View: https://drive.google.com/file/d/0B57BXZgBlWaMbzl4SzE4bVE5TVU/view
     
    Last edited: Dec 9, 2015
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.