1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Legend/Myth Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah

Discussion in 'History and Culture' started by kntphathoy, Mar 26, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. kntphathoy M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Oct 7, 2010
    Messages:
    3,196
    Trophy Points:
    211
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +11,953 / -0
    [​IMG]

    Mengapa setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan? Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”

    Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

    Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik 'pengkultusan' R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

    Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.

    Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.

    Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

    Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

    [​IMG]

    J.H. Abendanon​

    Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

    [​IMG]

    Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”

    Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

    [​IMG] [​IMG]

    Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

    Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.”

    Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”

    Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.”

    Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

    Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

    Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

    Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.

    Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

    Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” begitu kata Rohana Kudus.

    Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

    Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:

    “Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”


    Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:

    ”Salam, Bidadariku yang manis dan baik!... Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: ”Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).

    [​IMG]

    Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’. Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.

    Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Juga ada yang memanggilnya ”Syaikhul Islam Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: ”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.” (hal. 116).

    Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah melakukan ‘pembaratan’ kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).

    Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).

    Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ sudah berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan.




    Sumber

    semoga saja tidak :repost: , saya sudah coba search tapi hasilnya nihil.. :yareyare:
    :hehe: kalau dirasa bermanfaat jangan lupa buat ucapkan terimakasih ya...
    :minta::thx::grp:
    :onegai: dan silahkan berikan komentarnya...
     
    • Thanks Thanks x 23
    • Like Like x 6
    Last edited: Mar 8, 2013
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. yoshimori12 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 10, 2010
    Messages:
    49
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +20 / -0
    wew... pasti bau2 zionis lagi tuh... kayaknya banyak amat konspirasi di indonesia -__-...
     
    • Thanks Thanks x 2
    • Like Like x 1
  4. gegege M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Apr 6, 2009
    Messages:
    729
    Trophy Points:
    91
    Ratings:
    +420 / -0
    IMHO tujuan penjajah belanda saat itu lebih disebabkan keinginan mereka untuk mengekalkan penjajahan di indonesia,, :unyil:

    makanya mereka berusaha menjauhkan umat Islam dari agamanya sendiri, sebab penjajah belanda merasakan bahwa Islam itu
    revolusioner, militan, dan yang pasti anti pendjadjahan :top:
     
    • Thanks Thanks x 3
    • Like Like x 1
  5. joe_cfu M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Feb 10, 2010
    Messages:
    2,083
    Trophy Points:
    132
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1,573 / -0
    ga' cuma belanda, semua penjajah juga gitu :swt:

    demi mengukuhkan kekuasaan atas negara jajahan mereka, konspirasi diperlukan demi menjauhkan bangsa2 pribumi di negeri jajahan mereka dan melupakan jati diri mereka, serta membuat mereka berpikir dan mengikuti paham para penjajah.. :hmm:
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  6. gegege M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Apr 6, 2009
    Messages:
    729
    Trophy Points:
    91
    Ratings:
    +420 / -0
    @^ betul, tapi karena konteksnya di Indonesia, jadinya disebut lengkap: "Pendjadjah Belanda" :haha:
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  7. realsifo777 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 23, 2009
    Messages:
    1,001
    Trophy Points:
    127
    Ratings:
    +594 / -0
    pahalwanku adalah foss dan linux yang anti penjajahan segala bidang wkkkk :D
     
    • Thanks Thanks x 3
    • Like Like x 1
  8. kntphathoy M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Oct 7, 2010
    Messages:
    3,196
    Trophy Points:
    211
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +11,953 / -0


    gw setuju banget sama pendapat agan2 diatas ini...
    toh kenyataannya sekarang negara kita walaupun sudah merdeka dari penjajahan bangsa lain, tapi tetap saja belum merdeka dari penjajahan oleh bangsa sendiri.. :awas:
     
    • Like Like x 1
  9. Andre_75 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Nov 20, 2009
    Messages:
    531
    Trophy Points:
    77
    Ratings:
    +1,137 / -0
    nice info gan..

    skarang tinggal kita sendiri yang harus teliti mengenai bagaimana konspirasi2 ini bergerak..dan bagaimana kita harus keluar dari dampak konspirasi2 tersebut...

    perkuat aja iman kita dan perjuangkan bagaimana budaya kita sesungguhnya yang penuh dengan cinta damai dalam satu kesatuan...Persatuan Indonesia.
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  10. malinginsane Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Mar 1, 2011
    Messages:
    98
    Trophy Points:
    21
    Ratings:
    +5 / -0
    yang sebenernya konspirasi itu adalah teori konspirasi itu sendiri
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  11. qwertyopen Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Nov 15, 2010
    Messages:
    92
    Trophy Points:
    6
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +10 / -0
    Hmmm nice info tapi gmna yah apalagi yg namanya cerita jaman dulu sering di lebih2kan sih
    :peace:
     
    • Thanks Thanks x 2
    • Like Like x 1
  12. indahfida M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Nov 26, 2008
    Messages:
    967
    Trophy Points:
    126
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +3,713 / -0
    :pusing: banyak bgt tulisannya. anyway :niceinfo:
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  13. rynov MODERATOR

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Feb 28, 2011
    Messages:
    5,334
    Trophy Points:
    237
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +28,285 / -0
    thx artikel-nya...

    menambah khasanah sejarah gue tentang Indonesia dimasa lampau.


    :chinese:
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  14. Will M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2010
    Messages:
    1,934
    Trophy Points:
    162
    Ratings:
    +3,281 / -0
    konspirasi lagi nih :pusing:

    jadi seolah kartini itu orang yang dipilih dan dididik untuk kepentingan belanda

    dari quote ini terlihat bahwa kartini adalah orang yang "bodoh" (lebih tepat kurang berpendidikan mungkin) dan sudah masuk perangkap belanda yang kemudian dikader untuk jadi pengemban misi yang mungkin bahkan kartini sendiri ga tau :sigh:
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  15. fierzyad M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Sep 30, 2009
    Messages:
    1,341
    Trophy Points:
    131
    Ratings:
    +2,899 / -0
    dulu sempat terbersit kenapa harus kartini yang jadi sosok kemjuan wanita...ternyata wanita di era kartini bahkan di sebelumnya sudah hebat...
    bener memang wanita tidak mungkin disamakan dengan laki2 karena keduanya memang sangat berbeda dengan kelebihan dan kelemahannya masing2...
    nice gan...bisa jadi bahan mentoring...
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  16. gel Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 21, 2010
    Messages:
    62
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +8 / -0
    kayaknya gara-gara kartini berasaL dari jawa yang masi kuat budaya berhaLanya
     
  17. easyvalen M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Aug 28, 2010
    Messages:
    1,830
    Trophy Points:
    112
    Ratings:
    +2,082 / -0
    buset deh. :pusing:
    wah klo semua di rekayasa mana yang bener nih.
    lagi2 semuanya demi penjajahan.:sigh:
     
  18. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,080 / -0
    pahlawan wanitaku adalah ibuku, bukan kartini atau yang lain...
     
  19. aldien M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Oct 27, 2009
    Messages:
    554
    Trophy Points:
    81
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +74 / -2
    beuh... parah lah..

    bener kata om "will" di atas...

    g bner tu,masa nanya islam sm orng belanda..
    dr situ ketauan kalo kartini g ngerti agama islam,,n mengagungkan orng barat

    what a mess..
    :hot:
     
  20. GondrongEdan Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Jul 19, 2009
    Messages:
    172
    Trophy Points:
    36
    Ratings:
    +382 / -0
    ane juga ga ngerti kenapa mesti kartini,.?
    kalo tanggal 21 april wanita2 sibuk ngomongin kartini itu kartini ini, padahal mungkin mereka ga pernah tau sejarah kartini.

    kartni belum ada apa2nya dibanding tokoh wanita yg lain dan lebih dulu seperti Roehana Koedoes, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Malahayati, Dll :panas:
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
  21. piyongima M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Jul 17, 2010
    Messages:
    446
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +5,649 / -0
    dont be paranoid, kebanyakan orang2 beranggapan salah paham sebagai konspirasi :swt:
     
    • Like Like x 1
    • Thanks Thanks x 1
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.