1. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. IDWS Radio is Back! Mau ngobrol seru bareng penyiar (announcer) atau mau ikutan jadi penyiar di IDWS Radio? Mau promoin lagu indie kamu? Bisaa!.Klik info lengkapnya di sini, kuy~.
  5. Terima kasih untuk kebersamaan komunitas selama hampir 12 tahun ini. Apa pengalaman menarikmu selama di IDWS? Apa saran, kritik, dan masukan kamu untuk IDWS? Tolong sampaikan di sini yaa~ Terima kasih.
  6. Dismiss Notice
  7. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  8. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Mengenang Eva Yuliandari, calon guru di Wamena

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by nekoruru, May 25, 2009.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. nekoruru M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Apr 14, 2008
    Messages:
    2,070
    Trophy Points:
    161
    Ratings:
    +3,087 / -0
    diambil dari: http://lorongcahaya.multiply.com/journal/item/32/Mengenang_Eva_Korban_Hercules_C_-_130

    Mengenang Eva
    Oleh Beni Jusuf *)

    “Kang, Aku besok pulang papua, doain ya”
    Itulah yang terucap dari bibirnya Senin lalu. Saat dia menjabat erat tanganku.
    *****

    Namanya Eva, lengkapnya Eva Yuliandari.
    Aku mengenalnya sekitar 3 bulan silam. Lewat kolega yang menjadi petinggi di salah satu Advertising Agency di Jakarta yang lagi mencari seorang Gost Writer untuk buku pengalamannya selama di Papua. Aku tak seketika menyanggupi karena sedang mempersiapkan buku seorang tokoh politik dan beberapa makalah yang mendekati tenggat.

    Namun aku berjanji untuk meluangkan waktu membimbingnya untuk menulis buku. Aku terkesan dengan ceritanya. Di mataku dia sosok yang unik, Seorang gadis yang mau mengajar di pedalaman Papua. Tepatnya di Walesi, Wamena. Suatu daerah yang kondisinya jauh dari sentuhan modernitas {kalau ukurannya adalah pembangunan infrastruktur]

    Banyak cerita yang mengalir dari penuturan Eva. Baik cerita lucu, mengharukan maupun yang menyedihkan. Misalnya baru 2 hari tiba di Papua, dia harus kena gampar istri guru setempat yang terbakar cemburu karena persoalan sepele: suaminya mengantar Eva untuk keliling sekitar sekolahan yang akan menampung Eva sebagai guru relawan.

    Ada juga kisah mengharukan ketika dia mendapati murid-muridnya tak mengenali bahwa merah putih adalah bendera kebangsaan. Padahal perayaan Agustusan kian mendekat. Dan karena tak ada bendera, Eva harus menjadi pelukis tiban, menggambar sebuah bendera merah putih pada sebuah kertas yang lantas ditempel pada ranting pohon untuk menggambarkan Sang Saka Merah Putih sedang berkibar!.

    Eva juga pernah dibuat gempor gara-gara berjalan selama 4 jam. Hanya untuk memenuhi ajakan berkunjung ke rumah muridnya. Padahal muridnya bilang bahwa rumahnya dekat, terletak dibalik bukit dan cukup jalan kaki.

    Sebagai muslimah, Eva juga harus mengajarkan bagaimana toleransi beragama sekaligus merasakan bagaimana menjadi minoritas. Sebuah pengalaman reliji yang membutuhkan kesabaran dan pengertian untuk saling menghormati antar sesama.
    ******

    Berawal dari peluang Kuliah Kerja Nyata di semester akhir pada masa kuliah di Jurusan Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Jakarta tahun 2007. Dia iseng mendaftarkan diri ke Papua. Meski ibunya mencemaskan pilihannya. Namun akhirnya luluh karena niat Eva yang sangat besar.

    Dan di Papua, Eva mengalami pencerahan batin. Hatinya trenyuh melihat ketimpangan pendidikan sedemikian jauh. Minim fasilitas, bahkan ada seorang guru yang harus mengajar kelas satu sampai kelas lima. Karena memang satu-satunya guru yang dimiliki sekolah tersebut. Setelah satu persatu guru mengundurkan diri dan kembali ke daerah asalnya karena tak mampu bertahan di daerah terpencil. Kondisi pendidikan yang memprihatinkan membulatkan keinginan Eva untuk kembali ke Papua.

    Tanpa sepengetahuan Eva, ternyata Bupati Jayawijaya waktu itu, Nicolas Jigibalom, yang melihat tekad Eva langsung melayangkan surat kepada Depdiknas agar menjadikan PNS dengan penempatan di Papua. Belakangan Eva mendengar cerita itu dari salah satu pejabat di pemda Jayawijaya. Meski permohonan Bupati tak berbuah sebagai kenyataan, Eva merasa berbangga karena pengabdian singkatnya selama KKN ternyata memang sangat dibutuhkan.

    Menjadi guru di SMKN 40 Jakarta selepas kuliah ternyata tak mampu memutus ikatan batin Eva dengan Papua. Seolah ada bisikan hati yang tiap hari memanggilnya untuk kembali ke Papua. Dan dia tidak bisa menipu perasaannya sendiri. Bahwa dorongan kembali ke Papua itu mengalahkan impian untuk hidup lebih mudah sebagai guru di Tanah Jawa. Papua seolah bukanlah sebuah kata, namun mantra yang yang selalu bergaung di benaknya.

    Dan Senin lalu, menjelang sore, kami bertemu di bilangan Kuningan. Dia mampir untuk melihat draft buku kisah waktu di Papua yang sedang saya tulis. Dia nampak antusias melihat rancangan buku yang sebentar lagi selesai, meski hingga kini saya belum terpikir untuk mengirimkan ke penerbit mana nantinya.

    Senin lalu itu....
    Dia juga mengungkapkan sebuah rahasia. Dirinya lolos sebagai salah satu calon pegawai negeri sipil {CPNS]. Itu membuat bahagia. Karena menurutnya, tinggal sejengkal lagi, impiannya untuk kembali ke Papua akan terwujud. Melebihi kebanggaannya saat terpilih menjadi Pemudi Pelopor Pendidikan Tingkat Kota di Bekasi pada tahun 2007.

    Dan 2 hari setelah senin itu....
    Tepatnya Rabu pagi, 20 Mei 2009, pukul 6.30, kabar duka datang dari Desa Geplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Pesawat Hercules TNI Angkatan Udara C-130 mengalami musibah. Dan salah satu penumpang meninggal adalah Eva. Padahal dia akan berbagi berita gembira bahwa dia akan kembali ke Papua sebagai pendidik. Eva dengan sekarung buku-buku pelajaran, alat tulis dan peraga pendidikan serta pakaian sekolah, merupakan sumbangan para donatur di Jakarta yang sedianya dibagikan untuk pendidikan di Bumi Cenderawasih urung sampai.

    Innalillahi wainailahi rojiun, semua yang berasal dari Allah, akan jua kembali ke hadiratNya.
    Eva Yuliandari kini telah pergi.
    Eva telah tiada.
    Pasti anak-anak Sekolah Dasar di Walesi, Wamena akan merasa sukar untuk bisa berdamai dengan kenyataan yang menyedihkan ini.

    Eva Yuliandari memang telah berpulang.
    Namun dia akan selalu dikenang.
    Lewat catatan yang ditinggalkan padaku. Bukankah tulisan adalah hasil perbuatan untuk keabadian?Apalagi sebuah tulisan yang berkisah tentang semangat, cita-cita untuk berbuat lebih baik lewat jalan pendidikan. Memajukan pendidikan anak-anak di Papua.
    ******

    Perasaanku sedang gulana. Rasa sesak dan perih kehilangan sahabat membaur. Meski aku tahu bahwa sahabat akan datang dan pergi dalam hidup. Namun kehilangan sahabat sedemikian cepat membuatku seolah tak kuasa mempercayai sebagai sebuah keniscayaan. Pada akhirnya hanya berujung pada kesadaran bahwa tiada yang kenal di alam fana.

    “Kang, Aku besok pulang papua, doain ya”
    Itulah yang terucap dari bibirnya Senin lalu. Saat dia menjabat erat tanganku waktu pamit pulang menjelang sore. Seolah isyarat kata terakhir. Untuk Pulang. Kembali ke Haribaan Allah Yang Maha Esa. Pulang menjemput keabadian
    Selamat jalan Eva.
    Eva Yuliandari
    *****

    *) Penulis bekerja di sebuah kanal televisi berbayar di Jakarta, dan juga seorang Gost Writer sejumlah public figure di Jakarta.


    Biodata Eva Yuliandari:
    Eva Yuliandari lahir di Bekasi,31 Juli 1982.
    Merampungkan pendidikan pada Program Akuntansi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta tahun 2007 setelah sebelumnya menamatkan jenjang Diploma Tiga Akuntansi. Sedangkan pendidikan menengah diselesaikan di SMU 3 Bekasi lulus tahun 2000 setelah sebelumnya menempuh sekolah di SLTPN 4 Bekasi dan menamatkan SDN Kayuringin Poncol VI.
    Pada tahun 2003, bekerja di Lembaga pendidikan LPIA selama 1 tahun sebagai guru komputer, lantas bekerja di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat [PKBM), sebagai guru Paket B/Setara dengan SMP selama 2 tahun. Pada tahun ajaran 2005 s/d 2006 mengajar dengan bayaran sukarela SD Swasta di Bekasi. Bulan Juli 2006 mendirikan pusat belajar masyarakat/ PKBM Cendrawasih Jaya & Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Cendrawasih Jaya di Bekasi dan membuat PKBM KIMBIM PONDO sewaktu melakukan Kuliah Kerja Nyata bulan Agustus 2006 di PAPUA.
    Tahun 2007 di pilih menjadi Pemudi Pelopor Pendidikan Tingkat Kota di Bekasi lantas menjadi guru pelatihan Akuntansi di SMKN 40 Jakarta Timur setelah lulus S1 bulan September 2007 tapi keluar dari SMKN 40 karena terpanggil Sebagai relawan di pedalaman Papua dengan biaya sendiri dan mendirikan PAUD ARRAHMAN dan menjadi Pamong di Sanggar Kegiatan Belajar Orang Pasti Mengerti [SKB OPM] di Wamena. ke Wamena, Jayawijaya, Papua
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. dawerzzzz M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    May 9, 2009
    Messages:
    1,516
    Trophy Points:
    131
    Ratings:
    +1,135 / -0
    [​IMG][​IMG] memang kematian tidak bisa di hindari klo sudah takdir...semoga eva diterima di sisi alloh swt... amien[​IMG][​IMG]
     
  4. kum1s Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Jun 1, 2009
    Messages:
    25
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +0 / -0
    smoga amal ibadah diterima oleh Tuhan SWT
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.