1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Cerpen Majikan

Discussion in 'Fiction' started by muchitsuru, Apr 5, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. muchitsuru Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Sep 8, 2009
    Messages:
    255
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +17 / -0
    Ini thread pertama saya setelah lebih dari setahun menjadi anggota IDWS.
    Hehehe.... kok malah jadi formal begini kalimat pembukanya? Yah, sudahlah. Lagi pula ini juga masih dalam tahap belajar. Pada thread pertama saya ini, saya cuma sekadar berbagi karya.
    Sorry banget kalau saya nggak bisa berbasa-basi dengan baik.
    Silakan dinikmati.


    Keringat yang berleleran dari wajah dan leher sudah membasahi punggung jubah Tuan Majikan kala lelaki kurus itu kepayahan menarik rangkaian gerobak berisi harta kekayaannya di persawahan berselimut padi yang sedang bernas, siang itu. Matahari sedang angkuh-angkuhnya duduk di ubun-ubun, menebar panas dan teriknya yang menyengat, membuat hamparan sawah yang menguning itu seolah membara. Seringkali orang tua malang itu mengusap keringat dengan lengan yang juga basah oleh peluhnya sendiri. Tak jarang pula Si Tuan Majikan itu terbatuk-batuk merasakan ludah kentalnya mengganjal di tenggorokan akibat seharian tidak basah oleh air. Mulutnya begitu pahit dan bibirnya kering dan pecah seperti tanah merekah tanpa hujan semusim pun. Namun laki-laki malang itu terus menarik gerobaknya seolah takut dengan seseorang yang mungkin sedang mengawasi punggungnya. Telapak kakinya yang berdarah dan pecah-pecah tidak ia pedulikan. Ia terus menarik gerobak hartanya itu. Setidaknya, dalam panasnya sengatan siang hari itu, ia masih bisa merasakan dinginnya lumpur sawah yang menelusupi sela-sela kakinya yang luka. Masa bodoh dengan infeksi yang mungkin terjadi pada kakiku, pikir orang tua itu.

    Namun, sekuat apapun usaha orang tua itu untuk membawa hartanya sampai ke kampung halaman, akhirnya ia kelelahan juga. Sejenak Si Tuan Majikan berhenti menarik gerobak hartanya. Ia menghela napas dengan berat. Kemudian ia menyeka peluh di wajah dengan ujung jubahnya yang bertahun-tahun belum pernah diganti. Ia berbalik, menatapi peti-peti hartanya yang bertumpuk-tumpuk setinggi kira-kira tiga meter. Memandangi tumpukan peti hartanya di gerobak tersebut, ia tercengang sendiri. Tetapi kemudian mendadak ia merasa terpuruk dan tubuhnya lemas begitu menyadari bahwa gerobak yang sedang ia bawa pergi tak hanya yang ia sentuh secara langsung. Masih ada rangkaian gerobak di belakangnya, begitu panjang hingga tidak terlihat mana gerobak yang terakhir. Kembali Si Majikan mengehela napas dengan amat berat.

    Tubuh kurus dan ringkih Si Majikan duduk dan bersandar pada gerobak hartanya. Laki-laki tua itu lalu menatap langit siang itu. Tak peduli pada cahaya langit yang bisa membutakan matanya, ia terus menantang atap dunia itu. Tak sengaja matanya menangkap seekor burung di langit, seekor garuda yang terbang berputar-putar kesepian. Mata Si Tuan Majikan mengikuti ke mana arah terbang burung garuda itu. Burung itu berputar-putar sejenak di langit, lalu seperti menyadari ada yang sedang menatapnya, entah mengapa burung itu terbang merendah seolah menghampiri Si Tuan Majikan.

    Benar, burung itu menghampiri Si Tuan Majikan. Tanpa sadar Si Tuan Majikan berdiri dan menyorongkan pergelangannya sebagai tempat bertengger unggas terbang itu. Sang Garuda seolah mengerti isyarat laki-laki tua itu. Burung tersebut langsung mencengkram pergelangan tangan Si Tuan Majikan. Orang tua itu menggigit bibirnya menahan sakit akibat cakaran burung itu saat bertengger. Namun rasa sakit itu seolah menguap kala mata Si Tuan Majikan bertemu dengan mata tajam burung garuda itu. Orang tua itu seolah menemukan teman baru.

    Mata burung garuda menusuk hingga ke relung hati Si Tuan Majikan. Seolah saling mengerti dan memahami maksud masing-masing, kedua makhluk itu berbicara melalui mata mereka.

    "Pak Tua, apa yang sedang kau lakukan di tempat seperti ini?" tanya burung garuda itu dengan keheranan.
    "Aku pun tidak mengerti. Yang sedang dalam pikiranku sekarang ini adalah menyelamatkan harta kekayaanku dan menjaganya agar tidak tercecer," jawab Si Tuan Majikan dengan penuh kebingungan.
    "Mengapa kau menyelamatkan hartamu? Dengan kekayaanmu yang seperti ini, tidakkah kau seharusnya menyewa para penjaga?" Burung garuda itu melirik rangkaian gerobaknya dan tak melihat seorang pun di belakang orang tua itu.
    "Entahlah. Semestinya aku punya penjaga. Tapi rasa-rasanya aku tidak melihat ada satu pun penjaga yang pernah kusewa sedang menjaga hartaku ini."
    "Kau ini benar-benar aneh, Pak Tua," ujar burung garuda itu.

    Burung itu lalu terbang rendah melihat-lihat rangkaian gerobak harta Si Tuan Majikan. Begitu mewah dan megah rangkaian gerobak harta orang tua itu. Dari mata Sang Garuda, terlihat ada gulungan sutera berbagai warna, batu-batu mulia berkilauan tertimpa terik surya, koin, koin emas yang membludak berceceran di samping kiri-kanan gerobak, lembaran-lembaran karpet mewah dan kain berbagai corak, rempah-rempah, kayu wangi, dan masih banyak lagi di sepanjang gerobak yang tiada ujung itu. Namun, di sela-sela mewahnya aneka barang dalam gerobak, di gerobak urutan ke seratus sekian hingga seterusnya, dengan sangat jelas mata Sang Garuda menangkap tikus-tikus menggigiti isi gerobak. Burung itu segera menyambar salah satu tikus itu dan mencabik-cabiknya di udara sembari makan dan mengawasi gerobak yang lain. Sang Garuda lalu melihat gerobak yang sudah rapuh dan kosong isinya, hanya menyisakan sarang laba-laba. Gerobak yang lain tak kalah mengenaskan, dikerubuti rayap dan bolong di sana-sini. Ada pula gerobak yang berisikan ribuan belatung yang sibuk memamah daging-daging yang membusuk dan lalat yang terbang bersliweran, menebarkan bau keterpurukan. Mungkin isi gerobak itu sebelumnya adalah binatang ternak yang mati kelaparan dan membusuk tanpa pernah diketahui Si Tuan Majikan. Sisa gerobak yang lain tidak dipedulikan Sang Garuda lagi. Sudah cukup apa yang ia lihat.

    Burung garuda itu terbang kembali pada Si Tuan Majikan. Dalam hati burung itu berkecamuk berbagai pertanyaan yang mengganggu benaknya, apa yang salah?

    "Pak Tua, kau ini pemilik dari rangkaian gerobak penuh harta ini, bukan?"
    "Yah..., benar," jawab Si Tuan Majikan dengan lemah.
    "Kenapa jawabanmu ragu-ragu seperti itu? Kau yakin kalau gerobak ini dan seluruh isinya adalah milikmu?"
    "Memang benar."
    "Lalu mengapa kau seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi di belakang gerobak yang sedang kau tarik ini?"
    "Apa maksudmu?" tanya Si Tuan Majikan pura-pura tidak mengerti.

    Burung garuda itu mengerling penuh ancaman. matanya menangkap ada yang tidak beres dengan jawaban orang tua itu.
    "Kau membiarkan sebagian besar hartamu dirampok dan menghilang dengan sendirinya!" tegas Sang Garuda.

    Sejenak orang tua itu diam, menunduk. Sang Garuda menanti jawaban orang tua itu dengan gelisah. Lalu orang tua itu menegakkan kepalanya. Raut wajah Si Tuan Majikan begitu tersiksa.
    "Memang gerobak-gerobak itu dan seluruh isinya adalah hartaku, tapi aku tak punya kuasa untuk memilikinnya." Orang tua itu menangis tersedu-sedu.

    Sang Garuda menatap orang tua itu dengan tidak paham. "Kenapa?"

    Tiba-tiba tangis Si Tuan Majikan terputus oleh ledakan amarah beberapa orang dari arah belakang gerobak yang sedang ditarik orang tua itu. Dari gerobak kedua, muncullah sepuluh orang laki-laki dan perempuan berpakaian mewah. Kalung, gelang, dan cincin emas belomba-lomba menghiasi kekujur tubuh gerombolan itu. Ada yang sedang mengipasi diri dengan kipas bulu merak, ada pula yang sedang mengigiti paha kijang dengan rakusnya. Sisanya, seolah sengaja, menenggak minuman yang sedang dibawanya sampai terlihat jakunnya naik turun di hadapan Si Tuan Majikan. Sang Garuda melirik Si Tuan Majikan, terlihat ekspresi putus asa dan kalah pada wajah orang tua itu.

    "Hey, orang tua! Cepat berangkat! Pemalas!" hardik salah satu dari gerombolan angkuh itu sembari melemparkan tulang kijang ke kepala Si Tuan Majikan.

    Sang Garuda terkejut dengan kejadian tak terduga itu. Unggas itu terbang menjauh meninggalkan tatapan penuh tanya.

    "Baik, Tuan," ujar Si Tuan Majikan dengan tabah.

    Orang tua itu tanpa buang waktu segera menarik rangkaian gerobak tiada ujung tersebut dengan napas tercekik melebihi yang pernah ia alami seumur hidupnya.

    Orang-orang tadi itu adalah pembantuku yang sebenarnya, jawab Si Tuan Majikan dalam hati.



    Nah...., dah baca cerpennya?
    Silakan dikomen dan dianalisis. Hehehe.....

    Oh ya, cerpen ini dibuat sembari nunggu kuliah siang. Jadi, dimaklumi ya kalau ada yang nggak beres ato rancu logikanya.

    Setelah pengarang meluncurkan karyanya, maka pengarang tersebut mati atau dengan kata lain sudah tidak memiliki hak untuk menentukan makna dan isi karyanya.
    Maka yang memiliki hak istimewa tersebut adalah para pembaca.

    Thanks.
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. spinx04 Veteran

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Nov 22, 2009
    Messages:
    1,674
    Trophy Points:
    217
    Ratings:
    +2,537 / -0
    banyaknya harta tidak menjamin kebahagiaan...
    banyaknya harta membuat kepercayaan semakin sulit ditemukan,
    semakin banyak orang yang siap menusukkan belatinya dari belakang..., bahkan dari seluruh arah...


    ini yang ingin disampaikan? :???:
    atau...itu semua hanyalah delusi si pak tua yang merasa dirinya majikan? :lol:

    komentar:
    IMO bahasa ceritanya bagus! :top:
    terlebih untuk ukuran cerita iseng2 yang dikarang sebelum masuk kuliah! :top:
    (walaupun memang terlalu banyak kerancuan! :lol:)
    tapi entah kenapa aq merasa capek bacanya...:keringat:
    sory kk, aq memang ga terbiasa baca cerita yang ginian (ga berbau fantasi)..:keringat:
    makanya komentar nya ngaco! :lol:
    :maaf:

    CMIIW :peace:
     
  4. Giande M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Sep 20, 2009
    Messages:
    985
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +1,227 / -0
    bahasanya...........seperti baca cerita di pelajaran bahasa indonesia saat masih imut2 :haha:

    wit ceritanya rada2 gimana ya seperti cerita pengandaian atau mungkin hanya imajinasi si majikan :rokok:
     
    • Thanks Thanks x 1
  5. aph31 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 18, 2009
    Messages:
    36
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +2 / -0
    kasihan banget majikannya
     
    • Thanks Thanks x 1
  6. telniru Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 12, 2011
    Messages:
    12
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +3 / -0
    jadi inget cerpen2 jadul klo baca yang ini
     
    • Thanks Thanks x 1
  7. muchitsuru Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Sep 8, 2009
    Messages:
    255
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +17 / -0
    hehehe.....
    capek ya?
    maklum.... bikinnya ngaco.
    apa yang dipikirin ma apa yang mesti ditulisin lagi gak nyambung.
    hehehe....
    peace....
     
  8. tokidoki11 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Apr 16, 2010
    Messages:
    1,134
    Trophy Points:
    97
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +824 / -0
    perumpamaannya sih bagus
    cma kok endingnya gw ga ngerti ya?:bloon:
    hmmmm
     
    • Thanks Thanks x 1
  9. r1c099 Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Nov 20, 2008
    Messages:
    56
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +11 / -0
    bagus jg ceritanya yah
     
    • Thanks Thanks x 1
  10. danieldg Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Nov 4, 2010
    Messages:
    129
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +23 / -0
    ya nih kasihan bgt majikannya..
    ttp secara keseluruhan keren ceritanya
     
    • Thanks Thanks x 1
  11. nanamiang Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Sep 8, 2010
    Messages:
    234
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +21 / -0
    Walau agak puyeng baca awal ceritanya karena tulisannya banyak banget, tapi setelah dibaca, menarik juga...
    Mungkin maksud cerita ini, kadang kita bisa ada di atas, bisa juga tiba-tiba ada di bawah.
    Seperti nasib si majikan yang jadi bawahan mantan pembantunya...
     
    • Thanks Thanks x 1
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.