1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Novel Laskar Pelangi - Andrea Hirata

Discussion in 'Book Review' started by ossy_boy, Apr 23, 2012.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. ossy_boy M V U

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Aug 17, 2011
    Messages:
    155
    Trophy Points:
    162
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +20,639 / -0
    Judul: LASKAR PELANGI
    Pengarang: Andrea Hirata
    [​IMG]

    Link download: thread LP
    ziddu
    Diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh penulisnya sendiri, buku “Laskar Pelangi” menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung dari suatu komunitas Melayu yang sangat miskin Belitung. Anak orang-orang ‘kecil’ yang mencoba memperbaiki masa depan mereka.

    SD Muhammadiyah (sekolah penulis ini), tampak begitu rapuh dan menyedihkan dibandingkan dengan sekolah-sekolah PN Timah (Perusahaan Negara Timah). Mereka tersudut dalam ironi yang sangat besar karena kemiskinannya justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang mengeksploitasi tanah ulayat mereka.

    Kesulitan terus menerus membayangi sekolah kampung itu. Sekolah yang dibangun atas jiwa ikhlas dan kepeloporan dua orang guru, seorang kepala sekolah yang sudah tua, Bapak Harfan Efendy Noor dan ibu guru muda, Ibu Muslimah Hafsari, yang juga sangat miskin, berusaha mempertahankan semangat besar pendidikan dengan terseok-seok. Sekolah yang nyaris dibubarkan oleh pengawas sekolah Depdikbud Sumsel karena kekurangan murid itu, terselamatkan berkat seorang anak idiot yang sepanjang masa bersekolah tak pernah mendapatkan rapor.

    Sekolah yang dihidupi lewat uluran tangan para donatur di komunitas marjinal itu begitu miskin: gedung sekolah bobrok, ruang kelas beralas tanah, beratap bolong-bolong, berbangku seadanya, jika malam dipakai untuk menyimpan ternak, bahkan kapur tulis sekalipun terasa mahal bagi sekolah yang hanya mampu menggaji guru dan kepala sekolahnya dengan sekian kilo beras, sehingga para guru itu terpaksa menafkahi keluarganya dengan cara lain. Sang kepala sekolah mencangkul sebidang kebun dan sang ibu guru menerima jahitan.

    Kendati demikian, keajaiban seakan terjadi setiap hari di sekolah yang dari jauh tampak seperti bangunan yang akan roboh. Semuanya terjadi karena sejak hari pertama kelas satu sang kepala sekolah dan sang ibu guru muda yang hanya berijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri) telah berhasil mengambil hati sebelas anak-anak kecil miskin itu.

    Dari waktu ke waktu mereka berdua bahu membahu membesarkan hati kesebelas anak-anak tadi agar percaya diri, berani berkompetisi, agar menghargai dan menempatkan pendidikan sebagai hal yang sangat penting dalam hidup ini. Mereka mengajari kesebelas muridnya agar tegar, tekun, tak mudah menyerah, dan gagah berani menghadapi kesulitan sebesar apapun. Kedua guru itu juga merupakan guru yang ulung sehingga menghasilkan seorang murid yang sangat pintar dan mereka mampu mengasah bakat beberapa murid lainnya. Pak Harfan dan Bu Mus juga mengajarkan cinta sesama dan mereka amat menyayangi kesebelas muridnya. Kedua guru miskin itu memberi julukan kesebelas murid itu sebagai para Laskar Pelangi.

    Keajaiban terjadi ketika sekolah Muhamaddiyah, dipimpin oleh salah satu laskar pelangi mampu menjuarai karnaval mengalahkan sekolah PN dan keajaiban mencapai puncaknya ketika tiga orang anak anggota laskar pelangi (Ikal, Lintang, dan Sahara) berhasil menjuarai lomba cerdas tangkas mengalahkan sekolah-sekolah PN dan sekolah-sekolah negeri. Suatu prestasi yang puluhan tahun selalu digondol sekolah-sekolah PN.

    Tak ayal, kejadian yang paling menyedihkan melanda sekolah Muhamaddiyah ketika Lintang, siswa paling jenius anggota laskar pelangi itu harus berhenti sekolah padahal cuma tinggal satu triwulan menyelesaikan SMP. Ia harus berhenti karena ia anak laki-laki tertua yang harus menghidupi keluarga, sebab ketika itu ayahnya meninggal dunia.

    Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah keluarga justru disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan mengekploitasi tanah leluhurnya.

    Meskipun awal tahun 90-an sekolah Muhamaddiyah itu akhirnya ditutup karena sama sekali sudah tidak bisa membiayai diri sendiri, tapi semangat, integritas, keluruhan budi, dan ketekunan yang diajarkan Pak Harfan dan Bu Muslimah tetap hidup dalam hati para laskar pelangi. Akhirnya kedua guru itu bisa berbangga karena diantara sebelas orang anggota laskar pelangi sekarang ada yang menjadi wakil rakyat, ada yang menjadi research and development manager di salah satu perusahaan multi nasional paling penting di negeri ini, ada yang mendapatkan bea siswa international kemudian melakukan research di University de Paris, Sorbonne dan lulus S2 dengan predikat with distinction dari sebuah universitas terkemuka di Inggris.

    Semua itu, buah dari pendidikan akhlak dan kecintaan intelektual yang ditanamkan oleh Bu Mus dan Pak Harfan. Kedua orang hebat yang mungkin bahkan belum pernah keluar dari pulau mereka sendiri di ujung paling Selatan Sumatera sana.
    A. Kekurangan / Kelebihan :
    Kekuatan novel ini terletak pada sentilan humaniora tentang pentingnya pendidikan sekolah dan sekaligus kuatnya moral agama. Novel ini wajib baca bagi generasi muda yang terlena dengan gelimang kemudahan ekonomi dan tak lagi kenal jerih payah untuk menggapai masa depan. Novel ini juga wajib baca bagi para pendidik, bagi pemerintah yang selalu alpa pada pentingnya pendidikan. Buah dari kealpaan itu diantaranya adalah, kini kita menjadi bangsa yang sering menjadi bahan olok-olok oleh bangsa lain, karena kita rajin mencetak manusia yang tak punya kualitas.

    Kelemahan novel ini, menurut saya, hanya terletak pada cara mengakhiri cerita. Semestinya, novel ini sudah ditutup pada bab 33: Anarkonisme, yang menceritakan kejatuhan Babel (Bangka Belitung) yang dulu bergelimbang Timah. Bab 34: Gotik, menurut saya menjadi ekor cerita yang membingungkan. Karena penutur ”Aku” secara tiba-tiba menjadi orang lain, dan bukan lagi Ikal. Bab 34 ini menjadi sebuah kemubaziran. Sama persis seperti seorang pelukis yang seharusnya berhenti menguaskan catnya pada bidang lukis yang sudah sempurna, tapi kemudian menjadi berantakan karena sebuah goresan yang tidak perlu.

    B. Penilaian Sudut Pandang sebagai Peresei :
    Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata merupakan novel terlaris dalam sejarah kesusasteraan Indonesia. Novel ini mengangkat tema semangat pendidikan anak-anak Belitong di era tahun 70-an, yang diilhami dari kisah nyata penulisnya. Muatan intelektualitas serta spiritalitas novel Laskar Pelangi, menjadikan Andrea Hirata sebagai seorang penulis novel terkenal di Indonesia. Permasalahan yang muncul dalam kajian ini adalah bagaimana teknik yang digunakan pengarang melalui sudut pandang tokoh ”aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan fungsi dari teknik yang digunakan pengarang melalui sudut pandang tokoh ”aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Tujuan yang muncul dalam kajuan ini adalah untuk mendeskripsikan teknik yang digunakan pengarang melalui sudut pandang tokoh ”aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan fungsi dari teknik yang digunakan pengarang melalui sudut pandang tokoh ”aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan strukturalisme. Pendekatan strukturalisme merupakan susunan yang menampakkan tata hubungan antar pembentuk karya sastra sebagai unsur yang terpadu, dengan demikian segala sesuatu yang ada di dalam karya sastra dilihat sebagai dunia yang berdiri sendiri, jadi dalam menganalisis unsur-unsur struktur yang ada di dalam karya sastra harus ditopang oleh pengetahuan yang mendalam tentang pengertian, peran, fungsi, dan segala sesuatunya yang berkaitan dengan unsur itu. Pendekatan strukturalisme digunakan untuk menganalisis teknik yang digunakan pengarang melalui sudut pandang tokoh ”aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan menganalisis fungsi penggunaan sudut pandang tokoh ”aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Hasil dari kajian ini adalah pemakaian sudut pandang pada novel Laskar Pelangi ternyata bisa digunakan oleh pengarang untuk menggambarkan tindakantindakan tokohnya, dan bisa mengungkap pikiran yang ada pada diri tokoh. Sudut pandang, oleh pengarang bisa dipakai untuk memandang kehidupan tokoh secara fisik maupun secara kejiwaan. Selain itu, tuturan tokoh bisa dipakai untuk melihat sudut pandang yang dipakai oleh pengarang. Novel Laskar Pelangi setelah dianalisis sudut pandangnya yang meliputi (a) Luasnya pandangan, (b) kedalaman/tingkat ketajaman pandangan, (c) ujaran/tuturan dapat dipergunakan untuk mengungkap unsur-unsur lain dalam cerita-cerita tersebut seperti unsur latar tempat, latar waktu, peristiwa, konflik batin, konflik sosial, dan tingkah laku, sifat, dan sikap tokoh. Unsur-unsur inilah yang menjelaskan fungsi dari teknik yang digunakan pengarang melalui sudut pandang “aku” dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Penelitian ini diharapkan dapat lebih dikembangkan guna meningkatkan mutu atau kualitas pada penelitian studi strukturalisme pada teks sastra selanjutnya.

    Rating: 8/10
     
    • Like Like x 3
    Last edited by a moderator: Aug 1, 2014
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.