1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Yuk cek keseruan dan bantu vote chain terbaik EPYC Season 17! Klik info lengkapnya di sini, kuy~.
    Dismiss Notice
  3. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  4. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  5. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Inspiration Karena Ukuran Kita Tak Sama

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by fuikisama, Aug 2, 2015.

  1. fuikisama MODERATOR

    Offline

    Superstar

    Joined:
    Mar 24, 2012
    Messages:
    18,067
    Trophy Points:
    258
    Ratings:
    +23,930 / -180
    Karena Ukuran Kita Tak Sama


    Oleh Salim A. Fillah
    "seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
    memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
    memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
    kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi"

    Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

    Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

    “Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

    Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

    ”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

    “Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

    Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

    [​IMG]
    ”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

    “Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

    ”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

    “Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

    “Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

    Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

    ”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

    ‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.


    ‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

    ‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

    Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

    Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

    “Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

    Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

    Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

    Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

    Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

    Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

    Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

    “Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

    “Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
    Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

    Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

    Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

    Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

    Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

    Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
    tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

    Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

    Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

    Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

    sepenuh cinta,
    Salim A. Fillah

     
    • Like Like x 2
    • Thanks Thanks x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. abdiano10 Members

    Offline

    Joined:
    Jul 21, 2016
    Messages:
    3
    Trophy Points:
    1
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +0 / -0
    keren, suka suka gan :matabelo::matabelo:
     
  4. phelord Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Jan 26, 2010
    Messages:
    114
    Trophy Points:
    32
    Ratings:
    +5 / -3
    luar biasa. 2 jempol untuk kisah yang memotivasi
     
  5. yonkav Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 5, 2016
    Messages:
    17
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +0 / -1
    cerita yang mengharukan :ogmatabelo:
     
  6. haedy Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Aug 21, 2009
    Messages:
    28
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +0 / -0
    Bisa jadi einstein mendapat inspirasi teori relativitas dari cerita ini :p
     
  7. zapikoe Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 27, 2009
    Messages:
    44
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +1 / -0
    keren.. mantab banget euy!
     
  8. andelumut23 Members

    Offline

    Joined:
    Oct 28, 2012
    Messages:
    9
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +1 / -0
    Pencerahan Gan...ditunggu postingan selanjutnya
     
  9. Rizuri M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 3, 2014
    Messages:
    814
    Trophy Points:
    107
    Ratings:
    +388 / -0
    Mantap, intinya jangan terlalu cepat menghakimi orang lain, coba berpikir dan lihatlah dari sudut pandang lain
     
  10. dexterandre Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 24, 2010
    Messages:
    25
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +4 / -0
    thanks gan., bisa dapat sesuai nilai dari ceritanya
     
  11. kumamaku Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Jun 7, 2009
    Messages:
    49
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +1 / -0
    Keren.. terima kasih atas inspirasinya.
     
  12. pankseith Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Oct 26, 2012
    Messages:
    35
    Trophy Points:
    22
    Ratings:
    +0 / -0
    Inspiratif sekali gan ceritanya ... :ogmatabelo::ogmatabelo:
     
  13. Banksy M V U

    Offline

    Spraying Around

    Joined:
    Sep 21, 2011
    Messages:
    2,974
    Trophy Points:
    248
    Ratings:
    +58,182 / -100
    kisah2 dalam buku Salim A Fillah umumnya diterjemahkan dari naskah berbahasa arab, dg elaborasi kata dan penekanan yg lebih dramatis

    itu lah mengapa buku ustad salim banyak laku, meski sebenernya kisahnya kisah2 lama, banyak orang yg pernah denger, tapi lebih drama aja gitu
     
  14. Soebagijo M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jul 20, 2014
    Messages:
    539
    Trophy Points:
    32
    Ratings:
    +43 / -0
    Setuju. Untuk melakukan penilaian membutuhkan beberapa sudut pandang :oghi:

    Biar semuanya nampak terang dan tidak bias :oghehe:
     

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.