1. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Ungkapin kenangan film Asia paling berkesan buatmu. Berhadiah GK, Pulsa, dan Line Gift Sticker loh! .Klik info lengkapnya di sini, kuy~.
  5. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  6. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic Kampret Clan Story

Discussion in 'Fiction' started by libraangel, Jun 14, 2010.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. libraangel Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 11, 2010
    Messages:
    68
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +44 / -0
    hi!! saya nulis cerita ini buat semacem 'fictional universe' yang saya buat sendiri dengan teman2 saya.. ceritanya tentang grup mafia yang terdiri dari 6 orang yang mempunyai skill dan kemampuan berbeda-beda.. ceritanya cukup panjang dan masih dalam tahap penulisan.. :D
    setiap karakternya di basiskan dari diri kita masing-masing, mungkin untuk orang yang tidak mengenal kita, ceritanya agak aneh.. tapi saya ingin share dan lihat bagaimana pendapat tmn2 semua ttg cerita ini! thanks!

    ini episode 1nya.. berjudul The Black Business :D
    semuanya ini original tulisan saya :D
    jangan lupa komen ya :) saya terima kritik yg membangun kok!

    ---

    Episode 1 || The Black Business

    “Hmm…” Princess mengamati sekeliling ruangan itu dengan seksama.
    Hening.
    “Dimana…?” tanya Princess kebingungan. Ia melihat sekeliling sekali lagi dan menggelengkan kepalanya. Benda itu masih belum ditemukannya.
    Berderet rapi benda – benda emas yang berhias permata indah. Tidak ada satu detikpun dimana Princess tidak mengaguminya. Sejenak Princess terhenyak. Di setiap ruangan maupun lantai, tidak luput dari artifak – artifak yang menemani tidur sunyi sang ratu. Ruangan ini diisikan patung - patung emas burung – burung bermata berlian dalam berbagai ukuran. Mereka semua cantik dan seakan berkicau memanggil.
    Princess harus tetap fokus pada tugasnya. Itu yang ditugaskan Boss padanya, dan Princess tidak akan mengecewakannya. Princess teringat sesuatu. Dia tidak disini sendirian. Dengan kekhawatiran Princess menolehkan kepalanya untuk mengecek akan keberadaan Master. “Dasar,” pikir Princess “Tidak bisa dilepas sedikitpun. Sekali lepas pasti langsung pergi entah kemana.” Princess bernafas lega saat melihat Master masih dibelakangnya berbicara dengan sebuah patung gajah dari emas.
    “Lho… kamu kok ada disini ya?” ucap Master kepada Patung Gajah Emas. “Hehehe…”
    Tidak ada jawaban dari pihak gajah.
    “Kamu cantik deh.”
    Princess menggelengkan kepalanya dengan ketidakpercayaan. Andai saja Master tahu bahwa Patung Gajah Emas itu merupakan salah satu symbol dewa yang dipuja masyarakat setempat. Tapi entahlah. Mengingat Master, walaupun Gajah itu adalah Dewa sekalipun, sepertinya ia tak peduli. “Kenapa harus selalu aku yang dikirim bersama orang ini?” pikir Princess. Terbayang olehnya wajah Boss yang tertawa penuh kepuasan saat mengirim mereka berdua dalam misi ke India ini.
    “MASTER!” teriak Princess.
    “Hah? Apa?” Tanya Master dengan wajah polos.
    “Cepat! Lama, ah!”
    “Gajah…” ucap Master sedih pada Patung Gajah Emas.
    Princess maju dan menarik Master menjauh dari Patung Gajah Emas itu. “Kita disini untuk mencari guci itu. Sekarang, ayo jalan!”
    “GAJAAAH…” tatap Master memelas pada Princess. “Bawa pulang?”
    Princess menatap Master dengan tatapan tajamnya.
    Dan Master tahu apa artinya.
    Taj Mahal masih besar, dan entah dimana benda yang diinginkan Boss itu.

    ***
    Suasana airport sangat bising. Setelah mengambil barang bagasinya (yang hanya berupa satu tas kecil), Hunter masuk ke ruang tunggu sambil mencari – cari. Otaknya berpikir, Keberhasilannya di Jepang pasti sangat menyenangkan hati Boss. Apakah Boss sendiri yang akan menjemputnya?
    Ah, Hunter tersenyum. Tidak mungkin. Boss tidak akan pernah turun tangan dalam masalah sepele seperti jemput menjemput.
    Dia tersenyum saat mengetahui siapa yang menjemputnya.
    “I’m back.” Ucap Hunter sambil melepaskan kacamata hitamnya.
    “Kamu bawa Kimono pesananku?” Tanya Lady, menurunkan majalah yang dibacanya.
    “Tidak. Kubawakan bikini. Princess juga.”
    “Kamu tahu, sebenarnya kamu tidak perlu dijemput, kan?” jawab Lady kesal
    “Membunuh orang bikin lelah, aku perlu seseorang untuk… melayaniku.”
    “Pelayan…?” Lady memberikan tatapan kejam, yang kemudian dihilangkannya dari wajahnya. “Mobil di depan. Cepat, aku gak punya waktu lama!”
    “Iya – iya.” Jawab Hunter santai.
    Lady menatapnya tajam.
    “Iya…” Mereka pun bergegas menuju pintu keluar airport.
    Setelah perjalanan sesaat, mobil-pun berhenti didepan sebuah rumah klasik dengan desain elegan. Rumah tersebut merupakan rumah luas bertingkat yang didominasi unsur kayu dan warna putih, dengan banyak jendela dan kaca. Tirai – tirai putih berkibar manja tertiup oleh angin, taman besar menyambut mereka ketika mobil memasuki gerbang kayu besar. Mobil-pun berhenti didepan jembatan kayu yang menghubungkan taman dan pintu masuk karena pintu dan taman dipisahkan oleh kolam ikan berair jernih dengan puluhan ikan koi menari menikmati segarnya air hari itu.
    Lady menatap Hunter aneh. “Turun.”
    Hunter segera turun dari mobil Lady. Mobil itu segera tancap gas menuju garasi di daerah lain rumah itu.
    Hunter menapaki jembatan kayu itu dengan cepat. Dengan segera, dia berhasil melewati jembatan itu dan menuju ke pintu depan serta dengan segera membuka pintu besar bergagang megah yang ada di depan headquarter mereka. Tanpa basa – basi, Hunter masuk dan segera merebahkan tubuhnya di sofa cashmere berwarna krem yang ada di hall headquarter mereka.
    Hunter menarik nafas lega. “It’s good to be back.”
    ***
    Boss menuruni salah satu dari dua tangga marmer bergagang besi dengan cepat, kakinya melangkahkan diri ringan seperti yang biasa dilakukannya. Setelah sampai di bawah, Boss mendapati Hunter sedang memejamkan matanya, tertidur santai di sofa krem yang diimportnya dari Italia beberapa minggu yang lalu. Boss menggelengkan kepalanya.
    “Ehehem…” boss berdeham pelan.
    Namun itu sudah cukup untuk membangunkan Hunter. Semua anggota mereka sudah terlatih untuk mendengarkan suara sepelan apapun.
    “Hai Boss…” ujar Hunter, tetap dengan wajah santainya.
    “Jadi?” tanya Boss dengan wajah datar.
    “Sukses.” Hunter menjawab dengan penuh kemenangan.
    “Bagus.” Akhirnya terlihat senyum tipis diwajah boss. Senyuman tipis itu menandakan bahwa ia puas dengan hasil yang diperoleh Hunter.
    “Took you long enough.” Suara familier itu mengejutkan Boss dan Hunter. Lady masuk dengan membawa kunci mobilnya. “Dua bulan.”
    “Orangnya besar.” Hunter berkelit.
    “Aku menyelesaikan masalah Siberia hanya dalam 2 minggu, dan mereka 2 orang besar.”
    “Orang jepang lebih susah, kau tahu.”
    “It’s still one gun and a head.” Jawab Lady.
    Boss berdeham lagi. “Itu bukan masalah sekarang. Dengan tereliminasinya Andrew Takahashi, itu berarti tiket masuk ke Jalan Sutra.”
    “Dan dengan masuk ke jalan sutra, itu berarti jalan masuk kita ke pasar gelap terbesar yang pernah ada di sejarah black business.” RH menyahut dari belakang.
    Boss, Hunter dan Lady tersenyum mengiyakan.
    ***
    “Eh, ada pesawat lewat…” ucap Master, matanya menatap lurus ke jendela kaca besar di langit – langit ruangan itu.
    Princess menghela nafas menyerah. “For once I hope to be teamed up with someone else…” pikir Princess dalam hati. Matanya menelusuri ruangan itu dengan seksama.
    Patung emas…
    Kalung rubi…
    Mata Princess terhenti dan terpaku.
    Itulah bendanya.
    Benda yang dicari olehnya dan Master sepanjang hari.
    Guci itu adalah sebuah Guci keramik yang berukiran huruf - huruf sansekerta, berwarna putih bersih, huruf – huruf yang terlukis dengan warna hijau muda membuat guci yang berukuran cukup sedang itu terlihat tidak mencolok, namun tetap mewah dan elegan. Batu emerald hijau tua yang menghiasi guci itu bersinar redup. Indah, dan nyata dihadapan mereka.
    Princess tersenyum puas. Ia segera menghampiri guci itu dan merogoh kedalamnya. Kegembiraannya lenyap. Princess kebingungan, karena yang ia tidak menemukan apa – apa di dalam guci itu. “WHERE IS IT?!” teriak Princess kebingungan.
    “Tenang, Princess.” Ucap Master santai. Pria itu menolehkan kepala dari jendela yang sedang diamatinya dan berjalan kearah Princess.
    “Tapi benda itu tidak ada di dalam sini!” Princess menjerit frustasi.
    Master mengamati guci itu dan mendekatinya. “Biar kulihat du--“
    PYAAAA—AAR!
    “Au au au au!” jerit Master histeris. Pecahan guci dimana – mana. Master tersandung scroll – scroll lukisan yang tergeletak sembarangan dan jatuh langsung menuju guci emerald yang mereka cari – cari sepanjang hari ini.
    Princess-pun berdiri terpaku speechless.
    “Ah!” teriak Master. “Apa ini yang mengganjal di pantat ku?!” Master menarik sesuatu dari belakang tubuhnya. Itu adalah sebuah kotak kecil dari kayu.
    Setelah melihat benda yang dipegang oleh Master, Princess langsung mengambilnya dari tangan Master. “Ini…” Princess mengamatinya dengan seksama. Gadis itu tersenyum samar.
    “We found it.”
    “Bagus! Sekarang bisa tolong aku?”
    ***
    “Minum teh ini, your favorite.” Ujar RH menyorongkan cangkir porselen itu kehadapan Boss.
    Boss meminum teh itu dengan senang hati, “Earl Grey, Enak sekali.”
    “Tentu, aku membuatnya sendiri.” Jawab RH bangga.
    “Untukku mana?” Tanya Lady dari sofa panjang tempat ia duduk sekarang.
    RH menatapnya nanar. “Ambil sendiri.”
    “Jahat.”
    Namun Lady-pun berdiri dan mengambil cangkirnya sendiri, menuangkan teh yang masih hangat kedalam cangkirnya. Gadis itu meminumnya seteguk. “Memang enak.” Ucapnya, kemudian meminum seteguk lagi.
    “Tentu, tidak ada yang membuat teh seenak aku.” Jawab RH.
    Boss menatap sekeliling ruangan setelah meminum habis sisa tehnya. Ia melihat Lady dan RH yang masih berdebat tentang teh, yang kemudian berganti topik menjadi biskuit, roti dan makanan ringan lainnya. Ia melihat hunter yang sedang terduduk santai sambil memegang handphone-nya. Sibuk memilih contact untuk ditelepon, gadis yang akan menemaninya malam ini. Boss tersenyum kecil melihat keadaan disekelilingnya. Terbayangkan dibenaknya apa yang terjadi di India sekarang, dapat dipastikan bahwa Princess akan lebih sibuk mengurus Master daripada menjalankan misi itu sendiri. Boss meletakkan cangkirnya yang kosong diatas meja, kemudian mulai berjalan dan menaiki tangga melingkar itu sekali lagi, kembali ke lantai atas. Tempat kamar tidurnya berada.
    Boss membuka pintu kamarnya, untuk menemukan kamar bernuansa putih elegan, dengan pintu balkon terbuka, dan angin menerpa masuk, memberikan nuansa sejuk. Tapi entah kenapa, Boss tetap merasa bahwa ada sesuatu yang hilang.
    Mata Boss menyapu ruangan itu sekali lagi. Dia mendekati nakas putih disamping ranjangnya dan mengambil sebuah bingkai foto kayu tua yang terletak diatasnya. Wajahnya tersenyum sedih menatap wajah yang ada di bingkai foto itu, wajah yang begitu dikenalnya, senyum yang begitu di cintainya. Star…
    “Sudah 3 tahun… Ya, kan?” sebuah suara dibalik pintu yang terbuka terdengar.
    Boss tidak bersuara. Dia hanya membiarkan Lady masuk ke dalam kamarnya dan duduk disampingnya. “Mungkin sudah saatnya kamu melepaskannya.” Ucapnya pelan, seakan berbisik, namun terdengar jelas oleh Boss.
    “Dia…” ucap Boss lirih.
    Lady menatap adik laki – lakinya sedih. “Dia sudah pergi…”
    “Karena kesalahanku.” Tambah Boss.
    “Kamu harus berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Dia pergi, karena keinginannya sendiri.”
    “Karena hidup denganku tidak membahagiakannya.”
    “Mungkin itu menurutmu, mungkin juga karena alasan lain…”
    “CUKUP!” teriak Boss. “Aku perlu waktu sendiri.” Tambahnya lirih.
    “Tentu.” Jawab Lady kaku, kemudian gadis itu beranjak keluar dari kamar adik lelakinya, menuruni tangga, kembali ke main hall dan mengambil secangkir teh lagi untuk dirinya.
    RH menatapnya, seakan menanyakan sebuah jawaban.
    Lady mengangkat bahunya. “Nothing.” Jawab Lady, kemudian meminum lagi seteguk dari cangkir tehnya.
    Lady berjalan mendekati Hunter yang sedang berbicara di handphone-nya, menebarkan rayuan gombal yang membuat wajah Lady meringis karena geli.
    Tiba – tiba wajah Hunter berubah masam. Ia berbisik kepada Lady. “Dia mengerikan. Psycho abis. Help?”
    Lady berteriak kencang: “Baby, I’m waiting for you.” Sambil menahan tawa.
    “Maaf, kekasihku ada disini… Daah!” ucapnya sambil segera memutuskan sambungan telepon. Mereka berdua-pun tertawa geli.
    “Bodoh, kamu harus berhenti melakukan itu kepada cewek – cewek yang tidak kamu sukai.”
    “Mungkin, kalau populasi wanita sudah lebih sedikit dari laki – laki. Sementara itu, aku ingin memilih yang terbaik.”
    “Aku ingin muntah mendengarnya.”
    Tanpa mereka sadari, RH berjalan keluar dari hall menuju dapur besar mereka. Mengambil handphone-nya dan menekan sederet nomor secara cepat.
    “Halo…” terdengar suara putus-putus di seberang telepon. Suara bising memekakkan telinga RH. “Ada apa?” lanjut suara itu lagi.
    ***

    “Not bad.” Ucap Princess, berusaha untuk tidak menyanjung Master terlalu tinggi. “Lucky Guy…” pikirnya dalam hati.
    “Ehm… Biasa saja.” Balas Master dengan senyum polos.
    Princess sibuk mengutak – atik kotak kayu itu. Tanpa ia sadari handphone-nya berdering.
    “Princess, handphone-mu berbunyi.” Ucap Master pelan.
    “Oh ya!” jawab Princess terkejut, tangannya segera bergerak reflex untuk mengangkat telepon itu, “We found it.” Ucapnya langsung.
    “Bagus. Go Home.” Kata suara di seberang telepon.
    “Tenang, Lady. Mencari pintu keluar Taj Mahal tidak semudah yang kamu pikir.” Jawab Princess, dengan mata mencari – cari akan pintu keluar. “Tidak lebih mudah dengan Master disini.” Tambahnya pelan.
    Suara diseberang tertawa. “Kutunggu cerita lengkapnya.”
    “It’s been hell.”
    Tiba – tiba terdengar suara samar – samar dari kejauhan, tampaklah 3 sosok orang india bertubuh kekar, dengan wajah marah, tampil garang dengan membawa senjata tajam di pinggang mereka.
    “They don’t look so happy…” kata Master
    “MENURUTMU?!” teriak Princess. “Siap – siap, mereka akan menyerang kapan saja…” tambahnya pelan.
    Ketiga orang india itu tetap menatap mereka sambil berkata – kata dalam bahasa hindi dengan cepat, sehingga tidak dapat diikuti oleh Princess dan Master.
    Princess memutar otaknya. Bernegosiasi! “Kshama keejeeae–Excuse me. Kyaa aap angrézee mein baat kar saktey hain –Do you speak English?”
    “Haan – Yes.” Ucap salah seorang dari mereka. “WHAT ARE YOU DOING HERE?” tanya salah satu dari mereka yang menggunakan pakaian hijau.
    “We…” Princess baru akan menjawab.
    “Janamdin kee shubhaechaen!” teriak Master tiba – tiba.
    “Huh?” teriak semuanya, termasuk Princess.
    “What?” Tanya Master polos.
    Hening.
    “Get them!” teriak mereka semua dengan penuh amarah.
    “LARI!”
    Princess dan Master berlari secepat mungkin menjauhi ketiga pria india itu, yang dengan cepat mengejar mereka.
    “Apa yang barusan aku ucapkan?” tanya Master sambil berlari. “Belok kiri.” Tambahnya pada Princess.
    “Kamu baru bilang, Happy Birthday. Lagian dari mana kamu dapat kata itu?”
    “Aku baca di buku Hindi For Dummies aku tidak membaca artinya.”
    “Well, you got us into trouble.” Tambah Princess kesal selagi berisyarat pada Master untuk masuk kedalam sebuah celah di dinding.
    “WHERE ARE THEY?!” terdengar salah satu suara itu berseru keras. Barang – barang berjatuhan.
    “Gawat.” Ucap Princess. “Tampaknya satu-satunya jalan adalah dengan melawan mereka.” Tambahnya lagi.
    “Mereka adalah pria-pria BESAR.” Kata Master dengan penekanan pada kata besar.
    “Jadi? Like we never had worse?” ucap Princess dengan tatapan are-you-kidding-me terbaiknya.
    Princess mengendap – endap keluar dari celah persembunyiannya, mengambil sebuah tongkat kayu dari salah satu diantara banyak barang di dekatnya. Ketika gadis itu mendengar salah seorang dari penyerang mereka datang, dengan sigap ia berbalik dan melemparkan tongkat kayunya kepada Pria itu.
    KLAK!
    “Tepat sasaran.” Kata Princess puas. Gadis itu tersenyum dan berbalik, hanya untuk menemukan salah seorang lagi dari ketiga orang itu berada di hadapannya dengan wajah yang jelas tidak senang.
    Sudah terlambat untuk kabur. Princess berbalik untuk kabur namun Pria itu mengangkat tubuh Princess yang tinggi dengan salah satu tangannya seakan – akan Princess hanyalah seorang anak bayi. Dan mulai melingkarkan tangannya dileher Princess dan mulai menariknya kedalam.
    Princess dalam posisi tercekik, tidak bisa bernafas maupun bergerak. Matanya terpejam, berharap terjadi keajaiban.
    PYAR!!
    Tiba – tiba Princess merasakan cekikan di lehernya berkurang dan kemudian hilang sama sekali. Gadis itu menoleh untuk melihat apa yang terjadi padanya. Terlihatlah pria besar itu tergeletak tidak sadar dengan darah di kepalanya, dan Master memegang sisa dari apa yang pernah ada dari vas antik itu.
    Master tersenyum padanya. “Ayo pergi sekarang.”
    Princess segera berlari mendahului Master. Salah satu dari ketiga orang itu masih ada dan masih akan mencari mereka.
    Mereka mengelilingi seluruh Taj Mahal dengan cepat, sekaligus dengan hati – hati.
    Princess akhirnya menemukan pintu keluar yang mereka cari – cari, Princess segera membukanya, namun dengan sangat cepat sebuah tangan besar segera menariknya, keluar dari ruangan itu dan membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya yang hitam dan kekar.
    Princess tidak bisa melawan, selain dengan pasrah melemaskan tubuhnya dan membiarkan tubuhnya dibawa oleh Pria itu. Entah kemana. Princess merasakan matahari menyinari kulitnya. Gadis itu telah keluar dari Taj Mahal.
    Master?
    Pria itu masih jauh dari pintu keluar saat kejadian itu berlangsung.
    Master hanya bisa melihat, dan berlari.

    :D gimana pendapat kalian? :sebel:
    kalau ada yg suka, saya bisa post episode 2 nya :)
    kalau tidak.. yah.. juga tidak apa-apa :piss:
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. azkhaz M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jul 6, 2009
    Messages:
    2,191
    Trophy Points:
    211
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +121,756 / -1
    Lumayan bro ... lanjutin episode 2 nya DAAAAHH .. ditunggu.. :top:
     
  4. libraangel Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 11, 2010
    Messages:
    68
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +44 / -0
    thanks uda dibaca.. ^^
    ada kritik ato masukan?
     
  5. benih M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Nov 11, 2009
    Messages:
    484
    Trophy Points:
    141
    Ratings:
    +2,285 / -0
    panjang banget kk

    makasih dah share

    :niceinfo:
     
  6. libraangel Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 11, 2010
    Messages:
    68
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +44 / -0
    thank you bener udah baca :)
     
  7. simomone M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Jul 27, 2009
    Messages:
    3,523
    Trophy Points:
    226
    Ratings:
    +37,183 / -0
    walaupun agak panjang tapi cukup menarik juga, ceritanya ide ceritanya bagus :top:
    ditunggu eps 2 nya, tapi kalo bisa jangan panjang-panjang :hihi:
     
  8. libraangel Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Apr 11, 2010
    Messages:
    68
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +44 / -0
    iseng2 update lagi...

    Episode 2 || Revenge, Vengeance and Retribution

    “Kuterima kabar terbaru tentang Andrew Takahashi.” ucap RH masuk kedalam meeting room mereka.
    “Bagus. Bagaimana keadaan disana?” tanya Boss yang sedang berdiri memegang beberapa catatan di tangannya.
    RH segera mengambil tempat duduknya. “Buruk, untuk mereka. Baik, untuk kita.” jawab RH sambil tersenyum.
    Lady memasuki ruangan bernuansa crème dan coklat itu, tersenyum kepada Boss dan RH, kemudian segera menduduki kursi beige favoritnya, meluruskan kedua kakinya di ottoman berwarna senada. “Sampai dimana kita?” tanyanya.
    “Kami baru memulai, kok.” Jawab RH santai.
    “Mana Hunter?” tanya Boss.
    “Entahlah, dia tadi masuk kedalam kamarnya, dan belum keluar sampai sekarang.” jawab Lady tak acuh. “Perjalanan jauh, mungkin kelelahan.” tambah Lady bercanda. Tidak ada kata lelah dalam apa yang mereka lakukan.
    “Baiklah, bagaimana update terakhir Princess dan Master?” tanya Boss, sambil menduduki tempat duduknya sendiri.
    “Cukup baik, terakhir kali aku mengkontak mereka, benda itu telah ditemukannya. Mereka seharusnya sudah dalam perjalanan pulang jika tidak ada masalah.” kata Lady.
    ***
    Princess membuka kedua matanya perlahan. Sinar yang terang dari lampu diatas kepalanya membuatnya menutup mata, dan perlahan mencoba membukanya kembali. Apa yang terjadi? tanyanya dalam hati. Terdengar suara musik keras dan suara-suara gemerincing. Tiba-tiba semuanya kembali ke ingatannya.
    Master… Gajah emas… Kotak antik… 3 Pria India… Tertangkap…
    Princess melihat kesekelilingnya. Penjara. Jeruji besi tua itu mengekangnya, dan dua penjaga besar berada di depan penjaranya. Mencegahnya untuk kabur. Gadis itu berusaha menggerakkan tangannya. Tidak berguna. Tangannya-pun diikat.
    “SHE’S AWAKE!” seru salah seorang dari Penjaga
    “TAKE HER TO SULTAN!” jawab Penjaga yang lain.
    Princess dapat melihat tangan penjaga yang besar, hitam dan berbulu itu membuka pintu penjara, masuk kedalam sel-nya yang kecil dan menarik tangan Princess dengan kasar. Princess tahu, tidak ada gunanya melawan sekarang.
    Princess mendengar suara musik dan suara gemerincing itu lebih mengeras dan mengeras. “Where are you taking me?” tanya Princess dengan suara pelan.
    Penjaga itu tidak menggubrisnya.
    Sesaat kemudian mereka sampai di dalam ruangan besar yang megah. Lebih dari apa yang pernah ada di film-film india, warna merah dan emas memenuhi ruangan itu, banyak patung-patung emas dari besar dan kecil, bahkan patung gajah yang seperti yang dikagumi Master-pun ada dan tidak hanya satu, namun tiga! Penari perut berpakaian dengan sutera-sutera warna-warni terbaik, menari dengan senyum menggoda. Princess melihat kerincingan di bawah kaki gadis-gadis itu. Inilah sumber semua suara gemerincing itu. Musik keras terdengar, memekakkan telinga. Namun ruangan besar ini terasa begitu kosong. Tidak ada tamu, hanya ada penari, penjaga, serta pemain musik dan…
    Pandangan Princess sampai pada Pria pendek di atas ‘tahta’ yang memakai baju satin berwarna merah, dan sedang tersenyum senang melihat tarian-tarian seksi itu.
    “SULTAN!” seru penjaga yang membawa Princess masuk ke dalam ruangan itu.
    Tangan Sultan terangkat, menandakan Ia mengingini musik dan tariannya terhenti. Semua musik dan suara gemerincing berhenti langsung dalam satu *******
    Penjaga itu melemparkan Princess kehadapan Sang Sultan. Princess hanya bisa meringis kesakitan saat tubuhnya menghantam lantai dingin itu.
    Sultan mengamati wajah Princess sambil tersenyum licik.
    “Ah… What are you pretty lady doing here?” ucapnya dalam bahasa inggris yang fasih, dia tertawa pelan. “My name is El Ghan. Sultan El Ghan.”
    Princess tetap diam.
    “I’m going to ask you once, what are you doing in Taj Mahal?”
    Princess tidak akan mengucapkan sepatah apapun. Peraturan nomor satu dalam bisnis hitam, Tell No One Nothing.
    “Want to stay silent? Okay. That’s fine.” Sultan berusaha turun dari Tahtanya, Pria pendek itu kesulitan turun dari kursi yang terlalu tinggi untuknya itu. Seorang penjaga akhirnya membantunya turun, dan Sultan-pun berjalan kearah Princess.
    “Beautiful.” ucap Sultan puas. “We couldn’t find this kind here.” tambahnya.
    Princess menatap orang itu penuh kebencian.
    “I’m going to make you an offer, and I’m going to offer you this once Be my wife. You will make a great sixteenth wife.”
    “Sorry Sultan, eighteenth.” kata salah satu penjaga dengan hati-hati
    “Oh yeah. Eighteenth.” jawab Sultan mengingat kembali.
    Ini sudah keterlaluan. “NEVER!”
    Sultan tampak terhina oleh pernyataan Princess. “That’s it.” wajahnya penuh amarah.
    “Take her.” ucap Sultan.
    Para penjaga dengan sigap segera mengangkat Princess.
    Sultan tersenyum penuh kebencian. “To the cave of wonders.”
    ***
    Hunter bergerak-gerak gelisah di tempat tidurnya. Sedari tadi, dia tidak menemukan satu bagian-pun dari tubuhnya yang tidak terasa remuk redam. Udara yang tadi begitu hangat, kini terasa begitu dingin dan menusuk bagaikan jarum-jarum kecil di seluruh tubuhnya.
    “Dinner’s ready.” RH memunculkan kepalanya dari balik pintu.
    Hunter tidak menjawab.
    “Hunter?” tanya RH bingung.
    Pria itu memasuki kamar Hunter yang gelap, menyalakan lampunya, melihat Hunter dalam keadaan menggigil dan dengan mata terpejam.
    “Boss! Lady!”
    Dalam kurun waktu kurang dari semenit, ketiganya telah berada di kamar Hunter, mencoba melihat apa yang terjadi kepada salah satu anggota mereka itu.
    “Sakit… Semua… Dingin…” ucap Hunter terbata-bata.
    “Panggil Genevive. Segera.” kata Boss.
    RH segera beranjak untuk menelpon Dr. Genevive, salah satu dokter mereka.
    “Dan Lady…” Boss menatap kakak perempuannya itu.
    “Ya, aku mengerti.”
    30 menit kemudian, Dr. Genevive sedang memeriksa Hunter, sementara Boss, RH dan Lady menunggu di lantai bawah.
    Dr. Genevive menuruni tangga, berjalan mendekati mereka, dan berkata: “Saya tidak tahu penyakit apa yang mengenai Hansel. Sepertinya ini adalah semacam virus baru. Entah apa.”
    “Tidak bisa disembuhkan?” tanya Boss.
    “Tidak, Louis. Bahkan virus ini belum diketahui namanya, yang pasti virus ini telah benar-benar melumpuhkan sistem imun-nya.” jawab Dr. Genevive. “Tapi bukannya aneh, kalian, keluarga yang bekerja menjadi developer real estate dapat terkena virus semacam ini?” tambah Dr. Genevive curiga. “Bahkan lebih aneh daripada kalian yang kurang mirip satu sama lain? Maksudku, kecuali Louis dan Mandy.”
    Boss menjawabnya dengan santai. “Aku dan Mandy memang satu ayah dan ibu. Namun Hansel, adalah anak ayahku pada pernikahan keduanya, sementara Stefan, adalah anak ibuku pada pernikahan pertamanya… Juga Francesca adalah anak angkat keluarga kami dan Arman adalah sahabat kami sejak kecil, dia sudah kami anggap keluarga…” Boss mengakhiri ceritanya.
    “Itu semua adalah sejarah keluarga kami. Mungkin memang sedikit membingungkan.” tambah Boss.
    “Tapi kami semua begitu dekat.” tambah Lady sambil merangkul Boss dengan hangat. “Karena kami memang dibesarkan dalam keluarga besar.”
    “Oh begitu. Lalu apakah Hansel pergi ke luar negeri baru-baru ini?” tanya Dr. Genevive
    “Dia baru-baru ini pergi ke jepang.” jawab RH singkat. “Untuk berlibur.” tambahnya.
    “Kemungkinan besar dia terinfeksi dengan virus ini disana. Dokter Pribadi seperti saya tidak bisa memberikan solusi terbaik.” kata Dr. Genevive. “Menurut saya, lebih baik segera di serahkan kepada para ahli saja.”
    “Baik, kami akan melakukannya.”
    “Kalau begitu saya akan pulang.” ucap Dr. Genevive hangat. “Sampaikan salamku kepada Francesca dan Arman!”
    “Tentu saja. Terima kasih.” ucap RH sambil mengantarkannya ke pintu depan dan melihatnya pulang. RH menutup pintu lega.
    “Kita butuh dokter khusus yang mengerti keadaan kita.” kata Boss.
    “Tentu, nama samaranku buruk sekali. Padahal nama asliku jauh lebih baik daripada itu.” ucap Lady mengiyakan.
    “Sebenarnya, kita tidak perlu begini jika…” ucapan Boss menghentikan kata-katanya, Pria itu melirik RH yang sekarang tengah beranjak menuju head office. “Jika tidak ada masalah dengan dia.” tambahnya berbisik pada Lady.
    “Sudahlah, itu adalah masa lalu RH, dan kita menghormatinya. Walaupun dia akan tahu apa virus yang menyerang Hunter, tanpa kita harus menggunakan nama samaran.” jawab Lady pelan.
    “Baiklah, kalau begitu aku akan keatas untuk melihat keadaan Hunter. Sebaiknya kamu menghubungi dia.” ucap Boss sambil menaiki tangga menuju kamar Hunter.
    Lady menggangguk mengerti.

    ***
    Lady meraih menuju chamber-nya dan mengangkat gagang telepon kuno dan mulai memutar nomor-nomor dengan gerakan lincah. Ada alasan kenapa gadis itu tidak mau menggunakan telepon LCD touch screen yang ada di setiap kamar kecuali kamarnya, gadis itu menunggu sampai sambungan telepon diangkat. Lady menanti dengan gelisah di setiap nada sambung yang didengarnya.
    “Who is this?” jawab suara di seberang telepon.
    “Bisa tolong aku?” tanya Lady penuh harap.
    Suara itu terdiam sejenak, “Lady, tentang apa?”
    “Hunter, dia terkena semacam virus penyerang imun saat misi di Jepang. Dokter biasa tidak mengetahui bagaimana menyembuhkannya.”
    “Hmm… Aku memang pernah mendengar tentang virus itu. Tapi engkau tidak bisa menerimanya kecuali kontak darah langsung. Itu memang virus hitam yang baru.”
    “Menular atau tidak?”
    “Tidak kecuali kontak darah. Siapa yang di… Ehm, Siapa korbannya?” tanya suara diseberang.
    “Kau tahu aku tidak bisa mengatakannya.”
    “Tell no one nothing. Kalian masih melakukannya?”
    “Sepertinya begitu.” ucap Lady sambil tertawa.
    “Kemungkinan besar itu adalah H Virus. Pembuatnya, Hoshi Takagawa membuat 2 tipe dari Virus ini. Sangat berbahaya.”
    “Virus buatan manusia?” tanya Lady.
    “Tidak sepenuhnya, aku pernah mendengar dari salah seorang mantan anak buahnya itu adalah rekombinan dari 3 macam virus berbeda.”
    “Penyembuhannya?”
    “Yang tersebar di Jepang adalah Virus tipe ke 2, sementara penyembuhannya adalah dengan Virus tipe ke 1. Begitu juga sebaliknya. Jadi penyelesaianya adalah pertukaran darah antara orang yang terkena virus tipe 1 dan 2, maka keduanya akan sembuh.”
    “Dimana tipe 1 tersebar?” tanya Lady
    “Entahlah. Tapi sepertinya di benua eropa. Aku tidak tahu pasti.”
    “You’re a great help.” ucap Lady
    “Tentu. Jadi, bagaimana…?”
    “Keadaan RH? Kau tahu, jika kau mau bertanya sedari tadi seharusnya kau bertanya saja.” jawab Lady. “Dia baik-baik saja. Secara fisik, maksudku. Entahlah bagaimana dengan dirinya. Dia belum berubah dari terakhir kali engkau melihatnya.”
    “Aku… Harus pergi.” ucapnya terbata-bata.
    “Baiklah. Terima kasih, Serena.”
    Sambungan telepon-pun terputus.
    ***
    Master terbangun. Matanya mencari-cari jawaban akan pertanyaannya. Dimana aku?
    Wajahnya mencari-cari. “HALO!?” teriaknya.
    “Sudah bangun rupanya!” seru seorang pria eropa tinggi kurus, dan tersenyum. Mendekati kotak Master, dan membantunya keluar. Master melihat sekeliling, dia berada di sebuah kapal di tengah laut. Entah menuju kemana.
    “Siapa kau?” tanya Master.
    “Siapa aku? Mari mulai dengan, siapa dirimu!” jawab orang itu.
    “I don’t know.”
    “You don’t know?”
    “I… don’t remember.” jawab Master.
    “Lupa ingatan, eh?”
    “Sepertinya begitu.”
    “Aku menemukanmu didalam salah satu kotak-kotak itu, bersama dengan sebuah patung gajah emas di dalamnya. Milikmu?”
    “Tidak tahu. Aku tidak ingat apa-pun.” jawab Master, matanya menatap Patung Gajah Emas itu berusaha mengingat. Sepertinya…
    Nope. Not a thing. “Akan kemana kita ini?” tanyanya, melepaskan pandangannya dari gajah emas itu.
    “Russia.”
    “Russia?” tanya Master tidak percaya.
    “Ya. Russia.”
    Disinilah Master, tidak mengingat apa-apa, diatas kapal bersama orang eropa tak dikenal, dan akan menuju ke Russia.
    Sebaiknya dia tidur terlebih dahulu. “My head hurt.”

    ***
    Boss menengok keadaan Hunter yang ternyata tidak membaik, Lady yang telah selesai menelpon segera mencari Boss untuk menceritakan apa yang baru Ia dengar dari Serena.
    “Boss. Aku sudah mendapatkan kabarnya.” ucap Lady.
    “Bagus, bagaimana?”
    Lady-pun menceritakan seluruh pembicaraannya dengan Boss.
    “Lalu bagaimana caranya kita bisa menemukan Virus tipe 1 ini?”
    “Entahlah, Serena juga tidak tahu.” jawab Lady. “Mungkin kita harus bertanya kepada RH agar dia bisa mencari tahu.”
    “Lalu RH akan bertanya dari mana kita mendapat informasi ini.”
    “Dan kita terpaksa harus mengatakan bahwa kita menelpon Serena.”
    “Dan RH akan marah, dan tidak ada teh earl grey buatku lagi!” suara Boss terdengar horror
    Lady memukul lengan Boss. “Kenapa teh yang kamu pikirkan?” sembur Lady. “Bagaimana kalau dia mengancam akan keluar?” tambahnya.
    “Lalu, bagaimana?” tanya Boss.
    “Bagaimana apanya?” suara RH terdengar dari balik pintu. “Aku membawa teh untuk Hunter.” lanjutnya, membawa nampan serta dirinya masuk kedalam kamar.
    Boss dan Lady gelagapan. “Ehm…”
    “RH… kita harus memberi tahu kamu sesuatu.” ucap Boss, menyikut Lady untuk mengucapkan sesuatu.
    “Apa?” tanya RH
    “Aku menelpon Serena.” akhirnya Lady membuka mulut.
    Hening. Cangkir-cangkir diatas nampan-pun bergemetar.
    “Dan?” tanya RH lagi, dengan suara tenang.
    Lady terpaksa menjelaskan ulang seluruh pembicaraannya dengan Serena.
    “Hmm, begitu. Baiklah, akan kucari tahu tentang Virus H tipe 1 ini, dimana kita bisa menemukannya.” ucap RH sebelum keluar dari kamar Hunter.
    “Begitu saja?” tanya Boss kebingungan.
    “Pasti ada yang salah.” Lady mencoba mengingat-ingat apa saja yang dikatakannya barusan.
    “Tentu saja, kalian menelpon mantan pacarnya tanpa sepengetahuannya dan dia masih terlihat jelas belum melupakannya. Serena juga merupakan gadis yang amat sangat cantik.” kata Hunter setengah sadar.
    “Maka dari itu, seharusnya dia marah, bukan?” tanya Lady lagi.
    “Pikirkanlah, kapan kamu pernah melihat RH benar-benar meledak marah?” tanya Hunter dengan mata masih terpejam. “Dia memang seperti itu dari dulu, menyimpan semuanya sendiri. Bahkan pada saat dia patah hati sekalipun apakah kalian pernah melihat dia melempar kursi? Tidak seperti seseorang di ruangan ini…” Hunter mencari posisi tidur yang lebih enak.
    Lady menahan tertawa.
    “Obat penawarmu tidak akan kucarikan, Hunter. Biarkan saja kau mati menderita.”
    “Kursinya hampir kena aku, Boss.”
    “Cukup. Ternyata kalau kau sedang sakit, otakmu berguna juga.” kata Lady. “Sedikit, sih.”
    “Baiklah, sekarang boleh aku istirahat? Sepertinya sakitnya mereda sedikit.”
    “Baiklah.” ucap Boss dan Lady bebarengan, sambil berjalan cepat keluar dari kamar Hunter meninggalkan Hunter sendirian.
    ***
    “Bodoh, gua ini gelap sekali.” ucap Princess dalam kegelapan. Matanya mencari-cari cahaya. Gadis itu berjalan perlahan di dalam cave of wonders. Tali yang mengikatnya telah dia putuskan setelah para penjaga itu meninggalkannya sendirian di dalam gua gelap ini.
    “Au!” teriak Princess ketika kakinya tersandung sesuatu. Tiba-tiba Princess mengingat sesuatu. “Ponsel!” teriaknya.
    Princess merogoh didalam celananya, semoga saja mereka tidak mengambilnya! doa-nya dalam hati dan Yes! jeritnya dalam hati ketika gadis itu menemukan ponselnya masih berada didalam sakunya.
    No Signal. “Oh Great. I should have known…” ucap Princess depresi. Namun cahaya ponsel Princess telah membuat gadis itu melihat apa yang sedang diinjaknya dan apa yang ada disekelilingnya.
    “Damn, seharusnya aku lebih percaya cerita Ali Baba itu.” ucapnya sambil tersenyum.
    ‘Lantai’ yang sedari tadi diinjak oleh Princess adalah kumpulan emas batangan, koin, perhiasan, dan batu-batu mulia, sementara ‘Dinding’ gua itu adalah batu-batuan safir, emerald, dan berlian. “Mungkin memang ada sedikit fakta dalam cerita konyol itu…” ucap Princess pelan.
    Click!
    “Oh, ada sinyal!” teriak Princess senang. Gadis itu segera menekan tombol speed dial 5.
    “Halo.” suara santai diseberang telepon menjawab.
    “RH! Tolong aku, I’m in hell! Aku ditangkap, Master hilang, aku diminta menikahi sultan pendek, aku menolak, aku disekap di dalam gua!”
    “Hah? Tunggu, Princess tepatnya dimana kamu sekarang?” tanya RH.
    “Kamu tidak akan percaya… tapi aku berada di…” Princess berhenti, menelan ludah, gadis itu meneruskan perkataannya dengan lirih. “Cave of wonders.”
    “Gua Ali Baba?” tanya RH sambil menahan tawa.
    “Aku tidak bercanda.”
    “Lalu kenapa kamu tidak mencoba ‘open sesame’?” tanya RH lagi
    “Aku juga tidak sebodoh itu. Sementara itu, ini tidak lucu! Segera bebaskan aku!” teriak Princess frustasi.
    “Tunggu, perjalanannya kira-kira 3 jam menggunakan jetix kita.” ucap RH. “Akan kuhubungi lagi jika aku sudah sampai. Kira-kira dimana lokasi ‘cave of wonders’ ini?” tanyanya sebelum menutup telepon.
    “Entahlah, sepertinya masih didekat Taj Mahal. Tapi aku tidak tahu lagi, perjalanan dari kuil Sultan itu cukup singkat.”
    “Sultan apa?”
    “Aku sudah bilang tadi…” Princess menghentikan perkataannya. “Nanti kuceritakan jika kau sudah mengeluarkanku dari tempat ini!” ucapnya akhirnya.
    “Baiklah. Coba saja open sesame. You won’t know if you won’t try…” ucapnya geli.
    “Ha-ha. Lucu sekali. Drive safe.” ucap Princess sambil menutup telepon.
    Sekarang tinggal menunggu.
    *refrensi untuk cerita “ali baba” : cerita seribu satu malam, dimana ada gua yang bernama ‘cave of wonders’ yang dibuka oleh anak muda bernama ali baba dengan passwordnya: “open sesame” – cerita ini hanya fiktif belaka.


    Episode 3 || And there were two

    “Aku harus segera berangkat, jetix sudah siap dan aku akan kembali segera dengan Princess.” ucap RH singkat kepada Boss.
    “Baiklah.” ucap Boss singkat. Pria itu masih tidak tahu harus berkata apa kepada RH setelah reaksi RH saat mengetahui bahwa Lady telah mengkontak Serena.
    “Usahakan Lady segera bertemu Avett di Paris. Aku sudah mengkontaknya pagi ini, sepertinya dia mengetahui informasi-informasi tentang virus H tipe 1. Virus tipe 1 tampaknya mulai disebar di Paris. Menurut Avett, itu ada hubungannya dengan asisten Hoshi Takagawa, LeBlanc. Kapan Lady akan berangkat?” tanya RH.
    “Lady akan berangkat secepatnya. Jetix harus menunggu karena yang ini kamu pakai untuk menjemput Princess. Jetix yang akan dipakai Lady masih berada di garage.”
    “Baiklah. Keep me posted.” ucap RH sebelum membuka pintu depan HQ mereka.
    “Always.” ucap Boss, dan pintu-pun tertutup rapat.
    Boss naik ke atas menuju kamar Hunter, membuka pintunya. Menemukan Lady yang sedang menyiapkan makanan Hunter dan membuka obat-obatan Hunter yang harus diminum.
    “Dia masih marah padaku?” tanya Lady menatap Boss, namun tangannya masih sibuk membuka bungkus-bungkus obat.
    “Dia tidak marah. Hanya… Banyak diam.” jawab Boss.
    “Oh. Aku masih tidak tenang.” tambah Lady. Gadis itu berdiri sambil mengangkat nampan yang berisi bubur, air putih dan obat-obatan sambil duduk di samping ranjang Hunter, menaruhnya di meja nakas.
    “Itu adalah konsekuensinya.” ucap Boss. “Sebenarnya kalau dipikir-pikir ini semua juuga salahmu Hunter.” tambahnya sambil menatap Pria yang sedang tergeletak lemas di atas ranjang itu.
    “Kenapa bisa aku? Aku disini sebagai korban!” teriak Hunter gemas.
    “Buka mulutmu dulu.” Lady memasukkan sesendok besar bubur ke mulut Hunter, yang terpaksa membuka mulutnya dan mengunyah bubur itu sebentar sebelum menelannya.
    “Dan aku tidak perlu disuapi!” tambah Hunter jengkel.
    “Aku juga tidak mau menyuapimu, bodoh. Kalau kau bisa mengangkat tanganmu, dengan senang hati kau paksa makan sendiri.” jawab Lady menatap balik Hunter dengan jengkel.
    “Sudah, kembali ke topik. Maksudku Hunter, jika kau tidak terkena virus ini, Aku tidak perlu menyuruh Lady menelpon Serena, RH tidak perlu marah dan semua ini tidak usah terjadi.” jelas Boss.
    “Lalu? Salahkan dirimu sendiri Boss! Kau yang memberiku tugas ini. Semua hanya untuk jalan sutra bodohmu itu!” sahut Hunter tidak kalah marah
    “Kalau kamu sedikit kompeten mungkin kamu sendiri tidak perlu tertular dengan virus ini! Dan jalan sutra tidak bodoh! Jika kita berhasil masuk, maka itu akan meningkatkan reputasi kita dan penghasilan kita dengan besar.” teriak Boss membalas.
    “SEKARANG KAU MENGATAKAN BAHWA AKU TIDAK KOMPETEN?!” Seru Hunter sengit.
    “HENTIKAN KEKONYOLAN INI SEGERA!” teriak Lady. “Buka mulutmu.” sesendok bubur masuk ke dalam mulut Hunter. “Semua ini gila! Sekarang kita harus fokus pada apa yang ada di hadapan kita.” tambah Lady. “Sebentar lagi aku harus berangkat ke Paris, untuk mencari obatmu Hunter. Sementara itu, kalian berdua akan sendirian di HQ kita, dan Boss, kau yang harus menyuapi manusia bodoh ini selagi aku pergi. Aku tidak mau mendengar adanya teriakan atau pertengkaran selagi kalian berdua di rumah ini. JELAS?”
    “Baiklah.” ucap Boss dan Hunter berbarengan.
    “Sekarang buka mulutmu dan habiskan bubur ini, Hunter.”
    Hunter dan Boss saling menatap dengan tatapan dingin.
    ***
    “Jadi namamu Pahom?” tanya Master kepada Pria yang sedang mengendalikan kemudi kapal yang dinaikinya saat ini. “Dan kita akan pergi ke Russia?” tanyanya lagi.
    “Ya, dan Ya anak muda.” tanya Pahom kepada Master yang masih kebingungan akan siapa dirinya.
    “Apa yang akan aku lakukan setelah aku sampai di sana?” tanya Master lagi.
    “Tentu, sebagai orang beradab, aku akan menampungmu untuk tinggal di rumahku semalam, karena kita akan sampai cukup larut malam. Namun keesokan harinya, entahlah. Jika kau dapat membuktikan bahwa kau berguna, mungkin kau boleh tinggal di rumahku. Namun jika tidak, silahkan kau tidur di pinggir sungai volga dan aku tidak akan peduli, temanku.”
    “Apa pekerjaanmu? Mungkin aku dapat membantu?” tanya Master.
    “Aku pemilik lahan tani. Kau bisa bertani?” tanya Pahom.
    “Aku bisa mencoba.” kata Master, dia tidak ingin tidur di dekat sungai Volga. Selama ada pilihan yang lebih baik, dia akan berjuang.
    “Baiklah, sesampainya di tempat, silahkan kau beristirahat semalam, esok pagi, anakku akan menunjukkan padamu cara-cara bertani. Jika kau dapat memuaskan hatiku, kau boleh tinggal.” Pria tua itu berkata.
    “Aku setuju. Berapa lama lagi kita akan sampai?” tanya Master.
    “Soon.” jawab Pahom tidak pasti.

    [episode 3 belum selesai] :p
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.