1. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. IDWS Radio is Back! Mau ngobrol seru bareng penyiar (announcer) atau mau ikutan jadi penyiar di IDWS Radio? Mau promoin lagu indie kamu? Bisaa!.Klik info lengkapnya di sini, kuy~.
  5. Terima kasih untuk kebersamaan komunitas selama hampir 12 tahun ini. Apa pengalaman menarikmu selama di IDWS? Apa saran, kritik, dan masukan kamu untuk IDWS? Tolong sampaikan di sini yaa~ Terima kasih.
  6. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  7. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Jangan jadi orang alim, anakku...!!!

Discussion in 'Lifestyle' started by iisengi, Mar 10, 2010.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. iisengi Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Nov 18, 2009
    Messages:
    34
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +24 / -0
    (INI AJARAN USTADZ ANE YG ANE JADIIN CERITA
    KLO BERGUNA MOHON DI RATE YA, GAN! CENDOL JG GAK NOLAK... ^ ^)


    Alkisah, di suatu desa tinggallah seorang pemuda yang mempunyai keinginan kuat untuk memperdalam ilmu agamanya ke negeri Persia. Seperti halnya para pemuda sebayanya yang pergi memperdalam ilmu agamanya pada guru-guru terkenal di Persia, dari cabang fiqih, hadits, sejarah, aqidah, nahwu, sampai sastra dan berharap sekembalinya dari menuntu ilmu menjadi ulama dan faqih yang terkenal, menyebarkan ajaran agama Islam. Karena itulah, setelah membulatkan tekadnya, sang pemuda meminta izin pada orangtuanya.

    Pemuda : “Wahai ayah dan ibu, sungguh besar keinginan putramu ini untuk memperdalam ilmu agama di negeri Persia dan menyebarkannya di jalan Allah. Izinkanlah putramu ini untuk pergi menuntut ilmu seperti pemuda-pemuda lainnya di desa ini.”

    Kedua orang tua si pemuda diam sesaat. Saling menatap. Lalu sang ayah yang bijaksana berkata.

    Ayah : “Anakku, aku memahami dan amat bangga akan niatmu yang tulus ini, tapi aku khawatir kalau aku tak bisa mengijinkanmu untuk pergi ke negeri Persia untuk menuntut ilmu agama dan menjadi faqih, anakku.”

    Sang anak yang tak mengira jawaban orangtuanya itu akan seperti itu terkejut! Dengan penuh keheranan ia bertanya pada ayahnya.

    Pemuda : “Ayah, mengapa ayah melarangku? Apakah ayah tidak rela saya menjadi seorang faqih, menjadi ulama besar yang bisa bermanfaat bagi umat?”

    Ayah : “Ayah tidak melarangmu, anakku. Semua adalah pilihanmu sendiri. Tapi sebelum kau memutuskan untuk menjadi seorang faqih, coba keluarlah dari rumah ini sebentar dan kelilinglah engkau di kampung. Setelah itu ceritakanlah apa yang kau lihat. Baru setelah itu aku mungkin akan mengijinkamu.”

    Diiringi keheranan yang sangat, akhirnya sang pemuda mengikuti perkataan ayahnya. Ia keluar dari rumahnya dan mengelilingi kampungnya. Mencoba memahami apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh ayahnya. Akan tetapi ia sama sekali tak menemukan jawaban yang dicarinya. Akhirnya si pemuda kembali lagi ke rumah menemui ayahnya yang sedang menunggunya.

    Pemuda : “Wahai ayah, aku sudah mengelilingi dan melihat keadaan desa seperti perintahmu. Dan aku sama sekali tidak menemukan ada sesuatu yang aneh. Warga desa hidup damai seperti biasa, tempat-tempat pengajian penuh, masjidpun ramai dengan orang yang sholat. Tua-muda besar kecil semuanya menyembah Allah, mencintai Nabi Muhammad dan keluarganya yang suci. Semuanya baik-baik saja, ayah. Sama sekali tidak ada yang aneh.”

    Ayah : “Benarkah kau merasa semuanya baik-baik saja, wahai anakku?” Tanya sang ayah.

    Pemuda: “Tentu ayah. Saya yakin.” Jawab si Pemuda. “Bukankah ini semua karena penduduk di sini hampir semuanya menuntut ilmu agama dan menjadi orang alim dan faqih sehingga keadaan desa ini begitu damai dan penuh berkah seperti ini, wahai ayah?”

    Ayah : “Hmm…., sepertinya engkau tidak memahami apa yang aku maksudkan, anakku.”

    Pemuda : “Maksud ayah?” Si Pemuda makin keheranan.

    Ayah : “Anakku, benar bahwa penduduk desa ini selama ini hidup dalam kedamaian dan ketaatan pada Allah swt. Anak-anak pergi mengaji setiap pagi dan sore. Masjidpun penuh terisi dan ramai dimakmurkan karena banyak di antara warga kita yang jadi alim ulama. Tapi anakku, tidakkah kau memperhatikan bahwa jalanan di kampong kita ini sudah rusak parah? Bahwa surau dan langgar tempat anak-anak mengaji sudah hampir roboh? Bahkan masjid utamapun gentengnya mulai bocor? Madrasah di kampung kita inipun sudah hampir tak bisa digunakan. Kemampuan ekonomi tetangga-tetangga kita, masyarakat di sini pas-pasan dan mereka hidup seadanya. Lalu generasi muda di kampung ini, karena ingin membahagiakan orangtua mereka akhirnya tertarik untuk pergi ke kota mencari penghasilan walau untuk itu mereka menggadaikan keimanan dan taqwanya. Begitu juga remaja putri kampung kita yang karena terayu oleh iklan di televisi mulai menanggalkan hijab mereka?

    Pemuda : “……..”

    Ayah : “Anakku, aku menghargai niat baikmu untuk menuntut ilmu agama dan menyebarkannya pada umat. Tapi lihatlah keadaan di sekelilingmu. kampong kita sudah punya cukup banyak ustadz dan faqih, yang lebih dibutuhkan oleh kampong kita saat ini adalah seseorang yang bisa menyokong kegiatan pendidikan dan pengajian para ulama dan menjaga generasi muda dari bujuk-rayu perkotaan yang membahayakan keimanan-keislaman mereka. Yang jauh lebih dibutuhkan oleh kampung kita adalah orang yang mempunyai kekuatan ekonomi, juga pengetahuan tentang teknologi yang akan melindungi mereka dari pengaruh buruk globalitas zaman. Ingatlah anakku, rumah terdiri dari berbagai unsur. Jika kau hanya sibuk mempertebal dinding rumah saja, maka bagimana dengan atapnya? Bagaimana dengan pintunya? Bagaimana dengan lantainya? Bagimana dengan jendelanya? Anakku, jika kau ingin beramal dan bermanfaat bagi umat, jalan untuk itu tidak hanya pada satu jalan. Umat mempunyai banyak kebutuhan. Dan demi Allah, Rasulullah, dan keluarganya yang suci, mereka yang berusaha membaktikan diri untuk memenuhi tiap-tiap kebutuhan umat itu akan diganjar dan dicintai oleh Allah dan ditempatkan di sisi-Nya. Di sisi Nabi dan keluarga suci-Nya.”

    Pemuda : “………”
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. siegecross M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Nov 21, 2009
    Messages:
    823
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +266 / -0
    intinya byk jalan ke roma...
     
  4. ngongeboy M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Oct 15, 2008
    Messages:
    465
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +241 / -0
    bener itu kata sang bapak,
    orang skrg maunya yg instan2,
    pingin masuk surga jg pinginnya instan,
    ancur jadinya agama kalo gitu caranya :fufufu:
     
  5. oranggao Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Jan 1, 2010
    Messages:
    85
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +9 / -0
    beramal dan menyebarkan ilmu agama g harus jd ustad ato ulama. apapun profesi qt, qt bs berjuang di jalan Alloh.
     
  6. windmilz Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Jul 6, 2009
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +7 / -0
    bener tugh..
    gw stuju ma bapaknya..
    bkan berarti kita ingin memperdalam iman klo cuma belajar dan menjadi ustad tapi kalo sekeliling kita dan yg kita ketahui cuma sebatas agama tanpa melihat sisi lainnya..

    setiap hal selalu berhubungan di dunia ini..
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.