1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Biology (Info) Akuakultur sebagai sumber pangan masa depan

Discussion in 'Science and Technology' started by Artanis, Apr 21, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Artanis Veteran

    Offline

    Superstar

    Joined:
    Feb 6, 2011
    Messages:
    10,613
    Trophy Points:
    261
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +72,682 / -1
    Berikut adalah grafik yang menunjukan tingkat perbandingan pengelolaan dan penggunaan akuakultur dan sektor perikanan untuk sumber pangan yang sudah berjalan.

    [​IMG]

    Akuakultur memegang peranan penting untuk mensuplai kebutuhan pangan masa depan. Saat ini perkembangan produksi budidaya perikanan sangat pesat dibanding sektor lainnya. Rekayasa genetik ikan cenderung merupakan alternatif pengembangan budidaya perikanan masa depan dengan pertumbuhan yang lebih cepat dari ikan alami dan penggunaan pakan yang lebih efisien sekitar 30%.Hal ini juga menjadikan ikan transgenik 350% lebih efisien dibandingkan dengan pakan sapi.

    Budidaya perikanan yang beroperasi pada tahun 2015 akan menyediakan setengah dari seluruh pasokan ikan yang tersedia. Total permintaan dunia produk budidaya dan penangkapan perikanan diproyeksikan meningkat hampir 50 juta ton, dari 133 juta ton pada 1999/2001 menjadi 183 juta ton pada tahun 2015 (FAO).

    FDA akan memberi izin ikan hasil rekayasa genetika untuk dijadikan sebagai bahan makanan. FDA mengatakan bahwa hewan rekayasa genetika, diciptakan untuk digunakan manusia atau konsumsi, akan diatur dengan cara yang sama seperti obat-obatan hewan, yang berarti akan melalui proses peninjauan keselamatan. Aqua Bounty dari Massachusetts berharap pasar salmon hasil rekayasa secara genetis akan tumbuh lebih cepat dibanding ikan salmon liar. Seekor sapi membutuhkan sekitar tujuh kilogram pakan untuk setiap kilogram daging, sedangkan ikan mas memerlukan sekitar dua kilo atau kurang. Perikanan lebih irit menggunakan bahan pakan dan lahan yang lebih efisien untuk memproduksinya.

    Ikan hasil rekayasa genetic yang dipasarkan hanyalah ikan steril sehingga tidak akan mengancam populasi alami apabila masuk ke perairan umum karena ikan steril tidak dapat bereproduksi. Untuk mencapai ukuran pasar ikan hasil rekayasa tumbuh dua kali lebih cepat dan mengkonversi pakan menjadi massa tubuh 10% - 30% lebih efisien dibanding ikan alami. Sehingga ikan hasil rekayasa genetika dapat diberikan pakan 2 kg atau kurang untuk menghasilkan 1 kg daging.

    Juvenile ikan salmon tumbuh 4-6 kali lebih cepat dibanding salmon alami. Zuoyan Zhu dari Institut Hydrobiology Academia Sinica di Wuhan, Cina, telah menciptakan ikan mas yang tumbuh cepat . Peneliti di Kuba dan Inggris telah merekayasa ikan untuk tumbuh dengan penambahan berat badan hingga 300%. Contoh yang paling luar biasa dari pendekatan rekayasa genetika ini ditunjukkan oleh ikan Honorius lumpur yang dikembangkan di Korea dengan pertumbuhan hingga 35 kali lipat lebih cepat dari biasanya.

    Semoga dengan adanya artikel ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk semua anggota forum khususnya, untuk semua orang pada umumnya..

    [​IMG]

    Kegagalan panen jagung melanda sebagian besar wilayah NTT tahun ini. Musim kemarau datangnya lebih awal. Curah hujan rendah serta tidak menentu. Intensitas hujan sangat tinggi tetapi berlangsung dalam rentangan waktu singkat sehingga hanya sedikit yang mampu terserap menjadi air tanah. Air tanah itu pun hanya dapat bertahan dalam jangka pendek, karena sebagian besar kembali dilepaskan ke atmosfer berupa uap air, lalu dibawa angin entah ke mana. Jadinya, rerata suhu permukaan wilayah NTT semakin tinggi, luas lahan kering dan kritis semakin bertambah. Seluruh fenomena tersebut ikut menambah komplikasi permasalahan sistem ketahanan pangan masa depan daerah ini.

    Jika tidak segera diantisipasi secara efektif, apakah kita rela membiarkan NTT menghadapi ancaman kerawanan pangan lanjutan dengan intensitas yang semakin menghancurkan? Hasil studi yang dilakukan Badan Pangan Dunia (FAO, 2007), NTT merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang mengalami kerawanan pangan sistemik. Simpulan tersebut konsisten dengan hasil kajian CARE International Indonesia (Kiefts & Sukarjo, 2007) terhadap kasus kerawanan pangan di beberapa kabupaten di NTT seperti: Belu, TTU, TTS, dan Kupang yang menunjukkan jumlah anak yang mengalami malnutrisi dan gizi buruk sebelum tahun 2006-2007 sudah tinggi. Artinya, bencana busung lapar di NTT yang diidentifikasi pada tahun 2006 itu bukan hanya diakibatkan oleh kegagalan panen, tetapi lebih besar dipengaruhi lemahnya fundamen struktur ketahanan pangan daerah yang dibangun beberapa dekade terakhir.

    Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Studi yang dilakukan National Academy of Sciences (Amerika Serikat) menunjukkan rerata suhu permukaan bumi telah meningkat. Mengapa kenaikan suhu permukaan bumi menimbulkan kekhawatiran yang mendunia? Setiap pertambahan suhu permukaan bumi berarti tumbuhan dan hewan menghadapi cekaman (stres) yang lebih kuat. Akibatnya, hanya tumbuhan dan hewan yang mampu beradaptasi akan bertahan hidup, sedangkan mereka yang tidak memiliki kemampuan tersebut mati, spesiesnya pun dapat terancam punah. Tanaman dan hewan peliharaan meskipun ada yang memiliki daya penyesuaian diri terhadap suhu tinggi, namun kemampuannya lebih rendah karena telah mengalami domestikasi, jika dibandingkan dengan tumbuhan dan hewan liar. Sehingga jenis-jenis tanaman yang bertahan hidup tetapi berada dalam kondisi tercekam pasti akan menurun produktivitasnya. Kandungan metabolit primer, terutama protein yang amat diperlukan tubuh berkurang, karena banyak dipakai untuk membangun sistem pertahanan tubuh tanaman. Nilai rasa makanannya bisa berubah akibat tingginya metabolit sekunder. Kekhawatiran kita masih berlanjut. Berbicara dalam Konferensi Ketahanan Pangan Global yang berlangsung di Amman, Jordania, tanggal 1-4 Februari 2010, Dr. Mark Rosegrant, Direktur Lingkungan dan Teknologi Produksi dari Institut Penelitian Kebijakan Pangan Internasional (International Food Policy Research Institute), dengan menggunakan berbagai macam model pendekatan memprediksi pada tahun 2050 produksi gandum lahan kering sedunia menurun 28%, padi 13%, dan jagung 16%. Padahal ketiga komoditas tersebut adalah sumber utama pangan dunia masa kini. Diduga, wilayah lahan kering daerah tropis dan sub-tropis yang melingkupi 40% dari total luas lahan dunia serta ditempati 30% dari jumlah penduduk dunia akan menghadapi ancaman yang paling parah. Perkiraan ini mengisyaratkan terjadinya perubahan ketergantungan kita dari tepung terigu ke tepung non-terigu.

    Sumber pangan hewani juga terancam. Salah satunya adalah dari sektor perikanan. Sebab kenaikan suhu permukaan bumi juga mengakibatkan naiknya suhu air laut, terutama di daerah tropis. Dampaknya, habitat utama seperti terumbu karang dan hutan mangrove yang menjadi tempat memijah, bertelur, dan mengasuh berbagai jenis ikan, menurun kualitasnya atau rusak. Keadaan ini mengakibatkan terjadinya migrasi ikan ke daerah sub-tropis dan dingin. Berarti, jumlah dan tingkat keragaman hasil tangkapan kita menurun. Konsekuensinya, andalan sektor perikanan sebagai penyokong utama kebutuhan sumber protein hewani mengalami kelangkaan, harganya menjadi mahal dan sulit terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah.

    Kristalisasi dari pemikiran di atas mengindikasikan akan timbulnya dua skema ancaman besar dan penting terhadap sistem ketahanan pangan masa datang di NTT. Pertama, produksi pangan utama dunia, yakni gandum, beras dan jagung akan mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa tahun yang akan datang. Jumlah daerah dan negara (terutama di wilayah tropis dan sub-tropis) yang selama ini menjadi pemasok utama gandum (dapat dibaca: tepung terigu), beras dan jagung dunia akan berkurang. Dampaknya bagi NTT bertambah kompleks, antara lain: besaran suplai pangan dari luar menurun drastis, distribusi dan aksesibilitas pangan terhambat, jumlah penduduk yang mengalami kerawanan pangan dan jumlah anak yang mengalami malnutrisi meningkat tajam.

    Kedua, basis sistem ketahanan pangan dunia akan mengalami perubahan yang dramatis. Makanan dan aneka sajian produk kuliner yang selama ini sangat bergantung pada gandum (terigu), beras dan jagung akan bergeser ke komoditas lainnya. Berarti akan terjadi turbulensi dimensi politik, ekonomi, sosial dan budaya di dalam sistem kemasyarakatan kita. Risiko kemanusiaan terburuk hanya dapat dicegah jika kita mengantisipasinya dari sekarang.

    Ada beberapa dasar pertimbangan mengapa penerapan sistem ketahanan pangan di NTT sekarang dinilai belum tanggap terhadap perubahan di masa depan. Pertama, komponen dasar (raw materials) yang digunakan untuk membangun sistem ketahanan pangan daerah sangat sentralistik. Lebih lugas, sistem ketahanan pangan yang dibangun telah mengabaikan potensi sumber-sumber pangan daerah yang bernilai kompetitif dan justru menjadi andalan pangan NTT. Sebagai bukti, banyak jenis dan varietas lokal tanaman pangan seperti sorgum, jewawut, dan jali atau yang sering penulis sebut: sojeli, tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah; bahkan telah diabaikan selama lebih dari tiga puluhan tahun. Semestinya, sojeli adalah ciri khas kekuatan pangan NTT yang berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia. Sebab ketiga jenis tanaman pangan tersebut lebih adaptif dengan kondisi agroklimat wilayah NTT. Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menetapkan sojeli sebagai makanan kesehatan dan sumber pangan masa depan dunia (food for health and plant for the future).

    Kedua, rendahnya komitmen pemerintah daerah dan pusat untuk membangun kelompok tani tanaman pangan yang mandiri. Buktinya, setelah puluhan tahun pemerintah daerah membangun pertanian di daerah ini, jumlah kelompok tani penangkar benih yang mandiri relatif belum ada. Hampir seluruh kebutuhan benih tanaman pangan yang pengadaannya dibiayai pemerintah didatangkan dari luar NTT. Fenomena ini terjadi hampir semua sektor, termasuk perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Jika semuanya dihitung, minimum setiap tahun terjadi pelarian modal puluhan miliar rupiah. Kegagalan membangun kelompok tani penangkar benih menimbulkan permasalahan yang lebih fundamental dan kompleks yakni penyediaan benih yang tidak memenuhi prinsip enam tepat: waktu, jumlah, jenis, mutu, harga dan tepat guna. Padahal jika ditelaah, setiap kabupaten memiliki Balai Penangkar Benih dan setiap kecamatan memiliki Balai Penyuluhan Pertanian.

    Kedua permasalahan utama di atas dinilai paling bertanggung jawab terhadap lemahnya sistem ketahanan pangan di NTT terutama di dalam mengantisipasi perubahan yang akan terjadi. Sistem ketahanan pangan yang sedang kita jalankan bersifat dependen, atau bergantung pada pusat dan daerah lain. Sistem ketahanan pangan kita juga tidak mengakar dan berakar ke/dari masyarakat lokal. Oleh karena itu, pilihan yang strategis adalah membangun dan mengembangkan kekuatan sistem ketahanan pangan yang mengandalkan sumberdaya sendiri (lokal). Materialnya dari sumberdaya yang tersedia di lingkungan kita, sedangkan teknologinya merupakan hasil ramuan antara hasil temuan iptek terkini (state of the art of sciences and technologies) dengan kearifan dan kecerdasan lokal (indigienous wisdom and knowledge) masyarakat.

    Mampukah kita menghadapi tuntutan perubahan tersebut? Jawaban sederhana menurut penulis adalah: bergantung pada kuatnya komitmen, satunya kata dengan perbuatan di dalam melakukan peningkatan pemampuan seluruh sumberdaya yang dimiliki daerah ini. Sebab, sebagian besar komponen yang diperlukan untuk membangun sistem ketahanan pangan masa depan di NTT sudah ada, tetapi telah lama kita abaikan. Beberapa komponen yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan spesifik pembangunan ketahanan pangan masa depan daerah ini antara lain, pertama, NTT memiliki tingkat keanekaragaman jenis tanaman pangan dan hortikultura (land races atau varietas lokal) yang tinggi. Tingginya variabilitas itu dijumpai pada aneka varietas tanaman seperti: padi gogo, jagung, sorgum, jewawut, jali, kacang-kacangan, legum, dan umbi-umbian. Kedua, keunggulan spesifik dari aneka varietas lokal tanaman pangan di NTT adalah memiliki ketahanan terhadap suhu tinggi, keterbatasan ketersediaan air, nitrogen rendah, dan tahan terhadap hama serta penyakit. Ketiga, masyarakat lokal NTT memiliki kearifan dan kecerdasan (indigenous wisdom and knowledge) dalam membangun dan mengembangkan sistem ketahanan pangan yang berkelanjutan, karena eksistensinya diakui ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian moderen.

    Masyarakat lokal NTT memiliki kearifan dan kecerdasan dalam menerapkan sistem teknologi pertanian lahan kritis semi-ringkai (semi-arid) yang berkelanjutan. Contoh, sistem polikultur sebagai paket teknologi tepat guna di dalam ilmu pertanian moderen telah dikembangkan masyarakat lokal bertahun-tahun. Secara substansial sistem polikultur yang dikembangkan masyarakat lokal daerah ini menggunakan jenis-jenis tanaman pangan yang tahan terhadap cekaman lingkungan dan memberikan fungsi konservasi lahan. Ada dua sub-sistem polikultur lahan kering yang dikembangkan sesuai dengan kearifan dan kecerdasan masyarakatnya yakni: sub-sistem polikultur yang didominasi padi gogo, dan sub-sistem polikultur yang didominasi jagung. Kedua sub-sistem bersifat saling melengkapi terutama dalam menunjang sistem ketahanan pangan keluarga. Sehingga setiap keluarga pada dasarnya menerapkan kedua sistem tersebut dalam setiap musim tanam. Tingginya tingkat diversitas jenis tanaman pangan yang ditanam selain menciptakan kondisi yang ideal bagi peningkatan keanekaragaman dan pola konsumsi, juga mempertahankan keberlangsungan ketersediaan pangan, karena setiap jenis tanaman memiliki umur panen yang berbeda. Jenis tanaman serealia yang lasim ditanam adalah padi gogo, jagung, sorgum, jewawut dan jali.

    Kearifan dan kecerdasan lain dari masyarakat lokal di bidang pertanian yang bernilai tinggi adalah sistem salome jagung dan kacang nasi. Sistem salome yang menempatkan jagung berasosiasi dengan kacang nasi tidak hanya menguntungkan kedua jenis tanaman, tetapi juga mempertahankan keseimbangan nutrien dan lingkungan mikro tanaman. Kuat dugaan, jagung yang ditanami secara salome dengan kacang nasi memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi daripada jagung yang ditanam monokultur.


    semoga tidak :repost: sudah ane cek belum ada yang buat threadnya. Jika :repost: Silahkan didelete post dan diclosed thread nya.


    Aturan :idws: Umum Berlaku,. No Junk.. No Hoots.. Ditunggu partisipasinya..
     
    • Thanks Thanks x 3
    Last edited: Aug 28, 2011
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.