1. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Terima kasih untuk kebersamaan komunitas selama hampir 12 tahun ini. Apa pengalaman menarikmu selama di IDWS? Apa saran, kritik, dan masukan kamu untuk IDWS? Tolong sampaikan di sini yaa~ Terima kasih.
  5. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  6. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

FanFic Hyouka

Discussion in 'Fiction' started by noprirf, Feb 6, 2019.

  1. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,294
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    Hyouka

    [​IMG]



    Bab 1 | Gedung Tua (bagian pertama)

    Angin hangat dari balik jendela menyentuh kulit ini. Seketika, hal itu buat mataku tertuju pada daun-daun yang begitu mudahnya terbawa oleh angin. Bunga sakura kembali bersemi. Angin datang sambil melantunkan hawa yang menghangatkan seragam ini. Untuk kesekian kali, aku melihat warna merah muda menyatu dengan birunya langit. Kembali aku bersyukur tidak tinggal di wilayah utara Jepang yang memang masih merasakan musim dingin.

    Di dalam ruang literatur aku mulai melihat sekeliling kelas. Dalam hati aku merasa sangat malas. Aku pun heran diri ini yang bisa bertahan lama di klub literatur dan semua hanya karena permintaan kakakku yang cemas karena merasa kurangnya anggota. Menaiki anak tangganya saja tenaga sudah membuat badanku lemas.

    Tak lama, derap langkah berirama terdengar dari luar yang kutahu pasti itu adalah Chitanda. Pintu pun terbuka dan ternyata itu memang benar dia. Chitanda pun tersenyum sambil menampilkan sebaris gigi putihnya bagai salju kepadaku seraya melambaikan tangannya. Kulihat dia seutuhnya. Kemudian mata ini tertuju pada sepatu yang dikenakannya.

    “Chitanda, rasanya sudah lama kamu punya sepatu itu, kenapa baru kamu pakai sekarang?” tanyaku heran.

    “Ah, bagaimana kamu tahu?” Balas Chitanda seketika sambil mengerlingkan wajah ke arahku.

    “Ah tidak, aku hanya lihat dari tali sepatunya saja.”

    “Dari tali sepatu” ucap gadis itu sedikit terkejut.

    “Untuk sepatu baru mungkin sudah wajar, namun kali ini terasa tali itu tak sesuai dengan sepatu yang dipakai sekarang. Mungkin itu karena kamu menyimpannya terlalu lama hanya saja talinya yang di ganti saja.”

    “Wah ternyata Houtaro banyak, ya!” jawab Chitanda terkesima.

    “Sebenarnya itu bukan karena pengetahuan kok. Hanya aku sering melihatmu dengan sepatu yang lama, hanya saja talinya berubah-ubah. Mungkin karena terlalu lama, maka kamu mengambil tali sepatunya. Dan sekarang sepatu itu mempunyai tali yang tidak sesuai” ucapku memberi jawaban yang seketika seketika saja gadis itu mengangguk tersenyum dan kurasa analisisku memang benar.

    “Memang benar, sepatu ini sudah lama kubeli. Namun baru kupakai sekarang karena aku lebih senang memakai sepatu pemberian dari ayahku.” jawab Chitanda ringan.

    Ia senang dengan argumenku. Dari alasannya sepertinya ia peduli pada keluarganya melebihi apapun itu. Bahkan ia lebih memilih sepatu pemberian ayahnya ketimbang yang baru.

    Namun sikapnya terkadang membuatku sedikit khawatir. Ia terlalu polos. Bahkan untuk perempuan yang sebaya umur dengannya. Hatinya terkadang mudah terpengaruhi oleh lingkungan sekitarnya lantaran ia selalu sendirian di lingkungan keluarganya. Selain itu, ia pernah cerita padaku kalau dia anak tunggal dan mungkin hal itulah yang menyebabkan gadis itu tumbuh seperti sekarang.

    Seketika saja, Fukube Satoshi tanpa kusadari hadir dari balik pintu.

    “Hai semuanya!” sapa satoshi kepada kami.


    “Oh iya Houtaro, Satoshi. Aku baru ingat!” Chitanda berseru “Aku dengar tak jauh dari sekolah kita ada gedung tua yang katanya akan segera direnovasi, ayo kita kesana untuk tahu apa ada hantu atau tidak.”

    “Itu benar Houtaro. Apa kamu sudah mendengar tentang kisah hantu di gedung belakang sekolah?” tambah Satoshi dengan nada horor.

    Mendengar hal itu aku langsung terdiam heran. Entah apa yang semua orang dipikirkan. Sudah zaman modern sekarang, tak mungkin hantu dalam sebuah kenyataan. Bahkan, aku merasa isu itu datang dari seseorang yang terlalu sering menonton film. Bisa dari cerita hantu atau fantasi yang jelas diada-adakan.

    “Jadi satoshi juga tahu!” Seru Chitanda seketika mendengar berita itu.

    “Gedung tua itu katanya akan diproses sebentar lagi. Lalu rencananya akan ada pengembang yang membuat pemukiman yang layak dan lebih baik lagi. Namun banyak pihak yang terlibat sehingga prosesnya pun begitu lambat hingga sekarang ini. Hanya saja akhir-akhir ini terdengar desas-desus itu adanya makhluk gaib. Di tambah lagi, banyak yang melihat disana ada sosok bayangan dari dalam gedung yang begitu menghantui” tutur Satoshi menakut-nakuti.

    “Tapi, bukankah kamu tahu hantu itu memang tidak ada.” balasku begitu saja.

    Database takkan pernah mengambil kesimpulan.” jawab Satoshi membalas ucapanku dengan tegas.

    Aku tahu Satoshi di setiap harinya, tapi tak kusangka di situasi sekarang pun ia berkata hal yang sama. Di tengah teknologi di zaman sekarang, masih saja percaya bahwa hantu itu ada. Database sekalipun pastinya tahu bahwa hantu adalah hal yang di luar logika.

    “Hal itu luar biasa, sungguh aku sangat penasaran jadinya!” jawab Chitanda dengan begitu polos. “Aku juga ingin tahu apakah hantu itu benar-benar ada!”

    Gadis ini pun sudah sangat mengenalnya. Bahkan, hal yang berhubungan dengan hantu pun ia ingin tahu juga. Aku mulai melihat matanya yang berbinar bercahaya. Dia adalah seorang perempuan yang sangat penasaran akan segalanya. Dan pastinya ia takkan berhenti hingga mengetahuinya. Gadis itu pun kini menatapku lebih dalam membuat diriku membeku sesaat lalu tersadar wajahku sudah begitu dekat dengannya.

    Kembali aku meneguk ludah. Jujur aku tak bisa menahan sikap dan mengangguk pasrah. Gadis itu seperti sosok yang mampu membuat keyakinanku goyah. Ia seakan seperti sebuah bunga yang membelitku dengan indah.

    “Baiklah, nanti kita cari bersama-sama dengan Mayaka” ucapku pasrah kepada Chitanda.

    Sejujurnya, aku tak suka dengan rencananya. ini sangat menguras tenaga. Sepanjang musim semi aku ingin bermalas-malasan di dalam kelas saja. Tapi, tidak mengapa. Lalu hatiku bertanya akan aku yang senang melihat wajah perempuan itu terutama dengan tersenyumnya. Ia seakan memberi warna dihatiku yang kelabu dan biasa.

    “Yosh, ayo kita mencari sosok hantu!” sorak Satoshi memberi semangat.

    Sorakan itu sedikit menepuk jantungku. Sudahlah, lagipula pekan ini tak ada rencana. Kalender masih berada di bulan februari. Aku juga ingin sedikit merasakan kehidupan sekolah di awal musim semi.
     
    • For The Win For The Win x 1
    Last edited: Apr 4, 2019
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. ryrien MODERATOR

    Offline

    The Dark Lady

    Joined:
    Oct 4, 2011
    Messages:
    6,455
    Trophy Points:
    212
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +3,130 / -58
    Ini ya? Blum bisa komen dlu. Ntr sekalian klo dh banyakan.
    Tp yg keliatan bgt cmn masalah musim aja.
    Februari mah msh winter.. :iii:
    Musim semi mulai sekitar 21 maret... td hbs google


    Ditunggu lanjutannya, kininarimas.. :blink:

    Summon merpati98merpati98 untuk hal lain :lalala:
     
  4. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,294
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    Ya, rasanya memang seperti itu. Rasanya kalau nonton anime valentine gak ada yang namanya salju. Atau memang aku yang kurang kepo

    Imlek kan hari menyambut musih semi (mencari alasan):ogcihui::ogcihui:
     
  5. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,294
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    Bab 2 | Gedung Tua (bagian kedua)

    Sungguh malam ini dingin terasa. Kulihat angkasa berbagai macam pesona bintang bisa kulihat terbentang di atas sana. Tetapi, bagiku tak ada yang lebih membuatku nyaman daripada rumah yang kutempati sekarang karena diriku saat ini hampir tak bertenaga.

    “Houtaro, apakah hantu itu ada?”

    Sebuah teguran dari Chitanda dengan penuh tanda tanya tertuju padaku. Pikiranku yang melanglang buana seketika kembali fokus pada sosok Chitanda yang entah kenapa sejak dari tadi melihat ke arahku.

    “Sebenarnya hatiku sedikit takut, tapi akan aku coba mengumpulkan keberanianku saat ini.” ujar Chitanda yang meneruskan kata-katanya yang kurasa memang datang dari dalam hatinya.

    Aku mulai melihat matanya. Ia tampak sedikit mengantuk namun ia coba membuka matanya lebar-lebar dan rasa antusias saat inilah yang membuatnya ada di sini sekarang. Tampak angin dengan lembut memainkan rambutnya rambutnya. Tampak syal berwarna merah melingkari lehernya.

    Kembali aku terdiam sambil bertanya mengapa aku bisa begitu saja ikut dengan rencananya. Seharusnya aku berfikir dua kali sebelumnya. Hanya saja memang benar, aku memang tak bisa menolak keinginan Chitanda. Aku seperti benda yang ditarik oleh massa yang jauh berbeda hingga aku tertuju padanya.

    "Tak perlu khawatir, Chitanda. Hantu itu tidak ada."

    “Houtaro, kamu terlalu cepat menyimpulkannya." Balas Satoshi yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan kami. "Lebih baik kita coba memeriksanya. Hantu biasanya datang waktu malam, maka sudah seharusnya gelap malam maka kita bisa menemukannya.”

    Entah teori apa yang baru Satosi ucapkannya. Bagiku tak pernah ada sebuah cerita bahwa hantu itu ada. Bahkan pikiranku pun tidak berubah setelah menonton film horor terakhir dan bagiku sudah yang paling menakutkan. Namun, demi mereka semua aku bisa mempertahankan niatku yang nyaris goyah karena tenaga yang kupunya begitu menyedihkan.

    “Sudah, jangan bahas hantu. Aku juga tahu dari teman sekelasku bahwa akhir-akhir ini ada rumor yang mengatakan di gedung itu ada hantu.” ucap Mayaka yang sudah sejak tadi ketakutan. “Chitanda, Nanti kalau urusannya sudah selesai kita secepatnya pergi.”

    Terangnya lampu di sepanjang jalan sepertinya tak mengurangi rasa takut Mayaka. Ia sejak tadi berjalan dengan ketakutan. Sejujurnya, di awal kami membicarakan untuk ke gedung tua itu, Mayaka sudah mengisyaratkan keenganannya dan hal itu tidak berubah. Namun, gadis itu menyadari ia tak bisa membiarkan Chitanda sendiri bersama kami begitu saja. Dan hal itulah yang sepertinya mengganjal lidahnya untuk mengucapkan keengganannya.

    Satoshi yang sedang memainkan handpone pun mendengarnya nyaris tertawa, tetapi dia segera menahannya. “Mayaka, santai saja ada kami di sini.”

    “kalau pergi kemana pun nggak keberatan kok tapi, kenapa harus ke sana sih?” ucap Mayaka mengucapkan argumennya dan kurasa kalimat tadi adalah yang sejak dari tadi ia tahan.

    “Tenang saja Mayaka, sosok hantu itu benar-benar tidak ada.” terangku pada Mayaka

    “Ta, tapi tetap saja gedung itu angker dan semua orang tahu itu. Lalu bagaimana kalau di sana benar-benar ada hantu.” tutur Mayaka agak ketakutan.

    “Mayaka, sebentar lagi dalam beberapa minggu gedung itu akan segera berganti dengan gedung yang baru. Ada baiknya bila kita lihat dulu apakah di sana ada hantu” tutur satoshi yang mulai bersenda gurau dengan Mayaka.

    Entah sebesar apa keberanian Mayaka punya hingga membuatnya mengalahkan rasa takut yang ia rasakan hari ini. Apapun hal itu pastinya bukan hanya sekedar kehadiran Chitanda saat ini. Siapa yang mungkin menenangkan Mayaka saat ini selain Satoshi? Bagiku dia bukan hanya sekedar database yang tahu banyak hal, tapi juga ia mengerti perasaan orang-orang yang ada di dekatnya. Dia bagiku ekstrover dan mampu menanggapi sikap orang lain dengan mudahnya. Namun, kali ini aku benar-benar menyalahinya. Ia bahkan tak terasa kehadirannya dan nyaris tak membuat apapun pada Mayaka.

    Satoshi pun kembali melihat layar dan memainkan handphonenya kembali. Chitanda pun beralih pada Satoshi. Rasa penasaran Chitanda pun meluap akibat melihat sikap Satoshi.

    “Satoshi bermain handpone sejak tadi. Apakah dari teman lama, keluarga, atau Satoshi sudah punya pacar saat ini. Hari Valentine bukankah sebentar lagi.” ucap Chitanda dengan penuh rasa penasaran tentang sikapnya.

    “Tidak kok, Chitanda. Aku hanya membaca pesan dari teman sekelas saja.”

    “Satoshi banyak teman juga, ya.”

    “Tentu saja,” tutur Satoshi percaya diri. “Database pasti punya banyak link untuk mendapatkan informasi.

    Pernyataan Satoshi memang sangat wajar bagiku. Satoshi merupakan siswa dengan pikiran yang terbuka, pastinya mempunyai banyak teman melebihi apa yang kami tahu. Hanya saja hari ini saja yang terasa berbeda bagiku. Bagiku ia anak yang terbuka dan setidaknya itulah Satoshi menurutku.

    ***​

    Akhirnya kami pun sampai pada gedung yang dibicarakan. Gedung tua itu memang benar-benar diikuti aura horor dan ternyata lebih menakutkan dari rumah hantu di film yang terakhir kutonton. Tak heran memang bila tempat ini angker sebagaimana orang-orang katakan.

    Kami berempat mulai membuka handphone dan mengubah sesuatu pada penyetelannya. Setelah itu cahaya dari handphone menggantikan senter yang tidak kami bawa. Kami mulai memasuki gedung tua. Tempat ini tampak berdebu begitu memasuki seakan ditinggalkan begitu saja oleh tuannya. Seketika pintu yang ada di luar tertutup sendiri, dan itu menambah nuansa horor dalam rumah ini.

    “Pintu itu tertutup sendiri.” tutur Mayaka takut

    “Sudahlah itu pasti hanya angin biasa kok,” ucapku menenangkan Mayaka.

    Kami pun mulai menusuri ruangan satu-persatu. Kami terus mengecek tiap ruangan agar bisa mendapatkan petunjuk tentang hantu. Di tiap ruangan terlihat penuh seni ukiran yang teramat mendetail di pintu yang terbuat dari kayu. Hanya sayang, sepertinya hal itu tak begitu membantu. Gedung ini tetaplah sepi dan tak ada yang mengelola hingga akhirnya harus digantikan dengan yang baru.

    Gedung ini terdapat dua lantai. Maka, ruang yang paling bawah yang kami mulai. Gedung ini begitu luas dan hampir satu jam sudah kami mencari. Dari lantai bawah tak ada petunjuk, kami mencoba pindah keruang yang atas. Kami mulai meniti tiap anak tangga. Dan mulai mengecek kembali di tiap ruangnya.

    “Tunggu, sosok apa itu?” terang Satoshi sambil menunjuk ke sebuah ruangan.

    Benar apa yang dikatakan Satoshi. Sosok bayangan menyerupai seseorang muncul di depan kami. Aku mulai meneguk ludahku yang sendirinya aku mulai muncul rasa takut dengan semua ini. Kucoba bunuh rasa itu. Perlahan, aku melangkah mencoba mendekat untuk mengetahui sosok yang menyerupai bayangan itu.

    “ARRGGGG”

    Suara geraman dari suatu ruangan memecahkan keheningan seketika. Sontak pun kami kaget dan rasa panik pun langsung muncul dari kami semua.

    “Tidak!! Cukup aku pergi!” ucap Mayaka seketika. Nuansa ketakutan terlihat jelas dari raut wajahnya. Hanya hitungan detik ia pun langsung berlari meninggalkan kami begitu saja.

    “Tunggu, Mayaka!!!”

    Ternyata Mayaka tak menghiraukan panggilanku dan pergi. Ternyata rasa takut gadis itu sudah tak bisa terbendung lagi.

    “Houtaro, kamu tunggu di sini!” terang Satoshi.

    Aku pun mengangguk. Aku nyaris tak percaya ditinggalkan oleh mereka berdua. Kami terpisah begitu saja dikarenakan rasa takut Mayaka. Lalu, saat inilah yang membuat aku berada disini bersama Chitanda. Kulihat dirinya. Gadis itu ternyata sudah terjatuh pada lututnya.

    “Chitanda, apa kamu baik-baik saja?”

    Gadis itu tetap bergeming. Aku merasa Chitanda hanya punya sedikit keberanian dan bahkan ia tak punya kekuatan untuk berdiri sekarang. Mataku pun kualihkan pada objek bayangan yang ada di depan dan mulai berjalan perlahan. Tiap langkah terus saja kulakukan. Aku pun mulai melihatnya dan ternyata hanya patung dan terletak di tengah ruangan. Bayangan ini pun datang akibat dari cahaya yang ada gedung di sebelahnya.

    “Ayo, berdiri Chitanda, ke sini karena ini hanya patung biasa.” seruku padanya

    “Be, benarkah itu Houtaro!”

    Chitanda yang terjatuh pun seketika berdiri. Ia mulai mendekatiku dan aku merasa gadis itu sudah tidak takut lagi. Kini Chitanda kembali menjadi sosok yang mudah penasaran seperti yang biasa kuketahui. Ia mulai patung itu lebih lama.

    Terasa kembali. Begitu terasa ada yang aneh dan menurutku begitu mengganjal di hati. Dari posisi patung itu sedikitnya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seketika aku mulai menarik rambutku yang ikal kemudian berfikir akan teka-teki ini.

    “Jadi, begitu ternyata.” ucapku sambil bergumam.

    “Ada apa Houtaro. Apakah kamu menyadari sesuatu?” Ucapnya sambil menggerlingkan wajahnya kearahku.

    “Chitanda, apa kau tidak memperhatikannya. Lihat debu yang ada di atas lantai membentuk sebuah pola seakan ada yang memindahkannya. Lalu lihatlah ini, bentuk debu menyerupai tangan seseorang yang sepertinya patung ini dipindahkan dengan sengaja.”

    “Benarkah itu!?”

    “Menurutmu siapa sosok yang terlintas dalam pikiranmu?”

    “Hmm, aku tak tahu.”

    “Entah apakah ini benar atau salah, Chitanda. Aku merasa orang yang mengurus proyek gedung tua inilah yang memindahkannya. Bukankah dalam beberapa minggu akan ada orang yang mengurusnya. Namun karena hal yang tak sengaja itulah, cahaya dari luar ruangan menembus keruangan ini dan diteruskan kembali hingga ke luar gedung sehingga terciptalah bayangan yang dikira itu adalah sosok hantunya.”

    “Benarkah itu?!”

    Rasa penasaran Chitanda pun hilang dan mulai rasa antusias yang ada pada dirinya akan sesuatu pun kembali. Mungkin sudah saatnya bertemu Mayaka dan juga Satoshi.

    Meskipun semua masih terlalu awal, aku bisa merasakannya. Kurasakan diriku sebentar lagi kami akan tahu siapa wujud teriakan itu yang sebenarnya. Hanya saja, ada beberapa yang masih mengganjal di pikiranku, namun aku pasti akan mengetahuinya.
     
    Last edited: Feb 15, 2019
  6. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,294
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    Bab 3 | Gedung Tua (bagian ketiga)

    Angin bertiup datang membawa debu dari luar sana. Hawa dingin yang begitu kuat yang menusuk pun semakin terasa. Tampak Chitanda semakin menggenggam erat syal miliknya. Ia seakan merasakan dingin sama seperti yang aku rasa. Mungkin inilah keadaan yang harus diterima. Ditambah lagi Mayaka yang pergi entah kemana dan kami pun terpisah begitu saja.

    Dari luar terdengar daun-daun yang gemerisik. Di luar pun angin bertiup kencang dan keadaan tak berangsur membaik. Sepertinya kami harus menemukan Mayaka dan Satoshi sebelum hari hujan dan keadaan semakin memburuk.

    “Chitanda ayo kita mencari Mayaka.” ucapku seketika

    Chitanda mengangguk.

    Tanpa menghabiskan waktu kami pun mulai menuruni tangga. Kuarahkan Handphone ku ke sekeliling untuk mencari mereka berdua. Tak jauh kulihat Satoshi yang sedang berdiri tak jauh dengan Mayaka.

    “Satoshi!” seruku dari jauh.

    "Houtaro, ayo ke sini.” balas satoshi seketika

    “Agak gelap di sini. Dimana handphonemu Satoshi?” tanya Chitanda.

    “Handphone ku sepertinya terjatuh tadi. Coba miss call siapa tahu kita bisa menemukannya di sini.” ucap Satoshi yang dari raut wajahnya tampak kebingungan.

    Chitanda pun mulai memainkan jemari. Tak lama dering handphone pun terdengar tak jauh dari tempat berdiri. Seketika Chitanda mencari asal suara tadi.

    “Kamu menemukannya." tanya Satoshi

    “Ya, aku menemukannya! Ini handphone mu?” Jawab Chitanda sambil memberikan Handphone pada Satoshi

    “Chitanda, terimakasih.” balas Satoshi

    “Untung saja ketemu.” ucap Chitanda

    "Ja-jadi kalian sudah bertemu hantu," sahut Mayaka yang tampak agak ketakutan

    "Tenang saja Mayaka, itu bukan sosok hantu yang menyeramkan. Itu hanyalah bayangan. Ada patung yang ada di tengah ruangan. Lalu, sosok yang kurasa yang melakukan hal itu adalah pihak pengembang dan kurasa hal ini hanyalah diluar kesengajaan." ucapku menjelaskan.

    “Tapi jika hantu itu tak ada, maka suara apa yang didengar oleh kita semua?” ucap Chitanda dengan sedikit heran

    “Kemungkinan itu hanya suara binatang liar, mungkin burung atau sejenisnya.” jelasku lagi

    "Ta, tapi aku begitu penasaran."

    "Tempat ini hanyalah gedung tua, jadi siapa pun bisa tinggal di sini. Tentunya burung atau sejenisnya pun bisa berada di tempat ini."

    “Sudahlah, kalau kita tak menemukan sosok hantu itu, maka lebih baik kita pulang saja.” ucap Mayaka

    “Baiklah, ayo kita pulang. Lagipula Mayaka sudah terlalu ketakutan sekarang." ucapku seketika

    Kami pun mulai melangkah pergi meninggalkan gedung tua. Di tengah jalan pun aku mulai berpisah dengan Chitanda dan Mayaka yang arah rumahnya sudah berbeda.

    "Huh, pada akhirnya kita tak bisa menemukan sosok hantu, benarkan itu Houtaro.”

    “Aku sebenarnya mau mengatakan seperti yang baru kau ucapkan, tapi kurasa aku sudah mengetahui wujud hantu itu sebenarnya.”

    “Benarkah!? Kalau kau tahu wujud hantu itu, maka siapa orangnya?”

    “Cukup sederhana. Semua tampak dari debu yang terhapus terbentuk sepasang tangan saja ditambah dengan pola yang terbentuk dari memindahkan patung yang mungkin besar pelakunya hanya satu orang saja. Satoshi, engkaulah pelakunya.

    “Houtaro, kau tak perlu memikirkan sejauh itu. Bukankah sejak tadi aku selalu bersama kalian saat mencari hantu”

    “Ya, memang begitulah kenyataannya. namun aku juga merasa suara itu datang dari alaram handphone yang sengaja engkau jatuhkan dan membuat sebuah teriakan yang tercipta dari lantai pertama. Lalu aku merasa engkau sendiri yang melakukannya. Maka itu sebabnya handphone mu dijatuhkan dengan sengaja.”

    “Jadi karena itulah kamu menganggap aku pelakunya. Kurasa kau terlalu jauh memikirkan sosok hantu itu sehingga menuduhku kalau aku yang melakukan itu semua”

    “Sebenarnya aku tak mau memikirkan hingga sejauh itu, namun semuanya menunjuk ke arah dirimu.”

    Satoshi pun terdiam ditempatnya. Dia pun seketika tersenyum dan menepuk tangannya. Laki-laki itu pun mulai menatapi langit di atas sana. langit begitu mendung dan awan tampak menutupi bulan yang bercahaya. Ia pun mulai menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya ke udara.

    “Luar biasa, kau bahkan bisa menemukan siapa pelakunya. Itu benar akulah yang merencanakan itu semuanya. Tapi, aku ingin bertanya, kenapa kau tidak beritahu saja pada Chitanda.”

    “Tak harus segalanya yang harus kuberi tahu padanya. Aku hanya ingin tahu alasanmu saja.”

    “Tak ada, hanya saja sudah lama kita tidak memecahkan misteri bersama-sama. Lagi pula, akhir bulan ini orangtuaku berencana pindah rumah dan itu sudah direncanakan sebelumnya. Rasanya mungkin lebih menarik bila memecahkan misteri bersama-sama.”

    “Pindah rumah?!”

    “Ya, hanya saja aku tak tahu apakah nanti akan pindah sekolah juga”

    Ia menghadapkan wajahnya ke angkasa. Wajahnya tetap tersenyum, namun kesedihan tampak di raut wajahnya. Aku bisa melihat ia yang mulai menghembuskan berat nafasnya. Ia terus menatap langit dengan gerimis mulai turun dari sana.

    “Houtaro, bisakah kamu membantuku?

    "Apa yang bisa kubantu?"

    "Aku mendapatkan sebuah coklat valentine tahun lalu. Maka bisakah kau memberitahu siapa yang memberikannya padaku. Aku hanya ingin analisa dari dirimu."

    "Kenapa kau memilih diriku."

    "Tak ada alasan khusus, hanya saja aku lebih percaya dengan keahlianmu dalam memecahkan sebuah kasus."

    Aku mulai melihat lebih dalam ke arahnya. Ia tampak tersenyum dan menunjukkan hastrat keinginan untuk tahu segalanya. Namun dibalik itu semua, aku semakin mengenal sosok Satoshi yang sebenarnya. Seakan dia terus memendam sesuatu di dalam lubuk hatinya.
     
    Last edited: Mar 22, 2019
  7. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,294
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    Bab 4 | Surat Valentine

    "Aku mendapat coklat valentine tahun lalu. Bagaimana pendapatmu tentang hal itu?" Tanya Satoshi kepadaku.

    Dahiku berkerut seketika ketika mendengarnya. Jika waktu sudah lewat terlalu lama, pastinya Satoshi lebih tahu siapa orangnya. Namun, dia lebih memilih analisis dariku melebihi apa yang ada nalar pikirannya.

    "Agak sulit, karena kejadiannya setahun yang lalu. Tapi, akan kuusahakan semampuku."

    "Terima kasih, Houtaro. Aku hargai bantuan darimu. Jujur saja aku mendapatkan coklat itu di atas mejaku dan aku pun tak tahu siapa yang memberikannya waktu itu."

    Mungkin perasaan bingunglah yang kini kurasakan. Terasa sekali ia lebih mempercayaiku dan yakin kepadaku dengan teramat mendalam. Namun aku harus menghapus rasa bimbang itu dan membantunya karena itulah gunanya sebuah pertemanan. Ketika teman berada di dalam kebimbangan, itulah saatnya untuk memberikan bantuan.

    "Jadi, apakah ada petunjuk untuk diriku saat ini?"

    "Ada petunjuk untukmu," balas Satoshi, "saat memberi coklat valentine tahun lalu dia memberikan sebuah kertas padaku."

    Tak lama rintik hujan semakin banyak dari langit sana dan suasana semakin buruk. Terpaksa kami harus berlari dan semakin cepat akan semakin lebih baik.

    "Ayo Satoshi," ucapku sambil mempercepat langkah kaki.

    Hujan pun turun deras memaksa kami untuk berlari. Di sebuah halte bus kami terhenti. Terguyur hujan membuat suasana terasa dingin sekali. Setiap tetesan air turun datang dari angkasa sana dan rintik hujan pun menjadi latar suara keadaan yang terjadi.

    “Tak kusangka hujannya lebat juga ya.”

    “Ya, lebat juga hujannya.” balas Satoshi yang agak lelah sambil melihat bajunya yang basah

    “Lalu di mana surat yang yang kamu maksudkan?”

    “Ini surat yang berikannya dulu.” ucap satoshi sambil mengambil sebuah kertas dari sakunya lalu menunjukkannya padaku.

    Aku pun menerimanya. Kertas berukuran A5 dan terlihat lebih tebal dari kertas pada umumnya. Lalu yang membuatku terkagum adalah tulisannya. Ditulis dengan pena pada pojok kiri bagian atas dan dengan penulisan yang begitu indahnya. Namun anehnya isi tulisan itu begitu sederhana. Tolong terimalah coklatnya. begitulah isi suratnya.

    Aku mulai menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Hanya dengan melihat kertas ini aku sudah cukup tahu apa alasan dibalik penulisannya.

    “Satoshi, mungkin berat diterima olehmu. Tapi dari surat ini dia tak mengenalmu dan saat memberikan coklat kebetulan saja ada dirimu.” ucapku menjelaskan sambil memberikan surat itu pada Satoshi lalu dia pun mengambilnya dari tanganku.

    “Bagaimana kau bisa mengatakan seperti itu? Kukira ada orang yang menyukaiku sejak dulu.” ucap Satoshi yang tampak dari ekspresinya ia tak percaya padaku.

    “Tidak, satoshi. Bisa saja hal itu yang terjadi, tapi kalau melihat surat ini sepertinya mustahil sekali.”

    “Tunggu, ini aneh juga!” ucap satoshi dengan nada sedikit tak percaya. “Awalnya kukira coklat itu sengaja diberikan padaku oleh orang yang diam-diam suka padaku. Makanya hal itulah yang membuatku selalu pulang agak terlambat berharap bisa bertemu dengannya.”

    Aku mulai melihat ke arahnya, ekspresinya berubah seketika. Ia mulai menggaruk-garuk kepalanya. Sepertinya ia tak percaya dengan analisis yang ku ucapkan padanya. Mungkin masalahnya ada di perasaannya. Satu hal yang pasti dia inginkan adalah sebuah jawaban lain yang ingin diterima.

    “Apa kau yakin?” tutur Satoshi dari jarak yang begitu dekat sambil menatapku tajam. Ia pun mulai melihat kepadaku dengan penuh kesungguhan.

    “Terserah engkau saja. Tapi ini hanya analisis sederhana yang mungkin bisa kau tolak sepenuhnya.” ucapku sambil mengangkat kedua bahuku. "Aku pun tahu bukan ini jawaban yang ingin kamu dengar dariku."

    “Bisa beritahu alasannya.”

    “Sederhana, awalnya aku mengira seperti yang kamu kira. Tapi begitu melihat kertas ini kurasa ia hanya memberikan coklat tanpa perduli siapa orangnya."

    “Dari sebuah kertas saja?” ucap Satoshi bingung dan mengerutkan dahinya seketika

    “Ya, bahkan aku merasa ia menyukai seseorang, namun sayang orang yang ia cintai justru tidak mencintainya. Lalu, agar hatinya tidak semakin hancur gadis itu berikan pada seseorang yang lain dan kebetulan kamu ada di sana.”

    Seketika Satoshi duduk pada bangku yang ada di halte lalu terdiam. Setelah mendengar hal itu ia benar-benar terbungkam. Seketika menarik nafas mendalam dan matanya ia pejamkan.

    “Apakah benar seperti itu?”

    “Ya, jika kau mau bisa kulanjutkan penjelasannya.”

    “Baiklah, lanjutkan.”

    “Kau tahu satoshi, bagi pelajar seperti kita ukuran kertas yang di gunakan adalah kertas A4 sedangkan yang diberikan adalah A5. Andaikan kita ingin mendapatkan kertas A5 minimal harus membelahnya menjadi dua. Namun lihatlah kertas itu, begitu rapi dan tak ada bekas robekannya. Besar kemungkinan ia mendapatkannya dari tempat ia bekerja.”

    “Tunggu dulu. Apakah kau serius?”

    “Tentu saja. Terus alasan mengapa ini hanyalah surat biasa itu berasal dari tulisannya. Ia terlihat seperti hendak menulis namun terhenti sejenak, lalu hasilnya tulisan itu begitu singkat dan hanya berada di pinggir bukan di bagian tengahnya. Sepertinya ada yang mengganggu pikirannya. Itulah mengapa aku katakan dia tak sepenuhnya peduli kepada siapa coklat valentine itu diberikan.”

    Satoshi bergumam. Ia tampak mulai mencerna setiap apa yang aku katakan. Kemudian dia pun mulai mengaitkan setiap kejadian dan sepertinya mulai menerima apa yang baru aku jelaskan.

    “Jadi kalau menurutmu Houtaro, dia datang dari kelas yang mana?”

    “Kalau bisa diduga, kurasa dia duduk di bangku kelas tiga. Bahkan dia beberapa tahun lebih tua dari kita. Kukira ia pribadi yang tegar, dan dewasa.”

    “Kenapa bisa kamu bilang begitu?” ucap Satoshi yang bertanya sambil menggerlingkan wajahnya kepadaku.

    “Karena biasanya kalau duduk di bangku kelas tiga, itu menandakan ia sedang ingin mengumpulkan uang untuk kuliah. Ia sepertinya bekerja di percetakan atau di bagian pekerjaan yang terdapat kertas di sana.”

    Seketika Satoshi mengangguk dan mulai menyetujui analisis dariku. Wajahnya tertunduk layu dan mulai terduduk di bangku.

    “Tak kusangka, itulah yang terjadi padanya.” ucap Satoshi seketika.

    “Sudahlah Satoshi. Ya, hal itu sudah sewajarnya mengingat valentine adalah ajang untuk memperebutkan hati seseorang yang dicintai. Jadi, pastinya itulah yang mungkin terjadi.”

    Kami berdua pun terdiam dan hujan membuat semua semakin tak menentu. Hujan pun sudah cukup lama berlalu. Kami hanya duduk menunggu di bangku berharap hujan reda kepada sang waktu.

    "Ngomong-ngomong, apa pendapatmu tentang Chitanda," ucap Satoshi memecahkan suasana.

    "Chitanda, Kurasa ia sosok yang pintar dan rasa ingin tahunya begitu besar"

    "Bukan itu maksudku. Sebentar lagi valentine, aku bertaruh dia akan memberikan surat cinta dan coklat padamu."

    "Satoshi, kenapa kamu berfikir begitu?"

    Ekspresinya berubah seketika. Senyum aneh pun tampak dari raut wajahnya. seakan-akan ia sendiri tak percaya dengan apa yang baru kuucapkan padanya.

    "Begini Houtaro, Chitanda rajin belajar karena dirimu. Kurasa kau tahu ia selalu belajar agar bisa pintar sama sepertimu. Kamu pun pasti tahu juga dan berpendapat hal yang sama denganku."

    "Ya, aku tahu itu semua. Saat melihat tangannya aku langsung tahu hal itu dari coretan pena yang belum terhapus dari sela jarinya. Kurasa ia habis belajar sebelumnya. Hanya saja aku tak tahu apakah ia mencintaiku juga."

    "Itulah masalahnya. Kau tidak memperhatikan dia sepenuhnya."

    Seketika aku terdiam. Sejujurnya sulit sekali mengerti apa yang ada dalam hati seorang perempuan. Bila Chitanda mencintaiku atau tidak maka hal itulah yang tak pernah aku pikirkan. Hal yang kuketahui tentangnya hanyalah dia bersama dengan rasa ingin tahu yang besar dan itulah kesan yang aku dapatkan.

    "Entahlah, mungkin memang benar diriku begitu. Sejujurnya aku termasuk sosok yang pemalu dan kurang menyampaikan isi hatiku. Aku kurang melihat perasaannya dan hal itulah hal yang tidak kutahu."

    "Ngoming-ngomong Houtaro, apa kamu menyukainya?"

    "Untuk hal itu mungkin tak bisa kuucapkan sekarang dan tak tahu kapan untuk mengatakannya."

    Tak lama tetesan hujan yang turun dari langit semakin berkurang. Angin yang bertiup semakin tenang sekarang. Sudah waktunya sekarang untuk berangkat pulang.

    "Houtaro, hujannya sudah reda." ucap Satoshi seraya membuat tetesan hujan menyentuh tangannya.

    "Ya, benar juga."

    "Tapi ingatlah untuk utarakan perasaanmu padanya."

    Mendengat hal itu aku hanya terdiam begitu saja. Di saat itulah aku pun berpisah dengannya. Mungkin aku akan menuruti kata-katanya dan mungkin juga aku akan ucapkan perasaanku pada Chitanda bila tiba saatnya. Hanya aku tak tahu kapan masanya. Biarlah waktu yang menjawabnya.
     
    Last edited: Mar 29, 2019
  8. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,294
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    Bab 5 | Bungkusan yang Tertinggal

    Sejak kemarin, aku selalu teringat dengan Chitanda. Sederet kata dari Satoshi pun masihlah terlintas dan selalu saja aku membayangkannya. Apakah mungkin ini yang dinamakan dengan cinta? Apakah dia sosok yang kusuka dan aku selalu mengingkarinya. Hawa dingin dari hujan sejak tadi pagi tak mengubah keadaannya. Terasanya sangat sulit untuk menjelaskan perasaan yang aku rasa.

    Aku pun mengalihkan perhatianku pada kertas yang ada di depanku saat ini. Hujan telah berhenti dan hening yang kurasakan saat ini. Walau ramai kelas terasa sunyi. Sudah hampir satu jam aku mengerjakannya, namun belum semuanya soal kukerjakan hingga kini.

    “Baiklah kumpulkan soal kalian semuanya.” ucap guru matematika kami bersamaan dengan tepuk tangan darinya.

    Seketika itu pula kami mulai memberikan kertas yang diberikan. Tak semua soal yang kujawab namun itulah hal yang terbaik yang bisa kulakukan. Setidaknya sudah banyak soal yan sudah aku selesaikan. Setelah itu, bunyi bel pun terdengar. Pelajaran sudah berakhir. Aku pun membuang nafas kasar. Hari ini banyak yang aku pikirkan dan sepertinya otakku butuh istirahat sebentar.

    Sesaat, aku pun mulai mengamati ruang dengan seksama. Tampak para pria sedang menunggu sesuatu seakan ada yang ditunggu olehnya. Begitu juga, tampak para perempuan sedang mempersiapkan sesuatu yang sudah dibawa dari rumahnya.

    Valentine, itulah hal yang di lakukan oleh oleh para murid di Kamiyama. Valentine lah yang membuat murid di sini seakan mempunyai tugas bersama. Yaitu memberikan coklat pada sosok yang disuka. Kegiatan yang sungguh menghabiskan tenaga. Banyak pekerjaan yang bisa dilakukan selain memberikan coklat yang jelas-jelas sangat membutuhkan tenaga ekstra. Belum lagi tenaga saat membuat coklat jauh-jauh hari sebelumnya.

    “Satoshi, sungguh aku tak bisa memikirkan mengapa semua orang mau menghabiskan tenaga mereka untuk valentine di setiap tahunnya.” ujarku pada Satoshi

    “Hei, houtaro, mengapa berfikir begitu. Nikmati saja hari ini dan lupakan semua beban dipikiranmu. Lagipula pasti ada coklat valentine dari Chitanda yang akan menunggumu.” ucap satoshi yang tampak mempermainkanku.

    “hei, bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan begitu. Aku bukan pacarnya dan kau pun tahu itu.”

    “houtaro, sudahlah. bagaimana bila kita ke kantin saja. Sudah lapar nih mau makan,” ujar satoshi sambil mengusap perutnya

    “Aku nanti ke sana. Aku mau ke perpustakaan dulu karena ada buku yang mau aku pinjam di sana.”

    “baiklah, aku tunggu kamu di kantin, ya”

    Aku pun mulai berjalan menuju perpustakaan. Sepanjang jalan sudah banyak sekali momen dimana para siswa diberikan coklat dari anak perempuan. Suasana valentine benar-benar bisa kurasakan. Lalu kembali teringat tentang apa yang barusaja satoshi ucapkan. Apakah benar hari ini aku dapat coklat valentine?

    Tak terasa aku sampai di taman sekolah dan tampak di sana Chitanda duduk di sana. Lalu tampak sepertinya ada barang yang ada di sampingnya. Sepertinya aku harus mampir menemuinya.

    “Chitanda, sedang apa kau di sini.”

    “Tidak ada, hanya saja ada sesuatu yang kufikirkan kali ini.”

    “berfikir tentang apa?”

    “Sudahlah lupakan saja. Ini ada sesuatu yang yang ingin kutanyakan.” ucapnya sambil menunjukkan bingkisan yang ada padanya.

    “Bungkusan apa itu?”

    “Itu yang ingin kutanyakan padamu.” ucap Chitanda padaku. “Houtaro, barang ini punya siapa bila menurut pendapatmu. Siapa tahu kita bisa menemukan siapa pemiliknya dengan analisis darimu ”

    Aku pun melihat bungkusan itu seketika saja. Seperti kotak yang dibungkus oleh plastik hitam dengan ukuran yang sedang yang menutupinya dengan sempurna. Di dalamnya aku bisa menghirup aroma makanan di dalamnya.

    “Jadi, kamu ingin mengetahui siapa pemilik bungkusan itu?”

    “Benar begitu,” ucap Chitanda. ”Ayolah bantu aku. Siapa tahu dengan analisismu akan sedikit membantu.”

    “Boleh saja, bagaimana bila kita bersama-sama menganalis siapa yang memilikinya.”

    “Menarik juga. Sebenarnya aku pun begitu penasaran juga. Houtaro bantu aku beritahu siapa yang memilikinya, ya” ucap Chitanda yang bersemangat yang tampak begitu jelas terlihat di raut wajahnya.

    Aku tahu ia pasti begini. Tapi sudahlah, lagipula Chitanda terlihat kurang semangat hari ini. Mungkin dengan menganalisis siapa yang memiliki benda ini akan menghibur Chitanda saat ini.

    Seketika aku pun mulai duduk di sampingnya. Beberapa detik kemudian aku mulai berfikir dan menganalisa siapa pemiliknya. Lalu, sesaat itu juga aku pun mulai menyadari semuanya.

    “Baiklah, engkau dulu Chitanda. Menurutmu plastik ini punya siapa dan apa isinya?”

    Seketika ia pun mulai menatap barang itu dengan begitu dekat. Lalu ia pun mulai mengangkat benda itu kemudian menaruhnya kembali.

    Ini menurutku adalah coklat valentine yang tak sengaja di tinggalkan oleh siswi yang ada di sini. Lalu, Houtaro, bagaimana menurutmu analisisku tadi” jawab Chitanda dengan bersemangat berapi-api.

    “Sudah cukup bagus menurutku. Namun sepertinya ada sesuatu yang kurang dari analisismu,”

    “Memang apa yang kurang dari analisisku?”

    “Mungkin memang benar bila memperhitungkan dari beratnya dan aroma yang keluar darinya sudah bisa dibayangkan bila bungkusan itu bisa berupa makanan. Tapi sepertinya itu ada sedikit kesalahan. Dan kamu harus tahu bahwa ada satu hal yang kamu lupakan”

    “Seperti apakah itu houtaro.”

    Aku pun mulai membungkuk dan tanganku mulai meraih sesuatu yang tak jauh dari bangku tempat duduk. Seketikan aku pun mengambil bekas putung rokok yang jatuh tak jauh dari kursi.

    “Ini dia.” jawabku sambil menunjukkan putung rokok itu pada Chitanda.

    “Memang ada apa dengan putung rokok itu.” tanya Chitanda yang tampak kebingungan,

    “Memang ini begitu sederhana. Tapi, inilah sesuatu yang kau kurang melihatnya. Benda ini sudah pasti bukan milik siswa yang ada di sini. Melainkan datang dari luar sekolah. Menurutmu apakah mungkin ada seorang siswa yang merokok di tempat lingkungan sekolah.”

    “Benar juga. Tak mungkin juga ada murid yang merokok di taman sekolah.”

    “lalu bukti tambahannya adalah putung rokok ini tidak basah sama sekali. Padahal hujan turun kemarin dan hujan pun terjadi hingga pagi. Lalu pastinya hujan akan membuat basah di setiap sudut yang ada di sini. Ini bukti bahwa baru saja seseorang yang cukup dewasa tak sengaja meninggalkan bungkusan ini.”

    Tampak wajahnya berseri-seri. Seketika Chitanda pun mulai mengangguk dan menyetujui hasil dari analisaku saat ini.

    Tak berselang lama tampak seorang pria dewasa mulai mendekati kami. Dari raut wajahnya begitu jelas tampak sedang kebingungan. Ia tampak merasa sedang kehilangan.

    “Apakah ada sesuatu yang ketinggalan, paman,” tanya ku padanya.

    “Ya, ada. Aku tadi ketinggalan kotak kue untuk pesta ulang tahun temanku. Apakah boleh aku memeriksa bungkusan itu.”

    “Tak perlu, kami sudah tahu hal itu. Bungkusan ini pasti milikmu.” ucapku sambil memberikan bungkusan itu padanya.

    “Oh terima kasih kalau begitu.” ucap dari pria itu senang menerima bingkisan dariku.

    “Ia houtaro, kau benar, bungkusan itu milik seseorang yang cukup dewasa. Kamu luar biasa.” ucap Chitanda bersemangat yang tampak jelas dari ekspresinya.

    “Ya, begitulah analisis yang cukup sederhana. Tentunya harus diperhatikan detail juga agar mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.”

    Seketika chitanda pun mengangguk seakan setuju dengan perkataanku. Meskipun semua hanyalah analisa yang cukup sederhana, setidaknya itu cukup membantu.

    “ngomong-ngomong paman merokok di sini ya.” ucap Chitanda skeptis padanya.

    “Ya, begitulah yang terjadi. Sebelumnya aku merokok di sini. Lalu, aku mematikannya setelah seorang guru menasehatiku tadi,” ucap pria itu lagi. “Baiklah, terima kasih ya, sudah menjaganya.”

    “Ya, sama-sama, paman!” ucapku dan Chitanda nyaris bersamaan

    Sejenak orang itu pun pergi membawakan bingkisan itu dan melangkah pergi. Sebuah misteri pun terpecahkan kali ini.

    Namun seketika itu pula Chitanda tampak menatap ke bawah seakan ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Ia sedang melamun sepertinya.

    “Chitanda, kenapa kamu masih melamun begitu. bukankah pemilik bungkusan itu pun sudah kau tahu,” ucapku.

    Ada jeda waktu beberapa detik hingga gadis itu mulai menatap balik kepadaku. Aku pun mulai menyadari bahwa dia sedang memikirkan sesuatu. Hanya saja aku tak tahu apa itu.

    “Maaf, hanya saja ada yang mengganggu pikiranku,” tutur Chitanda padaku.

    “Apa itu.”

    “Houtaro apakah kau mau coklat buatan dariku.”

    Tak kusangka tebakan satoshi benar adanya. Aku tak menyangka dia bisa tahu segala hal tentang Chitanda. Sesuai dengan ramalannya. Aku pasti mendapat coklat darinya.

    “Tentu saja,” ucapku sambil menerima bingkisan itu dari Chitanda.

    “Tapi houtaro ada yang mengganggu pikirianku. Mengapa ada seseorang yang seakan tak suka coklat pemberianku.”

    “Tak suka, kenapa?” tanyaku yang heran dengannya.

    “Kalau houtaro sendiri apakah kamu menyukainya.” ucapnya sambil menatapku dengan begitu dekat. Hal itu semakin membuat jantungku berdebar dengan begitu cepat.

    “Te-tentu aku sendiri menyukainya.” ucapku terbata-bata

    Seketika itu Chitanda pun mulai menghembuskan nafasnya ke udara. Ia tampak lega mendengarnya.

    “Ini tentang saudara sepupuku. Dia murid kelas tiga dan baru pindah sekolah tahun ini. Saat aku memberikan coklat padanya ia justru tak mau menerimanya dan menyuruhku meraruhnya dalam tas

    “Apakah itu yang sedang berada di pikiranmu?”

    “Ya, itu yang sedang menggangu pikiranku. Kurasa ia tak suka dengan coklat pemberian dariku.”

    Jadi, hal itulah yang menggangu pikirannya. Aku pun harus mengetahui apa yang terjadi dengannya. Aku pun mulai merasa ada sesuatu yang terjadi hingga ia seakan menolak coklat dari Chitanda.
     
  9. luxueqi Members

    Offline

    Joined:
    Apr 5, 2019
    Messages:
    1
    Trophy Points:
    1
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    yeh, terlalu mengagumkan !!!!!! terima kasih
     
    • Thanks Thanks x 1
  10. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,294
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    Sama-sama, terimakasih sudah sempatkan untuk membaca
     
  11. LordEzio Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Sep 10, 2018
    Messages:
    10
    Trophy Points:
    1
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1 / -0
    Wowww,cukup maknyess ceritanya...
     
  12. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,294
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +420 / -0
    Terima kasih sudah sempat main kesini.:ogbye:
     
  13. TaufikHidayat19 Members

    Offline

    Joined:
    Jul 9, 2019
    Messages:
    6
    Trophy Points:
    1
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +0 / -0
    bagus gan ceritanya,seruu
     

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.