1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Pengen ganti nama ID? Plat tambahan? Promo GK? Cek Promo Spesial Hari Kemerdekaan, Kuy~ Cek infonya di sini yaa!
  3. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  4. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
  5. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!

FanFic Hyouka

Discussion in 'Fiction' started by noprirf, Feb 6, 2019.

  1. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,280
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +418 / -0
    Hyouka

    Story...

    Aku adalah seorang murid yang biasa. Benar-benar biasa dan abu-abu. Hingga kakakku meminta diriku untuk ikut sebuah klub sekolah karena kurangnya anggota. Hingga takdirlah yang mempertemukan aku dengan mereka...

    Chapter 1 | Gedung Tua

    Angin hangat dari balik jendela menyentuh kulit ini. Seketika, hal itu buat mataku tertuju pada daun-daun yang begitu mudahnya terbawa oleh angin. Bunga sakura kembali bersemi. Angin datang sambil melantunkan hawa yang menghangatkan seragam ini. Untuk kesekian kali, aku melihat warna merah muda menyatu dengan birunya langit. Kembali aku bersyukur tidak tinggal di wilayah utara Jepang yang memang masih merasakan musim dingin.

    Di dalam ruang literatur aku mulai melihat sekeliling kelas. Dalam hati aku merasa sangat malas. Aku pun heran diri ini yang bisa bertahan lama di klub literatur dan semua hanya karena permintaan kakakku yang cemas karena merasa kurangnya anggota. Menaiki anak tangganya saja tenaga sudah membuat badanku lemas.

    Tak lama, derap langkah berirama terdengar dari luar yang kutahu pasti itu adalah Chitanda. Pintu pun terbuka dan ternyata itu memang benar dia. Sambil menampilkan sebaris gigi putihnya ia tersenyum kepadaku yang sedari tadi duduk melihatnya. Ia melambaikan tangannya. Kulihat dia. kemudian mata ini tertuju pada sepatu yang dikenakannya.

    “Chitanda, rasanya sudah lama kamu punya sepatu itu, kenapa baru kamu pakai sekarang?” tanyaku heran.

    “Ah, bagaimana kamu tahu?” Balas Chitanda seketika sambil mengerlingkan wajah ke arahku.

    “Ah tidak, aku hanya lihat dari tali sepatunya saja.”

    “Dari tali sepatu” ucap gadis itu sedikit terkejut.

    “Untuk sepatu baru mungkin sudah wajar, namun kali ini terasa tali itu tak sesuai dengan sepatu yang dipakai sekarang. Mungkin itu karena kamu menyimpannya terlalu lama hanya saja talinya yang di ganti saja.”

    “Wah ternyata Houtaro banyak, ya!” jawab Chitanda terkesima.

    “Sebenarnya itu bukan karena pengetahuan kok. Hanya aku sering melihatmu dengan sepatu yang lama, hanya saja talinya berubah-ubah. Mungkin karena terlalu lama, maka kamu mengambil tali sepatunya. Dan sekarang sepatu itu mempunyai tali yang tidak sesuai” ucapku memberi jawaban yang seketika seketika saja gadis itu mengangguk tersenyum dan kurasa analisisku memang benar.

    “Memang benar, sepatu ini sudah lama kubeli. Namun baru kupakai sekarang karena aku lebih senang memakai sepatu pemberian dari ayahku.” jawab Chitanda ringan.

    Ia senang dengan argumenku. Dari alasannya sepertinya ia peduli pada keluarganya melebihi apapun itu. Bahkan ia lebih memilih sepatu pemberian ayahnya ketimbang yang baru.

    Namun sikapnya terkadang membuatku sedikit khawatir. Ia terlalu polos. Bahkan untuk perempuan yang sebaya umur dengannya. Hatinya terkadang mudah terpengaruhi oleh lingkungan sekitarnya lantaran ia selalu sendirian di lingkungan keluarganya. Selain itu, ia pernah cerita padaku kalau dia anak tunggal dan mungkin hal itulah yang menyebabkan gadis itu tumbuh seperti sekarang.

    Seketika saja, Fukube Satoshi tanpa kusadari hadir dari balik pintu.

    “Hai semuanya!” sapa satoshi kepada kami.


    “Oh iya Houtaro, Satoshi. Aku baru ingat!” Chitanda berseru “Aku dengar tak jauh dari sekolah kita ada gedung tua yang katanya akan segera direnovasi, ayo kita kesana untuk tahu apa ada hantu atau tidak.”

    “Itu benar Houtaro. Apa kamu sudah mendengar tentang kisah hantu di gedung belakang sekolah?” tambah Satoshi dengan nada horor.

    Mendengar hal itu aku langsung terdiam heran. Entah apa yang semua orang dipikirkan. Sudah zaman modern sekarang, tak mungkin hantu dalam sebuah kenyataan. Bahkan, aku merasa isu itu datang dari seseorang yang terlalu sering menonton film. Bisa dari cerita hantu atau fantasi yang jelas diada-adakan.

    “Jadi satoshi juga tahu!” Seru Chitanda seketika mendengar berita itu.

    “Gedung tua itu katanya akan diproses sebentar lagi. Lalu rencananya akan ada pengembang yang membuat pemukiman yang layak dan lebih baik lagi. Namun banyak pihak yang terlibat sehingga prosesnya pun begitu lambat hingga sekarang ini. Hanya saja akhir-akhir ini terdengar desas-desus itu adanya makhluk gaib. Di tambah lagi, banyak yang melihat disana ada sosok bayangan dari dalam gedung yang begitu menghantui” tutur Satoshi menakut-nakuti.

    “Tapi, bukankah kamu tahu hantu itu memang tidak ada.” balasku begitu saja.

    Database takkan pernah mengambil kesimpulan.” jawab Satoshi membalas ucapanku dengan tegas.

    Aku tahu Satoshi di setiap harinya, tapi tak kusangka di situasi sekarang pun ia berkata hal yang sama. Di tengah teknologi di zaman sekarang, masih saja percaya bahwa hantu itu ada. Database sekalipun pastinya tahu bahwa hantu adalah hal yang di luar logika.

    “Hal itu luar biasa, sungguh aku sangat penasaran jadinya!” jawab Chitanda dengan begitu polos. “Aku juga ingin tahu apakah hantu itu benar-benar ada!”

    Gadis ini pun sudah sangat mengenalnya. Bahkan, hal yang berhubungan dengan hantu pun ia ingin tahu juga. Aku mulai melihat matanya yang berbinar bercahaya. Dia adalah seorang perempuan yang sangat penasaran akan segalanya. Dan pastinya ia takkan berhenti hingga mengetahuinya. Gadis itu pun kini menatapku lebih dalam membuat diriku membeku sesaat lalu tersadar wajahku sudah begitu dekat dengannya.

    Kembali aku meneguk ludah. Jujur aku tak bisa menahan sikap dan mengangguk pasrah. Gadis itu seperti sosok yang mampu membuat keyakinanku goyah. Ia seakan seperti sebuah bunga yang membelitku dengan indah.

    “Baiklah, nanti kita cari bersama-sama dengan Mayaka” ucapku pasrah kepada Chitanda.

    Sejujurnya, aku tak suka dengan rencananya. ini sangat menguras tenaga. Sepanjang musim semi aku ingin bermalas-malasan di dalam kelas saja. Tapi, tidak mengapa. Lalu hatiku bertanya akan aku yang senang melihat wajah perempuan itu terutama dengan tersenyumnya. Ia seakan memberi warna dihatiku yang kelabu dan biasa.

    “Yosh, ayo kita mencari sosok hantu!” sorak Satoshi memberi semangat.

    Sorakan itu sedikit menepuk jantungku. Sudahlah, lagipula pekan ini tak ada rencana. Kalender masih berada di bulan februari. Aku juga ingin sedikit merasakan kehidupan sekolah di awal musim semi.
     
    • For The Win For The Win x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. ryrien MODERATOR

    Offline

    The Dark Lady

    Joined:
    Oct 4, 2011
    Messages:
    6,423
    Trophy Points:
    212
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +3,111 / -58
    Ini ya? Blum bisa komen dlu. Ntr sekalian klo dh banyakan.
    Tp yg keliatan bgt cmn masalah musim aja.
    Februari mah msh winter.. :iii:
    Musim semi mulai sekitar 21 maret... td hbs google


    Ditunggu lanjutannya, kininarimas.. :blink:

    Summon merpati98merpati98 untuk hal lain :lalala:
     
  4. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,280
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +418 / -0
    Ya, rasanya memang seperti itu. Rasanya kalau nonton anime valentine gak ada yang namanya salju. Atau memang aku yang kurang kepo

    Imlek kan hari menyambut musih semi (mencari alasan):ogcihui::ogcihui:
     
  5. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,280
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +418 / -0
    Bab 2 | Gedung Tua (bagian kedua)

    Sungguh malam ini dingin terasa. Kulihat angkasa berbagai macam pesona bintang bisa kulihat terbentang di atas sana. Tetapi, bagiku tak ada yang lebih membuatku nyaman daripada rumah yang kutempati sekarang karena diriku saat ini hampir tak bertenaga.

    “Houtaro, apakah hantu itu ada?”

    Sebuah teguran dari Chitanda dengan penuh tanda tanya tertuju padaku. Pikiranku yang melanglang buana seketika kembali fokus pada sosok Chitanda yang entah kenapa sejak dari tadi melihat ke arahku.

    “Sebenarnya hatiku sedikit takut, tapi akan aku coba mengumpulkan keberanianku saat ini.” ujar Chitanda yang meneruskan kata-katanya yang kurasa memang datang dari dalam hatinya.

    Aku mulai melihat matanya. Ia tampak sedikit mengantuk namun ia coba membuka matanya lebar-lebar dan rasa antusias saat inilah yang membuatnya ada di sini sekarang. Tampak angin dengan lembut memainkan rambutnya rambutnya. Tampak syal berwarna merah melingkari lehernya.

    Kembali aku terdiam sambil bertanya mengapa aku bisa begitu saja ikut dengan rencananya. Seharusnya aku berfikir dua kali sebelumnya. Hanya saja memang benar, aku memang tak bisa menolak keinginan Chitanda. Aku seperti benda yang ditarik oleh massa yang jauh berbeda hingga aku tertuju padanya.

    "Tak perlu khawatir, Chitanda. Hantu itu tidak ada."

    “Houtaro, kamu terlalu cepat menyimpulkannya." Balas Satoshi yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan kami. "Lebih baik kita coba memeriksanya. Hantu biasanya datang waktu malam, maka sudah seharusnya gelap malam maka kita bisa menemukannya.”

    Entah teori apa yang baru Satosi ucapkannya. Bagiku tak pernah ada sebuah cerita bahwa hantu itu ada. Bahkan pikiranku pun tidak berubah setelah menonton film horor terakhir dan bagiku sudah yang paling menakutkan. Namun, demi mereka semua aku bisa mempertahankan niatku yang nyaris goyah karena tenaga yang kupunya begitu menyedihkan.

    “Sudah, jangan bahas hantu. Aku juga tahu dari teman sekelasku bahwa akhir-akhir ini ada rumor yang mengatakan di gedung itu ada hantu.” ucap Mayaka yang sudah sejak tadi ketakutan. “Chitanda, Nanti kalau urusannya sudah selesai kita secepatnya pergi.”

    Terangnya lampu di sepanjang jalan sepertinya tak mengurangi rasa takut Mayaka. Ia sejak tadi berjalan dengan ketakutan. Sejujurnya, di awal kami membicarakan untuk ke gedung tua itu, Mayaka sudah mengisyaratkan keenganannya dan hal itu tidak berubah. Namun, gadis itu menyadari ia tak bisa membiarkan Chitanda sendiri bersama kami begitu saja. Dan hal itulah yang sepertinya mengganjal lidahnya untuk mengucapkan keengganannya.

    Satoshi yang sedang memainkan handpone pun mendengarnya nyaris tertawa, tetapi dia segera menahannya. “Mayaka, santai saja ada kami di sini.”

    “kalau pergi kemana pun nggak keberatan kok tapi, kenapa harus ke sana sih?” ucap Mayaka mengucapkan argumennya dan kurasa kalimat tadi adalah yang sejak dari tadi ia tahan.

    “Tenang saja Mayaka, sosok hantu itu benar-benar tidak ada.” terangku pada Mayaka

    “Ta, tapi tetap saja gedung itu angker dan semua orang tahu itu. Lalu bagaimana kalau di sana benar-benar ada hantu.” tutur Mayaka agak ketakutan.

    “Mayaka, sebentar lagi dalam beberapa minggu gedung itu akan segera berganti dengan gedung yang baru. Ada baiknya bila kita lihat dulu apakah di sana ada hantu” tutur satoshi yang mulai bersenda gurau dengan Mayaka.

    Entah sebesar apa keberanian Mayaka punya hingga membuatnya mengalahkan rasa takut yang ia rasakan hari ini. Apapun hal itu pastinya bukan hanya sekedar kehadiran Chitanda saat ini. Siapa yang mungkin menenangkan Mayaka saat ini selain Satoshi? Bagiku dia bukan hanya sekedar database yang tahu banyak hal, tapi juga ia mengerti perasaan orang-orang yang ada di dekatnya. Dia bagiku ekstrover dan mampu menanggapi sikap orang lain dengan mudahnya. Namun, kali ini aku benar-benar menyalahinya. Ia bahkan tak terasa kehadirannya dan nyaris tak membuat apapun pada Mayaka.

    Satoshi pun kembali melihat layar dan memainkan handphonenya kembali. Chitanda pun beralih pada Satoshi. Rasa penasaran Chitanda pun meluap akibat melihat sikap Satoshi.

    “Satoshi bermain handpone sejak tadi. Apakah dari teman lama, keluarga, atau Satoshi sudah punya pacar saat ini. Hari Valentine bukankah sebentar lagi.” ucap Chitanda dengan penuh rasa penasaran tentang sikapnya.

    “Tidak kok, Chitanda. Aku hanya membaca pesan dari teman sekelas saja.”

    “Satoshi banyak teman juga, ya.”

    “Tentu saja,” tutur Satoshi percaya diri. “Database pasti punya banyak link untuk mendapatkan informasi.

    Pernyataan Satoshi memang sangat wajar bagiku. Satoshi merupakan siswa dengan pikiran yang terbuka, pastinya mempunyai banyak teman melebihi apa yang kami tahu. Hanya saja hari ini saja yang terasa berbeda bagiku. Bagiku ia anak yang terbuka dan setidaknya itulah Satoshi menurutku.

    ***​

    Akhirnya kami pun sampai pada gedung yang dibicarakan. Gedung tua itu memang benar-benar diikuti aura horor dan ternyata lebih menakutkan dari rumah hantu di film yang terakhir kutonton. Tak heran memang bila tempat ini angker sebagaimana orang-orang katakan.

    Kami berempat mulai membuka handphone dan mengubah sesuatu pada penyetelannya. Setelah itu cahaya dari handphone menggantikan senter yang tidak kami bawa. Kami mulai memasuki gedung tua. Tempat ini tampak berdebu begitu memasuki seakan ditinggalkan begitu saja oleh tuannya. Seketika pintu yang ada di luar tertutup sendiri, dan itu menambah nuansa horor dalam rumah ini.

    “Pintu itu tertutup sendiri.” tutur Mayaka takut

    “Sudahlah itu pasti hanya angin biasa kok,” ucapku menenangkan Mayaka.

    Kami pun mulai menusuri ruangan satu-persatu. Kami terus mengecek tiap ruangan agar bisa mendapatkan petunjuk tentang hantu. Di tiap ruangan terlihat penuh seni ukiran yang teramat mendetail di pintu yang terbuat dari kayu. Hanya sayang, sepertinya hal itu tak begitu membantu. Gedung ini tetaplah sepi dan tak ada yang mengelola hingga akhirnya harus digantikan dengan yang baru.

    Gedung ini terdapat dua lantai. Maka, ruang yang paling bawah yang kami mulai. Gedung ini begitu luas dan hampir satu jam sudah kami mencari. Dari lantai bawah tak ada petunjuk, kami mencoba pindah keruang yang atas. Kami mulai meniti tiap anak tangga. Dan mulai mengecek kembali di tiap ruangnya.

    “Tunggu, sosok apa itu?” terang Satoshi sambil menunjuk ke sebuah ruangan.

    Benar apa yang dikatakan Satoshi. Sosok bayangan menyerupai seseorang muncul di depan kami. Aku mulai meneguk ludahku yang sendirinya aku mulai muncul rasa takut dengan semua ini. Kucoba bunuh rasa itu. Perlahan, aku melangkah mencoba mendekat untuk mengetahui sosok yang menyerupai bayangan itu.

    “ARRGGGG”

    Suara geraman dari suatu ruangan memecahkan keheningan seketika. Sontak pun kami kaget dan rasa panik pun langsung muncul dari kami semua.

    “Tidak!! Cukup aku pergi!” ucap Mayaka seketika. Nuansa ketakutan terlihat jelas dari raut wajahnya. Hanya hitungan detik ia pun langsung berlari meninggalkan kami begitu saja.

    “Tunggu, Mayaka!!!”

    Ternyata Mayaka tak menghiraukan panggilanku dan pergi. Ternyata rasa takut gadis itu sudah tak bisa terbendung lagi.

    “Houtaro, kamu tunggu di sini!” terang Satoshi.

    Aku pun mengangguk. Aku nyaris tak percaya ditinggalkan oleh mereka berdua. Kami terpisah begitu saja dikarenakan rasa takut Mayaka. Lalu, saat inilah yang membuat aku berada disini bersama Chitanda. Kulihat dirinya. Gadis itu ternyata sudah terjatuh pada lututnya.

    “Chitanda, apa kamu baik-baik saja?”

    Gadis itu tetap bergeming. Aku merasa Chitanda hanya punya sedikit keberanian dan bahkan ia tak punya kekuatan untuk berdiri sekarang. Mataku pun kualihkan pada objek bayangan yang ada di depan dan mulai berjalan perlahan. Tiap langkah terus saja kulakukan. Aku pun mulai melihatnya dan ternyata hanya patung dan terletak di tengah ruangan. Bayangan ini pun datang akibat dari cahaya yang ada gedung di sebelahnya.

    “Ayo, berdiri Chitanda, ke sini karena ini hanya patung biasa.” seruku padanya

    “Be, benarkah itu Houtaro!”

    Chitanda yang terjatuh pun seketika berdiri. Ia mulai mendekatiku dan aku merasa gadis itu sudah tidak takut lagi. Kini Chitanda kembali menjadi sosok yang mudah penasaran seperti yang biasa kuketahui. Ia mulai patung itu lebih lama.

    Terasa kembali. Begitu terasa ada yang aneh dan menurutku begitu mengganjal di hati. Dari posisi patung itu sedikitnya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seketika aku mulai menarik rambutku yang ikal kemudian berfikir akan teka-teki ini.

    “Jadi, begitu ternyata.” ucapku sambil bergumam.

    “Ada apa Houtaro. Apakah kamu menyadari sesuatu?” Ucapnya sambil menggerlingkan wajahnya kearahku.

    “Chitanda, apa kau tidak memperhatikannya. Lihat debu yang ada di atas lantai membentuk sebuah pola seakan ada yang memindahkannya. Lalu lihatlah ini, bentuk debu menyerupai tangan seseorang yang sepertinya patung ini dipindahkan dengan sengaja.”

    “Benarkah itu!?”

    “Menurutmu siapa sosok yang terlintas dalam pikiranmu?”

    “Hmm, aku tak tahu.”

    “Entah apakah ini benar atau salah, Chitanda. Aku merasa orang yang mengurus proyek gedung tua inilah yang memindahkannya. Bukankah dalam beberapa minggu akan ada orang yang mengurusnya. Namun karena hal yang tak sengaja itulah, cahaya dari luar ruangan menembus keruangan ini dan diteruskan kembali hingga ke luar gedung sehingga terciptalah bayangan yang dikira itu adalah sosok hantunya.”

    “Benarkah itu?!”

    Rasa penasaran Chitanda pun hilang dan mulai rasa antusias yang ada pada dirinya akan sesuatu pun kembali. Mungkin sudah saatnya bertemu Mayaka dan juga Satoshi.

    Meskipun semua masih terlalu awal, aku bisa merasakannya. Kurasakan diriku sebentar lagi kami akan tahu siapa wujud teriakan itu yang sebenarnya. Hanya saja, ada beberapa yang masih mengganjal di pikiranku, namun aku pasti akan mengetahuinya.
     
    Last edited: Feb 15, 2019 at 2:14 PM

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.