1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Lounge Fenomena Bapak (Rela Mengurus) Rumah Tangga, Bukti Perempuan makin Setara?

Discussion in 'Official and Free Talk' started by merahputihcom, Sep 14, 2021.

  1. merahputihcom Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Jul 26, 2021
    Messages:
    41
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +0 / -0
    [​IMG]

    Setiap masyarakat memiliki konsep berbeda akan peranan perempuan dan laki-laki di masyarakat. Biasanya, peranan tersebut dikembangkan sesuai situasi dan kondisi di masyarakat. Ada wilayah yang sama-sama mengidentifikasi laki-laki dan perempuan sebagai maskulin ataupun mengidentifikasi laki-laki dan perempuan sebagai feminin.

    Maskulin yakni baik laki-laki atau perempuan sama-sama keluar rumah untuk berburu atau bertani. Sementara itu, konsep feminin yakni baik laki-laki atau perempuan sama-sama mementingkan urusan domestik mereka.

    Dalam studi yang dilakukan Ipsos Mori, persepsi tentang merawat anak dan rumah tangga kini telah berubah. Banyak yang menganggap hal itu bukan hanya urusan dan tanggung jawab perempuan. Perubahan persepsi tersebut menjadi titik terang dalam isu kesetaraan gender.

    Dari penelitian yang dirilis Ipsos Mori, dari 18.000 responden, sebanyak 75% tak setuju bahwa bapak rumah tangga dianggap kurang maskulin. Selain itu, dalam bidang profesional, mayoritas (75%) pria mengaku enggak masalah punya atasan perempuan.

    Nah, di Indonesia terdapat pemisahan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Baik laki-laki ataupun perempuan memiliki peranan berbeda dalam rumah tangga. “Ada hal-hal yang kemudian membuat masyarakat Indonesia mengharapkan peranan laki-laki sebagai kepala keluarga yang mengurusi ranah publik, sementara perempuan di ranah domestik,” ucap sosiolog keluarga, Putu Chandra kepada MerahPutih.com.

    Aktivitas di ranah publik misalnya, mencari nafkah. Adapun ranah domestik yakni mengurus rumah, mengurus anak, memasak dan lain sebagainya. Namun apa jadinya, jika peran tersebut berbalik?

    Tapi kini di Indonesia kini berkembang fenomena stay at home dad. Yakni fenomena kaum laki-laki tinggal di rumah untuk mengurus kebutuhan domestik, sedangkan pasangannya justru keluar rumah untuk mencari nafkah.

    Ada berbagai hal yang melatar belakangi pertukaran tugas antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. Salah satunya yakni lebih mudahnya perempuan mendapatkan pekerjaan ketimbang laki-laki.

    Putu Chandra menyebutkan bahwa beberapa perusahaan lebih senang mempekerjakan perempuan jika dibandingkan dengan laki-laki. “Mereka berasumsi bahwa sebagai pencari nafkah utama, tunjangan dan upah yang dikeluarkan untuk laki-laki lebih besar daripada perempuan. Kalau perempuan bukan pencari nafkah utama jadi upahnya bisa lebih kecil. Itulah sebabnya beberapa perusahaan lebih suka mempekerjakan perempuan karena upah yang dikeluarkan tidak sebesar laki-laki,” urainya.

    Tak hanya itu, ada situasi lain ketika laki-laki harus berada di rumah untuk mengurus keluarga, sedangkan perempuan justru mencari nafkah. Seperti yang terjadi dengan pasangan muda Nadia Intan Permata Sari dan Rizky Andika Vava.

    Sehari-hari, Nadia harus bekerja di luar rumah, sedangkan sang suami stay di rumah karena pekerjaan suami menuntutnya demikian. "Suami saya ialah sound engineer. Acara musik biasanya weekend. Jadi suami saya baru bekerja di Sabtu dan Minggu. Hari lainnya dia di rumah saja sama anak-anak,” ucap perempuan yang berprofesi sebagai seorang jurnalis tersebut. Ia mengaku, kesepakatan tersebut mereka buat saat suami memutuskan menjadi seorang sound engineer pada 2016.

    “Awalnya suami mengambil sekolah chef di Selandia Baru. Ternyata ketika kembali ke Indonesia, dia menemukan passion-nya di bidang musik. Akhirnya dia meminta izin untuk sekolah permusikan di Indonesia dan tidak bekerja dulu. Jadi aku yang bekerja,” jelasnya.

    Ketika suaminya, Rizky Andika Vava, kembali sekolah, Nadia membuat perjanjian. Nadia bekerja dan Vava menangani rumah.

    "Kedua anak saya oke-oke saja diurus suami. Mungkin ketelitiannya saja yang berbeda saat diurus ibunya atau ayahnya," ujar Nadia. Sebelum pergi bekerja, Nadia akan memasak dan memandikan anak-anak.

    Setelah itu, sang suami akan mengantar anak-anak ke sekolah dan ia pergi bekerja. Sebaliknya, saat Sabtu dan Minggu, anak-anak akan bersama Nadia karena sang suami harus bekerja.

    Dalam beberapa kondisi, Nadia mensyukuri keadaan keluarganya yang berbeda dari apa yang berlaku di masyarakat. Menurutnya, anak-anak mereka tidak kehilangan figur laki-laki dalam hidup mereka. "Alangkah baiknya kalau anak-anak dekat dengan ayah supaya mereka tidak mencari sosok laki-laki di luar rumah," tuturnya.

    Cerita berbeda diungkapkan penulis dan seniman Reda Gaudiamo. Dalam sebuah video Youtube di kanal Paguyuban Pamitnya Meeting, ia mengungkapkan alasan ia dan sang suami bersepakat untuk menjalani pola stay at home dad. "Aku dan suami punya jam kerja yang menyita waktu sehingga anak lebih sering sendiri di rumah. Sampai pada suatu kali, anakku berkata sedang bermain sama bayangan," kisah Reda.

    Perubahan pada diri anak itulah yang menyadarkan keduanya bahwa salah satu dari mereka harus di rumah untuk menemani si buah hati. Terlebih ketika Soca, anak Reda, ketahuan mengungcapkan kata-kata kasar. Akhirnya, ia dan suami berunding. "Jadi kami keluarkanlah itu kalkuator, hitung-hitung. Akhirnya, ketemu lah bahwa aku yang bekerja. Karena menurut dia (suami-red) aku bisa lebih berkembang," jelas Reda.

    Selain pertimbangan potensi karier, sifat dalam pengasuhan juga jadi pertimbangan. "Dihitung juga siapa di antara kami yang lebih sabar. Ternyata suami yang lebih sabar dan bisa menghadapi anak," ujar Reda menyimpulkan.

    Seperti kisah Nadia dan Reda, mengambil keputusan untuk menerapkan pola stay at home dad bukan tanpa masalah. Sosiolog Putu Chandra menguraikan ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh keluarga stay at home dad. “Berhubung mereka berbeda dengan konsep yang berlaku pada umumnya, mereka kerap mendapatkan sanksi sosial. Sangki tersebut berupa komentar, omongan hingga sindiran,” paparnya.

    Kendati demikian, Putu berharap bahwa pasangan dengan ayah di rumah tidak terpengaruh dengan hal tersebut karena dapat memengaruhi kondisi rumah tangga. “Situasi yang awalnya diterima oleh kedua belah pihak dan baik-baik saja bisa kacau balau jika salah satu atau keduanya memikirkan pendapat orang lain,” ungkap Putu.

    Hal tersebut diamini Nadia. Ibu muda tersebut menjelaskan hal pertama yang ia persiapkan ialah mental. Ada satu masa di mana dia merasa capai dan merasa tugas bekerja seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Suaminya pun merasa demikian. "Memang ujung tombaknya ialah mental. Kalau tidak kuat akan kacau," tukasnya.

    Di Indonesia, perempuan sejatinya masih menghadapi diskriminasi dan pembatasan dalam aturan. Dalam Indeks Kesenjangan Gender (GII) yang dirilis PBB pada 2017, Indonesia mencatatkan partisipasi perempuan pekerja sebesar 51%. Angka itu masih jauh dari angka partisipasi laki-laki yang mencapai 80%.

    Ada beberapa hal yang menyebabkan rendahnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja di Indonesia. Di antaranya adalah pernikahan dan adanya anak di bawah 2 tahun di dalam rumah tangga. Selain itu, penyebab lainnya adalah tingkat pendidikan perempuan yang masih rendah dan perubahan struktur ekonomi sebagai dampak migrasi dari desa ke kota.

    Selain itu, dalam GII 2017 terlihat bahwa keterwakilan perempuan Indonesia di parlemen masihlah rendah. Hanya 15%.

    Hal-hal itu memang masih membutuhkan kerja keras semua pihak untuk terus menggaungkan kesadaran akan pentingnya kesadaran gender demi kemajuan bangsa di masa depan.

    Sumber
     
  2. SiegHail Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Nov 27, 2014
    Messages:
    23
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +2 / -0
    Entahlah.. Kalo saya mau laki-laki atau perempuan asalkan bisa ya Oke aja..

    Semoga yang masih kolot segera sadar..

    Thx.
     

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.