1. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Ungkapin kenangan film Asia paling berkesan buatmu. Berhadiah GK, Pulsa, dan Line Gift Sticker loh! .Klik info lengkapnya di sini, kuy~.
  5. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  6. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

FanFic [Fallen London] Bound to The Tomb Colony [An Introduction to Fallen London]

Discussion in 'Fiction' started by MaxMarcel, May 6, 2016.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. MaxMarcel M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,840 / -0
    Gerombolan kelelawar melesat ribut di antara aula konser St. Leonard dan tenda sulap Kaca. Dari pergerakan mereka, Anastasia tahu sekarang pukul enam tepat, menurut waktu Permukaan. Bagaimana ia dapat mengetahui waktu hanya dari pergerakan kelelawar? Pertanyaan bodoh. Ia adalah seorang ahli Chiropteromancy, tentu saja.

    Kemudian apa yang dilakukan dirinya sedini ini di Veilgarden? Itu adalah pertanyaan yang pintar, dan membutuhkan jawaban yang rumit. Terdapat permintaan dari Janda Baik Hati, insiden di pabrik pabrik Mr. Fires, keterlibatan sejumlah pria keledai. Ia bahkan mencurigai campur tangan Mr. Veils. Detailnya lebih misterius daripada departemen Korespondensi. Namun, secara singkat. Ia perlu menemani seorang calon kolonis kuburan dalam hari terakhirnya di London.

    Anastasia belum pernah menemui pemuda ini sebelumnya, namun pemuda itu bukan sosok yang sulit untuk ditemukan. Di antara penyair-penyair, penulis gila mimpi, pecandu madu, dan gadis berstoking merah, seorang kolonis kuburan terlihat sama mencoloknya seperti, yah, seorang kolonis kuburan di antara warga London yang terhormat.

    Perban tebal yang melilit seluruh wajah, kedua tangan, dan kemungkinan seluruh tubuhnya, langsung menunjukkan identitasnya sebagai kolonis kuburan.

    “Sir Warrenghast?” sapa Anastasia ramah seraya menghampiri sosok asing tersebut.

    Si kolonis kuburan tampak terperanjat dan melangkah mundur. Untuk sesaat pemuda itu tidak percaya ada seorang wanita muda terhormat yang menyapa dirinya. Namun, ketika dia berhasil mencerna apa yang tengah terjadi, si pemuda segera memperbaiki postunya dan membungkuk sopan.

    “Nona Anna, aku asumsikan. Biarkan aku memperkenalkan diri, Theodore Warrenghast.”

    “Senang berkenalan dengan anda, Tuan Warrenghast.”

    Sekarang giliran Anastasia yang membungkuk kecil sambil menekuk kakinya. Ia juga menjulurkan tangannya pada Warrenghast, tetapi pemuda itu tampak tidak memiliki antusias untuk mengecupnya. Malah kebalikannya. Pemuda itu hanya memainkan kakinya dan memandang gugup pada jemari lentik yang terbungkus sarung tangan.

    “Tidak perlu takut, Tuan Warrenghast. Sarung tanganku tidak menggigit,” tentu saja ia mengatakan hal itu karena terdapat beberapa kejadian ketika sarung tangannya menggigit tangan orang lain.

    “Oh, maaf, bukan itu maksudku,” jawabnya lemah. “Hanya saja. Rasanya tidak sopan untuk orang sepertiku...”

    Anastasia tidak lagi memperhatikan kata-kata si pemuda. Terdapat hal lain yang menarik perhatiannya. Kendati terbalut perban, pemuda itu mengenakan setelan jas dari sutera Permukaan. Namun, aksesorinya tampak tidak sebanding. Rantai kuningan usang menggantung dari jam kantungnya. Sepatunya disemir bersih, tetapi terbuat dari bahan kasar.

    Tentu saja. Seseorang berusaha membuat pekerja sederhana ini terlihat necis.

    Sesungguhnya, hal itu sama sekali tidak berarti bagi Anastasia. Seseorang telah meminta bantuannya untuk menjadikan hari terakhir pemuda itu berkesan. Tidak peduli apakah dia dulunya seorang bangsawan hedonistik ataupun pekerja jujur yang bebas dari skandal, ia akan memastikan pemuda itu mendapat hiburan terbaik sebelum dia berlayar ke koloni kuburan.

    Tanpa ragu, Anastasia mengambil langkah maju. Sekali lagi pemuda itu terperanjat, lebih dari sebelumnya. Secepat dan seanggun musang, ia meraih tangan kanan si calon kolonis dan mengecupnya dalam-dalam.

    Warrenghast tidak dapat berkata-kata. Matanya membelalak kaget. Tubuhnya seakan membeku di tempat.

    Ketika Anastasia berbicara, kata-katanya semanis madu dan sehangat kuningan. “Tuan Warrenghast. Ini adalah hari terakhirmu di London, dan aku telah memberikan janjiku pada seseorang, bahwa hari ini akan menjadi hari paling indah dalam hidupmu.”

    Wanita muda itu akan amat terkejut bila si pemuda tidak luluh di bawah daya pikatnya.

    Terdapat batuk kecil dan deham malu. Dengan segan si pemuda memalingkan wajahnya sebelum berbisik kecil. “Itu... Amat baik anda mengatakan hal itu. Aku... Maaf. Bisakah, nona, melepaskan tanganku? Sarung tangan nona, menggigitku.”

    Untuk sesaat Anastasia hanya dapat memandang kosong. Butuh waktu sebelum wanita muda itu menyadari air liur yang membasahi tangan si pemuda.

    “Oh, ini amat memalukan!” jawabnya tergesa-gesa sambil melepaskan genggamannya. “Mereka didatangkan dari Polythreme. Kau tahu bagaimana benda-benda menjadi hidup di sana.”

    Kali ini giliran Anastasia yang tersipu malu. Terdapat deham tertahan.

    “Maaf, aku memiliki masalah dengan kesehatanku,” ucap si pemuda pelan. “Lagipula aku tidak keberatan dengan sedikit gigitan. Bagaimanapun, aku sudah terlalu mati.”

    Dia mengakhiri kalimatnya dengan mengangkat bahu. Sebuah tangan berlapis perban basah terulur padanya.

    Anastasia tersenyum tipis, rasa malunya sudah terlupakan. Dengan mantap ia mengaitkan lengannya pada siku si pemuda dan menyandarkan tubuh gemulainya pada bahu berbalut jas sutera Permukaan.

    Meskipun Anastasia memulai hari itu dengan penuh antusiasme, apa yang sesungguhnya berjalan tidaklah membanggakan dirinya. Ia mencoba mengajak pemuda itu memasuki kelab Mandrake’s Garden. Tentu saja pemuda itu menolak, dan tentunya ia berhasil mengubah keputusan si pemuda dengan seni persuasi dan godaan.

    Pelayan kelab menuangkan mereka dua gelas Broken Giant 1844. Anggur segelap darah yang konon lebih tua dari kejatuhan London.

    Anastasia mencoba memberikan gelas kristal itu pada Warrenghast, tetapi sang pemuda menolak dengan sopan.

    “Maaf. Nona Anna. Aku memiliki masalah kesehatan,” bisiknya pelan.

    “Apa itu artinya kau tidak ingin menemani diriku?” balas Anastasia dengan mata sayu memelas. “Apa seorang wanita harus menghabiskan waktunya di kelab sendirian?”

    Suara apa itu? Deham lainnya? Apa dia menghela napas? Sulit untuk mengetahuinya dengan seluruh perban tersebut. Setidaknya si pemuda mengambil gelasnya dan mulai menyeruput, dengan amat hati-hati dan perlahan. Setidaknya ia mencicipi anggurnya, hingga noda merah darah mulai membekas di kemejanya.

    “Aku memiliki masalah kesehatan,” desah si pemuda penuh sesal.

    Anastasia menggigit bibir bawahnya sendiri. Ia seharusnya tahu hal seperti ini akan terjadi. Bagaimanapun, pemuda itu baru saja terjebak dalam ledakan di pabrik Mr.Fires beberapa hari yang lalu.

    “Kau benar,” Anastasia menekuk dahinya. “Ini bukan tempat yang tepat,” ucapnya seraya menggandeng pemuda itu keluar.


    ***​


    “Sinning Jenny?”

    “Ya,” jawab Anastasia bersemangat. “Tentu saja bukan Sinning Jenny sendiri,” tambahnya. “Hanya salah satu gadis stoking merah, pilihlah. Tapi, mungkin kau dapat beruntung dan bertemu dengan Sinning Jenny.”

    Antusiasnya dipertemukan dengan tatapan mati si pemuda.

    “Aku memiliki masalah kesehatan.”

    “Kau tidak perlu utuh untuk menikmatinya,” balas Anastasia.

    “Aku memiliki masalah, kesehatan.”

    Ya. Ini juga ide yang tidak tepat. Anastasia tidak dapat menghindari perasaan kalah, tetapi ia masih tidak menyerah.

    “Bagaimana dengan pertunjukan sampingan?” tanyanya ragu.

    Si calon kolonis kuburan mengangguk.

    Mungkinkah ini yang dibutuhkan si pemuda? Bukan hiburan dekaden Veilgarden, namun hiburan sederhana Spite.

    Mereka menghabiskan waktu menonton pertunjukan boneka di sebuah kios kumuh. Si karakter utama, sebuah boneka kain dengan jubah hitam dan topi terhormat, mengaku berasal dari lembah bahagia dan datang untuk membagikan kebahagiaan. Ouch! Dia baru saja menikam boneka kayu berseragam polisi. Ouch! Sekarang dia mengeluarkan wol dari perut boneka gadis kecil. Ouch! Boneka kelelawar kehilangan kepalanya. Apa boneka-boneka itu merepresentasikan para pria keledai, tukang pukul para Masters of Bazaar yang setia melakukan pekerjaan kotor mereka? Ia tidak tahu, yang pasti mereka mengepung si boneka bahagia. Salah satu dari mereka mementung kepalanya. Pisaunya terjatuh dan melesat keluar jangkauan tangan kainnya.

    “Jack! Jack! Kendalikan pisaumu,sebelum pisaumu mengendalikan dirimu!”

    Secara serempak para anak-anak mulai bersorak maniak. Anastasia lebih tertarik dengan kegilaan yang menyebar dibandingkan pertunjukannya. Ia tahu terdapat rahasia di balik doa maniak itu.

    Di lain sisi, si pemuda tampaknya menikmati pertunjukan itu. Setidaknya itulah yang ia rasakan. Bagaimanapun pemuda itu tertawa, sekali. Atau mungkin ia hanya terbatuk? Dipikir-pikir, ia tidak pernah mendengar pemuda itu tertawa.

    Mereka mengunjungi karnival Mrs. Plenty, menembaki laba-laba sedih di bukit Watchmaker, dan bermain judi musang di dermaga Wolfstack. Pemuda itu benar-benar tidak tertawa, sekalipun.

    Ketika kapal uap yang ditunggu berlabuh, Anastasia sudah kehilangan kepercayaan dirinya. Ia tidak yakin si calon kolonis kuburan mendapatkan hari yang berkesan.

    Lampu gas berpendar terang sementara bintang-bintang palsu mengerlip dari atap Neath. Mereka berdua hanya duduk di sisi dermaga, menyaksikan para kelazi menambatkan kapal mereka dan mengangkut persediaan sebelum mereka kembali ke zamudera.

    Diam-diam si pemuda bangkit dan merapihkan jasnya. Secara reflek, Anastasia mengikuti dirinya.

    “Ini adalah hari yang indah, Nona Anastasia,” ucapnya sopan. “Aku tidak akan melupakannya. Dan, aku berjanji semua orang di koloni kuburan mengetahui apa yang anda lakukan untuk diriku.”

    Dengan itu, si kolonis kuburan mengecup tangannya dan menaiki kapal. Siap untuk meninggalkan London dan mengasingkan diri dari semua kehidupannya.

    Tunggu dulu. Apa ini? Pemuda itu meninggalkan sesuatu dalam genggaman tangannya. Secarik kertas. Apa yang tertulis? Oh, Tuhan. Bila ini benar. Implikasinya... Mr. Fires dan koloni kuburan... Apa ia berani untuk menyelidiki hal ini. Apa ia bahkan mampu untuk melakukannya?

    You've gained 1x Extraordinary Implication
    You've gained 1x Favours: Tomb Colonist
    Nightmare is increasing...

    **************************************************************************​

    Hey, thanks for reading. Cerita yang baru saja anda baca mengambil seting di dunia mengagumkan Fallen London. Sebuah masa ketika London diculik oleh kelelawar dan dibawa ke sebuah gua bawah tanah, gua raksasa seukuran Eropa yang konon merupakan tengkorak seorang dewa. Bila anda menyukai dunia yang benar-benar aneh dan unik, saya amat merekomendasikan Fallen London, sebuah web game berbasis text adventure atau Sunless Sea, sebuah game manajemen petualangan. Keduanya diciptakan oleh Failbetter Games dan memiliki seting serta cerita yang memikat.
     
    • Like Like x 1
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.