1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic Everyday Adventure

Discussion in 'Fiction' started by red_rackham, Apr 17, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. red_rackham M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 12, 2009
    Messages:
    757
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +355 / -0
    Tidak perlu banyak kalimat pembuka. Ini cerpen yg gw tulis waktu ikut kontes di fantasy fiction di Deviantart.

    Everyday Adventure

    Hari ini Ryouta terbangun bukan karena alarm di jam internalnya menyala, tapi karena suara ribut di luar kamarnya. Android bertubuh besar itu langsung duduk dan mendengarkan suara ribut apa yang membuatnya terbangun. Tapi karena dia baru bangun, sistemnya belum aktif sepenuhnya sehingga dia duduk dulu selama beberapa detik sebelum akhirnya telinga elektroniknya bisa menangkap satu kata yang dibawa angin masuk ke dalam kamarnya.

    “BERHENTI!! DASAR KAU PENCURI CILIK!!!”

    Seketika itu juga Ryouta langsung bangun dan menyambar jaket hijau lengan buntung miliknya dan berlari keluar kamar.

    Hanya ada satu robot atau android di kota Bravaga yang seringkali dipanggil dengan sebutan ‘pencuri cilik’.

    “Maria....” gerutu Ryouta sambil berlari ke jalan. Dia lalu melompat tinggi ke atas salah satu bangunan bertingkat di dekatnya dan memandang berkeliling. Dengan cepat mata besarnya menangkap sosok ramping Maria yang melompat-lompat diatas bangunan, sementara seorang android gemuk, yang melaju diatas 4 roda, mengejarnya di jalanan.

    Ryouta mengenali android gemuk itu sebagai pemilik sebuah toko supply energi di dekat rumahnya, dan memang sering menjadi sasaran pencurian oleh Maria.

    Sebenarnya Maria bukan robot miskin yang sampai harus mencuri untuk bisa bertahan hidup. Hanya saja Maria punya sifat buruk, dia sangat suka tantangan dan senang membuat masalah. Dan dia sering menyeret Ryouta atau Buggy ke dalam masalah yang dia buat.

    Ryouta menepuk wajahnya dan menggerutu. “Gadis itu memang tidak pernah belajar!”

    Dia lalu mengambil ancang-ancang dan berlari mengejar Maria. Tubuh Ryouta memang besar serta tampak kokoh dan berat, tapi bukan berarti dia lamban. Kalau Ryouta serius, dia bisa dengan mudah mencapai kecepatan 80 km/jam dalam waktu singkat.

    Dengan kecepatan seperti itu, Ryouta berhasil menyusul Maria dengan cepat. Begitu dia berhasil menyusul gadis android itu, dia langsung menarik sebelah tangan Maria, memutar tubuh gadis itu di udara, dan menjatuhkannya dengan cukup ‘lembut’ di atas atap sebuah bangunan. Semuanya terjadi sangat cepat hingga cyberbrain Maria hampir tidak sanggup memproses apa yang baru saja terjadi.

    “OUCH!!!” seru Maria kaget ketika tiba-tiba dia sudah membentur beton yang keras.
    “Lagi-lagi kau mencuri.....memangnya kau tidak punya uang?” ujar Ryouta dengan nada jengkel. Dia lalu menahan Maria di lantai dengan sebelah tangannya.

    “Agh! Lepaskan aku!” seru Maria sambil memberontak, tapi percuma karen Ryouta jelas jauh lebih kuat dari gadis itu.

    “Kali ini kau harus meminta maaf atas perbuatanmu,” balas Ryouta sambil mendesah dan mengangkat tubuh Maria dengan mudah lalu membawanya di pundak.

    Maria jelas memberontak tapi Ryouta tetap membawa gadis android itu turun dan menghadap si pemilik toko supply energi. Dia lalu memaksa Maria meminta maaf dihadapan pemilik toko itu.

    Maria memang meminta maaf, tapi dari ekspresinya jelas sekali kalau dia jengkel setengah mati pada Ryouta. Ryouta tentu saja menyadari itu, tapi dia memilih untuk mengabaikannya.

    ****

    “Ryouta!!! Kenapa kau menghentikanku!?”
    Maria membentak Ryouta sambil memandang temannya itu dengan tatapan menantang. Ryouta menepuk kepala Maria dengan lembut dan membalas seruan gadis android itu.

    “Kau ini memang tidak pernah belajar,” gerutu Ryouta. “Sudah kubilang kalau kau tidak punya uang untuk membeli energi, kau bisa minta padaku.”

    Maria memalingkan wajahnya dengan kesal.
    Ryouta mendesah lagi. Android itu lalu memandang ke arah kejauhan, ke arah reruntuhan kota yang berada di selatan kota Bravaga, kota tempat tinggalnya. Reruntuhan kota itu dulunya adalah salah satu kota terbesar di dunia sebelum bencana besar yang disebut Catasthropy menerpa, lebih dari 200 tahun yang lalu.

    Catatan mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam bencana itu sudah lama hilang dan tidak ada android atau robot yang masih mengingat kejadiannya. Sehingga sekarang yang tersisa hanya dongeng yang disampaikan secara turun-temurun diantara para android dan robot. Apapun yang terjadi saat itu, bencana itu telah mengakibatkan kepunahan ras yang menciptakan para android dan robot. Ras manusia.

    Saat ini tidak ada lagi manusia yang tersisa di dunia. Yang tersisa hanya bayangan kejayaan ras mereka pada masa lalu dan bayangan kehancuran yang menimpa mereka.

    “Ryouta!!” bentak Maria lagi.

    “Apa?” balas Ryouta.

    “Kau belum meminta maaf padaku karena sudah berbuat kasar tadi! Kalau kau tidak melakukannya, aku tidak mau lagi dekat-dekat dengamu!” ancam Maria sambil menunju ke arah Ryouta.

    Ryouta menggerutu lagi dan membungkuk singkat sambil berkata “Maaf.”

    Maria mendengus karena merasa Ryouta tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Dia lalu menyikut perut android besar itu dan berkata “Itu saja tidak cukup! Untung aku tidak terluka. Coba sampai ada yang rusak, kau harus bertanggung jawab!”

    Ryouta hendak membantah kalau dia tidak mungkin begitu ceroboh dan melukai Maria, tapi dia sadar tindakannya tadi pagi memang agak keterlaluan. Yah mau bagaimana lagi. Dibangunkan pagi-pagi oleh suara ribut dan harus mengejar temannya yang sedang membuat masalah, memang membuat Ryouta agak senewen.

    “Maaf....aku tidak sengaja,” ujar Ryouta lagi sambil menggosok belakang lehernya. “Maaf, Maria.”

    Tapi Maria jelas masih marah. Dia menyibakkan rambut hitam panjangnya dan memalingkan wajahnya. Ryouta mendesah dan berkata “Kalau begitu biar kutemani kau seharian ini kemanapun kau mau pergi. Aku janji!”

    Begitu dia mengatakan itu, Ryouta langsung sadar kalau dia tidak seharusnya berkata seperti itu. Maria langsung berbalik dan kedua matanya berbinar-binar. Ryouta tahu kalau dia baru saja membuat sebuah kesalahan besar.

    “Benarkah!?” seru Maria dengan nada penuh semangat.

    “Errh.....benar....” balas Ryouta dengan terpaksa.

    Maria langsung melompat gembira dan berseru “Yeah!”

    Ryouta menepuk wajahnya lagi dan memutar bola mata satu-satunya yang dia miliki dan bertanya pada Maria. “Lalu kemana kau mau pergi?”

    Maria tidak menjawab, hanya menunjuk ke arah reruntuhan kota yang ada di selatan. Seketika Ryouta langsung menyilangkan kedua tangannya.

    “Ooh tidak..tidak! Kita tidak akan kesana!” ujar android itu.

    Maria langsung menatap marah ke arah Ryouta.

    “Kenapa?! Kau kan sudah janji untuk menemaniku kemana saja hari ini!” seru Maria.

    Ryouta ingin sekali membenturkan kepalanya ke tiang listrik di sampingnya. Tapi karena itu hanya akan membuat blok kota ini mengalami mati listrik, dia mengurungkan niatnya.

    Dia benar-benar menyesal telah menjanjikan hal itu pada Maria. Dengan lesu Ryouta akhirnya mengalah. “Baiklah....aku akan menemanimu kesana. Tapi aku peringatkan kau kalau disana itu berbahaya.”

    Maria mengangguk.

    “Ya! Aku tahu itu!” sahut gadis itu sambil tersenyum puas.

    “Disana banyak mutan buas dan robot-robot liar yang berbahaya. Belum lagi medannya yang berat dan beberapa reruntuhan bisa runtuh setiap saat,” ujar Ryouta lagi.

    “Aku tahu itu!” balas Maria lagi. Dia lalu menambahkan. “Makanya aku mengajakmu!”

    Ryouta menepuk wajahnya lagi.
    Maria memang keras kepala....sekali dia ingin sesuatu, dia pasti akan berjuang sampai dapat....gerutu Ryouta dalam hati.

    “Oooi! Kalian lagi ngapain?”

    Tiba-tiba terdengar seruan dari udara.
    Maria dan Ryouta mendongak dan melihat sebuah robot berbentuk mirip seekor kecoa raksasa melayang turun dengan cepat ke arah mereka. Robot itu lalu mendarat di sebuah kotak kayu tua di samping Maria.

    “Buggy!” sapa Maria. Dia lalu menepuk tubuh robot serangga yang berukuran sebesar kepala manusia itu. “Kami baru akan pergi ke reruntuhan kota di selatan sana. Kau mau ikut?”

    Sebelum Buggy sempat menjawab, Ryouta sudah tahu jawaban apa yang akan dilontarkan robot serangga itu. Masalahnya Buggy punya sifat yang mirip dengan Maria, yaitu suka tantangan dan mencintai petualangan.

    “Ikut!!” jawab Buggy penuh bersemangat.

    Ya ampun.....gerutu Ryouta lagi.

    ****

    Seperti yang diingat oleh Ryouta, perjalanan melintasi reruntuhan kota di selatan Bravaga memang tidak pernah mudah. Ryouta sendiri hampir tidak pernah mau masuk ke reruntuhan kota itu kalau tidak dipaksa oleh Maria.

    “Maria...sebenarnya apa yang kau cari di kota ini?” tanya Ryouta dengan nada jengkel. Android itu lalu menyingkirkan sebuah tiang listrik yang melintang di tengah jalan dengan sebelah tangannya.

    “Rahasia,” balas Maria sambil tersenyum nakal. Gadis itu dengan lincah melompat-lompat ringan diantara reruntuhan gedung yang berserakan di jalan yang mereka lalui. Sementara Buggy dengan enaknya melayang-layang di udara.

    “Buggy? Apa kau melihat sesuatu yang berbahaya?” seru Ryouta pada robot mirip serangga itu.

    “Tidak ada!” balas Buggy dari angkasa. Robot itu berputar sekali lagi di angkasa sebelum akhirnya terbang rendah di samping Maria.

    “Perjalanan ini akan asyik kan?” tanya Buggy riang. Maria balas mengangguk.

    “Tentu saja!” sahut Maria, dia lalu menoleh ke arah Ryouta dan menambahkan. “Akan lebih asyik lagi kalau tidak ada satu android yang terus menggerutu dan mengeluh.”

    Ryouta balas melotot dengan satu matanya. Maria tertawa geli dan melompat lebih jauh ke depan.

    “Hati-hati! Banyak reruntuhan ini yang tidak stabil!” seru Ryouta memperingatkan.

    Maria mengabaikan peringatan Ryouta dan terus melompat-lompat sambil bersenandung riang, diikuti Buggy yang terbang mengitari gadis itu.

    Grrh....coba kalian dengarkan nasihatku sedikit saja! gerutu Ryouta dalam hati.

    Mata besar android itu menyapu ke sekelilingnya, berusaha menemukan apapun yang mungkin berbahaya. Tapi nihil. Dia tidak menemukan apapun kecuali beberapa ekor hewan pengerat dan mutan kecil yang tidak berbahaya.

    Mungkin hanya aku yang terlalu khawatir....gumam android itu lagi.

    Dia lalu mengaktifkan mode inframerah di matanya. Berbeda dengan Maria yang merupakan android serba guna, Ryouta adalah android tempur. Meski tidak dilengkapi senjata, tapi dia dilengkapi sensor-sensor pendeteksi khusus yang tidak dimiliki oleh Maria. Buggy juga memiliki sensor yang sama dengan Ryouta, hanya robot serangga itu malas menggunakannya.

    Ketika mode inframerah di matanya aktif, semua yang dilihat Ryouta langsung berubah menjadi kemerahan. Dia melirik ke arah Maria dan Buggy yang tubuhnya menyala berwarna oranye-putih. Tapi Ryouta langsung menyadari ada sinyal panas lain di dekat kedua temannya itu. Dan ukurannya sangat besar.

    “MARIA, BUGGY!!!”

    Ryouta berseru keras sambil berlari ke arah kedua temannya itu.

    Maria dan Buggy berbalik dan menatap Ryouta kebingungan. Tapi tidak lama karena dinding di dekat kedua robot itu tiba-tiba meledak dan membuat keduanya terlempar dan menghantam dinding lain.

    Dari balik asap dan debu yang mengepul, melangkah sebuah robot besar dengan dua mata yang bersinar buas. Robot itu memiliki sepasang lengan yang lebih panjang dari kakinya dan terlihat sangat berbahaya. Ketika asap mulai menipis, Ryouta bisa melihat kalau robot itu adalah robot liar. Sebutan bagi robot dengan A.I. kuno yang sudah rusak, atau diprogram untuk berperang. Mereka sangat berbahaya karena sering menyerang robot atau android lain tanpa alasan yang jelas.

    Robot itu memandangi Maria dan Ryouta bergantian, lalu memutuskan kalau Maria lebih mudah diserang. Sambil melepaskan suara raungan keras, robot itu menyerbu ke arah Maria. Gadis itu langsung melompat menghindar sambil menggotong Buggy. Tangan besar robot liar itu gagal menyentuh tubuh Maria dan menghantam bangkai mobil yang tergeletak diatas jalan.

    Ryouta tentu tidak tinggal diam, dia langsung meraih potongan besi, sisa dari sebuah lampu jalan, dan mengayunkan benda berat itu ke arah si robot liar. Ryouta bisa mendengar sendi-sendinya menderu dan reaktornya bergengung keras ketika dia mengerahkan tenaganya. Tubuh Ryouta yang dirancang untuk menghadapi situasi seperti ini langsung bereaksi dan mengeluarkan seluruh kekuatannya.

    Suara dentang logam yang saling beradu langsung bergema ketka potongan besi yang diayunkan Ryouta menghantam dada si robot liar. Robot liar itu terjengkang dan menghantam reruntuhan tembok di dekatnya. Selagi robot liar itu belum bangkit, Ryouta berlari ke arah si robot liar dan mengangkat potongan besinya tinggi-tinggi, lalu menghantamkan besi itu sekali lagi ke arah kepala si robot liar.

    Hantaman itu begitu kuat hingga kepala si robot liar langsung hancur. Hantaman itu juga segera menghentikan gerakan robot liar itu untuk selamanya. Tubuh si robot liar langsung terkulai lemas setelah sempat kejang-kejang selama beberapa detik

    Melihat lawannya sudah kalah, Ryouta melemparkan besi yang dia bawa dan menghela nafas lega. Dia lalu berjalan menghampiri Maria dan Buggy yang masih terpana melihat aksinya. Android besar itu lalu mengulurkan tangannya.

    “Kalian tidak apa-apa?” tanya Ryouta.

    Maria menyambut uluran tangannya dan berdiri, lalu melepaskan Buggy. Gadis android itu menatap Ryouta beberapa lama lalu memalingkan wajahnya dan berkata dengan suara pelan.

    “Terima kasih.......”

    Ryouta menghela nafas lega dan mengelus kepala Maria dengan lembut.

    “Untung kalian tidak apa-apa,” ujar Ryouta dengan perasaan lega. Dia lalu menambahkan lagi. “Sudah kubilang tempat ini berbahaya. Kenapa kau begitu ingin datang kemari?”

    Maria teridam, lalu berkata lagi. “Maaf....”

    Ryouta menggaruk belakang lehernya lalu berbalik. “Sudahlah, ayo kita pulang saja.”

    Dia baru saja berjalan pergi ketika Maria tiba-tiba menarik tangannya.

    Ryouta menoleh dan mendapati Maria memandangnya dengan tatapan memohon. Ryouta benci kalau Maria sudah melakukan itu karena dia pada akhirnya pasti memenuhi apa permintaan gadis android itu.

    “Kumohon...temani aku sampai tempat tujuanku....” pinta Maria. “Kalau kau tidak ikut semuanya akan sia-sia...”

    Ryouta memandangi Maria cukup lama, dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Buggy. Robot serangga itu mengangkat kedua tangan mungilnya dan berkomentar.

    “Sudahlah....ikuti saja apa mau Maria,” ujar Buggy dengan santainya. “Toh kau tidak mungkin membiarkannya berkeliaran sendiri di tempat ini.”

    Ryouta menepuk wajahnya lagi.

    “Baiklah. Tapi hati-hati dan jangan jauh-jauh dariku!” ujar Ryouta pada akhirnya.

    Sikap Maria langsung berubah drastis. Ekspresi wajahnya menjadi cerah dan dia melompat gembira.

    “Yeah! Ayo kita lanjutkan petualangan kita!!” seru Maria penuh semangat sambil mengacungkan tinjunya ke angkasa.

    “Yeah! Ayo!” timpal Buggy.

    Ryouta hanya bisa mendesah jengkel dan menepuk wajahnya sekali lagi.

    Ya ampun....gerutu android itu.
    ****

    Perjalanan mereka selanjutnya lebih ringan karena tidak ada lagi robot liar atau mutan yang mencoba menyerang mereka. Tapi pada saat yang sama, hari semakin gelap dan berjalan pada malam hari di reruntuhan seperti ini sangat berbahaya. Banyak robot liar dan mutan yang lebih aktif pada malam hari.

    “Maria...masih berapa jauh lagi?” tanya Ryouta dengan tidak sabar.

    “Sebentar lagi!” balas Maria. Dia lalu berhenti dan menunjuk ke arah sebuah gedung di depannya. Gedung itu adalah bekas sebuah stadion olahraga yang sebagian sudah runtuh. Stadion itu masih tampak menyisakan kemegahannya ketika masih digunakan sebagai pusat kegiatan olahraga.

    Tanpa menghiraukan Ryouta, Maria langsung berlari masuk ke dalam stadion, diikuti oleh Buggy.

    “Hei! Jangan seenaknya pergi sendiri!!” seru Ryouta sambil berlari menyusul mereka berdua.

    Tapi Maria dan Buggy sudah jauh meninggalkannya dan dia akhirnya kehilangan jejak kedua temannya itu. Sambil mendesah Ryouta masuk ke dalam stadion hingga akhirnya dia berada di lapangan stadion tersebut.

    Ryouta mengaktifkan pandangan inframerahnya dan berusaha menemukan Maria dan Buggy. Berkat kemampuannya itu, dia dengan segera menemukan dimana mereka berdua berada.

    Gadis android itu sedang melambai ke arahnya dari tribun penonton paling atas yang ada di seberang lapangan.

    “RYOUTA!!!” seru Maria dengan suara sekeras mungkin. “Maaf karena hari ini aku sudah bersikap sangat egois dan tidak menghiraukan semua perkataanmu!!”

    Ryouta menatap ke arah Maria dan menghela nafas. Dia lalu balas berseru pada gadis android itu.

    “Sudah biasa!! Kau tidak perlu minta maaf!!”
    Maria diam sejenak, lalu gadis itu tampak mengambil sesuatu dari balik bangku penonton di belakangnya. Ryouta langsung mengaktifkan fungsi zoom dan berusaha melihat apa yang dipegang oleh Maria. Tampaknya benda itu adalah sebuah tombol yang terhubung dengan kabel.

    “RYOUTA!!!” seru Maria lagi.

    “Apa??” balas Ryouta.

    “SELAMAT ULANG TAHUN!!!!”

    Bersamaan dengan seruan Maria, lampu-lampu berwarna-warni langsung menyala di tribun tempat gadis android itu berdiri. Lampu-lampu itu sengaja disusun sedemikan rupa hingga membentuk kalimat ‘Happy B’day Ryouta!’

    Ryouta melongo melihat kalimat itu. Dia sama sekali tidak ingat kalau hari ini adalah hari dia diaktifkan, atau dengan kata lain, hari lahirnya. Semua kejadian yang terjadi hari ini membuatnya lupa.

    Kalau Ryouta punya kantung air mata, dia pasti sudah meneteskan air mata karena terharu.

    “Ya ampun......tidak kusangka....” gumam android besar itu.

    “Selamat ulang tahun Big Boy!” ujar Buggy yang meluncur turun dari langit-langit stadion. Dia lalu menjatuhkan sesuatu yang dia bawa, ke tangan Ryouta. “Yang ini hadiah dariku.”

    Ryouta menerima benda itu dan langsung berseru pada Buggy. “Terima kasih Buggy! Aku memang sudah lama ingin memiliki lagi unit GPS ini!”

    “Haha! Aku tahu milikmu rusak waktu kecelakaan 3 bulan yang lalu, jadi aku berikan yang baru,” balas robot serangga itu.

    Kalau mulut Ryouta bisa tersenyum, android itu pasti akan tersenyum lebar. Dia tidak menyangka kalau kedua temannya mau repot-repot dan bahkan mempertaruhkan nyawa mereka untuk hari ini.

    “Ryouta!!”

    Tiba-tiba Maria menabrak sambil memeluk Ryouta dari belakang dan membuat android besar itu kehilangan keseimbangan dan jatuh.

    “Terima kasih Maria....aku tidak menyangka sama sekali....kau dan Buggy yang menyiapkan semua ini?” ujar Ryouta masih sambil memeluk Maria yang berbaring di atas tubuhnya. Maria mengangguk penuh semangat.

    Ryouta menutup matanya sejenak lalu bergumam lagi. “Sekali lagi terima kasih...”
    Maria menggelengkan kepalanya. Air mata bahagia menetes dari pipinya. Gadis android itu lalu tersenyum manis.

    “Tidak perlu berterima kasih. Ini tidak seberapa,” balas Maria. “Seharusnya aku yang harus berterima kasih padamu. Kau selalu menjagaku agar tidak terlibat masalah besar. Kau juga selalu menyelamatkanku setiap kali aku dalam bahaya. Jadi ini sama sekali tidak sepadan dengan semua hal yang telah kau lakukan.”

    Ryouta mengelus kepala dan wajah Maria dengan lembut.

    “Sudah. Lupakan saja,” ujar android bermata satu itu dengan suara lembut. “Aku melakukannya tanpa mengharap balas jasa. Tapi....terima kasih....ini hari ulang tahun terindah dalam hidupku....sekali lagi terima kasih.

    Maria langsung memeluk erat tubuh besar Ryouta dan berbisik.

    “Aku mencintaimu Ryouta,”

    “Aku juga, Maria,”

    “Aku juga mencintai kalian berdua,” timpal Buggy sambil berputar diatas Maria dan Ryouta.

    Kedua android itu langsung menatap heran ke arah Buggy.

    “Apa?” tanya Buggy. “Kenapa cuma kalian yang boleh berbahagia?? Aku juga mau!”

    Ryouta dan Maria langsung tertawa terbahak-bahak begitu mendengar ucapan Buggy. Suara tawa mereka bergema di seluruh penjuru reruntuhan kota dan terbawa angin, hingga sayup-sayup bisa terdengar oleh telinga android yang sensitif di perbatasan kota Bravaga. Suara tawa dari keduanya seakan mengingatkan kota itu akan kejayaannya di masa lalu dan menebarkan kebahagiaan yang tidak pernah lagi terasa di kota tersebut sejak 200 tahun yang lalu.

    Ini adalah sebuah cerita sederhana dari para generasi penerus manusia. Meski berbeda wujud dan ras, tapi mereka adalah anak cucu manusia yang juga bisa saling mencintai dan berbagi. Semoga mereka tetap hidup dengan bahagia hingga waktunya tiba bagi mereka untuk tidur damai selamanya.

    *FIN*

    Red_Rackham_2010
    cerpen ini juga udah di upload di blog ane di mari
    Versi inggrisnya bisa dilihat di mari

    Everyday Adventure II

    Everyday Adventure III


    Everyday Adventure IV

    Everyday Adventure V

    Extra Adventure

    Silahkan komentarnya. Mo bilang good atau bad ane terima dah. Yang penting ada komentar utk perbaikannya ^___^

    Thanks

    [EDITED]
    Thx atas sarannya. Sudah saia edit ^___^

    Tambahan. Gw inget klo cerita ini awalnya gw buat gara2 gw buat sketsa gambar ini:
    [​IMG]
    Kiri-kanan: Maria, Ryouta, Buggy
     
    • Thanks Thanks x 5
    • Like Like x 1
    Last edited: Nov 25, 2013
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. MaxMarcel M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,843 / -0
    :matabelo:

    :top: Good story bro.

    Ceritanya simpel, enak dibaca dan diakhiri dengan rapih.

    Mungkin agak ganjel aja waktu encounter ama robot liar kuno yang bisa meraung. Bayangannya robotnya masih kuno dan terpaku ama program tertentu, jadi tidak mengeluarkan emosi sama sekali.

    Dan yang terpenting dari semuanya. . . . Paragrafnya di kasih enter napa biar ga nyatu semua kyk kaki seribu :hammer:
     
  4. red_rackham M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 12, 2009
    Messages:
    757
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +355 / -0
    Thanks atas pujian dan kritiknya ^___^
    Paragrafnya udah gw kasih spasi biar ga nyatu smua kyk kaki seribu ^___^ + gw tambah desain karakter.

    Tentang encounter dgn robot liar yg bs meraung....hehehe....janggal ya? Padahal 'raungan' sengaja gw buat biar tambah efek dramatis ^___^
     
  5. MaxMarcel M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,843 / -0
    Nah kalo gitu kan lebih enak dibaca.

    Kalo robot kuno lebih cocok *beep* *beep* *beep* dari pada meraung kayaknya.

    Wogh design artnya :matabelo:
    Bener-bener. . . . . . :top: Terasa sangat menjiwai ceritanya (atau kebalikan, ceritanya terasa menjiwai gambarnya?). Gambarnya sendiri juga bagus dan cocok ama ceritanya. Pokoknya mantap dah.
     
  6. Giande M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Sep 20, 2009
    Messages:
    985
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +1,227 / -0
    dunia tanpa manusia eh....

    agak kurang penjelasan tentang kenapa robot - robot masih bisa bergerak, bahkan terus bermunculan > well bentuknya cerpen jadi masih bisa dimaklumin
    Sensor panas dalam robot? hmm
    robot liar udah lama masih jalan? 200 taon pastinya dia tergeletak disana kan... energinya darimana? hmmm
    robot tempur tapi ga punya senjata? WEird...... kalau manusia tempur pake beladiri... robot? beladiri juga ya?

    WAH A.I. e udah sampe tingkatan mana tuh isa ada perasaan :cerutu:
    Imajinasi dunianya terasa... apalagi ada illustrasinya jadi memperjelas
    cerita yang bagus... dibuat sebagai cerpen cocok.

    Ada pembukaan

    KLimaks

    dan endingnya juga terasa

    intinya cerpen ini BAGUS :hero:
     
  7. red_rackham M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 12, 2009
    Messages:
    757
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +355 / -0
    Uehehehe.....ane jadi :malu2:

    Yah...emang ini konsep dari awal hanya buat cerpen...jadi dunianya gw buat apa-adanya tanpa penjelasan apapun ^____^

    Karena konsep ceritanya heart-warming...no weapon allowed :haha:

    Thanks

    Klo project lain gw dah slesai, mungkin ini bs gw buat yg series ^___^
     
  8. kyotou_yasuri Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Oct 24, 2010
    Messages:
    93
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +20 / -0
    Jujur saja ya, awalan membaca ceritanya sedikit terlintas 'hmmm kayaknya generic adventure story nih' tapi setelah sampe ke bagian akhir ekspresiku berubah :malu2: rupanya di akhir ada 'twist' yang tak terduga!

    Menghangatkan hati, membuat senyum. Cerita yang bagus! :top:
     
  9. dkanograph Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Dec 23, 2009
    Messages:
    39
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +0 / -0
    bagus critanya . mantab ^___^
     
  10. om3gakais3r M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,045
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,622 / -0
    emm... post apocalypse ya? :???: tema friendship yang dimunculin bikin saya inget sama temen2 saya pas SD dulu.. :terharu: karakter Buggy dan Ryouta mirip banget sama temen2 saya dulu... err. bukan berarti saya mirip Maria ya.. :XD:

    love the theme, love the story.. love the ending... :top: keep writing, bung... saya akan terus stay tune.. :top:

    btw @atas itu.. junk?
     
  11. christineh Members

    Offline

    Joined:
    May 29, 2011
    Messages:
    7
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +0 / -0
    Bagus bgt..
    Bkin film nya asyik kali..
    wkwkwk....
     
  12. MaxMarcel M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,843 / -0
    Request, di bikin oneshot atau seri tambahan ini.
     
    • Thanks Thanks x 1
  13. red_rackham M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 12, 2009
    Messages:
    757
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +355 / -0
    :top:
    Akan saia tambahkan ke list cerita yang harus ditulis pasca-NaNoWriMo!

    Paling seri2 lepas aja yg pakai 3 karakter itu, mini-orifict ato cerpen lagi.
     
    • Thanks Thanks x 1
  14. lawren M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Jun 4, 2009
    Messages:
    428
    Trophy Points:
    222
    Ratings:
    +8,674 / -0
    wogh, karya kk rackham yang ini jadi juara 1 :shock:
    emang ga salah pilih jurinya, karya dari kk ini bagus-bagus smua :hoho:
    congrats ya..
     
    • Thanks Thanks x 1
  15. nanamiang Members

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Sep 8, 2010
    Messages:
    234
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +21 / -0
    Melihat daftar pemenang cerpen, jadi penasaran gimana sih ceritanya...
    Memang sip ceritanya...
    Selamat ya....
     
    • Thanks Thanks x 1
  16. andriy_panda M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Dec 12, 2011
    Messages:
    956
    Trophy Points:
    206
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +7,811 / -1
    wow! jarang banget bisa nemu cerpen bertema science-fiction kyak gini , kira2 masih ada lanjutannya lagi gak bro?. like this :))
     
    • Thanks Thanks x 1
  17. red_rackham M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 12, 2009
    Messages:
    757
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +355 / -0
    Everyday Adventure II

    “Ryouta!!!”

    Ryouta langsung berbalik ketika mendengar seruan itu. Android bertubuh besar itu terkejut bukan main ketika melihat sosok gadis android yang berlari ke arahnya. Sambil tersenyum lebar, gadis android itu langsung melompat dan memeluknya, hingga membuat Ryouta nyaris kehilangan keseimbangan. Tapi dengan segera dia menyeimbangkan dirinya, lalu berseru dengan marah pada gadis android yang menubruknya itu.

    “Maria?! Sedang apa kau disini?!”

    “Sedang mengganggumu,” sahut Maria sambil nyengir lebar.

    Ryouta langsung mendesah kesal. Saat ini dirinya tengah berada di area konstruksi sebuah gedung baru yang sedang dibangun. Sebagai salah satu android yang diciptakan dengan kekuatan fisik yang besar, Ryouta menggunakan kekuatannya itu untuk membantu pembangunan gedung-gedung di kota Bravaga.

    “Kalau begitu minggir sana! Tempat ini berbahaya!” gerutu Ryouta sambil mendorong tubuh Maria agar menjauh dari dirinya. Tapi gadis android itu masih saja berdiri di depan Ryouta.

    “Aku tahu itu. Tapi kan ada Ryouta disini,” sahut Maria, masih dengan nada riang.

    Ryouta langsung menepuk wajahnya. Dia lalu menarik kerah baju Maria dan menarik tubuh gadis android itu menyingkir dari area konstruksi. Tentu saja Maria memberontak, tapi usahanya sia-sia karena Ryouta jauh lebih kuat darinya. Pada akhinya gadis android itu pasrah ketika temannya itu menyeretnya keluar. Ryouta baru mau melepaskan Maria setelah membawa gadis android itu keluar pagar yang membatasi area konstruksi tempatnya bekerja.

    “Jadi...mau apa kau kesini? Bukannya sudah kubilang jangan dekat-dekat area konstruksi! Tempat ini berbahaya!” ujar Ryouta sambil melepas helm titanium yang dia kenakan.

    “Ah! Tidak akan berbahaya. Kan ada kamu disini,” balas Maria, masih sambil nyengir lebar dan itu membuat Ryouta mulai jengkel.

    “Maria!” geram Ryouta. “Kau...!”

    “....aku kemari untuk mengajakmu pergi nanti malam,” potong Maria sambil berjalan mundur beberapa langkah. “Apa kau lupa nanti malam ada apa?”

    Ryouta berpikir sejenak, lalu dia teringat kalau hari ini adalah hari terakhir di kalender tahun ini. Dengan kata lain, malam nanti adalah malam pergantian tahun. Malam tahun baru. Dia baru ingat soal itu sekarang, karena akhir-akhir ini dia disibukkan dengan pekerjaan konstruksinya yang harus segera diselesaikan.

    Astaga! Itu sebabnya kenapa akhir-akhir ini aku banyak melihat hiasan-hiasan dan robot-robot berpenampilan aneh di Bravaga! Kenapa aku sampai lupa!

    Ryouta langsung menepuk kepalanya lagi.

    “Nah! Kau sudah ingat kan!” ujar Maria lagi. “Malam ini ada festival malam tahun baru di sekitar Central Tower dan tentu saja aku ingin kau pergi bersamaku.”

    Kalau dia bisa tersenyum, Ryouta pasti tersenyum lebar. Dia merasa senang sekali karena Maria sampai repot-repot datang ke tempat kerjanya, hanya untuk mengajaknya pergi ke festival malam tahun baru.

    “Ayolah! Kau kan tidak kerja malam nanti...” ujar Maria lagi dengan nada merajuk.

    Ryouta langsung menepuk kepala Maria dan mengusapnya dengan lembut.

    “Tentu saja aku akan pergi bersamamu,” balas Ryouta.

    Maria langsung bersorak gembira dan melompat dengan riangnya.

    “Yeah!!”

    Tanpa menunggu lagi, Maria langsung berbalik dan berlari menjauh. Gadis android itu lalu melambaikan tangannya ke arah Ryouta, lalu berseru nyaring.

    “Kalau begitu aku tunggu jam 8 malam di depan toko energi Genie Lamp!!”

    Segera setelah menyerukan kalimat itu, Maria langsung melompat tinggi dan menghilang di antara atap gedung-gedung tinggi yang ada di sisi jalan.

    Ryouta langsung menghembuskan nafas lega karena Maria akhirnya pergi. Dia lalu berbalik dan bersiap untuk kembali bekerja, tapi android itu sempat berhenti sejenak.

    Tidak terasa....tahun ini pun sudah hampir berakhir.

    Ryouta bergumam pada dirinya sendiri, sambil memandang ke arah sebuah menara besar yang berada tepat di tengah-tengah kota Bravaga.

    ****

    Malam tahun baru di kota Bravaga adalah sesuatu yang sangat spesial bagi penghuninya. Untuk memperingati momen pergantian tahun tersebut, setiap tahun selalu diadakan festival dan karnaval meriah di kota para robot tersebut. Gedung-gedung kota yang biasanya terlihat begitu ‘biasa’ dan tidak menarik, kini sudah dihiasi berbagai macam akesoris dan ornamen yang tampak mencolok. Warna-warna cerah sengaja disapukan di berbagai sudut kota, ditambah dengan hiasan lampu-lampu berwarna-warni yang melintang di antara gedung-gedung, membuat suasana kota Bravaga menjadi sangat meriah.

    Beberapa robot bahkan sengaja menghias diri dengan cat dengan warna-warna mencolok, atau mengganti bagian tubuh mereka dengan bentuk-bentuk yang aneh dan tidak wajar. Ada juga robot yang mengenakan berbagai jenis aksesoris berwarna-warni, hingga mereka tampak lucu dan aneh karena dandanan nyentrik mereka.

    “Kemana dia? Lama sekali!”

    Ryouta menggerutu sambil mengecek jam internal yang terpasang di dalam tubuhnya. Dia mulai jengkel karena sudah setengah jam dia berdiri di depan toko energi Genie Lamp, namun sosok Maria belum terlihat juga.

    “Sabar. Wanita itu butuh waktu lebih lama dari pria dalam soal berdandan.”

    Buggy yang sudah datang lebih awal dari Ryouta, berkomentar sambil bertengger di atas papan nama yang ada di samping pintu toko. Kedua mata robot berbentuk mirip kecoak raksasa itu tampak berbinar-binar. Jelas sekali kalau dia sangat menikmati suasana kota yang sangat meriah ini.

    “Yang benar saja....” gerutu Ryouta lagi sambil memutar satu-satunya mata yang dia punya.

    “Ryouta~! Buggy~!! Maaf aku terlambat!!”

    Ryouta dan Buggy langsung menoleh ke arah sosok yang memanggil nama mereka berdua. Sosok itu tidak lain adalah Maria. Tapi kali ini Maria tampak berbeda dengan biasanya. Setidaknya pakaian yang dia kenakan.

    Kalau biasanya Maria mengenakan pakaian yang sederhana dan terkesan tomboi, kali ini gadis android itu tampak anggun dengan gaun yang dia kenakan. Rambut panjangnya yang berwarna hitam, terlihat sangat kontras dengan gaun biru langit yang dia kenakan. Sekilas gadis android itu bagaikan seperti seorang putri.

    “Astaga! Kau cantik sekali!”

    Buggy langsung berkomentar sambil terbang menghampiri Maria. Robot itu lalu terbang berputar sekali sebelum mengacungkan jempol mungilnya.

    “Gaun itu memang cocok sekali untukmu,” puji Buggy lagi.

    Maria tampak tersipu malu.

    “Ah! Jangan seperti itu! Aku jadi malu!” balas Maria sambil memegangi kedua pipinya.

    “Ayo! Sana temui Ryouta! Dia sudah menggerutu terus dari tadi!”

    Buggy lalu mendorong Maria agar berjalan lebih cepat. Keduanya lalu sampai di depan Ryouta yang tidak henti-hentinya memandangi Maria.

    “A...apa?! Kenapa kau menatapku seperti itu?” ujar Maria sambil berkacak pinggang. “Apa ada yang aneh dengan pakaianku?”

    Ryouta langsung menyadari hal itu dan memalingkan wajahnya. Dia sadar kalau tadi dia sempat terpana dengan sosok Maria yang tampak anggun dan cantik, sehingga membuatnya terdiam selama beberapa saat.

    “Tidak. Tidak ada yang aneh. Ayo kita pergi sekarang!” balas Ryouta sambil berjalan mendahului Maria.

    Melihat sikap acuh Ryouta, Maria langsung cemberut tapi dia tetap saja berjalan mengikuti Ryouta. Gadis android itu merasa agak kecewa karena Ryouta tampak tidak terkesan dengan penampilannya.

    “Jangan terlalu dipikirkan,” celetuk Buggy, seolah-olah robot itu bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Maria. “Biar cuek begitu, Ryouta tadi sebenarnya sangat terkesan dengan kecantikanmu. Hanya saja...yah...kau tahu sendiri sifatnya seperti apa.”

    Maria memandangi Buggy sejenak, lalu tersenyum lebar dan menepuk sisi tubuh Buggy.

    “Kau benar. Sekarang ayo kita nikmati festival ini!” seru Maria sambil segera berlari kecil mengejar Ryouta.

    “Ayo~!” timpal Buggy sambil melayang diatas kepala Maria dengan riang.

    ****

    Festival malam tahun baru di kota Bravaga berpusat di sebuah lapangan luas berbentuk lingkaran, yang berada tepat di tengah kota. Lapangan itu tampak terbentang melingkar mengelilingi sebuah menara tinggi yang disebut Central Tower. Menara tertinggi di kota Bravaga tersebut adalah tempat tinggal Mother, ibu dari semua robot yang hidup di kota tersebut.

    Lapangan yang biasanya sepi itu kini tampak ramai dengan berbagai macam robot yang sudah berkumpul di sana. Beberapa di antara mereka tampak menjual berbagai macam barang dan membuka stand jualan, namun ada juga yang terlihat sedang melakukan atraksi dan mempertunjukan keahlian mereka. Sebagian besar robot tampak hanya berjalan santai mengitari stand dan para seniman jalanan, tapi semuanya telihar gembira dan menikmati suasana ramai di lapangan tersebut.

    “Coba lihat! Ramai sekali disini!”

    Maria berseru gembira sambil memandang ke segala arah. Gadis android itu tampak begitu bersemangat dan antusias, meski setiap tahun selalu datang ke festival ini.

    “Tentu saja ramai. Hampir seluruh penduduk kota Bravaga berkumpul di lapangan ini,” sahut Ryouta. Dia lalu menambahkan dengan nada mengejek. “Awas. Jangan sampai terpisah nanti kau tersesat.”

    Maria langsung merengut dan menyikut pinggang Ryouta.

    “Memangnya aku anak kecil!” protes Maria. Tapi dia tidak bisa marah lama-lama, karena suasana meriah di festival malam pergantian tahun itu membuatnya kembali bersemangat. Dengan riang gadis android itu menarik tangan Ryouta.

    “Ayo! Kita bersenang-senang!!”

    Maria benar-benar membuat Ryouta mengikutinya kemanapun dia pergi. Gadis android itu tampak terkagum-kagum ketika melihat sekelompok robot memamerkan kemampuan akrobatik mereka. Dia juga tampak begitu gembira ketika menari bersama Buggy di atas sebuah panggung musik kecil. Pokoknya, malam itu Maria benar-benar bersenang-senang.

    Meski tidak bisa tersenyum, tapi sebenarnya saat ini Ryouta sedang tersenyum lebar. Dia juga menikmati suasana ramai dan riang gembira dari festival malam tahun baru ini. Biasanya Ryouta enggan menuruti kemauan Maria yang seringkali kekanakan, tapi kali ini dia membiarkan gadis itu berbuat sesukanya. Hanya saja Ryouta bersyukur karena kali ini Maria bisa menahan diri dan tidak membuat masalah.

    Ryouta mulai kembali mengingat-ingat berbagai masalah yang sudah dibuat oleh Maria tahun ini. Android besar itu teringat satu masalah serius, ketika Maria secara tidak sengaja merusak Solar Converter di Solar Field. Gara-gara itu, setengah kota Bravaga harus mengalami pemadaman bergilir karena kekurangan pasokan listrik.

    Kuharap tahun depan dia tidak membuat terlalu banyak masalah...gumam Ryouta dalam hati.

    “Ryouta!”

    Seruan Maria membuat Ryouta tersentak dari lamunannya. Dia lalu menoleh dan melihat gadis android itu sedang memandang ke arahnya dengan tatapan tajam.

    “Apa?” balas Ryouta agak ketus.

    “Ayolah! Bersenang-senang sedikit! Dari tadi kau terlihat tidak bersemangat!” ujar Maria. Dia lalu menunjuk ke arah lain, tepatnya ke arah Buggy yang sedang melakukan gerakan akrobatis di udara bersama sebuah robot lainnya. “Coba lihat si Buggy! Dia saja terlihat begitu bersemangat.”

    “Sikapnya itu lebih mirip robot yang cyberbrain-nya baru saja kena arus pendek,” celetuk Ryouta.

    Maria langsung merengut lagi ketika mendengar ucapan Ryouta. Tapi gadis android itu lalu tertunduk lesu. Dia tampak sedih karena melihat Ryouta yang tampaknya tidak menikmati saat-saat bersamanya itu.

    “Ryouta...mungkinkah kau tidak suka berjalan bersamaku seperti ini?” tanya Maria dengan suara lirih. Dia lalu menengadah dan matanya terlihat berkaca-kaca. “Apa kau sebenarnya merasa sangat terpaksa datang ke festival ini bersamaku? Kalau memang begitu, lebih baik aku pulang saja...”

    Maria baru saja akan berbalik dan berlari pulang. Sayangnya ketika gadis android itu berbalik, dia tersandung gaunnya sendiri dan kehilangan keseimbangannya. Maria pasti akan terjatuh kalau saja Ryouta tidak buru-buru menahan tubuhnya.

    “Dasar ceroboh!” gerutu Ryouta.

    “Eh?!” seru Maria kaget.

    Dengan lembut, Ryouta lalu membantu Maria berdiri dan menepuk kepala gadis android itu.

    “Aku tidak pernah bilang aku tidak suka pergi ke festival ini bersamamu,” balas Ryouta sambil menghela nafas panjang. “Dasar bodoh.”

    “Apa katamu!?” balas Maria jengkel.

    Tanpa memperdulikan seruan marah Maria, Ryouta tiba-tiba saja menarik tangan gadis itu dan memaksanya mengikuti langkahnya.

    “Ryouta! Mau kemana?!” seru Maria kebingungan.

    “Sudahlah! Ikut saja!” balas Ryouta, kali ini dengan nada riang hingga membuat Maria heran. Tapi akhirnya gadis android itu tidak berkata apapun dan berusaha mengikuti langkah lebar Ryouta. Meski masih bingung, tapi Maria sekarang merasa penasaran dan berdebar-debar. Dia mulai bertanya-tanya apa yang menyebabkan Ryouta tiba-tiba bersikap seperti aneh.

    Aku jadi penasaran! Seru gadis android itu dalam hati.

    ****

    “Mau apa kita disini?”

    Maria bertanya sambil memandang ke sekelilingnya. Saat ini dirinya dan Ryouta sedang berada di depan sebuah menara tua yang sudah tidak terpakai lagi. Menara yang cukup tinggi itu berada tidak terlalu jauh dari lapangan melingkar, tempat festival malam tahun baru diadakan.

    “Ryouta! Tempat ini sudah tidak pernah digunakan lagi entah sejak kapan! Memangnya ada apa disini?” tanya Maria lagi.

    Gadis android itu tahu kalau menara tua yang ada di hadapannya itu sudah berdiri sejak lama sekali, konon katanya menara itu jauh lebih tua daripada Central Tower yang ada di pusat kota Bravaga. Maria bahkan pernah mendengar kalau umur menara tua ini sama dengan bekas kota metropolitan milik manusia, yang kini jadi reruntuhan di perbatasan selatan kota Bravaga.

    Yang jelas...tempat menara ini terlarang untuk dimasuki. Maria saja yang gemar menjelajahi kota, tidak pernah masuk ke dalam menara tua ini.

    “Sudahlah! Ayo masuk!”

    Ryouta mengabaikan pertanyaan Maria dan membuka pintu besi tua yang ada di depannya. Suara derit nyaring terdengar ketika tangan besar Ryouta membuka pintu yang tampak sudah bertahun-tahun tidak dibuka itu. Segera setelah pintu menara itu terbuka, Ryouta langsung melangkah masuk diikuti oleh Maria.

    “Gelap!” keluh Maria ketika masuk dan mendapati kalau ruangan di dalam menara itu gelap-gulita. Tapi sedetik kemudian lampu-lampu yang menempel di dinding menara menyala dan seluruh isi ruangan jadi terlihat dengan jelas.

    Sebuah tangga melingkar yang menuju ke puncak menara tampak terlihat menempel di dinding. Kedua mata Maria terbelalak ketika melihat deretan lukisan tampak berjejer rapi di dinding menara. Lukisan-lukisan itu tampak sangat tua dan cat di beberapa lukisan terlihat pudar atau mengelupas, tapi apa yang terlukis di sana masih terlihat cukup jelas.

    “Uwaah~! Tempat apa ini?!” seru Maria sambil berlari menaiki tangga, lalu mengamati satu-persatu lukisan yang ada di dinding. “Seperti sebuah galeri...”

    “Tempat ini memang sebuah galeri kuno,” balas Ryouta sambil berjalan menaiki tangga spiral. “Ayo. Kita naik ke tingkat paling atas.”

    Tanpa perlu di suruh, Maria langsung berlari mendahului Ryouta dan akhirnya sampai di puncak menara. Di puncak menara yang cukup tinggi itu, terdapat sebuah lonceng besar berwarna hitam yang tampak sudah sangat tua. Lonceng itu berada di tengah-tengah lantai puncak menara yang mirip sebuah podium terbuka. Dari ruangan itu, pemandangan kota Bravaga yang dipenuhi lampu berwarna-warni dapat terlihat dengan jelas. Sungguh sebuah pemandangan yang indah.

    “Waah~!” seru Maria terkagum-kagum.

    Tapi sebenarnya bukan pemandangan kota Bravaga yang membuat gadis itu berseru kagum, melainkan lonceng raksasa yang ada di tengah ruangan. Ketika melihat lonceng itu, Maria tidak tahan untuk tidak mencoba membunyikan lonceng raksasa itu. Gadis android itu langsung menoleh ke segala arah dan akhirnya mendapati sebuah tali baja terulur di sisi lain ruangan.

    Maria baru saja akan menarik tali itu untuk membunyikan lonceng, ketika tangan besar Ryouta menghentikannya.

    “Tunggu dulu. Belum saatnya,” ujar Ryouta sambil mengacungkan telunjuk di depan wajahnya.

    “Apa maksudnya?” tanya Maria heran. “Sebenarnya menara ini tempat apa sih? Tadi kau bilang ini adalah sebuah galeri kuno. Siapa sih yang membuat galeri ini?”

    “Manusia. Dulu sekali...” balas Ryouta.

    “Kalau begitu...menara ini juga dibuat oleh manusia?” tanya Maria dengan mata berbinar-binar. Dia selalu bersemangat ketika berbicara mengenai nenek moyangnya yang sudah punah itu.

    “Tentu saja. Aku tidak tahu pasti siapa yang membuat menara ini. Tapi yang pasti para pencipta menara ini ingin mengabadikan setiap tahun istimewa yang mereka lewati,” ujar Ryouta sambil menunjukkan sebuah lukisan yang tadi dia ambil sambil naik ke puncak menara. Lukisan itu menggambarkan situasi ketika sebuah roket luar angkasa diluncurkan. Orang-orang di dalam lukisan itu tampak melambaikan tangan dengan penuh suka cita ke arah roket yang sedang meluncur ke angkasa. “Kurasa ini salah satu cara manusia mengabadikan momen-momen indah dalam hidup mereka. Dengan menuangkan perasaan yang mereka rasakan saat itu ke dalam kanvas kosong. Sehingga orang-orang setelah mereka masih bisa melihat dan merasakan perasaan itu, bahkan setelah pelukisnya tidak ada lagi di dunia ini.”

    Maria memandangi lukisan yang dibawa Ryouta itu dengan seksama. Meski lukisan itu sudah kusam dan tampak mulai pudar, tapi perasaan bahagia dan kagum yang dituangkan oleh pelukisnya masih bisa dirasakan oleh gadis android itu.

    “Manusia memang mengagumkan....” gumam Maria.

    “Ya. Sayang sekali mereka sudah lama punah,” balas Ryouta. Tiba-tiba android bertubuh besar itu menoleh ke arah langit di luar menara. “Sudah hampir saatnya.”

    “Hah?” tanya Maria kebingungan.

    Ryouta lalu meletakkan lukisan yang dia bawa ke sudut ruangan, lalu meraih tali lonceng dan melambaikan tali itu ke arah Maria.

    “Ayo. Beberapa detik lagi tengah malam. Sudah saatnya lonceng dibunyikan,” ujar Ryouta pada Maria. “Apa kau tidak mau menjadi robot pertama yang memberitahukan detik pertama tahun baru pada semua robot lainnya?”

    Kedua mata Maria langsung terbelalak lebar dan berlari menghampiri Ryouta. Kedua tangan gadis android itu segera meraih tali lonceng, bersiap untuk membunyikan lonceng tua itu.

    “Ini benar-benar membuatku berdebar-debar!” seru Maria kegirangan.

    Ryouta mengangguk.

    “Bersiaplah....” ujar Ryouta. “Sepuluh detik lagi menjelang pergantian tahun....9....8....7....6....5.....”

    “...4....3....2....1....” Maria menyambung perkataan Ryouta, lalu berseru sekuat tenaga sambil menarik tali baja, yang terhubung dengan lonceng raksasa di tengah ruangan. “SELAMAT TAHUN BARU!!!”

    Bersamaan dengan seruan Maria, suara lonceng terdengar bergema dengan sangat nyaring ke seluruh penjuru kota Bravaga. Suara lonceng itu rupanya sangat jernih dan membuat para robot yang sedang berpesta di lapangan Central Tower segera menoleh ke arah datangnya suara.

    Satu-persatu, mereka mulai bersorak menyambut datangnya tahun baru. Suara sorakan riang bisa terdengar di seluruh penjuru Bravaga. Membuat malam hari di kota para robot itu terasa begitu hidup, seperti di siang hari. Seluruh penduduk kota terdengar begitu antusias dalam menyambut lembaran baru dalam kehidupan mereka.

    Suara sorak-sorai para penduduk kota Bravaga tentu saja terdengar jelas dari ruangan lonceng di puncak menara, tempat Ryouta dan Maria berada. Meski suara lonceng yang mereka bunyikan tidak kalah nyaring, tapi keduanya bisa mendengar suara sorakan penuh suka-cita dari para penduduk kota Bravaga.

    “Ryouta!” seru Maria.

    “Apa?” balas Ryouta.

    “Selamat tahun baru!!”

    “Selamat tahun baru juga!! Semoga tahun depan menjadi tahun yang bermakna bagi hidupmu,” balas Ryouta dengan nada riang.

    “....dan semoga tahun depan aku tidak terlalu sering tertangkap kalau sedang membuat masalah,” timpal Maria sambil nyengir lebar.

    Ryouta langsung melotot ke arah Maria tapi android bertubuh besar itu lalu tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa selama beberapa saat, kemudian terdiam tiba-tiba.

    “Ehm....kau tidak serius kan?” tanya Ryouta.

    “Aku serius!” balas Maria dengan nada serius, tapi dengan ekspresi jahil.

    Ekspresi wajah Maria langsung membuat Ryouta menepuk wajahnya dengan keras.

    Astaga! Sepertinya tahun depan akan tetap jadi tahun yang berat....setidaknya untukku...

    Ryouta bergumam dalam hati sambil memandangi wajah Maria yang dihiasi senyuman lebar. Android bertubuh besar itu lalu mendesah dan memalingkan wajahnya ke arah langit malam kota Bravaga.

    Tapi sudahlah...selamat tahun baru untuk kita semua!


    ****

    ~FIN?~
     
    • Thanks Thanks x 3
  18. MaxMarcel M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,843 / -0
    Nicely done. :top:

    Ringan dan enak dibaca. Jadi, penasaran ama penampilannya Maria waktu taun baru. Add character design lagi dong :XD:

    Kayaknya bikin cerpen enak ya, ga gampang kehabisan kata-kata. :swt:
     
    • Thanks Thanks x 1
    Last edited: Dec 31, 2011
  19. dorobo_dake Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    Jun 24, 2009
    Messages:
    88
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +427 / -0
    susunan katanya bagus.. enak dibaca great!
     
    • Thanks Thanks x 1
  20. lawren M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Jun 4, 2009
    Messages:
    428
    Trophy Points:
    222
    Ratings:
    +8,674 / -0
    hehehe...
    taun baru emang paling enak kalo berdiri di puncak gedung tinggi, ngeliat seluruh pemandangan kota..
    Apalagi ini bisa ngebunyiin lonceng tahun baru, mantep.. :top:

    sayang telat baca, padahal dah dipost menjelang taun baru :swt:
     
    • Thanks Thanks x 1
  21. red_rackham M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Jan 12, 2009
    Messages:
    757
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +355 / -0
    :top:

    Thanks.

    Ntar saia emang kepikiran mo bikin gambarnya. Tapi blom disempatkan :swt:

    :fufufu: emang enak bikin cerpen.....makanya sekarang saia bikin cerpen terus dan novel saia terbengkalai :madesu:

    :top:
    :malu:

    Ahaha~! Emang paling enak taon baru itu di tempat yg tinggi :hero:




    Silahkeun tunggu chapter baru dari Everydar Adventure....next theme: buku/perpustakaan

    (Btw...ini hitungannya jadi OriFict ya klo bersambung trus begini? :bingung: )
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.