1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic Diablo Falling 1st Book [Completed]

Discussion in 'Fiction' started by Heilel_Realz012, Mar 15, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    Genre : Supernatural / Drama / Tragedy / Occult / Action
    Tag Age : 21+ (Recomended)

    Prakata :

    Cerita ini mulanya terbentuk ketika penulis mendapatkan banyak referensi bacaan di kaskus. Terutama dari thread – thread di Forum Education, Xenology, Angelology, & Demonology.
    Ini merupakan murni karya fiksi yang sedang saya buat sebagai Novel. Tema yang diambil adalah mengenai Religion, God , Doomsday, and Humanity
    Mungkin didalamnya akan terliat Unsur yang sedikit menyangkut SARA namun diharapkan pembaca tidak melakukan Abuse dan Flaming Ingat ini bukanlah DC.

    And PS: Please Dont Judge book with the cover
    jangan langsung menilai SARA hanya gara - gara ada unsur Agama didalamnya (baiknya baca dulu biar ngerti :malu:)

    Btw, Mohon tidak menjadi Silent Reader. Jadilah pembaca aktif untuk memberi masukan bagi karya saya [​IMG]


    [​IMG]

    The First Book - After Inctum

    by Heilel_Realz012

    Another Title Name: Diablo La caída

    Status : Completed



    [​IMG]
    [​IMG]
    [​IMG]
    [​IMG]
    telah di added ditempatkan di scene2 yang pas dengan cerita :)

    Seorang gadis katolik yg begitu taat yang memiliki tragedy buruk mengenai umat manusia, tiba - tiba saja harus berselisih pandang cukup pelik dengan pemuda yang menyangkal Tuhan mengenai masalah Keberadaan akan Tuhan. Di tengah perdebatannya atas apa yang ia percayai, ia akhirnya menyadari banyak hal yang harus dilihat. gadis itu mulai menyadari perlahan, bahwa dunia ini bukan hanya mengenai soal Religion saja, tapi juga mengenai humanity dan God itu sendiri.

    Di lain pihak, seorang pemuda yang beriman yg ditinggalkan Tuhan sejak masa kecilnya, akhirnya memilih membuang nama aslinya dan memilih untuk menjadi seorang penyangkal akibat dari gugatan dia pada Tuhan atas keadaan dunia yang terjadi tepat didepan matanya. bagi sang pemuda, ada atau tidak adanya Tuhan itu tidaklah merubah apapun pada dunia.

    Cerita fiksi ini akan berkutat seputar bagaimana sisa - sisa yang ada dari ketiga agama samawi (yang diwakili oleh 3 tokoh utama) bersatu bukan atas nama agama, tapi atas nilai - nilai agama yang mereka imani masing - masing untuk me-rebuild dunia kembali yang sekarang telah rusak. Disini Agama bukanlah menjadi pembeda ataupun menjadi pemicu perselisihan di era masa akhir dunia.

    Ketika manusia yang selamat benar - benar kehilangan harapan, ternyata akhirnya mereka menyadari bahwa Pilihan masa depan dunia sekarang ada ditangan mereka sendiri. Apakah mereka akan memilih untuk melaksanakan judgement day demi menghapuskan segala penderitaan yang ada? atau akan tetap memilih terus berusaha menunda waktu "penghakiman" dengan berbagai cara?

    semua pertanyaan itu akan terjawab di dalam Trilogy Diablo Falling ini


    ACT 0 - Prologue

    Di seberang dunia dimana kebenaran dunia menjadi sebuah rahasia,
    Hidup keberadaan masa lampau dari serpihan – serpihan kemuliaan akan ketuhanan.
    Kepercayaan yang ternodai oleh setitik dosa dan pengkhianatan,
    Menjadi masa kejatuhan para cahaya redup ke jurang dunia.
    Mereka yang tak termaafkan,
    Kehilangan kesucian dan menangis dalam keputus asaan.

    Ribuan tahun telah berlalu sejak masa itu...
    Peradaban maju hidup dalam kepalsuan dunia yang telah teraliri oleh dosa dan kejahatan.
    Kepercayaan menjadi sebuah kepalsuan
    Kebenaran dunia menghilang dalam ideologi dan hasrat.
    Dunia telah rapuh dan tenggelam dalam dosa..



    *****​




    Year 2015 After The Incident

    Langit merah menyelimuti sebuah kota yang telah hancur luluh lantah. Angin dingin berhembus bersama debu – debu pekat membuat bangunan yang berantakan terlihat begitu kotor. Kondisi jalanan retak dan berbagai lubang – lubang jalan terlihat dimana – mana. Banyak sekali mobil – mobil terbalik, dan pecahan kaca berserakan tak beraturan.

    Diantara pemandangan puing – puing kota yang hancur, seorang laki – laki dengan mengenakan mantel hitam panjang berdiri tegap dan wajahnya ditutupi oleh tudung kepala. “Kau temukan para survivor” seorang pria berkacamata dengan rambut kuning emas yang berkilau muncul dari belakang dan bertanya kepada seseorang yang berbalut mantel hitam.

    “Tidak ada siapapun.. tidak ada tanda – tanda kehidupan disini” Pria misterius tersebut menjawab.

    “Bagaikan habis terjadi Perang Dunia Kedua di kota ini.” Pria berambut kuning berkacamata tersebut berkata pelan. Pria bermantel hitam hanya terdiam mendnegarnya. Pria berkacamata tersebut mulai menulis dalam kertas laporan yang ia pegang. Entah apa yang ia tulis namun terlihat wajahnya begitu serius sekali.

    Sambil mengerutkan dahi pria berkacamata tersebut berpikir. “Apa yang harus kita tulis dalam report. Order tidak akan mempercayai bahwa penduduk satu kota hilang dan lenyap seperti ini. Sungguh tidak mungkin semua orang lenyap begitu saja. Bercak darah akibat bencana ataupun pembantaian tidak ada. Ini benar – benar janggal.”

    “Setan memakan mereka..” Pria bermantel hitam panjang tersebut berkata dengan tegas.

    “Setan?” pria berkacamata tersebut terdiam

    “Ya, Kondisi ini sama.. sama dengan kejadian di Roma 5 tahun yang lalu.“

    Pria berkacamata tersebut menghentikan kegiatannya menulis dan terdiam sejenak.“Satu lagi Gerbang Neraka terbuka… Itu maksudmu?”

    Pria berbalut mantel hitam hanya terdiam dan menundukan kepala. Dia mengingat kejadian di Roma 5 tahun yang lalu. Dia mengingat kembali wajah gadis itu. Seorang gadis yang selalu memberikan kepercayaan padanya bahwa hidup nya berarti dan kasih Tuhan itu begitu besar.

    Pemuda bertudung hitam mengingat jelas wajah Gadis itu, gadis dengan rambut pirang panjang dan senyum nya yang begitu indah. Tak sedikitpun dia dapat melupakan bagaimana wanita itu berkata, dan bagaimana ia menenangkan hatinya. Sang wanita bagaikan seorang bidadari bagi sang pemuda, yang begitu cantik parasnya dan bagitu mulia hatinya.

    Ditengah memori ingatan yang kembali itu, pria bertudung hitam kembali mengingat kata – kata sang gadis.

    “Kau bukanlah anak – anak yang terkutuk. Kau adalah Viator Sang Pembawa Pesan bahwa keberadaan Tuhan dan sumber kejahatan benar – benar ada."

    "Semua hal buruk yang menimpa dirimu bukanlah berarti bahwa Tuhan meninggalkanmu. Percayalah, Itu merupakan sebuah cobaan yang diberikan oleh-Nya yang merupakan bukti bahwa Dia memperhatikanmu dan tidak mengabaikanmu.”

    Pemuda itu menghela nafas dalam – dalam dan kemudian menatap tajam kearah sekeliling kota yang porak – poranda.

    ‘Aku merindukanmu.. ya, aku benar – benar merindukanmu Sannael’

    *****​

    Saya tau tulisan saya masih jauh dari sempurna, masih banyak kesalahan baik EYD maupun tata bahasa yang kurang baik. Saya selalu mengharapkan adanya kritikan yang membangun dari para pembaca.… :)

    update story lanjutannya akan saya post secepatnya


     
    • Thanks Thanks x 4
    • Like Like x 1
    Last edited: Nov 28, 2011
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    ****INDEX STORY****


    ACT 0 - PROLOGUE

    ACT I - THE SURVIVOR
    Act 1.1 Remained witch
    Act 1.2 The red eyes killer
    Act 1.3 Demonio posession
    Act 1.4 Choose the accursed
    Act 1.5 Witch pain

    ACT II - WHERE THE GOD ARE
    Act 2.1 Denial the faith to God
    Act 2.2 Memory before impact
    Act 2.3 Return the confidence of life

    ACT III - DEMONE RESVEGLIARE
    Act 3.1 Leak information
    Act 3.2 Mission to Golgotha part 1
    Act 3.3 Mission to Golgotha Part 2
    Act 3.4 Confrontation in old city Jerussalem Part 1
    Act 3.5 Confrontation in old city Jerussalem Part 2
    Act 3.6 Reinforcement from God
    Act 3.7 Road to the black altar
    Act 3.8 The last ritual begins part 1
    Act 3.9 The last ritual begins part 2
    Act 3.10 The Lord of Flames Belial The Fallen
    Act 3.11 The Choir of question
    Act 3.12 The Choir of answer

    ACT IV - REVEAL THE ORDER
    Act 4.1 Road to Florentia
    Act 4.2 Florentia the sanctuary
    Act 4.3 The Order place Avalon
    Act 4.4 New member of Order
    Act 4.5 History about Magus & Order of Silver
    Act 4.6 The real world seen without mask
    Act 4.7 Denialist Or Believer
    Act 4.8 Idea Of Sefirah
    Act 4.9 The Vague Faith

    ACT V - WAR BETWEEN TWO SIDE
    Act 5.1 Dark Follower Ambush
    Act 5.2 Riot inside Avalon
    Act 5.3 Battle for your own life
    Act 5.4 The believer become a sinner
    Act 5.5 Can my sin be forgiven? part 1
    Act 5.6 Can my sin be forgiven? part 2
    Act 5.7 God has gone away part 1
    Act 5.8 God has gone away part 2
    Act 5.9 The Sect Aggressor
    Act 5.10 Confrontated against the Sect part 1
    Act 5.11 Confrontated against the Sect part 2
    Act 5.12 Confrontated against the Sect part 3
    Act 5.13 The Grandmaster Selvandor
    Act 5.14 Conspiracy about world war III
    Act 5.15 The story about Viator descendants
    Act 5.16 One of Veil, Tragedy of Rome
    Act 5.17 The Beast From Book Genesis
    Act 5.18 Behemoth Lord of the Lands
    Act 5.19 The Battle against Behemoth
    Act 5.20 I don’t have other choice
    Act 5.21 The witch awakening
    Act 5.22 Sammael seeds
    Act 5.23 The True Plague
    Act 5.24 Vision from Yetzirah
    Act 5.25 The human or unknown being
    Act 5.26 Who am i?

    ACT VI - EXPLORATION VATICAN RUIN
    Act 6.1 Bright days after
    Act 6.2 Anima Noir
    Act 6.3 Physics demonio body discovered
    Act 6.4 Mission to investigate Rome part 1
    Act 6.5 Mission to Investigate Rome part 2
    Act 6.6 The story about mission five year ago
    Act 6.7 Prepare for mission

    ACT VII - MISSION TO ROME : THE TRUTH ABOUT THE WORLD
    Act 7.1 The part of Revelation part 1
    Act 7.2 The part of Revelation part 2
    Act 7.3 Fear in silence and darkness
    Act 7.4 The invader of hell
    Act 7.5 Wind of Madness
    Act 7.6 Assumption and Hypothesis
    Act 7.7 Indecision about life
    Act 7.8 Lacrima di angelo
    Act 7.9 Enemy crucified
    Act 7.10 Everything for mission
    Act 7.11 Beginning or the end
    Act 7.12 Curia servi Dei
    Act 7.13 In love and hate
    Act 7.14 Shade Past
    Act 7.15 Meet the white dress woman with the rapier
    Act 7.16 The last time with you

    ACT VIII - LAST ACT FOR BOOK ONE : END OF THE SECT
    Act 8.1 Stato della citta del Vaticano
    Act 8.2 Anxiety in the midst of battle
    Act 8.3 Phrase the truth
    Act 8.4 Open the gate of Third Veil
    Act 8.5 Blessed by the water
    Act 8. 6 Abandon faith, the pact of darkness
    Act 8.7 Revelation the world, gloomy fate inside the holy grail part 1
    Act 8.8 Revelation the world, gloomy fate inside the holy grail part 2
    Act 8.9 Theme de l’autel noir, la chaine de sacre grail choeur
    Act 8.10 Theme de l’autel noir, la desespoir thanatos
    Act 8.11 Theme de l’autel noir, mascarade de requiem
    Act 8.12 Final choir resonance, the cries remnants of darkness
    Act 8.13 Final choir resonance, face the cursed legion
    Act 8.14 Final choir resonance, wrath the Legion of Hell
    Act 8.15 Reprise the ending, the woman who keep another path
    Act 8.16 Reprise the ending, a deep sense of guilt
    Act 8.17 Reprise the ending, faith and decision
    Act 8.18 End everything, the truth and sorrow
    Act 8.19 Just for you ~ Violin Theme for the future part 1
    Act 8.20 Just for you ~ Violin Theme for the future part 2

    EPILOGUE
    Epilogue the Tears
    Epilogue the Truth

    ~ End of Book One ~

     
    • Thanks Thanks x 1
    Last edited: Nov 27, 2011
  4. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    added Act 1.1 revisi :peace:

    ACT 1 - The Survivor




    ACT - 1.1 Remained Witch

    [​IMG]

    Diatas puing puing sebuah kota yang dulu begitu megah dengan penjagaan ketat CCTV dan lalu lalang orang-orang yang sibuk dengan urusan pekerjaan mereka, kini kota tersebut terlihat sangat sepi bagaikan kota mati. Diantara puing – puing bangunan yang hancur dan pemandangan mobil-mobil yang terbalik, masih berdiri sebuah Museum yang bernilai tinggi. Museum yang tidak cukup besar yang tinggal satu – satunya di London.

    Didalam museum tersebut terlihat masih ada dua orang sedang melakukan sesuatu. Ya tidak begitu terlihat jelas. Cahaya dari lilin menjadi penerangan yang utama didalam museum yang besar dan gelap tersebut

    “Elenna, ini sudah hampir tengah malam. Sebaiknya kamu pulang sekarang.”

    Seorang laki – laki tua dengan rambut yang telah beruban mengenakan kacamata dan suaranya begitu berat berkata kepada seorang wanita yang masih sibuk membenahi museum yang berantakan. Pakaiannya yang mengenakan blazer hitam selutut tidak membuatnya terlihat rapuh, ya kakek tua tersebut masih terlihat begitu gagah di umurnya yang skitar 85 tahun.

    “Ia pak Sergeiv, sebentar lagi. Ini sedikit lagi pembenahan museumnya hampir selesai.” Gadis itu tersenyum sambil tetap mengerjakan pekerjaannya membenahi museum. Baju dresser hitam yang ia kenakan terlihat sedikit kotor akibat debu – debu yang menempel pada barang – barang museum yang masih bisa terselamatkan.

    Kakek tua itu tersenyum pada Elenna.“Kamu begitu semangat Elenna. Walaupun kau tahu membenahi museum ini kembali bersih, itu tidak akan membuat orang-orang kembali untuk datang kemari dan melihat koleksi – koleksi bersejarah.”. Kakek tua tersebut berkata cukup pelan namun masih dapat terdengar akibat museum yang benar-benar sunyi. Elenna terdiam sesaat dan menghentikan pekerjaannya.

    “Insiden itu telah menghancurkan semuanya. Ya kita tidak tahu tinggal berapa populasi manusia di dunia ini sekarang.” Kakek tersebut menatap langit langit museum yang retak dan berlubang

    “Tidak ada berita keadaan dunia yang bisa kita dapatkan. Elektronik rusak dan sekarang Seperti kembali ke zaman batu saja. Hahaha sejarah seperti kembali ke titik awal.”

    Pria tua tersebut berkata sembari mulai berjalan keluar ruangan. “Jangan sampai terlalu malam kamu pulang Elenna. Di tempat yang gelap dan sepi seperti ini sesuatu yang jahat bisa muncul dari mana saja.”

    “Saya mengerti pak” Elenna menjawab. Kakek tersebut hanya tertawa kecil dan semakin lama semakin jauh melangkah dan kemudian menghilang di sisi gelap ruangan museum. Elenna menghela nafas . Disana sang gadis terdiam dan wajah takut terlihat jelas dari paras mukanya. Tubuhnya mengigil ketika mengingat bencana tersebut terjadi. Suatu bencana besar yang telah merubah keadaan dunia sekarang ini.

    Tidak dapat dia lupakan. ya ingatan nya begitu jelas tentang Rentetan pilar api yang berkobar dimana – mana. Pohon – pohon terbakar, rumah terbakar, jalanan terbakar. Orang-orang yang berlarian di jalanan terbakar hingga hangus merupakan pemandangan yang benar - benar mengerikan. Teriakan orang – orang yang terbakar, jeritan - jeritan pilu mereka membuat Elenna ketakutan dan menangis. Baginya ia telah melihat Neraka di depan matanya. Neraka yang menyeramkan yang biasa ia dengar dari doktrin Agama yang ia percayai.


    [​IMG]

    Gadis yang memiliki tragedy di masa lalu ini terus menangis terisak-isak sembari memegang Rosario yang ia kalungkan dilehernya. Dalam hati Elenna berdoa ‘Tuhan lindungi kami, kami hanya hambamu yang berdosa. Kami tidak berdaya tanpa mu Tuhan. Berikan jalan keselamatan bagi kami’.

    Elenna mengingat kembali ingatan-ingatannya bagaimana dulu keadaan sebelum terjadinya bencana tersebut. Tawa riang ia bersama teman- temannya dan juga keluarganya menjalani hidup normal di kota London yang sibuk.

    Kesibukannya mengelola museum tidak membuatnya lelah. ia sangat senang sekali melihat orang – orang yang lalu lalang melihat koleksi – koleksi bersejarah. Ya ia sangat menyukai segala hal mengenai sejarah.

    “Professor Weiys..” Dalam isakan tangisnya sang gadis mengingat wajah professor Weiys, Pria tua yang dahulu menerimanya bekerja di museum dan sudah ia anggap sebagai Ayahnya sendiri.

    Elenna menangis semakin kencang. Dia mengingat bagaimana Professor Weiys mengorbankan jiwanya untuk menyelamatkan dirinya ketika bencana buruk itu tiba.

    'Seharusnya anda tidak menyelamatkan saya. Seharusnya anda membiarkan saya mati' dalam hati Elenna berkata dan menyalahkan dirinya atas semua yang telah terjadi.

    *****​
     
    • Thanks Thanks x 1
    Last edited: Nov 17, 2011
  5. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    Added Act - 1.2 Revisi :nikmat:

    Act 1.2 – The Red Eyes Killer

    Beberapa jam berlalu..
    Elenna menghentikan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang. Ia mengambil tas tangannya dan kemudian berjalan keluar dari museum. Pelataran kota begitu sepi. Tidak ada cahaya dari manapun. Ya, ia menyadari bahwa jaringan listrik tidak kunjung menyala sejak kejadian tersebut.
    Bahkan pemerintah pun tidak terdengar kabarnya untuk menolong orang – orang yang selamat.

    Ditengah ke termenungannya, Elenna merasa ditempat itu ia tidak sendirian. Samar – samar terlihat seseorang diujung jalan sedang bersandar di dinding. Terlihat seperti siluet, orang tersebut melipat kedua tangannya. Wajahnya tertutup oleh hoody.

    Pria bermantel hitam dengan panjang selutut tersebut menyeramkan ujar Elenna dalam hati. Pria berhoody tersebut kemudian menatap Elenna. Matanya yang merah menyala membuat Elenna terpana diam tanpa bisa bergerak kemanapun. Elenna merasakan ketakutan dan tubuhnya bergetar. tatapan itu seperti merasuk kedalam jiwanya.

    Tiba – tiba saja secara mengagetkan dari belakang ada tangan yang muncul dan memegang bahu Elenna.

    “Aaahhh” Elenna menjerit dan terkaget – kaget.

    “Tenang Elenna ini aku. Juan” Elenna kemudian membuka matanya dan melihat kebelakang. Ternyata orang yang memegang bahunya adalah Juan yang merupakan tukang bersih-bersih museum. “Pak Juan, kukira tadi siapa.”

    “Wahh maaf , maaf. Saya menakutimu ya “ Juan berkata sambil tertawa sedangkan Elenna menghela nafas dalam – dalam dan mencoba menenangkan dirinya.

    “Kenapa kamu diam membatu disini Elenna?” pak Juan bertanya

    “Tadi aku melihat seseorang diujung jalan. Pria bercoat hitam panjang dan mengenakan tudung hitam.”

    “Pria yang mana?” Juan bertanya-tanya

    “Itu pria diujung jalan.” Elenna menunjuk kearah dimana orang berhoody tersebut tadi bersandar di dinding. “Tidak ada siapa – siapa disana” Juan merasa lebih terheran – heran

    “Tidak mungkin. Tadi jelas aku melihatnya. Ia bersandar disitu.” Elenna bersikeras meyakinkan

    “Mungkin itu hanya bayangan saja Elenna, wajar dikeadaan yang gelap seperti ini bayangan tertentu bisa menyerupai bentuk manusia” Juan berkata sambil tersenyum.

    Elenna terdiam. Ia benar – benar yakin tadi ia melihat ada orang disana. Ya orang tersebut sepertinya memperhatikan ke arah museum.

    “Sudahlah Elenna sebaiknya kamu pulang. Sudah malam ini”

    “Iya pak.. baiklah saya pamit dulu pak juan”

    “Hati-hati Elenna”

    Elenna kemudian berjalan meninggalkan museum. Cukup jauh ia telah berjalan namun tubuhnya masih sedikit bergetar. Dia masih mengingat bola mata merah yang menyala dan menatap dirinya. ‘Apa itu adalah mata setan?’ Dalam hati Elenna bertanya.

    Tanpa sadar ia telah berada di bangunan apartemennya. Ketika ia mencoba masuk kedalam, ia ternyata meninggalkan kunci apartemennya di museum. Laporan mengenai list barang – barang museum juga teringgal. Akhirnya mau tidak mau ia berangkat kembali ke museum untuk mengambil barang – barang yang tidak sengaja ia tinggalkan.

    Elenna berjalan pelan sambil memperhatikan sekeliling jalanan yang gelap. Tiba – tiba saja terdegar suara tembakan senjata api sebanyak tiga kali. Sang gadis mendegar suara tersebut jelas dari arah Museum. Suara yang membuatnya kaget itu akhirnya membuat sang gadis berlari bergegas menuju kearah museum.

    Sesampainya disana, nafasnya masih terdengar teregah – engah karena tadi ia berlari cukup kencang. Dia dalam nafasnya yang lelah, melihat kesekeliling dan keadaan tetap sunyi. Tidak terlihat siapapun disana.

    Ditengah kebingungannya, tiba – tiba terdengar satu tembakan lagi dari dalam museum.

    Ada apa ini dalam hati Elenna berkata. Orang yang terakhir berada disini tadi adalah pak Juan. Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya?

    Elenna kemudian bergegas masuk ke dalam museum. Tidak terdegar suara apapun di dalam, yang terdengar hanyalah derap langkah kakinya yang terburu – buru.

    Elenna sampai di Hall utama Museum.. dia kemudian menyalakan Lighter sebagai penerangan utama untuk melihat keadaan ruangan sekitarnya. Elenna kaget melihat banyak jejak darah dilantai. Dia ketakutan dan terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi disini.

    Begitu ia mencoba terus melangkah ke ruangan selanjutnya, disana sang gadis melihat tubuh sesuatu yang samar – samar tergeletak di tanah.

    Begitu ia arahkan lighternya... Dia melihat sesosok pria bercoat hitam panjang selutut dengan hoody yang menutupi kepalanya berdiri tegap di depan mayat pak Juan dan memegang senjata api Mauser C96.

    “AAHHHH!!” Elenna refleks berteriak melihat semuanya. Ada pembunuhan disini. Ada pembunuhan disini dalam hati ia berkata.

    Pria berhoody hitam tersebut membalikan badannya. Elenna terjatuh ke lantai dan menjatuhkan juga lighternya saking ketakutannya melihat banyak darah. Dia mencoba bergerak untuk lari namun tidak bisa. Kakinya terasa kaku tidak bisa bergerak karena benar-benar ketakutan.

    “Kamu seharusnya tidak melihat ini” pria berhoody itu berkata sembari melangkah pelan mendekati Elenna.

    Elenna menatap pria itu. Ya, iya yakin. Ternyata pria yang melangkah ke arahnya adalah pria berbola mata merah menyala yang sebelumnya ia lihat di ujung jalan tadi. Tangan Elenna bergerak dan kemudian menyentuh bongkahan patahan kayu yang tergeletak di lantai dan dengan sigap ia melemparkannya kearah pria bercoat hitam tersebut.

    Namun sayangnya dengan mudah pria tersebut menangkis bongkahan kayu itu dengan tangan kirinya. Dengan dipenuhi ketakutan, Elenna mencoba berdiri dan dengan seluruh tenaga ia berlari mencoba meninggalkan ruangan.

    Laki – laki bercoat hitam tersebut sangat cepat dan muncul dengan tiba – tiba disamping Elenna.
    Dengan tangannya ia kemudian menjatuhkan Elenna dan menindihnya.

    “Lepas.. lepaskan aku pembunuh!” Elenna dengan histeris berkata. Tubuhnya terus bergerak-gerak mencoba melepaskan diri dari Pria tersebut.

    “Ini tidak seperti yang kamu pikirkan” Pria tersebut menjawab dengan pelan. Elenna sangat ketakutan. Ia begitu histeris dan begitu takut bila pria tersebut akan melakukan hal yang sama yang dilakukannya tadi pada Juan.

    “Lepas!! Lepaskann !!!”

    *****​
     
    • Thanks Thanks x 1
    Last edited: Nov 17, 2011
  6. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    Added Act - 1.3 Revisi

    Act 1.3 – Demonio Posession

    Tiba – tiba muncul cahaya biru disekitar tubuh Elenna yang menutup tubuh Elenna dari ujung kepala hingga kaki. Kemudian tiba-tiba saja cahaya tersebut memutar dan semakin menyala terang hingga kemudian meledak dan membuat pria bermantel hitam panjang tersebut terlempar cukup jauh dan tersungkur.

    "Ughhh" Suara pria tersebut jatuh. ia cukup kaget dengan apa yang terjadi. ia merasakan tubuhnya seperti baru saja ditabrak oleh mobil.

    Dengan menahan rasa sakit, Pria bertudung hitam tersebut mencoba untuk kembali berdiri. “Kau.. kau seorang penyihir?”

    Elenna teregah – engah dan berdiri dengan cahaya biru yang masih meliputi tubuh nya. “Aku.. Aku bukan penyihir..” Elenna berkata sambari ketakutan

    “Jadi... masih ada sisa - sisa dari penyihir yang hidup hingga Masa ini.. ” Pria misterius itu berkata dan menatap tajam pada Elenna.

    “Ti.. Tidak.. aku bukan penyihir..” Elenna semakin ketakutan dan memegang erat Rosario yang dia kenakan di lehernya. Sang gadis yang berada dalam ketakutan, mengingat kembali kata – kata professor Weiys dahulu kala.


    Dia tahu seharusnya tidak menggunakan kekuatan sihir dalam dirinya dan memperlihatkannya pada pembunuh itu. Namun refleks tubuhnya yang dalam kondisi yang terdesak membuatnya tidak dapat mengontrol kekuatannya.

    ‘Aku tidak bisa membiarkan ia menangkapku. Ya aku harus cepat pergi dari tempat ini.’ dalam hati Elenna berkata.

    “Kenapa.. Kenapa kamu membunuh Juan. Apa kamu datang kemari untuk menangkapku?” Elenna berkata dengan ketakutan

    “Hmmph.. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu seorang penyihir di tempat seperti ini. Aku hanya membunuh apa yang seharusnya tidak pernah ada di dunia”. pria bermantel hitam tersebut menatap dengan tajam dan mata merahnya menyala memperlihatkan rasa kebenciannya.

    Elenna merasa dirinya terancam. Ya.. dia tidak mau dirinya mengalami nasib yang sama dengan Juan. ‘Aku tidak mau mencoba menyakiti seseorang dengan kekuatanku ini. tapi tidak ada cara lain, jika aku tidak menggunakannya, pria di depanku akan membunuhku’.

    Elenna merasa jika ia tidak melawan maka ia harus siap mendapati dirinya terbunuh mengenaskan seperti Juan.

    “aku.. aku tidak akan memaafkan seseorang yang dengan mudah mencabut nyawa orang lain!” Elenna berteriak dan tiba tiba saja bermunculan puluhan pedang dibelakang Elenna. Puluhan pedang yang transaparan bagaikan Kristal, terhunus dan mengarah kearah pria bermantel hitam tersebut dan membuatnya terkejut.

    Melihat semua itu, pria bertudung hitam lalu mengarahkan Senjata api yang dai pegang dengan lengan kirinya kearah gadis tersebut. “Aku tidak pernah menyangka harus bertarung dengan gadis penyihir sepertimu”.

    Elenna semakin ketakutan. Tangannya bergetar memegang Rosario di dadanya.

    Ditengah kekalutannya, tiba – tiba saja suara letusan senjata terdengar. Elenna benar-benar kaget dan melihat sebuah peluru mengarah tepat mengarah ke kepalanya terpantul kesamping akibat medan energy berwarna biru yang meliputi tubuhnya.

    Panik dengan apa yang terjadi, dia kemudian melepaskan puluhan pedangnya kearah pria bermantel hitam tersebut. Suara dentingan pedang terdengar bergema dan beberapa ada yang tertancap dilantai dan ketembok. Sjuara-suarea itu membuat suasana ruangan menjadi tidak sepi.

    Setelah beberapa detik, Suara riuh dentingan tersebut akhirnya berhenti. Elenna ketakutan sebab baru kali ini ia menggunakan kekuatannya untuk menyerang orang lain.

    Cahaya bulan terlihat melesat masuk melewati celah retakan di atap museum. Samar – samar kemudian terlihat sosok pria bermantel hitam itu. Begitu kagetnya Elenna, melihat pria tersebut tersandar di dinding museum dengan tangan kanan yang tertancap salah satu dari pedang yang dia lepaskan tadi dan pedang lainnya terlihat menancap pada perut sebelah kirinya.

    Ditengah deruh nafasnya, Darah pria tersebut mengalir dan menetes di lantai museum yang kotor.

    ‘Tidak, aku melakukan kesalahan. Aku menggunakan kekuatan ini untuk tujuan yang buruk.
    Tidak, aku telah berdosa, Tuhan tidak akan memaafkanku.’ Dalam hati Elenna berkata.

    “A.. ku.. aku tidak bermaksud. .Aku tidak bermaksud melakukannya. Maaf.. Maafkan aku.” Elenna berkata sembari mengigil. Pria bermantel itu hanya teregah – engah dan tidak menjawab ucapan sang gadis.

    Ditengah kepanikannya dan juga rasa bersalahnya,tiba - tiba saja Elenna merasakan hawa yang sangat dingin muncul dari belakang dirinya. Dengan cepat bulu kuduknya tiba - tiba saja berdiri dan dia merasakan ada sesuatu yang datang.

    “Daging penyihir pasti lebih enak dari daging manusia..”

    Elenna terkejut mendengar hal itu, ia merasa sangat kenal dengan suara itu. Ya.. itu Suara pak Sergeiv. Tiba-tiba saja begitu cepatnya banyak tentakel yang muncul dari belakang dan menyerang Elenna. “AAAAHHHH!!!” Elenna berteriak dan terhempas kemudian tersungkur kelantai. Sakit, ia merasakan punggungnya begitu sakit.

    Tentakel yang muncul dari balik kegelapan, telah menyayat tubuhnya hingga darah keluar merembes membasahi baju dress hitam yang dia kenakan.

    Elenna teregah – engah dan mencoba melihat sesosok orang yang berjalan pelan kearahnya. Masih berupa siluet yang kabur, sosok tersebut terlihat seperti seseorang dengan puluhan tentacle yang bergerak – gerak, sedang berjalan dengan pelan dan terseok - seok.

    Elenna terdiam, mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara. Dia sangat takut. Takut dengan sosok yang bergerak kearahnya.

    “Lari!! cepat Lari!!!” pria bermantel hitam tersebut berteriak memperingatkan Elenna untuk lari.

    Elenna tidak bergeming. Tubuhnya terasa sangat sakit dan tidak bisa digerakan. Dia hanya bisa melihat sosok makhluk yang menyeramkan tersebut semakin lama semakin mendekatinya.

    Setelah cukup dekat akhirnya sang gadis mengetahui ternyata sosok makhluk tersebut adalah Pak Sergeiv. Walaupun tubuhnya telah rusak dan muncul berbagai tentacle dari badannya, Elenna masih dapat mengenali sosok makhluk itu.

    “Rasanya lebih lezat.. darah penyihir lebih nikmat Hhahhha..” Makhluk bertentacle tersebut tertawa mengerikan sembari menjilat darah yang menetes di tentaclenya.

    “Arrrggghhh!!!” Pria bermantel hitam tersebut berteriak.

    Dengan tenaga yang tersisa dan rasa sakit akibat tusukan pedang ditangan dan perutnya, pria bermantel hitam tersebut melepaskan dirinya dan membuang kedua pedang Kristal yg melukai dirinya ke lantai. Dengan keadaan yang masih terhuyung – huyung, dia kemudian melepaskan tembakan kearah makhluk tersebut. “Dorr !! Dorr!! Dorr!!”

    Makhluk aneh itu mundur selangkah akibat terkena tembakan, namun dengan cepat dia kemudian menyerang dengan beberapa tentakelnya kearah pria yang mengarahkan senjata.

    Pria tersebut menghindar ke samping dan berhasil lolos dari serangan. Tentakel yang melesat cepat tersebut hanya berhasil menyayat dinding dan membuat dinding itu retak.

    “Damn you.. kalian Kelompok Order tidak akan pernah bisa menang dan melenyapkan kami” Makhluk tersebut berkata.

    Selesai berguling-guling, Pria bermantel hitam tersebut kemudian mereload peluru pistolnya. Walaupun terlihat terhuyung – huyung dia masih mencoba untuk berdiri tegap. “Kalian yang terkutuk tidak pernah akan mendapatkan tempat di Dunia ini. tempat kalian yang cocok hanyalah di Neraka!”

    Pria bermantel hitam tersebut mengarahkan pistolnya dan dengan cepat melepaskan tembakan – tembakan yang membuat makhluk tersebut terpental agak jauh dari Elenna.

    Makhluk tersebut menancapkan tentakelnya ke lantai dan menahan dirinya tidak terjatuh. “kfuu.. kfuu.. untuk apa kalian melakukan semua ini? Dia telah meninggalkan kalian semua. Kalian semestinya sadar kalian telah ditinggalkan.

    Kenapa kalian para manusia tidak bisa menerima kenyataan bahwa-Dia sudah tidak peduli lagi pada nasib kalian? manusia benar - benar makhluk yang bodoh”. Makhluk tersebut berkata

    ‘Dia..? apakah yang makhluk tersebut maksud adalah Tuhan? Tidak, aku tidak percaya bahwa Tuhan telah meninggalkan kami. Aku percaya ia tetap ada dan melindungi kami para manusia’. Elenna berkata dalam hati

    “Aku tidak pernah perduli tentang-Nya!! dan tidak pernah berharap bahwa Dia akan melakukan sesuatu pada dunia yang telah rusak ini!! Aku hanya benar – benar membenci kalian!! Ya aku membenci keberadaan dari Kalian Yang Tercemar!!“

    Pria bermantel hitam kemudian mengambil salah satu pedang Kristal yang tertancap di lantai dan bergerak dengan cepat menuju makhluk tersebut. Puluhan tentacle lalu muncul kearahnya, tapi dengan sigap pria bermantel hitam itu menebaskan pedangnya ke kiri dan kanan dan memotong tentakel – tentakel itu hingga berjatuhan.

    Ketika ia berada tepat di depan makhluk tersebut, tebasan pedangnya meleset untuk mengenainya. Makhluk yang mengerikan itu kemudian meloncat cepat menjauhi dirinya dan Elenna, namun salah satu tentakelnya sebelumnya berhasil melukai tangan kiri pria bercoat tersebut dan menyingkap hoody yang dia kenakan.

    Pria bermantel hitam membalikan badannya dan terengah-engah. Cahaya bulan menerangi ruangan yang gelap gulita ini dan sekarang terlihat jelaslah wajah dari pria tersebut. Rambut ikal yang berwarna hitam dan kulitnya yang putih pucat dengan mata merah yang menyala terang sedang menatap tajam pada lawannya.

    Makhluk tersebut terkesima melihat sosok pria bermantel hitam. “Bola mata merah..? Hhahha.. ya.. ternyata kamu bukanlah manusia. Kau adalah Viator.. pemilik garis darah Lord Sammael.”


    *****​
     
    Last edited: Nov 17, 2011
  7. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    Added Act - 1.4 Revisi


    Act 1.4 - Choose The Accursed

    Makhluk tentakel cukup kaget melihat siapa sebenarnya yang sedang dilawannya.

    ‘Sammael?’ Dalam hati Elenna bertanya. Dia merasa pernah mendengar nama itu. Ya dia inga bahwa dia pernah membaca mengenai Sammael dulu pada sebuah Buku Tua.

    Sammael (סמאל) adalah malaikat kematian yang sangat penting dalam kepercayaan Talmud. Dalam mitologinya Sammael merupakan entitas yang lahir dari air mata 1000 malaikat. Dia merupakan malaikat & iblis terkuat yang memiliki jumlah sayap terbanyak melampaui malaikat tertinggi kelas Seraphim. Sammael juga di identikan sebagai Kekacauan. Dia disebut – sebut juga merupakan makhluk yang paling bertanggung jawab pada peristiwa dibuangnya Adam dan Hawa dari Taman Eden.

    Elenna semakin tidak mengerti, Apa maksud dari makhluk itu? Apa hubungan Sammael dan Viator? Apa itu Viator sebenarnya?

    “Tutup mulutmu!!” Pria bermantel hitam tersebut bergerak dengan cepat kearah makhluk itu. Terdengar suara pedang yang dia pegang diseret pada lantai dan menimbulkan suara gesekan yang berdecit.

    “Wuuzzzhh!!!” Suara angin yang timbul akibat makhluk tersebut melepaskan puluhan tentakel nya kearah pria itu. Pria bermantel hitam berlari dengan cepat sembari menghindari puluhan tentakel yang menyerang ke arahnya.

    Terdengar benturan – benturan tentakel menyentuh tanah dan tidak berhasil mengenai pria yang mengenakan pakaian hitam. Tebasan demi tebasan sang pemuda lakukan untuk membuka jalan lurus pada makhluk terkutuk itu. Darah bercipratan keluar dari tentakel yang terpotong. Rintihan makhluk itu dan erangannya terdegar begitu menyeramkan.

    Sesampainya dia di depan tubuh sang makhluk, dengan seluruh tenaganya pria bermantel hitam menusukan pedang Kristal sihir tepat ke jantung makhluk itu. “Zleeeeb!!” suara pedang menancap sangat dalam hingga menembus tubuhnya. Monster Tentakel berteriak dan seluruh ruangan terdengar begitu riuh.

    “Ukhh.. Se..jauh.. apapun kau mencoba.. kau akan tetap terkutuk.. se..perti kami. Kau.. tidak ak..an pernah menda..patkan tem..pat.. di sisi-Nya..” Monster tersebut berkata dengan terbata – bata.

    Pria bermantel hitam menusukan pedangnya lebih dalam. Darah makhluk itu bercipratan dan terlihat mengalir lebih deras. “Aku bukanlah golongan kalian.. AKU ADALAH MANUSIA!!” pria bercoat berteriak dan kemudian menendang makhluk itu dengan sangat keras.

    Makhluk tentakel tersebut terpental dan melesat jauh dengan pedang Kristal yang masih menancap tepat di jantungnya. “GUSSRAAKK..” Suara makhluk tersebut membentur sesuatu di ujung dinding museum yang gelap.

    Pria bermantel hitam terengah – engah. Bola mata merahnya yang dia miliki kini kembali seperti semula dan tidak menyala mengerikan seperti tadi. Sang pemuda kemudian membalikan badannya dan berjalan terhuyung – huyung kearah Elenna.

    Elenna yang masih merasakan rasa sakit dipunggungnya, belum bisa berdiri dan hanya bisa bangkit dan duduk menyamping sembari melihat pria bermantel hitam itu mendekatinya.

    Dia diam seribu bahasa, yang terlihat dari paras wajahnya hanyalah raut wajah menahan rasa sakit yang teramat sangat di punggungnya. Tenaganya sepertinya telah habis. Dalam hatinya Elenna tahu untuk bergerak pun sulit apalagi untuk melakukan perlawanan terhadap pria bermantel hitam yang sekarang mendekatinya.Sang gadis menghela nafas dan pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya.

    Pria bermantel kemudian berhenti melangkah tepat di depan Elenna yang sedang duduk. Deru nafasnya terdengar pelan dan terlihat tetesan darah yang keluar dari perut dan lengan kanannya samar-samar menetes ke tanah. Tubuh Elenna bergetar melihat itu. Dia takut apa yang akan terjadi selanjutnya.

    “Kamu bisa berdiri?” pria berpakaian hitam itu bertanya pada Elenna.

    Elenna heran dengan pertanyaan yang dilontarkan pria itu. Belum dia menjawab, Elenna melihat sesuatu melesat dengan cepat dari belakang pria tersebut.

    Dia melihat makhluk tentakel dengan wujud lebih menyeramkan meloncat kearah mereka dengan jumlah tentakel yang lebih banyak.

    “AWASSS!!” Elenna berteriak. Pria berhoody itu spontan kaget dan kemudian dengan cepat dia berbalik. Anehnya dia tidak menghindar. Pria tersebut malah merentangkan kedua tangannya kesamping dan membiarkan tentakel tersebut melesat tepat kearahnya.

    “Zleebb!! Zleeb!! Zlebb!! Zleebb!! Zleebb !!” Tentakel – tentakel itu melesat begitu cepat. Sekitar puluhan tentakel menembus badan tangan dan kaki pria bercoat hitam hingga menyentuh tanah dan menimbulkan suara.

    Darah pria tersebut berhamburan dan bercipratan kemana – mana hingga mengenai pula wajah Elenna. Elenna shock. Dia ingin berteriak namun suaranya terasa hilang.

    Entah kenapa Elenna merasa bahwa pria bercoat sengaja tetap berada di depannya untuk melindunginya dari sergapan tentakel itu. Padahal dia yakin sebenarnya pria tersebut dapat menghindari lesatan puluhan tentakel yang mengarah padanya tadi.

    “MATILAH KAU VIATOR!! MATILAH!!”. Makhluk tersebut berteriak dengan nada tertawa.
    Elenna masih terpana dengan tubuh pria tersebut yang masih berdiri tegap dengan tentakel yang menembus tubuhnya.

    “Lari.. ce..pat” pria tersebut berkata begitu pelan, namun Elenna masih dapat mendengarnya.

    Dengan menahan rasa sakit dan ketakutan yang teramat sangat dengan apa yang baru saja ia lihat, Elenna bangkit dan kemudian mencoba berlari pelan menjauh dari tempat itu. Dia berlari pelan menahan sakit sembari terus memegang erat Rosario di lehernya. Dalam hatinya ia berdoa agar Tuhan melindunginya dari segala bentuk kejahatan yang berusaha melukainya.

    Belum beberapa meter dari tempat tadi, dia merasakan tubuhnya di lilit oleh ratusan tentakel dan kemudian terdorong jatuh ke lantai. Dia tidak dapat bergerak. Elenna merasakan sesuatu menindih punggungnya dari belakang.. Ya, makhluk tersebut menindihnya dari belakang.

    “Mau kemana kamu penyihir.. ” makhluk tersebut berbicara dan tertawa kecil. Makhluk terkutuk itu menjulurkan lidah dan menjilat pipi Elenna. Terlihat air liur nya menetes ke lantai museum.

    “Lepaskan.. lepaskan Pak Sergeiv” Elenna ketakutan sembari mencoba menggerakan badannya untuk melepaskan diri.

    “Sudah sejak dulu aku menginginkanmu Elenna.. haahhaa. Ternyata benar duganku kau adalah penyihir. Tubuh dan jiwamu akan membuat hidupku semakin lama. slurrppp”. Monster tersebut kembali menjilati tubuh Elenna dan membalikan tubuhnya hingga terlentang sekarang.

    “Kenapa.. kenapa bapak menjadi seperti ini..?” Elenna begitu ketakutan

    “Kenapa? Haahhaahhaaha” tawa jahatnya terdengar melengking keras

    “Dunia ini telah ditinggalkan oleh-Nya yang Kudus. Untuk apa tetap mempercayai-Nya Elenna?”
    Elenna mencoba bernafas namun dadanya sesak akibat lilitan tentakel yang semakin lama semakin kencang mencengkram.

    “Dahulu aku selalu berdoa dan menunggu dengan sabar agar-Ia meringankan beban cancer yang semakin menyebar dan menyerang tubuh tuaku yang telah rapuh ini. Tapi apa balasannya setelah aku menunggu? Tidak ada tanda – tanda bahwa cancer yang kuderita membaik. Malah sebaliknya dokter memvonis bahwa umurku sudah tidak lama lagi.

    Dimana Tuhan Yang Maha Pemurah itu? Tidak ada Elenna. Ia tidak ada untuk menolong manusia”

    Kata - kata makhluk tersebut menyayat hati Elenna. Dia percaya, ya dia masih tetap percaya bahwa Tuhan itu tetap ada dan peduli pada manusia.

    “Bagiku, perjanjian dengan mereka merupakan hal yang terbenar. Setan telah memberikan apa yang selama ini tidak aku dapatkan dari Tuhan. Ya jalan untuk mendapatkan kesembuhan dan kehidupan yang lebih lama di masa tuaku sekarang ini.”

    Elenna semakin ketakutan. Dia merasa semakin sulit untuk bernafas. Elenna takut dan tidak bisa bergerak kemana – mana. Bergerak sebagai manapun juga ia tidak dapat melepaskan diri dari sergapan makhluk tersebut. Dia menyesali kenapa ia merupakan keturunan Penyihir.

    Sejak masa kecilnya hingga ia tumbuh dewasa sekarang ini, Ia selalu berharap menjadi seorag gadis biasa. sihir telah memberikan banyak masalah dalam hidupnya. Dia tidak menyangka gara-gara darah penyihir yang mengalir di nadinya jugalah dia akhirnya harus menjadi santapan makhluk terkutuk itu sekarang ini.

    Elenna lalu menutup matanya… Dia kehilangan harapan dan benar – benar pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya.

    “Lupakan kepercayaan itu!! Lupakan kepasrahan dirimu pada-Nya yang Kudus itu Elenna!!”

    ******​
     
    Last edited: Nov 17, 2011
  8. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    Added Act - 1.5 Revisi

    Act 1.5 – Witch Pain

    “Dorr!!” Tiba – tiba saja dari jauh terdegar letusan senjata. sebuah peluru melesat dari belakang dan mengenai kepala makhluk tersebut.

    “Aaarghh...” Makhluk mengerikan itu kemudian menoleh kebelakang dan disana terlihat pria bermantel hitam berdiri mengarahkan senjata dengan tangan kirinya.“Mustahill.. aku sudah membunuhmu tadi.. via..tor..” makhluk tersebut berkata.

    Pria berhoody tersebut tersenyum dan bola mata merahnya menjadi menyala sangat terang.
    “Tak dapat kupungkiri.. Darah yang terkutuk ini adalah kutukan sekaligus berkah bagiku..”

    Makhluk tersebut menatap pria berhoody dengan shock


    “Dorrr!!”


    Letusan kedua dilepaskan dan melesat tepat diantara kedua mata makhluk itu. Kepala Sergeiv yang telah berwujud monstreous itu terdorong kebelakang dan tubuhnya akhirnya terdiam kehilangan keseimbangan.

    Sang makhluk terkutuk itu kemudian rubuh menimpa tubuh Elenna. “Aahhhh!!!!” Elenna berteriak histeris. Dia kemudian mendorong tubuh makhluk tersebut kepinggir dan mundur dengan cepat menjauhi makhluk itu.

    Elenna teregah – engah. Dia masih shock dan belum mempercayai apa yang telah terjadi tadi.

    Pria bermantel hitam itu lalu menurunkan lengannya dan menahan dirinya agar tidak jatuh. Ditengah antara sadar dan tidak sadar akibat dari luka – lukanya, pria berpakaian serba hitam itu dengan perlahan mulai melangkah dengan pelan terhuyung – huyung.

    “Kamu tidak apa – apa?” pria berhoody tersebut berkata.

    Elenna tersadar dari lamunannya, dia melihat pria bermantel tersebut sudah berlutut di depannya .

    “A..ku.. aku bukan penyihir..” Elenna berkata sembari terengah-engah dan melihat dengan tatapan kosong kearah pria itu.

    Pria bermantel hitam dengan hoody tersebut hanya diam tanpa berkata apapun. Keadaan ruangan mulai kembali sunyi dan sepi, yang dapat terdengar hanya nafas Elenna yang terengah-engah dengan tatapannya yang masih tetap kosong.

    Tiba – tiba keadaan sekeliling Elenna berubah. Di mata Elenna, dihadapannya dia melihat gadis kecil yang menangis sendirian ditengah hutan dengan luka disekujur tubuhnya. Gadis kecil itu menangis tanpa ada satu orang pun yang datang menolongnya.

    “Aku bukan penyihir…” Elenna terlihat benar - benar shock. Tubuhnya mengigil, air matanya mengalir membasahi pipinya.

    Tiba – tiba saja muncul sesuatu dari belakang gadis kecil tersebut yaitu sebuah Bayangan yang begitu besar dan gelap. Semakin lama sosok itu semakin manampilkan wujudnya secara jelas. Sesuatu yang besar hitam berbulu dan bertanduk sangat besar. Gigi tajamnya terlihat begitu jelas menyeringai, Deru nafas nya begitu panas menyembur bagaikan api. Makhluk tersebut terlihat menginginkan gadis kecil itu.

    Elenna shock melihatny. Gadis kecil itu tetap menagis tanpa sadar ada sesuatu yang sedang mendekatinya dari belakang. Melihat semua pemandangan itu dan hanya bisa melihat tanpa melakukan apa-apa, Membuat jantung Elenna bedetak sangat cepat.

    Sang gadis yang begitu shock lalu menutup mata dan memegang kedua kepalanya seraya berteriak.

    “AKU BUKAN PENYIHIR!!!”

    *******​
     
    Last edited: Nov 17, 2011
  9. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    Added Act 2.1 Revisi :nikmat:

    ACT 2 - WHERE THE GOD ARE?



    ACT - 2.1 Denial The Faith to God


    Seorang gadis kecil menangis tersedu – sedu. Air mata sucinya mengalir dipipinya. Tubuhnya terlihat telah penuh banyak luka, Dia tidak tahu kenapa dia dilempari batu oleh orang – orang desa. Dia merasakan sakit di kepala dan bagian tubuh lainnya. Menagis namun tidak mengeluarkan suara, sang gadis benar-benar bingung dan bertanya apa sebenarnya kesalahannya.

    Gadis kecil tersebut begitu malang. Dia di ikat pada sebuah tiang oleh penduduk – penduduk desa. Orang - orang terus meneriakinya dengan perkataan penyihir. Teriakan umpatan mereka terdengar sangat keras. Apa salahnya? dia tidak pernah merasa melakukan hal buruk pada mereka. Kenapa manusia – manusia ini begitu dzalim. Wajah-wajah penduduk Desa itu, terlihat baik namun busuk. Orang – orang yang disebut manusia yang bersifat sangat kejam. Mereka melakukan penganiayaan tanpa alasan jelas dan dengan mudah melakukan pelecehan semau mereka. Gadis kecil itu hanya bisa menangis terisak – isak pasrah dengan keadaannya.

    Elenna terbangun dari tidur dan membuka matanya. gadis yang kelelahan itu dapat melihat matahari, ya itu menandakan bahwa malam telah berganti menjadi pagi sekarang ini. Ditegah nafasnya mencoba menenangkan diri terlihat juga tubuhnya begitu banyak berkeringat.

    Matanya mengarah langsung ke langit yang Merah. Ya langit sekarang telah berubah menjadi merah gelap, semuanya karena Kejadian Besar itu. Langit biru indah yang dulu ia lihat kini telah hilang dan hanya menjadi serpihan ingatan.

    Elenna terdiam dan menarik nafas pelan. Dia ingat, dia baru saja melihat mimpi buruk di masa kecilnya. Dia seperti merasakan kembali Kepahitan dan rasa sakitnya dahulu. Ingatan masa lalu itu benar – benar sangat buruk. Elenna benar – benar ingin membuang dan melupakan semuanya.

    “Kau sudah bangun” terdengar suara seorang pria berkata.

    Elenna kemudian bangkit dari posisinya yang tadi terbaring dan mencari dari mana suara tersebut berasal. Dia kemudian melihat pria berhoody sedang duduk di sebuah runtuhan tembok bangunan yang roboh duduk diam dan sedang melihat tepat ke arahnya.

    Elenna diam dan ia ingat dengan apa yang telah terjadi kemarin malam. Sang gadis kemudian menekan lantai dan memundurkan tubuhnya berusaha menjauh.

    “Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal buruk terhadapmu.” Pria berhoody tersebut berkata.

    Elenna terdiam sejenak lalu kemudian menundukan kepala dan mingigit bibir bawah nya. Apa yang ia lihat kemarin itu nyata. Ataukah hanya mimpi buruk? Jejak darah dimana – mana, Mayat Pak Juan yang tergeletak berlumuran darah dan Pak Sergeiv yang berubah total menjadi makhluk yang begitu mengerikan. Tidak.. ia masih tidak percaya dengan kejadian yang ia lihat kemarin.

    “Kenapa.. kenapa kau membunuh Pak Juan?” Elenna menatap tajam pada pria tersebut

    “Juan? …” pria tersebut berfikir

    “Laki – laki yang tergeletak berlumuran darah di Hall Utama?”

    “Aku tidak membunuhnya.”

    Elenna kaget dengan lontaran jawaban yang diberikan oleh pria tersebut. “lalu apa yang aku dengar semalam! Suara tembakan... Ya aku mendengar banyak suara tembakan! Kamu pasti membunuh Pak Juan!” Elenna masih tidak mempercayai perkataan pria itu

    “Tembakan itu aku tujukan untuk Sergeiv.” Secara singkat pemuda itu menjawab dan Elenna kemudian terdiam mendengarnya.

    “Ketika aku menemukan Sergeiv, Aku kemudian mengejarnya dan menembakinya dengan senjata api. Begitu tiba di tengah Hall utama Museum aku mendapati tubuh Juan sudah tergeletak berlumuran darah dilantai. Ya aku yakin ia telah diserang oleh Sergeiv sebelumnya.” Pria bermantel hitam mencoba menjelaskan sebenarnya apa yang telah terjadi kemarin sampai bagaimana ketika Elenna datang dan berteriak.

    “Pak Sergeiv..” Elenna mengingat Sergeiv yang telah bertarnsformasi menjadi Setan dan mencoba memakan dirinya kemarin. “Tidak.. Apa yang sebenarnya terjadi?? aku benar – benar tidak mengerti?? kenapa ia berubah menjadi seperti itu??” Elenna terlihat menjadi semakin kebingungan.

    Pria berhoody tersebut kemudian turun dari tembok bangunan yang telah rusak. “Dia dirasuki..”

    “Dirasuki?” Elenna masih bingung dengan perkataan pemuda itu.

    Pria berhoody itu bersandar ke dinding dan menatap langit. “Ya..Ia telah dirasuki oleh mereka yang Telah Tercemar. Mereka yang biasa kalian sebut dengan setan. bukanlah bentuk metafisik lagi yang hanya bisa menghasut membisiki manusia untuk berbuat dosa. Namun sekarang mereka telah mencoba untuk memperoleh bentuk fisik mereka sendiri dengan jalan apapun.”

    “Bentuk? kenapa setan memiliki kuasa seperti itu?” Elenna masih bingung "Aku masih sangat percaya akan Kuasa-Nya. Tuhan tidak akan membiarkan orang – orang yang beriman dilukai ataupun disakiti oleh Setan.” Elenna berkata

    “Tuhan.?.” pria berhoody tersebut tersenyum kecil “Dengan semua yang terjadi sekarang ini.. kau bilang Tuhan masih ada? Kau tidak melihat apa yang terjadi pada dunia ini sekarang? Jika memang Dia Maha Kuasa, Kenapa Dia tidak mencegah dan malah tetap membiarkan Bencana itu terjadi!!” pria berhoody menatap tajam pada Elenna.

    Kata – kata pria tersebut hampir membuat nya ragu. Jika melihat kondisi sekarang, siapapun pasti mengira bahwa Tuhan telah pergi dan meninggalkan ciptaannya yang paling mulia. Bencana itu.. Bencana yang begitu dasyat yang merupakan ulah dari manusia sendiri. Walau begitu, Ia tidak setuju dengan perkataan pria itu. Ya Elenna menetapkan hatinya dan ia tetap percaya pada imannya.

    “Tidak kau salah. Ini adalah bukti Kuasa dari-Nya. Semua ini adalah cobaan.. ya cobaan berat bagi kita umat manusia yang paling mulia. Dengan tetap menjaga iman yang kuat aku yakin, Tuhan yang menurutmu telah berpaling pun akan kembali melirik kita manusia – manusia yang berlumur dosa”. Elenna kembali meyakinkan bahwa manusia tidaklah benar – benar ditinggalkan oleh yang Maha Kuasa.

    Pria tersebut memalingkan mukanya kearah kiri. “Iman..? Coba katakan mengenai iman mereka para pemimpin Negara Adikuasa itu!! Apa kamu masih dapat mengatakan bahwa manusia masih memiliki Iman Kepada-Nya? Dunia ini Telah Lupa bagaimana mereka harus beriman dan bergerak menggunakan Hati Nurani dan juga Rasa Kemanusiaan. Jika Iman dapat menghindari terjadinya sebuah sejarah kelam pemusnahan masal, lalu apa yang sekarang jelas – jelas terjadi. “

    Sang pemuda menatap begitu marah pada Elenna. Ya emosi pria berpakian serba hitam itu benar – benar lepas. “Mereka para Pemimpin yang dipilih dan dipercayai oleh rakyatnya. Tanpa berfikir panjang menekan tombol Pandora tanpa tahu Konsekuensi Besar yang akan terjadi. Ya jelas aku melihatnya dengan mataku kepalaku sendiri. Bagaimana Puluhan Panah Api Terlepas ke Langit

    Kata - kata Pria itu membuat Elenna mengingat momen itu. Kejadian rentetan pilar api yang jatuh dari langit. Elenna sangat takut mendengar jeritan orang - orang yang tidak berdosa dan rintihan mereka meminta tolong. Dia tidak ingin mengingat itu lagi. Dia benar - benar ingin melupakan semua hal buruk yang terjadi.

    “Dimana iman mereka pada yang Kudus? Mereka lebih mementingkan hasrat mereka sendiri, ideologi yang terlalu dipuja – puja sebagai bidah. Kesenangan mengobarkan Perang dan menindas yang lemah. Kenyataannya Manusia hanya memberi makan nafsu mereka dan kedengkian mereka saja.” Pria berpakaian hitam itu berkata dengan lantang. Elenna yang mendengar semua itu merasakan keraguan di hatinya.

    “Lalu dimana mereka menempatkan Tuhan? Tidak ada.. Mereka membuang Tuhan jauh dari hati mereka”

    Elenna terdiam. Dia tidak tahu harus berkata seperti apa lagi. Dia merasa bahwa kata – kata Pria tersebut ada benarnya juga. Tapi ia tetap tidak bisa setuju bahwa Tuhan dengan Murkanya pada semua prilaku manusia, sekarang telah pergi dan meninggalkan mereka.

    Pria bermantel hitam kemudian menundukan kepala dan mengeram mengingat kembali wajah cantik wanita yang berambut pirang panjang yang begitu berarti dalam hidupnya. Hatinya begitu pedih ketika mengingat apa yang terjadi 5 tahun lalu.

    “Jika Tuhan benar – benar melindungi mereka yang beriman, lalu apa yang aku lihat 5 tahun yang lalu… Apa yang Tuhan telah lakukan pada hambanya yang taat itu? Dia meninggalkannya.. Dia membiarkan wanita itu mati dengan Tragis..”

    Elenna diam.. Dia mencoba untuk mengerti kondisi dari pria berhoody tersebut. Sesuatu yang sangat buruk pasti telah terjadi di masa lalunya. Dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya karena telah membenci Tuhan. Elenna lalu mencoba menenagkan diri dengan menghela nafas dalam - dalam.

    "Apa kamu sadar..? Kamu hanya bisa menyalahkan Tuhan atas segalanya. Tapi apakah kamu pernah sekali saja mengingat kasih yang Tuhan berikan? Jika kematian yang tragis adalah sebuah garis takdir yang telah tertulis, apakah masih perlu kita menyalahkan Tuhan"

    Secepat kilat pria tersebut mengarahkan senjata apinya ke arah Elenna. Elenna sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Pria itu.

    [​IMG]

    "Jika garis takdir mu harus mati di tempat ini sekarang, dan itu adalah kehendak Tuhan.. Kau akan rela memberikannya?"

    Jantung Elenna berdetak kencang, dia melihat lurus ke mata pria itu. Dari matanya dia melihat keseriusan dan tidak ada keraguan untuk menembak. Elenna menelan ludah dan tidak tahu apa yang harus dia katakan selanjutnya.

    'Dia serius.. ya Dia akan menembakku..' dalam hati Elenna berkata dan melihat pria tersebut tidak bergeming dari posisinya. terlihat wajahnya semakin serius.

    Dengan perasaan takut Elenna lalu menjawab "Jika memang itu adalah kehendaknya, Aku akan rela".


    ******​
     
    Last edited: Nov 17, 2011
  10. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    Added Act 2.2 Revisi

    Act 2.2 - Memory Before Impact

    Terdengar dentingan selongsong peluru jatuh ke lantai dan terlihat asap keluar dari laras Mauser C96. Elenna merasakan rasa sakit di bahu kanannya. Dia lalu memegang bahunya itu dengan tangan kirinya dan merasakan basah oleh sesuatu. Ketika Elenna mencoba melihat cairan yang ada ditangannya, dia melihat tangan kirinya dilumuri oleh darah.

    Sang gadis menatap dengan sangat shock. ‘Darah..’ ia berkata dalam hati

    Tenaganya mulai hilang secara perlahan – perlahan. Dikondisinya yang seperti itu, dia melihat Pria didepannya berbicara namun tidak terdengar suaranya. Walau begitu, secara samar – samar sang gadis dapat membaca gerakan mulut Pria bermata merah.

    ‘Lupakan idealisme mu itu’

    Perlahan – lahan Elenna mulai kehilangan pikirannya dan kehilangan keseimbangan juga seluruh tenaganya. Elenna tidak dapat menahannya lagi. Dia lalu kemudian rubuh dan dengan darahnya yang muncul menggenangi lantai.

    ******

    24 December 2014

    Dimalam yang dingin di kota metropolitan New york, terdengar suara derap langkah kaki yang begitu cepat. Seorang pria bermantel hitam panjang dan berhoody hitam sedang berlari di gang sempit yang gelap. Dia sedang berusaha kabur dari sekumpulan orang – orang yang mengejarnya.
    Para pria dengan menggunakan jas formal dan membawa senjata api di tangan mereka.

    “Kejar Pembunuh itu!! Cepat tangkap dia!!”

    Pria bermantel itu berlari ke daerah yang gelap lalu kemudian sembunyi untuk beberapa saat dan berharap mereka yang mengejarnya tidak menemukan dirinya. Selang beberapa menit setelah para FBI jauh melewati dirinya, dia kemudian lari berganti arah menuju sebuah pabrik tua.

    “Drap!! Drap!! Drap!!” Suara langkah kakinya yang berlari tergesa – gesa memasuki gerbang dan kemudian menaiki tangga disamping Pabrik dan memasukinya.

    Sejenak dia bersandar ke dinding dan melihat keadaan diluar. Terlihat polisi yang mengejarnya tadi telah berada diluar dan sedang mencari dirinya di pabrik ini. Pria bermantel hitam tersebut kemudian berlari masuk lebih dalam ke pabrik dan naik ke lantai 3.

    Suara teregah – engahnya dapat terdengar. Sang pria berhoody kemudian melihat sosok Pria berkacamata dan berambut kuning sedang memegang Saw-off Shotgun dan melihat keluar dari kaca atas pabrik.

    “Banyak sekali Polisi New York yang mengejarmu, Kau dapat informasi itu? Dimana Subject Zero itu Shade?” pria berkacamata dengan rambut kilau emas berkata.

    “Mereka menyembunyikannya. Pemerintah Amerika menyimpannya” jawab Shade,

    “Damn… Apa yang sebenarnya mereka inginkan?! Subject zero itu seharusnya dikirim ke Jerman untuk diteleiti oleh para Arkeolog. Apa yang sebenarnya Negara ini inginkan dari fosil itu” Pria berkacamata emosi dan menyerang Shade dengan pertanyaan-pertanyaan.

    “Ada hal yang lebih penting Pierre. Mereka telah sampai pada bentuk yang diinginkan walaupun belumlah sempurna” Pria bermantel tersebut terlihat begitu serius.

    “Apa maksudmu?” Pria berkacamata bertanya

    “Mereka yang Tercemar.. mereka telah hadir di dunia ini”

    “Apa!!!” Pria berkacamata terkejut mendengar penjelasan. “Harus segera aku beritahu semuanya pada Order. Ini sangat berbahaya, jika mereka bangkit dalam bentuk sempurna Kekacauan besar akan terjadi”.

    Pria bermantel hitam tersebut kemudian melangkah menjauhi Pria berkacamata. “Mau kemana kau Shade?” Tanya pria berkacamata

    Dia kemudian diam sejenak dan kemudian berkata “Aku akan pergi ke tempat dimana subject zero disimpan”.

    “Kau tahu Dimana Pemerintah Amerika menyimpannya?”

    “Di Area 51”

    “Apa?! kita berdua tidak akan bisa masuk kesana!!!” pria berkacamata berpikir tidak mungkin mereka berdua dapat menerobos area itu.

    “Dengar, Untuk mendapatkan informasi ini aku telah dituduh membunuh orang-orang yang tertera di list!! Tidak ada jalan lagi untuk mundur!!”

    “Sial kenapa semua jadi begini..”

    “Kita sudah tidak ada waktu lagi.. Kau dengar berita kemarin? Russia telah membatalkan Nuclear Non-Proliferation Treaty akibat jatuhnya pesawat mereka yang pergi menuju jerman. Mereka tahu siapa dalang dari pembajakan pesawat tersebut. Perang akan terjadi Pierre. Kita tidak boleh membiarkan nyawa korban perang yang tak berdosa digunakan oleh Mereka untuk memberi makan yang Terkutuk itu.”

    “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang..? Mereka banyak sekali diluar” Pierre bingung setelah mendengar penjelasaan dari Shade, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi.

    “Kita harus keluar dari tempat ini.. Terkadang, untuk menyelamatkan manusia kita harus membunuh sisi kemanusiaan” Shade menyiapkan senjatanya dan bersiap untuk menghadapi serbuan FBI diluar.

    “Benar - benar tidak ada cara lain. Semoga Elohim melindungi kita” Pierre memegang Saw-off Shotgun-nya di posisi siap menembak.

    Suara Helikopter terdengar semakin jelas berada di atap pabrik. Kedua orang itu tahu, mereka tidak memiliki jalan lagi untuk mundur.


    ******​
     
    Last edited: Nov 17, 2011
  11. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    Added Act 2.3 Revisi

    Act - 2.3 Return The Confidence of Life

    Shade menyesal dengan apa yg telah ia lakukan. Genangan darah Elenna mengingatkan Shade akan pembantaian orang tak bedosa. Dia mengingat puluhan nyawa harus dia ambil namun pada akhirnya dia tidak bisa menyelamatkan siapa pun. Ditengah ketermenungannya mengingat masa lalu, Shade merasakan ada angin dingin berhembus dan merasuk hingga ke jiwanya. dia merasakan sedih, kesepian, dan penyesalan yang sangat mendalam.

    'Semua yang kulakukan ternyata percuma…'

    Shade dihantui oleh dosa-dosanya. Dengan tangannya yang telah menembak Elenna, ia mencoba dengan keras mengobati luka wanita itu. Shade tidak ingin lagi melihat nyawa orang yang tidak bersalah hilang. sudah cukup baginya melihat ratusan mayat orang - orang tak bersalah tergeletak mengenaskan. Ya, dia tidak ingin melihat lagi kepedihan itu.

    Tangan Shade terus bergerak dan terlihat begitu serius dan bersusah payah mencoba menghentikan darah yang terus keluar dari luka tembakan itu. Dia menaburkan serbuk painkiller pada luka tembakan tadi, menjahitnya dan kemudian menutup lukanya dengan kain.

    “Ukhh” terdengar suara pelan Elenna. Perlahan - lahan gadis itu membuka matanya dan melihat samar – samar sesosok orang didepannya. Ketika penglihatannya mulai jelas, dia sadar sosok didepannya itu adalah Pria bermantel dan bermata merah.

    Elenna lalu mendorongnya dan terlihat jelas dirinya shock. “Ap..a yang k..au lakukan ukhh?” Elenna bertanya dan kemudian kehilangan tenaga dan jatuh terbaring karena merasakan rasa sakit di bahu kanannya.

    “Lukanya terbuka lagi. diamlah.. aku sedang mencoba mengobati lukamu..”

    “Mengobati? Kau mencoba mengobatiku setelah menembak ku..” dengan tatapan marah Elenna berkata

    Shade diam tidak menjawab dan meneruskan Mengobati Elenna. Elenna berkata dalam hatinya ‘kenapa ia menolongku setelah menyakitiku. Apa yg sebenarnya ia inginkan’


    “Maaf..”


    Elenna mendengar kata maaf terucap dari mulut pemuda itu. diantara rasa sakitnya yang masih terasa, sang gadis menatap pria itu yang memancarkan kesedihan diwajahnya.

    “Maafkan aku atas apa yang telah aku lakukan tadi. Elenna.. itu namamu bukan? Dengarlah, aku tahu kamu adalah wanita yang agamis dan begitu mempercayai Tuhan untuk segala hal dalam hidup. Kamu boleh berpegang pada-Nya. Tapi kamu juga harus berusaha Menjaga dirimu sendiri”

    Elenna diam dan tidak menjawab. Ditengah rasa sakitnya Elenna kemudian berbicara “Siapa..Siapa kamu sebenarnya?”.

    Sang pemuda yang mendengar hal itu kemudian menjawab pelan “Namaku Shade.. aku adalah anggota dari Order of Silver.”

    “Order of Silv..? Ukhh” Elenna merasakan sakit di bahunya

    “Sudah jangan dulu banyak bicara dan bergerak. Biarkan lukamu ini tertutup dulu”. Shade kembali mengobati luka Elenna. Dia mencoba menjahit lagi luka yang tadi terbuka. Hampir sekitar setengah jam dia mencoba menghentikan darah yang keluar. Pria yang merasakan rasa bersalah itu melihat Elenna begitu lemas, ya dia tahu Elenna kehabisan banyak darah.

    Setelah selesai menutup luka, Shade kemudian membantu Elenna untuk berdiri. "Kita mau kemana?" Elenna bertanya.

    "Kamu telah kehilangan banyak darah. sebaiknya kita pergi ke tempat yang teduh dan menghindari sorotan sinar matahari."

    Shade kemudian memapahnya berjalan dengan hati-hati dan pelan dan mencari tempat yang lebih teduh. Ketika melihat keselilingnya, dia hanya melihat puing - puing bangunan roboh yang terbuka langusng dengan langit. Namun saat berjalan dan kembali dengan pelan dan menyelidik setiap sudut jalan dengan hati - hati, Shade melihat ada satu puing-puing bangunan yang bagian atapnya masih tertutup.

    Perlahan - lahan Shade dan Elenna berjalan ke bangunan tersebut dan berteduh. Shade mencari posisi tempat yang tidak terjangkau cahaya matahari dan kemudian dengan hati-hati ia menyandarkan tubuh Elenna ke dinding.

    "Aku akan mencari Air bersih dulu, beristirahatlah sejenak disini" Shade berkata. Sebelum Shade mencoba membalikan badannya untuk pergi, tangan kiri Elenna memegang tangan kanan Shade.

    “Shade..”

    “…”

    “Kenapa setelah menembaku kau malah menolongku?”

    “Kau adalah penyihir terakhir yang aku ketahui masih hidup setelah bencana itu…” Shade berbohong dan menyembunyikan alasannya yang sebenarnya kepada Elenna.

    “Jadi.. sebenarnya kau tidak berniat menolongku.” Elenna kembali berkata dan Shade hanya terlihat diam tanpa ekspresi.

    “Aku mengerti.. sejak dulu memang seperti itu. Aku memang tidak layak hidup di dunia ini. Tidak ada seorangpun yang menginginkan aku hidup. Sejak aku kecil semua orang membenciku.. Ya membenciku yang memiliki darah penyihir ini.” Wajah Elenna mulai terlihat muram dan sedih. “Disaat muncul kebahagian dimana aku mendapatkan keluarga yang mau menerimaku, kenapa pada akhirnya mereka harus menderita? aku merasakan bahwa aku hanya anak yang lahir membawa petaka"

    Shade yang mendengar kisah hidup dari gadis dihadapannya, menundukan kepalanya dan tetap diam tidak berbicara apa - apa. disana Elenna terisak dan menitikan air mata.

    "Orang yang telah kuanggap sebagai Ayahku mengorbankan dirinya untuk melindungiku ketika Bencana Besar itu terjadi. Ini tidak adil... benar - benar tidak adil. Seandainya memang aku layak untuk mati. Kenapa Tuhan membiarkan aku tetap hidup dan malah membuatku harus melihat semua orang yang kusayangi tewas didepan mataku.”

    Mendengar itu, Shade teringat akan kehidupan di masa kecilnya. Dia merasa bahwa Rasa sakit dan perih yang dialami oleh Elenna, sama dengan apa yang dirasakannya dulu. Selain hal itu, dia juga membenci darah yang mengalir dalam dirinya. Darah Viator yang membawa penyakit dan mengerogoti tubuhnya dari dalam.

    Elenna termenung sesaat dan menghapus air matanya dengan tangan kirinya. “Dulu Ibu selalu menghiburku dan berkata bahwa aku adalah manusia pilihan yang diberi kekuatan lebih. Dia selalu berkata padaku bahwa Tuhan menghadiahkan kekuatan sihir ini karena ia yakin bahwa aku dapat mengendalikannya. Aku percaya bahwa aku adalah anak - anak pilihan. Tapi aku lebih menginginkan menjadi manusia biasa layaknya gadis pada umumnya. Dan Mereka.. aku benci mereka. aku benci para setan itu. Aku.. Aku..”

    Elenna mengingat sebuah moment paling mengerikan dalam hidupnya dimana dia ingat apa yang dilakukan sosok demon hitam berbulu dan bertanduk yg ia temui di dalam hutan. Dia mengingat kembali bagaimana dulu dia dilukai hingga sekarat dan diperkosa oleh mereka yang Terkutuk. Elenna membenci makhluk itu dari lubuk hatinya. Tapi dia benar – benar lebih membenci dirinya sendiri. Dia selalu bertanya - bertanya dalam hatinya, untuk apa Tuhan memberi dia kehidupan jika hanya kepahitan yang selalu dia rasakan.

    “Percayalah dengan apa yang kau pegang..” Ditengah kebingungannya dan kerapuhan hatinya, Shade mnegatakan sesuatu yang Elenna tidak mengerti. “Aku memang tidak mempercayai Tuhan. Aku lebih mempercayai bahwa hidupku semua bergantung pada diriku sendiri. Itu adalah peganganku dalam kehidupan sekarang. Coba tanya pada dirimu sendiri. Tanya dalam lubuk hatimu. Apa sebenarnya pegangan hidup yang kau pegang?”

    Elenna diam dan bingung dengan maksud perkataan Shade.

    “Tidak ada seorangpun yang dapat mengubah pegangan hidup orang lain. Sesuatu yang sulit berubah walaupun dipaksakan sebagaimanapun kerasnya. Pegangan itu adalah hal yang biasa kita sebut ideologi ataupun keimanan.”

    Elenna sedikit mengerti dengan kata-kata yang Shade lontarkan. Shade terdiam dan menghela nafas sejenak sebelum kembali berbicara.

    “Kamu harus Percaya dengan apa yang kau pegang Elenna. Ketika seseorang kehilangan pegangan hidupnya ia sudah benar benar tidak berguna lagi untuk hidup. Tanya lubuk hatimu. Benarkah kamu tidak memiliki Pegangan apapun sekarang ini? Bila disana masih dapat kamu lihat cahaya dari yang engkau pegang itu. Maka coba untuk menyayangi dirimu sendiri dan jalanilah hidupmu terus demi orang – orang yang kau sayangi yang dulu melindungimu.”

    Elenna terkesima mendengar perkataan Shade. Dia sadar bila dia pasrah dan berharap untuk mati, dia akan membiarkan pengorbanan orang-orang yang dikasihinya dulu itu sia-sia. Setelah sadar akan dirinya, hidupnya, dan imannya, Elenna akhirnya mendapatkan pencerahan.

    ‘Akhirnya aku kembali menemukan Peganganku.’ Elenna berkata dalam hati.

    Setelah mengerti semua perkataan Shade, Elenna kemudian tersenyum. Shade yang melihat Elenna menatap langsung padanya kemudian tercengang dan cepat-cepat menghadap kearah yang lain.

    “Terima kasih Shade… Aku merasakan hatiku telah lega.” Elenna tersenyum dan berterimakasih pada pemuda yang baru dikenalnya ini. Shade yang mendengar itu diam tidak menjawab apa-apa.

    “Ukkh.. haahh haahh”. Elenna mencoba untuk bergerak dan terdengar rintihannya menahan rasa sakit di bahu kanannya. Ditengah rasa sakitnya, Elenna berbicara.

    “Shade.. Aku juga mengerti mengenai satu hal. Ketika kita merasakan Tuhan tidak adil pada hidup kita dan menyalahkan-Nya dengan semua nasib buruk, dan ketika kita berfikir Dia telah jauh pergi meninggalkan kita, sebenarnya Dia berada begitu sangat dekat dengan kita. Dia berada di dalam lubuk hati kita, dan senantiasa membisiki kita agar tidak melakukan kejahatan.

    Tuhan begitu dekat namun Keraguan pada-Nya lah yang membuat kita merasa sangat jauh. Keraguan dalam diri kita yang membuat kita buta, buta dengan semua kasih dan berkah yang Ia berikan.

    Aku tahu, walaupun begitu keras penyangkalanmu pada Nya, tapi di dalam hati kecilmu aku yakin kau masih menyimpan iman mu pada-Nya”

    Shade hanya diam membisu, Dia tidak mengeluarkan kata – kata apapun setelah mendengar Elenna mengucapkan hal itu.

    Elenna sedikit heran melihat Shade hanya terdiam dan tidak berbicara apapun. Padahal sebelumnya ketika berbicara mnyangkut tentang iman dan Tuhan, dia begitu emosi dan melakukan penyangkalan yang keras.

    Terjadi konflik batin dalam diri Shade. Dia bingung, dia mulai bingung dengan dirinya sendiri dan hidupnya. Dia mengingat bagaimana dalam hidupnya harus mengalami tragedi dan kesedihan yang mendalam. Bagaimana dia mulai percaya pada kasih-Nya tapi akhirnya dikhianati oleh-Nya.

    Shade kemudian menarik nafas dalam – dalam dan melepaskannya untuk melegakan kerumitan pikirannya.

    Shade lalu berkata pada dirinya sendiri di dalam hati. ‘Sekalipun memang masih tersisa sedikit iman di dalam diriku, itu tidak akan menjadi jaminan bahwa Tuhan akan menerimaku. Ya benar.. Ia tidak akan menerimaku karena aku adalah seorang Viator’.


    ******​
     
    Last edited: Nov 17, 2011
  12. spinx04 Veteran

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Nov 22, 2009
    Messages:
    1,674
    Trophy Points:
    217
    Ratings:
    +2,537 / -0
    aq baru baca sampe 1.1, so komennya sampe situ aja dulu ya :siul:

    sepertinya yang di bold ga perlu kk :unyil:

    entah kenapa aq merasa ga nyaman dengan kalimat ini :sigh:
    mungkin kalo sperti ini lebih indah ya?:???:
    sebaiknya kata ia di sini di perjelas menjadi "iya", biar ga ambigu sama kata tunjuk orang ketiga :unyil:

    IMO sebaiknya yang di bold di berikan tanda baca tertentu sebagai pemisah n penjelas bahwa itu bukan kata :unyil: (itu maksudnya Hahaha = tertawa kn?:???:)

    untuk yang di bold IMO sebaiknya di ganti menjadi "tawa riangnya...", sepertinya lebih indah gitu kk :unyil:

    entah kenapa aq merasa kata yang di bold seperti mengurangi kesan suasana kalimat setelahnya..:sigh:, tapi aq belum kepikiran juga apa penganti yang lebih tepat :hihi: (jangan tanyakan padaku :hihi:)

    btw, sejauh ini aq suka ceritanya kk:top:
    alirannya lebih mudah aq cerna n para tokoh dikenalkan dengan santai :top:
    n sepertinya bakal full of flash back nih :blink: <-- suka sama misteri n rahasia :blink:

    ntar kalo udah lanjut baca lagi aq komen lagi :siul:

    nb: saran ga harus diterima ya?! :hihi:
     
  13. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    @for Spinx04

    diterima gan sarannya..
    jujur aja, tulisan awal wa itu memang banyak kekurangannya.. (karena saya juga berangkat dari tahap belajar)
    kalau gak salah sampai Act 2 masih agak aneh.. ACT 3, 4, 5 udah mulai berubah gaya tulisannya... (semoga bersabar baca sampai Act 2 akhir. soalnya supaya gak banyak tanda tanya klo langsung lompat ke perangnya di Act 3:malu:)

    silahkan dibaca..
    kalau udah baca sampai chapter 2 akhir. wa akan added Act 3 dimana misi khusus dan perang pertama di novel terjadi.

    misinya ada kaitannya dengan Servus Dei Gabriel itu di Act 3 :nikmat:
     
    Last edited: Mar 15, 2011
  14. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update ACT 3 :peace:

    ACT – 3 “ Demone Risvegliare ”


    "The World has Abandoned by Him
    and have lost glory of divine will
    We are the people who believe in the War of Heaven and Hell
    and believe the deception that He did
    Our long wait to the world has come, Truth Bearer has arrived at front door
    this body is the soul of noble sacrifice for the sake of their soul darkness
    Let's sing under the clinking bell of Hell
    Let's pray to our Lord Sammael"​






    ACT 3.1 Leak Information

    Hujan deras mengguyur puing – puing kota London. Gemericik air yang jatuh ketanah menimbulkan asap dari debu – debu yang kotor dan membersihkan puing – puing bangunan yang ditinggalkan. Ditegah derasnya hujan yang tengah membersihkan London, terlihat dua orang sedang berlindung dari hujan di sebuah bangunan. Shade duduk di dekat sebuah jendela yang menghadap pintu luar dan sedang melihat turunnya hujan. Ia melamun sejenak meliat air hujan yang turun dan kemudian menatap Elenna yang Sedang tertidur di ujung ruangan. Hawa dingin dapat ia rasakan, walaupun telah mengenakan coat hitam panjang. Melihat kondisi yang ada sekarang ini, ia kemudian beranjak dari tempatnya dan berjalan perlahan – lahan mendekati Elenna. Ia melepaskan coat yang ia kenakan dan menyelimuti Elenna untuk melindunginya dari hawa dingin cuaca. Elenna bergerak, merasakan ada sesuatu yang menyelimutinya. Ia kemudian membuka matanya. samar - samar ia melihat Shade sedang menyelimutinya dengan coat yang ia punya.

    “Shade?”
    “Maaf, aku hanya ingin menyelimutimu”
    “Terima kasih” Elenna tersenyum kecil

    Shade menundukan kepalanya dan terdiam.

    “Ukhh..” Elenna mencoba bangun mengambil posisi duduk sambil menahan rasa sakit di bahu kanannya.
    “Jangan terlalu banyak bergerak dulu” Shade berkata pada Elenna
    “Tidak aku tidak apa – apa”

    Shade dan Elenna terdiam sejenak mereka saling menatap satu sama lain. Suara deru deras hujan menjadi alunan suara latar peristiwa itu. Ketika Shade sadar mereka saling menatap, ia kemudian mengarahkan pandangannya ke lain arah dan mencoba untuk menganti suasana yang ada.

    “Beristirahatlah..”
    “Shade.. sebenarnya untuk apa kamu berada di kota ini? sebelum kejadian yang terjadi kemarin kulihat kau sedang mengamati museum. Apa yang sebenarnya sedang kau cari?” Elenna tiba – tiba saja melontarkan pertanyaan pada Shade.
    “Kedatanganku kemari adalah untuk memburu Sergeiv”
    “Memburu Pak Sergeiv? Kenapa?”
    “Ya, Aku memburunya karena ia adalah salah satu dari anggota The Sect
    “The Sect?”
    “Ya The Sect, Kelompok yang telah menjadi lawan dari Order sejak berakhirnya perang Suci terakhir di Jerussalem. Kami anggota Order memburu mereka untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi ”
    "....." Elenna terdiam. Ia masih belum mengerti dengan apa yang Shade katakan
    “Akan memakan banyak waktu jika aku harus menceritakan semuanya. Sudahlah, sebaiknya sekarang kau Istirahat saja Elenna. Secepatnya kita akan pergi dari sini.” Shade berkata pada Elenna sembari beranjak berdiri dan kemudian berbalik membelakanginya.

    “tunggu, Pergi dari London? Kemana kita akan pergi Shade?”

    “Tempat paling aman. Tempat dimana Order of Silver berada”

    “Order?”



    =================




    Ruined Florentia

    Florence (Latin : Florentia) kota yang merupakan kota terindah yang dulu diakui oleh dunia. Ibukota dari Italia dari daerah Tuscany dimana terdapat Sungai Amo yang yang memiliki sejarah panjang Masa Abad Pertengahan. Kota ini dahulu memberikan pengaruh gaya filsafat, pendidikan, arsitektur, seni, dan Agama dan merupakan kota penting Renaissance. Kota bersejarah yang begitu indah ini, sekarang hanya menjadi saksi dari Egoisme Manusia.

    Terlihat jauh di dalam bangunan paling besar yang masih berdiri dengan kokoh di antara puing – puing kota Florentia, Seorang laki – laki tua dengan pakaian jubah putih dan selendang emas yang dikenakan dilehernya sedang berdiri. Pria tua itu menatap kota dari sebuah jendela besar. Ia melihat kesekelilingnya yang ada hanya reruntuhan dan puing – puing tempat yang dulu merupakan deretan perumahan dengan gaya Renaissance yang indah. Pria tua itu memejamkan matanya, ia menghela nafas dan kemudian mencoba mengingat ingatannya tentang kota ini. Dahulu Florentia merupakan kota yang indah dimana barisan jalanan ini dipenuhi keramaian orang – orang yang sibuk untuk bekerja diiringi juga para pemusik jalanan yang ceria, dan sekumpulan anak – anak yang bermain bola yang terkadang menghalangi jalanan. Potongan ingatan itu menjadi ingatan indah akan kehidupan yang tidak dapat dilupakan.

    ‘Tuhan inikah balasan atas dosa – dosa kami?’

    “Tok tok tok” suara pintu besar dengan ukiran indah indah gaya khas eropa abad pertengahan diketuk dan dibuka oleh seorang wanita dengan jubah hitam panjang dan menggunakan hoody menutupi mukanya. wanita itu masuk berjalan dengan perlahan mendekati Pria Tua. Ia kemudian menundukan kepalanya sebagai tanda hormat.

    “Maaf mengganggu Grandmaster”
    “Ada apa Cecillia?”
    “Kami menemukan info mengenai keberadaan the Sect. Selvandor bersama dengan anggotanya sedang menuju ke Tanah Suci”
    “Tanah Suci?”
    “Benar Grandmaster. Menurut info yang diberikan oleh anggota Order yang melakukan misi ke Cordova, mereka mendapatkan informasi bahwa The Sect menculik seorang gadis yang diduga memiliki aura magis yang sangat kuat dan sekarang sedang menuju ke Golgotha.
    “Golgotha?”

    Orang tua itu berfikir sejenak, Golgotha adalah bukit yang dulu pernah digunakan tentara Roma untuk menghukum Utusan yang Kudus. Apa yang sebenarnya Kelompok itu inginkan di tempat ***** disalibkan?.

    “Apa perintahmu selanjutnya Grandmaster?”
    Pria tua itu sejenak berfikir lalu berkata “Berikan misi ini pada Shade dan Pierre”
    “Maaf Grandmaster, tapi mereka sedang dalam misi yang lain dan sampai saat ini belum kembali”
    ”…..”

    Tiba – tiba saja seseorang masuk ke ruangan. Pria berambut perak panjang sepunggung dan mata biru berkilau menggunakan gaya baju aristocrat abad pertengahan. Ia kemudian berlutut dengan satu kaki didepan pria tua itu.

    “Maaf menyela Grandmaster”
    “Million?”
    “Maaf kelancanganku mendengarkan percakapan tadi. Biarkan aku yang melaksanakan misi itu dan melakukan ekspedisi ke Golgotha.”

    Pria tua tersebut terdiam sejenak berfikir “Kau serius dengan apa yang kau minta Million?”
    “Ya, aku akan mengejar Selvandor dan tidak akan membiarkannya lepas lagi.”
    “Baiklah, aku berikan misi ini padamu Million. Bawalah 3 orang anggota Order bersamamu untuk melaksanakan misi ini.”
    “Terimakasih Grandmaster”
    “Aku harap kamu dapat berhasil”
    “Akan kulakukan yang terbaik”

    Pria dengan balutan pakaian Aristokrat itu kemudian berdiri dan menundukan kepalanya seraya member hormat lalu kemudian melangkah berjalan keluar ruangan.

    “Maafkan kelancanganku Grandmaster, apa tidak terlalu sedikit mengirimkan 3 orang bersama Million untuk ekspedisi ke Jerussalem ?”
    “Itu sudah lebih dari cukup Cecillia. Million adalah prajurit terbaik dan memiliki kemampuan setara dengan Shade.”
    “setara? Itukah alasanmu selalu mengirimkan Shade pada Misi – misi penting master?”
    “Semua misi itu ditujukan sebagai Penebusan Dosa untuknya”

    “…” Cecillia merasakan sedikit bingung mendengarnya.
    Pria tua itu tersenyum dan perlahan – lahan cahaya mentari memasuki ruangan dari jendela besar di belakangnya. Ia kemudian kembali membalikan badannya dan menatap puing – puing kota Florentia lagi.

    “Semua manusia memiliki dosa dan suatu saat mereka akan mencari jalan untuk menebus semua dosa – dosanya”


    ==============
     
  15. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update :nikmat:

    Act - 3.2 Mission to Golgotha Part1


    Egypt, Cairo

    Sebuah mobil Jeep dengan model kuno yang digunakan pada World War II maju dengan kecepatan tinggi di wilayah Egypt cairo. orang - orang yang menaiki jeep itu berbalut kain hitam melaju sangat kencang seperti terburu - buru akan sesuatu.

    “Dimana posisi kita sekarang?” pria dengan rambut perak panjang mengkilau dan mata biru mengenakan pakaian Aristokrat abad pertengahan dengan mantel hitam Panjang memegang senjata rapier, Ia bernama Million yang merupakan ketua Tim investigasi yang dikirim oleh Order menanyakan posisi kendaraan ini kepada tim nya

    Seorang wanita dengan memakai coat hitam panjang dan hoody yang ia kenakan dikepalanya memegang senjata M16, Ia adalah anggota order codename 603 Ailsa membuka peta dan kemudian memberitahukan dimana posisi mereka sekarang.
    “Kita hampir sampai di perbatasan Mesir dan Yerusalem sekitar 10km lagi”

    [​IMG]



    “Ahmed, kau yakin bensin jeep ini cukup hingga menuju perbatasan?” Million berkata.

    “Sepertinya tidak master. Seandainya tadi di Cairo kita berhasil menemukan lebih banyak kotak bahan bakar, rasanya mungkin saja kita bisa sampai di Jerussalem menggunakan jeep ini” pengendara jeep dengan kecepatan tinggi Ahmed anggota dengan code name 619 yang berperawakan tinggi kurus dengan kulit berwarna kuning mengenakan robe hitam berkata.

    “kalau begitu bersiap – siaplah untuk melakukan perjalanan panjang dengan berjalan kaki”

    “woohoooo berolahraga lari di cuaca terik seperti ini jarang sekali aku dapatkan dulu di Rusia” seorang laki – laki dengan perawakan besar dan kuat menggunakan mantel hitam dan terdapat bekas luka di sebelah kanan matanya dan memegang senjata Machette besar di punggungnya, Ia adalah anggota order dengan code name 686 Romanov menyela pembicaraan mereka.

    “Ini bukan main main Romanov” Ailsa dengan nada agak tinggi menjawabnya
    “Well, sedikit intermezzo.. Kulihat kalian semua terlalu serius dalam misi ini.”
    “Misi ini memang serius” Million menjawab.
    “Aku tahu master. Tapi coba lihatlah, sejak memasuki Egypt dan sempat singgah di kairo sebentar, yang kita lihat hanya puing – puing kehancuran dimana – mana. Penderitaan rasa sakit yang terlihat ketika kita melihat sisa – sisa orang yang bisa selamat dari Bencana itu. ”
    “Kamu menyukai wanita mesir tadi dan anaknya yang kita lihat di kairo Romanov?” Ahmed berkata seakan mengejeknya
    “Shut your mouth!! Huh.. aku hanya ingin agar kita tidak murung dengan kondisi keadaan yang ada sekarang. Walaupun dunia ini mengalami kehancuran besar apa salahnya tetap tertawa dan tersenyum Wakakakakaak”

    Anggota Tim lain semua terdiam dan tidak ada yang menjawab

    “Ohh well, aku salah rupanya.. ok ok aku akan diam.”
    “Apa lagi yang bisa kita perbuat.. Kesedihan dan penderitaan rupanya tidak hanya terjadi pada survivor di Eropa. Para orang – orang yang berhasil selamat di tanah arab ini juga mengalami hal yang malah jauh lebih buruk” Ailsa berkata.
    “Kita adalah orang – orang pilihan Tuhan yang masih bisa selamat dari Perang itu. Sadar atau tidak sadar, kelangsungan kedamaian dan prikehidupan dunia berada di tangan kita” Ahmed berkata
    “Kehidupan yang dulu dihancurkan oleh umat manusia itu sendiri aku yakin smuanya akan kembali. kita akan mencoba membangun semuanya lagi. Ya aku percaya, sekalipun Tuhan mungkin berpaling dari manusia tapi ia tetap memberikan jalan bagi Kita untuk merubah keadaan.” Million berkata
    “Silly dilly sally” Romanov hanya bersiul – siul.
    “Badan besar dan muka yang seram, ternyata perwatakanmu malah jauh dari yang dibayangkan” Ailsa berkata pada Romanov dengan nada agak marah.
    “Bersiul salah, ngomong juga salah.. ohh well. Tidur aja deh” dengan nada agak kesel Romanov berbicara dan kemudian bersandar tiduran di belakang mobil.

    Tim Order yang sedang mengendarai jeep itu tidak merasakan bahwa mereka sedang di amati dari sebuah bukit dengan menggunakan teropong. Mereka yang mengamati itu adalah orang – orang berpakaian putih dan memakai sorban sebagai penutup keseluruhan wajahnya. jumlah mereka berjumlah tiga orang dan dua orang memegang **Kalashnikov. Orang yang meneropong itu kemudian berbicara bahasa urdu kepada orang yang memegang **Shotel. Pria yang memegang shotel itu lalu melihat kearah jeep tersebut dan kemudian menatap kelompok Order dengan tajam. Ia kemudian berbicara bahasa Urdu dengan nada yang tegas pada rekan – rekannya.

    Tim Order mendengar secara samar – samar suara mobil mendekati mereka, kemudian tiba – tiba saja terlihat orang – orang dengan pakaian putih mendekat dengan menggunakan jeep.
    “Master, ada mobil jeep yang mendekat dari belakang” Ailsa memberitahu Million
    “Siapa mereka?” Ahmed terkejut karena ia melihat mobil jeep lain dari kaca spionnya mencoba mendekat.
    “Mereka?! Radicalist kah? aku merasakan ini akan menjadi buruk” Romanov yang awalnya bersantai kemudian terlihat serius dan memegang machete besar yang ada dipunggungnya.
    “Bergeraklah kepinggir berikan jalan pada mereka” Million berkata
    “Kau serius master, memberikan jalan pada mereka?” Romanov bertanya dengan kondisi panik
    “Ahmed lakukan cepat”
    “Roger that”

    Mobil jeep tim order kemudian perlahan melambat dan memberikan jalan kepada jeep yang dikendarai oleh kelompok berbaju putih itu. Anggota team yang lain diam tidak berbicara apapun. mereka semua terdiam dan berkeringat dingin. semakin lama, jeep pria bebaju putih itu semakin mendekat dan akhirnya jeep kedua kelompok ini berjalan bersebelahan.

    Pria dengan menggunakan shotel yang duduk disebelah supir berbicara dengan bahasa Urdu kepada mereka. Million, Ailsa, serta Romanov melihat kearah Pria itu namun tidak mengerti apa yang sebenarnya orang itu katakan.

    Tangan Romanov bergetar, ia masih memegang machetenya dengan tangan kanannya dipunggungnya. Ia kemudian berbisik pada Ahmed “Apa yang mereka katakan?”
    Ahmed menjawabnya dengan pelan “ aku tidak tidak tahu.. aku tidak jelas mendengarnya”
    Tiba – tiba saja pria dengan pakaian putih yang duduk dibelakang jeep mengarahkan Kalashnikov kearah Romanov. Pria yang membawa shotel kemudian menegaskan kata – katanya tapi team order tetap tidak mengerti apa yang ia katakan.

    “wuuzzzzz” Romanov yang ditodong oleh Kalashnikov kemudian mengeluarkan machetenya dari sarung pedangnya dan menebaskannya kearah Kalashnikov itu hingga terbelah. Ailsa yang berada juga di jok belakang kaget dengan apa ang dilakukan Romanov

    “Bodoh apa yang kau lakukan Romanov!!” Million berteriak

    Keadaan menjadi panas, kelompok pengendara jeep berbalut kain putih itu kemudian menabrakan jeepnya kearah jeep yang ditumpangi tim order. Kemudian pria bershotel itu menghunuskan pedangnya ke langit.

    “Tancap gas lebih cepat!!!” million berteriak.

    Terjadi kejar – kejaran yang sangat seru antara Tim order dan orang – orang berpakaian putih. Hingga kemudian Ahmed menyadari bahwa tarikan mesin jeep ini semakin lama semakin melambat. Ia sadar, bensin mereka sudah hampir habis.

    “Sial, Master fuel jeep ini sudah hampir habis”
    “Apa!” Million kaget mendengar hal itu.
    “Mereka semakin mendekat” Romanov berbicara

    Ailsa berada pada posisi siap menembak, ia kemudian menembaki mobil jeep yang dikendarai oleh kelompok berbaju putih namun hanya mengenai bemper mobil dan pinggiran kanan mobilnya saja, Million melihat hal tersebut dari jok depa. tiba – tiba saja pria dengan shotel mengeluarkan boomerang yang berkilau dan terlihat dalam posisi siap melempar.

    “Ailsa Merunduk!” Million berteriak memperingati Ailsa

    Pria yang memegang shotel kemudian melemparkannya kearah wanita yang menembak. Ailsa yang masih dalam posisi menembak tidak bisa bergerak menghindar. Ia diam terpana dan melihat dengan pasrah boomerang itu semakin dekat kelehernya.
    “Bruaakkk” Romanov kemudian mendorong Ailsa ke pinggir dan akhirnya mereka berdua terjatuh dari mobil jeep. Million melihat Boomerang itu kemudian berbalik arah dan kembali ke pemiliknya.

    “Cepat hentikan mobilnya Ahmed! Romanov dan Ailsa terjatuh!”
    “Ok!! Ok!!”
    Mobil Tim Order kemudian berhenti mendadak. Million dan Ahmed kemudian turun dari mobil dan dengan cepat berlari kearah Romanov dan Ailsa.
    Begitu sampai ditempat mereka berdua terjatuh, Million melihat Ailsa tengah ditodong oleh kalashnikov dan Romanov sedang ditodong menggunakan Shotel. Million kemudian berhenti berlari di dekat Pria yang sedang menodongkan shotel.

    “Aku meminta pengampunan, Atas nama The Prophet of God ******** aku harap kau melepaskan kedua orang itu” Million berkata kepada Pria yang memegang Shotel.

    Pria yang memegang shotel itu terdiam sejenak dan kemudian dengan cepat mengarahkan shotelnya ke leher Million. Ia kemudian menggerakan kepalanya kekiri dan melihatnya. Million hanya diam tidak terlihat rasa takut dari matanya.

    “Apa tujuan kalian datang kemari Orang Asing?”
    Seluruh Tim order kaget mendengar Pria berbalut sorban yang memegang shotel itu berkata dengan bahasa yang di mengerti oleh mereka.
    “Kami ada urusan di tanah suci ini.”
    “Jawab!! Apa kalianlah kelompok yang menculik orang – orang yang tak bersalah dan menggunakan mereka sebagai kurban di tanah suci ini?”
    “Tidak, kami tidak melakukan hal itu. Kami adalah Tim yang dikirim untuk menyelidiki suatu hal di jerussalem”
    “…”
    “Kami minta maaf telah lancang datang ke tanah suci ini. Kami tahu wilayah ini adalah wewenang kalian Para penjaga padang Pasir Ordo Fisabil.”

    Pria berbalut sorban yang menutupi muka dan memegang shotel menatap lurus tajam pada Million.

    “Siapa sebenarnya kalian? Kenapa kalian mengetahui mengenai Ordo kami?”


    =========


    **Shotel : Pedang kuno melengkung dari Abyssinia
    **Khalashnikov : senjata rifle buatan Russia, AK-47 kalashnikov
     
  16. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update lagi :malu:

    Act – 3.3 Mission to Golgotha Part 2



    Tubuh Ailsa sedikit bergemetar karena ditodong oleh senapan Kalashnikov dimana larasnya itu tepat ditempelkan di kepalanya. Tidak pernah ia bayangkan kini ia berada segaris tipis dengan kematian. situasi Romanov tidaklah jauh berbeda dengan Ailsa, Romanov merasakan ketegangan yang luar biasa. Ia yang dulu merupakan mantan mariner yang pernah terjun ke daerah perang saudara, merasakan ketakutan karena sosok seseorang yang sedang memegang pedang shotel itu. Ya, iya tidak merasakan hawa pembunuh dari diri orang itu. Tapi dia yakin pria ini tidaklah segan membunuh seseorang.

    “Kami adalah anggota dari Order of Silver. Kami sedang dalam misi pengejaran penting” Million menjawab pertanyaan pria bersorban yang memegang Shotel itu.

    “Aku pernah mendengarnya tentang ini dari Sheikh. Order of Silver.. Kelompok persaudaraan yang umurnya sudah sangat tua dan dibentuk ketika berakhirnya Perang Suci terakhir di jerussalem. Kelompok pemersatu dan yang menjadi tonggak toleransi ketiga Agama dan pencari tabir Kebenaran Dunia” Pria bersorban itu berkata

    “…..” Million diam tidak menjawab. Mata pria bersorban didepannya masih menatap begitu tajam padanya.

    “Apa yang sebenarnya kalian lakukan di tempat ini?”

    “Kami sedang mengejar kelompok The Sect. mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk di tanah ini”

    “The Sect?”

    “The Sect adalah kelompok persaudaraan occult masa lalu yang menjadi pengabdi dan pemuja setan. Order mendapatkan informasi mereka akan melakukan sesuatu yang besar di tanah ini”

    “Begitu rupanya… sempat tadi kukira kalian adalah mereka, kaum berjubah hitam yang membawa masalah di tanah ini”

    Pria bersorban kemudian mengerti ternyata orang - orang yang ada dihadapannya bukanlah target yang mereka incar. ia lalu kemudian menutup matanya lalu menghela nafas dan kemudian menurunkan senjatanya dengan perlahan.

    “Aku melihat kejujuran dari matamu” Hasan berkata kepada Million

    Setelah percakapan diantara mereka selesai, Hasan kemudian menoleh kepada kedua rekannya yang sedang menodongkan senjata mereka kepada Ailsa dan juga Romanov. ia berbicara pelan pada mereka dengan bahasa Urdu. Para rekannya kemudian menganggukan kepala mereka tanda mengerti n kata – kata pria itu dan kemudian mereka lalu menurunkan senjata mereka. Ailsa merasakan lega namun tubuhnya masih terasa bergetar akibat kondisi tadi. Ia menghirup nafas dalam – dalam lalu melepaskan nya untuk menenangkan dirinya,

    “Huffff nyaris saja” Romanov berkata dengan perasaan cukup lega setelah tau kondisi tidak tegang lagi.

    Pria bersorban itu menatap kearah Romanov. Romanov kembali terdiam. Ketika ia melihat mata orang itu, ia merasakan seperti sedang di intimidasi. dalam hati ia berkata sial apa yang dilakukan orang ini, kenapa ia menatap seakan – akan mengintimidasi ku.

    Pria bersorban itu kemudian mengarahkan pandangannya lagi dan kembali menatap million. Dan perlahan – lahan ia membuka melepaskan sorban putih yang menutupi mukanya. Ketika balutan demi balutan dilepaskan, akhirnya terlihatlah wajah dari pria itu. Wajah Pria muda yang berusia sekitar 20 tahun dengan rambut hitam dan kulit putih pucat.

    ‘wajahnya.. wajahnya mirip dengan Shade’ Million berkata dalam hati

    “Namaku Hasan ibn Aamir, aku adalah salah satu dari pemimpin klan kelompok Ordo Fisabil” pria bersorban itu memperkenalkan namanya pada Million

    “Namaku Million Keiz, aku adalah ketua kelompok Team Order ini.” Million pun memperkenalkan dirinya

    Kedua pemimpin itu terdiam cukup lama setelah memperkenalkan dirinya masing – masing, Angin padang pasir datang dan berhembus membawa butiran – butiran pasir dan melewati mereka berdua. Namun kedua orang ini tetap terdiam dan mereka masih terlihat saling menatap tajam. Tiba – tiba saja, tanpa diduga dengan cepat Hasan dan Million mengangkat senjata mereka dan kedua senjata tersebut beradu hingga menyerupai huruf X.

    “Teeenggg!!” dentingan suara kedua pedang beradu. Rekan Hasan dan juga anggota Order yang lain tercengang kaget melihat peristiwa itu.
    “Master!” Ahmed berteriak kaget melihat apa yang terjadi di depan matanya.
    Million dan Hasan masih dalam posisi mereka, kedua orang itu saling menahan kedua pedang itu dan saling menatap tajam.

    “Mereka datang kemari.. mereka telah menculik orang – orang yang selamat dari bencana besar itu dan kemudian menjadikannya kurban persembahan. Apa ini semua adalah kesalahan kalian yang tidak bisa menghentikan mereka hingga akhirnya datang kemari?” Hasan dengan tatapan marah bertanya pada Million

    “The Sect adalah kelompok Pemuja setan yang umurnya lebih tua dari Order dan mereka adalah kelompok yang kuat dan berhasil diam dibawah tanah dan menyembunyikan keorganisasian mereka selama ribuan tahun. Coba kau pikir dengan jernih, apa ini sepenuhnya salah kami tidak dapat menghentikan mereka?” Million menjawabnya dengan nada tegas

    Hasan terdiam sebentar, kedua orang ini masih mengerahkan tenaga masing – masing dan menahan pedang mereka dengan kuat.Hasan menundukan kepalanya lalu kemudian ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong mundur Million. Tubuh Million mundur terhempas kebelakang namun ia masih bisa tetap menjaga keseimbangannya dan tetap berdiri.

    Hasan kemudian kembali berdiri tegap, dan berkata...

    “Dengar Order.. Anggota Spionase rahasia Fisabil telah dikirimkan ke Jerussalem untuk mencari informasi mengenai penculikan para manusia yang selamat yang dibawa paksa oleh kaum berjubah hitam. Hingga saat ini telah lebih dari 3 hari ia tidak memberikan kabar apapun. Aku sebagai pemimpin salah satu klan, diutus oleh Ordo Fisabil untuk melakukan Eksplorasi di Jerussalem dan mencari tahu mengapa anggota kami tidak kunjung kembali. Dan mencari tahu keberadaan orang – orang yang tak bersalah yang diculik oleh kaum berjubah hitam”

    “jadi mereka telah sampai ke Jerussalem.. Kalau begitu kita dapat bekerjasama untuk menyelesaikan misi ini” Million berkata pada Hasan

    “Jangan salah sangka.. kami tidak pernah mau turut campur dengan urusan kalian. Kami hanya akan mengikuti Misi yang telah diberikan.”

    “….” Million diam tidak berkata apapun lagi.

    Hasan kemudian membalikan badannya dan berjalan beberapa langkah menuju kearah rekannya namun ia kemudian tiba – tiba berhenti. “Aku lihat mobil kalian kekurangan bahan bakar. Ambilah beberapa kotak bensin untuk kalian bawa”

    “Kau tidak akan langsung pergi kearah Jerussalem juga Hasan?” Million bertanya

    “Sekarang telah hampir masuk ke waktu untuk ibadah. Setelahnya, kami akan menuju kesana secepatnya” Hasan menjawab

    Million terdiam mendengar hal itu. Ia ingat dengan apa yang dulu pernah ia dengar, kelompok Fisabil ini walaupun tahu kondisi sebagaimana genting dan berat pun mereka masih memikirkan tentang Ibadah. bahkan ketika perang berlangsung pun mereka tetap melakukan ibadah pada Tuhannya. ya aku mengerti kenapa Grandmaster pernah mengatakan bahwa mereka adalah kelompok yang kuat, itu karena mereka adalah kelompok yang memiliki prinsip kuat Taat pada perintah Tuhan dan Berjalan di jalan Tuhan.

    Hasan dan rekannya Kemudian menurunkan sekitar 3 kotak bensin ke tanah. Ahmed dan Romanov dengan berhati – hati mendekati orang – orang dari kelompok fisabil itu dan kemudian mengangkat kotak bensin dan membawanya ke mobil jeep Order. Terlihat dari cara mereka bergerak, mereka masih tegang berhadapan dengan kelompok berjubah putih ini. Setelah semua barang itu dinaikan ke mobil, Ahmed lalu menyalakan mesin mobilnya, dan Romanov serta Ailsa sudah bersiap untuk naik ke jeep itu.

    “Terima kasih, kami Order tidak akan melupakan bantuan yang telah kalian berikan” Million berterimakasih kepada Hasan dan kemudian menundukan kepalanya seraya memberi hormat.

    Hasan hanya mengangguk tanpa menjawab. kemudian Million membalikan badannya dan berjalan pelan menuju mobil Jeep dimana seluruh timnya sedang menunggu kedatangannya.

    Million berhenti sejenak ketika di sepanjang langkahnya itu, tiba - tiba ia mendengar suara Hasan berkata padanya.

    “Berhati – hatilah Order.. semoga Allah melindungi kalian.”


    ******​
     
  17. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update again :tkp3:

    Act – 3.4 Confrontation in The Old City Jerussalem Part 1


    In The Underground Church of Holy Sephulcer

    “Ukhhh” suara seorang gadis terbangun dan merasakan kepalanya terasa sakit dan pusing. Perlahan – lahan kesadarannya mulai kembali, ia merasakan tubuhnya tidak dapat digerakan. Ia telah membuka matanya tapi tidak ada apapun yang terlihat. gadis ini menyadari bahwa ia sekarang berada di suatu ruangan yang begitu gelap hingga ia tidak dapat melihat dengan jelas kesekelilingnya. Dia merasakan kedua tangan dan kakinya telah di ikat begitu sangat kencang.
    “Dimana aku? Kenapa aku disalib begini? lepaskan aku! Lepaskan aku!” gadis itu histeris dan berteriak – teriak.
    Gadis itu kemudian mencoba menggerakan tangan dan kakinya dengan keras berharap dapat lepas. Ia juga mencium bau yang tidak enak di ruangan itu. Ya ia merasakan dirinya mual sekali.

    “Kau sudah bangun..?” suara seorang wanita dengan menggunakan robe hitam dan wajahnya ditutupi dengan tudung hitam sedang duduk dibangku gereja panjang di samping kiri gadis itu. Gadis itu terlihat ketakutan. “lepaskan aku.. lepaskan aku” gadis itu berkata sembari menangis
    “Tenang saja… sebentar lagi waktunya tiba”

    Wanita dengan Robe hitam itu berdiri dan kemudian menyalakan sebuah lilin sebagai cahaya penerangan ruangan. Gadis itu tersentak kaget, ia melihat disekililingnya banyak tubuh orang – orang yang tewas, puluhan potongan tubuh wanita dan anak – anak berserakan dan darah mereka berhamburan dimana - dimana. Bau yang sebelumnya ia cium yang membuat mual ternyata bau darah mereka.

    “AAAAhhhhhHH!!!” gadis itu menutup mata dan kemudian berteriak histeris dengan sangat keras.
    “kfu.. kfu.. kfu.. kfu..” Wanita berpakaian hitam itu hanya tertawa kecil lalu keluar dari ruangan bersama dengan lilin yang ia pegang. Ia membiarkan gadis itu tetap terikat di kayu penyaliban.


    ======

    [​IMG]

    “BRRrrrMMMMmm” Suara mobil jeep menderung begitu keras, Million melihat Ahmed menginjak gas kuat – kuat dengan membuat kecepatan mobil sangat cepat tanpa memperdulikan apapun. Matahari yang telah terbenam sejak tadi membuat cuaca begitu dingin namun tidak ada seorang pun anggota yang berbicara. Mereka semua masih terdiam dan tidak berkata apapun.

    “Master.. siapa sebenarnya orang – orang tadi?” Romanov bertanya pada Million.
    “Mereka kelompok yang sama seperti kita.” Million menjawab
    “Aku tidak pernah mendengar tentang mereka.. “ Ailsa berkata dengan pelan.
    “Mereka adalah kelompok rahasia.. lebih rahasia dari order of silver itu sendiri. Bahkan dalam tubuh order sendiri tidak semuanya mengetahui tentang mereka. Aku sendiri hanya pernah mendengar tentang mereka sekilas dari Grandmaster.” Romanov dan Ailsa terdiam mendengar perkataan Million.

    Semakin lama jeep ini berpacu dengan kencang. Semakin terlihat juga diujung pandangan mereka rentetan tembok besar yang memanjang. ya tembok perbatasan besar yang dahulu dibuat Israel sebagai pembatas wilayah kedaulatan.
    “Master, lihat itu, kita hampir sampai di perbatasan” Ailsa memberitahukannya kepada Milion

    Million melihat dengan jelas ke depan. Ya ia melihat tembok yang begitu besar dan panjang memanjang. Ya tidak salah lagi, ia yakin itu adalah tembok perbatasan Israel. Mobil Jeep yang dikendarai oleh Tim dari Order kemudian melaju semakin dekat dan kemudian memasuki gerbang perbatasan.
    “Tetap focus dan hati – hati dengan serangan mendadak” Million memperingatkan Tim nya.

    Semakin dalam mereka masuk ke wilayah Tanah yang dijanjikan, mereka tidak menemukan apapun. Yang terlihat hanyalah bangunan dan puing – puing kota yang hancur berserakan.

    “Sepertinya ada yang janggal Master” Ahmed berkata pada Million
    “Aku merasakan hal yang sama juga. Tetaplah focus dan hati – hati teruskan jalan menuju kearah kota Tua Jerussalem.”

    Mobil jeep yang dikendarai Tim melaju masuk cukup jauh dari perbatasan tadi, mereka telah melewati banyak blok dan juga beberapa belokan namun tidak ada tanda – tanda kehidupan yang dapat mereka lihat. Cukup lama dan jauh Mobil tim melaju dengan kecepatan yang cukup kencang hingga sampailah mereka di perbatasan kota tua Jerussalem.

    “Kita hampir sampai ke kota tua Jerussalem. Ailsa persiapkan senjatamu, tembak apapun yang mencurigakan” Million berkata
    “Baik Master” Ailsa menjawab sembari mempersiapkan senjata M16 miliknya.

    Ailsa bersiap dalam posisi kneeling shot dan mengarahkan senjatanya kearah puing – puing bangunan yang hancur. Romanov memperhatikan sisi kiri kanan dan belakang mobil sambil memegang machete yang ada dipunggungnya. Tim Order menjadi lebih waspada karena mereka hampir tiba di lokasi tujuan Misi mereka.

    ‘Jika benar The Sect telah berada disini, seharusnya mereka telah mencegat kami sejak tadi’ Million merasa ada keanehan dan berkata dalam hati.

    Cukup lama mereka melaju, hingga akhirnya sampailah mereka di dalam kota tua Jerussalem, Million membuka peta dan menyuruh Ahmed menuju lokasi Cristian Quarter dimana disana terdapat Church of Holy Sephulcer. Ahmed kemudian menurunkan kecepatan mobilnya agar Ailsa dapat mengamati keadaan disekitar dengan lebih baik. Ketika mereka hampir tiba di Cristian Quarter, Terlihat dari jauh di mata Ahmed sesosok tubuh seorang gadis kecil tengah terbaring di jalanan.

    “Master lihat didepan.. ada gadis kecil terbaring di depan kita.”
    “Hentikan mobilnya”

    Mobil jeep pun berhenti sekitar 4 meter dari tubuh itu dan kemudian Million meminta Romanov dan Ailsa untuk ikut bersamanya memeriksa.

    "tunggulah disini Ahmed.." Million berkata
    "Aku mengerti Master"

    Mereka bertiga kemudian turun dan berjalan pelan – pelan sembari tetap waspada melihat kearah sekeliling reruntuhan bangunan yang kosong. Million melangkah hingga ia sampai dan kemudian berlutut untuk memeriksa kondisi gadis itu. Ketika ia membalikan tubuh gadis yang terbaring itu, ia melihat gadis itu begitu kotor tubuhnya penuh debu dan ia sedang menahan tangis, namun air matanya sudah terlihat bercucuran.

    “Kenapa kau terbaring disini? Tenanglah kau sudah aman sekarang tidak perlu menangis lagi” Million berkata kepada gadis kecil itu




    “JLEEEEGGGGEEEEEERRRRRRRRRR!!!” Tiba – tiba saja melesat sebuah hulu rocket kearah jeep dari bangunan kosong di sebelah kiri dan Meledakan Jeep milik Order.




    “AHHMEEEEEEEED!!!” Romanov berteriak dengan keras melihat tubuh temannya hancur porak poranda terbakar di jalanan.

    Tim Order panic, ternyata mereka diserang dengan tiba – tiba. ditengah keterkejutan mereka, Ailsa kemudian menembak kearah bangunan yang tadi menembakan rocket “Drrttzzzttzzttzttztztz!!” suara tembakan peluru dari rifle M16 memecah keheningan di tengah tempat itu.

    Million kemudian menggendong gadis kecil itu dan berkata kepada Romanov dan Ailsa
    “cepat bergerak ke reruntuhan bangunan disana!!” Million kemudian berlari kencang sembari menggendong gadis itu. Romanov dan Ailsa ikut berlari mencari tempat perlindungan.

    Sebuah peluru rocket melesat lagi kearah mereka “Duaaarrrr!!!” namun Million dan yang lainnya berhasil berlindung lebih dulu dan menghindari serangan itu.
    “What the Hell!! Mereka telah membunuh Ahmed tadi!! Sial!! mereka menggunakan anak ini sebagai umpan.” Romanov berbicara dengan nada yang begitu panic dan kemudian mengambil handgun Glock miliknya.

    Ailsa terlihat terengah – engah sembari mereload lagi senjatanya. Terlihat dari wajahnya ia juga sangat panic.

    “Apa yang harus kita lakukan Master?” Ailsa bertanya

    Million memejamkan matanya dan mulai berfikir keras di kondisi yang tertekan seperti itu. “Aku akan maju kedepan melakukan konfrontasi langsung sebagai umpan” Million menjawab

    “Kau gila melakukan hal seperti itu?” Romanov bingung dengan apa yang hendak dilakukan oleh Million
    “Uhh hiks.. hiks..” gadis kecil itu kemudian menagis terisak – isak.
    “Kamu jaga saja anak ini Romanov”
    “Ha? Aku bukan seorang penjaga bayi Master”
    “Kau mau aku menyuruhmu menjaga anak ini atau mau kusuruh kau jadi umpan dan maju menghadapi mereka?”
    “Eerrr… eerr baiklah”


    “DUAAARRRR!!” Suara roket ketiga ditembakan melesat mengarah ke bangunan dan membuat dinding perlindungan itu retak dan juga berlubang namun tidak melukai tim yang sedang berlindung

    “DAMNN mereka menggunakan RPG-7!!! Sial klo diam ditempat ini terus kita kita semua akan tewas!! ” DItengah kepanikan, Romanov menggerutu
    “Ailsa, nyawaku ada ditanganmu. Katika aku maju, kamu harus membidik orang yang menggunakan roket dan menembaknya. Kau tidak boleh sampai gagal.”
    “Itu berbahaya Master, Bukankah cara frontal seperti itu bukanlah cara yang bagus? aku juga tidak tahu apakah aku mampu menembaknya dengan tepat.”
    “Percayalah pada dirimu sendiri.. Lakukan apa yang kuperintahkan..”
    “… Ehh.. tapi...” Ailsa masih menyanggah apa perintah Million
    "LAKUKAN INI ADALAH PERINTAH!!!"


    ********​
     
  18. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update :nikmat:

    Act – 3.5 Confrontation in The Old City Jerussalem Part 2


    Million memegang rapier yang ia pegang dengan sangat kuat, ia bersiap – siap untuk berlari kearah Penembak Rocket di seberang jalan. Terdengar nafasnya begitu memburu dan jantung nya berdetak sangat kencang.

    “Baiklah kita lakukan..”

    Million bergegas keluar dari reruntuhan bangunan, Dengan cepat dia berlari lurus kearah bangunan 3 lantai dimana penembak Roket itu berada. Million melihat ke lantai tiga bangunan itu dan ia dapat melihatnya, seseorang dengan menggunakan robe hitam dengan tudung dan juga menggunakan topeng putih sedang mereload senjata RPG-7. Ia melihat anggota the sect itu telah selesai menempatkan hulu ledaknya ke pelontar rocket dan sekarang sedang membidikan rocket launcher itu kearahnya. Ailsa yang telah berada pada posisi menembak sejak tadi masih tetap diam tidak bergerak, ia sedang membidik sosok itu, namun karena keadaan yang begitu gelap membuatnya masih ragu untuk segera menembaknya.

    “Apa yang kau tunggu Ailsa!! Cepat tembak orang itu” Romanov berteriak memperingatkan Ailsa

    “Jangan ganggu konsentrasiku!!!” Ailsa berteriak


    “JLEEEEGEEEERRRRR” Hulu ledak RPG-7 itu meledak terkena tembakan peluru yang dilepaskan oleh Ailsa. Ledakan itu membuat gedung bergetar dan memberikan lubang cukup besar pada bangunan itu.


    “Sreeetttt” Million menghentikan langkahnya dengan mendadak dan melihat ke arah sosok yang memegang rocket tadi. Bongkahan – bongkahan bangunan berjatuhan dari lantai dua ke tanah hingga menimbulkan suara Gemuruh dan juga membuat asap kotor debu terhempas membuat million harus menutup hidungnya..

    “Bagus Ailsa, tembakanmu tepat mngenai sasaran” Romanov berkata dan terlihat ia begitu senang

    “Belum, ini belum selesai“ Ailsa menjawab

    Million mendengar banyak sekali derap langkah kaki dari dalam bangunan itu, ia kemudian memegang Rapiernya pada posisi menyerang. Secara tiba – tiba, muncul lima orang sosok berjubah hitam dengan mengenakan topeng putih berlari menuju Million dengan membawa Pedang, kampak, serta Flail.

    “Drttzz!! Drrttzzz!! Drrtzzz!! Drrttzzz!!” Suara Peluru Dilepaskan oleh Ailsa dari senapan M16 yang ia pegang.
    “Arrghhhhhh!!!, Arrghhh!!, Arrghhhh!!!” sosok – sosok itu mengerang terkena tembakan Ailsa di badan mereka. Tidak melepaskan kesempatan ini, Million dengan segera menusukan “Zleeeennbbb!"! dan menyabetkan rapiernya "Slaaahhhhhhsssss!!” pada pria berjubah hitam didepannya. Ia kemudian melepaskan rapiernya dari tubuh tak bernyawa itu.

    “Aku akan membantu master, jaga gadis ini Ailsa” selesai berkata, Romanov kemudian dengan segera keluar dari bangunan dan berlari kearah Million yang sibuk bertempur dengan para pria berjubah hitam itu. Ia lalu melepaskan machete dari punggungnya dan kemudian melemparkannya kearah pria yang hendak menusuk Million dari belakang.

    “Arrrghhhh” salah satu pria berjubah hitam mengerang karena tertusuk machete di punggungnya.
    “Dor!! Dor!! Dor!!” Romanov berlari sambil menembak menggunakan handgun glock miliknya
    “Apa yang kamu lakukan disini!! Sudah kubilang diam dan jaga anak itu serta Ailsa di tempat perlindungan!!” Million berteriak dengan sangat marah kepada Romanov
    “Aku tidak ingin membiarkanmu mendapatkan kesenangan sendirian Master” Romanov berkata

    “Teeeenggg!!!” Suara dentingan Rapier million menahan serangan kampak dari Pria berjubah hitam. Ia menahan dengan kuat kampak yang mengarah padanya itu dan kemudian ia menendang pria berjubah hitam itu hingga mundur tersungkur ke belakang. Disebelahnya tiba – tiba muncul sosok berjubah yang menggunakan Flail memutarkan senjatanya dan memukulkannya pada dirinya, Million berhasil menghindar dan menangkisnya “Teeeengggg !!!" namun akhirnya dia terjatuh ke tanah. "Gussraaaakkk…”

    “Dorr!! Dorr!!” Romanov dengan segera menembak kepala sosok yang menggunakan flail itu sebanyak dua kali hingga membuat dia jatuh terbaring.
    Million terengah – engah, semua lawan yang tadi datang menghampirinya telah jatuh terbaring semua. Ia kemudian berdiri dan kembali memegang rapiernya dalam posisi menyerang.

    “Akhirnya selesai juga” Romanov berkata dengan lepas
    Million terdiam.. ia merasakan sesuatu yang tidak enak, aura yang sangat menusuk… ia merasakan nya dari arah dimana Ailsa dan gadis kecil itu berlindung.

    “BRRUUuuuAAaaKKkkk!!!” Tembok tempat mereka berelindung tadi rubuh dan terlihat tubuh Ailsa terlmpar jauh .

    “AILSAA!!!” Romanov berteriak

    Ailsa yang terlempar kemudian jatuh ke tanah dan terseret cukup jauh hingga mendekati posisi Team order berada. Romanov yang khawatir kemudian berlari mendekati dan memeriksa tubuh Ailsa, ia dapat merasakan bahwa wanita ini masih bernafas namun sekarang kondisinya tidak sadarkan diri.

    “Ohh Tuhan.. untunglah kau tidak apa – apa “ Romanov berkata.

    Diantara suara bagian - bagian bangunan yang rubuh ke tanah, secara samar – samar dari asap bangunan yang roboh itu terlihat lima orang pria berjubah hitam keluar dari tempat Tim Order berlindung tadi. Sosok – sosok itu berjalan perlahan keluar dan salah satunya memegang dan menyeret gadis kecil yang mereka selamatkan tadi.
    Romanov kemudian dengan tangan kanannya di posisi yang masih memegang Ailsa menembakan senjata apinya kearah mereka “Dor!! Dor!! Dor!! Dor!! Dor!!” namun kelima sosok itu diam tidak bergeming sedikitpun.

    “What the hell!! Kenapa tembakannya tidak berasa!!?”

    “Demonio Posession..” Million berkata sambil mentap kelima sosok berjubah hitam itu dengan tajam.

    “Demonio Possession?” Romanov kebingungan

    Tiba – tiba saja terdengar gemuruh suara derap langkah kaki dari seberang jalan. Ternyata sekarang muncul banyak sosok berjumlah hitam datang mendekati tempat Tim Order berada. Sekitar 20 orang pria berjubah hitam berlari kencang dan kemudian berhenti di trotoar jalan. Terlihat mereka mengacung - acungkan senjata yang mereka bawa kelangit. Ya senjata tajam pedang, flail, serta tombak itu terlihat begitu mengkilau di kondisi gelap ini.

    “Ini benar – benar buruk Master” Romanov berkata dan terlihat dari wajahnya ia merasakan takut.
    “Ughhhhh” Million mengerutkan keningnya serta menggeram melihat kondisi mereka akhirnya terkepung sekarang.

    “Tep.. Tep.. Tep..” salah satu pria berjubah hitam dari arah bangunan tempat mereka tadi berlindung berjalan pelan sambil menyeret tubuh gadis kecil. Gadis kecil itu memberontak dan memukul – mukulkan tangannya mencoba melepaskan diri sembari menangis dengan terisak – isak. Setelah berjalan sekitar lima langkah, sosok itu terdiam dan kemudian ia dengan tangan kirinya memegang tangan kanan gadis itu dan mengangkatnya ke langit. Million dan romanov melihatnya dan merasakan bingung apa yang hendak pria berjubah itu akan lakukan.

    ”Zleeeeeeebbbzz...” tangan kanan sosok berjubah menusuk tepat ke jantung gadis itu. Million serta Romanov kaget tercengang melihat apa yang terjadi. Gadis itu berteriak melengking dengan keras dan kemudian dengan cepat sosok berjubah itu menarik jantung miliknya dan terlihat darah menyembur deras membasahi tubuh sosok berjubah itu. Darah gadis itu mengalir menetes ke tanah dan tubuh gadis tak bersalah itu diam tidak bergerak. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan dan mengetahui tubuh gadis itu tidak bernyawa lagi, sosok berjubah itu kemudian melemparkannya seperti sampah ke tanah.

    Romanov bergetar dengan apa yang baru saja ia lihat tadi sedangkan Million terdiam sejenak melihat terpaku ke tubuh gadis itu yang sudah tidak bernyawa. Dalam hati Million sadar gerombolan pria berjubah hitam itu benar – benar melakukan serangan physcology langsung dengan memperlihatkan pembunuhan tadi. Mereka benar – benar tidak memiliki rasa kemanusiaan, dengan mudah mereka membunuh seorang gadis kecil yang tidak berdosa seperti membunuh binatang. Million menggeram dan menatap tajam sosok berjubah hitam yang memegang jantung.

    Sosok berjubah yang tadi melakukan pembunuhan mengangkat tangannya tingi – tinggi keatas, lalu kemudian ia meremas jantung yang ia pegang hingga hancur dan kemudian berteriak dengan sangat keras. “GRRRRAAAAAAA!!!”. Dengan spontan puluhan sosok berjubah yang lain ikut berteriak melengking keras dan kemudian berlari sambil memegang senjata mereka dan bergerak kearah Million serta Romanov dengan cepat. "GGGRRRRAAAAAAAAA!!!!"

    “MAASSTTERRRR!!!” Romanov berteriak sangat kencang

    Million memegang senjata rapier miliknya dalam posisi bertahan dan menunggu horde tersebut datang.

    “Semoga Tuhan melindungi Kita..”


    ******​
     
  19. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update ahh :tkp3:

    Act - 3.6 Reinforcement From God


    “JLEEEGGGGEEEERRRR!!!” Sebuah peluru rocket meleset cepat dan kemudian memporak – porandakan gerombolan pria berjubah hitam yang sedang berlari Menyerang. Million dan Romanov tersentak kaget melihat hal itu ‘Siapa yang datang menolong kami?’ Million berkata dalam hati. Samar – samar dari jauh mereka berdua mendengar suara deru riuh mesin mobil yang sedang melaju dengan sangat kencang. Ketika mereka mengalihkan pandangan mereka kearah belakang, mereka melihat 6 buah lingkaran putih yang sangat menyala menuju kearah mereka.

    “Malaikat?” Romanov berkata pelan

    Ketika semakin lama semakin terdengar jelas suara mobil itu, Million melihat lebih focus dan ia akhirnya melihat cukup jelas Hasan datang dengan mengendarai mobil jeep sembari memegang pelontar RPG-7 dan dibelakangnya ada 2 mobil jeep yang mengikutinya. “Haa! Merekaa! Akhinya datang bala bantuan..” Romanov bernafas lega melihat kedatangan pasukan Fisabil menolong mereka. Ketiga mobil jeep itu melaju kencang dan kemudian berhenti mendadak dengan posisi agak berbelok di belakang Million dan Romanov. Hasan dan pasukannya menghentikan mesin mobil mereka lalu kemudian turun dari jeep. Million melihat, Hasan membawa Jumlah pasukan berjumlah 12 orang termasuk dirinya.

    [​IMG]

    “Aku tak menyangka kau akan membawa pasukan cukup banyak” Million berkata

    “Bukankah dengan begini kalian jadi selamat” Hasan menjawab

    Para gerombolan pria berjubah hitam hanya menggeram. Mereka yang tadi terbaring terkena ledakan RPG perlahan – lahan kembali bangkit dan berdiri tegap.

    “Mustahil, terkena ledakan besar seperti itu mereka masih bisa dapat berdiri?” Hasan berkata dan merasakan keanehan pada sosok – sosok kelompok jubah hitam tersebut.

    Ditengah kepulan asap bekas ledakan Rocket tadi, Tubuh – tubuh yang terbakar gosong maupun yang telah kehilangan 1 atau 2 bagian tubuhnya kemudian berdiri kembali dengan tegap dan menatap kearah Tim order dan Kelompok Fisabil kaget melihat kejadian tersebut.

    Salah satu sosok berjubah hitam yang berada paling depan kemudian berdiri dengan terhuyung – huyung dan menghadap kearah Hasan. Perlahan - lahan topeng yang dikenakan pria berjubah itu retak dan pecahannya jatuh ke tanah. Anggota Order dan Fisabil tercengang kaget melihat bola mata merah menyala begitu terang dibalik topeng yang menutupi wajah anggota The Sect.

    “Manusia – manusia itu, mereka telah memberikan jiwa mereka pada setan” Million berkata dengan geram dan kemudian memegang rapiernya dalam posisi menyerang.

    Hasan yang juga melihatnya, dengan geram menatap tajam kearah pria berjubah yang berbola mata merah menyala. Dengan segera ia kemudian mengambil Shotel yang ada dipinggang kirinya dan kemudian mengarahkannya lurus pada Pria berjubah hitam bermata setan itu.

    Dalam Nama Tuhan yang Esa yang Maha Kuasa, Kuperintahkan kalian para Syaitan pergi menyingkir segera dari tanah Suci ini!!!” Hasan berteriak dengan kencang.

    Gerombolan Pria berjubah hitam itu kemudian berteriak melengking dengan sangat keras. Million melihat sosok – sosok pria berjubah hitam bermunculan dari mana - mana. Ada yang muncul dari gang yang gelap, ada yang muncul dari jendela puing – puing gedung, ada juga yang muncul diatas atap gedung tinggi.

    “Damn!! mereka datang semakin banyak Master.” Romanov berkata.

    Ditengah kondisi yang tegang itu, Ailsa yang tadi tidak sadarkan diri kemudian bergerak dan perlahan – lahan ia membuka matanya. “Ailsa.. kau sudah sadar” Romanov kaget melihat Ailsa telah membuka matanya..
    “Romanov?” Ailsa samar – samar melihat Romanov, matanya masih belum bisa focus untuk melihat.
    Million kemudian menatap Ailsa yang telah sadarkan diri dan bertanya “Kau bisa berdiri Ailsa?”
    “Ughhhh.. ya aku bisa” Ailsa menjawab sembari mencoba berdiri dengan masih dipengangi oleh Romanov

    Sosok berjubah hitam yang bermandikan darah gadis tadi dengan bahasa yang tidak dimengerti berteriak - teriak seperti sedang mengkomando seluruh rekan – rekannya untuk segera bersiap menyerang. Seluruh sosok – sosok yang mendengarkan suaranya kemudian mengangkat tangan mereka yang memegang senjata ke langit.

    “Order pergilah kalian dari sini dengan mobil jeep dibelakang..” Hasan berkata dengan tiba – tiba.
    “Apa maksudmu? Kami tidak akan meninggalkan kalian melawan mereka semua disini sndirian” Million menjawab
    “Ini adalah tugas kami untuk melindungi Tanah suci. Pergilah kalian selesaikan misi kalian sendiri”
    “Tapi Hasan..” Million berkata
    “Jika benar kelompok berjubah hitam ini berniat melakukan sesuatu yang buruk di Tanah Suci, Aku ingin kalian menghentikan mereka secepatnya”
    “…” Million terdiam mendengar itu
    “Cepatlah pergi! Mati di tempat ini tidak masalah bagi kami!”

    Gerombolan berjubah hitam itu kemudian semuanya berteriak melengking keras “GRRRRAAAAAAAA!!!!!” dan membuat topeng putih yang mereka kenakan retak dan hancur berantakan. Hasan melihat dengan jelas, seluruh sosok itu memiliki bola mata merah yang menyala sangat terang. Kelompok fisabil yang juga kaget melihat hal itu kemudian mengarahkan Kalashnikov yang mereka pegang kearah gerombolan berjubah hitam dan yang lainnya dengan segera mencabut pedang dari sarungnya.

    Ditengah kepanikan itu dan ketakutan yang terlihat dari wajah rekan – rekannya, Hasan kemudian melihat kearah pasukannya dan berbicara dengan tegas menggunakan bahasa Urdu. Sepertinya ia sedang memberikan kata – kata penyemangat untuk meningkatkan Keberanian mereka. Setelah mendengar kata – kata dari Hasan, kemudian para pasukannya menganggukan kepala mereka dan berteriak dengan semangat

    “Allahu Akbarr!! Allahu Akbarr!!! Allahu Akbarr!!”

    Hasan yang telah merasakan semangat rekan – rekannya telah kembali, kemudian memegang shotelnya dalam posisi siap untuk menyerang. Ia kemudian berkata pada Million.

    “Apa yang kau tunggu? Pergilah sekarang Million!!!”

    Million mengangguk tanda ia mengerti, dan dengan tangan kirinya ia memberikan kode pada Ailsa dan juga Romanov untuk mengikutinya pergi kearah jeep.

    “BRRrrMMmmm” suara mobil jeep dinyalakan. Million kemudian membuka peta dan mengisyaratkan kepada Romanov untuk segera menancapkan gas dan pergi dari tempat ini. Ailsa yang telah pulih kesadarannya kemudian memegang senjatanya kembali dalam dan mengambil posisi siap menembak.

    “Setelah selesai.. kami akan datang kembali membantu kalian” Million berkata pada Hasan.

    “Itu tidak perlu.. kami dapat menyelesaikan masalah ini semua sendiri.” Hasan berkata dengan tersenyum.

    Million kemudian tersenyum balik pada Hasan, lalu ia kemudian menatap jalan lurus kedepan. “Baiklah kita berangkat Master” Romanov berkata dan kemudian menacapkan gas sangat dalam dan membuat mobil jeep melaju dengan cepat kedepan.
    “Ailsa.. tembak apapun yang mendekati mobil ini!!” Million memberikan perintah
    “Aku mengerti Master” Ailsa menjawab lalu siap dalam posisi kneeling shot dan segera membidik.

    Mobil jeep yang dikendarai Team Order melaju kencang melewati Pria berjubah hitam didepan mereka yang berusaha menghalangi. “GRAAAAAAAAA!!!” Gerombolan The Sect itu berteriak dan memulai pertempurannya dengan Ordo Fisabil.

    Dari arah belakang mobil jeep, Million bersama teamnya mendengar Teriakan setan yang melengking dan letusan – letusan senjata serta ledakan – ledakan yang memecah keheningan malam di kota suci. “Ddddrrrttttzzz!! Ddddrrrtzzzzz!! Dddrrrtttzzz!! Dddrrrrtttzzzzz” Suara gemuruh letusan peluru dari senjata M16 milik Ailsa yang menembaki beberapa gerombolan The Sect yang mengejar mereka dengan berlari dari belakang. Terlihat oleh Million orang – orang yang mengejar mereka rubuh ke jalan namun kembali bangkit dan berusaha mengejar lagi.

    “TANCAAP GASS LEBIH CEPAT ROMANOOV!!”

    “OK… OK… AKU MENGERTII !!!” Romanov menjawab dan bermain gigi mobil lebih cekatan lalu menginjak gas lebih dalam yang membuat mobil semakin melaju kencang.

    “BRRRRRMMMMMMMMM!!!”

    Semakin lama, semakin jauh mobil jeep ini meninggalkan sosok - sosok jubah hitam yang mengejar mereka. Ketika mereka telah cukup jauh dari tempat konfrontasi tadi melawan anggota The Sect, mereka melihat dari jauh di sebuah bukit terdapat Gereja besar dan gelap.

    “Master itu ada bangunan gelap yang besar didepan kita” Ailsa berkata sembari menunjukan tangan kirinya kearah bangunan yang ia lihat di sebuah bukit.

    Million kemudian mencoba memfokuskan matanya kearah bangunan gelap yang ditunjukan tadi oleh Ailsa. Ketika ia mulai sidik menyidik dengan teliti, ia akhirnya sadar itu adalah tujuan yang mereka cari.

    “ Ya.. itu tujuan kita, The Church of holy Shepulcure
    “Jadi kita semakin dekat dengan tujuan.. Heeaaa akhirnya!!!” Romanov tertawa girang mendengar hal itu.
    “Ailsa berhati – hatilah dengan serangan mendadak. Kita sebentar lagi akan memasuki daerah Gereja itu”

    Ailsa mereload senjatanya dan mamasukan magazine peluru baru pada senapannya, lalu menjawab.

    “Aku mengerti Master”


    =================


    Jauh dari tempat dimana Team Order berada, di atap gereja makam suci itu, terlihat seorang wanita dengan robe hitam panjang menggunakan tudung melihat kearah mobil jeep dengan lampunya yang menyala sedang melaju kencang menuju kearah Gereja.

    “Akhirnya waktu yang dinantikan tiba… Selamat datang di Perjamuan Suci kami Order”


    ******* ​
     
  20. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update yg panjang :nikmat:

    Act - 3.7 Road To The Black Altar



    “Lepaskan.. lepaskan aku.. Tolong.. Tolong aku..”

    Gadis yang sedang disalib ditiang penyaliban berusaha dengan keras menggerakan tangan nya dan berharap ia dapat lepas dan segera pergi dari tempat yang mengerikan ini. ia menitikan air mata dan terus berusaha dengan keras untuk lepas. Gadis itu merasakan begitu takut, takut berada sendirian di tempat yang gelap dengan ditemani mayat – mayat bergelimpangan dimana – mana. Ia benar – benar merasakan takut.. benar – benar ketakutan.

    “Tolong aku… hiks.. Tolong.. hiks.. hiks..” gadis itu gelisah dan frustasi dengan keadaan dirinya.

    Dalam hati, gadis itu berkata ditengah ketakutan dan kepanikannya ‘Kenapa mereka menculik dan menyalibku seperti ini, kenapa mereka membunuh banyak orang di ruangan ini. apa sebenarnya orang – orang berjubah hitam itu inginkan dariku. Tidak, aku tidak mau mati.. aku tidak mau dibunuh ditempat ini.’

    Tiba – tiba saja dari jauh terdengar derap langkah kaki yang berjalan semakin lama semakin dekat ke ruangan itu. “Tap.. Tap.. Tap..” Gadis itu merasakan ketakutan. Dari jauh ia melihat cahaya lilin redup semakin lama semakin dekat ketempatnya. Ia semakin panik benar – benar panik.

    “Lepas!! Lepaskan Aku!! Tuhan tolong Aku!! Tolong Aku!! Tolong Aku!!”

    Sosok wanita berjubah hitam yang membawa lilin bercahaya redup itu berhenti 2 meter tepat di depan gadis yang sedang gelisah dan panik di kayu penyaliban.

    “Apa kesalahanku..? kenapa kau melakukan hal seperti ini? Tolong biarkan aku pergi.. tolong..” gadis itu berkata sembari ketakutan dan berharap wanita didepannya melepaskan dirinya.

    wanita berbalut coat hitam dengan tudung yang menutupi mukanya dan memegang lilin kemudian berkata
    “Kau tidaklah melakukan kesalahan apapun.. kau harusnya tidak perlu takut.. kau mestinya senang karena kau adalah gadis yang terpilih..”

    “Tolong lepaskan aku kumohon.. kumohon…” gadis itu terlihat semakin gelisah
    Ditengah ketakutannya pada wanita yang sedang memegang lilin didepannya, gadis itu secara samar - samar mendengar suara senjata api menderu bising menembakan peluru. Ya, ia mendengar seperti sedang terjadi peperangan yang sangat sengit diatas ruangan tempat mereka berada sekarang.

    Wanita bertudung hitam itu tersenyum kecil dan kemudian berkata “Tidaklah kau dengar Gadis terpilih? Suara riuh gemuruh di permukaan di atas ruangan ini? mereka datang dari tempat yang sangat jauh untuk menyelamatkan dirimu. Tidaklah kau sadar.. begitu sangat berartinya dirimu hingga orang – orang itu rela kehilangan nyawa mereka hanya demi untuk sampai ketempat ini. Sudah.. janganlah kau takut.. seharusnya kau berbangga pada dirimu itu.”

    Gadis itu semakin ketakutan. Terlihat sekali wajahnya begitu menjadi sangat pucat pasi ketika ia melihat sosok wanita berjubah hitam itu menatap dirinya langsung kematanya dan terlihat olehnya bola mata merah menyala yang begitu menakutkan. Gadis itu terdiam.. suaranya hilang dan merasakan Perasaan sangat gelap, dingin, menusuk merasuk kedalam jiwanya.




    ******




    The Main Entrance of Church Holy Sepulchre

    “Dorr!! Dorr!! Dorr!! Dorr!!” suara tembakan senjata api dari Handgun milik Romanov

    “Master jumlah mereka cukup banyak!! Walaupun mereka tidak diposes oleh setan, Jika kita terus bertahan seperti sekarang ditempat ini, tidak akan ada habisnya!!” Romanov berkata dengan berteriak sembari mereload senjata glock Miliknya

    ““Ddddrrrttttzzz!! Ddddrrrtzzzzz!! Dddrrrtttzzz!! Dddrrrrtttzzzzz” Ailsa menembakan pelurunya kearah pria berjubah hitam yang berlari menuju kearah mereka.

    Dentingan dentingan selongsong peluru jatuh ke tanah. Itu menandakan banyaknya jumlah peluru dilepaskan untuk menembaki gerombolan jubah hitam yang datang menyerang. tiba – tiba saja dari atap gereja, Dua sosok pria berjubah hitam melompat mengarah kearah Million. Menyadari ada bayangan hitam menuju kearahnya, dengan sigap ia melompat mundur serta menusukan Rapiernya ke kedua sosok itu “Zleeeebbb!!!” “ARKKHHHH!!” dan kemudian mendorong dan menjatuhkan mereka “Geeedubbrakk !!”.

    “Kita harus mencari dimana gadis itu disembunyikan!!” Million berkata

    “Dorr!! Dorr!! Dorr!! Dorr!!” suara tembakan dari handgun Glock milik Romanov mengenai 4 sosok berjubah hitam yang hendak menyerang Ailsa yang muncul dari arah belakang dan dari samping.

    “Tidak ada cara lain Master!! Pergilah cari anak itu!! Dengan kondisi bertiga seperti sekarang ini akan sulit untuk mengelilingi Gereja tua ini dan menemukan target!! Apalagi dengan adanya mereka mengejar!!”

    “Kalian dan Hasan sama saja!! Meminta agar aku pergi meninggalkan kalian di posisi sulit!! Tidak!! Aku tidak akan membiarkan kalian berperang sendirian!!” Million menjawab

    “Pergilah master!! tujuan kita disini bukan untuk membantai anggota The Sect!! misi kita adalah untuk menghentikan rencana kotor mereka dan menyelamatkan gadis tidak berdosa itu” Ailsa menyela pembicaraan Million dan Romanov.

    “……” Million terdiam sembari menahan serangan pedang salah satu pria berjubah hitam. Ia dengan seluruh tenaganya kemudian membuat pedang tersebut terlepas dari tangan pemiliknya dan kemudian menusuk tepat kejantung sosok berjubah itu dan melepaskan rapiernya dengan segera.
    Ditengah rasa lelah bertempur dan mencoba untuk bernafas sejenak, Million mengerutkan keningnya dan menggeram melihat bala bantuan anggota The Sect kembali muncul dari daerah yang gelap.

    “Ddddrrrttttzzz!! Ddddrrrtzzzzz!! Dddrrrtttzzz!! Dddrrrrtttzzzzz” suara tembakan Ailsa memecah keheningan tempat suci itu

    “Pergilah master!! Percayakan semuanya pada kami berdua. “Dorr!! Dorr!! Dorr!! Dorr!!” Dan berjanjilah pada kami kau akan menyeleseikan misi ini dengan sempurna!!” Romanov berkata dengan dengan tegas meyakinkan agar Million segera pergi meninggalkan mereka.

    Million menundukan kepalanya. Ia benar – benar merasa tidak kuasa meninggalkan anggota Timnya disaat yang terdesak seperti ini. ia tidak ingin lagi merasakan rasa bersalah seperti membiarkan Ahmed meninggal sebelumnya. Sial apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa membiarkan mereka berdua Manahan serangan Horde seperti ini.

    “Seorang pemimpin harus percaya pada anggotanya.. begitu juga anggotanya harus percaya kepada pemimpin mereka. Percayakan masalah disini pada kami berdua, cepat pergilah master” Ailsa ikut berkata meyakinkan Million juga agar segera pergi.

    “Baiklah aku mengerti..” million menjawab walaupun ia masih merasakan penuh keraguan di hatinya.

    Ailsa yang mendengar itu tersenyum menatapnya. Million sadar, ia merasakan bahwa rekan – rekannya benar – benar memberikan kepercayaan yang begitu penuh padanya. Dalam hati Million bersumpah demi Ahmed dan juga anggota timnya yang lain yang bersedia memberikan jalan untuknya, ia akan menemukan gadis itu dan menghentikan rencana besar The Sect. “Draap !! Drapp !! Drapp!! Drapp!!” Million dengan tergesa - gesa dengan cepat berlari masuk kedalam Gereja Makam Suci dan meninggalkan teman – temannya bertempur diluar.

    “Ddddrrrttttzzz!! Ddddrrrtzzzzz!! Dddrrrtttzzz!! Dddrrrrtttzzzzz”

    “Dorr!! Dorr!! Dorr!! Dorr!!”

    Suara gemuruh senjata api ditembakan secara bertubi – tubi menembaki gerombolan yang berusaha mengejar Million. Romanov dan ailsa kemudian saling menyandar dan berada dalam posisi saling membelakangi. Kedua orang itu tanpa basa basi menembaki setiap sosok yang mencoba mendekati mereka. terlihat sosok – sosok itu tidak memiliki ekspresi kehidupan, tidak takut mati walaupun dibidik dengan senapan.

    “Berapa sisa magazine mu Ailsa?” Romanov berkata di tengah ketegangan itu
    “hanya tinggal tersisa tiga buah…” Ailsa dengan terengah – engah menjawab.
    “Huuffff.. jadi disinilah tempat terakhir kita rupanya..”
    “Tidaklah begitu buruk bukan? Mati ditempat Suci bukanlah hal yang bisa semua orang dapatkan” Ailsa tersenyum dan kemudian mereload senjata M16 miliknya.

    Romanov juga tersenyum mendengar hal itu. Mereka berdua kemudian mengarahkan senjata mereka pada puluhan sosok berjubah hitam yang sekarang mulai berkumpul membentuk lingkaran mengelilingi mereka. Jika dihitung, jumlah pria berjubah hitam yang mengelilingi mereka sekitar 45 orang lebih dan menatap dengan tatapan sangat bengis. Romanov dan Ailsa bernafas terngah – engah merasakan takut, tubuh mereka sedikit bergetar dan ketakutan itu terlihat jelas dari pandangan mata mereka.

    Sekumpulan Anggota The Sect yang bergerombol mengelilingi mereka kemudian mengangkat senjata pedang, Flail, dan tombak yang mereka pegang ke langit. Kedua orang yang terpojok itu sadar, orang – orang berjubah disekelilingnya akan segera menyerang dengan bersamaan kearah mereka.

    keringat dingin Romanov mengalir, ia kemudian menelan ludah sembari menodongkan glock miliknya pada sosok didepannya. Ailsa yang berada dibelakangnya terdiam dengan tatapan takut dan jari yang bergetar bersiap untuk segera menembak.

    "Ok!! Lets Rock!!!" Romanov berteriak sangat keras


    ***** ​
     
  21. Heilel_Realz012 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 8, 2011
    Messages:
    812
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +823 / -0
    update :malu:

    Act - 3.8 The Last Ritual Begins Part 1


    “Hahh.. Hahh.. Hahh..”

    Suara nafas Million terengah – engah berlari di corridor untuk mencari dimana keberadaan gadis yang telah diculik oleh Anggota the Sect. Ruangan demi ruangan telah ia lewati namun semuanya berhasil nihil. ‘dimana.. dimana The Sect menyekap gadis malang itu?’ Million betanya dalam hati sembari terus mencari ke setiap ruangan yang ia lewati. Di tengah kebingungannya, Milliom mulai mengingat kata – kata dari Grandmaster Order mengenai sejarah terbentuknya Church of Holy Sepulchre ini.

    Dahulu lokasi di tempat Gereja suci ini sekarang berdiri, sebelumnya pernah dibangun sebuah kuil Aphrodite oleh orang – orang Romawi sebagai bentuk tindakan benci pada ajaran yang dibawa *****. Dan ketika pemerintahan romawi telah berganti ketangan kaisar Constantine I, kuil pemujaan dewi Aphrodite ini kemudian dibongkar dan diratakan agar dengan segera dan dibangun sebuah Gereja sebagai bentuk penghormatan tempat dimana makam suci berada. Periode Masa silih berganti, dari pembangunan, kehancuran yang terjadi dan rekonstruksi kembali segera dilakukan. Hal itu membuat map dari denah gereja ini berubah dari waktu ke waktu. Million berusaha mengingat percakapannya dengan Cecillia sebelumnya di library Order ketika ia melihat denah – denah perubahan bentuk Konstruksi Gereja Makam Suci.

    ‘Kamu tidak boleh membawa denah kuno ini dalam misi Million. ini merupakan arsip berharga yang dimiliki Order’ Cecillia berkata pada Million

    ‘Aku mengerti.. tunggu sebentar, biarkan aku melihatnya sebentar lagi dan menghafalkan Denah bangunan nya Cecillia’

    Ia mengingatnya dengan cukup lama. Mengingat 10 bentuk denah yang diperlihatkan Cecillia padanya. ‘mana yang berbeda.. mana yang benar – benar berbeda dari kesepuluh denah tua yang aku lihat itu?’ dalam hati Million berkata dan terus berpikir keras. Tiba – tiba ia ingat bahwa gereja ini dibentuk jauh diatas dimana tempat batu yang menahan salib ***** diletakan. Ya ia ingat gereja ini dibangun diatas bukit Golgotha yang dulu digunakan tentara Romawi menghukum orang – orang dengan cara disalib. Million berpikir kelas terus mencari perbedaan dari denah yang sebelumnya ia lihat.

    Akhirnya ia sadar, terdapat sebuah ruangan yang berbeda dari kesepuluh denah itu. Sebuah Ruangan yang berada jauh dibawah gereja makam suci ini berdiri. ‘aku harus mencari jalan menuju ruangan itu.. ya jalan rahasia menuju ke dataran dimana ***** disalibkan tempat dimana bukit Golgotha berada.’
    Derap langkah Million semakin cepat dan terdengar gaduh di ruangan Gereja yang gelap dan sunyi.



    *********



    “Too..long.. Le..paskan.. Aku.. To..long…”

    Suara gadis itu semakin pelan terdengar. Setelah melihat bola mata merah dari wanita bertudung hitam itu, gadis malang itu merasakan seluruh tenaganya hilang. Ia tidak memiliki tenaga lagi untuk berteriak ataupun untuk menggerakan tangannya agar bisa lepas dari ikatan tali yang sangat kencang mengikatnya. Ia pasrah.. ia menatap dengan pasrah ke wajah wanita bertudung hitam dan bermata merah dihadapannya.

    “Sudah banyak jiwa orang – orang tidak bersalah yang harus dikorbankan hanya untuk tubuhmu itu. Kau lihat potongan tubuh suci orang – orang tak berdosa di ruangan ini? mereka semua harus mati demi mempersiapkan ritual lengkap demi tubuh suci milikmu. Kau tidak mengerti.. tubuhmu itu sangat penting. Tubuh yang begitu pantas menjadi Vessel dari ‘Ratapan Langit

    “….. “ Gadis itu diam ia merasakan suaranya hilang. Kesadarannya juga ia rasakan semakin lama semakin hilang. Yang bisa ia perbuat hanyalah diam dan dengan pasrah mendengarkan kata – kata wanita didepannya.

    “Kau tahu sekarang kau berada dimana nona? Kau sekarang berada di tempat yang sangat suci. Dataran Golgotha atau bukit Cavalry dimana rintihan pilu, kesedihan, dan Air mata orang – orang yang menyertai kedatangan Yang Kudus sepanjang Via Dolorosa jatuh membasahi tanah ini. Moment pilu yang begitu diratapi mereka yang begitu percaya oleh Tuhan. Ia sang wanita terpilih yang dimuliakan, Sang-Perawan suci menangis meratapi anaknya menangung beban dosa seluruh umat manusia. Air matanya telah menyucikan tanah kotor yang telah bersimbah banyak darah ini. Tempat yang terkutuk yang dulu digunakan sebagai tempat pembantaian akhirnya menjadi tempat yang Kudus dan dimuliakan.”

    “Berbanggalah.. Bersyukurlah Hai Engkau Wanita Terpilih” wanita bertudung itu berkata dengan lantang dan kemudian mengambil sebilah pedang hitam yang tergeletak di lantai.

    “Dengan tubuh suci dan darah magis yang mengalir dalam nadimu, bersama dengan puluhan darah dan jiwa suci yang tergeletak membisu yang sebelumnya telah Aku persembahkan, Bangkitlah Hai jiwa yang tersesat dalam tubuh gadis Terpilih ini.. Bangkitlah Engkau Hai Tuan yang telah dijatuhkan dan dihilangkan kemuliaannya oleh Tuhan di Masa lalu. Bangkitlah Hai Engkau salah satu Cahaya Redup yang jatuh meratap di jurang Dunia”

    Wanita bertudung hitam mengucapkan kalimat – kalimat ritual dan kemudian perlahan - lahan ia menghunuskan pedang hitam yang dipegangnya ke langit.


    [​IMG]



    =============
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.