1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Cerpen Dead After Life

Discussion in 'Fiction' started by noprirf, Nov 27, 2014.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,310
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +422 / -0
    DEAD AFTER LIFE
    Genre: Horror, NTR, Fantasi.

    kunjung saat ini begitu ramainya. Tampak beberapa orang dengan baju yang begitu tebal serta menyelubungi seluruh tubuhnya. Aku hanya terpaku melihat mereka tengah mendorong sebuah kasur dorong menuju ke dalam ruangan.

    “Nabila memang mereka siapa?” tanyaku penasaran pada gadis yang di sampingku.

    Gadis itu seketika menengok ke arahku. "Mereka adalah orang orang yang habis berkunjung di Afrika. Sayangnya begitu kembali mereka positif terkena virus Ebola yang sedang mewabah di sana. Kami mencoba mengobati sebaik mungkin, namun sayang ia tak mampu bertahan dan akhirnya meninggal dunia.” Ucapnya melanjutnkan

    “Tak kusangka, virus itu begitu ditakuti hingga seperti itu.”

    “Itu wajar, sebab orang yang terkena virus itu masih belum bisa sembuhkan. Oleh karena itu puluhan dokter banyak ke sini untuk meneliti penyakit tersebut salah satunya Prof. Higashi yang nantinya ikut meneliti bersama mereka.” terang Nabila

    Kini ku kembali mengamati sosok perempuan yang tengah berbicara di sampingku. Ia adalah rekan kerjaku di rumah sakit ini. Rambutnya hitam panjang terlihat begitu indah. Wajahnya terlihat bulat membuatnya tampak begitu imut, namun tak sama sekali mengurangi kecantikannya. Parasnya membuatku tak bisa melupakannya sedetikpun.

    "Maaf, kenapa ya Ryuga?" tanya Nabila heran menyadari dirinya terus ku saja kulihat.

    "Nabila, apakah kamu sudah memeriksa surat yang ku berikan padamu?"

    "Surat?!" ucapnya dengan nada sedikit terkejut

    “Ya, surat itu adalah perasaan tulus dari hatiku." balasku langsung. "Nabila percayalah, aku pun bisa melindungimu. Terimalah perasaanku.”

    Seketika saja, gadis itu menundukkan wajahnya. Lalu perlahan ia pun kembali melihatku seraya menggelengkan kepalanya.

    “Maaf, tapi aku benar-benar tak bisa menerima perasaanmu.” ucap Nabila pelan

    Aku tak menyangka jawaban itu justru terucap darinya. Sudah 2 tahun lamanya sejak pertama kali ku bertemu dan selama itu pula aku terus memberikan apapun yang ia inginkan. Kini aku tak percaya ia tak menerima perasaanku ditolak begitu saja.

    “Ta-tapi kenapa? Aku sebenarnya begitu ...”

    “Aku dan Prof. Higashi sudah bertunangan." Potong Nabila.

    Langit terasa seakan runtuh. Aku teramat kecewa. Terus saja ia menolak perasaanku. Semua ini benar-benar terasa menyakitkan. Tentu saja aku tak bisa membantahnya, walau aku telah memberinya banyak hal tetapi masih teramat sedikit bila dibandingkan dengannya. Ia mempunyai segalanya sedangkan aku tidak. Aku hanya seorang manusia biasa, ku tak bisa berikan apapun selain yang ia lihat sekarang.

    Ku hanya menunduk saat beberapa orang berlalu saat Nabila mulai menjauhiku. Aku terdiam. Aku tak mampu berbicara sepatah kata pun. Lihat saja Nabila, kau akan menyesal karena telah menolak perasaanku.


    -------------OOOOOOO-------------​


    Hari sudah gelap. Kini aku mulai merasa ngantuk. Benar-benar suatu yang agak membosankan duduk hanya berteman dengan koran dan kopi. Di ruang penjagaan ini memang tempat yang membosankan. Terkadang aku berfikir adakah hal menarik yang bisa dilihat di sini. Rasa kantuk benar-benar terasa. Ku mulai menguap lebar, ku terus kucoba tutup secara paksa dengan tanganku. Suasana sekarang tampak lebih sepi dibanding tadi pagi.

    Aku mulai melihat sosok dari kejauhan. Ia tampak membawa sebuah senter. Ia tampak membawa pentungan kayu tergantung di pinggangnya. Ia adalah salah satu rekan ku, Larie.

    “Ryuga, kamu cepat berkeliling!” ucapnya ceplos dari kejauhan.

    “Wah, jangan dulu dong! Tunggu sebentar, ya!” pintaku.

    Iapun mulai memperlihatkan punggung tangannya padaku, lalu memajukannya ke depan. Dari tangannya ia seakan memintaku untuk cepat pergi dari tempat dudukku.

    "Ta-tapi,"

    “Enggak usah banyak bicara, cepat keliling sana!” Ucapnya dengan nada lebih tinggi.

    Ku terpaksa bangkit dari kursi. Ucapnya membuatku tak bisa membantahnya sedikitpun. Hari ini benar-benar sial. Sudah hubungan dengan Nabila enggak lancar, kini ku harus berjalan-jalan berkeliling di sekitar sini lantaran ia lebih senior dariku. benar-benar melelahkan. Aku tak percaya Larie tak memberiku kesempatan bersantai sedikit saja. Tapi sudahlah, perduli apa ku dengannya. Toh, aku juga sudah tak mau duduk di sana. Setidaknya aku bisa menghapus jenuh ini. Aku pun mulai memasuki pintu depan ruang penelitian ini. Aku mulai memeriksa. Kini tempat ini tak seramai saat pagi hari.

    Hanya iseng, tiba-tiba langkahku mencoba mendekati ruangan penelitian. Aku masih ingat inilah tempat orang-orang yang terkena penyakit dibawa pergi. Dari jauh terlihat pintu tampak sedikit terbuka. Namun ada yang aneh, pada lantai terlihat mirip seperti jejak darah. Aku pun mulai membungkukkan punggungku untuk melihatnya lebih jelas. ternyata benar, ini adalah jejak darah yang masih segar. Namun, dari mana datangnya?

    “Aaaaaakh!” Seketika suara jeritan terdengar dari kejauhan.

    Dari atas tangga terdengar suara seseorang yang menjerit meminta tolong. Ia terdengar begitu kesakitan. Aku semakin merasakan perasaan yang tak enak. Firasat seakan mengatakan bila sesuatu yang mengerikan kini sedang terjadi.

    Seketika ku melangkahkan kakiku menaiki tangga. Ku benar-benar terkejut. Prof. Higashi kini mulai tergeletak tak berdaya di lantai. Lehernya terkoyak, beberapa potongan dagingnya tampak berceceran di lantai, ususnya terburai keluar. Darah yang begitu pekat tampak membanjiri lantai.

    “HEI, APA YANG KALIAN LAKUKAN!”

    Akupun mulai mengambil pentungan kayu yang ada di samping pinggangku. Akupun langsung memberikan pukulan kepada mererka. Tak ada reaksi apapun.

    Lalu seketika ia pun mendorongku. Begitu kuat, dengan mudahnya aku terlempar jauh. Badanku benar-benar merasa kesakitan.

    Aku mulai mengamati sosok yang ada di depanku. Kondisi mereka teramat mengerikan, tubuhnya sudahlah terkelupas, tiap dagingnya telah hancur membusuk. Mereka adalah korban virus elboa yang baru datang kemarin. Aku tak percaya dengan mataku sendiri. Sosok kedua orang yang harusnya mati justru bergerak hidup. Keduanya mencoba mengoyak tubuh Nabila yang kini sudah tak bernyawa. Giginya tampak terus mencoba mencabik liar seperti makhluk yang lapar.

    Tiba-tiba saja salah satu dari mereka mendekati. Ku tak bisa mengerakkan kakiku lagi. Seakan kaki ku sudahlah membatu. Keringat dingin terus mengucur dari tubuhku. Detak jantung semakin bisa kurasakan semakin kuat tak menentu.

    Aku pun mulai memaksa kaki ku berdiri dengan dibantu tembok di belakang, lalu ku coba melangkah pergi dari ruang . Namun seketika saja ia Iapun melompat tinggi lalu ia mencengkeramku dengan erat. Lalu dengan liar ia langsung menggigit leherku dengan begitu kuatnya.

    “Aaaakhhh!!!”

    Aku menjerit. Aku merasakan sakit yang luar biasa.

    Dari jauh tampak sebuah pisau bedah yang masih tergeletak. Segera saja ku raih lalu ku tantapkan dengan kuat dan sekuat tenaga. Ku terus saja mencabut dan menusuk lehernya berulang kali. Darahnya sedikit-sedikit mencuat ke tubuhku. Namun tetap saja gigitannya tak mau lepas dan justru semakin kuat.

    Lalu ku kepalkan tanganku dan ku hantamkan pada wajahnya. Iapun mulai menjauh dan melepaskan gigitannya. Namun ia masih berdiri, sekejap saja tongkat kayu dilantai dan langsung memukul ke wajahnya. Iapun langsung mundur dan terjatuh. Aku terus memukulnya berkali-kali.

    Aku tak puas, lalu ku mulai merobek dadanya membuat tiap tulang rusuknya terlihat jelasnya. Lalu ku mulai berganti ke arah perutnya. Pisau yang teramat tajam pun langsung menembus kulitnya. Ku mulai merobek dengan kasar. Tiap organ tubuhnya kini terlihat jelas. Tampak beberapa ususnpun mulai terburai keluar. Ku terus menghujam pisau itu berkali kali ke tubuhnya. Seketika saja ia mencoba berdiri, namun ku benar-benar tak memberinya kesempatan. Aku langsung mengambil balok besi cukup besar di dekatku, lalu kupukul langsung ke kepalanya. Begitu keras, hingga suara pukulan pun begitu terdengar jelas di telinga.

    “MATI KAU SIALAN!!!”

    Ku memakinya. Ku pukul ia dengan semua amarahku. Pukulan itu teramat kuat membuat cipratan darah mulai mencapai bajuku. Ku terus memukulnya, lagi dan lagi hingga membuat kepalanya benar-benar hancur. Lalu pisaupun langsung ku arahkan ke lehernya. Sebuah tebasan yang begitu cepat membuat kepalanya putus seketika.

    Tubuhnya sudah hancur bersama dengan daging tubuhnya yang sudah rusak. Tampak ususnya yang sudah hancur dan beberapa daging sudah berjatuhan ke tanah. Begitu pula dengan paru-parunya yang tetap bernafas kini mulai terhenti. Seketika saja ku sadari ia sudah tak bergerak lagi.

    Kurasakan nafasku mulai terputus putus, berulang kali ku menarik nafasku. Semua membuatku merasa begitu lelah, namun ku tak boleh berdiam saja di sini. Aku harus menyembunyikan tubuh mayat ini.

    Aku pun mulai menyeretnya dan mulai mendekati sebuah ruangan.Tanganku mulai meraih engesel pintu dan membuka pintu. Ku mulai memasukkannya ke dalam sebuah ruangan. Seketika ku dengar suara benda terjatuh dari dalam ruangan.

    “Si-siapa itu!”

    “i-ini aku, Nabila.” ucapnya lirih.

    Tatapanku agak samar karena ruangan agak gelap namun perlahan ku bisa mengenali sosoknya di sudut ruangan. Ia adalah Nabila, seseorang yang cukup ku kenal lama. Aku mulai memperhatikan dirinya. Bajunya tampak sedikit robek dan beberapa bagian sudahlah diwarnai dengan merah darah. Luka pun tampak terlihat di beberapa bagian tubuhnya.

    “Nabila, apa yang terjadi dengan profesor, lalu apa yang sedang terjadi saat ini?”

    “Aku juga tidak tahu” ucap Nabila lirih. “Saat itu tubuh mayat orang yang terkena virus itu bergerak kecil. Aku pun langung memberitahukan kepada dokter, namun seketika mereka justru bangkit dan menyerang kami. Beruntung ku bisa melarikan diri dan bersembunyi di sini.”

    Aku pun terdiam. Kata-kata Nabila begitu sulit dipercaya. Kini ku mulai tak percaya dengan mata kepalaku sendiri.Bukankah itu begitu mustahil? Harusnya mereka sudah tak bernyawa. Harusnya mereka sudah mati lantaran penyakit yang di alaminya, namun kenapa mereka justru masih hidup. Apakah memang benar yang dikatakan Nabila jika virus itu yang bisa membuat mereka hidup kembali?

    Kini ku alihkan pandangan pada ruangan ini. Semua tampak agak gelap. Hanya cahaya lampu dari sela-sela pintu menerangi ruangan. Aku pun ikut terduduk di lantai. Rasa dingin kini semakin terasa menembus kulit-kulitku. Nyala AC membuat kulitku semakin menggigil. Rasa sakit pun terasa di leherku. Namun semua tak sebanding dengan apa yang baru ku alami. Aku diam terpaku tak percaya dengan apa yang terjadi.

    Kini ku mulai melihat di balik pintu, ku bisa melihat sosok dokter yang ada balik pintu. Ia sudah tidaklah bernyawa. Di sana ia tengah dikelilingi orang-orang yang mulai menggerogoti tubuhnya.

    “Hei, Nabila bagaimana kita harus keluar dari sini.” Ucapku sembari melihat ke arah Nabila.

    “Aku tak mau, aku benar-benar takut. Kita jelas tak mampu berbuat apa-apa. Mungkin kita harus menunggu di sini sampai mereka menghabisi kita!"

    “Tapi, apa yang harus kita lakukan? Menunggu mereka memakan kita di sini?”

    Seketika Nabila pun terdiam, tak menjawab sepatah kata pun. Kulihat ia hanya duduk lalu menundukkan wajahnya. Tampak kakinya bergetar ketakutan sembari merapatkan lututnya ke dada.

    “Walau bagaimana pun juga hanya ada satu jalan kita bisa keluar dari semua masalah ini. Kita harus pergi dari tempat ini.”

    “Lalu bagaimana caranya?”

    “Sekarang makhluk itu sedang memangsa profesor, kita manfaatkan kesempatan itu. Saat mereka lengah, kita menuju lift yang ada di dekat kita. Lalu kitapun bisa melarikan diri dengan aman.

    Ia awalnya sedikit ragu, namun seketika ia mulai mengangguk, tanda setuju.

    Akupun mulai membuka pintu secara perlahan. Ku tak boleh mengalihkan perhatian mereka. Kami berjlaan mengendap-endap. Begitu terhati-hati.

    Kini kami mulai mendekati lift di depan kami. Tiap pintu terlihat di tiap sisi ruangan seakan seperti lorong yang panjang.

    Seketika dari salah satu pintu ruangan muncul mereka yang mencoba ingin memakan kami. Aku berhasil menghindar, Namun sayangnya ia justru berhasil menangkap dan mencengkeram tubuh Nabila.

    “To-tolong, Ryuga!!”

    Ku mendengar Nabila meminta tolong kepadaku, namun aku justru terdiam. Entah kenapa aku terdiam. Ia mulai mengangkat tangannya untukku. Ia benar-benar membutuhkanku. Namun mengapa diriku sendiri yang justru diam begitu saja.

    “Tolong!” ucap Nabila lagi.

    Saat makhluk itu mulai memakannya aku merasakan perasaan berbeda. Bukan sebuah perasaan khawatir, aku justru tersenyum. Hati kecilku malah merasa bahagia saat makhluk itu mulai menyerang dan mencabik dirinya.

    “Cepat, Ryuga! tolong aku ...”

    “Haha, jadi kau mengharapkanku!” ucapku memotong ucapannya dengan agak tertawa.

    Seketika Nabila bingung, baik dengan sikapku ataupun dengan kediamanku. Ia seakan melihatku dengan cara yang berbeda. Ekspresinya terlihat takut namun begitu menyenangkan bagiku.

    “Ryuga, ke-kenapa kamu diam saja! Kumohon bantu aku!” ucapnya lirih.

    “Tidak, aku takkan pernah menolongmu. Tapi ini semua adalah salahmu, mengapa kau dulu menolak kebaikanku. Aku cinta padamu. Padalah cintaku itu tulus, tapi kenapa kau mengabaikannya. Inilah saatnya ku membalas semua rara sakit itu padaku. Ku sudah tak membutuhkanmu. Jauh lebih baik bila kau MATI.”

    Kini ia terkejut akan jawabanku. Namun aku hanya tersenyum melihatnya.

    Kulihat ia yang mengerang kesakitan membuatku turut ingin menjerit bahagia. Sebuah pemandangan yang luar biasa. Aku terus membuka mataku lebar-lebar saat tiap inchi dagingnya dimakan, digigit, ditarik hingga merobek tubuhnya. Ia terus meronta-ronta. Sebuah pemandangan liar yang benar-benar takkan pernah bisa tergantikan kebahagiannya dengan apapun juga.

    Seketika saja ku lihat ia mulai melemah. Tangannya yang mencoba meraihku kini terjatuh. Ku sadari Nabila sudah mati. Ya sudah, toh aku sudah tak membutuhkannya lagi. Aku masih bisa mencari gadis yang lebih cantik darimu.

    Ku mulai merlirik ke belakang. Ku melihat salah satu dari mereka mencengkram leherku. Lalu tiba-tiba saja bermunculan satu persatu orang yang kurasa sudah mati. Perlahan mereka kembali mendekat begitu juga dengan Nabila yang tubuhnya sudahlah hancur. Ia berjalan dengan usus yang sudah terburai jatuh. Nafas kini semakin sesak. Terasa berat dan teramat sulit bernafas.

    Kini ku sudah di depan lift. Ku terus menekan tombol berkali kali. Entah mengapa semua terasa begitu lama.

    Suasana semakin ramai, bukan lantaran seseorang yang ingin melarikan diri sepertiku. Melainkan kumpulan makhluk yang tubuhnya sudah hancur berjalan mencariku. Tampak pula dari kejauhan Profesor Higashi berjalan mendekat. Ia terus berjalan sembari membawa tubuhnya yang terkoyak. Sesekali tangan-tangan itu terus mengarah mencoba mencariku. Mereka seakan lapar ingin memakan dagingku, begitu haus ingin meminum darahku.

    “Ayo cepat, cepat...” ucapku dalam batin.

    Seketika pintu pun terbuka, aku pun mulai masuk ke dalam. Langsung saja ku tekan tombol lift agar turun di lantai terbawah. Kedua sisi pintu pun mulai tertutup.

    Namun tiba-tiba salah satu dari mereka sudah di depan lift. Aku teramat terkejut. Pintu pun langsung terbuka kembali. Lalu perlahan satu persatu dari mereka mulai memasuki pintu.

    “PERGI DARI SINI DASAR MAKHLUK SIAL!!!”

    Aku terus mendorongnya namun sia-sia karena jumlah mereka terlalu banyak. Kini semua mulai berganti dengan rasa sakit di seluruh tubuhku. Terasa dicabik-cabik. Aku menjerit, namun tak ada yang menolongku. Ku terus melawan, namun mereka terus saja mencabik tubuhku.

    Seketika rasa sakit berganti dengan dingin. Suara terdengar kini terdengar sunyi,

    Semua pun menjadi gelap...
     
    Last edited: Nov 27, 2014
  2. Ramasinta Tukang Iklan

  3. orange_doughnut M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Dec 28, 2013
    Messages:
    1,738
    Trophy Points:
    57
    Ratings:
    +427 / -0
    oh, lumayan :top:

    kenapa virus ebola bisa jadi zombie virus gitu :haha:
    tapi sampah banget nih mc, ninggalin ceweknya. :lempar:
     
  4. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,310
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +422 / -0
    Ya, setidaknya sekali2 buat cerita yang rada gelap :ogngacir:
    yang penting MCnya pun ikut mati:ogngacir:
     
  5. Fairyfly MODERATOR

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,797
    Trophy Points:
    257
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,466 / -133
    NTR :terharu: NTR is just so damn good :mimisan: sama seperti kisahnya merpy, ririn, n sherlock :terharu:

    kesan pertama : mampus luh MC, ditolak :lol: langsung ngakak pas adegan itu :lol:

    dari mereka, jadi ia? erm, ini satu orang ato banyak :ngacir:

    kesan kedua : Nabila ama prof lagi beduaan ***** keknya, terus digerebek ama para jojo :lol:

    dari kalimat ini aku asumsikan Nabila udah wafat, tapi dibawahnya kok :iii:

    Nabila :shock1: kamu dapet phoenix down dari siapa :takut:

    kesan 3 : wogh, NTR to the max :XD:

    inti ceritanya lumayan kocak seru :XD: sayangnya penulisannya perlu dibenahi lagi supaya lebih dramatis :hmm:

    and to all, bacanya mending sambil dengerin ini :lalala:

    [video=youtube;0N1_0SUGlDQ]https://www.youtube.com/watch?v=0N1_0SUGlDQ[/video]

    :nikmat:
     
  6. noprirf M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,310
    Trophy Points:
    127
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +422 / -0
    makasih udah mau mampir ke sini ya :lalala:
    keknya memang deh butuh banyak perbaikan :hmm: nanti ke depannya ane koreksi lagi ceritanya, :hmm:
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.