1. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Jangan rindu, ini berat, kau tak akan kuat, biar aku saja. Cek info libur
    Dismiss Notice
  4. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!
  5. Suka baca buku? Tuangkan pengalaman baca kamu dalam Event Review Buku, Kuy~ Cek infonya di sini yaa!
  6. Mau kasih kado lebaran buat yang terkasih? Yuk ikuti event Kado Hari Raya Untuk Perempuan! Ada gamis & khimar gratis buat kado kamu loh~
  7. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  8. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Other Berkelana ke Negeri-negeri Stan

Discussion in 'Luar Negeri' started by aqua00, May 10, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Moderator, saia mau menaruh cerita-cerita Agustinus Wibowo, petualang Indonesia yang berkeliling di negara-negara asia tengah.

    Selamat membaca

    http://travel.kompas.com/petualang/1

    kalau berkenan :grp:
     
    Last edited: May 10, 2011
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Kamis, 6 Maret 2008 | 06:51 WIB


    Visa Oh Visa

    Empat bulan sudah saya mengarungi Afghanistan, hidup dalam kegelapgulitaan negeri yang masih babak belur dihajar perang berkepanjangan, melintasi gunung-gunung pasir dan padang berdebu, mencicip teh hangat di pagi hari bersama pria-pria bersurban, dan wajah perempuan hampir sama sekali lenyap dalam benak saya. Empat bulan yang penuh petualangan, impian, penderitaan, dan kebahagiaan.

    Sudah tiba saatnya untuk meneruskan perjalanan ke bagian lain dunia ini, ke negeri-negeri tersembunyi di pedalaman Asia Tengah. Ada Tajikistan, negaranya orang Tajik. Kyrgyzstan, negaranya orang Kirghiz. Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, masing-masing punyanya orang Kazakh, Uzbek, dan Turkmen. Semua 'stan' ini satu per satu bermunculan di atas peta dunia tahun 1991, mengiring buyarnya adikuasa Uni Soviet. Semuanya adalah negara yang tersembunyi di tengah benua raksasa Eurasia, terkunci bumi, jauh dari lautan mana pun. Misterius, unik, eksotik.

    Sebagai bekas Uni Soviet yang terkenal dengan bengisnya birokrasi, visa untuk masuk ke negara-negara itu tidak mudah. Apalagi untuk paspor Indonesia. Tajikistan adalah pintu masuk paling gampang bagi orang Indonesia, karena negara ini sudah memberlakukan visa on arrival untuk kedatangan dengan pesawat terbang. Tetapi, karena saya menempuh jalan darat dari Kabul hingga Dushanbe, saya harus bikin visa dulu di Kabul.

    Kedutaan Tajikistan di Kabul, tersembunyi di barisan rumah-rumah di kompleks Wazir Akbar Khan. Kantornya tidak istimewa, seperti rumah biasa. Kalau bukan karena kibaran bendera mungil, saya juga tidak akan tahu kalau itu kantor kedutaan. Benderanya sudah kusam, seperti sudah bertahun-tahun tidak diganti. Kedutaan lagi kosong, kata tentara penjaga. Semua orang sedang berlibur pulang ke Tajikistan selama dua minggu, dari duta besar sampai staf yang paling kecil. Semua pengajuan visa harus menunggu sampai konsul datang kembali.

    Saya baru tahu ada kedutaan seperti ini, yang bisa buka tutup sekehendak hati. Tetapi yang bikin saya cemas, visa Afghanistan saya sudah tidak cukup untuk menunggu dua minggu lagi. Gawat!

    Harapan terakhir saya cuma KBRI. Hanya orang-orang dari Kedutaan KBRI-lah yang bisa menolong saya. Bapak Kasim dari bagian konsuler serta merta membuat surat pengantar untuk visa saya, sekaligus mengantar saya dengan mobil kedutaan. Bukan ke Kedutaan Tajik tetapi ke wisma duta besar Tajikistan. Sama dengan di kantor kedutaannya, bendera kecil dan kusam berkibar. Salah satu ikatannya lepas, sehingga bendera itu berkibar terbalik. Apakah memang begitu cara orang Tajikistan menghormati benderanya sendiri, tanya saya dalam hati.

    Karena kali ini yang datang adalah sebuah mobil diplomatik, Pak Kasim tanpa kesulitan menembus penjagaan di pintu gerbang. Saya disuruh tunggu di dalam mobil saja.

    Penuh cemas saya menanti. Kalau gagal mendapatkan visa ini, berarti saya akan tambah masalah di Afghanistan, karena visa turis saya berakhir tak lebih dari empat hari lagi. Detik-detik berlalu dengan lambat. Sepuluh menit berselang, baru Pak Kasim keluar lagi.

    "Jangan kuatir, kamu bisa dapat visa. Kamu mau yang mana, yang murah atau yang mahal? Kalau mau tunggu 3 hari, 150 dolar. Dua hari tunggu, 200 dolar. Hari ini juga dapat visa, 250 dolar."

    Wah, bahkan lebih mahal daripada visa Amerika Serikat. Saya menyerahkan seratus lima puluh dolar dengan berat sekali. Pak Kasim menyodorkan formulir yang sudah diisinya sendiri dengan lengkap. Saya diminta tanda tangan saja.

    "Pak, jangan lupa, minta dia membubuhkan GBAO permit."
    "GBAO? Apa itu?" tanya Pak Kasim.
    "Itu provinsi di Tajikistan. Saya mau ke sana, dan semua orang harus punya permit khusus." Pak Kasim kembali masuk ke rumah duta besar.
    Lima menit kemudian dia keluar lagi.
    "Berita buruk. Orangnya minta tambah lagi 100 dolar. Saya sudah menawar sekuat tenaga, Gus. Ini sudah yang paling murah."

    Begitu sakit rasanya mengeluarkan lagi selembar seratus dolar dari dompet saya. Pak Kasim lari-lari lagi masuk ke rumah duta besar. Tak sampai lima menit, dia sudah keluar lagi bersama paspor saya. Stiker visa Tajikistan sudah tertempel di paspor. Hijau dan cantik. Ada hologram lambang negara Tajikistan yang mirip mahkota di tengah gunung salju. Yang jelek hanya tulisan tangannya. GBAO Permit, yang seratus dolar harganya, ternyata cuma tulisan empat huruf bahasa Rusia di atas visa : ? ? ?.

    “Sudah, kamu bersyukur saja," kata Pak Kasim.

    Semua orang penting di kedutaan Tajikistan memang sudah pulang, yang tersisa cuma satu orang diplomat. Pak Kasim bercerita tentang tawar-menawar harga visa yang alot sekali, seperti membeli barang di pasar saja. Diplomat yang tadi ditemui hanya bercelana pendek. Segepok visa sudah tersedia di kantong celananya. Tinggal ambil dan tempel.

    "Tidak pernah saya lihat ada kedutaan seperti ini," kata Pak Kasim, yang juga bertugas di bagian visa Kedutaan Indonesia.
    "Kamu masih beruntung. Tadi ada pebisnis Afghan yang juga kena palak. Lima ratus dolar hanya untuk visa satu bulan."

    Dua ratus lima puluh dolar untuk stiker dengan coret-coretan tangan di tengah paspor saya.

    Inilah harga karcis masuk saya ke Tajikistan.



    (Bersambung)
     
  4. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Jumat, 7 Maret 2008 | 07:47 WIB

    Selamat Datang di Tajikistan

    Kota terakhir Afghanistan adalah Shir Khan Bandar, di tepian sungai lebar bernama Amu Darya. Sungai ini ditetapkan sebagai batas antara Afghanistan dengan Kekaisaran Rusia pada akhir abad ke-19. Sekarang menjadi batas negara Afghanistan dengan Tajikistan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.

    Bandar dalam bahasa Persia artinya pelabuhan. Tetapi jangan bayangkan Shir Khan Bandar sebagai kota pelabuhan yang sibuk dengan berbagai macam aktivitas perdagangan. Yang ada hanya gedung-gedung bolong seperti rumah hantu. Gedung itu ternyata asrama tentara perbatasan Afghanistan. Debu menyelimuti jalanan. Ada barisan reruntuhan sejumlah rumah di tengah padang pasir luas. Ada sekolah yang tak berdaun pintu, tak berkaca jendela, dan tak beratap. Anak-anak belajar dengan bersila di atas lantai dingin. Di Afghanistan dunia adalah milik laki-laki. Sama sekali tak nampak perempuan di jalan, kecuali dua sosok tubuh dibalut burqa biru, dari ujung mata sampai ujung kaki.

    Saya menghela napas lega. Di seberang sana Tajikistan sudah tampak di pelupuk mata. Di tengah bulan Ramadan ini, keamanan di Kabul justru semakin gawat. Bulan Ramadan malah jadi musim bom, karena Taliban mendorong pengikutnya untuk 'berjihad' di bulan suci. Pernah suatu kali bom meledak tak lebih dari lima puluh meter dari tempat saya berdiri, di depan kantor kementrian dalam negeri. Yang tewas bukan hanya pegawai kementrian, tetapi juga perempuan dan anak-anak.

    Kengerian perang Afghanistan benar-benar terlupakan di Shir Khan Bandar yang sepi ini. Tak ada orang lalu lalang. Tak ada toko dan pasar. Yang jelas, tak ada bom. Untuk apa meledakkan tempat yang memang sudah rusak dan terlupakan seperti ini? Tak ada warung makanan yang buka. Saya tidak wajib berpuasa, apalagi sebagai musafir. Afghanistan adalah negara yang sangat konservatif, tetapi bukan berarti tidak bersahabat. Mehman navaz, atau memberikan yang terbaik bagi tamu, adalah adat Afghan yang selalu dibangga-banggakan. Pemilik penginapan mengajak saya berbuka puasa bersama. Palao, nasi lemak dengan irisan daging, menjadi santapan terakhir saya di Afghanistan.

    "Jangan kuatir. Di Tajikistan sana, kamu masih bisa makan palao," kata si pemilik penginapan, seakan membaca pikiran saya.

    Keesokan paginya, saya berjalan kaki ke kantor imigrasi Afghan. Tas bawaan saya hanya dilirik sekilas, paspor saya dicap, dan saya dipersilahkan menuju ke bandar, pelabuhan. Sebenarnya ada jembatan yang menghubungkan Shir Khan Bandar dengan Tajikistan, dibangun oleh Amerika Serikat, tetapi masih belum diresmikan. Sekarang yang mau ke Tajikistan harus naik kapal. Karcisnya 10 dolar, hanya untuk menyeberang sungai ini. Bisnis internasional yang lumayan juga.

    Beberapa orang mahasiswa Afghan yang baru saja mendapat beasiswa di Kyrgyzstan, juga ikut menyeberang ke Tajikistan.
    "Di Afghanistan tidak ada kedutaan Kyrgyzstan, jadi kita harus ke Tajikistan dulu untuk bikin visa," kata Muhammad, 20, pemuda etnis Uzbek dari kota Mazar Sharif.

    Mereka adalah sekelompok pemuda berjenggot lebat yang kemarin malam saya lihat datang ke penginapan dengan memakai jubah panjang-panjang dan peci kecil khas Afghan. Sekarang kedelapan pemuda ini sudah disulap menjadi pria-pria klimis dengan dasi dan jas mahal.

    "Ke mana jubah-jubah yang kemarin?" tanya saya.
    "Kata bapak kalau mau ke Tajikistan harus pakai baju seperti ini. Orang sana tak suka melihat orang Afghan pakai jubah," kata pemuda itu polos.

    Mesin kapal bergetar dahsyat. Kapal kecil ini perlahan-lahan meninggalkan pelabuhan Afghanistan, menuju negeri Tajikistan di seberang sana. Sekarang kami berada di tengah-tengah sungai coklat yang mengalir deras ini. Nama Amu Darya memang sudah terikat bersama-sama dengan peradaban Asia Tengah, bahkan sejak zamannya Iskandar yang Agung berabad-abad sebelum Masehi. Sekarang, sungai ini menjadi pemisah negeri-negeri di sini, dan menjadi penentu takdir bagi manusia yang terletak di sisi-sisi yang berbeda.

    Saya begitu takjub melihat petugas imigrasi wanita di Tajikistan. Gadis ini hidungnya mancung, matanya besar, dan rambut pirangnya tergerai bebas. Suaranya melengking tegas. Saya sudah tiba di sebuah dunia yang sama sekali berbeda dengan Afghanistan di seberang sungai sana. Tengok saja pakaian gadis ini. Seragam lengan pendek dengan rok setinggi dengkul. Sedangkan di seberang sana, perempuan Afghan harus membungkus dirinya rapat-rapat dengan burqa biru dan putih, hingga mata pun tak terlihat, itu pun dikurung di dalam rumah pagi siang malam.

    "Di Tajikistan, tak ada burqa. Perempuan hidup bebas," kata petugas itu tersenyum, sambil memeriksa dengan teliti semua barang bawaan saya.

    Datang dari Afghanistan, otomatis masuk daftar orang yang dicurigai. Afghanistan, tak salah lagi, adalah penghasil candu nomer satu di dunia. Semua barang, mulai dari tas, buku-buku, sampai baju yang paling dalam, semua digeledah. Kemudian dicocokkan satu per satu dengan daftar isian deklarasi yang saya serahkan. Untuk checking ini itu, saya masih harus bayar lima dolar kalau mau mendapat stempel. Itu pun setelah tawar-menawar dari sepuluh dolar. Tidak ada tanda terima pula.

    Korupsi di negara-negara Asia Tengah begitu tersohornya, yang membuat saya tiba-tiba teringat negara saya sendiri.

    Taksi sudah menunggu di luar pos perbatasan, siap mengantar ke Dushanbe, ibu kota Tajikistan. Saya berbagi ongkos taksi dengan beberapa mahasiswa Afghan itu. Sepuluh dolar per orang. Mahal juga.

    "Brat, sekarang semua mahal. Satu liter bensin tiga Somoni," kata supir taksi dalam bahasa Rusia. Ini adalah percakapan yang kemudian akan menjadi keseharian saya di negeri ini. Harga bensin selalu disebut-sebut setiap saat.

    Tajikistan adalah kejutan setelah Afghanistan. Saya seperti dilempar oleh mesin waktu ke sebuah zaman modern. Jalan beraspal berkelok-kelok naik turun perbukitan. Pria-pria berkemeja dan bercelana hitam mengenakan topi yang juga berwarna hitam, mirip topinya orang Uzbek. Tak ada jubah gombor macam di Afghanistan. Wanita-wanita desa juga mewarnai jalan. Semuanya berdaster warna-warni, kepalanya dibalut kerpus dan kerudung. Tak ada burqa yang membuat semua wanita jadi invisible seperti di Afghan sana. Tak ada pula cador hitam yang hanya menyisakan sepasang mata bersorot tajam. Gadis-gadis desa malah banyak yang memakai celana jeans ketat.

    Seorang nenek tua duduk di atas kereta keledai, tersenyum sambil melambai-lambai ke arah mobil yang kami tumpangi.

    "Di Afghanistan perempuan tidak boleh tertawa kan?" kata supir taksi setengah mengejek kepada para mahasiswa Afghan yang disambung dengan cekikikan.

    "Gadis Tajikistan memang cantik-cantik," cetus salah seorang penumpang Afghan dari belakang. Supir taksi menyambung dengan mendendangkan lagu-lagu Rusia dan Tajik.

    Jalan berkelok-kelok naik turun. Tajikistan memang negara pegunungan. Slogan-slogan berhuruf Rusia bertebaran di mana-mana. Bahasa Tajik masih saudara dekat dengan bahasa Dari dan bahasa Persia, bahasa nasional di Afghanistan dan Iran. Saya perlahan-lahan mengeja huruf-huruf Rusia itu, dan tiba-tiba kata-kata yang sudah akrab muncul di benak saya. "Rohi Safed", berarti Selamat Jalan, tertulis di sudut-sudut jalan. "Xus Amaded", Selamat Datang. "Ob barai Hayot", air untuk kehidupan, demikian pesan Pak Presiden Imomali. Setelah empat jam perjalanan, saya sampai di Dushanbe.

    Saya sudah tiba di dunia lain dari seberang sungai.


    (Bersambung)
     
  5. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Senin, 10 Maret 2008 | 07:44 WIB

    Dushanbe, di Bawah Kemilau Somoni
    Dushanbe, dalam bahasa Tajik berarti hari Senin. Dinamai demikian karena dulunya di kota ini, yang seratus tahun lalu masih berupa desa mungil, ada pasar mingguan setiap hari Senin. Untuk menghindari kerancuan, orang Tajik menambahkan kata ruz, artinya hari, di depan kata dushanbe, jadi ruzi dushanbe, untuk menyebut hari Senin.

    Dushanbe menjadi ibu kota Tajikistan ketika negara bagian ini dibentuk pada tahun 1929, dipisahkan dari Uzbekistan. Kishlak, desa kecil itu, kini berubah menjadi kota yang rapi. Suasana Dushanbe hari ini masih sangat lekat dengan masa lalunya sebagai bagian dari kejayaan Uni Soviet.

    Jalan utama kota ini hanya satu, Jalan Rudaki, diambil dari nama pujangga Persia yang lahir di Penjikent, sekarang menjadi bagian wilayah Tajikistan. Jalan Rudaki panjang dan teduh. Bagian tengah jalan ini adalah taman tempat orang berjalan-jalan, duduk, dan membaca. Gedung-gedungnya semua berbentuk sama, balok kotak-kotak berwarna jingga. Sebuah keseragaman dan kesamarasaan yang dibawa oleh Uni Soviet, mengharmonikan detak jantung dan denyut nadi orang-orang pegunungan ini dengan para pemimpin merah di Moskwa sana.

    Jalan-jalan di sini nyaman sekali. Tidak banyak mobil lalu lalang. Orang pun tidak ramai seperti di Kabul sana. Semua berpakaian rapi dan trendy. Dibanding Afghanistan, kehidupan di Tajikistan seperti langit dan bumi. Perbedaannya sejauh Timur dari Barat.

    Seragam sekolah murid Tajikistan, mulai dari sekolah dasar sampai mahasiswa universitas, sangat eksklusif, pakai dasi dan kemeja bak direktur. Gadis-gadis etnis Rusia yang tinggi-tinggi dengan rambut pirangnya tergerai, berjalan dengan sepatu boot hitam yang berirama tak tik tuk di atas trotoar.

    Melihat kota Dushanbe ini, saya jadi susah percaya akan data yang saya baca tentang Tajikistan. Sembilan puluh tiga persen negara ini adalah gunung-gunung tinggi, yang artinya hanya tujuh persen wilayahnya yang bisa dibudidayakan. Setelah merdeka dari Uni Soviet, negeri ini langsung jatuh ke perang saudara, dari tahun 1992 hingga 1997. Dushanbe berdarah. Hingga sekarang ekonomi negara ini masih babak belur. Tajikistan adalah negara Asia Tengah dengan luas wilayah terkecil, sekaligus menjadi yang termiskin. Berdasarkan data tahun 2005, pendapatan penduduk rata-rata hanya dua puluh dolar per bulan, dan uang pensiun rata-rata hanya lima dolar per bulan. Sebagian besar penduduk tidak punya pekerjaan.

    Tetapi semua ini tidak saya lihat di Dushanbe. Walaupun kota ini kecil dan tidak ada istimewanya apa-apa selain nyaman dan tenang, tidak juga nampak gurat-gurat penderitaan dan kemiskinan. Tidak ada bangunan-banguan rusak atau tembok bolong-bolong karena terjangan peluru seperti di Kabul. Tidak ada pengemis. Yang ada hanya taman hijau, air mancur yang menyegarkan, dan orang-orang yang sibuk menikmati kebab dan bir.

    Walaupun sekarang bulan Ramadan dan orang Tajik mayoritas Muslim, pengaruh beberapa dekade di bawah panji-panji komunisme telah melunturkan nilai-nilai religius. Bahkan di siang hari bolong pun, banyak yang minum vodka di jalan.

    Tajikistan juga mengembalikan memori saya akan sesuatu yang sudah lama sekali tidak pernah saya lihat. Patung. Di Pakistan saya sama sekali tidak ingat ada patung. Di Afghanistan saya juga tidak pernah lihat. Tetapi memasuki Tajikistan, semua pahlawan bangsa, dari raja hingga pujangga, diabadikan dalam bentuk patung. Di mana-mana. Di depan sekolah, di depan museum, di depan kantor. Yang paling besar tentunya patung Ismail Somoni, berdiri gagah membawa tongkat matahari. Orang Dushanbe bilang itu tongkat pengusir nyamuk. Tingginya 11 meter, dinaungi tudung raksasa dan mahkota dari emas. Patung ini dibangun untuk memperingati 1.100 tahun berdirinya dinasti Samani.

    Inilah kejayaan masa lalu yang berusaha dilekatkan ke masa kini negeri kecil ini. Lambang negara Tajikistan menggunakan mahkota yang sama seperti punya Ismail Somoni. Mata uang Tajikistan pun dinamai Somoni, setelah mata uang Rubel Tajik terpuruk menjadi lembaran kertas tak berharga.

    Saya berkenalan dengan Alyourov Bakhriddin, 20 tahun, seorang mahasiswa etnis Uzbek dari kota Istaravshan yang belajar kedokteran di Dushanbe, ketika dia sedang duduk membaca buku di sebuah gang kecil. Saya sangat mengagumi pakaiannya yang sangat rapi untuk ukuran mahasiswa. Kemeja putih bersih. Dasi biru donker. Jas hitam, celana panjang gelap pekat. Sepatu hitam mengkilat dengan ujung melengkung ke atas.

    "Ini memang seragam sekolah," kata Bakhriddin, "Penampilan memang penting di sini."
    Walaupun seragamnya memang jempolan, Bakhriddin pergi ke kampus tanpa membawa buku. Hanya sebuah tas kerja tipis, yang paling banyak muat tiga buku tulis. Pelajar-pelajar lain pun tidak ada yang berberat-berat membawa buku. Harga jas seragam Bakhriddin seratus dolar. Tetapi bukan berarti Bakhriddin orang kaya. Ini adalah seragam wajib yang harus dimiliki. Buku jadi kalah penting dibandingkan jas.

    Bakhriddin mengundang saya menginap di kosnya. Dalam kamar sempit dan sederhana itu, empat orang tinggal bersama. Semuanya etnik Uzbek dan sebagian besar mahasiswa kedokteran. Sore hari, selepas dari kampus, Bakhriddin langsung pergi bekerja hingga keesokan paginya. Pendapatannya tak banyak. Tak cukup untuk membayar uang sekolah sebesar 500 dolar per tahun itu.

    Saya sangat mengagumi semangatnya. Tajikistan memang bukan negara kaya. Orang-orang hidup tak berpunya. Tetapi tak ada pengemis di jalan. Orang punya harga diri yang tinggi untuk tidak meminta belas kasihan.


    (Bersambung)
     
  6. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Selasa, 11 Maret 2008 | 08:18 WIB

    Sejarah Ribuan Tahun

    Di antara semua negara Asia Tengah, bisa dibilang Tajikistan adalah negara yang paling artifisial pembentukannya. Negara ini dipisahkan dari Uzbekistan tahun 1929. Tajikistan dilahirkan dan didefinisikan. Sulit memisahkan antara orang Tajik dan Uzbek. Walaupun secara linguistik, orang Tajik bicara bahasa Persia dan orang Uzbek bicara rumpun bahasa Turki, namun secara kultural kedua etnis ini sudah saling membaur dan mempengaruhi sejak berabad-abad dalam khasanah sejarah Asia Tengah.

    Bahasa Persia pada masa kejayaan Jalan Sutra adalah bahasa pemerintahan. Raja dan petinggi negara semua berbicara bahasa Persia, yang kemudian disebut bahasa Tajik. Raja Turki (Uzbek) pun berbahasa Tajik. Kota Samarkand dan Bukhara yang berkilauan dalam sejarah dunia mayoritas didiami oleh orang-orang yang berbahasa Tajik. Tetapi kedua kota bersejarah ini bukannya masuk wilayah Tajikistan malah menjadi kebanggaan nasional Uzbekistan.

    Uzbekistan berpendapat bahwa penduduk Samarkand dan Bukhara sebenarnya secara genetis adalah orang Uzbek, hanya saja berbahasa Tajik. Tajikistan beranggapan bahwa Uzbekistan telah merampas warisan budaya mereka.

    Apa yang harus terus-menerus diperdebatkan, manakala definisi 'Uzbek' dan 'Tajik' adalah rekaan dan ciptaan ahli etnografis Soviet dari Moskwa? Semua negara 'Stan' satu-persatu bermunculan karena Soviet ingin memecah kekuatan Islam di Asia Tengah. Kini, setelah kelima negara ini merdeka, hubungan satu sama lain tidak pernah mesra. Identitas yang diciptakan oleh bangsa penjajah kini dijadikan fondasi negara. Hubungan Tajikistan dan Uzbekistan selalu penuh hembusan permusuhan, terlepas dari kedekatan sejarah dan budaya.

    Setelah kehilangan Samarkand dan Bukhara yang 'dirampas' oleh Uzbekistan, Tajikistan butuh sebuah sejarah masa lalu sebagai raison d'etre nya sebuah negara merdeka. Wilayah yang sekarang menjadi Tajikistan dulunya adalah dusun-dusun terpencil di pegunungan.

    Seratus tahun lalu siapa yang kenal Dushanbe? Ibu kota Tajikistan ini tak lebih dari sebuah kishlak, desa kecil. Apalagi pegunungan Pamir di timur sana. Begitu terpencil. Begitu terbelakang.

    Tetapi sanggupkah masa kini Tajikistan disejajarkan dengan kebanggaan masa lalunya, kilauan sejarah Persia yang pernah menjadi pusat dunia? Masa lalu yang begitu agung dan gemilang kini harus dipasangkan ke sebuah wilayah teritorial gunung-gunung terpencil yang miskin. Tak ada peninggalan sejarah. Yang ada hanya kebangaan peradaban yang masih harus dipaksakan pengakuannya. Tajikistan melekatkan dirinya dengan Dinasti Somoni, menamakan mata uangnya Somoni dan menaruh patung raksasa Ismail Somoni di ibukotanya. Walaupun sebenarnya, wilayah Tajikistan sekarang cuma desa-desa pinggiran perbatasan dinasti Somoni.

    Di antara yang tersisa di negeri mungil terjepit gunung-gunung tinggi ini adalah kota Istaravshan. Terletak jauh di utara, 280 kilometer dari Dushanbe, melewati puncak-puncak tinggi gunung bersalju. .

    Perjalanan menuju Istaravshan tidak mudah. Puncak Anzob and Ainy tingginya lebih dari 3.700 m dan menjadi lintasan wajib bagi semua kendaraan yang berangkat dari Dushanbe menuju Khojand, kota terbesar kedua di utara. Hanya taksi, truk besar, dan jeep yang bisa lewat sini. Harga angkutan umum paling murah 20 dolar hanya untuk jarak segini. Patokannya bukan jumlah kilometer melainkan jumlah gunung yang harus dilewati. “Tentu saja mahal. Kan lewat dua gunung,” kata supir taksi.

    Mengapa Dushanbe harus memilih lintasan yang begitu susah dan berbahaya, naik turun gunung seperti ini, untuk mencapai kota-kota di utara? Dulu, zaman Uni Soviet, perjalanan ini bisa ditempuh dengan santai lewat kota dataran rendah Samarkand dan Jizzakh. Setelah Uni Soviet bubar dan negeri-negeri Stan bermunculan, orang Tajikistan tidak boleh lagi lewat jalan itu, sebab jalan itu masuk dalam wilayah Uzbekistan. Mau tidak mau republik miskin ini harus memperbaiki jalan naik turun puncak gunung yang berbahaya. Jalan puncak gunung ini tertutup salju di musim dingin. Dari Dushanbe kalau mau ke Khojand di utara, orang cuma punya satu pilihan – terbang.

    Ada orang China di sepanjang jalan. Semuanya bekerja di proyek pembangunan jalan, jembatan, dan terowongan. Ada yang menyetir traktor, ada yang mengukur-ngukur jalan dengan alat, dan ada pula pekerja kasar yang menatah batu-batu besar. Di negara yang angka penganggurannya fantastis ini mengapa para pekerja kasar masih harus didatangkan dari China? "Tajikistan tidak punya cukup teknologi," kata seorang pria Tajik beralasan. Tetapi untuk menatah batu dengan palu pun harus dikerjakan oleh orang asing? Mungkin para kontraktor China tidak percaya dengan kerjaan orang Tajik, atau mungkin gaji buruh China lebih murah.

    Orang Tajik juga sudah terbiasa dengan kehadiran para pekerja dari Tiongkok ini. "Nihao! Nihao! Hao bu hao?" sapa penduduk desa di kaki gunung yang menyapa saya. Anak-anak di dekat pasar juga mengelilingi saya seperti tidak pernah melihat orang asing, mengamati saya lekat-lekat, dan berusaha sebisanya berkomunikasi dengan koleksi kosa kata changchung... changchung, Dzakhie Chan, kong fu, hai yaaa, dan Zhet Li.

    Yang lebih terpelajar datang kepada saya mengajukan pertanyaan kelas tinggi yang membuat saya pening, "Berapa lebarnya jalan tol?" atau "Kapan terowongan selesai dibangun?"

    Puncak Ainy sudah mulai bersalju. Kendaraan-kendaraan merambat pelan-pelan menyusuri jalan yang memanjat berkelok-kelok. Tinggi. Awan tebal menyelimuti puncak. Mobil kami menembus awan. Waktu kecil saya sering bertanya-tanya, ada dunia macam apa di balik awan sana. Di sini, saya menembus awan, yang berwujud titik-titik air dingin di empat penjuru. Tajikistan memang negeri di awan.

    Jalan raya lewat gunung-gunung tinggi ini hampir semuanya dalam keadaan yang mengenaskan. Tajikistan yang miskin masih harus bergantung kepada China untuk memperbaiki infrastruktur mereka. Hampir tak ada produksi dan industri di negeri bergunung-gunung ini.

    Namun di Istaravshan, saya melihat sebuah kebanggaan sebuah negeri mungil. Kebangaan akan kemilau sejarah dari sebuah kota kecil yang konon kabarnya sudah berusia 2.500 tahun.


    (Bersambung)
     
  7. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Rabu, 12 Maret 2008 | 09:05 WIB


    Istaravshan, Masa Lalu dan Masa Kini

    Istaravshan baru saja merayakan hari jadinya ke 2500. Wow, usia kota ini sudah dua setengah milenium. Seperti layaknya kota-kota di Asia Tengah, Istaravshan juga berlomba-lomba merayakan angka jadinya yang ribuan tahun, seakan angka milenia itu menjadi tolok ukur tingginya peradaban.

    Dua ribu lima ratus tahun yang lalu Iskandar Agung dari Makedonia datang menaklukkan negeri ini yang kala itu masih bernama Mug Teppa. Hari penaklukan itu diabadikan sebagai hari jadi Istaravshan. Namun, kedatangan Iskandar Agung yang tersohor tidak serta merta menjadikan kota ini berjaya sepanjang waktu. Istaravshan timbul tenggelam dalam halaman sejarah, kadang terpuruk, bahkan mati suri selama ratusan tahun. Baru pada abad ke-15 orang Persia datang membawa sinar peradaban baru ke wilayah ini. Masjid dan madrasah bermunculan.

    Ketika Istaravshan merayakan 'ulang tahun'-nya yang kedua ribu lima ratus, Tajikistan membangun sebuah gerbang megah di atas bukit gundul Mug Teppa, tempat sang Iskandar Agung pernah berdiri memandangi barisan bukit yang sama gundulnya

    Istaravshan, yang waktu zaman Rusia diganti namanya menjadi Ura Teppa, memang bukan tandingan Bukhara atau Samarkand. Tetapi umur bangunan-bangunan kuno di sini termasuk yang tertua di seluruh penjuru Tajikistan, cukup untuk dibanggakan sebagai khasanah peradaban nasional.
    Namun, kekunoan Istaravshan tidak terlihat dari jalan-jalan kota dan jejeran toko yang berbaris rapi di pinggir jalan beraspal. Kita harus masuk ke gang-gang sempit yang berputar bak labirin untuk menemukan permata Istaravshan yang sebenarnya. Medresseh Abdul Latif Sulton, tersembunyi di jantung kota lama di antara rumah-rumah berwarna coklat kelabu, adalah salah satu kekayaan dari masa lalu itu.

    Madrasah kuno ini masih berfungsi sebagai madrasah, menerima murid-murid agama dari seluruh penjuru negeri. Salah satunya adalah Khursid, 20 tahun, dari kota Isfara. Untuk belajar di sini, biayanya hanya 15 Somoni per bulan, sudah termasuk penginapan. Yang dipelajari bukan hanya ilmu agama dan Bahasa Arab, tetapi juga bahasa Inggis. Katanya, mereka juga akan belajar komputer. Pemimpin madrasah sedang sibuk membuat laboratorium.

    Pelajar madrasah di Istaravshan berpakaian trendy. Celana jeans, kaos berlengan panjang, dan kadang-kadang ditambah topi mungil khas Tajik. Tidak ada model talib ala madrasah Afghanistan yang tidak pernah lepas dari tiga hal – jenggot, surban, dan jubah.

    Di dekat medresseh, juga tersembunyi di tengah labirin kota lama, berdiri masjid kuno Hauz-i-Sangin dari abad kesembilan belas. Saya datang untuk melongok-longok langit-langitnya yang berukir indah. Pintu pekarangannya terkunci.

    Orang Istaravshan memang lebih religius dibanding orang Dushanbe. Di sini juga hidup warga etnis Uzbek, kira-kira 30 persen dari total penduduk. Bahasa Tajik bercampur dengan aksen kental bahasa Uzbek. Bahasa Tajik masih satu keluarga dengan bahasa Persia di Iran dan Afghanistan, tetapi kosa katanya lebih kuno dan tidak banyak mengalami perkembangan sebelum Tajikistan menjadi negara merdeka. Selama di bawah Soviet, bahasa Tajik hanya selevel bahasa daerah. Sekarang setelah menjadi bahasa nasional, kata-kata yang berasal dari bahasa Rusia diganti dengan kata-kata dari bahasa Farsi Iran. Saya kebetulan bisa bahasa Farsi, tetapi saya masih sering susah mendengar logat orang-orang sini karena aksen Uzbeknya yang terlalu kuat.

    Walaupun ada madrasah dan masjid di mana-mana, di bulan suci Ramadan, orang juga bebas makan dan minum di jalan-jalan umum. Pedagang sambusa, pastel khas Asia Tengah berisi daging kambing bersimbah minyak, terus-menerus berteriak memanggil pembeli. Asap kebab memenuhi sudut-sudut pasar, menggoda iman. Jangankan sambusa, kedai kecil yang khusus menjual pivo (bir) dan vodka juga masih ramai dikunjungi peminum. Konsumennya adalah etnis Tajik dan Uzbek, sama-sama Muslim, tetapi sudah berkawan akrab dengan nikmatnya vodka yang ditawarkan bersama komunisme Uni Soviet.

    Tentu saja tidak semua orang seperti itu. Ketika waktu berbuka puasa tiba, di sini disebut itfar, saya diajak sekelompok pria untuk mengakhiri puasa bersama-sama. Salah satunya bernama Islom, artinya 'Islam', pria tambun berumur empat puluhan.
    "Mari, ber-itfar bersama kami," ia menawarkan keramahtamahan yang sudah menjadi budaya orang Tajik.
    Islom bercerita tentang pengalamannya berkunjung ke Bangkok, menyaksikan dahsyatnya pembangunan di sana.
    "Bahkan bandaranya pun lebih besar daripada kota ini!" Membandingkan Bangkok dengan Istaravshan yang tersembunyi dikelilingi gunung tinggi memang sedikit terlalu jauh bermain-main dengan imajinasi.

    Bicara soal puasa dan Ramadan, bagi Islom berpuasa sudah menjadi bagian dari adat dan kebiasaan. Turun-temurun. Di antara semua negara Asia Tengah yang baru merdeka, Tajikistan bisa dikatakan yang paling kuat Islam-nya. Di negara ini pun, umat Muslim yang berpuasa menurut perkiraan Islom hanya 60 persen.

    Adzan terdengar membahana. Islom berkomat-kamit membaca doa, sambil menengadahkan kedua telapak tangannya.
    "Bismillah irrahman irrahim," ia mulai menyobek-nyobek roti nan dan membagikan kepada kelima pria yang duduk mengelilingi meja ini. Makanan yang tersedia di atas meja hanya salad. Saya memuji betapa sederhananya orang Tajikistan dalam ber-itfar.
    "Jangan salah," kata Islom, "menu utama belum muncul."

    Pelayan membawakan senampan besar bola-bola daging yang ukurannya segenggaman tangan, berenang-renang riang di atas bumbu berminyak yang pekat. Makanan yang luar biasa mewah dan sedapnya. Sayang, karena kebanyakan makan salad yang hanya pembuka itu, saya sudah tidak punya ruangan kosong lagi di perut untuk bola-bola daging.
    Sehabis makan, seperti kebiasaan orang Asia Tengah, kami bersama-sama menengadahkan kedua tangan seperti orang berdoa, kemudian meraupkan ke wajah sambil mengucap, "Amin", sebagai tanda syukur kepada Allah.

    Islom mengantarkan saya kembali ke penginapan. Jalanan Istaravshan begitu gelap. Tak ada lampu jalan sama sekali. Yang ada hanya malam yang pekat.
    "Orang-orang Soviet itu tidak memberi lampu jalan sama sekali kepada Istaravshan," keluh Islom.
    Saya jadi teringat sebuah pepatah Afghan, “Jangan menyumpahi gelap, tetapi nyalakan lilin!”
    Visinya akan masa depan segelap jalanan ini. Seperti Tajikistan yang berupaya mengais-ngais masa lalunya, Islom juga terus mengenang kejayaan Uni Soviet. Ketika masa depan tidak lagi terlalu bergairah, hanya masa lalu yang membuat orang bahagia.


    (Bersambung)
     
  8. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Kamis, 13 Maret 2008 | 07:16 WIB

    Menembus Gunung-gunung


    Di antara tempat yang paling terpukul di Tajikistan setelah perang saudara ketika negeri mungil ini baru berdiri, adalah provinsi GBAO, singkatan Gorny Badakhshan Avtomnaya Oblast, Provinsi Otonomi Pegunungan Badakhshan. Dalam bahasa Tajik disebut Viloyati Mukhtori Kuhistoni Badakhshan. Propinsi ini ikut memberontak terhadap Dushanbe dan menyatakan memisahkan diri dari pemerintahan pusat. Dushanbe segera mengisolasi semua jalan menuju GBAO, menyebabkan kelaparan dan kemeleratan di mana-mana. Sebenarnya, tanpa isolasi dari pemerintah Tajikistan sendiri pun, GBAO sudah menjadi salah satu tempat paling terpencil di dunia. Gunung-gunung raksasa berselimut salju dari barisan Pegunungan Pamir sudah mengurung rapat-rapat tempat ini.
    Gunung-gunung itulah yang menyebabkan susahnya transportasi. Dari Dushanbe ke Khorog, ibukota GBAO, jaraknya 560 kilometer, ditempuh dalam waktu sekitar 20 jam dengan jeep yang tangguh. Biayanya 100 Somoni atau 30 dollar, sudah di atas gaji rata-rata bulanan orang Tajikistan.

    Karena harga minyak yang sangat mahal, orang Tajikistan juga harus selalu memutar otak untuk menekan pengeluaran. Mobil pribadi pun bisa berubah menjadi angkutan umum. Saya ikut menumpang dalam sebuah jeep yang dimiliki oleh satu keluarga, terdiri dari seorang ibu tua dan tiga anaknya. Jeep ini bisa muat enam orang, jadi keluarga itu sibuk menyeret dua orang penumpang lagi dari terminal untuk meringankan ongkos perjalanan mereka. Salah satunya adalah saya.

    Bakhtiyor, supir dari jeep ini, sekaligus anak dari ibu tua tadi, melarikan bus dengan riang gembira. Kami berhenti sebentar di pasar untuk membeli sambusa, semacam pastel yang menjadi makanan khas di seluruh negeri Asia Tengah. Tidak seorang pun di mobil ini yang berpuasa, walaupun semuanya mengaku Muslim. Alasannya bukan karena musafir. Bakhtiyor berkata berpuasa sembilan hari di bulan Ramadan sudah cukup, tiga hari di awal, tiga hari di tengah, tiga hari di akhir.
    "Ibu mertuaku puasa. Istriku puasa. Anakku juga puasa. Jadi tidak perlu aku puasa juga. Kalau aku puasa, siapa nanti yang cari uang?"

    Bakhtiyor, sebagai mana orang-orang Tajik di Pegunungan Pamir GBAO, adalah etnis Tajik Pamir yang menganut agama Islam sekte Ismaili. Sekte ini terkenal dengan ajaran-ajarannya yang sangat bebas. Tidak mewajibkan umat untuk berpuasa penuh dan tidak pula pergi naik haji.

    Di bulan suci ini, selain kebanyakan orang tidak berpuasa, korupsi juga jalan terus. Dalam satu jam sejak kami meninggalkan Dushanbe, mobil kami sudah dihentikan lima kali oleh polisi lalu lintas. Bakhtiyor langsung melompat dari kursinya, membawa semua dokumen mobilnya. Ibunya menyelipkan selembar Somoni ke dalam tumpukan dokumen itu. Tidak peduli seberapa lengkapnya surat-surat, menyodorkan uang kepada polisi adalah keharusan. Polisi pertama minta 3 Somoni. Yang kedua 10 Somoni. Uang diram (1 Somoni = 100 diram) sama sekali tak berlaku di sini.

    Polisi di negara-negara Asia Tengah lebih sebagai pembawa masalah daripada pelindung masyarakat. Saya ingat suatu hari saya dicegat dua orang polisi gendut di depan patung Ismail Somoni di Dushanbe. Dengan tersenyum ramah, dia bertanya,
    "Kamu tahu sekarang bulan Ramadan? Ini mohi sharif, bulan suci. Jadi, berbuatlah kebaikan." 'Kebaikan' yang dimaksudnya adalah selembar uang 10 Somoni. Uang untuk orang miskin, katanya.
    Saya mengusap-usap perutnya yang tambun. ‘Orang miskin’ dengan perut sebesar ini? Dia tersipu-sipu malu. Saya balik bercerita tentang kemalangan saya, tentang uang saya yang dicuri di hotel di Dushanbe. Dia sedikit jatuh kasihan.
    "Sudah, 5 Somoni saja."

    Sebagai orang asing, saya punya kebebasan untuk tidak memberi. Setidaknya saya cuma tamu di negara ini, yang tinggal tidak lebih dari satu bulan. Polisi sini tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi tidak demikian halnya dengan Bakhtiyor, yang tidak punya pilihan lain dalam ketidakberdayaannya. Birokrasi yang rumit memang butuh minyak pelumas yang bagus untuk memutar rodanya. Semua butuh duit. Untuk orang asing, masih ada biaya visa (yang harganya boleh ditawar), permit, deklarasi, registrasi ini, registrasi itu. Birokrasi jadi salah satu sumber pemasukan utama.

    Lepas dari korupsi hebatnya, Tajikistan memang negeri yang indah. Angka sembilan puluh tiga persen untuk pegunungan tinggi memoles wajah negeri ini habis-habisan. Ibarat gadis, Tajikistan berhidung mancung dengan gurat-gurat wajah yang kuat. Di kanan kiri gunung-gunung bersalju sambung-menyambung tiada henti. Lembah-lembah hijau menambah keperkasaan barisan pegunungan itu. Tetapi yang tidak kalah cantiknya adalah gadis-gadisnya yang memang sudah tersohor sejak zaman dahulu.

    Sebulan yang lalu, ketika saya masih berada di Afghanistan, saya tidak akan pernah membayangkan pengalaman seperti ini. Samsiah, seorang gadis cantik, menyandarkan kepalanya di pundak saya, memejamkan mata, sambil menikmati alunan musik yang mengalir dari MP3 yang saya bawa. Terkadang kami bernyanyi bersama. Samsiah bisa menyanyikan lagu-lagu Tajik, Afghan, Iran, Rusia, bahkan India. Ibu tua yang duduk di depan tidak kalah gaulnya. Lagu-lagu disko terbaru dari Iran pun dia tahu, apalagi lagu-lagu Afghanistan, yang bahasanya dekat dengan bahasa Tajik.

    Di Afghanistan sana jangankan bernyanyi bersama para gadis, duduk di samping wanita dan melihat wajah perempuan pun tidak boleh. Setelah sekian lama berkelana di Afghanistan, saya jadi kikuk juga berbicara sedekat ini dengan perempuan.

    (Bersambung)
     
  9. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Jumat, 14 Maret 2008 | 07:56 WIB

    Menuju Khorog

    Saya teringat gurauan orang Afghan tentang tiga barang yang paling murah di Tajikistan – meva, piva, dan beva. Buah, bir, dan janda. Yang dimaksud dengan ‘janda’ adalah gadis-gadis Tajik yang bebas pergaulannya.

    Selain cantik, perempuan Tajikistan juga tangguh tak kepalang. Jalan naik turun gunung memaksa mobil berkali-kali mogok. Barang bawaan yang diikatkan di atas kap mobil juga beberapa kali terlempar jatuh. Di bawah hujan rintik-rintik, para gadis dengan cekatan memunguti bagasi. Ibu tua dengan kekuatan ototnya ikut mendorong mobil.

    Jalan yang menghubungkan Dushanbe ke Khorog hingga Kyrgyzstan bernama jalan M-41. Nama kerennya adalah Pamir Highway. Lewat barisan gunung tinggi yang seperti tak tertembus ini, ternyata jalannya beraspal mulus, walaupun ada sedikit bolong-bolong yang mungkin baru muncul setelah Tajikistan merdeka dan kegagalan ekonomi terus mendera.

    Saya jadi mengagumi kedigdayaan Uni Soviet, yang masih memberi perhatian ke tempat paling terpencil di mantan negara raksasa itu. Tajikistan tak lebih dari ujung kukunya Uni Soviet, tetapi juga pernah menjadi pusat kegiatan basmachi, pemberontakan umat Muslim terhadap rejim komunis. Dan Pamir, siapa yang peduli tempat terpencil yang dikurung gunung-gunung ini? Tetapi nyatanya, jalan beraspal yang mulus juga dibangun untuk sampai ke pelosok-pelosok desa. Jaringan listrik juga merambah seluruh penjuru. Semua orang, laki-laki maupun perempuan, menikmati bangku pendidikan.

    Pukul sepuluh malam, mobil kami melewati puncak gunung Khaburabot. Salju sudah turun di sini. Untungnya mobil tidak selip. Karena mendorong-dorong mobil yang mogok di tumpukan salju, tengah malam begini, tentu bukan pekerjaan yang asyik.

    Kalaikum, puncak gunung salju kedua, adalah pintu masuk menuju GBAO, provinsi paling sensitif di Tajikistan. Semua orang harus menunjukkan paspor. Orang Tajikistan tidak punya KTP, hanya punya paspor. Warga negara Tajikistan yang bukan penduduk GBAO pun tidak boleh sembarangan masuk sini. Orang asing apalagi, harus punya permit khusus.

    Tentara pemeriksa paspor masih muda. Umurnya baru 18 tahun. Ibu tua menyuruh saya menyelipkan selembar Somoni ke paspor saya. Mungkin memang itu sudah jadi kebiasaan orang sini kalau diperiksa paspornya. Tetapi saya tidak mau ikut-ikutan jadi tukang sogok.
    "Kamu suka pekerjaan kamu?" saya bertanya pada tentara muda itu.
    "Suka? Apanya yang suka? Di sini cuma gunung, kamu lihat, hanya ada gunung! Aku kangen istri. Di sini tidak ada apa-apa!"

    Pemuda ini berasal dari Dushanbe. Ditempatkan di puncak gunung terpencil dan sunyi ini, memeriksa paspor di tengah malam buta di bawah siraman salju, memang bukan cita-citanya. Dia ke sini karena terpaksa. Tajikistan memberlakukan wajib militer terhadap semua warga negaranya yang laki-laki. Mereka harus siap ditempatkan di mana saja, selama dua tahun, untuk melayani kepentingan negara.

    Tentara itu senang sekali mendapat teman ngobrol, sampai lupa menarik upeti. Selepas dari Kalaikum, kondisi jalan berubah menjadi amat sangat mulus. Tidak berlubang-lubang lagi. Provinsi GBAO, walaupun terisolasi, tidak mengalami pertumpahan darah secara langsung selama masa-masa perang saudara Tajikistan. Jalan yang mulus semakin membuat Bakhtiyor bersemangat menyupir mobilnya. Dia tidak tidur sama sekali. Yang membuatnya terjaga sepanjang malam adalah nas, bubuk tembakau halus yang dikunyah-kunyah sebelum diludahkan. Pengganti rokok. Bau mulutnya memenuhi seluruh mobil.

    Pagi-pagi pukul enam kami sampai di Khorog, ibu kota GBAO. Saya sudah berada di salah satu tempat yang paling terpencil dan terlupakan dari peta dunia.


    (Bersambung)
     
  10. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Senin, 17 Maret 2008 | 08:35 WIB

    Khorog, Pejuangan dari Balik Gunung

    Khorog, ibu kota propinsi GBAO, adalah sebuah kota kecil yang tenang dan sunyi di bawah teduhnya gunung-gunung raksasa. Walaupun berhadapan langsung dengan Afghanistan dan polisi, tentara, agen KGB berkeliaran di mana-mana, suasana di Khorog masih tetap lengang dan santai. Sejuknya udara pegunungan memang membuat malas. Tidak ada pengemis, gelandangan, pedagang asongan, pencopet, pengamen, dan simbol-simbol kemiskinan lainnya. Rumah-rumah mungil tertata tanpa maksud menantang gunung-gunung raksasa yang mengililingi, terjalin seperti sulaman, tidak berpagar rapat, dengan pekarangan sambung-menyambung. Orang bebas masuk-masuk ke halaman tetangga. Tidak ada ketakutan yang memagari hubungan manusia dengan lingkungannya. Mungkin yang paling mengganggu hanya anjing-anjing besar yang sering berkelahi atau mengejar-ngejar sapi malang.

    Tetapi gambaran Khorog yang tenang dan damai adalah sebuah ironi dari kisah kegagalan sebuah negara muda. Ketika perang saudara meletus, seluruh propinsi GBAO memproklamirkan kemerdekaan, yang segera dibalas oleh Dushanbe dengan isolasi total. Jalan menuju GBAO ditutup. Blokade diberlakukan. GBAO adalah daerah pegunungan, di mana puncak-puncak raksasa seakan saling berlomba menggapai angkasa dan orang harus mendongakkan kepala untuk melihat birunya langit. Tidak banyak lahan yang tersisa untuk pertanian. Musim dingin sangat menggigit. Sumber air bersih memang melimpah, tetapi tidak untuk bahan bakar minyak. Empat tahun boikot pemerintah pusat menggiring penduduk GBAO ke tepi jurang kelaparan.

    Pada saat itu uang tidak ada artinya lagi. Tak ada barang yang bisa dibeli. Orang-orang kembali lagi ke zaman purbakala, jual beli dengan sistem barter. Pada puncak krisis, bahkan uang pun ikut lenyap dari peredaran, bersama barang-barang yang semakin langka. Hampir semua orang kehilangan pekerjaan. Yang bekerja pun sebenarnya adalah separuh pengangguran.

    Adalah Aga Khan, pemimpin spiritual sekte Ismaili, yang disebut-sebut sebagai dewa penyelamat di GBAO. Aga Khan, yang memiliki organisasi badan amal raksasa, menegosiasikan aliran bantuan makanan menembus keterisolasian GBAO. Truk bahan pangan datang berduyun-duyun dari Kyrgyzstan, melintasi jalan-jalan berliku di Pegunungan Pamir. Penduduk mendapat jatah ransum makanan, sehingga walaupun tak punya pekerjaan orang masih bisa tetap makan. Sekarang, setelah Tajikistan kembali hidup dalam kedamaian, organisasi-organisasi milik Aga Khan menawarkan berbagai program pembangunan, mulai dari kredit lunak, universitas, sekolah, keterampilan, pertanian, hingga jalan dan jembatan. Afghanistan di seberang sungai sana, juga dihuni oleh para pemeluk Ismaili. Aga Khan membangun sebuah jembatan dekat Khorog, untuk menghubungkan komunitas Ismaili yang terbelah oleh garis perbatasan internasional.

    Dengan keindahan alam yang sukar ditandingi oleh negara lain di dunia, GBAO punya potensi yang luar biasa. Aga Khan juga mengupayakan sektor pariwisata sebagai penggerak perekonomian penduduk.

    “Syukur kepada Allah, syukur kepada Aga Khan, atas segala kemurahan hati mereka,” kata Mamadrayonova Khurseda, wanita mantan jurnalis berusia 60 tahun.

    Sejak kemerdekaan, kehidupan keluarganya tidak pernah mulus. Kini ia boleh tersenyum bangga, karena MSDSP (Mountain Society Development Support Program) baru saja menurunkan izin kepadanya untuk menerima turis asing. Ia sudah mendapat pelatihan bagaimana melayani turis, menyediakan kamar yang nyaman, masakan yang lezat, dan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Kalau ia hanya menggantungkan pada dana pensiun dari pemerintah pusat, yang hanya 6 dollar per bulan, bahtera keluarganya pasti sudah lama karam.
    Suami Khurseda meninggal 12 tahun lalu, ketika negara Tajikistan ini masih seumur bayi. Anaknya tinggal dua, laki-laki semua. Timur, si sulung, berusia 35 tahun. Ia baru saja menikah. Seperti sebagian besar penduduk Khorog, Timur dan istrinya sama-sama pengangguran abadi. Yang bungsu dulu bekerja sebagai pilot di Dushanbe. Jangan menganggap jadi pilot berarti banyak uang. Gajinya cuma 40 Somoni, atau sekitar 15 dollar saat itu, per bulan. Gaji satu bulan seorang pilot pesawat terbang bahkan tidak cukup untuk membayar karcis bus dari Dushanbe ke Khorog. Sekarang si bungsu menjadi tenaga kerja di Moskwa, dan menjadi tulang punggung perekonomian keluarga.

    Saya bisa memahami ketika Khursheda terkenang kembali masa-masa kejayaan Uni Soviet, hari-hari ketika semuanya berjalan dengan teratur. Koran tempat dia bekerja dulu adalah satu-satunya harian di GBAO. Tetapi ketika perang meletus di negara muda ini, korannya ikut menyusut menjadi mingguan tipis. Blokade pemerintah pusat membuat uang dan makanan menjadi barang langka. Siapa lagi yang peduli untuk beli koran? Hari ini, ketika kedamaian telah datang ke Tajikistan, hidup pun masih susah. Ketika harga-harga melonjak tinggi, siapa lagi yang mampu menghidupi tiga mulut hanya dengan 6 dolar uang pensiun per bulan?

    “Syukur kepada Allah. Syukur kepada Aga Khan. Syukur kepada turis. Kini turis-turis mancanegara pelan-pelan datang kemari, dan kita pun bisa hidup lagi,” kata Khurseda.

    Rumah Khurseda terbilang besar dan nyaman. Berbahan kayu, berlantai dua. Ruangan yang paling besar dan indah disewakan untuk turis asing, kebanyakan para petualang, pesepeda gunung, pendaki, dan trekker. Harga sewa kamarnya, sesuai yang ditetapkan oleh MSDSP, adalah 10 dolar per malam. Tetapi semua masih bisa ditawar. Waktu saya datang, tidak ada turis lain.

    “Udara sudah mulai dingin di bulan Oktober. Musim turis sudah hampir lewat,” kata Khurseda.
    Dibandingkan ibunya yang masih penuh semangat menggebu-gebu, Timur nampak sudah bosan dengan hidupnya. Gurat-gurat wajahnya membuatnya tampak jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Kebosanan karena tak ada yang dilakukan sepanjang hari. Kemarin, hari ini, esok, esoknya lagi, seminggu lagi, sebulan lagi, tiga tahun lagi, semuanya adalah hari-hari yang sama, datar, tanpa perubahan.

    “Hidup sebagai pengangguran itu amat sangat membosankan,” kata Khurseda menjelaskan, “waktu berjalan begitu lambat. Orang jadi cepat tua kalau tidak punya pekerjaan. Saya juga begitu. Setiap hari menyulam, menyulam, dan hanya menyulam. Benar-benar membosankan.”
    Pemuda tetangga sebelah rumah, Khan Jon, 24 tahun, juga baru saja memulai hidup sebagai pengangguran. Baru saja ia menamatkan lima tahun pendidikan elektro di universitas setempat. Seperti sarjana muda lainnya, ia kini berpredikat sarjana pengangguran.

    “Tidak ada jeleknya sama sekali,” kata Khan Jon, “lihat, kami masih bertahan hidup.”

    Ia menghabiskan waktunya di kebun, bertanam tomat dan wortel. Kebun tomatnya gagal total. Wortelnya masih bisa dimakan, tetapi karena kecil dan jelek, tidak mungkin dijual. Hidup Khanjon bergantung kepada ayahnya yang bekerja sebagai wartawan, yang gajinya 30 dolar dari koran dan 30 dolar dari TV. Enam puluh dolar per bulan, termasuk gaji besar di sini.
    Perdamaian yang dibawa ke Tajikistan, bukan hanya mendatangkan turis asing, tetapi juga gairah perekonomian di Khorog. Malik, pedagang batu mulia, mengatakan bahwa kalung lapis lazuli khas Badakhshan termasuk barang incaran utama turis-turis asing. Wanita desa juga dilatih oleh LSM untuk menghasilkan kerajinan tangan seperti topi tradisional dan pakaian adat, yang bisa dijual cukup mahal.

    Hidup tidak mudah. Tetapi orang-orang tidak menyerah.


    (Bersambung)
     
  11. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Selasa, 18 Maret 2008 | 07:27 WIB

    Mengintip Afghanistan

    Saya menumpang sebuah jeep kecil dari Khorog menuju Ishkashim, melalui jalan beraspal di tepian sungai Amu Darya. Jaraknya cuma 106 kilometer, tetapi karcisnya 20 Somoni (6 dollar). Itu pun harus menunggu berjam-jam di terminal karena tidak ada penumpang. Di negara ini, orang hampir-hampir tidak punya uang sama sekali, tetapi harga-harga sangat mahal.

    Sepanjang jalan, di seberang sungai di sebelah kanan sana, adalah propinsi Badakhshan Afghanistan. Sungainya sendiri, di bulan Oktober yang sudah mulai dingin ini, menjelma jadi sungai kecil yang hanya sekitar 20 meter saja lebarnya. Tetapi bagaimana pun kecilnya, ini adalah pemisah dua dunia.

    Ketika kami menyusuri jalan beraspal mulus dalam sebuah jeep Rusia tua, di seberang sungai sana yang nampak hanya jalan setapak di punggung-punggung gunung. Saya melihat beberapa pria berjubah dan bersurban duduk dengan nyaman di atas keledai. Sesosok tubuh wanita dibungkus rapat-rapat dengan burqa putih, menunggang keledai dengan pasrah mengikuti sang suami. Sedangkan di sini penumpang jeep duduk bersebelah-sebelahan, tak peduli pria wanita, bersenda gurau sepanjang jalan dan bernyanyi-nyanyi. Di sini, di sepanjang jalan saya melihat tiang listrik berbaris, sambung-menyambung. Di seberang sana, tak ada apa-apa lagi selain debu dan rumput yang mulai menguning.

    Afghanistan nampak gamblang dari sini, segamblang Tajikistan nampak dari sana. Seorang perempuan tua di seberang sungai sana, dalam pakaiannya yang banyak, berat, dan berwarna-warni, sedang menjemur kotoran sapi di atap rumah batunya ketika jeep kami melintas. Seperti melihat sanak saudara dari dunia lain, ia dengan senyum penuh semangat melambai-lambaikan tangannya. Tak ada interaksi antar dunia di kedua sisi sungai ini, selain lambaian tangan dan rabaan akan kehidupan asing yang penuh fantasi. Sungai ini memisahkan manusia sejauh langit dan bumi. Dunia lain terpapar gamblang di seberang sungai, tetapi tak pernah tertembus dan terjamah. Hanya angan dan imajinasi yang boleh dengan bebas berkeliaran melintas batas internasional ini. Imajinasi tentang kehidupan manusia-manusia di seberang sana, bersama segala penyesalan akan nasib dan takdir.

    Bagi orang-orang di Tajikistan sini, selain wajah buruk rupa Afghanistan yang nampak dari seberang sungai, tak banyak lagi yang diketahui.

    “Pada zaman Soviet, mereka (orang Rusia) memperingatkan kita untuk selalu berhati-hati dengan orang Afghan,” kata Mohammad, salah seorang penumpang jeep.
    “Katanya mereka orang berbahaya. Kami tidak boleh menunjuk-nunjuk ke arah sana, kalau tidak gerombolan orang berbahaya dari sana akan menyeberang ke sini,” tambah dia lagi.

    Ini adalah upaya Moskwa untuk menginjeksikan pemahaman yang harus ditelan mentah-mentah penuh iman oleh semua warga negara Uni Soviet. Pemahaman tentang kenistaan negeri Afghan untuk menanamkan kebencian dan kewaspadaan terhadap negeri seberang sungai sana.

    Garis batas antara Afghanistan dengan Tajikistan sekarang ini sebenarnya berumur tak lebih dari 120 tahun lalu. Inggris dan Rusia menetapkan Amu Darya (Sungai Pyanj) sebagai batas kekuasaan mereka. Kedengarannya batas yang sangat alami, tetapi sebenarnya kedua raksasa imperialis ini telah mengiris dunia dengan sebuah kapak tajam, tanpa ampun memisahkan desa, keluarga dan sanak saudara dengan dinding pemisah yang kasat mata. Sebuah sungai, yang dulunya menjadi sumber kehidupan, kini menjadi batas pemisah garis takdir manusia.

    Bagi saya, Sungai Pyanj punya arti tersendiri. Saya pernah menyuri kedua sisi sungai ini. Tiga bulan yang lalu, ketika saya masih berada di seberang sungai sana, bersama-sama orang Afghan saya ikut berimajinasi tentang kehidupan di Tajikistan, sebuah negeri impian di seberang sungai. Sekarang saya berada di negeri yang diimpikan oleh orang-rang di sana. Saya mendengar ejekan dan olok-olok orang Tajikistan terhadap negara tetangga yang selalu berperang dan hanya berkawan keledai dan kuda. Bagaikan negeri yang terperangkap dalam aliran waktu, Afghanistan tampak dari sini seperti dunia prasejarah.

    Orang Tajikistan menjalani garis hidup yang berbeda. Di tengah bulan Ramadan ini, jeep yang kami tumpangi berhenti di sebuah restoran. Tak ada penumpang yang berpuasa. Semua menyerbu makanan yang dihidangkan. Sopir jeep malah dengan riang gembira menenggak vodka, bersama kawan-kawan yang lain. Alkohol yang dibawa oleh penjajah Rusia itu kini sudah menjadi makanan pokok di sini. Di seberang sana, minuman ini menjadi barang haram, tak seorang pun sudi menyentuhnya, apalagi di tengah bulan suci seperti ini.

    Sharif, seorang dokter dari kota Ishkashim, berkisah tentang pengalamannya bekerja di Afghanistan.

    “Kehidupan di sini jauh lebih baik daripada di sana. Di sana orang-orangnya tidak terpelajar. Pasien perempuan hanya boleh dirawat oleh suster perempuan. Waktu saya di sana, banyak pasien perempuan tetapi tidak cukup dokter wanita. Saya mau bantu tetapi tidak boleh. Dokter-dokternya juga tidak berpengalaman. Menulis resep saja masih sering salah.”

    Yang lebih konyol, kata Sharif, adalah waktu dia terpaksa memeriksa pasien perempuan. Harus ada kelambu yang memisahkan dokter dengan pasien. Kalau si pasien sakit giginya, maka si pasien harus menganga di belakang lubang kecil pada kelambu itu, dan si dokter tidak melihat anggota tubuh perempuan itu selain barisan gigi.

    Afghanistan, dari kaca mata seorang dokter Tajikistan, memang tidak ada baik-baiknya. Kecuali satu hal. Di sana uang melimpah. Kalau di Tajikistan, seorang direktur perusahaan cuma mendapat 200 Somoni per bulan, bahkan tidak sampai 70 dolar. Gaji rata-rata dokter hanya 80 sampai 100 Somoni per bulan. Tetapi ketika Sharif bekerja di Afghanistan, gajinya 50 Somoni per hari, 15 kali lipat daripada gajinya di sini.

    Seperti seorang dokter Tajikistan yang mengintip pasien Afghanistan dari sebuah lubang kecil, seperti orang buta yang meraba-raba gajah dari potongan telinga, belalai, dan kaki, saya mengintip negeri di seberang sungai sana.


    (Bersambung)
     
  12. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Rabu, 19 Maret 2008 | 07:47 WIB

    Selamat Datang ke Rumah Pamiri

    Muhammad Bodurbekov, penumpang satu mobil dari Khorog, membawa saya ke rumahnya di Ishkashim. Rumah Muhammad adalah rumah tradisional Pamiri, dalam bahasa setempat disebut Chid. Karakteristik utamanya adalah adanya lima pilar penyangga ruangan, masing-masing melambangkan Muhammad, Ali, Bibi Fatima, Hassan dan Hussain. Angka lima melambangkan jumlah rukun Islam. Bentuk rumah seperti ini sama dengan rumah-rumah orang Ismaili di Pakistan Utara dan Afghanistan. Rumah adat Pamir sebenarnya sudah ada jauh sebelum datangnya Islam. Simbol-simbol Islam menggantikan simbol-simbol agama kuno Zoroastrian (Zardusht), di mana kelima pilar melambangkan dewa-dewa Surush, Mehr, Anahita, Zamyod, dan Ozar.

    Karakter lain rumah tradisional Pamir adalah adanya lubang jendela di atap, tempat menyeruaknya sinar matahari menyinari seluruh penjuru ruangan. Jendela ini bersudut empat, melambangkan empat elemen dasar: api, udara, bumi, dan air.

    Dibandingkan rumah-rumah orang Tajik Ismaili di Pakistan dan Afghanistan, memang rumah di Tajikistan ini jauh lebih modern. Lubang di tengah ruangan sudah tidak lagi digunakan untuk memasak, tetapi lebih sebagai dekorasi saja. Dindingnya dicat rapi, dihiasi dengan karpet-karpet indah, poster, dan foto keluarga. Lantainya dari kayu, dipelitur mengkilap. Di setiap ruangan selalu dipasang foto Aga Khan, pemimpin spiritual Ismaili yang didewakan sebagai penyelamat hidup di GBAO. Ada lampu listrik yang menerangi di kala malam. Di Afghanistan dan Pakistan sana, orang masih bergantung pada lampu petromaks.

    Orang Tajik yang tinggal di Pegunungan Pamir di propinsi GBAO ini memang berbeda dengan orang-orang di Dushanbe dan sekitarnya. Bahasa penduduk sini berasal dari bahasa kuno Sogdian, berbeda dengan bahasa Tajik yang mirip bahasa Persia. Agamanya pun berbeda. Di sini hampir semua orang Pamiri adalah penganut Ismaili, sedangkan orang Tajik adalah Muslim Sunni.

    Dulu orang Pamiri dianggap etnis tersendiri, tetapi kemudian ahli etnografi Soviet, dengan alasan politik, menjadikannya bagian dari etnik Tajik. Sekarang orang Pamiri dikenal sebagai Tajik Pamiri, dan masih memelihara kekhasan bahasa, agama, dan kultur mereka.

    Ketika saya memasuki ruangan rumah Pamiri ini, Muhammad serta merta menyiapkan kurpacha, karpet duduk, tepat di antara pilar Ali dan Nabi Muhammad. Saya harus duduk di atas kurpacha ini sambil menyeruput teh yang dihidangkan. Bagi tuan rumah, ini adalah lambang penyambutan tamu. Bagi tamu, duduk di atas kurpacha melambangkan syukur dan terima kasih atas kebaikan tuan rumah.

    Sebagai pekerja sosial, Muhammad punya banyak cerita. Bahasa Inggrisnya sangat bagus. Dia berkisah tentang modernitas yang membuat orang-orang Ismaili Tajikistan lebih maju daripada saudara-saudara seiman di Afghaistan dan Pakistan. Adalah orang Rusia yang memajukan pendidikan di daerah terpencil ini. Pendidikan adalah kunci utama kemajuan. Bahkan Rabindranath Tagore, pujangga India yang termasyhur yang mengunjungi Rusia tahun 1930'an pun mengungkapkan kekagumannya. "Ketika menginjakkan kaki di bumi Rusia, hal pertama yang tertangkap oleh mataku adalah di bidang pendidikan, dalam tingkat mana pun, mulai dari petani hingga buruh, semuanya membuat kemajuan luar biasa dalam hitungan beberapa tahun teakhir ini. Mereka bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kelas tertinggi dalam masyarakat (India) kami dalam kurun waktu seratus lima puluh tahun sekalipun. Orang Rusia bahkan tidak takut untuk memberikan pendidikan seutuhnya bahkan bagi bangsa Turkmen di pedalaman Asia."

    Penduduk Tajikistan sangat berbangga dengan tingginya taraf pendidikan di sini. Walaupun negaranya miskin, semua orang di sini melek huruf. Semuanya memakai pakaian ala Barat yang terkadang dihiasi topi dan kerudung tradisional.

    "Tajikistan adalah percampuran harmoni antara tiga budaya, Rusia, Islam, dan Barat," kata Muhammad mengutip pidato Aga Khan ketika mengunjungi Tajikistan pada masa perang dulu.
    "Lembaga internasional yang datang ke sini harus menghormati ketiga unsur budaya ini. Kebudayaan Rusia menjunjung persamaan hak bagi perempuan. Kebudayaan Islami adalah nilai moral dan etika. Dan kebudayaan Barat adalah ilmu pengetahuan dan teknologi." Percampuran ketiga hal inilah yang menyebabkan umat Ismaili Tajikistan sangat berbeda dengan umat Ismaili Afghanistan di seberang sungai sana.
    "Ketika mereka mulai memecah belah daerah ini," lanjut Muhammad, "orang-orang sempat berpikir, betapa beruntungnya mereka yang di seberang sungai sana. Mereka yang berada di bawah pemerintahan Inggris tentunya akan lebih baik daripada kami yang dijajah Rusia."

    Afghanistan di awal abad 19 adalah negara boneka Inggris. Saya kemudian menunjukkan foto-foto kehidupan orang-orang Afghanistan persis di seberang sungai sana. Ada kota Ishkashim-nya Afghanistan, yang persis berhadap-hadapan dengan Ishkashim-nya Tajikistan. Ada foto perempuan yang memakai burka. Mohammad tercekat melihat rumah Pamiri di Afghanistan sana, kumuh dan gelap. Juga pakaian yang dikenakan wanita-wanita di sana yang sudah masuk museum di Tajikistan sini.

    "Sekarang saya bahagia dengan takdir yang saya jalani," kata Muhammad sambil mengelus dada. Keterbelakangan di seberang sungai sana membuatnya semakin bersyukur dengan kehidupan di Tajikistan sini, yang walaupun tidak berduit, tetapi masih jauh lebih daripada keterbelakangan yang seakan tiada pernah berakhir.

    Pukul sembilan malam, Muhammad mengajak saya keluar berjalan-jalan. Di kejauhan seberang sana tampak Ishkashim-nya Afghanistan berkelip-kelip.

    "Lihat, mereka sudah kaya sekarang," kata Muhammad, "mereka sudah punya listrik."

    Pukul sembilan di sini, pukul 8:30 di seberang sana. Saya juga menerka-nerka. Sinar kelip-kelip itu pasti karena semua orang sedang menyalakan generator, karena tidak mau ketinggalan mengikuti sinetron India tentang Tulsi, si anak menantu yang berjuang bersama ibu mertuanya.

    Dari seberang sungai sini, imajinasi dan memori saya tentang Afghanistan di sana teraduk-aduk. Sebuah negeri, yang hanya dipisahkan oleh seutas sungai, tetapi terkunci dalam aliran waktu.

    (Bersambung)
     
  13. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Kamis, 20 Maret 2008 | 06:44 WIB

    Sarandip=Indonesia?

    "Sekarang kamu bukan tamu lagi. Kamu sudah bagian dari keluarga ini. Mari masuk!" kata Muhammad Bodurbekov, alias Alisher, ramah.

    Sudah beberapa hari ini saya menginap di rumah Alisher, tinggal di rumah Pamirinya yang indah. Tetapi pagi ini Alisher tidak lagi mengantar sarapan pagi saya ke chid atau Rumah Pamiri, melainkan mengajak saya ke bergabung dengan ibu dan adik perempuannya. Sarapan pagi orang Wakhan adalah shir choy, teh susu yang dicampur dengan mentega dan minyak. Rasanya asin. Dicampur dengan roti yang disobek kecil-kecil, diaduk-aduk dengan sendok, dan dihirup panas-panas.

    "Ini adalah sarapan yang luar biasa energinya, bahkan para pejuang zaman dulu cukup makan semangkuk shir choy sebelum berperang,” ucap Alisher.

    Bagian Rumah Pamiri di rumah Alisher memang tradisional dan cantik. Tetapi ruang keluarga, tempat di mana Alisher sekarang mengajak saya menikmati sarapan, lebih kecil dan hangat. Di ruangan kecil ini tinggal bersama bapak, ibu, adik perempuan, dan beberapa orang keponakan si Alisher.

    Adik perempuan Alisher, bersuamikan orang dusun Shegnon, pulang kampung ke Ishkashim untuk melahirkan. Menurut tradisi orang Shegnon, bayi pertama harus dilahirkan di rumah keluarga ibu. Alisher sekarang menggendong-gendong keponakannya yang masih orok. Bayi itu dibungkus kain berhias manik-manik, dan terbaring di atas guwara, ayunan bayi yang terbuat dari kayu. Ayah Alisher sudah pensiun, tunjangannya 93 Somoni per bulan, sekitar 25 dolar, terbilang cukup besar. Ibu Alisher masih bekerja sebagai kepala sekolah dasar. Alisher punya saudara kembar perempuan, sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan mobil.

    Kehidupan di Ishkashim sangat damai, di tengah kesepian lembah yang dikitari gunung-gunung tinggi. Ketentraman ini sebenarnya datang hanya belakangan ini saja. Ketika perang saudara pecah di negeri ini, pertikaian antar etnis terus menerus menggerayangi lembah ini.

    “Orang Shegnon, Wakhan, Pamir, semua lapar, semua marah,” kenang Alisher.

    Di gunung-gunung ini, beda desa terkadang bahasanya pun berbeda. Identitas etnis sangat kuat. Semua tiba-tiba menjadi masalah ketika negara sedang carut marut.

    Ketika Alisher berkisah tentang masa lalu di zaman perang saudara, susah sekali bagi saya membayangkannya. Lembah Ishkashim sungguh tenang dan sunyi. Yang ada hanya rumput-rumput yang mulai menguning menyambut musim gugur, dengan rumah-rumah yang tersebar dengan jarak berjauhan. Di seberang sana, Afghanistan bukannya terlihat seram, tetapi sama damainya dengan di sini. Sebagai musafir yang sekadar melintas di sini, saya cuma merasakan kedamaian.

    Tetapi hidup di sini tidak seindah lukisan yang terbentang di hadapan mata. Bantuan kemanusiaan dari Aga Khan terus-menerus dikurangi, untuk menumbuhkan kemandirian penduduk GBAO yang perlahan-lahan mulai bangkit dari keterpurukan perang. Sekarang orang harus berusaha sendiri, bekerja lagi membangun kehidupan dari awal. Namun badai terus menerpa. Harga minyak dunia melambung tinggi. Tajikistan yang miskin harus mengimpor semua barang karena di negeri ini hampir tidak ada industri. Ibu Alisher sampai terkejut setengah mati ketika tahu harga gula sekarang sudah 3 Somoni, hampir 1 dollar, per kilogram.

    Setidaknya orang Ishkashim masih beruntung. Hampir semua keluarga punya kebun yang menghasilkan tomat, kentang, dan gandum. Keluarga Alisher punya gudang yang penuh berisi kentang. Cukup untuk persediaan selama musim dingin. Andai saja tak ada kebun, uang pensiunan bapak Alisher tentu saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga ini.

    Tak punya uang memang bukan alasan untuk menyerah pada hidup. Saya sangat terkejut ketika mendengar pengetahuan paman Alisher yang sudah tua. Mereka dengan fasihnya bercerita kepada saya tentang orang-orang Batak yang kanibal, keindahan Danau Toba dan sebuah pulau di tengahnya, dan bunga raksasa dari Sumatra. Paman Alisher yang satunya lagi, sangat gemar membaca buku sejarah, dan bertanya kepada saya apakah Indonesia itu sama dengan Pulau Sarandip?

    Saya sendiri tidak pernah mendengar sama sekali tentang Sarandip. Si paman bercerita, menurut hikayat Islam, setelah Nabi Adam diusir dari Taman Firdaus karena memakan buah terlarang, Nabi Adam diturunkan Tuhan ke muka bumi, di sebuah tempat yang bernama Sarandip. Siti Hawa dikirim Tuhan ke Mekkah. Nabi Adam kemudian berjalan kaki dari Sarandip hingga ke Mekah untuk bersatu kembali dengan Siti Hawa.

    Hikayat ini sangat terkenal dalam kesusastraan Persia, bahkan nama Sarandip juga disebutkan dalam catatan petualang Arab terbesar sepanjang zaman, Ibnu Battuta. Paman Alisher bercerita, bahwa Sarandip terdiri dari dua belas ribu pulau, tempat Nabi Adam diturunkan. Menurut teorinya, sangat mungkin Sarandip itu Indonesia, karena dia pernah membaca bahwa fosil manusia pertama ditemukan di Jawa. Saya hanya geleng-geleng kepala.

    Belakangan saya baru tahu, bahwa Sarandip yang dimaksud adalah Sri Lanka, yang nama lamanya berasal dari bahasa Arab Sarandib. Di Sri Lanka ada Puncak Adam yang dipercaya sebagai tempat diturunkannya Adam ke bumi. Tempat ini kini menjadi tempat suci empat agama - Islam, Kristen, Hindu, dan Budha.

    Terlepas dari kekecewaan saya bahwa Sarandip bukan Indonesia, saya takjub bahwa ternyata orang-orang dari tempat terpencil dikurung gunung macam Ishkashim ini punya pengetahuan tentang negeri-negeri seberang lautan sana.

    Keramahtamahan dan ketentraman Ishkashim mengingatkan saya pada suasana pedesaan Indonesia. Hari minggu pagi, paman-paman Alisher berdatangan untuk membantu bapak Alisher membangun rumah baru, khusus untuk tamu. Bahan bakunya adalah lumpur, dicampur dengan air dan jerami. Ini adalah ramuan semen tradisional yang sudah digunakan turun-temurun.

    Gotong royong, di lembah ini disebut hishar, adalah keramahtamahan dusun-dusun Lembah Wakhan. Di sini, mehman navazi atau keramahtamahan memang bukan sekadar penghias bibir saja.
     
  14. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Jumat, 21 Maret 2008 | 07:47 WIB

    Eid Mubarak

    Perjalanan dua jam dengan angkutan umum membawa saya ke desa Tughoz, tak jauh dari Ishkashim. Perjalanan ini menyusuri tepian Sungai Amu, perbatasan dengan Afghanistan. Seiris Afghanistan yang berada di seberang sana adalah Lembah Wakhan yang damai dan tenang. Pedesaan yang tidak pernah tersentuh hingar bingarnya perang dan pertumpahan darah di seluruh negeri. Gunung-gunung berbungkus salju seakan tidak berhenti sambung-menyambung. Desa-desa hijau di kaki gunung berhadap-hadapan dengan desa-desanya Tajikistan seperti bayangan cermin. Tetapi refleksi kehidupan yang di seberang sana, hidup dalam zamannya sendiri.

    Jalan beraspal dari Ishkashim memang sangat nyaman dilewati dengan mobil. Saya teringat, tiga bulan yang lalu ketika saya berada di seberang sungai sana, di Afghanistan, perjalanan dengan jarak seperti ini harus ditempuh sehari penuh. Berkali-kali mobil yang saya tumpangi tersangkut aliran sungai, karena jalan berdebu tak beraspal seringkali diterjang banjir lelehan salju di puncak gunung. Naik mobil di sana hanya satu setrip saja lebih cepat daripada naik keledai.

    Di Tajikistan sini, orang tidak perlu bersusah payah naik keledai untuk menempuh perjalanan seperti ini. Mobil tersedia. Yang tidak ada cuma uang dan bensin. Tuloyev Aliboy Jumakhanovich, 33 tahun, misalnya. Dia dulunya adalah supir, tetapi sekarang jadi penumpang yang duduk di samping saya. Dia punya mobil sendiri, tetapi mobilnya sudah lama tidak diisi bensin, yang harganya sudah 3.50 Somoni per liter. Di sini harga bensin jadi pembicaraan sehari-hari, dan lama-lama saya juga seperti menjadi tukang riset harga BBM dari desa ke desa. Gara-gara harga bensin yang mahal, penumpang pun jadi jarang. Sudah lama Aliboy kehilangan pekerjaan.

    Walaupun demikian, hal itu tidak mengurangi keramahtamahannya. Aliboy mengundang saya ke rumahnya yang gelap. Rumah ini cukup besar, tetapi terlihat kuno, diterangi temaram cahaya petromaks.

    "Kami, umat Ismaili, tidak perlu pergi naik haji di Mekkah. Pemimpin agama kami berkata, menyediakan tempat tinggal dan makanan bagi musafir yang malang adalah ibadah haji kami," terang Aliboy.

    Umat Ismaili, walaupun dapur sudah tak lagi mengepul dan roti sudah tak tersedia lagi di meja, tetap berkewajiban melayani tamu yang datang. Saya sangat tersentuh oleh kemurahan hati Aliboy, yang tidak kaya secara materi.

    Di rumah kuno ini tinggal banyak orang. Ada ayah, ibu, istri, saudara-saudara, sepupu, dan anak-anaknya. Jumakhan, ayah Aliboy, sudah berumur 72 tahun, tetapi nampak masih kuat dan tangguh. Senyumnya terkembang di bawah kumis putihnya yang melengkung bagai busur panah. Saya dengar orang-orang di Pegunungan Pamir memang terkenal berumur panjang. Kakek Jumakhan misalnya, berumur 120 tahun. Rahasia umur panjang ini mungkin karena air pegunungan yang jernih dan udara yang sangat segar.

    Adalah orang Rusia yang banyak membawa perubahan ke lembah ini. Dulu, orang-orang lembah Wakhan, baik di sisi Tajikistan maupun sisi Afghanistan, punya tradisi mengisap candu. Tetapi sekitar seratus tahun lalu, pemerintah Uni Soviet dengan keras menghukum para pemadat dan mengakhiri kebiasaan itu di sini. Di seberang sungai sana, di Afghanistan, yang adalah pengekspor candu dan ganja nomer satu di dunia, orang-orang masih mengisap candu dengan nikmatnya.

    Berhadap-hadapan dengan desa Tyghoz adalah desa Izzyk-nya Afghanistan. Dua kilometer ke timur adalah desa Yamg di Tajikistan berhadapan dengan desa Khandud di Afghanistan. Saya punya kenangan tersendiri tiga bulan yang lalu di seberang sana. Tak jauh dari desa Izzyk mobil yang kami tumpangi tenggelam di sungai pasir. Malam menjelang baru kami berhasil sampai di Khandud. Saudagar-saudagar Afghan yang datang bersama saya menanyakan kenapa saya tidak mendirikan salat. Agama, bagi mereka adalah nomer satu.

    Di seberang sungai sini, jangankan salat, di bulan suci Ramadan ini pun orang-orang tidak ada yang berpuasa bahkan terus menenggak vodka. Sungai ini berubah menjadi sungai kecil yang bergemericik menjelang datangnya musim dingin. Tetapi ia sanggup membelah kehidupan menjadi dua alam yang sama sekali berbeda.

    Keesokan paginya, Bazaarboy, keponakan Aliboy, membawa saya berjalan-jalan ke puncak bukit. Mendung menggelayut menyebarkan warna kelabu di seluruh sudut. Gunung-gunung semakin tampak angkuh dan dingin. Jalan setapak yang dipilih Aliboy memang bukan diperuntukkan untuk saya. Dengan ringan dia mendaki jalan-jalan yang nyaris tegak lurus itu, sedangkan saya harus bersusah payah minta bantuan kanan kiri.

    Di puncak bukit itu ada reruntuhan benteng Yamchung, yang entah mengapa namanya seperti dari Tiongkok. Saya ingat catatan perjalanan biksu China dari zaman dinasti Tang, Hsuantsang yang mengkisahkan benteng-benteng anggun yang berdiri di puncak-puncak bukit, ketika ia melakukan perjalanan ziarah melintasi negeri-negeri di barat. Hsuantsang kemudian lebih dikenal di Indonesia sebagai biksu suci yang berpetualang bersama si Kera Sakti. Benteng Yamchung, yang reruntuhan temboknya masih tetap gagah di puncak bukit ini, sudah berusia ribuan tahun. Dari sini, sejauh mata memandang, yang nampak adalah kebesaran gunung-gunung tinggi yang mengelilingi lembah Wakhan.

    Aliboy membawa saya terus mendaki, menuju sebuah pemandian yang dinamai Bibi Fatima, seperti nama putri Nabi. Mata air bersumber pada sebuah lubang yang meliuk-liuk mirip rahim wanita. Dipercaya, orang yang mandi di sini akan jadi subur dan segera punya keturunan. Ada tempat mandi untuk laki-laki, ada pula untuk wanita.

    Di hari yang sangat dingin ini, tak tahu mengapa, pemandian ini ramai sekali. Serombongan pria yang katanya datang dari Ishkashim ramai-ramai menceburkan diri ke dalam air hangat yang jernih dan memancarkan warna hijau yang berasal dari batu-batuan. Pria-pria Tajik ini mandi bersama tanpa mengenakan seutas benang pun di tumbuh mereka. Tampaknya itu sudah biasa di sini. Saya mencelupkan tangan ke dalam air. Panas sekali. Orang-orang yang asyik berenang dan bermain memanjat batu-batu tebing mengajak saya masuk. Saya agak risih juga karena tidak biasa berenang tanpa celana.

    Mengapa hari ini banyak orang yang berendam?

    "Hari ini hari libur. Jadi kami serombongan menyewa mobil dari Ishkashim hanya untuk berenang di sini," kata salah seorang dari mereka.

    Selidik punya selidik, ternyata hari ini adalah hari Idul Fitri.

    Hari Idul Fitri? Ya Tuhan, bagaimana hari sepenting ini bisa terlewat begitu saja? Saya benar-benar tak ingat hari ini adalah Hari Raya. Aneh juga karena di sini semua orang beragama Islam tetapi suasana Ramadan sama sekali tidak terasa. Orang-orang tidak ada yang berpuasa, atau yang paling rajin pun maksimal hanya sembilan hari dalam sebulan. Makan siang adalah kewajiban yang tidak bisa diganggu gugat oleh bulan Ramadan sekali pun. Vodka tetap tersedia di kedai-kedai. Saya ikut makan dan minum bersama, dan sampai lupa bahwa Idul Fitri sudah datang.

    "Puasa? Aku tak punya waktu buat puasa," saya teringat Fakhriddin, seorang mahasiswa di kota Khorog. Puasa bukan kewajiban, melainkan sesuatu yang dijalankan kalau 'punya waktu'. Bagi Bazaarboy, Idul Fitri tak lebih dari satu hari libur di mana dia bisa pergi membasuh diri di pemandian air panas Bibi Fatima. Bagi Juma Khan, Idul Fitri adalah hari untuk membersihkan makam. Tak ada perayaan. Tak ada takbir. Hari besar ini hampir saja saya lewatkan begitu saja.

    Sambil asyik berendam, telanjang bulat, sekelompok laki-laki muda itu berteriak ke arah saya, "Eid Mubarak!" Selamat Idul Fitri.


    (Bersambung)
     
  15. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Senin, 24 Maret 2008 | 09:20 WIB

    Negeri Para Penganggur

    Berjalan-jalan di Tajikistan memang tidak mudah. Angkutan umum sangkat jarang, karena harga BBM sudah tidak terjangkau lagi oleh penduduk. Di sini hukumnya, semakin tinggi tempatnya, semakin mahal harga bensinnya. Tidak ada yang tahu kapan angkutan akan lewat. Sehari penuh mungkin hanya dua saja yang melintasi desa ini. Itu pun biasanya sudah penuh sesak. Hari ini saya berencana pergi ke desa Vrang, 5 kilometer jauhnya dari Tughoz. Tetapi sudah tiga jam lebih menunggu, tidak ada juga yang lewat.

    Sambil menunggu, saya mengunjungi rumah sakit di desa itu. Dokter Akhmed yang bekerja sebagai dokter kepala mempersilakan saya masuk. Bahkan desa terpencil seperti ini punya rumah sakit yang bagus. Infrastruktur di Tajikistan memang lebih bagus daripada di Indonesia. Tetapi gaji dokter Akhmed hanya 50 Somoni saja, sekitar 15 dolar, per bulan. Di Jakarta pengemis pun pendapatannya lebih besar dari ini. Dengan uang segitu di Tajikistan memang tidak akan membawanya ke mana-mana. Tetapi ia bangga dengan pekerjaannya, yang jauh lebih terhormat daripada mengemis.

    Dokter Akhmed bahkan menjerang teh untuk saya, tetapi belum sempat saya minum, saya sudah harus melompat ke angkutan desa yang baru saja melintas. Vrang hanya 5 kilometer saja, tetapi saya tidak kuat berjalan sejauh itu dengan beban backpack saya, apalagi di pegunungan seperti ini. Untuk jarak tempuh segini, sopir menarik 3 Somoni, hampir 1 dolar.

    Tajikistan memang miskin dan semuanya mahal. Tetapi orang-orang hidup terhormat. Seorang wanita desa yang sambil bicara sambil mengulum naswar serta-merta menawari saya tinggal di rumahnya. Katanya, suaminya adalah guru sejarah, yang tentu akan suka berdiskusi dengan saya. Seorang pria desa lain datang, dan sangat terkejut mendengar saya berasal dari Indonesia. Pria berwajah keras ini memang pengangguran, tetapi dengan dahsyat ia memamerkan kebolehannya.

    "Ada empat pulau utama di Indonesia. Yava, Sumatra, Kalimantan, dan satu lagi, hmm... apa ya, oh iya, Sulavesi!"

    Walaupun dia sama sekali belum pernah mendengar kalau Papua masuk wilayah Indonesia, tetapi pengetahuannya untuk ukuran pengangguran di desa terpencil seperti ini memang luar biasa. Coba tanyakan pada supir taksi di Jakarta untuk menyebut nama tiga propinsi Tajikistan. Paling-paling jawabannya, "Tajikistan? Apa itu?"

    Saya datang ke Vrang memang tanpa tujuan. Saya tak tahu hendak ke mana, menginap di mana. Wanita yang mengulum naswar tadi langsung menggeret saya ke seorang laki-laki yang sibuk mengecat kios. "Kamu menginap di rumah dia saja," kata si wanita. Laki-laki itu pun tidak keberatan.

    Saya jadi menginap di rumah Khursid, laki-laki berumur 33 tahun, yang begitu saja saya temui di pinggir jalan. Keramahan orang Lembah Wakhan terhadap musafir memang tidak diragukan lagi. Khursid, seperti yang lainnya, juga pengangguran. Dia berpendidikan tinggi, dulu belajar geologi. Tetapi apa daya, negara miskin Tajikistan tidak membutuhkan geologis dari desa terpencil seperti ini. Hidup tanpa pekerjaan, Khursid menggantungkan nasib keluarganya pada adiknya yang sekarang bekerja di London.

    Rumah Khursed memang besar. Ada beberapa bangunan, dan satu bangunan khusus untuk tamu. Untuk ukuran pengangguran, memang ini bukan pengangguran sembarangan. Anak Khursed, Omed, masih kecil. Umurnya hanya satu tahun lebih sedikit, lucu dan tidak rewel. Khursed sudah punya bayi lagi, yang umurnya baru dua minggu. Anak-anak kecil ini memang membawa keceriaan di keluarga itu. Waktu makan malam, saya makan bersama Khursed dan ayahnya yang sudah tua. Sedangkan ibu, istri, adik ipar, dan perempuan lainnya makan di panggung agak ke belakang. Apakah ini ajaran Ismaili yang memisahkan laki-laki dari perempuan?

    "Oh bukan begitu," kata Khursid, "ini memang tradisi kami kalau ada tamu."

    Sekte Ismaili terkenal sangat moderat. Perempuan Ismaili di Afghanistan sana tidak membungkus wajahnya dengan burqa dan bebas keluar rumah, karena mereka percaya perempuan sama kedudukannya dengan laki-laki. Ajaran Ismaili juga tidak terlalu menekankan pada ritual keagamaan seperti puasa Ramadan dan naik haji.

    "Saya memang tidak puasa, tetapi saya tetap sembahyang," kata Khursed. Bahkan orang yang rajin sembahyang pun terbilang langka di sini. Shalat sekte Ismaili sangat berbeda dengan shalat Muslim Sunni dan Syiah. Posisinya hanya duduk saja, tidak perlu berdiri. Tangannya dikatupkan seperti orang bersembah. Sembah ke kanan. Sembah ke kiri. Arti dari gerakan ini adalah imam didar, menghormati para Imam.

    Sekte Ismaili adalah pecahan dari Islam Syiah. Orang Syiah menjunjung tinggi garis Imamat, garis keturunan Nabi yang laki-laki. Setelah Imam yang keenam yang punya dua putra, orang Ismaili mengikuti Ismail sedangkan orang Syiah mengikuti putra yang satunya. Garis Imamat orang Syiah terhenti sampai kepada Imam kesebelas, dan kini mereka sedang menantikan kedatangan Imam kedua belas, Sang Imam Mahdi. Sedangkan garis Imamat umat Ismaili masih berjalan terus, hingga sekarang Imam ke-49, Yang Mulia Aga Khan, yang kini sudah menjadi warga negara Eropa. Umat Muslim mayoritas di Pakistan, Afghanistan, dan Iran sering menganggap rendah orang Ismaili, bahkan ada yang melabeli sebagai non-Muslim.

    Orang Ismaili tidak sembahyang di masjid. Tempat ibadah mereka namanya jemaat khana, rumah para jemaat. Di Tajikistan sama sekali tak ada jemaatkhana, karena ketika rumah ibadah ini diperkenalkan oleh Aga Khan, Tajikistan sudah berada di bawah pemerintah komunis Uni Soviet yang sangat tidak menganjurkan kegiatan keagamaan. Ibadah hari Jumat biasanya hanya dilakukan secara berjamaah di rumah umat.

    Umat Ismaili di Tajikistan sangat menderita setelah perang saudara meletus di negeri mungil ini. Walaupun penduduk mayoritas provinsi GBAO, orang-orang Tajik pegunungan penganut Ismaili ini adalah minoritas di Tajikistan. Provinsi ini diboikot pemerintah Dushanbe dan orang-orang kehilangan pekerjaan. Yang berpendidikan tinggi seperti Khursed pun harus menjadi pengangguran. Di Vrang angka pengangguran bahkan pernah mencapai 95 persen dari seluruh jumlah penduduk. Tetapi tergantung juga bagaimana kita mendefinisikan pengangguran. Kalau orang yang tidak punya pekerjaan resmi, tetapi masih punya kebun dan bercocok tanam, atau pemilik mobil yang menghabiskan sepanjang hari menunggu penumpang di jalan dihitung sebagai pengangguran, maka sampai sekarang pun hampir semua penduduk Vrang adalah pengangguran. Orang memang menganggur. Kegiatan ekonomi hampir sama sekali tidak ada. Yang disebut toko hanya orang yang menggelar sekresek barang di atas tikar di tepi jalan. Tetapi tidak ada kelaparan. Tidak ada pengemis dan gelandangan. Tidak ada yang lebih hina bagi orang-orang ini selain meminta belas kasihan.

    Vrang sebenarnya mempunyai masa lalu yang gemilang. Di atas sebuah bukit yang sukar sekali didaki, tersisa reruntuhan tempat pemujaan Dewa Api yang sudah ada di sana sebelum Islam datang. Tempat ini disebut Kafir Qala atau Benteng Kafir, peninggalan dari agama kuno Zoroaster yang sempat menjadi agama besar bangsa Persia. Ada juga gua-gua Buddha yang jadi lubang-lubang hitam sepanjang wajah tebing. Kini, penduduk lembah ini, sudah menjadi penganut setia sekte Ismaili.

    Saya tinggal di rumah Khursed hanya semalam, tetapi saya merasa sudah menjadi bagian dari keluarga itu. Ketika saya berjalan-jalan di desa, ibu Khursed bahkan memanggil saya pulang untuk makan siang. Ketika saya meninggalkan rumah Khursed untuk melanjutkan perjalanan, ibu Khursed memaksa saya untuk membawa roti bikinan tangannya. Roti bagi orang Tajik bukan sekedar makanan tetapi juga barang suci yang harus dihormati. Roti tidak boleh ditaruh di atas tanah atau ditengkurapkan. Dengan penuh rasa terima kasih, saya membungkus roti itu dan menyimpan dalam tas punggung saya.

    Terlepas dari kemiskinan dan hidup tanpa uang, orang-orang Wakhan tidak luntur kemurahan hatinya. Dan mereka membuat saya benar-benar malu akan diri saya sendiri.


    (Bersambung)
     
  16. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Selasa, 25 Maret 2008 | 09:43 WIB

    Saudara yang Hilang

    Tiga bulan lalu, saya pernah berada di seberang sungai sana [di Afghanistan -red], bersama rombongan orang-orang penting dari Afghanistan. Ada Shah (raja) dari Panjah, petinggi kecamatan Khandud, dan para tentara perbatasan. Saya menyaksikan sendiri peresmian jembatan internasional yang menghubungkan desa Ghoz Khan di Afghanistan dengan desa Langar di Tajikistan. Jembatan kayu tua, tak lebih dari lima meter lebarnya, mengantarkan segala harapan dan impian orang-orang di Afghanistan sana akan sebuah kehidupan yang jauh lebih baik yang ditawarkan oleh Tajikistan.

    Kini, setelah menempuh perjalanan ribuan kilometer memutar, saya sampai di ujung lain jembatan ini. Bersama Mulloev Yodgor Dildorovich, khalifa atau pemuka agama Ismaili dari desa Langar, dikerumuni tentara-tentara perbatasan Tajikistan, saya menatap lagi jembatan kayu ini. Perbatasan ini disegel rapat-rapat. Tak ada orang yang boleh melintas. Di seberang sana nampak barisan bukit gundul Afghanistan. Entah harapan apa yang disodorkan oleh negeri seberang sungai sana.

    Yodgor, khalifah sekaligus guru sekolah dasar, termasuk salah satu dari ratusan orang yang terkesima oleh pembukaan perbatasan itu tiga bulan lalu, pada tanggal 1 Agustus 2006. Pada hari itu, bazaar atau pasar internasional pertama dengan Afghanistan di desa Langar pertama kali dibuka. Orang-orang Afghan dari seberang sungai sana, berbondong-bondong datang dengan keledai dan kuda mereka. Orang Tajikistan sudah naik mobil dan jeep. Peristiwa ini bukan hanya ajang berkumpulnya pedagang dan pembeli, tetapi juga bertemunya kembali keluarga-keluarga yang terpisah oleh garis-garis batas internasional.

    Waktu itu, penduduk sepanjang Sungai Pyanj memang bebas menyeberang sungai ke sana ke mari. Desa-desa sepanjang sungai ini saling berhadap-hadapan. Semuanya adalah saudara. Semuanya hidup dalam kedamaian lembah yang tersembunyi. Hingga suatu ketika pada tahun 1938, berdatangan tentara-tentara Rusia yang menyegel sungai ini. Orang-orang tak boleh lagi menyeberang sungai. Mereka senantiasa diingatkan, seberang sungai sana adalah negara lain, negerinya orang-orang berbahaya yang suka berperang dan membunuh. Bersama Tentara-tentara Merah ini datang pula banjir buku-buku merah tentang Lenin dan Karl Marx. Sebelah sungai yang sini, mulai sekarang, harus menyamakan detak jantung dan denyut nadi dengan para komrad di Moskwa sana.

    Bibi Yodgor menyeberang dari Langar pada tahun 1936 dan menikah dengan seorang pemuda di Ghoz Khan sana. Ketika perbatasan disegel, wanita Tajikistan ini mendapati dirinya terperangkap di sebuah negara yang bernama Afghanistan. Tak pernah lagi, seumur hidupnya, ia pulang lagi ke kampung halamannya.

    Langar hanya seberang sungai Ghoz Khan. Seperti bibinya yang memandangi kampung halamannya penuh kerinduan, Yodgor sering duduk di tepi sungai memandangi Ghoz Khan yang ada di seberang sana. Rumah-rumah nampak sayup-sayup. Sapi-sapi dan keledai asyik merumput. Orang-orang seberang sungai tampak mungil-mungil hanya berupa bayangan saja. Yodgor tumbuh dalam bayang-bayang tentang seorang bibi yang terperangkap di seberang sana.

    Inilah partisi kapak yang dengan tanpa ampun memisahkan keluarga-keluarga dan tanpa belas kasihan menentukan takdir manusia-manusia. Ayah Yodgor meninggal tanpa pernah berkesempatan melihat adiknya yang hilang. Si adik, terperangkap di Ghoz Khan sana, mungkin menyimpan kerinduan yang lebih dalam lagi akan rumah tempat ia lahir dan dibesarkan. Semua hanya bayang-bayang dari seberang sungai.Antusias.

    Demikian orang-orang desa sepanjang lembah Wakhan ini menyambut pembukaan jembatan di mana kedua dunia yang berbeda ini bisa berkumpul kembali. Pasar bersama, bazaar mushtarak, disambut penduduk desa kedua negara dengan gegap gempita. Di antara kerumunan orang itu ada Yodgor dan Gulchera, istrinya.

    Ada pula Wali Jon dari seberang sungai sana yang mengabadikan kegembiraan itu dengan sebuah handycam mungil.Wali Jon membawa seuntai kalung dari batu-batu langka dari lekuk-lekuk pegunungan Badakhshan di Afghanistan sana. Gulchera menyambut dengan air mata bercampur dengan tawa bahagia.

    Siapa Wali Jon? Orang ini adalah kepala desa Ghoz Khan, termasuk orang penting dari seberang sungai sana. Giginya putih, kecuali sepasang gigi taring, satu di kiri satu di kanan, yang terbuat dari emas dan berkilau memantulkan cahaya. Gigi emas bukan sesuatu yang lazim di Afghanistan sana tetapi sudah jadi trend di Tajikistan. Anaknya masih kecil, rumahnya besar dan termasuk yang paling mewah di Ghoz Khan. Tetapi yang paling penting dari semua itu, dia adalah anak dari bibi Yodgor, anggota keluarga yang hilang karena terperangkap di negeri seberang.

    Yodgor dan Wali Jon adalah generasi kedua dari putusnya silaturahmi keluarga gara-gara sungai yang menjadi perbatasan. Keduanya tak lagi saling mengenal. Tetapi pasar mungil di pinggir desa Langar menjadi penyambung benang yang terputus. Keluarga-keluarga yang terpisah berkumpul kembali dalam haru biru, di tengah riuh rendahnya para pedagang yang menawarkan barang-barang.

    "Alangkah indahnya jika pasar itu bisa rutin diselenggarakan," kata Gulchera yang duduk di hadapan saya tiga bulan setelah pertemuan itu.

    Dulu para petinggi menjanjikan pasar bersama dibuka setiap bulan. Hari itu, Gulchera menatap punggung Wali Jon sayup-sayup menyeberangi jembatan kembali ke negaranya. Gulchera tak sabar lagi menantikan datangnya bulan berikutnya, ketika ia akan bertemu lagi dengan Wali Jon. Tetapi tiga bulan berlalu dan penantiannya belum berakhir.

    Air mata Gulchera menitik ketika saya menyodorkan kamera digital saya. Foto-foto Wali Jon masih saya simpan. Tiga bulan silam, saya pernah menginap di rumah besar di Ghoz Khan itu. Air mata Gulchera bercampur dengan seutas senyum keharuan menghiasi kerut-kerut pipinya. Saya bisa membayangkan, inilah air mata dan senyum yang sama ketika Gulchera menerima untaian kalung dari Wali Jon.Betapa Gulchera rindu Wali Jon.

    Betapa Gulchera bahagia melihat foto-foto Wali Jon dengan bayi kecilnya. Betapa Gulchera tidak percaya, orang asing yang tiba-tiba saja muncul di pintu rumahnya datang membawa pengobat rindunya. Betapa Gulchera ingin berteriak kepada para petinggi itu, untuk terus membuka pasar bersama ini tiap bulan, kalau bisa tiap minggu, tiap hari. Betapa Gulchera ..., oh, tak ada habis-habisnya foto-foto Wali Jon ini mengaduk-aduk kembali perasaannya.

    Yodgor, Gulchera, dan Wali Jon, hanyalah satu di antara ribuan kisah senada di sini.


    (Bersambung)
     
  17. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Rabu, 26 Maret 2008 | 07:45 WIB

    Tajikistan Sudah Kuat

    Impian orang-orang desa, baik di Tajikistan sini maupun di Afghanistan sana, tentang sebuah pertemuan kembali, masih berupa impian. Bazaar bersama yang disambut dengan penuh suka cita itu ternyata hanya buka sekali saja. Jembatan kembali disegel, dijaga ketat oleh penjaga perbatasan yang tak kenal kompromi.

    Tiga bulan lalu, saya mengintip-ngintip Tajikistan dari seberang sana. Bersama dengan para petinggi Afghan yang penuh dengan mimpi dan harapan. Saya melihat secuil Tajikistan: beberapa tentara Tajik yang dengan fasih berbicara bahasa Persia, menandatangani surat-surat dan mengucapkan selamat kepada Shah dari Panjah. Saya datang kembali ke jembatan ini. Kali ini dari sisi Tajikistan, mengintip-intip Afghanistan yang berupa barisan gunung gundul di seberang sana.

    Tempat ini sepi. Mati. Tentara perbatasan Tajikistan menjaga rapat-rapat pintu gerbang menuju jembatan. Mereka juga perlahan-lahan dibunuh kesepian dan kebosanan. Tentunya tentara-tentara muda ini datang ke sini bukan karena pilihan mereka. Sebagian besar mereka datang dari tempat-tempat yang jauh. Ada yang dari kota modern Dushanbe, ada yang dari kota Khojand jauh di utara sana. Mereka datang ke sini karena terpaksa.

    Anak-anak muda ini sedang menjalani wajib militer. Di Tajikistan semua pemuda wajib mengikuti program ini selama dua tahun penuh, dan harus siap ditempatkan di mana-mana di seluruh pelosok negeri ini yang hampir seluruh wilayahnya termasuk daerah terpencil. Yang beruntung bisa ditugaskan di kota besar macam Dushanbe. Yang tidak beruntung, termasuk di antaranya, datang ke Langar menjaga sebuah jembatan kayu.

    Barak militer yang ditempati para tentara muda di sebelah jembatan, adalah sebuah bangunan kubus kecil dari batu yang dicat putih. Pintunya sudah reot. Dingin dan gelap. Bukan tempat tinggal idaman pastinya. Anak-anak muda yang ditugaskan di sini sebenarnya cukup beruntung. Selain mendapat seragam gratis, makanan dan tempat tinggal cuma-cuma, mereka masih mendapat upah. Satu sampai dua dolar per bulan.

    Saya kembali memandang ke seberang sana. Barisan gunung-gunung gundul di tempat paling terpencil dalam sebuah negara yang termasuk urutan terakhir dalam daftar tempat impian wisata. Orang-orang masih hidup dalam kegelapan. Tak ada listrik. Tak ada jalan raya. Bahkan umur sendiri pun tak ada yang tahu karena tidak pernah sekolah. Perang berpuluh-puluh tahun telah mengunci daerah seberang sungai sana dalam dunianya sendiri.

    Sedangkan di Langar sini, tak banyak pula mimpi yang ditawarkan. Daun-daun kuning berguguran sepanjang jalan beraspal mulus. Bocah-bocah belajar dengan riang di sekolah mungil di punggung bukit. Orang-orang mulai sibuk membajak sawah untuk mempersiapkan lahan untuk ditanami di musim semi nanti. Memang cantik. Tetapi hidup di sini tak secantik kelihatannya. Langar, bersama GBAO dan negeri terisolasi berjudul Tajikistan, bukanlah negeri impian seperti yang diidam-idamkan orang dari seberang sungai sana. Sebagian besar orang tak punya pekerjaan. Uang tak ada sedangkan harga barang-barang terus melambung tinggi. Kelaparan, ambisi-ambisi yang dicampakkan oleh takdir, dan kebosanan hidup dalam kesunyian, terus membayangi desa-desa terpencil di Tajikistan.

    Ketika pasar internasional dibuka di Langar, menghubungkan desa ini dengan Ghoz Khan di Afghanistan sana, saya jadi bertanya-tanya, apa yang membuat orang-orang begitu antusias? Di sebelah sini adalah desa terpencil penuh dengan pengangguran. Di seberang sana adalah dusun-dusun yang masih hidup dalam buntalan masa lalu. Apa yang bisa diperdagangkan?

    Kenyataannya pasar ini disambut dengan gembira oleh semua orang. Ada orang-orang yang terharu biru dalam reuni keluarga, seperti Yodgor, Gulchera dan Wali Jon. Ada para saudagar potongan besi Tajikistan yang laris pembeli. Ada rombongan penunggang keledai, kuda, dan penumpang truk dari Afghanistan sana. Yang datang dari Afghanistan hanya laki-laki. Orang sana berpendapat, siasar, si kepala hitam – bagaimana orang Afghan menyebut kaum wanitanya, memang sebaiknya tinggal di rumah saja.

    Lalu mengapa bazaar yang disambut dengan penuh suka cita ini hanya berlangsung sekali? Tilo, seorang komandan perbatasan Tajikistan menjawabnya.

    "Kami terpaksa menghentikan bazaar ini karena kurang fasilitas. Tidak ada bea cukai, kontrol paspor, karantina. Tugas saya hanya menarik pajak dari para pedagang. Saya hanya tentara, bukan pengambil keputusan. Tetapi semua orang memang berharap bazaar ini bisa dibuka lagi. Kapan? Tidak ada yang tahu."

    Tilo, namanya berarti emas, giginya pun sudah mulai berlapis emas. Tilo ternyata masih ingat saya. Dia adalah secuil Tajikistan yang pernah saya lihat tiga bulan lalu dari seberang sungai sana. Bersama seorang petinggi Tajikistan, dia menyeberangi jembatan itu, bersalam-salaman dengan Shah raja dari Panjah dan pejabat Afghanistan. Saya sempat memotret-motret gambarnya. Dia masih ingat, tiga bulan lalu ada orang asing yang ikut bersama rombongan Shah. Namun sama sekali ia tak menyangka, si orang asing ini kini duduk di hadapannya, di ruang makan keluarga itu yang samar-samar, berbincang-bincang tentang suatu masa tiga bulan yang lalu.

    Jembatan ini, lanjut Tilo, adalah salah satu ambisi besar sang pemimpin umat, Aga Khan, untuk membawa kemajuan kepada umat Ismaili dari lembah Wakhan. Dengan jembatan-jembatan baru yang dibangun, keluarga-keluarga yang terpisah karena perbatasan internasional bisa bersatu kembali. Barang-barang murah dan modern produksi China pun bisa mengalir dengan lancar, tanpa harus memutar jauh melewati Pakistan dan Afghanistan. Pembangunan pun pelan-pelan akan merambah daerah-daerah terpencil di sini. Memang sebuah cita-cita yang indah.

    Tetapi semua tidak mudah. Negara di seberang sungai sana terkenal akan produksi opium, ganja, senjata, dan ekspor terorisnya. Belum lagi perbatasan kedua negara yang hanya berupa sungai saja, yang mudah diloncati para penyelundup.

    "Itu dulu," sanggah Tilo, "antara tahun 1993 dan 1995, ketika gara-gara perang negara kami sangat lemah. Tetapi sekarang, Tajikistan sudah kuat. Kamu lihat, tentara-tentara Tajikistan dengan gagah berpatroli sepanjang sungai. Gaji saya 100 dolar per bulan. Semua tentara mendapat fasilitas gratis dan upah. Kami sudah kuat. Dan Afghanistan juga sudah kuat."

    Daun-daun kuning keemasan terus berguguran, menyelimuti jalan beraspal. Negeri ini sudah kuat. Kebanggaan seorang tentara Tajikistan itu terus terngiang-ngiang dalam benak saya. Saya terus memandang ke seberang sungai sana, melayangkan kembali angan saya bersama dongeng-dongeng tentang Tajikistan, tentang sebuah negeri impian seberang sungai, yang masih bertaburan di dalam benak orang-orang Afghan.



    (Bersambung)
     
  18. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Kamis, 27 Maret 2008 | 07:10 WIB

    Semalam di Alichur

    Di antara semua kesusahan hidup di Tajikistan, yang paling berat adalah transportasi. Langar memang sangat terpencil. Letaknya bukan di jalan utama, sehingga dalam sebulan mungkin hanya ada satu kendaraan saja yang lewat. Saya ingin meneruskan perjalanan ke utara, menuju Pamir Highway yang menghubungkan Tajikistan dengan Kyrgyzstan, negara tujuan saya berikutnya.

    Tetapi menunggu satu bulan di Langar tentu saja bukan pilihan. Visa Tajikistan, yang saya beli dengan harga 250 dolar di Kabul, hanya memberi saya ijin tinggal satu bulan. Khalifa Yodgor memang orang baik. Tahu kesulitan saya, ia membantu mencarikan saya kendaraan yang akan membawa saya melanjutkan perjalanan.

    Pemilik mobil yang satu ini memang sudah lama menganggur. Tahu saya ingin ke Alichur, dia langsung mengeluarkan sederetan hitung-hitungan yang membuat kepala saya pening.

    "Jarak Langar ke Alichur 120 kilometer. Pergi pulang 240 kilometer. Naik turun gunung, 1 liter bensin cuma untuk 3 kilometer. Kamu paling tidak harus memberi 80 liter bensin."
    "Bisa bayar tidak pakai uang?"
    "Terserah kamu, mau bayar pakai bensin atau bayar pakai uang?"

    Apakah dia menganggap saya sebagai suplier bensin yang selalu membawa 80 liter bensin ke mana-mana? Atau memang di sini, di mana BBM langka sampai harganya mencekik leher, bensin pun sudah jadi mata uang? Sebenarnya kalau boleh, saya lebih memilih membayar pakai doa saja.

    "Kalau bayar pakai uang berapa?"

    Dia mengeluarkan kalkulatornya.

    "Empat Somoni per liter bensin. Kali 80 liter. Kamu bisa bayar 320 Somoni!"

    Hah! Sembilan puluh dolar lebih! Mahal amat!. Bukankah harga bensin hanya 3.80 Somoni?

    "Itu harga di Vrang. Di sini, semakin tinggi tempatnya, semakin mahal harga bensinnya," supir itu keukeuh dengan harga yang diberikan. Tidak bisa ditawar. Pilihannya hanya dua, bayar pakai bensin atau dengan lembaran Somoni.
    Saya tak punya uang sebanyak itu. Rasa putus asa mendekat di hati saya. Kami terdiam. Akhirnya, supir mobil mengaku, kalaupun saya bayar, bensinnya juga tidak ada. Harus tunggu dulu sampai ada pedagang bensin dari Vrang atau Ishkashim. Ya ampun! Jadi buat apa tadi saya menawar sampai berbusa-busa. Mungkin itu hanya pengobat bosannya sebagai supir pengangguran.

    Di tengah kebingungan, tiba-tiba Yodgor berlari menghampiri saya menyampaikan kabar gembira. Tetangga-tetangga sedang sibuk men-charter mobil. Mereka semua hendak ke Murghab, jadi saya bisa menumpang dengan damai. Berangkatnya besok, pagi-pagi buta. Saya hampir meloncat saking senangnya. Terima kasih Tuhan! Saya bisa melanjutkan perjalanan.

    Esoknya, pagi-pagi benar, saya berkemas siap berangkat. Saya mengucap selamat tinggal kepada Yodgor, istri dan anak-anaknya. Saya juga pamitan kepada Tilo. Komandan tentara itu, berubah menjadi gembala kambing di pagi hari. Sama seperti Yodgor sang khalifa yang jadi gembala sapi. Saya juga merasa sangat berat meninggalkan Tilo. Ingin sekali saya tinggal lebih lama di Langar. Saya sangat menghargai perjumpaan dengan Tilo. Semuanya seperti suratan takdir yang serba kebetulan. Entah kapan saya bisa berjumpa lagi dengan komandan yang satu ini.

    "Agar nasib boshad," Tilo seakan membaca pikiran saya, "kalau nasib mengizinkan, pasti kita berjumpa lagi."
    ***

    Perjalanan ke arah utara memang berat. Jalanan terus menanjak. Di sebelah kanan kami, Sungai Pyanj dengan setia mengalir. Di seberang sana Afghanistan juga setia berderet-deret. Afghanistan di seberang sana adalah Pamir-e-Kalon, Pamir Besar, menyambungkan lembah Wakhan sampai ke negeri China. Di sisi sebelah sini, jeep Rusia dengan tangguh melintasi jalan beraspal. Di seberang sana, jalan setapak kecil di pinggang gunung dilintasi rombongan karavan unta, kuda, dan keledai. Yang nampak hanya rombongan pria bersurban dalam jubah kebesaran. Mereka adalah para saudagar Pashtun yang datang jauh-jauh dari pedalaman Afghanistan ke Pegunungan Pamir untuk membeli ternak dari penggembala nomaden suku Kirghiz.

    Dunia di seberang sana, yang dipisahkan oleh sungai selebar 20 meter, adalah dunia lain dari zaman ratusan tahun lampau. Dari jeep yang melaju kencang, saya mengamati unta-unta dan orang bersorban di dunia lain itu.

    Perjalanan ini terasa sangat panjang. Karena mobil terlambat berangkat, kami baru sampai di Alichur pukul 10 malam. Setiba di Alichur kami mencari warung untuk makan. Ada sebuah warung kecil di pinggir pemukiman. Suara anjing gembala meraung-raung tanpa henti, mengingatkan saya pada hutan yang penuh serigala. Warung ini gelap gulita. Tak ada listrik di sini. Lampu petromaks menyamarkan wajah-wajah garang para pengunjung warung.

    Saya berasa sudah tidak di Tajikistan lagi. Negeri yang semula sangat familiar kini berubah menjadi asing sama sekali. Orang-orang di warung itu duduk di lantai sambil bersantap dan bercengkerama. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak saya pahami. Saya hanya mengerti bahasa Tajik yang menjadi alat komunikasi saya dengan sesama penumpang dari Langar.

    Pemilik wajah-wajah sangar di warung itu adalah supir truk dari Kyrgyzstan, negara tetangga di utara sana. Pemilik warung pun wanita etnis Kirghiz. Wajahnya dingin. Tak ada senyum dan kata-kata di mulutnya. Seperti orang Afghan, kami duduk berbaris di atas tikar, menantikan semangkuk sup daging kambing penuh minyak. Kami layaknya murid yang menantikan guru membagikan lembar ujian. Orang-orang Tajik rombongan saya duduk membisu. Warung ini dipenuhi bahasa Kirghiz dan aroma vodka.

    Sehabis makan, orang-orang dari Langar segera kembali ke mobil untuk meneruskan perjalanan ke Murghab. Saya memilih tinggal di stolovaya, warung gelap dan asing ini. Pilihan gila? Bisa jadi. Tetapi saya benar-benar ingin mengintip Kyrgyzstan dari bias-bias sinar cahaya para supir truk yang mulutnya menebar aroma vodka.

    Untung di antara sepuluhan penginap di stolovaya ini, ada satu orang Tajik. Satu-satunya orang yang bisa saya ajak ngobrol. Namanya Dudkhoda, orang desa dari Shegnon yang menumpang gratisan truk orang Kirghiz sampai ke Murghab. Dudkhoda berjanji akan membawa saya turut serta bersama supir-supir Kirghiz esok pagi sampai ke Murghab.

    Orang Kirghiz berbeda perawakannya dengan orang Tajik. Kalau orang Tajik lebih mirip orang Eropa, berhidung mancung, bermata lebar, berambut sedikit pirang, bahkan ada beberapa yang berbola mata hijau dan biru, maka orang Kirghiz lebih mirip orang Mongol. Hidungnya datar, matanya kecil, tulang pipinya tinggi. Bahasa Kirghiz terdengar sangat berat dan kasar, penuh suara monoton yang kalau bicara harus memonyong-monyongkan bibir dan menggaruk-nggaruk kerongkongan. Bahasa Kirghiz sama sekali berbeda dengan Bahasa Tajik. Bahasa Tajik mirip bahasa Persia di Iran. Bahasa Kirghiz malah berkerabat dengan Bahasa Turki.

    Yang menjadi bahasa pemersatu di stolovaya mungil ini justru bahasa Rusia. Agak aneh, sebab Moskwa lebih dari lima ribu kilometer jauhnya dari sini. Tetapi, itulah kenyataannya. Bahasa Rusia masih menjadi satu-satunya alat komunikasi di tempat terpencil di balik lekukan gunung-gunung tinggi ini.

    Dengan bahasa Rusia yang terbatas plus gurauan-gurauan konyol, saya berhasil menjalin persahabatan dengan supir-supir Kirghiz itu. Mereka menawari vodka, tetapi saya lebih tertarik belajar bahasa Kirghiz dari mereka.

    "Atyng kim?", nama kamu siapa. Kedengarannya tak susah juga. Wanita gemuk dan galak pemilik stolovaya meminjami saya buku pelajaran bahasa Kirghiz milik anaknya yang masih duduk di bangku SD.

    Saya membolak-balik buku itu. Semuanya dalam bahasa Kirghiz, ditulis dalam huruf-huruf Rusia. Bab pertama, "Ata mekenim Kyrgyzstan". Tanah airku Kyrgyzstan. Saya bersorak bangga. Saya berhasil mengucapkan kalimat pertama saya dalam bahasa Kirghiz. Para supir truk tertawa senang. Pemilik stolovaya yang judes pun ikut tersenyum. Buku mungil yang sobek di sana sini itu nampak sangat menarik. Ada bab tentang lagu kebangsaan, bendera, lambang negara Kyrgyzstan, juga kisah tentang Manas, gunung-gunung tinggi di negara itu, dan kota-kota industri di sana. Sepertinya ini buku geografi, dan memang terbitan negara tetangga.

    Belakangan saya tahu, etnik Kirghiz yang tinggal dan menjadi warga negara Tajikistan diberi kebebasan untuk belajar dalam bahasa sendiri, di samping harus bisa bahasa Tajik. Buku-buku pelajaran bahasa Kirghiz semua didatangkan langsung dari Kyrgyzstan, penuh dengan pesan moral dan semangat kebangsaan negara tetangga. Anak ibu gemuk yang paling besar, Nasir, 10 tahun, lancar menyanyikan lagu kebangsaan Kyrgyzstan. Sebagai penduduk Tajikistan, bahasa Tajiknya sangat terbatas. Tidak heran, sebab di Alichur, yang hampir semua penduduknya dalah suku Kirghiz, bahasa Tajik tidak laku.

    Malam semakin larut. Alichur, padang gembala di pedalaman Pamir, telah menawarkan secuplik Kyrgyzstan kepada saya yang masih mengembara di Tajikistan. Dalam kegelapan total, di balik selimut tebal di atas lantai warung yang keras dan bau, saya terus membatin sambil menggumam, "Ata mekenim Kyrgyzstan... ata mekenim Kyrgyzstan..."



    (Bersambung)
     
  19. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Jumat, 28 Maret 2008 | 08:14 WIB

    Padang Gembala

    Semalam di Alichur, tidur di dalam stolovaya, di atas lantai dingin dan dibungkus selimut tebal yang kotor, mungkin bukan idaman semua petualang. Supir-supir truk yang tidak saya kenal dan saya ingat wajahnya, kecuali satu dua orang saja, tidur berjajar seperti ikan yang digelar di pasar. Dalam kegelapan total, suara dengkuran sahut menyahut, seakan bersaing dengan lolongan anjing-anjing gembala di luar sana. Tak bisa tidur, saya membuka mata. Yang terlihat hanya hitam.

    Tiba-tiba sebuah tangan merangkul saya. Di warung yang sempit ini memang tidak banyak tempat. Saya berbagi tikar dan selimut dengan Dudkhoda, pria Tajik yang menjadi teman bicara saya. Tak tahu apa artinya pelukan ini. Mungkin dia sudah pulas. Tapi, tidak terdengar dengkuran dari mulutnya. Ada hembusan napas yang lebih cepat dari biasanya.

    Saya diam saja.

    Tiba-tiba telapak tangan asing itu meraba-raba tubuh saya. Aduh, apa lagi ini? Bau vodka tercium kuat. Dudkhoda tidak sedang tidur lelap. Sepertinya ia butuh sesuatu untuk pelampiasan hasratnya. Suara dengkuran supir-supir Kirghiz masih bersahutan tanpa henti, seperti konser orkestra. Perjuangan Dudkhoda pun tidak pernah berhenti. Berkali-kali saya mengembalikan tangan itu ke tempat yang seharusnya. Berkali-kali pula tangan itu mendarat lagi di atas tubuh saya.

    Malam itu terasa panjang bagi saya, tapi akhirnya berlalu juga. Saya, yang kecapekan karena perjalanan panjang dari Langar dan seteguk vodka yang merampas kesadaran, akhirnya tertidur pulas dan tak tahu lagi ke mana tangan nakal Dudkhoda mengembara.

    Kabut tipis masih menyelimuti Alichur ketika matahari menampakkan dirinya. Langit yang biru kelam berhamoni indah dengan barisan gunung dan padang rumput yang menghampar. Rumah-rumah yang bentuknya seragam, kotak-kotak serderhana, satu demi satu mengepulkan asap melalui cerobong-cerobong panjang. Anjing-anjing berukuran besar berkeliaran, melolong, dan berlari-lari dengan ganas.

    Kota ini adalah kota orang Kirghiz, bangsa penggembala. Rumah-rumah bertebaran acak di atas padang gembala, mengisi setiap petak yang bisa diisi. Bertebaran tak beraturan bak bintang di langit. Bangsa penggembala yang hidup di alam luas sejak ribuan tahun memang tidak perlu tahu terlalu banyak tentang aturan tata kota. Sejauh mata memandang, hanya ada padang dan gunung-gunung tak bertuan. Luas tak berbatas. Apa gunanya tata kota di sini?

    Padang ini, yang mulai mengering di bulan Oktober, pastilah hamparan permadani hijau yang sangat indah yang menyelimuti bumi. Padang inilah yang menarik kaum penggembala dan ternak-ternak mereka di musim panas. Orang Kirghiz, salah satu bangsa nomaden di Asia Tengah, tersebar di Tajikistan, Afghanistan, Kazakhstan, China, dan tentu saja negaranya sendiri Kyrgyzstan.

    Karakteristik orang Kirghiz sangat Mongoloid, sangat jauh berbeda dengan orang Tajik yang berkarakteristik wajah Eropa. Mata yang relatif sipit dan hidung datar membuat mereka sangat mirip dengan orang China dan Jepang. Mereka menganut agama Islam Sunni, sedangkan orang Tajik di Pegunungan Pamir umumnya Syiah sekte Ismaili. Tetapi, karena kebudayaan nomaden yang sangat kental dan agama Islam dalam sejarah orang Kirghiz masih relatif baru, kehidupan orang Kirghiz jauh dari kesan religius. Hampir tak ada orang yang bisa membaca huruf Arab. Jangan tanya soal shalat, puasa, atau larangan minum alkohol. Arti Islam direduksi hanya menjadi kalimat syahadat dan pantangan makan daging babi.

    Suku Kirghiz tidak begitu membaur dengan orang Tajik, bangsa mayoritas di Tajikistan. Kendala utama selain budaya, agama, juga bahasa. Jarang sekali orang Kirghiz yang bisa bahasa Tajik, demikian pula sebaliknya. Walaupun dua bangsa ini sama-sama tinggal di Tajikistan, bahasa pemersatu mereka adalah bahasa Rusia. Orang Rusia datang menjajah seluruh penjuru Asia Tengah berabad silam. Mereka jugalah yang menciptakan sebuah negara bernama Tajikistan.

    Nyonya pemilik warung sama sekali tidak bisa bahasa Tajik. Anak-anaknya, Naser (10 tahun) dan Aziz (8 tahun) bisa sedikit-sedikit bahasa Tajik karena diajari di sekolah. Umer, 5 tahun, anak tetangga, malah sama sekali tidak bisa sepatah kata pun bahasa Tajik. Negara Tajikistan memang baru berumur 15 tahun. Paham kebangsaan dalam sanubari etnis-etnis minoritas memang harus ditumbuhkan perlahan. Generasi muda Tajikistan, tak peduli dari etnis mana pun, memang harus bisa berbicara dalam bahasa nasional.

    Alichur mengingatkan saya pada bebasnya hidup pengembara. Naser, Aziz, dan Umer sibuk bermain sepanjang hari. Mengejar gelindingan roda, naik-naik ke atas truk, dorong-dorongan, pukul-pukulan, dan mengejar-ngejar anjing yang ukurannya hampir sama tingginya dengan bocah-bocah itu. Mereka memang pemberani, sebagaimana seharusnya anak-anak gembala.

    Hari ini Dudkhoda berjanji membawa saya ke Murghab dengan menumpang truk orang Kirghiz itu. Dia sibuk menaruh barang bawaannya ke dalam bak terbuka itu. Dua ikat besar kayu bakar. Supir-supir Kirghiz juga sibuk memeriksa kendaraannya sejak pagi tadi. Ada yang membuka kap mobil, menghidupkan mesin, melemparkan asap hitam ke pelukan langit biru. Truk-truk ini semua buatan Rusia, berlabel besar-besar : KAMA3, dibaca Kamaz. Ada tiga Kamaz yang dibawa supir-supir itu. Semua membawa hewan ternak. Truk-truk ini datang jauh-jauh dari Kyrgyzstan membawa batu bara untuk dijual di Tajikistan. Uang hasil penjualan batu bara mereka belikan kawanan sapi, kambing, dan sejenisnya untuk dipasarkan di negeri Kirghiz sana. Ini bisnis yang paling menguntungkan di sini.Sepanjang hari saya menunggu di dalam warung. Saya menghindari Dudkhoda, yang juga diam sedari pagi. Kami sama sekali tidak membahas apa yang terjadi semalam. Kali ini saya benar-benar butuh bantuannya di tengah orang-orang Kirghiz yang asing ini.

    Lama sekali supir-supir itu mereparasi Kamaz yang mogok. Seorang kakek tua dari Alichur datang ke warung, katanya ingin menumpang sampai ke Murghab juga. Kakek tua itu seakan datang dari dunia lain saja. Gurat-gurat di wajahnya mengesankan umurnya sudah lebih dari seabad. Jubah hitamnya mengantarkan aura kebesaran. Selapis kumis tipis dan sejumput jenggot, mengingatkan saya pada Genghis Khan. Topi bulunya benar-benar dari kulit hewan, menyatu dengan batok kepalanya, membuatnya seperti manusia berbulu hewan.

    Saya ingin sekali melihat kakek dari zaman kemarin ini naik ke Kamaz. Pasti menjadi perpaduan yang indah antara masa kini dengan masa prasejarah. Tetapi sayang, supir-supir truk ini tidak menerima penumpang gratisan. Dudkhoda setidaknya menawarkan makan malam kepada supir Kamaz di Murghab nanti. Dan saya sebagai tamu Dudkhoda juga akan diangkut gratis. Tetapi tidak untuk kakek Kirghiz tua dengan kepala berbulu rubah.

    Menjelang tengah hari, baru barisan tiga Kamaz ini berderet-deret meninggalkan Alichur. Saya bersorak girang. Melompat ke salah satu Kamaz. Duduk di samping saya adalah Dudkhoda, yang masih membuat saya diam seribu bahasa. Tak apa. Pemandangan di kanan kiri jalan sangat mengagumkan. Langit seakan tertangkup di atas kepala. Garis cakrawala bersambung dengan lekukan gunung. Jajaran gunung di kejauhan sana nampak hampir sama tingginya dengan Kamaz yang saya tumpangi. Entah kami sedang berada di ketinggian berapa, tetapi yang jelas tidak kalah dari puncak Semeru.

    Kamaz, ibarat gajah di dunia hewan. Besar, tangguh, perkasa. Tetapi ia memang lambat. Berkali-kali raksasa jalanan ini mogok. Saya melompat turun. Jehangir, supir truk yang orang Kirghiz dan berbadan tambun itu sibuk membuka mesin. Penumpang harus turun. Saya dan Dudkhoda menggigil kedinginan. Angin di Pegunungan Pamir memang bukan tipe angin sepoi-sepoi untuk dinikmati. Setiap kali angin menerpa wajah saya, bulu-bulu hidung saya langsung membeku. Sakit sekali.

    Murghab tak lebih dari 100 kilometer jauhnya dari Alichur. Tetapi perjalanan di tengah padang gembala dan gunung-gunung tinggi ini memakan waktu hampir seharian. Kamaz merayap lambat di atas Pamir Highway yang beraspal mulus. Ketika jalan mendaki, kendaraan ini memanjat pelan-pelan sambil menghembuskan gas buangan tanpa henti. Kalau jalan turun pun Kamaz juga harus merayap perlahan kalau tidak ingin tergelincir. Menjelang gelap rombongan Kamaz kami baru sampai di pintu gerbang kota Murghab.

    Di pintu gerbang ini ada pos pemeriksaan tentara Tajikistan. GBAO memang propinsi sensitif. Pemeriksaan tentara di mana-mana. Semua melompat turun dan menunjukkan paspor masing-masing. Saya masuk ke ruang gelap itu. Ada kasur bersusun. Seorang tentara, sepertinya komandan, sambil tiduran berbungkus selimut, memeriksa dokumen-dokumen kami. Supir-supir Kirghiz menunjukkan paspor biru mereka, berjudul besar: KYRGYZ RESPUBLIKASY. Dengan garang, di balik selimut tebal dan di atas sandaran bantal kumalnya, si komandan membolak-balik paspor-paspor itu.

    Suaranya tiba-tiba menggelegar.

    "Mana registrasinya?"

    Supir-supir Kirghiz tertunduk, diam seribu bahasa. Orang-orang bertubuh besar ini seketika meringkuk seperti murid SD yang disetrap gurunya karena lupa mengerjakan pe er. Si komandan langsung melanjutkan ceramahnya tentang arti pentingnya registrasi, sambil menunjukkan contoh registrasi 'yang baik dan benar' dari paspor Indonesia saya.

    "Brat, kalau kamu masuk Tajikistan, kamu harus ikut hukum Tajikistan," suara menggelegar dalam bahasa Rusia yang kasar dan cepat terus berkumandang dari balik selimut tebal.
    "Kalau tinggal di sini lebih dari tiga hari, registrasi wajib hukumnya!" sergap komandan itu lagi.

    Dia melemparkan paspor-paspor Kyrgyzstan itu seperti buku-buku tak berharga. Semua supir Kirghiz ini kena denda, masing-masing 20 Somoni atau sekitar 6 dolar.

    Dua puluh Somoni membuat salah satu supir ini menitikkan air mata. Bagi pria bertubuh besar dan garang ini, kehilangan 20 Somoni hanya gara-gara cap registrasi cukup untuk memproduksi rasa haru dan sedih. Untuk urusan duit, komandan Tajikistan susah ditawar. Dibandingkan dengan orang-orang Kirghiz ini, saya sebenarnya membayar jauh lebih mahal demi mendapatkan registrasi 'yang baik dan benar'. Sepuluh dolar di Dushanbe dan sepuluh dolar di Khorog untuk mendapatkan dua cap buruk rupa di tengah paspor saya. Tajikistan memang hidup dari gemerisik roda birokrasi.

    Langit semakin gelap ketika rombongan kami sampai ke pekarangan rumah Dudkhoda. Rumah-rumah di sini semua gelap dan bobrok. Sunyi. Tak ada kehidupan, laksana rumah hantu. Tetapi rumah-rumah hantu di pekarangan inilah yang membuat saya berbalik simpati kepada Dudkhoda.



    (Bersambung)
     
  20. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Senin, 31 Maret 2008 | 07:45 WIB

    Kisah Seorang Geologis dari Murghab

    Barisan rumah muram dengan bayang-bayangnya yang seram menyambut kami ketika tiba di komplek perumahan yang ditinggali Dudkhoda di pinggiran kota Murghab. Seperti rumah hantu, lusinan rumah reyot yang atapnya ambruk dengan dinding yang mengelupas berbaris dan bersaf di komplek ini. Sepertinya hanya keluarga Dudkhoda yang tinggal di tempat ini. Rumah-rumah lain tak berpenghuni. Tetapi, barisan rumah yang hampir rubuh ini mengajarkan sesuatu yang paling berharga dalam perjalanan saya ke Murghab. Tentang cinta dan pengharapan.

    Rumah Dudkhoda hanyalah sepetak ruangan berukuran 3 kali 4 meter yang dihuninya bersama istri dan dua orang anaknya, ditambah seekor kucing kecil.

    "Musim dingin di Murghab sini dingin sekali, jadi rumah kecil itu yang bagus," Dudkhoda beralasan menutupi kekurangannya.

    Puterinya yang baru berumur 9 tahun langsung sibuk mengiris kentang yang dibawa ayahnya ketika saya dan rombongan supir-supir truk Kyrgyzstan datang. Istrinya menyiapkan penggorengan penuh dengan minyak. Para supir dan kernet dari Kyrgyzstan duduk mengelilingi meja kecil. Tak ada listrik. Mata orang-orang Kirghiz berkelap-kelip memantulkan sinar lampu petromaks yang menggantung di langit-langit. Saya menangkap rasa lapar yang amat sangat di mata itu. Dudkhoda menyiapkan sepoci teh hijau. Tak ada gula. Ia tak punya uang. Harga gula mahal, 4 Somoni per kilogram.

    Cukup lama juga istri Dudkhoda memasak. Kami sudah tak sabar menunggu. Kamar ini terlalu kecil untuk dimasuki orang Kirghiz yang berbadan besar. Beberapa harus menunggu di luar, ditelan dinginnya udara puncak gunung yang menggigit. Ketika akhirnya bubur kentang goreng disajikan para supir truk itu menyerbu dengan rakus. Istri Dudkhoda hanya memandang dengan senyum. Kedua anak Dudkhoda juga hanya duduk, menonton, dengan tatapan mata yang saya tahu apa artinya.

    Saya menawari Safar Muhammad, putra Dudkhoda, untuk makan bersama kami.
    Dia menggeleng.
    “Sudah makan,” katanya.
    Dia berbohong.

    Tak sampai lima menit, lauk kentang berminyak di atas piring supir-supir Kirghiz tandas.

    "Spasiba! Terima kasih!" hanya itu ucapan mereka sebelum meloncat masuk kembali ke dalam truk, meneruskan perjalanan ke Kyrgyzstan.

    Kloter kedua supir-supir Kirghiz masuk. Kini bersama beberapa wanita dari Murghab, calon penumpang truk yang akan ikut ke Kyrgyzstan. Isteri Dudkhoda kembali menyiapkan irisan kentang untuk dihidangkan di atas meja setinggi lutut di ruangan itu. Tak sampai lima menit, kentang dalam piring besar pun ludes. Hanya genangan minyak yang tersisa. Wanita-wanita desa itu juga jago makan rupanya. Jari-jari mungil anak-anak Dukhoda sibuk mencolek sisa minyak di atas piring lalu lidah merah mereka menjulur menjilati jari-jari kecil itu dengan lahapnya.

    Kehidupan Dudkhoda memang mengenaskan. Saya baru tahu kemudian pria miskin ini ternyata seorang ahli geologi. Tapi, seperti sebagian besar orang di negara ini, dia juga pengangguran. Ketika delapan puluh persen penduduk GBAO adalah pengangguran, siapa yang butuh ahli geologi di kota terpencil di pegunungan seperti ini? Gajinya datang langsung dari ibukota Dushanbe. Dua ratus lima puluh Somoni per tahun, sekitar 70 dolar. Dengan uang sebesar itu, apa yang diharapkan? Setidaknya pemerintah memberinya tempat tinggal. Sebuah kamar sempit di komplek rumah hantu ini.

    Lembaga swadaya masyarakat yang berbondong-bondong masuk wilayah GBAO memang memberi harapan bagi Dudkhoda dan keluarga-keluarga miskin lainnya di Murghab. Dudkhoda ikut program mikrokredit. Ia menerima 200 dolar untuk memulai usahanya. Tetapi bisnis apa yang bisa dimulai dengan modal segitu? Untuk transport barang saja sudah langsung habis. Usahanya gagal total.

    Kini istrinya yang menjadi tulang punggung keluarga. Setiap malam perempuan yang wajahnya sudah berkerut di umurnya yang masih muda itu sibuk menyiapkan adonan tepung. Esok paginya tepung itu dioven. Roti nan yang dibuatnya kemudian dijual di pasar kota Murghab. Setiap hari ia menjual sepuluh nan, 1 Somoni per buah.

    Kalau lagi mujur, 10 Somoni bisa didapatkan dari berdagang roti tebal itu. Namun, jumlah itu bukan keuntungan bersih. Untuk membuat sepuluh roti, dibutuhkan 5 kilogram tepung, yang biayanya 7 Somoni 50 diram. Paling banyak, keluarga Dudkhoda hanya mendapat untung 2 Somoni 50 diram per hari. Tak sampai 8.000 Rupiah. Itu sudah maksimal. Biasanya istri Dudkhoda hanya mampu menjual tiga bilah roti setelah menunggu seharian di pasar kota Murghab. Seperti komplek perumahan ini pasar itu juga laksana pasar hantu. Sepi pembeli. Tak heran gula dan beras sudah lama lenyap di atas meja makan keluarga Dudkhoda.

    Dudkhoda memang sudah tidak punya apa-apa lagi. Tetapi dia masih punya keramahtamahan. Sebagai pemeluk Ismaili, dia berkewajiban memberi makan para tamu walaupun dirinya sendiri kelaparan. Dia juga masih punya harapan.

    "Pamir akan jadi lebih baik. Pamir akan jadi lebih baik," begitu sering dia berucap.

    Dia tak menyesali perginya Uni Soviet. Dia tak meratapi kejatuhan negara baru Tajikistan sejak awal kemerdekaannya. Dia tak menangisi hidupnya yang tak lebih dari bertahan menyambung hari. Hidup di jaman Uni Soviet memang lebih baik, semua orang punya pekerjaan. Tetapi otak tak bekerja, karena semua diatur dari pusat. Sekarang, di kehidupan yang hancur lebur ini, orang mau tak mau harus mempekerjakan otaknya.

    "Pamir akan jadi lebih baik. Suatu hari nanti. Pasti," sebuah kalimat yang diucapkan dengan penuh keyakinan oleh seorang penduduk Murghab yang terpuruk dalam kekecewaan namun penuh oleh harapan. Sebuah kalimat dari komplek rumah reyot tak berpenghuni yang justru mengajarkan saya bagian terpenting dalam hidup: cinta dan pengharapan.



    (Bersambung)
     
  21. aqua00 M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Feb 17, 2010
    Messages:
    765
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +1,047 / -0
    Agustinus Wibowo | Selasa, 1 April 2008 | 08:00 WIB

    Di Atas Reruntuhan Mimpi

    Murghab memang didirikan di atas sebuah mimpi: sebuah kota perbatasan Uni Soviet yang tangguh di puncak pegunungan Pamir. Orang-orang dari lembah Wakhan, Shegnon, bahkan Kyrgyzstan, datang ke sini untuk membangun harapan dan impian itu. Tetapi negeri impian tidak selalu indah.

    Kota ini terisolasi dari dunia luar setelah perang saudara meletus di negara baru Tajikistan. Penduduk bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga tak punya makanan. Mereka tak seberuntung orang-orang desa yang masih bertahan hidup dari ladang-ladang dan kebun. Di Murghab, orang hanya punya sepetak rumah. Tak ada uang, berarti juga tak ada makanan.

    Saya menginap di rumah Gulnoro, wanita berumur 54 tahun, adik khalifa Yodgor dari desa Langar. Gulnoro sudah lama sekali tidak melihat kakaknya. Terakhir kali dua tahun lalu. Jarak dari Murghab ke Langar tak lebih 270 kilometer, tetapi paling murah orang harus membayar 50 Somoni, sekitar 15 dollar. Sedangkan gaji Gulnoro sebagai guru sekolah dasar hanya 80 Somoni per bulan, itu pun masih berat untuk menghidupi keluarganya. Pulang kampung ke Langar adalah prioritas kesekian dari tumpukan tuntutan hidup.

    Suami Gulnoro tidak bekerja. Beig, 56 tahun, sudah hampir setahun ini menganggur. Dulu dia bekerja di Rusia. Karena kemiskinan negerinya, banyak sekali pria-pria Tajik yang bekerja ke luar negeri, terutama ke negara-negara kaya macam Rusia, Ukraina, dan Kazakhstan.

    "Tetapi bekerja di sana sangat berat. Bagi orang miskin hidup di sana sangat susah. Gajinya pun sebenarnya tidak terlalu tinggi," keluh Beig.

    Orang Tajik, karena kemiskinan dan pekerja migrannya, sering dipandang rendah di seluruh penjuru bekas Uni Soviet. Kini, keluarga ini sepenuhnya bertumpu pada Gulnoro, si guru SD.
    Kata favorit Gulnoro adalah qin dan bichara, susah dan malang.
    "Hidup di sini qin dan bichara," Gulnoro mengucapkan kalimat ini lebih dari selusin kali dalam sehari.

    Dengan pendapatannya yang cuma 80 Somoni, ia harus menghidupi suami dan ketiga anaknya. Sekarung tepung harganya sudah 70 Somoni. Itu pun masih belum cukup untuk satu bulan. Nasi, makanan kesukaan Gulnoro, sudah lama lenyap dari menu keluarga itu karena harganya melambung tinggi di daerah pegunungan ini. Semua barang harus dibeli dari pasar. Dan, semua butuh uang yang tidak sedikit. Kakaknya di Langar masih berbaik hati mengirim karung demi karung kentang kepada Gulnoro, dititipkan kepada truk atau mobil apa pun yang melintas dari Langar.

    Terlepas dari kesusahan hidupnya, Gulnoro bukan keluarga miskin. Mereka punya rumah besar. Ada dua ruangan utama. Satu yang lapang untuk musim panas. Satu yang kecil dan rapat untuk musim dingin. Toilet ada di luar, di sebelah rumah, dekat kandang kambing. Tradisi orang Tajik memang tidak menaruh toilet di dalam rumah. Gulnoro punya TV dan satelit digital. Ada juga oven kuno untuk membuat roti. Cerobong tak pernah henti menyemburkan asap ke langit dingin Murghab.

    Walaupun pendapatan Gulnoro mungkin lebih rendah dari pendapatan seorang pengemis di Jakarta, ia tak pernah malu akan hidupnya. Walaupun Tajikistan sangat miskin, di sini tidak ada gelandangan. Panji-panji komunisme yang berkibar bersama Uni Soviet telah mengangkat derajad kaum miskin di seluruh penjuru negeri dan membuat semua orang sejajar. Tidak ada hal yang lebih memalukan daripada meminta-minta belas kasihan orang lain.

    Kalaupun ada beban terberat bagi Gulnoro, itu adalah Hadisa, putri bungsunya. Hadisa memang bukan kebanggaan siapa-siapa. Orang tua mana yang bangga punya anak usia 9 tahun dengan otak setara dengan bayi umur 2 tahun? Setiap hari Hadisa butuh sebuah buku untuk disobek-sobek. Kalau senang, tawanya yang lebar menunjukkan gigi-geliginya yang lancip dan tak lengkap tumbuh. Kalau marah, dia berteriak dan menendang-nendang panggung kayu di rumah Gulnoro. Hadisa masih belum bisa membuka bungkus permen sendiri. Air liur membanjiri tubuhnya.

    Gadis ini hidup dalam kesendiriannya, dalam dunianya. Namun ada garis-garis tak tampak mata yang menghubungkan dunia Hadisa dengan dunia kita. Rasa ingin tahunya muncul setiap kali melihat orang yang tak dikenalnya. Hadisa selalu berusaha meraih dan menyentuh para tamu Gulnoro dengan jari-jarinya yang basah oleh air liur, seolah berusaha menerjemahkan mereka ke dalam alam pikirnya yang sederhana.

    Hadisa selalu bahagia dalam dunia yang hanya dipahaminya sendiri. Dia tak mempunyai kekhawatiran akan hari esok, seperti yang dimiliki Gulnoro, suaminya, dan tatapan mata redup lainnya di seluruh penjuru Murghab. Hidup tanpa kekhawatiran adalah surga yang sebenarnya.

    Perlahan-lahan saya mulai mengagumi kecantikan Hadisa.

    Hadisa mungkin adalah aib bagi Gulnoro dan suaminya Beig. Mereka tak pernah memamerkan Hadisa kepada kawan-kawan mereka. Tentu saja, tak ada yang bisa dibanggakan memiliki anak macam Hadisa. Tetapi, Hadisa adalah curahan kasih sayang seluruh anggota keluarga itu. Ketika Hadisa mengantuk, dia menangis keras-keras seperti layaknya bayi, dan Beig akan menciuminya dengan penuh kasih sayang hingga gadis itu terlelap. Ketika Hadisa bangun, giliran Gulnoro yang dengan lembut mencium dahinya, hidungnya, bibirnya, sambil memasangkan kancing-kancing bajunya. Akim dan Olim, kakak-kakak Hadisa, juga suka bercanda dengannya. Tawa gadis itu menjadi tawa seluruh keluarga. Hadisa, bukan lagi menjadi beban yang ditangisi, tetapi berkah Tuhan yang harus disyukuri.

    Seketika, wajah-wajah Hadisa bermunculan di sekeliling saya. Tetangga tepat di sebelah rumah Gulnoro, orang Kirghiz, juga punya cerita yang sama. Anak lelaki mereka yang lahir satu bulan sesudah Hadisa, juga cacat mental. Meterbek, nama bocah ini, bisa jalan keluar rumah sendiri, dan bisa membuat kalimat-kalimat sederhana. Kerjanya menggoda anak-anak sekolah yang baru pulang. Seringainya terkembang, memamerkan barisan giginya yang jarang.

    Di seberang rumah Gulnoro juga ada bocah bernasib serupa. Di belakang rumah juga ada. Di bagian lain kota ini juga ada. Dan, yang disembunyikan di balik tembok-tembok rumah juga lebih banyak lagi. Anak-anak ini berusia antara 9 hingga 11 tahun. Tahun kelahiran mereka adalah saat-saat susah di provinsi GBAO, yang menderita karena diisolasi oleh pemerintah negaranya sendiri. Jangankan layanan kesehatan bagi ibu hamil, makanan untuk mengisi perut pun tak ada.

    Seringai gigi bolong anak-anak cacat mental adalah wajah Murghab yang senantiasa tergurat di benak saya. Juga tatapan mata kosong dari orang-orang yang hanya membuang waktu menghabiskan hidup. Tak ada pekerjaan, tak ada lagi impian. Betapa mengenaskannya pasar kota Murghab. Orang berjualan barang-barang yang tak terjangkau harganya oleh calon pembeli. Istri Dudkhoda, dengan 10 nan yang dibawanya, cuma berhasil menjual tiga roti, setelah menunggu dari pagi hingga sore di pasar.

    Ekonomi mati. Orang berjualan tak ada yang beli. Yang hendak membeli pun tak punya uang. Yang ingin punya uang tak ada pekerjaan. Orang-orang suka ke pasar hanya untuk melihat-lihat barang. Itu sudah cukup untuk melipur impian mereka yang hampa. Yang lain hanya duduk-duduk di teras rumah sepanjang hari, mengisi hidup dengan bualan dan omongan kosong. Ada lagi yang hanya menyusuri jalan-jalan kecil, berjalan ke berbagai arah tapi tanpa tujuan. Pria-pria melepaskan kebosanan hidupnya dengan menenggak vodka dan teler di tengah pasar. Jangan tanya dari mana mereka dapat uang untuk beli vodka. Yang jelas Murghab bukan tempat yang nyaman untuk keluyuran di malam hari. Para polisi yang menjaga daerah perbatasan ini pun digerogoti kebosanan yang tiada akhirnya. Salah satu hiburan mereka adalah menggoda gadis-gadis Kirgiz yang berangkat sekolah.

    Apa cita-citamu kalau besar nanti, saya bertanya kepada Olim, anak Gulnoro yang berumur 14 tahun yang belajar di sekolah menengah.

    "Ingin jadi supir," katanya mantap. Ketika anak-anak di belahan dunia lain bercita-cita menjadi dokter, insinyur, dan presiden, bocah Murghab ini malah ingin menjadi supir.
    "Supir pesawat atau supir bus?" saya masih penasaran.
    "Tentu saja supir bus."
    "Saya juga ingin jadi supir," kata Tursunboy, anak tetangga sebelah, lebih mantap.

    Beig yang mendengar percakapan ini langsung berubah air mukanya.
    "Apa-apaan ini? Aku tak ingin punya anak yang cita-citanya cuma ingin jadi supir. Mau jadi apa hidup ini nanti? Sama sekali tidak ada harapan. Tidak ada tujuan hidup!"

    Gulnoro menenangkan suaminya yang sudah hampir setahun jadi pengangguran.
    "Apa salahnya sih jadi supir? Di Tajikistan, supir juga sekolah di universitas!"

    "Jadikan GBAO sebagai pintu gerbang emas bagi masa depan gemilang Tajikistan," demikian slogan Presiden Emomali Rahmon yang terpampang di mana-mana. Ada impian, ada harapan. Tetapi itu datangnya jauh dari Dushanbe sana.

    Inikah negeri impian yang dulu pernah saya lihat dari seberang sungai sana?


    (Bersambung)
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.