1. Disarankan registrasi memakai email gmail. Problem reset email maupun registrasi silakan email kami di inquiry@idws.id menggunakan email terkait.
  2. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin support forum IDWS, bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi Gatotkaca di sini yaa~
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

OriFic Allblack

Discussion in 'Fiction' started by infernus, Mar 2, 2015.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. infernus M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Apr 17, 2009
    Messages:
    1,142
    Trophy Points:
    161
    Ratings:
    +1,618 / -2

    Judul: ALLBLΛCK
    Genre: Psychological; Supernatural; Sci-fi; Action; Tragedy
    Penulis: fsc
    Official page | Versi bahasa Inggris


    [​IMG]


    Sinopsis:
    Semalam aku terbangun tanpa bisa ingat apa yang sudah terjadi padaku, seakan aku baru terlahir kemarin. Namun juga tidak ada yang bisa membuktikan kalau "masa lalu" itu nyata. Bisa saja kita baru terlahir sekarang dan apa yang ada di dalam ingatan kita hanyalah rekayasa.


    Seperti itulah yang kurasakan saat ini; tersesat, kebingungan, dan tidak yakin ke mana harus melangkah. Jadi mungkin saja aku baru terlahir semalam, tapi entah bagaimana, "masa lalu" mengejarku. Aku tidak bisa mengingatnya, tapi mereka bilang aku menyebabkan jatuhnya sebuah helicopter.


    Sialan! Seandainya aku bisa mengingat sesuatu! Namaku, aku bahkan tidak bisa ingat namaku sendiri! Tapi kenapa? Kenapa meski aku tidak bisa ingat namaku, aku bisa ingat dengan orang yang menyebabkanku menjadi seperti ini.


    Tidak cuma itu, aku bahkan tidak yakin kalau aku ini manusia. Tidak setelah apa yang terjadi hari ini. Aku bisa menghentikan hujan. Tidak seperti mengubah cuaca dari hujan menjadi cerah, tapi... Aku membuat ribuan tetesan air hujan berhenti jatuh, menggantungkannya di udara seperti gravitasi tidak berpengaruh di sekitarku.


    ...


    Jauh dalam lubuk hatiku, aku yakin kalau aku harus mengakhiri semua ini.


    Namaku <...>, biar kuceritakan kisahku.


    Jilid 1 - Project
    α - Nous Bagian 1
    α - Nous Bagian 2
    β - Jati Diri
    γ - Sejarah dan Kenangan
    δ - Buntut
    ε - Undangan
    ζ - Kepingan Pertama yang Hilang


    Keywords: amnesia; dementia; kenyataan yang nyaris tidak bisa dibedakan; time travel; lucid dream; superfiksi; 2deep4umadbro
     
    Last edited: Mar 2, 2015
  2. Ramasinta Tukang Iklan

  3. infernus M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Apr 17, 2009
    Messages:
    1,142
    Trophy Points:
    161
    Ratings:
    +1,618 / -2
    ALLBLΛCK - α - Nous (Bagian Pertama)

    ALLBLΛCK
    - α -
    Nous

    19 Juni 2010
    Lokasi tidak diketahui
    Waktu tidak diketahui


    "Apa yang akan kau lihat saat kau mati?"

    Serantai kata melintas dalam benakku saat aku menatap lemah ke arah permainan warna hitam dan abu-abu di langit badai yang tampak murka. Pemandangan inilah yang pertama kali kulihat setelah entah apa yang sudah terjadi padaku dan entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Serantai kata itu juga adalah hal pertama yang kupikirkan, entah apa alasannya, mungkin hanya instingku yang mencoba mencari tahu apa aku masih hidup.

    Namun pertanyaanku tidak berubah, apa yang akan kulihat saat aku mati? Pikiranku terlalu lemah untuk melakukan simulasi. Meski pertanyaanku belum terjawab, bisa melihat semesta yang tak terbatas dengan jarak yang terbatas sudah pasti adalah pertanda bahwa aku masih hidup. Aku hanya bisa mengedip berulang kali sementara seluruh tubuhku serasa terseret ke atas dan ke bawah tanpa menyentuh permukaan yang padat. Aku tidak sedang jatuh, tapi sesuatu yang lain.

    Ditambah, seluruh badanku terasa basah, seluruh tubuhku juga terbalut kain yang tebal. Tetesan hujan yang jatuh ke wajahku pun memantul menari, sementara pakaian yang kukenakan menyerap mereka. Merasakan sensasi terseret ke atas dan ke bawah ini, aku mulai sadar kalau aku sedang mengapung di atas lautan yang bergejolak dengan langit yang mengamuk di atasku.

    Indra pendengaranku perlahan mulai aktif, suara yang bisa kudengar hanyalah suara tetesan hujan yang jatuh dari langit gagal menembus timbunan air asin Bumi. Meskipun bukan musik, namun suaranya terdengar indah di telingaku. Terkadang aku sempatkan mengagumi bagaimana samudra bagai memelasku. Meski cuacanya begitu ganas dan ombak yang terus naik dan turun, tidak pernah sekalipun samudra menggulungku ke dalam satupun ombaknya yang kokoh.

    Bisa saja aku tenggelam sekarang, namun bagaikan lautan ini memiliki rencananya sendiri. Jika bicara secara teori, berat badanku tidak cukup untuk menekan kepadatan air asin samudra, itulah sebabnya aku tidak tenggelam. Namun aku tetap merasa bagaikan sedang dipermainkan oleh takdir.

    Sejujurnya aku tidak yakin aku bisa selamat dari situasi ini. Sendirian di tempat yang luas seperti ini, meskipun aku memeras suaraku hingga habis, aku tidak yakin akan ada orang yang mendengar suaraku.

    "..."

    Meskipun aku mencoba, tidak ada sedikitpun suara keluar dari mulutku. ketidakadaannya harapan dalam keadaanku ini, rasa dingin yang kurasakan di dalam balutan kain tebal lembab yang membalut tubuhku yang letih, ayunan lemah yang menenangkan dari nyanyian penidur badai, dan chiaroscuro yang dimainkan langit saat awan gelap menyembunyikan angkasa pudar, semuanya mengakibatkanku merasakan kantuk yang tidak terahankan oleh tubuhku yang sudah sangat lemas. Perlahan dan pasti, mataku terjerumus ke dalam pertempuran yang tidak mungkin kumenangkan melawan kantuk.

    "..."

    [Ada yang mengapung di sana!]

    "..."

    [Selamatkan dia!]

    "..."

    [Siap?! Tarik!]

    "..."

    [Dia masih hidup?!]

    [Apa dia bernafas?!]

    [Bagaimana dia bisa ada di tempat seperti ini?!]

    "..."

    [Detak jantungnya terlalu lemah!]

    "..."

    [...]

    "..."

    [Kita sudah melakukan apa yang kita bisa, sisanya tergantung dia sendiri...]

    "..."

    Mungkin aku hanya bermimpi, aku kira aku mendengar suara-suara masuk ke dalam indra pendengaranku saat aku sedang beristirahat dalam tidur tak bermimpi. Meski aku sedang tidur dalam tidur yang teramat dalam, tubuhku mulai mendapatkan kembali fungsi-fungsinya, namun belum cukup untuk bisa membangunkanku. Justru pikiranku malah menciptakan sebuah mimpi, bukan mimpi liar di mana aku mengalami sesuatu yang belum pernah kualami dalam saat-saat mengecewakan yang tak bisa dikalahkan yang kita sebut dengan nama "kenyataan." Namun sebuah mimpi yang terasa sangat nyata, mimpi itu memerangkapku dan membuatku kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan.

    Kedua kelopak mataku mulai mengangkat, kedua bola mataku mengenali sebuah meja kayu di hadapanku. Sementara sosokku terduduk di atas sebuah kursi dengan kedua tanganku tergeletak di kedua lengannya. Saat aku perlahan menaikkan kepalaku, aku bisa merasakan sedikit tolak balik dari gerakanku sendiri. Aku merasakan tubuhku sedikit berputar, saat itulah aku sadar bahwa aku sedang terduduk di sebuah kursi putar.

    "Anda sudah bangun?"

    Sebuah suara membuatku waspada, untuk sesaat aku berbalik dengan panik untuk mencari sumbernya. Namun bukannya menemukan dari mana asalnya, aku malah menyadari sebuah fakta yang menakutkan; tempat di mana aku berada ini benar-benar sebuah tempat yang tidak mungkin ada. Baik kursi, meja, dan sosokku berada di sebuah ruang luas di mana lantainya adalah hitam tak berdasar dan langit-langitnya adalah abu-abu tak beratap dan dindingnya, jikapun ada, adalah gradasi antara hitam dan abu-abu tak berujung.

    "Tidak perlu panik, ingatlah bahwa saya sudah berjanji untuk tidak menyakiti Anda."

    Dengan kaget aku beranjak dari kursi tempatku duduk, sambil berusaha mencari asal suara itu. Sudah kucoba memindai setiap sudut dari tempat ini, dari belakang berputar hingga ke belakangku lagi, namun masih tidak bisa kutemukan, aku benar-benar sendirian di tempat ini.

    "Silahkan, <...>, duduklah, saya akan jelaskan semuanya."

    Aku putar badanku dengan terkejut, kali ini karena aku yakin bahwa suara itu datang dari belakangku. Kedua bola mataku mengembang saat aku menemukan sesosok silhouette hitam pria berdiri di belakang meja. Seluruh sosoknya ditutupi kegelapan hingga sulit bagiku melihat apapun bagian tubuhnya. Namun dari silhouettenya, yang bisa kulihat hanyalah bahwa tingginya yang sekitar 170 centimeter dan mengenakan sejenis mantel dokter.

    "Sebentar, bagaimana dia memanggilku tadi?"

    Dia hanya baru mengatakan tiga kalimat dan di kalimat terahirnya dia baru saja menyebut namaku, aku bisa ingat semua yang ia katakan, namun bagaimanapun aku mengulang apa yang ia katakan dalam benakku, aku tidak bisa mendengar namaku yang ia ucapkan.

    "Saya paham bahwa Anda sudah bersedia mengikuti program kami---"

    "Apa panggilanmu padaku tadi?!"

    Aku beranjak dan berjalan mengitari meja untuk mendekatinya dengan kasar, namun saat kuayunkan tanganku untuk meraih kerahnya, tanganku hanya melewatinya seakan aku mencoba untuk menyentuh hantu. Sosoknya juga menghilang saat jariku menyentuh silhouettenya, menghilangnya sosok itu membuatku berputar-putar dengan panik mencari sosoknya. Meskipun sosoknya sudah hilang, suaranya masih bisa terdengar melanjutkan perkataannya dari punggungku.

    "...dan saya berterima kasih atas kesediannya. Percayalah pada saya saat saya bilang Anda akan sangat berjasa jika anda berhasil."

    Begitu aku berbalik, aku menemukan bahwa logika di tempat ini sudah dibengkokkan. Meja yang harusnya sudah kuitari dan berada sekitar empat langkah dariku kini tiba-tiba sudah berada tepat di hadapanku. Karena merasa ketakutan, aku mengambil sebuah langkah mundur. Namun punggung pahaku menabrak sesuatu yang membuatku kehilangan keseimbangan. Aku siapkan pantatku untuk mendarat di atas sesuatu yang padat, namun jatuhku berhenti di tengah jalan dan mendarat di sesuatu yang kukenali; si kursi berputar.

    Aku benar-benar kaget, aku sampai tertegun dan mulai terengah-engah, tidak hanya dari hidung, namun juga dari mulutku yang menganga. Segera aku sadar bahwa aku harus tenang, dimulai dengan berhenti bernafas lewat mulutku dan menutup bibirku. Perubahan jalur nafas yang tiba-tiba membuatku tersedak dengan air ludahku sendiri. Namun aku sedikit terbantu, aku sudah sedikit merasa lebih tenang.

    Namun aku masih belum bisa memahami apa yang terjadi di sini, bahkan aku mulai meragukan jika akumasih hidup. Karena semuanya, meliputi "ruangan" ini, kursi ini, meja di hadapanku, sensasi menangkap hantu yang kurasakan saat kumencoba menangkap sosok misterius itu, sensasi yang kurasakan saat aku tersedak air ludahku sendiri, dan sensasi yang kurasakan saat terjatuh ke atas kursi ini, semuanya terasa terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

    "Mulai saat ini, Anda akan hidup di tempat ini. Anda akan mendapatkan segala yang Anda inginkan, namun kami harapkan Anda siap kapanpun kami membutuhkan Anda."

    Meskipun aku punya beberapa pertanyaan berdasarkan dari apa yang ia katakan, seperti apa panggilannya padaku, apa yang dia maksud dengan "program," atau siapa dia sebenarnya, aku sudah menyerah untuk bertanya. Satu-satunya yang kuinginkan hanyalah keluar dari tempat ini.

    "Sesekali, saya akan memonitor keadaan Anda secara pribadi. Tidak ada jadwal pasti, saya akan melakukannya secara sporadis---"

    "Diam! Keluarkan aku dari sini!"

    Aku berteriak sekeras yang aku bisa, namun dia tidak bereaksi. Bahkan aku menyadari bahwa teriakanku tidak bergema, seakan "ruangan" ini tidak memiliki batas, bagaikan sebuah tempat yang tak terhingga.

    "...hanya itulah yang perlu Anda ketahui untuk saat ini, seorang petugas akan mengantarkan Anda ke kamar Anda. Jika Anda butuh sesuatu, beritahu saja pada kami."

    Aku tidak bisa menahan ketidaksabaranku lagi, tidak jika aku memang akan terperangkap di ruangan ini selamanya. Aku ingin berteriak, sekeras mungkin hingga paru-paruku pecah. Aku berdiri dari kursi tempatku duduk dan membanting kedua tanganku ke atas meja kayu di hadapanku.

    "Kau tuli, hah?! Aku ingin ke---"

    Dalam sekejap, aku bisa merasakan sesuatu, aku mulai bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Rasanya sama seperti jika kau diculik, menutup kedua matamu, membawamu naik ke sebuah pesawat, membuka penutup matamu, lalu melemparmu ke luar pesawat.

    "...LUAR!!!"

    Aku terbangun dari tidurku sambil masih melanjutkan hal terakhir yang kulakukan di dalam mimpi; berteriak sekuat tenaga hingga nafasku habis. Suaraku begitu kencang, hingga hanya suaraku yang bisa kudengar sampai sepuluh detik kemudian. Perubahan kesadaran yang tiba-tiba seperti ini membuatku sedikit kebingungan, namun hanya butuh sesaat sebelum aku bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baruku.

    Segera begitu aku berhenti berteriak, kelima indraku mulai bekerja dengan sendirinya. Hal pertama yang aku lakukan adalah mencoba memahami apa yang terjaid, aku harus tahu di mana aku berada sekarang. Saat ini, aku sedang terduduk di atas sebuah kasur dalam sebuah kamar putih dengan satu tempat tidur tempat aku duduk sekarang, lalu ada satu meja dengan kursi, sebuah cermin, sebuah jaket tergantung di sebelahnya, dan sebuah kabinet obat-obatan.

    Setelah beberapa detik, aku bisa merasakan kepalaku mulai pusing. Aku sadar bahwa kamar ini adalah bagian dari sebuah kapal. Tidak lama setelahnya, aku mulai mendengar suara langkah kaki berlari dari luar ruang ini. Ruangan ini tidak punya pintu, hanya sebuah lubang persegi yang ditutupi tirai.

    Semakin suara langkah kaki terdengar kian keras, instingku mulai bekerja. Aku pindai ruangan ini mencari senjata untuk mempertahankan diri karena aku sendiri masih kurang tahu di mana aku sekarang. Namun sayangnya aku tidak melihat sesuatu yang bisa berguna.

    <SHEESH>

    Tiba-tiba suara kain disibak memaksaku untuk memindahkan fokusku, dari mencari senjata ke arah kusen pintu yang ditutupi kain. Di sana berdiri dua pria bertubuh tegar yang memakukan pandangannya ke arahku untuk beberapa saat.

    "DIA SUDAH BA---"

    Pria kedua berteriak, meskipun berhasil memberi isyarat teriakan, aku berhasil membungkamnya dengan melempar bantal ke wajahnya. Tidak kusangka, lemparanku cukup kuat untuk menghempaskannya ke belakang hingga keluar dari kusen pintu. Pria satunya langsung berlari ke arahku sambil terlihat beringas. Aku bisa membaca gerakannya, dia sedang mencoba mengunciku ke atas kasur tempatku terduduk ini.

    Sebelum dia bisa mendekatiku, aku lebih dahulu melompat ke arahnya dan mendaratkan kaki kananku ke pundak kirinya, kumanfaatkan arah jatuh dan berat badanku untuk menjatuhkannya. Berat badanku tidak cukup berat untuk menguncinya ke lantai, namun aku berhasil menghimpun cukup gaya untuk mendorongnya dengan menghentakkan kaki kananku yang masih menempel di pundaknya.

    Dia terhempas ke arah dinding dan punggungnya bertabrakan dengan kabinet obat yang tergantung, beberapa isinya berhamburan keluar dan jatuh ke lantai. Beberapa obat-obatan dalam botol juga sampai tumpah keluar begitu botol-botolnya pecah saat menyentuh lantai. Sementara beberapa botol lain yang terbuat dari plastik hanya memuntahkan isinya karena tutupnya yang terbuka saat jatuh.

    Di antara pil-pil yang berserakan di lantai, aku melihat ada gunting yang juga ikut terjatuh dari kabinet obat. Menyadari lawanku masih mencoba bangkit dari seranganku barusan, aku ambil kesempatan ini untuk mengambil gunting dari lantai dan menggenggamnya erat di tangan kananku.

    Begitu aku sudah menggenggam guntingnya, pria itu menabrakkan pundak kanannya ke arahku sambil tangan kirinya menggenggam lengan kananku. Kekuatan dari serangannya mendorongku ke belakang, cukup kuat untuk menabrakkan punggungku ke arah dipan kasur. Dia mengunci badan atasku ke atas kasur dan cengkramannya di lengan kenanku terasa sangat erat hingga memaksaku untuk melepaskan gunting yang kugenggam, bahkan tangan kiriku yang bebas masih kurang kuat untuk mencakar wajahnya mencoba untuk membebaskan diriku.

    Tiba-tiba aku sadar bahwa kaki-kakiku masih bebas. Tidak butuh lama hingga aku menarik kedua kakiku ke atas ke arah perut lawanku dan mendorongnya dengan seluruh kekuatanku. Dia tertatih-tatih berjalan mundur mencoba untuk meraih keseimbangan, namun pil-pil di lantai tidak membuatnya mudah. Hingga akhirnya dia terpeleset dan jatuh ke lantai dan punggung kepalanya terantuk ke dinding.

    Dia mengerang kesakitan, mungkin jatuhnya sudah membuat kepalanya pusing, kepalanya terantuk dinding juga cukup keras untuk mengalihkan perhatianku untuk beberapa saat sampai aku sadar bahwa di luar ruangan ini sudah ada suara derap langkah kaki yang terdengar ramai. Segera aku pindahkan pandanganku ke arah gunting di sebelah kananku, aku putar badanku dan meraihnya dengan tangan kiriku karena tangan kananku masih terasa sakit.

    Dari sudut mataku, aku melihat ada empat pria berdiri di bawah kusen pintu, menatapku dengan heran setelah mereka melihat pria yang kujatuhkan sudah terkapar di dinding. Aku eratkan genggamanku pada gunting di tangan kiriku sambil mengatur nafas, kaki kiriku perlahan mencoba meraih lantai dan mencari dasar yang padat sementara kaki kananku masih terduduk di atas kasur bersama bagian lain dari tubuhku, bersiap untuk menerjang ke arah mereka.

    "Cepat! Tahan dia!"

    Tiba-tiba sebuah suara memerintah dari luar, suara itu membuat perhatian kami semua teralihkan, namun juga memberiku kesempatan untuk menyerang duluan. Aku terjang maju ke depan sambil menggenggam gunting dan berlari ke arah mereka, hanya ada sedikit kemungkinan aku bisa menang melawan empat orang, namun memanfaatkan ketidaksigapan mereka, aku mungkin bisa menangkan satu dari mereka dan menjadikannya sandera.

    Hanya butuh tiga langkah sampai aku mencapai pria yang berdiri paling depan, namun sayangnya langkah pertamaku langsung membuat mereka siaga. Pria yang berdiri paling depan berhasil mengelak serangan pertamaku, namun dia tidak melakukan apa-apa setelahnya. Pria yang lain melanjutkan dengan menangkap lengan kiriku dan pria lain menerjang dadaku. Keduanya mendorongku ke belakang ke arah kasur.

    Setelah mereka berdua mengunciku, kedua pria lainnya ikut mengunciku, membuatku semakin sulit membebaskan diri. Pria yang menggenggam lengan kiriku menggigit tanganku, membuatku berteriak kesakitan dan melepaskan genggamanku. Entah apa yang dilakukannya dengan gunting itu, aku tidak bisa melihatnya. Aku sudah siap menghadapi yang terburuk, namun mereka hanya terus mengunci gerakanku tanpa berbuat apapun yang bisa melukaiku dengan fatal.

    Di tengah kekacauan ini, aku melihat ada satu orang lagi yang memasuki ruangan, dia berjalan cepat ke arahku dan mencoba melihatku tanpa harus membiarkan orang-orangnya melepaskan cengkraman mereka dariku. Sejujurnya, aku mulai berpikir kalau dia adalah pimpinan mereka, seseorang yang bertanggung jawab atas keadaanku sekarang.

    Dengan seluruh kekuatan yang masih tersisa dalam tubuhku, aku mengangkat tubuhku mencoba untuk berdiri. Aku sendiri terkejut mengetahui kalau ternyata aku masih cukup kuat untuk melawan mereka. Meskipun sangat sulit, akhirnya aku bisa melihatnya, seorang pria yang berdiri mengenakan sweater hijau, perlahan dia mundur menjaga jaraknya denganku. Empat orang masih menahanku sekuat tenaga mereka, satu menarik lengan kiriku, satu menaruk tangan kananku, dan dua lainnya mengunci leherku, namun semua usaha mereka tidak berarti. Aku masih lebih kuat dari mereka berempat.

    "Tidak perlu panik..."

    Pria di hadapanku perlahan mendekatiku, dia mengangkat tangan kanannya ke arah keningku. Saat itu aku bisa merasakan sebuah sensasi lembab di daerah kumisku, sejenis cairan menetes dari lubang hidungku ke gigi-gigiku yang terentak di dalam mulutku yang terbuka, dari situ bisa kurasakan sedikit rasa asin bagai garam.

    "Tenanglah! Kau berdarah!" perintah pria itu dengan keras. Bahkan tanpa perintahnya, perlahan kekuatanku sirna, aku mulai merasa lemah, bahkan tidak cukup kuat untuk berdiri. Juga perlahan, cengkraman keempat pria mulai melemas. Namun tanpa dukungan mereka aku tidak mampu berdiri sendiri.

    Begitu aku kehilangan keseimbangan, pria di hadapanku menangkapku. Sosoknya yang sedikit lebih tinggi dariku membuatku harus menengadah agar aku bisa menatap kedua matanya.

    "Apa yang terjadi? Di mana aku? Apa yang---"

    Dengan lemah aku lontarkan pertanyaan-pertanyaan beruntun karena aku sendiri tidak yakin berapa lama lagi aku akan sadar. Aku berharap setidaknya dia menjawab satu saja pertanyaanku.

    "Tenanglah, aku tahu kau punya banyak pertanyaan."

    "Jawab saja--- Tunggu dulu... siapa... aku...?"

    "Istirahatlah..." suaranya perlahan memudar seiring kesadaranku yang mulai melemah, "kita bicara nanti."

    "..."

    "..."

    Lagi, aku terjatuh ke dalam tidur tak bermimpi, namun aku masih terlalu tidak tenang untuk beristirahat. Berikutnya kusadari bahwa aku sudah kembali ke ruangan itu. Sebuah ruangan dengan satu meja dan kursi. Aku angkat tanganku ke atas meja, sekali dua kali aku mencoba menepuk tanganku. Sensasi sentuhan yang kurasakan dan suara yang dihasilkan terasa begitu nyata, namun aku sangat ragu kalau tempat ini nyata.

    "Tempat apa ini?"

    Pertanyaan lain, seakan masih belum cukup hal yang membuatku bingung saat ini. Kesendirian yang diberikan tempat ini memberiku kedamaian untuk mencerminkan diriku, aku mencoba untuk menjawab semua pertanyaan yang sendiri, namun aku kekurangan fakta untuk menyusuh kebenaran.

    "Apa yang terjadi padaku?" itulah pertanyaan pertamaku, "apa alasan yang membuatku berakhir di sini?"

    Hal terakhir, dan ironisnya, hal pertama yang bisa kuingat adalah terbangun menatap langit badai sambil terhanyut di atas samudra.

    "Tapi apa yang membuatku berakhir di sini? Brengsek! Aku tidak bisa ingat apa-apa!"

    Kutangkupkan kedua telapak tanganku ke atas kepalaku dan menggarukkannya dengan kesal, aku merasa marah pada diriku sendiri yang tidak tahu apa-apa.

    "Siapa aku?!" tanyaku pada diri sendiri. "Apa yang sudah kulakukan sampai nasibku jadi seperti ini?!"

    [Selamat siang, <...>.]

    "Apa?"

    Hal ini terjadi lagi, aku tidak sendirian. Ada orang lain atau sesuatu yang mencoba berkomunikasi denganku. Bukan hanya itu, dia juga memanggil namaku namun aku tidak bisa mendengarnya menyebut namaku.

    "Siapa di sana?!"

    Aku melihat sekelilingku, setidaknya mengharapkan suara lain. Kumohon biarkan aku percaya kalau aku belum gila.

    [Siapa di sana?]

    Suara lain, namun aku tidak suka dengan suara itu. Aku tahu persis suara itu, suara serak itu adalah suaraku.

    Apa suaraku bergema? Suara tadi jelas-jelas suaraku, suaraku yang berbicara kepada suara yang satunya lagi. Aku tidak bisa ingat, namun aku merasa seperti sudah tahu apa yang akan kukatakan. Apakah aku yang mengendalikan ruangan ini? Atau justru aku yang dikendalikan ruangan ini?

    "Saya yang bertanggung jawab atas project ini."

    Tiba-tiba sesosok silhouette hitam seorang pria muncul dari sebelah kananku. Dia mengitariku hingga ke sisi lain meja sampai aku bisa melihat seluruh sosoknya. Dia benar-benar berbeda dari sosok yang kutemui di kunjungan terakhirku ke ruangan ini. Sosok yang ini sedikit lebih tinggi, sekitar 180 centimeter, dia juga mengenakan setelan dan rambutnya disisir rapih ke belakang.

    "Berarti Anda pasti Doktor Einhorn..."

    [Berarti Anda pasti Doktor Einhorn.]

    Aku menebak dengan tepat apa yang akan dikatakan oleh diriku yang tidak ada wujudnya. Akhinrya aku menyadari bahwasemua ini bukanlah sesuatu yang sedang terjadi, namun sesuatu yang sudah terjadi padaku, ruang ini adalah tempat perwujudan ingatanku. Namun tidak peduli seberapa keras aku mencoba, aku tidak bisa ingat apapun tentang Doktor Einhorn, bagaimana dia memanggilku, atau apapun yang sudah terjadi di ruangan ini.

    Silhouettenya mendekatiku yang masih tertuduk di belakang meja dan menawarkan tangannya untuk berjabatan, dengan ragu aku angkat tanganku dan menjawab gesturenya. Namun betapa terkejutnya aku saat aku merasakan tekstur yang padat saat aku menyentuh tangannya. Sensasinya sangat jelas, kulit, daging, dan otot. Jabatannya sangat erat, namun juga lemah lembut, rasanya seperti berjabat tangan dengan patung, namun jauh lebih hidup.

    "Bagaimana kemajuan Anda?"

    [Saya masih mencoba membiasakan diri, kalau boleh tahu, apa yang Anda harapkan saya untuk capai?]

    Saat dia bicara, aku sudah tahu bagaimana jawabanku akan keluar. Namun di sisi yang sama, aku merasa bahwa aku belum pernah mengalami semua ini. Rasanya bagai merasakan ulang sebuah pengalaman yang belum pernah kualami sebelumnya. Meski aku yang mengalami semua ini, namun aku hanya bisa menonton.

    "Bukahkah bawahanku sudah memberitahumu?"

    [Ya, tapi tidak sampai detail.]

    "Baiklah, apa yang ingin kau ketahui?"

    [Bisa mulai dari awal?]

    "Aku tidak tahu bagaimana harus mengawalinya..."

    Sesaat dia berpikir, mungkin memikirkan apa yang harus dia katakan selanjutnya.

    "...apa kau suka dengan dunia ini?"

    [Maaf?]

    "Apa pendapatmu dengan dunia yang dikendalikan oleh orang tua dan lemah yang memanipulasi mereka yang muda dan kuat untuk melindungi apa yang mereka punya dan mendapatkan apa yang bukan hak mereka?"

    [...]

    Untuk sesaat, suaraku terdiam, bahkan jika aku memang sudah mengalami semua ini, aku tidak tahu bagaimana aku harus merespon pertanyaan semacam itu.

    [Entalah, tapi sepertinya aku tidak suka.]

    "Tentu saja. Di masa mudaku, aku sudah membunuh terlalu banyak nyawa sebelum aku memahami betapa berharganya satu jiwa manusia, bukan bagiku, namun bagi seseorang yang peduli pada mereka."

    [Anda mantan prajurit?]

    "Ya, masa laluku adalah sesuatu yang tak bisa tergantikan oleh perbuatan sebaik apapun."

    [...]

    "Aku tidak pernah merasa bahagia, dan aku tidka ingin orang lain merasakan hal yang sama."

    [Karena itu Anda memilih untuk mengubahnya?]

    "Ya, dan kau adalah kuncinya."

    [Maksud Anda?]

    "Kau tahu apa itu time travel, kan?"

    [Ya, apa hubungannya denganku?]

    "Dua tahu lalu, aku menyaksikan sebuah peristiwa yang mungkin adalah peristiwa paling berpengaruh dalam hidupku."

    [Peristiwa apa?]

    "Ceritanya panjang, namun cukup untuk membuatku memutuskan untuk mengubah dunia."

    [Tapi apa hubungannya dengan... time travel?]

    Tanpa konteks, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Apa yang dimaksud Doktor Einhorn dengan time travel? Apa yang terjadi di antara kami? Aku mulai memahami pentingnya Doktor Einhorn untukku, cukup untuk membuatku percaya bahwa jika aku ingin tahu apa yang sudah terjadi padaku, aku harus mencarinya.

    "Sejujurnya, aku belum bisa bilang apa-apa karena aku sendiri belum seluruhnya yakin bahwa aku benar."

    [Lalu apa yang akan terjadi jika Anda salah?]

    "..." dia terdiam untuk beberapa saat, dengan wajahnya yang hampa menatapku dalam. Anehnya, meski dia hanya silhouette, aku bisa merasakan sesuatu dalam tatapannya yang tak berwajah, semacam simpati, seakan aku pernah menaruh kepercayaan yang sangat dalam padanya. "Pilihannya ada padamu untuk dipilih dan diperjuangkan, aku hanya bisa menuntunmu di atas jalannya, jalan yang bahkan aku tidak yakin ada."

    [Doktor Einhorn?]

    Tiba-tiba sebuah suara lain mengganggu pembicaraan kami, suara itu memindahkan perhatian Doktor Einhorn dariku, dia berbalik dan menghadap ke arah kananku, menatap kosong ke sesuatu yang tidak ada, dia bagaikan berbicara lewat matanya. Setelah beberapa saat, dia mengangguk dan kembali menghadap ke arahku.

    "Sepertinya sesi kita untuk kali ini harus diakhiri sampai di sini saja, kita lanjutkan lagi nanti."

    Dia lalu berjalan mengitariku lewat sebelah kananku, aku pakukan mataku kepadanya, mengikuti gerakannya hingga aku melihatnya menghilang perlahan saat ia mencapai bagian belakang kursi yang kududuki.

    Aku ditinggal di sini seorang diri, tanpa ada yang bisa dilakukan. Pembicaraannya dengan suaraku yang tak memiliki wujud tidak membantuku sama sekali, justru meninggalkanku lebih banyak pertanyaan untuk dijawab. Aku tangkupkan wajahku ke kedua telapak tanganku yang bersandar pada lututku, seraya menutup mataku dengan erat sambil berharap saat aku membukanya, semua ini hanyalah mimpi buruk.

    [Hey, <...>!]

    Sebuah suara lain tak berwujud bisa terdengar, namun suara ini terdengar berbeda dengan suara-suara yang pernah kudengar. Suara ini begitu lembut, menenangkan, dan menghanyutkan. Suara itu memanggil namaku, namun kemampuanku untuk menangkap suara menghalangiku untuk mendengar namaku. Suara itu juga terdengar sangat akrab, saking akrabnya sampai memaksaku untuk mencari asal suara itu.

    Setelah berputar lebih dari setengah lingkaran ke arah kanan, sedikit jauh dari kursi tempatku sekarang, aku bisa melihat sesosok berwarna putih melambaikan tangannya ke arahku. Meski gerakannya yang mengulang-ulang itu seakan mengundangku untuk mendekatinya. Aku berannjak dari kursi yang kududuki sambil menjernihkan pikiranku, perlahan kudekati sosok yang berdiri lumayan jauh itu.

    [Ayo!]

    Gerakannya berhenti, dia berhenti melambaikan tangannya ke kiri dan kanan lalu mulai melambaikan tangannya ke depan dan ke belakang. Lambat laun aku mulai mengenali bahwa sosok itu adalah seorang perempuan.

    Semakin dekat aku berjalan, semakin jelas bahwa sosok itu membentuk sebuah silhouette, sama seperti silhouette Doktor Einhorn yang berwarna hitam, hanya saja berbeda warna. Rambutnya yang sepanjangn pinggang berayun mengikuti gerakannya, dia mengenakan gaun terusan panjang sepanjang lututnya dan sebuah topi anyaman lebar.

    [Cepatlah!]

    Saat aku kira-kira butuh limabelas langkah lagi sebelum mencapainya, dia menurunkan tangannya dan mulai berlari menjauhiku. Saat dia berlari menjauh menciptakan jarak, aku bisa mendengarkannya tertawa, seakan dia ingin aku menangkapnya.

    "Tunggu!"

    Dia sudah membuat jarak yang lumayan jauh dariku sebelum aku mulai berlari mengejarnya. Dia tidak berlari kencang, tidak butuh usaha keras sampai aku menangkapnya. Namun saat aku menyentuh sosoknya, tubuhnya pecah menjadi ratusan burung gagak yang mengepakkan sayapnya terbang ke atas dan menghilang di langit abu-abu. Kejutan ini memaksaku untuk melindungi wajahku dengan menyilangkan kedua tanganku. Namun anehnya, suara tawanya tidak menghilang, aku masih bisa mendengarnya dari suatu tempat. Aku putarbalikkan wajahku ke kanan dan ke kiri untuk mencarinya.

    [Hey, <...>!]

    Aku bisa mendengarnya lagi, namun bukannya mendekatinya, aku berpaling dan mencoba untuk menghiraukannya. Namun ke manapun aku berpaling, aku masih bisa melihatnya berdiri jauh di hadapanku.

    "CUKUP!"

    Kulepaskan amarahku dengan berteriak sekeras mungkin, namun karena teriakanku, langit dan tanah di tempat ini mulai berputar. Tanah hitamnya bergerak memutar ke depan sementara langit abu-abunya bergerak memutar ke belakang hingga tanah hitam berhenti di tempat langit abu-abu dan langit abu-abu berhenti di tempat yang dulunya ditempati oleh tanah hitam. Namun berkat itu juga, suara panggilan dan tawa sosok cahaya putih itu berhenti.

    Perubahan paradigma tempat ini yang tiba-tiba membuatku ketakutan, membuatku ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini lagi. Untuk sekitar empat kali, aku memalingkan wajahku ke depan dan ke belakang mencari meja dan kursi tempatku datang atau lebih baik lagi; pintu keluar, namun sayangnya aku tidak menemukan apa-apa. Hingga tiba-tiba aku melihat sosok cahaya putih itu lagi. Namun kini dia bergelantungan dari langit-langit tanah hitam, menatapkan wajah hampanya ke dalam mataku.

    "Kau terlamba~t!"

    "Huh?"

    Dia menyentuh keningku dengan telunjuknya, sentuhannya membuatku tersentak hingga aku menutup kedua mataku. Sentuhannya memicu keruntuhan tempat ini, sensasi sentuhannya segera terlupakan oleh ledakan angin dari sekelilingku. Entah apa yang terjadi di tempat ini, namun hal berikutnya yang kusadari adalah aku jatuh pingsan. Jatuh ke dalam tidur tenang tak bermimpi, waktu berjalan, dunia berputar, semuanya tanpaku.

    fsc
     
  4. infernus M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Apr 17, 2009
    Messages:
    1,142
    Trophy Points:
    161
    Ratings:
    +1,618 / -2
    ALLBLΛCK - α - Nous (Bagian Kedua)

    Sama sekali tidak ada petunjuk untukku supaya tahu sudah berapa lama waktu berlalu, pikiranku benar-benar dimatikan untuk saat ini. Beristirahat sangat dalam dalam tidur tak bermimpi terasa sangat damai. Saat-saat damai yang kunikmati ini segera diganggu oleh perasaan terjatuh. Badanku terasa sangat berat, seakan aku dilemparkan dari tempat tinggi ke atas tanah. Aku tidak bisa menikmati saat aku dijatuhkan atau saat aku terjatuh, aku hanya bisa merasakan sentakan spontan yang membangunkan tubuhku.

    "Agh!"

    Aku terbangun di kamar yang sama saat aku berkelahi melawan tujuh orang. Meski aku masih harus mengatur nafas, kali ini aku terbangun dengan tenang, tidak ada rasa butuh untuk mengenali lingkungan atau kebutuhan untuk melindungi diri. Ketenangan ini memberiku kesempatan untuk memahami keadaan.

    Aku baru sadar bahwa aku sedang beristirahat di kamar rawat dari sebuah kapal keci. Tidak seperti saat terakhir, perlahan aku beranjak dari kasur dan mencoba untuk menjejak dinding ke arah kusen pintu yang ditutupi kain. Dari sana, aku bisa melihat sebuah koridor pendek yang mengarah ke dua arah, dan ruang rawat ini ada nyaris di ujung koridor ini.

    Aku tapakkan tangan kiriku ke dinding sebelah kiri untuk mencegah rasa pusing yang kurasakan saat kapal ini berayun. Dinding koridor ini terbuat dari fiberglass yang dihaluskan dan lantainya terbuat dari metal. Kakiku yang tak beralas terasa dingin saat bersentuhan dengan permukaan metal, tanganku juga terasa ingin, namun tidak sedingin kakiku.

    Saat aku berjalan, pandanganku terganggu oleh pemandangan sosok-sosok kuning mengenakan jubah lab yang sesekali meng-glitch. Kehadiran mereka juga membuat semacam suara, seperti suara orang-orang berbicara satu sama lain. Tidak lama setelah kemunculan mereka, aku bisa merasakan sensasi lembab di bibir atasku. Aku angkat tangan kananku dan mencoba menyentuhnya, dan bisa kurasakan semacam cairan sedang mengalir dari lubang hidungku. Aku turunkan mataku untuk melihat jariku, dan tampak darah menempel di jari-jariku. Meski aku merasa cemas dengan keadaanku, begitu aku menurunkan tanganku, suara dan sosok-sosok hantu kuning itu sudah menghilang.

    Di ujung koridor, tampak sebuah cahaya persegi bersinar cerah. Kuangkat tangan kananku untuk melindungi kedua mataku seraya mendekati cahaya itu, cahaya yang bersinar di balik ujung koridor cukup tetang untuk membutakanku. Kutapaki satu set kecil anak tangga yang mengarah ke dek. Begitu mencapai dek, mataku perlahan mulai membiasakan diri dengan cahaya matahari yang membutakan, aku berani bertaruh kalau ini adalah cahaya matahari dan langit biru pertama yang kulihat sejak entah kapan. Saat mataku kian beradaptasi, aku mulai paham bahwa kapal ini adalah kapal nelayan.

    Di geladak atas, aku melihat ada empat pria sedang bersantai. Yang pertama sedang terduduk di sisi kiri dek, dia adalah pria bertubuh tegap yang kujatuhkan di ruang rawat. Yang kedua adalah seorang pria yang sedang menatap ke laut dari sisi kiri kapal, sedikit agak jauh dari pria pertama, sosoknya agak sedikit lebih pendek dari pria pertama, salah satu cirinya adalah dia mengenakan topi main berwarna hitam dengan sayap merah. Pria selanjutnya sedang berdiri di sisi kanan dek, sedang berbicara empat mata dengan pria keempat, pria ketiga itu mengenakan celana pendek sementara yang terakhir mengenakan kaos oranye berstrip putih. Pria yang mengenakan topi dan yang mengenakan celana pendek menyadari kehadiranku, mereka memberitahu kedua rekan lainnya dan pria yang mengenakan celana pendek memasuki pintu di sebelah kanan pintu yang mengarah ke geladak bawah.

    "Kau tidak apa-apa?"

    Pria yang kuhajar tempo waktu mendekatiku, menawariku untuk menjabat tangannya. Dengan sedikit enggan aku melihat tangannya dan dengan ragu aku menjawab gesturenya. Tidak seperti kali terakhir kami bertatapan, dia jauh lebih ramah dari waktu itu, mungkin memang aku yang salah.

    "Namaku Mory, sebaiknya kau bicara dengan dokter."

    "Dokter?"

    Yang pertama terlintas dalam benakku adalah nama "Einhorn," namun aku tahu tidak akan semudah itu. Plus aku tahu apapun yang terjadi padaku pastilah yang sudah membuatku dan Einhorn terpisah.

    "Yeah, Tim sedang memanggilnya," dia mengalihkan pandangannya dariku kemudian menunjuk ke arah pintu yang dimasuki pria bercelana pendek tadi. "Ah, itu mereka."

    Begitu dia selesai berbicara, dia langsung kembali ke tempatnya duduk tadi. Dari pintu itu, muncul dua sosok pria. Yang pertama adalah pria bercelana pendek tadi. Dan yang kedua adalah, jika aku tidak salah, adalah pria yang terakhir kulihat sebelum aku kehilangan kesadaran.

    "Dokter?"

    "Ya, namaku Jordan. Apa kau sudah merasa lebih baik?"

    Aku merasa sedikit kecewa saat dia membenarkan identitasnya, aku sedikit berharap bahwa dokter yang mereka sebut-sebut adalah Einhorn. Namun saat ia keluar dari pintu itu, aku sudah mulai menerima kenyataan bahwa penampilan dan suaranya memang sangat berbeda dari silhouette hitam yang kutemui saat aku tidak sadarkan diri.

    "Ya, apa yang sudah terjadi padaku?"

    "Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu."

    Bagus, hanya orang lain yang tidak tahu apa-apa.

    "Aku sendiri berharap kau bisa menjelaskannya, sebaiknya kita bicara di ruang rawat."

    Telapak tangannya yang membuka menunjuk ke arah koridor di geladak bawah; tempat aku datang tadi. Dia berjalan di depanku memimpin jalan ke arah ruang rawat.

    "Jadi, aku kenapa?" tanyaku.

    "Seperti yang kukatakan, aku tidak yakin," jawabnya. "Bisa beritahu aku apa hal terakhir yang kau ingat?"

    "...Aku terapung di lautan, saat itu malam..."

    "Maksudku tentang identitas dirimu."

    "..."

    Lagi, aku coba mengingat-ingat apapun yang kubisa tentang diriku. Namun pikiranku menyembunyikan ingatanku terlalu baik, aku tidak bisa mengingat apapun, bahkan tidak ada ingatan yang separuh terlupakan. Seakan aku baru terlahir kemarin.

    "Maaf, aku tidak bisa."

    "Baiklah..." komentarya singkat, bisa kudengar nada kekecewaan di suaranya.

    Setelah basa-basi kami, kami tiba di ruang rawat. Jordan menyibakkan kain yang menutupi kusen pintu dan memasuki ruangannya, aku mengikutinya ke dalam dan berhenti, menunggu dia mulai bercerita.

    "Sebentar, berapa lama aku tidak sadarkan diri?"

    "Sekitar empatbelas jam, sebelum itu kau pingsan selama lima jam."

    "Sebelum aku terbangun dan menghajar kru kapalmu?"

    "Haha, yeah," jawabnya sambil tertawa polos. "Kau tahu, Mory adalah orang paling kuat sekapal ini dan kau bisa mengalahkannya."

    "Masa?"

    "Ya, kau bahkan berhasil membebaskan diri dari empat orang yang menahanmu."

    "..." secara retrospek, aku ragu dengan ceritanya. "Entah bagaimana aku bisa melakukannya, saat ini aku bahkan tidak yakin bisa memindahkan kursi itu."

    "Mungkin itu yang disebut adrenaline surge."

    Mungkin itu penyebabnya, lagipula aku memang merasa tidak bisa mengendalikan diri saat itu.

    "Saat kami menemukanmu, kau mengenakan jaket ini."

    Jordan mengambil jaket yang tergantung di dinding di sebelah cermin lalu memberikannya padaku. Jaketnya benar-benar tebal, lengkap dengan bulu-bulu halus di sekitar kerahnya. Persis seperti yang dikenakan orang-orang saat musim dingin. Aku langsung memeriksa keempat saku jaket itu mencari petunjuk, pertama saku pinggang kanan dan kiri, lalu kulanjutkan mencari di saku dada kanan dan kiri, namun aku tidak menemukan apa-apa. Satu-satunya yang menarik perhatianku adalah tag nama di atas saku dada kiri.

    [Theodore Quentin.]

    "Apa itu namamu?"

    Jordan tampak menyadari kalau aku sedang fokus menatap tag nama, otakku langsung tenggelam dalam pemindaian agresif mencoba mengingat nama ini. Aku memaksakan diri untuk coba mengingat, bahkan mungkin terlalu memaksa sampai kepalaku sakit. Aku tekan tangan kananku ke mata kiriku untuk menekan rasa sakitnya. Namun sekeras apapun aku mencoba, seberapa sakit kepalaku, aku tidak bisa mengingat apapun.

    "Aku... tidak bisa ingat..."

    "Tidak apa-apa, kau tidak perlu memaksakan diri."

    Jordan mengambil jaket yang kupegang kemudian memapahku ke arah tempat tidur, mungkin dia cemas aku akan rubuh tiba-tiba. Meski aku tidak suka diperlakukan seperti ini, aku terpaksa menerima kebaikannya.

    "Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa ingat apa-apa?"

    "..."

    Jordan menatapku, tatapannya syarat dengan rasa ingin tahu, aku bisa menebak kalau dia juga mempertanyakan hal yang sama.

    "Tebakanku adalah, kau menderita semacam amnesia parah, memori jangka panjangmu telah terkunci, aku tidak tahu bagaimana jelasnya, aku bukan neurologist."

    "Ugh..."

    Kutekankan tangan kenanku lebih keras ke arah mata kiriku untuk menekan rasa sakit tajam yang kurasakan di dalam kepalaku, rasa sakit ini datang seiring kemunculan sosok-sosok hantu yang membercak, namun bukan seperti yang kulihat sebelumnya, kali ini yang muncul adalah sosok-sosok hantu anak kecil berwarna-warni. Berlarian dan bermain di dalam ruangan ini sambil tertawa gembira.

    "Ada apa?"

    Seru Jordan saat aku tiba-tiba memindahkan tangan kananku dari pundaknya dan menekankannya ke wajahku. Dia memegangkan kedua tangannya di kedua pundakku untuk memapahku ke arah tempat tidur.

    "Apa kau bisa melihatnya?" tanyaku sambil menunjuk ke arah sosok-sosok hantu berbercak anak-anak di dalam ruangan ini.

    "Bisa lihat apa?"

    Sepertinya dia tidak bisa melihat mereka, sosok-sosok hantu itu hanya bisa dilihat olehku seorang.

    "Lupakan."

    Sosok-sosok itu perlahan hilang satu demi satu, seiring menghilangnya mereka, rasa sakit tajam yang kurasakan di dalam kepalaku juga perlahan menghilang.

    "Jika tidak ada yang bisa menjadi petunjuk tentang identitasku, aku tidak keberatan dipanggil Theodore Quentin."

    "..."

    Sesaat dia terdiam dan menatapku serius. Kali ini aku merasakan kedua matanya seperti menyalahkanku.

    "Aku sudah memeriksa namamu semalam, kau dicari setelah helikoptermu jatuh."

    "Helikopter?"

    "Sepertinya kau disewa untuk melakukan pengawalan untuk sebuah perusahaan swasta, kau terlibat dalam sebuah kecelakaan, lalu kau terluka dan terkena amnesia."

    "Baiklah," jawabku singkat. "Ke mana tujuan helikopterku?"

    "India."

    "Berarti ke sanalah aku harus pergi."

    "Dalam dua hari, kita akan sampai di Mombasa. Mereka sudah menyiapkan regu penyelamat untuk menjemputmu di pelabuhan."

    "Terima kasih."

    "Tidak usah dipikirkan."

    "Apa ada yang bisa aku bantu?"

    Setidaknya ada kabar baik yang kudengar, tanpa Jordan dan krunya, mungkin aku sudah tewas di lautan. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalas kebaikannya, setidaknya aku bisa sedikit membantu di sini.

    "Tidak usah dipikirkan."

    "Aku bersikeras."

    Entah kenapa, aku seperti memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi. Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah geladak melewati koridor, mencari sedikit hal yang mungkin bisa aku bantu. Lagipula semenjak terakhir kali aku mendapat sakit kepala, aku merasa mantap dengan kondisiku. Satu-satunya pusing yang kurasakan hanyalah dari goyangan kapal ini saja.

    "Sebaiknya kau istirahat, aku belum memeriksamu dengan teliti."

    "Tidak apa-apa, aku sudah lebih baik. Lagipula kau sudah lihat apa yang aku bisa, kan? Aku bahkan mengalahkan kawanmu."

    Seiring aku berjalan di terowongan, cahaya matahari kembali menyilaukan mataku. Salah satu alasan aku ingin membantu adalah karena aku ingin bisa melihat langit yang tidak mungkin kulakukan dari ruang rawat tak berjendela itu.

    Begitu aku mencapai dek, satu kru sudah pergi. Hanya tinggal tiga orang yang ada di dek, si pria berbadan tegap, pria bercelana pendek, dan pria yang mengenakan kaos oranye berstrip putih.

    "Kau yakin?"

    "Ya, aku sudah jauh lebih baik."

    Pria bercelana pendek menyadari kedatangan kami, dia mendekati kami dari kawan-kawannya yang tampak sedang beradu argumen akan sesuatu.

    "Jordan, bagaimana?"

    "Oh, Tim. Kau belum berkenalan dengannya, kan?"

    "Belum?"

    "Oke, Theodore, ini Tim. Tim, Theodore."

    Jordan memperkenalkan kami, aku yakin aku pernah bertemu dengannya waktu aku mengamuk di ruang rawat.

    "Maaf untuk yang waktu itu."

    "Tidak apa-apa. Kalau kau sanggup melawan empat orang, berarti kau jauh lebih kuat daripada Mory."

    Jordan sedikit menggelengkan kepalanya, meminta Tim untuk berbicara empat mata dengannya. Aku yang maklum lalu mundur beberapa langkah agar mereka mendapatkan prifasi.

    Dari sini, aku bisa melihat kalau Jordan sedang berbisik-bisik mencoba menjelaskan sesuatu, sementara Tim tampak tidak setuju sambil juga berbisik-bisik. Melihat mereka berardu argumen membuatku berharap kalau mereka tidak sedang meributkan diriku.

    Akhirnya mereka tampak sepakat tentang sesuatu. Setelah mereka selesai berbicara, Jordan mendekatiku lagi sementara Tim berbalik ke kawan-kawannya lalu membicakan sesuatu.

    "Maaf, tadi ada yang harus kami luruskan."

    "Apa karena aku?"

    "Tidak, bukan kau..." Jordan menjeda untuk sesaat. "Seperti yang kau lihat, kapal ini adalah kapal nelayan."

    "Ya..."

    "Di badai kemarin, kami kehilangan satu orang. Bahkan dengan delapan orang, kami nyaris tidak selamat dari badai itu."

    Sembari Jordan berbicara, Tim mengumpulkan kru kapal yang lain di sekitarku. Termasuk seorang pria yang mengenakan kaos biru di bawah kemeja putih tak dikancing yang baru keluar dari pintu sebelah kanan dek.

    "Kami dengar dari ramalan cuaca hari ini, kita harus melewati badai jika kita ingin sampai di Mombasa."

    "Kami butuh bantuan."

    Pria yang mengenakan kemeja tak dikancing bergabung dalam pembicaraan kami, meski tidak menghadap ke arahku, namun menatap cakrawala di kejauhan, di mana awan abu-abu berkumpul.

    "Kami butuh bantuanmu jika kita ingin selamat dari badai itu," lanjutnya sambil memindahkan tatapannya ke arahku.

    "Aku akan bantu."

    "Kita harus mencapai badai itu sebelum malam, sebelum arus mendorong kita menjauh dari daratan."

    "Ngomong-ngomong, kau belum kenal dengan kami, kan?" potong Jordan lagi. "Kita belum berkenalan sama sekali."

    Pria yang mengenakan kemeja tak dikancing itu mengangkat tangan kanannya, menawariku jabat tangan. Sosoknya dan sosokku hanya sedikit berbeda tinggi, sekitar satu jengkal tangan lebih tinggi dariku. Tangannya melayang satu langkah depat di depan perutku, dengan sedikit ragu, aku jabat tangannya yang terangkat dan dia membalasnya dengan menggenggam erat tanganku.

    "Aku Dasan, kapten kapal ini."

    "Theodore Quentin."

    Sebelum aku melepaskan tanganku, tangan-tangan lain sudah menungguku. Segera aku pindahkan tangannya ke tangan yang lain. Yang pertama adalah tangan pria yang mengenakan celana pendek.

    "Tim."

    Belum dua detik, dia sudah melepaskan genggamannya, jelas dia tidak ingin memakan waktu perkenalan untuk kawan-kawannya. Orang berikut yang kusalami adalah pria bertubuh tegap yang mengenakan kaos coklat ketat.

    "Mory."

    Genggamannya sangat erat, aku tidak punya pilihan selain melepaskan genggamanku duluan. Bisa kulihat wajahnya diwarnai dengan kepuasan, pasti karena dia berhasil membalas atas seranganku tempo waktu. Orang berikutnya yang kusalami adalah pria yang mengenakan kaos oranye berstrip putih. Dari semua orang di sini, dialah yang menurutku berwajah paling ramah.

    "Alvi."

    Genggaman orang adalah yang paling lemah sejauh ini, rasanya sama seperti menggenggam ikan mati, apalagi dia tidak melepaskan tanganku sebelum aku yang melepaskan tanganku duluan. Dan terakhir, yang paling muda. Saat aku tawari dia untuk berjabat tangan, dia malah menawari high five. Telapak tangannya tergantung beberapa jengkal di hadapan wajahku. Meski sedikit canggung, aku meladeni tingkahnya dengan agak terpaksa.

    "Peppy!"

    Sekianlah. Aku menatap mereka tanpa berkata apapun, berbaur di lingkungan hangat seperti ini membuatku tidak tenang.

    "Tadinya ada kru ke-delapan. Namun dia tewas di badai kemarin."

    Jordan menunjuk ke arah geladak bawah, pasti menunjuk ke arah di mana mereka menyimpan mayat kru ke-delapan. Aku coba melihat ke arah yang ditunjuknya, aku perhitungkan kalau kru ke-delapan diistirahatkan di ruangan sebelah ruang rawat.

    "Namanya Be," timpal Dasan, sang kapten. "Kita punya waktu empat jam sebelum matahari terbenam dan arus naik. Kita harus mencapai badai itu sebelum waktu kita habis agar kita bisa santai mengikuti arus."

    "Aku setuju dengan Dasan," ujar Tim, menyepakati perkataan Dasan.

    Aku bisa melihat alasannya. Dari tengah hari sampai tengah malam, arus laut mengalir dari laut ke darat. Berarti akan membuat perjalanan kami lebih mudah jika kami ingin mencapai daratan di dalam badai. Begitu kami memasuki badai, kami hanya tinggal perlu menyeimbangkan kapal di tengah ombak.

    "Yeah, kita tidak punya banyak waktu. Ikan di kargo kita tidak akan segar kalau kita tunda semalam," lanjut Peppy sambil menunjuk ke lubang persegi di haluan kapal.

    Suara-suara kesepakatan yang bercampur tiba-tiba mengeras di antara para kru, mereka semua punya pendapat yang sama, namun semuanya memiliki ekspresi yang sama; Ketakutan dan keraguan. Dari ekspresi di wajah mereka, jelas sekali kalau mereka ketakutan akan bernasib sama seperti kawan mereka yang gugur, sementara di sisi lain, mereka harus bangkit dari trauma mereka jika mereka ingin selamat.

    "Maaf..." potongku sambil mengangkat tangan kiriku untuk menarik perhatiam mereka. Aku relakan menunggu sampai semuanya berhenti berbisik sebelum aku mulai mengeluarkan pikiranku. "Sejujurnya, aku pikir kalian ketakutan setelah melihat apa yang terjadi pada kawan kalian."

    "..."

    "Aku bukan kawan kalian, namun aku akan mencoba berusaha sekeras dia atau mungkin lebih."

    Tatapan kosong di wajah mereka menandakan bahwa aku benar, aku memang bukan siapa-siapa di antara mereka, namun mereka sudah menyelamatkanku. Sekarang giliranku membantu mereka.

    "Jika kalian terus begini, kita tidak akan bisa menembus badai itu. Kita harus yakin dan berani, aku akan mencobanya sebisaku, dan aku ingin kalian juga sama."

    "Kau benar," komentar Dasan pada pidato singkatku. "Dia benar, kita tidak bisa terus terperangkap dalam penyesalan untuk Ben, kita terus menyebutnya simpati. Namun sebenarnya kita takut akan berakhir sama."

    Seiring Dasan berbicara, bisa kulihat wajah mereka mulai terangkat dan terisi dengan keyakinan.

    "Terima kasih, kami butuh mendengarnya," timpal Jordan berkomentar lalu tersenyum sebelum memasuki pintu di sisi kanan dek.

    Mory, Alvi, Peppy, dan Tim menepak pundakku sebelum mereka kembali ke posisi masing-masing. Alvi dan Peppy masuk ke geladak bawah sementara Tim dan Mory berdiri di sisi kanan dan kiri dek. Sementara Dasan masih bersamaku di sini.

    "Ben bekerja di tiang layar bersama Mory dan Tim, mereka akan butuh bantuanmu."

    "Baik."

    Dasan dan aku pun berpisah, aku berjalan ke arah Tim di sisi kanan geladak sementara Dasan memasuki pintu di sisi yang sama, pintu yang juga dimasuki Jordan.

    "Hi," salamku pada Tim yang memakukan pandangannya ke arah bibit-bibit badai di cakrawala.

    "..."

    Dia hanya menatapku sesaat sebelum mengembalikan pandangannya ke cakrawala. Sepertinya dia sedang mempersiapkan diri sebelum bergulat dengan badai.

    "Dasan menyuruhku untuk membantumu, apa ada yang bisa aku bantu?"

    "Kau tahu cara mengikat simpul?"

    "Sepertinya... aku tahu."

    [Sebentar, ada yang aneh. Bagaimana aku tahu caranya? Aku tidak bisa ingat apa yang terjadi padaku dua hari lalu, tapi aku tahu caranya mengikat simpul?]

    "Berarti tidak ada yang perlu kuajarkan."

    Setelah beberapa saat, kapal ini mulai bergerak maju. Terpaan angin yang dihiasi percikan air asin menyentuh wajahku seiring dengan gerakan kapalnya. Semakin dekat dengan badainya, semakin gelap langit dan terpaan angin hangat pun berubah menjadi angin ribut.

    "Semua sudah di tempat?!" teriak Dasan dari anjungan di lantai geladak atas, bersama Jordan di ruang yang sama.

    "Siapkan tambang, sekarang!" teriak Tim padaku begitu dia melihat Mory memanjat tiang kapal.

    Segera kuambil dua ikat tambang yang tergeletak di bawah tiang kapal dan melempar salah satunya pada Tim, begitu dia menerima tambangnya, dia melemparkan balik sesuatu padaku yang kutangkap dengan canggung. Kulihat dalam genggaman kedua tanganku ada sebuah pisau lipat. Jika aku memang akan bekerja dengan tali tambang, wajar jika aku menyimpan pisau lipat.

    "Begitu Mory selesai memotong, segera gulung layarnya!"

    Aku langsung mengangguk mendengar perintah Tim lalu kualihkan pandanganku ke puncak tiang kapal dan kusimpan pisau lipatku di saku kanan belakang celanaku sambil menunggu Mory memotong layarnya. Saat aku melihatnya, tetesan air sudah mulai berjatuhan dari langit yang gelap ke permukan wajahku.

    "Dua badai dalam satu minggu..." cemooh Tim berkomentar sarkastik padaku, komentarnya hanya bisa kubalas dengan senyuman simpul.

    "Selesai!"

    Mory berteriak dari puncak tiang sambil menjatuhkan satu lapis kain tebal ke arah kami. Tanpa ragu, Tim langsung menangkapnya sebelum layar itu menyentuh lantai geladak dan mulai menggulung satu sisinya.

    "Tunggu apa kau?! Cepat mulai!"

    Tim meneriakiku karena aku bergerak terlalu lambat, gulungan layar mulai miring ke arahnya. Begitu aku sadar kalau dia menungguku bereaksi, aku langsung mengikutinya menggulung ujung lain layar. Setelah gulungannya rata, Tim mulai melanjutkan menggulung lagi dengan kecepatan yang sulit kusamai.

    Tidak butuh waktu lama untuk menggulung layar tujuh meter dengan kecepatan ini. Tim lalu memanjat pagar keselamatan untuk mengangkat gulungan layar dan mengikatnya ke atas boom. Dia menunjukkan jarinya ke arah tiang, memberi tanda kalau aku juga harus memanjat naik.

    Sementara itu, Mory sudah turun dan siap membantu dari bawah, aku yang bergerak paling lambat karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

    "Naik ke sana dan ikat layarnya!"

    Mory menyuruhku untuk naik ke cabang tiang layar, aku hanya menuruti perintahnya tanpa banyak bertanya. Dia segera mengangkat gulungan layar sembari aku memanjat dan sembari Tim menunggu di ujung satunya.

    Mory mengangkatkan gulungan layar ke sisiku terlebih dahulu, dia memegangnya terus untuk menjaganya tetap di tempat selama aku mengikatnya ke tiang. Hujan yang mengguyur kami sekarang sudah berubah menjadi badai, tetesannya langsung membuat pakaian kami basah dalam hitungan menit. Mory terus menyisir rambut panjangnya ke belakang setiap kali rambutnya bergeser ke depan wajahnya. Untungnya rambutku jauh lebih pendek, jadi aku tidak punya masalah serupa.

    Aku talikan gulungan layar sekitar sepuluh kali sebelum aku menutupnya dengan simpul dan memeriksa kalau layar ini sudah kuat di tempatnya. Aku beri tanda pada Mory kalau aku sudah selesai dan menyuruhnya untuk pindah ke sisi satunya. Aku mulai melihat kebenarannya, Mory memang lebih kuat dariku. Aku sudah mencoba mengangkat gulungan layar ini tapi aku tidak cukup kuat, melihat Mory sanggup melakukannya sendirian menjadi buktinya.

    "Tim! Kau butuh bantuan?!" teriakku pada Tim yang tampak kesulitan mengikat layar.

    "Tidak, tetap di sana!"

    Guncangan dari angin yang berhembus keras di sekitar mendorong Tim ke segala arah, dia kesulitan antara berpegangan, menjaga keseimbangan, dan mengikat layar. Meski keadaannya seperti itu, dia menolak tawaranku untuk membantu. Begitu mendengar kalau Tim butuh aku di sini, Morylah yang mencoba membantunya sementara aku melanjutkan mengamankan layar.

    "Ugh!"

    "Kenapa?!"

    Aku mendengar suara mengerang dari ujung cabang tiang layar, di sana aku melihat Tim sedang menghisap bagian antara jempol dan telunjuk tangan kirinya. Sepertinya dia tidak sengaja melukai tangannya saat sedang menutup simpul.

    "Kau tidak apa-apa?!" tanya Mory.

    "Pisauku terjatuh!"

    Seperti dugaanku, dia tidak sengaja melukai tangannya dan menjatuhkan pisaunya ke laut, apalagi dia belum selesai mengamankan layar. Aku percepat langkahku untuk menyelesaikan simpulku supaya aku bisa menolong Tim dan Mory.

    "Tunggu! Aku akan ke sana!" teriakku pada Tim dan Mory yang tidak kesulitan bertahan, namun dari wajah mereka, tampak kalau mereka ingin aku bergegas. "Selesai!"

    Aku langsung melompat dari tiang ke atas geladak dan berlari ke arah Tim dan Mory. Namun saat aku mendarat, kapal ini bertabrakan dengan sebuah ombak yang cukup besar. Guncangannya cukup untuk membuat aku, Tim, dan Mory kehilangan keseimbangan. Saat aku mencoba berdiri kembali, aku bisa melihat kalau Mory sedang membantu Tim berdiri.

    Aku pegang ujung tajam pisauku dan kuberikan gagangnya pada Tim. Dia menggelengkan kepalanya setelah melihatku menyerahkan pisauku padanya, dia memberi tanda bahwa dia tidak dalam kondisi prima untuk melanjutkan tugasnya. Aku bisa melihat darah menetes dari bibirnya, meski dia menghisap darahnya dengan cukup keras. Bisa dikatakan lukanya cukup dalam.

    "Aku akan memeriksa ruang mesin, mungkin aku bisa membantu di sana!" ujar Tim sambil masih mengulum tangan kirinya sambil terus mencoba menjaga keseimbangan seraya berjalan ke arah geladak bawah. "Akan kuminta Alvi atau Peppy untuk membantumu di sini!"

    "Tidak, bantu saja mereka di bawah!"

    Satu-satunya pilihanku adalah menyelesaikan ini seorang diri. Alvi dan Peppy jelas tidak cocok untuk tugas seperti ini, karena itulah aku menolak tawaran Tim sambil masih fokus mengikat simpul tambang.

    "Yeah, sebaiknya kau bantu mereka!" lanjut Mory setuju denganku.

    Lagipula aku tidak perlu bantuan, segera setelah Tim masuk ke geladak bawah, aku selesai mengikat layarnya. Aku coba menggoyang-goyangkannya beberapa kali untuk memeriksa kalau ikatannya sudah kuat.

    "Selesai?!" tanya Mory.

    "Yeah!"

    "Tugas kita selesai di sini! Ayo tunggu di anjungan!" lanjutnya mengungkapkan pendapatnya yang setujui.

    Untuk sesaat aku memandang ke langit, aku merasa ingat dengan pemandangan ini. Chiaroscuro hitam dan abu-abu yang menjadi atap lamunanku saat aku sedang kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan. Hanya saja kali ini aku tahu mana yang nyata dan mana yang bukan.

    "Sedang apa kau?!"

    Mory berteriak dari pintu yang mengarah ke anjungan, teriakannya nyaris tidak terdengar karena kalah dengan suara nyanyian badai. Namun suaranya yang samar-samar itu sudah cukup untuk menarik perhatianku.

    "Sebentar---"

    "Tolong!"

    Tiba-tiba suara teriakan terdengar mendekat dari geladak bawah, bukan suara Tim, tapi aku yakin kalau itu suara Peppy yang sedang panik.

    "Ada apa?!" tanyaku saat melihatnya berlari keluar dari geladak bawah.

    "Mesinnya! Mesinnya kepanasan!"

    "Apa?!"

    "Mesin kapal kita kepanasan!"

    "Aku harus bagaimana?!"

    "Kita harus mendinginkannya, aku akan coba menyiramnya dengan air!"

    "Baik, aku akan beritahu Dasan keadaannya!"

    Peppy dan aku berpencar tanpa mengatakan apapun, aku segera berlari ke arah pintu sebelah kanan geladak.

    "Dasan! Mesin kita kepanasan!" teriakku melalui pintu tanpa memasukinya, aku tahu suaraku cukup keras untuk didengar mereka.

    "Sial! Matikan kalau begitu!"

    Memang seperti itulah harusnya, aku langsung membanting pintu dan berlari ke ruang mesin di geladak bawah. Namun sebelum aku masuk, aku berhenti saat hampir bertabrakan dengan Alvi yang membawa empat ember di tangannya.

    "Bisa kau isikan ember-ember ini?!" tanyanya padaku.

    "Baik, dan Dasan bilang matikan mesinnya!"

    "Oke!"

    Dia menyerahkan keempat ember di tangannya padaku, langsung kuletakkan keempatnya di lantai geladak untuk menadah air hujan. Tidak butuh waktu lama untuk mengisinya, aku tuangkan isi dari tiga ember lainnya ke satu ember untuk membuat satu ember penuh dengan air lalu menaruh ketiga ember yang kosong kembali ke lantai. Aku bawa ember yang penuh itu ke geladak bawah dan menuju ke ruang mesin.

    "Air!"

    "Siramkan ke mesin!"

    Tanpa keraguan, aku ikuti perintah Alvi, aku ambil kuda-kuda untuk menyiramkan isi ember ke arah mesin. Dengan satu ayunan, kukosongkan ember di tanganku dan semua air dalam ember pun pecah menabrak mesin yang panas. Uap-uap air langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan, yang berarti mesin ini masih panas.

    "Akan kuambilkan air lagi!"

    Aku langsung berlari ke koridor dan geladak tanpa berhenti. Semua ember hampir ketiga ember sudah hampir penuh. Aku taruh ember yang kosong lalu kuambil dua ember yang hampir penuh masing-masing di satu tanganku.

    "Ombak besar!"

    "Huh?!"

    Aku mendengar sebuah teriakan dari anjungan, kuangkat wajahku meskipun sakit saat tetesan air hujan mendarat ke wajahku. Dari sini tampak Jordan berdiri di bawah jendela anjungan yang terbuka.

    "Ombak besar datang dari arah kiri! Nyalakan mesinnya!"

    "Mesinnya masih kepanasan!"

    "Kalau tidak, kita bisa terjungkal!"

    Lagi, aku bergegas masuk ke geladak bawah, berlari dengan dua ember penuh air di kedua tanganku ke ujung koridor dan belok ke kiri di seberang ruang rawat.

    "Nyalakan mesinnya!"

    Aku berteriak begitu sampai ke ruang mesin. Tim, Alvi, dan Peppy menatapku dengan aneh, mungkin mempertanyakan perintahku.

    "Mesinnya masih panas," komentar Alvi dengan telapak tangannya menunjuk ke mesin yang masih menguap.

    "Aku tahu, tapi ada ombak besar mendekat! Kita harus berputar!"

    "Mesinnya bisa meledak!"

    "Setiap detik kita beradu pendapat, ombak besar itu terus mendekat dan kita tidak bisa mencegahnya kecuali jika kita berputar!" teriakku sambil menaruh ember di tangan kananku dan bersiap untuk menyiram ember satunya.

    "Sialan! Nyalakan mesinnya!"

    Alvi akhirnya mengalah dan menyuruh Tim dan Peppy untuk menyalakan mesinnya kembali meski mesin masih mengeluarkan uap. Saat mereka berusaha menyalakan mesinnya, aku masih berusaha menyiramkan isi ember kedua. Peppy melilitkan sebuah kabel ke generator dan menariknya sekuat tenaga sebelum mesin kembali menyala, sementara di waktu yang sama, aku selesai mengosongkan ember kedua.

    "Akan kuberitahu Dasan kalau mesin sudah menyala dan akan kuambilkan air lagi!"

    Aku ambil ember-ember yang sudah kosong dan berlari ke arah geladak lagi untuk menukar ember yang sudah penuh dengan ember-ember kosong yang kubawa.

    "Mesinnya sudah menyala!" teriakku ke arah jendela anjungan yang terbuka.

    "Awas guncangan!"

    Jordan berteriak memperingatkanku, tidak sengaja aku melihat sesuatu di pojok mataku. Di sisi kiri kapal ini, ada sebuah ombak setinggi setidaknya sepuluh meter yang tadinya kukira adalah langit yang memang sudah gelap. Dengan pemandangan ini di depanku, tidak sengaja aku menjatuhkan kedua ember di tanganku. Bahkan mulutku sampai ikut menganga.

    "Sudah terlambat untuk berputar!"

    Begitu aku sadar dari kekagumanku, aku berlari ke arah pagar besi di kiri geladak dan berpegangan padanya. Aku sempat berharap seandainya aku bisa memperingatkan orang-orang di ruang mesin. Ditambah saat aku sedang berpegangan, aku menyadari bahwa hidungku mulai meneteskan darah lagi.

    [Berjanjilah, <...>, kita akan melihat lautan bersama-sama.]

    "Apa?"

    Aku mendengar sesuatu, suara seseorang berbisik. Itu tidak mungkin, bahkan saat seseorang berteriak di sini, aku nyaris tidak bisa mendengar suara mereka. Namun tadi aku bisa mendengar suara seseorang berbisik dengan sangat jelas.

    Suara lembut yang menenangkan itu, aku yakin aku tahu suara itu. Itu adalah suara sosok cahaya putih dalam mimpiku. Kenapa aku mendengar suaranya sekarang? Aku sedang tidak bermimpi, kan? Aku coba memastikannya dengan cara menggigit jempol kananku dan memang terasa sakit, namun tetap saja, kenapa aku bisa mendengar suaranya di sini?

    Kapal ini hanya sempat berputar sepertiga arah sebelum haluannya benar-benar membelakangi ombak saat ombak tinggi itu runtuh dan menimpa lautan. Guncangan yang dihasilkannya membuat kapal ini kehilangan keseimbangan, hingga miring hampir setengah sisinya, sedikit dorongan saya bisa membalikkan kapal ini.

    Di saat-saat seperti ini, aku bisa merasakan rasa sakit tajam di dalam kepalaku dan darah dari hidungku tidak berhenti menetes. Aku tutup kedua mataku, menekan tangan kananku ke mata kiriku, dan menggiritkan gigi atas dan bawahku untuk menekan rasa sakitnya. Namun seberapa keras pun aku berusaha, rasa sakitnya masih terlalu tajam.

    <...>

    Beberapa saat aku menutup mataku, sesuatu yang ganjil terjadi, suara hujan lebar tiba-tiba berhenti. Berganti dengan suara ombak-ombak kecil yang menenangkan. Perlahan aku buka kedua mataku dan rasa sakit yang kurasakan perlahan menghilang. Namun seiring kedua mataku membiasakan dirinya, yang kulihat di hadapanku adalah pemandangan yang tidak mungkin.

    Ribuan atau bahkan jutaan tetes hujan sedang melayang di depan mataku. Samudra yang bergejolak sudah menghilang meski langit masih diselimuti awan hitam.

    "Apa yang terjadi---"

    Tim, Alvi dan Peppy berhamburan keluar dari geladak bawah dengan wajah terkejut. Perlahan aku terbangun dan mencoba memahami apa yang sudah terjadi. Jordan, Dasan, dan Mory juga tampak di anjungan dengan wajah-wajah penuh shock.

    Aku coba menyentuh satu tetesan hujan, perlahan tetesan hujan itu memanjang mengikuti jariku seperti gel. Namun begitu aku melepaskannya dari jariku, air itu tidak kembali ke bentuk aslinya. Ketiga pria yang masih berdiri di tangga geladak bawah juga mencoba melakukan hal yang sama dengan hasil yang sama.

    Orang pertama yang tersadarkan dari lamunannya adalah Dasan, dia langsung melajukan kapalnya saat lautan sedang tenang seperti air dalam bak. Tetesan air melayang yang menabrak kami memanjang bagaikan gel menghindari sosok-sosok kami yang melewati mereka. Laut yang tenang dan tetesan hujan yang melayang ini terus terjadi meski langit masih diselimuti awan badai, bahkan setelah kami keluar dari jangkauan badai, kami masih belum tahu apa yang sudah terjadi.

    Kami mencoba mencari penjelasan yang masuk akal sambil menunggu Dasan mengeluarkan kami dari badai, namun tidak ada yang bisa menyimpulkan sebuah teori. Kecuali aku, untuk sebuah alasan narcissist, aku percaya kalau aku mungkin ada hubungannya dengan fenomena itu.

    Berjam-jam kemudian saat aku sedang memandang cakrawala malam di atas lautan yang tenang, Jordan mendekatiku. Dia menawariku satu gelas coklat panas yang lumayan kunikmati.

    "Apa pendapatmu tentang hari ini?" tampak kedua matanya syarat dengan kecurigaan saat dia bertanya, aku tahu dia pasti berpikir kalau aku ada hubungannya dengan kejadian itu.

    "Entahlah, aku sama penasarannya denganmu."

    "..." entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi aku bisa melihat kalau aku mengatakan hal yang sebenarnya. "Apapun itu, terima kasih."

    "Untuk apa? Aku tidak banyak membantu."

    "..." lagi, dia mencari balasan yang tepat. "Ada yang harus kukatakan padamu."

    "Apa?"

    "Ingat aku bilang ada regu penyelamat menunggumu di Mombasa?"

    "Yeah?"

    "Aku bohong, tidak ada regu penyelamat."

    "...tidak apa, aku yakin aku bisa mencari jalan sendiri."

    "Bukan itu maksudku."

    "..."

    "Maksudku adalah, bukan regu penyelamat yang menunggumu di Mombasa..."

    "Apa yang sedang kau bicarakan?"

    "Saat aku melaporkan bahwa kami menemukanmu kemarin, kami mengetahui bahwa kau bukan korban pesawat jatuh, tapi kau dicari."

    "Huh?"

    "Kau dicari karena kau disebut bertanggungjawab atas jatuhnya penerbangan pribadi yang dimiliki oleh Graille Einhorn."

    Yang baru dikatakannya membuat perasaan dan ekspresiku berubah. Mataku mengembang dan aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi, pikiranku terlalu sibuk memproses informasi penting yang baru kuterima.

    "Apa katamu tadi?"

    Nama itu lagi. Nama yang terus kudengar, aku tahu ada hal penting di balik nama itu. Namun apa katanya tadi? Aku menjatuhkan pesawat? Sumpah, apa yang sudah terjadi padaku? Aku kehilangan ingatan, aku melihat hal-hal yang tidak ada, aku bahkan tidak tahu namaku sendiri. Ditambah setelah apa yang terjadi hari ini...

    ...aku ini apa?

    fsc

    [​IMG]
     
  5. Fairyfly MODERATOR

    Offline

    Senpai

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,797
    Trophy Points:
    257
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,466 / -133
    sori kalo agak pedes, tapi bagian 1 nya bener2 bikin ngantuk. inti ceritanya sih jelas cuma aku dibikin bingung ama pemilihan kata2 kiasan yang bener2 overuse :iii:

    ceritanya sendiri standar sih. mirip2 bourne ultimatum. beneran sayangnya ya disitu, kebanyakan deskripsi n kata-kata kiasan cuma buat deskripsiin satu hal, jadinya bikin ngantuk sampe aku maksa2in bangun buat bacca bagian pertamanya :iii:
     
    Last edited: Mar 5, 2015
  6. infernus M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Apr 17, 2009
    Messages:
    1,142
    Trophy Points:
    161
    Ratings:
    +1,618 / -2
    Saya ga bakal membela diri, saya memang payah kalo disuruh puitis. Tapi buat bab perkenalan saya butuh pace yang selow.

    Dan terima kasih sudah mampir. m(_ _)m
     
  7. infernus M V U

    Offline

    Lurking Around

    Joined:
    Apr 17, 2009
    Messages:
    1,142
    Trophy Points:
    161
    Ratings:
    +1,618 / -2
    ALLBLΛCK - β - Jati Diri (Bagian Pertama)

    ALLBLΛCK
    - β -
    Jati Diri

    22 Juni 2010
    Sekitar pesisir Mombasa
    10.42

    Mabuk laut; seharusnya itu yang kurasakan saat ini. Berjam-jam lamanya aku habiskan sendirian nyaris tidak bergeming satu langkahpun dari kasur ini. Namun karena aku memang sengaja membenamkan diri pada lamunanku, aku nyaris tidak bisa merasakannya sama sekali.

    Lagipula karena satu-satunya jam di kapal ini diletakkan di anjungan dan tidak adanya satupun penanda waktu di ruang rawat ini, aku tidak tahu sekarang pukul berapa. Satu-satunya penanda yang bisa kujadikan patokan waktu hanyalah bayangan panjang yang dijatuhkan oleh cerahnya matahari pagi dari arah dek yang tampak di sela-sela ruang rawat yang tak berpintu ini beberapa saat alu, bahkan aku sudah kehilangan hitungan sudah berapa lama waktu berlalu sejak terakhir kali aku melihat bayangan itu.

    Sialan, ke mana perginya mimpi-mimpi itu saat aku mencarinya?

    Aku mencerca diriku sendiri, aku mencerca pikiranku sendiri yang kurasa seperti sedang mempermainkanku, pikiranku yang menolak untuk menunjukkan kenangan-kenangan hitam dan putih yang terus kusaksikan kemarin. Aku justru mendapat rasa sakit tajam di kepalaku jika aku memaksakan diriku.

    Setelah mencoba berulang kali, yang bisa kupaksakan keluar dari otakku hanyalah gema-gema suara. Suara tembakan, suara ledakan, dan suara teriakan. Meski hanya suara, aku jadi berharap aku tidak pernah mendengar suara-suara itu. Bukan karena suaranya yang terdengar mengerikan, namun karena suara-suara itu membuatku berpikir kalau aku ada hubungannya dengan apa yang terjadi dalam suara-suara itu.

    Semalam aku nyaris tidak tidur, jikapun aku terjatuh tidur, aku akan terbangun kembali dalam hitungan menit. Ketidaktenanganku membuatku terjaga. Namun juga membuatku kuat menahan kantuk sekarang, aku tidak merasa mengantuk meski sekarang sudah pagi.

    Bahkan kantukku seakan memperkuat indra pendengaranku. Telingaku jadi bisa mendengar langkah kaki yang memasuki dek bawah. Seharusnya tidak ada siapa-siapa lagi di dek bawah kecuali aku. Terakhir kali aku mendengar suara langkah kaki orang adalah beberapa jam lalu, saat siapapun itu naik ke atas dek.

    Suara langkah kaki itu semakin terdengar, tapi belum cukup keras untuk menggaung karena koridornya tidak cukup besar dan suara langkah kakinya tidak terlalu kencang, yang membuatnya terdegar kencang hanyalah pendengaranku. Dia sudah melewati kamar tidur kru, jika dia tidak masuk ke ruang mesin, berarti dia ke sini untuk mencariku.

    “Theodore?”

    Meski aku tahu ada yang mendekati ruang rawat, Jordan yang tiba-tiba muncul membuatku terkejut karena aku masih terlalu dalam menikmati kesendirian. Setelah apa yang dikatakannya tadi malam, aku memilih untuk memisahkan diri di ruang rawat, mencoba mengingat apa yag sudah terjadi sambil meyakinkan diri sendiri kalau aku bukan orang jahat.

    Lagipula aku sedang mempersiapkan diri untuk apa yang akan kutemukan nanti. Tapi aku merasa aneh; aku tidak takut. Mungkin saja aku akan berurusan dengan hukum yang sah, tapi di lain sisi, mereka akan memberitahu siapa aku dan apa yang terjadi padaku. Bukan berarti aku bersedia membuang kebebasanku untuk ditukar dengan jawaban, tapi saat ini aku belum melihat jalan lain.

    “Ya?” jawabku lembut.

    “Kita hampir mendarat.”

    Dengan enggan aku berdiri, beranjak dari matras dimana aku membaringkan kepalaku dan menghabiskan malamku melamun. Aku tahu kalau sekarang sudah bukan waktunya melamun, sekarang sudah waktunya bersiap.

    Aku coba untuk tidak memikirkan apa yang sedang menungguku dan rasanya seperti seseorang menyuruhku untuk tidak menghiraukan seekor gajah yang sedang bersamaku di ruangan ini, jelas aku tidak bisa melakukannya. Sembari merenggangkan punggungku dengan menaikkan kedua tanganku ke atas, aku menyadari kalau tubuhku sudah beristirahat dan mengkhianati pikiranku yang sama sekali belum tertidur.

    Pikiranku terus terpaku pada subjek yang terus menarik perhatianku, meski pikiranku memilih untuk mengacuhkannya, tapi ketidak-nyamanan yang disebabkannya membuatku terus memikirkannya. Dan semakin lama aku memikirkannya, semakin sulit untuk menghiraukannya.

    “Aku segera ke sana.”

    Aku berujar dengan malas sambil mencoba menyembunyikan kecemasanku sebelum aku berdiri dan berjalan ke arah Jordan yang menungguku di bawah kusen tak berpintu yang memisahkan ruang ini dan koridor dek bawah. Sejujurnya, aku berpikir kalau aku merasa seperti seorang tahanan yang akan dibawa ke tempat eksekusi. “Analogi yang ironis,” aku pikir.

    “Kenapa kau memberitahukan ini padaku?!” ujarku nyaris berteriak, tepatnya seperti bicara dengan normal, tapi dengan nada bicara yang lebih tinggi.

    Tadi malam Jordan menghampiriku yang sedang memikirkan apa yang sudah terjadi sorenya. Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi di sana, tapi mengesampingkan mitos-mitos yang diceritakan oleh Tim, aku percaya kalau akulah yang menyebabkan badai kemarin berhenti.

    Di sana Jordan menjelaskan padaku kalau para kru kapal ini sudah berbohong padaku. Mereka mengatakan kalau saat kami mendarat di Mombasa, akan ada sebuah regu penyelamat yang menungguku, di mana kenyataannya justru ada tim penyergap.

    “Maafkan aku, tapi yang lain sudah yakin kalau kau adalah penjahat.”

    Aku menghela nafas, aku tahu aku tidak bisa membuktikan kebalikannya.

    “Mereka tidak bisa membantahnya, pengumumannya bersifat resmi,” sambung Jordan.

    “Aku tidak bisa menyalahkan kalian, toh aku tidak bisa membuktikan kalau aku tidak melakukan apa yang mereka katakan tentangku.”

    “Aku menceritakan ini padamu supaya kau tidak memandang kami salah. Entah bagaimana, tapi aku percaya padamu, aku percaya kau tidak melakukan semua itu.”

    “...” aku tidak bisa berkata-kata, tidak ada lagi yang bisa kupercayai kecuali diriku sendiri. ‘Diriku’ yang sama sekali tidak tahu apa-apa. “Apa yang membuatmu bisa berkata seperti itu?”

    “Sejujurnya, aku tidak tahu.” Jawabannya sedikit membuatku kecewa, tapi juga membuatku sedikit lega. “Mungkin cuma firasat baik, tapi firasatku begitu kuat hingga sulit mengacuhkannya.”

    “... terima kasih.”

    Aku suka bagaimana dia dengan buta mempercayaiku, seakan aku tidak memiliki kesalahan apa-apa meski banyak yang berkata sebaliknya. Sayangnya kami hanya memiliki satu hari untuk dihabiskan bersama, aku sedikit berharap aku sudah mengenal Jordan lama, mungkin saja kami bisa jadi kawan baik.

    Dia menawariku untuk minum-minum malam itu, yang sayangnya aku tolak. Dari sana aku mulai menyendiri di ruang rawat. Kalau saja aku tahu bagaimana aku menghabiskan waktu semalam dan bagaimana aku merasa sekarang, aku seharusnya menerima ajakannya itu.

    “Sulit untuk tidak mengatakannya sekali lagi,” bisik Jordan saat kami berjalan di koridor, “aku minta maaf.”

    Aku berpura-pura untuk tidak mendengarnya, bisa kulihat kalau Jordan tahu aku hanya pura-pura, namun dia juga berpura-pura kalau dia tidak tahu. Keadaannya membuatku ingin membalas perkataannya, namun sudah sedikit terlalu lama waktu berjalan dan akan terkesan canggung jika aku mencoba.

    Entah berapa lama aku sudah mengurung diri di ruang rawat, tapi sepertinya sudah cukup untuk membuatku lupa seberapa cahaya matahari bisa membutakan. Langit biru diiringi nyanyian burung-burung menyambutku dan Jordan yang baru saja keluar dari dek bawah.

    Begitu mataku membiasakan diri dengan cahaya matahari yang menyilaukan, aku bisa melihat daratan yang sudah tak terlalu jauh.

    [Pertama kali aku melihat daratan, entah sejak kapan.]

    Mungkin inilah salah satu kelebihan terlahir kemarin, aku jadi bisa mengapresiasi keindahan hal-hal kecil yang bisa dilihat semua orang setiap hari.

    “DARATAN!”

    Tim berteriak sangat kencang melawan raungan haluan kapal yang memecah ombak. Suaranya terdengar cukup keras untuk bisa menyaingi suara gejolak lautan.

    “Siapa saja tarik dia sebelum dia menyebut dirinya ‘raja’ lagi!” ejek Dasan pada Tim dari anjungan dengan suara yang cukup keras untuk beradu dengan suara ombak. Teriakan Dasan segera diikuti oleh suara tawa Mory, Peppy, dan Alvi yang juga sedang bersiaga di atas dek.

    Kira-kira tigapuluh menit kemudian, kapal ini akhirnya berlabuh di dermaga Mombasa. Sebuah mobil ambulans sudah menunggu kedatangan kapal ini lama sebelum kami sampai di dermaga. Dan begitu kapal selesai berlabuh, semua kru kapal kecuali Jordan berpura-pura menyibukkan diri mereka. Dasan, Mory, dan Peppy berpura-pura membongkar muatan ikan-ikan dari kargo. Sementara Tim dan Alvi berpura-pura memeriksa ruang mesin.

    Sebelum aku turun dari kapal ini, aku kembali ke ruang rawat untuk terakhir kalinya. Bukan untuk mengenang tempat itu, dua hari di sana tidak memberiku cukup kenangan, kecuali untuk insiden di dalam badai yang tidak terjadi di ruang rawat ini. Aku kembali ke ruang rawat untuk mengambil satu-satunya benda milikku; jaket musim dingin bernamakan “Theodore Quentin.”

    Yang tersisa untuk melepasku pergi hanyalah Jordan, sepertinya kru yang lain sudah memilihnya menjadi perwakilan untuk pelepasanku. Namun sayangnya sepertinya Jordan sendiri tidak tahu harus berkata apa.

    “Sepertinya kita harus berpisah di sini,” ujarku setengah bercanda.

    “Aku minta maaf untuk yang lain, mereka tidak bermaksud buruk.”

    “Naah, tidak usah dipikirkan. Sampaikan pada mereka rasa terima kasihku, kalau tidak ada kalian mungkin aku sudah mati.”

    Meski aku tidak mengharapkannya, dia mengangkat tangan kanannya ke depan, menawariku jabat tangan. Karena terkejut, aku menanggapinya dengan canggung. Setelah kuingat lagi, dialah satu-satunya orang yang tidak kujabat tagannya saat anggota kru yang lain memperkenalkan diri mereka. Meski terlambat, namun aku senang menjabat tangannya.

    “Mereka sudah menunggumu,” ujarnya sembari menepuk pundaku dengan tangannya yang lain sambil masih menjabat tanganku dan lalu menunjuk ke arah dua orang lelaki berseragam kehijauan yang berdiri di atas dermaga.

    Meski berat, namun setelah aku melihat kedua lelaku itu, aku lepaskan genggamanku dari tangan Jordan dan mengenakan jaket yang sejak tadi kugantungkan di lengan kiriku. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, aku turun dari kapal ke arah dermaga. Setelah beberapa langkah, aku sadar kalau aku belum mengatakan selamat tinggal. Namun aku mengurungkan niatku saat melihat Jordan sudah berpaling dan memasuki dek atas.

    Aku balikkan badanku dan berjalan lebih cepat ke arah dermaga di mana kedua lelaki berseragam kehijauan menungguku. Saat aku berjalan di atas dermaga yang dipavmen dengan batu-batu oval ke arah gang yang mengarah ke jalanan, salah satu dari mereka menyadari keberadaanku dan menghampiriku. Dan karena aku tahu kalau mereka di sini bukan untuk menjagaku, aku harus berhati-hati.

    “Letnan Theodore Quentin?” tanya lelaki yang memakai kacamata dengan suara yang dalam.

    “Ya,” jawabku diiringi anggukan.

    “Kami regu penyelamat Anda.”

    [Pembohong.]

    Bahkan dari awal, mereka sudah mencoba membohongiku. Jawabannya memberiku satu alasan tambahan untuk tidak mempercayai mereka.

    “Nama saya Odi, dan ini Rick.”

    Agak sulit untukku memalsukan senyum saat ini, namu karena mereka adalah satu-satunya cara untuk mencari tahu tentang diriku, aku mencoba untuk tetap berpura-pura.

    “Kendaraan kami diparkir di jalan, kami akan membawa Anda untuk dikembalikan.”

    “B-Baik.”

    Aku menjadi gugup karena aku memikirkan apa yang akan mereka lakukan padaku. Skenario terbaiknya mereka akan membawaku ke hadapan Graille Einhorn, dan yang terburuknya adalah mereka akan membunuhku di sini. Karena jika apa yang dikatakan orang-orang kalau aku menjatuhkan sebuah helikopter, maka itulah hal paling masuk akal yang bisa dilakukan padaku. Aku takut mereka akan melakukan skenario terburuk yang kupikirkan, namun sepertinya mereka memanfaatkan ketidak-tahuanku.

    Begitu kami keluar dari gang, aku bisa melihat sebuah kendaraan berwarna merah dan putih yang tampak seperti ambulans sedang terparkir di jalanan. Odi dan Rick mengantarku ke arahnya, sepertinya aku memang akan dibawa ke suatu tempat.

    “Menurut laporan kami, Anda menderita amnesia?”

    Odi mulai bicara saat kami mendekati mobil ambulans itu, aku lega dia mulai bercakap, karena berjalan diam di antara dua orang yang tidak kukenal terasa sangat tidak nyaman.

    “Ya, aku tidak bisa ingat dengan apapun yang terjadi sebelum aku diselamatkan oleh kapal nelayan itu,” jawabku setelah sedikit jeda. “Apa kau tahu apa yang sudah terjadi?”

    “Sejujurnya kami tidak tahu apa-apa. Kami hanya ditugasi menjemput Anda di sini.”

    [Jelas saja, mereka cuma pesuruh rendahan.]

    “Namun laporan kami menyatakan kalau Anda adalah korban helikopter jatuh,” timpal Rick.

    “Aku sudah tahu itu, pada nelayan itu memberitahuku kemarin.”

    “Maaf, tapi kami tidak tahu apa-apa lagi,” lanjut Odi, dan saat dia bercerita, kami sudah mencapai pintu belakang mobil ambulans.

    “Tapi sekarang Anda bisa tenang, kami akan membawa Anda ke tempat seseorang yang tahu.”

    “Sungguh?”

    *KLIK*

    Aku tidak memperhatikan saat Odi membuka pintu belakang ambulans karena aku masih terlalu sibuk berbicara dengan Rick. Aku sudah teledor, karena begitu pintu itu terbuka, sebuah sosok ketiga tiba-tiba menyergapku dari dalam ambulans dan menutup kepalaku dengan sebuah kantung.

    “Apa-apaan—”

    Aku mengerang, dan mereka juga mengerang. Namun sebelum aku bisa mengetahui apa yang sedang terjadi, salah satu dari mereka membungkam mulut dan hidungku dengan sesuatu. Tiba-tiba sebuah bau yang kuat menembus kain tebal yang menutupi wajahku.

    [Chloroform!]

    <...>!

    Bau itu melemahkan pikiranku, membuat tubuhku merasakan sebuah rasa lelah yang tak terkalahkan. Saat mereka melepaskan sesuatu yang membungkam mulut dan hidungku, kepalaku sudah terlalu berat untuk beraksi. Dan sebelum aku terjatuh seperti sekantung pasir, aku bisa mendengar suara itu lagi; suara seseorang memanggil namaku dengan diam.

    Sisi baiknya, ini adalah tidur pertama yang bisa kunikmati sejak kemarin.

    <...>!

    Suara itu lagi. Meski aku tidak bisa mendengar namaku, aku bisa mendengar suaranya memanggilku. Bukan katanya yang bisa kudengar, tapi suaranya. Suara yang akrab dan tenang, suara itu menenangkanku di saat-saat menegangkan saat aku sedang dibius.

    <...>!

    [Berisik...]

    Sekali-dua kali suara itu memanggilku, aku merasa ditenangkan, namun saat suara itu memanggilku untuk ketiga kalinya, aku merasa kesal. Sebelum aku dibius, aku memang waspada, amun begitu aku jatuh tak sadarkan diri, rasa kantukku mengambil alih. Pikiranku menolak bangun, dan entah bagaimana caranya memberitahu suara itu untuk membiarkanku beristirahat.

    <...>!

    [Apa?!]

    Suara hatiku berteriak, suara hatiku lalu bergema di dalam ruang hampa dalam pikiranku. Dalam sekejap aku membuka mataku. Bukan mata fisikku, namun mata yang kugunakan untuk melihat mimpi.

    Aku terbangun, indraku kembali aktif. Indra penglihatan, indra pendengaran, indra penciuman, indra perasa, dan kemampuanku untuk berbicara. Aku sudah kembali ke ruang di mana langitnya berwarna putih dan dasarnya berwarna hitam.

    Aku melihat ke kiriku dan aku menyadari kalau kali ini aku berada di tempat yang berbeda, bukannya terduduk di atas kuri di belakang sebuah meja kayu, aku terduduk di bawah sebuah pohon. Sebuan pohon beringin kecil, pohonnya sendiri tampak sangat nyata. Warna coklat kayunya, warna hijau daunnya, dan warna merah dan kuning di daun-daunnya yang sudah mati.

    Inilah kali pertamanya aku melihat ada warna lain selain hitam dan putih di ruangan ini. Tapi aku merasa ada yang aneh dengannya, meski aku tidak merasakan adanya angin, tapi dedaunan dan dahan-dahan pohon ini tampak melambai perlahan seperti tertiup angin.

    Di pangkuanku juga ada sebuah buku, buku ini tidak tebal, tapi semuanya hanya putih. Covernya kosong dan saat kulihat isinya, semua halamannya kosong.

    <...>!

    Suara itu terdengar lagi, tapi kali ini aku bisa mendengar dari mana datangnya.

    “WHA—”

    Aku sangat terkejut saat menengok ke sebelah kanan, sesosok putih sedang berdiri sangat dekat denganku, hanya satu langkah. Rambutnya yang sepanjang pinggang menari-nari ke kiri tertiup angin yang tidak bisa kurasakan sementara tangan kanannya menagan agar rambut panjangnya itu tidak menutupi wajahnya yang tidak bisa kulihat.

    [Apa maumu?]

    Aku masih terlalu terkejut, dan seperti sebelumnya, suara gaib milikku bisa kudengar. Suaraku terdengar berbeda, seperti lebih ringan. Lagipula dibandingkan dengan terakhir kali aku melihat sosok putih itu, dia tampak sedang mengenakan blouse tak berlengan dan celana jeans, bukan sundress.

    “Apa kau sedang tidur di sini?!”

    Dia berteriak padaku. Meski suaranya terdengar tegas, tapi aku bisa mendengar suaranya dihiasi nada feminin.

    [Memangnya kenapa? Ada perlu apa kau ke sini?]

    “Kalau kau menjawab panggilanku tadi, aku tidak akan ke sini!” sentaknya sambil menyilangkan kedua lengannya.

    [Sudah jelas 'kan? Kalau aku tidak menjawab, berarti aku tidak mau kau ke sini.]

    “... terserah,” dia menyerah sambil menyisir rambut kanannya yang tertiup masuk ke depan wajahnya. “Eve sedang mencarimu.”

    [Eve? Ada apa dia mencariku?]

    “Dia mencari buku baru yang kau pinjam.”

    [Oh, buku ini? Bilang padanya tunggu dulu, aku belum selesai membacanya.]

    “Kalau begitu cepat selesaikan.”

    [Tidak semudah itu, aku selalu ketiduran kalau membacanya.]

    “Kalau begitu biarkan Eve membacanya duluan!”

    [Tidak mau, dia akan butuh setidaknya tiga hari untuk membaca buku ini. Aku akan selesai membacanya nanti malam. Sekarang biarkan aku istirahat.]

    “Ah, 'tuh, kan kau tidur di sini!”

    [Sudah kubilang; memang kenapa?]

    “Jangan tidur di sini!”

    Setelah hanya berdiri dan menyentakku dari tempatnya berdiri, dia mulai mendekatiku dan menarik-narik tangan kananku. Dan seperti sebelumnya, seperti saat silhouette hitam Doktor Graille Einhorn menjabat tanganku, meski bentuknya yang tidak seperti manusia, tapi sentuhanya terasa sangat nyata. Dia menggenggam pergelangan tangan kananku dan menariknya sekuat tenaga, namun tidak peduli seberapa kuat dia menarikku, aku tidak bergeming. Aku bahkan tidak melawan, tapi dia tampak seperti menarikku sekuat tenaganya.

    [Biarkan aku di sini, aku akan pulang ke rumah sebelum malam!]

    “Pokoknya tidak, cepat bangun!”

    [Kau menyebalkan, ya!]

    “Bangun!”

    “...bangun!”

    “...bangun...”

    Dia terus menarik lengan kananku, lagi dan lagi. Sampai perlahan suaranya mulai memudar namun mulai menggema. Sedikit demi sedikit, sensasi tarikannya berubah menjadi gaya yang berasal dari luar tubuhku.

    Aku mulai sadar; perlahan aku mulai waspada dengan sekelilingku. Aku bisa mendengar samar-samar suara mesin kendaraan bermotor dan klakson mobil, tapi aku tidak bisa melihat apapun. Lalu aku teringat kalau mereka menutup wajahku dengan sebuah kantung, tentu saja aku tidak bisa melihat.

    Ditambah saat aku ingin mencoba menggerakkan tanganku, gerakan tangan serasa terbatas. Kedua tanganku sedang terikat erat di balik punggungku. Bisa kurasakan apa yang sedang mengikat tanganku, teksturnya tidak dingin seperti logam, jadi kupikir bukan borgol. Juga tidak tebal, jadi kupikir bukan tali. Yang bisa kurasakan adalah bentuknya yang tipis, aku menebak zip-tie.

    Zip-tie, meski strukturnya yang tipis, akan sulit untuk membebaskan diri dari ikatannya. Aku harus menyerah setelah beberapa kali mencoba, karena bukannya membuat ikatannya melebar dengan cara mendorongkah tanganku satu sama lain, aku malah membuat pergelanganku sakit.

    Meski mataku tertutup, aku mencoba meresapi lingkunganku, aku ingat hal terakhir yang terjadi sebelum sampai di sini adalah mendapati kepalaku ditutupi sebuah kantung oleh “regu penyelamatku.’ Sementara sekarang aku terduduk di atas sebuah bangku panjang, punggungku juga bersandar ke sebuah dinding.

    Dan dari suara samar lalu lintas di luar, meski hanya tebakan, aku menebak kalau mereka sedang mengantarku ke suatu tempat di dalam ambulans mereka.

    “Brengsek, Supervisor suka lama merespon.”

    “Sudah berapa lama sejak kau minta perintah?”

    “Hampir satu jam lalu.”

    “Kalau begitu, laporkan saja kita tidak akan tepat waktu.”

    Sejauh ini aku belum mencoba bergerak, kecuali saat aku mencoba merentangkan tanganku, kalau-kalau ada orang lain bersamaku. Dan setelah mendengar suara bisikan dari sebelah kiriku, aku tahu kalau aku benar. Jika aku bergerak, aku yakin mereka akan melakukan sesuatu yang buruk kepadaku, seakan keadaanku saat ini belum cukup buruk.

    [Berpikirlah!]

    Aku coba menjernihkan pikiranku, aku ingin mencoba membuat rencana yang masuk akal. Aku tahu apapun rencanaku nanti, aku harus membebaskan diri dulu. Dan yang paling utama, aku harus cepat. Aku juga tahu kalau saat mereka melepas ikatanku, aku pasti sudah berada di saat dan tempat yang berbahaya.

    Apa sebaiknya aku putar tanganku ke depan lewat atas? Tidak tanpa melukai pundakku dan membuat ototku robek. Apa lebih baik aku memutar tanganku ke depan lewat kakiku? Mungkin saja, tapi aku harus menjaga keseimbangan, dan begitu mereka melihat gerakanku, mereka akan langsung mengamankanku. Aku bisa saja melawan kalau mataku tidak tertutup.

    Pilihan terbaik adalah tetap merenggangkan zip-tienya sampai dia robek, mungkin akan sangat sulit, tapi luka di pergelangan tangan sepertinya jauh lebih baik daripada apapun itu yang akan mereka lakukan padaku.

    Setelah beberapa kali mencoba tanpa hasil, aku menyadari kalau tidak hanya zip-tienya tidak merenggang, tapi aku juga tidak duduk dengan nyaman. Aku bisa merasakan sesuatu, sebuah gumpalan keras yang membuat bokongku tidak bisa duduk dengan nyaman.

    [Dompet? Tapi aku tidak punya dompet. Ponsel? Mungkin saja.]

    Aku mencoba mengingat apa yang bisa saja sudah kutaruh di saku belakangku, aku tidak ingat sudah menaruh benda apapun di sana, lagipula apa yang aku punya yang bisa kutaruh di situ? Pikiranku mencoba menggali lebih dalam, tapi aku yakin kalau setelah aku terbangun di atas kapal itu, aku tidak punya apapun di sakuku. Ini berarti antara aku sudah menaruh sesuatu di sana setelah saat itu atau yang lebih tidak mungkin adalah kalau mereka menaruh sesuatu di sakuku, tapi aku ragu.

    Lagi, aku mencoba mengingat apa yang sudah kulakukan sejauh ini; aku terbangun, bertemu kru kapal, membantu mereka di bawah badai...

    [Tunggu dulu, itu dia!]

    Aku sudah ingat, aku menaruh sebuah pisau lipat setelah aku mengikatkan layar kapal di sakuku. Sepertinya mereka lupa untuk memintanya kembali, tapi aku benar-benar bersyukur atas keteledoran mereka.

    Dengan hati-hati, aku pindahkan tangan kananku perlahan ke saku belakang kananku. Tangan kiriku yang terikat tidak bisa menolak ikut terbawa saat tangan kananku bergerak, jika aku bisa melihat diriku sekarang, aku tahu aku akan tampak mencurigakan. Karena itulah aku mencoba untuk terus mendengarkan pembicaraan mereka, dan sejauh ini mereka sepertinya masih terlalu fokus berbicara satu sama lain dan belum menyadari gerak-gerikku.

    Meski sedikit canggung, aku mencoba menarik pisau lipat itu daru sakuku, aku mencoba membuat sedikit gerakan, aku tidak ingin menarik perhatian mereka. Aku coba untuk menariknya, namun berat badanku mengapitnya dengan permukaan bangku. Semakin sedikit usahaku menariknya, semakin lama pisau lipat itu akan berada di tanganku, namun juga semakin sedikit aku menarik perhatian. Untungnya begitu pisau lipat itu mencapai suatu titik, aku bisa menariknya dengan mulus.

    Sekarang sebuah pisau terlipat sudah berada di tanganku, tidak sulit untuk melipatnya keluar dari gagangnya. Dan setelah memutar pisaunya untuk berbaring sejajar dengan zip-tie yang mengikat tanganku, aku mulai menarik dan mendorongkan tanganku ke atar dan ke bawah sambil menekannya supaya pisauku mulai memotong permukaan zip-tie yang mengikat tanganku.

    *Tok* *Tok*

    “Hey, Gyle. Apa masih lama?”

    “Entahlah, mungkin masih lama. Macetnya gila.”

    Karena aku masih terfokus mencoba memotong permukaan zip-tie, aku coba untuk mendengarkan percakapan mereka. Sepertinya mobil ini terjebak macet, aku lega kami terjebak macet, kalau tidak, aku mungkin tidak punya cukup waktu untuk membebaskan diriku.

    [Mulai robek...]

    Aku mulai bisa merasakan zip-tienya melebar, pisauku berhasil memotongnya. Dan semakin aku memotong, semakin mudah aku memotongnya.

    “Akhirnya, kita dapat pesan dari Supervisor!”

    “Oh, apa katanya?”

    “Dia bilang, ‘tidak perlu buru-buru, tapi aku mengharapkan kedatangannya sesegera mungkin. Akan kuganti jadwal keberangkatan kalian, jangan terlambat.’”

    [Supervisor?]

    Sepertinya orang yang mereka sebut dengan ‘supervisor’ adalah orang yang bertanggungjawab atas penangkapanku. Aku jadi penasaran apa aku punya musuh lain selain Graille Einhorn.

    “Katakan padanya kita akan melapor lagi begitu kita sampai di transport.”

    “Okay.”

    [Sedikit lagi...]

    Aku coba melebarkan tanganku, hanya sedikit lagi dan aku bisa memaksanya robek.

    “Apa kau sudah memeriksanya?”

    “Ah, aku lupa.”

    [Lepas!]

    Tepat pada waktunya, sepuluh detik lagi saja dan mereka akan tahu. Tepat saat dia menyibakkan kantung yang menutup kepalaku, aku ayunkan tangan kananku dan memukulnya dengan keras di pelipis kirinya dengan gagang pisau lipatku.

    Dia tidak punya waktu dan reflex untuk menghindar, pukulanku mendarat dengan mulus dan dia terhempas ke kiri, semakin menjauhi pintu belakang.

    Sepertinya mereka tidak berpengalamanan dalam pertarungan jarak dekat, mereka memberiku waktu yang cukup untuk menyurvei lingkunganku. Orang yang kupukul tadi adalah Rick, dan orang lain yang duduk bersamaku di ruangan ini adalah Odi. Dan saat ini, aku terperangkap di belakang ambulans. Yang aneh dari ambulans ini adalah tidak adanya peralatan medis sama sekali, mobil ini hanya pencitraan.

    “Gyle!”

    Segera saat Odi mulai bereaksi, daripada menyerangnya dengan pisau di tangan kananku, aku melontarkan kaki kananku ke atas dan menendang Odi tepat di rahangnya yang sedang berteriak. Tendanganku cukup kuat untuk membuatnya terhempas dan menabrak dinding depan hingga dia tidak sadarkan diri.

    “Ada apa?!”

    Sebuah suara dari depa bisa terdengar, aku teriingat dengan sosok ketiga, sosok yang sudah menutup kepalaku di dermaga. Odi menyebutnya Gyle, aku butuh dia tetap bangun, ada banyak hal yang harus kutanyakan padanya.

    “Odi? Rick?!”

    Dia harus ke sini jika dia ingin tahu apa yang terjadi, tapi sebelum itu, aku harus mengamankan kedua orang ini dulu. Aku bisa melihat satu ikat zip-tie di saku Rick, lalu aku taruh pisauku kembali ke saku belakangku dan mengambil beberapa zip-tie untuk mengikat tangan dan kaki Rick dan Odi.

    “Apa kalian baik-baik saja?”

    Saat aku sedang memeriksa saku Rick dan Odi mencari apapun itu yang bisa membantu mereka membebaskan diri, aku bisa dengar pintu depan terbuka dan tertutup dengan keras, sang pengemudi akan datang ke belakang. Aku tidak menemukan pistol atau pisau, tapi selain dompet mereka, aku menemukan sebuah taser dan radio transmitter dari saku Rick, dan sebuah radio transmitter dan sebuah ponsel dari saku Odi. Aku mungkin butuh tasernya, tapi aku tidak butuh ponsel dan radio transmitternya. Tapi untuk beberapa alasan, aku menyimpan ponselnya.

    *KLIK*

    Aku sudah siap, setelah memastikan kalau kedua orang ini tidak akan pergi ke mana-mana, gagang pintu belakang mulai bergerak. Perlahan pintu itu terbuka, menampilkan pemandangan jalanan yang dipenuhi macetnya kendaraan. Beberapa mobil di belakang ambulans ini memantulkan cahaya matahari siang sampai aku harus menutupi setengah bagian atas mataku untuk bisa tetap melihat jelas.
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Dibangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.