1. Hai IDWS Mania, buat kamu yang ingin bebas iklan, cek hidden post, dan fitur lain.. kamu bisa berdonasi membership Gatotkaca di sini yaa~
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Pengen ganti nama ID atau Plat tambahan? Sekarang bisa loh! Cek infonya di sini yaa!
  4. IDWS Radio is Back! Mau ngobrol seru bareng penyiar (announcer) atau mau ikutan jadi penyiar di IDWS Radio? Mau promoin lagu indie kamu? Bisaa!.Klik info lengkapnya di sini, kuy~.
  5. Terima kasih untuk kebersamaan komunitas selama hampir 12 tahun ini. Apa pengalaman menarikmu selama di IDWS? Apa saran, kritik, dan masukan kamu untuk IDWS? Tolong sampaikan di sini yaa~ Terima kasih.
  6. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  7. Pengen belajar jadi staff forum IDWS? Sekaran kamu bisa ajuin Moderator in Trainee loh!. Intip di sini kuy~

Agar Gorengan Tak Terlalu 'Berbahaya'

Discussion in 'Pengetahuan Penting Penunjang Kesehatan' started by blacksheep, Jun 7, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. blacksheep M V U

    Offline

    Post Hunter

    Joined:
    Nov 23, 2008
    Messages:
    4,595
    Trophy Points:
    212
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +25,046 / -0
    Siapa tak suka gorengan? Sensasi renyah dan gurihnya saat digigit membuat orang sulit menghindarinya. Menyantap risoles, tahu isi goreng, atau pisang goreng saat senggang pada pagi atau sore hari tentu sangat nikmat.


    Widajanti, 56 tahun, ibu rumah tangga di Boyolali, Jawa Tengah, misalnya. Ia tiada hari tanpa menggunakan minyak goreng dalam memasak. Selesai menggoreng kerupuk yang butuh banyak minyak, ia menggoreng lauk. Terakhir, sisa minyak dipakainya untuk menumis sayur. "Sayang kalau dibuang, masih bisa dipakai lagi," ujarnya.


    Lain halnya dengan Krisnawati, 40 tahun. Dia menyadari usianya makin tua dan harus memperhatikan kesehatan. Krisnawati kini lebih suka mengukus atau merebus makanan yang dikonsumsinya. Kalaupun harus menggoreng atau menumis, dia hanya sedikit sekali menggunakan minyak.

    Karyawan swasta di kawasan Blok M ini mengatakan berupaya mengurangi mengkonsumsi minyak dan makanan yang digoreng untuk kesehatan. "Kalaupun menggoreng, tidak terlalu banyak memakai minyak. Setelah menggoreng, aku buang minyaknya," katanya.


    Menurut dokter Inge Permadhi, spesialis gizi klinis dari Rumah Sakit Siloam Semanggi, gorengan atau makanan yang diolah dengan digoreng idealnya memang dihindari total. Tapi, jika tidak mungkin menghindari, kreativitas mengolah makanan bisa jadi senjata.


    "Makanan yang digoreng, selain hancur mikro-nutrisinya, minyak yang terserap makanan berbahaya untuk kesehatan kita," kata Inge saat ditemui seusai jumpa wartawan acara seminar bertajuk "Pentingnya Sarapan" di Jakarta beberapa waktu lalu.


    Minyak goreng yang dipanaskan, apalagi secara berulang, akan meningkatkan kandungan lemak trans. Lemak trans adalah nama umum untuk lemak tak jenuh. Sebagian besar lemak trans disintesiskan secara artifisial atau buatan. Biasanya dengan proses kimiawi memadatkan minyak cair.


    Kadar lemak trans yang tinggi dalam tubuh bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) dalam darah. Akibatnya, terjadi pembekuan darah, muncul endapan, dan mempersempit pembuluh darah, sehingga kesehatan jantung terancam. Seperti diketahui, penyakit jantung koroner telah menjadi penyebab nomor satu kematian di Indonesia.


    Karena itu, Inge menyarankan, saat menumis sebaiknya sesedikit mungkin menggunakan minyak goreng. "Lebih baik gunakan penggorengan antilengket dan gunakan sedikit minyak hanya untuk menumis sebentar bumbunya."


    Senada dengan Inge, chef Edwin Lau mengatakan makanan yang digoreng memang belum tentu menyehatkan tubuh. "Tergantung apa yang digoreng, bagaimana cara menggoreng, dan siapa yang mengkonsumsi makanan gorengan itu," ujar Edwin melalui surat elektronik.


    Dia mencontohkan, makanan seperti jeroan ayam atau sapi yang digoreng tidak sehat. Sebab, jeroan sendiri sudah mengandung lemak jenuh yang tinggi. Pria yang pernah bekerja di berbagai hotel bintang lima ini mengatakan banyak jenis minyak yang bisa digunakan untuk memasak.


    "Minyak sawit, minyak kelapa, minyak babi, bebek, dan ayam memiliki kandungan lemak jenuh yang sangat tinggi," ujar pria yang mengambil spesialisasi masakan sehat ini.


    Sedangkan minyak zaitun, biji bunga matahari, biji bunga kapas (safflower), minyak kacang, minyak jagung, canola, minyak kulit padi, minyak wijen, dan minyak biji anggur memiliki kandungan asam lemak tak jenuh tunggal dan ganda yang lebih tinggi.


    Edwin mengatakan ada aturan khusus untuk memasak agar tidak merusak kandungan vitamin, protein, atau mineral makanan. "Contohnya, salmon akan rusak Omega-3-nya kalau terlalu lama (dimasak)," ujarnya.


    Saat memasak pun disarankan memakai minyak yang sudah mencapai suhu tinggi. Sebab, semakin rendah suhu akan makin banyak makanan menyerap minyak. "Tekniknya juga harus benar supaya tidak 'minum' minyak," ujarnya.


    Dia menyarankan tidak menggoreng untuk mematangkan makanan. Hal ini akan membuat makanan menyerap lebih banyak minyak. "Gunakan hanya untuk dapat tekstur renyah pada kulitnya untuk meminimalkan minyak," ujar pemilik tubuh bagus ini.


    Penggunaan minyak untuk menggoreng lebih dari sekali tidak disarankan. Sebab, minyak sudah mencapai titik didih dan berpotensi menghasilkan lemak yang berbahaya bagi pembuluh darah. Dia pun menyarankan agar mengkonsumsi makanan yang dimasak dengan teknik masak lebih ramah kesehatan, seperti dikukus, direbus, dipanggang di oven, dan ditumis dengan sedikit minyak.




    Tip Menggoreng Sehat


    1. Gunakan penggorengan dengan lapisan antilengket untuk mengurangi penggunaan minyak.
    2. Gunakan minyak yang sehat, seperti minyak canola.
    3. Hindari deep fried atau menggoreng dengan suhu tinggi dalam waktu yang lama.
    4. Menumis bumbu dengan sedikit minyak. Lalu buang minyak, campur bumbu ke dalam masakan. Setelah matang dan diangkat, tuang sedikit margarin di atas tumisan untuk memberi efek kilau minyak.
    5. Pastikan suhu minyak cukup tinggi untuk meminimalkan penyerapan minyak ke makanan.
    6. Jangan menggoreng makanan dalam jumlah banyak sekaligus karena akan mengganggu suhu minyak dan membuat minyak lebih banyak terserap.
    7. Kukus makanan sebelum digoreng untuk mematangkan bagian dalam dan mengurangi kontak terlalu lama dengan minyak.
    8. Tiriskan minyak dengan sempurna sebelum makanan disajikan. Gunakan kertas penyerap minyak.

    Tempointeraktif.com

    Code:
    http://www.petrafm.com/news/50-selayang-pandang/597-agar-gorengan-tak-terlalu-berbahaya.html
     
  2. riia_emoticon Members

    Offline

    Silent Reader

    Joined:
    May 26, 2011
    Messages:
    55
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +9 / -0
    nah kalo ane makan gorengan, pasti selalu serap make tissue untuk meminimalisir minyak dalam gorengan..
    yang lebih penting lagi mending makan gorengan yg dibikin sendiri
    karena kalo gorengan dipasaran banyak yg make minyak oplosan n untuk merenyahkannya menggorengnya dimasukin plastik!
    kan mengerikan!! :shock:
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.