1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Pengen ganti nama ID? Plat tambahan? Promo GK? Cek Promo Spesial Hari Kemerdekaan, Kuy~ Cek infonya di sini yaa!
  3. Tim staff IDWS mengajak dan memberikan kesempatan IDWS Mania bergabung dalam tim staff komunitas forum IDWS nih. Klik untuk info lengkapnya yuk~
  4. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
  5. Apa kamu cukup berani melawan Valak? Satukan kekuatan di The Werewolf Series #16: THE NUN. Open registration: 14 - 21 September 2018!
  6. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!

Other ADA 162 MAYAT DI SANA, KENAPA DIHENTIKAN? : Kasus Tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba

Discussion in 'Education Free Talk and Trivia' started by udhienbong, Jul 4, 2018.

  1. udhienbong MODERATOR

    Offline

    Rockstar

    Joined:
    Aug 15, 2012
    Messages:
    25,564
    Trophy Points:
    277
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +114,661 / -1

    Ada postingan menarik dan sangat bermanfaat dari Dosen saya Jajang Agus Sonjaya tentang penjelasan kenapa kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun dihentikan. Kalian bisa mengaksesnya langsung di link ini:
    Code:
    https://www.facebook.com/jajang.a.sonjaya/posts/10156462105214518 
    
    atau bisa juga lihat di tautan berikut:

    Sebetulnya pertikaian yang terjadi antara menteri Luhut dengan Ratna Sarumpaet tidak perlu terjadi ditengah suasana duka seperti itu. Saya sendiri agak kesal melihat videonya. Semoga dengan membaca ini, teman-teman semua paham, mengapa pemerintah memutuskan untuk berhenti melakukan pengangkatan. Dalam postingannya, Bpk. Jajang ini juga memberikan solusi yang sekiranya bisa dijadikan pilihan untuk menyelesaikan masalah ini.




    ADA 162 MAYAT DI SANA, KENAPA DIHENTIKAN?
    oleh Jajang Agus Sonjaya

    ADA 162 MAYAT DI SANA, KENAPA DIHENTIKAN?

    Itu salah satu kalimat yang dilontarkan Ratna Sarumpaet di Posko Korban tenggelamnya kapal Sinar Bangun di Danau Toba. Ratna Sarumpaet mengaku mewakili keluarga korban. Saya kira tidak semua keluarga mewakilkan pada Ratna Sarumpaet karena setidaknya ada seorang ibu yg didukung beberapa orang lain yang memprotes Ratna Sarumpaet. Ibu itu diserang Ratna Sarumpaet dengan tuduhan sudah dibayar. Perbincangan perihal Ratna Sarumpaet di Danau Toba pun mencuat, terlebih setelah adu mulut dengan Luhut, Menko Kemaritiman. Rasa kemanusian saya terusik melihat pertengkaran di tengah suasana duka mendalam, bahkan komentar-komentar atas itu lalu sarat muatan politik.

    Sebelum pertanyaan Ratna Sarumpaet saya jawab atau ada yang menjawab, kenapa pencarian dihentikan, saya ingin mengajukan pertanyaan pada aktivis sosial ini, pada keluaga korban, pada kita semua. Mengapa jenazah-jenazah itu harus diangkat? Apa bedanya tidur panjang di dasar danau dengan dikubur di dalam tanah? Dengan dibiarkan di dasar danau, kemungkinan tubuh tetap intact (tersusun utuh) jauh lebih besar ketimbang jika diangkat. Jenazah itu ada di kedalaman 450 meter. Setiap 10 meter nambah tekanan 1 atm. Berarti jenazah-jenazah itu berada di tekanan 46 atm. Jika saya naik terlalu cepat dari kedalalaman 20 meter (3 atm) ke permukaan air, paru-paru saya akan pecah dan gendang telinga kemungkinan bocor. Satu contoh lagi. Saya pernah terlibat pengangkatan barang muatan kapal tenggelam di perairan Blanakan. Keramik yang di kedalaman 48-60 meter itu baik-baik saja, ketika sampai di atas pecah seribu (retak-retak halus). Memang, proses yang bekerja pada keramik nahas itu bukan hanya tekanan, tapi juga penggaraman dan proses fisika dan kimia yang lain. Mari kita bayangkan apa yang terjadi dengan tubuh manusia yang sudah berhari-hari berada di kedalaman bertekanan 46 atm. Kemungkinan yang bisa sampai ke permukaan hanya tinggal pakaian, rambut, sebagian tulang, dan daging-daging pucat yang terkoyak. Apakah keluarga korban siap?

    Ini baru dari soal tekanan, belum dari kondisi jenazah yang tercecer karena sempat keluar kapal sebelum meninggal atau keluar dari pintu/jendela karena arus. Tidak semua jenazah terperangkap dalam kapal. Yang tercecer satu-satu ini bagaimana cara mengambilnya? Tekanan 46 atm dengan visbility zero. Lampu kamera robot hanya mampu tembus 1-2 meter. Pantas saja Luhut menyuruh Ratna Sarumpaet menyelam sendiri, sebab kesal dengan cercaan tokoh perempuan ini. Andai Luhut bis menjelaskan alasan-alasannya secara rinci, mereka tidak perlu bersitegang di depan umum. Malu saya nonton videonya.

    Semoga setelah memikirkan dan membayangkan hal ini kita bisa bertanya pada pemerintah, terutama pada regu penolong, dengan nada santun, bukan dengan nada tinggi disertai rasa benci.

    KENAPA DIHENTIKAN?
    Awalnya saya pun mengira mengangkat shipwreck dari kedalaman 450 meter itu mudah. Seminggu lalu saya menulis sebuah harapan agar pengangkatan dilakukan hati-hati. Setelah saya baca buku-buku saya tentang nautical, shipwreck, dan underwater archaeology, mengangkat dari kedalaman itu sangat sulit. Dalam metode underwater archaelogy, membiarkan tetap di dasar perairan jauh lebih baik daripada diangkat tapi rusak. Toleransi pada kerusakan ini harus dibeli dengan perekaman bawah air yang terperinci dan akurat. Kerja ini berlaku pada kedalaman maksimal 60 meter saja. Pun penyelam yang bisa bekerja di kedalaman ini tidak banyak. Ada resiko besar kapal meledak/pecah saat diangkat karena perbedaan tekanan dalam setiap meternya kedalaman. Ledakan ini bisa terjadi pada rongga2 yang ada di dalam tubuh kapal, terutama yang terisi gas dan bahan bakar. Ahli lain bilang akan terjadi perubahan kimia yang membahayakan--saya lagi mencoba memahami ini.

    Jadi, dihentikannya pengangkatan, bukan soal keterbatasan alat dan dana semata, melainkan upaya keras, waktu panjang, dan mahal ini ujung-ujungnya hanya akan mendapat jenazah-jenazah yang PASTI tidak utuh dan kapal yang MUNGKIN tidak utuh pula.

    APAKAH BANGKAI KAPAL BISA DIANGKAT?
    Menurut saya mungkin. Kita bisa buang tali dengan beberapa jangkar hingga ke dasar sekitar titik koordinat kapal. Tali itu ditarik dengan posisi menyapu hingga ada jangkar yang menyangkut ke kapal. Hal ini bisa dicek dengan robot. Tali jangkar jadi referensi menurunkan robot. Proses ini bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Setelah dipastikan nyantol, buang lagi jangkar dan pastikan lagi seperti itu sampai yakin ada minimal tiga tali yang jangkarnya tersangkut ke kapal. Tarik pakai crane. Jangan langsung, tetapi per minggu cukup 10-20 meter utk penyesuaian tekanan, agar tidak meledak atau terjadi deformasi. Kemungkinan kapal lepas dari kaitan jangkar di tengah-tengah proses pengangkatan sangat besar.

    Ini sementara upaya dan proses pengangkatan yang masuk akal menurut saya. Saya akan teruskan membaca dan bertanya. Mungkin besok ada ide dan pengetahuan baru untuk dibagi.

    APA SOLUSINYA?
    Penghentian pecarian, apa pun alasannya, bukan keputusan bijak. Penghentian sementara bolehlah. Untuk apa pula mengerahkan ratusan orang dengan peralatan canggih kalau hasilnya pasti nihil? Kita perlu waktu berpikir menemukan cara yang masuk akal. Jadi, mencari cara untuk mengangkat kapal dari kedalaman 450 meter jangan berhenti. Selain alasan untuk jenazah (Ratna Sarumpaet mengkaitkan dengan kemanusiaan), hal ini penting untuk ilmu pengetahuan. Tantangan ini bisa jadi melahirkan banyak master dan doktor. Kita juga bisa menawarkan pada dunia, sebab urusan kemanusiaan (jenazah dan keluarga korban) serta ilmu pengetahuan "menjadi urusan warga dunia". Yang dalam tanda petik itu saya pinjam ungkapan Ratna Sarumpaet.

    Sembari menunggu riset itu, perlu kiranya kita memikirkan tawaran pemerintah membuat monumen untuk mengenang dan mendoakan para korban. Hubungan dengan Tuhan dan orang yang sudah meninggal bukan hubungan yang bersifat fisik, melainkan bathin. Orang beriman tidak akan mempermasalahkan jenazahnya di mana. Jika dibutuhkan axis/kiblat/poros untuk membantu khusu, monumen itu bisa menggantikan peran makam. Ini hanya pendapat, keputusan tentu saja ada di tangan keluarga para korban dan pihak yang seyogyanya bertanggung jawab (pemerintah).
     
    • Informatif x 4
    • Like x 3
    • For The Win x 1
    • Setuju x 1
    • Semangat! x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan





  3. necromaceuh M V U

    Offline

    Beginner

    Joined:
    Jun 25, 2012
    Messages:
    331
    Trophy Points:
    102
    Ratings:
    +370 / -1
    wow..gak kepikiran ampe kesana..
    kalau liat penjelasannya sih, hal yg paling logis emang stop.
    cman kayanya juga harus liat alasan dari sisi lain yg pengen tetep lanjut. diluar sisi kemanusiaan tentunya, soalnya udah dipatahin sama teorinya bapak dosen diatas.
    cman ga tau kalau dari sisi keluarga korban menyikapinya gimana.
     
  4. udhienbong MODERATOR

    Offline

    Rockstar

    Joined:
    Aug 15, 2012
    Messages:
    25,564
    Trophy Points:
    277
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +114,661 / -1
    perwakilan pemerintah (Luhut) pada saat itu sebetulnya belum selesai menjelaskan, sudah di potong terus oleh Ratna Sarumpaet, yang satu pengen tau banget, yang satu udah capek kerja di lapangan. Jadilah ribut-ribut.

    Saya juga punya pengalaman meneliti shipwreck di kedalaman 40 meter. Dari laporan penelitian-penelitian yang sudah ada sebelumnya. Kayu yang sudah terpendam disana bertahun-tahun saja, kalau diangkat secara sembarangan, sampai di permukaan langsung hancur. Apalagi ini, di danau air tawar berkedalaman 450 meter.

    Pertimbangan keluarga tentu seperti yang sudah dijelaskan di atas, dan itu jadi pertanyaan bagi kita semua. Jika memang melihat dari sisi kemanusiaan, apa bedanya menguburkan korban di dasar danau dengan kondisi relatif utuh, dengan mengangkat korban yang DIPASTIKAN tidak utuh kemudian dikuburkan di tanah.

    menurut saya pemerintah saat ini memang sebaiknya diam dulu, tidak usah ribut-ribut dengan aktivis sosial. Biarkan para ahli melakukan riset untuk melanjutkan kasus ini. Karena sayang banget kalau dihentikan secara total begitu saja.
     
  5. wellfufufufu Members

    Offline

    fufufufufufufufufufufufufu

    Joined:
    Jan 22, 2017
    Messages:
    179
    Trophy Points:
    56
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +133 / -2
    450 meter itu tinggi monas 3 kali.
    emang ada kapal selam yang bisa dibawa ke danau toba, #mikirDuaKali.
    ga yakin ada peralatan darat yang canggih yang bisa bawa korban dan kapal ke permukaan.
    apalagi tenaga manual suruh nyelam, malah takut ada jatoh korban.

    lagian udah tau orang indonesia sukanya mistis, klenik, dan begituan.
    bahkan acara tv yang trending adalah hal yang berbau2 setan.
    ga bakal masuk dijelaskan secara scientis dan keilmuan.
    mending pemerintah daerah menjelaskan langsung kepada korban.
    jadi ga perlu ribut sama orang yang ngakunya seniman.
     
    • Like Like x 1
  6. Agen017 Gatotkaca

    Offline

    *****

    Joined:
    Feb 2, 2012
    Messages:
    883
    Trophy Points:
    192
    Ratings:
    +2,604 / -0
    Buat tambahan bacaan mungkin atau tidaknya pengangkatan kapal dan jenazah yang ada disana

    Code:
    https://www.facebook.com/lm.arwin/posts/10216721003835237
    



    Code:
    https://www.facebook.com/daeng.coding/posts/1958437310834974
    
     
    • Like Like x 1
  7. udhienbong MODERATOR

    Offline

    Rockstar

    Joined:
    Aug 15, 2012
    Messages:
    25,564
    Trophy Points:
    277
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +114,661 / -1
    kendala mendatangkan peralatan itu salah satunya lokasi danau yang diapit daratan, akses menuju lokasi juga tidak mudah. Penanganan SAR di laut dan di danau (air tawar) juga berbeda.
    Kendala lain, pengoperasian robot yang bisa menyelam hingga kedalaman segitu, belum tentu bisa melakukan pekerjaan evakuasi jenazah.
    Sama halnya dengan pengangkatan kapal, evakuasi jenazah pun tidak bisa langsung ditarik ke atas. Butuh berbulan-bulan supaya jenazah tetap intact (biarpun pasti tidak utuh juga).
    Masalah selanjutnya, butuh berapa banyak komponen robot yang dibutuhkan untuk mengevakuasi ratusan jenazah.
    Selain persoalan dana dan teknologi. Butuh upaya keras berbulan-bulan sepertinya.
     
  8. udhienbong MODERATOR

    Offline

    Rockstar

    Joined:
    Aug 15, 2012
    Messages:
    25,564
    Trophy Points:
    277
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +114,661 / -1
    PUN jika bisa bawa, yang perlu di garis bawahi tentang penggunaan kapal selam, setau saya kapal selam yang digunakan di laut, secara teknologi berbeda pengoperasiannya jika digunakan pada air tawar.
    Contoh saja, kalau kita berenang di laut, daya apungnya lebih tinggi jika dibandingkan berenang di air tawar.
    Pasti bobot dan teknologi kapal selamnya di sesuaikan dengan kondisi tersebut.
    Belum lagi tekanan air tawar dan laut yang mungkin berbeda---saya masih mencari tau hal ini.
     
  9. Agen017 Gatotkaca

    Offline

    *****

    Joined:
    Feb 2, 2012
    Messages:
    883
    Trophy Points:
    192
    Ratings:
    +2,604 / -0
    iya...
    banyak kendala yg dihadapi baik itu teknologi, dana dan waktu dan semua kaya jadi satu kesatuan..
    teknologi ada mesti ada dana dulu buat mengadakannya, dananya ada perlu waktu lagi buat mempersiapkannya..
    pilihan terbaik saat ini memang dibiarkan dasar sana dan dibuatkan monumen buat mengenangnya..
     

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.