1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Halo IDWS Mania, forum Indowebster ada Super Moderator baru lho di lihat di sini
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Official Writting Clinic ~ Tutorial, Tips, Help Centre, and Inspirational

Discussion in 'Fiction' started by MaxMarcel, Mar 7, 2011.

  1. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,452
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    Fighting scene adalah bagian yg hampir selalu saya skip pas baca gara2 boring:ngacir:

    Kalau menurut saya sih, bagian kek gitu emang ga perlu panjang-panjang. Kalau mau panjang, jangan cuma deskripsiin suasana dan apa yang terjadi, tapi deskripsiin juga apa yang ada di pikiran tokohnya, strateginya dia, dll. Jadi bukan bak-buk-bak-buk-tuing~!

    Just my 2 cents:ngacir:
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.




    Promotional Content
  3. Offline

    red_rackham Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 12, 2009
    Messages:
    757
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +355 / -0
    :nongol: karena merasa di-summon.

    :ehem:

    Kayaknya sebagian besar soal fighting scene udah dibahas sama mba Irenefaye barusan. Tapi saia tambahin sedikit lah.

    Kalau membuat fighting scene, ada satu hal yang paling penting untuk diingat: Seberapa banyak detail pertarungan yang mau ditampilkan.

    Mengapa?

    Karena detail pertarungan dalam sebuah cerita akan menentukan pace (kecepatan/laju) pertarungan. Gampangnya gini:
    Tipe 1. Sebuah adegan pertarungan yang diceritakan dengan sangat detail, akan menunjukkan bahwa adegan itu bagai dilihat pembaca dari gerak lambat. Karena pembaca bisa melihat lebih banyak yang terjadi dalam adegan tersebut.

    Tipe 2. Sebuah adegan pertarungan yang diceritakan singkat, bahkan nyaris tanpa detail, akan menunjukkan adegan itu dilihat pembaca sebagai sesuatu yang terjadi dalam waktu amat singkat, atau bahkan sekejap, sehingga pembaca tidak sempat melihat detail adegan tersebut (malah kadang, tahu2 sudah selesai begitu saja)

    Contoh:
    Albert berlari diantara pasukan berjubah perang hitam, pedangnya yang kini berwarna merah, berkilat membahayakan selagi dia menebas kepala lawan-lawannya. Kedua matanya dipenuh bara api kebencian. Setiap kali bilah tajam senjatanya memotong zirah lawan, senyum berkembang di bibirnya. Ada rasa puas ketika melihat lawannya mati atau meregang nyawa akibat tebasan pedangnya.

    Menyadari dia adalah lawan berbahaya, pasukan Dark Rhapsody mulai mengubah taktik dan berusaha mengepung Albert. Dua orang petarung elit pasukan tersebut berusaha menghadang Albert dengan bersenjatakan sebilah pedang berat dan perisai bundar. Sayangnya meskipun keduanya adalah ahli pedang yang tangguh, mereka tidak setangguh Albert. Meski pada awalnya dia sempat kewalahan, namun sebuah tusukan telak ke celah helm perang serta tebasan tepat di pinggang, langsung menghabisi nyawa dua petarung elit itu dengan seketika.


    Albert berlari diantara pasukan berjubah perang hitam, pedangnya yang kini berwarna merah, berkilat membahayakan selagi dia menebas kepala lawan-lawannya. Kedua matanya dipenuh bara api kebencian. Setiap kali bilah tajam senjatanya memotong zirah lawan, senyum berkembang di bibirnya. Ada rasa puas ketika melihat lawannya mati atau meregang nyawa akibat tebasan pedangnya.

    Menyadari dia adalah lawan berbahaya, pasukan Dark Rhapsody mulai mengubah taktik dan berusaha mengepung Albert. Dua orang petarung elit pasukan tersebut berusaha menghadang Albert dengan bersenjatakan sebilah pedang berat dan perisai bundar. Tanpa basa-basi, keduanya langsung mengepung Albert, kemudian menyerang pria itu bergantian dengan ritme yang cepat dan mematikan. Tebasan kedua petarung itu sungguh berat. Albert beberapa kali kesulitan menahan pedang lawan-lawannya. Sejenak dua petarung elit Dark Rhapsody tampak di atas angin dan terlihat mulai lengah. Kesempatan itu digunakan Albert untuk menerjang maju dan menusukkan pedangnya ke celah di helm baja salah seorang lawannya. Terkejut karena rekannya dikalahkan, petarung elit yang tersisa melangkah mundur, hanya untuk dihabisi oleh tebasan kuat Albert yang mampu membelah zirah baja. Darah segar menyembur, dan petarung malang itupun roboh tidak bernyawa.

    Albert berlari diantara pasukan berjubah perang hitam, pedangnya yang kini berwarna merah, berkilat membahayakan selagi dia menebas kepala lawan-lawannya. Kedua matanya dipenuh bara api kebencian. Setiap kali bilah tajam senjatanya memotong zirah lawan, senyum berkembang di bibirnya. Ada rasa puas ketika melihat lawannya mati atau meregang nyawa akibat tebasan pedangnya.

    Menyadari dia adalah lawan berbahaya, pasukan Dark Rhapsody mulai mengubah taktik dan berusaha mengepung Albert. Dua orang petarung elit pasukan tersebut berusaha menghadang Albert dengan bersenjatakan sebilah pedang berat dan perisai bundar.

    Albert tahu dua petarung di hadapannya bukan tentara Dark Rhapsody biasa. Dari sikap, senjata, dan perlengkapan perang mereka, Dia tahu dua orang di hadapannya itu adalah petarung yang tangguh. Mungkin anggota ksatria elit, atau semacamnya. Sayang Albert tidak bisa lama-lama mengamati dan mengira-ngira kekuatan lawannya. Salah satu petarung elit yang menghadang, tiba-tiba menerjang ke arah Albert sambil mengangkat perisai, sementara pedang di tangan satunya lagi siap memberi serangan kejutan. Albert tersenyum. Dia menyambut lawannya dengan tebasan vertikal ke arah kepala, yang tentu saja sudah diperkirakan dan ditangkis lawannya. Pedang Albert melenting balik ketika beradu dengan perisai baja, yang ternyata lebih tebal dari dugaannya. Kesalahannya itu dimanfaatkan oleh lawan keduanya, yang menyelinap dari sisi kiri, kemudian mengayunkan pedang beratnya tepat ke arah pinggang Albert.

    Beruntung ALbert memiliki refleks dan keseimbangan yang luar biasa.

    Dengan memanfaatkan momentum lentingan pedangnya, Albert berputar balik dan menggunakan bilah lebar pedang untuk menahan serangan lawannya. Sambil menggeram, Albert menghentakkan kakinya ke tanah, lalu mengayunkan pedang ke arah lawan barunya. Sayang, lawannya itu juga tidak kalah gesit. Dengan cepat petarung elit Dark Rhapsody itu mengangkat perisai dan menahan tebasan Albert, meskipun harus terseret ke belakang beberapa langkah karena kekuatan serangan itu.

    Selagi Albert sibuk dengan lawan barunya, petarung pertama menerjang dari sisi lain. Kali ini petarung itu mengayunkan pedang secara mendatar dan mengincar leher Albert yang sepertinya sedang lengah. Namun Albert yang ternyata sempat melihat gerakan lawan, bergegas menunduk dan membiarkan sebilah pedang tajam itu lewat hanya beberapa senti dari helm perangnya.

    ....DST sampai adegan dua lawannya mati....

    Yang Tipe 1 - super-slow motion saia males bikin, soalnya kelewat detail dan bertele-tele. Intinya makin detail, hingga tiap gerakan di deskripsikan dalam narasi. Tapi teknik yang satu ini tidak saia sarankan, kecuali memang pembaca harus melihat detail sebuah kejadian/aksi. Sebaiknya hanya digunakan dalam saat-saat kritis, terutama saat salah satu karakter penting kalah/terluka/tewas dalam pertarungan.

    Sekian :hero:

    Semoga berguna :elegan:
     
    • Thanks Thanks x 4
    • Like Like x 1
  4. Offline

    Seven_sideS Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 19, 2014
    Messages:
    258
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +140 / -0
    Urrrr, sudah kucoba baca. yang punya Rackham-san... :o thanks :)
    Mungkin yang saya masuknya yang tipe 1 semi ya...

    Welp, Soal Fighting Scene, Jujur masih agak kurang setuju dengan masalah yang teriakan jurus dan ga boleh inget" memories selama pertarungan, ok deh untuk yang melee style combat MUNGKIN peneriakan jurus itu stupid... but, kalau pertarungan magic?

    well, gw jujur belom pernah baca HarPot yang novelnya, ketebelan bwt gw, gw ga gt demen novel enakan nonton film mgkn krn lebih semi-slow s/d fast paced pertarungan"nya

    tapi bisa dibilang, untuk pertarungan sihir, pasti Mr HarPot bakal teriakin manteranya...

    jadi, seandainya dalam Fighting Scene si Mr HarPot itu ga boleh teriak/mikir apapun selama pertarungan... gw coba terjemahin dalam bentuk tulisan jika HarPot vs Dementor tnp kata" jurus/kenangan/apapun yang katanya sih mengganggu alur pertarungan...

    Harry Potter mengarahkan tongkat sihirnya kearah Dementor, lalu keluarlah sebuah cahaya berbentuk rusa, dan Dementor-dementor itu pergi.

    Yah balik lagi ke selera sih mungkin ya -_-, kalo gw sih JUJUR lebih demen kalau ditulis:
    "Expecto Patronum!" Harry Potter mengarahkan tongkat dan merapal mantera Patronus mengingat kejadian-kejadian bahagia yang pernah dia alami.

    Para Dementor itu mulai terganggu dan keluarlah suatu cahaya yang sangat terang, cahaya itu berbentuk seperti rusa jantan, lalu cahaya itu menyebar luas dan para dementor itu lari ketakutan, meninggalkan tubuh Sirius Black yang hampir disedotnya.

    Welp, sorry kalau adegannya salah, gw mgkn salah adegannya haha, anyway balik lagi gw gatau si penulisnya HarPot itu pakek yang mana tapi gw asumsiin sih yang 2 ya...

    sumimasen~ :maaf:
     
  5. Offline

    Seven_sideS Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 19, 2014
    Messages:
    258
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +140 / -0
    Urrrr, sudah kucoba baca. yang punya Rackham-san... :o thanks :)
    Mungkin yang saya masuknya yang tipe 1 semi ya...

    Welp, Soal Fighting Scene, Jujur masih agak kurang setuju dengan masalah yang teriakan jurus dan ga boleh inget" memories selama pertarungan, ok deh untuk yang melee style combat MUNGKIN peneriakan jurus itu stupid... but, kalau pertarungan magic?

    well, gw jujur belom pernah baca HarPot yang novelnya, ketebelan bwt gw, gw ga gt demen novel enakan nonton film mgkn krn lebih semi-slow s/d fast paced pertarungan"nya

    tapi bisa dibilang, untuk pertarungan sihir, pasti Mr HarPot bakal teriakin manteranya...

    jadi, seandainya dalam Fighting Scene si Mr HarPot itu ga boleh teriak/mikir apapun selama pertarungan... gw coba terjemahin dalam bentuk tulisan jika HarPot vs Dementor tnp kata" jurus/kenangan/apapun yang katanya sih mengganggu alur pertarungan...

    Harry Potter mengarahkan tongkat sihirnya kearah Dementor, lalu keluarlah sebuah cahaya berbentuk rusa, dan Dementor-dementor itu pergi.

    Yah balik lagi ke selera sih mungkin ya -_-, kalo gw sih JUJUR lebih demen kalau ditulis:
    "Expecto Patronum!" Harry Potter mengarahkan tongkat dan merapal mantera Patronus mengingat kejadian-kejadian bahagia yang pernah dia alami.

    Para Dementor itu mulai terganggu dan keluarlah suatu cahaya yang sangat terang, cahaya itu berbentuk seperti rusa jantan, lalu cahaya itu menyebar luas dan para dementor itu lari ketakutan, meninggalkan tubuh Sirius Black yang hampir disedotnya.

    Welp, sorry kalau adegannya salah, gw mgkn salah adegannya haha, anyway balik lagi gw gatau si penulisnya HarPot itu pakek yang mana tapi gw asumsiin sih yang 2 ya...

    sumimasen~ :maaf:
     
  6. Offline

    Giande Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 20, 2009
    Messages:
    978
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +1,224 / -0
    kasuse Harpot bukan karena berteriak karena keren sih

    tapi kan itu karena kudu dirapal baru bisa keluar skill e CMIW, kan di buku2 awal juga dah diajarin cara pelafalan yang bener agar berfungsi sihir e :cambuk:

    sedang yang dimaksud oleh red ama irene itu tipikal teriakan nama skill type rpg/manga shounen >

    misalnya si pemanah elf berteriak "HUJAN PANAH!!" > lah secara mo dia ngomong atau kagak ya skill memanah dalam jumlah besar itu juga tetep keluar :ngacir: (skill e ga membutuhkan pelafalan agar keluar, tapi skill teknik tubuh)

    sedang sihir itu skill yang butuh pelafalan.

    kan ga ada cerita si Harry potter berteriak "Tusukan akurat" seraya menusukan tongkat sihirnya secara frontal ke mata Malfroy.

    :ngacir:
     
  7. Offline

    Seven_sideS Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 19, 2014
    Messages:
    258
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +140 / -0
    ooooooh, kasusnya beda tokh. mungkin karena saya baca fighting scenenya yang fight pukul"an sih dan dia blg neriakin jurus itu stupid, jadi kesan'e semua teriakan itu stupid, even mantera HarPot...

    kalo udah dijelasin gini sama mas GiandeGiande;-sama sih yasud, hwhwhwhw... makasih ya :hmm:
     
    Last edited by a moderator: Apr 25, 2015
  8. Offline

    venysilvia Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Oct 28, 2012
    Messages:
    268
    Trophy Points:
    37
    Ratings:
    +333 / -0
    Malam-malam sendirian.. gak ada ide.. yah kuputuskan untuk bertanya di sini. Mumpung lagi rame yang mampir kesini ane bertanya. Pertanyaan dariku seputar dunia penulisan. Yaitu pengetahuan umum. Pertanyaan dariku, adalah.. rasanya pengetahuan yang kutahu itu salah! Jadi aku ingin berbagi denganmu. okeh mari kita mulai.


    =========================​


    1. Penangkapan ide.

    Bukan sekedar tangkap. Jadi ngeliat temanya loncat, lalu liat kodok loncat di kali.. terus buat cerita kodok yang loncat.
    Dalam satu minggu kadang ide hanya muncul sekali, saat nyanyi dikamar mandi.
    Intinya perbedaan ide yang benar dan yang GJ adalah ketika kau menemukan ide itu.. kau bisa berteriak aaahhh! Karena saking heran dengan briliannya idemu.
    Seputar pertanyaan yang membedakan idemu itu GJ apa tidak.. yaitu :
    Apa yang membedakan idemu yang sekarang dengan idemu yang lainnya?
    Dimana powernya idemu?
    Jadi kalau udah cerita si A dengan metode A.. ngapain lagi cerita si B pakai metode A. kehabisan ide? Ya jangan bikin!(somplax)
    okeh penangkapan ide ini tidak penting untuk hampir seluruh orang. yah.. kenapa? karena emang tarsok gak ada ide.. (somplax)

    2. Menulis Penulisan.

    Yang perlu diperhatikan adalah kaidah penulisan bahasa indonesia. yang paling sering salah adalah penulisan imbuhan di- ke- ama -pun. Penulisan ini luas.. jadi aku tulis yang kutahu ajah.


    • Segmentasi kalimat.
      Ini bener-bener dah. Parah banget ampe yang sepuh juga masih sering melakukannya.(nda kok canda aja)
      Segmentasi kalimat ini terkait erat dengan bentuk spok kalimat yang baik. Aku makan ibu. Ibu makan aku di pasar. Nah kan enak toh. S P O Knya terjalin dengan baik.
      Kalau kek gini> Aku ingin makan. Lapar sekali. Memang tidak enak..
      Kalau udah P di depan ya kasi koma lah biar ikut S di kalimat sebelumnya.. malah dikasi titik. Marah aku sama kamu.. (loh kok malah marah ama pembaca)
      malah ada yang make koma beruntun gak jelas. Boleh make koma jika terjadi penekanan : seperti : dia yang selalu terdiam. Senyumannya sungguh misterius, sedingin es dan sedalam lautan.

    • Diksi. Gaya berbicara dalam membuat cerita. Boleh gaul kalau target pembacanya itu remaja. Boleh formal kalau ceritanya documenter. Atau boleh apa saja tergantung dari ide cerita yang dibawakan. Kalau cerita horror yah pake gaya bicara yang dramatisir. Kalau pake gaya formal sepertinya yang baca akan tidur.. bukannya jadi takut.

    3. Plot. Nah ini dia bagian yang mestinya paling kau suka. Apa aja itu. kubagi dalam sub yaitu..


    • Penentuan narasi.
      Narasi disini ada 4 yaitu:

      Informative. Ini biasanya pake pov 3. Maksudnya memberi informasi sebanyak-banyaknya kepada pembaca hingga pembaca puas.

      Expositoris. Biasanya sih dipake di anime dari jepun. Author memberi narasi apa yang dirasakan mc dengan apa adanya. Jadi kalau kena tusuk piso itu sakit ya sakit. Gak ada metafora-foraan.

      Artistic. Ini biasanya yang kupake. Jadi narasi cerita penuh misteri, untuk menyampaikan sebuah makna pada pembaca.
      Contoh untuk menjelaskan dia setengah wanita setengah dewa : rambutnya panjang. dadanya kembung seperti melon, tapi ternyata dia berbatang!
      dan yang terakhir..

      Sugestic. Nah proses pe”lebay”an biasanya di sini. Pembentukan suasana horror juga disini. Dimana narasi bersifat mensugesti pembaca. Jadi udah sakit, dibikin tambah sakit dengan perkataan dari author. contoh : Kena tusuk piso darinya seperti tusukan ribuan jarum di hatiku.

    • Penentuan alur.
      Alurnya maju. Mundur. Atau maju mundur aka flashback.
      Jadi dalam pembuatan cerita kan ada ekposisi, rising, konflik, klimaks dan ending. Cerita harus seperti itu.
      Jadi gak ada klimaks awal-awal terus jalan ceritanya nyante ke depannya. Atau kek gerigi. Klimaks-nyante-klimaks-nyante. Untuk itulah perlu ada alur flash back jika klimaks berada di masa lalu.
      Nah ini salah satu poin yang ingin kutanyakan padamu. Apakah ini salah?
      karena klimaks di taruh di depan itu bikin cerita jelek dan membosankan. Tapi kata beberapa pembaca. Flash back ini membuat mereka bingung dan dibilang alur maju mundur gak jelas tidak berarti.
      Well ujung-ujung aku idem aka setubuh aja ama mereka. Jadi make alur maju.. terus.. lampeng ke depan membosankan, gak pake mundur.
      (Akhirnya kuambil jalan tengah. Kupakai klimaks setiap saat di seluruh adegan. Well ini ilmu tingkat tinggi yang sungguh sesat)

    • Penentuan Pov.
      Kalau sudah perang horror atau cinta the best adalah pov 1.
      Mengapa? Karena masalah suasana hati, tentu saja. Berani pake pov lain yah.. hasilnya itu biasanya gak greget kata abang mad dog.
      Kalau ingin jelas, jadi nyeritain semuanya mending pake pov ke tiga. Tapi biasanya pov ke tiga ini diambil goblok-goblokan. Karena power dari pov ke tiga yaitu “jelas” malah dipake pada sebuah cerita yang gak jelas, yang semestinya pake pov 1 aja juga bisa.
      Pov kedua menurutku yang paling susah. Ada dua jenis yaitu “pure” pov 2 tanpa memakai kata “aku” sama sekali. Dan pov 2 biasa yang masih boleh memakai kata “aku”. Pov 2 kalau digarap dengan baik adalah pov ultimate yang terbaik untuk membawa kabur hati pembaca. Karena author berbicara kepada para pembaca. Selain “kau” adalah MC, “kau” juga bisa diartikan menjadi pembaca. Hem.. tidak sadarkah kau, aku sedang memakai pov kedua?

    • Penentuan setting
      ini hal kecil tapi berakibat fatal jika dilupakan.
      Udah settingnya di barat masi pake hantu kuntil anak.
      udah settingnya panas terik malah pake payung.
      udah settingnya siang malah bawa lampu
      tapi kalau udah settingnya di jepang terus pake kata -san itu salahmu kalau kritik dia! itu namanya nyari-nyari kesalahan! (lah author marah sama sapa neh?)
      jadi harus jelas. siapa dia. tempatnya dimana. waktunya kapan.
      hal ini sia-sia memang. tapi ketika ada, maka secara tidak langsung pembaca akan jatuh cinta pada penulisanmu karena suasana terbangun kental dan karakter loveable. tidak harus eksplisit, bisa kok implisit. yang penting juelas.

    • “hukum sebab-akibat”.
      Nah ada dua jenis. Yaitu jelas sebab-akibatnya. Dan disembunyikan sebab-akibatnya.
      Cut saja penjelasannya. Langsung kau lihat contohnya: Aku makan pisang. Setelah itu aku lapar.

      Kalo jelas sebab-akibatnya. Maka perkataan di atas itu salah dan plot hole banget. Hal ini benar-benar mempengaruhi pikiran pembaca. Begitu melihat penulisan seperti itu.. pembaca akan berpikir bahwa ceritamu itu tidak koheren(tidak berhubungan) dan kontradiksi. Yang benar adalah aku makan pisang. Setelah itu aku tidak lapar.

      Kalau di sembunyikan sebab-akibatnya, maka penulisan di atas itu akan dijelaskan di belakangnya.
      Aku makan pisang. Setelah itu aku lapar. ...................................... Aku adalah robot. Ternyata selama ini aku masih lapar karena lupa mencharge bateraiku.
      Nah beratnya memakai sembunyi-sembunyian. Kalau pembaca tidak mengerti maka tulisan kamu hanya akan menjadi sampah. Maka karena itu harus dijelaskan dengan baik dan benar di belakang!
      Kenapa sih harus di sembunyikan?

      -Pernah ga pas denger lagu bagus.. penasaran gak tau artinya.. terus begitu tau artinya, hati kau langsung berdebar berdecak kagum?
      -Baca suatu cerpen, awalnya gak ngeh tapi begitu berakhir ternyata dia adalah seorang yang sangat kau cintai?

      Nah..-ini gak penting. Pakek yang jelas sebab-akibatnya saja udah bagus kenapa harus rumit-rumit?
      hasil tes yang kucoba pun hanya menjadikan cerita jadi sampah dan tidak dapat dimengerti. jadi cara sembunyi ini memang sudah semestinya kadaluarsa dan harus ditinggalkan :ngacir:

    • Penonjolan isi.
      Jadi udah bikin cerita horror, ternyata hantunya main pok amek amek belalang kupu-kupu.
      Bikin cerita komedi, tapi komedinya diulang-ulang jadi lebay aka gak lucu.
      Bikin cerita cinta, yang dijelasin malah tokoh bukan pasangan.
      Apa yang ditonjolkan dari ceritamu? Kalau pembunuhan ya jelaskan pembunuhannya, saksinya, pelakunya. Bukan cerita ngalor ngidul. Buang-buang isi cerita. Cerita jadi gak efektif.
      Jadi.. selain isi efektif, kalimat pun juga harus efektif!


    4. Karakterisasi.

    Pertama masalah dialog.
    harah ini semua udah tahulah. intinya jangan sampai pembaca melihat kalau karakter buatan author itu seperti tembok ngomong ama tembok.
    A : hai.
    B : apa kabar.
    A: Aku baik-baik saja.

    yang kedua masalah sifat.
    A :sifatnya ramah, baik dan plinplan.
    B: sifatnya ramah, baik dan plinplan.
    C: sifatnya ramah, baik dan plinplan.

    jangan sampai semua karakter disamain dengan sikap aslimu di dunia nyata. karakter buatan harus memiliki ciri khas masing-masing. entah gimana caranya, masalahmu.. (loh kok sarkastic gini) :puyeng:
    A : cewek cantik, suka bilang ugu ugu ugu.
    B : cowok jahanam ngeselin BANGSAT
    C : cewek cute penakut malu-malu

    yang lebih lanjut. mereka harus lebih hidup, sesatnya.. buatlah karakter bayangan, dimana mereka memiliki kepribadian sendiri, di otakmu.
    jadi berdasarkan sifat A cantik B bejat dan C penakut di atas.. ketika kau bilang hai ama mereka.. mereka akan menjawab :
    A : oppA! aku ingin boneka.. ii tu! unyu unyu..
    B : Lo berani beli selain boneka itu, gua bunuh bangsat!
    C : a.. aku i.. ingin beli boneka itu. tapi gak papa kok. gak papa kalau.. gak dibeliin..

    5. Ending.

    Nah ending ini ada jenisnya. Ending bahagia, ending sedih, ending ngambang, ending gantung.
    Yang paling susah itu ending sedih. Yang paling gampang itu ending ngambang. Yang paling ngeselin itu ending gantung. Yang paling menyenangkan itu ending bahagia.

    Ending ini subjektif dengan ide. Jadi gak bakal dibahas lebih lanjut.
    Dulunya ending mempengaruhi segalanya. Tapi setelah berubahnya jalan penulisan cerita di dunia ini. ending hanya mempengaruhi sebesar paling 10 persen dari jalan cerita. Yang penting itu pembawaan dari cerita. :boong:


    =========================​


    Lah kok langsung loncat ke ending. jawabannya da ngantok. sebenarnya masih banyak yang lain tentang metafora, dan pembentukan paragraf yang baik dan lain-lain. tapi..
    mau bobo..
    nah inilah pertanyaanku di atas. menurutku yang di atas ini adalah zalah dan penuh kezezatan yang nyata. karena jujur ae wes.. tulisan ane emang masi jelek :garing:
    ane sungguh penasaran. yang mana sih yang salah. paling gak biar pembaca seneng aja bacanya (desperate mode on) (ngacir mode on :ngacir:)
    karena pikiran ane lagi buntu. karena baca-baca karangan orang juga gak ada peningkatan berarti (kalau sekarang) mungkinkah karena sudah gak muda iq cetek otak jadi bangkotan? :nangis:
     
    Last edited: Feb 12, 2014
  9. Offline

    are Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 22, 2009
    Messages:
    643
    Trophy Points:
    67
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +86 / -0
    saya ada pertanyaan ni kakak, yang selama ini ngeganjel di pikiran.
    saya sendiri nubie, iseng2 nulis novel udah bikin 2x (beda cerita) selalu gagal di tengah perjalanan karena satu insipirasinya hilang jadi ceritanya ngegantung gajes.
    yang kedua perlukah diceritain secara detil tempat, keadaan dan aksi si tokoh utama?
    tolong dijawab kakak.
     
  10. Offline

    Giande Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 20, 2009
    Messages:
    978
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +1,224 / -0
    untuk yang pertama : disarankan (cara saya sih) membuat plot garis besar terlebih dahulu, baru ditulis :hoho:

    buat draft tulisan yang berisi karakter,setting,plot besar,dan (untuk gw sendiri) biasanya menentukan ending terlebih dahulu itu membantu untuk membuat jalan kesananya :elegan:

    tapi tidak harus pas sampe bagian ending kudu sama dengan "ending pertama yang dibuat" bisa saja pas tengah jalan kepikiran ganti "ending" yang menurut kita lebih cocok


    Untuk yang kedua : itu tergantung style/gaya nulis anda. Biasanya untuk chara utama karakter itu kudu detil tapiiii tidak selalu langsung "jebret" diberi smua karakternya. Bisa sambil jalan >>jadinya yang namanya chara development.

    Banyak cara juga untuk menyampaikan detil setiap karakter,
    a. bisa dari tindakannya
    b. bisa dari deskripsi langsung
    c. bisa dari dialog
    (dasarnya sih 3 ini menurutku dan bisa di utak-atik sendiri)

    mengenai setting/keadaan itu detil atau gak ... anda sendiri yang memutuskan. Anda bisa memilh bagian mana yang menurut anda "Penting" perlu banget membangun suasana secara detil, dan ada bagian yang mungkin "sambil lalu" aka ga penting jadi ga perlu digambarkan secara detil. Dan semuanya itu yang menentukan tentu anda sendiri. Pada scene/adegan tertentu anda tentu ingin pembaca mengetahui kondisi tempat, pada suatu adegan lain mungkin anda ingin pembaca bisa ikut merasakan perasaan dari tokoh yang sedang diceritakan jadi ditulislah dengan detil. Dan pada adegan lain mungkin anda hanya ingin basa-basi menjelaskan kemegahan suatu istana ataupun kejelekan seseorang :hoho:

    jadi semua terserah anda. Kombinasikan bagian yang penting yang ingin anda sampaikan. Dan coba sekali2 memposisikan diri anda sebagai pembaca karya anda. Apakah penting diberi detil di bagian yang anda tulis? atau tidak.

    bisa diliat contoh "detil type pertarungan yang ditulis red_rackham di atas :rokok:

    terakhir

    selamat bergabung di sf fiction idws, semoga betah dan mari salilng diskusi/sharing/ngobro ga jelas d lounge maupun trit2 lainnyaa (anthology misalnya :elegan:)
     
  11. Offline

    Irenefaye Beginner Members

    Joined:
    Nov 15, 2010
    Messages:
    277
    Trophy Points:
    77
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +398 / -0
    1. Banyak penulis memulai menulis sering tanpa adanya penyusunan plot yang teratur, hal ini yang menyebabkan saat inspirasi hilang maka cerita akan berakhir dengan menggantung tidak jelas. Saya termasuk dalam penulis yang juga sering menulis tanpa membuat kerangka cerita/plot sebelum menulis cerita, sehingga punya banyak sekali karya yang gak akan pernah berakhir, tapi untuk mengatasi hal ini (wlo saya males banget ngikutin jalan yang benar dan sangat efektif ini--saya tau karena cara ini sangat ampuh saat saya sedang menulis cerpen--bukan novel), saran saya:
    - Selalu buat gambaran bagaimana cerita ini dapat berjalan
    Jika tidak bisa membuat plot-plotnya paling tidak harus ada gambaran bagaimana cerita ini dimulai, apa kira-kira klimaks yang akan menjadi puncak dalam cerita, dan apa kira-kira resolusi dan penyelesaian yang akan kita gunakan dalam cerita ini.
    Selalu tanamkan minimal ketiga komponen ini sebelum menulis suatu cerita. Tanpa adanya ketiga hal ini di dalam kepala, maka saat mood menulis sedang turun atau hilang, maka penulis juga akan kehilangan arah kemana cerita ini akan dibawa.

    2. Bergantung pada kepribadian karakter tokoh utama yang digunakan sih. Kira-kira apakah karakternya detil dalam memperhatikan lingkungan atau tidak pedulian, atau biasa saja. Ini yang menjadi faktor dalam menulis apakah kira-kira setting, keadaan dan aksi si tokoh utama perlu dibuat secara detil atau tidak.
    Mis:
    setting: rumah sakit
    suasana: ramai
    tujuan tokoh utama: mengunjungi teman di rumah sakit
    nama tokoh: Faye

    -Tokoh tidak pedulian dan pemalas
    -->Tokoh ini biasanya tidak terlalu memperhatikan sekitar dan juga cendrung melakukan hanya hal-hal yang perlu dilakukan saja. Jadi menulisnya bisa seperti:
    Begitu sampai di rumah sakit, Faye tanpa pikir panjang langsung menanyakan letak kamar temannya sebelum kemudian berjalan langsung menuju tempat dimana temannya dirawat.

    -Tokoh biasa saja namun ramah
    --> Tokoh ini biasanya tidak terlalu memperhatikan setting dengan detil, tapi interaksi antar tokoh cukup kuat.
    Faye melangkah memasuki rumah sakit sambil melontarkan senyuman ramah kepada setiap orang yang berpapasan dengannya. Ia sempat bersenda gurau sejenak dengan perawat di meja resepsionis sebelum menanyakan letak kamar dimana temannya dirawat.

    -Tokoh detil tak terlalu ramah
    --> Tokoh ini cendrung lebih memperhatikan setting ketimbang tokoh-tokoh lain dalam cerita.
    Faye menatap tanda di gerbang bangsal dengan cermat. Waktu besuk akan berakhir dalam dua jam. Ia punya banyak waktu, tapi ia sama sekali tidak ingin berlama-lama di sana. Dengan cepat ia melangkah melewati beberapa orang menuju meja resepsionis. Berusaha menahan nafas selama mungkin untuk menghindari aroma antiseptik yang memenuhi seluruh lorong rumah sakit.
    Setelah mendapatkan lokasi kamar temannya, gadis itu berjalan dengan cepat menuju tempat dimana temannya dirawat.


    jadi yah ... kedetilan setting dll itu ... yah didasarin sama kepribadian karakternya aja
     
  12. Offline

    are Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 22, 2009
    Messages:
    643
    Trophy Points:
    67
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +86 / -0
    terima kasih buat kakak Giande, pas banget buat saya, jadi bikin satuannya dulu lalu digabungin.

    nanya lagi ni,
    kalo mau gambarin suatu keadaan enaknya lingkungan dulu atau tokoh dulu?
    masih lanjutan dari pertanyaan diatas, enaknya dijelasin narator atau tokoh?
     
  13. Offline

    Giande Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 20, 2009
    Messages:
    978
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +1,224 / -0
    yang seperti ini tidak ada jawaban yang "pasti"

    semuanya ntar tergantung sama style/ciri khasmu.

    Kusarankan cobalah masing2 style untuk mencari yang cocok dengan "daya imajinasimu"

    kalau gw sendiri biasanya cenderung menjelaskan lingkungan terlebih dahulu baru tokoh.
    sedang enaknya dijelaskan mana itu fleksible aja. Yang terpenting jangan sampai terjadi "info dump" jadi berjubel puanjang isinya penjelasan atau deskripsi nonstop(yang mana banyak di skip oleh pembaca). Jadi dalam sebuah cerita panjang biasanya step by step penulis menjabarkan "rahasia/isi dunianya"
     
  14. Offline

    spinx04 Lurking Around Veteran

    Joined:
    Nov 22, 2009
    Messages:
    1,674
    Trophy Points:
    217
    Ratings:
    +2,535 / -0
    Ngerespon jawaban2 di atas, aq jadi keingat dulu aq ga terlalu perduli sama apa yang bakal dirasakan pembaca ketika membaca cerita yang aq buat. Selama aq have fun selama menulis, apapun nasib ceritanya aq ga mikirin. Tapi belakangan aq sadar gimana kesalnya baca cerita tanpa ending yang jelas, bahkan ketika baca cerita yang aq buat sendiri :swt:

    Just for fun is no more enough, your story must satisfied at least your self when you read it again as ordinary reader :elegan:


    ~lebih bagus di bagian ini ga ada tulisan~
     
  15. Offline

    are Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 22, 2009
    Messages:
    643
    Trophy Points:
    67
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +86 / -0
    saya nanya lagi kakak,
    kalo ada dialog percakapan enaknya nulisnya gimana?
    biar ga bikin bingung dan eneg
     
  16. Offline

    Fairyfly Senpai Moderator

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,993
    Trophy Points:
    217
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,438 / -120
    mau coba bantu ya :ehem:

    kalo yang biasa aku tahu, dalam dialog percakapan ada dua unsur yang bikin asyik.

    1. jelas/tidaknya siapa yang bicara
    ini penting agar pembaca nda bingung dengan dialog yang ditulis. contoh :

    nah dari contoh ini kayaknya cukup jelas siapa yang bicara dan siapa yang menjadi lawan bicara.

    2. singkat, jelas, padat.
    Dalam percakapan, sebaiknya gunakan bahasa yang singkat dan tidak bertele-tele.

    perhatikan contoh dibawah :

    kepanjangan? memang. kalo aku sih biasa bikin singkat n padet aja, sisanya dijadiin narasi.

    semoga membantu :lalala:
     
  17. Offline

    Seven_sideS Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 19, 2014
    Messages:
    258
    Trophy Points:
    17
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +140 / -0
    Numpang tanya kakak2~

    Benernya universe itu perlu dideskripsikan sejauh apa ya? (untuk cerita fantasi)

    Lagi mikir ni buat membenahi deskripsi dunia Phantojia dan Zabania~ [​IMG]

    (Kalau udah mulai ga artblock saya bikin ulang remakenya~)

    thanks in advance~
     
  18. Offline

    Fairyfly Senpai Moderator

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,993
    Trophy Points:
    217
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,438 / -120
    kalo dari wikipedia sih gini batasannya :bloon:

    welp kalo buatku sendiri sih fantasi itu luas banget, tapi areanya sendiri mencakup benda2 n hal2 yang ga bisa dideskripsikan ama pengetahuan manusia, tapi lama-kelamaan sebuah genre fantasy bisa berubah jadi sci-fi juga sih :bloon:
     
  19. Offline

    dimasaputera Silent Reader Members

    Joined:
    Mar 10, 2014
    Messages:
    18
    Trophy Points:
    2
    Ratings:
    +27 / -0
    wogh... ternyata ada trit yg bermanfaat kaya gini disini... :D
    TS-nya maxmarcell?? ternyata beliau juga punya sarang disini juga... lol

    oiya... ada yg gw pengen tanyain nih sama sepuh2 disini... moga2 ada yg mau ngasih pencerahan.

    pertama... gw ini bener2 awam tentang dunia tulis menulis... bisa dibilang bekal pengetahuan gw tentang menulis ya dari pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah (itupun gw gak bisa nangkep semua materinya :p ). yg mau gw tanyain adalah:
    1. untuk penyebutan Om, Kakek, Nenek, Beliau, Anda, Bumi, Matahari, dsb. itu harusnya pake huruf kapital di awal penulisan gak sih?
    2. Beberapa kali gw baca komentar tentang tulisan yg bikin capek pas bacanya. Kalo boleh tau, biasanya apa sih yg bikin capek mata? terlalu panjang kah paragrafnya? terlalu bertele-telekah deskripsinya? atau apa?
    3. Setau gw, dalam membuat cerita itu ada 2 jenis yaitu: plot based dan chara based CMIIW. Dan yg jadi pertanyaan adalah manakah diantara kedua itu yg mudah untuk penulis yg masih dalam tahap belajar kaya gw ini? Dan bagaimana memulai sebuah cerita yg baik? Apakah mulai dengan deskripsi latar atau gimana?

    maaf kalo gw banyak tanya di sini. Gw nanya karena gw pengen tulisan gw jadi enak dibaca dan bisa dinikmati sama orang lain. Maka dari itu, mohon bimbingannya ya sepuh-sepuh semua. :D
     
  20. Offline

    Giande Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 20, 2009
    Messages:
    978
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +1,224 / -0
    dulu max main2 ksini pas jaman awal sf ini terbentuk

    tapi ga lama kemudian dia dah ga aktif di idws sih
     
  21. Offline

    Giande Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 20, 2009
    Messages:
    978
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +1,224 / -0
    1. Kudu buka EYD :maaf: saya tidak bisa membantu urusan YED
    2. Kebanyakan karena dalam satu kalimat itu PUANJANGGGGG jadi kek
    contoh : xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx , xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx , serta xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx, Jadi xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx, alhasil, xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx, tapi xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx dan diakhiri tanda titik.
    Maksudnya saat kita membaca kalimat seperti ini kan otomatis terus terus terus seperti menyanyi tanpa tarik napas... jadie sesak :hahaL
    3. Type penulis beda, kalau saya sih lebih suka plot doloan sih.
    Untuk nubie gw ikut duulu pedoman bahasa indonesia. Gunakan 5 bagian besar :
    a. Pembukaan/pengenalan tokoh
    b. Awal mula permasalahan
    c. Klimaks
    d. Penyelesaian
    e. Ending

    Biasa diterapkan di cerpen anak2 di majalan bobo :hoho: gw dulu awal nulis e cerpen anak2 sih (kasus gw).

    Memulai cerita yang baik? hmmm ga ada yang pasti. Karena ini subjektif banget menurut penulis maupun pembaca. Jadi kusarankan coba saja menulis banyak2 dan membaca banyak2. Ntar ketemu yang paling cocok dengan style anda

    :elegan:

    Cerita bagus itu subjektif. IMHO kemenangan terbesar seorang penulis itu jika tuilsannya diterima dan dinilai bagus dari berbagai jenis kelamin/umur/iq/lingkup sosial/dll
     
    Last edited: Mar 11, 2014

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.