1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

SongFic The Huntress [Protest The Hero - Limb From Limb]

Discussion in 'Fiction' started by MaxMarcel, Jun 14, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    MaxMarcel Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,823 / -0
    Limb from Limb merupakan sebuah lagu karya band Protest The Hero pada album Fortress – sebuah album dengan tema “Worshipping The Goddess”. Lagu dengan tokoh utama dewi Irlandia kuno, Flidais ini telah menjadi dasar bagi saya untuk penulisan cerita “The Huntress”.


    Split the sky asunder, a noble huntress of the clan
    In your left hand raise a sword, in your right hand cast a spear
    Summon all the thieves and bastards hiding in the woodland

    Crack their skulls in the cauldron for invading our front
    Shadow fall, the hammer fall, the stone is placed above us all

    We forge our weapons in the furnace
    Soars height are like oak tree stumps
    Tonight beg before me and I’ll heed your appeal

    With your final words be grateful you die by Irish steel
    Do not crawl before us,
    Your fate has been revealed
    The heavens would not desecrate their games with your admittance

    Do not beg before me, I will not heed your appeal
    With your final words be grateful you die by Irish steel
    Do not beg before me, your fate has been revealed
    Do not crawl before me, I will not heed your appeal

    Son of flesh
    I cast you out into exile forever hence
    Flidais rides again
    Flidais rides again

    She is the forest, she is the rain
    She is the huntress, she is the prey
    She is the dusk and she is the dawn
    She is the moon and she is the sun

    See her bellow out
    See her, see her bellow out in anger
    See her raise the infant fawn
    She is drawn by a cart of cervidae

    She is here
    She is gone
    She is here
    She is gone
    She is gone​
     
    Last edited: Jun 14, 2011
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    MaxMarcel Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,823 / -0
    Warna merah darah dan lidah api masih menghantui pemandangannya. Suara teriakan anggota keluarganya yang baru saja meninggal masih menghantui pikirannya.

    Anak itu meringkuk tanpa mengatakan sepatah katapun. Sorot matanya tampak kosong dan tidak ada sedikitpun kehidupan yang tampak dari dalamnya. Apa yang baru saja dialaminya terlalu berat untuk anak seumurnya. Dalam satu hari, semua orang yang dikenalnya menghilang begitu saja.

    “Kau yakin anak kecil ini dapat membuat kita kaya? Dia tidak kelihatan berharga bagiku.”

    “Dasar bodoh. Setelah kita membunuh hampir seluruh anggota kerajaan, dialah pewaris takhta terakhir yang masih hidup. Para bangsawan akan menebusnya untuk harga yang sangat mahal.”

    Anak kecil itu sama sekali tidak peduli dengan perkataan-perkataan para penculiknya. Mungkin lebih tepat bahwa pikirannya begitu kacau hingga ia tidak dapat lagi menangkap perkataan orang lain.

    Kejadian yang baru saja dialaminya seakan telah menghisap seluruh jiwanya. Ia baru saja menyaksikan seluruh keluarganya dibunuh dengan kejam di depan mata kepalanya sendiri. Ayahnya, Ibunya, saudara-saudaranya, mereka semua sekarang telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi tempat untuk berlindung, tidak ada lagi orang yang akan memberinya kehangatan. Kesadarannya akan fakta bahwa ia sendirian sekarang telah mengguncang jiwanya.

    ***

    Dari balik selimut kabut tipis aku dapat melihat sesosok wanita berdiri di antara pepohonan. Sebuah perasaan kuat mendorongku untuk berjalan mendekati sosok wanita itu, seakan hanya itulah yang dapat kulakukan.

    Walaupun kabut saat itu sama sekali tidak mengganggu, tapi aku tetap tidak dapat melihat dengan jelas sosok wanita itu. Ia mengenakan mantel dan tudung yang menutupi wajahnya. Aku hendak bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi wanita itu mengangkat tangannya sebelum aku sempat membuka mulut.

    Aku melihat ke arah yang ditunjukkannya. Pemandangan itu langsung membuatku terhentak. Tentara-tentara yang asing di mataku tengah menjarah sebuah kota. Dengan cepat darahku terasa mendidih. Aku hanya dapat memandangi bagaimana orang-orang asing itu merusak dan menodai altar-altar sakral, bagaimana mereka mencuri dan membunuh orang-orang yang tidak berdaya, bagaimana mereka melakukan penghinaan terhadap kaumku.

    Dengan tangan terkepal aku hendak menanyakan siapa penjahat-penjahat ini pada sosok wanita di sampingku. Tapi aku tersadar, butir-butir air tampak menetes dari balik tudung wanita itu. Aku tahu wanita itu sedang menangis.

    Perlahan-lahan sebuah suara lembut yang berduka keluar dari balik tudungnya, “Sekarang setelah kau tahu apa yang terjadi. Kau harus bangun dari mimpi ini serigala kecilku. Keturunan terakhir Barrfin membutuhkanmu.”

    Tiba-tiba aku merasa seperti tersedot, seakan bumi runtuh dan langit mengangkatku. Detik berikutnya aku sudah berada di atas ranjangku.

    Namaku adalah Faolan, seorang anggota kaum aristokrat Irlandia dan aku baru saja mendapat penglihatan. Visi yang baru saja kudapatkan masih terpatri dengan jelas di benakku. Para dewa di atas telah memberikanku sebuah petunjuk dan aku tahu apa yang harus kulakukan.

    “Tuan, kau sudah bangun?”

    Kulihat seorang ajudanku masuk ke dalam ruangan. Dengan visi yang masih memenuhi kepalaku aku berkata padanya, “Cepat perintahkan semua pandai besi untuk memperbaiki baju perang dan senjata yang rusak! Aku ingin semua orang yang mampu untuk mengangkat senjata dikumpulkan sekarang juga!”

    Ajudanku tampak terkejut dengan perintahku yang tiba-tiba, tapi ia menjalankan perintahku dengan baik. Dari tempatku berdiri aku dapat melihat asap-asap dari rumah pandai besi membumbung tinggi ke udara.

    Mereka mungkin belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi bila penglihatanku tepat, County Meath sudah jatuh dan Raja Cerbaill telah tewas. Dan ketika mereka mengetahuinya, mereka sudah siap untuk mengantarkan amarah mereka dan membalas dendam.

    ***
     
  4. Offline

    MaxMarcel Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,823 / -0
    Hari ke tiga dari bulan pemburu​

    Semua senjata telah terasah, semua perisai telah terbentuk. Lima ratus pejuang paling berani telah terkumpul. Dalam tiga hari aku dan pasukanku akan sampai di County Meath.

    Mereka semua masih bingung tapi mereka akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Segera.

    Tercatat oleh Faolan, sang serigala muda.

    ***​

    Hari ke lima dari bulan pemburu​

    Matahari telah berada tinggi di kepala kami. County Meath hanya tinggal satu hari perjalanan lagi. Bila semuanya berjalan lancar maka kami akan sampai besok ketika matahari tenggelam. Sayang sekali semuanya tidak berjalan lancar. . .

    Sementara para kaum aristokrat lainnya (mungkin) sibuk merundingkan perjanjian dengan para penjajah, aku memimpin orang-orang paling berani di Irlandia untuk menyelamatkan putra mahkota kerajaan. Pada awalnya kukira dewa-dewa telah menuntun jalanku dan memberkatiku. Tapi sekarang aku mulai ragu. Sepertinya aku telah melewatkan satu hal penting dalam rencana ini.

    Kami sama sekali tidak kehilangan arah. Persenjataan kami lengkap. Kuda kami cukup makan. Sayang sekali orang-orangnya tidak. Sebuah kesalahan fatal yang sama sekali luput dari pengamatanku. Sebuah bencana yang lebih buruk dari pertempuran berdarah.

    Orang-orang mulai kehilangan semangatnya. Perkelahian untuk memperebutkan makanan yang tersisa mulai menyebar. Hanya masalah waktu sebelum kami semua musnah karena perebutan makanan ini.

    Kuharap para dewa yang membimbingku tidak melupakan diriku. . .

    Tercatat oleh Faolan, sang serigala muda

    ***​

    Hari ke lima dari bulan pemburu​

    Matahari berada jauh di ufuk barat dan kematian sudah hendak mengecup kami semua. Ransum makanan terakhir telah dibagikan dan orang-orangku masih jauh dari puas.

    Semua hal tampak tidak berjalan dengan lancar.

    Aku berpikir para dewa telah meninggalkanku. Aku seharusnya memilih untuk tinggal dan berpikir logis. Tapi para dewa tidak akan pernah dapat dijelaskan secara rasional.

    Tepat di saat aku berpikir semuanya akan berakhir para dewa mengirimkan keajaibannya. Seorang ajudanku datang dengan tergesa-gesa sambil berteriak. Butuh beberapa saat bagiku untuk menangkap bahwa ia mengatakan ada sekumpulan sapi yang berjalan ke arah kemah. Aku tertawa dan mengatakan ia sedang berhalusinasi. Ia hanya tersenyum dan menarikku keluar.

    Mengagumkan. Semua orang tampak tertegun. Aku dapat menghitung sepuluh ekor sapi yang sehat. Berjalan langsung ke tengah perkemahan dan berdiri diam disana, seakan seseorang telah mengirimkan mereka. Aku memandang kesekeliling tapi tidak dapat menemukan pemilik dari sapi-sapi ini.

    Kami terselamatkan dari sebuah musibah, tapi aku tidak bisa menghilangkan pikiran ‘siapa sebenarnya pemiliknya?’.

    Tercatat oleh Faolan, sang serigala muda


    ***​

    Hari ke enam dari bulan pemburu. Tujuan kami sudah sangat dekat. Bulan bersinar redup diatas kami, kabut malam membentang luas dan menutupi pandangan kami. Pemandangan ini terasa sangat familiar.

    “Tuan! Aku menemukan sesuatu!”

    Terdengar seruan dari salah satu pejuangku. Dengan cepat teriakan itu menarik perhatianku serta orang-orang yang lain. Aku dapat melihat orang-orang berkerumun, mengelilingi sesuatu.

    “Minggir! Beri jalan!” teriak ajudanku.

    Tampak seorang wanita terkapar lemah dalam rangkulan salah satu orangku. Pakaiannya lusuh dan tubuhnya penuh luka-luka.

    “Mereka datang. . . Tidak ada belas kasihan. . . Semuanya. . . Tidak ada yang selamat. . .” dan itulah kata-kata terakhirnya.

    “Tuan, apa artinya semua ini?” tanya seorang pejuang pada diriku. Dengan segera mereka semua memandang diriku. Aku dapat melihat amarah dan kebingungan di mata mereka.

    “Aku percaya. . . Saat ini County Meath sudah diduduki oleh musuh. Aku tidak tahu siapa mereka. Tapi mereka sudah membunuh Raja Carbaill dan saat ini sedang menyekap Pangeran Caun.” jawabku dengan pelan.

    “Bila itu yang terjadi untuk apa kita berlama-lama disini? Kita harus mengusir mereka semua! Kita harus membalas mereka!” seru salah satu pejuang tiba-tiba.

    Sekarang aku dapat melihat orang-orangku dipenuhi semangat. Mata mereka berkobar dengan amarah. Tangan mereka sudah gatal untuk menumpahkan darah ‘musuh’ ini.

    “Ya, kita akan membalas mereka. Dan lebih cepat, lebih baik.” jawabku dengan penuh keyakinan.


    Siapapun dewa yang memberkati kami, dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Kabut tebal yang menyelimuti kami telah menyembunyikan kedatangan kami. Orang-orang asing itu sama sekali tidak menyadari kedatangan kami.

    Gerbang kota terbuka lebar, penjaganya sama sekali tidak waspada. Dari balik kabut kami menyerbu masuk ke dalam County Meath. Mereka mencoba berteriak dalam bahasa asing mereka. Dengan cepat pedang kami membungkam mereka.


    County Meath, pusat Kerajaan Irlandia, sebuah tempat yang teramat sakral. Tapi sepertinya hal itu tidak ada artinya di mata orang asing ini.

    Sejauh aku memandang, aku dapat melihat penodaan pada kota ini. Altar-altar dihancurkan, patung-patung dewi dirusak, para druid dibantai sepanjang jalan. Bahkan batu-batu rune penyembahan dihempaskan dan diganti oleh lambang-lambang silang yang tidak kukenali.

    Mereka yang telah menghina kekuasaan dewa harus dihukum. Para dewa tidak akan mengijinkan mereka yang bermain dengan kekuasaan surga keluar dari permainan yang mereka mulai sendiri.

    Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan kami. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar. Kali ini hanya tindakan yang menjadi jawaban kami.

    Mereka masih mabuk dari penjarahan dan kemenangan. Kepala kami sudah mendidih karena penjarahan dan pembunuhan mereka. Seperti sebuah wabah penyakit, kami menyapu seluruh kota dari penjajah asing ini. Tidak ada belas kasihan.

    Jumlah kami jauh lebih sedikit dari mereka, tapi seperti hukuman surga kami menyerang mereka. Sementara mereka terlelap dalam tidur mereka, kami memecahkan kepala mereka dengan pedang kami.

    Dan itu hanyalah permulaan. Amarah kami yang sebenarnya dimulai ketika kami sampai di kastil raja. Layaknya kriminal dan penjahat rendahan, mereka menggantung semua anggota kerajaan di depan kastil. Memperlakukan para raja yang diberi kekuasaan oleh dewa-dewa seperti itu. Penghinaan lainnya terhadap kepercayaan kami.

    Tapi pembalasan bukanlah tujuan utamaku. Para dewa mempercayaiku untuk sesuatu yang lebih penting.

    “Temukan Pangeran Caun! Ia pasti disekap di suatu tempat!”

    Aku berteriak sambil memandang liar kesekeliling. Ruangan aula ini sudah penuh dengan mayat para penjajah, mereka memberikan perlawanan tapi tidak sesengit pejuangku.

    “Tuan lihat! Disana!”

    Aku melihat melalui jendela kastil. Para penjajah asing ini sepertinya sudah bangun dari tidur mereka. Sekitar seratus orang dari mereka terkumpul dengan senjata tehunus.

    Aku tertawa melihat musuhku yang sudah siap untuk bertempur, “Kirim mereka kembali ke tempat mereka berasal! Buat ******** dan pencuri ini keluar dari tanah kita!”

    Dengan cepat aku berlari keluar diikuti pejuang-pejuangku. Walaupun dalam keadaan bingung dan terkejut, musuh kami sudah siap. Tombak-tombak mereka teracung dalam formasi yang rapih.

    Tidak ada yang dapat mengalahkan amarah kami. Tana keraguan kami menghantam formasi tombak mereka. Tubuh-tubuh terhempas, darah tumpah, kejayaan. Tekat kami telah menggetarkan jiwa mereka.

    Dalam perkelahian singkat mereka sudah kehilangan semangat mereka. Sekarang mereka sudah membalikkan badan mereka dan berusaha melarikan diri. Beberapa merangkak di tanah dan memohon keselamatan dalam bahasa asing mereka. Apapun tindakan mereka, mereka berakhir di ujung pedang kami.

    Di tengah-tengah kejayaan ini aku menyadari sesuatu. Aku bisa melihat segerombol orang asing ini meloloskan diri dengan kuda. Dan hal yang paling mengejutkan jiwaku adalah seorang dari mereka membawa sesuatu yang kucari-cari. Seorang anak kecil, seorang putera mahkota.

    “Kejar mereka! Mereka menculik pangeran!” teriakku.

    Jumlah mereka tidak ada apa-apanya. Tapi mereka berkuda sedangkan kaki kami masih menapak di tanah. Seperti dikejar kematian, mereka melarikan diri dengan cepat. Aku dan orang-orangku mengejar mereka hingga kehabisan napas, tapi kami hanya bisa melihat mereka menghilang dalam kabut di kejauhan. Mereka berhasil lolos, melarikan diri dari County Meath.

    Aku meraung kesal. Paru-paruku seperti terbakar. Dipikiranku hanya ada kekhawatiran, bagaimana menemukan mereka. Mereka sudah lari ke arah hutan, butuh waktu sangat lama untuk mencari mereka. . . Tiba-tiba sesuatu muncul di benakku.

    Aku melihat orang-orangku hendak berlari ke luar gerbang kota, mengejar lawan mereka. Dengan cepat aku mengangkat tanganku dan menghentikan mereka.

    “Ada apa, tuan!? Kenapa menghentikan kami?”

    Aku tersenyum, jawaban atas penglihatanku ada di depan mata.

    “Mereka melarikan diri ke dalam hutan. Kita tidak boleh memasukinya karena itu adalah hukum kaum kita, sebuah larangan yang diberikan dewi Flidais pada leluhur kita. . . Sebaiknya kita memperbaiki altarnya dan menunggu tanda darinya.”

    ***​
     
  5. Offline

    MaxMarcel Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,823 / -0
    “Sial, bagaimana mereka bisa bergerak secepat itu?”

    “Mereka memukul kita dengan sangat keras. Tapi setidaknya kita masih memegang apa yang diinginkan sang Duke.”

    Tampak beberapa belas serdadu duduk di sekeliling api unggun. Mereka semua lelah dan kehabisan napas setelah melarikan diri dari sebuah serangan mendadak. Kuda mereka tertambat dengan asal-asalan di pohon-pohon sekitar.

    “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan bocah itu?”

    Salah satu tentara menengok ke arah seorang anak kecil yang berbaring dalam buntalan selimut.

    “Sama seperti biasanya.” jawab si tentara dengan malas.

    “Baguslah. Sang Duke berharap anak itu akan mempermudah dirinya membuat negosiasi dengan penguasa lokal.”

    Salah satu tentara menghela napas, “Dasar sial. Ia membuat kita menyeberangi laut dan memerangi orang-orang biadab ini untuk kepentingan-”

    “Diamlah! Kalau kita berada di tanah kita sendiri, kau sudah terbakar di tiang sekarang.”

    “Dan untungnya kita sedang tidak di rumah sekarang. Aku hanya menga-”

    Sekali lagi ia menghentikan kata-katanya di tengah jalan. Sesuatu telah menyita perhatian mereka semua. Tanpa peringatan kuda-kuda mereka yang tertambat tiba-tiba menjadi liar. Binatang itu meringkik dan menendang-nendang udara.

    Sebelum para tentara sempat melakukan apapun, kuda-kuda tersebut sudah melepaskan diri dari ikatan mereka dan melarikan diri ke dalam kegelapan hutan.

    Secara reflek beberap tentara langsung mengumpat kesal, “Sial! Apa kita harus berjalan kaki sekarang!?”

    “Apa hal terburuk yang bisa terjadi sekarang? Setelah kita kehilangan tunggangan kita.” keluh salah satu tentara.

    Pertanyaannya langsung terjawab dalam seketika.Tanpa ada peringatan sederet taring tajam mencabik lehernya. Seakan muncul langsung dari dalam kabut, sekelompok serigala menerjang tentara-tentara tersebut.

    Terdengar makian penuh kepanikan dari mereka ketika mereka mencoba meraih senjata dan melindungi diri. Tapi ketika mereka semua sudah berdiri tegak dengan senjata di tangan hanya kesunyian yang menyambut. Serigala-serigala tersebut tidak dapat terlihat dimanapun, hanya jejak kehancurannya yang nampak. Orang-orang meronta kesakitan dengan tubuh yang penuh luka gigitan.

    Keringat dingin mengalir perlahan di wajah mereka. Kesunyian yang mencekam masih menggantung di udara. Kesunyian yang menghancurkan jiwa kaum fana.

    Deru suara yang menggelegar tanpa peringatan memecah keheningan tersebut. Sebelum sadar apa yang sebenarnya terjadi para tentara sudah menemukan tubuh mereka terhempas dengan keras. Puluhan rusa jantan muncul secara tiba-tiba dan berlari melewati mereka semua tanpak ada keraguan.

    Tersembunyi di balik suara kuku-kuku binatang yang menghantam tanah dengan keras merupakan suara derak tulang yang patah dan suara jiwa yang memohon pengampunan yang tidak akan pernah didapat.

    Keseimbangan harus dijaga, hukuman harus dijatuhkan. Untuk setiap pelanggar hukum sebuah batu telah diletakkan di atas kepala mereka.

    Perlahan-lahan sang juri menampakkan dirinya. Tanpa suara ia berjalan ke arah buntalan selimut yang sama sekali tidak tersentuh oleh kemarahan alam. Sosoknya bergerak dengan lembut tanpa terganggu mayat-mayat kriminal di sekitarnya. Ia mengangkat anak yatim piatu itu dengan hati-hati dan menempatkannya di dalam kehangatan pelukannya.

    ***​

    Ia memandang sosok wanita yang membawanya dengan lemah. Rambutnya yang berwarna hitam legam terurai keluar dari balik tudung mantelnya. Wajahnya yang tertutupi oleh bayangan menyembunyikan wibawanya yang luar biasa besar.
    Entah mengapa ia dapat mengetahui bahwa wanita ini sama sekali tidak mempunyai niat buruk padanya, malah ia dapat merasakan kelembutan yang melindungi dirinya dari sosok tersebut.

    Ia dapat mengengar suara yang lembut dan agung pada saat bersamaan keluar dari mulut wanita tersebut.

    “. . . Rajaku. Kau akan tumbuh di lingkungan yang keras dan penuh tipu daya. Orang-orang akan berusaha menjatuhkanmu dan penjajah dari luar akan terus menyalak kepadamu. . . Tapi ketahuilah bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

    Setelah mengucapkan hal tersebut wanita itu dengan penuh kasih mengecup kening sang Raja baru.

    “Sekarang kembalilah ke kaummu.” Katanya sambil menurunkan anak itu dari gendongannya.

    Seperti kedatangannya yang misterius, wanita itu berjalan pergi dan hilang di antara pepohonan.

    “Tunggu. . . Jangan tinggalkan aku sendiri. . .” dengan lemah ia mencoba untuk mengejar sosok tersebut, tapi semuanya sia-sia saja. Ia tidak akan pernah bertemu dengan sosok wanita itu untuk sepanjang sisa hidupnya.

    Tepat ketika ia merasakan kesendirian, kaumnya menemukan dirinya. Mereka membawa dirinya dengan lega dan gembira karena telah berhasil menemukan Putera Mahkota yang hilang.
     
  6. Offline

    MaxMarcel Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    536
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +2,823 / -0
    Epilogue & Writter's Note

    Raja Cerbaill II merupakan Raja Sakral Irlandia yang terakhir. Masa-masa pemerintahannya kelam tapi terus bertahan.

    Masanya juga merupakan masa terakhir dari kekuasaan para dewa lama. Tentara-tentara yang membawa kepercayaan baru terus berdatangan dan mengubah tanah Irlandia sedikit demi sedikit. Walaupun akhirnya kepercayaan baru para penjajah berhasil berkuasa, mereka membayar harga yang sangat mahal. Raja Cerbaill II dan pengikut setianya terus menunjukkan semangat lama hingga akhir hayatnya.




    ********************

    Semua tokoh dan kejadian pada cerita ini merupakan fiksi dan sama sekali tidak berdasarkan sejarah sesungguhnya. Cerita ini terinspirasi oleh lagu Limb from Limb yang bercerita mengenai dewi Flidais. Dalam liriknya, Protest The Hero menceritakan seorang dewi yang kuat dan berkuasa. Dimana saya menuangkan sosok tersebut sebagai penguasa alam dan sebagai pelindung dari kaum Irlandia.

    Bagian “The heavens would not desecrate their games with your admittance” pada lirik Limb from Limb menginspirasi saya untuk berpikir bahwa lawan dari sang dewi merupakan orang yang bermain-main dengan agama (heavens). Jadi saya memutuskan untuk mengambil tentara salib sebagai oposisi dalam cerita ini.
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.