1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

OriFic Tentang Kucing Jantan (3) : Mantra Cangkang Ular

Discussion in 'Fiction' started by Gorgomm, Jul 1, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    Gorgomm Beginner Members

    Joined:
    Aug 20, 2010
    Messages:
    373
    Trophy Points:
    51
    Ratings:
    +778 / -0
    Kembali berbual melanjutkan kisah - kisah sebelumnya, yang pertama dan kedua
    Mohon maaf dan koreksi jika terdapat kesalahan
    Selamat membaca :ngacir:

    Sebuah sangkar di belakang rumah berangka besi , baru saja selesai dikerjakan. Penutupnya berdinding kawat. Didalamnya telah disusun bebatuan karang imitasi, sepotong pohon dan dahannya yang tak akan berdaun lagi, kubangan air dan tanaman dalam pot secukupnya. Letak sangkar itu menempel pada sebuah dinding tembok. Pintu sangkar terbuka perlahan. Dibantu empat orang, Pak jarwo mengeluarkan hati –hati peliharaan barunya dari sebuah peti. Hewan itu bergerak pelan mencari tempat yang lebih nyaman. Pak Jarwo memandang erat ular itu dan tersenyum. Ular itu hanya menjulurkan lidah dan terus bergerak perlahan seakan berusaha mengenali lingkungan barunya.

    Poku sedang tertidur membujur di atas tembok pagar di bawah pohon mangga yang rimbun. Jika dilihat dari sudut yang tepat, saat siang seperti ini akan tampaklah kilauan dari bulunya yang hitam mengkilap. Tubuh Poku memang dilapisi bulu hitam tanpa belang. Kecuali warna putih yang melekat dan memanjang dari kerongkongan sampai ke bawah perut. Lain halnya dengan Meya, ia kucing yang gemulai. Bulunya berwarnak putih bercorak perak dan hitam. Hidungnya mancung, kaki dan ekornya panjang.

    Meya berlari – lari menghampirinya

    “Hei, ada ular di rumahku…” teriak Meya

    “ular? itu sudah biasa…” Poku hanya membuka mata sebelah

    “Ini tidak biasa, karena ularnya berukuran besar dan di kurung didalam sebuah tempat”

    Tak ada reaksi dari Poku, ia hanya memainkan ekornya saja

    “Cepatlah bangun, kau pasti ingin melihatnya… ” Meya memaksa

    “baiklah….” mana mungkin Poku menolak permintaan Meya . Ia pun Beringsut berat
    mengangkat tubuhnya sendiri , lalu mengekor Meya di depannya . Sesampainya di depan sangkar, Poku terdiam takjub. Ia terlongong- longong keheranan melihat seekor ular besar yang baru dilihatnya. Ular itu bercorak seperti batik. Warnanya perpaduan anatara coklat, abu – abu dan hitam. Tidak terlampau besar untuk seukuran Ular Sanca.

    “Ularnya besar sekali Meya….” bisik Poku kepada Meya

    “Ya, kulitnya juga indah” Meya menambahkan

    “baru kulihat congkok seperti kalian…..” Ular itu mengagetkan, suaranya berat. Kemudian sedikit bergerak mengangkat kepalanya memperhatikan Meya dan Poku erat – erat.

    “namaku Poku , ini sahabatku Meya dan kami bukan congkok… ” Poku menunjuk Meya

    “Baiklah Poku dan Meya,……maukah kalian melepaskanku?” Tiba – tiba saja ia meminta pertolongan meski baru sekilas perkenalan. Tak ada kata yang terlintas dalam benak Ular selain dapat melepaskan diri dari kurungan. Ular itu mendesis panjang merapatkan kepalanya pada tanah untuk meneruskan kegalauannya:

    “tempat ini terlalu kecil untukku, aku lebih nyaman berada di hutan rimba sana, di mana masih bisa kudengar lolongan serigala dan gelegar auman singa, berjalan diantara selarung gajah dan serasah…” ular itu terus betutur tentangnya dan alam liar di mana ia tinggal. Poku dan Meya dengan seksama mendengarkan sebuku demi sebuku runutan cerita hingga mereka turut larut berpetualang menerobos hutan alam bebas. Bertemu rusa menyantap burung. Menyibak air sungai melahap ikan. Ia pun bercerita bagaimana ia bisa sampai jatuh ke tangan Pak Jarwo. Rupanya ular itu ditemukan oleh Para pemburu. Kemudian para pemburu itu membawanya pada seorang pengrajin kulit ular untuk disamak kulitnya, namun Pak Jarwo tampaknya lebih berminat untuk memeliharanya.

    “melepaskanmu? lalu setelah itu kau akan melahapku bulat – bulat, begitu?” Poku malah balik bertanya

    “hei, tak ada tempat buat kalian di perutku ? lihatlah!...” Ular itu kemudian memanjang dan memperlihatkan tonjolan diperutnya . Sayangnya tonjolan itu tidak menyumpal keraguan Poku. Poku pikir bisa saja ular itu hamil, dan ia akan menjadi santapan anak – anaknya. Mengerikan.

    “lalu bagaimana supaya kami yakin kau tak akan memperdaya kami?”

    “bukan itu sebenarnya yang harus kalian tanyakan”

    “kenapa?” Tanya Meya

    “karena aku tak yakin kalian bisa melepaskanku” ular itu sengaja memberi tantangan agar tercapai kehendaknya. Bujuk rayu disembunyikan dalam lingkaran tubuhnya.

    “Lantas, kenapa meminta tolong kepada kami” Poku segera menyambung

    “Tentu saja, Karena kalian hewan bermurah hati ” ular kembali merajuk . Ia melempar bujuk.

    Poku berpikir keras. Terdiam sesaat , kemudian menarik Meya sedikit berjarak dari sangkar. Dengan suara yang lebih pelan ia menatap lekat Meya

    “dengar, jika kita bantu ular itu melepaskan diri, apa tak kasihan juga Pak Jarwo?”

    “Tapi, aku jauh lebih kasihan pada ular itu, dapat kurasakan bagaimana penderitaannya, bagaimana rasanya jika kau yang ada di dalam sangkar itu?”

    “ Ya aku tahu itu, tapi seperti apa caranya untuk melepaskan ular itu? Meraih gembok yang terkunci saja tak sanggup”

    “Yang kalian lakukan hanyalah memegang cangkang kulitku jika tiba saatnya aku berganti kulit” ujar ular itu mengagetkan. Seperinya ia dapat mendengar percakapan membuat percuma jarak yang telah terhitung.

    “Hanya itu? Mudah sekali!? ” Poku semakin ragu kemudian mendekat kembali

    “tentu saja, diiringi sebuah mantra tentunya…” jawab ular. Mendengar kata mantra berubahlah air muka Meya. Matanya berbinar – binar

    “Mantra? Biar aku yang membacakannya….aku ingin sekali memiliki sebuh mantra, kelak akan aku ajarkan pada anak – anakku agar mereka selalu tertolak dari segala bala, paling tidak bisa buatku sendiri….”

    “mantra ini hanya manjur dibacakan oleh pejantan” Ular memotong pembicaran Meya yang tengah berapi –api mengapung melayang – layang dalam hasratnya.

    “Oh,….” Meya terjatuh. Kepalanya menunduk kaki mengarsir – arsir tanah. Diam.

    “Aku pejantan dan temanku ini betina,….”

    “lalu?” ular menanti

    “sepertinya kami tak dapat membantumu….” Singkat Poku lalu begegas pergi begitu saja diantar oleh tatapan mata ular yang nanar mengutuk dalam batin. Sisiknya semakin kusam. Harapannya kelam. Meya mengikuti dari belakang menyusul Poku. Diantara langkah mereka, Meya dilingkupi pertanyaan.

    “Poku, kenapa kau tak mau membantu melepaskan ular itu?....”

    “Sudahlah, aku mau melanjutkan tidur lagi….” Poku berlari kecil tak menggubris Meya

    Karena kau merasa tak enak padaku?...” Gumam meya dalam batinnya sendiri enggan mengejar Poku yang semakin menjauh jaraknya.
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    Gorgomm Beginner Members

    Joined:
    Aug 20, 2010
    Messages:
    373
    Trophy Points:
    51
    Ratings:
    +778 / -0
    Lima hari kemudian

    Suara handphone berbunyi. Pak Jarwo mengangkatnya. Terciptalah sebuah percakapan yang mulai menarik perhatian Meya. Meski diselingi derai tawa, Meya sudah dapat menangkap apa yang sedang mereka bicarakan. Meya sengaja menghampiri Pak Jarwo yang sedang duduk di sofa supaya dapat mendengar lebih jelas. Melompat lalu mendarat di pangkuan Pak Jarwo. Tiba – tiba kepala Meya terangkat diantara belaian tangan Pak Jarwo. Meya melompat lagi dan terus berlari kencang.

    “Aku harus memberitahu pada Poku secepatnya…”

    Tak sulit mencari Poku disaat siang seperti ini. Seperti biasa ia sedang bermalas - malasan di bawah pohon mangga yang buahnya mulai berlomba bergelayutan. Meya menghampirinya sambil terengah – engah.

    “Poku, ular itu akan diberikan Pak jarwo pada seseorang…”

    “terus?...”

    “Untuk diambil kulitnya!”

    Kemudian Meya menceritakan tentang percakapan Pak Jarwo dengan seseorang di handphone tadi. Menurutnya Ular itu telah ditawar dengan harga tinggi karena memiliki corak yang unik. namun Pak Jarwo malah akan memberikan kepadanya Cuma – Cuma.

    “Kupikir Pak Jarwo akan terus memeliharanya…” ungkap Poku

    “entahlah, yang kudengar pak jarwo tak bisa merawatnya dan seseorang yang di sana terus meminta agar Pak Jarwo rela memberikan ular kepadanya , ular itu akan diambil sore ini Poku!”

    Tanpa pikir panjang Poku pun berlari menuju sangkar ular. Meya mengikutinya dari belakang.

    Ular itu sedang melingkar. Kulitnya semakin kusam. Matanya mulai berselaput

    “hei, aku bersedia membantumu ….cepat ajarkan mantramu!” Poku berteriak berulang - ulang, menggebrak – gbrak dinding kawat karena ini berita gembira buat ular. Begitupun dengan Meya, ia turut menggaduh. Ular masih terdiam.

    “Cepat, kalau tidak lekas keluar dari kurungan ini maka kau akan celaka…” namun masih belum ada tanggapan dari ular

    “mereka akan mengambil kulitmu kawan…”

    BRAAAKKK!!!!!!... dinding kawat itu bergetar kuat di sambar moncong ular yang menganga nampaklah gerigis gigi - ginya. Debu mengepul terhempas oleh tubuh bersisik. Jika saja tak ada pembatas mungkin Poku sudah berpindah tempat memenuhi mulut ular itu. Poku dan Maya repleks mundur ke belakang. Dada merekapun turut tergetar. Kencang sekali. Berberapa helai bulunya terbang. Inikah monster yang sesungguhnya? Semua membisu terdiam. Sunyi dan menyepi. Hingga suara berat ular itu yang memecahkan keheningan:

    “maafkan aku, kalian telah mengganggu lamunanku…dalam keadaan seperti ini aku lebih mudah marah, kuharap kalian memaklumi, semua ular pasti akan seperti itu”

    Namun Poku dan Meya masih terkesima seolah tak percaya. Terdiam, terpaku, tersudut dan sebagian Jiwanya baru saja lenyap namun belum utuh kembali menyatu.

    “sungguh,…kumohon mengertilah…. ” ular memohon. Setelah kepercayaan itu dibangun dengan payah kini begitu saja ia memporakporandakan menjadi puing. “Bagaimana aku harus kembali meyakinkan mereka?” ular membatin.

    “Ketahuilah, Hutan rimba yang telah menyusui dan membesarkanku, jikapun aku mati maka Bunda Rimbalah yang berhak melumat dagingku, …aku lebih baik mati menjadi belatung, menjadi kepik, menjadi burung dan semua hewan telah kulumat….karena aku tak mau mati di sini!”

    Poku menghela napas. Perlahan ia mendekati ular, setapak demi setapak. Pikirnya, mungkin karena ular sedang sakit jadi lekas marah. Tapi jauh dari itu Poku terdorong hasrat penasaran: Bagaimana ular itu dapat melepaskan diri hanya dengan cangkang kulit yang mengelupas?

    “Apa yang harus kulakukan?”

    Dengan mulutnya Ular itu mengambil sehelai cangkang kulit yang mengelupas, ia lepaskan dan jatuh di sisi luar pembatas.

    “ambillah cangkang itu, lalu kau injak selama mantra dibacakan”

    “kenapa bukan kau yang membacakan? “

    “Karena aku sedang berganti kulit”

    “hmm, aneh…” Tak ada waktu untuk terus bersilat lidah. Poku hanya menurut saja. Diraihnya cangkang kulit itu, lalu diinjaknya.

    “pejamkan matamu dan ikuti kata – kataku, jangan berhenti sebelum kuberi petunjuk…”

    Poku memejamkan matanya. Berharap ia tak mengantuk. Diikuti Poku, Ular itupun membacakan mantranya:

    Bukan cuk dipelupuk
    Usah diusik diurik
    badan setali selaksa selara
    Cangkang adalah aku
    Aku adalah cangkang


    Mantra diucapkan terus berulang – ulang hingga akhirnya Poku pun dapat merasakan getaran – getaran aneh mengalir merasuki sekujur tubuhnya. Kepalanya terasa lebih berat. Dingin dan membius. Jika sudah begini tak ada alasan untuk berhenti selain menunggu petunjuk selanjutnya.

    “buka matamu!” tiba –tiba ular memberi aba – aba pertanda perhelatan telah usai. Tak terjadi apa – apa. Semua diluar duga khayalan Poku. Kecuali, Ular itu berada di luar Kurungan dan Poku yang KINI BERADA DI DALAM KURUNGAN….

    “Sekarang kau telah meguasai mantra itu, suatu saat aku akan membalas semua kebaikanmu….”

    Terdengar suara mobil berhenti parkir di pelataran rumah. Tampak Meya terengah- engah berlari menghampiri mereka

    “Mereka sudah datang!” Meya kembali berlari menghilang

    Ular itu pun menggelosor merayap cepat menuju saluran air seperti sudah hapal jalan lubang. Sudah dipastikan ia telah merencanakan secara matang pelariannya. Lenyap hingga penampakkan terakhir sisa buntutnya , Pak Jarwo pun tiba bersama empat orang dengan membawa peti yang disiapkan untuk ular. Poku berusaha untuk tidak panik. Ia memungut secarik cangkang yang masih terserak lalu bersembunyi dibalik pot bunga. Membaca mantra.

    “Lho lho lho,… ularnya kemana, Pak?.....” seseorang yang ternyata pengrajin kulit ular itu terlongong heran kepanikan menelan pahit air ludah sendiri. Pak Jarwo yang sedang menyiapkan peti bersama ketiga orang lainnya berlari menuju sangkar. Poku masih berusaha tenang. Ia tertutup rapat bersembunyi di balik kepanikan mata yang tak dapat memandang. Secarik cangkang kulit ular yang sebelumnya diinjak Poku ketika di luar sangkar seakan – akan berteriak “injak aku , injak aku keparat!” dan terlaksanalah kehendaknya. Tanpa sengaja atau terencana cangkang itu pun terinjak kaki Pak Jarwo….

    “PAK JARWO DI DALAM SANGKAR!!!.....” teriak salah seorang disambut gempita yang lainnya. Semua semakin panik tak karuan. Padahal Pak Jarwo lupa kunci gembok sangkar tersimpan entah di mana. Ia lupa, bahkan tak sempat memperhatikan Poku yang cepat melesat bak kilat menuju ke atas genting . Meya tersenyum manis menyambut ksatria yang berhasil melaksanakan tugas. Dari atas genting keduanya tak ingin memperhatikan lebih jauh kebingungan orang – orang yang berada di sekitar sangkar.

    “Meya, alangkah indahnya kebebasan itu….”

    Meya tersenyum cerah lalu membalasnya dengan cakaran kecil di muka Poku. Kedua mahluk itu pun berlarian kegirangan di atas genting, saling berkejaran. Diantara awan yang bergelayut. Jingga.




    July012011
    Gorgomm IDWS
     
  4. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    hoho:blink:deskripsi Poku sesuai dengan bayangan saya... hitam:hoho:

    konflik.. seperti biasa saya kurang ngerti:swt:mungkin karena fabel:keringat:jadi bisa jelasin maksud mantra-nya:???:atau itu cuma karangan fantasy aja:???:

    dan misstypo masih ada:ngacir:

    --

    paling suka baca cerita ini waktu ngeliat kelakuan Poku yang agak malas-malas gimana gitu:lol:

    :maaf:
     
    • Thanks Thanks x 1
  5. Offline

    Gorgomm Beginner Members

    Joined:
    Aug 20, 2010
    Messages:
    373
    Trophy Points:
    51
    Ratings:
    +778 / -0
    selamat Pertamax *tepuktangansalaman...
    masalah mantra asli fantasy :malu: intinya mengenai proses pergantian kulit ular
    misstypo? iya neh ada aja salahnya :swt:
    kalo Poku emang pemalas tuh :haha:

    makasih komennya :lalala:
     
  6. Offline

    XtracK Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 22, 2011
    Messages:
    266
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +256 / -0
    kk, kenapa ceritanya gk digabungin aja sama yang dua lainnya? kan judulnya sama, n ceritanya juga tentang si poku, kan??
    :bingung:
     
    • Thanks Thanks x 1
  7. Offline

    Gorgomm Beginner Members

    Joined:
    Aug 20, 2010
    Messages:
    373
    Trophy Points:
    51
    Ratings:
    +778 / -0
    Betul, ceritanya memang sama tentang Si Poku, tapi saya ingin satu cerita satu kesan, terlepas baik atau buruknya sekalian biar tahu juga perkembangan belajar saya seperti apa...Paling tidak untuk sementara ini seperti itu kalau sudah banyak n memungkinkan mungkin bisa dijadikan satu atau bisa juga tidak , tambahan lainnya: biar ruangan ini terlihat sesak hehe :ngacir:

    makasih komennya
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.